Analisis Yuridis Terhadap Pembubaran Perseroan Terbatas Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) (Studi Terhadap Pembubaran PT.Ulu Musi Agung Tenera)

Gratis

26
398
130
3 years ago
Preview
Full text

SURAT PERNYATAAN

  Saya yang bertanda tangan dibawah ini :Nama : Magdalena Simarmata, SHNim : 097011044Program Studi : Magister Kenotariatas FH USUJudul Tesis : ANALISIS YURIDIS TERHADAP PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS MELALUI RAPAT UMUMPEMEGANG SAHAM (RUPS) (STUDI TERHADAPPEMBUBARAN PT. ULU MUSI AGUNG TENERA) Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya perbuat adalah asli karya saya sendiri bukan plagiat, apabila dikemudian hari diketahui tesis saya tersebut ternyata plagiat karena kesalahansaya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak mana pun atas perbuatan saya tersebut.

KATA PENGANTAR

  Keizerina Devi A, SH, CN, MHum, selaku Sekretaris Program Studi MagisterKenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan motivasi, kesempatan dan kelancaran proses administrasi pendidikan dan sekaligus selaku anggotaKomisi Pembimbing yang penuh perhatian memberikan bimbingan, masukan dan saran dalam penyempurnaan tesis ini. Bapak Notaris Erwin Wahyu Purwantoro, SH, Ibu Notaris Mimin Rusli, SH dan BapakNotaris Afrizal Arsad Hakim, SH yang memberikan data-data dan kesempatan kepada penulis dalam penelitian dengan wawancara yang mendukung penulisan tesis ini.

RIWAYAT HIDUP IIDENTITAS PRIBADI

  Ulu Musi Agung Tenera ditinjau dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Bagaimana peranan Notaris pada saat terjadi pembubaran PerseroanTerbatas melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Bagaimana tanggung jawab pemegang saham, direksi dan likuidator bila proses pembubaran tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pada saatterjadinya pembubaran Perseroan Terbatas melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),Notaris berperan membuat akta Berita Acara Rapat pembubaran Perseroan Terbatas dan memberitahukan pembubaran Perseroan Terbatas kepada Menteri dan mengumumkannya dalamBerita Negara Republik Indonesia (BNRI).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pesatnya perkembangan ekonomi dan arus globalisasi semakin mengaitkan

  Menurut Pasal 1 ayat (1) UUPT, ”Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebutPerseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam sahamdan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya”. Perjanjian pendirian Perseroan Terbatas harus dibuat dalam bentuk akta otentik, karena hal tersebut telah disyaratkan oleh Undang-Undang agar Perseroan Terbatas tersebut dapatdisahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

8 PT efektif menjadi suatu badan hukum

  Tujuan tersebut diatas tidak selamanya akan dapat terlaksana dengan baik, sebab bisa saja suatu perusahaan yang berbentuk PT ini ditengah-tengah kegiatan proses produksinya berjalan,terkadang menghadapi suatu permasalahan yang besar baik yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar Perseroan yang menyebabkan Perseroan mengalami kerugian dan bisaberakibat dibubarkan. Manfaat secara teoritisHasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran dalam ilmu pengetahuan khususnya tentang tata cara dan pelaksanaan pembubaran Perseroan Terbatas (PT) melaluiRapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagaimana yang diatur dalam Undang-UndangNomor 40 Tahun 2007 dan pengetahuan hukum bagi notaris dalam melaksanakan tugasnya sebagai pejabat yang berwenang dalam membuat akta-akta otentik.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

  Jadi teori adalah seperangkat preposisi yang berisi konsep abstrak atau konsep yang sudah didefenisikan dan saling berhubungan antar variabel sehingga menghasilkan pandangansistematis dari fenomena yang digambarkan oleh sutau variabel dengan variabel lainnya dan 16 menjelaskan bagaimana hubungan antar variabel tersebut. Dengan demikian menurut teori Positivisme Hukum, segala aspek hukum yang menyangkut Perseroan adalah perintah penguasa yang disusun atau dikemas kedalam bentukundang-undang yang disebut dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT).

18 Hans Kelsen, Teori Hukum Murni Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif dengan judul buku asli Pure Theory of Law, Alih Bahasa Raisul Muttaqin, Nusa Media, Bandung, 2008, hal.121

  Selanjutnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, dalam perkembangannya ketentuan dalam Undang-Undang tersebut dipandang tidak lagi memenuhiperkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat karena keadaan ekonomi serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi sudah berkembang begitu pesat khususnya pada era 21 globalisasi. Bahwa dalam rangka meningkatkan pembangunan perekonomian nasioanl dan sekaligus memberikan landasan yang kokoh bagi dunia usaha dalam menghadapi perkembanganperekonomian dunia dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi pada masa mendatang, perlu didukung oleh suatu undang-undang yang mengatur tentangperseroan terbatas yang mendapat menjamin terselenggaranya iklim dunia usaha yang20 kondusif.

25 Tri Budiyono, Hukum Perusahaan, Griya Media, Salatiga, 2011, hal. 64

  NotarisAdalah adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangandan atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan 32 dan kutipan akta. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)Organ perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atauDewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran 33 dasar.

Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. M.Yahya Harahap, Op.Cit.hal.556

  Menteri Adalah Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di Jakarta, yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan hak asasi manusia. Metode Penelitian Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistimatika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapagejala hukum tertentu dengan jelas menganalisanya.

1. Jenis Penelitian

  Sifat Penelitian Sifat dari penelitian ini adalah deskriptif dan analitis, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fakta-fakta yang ada dan menganalisisdata yang diperoleh secara sistematis, faktual dan akurat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan yuridis yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pembubaranPerseroan Terbatas melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bahan Hukum PrimerSebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini diantaranya adalah KitabUndang-Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, Undang-UndangNomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang PeraturanJabatan Notaris dan Peraturan-peraturan lainnya.

4. Alat Pengumpulan Data

  Untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka data dalam peneilitian ini diperoleh dengan alatpengumpulan data yang dilakukan dengan mengunakan cara yaitu : a. Wawancara dengan nara sumber yang dianggap layak mengetahui danmemahami tentang masalah yang diteliti yakni :1) 3 (tiga) orang Notaris Kota Medan, yaitu Bapak Erwin Wahyu Purwantoro, SH, Bapak Afrizal Arsad Hakim, SH, dan Ibu Mimin Rusli, SH;2) 1 (satu) orang Pengacara/Penasehat Hukum, yaitu Bapak Oka Iskandar, SH, selaku Likuidator.

5. Analisis Data

  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menurut Pasal 1 angka 4 Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Teratas yang menyebutkan : “Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disebut RUPS, adalah organ perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan undang-undang ini dan/atau anggaran dasar”. Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mempunyai segala kewenangan yang tidak diberikan kepada Direksi atau Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undangperseroan dan anggaran dasar.

45 Saham (RUPS)

  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tidak dapat mengambil keputusan yang bertentangan dengan hukum yang berlaku dan ketentuan dalam anggaran dasarnya (meskipun anggarandasar dapat diubah oleh Rapat Umum Pemegang Saham asal memenuhi syarat untuk itu).43 Frans Satrio Wicaksono, Tanggung Jawab Pemegang Saham, Direksi, & Komisaris Perseroan Terbatas, Visimedia, Jakarta, 2009, hal.4.44 M. Adapun wewenang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dinyatakan dalamUndang-Undang Perseroan Terbatas dapat dilihat dalam Pasal-pasal yang mengatur tentang, yaitu : 1) Menyatakan menerima atau mengambil alih semua hak dan kewajiban yang timbul dari 49 perbuatan hukum yang dilakukan pendiri atau kuasanya.

50 RUPS tersebut

  Menjadikan jaminan utang kekayaan Perseroan,Persetujuan itu diperlukan apabila lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih Perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih baik yang berkaitan 63 satu sama lain maupun tidak. 65 17) Memberhentikan anggota Direksi.5556 Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.57 Pasal 64 ayat (1) jo.

Pasal 14 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

  Bentuk Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Dalam ketentuan Pasal 78 UUPT, membagi Rapat Umum pemegang Saham (RUPS) ke dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS) lainnya. Akan tetapi ketentuan itu, tidak menutup kemungkinan penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS) Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dapat dilakukan atas permintaan 1 (satu) orang atau lebih pemegang saham yang bersama-sama mewakili 1/10(satu per sepuluh) atau lebih lebih dari jumlah seluruh saham dengan hak suara, kecuali 75 Anggaran Dasar menentukan suatu jumlah yang lebih kecil, dan Dewan Komisaris.

1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan

  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan diselenggarakan setahun sekali menurut waktu dan tempat yang ditentukan dalam Anggaran Dasar. Dalam Rapat UmumPemegang Saham (RUPS) Tahunan, Direksi menyampaikan Laporan Tahunan yang disusun sesuai ketentuan Pasal 66 ayat (1) UUPT yang memuat sekurang-kurangnya :74 Parasian Simanungkalit, Op.

Pasal 79 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

1) Laporan keuangan yang terdiri atas sekurang-kurangnya neraca akhir tahun buku yang baru lampau dalam perbandingan dengan tahun buku sebelumnya, laporan laba rugi daritahun buku yang bersangkutan, laporan arus kas dan lapiran perubahan ekuitas, serta catatan atas laporan keuangan tersebut; 2) Laporan mengenai kegiatan perseroan;3) Laporan pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan;4) Rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan usaha perseroan;5) Laporan mengenai tugas pengawasan yang telah dilaksanakan oleh Dewan Komisaris selama tahun buku yang baru lampau;6) Nama anggota Direksi dan Dewan Komisaris;7) Gaji dan tunjangan bagi anggota Direksi dan gaji atau honorarium dan tunjangan bagi anggota Dewan Komisaris Perseroan untuk tahun yang baru lampau. 76 Selanjutnya Laporan Tahunan tersebut ditandatangani oleh semua Anggota Direksi dan semua Anggota Dewan Komisaris yang menjabat pada tahun buku yang bersangkutan dan disediakan di Kantor Perseroan sejak tanggal panggilan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)untuk dapat diperiksa oleh pemegang saham, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 67 ayat (1) UUPT.

2. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)

  Setelah ketua Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yakin bahwa dalam Rapat UmumPemegang Saham (RUPS) semua yang hadir adalah benar para pemegang saham perseroan sesuai dengan buku/catatan daftar saham yang ada pada perseroan atau kuasanya masing-masingberdasarkan surat kuasa dan kuorum kehadiran dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) telah tercapai sesuai ketentuan Anggaran Dasar atau UUPT. Hal ini bisa terjadi karena semua dokumen dan bahan yang dibahas dalamRapat Umum Pemegang Saham (RUPS) telah disediakan sebelumnya oleh Direksi sejak tanggal pemanggilan sampai dengan hari pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sehinggamemungkinkan peserta Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dapat menelaah sebelumnya secara seksama segala sesuatu yang akan dibicarakan dan diputuskan dalam Rapat UmumPemegang Saham (RUPS) tersebut.

81 Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, sehingga menurut pertimbangan Direksi dan/atau

  Notulen/Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dibawah tangan inilah yang tepat untuk pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang agenda atauacaranya khusus mengenai pemberian persetujuan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atas laporan tahunan yang disampaikan oleh Direksi. Apabila dibuat dalam akta Notaris, maka Direksi dan/atau Pemegang Saham Perseroan harus meminta jasa Notaris untuk menghadiri dan menyaksikan jalanya Rapat Umum PemegangSaham (RUPS) agar Notaris dapat membuat berita acara mengenai segala sesuatu yang dibicarakan dan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), asalkan tempatdiadakannya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) masih dalam wilayah kerja Notaris yang bersangkutan.

1. Pengertian Pembubaran

  Pembubaran Perseroan Terbatas pada dasarnya merupakan hal yang tidak diinginkan oleh para pemegang saham, oleh karenanya pelaksanaan pembubaran Perseroan Terbatas sedapatmungkin harus dihindari, sebab dengan terjadinya pembubaran Perseroan Terbatas akan memberikan kerugian yang besar bagi para pemegang saham perseroan dan para pihak yangberhubungan langsung dengan perseroan. Apabila pembubaran Perseroan Terbatas sudah tidak bisa dihindari, maka hal yang penting adalah setiap pelaksanaan pembubaran Perseroan Terbatas harus dilaksanakan melaluiproses hukum, sebagaimana perseroan sebagai badan hukum lahir dan diciptakan berdasarkan proses hukum.

2. Dasar Terjadinya Pembubaran Perseroan Terbatas

  Dasar terjadinya pembubaran Perseroan berbeda dalam KUHD, UUPT Nomor 1 Tahun 1995 maupun dalam UUPT Nomor 40 Tahun 2007. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan insolven sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan KewajibanPembayaran Utang; atau f.

a. Bubarnya Perseroan Karena Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

  Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk melaksanakan pembubaran Perseroan wajib diselenggarakan oleh Direksi sesuai dengan ketentuan UUPT dapat dilihat dalam Pasal-pasal yang mengatur sebagai berikut : 1.untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) didahului dengan pemanggilan yang dilakukan oleh Direksi [Pasal 79 ayat (1)]; 2. pemanggilan dilakukan dengan Surat Tercatat atau dalam Surat Kabar dengan menyebutkan mata acara rapat disertai pemberitahuan bahan yang akan dibicarakan dalam Rapat UmumPemegang Saham (RUPS) tersedia di Kantor Perseroan [Pasal 82 ayat (3)]; 4.syarat kuorum kehadiran paling sedikit ¾ (tiga per empat) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara, hadir atau diwakili dalam RUPS [Pasal 89 ayat (1)]; 5.

b. Bubarnya Perseroan Karena Jangka Waktu Berdirinya Berakhir

  Pembubaran perseroan terjadi karena hukum apabila jangka waktu berdirinya perseroan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir, yang ditegaskan dalam Pasal 145 ayat (1) Rachmadi Usman, Op. Cit, hal.

86 Perseroan berakhir

  Terhitung sejak tanggal jangka waktu berdirinya Perseroan berakhir, Direksi tidak boleh atau dilarang melakukan perbuatan hukum. Meskipun dalam Pasal 142 ayat (6) UUPTmengatakan pembubaran dan pengangkatan likuidator tidak berarti anggota Direksi dan DewanKomisaris diberhentikan, namun menurut pasal 145 ayat (3) UUPT, mereka tidak memiliki kapasitas dan wewenang melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling, legal act).

c. Bubarnya Perseroan Berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri

  Bubarnya Perseroan Karena Harta Pailit Perseroan yang Telah Dinyatakan Pailit Dalam Keadaan Insolvensi Proses pembubaran karena harta pailit Perseroan berada dalam keadaan insolvensi, berkaitan dengan ketentuan Pasal 187 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentangKepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( UU KPKPU). Bubarnya Perseroan Karena Dicabutnya Izin Usaha Perseroan Terjadinya pembubaran Perseroan yang diatur pada Pasal 142 ayat (1) huruf f UUPT adalah : ”Karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan melakukanlikuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

3. Pembubaran Wajib Diikuti Dengan Likuidasi

  Apabila terjadi pembubaran Perseroan berdasarkan keputusan RUPS, karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam AD telah berakhir atau dengan dicabutnya kepailitanberdasarkan keputusan Pengadilan Niaga yang telah berkekuatan hukum tetap, pembubaran itu wajib diikuti dengan likuidasi yang dilakukan oleh likuidator. Halitu ditegaskan pada penjelasan Pasal 142 ayat (2) huruf a UUPT yang menyatakan, yang dimaksud dengan likuidasi yang dilakukan oleh Kurator adalah likuidasi yang khusus dilakukandalam hal Perseroan bubar berdasarkan karena harta Perseroan yang telah dinyatakan pailit, berada dalam keadaan insolvensi.

4. Perseroan Tidak Dapat Melakukan perbuatan Hukum

  Seperti disebutkan dalam Pasal 143 ayat (1) UUPT meskipun pembubaran Perseroan tidak mengakibatkan Perseroan kehilangan status badan hukum selama proses likuidasi ataupemberesan berlangsungm, namun menurut Pasal 142 ayat (2) huruf b, Perseroan tidak dapat lagi melakukan perbuatan hukum. Pemberitahuan Pembubaran Perseroan Terbatas Kepada Kreditor Dan Menteri Pemberitahuan pembubaran Perseroan Terbatas kepada Kreditor dan Menteri dilakukan dengan cara yang diatur dalam Pasal 147 UUPT, yang menyebutkan :(1) Dalam jangka waktu paling lambat lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perseroan, likuidator wajib memberitahukan :a.

C. Pembubaran Perseroan Terbatas Melalui Rapat Umum Pemegang Saham PT. Ulu Musi Agung Tenera Dan Akibat Hukumnya Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

  Ulu Musi Agung Tenera telah berdiri dan telah memperoleh Surat Keputusan Pendirian Badan Hukumnya, yaitu yang disebut denganpengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat keputusannya tanggal 13 September 2007 nomor : W2-000000 HT.01.01-TH.2007 dan telahdiumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 06 Nopember 2007 nomor 00,Tambahan nomor 00. Rapat Umum PemegangSaham (RUPS) untuk melaksanakan dan menyetujui pembubaran Perseroan disebut denganRapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) karena rapat tersebut bukan termasuk ke dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan.

93 UUPT

  Setelah itu likuidator harus mempertanggung jawabkan kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengenai proseslikuidasi sehingga Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dapat memberikan pelunasan dan pembebasan kepada likuidator dan mengumumkan dalam Surat Kabar hasil akhir likuidasi danmemberitahukan kepada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik IndonesiaDepartemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia. Pengumuman dalam Surat Kabar danPemberitahuan kepada Menteri mengenai hasil akhir proses likuidasi, --agar Menteri mencatat berakhirnya status badan hukum Perseroan danmenghapus nama Perseroan dari Daftar Perseroan [Pasal 152 ayat (3) dan (5)]; status badan hukum Perseroan dalam BNRI [Pasal 152 ayat (8)].

BAB II I PERANAN NOTARIS PADA SAAT TERJADI PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS MELALUI RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS) A. Tinjauan Umum Tentang Notaris

1. Pengertian Notaris

  Pasal 1868 KUHPerdata tersebut hanya menyebutkan apa yang dimaksud dengan akta otentik dan tidak menjelaskan siapa yang dimaksud dengan pejabat umum, sampai dimana bataskewenangannya dan bagaimana menurut hukum yang dimaksud. Maka untuk melaksanakan ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata tersebut, pembuat Undang-Undang harus membuat peraturanperundang-undangan untuk menunjuk para pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan oleh karena itulah para notaris ditunjuk sebagai pejabat umum yang berwenang untukmembuat akta otentik berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UUJN.

2. Kewajiban, Kewenangan dan Larangan Notaris

  Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 akta, dan jika jumlah akta tidak dapat dimuat dalam satu buku, akta tersebut dapatdijilid menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku;g. Kewenangan NotarisKebutuhan hukum dalam masyarakat dapat dilihat dengan semakin banyaknya bentuk perjanjian yang dituangkan dalam suatu akta notaris, dimana notaris merupakan salah satupejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya 97 sebagaimana dimaksud dalam undang-undang.

98 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, PT. Refika Aditama, Bandung, 2009, hal. 78

  Jika hal ini terjadi maka sanksi untuk Notaris dapat didasarkankepada ketentuan Pasal 1868 dan 1869 KUHPerdata, yaitu dinilai tidak berwenangnya Notaris yang bersangkutan yang berkaitan dengan tempat dimana akta dibuat, maka akta yang dibuattidak diperlakukan sebagai akta otentik, tapi mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta 102 dibawah tangan, jika ditandatangani oleh para pihak. Peranan Notaris Pada Saat Terjadi Pembubaran Perseroan Terbatas Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangandan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan.

1. Pembuatan Akta Pembubaran Perseroan Terbatas

  Meminta dan memeriksa dokumen-dokumen yang diperlukan berkaitan dengan akta yang akan dibuat, seperti : Anggaran Dasar Perseroan berikut seluruh perubahannya, Surat Keterangan Pengesahan Badan Hukum Perseroan dari Menteri, Berita Negara RepublikIndonesia (BNRI), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari calon para penghadap (Direksi dan PemegangSaham); b. Pemberitahuan Kepada Menteri Dan Pengumuman Dalam Berita Negara Republik Indonesia (Perseroan Dalam Likuidasi) Dalam Pasal 147 ayat (1) huruf a jo huruf b UUPT disebutkan bahwa dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pembubaran Perseroan, pembubaran Perseroan wajibdiberitahukan kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan bahwa Perseroan dalam likuidasi dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI).

3. Pembuatan Akta Pertanggung Jawaban Likuidator Kepada RUPS

  Disamping membuat akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa(RUPSLB), Notaris juga berperan membuat akta berita acara pertanggung jawaban Likuidator kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sebagaimana diatur dalam Pasal 152 ayat (1)UUPT. Pemberitahuan kepada Menteri pada tahap ini ini dilakukan secara manual baik oleh Likuidator maupun oleh Notaris, karena database dari Perseroan Terbatas yangdibubarkan tersebut, pada saat pemberitahuan Perseroan Terbatas dalam likuidasi telah dihapus 115116 M.

BAB IV TANGGUNG JAWAB PEMEGANG SAHAM, DIREKSI DAN LIKUIDATOR BILA PROSES PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS TIDAK SESUAI DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS A. Likuidasi Perseroan Terbatas

1. Likuidasi Perseroan Terbatas

  Likuidator suatu Perseroan diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dalam hal Perseroan dibubarkan atas dasar putusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atauapabila pembubaran Perseroan didasarkan atas dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga. Khusus untuk pengangkatan likuidator dalam rangka pembubaran Perseroan karena berakhirnya jangka waktu berdirinya Perseroan,sudah harus dilakukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam tenggang waktu 30(tiga puluh) hari setelah jangka waktu berdirinya perseroan berakhir.

2. Tugas dan Kewenangan Likuidator

  Dalam hal likuidator memperkirakan bahwa utang Perseroan lebih besar daripada kekayaan Perseroan, likuidator wajib mengajukan permohonan pailit perseroan, kecualiperaturan perundang-undangan menentukan lain, dan semua kreditor yang diketahui identitas 126 dan alamatnya menyetujui pemberesan dilakukan di luar kepailitan. Apa yangdilakukan likuidator sejatinya sama dengan apa yang dapat dilakukan oleh Direksi dalam 127 keadaan Perseroan normal (tidak dalam rangka pembubaran).

Pasal 14 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Tri Budiyono, Op.Cit, hal. 238

  4) pelaksanaan likuidasi wajib dilakukan likuidator dengan penuh tanggung jawab, meliputi :(1) wajib saksama dan berhati-hati (the duty of due care) melaksanakan likuidasi,(2) wajib melaksanakan likuidasi secara tekun dan cakap (duty to be diligent ang 130 128 Pasal 142 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sehubungan dengan itu selain kewajiban likuidator yang disebut pada Pasal 147UUPT, juga terhadapnya berlaku ketentuan : 129 Dengan kata lain, tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa likuidator adalah Direksi Perseroan dalammasa likuidasi.

3. Berakhirnya Likuidasi

  Kreditor yang mengajukan tagihan sesuai dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (3) UUPT, dan kemudian ditolak oleh likuidator dapat mengajukan gugatanke Pengadilan Negeri dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal penolakan. Bagi kreditor yang belum mengajukan tagihannya dapat mengajukan melalui PengadilanNegeri dalam jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak pembubaran Perseroan diumumkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat (1) UUPT.

1. Tanggung Jawab Pemegang Saham

  Dalam Pasal 3 ayat (1) UUPT menyebutkan : ”Pemegang Saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidakbertangung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki”. Setelah proses likuidasi selesai, likuidator wajib memberikan laporan pertanggung jawabannya kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang mengangkatnya sekaligusRapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memberikan pelunasan dan pembebasan kepada likuidator, sebagaimana diatur dalam Pasal 152 ayat (1) jo ayat (3) UUPT.

2. Tanggung Jawab Direksi

  Berdasarkan Pasal 1 butir 5 UUPT yang menyebutkan ”Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentinganPerseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun diluar pengadilan sesuai ketentuan anggaran dasar. Dalam Pasal 101 ayat (1) UUPT yang menyebutkan : ”Anggota Direksi wajib melaporkan kepada Perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota Direksi yangbersangkutan dan/atau keluarganya dalam Perseroan dan Perseroan lain untuk selanjutnya 138 dicatat dalam daftar khusus”.

I. G. Rai Widjaja, Berbagai Peraturan dan Pelaksanaan Undang-Undang di Bidang Usaha Hukum Perusahaan, Megapoin, Bekasi-Indonesia, 2006, hal. 215

  Direksi sebelum Perseroan Terbatas memperoleh statusnya sebagai badan hukum, secara kolektif bersama dengan pendiri dan DewanKomisaris bertanggung jawab atas segala perbuatan hukum yang dilakukan, hal ini dimaksud agar Direksi tidak melakukan perbuatan hukum atas nama Perseroan yang belum berstatus badan 142 hukum tanpa persetujuan semua pendiri, Direksi dan Dewan Komisaris. Anggota Direksi wajib melaporkan kepada Perseroan mengenai saham yang dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam Perseroan dan Perseroan lain 150 untuk selanjutnya dicatat dalam daftar khusus, yaitu sanksi pertanggungjawaban Direksi mengenai keterbukaan (disclodure) yang berhubungan dengan kemungkinan terjadinyabenturan kepentingan; g.

3. Tanggung Jawab Likuidator

  Pelaksanaan pertanggungjawaban likuidator kepada Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS) dilakukan dengan syarat dan cara yang sama seperti pelaksanaan Rapat UmumPemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa, yaitu dengan cara :a. Pemberitahuan pertanggung jawaban likuidator kepada Menteri tersebut tidak lagi dilakukan melaluiSISMINBAKUM, akan tetapi dilakukan secara manual dengan mengirimkan surat permohonan dan pemberitahuan kepada Menteri Hukum dan HAM atau dapat memberikan secara langsungsurat permohonan dan pembertiahuan tersebut dengan mendatangi kantor Menteri Hukum dan HAM.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

  Pada saat terjadinya pembubaran Perseroan Terbatas melalui Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS), Notaris berperan membuat akta berita acara rapat pembubaran Perseroan Terbatas dan memberitahukan pembubaran Perseroan Terbatas kepada Menteri danmengumumkannya dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI). Oleh karena itu, apabila proses pembubaran atauproses likuidasi tidak selesai dilakukan atau tidak memenuhi seluruh proses likuidasi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka yangbertanggungjawab adalah likuidator.

B. SARAN

  Ulu Musi Agung Tenera” mematuhi proses pembubaran Perseroan Terbatas yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Apabila likuidator tidak selesai melakukan proses likuidasi atau tidak melaksanakan seluruh proses likuidasi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang PerseroanTerbatas, seharusnya likuidator dikenakan sanksi pidana dan perdata.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

  Simanungkalit, Parasian, Rapat Umum Pemegang Saham Kaitannya dengan Tanggung Jawab Direksi Pada Perseroan Terbatas, Yayasan Wajar Hidup, Jakarta, 2006. G Ray, Pedoman Dasar Perseroan Terbatas (PT), Pradnya Paramita, Jakarta, 1994.____________, Berbagai Peraturan dan Pelaksanaan Undang-Undang di Bidang Usaha Hukum Perusahaan, Megapoin, Bekasi-Indonesia, 2006.

B. Peraturan Perundang-Undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)

C. Karya Ilmiah, Makalah, Artikel, Kamus, Internet

  Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Undang_Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Dokumen baru