Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku

 0  51  132  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

KATA PENGANTAR

  Penulis menyadari dalam penulisan tesis ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifatmasukan yang membangun demi melengkapi kesempurnaan dalam penulisan tesis ini. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan danpenyelesaian tesis ini terutama yang terhormat : 1.

RIWAYAT HIDUP

  I. Identitas PribadiMaimunah Nama : Pem-Sei-Baru/ 19 September 1984 Tempat/Tanggal lahir :Jenis Kelamin : PerempuanAgama : IslamAlamat : Jalan Kcipir, Siumbut-umbut Kisaran II.

H. Abdul Rahman

  Nama Ibu : Hj. Nama Kakak : Dr.

III. Pendidikan

  117 ABSTRAK Karya terjemahan merupakan salah satu karya cipta yang dilindungi olehUndang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC). Berkaitan dengan hal-hal yang diatas objek permasalahan dalam tesis ini adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak penerjemah dalam perjanjianpenerbitan buku, bagaimana tanggung jawab hukum penerjemah dalam menghadapi tuntutan ganti rugi dari pemegang hak cipta asli, bagaimana penyelesaian sengketaapabila terjadi wanprestasi oleh penerbit.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ruang lingkup Hak Kekayaan Intelektual salah satunya adalah Hak Cipta, hak

  cipta adalah hak eksklusif para pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangibatasan-batasan menurut peraturan perundang-undangan. Adapun ketentuan tersebut berbunyi sebagai berikut : Dalam Undang-Undang ini ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, yang mencakup : 1.

2 Hak cipta termasuk kedalam benda immateriil, yang dimaksud dengan hak

  Jika dilihat dalam Pasal 11 Undang-undang Hak Cipta Tahun 2002 mengenai hal-hal yang dapat dilindungi hak cipta adalah haknya, bukan bendayang merupakan perwujudan dari benda tersebut. Dengan demikian semakin jelas bahwa benda yang dilindungi dalam hak cipta ini adalah benda immateriil, yaitudalam bentuk hak moral (moral right).

2 Yusran isnaini, , Buku Pintar HAKI, Ghalia Indonesia, Bogor, 010, hal

  Permasalahan internal yang sering terjadi antara penerjemah dan penerbit yaitu lewatnya limit waktu penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah,penerjemah tidak mau memperbaiki hasil buku terjemahan yang dipertanyakan oleh penerbit saat proses pengeditan, penerjemah secara serampangan menerjemhkan bukuberbahasa asing,dll sehingga merugikan penerbit. Dipihak penerbit juga sering melanggar isi perjanjian seperti pemberian royalty yang tidak sesuai dengan waktu Permasalahan eksternal yang sering terjadi yaitu penerjemahan tidak meminta izin terlebih dahulu dari Pemegang Hak Cipta asli, tidak dituliskannya namaPemegang Hak Cipta asli dalam buku terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit, dll.

7 Tamotsu Hozumi, Asian Copyright Handbook, Indonesian version, Ikatan Penerbit Indonesia, Jakarta, 2006, hal. 49

  Kalau ingin menerjemahkan tapi tidak mau ribet dengan pengurusan hak penerjemahan dari pemegang hak cipta, maka caranya adalah dengan menerjemahkankarya-karya yang perlindungan Hak Ciptanya sudah habis, sudah berakhir, dan berada di public domain. Tetapi pada kenyataannya banyak terjadi kendala-kendala yang terjadi dalam upayamelindungi hak cipta penerjemah Tidak dibayarnya royalty yang telah disepati oleh penerbit dalam hal ini penerjemah tidak dapat menikmati hak ekonomi yaitumendapatkan royalti atas apa yang sudah diterjemahkan.

B. Rumusan Masalah

  Secara teoritis, merupakan bahan masukan dan pengkajian lebih lanjut terhadap teoritis-teoritis yang ingin memperdalam, mengembangkan atau menambahpengetahuannya dalam hal hak cipta. 19 Tahun 2002, untuk melindung hasil karya para penerjemah yang diterbitkan dalam bentuk buku.

E. Keaslian Penelitian

  Pengajuan judul yang disebutkan diatas telah melalui tahap penelusuran pada data pustaka di lingkungan Universitas Sumatera Utara dan perolehan informasibelum adanya pengangkatan judul yang diajukan oleh penulis dengan persetujuanSekretaris Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas SumateraUtara. Adapun penelusuran kepustakaan yang dilakukan oleh penulis di lingkungan kepustakaan Universitas Sumatera Utara, terdapat beberapa penelitian yang mengkajitentang pemegang hak cipta/pengarang diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh saudari Nurleli Aman, NIM 017011070, dengan judul “Perlindungan HukumTerhadap Pemegang Hak Cipta Dan Penerbit” Dengan permasalahan : 1.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka teori

  Perkembangan ilmu pengetahuan tidak lepas dari teori hukum sebagai landasannya dan tugas teori hukum adalah untuk : “menjelaskan nilai-nilai hukumdan postulat-postulatnya hingga dasar-dasar filsafatnya yang paling dalam, sehingga penelitian ini tidak terlepas dari teori-teori ahli hukum yang di bahas dalam bahasa 8 dan sistem pemikiran para ahli hukum sendiri. Sebagaimana pemegang hak cipta memiliki hak eksklusif atas hasil ciptaaanya(buku), maka pemegang hak cipta tersebut memiliki hak eksklusif atas segala hak yang timbul (hak turunan) bila ciptaan tersebut dialihwujudkan dalam bentuk produk-produk yang berbeda, sebagai contoh dibuatnya suatu buku menjadi film ataupun26 Rachmadi Usman, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual, Alumni, Bandung, 2003, hal.112.

1. Adanya persetujuan kehendak antara pihak-pihak yang membuat perjanjian (konsensus)

  Menurut ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata, perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, tidak dapat ditarikkembali tanpa ada persetujuan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang 30 cukup menurut undang-undang dan harus dilaksanakan dengan itikad baik. Penyelesaian sengketa undang-undang hak cipta diatur dalam Pasal 55 sampai dengan Pasal 67.

2. Konsepsi

  Penerjemah adalah seseorang atau lebih, yang dalam usahanya melakukan proses mengartikan suatu karya tulis dari satu bahasa ke bahasa lain. Buku adalah karya tulis yang telah diterjemahkan dari satu bahasa kebahasa lainnya dan telah mendapat izin dari pemegang hak cipta.

G. Metode Penelitian

  Dengan demikian yang bersifat deskriptif dimaksudkan untuk melukiskan keadaan objek atauperistiwanya, kemudian menelaaah dan menjelaskan serta menganalisa data secara mendalam dengan mengujinya dari berbagai peraturan perundang-undangan yangberlaku maupun dari berbagai pendapat ahli hukum sehingga dapat diperoleh gambaran tentang data faktual yang berhubungan dengan perlindungan hukumterhadap penerjemah yang membuat perjanjian dengan penerbit. Metode Pendekatan Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang bersifat yuridis normatif yaitu dengan meneliti bahan kepustakaan atau bahan data sekunderyang meliputi buku-buku serta norma-norma hukum yang terdapat pada peraturan perundang-undangan, asas-asas hukum, kaedah hukum dan sistematika hukum serta32 Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, Granit, Jakarta, 2004, hal.58.

33 Sifat penelitian penulisan ini yaitu deskriptif analitis. Bersifat deskriptif

  maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang diteliti. Analitis dimaksudkan berdasarkangambaran fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat bagaimana menjawab permasalahan.

3. Sumber Data

  Studi KepustakaanSebagai penelitian hukum yang bersifat normatif, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan (Library Research) yakni upaya untuk memperolah data dari penelusuran literatur kepustakaan, peraturan perundang-undangan, majalah, artikel dan sumber lainnya yang relevan dengan penelitian ini. Analisis Data Analisa data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan 36 dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

37 Ibid. hal 190

BAB II PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PENERJEMAH DALAM PERJANJIAN PENERBITAN BUKU TERJEMAHAN A. Proses Penerbitan Buku Terjemahan

  Sebelum penerbit menerbitkan suatu ciptaan dalam bahasa yang lain,penerbit harus membuat kontrak yang mencakup hak terjemahan. Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau PemegangHak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyakCiptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu (lihat pasal 1 angka 14 UUHC).

2. Penerbit Membuat Perjanjian dengan Penerjemah untuk Menerjemahkan Buku Terjemahan

  19 Tahun 2002 dapat dilihat bahwa perlindungan yang diberikan oleh Undang-Undang tidak hanya pada karya-karya atauciptaan-ciptaan yang asli saja, akan tetapi juga terhadap karya-karya atau ciptaan- ciptaan yang bersifat turunan (derivatif) atau pengalihwujudan atau juga pengolahan. Bentuk peralihan dapat dilakukan melalui pewarisan, hibah,wasiat, perjanjian tertulis dan sebab-sebab yang lain yang dibenarkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

B. Hubungan Hukum antara Penerbit dan Penerjemah dalam Penerbitan Buku Terjemahan

  Dengan lahirnya perjanjian yang ditetapkan dalam Kitab Undang-UndangHukum Perdata, dengan azas hukum kebebasan berkontrak yang menjadi dasar bagi lahirnya perjanjian antara penerjemah dan penerbit, yang dengan perjanjianpenerbitan tersebut telah timbul hubungan hukum yaitu adanya hak dan kewajiban yang melahirkan aturan hukum untuk membuktikan tanggung jawab hukum bagi parapihak. Menurut ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata, perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, tidak dapat ditarikkembali tanpa persetujuan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang cukup menurut undang-undang dan harus dilaksanakan dengan itikad baik.4647 Ibid.

49 Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta

50 Ketentuan diatas menegaskan pengakuan hak yang dimiliki pencipta untuk

  untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturanperundang-undangann yang berlaku. Kemudian yang dimaksud dengan perbanyakan dalam konteks regulasi hak cipta ini adalah perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu ciptaan, baik secarakeseluruhan maupun bagian yang sangat subtansial dengan menggunakan bahan- bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanenatau temporer.

51 Eddy damian, Hukum Hak Cipta, penerbit alumni, bandung, 2009

  Khusus untuk susunan perwajahan karya tulis yang diciptakan penerbit dalam suatu buku yang diterbitkannya, UUHC 2002 menetapkan jangka waktupearlindungannya dalam pasal 30 (2), sebagai berikut : ”Hak cipta atas susunan perwajahan karya tulis yang diterbitkan berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejakpertama kali diterbitkan.” Penerbit sebagai suatu badan usaha yang melakukan proses manufaktur atau kegiatan penerbitan, harus dibedakan dengan badan usaha percetakan. Walaupun iklim kondusif seperti yang dikehendaki GBHN mengenai dunia perbukuan dan penerbitan belum tercapai sampai sekarang, tidak dapat disangkalbahwa peran penerbit sebagai motor dalam dunia buku-buku yang memuat karya- karya tulis dibidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni mempunyai fungsi yangesensinya ialah memberikan layanan informasi.

55 Rahmadi Usman, Hukum Atas Kekayaan Intlektual Perlindungan Dan Dimensi Hukumnya

  Dalam UUHC, hakpenampilan ini menjadi bagian dalam istilah yang disebut pelaku, yaitu aktor, penyanyi, pemusik, penari atau mereka yang menampilkan, memperagakan,mempertujukkan, menyajikan, menyampaikan, mendeklamasikan, atau memainkan suatu karya music, drama, tari, sastra, folklore, atau karya senilainnya.5) Hak penyiaran (broadcasting right) Hak untuk menyiarkan dapat berupa mentransmisikan suatu ciptaan dengan atau tanpa peralatan kabel atau melalui sistem elektromagnetik. Pasal 1 ayat 2 dalam mendefenisikan “pencipta” mengacu kepada “sesuatu yang bersifat pribadi”dari suatu hasil karya yang lahir berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang diterangkan dalam bentuk khas, hakuntuk mempertahankan keutuhan karya tersebut seperti yang dipahami si pencipta 57 terlihat memperoleh perlindungan hak cipta yang diatur dalam Undang-undang.

2. Tanggung Jawab Penerjemah dalam Pelaksanaan Penerbitan Buku Terjemahan

  Jika hak cipta itu diserahkan kepada orang lain/badan lain untuk seluruhnya, maka Secara umum hak dan kewajiban penerjemah selaku pemegang hak cipta dengan penerbit didalam perjanjian kerjasama yang mereka sepakati dapatdisimpulkan sebagai berikut : Hak dan kewajiban para pihak itu dapat terlihan dengan jelas dalam pasal- pasal/ketentuan-ketentuan yang dituangkan secara tertulis di dalam perjanjianpenerbitan buku antara lain : a. Meskipun hak dan kewajiban para pihak telah tertuang dengan jelas di dalam perjanjian penerbitan buku, akan tetapi secara umum dapat dijelaskan hak dankewajiban antara pemegang hak cipta dan penerbit yaitu : 2) Mendapat persen eksemplar setiap kali terbit.3) Mengontrol/mengetahui berapa jumlah buku yang telah laku terjual.4) Mengontrol/mengetahui berapa banyak jumlah buku yang telah dicetak 5) Mengetahui kapan bukunya akan dicetak ulang.

BAB II I TANGGUNG JAWAB HUKUM PENERJEMAH DALAM MENGHADAPI TUNTUTAN GANTI RUGI DARI PEMAGANG HAK CIPTA ASLI A. Tuntutan Ganti Rugi dari Pemegang Hak Cipta Asli

1. Pengertian Ganti Rugi

  Onrechtmatige daad mendasarkan adanya kerugian yang diderita akibat perbuatan orang lain yang telah melanggar hukum (dengan berbagai maknya), sedangkan wanprestasi mendasarkan pada adanyakerugian yang disebabkan pelanggaran terhadap sebuah perjanjian yakni tidak memenuhi kewajibannya atau terlambat memenuhinya atau memenuhinya tetapi tidakseperti yang telah diperjanjikan (Subekti, 2005:147). Yang dimaksud dengan hak moral adalah hak pemeganghak cipta untuk mengajukan keberatan terhadap setiap perbuatan yang bermaksud mengubah, mengurangi, atau menambah keaslian ciptaannya yang dapat meragukankehormatan dan reputasi pencipta/pemegang hak cipta.58 Abdul Kadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, PT.

2. Tuntutan Ganti Rugi dari Pemegang Hak Cipta Asli

  Jika ciptaan (Pasal 11 UUHC) itu ternyata hasil pelanggaran hak cipta, maka pemegang hak cipta asli (pencipta asli) berhak mengajukan gugatan kepadaPengadilan Negeri yang berwenang dengan tidak mengurangi tuntutan pidana terhadap pelanggar hak cipta (Pasal 42 ayat 3 UUHC). supaya dilakukan penyitaan terhadap benda yang diumumkan bertentangan dengan hak cipta itu, perbanyakan yang tidak diperbolehkan itu, baikpenyitaan untuk dijadikan milik penggugat maupun penyitaan untuk dimusnahkan atau dirusak, sehingga tidak dapat dipakai lagi.

B. Tanggung Jawab Hukum Penerjemah dalam Menghadapi Tuntutan Ganti Rugi dari Pihak Ketiga dalam Penerbitan Buku Terjemahan

  Tanggung jawab pemegang hak cipta terlihat jelas di dalam perjanjian penerbitan buku yang tertuang dalam hal mengenai hak dan kewajiban para pihak. Hasil terjemahan tersebutdilakukan secara seksama sehingga menghasilkan buku terjemahan yang diharapkan, dan jika terbukti penerjemah melakukan penerjemahan secara serampangan makapenerjemah akan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya, kesediaan untuk mengoreksi hasil terjemahan.

60 Hasil wawancara dengan Abdul Halim, Direktur PT. Ciputat Press Jakarta Selatan, Tanggal 20

April 2011

BAB IV PENYELESAIAN SENGKETA APABILA TERJADI WANPRESTASI OLEH PENERBIT A. Wanprestasi Wanprestasi atau ingkar janji adalah berhubungan erat dengan adanya

  Dalam hal wanprestasi berupa tidak sempurna memenuhi prestasi, dalam ilmu hukum kontrak dikenal dengan suatu doktrin yang disebut dengan “doktrinpemenuhan prestasi substansial” adalah suatu doktrin yang mengajarkan bahwa sungguhpun satu pihak tidak melaksanakan prestasinya secara sempurna, tetapi jikadia telah melasanakan prestasinya tersebut secara substansial, maka pihak lain harus juga melaksanakan prestasinya secara sempurna. Wanprestasi atau pun yang disebut juga dengan istilah breach of contract yang dimaksudkan adalah tidak dilaksanakan prestasi atau kewajiban sebagaimanamestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak-pihak tertentu seperti yang disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan.

1. Terminasi Suatu Kontrak

a. Ketentuan dalam kontrak tentang terminasi Suatu kontrak yang telah dibuat secara sah dapat diputuskan ditengah jalan

  Ada berbagai kemungkinan pengaturan tentang pemutusan kontrak dalam kontrak yang bersangkutan, yaitu sebagai berikut : 1) Penyebutan alasan pemutusan kontrakSering kali dalam kontrak diperinci alasan-alasan sehingga salah satu pihak atau kedua belah pihak dapat memutuskan kontrak. Penulisan kewajiban memberi peringatan seperti ini sejalan dengan prinsip yang dianut oleh KUH Perdata yaitu ingebrekestelling, yakni dengandikeluarkannya akta lalai oleh pihak kreditur (lihat pasal 1238 KUH Perdata), dimana somasi (dengan berbagai perkecualian) pada prinsipnya memang diperlukan untuk 64 dapat memutuskan suatu kontrak.

b. Ketentuan dalam pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata

  Suatu kontrak yang sudah ditandatangani secara sah dapat dibatalkan/ditarik kembali maka dijawab oleh Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata. Pada prinsipnya Pasal1338 ayat (2) KUH Perdata tidak memperkenankan ditariknya kembali suatu kontrak kecuali apabila dipenuhi syarat-syarat tertentu.

64 Ibid, hal. 94

  Syarat-syarat tertentu agar suatu kontrak dapat dibatalkan sebagaimana dimaksud antara lain dalam pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata adalah sebagai berikut :1) Kontrak tersebut haruslah dibuat secara sah. Sebab jika syarat sahnya kontrak tidak dipenuhi, batal atau pembatalan kontrak tersebut dapatdilakukan tetapi lewat pasal1338 ayat (2) KUH Perdata, dan 2) Dibatalkan berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan dalam undang- undang, atau3) Dibatalkan berdasarkan kesepakatan semua pihak dalam kontrak yang bersangkutan.

c. Pengenyampingan pasal 1266 KUH Perdata

  Dengan demikian, menurut pasal 1266 KUH Perdata tersebut, dengan alasan salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya, maka pihak lainnya dalamkontrak tersebut dapat membatalkan kontrak yang bersangkutan, akan tetapi pembatalan tersebut tidak boleh dilakukan begitu saja, melainkan haruslah dilakukanlewat pengadilan. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam praktek sering ada ketentuan dalam kontrak yang mengenyampingkan berlakunya pasal 1266 tersebut, yang berartibahwa kontrak tersebut dapat diputuskan sendiri oleh salah satu pihak (tanpa campur tangan pengadilan) berdasarkan prinsip exeptio non adimpleti contractus, jika pihak 66 lainnya melakukan wanprestasi.

d. Prinsip perlindungan pihak yang dirugikan

66 Ibid, hal. 95

Salah satu prinsip yang sangat mendasar dalam ilmu hukum kontrak adalah prinsip perlindungan kepada pihak yang dirugikan akibat adanya wanprestasi daripihak lainnya dalam kontrak yang bersangkutan. Berlandaskan kepada prinsip perlindungan pihak yang dirugikan ini maka apabila terjadinya wanprestasi terhadap suatu kontrak, kepada pihak lainnyadiberikan berbagai hak sebagai berikut :

1) Exeptio non adimpleti contractus

  Dalam hal tersebut, maka pihak yang telah melakukan prestasi tersebut berhak untuk menuntut restitusi dari piahk Hak untuk menuntut restitusi ini dalam hukum jerman disebut dengan Rucktritt atau Ablehnung der Leistung, sementara istilah resolution dalam hukum prancis mengacu kepada baik hak pihak yang dirugikan untuk menuntut restitusi maupun haknya untuk menolak pemenuhan prestasi selanjutnya dari pihak yang telahmelakukan wanprestasi. Asal saja ketidakterlaksanaan kewajiban tersebut bukan karena hal-hal yang bersifat force majeure, yang untuk itu tidak diatur oleh hukum yang mengatur tentang wanprestasi, tetapisudah merupakan wilayah hukum yang lain, yakni hukum yang mengatur tentang force majeure dan tentang “resiko”.

f. Syarat Restorasi dalam Terminasi Kontrak

  Pihak yang dirugikan karena wanprestasi atas kontrak pada prinsipnya dapat memutuskan kontrak yang bersangkutan. 2) Pembayaran kompensasiAkan tetapi jika benda tersebut tidak dapat dikembalikan secara fisik, amka apabila ingin memutuskan kontrak, pihak yang telah dirugikan olehwanprestasi tersebut harus memberikan kompensasi sejumlah manfaat yang telah diterimanya.

g. Akibat dari Terminasi Kontrak

  Dalam hal ini, jika pemutusan kontrak tersebut dilakukan dengan maksud agar pihak yang dirugikan dapat mendapatkan kembali prestasinya yang telahdiberikan kepada pihak yang melakukan wanprestasi, maka pihak yang dirugikan oleh wanprestasi tersebut mempunyai kewajiban untuk melakukanrestorasi, yakni kewajiban dari pihak yang dirugikan untuk mengembalikan manfaat dari prestasi yang sekiranya telah dilakukan oleh pihak yangmelakukan wanprestasi tersebut. Akibat terhadap hak untuk mendapatkan ganti rugi Seperti telah disebutkan bahwa jika ada pihak yang dirugikan karena wanprestasi dari pihak yang lainnya, maka pihak yang dirugikan tersebutdapat memutuskan kontrak yang bersangkutan.

2. Repudiasi Terhadap Kontrak

a. Pengertian Repudiasi

  Konsekuensi Yuridis dari Repudiasi Adapun yang merupakan konsekuensi-konsekuensi yuridis dari adanya repudiasi atas suatu kontrak adalah : 1) Repudiasi dapat menunda atau bahkan membebaskan pihak lain dari kewajibannya melaksanakan prestasi dalam kontrak tersebut, dan2) Repudiasi memberikan hak kepada pihak yang dirugikan untuk dapat segera menuntut ganti rugi, sungguhpun kepada pihak yang melakukanrepudiasi belum jatuh waktu untuk melaksanakan kewajibannya berdasarkan kontrak. Sehingga dengan demikian pihak yang dirugikan oleh tindakan repudiasi ini dapat segeramengambil sikap apakah misaknya membuat kontrak pengganti dengan pihak lain, melakukan mitigasi atas kerugiannya.

d. Perwujudan tindakan repudiasi

  Suatu tindakan repudiasi atas suatu kontrak dapat diwujudkan dengan cara tegas atau secara inklusif. 1) Repudiasi secara tegas Repudiasi dapat dilakukan secara tegas maksudnya, pihak yang melakukan repudiasi menyatakan kehendaknya dengan tegas bahwa dia tidak ingin melakukan kewajibannya yang terbit dari kontrak.

2) Repudiasi secara inklusif

  Kriteria utama terhadap adanya repudiasi secara inklusif adalah bahwa pihak yang melakukan repudiasi menunjukkan tindakan atau maksudnyasecara “logis dan jelas” bahwa dia tidak akan melaksanakan kewajibannya yang terbit dalam kontrak. b) Dengan indikasi;Bisa juga terjadi suatu repudiasi jika salah satu pihak dalam kontrak menunjukkan indikasinya bahwa dia tidak akan atau tidak mungkin lagi untuk c) Ketidakmampuan untuk melaksanakn kontrakKetidakmampuan salah satu pihak untuk melaksanakan kontrak, sungguhpun dia masih bermaksud untuk melaksanakannya, juga dapatmenyebabkan timbulnya suatu repudiasi.

e. Pembatalan repudiasi

  Dalam ilmu hukum kontrak diajarkan bahwa suatu repudiasi sampai batas- batas tertentu dapat dibatalkan oleh pihak yang melakukan tindakan repudiasitersebut. Dalam hal ini, suatu repudiasi tidak lagi dapat dibatalkan jika : 1) Pihak yang dirugikan telah menuntut ganti rugi; atau2) Pihak yang dirugikan telah mengubah posisinya secara signifikan karena adanya kontrak tersebut; atau3) Pihak yang dirugikan telah menyatakan bahwa dia menganggap bahwa 68 repudiasi tersebut telah final.

3. Resisi Terhadap Kontrak

  Yang dimaksud dengan resisi adalah pembatalan suatu kontrak sehingga kontrak tersebut menjadi status quo. Jika kontrak tersebut dibuat oleh orang yang tidak cakap berbuat, yakni dibuat oleh orang dibawah umur, orang gila dan sebagainya.

68 Ibid, hal 105-109

  Sebaliknya berbeda dengan resisi, maka ada juga yang disebut dengan“nullity” yang menyebabkan kontrak “batal demi hukum”, yakni batal dengan sendirinya walaupun tanpa dimintakan oleh pihak manapun. Sementara dalam nullity, penampilan kontrak itu sendiri yang cacat hukum sehingga mempunyai akibat yang batal demi hukum.

4. Reformasi Kontrak

  Jika dengan resisi dimaksudkan untuk membatalkan kontrak sehingga kontrak dianggap tidak pernah ada sama sekali, maka dengan pranata hukum kontrak yangdisebut dengan reformasi dimaksudkan untuk mengubah bahasa dalam kontrak sehingga sesuai dengan maksud para pihak. Misalnya jika dalam perjanjian penerbitan dimana pihak penjual bermaksud member royalty sebesar 9000/ lembar hasil terjemamhan, tetapi sekretaris salahmengetiknya sehingga tertulis dalam perjanjian 15000/lembar, maka terhadap kontrak seperti ini dapat ditempuh upaya “reformasi”, yakni upaya hukum untuk mengubahbahasa dalam kontrak sehingga sesuai dengan maksud dari para pihak.

B. Wan Prestasi oleh Penerbit dalam Penerbitan Buku Terjemahan

  Dalam perjanjian yang telah mereka sepakati tentang honorarium penerjemah tercantum dalam Pasal 4 dan Pasal 5, bahwa kedua belah pihak telahsetuju dengan jumlah honor yang akan didapatkannya, pembayaran dilakukan melalui 2 (dua )tahap. Suatu perjanjian lisensi antara penerbit dan pemegang hak cipta asli yang menerima pengalihan hak cipta untuk dieksploitasi hak ekonominya hakikatnyamerupakan suatu perjanjian keperdataan yang mengatur pengalihan hak cipta dari pemegang hak cipta asli kepada penerbit.

C. Penyelesaian Sengketa atas Wanprestasi Penerbit dalam Penerbitan Buku Terjemahan

  Didalam perjanjian penerbitan buku yaitu dalam Pasal 7 menyatakan bahwa apabila terjadi perselisihan anatara penerjemah dan penerbit mengenai perjanjian ini,maka segala sesuatu akan diselesaikan secara musyawarah untuk menncapai mufakat. Apabila musyawarah tidak menghasilkan mufakat, kedua belah pihak setuju untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan tersebut kepada Pengadilan Negeri.71 Untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi ada 2 (dua) cara penyelesaian : Hasil wawancara dengan Abdul Halim, Direktur PT.

1. Pengadilan

  Munculnya sengketa dibidang hak cipta biasanya berawal dari sebuah pelanggaran yang terjadi dalam proses penggunaan atau pemanfaatan hak ciptatersebut, bisa jadi antara pemegang hak cipta dengan pihak yang memanfaatkan hak cipta tersebut. Penyelesaian sengketa terhadap permasalahan di bidang hak cipta yang dapat dilakukan oleh para pihak terhadap bisnisnya yang berkaitan dengan aspek hukumkekayaan intelektual adalah munculnya pelanggaran yang kemudian menjadi sengketa tersebut, maka untu menyelesaikannya diperlukan suatu sarana sebagaimedia penyelesaiannya.

a. Gugatan perdata dalam sengketa hak cipta

  Akan tetapi gugatan tersebut tidak dapat dilakukan pemegang hak cipta terhadap ciptaan yang berada pada pihak yang dengan itikad baik memperolehciptaan tersebut semata-mata untuk keperluan sendiri dan tidak digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatankomersial (Pasal 57). Disamping itu berkaitan dengan perlindungan hak moral secara khusus pencipta atau ahli waris suatu ciptaan dapat mengajukan gugatan ganti rugi ataspelanggaran hak moral, yaitu pencipta atau ahli warisnya dapat menuntut pemegang hak cipta atas tidak dicantumkannya nama pencipta atau ahli warisnya dapatmenuntut pemegang hak cipta atas tidak dicantumkannya nama pencipta dalam suatu ciptaan.

2. Penyelesaian sengketa diluar pengadilan (non ligitasi)

  Hal ini sebagaimana disebutkandalam Pasal 1 ayat (3) UU Arbitrase yang menyatakan : Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbulsengketa atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa. Keadaan seperti ini biaasanya berakhir dengan putusnya jalur komunikasi yang sehat Agar tercipta proses penyelesaian sengketa yang efektif, prasyarat yang harus dipenuhi adalah kedua belah pihak harus sama-sama memperhatikan atau menjunjungtinggi hak untuk mendengar dan hak untuk didengar.

1. NEGOSIASI

79 Nanang Sutrisno, Op.Cit., hal 4

  Teknik negosiasi yang kompetitif sering kali diistilahkan dengan teknik negosiasi yang bersifat a lot (tough) dimana unsure-unsur yang menjadi ciri seorangnegosiator kompetitif adalah sebagai berikut : a. Para pihak berkomunikasi untuk menjajaki kepentingan dan nilai-nilai bersama (shared interest and values) denganmenggunakan rasio dan akal sehat, sehingga penyelesaian dilakukan berdasarkan analisis objektif sebagai upaya membangun atmosfir yang positif dan saling 80 percaya.

80 Zairin Harahap, “ADR Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup”

  KONSILIASI Didalam masyarakat istilah damai (konsiliasi) dalam menyelesaikan suatu urusan atau masalah seringkali mempunyai konotasi negative, yaitu mempermudahproses penyelesaian dengan jalan diluar prosedur yang ditetapkan dengan jalan diluar prosedur yang ditetapkan dengan memberikan imbalan sejumlah uang kepada pihak- 81 pihak yang terlibat dalam proses tersebut. Mediator tidak memiliki kewenangan campur tangan untuk memutuskan dan menentukan hasil akhir kesepakatan karena 83 para pihak yang bersengketa itu sendiri yang harus melakukannya.

4. ARBITRASE

  Arbitrase merupakan mekanisme penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga bertindak sebagai “hakim” yang diberi kewenanganpenuh oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa.

83 Ahmad M. Ramli, “tanggapan atas rancangan undang-undang tentang penyelesaian

  Pada umumnya sebagaimana kita temukan dalam praktek atau aktivitas bisnis dapat terlihat dalam setiap perjanjian yang dilakukan terutama dalam bidang perdata,khususnya bidang perdagangan/business, masyarakat umumnya dihadapkan pada pilihan penyelesaian sengketa secara ligitasi/pengadilan tetapi sekarang masyarakatdihadapkan atau mendapat pilihan untuk menggunakan sarana atau lembaga ADR sebagai pilihan penyelesaian sengketanya yang mungkin timbul dalam aktivitas bisnismereka. 2) Persetujuan untuk menyelesaikam sengketa melalui arbitrase dimuat dalam suatu dokumen yang ditandatangani oleh para pihak (dalam hal ini perjanjianpenerbitan buku).3) Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa dibidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturanperundang-undangan.4) Sengketa yang tidak bertentangan dengan norma kesusilaan dan ketertiban umum.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka

  Perlindungan hukum terhadap penerjemah dalam perjanjian penerbitan buku terjemahan yaitu dalam bentuk perjanjian yang dibuat oleh penerjemah danpenerbit, kesepakatan yang mereka buat dalam perjanjian itu mengontrol hak, tetapi juga menentukan spesifik tindakan dan kompensasi apa yang diperlukanuntuk menikmati hak itu. Tanggung jawab hukum penerjemah dalam menghadapi tuntutan ganti rugi dari pihak ketiga tidak ada, jadi yang bertanggung jawab atas tuntutan pihak ketigaadalah penerbit karena penerjemah hanya bertanggung jawab untuk menerjemahkan saja atau menerima royalty saja, sedangkan penerbitbertanggung jawab untuk mencetak, menerbitkan, dan memasarkan buku terjemahan.

B. Saran

  Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002 harus lebih disosialisasikan kepada penerjemah serta kepada para penerbit sehingga mereka sangat fahamakan hak dan kewajibannya. Penerjemah sebaiknya mendaftarkan karya ciptaannya guna mendapat perlindungan hukum yang pasti, sehingga jika terjadi sengketa akan lebih mudahmelakukan pembuktiannya meskipun tanpa pendaftaran hak cipta itu juga dilindungi namun sulit dalam hal pembuktiannya.

A. Buku

  117 State, Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif Empirik, BEE Media Indonesia, Jakarta, 2007. Lutviansori, Arif, Hak Cipta dan Perlindungan Folklor di Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010.

Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Analisis Data Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Hak Penerjemah dalam Pelaksanaan Penerbitan Buku Terjemahan Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka teori Metode Pendekatan Sumber Data Teknik Pengumpulan Data NEGOSIASI KONSILIASI Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Penerbit Membuat Perjanjian dengan Penerjemah untuk Menerjemahkan Pengadilan. Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Penyelesaian sengketa diluar pengadilan non ligitasi Reformasi Kontrak Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Repudiasi Terhadap Kontrak Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Resisi Terhadap Kontrak Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Keaslian Penelitian Tanggung Jawab Penerjemah Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Terminasi Suatu Kontrak Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku Tuntutan Ganti Rugi dari Pemegang Hak Cipta Asli.
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjema..

Gratis

Feedback