Feedback

Hubungan Antara Jumlah Penduduk Dan Jumlah Personil Polisi Dengan Jumlah Kejahatan Di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2009.

Informasi dokumen
HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PENDUDUK DAN JUMLAH PERSONIL POLISI DENGAN JUMLAH KEJAHATAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR TAHUN 2009 TUGAS AKHIR JUNIATY PARDEDE 082407067 PROGRAM STUDI DIPLOMA III STATISTIKA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERSETUJUAN Judul Kategori Nama Nomor Induk Mahasiswa Program Studi Departemen Fakultas :HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PENDUDUK DAN JUMLAH PERSONIL POLISI DENGAN JUMLAH KEJAHATAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR TAHUN 2009 : TUGAS AKHIR : JUNIATY PARDEDE : 082407067 : DIPLOMA (D-III) STATISTIKA : MATEMATIKA :MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Diluluskan di Medan, Juni 2011 Diketahui Departemen Matematika FMIPA USU Ketua, Pembimbing, Prof. DR. Tulus, M.Si NIP. 19620901 198803 1 002 Drs. Gim Tarigan, M.Si NIP.19550202 198601 1 001 Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PENDUDUK DAN JUMLAH PERSONIL POLISI DENGAN JUMLAH KEJAHATAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR TAHUN 2009 TUGAS AKHIR Saya mengakui bahwa tugas akhir ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya. Medan, Mei 2011 JUNIATY PARDEDE 082407067 Universitas Sumatera Utara PENGHARGAAN Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan dan bimbingan yang sangat berharga yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan tepat waktu. Maka dengan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak saya tercinta R.Pardede dan Mama saya tersayang E.br Sitorus, yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih sejak kecil hingga saat ini selalu memberikan doa dan dorongan, semangat serta materi yang tak ternilai dengan apapun. 2. Bapak DR. Sutarman, M.Sc, selaku Dekan FMIPA USU. 3. Ibu DR. Marpongahtun, M.Si, selaku Pembantu Dekan I FMIPA USU. 4. Bapak Prof. DR. Tulus, M.Si, selaku Ketua Departemen Matematika FMIPA USU. 5. Bapak Drs. Faigiziduhu Bu’ulölö, M.Si, selaku Koordinator Program Studi D-III STATISTIKA FMIPA USU. 6. Bapak Drs. Gim Tarigan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing saya yang telah banyak memberi dukungan, bimbingan serta saran dalam penulisan Tugas Akhir saya ini. 7. Untuk Abangku Bastian Pardede serta adik-adikku Pontius Pardede, Sari Pardede dan Elfriyanti Pardede yang telah memberikan semangat dan doa. 8. Untuk teman-teman seperjuangan Ben Oni M. Wijaya, Dedi M.Sihombing dan ‘Anyway’ (Saurina Banjarnahor, Lamsihar D.F. Pakpahan, dan Dame A. Tanjung) yang telah memberikan doa dan dukungannya kepada saya. 9. Teman-teman kos M’31 ( Titin, Nengsot, Yosfet, Trigus, Siska Louli, Junze, dan Lasma) terimakasih buat semangat dan dukungan doanya. Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini masih terdapat beberapa kekurangan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan Tugas Akhir ini. Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan kepada setiap orang yang membacanya. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Medan, Penulis Mei 2011 Juniaty Pardede Universitas Sumatera Utara NIM: 082407067 DAFTAR ISI PERSETUJUAN PERNYATAAN PENGHARGAAN DAFTAR ISI BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Rumusan Masalah 1.4 Batasan Masalah 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.6 Lokasi Penelitian 1.7 Metode Penelitian 1.8 Sistematika Penulisan Halaman i ii iii iv 1 1 2 3 3 3 4 4 5 BAB 2 Tinjauan Teoritis 2.1. Statistik Non Parametrik 2.2. Hipotesis 2.3. Analisa yang Digunakan 2.3.1 Analisa Univariat 2.3.2 Analisa Bivariat 2.3.3 Uji Chi-Kuadrat 7 7 8 9 9 10 10 BAB 3 Sejarah Singkat Tempat Riset 3.1. Sejarah Kepolisian 3.2. Visi dan Misi Kepolisian 3.2.1. Visi 3.2.2. Misi 3.3. Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas 22 22 24 24 24 26 BAB 4 Analisis Dan Pengolahan Data 4.1. Analisa Univariat 4.2. Analisa Bivariat 4.3. Evaluasi 30 30 34 46 BAB 5 Implementasi Sistem 5.1. Pengertian dan Pengenalan Microsoft Excel 5.2. Mengoperasikan Excel 5.3. Pembuatan Grafik 47 47 48 51 BAB 6 Kesimpulan dan Saran 6.1. Kesimpulan 6.2. Saran Daftar Pustaka Lampiran 52 52 53 54 55 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Daftar Kontingensi Tabel 2.2 Daftar Kontingensi dari Frekuensi yang Diharapkan Tabel 4.1 Daftar Jumlah Personil Polisi pada Setiap Kesatuan di Kab. Toba Samosir Tahun2009 Tabel 4.2 Daftar Jumlah Kejahatan pada Setiap Kesatuan di Kab. Toba Samosir Tahun2009 Tabel 4.3 Daftar Jumlah Penduduk pada Setiap Kesatuan di Kab. Toba Samosir Tahun2009 Tabel 4.4 Hubungan Jumlah Personil Polisi dengan Jumlah Kejahatan pada Setiap Kesatuan di Kab. Toba Samosir Tahun 2009 Tabel 4.5 Daftar Frekuensi yang Diharapkan Tabel 4.6 Penentuan Harga Chi-Kuadrat (X2) Tabel 4.7 Hubungan Jumlah Penduduk dengan Jumlah Kejahatan pada Setiap Kesatuan di Kab. Toba Samosir Tahun 2009 Tabel 4.8 Daftar Frekuensi yang Diharapkan Tabel 4.9 Penentuan Harga Chi-Kuadrat (X2) 16 18 31 32 33 34 36 37 40 42 43 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 4.1 Diagram Batang Jumlah Personil Polisi di Setiap Kesatuan Gambar 4.2 Diagram Batang Jumlah Kejahatan di Setiap Kesatuan Gambar 4.3 Diagram Batang Jumlah Penduduk di Setiap Kesatuan Gambar 5.1 Mengaktifkan Program Microsoft Excel Gambar 5.2 Hasil Penjumlahan pada Excel Gambar 5.3 Penentuan Harga Chi-Kuadrat Gambar 5.4 Tampilan Grafik pada Excel 31 32 33 48 49 50 51 Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dengan cara berkelompok dan bermasyarakat. Dimana dalam kehidupan bermasyarakat tersebut, terdapat ketentuanketentuan hidup atau norma yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah norma hukum yang mengatur kehidupan tata-tertib mayarakat. Norma hukum ini ditunjukan bagi orang yang melakukan kejahatan atau pelanggaran peraturan yang berlaku. Masalah kejahatan adalah masalah manusia yang telah merupakan kenyataan sosial. Kejahatan dipandang dari segi hukum adalah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan barang siapa yang melakukan sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang tersebut, maka ia akan dihukum. Kejahatan yang terjadi setiap tahun tidak terhitung banyaknya dan jutaan penjahat telah dihukum. Sehingga banyak korban kejahatan yang mengalami kerugian kesusilaan dan kesusahan. Akibat dari kejahatan tersebut juga meresahkan masyarakat dalam bersosial. Universitas Sumatera Utara Untuk mencegah kejahatan yang terus meningkat di Indonesia, khususnya di Kabupaten Toba Samosir pada saat ini, maka diperlukan jumlah personil polisi yang memadai. Dimana tugas Polri adalah mampu menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat yang selalu dekat dan bersama-sama dengan masyarakat, serta sebagai penegak hukum yang profesional dan proposional yang selalu menjunjung tinggi supermasi hukum dan hak azasi manusia, pemeliharaan keamanan dalam negeri dalam suatu kehidupan nasional yang demokratis dan masyarakat yang sejahtera. Hubungan antara personil polisi dengan masyarakat di Kabupaten Toba Samosir sangatlah penting. Dimana, dalam kehidupan bermasyarakat selalu ada kejahatan karena terjadi pelanggaran hukum yang berlaku. Maka dari itu, dengan meningkatkan jumlah personil polisi diharapakan dapat mengatasi jumlah kejahatan yang meningkat di tengah-tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan di Kabupaten Toba Samosir. Melihat dari masalah tersebut maka pada penulisan tugas akhir ini, penulis akan mengangkat judul “HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PENDUDUK DAN JUMLAH PERSONIL POLISI DENGAN JUMLAH KEJAHATAN DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR TAHUN 2009 ”. Universitas Sumatera Utara 1.2 Identifikasi Masalah Sesuai dengan judul di atas maka yang menjadi identifikasi masalah adalah bagaimana hubungan antara jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan setiap polsek di Kabupaten Toba Samosir tahun 2009. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat dapat menimbulkan jumlah kejahatan yang meningkat juga. Dengan mengetahui peningkatan jumlah penduduk di masyarakat dan ketersediaan jumlah personil polisi sehingga diharapkan di masa yang akan datang jumlah kejahatan dapat diperkirakan dan dapat diatasi. 1.3 Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: a. Apakah ada hubungan antara jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2009? b. Berapa persen (%) besar hubungan antara jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2009? Universitas Sumatera Utara 1.4 Batasan Masalah Yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini adalah jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2009. 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan di atas maka tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui gambaran tentang hubungan antara jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2009. 2. Untuk mengetahui berapa persen (%) besar hubungan antara jumlah penduduk dan jumlah personil polisi dengan jumlah kejahatan di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2009. Manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah: 1. Sebagai syarat untuk menyelesaikan program studi D3 Statistika. 2. Sebagai penerapan ilmu dari mata kuliah yang diperoleh. 3. Dapat menuangkan ilmu dan mengaplikasikan teori-teori statistika yang diperoleh penulis selama kuliah untuk menyelesiakan permasalahan yang sedang diteliti. 4. Sebagai pengetahuan bagi kita bahwa dengan peningkatan kejahatan sangat merugikan masyarakat luas. Universitas Sumatera Utara 1.6 Lokasi Penelitian Penelitian atau pengumpulan data mengenai tingkat kejahatan ini diperoleh dari Bagian Operasional Polres Toba Samosir Jalan Siponggol Dolok, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir. 1.7 Metode Penelitian Beberapa metode penelitian yang dilakukan penulis dalam penyusunan tugas akhir ini adalah: 1. Penelitian Kepustakaan (studi literatur) Untuk memperoleh keterangan – keterangan yang mendukung penulisan tugas akhir dilakukan studi literatur dengan membaca serta mempelajari buku-buku yang didapat dari perkuliahan maupun dari buku – buku yang tersedia di perpustakaan. Selain itu, kutipan – kutipan atau informasi yang relevan dengan judul juga diambil dari internet. 2. Penelitian Lapangan Yaitu suatu cara penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data sekunder dan informasi, dengan cara langsung ke lapangan dan melihat keadaan yang sesungguhnya. Data yang digunakan pada tugas akhir ini bersumber dari Bagian Operasional di Polres Toba Samosir. Universitas Sumatera Utara 1.8 Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan yang digunakan penulis adalah antara lain: BAB 1 : PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, lokasi penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan. BAB 2 : TINJAUAN TEORITIS Pada Bab ini berisi tentang suatu tinjauan teori untuk diaplikasikan dalam pengolahan data yang didapat. Dalam hal ini menggunakan Chi- Kuadrat. BAB 3 : SEJARAH SINGKAT TEMPAT RISET Dalam bab ini penulis menguraikan sejarah singkat Polres Toba Samosir. BAB 4 : ANALISIS DATA Pada Bab ini penulis menganalisa data yang diperlukan dalam penyelesaian tugas akhir. BAB 5 : IMPLEMENTASI SISTEM Dalam bab ini penulis menguraikan tentang program yang dipakai untuk memproses penelitian. BAB 6 : PENUTUP Bab ini merupakan penutup mengenai kesimpulan dari penelitian tersebut dan penulis mencoba memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat untuk masa yang akan datang. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Statistik non Parametrik Metode statistik non parametrik atau sering juga disebut metode bebas sebaran (distribution free) adalah test yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat tertentu tentang bentuk distribusi parameter populasinya. Oleh karena itu observasiobservasinya harus independen dan bahwa variabel yang diteliti pada dasarnya harus memiliki kontinuitas. Statistik non parametrik mempunyai kelebihan yaitu kebanyakan prosedur parametrik memerlukan asumsi dalam jumlah yang minimal maka kemungkinan untuk beberapa prosedur non parametrik perhitungan-perhitungan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, terutama bila terpaksa dilakukan dengan manual. Jadi penggunaan prosedur-prosedur ini menghemat waktu yang diperlukan untuk perhitungan dan ini merupakan bahan pertimbangan bila hasil penyajian harus secara tersaji atau bila mesin hitung berkemampuan tinggi tidak tersedia. Dengan statistik non parametrik para peneliti dengan dasar matematik dan statistik yang kurang biasanya konsep dan metode prosedur non parametrik mudah dipahami. Prosedurprosedur non parametrik boleh diterapkan bila data telah diukur dengan menggunakan skala pengukuran. Universitas Sumatera Utara Sedangkan kelemahan dari statistik non parametrik adalah perhitunganperhitungan yang dibutuhkan untuk kebanyakan prosedur non parametrik cepat dan sederhana yang mengakibatkan uji ini kurang akurat dan efisien.Metode ini juga tidak dapat digunakan untuk membuat prediksi (ramalan) seperti dalam model analisis regresi, karena asumsi distribusi normal tidak dapat dipenuhi. Dalam penelitian ini digunakan analisis data kuantitatif (data yang berbentuk bilangan) secara statistik, yaitu dengan menggunakan Chi-Kuadrat (X2). Chi-Kuadrat merupakan salah satu prosedur non parametrik yang dapat digunakan dalam analisis statistik. Di dalam Chi-Kuadrat terdapat tekhnik analisa statistik untuk mengetahui signifikan perbedaan anatara proyeksi subjek dan objek penelitian ynag datanya telah dikategorikan. Analisa kategori dapat dibagi ke dalam dua macam kategori atau lebih tergantung dari objek ataupun respon yang ingin diamati. 2.2 Hipotesis Hipotesis secara etimologis dibentuk dari dua kata yaitu, kata hypo yang berarti kurang dan thesis yang berarti pendapat. Jadi hypothesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian. Pengertian ini kemudian diperluas dengan maksud sebagai kesimpulan yang belum sempurna, sehingga disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Pembuktian ini hanya dapat dilakukan dengan menguji hipotesis dengan data di lapangan. Universitas Sumatera Utara Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki untuk menentukan hipotesis adalah: 1. Hipotesis harus muncul dan hubungannya dengan teori serta masalah yang diteliti. 2. Setiap hipotesis adalah kemungkinan jawaban terhadap persoalan yang diteliti. 3. Hipotesis harus dapat diuji atau terukur tersendiri untuk menetapkan hipotesis yang besar kemungkinannya didukung oleh data empirik. Adapun jenis hipotesis yang mudah dimengerti adalah hipotesis nol (H0), hipotesis alternatif (Ha), hipotesis kerja (Hk). Tetapi yang biasa adalah H0 yang merupakan antara dua variabel x dan variabel y yang akan diteliti atau variabel independen (x) tidak mempengaruhi variabel dependen (y). 2.3 Analisa yang Digunakan 2.3.1 Analisa Univariat Analisa univariat merupakan metode statistik dalam penelitian yang hanya menggunakan satu variabel. Penggunaan satu variabel dalam penelitian sangat tergantung dari tujuan dan skala pengukuran yang digunakan. Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel independen dan variabel dependen. Universitas Sumatera Utara 2.3.2 Analisa Bivariat Analisa bivariat pada umumnya mempunyai tujuan untuk menguji perbedaan dan menguji hubungan antara dua variabel penelitian yang digunakan. Hipotesa yang diuji biasanya adalah kelompok itu berbeda dalam ciri khas tertentu, dengan demikian perbedaan itu berhubungan dengan frekuensi relatif masuknya anggota-anggota kelompok ke dalam beberapa kategori. Dalam analisa ini digunakan hipotesa Chikuadrat. 2.3.3 Uji Chi-Kuadrat Uji Chi-kuadrat merupakan salah satu prosedur non parametrik yang dapat digunakan dalam analisis statistik yang sering digunakan dalam praktek. Tekhnik Chi-kuadrat (Chi-square; Chi dibaca: kai ; simbol dari huruf Yunani: X2) ditemukan oleh Helmet pada tahun 1900, pertama kali diperkenalkan kembali oleh Karl Pearson. Uji Chi-kuadrat digunakan untuk menguji kebebasan antara dua sampel (variabel) yang disusun dalam tabel baris kali kolom atau menguji keselarasan dimana pengujian dilakukan untuk memeriksa ketergantungan dan homogenitas apakah data sebuah sampel yang diambil menunjang hipotesis yang menyatakan bahwa populasi asal sampel tersebut mengikuti suatu distribusi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, uji ini dapat juga disebut uji keselarasan (goodness of fit test), karena untuk menguji apakah sebuah sampel selaras dengan salah satu distribusi teoritis (seperti distribusi normal, uniform, binomial dan lainnya). Universitas Sumatera Utara Pada kedua prosedur tersebut selalu meliputi perbandingan frekuensi yang teramati dengan frekuensi yang diharapkan bila H0 yang ditetapkan benar, karena dalam penelitian yang dilakukan data yang diperoleh tidak selamanya berupa data skala interval saja, melainkan juga data skala nominal, yaitu yang berupa perhitungan frekuensi pemunculan tertentu. Perhitungan frekuensi pemunculan juga sering dikaitkan dengan perhitungan persentase, proporsi atau yang lain yang sejenis. Chi-kuadrat adalah tekhnik statistik yang dipergunakan untuk menguji probabilitas lebih dari itu karena semangat heroiknya mampu menggetarkan dunia dan PBB akan eksistensi bangsa dan negara Indonesia di mata dunia. Andil pasukan Polisi dalam mengobarkan semangat perlawanan rakyat ketika itupun sangat besar dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di dalam negeri. Polri juga sudah banyak disibukkan oleh berbagai operasi militer, penumpasan pemberontakan dari DI dan TII, PRRI, PKI, RMS, RAM, dan G30 S/PKI serta berbagai penumpasan GPK. Dalam perkembangan paling akhir dalam kepolisian yang semakin modern dan global, Polri bukan hanya mengurusi keamanan dan ketertiban di dalam negeri, akan tetapi juga terlibat dalam masalah-masalah keamanan dan ketertiban regional maupun Internasional, sebagaimana yang ditempuh oleh kebijakan PBB yang telah meminta pasukan-pasukan polisi termasuk Indonesia untuk ikut aktif dalam berbagai operasi kepolisian, misalnya di Namibia (Afrika Selatan) dan di Kamboja (Asia). Martina Susely Br Surbakti : Hubungan Antara Jumlah Kejahatan Dan Jumlah Penduduk Dengan Jumlah Personil Polisi Pada Setiap Polsek Di Kabupaten Karo Tahun 2008, 2009. 3.2 Visi dan Misi Kepolisian 3.2.1 Visi Polri yang mampu menjadi Pelindung, Pengayom, dan Pelayan Masyarakat yang selalu dekat dan bersama-sama masyarakat serta sebagai penegak hukum yang professional dan proporsional yang selalu menjungjung tinggi supermasi hukum dan hak asasi manusia, pemelihara keamanan dan ketertiban serta mewujudkan keamanan dalam negeri dalam suatu kehidupan nasional yang demokratis dan masyarakat yang sejahtera. 3.2.2 Misi Berdasarkan uraian visi sebagaimana tersebut di atas, selanjutnya uraian tentang jabaran misi Polri ke depan adalah sebagai berikut : 1. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat ( meliputi aspek security, surety, safety dan peace ) sehingga masyarakat bebas dari gangguan fisik dan psikis. 2. Memberikan bimbingan kepada masyarakat melalui upaya preemtif dan preventif yang dapat meningkatkan kesadaran dan kekuatan serta kepatuhan hukum masyarakat ( Law abiding Citizenship ). 3. Menegakkan hukum secara professional dan proporsional dengan menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia menuju kepada adanya kepastian hukum dan rasa keadilan. 4. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dengan tetap memperhatikan norma-morma dan nilai-nilai yang berlaku dalam bingkai integritas wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Martina Susely Br Surbakti : Hubungan Antara Jumlah Kejahatan Dan Jumlah Penduduk Dengan Jumlah Personil Polisi Pada Setiap Polsek Di Kabupaten Karo Tahun 2008, 2009. 5. Mengelola sumber daya manusia Polri secara professional dalam mencapai tujuan Polri yaitu terwujudnya keamanan dalan negeri sehingga dapat mendorong meningkatnya gairah kerja guna mencapai kesejahteraan masyarakat. 6. Meningkatkan upaya konsolidasi ke dalam (internal Polri) sebagai upaya menyamakan Visi dan Misi Polri ke depan. 7. Memelihara soliditas institusi Polri dari berbagai pengaruh eksternal yang sangat merugikan organisasi. 8. Melanjutkan operasi pemulihan keamanan di beberapa wilayah konflik guna menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 9. Meningkatkan kesadaran hukun dan kesadaran berbangsa dari masyarkat yang berbhineka tunggal ika. 10. Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Polri pada kurun waktu tahun yang akan datang ditetapkan sasaran yang hendak dicapai. 11. Bidang Kamtibmas. 12. Tercapainya situasi Kamtibmas yang kondusif bagi penyelenggaran pembangunan nasional. 13. Terciptanya suatu proses penegakan hukum yang konsisten dan berkeadilan, bebas KKN dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. 14. Terwujudnya aparat penegak hukum yang memiliki integritas dan kemampuan professional yang tinggi serta mampu bertindak tegas, adil, dan berwibawa. 15. Kesadaran hukum dan kepatuhan hukum masyarakat yang meningkat yang terwujud dalam bentuk partisipasi aktif dan dinamis masyarakat terhadap upaya Binkamtibmas yang semakin tinggi. Martina Susely Br Surbakti : Hubungan Antara Jumlah Kejahatan Dan Jumlah Penduduk Dengan Jumlah Personil Polisi Pada Setiap Polsek Di Kabupaten Karo Tahun 2008, 2009. 16. Kinerja Polri yang lebih profesional dan proporsional dengan menjungjung tinggi nilai-nilai demokrasi sehingga disegani dan mendapat dukungan kuat dari masyarakat untuk mewujudkan lingkungan kehidupan yang lebih aman dan tertib. 17. Bidang Keamanan dalam Negeri. 18. Tercapainya kerukunan antar umat beragama dalam kerangka interaksi sosial yang intensif serta tumbuhnya kesadaran berbangsa guna menjamin keutuhan bangsa yang berbhineka tunggal ika. 19. Tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 3.3 Makna Logo Polri Lambang Polri bernama Rastra Sewakottama yang berarti Polri adalah abdi utama rakyat. Sebutan itu adalah Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli 1945. Polri yang tumbuh dan berkembang dari rakyat dan untuk rakyat, memang harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus sebagai pelindung dan pengayom rakyat. Prinsip itu diwujudkan dalam bentuk logo dengan rincian makna : Martina Susely Br Surbakti : Hubungan Antara Jumlah Kejahatan Dan Jumlah Penduduk Dengan Jumlah Personil Polisi Pada Setiap Polsek Di Kabupaten Karo Tahun 2008, 2009. Gambar 3.1. Logo Polri Makna dari gambar 3.1 di atas : 1. Perisai bermakna pelindung rakyat dan Negara. 2. Tiang dan nyala obor bernama penegasan tugas Polri, disamping memberi sesuluh atau 3. Penerangan juga bernama penyadaran hati nurani masyarakat agar selalu sadar akan perlunya kondisi kamtibmas yang mantap. 4. Pancaran obor yang berjumlah 17 dengan 8 sudut pancar berlapis 4 tiang dan 5 penyangga bermakna 17 agustus 1945, hari Proklamasi Kemerdekaan. 5. Tangkai padi dan kapas menggambarkan cita-cita bangsa menuju kehidupan adil dan makmur, sedangkan 29 daun kapas de suatu padi merupakan butir ngan 9 putik dan 45 butir padi merupakan suatu pernyataan tanggal pelantikan Kapolri pertama 29 September 1945 yang dijabat oleh Jenderal Polisi Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. 6. 3 bintang di atas logo bernama Tri Brata adalah pedoman hidup Polri. 7. sedang warna hitam dan kuning adalah legendaries Polri. 8. Warna kuniing keemasan : perlambang kebesaran jiwa dan keagungan hati nurani segenap prajurit Polri. Martina Susely Br Surbakti : Hubungan Antara Jumlah Kejahatan Dan Jumlah Penduduk Dengan Jumlah Personil Polisi Pada Setiap Polsek Di Kabupaten Karo Tahun 2008, 2009. 9. Warna hitam adalah lambang keabadian dan sikap tenang mantap yang bernama harapan agar Polri selalu tidak goyah dalam situasi dan kondisi apapun. 3.4. Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas Pelaksanaan proses organisasi yang sukses akan membuat suatu organisasi akan mencapai tujuan dalam waktu yang relatif singkat. Proses ini akan tercermin pada struktur organisasinya. Struktur organisasi merupakan suatu bagan yang menunjukkan aspek-aspek pokok, hubungan antara bagian seluruh pengawasan dan masing-masing bertanggung jawab terhadap tugasnya. Karena itu penyusunan struktur organisasi dalam suatu kerja sama dan koordinasi yang baik dalam organisasi sangat penting untuk dapat menciptakan suatu kesatuan tindak usaha atau keharmonisan dari berbagai fungsi yang berbeda-beda untuk dapat menciptakan tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Suatu struktur organisasi dapat dipandang sebagai skema yang menghubungkan fungsi-fungsi yang ada dalam badan usaha dan menunjukkan hubungan yang tetap diantara pegawai-pegawai yang melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. Adapun ringkasan tugas dari setiap bagian adalah sebagai berikut : 1. Unsur Pimpinan, terbagi menjadi : a. Kepala Polres, disingkat Kapolres Kapolres adalah pimpinan Polres yang berada di bawah dan Martina Susely Br Surbakti : Hubungan Antara Jumlah Kejahatan Dan Jumlah Penduduk Dengan Jumlah Personil Polisi Pada Setiap Polsek Di Kabupaten Karo Tahun 2008, 2009. bertanggung jawab kepada Kapolda. Kapolres bertugas memimpin, membina dan mengawasi / mengendalikan satuan-satuan organisasi dalam lingkungan Polres serta memberikan saran pertimbangan dan melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolda. b. Wakil Kepala Polres, disingkat Wakapolres Wakapolres adalah pimpinan Polres yang berada di bawah dan bertanggun jawab kepada Kapolres. Wakapolres bertugas membantu Kapolres dalam melaksanakan tugasnya dengan mengendalikan pelaksanaan tugas-tugas staf seluruh satuan organisasi dalam jajaran Polres, dan dalam batas kewenagannya memimpin Polres dalam hal Kapolres berhalangan serta melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolres. 2. Unsur Pembantu Pimpinan dan Pelaksana Staf a. Bagian Operasi, disingkat Bagops Bagops adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf Polres yang berada di bawah Kapolres. Bagops bertugas menyelenggarakan administrasi dan pengawasan operasional, perencanaan dan pengendalian operasi kepolisian, pelayanan fasilitas dan perawatan tahanan dan
Hubungan Antara Jumlah Penduduk Dan Jumlah Personil Polisi Dengan Jumlah Kejahatan Di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2009. Analisa Univariat Analisa Bivariat Evaluasi Pengertian dan Pengenalan Microsoft Excel Hipotesis Sejarah Kepolisian PENUTUP Identifikasi Masalah Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan dan Manfaat Penelitian Koefisien Kontingensi Metode Analisa Latar Belakang Kesimpulan dan Saran Mengoperasikan Excel ANALISA DAN PEMBAHASAN Pembuatan Grafik Kesimpulan ANALISA DAN PEMBAHASAN Statistik non Parametrik PENUTUP Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas Uji Independen antara Dua Faktor Visi Misi Visi dan Misi Kepolisian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Hubungan Antara Jumlah Penduduk Dan Jumlah Personil Polisi Dengan Jumlah Kejahatan Di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2009.

Gratis