Feedback

Laporan Praktik Kerja Profesi Di RSUP H. Adam Malik

Informasi dokumen
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI DI RSUP H. ADAM MALIK STUDI KASUS CLOSED (R) NEGLECTED FRAKTUR FEMUR (Fx) Disusun Oleh: Desi Diana, S. Farm. NIM 103202012 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara RINGKASAN Telah dilakukan studi kasus pada Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Farmasi Rumah Sakit di Instalasi Rawat Inap Terpadu (Rindu) B3 Pasca Bedah Ortopedi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik. Studi kasus dilaksanakan pada tanggal 12 Mei s/d 31 Mei 2011 mengenai Closed (R) Neglected Fraktur Femur (Fx). Kegiatan studi kasus meliputi visite (kunjungan) terhadap pasien, memberikan pemahaman dan dorongan kepada pasien untuk tetap mematuhi terapi yang telah ditetapkan dokter, memberikan informasi obat kepada pasien dan keluarga pasien, melihat rasionaitas penggunaan obat terhadap pasien dan memberikan pertimbangan kepada tenaga kesehatan lain dalam meningkatkan rasionalitas penggunaan obat. Penilaian rasionalitas penggunaan obat meliputi 4T+1W yaitu Tepat Pasien, Tepat Obat, Tepat Indikasi, Tepat Dosis dan Waspada Efek samping. Obat-obat yang dipantau dalam kasus ini adalah IVFD RL, injeksi Ceftriaxon, injeksi Ketorolac, injeksi Ranitidin, Ranitidin, Meloxicam, Parasetamol dan Cefadroksil. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i RINGKASAN . ii DAFTAR ISI . iii DAFTAR TABEL . ix DAFTAR GAMBAR . xi DAFTAR LAMPIRAN . xii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Tujuan . 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 4 2.1 Femur . 4 2.2 Fraktur . 4 2.1.1 Defenisi . 4 2.2.1 Fraktur Femur . 5 2.2.2 Jenis – jenis fraktur . 5 2.2.3 Fraktur Femur . 5 2.2.4 Etiologi. 6 2.2.5 patofisiologi . 7 2.2.6 Diagnostis. 8 2.2.7 Penatalaksanaan fraktur. 9 2.2.8 Neglected . 12 Universitas Sumatera Utara 2.3.1 Tinjauan Obat . 12 2.3.1 Ceftriaxone . 12 2.3.2 Ketorolak . 13 2.3.3 Ranitidin . 14 2.3.4 Parasetamol. 15 2.3.5 Cefadroxil . 17 BAB III PENATALAKSANAAN UMUM . 19 3.1 Identitas Pasien . 19 3.2 Ringkasan pada Waktu Pasien Masuk RSUP H. Adam Malik . 19 3.3 Pemeriksaan . 20 3.3.1 Pemeriksaan Fisik . 20 3.3.1 Pemeriksaan Fisik . 20 3.3.2.1 Pemeriksaan Patologi klinik . 20 3.3.2.2 Pemeriksaan Radiologi . 22 3.4. Terapi . 23 BAB IV PEMBAHASAN . 26 4.1 Pembahasan Tanggal 3 Mei 2011 . 27 4.1.1 Pengkajian Tepat Pasien . 27 4.1.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 28 4.1.3 Pengkajian Tepat Obat . 28 4.1.4 Pengkajian Tepat Dosis . 30 4.1.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 32 4.1.6 Rekomendasi untuk Dokter . 33 4.2 Pembahasan Tanggal 4 Mei 2011 . 33 Universitas Sumatera Utara 2.4 4.2.1 Pengkajian Tepat Pasien . 33 4.2.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 34 4.2.3 Pengkajian Tepat Obat . 35 4.2.4 Pengkajian Tepat Dosis . 36 4.2.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 38 4.2.6 Rekomendasi untuk Dokter . 39 4.3 Pembahasan Tanggal 5 Mei 2011 . 40 4.3.1 Pengkajian Tepat Pasien . 40 4.3.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 41 4.3.3 Pengkajian Tepat Obat . 42 4.3.4 Pengkajian Tepat Dosis . 43 4.3.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 45 4.3.6 Rekomendasi untuk Dokter . 46 4.4 Pembahasan Tanggal 6 Mei 2011 . 46 4.4.1 Pengkajian Tepat Pasien . 47 4.4.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 48 4.4.3 Pengkajian Tepat Obat . 49 4.4.4 Pengkajian Tepat Dosis . 50 4.4.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 53 4.4.6 Rekomendasi untuk Dokter . 55 4.5 Pembahasan Tanggal 7-13 Mei 2011 . 56 4.5.1 Pengkajian Tepat Pasien . 56 4.5.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 57 4.5.3 Pengkajian Tepat Obat . 57 Universitas Sumatera Utara 4.5.4 Pengkajian Tepat Dosis . 58 4.5.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 59 4.5.6 Rekomendasi untuk Dokter . 60 4.6 Pembahasan Tanggal 14-19Mei 2011 . 61 4.6.1 Pengkajian Tepat Pasien . 61 4.6.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 62 4.6.3 Pengkajian Tepat Obat . 62 4.6.4 Pengkajian Tepat Dosis . 63 4.6.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 64 4.6.6 Rekomendasi untuk Dokter . 65 4.7 Pembahasan Tanggal 20- 31 Mei 2011 . 65 4.7.1 Pengkajian Tepat Pasien . 66 4.7.2 Pengkajian Tepat Indikasi . 66 4.7.3 Pengkajian Tepat Obat . 67 4.7.4 Pengkajian Tepat Dosis . 67 4.7.5 Pengkajian Waspada Efek Samping . 68 4.7.6 Rekomendasi untuk Dokter . 68 4.8 Rekomendasi untuk Perawat . 69 4.9 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi Pasien. 70 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 72 5.1 Kesimpulan . 72 5.2 Saran . 72 DAFTAR PUSTAKA . 74 LAMPIRAN . 76 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Patologi Klinik . 20 Tabel 3.2 Daftar Obat-obat yang digunakan pasien . 23 Tabel 3.3 Daftar Obat-obat untuk ganti perban (GP) yang digunakan pasien 25 Tabel 4.1 Daftar obat-obat yang digunakan pada Tanggal 3 Mei 2011 . 27 Tabel 4.2 Pengkajian tepat dosis Tanggal 3 Mei 2011 . 30 Tabel 4.3 Efek samping dan interaksi obat Tanggal 3 Mei 2011 . 32 Tabel 4.4 Daftar obat-obat yang digunakan pada Tanggal 4 Mei 2011 . 33 Tabel 4.5 Pengkajian Tepat Dosis Tanggal 4 Mei 2011 . 36 Tabel 4.6 Efek Samping dan Interaksi Obat Tanggal 4 Mei 2011 . 38 Tabel 4.7 Daftar obat-obat yang digunakan pada Tanggal 5 Mei 2011 . 40 Tabel 4.8 Pengkajian tepat dosis Tanggal 5 Mei 2011 . 43 Tabel 4.9 Efek samping dan interaksi obat Tanggal 5 Mei 2011 . 45 Tabel 4.10 Daftar obat-obat yang digunakan pada Tanggal 6 Mei 2011 . 46 Tabel 4.11 Pengkajian tepat dosis Tanggal 6 Mei 2011 . 50 Tabel 4.12 Efek samping dan interaksi obat Tanggal 6 Mei 2011 . 53 Tabel 4.13 Daftar Obat-Obat yang digunakan pada Tanggal 7 - 13Mei 2011 . 56 Tabel 4.14 Pengkajian Tepat Dosis Tanggal 7 - 13Mei 2011 . 58 Tabel 4.15 Efek samping dan interaksi obat Tanggal 7 - 13Mei 2011 . 59 Tabel 4.16 Daftar Obat-Obat yang digunakan pada Tanggal 14 – 19 Mei 2011 61 Tabel 4.17 Pengkajian Tepat Dosis Tanggal 14 – 19 Mei 2011 . 63 Tabel 4.18 Efek samping dan interaksi obat Tanggal 14 – 19 Mei 2011 . 64 Universitas Sumatera Utara Tabel 4.19 Daftar Obat-Obat yang digunakan pada Tanggal 20 – 31 Mei 2011 65 Tabel 4.20 Pengkajian Tepat Dosis Tanggal 20 – 31 Mei 2011 . 67 Tabel 4.21 Efek samping dan interaksi obat Tanggal 20 – 31 Mei 2011 . 78 Tabel 4.22 Rekomendasi untuk Perawat . 69 Tabel 4.23 Pelayanan Konseling, Informasi, dan Edukasi Pasien . 70 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Tulang Femur . 4 Gambar 2.1.2 Jenis – jenis fraktur . 5 Gambar 2.5.1 Ceftriaxone . 12 Gambar 2.5.2 Ketorolak . 13 Gambar 2.5.3 Ranitidin . 14 Gambar 2.5.4 Parasetamol . 15 Gambar 2.5.5 Sefadroksil . 17 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Data Kesesuaian Antara Obat yang Tercatat dalam Rekam Medis, Catatan Pemberian Obat (CPO), Catatan Perawat, dan Obat yang Digunakan oleh Pasien . 76 Lampiran 2. Lembaran Penilaian PPOSR . 94 Lampiran 3. Tabel rRkaman Pemberian Antibiotik. . 98 Lampiran 4. Blanko peleporan Monitoring Efek samping Obat(MESO) . 100 Lampiran 5. Contoh Laporan Visite Pasien Rawat Inap RSUP H. Adam Malik . 102 Lampiran 6. Contoh Lembar Pelayanan Informasi Obat RSUP H. Adam Malik . 103 Lampiran 7. Laporan Pelayanan Informasi Obat . 104 Lampiran 7. Contoh Lembaran Pemantauan Penggunaan Obat . . 105 Lampiran 7. Contoh Kartu Konseling Pasien Rawat Jalan RSUP H. Adam Malik . . 110                         Universitas Sumatera Utara RINGKASAN Telah dilakukan studi kasus pada Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Farmasi Rumah Sakit di Instalasi Rawat Inap Terpadu (Rindu) B3 Pasca Bedah Ortopedi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik. Studi kasus dilaksanakan pada tanggal 12 Mei s/d 31 Mei 2011 mengenai Closed (R) Neglected Fraktur Femur (Fx). Kegiatan studi kasus meliputi visite (kunjungan) terhadap pasien, memberikan pemahaman dan dorongan kepada pasien untuk tetap mematuhi terapi yang telah ditetapkan dokter, memberikan informasi obat kepada pasien dan keluarga pasien, melihat rasionaitas penggunaan obat terhadap pasien dan memberikan pertimbangan kepada tenaga kesehatan lain dalam meningkatkan rasionalitas penggunaan obat. Penilaian rasionalitas penggunaan obat meliputi 4T+1W yaitu Tepat Pasien, Tepat Obat, Tepat Indikasi, Tepat Dosis dan Waspada Efek samping. Obat-obat yang dipantau dalam kasus ini adalah IVFD RL, injeksi Ceftriaxon, injeksi Ketorolac, injeksi Ranitidin, Ranitidin, Meloxicam, Parasetamol dan Cefadroksil. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan (Siregar dan Amalia, 2003). Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas kesehatan di Indonesia termasuk rumah sakit. Rumah sakit yang merupakan salah satu dari sarana keshatan, merupakan rujukan pelayanan kesehatan dengan fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien (Depkes RI, 2004). Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama drug oriented ke paradigma baru patient oriented dengan filosofi Pharmaceutical Care (pelayanan kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Universitas Sumatera Utara Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi pengkajian resep, dispensing, pemantauan dan pelaporan efek samping obat, pelayanan informasi obat, konseling, pemantauan kadar obat dalam darah, ronde/visite pasien dan pengkajian penggunaan obat (Depkes RI, 2004). Salah satu misi dari praktek farmasi di rumah sakit adalah melakukan pelayanan farmasi klinis di rumah sakit yaitu dengan melakukan pemantauan penggunaan obat. Pemantauan penggunaan obat ini berguna untuk memastikan bahwa penggunaan obat tersebut tepat karena tanggung jawab apoteker dalam pelayanan kearmasian adalah pelayanan secara langsung kepada pasien berkaitan dengan obat, untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat dan menghindari ketidakrasionalan penggunan obat dan pengembangan b. koordinasi dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia c. koordinasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan d. pengendalian, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan. 3.1.7.4 Direktorat Keuangan Direktorat keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program dan anggaran, pengelolaan pembendaharaan, mobilisasi dana, akuntansi, dan verifikasi, untuk melaksanakan tugas tersebut direktorat keuangan menyelenggarakan fungsi: a. penyusunan rencana program dan anggaran b. koordinasi dan pelaksanaan urusan perbendaharaan dan mobilisasi dana, serta akuntansi dan verifikasi c. pengendalian, pengawasan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan program dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana, serta akuntansi dan verifikasi 3.1.7.5 Direktorat Umum dan Operasional Universitas Sumatera Utara Direktorat umum dan operasional mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan data dan informasi, hukum, organisasi dan hubungan masyarakat serta administrasi umum. Fungsi dari direktorat umum dan operasional adalah menyelenggarakan pengelolaan data dan informasi, pelaksanaan urusan hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat serta pelaksanaan urusan administrasi umum. Direktorat umum dan operasional terdiri dari bagian data dan informasi, bagian hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat, bagian umum, instalasi dan kelompok jabatan fungsional. Instalasi sebagai pelayanan non struktural dibentuk di lingkungan direktorat umum dan operasional yang terdiri dari Instalasi Farmasi, instalasi gizi, instalasi rekam medik, instalasi laundry, instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit (IPSRS), instalasi sterilisasi pusat, instalasi kesehatan lingkungan, instalasi bank darah, instalasi gas medik, instalasi sistem informasi rumah sakit (SIRS), dan instalasi kedokteran forensik dan pemulasaraan jenazah. 3.1.7.6 Unit-unit Non Struktural Unit-unit non struktural RSUP H. Adam Malik terdiri dari dewan pengawas, komite, satuan pemeriksaan intern, dan instalasi. a. Dewan pengawas Universitas Sumatera Utara Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.05/2007 tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum, Dewan Pengawas adalah organ BLU yang bertugas melakukan pengawasan terhadap pengelolaan BLU. Pembentukan Dewan Pengawas berlaku hanya pada BLU yang memiliki : a. realisasi nilai omzet tahunan menurut laporan realisasi anggaran tahun terakhir, minimum sebesar Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), dan/atau b. nilai aset menurut neraca, minimum sebesar Rp75.000.000.000,00 (tujuh puluh lima miliar rupiah). Jumlah anggota Dewan Pengawas ditetapkan sebanyak 3 orang atau 5 orang disesuaikan dengan nilai omzet dan/atau nilai aset, serta seorang di antara anggota Dewan Pengawas ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pengawas. Di RSUP. H. Adam Malik memiliki 5 orang anggota Dewan Pengawas. b. Komite Komite merupakan wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli atau profesi yang dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada direktur utama dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit. Komite medik memiliki tugas memberikan pertimbangan kepada direktur utama dalam hal menyusun standar pelayanan medis, pengawasan dan pengendalian mutu pengawasan medis, hak klinis khusus kepada staf medis fungsional (SMF), program pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan. c. Satuan Pemeriksaan Intern (SPI) SPI adalah satuan kerja fungsional yang bertugas melaksanakan pemeriksaan intern rumah sakit. Satuan Pemeriksaan intern berada di bawah dan bertanggung jawab kepada direktur utama. Universitas Sumatera Utara d. Instalasi Instalasi adalah unit pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan, pendidikan dan penelitian rumah sakit. Instalasi berada dibawah dan bertanggung jawab kepada direktur yang dipimpin oleh seorang kepala yang diangkat dan diberhentikan oleh direktur utama. Kepala instalasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh tenaga-tenaga fungsional/non medis. 3.2 Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam Malik Medan dipimpin oleh seorang apoteker yang bertanggungjawab langsung kepada direktur umum dan operasional. Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan perbekalan farmasi yang berupa pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai dimana harus dilakukan dengan sistem satu pintu. Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1333/MenKes/SK/XII/1999, pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Fungsi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik adalah: a. melaksanakan kegiatan tata usaha untuk menunjang kegiatan Instalasi Farmasi dan melaporkan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian b. melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan RSUP H. Adam Malik serta melaksanakan evaluasi dan SIRS Instalasi Farmasi c. melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi di gudang Instalasi Farmasi dan memproduksi obat-obat sesuai dengan kebutuhan rumah sakit Universitas Sumatera Utara d. mendistribusikan perbekalan farmasi ke seluruh satuan kerja/instalasi di lingkungan RSUP H. Adam Malik untuk kebutuhan pasien rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan instalasi-instalasi penunjang lainnya e. melaksanakan fungsi pelayanan farmasi klinis dan melaksanakan pendidikan, penelitian serta pengembangan di bidang farmasi Berdasarkan SK Direktur RSUP. H. Adam Malik Medan No.OT.01.01./IV.2.1./1868a/2009, struktur organisasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik ditunjukkan pada Gambar 3.1 berikut ini. Direktur Umum dan Operasional Ka. Instalasi Farmasi Wa.Ka. Instalasi Farmasi Ka. Tata Usaha Ka. Pokja Farmasi Klinis Ka. Pokja Perencanaan dan Evaluasi Ka. Pokja Perbekalan Ka. Pokja Apotek I Ka. Pokja Apotek II Wa.Ka. Pokja perbekalan Ka. Depo Farmasi IGD Ka. Depo Farmasi Rindu A Wa.Ka. Depo Farmasi Rindu A Ka. Depo Farmasi Rindu B Wa. Ka. Depo Farmasi Rindu B Ka. Depo Farmasi CMU Lt. III Wa.Ka. Depo Farmasi CMU Lt. III Gambar 3.1 Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam Malik Medan Universitas Sumatera Utara 3.2.1 Kepala Instalasi Farmasi Kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas memimpin, menyelenggarakan, mengkoordinasi, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di RSUP H. Adam Malik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepala Instalasi Farmasi berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada direktur umum dan operasional. 3.2.2 Wakil Kepala Instalasi Farmasi Wakil kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di RSUP H. Adam Malik. 3.2.3 Tata Usaha Farmasi Tata usaha farmasi berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi yang mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan kegiatan ketatausahaan, pelaporan, kerumahtanggaan, mengarsipkan surat masuk dan keluar, serta urusan kepegawaian kepala Instalasi Farmasi. 3.2.4 Kelompok Kerja 3.2.4.1 Pokja Perencanaan dan Evaluasi Pokja perencanaan dan evaluasi dipimpin oleh seorang apoteker selaku kepala pokja yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Universitas Sumatera Utara Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam Malik Medan, mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan rumah sakit, melakukan evaluasi kegiatan pelayanan kefarmasian di RSUP H. Adam Malik dan melaksanakan SIRS Instalasi Farmasi serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan pokja perencanaan dan evaluasi. Pokja perencanaan dan evaluasi instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) pada RSUP. H. Adam Malik Medan mempunyai tugas, yaitu pemilihan, perencanaan, pengadaan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan. Pokja perencanaan dan evaluasi telah menerapkan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIRS) secara online sehingga mempermudah segala transaksi dan pemantauan persediaan perbekalan farmasi. Sistem informasi rumah sakit (SIRS) mempermudah bagian pokja perencanaan dan evaluasi untuk mengelola perbekalan farmasi, mulai dari membuat perencanaan perbekalan sarana dan prasarana di rumah sakit. Selain itu, untuk ruangan steril untuk penanganan sediaan sitotoksik juga belum memenuhi persyaratan seperti plafon yang masih berpori, dinding yang masih memiliki sudut, adanya gorden yang terpasang, yang dapat menjadi sumber kontaminasi, serta belum adanya HEPA filter sebagai salah satu syarat dalam ruangan dispensing obat sitotoksik. Pass box yang telah tersedia pada ruangan steril, juga belum maksimal digunakan sebagai perantara barang pada ruangan steril. j. pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD) Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD) telah dilaksanakan oleh pokja farmasi klinik, namun belum dilaksanakan secara kontinu karena harga reagen yang digunakan sangat mahal dengan expired yang singkat. Selan itu, hal ini juga disebabkan karena obat-obat yang perlu dipantau kadarnya dalam darah hanya sedikit yang digunakan di rumah sakit. 4.2.4 Apotek Rumah sakit H. Adam Malik memiliki dua apotek sebagai perpanjangan tangan instalasi farmasi dalam mendistribusikan obat di lingkunan rumah sakit. a. Apotek I melayani: i. Pasien Askes rawat jalan ii. Pasien umum iii. Pasien hemodialisa (Askes) Universitas Sumatera Utara b. Apotek II (Apotek 24 Jam) melayani : i. Pasien umum ii. Pasien Jamkesmas dan Askes (peresepan pada saat malam hari) iii. Pasien Jamkesmas rawat jalan iv. Pasien hemodialisa (Jamkesmas) Berdasarkan hasil pengamatan, pengelolaan perbekalan farmasi di apotek masih mengalami kendala karena tidak semua obat yang dibutuhkan pasien tersedia di apotek. 4.2.5 Depo Farmasi Depo farmasi merupakan perpanjangan tangan instalasi farmasi yang bertugas mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi ke pasien yang ada di instalasi Rindu A, Rindu B dan CMU. Perbekalan farmasi didistribusikan secara sistem UDD, floor stock dan resep individual. Depo farmasi Rindu A melayani kebutuhan obat dan AKHP untuk pasien Jamkesmas dan Askes yang ada di ruangan Rindu A. Sementara itu, Depo farmasi Rindu B melayani kebutuhan obat dan AKHP untuk pasien Jamkesmas dan Askes yang ada di ruangan Rindu B. Depo CMU melayani pendistribusian perbekalan kesehatan untuk pasien Jamkesmas dan Askes serta kebutuhan pada Instalasi Bedah Pusat (IBP) dan Instalasi Perawatan Intensif (IPI). Berdasarkan hasil pengamatan di Rindu B3, sistem distribusi perbekalan farmasi yang digunakan adalah sistem UDD dan floor stock. Sistem UDD belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai protap karena walaupun obat telah dikemas Universitas Sumatera Utara menjadi satu dosis tunggal tetapi penyerahannya kepada pasien oleh perawat diberikan sekaligus untuk pemakaian satu hari bukan untuk satu kali pakai. 4.3 Instalasi Central Sterilized Supply Department (CSSD) Berdasarkan pengamatan, CSSD telah melaksanakan kegiatan pencucian, pengeringan, pengemasan/paket, pemberian label, pemberian indikator, sterilisasi, penyimpanan, dan pendistribusian ke unit-unit yang membutuhkan perlengkapan steril. CSSD juga telah melakukan sterilisasi ruangan dengan cara pengasapan (fogging), juga sterilisasi dengan Etylen Oxyde untuk alat yang tidak tahan panas. Prosedur sterilisasi di CSSD adalah: a. Peralatan direndam beberapa menit dalam larutan tablet germisep untuk menetralkan mikroba yang ada pada peralatan. b. Peralatan tersebut lalu ditransfer dari CMU ke ruang CSSD c. Peralatan kemudian dicuci secara enzimatis d. Peralatan dibersihkan dengan air mengalir e. Peralatan dikeringkan f. Peralatan diset dan dibungkus dengan kain linen dan ditambahkan indikator biologik ke dalamnya g. Peralatan kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 132°C selama l5 menit h. Peralatan yang telah disterilisasi kemudian disimpan dalam ruang steril sebelum didistribusikan ke ruangan yang membutuhkan i. Peralatan akhirnya didistribusikan. CSSD juga memberikan penyuluhan kepada petugas kesehatan, pasien dan keluarga pasien untuk menjaga kebersihan dalam upaya pencegahan infeksi Universitas Sumatera Utara nosokomial dengan menempelkan poster himbauan di setiap unit-unit pelayanan kesehatan. Namun, berdasarkan hasil pengamatan ruangan yang digunakan di CSSD masih belum memenuhi syarat untuk melaksanakan proses steril terutama dalam hal kebersihan ruangan yang digunakan dalam proses sterilisasi. 4.4 Instalasi Gas Medis Pengelolaan gas medis sudah ditangani oleh suatu instalasi khusus yaitu Instalasi Gas Medis sejak Februari 2005. Pengelolaan ini dilakukan untuk pengembangan pelayanan, mengingat gas medis merupakan perbekalan farmasi yang termasuk life saving yang sangat penting, dimana bila terjadi keterlambatan beberapa menit saja dapal menyebabkan kejadian yang cukup fatal, bahkan kematian. Instalasi Gas Medis telah mendistribusikan gas medis untuk melayani kebutuhan user yaitu: a. Instalasi Gawat Darurat b. Instalasi Rawat Jalan c. Instalasi Bedah Pusat d. Instalasi Anestesi dan Reanimasi e. Instalasi Kardiovaskuler f. Instalasi Rindu A g. Instalasi Rindu B h. Instalasi Diagnostik Terpadu i. Kemotoran (Ambulance) lnstalasi gas medis mempunyai tugas yaitu: a. Menerima gas medis dalam bentuk gas cair ke dalam tangki b. Menyimpan gas medis dalam bentuk tabung di gudang Universitas Sumatera Utara c. Mendistribusikan ke ruangan selama 24 jam d. Melakukan pelaporan bulanan mengenai penggunaan gas medis. Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh informasi bahwa sejak adanya penanganan khusus untuk gas medis, distribusi gas medis ke unit-unit yang membutuhkan telah terlaksana dengan baik. Pokja Pelayanan dan Pemantauan Penggunaan Gas Medis menghadapi kendala dalam hal pendataan jumlah gas medis yang dipakai oleh pasien, hal ini disebabkan kurang aktifnya petugas lapangan di setiap user untuk mengisi formulir pemakaian gas medis yang diberikan oleh Instalasi Gas Medis kepada user. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan a. Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan telah melaksanakan fungsi pelayanan perbekalan dan fungsi farmasi klinis. Fungsi pelayanan perbekalan dilakukan oleh Pokja Perencanaan dan Evaluasi, Pokja Perbekalan, Pokja Apotek dan Depo Farmasi sedangkan fungsi farmasi klinis dilakukan oleh Pokja Farmasi Klinis. b. Pokja Farmasi Klinis telah melakukan konseling pasien, visite ke ruangan rawat inap, penanganan obat sitostatika, PIO, dan MESO, walaupun pada pelaksanaanya belum optimal. Pemantauan kadar obat dalam darah, pencampuran obat suntik secara aseptis, penyiapan TPN, belum terlaksana karena sarana dan prasarana yang belum memadai serta tenaga terlatih yang masih sedikit. c. Pendistribusian obat di Rumah sakit merupakan kombinasi sistem individualisasi dosis, sistem UDD dan floor stock. Namun pelaksanaan sistem distribusi UDD belum sesuai dengan protap. 5.2 Saran a. RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan dapat lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. b. Sebaiknya disediakan sarana yang diperlukan untuk pelaksanaan farmasi klinis seperti pencampuran obat suntik secara aseptis, penyiapan TPN, dan Universitas Sumatera Utara pemantauan kadar obat dalam darah agar pelayanan farmasi klinis di instalasi farmasi dapat berjalan secara maksimal c. Apoteker di RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan dapat memantau pelaksanaan sistem distribusi obat UDD agar sesuai protap sehingga dapat mengurangi kesalahan pemberian obat dan mencegah terjadinya pemborosan obat. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Anonima. (2007). Indikator-Indikator Pelayanan Rumah Sakit. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://heryant.web.ugm.ac.id Anonimb. (2005).Peran Komite Medik. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://www.authorstream.com Anonimc. (2008). Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://farmasi-istn.blogspot.com Anonimd. (2008). Peralatan Suplai Gas Medis. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://117.102.86.211/ina/product/ Anonime. (2009). CSSD. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://www.infeksi.com Anonimf. (2010). CSSD. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://www.id.wikipedia.org Depkes RI. (1994). Pedoman Instalasi Gas Medis Rumah Sakit. Jakarta. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/MenKes/SK/X2004 tentang Standar Pelayanan Peraturan Menteri Farmasi di Rumah Sakit.Jakarta. Kesehatan RI No. 244/MenKes/Per/III/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Jakarta. Peraturan Pemerintah No.23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Jakarta. Universitas Sumatera Utara Siregar, C. (2003). Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 13-16. Supardi, Sudibyo. (2005). Biaya Tambahan Yang Dibayar Pasien Rawat Jalan Akibat Penulisan Resep Tidak Sesuai Dengan Formulir Rumah Sakit. Tanggal akses 29 Mei 2010. http://apotekputer.com Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 Lembaran Monitoring Efek Samping Obat Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Laporan Praktik Kerja Profesi Di RSUP H. Adam Malik
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Laporan Praktik Kerja Profesi Di RSUP H. Adam Malik

Gratis