Audit Thermal Lingkungan Kerja Operator Peeler Untuk Meningkatkan Produktivitas Di PT. Mahakarya Inti Buana

 1  59  183  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

RIWAYAT HIDUP

  Brandan dan pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan Strata 1 di InstitutTeknologi Medan (ITM) Jurusan Teknik Industri, dan pada tahun 2006 menyelesaikan Studi Strata 1 dengan Indeks Prestasi Akademik 3, 31. Penulis juga merupakan salah satu penerima beasiswaYayasan Beasiswa Oikumene (YBO) Pada tahun 2004 s/d 2006 dan sudah mengikutiPelatihan Kepemimpinan Transformasional Tingkat Dasar dan Tingkat Lanjut di Yayasan Bina Dharma ( YBD ) Salatiga, Jawa Tengah pada tahun 2005 & 2006.

KATA PENGANTAR

  171 ABSTRAK Temperatur yang tinggi dalam ruangan kerja bisa ditimbulkan oleh kondisi ruangan, mesin-mesin ataupun alat yang mengeluarkan panas serta panas yangbersumber dari sinar matahari yang memanasi atap pabrik yang kemudian menimbulkan radiasi kedalam ruangan kerja produksi. Nilai ISBB o yang diperoleh pada lantai produksi adalah 28 C s/ d s/d 29 C dan dalam kondidi ini beban kerja operator dikategorikan beban kerja sedang.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan,misalnya lingkungan fisik, fisiologis, kimia, biologis, dan sosial ekonomi. Mahakarya Inti Buana, dimana temperatur pada ruanganproduksi antara 30 C s/d 36 C yang dalam proses produksinya terdapat panas yang timbul akibat proses pembuatan sarung tangan karet dan panas yang dihasilkan dariradiasi sinar matahari melalui atap pabrik menambah beban panas ruangan kerja.

1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah

  Suhu lingkungan kerja yang belum nyaman, dimana hal ini dapat mempengaruhi aktivitas pekerja yang akhirnya dapat menurunkan produktivitas kerja 2. Terdapat proses pengeringan pada pengolahan sarung tangan karet yang dapat menghantarkan panas, yang dapat meningkatkan Suhu Ruangan di lantaiproduksi.

1.3. Tujuan Penelitian

  Mendapatkan suatu metode mengurangi panas yang terjadi di ruang produksi tetapi tidak mengurangi kualitas dari sarung tangan karet 2. Mengetahui kondisi termal lingkungan kerja seperti suhu (T), kecepatan udara(V) dan kelembaban (RH) pada setiap lantai di bagian produksi 3.

1.4. Keutamaan Penelitian

  BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Bab ini memuat data hasil dari pengamatan dan pengukuran yang dilakukan berupa pengumpulan data primer dan sekunder di perusahaan,serta data yang diperoleh diolah secara empiris dan grafis. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Kajian-kajian yang telah dilakukan pada bab terdahulu akan disimpulkan secara statistik dan non statistik , dan saran-saran untuk penelitian kedepan mengenai kajian keseimbangan panas untuk kesehatan pekerja akan diuraikan.

2.4. Uraian Tugas dan Wewenang

  Bertanggungjawab untuk memeriksa dan mengambil tindakan yang diperlukan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses compounding dan jugauntuk produk yang dihasilkan. Production Executive Bertanggungjawab untuk masalah hasil kerja shift yang dipimpin secara keseluruhan dalam mencapai target shift dalam hal kualitas, volume dan biayaproduksi tanpa mengorbankan Quality Standard Regulation (QSR) yang diinginkan.

22. Store Supervisor

  Bertanggungjawab untuk keberadaan dan keamanan semua barang-barang yang disimpan dalam gudangsebelum barang-barang tersebut diserahkan ke bagian/departemen yang lain. Memastikan semua peralatan yang digunakan untuk proses muat (loading) finish produk dalam keadaan baik, siap digunakan.

2.5. Tenaga Kerja

  Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, perusahaan menetapkan tenaga kerja dengan status yang berbeda yang digolongkan atas tingkat pendidikan dan masa kerjakaryawan. Tenaga kerja tersebut terdiri atas : 1.

2.6. Jam Kerja

  Waktu kerja di perusahaan terbagi atas kelompok tenaga kerja yaitu : TenagaKerja langsung, yaitu tenaga kerja yang bekerja dengan 3 shift dengan jam kerja :  Shift I : Pukul 07.00 - 15.00 Wib Shift II : Pukul 15.00 - 23.00 Wib  Shift III : Pukul 23.00 - 07.00 Wib 2.7. Fasilitas Perusahaan Setiap karyawan dan staf perusahaan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya termotivasi dengan adanya fasilitas yang dapat dinikmati antaralain ;  Kantin Bus Karyawan  Musholla Perumahan Karyawan  Jamsostek 2.10.

2.11. Bahan yang digunakan

Bahan yang digunakan terdiri dari bahan baku, bahan penolong dan bahan tambahan.

a. Bahan baku

  Bahan-bahan kimia yang digunakan sebagai Stabilizer adalah KOH dan Pottasium Lauric. Spesifikasi air yang digunakan pada proses produksi adalah maksimum berkadar besi (Fe) 0,01 ppm dan pH netral.

b. Bahan Penolong

  Bahan penolong adalah bahan yang digunakan sebagai penolong pada produk agar produksi dapat berjalan dengan baik dimana bahan tersebut ditambahkan padaproses pembuatan produk. Larutan CoaqulantLarutan Coaqulant merupakan campuran dari beberapa bahan kimia seperti Calcium Carbonate (CaCO 3 ) dan Calcium Nitrate [ Ca(NO 3 ) 2 ] yang berfungsi agar campuran lateks dapat menempel dan menyatu pada cetakan former, Teric 320 berfungsi agar permukaan gloves licin, dan air sebagai media pencampur.

c. Bahan Tambahan

  Bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan sebagai pelengkap untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Pada kotak ini telah tercetak label yang menandakan ukuran gloves, jenis gloves dan perusahaan yang memesannya.

2.12. Uraian Proses Produksi

Urutan tahap pembuatan glove di lantai pabrik dibagi atas dua departemen pembuatan glove, yakni Compounding Departement dan Production Departementseperti yang dijelaskan sebagai berikut :

a. Proses Compounding

  Proses Compounding merupakan proses pencampuran bahan baku dan bahan- bahan kimia lainnya yang akan melapisi former membentuk glove, dimana lateksyang berasal dari Latex Storage Tank dialirkan melalui pipa ke Pearl Mill Grinder kemudian dicampurkan dengan chemical dispertion, stabilizer, wetting agent, anti foam dan air. Pada tangki ini terdapat stirrer yang berfungsi sebagai pengaduk untuk mencegah pengendapan lateks.

b. Proses Pembuatan Glove

1. Proses Pencucian Former ( Former Cleaning)

  Grade B Glove yang kurang bagus yang mempunyai defect seperti :  Poor bead : beading yang tidak terbentuk 1/3  Bad bead : beading yang rusak atau putus 1/3 lingkaran  Edded : kotoran yang melekat pada glove dengan ukuran 2<x<5 mm  Coagulumn : gumpalan lateks pada glove yang tidak larut dan terikat pada glove dengan ukuran 2<x<5 mm. Grade C Glove yang tidak bagus yang tidak mempunyai defect seperti :  Poor bead : beading yang tidak terbentuk >½ lingkaran  Bad bead : beading yang rusak atau putus ½ lingkaran  Edded : kotoran yang melekat pada glove dengan ukuran >5mm  Touching : lubang dengan ukuran >2 mm dan terletak di ujung jari  Tear : robek atau koyak pada daerah cuff dari glove  Coagulumn : gumpalan lateks pada yang tidak larut dan terikat pada glove dengan ukuran >5 mm.

17. Proses Pencucian Glove

  Bahan yang digunakan pada proses ini adalah Cl 2 dan air. Bahan yang digunakan pada proses ini adalah Sodium Thio Sulphite, NH 3 , dan air.

21. Pengepakan ( Packing)

  Adapun blok diagram proses compounding dan proses pembuatan gloves padaPT. Mahakarya Inti Buana dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut ini : Former Cleaning Pre-Coaqu lant O venCoaqu lan t O ven Pre-Lat ex Oven Lat ex Dippi ng Process Pre-Beading Pr oces sBeading Pr ocess Pre-Leach ing Pr oces s Leach ing Pr oces s 1,2,3 Cu ring Process 1,2,3Cooling Pr oces s 1,2,3 Ch lor ine Process 1,2,3 Neutr al izer Process 1,2 Ri nse Process 1,2Dryi ng Oven Pr oces s Str ipping Gloves Cl eani ng Process Spin Dr yerCooling In Air In spection Packing Gambar 2.2.

2.13. Mesin dan Peralatan

2.13.1 Mesin Produksi

  Acid Tank Kegunaan : Tempat menampung larutan acid untuk membersihkan dan membunuh kuman-kuman yang melekat pada former. Rinse Tank Kegunaan : Tempat menampung air untuk pencucian gloves yang terakhir pada proses di Line Dipping Machine.

2.13.2. Peralatan Pendukung Produksi

  Setelah dilakukan proses produksi pada Line Dipping Machine, ada beberapa kegiatan lanjutan yang harus dilakukan untuk menyempurnakan hasil produksisehingga menjadi produk yang baik. Perl Mill GrindeKegunaan : Tempat mencampur Chemical dispertionKapasitas : 125 KgModel : PM-25Tegangan : 440voltArus : 5 AmpPutaran : 30 rpmDaya : 25 HPJumlah : 24 unitTemperatur : 800 liter 2.

2.13.3. Utilitas

  AirSumber : Sumur Bor dan PDAMKegunaan : - Air dari sumur bor digunakan untuk proses produksi mulai dari proses compounding hingga proses pencucianakhir gloves. GasSumber : Perusahaan Gas Milik NegaraPLN : Memanaskan air yang digunakan dalam proses produksi dan juga sebagai bahan bakar pada burner di mesin produksi.

2.13.4. Waste Treatment

  Mahakarya Inti Buana dalam rangka mengatasi limbah yang dihasilkan pada proses produksi baik limbah padat maupun limbah cair adalahdengan melakukan suatu perlakuan khusus sehingga tidak membahayakan bagi lingkungan sekitar. Perlakuan khusus diutamakan pada limbah cairkarena limbah cair lebih cepat memberikan pengaruh yang negatif pada lingkungan dibandingkan dengan limbah padat.

BAB II I LANDASAN TEORI

3.1. Pengertian Audit

  Audit merupakan suatu tindakan yang membandingkan antara fakta atau keadaan yang sebenarnya (kondisi) dengan keadaan yang seharusnya ada (kriteria)pada dasarnya audit bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan yang dilakukan telah sesuai dengan apa yang ditetapkan dan untuk menilai atau melihat apakahkondisi yang ada telah sesuai dengan apa yang diharapkan. Sedangkan pengertian audit menurut Abdul Halim (2005:1) adalah: “Audit adalah suatu proses sistematik untuk menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif mengenai asersi-asersi tentangberbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telahditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan”.

3.1.1 Jenis-Jenis Audit

  Hasil dariaudit terhadap laporan keuangan tersebut disajikan dalam bentuk tertulis berupa laporan audit yang selanjutnya dibagikan kepada para pengguna informasikeuangan, seperti: pemegang saham, kreditur dan kantor pelayanan pajak. Audit KepatuhanAudit kepatuhan yaitu untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan yang berlaku.

3.2. Lingkungan Termal Manusia

  Tujuan dari rancangan lingkungan kerja yang ergonomis adalah untuk menciptakan kondisi sekitar yang nyaman, dapat diterima dan mendukung kinerjaatau kesehatan pekerja. Tekanan panas merupakan perpaduan dari suhu dan kelembaban udara, kecepatan aliran udara, suhu radiasi dengan panas yang dihasilkan oleh metabolismetubuh (Ken Parsons, 2007).

3.2.1. Suhu Radiasi

  Suhu Udara (t) Tubuh manusia akan selalu berusaha untuk mempertahankan keadaan normal dengan suatu sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri denganperubahan-perubahan yang terjadi di luar tubuh tersebut. Tetapi kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dengan suhu luar adalah jika suhu luar tersebut tidak melebihi20% untuk kondisi panas 35% untuk kondisi dingin.

3.2.4. Kelembaban (RH)

  Kelembaban relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air pada udara dengan jumlah maksimum uap air di udara yang bisa ditampung pada suhu tersebut. Pada ruangan kantor, biasanya kelembaban dipertahankan pada 40% sampai 70% karena adanya komputer, sedangkan pada tempat kerja outdoor, kelembaban relatif mungkin lebih besar dari 70% pada hari yang panas.

3.3. Keseimbangan Panas

  Keseimbangan panas antara panas yang dihasilkan dengan panas yang dikeluarkan dapat dilihat pada Gambar 3.3. 2 -1 R : daya tahan panas pakaian (m kW ) cl o t o : suhu operatif ( C) o t sk : suhu kulit rata-rata ( C) t r : suhu radian rata-ratah c : 8.3 v 0.6 untuk 0.2 < v < 4.0 h : 3.1 untuk 0 < v < 0.2 c Dimana v adalah kecepatan udara (m/s )Koefisien perpindahan panas radiatif (hr) dapat ditentukan dengan: t t cl  r2 ..................................................

2 Dimana: : emisifitas area permukaan tubuh

ε : konstanta stefan-boltzman 5.67 X 10-8 (Wm k )σ 2 A : area radiatif efektif tubuh (m ) r

3.4. Keseimbangan Panas dalam Tubuh Manusia

  Penyimpangan suhu tubuh yang melebihi beberapa derajat dari nilai tersebut dapat membuat efek yang cukup serius. Suhu tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan yang ada di sekitarnya karena hal ini mempengaruhi suhu tubuh dari dan ke tubuh manusia.

3.4.1. Metabolisme Tubuh Manusia ( Metabolic Rate)

  Metabolisme merupakan proses perubahan secara fisik dan kimiawi dalam jaringan maupun sel tubuh untuk mempertahankan hidup dan pertumbuhannya. Nilai untuk masing-masing aktivitas dan kecepatan metabolisme dapat dilihat pada Tabel 3.1.

3.4.2. Luas Permukaan Tubuh ( Body Surface Area)

2 Nilai standar 1,8 m digunakan untuk seorang pria berberat 70 kg dan tinggi

  Perpindahan Panas dari Tubuh ke Kulit Metabolisme produksi panas terjadi pada semua bagian tubuh dan sistem termoregulasi mengatur berapa banyak panas yang dipindahkan ke kulit. A Simple Clothing Model Dalam menjaga keseimbangan panas tubuh yang mengalir ke kulit, menentukan suhu kulit, melalui perpindahan ke permukaan pakaian, menentukansuhu pakaian dan suhu lingkungan luar maka tubuh harus menjaga keseimbangan panas, panas akan mengalir keluar dari tubuh sampai mencapai kesetimbangan suhutubuh, suhu kulit dan suhu pakaian dalam suhu lingkungan.

3.5. Parameter Tekanan Panas

  Maka dari itu, Belding dan Hatch mendasarkan indeknya atas perbandingan banyaknya keringat yang diperlukan untuk mengimbangi panasdan kapasitas maksimal tubuh untuk berkeringat. Indeks ini merupakan pengembangan dari dua indeks tekanan panas yaitu HIS dan ITS dan indeks inidihitung untuk keseimbangan panas (Vogtet, 1981).

3.6. Pengendalian Lingkungan Kerja Panas

  Pengendalian pengaruh paparan tekanan panas terhadap tenaga kerja perlu dilakukan untuk perbaikan tempat kerja, sumber-sumber panas lingkungan danaktivitas kerja yang dilakukan. Koreksi tersebut dimaksudkan untuk menilai secara cermat faktor-faktor tekanan panas dan mengukur ISBB pada masing-masingpekerjaan sehingga dapat dilakukan langkah pengendalian secara benar.

3.7. Pengaruh Fisiologis akibat Tekanan Panas

  Menurut Graham (1992) dan Bernard (1996) dalam Tarwaka (2004) reaksi fisiologis akibat pemaparan panas yang berlebihan dapat dimulai dari gangguan fisiologis yang sangat sederhana sampaidengan terjadinya penyakit yang sangat serius. Dehidrasi, yaitu kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang disebabkan baik oleh pergantian cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan kesehatan.

3.8. Tekanan Darah

3.8.1. Definisi Tekanan Darah

  Tekanan darah adalah keadaan dimana tekanan yang dikenakan oleh darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh. Sebenarnya tekanan darah berarti tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan daerah dari dinding pembuluh tersebut.

3.8.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah

  Suhu basah dan bola (Natural wet bulb suhue)Pengukuran suhu basah alami dilakukan dengan menggunakan termometer yang dilengkapi dengan kain katun yang basah. Metode Auskultasi merupakan metode yangmenggunakan suatu manset yang dapat dipompa dihubungkan pada manometer air raksa (spigmomanomater) kemudian dililitkan di sekitar lengandan stetoskop diletakkan di atas arteri brakialis pada siku, manset secara cepat dipompa sampai tekanan di dalamnya di atas tekanan sistolik yang diharapkandalam arteri brakialis.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

  Objek dan Waktu Penelitian Objek penelitian yang diamati adalah kedelapan lintasan produksi dan pekerja yang diamati di semua lintasan karena hanya pada setiap lintasan tersebut terdapatOperator. 4.3 Lay Out Lantai Produksi Keterangan :O = Operator PeelerL1 = Lintasan 1 ( Satu )L2 = Lintasan 2 ( Dua )L3 = Lintasan 3 ( Tiga )L4 = Lintasan 4 ( Empat )L5 = Lintasan 5 ( Lima )L6 = Lintasan 6 ( Enam )L7 = Lintasan 7 ( Tujuh )L8 = Lintasan 8 ( Delapan )MT1 = Mesin Tumbler 1 ( Satu )MT2 = Mesin Tumbler 2 ( Dua )MT3 = Mesin Tumbler 3 ( Tiga )MT4 = Mesin Tumbler 4 ( Empat )MT5 = Mesin Tumbler 5 ( Lima ) 4.4.

4.6. Penentuan Variabel Penelitian

  Suhu tubuh Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam pengukuran adalah variabel terikat, variabel bebas, variabel intervening dan variabel moderator. Suhu basah ( T wet ) c.

4.7. Metode Pengumpulan Data

  Data pengukuran fisik pekerja yaitu suhu tubuh pekerja sebelum dan sesudah bekerja, denyut nadi pekerja sebelum dan sesudah bekerja dan tekanan darahpekerja sebelum dan sesudah bekerja. Data SekunderData sekunder adalah data yang didapatkan dari catatan-catatan yang sudah ada sebelumnya, dokumentasi perusahaan, data pengamatan oleh peneliti yangterdahulu atau merupakan data yang tidak langsung diamati oleh peneliti.

4.8. Metode Pengolahan dan Analisis

  Adapun metode non statistik yang digunakan dalam analisis yaitu:Analisis grafik hasil penelitian temperatur ruangan (T), kecepatan udara (V), kelembaban (RH) dan kuesioner termal yang ada di pabrik danmembandingkannya dengan standar kenyamanan yang diterapkan oleh ASHRAE yaitu, analisis grafik hasil penelitian dengan standar kenyamanan termal yang dikeluarkan Menteri Tenaga Kerja tentang nilai ambang batas (NAB) faktor fisika di tempat kerja. Metode statistikAdapun metode statistik yang digunakan dalam analisis yaitu:Analisis regresi dan korelasi untuk melihat hubungan antara variabel bebas(faktor lingkungan: suhu, kecepatan udara, kelembaban relatif, suhu basah, suhu kering dan suhu bola serta faktor manusia: tingkat metabolisme dan insulasipakaian) juga hubungan tekanan darah, denyut nadi dan suhu tubuh terhadap kesehatan pekerja.

4.9. Instrumentasi

  C dan o Tampilan suhu dapat dalam satuan  Waktu pengukuran 5 detik. Mempunyai tiga tampilan yaitu suhu luar ruangan, suhu dalam ruangan dan kelembaban. Black Globe Thermometer, yang berfungsi untuk mengukur suhu bola kering, suhu bola basah dan suhu bola.

BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

  Data Personal Pada lantai produksi pembuatan sarung tangan karet terdapat 32 operator, dimana 24 operator peeler bekerja di lantai 1 dan 8 operator line bekerja di lantai 1dan 2. Data Suhu Tubuh, Denyut Nadi dan Tekanan Darah Operator Data suhu tubuh, denyut nadi dan tekanan darah operator lantai produksi PT.

5.3. Perhitungan Kebutuhan Energi Pekerja

  (5.1) Contoh:Kebutuhan energi sebelum bekerjaX (denyut jantung) = 472 Maka, W = 1.080411-0.0229038(X) + 0.000471733(X)2 W = 1.080411-0.0229038(47) + 0.000471733(47) Untuk pekerja yang lain, dapat dilihat pada Tabel 5.3. Pengaruh Umur, Berat Badan dan Tinggi Badan terhadap Denyut Nadi dan Tekanan Darah Pekerja Berdasarkan Tabel 5.4.

5.5. Kondisi Termal

Pengukuran kondisi termal dilakukan pada kedelapan lintasan di bagian produksi dalam rentang waktu 60 menit untuk satu kali pengukuran.

5.5.1. Gradien Temperature

  Gradien Temperature di Lintasan 6 Shift 1, Shift 2, dan Shift 3 29 39 32 33 34 35 36 37 38 1 30 2 3 4 5 6 7 Waktu ( Jam )G ra d ie n Te m pe ra tur ( D e ra ja t c e ls ius ) 0,1 Shift 1 0,6 Shift 11,1 Shift 1 1,7 Shift 12,5 Shift 1 0,1 Shift 20,6 Shift 2 1,1 Shift 21,7 Shift 2 2,5 Shift 20,1 Shift 3 0,6 Shift 31,1 Shift 3 1,7 Shift 32,5 Shift 3 31 29 30 38 31 32 33 34 35 36 37 39 Gambar 5.7. Gradien Temperature di Lintasan 7 Shift 1, Shift 2, dan Shift 3 1 2 3 4 5 6 7 Waktu ( Jam )G rad ie n T e m p er at u r ( D e ra ja t ce ls iu s ) 0,1 Shift 1 0,6 Shift 11,1 Shift 1 1,7 Shift 12,5 Shift 1 0,1 Shift 20,6 Shift 2 1,1 Shift 21,7 Shift 2 2,5 Shift 20,1 Shift 3 0,6 Shift 31,1 Shift 3 1,7 Shift 32,5 Shift 3 Gambar 5.8.

5.6. Pengaruh Ketinggian terhadap Suhu Ruangan

  dan pengaruh ketinggian terhadap suhu dapat dilihat pada Tabel 5.14. Data Pengukuran Suhu Rata-rata pada Gradien Ketinggian( C) Suhu Rata-Rata Ketinggian ( M ) o ( C ) 0.1 0.6 1.2 1.7 2.5Lintasan 1 36.65 36.68 36.76 36.79 36.82 Lintasan 2 36.83 36.93 36.86 36.93 36.97 Lintasan3 37.24 37.23 37.32 37.34 37.39 Lintasan4 37.24 37.33 37.43 37.37 37.43 Lintasan 5 37.54 37.43 37.56 37.5 37.49 Lintasan 6 37.59 37.53 37.59 37.69 37.67 Lintasan 7 37.6 37.62 37.62 37.7 37.75 Lintasan 8 36.45 36.12 36.26 36.57 36.63Sumber: Hasil Pengolahan Data Tabel 5.14.

5.7. Kelembaban

  Kecepatan Angin Data hasil pengukuran kecepatan angin pada setiap lantai dapat dilihat pada Tabel 5.19 s/d 5.21 dan Gambar 5.12 s/d 5.14 berikut : Tabel 5.19. Kecepatan Angin pada Kelima Lantai Produksi Shift 3 Data suhu rata-rata pada setiap lantai dan pengaruh kecepatan angin terhadap suhu dapat dilihat pada Tabel 5.22.

5.10. Pengaruh Kecepatan Angin terhadap Suhu

Tabel 5.22. Data Suhu Rata-rata setiap Lantai Lintasan Lintasan Lintasan Lintasan Lintasan Lintasan Lintasan Lintasan No 1 2 3 4 5 6 7 81 36.08 36.08 36.10 36.10 36.16 35.59 35.64 35.74 2 36.1 36.06 36.06 36.06 36.12 35.59 35.65 35.713 36.05 36.06 36.05 36.06 36.05 35.58 35.65 35.98 4 36.02 36.04 36.02 36.02 36.01 35.55 35.58 35.655 35.95 36.01 36.03 36.01 35.99 35.48 35.51 35.61 6 35.75 35.79 35.83 35.95 35.95 35.28 35.45 35.517 35.74 35.88 35.82 35.89 35.94 34.71 34.74 35.39 Sumber: Hasil Pengolahan Data Tabel 5.23. Pengaruh Kecepatan Angin terhadap Suhu pada setiap Lantai Produksi Regresi Standart Hasil Uji Regresi Mean N Korelasi Persamaan Keterangan Deviasi a b Suhu ( C ) 35.93 2.27 Y = 0.286 - - Lintasan 7 -0.002 0.285 LemahKecepatan 10.04 0.04x Angin ( m/s ) 0.055 0.09 Suhu ( C ) 36.88 2.30 LintasanY = 0.044 + 7 0.187 0.10 0.044 Sangat lemah Kecepatan 20.10x Angin ( m/s ) 0.01 0.04 Suhu ( C ) 36.68 2.29 LintasanY = 0.131 + Kecepatan 7 0.231 0.10 0.131 Sangat lemah 30.10x Angin ( m/s ) 0.01 0.04 Suhu ( C ) 37.36 2.31 LintasanY = 0.06 + Kecepatan 7 0.004 0.10 0.06 Sangat lemah 40.10x Angin ( m/s ) 0.005 0.03 Suhu ( C ) 37.10 2.30 LintasanY = 0.123 + 7 0.315 0.00 0.123 Sangat lemah Kecepatan 50.00x Angin ( m/s ) 0.005 0.03 Suhu ( C ) 37.15 2.30 LintasanY = 0.216 + 7 0.218 0.00 0.216 Sangat lemah Kecepatan 60.00x Angin ( m/s ) 0.005 0.03 Suhu ( C ) 36.89 2.30 LintasanY = 0.045 + Kecepatan 7 0.185 0.00 0.045 Sangat lemah 70.00x Angin ( m/s ) 0.01 0.04 Suhu ( C ) 35.91 2.26 LintasanY = 0.058 + 7 0.183 0.14 0.058 Sangat lemah Kecepatan 80.14x Angin ( m/s ) 0.055 0.09 Sumber: Hasil Pengolahan Data

5.11. Perhitungan Web Bulb Globe Temperature (Indeks Suhu Basah dan Bola)

  Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) untuk di luar ruangan dengan panas radiasi: ISBB : 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu keringIndeks Suhu Basah dan Bola untuk di dalam atau di luar ruangan tanpa panas radiasi : ISBB : 0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bolaCatatan : 1. Beban kerja berat membutuhkan kalori > 350 – 500 kilo kalori/jamSebagai contoh perhitungan ISBB di lantai 1 pada waktu 08.00-09.00 adalah sebagai berikut: ISBB = ( 0,7 x 25.99) + (0,3 x 31.50) = 27,64 C Dengan cara perhitungan yang sama seperti diatas dapat diperoleh nilai ISBB pada kelima lantai produksi pada tabel berikut.

5.12. Perhitungan Keseimbangan Termal

  (5.2) sk C res : tingkat kehilangan panas konvektif dari pernapasanE res : tingkat kehilangan panas penguapan dari pernapasanAdapun contoh perhitungan keseimbangan panas adalah adalah sebagai berikut: o Suhu rata-rata ruangan (ta) = 35,68 C o Suhu globe (radian) rata-rata (tr) = 35,76 CKelembaban relatif = 52,8 %Kecepatan angin = 0.04 m/sBerdasarkan data personal pekerja maka diperoleh rata-rata I clo adalah 0.70 clo. Sedangkan metabolic rate untuk pekerja dengan beban kerja yang tergolong ringan-sedang dengan aktivitas industri yang dikatagorikan sebagai industri ringan 2 -1 Re,cl = 0.015 m kPa W o t = 36.15 C sk Metabolisme rate = 100 W m Eksternal work = 0 W mPakaian = 0.70 Clo 2 -1 Rcl = 0.1085 atau (0.70 Clo x 0.155) m C W 0.95ε =Ar/A D = 0.77 2 A D = 1.71 m 2 -1 Catatan = 1 Clo = 0.155 m C W o t cl = 38 CPenyelesaian Metabolisme produksi panas W m = M – W = 100-0 = 100 .

BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.1. Analisis

  Pengaruh Lintasan dan Ketinggian Terhadap Suhu Lintasan 5 adalah lintasan yang memiliki suhu yang paling tinggi dibandingkan ketujuh lintasan lainnya, ini disebabkan oleh kecilnya sirkulasi udaradan perpindahan panas yang cukup tinggi ke lintasan karena Lintasan 5 berada di antara ketujuh lintasan lainnya, pada lantai 2 dan lantai 3 terdapat mesin yangmemaparkan panas dan dinding lintasan yang terbuat dari baja yang memiliki konduktivitas yang tinggi. Kecepatan angin pada kedelapan lintasan sangat kecil, pada lintasan 1 rata-rata kecepatan anginadalah 0.05 m/s, pada lintasan 2 adalah 0.049 m/s, pada lintasan 3 adalah 0.046 m/s, pada lintasan 4 adalah 0.046 m/s , pada lintasan 5 adalah 0.04 m/s, pada lintasan 6adalah 0.04 m/s, pada lintasan 7 adalah 0.042 m/s dan pada lintasan 8 adalah 0.046 m/s.

6.1.6. Analisa Hubungan antara Suhu Tubuh dengan Tekanan Darah

6.1.7. Analisa Indeks Suhu Bola Basah (ISBB)

  Dari hasil pengukuran sebelum dan sesudah Dari pengukuran yang dilakukan maka dapat dihitung nilai indeks suhu bola basah (ISBB) yang dapat dilihat pada Tabel 5.35., Tabel 5.36., Tabel 5.37,sedangkan rekapitulasi dari nilai ISBB kedelapan lintasan dapat diperoleh pada Tabel6.1. adalah Persentase waktu kerja pekerja untuk operator peeler adalah 75% kerja dan 25% istirahat sedangkan untuk operator line adalah 50% kerja dan 50% istirahat.

6.1.8. Analisis Keseimbangan Panas dan Heat Stress Index

  Perhitungan nilai keseimbangan panas pada lantai 1 diperoleh nilai keabsahan (w) sebesar 0.59, yang dimaksud disini adalah pekerja di lantai 1 harusmampu menghasilkan keringat sebesar 0.2 liter/jam untuk mempertahankan keseimbangan panas di dalam tubuh, sedangkan untuk pekerja di lantai 2 memilikinilai keabsahan (w) sebesar 0.46, maka pekerja harus mampu menghasilkan keringat sebesar 0.12 liter/ jam untuk mempertahankan keseimbangan panas dalam tubuhnya. Nilai heat stress indeks untuk lantai 1 sebesar 80% dan untuk lantai 2 sebesar 97%.

6.2. Pembahasan

  Melakukan Perpindahan Panas Dengan Menggunakan Media Air secara KonduksiDan Konveksi  Perpindahan Panas Konduksi Adalah proses transport panas dari daerah bersuhu tinggi ke daerah bersuhu rendah dalam satu medium (padat, cair atau gas), atau antara medium – medium yang berlainan yang bersinggungan secara langsung Dinyatakan dengan :………………………………………….. (6.2) dT q kA  Dimana : dx q = Laju perpindahan panas (w) 2 A = Luas penampang dimana panas mengalir (m ) dT/dx = Gradien suhu pada penampang, atau laju perubahan suhu T terhadap jarak dalam arah aliran panas x o k = Konduktivitas thermal bahan (w/m C)Dari data diatas diketahui bahwa suhu yang air pada penampang dinding oo adalah sebesar 20 C sedangkan suhu rata-rata di dalam ruangan sebesar 36 o C.

6.2.3. Pembahasan Heat Stress Indeks

  956 ta 235 = 3.16 kPa 25 235 P = RH x P a sa = 60 % x 3.16 = 1.89 kPaKoefisien Heat Transfer 0.6 b c = 8.3 v untuk 0.2 < v < 4.0 b c = 3.1 untuk 0 < v < 0.2 maka b = 16.5 x bc = 16.5 x 3.1 = 51.15 W m kPa c Kalkulasi b r dan t cl kedalam persamaan b r = Ar tcl tr3  4 b r = { 273 . 2 ( )} b r = 4.75 W m K 2 Selanjutnya, t o = ( b t b t ) r r  c a o t o = 26.21 C ( b b ) r  c Kombinasikan koefisien heat transfer h = b c + b r= 3.1 + 4.75 = 7.85 W m KMengkalkulasikan nilai-nilai yang telah diperoleh ke dalam persamaan, C + R = tsk to C + R = Rcl 1 fclxh /( )  36 26 .

BAB VI I KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa suhu yang tertinggi terjadi pada lintasan 5 ( Lima ) dan yang terendah pada lintasan 1 ( Satu ), sedangkan suhugradien yang tertinggi terjadi pada ketinggian 2.5 meter dan suhu gradien paling rendah terjadi pada ketinggian 0.1 meter. Hal yang mempengaruhi terjadinya paparan panas yang cukup tinggi pada kelima lantai produksi adalah bahan bangunan yang terbuat dari baja yang merupakankonduktor yang sangat baik, adanya mesin-mesin yang memaparkan panas o sampai pada suhu 53 C dan sirkulasi udara yang tidak baik.

7.2. Saran

  Perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan pekerja dengan melakukan pemeriksaan kesehatan khususnya terhadap operator peeler dan perusahaanmemberikan pelatihan terhadap pentingnya kesehatan dan membuat aturan yang tegas terhadap pekerja seperti memakai pakaian ketika sedang bekerja, hal inidilakukan untuk menjaga kesehatan pekerja. Penelitian ini dapat dikembangkan dengan pembahasan yang lebih mendalam tentang perancangan alat yang dapat menghirup suhu panas serta mengendalikankondisi paparan panas, perancangan isolator mesin terkhusus mesin pengering , perancangan bangunan yang lebih baik dari segi bahan yang digunakan atauperancangan insulasi bangunan untuk mengurangi paparan panas, perbaikan layout pabrik dan perhitungan keseimbangan panas yang menyeluruh di kedelapan lintasan produksi.

DAFTAR PUSTAKA

  Hasil perhitungan validitas untuk setiap pertanyaan pada saat sebelum dan sesudah bekerja dapat dilihat pada Tabel 4.4 Tabel L-2 Hasil Perhitungan Validitas untuk Setiap Pertanyaan Sebelum Bekerja Sesudah Bekerja Pertanyaan N r hitung r tabel Ket. Kesimpulan: Karena r    8  2222              n n nr xy          22 36 246 20 12 = 0,541 20 36 8 36 20   x x rxy Uji validitas kuesioner dilakukan untuk menentukan valid tidaknya item yang dipergunakan sebagai pendukung kuesioner, digunakan teknik korelasi antara skor Adapun langkah-langkah pengujian untuk uji validitas adalah sebagai berikut : 2.

2 Pertanyaan hitung σ

1 0.234 2 0.2023 0.234 4 0.2155 0.215 6 0.2347 0.750 8 0.1329 0.226 10 0.152 2 ∑σ b 2.595Sumber: Hasil Pengolahan Data2 51 2601 2

32 Varians total ( t ) =

  Adapun uji kecukupan data untuk suhu pada gradien ketinggian 0.1 meter di lantai 1 adalah sebagai berikut: Contoh: Data gradien ketinggian 0.1 meter X = 262 2 = 9303 XMaka:22   40 7 ( 9303 ) ( 262 ) N 1 , 24    262   Kesimpulan: karena N’ = 1,24 < N = 7, maka data hasil pengukuran yang data dilakukan sudah cukup untuk melakukan pengukuran suhu pada gradien ketinggian 0,1 meter di lantai 1. Dengan cara yang sama seperti di atas, maka hasil uji kecukupan data untuk beberapa suhu pada gradien ketinggian, suhu basah, suhu kering, suhu bola,kelembaban dan kecepatan angin dapat dilihat pada Tabel L.6.

25 Operator -1 -1

  29 Operator 29 -1 -1 1. ata-Rata .875 1.250 625 500Sumber: H an Data asil Pengolah 1 Jumlah 32 Operator 32 -1 -2 1 31 Operator 31 -1 -1 2 1 30 Operator 30 -1 -2 2 1 25 1 28 Operator 28 -1 2 1 27 Operator 27 -1 -1 2 1 26 Operator 26 -1 -1 1 1 Grafik  Air Flow Sensation Votes2=Kuat 2  n 1o ti sa n e Op.

2.0 R²  = 1

  Peeler 0.0 P  = 1 R²w o Op. Grafik Air Flow Preference Votes T abel L9.

5 Operator

26 Operator 26 -1 -2 -2 21 Operator 21 -1 -1 -1 -1 22 Operator 22 -2 -1 -1 23 Operator 23 -1 -1 -2 24 Operator 24 -1 -2 -1 -1Jumlah -16 -31 -15 -32 R - - - - ata-Rata 0.667 1.292 0.625 1.333 25 27 Operator 27 -1 -2 -1 -1 19 Operator 19 -1 -1 -1 28 Operator 28 -1 -1 -1 29 Operator 29 -1 -1 -1 30 Operator 30 -1 -2 -2 31 Operator 31 -1 -1 -1 -1 32 Operator 32 -1 -1 -1 -1Jumlah -6 -12 -5 -10 R -0 - -0 - ata-Rata .750 1.500 .625 1.250 Sumber: H an Data asil Pengolah 20 Operator 20 -1 -2 -2 18 Operator 18 -1 -1 -1 Tidak Nyaman, -1 : Tidak K Nyaman, 0 : Netral, 1 :Cukup Nyaman, 2 : Sangat Nyaman ) erja ( -2 : Mengganggu, - 1 : Cukup Mengganggu, 0 : Netral, 1 : Cukup Mendukung, 2 : Sangat Mendukung ) Sebelum Sesudah Sebe dah lum Sesu 8 Operator 8 -1 -1 -1 1 Operator 1 -1 -1 -1 -1 2 Operator 2 -1 -1 -2 3 Operator 3 -1 -1 4 Operator 4 -1 -1 -2 5 6 Operator 6 -1 -1 -2 7 Operator 7 -1 -2 -1 -1 9 Operator 9 -1 -2 -1 -2 17 Operator 17 -1 -2 -1 -1 10 Operator 10 -1 -1 -1 -1 11 Operator 11 -1 -1 -1 12 Operator 12 -1 -2 -1 13 Operator 13 -1 -2 -2 14 Operator 14 -1 -2 -1 -1 15 Operator 15 -1 -1 -1 16 Operator 16 -1 -1 -2

25 Operator -1 -2 -1

  Grafik Thermal Comfort Votes 2 Grafik  Efek Lingkungan Kerja  = Mendukung 2.0a rj 1.0e  K n a g n Op. Grafik Efek dari Lingkungan KerjaTabel L10.

1 R²

  Grafik Kelelahan Kaki Votes Grafik  Kelelahan Tangan3=Sangat  Lelah 3.0  = 1.125x ‐ 0.375yn  = 1 R²a g 2.0n a  T n Op. Peelera h la Op.

0.0 Sebelum                          Sesudah

  Grafik Kelelahan Tangan Votes Tabel L11. Peelern a h Op.

0.0 Sebelum                             Sesudah

  Gambar L9. Grafik Kelelahan Punggung VotesGrafik  Kelelahan Bahu 3u h 2a  B  = 1.125x ‐ 0.333 yn a Op.

Informasi dokumen
Audit Thermal Lingkungan Kerja Operator Peeler Untuk Meningkatkan Produktivitas Di PT. Mahakarya Inti Buana Bahan Penolong Bahan Tambahan Bahan yang digunakan Bahan baku Batasan Masalah dan Asumsi Sistematika Penulisan Tugas Akhir Data Suhu Tubuh, Denyut Nadi dan Tekanan Darah Operator Perhitungan Kebutuhan Energi Pekerja Pengaruh Ketinggian terhadap Suhu Ruangan Definisi Tekanan Darah Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah Gradien Temperature Pengaruh Umur, Berat Badan dan Tinggi Badan terhadap Denyut Nadi Identifikasi dan Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Keutamaan Penelitian Kelembaban PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Keseimbangan Panas LANDASAN TEORI Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Luas Permukaan Tubuh Body Surface Area Perpindahan Panas dari Tubuh ke Kulit A Simple Clothing Model Objek dan Waktu Penelitian Sifat Penelitian Lay Out Lantai Produksi Subjek Penelitian Kerangka Konseptual Parameter Tekanan Panas LANDASAN TEORI Penentuan Variabel Penelitian Metode Pengumpulan Data Metode Pengolahan dan Analisis Pengaruh Fisiologis akibat Tekanan Panas Pengaruh Kecepatan Angin terhadap Suhu Pengaruh Kecepatan Angin terhadap Suhu Perhitungan Web Bulb Globe Temperature Indeks Suhu Basah dan Bola Pengendalian Lingkungan Kerja Panas Perhitungan Keseimbangan Termal PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Proses Pencabutan Audit Thermal Lingkungan Kerja Operator Peeler Untuk Meningkatkan Produktivitas Di PT. Mahakarya Inti Buana Proses Pencucian Former Proses Pengeringan Proses Coaqulant Proses Pencucian Proses Pengeringan Proses Pendinginan Proses Pencelupan Chlorine Proses Netralisir Proses Pencucian Proses Pengeringan Proses Pengeringan Coaqulant Proses Peletakan Lateks Proses Pengeringan Lateks Proses Beading Proses Pengeringan Sebelum Proses Proses Saran KESIMPULAN DAN SARAN Sejarah Umum Perusahaan Lokasi Perusahaan Struktur Organisasi Suhu Radiasi Suhu Udara t Kecepatan Udara Tenaga Kerja Jam Kerja S tr Sistem Pengupahan Fasilitas Perusahaan Setiap karyawan dan staf perusahaan dalam menjalankan tugas dan Standard Mutu BahanProduk Uraian Proses Produksi Proses Proses Pembuatan Glove Uraian Tugas dan Wewenang
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Audit Thermal Lingkungan Kerja Operator Peele..

Gratis

Feedback