Analisis Kadar Minyak Kelapa Sawit pada Brondolan berdasarkan Lapisannya di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan

 5  21  53  2017-06-14 09:04:11 Report infringing document
39 Lampiran 1. Gambar brondolan yang sudah di pisahkan antara daging buah dengan bijinya Universitas Sumatera Utara 40 Lampiran 2. Gambar brondolan berdasarkan lapisannya yang dipisahkan dengan tandannya Universitas Sumatera Utara 38 DAFTAR PUSTAKA Fauzi, Y., Widyaastuti, Y.A., Satyawibawa, I., dan Pareu, R.2012. KELAPA SAWIT.Cetakan I.Jakarta:Penebar Swadaya Fauzi, Y., Widyaastuti, Y.A., Satyawibawa, I., dan Pareu, R.2004.KELAPA SAWIT BUDIDAYA, PEMANFAATAN HASIL DAN LIMBAH, ANALISIS USAHA DAN pemasaran.Cetakan XVI.Jakarta:Penebar Swadaya Hadi, M.2004.TEKNIK BERKEBUN KELAPA SAWIT.Edisi Pertama:Yogyakarta Kartasapoetra, A.G.1998.TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PANGAN DI DAERAH TROPIK.Cetakan I.Jakarta:Bina Aksara Mangoensoekaerjo, S., Semangun, H.2008.MANAJEMEN AGROBISNIS KELAPA SAWIT.Cetakan III.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Risza, S.1995.KELAPA SAWIT.Yogyakarta:Penerbit Kamisius Sulistyo, B.D.H., Purba, A.,Siahaan, D., Harahap,R.2006.TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAWIT.Edisi Revisi.Medan:Pusat Penelitian Kelapa Sawit Syamsulbahri.1996.BERCOCOK TANAM TANMAANPERKEBUNAN TAHUNAN.Cetakan I.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Tambunan, R.2006.BUKU AJAR TEKNOLOGI OLEOKIMIA.Medan:Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Tim Penulis.1997.KELAPA SAWIT USAHA BUDIDAYA,PEMANFAATAN HASIL DAN ASPEK PEMASARAN.Cetakan VIII.Jakarta:Penebar Swadaya Universitas Sumatera Utara 28 BAB 3 METODE PERCOBAAN 3.1 Alat-alat 1. Kampak Potong 2. Timbangan 1 (Avery Berkel) max 60 kg 3. Timbangan 2 (Presica – SI-130) 4. Kertas, spidol dan kapas 5. Neraca Analitik (Sartorius) 6. Cawan Petri 7. Cutter 8. Labu Alas 500 ml (Pyrex) 9. Oven 1500 (Memmert) 10. Alat ekstraksi soklet (Thermo) 11. Desikator 12. Corong plastic besar 3.2 Bahan 1. TBS (Tandan Buah Segar) 2. N-heksana Universitas Sumatera Utara 29 3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Preparasi Sampel 1. TBS pada keadaan matang (fraksi 2&3) ditimbang dengan timbangan duduk, kemudian dipisahkan semua tangkai yang berisi brondolan dari bonggol tandan (stalk) dengan kampak potong, dilepaskan semua brondolan dari tangkainya dengan pisau buah. 2. Brondolan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu brondolan luar, tengah, dan dalam kedalam keranjang buah untuk ditimbang beratnya dan dihitung jumlah brondolan dari masing-masing bagian. 3. Diambil brondolan luar, tengah, dan dalam untuk mewakili jumlah brondolan dalam TBS untuk dianalisa. Lalu ditimbang berat brondolannya dengan neraca analitik. 4. Pisahkan daging brondolan dari bijinya dengan pisau buah, lalu ditimbang berat daging brondolan dengan neraca analitik. 3.3.2 Penentuan Kadar Minyak 1. Dimasukkan cawan penguap yang berisi daging brondolan ke dalam oven pada suhu 1050C - 1100C selama 3 – 5 jam atau sampai kandungin air dalam daging brondolan habis menguap. 2. Kemudian didinginkan didalam desikator selama 20 menit, setelah didinginkan ditimbang kembali untuk mengetahui bertanya, ditumbuk daging brondolan dengan menggunakan alu dan lumping Universitas Sumatera Utara 30 sampai halus, dimasukkan tumbukan daging brondolan kering kedalam selubung ekstraksi kemudian ditutup dengan kapas bebas lemak / minyak. 3. Ditimbang labu alas dengan neraca analitik, kemudian di isi dengan pelarut n – heksana sebanyak 200 ml, dimasukkan selubung ekstraksi kedalam soklet, lalu dirangkai alat soklet pada heating mantel, diekstraksi selama 5-6 jam atau sampai warna n – heksana pada soklet berubah menjadi kuning. 4. Diuapkan n – heksana dalam labu alas hingga abis, labu alas dimasukkan kedalam oven untuk menhilangkan sisa-sisa n – heksana, didinginkan labu alas yang berisi minyak dan bebas pelarut kedalam desikator. 5. Ditimbang beratnya dengan neraca analitik, sehingga didapatkan minyak dari daging brondolan. Universitas Sumatera Utara 31 3.4 Bagan Prosedur Penelitian 3.4.1 Preparasi Sampel TBS (Tandan Buah Segar) Fraksi 1 Brondolan Sawit Tangkai dan Bongkol Tandan Brondolan Luar Brondolan Tengah Brondolan Tengah ditimbang ditimbang ditimbang diiris diiris diiris dipisahkan dipisahkan dipisahkan Daging Buah ditimbang Daging Buah Bagian Luar Biji Daging Buah Biji ditimbang Daging Buah Bagian Tengah Daging Buah Biji ditimbang Daging Buah Bagian Dalam Universitas Sumatera Utara 32 3.4.2 Penentuan Kadar Minyak Daging buah (masing-masing brondolan bagian luar, tengah, dalam) Dimasukkan kedalam oven pada suhu 1050C - 1100C Irisan Daging Buah Kering Didinginkan dalam desikator Ditimbang Ditumbuk Daging buah kering dan halus Dimasukkan kedalam penyaring timbel Ditimbang labu Dimasukkan 200 ml n-heksana kedalam labu Dirangkai alat ekstraksi soklet Diekstraksi selama 5 – 6 jam Diuapkan Minyak Brondolan Buah Dimasukkan kedalam oven Didinginkan dalam Desikator Berat minyak brondolan buah sawit (masing-masing brondolan luar, tengah, dan dalam) Universitas Sumatera Utara 33 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1. Hasil dan Data Percobaan Penentuan Kadar Minyak Buah Sawit pada (Fraksi – 1) Kurang Matang pada Tanggal 04 Februari 2016. Berat 1 Tandan Buah Segar = 7400 g Setelah dipisahkan daging brondolan dari biji sawit, maka dilakukan proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut n-heksan pada alat soklet. Adapaun hasilnya seperti pada tabel 4.1 Tabel 4.1. Berat Lapisan Brondolan Lapisan Berat Brondolan (g) %Brondolan Luar 1,260 17,02 Tengah 1,160 15,67 Dalam 1,100 14,86 a. %Brondolan = = � , , � � % % =17,02% Universitas Sumatera Utara 34 b. %Brondolan = � , = � , � % � % % =15,67% c. %Brondolan = = � , , � % = 14,86% Tabel 4.2. Kadar Minyak Brondolan pada fraksi 2 Lapisan Berat Daging Berat minyak Kadar Minyak Brondolan Setelah (g) diekstraksi (g) Luar 105 g 18.9126g 55.51 % Tengah 67 g 17.4050 g 38.49 % Dalam 38 g 16.5806 g 22.91% �� � a) % Kadar Minyak = = � � . ℎ � (%) � � % x100 % = 55.51 % Universitas Sumatera Utara 35 �� � � b) % Kadar minyak = = � � . ℎ � � ℎ � � % � � % x 100 % =38.49 % �� � � c) % Kadar Minyak = = � � . ℎ � x100% =22.91 % 1.2. Pembahasan Dari analisa yang dilakukan diketahui bahwa pada tanggal 04 Februari 2016, % Kadar Minyak pada lapisan luar 55.51 %, pada lapisan tengah 38.49 %, dan pada lapisan dalam 22.91 %. Hal ini disebabkan karena buah lapisan luar lebih matang dari pada buah lapisan tengah dan dalam sehingga menghasilkan minyak yang lebih banyak. Besarnya kadar minyak kelapa sawit disebabkan akibat terlaksananya pelaksanaan pemanenan yang baik dan sesuai standart matang panen dan serta pelaksanaan transfortasi pengankutan TBS dan Brondolan dari tempat pemungutan hasil (TPH) ke pabrik segera mungkin sehingga akan menghasilkan kadara minyak yang tinggi. Brondolan sebenarnya sedapat mungkin dihindari ada dalam proses ekstraksi karena biasanya akan diperoleh rendemen yang relative rendah dan menyebabkan turunnya daya pemutihan (bleachability) CPO yang Universitas Sumatera Utara 36 dihasilkan. Umumnya terdapat 10% brondolan dari total buah yang diterima di pabrik Kadar Minyak dalam brondolan mencapai 37 – 45%. Persilangan antara sawit Dura dengan Pesifera yang telah berumur 11 tahun, kenaikan persentasi pelukaan buah dari 10% menjadi 30% menghasilkan kenaikan kandungan minyak pada daging buah (mesokarp) dari kira kira 47,5% menjadi 50%, atau naik sekitar 2,5%. Pada saat yang bersamaan, kandungan asam lemak bebas juga mengalami kenaikan, yaitu dari 1,1% menjadi 2,1%. Dapat disimpulkan bahwa kandungan minyak pada buah tergantung kepada kematangan buah, dimana kandungan minyak pada buah akan maksimum jika buah sudah benar-benar matang, dan kandungan minyaknya akan sedikit jika buah belum matang. Universitas Sumatera Utara 37 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan 1. Hasil yang diperoleh diketahui bahwa pada tanggal 04 Februari 2016, Persen Kadar Minyak pada lapisan luar 55.51 %, pada lapisan tengah 38.49 %, dan pada lapisan dalam 22.91 %. Hal ini disebabkan karena buah lapisan luar lebih matang dari pada buah lapisan tengah dan dalam sehingga menghasilkan minyak yang lebih banyak. 5.2.Saran 1. Diharapkan agar lebih berhati-hati pada saat pengambilan labu alas yang berisi minyak di dalam desikator agar tidak terjatuh ataupun minyak curah kedalamnya. 2. Diharapkan agar lebih memperhatikan hal-hal yang dapat meningkatkan mutu, pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Universitas Sumatera Utara 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sejarah Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) merupakan tumbuhan tropis yang diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan dihutan belantara Negara tersebut.Kelapa sawit pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1848, dibawa dari Maurutius dan Amsterdam oleh seorang warga Belanda.Bibit kelapa sawit berasal dari kedua tempat tersebut masing-masing berjumlah dua batang dan pada tahun itu juga ditanam di Kebun Raya Bogor. Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet, seorang berkebangsaan Belgia. Luas kebun kelapa sawit terus bertambah dari 1.272 hektar pada tahun 1916 menjadi 92.307 hektar pada tahun 1938.(Mustafa,H.M. 2004). Perkembangan industri perkebunan kelapa sawit Indonesia mengalami pasang surut selaras dengan irama sejarah perjuangan bangsa.Untuk memperjelas perkembangan, tanaman kelapa sawit dibagi menjadi 4 tahap. Pertama, masa penjajahan atau sebelum perang (1914-1942); kedua, masa pendudukan balatentara Jepang hingga masa ambil alih (1942-1957); ketiga, masa ambil alih (1958-1968) dan yang keempat adalah masa orde baru semenjak Pelita I,II,III. (Syamsulbahri.1996). Universitas Sumatera Utara 6 Kelapa sawit didasarkan atas bukti-bukti fosil sejarah dan yang ada, diyakini berasal dari Afrika Barat.Ditempat asalnya kelapa sawit dibiarkan tumbuh liar di hutan-hutan yang telah dikenal sebagai tanaman pangan yang penting.Penduduk setempat kelapa sawit diproses secara amat sederhana menjadi minyak atau tuak. Sejak revolusi industri, di Eropa mulai bermunculan industri atau pabrik (antara lain industri sabun dan margarin) yang membutuhkan bahan mentah atau bahan baku operasionalnya. Minyak sawit dan minyak inti sawit yang muncul kemudian adalah dua produk yang antara lain dibutuhkan untuk bahan mentah atau bahan baku yang diperlukan dalam pabrik-pabrik tersebut. (Tim Penulis PS. 1997) Memasuki masa penduduk Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran.Secara keseluruhan produksi perkebunan kelapa sawit terhenti. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit Indonesia pun hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948-1949. Padahal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor minyak 250.000 ton minyak sawit.Pemerintahan terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan.Sampai tahun 1980, luas lahan mencapai 294.560 ha dengan produksi CPO sebesar 721.172 ton.Sejak saat itu lahan perkebunan sawit Indonesia mulai berkembang pesat terutama perkebunan rakyat.Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang melaksanakan program perkebunan inti rakyat perkebunan (PIR-bun).Perkembangan perkebunan semakin pesat lagi setelah pemerintah mengembangkan program lanjutan yaitu PIT-Transmigrasi sejak tahun 1986.Program tersebut berhasil menambah luas lahan dan produksi kelapa sawit. Pada tahun 1990-an, luas perkebunan kelapa sawit mencapai lebih dari 1,6 juta ha Universitas Sumatera Utara 7 yang tersebar di berbagai sentra produksi, seperti Sumatera dan Kalimantan.(Fauzi,Y,.dkk.2012). Tandan Buah segar (TBS) merupakan produk utama kebun kelapa sawit dan bahan baku utama PKS. Rendemen dan mutu produk hasil dari PKS tergantung pada mutu TBS yang masuk ke pabrik dari kebun.PKS tidak dapat meningkatkan mutu TBS, namun hanya dapat meminimalisasikan penurunan mutu. Faktor kebun yang dapat mempengaruhi kualitas bahan baku adalah genetik dan tipe tanaman, umur tanaman, agronomi, lingkungan dan teknik panen serta transportasi TBS.(Sulistyo,B.D.H. 2006). Minyak yang dihasilkan dari buah kelapa sawit ternyata kini tidak hanya merupakan minyak goreng yang penting bagi penduduk di Afrika Selatan saja.Melainkan telah menjadi komoditi ekspor yang penting dipasaran dunia.Minyaknya dapat dihasilkan dari seluruh buah tanaman ini.Tanaman kelapa sawit dapat dikatakan tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah yang terletak di atas 150 L.U. dan L.S. ekuator.Di daerah tropik dengan ketinggian di bawah 300 m.dpl. yang banyak menerima sinar matahari dengan curah hujan minimum ratarata 1.200 mm sampai 2.000 mm per tahun yang terdistribusi dengan baik tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan memberikan hasil tinggi. Pada daerah yang memeiliki curah hujan yang rendah pertahun nya tanah yang diperlukan bagi pertumbuhannya harus berupa tanah yang dapat menahan air dengan baik.(Kartasapoetra, A.G. 1988). Manajemen kelapa sawit adalah pengolahan perkebunan kelapa sawit dengan cara yang baik, terencana, terorganisasi, tersusun, terarah serta terkendali dalam batas fungsi produksi yang bertumpu pada faktor-faktor sumber daya Universitas Sumatera Utara 8 manusia, sumber daya alam, dan sumber daya keuangan dengan tujuan mencapai keberhasilan usaha perkebunan kelapa sawit. (Risza, S.1994). 2.2. Varietas Kelapa Sawit Ada beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang telah dikenal.Dibedakan berdasarkan tebal tempurung daging buah atau berdasarkan warna kulit buahnya, dan ada juga beberapa varietas unggul yang mempunyai beberapa keistimewaan yaitu, mampu menghasilkan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lainnya. 1. Pembagian varietas berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah Berdasarakan ketebalan tempurung dan daging buah dikenal lima varietas kelapa sawit, yaitu: a) Dura Tempurung cukup tebal antara 2-8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar tempurung.Daging buah relative tipis dengan presentase daging buah terhadap buah bervariasi antara 35-50%. b) Pesifera Ketebalan tempurng sagat tipis tetapi daging buahnya tebal.Persentase daging buah terhadap buah cukup tinggi. Jenis Pesifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis yang lain. Oleh sebab itu dalam persilangan dipakai sebagai pohon induk jantan. Penyerbukan silang anatara Pesifera dengan Dura akan menghasilkan varietas Tenera. c) Tenera Varietas ini memepunyai sifat-sifat yang bersal dari kedua induknya, yaitu Dura dan Pesifera.Varietas inilah yang banyak ditanam Universitas Sumatera Utara 9 diperkebunan.Tempurung menipis, ketebalannya berkisar anatara 0,5-4 mm, dan terdapat lingkaran serabit disekelilingnya. Presentase daging buah terhadap bua tinggi, anatar 60-96%.Tandan buah yang dihasilkan oleh Tenera lebih banyak daripada Dura, tetapi ukuran tandannya relatif lebih kecil. Pembagian varietas berdasarkan warna kulit buah Ada 3 varietas kelapa sawit yang terkenal berdasarkan perbedaan warna kulitnya. Varietas-varietas tersebut adalah: a) Nigrescens Buah berwarna ungu sampai hitam pada waktu muda dan berubah menjadi jingga kehitam-hitaman pada waktu masa.Varietas ini banyak ditanam diperkebunan. b) Virescens Pada waktu muda buahnya berwarna hijau dan ketika masak warna buah berubah menjadi jingga kemerahan, tetapi ujungnya tetap kehijauan. Varietas ini jarang dijumapai di lapangan c) Albescens Pada waktu muda buah berwarna keputih-putihan, sedangkan setelah masak menjadi kekuning-kuningan dan ujungnya berwarna ungu kehitaman.Varietas ini juga jarang dijumpai. 2. Varietas unggul Varietas-varietas unggul tersebut dihasilkan melalui hibridisasi atau persilangan buatan antara varietas Dura sebagai induk betina dengan varietas Universitas Sumatera Utara 10 Pesifera sebagai induk jantan.Varietas tersebut mempunyai kualitas dan kuantitas yang lebih baik dibandingkan varietas lainnya. (Tim Penulis. 1997). 2.3. Panen Kelapa Sawit Panen dan pengolahan hasil panen merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan budi daya kelapa sawit.Kegiatan ini memerlukan teknik tersendiri untuk mendapatkan hasil yang berkualitas.Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan menjadi merah jingga ketika masak. Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Pelaksanaan pemanenan tidak secara sembarang.Perlu diperhatikan beberapa criteria tertentu sebab tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas yang baik. (Fauzi, Y,.dkk. 2004). Tujuan akhir adalah memperoleh TBS yang berkualitas baik dengan rendemen CPO dan KPO tinggi serta memenuhi standar mutuyang ditetapkan oleh badan internasional. Perkiraan jumlah produksi sangat penting karena merupakan dasar untuk menentukan kebijakan perkebunan, khususnya yang berkaitan dengan kerja pabrik, (penambahan atau pengurangan jam kerja), penyediaan alat transportasi TBS dan CPO/KPO, kapasitas kilang CPO/KPO, dan lain-lain. Prediksi panen dapat dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek, yaitu satu hari Universitas Sumatera Utara 11 hingga enam bulan yang akan datang, jangka menengah, yaitu enam bulan hingga dua tahun, dan jangka panjang yaitu, dua tahun atau lebih.(Mustafa, H.M. 2004) 2.4. Kriteria Matang Panen Kriteria kematangan optimal ditentukan pada saat kandungan minyak maksimal sedangkan kandungan asam lemak bebas (ALB) dalam kondisi minimal. Pada saat ini kriteria umum yang digunakan adalah 2 brondolan untuk 1 kg tandan buah segar (TBS) untuk tanaman dewasa yang sudah berumur lebih dari 6 tahun. Sedangkan untuk tanaman muda (3 – 5 tahun) adalah 1 kg brondolan untuk 1 kg tandan buah segar. Dengan kriteria demikian maka akan diperoleh TBS yang kematangannya paling optimal, yaitu 2 dan 3 dengan rendemen minyak 22,2%.(Syamsulbahri. 1996) 2.4.1. Cara Panen Berdasarkan tinggi tanaman ada tiga cara panen yang umum dilakukan oleh perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Untuk tanaman yang tingginya 2-5 m digunakan cara panen jongkok dengan alat dodos, sedangkan tanaman dengan ketinggian 5-10 m dipanen dengan cara berdiri dan menggunakan alat kampak siam. Cara engrek digunakan untuk tanaman yang tingginya lebih dari 10 m dengan menggunakan alat arit bergagang panjang.Untuk memudahkan pemanenan, sebaiknya pelepah daun yang menyangga buah dipotong terlebih dahulu dan diatur rapi di tengah gawangan.Tandan buah yang matang dipotong sedekat mungkin dengan pangkalnya, maksimal 2 cm. Tandan buah yang telah dipotong diletakkan teratur dipiringan dan brondolan dikumpulkan terpisah dari tandan. Brondolan harus bersih dan tidak tercampur tanah atau kotoran lain. Universitas Sumatera Utara 12 Disyaratkan proporsi kotoran tidak melebihi 0,3% dari berat tandan. Selanjutnya tandan buah dan brondolan dikumpulkan di THP.(Fauzi, Y,.dkk.2004) 2.4.2. Pengolahan Hasil Panen Pengolahan tandan buah segar (TBS) dipabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualitas baik. Proses tersebut berlangsung cukup panjang dan memerlukan control yang cermat, dimulai dari pengangkutan TBS atau brondolan dari THP ke pabrik sampai dihasilkan minyak sawit dan hasil sampingnya. Pada dasarnya aa dua macam hasil olahan utama TBS di pabrik, yaitu minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah dan minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit.(Fauzi, Y,.dkk. 2012) Minyak sawit yang sekarang banyak kita temukan di pasar sebagai minyak goring itu diperoleh dari daging buah dan inti (kernel) sawit.Dengan demikian, minyak sawit didapatkan dengan memproses daging buah beserta memecah tempurung inti/kernel. Agar diperoleh minyak sawit yang bermutu tinggi dengan rendemen yang tinggi pula maka proses pengolahannya harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah tingkat efisiensi mesin pengolah yang tinggi dan mutu tandan buah segar serta kecepatan proses panen hingga proses pengolahan. (Syamsulbahri. 1996) Universitas Sumatera Utara 13 2.4.3. Kapasitas Olah Panen Ukuran besarnyanya pabrik umumnya dinyatakan dengan kapasitas olah yaitu kemampuan pabrik untuk mengolah bahan baku untuk menghasilkan produk. Kapasitas olah dinyatakan dalam satuan massa per satuan waktu, dan untuk pabrik kelapa sawit (PKS) dinyatakan dengan ton TBS/jam.(Sulistyo,B..et.al.2006). Kapasitas pemanen setiap harinya tergantung dari a) Produksi per ha yang dikaitkan dengan umur tanaman b) Topografi areal c) Kerapatan pohon d) Masa panen puncak atau panen rendah Kapasitas per hari adalah basis tugas pemanen menurut jumlah kg tandan yang harus diselesaikan per hari kerja.Basis borong/basis premi adalah batasan jumlah tandan yang dipanen dalam tugas yang tidak mendapatkan premi. Berdasarkan hal tersebut di atas, panen yang baik adalah jika: 1) Jumlah brondolan di pabrik sebanyak 15% dari tandan yang dipanen 2) Fraksi 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan 3) Fraksi 1 maksimal 20% dari jumlah tandan 4) Fraksi 4 dan 5 maksimal 15% dari jumlah tandan. 2.4.4. Fraksi TBS dan Mutu Panen Tanaman yang dikembangkan sekarang adalah Hibrida Tenera(Dura x Pesifera). Buahnya mengandung 80% daging buah dan 20% biji yang batok atau cangkangnya tipis dan menghasilkan 34.040% terhadap buah. Bagaimana bentuk Universitas Sumatera Utara 14 sususan atau komposisi tandan buah segar akan menentukan bagaimana cara maupun hasil pengolahannya. Komposisinya pertama ditentukan oleh jenis tanamannya, kesempurnaan penyerbukan bunganya, dan saat pelaksanaan panennya.Jenis Tenera adalah hasil persilangan jenis Deli Dura dengan jenis Pesifera Buah Dura mempunyai daging bauh tipis dan cangkang yang tebal.Sedangkan buah Pesifera mempunyai daging buah yang sangat tebal dan tidak mempunyai cangkang.Buah Tenera mempunyai daging buah yang agak tebal dan cangkang yang tipis. Kesempurnaan penyerbukan akan menentukan jumlah buah yang terdapat dalam satu tandan. Hasil penyerbukan oleh serangga ini jauh lebih sempurna.Tandan menjadi padat dengan buah, sampai ke lapisan paling dalam dari tandan. Tetapi kadar minyak dalam tandan hampir tidak bertambah. Tetapi kadar inti dalam tandan telah meningkat sampai 1,5 kali. Kriteria matang panen ditentukan sedemikian rupa. Pada umunya untuk pusingan 7 hari kriteria matang panen adalah 1,5 – 2 brondolan per kg berat tandan, dinyatakan sebagai jumlah brondolan yang terdapat di piringan sebelum tandan dipotong. Pelukaan buah (buah memar) sedapat mungkin harus dihindarkan untuk mencegah agar kadar ALB dalam minyak tidak menjadi terlalu tinggi. Tandan yang lebih matang akan lebih mudah luka. (Mangoensoekarjo & Semangun. 2008) Komposisi fraksi tandan yang biasanya ditentukan di pabrik sangat dipengaruhi perlakuan sejak awal panen.Faktor penting yang cukup berpengaruh adalah kematangan buah dan tingkat kecepatan pengangkutan buah ke pabrik.Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa tingkatan atau fraksidari TBS yang dipanen.Fraksi-fraksi TBS tersebut sangan memengaruhi mutu panen, termasuk kuliah minyak sawit yang dihasilkan.Dikenal ada lima fraksi TBS. Secara ideal, Universitas Sumatera Utara 15 dengan mengikuti ketentuan dan criteria matang panen dan terkumpulnya brondolan serta pengangkutan yang lancer maka dalam suatu pemanenan akan diperoleh komposisi fraksi tandan buah yang dapat diolah sebagai berikut: a) Jumlah brondolan di pabrik sekitar 25% dari berat tandan seluruhnya b) Tandan yang berdiri dari fraksi 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan. c) Tandan yang terdiri dari fraksi 1 maksimal 20% dari jumlah tandan d) Tandan yang terdiri dari fraksi 4 dan 5 maksimal 15 dari jumlah tandan Table 2.1. Beberapa Tingkat Fraksi TBS Fraksi Jumlah Brondolan Tingkat Kematangan 00 Tidak ada, buah berwarna hitam Sangat mentah 0 1 – 12,5% buah luar membrondol Mentah 1 12,5 – 25% buah luar membrondol Kurang matang 2 25 – 50% buah luar membrondol Matang I 3 50 – 75% buah luar membrondol Matang II 4 75 – 100% buah luar membrondol Lewat matang I 5 Buah dalam juga membrondol, ada buah yang Lewat matang II busuk Dalam hal ini, pengetahuan mengenal derajat kematangan buah mempunyai arti penting sebab jumlah dan mutu minyak yang akan diperoleh sangat ditentukan oleh faktor ini. Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Universitas Sumatera Utara 16 Tabel 2.2. Hubungan Rendemen Minyak Dengan ALB Kadar Asam Lemak Fraksi Rendemen Minyak (%) 0 16 1,6 1 21,4 1,7 2 22,1 1,8 3 22,2 2,1 4 22,2 2,6 5 21,9 3,8 Bebas(%) Apabila pemanenan buah tersebut dilakukan dalam keadaan lewat matang II masa minyak yang dihasilkan mengandung ALB dalam presentase tinggi (lebih dari 3%), namun rendemen minyaknya sudah mulai menurut. Sebaliknya, jika pemanenan dilakukan dalam keadaann buah belum matang, selain kadar ALB-nya rendah, rendemen minyak yang diperoleh juga rendah.(Fauzi, Y,.dkk. 2012) Warna minyak kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh kandungan karoten dalam minyak tersebut.Karoten dikenal sebagai sumber vitamin A, pada umumnya terdapat pada tumbuhan yang berwarna hijau kuning termasuk kelapa sawit, tetapi para konsumen tidak menyukainya.Oleh karena itu para produsen berusaha untuk menghilangkan bleaching earth. Mutu minyak sawit juga dipengaruhi oleh kadar asam lemak bebasnya, karena jika kadar asam lemak bebasnya tinggi, maka akan timbul bau tengik di samping juga dapat merusak peralatan karena mengakibatkan timbulnya korosi. Faktor- faktoryang dapat menyebabkan naiknya kadar asam lemak bebas dalam CPO antara lain adalah; a) Kadar air dalam CPO b) Enzim yang berfungsi sebagai katalis dalam CPO t Universitas Sumatera Utara 17 Kadar air dapat mengakibatkan naiknya kadar assam lemak bebas karena air pada CPo dapat menyebabkan terjadinya hidrolisa pada trigliserida dengan bantuan enzim lipase dalam CPO tersebut.(Tambun,R.2006) 2.5. Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit Proses pengolahan TBS menjadi minyak dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan dapat pula dengan teknologi tinggi yang sudah biasa digunakan oleh perkebunan-perkebunan besar yang menghasilkan minyak sawit mentah atau CPO (Crude Palm Oil)dengan kualitas ekspor. Adapun tahapan proses pengolahan minyak kelapa sawit adalah sebagai berikut: 2.5.1. Penerimaan Buah dan Sortasi Buah yang diterima di PKS pertama-tama harus melalui jembatan timbang.Jembatan timbang berfungsi untuk mengontrol proses (pengolahan buah masuk), menghitung rendemen, sebagai dasar perhitungan pembayaran premi permanen dan buah pihak ketiga dan pencatatan produksi TBS kebun pemasok.Dan jembatan timbang dikalibrasi secara rutin.Selanjutnya buah dibawa ke loading ramp yang berfungsi untuk penimbunan sementara TBS. di Loading Ramp dilakukan sortasi panen untuk memastikan bahwa buah masuk berada dalam kondidi yang optimal untuk diektrak minyaknya dalam artian kandungan minyak buah maksimal dan ALB yang rendah. Bila TBS yang tidak memenuhi syarat kurang dari 50%, biasanya TBS yang memenuhi syarat diterima pabrik sedangkan TBS yang tidak memnuhi Universitas Sumatera Utara 18 syarat dikembalikan, sedangkan bila TBS yang tidak memenuhi syarat lebih dari 50% seluruh buah di dalam sebuah truk dikembalikan. Brondolan sebenarnya sedapat mungkin dihindari dalam proses ekstrksi karena akan diperoleh rendemen yang relative rendah dan menyebabkan turunnya daya pemutihan (bleachability) CPO yang dihasilkan. Umumnya terdapat 10% brondolan dari total buah yang diterima di pabrik kadar minyak dalam brondolan mencapai 37-45%. 2.5.2. Perebusan (Sterilisasi) Perebusan atau sterilisasi buah dilakukan dalam sterilizer yang berupa bejana bertekanan. Biasanya sterilizer dirancang untuk dapat memuat sampai 10 lori dengan tekanan uap 3 kg/cm2. Lori Adalah tempat buahyang dapat menampung buah 2,5 – 3,5 dari 5,0 ton. Fungsi lori yang berlubang dengan diameter 0,5 inch ini adalah untuk mempertinggi penetrasi uap pada bauh dan penetesan air kondensat yang terdapat diantara buah. Sterilizer harus dilengkapi dengan katup pemngaman (safety valve) untuk menjaga tekanan di dalam sterilizer tidak melebihi tekanan kerja maksimum yang diperkenankan. Tujuan dari sterilisasi ini adalah: a) Menonaktifkan enzim untuk mencegah kenaikan asam lemak bebas (ALB) minyak yang akan dihasilkan b) Memudahkan pelepasan bbrondolan buah dari tandan c) Melunakkan buah untuk memudahkan dalam proses pelumatan di digester d) Prakondisi untuk biji agar tidak mudah pecah selama proses pengepresan dan pemecahan biji Universitas Sumatera Utara 19 Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan tekanan uap sebesar 2,8 – 3 kg/cm dengan lama sterilisasi sekitar 90 menit. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu sterillisasi : a) Tekanan uap dan lama sterilisasi Tekanan uap dan lama sterilisasi kurang cukup akan mengakibatkan: 1. Buah kurang masak, karena sebagian brondolan tidak terlepas dari tandannya dan akan menyebabkan kehilangan minyak dalam tandan kosong yang meningkat 2. Pelumatan dalam digerster tidak sempurna. Sehingga mengakibatkan proses pengepresan tidak sempurna dan mengakibatkan kerugian minyak pada ampas dan biji bertambah 3. Serat (fiber) menjadi basah. Sehingga mengakibatkan proses pembakaran dalam tungku ketel uap tidak komplit. b) Pembuangan udara dan air kondensat Apabila udara di dalam sterilizer tidak dikeluarkan maka terjadi campuran udara dan uap yang mengakibatkan pemindahan panas dari uap ke buah tidak sempurna.Udara yang masih ada di dalam sterilizer dapat memberikan pembacaan tekanan semu (tidak nyata) pada alat ukur tekanan (pressure gauge). c) Siklus sterilisasi Ada dua sistem yang digunakan yaitu double peak (dua puncak) dan triple peak (tiga puncak. Jumlah puncak dalam sterilisasi dilihat dari jumlah pembukaan atau penutupan dari uap masuk atau uap keluar selama sterilisasi berlangsung yang diatur secara manual atau otomatik Universitas Sumatera Utara 20 2.5.3. Penebahan Buah (Threshing) Penebahan adalah pemisahan brondolan buah dari tandan kosong kelapa sawit.Buah yang telah direbus di sterilizer diangkat dengan hoisting crane dan dituang ke dalam threser melalui hopper yang berfungsi untuk menampung buah rebus.Autofeeder akan mengatur meluncurnya buah agar tidak masuk sekaligus. Pemipilan dilakukan dengan membanting buah dalam drum yang dengan kecepatan putaran 23-25 rpm. Buah yang terpipil akan jatuh melalui kisi-kisi dan ditampung oleh fruit elevator dan dibawa dengan distributing conveyor untuk didistribusikan ke tiap unit-unit digester. Selanjutnya tandan kosong melalui empty bunch conveyor dibawa ke empty bunch hopper untuk penimbunan sementara sebelum diangkut ke kebun sebagai mulsa atau kompos. 2.5.4. Pengempaan (Pressing) Peremasan/ Pelumatan Buah (digester).Digester adalah alat untuk melumatkan brondolan sehingga daging buah terpisah dari biji.Digester terdiri dari tabung silinder yang berdiri tegak yang didalamnya dipasang pisau-pisau pengaduk (strirring arms) sebanyak 6 tingkat yang diikatkan pada poros dan digerakkan oleh motor listrik.Buah yang masuk ke dalam digester diaduk sedemikian rupa sehingga sebagian besar daging buah sudah terlepas dari dagingnya. Untuk memudahkan proses pelumatan diperlukan panas 90 -950Cyang diberikan dengan cara menginjeksikan uap 3 kg/cm2langsung atau melalui mantel (jacket). Proses pengadukan berlangsung selama 30 menit. Terhambatnya pengeluaran minyak Universitas Sumatera Utara 21 akan menyebabkan minyak berfungsi sebagai pelumas pisau sehingga menguraikan efek pelumatan pisau digester. Pengempaan Buah / Pemerasan Minyak . Pengempaan (screw press) digunakan untuk memisahkan minyak kasar (crude oil)dari daging buah (pericarp). Alat ini terdiri dari sebuah silinder (press silinder) yang berlubanglubang darn di dalamnya terdapat 2 buah ulir (screw) yang berputas berlawanan arah. Tekanan kempa diatur oleh dua konus (cones) yang berada pada bagian ujung pengempa yang dapat digerakkan maju mundur oleh mekanisme hidrolik. Massa yang keluar dari digesterdiperas dalam screw press pada tekanan 50 – 60 bar dengan menggunakan air pembilas screw press suhu 90 - 950C sebanyak 7% TBS (maks) dengan hasil minyak kasar (crude oil) yang viscositasnya tinggi. Untuk menurunkan viscositas minyak, penambahan air dapat pula dilakukan di oil gutter kemudian dialirkan melalui oil gutter ke stasiun klarifikasi, sedangkan biji yang bercampur dengan serat masuk ke alat pemecah ampas kempa (cake breaker conveyor) untuk dipecahkan. 2.5.5. Pemurnian Minyak (Clarification) Stasiun pemurnian minyak adalah stasiun terakhir untuk pengolahan minyak.Minyak kasar hasil stasiun pengempaan dikirim ke stasiun ini untuk diproses lebih lanjut sehingga diperoleh minyak produksi, proses pemisahan minyak, air dan kotoran dilakukan dengan system pengendapan, sentrifugasi dan penguapan. a) Sand Trap Tank Universitas Sumatera Utara 22 Alat ini diguanakan untuk memisahkan pasir dari cairan minyak kasar yang berasal dari screw press. Untuk memudahkan pengendapan pasir, cairan minyak kasar harus cukup panas yang diperoleh dengan menginjeksi uap. b) Saringan bergetar (Vibrating Screen) Saringan bergetar digunakan untuk memisahkan benda-benda padat yang terikut minyak kasar.Saringan bergetar terdiri dari 2 tingkat saringan dengan luas permukaan masing-masing 2m2. Tingkat atas memakai saringan ukuran 20 mesh, sedangkan tingkat bawah memakai saringan 40 mesh. Crude oil yang telah diencerkan dialirkan ke vibrating screen dengan tujuan untuk memisahkan beberapa bahan asing seperti pasir, serabut dan bahan-bahan lain yang masih mengandung minyak dan dapat dikembalikan ke digester. Untuk mengetahui ketepatan penambahan air pengecer maka setiap 2 jam sekali diambil sampel crude oil sebelum masuk vibrating screen untuk selanjutnya dengan hand centrifuge / electric centrifuge dapat diketahui komposisi minyak., NOS dan air. Komposisi yang tepat adalah satu bagian minyak dan dua bagian sludge (NOS dan air).Jika menggunakan decanter maka perbandingan minyak dan sludge 1:1. Minyak kasar yang telah disaring dialirkan kedalam crude oil tank dan suhu dipertahankan 90 – 950C selanjutnya minyak kasar dipompa ke setling tank. c) Tangki / Pompa Minyak Kasar (Crude Oil Tank / Pump Tangki minyak kasar adalah tangki penampung minyak kasar, yang telah disaring, untuk dipompakan ke tangki pisah (contiuous clarifier Universitas Sumatera Utara 23 tank)dengan pompa minyak kasar.Untuk menjaga agar suhu cairan tetap, diberikan penambahan panas dengan menginjeksikan uap.Pembersihan secara menyulurkan (luar dan dalam) dilakukan ssetiap minggu akhir mengolah. d) Tangki Masakan Minyak (Oil Tank) Minyak yang telah dipisah pada tangki pemisah ditampung dalam tangki ini untuk dipanasi lagi sebelum diolah lebih lanjut pada oil centrifuge.Diusahakan agar tangki ini tetap penuh untuk menjaga agar spiral yang dialiri uap dengan tekanan 3 kg/cm2.Tangki berbentuk silinder, dengan bagian dasar berbentuk kerucut. e) Sentrifusi Minyak (Oil Purifier) Untuk pemurnian mnyak yang berasal dan tangki masakan yang mengandung air ± 0,50 – 0,70% dan ± 0,10 – 0,30 dipergunakan alat pemisah sentrifusi ini, yang berputasr antara 5.000 – 6.000 rpm. Akibat gaya sentrifugal yang terjadi, maka minyak yang mempunyai berat jenis lebih kecil bergerak kearah poros, dan terdorong keluar oleh sudu-sudu (parig disc), sedangkan kotoran dan air yang berat jenisnya lebih besar terdorong kea rah dinding bowl. Air keluar, padatan melekat pada dinding bowl yang dikeluarkan dengan pencucian. f) Tangki Apung (Float Tank) Tangki apung dipakai untuk mengatur jumlah minyak masuk kedalam tangki hampa udara (vacuum) agar merata dan tetap (konstan). Perlu diperhatikan agar pelampung selalu dalam keadaan baik. Universitas Sumatera Utara 24 g) Pengeringan Minyak (Vacuum Dryer) Pengeringan minyak dipergunakan untuk memisahkan air dan minyak dengan cara penguapan hampa. Alat ini terdiri dari tabung hampa udara dan 3 tingkat steam ejector.Minyak terhisap ke dalam tabung melalui pemercik (nozzle), akibat adanya hampa udara, dan terpancar ke dalam tabung hampa.Uap air dari tabung hampa, terhisap oleh ejector 1, masuk kedalam kondensor 1, sisa uap dari kondensor 1 terhisap oleh ejector 2, masuk kedalam kondensor 2, sisa uap terakhir dihisap oleh ejector 3 dan dibuang ke atmosfer. Air yang terbentuk dalam kondensor 1 dan 2 langsung ditampung dalam tangki air panas di bawah (hot well tank). 2.6. Komposisi Minyak Kelapa Sawit Kelapa sawit mengandung 80% perikarp (lapisan serat daging) dan 20% buah yang dilapisi kulit yang tipis, minyak dalam perikarp sekitar 34 – 40%. Minyak kelapa sawit adalah lemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap. Titik lebur minyak sawit tergantung pada kadar trigliseridanya. Minyak sawit terdiri atas berbagai trigliserida dengan rantai asam lemak yang berbeda-beda. Rumus bangun minyak sawit adalah sebagai berikut: H H H—C—OH H—C—OH H—C—OH HOOCR1 + HOOCR2 HOOCR3 H Gliserol H—C—OOCR1  H—C—OOCR2 + 3H2O H—C—OOCR3 H Asam Lemak Trigliserida Air Universitas Sumatera Utara 25 Panjang rantai adalah 14 – 20 atom karbon.Dengan demikian sifat minyak sawit ditentukan oleh perbandingan dan koposisi trigliserida.Karena kandungan asam lemak yang terbanyak adalah asam lemak jenuh oleat dan linoleat, minyak sawit masuk golongan minyak asam oleat-linoleat. Jumlah asam jenuh dan asam tak jenuh dalam minyak sawit hampir sama. Komponen utamanya adalah asam palmitat dan oleat. Table 2.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit dan Inti Sawit Asam lemak Jumlah brondolan Tak jenuh Titik lebur °C Kaprilat 8 Kaprat 10 Laurat 12 Miristat 14 Palmitat 16 Stearat 18 Jumlah asam jenuh Oleat 18 1 Linoleat 18 2 Jumlah asam lemak jenuh Asam Lemak % berat 1,4 (0,5-6) 40,1 (32-45) 5,5 (2-7) Minyak inti sawit 2,7 (3-5) 7,0 (3-7) 46,6 (40-52) 14,1 (14-17) 8,8 (7,9) 1,3 (1-3) 47,0 80,8 42,7 (38-52) 10,3 (5-11) 53,0 18,5 (13-19) 0,7 (0,5-2) 19,2 Minyak sawit 16,7 31,6 44,2 54,4 62,9 69,6 15 -5 (Mangoensoekarjo & Semangun.2008) 2.7. Manfaat Kelapa Sawit dan Keunggulan pada Aplikasinya untuk Keperluan Pangan Manfaat sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap.Industry yang banyak menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku adalah industry kosmetik dan farmasi. Bahkan, Universitas Sumatera Utara 26 minyak sawit telah dikembangkan sebagai salah satu bahan bakar nabati (biodiesel). Minyak sawit juga memiliki keunggulan dalam hal susunan dan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Kadar steril dalam minyak sawit relative lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya yang terdiri dari sitosterol dan kolesterol. Dalam CPO, kadar sterol berkisar 360 – 620 ppm dengan kadar kolesterol hanya sekitar 10 ppm atau sebesar 0,001% dalam CPO. Berikut adalah beberapa keunggulan minyak sawit pada aplikasinya untuk keperluan pangan: a) Produk pangan yang diformulasikan dengan menggunakan minyak sawit akan memunyai keawetan yang lebih baik karena minyak sawit sangat stabil terhadap proses ketengikan dan kerusakan oksidatif lainnya. Alasan itulah yang membuat minyak sawit dikenal sebagai minyak goring terbaik. b) Minyak sawit mempunyai kecendrungan untuk mengalami kristalisasi dalam bentuk Kristal kecil sehingga mampu meningkatkan kinerja creaming jika digunakan pada formulasi cake dan margarine. c) Kandungan asam palmitat minyak sawit sangat baik untuk proses aerasi campuran lemak/gula, misalnya pada proses baking. d) Minyak sawit baik digunakan untuk membuat vanaspati, atau vegetable ghee, yang mengandung 100% lemak nabati, bias digunakan untuk subsitusi mentega susu dan mentega cokelat. e) Roti yang diproduksi dengan shortening dari minyak sawit mempunyai tekstur dan keawetan yang lebih baik. Universitas Sumatera Utara 27 f) Minyak sawit juga banyak untuk produksi krim biscuit, karena kandungan padatan dan titik lelehnya yang cukup tinggi.( Fauzi, Y,.dkk..2012) Universitas Sumatera Utara 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guinensis) berasal dari Guinea di pesisir Afrika Barat, kemudian diperkenalkan ke bagian Afrika lainnya, Asia Tenggara dan Amerika Latin sepanjang garis equator (antara garis lintang utara 15° dan lintang selatan 12°. Kelapa sawit tumbuh baik pada daerah iklim tropis, dengan suhu antara 24°C - 32°C dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan 200 mm per tahun. Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% buah yang dilapisi kulit yang tipis.Kandungan minyak dalam perikarp sekitar 30% 40%. Kelapa sawit menghasilkan dua macam minyak yang sangat berlainan sifatnya yaitu, minyak sawit (CPO), yaitu minyak yang berasal dari sabut kelapa sawit, dan minyak inti sawit (CPKO), yaitu minyak yang berasal dari inti kelapa sawit.(Tambunan, R.2006) Pengolahan TBS di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualitas baik. Proses tersebut di mulai dari pengangkutan TBS atau Brondolan dari TPH ke pabrik sampai dihasilkan minyak sawit dan hasil sampingnya. Secara ringkas tahap-tahap proses pengolahan TBS sampai dihasilkan minyak diuraikan sebagai berikut: - Tahap pertama pengangkutan TBS ke pabrik(loading ramp) untuk diolah maksimal 8 jam setelah dipanen langsung diolah. Universitas Sumatera Utara 2 - Tahap kedua yaitu perebusan TBS (sterilizer). Selanjutnya di rebus di dalam sterilizer atau dalam ketel uap, dengan mengalirkan uap panas selama 1 jam akan tergantung dengan besarnya tekanan uap. - Tahap ketiga yaitu perontokan dan pelumatan buah (thressing). Dari thresher, buah yang telah rontok di bawa ke mesin pelumat (digerster). Untuk lebih memudahkan penghancuran daging buah dan pelepasan biji, selama proses digerster dipanasi. - Tahap keempat yaitu, untuk memisahkan biji sawit dari hasil pelumatan (pressing) langkah selanjutnya adalah pemerasan atau ekstraksi yang bertujuan untuk mengambil minyak dari masa pengadukan. - Tahap kelima yaitu, pemurnian dan penjernihan minyak sawit (klarifikasi). Proses penjernihan yang dilakukan untuk menurunkan kandungan air dalam minyak. (Fauzi, Y.,dkk.2004) Ada 3 jenis lapisan brondolan yaitu lapisan dalam, tengah dan luar. Lapisan – lapisan ini memiliki ciri yang berbeda, yaitu: - Lapisan luar Ciri fisik lapisan luar brondolan adalah memiliki warna daging yang hitam dan ukurannya lebih besar.Kemudian setelah dioven warnanya menjadi kehitaman dan dagingnya lebih tebal, sementara ciri fisik bijinyya berserabut dan warnanya kehitaman. - Lapisan tengah Ciri fisik lapisan tengah brondolah adalah memiliki warna daging merah keorangean dan ukurannya lebih kecil dari pada lapisan luar.Kemudian setelah dioven warnanya menjadi merah kehitaman dan dagingnya lebih tipis dari Universitas Sumatera Utara 3 pada lapisan luar, sementara ciri fisik bijinya berserabut dan warnanya lebih kekuningan. - Lapisan dalam Ciri fisik lapisan dalam brondolan adalah memiliki warna daging kuning keorangean dan ukurannya lebih kecil dibandingkan yang lainnya. Kemudian setelah dioven warnanya kuning pucat dan dagingnya lebih tipis.Sementara ciri fisik bijinya berserabut dan lebih bersih dari lapisan yang lainnya. Biasanya perbedaan dari masing-masing lapisan akan mengasilkan kadar minyak yang berbeda, seperti pada lapisan dalam akan menghasilkan minyak yang paling sedikit, sedangkan lapisan tengah dan luar akan lebih banyak menghasilkan minyak dari pada lapisan dalam. Maka dalam hal ini saya tertarik untuk memilih judul “Analisis Kadar Minyak pada Brondolan berdasarkan Lapisannya di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan “ 1.2. Permasalahan Permasalahan yang dijumpai dalam karya ilmiah ini adalah:. 1. Perbedaan antara kadar minyak pada brondolan yang mempengaruhi hasil yang diperoleh berdasarkan lapisannya. 1.3. Tujuan 1. Untuk menentukan kadar minyak pada brondolan berdasarkan lapisannya agar dapat diketahui hasilnya di PabrikKelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan. Universitas Sumatera Utara 4 1.4. Manfaat Adapun manfaat dari karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui kadar minyak pada brondolan dengan bantuan ciri fisik dari masing-masing lapisannya di PTPN III Aek Nabara Selatan. Universitas Sumatera Utara vi ANALISIS KADAR MINYAK KELAPA SAWIT PADA BRONDOLAN BERDASARKAN LAPISANNYA DI PABRIK KELAPA SAWIT PTPN III AEK NABARA SELATAN ABSTRAK Telah dilakukan studi Analisis Kadar Minyak Kelapa Sawit pada Brondolan berdasarkan Lapisannya di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan.Kadar minyak yang diperoleh dengan metode ekstraksi menggunakan alat sokletasi untuk mendapatkan hasil yang lebih murni dan pelarut yang digunakan dapat dipergunakan kembali. Hasil Analisis Kadar Minyak pada Brondolan berdasarkan lapisannya yaitu, pada lapisan dalam kadar minyak yang di peroleh sebanyak 22,91%, pada lapisan tengah 38,49%, dan pada lapisan luar 55,51%. Lapisan luar lebih banyak mengandung minyak dari pada lapisan dalam dan tengah. Kata Kunci :Kadar Minyak, Brondolan, Metode Ekstraksi Universitas Sumatera Utara vii ANALYSIS OF OIL CONTENT IN BRONDOLAN BASED LAYER IN THE FACTORY AT PTPN III AEK NABARA SELATAN ABSTRACT The study on the analysis of the oil content of brondolan based layers in the factory at PTPN III Aek Nabara Selatan. Oil content obtained by extraction method using soxhletation tool to get more pure and solvents used can be reused. The result of the analysis of the oil content in brondolan based layers, the inner lining of the amount of oil gained as much as 22,91%, the middle layer of 38,49%, and the outer layer of 55,51%. The outer layer contains more oil than the inner and middle layers. Key Words :Oil Content, Brondolan, Extraction Method Universitas Sumatera Utara i ANALISISKADAR MINYAK KELAPA SAWIT PADA BRONDOLAN BERDASARKAN LAPISANNYADI PABRIK KELAPA SAWIT PTPN III AEK NABARA SELATAN KARYA ILMIAH SELLA ARRIYANTY 132401043 PROGRAM STUDI D3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016 Universitas Sumatera Utara ii ANALISISKADAR MINYAK KELAPA SAWIT PADA BRONDOLAN BERDASARKAN LAPISANNYA DI PABRIK KELAPA SAWIT PTPN III AEK NABARA SELATAN KARYA ILMIAH Diajukanuntukmelengkapitugasakhirdanmemenuhisyaratmencapaigelar AhliMadya SELLA ARRIYANTY 132401043 PROGRAM STUDI D3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016 Universitas Sumatera Utara iii PERSETUJUAN Judul :Analisis Kadar Minyak Kelapa Sawit pada Brondolan berdasarkan Lapisannya di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan Kategori : Karya Ilmiah Nama : Sella Arriyanty Nomor Induk Mahasiswa : 132401043 Program Studi : Diploma (D3) Kimia Departemen : Kimia Fakultas :Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara Disetujui di Medan, Juli 2016 Disetujui Oleh Program Studi D3 Kimia FMIPA USU Ketua, Dosen Pembimbing Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si NIP.195512181987012001 Dr. Darwin Yunus Nasution, MS NIP. 195508101981031006 Disetujui Oleh Departemen Kimia FMIPA USU Ketua, Dr. Rumondang Bulan Nst, MS NIP. 195408301985032001 Universitas Sumatera Utara iv PERNYATAAN ANALISIS KADAR MINYAK KELAPA SAWIT PADA BRONDOLAN BERDASARKAN LAPISANNYA DI PABRIK KELAPA SAWIT PTPN III AEK NABARA SELATAN TUGAS AKHIR Saya mengakui bahwa Karya Ilmiah ini adalah hasil karya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya. Medan, Juli 2016 SELLA ARRIYANTY 132401043 Universitas Sumatera Utara v PENGHARGAAN Bismillahirrahmanirrahim… Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas semua berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir dengan judul Analisis Kadar Minyak pada Brondolan berdasarkan Lapisannya di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program Diploma 3 Kimia di Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Terimakasih penulis sampaikan kepada Kedua Orangtua penulis yang selalu memberikan semangat dan dukungannya kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan.Terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Darwin Yunus Nasution, MS selaku pembimbing yang telah meluangkan waktunya selama penyusunan Tugas Akhir ini.Terimakasih kepada Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si selaku Ketua Program Studi D3 Kimia FMIPA USU, Terimakasih kepada Dr. Rumondang Bulan Nst, MS selaku Ketua Departemen Kimia FMIPA USU dan Sekretaris Departemen Matematika FMIPA USU Medan, Dekan dan Pembantu Dekan FMIPA USU seluruh Staff dan Dosen Matematika FMIPA USU, pegawai FMIPA USU dan rekan-rekan kuliah. Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan.Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.Semoga Karya Ilmiah ini bermanfaat dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya untuk kita semua, Amiin. Medan, Juli 2016 Penulis SELLA ARRIYANTY Universitas Sumatera Utara vi ANALISIS KADAR MINYAK KELAPA SAWIT PADA BRONDOLAN BERDASARKAN LAPISANNYA DI PABRIK KELAPA SAWIT PTPN III AEK NABARA SELATAN ABSTRAK Telah dilakukan studi Analisis Kadar Minyak Kelapa Sawit pada Brondolan berdasarkan Lapisannya di Pabrik Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Selatan.Kadar minyak yang diperoleh dengan metode ekstraksi menggunakan alat sokletasi untuk mendapatkan hasil yang lebih murni dan pelarut yang digunakan dapat dipergunakan kembali. Hasil Analisis Kadar Minyak pada Brondolan berdasarkan lapisannya yaitu, pada lapisan dalam kadar minyak yang di peroleh sebanyak 22,91%, pada lapisan tengah 38,49%, dan pada lapisan luar 55,51%. Lapisan luar lebih banyak mengandung minyak dari pada lapisan dalam dan tengah. Kata Kunci :Kadar Minyak, Brondolan, Metode Ekstraksi Universitas Sumatera Utara vii ANALYSIS OF OIL CONTENT IN BRONDOLAN BASED LAYER IN THE FACTORY AT PTPN III AEK NABARA SELATAN ABSTRACT The study on the analysis of the oil content of brondolan based layers in the factory at PTPN III Aek Nabara Selatan. Oil content obtained by extraction method using soxhletation tool to get more pure and solvents used can be reused. The result of the analysis of the oil content in brondolan based layers, the inner lining of the amount of oil gained as much as 22,91%, the middle layer of 38,49%, and the outer layer of 55,51%. The outer layer contains more oil than the inner and middle layers. Key Words :Oil Content, Brondolan, Extraction Method Universitas Sumatera Utara viii DAFTAR ISI Halaman i ii iii iv v vi viii ix PERSETUJUAN PERNYATAAN PENGHARGAAN ABSTRAK ABSTRACT DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Permasalahan 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat 1 1 3 3 4 Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Kelapa Sawit 2.2 Varietas Kelapa Sawit 2.3 Panen Kelapa Sawit 2.4 Kriteria Matang Panen 2.4.1 Cara Panen 2.4.2 Pengolahan Hasil Panen 2.4.3 Kapasitas Olah Panen 2.4.4 Fraksi TBS dan Mutu Panen 5 5 8 10 11 11 12 13 13 2.5 Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit 2.5.1 Penerimaan Buah dan Sortasi 2.5.2 Perebusan (Sterilisasi) 2.5.3 Penebahan Buah (Threshing) 2.5.4 Pengempaan (Pressing) 2.5.5 Pemurnian Minyak (Clarification) 2.6 Komposisi Minyak Kelapa Sawit 2.7 Manfaat Kelapa Sawit dan Keunggulan pada Aplikasinya Untuk Keperluan Pangan 17 17 18 20 20 21 24 26 Metode Percobaan 3.1 Alat-alat 3.2 Bahan 3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Preparasi Sampel 3.3.2 Penentuan Kadar Minyak 28 28 28 29 29 29 Bab 3 Universitas Sumatera Utara ix 3.4 Bagan Prosedur Penelitian 3.4.1 Preparasi Sampel 3.4.2 Penentuan Kadar Minyak 31 31 32 Bab 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil Data Percobaan 4.2 Pembahasan 33 33 35 Bab 5 Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran 37 37 37 Daftar Pustaka 38 Lampiran Lampiran 1 Lampiran 2 39 39 40 Universitas Sumatera Utara x DAFTAR TABEL No. Tabel Judul Halaman Tabel 2.1 Beberapa tigkat Fraksi TBS 15 Tabel 2.2 Hubungan Rendemen Minyak dengan ALB 16 Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Insi Sawit 25 Tabel 4.1 Berat Lapisan Brondolan 33 Tabel 4.2 Kadar Minyak Brondolan pada Fraksi II 34 Universitas Sumatera Utara xi DAFTAR LAMPIRAN No. Lampiran Judul Halaman Lampiran 1 Gambar brondolan yang sudah di pisahkan antara daging buah dengan bijinya 39 Lampiran 2 Gambar brondolan berdasarkan lapisannya yang dipisahkan dengan tandannya 40 Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Kadar Minyak Kelapa Sawit pada Brond..

Gratis

Feedback