Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)

Gratis

21
152
41
3 years ago
Preview
Full text

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINYAK SERAT MESOKARP BUAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

  NIP 195709091985112001 NIP 195306191983031001 Pembimbing II, Dr. Tuty Roida Pardede, M.

OLEH: MICHIO ANATAKI PANDIANGAN NIM 111501060

  Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji SkripsiFakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Medan, 4 Agustus 2015Disetujui Oleh:Pembimbing I, Panitia Penguji, Dr. NIP 195709091985112001 NIP 195306191983031001 Pembimbing II, Dr.

KATA PENGANTAR

  Si., Apt., yang telah memberikan saran dan Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tiada terhingga kepada ayahanda tercinta D. Vitamin C dan Crude Palm Oil yangdigunakan sebagai pembanding (kontrol) menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC 50 sebesar 1,29 ppm dan 4,6 ppm.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pabrik kelapa sawit (PKS) sebagai industri penghasil CPO hanya menghasilkan 25-30% produk utama yaitu 20-23% CPO dan 5-7% inti sawit(kernel), sisanya lebih dari 3 kali produksi CPO atau sebanyak 70-75% dari bahan baku olah tandan buah segar adalah residu pengolahan berupa limbah(Naibaho, 1998), selebihnya berupa limbah lumpur (sludge) 29,4%, limbah serat mesokarp 17,9%, limbah tandan kosong 23,4% (Yacob, et al., 2006). Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antioksidan alami adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg), karena tanaman ini mengandungantioksidan golongan karotenoid dan vitamin E (tokotrienol dan tokoferol).

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang aktivitas antioksidan dari serat mesokarp buah kelapa sawit(Elaeis guineensis jacq).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan Kelapa Sawit

  Masa berbuah tanaman ini setelah berumur 2,5 tahun dan pemanenan didasarkan pada saat kadar minyak mesokarpmencapai tingkat kematangan dengan ciri-ciri buah yang lepas atau jatuh sekurang-kurangnya 5-10 buah per tandan dan secara umum batas usia ekonomiskelapa sawit berkisar 25 tahun, dan dapat berkurang bergantung dari tingkat pemeliharaan yang dilakukan termasuk cara pemanenan (Ketaren, 1986). Pohon kelapa sawit memiliki bunga dan buah yang merupakan bagian generatifnya dan juga memiliki biji yang terdiri daricangkang dan inti (Fauzi, et al., 2004).

2.2 Simplisia dan Ekstrak

  2.2.2 Ekstrak Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudiansemua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang telah ditetapkan(Depkes RI, 2000). DekoktasiAdalah ekstraksi yang memiliki prinsip yang sama dengan metode infus, tetapi memiliki waktu ekstraksi yang lebih lama ( ≥ 30ºC) dan temperatur sampai titik didih air (Depkes RI, 2000).

2.3 Radikal Bebas

  Pada bidang kimia organik, reaksi radikal bebas umumnya digunakan dalam halogenasi hidrokarbon dan pirolisis (Fessenden dan Fessenden, 1986). Secara fisiologis tubuh menghasilkan SOR, namun apabila radikal bebas atau oksidan dihasilkan secara berlebihan oleh tubuh, maka bahan tersebut akanbersifat toksik dan merusak berbagai komponen dalam tubuh, seperti DNA, lipid dan enzim.

2.4 Antioksidan

  Antioksidan adalah zat yang dalam kadar rendah bila dibandingkan dengan bahan yang dapat dioksidasi, dapat memperlambat atau menghambat oksidasibahan tersebut secara signifikan (Halliwell, 2002). Hal ini mungkin dikarenakan oleh adanyakomponen lain dan interaksinya dalam sayur-sayuran dan buah-buahan yang berperan secara positif (Silalahi, 2006).

2.4.1 Karoten

  Karoten terdiri dari 36% alfakaroten dan 54% betakaroten dan tersimpan dalam daging buah kelapa sawit dan komponen minor (10%) yang terdiri atas tokoferol,tokotrienol, sterol, fosfolipid, sgualen, serta alkohol alifatik (Gupta dan Ghosh, 2013). Karoten dapat disimpan dalamhati dan diubah menjadi vitamin A sesuai kebutuhan dan membuatnya menjadi provitamin A (Gupta dan Ghosh, 2013).

2.4.2 Tokoferol Unsur ini dikenal sebagai antioksidan alam dan sebagai sumber vitamin E

  Kandungan tokoferol dalam CPO berkisar 600-1000 ppm, dalam olein 800-1000 Tokoferol merupakan salah satu antioksidan yang terdapat dalam tumbuhan. Beberapa tokoferol ada yang terdapat di alam, salah satunya α-tokoferol yang merupakan senyawa paling aktif secara biologis (Silalahi, 2006).

2.4.3 Vitamin C

  Penemuan ini terjadi dikarenakan keinginan dari Albert untuk mencoba mengidentifikasi suatu komponen yang mengikat oksigen dandapat mencegah kerusakan buah (Iqbal, et al., 2004). Pemerian: serbuk atau hablur putih atau agak kuning, tidak berbau, rasa asam, oleh pengaruh cahaya lambat Gambar 2.3 Rumus bangun vitamin C Vitamin C berperan dalam mengurangi resiko hipertensi dan jantung koroner, mencegah kanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadapinfeksi virus dan bakteri, berperan dalam pembentukan kolagen serta produksi neurotransmitter dan hormon tertentu dalam tubuh (Walingo, 2005).

2.5 Spektrofotometri UV-Visible

  Panjang gelombang untuk sinar ultraviolet antara 200 - 400 nm Metode spektrofotometri ultra-violet dan sinar tampak (visible) telah banyak diterapkan untuk penetapan senyawa - senyawa organik yang umumnyadipergunakan untuk penentuan senyawa dalam jumlah yang sangat kecil. Molekul yang mengandung duagugus kromofor atau lebih akan mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang yang hampir sama dengan molekul yang hanya mempunyai satu gugus kromofortertentu, tetapi intensitas absorpsinya adalah sebanding dengan jumlah kromofor yang ada (Gandjar dan Rohman, 2012).

2.6 Kromatografi Gas

  Setiap komponen yang terdapat dalam campuran berinteraksidengan kecepatan yang berbeda dimana interaksi komponen dengan fase diam Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit. Komponen campuran dapatdiidentifikasikan dengan waktu tambat (waktu retensi) yang khas pada kondisi yang tepat.

2.7 Penentuan Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH

  Metode DPPH dapat digunakan untuk sampel yang padat dan juga Parameter yang dipakai untuk menunjukan aktivitas antioksidan adalah harga konsentrasi efisien atau efficient concentration (EC ) atau Inhibition 50 Concentration (IC 50 ) yaitu konsentrasi suatu zat antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentrasi suatu zat antioksidan yang memberikan % penghambatan 50%. 2.7.1 Pelarut Metode ini akan bekerja dengan baik menggunakan pelarut metanol atau etanol dan kedua pelarut ini tidak mempengaruhi dalam reaksi antara sampel ujisebagai antioksidan dengan DPPH sebagai radikal bebas (Molyneux, 2004).

2.8 Transesterifikasi

  Minyak yang bermutu rendah membutuhkan waktu operasi yang relatif lebih lama(2 kali lipat) dibanding waktu yang dibutuhkan untuk memproses minyak bermutu standar (Prihandana, et al., 2006). Tahapan proses transesterifikasi adalah sebagai berikut: Gambar 2.5 Tahapan proses transesterifikasi Faktor utama yang mempengaruhi rendemen ester yang dihasilkan pada reaksi transesterifikasi adalah rasio molar antara trigliserida dan alkohol, jeniskatalis yang digunakan, suhu reaksi, waktu retensi, kandungan air, dan kandungan asam lemak bebas pada bahan baku yang dapat menghambat reaksi.

2.9 Solvolitik Misellisasi

  Beberapa penelitian yang menggunakan rute ester antara lain ekstraksi pelarut atau solvolitik misellisasi (SM) (Lamria dan Siahaan, 2006). Prinsip SM adalah pemisahan dua komponen melalui pembentukan misella antara karotenoid dan ester oleh pelarut mayor dan minor.

BAB II I METODOLOGI PERCOBAAN

  3.2 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tahapan penelitian meliputi pengumpulan dan pengolahan serat mesokarp kelapa sawit,pembuatan ekstrak minyak serat mesokarp (MSM), ekstrak dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi, karakterisasi sampel serta penentuan aktivitasantioksidan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). 3.3 Alat dan Bahan 3.3.1 Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas laboratorium, alat pengepres, alat sentrifuse, alat fortex, kromatografi gas (GC- 14B, Shimadzu), magnetic stirer, mikro pipet, neraca analitik, perangkat alat ekstraksi, penangas air, oven, rotari evaporator, spektrofotometer UV-Vis (model1700, Shimadzu), stopwatch.

3.4 Penyiapan Bahan

  Penyiapan bahan penelitian meliputi pengambilan bahan serat mesokarp kelapa sawit dan pengolahannya. Sampel yang digunakan adalahlimbah serat mesokarp buah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang diambil dari pabrik kelapa sawit PTPN IV Pabatu di Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

3.5 Pembuatan Pereaksi

  3.5.3 Pembuatan larutan NaOH metanolik 0,5 N Ditimbang NaOH sebanyak 20 g kemudian masukan ke dalam labu tentukur 1 L, lalu tambahkan metanol hingga larut sempurna dengan magnetikstirer dan cukupkan sampai garis tanda (Ditjen POM, 1995). 3.5.5 Pembuatan KOH 0,1 N (larutan standar) Ditimbang 0,1 g asam oksalat kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan tambahkan akuades 25 ml.

3.6 Pembuatan Ekstrak

3.6.1 Pembuatan ekstrak MSM

  Caranya: serat mesokarp yang telah dikeringkansebanyak 20 kg dimaserasi dengan pelarut n-heksan (1:4) di dalam wadah berwarna gelap, ditutup dan disimpan pada suhu kamar selama 1 hari, sambilsering diaduk. 3.6.3 Pembuatan ekstrak dari solvolitik misellisasi Sebanyak 100 ml ekstrak dari transesterifikasi dimasukkan ke dalam beaker glass, lalu ditambahkan metanol sebanyak 500 ml, kemudian dihomogenkandengan alat stirer selama 10 menit.

3.7 Pemeriksaan Karakteristik

3.7.1 Penetapan kadar air serat mesokarp

  Serat mesokarp ditimbang sebanyak 10 g ke dalam wadah yang sudah 3.7.2 Penetapan kadar air ekstrak MSM Ekstrak MSM ditimbang sebanyak 5 g ke dalam cawan yang sudah ditara, kemudian panaskan dalam oven pada suhu 110°C selama 3 jam. Dipanaskan dalam penangas air padasuhu 100ºC selama 5 menit, kemudian didinginkan pada suhu kamar, ditambahkanBF 2 ml dan dihomogenkan dengan fortex selama 1-2 menit dan dipanaskan 3 kembali pada suhu 100ºC selama 30 menit.

3.7.5 Analisa kadar karoten

  Kemudian diambil 100 µl LIB Ike dalam labu tentukur 10 ml dan diencerkan dengan heksan sampai garis tanda. Pekerjaan yang sama dilakukan terhadap ekstrak dari transesterifikasi dan solvolitik misellisasi (AOCS, 1989).

3.8 Pengujian Kemampuan Antioksidan dengan Spektrofotometri Visibel

  3.8.1 Prinsip metode penangkapan radikal bebas DPPH Kemampuan sampel uji dalam meredam oksidasi DPPH (1-1-diphenyl-2- picryl-hidrazyl) sebagai radikal bebas dalam larutan metanol (sehingga terjadi peredaman warna ungu DPPH) dengan nilai IC 50 (konsentrasi sampel uji yang mampu meredam radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel uji tersebut (Sihombing, et al., 2009). 3.8.5 Pembuatan larutan uji 3.8.5.1 Pembuatan larutan uji ekstrak MSM Larutan induk dipipet sebanyak 522 µl; 1040 µl; 1560 µl; 2080 µl, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml (untuk mendapatkankonsentrasi 2, 4, 6 dan 8 µg/ml), ke dalam masing-masing labu tentukur ditambahkan 2 ml kloroform, lalu dikocok.

3.8.5.3 Pembuatan larutan uji ekstrak dari solvolitik misellisasi

  Setelah itu, ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM(konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan di tempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannyapada spektrofotometer UV-Visibel. 3.8.6 Pembuatan larutan induk vitamin C Sebanyak 10 mg vitamin C ditimbang kemudian dilarutkan ke dalam labu tentukur 10 ml dengan metanol lalu dicukupkan dengan metanol sampai garistanda (konsentrasi 1000 µg/ml).

3.8.9 Pembuatan larutan CPO

  Selanjutnya ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM(konsentrasi 40 µg/ml) lalu volume dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda, didiamkan ditempat yang gelap selama 60 menit, lalu diukur serapannyapada spektrofotometer UV-Visibel. % Peredaman = x 100%Keterangan : A = Absorbansi larutan uji yang tidak mengandung sampel kontrol A sampel = Absorbansi larutan uji yang mengandung sampel 3.10 Penentuan nilai Inhibitory Concentration (IC 50 ) Nilai IC 50 merupakan bilangan yang menunjukkan konsentrasi sampel uji dan pembanding (µ g/ml) yang memberikan peredaman DPPH sebesar 50%(mampu menghambat/ meredam proses oksidasi sebsar 50%).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  1. Hasil analisis kandungan karoten secara spektrofotometri dari ektrak MSM, transesterifikasi, dan solvolitik misellisasi berturut-turut adalah 3835 ppm,6514 ppm, 24400 ppm.

2. Hasil aktivitas antioksidan vitamin C dan CPO lebih kuat dari ketiga ekstrak

  tersebut. Hasil aktivitas antioksidan yang dapat meredam radikal bebas DPPH dengan nilai IC 50 pada ekstrak MSM, transesterifikasi dan solvolitik misellisasi secara berturut-turut sebesar 6,9 ppm; 16,12 ppm; dan 19,9 ppm sedangkan pada vitamin C dan CPO sebesar 1,29 ppm dan 4,6 ppm.

5.2 Saran

  Disarankan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian mengenai pemanfaatan ekstrak dari setiap proses ekstraksi sebagai bahan dasar pembuatansediaan farmasi, misalnya kream dan gel serta melakukan analisa makroskopik dari serat mesokap buah kelapa sawit. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas: Potensi dan Aplikasinya Dalam Kesehatan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pendugaan Cadangan Karbon Pada Tegakan Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Umur 10 Tahun di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Putri Hijau, Kabupaten Langkat
3
83
102
Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)pada Berbagai Perbandingan Media Tanam Sludge dan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) di Pre Nursery
4
102
53
Respons Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Terhadap Pemberian Kompos Sampah Pasar dan Pupuk NPKMg (15:15:6:4) di Pre Nursery
6
79
69
Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit ( Elaeis Guineensis Jacq.) Dengan Menggunakan Media Sekam Padi dan Frekuensi Penyiraman di Main Nursery
10
98
74
Pengaruh Pemberian Limbah Kalapa sawit (Sludge) dan Pupuk Majemuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guinsensis Jacq) di Pembibitan Awal
0
25
95
Studi Analisis Residu Klorpirifos dalam Minyak Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) Menggunakan Kromatografi Gas dengan Detektor Penangkap Elektron
2
60
99
Studi Biologi Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Elaeidobius kamerunicus Faust (Coleoptera : Curculionidae) Elaeis guineensis Jacq. Di Laboratorium
1
55
44
Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Menggunakan Mencit Jantan
9
61
110
Model pendugaan cadangan karbon pada kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) umur 5 tahun di perkebunan kelapa sawit PT. Putri Hijau, Kabupaten Langkat.
6
77
76
Pendugaan Cadangan Karbon Pada Tegakan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Umur 15 Tahun di Perkebunan Kelapa Sawit Putri Hijau, Besitang Sumatera Utara
5
61
75
Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)
1
0
5
Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)
0
0
1
Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)
0
0
4
Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)
0
1
16
Uji Aktivitas Antioksidan Minyak Serat Mesokarp Buah Kalapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq)
0
0
4
Show more