Partisipasi Petani Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari: Studi Kasus Di Desa Cikeusal Dan Desa Kananga Kabupaten Kuningan.

 2  13  93  2017-05-24 21:13:00 Report infringing document
iv PARTISIPASI PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI: STUDI KASUS DI DESA CIKEUSAL DAN DESA KANANGA KABUPATEN KUNINGAN ASEP SUDRAJAT SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 v vi PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari: Studi Kasus di Desa Cikeusal dan Desa Kananga Kabupaten Kuningan adalah benar karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal dan/atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Nopember 2015 Asep Sudrajat NIM E151130141 vii RINGKASAN ASEP SUDRAJAT. Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari: Studi Kasus di Desa Cikeusal dan Desa Kananga Kabupaten Kuningan. Dibimbing oleh HARDJANTO dan LETI SUNDAWATI. Kabupaten Kuningan merupakan salah satu kabupaten dengan luas hutan rakyat yang cukup tinggi di Jawa Barat. 50.50 ha luas hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga telah disertifikasi pada tahun 2013 dengan skema SVLK. Namun demikian, pola partisipasi petani hutan rakyat pasca sertifikasi belum diketahui, sehingga sangat penting untuk mengetahui kinerja hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memahami pola partisipasi petani hutan rakyat, (2) menganalisis faktor–faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari, (3) memahami kompetensi petani pengelola hutan rakyat lestari dan (4) menganalisis hubungan partisipasi petani dengan kesejahteraan petani. Penelitian dilaksanakan di Desa Cikeusal dan Desa Kananga Kecamatan Cimahi Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Wawancara dilakukan secara sensus dengan jumlah total 114 responden. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif, analisis gender, analisis pendapatan dan analisis multivariate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga termasuk rendah, pasif dan bercirikan top down. Partisipasi pada umumnya berbentuk tenaga dan materi. Partisipasi terjadi pada semua tahapan hutan rakyat (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan). Representasi gender dalam kegiatan hutan rakyat sudah baik, tidak terdapat marginalisasi terhadap perempuan, tetapi terdapat indikasi stereotype dan beban ganda dengan kegiatan domestik reproduktif. Partisipasi tersebut dipengaruhi secara nyata oleh faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi petani. Faktor internal yang berpengaruh adalah umur, luas pemilikan hutan rakyat dan pengalaman petani. Faktor eksternal yang berpengaruh adalah penyuluhan, kelompok tani dan akses informasi. Adapun kompetensi petani yang berpengaruh adalah kompetensi relasional. Partisipasi petani berpengaruh nyata terhadap kelestarian hutan rakyat, namun tidak berpengaruh bagi kesejahteraan petani. Kelestarian hutan rakyat juga dipengaruhi secara langsung oleh faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi petani. Namun semua faktor tersebut berpengaruh tidak nyata terhadap kesejahteraan petani. Guna memperbaiki partisipasi petani dalam menunjang keberhasilan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga disarankan: pendampingan dan penyuluhan yang intensif, penguatan kompetensi petani melalui peningkatan kapasitas, meliputi: pengetahuan teknis, pengetahuan administrasi, manajerial, informasi pasar dan hubungan masyarakat. Intensifikasi hutan rakyat dengan sistem agroforestri (dengan memasukkan tanaman pertanian, seperti: porang, talas atau jagung). Perlu mengadakan pelatihan kepada para petani laki-laki maupun perempuan tentang pengelolaan hutan rakyat. Kata kunci: partisipasi petani, hutan rakyat, sertifikasi, kesejahteraan petani, Kuningan. viii SUMMARY ASEP SUDRAJAT. Farmer Participation on Sustainable Private Forest Management: Case of Cikeusal and Kananga Villages, Kuningan District. Under direction of HARDJANTO and LETI SUNDAWATI. Kuningan District is one of districts in West Java which has the largest private forest. About 50 ha of private forests at Cikeusal and Kananga Villages of Kuingan District have been certified by SVLK (verification of wood legality system) in 2013. Meanwhile, participation pattern on private forest under the SVLK certification has not been identified, hence it is important to evaluate their performance in order to maintain and improve their forest condition. The aims of the research were: (1) to understand the farmers participation pattern on private forest management, (2) to analyze internal and external factors related to the participation on sustainable private forest management, (3) to understand competency factors related to the participation on sustainable private forest management and (4) to analyze the impact of farmers participation on sustainability of private forest and farmer welfare. The research is conducted at Cikeusal and Kananga Villages, Cimahi Sub District, Kuningan District, West Java Province. Data colection was conducted by sensus on 114 farmers. The data analysis used qualitative descriptive method, gender analysis, income analysis and multivariate analysis. The result of this research showed that farmers participation were low, passive and used a top down approach, in Cikeusal as well as in Kananga Villages. The participation is generally in the form of labour and materials. Farmer participated in all activities, including: planning, execution and utilization phases. Gender representation on the private forest activities was good, no women marginalization, but there were stereotype and double burden for women. Farmer participation were affected significantly by internal, external and farmer competency factors. The internal factors that influenced farmer participation are area of private forest and farmer experiences. The external factors that influenced farmer participation are: counseling, farmer groups and access to information. While the farmer competency factors that influenced participation was relational competency only. Farmer participation was significantly influenced private forest sustainability, but it was not significant to farmer welfare. However sustainability of private forest was affected by internal and external factors, as well as farmers competency directly, but they were not significant factors to the farmer welfare. In order to improve participation in private forest management, this study suggests: facilitation and extension intensively, strengthening farmers competency (through capacity buildings on technical knowledge, administrative, managerial, market information, and public relations), intensification of private forests through agroforestry (by introducing food crops such as porang, taro or corn), training for both men and women on the private forests management. Key words: farmer participation, private forest, certification, welfare, Kuningan. ix © Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2015 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor. x PARTISIPASI PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI: STUDI KASUS DI DESA CIKEUSAL DAN DESA KANANGA KABUPATEN KUNINGAN ASEP SUDRAJAT Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2 0 15 xi Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof Dr Ir Nurheni Wijayanto, MS xii Judul Tesis Nama NIM : Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari: Studi Kasus di Desa Cikeusal dan Desa Kananga Kabupaten Kuningan. : Asep Sudrajat : E151130141 Disetujui oleh Komisi Pembimbing Prof Dr Ir Hardjanto, MS Ketua Dr Ir Leti Sundawati, M Sc F Trop Anggota Diketahui oleh Ketua Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr Tatang Tiryana, S Hut M Sc Dr Ir Dahrul Syah, M Sc Agr Tanggal Ujian: 28 Oktober 2015 Tanggal Lulus: i PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga Tesis ini berhasil diselesaikan. Penelitian yang dilaksanakan sejak Januari-Maret 2015, berjudul Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari: Studi Kasus di Desa Cikeusal dan Desa Kananga, Kabupaten Kuningan. Penulisan tesis merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof Dr Ir Hardjanto, MS dan Ibu Dr Ir Leti Sundawati, M Sc F Trop atas kesediaan memberi bimbingan sejak penyusunan rencana penelitian sampai selesai penulisan tesis. Ketua Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Dr Tatang Tiryana, S Hut, M Sc atas kesediaan memberikan motivasi dalam penyelesaian tesis ini. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr Ukas Suharfaputra, SP MP beserta staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan atas kesediaan memberikan izin melakukan penelitian pada areal konsesinya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ibu, istri, mertua dan keluarga tercinta atas segala doa dan kasih sayangnya. Tesis ini pasti masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis sangat berharap memperoleh kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya. Semoga karya tulis ini bermanfaat. Bogor, Nopember 2015 Asep Sudrajat ii DAFTAR ISI PRAKATA DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kerangka Pemikiran Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Hipotesis Penelitian 2 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Contoh Penelitian Metode Pengumpulan Data dan Jenis Data Teknik Pengumpulan Data Analisis Data Pola Partisipasi Petani Analisis tingkat partisipasi dalam pengelolaan hutan rakyat Analisis gender dalam pengelolaan hutan rakyat Faktor internal Faktor eksternal Faktor kompetensi petani Hubungan antar Faktor: Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Petani, serta Pengaruhnya terhadap Kelestarian dan Kesejahteraan Petani Definisi Operasional Definisi operasional partisipasi Definisi operasional gender 3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kondisi Biofisik Daerah Sertifikasi Hutan Rakyat 4 PARTISIPASI PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Pola Partisipasi dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Partisipasi dan Peran Gender dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Representasi Gender i ii iii iv iv 1 1 3 5 7 7 8 8 8 9 9 9 9 9 9 10 10 10 10 11 11 12 12 13 13 16 17 17 21 21 iii Faktor Internal Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Umur Jumlah tanggungan keluarga Luas kepemilikan hutan rakyat Pengalaman dalam hutan rakyat Motivasi Faktor Eksternal Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Penyuluhan kehutanan Kelompok tani hutan rakyat Sumber informasi Kompetensi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Pengaruh Faktor Internal, Eksternal dan Kompetensi terhadap Partisipasi 5 PARTISIPASI, KELESTARIAN DAN KESEJAHTERAAN Pengaruh Partisipasi terhadap Kelestarian dan Kesejahteraan Estimasi Kecocokan Model yang Dibangun Strategi Peningkatan Partisipasi Petani Hutan Rakyat 6 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP 28 28 29 29 30 31 32 32 35 38 39 42 47 47 54 55 56 56 57 57 64 80 DAFTAR TABEL 1 Luas wilayah Desa Cikeusal dan Kananga 2 Pemanfaatan tanah kering Desa Cikeusal dan Kananga 3 Partisipasi pada tahap perencanaan 4 Partisipasi pada tahap pelaksanaan 5 Partisipasi pada tahap pemanfaatan 6 Keragaan petani hutan rakyat menurut jenis kelamin 7 Partisipasi gender pada pengelolaan hutan rakyat 8 Partisipasi gender dalam kegiatan non hutan rakyat 9 Partisipasi gender pada kegiatan reproduktif 10 Proporsi peran gender dalam pengambilan keputusan di Desa Cikeusal 11 Proporsi peran gender dalam pengambilan keputusan di Desa Kananga 12 Rata-rata curahan waktu kerja pada pengelolaan hutan rakyat 13 Keragaan petani hutan rakyat menurut umur 14 Keragaan petani hutan rakyat menurut jumlah tanggungan keluarga 15 Keragaan petani hutan rakyat menurut luas hutan rakyat 16 Keragaan petani hutan rakyat menurut pengalaman dalam hutan rakyat 17 Kehadiran petani dalam kegiatan penyuluhan 18 Ikhtisar kelompok tani hutan rakyat di Kecamatan Cimahi 14 14 17 18 18 21 22 23 24 25 25 26 28 29 30 31 33 35 iv 19 20 21 22 23 Manfaat pertemuan kelompok dan alasan kehadiran dalam pertemuan Aspek informasi tentang hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga Kompetensi petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga Hasil uji signifikansi indikator Hasil uji hipotesis faktor internal, eksternal dan kompetensi terhadap partisipasi 24 Hasil uji hipotesis partisipasi terhadap kelestarian dan kesejahteraan 25 Pendapatan responden di lokasi penelitian 26 Goodness Of Fit Model 37 38 40 43 46 49 52 54 DAFTAR GAMBAR 1 2 3 4 5 5 6 7 7 8 9 Kerangka Pemikiran Penelitian Bagan alir pohon masalah partisipasi petani hutan rakyat di lokasi penelitian Peta lokasi penelitian Keragaan motivasi petani dalam mengelola hutan rakyat a Persentase pemahaman petani terhadap penyuluhan di Cikeusal b Persentase pemahaman petani terhadap penyuluhan di Kananga Tempat konsultasi petani terkait hutan rakyat a Manfaat kelompok bagi usaha petani di Cikeusal dan Kananga b Manfaat kelompok bagi pengetahuan petani di Cikeusal dan Kananga Standardized coefficient model path dengan Lisrel T-Hitung model path dengan Lisrel 5 7 8 31 33 34 34 36 36 44 45 DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3 4 5 Jenis, sumber dan teknik pengumpulan data partisipasi petani Jenis, sumber dan teknik pengumpulan data representasi gender Daftar nama responden Output SEM dengan Lisrel Dokumentasi penelitian lapangan 65 66 67 70 78 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan rakyat telah banyak berkembang dan mendapat tempat dalam alokasi penggunaan lahan di Jawa. Perannya diakui sangat berkontribusi dalam memajukan industri kehutanan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperbaiki kualitas lahan dan menjaga kesuburan tanah serta tata air dan sebagainya (Priyambodo 2010; Dewi et al. 2004). Tipe hutan rakyat yang berkembang di Jawa meliputi tiga macam, yaitu: hutan rakyat murni kayu-kayuan, hutan rakyat campuran kayu dan buah-buahan serta hutan rakyat campuran kayu, buah-buahan dan empon-empon (Jariyah & Wahyuningrum 2008). Produksi kayu hutan rakyat di Kabupaten Kuningan tercatat mengalami kenaikan pada tahun 2012 hingga 146 474.20 m3, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung menurun sejak tahun 2008 (Dinas Kehutanan Jawa Barat 2012). Perkembangan hutan rakyat sejalan dengan paradigma resources based management yang bertumpu pada community based development (Pusbinluhhut 2002). Paradigma baru pembangunan kehutanan tersebut menekankan pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat, partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan dalam mengelola dan menjaga eksistensi hutan. Pendekatan ini telah menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pelaku utama pengelolaan hutan (Suprayitno et al. 2011). Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan mengamanatkan bahwa masyarakat sekitar hutan perlu diberdayakan peran sertanya dalam pembangunan kehutanan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Kabupaten Kuningan merupakan salah satu kabupaten dengan luas hutan rakyat yang cukup tinggi di Jawa Barat. Hutan rakyat di Kabupaten Kuningan tercatat seluas 15 446.90 ha yang didominasi oleh jenis sengon, jati dan mahoni (Achmad et al. 2004). Luas hutan rakyat dimaksud dapat diperbandingkan dengan luas kawasan hutan negara 36 181.0 ha, yang terbagi atas hutan lindung 124.20 ha, hutan produksi 7 162.7 ha, hutan produksi terbatas 19 907.20 ha dan hutan konservasi 8 986.90 ha. Hutan rakyat tersebut merupakan salah satu hutan rakyat yang berhasil disertifikasi melalui skema SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) pada tahun 2013. Dua desa diantaranya adalah Desa Cikeusal dan Desa Kananga, dari total empat desa yang memperoleh sertifikasi. Pemberian sertifikat kepada dua unit manajemen hutan tersebut disambut baik oleh banyak pihak. Kriteria SVLK yang digunakan meliputi: (1) Keabsahan hak milik dalam hubungannya dengan areal, kayu dan perdagangan-nya, (2) Pemenuhan ketentuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pemegang HGU, (3) Pemenuhan hak-hak tenaga kerja dan (4) HGU atau pemilik hutan hak telah memiliki dokumen lingkungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku (jika dipersyaratkan oleh ketentuan yang berlaku). Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) adalah suatu sistem yang menjamin kelestarian pengelolaan hutan dan/atau legalitas kayu serta ketelusuran kayu melalui sertifikasi penilaian PHPL, sertifikasi LK dan deklarasi kesesuaian pemasok (Permenhut 2014). Tujuan utama sertifikasi tersebut adalah untuk 2 meningkatkan harga jual kayu rakyat dan mampu menembus pasar kayu internasional sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani (Yumi 2011). Sebagai sebuah capaian strategis, sertifikasi hutan rakyat idealnya dapat mendorong petani untuk berpartisipasi mempertahankan sertifikasi yang telah diterimanya. Secara konseptual, partisipasi petani dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (Diniyati & Awang 2010; Waskito 2000; Ndraha 1990), serta berproses dalam setiap tahapan (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan). Proses partisipasi dalam tahapan kegiatan hutan rakyat adalah melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, termasuk keputusan menentukan pilihan jenis, sistem silvikultur, waktu panen dan pilihan operasional lainnya. Disamping itu, karena masyarakat ternyata tidak homogen, maka masyarakat yang terlibat bukan hanya laki-laki saja, pada era emansipasi kaum perempuan dapat terlibat dalam kegiatan pengelolaan hutan rakyat yang mencerminkan kesetaraan gender (Suwardi 2010). Menurut Achie (2006) perempuan tidak pernah dilihat sebagai petani, tapi istri petani. Ketidakadilan tersebut dapat dalam bentuk sub-ordinasi (sebagai pengganti suami) dan marjinalisasi dalam pengambilan keputusan, stereotype tentang peran domestik (sebagai ibu rumah tangga) hingga double burden (beban kerja yang lebih panjang dan lebih banyak) yaitu di rumah (pekerjaan domestik) dan di luar rumah (ladang/kebun/hutan). Partisipasi petani yang melibatkan kesetaraan antara lelaki dan perempuan dalam pengelolaan hutan rakyat lestari, merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan hutan rakyat lestari dan merupakan faktor determinan bagi peningkatan kesejahteraan petani hutan rakyat. Partisipasi petani dan peran gender sangat penting dalam pengelolaan hutan rakyat lestari tersebut, maka kajian penelitian ini akan diperdalam dengan penelusuran lebih lanjut tentang partisipasi petani dan peran gender dalam pengelolaan hutan rakyat lestari dan faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari. Kajian lebih mendalam tentang berbagai faktor yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan tumbuhnya partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat akan bermanfaat sebagai salah satu pijakan dalam penerapan strategi pengelolaan hutan rakyat lestari. Hingga saat ini, partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat, baik setelah disertifikasi maupun dalam rangka mempertahankan sertifikasinya belum terukur dan diketahui secara pasti. Oleh karena itu penelitian ini penting untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan partisipasi petani hutan rakyat pasca sertifikasi. Berdasarkan kondisi tersebut dapat dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan yaitu: bagaimana petani berpartisipasi dalam mempertahankan kelestariannya, apa saja yang berpengaruh terhadap partisipasi petani dimaksud, bagaimana representasi gender dalam partisipasi pengelolaan hutan rakyat dan bagaimana pengaruh partisipasi terhadap capaian kelestarian hutan rakyat dan kesejahteraan petani. Informasi-informasi tersebut sangat penting untuk mengevaluasi kinerja hutan rakyat (on going process evaluation) sehingga sertifikasi dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan, termasuk dapat direplikasi di tempat lain dengan penyesuaian tertentu. 3 Kerangka Pemikiran Konsepsi utama yang melandasi penelitian ini adalah partisipasi, yang kemudian dibedah ke dalam tiga bagian. Pada bagian pertama, kajian ini mengidentifikasi dan mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi petani hutan rakyat dalam konteks mempertahankan capaian sertifikasi, termasuk korelasinya antar faktor. Pada bagian kedua akan mengidentifikasi bentuk partisipasi petani hutan rakyat, pada tahapan apa partisipasi tersebut terjadi dan mengukur representasi gender dalam partisipasi. Adapun pada bagian ketiga, penelitian ini mengukur pengaruh partisipasi terhadap kelestarian hutan dan kesejahteraan petani. Faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi petani hutan rakyat dapat berasal dari faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi petani (Fauzi 2009). Faktor internal petani meliputi: umur, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan usahatani, pengalaman berusahatani dan motivasi berusaha. Faktor eksternal meliputi: penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan dan sumber informasi. Adapun kompetensi petani mencakup kompetensi teknis, kompetensi konseptual dan kompetensi relasional. Ketiga faktor tersebut diduga kuat berkorelasi dengan kelestarian hutan rakyat. Kelestarian hutan rakyat SVLK dicirikan oleh indikator berupa: 1) kepemilikan lahan, 2) aspek ketenagakerjaan dan 3) aspek sosial dan lingkungan dalam kegiatan penebangan. Variabel-variabel tersebut digunakan juga dalam penelitian Sumarlan et al. (2012); Ritchie et al. (2001); Suprayitno et al. (2011), walaupun tidak persis melakukan klasifikasi internal, eksternal dan kompetensi. Partisipasi petani pengelolaan hutan rakyat sangat diperlukan agar terjaga kelestarian fungsi dan kemampuan sumberdaya hutan dan ekosistemnya sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat meningkat dikarenakan adanya insentif berupa: pinjaman lunak, keringanan pajak, kebijakan yang berpihak. Sedangkan menurut Diniyati & Awang (2010) ada tiga insentif yang memiliki nilai tertinggi, yaitu penyuluhan yang tepat dan berlanjut baik tentang aspek teknis maupun manajemen, ekonomi, sosial dan budaya, Perda yang mendukung kemantapan tata guna lahan yang melindungi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat desa serta regulasi yang dapat memberikan keadilan, yaitu peraturan pemerintah yang lebih berpihak kepada petani, misalnya pengaturan perizinan bertata niaga kayu yang berkaitan dengan jenis tanaman. Sehingga dengan adanya insentif diharapkan dapat merangsang petani untuk terus berpartisipasi dalam mengembangkan dan memelihara hutan rakyat yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani. Kemampuan atau kompetensi petani dalam mengelola hutan rakyat merupakan faktor yang mendukung keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Waskito (2000) mengemukakan bahwa dalam pembangunan hutan rakyat, kemampuan masyarakat dalam budidaya tanaman (sistem silvikultur) merupakan satu hal yang menentukan berhasil tidaknya pengelolaan hutan rakyat. Kompetensi petani diduga berhubungan dengan partisipasi mereka dalam pengelolaan hutan rakyat. Kompetensi merupakan kemampuan anggota-anggota masyarakat untuk berkembang secara mandiri. Kesediaan masyarakat dalam 4 berpartisipasi merupakan tanda adanya kompetensi atau kemampuan awal untuk berkembang secara mandiri (Ndraha 1990). Kompetensi anggota masyarakat berkorelasi positif dengan kemampuannya untuk berpartisipasi. Kompetensi merupakan kemampuan yang dapat ditingkatkan dan dikembangkan melalui proses belajar. Kompetensi yang dikaji dalam penelitian ini meliputi kompetensi teknis, kompetensi konseptual dan kompetensi relasional. Kompetensi teknis adalah kemampuan yang dimiliki oleh petani berupa pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan usahatani hutan rakyat. Kompetensi konseptual merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki oleh petani berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan dalam memprediksi peluang-peluang usaha yang dapat dikembangkan. Kompetensi konseptual petani diduga mampu berkontribusi dalam mengembangkan ide-ide/pemikiran terkait dengan pengelolaan hutan rakyat. Kompetensi relasional merupakan kemampuan untuk membangun hubungan kemitraan dalam rangka pengelolaan hutan rakyat. Seluruh faktor (internal dan eksternal) di atas bekerja pada komunitas petani untuk mempengaruhi motivasi berpartisipasi. Perilaku partisipasi tersebut dapat tercermin dalam bentuknya (tenaga, dana, ide/pemikiran), serta dalam tahapan kegiatan (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan). Disamping itu, partisipasi petani juga dapat dilihat dalam pembagian perannya dimana atribut sosial melekat antara laki-laki dan perempuan. Isu gender penting untuk diperhatikan karena pada masyarakat pertanian (termasuk di dalamnya rumah tangga kehutanan) muncul beberapa masalah, antara lain (Bappenas 2001): 1. Pengakuan de jure Kepala Keluarga (KK) laki-laki, dan hanya 10% KK perempuan. Dalam banyak kasus, KK perempuan diabaikan dalam program pembangunan dan penerima manfaat pembangunan. 2. Kebijakan pertanian (termasuk juga kehutanan) berbias pada laki-laki, sehingga perempuan mengalami hambatan akses terhadap asset produksi, kredit dan penyuluhan. Partisipasi petani pengelolaan hutan rakyat lestari diharapkan berdampak pada tingkat kesejahteraan petani baik kesejahteraan sosial maupun kesejahteraan ekonomi. Pendapatan petani diperoleh dari berbagai jenis tanaman yang diusahakan dalam areal hutan rakyat berdasarkan model-model hutan rakyat yang dikembangkan. Hasil dari hutan rakyat berkonstribusi bagi pendapatan petani dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Hasil penelitian Attar (2000) di Desa Sumberejo Kabupaten Wonogiri, memperlihatkan bahwa hasil dari hutan rakyat memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap pendapatan rumah tangga petani. Hasil dari hutan rakyat memberikan kontribusi rata-rata 21.97% terhadap pendapatan rumah tangga petani. Pengelolaan hutan rakyat harus tetap memperhatikan aspek kelestarian produksi dan kelestarian usaha. Hutan rakyat diharapkan menjadi salah satu asset produksi bagi petani dan sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan keluarga. Hubungan antar peubah sebagai kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 1. 5 Faktor Internal (X1) - Umur (X11) - Σ Tanggungan Keluarga (X12) - Luas Lahan (X13) - Pengalaman Berusaha Tani (X14) Faktor eksternal (X2) - Penyuluhan Kehutanan (X21) - Kelompok Tani Hutan (X23) - Sumber Informasi (X24) Kompetensi Petani (X3) - K. Teknis (X31) - K. Konseptual (X32) - K. Relasional (X33) - Motivasi (X15) Bentuk partisipasi: - Ide/pemikiran - Tenaga - Materi Partisipasi (Y1) - Partisipasi Perencanaan (Y11) - Partisipasi Pelaksanaan (Y12) - Partisipasi Pemanfaatan (Y13) Representasi gender dalam setiap bentuk dan tahap partisipasi Kelestarian Hutan Rakyat (Y2) - Kepemilikan Lahan (Y21) - Pemenuhan terhadap aspek ketenaga kerjaan (Y22) - Pemenuhan aspek lingkungan & sosial terkait penebangan (Y23) Kesejahteraan Petani (Y3) - Kesejahteraan Sosial (Y31) - Kesejahteraan Ekonomi (Y32) Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian Perumusan Masalah Hutan rakyat saat ini semakin menunjukkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan kayu bagi industri perkayuan terutama di Jawa. Kayu dari hutan rakyat banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan kayu untuk keperluan konstruksi bangunan, mebel, kerajinan yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf ekonomi petani. Djajapertjunda (2003) menyatakan bahwa hutan rakyat mampu memasok lebih dari 70% kebutuhan kayu di pulau Jawa. Disamping memiliki manfaat secara ekonomi, hutan rakyat memiliki manfaat secara ekologis hal ini dapat dilihat dari fungsinya dalam menjaga dan mendukung kualitas lingkungan, menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, menjaga dan memperbaiki kondisi tata air dan sebagainya. Laki-laki dan perempuan memiliki peran masing-masing dalam segala kehidupan, baik kegiatan produktif maupun non produktif dalam pengelolaan hutan rakyat lestari. Pembagian peran antara perempuan dan laki-laki merupakan wujud dari peran gender. Secara umum ada kerja sama yang erat antara pembagian peran tersebut untuk pengambilan keputusan. 6 Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari berkaitan dengan beberapa faktor. Faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan peran gender dalam partisipasi pengelolaan hutan rakyat antara lain: faktor internal (umur, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan usahatani, pengalaman berusahatani, motivasi berusaha), faktor eskternal (penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan dan sumber informasi) serta kompetensi petani (kompetensi teknis, konseptual dan relasional). Dukungan para pihak sangat dibutuhkan agar pengelolaan hutan rakyat lebih meningkatkan keuntungan secara ekonomis bagi masyarakat, secara ekologis mampu menjaga kelestarian lingkungan dan secara sosial budaya mampu mempertahankan tata nilai dan norma sosial budaya yang mendukung kehidupan masyarakat di pedesaan lebih produktif. Penyuluhan kehutanan sebagai salah satu bentuk pendidikan nonformal memiliki peran yang strategis untuk meningkatkan motivasi petani pengelola hutan rakyat dalam melaksanakan kegiatan usahataninya. Tumbuhnya motivasi petani pengelola hutan rakyat merupakan faktor pendorong munculnya berbagai aktivitas yang dapat meningkatkan kompetensi petani sehingga berimplikasi pada peningkatan kapasitas pengetahuan, sikap dan keterampilan petani dalam mengelola usaha tani hutan rakyat. Berbagai faktor tersebut merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan yang dapat meningkatkan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Meningkatnya partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari diharapkan dapat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani pengelola hutan rakyat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menjadi pendorong tumbuhnya kemandirian para petani dalam mengelola hutan rakyat. Kendati secara konseptual telah banyak teridentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat di hutan rakyat, namun akan berbeda antara tempat satu dengan lainnya sesuai dengan karakteristik lokal serta sangat terkait dengan dinamika dalam masyarakat itu sendiri seiring waktu. Perbedaan tersebut akan berimplikasi pada perbedaan-perbedaan langkah dan strategi yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas hutan rakyat melalui partisipasi petani. Berdasarkan hal tersebut, pertanyaan-pertanyaan yang melandasi penelitian ini adalah: 1. Bagaimana pola partisipasi petani hutan rakyat di Kabupaten Kuningan, yang dicirikan dalam bentuk, tahapan dan representasi gender ? 2. Bagaimana dinamika faktor internal, faktor eksternal dan faktor kompetensi petani pengelola hutan rakyat lestari di Kabupaten Kuningan ? 3. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi partisipasi pengelolaan hutan rakyat lestari di Kabupaten Kuningan ? 4. Apakah partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Kuningan berhubungan dengan kelestarian hutan rakyat dan kesejahteraan petani ? 7 Kelompok tani tidak memiliki strategi peningkatan kesejahteraan Kelompok tani tidak memiliki strategi yang tepat guna mempertahankan kelestarian hutan rakyat dan sertifikasi VLK Akibat Partisipasi petani belum diukur dan diketahui Key problem Sebab Kompetensi petani belum teridentifikasi Faktor internal petani belum teridentifikasi Faktor eksternal petani belum teridentifikasi Kompetensi teknis Kompetensi konseptual Kompetensi relasional Umur Σ tanggungan keluarga Luas lahan Pengalaman petani Motivasi berusaha Tenaga penyuluh Lembaga KTHR Sumber informasi petani Gambar 2 Bagan alir pohon masalah partisipasi petani hutan rakyat di Kuningan Tujuan Penelitian Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Memahami pola partisipasi petani hutan rakyat di Kabupaten Kuningan, dalam hal bentuk partisipasi, tahapan partisipasi serta representasi gender dalam setiap bentuk dan tahapan partisipasi. 2. Menganalisis faktor – faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari di Kabupaten Kuningan. 3. Memahami kompetensi petani pengelola hutan rakyat lestari di Kabupaten Kuningan. 4. Menganalisis hubungan partisipasi petani terhadap kelestarian dan kesejahteraan petani pengelola hutan rakyat lestari di Kabupaten Kuningan. Manfaat Penelitian Penelitian diharapkan mempunyai kegunaan sebagai berikut: 1. Memberikan informasi bagi pengembangan strategi pengelolaan hutan rakyat lestari sejalan dengan paradigma pembangunan kehutanan partisipatif. 2. Memberikan informasi kepada pihak terkait dalam rangka pengelolaan hutan rakyat lestari, dimana dalam pelaksanaannya perlu mempertimbangkan lakilaki dan wanita sebagai petani yang setara. 3. Secara praktis diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Kehutanan di daerah, Penyuluh Kehutanan dan pihak yang terkait dalam rangka pengembangan strategi pengelolaan hutan rakyat lestari. 8 Hipotesis Penelitian 1. Terdapat bentuk partisipasi petani hutan rakyat (tenaga, biaya, ide/pikiran), adanya partisipasi petani dalam setiap tahapan (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan) serta kesetaraan gender dalam partisipasi petani pada setiap bentuk dan tahapannya. 2. Terdapat hubungan nyata antara faktor internal dan eksternal petani dengan kelestarian hutan rakyat dalam pengelolaan hutan rakyat lestari. 3. Terdapat hubungan nyata antara kompetensi petani dengan kelestarian hutan rakyat dalam pengelolaan hutan rakyat lestari. 4. Terdapat hubungan nyata antara partisipasi petani dengan kelestarian hutan rakyat dan kesejahteraan petani pengelola hutan rakyat. 2 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Cikeusal dan Desa Kananga, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan pertimbangan, yaitu: 1) lokasi tersebut merupakan desa yang memiliki areal hutan rakyat yang dikelola petani yang tergabung dalam kelompok tani hutan, 2) terdapat kelompok tani hutan rakyat yang telah memperoleh sertifikat SVLK. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan ( Januari s/d Maret 2015). Gambar 3 Peta lokasi penelitian 9 Populasi dan Contoh Penelitian Populasi penelitian adalah petani anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga. Pemilihan contoh desa sebagai lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Penentuan responden dilakukan dengan cara sensus pada rumah tangga petani. Penentuan jumlah sampel menggunakan aturan dalam analisis jalur dimana jumlah sampel di atas 100 responden (Sarwono 2007). Jumlah kelompok tani di kedua desa sebanyak 114 orang, sehingga jumlah responden sebanyak 69 di Desa Cikeusal dan sebanyak 45 di Desa Kananga. Metode Pengumpulan Data dan Jenis Data Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Data dan informasi melalui wawancara dikumpulkan menggunakan metode wawancara semi terstruktur. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada petani yang menjadi responden melalui wawancara dan observasi langsung. Data sekunder diperoleh dari Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat, Kantor Kecamatan setempat dan Kantor Desa setempat serta instansi lain yang terkait. Analisis Data Data dianalisis menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pola Partisipasi Petani Pola partisipasi petani hutan rakyat meliputi tingkat partisipasi dalam pengelolaan hutan rakyat dalam berbagai tahapan kegiatan serta pola partisipasi gendernya. Analisis tingkat partisipasi dalam pengelolaan hutan rakyat Tingkat partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan tabulasi yang merepresentasikan jumlah dan persentase. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk menjelaskan secara mendalam atas fenomena tertentu pada faktor-faktor yang dianalisis. Tingkat partisipasi petani dianalisis pada tahap perencanaan (penentuan waktu pertemuan, penentuan materi, penentuan pengurus, memberi pendapat dan pendanaan kelompok tani hutan rakyat), tahap pelaksanaan (persiapan/pembukaan lahan, penanaman dan pemeliharaan) dan tahap pemanfaatan (pemanenan dan pemasaran hasil). 10 Analisis Gender dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Metode analisis gender dalam pengelolaan hutan rakyat yang digunakan adalah Model Harvard atau Kerangka Analisis Harvard. Model Harvard ini didasarkan pada pendekatan efisiensi Women In Development (WID) yang merupakan kerangka analisis gender dan perencanaan gender yang paling awal (Puspitawati 2012). Analisis Harvard berguna untuk mengidentifikasi pekerjaan produktif dan reproduktif dengan pertanyaan kunci: siapa melakukan apa. Parameter lainnya juga dilihat namun tergantung pada konteks, adalah: 1. Gender dan penggolongan usia: perempuan dewasa, laki-laki dewasa, anak perempuan, anak laki-laki atau manula yang melakukan pengelolaan hutan rakyat. 2. Alokasi waktu: berapa alokasi waktu yang dipakai untuk pengelolaan hutan rakyat dan apakah dilakukan secara musiman ataukah harian. 3. Lokus pekerjaan: dimana pekerjaan itu dilakukan yaitu pada pengelolaan hutan rakyat, tujuannya untuk mengetahui peta mobilitas penduduk dalam konteks hutan rakyat. Analisis Faktor Internal (X1) Faktor internal yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan tabulasi yang merepresentasikan jumlah dan persentase. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk menjelaskan secara mendalam atas fenomena tertentu pada faktor-faktor yang dianalisis. Faktor internal yang dianalisis mencakup umur, jumlah tanggunga keluarga, luas pemilikan hutan rakyat, pengalaman dalam dalam berusaha tani dan motivasi petani. Analisis Faktor Eksternal (X2) Faktor eksternal yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan tabulasi yang merepresentasikan jumlah dan persentase. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk menjelaskan secara mendalam atas fenomena tertentu pada faktor-faktor yang dianalisis. Faktor eksternal yang dianalisis mencakup penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan dan sumber informasi. Faktor Kompetensi Petani (X3) Faktor kompetensi petani pengelola hutan rakyat dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan tabulasi yang merepresentasikan jumlah dan persentase. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk menjelaskan secara mendalam atas fenomena tertentu pada faktor-faktor yang dianalisis. Faktor kompetensi petani yang dianalisis mencakup kompetensi teknis, kompetensi konseptual dan kompetensi relasional. 11 Hubungan antar Faktor: Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Petani, serta Pengaruhnya terhadap Kelestarian dan Kesejahteraan Petani Analisis partisipasi petani Analisis partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis data yang diperoleh diolah dan ditabulasi dengan interval yang dihasilkan pada masingmasing hasil pengukuran. Faktor partisipasi petani (Y1) yang dianalisis mencakup partisipasi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan. Faktor kelestarian hutan rakyat (Y2) mencakup kepemilikan lahan, aspek ketenagakerjaan dan pemenuhan aspek lingkungan & sosial terkait penebangan. Sedangkan faktor kesejahteraan petani (Y3) mencakup kesejahteraan sosial dan ekonomi. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi partisipasi petani dan partisipasi terhadap kelestarian hutan rakyat serta kesejahteraan petani menggunakan teknik analisis multivariate. Salah satu teknik analisis multivariate dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) yang dioperasikan melalui program Linear Structural Relationship (LISREL) (Ramadiani 2010). Analisis Pendapatan Rumah Tangga Petani Perhitungan pendapatan rumah tangga petani kesejahteraan dihitung dengan menggunakan rumus: sebagai pendekatan Keterangan: Prtp = Pendapatan rumah tangga petani (Rp/thn) Phr = Pendapatan dari pengelolaan hutan rakyat(Rp/thn) Pnhr = Pendapatan dari non hutan rakyat Kontribusi pengelolaan hutan rakyat terhadap pendapatan rumah tangga petani: Keterangan : %Phr = Persentase pendapatan dari pengelolaan hutan rakyat (%) Phr = Pendapatan dari pengelolaan hutan rakyat per tahun (Rp/tahun) Prtp = Pendapatan rumah tangga petani per tahun (Rp/tahun) Definisi Operasional Peubah-peubah yang diteliti perlu diberikan makna untuk memberikan pemahaman yang sama terhadap setiap peubah (Sevilla et al. 1993), serta diberi penjelasan lebih lanjut yang bersifat operasional dan dapat diukur (Kerlinger 2006). Definisi operasional merupakan suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel tersebut (Nazir 2011). Definisi operasional dapat membantu menentukan prosedur pengukuran dilakukan, sehingga memudahkan dalam mengumpulkan data yang mendukung penelitian. Pengukuran parameter 12 dilakukan untuk memperoleh sejumlah informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun indikator, definisi operasional dan parameter pengukuran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Definisi Operasional Partisipasi 1. Faktor Internal Petani (X1): ciri-ciri atau sifat-sifat khas individu yang melekat pada pribadi responden/petani yang berhubungan dengan aspek umur, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan hutan rakyat, pengalaman berusaha tani dan motivasi berusaha. 2. Faktor eksternal (X2), merupakan stimuli atau rangsangan yang berasal atau berada di luar diri responden yang mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku, mencakup: penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan dan sumber informasi. 3. Kompetensi petani (X3), merupakan pengetahuan dan keterampilan responden dalam pengelolaan hutan rakyat sebagai hasil akumulasi komprehensif dari berbagai faktor internal dan eksternal, meliputi: kompetensi teknis, kompetensi konseptual dan kompetensi relasional. 4. Partisipasi petani (Y1), merupakan keterlibatan responden dalam pengelolaan hutan rakyat lestari, baik pada tahap perencanaan, tahap pelaksanaan maupun tahap pemanfaatan. 5. Kelestarian hutan (Y2), merupakan tata kehidupan sosial ekonomi petani yang terkait dengan manfaat langsung yang diperoleh petani dari usaha hutan rakyat, yang meliputi: kepemilikan lahan, pemenuhan ketenagakerjaan dan pemenuhan aspek sosial dan lingkungan penebangan 6. Kesejahteraan petani (Y3), merupakan tatanan ekonomi petani yang terkait dengan manfaat langsung hutan rakyat, yang meliputi: kesejahteraan sosial dan kesejahteraan ekonomi. Definisi Operasional Gender Analisis gender dalam pengelolaan hutan rakyat adalah analisis sosial di sekitar lahan hutan rakyat yang melihat perbedaan perempuan dan laki-laki dari segi kondisi (situasi) dan kedudukan (posisi) di dalam keluarga dan atau masyarakat. Fokus utama analisis gender adalah pembagian kerja atau peran dan partisipasi dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga. Peranan perempuan dan laki-laki dapat diukur dari curahan waktu kerja. Terdapat tiga macam peran gender yang akan diidentifikasi pada penelitian ini, yaitu: 1. Kegiatan produktif; Kegiatan produktif dibagi menjadi kegiatan dalam pengelolaan hutan rakyat dan kegiatan di luar pengelolaan hutan rakyat. Kegiatan dalam pengelolaan hutan rakyat meliputi: penyiapan lahan, penanaman dan pemasaran hasil. Sedangkan kegiatan diluar hutan rakyat adalah beternak, bertani, buruh tani, berdagang, berkebun dan jasa. 2. Kegiatan reproduktif; kegiatan yang dilakukan adalah memasak, mencari kayu bakar, mencuci pakaian, mengasuh anak, memperbaiki rumah, membersihkan rumah dan mengantar anak ke sekolah. Kedua peran di atas sangat terkait dengan variabel curahan waktu kerja. Curahan waktu kerja untuk satu hari kerja dihitung berdasarkan Hari Orang Kerja (HOK), dimana 1 HOK adalah 8 jam/hari. Curahan kerja seseorang dalam perharinya dapat diperoleh dengan cara membagi banyaknya waktu kerja yang dihabiskan untuk melakukan suatu kegiatan tertentu dalam 1 hari (jam kerja) dengan 1 HOK (8 jam/hari). 13 Peran perempuan dan laki-laki dalam pengelolaan hutan rakyat dapat diketahui dengan melihat curahan waktu kerja. Curahan waktu kerja yaitu jumlah waktu yang digunakan oleh perempuan maupun laki-laki dalam melakukan kegiatan tertentu seperti mencari nafkah, pekerjaan rumah tangga atau kegiatan kemasyarakatan. 3. Kegiatan publik dan politik, meliputi: kegiatan-kegiatan yang menunjukkan representasi sosial kemasyarakatan, organisasi formal, informal dan non formal, termasuk proses pengambilan keputusan dalam konteks hutan rakyat. Adapun peran publik dan politik ini sangat terkait dengan kapasitas pengambilan keputusan. Sajogyo (1990) menyatakan bahwa untuk setiap jenis keputusan rumah tangga dikelompokkan dalam lima tingkatan, namun yang digunakan pada penelitian hanya tiga tingkatan saja yaitu sebagai berikut: a. Keputusan dibuat oleh istri seorang diri tanpa melibatkan sang suami. b. Keputusan dibuat bersama dan senilai oleh suami-istri dengan tidak ada tanda-tanda bahwa salah satu mempunyai pengaruh relatif besar. c. Keputusan dibuat oleh suami seorang diri tanpa melibatkan sang istri. 3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kondisi Biofisik Daerah Desa Cikeusal dan Desa Kananga terletak di Kecamatan Cimahi Kabupaten Kuningan. Secara umum Desa Cikeusal terletak pada ketinggian 150 m dpl dengan kontur permukaan tanah 65% datar, 25% berbukit dan 10% berupa lereng. Suhu rata-rata harian mencapai 23°C kelembaban udara mencapai 36°C dan curah hujan rata-rata 2 883 mm/tahun sedangkan jarak ke kecamatan 4.5 km. Jarak ke kabupaten 29 km, jarak ke ibukota Propinsi 273 km dan jarak ke ibukota Negara 492 km (Monografi dan Potensi Desa Cikeusal. Profil Desa Cikeusal 2013). Perkembangan kependudukan di Desa Cikeusal secara umum dari tahunketahun selalu menunjukkan peningkatan walaupun tidak signifikan, sampai dengan akhir tahun ini jumlah penduduk Desa Cikeusal sebanyak 4 443 Jiwa, yang terdiri dari laki-laki 2 157 jiwa (48.55%) dan perempuan 2 286 jiwa (51.45%) dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1 297 Kepala Keluarga (KK). Bila dilihat dari tingkat pendidikan bahwa 1 892 orang (42.58%) lulusan SD/ sederajat, 755 orang (16.99%) lulusan SLTP/sederajat, 96 orang (2.16%) lulusan SLTA/sederajat, 9 orang (0.20%) lulusan D-3/sederajat, 12 orang (0.27%) lulusan S1 dan sekitar 1 679 orang (37.79%) tidak sekolah/tidak tamat SD. Sedangkan bila dilihat dari mata pencaharian, 672 orang (15.12%) merupakan petani, 945 orang (21.27%) buruh tani, 22 orang (0.50%) PNS, 354 orang (7.97%) pedagang, 105 orang (2.36%) karyawan swasta, 236 orang (5.31%) wiraswasta, 593 orang (13.35%) merupakan wirausaha lainnya dan 1 516 orang (34.12%) tidak mempunyai pekerjaan (Monografi dan Potensi Desa Cikeusal. Profil Desa Cikeusal 2013). 14 Perkembangan kependudukan di Desa Kananga secara umum menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun walaupun tidak signifikan, sampai dengan akhir tahun ini jumlah penduduk Desa Kananga sebanyak 2 872 Jiwa, yang terdiri dari laki-laki 1 433 jiwa (49.90%) dan perempuan 1 439 jiwa (50.10%) dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 926 Kepala Keluarga (KK). Dilihat dari tingkat pendidikan bahwa 1 851 orang (64.45%) lulusan SD/sederajat, 216 orang (7.52%) lulusan SLTP/sederajat, 187 orang (6.51%) lulusan SLTA/sederajat, 10 orang (0.35%) lulusan D-3/sederajat, 39 orang (1.36%) lulusan S1 dan 569 orang (19.81%) tidak sekolah/tidak tamat SD. Sedangkan bila dilihat dari segi mata pencaharian, 687 orang (23.92%) merupakan petani, 439 orang (15.29%) buruh tani, 29 orang (1.01%) PNS, 594 orang (20.68%) pedagang, 188 orang (6.55%) karyawan swasta, 164 orang (5.7%) merupakan wirausaha lainnya dan 771 orang (26.85%) tidak memiliki pekerjaan (Monografi dan Potensi Desa Kananga. Profil Desa Kananga 2013). Tabel 1 Luas wilayah Desa Cikeusal dan Kananga Desa Tanah Sawah (ha) Tanah Kering (ha) Cikeusal 34.9 102.4 Kananga 131.6 236.1 Jumlah 166.5 338.5 Jumlah (ha) 137.3 367.7 505.0 Cimahi Dalam Angka. Sumber: Monografi Kecamatan Cimahi (2013). Tata guna lahan di Desa Cikeusal dan Desa Kananga memperlihatkan bahwa sektor pertanian baik tanaman pangan maupun pertanian lahan kering mendominasi pola penggunaan lahan (Tabel 1). Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian memegang peranan yang cukup penting bagi perekonomian penduduk. Pernyataan tersebut diperkuat dengan mayoritas penduduk di kedua desa yang berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Tabel 2 menunjukkan bahwa hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga cukup luas bila dibandingkan dengan luas pekarangan dan tegalan. Hutan rakyat di kedua desa umumnya dikelola secara perorangan (individual) pada lahan milik petani dan tersebar berdasarkan letak, luas kepemilikan lahan dan pola usahataninya. Sebagian besar areal hutan rakyat terdapat di atas tanah hak milik petani dan sebagian kecil berada di atas tanah hak sewa. Padahal sektor usahatani hutan rakyat memegang posisi yang cukup penting sejalan dengan strategi pengembangan kehutanan di Kabupaten Kuningan yang diarahkan pada rehabilitasi lahan dan konservasi tanah serta pengembangan aneka usaha kehutanan. Peran hutan rakyat juga penting dalam struktur ekonomi keluarga petani. Tabel 2 Pemanfaatan tanah kering di Desa Cikeusal dan Kananga Desa Cikeusal Kananga Jumlah Pekarangan (ha) 15.4 17.9 33.3 Hutan Negara Tegalan Hutan Rakyat (ha) (ha) (ha) 0.0 24.8 62.2 0.0 22.3 195.9 0.0 47.1 Cimahi Dalam Angka. Sumber: Monografi Kecamatan Cimahi (2013). 258.1 Jumlah (ha) 102.4 236.1 338.5 15 Hutan rakyat bermanfaat secara ekologis untuk rehabilitasi lahan kritis dan bermanfaat secara ekonomi bagi seluruh stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan hutan rakyat. Pembangunan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penyediaan lapangan pekerjaan, baik terkait langsung dengan kegiatan pemanfaatan dan budidaya maupun tidak langsung berupa industri rumah tangga yang memanfaatkan produk hutan rakyat sebagai salah satu faktor produksi. Berdasarkan data BPS (2012) Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 1 195.71 km2 terletak pada titik koordinat 108˚ 23’ - 108˚ 47’ Bujur Timur dan 6˚ 47’ - 7˚12’ Lintang Selatan. Batas wilayah Kabupaten Kuningan terdiri atas: sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Cirebon, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Jumlah penduduk di Kabupaten Kuningan mancapai 1 133 164 jiwa. Secara administratif, Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, 15 kelurahan dan 361 desa. Kecamatan Cibingbin dengan luas ± 7 079.29 ha merupakan kecamatan terluas, sedangkan Kecamatan Sindang Agung dengan luas ± 1 300.91 ha merupakan kecamatan tersempit. Desa Cipakem yang berada di Kecamatan Maleber dengan luas ± 1 927.05 ha merupakan desa terluas, sedangkan Desa Citiusari Kecamatan Garawangi dengan luas ± 1 300.91 ha merupakan desa tersempit. Kabupaten Kuningan termasuk dalam wilayah beriklim tropis, rata-rata suhu udara 29˚C dengan suhu minimum 24˚C pada bulan Januari. Curah hujan tertinggi pada bulan Desember rata-rata mencapai 14.45 mm, sedangkan curah hujan terendah rata-rata mencapai 0.93 mm terjadi pada bulan Juni. Terdapat 7 jenis tanah, yaitu: Andosol, Alluvial, Podzolik, Gromosol, Mediteran, Latosol dan Regosol. Bentang alam Kabupaten Kuningan sebagian besar merupakan perbukitan dan pegunungan dengan puncak tertinggi Gunung Ciremai (± 3 078 meter), sedangkan sebagian kecil lainnya merupakan dataran. Kondisi topografi di Kabupaten Kuningan sangat bervariasi mulai dari relatif dataran atau sedikit bergelombang dengan kemiringan 0%-5%, hingga berbukit dengan kemiringan 5%-15%. Kabupaten Kuningan merupakan wilayah yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian. Luas persawahan mencapai 29 015 ha, dimana 5 600 ha merupakan persawahan dengan irigasi teknis, 7 441 ha irigasi setengah teknis, 2 003 ha dengan irigasi sederhana, 6 884 ha irigasi desa dan 7 127 ha sawah tadah hujan (BPS 2012). Upaya rehabilitasi lahan kritis baru mencapai 147.92 ha dari total 2 720.62 ha. Luas hutan rakyat di Kabupaten Kuningan pada tahun 2012 mencapai 16 798.26 ha, dimana banyak didominasi jenis sengon, jati dan mahoni dengan produksi kayu mencapai 146 474.20 (Dishut Jawa Barat 2012). 16 Sertifikasi Hutan Rakyat Sertifikasi hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga, diawali pertemuan pada tahun 2012, atas inisiasi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kanopi dengan ketua kelompok tani Anugrah. Sumber dana Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk kedua desa tersebut merupakan program Multi-stakeholder Forest Programme (MFP) yang merupakan kerjasama antara pemerintahan Inggris dan pemerintah Indonesia dalam bidang kehutanan melalui Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), dimana LEI memberikan rekomendasi kepada LSM LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia) di Bogor yang mendapatkan proyek membuat proposal SVLK di Jawa Barat dan Banten. Di Kabupaten Kuningan, LSM LATIN memberikan rekomendasi kepada LSM Kanopi sebagai pelaksana lapangan. Perkembangan sertifikasi tersebut juga terkait peraturan Menteri Kehutanan tentang SVLK yang juga wajib diterapkan pada unit pengelola hutan hak/hutan rakyat. Pada saat itu juga ketua Kelompok Tani Anugrah menanyakan terkait biaya sertifikasi, maka LSM Kanopi memberikan penjelasan bahwa biaya sertifikasi akan ditanggung oleh LEI. Maka dalam waktu yang cukup panjang ± selama 1 tahun, pada tahun 2013 atas pendampingan LSM Kanopi, Ketua Kelompok Tani Anugrah dan Ketua Kelompok Tani Mekar Wangi yang telah bersepakat dengan anggotanya mengajukan dokumen permohonan verifikasi legalitas kayu. Tim audit SVLK hutan rakyat di dua kelompok tani tersebut dilakukan oleh PT SUCOFINDO, dimana PT SUCOFINDO mengacu kepada Standar dan pedoman SVLK dari hutan hak, sebagaimana tercantum dalam Lampiran 5 Peraturan Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor P. 8/VI-BPPHH/2011 perubahan atas Perdirjen BPK No. P.6/VI-Set/2009. Setelah dilakukan audit dan ternyata memenuhi standar SVLK yang dilakukan oleh PT SUCOFINDO, maka pada bulan Nopember 2013 kelompok tani hutan rakyat di kedua desa tersebut mendapatkan sertifikat asosiasi kelompok tani hutan rakyat “Jati Lestari”. Asosiasi Kelompok Tani Hutan Rakyat (AKTHR) Jati Lestari memiliki jumlah anggota 114 orang dengan jumlah lahan/persil sebanyak 209 lahan/persil dengan rincian Desa Cikeusal sebanyak 69 orang anggota dengan jumlah lahan 122 lahan/persil dan Desa Kananga jumlah anggota sebanyak 45 orang dengan jumlah lahan 87 lahan/persil. Total luas lahan untuk seluruh AKTHR 50.50 ha, dimana Desa Cikeusal 27.16 ha dan Desa Kananga 23.34 ha. Hasil penelaahan terhadap evaluasi kriteria dan indikator yang dipersyaratkan oleh tim audit dari PT SUCOFINDO, menunjukkan bahwa kriteria dan indikator tersebut dokumennya masih tersedia pada kelompok tani hutan rakyat Anugrah dan Mekar Wangi. Berdasarkan dokumen permohonan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) kelompok tani Jati Lestari, potensi tegakan untuk di Desa Cikeusal umumnya didominasi oleh jenis tanaman jati sebanyak 14 923 pohon, mahoni 148 pohon, sengon 112 pohon dan jenis rawa sebanyak 908 pohon, sedangkan untuk di Desa Kananga didominasi oleh jenis tanaman jati sebanyak 4 697 pohon, mahoni 139 pohon dan jenis rawa sebanyak 1 478. Petani umumnya menggunakan jarak tanam (3mx3m, 2mx2m, 1mx1m dan tidak beraturan) menyesuaikan dengan kondisi lahan yang mereka miliki. 17 4 PARTISIPASI PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Pola Partisipasi dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat dalam penelitian ini diidentifikasi dalam 3 tahapan kegiatan, yaitu tahap perencanaan hutan rakyat, tahap pelaksanaan hutan rakyat dan tahap pemanfaatan hasil hutan rakyat. Pada tahap perencanaan, partisipasi yang diukur adalah keterlibatan petani dalam penentuan waktu pertemuan, peran petani dalam penentuan materi pertemuan, peran petani dalam penentuan pengurus kelompok tani, peran petani dalam memberikan pendapat dan peran petani dalam pendanaan KTHR. Pada tahap pelaksanaan, partisipasi yang dikaji adalah keterlibatan petani (apakah dikerjakan sendiri atau diupahkan) dalam persiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan (pemupukan, penyiangan, pemangkasan dan penjarangan). Adapun pada tahap pemanfaatan hasil hutan rakyat, partisipasi yang diukur adalah keterlibatan petani dalam pemanenan, transaksi penjualan dan penggunaan kayu hasil hutan rakyat. Tabel 3 Partisipasi pada tahap perencanaan Partisipasi dalam tahap perencanaan Penentuan waktu pertemuan Penentuan materi Penentuan pengurus Memberi pendapat Pendanaan KTHR Tidak pernah Σ % Cikeusal Kadangkadang Σ % Selalu Σ % Tidak pernah Σ % Kananga Kadangkadang Σ % Selalu Σ % 28 40.6 30 43.5 11 15.9 38 84.4 3 6.7 4 8.9 54 78.3 11 15.9 4 5.8 40 88.9 3 6.7 2 4.4 12 17.4 19 27.5 38 55.1 32 71.1 7 15.6 6 13.3 17 24.6 47 68.1 5 7.3 31 68.9 11 24.4 3 6.7 69 100.0 0 0.0 0 0.0 45 100.0 0 0.0 0 0.0 Tabel 3 menunjukkan bahwa partisipasi petani pada tahap perencanaan hutan rakyat, pola keterlibatan petani sedikit berbeda di kedua desa lokasi penelitian. Petani hutan rakyat di Desa Cikeusal teridentifikasi lebih bervariasi dalam kadar keikutsertaannya pada tahap perencanaan. Mayoritas petani di Desa Cikeusal minim terlibat dalam penentuan waktu pertemuan dan menyampaikan pendapat. Pada saat penentuan materi pertemuan dan pendanaan KTHR tidak terjadi partisipasi petani. Partisipasi petani pada proses penentuan pengurus kelompok tani relatif baik. Partisipasi petani di Desa Kananga tergolong rendah di semua kegiatan perencanaan pengelolaan hutan rakyat. Secara keseluruhan, partisipasi petani dilokasi penelitian cenderung rendah. Perbedaan tingkat partisipasi demikian disebabkan oleh dinamika faktor-faktor internal dan eksternal yang terjadi dalam masyarakat serta modal sosial yang dimilikinya. 18 Tabel 4 Partisipasi pada tahap pelaksanaan Kemandirian dalam kegiatan pelaksanaan Tidak pernah Σ % Cikeusal Kadangkadang Σ % Σ % Selalu Tidak pernah Σ % Kananga Kadangkadang Σ % Selalu Σ % Pembukaan/ Lahan 6 8.7 42 60.9 21 30.4 2 4.4 36 80.0 7 15.6 Penanaman 4 5.8 43 62.3 22 31.9 2 4.4 35 77.8 8 17.8 Pemupukan 3 4.3 24 34.8 42 60.9 3 6.7 15 33.3 27 60.0 Pemangkasan 5 7.2 28 40.6 36 52.2 4 8.9 6 13.3 35 77.8 Penjarangan 28 40.6 23 33.3 18 26.1 14 31.1 5 11.1 26 57.8 Partisipasi petani pada tahap pelaksanaan, sebagian besar petani di kedua desa banyak melakukan kegiatan hutan rakyat secara mandiri. Jikapun pekerjaan hutan rakyat diupahkan, maka petani melakukan pengawasan langsung terhadap buruh tani yang bekerja di kebunnya. Keterlibatan petani secara langsung memiliki pola yang sama antara kedua desa, dimana pada pembukaan/ pembersihan lahan dan penanaman cenderung berintensitas sedang (mayoritas hanya kadang-kadang melakukan persiapan lahan sendiri) dan keterlibatan petani dalam kegiatan pemeliharaan cenderung berintensitas lebih tinggi (mayoritas selalu melakukan pemupukan dan pemangkasan sendiri) (Tabel 4). Tabel 5 Partisipasi pada tahap pemanfaatan Kemandirian dalam kegiatan pemanfaatan Pemanenan kayu Pemanenan hasil pertanian Penjualan hasil kayu Penggunaan kayu sendiri Transaksi Tidak pernah Σ % Cikeusal Kadangkadang Σ % 44 63.8 23 33.3 14 20.3 45 31 44.9 21 26 Kananga Kadangkadang Σ % % Tidak pernah Σ % 2 2.9 38 84.4 4 8.9 3 6.7 65.2 10 14.5 12 26.7 25 55.5 8 17.8 17 24.6 21 30.4 32 71.1 4 8.9 9 20.0 30.4 44 63.8 4 5.8 30 66.7 8 17.8 7 15.5 37.7 20 30.0 23 33.3 32 71.1 7 15.6 6 13.3 Selalu Σ Selalu Σ % Tabel 5 menunjukkan bahwa partisipasi petani pada tahap pemanfaatan, baik di Desa Cikeusal maupun di Desa Kananga, pada umumnya petani tidak melakukan pemanenan dan penjualan kayu sendiri. Petani menjual kayu rakyat melalui tengkulak dengan pertimbangan kemudahan dan kepraktisan. Dengan demikian maka posisi tawar petani masih rendah, dimana tengkulak membeli dengan harga yang dikendalikan sendiri. Teknik estimasi potensi kayu juga belum tepat, dimana tengkulak mengukur diameter batang setinggi jangkauan tangan, bukan setinggi dada (1.30 m), sehingga hasil taksiran volumenya menjadi lebih rendah. Dalam pelaksanaannya jual beli kayu rakyat, baik penjual dan pembeli tidak membuat surat perijinan. Selain itu, dalam proses legalisasi kayu di Desa Cikeusal maupun Kananga belum ada penerbit SKAU. 19 Jika mengacu pada tipe partisipasi Blackburn et al. (1997), bahwa partisipasi petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga tergolong partisipasi pasif. Petani berpartisipasi dengan diberitahu apa yang akan terjadi atau telah terjadi dan merupakan pengumuman sepihak oleh administrasi atau manajemen proyek tanpa mendengarkan tanggapan masyarakat. Partisipasi hutan rakyat di lokasi penelitian didorong oleh pemberitahuan pihak tertentu (pemerintah dan pemberi proyek) akan adanya SVLK. Berdasarkan informasi tersebut, petani memperoleh arahan tertentu dari pemerintah dan pemberi proyek kemudian mengatur sedemikian rupa untuk mencapai target proyek. Aji et al. (2011) menyatakan bahwa partisipasi yang hanya melibatkan tokoh-tokoh atau elit desa untuk menjalankan program disebut sebagai partisipasi bersifat pragmatis. Selain itu, jika ditelaah melalui pandangan paradigma partisipasi menurut Suhardjito (2000), ternyata partisipasi petani hutan rakyat di lokasi penelitian dapat diklasifikasikan dalam pendekatan topdown. Adapun ciri-ciri pendekatan topdown adalah sebagai berikut. 1. Tujuannya adalah peningkatan keterampilan, pencapaian target produktivitas. 2. Faktor dan orientasi mencakup output pencapaian target dan kondisi fisik hutan. 3. Diawali oleh perencanaan program oleh pemerintah atau lembaga eksternal lainnya. 4. Materi bersifat seragam, ditentukan penyusun kebijakan, lembaga eksternal. 5. Metode yang digunakan ceramah, diskusi tapi masih didominasi pihak atau orang tertentu. 6. Komunikasi satu arah. 7. Peran penyuluh sebagai guru. 8. Kompetensi penyuluh dominan kompetensi teknis. 9. Kelembagaan masyarakat dibentuk sesuai kepentingan pemerintah atau lembaga eksternal lainnya. 10. Kepemimpinan bersifat otoriter, peran pemimpin formal lebih menonjol. 11. Kelembagaan pendukung bekerja sesuai visi, misi dan tujuan masing-masing. 12. Perilaku masyarakat umumnya pesimis, selalu bergantung pada inisiatif dan bantuan pihak luar. Jika dikomparasikan dengan hutan rakyat di daerah lain, hasil penelitian ini relatif tidak banyak berbeda. Suprayitno et al. (2011) melaporkan rendahnya tingkat partisipasi petani sekitar hutan dalam pengelolaan hutan kemiri di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Rendahnya partisipasi ditunjukkan pada semua tahapan partisipasi yaitu dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, maupun pengawasan. Sementara Fauzi (2009) mencatat bahwa partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga berada pada kategori sedang, partisipasi dalam perencanaan berada pada kategori tinggi, partisipasi dalam pelaksanaan termasuk dalam kategori sedang dan partisipasi dalam pemanfaatan hasil termasuk kategori sedang. Adapun pada kasus partisipasi masyarakat dalam program KBR di Kota Bajarbaru cukup rendah (Hapsari et al. 2012). Partisipasi dalam konteks pembangunan, merupakan sebuah perubahan paradigma dari sentralistik menjadi desentralistik yang mengutamakan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam seluruh proses pembangunan. 20 Konsep ini menempatkan masyarakat pada titik yang sangat sentral dalam spektrum pembangunan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan sebagai ikut sertanya masyarakat dalam pembangunan, ikut dalam kegiatan-kegiatan pembangunan dan ikut memanfaatkan serta menikmati hasil-hasil pembangunan (Slamet 2003). Dalam konteks ini, partisipasi masyarakat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga terlihat tidak secara disengaja untuk melibatkan diri dalam proses pembangunan kehutanan. Pada awalnya partisipasi masyarakat dalam hutan rakyat di lokasi penelitian ditujukan untuk memenuhi kebutuhan subsistensi dan tabungan jangka panjangnya. Namun ketika ada program SVLK dan kelompok tani ini terpilih, maka mereka melakukan penyesuaian. Sejalan dengan konsep partisipasi dalam pembangunan, konsep pemberdayaan juga dipandang merupakan konsep dan strategi yang potensial dalam meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Proses ini pada akhirnya akan dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat (Hikmat 2004). Dalam kasus di Desa Cikeusal dan Desa Kananga, proses pemberdayaan tersebut belum terlihat dijalankan oleh pemerintah daerah, terbukti dengan rendahnya frekuensi penyuluhan dan pembinaan. Sehingga tujuan utama pemberdayaan dan partisipasi masyarakat untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan sebagai salah satu solusi pemecahan masalah kesejahteraan belum tercapai (Sumodiningrat 2004). Sebagai sebuah proses, partisipasi masyarakat pada hutan rakyat yang terjadi pada berbagai tahapan (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan) telah terlihat secara lengkap di lokasi penelitian, walaupun dalam kadar yang relatif rendah. Dalam hubungannya dengan hasil yang diperoleh dari proses partisipasi, Slamet (2003) yang membagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan menjadi lima jenis, yaitu: (1) ikut memberi input proses pembangunan, menerima imbalan atas input tersebut dan ikut menikmati hasilnya, (2) ikut memberi input dan menikmati hasilnya, (3) ikut memberi input dan menerima imbalan tanpa ikut menikmati hasil pembangunan secara langsung, (4) menikmati/memanfaatkan hasil pembangunan tanpa ikut memberi input dan (5) memberi input tanpa menerima imbalan dan tidak menikmati hasilnya. Jika diklasifikasikan berdasarkan pembagian tersebut, maka partisipasi petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga termasuk kategori 1, yaitu terlibat memberi input (partisipasi), menerima imbalan (upah dan bibit hutan rakyat) serta menikmati hasilnya (sebagian telah menebang hutan rakyat). Tapi jika dikaitkan dengan SVLK yang salah satu tujuannya adalah mendapatkan harga premium, maka partisipasi petani di lokasi penelitian termasuk kategori 3, karena sertifikasi SVLK hingga saat ini belum memberikan harga premium bagi petani. Dinamika partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan sangat mutlak diperlukan, sebab pada akhirnya masyarakatlah yang melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan, rakyat banyak memegang peranan sekaligus sebagai objek dan subjek pembangunan (Khairuddin 1992). Demikian juga dalam pengelolaan hutan rakyat, Kartasubrata (2003) menegaskan bahwa untuk melaksanakan pengelolaan hutan secara baik diperlukan dukungan dan partisipasi masyarakat, terutama penduduk di sekitar hutan. 21 Partisipasi dan Peran Gender dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Representasi Gender Petani hutan rakyat menurut jenis kelamin mencerminkan adanya keterlibatan petani perempuan di kedua desa, yaitu sebanyak 36 orang (31.6%) dari total petani hutan rakyat. Dengan adanya keterlibatan tersebut telah mencerminkan adanya keterwakilan atau representasi gender. Keterwakilan petani perempuan pada pengelolaan hutan rakyat terlihat lebih tinggi di Desa Cikeusal (33.3%) dibanding di Desa Kananga (28.9%). Hal ini disebabkan di Cikeusal rumah tangga petani banyak yang dikepalai oleh perempuan (janda), disamping itu kepemilikan lahan hutan rakyat berdasarkan SPPT banyak dimiliki kaum perempuan di Desa Cikeusal daripada Desa Kananga (Tabel 6). Tabel 6 Keragaan petani hutan rakyat menurut jenis kelamin Desa Cikeusal Jumlah (orang) Laki-laki 46 Persentase Perempuan 23 Laki-laki 66.7 Perempuan 33.3 Kananga 32 13 71.1 28.9 Total 78 36 68.4 31.6 Menurut prinsip keterwakilan atau representasi antara laki-laki dan perempuan dapat dikatakan bahwa pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga sudah memadai. Keterwakilan gender membantu rumah tangga petani untuk melindungi mata pencahariannya serta meningkatkan pendapatan atau mengurangi beban kemiskinan (Rochmayanto et al. 2013). Tidak adanya keterwakilan memungkinkan terjadinya ketidaksetaraan dan kecemburuan sosial (Sari et al. 2013) yang mengganggu stabilitas sosial ekonomi masyarakat. Selain itu, keterwakilan gender ini sangat menentukan karena ketika masyarakat merupakan komunitas yang heterogen, sehingga penting adanya keterwakilan dalam suatu program atau kegiatan. Salah satu bentuk heterogenitas masyarakat adalah perbedaan gender. Dalam bentuk heterogenitas masyarakat ini, keterwakilan akan membantu mengeliminir adanya kelompok yang termarginalkan memperoleh tempat dan keterlibatan yang semestinya dalam kegiatan atau program, yang dalam hal ini hutan rakyat. Sebagai contoh, perempuan yang menjadi kepala rumah tangga (karena dia janda) tetap diperlakukan adil dan setara dengan rumah tangga lain yang dikepalai oleh lakilaki. Namun demikian, apakah keterwakilan tersebut sudah memperlihatkan pembagian peran secara seimbang dan tidak terjadi marjinalisasi, pembebanan ganda, stereotype dan isu ketidakadilan gender lainnya (Fakih 1997). Analisis partisipasi hutan rakyat menurut gender dilakukan pada empat tahapan kegiatan hutan rakyat, yaitu: persiapan dan pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemasaran hasil. Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa laki-laki dan perempuan telah menunjukkan representasinya pada setiap kegiatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengelolaan hutan rakyat di lokasi penelitian tidak terjadi dominasi tunggal salah satu pihak, walaupun representasi perempuan lebih kecil dibanding laki-laki. 22 Tabel 7 Partisipasi gender pada pengelolaan hutan rakyat Kegiatan hutan rakyat Persiapan dan pembukaan lahan Penanaman Pemeliharaan Pemasaran hasil Gender Laki-laki Perempuan Bersama-sama Laki-laki Perempuan Bersama-sama Laki-laki Perempuan Bersama-sama Laki-laki Perempuan Bersama-sama Tidak ada pemanenan Cikeusal Jumlah 40 3 26 28 3 38 43 3 23 23 2 6 38 % 58.0 4.3 37.7 40.6 4.3 55.1 62.3 4.4 33.3 33.3 2.9 8.7 55.1 Kananga Jumlah % 40 1 4 28 1 16 29 1 15 9 1 4 31 88.9 2.2 8.9 62.2 2.2 35.6 64.4 2.2 33.3 20.0 2.2 8.9 68.9 Tabel 7 menujukkan bahwa ada tiga pola partisipasi gender dalam pengelolaan hutan rakyat, yaitu: 1. Pekerjaan dilakukan oleh laki-laki saja tanpa keterlibatan perempuan. Pola demikian misalnya terjadi pada kegiatan persiapan dan pembukaan lahan baik di Desa Cikeusal maupun Desa Kananga (masing-masing 58% dan 88.9%), atau pada kegiatan penanaman sebanyak 40.6% di Cikeusal dan 62.2% di Kananga. Peran perempuan ada, namun bertindak untuk membantu penyediaan konsumsi bagi laki-laki di lokasi hutan rakyat. 2. Pekerjaan dilakukan oleh perempuan saja tanpa keterlibatan laki-laki. Pola demikian terjadi di semua tahapan kegiatan, walaupun jumlahnya relatif sedikit (berkisar 2.2%-4.4%). Situasi demikian terjadi pada rumah tangga yang anggotanya perempuan atau kepala keluarganya perempuan (misalnya karena janda). 3. Pekerjaan dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan, dengan jumlah yang relatif banyak. Pola demikian terjadi pada rumah tangga normal (dengan kepala keluarga laki-laki) dimana perempuan (istri) juga turut melakukan pekerjaan membantu suaminya di kebun. Pola lain adalah rumah tangga yang dikepalai perempuan (janda) namun ketika melakukan pekerjaan di lapangan dia dibantu oleh anak laki-laki atau saudara laki-laki. Jika dibandingkan dengan partisipasi gender dalam kegiatan produktif non hutan rakyat, terutama pada kegiatan bertani dan berkebun (kegiatan yang berbasis pada lahan), terlihat bahwa kecenderungannya dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan. Hal demikian menunjukkan adanya kedekatan hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan sumberdaya lahan. Adapun pada kegiatan non hutan rakyat lain (buruh tani dan beternak), terlihat sangat bervariasi dimana laki-laki bisa muncul sebagai pihak yang dominan (misalnya pada sektor jasa) atau perempuan sebagai pihak yang lebih dominan (misalnya berdagang) (Tabel 8). 23 Tabel 8 Partisipasi gender dalam kegiatan non hutan rakyat Kegiatan Beternak Gender Laki-laki Perempuan Bertani Buruh tani % 7.2 Jumlah 2 % 4.4 2 2.9 1 2.2 4 5.8 3 6.7 58 84.1 39 86.7 Laki-laki 4 5.8 3 6.7 Perempuan 6 8.7 3 6.7 Bersama-sama 35 50.7 38 84.4 Tidak bertani 24 34.8 1 2.2 Laki-laki 11 15.9 6 13.3 2 2.9 4 8.9 9 13.0 5 11.1 47 68.1 30 66.7 Laki-laki 4 5.8 1 2.2 Perempuan 7 10.1 2 4.4 Bukan buruh tani Bersama-sama 2 2.9 0 0.0 56 81.2 42 93.3 Laki-laki 3 4.4 2 4.4 Perempuan 2 2.9 1 2.2 Bukan pedagang Jasa Jumlah 5 Bukan peternak Bersama-sama Berkebun Kananga Bersama-sama Perempuan Berdagang Cikeusal Bersama-sama 4 5.8 4 8.9 Bukan pekebun 60 86.9 38 84.4 Laki-laki 12 17.4 1 2.2 1 1.4 0 0.0 Perempuan Bersama-sama Bukan pelaku jasa 2 2.9 0 0.0 54 78.3 44 63.8 Keterlibatan perempuan pada kegiatan hutan rakyat dan kegiatan produktif lainnya menjelaskan bahwa hutan rakyat sangat mungkin dilakukan oleh peserta atau anggota kelompok tani perempuan. Sehingga tidak boleh ada alasan perempuan dianggap tidak mampu mengelola hutan rakyat dan terabaikan dalam keanggotaan kelompok. Dalam kaitannya dengan aspek budaya, dapat dilihat bahwa secara kultural di lokasi penelitian tidak ada hambatan budaya tertentu dalam pembagian tugas tertentu yang mengkhususkan laki-laki atau perempuan dalam kegiatan hutan rakyat. Perempuan tidak dianggap tabu melakukan kegiatan hutan rakyat dan pekerjaan tani lainnya. Lain halnya dengan kegiatan reproduktif, terlihat ada beberapa kegiatan yang memperlihatkan domain laki-laki tertentu atau domain perempuan tertentu, yang secara budaya atau secara umum kelazimannya demikian yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan Tabel 9 dapat dibedakan ada 4 pola partisipasi gender yang jelas dalam kegiatan reproduktif domestik, yaitu: - Domain laki-laki (dilakukan 100% oleh laki-laki), misalnya memperbaiki rumah. - Sebagian besar dilakukan laki-laki, misalnya mencari kayu bakar. - Domain perempuan (dilakukan 100% oleh perempuan), misalnya memasak. 24 - Sebagian besar dilakukan perempuan: mencuci pakaian, mengasuh anak, membersihkan rumah dan mengantar anak ke sekolah. Tabel 9 Partisipasi gender pada kegiatan reproduktif Kegiatan Memasak Gender Mencuci pakaian Jumlah 0 Perempuan 69 100.0 45 100.0 0 0.0 0 0.0 Laki-laki Memperbaiki rumah Membersihkan rumah Mengantar anak ke sekolah % 0.0 Jumlah 0 % 0.0 28 40.6 29 64.4 Perempuan 4 5.8 7 15.6 Bersama-sama Laki-laki 2 5 2.9 1.6 4 6 8.9 2.8 64 98.4 39 97.2 Bersama-sama 0 0.0 0 0.0 Laki-laki 0 0.0 0 0.0 Perempuan 6 8.7 4 8.9 Bersama-sama 2 2.9 3 6.7 69 100.0 45 100.0 Perempuan 0 0.0 0 0.0 Bersama-sama 0 0.0 0 0.0 Laki-laki 10 14.5 7 15.6 Perempuan 56 81.2 36 80.0 Bersama-sama 3 4.3 2 4.4 Laki-laki 6 8.7 2 4.4 Perempuan 7 10.2 7 15.6 Bersama-sama 0 0.0 0 0.0 Perempuan Mengasuh anak Kananga Laki-laki Bersama-sama Mencari kayu bakar Cikeusal Laki-laki Namun sebenarnya, secara kultural masyarakat telah memisahkan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Urusan produktif untuk menghasilkan pendapatan rumah tangga adalah tanggung jawab laki-laki, sedangkan urusan domestik reproduktif (pekerjaan rumah tangga sehari-hari) menjadi tanggung jawab perempuan. Hal demikian sejalan dengan hasil studi Leimona et al. (2013) pada pengelolaan hutan di Singkarak (Sumatera Barat), Sumberjaya (Lampung) dan Sesaot (Nusa Tenggara Barat). Keterlibatan perempuan dalam urusan produktif (baik dalam pengelolaan hutan rakyat maupun non hutan rakyat) bersifat pilihan, sukarela, untuk membantu suami. Tapi dalam derajat perekonomian yang rendah, peran perempuan untuk menopang ekonomi rumah tangga menjadi suatu beban moral dan menjadi tuntutan kebutuhan. Demikian juga dengan urusan reproduktif, keterlibatan laki-laki dalam urusan domestik reproduktif bersifat membantu perempuan. Pada tipe pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar atau keterampilan maskulin seperti memperbaiki genteng, pagar dan perbaikan rumah lainnya, dimana pekerjaan tersebut diserahkan kepada laki-laki. Namun secara umum, pekerjaan domestik berada dalam kontrol perempuan. 25 Dalam proses pengambilan keputusan (baik keputusan dalam urusan produktif, reproduktif dan urusan hubungan sosial kemasyarakatan), hasil survey di kedua desa teridentifikasi memiliki 5 pola pelibatan gender, yaitu: didominasi laki-laki, didominasi perempuan, laki-laki dan perempuan berperan setara, kontrol laki-laki dengan melibatkan perempuan, kontrol perempuan dengan melibatkan laki-laki. Kelima pola tersebut teridentifikasi di lokasi penelitian dengan gradasi yang berbeda-beda. Tabel 10 Proporsi peran gender dalam pengambilan keputusan di Desa Cikeusal Keputusan dalam hal Persentase (%) L L&P melibatkan Setara P 44.9 4.3 P melibatkan L 7.2 L P Pemilihan jenis tanaman hutan rakyat 40.6 2.9 Pemilihan jenis tanaman pertanian 20.8 2.1 70.8 0.0 6.3 Pengaturan jadwal kerja keluarga 19.1 29.4 51.5 0.0 0.0 7.2 2.9 5.8 0.0 0.0 Pemanenan hutan rakyat 33.3 2.9 8.7 2.6 7.9 Pemanenan jenis pertanian 20.0 8.0 66.0 0.0 6.0 2.9 67.6 26.5 0.0 2.9 50.0 25.0 25.0 0.0 0.0 Pemeliharaan ternak Membelanjakan uang keluarga Meminjam uang untuk keluarga Belanja alat rumah tangga 0.0 58.0 36.2 2.9 2.9 Menghadiri pertemuan 70.0 10.0 4.3 10.0 5.7 Melanjutkan pendidikan anak 17.1 0.0 74.3 0.0 8.6 Menghadiri undangan sekolah 8.7 10.2 0.0 0.0 0.0 Membeli menu makanan 1.5 79.7 7.2 2.9 8.7 Tabel 11 Proporsi peran gender dalam pengambilan keputusan di Desa Kananga Keputusan dalam hal Pemilihan jenis tanaman hutan rakyat L P Persentase (%) L P L&P melibatkan melibatkan setara P L 4.4 73.3 6.7 15.6 0.0 Pemilihan jenis tanaman pertanian 6.7 0.0 73.3 15.6 4.4 Pengaturan jadwal kerja keluarga 6.7 8.9 71.1 11.1 2.2 Pemeliharaan ternak 4.4 2.2 6.7 0.0 0.0 20.0 2.2 8.9 0.0 10.0 8.9 0.0 75.6 11.1 4.4 Membelanjakan uang keluarga 11.1 6.7 42.2 6.7 33.3 Meminjam uang untuk keluarga 66.7 0.0 0.0 33.3 0.0 6.7 44.4 15.6 4.4 28.9 Menghadiri pertemuan kelompok 15.6 2.2 2.2 68.9 11.1 Melanjutkan pendidikan anak 26.7 20.0 11.1 17.8 24.4 Menghadiri undangan sekolah 4.4 15.6 0.0 0.0 0.0 Membeli menu makanan 2.2 55.8 4.4 20.0 17.7 Pemanenan hutan rakyat Pemanenan jenis pertanian Belanja alat rumah tangga 26 Dengan membaca Tabel 10 dan 11, terlihat bahwa kecenderungan umum di lokasi penelitian menempatkan laki-laki dan perempuan lebih setara dan sedikit dominasi laki-laki pada proses pengambilan keputusan terkait urusan produktif, baik pada hutan rakyat maupun non hutan rakyat. Dalam urusan domestik reproduktif, pembagian peran gender relatif tidak memiliki pola yang jelas, tersebar secara acak antara dominasi laki-laki, dominasi perempuan, setara, maupun kontrol dengan pelibatan pasangannya. Adapun dalam urusan sosial kemasyarakatan terbagi dua pola, yaitu: dominasi laki-laki dan kontrol laki-laki terjadi pada pilihan keputusan menghadiri pertemuan kelompok, meminjam uang untuk keperluan keluarga, sementara dominasi perempuan terjadi pada pilihan menghadiri undangan sekolah anak. Jika dicermati pada masing-masing desa, pola partisipasi gender dalam proses pengambilan keputusan relatif berbeda. Di Cikeusal, peran laki-laki dan perempuan lebih setara dalam semua urusan produktif, yaitu: pemilihan jenis tanaman hutan rakyat, pemilihan jenis tanaman pertanian, pemanenan hasil pertanian. Adapun pemanenan hutan rakyat berada dalam kontrol laki-laki dengan melibatkan perempuan. Sedangkan di Desa Kananga, peran setara antara laki-laki dan perempuan terjadi pada proses pengambilan keputusan untuk penentuan jenis tanaman pertanian dan pemanenan hasil pertanian. Sementara pengambilan keputusan pemilihan jenis tanaman hutan rakyat merupakan kontrol laki-laki dengan melibatkan perempuan. Pada proses pengambilan keputusan urusan domestik di Desa Cikeusal dan Desa Kananga memiliki perbedaan. Di Desa Cikeusal, belanja keluarga, belanja alat rumah tangga dan pemilihan menu makanan menjadi domain perempuan, sementara di Desa Kananga bervariasi dimana belanja keluarga setara, sedangkan belanja alat rumah tangga dan membeli menu makanan menjadi domain perempuan. Adapun pendidikan anak merupakan pilihan yang diputuskan bersama antara laki-laki dan perempuan secara setara di Desa Cikeusal dan domain laki-laki di Desa Kananga. Adapun urusan sosial kemasyarakatan, di Desa Cikeusal terjadi dominasi laki-laki dalam memutuskan kehadiran dalam pertemuan kelompok dan meminjam uang untuk keperluan keluarga serta dominasi perempuan dalam keputusan menghadiri undangan sekolah. Sedikit berbeda di Desa Kananga, keputusan menghadiri pertemuan kelompok merupakan kontrol laki-laki melibatkan perempuan, sementara keputusan meminjam uang untuk kepentingan keluarga ada pada kontrol laki-laki, sedangkan menghadiri undangan sekolah merupakan dominasi perempuan. Tabel 12 Rata-rata curahan waktu kerja pada pengelolaan hutan rakyat Tahapan Hutan Rakyat Desa Cikeusal (jam/hari) Desa Kananga (jam/hari) Rata-rata per kegiatan (jam/hari) L P 6.5 5.4 Persiapan dan pembersihan lahan L 6.3 P 4.8 L 6.7 P 6.0 Penanaman 4.2 3.7 6.9 4.0 5.5 3.8 Pemeliharaan 5.3 5.2 7.0 7.4 6.1 6.3 Pemasaran hasil 1.1 1.0 0.9 1.0 1.0 1.0 Rata-rata 4.2 3.7 5.4 4.6 4.8 4.1 27 Perbandingan curahan waktu kerja laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan hutan rakyat menjelaskan bahwa alokasi waktu kerja antara laki-laki dan perempuan relatif berbeda pada kedua desa. Di Desa Cikeusal, rata-rata waktu kerja laki-laki lebih banyak dibanding waktu kerja perempuan ketika berpartisipasi pada hutan rakyat pada seluruh tahapan kegiatan. Rata-rata waktu kerja hampir relatif sama terjadi pada kegiatan pemeliharaan dan pemasaran hasil. Namun di Desa Kananga, rata-rata waktu kerja perempuan relatif lebih tinggi pada kegiatan pemeliharaan dan pemasaran hasil. Sementara pada persiapan lahan dan penanaman, alokasi waktu kerja laki-laki lebih tinggi (Tabel 12). Alokasi curahan waktu kerja gender di kedua desa memperlihatkan bahwa laki-laki memberikan alokasi lebih tinggi dari pada perempuan pada kegiatan persiapan/pembersihan lahan dan kegiatan penanaman. Pada kegiatan pemeliharaan alokasi waktu kerja perempuan lebih tinggi dari laki-laki (6.3 jam/ hari untuk perempuan dan 6.1 jam/hari untuk laki-laki) dan pada kegiatan pemasaran hasil alokasi waktu kerjanya berimbang (1.1 jam/hari). Fenomena demikian menunjukkan bahwa perempuan dapat intensif berpartisipasi pada kegiatan hutan rakyat yang tidak memerlukan tenaga besar seperti pemeliharaan dan pemasaran hasil. Selain itu, kegiatan pemeliharaan bersifat jangka panjang dan rutin, sehingga perempuan bisa mengontrol lebih baik dan laki-laki dapat mengkonsentrasikan waktunya bagi pekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Berdasarkan pola partisipasi gender demikian di lokasi penelitian kemudian dapat dihubungkan dengan bentuk ketidakseimbangan gender menurut Fakih (1997), apakah terjadi marginalisasi, stereotype dan beban ganda (double burden). Di kedua desa tidak terindikasi adanya marginalisasi gender dalam pengelolaan hutan rakyat. Kaum perempuan yang umumnya termarginalkan dalam kegiatan publik telah diakomodasi partisipasinya dalam hutan rakyat, terutama perempuan yang menjadi kepala rumah tangga. Stereotype perempuan sebagai istri petani mulai diperbaiki dengan pelibatan langsung perempuan dalam kegiatan pertanian dan hutan rakyat, sehingga kesan perempuan sebagai petani dapat tumbuh. Namun stereotype terhadap perempuan yang menyatakan perempuan memiliki tenaga lebih kecil masih ada sehingga peran perempuan lebih ditempatkan pada kegiatankegiatan yang membutuhkan power rendah. Beban ganda (double burden) terhadap perempuan masih terindikasi terjadi di lokasi penelitian, karena pelibatan perempuan pada kegiatan produktif baik hutan rakyat maupun kegiatan pertanian tidak mengurangi beban dan tanggung jawabnya pada kegiatan domestik reproduktif. Sehingga kecilnya alokasi waktu kerja perempuan dan sedikitnya partisipasi perempuan pada kegiatan produktif, disebabkan lebih mementingkan tanggung jawab domestik yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Selain itu, partisipasi perempuan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dalam pengelolaan sumberdaya alam masih didominasi oleh lakilaki, dengan dicirikan oleh tidak adanya pengurus perempuan di Desa kananga dan laki-laki selalu menjadi peserta rapat dibanding perempuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Yudischa et al. (2014) pada HKm di Desa Tribudi Syukur dan Desa Tribudi Makmur, Lampung Barat bahwa kaum wanita berpartisipasi dikarenakan ada jaminan untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Partisipasi wanita tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan keluarga. Istri juga dituntut untuk ikut berperan dalam 28 mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga mereka tidak hanya tinggal diam dirumah, namun mereka juga harus ikut terlibat dalam kegiatan mencari nafkah dalam bentuk usaha kelompok bersama. Akan tetapi, dengan tidak adanya suatu kelompok usaha bersama pada kaum wanita maka pendapatan hanya berasal dari suami saja. Faktor Internal Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Pendekatan partisipasi muncul karena kegagalan negara atas pendekatan top-down. Konvergensi antara pembangunan partisipatif dan pemerintahan dapat dilihat dalam konteks meningkatnya minat dalam sinergi dan pembagian kerja antara wilayah publik dan kemasyarakatan. Partisipasi memberikan peningkatan hasil pembangunan yang dapat dipertanggungjawabkan. Perhatian penting perlu diberikan kepada keterlibatan individu (Hickey & Mohan 2004) sehingga faktorfaktor internal yang berhubungan dengan partisipasi perlu diketahui. Namun selain faktor internal, faktor eksternal juga perlu diperhatikan, karena pertukaran informasi dan proses partisipasi merupakan proses sosial (Thrupp et al. 1994) yang melibatkan bagian lain diluar individu petani. Faktor internal petani yang perlu dipertimbangkan antara lain: umur, jumlah tanggungan keluarga, luas hutan rakyat, pengalaman berusaha tani dan motivasi berusaha. Bagaimana kondisi internal petani hutan rakyat di kedua desa lokasi penelitian diuraikan sebagai berikut: Umur Faktor internal umur petani dapat merepresentasikan produktivitas pekerjaan dan sifat regenerasi. Semakin tua usia petani dapat mengindikasikan usia produktifnya telah terlampaui dan semakin muda usia petani dapat mengindikasikan proses regenerasi sedang berlangsung. Selain itu, umur dapat berpengaruh terhadap keaktifan seseorang untuk berperan serta, walaupun tidak selalu, karena dipengaruhi juga oleh cara berfikirnya (Hapsari et al. 2012). Tabel 13 Keragaan petani hutan rakyat menurut umur Kelas umur sd. 30 thn Desa Cikeusal Jumlah % (orang) 3 4.3 Desa Kananga Jumlah (orang) 0 % 0.0 31-40 thn 4 5.8 1 2.2 41-50 thn 16 23.2 8 17.8 51-60 thn 29 42.0 11 24.4 61-70 thn 14 20.3 18 40.0 >70 thn 3 4.3 7 15.6 Jumlah 69 100.0 45 100.0 Tabel 13 memperlihatkan distribusi umur petani di kedua desa lokasi penelitian terlihat menyerupai sebaran normal, yaitu umur petani terkonsentrasi pada usia-usia pertengahan yang cukup produktif. Perbedaan antara kedua desa diketahui bahwa petani hutan rakyat di Desa Cikeusal paling banyak berusia 5160 tahun (42%) sedangkan di Desa Kananga didominasi oleh petani yang berusia 29 61-70 tahun (40%). Adanya usia petani hutan rakyat yang lebih dari 70 tahun (walaupun jumlahnya kurang dari 10 orang di masing-masing desa) menyediakan kemungkinan terjadinya pemilikan dan keanggotaan kelompok tani hutan rakyat semata. Pada kenyataannya, operasional pengelolaan hutan rakyat sehari-hari dikerjakan oleh anak atau menantu atau keluarga lainnya yang masih produktif. Adapun sedikitnya petani yang berusia kurang dari 40 tahun mencerminkan kurangnya regenerasi petani pada masyarakat di Desa Cikeusal dan Kananga. Jumlah Tanggungan Keluarga Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa rata-rata jumlah tanggungan keluarga petani hutan rakyat di lokasi penelitian adalah 3.2 dan 3.4 orang masing-masing untuk Desa Cikeusal dan Desa Kananga. Di Desa Cikeusal, petani dengan jumlah tanggungan keluarga 3 orang dan 4 orang mendominasi dengan jumlah masing-masing 29%. Adapun di Desa Kananga jumlah terbesar adalah petani dengan tanggungan keluarga 2 dan 4 orang yaitu sebanyak masingmasing 28.9% (Tabel 14). Tabel 14 Jumlah tanggungan keluarga petani hutan rakyat Jml tanggungan Desa Cikeusal Desa Kananga 1 orang Jumlah 2 % 2.9 Jumlah 0 % 0.0 2 orang 19 27.5 13 28.9 3 orang 20 29.0 11 24.4 4 orang 20 29.0 13 28.9 5 orang 8 11.6 7 15.6 > 5 orang 0 0.0 1 2.2 69 100.0 45 100.0 Jumlah Hal demikian menunjukkan bahwa petani hutan rakyat di kedua desa memiliki keluarga inti yang relatif normal, tidak banyak menanggung beban untuk memenuhi kebutuhan jumlah anggota keluarga yang berlebihan. Selain itu, jumlah tersebut juga dapat menjelaskan bahwa setiap kepala keluarga hanya menanggung kehidupan 3-4 orang dalam keluarganya. Dengan beban tanggungan yang tidak banyak tersebut, maka petani dapat menggunakan hasil pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga secara normal dengan beban yang wajar. Keberadaan usaha tani hutan rakyat akan sangat membantu memberikan penghasilan tambahan bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga kecil yang memadai. Luas Pemilikan Hutan Rakyat Luas kepemilikan hutan rakyat mengindikasikan 2 hal. Pertama, luas hutan rakyat berhubungan dengan pemilikan lahan di luar alokasi lahan bagi komoditas utama (dalam hal ini adalah sawah untuk produksi padi). Kedua, luas hutan rakyat berhubungan dengan luas lahan yang berada dalam jangkauan kapasitas garap petani. Namun umumnya petani belum mempertimbangkan luasan optimum atau skala ekonomis bagi pengelolaan hutan rakyat, sehingga luas hutan rakyat yang digarap tidak berkaitan dengan pertimbangan ekonomi (Rochmayanto & Supriadi 2012). Padahal luas lahan garapan petani berpengaruh sangat nyata terhadap pendapatan petani (Yudischa et al. 2014). 30 Pemilikan hutan rakyat di lokasi penelitian yang rata-rata 0.32 ha/keluarga, sama dengan rata-rata luas pemilikan sawah. Secara parsial sedikit berbeda antara kedua desa, dimana di Desa Cikeusal rata-rata pemilikan hutan rakyat dan sawah adalah 0.36 ha dan 0.27 ha (lebih tinggi pemilikan hutan rakyat), sedangkan di Desa Kananga rata-rata pemilikan hutan rakyat dan sawah adalah 0.28 ha dan 0.36 ha (lebih tinggi pemilikan lahan sawah) (tabel 15). Tabel 15 Keragaan petani hutan rakyat menurut luas hutan rakyat Luas (ha) 0-0.10 ha Desa Cikeusal Jumlah (orang) 9 Desa Kananga % 13.0 Jumlah (orang) 6 % 13.3 0.11-0.20 ha 16 23.2 17 37.8 0.21-0.30 ha 11 15.9 8 17.8 0.31-0.40 ha 12 17.4 3 6.7 0.41-0.50 ha 9 13.0 6 13.3 0.51-0.60 ha 2 2.9 2 4.4 0.61-0.70 ha 5 7.2 2 4.4 0.71-0.80 ha 0 0.0 0 0.0 0.81-0.90 ha 1 1.4 0 0.0 0.91-1.00 ha 1 1.4 0 0.0 >1.00 ha 3 4.3 1 2.2 69 100.0 45 100.0 Jumlah Luas kepemilikan rata-rata hutan rakyat di lokasi penelitian berada pada kisaran penelitian Sudiana et al. (2009) di Kabupaten Ciamis dengan kisaran 0.361.10 ha. Jika dibandingkan dengan luas hutan rakyat di Sub DAS Cimanuk Hulu terlihat lebih rendah dari zona atas (dengan rata-rata 0.417 ha), tapi lebih luas dibanding zona tengah dan zona bawah (rata-rata 0.078 dan 0.083 ha) (Hardjanto 2001). Kepemilikan lahan rata-rata lahan di lokasi penelitian juga lebih tinggi dari rata-rata kepemilikan lahan di Pulau Jawa yaitu 0.25-0.5 ha per KK (Hidayati 2003). Melihat distribusi luas hutan rakyat di lokasi penelitian, dapat dikatakan bahwa potensi pengembangannya hanya melalui jalan intensifikasi. Prospek intensifikasi ini juga didukung oleh temuan di sebagian besar hutan rakyat baik di Desa Cikeusal maupun di Desa Kananga masih belum optimalnya pemanfaatan ruang dan pola tanam. Intensifikasi dapat dilakukan dengan memperkaya jenis tanaman kehutanan, maupun melakukan pemanfaatan ruang di bawah tegakan hutan rakyat melalui agroforestri. Pengalaman dalam Hutan Rakyat Faktor internal petani pengalaman dalam pengelolaan hutan rakyat berkaitan dengan akumulasi pengetahuan praktis yang lebih efektif dibandingkan hasil pembelajaran formal. Semakin lama petani memiliki pengalaman mengelola hutan rakyat, idealnya petani memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang teknik pengelolaan hutan rakyat, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan dan pemasaran. 31 Tabel 16 Keragaan petani hutan rakyat menurut pengalaman dalam hutan rakyat Lama (thn) Desa Cikeusal Desa Kananga 0-5 thn Jumlah (orang) 3 % 4.3 Jumlah (orang) 1 % 2.2 6-10 thn 19 27.5 7 15.6 11-15 thn 26 37.7 15 33.3 16-20 thn 16 23.2 18 40.0 21-25 thn 4 5.8 4 8.9 26-30 thn 1 1.4 0 0.0 Jumlah 69 100.0 45 100.0 Di Desa Cikeusal, 38% petani memiliki pengalaman hutan rakyat antara 1115 tahun, 28% petani memiliki pengalaman 6-10 tahun dan 23% petani memiliki pengalaman 16-20 tahun. Adapun di Desa Kananga, 40% petani memiliki pengalaman 16-20 tahun, 33% memiliki pengalaman 11-15 tahun dan 16% memiliki pengalaman 6-10 tahun (Tabel 16). Data tersebut memperlihatkan bahwa pola pengalaman petani dalam pengelolaan hutan rakyat hampir sama di kedua desa. Dengan demikian, patut diharapkan bahwa pengalaman yang telah terbangun cukup lama dapat berperan dalam proses pengelolaan hutan rakyat menjadi lebih baik, karena memiliki akumulasi pengetahuan yang memadai dari masa lalu. Motivasi Faktor internal petani yang kelima yang diidentifikasi pada penelitian ini adalah motivasi petani. Motivasi petani ternyata tidak tunggal, namun 5 hal utama yang mendorong petani melakukan usaha tani hutan rakyat adalah karena: (1) keinginan sendiri, (2) pengaruh dari keluarga, (3) manfaat dan keuntungan hasil hutan rakyat, (4) kemudahan penjualan hasil dan (5) adanya interaksi antar petani (Gambar 4). Sayangnya motivasi petani dalam mengelola hutan rakyat tidak didorong oleh rasa untuk memenuhi kebutuhan dasar, dimana dorongan pemenuhan kebutuhan dasar merupakan faktor penting yang mempengaruhi kinerja petani (Sumarlan et al. 2012). Hasil motivasi petani (%) 120 100 80 60 40 20 0 Motivasi Petani di lokasi penelitian Gambar 4 Keragaan motivasi petani dalam mengelola hutan rakyat, Kananga Cikeusal 32 Faktor Eksternal Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Faktor eksternal adalah ciri-ciri yang menekan seseorang yang berasal dari luar dirinya, yang merupakan salah satu faktor penting dalam rangka mengetahui upaya seseorang untuk melakukan suatu usaha. Faktor eksternal yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keadaan atau kondisi yang mempengaruhi petani yang berasal dari luar dirinya, yaitu: penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan dan sumber informasi. Penyuluhan Kehutanan Penyuluhan memiliki pengertian sebagai suatu pendidikan nonformal, bertujuan mengubah perilaku masyarakat agar dapat memecahkan masalah yang dihadapi guna mencapai kehidupan yang lebih baik (Rejeki 1998). Penyuluhan merupakan pendidikan pemecahan masalah (problem solving) yang berorientasi pada tindakan untuk mengajarkan sesuatu, mendemonstrasikan, memotivasi tetapi tidak melakukan pengaturan (regulating) dan tidak melaksanakan program yang nonedukatif (Clarr et. al. 1984; Nasution 2007). Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai yang diharapkan. Penyuluhan dapat diartikan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat nonformal di luar sistem sekolah. Sasaran penyuluhan adalah masyarakat (petani), sehingga penyuluhan merupakan satu kegiatan untuk mengubah perilaku petani. Perubahan perilaku sasaran terkait dengan proses adopsi. Adopsi dalam proses penyuluhan diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan penyuluh (Departemen Kehutanan 2004). Sasaran penyuluhan adalah masyarakat pedesaan agar memiliki keinginan untuk maju, meningkatkan kualitas hidup dan memiliki kecakapan dalam bekerja. Kegiatan penyuluhan meliputi: 1. Menyajikan informasi tentang teknologi, pengetahuan, perkembangan pertanian, pasar dan sebagainya. 2. Mendidik masyarakat pedesaan tentang pemanfaatan dan operasionalisasi teknologi dan pengetahuan yang sesuai dan lebih efisien. 3. Memperluas wawasan/pandangan masyarakat pedesaan. 4. Membantu masyarakat pedesaan agar memiliki pendapat yang rasional (masuk akal) dan mampu mengambil keputusan dengan tepat. 5. Menggerakkan masyarakat pedesaan agar lebih dinamis menuju perubahan. 6. Membantu masyarakat pedesaan agar mampu berusahatani dan mampu meningkatkan produksi pertanian yang diusahakan (Rejeki 1998). Sayangnya, penyuluhan kehutanan yang terkait dengan hutan rakyat di lokasi penelitian hanya dilakukan antara 6 bulan sekali sampai setahun sekali dan itupun jika ada kegiatan proyek. Padahal penyuluhan merupakan kegiatan yang sangat penting dalam peranannya sebagai jembatan bagi golongan ekonomi lemah. Penyuluhan diharapkan dapat menghasilkan sumberdaya produksi, modal kerja, prasarana pokok di samping layanan umum lain yang dibutuhkan golongan penduduk miskin agar turut serta dalam kegiatan ekonomi (Pambudy 2003). Peran Petugas Penyuluhan Lapangan menjadi sangat strategis dalam memberikan transfer pengetahuan bagi petani. Walaupun di lokasi penelitian telah terjadi saling tukar informasi antar petani, namun pengetahuan petani masih terbatas 33 dibanding dengan kapasitas penyuluh yang idealnya memiliki informasi lebih baik tentang hutan rakyat. Tabel 17 Kehadiran petani dalam kegiatan penyuluhan Aspek Kehadiran dalam penyuluhan Alasan kehadiran Atribut kehadiran Selalu Kadang-kadang Desa Cikeusal Jumlah % (orang) 27 39.13 Desa Kananga Jumlah (orang) % 4 8.89 36 52.17 32 71.11 6 8.70 9 20.00 Jumlah 69 100.00 45 100.00 Silaturahmi & menambah pengetahuan Menambah wawasan dan informasi 44 63.77 23 51.11 16 23.19 9 20.00 9 13.04 13 28.89 69 100.00 45 100.00 Tidak pernah Sakit dan kepentingan lainnya Jumlah Tabel 17 menunjukkan bahwa kehadiran petani dalam penyuluhan di lokasi penelitian ternyata tidak sepenuhnya baik, terbukti sebagian besar tidak selalu dan bahkan ada yang tidak menghadiri penyuluhan. Padahal mereka mengakui bahwa kehadiran dalam penyuluhan merupakan ajang silaturahmi antar anggota kelompok tani, menambah pengetahuan, wawasan dan informasi. Tidak Paham 11.59 Paham 18.84 Cukup Paham 69.57 Gambar 5 a Persentase pemahaman petani terhadap penyuluhan di Cikeusal Tidak paham, Cukup Paham dan Paham 34 Tidak Paham 13.33 Paham 22.22 Cukup Paham 64.45 Gambar 5 b Persentase pemahaman petani terhadap penyuluhan di Kananga Tidak paham, Cukup Paham dan Paham Pemahaman petani di lokasi penelitian terhadap materi penyuluhan, dimana sebagian besar mengakui cukup paham. Di Desa Cikeusal tingkat pemahaman terhadap materi penyuluhan, tidak paham sebesar 11.59%, cukup paham 69.57% dan paham 18.84% (Gambar 5 a). Sedangkan di Desa Kananga tidak paham sebesar 13.33%, cukup paham 64.45% dan paham sebesar 22.22% (Gambar 5 b). Ketua Kelompok tani dan Penyuluh Kehutanan sebaiknya memberi perhatian khusus atau melakukan pendekatan yang berbeda dalam memberi penyuluhan terhadap kelompok tani tersebut. 70 Hasil konsultasi petani (%) 60 50 40 30 20 10 0 PPL Dinas Kehutanan Sesama petani Tempat konsultasi petani hutan rakyat Gambar 6 Tempat konsultasi petani terkait hutan rakyat di Kananga Cikeusal dan Salah satu alternatif untuk meningkatkan keberhasilan transfer pengetahuan ke petani dari penyuluhan adalah konsultasi. Karena kehadiran penyuluh sangat bergantung pada proyek, maka masyarakat lebih memilih sesama petani sebagai tempat yang dianggap bisa menjadi tempat konsultasi terkait hutan rakyat (Gambar 6). Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi evaluasi bagi penyuluh untuk lebih mendekatkan dirinya dengan petani sehingga menumbuhkan kepercayaan 35 petani dan juga meningkatkan peran Dinas Kehutanan untuk memberikan pelayanan publik terkait transfer iptek hutan rakyat yang lebih baik. Fenomena rendahnya intensitas penyuluhan ini sejalan dengan penelitian Yumi et al. (2012) pada petani hutan rakyat di Gunung Kidul dan Wonogiri, yang menyatakan bahwa interaksi petani dengan penyuluh atau pendamping di kedua kabupaten tergolong rendah. Pertemuan dengan penyuluh dilakukan dalam pertemuan formal sehingga masih terdapat jarak yang lebar dalam hubungannya antara keduanya. Kondisi demikian kemungkinan besar lebih banyak disebabkan oleh sistem penyuluhan berbasis keproyekan dan adanya permasalahan internal diantara anggota dan pengurus kelompok tani atau juga permasalahan dengan organisasi pembinanya yang belum terselesaikan. Kelompok Tani Hutan Rakyat Awal pembentukan kelompok tani hutan rakyat di Kabupaten Kuningan, khususnya untuk wilayah Kecamatan Cimahi berkat adanya program pemerintah berupa Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) maupun Kebun Bibit Rakyat (KBR), dimana awal nama kelompok tani hutan rakyat tersebut merupakan kelompok tani dibidang pertanian. Dari 10 desa yang ada di Kecamatan Cimahi terdapat 12 kelompok tani hutan rakyat (Tabel 18). Tabel 18 Ikhtisar kelompok tani hutan rakyat di Kecamatan Cimahi Tahun Pembentukan 1. Cimahi Sari Abadi Junaedi 2005 2. Cileuya Kiara Payung Kastam 2008 3. Margamukti 1. Putat Warya 2005 2. Bagbagan Raskim 2005 4. Sukajaya Wana Asri Edo Karda 2007 5. Mulyajaya 1. Wanajaya Warsendi 2006 2. Ekajaya Eko Wasta 2011 6. Mekarjaya Wanamekar Dadang 2006 7. Cikeusal Anugrah Wawan 2012 8. Kananga 1. Mekarwangi Raskim 2006 2. Tarikolot Pendi 2008 9. Gunungsari Sumber Rejeki Darma 2007 Sumber: Monografi Kecamatan Cimahi, Cimahi Dalam Angka( 2013) No Desa Nama Kelompok Nama Ketua Jumlah Anggota 39 24 37 35 25 38 40 43 69 45 42 36 Keberadaan kelompok tani sangat bermanfaat dalam menambah wawasan petani baik dalam pengetahuan hutan rakyat maupun dalam menjalin silaturahmi, respon anggota cukup baik terhadap keberadaan kelompok tani, namun petani mengeluhkan kurangnya pertemuan kelompok, pertemuan kelompok diadakan apabila terdapat bantuan program pemerintah. Pada umumnya untuk kegiatan memutuskan jenis tanaman, jarak tanam, teknik pemeliharaan dan perencanaan untuk kelompok tani hutan rakyat di kedua desa adalah kaum laki-laki meskipun dalam pelaksanaannya banyak masukan dari kaum perempuan namun pada akhirnya keputusan ada di laki-laki karena dalam pertemuan umumnya yang banyak hadir kaum laki-laki. Berdasarkan kebijakan pemerintah daerah dan kesepakatan dengan masyarakat, karena jumlah petani hutan rakyat relatif sedikit, maka untuk keperluan sertifikasi hutan rakyat pada tahun 2013 kelompok tani Anugrah dan Mekarwangi di kedua desa bergabung dalam satu kelompok tani hutan rakyat dengan nama baru AKTHR Jati Lestari. Hasil peningkatan usaha petani (%) 36 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Permodalan Informasi Hutan Rakyat Pemecahan Masalah Manfaat kelompok dilokasi penelitian Gambar 7 a Manfaat kelompok bagi usaha petani di Kananga Cikeusal dan Kelompok tani hutan merupakan kelompok sosial yang bersifat dinamis, karena adanya interaksi sosial antar anggota kelompoknya. Menurut Soekanto (2006) interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi dua syarat yaitu: adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi. Namun interaksi yang terjadi dapat bersifat positif yang mengarah pada kerjasama dan dapat juga bersifat negatif yang mengarah pada pertentangan atau bahkan tidak menghasilkan interaksi sosial. Petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga merasakan manfaat yang cukup banyak dalam aspek pertukaran informasi, sedangkan aspek permodalan dan pemecahan masalah masih dianggap kecil (Gambar 7 a). Petani di kedua desa merasakan bahwa kelompok tani hutan rakyat bermanfaat dalam menambah pengetahuan (Gambar 7 b). 90 Hasil peningkatan pengetahuan (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Kecil Cukup Besar Manfaat kelompok tani d ilokasi penelitian Gambar 7 b Manfaat kelompok bagi pengetahuan petani di Kananga Cikeusal dan Situasi demikian bisa jadi menyebabkan kehadiran petani dalam pertemuan kelompok tidak menunjukkan antusiasme yang tinggi, walaupun frekuensi pertemuan kelompok tani hutan rakyat sangat jarang, yaitu sekitar 6 bulan sekali atau setahun sekali. Pertemuan kelompok hanya dilakukan apabila ada bantuan pemerintah (misalnya KBR) dan setelah proyek selesai pertemuan tidak pernah dilakukan lagi. Selain itu, kehadiran petani dalam pertemuan juga dikategorikan sedang, karena mayoritas menghadiri pertemuan hanya kadang-kadang saja. Padahal petani mengakui bahwa manfaat pertemuan kelompok dapat meningkatkan silaturahmi, pengetahuan, pengalaman dan wawasan, walaupun masih dalam kategori tingkat manfaat yang belum optimal (Tabel 19). 37 Berdasarkan hal tersebut perlu ditinjau kembali materi pertemuan kelompok sehingga sesuai dengan kebutuhan petani dan dapat meningkatkan motivasi kehadiran mereka serta meningkatkan manfaat langsung bagi petani. Tabel 19 Manfaat pertemuan kelompok dan alasan kehadiran dalam pertemuan Aspek Frekuensi kehadiran Alasan kehadiran Atribut kehadiran Tidak pernah Desa Cikeusal Jumlah % (orang) Desa Kananga Jumlah % (orang) 2 2.9 11 24.4 Kadang-kadang 50 72.5 32 71.1 Selalu 17 24.6 2 4.4 Jumlah Silaturahmi dan menambah pengetahuan 69 100.0 45 100.0 37 53.6 7 15.6 Menambah pengalaman dan wawasan 28 40.6 27 60.0 Sakit dan keperluan lainnya Jumlah 4 69 5.8 100.0 11 45 24.4 100.0 Kondisi kelompok tani di lokasi penelitian ini relatif sama dengan penelitian Suprapto (2010), dimana pada umumnya petani hutan rakyat sudah tergabung dalam kelompok-kelompok tani hutan rakyat. Kelompok-kelompok tersebut dibentuk berkaitan dengan program-program penghijauan dari pemerintah. Karena memang ditujukan untuk melancarkan kegiatan-kegiatan teknis seperti koordinasi kerja, pembagian bibit dan beberapa diantaranya untuk pencairan bantuan kredit pada umumnya kelompok-kelompok tersebut tidak aktif setelah program tersebut berakhir. Karena latar belakang pembentukan kelompok seperti itu, maka kelompok tidak cukup berdaya dalam membantu permasalahan petani. Padahal, pengelolaan hutan rakyat membutuhkan kelompok yang dinamis. Kelompok yang dinamis akan selalu ditandai adanya interaksi, baik di dalam maupun di luar kelompok, agar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dimensinya meliputi: tujuan, kekompakkan, struktur, pengembangan dan pemeliharaan kelompok, fungsi tugas, suasana, efektivitas dan tekanan. Semakin dinamis suatu kelompok, maka kelompok tersebut cenderung semakin maju (Bowo et al. 2011). Penumbuhan kelompok tani didasarkan atas faktor-faktor pengikat antara lain: (a) adanya kepentingan bersama antara anggotanya, (b) adanya kesamaan kondisi sumber daya alam dalam berusahatani, (c) adanya kondisi masyarakat dan kondisi sosial yang sama, (d) adanya saling mempercayai antara sesama anggota. Untuk memperbaiki kelompok tani di lokasi penelitian, beberapa aspek penting yang perlu mendapat perhatian dalam pemberdayaan masyarakat petani menurut Karsidi (2003) adalah: 1. Pengembangan organisasi/kelompok masyarakat yang dikembangkan dan berfungsi dalam mendinamisasikan kegiatan produktif masyarakat. 2. Pengembangan jaringan strategis antar kelompok/organisasi masyarakat yang dibentuk dan berperan dalam pengembangan masyarakat tani dan nelayan. 3. Kemampuan kelompok tani dan nelayan dalam mengakses sumber-sumber luar yang dapat mendukung pengembangan mereka, baik dalam bidang informasi pasar, permodalan serta teknologi dan manajemen termasuk kemampuan lobi ekonomi. 38 4. Pengembangan kemampuan-kemampuan teknis dan manajerial kelompokkelompok masyarakat, sehingga berbagai masalah teknis dan organisasi dapat dipecahkan dengan baik. Sumber Informasi Kemampuan petani untuk berhubungan dengan lingkungan yang luas dalam mengakses informasi merupakan keterbukaan petani terhadap inovasi atau informasi dari luar. Keterbukaan ini akan menambah pengetahuan, perubahan sikap dan peningkatan keterampilan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Hal ini juga berkaitan dengan perkembangan proses belajar mandiri yang menuntut petani mampu untuk membuka wawasannya mencari informasi dalam berusahatani hutan rakyat. Suharjito (2000) mengatakan bahwa budidaya hutan rakyat di Jawa dengan hasil utama kayu berkembang karena adanya pasar (termasuk yang mengatur perilaku efisiensi dan gengsi). Pasar itulah yang menentukan jenis tanaman. Pemilihan komoditas juga berdasarkan luasan hutan rakyat yang dikelola oleh masyarakat. Pada umumnya pemilik berusaha memanfaatkan lahan dengan membudidayakan tanaman-tanaman yang bernilai tinggi, cepat menghasilkan dan tanaman konsumsi sehari-hari. Tabel 20 Aspek informasi tentang hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga Aspek Kategori Cikeusal Jumlah Ketersediaan informasi Informasi yang mendukung Sumber informasi % Jumlah % Tidak ada 15 21.74 8 17.78 Cukup 47 68.12 32 71.11 Banyak 7 10.14 5 11.11 Sulit 15 21.74 9 20.00 Cukup 48 69.57 30 66.67 Mudah Jenis informasi Kananga 6 8.70 6 13.33 Teknik pengelolaan 46 66.67 37 82.22 Informasi pasar 16 23.19 5 11.11 Informasi modal 7 10.14 3 6.67 Media cetak 14 17.72 9 20.00 Penyuluh 46 58.23 28 62.22 Sesama petani 19 24.05 8 17.78 Hasil survey di Desa Cikeusal dan Desa Kananga menunjukkan bahwa informasi cukup tersedia di lokasi penelitian, serta cukup mendukung bagi pengelolaan hutan rakyat. Sumber informasi utama adalah penyuluh dan sesama petani. Hal demikian menjelaskan bahwa penyuluh masih merupakan agen yang diharapkan dan dianggap penting sebagai sumber informasi, walaupun frekuensi penyuluhan tidak memadai. Jenis informasi yang paling banyak disampaikan adalah teknik pengelolaan, sementara informasi pasar dan permodalan masih relatif sedikit (Tabel 20). Idealnya, kedua informasi tersebut juga disampaikan seimbang, karena informasi pasar dan permodalan justru merupakan informasi yang dapat meningkatkan motivasi petani dalam melakukan usaha tani. 39 Kompetensi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Kompetensi merupakan karakteristik-karakteristik yang mendasari individu untuk mencapai kinerja superior (Susanto 2003). Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin. Kismiyati (2004) mendefinisikan kompetensi sebagai pengetahuan dan keterampilan yang dituntut untuk melaksanakan dan/atau untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan, yang merupakan dasar bagi penciptaan nilai dalam suatu organisasi. Mencermati pentingnya unsur kompetensi petani tersebut, maka analisis kompetensi dalam pengelolaan hutan rakyat menjadi penting khususnya bagi masyarakat Desa Cikeusal dan Kananga. Analisis akan difokuskan pada 3 macam kompetensi (Sedarmayanti 2003), yaitu: 1. Kompetensi konseptual, yaitu kemampuan melihat gambar besar (imajinatif), untuk menguji berbagai pengandaian dan mengubah perspektif. 2. Kompetensi teknis, yaitu pengetahuan dan keahlian untuk mencapai hasil yang telah disepakati, kemampuan untuk memikirkan persoalan dan mencari alternatif baru. 3. Kompetensi untuk hidup dalam ketergantungan, yaitu kemampuan yang diperlukan guna berinteraksi efektif dengan orang lain, termasuk kemampuan mendengarkan, berkomunikasi, mendapatkan alternatif lain, menciptakan kesepakatan menang-menang dan beroperasi secara efektif dalam sistem. Dalam tindakan operasional (kompetensi teknis), baik dalam persiapan lahan maupun pemilihan jenis tanaman hutan rakyat, sudah menunjukkan proses yang lebih baik. Mayoritas petani melakukan persiapan dan pembersihan lahan sebelum penanaman hutan rakyat. Pemilihan jenis juga tidak didominasi oleh pihak luar, tapi atas dasar pilihan sendiri dan juga ada intervensi musyawarah kelompok. Proses ini sudah menunjukkan independensi petani dalam pengambilan keputusan (Tabel 21). Jenis tanaman yang ditanam di hutan rakyat adalah jati, sengon dan mahoni. Teknik penanaman petani bervariasi antara monokultur dan campuran. Alasan pemilihan jenis terdiri atas 2 faktor, yaitu pertimbangan pasar dan pertimbangan teknis. Pertimbangan pasar adalah kemudahan dalam penjualan dan harga, sedangkan pertimbangan teknis meliputi kemudahan dalam pemeliharaan, kecepatan pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan sangat bervariasi, antara 1mx1m, 2mx2m, 3mx3m dan juga tidak beraturan. Pertimbangan utama pengaturan jarak tanam petani adalah persaingan hara, sinar matahari, harapan kecepatan pertumbuhan dan kesesuaian dengan kondisi lahan. Kompetensi petani dalam pemeliharaan terlihat cukup tinggi, dimana petani melakukan kegiatan pemeliharaan berupa pemupukan, penyiangan, pemangkasan dan penjarangan. Pemupukan umumnya menggunakan urea yang dilakukan setahun sekali sampai umur 2 tahun. Penyiangan umumnya dilakukan setahun sekali sampai umur 2-3 tahun dan pemangkasan umumnya dilakukan hanya sekali pada umur 3 atau 4 tahun. Penjarangan umumnya dilakukan pada umur 615 tahun. 40 Tabel 21 Kompetensi petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga Jenis kompetensi Teknis Atribut kompetensi Persiapan lahan Relasional Tidak pernah Cikeusal Jumlah 0 Kananga % 0.0 Jumlah 0 % 0.0 Kadang-kadang 13 18.8 10 22.2 Selalu 56 81.2 35 77.8 Dipilih sendiri 54 78.3 42 93.3 Musyawarah kelompok Pemerintah 15 21.7 3 6.7 0 0.0 0 0.0 Pemahaman pengertian hutan rakyat Tidak paham 25 36.2 11 24.4 Cukup paham 42 60.9 31 68.9 2 2.9 3 6.7 Pemahaman manfaat hutan rakyat Tidak paham 15 21.7 23 51.1 Cukup paham 42 60.9 16 35.6 Paham 12 17.4 6 13.3 Membantu petani lain Tidak pernah 0 0.0 0 0.0 Kadang-kadang 38 50.1 28 62.2 Selalu 31 44.9 17 37.8 0 0.0 0 0.0 Kadang-kadang 38 55.1 30 66.7 Selalu 31 44.9 15 33.3 Tidak pernah 17 24.6 29 64.4 Kadang-kadang 47 68.1 14 31.1 5 7.3 2 4.4 69 100.0 45 100.0 Kadang-kadang 0 0.0 0 0.0 Selalu 0 0.0 0 0.0 Pemilihan jenis tanaman hutan rakyat Konseptual Tingkat pemahaman Tukar informasi antar petani Komunikasi dengan pembeli kayu Paham Tidak pernah Selalu Tidak pernah Komunikasi dengan industri Pemanenan hutan rakyat merupakan pola yang membudaya dengan pola tebang butuh, yaitu ditebang jika ada kebutuhan tertentu yang besar pada keluarga petani. Dorongan utama kebutuhan yang menyebabkan dipilihnya keputusan pemanenan antara lain: kebutuhan anak sekolah, hajatan keluarga atau keperluan membangun rumah dan kebutuhan besar lainnya. Penjualan kayu hutan rakyat lazim dalam bentuk pohon berdiri ke tengkulak karena alasan kepraktisan. Kondisi demikian menunjukkan bahwa kompetensi petani dalam pemasaran kayu hutan rakyat masih sangat bergantung kepada middleman, belum memiliki posisi tawar yang baik dan belum terintegrasi dengan industri. Situasi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah untuk membantu meningkatkan kapasitas petani dalam pemasaran kayu sehingga harga bisa menjadi lebih baik. Hasil survey pada kompetensi konseptual menunjukkan bahwa mayoritas petani cukup paham mengenai hutan rakyat (60.9% di Desa Cikeusal dan 68.9% di Desa Kananga), yaitu sebagai hutan yang dimiliki perseorangan atau hutan di tanah milik sendiri. Namun ternyata masih cukup banyak juga petani di kedua desa (masing-masing 36.2% dan 24.4%) yang tidak memahami esensi hutan rakyat. Selain itu, pemahaman terhadap manfaat hutan rakyat ternyata lebih 41 bervariasi, dimana di Desa Cikeusal teridentifikasi banyak yang cukup paham (60.9%), tapi di Desa Kananga banyak yang tidak paham (51.1%). Pemahaman manfaat hutan rakyat yang umumnya meliputi fungsi ekologi (pemeliharaan sumber mata air, kesuburan tanah, tempat satwa, mencegah banjir, mencegah erosi, mencegah longsor) dan juga manfaat ekonomi (untuk tabungan keluarga). Kondisi demikian membuktikan bahwa frekuensi penyuluhan yang sangat jarang menyebabkan pemahaman petani terhadap hutan rakyat dan manfaatnya sangat kurang. Kompetensi relasional petani cukup baik pada interaksi antar sesama petani baik dalam hal saling bantu maupun tukar menukar informasi. Namun interaksi petani dengan pasar sangat rendah, dimana komunikasi dengan pembeli relatif kurang dan sama sekali tidak ada interaksi antara petani dengan industri kayu. Kondisi demikian sama terjadi di kedua desa. Sebagai perbandingan penelitian Suryaningsih et al. (2012) pada masyarakat Desa Karangrejo menjelaskan bahwa petani hutan rakyat memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang hutan rakyat, dan mereka menyadari keberadaan hutan rakyat memiliki fungsi-fungsi ekologi, sosial dan ekonomi dan berpendapat bahwa hutan rakyat tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Hutan rakyat tersebut menurut masyarakat sudah berfungsi sebagaimana mestinya, dikarenakan masyarakat melihat fakta bahwa lahan yang dulu gersang kini menjadi hijau, kebutuhan air tercukupi sehingga tidak mengalami kekeringan lagi pada musim kemarau, kebutuhan kayu terpenuhi dan keberhasilan dalam memenangkan perlombaan bidang penghijauan. Dengan demikian, melihat kompetensi sebagaimana diuraikan di atas sangat diperlukan upaya untuk meningkatkan kompetensi konseptual dan relasional petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga. Spencer dan Spencer (1993) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik mendalam dan terukur pada diri seseorang yang turut menentukan perilaku dan kinerja dalam tugas kerja tertentu. Lebih jauh Spencer dan Spencer menyatakan bahwa kompetensi mempunyai cakupan yang jauh lebih komprehensif, yang terdiri atas: 1. Motif, yaitu kebutuhan dasar seseorang yang mendorong dan mengarahkan cara berpikir dan bersikap. 2. Sifat-sifat, yaitu sifat-sifat dasar yang menentukan seseorang bertindak/ bertingkah laku. 3. Konsep diri, yaitu pandangan seseorang terhadap identitas dan kepribadiannya sendiri atau inner self. 4. Peran kemasyarakatan, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya dalam interaksinya dengan orang lain atau outer self. 5. Pengetahuan, kemampuan intelektual yang dapat dimanfaatkan dalam tugas/ pekerjaan tertentu. 6. Keterampilan, kemampuan teknis untuk melaksanakan sesuatu dengan baik. Menurut posisi sumbernya, kompetensi petani berasal dari internal petani. Namun karena sifatnya yang lebih komprehensif dan faktor pembentuknya yang kompleks, maka kompetensi dipisahkan dari faktor internal petani dan menjadi faktor tersendiri untuk dianalisis. Berbeda dengan faktor internal lain (misalnya umur, pendapatan dan lain-lain) cenderung lebih berkarakter sifat dasar internal petani yang faktor pembentuknya alami atau tidak kompleks. Kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang 42 diperlukan oleh individu untuk dapat melaksanakan tugas tertentu dengan baik yang terekspresi dalam bentuk perilaku. Seseorang yang berkompeten adalah seseorang yang penuh percaya diri karena menguasai pengetahuan dalam bidangnya, memiliki kemampuan dan keterampilan serta motivasi tinggi dalam mengerjakan hal-hal yang terkait dengan bidangnya sesuai dengan tata nilai atau ketentuan yang dipersyaratkan. Kompetensi merupakan faktor mendasar yang perlu dimiliki seseorang, sehingga mempunyai kemampuan lebih dan membuatnya berbeda dengan seseorang yang mempunyai kemampuan rata-rata atau biasa saja. Pengaruh Faktor Internal, Eksternal dan Kompetensi terhadap Partisipasi Partisipasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya menjadi sangat penting untuk dikaji dalam rangka mengevaluasi apakah tingkat partisipasi tersebut merupakan akibat dari faktor-faktor pembentuknya. Jika partisipasi tinggi dapat diketahui faktor-faktor tersebut memberi pengaruh atau ada faktor lain yang mempengaruhi. Begitupun sebaliknya, jika partisipasi rendah, faktor-faktor apa yang tidak berjalan mempengaruhi partisipasi. Partisipasi petani merupakan bagian yang paling krusial dalam pengelolaan hutan rakyat. Pengelolaan yang dimaksud dalam arti umum merupakan suatu usaha yang didalamnya meliputi beberapa aspek, seperti: perencanaan organisasi pelaksanaan implementasi, monitoring dan evaluasi yang setiap fungsi saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Dengan demikian pengelolaan hutan rakyat pada dasarnya bertujuan untuk melestarikan sumber daya hutan agar tetap terjamin kesinambungan persediaannya dimasa akan datang. Pencapaian fungsi pengelolaan hutan berdaya guna dan berhasil guna, perlu dilakukan pendekatan terpadu dan partisipatif dengan keseimbangan antara ekologis dan ekonomis (Awang et al. 2001). Teknik budidaya hutan rakyat pada dasarnya sudah dikuasai oleh para petani pengelola hutan rakyat secara turun-temurun. Hardjanto (2000) mengatakan bahwa teknik budidaya hutan rakyat yang dikuasai oleh para petani masih sebatas dalam pengertian apa adanya. Artinya mulai dari penyediaan biji, bibit, penanaman, pemeliharaan sampai siap jual, dilakukan secara sederhana. Strategi pengelolaan hutan rakyat pada dasarnya bertitik tolak dari tiga sub sistem yang saling berkaitan, yaitu sub sistem produksi, sub sistem pengolahan hasil dan sub sistem pemasaran. Attar (2000) mengemukakan sub sistem produksi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Sub sistem pengolahan hasil adalah proses sampai menghasilkan bentuk produk akhir yang dijual oleh petani hutan rakyat atau untuk dipakai memenuhi kebutuhan sendiri. Produk yang dihasilkan dapat dipakai sendiri, dijual dalam bentuk pohon berdiri, dijual dalam bentuk kayu bakar atau dijual dalam bentuk kayu gelondongan atau kayu gergajian. Hasil penelitian Attar (2000) memperlihatkan beberapa faktor yang mendukung berjalannya sub sistem pengolahan hasil, yaitu: 1. Aspek ekonomi, di mana tegakan yang ditanam penduduk adalah tegakan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. 2. Aspek ekologi, di mana penduduk berpandangan bahwa tegakan yang ada di lahan mereka tidak akan ditebang habis selain untuk menjaga keadaan lahan 43 dan kondisi lingkungan desa, tegakan tersebut dapat digunakan sebagai tabungan untuk masa yang akan datang. 3. Faktor jenis tegakan, yaitu jenis yang disukai masyarakat untuk bahan bangunan sehingga selain dapat digunakan sendiri juga dapat dijual. Hardjanto (2000) menjelaskan sistem pengelolaan hutan rakyat dimulai dengan kegiatan pengadaan benih, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pemasaran hasil. Pola tanam hutan rakyat sangat menentukan dalam peningkatan pendapatan bagi petani pemilik lahan. Pola tanam monokultur akan berhasil jika dilakukan secara kemitraan dengan perusahaan industri yang memerlukan bahan baku kayu. Pola tanam campuran, terutama dengan sistem agroforestri/wanatani bermanfaat secara ganda, di samping meningkatkan pendapatan petani juga menjaga kelestarian lingkungan (ekologi) karena pola ini berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan lahan secara rasional baik dari aspek ekologi, ekonomi maupun aspek sosial budaya. Tabel 22 Hasil uji signifikansi indikator Variabel Laten Indikator Loading Umur Σ Tanggungan keluarga Luas lahan Pengalaman berusaha tani Motivasi berusaha X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 0.95 -0.20 -0.35 0.73 -0.07 16.25 -2.90 -4.95 8.48 -1.08 Penyuluhan kehutanan Kelompok tani hutan Sumber informasi Kompetensi teknis X2.1 X2.2 X2.3 X3.1 0.87 -0.59 -0.37 0.11 5.63 5.27 4.10 1.49 X3 Kompetensi konseptual X3.2 0.12 1.56 Y1 Kompetensi relasional Partisipasi perencanaan Partisipasi pelaksanaan X3.3 Y1.1 Y1.2 0.95 0.60 0.00 14.02 6.25 0.05 Y2 Partisipasi pemanfaatan Kepemilikan lahan Aspek ketenagakerjaan Y1.3 Y2.1 Y2.2 0.75 0.18 0.48 3.89 7.39 0.52 Y2.3 -0.69 -0.54 Y3 Aspek lingkungan & sosial Kesejahteraan sosial Y3.1 -0.01 -0.10 Kesejahteraan ekonomi Y3.2 0.95 1.29 X1 X2 Keterangan: X1 = Internal X2 = Eksternal X3 = Kompetensi Y1 = Partisipasi |T-Hitung| Y2 = Kelestarian Y3 = Kesejahteraan Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan 4444 0.10 X1.1 0.96 X1.2 0.87 X1.3 0.46 X1.4 0.99 X1.5 0.24 X2.1 0.66 X2.2 0.86 X2.3 0.99 X3.1 0.99 X3.2 0.10 X3.3 Y1 0.95 -0.20 -0.35 0.73 -0.07 0.87 0.59 0.37 X1 X2 0.25 0.60 -0.21 -3.21 0.79 X3 0.11 0.12 0.95 0.60 0.00 0.75 -0.15 3.02 Y2 1.38 -0.18 0.18 0.48 -0.69 -0.68 -0.52 1.82 -0.01 0.95 Y3 Chi-Square= 179.70, df= 128, P-value= 0.00177, RMSEA= 0.060 Chi-Square=179.70, df= 128, P-value=0.00177, RMSEA=0.060 Gambar 8 Standardized coefficient model path dengan Lisrel Y1.1 0.64 Y1.2 1.00 Y1.3 0.44 Y2.1 0.97 Y2.2 0.77 Y2.3 0.52 Y3.1 1.00 Y3.2 0.10 45 0.00 X1.1 7.05 X1.2 6.04 X1.3 2.49 X1.4 7.46 X1.5 0.80 X2.1 3.45 X2.2 5.94 X2.3 7.85 X3.1 7.57 X3.2 0.00 X3.3 Y1 16.25 -2.90 -4.95 8.48 -1.08 5.63 5.27 4.10 X1 X2 3.22 -6.53 8.68 -2.94 7.19 X3 1.49 1.56 14.02 6.25 0.05 3.89 -2.39 6.81 Y2 0.38 7.39 0.52 -0.54 -0.30 Y1.1 3.95 Y1.2 7.52 Y1.3 2.27 Y2.1 7.24 Y2.2 5.37 Y2.3 2.69 Y3.1 7.69 Y3.2 0.00 -0.61 0.08 -0.66 -0.10 1.29 Y3 Chi-Square= 179.70, df= 128, P-value= 0.00177, RMSEA= 0.060 Chi-Square=179.70, df= 128, P-value=0.00177, RMSEA=0.060 Gambar 9 T-Hitung model path dengan Lisrel 46 Tabel 22 dan gambar 9 menunjukkan bahwa hasil uji signifikansi terhadap 19 faktor yang digunakan, hanya 8 faktor pada taraf nyata 5% yang berpengaruh tidak signifikan terhadap partisipasi petani. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa partisipasi petani dipengaruhi secara nyata oleh faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi petani. Faktor internal petani merupakan faktor yang berpengaruh nyata terhadap pola partisipasi petani dalam hutan rakyat. Kondisi ini menunjukkan bahwa variasi umur petani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan hutan rakyat dan pengalaman petani, mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi mereka dalam pengelolaan hutan rakyat. Hanya motivasi petani yang berpengaruh tidak signifikan terhadap faktor internal petani Tabel 23. Tabel 23 Uji hipotesis faktor internal, eksternal dan kompetensi terhadap partisipasi Hipotesis Loading H1 X1Y1 -0.15 2.39 Signifikan H2 X2  Y1 0.25 3.22 Signifikan H3 X3  Y1 0.60 8.68 Signifikan T-Hitung Penjelasan Keterangan Karena nilai |t-hitung|>t tabel 1.96 maka artinya X1 berpengaruh signifikan terhadap Y1. Karena nilai |t-hitung|>t tabel 1.96 maka artinya X2 berpengaruh signifikan terhadap Y1. Karena nilai |t-hitung|>t tabel 1.96 maka artinya X3 berpengaruh signifikan terhadap Y1. Keterangan : jika |t-hitung| > t tabel(1.96) maka Signifikan Faktor eksternal memberikan pengaruh nyata bagi partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Perubahan pada faktor-faktor tersebut mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi. Walaupun frekuensi penyuluhan relatif jarang dilakukan dikelompok tani, namun petani merasakan manfaat kelompok bagi pertukaran pengetahuan dan informasi serta permodalan. Sehingga semakin tinggi intensitas kegiatan penyuluhan, semakin baik fungsi kelompok tani dan semakin tinggi akses informasi, akan secara nyata memberikan pengaruh bagi peningkatan kualitas partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Demikian juga jika sebaliknya. Kompetensi petani juga memberikan pengaruh nyata terhadap partisipasi. Namun dari ketiga macam kompetensi (teknis, konseptual dan relasional), hanya kompetensi relasional yang secara nyata memberi pengaruh terhadap pembentukan kompetensi petani. Kompetensi teknis petani dalam kegiatan pengelolaan hutan rakyat relatif merata dimiliki oleh petani hutan rakyat. Sebagai contoh, para petani pada umumnya melakukan pemeliharaan dengan pemupukan 1 tahun 2 kali sampai umur 2 tahun, penyiangan 1 tahun sekali sampai umur 3 tahun dan pemangkasan dilakukan 1 kali pada umur 4 tahun. Penguasaan konseptual mengenai hutan rakyat cenderung sedang dan rendah dalam pemahaman hutan rakyat dan manfaatnya. Mayoritas petani terkategori cukup paham (kategori pemahaman sedang) mengenai hutan rakyat (60.9% di Desa Cikeusal dan 68.9% di Desa Kananga), yaitu sebagai hutan yang dimiliki perseorangan atau hutan di tanah milik sendiri. Namun ternyata masih cukup banyak juga petani di kedua desa (masing-masing 36.2% dan 24.4%) yang tidak memahami esensi hutan rakyat. Pemahaman terhadap manfaat hutan rakyat lebih bervariasi. Di Desa Cikeusal tingkat pemahamannya sedang (60.9%), tapi di Desa 47 Kananga banyak yang tidak paham (51.1%). Kondisi tersebut menunjukkan rendahnya kompetensi konseptual petani dalam hutan rakyat. Dalam hubungan relasional petani dengan pihak lain, ternyata cukup berpengaruh bagi peningkatan kompetensi petani, walaupun terbatas pada hubungan dengan penyuluh dan sesama petani lainnya. Kondisi tersebut menjelaskan kompetensi relasional petani memang patut dijadikan sebagai daya ungkit untuk meningkatkan kualitas partisipasi petani dalam hutan rakyat. Rendahnya partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga (dimana terkategori sebagai partisipasi pasif dan bercirikan pendekatan top down), dipengaruhi kuat oleh faktor eksternal dan kompetensi tersebut. Faktor penyuluhan, kelompok tani dan akses informasi diduga menjadi faktor yang berpengaruh kuat dalam menyebabkan rendahnya partisipasi petani, disamping kapasitas kompetensi teknis, konseptual dan relasional yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini juga didukung oleh frekuensi penyuluhan yang sangat jarang dan bergantung pada pendanaan proyek. Padahal fungsi kelompok tani dirasakan memiliki pengaruh positif bagi petani, tapi karena frekuensi pertemuan kelompok juga jarang, tidak mampu meningkatkan partisipasi petani. Disamping itu, informasi yang tersebar pada kelompok tani cukup berguna bagi petani, namun karena frekuensinya juga rendah, maka pengetahuan yang terdistribusi pada petani relatif sedikit dan tidak mampu memperbaiki kualitas partisipasi. Dengan demikian, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan agar bisa memperbaiki kualitas partisipasi di lokasi penelitian. Sebagai komparasi, partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat kemiri di Maros, Sulawesi Selatan dipengaruhi oleh tingkat motivasi petani dan kemampuan petani (Suprayitno et al. 2011). Tingkat kemampuan petani dalam mengelola hutan kemiri merupakan aspek yang berpotensi mempengaruhi tingkat partisipasi petani, dimana kemampuan teknis yang berpengaruh paling dominan. Petani sekitar hutan kemiri pada dasarnya telah memiliki kemampuan teknis pengelolaan hutan yang memadai dan diperoleh secara turun temurun. Oleh karena itu petani yakin bahwa mereka mampu untuk tetap mengelola hutan yang dimilikinya. Adapun Irawan (2011) melakukan estimasi logit yang menunjukkan bahwa partisipasi petani dipengaruhi oleh umur petani, pendidikan, luas lahan rumah tangga dan pengalaman petani dalam usaha hutan rakyat di Desa Tempurejo, Kabupaten Wonosobo. 5 PARTISIPASI, KELESTARIAN DAN KESEJAHTERAAN Pengaruh Partisipasi terhadap Kelestarian dan Kesejahteraan Partisipasi secara konseptual berkorelasi langsung dengan kelestarian hutan rakyat dan kesejahteraan petani. Partisipasi yang baik menjelaskan perhatian yang baik dari petani terhadap proses dan kegiatan hutan rakyat, sehingga lebih intensif mendorong terwujudnya kelestarian hutan rakyat dan dapat meningkatkan pendapatan. Sebaliknya, partisipasi rendah dapat memberi pengaruh negatif terhadap kelestarian hutan rakyat dan juga pendapatan rumah tangga petani. 48 Hutan rakyat akan lestari apabila ada manfaat ekonomis yang dirasakan oleh petani. Selain penghasil kayu yang seringkali menjadi tujuan utama petani dalam mengembangkan hutan rakyat, mereka juga dapat memperoleh hasil ikutannya. Manfaat jangka pendek dari hutan rakyat dapat dikembangkan menjadi manfaat jangka panjang seperti peningkatan hasil pertanian, perbaikan gizi dan kesehatan, perbaikan keadaan sosial ekonomi, tata guna lahan serta perbaikan konservasi lingkungan. Semuanya tersebut merupakan manfaat yang secara ekonomi bersifat tangible dan intangible. Dalam kaitannya dengan kesejahteraan petani, konsep kesejahteraan memiliki dimensi yang sangat luas dan kompleks karena taraf kesejahteraan tidak hanya berupa ukuran-ukuran yang terlihat (visible) tetapi juga mengandung ukuran-ukuran yang tidak terlihat. Kesejahteraan merupakan hasil pencapaian proses pemberdayaan yang melibatkan citra diri kelompok yang diperdayakan dan dilengkapi dengan ketersediaan sumberdaya yang tampak: uang, pemukiman dan sumberdaya yang tidak tampak: informasi, kreasi serta jaringan sosial pendukung. Salah satu faktor kesejahteraan adalah pendapatan (Ress 1991; Edi 2013). Pendapatan adalah perolehan yang didapat kepala keluarga dan anggota keluarga dari berbagai kegiatan yang dilakukan. Pengembangan hutan rakyat diharapkan mampu memberikan manfaat dan keuntungan ekologi, ekonomi serta sosial budaya. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan harus diikuti adanya peningkatan kelestarian ekologi dan sosial budaya. Pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan para petani diharapkan dapat meningkatkan kehidupan di pedesaan lebih produktif, mampu mempertahankan nilai-nilai budaya yang baik, adanya sistem penguasaan dan tata guna lahan yang jelas, adanya peningkatan pendapatan petani yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani. Hutan rakyat yang dikelola dengan memperhatikan teknik-teknik silvikultur akan mendatangkan manfaat yang cukup besar dilihat dari aspek ekologis dan ekonomis. Manfaat ekologis hutan rakyat dilihat dari kemampuannya dalam mendukung lingkungan terutama dalam menahan erosi, mengurangi bahaya banjir, sebagai pengatur tata air dan sebagainya. Manfaat ekonomis hutan rakyat diperoleh dari berbagai jenis tanaman yang diusahakan dan memiliki nilai ekonomis cukup tinggi sehingga berimplikasi pada meningkatnya pendapatan rumah tangga petani pengelola. Pengembangan hutan rakyat dalam skala yang lebih luas sebagai salah satu asset nasional perlu memperhatikan berbagai karakteristik lokal yang sangat beragam di berbagai daerah. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Suharjito (2000) bahwa keberadaan hutan rakyat di suatu daerah merupakan salah satu hasil kreasi budaya masyarakat setempat sehingga menghasilkan berbagai bentuk pengelolaan yang sangat variatif. Pengelolaan hutan rakyat sebagai salah satu bentuk manajemen pengelolaan hutan dalam skala yang lebih sempit harus tetap mengacu pada Sustainable Forest Manajemen (SFM) yang berorientasi pada aspek kemanfaatan dan kelestarian. Hutan rakyat sampai saat ini diusahakan oleh masyarakat di pedesaan, sehingga kontribusi manfaat hutan rakyat akan berdampak pada perekonomian desa. Manfaat ekonomi hutan rakyat secara langsung dapat dirasakan masingmasing rumah tangga para pelakunya dan secara tidak langsung berpengaruh pada perekonomian desa. Pendapatan dari hutan rakyat bagi petani masih diposisikan 49 sebagai pendapatan sampingan dan bersifat insidentil dengan kisaran tidak lebih dari 10% pendapatan total yang mereka terima. Hal ini disebabkan karena pengusahaan hutan rakyat masih merupakan jenis usaha sambilan. Usaha hutan rakyat pada umumnya dilakukan oleh keluarga petani kecil, biasanya subsisten yang merupakan ciri umum petani Indonesia (Darusman & Hardjanto 2006). Guna menguji pengaruh partisipasi petani terhadap kelestarian hutan rakyat dan kesejahteraan di lokasi penelitian, hasil analisis SEM untuk kedua desa disajikan Tabel 24. Hasil analisis menunjukkan bahwa partisipasi petani berpengaruh secara nyata bagi kelestarian hutan rakyat. Disamping itu, faktor internal petani, faktor eksternal petani dan kompetensi petani juga memberikan pengaruh langsung terhadap kelestarian hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga. Tabel 24 Hasil uji hipotesis partisipasi terhadap kelestarian dan kesejahteraan Hipotesis H1 Y1  Y2 Loading T-Hitung -3.21 6.53 Keterangan Penjelasan Signifikan Karena nilai |t-hitung|>t tabel 1.96 maka artinya Y1 berpengaruh signifikan terhadap Y2. 3.02 0.38 Tidak Signifikan Karena nilai |t-hitung| t tabel(1.96) maka Signifikan Keberadaan dan kelestarian hutan rakyat di lokasi penelitian dipengaruhi secara nyata oleh partisipasi petani. Walaupun tingkat partisipasi yang rendah dan pasif, ternyata hutan rakyat dapat bertahan di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan dan kelestarian hutan rakyat di lokasi penelitian juga dipengaruhi secara langsung oleh faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing petani. Hasil ini relatif sama dengan penelitian Suprayitno et al. (2011) di Maros, Sulawesi Selatan, dimana partisipasi petani dalam pengelolaan hutan kemiri memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan manfaat hutan kemiri. Namun demikian, kelestarian hutan rakyat hanya dibentuk oleh variabel kepemilikan lahan, sementara variabel pemenuhan ketenagakerjaan dan pemenuhan aspek lingkungan dan sosial penebangan tidak berkontribusi nyata bagi kelestarian hutan rakyat. Kondisi demikian diduga sangat terkait dengan aspek historis dan budaya berkebun. Pada masa lalu, masyarakat tidak secara sengaja membangun hutan rakyat, namun sebagai budaya berkebun yang diantara komoditinya terdapat tanaman tahunan. Dalam perkembangan selanjutnya, baru muncul istilah hutan rakyat dan disematkan kepada kegiatan mereka. Identitas hutan rakyat semakin kuat ketika ada program Kebun Bibit Rakyat (KBR) dari pemerintah dan program sertifikasi hutan rakyat. Jadi secara historis, ketenagakerjaan dan aspek lingkungan maupun sosial penebangan tidak ada yang berubah oleh kehadiran hutan rakyat. Hutan rakyat berdiri di atas lahan milik dengan bukti pemilikan berupa Surat Pemberitahuan Pajak Terhitung (SPPT) dan surat pernyataan penetapan kepemilikan lokasi hutan rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa. Hasil wawancara dengan Kepala Desa menyatakan bahwa dengan SPPT tersebut 50 masyarakat dapat melakukan pengurusan untuk sertifikat hak milik. Mekanisme pengurusan sertifikat hak milik melalui 2 mekanisme berikut: 1. Untuk warga dengan tahun lahir 1979 dan sebelumnya, untuk mengurus Surat Hak Milik (SHM) diperlukan dokumen SPPT dan bukti jual beli dari aparat desa. 2. Untuk warga dengan tahun lahir sesudah 1979, untuk mengurus Sertifikat Hak Milik (SHM) diperlukan dokumen SPPT, bukti jual beli dari aparat desa dan Akta Jual Beli (AJB). Realita yang ditemukan di lapangan, masyarakat tidak mengurus SHM dikarenakan keterbatasan biaya. Sampai saat ini, bukti kepemilikan lahan untuk di Desa Cikeusal dan Kananga sebagian besar masih berupa SPPT. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap dokumen legalitas pemegang Hak Guna Usaha (HGU) yang sah mencakup akte perusahaan, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dokumen lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta ketenagakerjaan, bahwa semua anggota yang terdaftar berikut bukti dokumen kepemilikan lahan berupa SPPT dan surat keterangan desa, diketahui bahwa seluruh lahan anggota tidak ada yang berupa HGU. Kelompok tani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga telah memiliki sketsa peta lahan dan bidang hutan rakyat untuk seluruh hutan hak, peta/sketsa yang ada telah menjelaskan petak persil masing-masing desa dengan kondisi penggunaan lahannya seperti hutan rakyat, sawah dan pemukiman. Dari hasil evaluasi lapangan diketahui bahwa batas-batas petak hutan rakyat berupa batas alam, seperti: pematang/galengan, selokan air dan tanaman pembatas (tanaman jarak) serta batas petak berupa pagar dari bambu. Hasil evaluasi sampai dengan saat ini anggota kelompok tani di Desa Cikeusal dan Desa Kananga, bahwa terdapat bukti hasil pengangkutan berupa Surat Keterangan Asal Usul (SKAU), sedangkan untuk penebangan kayu dilakukan diatas lahan anggota masyarakat yang merupakan hasil budidaya dan tidak ada penebangan dari tegakan yang tumbuh sebelum pengalihan hak. Selanjutnya, pada dasarnya sertifikasi belum memberikan dampak terhadap pendapatan petani karena harga jual kayu sama dengan kelompok tani yang tidak bersertifikasi. Penelitian Assyh (2014) di hutan rakyat di Wonosobo menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara desa tersertifikasi dengan tanpa sertifikasi dalam praktek pengelolaan dan pola perdagangan kayu. Kebutuhan kayu di kedua desa penelitian hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal. Kemampuan tawar petani masih lemah dikarenakan para tengkulak sudah menguasai harga pasar kayu lokal. Hal ini sejalan dengan penelitian Hardjanto (2000), bahwa umumnya posisi tawar petani hutan rakyat masih lemah dibandingkan dengan pihak lain yang lebih mantap secara kelembagaan. Petani hutan rakyat belum memiliki kemampuan yang memadai dalam membudidayakan kayu dengan kualitas baik. Petani hutan rakyat juga belum memiliki kemampuan untuk melakukan pengolahan hasil hutan, terutama kayu yang lebih memiliki nilai tambah. Cahyono (2005) mengungkapkan permasalahan besar yang melingkupi pengelolaan hutan rakyat terkait dengan kemampuan petani dalam melihat peluang pasar lebih cermat dan mengakses informasi tentang harga kayu dipasaran. Manfaat sertifikasi VLK terhadap pengelolaan hutan rakyat dapat dilihat: (a) aspek sosial, adanya penguatan kelembagaan, meningkatnya 51 pengetahuan dan kapasitas petani hutan rakyat serta adanya pengakuan publik, (b) aspek ekonomi, belum memberikan manfaat yang signifikan dimana posisi tawar dan harga premium belum tercapai dan pendapatan petani hutan rakyat belum terwujud dan (c) aspek lingkungan telah memberikan manfaat berupa terciptanya tutupan lahan, fungsi hidrologis, terciptanya iklim mikro untuk kelestarian lingkungan. Disamping itu, hutan rakyat di lokasi penelitian relatif bersifat statis, dimana aspek kepemilikan relatif sama antar anggota kelompok tani, yaitu: dengan bukti kepemilikan SPPT dan tanda batas sebagian besar berupa pepohonan. Fungsi kebun yang dialokasikan sebagai hutan rakyat bersifat tetap, tanpa ada perubahan penggunaan lahan secara intensif dan telah terjadi turun temurun. Pengaruh pasar juga relatif tidak ada, dimana tidak terjadi lonjakan penambahan luas hutan rakyat ketika harga kayu naik. Demikian juga tidak ada konversi dari hutan rakyat menjadi penggunaan lain (misalnya pertanian holtikultura) ketika harga kayu rendah atau harga sayur mayur naik. Keberadaan hutan rakyat lebih bersifat sebagai tabungan bagi petani. Petani memperlakukan tanaman kayu sebagai cadangan pemenuhan kebutuhan untuk keperluan mendadak yang jumlahnya besar, seperti keperluan anak sekolah, hajatan keluarga dan lain-lain. Hal ini terkonfirmasi pada alasan kenapa petani memilih pola pemanenan tebang butuh. Hal demikian sesuai dengan pendapat Achmad et al. (2012), Darusman & Hardjanto (2006) dan Setyadi (2009) yang menyatakan bahwa meskipun hasil dari hutan rakyat sudah dirasakan oleh petani dan keluarganya, namun belum dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan utama, karena hasil utama berupa kayu bersifat jangka panjang. Sejalan dengan itu, ternyata partisipasi petani tidak memberikan pengaruh nyata bagi kesejahteraan petani sebagaimana hasil analisis SEM pada gambar 9 dan Tabel 24. Kesejahteraan petani juga tidak dipengaruhi secara nyata oleh faktor internal, faktor eksternal, kompetensi petani dan kelestarian hutan rakyat. Dengan kata lain, partisipasi mungkin sebenarnya berpengaruh terhadap kesejahteraan petani, namun tidak secara nyata dan juga berarti ada faktor lain yang memberikan pengaruh bagi kesejahteraan petani secara signifikan yang belum diketahui diluar faktor internal, eksternal, kompetensi petani dan partisipasi petani. Diduga bahwa kesejahteraan petani lebih banyak disebabkan oleh faktor selain hutan rakyat, seperti pertanian atau mata pencaharian lain. Situasi demikian sangat berkaitan dengan faktor kesejahteraan ekonomi rumah tangga petani, dimana ternyata rata-rata pendapatan petani dari hutan rakyat hanya sebesar Rp2 617 683 per tahun di Desa Cikeusal dan Rp2 345 807 per tahun di Desa Kananga. Jumlah tersebut hanya sebesar 1.9% dan 4.2% dari rata-rata pendapatan total keluarga petani per tahun pada masing-masing desa. Disamping kecilnya proporsi kontribusi pendapatan hutan rakyat bagi pendapatan petani secara keseluruhan, ternyata jumlah petani hutan rakyat yang telah menikmati hasil pendapatan dari pemanenan kayu hanya 30 orang dari 69 petani hutan rakyat (44.9%) di Desa Cikeusal dan hanya 14 orang dari 45 petani (31.1%) di Desa Kananga. Hasil ini jauh lebih rendah dari hasil penelitian Attar (2000) di Desa Sumberejo Kabupaten Wonogiri, memperlihatkan bahwa hasil dari hutan rakyat memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap pendapatan rumah tangga petani. Hasil dari hutan rakyat memberikan kontribusi rata-rata 21.97% terhadap 52 pendapatan rumah tangga petani. Penelitian ini juga lebih kecil dibandingkan dengan hasil kajian Aji et al. (2011) pada petani PHBM Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan. Persentase rata-rata pendapatan perbulan dari kayu sebesar 35.79%, dari non kayu sebesar 54.45%, palawija 5.03% dan upah banjar harian 4.71%. Demikian juga hasil penelitian Setyadi (2009), yang mencatat kontribusi pendapatan hutan rakyat terhadap pendapatan total rata-rata antara 17.87%-20.30%. Penelitian ini juga lebih kecil dibandingkan dengan hasil kajian Diniyati (2007) yang menyatakan bahwa margin keuntungan petani hanya sebesar 6–12%. Tabel 25 Pendapatan responden di lokasi penelitian Pendapatan (Rp/bln) < Rp 1 juta Desa Cikeusal Jumlah (orang) 21 Desa Kananga % 30.4 Jumlah (orang) 14 % 31.1 Rp 1-2 juta 36 52.2 27 60.0 Rp 2-4 juta 8 11.5 4 8.9 > Rp 4 juta 4 5.9 0 0.0 69 100.0 45 100.0 Jumlah Kecilnya kontribusi pendapatan petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga menunjukkan indikasi kegagalan revolusi hijau di desa kebun dan hutan. Di lokasi penelitian terdapat kesenjangan antara pertanian dan kehutanan, karena tidak ada intensifikasi di kebun dan hutan rakyat. Sebagai perbandingan, distribusi pendapatan petani hutan rakyat pada masing-masing desa di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 25. Rendahnya kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan petani berkaitan dengan luas hutan rakyat. Semakin luas lahan hutan rakyat maka akan semakin tinggi tingkat pendapatan petani. Rata-rata luas hutan rakyat di kedua desa 0.32 ha belum memenuhi luas optimum yang dapat memberikan hasil break even point (BEP). Menurut Rochmayanto & Supriadi (2012) bahwa rendahnya pendapatan dari hutan rakyat disebabkan oleh belum dicapainya skala usaha (luas) yang optimum. Pada kasus hutan rakyat untuk kayu pulp (Acacia mangium) di Kuantan Singingi, Propinsi Riau, skala ekonomisnya dicapai jika luasnya lebih dari 6 ha per KK. Aji et al. (2011) juga menekankan syarat luas minimal bagi pengelolaan hutan bersama masyarakat agar diperoleh keuntungan memadai. Hasil penelitiannya pada program PHBM di Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan, ditemukan luas minimum sebesar 3.45 ha di Desa Kalimati, 1.67 ha di Desa Jabaranti. Sedangkan untuk luas minimun HKm berkisar antara 0.57 – 1.05 ha sesuai penelitiannya di Desa Simpang Sari, Desa Tugu Sari dan Desa Tribudi Syukur. Berdasarkan hal tersebut, kurangnya luas kelola hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga dapat juga menjadi salah satu penyebab rendahnya kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan petani. Salah satu upaya untuk meningkatkan kontribusi pendapatan adalah intensifikasi (melalui agroforestri). Menurut Sumarlan et al. (2012) rendahnya kinerja petani agroforestri Pegunungan Kendeng, tercermin dari rata-rata tingkat pendapatan, keragaman jenis pangan yang masih kurang dan jejaring bisnis sistem agroforestri yang tidak berkembang dengan baik. Rata-rata pendapatan petani berada di bawah pendapatan per kapita per tahun Kabupaten Pati. Hal tersebut disebabkan antara lain karena petani menjual hasil panen palawija dan kayu masih tergantung kepada tengkulak dan pemborong. 53 Padahal, hutan rakyat diharapkan mampu memberikan keuntungan ekonomi yang layak bagi para petani dan dapat mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Selain itu, ekspektasi adanya sertifikasi diharapkan petani akan memperoleh harga kayu yang lebih tinggi (harga premium). Namun pada kenyataannya peningkatan harga tersebut tidak terjadi. Pada pengelolaan hutan rakyat di Ciamis, Jawa Barat, penghasilan dari hutan rakyat diekspektasikan oleh petani berasal dari penjualan pohon, kelapa, kapulaga, pisang dan hasil hutan rakyat lainnya. Hasil dari penjualan tersebut dapat dimanfaatkan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) dan biaya anak sekolah (Achmad et al. 2012). Jika mencermati indikator kesejahteraan sosial sebagaimana penelitian Attar (2000), dimana meliputi bukti kepemilikan lahan yang jelas, tata guna lahan yang mantap, batas-batas kepemilikan lahan yang jelas dan hubungan antar petani dalam ikatan kerjasama sosial yang kuat dan terpenuhinya kebutuhan sosial psikologis petani. Menurut indikator tersebut kesejahteraan sosial di Desa Cikeusal dan Desa Kananga cukup baik, dimana seluruh anggota kelompok memiliki bukti pemilikan berupa SPPT dan batas lahan cukup jelas. Namun memang hubungan antar petani terlihat kurang, dimana pertemuan kelompok sangat jarang dilakukan dan tidak terkoordinasi dengan baik. Walaupun faktor partisipasi petani beserta sejumlah faktor yang berpengaruh terhadapnya, partisipasi petani bukan elemen tunggal yang mempengaruhi keberhasilan hutan rakyat (baik aspek kelestarian maupun kesejahteraan petani). Hutan rakyat memiliki masalah struktural yang kompleks dan bersinggungan antara berbagai elemen yang banyak, sehingga perlu mempertimbangkan pemecahan yang simultan (Hardjanto 2006) sehingga tetap harus mempertimbangkan faktor lain diluar partisipasi. Berkaitan dengan hal tersebut, faktor sejarah proses terjadinya hutan rakyat dan proses sertifikasi memegang peranan penting dalam mempengaruhi tingkat partisipasi dan bentuk partisipasi dalam hutan rakyat, serta pengaruhnya terhadap keberhasilan hutan rakyat secara keseluruhan. Maryudi (2005) menyatakan bahwa sertifikasi mulai tumbuh di beberapa daerah, kendati program sertifikasi belum banyak dikenal, namun tidak mampu memperbaiki partisipasi petani, kelestarian dan kesejahteraan petani hutan rakyat di Cikeusal dan Kananga. Proses sertifikasi di Desa Cikeusal dan Desa Kananga tidak diinisiasi oleh petani sendiri secara mandiri, tapi diinisiasi oleh Sucofindo yang difasilitasi Dinas Kehutanan Kabupaten. Secara operasional proses sertifikasi dikoordinasikan oleh LSM lokal. Jika dalam proses membangun kelompok dan pembangunan kapasitas petani hutan rakyat berjalan dengan baik, inisiasi dari pihak luar tidak menjadi masalah. Namun karena proses pemberdayaan tidak berjalan dengan baik, dimana penyuluhan tidak berjalan intensif dan kelompok tani secara mandiri tidak terbangun kapasitasnya sehingga cenderung relatif pasif serta proses pertukaran informasi hutan rakyat diantara petani tidak berjalan baik, maka partisipasi petani relatif rendah di lokasi penelitian, serta tidak mempengaruhi kualitas kelestarian dan kesejahteraan petani. Dalam proses SVLK, dijumpai juga indikasi elit lokal yang berkoalisi dengan pihak eksternal (Dinas Kehutanan dan LSM) melakukan tindakan top down sehingga partisipasi bersifat semu. Sebagai contoh, pengumpulan dokumen untuk pembuatan SPPT dilakukan kolektif atas koordinasi elit lokal. Pemahaman petani 54 yang rendah terhadap esensi sertifikasi lebih ditunjukkan oleh pemahaman sebagian besar petani dimana SVLK dianggap sebagai kegiatan pembuatan sertifikat tanah. Dampak lain dari proses pelibatan petani secara top down juga ditunjukkan oleh adanya friksi diantara anggota kelompok dan persepsi keproyekan pada kegiatan sertifikasi hutan rakyat. Keadaan tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas partisipasi. Mencermati karakteristik partisipasi sebagaimana diuraikan di atas, dalam pandangan yang lebih kritis dapat dianggap bahwa partisipasi merupakan perwujudan atau mencirikan sebagai perilaku tirani (Hickey & Mohan 2004). Menurut konsep partisipasi sebagai tirani ini, partisipasi diposisikan sebagai alat hegemoni kekuasaan tertentu untuk melegitimasi kekuasaan atau untuk kepentingan tertentu penguasa atau pemerintah atau pihak lain yang memiliki power lebih tinggi. Namun demikian, tidak juga bisa disebut bahwa partisipasi hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga merupakan tirani, karena penelitian ini tidak menjangkau aspek sosial politik partisipasi SVLK di Kabupaten Kuningan. Estimasi Kecocokan Model yang Dibangun Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modelling (SEM), dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang ada dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan metode estimasi Maksimum Likelihood (ML). Menurut Ramadiani (2010) bahwa estimasi ML digunakan untuk penelitian yang memiliki sampel di bawah 500. Data yang digunakan dalam pengukuran metode ML bersifat continuous, namun data ordinal dapat juga digunakan setelah dinormalisasikan. Estimasi dilakukan dengan berpedoman pada goodness of fit (GOF). Estimasi dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya estimasi pengganggu. Estimasi penganggu yaitu nilai-nilai yang bersifat anomali atau tidak masuk akal. Tabel 26 Goodness Of Fit Model Goodness-of-Fit RMR (Root Mean Square Residual) RMSEA(Root Mean Square Error of Approximation) GFI (Goodness of Fit) AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index) CFI ( Comparative Fit Index) NFI (Normed Fit Index) Cutt-off-Value ≥0.005atau ≤ 0.1 ≤ 0.08 ≥0.90 ≥0.90 ≥0.90 ≥0.90 Hasil Keterangan 0.082 Good Fit 0.060 Good Fit 0.92 Good Fit 0.88 Marginal Fit 0.97 Good Fit 0.81 Marginal Fit Tabel 26 merupakan tabel hasil GOF yang menunjukkan bahwa model sudah mampu menjelaskan teori yang dibangun dari data lapangan (model sudah fit/baik). Kriteria AGFI dan NFI menyatakan model berada pada hasil marginal fit. Hasil ini masih berada pada kriteria model SEM yang sudah fit. Ramadiani (2010) menyatakan bahwa uji kecocokan model dilakukan untuk menilai apakah data yang dikumpulkan sudah konsisten dan cocok dengan model. Jika model yang dinilai sudah cocok dengan data, maka model tersebut sudah benar dan baik menurut goodness of fit. Sebaliknya jika tidak, maka perlu dicari penyebabnya dan cara untuk memodifikasi model agar dapat diperoleh kecocokan data yang lebih baik. 55 Strategi Peningkatan Partisipasi Petani Hutan Rakyat Sebagai pendekatan proses pembangunan, yang dalam hal ini pembangunan kehutanan, partisipasi petani hutan rakyat harus diperhatikan agar tidak terjebak pada penciri tirani. Upaya untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi sangat penting untuk ditujukan sebagai cara memperbaiki kualitas partisipasi. Proses partisipasi di lokasi penelitian memberi pengaruh positif bagi kondisi biofisik hutan rakyat, namun belum cukup memberi pengaruh bagi kesejahteraan sosial dan ekonomi para pelaku pengelola hutan rakyat. Semua faktor tersebut masih memiliki kendala yang menghambat bagi pembentukan kesejahteraan petani. Tingkat partisipasi yang dicapai saat ini belum cukup menjangkau tercapainya kesejahteraan petani. Untuk itu diperlukan suatu upaya agar kualitas partisipasi beserta seluruh faktor yang mempengaruhinya dapat ditingkatkan sehingga berkontribusi positif bagi kesejahteraan petani. Berdasarkan hasil analisis antar faktor sebagaimana diuraikan sebelumnya, maka untuk meningkatkan partisipasi dan kualitas partisipasi petani sehingga memperbaiki kesejahteraan petani hutan rakyat diperlukan beberapa strategi sebagai berikut: 1. Penguatan faktor internal petani Strategi ini dilakukan mengingat unsur motivasi dan inisiatif lokal tidak muncul secara mandiri. Untuk memperbaiki kondisi ini, proses pendampingan petani sangat disarankan sehingga penyadaran individu dan kolektif dapat berjalan. Upaya ini perlu waktu cukup panjang, karena umumnya proses untuk membangkitkan kesadaran tidak mudah. Pendampingan yang terus menerus perlu dilakukan, jika tidak bisa dilakukan oleh pemerintah (Dinas Kehutanan), maka peran LSM menjadi sangat diharapkan. Sistem pendanaan di LSM justru lebih memungkinkan melakukan proses pendampingan dalam jangka panjang dibandingkan dengan sistem pendanaan pemerintah. Proses pendampingan ditujukan selain untuk mendorong tumbuhnya kesadaran dari dalam, juga diarahkan untuk membangun akumulasi pengetahun petani. Pendampingan yang intensif dan dilakukan sehari-hari dalam setiap kegiatan hutan rakyat, diharapkan membangun kualitas pengetahuan petani sehingga dapat mempengaruhi partisipasi dalam jangka panjang. 2. Penguatan faktor eksternal petani Kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan secara intensif, sebaiknya seminggu sekali atau minimal sebulan sekali. Demikian juga dengan pertemuan kelompok perlu dilakukan seminggu sekali atau minimal sebulan sekali. Keduanya penting karena dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan saling berbagi untuk menyelesaikan masalah dalam pengelolaan hutan rakyat. Fungsi penyuluhan dan pertemuan kelompok juga diperlukan dalam rangka menyatukan visi misi petani secara bersama, sehingga jika ada inisiatif mandiri dapat berkembang secara botton-up, difasilitasi oleh penyuluh, pemerintah dan LSM yang berkaitan dengan hutan rakyat. Peran penyuluh, pendamping dan kelompok tani juga diharapkan dalam meningkatkan akses informasi petani terhadap pengetahuan teknis dan informasi pasar dalam pengelolaan hutan rakyat. Melalui penyuluh dan pendamping, petani dapat dibantu mendapatkan informasi kepada sumber-sumber lain yang ada diluar Dinas Kehutanan dan 56 LSM, misalnya siaran radio, media cetak/majalah pertanian dan kelompok tani lain yang telah lebih dahulu berhasil di tempat lain. Kegiatan penguatan kelembagaan kelompok juga sangat diperlukan. Proses penguatan kelompok dapat ditujukan untuk penguatan kapasitas administratif, kapasitas manajerial dan juga kapasitas konseptual serta relasional. Perbaikan dan perubahan mekanisme pendanaan penyuluhan dan pendampingan yang selama ini dijalankan dengan pendekatan proyek, perlu diubah ke bentuk non keproyekan. Dengan demikian para penyuluh dan pendamping tidak bergantung kepada dana proyek dan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Orientasi jangka panjang dan berbasis proses juga lebih penting dibandingkan orientasi yang berbasis output dan jangka pendek. 3. Penguatan Kompetensi Petani Kompetensi petani baik kompetensi teknis, kompetensi konseptual maupun kompetensi relasional perlu dibangun/ difasilitasi oleh penyuluh, pemerintah dan LSM yang berkaitan dengan hutan rakyat melalui kegiatan pemberdayaan dan penguatan kapasitas (capacity building). Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain mulai dari training (pelatihan) berbagai teknik pengelolaan hutan rakyat, hingga training untuk meningkatkan pengetahuan pasar. Materi pelatihan dapat menyentuh pada materi-materi administratif dan manajemen kelompok serta hubungan masyarakat yang lebih luas. Sasaran penguatan kapasitas sebaiknya tidak terbatas pada tokoh-tokoh saja, tapi ditujukan pada semua anggota, sehingga kompetensi petani tersebar secara merata. 6 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga tergolong rendah, bersifat pasif dan bercirikan pendekatan top down. Partisipasi pada umumnya berbentuk tenaga dan materi, bukan berbentuk ide atau gagasan. Partisipasi terjadi pada semua tahapan hutan rakyat (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan). Representasi gender dalam kegiatan hutan rakyat sudah baik, tidak terdapat marginalisasi terhadap perempuan, tetapi terdapat indikasi stereotype dan beban ganda dengan kegiatan domestik reproduktif. Perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama dalam pelaksanaan dan pengelolaan hutan rakyat. Kemampuan dan alokasi waktu serta keterlibatan perempuan cukup tinggi sehingga program pemerintah terkait kehutanan dapat melibatkan perempuan tanpa ada hambatan kultural maupun teknis. Sifat partisipasi dipengaruhi secara nyata oleh faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi petani. Faktor internal yang berpengaruh adalah umur, luas kepemilikan hutan rakyat dan pengalaman petani. Sedangkan motivasi berpengaruh tidak signifikan terhadap faktor internal karena motivasi petani banyak didorong oleh pihak luar. Faktor eksternal petani (penyuluhan, kelompok tani dan akses informasi) memberikan pengaruh nyata terhadap partisipasi pengelolaan hutan 57 rakyat. Penyuluhan dan pertemuan kelompok telah menjadi sarana transfer pengetahuan bagi petani. Faktor kompetensi petani (teknis, konseptual dan relasional), hanya kompetensi relasional yang berpengaruh terhadap pembentukan kompetensi petani. Partisipasi petani berpengaruh nyata terhadap kelestarian hutan rakyat, partisipasi dan kelestarian hutan rakyat dipengaruhi secara langsung oleh faktor internal, faktor eksternal dan kompetensi petani. Namun kesejahteraan petani dipengaruhi tidak signifikan baik oleh faktor internal, faktor eksternal, kompetensi petani, partisipasi petani maupun kelestarian hutan rakyat. Saran Guna memperbaiki partisipasi petani dalam menunjang keberhasilan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga disarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Perlu pendampingan yang intensif terhadap kelompok tani, baik oleh Dinas Kehutanan, LSM atau instansi yang berkepentingan. 2. Perlu intensifikasi penyuluhan terkait teknik budi daya dan pengelolaan hutan rakyat kepada petani, baik oleh Dinas Kehutanan dan LSM setempat. 3. Perlu adanya intensifikasi pertemuan kelompok tani, baik oleh pengurus KTHR maupun Penyuluh Kehutanan. 4. Penguatan kompetensi petani melalui peningkatan kapasitas, meliputi: pengetahuan teknis, pengetahuan administrasi, manajerial, informasi pasar dan hubungan masyarakat. Penguatan kompetensi ini dapat dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Kehutanan, Dinas yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat di daerah serta LSM. 5. Intensifikasi hutan rakyat dengan sistem agroforestri merupakan salah satu bentuk yang dapat dilakukan oleh petani dengan memasukkan tanaman pertanian (porang, talas dan jagung) sehingga pendapatan jangka pendek dapat diperoleh. 6. Dinas Kehutanan, LSM dan Instansi terkait, perlu mengadakan pelatihan kepada para petani laki-laki maupun perempuan tentang pengelolaan hutan rakyat. DAFTAR PUSTAKA Achie. 2006. Kegagalan Hutan Berbasis Maskulin.[Internet]. [Waktu dan tempat pertemuan tidak diketahui]. Jakarta (ID): BRIK. [diunduh 2014 octl 10]. Tersedia pada: http://www.jurnal hijaiyah.com/2014/01/menggagas-hutanperempuan.html. Achmad B, Simon H, Diniyati D, Widyaningsih TS. 2012. Persepsi petani terhadap pengelolaan dan fungsi hutan rakyat di Kabupaten Ciamis. Jurnal Bumi Lestari. 12 (1): 123 – 136. Achmad B, Soleh M, Undang S, Dani SR. 2004. Kajian Tata Niaga Kayu Rakyat di Kabupaten Kuningan. Makalah Seminar Ekspose Terpadu Hasil-Hasil Penelitian. Yogyakarta (ID): Badan Litbang Kehutanan. 58 Aji GB, J. Suryanto, R. Yulianti, A. Wirati, Abdurrahman AY, Miranda TI. 2011. Strategi Pengurangan Kemiskinan di Desa-Desa Sekitar Hutan: Pengembangan Model PHBM dan HKm. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian Kependudukan. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ancok. 1995. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian. Di dalam: Singarimbun & Effendi S, editor. Metode Penelitian Survei. Jakarta (ID): LP3S. Arikunto S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VII. Bandung (ID): Rineka Cipta. Arupa. 2011. Hutan Rakyat Wonosobo [Internet]. tersedia pada http://arupa. or.id/ mitra/aphr-wonosobo/: [diunduh pada tanggal 26 Maret 2014]. Assyh N.2014. Efektifitas Implementasi Kebijakan Sertifikasi Legalitas Kayu di Hutan Rakyat (Kasus di Kabupaten Wonosobo Propinsi Jawa Tengah [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Attar M. 2000. Hutan Rakyat: Kontribusi Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani dan Perannya Dalam Perekonomian Desa (Kasus di Desa Sumberejo Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Di dalam: Suharjito D, editor. Hutan Rakyat di Jawa. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Awang SA, Widayati WT, Nugroho Y, Kustomo dan Spardjono. 2001. Gurat Hutan Rakyat di Kapur Selatan. Yogyakarta: Pustaka CV Debut Press. Azwar. 2003. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta (ID): Liberty. Bappenas.2001. Analisis Gender Dalam Pembangunan Pertanian. Aplikasi Gender Analysis Pathway. Jakarta (ID) : Bappenas. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Kabupaten Kuningan dalam Angka 2012. Kuningan (ID): BPS Kabupaten Kuningan. Blackburn, J. and J. Holland. 1997. Who Changes ? Institutionalizing Participation in Development. Cahyono A.S., N.P. Nugroho, N.A. Jariyah. 2005. Tinjauan faktor kelayakan, keuntungan dan kesinambungan pada pengembangan hutan rakyat. Jurnal Puslit Sosek dan Kebijakan Kehutanan Info Sosial Ekonomi. 5 (2): 99 – 107. Darusman D, Hardjanto. 2006. Tinjauan Ekonomi Hutan Rakyat. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan. Jakarta: Departemen Kehutanan. [Dishut] Dinas Kehutanan. 2012. Profil Kehutanan. Jawa Barat (ID): Dishut Jabar. [Dephut] Departemen Kehutanan.1999. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Jakarta (ID). -----------. 2004. Buku Pintar Penyuluhan Kehutanan. Jakarta: Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan. Dewi SB, Slamet BY, Nurbaya L. 2004. Peranan hutan rakyat dan sistem pengelolaannya terhadap pendapatan petani di Desa Wates dan Tambah Rejo Kec. Gading Rejo Kab. Tanggamus. Jurnal Hutan Rakyat. VI (2): 65 – 84. Diniyati D. 2007. Hutan rakyat terus merakyat. Jurnal Al-Basia. 4(1): 1 – 5. 59 Diniyati D, Awang SA. 2010. Kebijakan penentuan bentuk insentif pengembangan hutan rakyat di wilayah Gunung Sawal Kabupaten Ciamis. dengan metoda ahp. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. 7 (2): 129 – 143. Djajapertjunda S. 2003. Mengembangkan Hutan Milik Di Jawa. Alqaprint Jatinangor. Sumedang. Kurniadi E. 2013. Strategi Pengembangan Kemitraan Pengelolaan Hutan Rakyat: Kasus Di Propinsi Jawa Barat [Disertasi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor. Effendi S. 1995. Prinsip-Prinsip Pengukuran & Penyusunan Skala. Di dalam Singarimbun M, Effendi S, editor. Metode Penelitian Survey. Jakarta (ID): LP3ES. Fakih M. (1997). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta (ID): Pustaka Pelajar. Fauzi. A. 2009. Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Hutan Rakyat (Kasus di Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga Propinsi Jawa Tengah). [Tesis]. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Hapsari D T, Suprijanto, M Sangen, Susilawati. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat pada kebun bibit rakyat (studi kasus pengadaan bibit karet untuk petani di Kota Banjarbaru). Jurnal Enviro Scienteae. 8 (2012): 55 – 61. Hardjanto. 2006. Model struktural sistem usaha kayu rakyat. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. 12 (2): 57-68. -----------. 2001. Kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan rumah tangga di Sub Das Cimanuk Hulu. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. 7 (2): 47 – 61. -----------. 2000. Pengusahaan Hutan Rakyat di Jawa. Di dalam: Suharjito D, editor. Hutan Rakyat di Jawa. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Hickey S, and Mohan G (eds). 2004. Participation: from Tyranny to Transformation ? Exploring New Approaches to Participation in Development. Zed Books. London, New York. Hidayati F U. 2003. Optimasi Penggunaan Sumberdaya Pertanian pada Lahan Sawah Beririgasi Teknis dengan Berbagai Pola Tanam di Kabupaten Demak. Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang. Jawa Tengah. Hikmat H. 2004. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Penerbit Humaniora. Irawan E. 2011. Prospek partisipasi petani dalam program pembangunan hutan rakyat untuk mitigasi perubahaan iklim di Wonosobo. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Volume 12 (1): ): 67 – 76. Jariyah, Nur Ainun, Wahyuningrum, Nining. 2008. Karakteristik hutan rakyat di Jawa. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. 5 (1): 43 – 56. Karsidi R. 2003. Pemberdayaan Masyarakat Petani dan Nelayan Kecil. Di dalam: Yustina I & Sudrajat A, editor. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press. Kartasubrata J. 2003. Social Forestry dan Agroforestri di Asia. Bogor: Laboratorium Politik dan Sosial Kehutanan Fakultas Kehutanan IPB. Kismiyati T. 2004. Kompetensi Pustakawan. Makalah disampaikan pada Pelatihan Perpustakaan Perguruan Tinggi, tanggal 28 September 2004 di Cisarua, Bogor. 60 Kerlinger FN. 1995. Foundation of behavioral research (Terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Khairuddin. 1992. Pembangunan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Liberty. Kurniadi E. 2013. Strategi Pengembangan Kemitraan Pengelolaan Hutan Rakyat: Kasus Di Propinsi Jawa Barat [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Leimona B S, Amanah, Pasha R, Wijaya CI. 2013. Gender dalam Skema Imbal Jasa Lingkungan Studi Kasus di Singkarak, Sumberjaya, dan Sesaot. Kerjasama World Agroforestri Centre South Asia Regional Program, The Indonesian Institute for Forest and Environment (RMI) dan Pusat Kajian Gender dan Anak IPB. Bogor. Maryudi. 2005. Strategi Sertifikasi Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari. Makalah pada Seminar Nasional “Pengembangan Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Rakyat”. Diselenggarakan di Yogyakarta pada 12 Desember 2005. Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, UGM. Yogyakarta. Monografi Kecamatan Cimahi. 2013. Cimahi Dalam Angka 2013.Cimahi (ID). Nasution Z. 2007. Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Nazir M. 2011. Metode Penelitian. Bogor (ID): Ghalia Indonesia Ndraha T. 1990. Pembangunan Masyarakat. Bandung (ID): Rineka Cipta. Pambudy R. 2003. Penyuluhan dalam Sistem dan Usaha Agribisnis: Strategi Pengembangan Manusia Indonesia. Di dalam: Yustina I & Sudrajat A, editor. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press. [Permenhut] Peraturan Menteri Kehutanan. 2014. Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak. Jakarta (ID). Priyambodo. 2010. Hutan Rakyat Jawa pasok 40% Kebutuhan Kayu [Internet]. tersedia pada: http//www.antaranews.com. [diunduh tanggal 26 Maret 2014]. Profil Desa. 2013. Monografi dan Potensi Desa Cikeusal.Cikeusal (ID). Profil Desa. 2013. Monografi dan Potensi Desa Kananga. Kananga (ID). Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan . 2002. Buku Saku Penyuluhan Kehutanan. Pusbinluhhut. Jakarta (ID): Departemen Kehutanan. Puspitawati H. 2012. Gender dan Keluarga. Konsep, Teori Dan Analisis Gender. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Rahayu YDS, Awang SA. 2003. Analisis jender dalam pengelolaan hutan rakyat (kasus di Desa Pecekelan, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo. Jurnal Hutan Rakyat. 5(1): 9 – 35. Ramadiani. 2010. SEM dan Lisrel untuk Analisis Multivariate. Jurnal Sistem Informasi [internet]. (Tanggal diperbaharui, 2010 April [diunduh tanggal 20 Juni 2015] 179-188. Tersedia pada file://C:/User/user/Downloads/722-1881-1PB.pdf. Rees S. 1991. Achieving Power: Practice And Policy In Social Welfare. North Sydney. Alle and Unwim Pty. 61 Rejeki NS. 1998. Perencanaan Program Penyuluhan. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atmajaya. Ritchie B, McDougall C, Haggith M, N. B. de Oliveira. 2001. Pedoman Pendahuluan: Kriteria dan Indikator Kelestarian Hutan yang Dikelola oleh Masyarakat. Jakarta: Center for International Forestry Research. Rochmayanto Y, N. Sakuntaladewi, L.R. Wibowo. P. Kurniasih. 2013. Woman in Climate Change: Gender Representation in Reducing Poverty and Protecting Livelihood in Mountainous Ecosystem at Solok District, West Sumatera. International Conference of Indonesian Forestry Researchers. 27-28 August 2013. Forestry Research and Development Agency. Jakarta. Rochmayanto Y, R. Supriadi. 2012. Skala ekonomis usaha hutan rakyat kayu pulp di Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. 9 (2): 87 – 95. Sajogyo P. 1990. Peranan Wanita dalam Perhutanan Sosial Suatu Studi Integrasi Wanita dalam Pembangunan Kehutanan Menuju Era Tinggal Landas. Pusat Studi Wanita. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Sari N, Golar, B. Toknok. 2013. Kelembagaan kelompok tani hutan program pendampingan scbfwm di sekitar sub daerah aliran sungai miu (kasus Desa Pakuli, Kecamatan Gumbasa, Kab. Sigi). Jurnal Warta Rimba. 1 (1). 1 – 8. Sarwono J. 2007. Analisis Jalur Untuk Riset Bisnis Dengan SPSS. Yogyakarta (ID): Andi Yogyakarta. Sedarmayanti. 2003. Good Governance (Kepemerintahan yang Baik) Dalam Rangka Otonomi Daerah: Upaya Membangun Organisasi Efektif dan Efisiensi Melalui Restrukturisasi dan Pemberdayaan. Bandung: Mandar Maju. Setyadi LB. 2009. Analisis Kelayakan Usaha dan Kontribusi Pengelolaan Hutan Rakyat Koperasi Hutan Jaya Lestari, Kabupaten Konawe Selatan, Propinsi Sulawesi Tenggara. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor: IPB. Sevilla CG, Ochave JA, Punsalan TG, Regala BP, Uriarte GG. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta (ID): UI Press. Slamet M. 2003. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan PeDesaan. Di dalam: Yustina I & Sudrajat A, editor. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press. Soekanto S. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Spencer LM, Spencer SM. 1993. Competence at Work. New York: John Wiley & Sons Inc. Sudiana E, Hanani N, Yanuwiadi B, Soemarno. 2009. Pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan di Kabupaten Ciamis. Jurnal Agritek. 17 (3): 543 – 555. Suharjito D. 2000. Hutan Rakyat di Jawa. Di dalam: Suharjito D, editor. Hutan Rakyat di Jawa. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Suharjito D. 2000. Karakteristik Pengelolaan Hutan Berbasiskan Masyarakat. Studi Kolaboratif FKKM. Yogyakarta. 62 Sumardjo.1999. Transformasi Model Penyuluhan Pertanian Menuju Pengembangan Kemandirian Petani: Kasus Di Propinsi Jawa Barat [Disertasi). Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Sumarlan, Sumardjo, P. Tjitropranoto, D.S. Gani. 2012. Peningkatan kinerja petani sekitar hutan dalam penerapan sistem agroforestri di Pegunungan Kendeng Pati. Jurnal Agro Ekonomi. 30 (1): 25 – 39. Sumodiningrat G. 2004. Otonomi Daerah dalam Penanggulangan Kemiskinan. Jakarta: Sekretariat Wapres. Suprapto E. 2010. Hutan Rakyat: Aspek Produksi, Ekologi dan Kelembagaan. Makalah pada pada Seminar Nasional Kontribusi Pengurangan Emisi Karbon dari Kawasan Hutan yang Dikelola Masyarakat Secara Lestari dan Berkelanjutan. Seminar diselenggarakan oleh FWI, di Grand Cemara Hotel Jakarta, 29 Juli 2010. Suprayitno RA, Sumardjo, Gani DS, Sugihen BG. 2011. Model peningkatan partisipasi petani sekitar hutan dalam pengelolaan hutan kemiri rakyat: kasus pengelolaan hutan kemiri kawasan Pegunungan Bulusaraung Kabupaten Maros Propinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Sosial & Ekonomi Kehutanan. 8 (3): 176 – 195. Susanto AB. 2003. Competency-Based HRM. http://www.jakartaconsulting.com/ extra corner archive 12.html. [ 21 April 2014]. Suryaningsih, W.H., Purnaweni, H., M. Izzati. 2012. Persepsi dan perilaku masyarakat dalam upaya pelestarian hutan rakyat di Desa Karangrejo Kecamatan Loano Kab. Purworejo. Jurnal EKOSAINS. 4 (3), November 2012. Suwardi. 2010. Analisis Gender Dalam Kegiatan Pengelolaan Hutan Rakyat Dan Kontribusi Hutan Rakyat Terhadap Pendapatan Rumah Tangga (Kasus Hutan Rakyat Di Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Thrupp L.A, B. Cabarle, A. Zazueta. 1994. Participative Method and Political Process: Linking grassroot action towards policy making for sustainable development in Latin America. In Ian Scoones & John Thompson (eds). Beyond Farmer First: Rural people’s knowledge, agricultural research and extension practice. Intermediate technology Publications. London. Waskito B. 2000. Hutan Rakyat: Studi Kemungkinan Pengembangan (Kasus di Desa Gunungsari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah). Di dalam: Suharjito D, editor. Hutan Rakyat di Jawa. Bogor (ID): Fakultas Kehutanan IPB. Yudischa R, C. Wulandari, R. Hilmanto. 2014. Dampak partisipasi wanita dan faktor demografi dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan (hkm) terhadap pendapatan keluarga di Lampung Barat. Jurnal Sylva Lestari. 2 (3): 59 – 72. Yumi. 2011. Model Pengembangan Pembelajaran Petani Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari (Kasus di Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Dan Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah). [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Bogor. 63 Yumi, Sumardjo DS, Gani, B.G. Sugihen. 2012. Kelembagaan pendukung pembelajaran petani dalam pengelolaan hutan rakyat lestari (kasus di Kab. Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah). Jurnal Penyuluhan. 8 (1): 15 – 28. 64 LAMPIRAN 65 Lampiran 1 Jenis, sumber dan teknik pengumpulan data partisipasi petani No. Data Sumber data A. Kondisi umum lokasi 1. Kondisi geografis, monografi Kantor Dishutbun, dan kondisi umum lainnya Kantor penyuluhan pertanian dan 2. Luas dan potensi hutan rakyat kehutanan, Kantor Desa, Kantor Kecamatan, Kabupaten dalam angka B. Partisipasi petani hutan rakyat 1. Partisipasi dalam perencanaan Petani hutan rakyat 2. Partisipasi dalam pelaksanaan 3. Partisipasi dalam pemanfaatan C. Faktor Internal Petani 1. Umur 2. Jumlah tanggungan keluarga Petani hutan rakyat 3. Luas lahan hutan rakyat 4. Pengalaman berusaha tani 5. Motivasi berusaha D. Faktor Eksternal Petani 1. Penyuluhan kehutanan 2. Kelompok tani hutan Petani hutan rakyat 3. Sumber informasi E. Kompetensi Petani 1. Kompetensi teknis Petani hutan rakyat 2. Kompetensi konseptual 3. Kompetensi relasional F. Kelestarian Hutan Rakyat 1. Kepemilikan lahan 2. Pemenuhan terhadap aspek Kelompok Tani Hutan ketenagakerjaan Rakyat 3. Pemenuhan aspek lingkungan dan sosial yang terkait dengan penebangan G. Kesejahteraan Petani 1. Kesejahteraan sosial Petani hutan rakyat 2. Kesejahteraan ekonomi Teknik Studi pustaka, wawancara Wawancara dan observasi Wawancara dan observasi Wawancara dan observasi Wawancara dan observasi Wawancara dan observasi Wawancara dan observasi 66 Lampiran 2 Jenis, sumber dan teknik pengumpulan data representasi gender No. A. B. C. D. Data Kegiatan Produktif Pengelolaan HR 1. Persiapan lahan 2. Penanaman 3. Pemeliharaan 4. Pemanenan 5. Pemasaran hasil panen Kegiatan Produktif Pengelolaan Non HR 1. Usaha beternak 2. Usaha berdagang 3. Usaha berkebun 4. Usaha Jasa 5. Buruh tani 6. Bertani Kegiatan Reproduktif 1. Kegiatan memasak 2. Mencari kayu bakar 3. Mencuci pakaian 4. Mengasuh anak 5. Mengantar anak kesekolah 6. Membersihkan rumah 7. Memperbaiki rumah Pengambilan keputusan 1. Pemilihan jenis tanaman HR 2. Pemilihan jenis tanaman pertanian 3. Pengaturan jadwal kerja keluarga 4. Pemeliharaan ternak 5. Panen hasil hutan rakyat 6. Panen hasil pertanian 7. Menghadiri pertemuan KTHR 8. Membelanjakan uang keluarga 9. Meminjam uang untuk keluarga 10. Melanjutkan pendidikan anak 11. Menghadiri undangan sekolah 12. Belanja alat rumah tangga 13. Membeli menu makanan Sumber Data Teknik Wawancara dan observasi Petani Hutan Rakyat Petani Hutan Rakyat Wawancara dan observasi Petani Hutan Rakyat Wawancara dan observasi Petani Hutan Rakyat Wawancara dan observasi 67 Lampiran 3 Daftar Nama Responden Kelompok Tani Hutan Rakyat Desa Cikeusal No Jenis kelamin Pekerjaan Utama Umur (thn) Pendidikan Luas HR (ha) Pengalaman (thn) 1 L Petani 52 SD 0.29 15 2 P Dagang 46 SD 0.14 8 3 L Buruh bangunan 56 SD 0.02 17 4 L Petani 55 SD 0.64 10 5 L Peternak 62 Tidak tamat SD 0.16 22 6 L Pamong Desa 28 SLTA 1.75 5 7 P Pedagang 63 Tidak tamat SD 0.10 12 8 P Petani 51 Tidak sekolah 0.05 12 9 L Petani 57 SD 0.45 15 10 P Petani 59 Tidak tamat SD 0.15 10 11 P Petani 60 SD 0.20 19 12 L Petani 77 Tidak sekolah 0.33 20 13 P Petani 48 SD 0.15 12 14 L Pedagang 25 SD 1.16 3 15 P Buruh tani 47 SD 0.02 10 16 L Buruh bangunan 51 SD 0.28 15 17 P Petani 39 SLTP 0.40 9 18 L Petani 58 SD 0.20 15 19 L Petani 63 Tidak tamat SD 0.15 16 20 P Petani 62 Tidak sekolah 0.24 30 21 L Wiraswasta 49 SD 1.13 15 22 L Petani 70 SD 0.42 19 23 L Petani 43 SD 0.27 11 24 P Petani 50 SD 0.44 18 25 P Petani 56 SD 0.37 17 26 P Petani 26 SLTP 0.47 3 27 P Petani 67 SD 0.39 18 28 L Petani 58 SD 0.66 15 29 P Petani 41 SD 0.67 8 30 L Petani 59 SD 0.61 14 31 L PNS 47 S1 1.00 7 32 P Buruh tani 66 Tdk tamat Sd 0.25 13 33 L Petani 54 Tdk tamat Sd 0.09 11 34 L Petani 55 SD 0.48 16 35 L Petani 45 SD 0.39 12 36 L Petani 37 SD 0.59 10 37 L Pedagang 74 Tidak sekolah 0.28 20 38 39 L L Petani Dagang 52 40 SD SLTP 0.25 0.10 15 10 40 L Petani 44 SD 0.19 11 41 L Pegawai swasta 50 SLTP 0.34 9 68 Jenis kelamin No Pekerjaan Utama Umur (thn) Pendidikan Luas HR (ha) Pengalaman (thn) 42 L Wiraswasta 32 SLTP 0.45 6 43 L Petani 63 SD 0.12 15 44 L Petani 51 SD 0.16 9 45 L Petani 72 Tidak tamat SD 0.08 20 46 P Petani 54 SD 0.21 17 47 P Petani 50 SD 0.32 15 48 L Petani 45 SLTP 0.28 10 49 P Pedagang 57 SD 0.27 12 50 L Petani 63 SD 0.36 15 51 L PNS 53 S1 0.62 12 52 L Pedagang 58 SD 0.28 14 53 L Petani 63 Tidak tamat SD 0.14 11 54 P Petani 59 SD 0.02 17 55 L Petani 54 SD 0.16 16 56 L Wiraswasta 43 SD 0.18 11 57 L Petani 70 Tidak tamat SD 0.33 25 58 P Pedagang 56 SD 0.42 15 59 L PNS 52 S1 0.31 10 60 L Petani 54 SD 0.13 10 61 L Tukang Kayu 62 Tidak tamat SD 0.45 21 62 L PNS 52 S1 0.86 12 63 P Petani 46 SD 0.20 9 64 L Petani 45 SD 0.33 7 65 P Pedagang 56 SD 0.16 10 66 L Petani 70 SD 0.40 25 67 L Petani 57 SD 0.42 9 68 L Petani 60 Tidak tamat SD 0.55 16 69 P Penjahit 67 SD 0.10 20 Desa Kananga No. Jenis kelamin Pekerjaan utama Umur (thn) Pendidikan Luas HR (ha) Pengalaman (thn) 70 L Petani 62 Tidak tamat SD 0.15 18 71 L Petani 75 Tidak sekolah 0.20 20 72 L Tukang bangunan 52 SD 0.14 12 73 P Petani 66 SD 0.09 14 74 L Petani 52 SD 0.58 6 75 L Petani 71 Tidak sekolah 0.68 20 76 L Petani 67 SD 0.27 21 77 L Petani 60 SD 0.18 13 78 L Kesra 51 SD 0.17 15 79 L Petani 77 SD 0.28 25 69 No. Jenis kelamin Pekerjaan utama Umur (thn) Pendidikan Luas HR (ha) Pengalaman (thn) 80 L Petani 63 Tidak tamat SD 0.26 12 81 L Petani 59 SD 0.26 20 82 P Pedagang 37 SLTP 0.17 5 83 L Petani 63 SD 0.19 15 84 L Petani 57 Tidak tamat SD 0.44 6 85 L Petani 65 SD 0.19 18 86 P Petani 73 SD 0.37 20 87 P Petani 63 SD 0.15 19 88 L Petani 64 Tidak tamat SD 0.11 16 89 L Petani 69 SD 0.41 15 90 L Petani 46 SD 0.16 10 91 L Petani 61 Tidak tamat SD 0.32 16 92 P Petani 56 SD 0.04 20 93 P Petani 61 Tidak tamat SD 0.32 10 94 L Petani 74 Tidak sekolah 0.15 20 95 L Petani 63 SD 0.28 12 96 L Pedagang 48 SLTA 0.54 6 97 L Petani 42 SD 0.20 10 98 P Petani 59 SD 0.09 14 99 P Petani 43 SD 0.17 15 100 L Petani 57 SD 0.61 13 101 P Petani 50 SD 0.25 17 102 L Petani 71 Tidak tamat SD 0.46 20 103 P Petani 67 Tidak tamat SD 0.47 12 104 L Petani 72 Tidak sekolah 0.13 25 105 P Petani 61 SD 0.08 20 106 L Petani 55 SD 0.05 20 107 P Petani 68 SD 0.24 20 108 L Petani 47 SD 0.26 12 109 L Lurah 42 SLTA 0.14 10 110 L Pedagang 46 SD 1.33 15 111 P Petani 65 SD 0.06 16 112 L Petani 58 SD 0.42 13 113 L Petani 70 SD 0.12 25 114 L Petani 69 Tidak tamat SD 0.48 20 70 Lampiran 4 Output SEM dengan Lisrel DATE: 6/15/2015 TIME: 15:46 L I S R E L 8.30 BY Karl G. Jöreskog & Dag Sörbom This program is published exclusively by Scientific Software International, Inc. 7383 N. Lincoln Avenue, Suite 100 Chicago, IL 60646-1704, U.S.A. Phone: (800)247-6113, (847)675-0720, Fax: (847)675-2140 Copyright by Scientific Software International, Inc., 1981-99 Use of this program is subject to the terms specified in the Universal Copyright Convention. Website: www.ssicentral.com The following lines were read from file :\TESIS\DATA2.SPJ: Observed Variables X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X2.1 X2.2 X2.3 X3.1 X3.2 X3.3 Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y2.1 Y2.2 Y2.3 Y3.1 Y3.2 Correlation Matrix From File D:\TESIS\TESISH~1\15JUNI~1\DATA2.COR Sample Size = 114 Latent Variables X1 X2 X3 Y1 Y2 Y3 Relationships X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 = X1 X2.1 X2.2 X2.3 = X2 X3.1 X3.2 X3.3 = X3 Y1.1 Y1.2 Y1.3 = Y1 Y2.1 Y2.2 Y2.3 = Y2 Y3.1 Y3.2 = Y3 Y1 = X1 X2 X3 Y2 = X1 X2 X3 Y1 Y3 = X1 X2 X3 Y1 Y2 Path Diagram OPTIONS ME=UL AD=OFF IT=800 SET THE CORRELATION BETWEEN Y1 AND Y2 EQUAL TO 0.1 SET THE CORRELATION BETWEEN Y2 AND Y3 EQUAL TO 0.1 SET THE ERROR VARIANCE OF Y3 EQUAL TO 0.1 SET THE ERROR VARIANCE OF X1.1 EQUAL TO 0.1 SET THE ERROR VARIANCE OF Y3.2 EQUAL TO 0.1 SET THE ERROR VARIANCE OF X3.3 EQUAL TO 0.1 71 Lampiran 4 Lanjutan SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN Y2 AND Y1 EQUAL TO 0.1 SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X1.3 AND Y2.2 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X3.1 AND X1.2 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X3.1 AND X2.3 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X3.2 AND Y3.1 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X2.2 AND Y1.1 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X2.3 AND Y1.3 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X2.3 AND Y2.3 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X2.3 AND X1.1 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X2.3 AND X1.4 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X3.1 AND X1.1 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X3.1 AND X1.4 TO FREE SET THE ERROR COVARIANCE BETWEEN X1.5 AND Y1.1 TO FREE End of Problem Sample Size = 114 Correlation Matrix to be Analyzed Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y2.1 Y2.2 Y2.3 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y1.1 1.00 Y1.2 0.01 1.00 Y1.3 0.45 0.08 1.00 Y2.1 -0.11 0.03 -0.16 1.00 Y2.2 -0.42 0.01 -0.35 0.14 1.00 Y2.3 0.45 -0.09 0.54 -0.12 -0.32 1.00 Y3.1 -0.02 -0.10 -0.04 -0.02 -0.04 -0.06 Y3.2 0.22 0.04 0.42 -0.15 -0.23 0.51 X1.1 -0.30 0.07 -0.03 0.02 0.19 -0.15 X1.2 -0.16 0.05 -0.05 0.02 0.03 -0.10 X1.3 0.18 -0.20 0.09 -0.03 -0.41 0.24 X1.4 -0.20 0.02 -0.05 0.00 0.14 -0.10 X1.5 0.28 0.06 0.13 -0.13 -0.21 0.12 X2.1 0.25 0.15 0.11 -0.08 -0.01 0.08 X2.2 0.41 0.05 0.21 -0.02 -0.07 0.06 X2.3 0.10 -0.08 -0.10 0.14 -0.04 -0.06 X3.1 0.09 0.05 0.00 0.00 -0.05 0.03 X3.2 -0.11 -0.18 0.10 -0.08 0.09 0.04 X3.3 0.22 0.00 0.57 0.00 -0.26 0.38 72 Lampiran 4 Lanjutan Correlation Matrix to be Analyzed Y3.1 Y3.2 X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y3.1 1.00 Y3.2 0.08 1.00 X1.1 -0.03 -0.14 1.00 X1.2 -0.11 0.12 -0.23 1.00 X1.3 0.22 0.22 -0.32 -0.03 1.00 X1.4 0.01 -0.01 0.75 -0.20 -0.27 1.00 X1.5 0.18 0.12 0.03 0.00 0.09 0.03 X2.1 -0.04 0.08 -0.33 0.15 -0.10 -0.14 X2.2 0.02 0.12 -0.15 0.00 -0.08 -0.03 X2.3 -0.08 -0.01 -0.45 0.18 0.20 -0.43 X3.1 -0.14 0.00 -0.37 0.36 0.13 -0.43 X3.2 0.25 0.11 0.10 -0.02 0.17 0.07 X3.3 -0.17 0.29 0.00 0.01 0.05 -0.04 Correlation Matrix to be Analyzed X1.5 X2.1 X2.2 X2.3 X3.1 X3.2 -------- -------- -------- -------- -------- -------X1.5 1.00 X2.1 0.13 1.00 X2.2 0.25 0.52 1.00 X2.3 -0.09 0.32 0.19 1.00 X3.1 -0.04 0.18 0.08 0.38 1.00 X3.2 -0.13 -0.16 -0.08 -0.15 0.00 1.00 X3.3 0.10 0.08 0.10 -0.05 0.10 0.19 Correlation Matrix to be Analyzed X3.3 -------X3.3 1.00 Number of Iterations =150 73 Lampiran 4 Lanjutan LISREL Estimates (Unweighted Least Squares) Y1.1 = 0.60*Y1, Errorvar.= 0.64 , R² = 0.36 (0.096) (0.16) 6.25 3.95 Y1.2 = 0.0046*Y1, Errorvar.= 1.00 , R² = 0.00 (0.093) (0.13) 0.050 7.52 Y1.3 = 0.75*Y1, Errorvar.= 0.44 , R² = 0.56 (0.19) (0.19) 3.89 2.27 Y2.1 = 0.18*Y2, Errorvar.= 0.97 , R² = 0.032 (0.024) (0.13) 7.39 7.24 Y2.2 = 0.48*Y2, Errorvar.= 0.77 , R² = 0.23 (0.91) (0.14) 0.52 5.37 Y2.3 = - 0.69*Y2, Errorvar.= 0.52 , R² = 0.48 (1.28) (0.19) -0.54 2.69 Y3.1 = - 0.0066*Y3, Errorvar.= 1.00 , R² = 0.00 (0.065) (0.13) -0.10 7.69 Y3.2 = 0.81*Y3, Errorvar.= 0.10, R² = 0.90 (0.63) 1.29 X1.1 = 0.97*X1, Errorvar.= 0.10, R² = 0.90 (0.060) 16.25 X1.2 = - 0.20*X1, Errorvar.= 0.96 , R² = 0.041 (0.070) (0.14) -2.90 7.05 X1.3 = - 0.35*X1, Errorvar.= 0.87 , R² = 0.13 (0.072) (0.14) -4.95 6.04 74 Lampiran 4 Lanjutan X1.4 = 0.73*X1, Errorvar.= 0.46 , R² = 0.54 (0.087) (0.19) 8.48 2.49 X1.5 = - 0.074*X1, Errorvar.= 0.99 , R² = 0.0054 (0.068) (0.13) -1.08 7.46 X2.1 = 0.87*X2, Errorvar.= 0.24 , R² = 0.76 (0.15) (0.30) 5.63 0.80 X2.2 = 0.59*X2, Errorvar.= 0.66 , R² = 0.34 (0.11) (0.19) 5.27 3.45 X2.3 = 0.37*X2, Errorvar.= 0.86 , R² = 0.14 (0.090) (0.15) 4.10 5.94 X3.1 = 0.11*X3, Errorvar.= 0.99 , R² = 0.012 (0.072) (0.13) 1.49 7.85 X3.2 = 0.12*X3, Errorvar.= 0.99 , R² = 0.015 (0.078) (0.13) 1.56 7.57 X3.3 = 0.96*X3, Errorvar.= 0.10, R² = 0.90 (0.068) 14.02 Error Covariance for X1.3 and Y2.2 = -0.36 (0.096) -3.76 Error Covariance for X1.5 and Y1.1 = 0.27 (0.095) 2.82 Error Covariance for X2.2 and Y1.1 = 0.29 (0.11) 2.69 Error Covariance for X2.3 and Y1.3 = -0.19 (0.10) -1.89 75 Lampiran 4 Lanjutan Error Covariance for X2.3 and Y2.3 = -0.09 (0.096) -0.97 Error Covariance for X2.3 and X1.1 = -0.36 (0.10) -3.53 Error Covariance for X2.3 and X1.4 = -0.36 (0.098) -3.68 Error Covariance for X3.1 and X1.1 = -0.36 (0.090) -4.05 Error Covariance for X3.1 and X1.2 = 0.36 (0.096) 3.80 Error Covariance for X3.1 and X1.4 = -0.42 (0.091) -4.68 Error Covariance for X3.1 and X2.3 = 0.37 (0.095) 3.96 Error Covariance for X3.2 and Y3.1 = 0.25 (0.094) 2.64 Y1 = - 0.15*X1 + 0.25*X2 + 0.60*X3, Errorvar.= 0.51, R² = 0.49 (0.063) (0.077) (0.069) -2.39 3.22 8.68 Y2 = - 3.21*Y1 - 0.21*X1 + 0.79*X2 + 1.38*X3, Errorvar.= 1.38, R² = 0.38 (0.49) (0.071) (0.11) (0.20) -6.53 -2.94 7.19 6.81 Y3 = 3.52*Y1 + 2.13*Y2 - 0.21*X1 - 0.79*X2 - 0.60*X3, Errorvar.= 0.10, R² = 0.93 (9.24) (27.41) (0.70) (1.29) (0.92) 0.38 0.078 -0.30 -0.61 -0.66 Error Covariance for Y2 and Y1 = 0.93 Error Covariance for Y3 and Y2 = 0.56 76 Lampiran 4 Lanjutan Correlation Matrix of Independent Variables X1 X2 X3 -------- -------- -------X1 1.00 X2 -0.27 (0.07) -3.74 1.00 X3 -0.03 0.08 (0.07) (0.09) -0.40 0.95 1.00 Covariance Matrix of Latent Variables Y1 Y2 Y3 X1 X2 X3 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y1 1.00 Y2 -1.10 1.00 Y3 0.59 -0.81 1.36 X1 -0.24 0.29 -0.19 1.00 X2 0.34 -0.13 0.14 -0.27 1.00 X3 0.62 -0.54 0.38 -0.03 0.08 1.00 Goodness of Fit Statistics Degrees of Freedom = 128 Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 179.70 (P = 0.0018) Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 51.70 90 Percent Confidence Interval for NCP = (20.28 ; 91.16) Minimum Fit Function Value = 1.28 Population Discrepancy Function Value (F0) = 0.46 90 Percent Confidence Interval for F0 = (0.18 ; 0.81) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) = 0.060 90 Percent Confidence Interval for RMSEA = (0.037 ; 0.079) P-Value for Test of Close Fit (RMSEA < 0.05) = 0.21 Expected Cross-Validation Index (ECVI) = 2.69 90 Percent Confidence Interval for ECVI = (2.41 ; 3.04) ECVI for Saturated Model = 3.36 ECVI for Independence Model = 7.16 77 Lampiran 4 Lanjutan Chi-Square for Independence Model with 171 Degrees of Freedom = 770.93 Independence AIC = 808.93 Model AIC = 303.70 Saturated AIC = 380.00 Independence CAIC = 879.92 Model CAIC = 535.35 Saturated CAIC = 1089.88 Root Mean Square Residual (RMR) = 0.082 Standardized RMR = 0.082 Goodness of Fit Index (GFI) = 0.92 Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) = 0.88 Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) = 0.62 Normed Fit Index (NFI) = 0.81 Non-Normed Fit Index (NNFI) = 0.96 Parsimony Normed Fit Index (PNFI) = 0.61 Comparative Fit Index (CFI) = 0.97 Incremental Fit Index (IFI) = 0.97 Relative Fit Index (RFI) = 0.75 Critical N (CN) = 132.70 The Modification Indices Suggest to Add the Path to from Decrease in Chi-Square New Estimate X1.5 X3 33.6 1.08 X3.1 X2 38.3 1.68 X3.2 X2 180.1 -5.32 The Problem used 74320 Bytes (= 0.1% of Available Workspace) Time used: 2.570 Seconds 78 Lampiran 5 Dokumentasi penelitian lapangan a. Hutan rakyat jenis Jati c. Pertemuan pengurus (Dok. Anugrah) e. Label pohon Jati (SVLK) b. Hutan rakyat jenis Sengon d. Penyuluhan SVLK (Dok. LSM Kanopi) f. Pengukuran diameter pohon 79 Lanjutan Lampiran 5 g. Pengangkutan Kayu i. Penimbunan kayu k. Wawancara dengan responden h. Pengumpulan Kayu Sementara j. Tempat penggergajian kayu l. Wawancara dengan responden 80 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ciwidey Kabupaten Bandung pada tanggal 01 Juni 1976 dan merupakan anak pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Alm. Mamat Slamet dan Ibu Cucu Juariah. Pendidikan SD sampai SMP diselesaikan di kota kelahiran. Pada tahun 1995 penulis menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Manokwari dan pada tahun 1996 penulis bekerja sebagai PNS pada Kanwil Kehutanan Propinsi Maluku. Pada tahun 1999 penulis berpindah tugas menjadi pegawai di SKMA Manokwari sampai dengan sekarang, pada tahun 2004 penulis diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan program D3 pada Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua yang merupakan kerjasama dengan Dinas Kehutanan Propinsi Papua dan selesai pada tahun 2007, kemudian melanjutkan S1 dan selesai pada tahun 2010. Kesempatan melanjutkan studi program Magister Sains Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan, Fakultas Kehutanan Pascasarjana IPB diperoleh pada tahun 2013. Beasiswa pendidikan Pascasarjana IPB diperoleh dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Partisipasi Petani Dalam Pengelolaan Hutan Ra..

Gratis

Feedback