Debit Rembesan Pada Model Tanggul Dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 Mm

Gratis

3
19
111
3 years ago
Preview
Full text
DEBIT REMBESAN PADA MODEL TANGGUL DENGAN MENGGUNAKAN UKURAN PARTIKEL TANAH MAKSIMUM 1 mm Oleh : ERLY PRATITA F14103037 2007 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR DEBIT REMBESAN PADA MODEL TANGGUL DENGAN MENGGUNAKAN UKURAN PARTIKEL TANAH MAKSIMUM 1 mm SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : ERLY PRATITA F14103037 Dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 31 Maret 1984 Tanggal lulus : 17 September 2007 Bogor, 24 September 2007 Menyetujui : Dr. Ir. Erizal, M. Agr. Dosen Pembimbing Mengetahui, Dr. Ir. Wawan Hermawan, MS Ketua Departemen Teknik Pertanian ERLY PRATITA. F14103037. Debit Rembesan pada Model Tanggul dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 mm. Di Bawah Bimbingan Dr. Ir. Erizal, M.Agr. RINGKASAN Tanggul merupakan salah satu bentuk dari bendungan urugan homogen. Tanggul berfungsi untuk menahan aliran air dan menyangga permukaan air sehingga air yang masuk ke saluran dapat dikendalikan. Keruntuhan tanggul dapat diakibatkan oleh adanya rembesan air dalam tubuh tanggul. Rembesan pada tanggul terjadi karena adanya tekanan air di bagian hulu tanggul yang melewati pori-pori di dalam tanah dan gaya yang menahan lebih kecil dari gaya yang mengalirkan. Jika rembesan yang terjadi pada tanggul semakin besar akan mengancam kestabilan tanggul sehingga dapat menimbulkan erosi, longsoran dan kehilangan air akibat rembesan melalui tubuh tanggul tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Menghitung debit rembesan pada model tanggul, yaitu melalui pengamatan secara langsung, menggunakan metode perhitungan rumus dan analisis dengan program Seep/W, serta membandingkan hasil perhitungan debit rembesan dari ketiga metode tersebut. 2) Mengetahui pengaruh ukuran partikel tanah maksimum 1 mm terhadap debit rembesan pada tubuh model tanggul dan membandingkan hasil penelitian sebelumnya dengan menggunakan ukuran partikel tanah 4760 μm. 3) Mengetahui pengaruh drainase tarhadap debit rembesan pada model tanggul. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika dan Mekanika Tanah serta Laboratorium Hidrolika dan Hidromekanika Depertaman Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2007. Model tanggul dibuat berdasarkan kriteria dimensi tanggul yang disarankan DPU (1986) yaitu model dengan skala 1 : 12 yang “geometrical similiar” dimana skala horizontal dan vertikal bernilai sama. Tinggi muka air yang direncanakan sebesar 1.5 m, lebar mercu (w) tanggul sebesar 1.5 m, tinggi jagaan (freeboard) tanggul sebesar 0.6 m, serta kemiringan talud 1 : 3 untuk bagian hulu maupun hilir tanggul. Panjang saluran drainase 0.75 m dengan bahan pasir dan filter (chapiphon) yang kedap air. Model tanggul dibuat pada kotak model acrylic yang dilengkapi dengan inlet, outlet dan spillway. Pemadatan tanah dilakukan dengan uji pemadatan standar (Proctor), dan diperoleh kadar air optimum 33.02 %. Jumlah tumbukan yang diberikan sebanyak 150 tumbukan. Besarnya nisbah kepadatan tanah (RC) adalah 84.13 %. Uji permeabilitas dilakukan dengan metode falling head karena contoh tanah merupakan tanah berbutir halus (tanah yang lolos saringan 1 mm). Nilai permeabilitas tanah pada model tanggul tanpa saluran drainase sebesar 2.89 x 10-4 cm/det, sedangkan permeabilitas tanah pada model tanggul dengan saluran drainase sebesar 8.41 x 10-5 cm/det. Nilai permeabilitas pasir sebesar 1.84 x 10-2 cm/det. Pola aliran dan besarnya debit rembesan dalam tanggul dapat digambarkan dengan program Seep/W. Parameter-parameter yang digunakan adalah dimensi tanggul, tinggi muka air, dan nilai permeabilitas tanah. Debit rembesan adalah besarnya jumlah air yang mengalir pada tubuh model tanggul dan tidak boleh melebihi debit kritis. Nilai debit kritis sebesar 5 % dari debit yang masuk. Besarnya debit rembesan dihitung atau diukur dengan 3 metode yaitu pengukuran pada model tanggul, analisis dengan program Seep/W dan rumus empiris. Hasil pengukuran langsung debit yang masuk ke dalam waduk sebesar 1.21 -4 x 10 m3/det dengan debit kritis sebesar 6.05 x 10-6 m3/det. Besarnya debit rembesan berdasarkan pengamatan langsung untuk model tanggul tanpa saluran drainase sebesar 5.04 x 10-7 m3/det, dan untuk model tanggul dengan saluran drainase sebesar 6.20 x 10-6 m3/det. Besarnya debit rembesan berdasarkan perhitungan empiris untuk model tanggul tanpa saluran drainase rata-rata sebesar 4.01 x 10-10 m3/det. Besarnya debit rembesan berdasarkan analisis Seep/W untuk model tanggul tanpa saluran drainase rata-rata sebesar 4.0094 x 10-8 m3/det, dan untuk model tanggul dengan saluran drainase sebesar 5.0815 x 10-8 m3/det. Debit rembesan dengan analisis SEEP/W lebih mendekati debit rembesan secara pengamatan langsung, sedangkan analisis dengan rumus empiris debit rembesan yang diperoleh nilainya lebih kecil dibanding analsis SEEP/W maupun pengamatan langsung. Dari penelitian sebelumnya (Sari, 2005) besarnya debit rembesan secara pengamatan langsung diperoleh debit yang lebih besar dibandingkan penelitian ini, dikarenakan penggunaan ukuran partikel tanah yang berbeda. Dengan ukuran partikel yang lebih besar, maka debit outlet yang dihasilkan lebih besar pula. Penggunaan drainase berpengaruh terhadap debit rembesan. Nilai yang diperoleh untuk debit rembesan pada model tanggul dengan drainase horizontal lebih besar dibanding debit rembesan pada model tanggul tanpa drainase. Besarnya debit outlet untuk semua pengukuran memiliki nilai yang lebih kecil dari debit krisis, sehingga model tanggul tersebut dapat dikatakan aman dan tingkat kestabilan tanggul masih baik. Kata kunci : Tanggul, Model, Debit Rembesan, Ukuran Partikel Tanah, Drainase KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skipsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium Hidrolika dan Hidromekanika serta Laboratorium Fisika dan Mekanika Tanah dari bulan Februari - Juli 2007 dengan judul ”Debit Rembesan pada Model Tanggul dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 mm”. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak, ibu, dan adikku yang telah memberikan seluruh perhatian dan kasih sayang yang tulus serta dukungan secara moril dan materil. 2. Dr. Ir. Erizal, M.Agr sebagai dosen pembimbing atas arahan dan bimbingannya. 3. Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS dan Ir. Mohamad Solahudin, M.Si sebagai dosen penguji. 4. Gilar Sukma Priana S.Hut yang selalu memberikan semangat, dan perhatiannya. 5. Bapak Trisnadi sebagai teknisi laboratorium yang selalu memberikan arahan dan bantuannya. 6. Dias Kurniasari dan Dewi Wulan Ratnasari yang selalu bersama-sama dalam suka dan duka selama penelitian. 7. Sahabat-sahabatku: Ema, Anne, Leni, dan Manda. 8. Teman-teman yang telah membantu selama penelitian (Taufik, Fauzan, Rani, Rini A, Yossi, Fuad, Ari, Hendri dan Ervian) juga teman-teman TEP 40 lainnya. 9. Teman-teman di Zulfa (Dewilis, Irma, Anis, Nani, Hayuning, Herher, Ina, Tria, Sieska, Ajeng, Rima, Dyanti, Dede dan Gina) yang selalu memberikan semangat kepada penulis. 10. Teman-teman TEP’40, khususnya TTA’40 yang selama 2 semester selalu bersama-sama dalam kuliah, mengerjakan tugas dan banyak hal lainnya yang tidak akan pernah dilupakan. 11. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini.Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar skripsi ini dapat lebih bermanfaat di masa yang akan datang. Akhir kata, penulis mengucapkan terma kasih. Bogor,17 September 2007 Penulis RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Tasikmalaya, pada tanggal 31 Maret 1984. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan H. Unang A. Kusnandar dan Hj. Nur Hidayati, S.Pd M.Pd. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Sukamanah IIITasikmalaya tahun 1997, dan pada tahun 2000 menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Tasikmalaya. Pendidikan menengah atas diselesaikan penulis pada tahun 2003 di SMUN 2 Tasikmalaya. Pada tahun yang sama (2003) penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI). Pada tahun 2005 penulis memilih Laboratorium Teknik Tanah dan Air (TTA) dengan dosen pembimbing Dr. Ir. Erizal M.Agr. Selama aktif sebagai mahasiswa, penulis juga aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya : UKM Lingkung Seni Sunda Gentra Kaheman IPB periode 2003/2004 dan 2004/2005, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (BEM-F) periode 2004/2005, Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (HIMATETA) periode 2005/2006 dan Organisasi Mahasiswa Daerah Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya (OMDA HIMALAYA). Pada tahun 2006, penulis melaksanakan praktek lapang di Bagian Pelaksana Kegiatan Irigasi Wilayah Priangan Timur – kota Tasikmalaya, dengan judul laporan “Pengelolaan Air Irigasi di Daerah Irigasi Cikunten I, kabupaten Tasikmalaya”. Penulis menyelesaikan skripsi berjudul “Debit Rembesan pada Model Tanggul dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 mm” di bawah bimbingan Dr. Ir. Erizal, M Agr. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................................................................................................... i DAFTAR TABEL ........................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... vi I. II. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ........................................................................ B. TUJUAN PENELITIAN .................................................................... 1 3 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 4 A. TANAH SECARA UMUM ................................................................ 4 B. SIFAT FISIK TANAH ....................................................................... 5 1. Tekstur dan Struktur Tanah ......................................................... 5 2. Kadar Air Tanah ............................................................................. 7 3. Permeabilitas ................................................................................... 7 4. Berat Jenis Partikel Tanah............................................................. 8 5. Berat Isi Tanah ................................................................................ 9 6. Porositas ........................................................................................... 9 7. Angka Pori ....................................................................................... 10 8. Potensial Air Tanah ........................................................................ 10 C. SIFAT MEKANIK TANAH ............................................................... 11 1. Konsistensi Tanah ........................................................................... 11 2. Pemadatan Tanah ........................................................................... 11 D. UKURAN PARTIKEL TANAH ....................................................... E. MODEL ................................................................................................ F. TANGGUL ........................................................................................... G. DIMENSI TANGGUL ........................................................................ H. DEBIT REMBESAN ........................................................................... I. DRAINASE DAN FILTER ................................................................ J. PROGRAM GEO-SLOPE .................................................................. III. METODOLOGI ...................................................................................... 12 13 14 15 16 20 21 24 A. TEMPAT DAN WAKTU .................................................................... 24 Halaman B. BAHAN DAN ALAT ........................................................................... 24 1. Bahan ............................................................................................. 24 2. Alat .................................................................................................. 24 C. METODE PENELITIAN .................................................................. 25 1. Pembuatan Kotak Model Tanggul ................................................ 2. Pengambilan Contoh Tanah .......................................................... 3. Penghalusan Tanah ........................................................................ 4. Pengukuran Sifat Fisik Tanah ....................................................... a. Kadar Air Tanah ........................................................................ b. Konsistensi Tanah ...................................................................... c. Pemadatan Tanah ....................................................................... d. Uji Permeabilitas Tanah ............................................................ e. Uji Tekstur Tanah ...................................................................... 5. Uji Tumbuk Manual ....................................................................... 6. Pembuatan Model Tanggul ............................................................ 7. Pengaliran Air pada Kotak Model ................................................ 8. Pengamatan .................................................................................... 9. Pembongkaran Model Tanggul .................................................... 10. Pengukuran Permeabilitas Tanah pada Model Tanggul ........... 11. Analisis Debit Rembesan ............................................................... 26 26 26 27 27 27 28 29 29 30 31 33 34 34 34 34 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... ....... 35 A. SIFAT FISIK TANAH ...................................................................... B. HASIL UJI PEMADATAN ............................................................... C. HASIL UJI TUMBUK MANUAL .................................................... D. HASIL UJI PERMEABILITAS ....................................................... E. GARIS FREATIK (PHREATIC LINE) PADA MODEL TANGGUL ......................................................................................... F. DEBIT REMBESAN PADA TUBUH MODEL TANGGUL ......... 1. Berdasarkan Pengukuran Langsung pada Model Tanggul ...... 2. Berdasarkan Program Seep/W...................................................... 3. Berdasarkan Rumus Empiris ........................................................ V. 35 38 40 43 43 48 48 50 51 KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... ....... 53 VI. DAFTAR PUSTAKA....................................................................... ....... 54 VII. LAMPIRAN ...................................................................................... ....... 56 DAFTAR TABEL Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Halaman Klasifikasi permeabilitas tanah ................................................................. Berat jenis partikel tanah (specific gravity) ................................................ Klasifikasi partikel tanah menurut USDA dan Sistem Internasional.......... Kemiringan talud berdasarkan jenis bahan ................................................ Spesifikasi uji tumbuk manual .................................................................... Dimensi tanggul .......................................................................................... Sifat-sifat fisik tanah Latosol, Darmaga - Bogor ........................................ Hasil uji konsistensi tanah untuk jenis tanah Latosol ................................ Hasil uji pemadatan tanah Latosol menggunakan ukuran partikel yang lolos saringan 1 mm .................................................................................... Perbandingan spesifikasi antara uji pemadatan standar dan uji tumbuk manual ........................................................................................... Hasil uji tumbuk manual ............................................................................. Jumlah tumbukan pada tiap lapisan dengan luas permukaan yang berbeda ....................................................................................................... Hasil uji permeabilitas pada tanggul ........................................................... Debit rembesan hasil pengukuran secara langsung pada model tanggul ... Hasil analisis debit rembesan dengan program Seep/W ............................. Hasil perhitungan debit rembesan berdasarkan rumus empiris (cara A. Casagrande, Grafik, dan Bowles) .................................................. Perbandingan debit rembesan (Qout) dengan 3 metode (Pengamatan langsung, analisis SEEP/W, dan analisis rumus empiris) ..... 8 9 13 15 31 32 35 38 39 40 41 42 43 49 51 52 52 DEBIT REMBESAN PADA MODEL TANGGUL DENGAN MENGGUNAKAN UKURAN PARTIKEL TANAH MAKSIMUM 1 mm Oleh : ERLY PRATITA F14103037 2007 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR DEBIT REMBESAN PADA MODEL TANGGUL DENGAN MENGGUNAKAN UKURAN PARTIKEL TANAH MAKSIMUM 1 mm SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : ERLY PRATITA F14103037 Dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 31 Maret 1984 Tanggal lulus : 17 September 2007 Bogor, 24 September 2007 Menyetujui : Dr. Ir. Erizal, M. Agr. Dosen Pembimbing Mengetahui, Dr. Ir. Wawan Hermawan, MS Ketua Departemen Teknik Pertanian ERLY PRATITA. F14103037. Debit Rembesan pada Model Tanggul dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 mm. Di Bawah Bimbingan Dr. Ir. Erizal, M.Agr. RINGKASAN Tanggul merupakan salah satu bentuk dari bendungan urugan homogen. Tanggul berfungsi untuk menahan aliran air dan menyangga permukaan air sehingga air yang masuk ke saluran dapat dikendalikan. Keruntuhan tanggul dapat diakibatkan oleh adanya rembesan air dalam tubuh tanggul. Rembesan pada tanggul terjadi karena adanya tekanan air di bagian hulu tanggul yang melewati pori-pori di dalam tanah dan gaya yang menahan lebih kecil dari gaya yang mengalirkan. Jika rembesan yang terjadi pada tanggul semakin besar akan mengancam kestabilan tanggul sehingga dapat menimbulkan erosi, longsoran dan kehilangan air akibat rembesan melalui tubuh tanggul tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Menghitung debit rembesan pada model tanggul, yaitu melalui pengamatan secara langsung, menggunakan metode perhitungan rumus dan analisis dengan program Seep/W, serta membandingkan hasil perhitungan debit rembesan dari ketiga metode tersebut. 2) Mengetahui pengaruh ukuran partikel tanah maksimum 1 mm terhadap debit rembesan pada tubuh model tanggul dan membandingkan hasil penelitian sebelumnya dengan menggunakan ukuran partikel tanah 4760 μm. 3) Mengetahui pengaruh drainase tarhadap debit rembesan pada model tanggul. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika dan Mekanika Tanah serta Laboratorium Hidrolika dan Hidromekanika Depertaman Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2007. Model tanggul dibuat berdasarkan kriteria dimensi tanggul yang disarankan DPU (1986) yaitu model dengan skala 1 : 12 yang “geometrical similiar” dimana skala horizontal dan vertikal bernilai sama. Tinggi muka air yang direncanakan sebesar 1.5 m, lebar mercu (w) tanggul sebesar 1.5 m, tinggi jagaan (freeboard) tanggul sebesar 0.6 m, serta kemiringan talud 1 : 3 untuk bagian hulu maupun hilir tanggul. Panjang saluran drainase 0.75 m dengan bahan pasir dan filter (chapiphon) yang kedap air. Model tanggul dibuat pada kotak model acrylic yang dilengkapi dengan inlet, outlet dan spillway. Pemadatan tanah dilakukan dengan uji pemadatan standar (Proctor), dan diperoleh kadar air optimum 33.02 %. Jumlah tumbukan yang diberikan sebanyak 150 tumbukan. Besarnya nisbah kepadatan tanah (RC) adalah 84.13 %. Uji permeabilitas dilakukan dengan metode falling head karena contoh tanah merupakan tanah berbutir halus (tanah yang lolos saringan 1 mm). Nilai permeabilitas tanah pada model tanggul tanpa saluran drainase sebesar 2.89 x 10-4 cm/det, sedangkan permeabilitas tanah pada model tanggul dengan saluran drainase sebesar 8.41 x 10-5 cm/det. Nilai permeabilitas pasir sebesar 1.84 x 10-2 cm/det. Pola aliran dan besarnya debit rembesan dalam tanggul dapat digambarkan dengan program Seep/W. Parameter-parameter yang digunakan adalah dimensi tanggul, tinggi muka air, dan nilai permeabilitas tanah. Debit rembesan adalah besarnya jumlah air yang mengalir pada tubuh model tanggul dan tidak boleh melebihi debit kritis. Nilai debit kritis sebesar 5 % dari debit yang masuk. Besarnya debit rembesan dihitung atau diukur dengan 3 metode yaitu pengukuran pada model tanggul, analisis dengan program Seep/W dan rumus empiris. Hasil pengukuran langsung debit yang masuk ke dalam waduk sebesar 1.21 -4 x 10 m3/det dengan debit kritis sebesar 6.05 x 10-6 m3/det. Besarnya debit rembesan berdasarkan pengamatan langsung untuk model tanggul tanpa saluran drainase sebesar 5.04 x 10-7 m3/det, dan untuk model tanggul dengan saluran drainase sebesar 6.20 x 10-6 m3/det. Besarnya debit rembesan berdasarkan perhitungan empiris untuk model tanggul tanpa saluran drainase rata-rata sebesar 4.01 x 10-10 m3/det. Besarnya debit rembesan berdasarkan analisis Seep/W untuk model tanggul tanpa saluran drainase rata-rata sebesar 4.0094 x 10-8 m3/det, dan untuk model tanggul dengan saluran drainase sebesar 5.0815 x 10-8 m3/det. Debit rembesan dengan analisis SEEP/W lebih mendekati debit rembesan secara pengamatan langsung, sedangkan analisis dengan rumus empiris debit rembesan yang diperoleh nilainya lebih kecil dibanding analsis SEEP/W maupun pengamatan langsung. Dari penelitian sebelumnya (Sari, 2005) besarnya debit rembesan secara pengamatan langsung diperoleh debit yang lebih besar dibandingkan penelitian ini, dikarenakan penggunaan ukuran partikel tanah yang berbeda. Dengan ukuran partikel yang lebih besar, maka debit outlet yang dihasilkan lebih besar pula. Penggunaan drainase berpengaruh terhadap debit rembesan. Nilai yang diperoleh untuk debit rembesan pada model tanggul dengan drainase horizontal lebih besar dibanding debit rembesan pada model tanggul tanpa drainase. Besarnya debit outlet untuk semua pengukuran memiliki nilai yang lebih kecil dari debit krisis, sehingga model tanggul tersebut dapat dikatakan aman dan tingkat kestabilan tanggul masih baik. Kata kunci : Tanggul, Model, Debit Rembesan, Ukuran Partikel Tanah, Drainase KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skipsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium Hidrolika dan Hidromekanika serta Laboratorium Fisika dan Mekanika Tanah dari bulan Februari - Juli 2007 dengan judul ”Debit Rembesan pada Model Tanggul dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 mm”. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak, ibu, dan adikku yang telah memberikan seluruh perhatian dan kasih sayang yang tulus serta dukungan secara moril dan materil. 2. Dr. Ir. Erizal, M.Agr sebagai dosen pembimbing atas arahan dan bimbingannya. 3. Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS dan Ir. Mohamad Solahudin, M.Si sebagai dosen penguji. 4. Gilar Sukma Priana S.Hut yang selalu memberikan semangat, dan perhatiannya. 5. Bapak Trisnadi sebagai teknisi laboratorium yang selalu memberikan arahan dan bantuannya. 6. Dias Kurniasari dan Dewi Wulan Ratnasari yang selalu bersama-sama dalam suka dan duka selama penelitian. 7. Sahabat-sahabatku: Ema, Anne, Leni, dan Manda. 8. Teman-teman yang telah membantu selama penelitian (Taufik, Fauzan, Rani, Rini A, Yossi, Fuad, Ari, Hendri dan Ervian) juga teman-teman TEP 40 lainnya. 9. Teman-teman di Zulfa (Dewilis, Irma, Anis, Nani, Hayuning, Herher, Ina, Tria, Sieska, Ajeng, Rima, Dyanti, Dede dan Gina) yang selalu memberikan semangat kepada penulis. 10. Teman-teman TEP’40, khususnya TTA’40 yang selama 2 semester selalu bersama-sama dalam kuliah, mengerjakan tugas dan banyak hal lainnya yang tidak akan pernah dilupakan. 11. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini.Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar skripsi ini dapat lebih bermanfaat di masa yang akan datang. Akhir kata, penulis mengucapkan terma kasih. Bogor,17 September 2007 Penulis RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Tasikmalaya, pada tanggal 31 Maret 1984. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan H. Unang A. Kusnandar dan Hj. Nur Hidayati, S.Pd M.Pd. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Sukamanah IIITasikmalaya tahun 1997, dan pada tahun 2000 menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Tasikmalaya. Pendidikan menengah atas diselesaikan penulis pada tahun 2003 di SMUN 2 Tasikmalaya. Pada tahun yang sama (2003) penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI). Pada tahun 2005 penulis memilih Laboratorium Teknik Tanah dan Air (TTA) dengan dosen pembimbing Dr. Ir. Erizal M.Agr. Selama aktif sebagai mahasiswa, penulis juga aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya : UKM Lingkung Seni Sunda Gentra Kaheman IPB periode 2003/2004 dan 2004/2005, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (BEM-F) periode 2004/2005, Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (HIMATETA) periode 2005/2006 dan Organisasi Mahasiswa Daerah Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya (OMDA HIMALAYA). Pada tahun 2006, penulis melaksanakan praktek lapang di Bagian Pelaksana Kegiatan Irigasi Wilayah Priangan Timur – kota Tasikmalaya, dengan judul laporan “Pengelolaan Air Irigasi di Daerah Irigasi Cikunten I, kabupaten Tasikmalaya”. Penulis menyelesaikan skripsi berjudul “Debit Rembesan pada Model Tanggul dengan Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 mm” di bawah bimbingan Dr. Ir. Erizal, M Agr. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................................................................................................... i DAFTAR TABEL ........................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... vi I. II. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ........................................................................ B. TUJUAN PENELITIAN .................................................................... 1 3 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 4 A. TANAH SECARA UMUM ................................................................ 4 B. SIFAT FISIK TANAH ....................................................................... 5 1. Tekstur dan Struktur Tanah ......................................................... 5 2. Kadar Air Tanah ............................................................................. 7 3. Permeabilitas ................................................................................... 7 4. Berat Jenis Partikel Tanah............................................................. 8 5. Berat Isi Tanah ................................................................................ 9 6. Porositas ........................................................................................... 9 7. Angka Pori ....................................................................................... 10 8. Potensial Air Tanah ........................................................................ 10 C. SIFAT MEKANIK TANAH ............................................................... 11 1. Konsistensi Tanah ........................................................................... 11 2. Pemadatan Tanah ........................................................................... 11 D. UKURAN PARTIKEL TANAH ....................................................... E. MODEL ................................................................................................ F. TANGGUL ........................................................................................... G. DIMENSI TANGGUL ........................................................................ H. DEBIT REMBESAN ........................................................................... I. DRAINASE DAN FILTER ................................................................ J. PROGRAM GEO-SLOPE .................................................................. III. METODOLOGI ...................................................................................... 12 13 14 15 16 20 21 24 A. TEMPAT DAN WAKTU .................................................................... 24 Halaman B. BAHAN DAN ALAT ........................................................................... 24 1. Bahan ............................................................................................. 24 2. Alat .................................................................................................. 24 C. METODE PENELITIAN .................................................................. 25 1. Pembuatan Kotak Model Tanggul ................................................ 2. Pengambilan Contoh Tanah .......................................................... 3. Penghalusan Tanah ........................................................................ 4. Pengukuran Sifat Fisik Tanah ....................................................... a. Kadar Air Tanah ........................................................................ b. Konsistensi Tanah ...................................................................... c. Pemadatan Tanah ....................................................................... d. Uji Permeabilitas Tanah ............................................................ e. Uji Tekstur Tanah ...................................................................... 5. Uji Tumbuk Manual ....................................................................... 6. Pembuatan Model Tanggul ............................................................ 7. Pengaliran Air pada Kotak Model ................................................ 8. Pengamatan .................................................................................... 9. Pembongkaran Model Tanggul .................................................... 10. Pengukuran Permeabilitas Tanah pada Model Tanggul ........... 11. Analisis Debit Rembesan ............................................................... 26 26 26 27 27 27 28 29 29 30 31 33 34 34 34 34 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... ....... 35 A. SIFAT FISIK TANAH ...................................................................... B. HASIL UJI PEMADATAN ............................................................... C. HASIL UJI TUMBUK MANUAL .................................................... D. HASIL UJI PERMEABILITAS ....................................................... E. GARIS FREATIK (PHREATIC LINE) PADA MODEL TANGGUL ......................................................................................... F. DEBIT REMBESAN PADA TUBUH MODEL TANGGUL ......... 1. Berdasarkan Pengukuran Langsung pada Model Tanggul ...... 2. Berdasarkan Program Seep/W...................................................... 3. Berdasarkan Rumus Empiris ........................................................ V. 35 38 40 43 43 48 48 50 51 KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... ....... 53 VI. DAFTAR PUSTAKA....................................................................... ....... 54 VII. LAMPIRAN ...................................................................................... ....... 56 DAFTAR TABEL Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Halaman Klasifikasi permeabilitas tanah ................................................................. Berat jenis partikel tanah (specific gravity) ................................................ Klasifikasi partikel tanah menurut USDA dan Sistem Internasional.......... Kemiringan talud berdasarkan jenis bahan ................................................ Spesifikasi uji tumbuk manual .................................................................... Dimensi tanggul .......................................................................................... Sifat-sifat fisik tanah Latosol, Darmaga - Bogor ........................................ Hasil uji konsistensi tanah untuk jenis tanah Latosol ................................ Hasil uji pemadatan tanah Latosol menggunakan ukuran partikel yang lolos saringan 1 mm .................................................................................... Perbandingan spesifikasi antara uji pemadatan standar dan uji tumbuk manual ........................................................................................... Hasil uji tumbuk manual ............................................................................. Jumlah tumbukan pada tiap lapisan dengan luas permukaan yang berbeda ....................................................................................................... Hasil uji permeabilitas pada tanggul ........................................................... Debit rembesan hasil pengukuran secara langsung pada model tanggul ... Hasil analisis debit rembesan dengan program Seep/W ............................. Hasil perhitungan debit rembesan berdasarkan rumus empiris (cara A. Casagrande, Grafik, dan Bowles) .................................................. Perbandingan debit rembesan (Qout) dengan 3 metode (Pengamatan langsung, analisis SEEP/W, dan analisis rumus empiris) ..... 8 9 13 15 31 32 35 38 39 40 41 42 43 49 51 52 52 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Klasifikasi tanah menurut ISSS (Kalsim dan Sapei, 2003)........................... 5 2. Segitiga tekstur tanah menurut USDA (Dunn et al., 1992) .......................... 6 3. Klasifikasi tanah berdasarkan sistem Unified (Terzaghi dan Peck, 1987) .... 6 4. Hitungan rembesan cara A. Casagrande ....................................................... 17 5. Grafik hitungan rembesan (Taylor, 1948 dalam Sosrodarsono dan Takeda, 1977)................................................................................................ 18 6. Garis rembesan dalam tubuh tanggul (Bowles,1989) ................................... 19 7. Bahan filter caphiphon drain belt ................................................................. 21 8. Tahapan penelitian ........................................................................................ 25 9. Kotak model tanggul ..................................................................................... 26 10. Uji batas cair dan batas plastis ...................................................................... 28 11. Uji permeabilitas metode falling head .......................................................... 29 12. Kotak tumbuk manual dan rammer .............................................................. 31 13. Tahapan pembuatan model tanggul .............................................................. 32 14. Model tanggul dengan saluran drainase horizontal....................................... 33 15. Proses pengaliran air ..................................................................................... 33 16. Pengukuran debit outlet ................................................................................ 33 17. Klasifikasi tanah Latosol berdasarkan sistem Unified .................................. 36 18. Klasifikasi tanah Latosol berdasarkan sistem USDA .................................... 37 19. Kurva hasil uji pemadatan standar tanah Latosol yang lolos saringan 1mm 39 20. Garis freatik pada model tanggul tanpa saluran drainase melalui Seep/W.... 44 21. Garis freatik pada model tanggul dengan saluran drainase horizontal melalui Seep/W .............................................................................................. 44 22. Pola aliran karena pengaruh waktu dan tinggi genangan pada model tanggul tanpa drainase melalui pengamatan langsung .................................. 45 23. Pola aliran karena pengaruh waktu dan tinggi genangan pada model tanggul dengan drainase horizontal melalui pengamatan langsung .............. 45 24. Pengaruh kapilaritas pada tubuh tanggul tanpa saluran drainase dan dengan saluran drainase ............................................................................................. 47 Nomor Halaman 25. Kurva perbandingan debit outlet untuk model tanggul tanpa saluran drainase dan dengan saluran drainase ......................................................... 50 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Batas cair dan batas plastis tanah Latosol, Darmaga – Bogor dengan ukuran partikel tanah yang lolos saringan 1 mm .......................................... 56 2. Tekstur tanah Latosol, Darmaga dengan ukuran partikel tanah yang lolos saringan 1 mm ............................................................................. 60 3. Permeabilitas tanah Latosol, Darmaga – Bogor dengan ukuran partikel tanah yang lolos saringan 1 mm .................................................................... 61 4. Uji pemadatan standar (proctor) tanah Latosol, Darmaga – Bogor dengan ukuran partikel tanah yang lolos saringan 1 mm .......................................... 62 5. Hasil uji tumbuk manual ............................................................................... 65 6. Hasil pengukuran nilai permeabilitas tanah pada model tanggul setelah dialiri air ........................................................................................................ 66 7. Hasil uji permeabilitas pasir .......................................................................... 69 8. Hasil pengukuran debit rembesan (qoutlet) berdasarkan pengamatan langsung ........................................................................................................ 70 9. Tahapan-tahapan penggambaran dalam program Seep/W ............................. 74 10. Perhitungan debit rembesan (qoutlet) dengan metode empiris ....................... 87 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tanggul merupakan salah satu bentuk dari bendungan urugan homogen. Tanggul yang banyak digunakan, dibangun dengan bahan tanah. Tanggul berfungsi untuk menahan aliran air dan menyangga permukaan air sehingga air yang masuk ke saluran dapat dikendalikan. Dalam sebuah pembangunan tanggul diperlukan suatu perencanaan yang efektif dan aman sehingga tanggul kokoh dan tidak mudah rusak. Perencanaan tanggul yang efektif diperlukan suatu disiplin ilmu seperti fisika tanah dan mekanika tanah. Permasalahan yang sering timbul yaitu pada tubuh tanggul. Tubuh tanggul yang terbuat dari urugan tanah yang dipadatkan mudah sekali mengalami kerusakan terutama pada saat musim hujan tiba. Tubuh tanggul akan mengalami penyusutan (konsolidasi) karena air yang jatuh saat musim hujan akan mengikis tubuh tanggul. Bila hal ini terus dibiarkan maka akan terjadinya keruntuhan tanggul. Keruntuhan tanggul dapat diakibatkan oleh overtopping yaitu air melimpah melalui puncak tubuh tanggul yang dapat menyebabkan erosi serta longsor hingga akhirnya terjadi keruntuhan. Selain itu juga keruntuhan sebuah tanggul diakibatkan adanya rembesan atau bocoran pada tubuh tanggul. Rembesan yang mengalir dapat dipengaruhi oleh besarnya debit yang masuk ke dalam tubuh tanggul. Pengontrolan debit inlet pada tanggul perlu diperhatikan agar tidak melebihi debit kritis yang dapat mengakibatkan keruntuhan tanggul. Akibat keruntuhan tersebut, maka air yang tertampung dalam suatu bendungan akan mengalirkan ke lembah sungai di hilir tanggul dengan debit dan kecepatan yang sangat tinggi. Kejadian tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerugian materi serta hancurnya infrastruktur yang ada di bagian hilir. Air rembesan yang mengalir dari lapisan dengan butiran yang lebih halus menuju lapisan dengan butiran yang kasar, kemungkinan terangkutnya butiran halus lolos melewati lapisan yang lebih kasar tersebut dapat terjadi. Pada waktu yang lama, proses ini mungkin akan menyumbat ruang pori di dalam tanah dengan butiran kasar atau juga dapat terjadi piping pada bagian butir halusnya. Bila kecepatan aliran membesar akibat dari pengurangan tahanan aliran yang berangsur-angsur turun, akan terjadi erosi butiran yang lebih besar lagi, sehingga membentuk pipa-pipa di dalam tanah yang dapat mengakibatkan keruntuhan pada bendungan. Kondisi demikian dapat dicegah dengan pemakaian filter antara dua bahan tersebut. Pada penelitian ini dibuat model tanggul menggunakan saluan drainase dengan bahan pasir dan pemakaian filter diantara lapisan pasir dan tanah dengan chapiphon drian belt. Ukuran partikel tanah dapat mempengaruhi rembesan dalam tubuh tanggul. Penggunaan ukuran partikel tanah didasarkan pada skala dalam pembuatan model tanggul. Pada penelitian ini dibuat model tanggul sesuai dengan standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1986. Model tanggul dibuat dengan menggunakan skala 1 : 12 yang “geometrical similiar” yaitu skala horizontal dan vertikal bernilai sama. Penggunaan skala 1 : 12 digunakan pada dimensi dan bahan pembentuk tanggul. Model tanggul dibuat dengan bahan pembentuk dari tanah, sehingga ukuran partikel tanah yang digunakan disesuaikan dengan skala. Ukuran partikel yang digunakan adalah tanah yang lolos saringan 1 mm. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan beberapa analisis debit rembesan pada model tanggul yang dilengkapi drainase kaki, drainase tegak dan tanpa drainase dengan ukuran partikel tanah yang sama (menggunakan saringan 4760 µm). Pada penelitian kali ini dilakukan analisis debit rembesan pada model tanggul yang dilengkapi drainase horizontal dan tanpa drainase dengan menggunakan ukuran partikel tanah yang berbeda dari penelitian sebelumnya yaitu dengan ukuran pertikel tanah yang lolos saringan 1 mm. Dengan ukuran partikel tanah yang lebih halus maka kemungkinan kestabilan tubuh tanggul akan lebih besar karena pada saat pemadatan, tanah tersebut lebih menyatu satu dengan lainnya. Hasil penelitian dapat bermanfaat untuk menjelaskan besarnya debit rembesan yang terjadi pada tubuh tanggul serta pengaruhnya terhadap tingkat kestabilan lereng tanggul. B. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menghitung debit rembesan pada model tanggul, yaitu melalui pengamatan secara langsung, menggunakan metode perhitungan rumus dan analisis dengan program Seep/W, serta membandingkan hasil perhitungan debit rembesan dari ketiga metode tersebut. 2. Untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel tanah maksimum 1 mm terhadap debit rembesan pada tubuh model tanggul dan membandingkan hasil penelitian sebelumnya dengan menggunakan ukuran partikel tanah 4760 μm.. 3. Untuk mengetahui pengaruh drainase tarhadap debit rembesan pada model tanggul. II. TINJAUAN PUSTAKA A. TANAH SECARA UMUM Tanah terdapat dimana-mana, tetapi kepentingan orang terhadap tanah berbeda-beda. Dalam kehidupan sehari-hari tanah diartikan sebagai wilayah darat dimana di atasnya dapat digunakan untuk berbagai usaha misalnya pertanian, peternakan, mendirikan bangunan, dan lain-lain. Tanah adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horisonhorison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Tanah tersusun dari empat bahan utama yaitu bahan mineral, bahan organik, air dan udara (Hardjowigeno, 2003). Dalam pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel tersebut (Das, 1988). Istilah tanah dalam mekanika tanah adalah mencakup semua bahan dari tanah lempung (clay) sampai berangkal (batu-batu yang besar); jadi semua endapan alam yang bersangkutan dengan teknik sipil kecuali batuan tetap (Wesley, 1973). Pengertian tanah dalam bidang teknik sipil sama dengan pengertian “regolith” dalam geologi yaitu selubung atau lapisan terluar dari permukaan bumi yang terdiri dari partikel-partikel batuan yang lepas dan butir-butir mineral, yang umumnya terletak di atas batuan induk atau batuan tetap (bedrock) (Flint dan Skinner, 1974 dalam Aryono dan Soetoto, 1980). Tanah Latosol merupakan salah satu jenis tanah yang terbentuk pada daerah bercurah hujan antara 2000 - 4000 mm tiap tahun. Memiliki bulan kering lebih dari tiga bulan dan mempunyai tipe iklim A, B (Shmidt/Ferguson), dengan bahan induk tuf vulkanik pada daerah yang mempunyai topografi berombak sampai bergunung dengan ketinggian berkisar antara 10 – 100 m dari permukaan laut dan biasanya ditumbuhi oleh hutan hujan tropis (Soepraptohardjo, 1961 dalam Ishak, 1991). Tanah latosol di Indonesia dicirikan dengan warna tanah merah sampai dengan coklat dengan warna yang tetap stabil dan solum tanah lebih besar dari 1.5 m. Tanah Latosol bertekstur liat seragam atau bertambah dengan naiknya kedalaman tanah (Soepraptohardjo dan Driessen, 1974 dalam Ishak, 1991). B. SIFAT FISIK TANAH 1. Tekstur dan Struktur tanah Tekstur tanah dapat didefinisikan sebagai penampilan visual suatu tanah berdasarkan komposisi kualitatif dari ukuran butiran tanah dalam suatu massa tanah tertentu. Partikel-partikel tanah yang besar dengan beberapa partikel kecil akan terlihat kasar atau disebut tanah yang bertekstur kasar. Gabungan partikel yang lebih kecil akan menghasilkan bahan yang bertekstur sedang dan gabungan partikel yang berbutir halus akan menghasilkan tanah yang bertekstur halus (Bowles, 1989). Sistem klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir telah dikembangkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan International Soil Science Society (ISSS) seperti pada Gambar 1. Klasifikasi tanah juga dapat dilihat berdasarkan segitiga tekstur tanah dan Klasifikasi Sistem Unified seperti pada Gambar 2 dan Gambar 3. US Department of agriculture classification (USDA) 0.02 clay 0.05 0.1 very fine silt 0.25 0.5 1.0 2.0 medi- coarse very fine um coarse gravel sand sand clay silt gravel fine 2 20 coarse 200 2000 μm Gambar 1. Klasifikasi tekstur tanah menurut ISSS (Kalsim dan Sapei, 2003) Persen berat pasir Gambar 2. Segitiga tekstur tanah menurut USDA (Dunn, et al., 1992) Indeks Plastisitas PI (%) 60 Diagram plastisitas: Untuk mengidentifikasi kadar butiran 50 halus yang terkandung dalam tanah berbutir halus dan tanah berbutir kasar. Batas Atterberg yang termasuk dalam daerah yang 40 diarsir berarti batasan klasifikasinya menggunakan dua simbol. CH Garis A 30 20 MH atau OH LH CL-ML 10 7 4 10 20 30 ML atau OL 40 50 60 70 80 90 10 Batas Cair LL (%) Garis A: PI = 0,73 (LL-20) Gambar 3. Klasifikasi tanah berdasarkan sistem Unified (Terzaghi dan Peck,1987) Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain. Menurut bentuknya struktur tanah dibedakan menjadi bentuk lempeng, prisma, tiang, gumpal bersudut, gumpal membulat, granuler dan remah. Tanah dikatakan berstruktur baik (granuler, remah) mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik adalah bentuknya membulat sehingga tidak dapat saling bersinggungan dengan rapat (Hardjowigeno, 2003). 2. Kadar Air Tanah Kadar air tanah merupakan banyaknya air yang terkandung di dalam tanah. Untuk menentukan kadar air tanah, dapat dinyatakan dalam beberapa cara diantaranya melalui perbandingan relatif terhadap massa padatan volume tanah, volume padatan tanah dan terhadap pori tanah. Kadar air didefinisikan sebagai perbandingan antara berat air dan berat butiran padat dari volume tanah yang diselidiki (Das, 1988). Menurut Wesley (1973) untuk menentukan kadar air, sejumlah tanah ditempatkan dalam wadah yang beratnya (W1) diketahui sebelumnya. Wadah dengan tanah ditimbang (W2) dan kemudian dimasukkan dalam oven yang temperaturnya 105 0C untuk masa waktu 24 jam. Kemudi

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis debit dan pola penyebaran aliran air (Seepage) serta pengaruhnya terhadap stabilitas pada model tanggul dengan bahan tanah latosol Darmaga, Bogor
1
10
138
Analisis debit rembesan pada model tanggul yang dilengkapi saluran drainase kaki untuk jenis tanah latosol Darmaga, Bogor
3
28
128
Analisis stabilitas lereng tanah latosol Darmaga menggunakan model tanggul yang dilengkapi dengan saluran drainase tegak
1
15
97
Pola Aliran Di Dalam Tubuh Model Tanggul Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 Mm
1
14
113
Stabilitas Lereng Pada Model Tanggul Menggunakan Ukuran Partikel Tanah Maksimum 1 Mm
0
11
111
Pola Penyebaran Rembesan Pada Model Tanggul dengan Saluran Drainase Tegak Untuk Tanah Oxisol Darmaga, Bogor
0
7
85
Analisis Stabilitas Lereng pada Model Tanggul Berbahan Tanah Gleisol
3
24
198
Pola Penyebaran Air Rembesan Di Dalam Tubuh Model Tanggul Berbahan Tanah Gleisol.
2
25
197
Kapasitas Maksimum Kepadatan Tanah pada Berbagai Distribusi Ukuran Partikel dan Kadar Bahan Organik Tanah dalam Kondisi Kering Udara dan Kapasitas Lapang
1
5
75
Analisis debit dan pola penyebaran aliran air (Seepage) serta pengaruhnya terhadap stabilitas pada model tanggul dengan bahan tanah latosol Darmaga, Bogor
0
26
128
PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR PADA INTI BENDUNGAN TERHADAP BESARNYA DEBIT REMBESAN.
2
6
59
PENGARUH PENAMBAHAN LATEKS PADA INTI BENDUNGAN TERHADAP BESARNYA DEBIT REMBESAN.
0
2
47
Kendali optimal pada model periklanan Nerlove Arrow dengan menggunakan prinsip maksimum
0
0
71
Kata-kata Kunci: Pola aliran garis freatis, debit rembesan, bendungan, kepadatan tanah. Abstract - Observasi Garis Freatis pada Model Bendungan Berdasarkan Kepadatan Tanah Melalui Model Fisik
0
0
8
Berdasarkan data debit maksimum 10 tahun yang tersedia didapatkan bahwa debit maksimum tahun 2013 merupakan debit yang terbesar 287,876m
0
4
13
Show more