Feedback

Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat

Informasi dokumen
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanasan global (global warming) merupakan isu yang saat ini hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat dunia. Pemanasan global yang terjadi disebabkan semakin banyaknya gas rumah kaca (GRK) yang dilepaskan ke atmosfer bumi (CIFOR 2010). Menurut Risnandar (2010), terdapat dua kelompok gas rumah kaca yaitu kelompok gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung dan kelompok gas rumah kaca yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap pemanasan global. Gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung salah satunya adalah CO2 (karbon dioksida). Konsentrasi CO2 yang berlebih di atmosfer akan menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas (CIFOR 2010). Meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi dari tahun ke tahun menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim tersebut berupa perubahan suhu udara, curah hujan dan kecepatan angin (CIFOR 2010). Upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut salah satunya dengan melakukan mitigasi. Mitigasi adalah tindakan untuk mengurangi emisi GRK dan untuk meningkatkan penyimpanan karbon dalam rangka mengatasi perubahan iklim (CIFOR 2010). Salah satu sektor yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah sektor kehutanan. Tegakan hutan merupakan rosot karbon yang paling efektif (Handoko et al. 1996 diacu dalam Rdi et al. 2005). Hutan mampu menyerap kelebihan karbon di atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa di berbagai bagian tanaman (khususnya kayu) melalui proses fotosintesis (Lana et al. 2005). Selain itu, hutan juga melindungi sejumlah besar karbon yang tersimpan di bawah tanah (CIFOR 2010). Berdasarkan hasil penelitian Gardner dan Engelman 1999 diacu dalam Suhendang 2002, sekitar 40% atau 330 milyar ton karbon tersimpan dalam bagian pohon dan bagian tumbuhan hutan lainnya di atas permukaan tanah, sedangkan sisanya, yaitu sekitar 60% atau 500 milyar ton, tersimpan dalam tanah hutan dan akar-akar tumbuhan di dalam hutan. 2 Hutan-hutan Indonesia berpotensi menyimpan karbon. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 milyar ton biomassa, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa tersebut menyimpan 3,5 milyar ton karbon (FWI 2003 diacu dalam Bakri 2009). Salah satu hutan Indonesia yang memiliki potensi cadangan karbon adalah Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Hal tersebut dapat dilihat dari potensi tegakan HPGW yang didominasi oleh tumbuhan berkayu dengan umur relatif tua dan terdiri dari berbagai jenis vegetasi berbeda. Telah banyak dilakukan kajian dan penelitian di HPGW mengenai aspek ekonomi dan ekologi. Namun masih sedikit yang mengkaji tentang manfaat HPGW sebagai penyedia jasa lingkungan seperti penyerapan dan penyimpanan karbon. Oleh karena itu, pengukuran terhadap biomassa sangat dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar jumlah karbon yang tersimpan di HPGW dan pengaruhnya terhadap pemanasan global serta selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mendukung terlaksananya perdagangan karbon (carbon trading). Selain itu, untuk memastikan ketersediaan fungsi HPGW untuk jasa lingkungan guna mencapai pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management). 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi volume, kandungan biomassa dan cadangan karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan di HPGW. 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi volume, kandungan biomassa dan karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan di HPGW. Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan perencanaan, pengelolaan dan perlindungan hutan guna mencapai pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management). 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Hutan Sebagai Penyerap Karbon Hutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam penurunan emisi gas rumah kaca, karena hutan mampu memfiksasi karbon dan menyimpannya di dalam vegetasi yang dikenal sebagai rosot karbon (carbon sink). Vegetasi hutan mempunyai kemampuan untuk menyerap CO2 melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis tersebut umumnya disimpan dalam bentuk biomassa akar, batang, cabang, dan ranting (Salisbury & Ross 1992 diacu dalam Salim 2005) yang menjadikan vegetasi hutan tumbuh semakin besar dan semakin tinggi. Vegetasi hutan dengan kerapatan tinggi mampu menyerap lebih banyak CO2 dibandingkan dengan vegetasi hutan dengan kerapatan rendah. Oleh karena itu, kegiatan penanaman vegetasi pada lahan kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer. Hutan-hutan Indonesia menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Seperti yang dikemukakan oleh Suhendang (2002), sumberdaya hutan di Indonesia memiliki potensi tinggi dalam keanekaragaman hayati (biodiversity) dan potensi penyerapan karbon. Hasil studi ALGAS (1997) diacu dalam Retnowati dan Gintings (1997) menunjukkan bahwa hutan di Indonesia mampu menyerap sekitar 686 mega ton CO2 pada tahun 1990, dan akan meningkat menjadi 844 mega ton pada tahun 2020. Sedangkan menurut Suhendang (2002) hutan di Indonesia yang luasnya sekitar 120,4 juta hektar mampu menyerap dan menyimpan karbon sekitar 15,05 milyar ton karbon. Disisi lain, FAO menyatakan bahwa jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 milyar ton biomassa, jauh lebih tinggi dari pada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini menyimpan 3,5 milyar ton karbon (FWI 2003 diacu dalam Bakri 2009). 2.2 Biomassa dan Karbon Hutan Biomassa didefinisikan sebagai jumlah total bahan organik hidup di atas tanah pada pohon termasuk ranting, daun, cabang, batang utama dan kulit yang 4 dinyatakan dalam berat kering oven ton per unit area (Brown 1997). Biomassa dibedakan menjadi dua kategori, yaitu biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di bawah permukaan tanah (bellow ground biomass). Biomassa di atas permukaan tanah adalah berat bahan organik per unit area pada waktu tertentu yang dihubungkan ke suatu fungsi sistem produktivitas, umur tegakan, dan distribusi organik (Kusmana 1993 diacu dalam Salim 2005). Sedangkan biomassa di bawah permukaan tanah diartikan sebagai semua biomassa dari akar tumbuhan yang hidup. Biomassa tersusun oleh senyawa karbohidrat yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen, dan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis tanaman (White & Planskett 1991 diacu dalam Salim 2005). Pada proses fotositesis tumbuhan menyerap CO2 dari udara kemudian mengubahnya menjadi bahan organik sehingga jumlah total biomassa tumbuhan dapat bertambah. Biomassa tegakan hutan dipengaruhi oleh umur tegakan hutan, sejarah perkembangan vegetasi, komposisi, dan struktur tegakan (Lugo & Snedaker 1974 diacu dalam Onrizal 2004). Selain itu faktor iklim, seperti curah hujan dan suhu merupakan faktor yang mempengaruhi laju peningkatan biomassa pohon (Johnsen et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Cadangan karbon yang dihasilkan oleh suatu vegetasi atau tegakan hutan dapat diperoleh dengan memperkirakan dari biomassa vegetasi. Karbon merupakan produk dari produksi biomassa yang terbentuk dikurangi dengan total yang hilang melalui jaringan akar halus, cabang, dan daun serta penyakit, sisanya tergabung di dalam struktur yang tersimpan dalam pohon (Johnson et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45-50% bahan kering dari tanaman. Pendugaan emisi dan penyerapan karbon oleh kegiatan-kegiatan kehutanan di Indonesia (TPTI, HTI, deforestasi, reboisasi, penghijauan, hutan rakyat) dapat menggunakan metode IPCC, yaitu dengan cara menggunakan biomassa tanaman (Anonymous 1996 diacu dalam Retnowati & Gintings 1997). 5 2.3 Metode Pendugaan Biomassa dan Karbon Metode pengukuran biomassa pada dasarnya ada empat cara utama yaitu metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling), metode sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling), metode pendugaan melalui pengindraan jauh, dan metode pembuatan model. Metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) merupakan metode pengukuran biomassa dengan cara merusak atau menebang pohon untuk selanjutnya dilakukan pengukuran berat basah di berbagai carbon pool yang terdiri dari biomassa atas, biomassa bawah/akar, biomassa kayu mati, biomassa serasah dan biomassa tanah organik (Ostwald 2008). Sedangkan metode sampling tanpa pemanenan (nondestructive sampling) merupakan pengukuran biomassa dengan cara tidak merusak pohon dan hanya mengukur biomassa atas kemudian mengukur diameter dan tinggi pohon serta serasah yang ada. Metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) memberikan hasil yang paling akurat untuk menduga biomassa, tetapi teknik ini tidak dapat diterapkan pada semua areal hutan karena kerusakan yang diakibatkan cukup besar. Selain kerusakan yang cukup besar, mahalnya biaya dan lamanya waktu serta besarnya tenaga yang dibutuhkan dibandingkan dengan teknik pendugaan biomassa lain menjadi bahan pertimbangan dalam penggunaan teknik ini. Metode sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling) merupakan teknik pendugaan yang saat ini banyak dilakukan karena tidak perlu melakukan pemanenan pohon. Teknik ini memiliki efisiensi yang baik jika dibandingkan dengan teknik sampling destruktif. Parameter penyusun metode non-destructive sampling yaitu diameter pohon, tinggi pohon, volume batang, dan basal area untuk menduga biomassa. Menurut Brown (1997) ada dua pendekatan untuk menduga biomassa pohon, yang pertama berdasarkan pendugaan volume kulit sampai batang bebas cabang yang kemudian diubah menjadi jumlah biomassa (ton/ha) dan yang kedua secara langsung dengan menggunakan regresi biomassa. Seperti dikemukakan oleh Tiryana (2005), potensi biomassa hutan juga dapat diketahui melalui data hasil inventarisasi baik dengan menggunakan faktor konversi volume ke biomassa maupun persamaan alometrik yang menghubungkan dimensi pohon (diameter dan 6 atau tinggi) dengan biomassanya. Persamaan alometrik berupa fungsi matematika yang didasarkan pada hubungan berat kering biomassa per pohon contoh dengan satu atau lebih kombinasi dari dimensi pohon contoh (diameter dan tinggi) dapat dikembangkan/dihasilkan dari metode destructive sampling atau diperkirakan dari Fractal Branching Analysis/FBA (Adinugroho 2002). Martin et al. (1998) menyatakan bahwa persamaan alometrik dapat digunakan untuk menghubungkan antara diameter batang pohon dengan variabel yang lain seperti volume kayu, biomassa pohon, dan kandungan karbon pada tegakan hutan yang masih berdiri (standing stock). Diameter pohon merupakan salah satu variabel yang penting bagi pendugaan biomassa selain kerapatan jenis pohon dan tipe hutan (Chave et al. 2001). Sehubungan dengan pernyataan diatas Ketterings et al. (2001) membuat model penduga biomassa hutan dengan menggunakan variabel diameter dan kerapatan jenis dalam persamaan yaitu sebagai berikut: W = 0,11 ρ D 2,62 ...................................................................... (1) Keterangan : W = biomassa (kg/pohon) ρ = kerapatan jenis (g/cm3) D = diameter setinggi dada (cm) Pendugaan biomassa dengan persamaan alometrik memberikan hasil dugaan yang akurasinya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Sehingga penggunaan persamaan alometrik suatu jenis pohon yang telah diketahui untuk menduga potensi biomassa pohon yang sama dapat menghasilkan hasil dugaan yang cukup akurat. Berbeda dengan metode pendugaan biomassa untuk individu pohon seperti yang telah dijelaskan di atas, untuk pendugaan biomassa skala tegakan umumnya digunakan teknik penarikan contoh (sampling). Sampling adalah suatu cara pengamatan terhadap suatu populasi yang dilakukan hanya terhadap sebagian populasi yang mewakili seluruh unit yang terdapat di dalam populasi tersebut (Sutarahardja et al. 1982 diacu dalam Noronhae 2007). Cara sampling umum digunakan karena cara ini membutuhkan waktu pengukuran yang relatif singkat, memberikan keterwakilan contoh yang tinggi, pekerjaan lapangan lebih mudah dengan ketelitian tinggi dan dapat mengurangi biaya. Systematic sampling with 7 random start (penarikan contoh sistematik dengan pengacakan awal) merupakan salah satu teknik penarikan contoh yang sering digunakan dalam pendugaan potensi biomassa skala tegakan. Unit contoh dalam systematic sampling diambil secara sistematik menurut aturan atau pola tertentu. Pola yang umum digunakan dalam kegiatan inventarisasi hutan berupa grids (kotak-garis) berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang yang dirancang pada peta dengan jarak tertentu, dimana unit-unit contoh ditempatkan pada titik-titik sudutnya. Dalam hal ini, hanya unit contoh pertama saja yang dipilih secara acak dari populasi, sedangkan unit contoh lainnya dipilih dengan interval/jarak (k) tertentu secara sistematik (Sutarahardja 1999 diacu dalam Noronhae 2007). Unit contoh yang digunakan biasanya berupa plot lingkaran berukuran tertentu dalam satuan hektar, misalnya 0,02 ha; 0,04 ha; 0,05 ha; 0,1 ha, dsb (Sutarahardja 1999 diacu dalam Noronhae 2007). Unit contoh lingkaran dapat dibuat dengan mudah karena hanya memerlukan titik pusat unit contoh dan jari-jari lingkaran selain itu relatif mudah dalam menentukan pohon batas (borderline tree). Kesalahan sampling atau kesalahan contoh akan terjadi dalam pendugaan dengan menggunakan contoh sebagai akibat dari peluang pemilihan unit contoh. Kesalahan penarikan contoh merupakan perbandingan yang mungkin antara nilai taksiran dengan nilai sebenarnya dalam populasi/hutan tersebut yang dinyatakan dalam persen. Dengan demikian semakin kecil nilai perbedaan tersebut, maka penarikan contoh yang dilakukan semakin teliti (Husch 1987 diacu dalam Noronhae 2007). Berdasarkan teknik sampling tersebut, dapat diperoleh nilai-nilai dugaan rata-rata dan total potensi biomassa atau karbon. Nilai biomassa yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat digunakan untuk menduga potensi karbon yang tersimpan dalam vegetasi hutan. Karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45-50% bahan kering dari tanaman. Berdasarkan hasil konferensi IPCC (2006), fraksi karbon dari biomassa hutan diatas tanah yaitu 0,47 sehingga untuk mengetahui potensi karbon (ton C/ha) dalam hutan dapat diduga dengan mengalikan biomassa dengan fraksi karbon tersebut. 8 C = W x 0,47............................................................................. (2) Keterangan : C = karbon (ton) W = biomassa (kg/pohon) 0,47 = fraksi karbon 2.4 Volume Pohon dan Metode Pendugaannya Volume merupakan suatu besaran tiga dimensi dari suatu benda yang besarannya dinyatakan dalam satuan kubik yang didapatkan dari hasil perkalian satuan dasar panjang (Husch 1963 diacu dalam Hardansyah R 2004). Volume pohon dapat diklasifikasikan menurut dimensi tinggi yaitu volume pohon berdiri, volume log/sortimen, dan volume kayu bakar. Volume pohon berdiri dibedakan menjadi volume total pohon, volume batang, volume kayu tebal, dan volume bebas cabang. Cara penentuan volume pohon dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: 1. Cara analitik, yaitu cara penentuan volume benda dengan menggunakan rumus volume standar. 2. Cara langsung, yaitu cara penentuan volume yang dilakukan dengan mengukur dimensinya. 3. Cara grafik, yaitu cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume berbagai bentuk benda putar tanpa memandang ciri-ciri permukaannya. 4. Penggunaan tabel volume Rumus-rumus yang umum digunakan dalam penentuan volume adalah rumus Huber, Smalian, dan Newton. Dalam prakteknya, penggunaan tabel volume lebih memudahkan dalam penentuan volume pohon karena memberikan dugaan volume untuk diameter dan tinggi pohon secara spesifik. Tabel volume pohon adalah suatu tabel yang digunakan untuk mendapatkan volume pohon atau batang melalui pengukuran satu atau beberapa peubah penaksir volume pohon atau volume batang (Husch 1963 diacu dalam Hardansyah 2004). Menurut Simon (1996) diacu dalam Hardansyah 2004, terdapat tiga macam tabel volume yang dapat digunakan untuk menduga volume pohon yaitu tabel volume lokal, tabel volume standar, dan tabel volume kelas bentuk. Masing-masing tabel volume tersebut menggunakan parameter yang berbeda-beda dalam penyusunannya. 9 2.5 Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat 2.5.1 Pinus Pinus merkusii Jungh et de Vriese, merupakan salah satu jenis anggota famili Pinaceae. Pohon ini biasanya juga disebut dengan pohon damar batu, damar bunga, huyam, kayu sala, kayu sugi, uyam, dan tusam (Sumatera) atau pinus (Jawa). Tinggi pohon pinus dapat mencapai 20–40 m dengan panjang batang bebas cabang 2–23 m, diameter 100 cm, dan tidak berbanir. Pinus dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, tanah berpasir dan tanah berbatu, tetapi tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah becek. Kayu pinus memiliki sifat fisis di antaranya memiliki berat jenis 0,55 (0,40–0,75) dan termasuk kelas kuat III (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.2 Agathis Agathis spp. merupakan salah satu famili Araucariaceae. Pohon ini juga biasanya disebut pohon damar sigi, kayu sigi (Sumatra); damar, kidamar (Jawa); bindang, damar bindang, damar pilau (Kalimantan); dama, damar kapas, damar wana, hulu sinua (Sulawesi); damar puti, damar raja, koano, (Maluku); damar putih, damar papeda, kesi, kosima. Tinggi pohon dapat mencapai 55 m, panjang batang bebas cabang 12–25 m, diameter mencapai 150 cm atau lebih, bentuk batang silindris dan lurus. Damar memiliki tajuk berbentuk kerucut dan berwarna hijau dengan percabangan mendatar melingkari batang. Kulit luar pohon damar berwarna kelabu sampai coklat tua, mengelupas kecil-kecil berbentuk bundar atu bulat telur. Pohon ini berbanir, mengeluarkan damar yang lazim disebut kopal. Pohon damar memiliki berat jenis dan kelas kuat sebagai berikut: Tabel 1 Berat jenis dan kelas kuat pohon agathis Jenis Berat jenis Kelas kuat Agathis alba 0,48 (0,43–0,54) III Agathis borneensis 0,47 (0,36–0,64) III Agathis labillardieri 0,47 (0,42–0,52) III Pohon damar tumbuh dalam hutan primer pada tanah berpasir, berbatubatu atau liat yang selamanya tidak digenangi air, pada ketinggian 2–1.750 m dari permukaan laut (Martawijaya et al. 2005a). 10 2.5.3 Mahoni Swietenia spp. merupakan salah satu famili Meliaceae yang meliputi dua jenis yaitu Swietenia macrophylla King (mahoni daun besar) dan Swietenia mahagoni Jacq. (mahoni daun kecil). Pohon ini tersebar diseluruh Jawa. Tinggi pohon dapat mencapai 35 m, diameter sampai 125 cm. Pohon mahoni bentuk silindris, tidak berbanir, dan tajuk membulat. Pohon mahoni daun besar memiliki berat jenis 0,61 (0,53–0,67) dan mahoni daun kecil memiliki berat jenis 0,64 (0,56–0,72). Mahoni dapat tumbuh baik di daerah dengan musim kemarau yang basah maupun kering, yaitu pada tipe curah hujan A–D. Jenis ini tumbuh pada tanah yang agak liat dan kurus dengan ketinggian sampai 1000 mdpl (Martawijaya et al. 2005a). 2.5.4 Sengon Paraserianthes falcataria (L.) merupakan salah satu famili Mimosaceae. Pohon ini juga biasanya disebut jeungjing atau sengon laut. Daerah penyebaran sengon yaitu seluruh Jawa (tanaman), Maluku, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya. Tingi pohon sampai 40 m dengan panjang batang bebas cabang 10–30 m, diameter sampai 80 cm. Sengon memiliki kulit luar berwarna putih atau kelabu, tidak beralur, tidak mengelupas, dan tidak berbanir. Sengon memiliki berat jenis 0,33 (0,24–0,49) dan kelas IV–V. Sengon dapat tumbuh pada tanah yang tidak subur dan agak sarang, tanah kering maupun becek atau agak asin. Tanaman muda tahan kekurangan zat asam sampai 31,5 hari. Jenis ini menghendaki iklim basah sampai agak kering, pada daratan rendah hingga ke pegunungan sampai ketinggian 1.500 mdpl (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.5 Puspa Schima wallichii Korth. merupakan salah satu famili Theaceae. Pohon ini sering juga disebut merang salau atau madang gatal. Daerah penyebaran jenis ini di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan panjang batang bebas cabang sampai 25 m, diameter sampai 250 cm. Pohon puspa tidak memiliki banir, kulit luar berwarna merah muda, merah tua sampai hitam, beralur dangkal dan mengelupas, kulit hidup tebalnya sampai 15 mm berwarna 11 merah dan di dalamnya terdapat miang yang gatal. Puspa memiliki berat jenis dan kelas kuat sebagai berikut: Tabel 2 Berat jenis dan kelas kuat pohon puspa Jenis Berat jenis Kelas kuat Schima wallichii ssp bancana 0,69 (0,62–0,79) II Schima wallichii ssp crenata 0,66 (0,56–0,83) II Schima wallichii ssp noronhae 0,62 (0,45–0,72) II Schima wallichii ssp oblata 0,71 (0,61–0,92) II Puspa tumbuh pada tanah kering dan tidak memilih keadaan tekstur dan kesuburan tanah, sehingga baik untuk reboisasi padang alang-alang, belukar dan tanah kritis. Jenis ini memerlukan iklim basah sampai agak kering dengan tipe curah hujan A–C, pada dataran rendah sampai di daerah pegunungan dengan ketinggian sampai 1000 mdpl (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.6 Rasamala Altingia excelsa Noronhae. merupakan salah satu familli Hamamalidaceae. Pohon ini juga sering disebut mala, rasamala, rasamala gadog. Daerah penyebaran rasamala di Sumatra dan Jawa Barat. Tinggi pohon sampai 50 m dengan panjang batang bebas cabang 15–30 m, diameter sampai 150 cm, dan berbanir. Rasamala memiliki kulit luar berwarna coklat muda atau kelabu merah dan sedikit mengelupas. Pohon rasamala memiliki berat jenis 0,81 (0,61–0,90) dan kelas kuat II. Rasamala tumbuh pada tanah sarang, tanah berpasir atau tanah berbatu, dan lebih menyukai tanah yang subur, umumnya pada lapangan yang miring di kaki bukit dan pegunungan. Jenis ini menghendaki iklim basah dan kemarau yang sedang dengan tipe curah hujan A–B pada ketinggian 500–1500 mpdl (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.7 Sonokeling Dalbergia latifolia Roxb. merupakan famili Papilionaceae. Jenis ini tersebar di seluruh Jawa. Sonokeling memiliki tajuk berbentuk bulat dan berdaun jarang. Tinggi pohon sampai 43 m dengan panjang batang bebas cabang 3–5 m, diameter dapat mencapai 150 cm, batang umumnya tidak lurus, kebanyakan berlekuk, dan 12 tidak berbanir. Sonokeling berkulit luar putih dan mengelupas kecil-kecil. Berat jenis sonokeling adalah 0,83 (0,77–0,86). Sonokeling tumbuh di daerah dengan musim kemarau sedang sampai kering (paling tinggi 30 hari hujan dalam 4 bulan terkering). Jenis ini masih dapat tumbuh pada tanah jelek, berbatu-batu dan keras, pada ketinggian 0–600 mdpl (Martawijaya et al. 2005a). 2.5.8 Meranti Shorea spp. merupakan salah satu famili Dipterocarpaceae. Pohon ini sering juga disebut meranti, banio, lampung, merkuyung. Penyebaran meranti di Sumatra, Kalimantan dan Maluku. Tinggi pohon dapat mencapai 50 m dengan panjang batang bebas cabang sampai 30 m, diameter umumnya 100 cm. Meranti memiliki banir berukuran tinggi 3,5 m; lebar 2,5 m; dan tebal 20 cm. Kulit luar berwarna kelabu atau coklat dengan tebal lebih kurang 5 mm. Jenis ini memiliki berat jenis 0,52 (0,30–0,86) dan kelas kuat III–IV. Meranti tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A,B,C. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah-kuning dan podsolik kuning pada ketinggian sampai 1300 mdpl (Martawijaya et al. 2005a). 2.5.9 Kayu Afrika Maesopsis eminii termasuk ke dalam famili Rhaminaceae dengan nama perdagangan setempat musici sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama kayu afrika. Tanaman ini memiliki tajuk yang besar, tinggi pohon dapat mencapai 43 m dan diameter 120 cm serta dapat mencapai umur 200 tahun. Tumbuh pada daerah bergunung dengan ketinggian kira-kira 100 m dengan curah hujan tahunan bervariasi antara 1000–2000 mm. Kayu ini memiliki berat jenis kering udara berkisar 0,34–0,46 dan termasuk kedalam kelas kuat III–IV. Jenis ini merupakan tanaman perintis karena kecambah dan semainya dapat bertahan di bawah tajuktajuk hutan selama beberapa bulan dan membutuhkan celah tajuk yang lebar untuk tumbuh. 13 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2011. 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa data inventarisasi tegakan hutan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran yang ada di HPGW yang terletak di Kecamatan Cicantayan dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Peralatan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah peta rancangan sampling HPGW, pita ukur, tambang plastik, kompas, GPS (Global Potisioning System), alat tulis, tally sheet, range finder, parang, kalkulator, komputer (yang dilengkapi dengan software MS Word, MS Excel) dan software Arc View 3.2. Data penunjang yang digunakan dalam penelitian terdiri dari: 1. Peta HPGW berupa peta letak dan luas areal, peta tutupan dan penggunaan lahan, serta peta sebaran potensi tegakan. 2. Data informasi iklim, tanah dan geologi, keadaan lapangan serta keadaan hutan di HPGW. 3.3 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan dengan tahapan seperti diilustrasikan dalam Gambar 1. Tahapan dalam kegiatan penelitian ini secara umum terdiri dari persiapan dan pengambilan data lapangan, pengolahan data lapangan, serta pendugaan biomassa dan karbon di atas tanah. 14 Persiapan dan pembuatan rancangan sampling Mulai Pengukuran di lapangan Diameter batang (Dbh) pohon (cm) Tinggi total pohon (m) Persamaan alometrik penduga biomassa Pendugaan volume Persamaan ketterings penduga biomassa Nilai potensi biomassa dan karbon Pendugaan tanpa stratifikasi Pendugaan dengan stratifikasi Stratifikasi berdasarkan nilai potensi Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi Pendugaan potensi volume, biomassa, dan karbon Selesai Gambar 1 Diagram alir penelitian. 15 Secara rinci, metode yang diterapkan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: 3.3.1 Persiapan dan Pengambilan Data Lapangan Persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan penelitian ini diantaranya adalah perencanaan rancangan sampling untuk inventarisasi hutan di HPGW oleh divisi penelitian dan pengembangan HPGW. Pengambilan data lapangan direncanakan di atas peta kerja HPGW. Pengambilan data dilakukan dengan membuat plot contoh di lapangan dengan teknik systematic sampling with random start (penarikan contoh sistematik dengan pengacakan awal). Plot contoh diambil secara sitematik menurut aturan atau pola tertentu dengan plot contoh pertama dipilih secara acak dari populasi. Pola yang digunakan berupa grid berbentuk bujur sangkar yang dirancang pada peta HPGW dengan jarak antar plot 150 m untuk memperoleh keterwakilan yang tinggi. Plot contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 142 plot. Total plot contoh yang dibuat langsung dilapangan adalah sebanyak 48 plot sedangkan sisanya diperoleh dari data hasil inventarisasi hutan di HPGW tahun 2011 sebanyak 94 plot. Sebaran plot penelitian dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Peta sebaran plot penelitian. 16 Pengambilan data lapangan dilakukan pada tegakan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran yang ada di HPGW. Plot contoh yang digunakan berbentuk lingkaran karena mudah dibuat dan mudah menentukan pohon batas. Sutaraharja (1999) diacu dalam Noronhae (2007) menyatakan bahwa ukuran satuan contoh untuk bentuk circular dan rectangular plot dinyatakan dalam luasan tertentu dalam satuan hektar, misalnya 0,02 ha; 0,004 ha; 0,005 ha; 0,10 ha, dsb. Pada penelitian ini, plot contoh yang digunakan adalah plot contoh dengan jari-jari 17,8 m yang mewakili luas 0,1 ha. Pemilihan titik pengukuran lapangan dilakukan berdasarkan peta areal HPGW. Pemilihan titik dilakukan dengan metode systematic sampling with random start. Koordinat titik pengamatan di lapangan ditentukan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) sesuai dengan rancangan sampling yang telah dibuat pada peta kerja. Parameter tegakan yang diukur pada plot-plot contoh berupa diameter pohon setinggi dada (Dbh) ≥ 10 cm, tinggi total pohon (Tt), jenis pohon, kondisi pohon (mati pucuk, kurus, berpenyakit), kondisi batang (bercabang, lurus, rusak, dan jumlah koakan /sadapan). Diameter batang (Dbh) pohon dan tinggi total (Tt) diukur untuk menduga volume. Sedangkan untuk menduga potensi biomassanya hanya digunakan data diameter melalui persamaan alometrik. 3.3.2 Pengolahan Data 3.3.2.1 Pendugaan Volume Pendugaan volume pohon dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara tergantung pada jenis pohonnya (hardwood atau conifer), dimensi tinggi (pohon berdiri atau log), dan bentuk geometris batang (silinder, neiloid, parabola, kerucut). Rumus-rumus yang umum digunakan untuk menghitung volume pohon adalah rumus Huber, Smalian, dan Newton. Selain rumus-rumus tersebut juga dapat digunakan tabel volume baik tabel volume lokal maupun tabel volume standar dan tabel volume kelas bentuk. Pada penelitian ini, menggunakan persamaan tabel volume yang telah dikembangkan oleh peneliti terdahulu di 17 HPGW untuk menduga volume pohon. Persamaan penduga volume tersebut disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Persamaan penduga volume pohon di HPGW Jenis Persamaan Sumber Puspa V = -0,9344 + 5,4816 D + 0,0080 H (LPIPB 1985) Mahoni V = -1,0330 + 5,4816 D + 0,0080 H (LPIPB 1985) Pinus V = 10,3265 * –e (Wardasanti 2011) Agathis Jenis lainnya e^(1,9928-0,0339D) V = 0,00008872 D V = 0,0000091 D 2,658 1,54 H (Siagian 2011) 1,64 (LPIPB 1985) Keterangan: Untuk puspa dan mahoni: D = dbh (m), T = tinggi total (m) Untuk jenis lainnya : D = dbh (cm), T = tinggi total (m) V = volume tegakan (m3) D = diameter setinggi dada (cm) H = tinggi total pohon (m) e = eksponensial 3.3.2.2 Model Pendugaan Biomassa Tegakan Pendugaan potensi biomassa dalam penelitian ini menggunakan persamaan alometrik karena dalam pembuatan model penduga biomassa memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang besar. Selain itu, persamaan alometrik bersifat universal sehingga akan memudahkan dalam pengestimasian biomassa tanaman yang tumbuh pada beberapa daerah berbeda. Persamaan alometrik pada masing-masing jenis pohon berbeda satu sama lain. Persamaan-persamaan alometrik yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari penelitian terdahulu tentang pendugaan biomassa masing-masing jenis pohon sehingga memberikan hasil dugaan yang akurasinya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Adapun persamaan alometrik yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4. 18 Tabel 4 Berbagai model persamaan alometrik untuk menduga biomassa tegakan di HPGW No Jenis pohon 1 Mangium (Acacia mangium) Agathis (Agathis lorantifolia) Pinus (Pinus merkusii) Mahoni (Swietenia macrophylla) Meranti (Shorea leprosula) Puspa (Schima wallichii) Jati (Tectona grandis) Sengon (Paraserianthers falcataria) 2 3 4 5 6 7 8 Model persamaan alometrik Sumber W = 0,0528 (D2)1,3612 (Heriansyah et al. 2003 diacu dalam Masripatin et al. 2010) W = 0,3406 D2,0467 (Siregar & Dharmawan 2007) 2,26 W = 0,206 D W = 0,066 D2,13 H0,257 (Hendra 2002) W = 0,048 D2,68 (Adinogroho 2002) W = 0,058 D2,62 (Handayani 2003) 1,9978 W = 0,4594 D W = 0,0727 (D2H)0,8993 (Salim 2005) W = 0.2759 D2.2227 (Hendri 2001 diacu dalam Tiryana et al. 2011) W = 0.1479 D2.2989 (Hairiyah & Rahayu 2007) Biomassa yang diukur dalam penelitian ini merupakan biomassa di atas permukaan tanah (above-ground biomass) dari berbagai tegakan yang ada di HPGW. Persamaan alometrik untuk menaksir biomassa di atas permukaan tanah untuk jenis-jenis pohon yang ada di HPGW sangat terbatas sehingga untuk jenis pohon yang tidak ada persamaan alometriknya digunakan persamaan alometrik yang bersifat universal seperti yang dikemukakan oleh Ketterings et al. (2001) yaitu sebagai berikut: W = 0,11 ρ D 2,62 ...................................................................... (3) Keterangan : W = biomassa (kg/pohon) ρ = massa jenis pohon (kg/cm3) D = diameter setinggi dada (1,3 m) Persamaan tersebut menggunakan variabel diameter dan kerapatan kayu masingmasing jenis secara spesifik sehingga bisa meminimalkan kesalahan pengukuran. Tabel 5 menyajikan kerapatan kayu jenis-jenis pohon yang ada di HPGW. 19 Tabel 5 Kerapatan kayu berbagai jenis pohon di HPGW Nama lokal Nama botani Wood density (g/cm3) Sumber Ampelas (Ficus ampelas) 0,48 Beringin (Ficus benjamina) 0,52 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Anonim 1981) Ficus (Ficus sp.) 0,47 Prosea 5(3) p:233 Jambu 0,73 Prosea 5(2) p:442 0,73 (Anonim 1981) Jenis lain (Syzygium sp) (Pithecelobium rosulatum) - 0,57 Kayu afrika (Maesopsis eminii) 0,42 Brown (data from reyes et al. 1992) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Ginoga 1978) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) Jengkol Kenanga (Cinnamomum burmani) (Cananga ordorata) Kepuh (Sterculia foetida) 0,64 Keruing (Dipterocarpus elongatus) 0,67 Ketapang (Terminalia catappa) 0,65 Kayu manis 0,57 0,38 (Martawijaya et al. 1992) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) prosea 5(2)p:442 Ki sireum (Macaranga rhizinoides) (Eugenia cymosa) Ki teja (Machilus rimosa) 0,59 Laban (Vitex pubescens) 0,88 Sonokeling (Dalbergia latifolia) 0,83 Macaranga (Macaranga sp) 0,5 Mangga (Mangifera indica) 0,67 Mindi (Melia azedarach) (Callophyllum inophyllum) 0,53 Prosea 5(3) p:340 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Martawijaya et al. 1992) 0,69 (Martawijaya et al. 1992) Pasang (Quercus sundaicus) 0,58 Petai cina (Leucaena leucephala) 0,82 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Anonim 1981) Pulai (Alstonia scholaris) 0,30 (Martawijaya et al. 1992) Rambutan (Nephelium lappaceum) 0,91 (Anonim 1981) Rasamala (Altingia exelsa) 0,81 (Anonim 1981) Resak (Vatica rassak) 0,6 Sempur (Dillenia aurea) 0,76 Sukun (Artocarpus communis) 0,40 Sungkai (Peronema canescens) 0,52 (Martawijaya et al. 1992) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Martawijaya et al. 1992) Tangkalak (Litsea sebifera) 0,72 Teureup (Artocarpus elastica) 0,44 Waru laut (Hibiscus tiliaceus) 0,54 Ki huru Nyamplung 0,39 0,73 (http://www.thewoodexchange.info) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Martawijaya et al. 1992) Prospect: The Wood Database Version 2.1 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) Sumber://www.worldagroforestry.org/sea/products/afdbases/wd/index.htm 20 Terdapat beberapa jenis pohon yang tidak diketahui kerapatan kayu lokalnya seperti apus, dara uncal, ramu giling, harendong dan jenis lainnya sehingga digunakan kerapatan pohon di Asia seperti yang dikemukakan Brown (1997) diacu dalam Ketterings et al. (2001) yaitu 0,57 g/cm3. 3.3.2.3 Pendugaan Karbon Hutan Nilai biomassa yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat digunakan untuk menduga potensi karbon yang tersimpan dalam vegetasi hutan. Karbon merupakan produk dari produksi biomassa yang terbentuk dikurangi dengan total yang hilang melalui jaringan akar halus, cabang, dan daun serta penyakit, sisanya tergabung di dalam struktur yang tersimpan dalam pohon (Johnson et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45–50% bahan kering dari tanaman. Berdasarkan hasil konferensi IPCC (2006), fraksi karbon dari biomassa hutan yaitu 0,47 sehingga untuk mengetahui potensi karbon (ton C/ha) dalam hutan dapat diduga dengan mengalikan biomassa hutan dengan fraksi karbon tersebut. C = W * 0,47............................................................................. (4) Keterangan : C = karbon W = biomassa (kg/pohon) 0,47 = fraksi karbon 3.3.2.4 Analisis Data Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon pada penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode pendugaan tanpa stratifikasi dan metode pendugaan dengan strafitikasi. Metode pendugaan tanpa stratifikasi menggunakan systematic sampling with random start seperti dalam pengambilan plot contoh. Pada metode tersebut pendugaan parameter dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus simple random sampling (SRS) (Shiver & Borders 1996) yaitu sebagai berikut: a. Penduga nilai tengah/rata-rata populasi (μ) : = sy = ............................................................ (5) 21 b. Ragam dugaan bagi ( = ): ; dimana : = ............ (6) c. Selang kepercayaan (1-α).100% bagi nilai tengah/rata-rata populasi : = ..................................................... (7) sy d. Penduga total populasi ( ) : = N. ............................................................................... (8) e. Ragam dugaan bagi total populasi ( = N2. = => ) = N2 ................ (9) f. Selang kepercayaan (1-α).100% bagi total populasi : Y= ......................................................... (10) ± atau dapat dihitung dari selang kepercayaan bagi rata-rata : .......................................... (11) N. g. Kesalahan penarikan contoh (sampling error, SE) ..................................... (12) SE = Keterangan: yi = nilai pada plot contoh ke-i = ragam contoh n = ukuran contoh N = ukuran populasi Selain menduga tanpa stratifikasi, juga dilakukan stratifikasi setelah semua data hasil penelitian metode dengan dilapangan terkumpul (poststratification). Poststratification dilakukan karena kondisi tegakan di HPGW yang cenderung heterogen, yaitu bervariasi dalam hal umur, komposisi jenis, kualitas tempat tumbuh (bonita), topografi dan lain sebagainya. Pada metode ini, terlebih dahulu dilakukan stratifikasi populasi yang akan diduga potensi volume, biomassa, dan cadangan karbonnya menjadi beberapa stratum yang kondisinya relatif homogen dan tidak saling tumpang tindih (overlap). Stratifikasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu stratifikasi berdasarkan sebaran nilai volume dan biomassa tegakan serta berdasarkan jenis vegetasi. Stratifikasi tersebut dipilih 22 untuk mengurangi keragaman sehingga menghasilkan nilai dugaan yang lebih akurat. Pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi, stratifikasi dilakukan dengan terlebih dahulu menduga sediaan tegakan pada lokasi-lokasi yang tidak terwakili oleh plot contoh menggunakan teknik interpolasi permukaan (surface interpolation). Interpolasi permukaan adalah suatu teknik untuk menghitung nilai diantara dua atu lebih titik yang secara spasial berdekatan (Jaya et al. 2010). Data dari plot-plot contoh yang telah diukur kemudian ditransformasikan menjadi informasi petak. Metode interpolasi permukaan umumnya dilakukan dengan dua metode yaitu metode Inverse Distance Weighted (IDW) atau Invers Jarak Tertimbang dan spline. Akan tetapi, pada penelitian ini digunakan metode IDW karena metode ini menghasilkan kisaran estimasi sediaan yang mendekati kondisi aktualnya di lapangan dengan kesalahan relatif rendah (Jaya et al. 2010). Berdasarkan hasil interpolasi tersebut kemudian dilakukan stratifikasi. Untuk stratifikasi berdasarkan nilai potensi volume, areal dengan kisaran nilai volume yang sama dijadikan sebagai satu stratum begitu pula pada stratifikasi berdasarkan biomassa. Areal dengan kisaran nilai biomassa yang sama dijadikan sebagai satu stratum. Sedangkan untuk pendugaan cadangan karbonnya, digunakan stratifikasi berdasarkan nilai potensi biomassa. Hal ini dikarenakan hasil pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa. Sehingga setiap penambahan kandungan biomassa akan diikuti oleh penambahan kandungan karbon dan apapun yang menyebabkan peningkatan ataupun penurunan biomassa maka akan menyebabkan peningkatan ataupun penurunan kandungan karbon. Selain dilakukan stratifikasi berdasarkan nilai volume dan biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Untuk stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi, areal dengan jenis vegetasi yang sama dijadikan sebagai satu stratum. Nilai-nilai dugaan bagi rata-rata per hektar dan total potensi biomassa dan karbon dihitung berdasarkan potensi pada setiap stratum serta keseluruhan populasi tegakan HPGW dengan menggunakan metode stratified systematic sampling with random start. Menurut Cochran (1997), Shiver and Borders (1996), Tiryana (2003), Vries (1986) diacu dalam Tiryana (2005) rumus-rumus yang 23 digunakan dalam metode pendugaan biomassa dan karbon dengan metode stratified systematic sampling with random start adalah sebagai berikut: 1. Pendugaan pada setiap stratum a. Rata-rata potensi pada stratum ke-h: h= ................................................................. (13) b. Ragam rata-rata potensi pada stratum ke-h: = dimana : ................................................................. (14) .................................... (15) = 2. Pendugaan pada keseluruhan populasi tegakan: a. Rata-rata potensi pada populasi: .................................................................... = (16) b. Ragam rata-rata potensi pada populasi: ........................................................... = (17) c. Taksiran selang bagi rata-rata potensi pada populasi: . ................................................. ± (18) d. Total potensi pada populasi: = N. ............................................................................... (19) e. Ragam bagi total potensi pada populasi: = . .......................................................................... (20) f. Taksiran selang bagi total potensi pada populasi: ± atau N. ......................................................... (21) ....................................... (22) g. Kesalahan penarikan contoh (sampling error) SE = .................................................. (23) 24 Keterangan: yh,i = nilai potensi pada stratum ke-h dan plot contoh ke-i = ragam contoh pada stratum ke-h nh = ukuran contoh pada stratum ke-h Nh = ukuran stratum ke-h N = ukuran populasi L = jumlah stratum 25 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Status dan Peran Kawasan Pada awalnya Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah areal kawasan hutan seluas ± 359 ha yang peruntukannya sebagai Hutan Pendidikan dengan status hak pinjam pakai. Ketentuan tersebut didasarkan atas: 1. Surat Keputusan Kepala Jawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat tanggal 14 oktober 1969 No.7041/IV/2/69. 2. Surat Direktorat Jenderal Kehutanan tanggal 24 Januari 1973 No.291/05/79. 3. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.008/Kpts/Dj/73. 4. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.687/Kpts-II/92. Setelah melalui proses panjang sejak tahun 1996, akhirnya pada tahun 2005 status kawasan HPGW dikuatkan dengan diterbitkannya SK Menhut No.188/Menhut–II/2005, yang menetapkan fungsi hutan kawasan HPGW seluas 359 ha sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan pengelolaanya diserahkan kepada Fakultas Kehutanan IPB dengan tujuan khusus sebagai Hutan Pendidikan (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.2 Letak dan Posisi Geografis HPGW secara geografis terletak pada 106˚48’27”BT sampai 106˚50’29”BT dan -6˚54’23”LS sampai -6˚55’35”LS. Secara administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Kecamatan Cicantayan dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Dalam administrasi kehutanan areal HPGW termasuk BKPH Gede Barat, KPH Sukabumi, Unit III Jawa Barat Perum Perhutani (Badan Eksekutif HPGW 2010). HPGW berbatasan dengan Desa Batununggal dan Sekarwangi di bagian Utara, Desa Cicantayan dan Desa Cijati di bagian Timur, Desa Hegarmanah di bagian Selatan dan di bagian Barat (Badan Eksekutif HPGW 2010). HPGW memiliki luas 359 ha, dibagi ke dalam 3 blok yaitu blok Cikatomas dengan luas 120 ha yang terletak di bagian Timur, blok Cimenyan dengan luas 125 ha yang terletak di bagian Barat dan blok Tengkalak/Seusepan dengan luas 26 114 ha yang terletak di bagian Tengah dan di bagian Selatan (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.3 Topografi HPGW terletak pada ketinggian 460–715 mdpl. Kondisi topografi mulai dari agak curam (15–25%) sampai sangat curam (>40%). Bagian selatan merupakan daerah yang bergelombang mengikuti punggung-punggung bukit yang memanjang dan melandai dari Utara ke Selatan. Di bagian tengah terdapat puncak dengan ketinggian 676 mdpl (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.4 Geologi dan Jenis tanah HPGW terbentuk oleh batuan sedimen tersier bawah (oligosen) yang tersusun oleh batu pasir kuarsa yang berlapiskan silang konglomerat kerakal kuarsa lempung, lignit lapisan-lapisan arang tipis. Gunung Walat mengandung bebatuan alam yang terdiri dari batuan sedimen vulkanik berwarna hijau semu abu-abu, membentuk seri lapisan yang sangat tebal. Gunung Walat terdiri dari lapisan tufa dasit yang pada horizon tertentu diselingi dengan batuan tufa andesit, yang merupakan bagian dari ”Breksi tua” yang berumur meosin. Keadaan Gunung Walat merupakan pulau meosin di tengah-tengah formasi batuan vulkanik kuarter yang berasal dari Gunung Salak dan Gunung Gede (Badan Eksekutif HPGW 2010). Jenis tanah Gunung Walat adalah keluarga tropophumult tipik (lotosol merah kekuningan), tropodult (latosol coklat), dystropept tipik (podsolik merah kekuningan) dan troporpent lipik (latosol). Tanah latosol merah kekuningan adalah jenis tanah yang terbanyak sedangkan di daerah berbatu hanya terdapat tanah latosol, dan di daerah lembah terdapat tanah podsolik (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.5 Iklim dan Hidrologi Klasifikasi iklim daerah Gunung Walat menurut Schmidt dan Ferguson termasuk tipe B, dengan nilai Q=14,3% 33% dan banyaknya curah hujan tahunan 27 berkisar antara 1600–4000 mm. Suhu udara maksimum di siang hari 29˚C dan minimum 19˚C di malam hari (Badan Eksekutif HPGW 2010). Gunung Walat dilalui beberapa aliran sungai yang umumnya mengalir ke arah Selatan dan berair sepanjang tahun yaitu anak sungai Cipeureu, Citangkalak, Cikabayan, Cikatomas, dan Legok Pusar yang merupakan sumber air bersih bagi masyarakat sekitarnya. Kawasan Gunung Walat termasuk ke dalam sistem pengelolaan DAS Cimandiri (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.6 Vegetasi Hutan Tegakan HPGW terdiri dari tanaman agathis (Agathis loranthifolia), pinus (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jenis lainnya seperti kayu afrika (Maesopsis eminii), rasamala (Altingia excelsa), sonokeling (Dalbergia latifolia), mangium (Acacia mangium), dan meranti (Shorea leprosula). Selain itu terdapat 44 jenis tumbuhan, termasuk 2 jenis rotan dan 13 jenis bambu dan juga terdapat jenis tumbuhan obat sebanyak 68 jenis (Badan Eksekutif HPGW 2010). Berdasarkan hasil inventarisasi hutan tahun 1984, HPGW memiliki potensi 10.855 m3 kayu Agathis lorantifolia (agathis), 9.471 m3 kayu Pinus merkusii (pinus), 464 m3 Schima wallichii (puspa), 132 m3 Paraserianthes falcataria (sengon) dan 88 m3 kayu Swietenia macrophylla (mahoni). Di HPGW juga ditemukan lebih dari 100 pohon plus damar, pinus, kayu afrika sebagai sumber benih dan bibit unggul. Tanaman damar dan pinus telah menghasilkan getah kopal dan getah pinus (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.7 Kehidupan Satwa Liar Di areal HPGW terdapat beraneka ragam jenis satwa liar yang meliputi jenis-jenis mamalia, reptilia, burung, dan ikan. Dari kelompok jenis mamalia terdapat monyet ekor panjang, babi hutan, tupai, trenggiling, kelinci liar, meong congkok, musang. Dari kelompok jenis burung (aves) terdapat sekitar 20 jenis diantaranya adalah elang jawa, kutilang, emprit, dll. Jenis-jenis reptilia antara lain biawak, ulat, dan bunglon. Terdapat juga berbagai jenis ikan sungai seperti ikan 28 lubang (sejenis lele yang memiliki warna agak merah). Selain itu terdapat pula lebah hutan (tawon gung, odeng, apis dorsata) (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.8 Kependudukan Penduduk di sekitar HPGW umumya memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak, tukang ojek, pedagang hasil pertanian, dan bekerja sebagai buruh pabrik. Pertanian yang dilakukan berupa sawah lahan basah dan lahan kering. Jumlah petani penggarap yang dapat ditampung dalam program agroforestry HPGW sebanyak 300 orang petani penggarap. Hasil pertanian dari lahan agroforestry seperti singkong, kapolaga, pisang, cabe, padi gogo, kopi, sereh, dll. Jumlah ternak domba/kambing di sekitar HPGW sebanyak 1875 ekor, jika setiap ekor domba/kambing memerlukan 5 kg rumput, maka diperlukan hijauan sebanyak 9.375 ton. Hijauan pakan ternak tersebut sebagian besar berasal dari HPGW (Badan Eksekutif HPGW 2010). Kecamatan Cicantayan, khususnya Desa Hegarmanah juga merupakan desa penghasil manggis dengan mutu eksport. Jumlah pohon manggis di Desa Hegarmanah sebanyak 12.800 batang dan akan terus bertambah. Untuk menjadi sentra produksi diperlukan 40.000 pohon (Badan Eksekutif HPGW 2010). 29 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pendugaan Potensi Tanpa Stratifikasi Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon dari berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW didasarkan atas data hasil pengukuran langsung di lapangan sebanyak 48 plot contoh dan hasil inventarisasi hutan di HPGW tahun 2011 sebanyak 94 plot contoh. Berdasarkan 142 contoh tersebut kemudian diduga potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon tegakan tanpa stratifikasi yaitu dengan menggunakan metode systematic sampling. Hasil dugaan tersebut disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Nilai-nilai dugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon tegakan tanpa stratifikasi Statistik Jumlah data Volume Biomassa Karbon 142 plot 142 plot 8,64–1054,35 m /ha 28,64–516,74 ton/ha 13,46–242,87 ton/ha 14,95 m3/ha 6,40 ton/ha 3,01 ton/ha a. Batas atas 428,08 m3/ha 213,47 ton/ha 100,34 ton/ha b. Rata-rata 398,77 m3/ha 200,93 ton/ha 94,44 ton/ha 369,47 m /ha 188,39 ton/ha 88,54 ton/ha a. Batas atas 153.065,75 m3 76.329,53 ton 35.874,89 ton b. Rata-rata 142.588,90 m3 71.847,14 ton 33.768,16 ton 3 67.264,76 ton 31.661,43 ton 7,35% 6,24% 6,25% Kisaran nilai Kesalahan baku rata-rata Penduga rata-rata c. Batas bawah 142 plot 3 3 Penduga total c. Batas bawah Sampling error 132.112,05 m Dari Tabel 6 terlihat bahwa volume per hektar dari tegakan di HPGW memiliki nilai dugaan antara 369,47 sampai 428,08 m3/ha dengan rata-rata sebesar 398,77 m3/ha. Sedangkan total potensi volume untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 142.588,90 m3. Kesalahan penarikan contoh dalam pendugaan potensi volume yaitu sebesar 7,35%. Adapun potensi biomassa yang dihitung dengan metode alometrik diduga memiliki nilai dugaan antara 188,39 sampai 213,47 ton/ha dengan rata-rata 200,93 ton/ha. Sedangkan total potensi biomassa untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 71.847,14 ton. Kesalahan penarikan contoh dalam pendugaan potensi 30 biomassa yaitu sebesar 6,24%. Sementara itu, kapasitas cadangan karbon yang dihitung berdasarkan potensi biomassa tegakan diduga memiliki nilai dugaan antara 88,54 sampai 100,34 ton/ha dengan rata-rata 94,44 ton/ha. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa HPGW memiliki cadangan karbon sebesar 33.768,16 ton. Kesalahan penarikan contoh dalam pendugaan potensi karbon yaitu sebesar 6,25%. Pendugaan potensi volume, biomassa, dan karbon tersebut menghasilkan nilai dugaan yang besar karena potensi pohon per/ha di HPGW juga besar yaitu 230 pohon/ha. Hasil pendugaan tersebut dapat dianggap teliti karena kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi baik pada pendugaan volume, biomassa, dan cadangan karbon kurang dari 10%. Seperti yang dikemukaan oleh Spurr (1992) diacu dalam Herdiansyah (2004) bahwa kesalahan sampling (sampling error) dalam penarikan contoh dianggap tepat di dalam pendugaan apabila kesalahan sampling tersebut tidak lebih dari 10%. 5.2 Pendugaan Potensi Menggunakan Stratifikasi 5.2.1 Potensi Volume Tegakan Stratifikasi yang digunakan untuk menduga potensi volume tegakan yaitu stratifikasi berdasarkan kisaran nilai volume. Areal dengan kisaran nilai volume yang sama dijadikan sebagai satu stratum. Dari hasil interpolasi nilai volume dengan menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW) dihasilkan empat stratum. Masing-masing stratum memiliki luasan yang berbeda-beda dengan jumlah plot contoh pada masing-masing stratum juga berbeda satu sama lain. Bentuk stratum dan sebaran plotnya dapat dilihat pada Gambar 3. 31 Gambar 3 Stratifikasi berdasarkan nilai volume tegakan. Stratum 1 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume terendah yaitu sebesar 100 sampai 370 m3/ha. Stratum 2 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume sebesar 371 sampai 550 m3/ha. Stratum 3 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume sebesar 551 sampai 640 m3/ha. Stratum 4 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume tertinggi yaitu sebesar 641 sampai 1000 m3/ha. Berdasarkan hasil stratifikasi tersebut kemudian diduga potensi volume pada masing-masing stratum. Volume pohon didapat dengan menggunakan persamaan volume masing-masing jenis pohon yang ada di HPGW dari penelitian terdahulu. Hasil perhitungan potensi volume tegakan pada masing-masing stratum tersebut dapat dilihat pada Tabel 7. 32 Tabel 7 Potensi volume tegakan berdasarkan stratifikasi nilai volume Stratum Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) 3 Kisaran nilai (m /ha) 1 2 3 4 68 17 14 43 167,814 50,657 38,687 100,415 8,64–608,20 181,60–737,16 250,41–858,61 120,01–1054,35 3 12,86 29,73 36,89 28,97 a. Batas atas (m3/ha) 281,17 530,92 607,67 611,98 b. Rata-rata (m /ha) 255,96 467,89 528,00 555,20 3 230,75 404,85 448,32 498,42 47.183,95 26.895,00 23.508,95 61.451,70 42.953,75 23.701,78 20.426,63 55.750,41 38.723,55 20.508,57 17.344,30 50.049,12 5,02 6,35 6,99 5,22 Kesalahan baku (m /ha) Penduga rata-rata 3 c. Batas bawah (m /ha) Penduga total a. Batas atas (m3) 3 b. Rata-rata (m ) 3 c. Batas bawah (m ) Koefisien variasi (%) Keterangan: Stratum 1 = areal dengan potensi volume 100–370 m3/ha Stratum 2 = areal dengan potensi volume 371–550 m3/ha Stratum 3 = areal dengan potensi volume 551–640 m3/ha Stratum 4 = areal dengan potensi volume 641–1000 m3/ha Terlihat pada Tabel 7, hasil pendugaan menunjukkan bahwa potensi volume rata-rata tegakan pada stratum 3 memiliki selang dengan interval terlebar yaitu memiliki nilai dugaan antara 448,32 sampai 607,67 m3/ha dan interval tersempit pada stratum 1 yaitu memiliki nilai dugaan antara 230,75 sampai 281,17 m3/ha. Semakin sempit suatu selang semakin efisien dugaannya. Stratum 3 memiliki nilai koefisien variasi terbesar dibandingkan dengan stratum lain yaitu sebesar 6,99%. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi volume pada stratum 3 cenderung lebih bervariasi dibandingkan dengan stratum lain. Variasi potensi volume tersebut terjadi akibat adanya keragaman jenis dan keragaman pertumbuhan dimensi pohon (diameter dan tinggi). Sementara itu, volume rata-rata (m3/ha) terbesar terdapat pada stratum 4 yaitu 555,20 m3/ha dan volume rata-rata terkecil terdapat pada stratum 1 yaitu 255,96 m3/ha. Hal ini dapat terjadi karena stratum 4 merupakan areal dengan potensi volume yang tinggi yaitu antara 641 sampai 1000 m3/ha. Potensi volume yang tinggi tersebut terjadi akibat adanya jenis pohon yang berdimensi besar seperti agathis, pinus, dan puspa. Stratum 4 memiliki dugaan potensi volume total terbesar yaitu 55.750,41 m3 karena stratum 4 selain memiliki 33 rata-rata volume yang besar juga memiliki luas yang cukup besar yaitu ± 100,415 ha. Namun sebaliknya, stratum 1 merupakan areal dengan potensi volume per hektar rendah karena stratum 1 memiliki potensi volume rendah yaitu antara 100 sampai 370 m3/ha. Besarnya potensi volume tegakan bervariasi tergantung dari jenis dan ukuran pohon yang terdapat pada areal tersebut. Selain dilakukan stratifikasi berdasarkan nilai volume, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi untuk menduga potensi volume pada masing-masing jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Jenis-jenis vegetasi yang teridentifikasi di HPGW diantaranya adalah tegakan agathis, campuran (agathis, pinus, dan puspa), campuran (agathis dan puspa), kayu afrika, pinus, campuran (pinus dan agathis), campuran (pinus dan kayu afrika), campuran (pinus dan puspa), puspa, dan campuran (puspa dan mahoni). Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi tegakan. Berdasarkan hasil stratifikasi tersebut, areal dengan jenis vegetasi sama dijadikan sebagai satu stratum sehingga dihasilkan 10 stratum yang kemudian diduga potensi volume pada masing-masing jenis vegetasi. Hasil perhitungan potensi volume tegakan pada masing-masing jenis vegetasi tersebut disajikan pada Tabel 8. 34 Tabel 8 Potensi volume tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi 1 2 3 4 Stratum 5 12 3 23 3 35 2 13 10 36 5 27,426 7,964 54,045 7,418 104,003 4,260 29,692 23,880 89,464 9,422 96 200,56– 1.054,35 48,43 123 8,64–606,04 141,98 197 133,04– 992,55 38,67 55 17,24– 127,54 27,04 141 122,87– 795,53 21,74 260 453,44– 982,06 192,51 275 78,12– 568,50 32,20 266 80,45– 757,53 45,34 126 48,97– 606,66 17,41 206 26,31– 362,03 41,97 819,28 867,29 607,64 174,11 460,96 3.163,84 364,03 499,60 318,31 296,56 b. Rata-rata (m /ha) 712,70 256,33 527,44 57,77 418,34 717,75 293,87 397,05 284,19 180,04 3 606,11 -354,63 447,23 -58,57 375,72 -1.728,34 223,70 294,50 250,08 63,52 22.469,63 6.907,08 32.839,87 1.291,58 47.940,78 13.477,940 10.808,82 11.930,43 28.477,52 2.794,22 19.546,37 2.041,40 28.505,23 428,57 43.508,52 3.057,60 8.725,51 9.481,51 25.425,20 1.696,34 16.623,11 -2824,29 24.170,60 -434,49 39.076 -7.362,74 6.642,20 7.032,59 22.372,88 598,47 6,79 55,39 7,33 46,80 5,20 26,82 10,96 11,42 6,13 23,31 Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) Jumlah pohon/ha 3 Kisaran nilai (m /ha) 3 Kesalahan baku (m /ha) 6 7 8 9 10 Penduga rata-rata a. Batas atas (m3/ha) 3 c. Batas bawah (m /ha) Penduga total a. Batas atas (m3) 3 b. Rata-rata (m ) 3 c. Batas bawah (m ) Koefisien variasi (%) Keterangan : Stratum 1 = tegakan agathis Stratum 2 = tegakan agathis, pinus, dan puspa Stratum 3 = tegakan agathis dan puspa Stratum 4 = tegakan kayu afrika Stratum 5 = tegakan pinus Stratum 6 = tegakan pinus dan agathis Stratum 7 = tegakan pinus dan kayu afrika Stratum 8 = tegakan pinus dan puspa Stratum 9 = tegakan puspa Stratum 10 = tegakan puspa dan mahoni 34 35 Tabel 8 menunjukkan dugaan potensi volume berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW. Potensi volume tegakan agathis memiliki rata-rata sebesar 712,70 m3/ha dengan total potensi volume untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 19.546,37 m3. Potensi volume tegakan campuran (agathis, pinus, dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 256,33 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 2.041,40 m3. Potensi volume tegakan campuran (agathis dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 527,44 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 28.505,23 m3. Potensi volume tegakan kayu afrika memiliki rata-rata sebesar 57,77 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 428,57 m3. Potensi volume tegakan pinus memiliki rata-rata sebesar 418,34 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 43.508,52 m3. Potensi volume tegakan campuran (pinus dan agathis) memiliki rata-rata sebesar 717,75 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 3.057,60 m3. Potensi volume tegakan campuran (pinus dan kayu afrika) memiliki rata-rata sebesar 293,87 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 8.725,51 m3. Potensi volume tegakan campuran (pinus dan puspa) memiliki ratarata sebesar 397,05 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 9.481,51 m3. Potensi volume tegakan puspa memiliki rata-rata sebesar 284,19 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 25.425,20 m3. Potensi volume tegakan campuran (puspa dan mahoni) memiliki rata-rata sebesar 180,04 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 1.696,34 m3. Tegakan pinus memiliki dugaan total terbesar dibandingkan dengan tegakan lain. Hal ini dikarenakan pohon pinus merupakan pohon dengan dimensi pohon (diameter dan tinggi) besar sehingga menghasilkan nilai volume yang besar pula. Selain itu tegakan pinus memiliki luasan terlebar dibandingkan dengan tegakan lain di HPGW yaitu sekitar 104,003 ha. Sedangkan tegakan kayu afrika memiliki potensi volume terendah baik rata-rata per hektar maupun dugaan total tegakan yaitu 57,77 m3 dan 428,57 m3. Tegakan campuran antara agathis, pinus dan puspa memiliki potensi volume yang cenderung bervariasi dibandingkan dengan jenis tegakan lain. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien variasi yang besar yaitu 55,39%. Variasi tersebut terjadi akibat adanya keragaman jenis tegakan karena merupakan tegakan campuran serta variasi dimensi pohon (diameter dan tinggi). Tegakan campuran antara pinus dan agathis memiliki selang nilai volume terlebar 36 yaitu memiliki nilai dugaan antara -1.728,34 sampai 3.163,84 m3/ha dan selang nilai volume paling sempit pada tegakan puspa yaitu memiliki nilai dugaan antara 250,08 sampai 318,31 m3/ha. Selang nilai volume yang negatif dapat terjadi akibat keragaman yang tinggi. Tingginya nilai keragaman menunjukkan beragamnya jenis vegetasi dan dimensi pohon yang ada dalam tegakan baik diameter ataupun tinggi. Semakin tinggi variasi, potensi volume cenderung beragam/heterogen. Selain keragaman, jumlah plot contoh yang terdapat pada stratum juga dapat mempengaruhi kisaran nilai dugaan volume. Apabila plot contoh yang terdapat pada suatu stratum jumlahnya sedikit selang dugaan nilai potensi volume akan bernilai negatif. Hal ini dikarenakan jumlah plot contoh pada stratum tersebut tidak cukup mewakili untuk menduga potensi volumenya. Hal tersebut juga menyebabkan tingginya kesalahan penarikan contoh. Potensi rata-rata volume tegakan agathis yang dihasilkan dari penelitian ini adalah 712,70 m3/ha berbeda jauh dengan penelitian Herdiansyah (2004) yang menduga potensi volume agathis di HPGW dengan mengunakan metode konvensional (systematic sampling) yaitu sebesar 575,39 m3/ha. Sedangkan untuk potensi rata-rata volume tegakan puspa, pada penelitian ini adalah 284,19 m3/ha. Hasil dugaan tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian Noronhae (2007) yang menduga potensi volume puspa di HPGW dengan mengunakan metode systematic sampling with random start yaitu sebesar 294,22 m3/ha. Perbedaan hasil dapat terjadi karena adanya perbedaan metode yang digunakan dalam menduga potensi volume pohon. Pada Tabel 9 disajikan nilai-nilai dugaan potensi volume seluruh tegakan di HPGW dengan stratifikasi yang diketahui dari hasil pendugaan dengan metode stratified sampling. Tabel 9 Nilai-nilai dugaan potensi volume seluruh tegakan di HPGW Statistik Rata-rata (m3/ha) Ragam rata-rata (m3/ha) 3 Kesalahan baku rata-rata (m /ha) 3 Selang kepercayaan 95% bagi rata-rata (m /ha) 3 Total tegakan (m ) Kesalahan penarikan contoh (%) Potensi volume strata volume 399,45 Potensi volume strata vegetasi 398,29 136,28 140,04 11,67 11,83 376,57–422,33 375,09–421,48 142.832,56 142.416,26 5,73 5,82 37 Nilai-nilai dugaan potensi volume tegakan di HPGW dengan stratifikasi memiliki nilai dugaan yang berbeda baik nilai rata-rata (m3/ha), ragam rata-rata (m3/ha), kesalahan baku rata-rata (m3/ha), total tegakan (m3/ha) maupun kesalahan penarikan contohnya (%) dibandingkan dengan nilai-nilai dugaan potensi volume tegakan tanpa stratifikasi. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa potensi volume per hektar yang dihitung berdasarkan strata volume dan jenis vegetasi menunjukan hasil yang berbeda meskipun keduanya menggunakan metode stratified sampling. Perbedaan nilai-nilai dugaan potensi volume tersebut terjadi karena adanya perbedaan peubah yang digunakan pada saat melakukan stratifikasi (nilai potensi dan jenis vegetasi) sehingga menghasilkan jumlah dan luas stratum yang berbeda-beda satu sama lain. Pada stratifikasi berdasarkan nilai volume, areal HPGW terbagi menjadi 4 stratum, sedangkan pada stratifikasi berdasarkan vegetasi, areal HPGW terbagi menjadi 10 stratum. Selain jumlah dan luas stratum yang berbeda, komposisi vegetasi pada masing-masing strata berbeda satu sama lain karena pada strata volume, stratifikasi dilakukan berdasarkan kisaran nilai volume yang sama dengan tidak memperhatikan jenis vegetasinya sehingga pada strata volume terdiri dari berbagai macam komposisi jenis vegetasi sedangkan pada strata vegetasi, stratifikasi dilakukan berdasarkan komposisi jenis yang sama sehingga terdapat perbedaan dimensi pada masing-masing jenis. Pada strata volume, potensi volume per hektar memiliki nilai dugaan antara 376,57 sampai 422,33 m3/ha dengan rata-rata sebesar 399,45 m3/ha. Sedangkan total potensi volume untuk seluruh tegakan yang ada di HPGW (luas efektif 357,574 ha) diduga sebesar 142.832,56 m3. Adapun potensi volume yang dihitung berdasarkan jenis vegetasi, diduga memiliki nilai dugaan antara 375,09 sampai 421,48 m3/ha dengan rata-rata sebesar 398,29 m3/ha. Secara keseluruhan total potensi volume yang terdapat di HPGW sebesar 142.416,26 m3. Nilai kesalahan penarikan contoh ditentukan oleh kesalahan baku dan rata-rata contohnya, kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi cukup kecil yaitu 5,73% dan 5,82%. 38 5.2.2 Potensi Biomassa Tegakan Stratifikasi yang digunakan untuk menduga potensi biomassa tegakan yaitu berdasarkan kisaran nilai biomassa. Dari hasil interpolasi nilai biomassa dengan menggunakan metode (Inverse Distance Weigth) IDW dihasilkan empat stratum. Masing-masing stratum memiliki luasan yang berbeda-beda dengan jumlah plot contoh pada masing-masing stratum juga berbeda satu sama lain. Bentuk stratum dan sebaran plotnya dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 Stratifikasi berdasarkan nilai biomassa tegakan. Stratum 1 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa terendah yaitu sebesar 30 sampai 174 ton/ha. Stratum 2 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa sebesar 175 sampai 270 ton/ha. Stratum 3 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa sebesar 271 sampai 366 ton/ha. Stratum 4 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa tertinggi yaitu sebesar 367 sampai 510 ton/ha. Berdasarkan hasil stratifikasi tersebut kemudian diduga potensi biomassa rata-rata per hektar dan potensi biomassa total pada masing-masing stratum. Biomassa sebagai jumlah total dari bahan organik hidup di atas tanah pada pohon termasuk daun, ranting, cabang, dan batang utama dinyatakan dalam berat kering 39 oven per unit area (Brown 1997). Biomassa dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu biomassa tumbuhan di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di bawah permukaan tanah (below ground biomass). Biomassa yang diduga pada penelitian ini adalah biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass). Proses pendugaan biomassa pada tegakan dilakukan dengan pengukuran keliling (cm) pohon untuk mendapatkan diameter (≥10cm) yang kemudian dikonversi menjadi biomassa melalui persamaan alometrik yang telah ada sesuai dengan jenis pohon pada tegakan tersebut. Potensi biomassa di atas permukaan tanah tersebut dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Potensi biomassa tegakan berdasarkan stratifikasi nilai biomassa Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) Stratum 1 2 3 4 54 47 27 14 134,378 112,962 72,334 37,900 28,64–285,70 52,34–474,39 43,72–416,43 147,81–516,74 6,11 9,06 13,00 19,97 a. Batas atas (ton/ha) 136,07 242,39 296,45 328,12 b. Rata-rata (ton/ha) 124,10 224,64 269,73 284,99 c. Batas bawah (ton/ha) 112,13 206,88 243,01 241,86 a. Batas atas (ton) 18.284,81 27.381,12 21.443,76 12.435,85 b. Rata-rata (ton) 16.676,28 25.375,62 19.510,70 10.801,09 c. Batas bawah (ton) 15.067,76 23.370,11 17.577,65 9.166,34 4,92 4,03 4,82 7,01 Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan: Stratum 1 = areal dengan potensi biomassa 30–174 ton/ha Stratum 2 = areal dengan potensi biomassa 175–270 ton/ha Stratum 3 = areal dengan potensi biomassa 271–366 ton/ha Startum 4 = areal dengan potensi biomassa 367–462 ton/ha Rata-rata tertinggi potensi biomassa tegakan terdapat pada stratum 4 sebesar 284,99 ton/ha dan rata-rata terendah terdapat pada stratum 1 sebesar 124,10 ton/ha. Potensi biomassa tegakan masing-masing dapat diduga dengan penduga selang pada selang kepercayaan 95%. Selang dengan interval terpanjang adalah stratum 4, yaitu antara 241,86 sampai 328,12 ton/ha sedangkan selang potensi biomassa yang paling sempit adalah pada stratum 1, yaitu antara 112,13 sampai 136,07 ton/ha. Sementara itu, dugaan biomassa total tertinggi berada pada stratum 2 yaitu sebesar 25.375,62 ton dan dugaan biomassa total terendah berada pada 40 stratum 4 yaitu sebesar 10.801,09 ton. Koefisien variasi pada stratum 4 merupakan koefisien variasi dengan nilai terbesar yaitu sebesar 7,01%. Variasi yang terjadi pada stratifikasi ini cukup kecil karena kurang dari 10%. Selain dilakukan pendugaan biomassa dengan stratifikasi berdasarkan nilai biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi untuk menduga potensi biomassa pada masing-masing jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Seperti yang dilakukan sebelumnya pada pendugaan volume. Tabel 11 menyajikan dugaan potensi biomassa tegakan berdasarkan jenis vegetasi. 41 Tabel 11 Potensi biomassa tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi 1 2 3 4 Stratum 5 12 3 23 3 35 2 13 10 36 5 27,426 7,964 54,045 7,418 104,003 4,260 29,692 23,880 89,464 9,422 96 102,41– 364,89 14,77 123 43,43– 262,58 56,54 197 59,15– 325,80 12,70 55 43,17– 155,65 28,86 141 67,78– 516,74 12,96 260 197,20– 325,67 46,79 275 85,03– 474,39 26,44 266 46,32– 456,09 26,04 126 28,64– 297,99 8,98 206 68,94– 232,98 25,49 a. Batas atas (ton/ha) 280,24 362,73 226,10 205,05 271,56 855,91 278,04 301,19 163,16 210,18 b. Rata-rata (ton/ha) 247,72 119,45 199,76 80,85 246,15 261,44 220,42 242,29 145,57 139,41 c. Batas bawah (ton/ha) 215,20 -123,83 173,41 -43,36 220,75 -333,04 162,807 183,39 127,97 68,64 a. Batas atas (ton) 7.685,79 2.888,76 12.219,62 1.521,07 28.243,34 3.646,16 8.255,63 7.192,36 14.596,87 1.980,28 b. Rata-rata (ton) 6.793,97 951,30 10.795,82 599,72 25.600,84 1.113,71 6.544,85 5.785,81 13.022,83 1.313,50 c. Batas bawah (ton) 5.902,15 -986,17 9.372,02 -321,62 22.958,35 -1.418,73 4.834,07 4.379,26 11.448,79 646,73 5,96 47,33 6,36 35,70 5,27 17,90 12,00 10,75 6,17 18,29 Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) Jumlah pohon/ha Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) 6 7 8 9 10 Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan : Stratum 1 = tegakan agathis Stratum 2 = tegakan agathis, pinus, dan puspa Stratum 3 = tegakan agathis dan puspa Stratum 4 = tegakan kayu afrika Stratum 5 = tegakan pinus Stratum 6 = tegakan pinus dan agathis Stratum 7 = tegakan pinus dan kayu afrika Stratum 8 = tegakan pinus dan puspa Stratum 9 = tegakan puspa Stratum 10 = tegakan puspa dan mahoni 41 42 Tabel 11 menyajikan dugaan potensi biomassa berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW. Potensi biomassa tegakan agathis memiliki rata-rata sebesar 247,72 ton/ha dengan total potensi biomassa untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 6.793,97 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (agathis, pinus, dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 119,45 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 951,30 ton. Potensi volume tegakan campuran (agathis dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 199,76 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 10.795,82 ton. Potensi biomassa tegakan kayu afrika memiliki rata-rata sebesar 80,85 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 599,72 ton. Potensi biomassa tegakan pinus memiliki rata-rata sebesar 246,15 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 25.600,84 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (pinus dan agathis) memiliki rata-rata sebesar 261,44 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 1.113,71 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (pinus dan kayu afrika) memiliki rata-rata sebesar 220,42 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 6.544,85 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (pinus dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 242,29 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 5.785,81 ton. Potensi biomassa tegakan puspa memiliki rata-rata sebesar 145,57 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 13.022,83 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (puspa dan mahoni) memiliki rata-rata sebesar 139,41 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 1.313,50 ton. Tegakan pinus memiliki dugaan total terbesar dibandingkan dengan tegakan lain dan dugaan total biomassa terendah pada tegakan kayu afrika. Hal tersebut dapat terjadi karena pohon pinus memiliki diameter rata-rata pohon cukup besar. Semakin besar diameter pohon semakin besar pula kandungan biomassa pohon tersebut karena biomassa tersusun oleh senyawa karbohidrat yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen, dan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis tanaman (White & Planskett 1991 diacu dalam Salim 2005). Pada proses fotositesis tumbuhan menyerap CO2 dari udara kemudian mengubahnya menjadi bahan organik sehingga jumlah total biomassa tumbuhan dapat bertambah seiring dengan pertumbuhan pohon. Selang kepercayaan terlebar adalah pada tegakan pinus dan agathis yaitu antara -333,04 sampai 855,91 ton/ha dan selang 43 kepercayaan tersempit adalah pada tegakan puspa yaitu antara 127,97 sampai 163,16 ton/ha. Stratum 2 lebih bervariasi potensi biomassanya dibandingkan stratum lain. Variasi potensi biomassa dipengaruhi oleh keragaman dimensi pohon berupa diameter dan tinggi. Strata vegetasi lebih bervariasi dibandingkan dengan variasi strata biomassa karena biomassa tegakan hutan dipengaruhi oleh umur tegakan hutan, sejarah perkembangan vegetasi, komposisi, dan struktur tegakan (Lugo & Snedaker 1974 diacu dalam Onrizal 2004). Selain itu faktor iklim, seperti curah hujan dan suhu merupakan faktor yang mempengaruhi laju peningkatan biomassa pohon (Johnsen et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Nilai-nilai dugaan potensi biomassa tegakan di HPGW dengan stratifikasi yang diketahui dari hasil pendugaan dengan metode stratified sampling dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12 Nilai-nilai dugaan potensi biomassa seluruh tegakan di HPGW Statistik Rata-rata (ton/ha) Ragam rata-rata (ton/ha) Kesalahan baku rata-rata (ton/ha) Selang kepercayaan 95% bagi rata-rata (ton/ha) Total tegakan (ton) Kesalahan penarikan contoh (%) Potensi biomassa strata biomassa 202,37 Potensi biomassa strata vegetasi 202,82 24,85 34,78 4,98 5,90 192,60–212,15 191,26–214,38 72.363,70 72.522,35 4,83 5,70 Terlihat pada Tabel 12, hasil pendugaan menunjukan bahwa potensi biomassa per hektar yang dihitung berdasarkan stratum biomassa dan stratum vegetasi menunjukkan hasil yang berbeda. Potensi biomassa pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi biomassa memiliki nilai dugaan antara 192,60 sampai 212,15 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,37 ton/ha. Sedangkan total potensi biomassa untuk seluruh tegakan yang ada di HPGW (luas efektif 357,574 ha) diduga sebesar 72.363,70 ton. Potensi biomassa pada plot-plot contoh yang diukur memiliki nilai dugaan yang bervariasi. Adapun potensi biomassa berdasarkan strata vegetasi memiliki nilai dugaan antara 191,26 sampai 214,38 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,82 ton/ha. Total potensi biomassa untuk seluruh tegakan yang ada di HPGW diduga sebesar 72.522,35 ton. Nilai kesalahan sampling dipengaruhi oleh pendugaan ragam. Hasil pendugaan tersebut dapat dianggap cukup teliti karena kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi 44 cukup kecil yaitu sebesar 4,83% dan 5,70%. Namun demikian, kesalahan penarikan contoh pada pendugaan biomassa tanpa stratifikasi lebih besar dibandingkan dengan kesalahan penarikan contoh pada pendugaan biomassa tanpa stratifikasi yaitu sebesar 6,24%. 5.2.3 Potensi Cadangan Karbon Tegakan Pendugaan potensi cadangan karbon dalam suatu tegakan dapat dilihat dari besarnya potensi biomassa yang ada. Proporsi terbesar penyimpanan karbon di daratan umumnya terdapat pada komponen pepohonan atau tegakan (Hairiah & Rahayu 2007). Biomassa dapat memberikan dugaan cadangan karbon pada vegetasi hutan karena karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman yang kandungannya sekitar 45–50% bahan kering tanaman. Jadi potensi cadangan karbon kurang lebih setengah dari potensi biomassanya yang berarti peningkatan jumlah biomassa akan meningkatkan jumlah potensi cadangan karbon. Pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa tegakan dikalikan dengan faktor konversi sebesar 0,47 (IPCC 2006). Oleh karena itu, untuk menduga potensi cadangan karbon tegakan di HPGW digunakan stratifikasi berdasarkan biomassa. Stratum 1 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi cadangan karbon terendah yaitu sebesar 14 sampai 82 ton/ha. Stratum 2 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi cadangan karbon sebesar 83 sampai 127 ton/ha. Stratum 3 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi cadangan karbon sebesar 128 sampai 172 ton/ha. Stratum 4 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa tertinggi yaitu sebesar 173 sampai 240 ton/ha. Potensi cadangan karbon tegakan tegakan di HPGW disajikan pada Tabel 13. 45 Tabel 13 Potensi cadangan karbon tegakan berdasarkan stratifikasi nilai biomassa Statistik Stratum 1 2 3 4 54 47 27 14 134,378 112,962 72,334 37,900 13,46–134,28 24,60–222,96 20,55–195,72 69,47–242,87 2,87 4,26 6,11 9,39 a. Batas atas (ton/ha) 63,95 113,92 138,75 154,22 b. Rata-rata (ton/ha) 58,33 105,58 126,77 133,94 c. Batas bawah (ton/ha) 52,70 97,24 114,80 113,67 a. Batas atas (ton) 8.593,84 12.869,18 10.036,13 5.844,83 b. Rata-rata (ton) 7.837,82 11.926,60 9.170,02 5.076,49 c. Batas bawah (ton) 7.081,81 10.984,02 8.303,92 4.308,15 4,09 4,03 4,82 7,01 Jumlah data (plot) Luas (ha) Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan: Stratum 1 = areal dengan potensi karbon 14–82 ton/ha Stratum 2 = areal dengan potensi karbon 83–127 ton/ha Stratum 3 = areal dengan potensi karbon 128–172 ton/ha Stratum 4 = areal dengan potensi karbon 173–240 ton/ha Sama halnya dengan potensi biomassa tegakan, rata-rata tertinggi potensi cadangan karbon tegakan terdapat pada stratum 4 sebesar 133,94 ton/ha dan ratarata terendah terdapat pada stratum 1 sebesar 58,33 ton/ha. Hal ini dapat dipahami karena hasil pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa tegakan yang dikalikan dengan faktor konversi sebesar 0,47 (IPCC 2006). Karbon berkorelasi positif terhadap biomassa karena setiap penambahan kandungan biomassa akan diikuti oleh penambahan kandungan karbon dan apapun yang menyebabkan peningkatan ataupun penurunan biomassa maka akan menyebabkan peningkatan ataupun penurunan kandungan karbon. Stratum 4 juga memiliki nilai dugaan cadangan karbon terlebar yaitu 113,67 sampai 154,22 ton/ha dan nilai dugaan cadangan karbon paling sempit pada stratum 1 yaitu 52,70 sampai 63,95 ton/ha. Semakin sempit suatu selang semakin efisien dugaannya. Sementara itu, dugaan biomassa total tertinggi berada pada stratum 2 yaitu sebesar 11.926,60 ton dan dugaan biomassa total terendah berada pada stratum 4 yaitu sebesar 5.076,49 ton. Stratum 4 lebih bervariasi potensi cadangan karbonnya dibandingkan dengan stratum lain. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien variasi dengan nilai terbesar yaitu sebesar 7,01%. 46 Pendugaan cadangan karbon selain dilakukan dengan stratifikasi berdasarkan nilai biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi untuk menduga potensi cadangan karbon pada masing-masing jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Seperti yang dilakukan sebelumnya pada pendugaan volume dan biomassa. Tabel 14 menyajikan dugaan potensi karbon tegakan berdasarkan jenis vegetasi. 47 Tabel 14 Potensi karbon tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi Statistik 1 Jumlah data (plot) 2 3 Stratum 5 4 6 7 8 9 10 12 3 23 3 35 2 13 10 36 5 Luas (ha) 27,426 7,964 54,045 7,418 104,003 4,260 29,692 23,880 89,464 9,422 Jumlah pohon/ha 96 48,13– 171,50 6,94 123 20,41– 171,50 26,57 197 27,80– 153,13 5,97 55 20,29– 153,13 13,57 141 31,86– 242,87 6,09 260 92,68– 153,06 21,99 275 39,96– 222,96 12,43 266 21,77– 214,36 12,24 126 13,46– 140,06 4,22 206 32,40– 109,50 11,98 a. Batas atas (ton/ha) 131,71 170,48 106,27 96,37 127,63 402,28 130,68 141,56 76,68 98,78 b. Rata-rata (ton/ha) 116,43 56,14 93,89 38,00 115,69 122,87 103,60 113,87 68,42 65,52 c. Batas bawah (ton/ha) 101,15 -58,20 81,50 -20,38 103,75 -156,53 76,52 86,19 60,15 32,26 a. Batas atas (ton) 3.612,32 1.347,72 5.743,22 714,90 13.274,37 1.713,69 3.880,14 3.380,41 6.860,53 930,73 b. Rata-rata (ton) 3.193,17 447,11 5.074,03 281,87 12.032,40 523,45 3.076,08 2.719,33 6.120,73 617,35 c. Batas bawah (ton) 2.774,01 -463,50 4.404,85 -151,16 10.790,42 -666,80 2.272,01 2.058,25 5.380,93 303,96 5,96 47,33 6,36 35,70 5,27 17,90 12,00 10,75 6,17 18,29 Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan : Stratum 1 = tegakan agathis Stratum 2 = tegakan agathis, pinus, dan puspa Stratum 3 = tegakan agathis dan puspa Stratum 4 = tegakan kayu afrika Stratum 5 = tegakan pinus Stratum 6 = tegakan pinus dan agathis Stratum 7 = tegakan pinus dan kayu afrika Stratum 8 = tegakan pinus dan puspa Stratum 9 = tegakan puspa Stratum 10 = tegakan puspa dan mahoni 47 48 Tabel 14 menyajikan dugaan potensi cadangan karbon berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW. Potensi cadangan karbon tegakan agathis memiliki rata-rata sebesar 116,43 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 3.193,17 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (agathis, pinus, dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 56,14 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 447,11 ton. Potensi volume tegakan campuran (agathis dan puspa) memiliki ratarata sebesar 93,89 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 5.074,03 ton. Potensi cadangan karbon tegakan kayu afrika memiliki rata-rata sebesar 38,00 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 281,87 ton. Potensi cadangan karbon tegakan pinus memiliki rata-rata sebesar 115,69 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 12.032,40 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (pinus dan agathis) memiliki rata-rata sebesar 122,87 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 523,45 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (pinus dan kayu afrika) memiliki rata-rata sebesar 103,60 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 3.076,08 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (pinus dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 113,87 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 2.719,33 ton. Potensi cadangan karbon tegakan puspa memiliki rata-rata sebesar 68,42 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 6.120,73 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (puspa dan mahoni) memiliki rata-rata sebesar 65,52 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 617,35 ton. Tegakan pinus memiliki kapasitas cadangan karbon rata-rata tertinggi yaitu sebesar 115,69 ton/ha dengan dugaan total sebesar 12.032,40 ton. Tegakan pinus memiliki kapasitas cadangan karbon terbesar karena pohon pinus memiliki ukuran diameter besar. Hasil penelitian Elias dan Wistara (2009) juga menunjukan bahwa semakin besar diameter pohon-pohon dalam tegakan, maka semakin besar pula stok karbon dalam hutan dan semakin tua umur tegakan, maka semakin besar pula stok karbon dalam hutan. Hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian Balinda (2008) yang menduga cadangan karbon pada tegakan pinus di RPH Leuwiliang KPH Bogor yaitu memiliki rata-rata potensi cadangan karbon pada kelas umur V (21–25 tahun) sebesar 133,03 ton/ha untuk bonita 3 dan 88,71 ton/ha untuk bonita 49 2. Pada penelitian tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi KU semakin tinggi pula potensi cadangan karbonnya. Hal itu berarti semakin lama umur suatu tegakan maka potensi cadangan karbonnya akan semakin besar. Sedangkan kapasitas cadangan karbon terendah dimiliki oleh tegakan kayu afrika yaitu sebesar 281,87 ton. Kapasitas cadangan karbon tegakan masing-masing dapat diduga dengan penduga selang pada selang kepercayaan 95%. Selang dengan interval terpanjang adalah tegakan campuran antara pinus dan agathis yaitu antara -156,53 sampai 402,28 ton/ha sedangkan selang potensi biomassa yang paling sempit adalah pada tegakan puspa, yaitu antara 60,15 sampai 76,68 ton/ha. potensi cadangan karbon pada stratum 2 lebih bervariasi dibandingkan dengan stratum lain dengan nilai koefisien variasi sebesar 47,33%. Nilai-nilai dugaan bagi potensi volume dalam tegakan-tegakan berdasarkan strata nilai potensi dan jenis vegetasi di HPGW yang diketahui dari hasil pendugaan dengan metode stratified systematic plot sampling with random start yaitu disajikan pada Tabel 15. Tabel 15 Nilai-nilai dugaan potensi cadangan karbon seluruh tegakan di HPGW Potensi karbon strata biomassa 95,12 Potensi karbon strata vegetasi 95,32 Ragam rata-rata (ton/ha) 5,49 7,68 Kesalahan baku rata-rata (ton/ha) 2,34 2,77 90,52–99,71 89,89–100,76 34.010,93 34.085,51 4,83 5,70 Statistik Rata-rata (ton/ha) Selang kepercayaan 95% bagi rata-rata (ton/ha) Total tegakan (ton) Kesalahan penarikan contoh (%) Tabel 15 menunjukkan potensi cadangan karbon yang dihitung berdasarkan potensi biomassa tegakan, pada strata biomassa diduga memiliki nilai dugaan antara 90,52 sampai 99,71 ton/ha dengan rata-rata sebesar 95,12 ton/ha. Perbedaan kandungan karbon pada tegakan tersebut cenderung dipengaruhi oleh kerapatan tegakan, umur tegakan, dan kualitas tumbuh tegakan. Kualitas tempat tumbuh yang lebih baik membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik karena tersedianya unsur hara dan mengakibatkan kandungan karbon semakin bertambah. Secara keseluruhan total potensi cadangan karbon yang terdapat di HPGW sebesar 34.010,93 ton. Sedangkan berdasarkan strata vegetasi potensi cadangan karbon diduga memiliki nilai dugaan antara 89,89 sampai 100,76 ton/ha 50 dengan rata-rata 95,32 ton/ha. Untuk potensi keseluruhan cadangan karbon yang terdapat di HPGW sebesar 34.085,51 ton. Kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi pada hasil pendugaan dengan stratifikasi cukup kecil yaitu 5,03% dan 5,70% sedangkan pada pendugaan tanpa stratifikasi memiliki kesalahan sampling yang lebih besar. Nilai kesalahan sampling tersebut dipengaruhi oleh pendugaan ragam. Semakin besar ragam semakin besar pula kesalahan penarikan contohnya. Tabel 16 menyajikan rekapitulasi kesalahan penarikan contoh pendugaan tanpa stratifikasi dan dengan stratifikasi. Tabel 16 Rekapitulasi kesalahan penarikan contoh SE Volume (%) 7,35 SE Biomassa (%) 6,24 SE Karbon (%) 6,25 a. Stratifikasi berdasarkan nilai potensi 5,73 4,83 4,83 b. Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi 5,82 5,70 5,70 Metode Tanpa Stratifikasi Menggunakan Stratifikasi Berdasarkan Tabel 16, kesalahan penarikan contoh pada pendugaan dengan menggunakan stratifikasi lebih kecil dibandingkan dengan kesalahan penarikan contoh pada pendugaan tanpa stratifikasi baik stratifikasi berdasarkan nilai potensi maupun stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi. Seperti yang dikemukakan oleh Shiver and Borders (1996) bahwa pendugaan potensi dengan stratifikasi akan menghasilkan nilai dugaan dengan keragaman dan kesalahan penarikan contoh yang lebih kecil dibandingkan pendugaan potensi tanpa stratifikasi karena dengan melakukan stratifikasi, populasi dikelompokkan menjadi beberapa stratum yang kondisinya relatif homogen dan tidak saling tumpang tindih. Dalam hal ini, stratifikasi yang dipilih adalah stratifikasi berdasarkan nilai potensi dan jenis vegetasi. Stratifikasi tersebut dipilih untuk mengurangi keragaman sehingga menghasilkan nilai dugaan yang lebih akurat. Pada penelitian ini, stratifikasi yang dilakukan berhasil menurunkan kesalahan penarikan contoh pada pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon di HPGW sehingga memiliki dugaan yang lebih akurat dibandingkan pendugaan tanpa stratifikasi. 51 BAB VI KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan hal-hal berikut: 1. Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon dengan menggunakan stratifikasi memiliki dugaan yang lebih akurat dibandingkan dengan pendugaan tanpa stratifikasi. 2. Potensi volume tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) berdasarkan stratifikasi volume tegakan memiliki nilai dugaan antara 376,57 sampai 422,33 m3/ha dengan rata-rata sebesar 399,45 m3/ha dan total sebesar 142.832,56 m3. Berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi, nilai dugaan potensi volume tegakan memiliki nilai dugaan antara 375,09 sampai 421,48 m3/ha dengan rata-rata sebesar 398,29 m3/ha dan total sebesar 142.416,26 m3. 3. Potensi biomassa tegakan di HPGW berdasarkan stratifikasi biomassa tegakan memiliki nilai dugaan antara 192,60 sampai 212,15 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,37 ton/ha dan dugaan total sebesar 72.363,70 ton. Berdasarkan jenis vegetasi memiliki nilai dugaan antara 191,26 sampai 215,38 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,82 ton/ha dan dugaan total sebesar 72.522,35 ton. 4. Potensi cadangan karbon tegakan di HPGW berdasarkan stratifikasi biomassa tegakan memiliki nilai dugaan antara 90,52 sampai 99,71 ton/ha dengan ratarata sebesar 95,12 ton/ha dan dugaan total sebesar 34.085,51 ton. Berdasarkan jenis vegetasi memiliki nilai dugaan antara 89,89 sampai 100,76 ton/ha dengan rata-rata sebesar 95,32 ton/ha dan dugaan total sebesar 34.085,51 ton. 5. Potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon menurut jenis tegakan di HPGW: a) Agathis: rata-rata volume sebesar 712,70 m3/ha (total 19.546,37 m3), ratarata biomassa sebesar 247,72 ton/ha (total 6.793,97 ton) dan rata-rata cadangan karbon sebesar 116,43 ton/ha (total 3.193,17 ton) 52 b) Campuran (agathis, pinus, puspa): rata-rata volume sebesar 256,33 m3/ha (total 2.041,40 m3), rata-rata biomassa sebesar 119,45 ton/ha (total 951,30 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 56,14 ton/ha (total sebesar 447,11 ton) c) Campuran (agathis, puspa): rata-rata volume sebesar 527,44 m3/ha (total 28.505,23 m3), rata-rata biomassa sebesar 199,76 ton/ha (total 10.795,82 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 93,89 ton/ha (total 5.074,03 ton) d) Kayu afrika: rata-rata volume sebesar 57,77 m3/ha (total 428,57 m3), ratarata biomassa sebesar 80,85 ton/ha (total 599,72 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 38,00 ton/ha (total 281,87 ton) e) Pinus: rata-rata volume sebesar 418,34 m3/ha (total 43.508,52 m3), rata-rata biomassa sebesar 246,15 ton/ha (total 25.600,84 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 115,69 ton/ha (total 12.032,40 ton) f) Campuran (pinus, agathis): rata-rata volume sebesar 717,75 m3/ha (total 3.057,60 m3), rata-rata biomassa sebesar 261,44 ton/ha (total 1.113,71 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 122,87 ton/ha (total 523,45 ton) g) campuran (pinus, kayu afrika): rata-rata volume sebesar 293,87 m3/ha (total 8.725,51 m3), rata-rata biomassa sebesar 220,42 ton/ha (total 6.544,85 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 103,60 ton/ha (total 3.076,08 ton) h) Campuran (pinus, puspa): rata-rata volume sebesar 397,05 m3/ha (total 9.481,51 m3), rata-rata biomassa sebesar 242,29 ton/ha (total 5.785,81 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 113,87 ton/ha (total 2.719,33 ton) i) Puspa: rata-rata volume sebesar 284,19 m3/ha (total 25.425,20 m3), rata-rata biomassa sebesar 145,57 ton/ha (total 13.022,83 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 68,42 ton/ha (total 6.120,73 ton) j) Campuran (puspa, mahoni): rata-rata volume sebesar 180,04 m3/ha (total 1.696,34 m3), rata-rata biomassa sebesar 139,41 ton/ha (total 1.313,50 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 65,52 ton/ha (total 617,35 ton) 53 6.2 Saran 1. Pendugaan potensi biomassa tegakan hutan sebaiknya menggunakan persamaan alometrik pohon yang telah ada secara spesifik baik berdasarkan jenis maupun tempat tumbuh yang diperoleh dari metode destructive sampling. 2. Perlu adanya penelitian-penelitian mengenai pendugaan potensi biomassa dan cadangan karbon pada masing-masing jenis tegakan yang ada di Hutan Pendidikan Gunung Walat. PENDUGAAN POTENSI VOLUME, BIOMASSA, DAN CADANGAN KARBON TEGAKAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI JAWA BARAT VIVI SELVIANA DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 54 DAFTAR PUSTAKA Adinugroho WC. 2002. Model Pendugaan Biomassa Pohon Mahoni (Swietenia macrophylla) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Cianjur PT. Perhutani Unit III Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Anonim. Wood Density Database. http://www.worldagroforestrycentre.org [26 Desember 2011] Badan Eksekutif HPGW. 2010. Management Plan of Gunung Walat Educational Forest. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bakri. 2009. Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon Tersimpan pada Pohon di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir [tesis]. Medan: Universitas Sumatera Utara. Balinda L. 2008. Pendugaan Simpanan Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Tegakan Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di RPH Leuwiliang BKPH leuwiliang KPH Bogor Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Brown S. 1997. Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forest: a primer. Rome: FAO (Food and Agriculture Organization), 55pp. Chave J, Riera B, Dubois MA. 2001. Estimation of biomass in neotropical forest of Frence Guiana: spatial and temporal variability. Journal of Tropical Ecology 17:79–96. [CIFOR] Center for International Forestry Research. 2010. REDD: Apakah itu? Pedoman CIFOR tentang hutan, perubahan iklim dan REDD. Bogor: CIFOR Elias, Wistara NJ. 2009. Metode estimasi massa karbon pohon jeunjing (Paraserianthes falcataria L Nielsen) di hutan rakyat. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 15(1):75–82 Hairiah K, Rahayu S. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF, SEA Regional Office. University of Brawijaya, Unibraw. Indonesia. Handayani K. 2003. Model pendugaan biomassa Shorea leprosula MIQ di kebun percobaan carita [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 55 Hardansyah R. 2004. Penentuan Panjang Seksi Batang Optimal dalam Pendugaan Volume Batang Pohon dengan Menggunakan Persamaan Taper (studi kasus pada jenis Pinus merkusii Jungh et de Vriese di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Hendra S. 2002. Model pendugaan biomassa pohon pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di kesatuan pemangkuan hutan cianjur PT. Perhutani unit III jawa barat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Herdiansyah Y. 2004. Perbadingan Efisiensi Metode Tree Sampling dengan Metode Konvensional dalam Pendugaan Potensi Tegakan Agathis (Agathis loranthifolia) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. [IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2006. IPCC guidelines for national greenhouse gas inventories, Eds.: Simon E, Leandro B, Kyoko M, Todd N, Kiyoto T. Agriculture, Forestry and Other Land Use. Volume 4. Jaya NS, Sutarahardja S, Warsito S, Pambudi F. 2010. Profil Pelaksanaan IHMB: Inventarisasi Hutan dan Perencanaan Pengaturan Kelestarian Tegakan Hutan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Ketterings QM, Coe R, Van Noordjwik M, Ambagau Y, Palm CA. 2001. Reducing Uncertainty in the Use of Allometric Biomass Equations for Predicting Above-Ground Tree Biomass in Mixed Secondary Forest. Forest Ecology and Management 120:199–209. Lana D, Qom MA, Ariani R, Supriyadi R, Andryani S. 2005. Potensi Karbon di Kawasan Hutan Lindung Laksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Galam 1(3):143–155. [LPIPB] Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 1985. Studi Tentang Penyusunan Tabel Isi Lokal Pohon untuk Jenis-jenis Pinus, Puspa, Damar dan Tegakan Campuran di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Fakultas Kehutanan: Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Kadir K, Prawira SA. 2005a. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Bogor: Balai Penelitian Hasil Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Kadir K, Prawira SA. 2005b. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Bogor: Balai Penelitian Hasil Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 56 Masripatin N, Ginoga K, Pari P, Dharmawan WS, Siregar CA, Wibowo A, Puspasari D, Utomo AS, Sakuntaladewi N, Lugina M, Indartik, Wulandari W, Darmawan S, Heryansah I, Heriyanto NM, Siringoringo HH, Damayanti R, Anggraeni D, Krisnawati H, Maryani R, Apriyanto D, Subekti B. 2010. Cadangan Karbon pada berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Martin JG, Kloeppel BD, Schaefer TL, Kimbler DL and McNutly SG, 1998. Aboveground Biomass and Nitrogen Allocation of Ten Deciduous Southern Appalachian Tree Species. J. For. Res. 28: 1648–1659. Noronhae MD. 2007. Studi Teknik Pendugaan Potensi Tegakan Hutan Puspa (Schima wallichii) dengan Simple Systematic Sampling With Random Start dengan Unit Contoh Six Tree Sampling dan Circular Plot (studi kasus di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi) [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. Onrizal. 2004. Model Penduga Biomassa dan Karbon Tegakan Hutan Kerangas di Taman Nasional Danau Setarum, Kalimantan Barat [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Ostwald M. 2008. Carbon Inventory Method. Handbook for Greenhouse Gas Inventory, Carbon Mitigation and Roundwood Productions Project. Sweden: Goteborg University. Retnowati E, Gintings ANg. 1997. Peranan Hutan Sebagai Rosot Karbon di Indonesia. Di dalam: Peran Hutan Dalam Memenuhi Kebutuhan Manusia dan Antisipasi Isu Global. Prosiding Ekspose Pengembalian Hasil Penelitian; Bogor, 24–25 November 1997. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Hlm 124–131. Salim. 2005. Profil Kandungan Karbon Pada Tegakan Puspa (Schima wallichii Korth.) [Tesis]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Shiver BD, Borders BE. 1996. Sampling Techniques for Forest Resource Inventory. New York: John Wiley & Sons, 356 pp. Siagian K. 2011. Tabel Volume Agathis loranthifolia r.a Salisbury di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Siregar CA, dan Dharmawan IWS. 2007. Kuantifikasi biomasa karbon pada tegakan Agathis loranthifolia. Bogor: Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Suhendang E. 2002. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. 57 Tiryana T. 2005. Pengembangan Metode Pendugaan Sebaran Potensi Biomassa dan Karbon pada Hutan Tanaman Mangium (Acacia mangium Willd.). Bogor: Fakutas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tiryana T, Tatsuhara S, Shiraishi N. 2011. Empirical model for estimating the stand biomass of Teak Plantation in Java, Indonesia. Journal of Forest Planning 16 : 177–188. Ulumuddin YI, Sulistyawati E, Hakim DM, Harto AB. 2005. Korelasi Stok Karbon dengan Karakteristik Spektral Citra Landsat: Studi Kasus Gunung Papandayan. Di dalam: Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa. Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV; Surabaya, 14–15 September2005. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November. Wardasanti CE. 2011. Persamaan Penduga Volume Pohon Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di Hutan Pendidikan Gunung Walat Kabupaten Sukabumi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. PENDUGAAN POTENSI VOLUME, BIOMASSA, DAN CADANGAN KARBON TEGAKAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI JAWA BARAT VIVI SELVIANA DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 RINGKASAN VIVI SELVIANA. E14070049. Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat. Dibimbing oleh BUDI PRIHANTO dan TATANG TIRYANA. Pemanasan global yang terjadi saat ini disebabkan semakin banyaknya gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung adalah CO2 (karbon dioksida). Konsentrasi CO2 yang berlebih di atmosfer akan menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas. Meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi dari tahun ke tahun menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut dengan melakukan mitigasi. Salah satu sektor yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah sektor kehutanan. Hutan mampu menyerap kelebihan karbon di atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa di berbagai bagian tanaman (khususnya kayu) melalui proses fotosintesis. Salah satu hutan Indonesia yang memiliki potensi simpanan karbon adalah Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon yang tersimpan dalam tegakan di HPGW untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan perencanaan, pengelolaan dan perlindungan hutan. Pengambilan data lapangan dilakukan pada tegakan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran di HPGW dengan plot contoh lingkaran berukuran 0,1 ha. Perhitungan volume tegakan dilakukan dengan menggunakan persamaan tabel volume sedangkan pendugaan biomassa menggunakan persamaan alometrik. Pendugaan simpanan karbon diperoleh dari nilai biomassa yang dikonversikan dengan fraksi karbon (0,47). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua metode yaitu pendugaan tanpa stratifikasi dengan systematic sampling with random start dan pendugaan menggunakan stratifikasi dengan stratified sampling. Pendugaan menggunakan stratifikasi dilakukan dengan dua cara yaitu stratifikasi berdasarkan nilai potensi dan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi. Hasil pendugaan potensi di HPGW menggunakan stratifikasi memberikan hasil dugaan yang lebih akurat dibandingkan dengan pendugaan tanpa statifikasi. Pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi memiliki rata-rata volume sebesar 399,45 m3/ha dengan total sebesar 142.832,56 m3, rata-rata biomassa sebesar 202,37 ton/ha dengan total sebesar 72.363,70 ton, dan rata-rata cadangan karbon sebesar 95,12 ton/ha dengan total sebesar 34.085,51 ton sedangkan pada stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi memiliki rata-rata volume sebesar 398,29 m3/ha dengan total sebesar 142.416,26 m3, rata-rata biomassa sebesar 202,82 ton/ha dengan dugaan total sebesar 72.522,35 ton, dan rata-rata cadangan karbon sebesar 95,32 ton/ha dengan dugaan total sebesar 34.085,51 ton. Kata Kunci : Volume, Biomassa, Karbon, Hutan Pendidikan, Gunung Walat SUMMARY VIVI SELVIANA. E14070049. Potential Estimation of Volume, Biomass, and Carbon Stocks in Stands of Gunung Walat University Forest, Sukabumi West Java. Supervised by BUDI PRIHANTO and TATANG TIRYANA. The current global warming is caused by the increasing of greenhouse gases emitted to the Earth’s atmosphere. Greenhouse gases that affect directly is CO2 (carbon dioxide). If there are too many concentration of CO2 in the atmosphere, it will cause warmer temperature. Increasing the average temperature of Earth's atmosphere over the years led to climate change. The effort to solve climate change is conducting mitigation. One of the sectors that play a role in climate change mitigation is forestry sector. Forest able to absorb the excess carbon in the atmosphere and store it in the form of biomass in various parts of the plant (particularly timber) through the photosynthesis process. One of Indonesia's forests which has the potential carbon stocks is Gunung Walat University Forest (GWUF). This research aims to estimate the potential of volume, biomass, and carbon stocks in the forest which can be use as a basis for making the forest planning, management, and protection. Field data collected at the stands of Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pine), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), and the others stand with the circle sample plot sized 0.1 ha. The stands volume estimated by using volume table equation and the biomass estimation by allometric models. Carbon stocks estimation obtained from biomass value that is converted to the carbon fraction (0.47). Data analysis in this research uses two methods, estimation without stratification through systematic sampling with random start and estimation with stratification through stratified sampling. Estimation with stratification is performed in two ways, stratification based on potential value and stratification based on the vegetation type. The result of potential estimation with stratification in GWUF more accurate then the method of estimation without stratification. The average volume of estimation with stratification based on its potential value is 399.45 m3/ha and the total volume is 142,832.56 m3; the average and total of biomass potential are 202.37 tons/ha and 72,363.70 tons; and then the of average of carbon stocks is 95.12 tons/ha and the total carbon stocks is 34,085.51 tons. While the estimation results with stratification based on the vegetation type shows the average and total volume are 398.29 m3/ha and 142,416.26 m3; the average of biomass potential is 202.82 tons/ha and the total of biomass potential is 72,522.35 tons; with average of carbon stocks is 95.32 tons/ha and the total carbon stocks is 34,085.51 tons. Keywords: Volume, Biomass, Carbon, University Forest, Gunung Walat PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Maret 2012 Vivi Selviana NRP E14070049 PENDUGAAN POTENSI VOLUME, BIOMASSA, DAN CADANGAN KARBON TEGAKAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI JAWA BARAT VIVI SELVIANA Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Nama Mahasiswa : Vivi Selviana NIM : E14070049 Menyetujui Komisi Pembimbing Ketua, Anggota, Ir. Budi Prihanto, MS NIP. 19641020 198903 1 004 Dr. Tatang Tiryana, S.Hut, M.Sc NIP. 19730727 199903 1 002 Mengetahui, Ketua Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Dr. Ir. Didik Suharjito, MS NIP. 19630401 199403 1 001 Tanggal Lulus: iii RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Gisting, Kabupaten Tanggamus, Lampung pada tanggal 25 Mei 1990. Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Sumariyono dan Ibu Hariyati. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Purwodadi lulus pada tahun 2001, pendidikan menengah pertama di SMPN 2 Talang Padang lulus tahun 2004, dan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Talang Padang lulus tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima di IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) di Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi asisten Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) pada tahun 2011. Selain itu, penulis juga aktif sebagai anggota KEMALA (Keluarga Mahasiswa Lampung), anggota Gentra Kaheman periode 2008-2009, anggota IFSA (Internasional Forest Student Asosiation) periode 2009-2010, anggota PSM Agriaswara, anggota Pengurus Cabang Sylva IPB periode 2010-2011, anggota Bank Plastik Fakultas Kehutanan IPB. Penulis juga aktif berpartisipasi dalam berbagai kepanitiaan kegiatan kemahasiswaan di Institut Pertanian Bogor. Selama pendidikan penulis telah melaksanakan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Burangrang dan Cikeong, Jawa Barat pada tahun 2009; Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Sukabumi dan KPH Cianjur, Jawa Barat pada tahun 2010 dan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Wirakarya Sakti, Jambi pada tahun 2011. iv UCAPAN TERIMA KASIH Terselesaikannya karya ini sebagai tugas akhir yang berjudul “Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat” tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah mendukung dan memberi bantuan. Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada : 1. Orang tua penulis Bapak Sumariyono dan Ibu Hariyati, kakak penulis Eko Setiawan dan keluarga besar penulis untuk dukungan dan kasih sayangnya. 2. Ir. Budi Prihanto, MS dan Dr. Tatang Tiryana, S.Hut, M.Sc selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan, pengarahan, ilmu, motivasi, waktu, dan kesabarannya selama penyusunan skripsi. 3. BUMN yang telah memberikan beasiswa kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi. 4. Dr. Ir. Harnios Arief, M.Sc dan Dr. Ir. Teddy Rusolono, MS atas pengarahan, motivasi, dan ilmu yang diberikan kepada penulis. 5. Dr. Ir. Juang Rata Matangaran, MS yang telah meluangkan waktu membaca dan mengoreksi penulisan skripsi. 6. Pihak Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang telah memberikan kesempatan dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian. 7. Seluruh dosen dan staf Departemen Manajemen Hutan atas segala ilmu dan bantuannya. 8. Bapak Uus Saeful M, Mulyana, dan Edwine Setia P atas segala kesabaran, ilmu, dan pengarahan yang telah diberikan. 9. Rika Rizki Aulia, Heriyana, dan Januar Satya Nugraha yang telah membantu dalam kegiatan penelitian. 10. Keluarga besar Laboratorium Remote Sensing dan GIS: Tantri Janiatri, Eri Septyawardani, Nuraeni Erisa, Sri Wahyuni, Monica Turana, Fathia Amalia R, Aditya Sani S, Aditya Pradana, Erry Maulana W, I Putu Arimbawa P, I Made Haribhawana W. 11. Keluarga besar Manajemen Hutan angkatan 44 dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan dan dukungannya. v KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat”. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Ir. Budi Prihanto, MS dan Dr. Tatang Tiryana, S.Hut, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan proposal penelitian ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini menggambarkan pendugaan volume, potensi biomassa, dan cadangan karbon pada tegakan hutan. Pendugaan potensi volume pohon menggunakan pesamaan tabel volume pohon sedangkan potensi biomassa pohon diduga dengan menggunakan persamaan alometrik yang telah ada. Dimana kemudian pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa tegakan. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan yang dimiliki. Oleh karena itu kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan penelitian ini sangat penulis harapkan. Semoga ini memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Bogor, Maret 2012 Penulis ii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ................................................................................... i DAFTAR TABEL .......................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... v DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. vi BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1 1.2 Tujuan Penelitian ...................................................................... 2 1.3 Manfaat Penelitian .................................................................... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 3 2.1 Potensi Hutan Sebagai Penyerap Karbon ................................. 3 2.2 Biomassa dan Karbon Hutan .................................................... 3 2.3 Metode Pendugaan Biomassa dan Karbon ............................... 5 2.4 Volume Pohon dan Metode Pendugaannya .............................. 8 2.5 Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat ................. 9 2.5.1 Pinus ................................................................................ 9 2.5.2 Agathis............................................................................. 9 2.5.3 Mahoni............................................................................. 10 2.5.4 Sengon ............................................................................. 10 2.5.5 Puspa ............................................................................... 10 2.5.6 Rasamala ......................................................................... 11 2.5.7 Sonokeling ....................................................................... 11 2.5.8 Meranti ............................................................................ 12 2.5.9 Kayu Afrika ..................................................................... 12 BAB III METODOLOGI .............................................................................. 13 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................... 13 3.2 Bahan dan Alat.......................................................................... 13 3.3 Tahapan Pelaksanaan ................................................................ 13 3.3.1 Persiapan dan Pengambilan Data Lapangan ................... 15 3.3.2 Pengolahan Data .............................................................. 16 3.3.2.1 Perhitungan Volume ............................................ 16 3.3.2.2 Model Pendugaan Biomassa Tegakan ................. 17 3.3.2.3 Pendugaan Karbon Hutan .................................... 20 3.3.2.4 Analisis Data ....................................................... 20 iii BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN .................................. 25 4.1 Status dan Peranan Kawasan .................................................... 25 4.2 Letak dan Posisi Geografis ....................................................... 25 4.3 Topografi .................................................................................. 26 4.4 Geologi dan Jenis Tanah ........................................................... 26 4.5 Iklim dan Hidrologi .................................................................. 26 4.6 Vegetasi Hutan .......................................................................... 27 4.7 Kehidupan Satwa Liar .............................................................. 27 4.8 Kependudukan .......................................................................... 28 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 29 5.1 Pendugaan Potensi Tanpa Stratifikasi....................................... 29 5.2 Pendugaan Potensi Menggunakan Stratifikasi .......................... 30 5.2.1 Potensi Volume Tegakan................................................. 30 5.2.1 Potensi Biomassa Tegakan .............................................. 37 5.2.1 Potensi Simpanan Karbon Tegakan ................................ 44 BAB VI KESIMPULAN ............................................................................... 51 6.1 Kesimpulan ............................................................................... 51 6.2 Saran ......................................................................................... 53 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 54 LAMPIRAN ................................................................................................... 58 iv DAFTAR TABEL No. Halaman 1 Berat jenis dan kelas kuat pohon agathis ................................................ 9 2 Berat jenis dan kelas kuat pohon puspa .................................................. 11 3 Persamaan penduga volume pohon di HPGW ........................................ 17 4 Berbagai model persamaan alometrik untuk menduga biomassa pohon di HPGW ...................................................................................... 18 5 Kerapatan kayu berbagai jenis pohon di HPGW .................................... 19 6 Nilai-nilai dugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon tegakan tanpa stratifikasi ......................................................................... 29 7 Potensi volume tegakan berdasarkan stratifikasi nilai volume ............... 32 8 Potensi volume tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi .............. 34 9 Nilai-nilai dugaan potensi volume seluruh tegakan di HPGW ............... 36 10 Potensi biomassa tegakan berdasarkan stratifikasi nilai biomassa ......... 39 11 Potensi biomassa tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi .......... 41 12 Nilai-nilai dugaan potensi biomassa seluruh tegakan di HPGW ............ 43 13 Potensi cadangan karbon tegakan berdasarkan stratifikasi nilai biomassa .................................................................................................. 45 14 Potensi cadangan karbon tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi ................................................................................................... 47 15 Nilai-nilai dugaan potensi cadangan karbon seluruh tegakan di HPGW ..................................................................................................... 49 16 Rekapitulasi kesalahan penarikan contoh ................................................ 50 v DAFTAR GAMBAR No. Halaman 1 Diagram alir penelitian ............................................................................ 14 2 Peta sebaran plot penelitian..................................................................... 15 3 Stratifikasi berdasarkan nilai volume tegakan ........................................ 31 4 Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi tegakan ....................................... 33 5 Stratifikasi berdasarkan nilai biomassa tegakan ..................................... 38 vi DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1 Hasil pengukuran potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon pada seluruh plot pengamatan ................................................................... 59 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanasan global (global warming) merupakan isu yang saat ini hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat dunia. Pemanasan global yang terjadi disebabkan semakin banyaknya gas rumah kaca (GRK) yang dilepaskan ke atmosfer bumi (CIFOR 2010). Menurut Risnandar (2010), terdapat dua kelompok gas rumah kaca yaitu kelompok gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung dan kelompok gas rumah kaca yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap pemanasan global. Gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung salah satunya adalah CO2 (karbon dioksida). Konsentrasi CO2 yang berlebih di atmosfer akan menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas (CIFOR 2010). Meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi dari tahun ke tahun menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim tersebut berupa perubahan suhu udara, curah hujan dan kecepatan angin (CIFOR 2010). Upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut salah satunya dengan melakukan mitigasi. Mitigasi adalah tindakan untuk mengurangi emisi GRK dan untuk meningkatkan penyimpanan karbon dalam rangka mengatasi perubahan iklim (CIFOR 2010). Salah satu sektor yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah sektor kehutanan. Tegakan hutan merupakan rosot karbon yang paling efektif (Handoko et al. 1996 diacu dalam Rdi et al. 2005). Hutan mampu menyerap kelebihan karbon di atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa di berbagai bagian tanaman (khususnya kayu) melalui proses fotosintesis (Lana et al. 2005). Selain itu, hutan juga melindungi sejumlah besar karbon yang tersimpan di bawah tanah (CIFOR 2010). Berdasarkan hasil penelitian Gardner dan Engelman 1999 diacu dalam Suhendang 2002, sekitar 40% atau 330 milyar ton karbon tersimpan dalam bagian pohon dan bagian tumbuhan hutan lainnya di atas permukaan tanah, sedangkan sisanya, yaitu sekitar 60% atau 500 milyar ton, tersimpan dalam tanah hutan dan akar-akar tumbuhan di dalam hutan. 2 Hutan-hutan Indonesia berpotensi menyimpan karbon. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 milyar ton biomassa, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa tersebut menyimpan 3,5 milyar ton karbon (FWI 2003 diacu dalam Bakri 2009). Salah satu hutan Indonesia yang memiliki potensi cadangan karbon adalah Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Hal tersebut dapat dilihat dari potensi tegakan HPGW yang didominasi oleh tumbuhan berkayu dengan umur relatif tua dan terdiri dari berbagai jenis vegetasi berbeda. Telah banyak dilakukan kajian dan penelitian di HPGW mengenai aspek ekonomi dan ekologi. Namun masih sedikit yang mengkaji tentang manfaat HPGW sebagai penyedia jasa lingkungan seperti penyerapan dan penyimpanan karbon. Oleh karena itu, pengukuran terhadap biomassa sangat dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar jumlah karbon yang tersimpan di HPGW dan pengaruhnya terhadap pemanasan global serta selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mendukung terlaksananya perdagangan karbon (carbon trading). Selain itu, untuk memastikan ketersediaan fungsi HPGW untuk jasa lingkungan guna mencapai pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management). 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi volume, kandungan biomassa dan cadangan karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan di HPGW. 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi volume, kandungan biomassa dan karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan di HPGW. Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan perencanaan, pengelolaan dan perlindungan hutan guna mencapai pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management). 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Hutan Sebagai Penyerap Karbon Hutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam penurunan emisi gas rumah kaca, karena hutan mampu memfiksasi karbon dan menyimpannya di dalam vegetasi yang dikenal sebagai rosot karbon (carbon sink). Vegetasi hutan mempunyai kemampuan untuk menyerap CO2 melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis tersebut umumnya disimpan dalam bentuk biomassa akar, batang, cabang, dan ranting (Salisbury & Ross 1992 diacu dalam Salim 2005) yang menjadikan vegetasi hutan tumbuh semakin besar dan semakin tinggi. Vegetasi hutan dengan kerapatan tinggi mampu menyerap lebih banyak CO2 dibandingkan dengan vegetasi hutan dengan kerapatan rendah. Oleh karena itu, kegiatan penanaman vegetasi pada lahan kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer. Hutan-hutan Indonesia menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Seperti yang dikemukakan oleh Suhendang (2002), sumberdaya hutan di Indonesia memiliki potensi tinggi dalam keanekaragaman hayati (biodiversity) dan potensi penyerapan karbon. Hasil studi ALGAS (1997) diacu dalam Retnowati dan Gintings (1997) menunjukkan bahwa hutan di Indonesia mampu menyerap sekitar 686 mega ton CO2 pada tahun 1990, dan akan meningkat menjadi 844 mega ton pada tahun 2020. Sedangkan menurut Suhendang (2002) hutan di Indonesia yang luasnya sekitar 120,4 juta hektar mampu menyerap dan menyimpan karbon sekitar 15,05 milyar ton karbon. Disisi lain, FAO menyatakan bahwa jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 milyar ton biomassa, jauh lebih tinggi dari pada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini menyimpan 3,5 milyar ton karbon (FWI 2003 diacu dalam Bakri 2009). 2.2 Biomassa dan Karbon Hutan Biomassa didefinisikan sebagai jumlah total bahan organik hidup di atas tanah pada pohon termasuk ranting, daun, cabang, batang utama dan kulit yang 4 dinyatakan dalam berat kering oven ton per unit area (Brown 1997). Biomassa dibedakan menjadi dua kategori, yaitu biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di bawah permukaan tanah (bellow ground biomass). Biomassa di atas permukaan tanah adalah berat bahan organik per unit area pada waktu tertentu yang dihubungkan ke suatu fungsi sistem produktivitas, umur tegakan, dan distribusi organik (Kusmana 1993 diacu dalam Salim 2005). Sedangkan biomassa di bawah permukaan tanah diartikan sebagai semua biomassa dari akar tumbuhan yang hidup. Biomassa tersusun oleh senyawa karbohidrat yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen, dan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis tanaman (White & Planskett 1991 diacu dalam Salim 2005). Pada proses fotositesis tumbuhan menyerap CO2 dari udara kemudian mengubahnya menjadi bahan organik sehingga jumlah total biomassa tumbuhan dapat bertambah. Biomassa tegakan hutan dipengaruhi oleh umur tegakan hutan, sejarah perkembangan vegetasi, komposisi, dan struktur tegakan (Lugo & Snedaker 1974 diacu dalam Onrizal 2004). Selain itu faktor iklim, seperti curah hujan dan suhu merupakan faktor yang mempengaruhi laju peningkatan biomassa pohon (Johnsen et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Cadangan karbon yang dihasilkan oleh suatu vegetasi atau tegakan hutan dapat diperoleh dengan memperkirakan dari biomassa vegetasi. Karbon merupakan produk dari produksi biomassa yang terbentuk dikurangi dengan total yang hilang melalui jaringan akar halus, cabang, dan daun serta penyakit, sisanya tergabung di dalam struktur yang tersimpan dalam pohon (Johnson et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45-50% bahan kering dari tanaman. Pendugaan emisi dan penyerapan karbon oleh kegiatan-kegiatan kehutanan di Indonesia (TPTI, HTI, deforestasi, reboisasi, penghijauan, hutan rakyat) dapat menggunakan metode IPCC, yaitu dengan cara menggunakan biomassa tanaman (Anonymous 1996 diacu dalam Retnowati & Gintings 1997). 5 2.3 Metode Pendugaan Biomassa dan Karbon Metode pengukuran biomassa pada dasarnya ada empat cara utama yaitu metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling), metode sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling), metode pendugaan melalui pengindraan jauh, dan metode pembuatan model. Metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) merupakan metode pengukuran biomassa dengan cara merusak atau menebang pohon untuk selanjutnya dilakukan pengukuran berat basah di berbagai carbon pool yang terdiri dari biomassa atas, biomassa bawah/akar, biomassa kayu mati, biomassa serasah dan biomassa tanah organik (Ostwald 2008). Sedangkan metode sampling tanpa pemanenan (nondestructive sampling) merupakan pengukuran biomassa dengan cara tidak merusak pohon dan hanya mengukur biomassa atas kemudian mengukur diameter dan tinggi pohon serta serasah yang ada. Metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) memberikan hasil yang paling akurat untuk menduga biomassa, tetapi teknik ini tidak dapat diterapkan pada semua areal hutan karena kerusakan yang diakibatkan cukup besar. Selain kerusakan yang cukup besar, mahalnya biaya dan lamanya waktu serta besarnya tenaga yang dibutuhkan dibandingkan dengan teknik pendugaan biomassa lain menjadi bahan pertimbangan dalam penggunaan teknik ini. Metode sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling) merupakan teknik pendugaan yang saat ini banyak dilakukan karena tidak perlu melakukan pemanenan pohon. Teknik ini memiliki efisiensi yang baik jika dibandingkan dengan teknik sampling destruktif. Parameter penyusun metode non-destructive sampling yaitu diameter pohon, tinggi pohon, volume batang, dan basal area untuk menduga biomassa. Menurut Brown (1997) ada dua pendekatan untuk menduga biomassa pohon, yang pertama berdasarkan pendugaan volume kulit sampai batang bebas cabang yang kemudian diubah menjadi jumlah biomassa (ton/ha) dan yang kedua secara langsung dengan menggunakan regresi biomassa. Seperti dikemukakan oleh Tiryana (2005), potensi biomassa hutan juga dapat diketahui melalui data hasil inventarisasi baik dengan menggunakan faktor konversi volume ke biomassa maupun persamaan alometrik yang menghubungkan dimensi pohon (diameter dan 6 atau tinggi) dengan biomassanya. Persamaan alometrik berupa fungsi matematika yang didasarkan pada hubungan berat kering biomassa per pohon contoh dengan satu atau lebih kombinasi dari dimensi pohon contoh (diameter dan tinggi) dapat dikembangkan/dihasilkan dari metode destructive sampling atau diperkirakan dari Fractal Branching Analysis/FBA (Adinugroho 2002). Martin et al. (1998) menyatakan bahwa persamaan alometrik dapat digunakan untuk menghubungkan antara diameter batang pohon dengan variabel yang lain seperti volume kayu, biomassa pohon, dan kandungan karbon pada tegakan hutan yang masih berdiri (standing stock). Diameter pohon merupakan salah satu variabel yang penting bagi pendugaan biomassa selain kerapatan jenis pohon dan tipe hutan (Chave et al. 2001). Sehubungan dengan pernyataan diatas Ketterings et al. (2001) membuat model penduga biomassa hutan dengan menggunakan variabel diameter dan kerapatan jenis dalam persamaan yaitu sebagai berikut: W = 0,11 ρ D 2,62 ...................................................................... (1) Keterangan : W = biomassa (kg/pohon) ρ = kerapatan jenis (g/cm3) D = diameter setinggi dada (cm) Pendugaan biomassa dengan persamaan alometrik memberikan hasil dugaan yang akurasinya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Sehingga penggunaan persamaan alometrik suatu jenis pohon yang telah diketahui untuk menduga potensi biomassa pohon yang sama dapat menghasilkan hasil dugaan yang cukup akurat. Berbeda dengan metode pendugaan biomassa untuk individu pohon seperti yang telah dijelaskan di atas, untuk pendugaan biomassa skala tegakan umumnya digunakan teknik penarikan contoh (sampling). Sampling adalah suatu cara pengamatan terhadap suatu populasi yang dilakukan hanya terhadap sebagian populasi yang mewakili seluruh unit yang terdapat di dalam populasi tersebut (Sutarahardja et al. 1982 diacu dalam Noronhae 2007). Cara sampling umum digunakan karena cara ini membutuhkan waktu pengukuran yang relatif singkat, memberikan keterwakilan contoh yang tinggi, pekerjaan lapangan lebih mudah dengan ketelitian tinggi dan dapat mengurangi biaya. Systematic sampling with 7 random start (penarikan contoh sistematik dengan pengacakan awal) merupakan salah satu teknik penarikan contoh yang sering digunakan dalam pendugaan potensi biomassa skala tegakan. Unit contoh dalam systematic sampling diambil secara sistematik menurut aturan atau pola tertentu. Pola yang umum digunakan dalam kegiatan inventarisasi hutan berupa grids (kotak-garis) berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang yang dirancang pada peta dengan jarak tertentu, dimana unit-unit contoh ditempatkan pada titik-titik sudutnya. Dalam hal ini, hanya unit contoh pertama saja yang dipilih secara acak dari populasi, sedangkan unit contoh lainnya dipilih dengan interval/jarak (k) tertentu secara sistematik (Sutarahardja 1999 diacu dalam Noronhae 2007). Unit contoh yang digunakan biasanya berupa plot lingkaran berukuran tertentu dalam satuan hektar, misalnya 0,02 ha; 0,04 ha; 0,05 ha; 0,1 ha, dsb (Sutarahardja 1999 diacu dalam Noronhae 2007). Unit contoh lingkaran dapat dibuat dengan mudah karena hanya memerlukan titik pusat unit contoh dan jari-jari lingkaran selain itu relatif mudah dalam menentukan pohon batas (borderline tree). Kesalahan sampling atau kesalahan contoh akan terjadi dalam pendugaan dengan menggunakan contoh sebagai akibat dari peluang pemilihan unit contoh. Kesalahan penarikan contoh merupakan perbandingan yang mungkin antara nilai taksiran dengan nilai sebenarnya dalam populasi/hutan tersebut yang dinyatakan dalam persen. Dengan demikian semakin kecil nilai perbedaan tersebut, maka penarikan contoh yang dilakukan semakin teliti (Husch 1987 diacu dalam Noronhae 2007). Berdasarkan teknik sampling tersebut, dapat diperoleh nilai-nilai dugaan rata-rata dan total potensi biomassa atau karbon. Nilai biomassa yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat digunakan untuk menduga potensi karbon yang tersimpan dalam vegetasi hutan. Karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45-50% bahan kering dari tanaman. Berdasarkan hasil konferensi IPCC (2006), fraksi karbon dari biomassa hutan diatas tanah yaitu 0,47 sehingga untuk mengetahui potensi karbon (ton C/ha) dalam hutan dapat diduga dengan mengalikan biomassa dengan fraksi karbon tersebut. 8 C = W x 0,47............................................................................. (2) Keterangan : C = karbon (ton) W = biomassa (kg/pohon) 0,47 = fraksi karbon 2.4 Volume Pohon dan Metode Pendugaannya Volume merupakan suatu besaran tiga dimensi dari suatu benda yang besarannya dinyatakan dalam satuan kubik yang didapatkan dari hasil perkalian satuan dasar panjang (Husch 1963 diacu dalam Hardansyah R 2004). Volume pohon dapat diklasifikasikan menurut dimensi tinggi yaitu volume pohon berdiri, volume log/sortimen, dan volume kayu bakar. Volume pohon berdiri dibedakan menjadi volume total pohon, volume batang, volume kayu tebal, dan volume bebas cabang. Cara penentuan volume pohon dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: 1. Cara analitik, yaitu cara penentuan volume benda dengan menggunakan rumus volume standar. 2. Cara langsung, yaitu cara penentuan volume yang dilakukan dengan mengukur dimensinya. 3. Cara grafik, yaitu cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume berbagai bentuk benda putar tanpa memandang ciri-ciri permukaannya. 4. Penggunaan tabel volume Rumus-rumus yang umum digunakan dalam penentuan volume adalah rumus Huber, Smalian, dan Newton. Dalam prakteknya, penggunaan tabel volume lebih memudahkan dalam penentuan volume pohon karena memberikan dugaan volume untuk diameter dan tinggi pohon secara spesifik. Tabel volume pohon adalah suatu tabel yang digunakan untuk mendapatkan volume pohon atau batang melalui pengukuran satu atau beberapa peubah penaksir volume pohon atau volume batang (Husch 1963 diacu dalam Hardansyah 2004). Menurut Simon (1996) diacu dalam Hardansyah 2004, terdapat tiga macam tabel volume yang dapat digunakan untuk menduga volume pohon yaitu tabel volume lokal, tabel volume standar, dan tabel volume kelas bentuk. Masing-masing tabel volume tersebut menggunakan parameter yang berbeda-beda dalam penyusunannya. 9 2.5 Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat 2.5.1 Pinus Pinus merkusii Jungh et de Vriese, merupakan salah satu jenis anggota famili Pinaceae. Pohon ini biasanya juga disebut dengan pohon damar batu, damar bunga, huyam, kayu sala, kayu sugi, uyam, dan tusam (Sumatera) atau pinus (Jawa). Tinggi pohon pinus dapat mencapai 20–40 m dengan panjang batang bebas cabang 2–23 m, diameter 100 cm, dan tidak berbanir. Pinus dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, tanah berpasir dan tanah berbatu, tetapi tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah becek. Kayu pinus memiliki sifat fisis di antaranya memiliki berat jenis 0,55 (0,40–0,75) dan termasuk kelas kuat III (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.2 Agathis Agathis spp. merupakan salah satu famili Araucariaceae. Pohon ini juga biasanya disebut pohon damar sigi, kayu sigi (Sumatra); damar, kidamar (Jawa); bindang, damar bindang, damar pilau (Kalimantan); dama, damar kapas, damar wana, hulu sinua (Sulawesi); damar puti, damar raja, koano, (Maluku); damar putih, damar papeda, kesi, kosima. Tinggi pohon dapat mencapai 55 m, panjang batang bebas cabang 12–25 m, diameter mencapai 150 cm atau lebih, bentuk batang silindris dan lurus. Damar memiliki tajuk berbentuk kerucut dan berwarna hijau dengan percabangan mendatar melingkari batang. Kulit luar pohon damar berwarna kelabu sampai coklat tua, mengelupas kecil-kecil berbentuk bundar atu bulat telur. Pohon ini berbanir, mengeluarkan damar yang lazim disebut kopal. Pohon damar memiliki berat jenis dan kelas kuat sebagai berikut: Tabel 1 Berat jenis dan kelas kuat pohon agathis Jenis Berat jenis Kelas kuat Agathis alba 0,48 (0,43–0,54) III Agathis borneensis 0,47 (0,36–0,64) III Agathis labillardieri 0,47 (0,42–0,52) III Pohon damar tumbuh dalam hutan primer pada tanah berpasir, berbatubatu atau liat yang selamanya tidak digenangi air, pada ketinggian 2–1.750 m dari permukaan laut (Martawijaya et al. 2005a). 10 2.5.3 Mahoni Swietenia spp. merupakan salah satu famili Meliaceae yang meliputi dua jenis yaitu Swietenia macrophylla King (mahoni daun besar) dan Swietenia mahagoni Jacq. (mahoni daun kecil). Pohon ini tersebar diseluruh Jawa. Tinggi pohon dapat mencapai 35 m, diameter sampai 125 cm. Pohon mahoni bentuk silindris, tidak berbanir, dan tajuk membulat. Pohon mahoni daun besar memiliki berat jenis 0,61 (0,53–0,67) dan mahoni daun kecil memiliki berat jenis 0,64 (0,56–0,72). Mahoni dapat tumbuh baik di daerah dengan musim kemarau yang basah maupun kering, yaitu pada tipe curah hujan A–D. Jenis ini tumbuh pada tanah yang agak liat dan kurus dengan ketinggian sampai 1000 mdpl (Martawijaya et al. 2005a). 2.5.4 Sengon Paraserianthes falcataria (L.) merupakan salah satu famili Mimosaceae. Pohon ini juga biasanya disebut jeungjing atau sengon laut. Daerah penyebaran sengon yaitu seluruh Jawa (tanaman), Maluku, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya. Tingi pohon sampai 40 m dengan panjang batang bebas cabang 10–30 m, diameter sampai 80 cm. Sengon memiliki kulit luar berwarna putih atau kelabu, tidak beralur, tidak mengelupas, dan tidak berbanir. Sengon memiliki berat jenis 0,33 (0,24–0,49) dan kelas IV–V. Sengon dapat tumbuh pada tanah yang tidak subur dan agak sarang, tanah kering maupun becek atau agak asin. Tanaman muda tahan kekurangan zat asam sampai 31,5 hari. Jenis ini menghendaki iklim basah sampai agak kering, pada daratan rendah hingga ke pegunungan sampai ketinggian 1.500 mdpl (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.5 Puspa Schima wallichii Korth. merupakan salah satu famili Theaceae. Pohon ini sering juga disebut merang salau atau madang gatal. Daerah penyebaran jenis ini di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan panjang batang bebas cabang sampai 25 m, diameter sampai 250 cm. Pohon puspa tidak memiliki banir, kulit luar berwarna merah muda, merah tua sampai hitam, beralur dangkal dan mengelupas, kulit hidup tebalnya sampai 15 mm berwarna 11 merah dan di dalamnya terdapat miang yang gatal. Puspa memiliki berat jenis dan kelas kuat sebagai berikut: Tabel 2 Berat jenis dan kelas kuat pohon puspa Jenis Berat jenis Kelas kuat Schima wallichii ssp bancana 0,69 (0,62–0,79) II Schima wallichii ssp crenata 0,66 (0,56–0,83) II Schima wallichii ssp noronhae 0,62 (0,45–0,72) II Schima wallichii ssp oblata 0,71 (0,61–0,92) II Puspa tumbuh pada tanah kering dan tidak memilih keadaan tekstur dan kesuburan tanah, sehingga baik untuk reboisasi padang alang-alang, belukar dan tanah kritis. Jenis ini memerlukan iklim basah sampai agak kering dengan tipe curah hujan A–C, pada dataran rendah sampai di daerah pegunungan dengan ketinggian sampai 1000 mdpl (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.6 Rasamala Altingia excelsa Noronhae. merupakan salah satu familli Hamamalidaceae. Pohon ini juga sering disebut mala, rasamala, rasamala gadog. Daerah penyebaran rasamala di Sumatra dan Jawa Barat. Tinggi pohon sampai 50 m dengan panjang batang bebas cabang 15–30 m, diameter sampai 150 cm, dan berbanir. Rasamala memiliki kulit luar berwarna coklat muda atau kelabu merah dan sedikit mengelupas. Pohon rasamala memiliki berat jenis 0,81 (0,61–0,90) dan kelas kuat II. Rasamala tumbuh pada tanah sarang, tanah berpasir atau tanah berbatu, dan lebih menyukai tanah yang subur, umumnya pada lapangan yang miring di kaki bukit dan pegunungan. Jenis ini menghendaki iklim basah dan kemarau yang sedang dengan tipe curah hujan A–B pada ketinggian 500–1500 mpdl (Martawijaya et al. 2005b). 2.5.7 Sonokeling Dalbergia latifolia Roxb. merupakan famili Papilionaceae. Jenis ini tersebar di seluruh Jawa. Sonokeling memiliki tajuk berbentuk bulat dan berdaun jarang. Tinggi pohon sampai 43 m dengan panjang batang bebas cabang 3–5 m, diameter dapat mencapai 150 cm, batang umumnya tidak lurus, kebanyakan berlekuk, dan 12 tidak berbanir. Sonokeling berkulit luar putih dan mengelupas kecil-kecil. Berat jenis sonokeling adalah 0,83 (0,77–0,86). Sonokeling tumbuh di daerah dengan musim kemarau sedang sampai kering (paling tinggi 30 hari hujan dalam 4 bulan terkering). Jenis ini masih dapat tumbuh pada tanah jelek, berbatu-batu dan keras, pada ketinggian 0–600 mdpl (Martawijaya et al. 2005a). 2.5.8 Meranti Shorea spp. merupakan salah satu famili Dipterocarpaceae. Pohon ini sering juga disebut meranti, banio, lampung, merkuyung. Penyebaran meranti di Sumatra, Kalimantan dan Maluku. Tinggi pohon dapat mencapai 50 m dengan panjang batang bebas cabang sampai 30 m, diameter umumnya 100 cm. Meranti memiliki banir berukuran tinggi 3,5 m; lebar 2,5 m; dan tebal 20 cm. Kulit luar berwarna kelabu atau coklat dengan tebal lebih kurang 5 mm. Jenis ini memiliki berat jenis 0,52 (0,30–0,86) dan kelas kuat III–IV. Meranti tumbuh dalam hutan hujan tropis dengan tipe curah hujan A,B,C. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol, podsolik merah-kuning dan podsolik kuning pada ketinggian sampai 1300 mdpl (Martawijaya et al. 2005a). 2.5.9 Kayu Afrika Maesopsis eminii termasuk ke dalam famili Rhaminaceae dengan nama perdagangan setempat musici sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama kayu afrika. Tanaman ini memiliki tajuk yang besar, tinggi pohon dapat mencapai 43 m dan diameter 120 cm serta dapat mencapai umur 200 tahun. Tumbuh pada daerah bergunung dengan ketinggian kira-kira 100 m dengan curah hujan tahunan bervariasi antara 1000–2000 mm. Kayu ini memiliki berat jenis kering udara berkisar 0,34–0,46 dan termasuk kedalam kelas kuat III–IV. Jenis ini merupakan tanaman perintis karena kecambah dan semainya dapat bertahan di bawah tajuktajuk hutan selama beberapa bulan dan membutuhkan celah tajuk yang lebar untuk tumbuh. 13 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2011. 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa data inventarisasi tegakan hutan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran yang ada di HPGW yang terletak di Kecamatan Cicantayan dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Peralatan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah peta rancangan sampling HPGW, pita ukur, tambang plastik, kompas, GPS (Global Potisioning System), alat tulis, tally sheet, range finder, parang, kalkulator, komputer (yang dilengkapi dengan software MS Word, MS Excel) dan software Arc View 3.2. Data penunjang yang digunakan dalam penelitian terdiri dari: 1. Peta HPGW berupa peta letak dan luas areal, peta tutupan dan penggunaan lahan, serta peta sebaran potensi tegakan. 2. Data informasi iklim, tanah dan geologi, keadaan lapangan serta keadaan hutan di HPGW. 3.3 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan dengan tahapan seperti diilustrasikan dalam Gambar 1. Tahapan dalam kegiatan penelitian ini secara umum terdiri dari persiapan dan pengambilan data lapangan, pengolahan data lapangan, serta pendugaan biomassa dan karbon di atas tanah. 14 Persiapan dan pembuatan rancangan sampling Mulai Pengukuran di lapangan Diameter batang (Dbh) pohon (cm) Tinggi total pohon (m) Persamaan alometrik penduga biomassa Pendugaan volume Persamaan ketterings penduga biomassa Nilai potensi biomassa dan karbon Pendugaan tanpa stratifikasi Pendugaan dengan stratifikasi Stratifikasi berdasarkan nilai potensi Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi Pendugaan potensi volume, biomassa, dan karbon Selesai Gambar 1 Diagram alir penelitian. 15 Secara rinci, metode yang diterapkan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: 3.3.1 Persiapan dan Pengambilan Data Lapangan Persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan penelitian ini diantaranya adalah perencanaan rancangan sampling untuk inventarisasi hutan di HPGW oleh divisi penelitian dan pengembangan HPGW. Pengambilan data lapangan direncanakan di atas peta kerja HPGW. Pengambilan data dilakukan dengan membuat plot contoh di lapangan dengan teknik systematic sampling with random start (penarikan contoh sistematik dengan pengacakan awal). Plot contoh diambil secara sitematik menurut aturan atau pola tertentu dengan plot contoh pertama dipilih secara acak dari populasi. Pola yang digunakan berupa grid berbentuk bujur sangkar yang dirancang pada peta HPGW dengan jarak antar plot 150 m untuk memperoleh keterwakilan yang tinggi. Plot contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 142 plot. Total plot contoh yang dibuat langsung dilapangan adalah sebanyak 48 plot sedangkan sisanya diperoleh dari data hasil inventarisasi hutan di HPGW tahun 2011 sebanyak 94 plot. Sebaran plot penelitian dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Peta sebaran plot penelitian. 16 Pengambilan data lapangan dilakukan pada tegakan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran yang ada di HPGW. Plot contoh yang digunakan berbentuk lingkaran karena mudah dibuat dan mudah menentukan pohon batas. Sutaraharja (1999) diacu dalam Noronhae (2007) menyatakan bahwa ukuran satuan contoh untuk bentuk circular dan rectangular plot dinyatakan dalam luasan tertentu dalam satuan hektar, misalnya 0,02 ha; 0,004 ha; 0,005 ha; 0,10 ha, dsb. Pada penelitian ini, plot contoh yang digunakan adalah plot contoh dengan jari-jari 17,8 m yang mewakili luas 0,1 ha. Pemilihan titik pengukuran lapangan dilakukan berdasarkan peta areal HPGW. Pemilihan titik dilakukan dengan metode systematic sampling with random start. Koordinat titik pengamatan di lapangan ditentukan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) sesuai dengan rancangan sampling yang telah dibuat pada peta kerja. Parameter tegakan yang diukur pada plot-plot contoh berupa diameter pohon setinggi dada (Dbh) ≥ 10 cm, tinggi total pohon (Tt), jenis pohon, kondisi pohon (mati pucuk, kurus, berpenyakit), kondisi batang (bercabang, lurus, rusak, dan jumlah koakan /sadapan). Diameter batang (Dbh) pohon dan tinggi total (Tt) diukur untuk menduga volume. Sedangkan untuk menduga potensi biomassanya hanya digunakan data diameter melalui persamaan alometrik. 3.3.2 Pengolahan Data 3.3.2.1 Pendugaan Volume Pendugaan volume pohon dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara tergantung pada jenis pohonnya (hardwood atau conifer), dimensi tinggi (pohon berdiri atau log), dan bentuk geometris batang (silinder, neiloid, parabola, kerucut). Rumus-rumus yang umum digunakan untuk menghitung volume pohon adalah rumus Huber, Smalian, dan Newton. Selain rumus-rumus tersebut juga dapat digunakan tabel volume baik tabel volume lokal maupun tabel volume standar dan tabel volume kelas bentuk. Pada penelitian ini, menggunakan persamaan tabel volume yang telah dikembangkan oleh peneliti terdahulu di 17 HPGW untuk menduga volume pohon. Persamaan penduga volume tersebut disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Persamaan penduga volume pohon di HPGW Jenis Persamaan Sumber Puspa V = -0,9344 + 5,4816 D + 0,0080 H (LPIPB 1985) Mahoni V = -1,0330 + 5,4816 D + 0,0080 H (LPIPB 1985) Pinus V = 10,3265 * –e (Wardasanti 2011) Agathis Jenis lainnya e^(1,9928-0,0339D) V = 0,00008872 D V = 0,0000091 D 2,658 1,54 H (Siagian 2011) 1,64 (LPIPB 1985) Keterangan: Untuk puspa dan mahoni: D = dbh (m), T = tinggi total (m) Untuk jenis lainnya : D = dbh (cm), T = tinggi total (m) V = volume tegakan (m3) D = diameter setinggi dada (cm) H = tinggi total pohon (m) e = eksponensial 3.3.2.2 Model Pendugaan Biomassa Tegakan Pendugaan potensi biomassa dalam penelitian ini menggunakan persamaan alometrik karena dalam pembuatan model penduga biomassa memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang besar. Selain itu, persamaan alometrik bersifat universal sehingga akan memudahkan dalam pengestimasian biomassa tanaman yang tumbuh pada beberapa daerah berbeda. Persamaan alometrik pada masing-masing jenis pohon berbeda satu sama lain. Persamaan-persamaan alometrik yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari penelitian terdahulu tentang pendugaan biomassa masing-masing jenis pohon sehingga memberikan hasil dugaan yang akurasinya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Adapun persamaan alometrik yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4. 18 Tabel 4 Berbagai model persamaan alometrik untuk menduga biomassa tegakan di HPGW No Jenis pohon 1 Mangium (Acacia mangium) Agathis (Agathis lorantifolia) Pinus (Pinus merkusii) Mahoni (Swietenia macrophylla) Meranti (Shorea leprosula) Puspa (Schima wallichii) Jati (Tectona grandis) Sengon (Paraserianthers falcataria) 2 3 4 5 6 7 8 Model persamaan alometrik Sumber W = 0,0528 (D2)1,3612 (Heriansyah et al. 2003 diacu dalam Masripatin et al. 2010) W = 0,3406 D2,0467 (Siregar & Dharmawan 2007) 2,26 W = 0,206 D W = 0,066 D2,13 H0,257 (Hendra 2002) W = 0,048 D2,68 (Adinogroho 2002) W = 0,058 D2,62 (Handayani 2003) 1,9978 W = 0,4594 D W = 0,0727 (D2H)0,8993 (Salim 2005) W = 0.2759 D2.2227 (Hendri 2001 diacu dalam Tiryana et al. 2011) W = 0.1479 D2.2989 (Hairiyah & Rahayu 2007) Biomassa yang diukur dalam penelitian ini merupakan biomassa di atas permukaan tanah (above-ground biomass) dari berbagai tegakan yang ada di HPGW. Persamaan alometrik untuk menaksir biomassa di atas permukaan tanah untuk jenis-jenis pohon yang ada di HPGW sangat terbatas sehingga untuk jenis pohon yang tidak ada persamaan alometriknya digunakan persamaan alometrik yang bersifat universal seperti yang dikemukakan oleh Ketterings et al. (2001) yaitu sebagai berikut: W = 0,11 ρ D 2,62 ...................................................................... (3) Keterangan : W = biomassa (kg/pohon) ρ = massa jenis pohon (kg/cm3) D = diameter setinggi dada (1,3 m) Persamaan tersebut menggunakan variabel diameter dan kerapatan kayu masingmasing jenis secara spesifik sehingga bisa meminimalkan kesalahan pengukuran. Tabel 5 menyajikan kerapatan kayu jenis-jenis pohon yang ada di HPGW. 19 Tabel 5 Kerapatan kayu berbagai jenis pohon di HPGW Nama lokal Nama botani Wood density (g/cm3) Sumber Ampelas (Ficus ampelas) 0,48 Beringin (Ficus benjamina) 0,52 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Anonim 1981) Ficus (Ficus sp.) 0,47 Prosea 5(3) p:233 Jambu 0,73 Prosea 5(2) p:442 0,73 (Anonim 1981) Jenis lain (Syzygium sp) (Pithecelobium rosulatum) - 0,57 Kayu afrika (Maesopsis eminii) 0,42 Brown (data from reyes et al. 1992) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Ginoga 1978) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) Jengkol Kenanga (Cinnamomum burmani) (Cananga ordorata) Kepuh (Sterculia foetida) 0,64 Keruing (Dipterocarpus elongatus) 0,67 Ketapang (Terminalia catappa) 0,65 Kayu manis 0,57 0,38 (Martawijaya et al. 1992) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) prosea 5(2)p:442 Ki sireum (Macaranga rhizinoides) (Eugenia cymosa) Ki teja (Machilus rimosa) 0,59 Laban (Vitex pubescens) 0,88 Sonokeling (Dalbergia latifolia) 0,83 Macaranga (Macaranga sp) 0,5 Mangga (Mangifera indica) 0,67 Mindi (Melia azedarach) (Callophyllum inophyllum) 0,53 Prosea 5(3) p:340 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Martawijaya et al. 1992) 0,69 (Martawijaya et al. 1992) Pasang (Quercus sundaicus) 0,58 Petai cina (Leucaena leucephala) 0,82 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Anonim 1981) Pulai (Alstonia scholaris) 0,30 (Martawijaya et al. 1992) Rambutan (Nephelium lappaceum) 0,91 (Anonim 1981) Rasamala (Altingia exelsa) 0,81 (Anonim 1981) Resak (Vatica rassak) 0,6 Sempur (Dillenia aurea) 0,76 Sukun (Artocarpus communis) 0,40 Sungkai (Peronema canescens) 0,52 (Martawijaya et al. 1992) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Martawijaya et al. 1992) Tangkalak (Litsea sebifera) 0,72 Teureup (Artocarpus elastica) 0,44 Waru laut (Hibiscus tiliaceus) 0,54 Ki huru Nyamplung 0,39 0,73 (http://www.thewoodexchange.info) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Martawijaya et al. 1992) Prospect: The Wood Database Version 2.1 (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) (Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono (1990) Sumber://www.worldagroforestry.org/sea/products/afdbases/wd/index.htm 20 Terdapat beberapa jenis pohon yang tidak diketahui kerapatan kayu lokalnya seperti apus, dara uncal, ramu giling, harendong dan jenis lainnya sehingga digunakan kerapatan pohon di Asia seperti yang dikemukakan Brown (1997) diacu dalam Ketterings et al. (2001) yaitu 0,57 g/cm3. 3.3.2.3 Pendugaan Karbon Hutan Nilai biomassa yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat digunakan untuk menduga potensi karbon yang tersimpan dalam vegetasi hutan. Karbon merupakan produk dari produksi biomassa yang terbentuk dikurangi dengan total yang hilang melalui jaringan akar halus, cabang, dan daun serta penyakit, sisanya tergabung di dalam struktur yang tersimpan dalam pohon (Johnson et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45–50% bahan kering dari tanaman. Berdasarkan hasil konferensi IPCC (2006), fraksi karbon dari biomassa hutan yaitu 0,47 sehingga untuk mengetahui potensi karbon (ton C/ha) dalam hutan dapat diduga dengan mengalikan biomassa hutan dengan fraksi karbon tersebut. C = W * 0,47............................................................................. (4) Keterangan : C = karbon W = biomassa (kg/pohon) 0,47 = fraksi karbon 3.3.2.4 Analisis Data Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon pada penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode pendugaan tanpa stratifikasi dan metode pendugaan dengan strafitikasi. Metode pendugaan tanpa stratifikasi menggunakan systematic sampling with random start seperti dalam pengambilan plot contoh. Pada metode tersebut pendugaan parameter dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus simple random sampling (SRS) (Shiver & Borders 1996) yaitu sebagai berikut: a. Penduga nilai tengah/rata-rata populasi (μ) : = sy = ............................................................ (5) 21 b. Ragam dugaan bagi ( = ): ; dimana : = ............ (6) c. Selang kepercayaan (1-α).100% bagi nilai tengah/rata-rata populasi : = ..................................................... (7) sy d. Penduga total populasi ( ) : = N. ............................................................................... (8) e. Ragam dugaan bagi total populasi ( = N2. = => ) = N2 ................ (9) f. Selang kepercayaan (1-α).100% bagi total populasi : Y= ......................................................... (10) ± atau dapat dihitung dari selang kepercayaan bagi rata-rata : .......................................... (11) N. g. Kesalahan penarikan contoh (sampling error, SE) ..................................... (12) SE = Keterangan: yi = nilai pada plot contoh ke-i = ragam contoh n = ukuran contoh N = ukuran populasi Selain menduga tanpa stratifikasi, juga dilakukan stratifikasi setelah semua data hasil penelitian metode dengan dilapangan terkumpul (poststratification). Poststratification dilakukan karena kondisi tegakan di HPGW yang cenderung heterogen, yaitu bervariasi dalam hal umur, komposisi jenis, kualitas tempat tumbuh (bonita), topografi dan lain sebagainya. Pada metode ini, terlebih dahulu dilakukan stratifikasi populasi yang akan diduga potensi volume, biomassa, dan cadangan karbonnya menjadi beberapa stratum yang kondisinya relatif homogen dan tidak saling tumpang tindih (overlap). Stratifikasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu stratifikasi berdasarkan sebaran nilai volume dan biomassa tegakan serta berdasarkan jenis vegetasi. Stratifikasi tersebut dipilih 22 untuk mengurangi keragaman sehingga menghasilkan nilai dugaan yang lebih akurat. Pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi, stratifikasi dilakukan dengan terlebih dahulu menduga sediaan tegakan pada lokasi-lokasi yang tidak terwakili oleh plot contoh menggunakan teknik interpolasi permukaan (surface interpolation). Interpolasi permukaan adalah suatu teknik untuk menghitung nilai diantara dua atu lebih titik yang secara spasial berdekatan (Jaya et al. 2010). Data dari plot-plot contoh yang telah diukur kemudian ditransformasikan menjadi informasi petak. Metode interpolasi permukaan umumnya dilakukan dengan dua metode yaitu metode Inverse Distance Weighted (IDW) atau Invers Jarak Tertimbang dan spline. Akan tetapi, pada penelitian ini digunakan metode IDW karena metode ini menghasilkan kisaran estimasi sediaan yang mendekati kondisi aktualnya di lapangan dengan kesalahan relatif rendah (Jaya et al. 2010). Berdasarkan hasil interpolasi tersebut kemudian dilakukan stratifikasi. Untuk stratifikasi berdasarkan nilai potensi volume, areal dengan kisaran nilai volume yang sama dijadikan sebagai satu stratum begitu pula pada stratifikasi berdasarkan biomassa. Areal dengan kisaran nilai biomassa yang sama dijadikan sebagai satu stratum. Sedangkan untuk pendugaan cadangan karbonnya, digunakan stratifikasi berdasarkan nilai potensi biomassa. Hal ini dikarenakan hasil pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa. Sehingga setiap penambahan kandungan biomassa akan diikuti oleh penambahan kandungan karbon dan apapun yang menyebabkan peningkatan ataupun penurunan biomassa maka akan menyebabkan peningkatan ataupun penurunan kandungan karbon. Selain dilakukan stratifikasi berdasarkan nilai volume dan biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Untuk stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi, areal dengan jenis vegetasi yang sama dijadikan sebagai satu stratum. Nilai-nilai dugaan bagi rata-rata per hektar dan total potensi biomassa dan karbon dihitung berdasarkan potensi pada setiap stratum serta keseluruhan populasi tegakan HPGW dengan menggunakan metode stratified systematic sampling with random start. Menurut Cochran (1997), Shiver and Borders (1996), Tiryana (2003), Vries (1986) diacu dalam Tiryana (2005) rumus-rumus yang 23 digunakan dalam metode pendugaan biomassa dan karbon dengan metode stratified systematic sampling with random start adalah sebagai berikut: 1. Pendugaan pada setiap stratum a. Rata-rata potensi pada stratum ke-h: h= ................................................................. (13) b. Ragam rata-rata potensi pada stratum ke-h: = dimana : ................................................................. (14) .................................... (15) = 2. Pendugaan pada keseluruhan populasi tegakan: a. Rata-rata potensi pada populasi: .................................................................... = (16) b. Ragam rata-rata potensi pada populasi: ........................................................... = (17) c. Taksiran selang bagi rata-rata potensi pada populasi: . ................................................. ± (18) d. Total potensi pada populasi: = N. ............................................................................... (19) e. Ragam bagi total potensi pada populasi: = . .......................................................................... (20) f. Taksiran selang bagi total potensi pada populasi: ± atau N. ......................................................... (21) ....................................... (22) g. Kesalahan penarikan contoh (sampling error) SE = .................................................. (23) 24 Keterangan: yh,i = nilai potensi pada stratum ke-h dan plot contoh ke-i = ragam contoh pada stratum ke-h nh = ukuran contoh pada stratum ke-h Nh = ukuran stratum ke-h N = ukuran populasi L = jumlah stratum 25 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Status dan Peran Kawasan Pada awalnya Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah areal kawasan hutan seluas ± 359 ha yang peruntukannya sebagai Hutan Pendidikan dengan status hak pinjam pakai. Ketentuan tersebut didasarkan atas: 1. Surat Keputusan Kepala Jawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat tanggal 14 oktober 1969 No.7041/IV/2/69. 2. Surat Direktorat Jenderal Kehutanan tanggal 24 Januari 1973 No.291/05/79. 3. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.008/Kpts/Dj/73. 4. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.687/Kpts-II/92. Setelah melalui proses panjang sejak tahun 1996, akhirnya pada tahun 2005 status kawasan HPGW dikuatkan dengan diterbitkannya SK Menhut No.188/Menhut–II/2005, yang menetapkan fungsi hutan kawasan HPGW seluas 359 ha sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan pengelolaanya diserahkan kepada Fakultas Kehutanan IPB dengan tujuan khusus sebagai Hutan Pendidikan (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.2 Letak dan Posisi Geografis HPGW secara geografis terletak pada 106˚48’27”BT sampai 106˚50’29”BT dan -6˚54’23”LS sampai -6˚55’35”LS. Secara administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Kecamatan Cicantayan dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Dalam administrasi kehutanan areal HPGW termasuk BKPH Gede Barat, KPH Sukabumi, Unit III Jawa Barat Perum Perhutani (Badan Eksekutif HPGW 2010). HPGW berbatasan dengan Desa Batununggal dan Sekarwangi di bagian Utara, Desa Cicantayan dan Desa Cijati di bagian Timur, Desa Hegarmanah di bagian Selatan dan di bagian Barat (Badan Eksekutif HPGW 2010). HPGW memiliki luas 359 ha, dibagi ke dalam 3 blok yaitu blok Cikatomas dengan luas 120 ha yang terletak di bagian Timur, blok Cimenyan dengan luas 125 ha yang terletak di bagian Barat dan blok Tengkalak/Seusepan dengan luas 26 114 ha yang terletak di bagian Tengah dan di bagian Selatan (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.3 Topografi HPGW terletak pada ketinggian 460–715 mdpl. Kondisi topografi mulai dari agak curam (15–25%) sampai sangat curam (>40%). Bagian selatan merupakan daerah yang bergelombang mengikuti punggung-punggung bukit yang memanjang dan melandai dari Utara ke Selatan. Di bagian tengah terdapat puncak dengan ketinggian 676 mdpl (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.4 Geologi dan Jenis tanah HPGW terbentuk oleh batuan sedimen tersier bawah (oligosen) yang tersusun oleh batu pasir kuarsa yang berlapiskan silang konglomerat kerakal kuarsa lempung, lignit lapisan-lapisan arang tipis. Gunung Walat mengandung bebatuan alam yang terdiri dari batuan sedimen vulkanik berwarna hijau semu abu-abu, membentuk seri lapisan yang sangat tebal. Gunung Walat terdiri dari lapisan tufa dasit yang pada horizon tertentu diselingi dengan batuan tufa andesit, yang merupakan bagian dari ”Breksi tua” yang berumur meosin. Keadaan Gunung Walat merupakan pulau meosin di tengah-tengah formasi batuan vulkanik kuarter yang berasal dari Gunung Salak dan Gunung Gede (Badan Eksekutif HPGW 2010). Jenis tanah Gunung Walat adalah keluarga tropophumult tipik (lotosol merah kekuningan), tropodult (latosol coklat), dystropept tipik (podsolik merah kekuningan) dan troporpent lipik (latosol). Tanah latosol merah kekuningan adalah jenis tanah yang terbanyak sedangkan di daerah berbatu hanya terdapat tanah latosol, dan di daerah lembah terdapat tanah podsolik (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.5 Iklim dan Hidrologi Klasifikasi iklim daerah Gunung Walat menurut Schmidt dan Ferguson termasuk tipe B, dengan nilai Q=14,3% 33% dan banyaknya curah hujan tahunan 27 berkisar antara 1600–4000 mm. Suhu udara maksimum di siang hari 29˚C dan minimum 19˚C di malam hari (Badan Eksekutif HPGW 2010). Gunung Walat dilalui beberapa aliran sungai yang umumnya mengalir ke arah Selatan dan berair sepanjang tahun yaitu anak sungai Cipeureu, Citangkalak, Cikabayan, Cikatomas, dan Legok Pusar yang merupakan sumber air bersih bagi masyarakat sekitarnya. Kawasan Gunung Walat termasuk ke dalam sistem pengelolaan DAS Cimandiri (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.6 Vegetasi Hutan Tegakan HPGW terdiri dari tanaman agathis (Agathis loranthifolia), pinus (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jenis lainnya seperti kayu afrika (Maesopsis eminii), rasamala (Altingia excelsa), sonokeling (Dalbergia latifolia), mangium (Acacia mangium), dan meranti (Shorea leprosula). Selain itu terdapat 44 jenis tumbuhan, termasuk 2 jenis rotan dan 13 jenis bambu dan juga terdapat jenis tumbuhan obat sebanyak 68 jenis (Badan Eksekutif HPGW 2010). Berdasarkan hasil inventarisasi hutan tahun 1984, HPGW memiliki potensi 10.855 m3 kayu Agathis lorantifolia (agathis), 9.471 m3 kayu Pinus merkusii (pinus), 464 m3 Schima wallichii (puspa), 132 m3 Paraserianthes falcataria (sengon) dan 88 m3 kayu Swietenia macrophylla (mahoni). Di HPGW juga ditemukan lebih dari 100 pohon plus damar, pinus, kayu afrika sebagai sumber benih dan bibit unggul. Tanaman damar dan pinus telah menghasilkan getah kopal dan getah pinus (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.7 Kehidupan Satwa Liar Di areal HPGW terdapat beraneka ragam jenis satwa liar yang meliputi jenis-jenis mamalia, reptilia, burung, dan ikan. Dari kelompok jenis mamalia terdapat monyet ekor panjang, babi hutan, tupai, trenggiling, kelinci liar, meong congkok, musang. Dari kelompok jenis burung (aves) terdapat sekitar 20 jenis diantaranya adalah elang jawa, kutilang, emprit, dll. Jenis-jenis reptilia antara lain biawak, ulat, dan bunglon. Terdapat juga berbagai jenis ikan sungai seperti ikan 28 lubang (sejenis lele yang memiliki warna agak merah). Selain itu terdapat pula lebah hutan (tawon gung, odeng, apis dorsata) (Badan Eksekutif HPGW 2010). 4.8 Kependudukan Penduduk di sekitar HPGW umumya memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak, tukang ojek, pedagang hasil pertanian, dan bekerja sebagai buruh pabrik. Pertanian yang dilakukan berupa sawah lahan basah dan lahan kering. Jumlah petani penggarap yang dapat ditampung dalam program agroforestry HPGW sebanyak 300 orang petani penggarap. Hasil pertanian dari lahan agroforestry seperti singkong, kapolaga, pisang, cabe, padi gogo, kopi, sereh, dll. Jumlah ternak domba/kambing di sekitar HPGW sebanyak 1875 ekor, jika setiap ekor domba/kambing memerlukan 5 kg rumput, maka diperlukan hijauan sebanyak 9.375 ton. Hijauan pakan ternak tersebut sebagian besar berasal dari HPGW (Badan Eksekutif HPGW 2010). Kecamatan Cicantayan, khususnya Desa Hegarmanah juga merupakan desa penghasil manggis dengan mutu eksport. Jumlah pohon manggis di Desa Hegarmanah sebanyak 12.800 batang dan akan terus bertambah. Untuk menjadi sentra produksi diperlukan 40.000 pohon (Badan Eksekutif HPGW 2010). 29 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pendugaan Potensi Tanpa Stratifikasi Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon dari berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW didasarkan atas data hasil pengukuran langsung di lapangan sebanyak 48 plot contoh dan hasil inventarisasi hutan di HPGW tahun 2011 sebanyak 94 plot contoh. Berdasarkan 142 contoh tersebut kemudian diduga potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon tegakan tanpa stratifikasi yaitu dengan menggunakan metode systematic sampling. Hasil dugaan tersebut disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Nilai-nilai dugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon tegakan tanpa stratifikasi Statistik Jumlah data Volume Biomassa Karbon 142 plot 142 plot 8,64–1054,35 m /ha 28,64–516,74 ton/ha 13,46–242,87 ton/ha 14,95 m3/ha 6,40 ton/ha 3,01 ton/ha a. Batas atas 428,08 m3/ha 213,47 ton/ha 100,34 ton/ha b. Rata-rata 398,77 m3/ha 200,93 ton/ha 94,44 ton/ha 369,47 m /ha 188,39 ton/ha 88,54 ton/ha a. Batas atas 153.065,75 m3 76.329,53 ton 35.874,89 ton b. Rata-rata 142.588,90 m3 71.847,14 ton 33.768,16 ton 3 67.264,76 ton 31.661,43 ton 7,35% 6,24% 6,25% Kisaran nilai Kesalahan baku rata-rata Penduga rata-rata c. Batas bawah 142 plot 3 3 Penduga total c. Batas bawah Sampling error 132.112,05 m Dari Tabel 6 terlihat bahwa volume per hektar dari tegakan di HPGW memiliki nilai dugaan antara 369,47 sampai 428,08 m3/ha dengan rata-rata sebesar 398,77 m3/ha. Sedangkan total potensi volume untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 142.588,90 m3. Kesalahan penarikan contoh dalam pendugaan potensi volume yaitu sebesar 7,35%. Adapun potensi biomassa yang dihitung dengan metode alometrik diduga memiliki nilai dugaan antara 188,39 sampai 213,47 ton/ha dengan rata-rata 200,93 ton/ha. Sedangkan total potensi biomassa untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 71.847,14 ton. Kesalahan penarikan contoh dalam pendugaan potensi 30 biomassa yaitu sebesar 6,24%. Sementara itu, kapasitas cadangan karbon yang dihitung berdasarkan potensi biomassa tegakan diduga memiliki nilai dugaan antara 88,54 sampai 100,34 ton/ha dengan rata-rata 94,44 ton/ha. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa HPGW memiliki cadangan karbon sebesar 33.768,16 ton. Kesalahan penarikan contoh dalam pendugaan potensi karbon yaitu sebesar 6,25%. Pendugaan potensi volume, biomassa, dan karbon tersebut menghasilkan nilai dugaan yang besar karena potensi pohon per/ha di HPGW juga besar yaitu 230 pohon/ha. Hasil pendugaan tersebut dapat dianggap teliti karena kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi baik pada pendugaan volume, biomassa, dan cadangan karbon kurang dari 10%. Seperti yang dikemukaan oleh Spurr (1992) diacu dalam Herdiansyah (2004) bahwa kesalahan sampling (sampling error) dalam penarikan contoh dianggap tepat di dalam pendugaan apabila kesalahan sampling tersebut tidak lebih dari 10%. 5.2 Pendugaan Potensi Menggunakan Stratifikasi 5.2.1 Potensi Volume Tegakan Stratifikasi yang digunakan untuk menduga potensi volume tegakan yaitu stratifikasi berdasarkan kisaran nilai volume. Areal dengan kisaran nilai volume yang sama dijadikan sebagai satu stratum. Dari hasil interpolasi nilai volume dengan menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW) dihasilkan empat stratum. Masing-masing stratum memiliki luasan yang berbeda-beda dengan jumlah plot contoh pada masing-masing stratum juga berbeda satu sama lain. Bentuk stratum dan sebaran plotnya dapat dilihat pada Gambar 3. 31 Gambar 3 Stratifikasi berdasarkan nilai volume tegakan. Stratum 1 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume terendah yaitu sebesar 100 sampai 370 m3/ha. Stratum 2 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume sebesar 371 sampai 550 m3/ha. Stratum 3 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume sebesar 551 sampai 640 m3/ha. Stratum 4 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi volume tertinggi yaitu sebesar 641 sampai 1000 m3/ha. Berdasarkan hasil stratifikasi tersebut kemudian diduga potensi volume pada masing-masing stratum. Volume pohon didapat dengan menggunakan persamaan volume masing-masing jenis pohon yang ada di HPGW dari penelitian terdahulu. Hasil perhitungan potensi volume tegakan pada masing-masing stratum tersebut dapat dilihat pada Tabel 7. 32 Tabel 7 Potensi volume tegakan berdasarkan stratifikasi nilai volume Stratum Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) 3 Kisaran nilai (m /ha) 1 2 3 4 68 17 14 43 167,814 50,657 38,687 100,415 8,64–608,20 181,60–737,16 250,41–858,61 120,01–1054,35 3 12,86 29,73 36,89 28,97 a. Batas atas (m3/ha) 281,17 530,92 607,67 611,98 b. Rata-rata (m /ha) 255,96 467,89 528,00 555,20 3 230,75 404,85 448,32 498,42 47.183,95 26.895,00 23.508,95 61.451,70 42.953,75 23.701,78 20.426,63 55.750,41 38.723,55 20.508,57 17.344,30 50.049,12 5,02 6,35 6,99 5,22 Kesalahan baku (m /ha) Penduga rata-rata 3 c. Batas bawah (m /ha) Penduga total a. Batas atas (m3) 3 b. Rata-rata (m ) 3 c. Batas bawah (m ) Koefisien variasi (%) Keterangan: Stratum 1 = areal dengan potensi volume 100–370 m3/ha Stratum 2 = areal dengan potensi volume 371–550 m3/ha Stratum 3 = areal dengan potensi volume 551–640 m3/ha Stratum 4 = areal dengan potensi volume 641–1000 m3/ha Terlihat pada Tabel 7, hasil pendugaan menunjukkan bahwa potensi volume rata-rata tegakan pada stratum 3 memiliki selang dengan interval terlebar yaitu memiliki nilai dugaan antara 448,32 sampai 607,67 m3/ha dan interval tersempit pada stratum 1 yaitu memiliki nilai dugaan antara 230,75 sampai 281,17 m3/ha. Semakin sempit suatu selang semakin efisien dugaannya. Stratum 3 memiliki nilai koefisien variasi terbesar dibandingkan dengan stratum lain yaitu sebesar 6,99%. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi volume pada stratum 3 cenderung lebih bervariasi dibandingkan dengan stratum lain. Variasi potensi volume tersebut terjadi akibat adanya keragaman jenis dan keragaman pertumbuhan dimensi pohon (diameter dan tinggi). Sementara itu, volume rata-rata (m3/ha) terbesar terdapat pada stratum 4 yaitu 555,20 m3/ha dan volume rata-rata terkecil terdapat pada stratum 1 yaitu 255,96 m3/ha. Hal ini dapat terjadi karena stratum 4 merupakan areal dengan potensi volume yang tinggi yaitu antara 641 sampai 1000 m3/ha. Potensi volume yang tinggi tersebut terjadi akibat adanya jenis pohon yang berdimensi besar seperti agathis, pinus, dan puspa. Stratum 4 memiliki dugaan potensi volume total terbesar yaitu 55.750,41 m3 karena stratum 4 selain memiliki 33 rata-rata volume yang besar juga memiliki luas yang cukup besar yaitu ± 100,415 ha. Namun sebaliknya, stratum 1 merupakan areal dengan potensi volume per hektar rendah karena stratum 1 memiliki potensi volume rendah yaitu antara 100 sampai 370 m3/ha. Besarnya potensi volume tegakan bervariasi tergantung dari jenis dan ukuran pohon yang terdapat pada areal tersebut. Selain dilakukan stratifikasi berdasarkan nilai volume, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi untuk menduga potensi volume pada masing-masing jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Jenis-jenis vegetasi yang teridentifikasi di HPGW diantaranya adalah tegakan agathis, campuran (agathis, pinus, dan puspa), campuran (agathis dan puspa), kayu afrika, pinus, campuran (pinus dan agathis), campuran (pinus dan kayu afrika), campuran (pinus dan puspa), puspa, dan campuran (puspa dan mahoni). Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi tegakan. Berdasarkan hasil stratifikasi tersebut, areal dengan jenis vegetasi sama dijadikan sebagai satu stratum sehingga dihasilkan 10 stratum yang kemudian diduga potensi volume pada masing-masing jenis vegetasi. Hasil perhitungan potensi volume tegakan pada masing-masing jenis vegetasi tersebut disajikan pada Tabel 8. 34 Tabel 8 Potensi volume tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi 1 2 3 4 Stratum 5 12 3 23 3 35 2 13 10 36 5 27,426 7,964 54,045 7,418 104,003 4,260 29,692 23,880 89,464 9,422 96 200,56– 1.054,35 48,43 123 8,64–606,04 141,98 197 133,04– 992,55 38,67 55 17,24– 127,54 27,04 141 122,87– 795,53 21,74 260 453,44– 982,06 192,51 275 78,12– 568,50 32,20 266 80,45– 757,53 45,34 126 48,97– 606,66 17,41 206 26,31– 362,03 41,97 819,28 867,29 607,64 174,11 460,96 3.163,84 364,03 499,60 318,31 296,56 b. Rata-rata (m /ha) 712,70 256,33 527,44 57,77 418,34 717,75 293,87 397,05 284,19 180,04 3 606,11 -354,63 447,23 -58,57 375,72 -1.728,34 223,70 294,50 250,08 63,52 22.469,63 6.907,08 32.839,87 1.291,58 47.940,78 13.477,940 10.808,82 11.930,43 28.477,52 2.794,22 19.546,37 2.041,40 28.505,23 428,57 43.508,52 3.057,60 8.725,51 9.481,51 25.425,20 1.696,34 16.623,11 -2824,29 24.170,60 -434,49 39.076 -7.362,74 6.642,20 7.032,59 22.372,88 598,47 6,79 55,39 7,33 46,80 5,20 26,82 10,96 11,42 6,13 23,31 Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) Jumlah pohon/ha 3 Kisaran nilai (m /ha) 3 Kesalahan baku (m /ha) 6 7 8 9 10 Penduga rata-rata a. Batas atas (m3/ha) 3 c. Batas bawah (m /ha) Penduga total a. Batas atas (m3) 3 b. Rata-rata (m ) 3 c. Batas bawah (m ) Koefisien variasi (%) Keterangan : Stratum 1 = tegakan agathis Stratum 2 = tegakan agathis, pinus, dan puspa Stratum 3 = tegakan agathis dan puspa Stratum 4 = tegakan kayu afrika Stratum 5 = tegakan pinus Stratum 6 = tegakan pinus dan agathis Stratum 7 = tegakan pinus dan kayu afrika Stratum 8 = tegakan pinus dan puspa Stratum 9 = tegakan puspa Stratum 10 = tegakan puspa dan mahoni 34 35 Tabel 8 menunjukkan dugaan potensi volume berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW. Potensi volume tegakan agathis memiliki rata-rata sebesar 712,70 m3/ha dengan total potensi volume untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 19.546,37 m3. Potensi volume tegakan campuran (agathis, pinus, dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 256,33 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 2.041,40 m3. Potensi volume tegakan campuran (agathis dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 527,44 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 28.505,23 m3. Potensi volume tegakan kayu afrika memiliki rata-rata sebesar 57,77 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 428,57 m3. Potensi volume tegakan pinus memiliki rata-rata sebesar 418,34 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 43.508,52 m3. Potensi volume tegakan campuran (pinus dan agathis) memiliki rata-rata sebesar 717,75 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 3.057,60 m3. Potensi volume tegakan campuran (pinus dan kayu afrika) memiliki rata-rata sebesar 293,87 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 8.725,51 m3. Potensi volume tegakan campuran (pinus dan puspa) memiliki ratarata sebesar 397,05 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 9.481,51 m3. Potensi volume tegakan puspa memiliki rata-rata sebesar 284,19 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 25.425,20 m3. Potensi volume tegakan campuran (puspa dan mahoni) memiliki rata-rata sebesar 180,04 m3/ha dengan total potensi volume sebesar 1.696,34 m3. Tegakan pinus memiliki dugaan total terbesar dibandingkan dengan tegakan lain. Hal ini dikarenakan pohon pinus merupakan pohon dengan dimensi pohon (diameter dan tinggi) besar sehingga menghasilkan nilai volume yang besar pula. Selain itu tegakan pinus memiliki luasan terlebar dibandingkan dengan tegakan lain di HPGW yaitu sekitar 104,003 ha. Sedangkan tegakan kayu afrika memiliki potensi volume terendah baik rata-rata per hektar maupun dugaan total tegakan yaitu 57,77 m3 dan 428,57 m3. Tegakan campuran antara agathis, pinus dan puspa memiliki potensi volume yang cenderung bervariasi dibandingkan dengan jenis tegakan lain. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien variasi yang besar yaitu 55,39%. Variasi tersebut terjadi akibat adanya keragaman jenis tegakan karena merupakan tegakan campuran serta variasi dimensi pohon (diameter dan tinggi). Tegakan campuran antara pinus dan agathis memiliki selang nilai volume terlebar 36 yaitu memiliki nilai dugaan antara -1.728,34 sampai 3.163,84 m3/ha dan selang nilai volume paling sempit pada tegakan puspa yaitu memiliki nilai dugaan antara 250,08 sampai 318,31 m3/ha. Selang nilai volume yang negatif dapat terjadi akibat keragaman yang tinggi. Tingginya nilai keragaman menunjukkan beragamnya jenis vegetasi dan dimensi pohon yang ada dalam tegakan baik diameter ataupun tinggi. Semakin tinggi variasi, potensi volume cenderung beragam/heterogen. Selain keragaman, jumlah plot contoh yang terdapat pada stratum juga dapat mempengaruhi kisaran nilai dugaan volume. Apabila plot contoh yang terdapat pada suatu stratum jumlahnya sedikit selang dugaan nilai potensi volume akan bernilai negatif. Hal ini dikarenakan jumlah plot contoh pada stratum tersebut tidak cukup mewakili untuk menduga potensi volumenya. Hal tersebut juga menyebabkan tingginya kesalahan penarikan contoh. Potensi rata-rata volume tegakan agathis yang dihasilkan dari penelitian ini adalah 712,70 m3/ha berbeda jauh dengan penelitian Herdiansyah (2004) yang menduga potensi volume agathis di HPGW dengan mengunakan metode konvensional (systematic sampling) yaitu sebesar 575,39 m3/ha. Sedangkan untuk potensi rata-rata volume tegakan puspa, pada penelitian ini adalah 284,19 m3/ha. Hasil dugaan tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian Noronhae (2007) yang menduga potensi volume puspa di HPGW dengan mengunakan metode systematic sampling with random start yaitu sebesar 294,22 m3/ha. Perbedaan hasil dapat terjadi karena adanya perbedaan metode yang digunakan dalam menduga potensi volume pohon. Pada Tabel 9 disajikan nilai-nilai dugaan potensi volume seluruh tegakan di HPGW dengan stratifikasi yang diketahui dari hasil pendugaan dengan metode stratified sampling. Tabel 9 Nilai-nilai dugaan potensi volume seluruh tegakan di HPGW Statistik Rata-rata (m3/ha) Ragam rata-rata (m3/ha) 3 Kesalahan baku rata-rata (m /ha) 3 Selang kepercayaan 95% bagi rata-rata (m /ha) 3 Total tegakan (m ) Kesalahan penarikan contoh (%) Potensi volume strata volume 399,45 Potensi volume strata vegetasi 398,29 136,28 140,04 11,67 11,83 376,57–422,33 375,09–421,48 142.832,56 142.416,26 5,73 5,82 37 Nilai-nilai dugaan potensi volume tegakan di HPGW dengan stratifikasi memiliki nilai dugaan yang berbeda baik nilai rata-rata (m3/ha), ragam rata-rata (m3/ha), kesalahan baku rata-rata (m3/ha), total tegakan (m3/ha) maupun kesalahan penarikan contohnya (%) dibandingkan dengan nilai-nilai dugaan potensi volume tegakan tanpa stratifikasi. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa potensi volume per hektar yang dihitung berdasarkan strata volume dan jenis vegetasi menunjukan hasil yang berbeda meskipun keduanya menggunakan metode stratified sampling. Perbedaan nilai-nilai dugaan potensi volume tersebut terjadi karena adanya perbedaan peubah yang digunakan pada saat melakukan stratifikasi (nilai potensi dan jenis vegetasi) sehingga menghasilkan jumlah dan luas stratum yang berbeda-beda satu sama lain. Pada stratifikasi berdasarkan nilai volume, areal HPGW terbagi menjadi 4 stratum, sedangkan pada stratifikasi berdasarkan vegetasi, areal HPGW terbagi menjadi 10 stratum. Selain jumlah dan luas stratum yang berbeda, komposisi vegetasi pada masing-masing strata berbeda satu sama lain karena pada strata volume, stratifikasi dilakukan berdasarkan kisaran nilai volume yang sama dengan tidak memperhatikan jenis vegetasinya sehingga pada strata volume terdiri dari berbagai macam komposisi jenis vegetasi sedangkan pada strata vegetasi, stratifikasi dilakukan berdasarkan komposisi jenis yang sama sehingga terdapat perbedaan dimensi pada masing-masing jenis. Pada strata volume, potensi volume per hektar memiliki nilai dugaan antara 376,57 sampai 422,33 m3/ha dengan rata-rata sebesar 399,45 m3/ha. Sedangkan total potensi volume untuk seluruh tegakan yang ada di HPGW (luas efektif 357,574 ha) diduga sebesar 142.832,56 m3. Adapun potensi volume yang dihitung berdasarkan jenis vegetasi, diduga memiliki nilai dugaan antara 375,09 sampai 421,48 m3/ha dengan rata-rata sebesar 398,29 m3/ha. Secara keseluruhan total potensi volume yang terdapat di HPGW sebesar 142.416,26 m3. Nilai kesalahan penarikan contoh ditentukan oleh kesalahan baku dan rata-rata contohnya, kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi cukup kecil yaitu 5,73% dan 5,82%. 38 5.2.2 Potensi Biomassa Tegakan Stratifikasi yang digunakan untuk menduga potensi biomassa tegakan yaitu berdasarkan kisaran nilai biomassa. Dari hasil interpolasi nilai biomassa dengan menggunakan metode (Inverse Distance Weigth) IDW dihasilkan empat stratum. Masing-masing stratum memiliki luasan yang berbeda-beda dengan jumlah plot contoh pada masing-masing stratum juga berbeda satu sama lain. Bentuk stratum dan sebaran plotnya dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 Stratifikasi berdasarkan nilai biomassa tegakan. Stratum 1 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa terendah yaitu sebesar 30 sampai 174 ton/ha. Stratum 2 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa sebesar 175 sampai 270 ton/ha. Stratum 3 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa sebesar 271 sampai 366 ton/ha. Stratum 4 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa tertinggi yaitu sebesar 367 sampai 510 ton/ha. Berdasarkan hasil stratifikasi tersebut kemudian diduga potensi biomassa rata-rata per hektar dan potensi biomassa total pada masing-masing stratum. Biomassa sebagai jumlah total dari bahan organik hidup di atas tanah pada pohon termasuk daun, ranting, cabang, dan batang utama dinyatakan dalam berat kering 39 oven per unit area (Brown 1997). Biomassa dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu biomassa tumbuhan di atas permukaan tanah (above ground biomass) dan biomassa di bawah permukaan tanah (below ground biomass). Biomassa yang diduga pada penelitian ini adalah biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass). Proses pendugaan biomassa pada tegakan dilakukan dengan pengukuran keliling (cm) pohon untuk mendapatkan diameter (≥10cm) yang kemudian dikonversi menjadi biomassa melalui persamaan alometrik yang telah ada sesuai dengan jenis pohon pada tegakan tersebut. Potensi biomassa di atas permukaan tanah tersebut dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Potensi biomassa tegakan berdasarkan stratifikasi nilai biomassa Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) Stratum 1 2 3 4 54 47 27 14 134,378 112,962 72,334 37,900 28,64–285,70 52,34–474,39 43,72–416,43 147,81–516,74 6,11 9,06 13,00 19,97 a. Batas atas (ton/ha) 136,07 242,39 296,45 328,12 b. Rata-rata (ton/ha) 124,10 224,64 269,73 284,99 c. Batas bawah (ton/ha) 112,13 206,88 243,01 241,86 a. Batas atas (ton) 18.284,81 27.381,12 21.443,76 12.435,85 b. Rata-rata (ton) 16.676,28 25.375,62 19.510,70 10.801,09 c. Batas bawah (ton) 15.067,76 23.370,11 17.577,65 9.166,34 4,92 4,03 4,82 7,01 Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan: Stratum 1 = areal dengan potensi biomassa 30–174 ton/ha Stratum 2 = areal dengan potensi biomassa 175–270 ton/ha Stratum 3 = areal dengan potensi biomassa 271–366 ton/ha Startum 4 = areal dengan potensi biomassa 367–462 ton/ha Rata-rata tertinggi potensi biomassa tegakan terdapat pada stratum 4 sebesar 284,99 ton/ha dan rata-rata terendah terdapat pada stratum 1 sebesar 124,10 ton/ha. Potensi biomassa tegakan masing-masing dapat diduga dengan penduga selang pada selang kepercayaan 95%. Selang dengan interval terpanjang adalah stratum 4, yaitu antara 241,86 sampai 328,12 ton/ha sedangkan selang potensi biomassa yang paling sempit adalah pada stratum 1, yaitu antara 112,13 sampai 136,07 ton/ha. Sementara itu, dugaan biomassa total tertinggi berada pada stratum 2 yaitu sebesar 25.375,62 ton dan dugaan biomassa total terendah berada pada 40 stratum 4 yaitu sebesar 10.801,09 ton. Koefisien variasi pada stratum 4 merupakan koefisien variasi dengan nilai terbesar yaitu sebesar 7,01%. Variasi yang terjadi pada stratifikasi ini cukup kecil karena kurang dari 10%. Selain dilakukan pendugaan biomassa dengan stratifikasi berdasarkan nilai biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi untuk menduga potensi biomassa pada masing-masing jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Seperti yang dilakukan sebelumnya pada pendugaan volume. Tabel 11 menyajikan dugaan potensi biomassa tegakan berdasarkan jenis vegetasi. 41 Tabel 11 Potensi biomassa tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi 1 2 3 4 Stratum 5 12 3 23 3 35 2 13 10 36 5 27,426 7,964 54,045 7,418 104,003 4,260 29,692 23,880 89,464 9,422 96 102,41– 364,89 14,77 123 43,43– 262,58 56,54 197 59,15– 325,80 12,70 55 43,17– 155,65 28,86 141 67,78– 516,74 12,96 260 197,20– 325,67 46,79 275 85,03– 474,39 26,44 266 46,32– 456,09 26,04 126 28,64– 297,99 8,98 206 68,94– 232,98 25,49 a. Batas atas (ton/ha) 280,24 362,73 226,10 205,05 271,56 855,91 278,04 301,19 163,16 210,18 b. Rata-rata (ton/ha) 247,72 119,45 199,76 80,85 246,15 261,44 220,42 242,29 145,57 139,41 c. Batas bawah (ton/ha) 215,20 -123,83 173,41 -43,36 220,75 -333,04 162,807 183,39 127,97 68,64 a. Batas atas (ton) 7.685,79 2.888,76 12.219,62 1.521,07 28.243,34 3.646,16 8.255,63 7.192,36 14.596,87 1.980,28 b. Rata-rata (ton) 6.793,97 951,30 10.795,82 599,72 25.600,84 1.113,71 6.544,85 5.785,81 13.022,83 1.313,50 c. Batas bawah (ton) 5.902,15 -986,17 9.372,02 -321,62 22.958,35 -1.418,73 4.834,07 4.379,26 11.448,79 646,73 5,96 47,33 6,36 35,70 5,27 17,90 12,00 10,75 6,17 18,29 Statistik Jumlah data (plot) Luas (ha) Jumlah pohon/ha Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) 6 7 8 9 10 Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan : Stratum 1 = tegakan agathis Stratum 2 = tegakan agathis, pinus, dan puspa Stratum 3 = tegakan agathis dan puspa Stratum 4 = tegakan kayu afrika Stratum 5 = tegakan pinus Stratum 6 = tegakan pinus dan agathis Stratum 7 = tegakan pinus dan kayu afrika Stratum 8 = tegakan pinus dan puspa Stratum 9 = tegakan puspa Stratum 10 = tegakan puspa dan mahoni 41 42 Tabel 11 menyajikan dugaan potensi biomassa berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW. Potensi biomassa tegakan agathis memiliki rata-rata sebesar 247,72 ton/ha dengan total potensi biomassa untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 6.793,97 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (agathis, pinus, dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 119,45 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 951,30 ton. Potensi volume tegakan campuran (agathis dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 199,76 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 10.795,82 ton. Potensi biomassa tegakan kayu afrika memiliki rata-rata sebesar 80,85 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 599,72 ton. Potensi biomassa tegakan pinus memiliki rata-rata sebesar 246,15 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 25.600,84 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (pinus dan agathis) memiliki rata-rata sebesar 261,44 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 1.113,71 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (pinus dan kayu afrika) memiliki rata-rata sebesar 220,42 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 6.544,85 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (pinus dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 242,29 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 5.785,81 ton. Potensi biomassa tegakan puspa memiliki rata-rata sebesar 145,57 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 13.022,83 ton. Potensi biomassa tegakan campuran (puspa dan mahoni) memiliki rata-rata sebesar 139,41 ton/ha dengan total potensi biomassa sebesar 1.313,50 ton. Tegakan pinus memiliki dugaan total terbesar dibandingkan dengan tegakan lain dan dugaan total biomassa terendah pada tegakan kayu afrika. Hal tersebut dapat terjadi karena pohon pinus memiliki diameter rata-rata pohon cukup besar. Semakin besar diameter pohon semakin besar pula kandungan biomassa pohon tersebut karena biomassa tersusun oleh senyawa karbohidrat yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen, dan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis tanaman (White & Planskett 1991 diacu dalam Salim 2005). Pada proses fotositesis tumbuhan menyerap CO2 dari udara kemudian mengubahnya menjadi bahan organik sehingga jumlah total biomassa tumbuhan dapat bertambah seiring dengan pertumbuhan pohon. Selang kepercayaan terlebar adalah pada tegakan pinus dan agathis yaitu antara -333,04 sampai 855,91 ton/ha dan selang 43 kepercayaan tersempit adalah pada tegakan puspa yaitu antara 127,97 sampai 163,16 ton/ha. Stratum 2 lebih bervariasi potensi biomassanya dibandingkan stratum lain. Variasi potensi biomassa dipengaruhi oleh keragaman dimensi pohon berupa diameter dan tinggi. Strata vegetasi lebih bervariasi dibandingkan dengan variasi strata biomassa karena biomassa tegakan hutan dipengaruhi oleh umur tegakan hutan, sejarah perkembangan vegetasi, komposisi, dan struktur tegakan (Lugo & Snedaker 1974 diacu dalam Onrizal 2004). Selain itu faktor iklim, seperti curah hujan dan suhu merupakan faktor yang mempengaruhi laju peningkatan biomassa pohon (Johnsen et al. 2001 diacu dalam Onrizal 2004). Nilai-nilai dugaan potensi biomassa tegakan di HPGW dengan stratifikasi yang diketahui dari hasil pendugaan dengan metode stratified sampling dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12 Nilai-nilai dugaan potensi biomassa seluruh tegakan di HPGW Statistik Rata-rata (ton/ha) Ragam rata-rata (ton/ha) Kesalahan baku rata-rata (ton/ha) Selang kepercayaan 95% bagi rata-rata (ton/ha) Total tegakan (ton) Kesalahan penarikan contoh (%) Potensi biomassa strata biomassa 202,37 Potensi biomassa strata vegetasi 202,82 24,85 34,78 4,98 5,90 192,60–212,15 191,26–214,38 72.363,70 72.522,35 4,83 5,70 Terlihat pada Tabel 12, hasil pendugaan menunjukan bahwa potensi biomassa per hektar yang dihitung berdasarkan stratum biomassa dan stratum vegetasi menunjukkan hasil yang berbeda. Potensi biomassa pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi biomassa memiliki nilai dugaan antara 192,60 sampai 212,15 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,37 ton/ha. Sedangkan total potensi biomassa untuk seluruh tegakan yang ada di HPGW (luas efektif 357,574 ha) diduga sebesar 72.363,70 ton. Potensi biomassa pada plot-plot contoh yang diukur memiliki nilai dugaan yang bervariasi. Adapun potensi biomassa berdasarkan strata vegetasi memiliki nilai dugaan antara 191,26 sampai 214,38 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,82 ton/ha. Total potensi biomassa untuk seluruh tegakan yang ada di HPGW diduga sebesar 72.522,35 ton. Nilai kesalahan sampling dipengaruhi oleh pendugaan ragam. Hasil pendugaan tersebut dapat dianggap cukup teliti karena kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi 44 cukup kecil yaitu sebesar 4,83% dan 5,70%. Namun demikian, kesalahan penarikan contoh pada pendugaan biomassa tanpa stratifikasi lebih besar dibandingkan dengan kesalahan penarikan contoh pada pendugaan biomassa tanpa stratifikasi yaitu sebesar 6,24%. 5.2.3 Potensi Cadangan Karbon Tegakan Pendugaan potensi cadangan karbon dalam suatu tegakan dapat dilihat dari besarnya potensi biomassa yang ada. Proporsi terbesar penyimpanan karbon di daratan umumnya terdapat pada komponen pepohonan atau tegakan (Hairiah & Rahayu 2007). Biomassa dapat memberikan dugaan cadangan karbon pada vegetasi hutan karena karbon merupakan komponen penyusun biomassa tanaman yang kandungannya sekitar 45–50% bahan kering tanaman. Jadi potensi cadangan karbon kurang lebih setengah dari potensi biomassanya yang berarti peningkatan jumlah biomassa akan meningkatkan jumlah potensi cadangan karbon. Pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa tegakan dikalikan dengan faktor konversi sebesar 0,47 (IPCC 2006). Oleh karena itu, untuk menduga potensi cadangan karbon tegakan di HPGW digunakan stratifikasi berdasarkan biomassa. Stratum 1 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi cadangan karbon terendah yaitu sebesar 14 sampai 82 ton/ha. Stratum 2 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi cadangan karbon sebesar 83 sampai 127 ton/ha. Stratum 3 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi cadangan karbon sebesar 128 sampai 172 ton/ha. Stratum 4 merupakan areal yang memiliki kisaran nilai potensi biomassa tertinggi yaitu sebesar 173 sampai 240 ton/ha. Potensi cadangan karbon tegakan tegakan di HPGW disajikan pada Tabel 13. 45 Tabel 13 Potensi cadangan karbon tegakan berdasarkan stratifikasi nilai biomassa Statistik Stratum 1 2 3 4 54 47 27 14 134,378 112,962 72,334 37,900 13,46–134,28 24,60–222,96 20,55–195,72 69,47–242,87 2,87 4,26 6,11 9,39 a. Batas atas (ton/ha) 63,95 113,92 138,75 154,22 b. Rata-rata (ton/ha) 58,33 105,58 126,77 133,94 c. Batas bawah (ton/ha) 52,70 97,24 114,80 113,67 a. Batas atas (ton) 8.593,84 12.869,18 10.036,13 5.844,83 b. Rata-rata (ton) 7.837,82 11.926,60 9.170,02 5.076,49 c. Batas bawah (ton) 7.081,81 10.984,02 8.303,92 4.308,15 4,09 4,03 4,82 7,01 Jumlah data (plot) Luas (ha) Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan: Stratum 1 = areal dengan potensi karbon 14–82 ton/ha Stratum 2 = areal dengan potensi karbon 83–127 ton/ha Stratum 3 = areal dengan potensi karbon 128–172 ton/ha Stratum 4 = areal dengan potensi karbon 173–240 ton/ha Sama halnya dengan potensi biomassa tegakan, rata-rata tertinggi potensi cadangan karbon tegakan terdapat pada stratum 4 sebesar 133,94 ton/ha dan ratarata terendah terdapat pada stratum 1 sebesar 58,33 ton/ha. Hal ini dapat dipahami karena hasil pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data biomassa tegakan yang dikalikan dengan faktor konversi sebesar 0,47 (IPCC 2006). Karbon berkorelasi positif terhadap biomassa karena setiap penambahan kandungan biomassa akan diikuti oleh penambahan kandungan karbon dan apapun yang menyebabkan peningkatan ataupun penurunan biomassa maka akan menyebabkan peningkatan ataupun penurunan kandungan karbon. Stratum 4 juga memiliki nilai dugaan cadangan karbon terlebar yaitu 113,67 sampai 154,22 ton/ha dan nilai dugaan cadangan karbon paling sempit pada stratum 1 yaitu 52,70 sampai 63,95 ton/ha. Semakin sempit suatu selang semakin efisien dugaannya. Sementara itu, dugaan biomassa total tertinggi berada pada stratum 2 yaitu sebesar 11.926,60 ton dan dugaan biomassa total terendah berada pada stratum 4 yaitu sebesar 5.076,49 ton. Stratum 4 lebih bervariasi potensi cadangan karbonnya dibandingkan dengan stratum lain. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien variasi dengan nilai terbesar yaitu sebesar 7,01%. 46 Pendugaan cadangan karbon selain dilakukan dengan stratifikasi berdasarkan nilai biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi untuk menduga potensi cadangan karbon pada masing-masing jenis vegetasi yang ada di lokasi penelitian. Seperti yang dilakukan sebelumnya pada pendugaan volume dan biomassa. Tabel 14 menyajikan dugaan potensi karbon tegakan berdasarkan jenis vegetasi. 47 Tabel 14 Potensi karbon tegakan berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi Statistik 1 Jumlah data (plot) 2 3 Stratum 5 4 6 7 8 9 10 12 3 23 3 35 2 13 10 36 5 Luas (ha) 27,426 7,964 54,045 7,418 104,003 4,260 29,692 23,880 89,464 9,422 Jumlah pohon/ha 96 48,13– 171,50 6,94 123 20,41– 171,50 26,57 197 27,80– 153,13 5,97 55 20,29– 153,13 13,57 141 31,86– 242,87 6,09 260 92,68– 153,06 21,99 275 39,96– 222,96 12,43 266 21,77– 214,36 12,24 126 13,46– 140,06 4,22 206 32,40– 109,50 11,98 a. Batas atas (ton/ha) 131,71 170,48 106,27 96,37 127,63 402,28 130,68 141,56 76,68 98,78 b. Rata-rata (ton/ha) 116,43 56,14 93,89 38,00 115,69 122,87 103,60 113,87 68,42 65,52 c. Batas bawah (ton/ha) 101,15 -58,20 81,50 -20,38 103,75 -156,53 76,52 86,19 60,15 32,26 a. Batas atas (ton) 3.612,32 1.347,72 5.743,22 714,90 13.274,37 1.713,69 3.880,14 3.380,41 6.860,53 930,73 b. Rata-rata (ton) 3.193,17 447,11 5.074,03 281,87 12.032,40 523,45 3.076,08 2.719,33 6.120,73 617,35 c. Batas bawah (ton) 2.774,01 -463,50 4.404,85 -151,16 10.790,42 -666,80 2.272,01 2.058,25 5.380,93 303,96 5,96 47,33 6,36 35,70 5,27 17,90 12,00 10,75 6,17 18,29 Kisaran nilai (ton/ha) Kesalahan baku (ton/ha) Penduga rata-rata Penduga total Koefisien variasi (%) Keterangan : Stratum 1 = tegakan agathis Stratum 2 = tegakan agathis, pinus, dan puspa Stratum 3 = tegakan agathis dan puspa Stratum 4 = tegakan kayu afrika Stratum 5 = tegakan pinus Stratum 6 = tegakan pinus dan agathis Stratum 7 = tegakan pinus dan kayu afrika Stratum 8 = tegakan pinus dan puspa Stratum 9 = tegakan puspa Stratum 10 = tegakan puspa dan mahoni 47 48 Tabel 14 menyajikan dugaan potensi cadangan karbon berbagai jenis tegakan yang ada di HPGW. Potensi cadangan karbon tegakan agathis memiliki rata-rata sebesar 116,43 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon untuk seluruh tegakan (luas efektif yaitu 357,574 ha) diduga sebesar 3.193,17 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (agathis, pinus, dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 56,14 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 447,11 ton. Potensi volume tegakan campuran (agathis dan puspa) memiliki ratarata sebesar 93,89 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 5.074,03 ton. Potensi cadangan karbon tegakan kayu afrika memiliki rata-rata sebesar 38,00 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 281,87 ton. Potensi cadangan karbon tegakan pinus memiliki rata-rata sebesar 115,69 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 12.032,40 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (pinus dan agathis) memiliki rata-rata sebesar 122,87 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 523,45 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (pinus dan kayu afrika) memiliki rata-rata sebesar 103,60 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 3.076,08 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (pinus dan puspa) memiliki rata-rata sebesar 113,87 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 2.719,33 ton. Potensi cadangan karbon tegakan puspa memiliki rata-rata sebesar 68,42 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 6.120,73 ton. Potensi cadangan karbon tegakan campuran (puspa dan mahoni) memiliki rata-rata sebesar 65,52 ton/ha dengan total potensi cadangan karbon sebesar 617,35 ton. Tegakan pinus memiliki kapasitas cadangan karbon rata-rata tertinggi yaitu sebesar 115,69 ton/ha dengan dugaan total sebesar 12.032,40 ton. Tegakan pinus memiliki kapasitas cadangan karbon terbesar karena pohon pinus memiliki ukuran diameter besar. Hasil penelitian Elias dan Wistara (2009) juga menunjukan bahwa semakin besar diameter pohon-pohon dalam tegakan, maka semakin besar pula stok karbon dalam hutan dan semakin tua umur tegakan, maka semakin besar pula stok karbon dalam hutan. Hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian Balinda (2008) yang menduga cadangan karbon pada tegakan pinus di RPH Leuwiliang KPH Bogor yaitu memiliki rata-rata potensi cadangan karbon pada kelas umur V (21–25 tahun) sebesar 133,03 ton/ha untuk bonita 3 dan 88,71 ton/ha untuk bonita 49 2. Pada penelitian tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi KU semakin tinggi pula potensi cadangan karbonnya. Hal itu berarti semakin lama umur suatu tegakan maka potensi cadangan karbonnya akan semakin besar. Sedangkan kapasitas cadangan karbon terendah dimiliki oleh tegakan kayu afrika yaitu sebesar 281,87 ton. Kapasitas cadangan karbon tegakan masing-masing dapat diduga dengan penduga selang pada selang kepercayaan 95%. Selang dengan interval terpanjang adalah tegakan campuran antara pinus dan agathis yaitu antara -156,53 sampai 402,28 ton/ha sedangkan selang potensi biomassa yang paling sempit adalah pada tegakan puspa, yaitu antara 60,15 sampai 76,68 ton/ha. potensi cadangan karbon pada stratum 2 lebih bervariasi dibandingkan dengan stratum lain dengan nilai koefisien variasi sebesar 47,33%. Nilai-nilai dugaan bagi potensi volume dalam tegakan-tegakan berdasarkan strata nilai potensi dan jenis vegetasi di HPGW yang diketahui dari hasil pendugaan dengan metode stratified systematic plot sampling with random start yaitu disajikan pada Tabel 15. Tabel 15 Nilai-nilai dugaan potensi cadangan karbon seluruh tegakan di HPGW Potensi karbon strata biomassa 95,12 Potensi karbon strata vegetasi 95,32 Ragam rata-rata (ton/ha) 5,49 7,68 Kesalahan baku rata-rata (ton/ha) 2,34 2,77 90,52–99,71 89,89–100,76 34.010,93 34.085,51 4,83 5,70 Statistik Rata-rata (ton/ha) Selang kepercayaan 95% bagi rata-rata (ton/ha) Total tegakan (ton) Kesalahan penarikan contoh (%) Tabel 15 menunjukkan potensi cadangan karbon yang dihitung berdasarkan potensi biomassa tegakan, pada strata biomassa diduga memiliki nilai dugaan antara 90,52 sampai 99,71 ton/ha dengan rata-rata sebesar 95,12 ton/ha. Perbedaan kandungan karbon pada tegakan tersebut cenderung dipengaruhi oleh kerapatan tegakan, umur tegakan, dan kualitas tumbuh tegakan. Kualitas tempat tumbuh yang lebih baik membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik karena tersedianya unsur hara dan mengakibatkan kandungan karbon semakin bertambah. Secara keseluruhan total potensi cadangan karbon yang terdapat di HPGW sebesar 34.010,93 ton. Sedangkan berdasarkan strata vegetasi potensi cadangan karbon diduga memiliki nilai dugaan antara 89,89 sampai 100,76 ton/ha 50 dengan rata-rata 95,32 ton/ha. Untuk potensi keseluruhan cadangan karbon yang terdapat di HPGW sebesar 34.085,51 ton. Kesalahan penarikan contoh (sampling error) yang terjadi pada hasil pendugaan dengan stratifikasi cukup kecil yaitu 5,03% dan 5,70% sedangkan pada pendugaan tanpa stratifikasi memiliki kesalahan sampling yang lebih besar. Nilai kesalahan sampling tersebut dipengaruhi oleh pendugaan ragam. Semakin besar ragam semakin besar pula kesalahan penarikan contohnya. Tabel 16 menyajikan rekapitulasi kesalahan penarikan contoh pendugaan tanpa stratifikasi dan dengan stratifikasi. Tabel 16 Rekapitulasi kesalahan penarikan contoh SE Volume (%) 7,35 SE Biomassa (%) 6,24 SE Karbon (%) 6,25 a. Stratifikasi berdasarkan nilai potensi 5,73 4,83 4,83 b. Stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi 5,82 5,70 5,70 Metode Tanpa Stratifikasi Menggunakan Stratifikasi Berdasarkan Tabel 16, kesalahan penarikan contoh pada pendugaan dengan menggunakan stratifikasi lebih kecil dibandingkan dengan kesalahan penarikan contoh pada pendugaan tanpa stratifikasi baik stratifikasi berdasarkan nilai potensi maupun stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi. Seperti yang dikemukakan oleh Shiver and Borders (1996) bahwa pendugaan potensi dengan stratifikasi akan menghasilkan nilai dugaan dengan keragaman dan kesalahan penarikan contoh yang lebih kecil dibandingkan pendugaan potensi tanpa stratifikasi karena dengan melakukan stratifikasi, populasi dikelompokkan menjadi beberapa stratum yang kondisinya relatif homogen dan tidak saling tumpang tindih. Dalam hal ini, stratifikasi yang dipilih adalah stratifikasi berdasarkan nilai potensi dan jenis vegetasi. Stratifikasi tersebut dipilih untuk mengurangi keragaman sehingga menghasilkan nilai dugaan yang lebih akurat. Pada penelitian ini, stratifikasi yang dilakukan berhasil menurunkan kesalahan penarikan contoh pada pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon di HPGW sehingga memiliki dugaan yang lebih akurat dibandingkan pendugaan tanpa stratifikasi. 51 BAB VI KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan hal-hal berikut: 1. Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon dengan menggunakan stratifikasi memiliki dugaan yang lebih akurat dibandingkan dengan pendugaan tanpa stratifikasi. 2. Potensi volume tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) berdasarkan stratifikasi volume tegakan memiliki nilai dugaan antara 376,57 sampai 422,33 m3/ha dengan rata-rata sebesar 399,45 m3/ha dan total sebesar 142.832,56 m3. Berdasarkan stratifikasi jenis vegetasi, nilai dugaan potensi volume tegakan memiliki nilai dugaan antara 375,09 sampai 421,48 m3/ha dengan rata-rata sebesar 398,29 m3/ha dan total sebesar 142.416,26 m3. 3. Potensi biomassa tegakan di HPGW berdasarkan stratifikasi biomassa tegakan memiliki nilai dugaan antara 192,60 sampai 212,15 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,37 ton/ha dan dugaan total sebesar 72.363,70 ton. Berdasarkan jenis vegetasi memiliki nilai dugaan antara 191,26 sampai 215,38 ton/ha dengan rata-rata sebesar 202,82 ton/ha dan dugaan total sebesar 72.522,35 ton. 4. Potensi cadangan karbon tegakan di HPGW berdasarkan stratifikasi biomassa tegakan memiliki nilai dugaan antara 90,52 sampai 99,71 ton/ha dengan ratarata sebesar 95,12 ton/ha dan dugaan total sebesar 34.085,51 ton. Berdasarkan jenis vegetasi memiliki nilai dugaan antara 89,89 sampai 100,76 ton/ha dengan rata-rata sebesar 95,32 ton/ha dan dugaan total sebesar 34.085,51 ton. 5. Potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon menurut jenis tegakan di HPGW: a) Agathis: rata-rata volume sebesar 712,70 m3/ha (total 19.546,37 m3), ratarata biomassa sebesar 247,72 ton/ha (total 6.793,97 ton) dan rata-rata cadangan karbon sebesar 116,43 ton/ha (total 3.193,17 ton) 52 b) Campuran (agathis, pinus, puspa): rata-rata volume sebesar 256,33 m3/ha (total 2.041,40 m3), rata-rata biomassa sebesar 119,45 ton/ha (total 951,30 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 56,14 ton/ha (total sebesar 447,11 ton) c) Campuran (agathis, puspa): rata-rata volume sebesar 527,44 m3/ha (total 28.505,23 m3), rata-rata biomassa sebesar 199,76 ton/ha (total 10.795,82 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 93,89 ton/ha (total 5.074,03 ton) d) Kayu afrika: rata-rata volume sebesar 57,77 m3/ha (total 428,57 m3), ratarata biomassa sebesar 80,85 ton/ha (total 599,72 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 38,00 ton/ha (total 281,87 ton) e) Pinus: rata-rata volume sebesar 418,34 m3/ha (total 43.508,52 m3), rata-rata biomassa sebesar 246,15 ton/ha (total 25.600,84 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 115,69 ton/ha (total 12.032,40 ton) f) Campuran (pinus, agathis): rata-rata volume sebesar 717,75 m3/ha (total 3.057,60 m3), rata-rata biomassa sebesar 261,44 ton/ha (total 1.113,71 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 122,87 ton/ha (total 523,45 ton) g) campuran (pinus, kayu afrika): rata-rata volume sebesar 293,87 m3/ha (total 8.725,51 m3), rata-rata biomassa sebesar 220,42 ton/ha (total 6.544,85 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 103,60 ton/ha (total 3.076,08 ton) h) Campuran (pinus, puspa): rata-rata volume sebesar 397,05 m3/ha (total 9.481,51 m3), rata-rata biomassa sebesar 242,29 ton/ha (total 5.785,81 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 113,87 ton/ha (total 2.719,33 ton) i) Puspa: rata-rata volume sebesar 284,19 m3/ha (total 25.425,20 m3), rata-rata biomassa sebesar 145,57 ton/ha (total 13.022,83 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 68,42 ton/ha (total 6.120,73 ton) j) Campuran (puspa, mahoni): rata-rata volume sebesar 180,04 m3/ha (total 1.696,34 m3), rata-rata biomassa sebesar 139,41 ton/ha (total 1.313,50 ton), dan rata-rata cadangan karbon sebesar 65,52 ton/ha (total 617,35 ton) 53 6.2 Saran 1. Pendugaan potensi biomassa tegakan hutan sebaiknya menggunakan persamaan alometrik pohon yang telah ada secara spesifik baik berdasarkan jenis maupun tempat tumbuh yang diperoleh dari metode destructive sampling. 2. Perlu adanya penelitian-penelitian mengenai pendugaan potensi biomassa dan cadangan karbon pada masing-masing jenis tegakan yang ada di Hutan Pendidikan Gunung Walat. 54 DAFTAR PUSTAKA Adinugroho WC. 2002. Model Pendugaan Biomassa Pohon Mahoni (Swietenia macrophylla) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Cianjur PT. Perhutani Unit III Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Anonim. Wood Density Database. http://www.worldagroforestrycentre.org [26 Desember 2011] Badan Eksekutif HPGW. 2010. Management Plan of Gunung Walat Educational Forest. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bakri. 2009. Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon Tersimpan pada Pohon di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir [tesis]. Medan: Universitas Sumatera Utara. Balinda L. 2008. Pendugaan Simpanan Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Tegakan Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di RPH Leuwiliang BKPH leuwiliang KPH Bogor Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Brown S. 1997. Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forest: a primer. Rome: FAO (Food and Agriculture Organization), 55pp. Chave J, Riera B, Dubois MA. 2001. Estimation of biomass in neotropical forest of Frence Guiana: spatial and temporal variability. Journal of Tropical Ecology 17:79–96. [CIFOR] Center for International Forestry Research. 2010. REDD: Apakah itu? Pedoman CIFOR tentang hutan, perubahan iklim dan REDD. Bogor: CIFOR Elias, Wistara NJ. 2009. Metode estimasi massa karbon pohon jeunjing (Paraserianthes falcataria L Nielsen) di hutan rakyat. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 15(1):75–82 Hairiah K, Rahayu S. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF, SEA Regional Office. University of Brawijaya, Unibraw. Indonesia. Handayani K. 2003. Model pendugaan biomassa Shorea leprosula MIQ di kebun percobaan carita [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 55 Hardansyah R. 2004. Penentuan Panjang Seksi Batang Optimal dalam Pendugaan Volume Batang Pohon dengan Menggunakan Persamaan Taper (studi kasus pada jenis Pinus merkusii Jungh et de Vriese di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Hendra S. 2002. Model pendugaan biomassa pohon pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di kesatuan pemangkuan hutan cianjur PT. Perhutani unit III jawa barat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Herdiansyah Y. 2004. Perbadingan Efisiensi Metode Tree Sampling dengan Metode Konvensional dalam Pendugaan Potensi Tegakan Agathis (Agathis loranthifolia) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. [IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2006. IPCC guidelines for national greenhouse gas inventories, Eds.: Simon E, Leandro B, Kyoko M, Todd N, Kiyoto T. Agriculture, Forestry and Other Land Use. Volume 4. Jaya NS, Sutarahardja S, Warsito S, Pambudi F. 2010. Profil Pelaksanaan IHMB: Inventarisasi Hutan dan Perencanaan Pengaturan Kelestarian Tegakan Hutan. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Ketterings QM, Coe R, Van Noordjwik M, Ambagau Y, Palm CA. 2001. Reducing Uncertainty in the Use of Allometric Biomass Equations for Predicting Above-Ground Tree Biomass in Mixed Secondary Forest. Forest Ecology and Management 120:199–209. Lana D, Qom MA, Ariani R, Supriyadi R, Andryani S. 2005. Potensi Karbon di Kawasan Hutan Lindung Laksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Galam 1(3):143–155. [LPIPB] Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 1985. Studi Tentang Penyusunan Tabel Isi Lokal Pohon untuk Jenis-jenis Pinus, Puspa, Damar dan Tegakan Campuran di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Fakultas Kehutanan: Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Kadir K, Prawira SA. 2005a. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Bogor: Balai Penelitian Hasil Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Kadir K, Prawira SA. 2005b. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Bogor: Balai Penelitian Hasil Hutan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 56 Masripatin N, Ginoga K, Pari P, Dharmawan WS, Siregar CA, Wibowo A, Puspasari D, Utomo AS, Sakuntaladewi N, Lugina M, Indartik, Wulandari W, Darmawan S, Heryansah I, Heriyanto NM, Siringoringo HH, Damayanti R, Anggraeni D, Krisnawati H, Maryani R, Apriyanto D, Subekti B. 2010. Cadangan Karbon pada berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Martin JG, Kloeppel BD, Schaefer TL, Kimbler DL and McNutly SG, 1998. Aboveground Biomass and Nitrogen Allocation of Ten Deciduous Southern Appalachian Tree Species. J. For. Res. 28: 1648–1659. Noronhae MD. 2007. Studi Teknik Pendugaan Potensi Tegakan Hutan Puspa (Schima wallichii) dengan Simple Systematic Sampling With Random Start dengan Unit Contoh Six Tree Sampling dan Circular Plot (studi kasus di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi) [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. Onrizal. 2004. Model Penduga Biomassa dan Karbon Tegakan Hutan Kerangas di Taman Nasional Danau Setarum, Kalimantan Barat [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Ostwald M. 2008. Carbon Inventory Method. Handbook for Greenhouse Gas Inventory, Carbon Mitigation and Roundwood Productions Project. Sweden: Goteborg University. Retnowati E, Gintings ANg. 1997. Peranan Hutan Sebagai Rosot Karbon di Indonesia. Di dalam: Peran Hutan Dalam Memenuhi Kebutuhan Manusia dan Antisipasi Isu Global. Prosiding Ekspose Pengembalian Hasil Penelitian; Bogor, 24–25 November 1997. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Hlm 124–131. Salim. 2005. Profil Kandungan Karbon Pada Tegakan Puspa (Schima wallichii Korth.) [Tesis]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Shiver BD, Borders BE. 1996. Sampling Techniques for Forest Resource Inventory. New York: John Wiley & Sons, 356 pp. Siagian K. 2011. Tabel Volume Agathis loranthifolia r.a Salisbury di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Siregar CA, dan Dharmawan IWS. 2007. Kuantifikasi biomasa karbon pada tegakan Agathis loranthifolia. Bogor: Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Suhendang E. 2002. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. 57 Tiryana T. 2005. Pengembangan Metode Pendugaan Sebaran Potensi Biomassa dan Karbon pada Hutan Tanaman Mangium (Acacia mangium Willd.). Bogor: Fakutas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tiryana T, Tatsuhara S, Shiraishi N. 2011. Empirical model for estimating the stand biomass of Teak Plantation in Java, Indonesia. Journal of Forest Planning 16 : 177–188. Ulumuddin YI, Sulistyawati E, Hakim DM, Harto AB. 2005. Korelasi Stok Karbon dengan Karakteristik Spektral Citra Landsat: Studi Kasus Gunung Papandayan. Di dalam: Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa. Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV; Surabaya, 14–15 September2005. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November. Wardasanti CE. 2011. Persamaan Penduga Volume Pohon Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di Hutan Pendidikan Gunung Walat Kabupaten Sukabumi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. 58 LAMPIRAN 59 Lampiran 1 Hasil pengukuran potensi volume, biomassa, dan simpanan karbon pada seluruh plot pengamatan Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 1 699860 9235685 329,02 164,91 77,51 2 700010 9235535 325,95 160,04 75,22 3 700010 9235685 266,18 132,71 62,37 4 700010 9235835 111,90 51,54 24,22 5 700010 9235985 436,16 247,42 116,29 6 700160 9235535 231,52 158,95 74,71 7 700160 9235685 216,50 98,68 46,38 8 700160 9235835 195,32 89,40 42,02 9 700160 9235985 424,43 238,42 112,06 10 700310 9235535 153,72 69,30 32,57 11 700310 9235685 606,66 297,99 140,06 12 700310 9235835 280,25 232,98 109,50 13 700310 9235985 542,05 295,60 138,93 14 700460 9235535 191,40 97,69 45,91 15 700460 9235685 858,61 283,01 133,01 16 700460 9235835 565,98 276,86 130,12 17 700460 9235985 757,53 456,09 214,36 18 700460 9236135 250,41 147,81 69,47 19 700610 9234935 184,76 95,27 44,78 20 700610 9235385 26,31 68,94 32,40 21 700610 9235535 111,60 75,74 35,60 22 700160 9235685 158,82 71,52 33,61 23 700610 9235835 234,80 101,94 47,91 24 700610 9235985 437,91 240,11 112,85 25 700760 9235085 608,06 202,38 95,12 26 700760 9235235 382,97 175,56 82,51 27 700760 9235385 266,42 141,43 66,47 28 700760 9235535 325,24 143,49 67,44 29 700760 9235685 240,64 114,79 53,95 30 700760 9235835 163,78 77,53 36,44 31 700760 9235985 795,53 516,74 242,87 32 700893 9234174 207,00 128,82 60,55 33 700910 9234935 216,99 101,90 47,89 34 700910 9235085 218,38 86,54 40,67 35 700910 9235235 531,98 256,03 120,33 36 700910 9235385 538,78 285,70 134,28 37 700910 9235535 130,01 72,05 33,86 38 700910 9235685 48,97 28,64 13,46 39 700910 9235835 469,74 244,84 115,07 40 700910 9235985 442,01 281,89 132,49 41 701059 9234174 992,55 299,24 140,64 60 Lampiran 1 (lanjutan) Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 42 701080 9234334 133,04 59,15 27,80 43 701060 9234935 714,03 246,91 116,05 44 701060 9235085 460,39 192,32 90,39 45 701060 9235235 183,03 90,82 42,69 46 701060 9235385 261,25 135,48 63,68 47 701060 9235535 250,27 119,10 55,98 48 701060 9235685 576,93 217,58 102,26 49 701060 9235835 406,05 230,09 108,14 50 701207 9234486 219,95 109,59 51,51 51 701220 9234630 551,11 182,78 85,91 52 701196 9234853 790,97 269,86 126,83 53 701215 9234948 527,86 208,15 97,83 54 701210 9235085 685,79 258,56 121,52 55 701210 9235235 882,06 313,23 147,22 56 701210 9235385 218,05 116,20 54,61 57 701210 9235535 225,48 118,96 55,91 58 701242 9235636 555,11 175,17 82,33 59 701180 9235919 398,89 222,99 104,81 60 701348 923499 684,28 265,18 124,63 61 701340 9234653 413,64 147,59 69,37 62 701383 9234775 662,52 234,87 110,39 63 701376 9234914 1054,35 364,89 171,50 64 701365 9235058 657,04 226,87 106,63 65 701210 9235235 708,86 294,16 138,26 66 701369 9235449 780,76 325,80 153,13 67 701330 9235573 714,92 253,28 119,04 68 701210 9235085 991,26 312,08 146,68 69 701360 9235835 259,71 148,16 69,64 70 701510 923478 650,62 213,48 100,34 71 701510 9234935 866,43 270,61 127,19 72 701510 9235087 375,73 137,73 64,73 73 701526 9235455 453,44 197,20 92,68 74 701521 9235514 982,06 325,67 153,06 75 701504 9235714 201,49 127,92 60,12 76 701510 9235835 311,71 273,99 128,78 77 701665 9234660 395,52 161,50 75,91 78 701666 9234781 367,05 175,19 82,34 79 701663 9234934 855,82 297,59 139,87 80 701660 9235085 633,18 240,57 113,07 81 701659 9235230 8,64 43,43 20,41 82 701660 9235537 154,30 52,34 24,60 83 701662 9235690 120,01 92,25 43,36 61 Lampiran 1 (lanjutan) Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 84 701649 9235827 568,50 474,39 222,96 85 701804 9234929 364,35 199,18 93,61 86 701810 9234785 371,11 202,43 95,14 87 701807 9234928 338,97 173,23 81,42 88 701819 9235084 242,28 134,14 63,05 89 701799 9235220 127,54 155,65 73,16 90 701815 9235374 606,04 262,58 123,41 91 701810 9235535 486,41 264,93 124,52 92 701812 9235689 546,73 334,79 157,35 93 701649 9235827 295,84 201,50 94,71 94 701947 9235215 272,82 151,44 71,18 95 701972 9235403 200,56 102,41 48,13 96 701958 9235527 362,03 227,13 106,75 97 701969 9235640 324,72 194,58 91,45 98 702118 9235095 442,13 248,58 116,83 99 702133 9235196 325,23 316,58 148,79 100 702105 9235380 320,77 188,37 88,53 101 702110 9235535 28,55 43,17 20,29 102 701969 9235651 127,78 85,03 39,96 103 702197 9235093 17,24 43,72 20,55 104 702279 9235247 455,73 409,93 192,67 105 702245 9235387 464,89 307,31 144,44 106 702260 9235535 294,03 181,21 85,17 107 702260 9235685 290,40 166,85 78,42 108 702410 9234635 464,78 258,33 121,42 109 702409 9234786 496,07 273,04 128,33 110 702008 9234962 482,24 337,62 158,68 111 702410 9235058 172,05 126,15 59,29 112 702437 9235239 608,20 337,12 158,45 113 702410 9235385 165,37 125,76 59,11 114 702410 9235535 122,87 67,78 31,86 115 702563 9234482 483,78 265,01 124,55 116 702560 9234635 502,40 275,49 129,48 117 702563 9234780 737,16 416,43 195,72 118 702541 9234906 325,99 198,31 93,21 119 702561 9235086 389,15 302,71 142,27 120 702560 9239235 357,31 184,28 86,61 121 702561 9235374 475,04 272,54 128,09 122 702558 9235531 78,12 87,97 41,35 123 702707 9234355 650,58 355,17 166,93 124 702711 9234482 181,60 146,07 68,65 125 702710 9234635 316,94 221,12 103,93 62 Lampiran 1 (lanjutan) Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 126 702710 9234785 499,85 278,21 130,76 127 702658 9234901 326,05 201,55 94,73 128 702730 702730 304,15 295,43 138,85 129 702710 9235235 341,70 189,06 88,86 130 702705 9235404 369,13 210,41 98,89 131 702707 9235532 410,34 266,66 125,33 132 702839 9234642 250,04 154,96 72,83 133 702852 9234786 503,09 274,90 129,20 134 702848 9234925 695,35 378,86 178,06 135 702864 9235085 160,36 93,54 43,96 136 702860 9235235 215,00 117,04 55,01 137 702855 9235381 339,07 147,13 69,15 138 7022880 9235576 79,70 37,64 17,69 140 703024 9235098 488,22 284,65 133,79 141 702993 9235195 549,95 302,94 142,38 142 703012 9235375 307,77 172,87 81,25 144 703161 9235375 80,45 46,32 21,77 58 LAMPIRAN 59 Lampiran 1 Hasil pengukuran potensi volume, biomassa, dan simpanan karbon pada seluruh plot pengamatan Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 1 699860 9235685 329,02 164,91 77,51 2 700010 9235535 325,95 160,04 75,22 3 700010 9235685 266,18 132,71 62,37 4 700010 9235835 111,90 51,54 24,22 5 700010 9235985 436,16 247,42 116,29 6 700160 9235535 231,52 158,95 74,71 7 700160 9235685 216,50 98,68 46,38 8 700160 9235835 195,32 89,40 42,02 9 700160 9235985 424,43 238,42 112,06 10 700310 9235535 153,72 69,30 32,57 11 700310 9235685 606,66 297,99 140,06 12 700310 9235835 280,25 232,98 109,50 13 700310 9235985 542,05 295,60 138,93 14 700460 9235535 191,40 97,69 45,91 15 700460 9235685 858,61 283,01 133,01 16 700460 9235835 565,98 276,86 130,12 17 700460 9235985 757,53 456,09 214,36 18 700460 9236135 250,41 147,81 69,47 19 700610 9234935 184,76 95,27 44,78 20 700610 9235385 26,31 68,94 32,40 21 700610 9235535 111,60 75,74 35,60 22 700160 9235685 158,82 71,52 33,61 23 700610 9235835 234,80 101,94 47,91 24 700610 9235985 437,91 240,11 112,85 25 700760 9235085 608,06 202,38 95,12 26 700760 9235235 382,97 175,56 82,51 27 700760 9235385 266,42 141,43 66,47 28 700760 9235535 325,24 143,49 67,44 29 700760 9235685 240,64 114,79 53,95 30 700760 9235835 163,78 77,53 36,44 31 700760 9235985 795,53 516,74 242,87 32 700893 9234174 207,00 128,82 60,55 33 700910 9234935 216,99 101,90 47,89 34 700910 9235085 218,38 86,54 40,67 35 700910 9235235 531,98 256,03 120,33 36 700910 9235385 538,78 285,70 134,28 37 700910 9235535 130,01 72,05 33,86 38 700910 9235685 48,97 28,64 13,46 39 700910 9235835 469,74 244,84 115,07 40 700910 9235985 442,01 281,89 132,49 41 701059 9234174 992,55 299,24 140,64 60 Lampiran 1 (lanjutan) Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 42 701080 9234334 133,04 59,15 27,80 43 701060 9234935 714,03 246,91 116,05 44 701060 9235085 460,39 192,32 90,39 45 701060 9235235 183,03 90,82 42,69 46 701060 9235385 261,25 135,48 63,68 47 701060 9235535 250,27 119,10 55,98 48 701060 9235685 576,93 217,58 102,26 49 701060 9235835 406,05 230,09 108,14 50 701207 9234486 219,95 109,59 51,51 51 701220 9234630 551,11 182,78 85,91 52 701196 9234853 790,97 269,86 126,83 53 701215 9234948 527,86 208,15 97,83 54 701210 9235085 685,79 258,56 121,52 55 701210 9235235 882,06 313,23 147,22 56 701210 9235385 218,05 116,20 54,61 57 701210 9235535 225,48 118,96 55,91 58 701242 9235636 555,11 175,17 82,33 59 701180 9235919 398,89 222,99 104,81 60 701348 923499 684,28 265,18 124,63 61 701340 9234653 413,64 147,59 69,37 62 701383 9234775 662,52 234,87 110,39 63 701376 9234914 1054,35 364,89 171,50 64 701365 9235058 657,04 226,87 106,63 65 701210 9235235 708,86 294,16 138,26 66 701369 9235449 780,76 325,80 153,13 67 701330 9235573 714,92 253,28 119,04 68 701210 9235085 991,26 312,08 146,68 69 701360 9235835 259,71 148,16 69,64 70 701510 923478 650,62 213,48 100,34 71 701510 9234935 866,43 270,61 127,19 72 701510 9235087 375,73 137,73 64,73 73 701526 9235455 453,44 197,20 92,68 74 701521 9235514 982,06 325,67 153,06 75 701504 9235714 201,49 127,92 60,12 76 701510 9235835 311,71 273,99 128,78 77 701665 9234660 395,52 161,50 75,91 78 701666 9234781 367,05 175,19 82,34 79 701663 9234934 855,82 297,59 139,87 80 701660 9235085 633,18 240,57 113,07 81 701659 9235230 8,64 43,43 20,41 82 701660 9235537 154,30 52,34 24,60 83 701662 9235690 120,01 92,25 43,36 61 Lampiran 1 (lanjutan) Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 84 701649 9235827 568,50 474,39 222,96 85 701804 9234929 364,35 199,18 93,61 86 701810 9234785 371,11 202,43 95,14 87 701807 9234928 338,97 173,23 81,42 88 701819 9235084 242,28 134,14 63,05 89 701799 9235220 127,54 155,65 73,16 90 701815 9235374 606,04 262,58 123,41 91 701810 9235535 486,41 264,93 124,52 92 701812 9235689 546,73 334,79 157,35 93 701649 9235827 295,84 201,50 94,71 94 701947 9235215 272,82 151,44 71,18 95 701972 9235403 200,56 102,41 48,13 96 701958 9235527 362,03 227,13 106,75 97 701969 9235640 324,72 194,58 91,45 98 702118 9235095 442,13 248,58 116,83 99 702133 9235196 325,23 316,58 148,79 100 702105 9235380 320,77 188,37 88,53 101 702110 9235535 28,55 43,17 20,29 102 701969 9235651 127,78 85,03 39,96 103 702197 9235093 17,24 43,72 20,55 104 702279 9235247 455,73 409,93 192,67 105 702245 9235387 464,89 307,31 144,44 106 702260 9235535 294,03 181,21 85,17 107 702260 9235685 290,40 166,85 78,42 108 702410 9234635 464,78 258,33 121,42 109 702409 9234786 496,07 273,04 128,33 110 702008 9234962 482,24 337,62 158,68 111 702410 9235058 172,05 126,15 59,29 112 702437 9235239 608,20 337,12 158,45 113 702410 9235385 165,37 125,76 59,11 114 702410 9235535 122,87 67,78 31,86 115 702563 9234482 483,78 265,01 124,55 116 702560 9234635 502,40 275,49 129,48 117 702563 9234780 737,16 416,43 195,72 118 702541 9234906 325,99 198,31 93,21 119 702561 9235086 389,15 302,71 142,27 120 702560 9239235 357,31 184,28 86,61 121 702561 9235374 475,04 272,54 128,09 122 702558 9235531 78,12 87,97 41,35 123 702707 9234355 650,58 355,17 166,93 124 702711 9234482 181,60 146,07 68,65 125 702710 9234635 316,94 221,12 103,93 62 Lampiran 1 (lanjutan) Plot Koordinat X Koordinat Y Volume (m3/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) 126 702710 9234785 499,85 278,21 130,76 127 702658 9234901 326,05 201,55 94,73 128 702730 702730 304,15 295,43 138,85 129 702710 9235235 341,70 189,06 88,86 130 702705 9235404 369,13 210,41 98,89 131 702707 9235532 410,34 266,66 125,33 132 702839 9234642 250,04 154,96 72,83 133 702852 9234786 503,09 274,90 129,20 134 702848 9234925 695,35 378,86 178,06 135 702864 9235085 160,36 93,54 43,96 136 702860 9235235 215,00 117,04 55,01 137 702855 9235381 339,07 147,13 69,15 138 7022880 9235576 79,70 37,64 17,69 140 703024 9235098 488,22 284,65 133,79 141 702993 9235195 549,95 302,94 142,38 142 703012 9235375 307,77 172,87 81,25 144 703161 9235375 80,45 46,32 21,77 RINGKASAN VIVI SELVIANA. E14070049. Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat. Dibimbing oleh BUDI PRIHANTO dan TATANG TIRYANA. Pemanasan global yang terjadi saat ini disebabkan semakin banyaknya gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung adalah CO2 (karbon dioksida). Konsentrasi CO2 yang berlebih di atmosfer akan menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas. Meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi dari tahun ke tahun menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut dengan melakukan mitigasi. Salah satu sektor yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim adalah sektor kehutanan. Hutan mampu menyerap kelebihan karbon di atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa di berbagai bagian tanaman (khususnya kayu) melalui proses fotosintesis. Salah satu hutan Indonesia yang memiliki potensi simpanan karbon adalah Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon yang tersimpan dalam tegakan di HPGW untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan perencanaan, pengelolaan dan perlindungan hutan. Pengambilan data lapangan dilakukan pada tegakan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran di HPGW dengan plot contoh lingkaran berukuran 0,1 ha. Perhitungan volume tegakan dilakukan dengan menggunakan persamaan tabel volume sedangkan pendugaan biomassa menggunakan persamaan alometrik. Pendugaan simpanan karbon diperoleh dari nilai biomassa yang dikonversikan dengan fraksi karbon (0,47). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua metode yaitu pendugaan tanpa stratifikasi dengan systematic sampling with random start dan pendugaan menggunakan stratifikasi dengan stratified sampling. Pendugaan menggunakan stratifikasi dilakukan dengan dua cara yaitu stratifikasi berdasarkan nilai potensi dan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi. Hasil pendugaan potensi di HPGW menggunakan stratifikasi memberikan hasil dugaan yang lebih akurat dibandingkan dengan pendugaan tanpa statifikasi. Pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi memiliki rata-rata volume sebesar 399,45 m3/ha dengan total sebesar 142.832,56 m3, rata-rata biomassa sebesar 202,37 ton/ha dengan total sebesar 72.363,70 ton, dan rata-rata cadangan karbon sebesar 95,12 ton/ha dengan total sebesar 34.085,51 ton sedangkan pada stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi memiliki rata-rata volume sebesar 398,29 m3/ha dengan total sebesar 142.416,26 m3, rata-rata biomassa sebesar 202,82 ton/ha dengan dugaan total sebesar 72.522,35 ton, dan rata-rata cadangan karbon sebesar 95,32 ton/ha dengan dugaan total sebesar 34.085,51 ton. Kata Kunci : Volume, Biomassa, Karbon, Hutan Pendidikan, Gunung Walat SUMMARY VIVI SELVIANA. E14070049. Potential Estimation of Volume, Biomass, and Carbon Stocks in Stands of Gunung Walat University Forest, Sukabumi West Java. Supervised by BUDI PRIHANTO and TATANG TIRYANA. The current global warming is caused by the increasing of greenhouse gases emitted to the Earth’s atmosphere. Greenhouse gases that affect directly is CO2 (carbon dioxide). If there are too many concentration of CO2 in the atmosphere, it will cause warmer temperature. Increasing the average temperature of Earth's atmosphere over the years led to climate change. The effort to solve climate change is conducting mitigation. One of the sectors that play a role in climate change mitigation is forestry sector. Forest able to absorb the excess carbon in the atmosphere and store it in the form of biomass in various parts of the plant (particularly timber) through the photosynthesis process. One of Indonesia's forests which has the potential carbon stocks is Gunung Walat University Forest (GWUF). This research aims to estimate the potential of volume, biomass, and carbon stocks in the forest which can be use as a basis for making the forest planning, management, and protection. Field data collected at the stands of Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pine), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), and the others stand with the circle sample plot sized 0.1 ha. The stands volume estimated by using volume table equation and the biomass estimation by allometric models. Carbon stocks estimation obtained from biomass value that is converted to the carbon fraction (0.47). Data analysis in this research uses two methods, estimation without stratification through systematic sampling with random start and estimation with stratification through stratified sampling. Estimation with stratification is performed in two ways, stratification based on potential value and stratification based on the vegetation type. The result of potential estimation with stratification in GWUF more accurate then the method of estimation without stratification. The average volume of estimation with stratification based on its potential value is 399.45 m3/ha and the total volume is 142,832.56 m3; the average and total of biomass potential are 202.37 tons/ha and 72,363.70 tons; and then the of average of carbon stocks is 95.12 tons/ha and the total carbon stocks is 34,085.51 tons. While the estimation results with stratification based on the vegetation type shows the average and total volume are 398.29 m3/ha and 142,416.26 m3; the average of biomass potential is 202.82 tons/ha and the total of biomass potential is 72,522.35 tons; with average of carbon stocks is 95.32 tons/ha and the total carbon stocks is 34,085.51 tons. Keywords: Volume, Biomass, Carbon, University Forest, Gunung Walat
Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Agathis Mahoni Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat .1 Pinus Biomassa dan Karbon Hutan Kesimpulan Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Latar Belakang Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Metode Pendugaan Biomassa dan Karbon Model Pendugaan Biomassa Tegakan Pendugaan Potensi Tanpa Stratifikasi Persiapan dan Pengambilan Data Lapangan Potensi Biomassa Tegakan Pendugaan Potensi Menggunakan Stratifikasi .1 Potensi Volume Tegakan Potensi Cadangan Karbon Tegakan Rasamala Sonokeling Meranti Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat .1 Pinus Sengon Puspa Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat .1 Pinus Topografi Geologi dan Jenis tanah Iklim dan Hidrologi Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Potensi Hutan Sebagai Penyerap Karbon Vegetasi Hutan Kehidupan Satwa Liar Kependudukan Volume Pohon dan Metode Pendugaannya Lokasi dan Waktu Penelitian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat

Gratis