Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.

 2  7  73  2017-05-18 15:26:55 Report infringing document
ABSTRACT UPMAL DESWIRA. The use of Maize Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) as source of vegetable protein feed for giant gouramy Osphronemus gouramy Lac. Juvenile. Guided by MIA SETIAWATI and MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI. This experiment was conducted to examine the effect of the use of DDGS as a source of vegetable protein on the growth of the giant gouramy O. gouramy Lac. juvenile. Feed is devided into two, the feed for testing of digestibility and testing of growth. The feed for testing of digestibility are References Diet (100% control of feed) and Test Diet (70% of control feed and 30% of DDGS), while the feed for testing of growth are 0%, 10%, 20%, and 30% DDGS. The fish were feed the experimental diet at satiation. Giant gouramy be used in this research have weight 4.72±0.78 g. Culture of fish conducted during 40 days in the aquarium sized 50x40x35 cm. Test of growth from DDGS up to 30% showed no significant difference (P>0.05) in daily growth rate (2.82 to 2.91%), survival rate (100%), feed consumptions (139.07-159.22 g), and feed efficiency (64.52-71.05%). Whereas, protein retention (16.29 to 25.02%), lipid retention (31.36 to 53.52%) are significantly different with control. It is conclude that the use of DDGS as the source of vegetable protein with various consentration on the feed of giant gouramy until 30% didn’t affect the daily growth rate, survival rate, and feed consumptions. The highest feed efficiency of DDGS treatment is 20%. Key word: DDGS, vegetable protein, feed, giant gouramy ABSTRAK UPMAL DESWIRA. Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.. Dibimbing oleh MIA SETIAWATI dan MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI. Penelitan ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame O. gouramy Lac.. Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian kecernaan dan pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian kecernaan berupa References Diet (100% pakan kontrol) dan Test Diet (70% pakan kontrol dan 30% DDGS), sedangkan pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4 jenis pakan yaitu DDGS 0%, 10%, 20%, dan 30%. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali sehari secara at satiation. Ikan yang dipelihara pada penelitian ini adalah ikan gurame berukuran 4,72±0,78 g. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari di dalam akuarium berukuran 50x40x35 cm. Hasil pengujian menunjukkan kecernaan DDGS sebesar 70,10%. Dari pengujian pertumbuhan pakan berbasis DDGS sampai dengan 30% diperoleh hasil laju pertumbuhan harian 2,82-2,91%, kelangsungan hidup 100%, jumlah konsumsi pakan 139,07-159,22 g, dan efisiensi pakan 64,52-71,05% yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan kontrol, akan tetapi retensi protein pakan dengan DDGS 20% dan DDGS 30% yaitu 22,24% dan 16,29%,serta retensi lemak semua perlakuan 31,36-53,32% berbeda nyata dengan kontrol. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Penggunaan jumlah DDGS sebagai sumber protein nabati dengan kadar yang berbeda pada pakan benih ikan gurame sampai 30% tidak memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup ikan. Penggunaan DDGS 20% memiliki nilai efisiensi pakan tertinggi. Kata kunci: DDGS, protein nabati, pakan, ikan gurame I. PENDAHULUAN Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi suatu kegiatan budidaya ikan, yaitu sekitar 49-89% (Suprayudi, 2010). Pakan yang digunakan harus memenuhi kebutuhan nutrien ikan yang dipelihara. Nutrien tersebut meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Protein sebagai sumber nutrien utama dalam pakan, memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan sumber nutrien lainnya. Sumber protein yang paling utama pada pakan ikan yaitu tepung ikan dan tepung bungkil kedelai. Tepung bungkil kedelai adalah salah satu sumber protein nabati yang bergizi tinggi, karena mengandung asam amino yang relatif seimbang dan memiliki nilai kecernaan yang tinggi (Hertrampf dan Pascual, 2000). Menurut Maina et al. (2002) tepung bungkil kedelai pada kadar air 10,90% memiliki kandungan protein sebesar 43,20%, lemak 2%, kadar abu 6,50%, dan serat kasar sebesar 4,60%. Keunggulan yang dimiliki tepung bungkil kedelai tersebut menjadikan bahan ini sebagai sumber protein nabati utama dalam pakan ikan, akibatnya harga tepung bungkil kedelai menjadi mahal, selain itu ketergantungan yang cukup besar terhadap tepung bungkil kedelai ini dalam jangka panjang akan berdampak pada kelangkaan dan kenaikan harga yang signifikan akibat permintaan yang semakin tinggi. Oleh karena itu diperlukan sumber protein alternatif yang bisa mengurangi bahkan menggantikan penggunaan tepung bungkil kedelai pada pakan ikan. Kriteria yang harus dipenuhi oleh bahan pakan alternatif tersebut yaitu memiliki nutrien yang dibutuhkan ikan, tidak berkompetisi dengan manusia, berbasis limbah, tidak mengandung material berbahaya, harga lebih murah, serta tersedia dalam jumlah besar dan kontinyu (Suprayudi, 2010). Salah satu bahan baku yang memenuhi kriteria tersebut adalah DDGS (Distillers Dried Grain with Solubles). DDGS merupakan salah satu produk sampingan (limbah) dari industri penyulingan etanol. DDGS ini berbahan dasar dari gandum, jagung, sorgum, gandum hitam, dan campuran dari beberapa bahan tersebut, akan tetapi sebagian besar berbahan dasar jagung (Hertrampf dan Pascual, 2000). DDGS diperoleh setelah jagung yang telah digiling dan difermentasikan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae mengalami proses destilasi. 1 Residu tersebut kemudian dipadatkan dan dikeringkan hingga menjadi 75% dari bobot awal. Kandungan protein, lemak, abu, dan serat kasar DDGS pada kadar air 9,2% secara berturut-turut yaitu sebesar 27,8%, 10%, 4,7%, dan 10,9% (Hertrampf dan Pascual, 2000). Oleh karena itu DDGS diduga dapat digunakan sebagai sumber protein nabati alternatif untuk mengurangi penggunaan tepung bungkil kedelai di dalam pakan ikan. Penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati telah diujikan pada beberapa jenis ikan, diantaranya chanel catfish, ikan nila, ikan kerapu bebek, dan ikan mas, sehingga diperoleh jumlah optimal DDGS dalam pakan. Penggunaan DDGS pada pakan ikan chanel catfish (Lim et al., 2009) dan ikan nila (Lim et al., 2007) sebanyak 40%, ikan kerapu bebek penggunaan DDGS dan Hominy feed sebanyak 10% (Abidin, 2011), dan ikan mas sebanyak 25% DDGS (Silmina, 2011). Ikan gurame merupakan ikan omnivor cenderung herbivor, sehingga diduga dapat memanfaatkan pakan yang megandung serat kasar cukup tinggi. Oleh karena itu penggunaan DDGS dalam formulasi pakan diharapkan dapat mengurangi penggunaan tepung bungkil kedelai dalam pakan ikan. Penelitan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame Osphronemus gouramy Lac.. 2 II. BAHAN DAN METODE 2.1 Pakan Penelitian Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian kecernaan dan pakan untuk pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian kecernaan dibuat berdasarkan metode kecernaan bahan yang dikemukakan Watanabe (1988) yang terdiri dari pakan acuan (References Diet/RD) yaitu 100% pakan kontrol dan pakan uji (Test diet/RD) yaitu 70% pakan kontrol dan 30% bahan yang akan diuji (DDGS). Pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4 jenis pakan yaitu dengan kadar penambahan DDGS yang berbeda 0%, 10%, 20%, dan 30%. Bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan penelitian terlebih dahulu dianalisis proksimat untuk mengetahui kandungan nutrisinya. Hasil analisis bahan baku pakan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil analisis proksimat bahan baku pakan Bahan Tepung Ikan Tepung bungkil kedelai DDGS Pollard Kadar Proksimat Bahan Kering (%) Protein Lemak Abu BETN 62,38 6,85 26,45 3,29 49,80 2,17 7,26 37,69 27,77 9,57 5,73 48,52 14,41 3,46 4,00 69,95 Berdasarkan Tabel 1 diketahui hasil analisis proksimat bahan baku pakan berupa kandungan protein, lemak, abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Tepung ikan, tepung bungkil kedelai, dan DDGS memiliki kandungan protein di atas 20%, sehingga dijadikan sebagai sumber protein pakan. Sedangkan pollard menjadi sumber karbohidrat pakan. DDGS dan tepung bungkil kedelai selain sebagai sumber protein juga menjadi sumber karbohidrat. Kemudian sumber lemak pakan berasal dari DDGS dan tepung ikan. Setelah diketahui analisis proksimat bahan baku, selanjutnya dibuat formulasi pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrien ikan uji dan perlakuan yang diberikan. Pakan yang telah dibuat dianalis proksimat. Komposisi dan analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan dan pertumbuhan disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3. 3 Tabel 2. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan (%) Komposisi References Diet (RD) Pakan kontrol 96,5 DDGS 0 Binder (Tepung Sagu) 3 Cr2O3 0,5 Total 100 Hasil Analisis Proksimat dalam bobot kering Lemak 12,35 Protein 42,08 Kadar Abu 9,07 Serat Kasar 5, 31 BETN 31,19 (1) GE (kkal/kg) 4796,25 C/P (kkal/g)(2) 11,4 Test Diet (TD) 66,5 30 3 0,5 100 12,03 39,24 10,27 6,71 31,76 4630,28 11,8 Keterangan: (1) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1 kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC, 1993) (2) Rasio energi/protein Tabel 3. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian pertumbuhan (%) Penggunaan DDGS (%) 0 10 20 Tepung Ikan 36,21 36,21 36,21 Tepung bungkil kedelai 17,50 10,72 6,72 DDGS 0,00 10,00 20,00 Pollard 32,59 29,77 24,34 (1) Minyak 10,60 10,20 9,63 Premix 1,10 1,10 1,10 Binder (Tepung Sagu) 2 2 2 Total 100,00 100,00 100,00 Hasil analisis proksimat dalam bobot kering Lemak 13,58 14,92 14,47 Protein 41,35 39,63 39,18 Kadar Abu 10,35 8,74 9,53 Serat Kasar 4,89 6,56 4,81 BETN 29,82 30,15 32,01 GE (kkal/kg)(2) 4814,98 4858,35 4866,88 C/P (kkal/g)(3) 11,6 12,3 12,4 Komposisi 30 36,21 2,72 30,00 18,87 9,10 1,10 2 100,00 15,59 40,32 8,96 4,42 30,71 4982,74 12,4 Keterangan: (1) Minyak ikan : minyak jagung = 5,8 : 9, (2) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1 kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC, 1993) (3) Rasio energi/protein Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat komposisi pakan uji mengandung DDGS 0% sampai 30% yang diikuti dengan pengurangan proporsi tepung bungkil kedelai sebagai sumber protein nabati dan Pollard sebagai sumber karbohidrat. 4 Kemudian untuk sumber dan jumlah protein hewani, minyak, dan premix dalam komposisi pakan uji disamakan. Pakan penelitian yang digunakan memiliki energi sebesar 4814,98-4982,74 kkal/kg dan kadar protein sebesar 39,18-41,35% sehingga diperoleh rasio energi dengan protein yaitu sebesar 11,6-12,4. 2.2 Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data Ikan yang dipelihara pada penelitian ini berupa benih ikan gurame berukuran 4,72±0,78 g per ekor yang berasal dari Cikupa, Kabupaten Bogor. Pemeliharaan ikan dilakukan dalam 14 akuarium berukuran 50x40x35 cm, dengan kepadatan 10 ekor per akuarium. Ikan diadaptasikan terhadap lingkungan selama 21 hari. Setelah itu ikan dipuasakan selama 1 hari sebelum dilakukan penimbangan bobot awal. Selama kegiatan pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 75% setiap dua hari sekali. Selain itu juga dilakukan penyifonan sebanyak 3 kali sehari yaitu sebelum pemberian pakan. Kemudian untuk menjaga kestabilan suhu dipasang water heater thermostat pada setiap akuarium. Pakan diberikan sebanyak 3 kali sehari secara at satiation. Pakan yang akan diberikan ditimbang terlebih dahulu supaya dapat dihitung jumlah konsumsi pakan (JKP) pada akhir pemeliharaan. Ikan dipelihara selama 40 hari dan dilakukan sampling pertumbuhan berupa pengukuran bobot pada awal dan akhir pemeliharaan. Pengukuran kualitas air berupa suhu dilakukan setiap hari. Tata letak wadah dan perlakuan disajikan pada Gambar 1. C3 B1 A1 A3 B2 K1 K3 A2 B3 TD RD C1 K2 C2 S T Keterangan: K= Pakan 0% DDGS, A= pakan 10% DDGS, B= pakan 20% DDGS, C= pakan 30% DDGS, TD= Test Diet, RD = References Diet, S= stok dan T= tandon, 1,2,3= ulangan Gambar 1. Tata letak wadah dan perlakuan. 5 2.3 Pengujian Kecernaan Pengujian kecernaan dilakukan untuk mengetahui kecernaan bahan DDGS. Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan feses pada hari ke-6 setelah ikan diberi pakan untuk pengujian kecernaan (Pakan RD dan TD). Feses ikan dikumpulkan selama 2 minggu pemeliharaan. Selama kurun waktu tersebut feses disimpan pada botol film yang diletakkan di dalam lemari pendingin. Feses yang telah terkumpul dikeringkan di oven pada suhu 110°C selama 6 jam. Selanjutnya dilakukan analisis kandungan protein dan Cr 2O3 (Lampiran 1). Pengukuran kadar Cr2O3 dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer (panjang gelombang 350 nm). 2.4 Analisis Proksimat Analisis proksimat dilakukan terhadap bahan baku pakan, pakan uji, ikan uji, dan feses. Analisis proksimat untuk kadar air menggunakan metode pemanasan dalam oven bersuhu 105-110°C, serat kasar menggunakan metode pelarutan sampel dengan asam kuat, basa kuat, dan pemanasan, protein kasar menggunakan metode Kjeldahl, lemak kering dengan metode Soxhlet, lemak basah dengan metode Folch, dan kadar abu dengan pemanasan dalam tanur bersuhu 600°C (Watanabe, 1988). Metode analisis proksimat dijelaskan pada Lampiran 2. 2.5 Parameter yang Diukur 2.5.1 Jumlah Konsumsi Pakan (JKP) Jumlah konsumsi pakan (JKP) diketahui setelah kegiatan pemeliharaan selesai. Nilai JKP diperoleh dengan cara mengurangi total pakan yang diberikan pada ikan selama pemeliharan dengan sisa pakan yang tidak termakan. 2.5.2 Laju Pertumbuhan Harian (LPH) Laju pertumbuhan harian ikan uji dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Halver (1989), yaitu: 6 Keterangan: Α = Laju pertumbuhan harian (LPH) Wt = Rata-rata bobot individu pada waktu akhir pemeliharaan (g) Wo = Rata-rata bobot individu pada waktu awal pemeliharaan (g) T = Lama waktu pemeliharaan (hari) 2.5.3 Efisiensi Pakan (EP) Efisiensi pakan dihitung dengan menggunakan persamaan yang (SR) diperoleh berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Steffens (1989), yaitu: EP = {[(Wt + D) – Wo] / F} × 100% Keterangan: EP = Efisiensi Pakan (%) F = Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan (g) Wt = Biomassa ikan pada waktu akhir pemeliharaan (g) Wo = Biomassa ikan pada awal pemeliharaan (g) D = Bobot ikan yang mati selama pemeliharaan (g) 2.5.4 Kelangsungan Hidup (SR) Kelangsungan hidup dikemukakan oleh Zonneveld et al. (1991), yaitu: SR = [Nt / No] x 100% Keterangan: SR = Survival Rate Nt = Jumlah ikan pada akhir pemeliharaan No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan 2.5.5 Kecernaan Bahan Kecernaan total dan kecernaan protein dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988) dan NRC (1993), yaitu: Kecernaan total = 100 - [100 × b/b’] Kecernaan protein = [1 - a’/a × b/b’] × 100 Keterangan: a = % protein dalam pakan a’ = % protein dalam feses b = % Cr2O3 dalam pakan b’ = % Cr2O3 dalam feses 7 Nilai kecernaan masing-masing bahan uji yang digunakan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988), yaitu: Kecernaan bahan = (ADT – 0,7 AD) / 0,3 Keterangan: ADT = nilai kecernaan pakan uji AD = nilai kecernaan pakan acuan 2.5.6 Retensi Protein Nilai retensi protein dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988), yaitu: RP = [(F-I)/P] x 100% Keterangan : RP = Retensi protein (%) F = Jumlah protein tubuh ikan pada akhir pemeliharaan (g) I = Jumlah protein tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g) P = Jumlah protein yang dikonsumsi ikan (g) 2.5.7 Retensi Lemak Nilai retensi lemak dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988), yaitu: RL = [(F-I)/L] x 100% Keterangan: RL = Retensi lemak (%) F = Jumlah lemak tubuh ikan pada akhir pemeliharaan (g) I = Jumlah lemak tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g) L = Jumlah lemak yang dikonsumsi ikan (g) 2.6 Analisis Statistik Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPSS 16.0. Dilakukan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%. Kemudian untuk melihat perbedaan perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan. 8 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil pengujian kecernaan berupa kecernaan total dan protein dari pakan dan DDGS pada ikan gurame disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil perlakuan uji kecernaan DDGS pada ikan gurame Perlakuan RD TD Kecernaan Total (%) 63,95 61,31 Kecernaan Protein (%) 84,42 84,70 Kecernaan Total DDGS (%) Kecernaan Protein DDGS (%) 55,16 85,35 Kecernaan total DDGS pada ikan gurame berdasarkan Tabel 4 diketahui sebesar 55,16% dan kecernaan protein DDGS sebesar 85,35%. Nilai kecernaan total dan protein dari DDGS ini diperoleh setelah dilakukan perhitungan terhadap kecernaan total dan protein pakan perlakuan. Nilai kecernaan total RD adalah sebesar 63,95% sedangkan nilai kecernaan total TD sebesar 61,31%. Kemudian untuk kecernaan protein RD dan TD secara berurutan adalah sebesar 84,42% dan 84,70%. Penambahan DDGS pada pakan uji dengan kadar yang berbeda yaitu 0%, 10%, 20%, dan 30% yang diberikan selama 40 hari, menunjukkan pertumbuhan ikan gurame. Hal ini ditandai dengan peningkatan bobot ikan gurame pada setiap Bobot rata-rata ikan (gram) perlakuan. Peningkatan bobot tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. 20,00 18,00 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 16,72 4,74 4,71 0 14,61 14,41 14,37 4,64 10 4,82 20 30 Perlakuan (%) Bobot rata-rata awal (gram) Bobot rata-rata akhir (gram) Gambar 2. Peningkatan bobot rata-rata ikan gurame yang diberi pakan perlakuan DDGS dengan kadar yang berbeda. 9 Peningkatan bobot ikan gurame berdasarkan Gambar 2 menunjukkan perlakuan DDGS 30% memiliki nilai peningkatan yang paling besar dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar 346%, sehingga bobot akhir ratarata ikan gurame menjadi 16,72 gram. Kemudian untuk ketiga perlakuan lainnya yaitu perlakuan DDGS 0%, 10%, dan 20% secara berturut-turut terjadi peningkatan bobot tubuh ikan sebesar 305%, 304%, dan 315%. Tabel 5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), laju pertumbuhan harian (LPH), kelangsungan hidup (SR), dan efisiensi pakan (EP) ikan gurame selama perlakuan Parameter Uji JKP (gram) RP (%) RL (%) LPH (%) SR (%) EP (%) 0 141,08 ± 4,41a 25,02 ± 1,71a 31,36 ± 0,05c 2,82 ± 0,20a 100 ± 0,00a 68,36 ± 4,45ab Penggunaan DDGS (%) 10 20 a 139,07 ± 6,77 140,06 ± 16,42a 23,07 ± 0,88ab 22,24 ± 1,12b b 47,28 ± 0,38 52,26 ± 1,30a 2,82 ± 0,15a 2,90 ± 0,32a a 100 ± 0,00 100 ± 0,00a 69,46 ± 2,16ab 71,05 ± 2,08a 30 159,22 ± 21,15a 16,29 ± 1,05c 53,32 ± 1,30a 2,91 ± 0,29a 100 ± 0,00a 64,52 ± 2,02b Keterangan: Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata ± standar deviasi. Huruf super skrip yang sama dalam satu baris menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Data selengkapnya disajikan pada Lampiran 3-5. Kemudian untuk analisis statistik pada Lampiran 6-11. Tabel 5 menunjukkan penggunaan DDGS pada pakan dengan kadar yang berbeda memberikan pengaruh jumlah konsumsi pakan yang tidak berbeda nyata dengan kontrol (DDGS 0%), demikian juga dengan laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup (P>0,05). Efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan DDGS 20%, sedangkan efisiensi pakan terendah pada perlakuan DDGS 30% (P>0,05) . Nilai retensi menggambarkan banyaknya protein dan lemak yang tersimpan di dalam tubuh ikan uji. Nilai retensi protein DDGS 10% tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P>0,05), namun perlakuan DDGS 20% dan DDGS 30% berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P<0,05). Berdasarkan Tabel 5 juga diketahui nilai retensi protein semakin menurun dengan semakin besarnya penambahan DDGS pada pakan, yaitu kontrol (DDGS 0%) memiliki nilai retensi protein tertinggi dan nilai retensi protein terendah pada perlakuan DDGS 30%. Sebaliknya, nilai retensi lemak semakin tinggi dengan semakin besarnya jumlah 10 DDGS pada pakan serta nilai retensi lemak semua perlakuan berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P<0,05). 3.2 Pembahasan Hasil penelitian penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati pada pakan benih ikan gurame menunjukkan peningkatan kinerja pertumbuhan ikan yang meliputi retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan harian, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan (Tabel 5). Jumlah konsumsi pakan menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata untuk setiap perlakuan (P>0,05; Lampiran 6). Hal ini menandakan bahwa pakan memiliki nilai palatabilitas dan energi yang relatif sama yaitu sekitar 4814,98-4982,74 kkal/kg pakan. Palatabilitas merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan tingkat konsumsi pakan. Menurut NRC (1993) palatabilitas dipengaruhi oleh bau,warna, ukuran, dan rasa. Pakan yang dimakan kemudian akan dicerna menjadi komponen yang lebih sederhana sehingga dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Nilai kecernaan pakan menggambarkan bahwa nutrien dan energi dari pakan yang diberikan dapat diserap dan tidak diekskresikan melalui feses. Faktor yang mempengaruhi kecernaan yaitu sifat kimia air, suhu air, jenis pakan, ukuran dan umur ikan, kandungan gizi pakan, frekuensi pemberian pakan, sifat fisika dan kimia pakan, serta jumlah dan macam enzim pencernaan yang terdapat disaluran pencernaan ikan (NRC, 1993). Berdasarkan Tabel 4 diketahui kecernaan total DDGS pada benih ikan gurame yaitu sebesar 55,16%. Kecernaan total menggambarkan kecernaan nutrien sumber energi. Rendahnya kecernaan total DDGS disebabkan oleh serat kasar yang cukup tinggi yaitu sebesar 10,9% (Hertrampf dan Pascual, 2000). Serat kasar merupakan unsur tanaman yang tidak dapat dicerna seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, pentosan, dan karbohidrat kompleks lainnya yang ditemukan dalam bahan pakan (NRC, 1993). Kandungan serat kasar dalam jumlah sedikit dapat meningkatkan gerak peristaltik usus, namun apabila jumlahnya berlebih maka penyerapan makanan menjadi tidak efisien (Guillaume et al., 1999). Sementara itu kecernaan protein dari DDGS cukup tinggi yaitu sebesar 85,35% (Tabel 4). Hal ini diduga disebabkan oleh sebagian protein dari DDGS 11 berasal dari ragi Saccharomyces cerevisiae yang merupakan protein sel tunggal, karena DDGS diperoleh setelah jagung yang telah digiling dan difermentasikan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae mengalami proses destilasi. Residu tersebut kemudian dipadatkan dan dikeringkan hingga menjadi 75% dari bobot awal (Hertrampf dan Pascual, 2000). Oleh sebab itu protein DDGS lebih mudah dicerna oleh ikan. Setelah pakan mengalami proses pencernaan, nutrien yang terkandung di dalam pakan akan diserap oleh tubuh. Jumlah nutrien yang diserap dan disimpan di dalam tubuh ikan menunjukkan nilai retensi. Nilai retensi dinyatakan sebagai presentase dari nutrien yang disimpan di dalam tubuh (Halver dan Hardy, 2002). Pada penelitian ini dilakukan pengukuran retensi terhadap protein dan lemak. Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa retensi protein perlakuan DDGS 10% tidak berbeda nyata dengan perlakuan DDGS 0%, sedangkan perlakuan DDGS 20% dan DDGS 30% berbeda nyata (P<0,05; Lampiran 7). Nilai retensi protein semakin kecil dengan peningkatan DDGS sampai 30%. Menurut Suprayudi et al. (1999) dan Suprayudi et al. (2000) perbedaan retensi protein terjadi karena kualitas protein tidak sama, khususnya profil asam amino, sehingga berdampak pada tingginya selisih antara asam amino di dalam pakan dengan asam amino tubuh ikan. Benih ikan gurame yang kekurangan asam amino akan menggunakan protein tubuh untuk memenuhi kekurangan tersebut. Lim et al. (2009) menyatakan bahwa 40% DDGS dalam pakan juvenil channel catfish yang ditambahkan lisin dapat menggantikan kombinasi SBM (Soybean Meal) dan CM (Corn Meal), karena memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, kadar protein dan kadar abu tubuh ikan, serta kelangsungan hidup dibandingkan kontrol. Hal ini juga diperkuat oleh Lim et al. (2007) yang menyatakan bahwa 40% DDGS dalam pakan ikan nila dengan penambahan lisin terjadi peningkatan bobot tubuh dan efisiensi pakan yang sebanding dengan kontrol. Sementara itu retensi lemak berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa nilai retensi lemak semua perlakuan berbeda nyata (P<0,05; Lampiran 8). Lemak merupakan penyumbang energi paling besar dibandingkan dengan energi yang dikandung protein dan karbohidrat (NRC, 1993). Retensi lemak cenderung 12 meningkat dengan semakin banyaknya DDGS yang ditambahkan pada pakan perlakuan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penggunan DDGS sampai 40% pada pakan chanel catfish (Lim et al.,2009) dan pakan ikan nila (Lim et al., 2007) menunjukkan adanya peningkatan kandungan lemak di dalam tubuh ikan. Kekurangan asupan asam amino yang berasal dari pakan akan dipenuhi dari protein jaringan tubuh melalui proses katabolisme (Halver dan Hardy, 2002). Katabolisme merupakan proses penguraian suatu senyawa menjadi molekulmolekul kecil yang disertai dengan pelepasan energi. Kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk triasilgliserol di dalam jaringan adiposa (Lehningeret al., 2002), oleh karena itu penambahan DDGS akan berdampak pada peningkatan retensi lemak di dalam tubuh ikan. Pertumbuhan merupakan peningkatan korelasi berat tubuh dalam interval waktu tertentu (Watanabe, 1988). Pertumbuhan akan terjadi apabila terdapat kelebihan energi setelah digunakan untuk aktivitas biologis, seperti bernafas, berenang, proses metabolisme, dan perawatan (maintanance). Kelebihan energi tersebut akan digunakan untuk membangun jaringan baru yang berakibat pada pertumbuhan (Rosmawati, 2005). Hasil penelitian penambahan DDGS pada pakan ikan gurame ini menunjukkan adanya pertumbuhan pada ikan yang dipelihara. Hal ini terlihat dari peningkatan bobot tubuh, serta nilai laju pertumbuhan harian yang cukup besar pada semua perlakuan yaitu 2,82-2,91% (Tabel 5). Peningkatan bobot tubuh ikan dari awal sampai akhir pemeliharaan adalah sebesar 304-346% (Gambar 2). Hal ini menunjukkan pakan berbasis DDGS dapat dimanfaatkan serta memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ikan, yang dibuktikan dengan LPH setiap perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05; Lampiran 9). Hertrampf dan Pascual (2000) menyatakan bahwa secara umum DDGS dapat digunakan dalam pakan ikan sebanyak 10-35%. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) ikan gurame pada semua perlakuan ialah sebesar 100% (Tabel 5). Kelangsungan hidup 100% menandakan bahwa DDGS dapat digunakan sebagai sumber protein nabati dalam pakan ikan gurame. Selain itu, ikan juga berada dalam kondisi sehat dan lingkungan yang baik. 13 Efisiensi pakan merupakan persentase pertambahan bobot ikan dibagi dengan jumlah konsumsi pakan. Parameter ini digunakan untuk melihat seberapa efisien pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan pada kegiatan budidaya. Nilai efiseiensi pakan pada penelitian ini berkisar antara 64,52%-71,05%. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 5) diketahui bahwa efisiensi pakan perlakuan DDGS 10%, 20%, dan 30% tidak berbeda nyata dengan perlakuan DDGS 0% (P>0,05; Lampiran 11). Akan tetapi nilai efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan DDGS 20%. Kondisi ini disebabkan oleh JKP pada perlakuan DDGS 20% lebih rendah akan tetapi menghasilkan nilai LPH cukup tinggi, sehingga nilai efisiensi pakan menjadi lebih tinggi. 14 IV. KESIMPULAN Penggunaan jumlah DDGS sebagai sumber protein nabati dengan kadar yang berbeda pada pakan benih ikan gurame sampai 30% tidak memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup ikan. Penggunaan DDGS 20% memiliki nilai efisiensi pakan tertinggi. 15 PENGGUNAAN DISTILLERS DRIED GRAIN WITH SOLUBLES (DDGS) JAGUNG SEBAGAI SUMBER PROTEIN NABATI PAKAN BENIH IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. UPMAL DESWIRA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PENGGUNAAN DISTILLERS DRIED GRAIN WITH SOLUBLES (DDGS) JAGUNG SEBAGAI SUMBER PROTEIN NABATI PAKAN BENIH IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. UPMAL DESWIRA SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya Departeman Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul: PENGGUNAAN DISTILLERS DRIED GRAIN WITH SOLUBLES (DDGS) JAGUNG SEBAGAI SUMBER PROTEIN NABATI PAKAN BENIH IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini. Bogor, UPMAL DESWIRA C14070018 Judul Skripsi : Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Nama Mahasiswa : Upmal Deswira Nomor Pokok : C14070018 Disetujui, Pembimbing I Pembimbing II Dr. Mia Setiawati Dr. M. Agus Suprayudi NIP. 19641026 199203 2 001 NIP. 19650418 199103 1 003 Diketahui, Ketua Departemen Budidaya Perairan Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc NIP. 19591222 198601 1 001 Tanggal Lulus : KATA PENGANTAR Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2011. Semua kegiatan penelitian yang meliputi pembuatan pakan, analisis proksimat, dan pemeliharaan ikan dilakukan di Laboratorium Nutrisi Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame O. gouramy Lac.”, sebagai salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Mia Setiawati dan Bapak Dr. Muhammad. Agus Suprayudi sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi dan pengarahan selama penelitian dan penyusunan skripsi. Ibu Dr. Dinar Tri Soelistyowati, DEA yang telah bersedia menjadi dosen penguji tamu. Bapak Ir. Dadang Shafruddin, MS selaku Komisi Pendidikan Departemen Budidaya Perairan. Kemudian kepada Bapak Wasjan dan Ibu Retno atas bantuan dan bimbingannya selama di Laboratorium, Bapak Maryanta, Ibu Yuli, dan Bapak Asep atas bantuannya saat penulis mengurus administrasi studi. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ayah, ibu, kakak, dan seluruh keluarga tercinta atas doa dan dukungan yang diberikan. Keluarga BDP 44 khususnya anggota Lab.Nutrisi 2011 (Dina, Azis, Dilah, Asep, Feri, Gebi, Tina, Inyonk, Retno, Rido, dan Adit) dan Tim Asisten Enjinering 2011 (Vida, Ruly, Agus, Opik) serta Wildan, Tyas, Yunika, Mumun, dan Dijah atas dukungan dan bantuanya selama proses penelitian dan penyusunan skripsi. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Bogor, Januari 2012 Upmal Deswira DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Desa Pamuatan, Kab. Sawah Lunto Sijunjung, Prov. Sumatra Barat, pada tanggal 16 Desember 1989 dari pasangan Winaldi dan Irdawati (Almr). Penulis merupakan anak kedua dari dua orang bersaudara. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 3 Padang tahun 2007, penulis melanjutkan studi di IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selama masa perkuliahan, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Lapang sebagai anggota (2007-2009), Forum Keluarga Muslim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan sebagai anggota divisi Keputrian (2008-2009) dan sebagai sekretaris divisi Syiar (2009-2010). Penulis pernah menjadi asisten praktikum pada beberapa mata kuliah diantaranya, Dasar-dasar Akuakultur (2010-2011), Enginering Akuakultur (2010-2011), Nutrisi Ikan (2010-2011), dan Teknologi Produksi Plankton, Benthos dan Alga (2010-2011). Penulis pernah menjadi peserta Pekan Ilmiah Nasional XXIII Tahun 2010 di Universitas Mahasaraswati Denpasar, dengan bidang kegiatan PKM-M. Selain itu penulis juga pernah melakukan praktek lapang pembenihan udang galah Macrobrachium rosenbergii di Loka Riset Pemulian dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada bulan Juli-Agustus tahun 2010. Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan penulis dengan menulis skripsi berjudul “Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.”. ABSTRAK UPMAL DESWIRA. Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.. Dibimbing oleh MIA SETIAWATI dan MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI. Penelitan ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame O. gouramy Lac.. Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian kecernaan dan pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian kecernaan berupa References Diet (100% pakan kontrol) dan Test Diet (70% pakan kontrol dan 30% DDGS), sedangkan pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4 jenis pakan yaitu DDGS 0%, 10%, 20%, dan 30%. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali sehari secara at satiation. Ikan yang dipelihara pada penelitian ini adalah ikan gurame berukuran 4,72±0,78 g. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari di dalam akuarium berukuran 50x40x35 cm. Hasil pengujian menunjukkan kecernaan DDGS sebesar 70,10%. Dari pengujian pertumbuhan pakan berbasis DDGS sampai dengan 30% diperoleh hasil laju pertumbuhan harian 2,82-2,91%, kelangsungan hidup 100%, jumlah konsumsi pakan 139,07-159,22 g, dan efisiensi pakan 64,52-71,05% yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan kontrol, akan tetapi retensi protein pakan dengan DDGS 20% dan DDGS 30% yaitu 22,24% dan 16,29%,serta retensi lemak semua perlakuan 31,36-53,32% berbeda nyata dengan kontrol. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa Penggunaan jumlah DDGS sebagai sumber protein nabati dengan kadar yang berbeda pada pakan benih ikan gurame sampai 30% tidak memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup ikan. Penggunaan DDGS 20% memiliki nilai efisiensi pakan tertinggi. Kata kunci: DDGS, protein nabati, pakan, ikan gurame ABSTRACT UPMAL DESWIRA. The use of Maize Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) as source of vegetable protein feed for giant gouramy Osphronemus gouramy Lac. Juvenile. Guided by MIA SETIAWATI and MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI. This experiment was conducted to examine the effect of the use of DDGS as a source of vegetable protein on the growth of the giant gouramy O. gouramy Lac. juvenile. Feed is devided into two, the feed for testing of digestibility and testing of growth. The feed for testing of digestibility are References Diet (100% control of feed) and Test Diet (70% of control feed and 30% of DDGS), while the feed for testing of growth are 0%, 10%, 20%, and 30% DDGS. The fish were feed the experimental diet at satiation. Giant gouramy be used in this research have weight 4.72±0.78 g. Culture of fish conducted during 40 days in the aquarium sized 50x40x35 cm. Test of growth from DDGS up to 30% showed no significant difference (P>0.05) in daily growth rate (2.82 to 2.91%), survival rate (100%), feed consumptions (139.07-159.22 g), and feed efficiency (64.52-71.05%). Whereas, protein retention (16.29 to 25.02%), lipid retention (31.36 to 53.52%) are significantly different with control. It is conclude that the use of DDGS as the source of vegetable protein with various consentration on the feed of giant gouramy until 30% didn’t affect the daily growth rate, survival rate, and feed consumptions. The highest feed efficiency of DDGS treatment is 20%. Key word: DDGS, vegetable protein, feed, giant gouramy DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .............................................................................................. DAFTAR TABEL...................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. I. PENDAHULUAN ............................................................................... II. BAHAN DAN METODE................................................................... 2.1 Pakan Penelitian ........................................................................... 2.2 Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data .................................. 2.3 Pengujian Kecernaan .................................................................... 2.4 Analisis Proksimat ........................................................................ 2.5 Parameter yang Diukur ................................................................. 2.5.1 Jumlah Konsumsi Pakan (JKP) ........................................... 2.5.2 Laju Pertumbuhan Harian ................................................... 2.5.3 Efisiensi Pakan (EP) ............................................................ 2.5.4 Kelangsungan Hidup (SR) .................................................. 2.5.5 Kecernaan Bahan................................................................. 2.5.6 Retensi Protein .................................................................... 2.5.7 Retensi Lemak ..................................................................... 2.6 Analisis Statistik ........................................................................... i ii iii iv 1 3 3 5 6 6 6 6 6 7 7 7 8 8 8 III. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 3.1 Hasil ............................................................................................... 3.2 Pembahasan ................................................................................... 9 9 11 IV. KESIMPULAN .................................................................................. 15 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 16 LAMPIRAN ............................................................................................... 18 i DAFTAR TABEL Halaman 1. Hasil analisis proksimat bahan baku pakan ........................................... 3 2. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan (%)................................................................................................... 4 3. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian pertumbuhan (%) ........................................................................................... 4 4. Hasil perlakuan uji kecernaan DDGS pada ikan gurame ....................... 9 5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), laju pertumbuhan harian (LPH), kelangsungan hidup (SR), dan efisiensi pakan (EP) ikan gurame selama perlakuan .............................. 10 ii DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Tata letak wadah dan perlakuan ............................................................ 5 2. Peningkatan bobot rata-rata ikan gurame yang diberi pakan perlakuan DDGS dengan kadar yang berbeda. ...................................................... 9 iii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Prosedur analisis Cr2O3 ......................................................................... 19 2. Prosedur analisis proksimat................................................................... 20 3. Data jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan harian (LPH), kelangsungan hidup (SR), dan efisiensi pakan (EP)............................. 24 4. Data retensi protein ikan uji .................................................................. 25 5. Data retensi lemak pakan uji ................................................................. 26 6. Hasil analisis statistik jumlah konsumsi pakan (JKP)........................... 27 7. Hasil analisis statistik retensi protein (RP) ........................................... 27 8. Hasil analisis statistik retensi lemak (RL) ............................................. 27 9. Hasil analisis statistik laju pertumbuhan harian (LPH)......................... 28 10. Hasil analisis statistik kelangsungan hidup (SR) .................................. 29 11. Hasil analisis statistik efisiensi pakan (EP) ........................................... 29 iv I. PENDAHULUAN Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi suatu kegiatan budidaya ikan, yaitu sekitar 49-89% (Suprayudi, 2010). Pakan yang digunakan harus memenuhi kebutuhan nutrien ikan yang dipelihara. Nutrien tersebut meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Protein sebagai sumber nutrien utama dalam pakan, memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan sumber nutrien lainnya. Sumber protein yang paling utama pada pakan ikan yaitu tepung ikan dan tepung bungkil kedelai. Tepung bungkil kedelai adalah salah satu sumber protein nabati yang bergizi tinggi, karena mengandung asam amino yang relatif seimbang dan memiliki nilai kecernaan yang tinggi (Hertrampf dan Pascual, 2000). Menurut Maina et al. (2002) tepung bungkil kedelai pada kadar air 10,90% memiliki kandungan protein sebesar 43,20%, lemak 2%, kadar abu 6,50%, dan serat kasar sebesar 4,60%. Keunggulan yang dimiliki tepung bungkil kedelai tersebut menjadikan bahan ini sebagai sumber protein nabati utama dalam pakan ikan, akibatnya harga tepung bungkil kedelai menjadi mahal, selain itu ketergantungan yang cukup besar terhadap tepung bungkil kedelai ini dalam jangka panjang akan berdampak pada kelangkaan dan kenaikan harga yang signifikan akibat permintaan yang semakin tinggi. Oleh karena itu diperlukan sumber protein alternatif yang bisa mengurangi bahkan menggantikan penggunaan tepung bungkil kedelai pada pakan ikan. Kriteria yang harus dipenuhi oleh bahan pakan alternatif tersebut yaitu memiliki nutrien yang dibutuhkan ikan, tidak berkompetisi dengan manusia, berbasis limbah, tidak mengandung material berbahaya, harga lebih murah, serta tersedia dalam jumlah besar dan kontinyu (Suprayudi, 2010). Salah satu bahan baku yang memenuhi kriteria tersebut adalah DDGS (Distillers Dried Grain with Solubles). DDGS merupakan salah satu produk sampingan (limbah) dari industri penyulingan etanol. DDGS ini berbahan dasar dari gandum, jagung, sorgum, gandum hitam, dan campuran dari beberapa bahan tersebut, akan tetapi sebagian besar berbahan dasar jagung (Hertrampf dan Pascual, 2000). DDGS diperoleh setelah jagung yang telah digiling dan difermentasikan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae mengalami proses destilasi. 1 Residu tersebut kemudian dipadatkan dan dikeringkan hingga menjadi 75% dari bobot awal. Kandungan protein, lemak, abu, dan serat kasar DDGS pada kadar air 9,2% secara berturut-turut yaitu sebesar 27,8%, 10%, 4,7%, dan 10,9% (Hertrampf dan Pascual, 2000). Oleh karena itu DDGS diduga dapat digunakan sebagai sumber protein nabati alternatif untuk mengurangi penggunaan tepung bungkil kedelai di dalam pakan ikan. Penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati telah diujikan pada beberapa jenis ikan, diantaranya chanel catfish, ikan nila, ikan kerapu bebek, dan ikan mas, sehingga diperoleh jumlah optimal DDGS dalam pakan. Penggunaan DDGS pada pakan ikan chanel catfish (Lim et al., 2009) dan ikan nila (Lim et al., 2007) sebanyak 40%, ikan kerapu bebek penggunaan DDGS dan Hominy feed sebanyak 10% (Abidin, 2011), dan ikan mas sebanyak 25% DDGS (Silmina, 2011). Ikan gurame merupakan ikan omnivor cenderung herbivor, sehingga diduga dapat memanfaatkan pakan yang megandung serat kasar cukup tinggi. Oleh karena itu penggunaan DDGS dalam formulasi pakan diharapkan dapat mengurangi penggunaan tepung bungkil kedelai dalam pakan ikan. Penelitan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame Osphronemus gouramy Lac.. 2 II. BAHAN DAN METODE 2.1 Pakan Penelitian Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian kecernaan dan pakan untuk pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian kecernaan dibuat berdasarkan metode kecernaan bahan yang dikemukakan Watanabe (1988) yang terdiri dari pakan acuan (References Diet/RD) yaitu 100% pakan kontrol dan pakan uji (Test diet/RD) yaitu 70% pakan kontrol dan 30% bahan yang akan diuji (DDGS). Pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4 jenis pakan yaitu dengan kadar penambahan DDGS yang berbeda 0%, 10%, 20%, dan 30%. Bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan penelitian terlebih dahulu dianalisis proksimat untuk mengetahui kandungan nutrisinya. Hasil analisis bahan baku pakan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil analisis proksimat bahan baku pakan Bahan Tepung Ikan Tepung bungkil kedelai DDGS Pollard Kadar Proksimat Bahan Kering (%) Protein Lemak Abu BETN 62,38 6,85 26,45 3,29 49,80 2,17 7,26 37,69 27,77 9,57 5,73 48,52 14,41 3,46 4,00 69,95 Berdasarkan Tabel 1 diketahui hasil analisis proksimat bahan baku pakan berupa kandungan protein, lemak, abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Tepung ikan, tepung bungkil kedelai, dan DDGS memiliki kandungan protein di atas 20%, sehingga dijadikan sebagai sumber protein pakan. Sedangkan pollard menjadi sumber karbohidrat pakan. DDGS dan tepung bungkil kedelai selain sebagai sumber protein juga menjadi sumber karbohidrat. Kemudian sumber lemak pakan berasal dari DDGS dan tepung ikan. Setelah diketahui analisis proksimat bahan baku, selanjutnya dibuat formulasi pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrien ikan uji dan perlakuan yang diberikan. Pakan yang telah dibuat dianalis proksimat. Komposisi dan analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan dan pertumbuhan disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3. 3 Tabel 2. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan (%) Komposisi References Diet (RD) Pakan kontrol 96,5 DDGS 0 Binder (Tepung Sagu) 3 Cr2O3 0,5 Total 100 Hasil Analisis Proksimat dalam bobot kering Lemak 12,35 Protein 42,08 Kadar Abu 9,07 Serat Kasar 5, 31 BETN 31,19 (1) GE (kkal/kg) 4796,25 C/P (kkal/g)(2) 11,4 Test Diet (TD) 66,5 30 3 0,5 100 12,03 39,24 10,27 6,71 31,76 4630,28 11,8 Keterangan: (1) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1 kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC, 1993) (2) Rasio energi/protein Tabel 3. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian pertumbuhan (%) Penggunaan DDGS (%) 0 10 20 Tepung Ikan 36,21 36,21 36,21 Tepung bungkil kedelai 17,50 10,72 6,72 DDGS 0,00 10,00 20,00 Pollard 32,59 29,77 24,34 (1) Minyak 10,60 10,20 9,63 Premix 1,10 1,10 1,10 Binder (Tepung Sagu) 2 2 2 Total 100,00 100,00 100,00 Hasil analisis proksimat dalam bobot kering Lemak 13,58 14,92 14,47 Protein 41,35 39,63 39,18 Kadar Abu 10,35 8,74 9,53 Serat Kasar 4,89 6,56 4,81 BETN 29,82 30,15 32,01 GE (kkal/kg)(2) 4814,98 4858,35 4866,88 C/P (kkal/g)(3) 11,6 12,3 12,4 Komposisi 30 36,21 2,72 30,00 18,87 9,10 1,10 2 100,00 15,59 40,32 8,96 4,42 30,71 4982,74 12,4 Keterangan: (1) Minyak ikan : minyak jagung = 5,8 : 9, (2) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1 kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC, 1993) (3) Rasio energi/protein Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat komposisi pakan uji mengandung DDGS 0% sampai 30% yang diikuti dengan pengurangan proporsi tepung bungkil kedelai sebagai sumber protein nabati dan Pollard sebagai sumber karbohidrat. 4 Kemudian untuk sumber dan jumlah protein hewani, minyak, dan premix dalam komposisi pakan uji disamakan. Pakan penelitian yang digunakan memiliki energi sebesar 4814,98-4982,74 kkal/kg dan kadar protein sebesar 39,18-41,35% sehingga diperoleh rasio energi dengan protein yaitu sebesar 11,6-12,4. 2.2 Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data Ikan yang dipelihara pada penelitian ini berupa benih ikan gurame berukuran 4,72±0,78 g per ekor yang berasal dari Cikupa, Kabupaten Bogor. Pemeliharaan ikan dilakukan dalam 14 akuarium berukuran 50x40x35 cm, dengan kepadatan 10 ekor per akuarium. Ikan diadaptasikan terhadap lingkungan selama 21 hari. Setelah itu ikan dipuasakan selama 1 hari sebelum dilakukan penimbangan bobot awal. Selama kegiatan pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 75% setiap dua hari sekali. Selain itu juga dilakukan penyifonan sebanyak 3 kali sehari yaitu sebelum pemberian pakan. Kemudian untuk menjaga kestabilan suhu dipasang water heater thermostat pada setiap akuarium. Pakan diberikan sebanyak 3 kali sehari secara at satiation. Pakan yang akan diberikan ditimbang terlebih dahulu supaya dapat dihitung jumlah konsumsi pakan (JKP) pada akhir pemeliharaan. Ikan dipelihara selama 40 hari dan dilakukan sampling pertumbuhan berupa pengukuran bobot pada awal dan akhir pemeliharaan. Pengukuran kualitas air berupa suhu dilakukan setiap hari. Tata letak wadah dan perlakuan disajikan pada Gambar 1. C3 B1 A1 A3 B2 K1 K3 A2 B3 TD RD C1 K2 C2 S T Keterangan: K= Pakan 0% DDGS, A= pakan 10% DDGS, B= pakan 20% DDGS, C= pakan 30% DDGS, TD= Test Diet, RD = References Diet, S= stok dan T= tandon, 1,2,3= ulangan Gambar 1. Tata letak wadah dan perlakuan. 5 2.3 Pengujian Kecernaan Pengujian kecernaan dilakukan untuk mengetahui kecernaan bahan DDGS. Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan feses pada hari ke-6 setelah ikan diberi pakan untuk pengujian kecernaan (Pakan RD dan TD). Feses ikan dikumpulkan selama 2 minggu pemeliharaan. Selama kurun waktu tersebut feses disimpan pada botol film yang diletakkan di dalam lemari pendingin. Feses yang telah terkumpul dikeringkan di oven pada suhu 110°C selama 6 jam. Selanjutnya dilakukan analisis kandungan protein dan Cr 2O3 (Lampiran 1). Pengukuran kadar Cr2O3 dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer (panjang gelombang 350 nm). 2.4 Analisis Proksimat Analisis proksimat dilakukan terhadap bahan baku pakan, pakan uji, ikan uji, dan feses. Analisis proksimat untuk kadar air menggunakan metode pemanasan dalam oven bersuhu 105-110°C, serat kasar menggunakan metode pelarutan sampel dengan asam kuat, basa kuat, dan pemanasan, protein kasar menggunakan metode Kjeldahl, lemak kering dengan metode Soxhlet, lemak basah dengan metode Folch, dan kadar abu dengan pemanasan dalam tanur bersuhu 600°C (Watanabe, 1988). Metode analisis proksimat dijelaskan pada Lampiran 2. 2.5 Parameter yang Diukur 2.5.1 Jumlah Konsumsi Pakan (JKP) Jumlah konsumsi pakan (JKP) diketahui setelah kegiatan pemeliharaan selesai. Nilai JKP diperoleh dengan cara mengurangi total pakan yang diberikan pada ikan selama pemeliharan dengan sisa pakan yang tidak termakan. 2.5.2 Laju Pertumbuhan Harian (LPH) Laju pertumbuhan harian ikan uji dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Halver (1989), yaitu: 6 Keterangan: Α = Laju pertumbuhan harian (LPH) Wt = Rata-rata bobot individu pada waktu akhir pemeliharaan (g) Wo = Rata-rata bobot individu pada waktu awal pemeliharaan (g) T = Lama waktu pemeliharaan (hari) 2.5.3 Efisiensi Pakan (EP) Efisiensi pakan dihitung dengan menggunakan persamaan yang (SR) diperoleh berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Steffens (1989), yaitu: EP = {[(Wt + D) – Wo] / F} × 100% Keterangan: EP = Efisiensi Pakan (%) F = Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan (g) Wt = Biomassa ikan pada waktu akhir pemeliharaan (g) Wo = Biomassa ikan pada awal pemeliharaan (g) D = Bobot ikan yang mati selama pemeliharaan (g) 2.5.4 Kelangsungan Hidup (SR) Kelangsungan hidup dikemukakan oleh Zonneveld et al. (1991), yaitu: SR = [Nt / No] x 100% Keterangan: SR = Survival Rate Nt = Jumlah ikan pada akhir pemeliharaan No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan 2.5.5 Kecernaan Bahan Kecernaan total dan kecernaan protein dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988) dan NRC (1993), yaitu: Kecernaan total = 100 - [100 × b/b’] Kecernaan protein = [1 - a’/a × b/b’] × 100 Keterangan: a = % protein dalam pakan a’ = % protein dalam feses b = % Cr2O3 dalam pakan b’ = % Cr2O3 dalam feses 7 Nilai kecernaan masing-masing bahan uji yang digunakan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988), yaitu: Kecernaan bahan = (ADT – 0,7 AD) / 0,3 Keterangan: ADT = nilai kecernaan pakan uji AD = nilai kecernaan pakan acuan 2.5.6 Retensi Protein Nilai retensi protein dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988), yaitu: RP = [(F-I)/P] x 100% Keterangan : RP = Retensi protein (%) F = Jumlah protein tubuh ikan pada akhir pemeliharaan (g) I = Jumlah protein tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g) P = Jumlah protein yang dikonsumsi ikan (g) 2.5.7 Retensi Lemak Nilai retensi lemak dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988), yaitu: RL = [(F-I)/L] x 100% Keterangan: RL = Retensi lemak (%) F = Jumlah lemak tubuh ikan pada akhir pemeliharaan (g) I = Jumlah lemak tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g) L = Jumlah lemak yang dikonsumsi ikan (g) 2.6 Analisis Statistik Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPSS 16.0. Dilakukan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%. Kemudian untuk melihat perbedaan perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan. 8 III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil pengujian kecernaan berupa kecernaan total dan protein dari pakan dan DDGS pada ikan gurame disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil perlakuan uji kecernaan DDGS pada ikan gurame Perlakuan RD TD Kecernaan Total (%) 63,95 61,31 Kecernaan Protein (%) 84,42 84,70 Kecernaan Total DDGS (%) Kecernaan Protein DDGS (%) 55,16 85,35 Kecernaan total DDGS pada ikan gurame berdasarkan Tabel 4 diketahui sebesar 55,16% dan kecernaan protein DDGS sebesar 85,35%. Nilai kecernaan total dan protein dari DDGS ini diperoleh setelah dilakukan perhitungan terhadap kecernaan total dan protein pakan perlakuan. Nilai kecernaan total RD adalah sebesar 63,95% sedangkan nilai kecernaan total TD sebesar 61,31%. Kemudian untuk kecernaan protein RD dan TD secara berurutan adalah sebesar 84,42% dan 84,70%. Penambahan DDGS pada pakan uji dengan kadar yang berbeda yaitu 0%, 10%, 20%, dan 30% yang diberikan selama 40 hari, menunjukkan pertumbuhan ikan gurame. Hal ini ditandai dengan peningkatan bobot ikan gurame pada setiap Bobot rata-rata ikan (gram) perlakuan. Peningkatan bobot tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. 20,00 18,00 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 16,72 4,74 4,71 0 14,61 14,41 14,37 4,64 10 4,82 20 30 Perlakuan (%) Bobot rata-rata awal (gram) Bobot rata-rata akhir (gram) Gambar 2. Peningkatan bobot rata-rata ikan gurame yang diberi pakan perlakuan DDGS dengan kadar yang berbeda. 9 Peningkatan bobot ikan gurame berdasarkan Gambar 2 menunjukkan perlakuan DDGS 30% memiliki nilai peningkatan yang paling besar dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar 346%, sehingga bobot akhir ratarata ikan gurame menjadi 16,72 gram. Kemudian untuk ketiga perlakuan lainnya yaitu perlakuan DDGS 0%, 10%, dan 20% secara berturut-turut terjadi peningkatan bobot tubuh ikan sebesar 305%, 304%, dan 315%. Tabel 5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), laju pertumbuhan harian (LPH), kelangsungan hidup (SR), dan efisiensi pakan (EP) ikan gurame selama perlakuan Parameter Uji JKP (gram) RP (%) RL (%) LPH (%) SR (%) EP (%) 0 141,08 ± 4,41a 25,02 ± 1,71a 31,36 ± 0,05c 2,82 ± 0,20a 100 ± 0,00a 68,36 ± 4,45ab Penggunaan DDGS (%) 10 20 a 139,07 ± 6,77 140,06 ± 16,42a 23,07 ± 0,88ab 22,24 ± 1,12b b 47,28 ± 0,38 52,26 ± 1,30a 2,82 ± 0,15a 2,90 ± 0,32a a 100 ± 0,00 100 ± 0,00a 69,46 ± 2,16ab 71,05 ± 2,08a 30 159,22 ± 21,15a 16,29 ± 1,05c 53,32 ± 1,30a 2,91 ± 0,29a 100 ± 0,00a 64,52 ± 2,02b Keterangan: Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata ± standar deviasi. Huruf super skrip yang sama dalam satu baris menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Data selengkapnya disajikan pada Lampiran 3-5. Kemudian untuk analisis statistik pada Lampiran 6-11. Tabel 5 menunjukkan penggunaan DDGS pada pakan dengan kadar yang berbeda memberikan pengaruh jumlah konsumsi pakan yang tidak berbeda nyata dengan kontrol (DDGS 0%), demikian juga dengan laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup (P>0,05). Efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan DDGS 20%, sedangkan efisiensi pakan terendah pada perlakuan DDGS 30% (P>0,05) . Nilai retensi menggambarkan banyaknya protein dan lemak yang tersimpan di dalam tubuh ikan uji. Nilai retensi protein DDGS 10% tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P>0,05), namun perlakuan DDGS 20% dan DDGS 30% berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P<0,05). Berdasarkan Tabel 5 juga diketahui nilai retensi protein semakin menurun dengan semakin besarnya penambahan DDGS pada pakan, yaitu kontrol (DDGS 0%) memiliki nilai retensi protein tertinggi dan nilai retensi protein terendah pada perlakuan DDGS 30%. Sebaliknya, nilai retensi lemak semakin tinggi dengan semakin besarnya jumlah 10 DDGS pada pakan serta nilai retensi lemak semua perlakuan berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P<0,05). 3.2 Pembahasan Hasil penelitian penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati pada pakan benih ikan gurame menunjukkan peningkatan kinerja pertumbuhan ikan yang meliputi retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan harian, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan (Tabel 5). Jumlah konsumsi pakan menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata untuk setiap perlakuan (P>0,05; Lampiran 6). Hal ini menandakan bahwa pakan memiliki nilai palatabilitas dan energi yang relatif sama yaitu sekitar 4814,98-4982,74 kkal/kg pakan. Palatabilitas merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan tingkat konsumsi pakan. Menurut NRC (1993) palatabilitas dipengaruhi oleh bau,warna, ukuran, dan rasa. Pakan yang dimakan kemudian akan dicerna menjadi komponen yang lebih sederhana sehingga dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Nilai kecernaan pakan menggambarkan bahwa nutrien dan energi dari pakan yang diberikan dapat diserap dan tidak diekskresikan melalui feses. Faktor yang mempengaruhi kecernaan yaitu sifat kimia air, suhu air, jenis pakan, ukuran dan umur ikan, kandungan gizi pakan, frekuensi pemberian pakan, sifat fisika dan kimia pakan, serta jumlah dan macam enzim pencernaan yang terdapat disaluran pencernaan ikan (NRC, 1993). Berdasarkan Tabel 4 diketahui kecernaan total DDGS pada benih ikan gurame yaitu sebesar 55,16%. Kecernaan total menggambarkan kecernaan nutrien sumber energi. Rendahnya kecernaan total DDGS disebabkan oleh serat kasar yang cukup tinggi yaitu sebesar 10,9% (Hertrampf dan Pascual, 2000). Serat kasar merupakan unsur tanaman yang tidak dapat dicerna seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, pentosan, dan karbohidrat kompleks lainnya yang ditemukan dalam bahan pakan (NRC, 1993). Kandungan serat kasar dalam jumlah sedikit dapat meningkatkan gerak peristaltik usus, namun apabila jumlahnya berlebih maka penyerapan makanan menjadi tidak efisien (Guillaume et al., 1999). Sementara itu kecernaan protein dari DDGS cukup tinggi yaitu sebesar 85,35% (Tabel 4). Hal ini diduga disebabkan oleh sebagian protein dari DDGS 11 berasal dari ragi Saccharomyces cerevisiae yang merupakan protein sel tunggal, karena DDGS diperoleh setelah jagung yang telah digiling dan difermentasikan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae mengalami proses destilasi. Residu tersebut kemudian dipadatkan dan dikeringkan hingga menjadi 75% dari bobot awal (Hertrampf dan Pascual, 2000). Oleh sebab itu protein DDGS lebih mudah dicerna oleh ikan. Setelah pakan mengalami proses pencernaan, nutrien yang terkandung di dalam pakan akan diserap oleh tubuh. Jumlah nutrien yang diserap dan disimpan di dalam tubuh ikan menunjukkan nilai retensi. Nilai retensi dinyatakan sebagai presentase dari nutrien yang disimpan di dalam tubuh (Halver dan Hardy, 2002). Pada penelitian ini dilakukan pengukuran retensi terhadap protein dan lemak. Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa retensi protein perlakuan DDGS 10% tidak berbeda nyata dengan perlakuan DDGS 0%, sedangkan perlakuan DDGS 20% dan DDGS 30% berbeda nyata (P<0,05; Lampiran 7). Nilai retensi protein semakin kecil dengan peningkatan DDGS sampai 30%. Menurut Suprayudi et al. (1999) dan Suprayudi et al. (2000) perbedaan retensi protein terjadi karena kualitas protein tidak sama, khususnya profil asam amino, sehingga berdampak pada tingginya selisih antara asam amino di dalam pakan dengan asam amino tubuh ikan. Benih ikan gurame yang kekurangan asam amino akan menggunakan protein tubuh untuk memenuhi kekurangan tersebut. Lim et al. (2009) menyatakan bahwa 40% DDGS dalam pakan juvenil channel catfish yang ditambahkan lisin dapat menggantikan kombinasi SBM (Soybean Meal) dan CM (Corn Meal), karena memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, kadar protein dan kadar abu tubuh ikan, serta kelangsungan hidup dibandingkan kontrol. Hal ini juga diperkuat oleh Lim et al. (2007) yang menyatakan bahwa 40% DDGS dalam pakan ikan nila dengan penambahan lisin terjadi peningkatan bobot tubuh dan efisiensi pakan yang sebanding dengan kontrol. Sementara itu retensi lemak berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa nilai retensi lemak semua perlakuan berbeda nyata (P<0,05; Lampiran 8). Lemak merupakan penyumbang energi paling besar dibandingkan dengan energi yang dikandung protein dan karbohidrat (NRC, 1993). Retensi lemak cenderung 12 meningkat dengan semakin banyaknya DDGS yang ditambahkan pada pakan perlakuan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penggunan DDGS sampai 40% pada pakan chanel catfish (Lim et al.,2009) dan pakan ikan nila (Lim et al., 2007) menunjukkan adanya peningkatan kandungan lemak di dalam tubuh ikan. Kekurangan asupan asam amino yang berasal dari pakan akan dipenuhi dari protein jaringan tubuh melalui proses katabolisme (Halver dan Hardy, 2002). Katabolisme merupakan proses penguraian suatu senyawa menjadi molekulmolekul kecil yang disertai dengan pelepasan energi. Kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk triasilgliserol di dalam jaringan adiposa (Lehningeret al., 2002), oleh karena itu penambahan DDGS akan berdampak pada peningkatan retensi lemak di dalam tubuh ikan. Pertumbuhan merupakan peningkatan korelasi berat tubuh dalam interval waktu tertentu (Watanabe, 1988). Pertumbuhan akan terjadi apabila terdapat kelebihan energi setelah digunakan untuk aktivitas biologis, seperti bernafas, berenang, proses metabolisme, dan perawatan (maintanance). Kelebihan energi tersebut akan digunakan untuk membangun jaringan baru yang berakibat pada pertumbuhan (Rosmawati, 2005). Hasil penelitian penambahan DDGS pada pakan ikan gurame ini menunjukkan adanya pertumbuhan pada ikan yang dipelihara. Hal ini terlihat dari peningkatan bobot tubuh, serta nilai laju pertumbuhan harian yang cukup besar pada semua perlakuan yaitu 2,82-2,91% (Tabel 5). Peningkatan bobot tubuh ikan dari awal sampai akhir pemeliharaan adalah sebesar 304-346% (Gambar 2). Hal ini menunjukkan pakan berbasis DDGS dapat dimanfaatkan serta memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ikan, yang dibuktikan dengan LPH setiap perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05; Lampiran 9). Hertrampf dan Pascual (2000) menyatakan bahwa secara umum DDGS dapat digunakan dalam pakan ikan sebanyak 10-35%. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) ikan gurame pada semua perlakuan ialah sebesar 100% (Tabel 5). Kelangsungan hidup 100% menandakan bahwa DDGS dapat digunakan sebagai sumber protein nabati dalam pakan ikan gurame. Selain itu, ikan juga berada dalam kondisi sehat dan lingkungan yang baik. 13 Efisiensi pakan merupakan persentase pertambahan bobot ikan dibagi dengan jumlah konsumsi pakan. Parameter ini digunakan untuk melihat seberapa efisien pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan pada kegiatan budidaya. Nilai efiseiensi pakan pada penelitian ini berkisar antara 64,52%-71,05%. Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 5) diketahui bahwa efisiensi pakan perlakuan DDGS 10%, 20%, dan 30% tidak berbeda nyata dengan perlakuan DDGS 0% (P>0,05; Lampiran 11). Akan tetapi nilai efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan DDGS 20%. Kondisi ini disebabkan oleh JKP pada perlakuan DDGS 20% lebih rendah akan tetapi menghasilkan nilai LPH cukup tinggi, sehingga nilai efisiensi pakan menjadi lebih tinggi. 14 IV. KESIMPULAN Penggunaan jumlah DDGS sebagai sumber protein nabati dengan kadar yang berbeda pada pakan benih ikan gurame sampai 30% tidak memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup ikan. Penggunaan DDGS 20% memiliki nilai efisiensi pakan tertinggi. 15 DAFTAR PUSTAKA Abidin H. 2011. Penggunaan Distillers Dried Grains With Solubles (DDGS) dan Hominy feed pada pakan ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut pertanian Bogor. Guillaume J, Kaushik S, Bergot P, Metailler R. 1999. Nutrition and Feeding of Fish and Crustaceans. Springer-Praxia Book in Aquaculture and Fisheries, UK. Halver JE, 1989. Fish Nutrition. Second Edition. Academy Press Inc, New York. Halver JE, Hardy RW. 2002. Fish Nutrition.Third Edition. Academy Press Inc, New York. Hertrampf JW, Pascual FP. 2000. Handbook on Ingredients for Aquaculture Feed. Kluwer Academic Publishers, London. Lehninger AL. 2002. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Maggy Thenawijaya, penerjemah. Jakarta, Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. Lim C, Aksoy MY, Klesius PH. 2009. Growth response and resistance to Edwardsiella ictaluri of channel catfish (Ictalurus punctatus) fed diets containing distiller’s dried grains with solubles. World Aquaculture Society 40,182-193. Lim C, Garcia JC, Aksoy MY, Klesius PH, Shoemaker CA, Evans JJ. 2007. Growth response and resistance to Streptococcus iniae of Nile tilapia, Oreochromis niloticus, fed diets containing distiller’s dried grains with solubles. Journal of the World Aquaculture Society 38, 231–237. Maina JG, Beames RM, Higgs D, Mbuguana PN, Iwama G, Kisian SM. 2002. Digestibility and feeding value of some feed ingredients fed to tilapia Oreochromis niloticus (L.). Aquaculture Research 33, 853-862. National Research Council (NRC). 1993. Nutrient Requirements of Fish. National Academy of Sciences, Washington DC. Rosmawati. 2005. Hidrolisa pakan buatan oleh enzim pepsin dan pangkreatin untuk meningkatkan daya cerna dan pertumbuhan benih ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac.) [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Silmina D. 2011. Pemanfaatan Distillers Dried Grains With Solubles (DDGS) pada pakan terhadap pertumbuhan ikan mas Cyprinus carpio [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut pertanian Bogor. 16 Steffens W, 1989. Principle of fish Nutrition. Ellis Horwood Limited, England. Suprayudi MA, Bintang M, Takeuchi T, Mokoginta I, Sutardi T. 1999. Defatted soybean meal as an alternative source to subtitute fish meal in the feed of giant gouramy Osphronemus gouramy Lac..Suisanzoshoku 47, 551-557. Suprayudi MA, Takeuchi T, Mokoginta I, Kartikasari AT. 2000. The effect of aditional arginine in the high defated soybean meal diet on the growth of giant gouramy Osphronemus gouramy Lac. Fisheries Science 66, 807-811. Suprayudi MA. 2010. Bahan baku pakan lokal: tantangan dan harapan aquaculture indonesia. Abstrak. Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur III. IPB International Covention Center, Bogor, 07 Oktober 2010, 31 Watanabe T, 1988. Fish Nutrition and Mariculture. Department of Aquatic Biosience. Tokyo University of Fisheries, JICA. 17 LAMPIRAN 18 Lampiran 1. Prosedur analisis Cr2O3 Bahan ditimbang 0,1 g Dimasukkan dalam Labu Kjeldahl Ditambahkan 5 ml HNO3 Dipanaskan hingga larutan tersisa ± 1 ml Didinginkan Ditambahkan 3 ml HClO4 Dipanaskan kembali hingga berwarna jingga Didinginkan Diencerkan hingga volume 100 ml Diukur nilai absorban bahan dengan spektrofotometer λ = 350 nm (Y) Persamaan hubungan Cr2O3 dengan absorbansi adalah sebagai berikut: y = 0,2089x + 0,0032 Keterangan: x = Cr2O3 (mg) y = nilai absorbansi 19 Lampiran 2. Prosedur analisis proksimat Lampiran 2.1. Prosedur analisis kadar air Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator, dan timbang (X1) Bahan ditimbang 2-3 g (A), lalu dimasukkan ke dalam cawan Cawan dan bahan dipanaskan selama 4 jam pada suhu 105110oC, didinginkan dan ditimbang (X2) 20 Lampiran 2.2. Prosedur analisis kadar serat kasar Bahan ditimbang 0,5 g (A), lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml Ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N lalu dipanaskan di atas hotplate Kertas saring dipanaskan dalam oven, didinginkan, dan ditimbang (X1) Kertas saring dipanaskan pada labu Buchner yang telah terhubung dengan vacuum pump Setelah 30 menit ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N, lalu dipanaskan kembali selama 30 menit Dilakukan penyaringan larutan bahan dengan pembilasan secara berurutan sebagai berikut: 50 ml air panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml air panas, dan 25 ml Aceton. Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, lalu didinginkan Kertas saring hasil penyaringan dimasukkan ke dalam cawan porselen Dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, didinginkan, dan ditimbang (X2) Dipanaskan dalam tanur pada suhu 600oC hingga berwarna putih, didinginkan, dan ditimbang (X3) 21 Lampiran 2.3. Prosedur analisis kadar protein Tahap oksidasi Bahan ditimbang 0,5 g (A) Katalis ditimbang 3 g H2SO4 pekat 10 ml Dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl dan dipanaskan hingga berwarna hijau bening, didinginkan, dan diencerkan hingga volume 100 ml Tahap destruksi 10 ml H2SO4 0,05 N 5 ml larutan hasil oksidasi dimasukkan ke dalam labu destilasi 2-3 tetes indikator Phenolphthalein Dimasukkan ke dalam erlenmeyer Didestruksi selama 10 menit dari tetesan pertama Tahap Titrasi Hasil destruksi dititrasi dengan NaOH 0,05 N BLANKO Dititrasi hingga 1 tetes setelah larutan menjadi bening SAMPEL ml titran dicatat (V) Keterangan: Vb = ml 0,05 N titran NaOH untuk blanko Vs = ml 0,05 N titran NaOH untuk sampel A = bobot sampel (g) * = setiap 0,05 NaOH ekivalen dengan 0,0007 g N ** = Faktor nitrogen 22 Lampiran 2.4. Prosedur analisis kadar lemak Labu dipanaskan pada suhu 104-110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator, dan timbang (X1) Bahan ditimbang 2-3 g (A) lalu dimasukkan ke dalam selongsong Dimasukkan ke dalam tabung Soxhlet dan beri 100-150 ml N-Hexan hingga selongsong terendam. Sisa N-Hexan dimasukkan ke dalam labu Labu dipanaskan di atas hotplate hingga larutan perendam selongsong dalam Soxhlet berwarna bening Labu dan lemak yang tersisa dipanaskan dalam oven selama 15 menit, didinginkan, lalu ditimbang (X2) Lampiran 2.5. Prosedur analisis kadar abu Cawan dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator, dan ditimbang (X1) Bahan ditimbang 2-3 g (A), lalu dimasukkan ke dalam cawan Cawan dan bahan dipanaskan di dalam tanur dengan suhu 600oC, didinginkan dan ditimbang (X2) 23 Lampiran 3. Data jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan harian (LPH), survival rate (SR), dan efisiensi pakan (EP) Parameter Biomassa Awal (g) Ulangan 0 10 20 30 1 47,35 47,19 44,86 46,95 2 48,34 48,12 48,92 48,24 3 45,74 46,96 45,54 48,05 47,14±1,31 47,42±0,61 46,44±2,17 47,75±0,70 144,79 152,44 147,92 151,18 2 136 138,66 133,21 167,2 3 150,19 141,26 157,31 133,85 143,66±7,16 144,12±7,32 146,15±12,15 150,74±16,68 1 138,5 146,84 142,05 159,61 2 138,58 134,42 122,74 180,18 3 146,17 135,96 155,39 137,88 141,08±4,41 139,07±6,77 140,06±16,42 159,22±21,15 1 100 100 100 100 2 100 100 100 100 Rata-rata 1 Biomassa Akhir (g) Rata-rata JKP (g) Rata-rata SR (%) 3 100 100 100 100 100±0,00 100±0,00 100±0,00 100±0,00 1 2,83 2,97 3,03 2,97 2 2,62 2,68 2,54 3,16 Rata-rata LPH (%) 3 3,02 2,79 3,15 2,59 2,82±0,20 2,82±0,15 2,90±0,32 2,91±0,29 1 70,35 71,68 72,55 65,30 2 3 63,26 71,46 67,36 69,36 68,67 71,93 66,02 62,23 68,36±4,45 69,46±2,16 71,05±2,08 64,52±2,02 Rata-rata EP (%) Rata-rata Perlakuan (% DDGS) 24 Lampiran 4. Data retensi protein ikan uji Parameter Biomassa Ikan Awal (g) Ulangan Perlakuan (% DDGS) 0 10 20 30 1 47,35 47,19 44,86 46,95 2 48,34 48,12 48,92 48,24 3 45,74 46,96 45,54 48,05 47,14±1,31 47,42±0,61 46,44±2,17 47,75±0,70 1 144,79 152,44 147,92 151,18 2 136,00 138,66 133,21 167,20 3 150,19 141,26 157,31 133,85 Rata-rata 143,66±7,16 144,12±7,32 146,15±12,15 150,74±16,68 Protein Tubuh Awal (%) 16,55 16,55 16,55 16,55 Protein Tubuh Akhir (%) 15,60 14,28 13,64 12,22 1 7,84 7,81 7,42 7,77 2 8,00 7,96 8,10 7,98 3 7,57 7,77 7,54 7,95 Rata-rata Biomassa Ikan Akhir (g) Bobot Protein Tubuh Total Awal (g) Rata-rata Bobot Protein Tubuh Total Akhir (g) 7,80±0,22 7,85±0,10 7,69±0,36 7,90±0,12 1 22,59 21,77 20,18 18,47 2 21,22 19,80 18,17 20,43 3 23,43 20,17 21,46 16,36 22,41±1,12 20,58±1,05 19,93±1,66 18,42±2,04 1 14,75 13,96 12,75 10,70 2 3 13,22 15,86 11,84 12,40 10,07 13,92 12,45 8,40 14,61±1,33 12,73±1,10 12,25±1,97 10,52±2,03 1 2 138,50 138,58 146,84 134,42 142,05 122,74 159,61 180,18 3 146,17 141,08±4,41 135,96 139,07±6,77 155,39 140,06± 16,42 137,88 159,22±21,15 41,35 39,63 39,18 40,32 1 57,27 58,19 55,66 64,35 2 57,30 53,27 48,09 72,65 3 60,44 53,88 60,88 55,59 58,34±1,82 55,11±2,68 54,88±6,43 64,20±8,53 1 25,76 23,99 22,91 16,63 2 23,06 22,22 20,95 17,13 3 26,24 23,01 22,86 15,12 25,02±1,71 23,07±0,88 22,24±1,12 16,29±1,05 Rata-rata Jumlah Protein yang Disimpan (g) Rata-rata JKP (g) Rata-rata Kadar Protein Pakan (%) Jumlah protein pakan yang dikonsumsi (g) Rata-rata Retensi Protein (%) Rata-rata 25 Lampiran 5. Data retensi lemak pakan uji Parameter Ulangan Perlakuan (% DDGS) 0 10 20 30 1 47,35 47,19 44,86 46,95 2 48,34 48,12 48,92 48,24 3 45,74 46,96 45,54 48,05 47,14±1,31 47,42±0,61 46,44±2,17 47,75± 0,70 1 144,79 152,44 147,92 151,18 2 136,00 138,66 133,21 167,20 3 150,19 141,26 157,31 133,85 Rata-rata 143,66±7,16 144,12±7,32 146,15±12,15 150,74± 16,68 Lemak tubuh awal (%) 5,65 5,65 5,65 5,65 Lemak Tubuh Akhir (%) 6,04 8,67 9,04 10,57 1 2,68 2,67 2,53 2,65 2 2,73 2,72 2,76 2,73 3 2,58 2,65 2,57 2,71 2,66±0,07 2,68±0,03 2,62±0,12 2,70±0,04 1 8,75 13,22 13,37 15,98 2 8,21 12,02 12,04 17,67 3 9,07 12,25 14,22 14,15 8,68±0,43 12,50±0,63 13,21±1,10 15,93±1,76 1 6,07 10,55 10,48 13,33 2 3 5,48 6,49 9,30 9,59 9,28 11,65 14,95 11,43 6,01±0,50 9,82±0,65 10,59±1,20 13,24±1,76 1 138,5 146,84 142,05 159,61 2 138,58 134,42 122,74 180,18 3 146,17 141,08 ±4,41 135,96 139,07± 6,77 155,39 140,06±16,42 137,88 159,22±21,15 13,58 14,92 14,47 15,59 1 18,81 21,91 20,55 24,88 2 18,82 20,06 17,76 28,09 3 19,85 20,29 22,48 21,50 19,16± 0,06 20,75±1,01 20,27±2,38 24,82±3,30 1 32,27 48,16 52,72 53,56 2 29,14 46,39 52,24 53,21 3 32,68 47,30 51,80 53,19 31,36±1,94 47,28±0,88 52,26±0,46 53,32±0,21 Biomassa Ikan Awal (g) Rata-rata Biomassa Ikan Akhir (g) Bobot Lemak Tubuh Total Awal (g) Rata-rata Bobot Lemak Tubuh Total Akhir (g) Rata-rata Jumlah Lemak yang Disimpan (g) Rata-rata JKP (g) Rata-rata Kadar Lemak Pakan (%) Jumlah Lemak Pakan yang Dikonsumsi (g) Rata-rata Retensi Lemak (%) Rata-rata 26 Lampiran 6. Hasil analisis statistik jumlah konsumsi pakan (JKP) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 831.282 3 277.094 1.417 .307 1564.303 2395.585 8 11 195.538 Lampiran 7. Hasil analisis statistik retensi protein (RP) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 127.274 3 42.425 27.963 .000 12.138 139.411 8 11 1.517 Duncan Treatmen N C B A K Sig. 3 3 3 3 1 16.2933 Subset for alpha = 0.05 2 22.2400 23.0733 1.000 .431 3 23.0733 25.0200 .089 27 Lampiran 8. Hasil analisis statistik retensi lemak (RL) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 925.660 3 308.553 257.778 .000 9.576 935.236 8 11 1.197 Duncan Treatmen N K A B C Sig. 3 3 3 3 1 31.3633 Subset for alpha = 0.05 2 3 47.2833 1.000 52.2533 53.3200 .267 1.000 Lampiran 9. Hasil analisis statistik laju pertumbuhan harian (LPH) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares df Mean Square F Sig. .024 3 .008 .126 .942 .500 .524 8 11 .063 28 Lampiran 10. Hasil analisis statistik kelangsungan hidup (SR) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares df Mean Square F Sig. .024 3 .008 .126 .942 .500 .524 8 11 .063 Lampiran 11. Hasil analisis statistik efisiensi pakan (EP) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 69.694 3 23.231 2.828 .107 65.720 135.414 8 11 8.215 Duncan Treatmen N C K A B Sig. 3 3 3 3 Subset for alpha = 0.05 1 2 64.5167 68.3567 68.3567 69.4667 69.4667 71.0500 .077 .302 29 PENGGUNAAN DISTILLERS DRIED GRAIN WITH SOLUBLES (DDGS) JAGUNG SEBAGAI SUMBER PROTEIN NABATI PAKAN BENIH IKAN GURAME Osphronemus gouramy Lac. UPMAL DESWIRA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Abidin H. 2011. Penggunaan Distillers Dried Grains With Solubles (DDGS) dan Hominy feed pada pakan ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut pertanian Bogor. Guillaume J, Kaushik S, Bergot P, Metailler R. 1999. Nutrition and Feeding of Fish and Crustaceans. Springer-Praxia Book in Aquaculture and Fisheries, UK. Halver JE, 1989. Fish Nutrition. Second Edition. Academy Press Inc, New York. Halver JE, Hardy RW. 2002. Fish Nutrition.Third Edition. Academy Press Inc, New York. Hertrampf JW, Pascual FP. 2000. Handbook on Ingredients for Aquaculture Feed. Kluwer Academic Publishers, London. Lehninger AL. 2002. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Maggy Thenawijaya, penerjemah. Jakarta, Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. Lim C, Aksoy MY, Klesius PH. 2009. Growth response and resistance to Edwardsiella ictaluri of channel catfish (Ictalurus punctatus) fed diets containing distiller’s dried grains with solubles. World Aquaculture Society 40,182-193. Lim C, Garcia JC, Aksoy MY, Klesius PH, Shoemaker CA, Evans JJ. 2007. Growth response and resistance to Streptococcus iniae of Nile tilapia, Oreochromis niloticus, fed diets containing distiller’s dried grains with solubles. Journal of the World Aquaculture Society 38, 231–237. Maina JG, Beames RM, Higgs D, Mbuguana PN, Iwama G, Kisian SM. 2002. Digestibility and feeding value of some feed ingredients fed to tilapia Oreochromis niloticus (L.). Aquaculture Research 33, 853-862. National Research Council (NRC). 1993. Nutrient Requirements of Fish. National Academy of Sciences, Washington DC. Rosmawati. 2005. Hidrolisa pakan buatan oleh enzim pepsin dan pangkreatin untuk meningkatkan daya cerna dan pertumbuhan benih ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac.) [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Silmina D. 2011. Pemanfaatan Distillers Dried Grains With Solubles (DDGS) pada pakan terhadap pertumbuhan ikan mas Cyprinus carpio [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut pertanian Bogor. 16 Steffens W, 1989. Principle of fish Nutrition. Ellis Horwood Limited, England. Suprayudi MA, Bintang M, Takeuchi T, Mokoginta I, Sutardi T. 1999. Defatted soybean meal as an alternative source to subtitute fish meal in the feed of giant gouramy Osphronemus gouramy Lac..Suisanzoshoku 47, 551-557. Suprayudi MA, Takeuchi T, Mokoginta I, Kartikasari AT. 2000. The effect of aditional arginine in the high defated soybean meal diet on the growth of giant gouramy Osphronemus gouramy Lac. Fisheries Science 66, 807-811. Suprayudi MA. 2010. Bahan baku pakan lokal: tantangan dan harapan aquaculture indonesia. Abstrak. Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur III. IPB International Covention Center, Bogor, 07 Oktober 2010, 31 Watanabe T, 1988. Fish Nutrition and Mariculture. Department of Aquatic Biosience. Tokyo University of Fisheries, JICA. 17 LAMPIRAN 18 Lampiran 1. Prosedur analisis Cr2O3 Bahan ditimbang 0,1 g Dimasukkan dalam Labu Kjeldahl Ditambahkan 5 ml HNO3 Dipanaskan hingga larutan tersisa ± 1 ml Didinginkan Ditambahkan 3 ml HClO4 Dipanaskan kembali hingga berwarna jingga Didinginkan Diencerkan hingga volume 100 ml Diukur nilai absorban bahan dengan spektrofotometer λ = 350 nm (Y) Persamaan hubungan Cr2O3 dengan absorbansi adalah sebagai berikut: y = 0,2089x + 0,0032 Keterangan: x = Cr2O3 (mg) y = nilai absorbansi 19 Lampiran 2. Prosedur analisis proksimat Lampiran 2.1. Prosedur analisis kadar air Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator, dan timbang (X1) Bahan ditimbang 2-3 g (A), lalu dimasukkan ke dalam cawan Cawan dan bahan dipanaskan selama 4 jam pada suhu 105110oC, didinginkan dan ditimbang (X2) 20 Lampiran 2.2. Prosedur analisis kadar serat kasar Bahan ditimbang 0,5 g (A), lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml Ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N lalu dipanaskan di atas hotplate Kertas saring dipanaskan dalam oven, didinginkan, dan ditimbang (X1) Kertas saring dipanaskan pada labu Buchner yang telah terhubung dengan vacuum pump Setelah 30 menit ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N, lalu dipanaskan kembali selama 30 menit Dilakukan penyaringan larutan bahan dengan pembilasan secara berurutan sebagai berikut: 50 ml air panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml air panas, dan 25 ml Aceton. Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, lalu didinginkan Kertas saring hasil penyaringan dimasukkan ke dalam cawan porselen Dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, didinginkan, dan ditimbang (X2) Dipanaskan dalam tanur pada suhu 600oC hingga berwarna putih, didinginkan, dan ditimbang (X3) 21 Lampiran 2.3. Prosedur analisis kadar protein Tahap oksidasi Bahan ditimbang 0,5 g (A) Katalis ditimbang 3 g H2SO4 pekat 10 ml Dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl dan dipanaskan hingga berwarna hijau bening, didinginkan, dan diencerkan hingga volume 100 ml Tahap destruksi 10 ml H2SO4 0,05 N 5 ml larutan hasil oksidasi dimasukkan ke dalam labu destilasi 2-3 tetes indikator Phenolphthalein Dimasukkan ke dalam erlenmeyer Didestruksi selama 10 menit dari tetesan pertama Tahap Titrasi Hasil destruksi dititrasi dengan NaOH 0,05 N BLANKO Dititrasi hingga 1 tetes setelah larutan menjadi bening SAMPEL ml titran dicatat (V) Keterangan: Vb = ml 0,05 N titran NaOH untuk blanko Vs = ml 0,05 N titran NaOH untuk sampel A = bobot sampel (g) * = setiap 0,05 NaOH ekivalen dengan 0,0007 g N ** = Faktor nitrogen 22 Lampiran 2.4. Prosedur analisis kadar lemak Labu dipanaskan pada suhu 104-110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator, dan timbang (X1) Bahan ditimbang 2-3 g (A) lalu dimasukkan ke dalam selongsong Dimasukkan ke dalam tabung Soxhlet dan beri 100-150 ml N-Hexan hingga selongsong terendam. Sisa N-Hexan dimasukkan ke dalam labu Labu dipanaskan di atas hotplate hingga larutan perendam selongsong dalam Soxhlet berwarna bening Labu dan lemak yang tersisa dipanaskan dalam oven selama 15 menit, didinginkan, lalu ditimbang (X2) Lampiran 2.5. Prosedur analisis kadar abu Cawan dipanaskan pada suhu 105-110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator, dan ditimbang (X1) Bahan ditimbang 2-3 g (A), lalu dimasukkan ke dalam cawan Cawan dan bahan dipanaskan di dalam tanur dengan suhu 600oC, didinginkan dan ditimbang (X2) 23 Lampiran 3. Data jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan harian (LPH), survival rate (SR), dan efisiensi pakan (EP) Parameter Biomassa Awal (g) Ulangan 0 10 20 30 1 47,35 47,19 44,86 46,95 2 48,34 48,12 48,92 48,24 3 45,74 46,96 45,54 48,05 47,14±1,31 47,42±0,61 46,44±2,17 47,75±0,70 144,79 152,44 147,92 151,18 2 136 138,66 133,21 167,2 3 150,19 141,26 157,31 133,85 143,66±7,16 144,12±7,32 146,15±12,15 150,74±16,68 1 138,5 146,84 142,05 159,61 2 138,58 134,42 122,74 180,18 3 146,17 135,96 155,39 137,88 141,08±4,41 139,07±6,77 140,06±16,42 159,22±21,15 1 100 100 100 100 2 100 100 100 100 Rata-rata 1 Biomassa Akhir (g) Rata-rata JKP (g) Rata-rata SR (%) 3 100 100 100 100 100±0,00 100±0,00 100±0,00 100±0,00 1 2,83 2,97 3,03 2,97 2 2,62 2,68 2,54 3,16 Rata-rata LPH (%) 3 3,02 2,79 3,15 2,59 2,82±0,20 2,82±0,15 2,90±0,32 2,91±0,29 1 70,35 71,68 72,55 65,30 2 3 63,26 71,46 67,36 69,36 68,67 71,93 66,02 62,23 68,36±4,45 69,46±2,16 71,05±2,08 64,52±2,02 Rata-rata EP (%) Rata-rata Perlakuan (% DDGS) 24 Lampiran 4. Data retensi protein ikan uji Parameter Biomassa Ikan Awal (g) Ulangan Perlakuan (% DDGS) 0 10 20 30 1 47,35 47,19 44,86 46,95 2 48,34 48,12 48,92 48,24 3 45,74 46,96 45,54 48,05 47,14±1,31 47,42±0,61 46,44±2,17 47,75±0,70 1 144,79 152,44 147,92 151,18 2 136,00 138,66 133,21 167,20 3 150,19 141,26 157,31 133,85 Rata-rata 143,66±7,16 144,12±7,32 146,15±12,15 150,74±16,68 Protein Tubuh Awal (%) 16,55 16,55 16,55 16,55 Protein Tubuh Akhir (%) 15,60 14,28 13,64 12,22 1 7,84 7,81 7,42 7,77 2 8,00 7,96 8,10 7,98 3 7,57 7,77 7,54 7,95 Rata-rata Biomassa Ikan Akhir (g) Bobot Protein Tubuh Total Awal (g) Rata-rata Bobot Protein Tubuh Total Akhir (g) 7,80±0,22 7,85±0,10 7,69±0,36 7,90±0,12 1 22,59 21,77 20,18 18,47 2 21,22 19,80 18,17 20,43 3 23,43 20,17 21,46 16,36 22,41±1,12 20,58±1,05 19,93±1,66 18,42±2,04 1 14,75 13,96 12,75 10,70 2 3 13,22 15,86 11,84 12,40 10,07 13,92 12,45 8,40 14,61±1,33 12,73±1,10 12,25±1,97 10,52±2,03 1 2 138,50 138,58 146,84 134,42 142,05 122,74 159,61 180,18 3 146,17 141,08±4,41 135,96 139,07±6,77 155,39 140,06± 16,42 137,88 159,22±21,15 41,35 39,63 39,18 40,32 1 57,27 58,19 55,66 64,35 2 57,30 53,27 48,09 72,65 3 60,44 53,88 60,88 55,59 58,34±1,82 55,11±2,68 54,88±6,43 64,20±8,53 1 25,76 23,99 22,91 16,63 2 23,06 22,22 20,95 17,13 3 26,24 23,01 22,86 15,12 25,02±1,71 23,07±0,88 22,24±1,12 16,29±1,05 Rata-rata Jumlah Protein yang Disimpan (g) Rata-rata JKP (g) Rata-rata Kadar Protein Pakan (%) Jumlah protein pakan yang dikonsumsi (g) Rata-rata Retensi Protein (%) Rata-rata 25 Lampiran 5. Data retensi lemak pakan uji Parameter Ulangan Perlakuan (% DDGS) 0 10 20 30 1 47,35 47,19 44,86 46,95 2 48,34 48,12 48,92 48,24 3 45,74 46,96 45,54 48,05 47,14±1,31 47,42±0,61 46,44±2,17 47,75± 0,70 1 144,79 152,44 147,92 151,18 2 136,00 138,66 133,21 167,20 3 150,19 141,26 157,31 133,85 Rata-rata 143,66±7,16 144,12±7,32 146,15±12,15 150,74± 16,68 Lemak tubuh awal (%) 5,65 5,65 5,65 5,65 Lemak Tubuh Akhir (%) 6,04 8,67 9,04 10,57 1 2,68 2,67 2,53 2,65 2 2,73 2,72 2,76 2,73 3 2,58 2,65 2,57 2,71 2,66±0,07 2,68±0,03 2,62±0,12 2,70±0,04 1 8,75 13,22 13,37 15,98 2 8,21 12,02 12,04 17,67 3 9,07 12,25 14,22 14,15 8,68±0,43 12,50±0,63 13,21±1,10 15,93±1,76 1 6,07 10,55 10,48 13,33 2 3 5,48 6,49 9,30 9,59 9,28 11,65 14,95 11,43 6,01±0,50 9,82±0,65 10,59±1,20 13,24±1,76 1 138,5 146,84 142,05 159,61 2 138,58 134,42 122,74 180,18 3 146,17 141,08 ±4,41 135,96 139,07± 6,77 155,39 140,06±16,42 137,88 159,22±21,15 13,58 14,92 14,47 15,59 1 18,81 21,91 20,55 24,88 2 18,82 20,06 17,76 28,09 3 19,85 20,29 22,48 21,50 19,16± 0,06 20,75±1,01 20,27±2,38 24,82±3,30 1 32,27 48,16 52,72 53,56 2 29,14 46,39 52,24 53,21 3 32,68 47,30 51,80 53,19 31,36±1,94 47,28±0,88 52,26±0,46 53,32±0,21 Biomassa Ikan Awal (g) Rata-rata Biomassa Ikan Akhir (g) Bobot Lemak Tubuh Total Awal (g) Rata-rata Bobot Lemak Tubuh Total Akhir (g) Rata-rata Jumlah Lemak yang Disimpan (g) Rata-rata JKP (g) Rata-rata Kadar Lemak Pakan (%) Jumlah Lemak Pakan yang Dikonsumsi (g) Rata-rata Retensi Lemak (%) Rata-rata 26 Lampiran 6. Hasil analisis statistik jumlah konsumsi pakan (JKP) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 831.282 3 277.094 1.417 .307 1564.303 2395.585 8 11 195.538 Lampiran 7. Hasil analisis statistik retensi protein (RP) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 127.274 3 42.425 27.963 .000 12.138 139.411 8 11 1.517 Duncan Treatmen N C B A K Sig. 3 3 3 3 1 16.2933 Subset for alpha = 0.05 2 22.2400 23.0733 1.000 .431 3 23.0733 25.0200 .089 27 Lampiran 8. Hasil analisis statistik retensi lemak (RL) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 925.660 3 308.553 257.778 .000 9.576 935.236 8 11 1.197 Duncan Treatmen N K A B C Sig. 3 3 3 3 1 31.3633 Subset for alpha = 0.05 2 3 47.2833 1.000 52.2533 53.3200 .267 1.000 Lampiran 9. Hasil analisis statistik laju pertumbuhan harian (LPH) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares df Mean Square F Sig. .024 3 .008 .126 .942 .500 .524 8 11 .063 28 Lampiran 10. Hasil analisis statistik kelangsungan hidup (SR) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares df Mean Square F Sig. .024 3 .008 .126 .942 .500 .524 8 11 .063 Lampiran 11. Hasil analisis statistik efisiensi pakan (EP) Anova Between Groups Within Groups Total Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 69.694 3 23.231 2.828 .107 65.720 135.414 8 11 8.215 Duncan Treatmen N C K A B Sig. 3 3 3 3 Subset for alpha = 0.05 1 2 64.5167 68.3567 68.3567 69.4667 69.4667 71.0500 .077 .302 29
Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubl..

Gratis

Feedback