Strategi komunikasi politik dalam perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada pemilu legislatif 2009 di Kabupaten Tegald

115 

Full text

(1)

PEMBANGUNAN (PPP) PADA PEMILU LEGISLATIF

2009 DI KABUPATEN TEGAL

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Kom.I)

Oleh:

Mochammad Rifqi Ridho

107051002550

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

Assalamualaikum, Wr.Wb

Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah penyusun skripsi dengan judul “Strategi Komuniasi Politik dalam Perolehan Suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Pemilu Legislatif 2009 di Kabupaten Tegal” dengan

ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini adalah benar-benar murni hasil karya asli peneliti, tanpa adanya duplikasi hasil karya orang lain.

2. Adapun apabia peneliti mengutip tulisan dan karya ilmiah orang lain, peneliti telah mencantumkannya dalam bentuk refrensi, baik footnote ataupun daftar pustaka.

3. Apabila dikemudian hari terjadi hal-hal yang merugikan orang lain, atau terbukti peneliti menduplikasi karya orang lain, peneliti siap menerima konsekuensinya dan sanksi akademis yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Demikian lembar pernyataan ini dibuat, diharapkan dapat dipergunakan dengan semestinya. Terima kasih.

Wassalamualaikum, Wr. Wb

Tanggerang Selatan, 29 Maret 2011 Peneliti,

(5)

i

Strategi Komunikasi Politik dalam Perolehan Suara Partai

PersatuanPembangunan (PPP) pada Pemilu Legislatif 2009 di Kabupaten Tegal

ABSTRAK

PPP adalah salah satu partai tua yang sudah memiliki penggalaman yang matang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, utamanya dalam menghiasi panggung politik tanah air dengan segala suka dan dukanya. Namun pada zaman reformasi perolehan suara PPP di Kabupaten Tegal terus menurun, hingga Pemilu 2009. Tentunya ada masalah yang terjadi, sehingga terjadi penurunan pada perolehan suara PPP Kabupaten Tegal.

Dalam penelitian ini peneliti membuat perumusan masalah sebagai berikut; Bagaimana strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu 2009? Apa saja kelebihan dan kelemahan strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009? Apa penyebab turunnya perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif tahun 2009?

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Tipe penelitian ini menggunakan tipe deskriptif interpretatif analisis, yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data. Teknik pengumpulan data melalui teknik observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi.

Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori performa komunikatif, performa adalah metafora yang menggambarkan proses simbolik pemahaman akan perilaku manusia dalam sebuah organisasi, performa organisasi seringkali memiliki unsur teatrikal, di mana baik supervisior maupun karyawan (kader partai dalam hal ini) memilih untuk mengambil peranan atau bagian tertentu dalam organisasi mereka.

Dalam menghadapi Pemilu Legislatif 2009 PPP Kabupaten Tegal melakukan beberapa strategi komunikasi politik, strategi komunikasi politik yang digunakan PPP Kabpaten Tegal dalam mempengaruhi konstituen pada Pemilu legislatif 2009, diantaranya: Melakukan audiensi dengan Ikatan Pemuda Pemudi Nahdlatul Ulama (IPPNU), lomba nyanyi bareng PETIGA dan motor wisata. Di samping melakukan kegiatan-kegiatan tersebut PPP Kabupaten Tegal menggunakan beberapa saluran komunikasi politik seperti saluran komunikasi politik struktur tradisional, saluran komunikasi politik input dan saluran komunikasi politik melalui media massa

Sedangkan kelemahan strategi komunikasi Politik PPP Kabupaten Tegal adalah terlalu mengandalkan tokoh, keterbatasan dana pencalonan caleg yang bukan berasal dari daerah sendiri. Untuk kelebihannya adalah seluruh pengurus DPC PPP Kabupaten Tegal bekerja secara maksimal dalam mengimplementasikan strategi-strategi yang disusun LP2L PPP Kabupaten Tegal.

(6)

ii

Syukur Alhamdulillah peneliti haturkan kehadirat Allah SWT. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tanpa inayah-Nya tak mungkin peneliti bisa mencapai pendidikan sampai S1.

Shalawat serta salam semoga tetap teriring keharibaan junjungan Nabi besar Muhammad SAW, para keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya ampai akhir zaman.

Atas doa dan usaha, akhirnya peneliti dapat menyelesaikan salah satu tugas penting yang mempertaruhkan segenap keilmuan yang peneliti pelajari selama menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, walaupun sangat jauh dari kesempurnaan.

Dengan kerendahan hati, peneliti tentu sadar bahwa skripsi ini tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya bantuan dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak DR. H. Arif Subhan, MA, sebagai Dekan Fakultas Ilmu dakwah dan Ilmu Komunikasi, Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA, sebagai Pembantu Dekan Bid. Akademik, Bapak Drs. H. Mahmud Jalal, MA, sebagai Pembantu Dekan Bid. Administrasi Umum dan Keuangan, dan Bapak Drs. Study Rizal, LK, MA, sebagai Pembatu Dekan Bid. Kemahasiswaan.

2. Bapak Drs. Jumroni, M.Si, sebagai Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, dan Ibu Umi Musyarafah, MA, sebagai Sekretaris Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.

3. Bpk Gun Gun Heryanto, M.Si, sebagai Dosen Pembimbing dalam penulisan skripsi ini, yang telah membimbing peneliti dengan penuh kesabaran dan ketelatenan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

(7)

iii

Kabupaten Tegal, Bapak Masdar Hilmi, SPd sebagai anggota Lajnah Pemenangan Pemilu Legislatif (LP2L) PPP Kabupaten Tegal dan para kader-kader PPP yang telah bersedia diwawancara dalam rangka mengumpulkan data untuk penyusunan skripsi ini.

6. Teristimewa kepada Abah H. Saefulloh dan ummi Hj. Chusnul Chotimah yang telah membesarkan dengan kasih sayang, mendidik, dan yang selalu memberikan do’a. Kalian adalah teladan dan harta yang paling berharga bagi peneliti. Semoga kalian selalu dalam perlindungan, kasih sayang, dan keridhoan Allah SWT, amin.

7. Istriku tercinta Umi Nur Atiyah, S.Sos.I yang selalu menjadi motivator bagi peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Teman-teman mahasiswa KPI B angkatan 2007, khususnya untuk Ahmad Khumaedi, Syarif Fadillah, Indra Dita Puspito, S.Sos.I, Ahmad Mursyidi, Wahyudi, Ilham Berlian dan semuanya yang telah sama-sama berbagi ilmu, berdiskusi, bercanda dan saling berbagi rasa.

Tanggerang Selatan, 29 Maret 2011

(8)

iv

ABSTRAK………...i

KATA PENGANTAR………...………...ii

DAFTAR ISI………...…iv

DAFTAR GRAFIK...vi

DAFTAR TABEL...vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………8

1. Pembatasan Masalah……….……….8

2. Perumusan Masalah………...8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………..9

1.Tujuan Penelitian ………..9

2. Manfaat Penelitian ………....9

D. Metodologi Penelitian………..………..…10

1. Metode Penelitian………..….10

2. Tempat dan Waktu Penelitian ………...10

3. Subjek dan Objek Penelitian………..11

4. Teknik Pengumpulan Data………...11

5. Teknik Analisis Data ………...12

E. Tinjauan Pustaka………..……..…...…13

F. Sistematika Penulisan………...….15

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Teori Performa Komunikatif...17

(9)

v

E. Konseptualisai Pemilu………...….38

BAB III GAMBARAN UMUM DPC PPP KABUPATEN TEGAL

A. Sejarah dan Pembentukan DPC PPP Kabupaten Tegal………...…...44

B. Visi dan Misi DPC PPP Kabupaten Tegal……….45

C. Program Perjuangan DPC PPP Kabupaten Tegal………...………47

D. Struktur Kepengurusan DPC PPP Kabupaten Tegal …………....………50

E. Lajnah Pemenangan Pemilu Legislatif...51

F. Kabupaten Tegal pada Pemilu Legislatif 2009...52

BAB IV ANALISIS dan HASIL TEMUAN A. Strategi Komunikasi Politik PPP Kabupaten Tegal Pada Pemilu Legislatif 2009………...………...55

B. Kelemahan dan Kelebihan Strategi Komunikasi Politik PPP Kabupaten Tegal Pada Pemilu Legislatif 2009………...…..62

C. Penyebab Penurunan Perolehan Suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu Legislatif 2009...65

D. Performa Komunikatif PPP Kabupaten Tegal ………...………..72

BAB V SIMPULAN dan SARAN A. Kesimpulan………...………78

B. Saran………...81

DAFTAR PUSTAKA………...82

(10)

vi

(11)

vii

1. Tabel 1 Susunan dan Personalia Pengurus Harian Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Tegal Masa Bhakti

2010-2015...50

2. Tabel 2 Susunan dan Personalia Pimpinan Majelis Pertimbangan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Tegal Masa Bhakti 2010-2015...51

3. Tabel 3 Susunan dan Personalia Pimpinan Majelis Pakar Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Tegal Masa Bhakti 2010-2015...51

4. Tabel 4 Nama-Nama Anggota LP2L PPP Kabupaten Tegal...52

5. Tabel 5 Hasil Perolehan Suara Partai-Partai Peserta Pemilu Legislatif 2009 Di Kabupaten Tegal...53

6. Tabel 6 Nama-Nama Ulama’ dan Tokoh Masyarakat Dapil 1...59

7. Tabel 7 Nama-Nama Ulama’ dan Tokoh Masyarakat Dapil2...59

8. Tabel 8 Nama-Nama Ulama’ dan Tokoh Masyarakat Dapil 3...59

9. Tabel 9 Nama-Nama Ulama’ dan Tokoh Masyarakat Dapil 4...60

10.Tabel 10 Nama-Nama Ulama’ dan Tokoh Masyarakat Dapil 5...60

11.Tabel 11 Nama-Nama Ulama’ dan Tokoh Masyarakat Dapil 6...60

12.Tabel 12 Majelis Taklim dan Pondol Pesantren Saluran Komunikasi Politik PPP Kabupaten Tegal...61

13.Tabel 13 Tingkat Pendidikan Pengurus DPC PPP Kabupaten Tegal...71

14.Tabel 14 Kegiatan-Kegiatan PPP Kabupaten Tegal Yang Berkaitan dengan Performa Ritual...73

15.Tabel 15 Kegiatan-Kegiatan PPP Kabupaten Tegal yang Berkaitan dengan Performa Sosial...74

(12)

viii

(13)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada tanggal 9 April tahun 2009 yang lalu terjadi peristiwa penting bagi bangsa Indonesia untuk menentukan masa depannya lima tahun ke depan. Peristiwa tersebut biasa disebut dengan Pemilu, yang bertujuan untuk memilih para calon wakil rakyat di tingkat pusat maupun daerah.

Pemilu yang dilakukan secara rutin lima tahun sekali ini ditandai dengan banyak munculnya partai poltik. Partai politik dengan ideologi, visi, dan misi berlomba-lomba untuk tampil di depan publik untuk merebut hati para konstituennya. Atas dasar tujuan ini partai politik harus memiliki strategi komunikasi politik guna membentuk pencitraan positif partai agar dapat bersaing dengan partai-partai lain.

Strategi dalam menghadapi Pemilu legislatif merupakan perencanaan yang cermat yang disusun dan dilaksanakan oleh tim kampanye yang memiliki tujuan mencapai kemenangan atas sasaran yang ditentukan dalam Pemilu. Sasaran merupakan apa yang ingin dicapai oleh tim kampanye dalam hal ini adalah target dukungan pemilihan yang diwujudkan dalam pemberian suara kepada partai politik tersebut. Ruang lingkup pembahasan strategi tak sebatas pada tatanan konsep atau rencana, namun yang terpenting adalah bagaimana tim kampanye tersebut mengimplementasikannya di lapangan.

(14)

secara perorangan, kelompok maupun organisasi tidak mungkin terjadi komunikasi memainkan peran penting dalam kehidupan manusia dan hampir setiap saat manusia bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi termasuk dalam aktivitas politik, komunikasi memainkan peran yang dominan, salah satunya hubungan antarmanusia dalam rangka mencapai saling pengertian (mutual understanding).1

Pentingnya komunikasi dalam aktivitas politik tidak bisa dimungkiri, begitu juga halnya dalam suatu partai politik. Setiap komunikasi politik yang dilakukan selalu mencakup pesan politik, komunikator politik, media atau saluran politik, dan efek yang muncul di tengah khalayak akibat terjadinya proses komunikasi politik.

Tentu saja, komunikasi politik bukanlah sebuah proses yang sederhana, karena kerja sistem politik amat ditentukan oleh adanya suatu masukan (input) dari lingkungan, dan setelah melalui proses tertentu membentuk sejumlah output. Selanjutnya output ini diberikan kembali kepada lingkungan, sebagai umpan balik.2

Penting diperhatikan bahwa tanpa komunikasi politik yang efektif, maka aktifitas politik akan kehilangan bentuk. Untuk itu sumber pesan, misalnya seorang pemimpin dituntut untuk menyampaikan pesan yang jelas kepada para pendukungnya dan masyarakat luas. Di samping itu, calon yang bersangkutan pun harus tahu saluran atau sarana penyampaian informasi yang tepat.3

1

Gun Gun Heryanto, Komunikasi Politik di Era Industry Citra,( Jakarta: Lasswell Visitama, 2010), h. 3.

2 Ibid

, h.13.

3

Rafael Raga Maran, Pengantar Sosiologi Politik, Suatu Pemikiran dan Penerapan,

(15)

Partai politik merupakan sarana bagi warga negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara. Di Indonesia partai politik telah merupakan bagian dari kehidupan politik selama kurang lebih seratus tahun. Di Eropa Barat, terutama di Inggris, partai politik telah muncul jauh sebelumnya sebagai sarana pertisipasi bagi beberapa kelompok masyarakat, yang kemudian meluas menjadi pertisipasi seluruh masyarakat dewasa.4

Pembentukan partai politik berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi, yakni pemerintah yang dipimpin oleh mayoritas melalui pemilihan umum. Untuk menciptakan pemerintahan yang mayoritas, diperlukan partai–partai yang dapat digunakan sebagai kendaraan politik untuk ikut dalam pemilihan umum. Melalui partai rakyat berhak menentukan siapa yang akan menjadi wakil mereka serta siapa akan menjadi pemimpin yang akan menentukan kebijakan umum (public policy).5

Melalui partai politik masyarakat dapat menyalurkan kehendak dan aspirasinya, serta menjadikan wadah untuk bisa berhubungan dengan lembaga-lembaga internasional guna mendapatkan dukungan atas perjuangan mereka.6

Partai politik muncul di Indonesia berawal dari sebuah Maklumat Pemerintah pada tanggal 3 Nopember 1945 tentang hak hidup partai-partai politik di Indonesia. Maka berdirilah beberapa partai politik bak jamur di musim hujan, yang jumlahnya lebih dari seratus partai politik.7

4

Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 442.

5

Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta, Rajawali Pers, 2009), h. 207

6Ibid.

h. 208.

7

(16)

Sedangkan pada pemerintahan Orde Baru Pemilu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 1971, Pemilu tersebut diikuti oleh Sembilan partai politik antara lain; Nahdhatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI), Partai Islam Perti, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Katolik, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Murba, Ikatan Pendukung Indonesia (IPKI), Parkindo dan satu Golongan Karya. Pada waktu itu kepentingan golongan bagi partai politik menjadi prioritas. Kepentingan golongan lebih utama dari pada kepentingan bersama, sehingga kepentingan nasional menjadi terabaikan. Dan hal ini mengancam persatuan, kesatuan bangsa dan mengganggu stabilitas nasional. Maka munculah gagasan untuk menyederhanakan organisasi kekuatan sosial politik kepada jumlah yang lebih kecil dikenal dengan istilah fusi.8

Sudah menjadi kenyataan bahwa secara historis PPP didirikan sebagai fusi dari empat partai politik Islam, diantaranya Partai Nahdlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia, Partai Sarikat Islam, dan Partai Islam Perti pada tanggal 30 Dzulqaidah 1392 H bertepatan tanggal 5 Januari 1973 M, yang bersepakat menggabungkan aktivitas politiknya ke dalam satu partai bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dengan tekad membina masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT9, maka dapat dikatakan PPP telah berusia cukup panjang dan memiliki penggalaman yang matang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, utamanya dalam menghiasi panggung politik tanah air dengan segala suka dan dukanya.

Sampai kini, kesepakatan fusi ini masih selalu diingat dan ini merupakan modal dasar bagi PPP Kabupaten Tegal dalam mewujudkan cita-cita dan

8Ibid

, h. 15.

9

(17)

perjuangannya. Cita-cita dan perjuangan PPP Kabupaten Tegal sendiri adalah merupakan mata rantai pengembangan cita-cita perjuangan partai, yang dirumuskan pada saat tercapainya fusi tersebut.

Di Kabupaten Tegal banyak berdiri partai yang berbasis massa Islam, meskipun demikian PPP tetap berjuang keras dalam merebut simpati umat Islam, ini dilihat dari upaya-upaya yang dilakukan oleh PPP Kabupaten Tegal yang selalu berpihak dan perhatian kepada kepentingan umat Islam di Kabupaten Tegal. Inilah yang membuat keberadaan PPP Kabupaten Tegal masih tetap terjaga.

Namun perolehan suara PPP mulai terjadi penurunan pada Pemilu legislatif 1999, Pada Pemilu 1999 PPP meraih 11.329.905 suara (10,71%) dengan perolehan 58 kursi (12,55%) dari 462 kursi yang diperebutkan. Pada Pemilu 2004 PPP meraih 9.248.764 suara (8,14%) dengan perolehan 58 kursi (10,54%) dari 550 kursi yang diperebutkan, dan Pada Pemilu 2009 memperoleh suara 5.533.214 (5,3%) dengan jumlah 39 kursi (7%) dari 560 kursi yang diperebutkan.10 Penurunan perolehan suara terus terjadi hingga Pemilu 2009 yang lalu, Penurunan perolehan suara ini terjadi di tingkat nasional maupun tingkat daerah.

10

Redaksi Harian Pelita, “Perolehan Suara PPP Yang Terus Merosot”, diakses pada

(18)

Berikut grafik penurunan perolehan suara PPP pada Pemilu legislatif 1999-2009 di tingkat nasional.

GRAFIK I

PENURUNAN PEROLEHAN SUARA PPP PADA PEMILU LEGISLATIF 1999-2009 DI TINGKAT NASIONAL

Penurunan perolehan suara ini terjadi di tingkat nasional maupun tingkat daerah, di Kabupaten Tegal penurunan perolehan suara terjadi dari Pemilu legislatif 1999 hingga Pemilu 2009. Pada Pemilu legislatif tahun 1999 perolehan suara PPP Kabupaten Tegal 65.734 (9,4%), pada Pemilu legislatif 2004 perolehan suara untuk PPP Kabupaten Tegal sebesar 53.889 suara (7,74%), dan pada Pemilu 2009 perolehan suara PPP Kabupaten Tegal turun menjadi 31.288 suara (5,2%).11

11

(19)

Berikut grafik penurunan perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu 1999-2009.

GRAFIK II

PENURUNAN PEROLEHAN SUARA PPP KABUPATEN TEGAL PADA PEMILU LEGISLATIF 1999-2009

Tentunya ada masalah yang terjadi, sehingga terjadi penurunan pada perolehan suara PPP Kabupaten Tegal. Masalah inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. Peneliti ingin mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja dari strategi komunikasi politik yang digunakan PPP Kabupaten Tegal sehingga terjadi penurunan perolehan suara pada Pemilu 2009.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Strategi Komunikasi Politik dalam Perolehan Suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Pemilu

Legislatif 2009 di Kabupaten Tegal” Pengurus Harian DPC PPP Kabupaten Tegal

(20)

B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Untuk menghindari terlalu luas dan melebarnya pembahasan, maka dalam penelitian ini dibuat satu batasan. Ruang lingkup dibatasi hanya pada strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009. Sedangkan fokus penelitian ini adalah pada masalah-masalah yang terjadi pada strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009 dilihat dari mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan strategi komunikasi politik yang digunakan PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009 dan penyebab turunnya perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009.

2. Rumusan Masalah

Berkenaan dengan uraian di atas yang menunjukkan bahwa penurunan perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan, dengan ini peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

a. Bagaimana strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009?

b. Apa saja kelebihan dan kelemahan strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009? c. Apa penyebab turunnya perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada

(21)

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dengan pokok permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini bisa dirumuskan sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui strategi komunikasi politik PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009.

b. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009.

c. Untuk mengetahui penyebab turunnya perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian adalah: a. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan kajian Ilmu Komunikasi terutama kajian Komunikasi Politik. Bagi Jurusan/Fakultas Komunikasi diharapkan dapat membantu pengayaan kasus dalam pengajaran komunikasi politik.

b. Manfaat Praktis

(22)

D. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan format desain deskriptif. Metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan serta pengaruh dari suatu fenomena.12

Berdasarkan metode penelitian tersebut di atas peneliti berharap mendapatkan data penelitian yang bersifat deskriptif interpretatif sehingga peneliti dapat menganalisis dan menelaah lebih dekat, mendalam, mengakar dan menyeluruh, untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai strategi komunikasi politik PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009, dan penyebab turunnya perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009.

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat Penelitian dilakukan di kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembanguan yang berlokasi di Jl. Pancasila Desa Grogol Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal 52192. Peneliti memilih lokasi tersebut karena di tempat tersebut peneliti dapat memperoleh data, dan peneliti mewawancarai Ketua DPC PPP Kabupaten Tegal dan Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu.

Sedangkan waktu penelitian dimulai dari bulan Februari 2011 sampai April 2011.

12

(23)

3. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah DPC PPP Kabupaten Tegal, dan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah strategi komunikasi politik yang digunakan oleh PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009.

4. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam13 yaitu tentang strategi komunikasi politik PPP di Kabupaten Tegal pada Pemilu 2009, dalam hal ini peneliti mewawancarai Bapak Tubagus Fahmi, SH. sebagai Ketua DPC PPP Kabupaten Tegal, Bapak Masdar Helmi, SPd. Sebagai Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu Legislatif PPP Kabupaten Tegal dan tiga orang kader PPP Kabupaten Tegal. Peniliti mewawancarai beberapa responden tersebut karena menurut peneliti mereka dapat memberikan informasi ataupun data yang dibutuhkan oleh peneliti.

b. Dokumentasi

Dalam hal ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperoleh dari buku-buku arsip partai berupa Laporan Pertanggung Jawaban DPC PPP Kabupaten Tegal Masa Bakti 2005-2010 dan Rancangan Materi Musyawarah Cabang VI DPC PPP Kabupaten Tegal serta foto-foto yang berkaitan dengan penelitian, dan hasil rekaman dengan nara sumber.

13

(24)

5. Teknik Analisis Data

Peneliti menggunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Tesch yang dikutip oleh Craswell, langkah-langkah tersebut akan peneliti uraikan sebagai berikut:

a. Memahami catatan secara keseluruhan dengan teliti.

b. Memilih satu dokumen yang paling menarik, yang singkat, mempelajari dokumen tersebut dan memikirkan makna pokoknya. c. Membuat daftar seluruh topik, mengelompokkan topik-topik yang

sejenis, selanjutnya peneliti memasukkan topik-topik tersebut ke dalam kolom-kolom topik penting, topik unik dan sisanya.

d. Menyingkat topik-topik tersebut dalam menjadi kode dan menulis kode tersebut. Skema awal ini untuk melihat apakah muncul kategori dan kode baru.

e. Mencari kata yang paling deskriptif untuk topik-topik tersebut, lalu mengubah topik tersebut ke dalam kategori-kategori.

f. Membuat keputusan akhir tentang singkatan setiap kategori dan mengurutkan kode-kode tersebut menurut abjad.

g. Mengumpulkan materi data setiap kategori dalam satu tempat dan melakukan analisis awal.

h. Yang terakhir jika perlu, peneliti akan mengkodekan kembali data yang sudah ada.14

Peneliti menggunakan analisis deskriptif interpretatif, peneliti menginterpretasi data untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan. Pembahasan hasil

14

(25)

penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi akurat yang diperoleh dari lapangan.15

Selanjutnya peneliti menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.16

E. Tinjauan Pustaka

Setelah peneliti melihat dan mencari judul skripsi yang ada di perpustakan utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, peneliti menemukan ada beberapa skripsi yang membahas tentang komunikasi politik dan PPP.

Namun yang diteliti mahasiswa sebelumnya berbeda dengan isi atau konten permasalahan yang peneliti teliti. Oleh karena itu, untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti menjiplak karya orang lain, maka peneliti mempertegas perbedaan antara masing-masing judul masalah yang dibahas pada skripsi sebelumnya dengan judul masalah yang akan diteliti. Skripsi sebelumnya yang membahas tentang komunikasi politik dan PPP akan peneliti uraikan sebagai berikut:

1. Skripsi yang pertama dengan judul Strategi Komunikasi dalam Pembentukan Opini Publik Partai Persatuan Pembangunan pada Pemilu legislatif 2009

oleh Yuswita Lailah berisikan tentang strategi DPP PPP dalam pembentukan opini publik pada Pemilu legislatif 2009 dan program pembangunan citra PPP

15

Lexy J. Moeong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), h. 151.

16

(26)

pada Pemilu legislatif 2009. Persamaan dengan permasalahan yang peneliti teliti adalah pada kajian ilmunya yaitu komunikasi politik dan subjek penelitiannya yaitu PPP, sedangkan perbedaannya adalah pada objek penelitiannya, jika Yuswita meneliti strategi komunikasi dalam pembentukan opini maka penulis meneliti tentang strategi komunikasi politik dalam perolehan suara.

2. Skripsi dengan judul Dakwah Politik Partai Persatuan Pembangunan oleh Sa’roni Mubarok. Berisikan tentang program perjuangan PPP di bidang

keagamaan, bidang politik, bidang ekonomi, bidang hukum dan hak asasi manusia, bidang sosial-kemasyarakatan dan kebudayaan, bidang kesejahteraan masyarakat, dan bidang hubungan internasional. Pada skripsi ini juga berisikan aplikasi dakwah Islam PPP dalam hal legislasi. Persamaannya dengan masalah yang akan peneliti teliti ada pada subjek penelitiannya yaitu PPP, sedangkan perbedaannya ada pada masalah yang diteliti. Jika Sa’roni Mubarok meneliti tentang aplikasi dakwah PPP, sedangkan peneliti meneliti tentang strategi komunikasi politik PPP.

3. Skripsi yang ketiga dengan judul Komunikasi Politik Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Bogor dalam Pilkada

(27)

meneliti PPP daerah Kabupaten Bogor dan permasalahan pada Pilkada, sedangkan peneliti meneliti komunikasi politik PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif.

Melihat dari skripsi sebelumnya yang peneliti uraikan di atas, ada beberapa perbedaan dari masalah yang akan diteliti. Dalam penulisan skripsi yang peneliti buat adalah bagaimana strategi komunikasi politik dalam perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu legislatif 2009. Dibandingkan dengan skripsi mahasiswa sebelumnya, hal yang ditonjolkan pada penulisan skripsi ini adalah strategi komunikasi politik dalam perolehan suara PPP.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diuraikan dalam penulisan ini, maka peneliti membagi sistematika penyusunan kedalam lima bab dibagi dalam sub dengan perincian sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN meliputi : latarbelakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORITIS memuat : teori performa komunikatif, konseptualisasi strategi komunikasi, konseptualisasi komunikasi politik, konseptualisasi partai politik, dan konseptualisasi Pemilu.

BAB III GAMBARAN UMUM PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

(28)

BAB IVTEMUAN DAN ANALISIS meliputi : strategi komunikasi politik PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu 2009, Penyebab turunnya perolehan suara PPP Kabupaten Tegal pada Pemilu 2009, dan performa komunikatif PPP Kabupaten Tegal.

BAB VPENUTUP meliputi : kesimpulan dan saran

DAFTAR PUSTAKA

(29)

17

KAJIAN TEORITIS

A. Teori Performa Komunikatif

Pacanowsky dan O’Donell Trujillo, menyatakan bahwa anggota organisasi

melakukan peforma komunikasi tertentu yang berakibat pada munculnya budaya organisasi yang unik. Pacanowsky dan O’Donell Trujillo meyakini bahwa performa komunikatif sangat penting bagi budaya suatu organisasi.1

Organisasi dalam hal ini adalah organisasi politik atau yang dikenal sebagai partai politik. Partai politik yang akan dibahas adalah Partai Persatuan Pembangunan. Bagaimana partai ini membentuk sebuah performa komunikatif di antara para kader, konstituennya dan masayarakat secara luas, terutama dalam rangka menghadapi Pemilu legislatif 2009.

Performa adalah metafora yang menggambarkan proses simbolik pemahaman akan perilaku manusia dalam sebuah organisasi, performa organisasi seringkali memiliki unsur teatrikal, di mana baik supervisior maupun karyawan (kader partai dalam hal ini) memilih untuk mengambil peranan atau bagian tertentu dalam organisasi mereka.2

Performa komunikatif dibedakan menjadi performa ritual, performa hasrat, performa sosial, performa politis, dan performa enkulturasi.3 Di bawah ini akan

1

Richard West & Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi

(Jakarta: Salemba Humanika, 2008), h. 325.

2Ibid

, h. 325.

3Ibid

(30)

dijelaskan lebih lanjut mengenai empat performa komunikatif yang dilakukan oleh PPP Kabupaten Tegal tersebut:

1. Performa Ritual

Performa ritual merupakan semua performa komunikasi yang terjadi secara teratur dan berulang. Ritual terdiri atas empat jenis, yakni personal, tugas, sosial, dan organisasi. Ritual personal merupakan rutinitas yang dilakukan di tempat kerja setiap hari. Ritual tugas adalah perilaku rutin yang dikaitkan dengan pekerjaan seseorang. Ritual sosial adalah rutinitas verbal nonverbal yang biasanya mempertimbangkan interaksi dengan orang lain. Ritual organisasi merupakan rutinitas yang berkaitan dengan organisasi secara keseluruhan.

2. Performa Sosial

Performa sosial merupakan perpanjangan sikap santun dan kesopanan untuk mendorong kerja sama diantara anggota organisasi. Sikap ini juga merupakan cerminan perilaku organisasi yang ditunjukkan untuk mendemonstrasikan kerja sama dan kesopanan dengan orang lain. Kebanyakan organisasi menginginkan untuk mempertahankan perilaku yang professional, bahkan dimasa yang sulit, dan performa sosial membantu tercapainya hal ini.

Organisasi dalam konteks ini adalah prganisasi partai politik, performa sosial berupa kesantunan dan kesopanan yang ditunjukkan oleh Partai Persatuan Pembangunan untuk kerjasama diantara para kader dan konstituennya.

3. Performa Politis

(31)

organisasi bersifat hierarkis, harus ada seseorang dengan kekuasaan untuk mencapai segala sesuatu dan memiliki cukup kontrol untuk mempertahankan dasar-dasar yang ada.

Ketika organisasi terlibat dalam performa politis, mereka mengkomunikasikan keinginan untuk mempengaruhi orang lain. Hal ini bukanlah selalu merupakan hal yang buruk. Performa politis budaya pada anggota organisasi berpusat pada pengakuan akan kompetisi sebagai anggota organisasi dan untuk komitmen mereka terhadap organisasinya.

4. Performa Enkulurasi

Performa enkulturasi merujuk pada bagaimana anggota mendapatkan pengetahuan dan keahlian untuk dapat menjadi anggota organisasi yang mampu berkonkontribusi. Performa ini mendemonstrasikan kompetisi seorang angota dalam sebuah organisasi.

Dalam performa ini, Partai Pesatuan Pembangunan memberikan pengetahuan dan keahlian kepada kader-kadernya dalam rangka meningkatkan komunikasi politik dan bagaimana menjadi politisi yang dapat mencapai jabatan publik serta mensosialisasikan program-program partai kepada konstituennya.4

B. Konseptualisasi Strategi Komunikasi

1. Pengertian Strategi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk

4Ibid

(32)

melaksanakan kebijakan tertentu di perang dan damai, atau rencana yang cermat mngenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.5

Menurut Lawrence R. Jauch dan William F. Gluek strategi adalah sarana yang digunakan untuk tujuan akhir (sasaran). Tetapi strategi bukanlah sekedar suatu rencana. Strategi ialah rencana yang disatukan: strategi mengikat semua bagian perusahaan menjadi satu. Strategi itu menyeluruh: strategi meliputi semua aspek penting perusahaan. Strategi itu terpadu: semua bagian rencana serasi satu sama lain dan bersesuaian.6

Menurut Onong Uchjana Effendy, mengatakan bahwa strategi pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk menapai tujuan, namun untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang memberikan arah saja melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya7

2. Tahapan-Tahapan Strategi

Dalam proses penerapan strategi menggunakan beberapa tahapan diantaranya: a. Perumusan Strategi

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam menyusun strategi yaitu dengan cara merumuskan strategi, atau menyusun langkah awal. Sudah termasuk didalamnya untuk pengembangan tujuan, mengenai peluang dan ancaman eksternal, menetapkan kelemahan dan kelebihan secara internal,

5

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 1902.

6

Lawrence R. Jauch, William F. Gluek, Manajemen Strategis dan Kebijakan Perusahaan, (Jakarta: Penerbit Erlangga) h. 12.

7

(33)

menetapkan suatu objektivitas, menghasilkan strategi alternatif, dan memilih strategi untuk dilaksanakan. Dalam perumusan strategi juga ditentukan suatu sikap untuk memutuskan suatu keputusan dalam proses kegiatan.

b. Implementasi Strategi

Setelah kita merumuskan dan memilih strategi yang telah ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah melaksanakan strategi yang ditetapkan tersebut. Dalam tahap pelaksanaan strategi yang telah dipilih sangat membutuhkan komitmen dan kerjasama dari seluruh unit, tingkat dan anggota organisasi. Tanpa adanya komitmen dan kerja sama dalam pelaksanaan strategi, maka proses formulasi dan analisis strategi hanya akan menjadi impian yang sangat jauh dari kenyataan. Implementasi strategi bertumpu pada alokasi dan pengorganisasian sumber daya yang ditampakkan melalui penetapan struktur organisasi dan mekanisme kepemimpinan yang dijalankan bersama budaya perusahaan dan organisasi.

c. Evaluasi Strategi

(34)

dinyatakan telah dicapai. Ada tiga macam mendasar untuk mengevaluasi strategi, yakni:

1) Meninjau faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi. Adanya perubahan yang ada akan menjadi satu hambatan dalam pencapaian tujuan, begitu pula dengan faktor internal yang diantaranya strategi tidak efektif atau hasil implemenatsi yang buruk dapat berakibat buruk pula bagi hasil yang akan dicapai.

2) Mengukur prestasi (membandingkan hasil yang akan diharapkan dengan kenyataan). Prosesnya dapat dilakukan dengan menyelidiki penyimpangan dari rencana, mengevaluasi prestasi individual dan menyimak kemajuan yang dibuat kearah pencapaian sasaran yang dinyatakan. Kriteria untuk mengevaluasi strategi harus dapat diukur dan mudah dibuktikan, kriteria yang meramalkan hasil lebih penting daripada kriteria yang mengungkapkan apa yang terjadi.

3) Mengambil tindakan korektif untuk memastikan bahwa prestasi sesuai dengan rencana. Dalam hal ini tidak harus berarti bahwa strategi yang ada ditinggalkan atau harus merumuskan strategi yang baru. Tindakan korektif diperuntukan bila tindakan atau hasil tidak sesuai dengan yang dibayangkan semula atau pencapaian yang diharapkan.8

8

(35)

3. Pengertian Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi merupakan perpaduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatannya bisa berbeda-beda tergantung pada suatu kondisi dan situasi.9

Strategi komunikasi perlu disusun secara luwes, sehingga taktik operasional komunikasi dapat segera disesuaikan dengan faktor-faktor yang berpengaruh. Untuk mencapai tujuan komunikasi secara efektif, seorang strategis komunikasi perlu memahami sifat-sifat komunikasi dan pesan, guna dapat menentukan jenis media yang akan diambil dan teknik komunikasi yang akan ditetapkan.10

a. Fungsi Strategi Komunikasi

Fungsi strategi komunikasi di bagi menjadi dua yaitu:

1) Tujuan sentral dalam strategi komunikasi; strategi pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajement untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana takik oprasionalnnya.

9

Effendy, “Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek”, h. 10.

10

(36)

2) Korelasi antar komponen dalam strategi komunikasi; dalam rangka menyusun strategi komunikasi diperlukan suatu pemikiran dengan memperhitungkan faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat. Akan lebih baik apabila dalam strategi itu diperhatikan komponen-komponen komunikasi dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pada setiap komponen tersebut.11

C. Konseptualisasi Komunikasi Politik

1. Pengertian Komunikasi Politik

Komunikasi politik mempunyai peranan yang penting dalam menyampaikan pesan-pesan politik kepada khalayak luas, karena merupakan tolak ukur keberhasilan bagi para politisi atau institusi politik. Sebelum kita mengetahui lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu definisi komunikasi dan politik itu sendiri.

Komunikasi menurut bahasa atau etimologi dalam “Ensiklopedi Umum”

diartikan dengan “Perhubungan”, sedangkan yang terdapat dalam buku

komunikasi berasal dari perkataan latin, yaitu:

a. Communicare, yang berpartisipasi ataupun memberitahukan.

b. Communis, yang berarti milik bersama ataupun berlaku dimana-mana c. Communis Opinion, yang berarti pendapat umum ataupun pendapat

mayoritas.

d. Communico, yang berarti membuat sama.

11

(37)

e. Demikian juga Communication berasal dari kata latin Communicatio yang juga bersumber dari kata Communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya sama makna.12

Definisi komunikasi menurut istilah banyak dikemukakan oleh sarjana-sarjana yang menekuni Ilmu Komunikasi seperti yang dikutip oleh Roudhonah, antara lain:

a. Menurut Carl I. Hovland, mengatakan bahwa komunikasi adalah Proses di mana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang-perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang-orang lain (komunikan).

b. Menurut Wiliam Albiq, mengatakan bahwa komunikasi adalah proses pengoprasian lambing-lambang yang berarti di antara individu-individu.

c. Menurut Harold D. Lasweel, mengatakan bahwa komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa”,

“mengatakan apa”, “dengan saluran apa”, “kepada siapa” dan “dengan

akibat atau hasil apa”.13

Sementara politik diambil dari kata politics, dalam bahasa Inggris , adalah sinonim dari kata politik atau ilmu politik dalam bahasa Indonesia. Bahasa Yunani pun mengenal beberapa istilah yang terkait dengan kata politik, seperti politicos

12

Roudhonah, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta press, 2007), h. 19.

13Ibid

(38)

(menyangkut warga negara), polites (seorang warga negara), polis (kota,negara), dan politeia (kewargaan).14

Sementara pengertian politik secara terminologi telah banyak para ahli yang mendefinisikan apa itu politik. Mengacu pada pendapat Deliar Noer yang di kutip oleh Gun Gun Heryanto, politik merupakan aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu bentuk susunan masyarakat.15

Menurut Budiarjo yang dikutip oleh Cangara, politik adalah kegiatan yang dilakukan suatu negara yang menyangkut proses menentukan tujuan dan melaksanakan tujuan tersebut.16

Lalu, apa yang dimaksud komunikasi politik? Bertolak dari konsep komunikasi dan konsep politik yang telah diuraikan pada bagian awal, upaya untuk mendekati apa yang dimaksud komunikasi politik, pengertian komunikasi politik dapat dirumuskan sebagai suatu proses pengoperan lambang-lambang atau simbol-simbol komunikasi yang berisi pesan-pesan politik dari seseorang atau kelompok kepada orang lain dengan tujuan untuk membuka wawasan atau cara berpikir, serta mempengaruhi sikap dan tingkah laku khalayak yang menjadi target politik.17

Sedangkan menurut Maswadi Rauf yang dikutip oleh Gun Gun heryanto, komunikasi politik sebagai kegiatan politik merupakan proses penyampaian

14

Asep Saeful Muhtadi, Komunikasi Politik Indonesia : Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru, (Bandung: 2008, Remaja Rosda Karya), h. 28-29.

15

Gun Gun Heryanto, Komunikasi Politik di Era Industry Citra,( Jakarta: Lasswell Visitama, 2010), h. 5.

16

Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta, Rajawali Pers, 2009), h. 28

17Ibid

(39)

pesan-pesan bercirikan politik oleh aktor-aktor politik kepada pihak lain. Kegiatan ini adalah salah satu dari kegiatan sosial yang dijalankan seehari-hari oleh warga masyarakat termasuk oleh elit politik.18

2. Unsur-Unsur Komunikasi Politik

Proses komunikasi politik sama dengan proses komunikasi pada umumnya (komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia) komunikasi politik sebagai body of knowledge juga terdiri atas berbagai unsur, yakni:

a. Komunikator Politik

Komunikasi politik tidak hanya menyangkut partai politik, melainkan juga lembaga pemerintahan legislatif, dan eksekutif. Dengan demikian, sumber atau komunikator politik adalah mereka-mereka yang dapat memberi informasi tentang hal-hal yang mengandung makna atau bobot politik misalnya presiden, menteri, anggota DPR, MPR, KPU, gubernur, bupati/walikota, politisi, fungsionaris partai politik, fungsionaris LSM, dan kelompok-kelompok penekan dalam masyarakat yang bisa mempengaruhi jalannya pemerintahan.

b. Pesan Politik

Pesan politik ialah pernyataan yang disampaikan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, baik secara verbal maupun non verbal. Tersembunyi maupun terang-terangan, baik yang disadari maupun tidak disadari yang isinya mengandung bobot politik. Misalnya pidato poitik,

18

(40)

undang-undang kepartaian, undang-undang Pemilu, pernyataan poltik, artikel atau isi buku/brosur dan berita surat kabar, radio, televisi dan internet yang berisi ulasan politik dan pemerintahan, spanduk atau baliho, iklan politik, propaganda, makna logo, warna baju atau bendera dan semacamnya.

c. Saluran atau Media Politik

Saluran atau media politik ialah alat atau sarana yang digunakan oleh para komunikator dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya. Misalnya media cetak, yaitu surat kabar, tabloid, majalah. Media elektronik, misalnya film, radio, televisi, komputer, internet. Media format kecil, misalnya, leaflet, brosur, selebaran, stiker, bulletin. Media luar ruang (outdoor media), misalnya baliho, spandu, reklame, bendera, jumbai, pin, logo, topi, rompi, kaos oblong, kalender, blok note, dan segala sesuatunya yang biasa digunakan untuk membangun citra image building.

d. Sasaran atau Target Politik

(41)

e. Pengaruh atau Efek Komunikasi Politik

Efek komunikasi poltik yang diharapkan adalah terciptanya pemahaman terhadap sistem pemerintahan dan partai-partai politik, di mana nuansanya akan bermuara pada pemberian suara dalam pemilihan umum. Pemberian suara sangat menentukan terpilih tidaknya seorang kandidat untuk posisi mulai tingkat presiden dan wakil presiden, anggota DPR/MPR, gubernur, dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota sampai tingkat DPRD.19

3. Tipologi Komunikator Politik

a. Politisi

1) Politikus sebagai wakil : yakni komunikator politik yang menjadi perwakilan artikulasi kepentingan politik dari individu ataupun kelompok.

2) Politikus sebagai ideolog : yakni komunikator politik yang menjadi kader ideologi representasi nilai-nilai normatif yang diusung oleh individu atau kelompok politik. Biasanya berdasarkan sebuah proses kaderisasi.20

19

Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, h. 37-39.

20

(42)

b. Profesional

1) Jurnalis : komunikator yang secara profesional dan melembaga turut mempublikasikan isu, opini publik, dan fakta politik yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

2) Promotor : komunikator yang secara professional bekerja mempromosikan seorang kandidat atau sebuah partai politik tertentu dalam pemenangan kompetisi politik misalnya saat Pemilu.21

c. Aktivis

1) Juru Bicara: komunikator politik yang mewakili kelompok-kelompok di masyarakat dalam hal menyuarakan tuntutan, desakan, dan masukan kepada suprastruktur politik.

2) Pemuka Pendapat : komunikator politik dari tokoh masyarakat, figur yang memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat.22

4. Saluran-Saluran Komunikasi Politik

a. Struktur face-to-face informal

1) Bersifat bebas tidak terikat oleh struktur formal. 2) Tidak semua orang memiliki akses.

3) Yang memiliki akses ke saluran ini biasanya memiliki informasi lebih banyak.

4) Sangat dipengaruhi struktur informal di mana dia bergabung. b. Struktur Sosial Tradisional

21Ibid

, h. 1.

22Ibid

(43)

Saluran komunikasi di mana arus komunikasi ditentukan oleh posisi sosial pihak yang berkomunikasi (khalayak maupun sumber). Artinya, pada lapis mana yang bersangkutan berkedudukan dan memiliki akses di susunan sosial masyarakat tersebut.

c. Struktur Masukan (Input)

Struktur masukan adalah struktur yang memungkinkan terbentuknya input bagi sistem politik.

d. Struktur Keluaran (Output)

Struktur output politik adalah legislatif dan birokrasi. Dengan kata lain, adalah struktur formal pemerintahan. Memungkinkan penyampaian pesan secara cepat dan mudah karena mereka berada dalam jajaran birokrasi.

e. Media Massa

Media memiliki efek politik dalam suatu kelangsungan sistem politik. Paling tidak kekuatan media ini bersumber pada tiga hal: 1) Struktural : bersumber dari kemampuannya menyediakan khalayak

bagi para politisi.

2) Psikologis : akar psikologis bersumber pada hubungan kepercayaan dan keyakinan yang diperolh oleh organisais media dari khalayak

3) Normatif : bersumber pada prinsip-prinsip demokrasi mengenai kebebasan menyatakan pendapat. 23

23Ibid

(44)

D. Konseptualisasi Partai Politik

1. Definisi Partai politik

Partai politik merupakan sarana bagi warga negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara. Dewasa ini partai politik sudah sangat akrab di lingkungan kita. Sebagai lembaga politik, partai bukan sesuatu yang dengan sendirinya ada. Kelahirannya mempunyai sejarah cukup panjang, meskipun juga belum cukup tua. Biasa dikatakan partai politik merupakan organisasi yang baru dalam kehidupan manusia, jauh lebih muda dibandingkan dengan organisasi negara. Dan ia baru ada di negara modern.24

Mengenai pengertian partai politik cukup banyak sarjana telah mengemukakan pendapatnya antara lain sebagai berikut: Menurt Carr yang dikutip oleh Hafied Cangara, “political party is an organization that attemps to

achieve and maintain control of government” (partai politik adalah suatu organisasi yang berusaha untuk mencapai dan memelihara pengawasan terhadap pemerintah).25 Sementara itu, pengertian partai politik menurut Undang-Undang No. 31 Tahun 2002 Republik Indonesia dinyatakan bahwa “partai politik adalah

organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan umum.”26

24

Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 397.

25

Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, h. 208.

26Ibid,

(45)

Menurut Carl Friendrich yang dikutip oleh Ramlan Surbakti dalam bukunya, memberi batasan partai politik sebagai kelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan bagi pemimin materiil dan idiil kepada para anggotanya. Sementara itu soultau menjelaskan partai politik sebagai yang sedikit banyak terorganisasikan, yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik, dan yang memanaatkan kekuasaannya untuk kebijakan umum yang mereka buat.27

2. Fungsi Partai Politik

Fungsi utama partai politik adalah mencari dan mempertahanan kekuasaan guna mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan ideologi tertentu.28 Namun, partai politik juga melaksanakan sejumlah fungsi lain. Fungsi lain tersebut adalah:

a. Sosialisasi Politik

Yang dimaksud sosialisasi politik ialah proses pembentukan sikap dan orientasi politik para anggota masyarakat. Melalui proses sosialisai politik inilah para anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat.

b. Rekrutmen Politik

Rekrutmen politik ialah seleksi dan pemilihan atau seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya. Fungsi ini sangat besar porsinya manakala partai politik

27

Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: Grasindo, 2010), h. 148.

28Ibid

(46)

itu merupakan partai tunggal seperti dalam sistem politik totaliter, atau manakala partai ini merupakan partai mayoritas dalam badan perwakilan rakyat sehingga berwenang membentuk pemerintahan dalam sistem politik demokrasi.

c. Partisipasi Politik

Partisipai politik ialah kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebikjasanaan umum dan dalam ikut menentukan pemimpin pemerintahan. Kegiatan yang dimaksud, antara lain, mengajukan tuntutan, membayar pajak, melaksanakan keputusan, mengajukan kritik dan koreksi atas pelaksanaan suatu kebijakan umum, dan mendukung atau menetang calon pemimpin tertentu, mengajukan alternatif pemimpin dan memiih wakil rakyat dalam pemilihan umum.

d. Pemadu Kepentingan

Untuk memadukan berbagai kepentingan yang berbeda bahkan bertentangan, maka partai politik dibentuk. Kegiatan menampung, menganalisis dan memadukan berbagai bagai kepentingan yang berbeda bahkan bertentangan menjadi berbagai alternatif kebijakan umum, kemudian diperjuangkan dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Itulah yang dimaksud dengan fungsi pemaduan kepentingan.

e. Komunikator Politik

(47)

masyarakat sebagaimana diperankan oleh partai politik di negara totaliter tetapi juga menyampaikan aspirasi dan kepentingan berbagai kelompokk masyarakat kepada pemerintah. Keduanya dilaksanaan oleh partai-partai politik dalam sistem demokrasi.

f. Pengendalian Konflik

Partai politik sebagai salah satu lembaga demokrasi berfungsi untuk mengendalikan konflik melalui cara berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik dan membawa permasalahan ke dalam musyawarah badan perwakilan rakyat untuk mendapatkan penyelesaian berupa keputusan politik.

g. Kontrol politik

Dalam melaksanakan fungsi kontrol politik, partai politik juga harus menggunakan tolak ukur tersebut sebab tolak ukur itu pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan bersama sehingga seharusnya menjadi pegangan bersama.29

3. Tujuan Partai Politik

Menurut Undang-Undang No.2 Tahun 2008 Pasal 10 tujuan partai politik secara khusus adalah:

a. Meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan.

b. Memperjuangkan cita-cita partai politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan negara.

29Ibid

(48)

c. Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan negara.30

4. Tipologi Partai Politik

Tipologi partai politik ialah pengklasifikasian berbagai partai politik berdasarkan kriteria tertentu, seperti asas dan orientasi, komposisi dan fungsi anggota, basis sosial dan tujuan. Klasifikasi ini cenderung bersifat tipe dan ideal karena dalam kenyataanya, tidak sepenuhnya demikian. Tetapi untuk memudahkan pemahaman, di bawah ini, diuraikan sejumlah tipologi partai politik menurut kriteria-kriteria tersebut.

a. Asas dan Orientasi

Berdasarkan asas dan orientasinya, partai politik diklasifikasikan menjadi tiga tipe. Ketiga tipe ini meliputi partai politik pragmatis, partai politik doktriner, dan partai politik kepentingan. Yang dimaksud partai politik pragmatis ialah suatu partai yang mempunyai program dan kegiatan yang tak terikat kaku pada suatu doktrin dan ideologi tertentu. Sedangkan yang dimaksud partai politik doktriner ialah suatu partai politik yang memiliki sejumlah program dan kegiatan konkret sebagai penjabaran ideologi. Selanjutya yang dimaksud dengan partai kepentingan ialah suatu partai politik yang dibentuk dan dikelola atas dasar kepentingan tertentu.

b. Komposisi dan Fungsi Anggota

Menurut komposisi dan fungsi anggotanya, partai politik dapat digolongkan menjadi dua, yaitu massa atau lindungan dan partai kader.

30

(49)

Yang dimaksud dengan partai politik massa atau lindungan ialah partai politik yang mengadalkan kekuatan pada keunggulan jumlah anggota dengan cara memobilisasi massa sebanyak-banyaknya, dan mengembangkan diri sebagai pelindung bagi berbagai kelompok dalam masyarakat sehingga pemilihan umum dapat dipelihara.

Sedangkan partai kader ialah suatu partai yang mengandalkan kualitas anggota, ketaatan organisasi, dan disiplin anggota sebagai sumber kekuatan utama. Seleksi kenggotaan dalam partai kader biasanya sangat ketat, yaitu melalui kaderisasi yang berjenjang dan intensif, serta penegakan disiplin partai yang konsisten dan tanpa pandang bulu.

c. Basis Sosial dan Tujuan

Menurut almond yang dikutip oleh Surbakti menggolongkan partai politik berdasarkan basis sosial dan tujuannya. Menurut basis sosialnya partai politik dibagi menjadi empat tipe, yaitu:

1) Partai politik yang beranggotakan lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat, seperti kelas atas, menengah, dan bawah.

2) Partai politik yang anggota-anggotanya berasal dari kelompok kepentingan tertentu, seperti petani, buruh, dan pengusaha.

(50)

4) Partai politik yang angotanya berasal dari kelompok budaya tertentu, seperti suku bangsa, bahasa, dan daerah tertentu.31

E. Konseptualisasi Pemilu

1. Definisi Pemilu

Ada beberapa macam definisi mengenai Pemilu, diantaranya adalah menurut Nohlen yang dikutip oleh Toni Andrianus dkk , di mana pemilihan umum (Pemilu) adalah “satu-satunya metode demokratik” untuk memilih wakil rakyat.32

Kemudian menurut R. William Liddle yang dikutip oleh Toni Andrianus dkk menyatakan dalam sistem pemerintahan demokrasi, Pemilu sering dianggap sebagai penghubung antara prinsip kedaulatan rakyat dan praktek pemerintahan oleh sejumlah elit politik. Setiap warga negara yang telah dianggap dewasa dan memenuhi persyaratan menurut Undang-Undang, dapat memilih wakil-wakil mereka di parlemen. Termasuk para pemimpin pemerintahan. Kepastian bahwa hasil pemilihan itu mencerminkan kehendak rakyat diberikan oleh seperangkat jaminan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemilihan umum.33

Pemilu disebut juga dengan “Political Market” (Dr. Indria Samego). Artinya Pemilu adalah pasar politik tempat individu/masyarakat berinteraksi untuk melakukan kontrak sosial antara peserta Pemilu (partai politik) dengan pemilih (rakyat) yang memiliki hak pilih setelah terlebih dahulu melakukan

31

Surbakti, Memahami Ilmu Politik, h. 155-158.

32

Toni Andrianus Pito, dkk., Mengenal Teori-Teori Politik, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2006) h. 298.

33Ibid

(51)

serangkaian aktivitas politik untuk meyakinkan pemilih, sehingga mencoblos partai politik yang menjadi peserta Pemilu untuk mewakilinya dalam badan legislatif maupun eksekutif.34

2. Tujuan Pemilu

Tujuan Pemilu menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2008 Pasal 3 adalah Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.35

3. Fungsi Pemilu

Pemilu mempunyai beberapa fungsi yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yan lain. Fungsi tersebut adalah:

a. Sebagai sarana legitimasi politik. Fungsi ini menjaadi kebutuhan pemerintah dan sistem politik yang mewadahi format Pemilu yang berlaku. Melalui Pemilu, keabsahan pemerintah yang berkuasa dapat ditegakkan.

b. Fungsi perwakilan politik. Fungsi ini terutama menjadi kebutuhan rakyat, baik dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah dan program serta kebijakan yang dihasilkannya. Pemilu dalam kaitan ini merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk duduk dalam pemerintahan maupun lembaga legislatif.

c. Pemilu sebagai mekanisme bagi pergantian atau sirkulasi elit penguasa. Keterkaitan Pemilu dalam sirkulasi elit didasarkan pada asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili masyarakat luas. Dalam kaitan ini

34

A. Rahman H.I, Sistem Politik Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007) h. 147.

35

(52)

Pemilu merupakan sarana dan jalur langsung untuk mencapai posisi elit penguasa. Dengan begitu maka Pemilu diharapkan bisa berlangsung pergantian atau sirkulasi elit penguasa secara kompetitif dan demokratis d. Sebagai sarana pendidikan politik bagi rakyat. Pemilu merupakan salah

satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat yang bersifat langsung, umum, bebas, dan rahasia. Yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi.36

4. Asas Pemilu

Asas Pemilu yatiu:

a. Berkala (teratur). Bahwa pemilihan umum itu dilaksanakan secara teratur sesuai dengan konstitusi dan ketentuan yang diatur oleh negara bersangkutan.

b. Langsung. Pemilih mempunyai hak untuk secara langsung memberikan suaranya sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara dalam memilih wakil-wakil yang akan duduk di lembaga perwakilan rakyat dan di pemerintahan.

c. Umum. Pemilihan umum diikuti oleh setiap orang yang sudah memenuhi syarat.

d. Bebas. Maksudnya dalam memberikan suaranya, si pemilih tidak ada tekanan dari pihak manapun yang memungkinkan dia memberikan suara tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dia benar-benar bebas dalam menentukan pilihannya.

36

(53)

e. Rahasia. Artinya kerahasiaan pemberi suara atas calon atau organisasi atau partai peserta pemilihan umum yang dipilihnya tidak akan diketahui oleh siapapun, termasuk panitia pemungutan suara. Sehingga pemilih bebas dari ketakutan atau ancaman dari pihak manapun dalam memberikan suaranya dan setelah dia memberi suaranya.

f. Jujur. Maksudnya adalah tidak boleh terjadi kecurangan-kecurangan dalam pemilihan umum tersebut. Baik oleh penyelenggara yang memanipulasikan suara-suara untuk kepentingan partai/organisai tertentu, atau oleh organisasi/partai peserta pemilihan umum yang berbuat kecurangan-kecurangan dengan memberikan informasi tentang dirinya yang mungkin belum berhak memilih tetapi sudah memperoleh keterangan yang menyatakan ia berhak memilih.

g. Adil. Dalam penyelenggaraan pemilihan umum setiap pemilihan dan partai politik peserta pemilihan umum mendapatkan perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak manapun.37

5. Tipe-Tipe Sistem Pemilu

Umumnya anggota partai politik duduk dilembaga perwakilan melalui pemilihan umum, tetapi karena ada kelompok fungsional dalam masyarakat yang dibutuhkan duduk di lembaga perwakilan maka dikenal cara pengangkatan atau penunjukkan oleh organisasi fungsionalnya atau perwakilan etnis atau daerah. Sehubungan dengan itu cara yang bisa dianut untuk mengisi keanggotaan lembaga perwakilan menurut G.Y. Wolhoff, yaitu melalui pengangkatan (penunjukkan)

37Ibid

(54)

biasa disebut sistem pemilihan organis dan pemiihan umum biasa disebut sistem pemilihan mekanis.38

Berikut ini akan peneliti jelaskan tipe-tipe sistem Pemilu:

a. Sistem Pemilihan Organis

Dalam sistem pemilihan organis ini pertain-partai/organisasi politik tidak perlu dikembangkan, karena pemilihan diselenggarakan dan dipimpin oleh setiap persekutuan hidup dalam lingkungan sendiri.

Badan perwakilan menurut sistem organisme ini berifat badan perwakilan kepentingan-keprntingan khusus persekutuan hidup yang biasa disebut dewan korporatif.

b. Sistem Pemilihan Mekanis

Dalam sistem mekanisme, partai-partai/organisasi politik mengorganisir pemilih-pemilih dan di sini partai-partai politik berkembang baik menurut sistem satu partai, dua partai atau multi partai. Lembaga perwakilan rakyat yang terbentuk bersifat leaga perwakilan kepentingan rakyat seluruhnya atau menghasilakan parlemen atau dalam lembaga perwakilan dengan satu kamar disebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

c. Sistem Distrik

Sistem distrik biasa disebut juga sistem pemilihan mayoritas atau single-member constituency. Sistem pemilihan distrik adalah suatu sistem pemilihan umum di mana wilayah suatu negara yang menyelenggarakan pemilihan untuk memilih wakil di parlemen, dibagi

38Ibid,

(55)

atas distrik-distrik pemilihan yang jumlahnya sama dengan kursi yang tersedia di parlemen, dan setiap ditrik memilih hanya satu wakil untuk duduk di parlemen dari sekian calon untuk distrik tersebut, yaitu yang memperoleh suara terbanyak (mayoritas) dalam pemilihan bersangkutan.

d. Sistem Pemilihan Mayoritas-Plularitas

Pada intinya, sistem mayoritas dilihat sebagai kompromi oleh kelompok yang ingin melakukan peningkatan terhadap sistem distrik tetapi tidak menyukai sistem proporsional.

e. Sistem Representasi Proporsional

(56)

44 BAB III

GAMBARAN UMUM DEWAN PIMPINAN CABANG (DPC) PPP

KABUPATEN TEGAL & KABUPATEN TEGAL PADA PEMILU

LEGISLATIF 2009

A. Sejarah dan Pembentukan DPC PPP Kabupaten Tegal

Partai Persatuan Pembagunan (PPP) secara nasional didirikan pada tanggal 5 Januari 1973, sebagai hasil fusi politik empat partai Islam, Partai Nadhlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Islam Perti.1

PPP didirikan oleh lima deklarator yang merupakan pimpinan empat Partai Islam peserta Pemilu 1971 dan seorang ketua kelompok Persatuan Pembangunan, semacam fraksi empat partai Islam di DPR. Para deklarator itu adalah KH Idham Chalid, Ketua Umum PB Nadhlatul Ulama, H.Mohammad Syafaat Mintaredja, SH Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), H. Anwar Tjokroaminoto, Ketua Umum PSII, H. Rusli Halil Ketua Umum Partai Islam Perti dan H. Mayskur, Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di Fraksi DPR.2

Sedangkan di Kabupaten Tegal, PPP berdiri setelah mendapatkan instruksi dari pimpinan pusat PPP, dan diprakarsai oleh para tokoh masyarakat dan ulama’, adalah Kyai Muhgni, Kyai Usman Zahid, Kyai Miftah, KH Zainal Arifin,

1

Tubagus Fahmi, Pasang Surut Partai Persatuan Pembangunan , (Tegal: DPC PPP KAB Tegal, 2006), h. 16.

2Ibid

Gambar

Tabel 1 Susunan dan Personalia Pengurus Harian Dewan Pimpinan Cabang
Tabel 1 Susunan dan Personalia Pengurus Harian Dewan Pimpinan Cabang . View in document p.11
GRAFIK I PENURUNAN PEROLEHAN SUARA PPP PADA PEMILU LEGISLATIF
GRAFIK I PENURUNAN PEROLEHAN SUARA PPP PADA PEMILU LEGISLATIF . View in document p.18
GRAFIK II PENURUNAN PEROLEHAN SUARA PPP KABUPATEN TEGAL PADA
GRAFIK II PENURUNAN PEROLEHAN SUARA PPP KABUPATEN TEGAL PADA . View in document p.19
figur yang memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat.22
figur yang memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat.22 . View in document p.42
TABEL 1 Susunan dan Personalia Pengurus Harian Dewan Pimpinan Cabang
TABEL 1 Susunan dan Personalia Pengurus Harian Dewan Pimpinan Cabang . View in document p.62
TABEL 3 Susunan dan Personalia Pimpinan Majelis Pakar Dewan Pimpinan
TABEL 3 Susunan dan Personalia Pimpinan Majelis Pakar Dewan Pimpinan . View in document p.63
TABEL 4
TABEL 4 . View in document p.64
NO TABEL 5 NAMA PARTAI
NO TABEL 5 NAMA PARTAI . View in document p.65
TABEL 6 NAMA TOKOH WILAYAH
TABEL 6 NAMA TOKOH WILAYAH . View in document p.71
NAMA TABEL 9 WILAYAH
NAMA TABEL 9 WILAYAH . View in document p.72
NAMA TABEL 12 WILAYAH
NAMA TABEL 12 WILAYAH . View in document p.73
TABEL 13 TINGKAT PENDIDIKAN
TABEL 13 TINGKAT PENDIDIKAN . View in document p.83
KEGIATAN TABEL 14 WAKTU
KEGIATAN TABEL 14 WAKTU . View in document p.85
TABEL 15 KEGIATAN WAKTU TEMPAT
TABEL 15 KEGIATAN WAKTU TEMPAT . View in document p.86
KEGIATAN TABEL 17 WAKTU
KEGIATAN TABEL 17 WAKTU . View in document p.88

Referensi

Memperbarui...

Download now (115 pages)