PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 4 TANGKIT SERDANG TANGGAMUS

Gratis

0
22
51
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 4 TANGKIT SERDANG TANGGAMUS Oleh HARBENDI Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa dengan nilai rata-rata di bawah KKM pada mata pelajaran IPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Prosedur dilaksanakan melalui tiga siklus dimana setiap siklusnya terdiri dari; (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) observasi (observing), (4) refleksi (reflecting). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar instrumen aktivitas siswa, lembar instrumen kinerja guru dan lembar soal tes untuk mengukur hasil belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif untuk mengukur aktivitas siswa dan kinerja guru, sedangkan data kuantitatif digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif Studen Team Achievement Division pada mata pelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 4 Tangkit Serdang berdampak pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I (43,50%) dengan kriteria “Cukup Aktif” meningkat pada siklus II menjadi (52,50%) dengan kategori “Cukup Aktif” dan pada siklus III meningkat menjadi (62,75%) dengan kriteria “aktif”. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I (25%), siklus II (45%), siklus III (75%). Kata kunci: Model kooperatif STAD, aktivitas belajar, hasil belajar. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 4 TANGKIT SERDANG TANGGAMUS (Skrpsi) Oleh HARBENDI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 xv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Tahap-tahap penelitian tindakan kelas …………………………… 23 2. Foto Pelaksanaan Penelitian …………………………………….. 85 xii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ……………………………………… ABSTRAK ………………………………………………….. HALAMAN JUDUL DALAM……………………………… LEMBAR PERSETUJUAN………………………………… LEMBAR PENGESAHAN…………………………………. LEMBAR PERNYATAAN…………………………………. HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………. MOTTO…………………………………………………….. RIWAYAT HIDUP………………………………………… SANWACANA……………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………….. DAFTAR TABEL…………………………………………… DAFTAR GAMBAR……………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN……………………………………… i ii iii iv v vi vii viii ix x xii xiv xv xvi BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah …………………………. B. Identifikasi Masalah ……………………………… C. Rumusan Masalah ………………………………… D. Tujuan Penelitian…………………………………. E. Manfaat Penelitian ………………………………… 1 5 6 6 7 BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran………………................... B. Teori-teori Belajar ………………………........…….. C. Aktivitas Belajar …………………...........………….. D. Hasil Belajar IPA SD …………………….................. E. Model Pembelajaran Kooperatif ……....................... F. Pembelajaran Kooperatif STAD …………………….. G. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif STAD ….. H. Kinerja Guru ………………………………………….. I. Hipotesis Tindakan ……………………………....…… 8 11 13 14 15 17 18 19 21 xiii BAB III. METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian …………………………………… B. Pendekatan Penelitian …………………………….. C. Prosedur Penelitian ………………………………… D. Waktu dan Tempat Penelitian………………………. E. Alat Pengumpulan Data …………………………… F. Teknik Analisis Data ……………………………… G. Indikator Keberhasilan …………………………… 22 22 23 25 25 26 29 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Penelitian ……..………………………….. B. Hasil Penelitian …………………………………….. 1. Penelitian Siklus I………………………………. 2. Penelitian Siklus II……………………………. 3. Penelitian Siklus III……………………………. C. Pembahasan ………………………………………… 30 31 31 37 42 48 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………………………………………… B. Saran ………………………………………………. 53 54 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………….. 55 LAMPIRAN ............................................................................. 57 xvi DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Silabus Siklus I ............................................................................... 58 2. Rpp Siklus I ................................................................................... 59 3. Lembar Kerja Siswa siiklus I ........................................................ 62 4. Kunci Jawaban Siklus 1 ……………………………………….... 63 5. Lembar Aktivitas Siswa Siklus I ……………............................. 64 6. Lembar Instrumen Penilaian Kinerja Guru siklus I ...................... 65 7. Lembar Hasil Belajar Siswa Siklus I ............................................ 66 8. Silabus Siklus II ............................................................................. 67 9. RPP Siklus II ................................................................................. 68 10. Lembar Kerja Siswa Siklus II …………………………………….. 71 11. Kunci Jawaban Siklus II ……………………………………..…… 72 12. Lembar Aktivitas Siswa Siklus II ................................................ 73 13. Lembar Instrumen Penilaian Kinerja Guru Siklus II ................... 74 14. Lembar Hasil Belajar Siswa Siklus II ......................................... 75 15. Silabus Siklus III ............................................................................ 76 16. RPP Siklus III ................................................................................. 77 17. Lembar Kerja Siswa Siklus III ........................................................ 79 18. Kunci Jawaban Siklus III ................................................................. 80 19. Lembar Aktivitas Siswa Siklus III ............... ................................. 81 20. Lembar Instrument Kinerja Guru Siklus III .................................. 82 xvii 21. Lembar Hasil Belajar Siswa Siklus III .......................................... 83 22. Surat Izin Penelilitian Dari FKIP Unila .......................................... 84 xiv DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Analisis Aktivitas Siswa.................................. ........................... 26 2. Kategori Penilaian Aktivitas Siswa……………………………… 26 3. Lembar Instrumen Kinerja Guru ............................................... 27 4. Persentase Aktivitas Kinerja Guru ............................................ 27 5. Analisis Aktivitas siswa Siklus I ............................................ 32 6. Instrument Kinerja Guru Siklus I .............................................. 32 7. Rekapitulasi Kinerja Guru Siklus I ............................................... 33 8. Hasil Belajar Siswa Siklus I .......................................................... 34 9. Analisis Aktivitas siswa Siklus II............................................ 37 10. Instrument Kinerja Guru Siklus II .............................................. 38 11. Rekapitulasi Kinerja Guru Siklus II ............................................... 39 12. Hasil Belajar Siswa Siklus II .......................................................... 40 13. Analisis Aktivitas siswa Siklus III ............................................ 43 14. Instrument Kinerja Guru Siklus III .............................................. 44 15. Rekapitulasi Kinerja Guru Siklus III ............................................... 44 16. Hasil Belajar Siswa Siklus III .......................................................... 46 17. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Siswa Selama Pelaksanaan ............. 48 18. Rekapitulasi Kinerja Guru Selama Pelaksanaan Penelitian ........... 49 19. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Selama Penelitian ..................... 49 PERSEMBAHAN Karya Tulis Ilmiah ini dipersembahkan kepada: 1. Istri tercinta yang bernama Dahliya atas do`a dan perjuangan yang tak kenal lelah. 2. Semua rekan mahasiswa S 1 Dalam Jabatan angkatan 2010. 3. Almamater tercinta. MOTO TAK ADA MANUSIA YANG TAK BELAJAR BELAJARLAH UNTUK MENJADI YANG LEBIH BAIK ( HARBENDI 2014 ) RIWAYAT HIDUP Harbendi dilahirkan di Desa Binjai Wangi Pada Tanggal 11 Juni 1964, merupakan anak ke 2 dari 6 bersaudara dari pasangan Ibu Rosita dan Bapak Abu Hanifah (Alm). Penulis menyelesaikan pendidikan formal di SD Negeri 3 Pagelaran tahun 1977. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pagelaran lulus pada tahun 1980. Sekolah Pendidikan Guru Negeri 1 Bandar Lampung lulus pada tahun 1984. Pada tahun 2010, penulis tercatat sebagai mahasiswa S 1 PGSD Dalam Jabatan FKIP UNILA hingga saat ini. Selama penulis menjadi mahasiswa juga berprofesi sebagai tenaga pengajar di SD Negeri 4 Tangkit serdang Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus. SANWACANA Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWt, yang telah memberikan Rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Tugas Akhir ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada jurusan S.1 PGSD dalam jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Penulis telah berusaha secara maksimal untuk menuysun tugas akhir ini, namun sekiranya terdapat kekeliruan dan kekurangan penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dimasa mendatang. Penyusun tugas akhir ini tentunya tidak terlepas dari bimbingan, tuntunan dan bantuan dari berbagai pihak. Karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Yth: 1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Sugeng P. Harianto, M.S. selaku Rektor Universitas Lampung. 2. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Bapak Dr. H. M. Thoha B.S. Jaya, M.S. selaku Pembantu Dekan I. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 4. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 5. Bapak Dr. H. Darsono, M.Pd. selaku Ketua Program Studi S.1 PGSD Universitas Lampung. 6. Bapak Dr. Chandra Ertikanto, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Penyusunan Skripsi yang telah memberikan masukan, bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis 7. Ibu Dr. Sowiyah, M.Pd selaku Dosen Pembahas Penyusunan Skripsi yang telah memberikan masukan, bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis. 8. Bapak Ibu Dosen Pengajar Program S.1 PGSD dalam Jabatan yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama penulis menuntut ilmu pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Semoga penulisan ini berguna bagi penulis, guru sekolah dasar khususnya dan para pembaca umumnya, dan demi kemajuan Program Studi S.1 Dalam Jabatan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Bandar Lampung,...Mei 2014 Penulis HARBENDI NPM. 1013127012 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan suatu proses pembelajaran tidak terlepas dari peran guru dalam mengelola proses pembelajaran di kelas. Namun secara khusus keberhasilan dalam belajar terletak pada peserta didik itu sendiri karena mereka sebagai penerima dari apa yang telah diberikan pendidik/guru untuk kemudian dijadikan suatu pengalaman belajar. Pengalaman belajar peserta didik terbentuk dari partisipasi dalam proses pembelajaran. Dengan berpartisipasi dalam proses pembelajaran mereka dapat secara efektif mengasah kemampuan, intelektualitas, sikap, dan kepribadian serta selanjutnya mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Pendidikan merupakan sejumlah pengalaman dari seseorang atau kelompok untuk dapat memahami sesuuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami. Pengalaman itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungannya. Interaksi ini menimbulkan proses perubahan (belajar) pada manusia, dan selanjutnya proses itu menghasilkan 2 perkembangan (development) bagi kehidupan seseorang atau kelompok dalam lingkungannya, (Ambarjaya, 2012: 7). Mencapai tujuan pembelajaran, guru harus mengupayakan dan mengoptimalkan ketersediaan perangkat pembelajaran mulai dari rencana pelaksanaan pembelajaran, alat evaluasi, media pembelajaran yang digunakan serta metode atau strategi pembelajaran yang tepat guna sesuai dengan arah kurikulum dan kebutuhan serta gaya belajar murid pada mata pelajaran IPA. Pencapaian tujuan pembelajaran IPA, guru sebagai pengelola langsung pada proses pembelajaran harus memahami karakteristik (hakikat) dari pendidikan IPA sebagaimana dikatakan (Depdiknas, 2006:47), bahwa: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan mengembangkan pada pemberian kompetensi agar pengalaman langsung menjelajahi dan memahami untuk alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk berbuat sehingga 3 dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Berdasarkan pengamatan pada waktu pembelajaran IPA di kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung, siswa cenderung kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, terutama dalam pelaksanaan diskusi. Selain itu tidak sedikit siswa-siswi yang malas untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru. Walaupun tidak semua siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung seperti itu tetapi hal ini cukup mengganggu proses pembelajaran. Rendahnya aktivitas siswa tentu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, karena dengan berpartisipasi siswa tidak hanya tahu tetapi sekaligus memahami sebuah materi melalui pengalamannya. Dari 20 siswa hanya 8 atau 40% saja yang mampu mencapai tingkat ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah, yaitu 65 dan selebihnya 60% siswa yang masih memperoleh nilai dibawah KKM. Karena masih rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, maka guru perlu mencari cara efektif dan mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat melatih tanggung jawab siswa untuk memahami materi yang dipelajari secara mandiri dan akan membuat siswa terbiasa dengan aktivitas tersebut, hendaknya guru dapat memberikan pelajaran dalam bentuk tanya jawab, yang membawa siswa dalam konteks berfikir secara individu, berbagi dengan teman-teman dan bersama-sama memecahkan masalah yang dipelajari, sehingga peneliti 4 menganggap untuk memilih model pembelajaran ini yang mampu merangsang siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif dengan melakkan kegiatan berlajar yang aktif pada siswa. Pembelajaran kooperatif sebagai salah satu model pembaharuan dalam pendidikan mampu melibatkan peserta didik untuk bekerjasama dan aktif dalam mencapai tujuan pembelajaran melalui sebuah model pembelajaran. Student-Team-Achievement-Division adalah bentuk dari model pembelajaran kooperatif sederhana. Model ini adalah suatu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk bekerjasama dan menunjukkan sikap partisifasi kepada orang lain. Peneliti menggunakan pembelajaran yang aktif seperti pembelajaran kooperatif Student-TeamAchievement-Division guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA SD Negeri 4 Tangkit Serdang-Tanggamus. Slavin, (2002: 4) mengatakan bahwa “Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran” Alasan lain dipilihnya model pembelajaran Student-Team-AchievementDivision, karena model ini memiliki banyak kelebihan di antaranya siswa dapat berinteraksi dalam memecahkan masalah untuk menemukan konsepkonsep yang dikembangkan dan juga dapat meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Dengan demikian melalui model pembelajaran koperatif 5 Student-Team-Achievement-Division, secara tidak langsung siswa dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan latar permasalahan di atas penulis tertarik untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif Student-Team-Achievement-Division untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang-Tanggamus. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka identifikasi masalahnya adalah sebagai berikut: 1. Rendahnya aktivitas belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang. 2. Rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negri 4 tangkit Serdang dilihat dari kriteria ketuntasan minimal (KKM). 3. Siswa masih malas untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru. 4. Siswa cenderung malas dalam mengikuti pelajaran mereka sering bermain-main, menulis yang tidak penting, melamun, dan diam tak mau menyampaikan pendapat. 5. Model pembelajaran yang digunakan guru kurang efektif sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa bekerjasama dalam proses pembelajaran. untuk berpartisipasi dan 6 C. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: 1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Kooperatif STAD pada pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran IPA siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang? 2. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Kooperatif STAD pada pembelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Meningkatkan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif STAD. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang pada mata pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif STAD. 7 E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian tindakan kelas ini adalah: 1. Bagi Siswa a. Memperbaiki hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang. b. Meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang dalam pembelajaran IPA. 2. Bagi Guru a. Memperbaiki cara mengajar guru didalam kelas. b. Sebagai acuan memperbaiki proses belajar mengajar. c. Memperluas pengalaman guru dalam mengajar di dalam kelas. 3. Bagi Sekolah a. Sebagai sumbang positif untuk memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi disekolah. b. Dapat meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran dengan harapan dapat meningkatkan mutu pendidikan. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan proses yang terus terjadi secara berkesinambungan dalam kehidupan manusia baik dilakukan secara sadar atau tidak sadar. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang dibawanya sejak lahir. Belajar menurut Sardiman (2004: 20) adalah “merupakan tingkahlaku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mendengarkan, meniru, dan lai-lain sebagainya”. Uraian di atas memiliki makna bahwa belajar merupakan perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Belajar membawa sesuatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri, pendeknya mengenai segala aspek organisma atau pribadi seorang, Nasution (2005: 35). Guru hanyalah merangsang keaktifan dengan jalan menyajikan bahan pelajaran, sedangkan yang mengolah dan mencerna adalah peserta didik itu sendiri sesuai dengan 9 kemapuan, bakat, minat, dan latar belakang masing-masing. Namun tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Sebagai fasilitator, tugas guru yang paling utama adalah “to facilitate of learning” (memberi kemudahan belajar), bukan hanya menceramahi, atau mengajar, apalagi menghajar peserta didik, kita perlu guru yang demokratis, jujur dan terbuka, serta siap dikritik oleh peserta didiknya, Mulyasa (2009: 54). Sebagai seorang pendidik, guru bertugas mengajar dan menanamkan nilai-nilai dan sikap kepada siswanya. Untuk melaksanakan tugasnya tersebut, diperlukan berbagai kemampuan serta kepribadian. Sebab, guru juga dianggap sebagai contoh oleh siswa sehingga ia harus memiliki kepribadian yang baik sebagai guru, berikut ini beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu: 1. Kompetensi Pedagogik Kompentensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2. Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. 10 3. Kompetensi Sosial Kompetensi sosial adalah kemampuuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. 4. Komptensi Profesional Kompetensi pembelajaran profesional secara adalah luas dan kemampuan mendalam penguasaan yang materi memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang diterapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Pembelajaran adalah proses membuat orang belajar. Guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehinggga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai strategi pembelajaran yang ada, yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal. Dalam pembelajaran tersebut terjadi secara bertujuan dan terkontrol. “perubahan sebagai hasil belajar ada di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seorang seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir dan lain-lain kemampuan” Thursan (2008: 10). 11 Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Pembelajaran harus dilakukan secara kreatif dan menyenangkan agar kegiatan pembelajaran menjadi beragam sehingga memenuhi dan mapu memberikan pelayanan pada berbagai tingakat kemampuan dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, selain itu tugas guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi tetapi juga sebagai fasilitator, pemacu, maupun pemberi inspirasi bagi peserta didik. B. Teori-teori Belajar Teori belajar sangatlah beraneka ragam. Setiap teori mempunyai landasan sebagai dasar perumusan. Jika ditinjau dari landasan itu, teori belajar dapat dikelompokkan kedalam dua macam yaitu asosiasi dan gestalt. Kedua macam teori inilah yang banyak berkembang melalui berbagai penelitian maupun eksperimen para ahli, sehingga muncul berbagai macam teori yang beraneka ragam, Sumiati & Asra (2011:44). Berikut ini macam-macam teori belajar Kognitif: 1. Teori Gestalt Pandangan para ahli psikologi gestalt tentang belajar berbeda dengan ahli psikologi asosiasi. Psikologi gestalt memandang bahwa belajar terjadi jika diperoleh insight (pemahaman), Sumiati & Asra (2011:44). Teori gestalt memandang bahwa proses kognitif yang berupa insight (pemahaman) 12 merupakan ciri azasi dari respon manusia yang diberikan dalam menanggapi lingkungan betapapun sederhananya, Hakiim (2011:30). 2. Teori Konstruktivisme Teori konstruktivisme dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad ke-20. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek pengetahuan yang bermakna, Wardhana (2010:14). Tekanan utama teori konstruktivisme adalah lebih memberikan tempat kepada siswa/subjek didik dalam poses pembelajaran daripada guru atau instruktur teori ini berpandangan bahwa siswa yang berinteraksi dengan berbagai objek dan peristiwa sehingga mereka memperoleh dan memahami pola-pola terhadap objek tersebut. Dengan demikian, siswa sesungguhnya mampu membangun konseptualisasi dan pemecahan dalam masalah mereka sendiri. Oleh karena itu, kemandirian dan kemampuan berinisiatif dalam proses pembelajaran sangat didorong untuk dikembangkan. Para ahli konstruktivisme memandang belajar sebagai hasil dari konstruksi mental. Para siswa belajar dengan cara mencocokkan informasi baru yang mereka peroleh bersama-sama dengan apa yang telah mereka ketahui. Siswa akan dapat belajar dengan baik jika mereka mampu mengaktifkan konstruk pemahaman mereka sendiri, Asrori (2011:28). 13 Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar pada intinya adalah perubahan sikap dan mental pada diri seseorang setelah melakukan aktivitas, dan dalam pembelajaran juga harus mempunyai landasan teori tentang belajar. Karena teori dapat memberikan penjelasan tentang proses belajar mengajar dalam berbagai situasi. C. Aktivitas Belajar Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan individu untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar, kedua aktivitas itu harus saling berkaitan, Sardiman ( 2004: 100). Djamarah (2007: 38) mengatakan bahwa “belajar bukanlah berproses dalam kehampaan, tidak pula sepi dalam berbagai aktivitas”. Proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas merupakan aktivitas menstransformasi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Guru diharapkan mampu mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar dan potensi yang dimiliki siswa serta guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir (psikis) maupun dalam berbuat (fisik). Hasil pembelajaran dapat diperoleh dengan baik, jika pembelajaran memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk aktif melakukan kegiatan sendiri, Sumiati & Asra (2011: 39). Keaktifan siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu indikatornya adalah keinginan atau motivasi siswa 14 untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri seperti, sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru, senang diberi tugas oleh guru dan lain sebagainya. “Kegiatan belajar/aktivitas belajar sebagai proses terdiri atas enam unsur yaitu tujuan belajar, peserta didik yang termotivasi, tingkat kesulitan belajar, stimulus dari lingkungan, peserta didik yang memahami situasi, dan pola respons peserta didik”, Sudjana (2005: 105). Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa aktivitas belajar siswa merupakan proses keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang meliputi aktivitas siswa dalam mencari informasi dan mengemukakan gagasan atau jawaban. Dalam proses pembelajaran juga perlu ditumbuhkan perasaan membutuhkan, sehingga siswa terdorong untuk belajar dan memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang bersifat aktif dan sesuai dengan apa yang diharapkan. D. Hasil Belajar IPA SD Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. 15 Dimyati & Mujiono (1999:3) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenisjenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran dengan proses evaluasi hasil belajar. Sedangkan menurut Arikunto (2001:73) “hasil belajar merupakan kemampuan penguasaan materi yang dicapai siswa dan dapat dinyatakan dengan nilai atau angka ketercapaian suatu tujuan pembelajaran, dimana salah satunya dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diukur melalui tes”. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa yang diperoleh melalui pengalaman belajar dalam bentuk angka/skor melalui hasil belajar setelah pembelajaran. E. Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dam positif dalam kelompok. Hal ini memungkinkan terjadinya penggabungan dan pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak tertekan, Hakiim (2011:53). Pembelajaran kooperatif mengacu kepada kaidah pembelajaran yang melibatkan siswa dengan berbagai kemampuan untuk bekerjasama dalam kelompok kecil guna mencapai satu tujuan yang sama. Sasarannya adalah tahap pembelajaran yang maksimum bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk teman-teman lain dalam kelompok. Aspek-aspek esensial yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif (Depdiknas, 2006:2) adalah: 16 1. Saling bergantung antara satu sama lain secara positif (positif interdependence). 2. Saling berinteraksi langsung antar anggota dalam kelompok (face-to-face interaction). 3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri (individual accountability). 4. Keterampilan social (cooperative social skills) 5. Pemrosesan kelompok (group processing). Ciri-ciri pembelajaran Kooperatif Menurut Widyantini (2008: 5) ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut: a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. b. Kelompok dibentuk siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari suku atau agama yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan. c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu. F. Pembelajaran Kooperatif STAD Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian 17 siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut, Suyatna (2011:73). Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Menurut Kunandar (2009:364) menyatakan bahwa STAD adalah para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap anggota kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik, kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesama kelompok. Tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. Slavin menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku (Trianto, 2009: 68). 18 G. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif STAD Terdapat enam langkah utama dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD Langkah-langkah itu dapat ditunjukan pada tabel berikut. Tabel 2.1 langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Fase Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Fase 2 Menyajikan informasi Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif. Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Fase 5 evaluasi Fase 6 Memberikan penghargaan Tingkah Laku Guru Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bacaan. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempersentasikan hasil kerjanya. Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. Sumber: Trianto (2000: 10) Menurut Eggen dalam Suyatna (2011:74) dalam melaksanakan pembelajaran Kooperatif tipe STAD ada beberapa tahapan yang harus dilakukan yaitu: 1. Pembelajaran (Instruction). Materi yang disampaikan pada saat pembelajaran biasa menggunakan pengajaran langsung atau diskusi yang dipimpin oleh guru. Pembelajaran ini dipakai untuk menetapkan tujuan, penjelasan, dan pemodelan kemampuan atau penerapan konsep, prinsip, peraturanperaturan dan penyediaan buku praktik. Pada pendahuluan ditekankan pada apa yang akan dipelajari siswa dalam tugas kelompok. Siswa harus memperhatikan dengan baik selama pembelajaran karena akan membantu siswa dalam tes. 19 2. Membentuk Kelompok (Transition to Teams). Guru umumnya membagi kelas menjadi bebeapa kelompok yang beranggotakan 4 hingga 5 siswa dengan karateristik yang heterogen. 3. Belajar Kelompok dan Pengawasan (Team Study and Monitring). Selama murid bekerja dalam kelompok, guru harus mengawasi murid untuk memastikan bahwa mereka bekerja dengan baik. Salah satu tujuan pembelajaran kooperatif adalah mengajar murid untuk bekerja sama. Model Kooperatif tipe STAD satu kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang anggota kelompok. Setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas keberhasilan anggota kelompok mereka. Setiap anggota kelompok harus membantu satu sama lain dan bertanggung jawab agar setiap anggota kelompoknya benar-benar memahami materi yang dipelajari karena keberhasilan indvidu mempengaruhi keberhasilan kelompoknya. 4. Kuis/Tes. Kuis/tes diberikan setelah melaksanakan 1 atau 2 kali pertemuan. Saat kuis/tes siswa tidak boleh saling membantu satu sama lain dan harus mengerjakan soal secara individu. Kuis/tes dikerjakan setiap individu. 5. Poin Peningkatan Individu. Poin peningkatan adalah memberikan kepada siswa sasaran yang dapat dicapai jika mereka bekerja lebih giat dan memperhatikan prestasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan yang dicapai sebelumnya. 6. Penghargaan Kelompok. Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan poin peningkatan kelompok. Skor kelompok adalah rata-rata dari peningkatan individu dalam kelompok tersebut. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti memilih langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif menurut pendapat Trianto (2000: 10). H. Kinerja Guru Guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional, khususnya dibidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan professional Mulyasa (2009: 5). 20 Guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan, sebab inti dari kegiatan pendidikan adalah belajar mengajar yang memerlukan peran dari guru di dalamnya. Hakim (2011: 251) dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban : 1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. 2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 3. Bertindak obyektif dan diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status social ekonomi siswa dalam pembelajaran. Guru sepatutnya menyadari, bahwa kinerja profesionalnya sebagai guru tidak semata-mata menuntut pelaksanaan tugas sebagaimana adanya, tetapi juga meperdulikan apa yang seharusnya dicapai dalam melaksanakan tugas, dapat diharapkan tumbuh sikap inovatif, yaitu kecenderungan untuk selalu berupaya memperbaiki hasil yang selama ini telah dicapai, sehingga tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab selalu dilaksanakan dan diupayakan untuk selalu meningkat. 21 I. Hipotesis Tindakan Berdasarkan pada tinjauan pustaka diatas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Apabila dalam pembelajaan IPA menggunakan model pembelajaran Kooperatif STAD dengan benar, maka dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung”. BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek Penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung dengan jumlah siswa 20 siswa terdiri dari 11 laki-laki dan 9 perempuan dengan tingkat pengetahuan yang bervariasi dengan harapan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa B. Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan, menurut Suharjo dalam Arikunto, (2009: 18) Penelitian tindakan adalah penelitian yang dilakukan oleh guru berkerjasama dengan peneliti (dilakukan oleh guru yang bertindak sebagai peneliti) di kelas atau sekolah tempat dia mengajar dengan penekanan kepada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran, jadi penelitian tindakan yaitu suatu tindakan untuk mengatasi/memecahkan masalah secara berulang-ulang dengan penuh penghayatan dan apa adanya. ✁✂ Penelitian ini juga dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. C. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini dilakukan melalui 3 siklus dan setiap siklusnya dilakukan selama 4 x 35 menit ( 1 x pertemuan) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan ferleksi. Adapun siklus dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah sebagai berikut: Perencanaan Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan Pengamatan Perencanaan Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan Perencanaan III Refleksi SIKLUS III Pelaksanaan Pengamatan Gambar 3.1 : Tahap-tahap dalam PTK (Wardhani, 2007: 24) ✄☎ Berikut ini disajikan penjelasan singkat tentang prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di atas: 1. Perencanaan Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan perencanaan yaitu: a. Membuat perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan. b. Membuat perangkat pembelajaran seperti pemetaan SK-KD, Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). c. Membuat lembar kerja siswa. d. Membuat lembar pengamatan. 2. Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian tindakan, kegiatan yang dilakukan adalah: a. Penyajian materi pembelajaran IPA. b. Belajar dalam kelompok. c. Membimbing siswa dalam belajar kelompok. d. Memberikan tes . 3. Pengamatan Dalam observasi pengamatan yang dilakukan sejak proses pembelajaran berlangsung menggunakan lembar obsevasi aktivitas siswa dan lembar hasil belajar siswa. ✆✝ 4. Refleksi Hal yang dilakukan dalam tahapan refleksi yaitu menganalisis, memahami dan membuat kesimpulan hasil pengamatan setelah siklus I dan merenungkan kembali pencapaian indicator tindakan tentang penggunaan model pembelajaran Kooperatif STAD. D. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Waktu Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014, dilaksanakan sebanyak 3 siklus. 2. Tempat Penelitian Tempat Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus. E. Alat Pengumpulan Data Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Lembar Observasi Observasi merupakan pengamatan dengan tujuan mencari dan mencatat data tentang objek yang diteliti serta dampaknya dalam penelitian tindakan kelas. Adapun observasi dilakukan dalam penelitian, untuk mencatat data ada tidaknya perubahan perilaku peserta didik yang lebih baik dalam proses pembelajaran serta dampaknya dari tindakan yang dilakkan. Dalam observasi ini peneliti berkolaborasi dengan guru mitra untuk ✞✟ mengumpulkan data menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dan lembar Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG). Observasi yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah observasi langsung terhadap aktivitas belajar siswa dan aktivitas kinerja guru selama kegiatan berlangsung dengan menggunakan lembar aktivitas siswa dan Instrument Penilaian Kinerja Guru (IPKG). 2. Tes Hasil Belajar Tes merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Instrumen ini digunakan untuk mengambil data kuantitatif pada setiap siklus mengenai peningkatan hasil belajar siswa khususnya mengenai penguasaan materi yang telah diajarkan. F. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data hasil observasi yang digunakan untuk menjaring aktivitas siswa dan kinerja guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan analisis kuantitatif akan digunakan mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaan materi pembelajaran. 1. Data kualitatif diperoleh dari data non-tes yaitu lembar panduan observasi. Lembar pengamatan yang disusun bergantung dari data apa yang akan dikumpulkan yaitu aktivitas On Task (yaitu aktivitas siswa yang diinginkan). Adapun data aktivitas siswa yang akan dimunculkan adalah ✠✡ aktivitas yang relevan dengan aspek-aspek kegiatan pembelajaran yang diamati. Tabel 3.1 Analisis Aktivitas Siswa . No Nama Siswa Aktivitas yang diamati 1 2 3 4 5 Skor Nilai Aktivitas Kategori 1. 2. 3. 4 5. (Suyatna, 2011: 35) 1. 2. 3. 4. 5. Bertanya pada guru Menjawab pertanyaan guru Menjawab pertanyaan dari teman Menyelesaikan tugas yang diberikan guru Ketepatan mengumpulkan tugas Tabel 3.2. Kategori Penilaian Aktivitas Siswa No Nilai Skor Kriteria 1 1 0 - 20 Sangat tidak aktif 2 2 21 - 40 Kurang aktif 3 3 41 - 60 Cukup aktif 4 4 61 - 80 Aktif 5 5 81 - 100 Sangat aktif (Arikunto, 2006: 45) Proses analisis untuk data aktivitas siswa adalah sebagai berikut: 1. Skor yang diperoleh dari masing-masing siswa adalah skor dari setiap aspek aktivitas. 2. Persentase setiap nilai siswa diperoleh dengan rumus: Nilai aktivitas siswa = 3. x 100% Nilai aktivitas setiap siswa = % aktivitas (dihilangkan %nya) ☛☞ 4. Nilai rata-rata aktivitas siswa diperoleh dengan rumus Nilai rata-rata = Selain dilakukan terhadap siswa, pengamatan juga dilakukan terhadap guru. Berikut instrumen pengamatan terhadap guru Tabel 3.3. Lembar Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG) No I II III Aspek Yang Diamati Pra Pembelajaran 1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 2. Melakukan kegiatan apersepsi Kegiatan Inti Pembelajaran 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 2. Menyampaikan informasi 3. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kooperatif 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 5. Evaluasi 6. Memberikan penghargaan Penutup 1. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 2. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan Skor 12345 1 2 34 5 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 (IPKG PKM S-1 PGSD Dalam Jabatan Universitas Lampung) Ketercapaian aktivitas kinerja guru dalam proses pembelajaran dianalisis dengan menentukan nilai rata-rata yang dihitung dengan menggunakan rumus: Tingkat keberhasilan = x 100% Tabel 3.4. Persentase Aktivitas Kinerja Guru Rentang Nilai Aktivitas 85% - 100% 75% - 84% 65% - 74% 45% - 64% ≤44% (Arikunto, 2006: 44) Kriteria Baik sekali Baik Cukup Kurang Kurang sekali ✌✍ 2. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes yang dikerjakan siswa pada setiap siklusnya dengan memperhatikan aspek ketuntasan yaitu nilai KKM 65. Data kuantitatif ini didapat dengan menghitung nilai rata-rata kelas dari hasil tes yang diberikan kepada siswa dengan rumus: Rumus: X = Keterangan: X = Rata-rata Hitung Nilai N = Banyaknya siswa X1 = Nilai siswa G. Indikator Keberhasilan Keberhasilan kelas dilihat dari jumlah siswa yang mampu mencapai KKM, sekurang kurangnya 75% dari jumlah siswa di kelas tersebut, Mulyasa (2002:99). ✎✏ BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah dilakukan terhadap siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan aktivitas pembelajaran siswa dalam kegiatan pembelajaran pada setiap siklusnya. Pada siklus I persentase aktivitas belajar siswa mencapai 43,50% dengan kriteria “cukup aktif”, pada siklus II meningkat menjadi 52,50% dengan kriteria “cukup aktif” dan meningkat sebesar 62,75% pada siklus III dengan kategori “aktif”. Dari hasil tersebut maka diambil kesimpulan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SD Negeri 4 Tangkit Serdang Kecamatan Pugung. ✑✒ Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus I siswa yang telah tuntas mencapai 25% dengan kategori “Kurang” meningkat sebesar 20% menjadi 45% dengan kategori “Kurang” dan meningkat sebesar 30% menjadi 75% pada siklus III dengan kategori “Baik”. Dari hasil tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. b. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan kinerja guru. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan kinerja guru pada setiap siklusnya. Pada siklus I kinerja guru mencapai 56% dengan kategori “kurang” meningkat sebesar 10% menjadi 66% pada siklus II dengan kategori “Cukup”, dan meningkat sebesar 10% menjadi 76% pada siklus III dengan kategori “Baik”. ✓✓ B. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, untuk selanjutnya penulis ingin memberikan saran yang dapat membantu usaha meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapaun saran-saran tersebut yaitu: 1. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, maka peserta didik mulai dilatih berdiskusi, bekerja sama dalam kegiatan pembelajaran sehingga apa yang diperoleh dari metode pembelajaran dapat dikembangkan. 2. Sebaiknya setiap guru dapat melakukan penelitian perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan dan untuk memperbaiki serta mengetahui kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran di kelas. 3. Untuk sekolah sebaiknya kepala sekolah perlu memberikan model pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran di kelas dan perlu dilengkapi alat peraga di sekolah. ✔✕ DAFTAR PUSTAKA Ambarjaya, S Beni. 2012. Psikologi Pendidikan dan Pengajaran Teori dan Praktik. Yogyakarta. CAPS. Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bina Aksara. Yogyakarta. ________________ . 2006. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Bina Aksara. Jakarta. ________________. 2009. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarata. Rineka Cipta. Asrori, Muhammad. 2011. Psikologi Pembelajaran. CV. Wacana Prima. Bandung. Depdiknas. 2008. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. _________. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Nasional. Pustaka Candra. Jakarta. Dimyati dan Mujiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. PT. Rineka Cipta. Jakarta. Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta. Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi guru. PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta. Hakiim, Lukmanul

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAM ACHIVEMENT DIVISION (STAV) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS
0
5
44
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DEVISION BAGI SISWA KELAS IV DI SD NEGERI 2 SERDANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
12
32
ENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DI KELAS V SDN 2 TULUNGAGUNG PRINGSEWU
0
9
51
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PKn MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA SISWA KELAS IV SDN 1 BULUREJO PRINGSEWU
0
4
45
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA SISWA KELAS V SDN 1 MARGOYOSO KECAMATAN SUMBEREJO TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
8
41
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VA SD NEGERI 8 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012
1
11
79
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 01 SUKA AGUNG BARAT KECAMATAN BULOK
1
5
41
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DEVISION (STAD) PADA SISWA KELAS V A SD NEGERI WAY HALIM PERMAI
0
12
45
PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING DAN SEQIP UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 8 METRO SELATAN
2
16
47
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 3 BOJONG TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
7
107
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 4 TANGKIT SERDANG TANGGAMUS
0
22
51
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 2 KEDONDONG
0
5
44
PENERAPAN MODEL TREFFINGER UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 03 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015
5
44
78
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA KELAS V SD
0
0
8
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA
0
0
10
Show more