STRATEGI BERTAHAN HIDUP PEREMPUAN PEMULUNG (Studi Kasus Terhadap Empat Pemulung Perempuan Kepala Keluarga yang Ada di TPA Bakung, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung)

Gratis

12
79
92
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT SURVIVAL STRATEGIES OF WOMEN SCAVENGERS (Case Study Against Scavengers Four female heads of household who 's on the landfill Bakung , Bakung Village , District Telukbetung West , Bandar Lampung ) By Citra Putri Ardhelia Likty This study aims to identify and explain the survival strategies of women scavengers. This research was conducted at the landfill Bakung, Bakung Village, District Telukbetung West, Bandar Lampung. This type of research is descriptive with qualitative approach. Informants in this study were four women scavengers head of the family. Data collection techniques in this research using interview techniques. Based on this research, it is known that the survival strategies used by four women scavengers in the face of difficulty meeting the needs of the family is using a strategy of economic and social strategies. Economic strategy is a way to save expenditure and involve family members in order to maximize efforts and work together to find a source of additional income for the sake of fulfilling the needs of the family. While social strategy is debt or borrow money and follow the productive organizations (such as social gathering) that exist around the residence. Keywords: poverty , women scavengers , survival strategies ABSTRAK STRATEGI BERTAHAN HIDUP PEREMPUAN PEMULUNG (Studi Kasus Terhadap Empat Pemulung Perempuan Kepala Keluarga yang Ada di TPA Bakung, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung) Oleh Citra Putri Ardhelia Likty Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan strategi bertahan hidup perempuan pemulung. Penelitian ini dilakukan di TPA Bakung, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung. Tipe penelitian ini ialah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang perempuan pemulung kepala keluarga. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa strategi bertahan hidup yang digunakan oleh empat perempuan pemulung dalam menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga adalah dengan menggunakan strategi ekonomi dan strategi sosial. Strategi ekonomi ialah dengan cara melakukan penghematan pengeluaran dan melibatkan anggota keluarga untuk memaksimalkan usaha dan bekerja sama mencari sumber nafkah tambahan demi terpenuhinya kebutuhan keluarga. Sedangkan strategi sosial ialah berhutang atau meminjam uang dan mengikuti organisasi produktif (seperti arisan) yang ada di sekitar tempat tinggal. Kata kunci: kemiskinan, perempuan pemulung, strategi bertahan hidup DAFTAR TABEL Halaman 1. Jumlah Penduduk Miskin di Bandar Lampung 2 2. Luas Areal Kelurahan Bakung 46 3. Sumber Air Minum 47 4. Jumlah Penduduk Usia<1 Tahun sampai >60 Tahun 48 5. Tingkat Pendidikan Penduduk 48 6. Mata Pencaharian Pokok 49 7. Jumlah Penduduk menurut Agama 50 8. Jumlah Penduduk menurut Etnis 51 9. Jumlah Lembaga Kemasyarakatan 52 10. Jumlah Kelembagaan Ekonomi 53 11. Jumlah Sarana Kesehatan 53 12. Jumlah Lembaga Pendidikan 54 13. Profil Informan 58 14. Hasil Pembahasan 76 MOTO Warna masa depanmu ditentukan oleh dirimu sendiri dari saat ini, entah ingin dibuat menjadi hitam kelam atau menjadi cerah cemerlang itu tergantung dari bagaimana perilaku yang kamu lukiskan di perjalanan hidupmu. (Bunda Mamake) Jangan sia-siakan waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, Jangan sia-siakan waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Jangan sia-siakan waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, Jangan sia-siakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Jangan sia-siakan hidupmu sebelum datang kematianmu. (Sabda Nabi Muhammad SAW) Terus Semangat, Semangat Terus And One Day, Dreams Come True (citra) PERSEMBAHAN Alhamdulillahi robbil ‘alamin dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, Aku persembahkan karya sederhana ini untuk : Bapak Malik Syarifudin dan Bunda Nurhayati tercinta, yang telah memberikan seluruh waktu, jiwa dan raganya untuk mendidik, membesarkan, dan merawatku dengan penuh kasih sayang dan limpahan cinta yang tak berujung, serta selalu mendoakan dan senantiasa menunggu keberhasilanku dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Adikku tersayang Millenia Tiffanny Likty, yang selalu menghiburku disaat aku sedang merasa lelah dan penat dalam meghadapi hari-hariku, walau terkadang menyebalkan tapi selalu mendoakanku dan memberiku semangat dalam segala usahaku. Seluruh keluarga besarku tercinta, Terutama Mbah Uyut Uti (Ibu Hadi), Mbah Uyut Kakung (Bapak Hadi), Mbah Uti (Ibu Sum), Mbah Kakung (Pak Timan), Tante-tanteku, MakNung, Mbah Cipto, adik-adik sepupuku, yang selalu mendoakanku, mendukungku, membantuku, membimbingku, dan memotivasiku dalam segala usaha dan langkahku. Sahabat-sahabat ku tersayang, Yossi Apriyani, Anisa Nurlaila Sari, Rizky Dwi Putri dan Eri Wahidiyanti, dan seluruh sahabat Sosiologi Angkatan 2011 yang luar biasa, yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberi semangat dalam segala hal. Dan teruntuk Almamater tercinta Universitas Lampung Serta Para Pendidikan RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 12 Mei 1993, merupakan anak pertama dari dua bersaudara, buah hati pasangan Bapak Malik Syarifudin dan Ibu Nurhayati. Penulis menempuh pendidikan dasar di SD Tamansiswa Telukbetung yang diselesaikan pada Tahun 2006. Lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 3 Bandar Lampung yang diselesaikan pada Tahun 2009 kemudian sekolah menengah atas di SMA Negeri 8 Bandar Lampung yang diselesaikan pada Tahun 2011. Pada tahun yang sama, Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Organisasi yang pernah penulis tekuni selama menjadi mhasiswa adalah mengikuti kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi (HMJ Sosiologi) sebagai anggota Bidang Pengabdian Masyarakat. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2014. DAFTAR ISI Halaman I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang .................................................................................... B. Rumusan Masalah .............................................................................. C. Tujuan Penelitian ................................................................................ D. Manfaat Penelitian.............................................................................. 1 10 10 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Perempuan ................................................................................ B. Perempuan dan Pekerjaan .................................................................. C. Sektor Informal ................................................................................... D. Tinjauan tentang Pemulung................................................................ E. Konsep Perempuan Kepala Keluarga ................................................. F. Konsep kemiskinan ............................................................................. G. Definisi Strategi ................................................................................. H. Strategi Bertahan Hidup ..................................................................... I. Tinjauan Teori...................................................................................... J. Kerangka Pikir ..................................................................................... 12 14 16 19 23 24 31 33 37 38 III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ................................................................................... B. Fokus Penelitian ................................................................................. C. Lokasi Penelitian ................................................................................ D. Teknik Penentuan Informan ............................................................... E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. F. Teknik Analisa Data ........................................................................... 41 41 42 42 43 43 IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Lokasi Kelurahan Bakung ................................................ B. Luas Areal Kelurahan ......................................................................... C. Potensi Sumber Daya Air ................................................................... D. Potensi Sumber Daya Manusia .......................................................... E. Potensi Kelembagaan.......................................................................... F. Kelembagaan Ekonomi ....................................................................... G. Sarana dan Prasarana .......................................................................... H.Gambaran Lokasi TPA Bakung .......................................................... 45 46 47 47 52 52 53 55 V. PEMBAHASAN PENELITIAN A. Identitas Informan .............................................................................. B. Profil Infirman .................................................................................... C. Pembahasan Penelitan ........................................................................ 57 60 67 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ........................................................................................ B. Saran ................................................................................................... 77 78 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 79 LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................... 82 SANWACANA Bismillahirrohmannirohim, Segala puji bagi ALLAH SWT atas rahmat dan Hidayah-Nya, Tuhan semesta alam yang maha kuasa atas langit, bumi, dan seluruh isinya serta hakim yang maha adil di hari akhir kelak. Tiada daya dan upaya serta kekuatan yang penulis miliki untuk menyelesaikan skripsi ini, selain berkat daya, upaya dan kekuatan yang dianugerahkan-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW sebagai pembawa Rahmatan Lil’Aalaamiin yang syafa’atnya selalu kita nanti hingga akhir kelak. Skripsi dengan judul STRATEGI BERTAHAN HIDUP PEMULUNG PEREMPUAN merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosiologi di Fakuktas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Penulis menyadari, bahwa apa yang ditulis dalam skripsi ini masih sangat jauh dengan apa yang dicita-citakan.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak sehingga menjadi lebih baik. Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari banyak sekali bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak, maka dari itu penulis menyampaikan terimakasih kepada : 1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2. Bapak Drs. Susestyo, M.Si selaku Ketua Jurusan Sosiologi 3. Ibu Dra. Yuni Ratnasari, M.Si selaku Pembimbing Akademik sekaligus Pembimbing Skripsi. Terimakasih atas kesabaran ibu dalam membimbing saya sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu Dr. Erna Rochana, M.Si selaku Dosen Penguji. Terimakasih untuk semua kritik dan saran yang telah ibu berikan sangat berarti untuk skripsi ini. 5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Sosiologi Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya selama penulis mengikuti masa perkuliahan. 6. Seluruh staff dan karyawan FISIP Universitas Lampung yang telah membantu keperluan administrasi selama penulis menjadi mahasiswi di FISIP Universitas Lampung. 7. Orangtua dan keluarga yang sangat luar biasa. 8. Seluruh Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Lampung. Terimakasih atas kebersamaannya dalam keluarga besar Sosiologi Universitas Lampung. 9. Rekan-rekan selama KKN dan Keluarga Besar Bapak Jarkasi terimakasih. Meskipun skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah selalu melimpahkan berkah dan rahmat-Nya bagi kita semua. Aamiin. Bandar Lampung, 22 Februari 2016 Penulis, Citra Putri Ardhelia Likty I. A. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia hingga bulan Maret 2014 mencapai 28,29 juta orang, atau bertambah sekitar seratus ribu orang jika dibandingkan dengan periode Maret 2013 sebesar 28,17 juta orang. Peningkatan penduduk miskin ini disebabkan oleh berbagai aspek, salah satunya akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak pada awal tahun 2015 lalu yang berimbas pada naiknya harga bahan pokok. Kemiskinan memaksa masyarakat untuk bekerja keras demi mencukupi segala kebutuhan hidup. Hal ini membuat keluarga miskin melakukan berbagai cara dan strategi demi terpenuhinya kebutuhan hidup untuk tetap bertahan (survive). Ditambah lagi dengan indek inflasi di Indonesia pada Juli 2015 yang menyentuh angka 0.93 persen atau lebih tinggi 0.39 persen ketimbang capaian inflasi pada Juni 2015 yang mencapai 0.54 persen. Keadaan ini diperparah dengan kenaikan harga bahan makanan pokok pada akhir Juli 2015. Mengacu pada data BPS sampai dengan akhir Juli 2015, seluruh indeks kelompok pengeluaran diketahui mengalami kenaikan harga dengan kelompok bahan makanan sebagai kelompok yang mengalami pernaikan harga paling tinggi yakni sebesar 2,02 persen. 2 Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Maret 2014 mencatat penduduk miskin kota di Provinsi Lampung adalah sebesar 230.630 jiwa atau sebesar 11.08% dengan garis kemiskinan Rp 336.972/kapita/bulan, sedangkan indeks kedalaman kemiskinan (P1) sebesar 1.85% dan indeks keparahan kemiskinan (P2) sebesar 0.44%. Berikut adalah tabel mengenai jumlah penduduk miskin yang ada di Kota Bandar Lampung pada tahun 2011 sampai dengan 2013 : Tabel 1: Jumlah Penduduk Miskin pada tahun 2011 s/d 2013 di Kota Bandar Lampung Tahun Jumlah 2011 121.580 orang 2012 117.350 orang 2013 102.750 orang Sumber : BPS Provinsi Lampung, 2014. Jumlah penduduk miskin di kota ini mengalami penurunan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masalah kemiskinan masih berada di sekitar kita. Terbukti berdasarkan data tabel di atas, hampir setengah dari jumlah penduduk miskin yang ada di Provinsi Lampung tinggal di wilayah Kota Bandar Lampung. Pada tahun 2014 jumlah keluarga fakir miskin di Kota Bandar Lampung mencapai 14.126 keluarga (BPS:2014). Jumlah tersebut termasuk dengan keluarga miskin yang dipimpin oleh seorang perempuan. Perempuan yang bertanggung jawab secara tunggal memenuhi segala kebutuhan keluarga dan mengurus segala keperluan rumahtangga seperti merawat anak serta mencari nafkah. Berdasarkan data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) tahun 2011 menyebutkan jumlah perempuan Indonesia yang menjadi kepala 3 rumah tangga mencapai tujuh juta orang. Sebagian dari data tersebut hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan ialah suatu kondisi yang tidak dikehendaki semua orang dan dapat dialami oleh siapa saja termasuk kaum perempuan. Demi untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarga terkadang memaksa kaum perempuan untuk ikut serta dalam mencari nafkah. Keadaan yang seharusnya ialah para suami sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menjalankan segala peran publik dan yang lainnya. Namun saat ini, menjadi sesuatu yang lumrah bila ada seorang perempuan atau seorang istri ikut bekerja membantu dan berkontribusi dalam menopang perekonomian keluarga. Bahkan tak jarang yang menjadi tulang punggung perekonomian keluarga akibat dari bercerai dengan suami, suami meninggal dunia, atau perempuan single yang memang menjadi tulangpunggung keluarga. Mereka merupakan perempuan kepala keluarga yang bertanggung jawab mengurus segala kebutuhan dan permasalahan dalam keluarga. Perempuan kepala keluarga harus mampu memenuhi kebutuhan keluarga dengan jerih payahnya sendiri. Beruntung bagi perempuan kepala keluarga yang memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan yang mapan pada sektor formal contohnya seperti perusahaan industri, perkantoran, pemerintah, dan sebagainya. Namun berbeda dengan perempuan kepala keluarga yang tidak memiliki keterampilan, keahlian atau pendidikan yang tinggi, mau tidak mau mereka hanya bekerja pada sektor informal dan harus puas dengan penghasilan yang seadanya. Hal inilah yang membuat perempuan harus memasuki sektor informal. 4 Perempuan yang menjadi kepala keluarga sesungguhnya dipaksa oleh kondisi yang dihadapinya. Mereka adalah perempuan yang karena bercerai, suami meninggal, ditinggal suami yang tidak ada kabar, suami migrasi ke negara lain, suami mengalami sakit permanen atau perempuan lajang yang bertanggung jawab terhadap keluarga atau saudara-saudaranya. Kemiskinan yang dialami keluarga yang dikepalai oleh perempuan tersebut berdampak pada buruknya aspek-aspek lain, seperti kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Perempuan kepala keluarga dan anggota keluarga lain pasti memiliki siasat, cara atau strategi untuk menghadapi dan menanggapi segala kesulitan yang mendera keluarga. Contohnya dengan menambah jam kerja atau memaksimalkan daya dan upayanya di sektor informal. Istilah sektor informal pertama kali dikenalkan oleh Kelth Hart (dalam, Gilbert:1996) membedakan sektor formal dengan sektor informal, menurutnya pada sektor informal ditemukan peluang pendapatan bagi keluarga miskin kota. Perbandingan pendapatan pada sektor formal dengan sektor informal telah mengantarkan pada suatu fakta yang menunjukan bahwa sektor informal secara tidak proporsional merekrut tenaga kerja yang terlalu muda, kaum wanita dan orang-orang yang kurang berpendidikan. Contoh kegiatan sektor informal antara lain penjual koran, pengamen, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pemulung, dan lain-lain. Pemulung ialah salah satu contoh sektor informal yang pekerjaannya memulung, memungut dan mengumpulkan sampah non-organik (seperti plastik, kertas, besi, botol minuman atau barang bekas) yang nantinya dapat dijual ke pabrik-pabrik pendaur ulang. 5 Sulitnya mencari pekerjaan lain dan keterampilan yang rendah membuat banyak orang yang berada di sekitar TPA Bakung menjadi pemulung, bahkan terdapat banyak pemulung perempuan. Hal ini dikarenakan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi oleh keluarga, membuat para perempuan menjadi pemulung. Sementara itu di dalam masyarakat perempuan dan laki-laki menduduki dan menjalankan suatu peranan. Peran seseorang dalam masyarakat bermacam-macam sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat. Peran dalam masyarakat tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah karena dalam diri individu atau masyarakatnya mengalami perubahan. Individu yang memiliki peran yang luas dan beraneka ragam dalam masyarakat adalah perempuan. Seorang perempuan bisa menjadi istri, ibu dan menjadi individu dalam lingkungannya. Selain itu pula istri dapat pula mencari pendapatan tambahan untuk mendukung perekonomian keluarga. Rendahnya pendapatan suatu keluarga mendorong kaum perempuan utamanya ibu rumah tangga untuk turut serta melibatkan diri dalam usaha menambah pendapatan keluarga. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan menjadi pemulung. Meskipun pemulung perempuan bekerja di luar rumah mereka tetap tidak pernah meninggalkan peranannya di dalam rumah tangga untuk mengurus keperluan rumah tangga. Pemenuhan fungsi dalam keluarga tetap mereka jalankan dengan baik, meskipun terkadang harus terhalang dengan pekerjaan di luar rumah sehingga kurang penuh dalam pengawasan terhadap putra-putri mereka. Tetapi para pemulung perempuan tetap berusaha agar segala fungsi dalam keluarga dapat dijalankannya dengan sebaik-baiknya. 6 Menurut Birkbeck (dalam Twikromo: 1999), mengenai para pemulung di Cali, Columbia bahwa proporsi barang pulungan yang potensial untuk dijual, dikumpulkan oleh para pemulung dengan cara-cara mereka sendiri dan sebagian besar hasilnya untuk pabrik-pabrik besar. Pendapatan mayoritas pemulung tidak terlalu besar dan mereka tidak menikmati keuntungan yang banyak dari barang bekas yang dijualnya. Hal ini karena harga jual barang bekas per satu kilogramnya begitu murah dan mereka membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengumpulkan berbagai barang bekas untuk dijual. Contohnya seperti botol plastik bekas kemasan yang satu kilogramnya dihargai ± Rp 800,-/kg. Penghasilan yang begitu minim membuat perempuan pemulung harus bekerja lebih keras lagi demi terpenuhinya kebutuhan pokok keluarga di tengah naiknya harga bahan pokok seperti sekarang ini. Kenyataan yang terjadi di masyarakat, keberadaan pemulung dapat dinilai dari dua sisi. Pertama, pekerjaan sebagai pemulung mampu menjadi peluang kerja bagi pengangguran dan dipandang lebih baik memulung barang bekas dibandingkan bekerja sebagai pengemis. Kedua, keberadaan pemulung dianggap menggangu ketertiban kota dan meresahkan masyarakat karena ulah beberapa oknum pemulung yang berbuat nakal dengan memungut barang yang masih menjadi milik warga di sekitar tempat mereka melakukan kegiatan pemulungan. Kajian mengenai kehidupan pemulung ini berawal dari rasa empati dan rasa keprihatinan atas kondisi kehidupan pemulung yang umumnya hidup di lingkungan yang kumuh. Namun mereka masih dapat bertahan hidup dengan segala peluang, kesempatan, kesulitan, dan hambatan yang mereka hadapi. 7 Pekerjaan sebagai pemulung memang bukan pekerjaan yang mereka idamkan, bergelut dengan sampah limbah dari hasil kehidupan masyarakat di sekitarnya, menjadi pilihan satu-satunya karena mereka tak mempunyai pilihan pekerjaan lain yang mampu mereka kerjakan. Keterbatasan pendidikan dan keterampilan (skill) membuat mereka melakoni pekerjaan memulung sampah atau barang bekas tersebut. Menurut Twikromo (1999) pemulung tidaklah sama dengan gelandangan atau pengngangguran karena pemulung menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan barang bekas dan ditukarkan dengan sejumlah uang yang menjadi haknya. Ada dua jenis pemulung berdasarkan tempatnya memulung, yaitu pemulung jalanan dan pemulung tetap. Pemulung jalanan ialah pemulung yang hidup bebas di jalanan atau di sekitar rumah penduduk. Sedangkan pemulung tetap ialah pemulung yang memiliki tempat tinggal berupa lapak sederhana yang berada di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) / TPA (Tempat Pembuangan Akhir) atau (Tempat Pemprosesan Akhir). Kota Bandar Lampung memiliki TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang terletak di wilayah Telukbetung Barat Bandar Lampung. Tempat pembuangan akhir sampah adalah tempat dimana sampah dikelola untuk dimusnahkan baik dengan cara penimbunan dengan tanah secara berkala (sanitary landfill), pembakaran tertutup (insenerasi), pemadatan dan lain – lain. (Depkes RI tentang kesehatan lingkungan,1999). TPA yang ada di Kota Bandar Lampung merupakan satu-satunya yang ada di kota tapis berseri terletak di Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung dengan luas tanah ± 14 Ha, dan sudah beroperasi sejak tahun 1994 oleh pemerintah Kota Bandar Lampung. 8 Pemulung pada kenyataannya dinilai sebagai aktivitas yang lebih positif di bandingkan dengan profesi jalanan lainnya dalam perspektif pemerintah maupun masyarakat kota (Twikromo:1999). Kebanyakan pemulung ialah masyarakat migran yang berusaha mempertahankan hidupnya dengan tenaga mereka menghadapi segala kesulitan yang menimpa mereka. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang strategi dan peran perempuan pemulung sebagai kepala keluarga yang tinggal di sekitar TPA Bakung baik sebagai pencari nafkah maupun sebagai ibu yang merawat keluarganya. Dalam mempertahankan kelangsungan hidup keluarga, perempuan pemulung sebagai kepala keluarga berupaya bekerja dengan mengumpulkan sampah dan barang bekas untuk dijual demi mendapatkan uang. Perempuan pemulung sebagai kepala keluarga memiliki beban yang berat karena mereka harus bekerja dan mencari nafkah dan serta mengurus segala kebutuhan rumah dan keluarganya. Beban berat yang dihadapi mereka dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan mereka sangat resisten terhadap berbagai persoalan. Fakta bahwa rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan merupakan yang termiskin di Indonesia dengan pendapatan yang sangat rendah mengakibatkan mereka berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, perumahan, dan lain-lain. Bertahan hidup (survive) di tengah terbatasnya pendapatan dan berbagai kesulitan bukanlah hal yang mudah bagi perempuan pemulung yang menjadi kepala keluarga. Maka diperlukan strategi yang dilakukan perempuan pemulung demi tetap bisa bertahan (survive). Strategi yang tidak saja dapat membuat para pemulung perempuan kepala keluarga mampu bertahan dalam 9 menghadapi berbagai persoalan, tetapi juga berbagai strategi yang bisa diterapkan dalam upaya meningkatkat kesejahteraan hidup keluarga. Peneliti mencoba mewawancarai salah satu pemulung perempuan yang tidak sengaja ditemui di TPA Bakung, saat peneliti melakukan prariset. Pemulung perempuan ini berinisial SY. Berusia sekitar 40 tahun. Informan SY tinggal tidak begitu jauh dari TPA Bakung, untuk menuju tempatnya memulung, ia hanya perlu berjalan kaki menuju TPA Bakung. Informan SY memiliki empat orang anak, salah satunya masih bersekolah di bangku sekolah dasar. Demi menghidupi keluarganya ia membantu suaminya bekerja sebagai pemulung sejak tahun 2001. Pekerjaan pemulung dipilihnya, karena ia tidak tau bagaimana cara memulai pekerjaan yang lain dan ia merasa tidak memiliki keterampilan atau keahlian yang tinggi untuk melamar pekerjaan di sektor formal. Setiap hari ia memulung di TPA Bakung, berangkat pukul 09.00 WIB hingga petang pukul 17.00 WIB. Namun sejak suaminya merantau dua tahun yang lalu tanpa ada kabar dan kiriman uang hasil suaminya bekerja di perantauan, informan SY menjadi kepala keluarga yang mencari nafkah untuk anak-anaknya dan mengatur sediri segala urusan rumahtangganya. Hal ini semakin menambah beban dan tanggungjawabnya. Ketika ditanya soal penghasilannya sebagai pemulung apakah mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, informan SY menjawab : “alhamdulillah mbak, cukup walaupun ngepres. Setiap hari kan saya mulung di sini dari pagi sampe sore, terus langsung ditimbang, jadi uang hasil mulung ini di usahakan cukup untuk menuhin kebutuhan keluarga, untuk makan. Paling, kalo saya bener-bener gak punya uang, saya berhutang di warung” 10 Bentuk hubungan sosial yang terjadi di antara perempuan pemulung dan masyarakat di sekitarnya merupakan salah satu contoh jaringan sosial yang dimiliki perempuan pemulung sebagai kepala keluarga yang dapat membantu mereka untuk tetap bertahan (survive).Jaringan sosial memungkinkan perempuan pemulung mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun saat mereka membutuhkan. Contohnya seperti berhutang bahan makanan di warung lalu saat mereka telah memiliki uang mereka akan membayarnya. Peneliti tertarik membahas mengenai perempuan pemulung sebagai kepala keluarga dalam menjalani peran sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, juga sebagai wakil keluarga bila berhubungan dengan masyarakat, melindungi keluarga, bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga serta bagaimana strategi untuk tetap bertahan (survive) dalam menghadapi berbagai kesulitan. Hal ini yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai strategi bertahan hidup perempuan pemulung yang berperan sebagai kepala keluarga. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, masalah yang dapat dirumuskan ialah bagaimana strategi bertahan hidup yang dilakukan empat perempuan pemulung yang ada di sekitar TPA Bakung, Kelurahan Bakung? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan strategi bertahan hidup yang dilakukan empat perempuan pemulung yang ada di sekitar TPA Bakung, Kelurahan Bakung. 11 D. Manfaat Penelitian 1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat miskin khususnya pemulung saat ini dengan segala permasalahannya sehingga dapat menambah wawasan di bidang ilmu sosial terutama Sosiologi. 2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat sebagai informasi, bahan kajian, dan masukan bagi Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam upaya pengentasan kemiskinan.yang fokus pada masalah-masalah sosial seperti masalah kemiskinan. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Perempuan Adapun pengertian peran yang dikemukakan oleh Suratmanadalah fungsi atau tingkah laku yang diharapkan ada pada individu seksual sebagai status aktifitas yang mencakup peran domestik maupun peran publik (dalam Wulansari:2011). Menurut Hubies (dalam Alghaasyiyah:2014) bahwa analisis alternatif pemecahan atau pembagian peran wanita dapat dilihat dari perspektif dalam kaitannya dengan posisinya sebagai manager rumah tangga, partisipan pembangunan dan pekerja pencari nafkah. Jika dilihat dari peran wanita dalam rumah tangga, maka dapat digolongkan, antara lain : 1. Peran Tradisional Peran ini merupakan wanita harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, dari membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengasuh anak serta segala hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dalam mengatur rumah serta membimbing dan mengasuh anak tidak dapat diukur dengan nilai uang. Ibu merupakan figure yang paling menentukan dalam membentuk pribadi anak. Hal ini disebabkan karena anak sangat terikat terhadap ibunya sejak anak masih dalam kandungan. 13 2. Peran Transisi Adalah peran wanita yang juga berperan atau terbiasa bekerja untuk mencari nafkah. Partisipasi tenaga kerja wanita atau ibu disebabkan karena beberapa faktor, misalnya bidang pertanian, wanita dibutuhkan hanya untuk menambah tenaga yang ada, sedangkan di bidang industri peluang bagi wanita untuk bekerja sebagai buruh industri, khususnya industri kecil yang cocok bagi wanita yang berpendidikan rendah. Faktor lain adalah masalah ekonomi yang mendorong lebih banyak wanita untuk mencari nafkah. 3. Peran kontemporer Adalah peran dimana seorang wanita hanya memiliki peran di luar rumah tangga atau sebagai wanita karier. Sedangkan menurut Astuti (dalam Alghaasyiyah:2014) mengenai peran gender wanita terdiri atas: 1. Peran produktif Peran produktif pada dasarnya hampir sama dengan peran transisi, yaitu peran dari seorang wanita yang memiliki peran tambahan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya. Peran produktif adalah peran yang dihargai dengan uang atau barang yang menghasilkan uang atau jasa yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Peran ini diidentikan sebagai peran wanita di sektor publik, contoh petani, penjahit, buruh, guru, pengusaha. 14 2. Peran domestik Pada dasarnya hampir sama dengan peran tradisional, hanya saja peran ini lebih menitikberatkan pada kodrat wanita secara biologis tidak dapat dihargai dengan nilai uang/barang. Peran ini terkait dengan kelangsungan hidup manusia, contoh peran ibu pada saat mengandung, melahirkan dan menyusui anak adalah kodrat dari seorang ibu. Peran ini pada akhiranya diikuti dengan mengerjakan kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah. 3. Peran sosial Peran sosial pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan dari para ibu rumahtangga untuk mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peran wanita merupakan tata laku atau fungsi seorang wanita yang dijalankan sesuai kewajibannya sebagai seorang perempuan secara kodrati maupun secara kontruksi sosial. B. Perempuan dan Pekerjaan Keterlibatan perempuan dalam ekonomi mau tidak mau harus diakui, walaupun pada kenyataannya ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kegiatan kerja. Perempuan yang bekerja dapat membantu suami dalam mendukung perekonomian keluarga. Untuk membantu ekonomi keluarga peran perempuan yang bekerja sangat dibutuhkan terutama dalam hal membantu menambah penghasilan keluarga. Mereka bersedia menyumbangkan tenaganya unuk menghasilkan Gaji/Upah (Hidayat, 2006). Fergus mengemukakan bahwa desakan 15 ekonomi (bagi ibu yang berpendidikan SD ke bawah) tempaknya lebih merupakan faktor yang mempengaruhi keputusan ibu untuk masuk ke pasar kerja(dikutip dalam Hidayat, 2006) Ada beberapa motif perempuan bekerja yaitu antara lain karena kebutuhan finansial, kebutuhan sosial-relasional dan kebutuhan aktualisasi diri.Perempuan miskin di desa maupun di kota merupakan kelompok terbesar yang terus-menerus mencari peluang kerja demi memenuhi kebutuhan dasar. Mereka bekerja sebagai buruh tani, pembantu rumah tangga, pemulung atau buruh pabrik (Wulansari,2011). Untuk membantu ekonomi keluarga peran perempuan yang bekerja sangat dibutuhkan terutama dalam hal membantu menambah penghasilan keluarga. Mereka bersedia menyumbangkan tenaganya unuk menghasilkan Gaji/Upah (Hidayat,2006). Fergus mengemukakan bahwa desakan ekonomi (bagi ibu yang berpendidikan SD ke bawah) tempaknya lebih merupakan faktor yang mempengaruhi keputusan ibu untuk masuk ke pasar kerja(dikutip dalam Hidayat, 2006). Bagi perempuan kepala keluarga, bekerja merupakan kewajibannya, demi memperoleh penghasilan untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga. Keterlibatan wanita dalam pasar tenaga kerja merupakan pengaruh dari: 1. Faktor ekstern yang merupakan faktor penarik untuk bekerja yakni adanya kesempatan kerja yang ditawarkan oleh kapitalis. 2. Faktor intern, yang merupakan faktor pendorong untuk bekerja yakni desakan/kesulitan ekonomi keluarga (Sudarwati:2003). 16 Faktor kesempatan kerja dan faktor untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi inilah yang pada hakekatnya menghantarkan kaum wanita untuk bekerja di sektor publik. C. Sektor Informal Istilah sektor informal biasanya digunakan untuk menunjukan sejumlah kegiatan ekonomi yang berskala kecil. Karena pada umumnya, mereka yang terlibat dalam sektor ini merupakan masyarakat yang miskin yang berpendidikan rendah dan menggunakan modal atau investasi yang kecil (Aksyar,2011). Dalam laporan ILO tersebut dan dari berbagai penelitian tentang sektor informal di Indonesia, telah menghasilkan 10 ciri pokok sektor informal sebagai berikut: 1. Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik, karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia di sektor formal 2. Pada umumnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha. 3. Pola kegiatan usaha tidak teratur baik dalam arti lokasi maupun jam kerja. 4. Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini. 5. Unit usaha mudah keluar masuk dari satu subsektor ke lain subsektor. 6. Teknologi yang dipergunakan bersifat primitif. 7. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil. 8. Sumber dana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi. 17 9. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsikan oleh masyarakat desa/kota yang berpenghasilan rendah Disamping itu ILO menemukan adanya kegiatan-kegiatan ekonomi yang selalu lolos dari pencacahan, pengaturan dan perlindungan oleh pemerintahan tetapi mempunyai makna ekonomi karena bersifat kompetitif dan padat karya, memakai input dan teknologi lokal serta beroperasi atas dasar kepemilikan sendiri oleh masyarakat lokal. Kegiatan-kegiatan inilah yang kemudian dinobatkan sebagai sektor informal. Sektor informal pada umumnya ditandai oleh beberapa karakteristik khas seperti sangat bervariasinya bidang kegiatan produksi barang dan jasa, berskala kecil, unit-unit produksinya dimiliki secara perorangan atau keluarga, banyak menggunakan tenaga kerja dan teknologi yang dipakai relatif sederhana. Para pekerja yang menciptakan sendiri lapangan kerjanya. Gilbert dan Gugler (1996) menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas sektor informal adalah sesuatu yang ditandai dengan : a. Mudah untuk dimasuki; b. Bersandar pada budaya lokal; c. Usaha milik sendiri; d. Operasinya dalam skala kecil; e. Padat karya dan teknologinya bersifat adaptif; f. Keterampilan dapat diperoleh di luar sistem sekolah formal; dan g. Tidak terkena langsung oleh regulasi dan pasarnya bersifat kompetitif. 18 Adapula ciri-ciri baku lain dari sektor informal yang diungkap, yaitu: (1) Seluruh aktivitasnya bersandar pada sumber daya sekitarnya, (2) Ukuran usahanya umumnya kecil dan aktivitasnya merupakan usaha keluarga. (3) Untuk menopang aktivitasnya digunakan teknologi yang tepat guna dan memiliki sifat yang padat karya. (4) Tenaga kerja yang bekerja dalam aktivitas sektor ini telah terdidik dan terlatih dalam pola-pola tidak resmi. (5) Seluruh aktivitas mereka dalam sektor ini berada di luar jalur yang diatur pemerintah, dan (6) Aktivitas mereka bergerak dalam pasar sangat bersaing (dalam Subangun:1994). Pada umumnya mereka tidak mempunyai ketrampilan khusus dan kekurangan modal. Oleh sebab itu produktivitas dan pendapatan mereka cenderung lebih rendah daripada kegiatan-kegiatan bisnis yang ada di sektor formal. Selain itu mereka yang berada di sektor informal tersebut juga tidak memiliki jaminan keselamatan kerja dan fasilitas kesejahteraan. Pemulung adalah salah satu contoh kegiatan sektor informal yang ada di perkotaan para pemulung melakukan pengumpulan barang bekaskarena adanya permintaan dari industri-industri pendaur ulang bahan-bahan bekas (Gunawan:2012). Pemulung merupakan kelompok miskin yang tidak memiliki kesempatan kerja formal di perkotaan (Aksyar,2011). 19 Jadi berdasarkan definisi menurut para ahli tersebut, sektor informal merupakan kegiatan yang dilakukan sekelompok orang yang tidak berkesempatan bekerja di sektor formal. Kegiatan ini cenderung berskala kecil dengan investasi yang tidak besar dan belum berbadan hukum izin usaha. D. Tinjauan tentang Pemulung Memulung artinya mengumpulkan barang-barang bekas (limbah yang terbuang sebagai sampah) untuk dimanfaatkan kembali. Sedangkan pemulung adalah orang yang pekerjaannya memulung, yaitu orang yang mencari nafkah dengan jalan mencari dan memungut serta memanfaatkan barang-barang bekas untuk kemudian menjualnya kepada pengusaha yang akan mengelolahnya kembali menjadi barang komoditi baru atau lain (dalam Sudiro, 2012). Menurut Twikromo (1999) pemulung adalah seseorang yang mendapatkan penghasilan dari mengumpulkan barang bekas. Pekerjaan sebagai pemulung ini dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk konkrit dari lapangan kerja di sektor informal yang dilakukan dalam perjuangan hidup di tengah-tengah banyaknya pengangguran dan kurangnya ketrampilan yang semakin nyata dirasakan, baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Menurut Wurdjinem (dalam Taufik:2013) memulung adalah bentuk aktivitas dalam mengumpulkan bahan-bahan bekas dari berbagai lokasi pembuangan sampah yang masih bisa dimanfaatkan untuk mengawali proses penyalurannya ke tempat-tempat produksi (daur ulang). Aktivitas tersebut terbagi ke dalam tiga klasifikasi diantaranya, agen, pengepul, dan pemulung. 20 Kehidupan pemulung memperlihatkan adanya semangat dan kreatifitas kerja manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dan mengurangi kemiskinan. Sumardjoko (dikutip dalam Mustikawati:2013) menjelaskan bahwa pemulung adalah orang-orang yang pekerjaannya memilih, memungut, dan mengumpulkan sampah atau barang bekas yang masih dapat dimanfaatkan atau barang yang dapat diolah kembali untuk dijual. Pemulung memiliki jasa yang tidak dapat dianggap remeh dalam penyelamatan lingkungan hidup. Mereka dapat dikatakan sebagai pengurai sampah (Swasti dalam Alghasyiyah:2014). Mereka rela diberi persepsi negatif sebagai maling tanpa punya pamrih untuk melakukan pemberontakan. Mereka juga merelakan dirinya dipanggang terik matahari demi memenuhi tuntutan perut sanak keluarganya (Oliver dan Candra dalam Syamsudi:2012). Ratna (dalam Najachah:2013) menerangkan bahwa pemulung merupakan orang yang bekerja mencari sampah, pekerjaan ini dilakukan setiap hari lalu sampah-sampah yang telah terkumpul disortir kemudian dijual kepada pengepul sehingga mereka mendapatkan uang. Pemulung juga dijuluki sebagai “laskar mandiri” karena dapat menciptakan lapangan kerja sendiri dan usaha tersebut itu turut membantu pembangunan suatu kota. Maka profesi pemulung dapat digolongkan ke dalam definisi kerja sektor informal, yaitu sebagai bagian dari sistem ekonomi yang tumbuh untuk menciptakan kerja dan bergerak di bidang produksi serta barang dan jasa dan dalam usahanya menghadapi pengetahuan(Mintaroem:1989). keterbatasan modal, keterampilan, dan 21 Pemulung merupakan sebuah pekerjaan meskipun keberadaannya kurang disenangi oleh sebagian besar masyarakat. bekerja sebagai pemulung memiliki resiko bahaya yang cukup besar karena tempat kerja yang sangat berbahaya dan tidak adanya perlindungan kerja yang maksimal diberikan oleh pemerintah. Paling tidak mereka melindungi diri mereka secara sederhana, peralatan yang digunakan juga jauh dari kata aman. Usaha keselamatan kerja itu standar, antara lain : a. Topi, untuk melindungi kepala dari cuaca panas, hujan, kotoran, dan benda keras. b. Kacamata, gelap, untuk melindungi mata dari cahaya matahari. c. Masker, berupa penutup hidung dan mulut yang berguna untuk melindungi saluran pernafasan dari debu, bahan kimia, dan kumanpenyakit. d. Jaket atau baju lengan panjang, untuk melindungi kulit dari sengatan matahari dan untuk menjaga kebersihan badan dari sampah yang membawa kuman penyakit. e. Sarung tangan, untuk perlindungan diri terhadap kontak langsung dengan sampah dan barang tajam. f. Sepatu boats, untuk melindungi kaki dari dari bahan-bahan tajam dandaricacing atau parasit tanah (Martiana:1992). Dalam pandangan pemerintah, pemulung dapat dibagi dalam dua kategori : (1) pemulung gelandangan yaitu pemulung yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap atau biasa disebut pemulung jalanan dan (2) pemulung menetap yaitu pemulung yang mempunyai tempat tinggal di rumah permanen/semi permanen 22 yang berlokasi di tempat pembuangan akhir atau penduduk yang memang mempunyai mata pencaharian sebagai pemulung (Twikromo:1999). Dalam penelitan Karjadi Mintaroem, faktor penyebab atau alasan pemulung memilih profesi tersebut ialah: a. Tidak memiliki keterampilan lain yang memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan lain. b. Tidak memiliki riwayat pendidikan formal yang memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaaan di sektor formal. c. Pemulung dianggap lebih terhormat dibandingkan dengan pengemis (Mintaroem:1989) Para pemulung umumnya memiliki pergaulan yang terbatas dan relasi yang sempit. Jaringan sosial pemulung secara horizontal (hubungan dengan sesama pemulung) terlihat cukup baik. Mereka saling tolong menolong antar sesamanya. Jika ada diantara mereka yang terkena musibah, mereka meminta pertolongan pada kawan seprofesi. Jaringan sosial pemulung secara vertikal (hubungan dengan kelompok atas dan bawah), terlihat cukup baik pula. Antara kelompok atas dan bawah saling berkepentingan. Kelompok bawah (pemulung) membutukan kelompok atas (bos kecil atau agen) yang menjadi “penampung” barang bekas yang telah berhasil dikumpulkan pemulung. Tidak hanya kelompok bawah yang bergantung kepada kelompok atas, kelompok atas pun memiliki kepentingan pada kelompok bawah karena agen membeli barang-barang bekas yang dikumpulkan oleh para pemulung. 23 Jadi pemulung merupakan orang yang bekerja mengais sampah yang masih layak jual (rongsok) seperti sampah plastik, kertas, kardus, kaleng dan sebagainya. Memulung merupakan salah satu contoh kegiatan sektor informal yang tidak membutuhkan modal besar dan pelakunya tidak perlu berpendidikan tinggi. E. Konsep Perempuan Kepala Keluarga Menurut Fitzpatrick(2004) keluarga adalah rumahtangga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi instrumental mendasar dan fungsi-fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan (dalam Vinta, 2016). Terdapat beberapa definisi keluarga dari beberapa sumber, yaitu: • Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga • Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumahtangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. • Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. 24 Menurut Undang Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 Pasal 31 ayat (3), ”suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga”. Lebih lanjut dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, ”Kepala Keluarga adalah orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga”. Pengertiantersebut sesuai dengan pengertian kepala keluarga itu sendiri, yaitu orang yang mempunyai tanggungjawabbaik secara ekonomi maupun sosial terhadap keluarganya. Perubahan keadaan membuat orang tua yang dulunya lengkap dapat menjadi tidak lengkap yang disebabkan karena adanya perpisahan, yakni kematian, perceraian, atau ayah yang merantau, sehingga ibu harus menjalankan peran sebagai orangtua tunggal dan tanggung jawabnya baik sebagai ibu maupun sebagai ayah. Dalam fenomena perempuan pemulung sebagai kepala keluarga, perempuan pemulung diharapkan mampu menjalankan dua peran sekaligus, sebagai ibu yang merawat dan mengurus segala urusan rumah tangga dan sebagai ayah yang mencari nafkah. Istilah yang dipakai oleh Julia Cleves terhadap perempuan kepala keluarga adalah women headed (yang dikepalai oleh perempuan) atau women maintained (yang dijaga oleh perempuan), yaitu perempuanyang memikul tanggungjawab tunggal menghidupi keluarganya (dikutip dalam Ernawati:2013). F. Konsep Kemiskinan Masyarakat miskin adalah mereka yang serba kurang mampu dan terbelit di dalam lingkaran ketidak berdayaan, rendahnya pendapatan mengakibatkan rendahnya pendidikan dan kesehatan, sehingga mempengaruhi produktifitas. Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya pada 25 kegiatan ekonomi sehingga semakin tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata miskin diartikan sebagai tidak berharta benda, serta kekurangan (berpenghasilan rendah).Sunyoto Usman (2003) menyatakan bahwa paling tidak ada 2 perspektif yanglazim dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan; yaitu: 1) perspektif kulturaldan 2) perspektif struktural. Secara ekonomi kemiskinan dapat diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika diartikan dengan pendapatan dan kebutuhan dasar maka kemiskinan dapat diukur secara langsung, yaitu ketika pendapatan masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum maka orang ini dapat dikatakan miskin. Dalam hal ini kemiskinan ditentukan oleh keadaan tidak tercapainya kebutuhan dasar sesuai dengan kebutuhan saat ini. Kemiskinan didefinisikan dalam berbagai versi, tetapi secara umum kemiskinan membicarakan suatu standar tingkat hidup yang rendah. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan menjadi penyebab kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Kemiskinan adalah suatu kondisi yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (BAPPENAS, dalam BPS, 2002). 26 Kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai suatu standar hidup yang layak dalam masyarakat, kemiskinan adalah ketidaksanggupan seseorang mendapatkan barang dan pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial yang terbatas juga mengungkapkan bahwa kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Kemiskinan adalah fenomena yang tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Berbagai strategi dalam pengentasan kemiskinan telah banyak dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut, tetapi masih saja formulasi pengentasan kemiskinan tersebut belum mampu sepenuhnya menyelesaikan persoalan kemiskinan itu sendiri. Mubyarto (1987) memandang kemiskinan sebagai suatu kehidupan dimana orang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, khususnya pangan. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia akan tercapai apabila seseorang memiliki penghasilan yang tetap. Dari pengertian-pengertian kemiskinan yang telah dipaparkan, yang dimaksud dengan kemiskinan adalah suatu keadaan dimana orang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar, seperti kebutuhan pangan, sosial, dan pendidikan disebabkan karena kurangnya ketertersedian sumber ekonomi dalam bentuk materi maupun non materi yang diperlukan untuk menunjang kehidupan masyarakat. Kemiskinan dapat ditentukan dengan cara membandingkan tingkat pendapatan individu atau keluarga dengan pendapatan yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasar minimum. Dengan demikian, tingkat pendapatan minimum 27 merupakan pembatas antara keadaan miskin dan tidak miskin. Konsep kemiskinan seperti ini dikenal sebagai konsep kemiskinan absolut. Pada kondisi lain bila tingkat pendapatan sudah mencapai tingkat pemenuhan kebutuhan dasar minimum, tetapi masih lebih rendah bila dibandingkan dengan pendapatan masyarakat di sekitarnya, konsep kemiskinan seperti ini dikenal sebagai kemiskinan relatif (Esmara, 1986). Sekurang-kurangnya ada dua pendekatan yang digunakan untuk pemahaman tentang kemiskinan, yaitu pendekatan absolut dan pendekatan relatif. Pendekatan pertama adalah perspektif yang melihat kemiskinan secara absolut, yaitu berdasarkan

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Fenomena Anak-Anak Pemulung Di Kota Medan (Studi Kasus di TPA Terjun)
5
75
102
Persepsi Keluarga Pemulung Terhadap Pendidikan Formal Anak (Studi Deskriptif Terhadap Keluarga Pemulung di Daerah Pinang Baris, Medan)
13
139
105
Strategi Adaptasi Sosial Ekonomi Keluarga Miskin Pasca Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM): (Studi Kasus Terhadap Keluarga Miskin di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Medan)
0
59
13
BENTUK-BENTUK STRATEGI BERTAHAN HIDUP NELAYAN TRADISIONAL DALAM MENCUKUPI KEBUTUHAN KELUARGA (Study Deskriptif Nelayan Tradisional di Pantai Pulau Santen Kelurahan Karangrejo Kecamatan Banyuwangi Kabupaten Banyuwangi.)
0
8
12
INTERAKSI MUSLIM ETNIK TIONGHOA DENGAN LINGKUNGAN SOSIALNYA (Studi Pada Muslim Etnik Tionghoa di Kecamatan Telukbetung Selatan Bandar Lampung)
0
3
925
INTERAKSI MUSLIM ETNIK TIONGHOA DENGAN LINGKUNGAN SOSIALNYA (Studi Pada Muslim Etnik Tionghoa di Kecamatan Telukbetung Selatan Bandar Lampung)
0
14
77
ANALISIS STABILITAS LERENG (Studi Kasus di Kelurahan Sumur Batu Bandar Lampung) SLOPE STABILITY ANALISYS (Case Study at Sumur Batu Village Bandar Lampung)
1
32
105
PERILAKU DAN GAYA HIDUP KOMUNITAS GAY (Studi di Pasar Seni Kelurahan Enggal, Bandar Lampung)
1
35
57
ANALISIS DAMPAK PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA BAKUNG TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT (Studi Kasus Warga Rt 01 Lk 03 TPA Bakung Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung)
11
56
91
ANALISIS DAMPAK PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA BAKUNG TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT (Studi Kasus Warga Rt 01 Lk 03 TPA Bakung Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung)
4
33
84
RESPON MASYARAKAT TERHADAP PEREMPUAN MEROKOK (Studi di Tempat-Tempat Umum Kota Bandar Lampung)
4
48
61
STRATEGI BERTAHAN HIDUP PEREMPUAN PEMULUNG (Studi Kasus Terhadap Empat Pemulung Perempuan Kepala Keluarga yang Ada di TPA Bakung, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung)
12
79
92
KARAKTERISTIK PSIKOSOSIAL PENGEMBANGAN USAHA MIKRO (Studi pada Perempuan Pedagang Makanan di Kelurahan Kota Baru Kecamatan Tanjung Karang Kota Bandar Lampung)
0
10
58
EKSPRESI PERAN PEREMPUAN PEKERJA PENGASUH ANAK DI DALAM MASYARAKAT (Studi Pada Perempuan Pengasuh Anak Etnis Batak Toba di Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Medan) SKRIPSI
0
0
12
BAB 1 PENDAHULUAN - Persepsi Keluarga Pemulung Terhadap Pendidikan Formal Anak (Studi Deskriptif Terhadap Keluarga Pemulung di Daerah Pinang Baris, Medan)
0
1
12
Show more