PELAKSANAAN PENYIDIKAN TERHADAP TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi di Wilayah Kepolisian Resort Tanggamus)

Gratis

2
15
53
2 years ago
Preview
Full text
Fani Apriyata ABSTRAK PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi di Wilayah Kepolisian Resort Tanggamus) Oleh Fani Apriyata Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan fenomena yang terjadi dalam sebuah komunitas sosial yaitu keluarga dimana pada umumnya dilakukan oleh seorang suami kepada anggota keluarganya yaitu isteri dan juga anak. Sebagai upaya hukum dari tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga, maka tidak terlepas dari pelaksanaan penyidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Dalam skripsi ini akan dibahas beberapa masalah yakni: (1) Bagaimanakah pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana KDRT oleh suami terhadap istri (Studi di Polda Lampung)? (2) Apakah faktor-faktor penghambat pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana KDRT oleh suami terhadap istri? Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Responden penelitian terdiri dari Kepolisian Resort Tanggamus dan Akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung bagian hukum pidana. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa (1) Pelaksanaan penyidikan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga oleh suami terhadap istri yaitu: Pemeriksaan di tempat kejadian; Pemanggilan atau penangkapan tersangka; Penahanan sementara; Penyitaan; Pemeriksaan; Pembuatan Berita Acara; Pelimpahan perkara kepada penuntut umum untuk dilakukan tindakan hukum lebih lanjut sesuai dengan hukum yang berlaku. (2) Faktor-faktor penghambat pelaksanaan penyidikan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga oleh suami terhadap istri adalah faktor substansi hukum, faktor aparat penegak hukum, faktor sarana dan prasarana, faktor masyarakat, dan faktor budaya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka saran penulis adalah (1) Hendaknya bagi penyidik khususnya aparat kepolisian sebagai pelindung, pengayom, penjaga tertib masyarakat harus benar-benar profesional dalam Fani Apriyata melakukan penyidikan dalam pelaksaan penyidikan terhadap tindak pidana KDRT oleh suami terhadap istri. (2) Hendaknya jumlah penyidik lebih ditingkatkan serta perlu peningkatan secara kualitas sumber daya manusia, kemudian profesionalisme penyidik dalam taktik dan teknik penyidikan guna mengungkap tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga lebih dioptimalisasikan lagi. Kata Kunci: Pelaksanaan, Penyidikan, Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi di Wilayah Kepolisian Resort Tanggamus) Oleh FANI APRIYATA Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA HUKUM Pada Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2015 PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi di Wilayah Kepolisian Resort Tanggamus) (SKRIPSI) Oleh FANI APRIYATA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2015 MOTO “Orang yang menuntut ilmu berarti menuntu rahmat; orang yabg menuntut ilmu berarti menjalankan rukun islam dan pahala yang diberikan kepada sama dengan para nabi” (HR Dailani dari Anas r.a) “Sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari ALQUR’AN dan Mengajarkanya” (H.R.. Muslim) “Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan” (Mario Teguh) “Jangan pernah meragukan Do’a dari orang Tua kita” “Karna dari Do’a orang Tua kita lah cita-cita kita dapat digapai” (Fani Apriyata) MOTO “Orang yang menuntut ilmu berarti menuntu rahmat; orang yabg menuntut ilmu berarti menjalankan rukun islam dan pahala yang diberikan kepada sama dengan para nabi” (HR Dailani dari Anas r.a) “Sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari ALQUR’AN dan Mengajarkanya” (H.R.. Muslim) “Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan” (Mario Teguh) “Jangan pernah meragukan Do’a dari orang Tua kita” “Karna dari Do’a orang Tua kita lah cita-cita kita dapat digapai” (Fani Apriyata) PERSEMBAHAN Puji syukur kupanjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang tiada henti-hentinya memberikan rahmat dan hidayah-Nya dalam setiap hembusan nafas dan jejak langkah kita. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW sebagai suri tauladan di muka bumi ini yang safaatnya selalu dinantikan di yaumil akhir kelak. Dengan segala kerendahan hati kupersembahkan karya sederhana ini sebagai wujud bakti dan tanggungjawabku kepada: kedua orangtuaku Tajuddin Nawawi dan Yuni Yanti yang dengan ikhlas telah melahirkan, merawat, mendidik dan mendoakan keberhasilanku yang tidak dapat kubalas dengan apapun yang ada didunia ini. Adik- adikku tercinta Deni aditiya dan adek Robi Irawan yang selalu berdoa, memotivasi dan merindukan keberhasilanku kakek-nenek, kemaman-keminan, sepupu-sepupu tercinta. keluarga besar komering agung kecamatan Gunung Sugih dan Sukamara kecamatan Pardasuka prigsewu calon pendamping hidup kelak yang masih dirahasiakan Allah SWT. Serta Almamater Tercinta DAFTAR ISI Halaman I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah . ...............................................................................1 B. Permasalahan dan Ruang Lingkup .................................................................6 1. Permasalahan .............................................................................................6 2. Ruang Lingkup ..........................................................................................7 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...................................................................7 1. Tujuan Penelitian .......................................................................................7 2. Kegunaan Penelitian ..................................................................................8 D. Kerangka Teoritis dan Konseptual .................................................................8 1. Kerangka Teoritis ......................................................................................8 2. Konseptual .................................................................................................11 E. Sistematika Penulisan .....................................................................................13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penyidikan ......................................................................................................15 B. Tugas Kepolisian ............................................................................................19 C. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) ....................................................22 D. Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Penegakan Hukum Pidana ..............24 III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah .......................................................................................28 B. Sumber dan Jenis Data ...................................................................................28 C. Penentuan Narasumber ...................................................................................30 D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ................................................30 E. Analisis Data ..................................................................................................32 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Karakteristik Koresponden ..............................................................................33 B. Pelaksanaan Penyidikan terhadap Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh Suami terhadp Istri (Studi di Kepolisian Resort Tenggamus ....................................................................34 C. Faktor-faktor Penghambat Pelaksanaan Penyidikan terhadap Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga oleh Suami Terhadap Istri ..................................................................................................46 V. PENUTUPAN A.Simpulan .........................................................................................................57 B.Saran ................................................................................................................58 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ambarawa pada tanggal 25 April 1993. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Tajuddin Nawawi dan Ibu Yuni Yanti Penulis mengawali pendidikannya di Taman Kanan-Kanak (TK) Dharma Wanita Sukoharjo 1 Pringsewu diselesaikan pada tahun 1999, Sekolah Dasar Negeri 03 Sukoharjo 1 Pringsewu diselesaikan pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Sukoharjo 1 Pringsewu diselesaikan pada tahun 2008, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas Negeri 01 Pringsewu kabupaten Pringsewu dan diselesaikan pada tahun 2011. Pada tahun 2011 Penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung, dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Hukum Pidana (HIMA PIDANA) pada tahun 2014 dan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Rajabasa Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan pada Januari 2014. SANWACANA Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi di Wilayah Kepolisian Resort Tanggamus)”. Penulis juga menyadari bahwa tanpa bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak penulis tidak akan sampai pada tahap ini. Maka, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang tulus kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung. 2. Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H., M.H., selaku Ketua Jurusan Hukum Pidana. 3. Bapak Tri Andrisman, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing I atas semua bimbingan, saran dan masukan dalam penulisan skripsi ini. 4. Bapak A. Irzal Fardiansyah, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing II yang dengan sabar dan teliti meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis. 5. Ibu Dr Erna Dewi , S.H., M.H., selaku Dosen Pembahas I yang telah memberikan saran, kritik dan masukan yang membangun bagi penulis. 6. Bapak Rinaldy Amrullah, S.H., M.H., selaku Dosen Pembahas II yang telah memberikan saran, kritik dan masukan demi sempurnanya skripsi ini. 7. Bapak Eko Raharjo, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis. 8. Ibu Firganefi, S.H., M.H., selaku Sekretaris Jurusan Hukum Administrasi Negara yang telah ikut serta membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. 9. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis. 10. Segenap staff dan keluarga besar Fakultas Hukum Universitas Lampung terutama Prof Narto, Mbak Sri dan Mbak Yanti. 11. Bapak Samsuri, S.H., M.H., selaku KASAD Polres Tanggamus,Ibu Primadona Laila selaku Kanit PPA Polres Tanggamus, Bapak DR. Maroni, S.H.,M.H , selaku Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung, yang telah membantu, dan meluangkan waktu untuk memberikan informasi sehingga membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 12. Papa dan Mama sebagai orangtua terbaik di dunia ini yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil, kepercayaan, kesabaran, pengorbanan, kasih sayang dan doa bagi kesuksesan Ata selama ini. 13. Adik-adik kandungku Adik Deni dan adik Robi yang selalu memberi semangat bagi kesuksesan Abang. 14. Kemaman-Keminan tercinta, Papi Muchtar Nawawi, Mas Nun, Ayah Zulkifli Nawawi, Erdiana, Isron yang tiada henti memberikan semangat dan menantikan kesuksesan Ata. 15. Sepupu-sepupu tercinta dan seluruh keluarga besar Nawawi(alm)- Hasimah(alm) dan Supawi(alm)-Roipah(alm) 16. Sahabat terbaikku Aby Zuliansyah,Agus Hermawan, Hendra Ari Saputra, Fitra Albajuri, Dika Permadi, Febry Setiawan Minsy, Fima Agatha, Arviando Josua terimakasih atas segala bentuk persahabatan selama hampir 4 tahun ini, dukungan, bantuan, doa dan semangat dari kalian. Semoga persahabatan kita tetap terjaga. 17. Rekan-rekan ElevenLaw yang hampir 4 tahun selalu bersama Ado,Beni, Ijal, Arnold, Dion, Fadil, Imam, Arie, Mario, Gilbert, Nico Cahya, Ucupers, Fery, Adi Wahyu, Hendra PS, Fredy, dan rekan lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terimakasih atas dukungan, canda-tawa dan pertemanannya selama ini. 18. Kawan seperjuangan Afrian Randa,A Rahmat Panca, M Yusuf Nazir, yang selama ini bekerjasama dan saling mendukung dalam penyelesaian skripsi ini. 19. HIMA PIDANA dan Seluruh Angkatan 2011 Fakultas Hukum Universitas Lampung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terimakasih atas kebersamaannya. 20. Keluarga KKN Desa Rajabasa Kecamatan Rajabasa Galang,Gede, aji, Gita ,Ema ,Evin ,Vina, Zahara terimakasih atas 40 hari penuh kesan, kekeluargaan dan kebersamaannya. 21. Bapak Roh dan Ibu Roh,Nenek Suah, mamak Rohman dan Istri, terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya selama melaksanakan KKN 2014. 22. Kawan yang sudah seperti keluarga di Sukoharjo Dzulfi, Sopyan, Anel, Yuyun, Reza, Anjas, Koko, Aul, Arini, Nivia, Bambenk, Hervit, Agus, Aong terimakasih atas kebersamaan dan kekompakan yang terjalin selama ini. 23. Bapak –Ibu guru SMA Negeri 1 Pringsewu dan Adik-adik Paskibra,Ambalan dan Karate (inkai) SMA Negeri 1 Pringsewu 363 yang telah memberikan semangat dan Do’a nya dalam mengerjakan skripsi ini hingga selesai 24. Kawan-kawan paskibraka 09 kabupaten pringsewu yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan inspirasi kepada saya. 25. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan, dan dukungannya. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah SWT. 26. Almamater Tercinta. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai tambahan informasi dan wacana bagi semua pihak yang membutuhkan. Bandarlampung, Penulis FANI APRIYATA Agustus 2015 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenal oleh manusia. Dalam keluarga, manusia belajar untuk mulai berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itulah umumnya orang banyak menghabiskan waktunya dalam lingkungan keluarga. Sekalipun keluarga merupakan lembaga sosial yang ideal guna menumbuh kembangkan potensi yang ada pada setiap individu, dalam kenyataannya keluarga sering kali menjadi wadah bagi munculnya berbagai kasus penyimpangan sehingga menimbulkan kesengsaraan atau penderitaan, yang dilakukan oleh anggota keluarga satu terhadap anggota keluarga lainnya seperti penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan. Situasi inilah yang lazim disebut dengan istilah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).1 Kekerasan dalam rumah tangga telah menjadi wacana tersendiri dalam keseharian. Pada umumnya, dalam struktur kekerabatan di Indonesia kaum laki- laki ditempatkan pada posisi dominan, yakni sebagai kepala keluarga. Dengan demikian, bukan hal yang aneh apabila anggota keluarga lainnya menjadi sangat tergantung kepada kaum laki-laki. Posisi laki-laki yang demikian superior sering 1 Elsa R. M. Toule, Kekerasan dalam Rumah Tangga, Kajian dari Perspektif Yuridis Kriminologis, Ambon: Fakultas Hukum Universitas Pattimura, 2015. hlm. 1. 2 kali menyebabkan dirinya menjadi sangat berkuasa di tengah-tengah lingkungan keluarga. Bahkan pada saat laki-laki melakukan berbagai penyimpangan kekerasan terhadap anggota keluarga lainnya dimana perempuan dan juga anak menjadi korban utamanya tidak ada seorang pun dapat menghalanginya. Oleh karena itu para aktivis dan pemerhati perempuan sangat memperjuangkan lahirnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Hal ini sangat dipahami bahwa bukan saja Konstitusi Indonesia telah secara tegas dan jelas melindungi hak-hak asasi manusia dan perlindungan terhadap tindakan diskriminasi, namun kejadian-kejadian KDRT dengan berbagai modus operandinya, mengakibatkan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) menderita, pada umumnya mereka menjadi stress, depresi, ketakutan, trauma, takut bertemu pelaku, cacat fisik, atau berakhir pada perceraian. Dari sisi pelaku, apabila kasusnya terungkap dan dilaporkan, biasanya timbul rasa menyesal, malu, dihukum, dan atau memilih dengan perceraian pula. Sehingga memerlukan pengaturan yang memadai, termasuk perlindungan terhadap bentuk-bentuk diskriminasi hak asasi perempuan dalam rumah tangga.2 Bangsa Indonesia patut merasa bersyukur, karena pada tanggal 22 September 2004 pemerintah mengundangkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), yang diharapkan dapat dijadikan sebagai perangkat hukum yang memadai, yang didalamnya antara lain mengatur mengenai pencegahan, perlindungan terhadap korban, dan penindakan terhadap pelaku KDRT, dengan tetap menjaga keutuhan demi keharmonisan keluarga. Menurut UU RI No. 23 tahun 2004 tentang 2 Ibid. 3 Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Secara umum Undang-Undang ini menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Apa yang sesungguhnya ingin dicapai oleh Undang-Undang ini adalah meminimalisir tindak pidana KDRT dan pada akhirnya adalah terwujudnya posisi yang sama dan sederajat di antara sesama anggota keluarga. Posisi yang seimbang antara suami dan istri, anak dengan orang tua, dan juga posisi yang setara antara keluarga inti dengan orang-orang yang baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi bagian dari keluarga sementara saat itu dalam keluarga. Seperti pembantu rumah tangga maupun sanak saudara yang kebetulan tinggal dalam keluarga tersebut dengan tidak memberi pembatasan apakah mereka laki-laki atau perempuan. Sekalipun kaum laki-laki terkesan aktor yang paling banyak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tidak berarti kekerasan dalam rumah tangga tidak pernah dilakukan oleh kaum wanita (ibu) terhadap anggota keluarga lainnya. Masyarakat seolah-olah menganggap bahwa kekerasan yang dilakukan sang istri terhadap suaminya dalam rumah tangga adalah suatu kewajaran karena merupakan bagian dari dinamika kehidupan berumah tangga yang biasa terjadi, dan menganggap bahwa sang suami akan mampu menghadapi dan mengatasinya. Laki-laki secara fisik dianggap lebih kuat daripada perempuan, sehingga apabila suatu saat hal tersebut terjadi (kekerasan terhadap suami) sang suami bukannya mendapat motivasi atau dukungan moril dari orang terdekatnya tapi justru malah suami mendapat tekanan tambahan dari orang-orang sekelilingnya yang menganggapnya sebagai laki-laki pengecut, cupu (culun), lemah di hadapan 4 perempuan, tidak mampu mengendalikan istri dan sebagainya. Sebagai contoh kasus kekerasan dalam lingkup rumah tangga oleh suami terhadap istri adalah kasus yang dialami oleh Ani Aryawati (36), warga Pagelaran, Kecamatan Pringsewu. Ani adalah korban kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada Juli 2014 lalu. Menurut Sujoko (36), teman SMA korban yang juga turut mendampingi pengobatan Ani, temannya dulu bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Sekembalinya ke tanah air, korban menikah dengan Lambertus Ujang (53) dan dikaruniai tiga orang anak. Setahun menjelang terjadinya insiden pembakaran tubuh Ani, suaminya mengalami kolaps usaha. Suaminya itu menjalankan usaha ekspedisi dan rental mobil. Dari situ, suami korban kerap marah-marah, bahkan tidak jarang melakukan tindakan kekerasan. Karena tak tahan sering dipukuli, akhirnya korban minta diceraikan. Korban menjerit-jerit dan menjeburkan diri ke bak kamar mandi untuk memadamkan api yang berkobar di tubuhnya. Putra sulungnya berusia 10 tahun yang menyaksikan kejadian itu sontak langsung menyiramkan air pada bagian tubuh ke bawah. Namun sayang, kobaran api yang besar tak mudah dihentikan hingga akhirnya korban pun mengalami luka bakar yang sangat parah. 3 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga hanya beberapa pasal dari tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (yang tergolong ringan) yang menjadi delik aduan, selebihnya merupakan delik biasa (berdasarkan pasal 15 UU PKDRT). Tetapi pada prakteknya, karena sulitnya membuktikan dan menemukan saksi, maka kemudian menjadi delik aduan. Demi terwujudnya keadilan dan jaminan kepastian hukum perlu adanya kejelasan bahwa 3 Surat Kabar Harian Kompas, Selasa 14 April 2015. 5 tindakan-tindakan kekerasan internal rumah tangga bukan hanya merupakan “delik aduan” tetapi “delik pidana umum”. Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga bertujuan memberikan perlindungan terhadap korban kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga. Tetapi pada kenyataannya, perlindungan yang diberikan belum memadai, terutama karena sanksi bagi pelaku yang tidak tepat. Dilihat dari sudut politik kriminil, maka tidak terkendalinya perkembangan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang semakin meningkat, justru dapat disebabkan oleh tidak tepatnya jenis sanksi pidana yang dipilih dan ditetapkan. Terdapat beberapa pasal dalam Undang-Undang tersebut yang tidak dapat dilaksanakan karena sanksi hukum yang tidak sesuai dan tidak ada peraturan pelaksanaannya seperti rumah aman dan rumah alternatif bagi korban KDRT. Selain itu juga dengan sistem sanksi alternatif yang tercantum dalam UndangUndang Nomor 23 tahun 2004 bagi masyarakat pada umumnya yang awam di bidang hukum dapat menimbulkan salah tafsir dimana mereka yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga dapat memilih penjatuhan sanksi bila tidak ingin dipenjara maka dapat dengan membayar pidana denda saja maka mereka akan bebas dari jeratan hukum. Selain itu, pencantuman sanksi maksimal saja tanpa mencantumkan batas minimal dapat menimbulkan ketidakpastian hukum. Pelaku bisa saja hanya dijatuhi dengan pidana paling minimun dan ringan bagi korban yang tidak sebanding dengan perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, sehingga korban enggan untuk mengadukan tindak kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya yang dianggap akhirnya hanya akan membuang-buang waktu dan tidak dapat memenuhi rasa keadilan korban. 6 Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis rumusan kebijakan hukum pidana dalam rangka penanggulangan tindak pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga. Penelusuran lebih dalam terhadap ketentuan pidana dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dengan menganalisa delik aduan serta hubungan antara penetapan sanksi pidana dan tujuan pemidanaan yang terkandung di dalamnya yang merupakan titik penting dalam menentukan strategi perencanaan politik kriminal. Menentukan tujuan pemidanaan dapat menjadi landasan untuk menentukan cara, sarana atau tindakan yang akan digunakan dalam rangka penanggulangan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga. Kebijakan menetapkan sanksi pidana apa yang dianggap paling baik untuk mencapai tujuan, setidak-tidaknya mendekati tujuan, tidak dapat dilepaskan dari persoalan pemilihan berbagai alternatif sanksi. Masalah pemilihan berbagai alternatif untuk memperoleh pidana mana yang dianggap paling baik, paling tepat, paling patut paling berhasil atau efektif merupakan masalah yang tidak mudah. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul: “Pelaksanaan Penyidikan terhadap Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh Suami terhadap Istri (Studi di Wilayah Polda Lampung)” 7 B. Permasalahan dan Ruang Lingkup 1. Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: a. Bagaimanakah pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri (Studi di Polda Lampung)? b. Apakah faktor-faktor penghambat pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri? 2. Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini adalah kajian hukum pidana, khususnya yang berkaitan dengan Pelaksanaan Penyidikan terhadap Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh Suami terhadap Istri (Studi di Wilayah Polda Lampung). Ruang Lingkup lokasi penelitian adalah pada Polda Lampung. Ruang lingkup waktu penelitian adalah tahun 2015. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Untuk mengetahui pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri (Studi di Polda 8 Lampung) b. Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri. 2. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah: a. Kegunaan teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memperkaya kajian ilmu hukum pidana, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh Suami terhadap Istri (Studi di Wilayah Polda Lampung). b. Kegunaan praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat acuan bagi aparat penegak hukum khususnya Penyidik di dalam pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suami terhadap istri. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi dan penelitian mengenai pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suami terhadap istri di masa-masa yang akan datang. 9 D. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1. Kerangka Teoritis Kerangka teoritis adalah abstraksi hasil pemikiran atau kerangka acuan atau dasar yang relevan untuk pelaksanaan suatu penelitian ilmiah, khususnya penelitian hukum.4 Berdasarkan definisi tersebut maka untuk mengetahui tentang pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri maka kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori penyidikan dan teori faktor penghambat yang menghambat pelaksanaan penyidikan dalam hukum pidana. a. Teori Penyidikan Pasal 1 butir 2 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diuraikan bahwa: “Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang, mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya” Berbicara mengenai penyidikan tidak lain dari membicarakan masalah pengusutan kejahatan atau pelanggaran, orang Inggris lazim menyebutnya dengan istilah “criminal investigation" Menurut teori yang dikemukakan oleh Lilik Mulyadi mengenai penyidikan, dari batasan pengertian (begrips bepaling), sesuai di dalam Pasal 1 butir 2 KUHAP, dengan kongkret dan faktual menjelasakan dimensi penyidikan dimulai ketika terjadinya tindak pidana sehingga melalui proses penyidikan hendaknya diperoleh keterangan tentang aspek-aspek sebagai berikut: 4 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 1986, hlm. 103. 10 1. Tindak pidana yang telah dilakukan. 2. Tempat tindak pidana dilakukan (locus delicti). 3. Cara tindak pidana dilakukan. 4. Dengan alat apa tindak pidana dilakukan. 5. Latar belakang sampai tindak pidana tersebut dilakukan. 6. Siapa pelakunya. Menurut M Husein Harun Tujuan penyidikan adalah untuk menunjuk siapa yang telah melakukan kejahatan dan memberikan pembuktian-pembuktian mengenai masalah yang telah dilakukannya. Untuk mencapai maksud tersebut maka penyidik akan menghimpun keterangan dengan fakta atau peristiwa-peristiwa tertentu.5 b. Teori Faktor-Faktor Penghambat Menurut Soerjono Soekanto, dalam penegakan hukum pidana bukan semata-mata pelaksanaan perundang-undangan saja, namun terdapat juga faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu sebagai berikut: 1) Faktor Perundang-undangan (Substansi hukum) Praktek menyelenggaraan penegakan hukum di lapangan seringkali terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Hal ini dikarenakan konsepsi keadilan merupakan suatu rumusan yang bersifat abstrak sedangkan kepastian hukum merupakan prosedur yang telah ditentukan secara normatif. Kebijakan yang tidak sepenuhnya berdasarkan hukum merupakan suatu yang 5 M. Husein Harun, Penyidik dan Penuntut dalam Proses Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 1991, hlm. 56. 11 dapat dibenarkan sepanjang kebijakan tidak bertentangan dengan hukum. 2) Faktor penegak hukum Salah satu kunci dari keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau kepribadian dari penegak hukumnya sendiri. Dalam rangka penegakan hukum oleh setiap lembaga penegak hukum, keadilan dan kebenaran harus dinyatakan, terasa, terlihat dan diaktualisasikan. 3) Faktor sarana dan fasilitas Sarana dan fasilitas yang mendukung mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup. Tanpa sarana dan fasilitas yang memadai, penegakan hukum tidak dapat berjalan dengan lancar dan penegak hukum tidak mungkin menjalankan peran semestinya. 4) Faktor masyarakat Masyarakat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pelaksanaan penegakan hukum, sebab penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai dalam masyarakat. Semakin tinggi kesadaran hukum masyarakat maka akan semakin memungkinkan penegakan hukum yang baik. 5) Faktor Kebudayaan Kebudayaan Indonesia merupakan dasar dari berlakunya hukum adat. Berlakunya hukum tertulis (perundang-undangan) harus mencerminkan nilainilai yang menjadi dasar hukum adat. Dalam penegakan hukum, semakin banyak penyesuaian antara peraturan perundang-undangan dengan 12 kebudayaan masyarakat, maka akan semakin mudah menegakannya.6 2. Konseptual Konseptual menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang merupakan sekumpulan pengertian yang berkaitan dengan istilah yang ingin diteliti atau diketahui. Konseptual adalah susunan berbagai konsep yang menjadi fokus pengamatan dalam melaksanakan penelitian. Berdasarkan definisi tersebut, maka batasan pengertian dari istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Pelaksanaan adalah proses, cara, perbuatan melaksanakan (rancangan, keputusan, dan sebagainya).7 b. Penyidikan Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan barang bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.8 c. Tindak Pidana Tindak pidana adalah suatu kejadian yang mengandung unsur-unsur perbuatan yang dilarang oleh undang-undang, sehingga siapa yang menimbulkan 6 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: Rineka Cipta. 1986, hlm. 8-10. 7 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989, hlm. 488. 8 Pasal 1 butir (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. 13 peristiwa itu dapat dikenai sanksi pidana (hukuman).9 d. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Tindak kekerasan yang secara langsung ditujuan kepada perempuan karena ia berjenis kelamin perempuan, atau mempengaruhi perempuan secara tidak proporsional. Termasuk di dalamnya tindakan yang mengakibatkan kerugian atau penderitaan fisik, mental dan seksual, ancaman untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan dan bentuk-bentuk perampasan kebebasan lainnya.10 E. Sistematika Penulisan Adapun sistematika dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: I PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka teoritis dan konseptual, serta sistematika penulisan. II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas pengertian-pengertian umum dari pokok bahasan yang memuat tentang pengertian penyidikan, kepolisian, kekerasan dalam rumah tangga, dan faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan penegakan hukum pidana. 9 Yulies Tiena Masriani, Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2012, hlm 62. R. Susilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Komentar, Bogor: Politeia, 2001, hlm. 84. 10 14 III METODE PENELITIAN Bab ini menguraikan pengertian tentang metode yang digunakan dalam penelitian ini, meliputi jenis dan tipe penelitian, pendekatan masalah, data dan sumber data, metode pengumpulan data, metode pengelolahan data, dan analisis data. IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menyajikan hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan rumusan masalah yaitu pelaksanaan penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri dan faktor-faktor penghambat kepolisian dalam proses penyidikan terhadap tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suami terhadap istri. V PENUTUP Merupakan bab penutup dari penelitian ini yang memuat kesimpulan secara rinci dari penelitian dan pembahasan serta memuat saran berdasarkkan permaslahan yang dikaji. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penyidikan Istilah penyidikan dipakai sebagai istilah hukum pada Tahun 1961, yaitu sejak dimuatnya dalam Undang-Undang pokok kepolisian No. 13 Tahun 1961. Sebelumnya dipakai istilah pengusutan yang merupakan terjemah dari bahasa Belanda, yaitu opsporin. Pasal 1 butir 2 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diuraikan bahwa : “penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang, mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya” Berbicara mengenai penyidikan tidak lain dari membicarakan masalah pengusutan kejahatan atau pelanggaran, orang Inggris lazim menyebutnya dengan istilah “criminal investigation". Tujuan penyidikan adalah untuk menunjuk siapa yang telah melakukan kejahatan dan memberikan pembuktian-pembuktian mengenai masalah yang telah dilakukannya. Untuk mencapai maksud tersebut maka penyidik akan menghimpun keterangan 16 dengan fakta atau peristiwa-peristiwa tertentu.1 Penyidikan yang diatur dalam undang-undang, ini dapat dilaksanakan setelah diketahui bahwa suatu peristiwa telah terjadi tindak pidana dimana dalam Pasal 1 butir 2 KUHAP berbunyi bahwa penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangkanya. Penyidikan dimulai sesudah terjadinya tindak pidana untuk mendapatkan keteranganketerangan tentang : a. Tindak pidana apa yang telah dilakukan b. Kapan tindak pidana itu dilakukan c. Dimana tindak pidana itu dilakukan d. Dengan apa tindak pidana itu dilakukan e. Bagaimana tindak pidana itu dilakukan f. Mengapa tindak pidana itu dilakukan g. Siapa pembuatnya. Proses penyidikan tindak pidana, bahwa penyidikan meliputi : a. Penyelidikan b. Penindakan 1). Pemanggilan 2). Penangkapan 3). Penahanan 4). Penggeledahan 1 M. Husein Harun, Op.Cit., hlm. 58. 17 5). Penyitaan c. Pemeriksaan 1). Saksi 2). Ahli 3). tersangka d. Penyelesaian dan penyerahan berkas perkara 1). Pembuatan resume 2) penyusuna berkas perkara 3) penyerahan berkas perkara.2 Kegiatan Penyidikan : a. Penyidikan berdasarkan informasi atau laporan yang diterima maupun yang di ketahui langsung oleh penyidik, laporan polisi, berita acara pemeriksaan tersangka, dan berita acara pemeriksaan saksi. b. Penindakan adalah setiap tindakan hukum yang dilakukan oleh penyidik/penyidik pembantu terhadap orang maupun barang yang ada hubungannya dengan tindak pidana yang terjadi. Penindakan hukum tersebut berupa pemanggilan tersangka dan saksi, penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan. c. Pemeriksaan adalah merupakan kegiatan untuk mendapatkan keterangan, kejelasan dan keidentikan tersangka dan atau saksi dan atau barang bukti ataupun unsurunsur tindak pidana yang terjadi sehingga kedudukan dan peranan seseorang 2 Kepolisian, Himpunan Bujuklak, Bujuklap, Bujukmin Proses Penyidikan Tindak Pidana, Jakarta: Kepolisian Negara Republik Indonesia, 1990, hlm. 17. 18 maupun barang bukti didalam tindak pidana menjadi jelas dan dituangkan dalam berita acara pemeriksaan . yang berwenang melakukan pemeriksaan adalah penyidik dan penyidik pembantu d. Penyelesaian dan Penyerahan Berkas Perkara, merupakan kegiatan akhir dari proses penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh penyidik dan penyidik pembantu.3 Dalam melaksanakan fungsi tersebut harus memperhatikan asas-asas yang menyangkut hak-hak manusia, antara lain : a. Asas praduga tak bersalah yaitu setiap orang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau diadili sidang pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahan berdasarkan keputusan hakim yang mempunyai kekuasaan hukum yang tetap b. Peranan dimuka hukum yaitu perlakuan yang sama atas setiap orang dimuka hukum dengan tidak mengadakan perbedaan. c. Hak memberi bantuan atau penasihat hukum yaitu setiap orang yang tersangkut perkara tindak pidana wajib diberikan kesempatan memperoleh bantuan hukum yang semata-mata untuk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya, sejak saat dilakukan penangkapan dan penahanan sebelum dimulainya pemeriksaan kepada tersangka wajib diberitahukan tentang apa yang disangkakan kepadanya dan haknya untuk mendapatkan bantuan hukum atau perkara itu wajib didampingi 3 M. Husein Harun, Op.Cit., hlm. 89. 19 penasihat hukum. d. Peradilan harus dilakukan dengan cepat, sederhana, terbuka, jujur, dan tidak memihak. e. Penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan hanya dilakukan berdasarkan perintah tertulis dari pejabat yang diberi wewenang oleh Undangundang dan hanya dalam cara ditentukan oleh Undang-undang. f. Tersangka yang telah ditangkap berhak untuk mendapatkan pemeriksaan dengan memberikan keterangan secara bebas dan selanjutnya untuk segera diajukan ke penuntut umum g. Seseorang yang ditangkap, ditahan, dituntut, dan diadili disidang pengadilan tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau kekeliruan mengenai orangnya atau hukumnya dan wajib diberi ganti kerugian atau rehabilitasi.4 B. Tugas Kepolisian Pengemban tugas kepolisian secara umum, sesuai undang-undang adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia, sehingga tugas dan wewenangnya dengan sendirinya akan mencakup keempat lingkungan kuasa tersebut. Dalam dimensi sosiologis, fungsi Kepolisian terdiri atas pekerjaanpekerjaan tertentu yang dalam praktek kehidupan masyarakat dirasakan perlu dan ada manfaatnya, guna mewujudkan keamanan dan ketertiban di lingkungannya, sehingga dari waktu ke waktu dilaksanakan atas dasar 4 Leden Marpaung, Proses Penegakan Perkara Pidana, Jakarta: Sinar Grafika, 1992, hlm. 43. 20 kesadaran dan kemauan masyarakat sendiri secara swakarsa serta kemudian melembaga dalam tata kehidupan masyarakat. 5 Tugas dari Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dalam Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian adalah sebagai berikut: Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian: ”Tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah: a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; b. Menegakkan hukum; dan c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat” Pasal 14 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian: (1) ” Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas: a. Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan; b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan; c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan; d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional; e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum; f. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa; g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya; h. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian; 5 Pudi Rahardi, Hukum Kepolisian (Profesionalisme dan Reformasi Polri), Laksbang Mediatama, Surabaya, 2007, hlm. 56. 21 i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia; j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang; k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian; serta l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan” Agar Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat bertindak secara lancar dalam melaksanakan tugasnya, maka Kepolisian Negara Republik Indonesia harus memiliki wewenang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dalam Pasal 15 ayat (1) dan (2) serta Pasal 16. Adapun isinya adalah sebagai berikut: Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian: (1) Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang: a. Menerima laporan dan/atau pengaduan; b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum; c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat; d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa; e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian; f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan; g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian; h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang; i. Mencari keterangan dan barang bukti; j. Menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional; k. Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat; l. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta m. Kegiatan masyarakat; n. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu” (2) Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundangundangan lainnya berwenang: 22 a. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya; b. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor; c. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor; d. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik; e. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam; f. Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan; g. Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian; h. Melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik dan memberantas kejahatan internasional; i. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait; j. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi kepolisian internasional; k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian” Pasal 16 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk : a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan; c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan; d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. Mengadakan penghentian penyidikan; i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum; j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana; k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; dan l. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab” 23 C. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu pola pemaksaan kehendak atas seseorang terhadap pasangannya dengan menggunakan serangan dan ancaman termasuk penyiksaan secara fisik, mental/ emosional dan juga penguasaan secara ekonomis. Kekerasan terjadi karena ketidakseimbangan antara suami dan istri baik secara fisik, dan ekonomi kepada yang lemah, antara yang dominan kepada yang kurang dominan dan antara yang berkuasa dan yang tidak berdaya.6 Kekerasan berbasis gender adalah bentuk kekerasan karena adanya keyakinan gender. Secara umum, perempuan lebih rentan karena posisinya yang pincang di masyarakat baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Karena pada umumnya posisi perempuan dianggap lebih rendah dan laki-laki ditempatkan lebih tinggi, maka kekerasan berbasis gender ini lebih banyak dialami oleh perempuan.7 Keyakinan gender adalah keyakinan yang mempercayai bahwa laki-laki dan perempuan berbeda peran, fungsi, sifat dan karakternya. Keyakinan ini adalah hasil bentukan masyarakat (konstruksi sosial), oleh karena itu keyakinan tersebut bisa berubah dari masa ke masa bahkan konsepnya dapat berbeda antara masyarakat satu dengan lainnya. Keyakinan gender mempercayai bahwa: perempuan lebih lemah, takluk, emosional, tidak mandiri dan sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, 6 LPKP2 Fatayat NU & The Asia Foundation. Buku Panduan Konselor Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jakarta: LPKP2, 2003, hlm. 89. 7 Fakih, Mansour, Diskriminasi dan Beban Kerja Perempuan: Perspektif Gender, Yogyakarta: Cidesindo, 1998, hlm. 22. 24 berkuasa, rasional dan mandiri. 8 Atas dasar ini, kekerasan terhadap perempuan terjadi karena budaya dominasi lakilaki terhadap perempuan. Kekerasan digunakan laki-laki untuk memenangkan perbedaan pendapat, menyatakan perasaan tidak puas, dan sering hanya untuk menunjukkan bahwa laki-laki lebih berkuasa terhadap perempuan Siklus KDRT terdiri dari fase 1, fase 2, fase 3 dan kembali pada fase 1. Adapun fasefase itu adalah: a. Fase 1. Munculnya ketegangan, berbagai konflik, pertengkaran mulut, tidak adanya kesatuan pendapat. Wanita mengeluh, bertindak pasif, mengacuhkan kemarahan pelaku. Laki-laki melihatnya sebagai satu kelemahan, marah dengan sikap wanita yang mengacuhkan dirinya dan menyebabkan kemarahan memuncak. b. Fase 2 Insiden penganiayaan akut terjadi dengan tindakan kekerasan secar verbal, fisik dan seksual, berlangsung dalam beberapa jam sampai 24 jam atau lebih lama lagi. Korban seringkali menunda untuk segera mencari pertolongan, meminimalkan luka-luka yang terjadi pada dirinya, dalam keadaan syok dan mengingkari kejadian yang dialami/ tidak mempercayai kejadian yang menimpa dirinya. c. Fase 3 Keduanya merasa mereda/ hilang, pelaku sering kali mengungkapkan rasa cinta, penyesalan yang mendalam, berprilaku baik, meminta maaf, mengungkapkan janji tidak akan mengulangi perbuatan kasarnya lagi.9 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat berupa: a. Kekerasan Fisik Beberapa bentuk kekerasan fisik misalnya memukul, menampar, menjambak, menginjak, mendorong, melempar barang dampai dengan melakukan pembunuhan seperti menusuk atau membakar. b. Kekerasan Psikologis Merupakan kekerasan emosional berupa ucapan-ucapan yang menyakitkan, kotor, membentak, menghina, menyudutkan ataupun ancaman. Pelaku sering 8 Esmi Warassih, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang: Suryandaru Utama, 2006, hlm. 69. 9 Komnas Perempuan. Peta Kekerasan. Pengalaman perempuan Indonesia, Jakarta: Ameepro, 2002, hlm. 96. 25 memutarbalikkan fakta. Istri selalu dilihat sebagai pihak yang bersalah, sementara suami selalu berada dipihak yang benar. c. Berdimensi ekonomi Mengontrol prilaku istri, tidak memberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sementara melarang istri untuk bekerja, menghambur-hamburkan uang sementara istri dan anak kekurangan, memperkerjakan istri atau menguasai uang atau barang milik istri dan sebagainya. d. Kekerasan seksual Pemerkosaan/ pemaksaan hubungan seks, pemukulan dan kekerasan yang dilakukan sebelum melakukan hubungan seks, pemaksaan katifitas sek tertentu, pornografi, penghinaan seksualitas melalui bahasa verbal dan lain-lain. 10 D. Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Penegakan Hukum Pidana Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap atau sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara, dan, mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Pokok penegakan hukum seb

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Faktor-faktor Penyebab Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Dampaknya Terhadap Korban” (Studi Kasus Pada 3 Orang Korban KDRT yang Ditangani oleh Yayasan Pusaka Indonesia dan PKPA).
6
85
106
Kajian Hukum Terhadap Tindak Pidana Kekerasan Yang Dilakukan Oleh Suami Terhadap Istri Dalam Perspektif Kriminalogi
0
39
112
Tahapan Forgiveness Pada Istri Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
3
83
134
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Budaya Hukum (Suatu Tinjauan Antropologis)
0
32
6
Penelantaran Istri Oleh Suami Sebagai Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dan Penerapan Hukumnya (Studi Kasus No: 378/Pid.B/2007/PN-Medan) dan (STUDI KASUS No: 1921/Pid.B/2005/PN-Medan)
1
44
93
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh
0
11
0
JUDUL INDONESIA: ANALISIS TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG DILAKUKAN ISTRI TERHADAP SUAMI DALAM PERSPEKTIF KRIMINOLOGI
2
31
60
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Istri Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Wilayah Cipondoh Makmur RW 009 Kelurahan Cipondoh Makmur, Kota Tangerang
0
12
134
KEWENANGAN KEPOLISIAN UNTUK MENGELUARKAN SURAT PERINTAH PENGHENTIAN PENYIDIKAN (SP3) DALAM TIDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT).
1
17
18
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA OLEH UNIT PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK (STUDI KASUS DI KEPOLISIAN RESORT SUKOHARJO)
0
8
73
PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA OLEH SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi kasus di Poltabes Padang).
0
3
6
PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (ISTERI) DALAM RUMAH TANGGA DI POLTABES PADANG.
0
1
6
PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (studi Kasus Kekerasan Terhadap Istri di Polresta Bukittinggi).
0
1
6
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK | BIDJA | Legal Opinion 5964 19857 1 PB
0
0
9
ANALISIS KRIMINOLOGIS TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DILAKUKAN SUAMI TERHADAP ISTRI (Studi di Polresta Bandar Lampung)
0
0
11
Show more