Pengantar Ekonomi 002

Gratis

0
7
3
2 years ago
Preview
Full text
Pengantar Ekonomi : Eksternalitas Ads: Pengantar Ekonomi : Eksternalitas - Bahwa jika pertawaran dan permintaan berada pada kondisi ekuilibrium, maka alokasi sumber-sumber dayanya efisien. Meminjam metafora terkenal Adam Smith, kekuatan “tangan tak nampak” yang terkandung dalam pasar cenderung mengarahkan segenap penjual dan pembeli di pasar yang pada dasarnya hanya mementingkan kepentingannya sendiri, berperilaku sedemikian rupa sehingga memaksimalkan keuntungan total dari pasar, bagi seluruh masyarakat yang bersangkutan. Pasar secara umum adalah cara yang baik untuk mengorganisasikan kegiatan ekonomi. Dalam bab ini, berbagai bentuk kegagalan pasar akan kita masukkan ke dalam satu kategori umum yang disebut ekstemalitas. Ada pun eksternalitas (externality) itu adalah dampak tindakan seseorang atau suatu pihak terhadap kesejahteraan atau kondisi orang/pihak lain, lika dampaknya merugikan, maka hal itu disebut eksternalitas negatif (negative externality). Sebaliknya, jika dampaknya menguntungkan disebut eksternalitas positif (positive exter¬nality). Dengan adanya eksternalitas, maka kepentingan masyarakat atas hasil-hasil suatu pasar akan lebih dari sekedar kesejahteraan pembeli dan penjual, melainkan juga kesejahteraan pihak-pihak lain (di luar pembeli dan penjual). Karena para pembeli dan penjual biasanya mengabaikan dampak-dampak tindakan mereka dalam memutuskan berapa permintaan dan penawaran mereka, maka eksternalitas akan selalu timbul, dan keberadaannya yang mengakibatkan pasar dalam kondisi ekuilibrium pun tidak efisien lagi. Jadi akibat adanya eksternalitas itu, ekuilibriun pasar tidak akan mampu memak¬simalkan kesejahteraan total bagi suatu masyarakat secara keseluruhan. Bentuk eksternalitas itu sendiri bermacam-macam. Karena itu, ienis kebijakan pemerintah untuk mengendalikannya juga bervariasi. Berikut ini adalah beberapa contohnya. • Asap dari knalpot kendaraan bermotor merupakan eksternalitas negatif, karena asap itu rnenyesakkan nafas orangorang yang berada di sekitarnya. Wujud eksternalitas ini adalah para pengendara mobil cenderung mencemari lingkungan. Di Amerika Serikat, pemerintah federal telah mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan memberlakukan aturan emisi standar untuk kendaraan bermotor. Cara lain yang ditempuh pemerintah adalah memungut pajak bensin, agar menekan niat orang berkendara. • Anjing yang terus-menerus menggonggong di sebuah rumah jelas menciptakan eksternalitas negatif, karena para tetangga akan terganggu oleh kebisingannya. Pemilik anjing itu tidak memikul seluruh biaya/ kerugiannya, sehingga mereka pun tidak terdorong untuk berusaha agar anjingnya tidak terus-terusan menyalak. Pemerintah pun perlu turun tangan dengan menerapkan larangan gangguan, sehingga pemilik anjing yang piaraannya terus membuat ribut dapat diadukan ke polisi. Eksternalitas dan Inefisiens Pasar Ilmu Ekonomi Kesejahteraan: Penyegaran Kurva permintaan aluminium mencerminkan nilai aluminium bagi para pembelinya, dan nilai itu dihitung berdasarkan harga yang mau mereka bayarkan. Ketinggian kurva permintaan menunjukkan kesediaan membayar para konsumen marginal. Dengan kata lain, kurva tersebut menunjukkan nilai atas unit terakhir aluminium yang dibeli konsumen. Demikian pula, kurva penawaran aluminium mencerminkan biaya produksi aluminium bagi penjual atau produsennya. Pada setiap kuantitas, ketinggian kurva penawaran menunjukkan biaya yang dipikul produsen marginal. Dengan kata lain, kurva tersebut menunjukkan nilai atas unit terakhir aluminium yang dijual. Dalam kondisi tersebut, pasar rnampu mengalokasikan segenap sumber daya sedemikian rupa, sehingga memaksimalkan nilai total konsumen yang membeli dan memakai aluminium minus biaya total produsen yang membuat dan menjual aluminium tersebut. Eksternalitas Negatif Dari Produksi Perhatikanlah, bahwa dalam melangsungkan kegiatan produksinya, pabrik-pabrik aluminium itu menimbulkan polusi. Untuk setiap aluminium yang mereka produksi, sejumlah asap kotor yang mengotori atmosfer tersembur dari tanur pabrikpabrik tersebut. Karena asap itu membahayakan kesehatan siapa saja yang menghirupnya, maka asap itu merupakan ekstemalitas negatif dalam produksi aluminium. Akibat adanya ekstemalitas tersebut, biaya yang harus dipikul masyarakat yang bersangkutan secara keseluruhan dalam memproduksi aluminium lebih tinggi dari pada biaya yang dipikul oleh produsennya. Biaya sosial (social cost) untuk setiap unit aluminium yang diproduksikan, mencakup biaya produksi yang dipikul produsen biasa disebut “biaya pribadi” (pri¬vate cost) plus biaya yang harus ditanggung oleh pihak lain yang ikut mengalami kerugian akibat polusi. Jika produksi melebihi tingkat optimum tersebut, maka biaya sosial produksi aluminium akan melebihi nilainya bagi konsumen. Bagaimana tingkat produksi optimum itu bisa dicapai? Salah satu caranya adalah dengan mengenakan pajak kepada para produsen, atas setiap ton aluminium yang mereka jual. Pajak ini akan menggeser kurva penawaran aluminium ke atas, sebanyak besaran pajaknya. Jika pajak itu sesuai dengan nilai kerugian akibat asap polusi, maka posisi kurva penawaran itu akart bersesuaian dengan kurva biaya sosial. Maka akan tercipta ekuilibrium baru di pasar, di mana tingkat produksi yang dilakukan para produsen akan optimum secara sosial. Pengenaan pajak yang tepat itu dikatakan mampu menciptakan internalisasi eksternalitas (internalizing an externality), karena pajak tersebut memberi para konsumen dan produsen suatu insentif untuk memperhitungkan dampak-dampak eksternai dari tindakan-tindakan mereka. Eksternalitas Positif Dari Produksi Meskipun banyak pasar di mana biaya sosial produksinya melebihi biaya pribadi, ada pula pasar-pasar yang justru sebaliknya, yakni biaya pribadi para produsen malahan lebih besar dari pada biaya sosialnya. Di pasar inilah, eksternalitasnya bersifat positif, dalam arti menguntungkan pihak lain (selain produsen dan konsumen). Contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah pasar robot industri (robot yang khusus dirancang untuk melakukan kegiatan atau fungsi tertentu di pabrik-pabrik). Robot adalah ujung tombak kemajuan teknologi yang mutakhir. Sebuah perusahaan yang mampu membuat robot, akan berkesempatan besar menemukan rancangan-rancangan rekayasa baru yang serba lebih baik. Rancangan ini tidak hanya akan menguntungkan perusahaan yang bersangkutan, namun juga masyarakat secara keseluruhan karena pada akhirnya rancangan itu akan menjadi pengetahuan umum yang bermanfaat. Eksternalitas positif seperti ini biasa disebut “imbasan teknologi” (technology spillover). Eksternalitas Dalam Konsumsi Untuk menggerakkan ekuilibrium pasar mendekati titik optimum sesial, keberadaan eksternalitas negatif itu dapat ditekan melalui penerapan pajak, sedangkan untuk eksternalitas positif daqat diirnbangi dengan pemberian subsidi. Hal ini sama persis seperti terjadi dalam kenyataannya. Di berbagai negara, pemerintah senantiasa mengenakan pajak terhadap berbagai jenis minuman beralkohol, dan pajaknya biasanya tergolong paling tinggi bila dibandingkan dengan pajak untuk barang-barang konsumsi lainnya. Demikian pula, pemerintah di semua negara selalu berusaha menyubsidi pendidikan melalui pengadaan sekolah negeri berbiaya murah (atau bahkan bebas biaya) dan pemberian beasiswa. Solusi Swasta Terhadap Eksternalitas Tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan kelompok), berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja, yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara sosial. Jenis-Jenis Solusi Swasta Inefisiensi pasar akibat eksternalitas tidak selalu harus atau bisa diatasi oleh pemerintah. Dalam berbagai kasus, masyarakat sendiri dapat mengupayakan penanggulangannya. Ada kalanya, masalah eksternalitas dapat diatasi dengan penegakan atau peningkatan standar moral, atau ancaman penerapan sanksi sosial. Contoh lain solusi swasta, adalah derma atau amal yang seringkali sengaja diorganisasikan untuk mengatasi suatu eksternalitas. Orgarusasi ini mengandalkan pemasukannya dari donasi pihak-pihak yang bersimpati atau iuran anggota. Hal itu sebagai contoh untuk eksternalitas negatif. Sedangkan untuk eksternalitas positif, kita mengetahui banyak perguruan tinggi yang membenluk yayasan, yang menghimpun sumbangan dari para alumni, perusahaan, atau pihakpihak lain, untuk kemudian disalurkan sebagai beasiswa. Pasar swasta terkadang juga mampu mengatasi masalah eksternalitas, dengan membiarkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengatasinya. Motif utama mereka memang untuk memenuhi kepentingannya sendiri, namun dalam melakukan suatu tindakan, mereka juga sekaligus mengatasi eksternalitas. Cara lain di pasar swasta dalam mengatasi eksternalitas adalah, penyusunan kontrak atau perjanjian di antara pihakpihak yang menaruh kepentingan. Teorema Coase Teorema Coase (Coase theorem) mengambil nama perumusnya, yakni ekonom Ronald Coase yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat efektif seandainya memenuhi suatu syarat. Syarat itu adalah pihak-pihak yang berkepentingan dapat melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah penanggulangan masalah eksternalitas yang ada di antara mereka, tanpa menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada. Menurut Teorema Coase, hanya jika syarat ini terpenuhi, maka pihak swasta itu akan mampu mengatasi masalah eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya. Menurut teorema Coase, pasar swasta dapat menciptakan sendiri pemecahan yang efisien. Menurut teorema Coase, distribusi awal hak atau perlindungan hukum itu tidak menjadi persoalan, karena tidak ada pengaruhnya terhadap kemampuan pasar dalam mencapai hasil yang efisien. Teorema Coase menyatakan bahwa pelaku-pelaku ekonomi pribadi/swasta, dapat mengatasi sendiri masalah eksternalitas yang muncul di antara mereka. Terlepas dari distribusi hak pada awalnya, pihak-pihak yang berkepentingan selalu berpeluang mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak, dan merupakan pemecahan yang efisien. Mengapa Solusi Swasta Tidak Selalu Berhasil Teorema Coase ternyata hanya berlaku, jika pihak-pihak yang berkepentingan tidak dihadapkan pada kendala untuk mencapai dan melaksanakan kesepakatan. Kesepakatan untuk mengatasi persoalan eksternalitas seringkali gagal dicapai, jika pihak-pihak yang terlibat diharuskan menanggung biaya-biaya transaksi. Yang disebut sebagai biaya-biaya transaksi (transaction costs) adalah berbagai bentuk biaya yang harus dibayar, ketika pihak-pihak yang berkepentingan itu tengah menjalani negosiasi atau tawar-menawar. Kesulitan juga muncul pada tahap pelaksanaan atas suatu kesepakatan. Perjanjian damai antara kedua belah pihak yang berperang, seringkali gugur begitu saja dan perang pun kembali pecah. Jadi, biaya bukan saja bisa muncul pada tahap penyusunan kesepakatan, namun juga pada tahap pelaksanaannya. Salah satu sebabnya adalah, ada saja pihak yang menginginkan posisi lebih baik sekalipun kesepakatan sudah ditetapkan. Pencapaian kesepakatan akan semakin sulit, jika jumlah pihak yang terlibat atau berkepentingan lebih banyak. Ini dikarenakan koordinasi antara banyak pihak itu biasanya memakan biaya yang cukup besar. Kebijakan Publik Untuk Mengatasi Eksternalitas Pilihan pertama adalah rnenerapkan kebijakan-kebijakan atau pendekatan komando dan kontrol (command-and-control policies), atau menerapkan kebijakan-kebijakan berdasarkan pendekatan pasar (market-based policies). Bagi para ekonom, pilihan kedua lebih baik, karena kebijakan berdasarkan pendekatan pasar akan mendorong para pembuat keputusan di pasar swasta, untuk secara sukarela memilih mengatasi masalahnya sendiri. Regulasi Pemerintah dapat mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu. Pajak Pigovian Dan Subsidi Untuk mengatasi eksternalitas, pemerintah juga dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada pendekatan pasar, yang dapat memadukan insentif pribadi/swasta dengan efisiensi sosial. Pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dari suatu eksternalitas negatif lazim disebut sebagai pajak Pigovian (Pigovian tax), mengambil nama ekonom pertama yang merumuskan dan menganjurkannya, yakni Arthur Pigou (1877-1959). Para ekonom juga berkeyakinan bahwa penerapan pajak Pigovian, merupakan cara terbaik untuk menurunkan polusi. Pendekatan komando dan kontrol tidak akan memberikan alasan atau insentif bagi pabrik-pabrik pencipta polusi untuk berusaha mengatasi polusi semaksimal mungkin. Izin Polusi Yang Dapat Diperjualbelikan Satu keuntungan dari berkembangnya pasar hak berpolusi ini, adalah alokasi/pembagian awal izin berpolusi di kalangan perusahaan tidak akan menjadi masalah, jika ditinjau dari sudut pandang efisiensi ekonomi. Perusahaan-perusahaan yang paling mampu menurunkan polusi akan menjual haknya berpolusi, sedangkan perusahaan yang harus mengeluarkan biaya besar untuk menurunkan polusi, akan menjadi pembelinya. Selama pasar hak berpolusi ini dibiarkan bekerja dengan bebas, maka alokasi akhirnya akan lebih efisien dibanding alokasi awalnya, terlepas dari sebaik apa pun alokasi awal tersebut. Keberatan Terhadap Analisis Ekonomis Polusi “Kita tidak pantas mengizinkan suatu pihak menciptakan polusi dengan imbalan uang”. Komentar ini dilontarkan oleh Senator Edmund Muskie di tahun 1971. Komentar seperti ini mencerminkan pandangan sebagian pecinta lingkungan hidup. Mereka berpendapat bahwa keberadaan udara dan air yang bersih, adalah hak dasar setiap manusia yang tidak sepatutnya dinilai secara ekonomis. Semoga artikel Pengantar Ekonomi : Eksternalitas bermanfaat bagi Anda. Jika anda suka dengan artikel Pengantar Ekonomi : Eksternalitas ini, like dan bagikan artikel Pengantar Ekonomi : Eksternalitas ketemanmu.

Dokumen baru