HUBUNGAN STATUS GIZI, MENARCHE DINI, DAN PERILAKU MENGONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA SISWI SMAN 13 BANDAR LAMPUNG

 17  103  70  2017-04-21 11:59:27 Report infringing document
Informasi dokumen
ABSTRACT THE RELATIONSHIP BETWEEN NUTRITIONAL STATUS, EARLY MENARCHE, AND FAST FOOD EATING BEHAVIOUR WITH THE INCIDENCE OF PRIMARY DYSMENORRHEA ON FEMALE STUDENT FROM SMAN 13 BANDAR LAMPUNG by MAGISTA VIVI ANISA Introduction. Primary dysmenorrhea can be caused by several factors. The purpose of this study was to determine the relationship between nutritional status, early menarche, and fast food eating behaviour with the incidence of primary dysmenorrhea. Method. This research was an observational research analytic type with cross sectional approaching to female students X grader of SMAN 13 Bandar Lampung. The number of samples is 180 people which is determined by total sampling method. Nutritional status of respondents known from body mass index by measuring their weight and height. Age of menarche, fast food eating behaviour, and primary dysmenorrhea known through questionnaires. Data were analyzed by univariate and bivariate comparative test such as chi-square, fisher, and kolmogorov-smirnov. Result. Respondents who had primary dysmenorrhea were 90.6%. Respondents with normal nutritional status were 83.9%, overweight 11.7% and underweight 4.4%. Respondents who had early menarche were 1.1%. Respondents who frequently eat fast food were 83.3%. Statistical test results between both nutritional status and early menarche with primary dysmenorrhea was known that p value = 1.000, and between fast food eating behaviour and primary dysmenorrhea was known that p value = 0.010, OR = 4.261, CI = 1,474- 12.320. Conclusion. There was no significant relationship between both nutritional status and early menarche with primary dysmenorrhea, but there was a significant relationship between fast food eating behaviour and primary dysmenorrhea. Keywords: early menarche, fast food, nutritional status, primary dysmenorrhea ABSTRAK HUBUNGAN STATUS GIZI, MENARCHE DINI, DAN PERILAKU MENGONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA SISWI SMAN 13 BANDAR LAMPUNG Oleh MAGISTA VIVI ANISA Pendahuluan. Dismenore primer dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap siswi kelas X SMAN 13 Bandar Lampung. Jumlah sampel diambil dengan metode total sampling yaitu 180 orang responden. Status gizi responden diketahui dari indeks massa tubuh dengan mengukur berat badan dan tinggi badan. Usia menarche, perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food), dan prevalensi kejadian dismenore primer diketahui melalui kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji komparatif chisquare, fisher, dan kolmogorov-smirnov. Hasil. Responden mengalami dismenore primer sebesar 90,6%. Responden dengan status gizi normal sebesar 83,9%, status gizi gemuk sebesar 11,7% dan status gizi kurus sebesar 4,4%. Responden yang mengalami menarche dini sebesar 1,1%. Responden yang sering mengonsumsi makanan cepat saji sebesar 83,3%. Hasil uji statistik antara status gizi dan dismenore primer didapatkan nilai p = 1,000, antara menarche dini dan dismenore primer didapatkan nilai p = 1,000, dan antara mengonsumsi makanan cepat saji dan dismenore primer didapatkan nilai p = 0,010 dengan OR = 4,261 dan CI = 1,474-12,320. Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dan kejadian dismenore primer. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara menarche dini dan kejadian dismenore primer. Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan dismenore primer. Kata Kunci : dismenore primer, makanan cepat saji, menarche dini, status gizi HUBUNGAN STATUS GIZI, MENARCHE DINI, DAN PERILAKU MENGONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA SISWI SMAN 13 BANDAR LAMPUNG Oleh MAGISTA VIVI ANISA Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN Pada Fakultas Kedokteran Universitas Lampung FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Metro, pada tanggal 30 Juli 1993, sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari bapak Amir Supriyanto dan ibu Winarni. Penulis menempuh pendidikan taman kanak-kanak di TK Al-Azhar 2 Bandar Lampung pada tahun 1998 lulus pada tahun 1999. Pendidikan sekolah dasar (SD) ditempuh di SD Al-Azhar 1 Bandar Lampung pada tahun 1999 dan lulus pada tahun 2005. Pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) ditempuh di SMP Al-Kautsar pada tahun 2005 dan lulus pada tahun 2008. Pendidikan sekolah menengah atas (SMA) diselesaikan di SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Pada tahun 2011, penulis menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung. Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, kupersembahkan skripsi ini untuk keluargaku Terima kasih kepada Ayah dan Ibu atas semua cinta dan kasih sayang, dukungan, semangat, serta doa yang mengantarku hingga saat ini. Rangkaian kata tak kan berujung mengisahkan apa yang telah Kalian berikan selama ini untukku. Kalion adalah yang terbaik untukku, dan semoga aku menjadi yang terbaik untuk kalian. Untuk adikku, terima kasih atas kasih sayang dan semangatnya selama ini. Semoga mbak bisa jadi panutan yang baik untukmu. SANWACANA Alhamdulillahhirobbilalamin, puji syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang senantiasa mencurahkan segala nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu. Shalawat beriring salam kepada Rasullulah Muhammad SAW, semoga kita mendapat syafaatnya di hari akhir nanti. Skripsi dengan judul “Hubungan Status Gizi, Menarche Dini, dan Perilaku Mengonsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar lampung” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. 1. Kepada Bapak Dr. Sutyarso, M. Biomed., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 2. Kepada dr. Dian Isti Angraini, M.P.H., selaku dosen pembimbing utama skripsi ini, yang senantiasa dengan sabar selalu membimbing, memberi kritik dan saran yang membangun, serta atas ketersediaan waktu dan perhatian yang telah diberikan hingga selesainya skripsi ini. 3. Kepada Ibu Soraya Rahmanisa, S.Si,, M.Sc., selaku dosen pembimbing kedua yang senantiasa memberikan waktu untuk bimbingan, memberi saran, dan kritik hingga selesainya skripsi ini. 4. Kepada dr. Fitria Saftarina, M.Sc., DK selaku dosen penguji utama. Terimakasih atas bimbingan, waktu, ilmu, kritik dan saran-saran yang telah diberikan hingga selesainya skripsi ini. 5. Kepada dr. Khairun Nisa, M.Kes. AIFO, selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa memberikan pengarahan dan saran-saran dalam proses penyelesaian skripsi ini, dan proses belajar selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 6. Terima kasih yang tak terhingga kepada Ibunda tercinta Winarni yang telah membesarkan dan mendidikku tanpa pamrih dengan cinta dan kasih sayang serta doa yang selalu terucap untukku. Terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Ayahanda Amir Supriyanto yang telah membesarkanku, mendidikku tanpa lelah, serta selalu memberikan cinta kasih sayang yang tak terhingga. Terimakasih juga kepada adikku tercinta Maya Rizki Anisa atas kasih sayang dan semangatnya selama ini. Karena kamu, aku jadi punya temen untuk begadang. 7. Kepada seluruh staf dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lampung atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk mencapai cita-cita. 8. Kepada deluruh civitas academica Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang turut membantu dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini. 9. Kepada kepala sekolah bapak Triyatmo, S.Pd., staf Tata Usaha dan seluruh guru SMAN 13 Bandar Lampung yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian, membantu dalam memberikan jam pelajarannya agar peneliti dapat mengambil data. Dan juga tak lupa terimakasih kepada seluruh siswi kelas X SMAN 13 Bandar Lampung atas ketersediaan dalam menjadi responden penelitian. 10. Kepada teman tim skripsi Cici Yuliana Sari dan teman seperjuangan dalam meraih cita-cita, Annisa Ratya, Jeanna Salima, Putri Fitriana, Gita Augesti, Aulia Agristika, Bianti Nuraini, Putri Rinawati atas semua yang telah dilewati bersama dan selalu memberi perhatian, semangat, dukungan, motivasi, kasih sayang, kebersamaan dan kebahagiaan bagi penulis dalam proses meraih citacita dan menyelesaikan skripsi ini. 11. Kepada ibu Sri Suprapti, S. Ip. dan keluarga selaku petugas Badan Metrologi yang telah membantu dalam pembuatan sertifikat kalibrasi timbangan yang digunakan dalam penelitian. 12. Kepada teman-teman angkatan 2011 tercinta yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Terima kasih telah memberikan motivasi, kebersamaan dan ilmu yang tak ternilai. 13. Kepada kakak-kakak dan adik-adik tingkat (angkatan 2002–2014) yang sudah memberikan semangat kebersamaan dalam satu kedokteran. Akhir kata, Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Terima kasih. Bandar Lampung, 7 Januari 2015 Penulis Magista Vivi Anisa m m x DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL………………………………….………………….….. iiixiv DAFTAR GAMBAR………………………………………………….….. ivxvi xvii DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang…………………………………………………..... 1 1 1.2 Rumusan Masalah…………………………………………….…... 4 5 1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………….…… 4 5 1.4 Manfaat Penelitian……………………………………….…….….. 6 1.5 Kerangka Penelitian……………….………………………….…… 7 1.5.1 Kerangka Teori.……………………………………………..….7 1.5.2 Kerangka Konsep.………………………………………….….. 8 1.6 Hipotesis Penelitian……….…………………………………..…… 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1Remaja…………………………………………………………..… 7 10 2.2 Status Gizi Remaja……………………………………………..… 11 2.2.1 Klasifikasi Status Gizi……………………………………….. 11 12 2.2.2 Penilaian Status Gizi…………………………………………….. 2.3 Pola Makan Makanan Cepat Saji (Fast Food) pada Remaja………………………………………………………..…… 1114 2.4 Menstruasi……………………………………………………..….. 1215 2.5 Gangguan Menstruasi…………………………………………..…. 1316 xi 2.6 Dismenore…………………………………………………….…... 17 17 2.6.1 Definisi Dismenore……………………………………………… 2.6.2 Klasifikasi Dismenore………………………………………….18 2.6.3 Patofisiologi Dismenore Primer……………………………….19 2.6.4 Gejala Klinis Dismenore Primer………………………………20 2.6.5 Faktor Risiko Dismenore Primer………………………………21 2.6.6 Nyeri Dismenore…………………………………………… 22 2.7 Hubungan Status Gizi, Usia Menarche, dan Perilaku Mengonsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) 23 dengan Dismenore Primer….………………………………….….. 22 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian……………………………………………………. 29 31 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian…………………………………….. 29 31 3.3 Subjek Penelitian………………………………………………….. 3.3.1 Populasi………………………………………………………..31 3.3.2 Sampel…………………………………………………………31 32 3.3.3 Kriteria Inklusi……………………………………………………. 34 3.3.4 Kriteria Eksklusi……………………………………………….. 34 3.4 Variabel Penelitian………………………………………………... 34 3.4.1 Variabel Bebas………………………………………………….. 34 3.4.2 Variabel Terikat………………………………………………… 35 3.5 Definisi Operasional……………………………………………… 30 35 3.6 Metode Pengumpulan Data……………………………………….. 36 3.7 Instrumen Penelitian………………………………………………. 37 3.8 Prosedur Penelitian……………………………………………….. 35 38 3.9 Pengolahan Data………………………………………….……….. 35 38 3.10 Analisis Data……………………………………………………… 41 3.11 Etika Penelitian……………………………………………………..’ 42 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 43 4.1 Hasil…………………………………………………………………… 4.1.1 Gambaran Umum SMAN 13 Bandar Lampung…..……… 43 4.1.2 Analisis Univariat…………………………………………. 44 44 4.1.2.1 Distribusi Usia Responden…………………….…..……. xii 4.1.2.2 Distribusi Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…………………………..…. 44 4.1.2.3 Distribusi Status Gizi pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………… 46 4.1.2.4 Distribusi Menarche Dini pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………… 47 4.1.2.5 Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…..…………………………………………..48 4.1.3 Analisis Bivariat……………………………………………….. 49 4.1.3.1 Hubungan antara Status Gizi dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………………… 49 4.1.3.2 Hubungan antara Menarche Dini dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………….………. 50 4.1.3.3 Hubungan antara Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung….. 51 4.2 Pembahasan………………………………………..………………….. 53 4.2.1 Analisis Univariat…………………………………………… 53 4.2.1.1 Distribusi Usia Responden……………………………….. 53 4.2.1.2 Distribusi Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung……………………..……. 55 4.2.1.3 Distribusi Status Gizi pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………… 56 4.2.1.4 Distribusi Menarche Dini pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………… 58 4.2.1.5 Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…………………………………………….. 60 4.2.2 Analisis Bivariat……………………………………………. 62 4.2.2.1 Hubungan antara Status Gizi dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung……………………………………………..……. 62 4.2.2.2 Hubungan antara Menarche Dini dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…………………………………………….……. 65 4.2.2.3 Hubungan antara Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung..………………… 67 V. KESIMPULAN DAN SARAN 72 5.1 Kesimpulan................................................................................................ 72 73 74 xiii 73 5.2 Saran…………………………………………………………………….. DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………3874 LAMPIRAN…………………………………………………………………..80 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka Teori Tentang Dismenore Primer dan Faktor Risiko yang Mempengaruhinya………..…………….……..……...8 2. Kerangka Konsep……………………….………….……….… 8 3. Kaskade Prostaglandin Menyebabkan Dismenore Primer…..… 20 4. Diagram Alur Penelitian……………………………..………… 38 5. Distribusi Tingkat Nyeri Dismenore pada Siswi SMAN 13 46 Bandar Lampung……………………………………………………… DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Kategori Status Gizi untuk Anak Perempuan Usia 5-18 Tahun ………..……………………………………………………. 13 2. Jumlah Besar Sampel untuk Hubungan Status Gizi, Usia Menarche, dan Konsumsi Fast Food dengan Kejadian Dismenore Primer ………………………..……..…... 33 29 3. Definisi Operasional Variabel Penelitian…………………..….. 35 4. Distribusi Jenis Makanan Cepat Saji (Fast Food) yang Paling Sering Dikonsumsi……………………………………………………. 40 5. Distribusi Usia Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…………………… 44 6. Distribusi Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………………….45 7. Tabulasi Silang antara Usia dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung……………………. 45 8. Distribusi Status Gizi pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampun……………………………………………………………… 47 9. Distribusi Menarche Dini pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………………………………………..………. 48 10. Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung………………… 48 11. Hubungan antara Status Gizi dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…………………… 49 12. Hubungan antara Menarche Dini dan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMAN 13 Bandar Lampung……………………. 50 xv 13. Hasil Hubungan antara Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dan Kejadian Dismenore Primer pada 51 Siswi SMAN 13 Bandar Lampung…………………………………. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. 80 Surat Keterangan Lolos Kaji Etik………………………………..… 2. 81 Informasi Kegiatan Penelitian………………………………………… 3. 83 Lembar Informed Consent………………………………………………. 4. 84 Kuesioner Karakteristik Responden………………………………….. 5. Kuesioner Intensitas Dismenore (Nyeri Menstruasi) dengan Menggunakan metode Numeric Rating Scale (NRS)………..……..87 6. 88 FFQ Fast Food…………………………………………………………………. 7. 89 Data Hasil Penelitian……………………………………………….….. 8. 94 Hasil Output SPSS…………………………………………………….. 9. 106 Dokumentasi Kegiatan Penelitian…………………………………… 108 10. Sertifikat Tera Ulang Timbangan……………………………………… 109 11. Pengukuran Antropometri………………………………………………. 12. IMT untuk Anak Perempuan Usia 5-18 Tahun ……………..…….112 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kata remaja berasal dari bahasa latin ‘adolescere’ yang berarti tumbuh ke arah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Masa remaja adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut juga masa pubertas. Sebagai tanda kematangan organ reproduksi pada perempuan adalah datangnya haid (Widyastuti dkk., 2009). Haid ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. Perdarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita disebut sebagai menarke (menarche), dan biasanya rata-rata terjadi pada umur 11-13 tahun (Winkjosastro dkk., 2009). Gangguan haid dan siklusnya dapat berupa : 1) kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid (hipermenore/ menoragia, hipomenorea), 2) kelainan siklus (polimenorea, oligomenorea, amenorea), 3) perdarahan di luar haid (metroragia), 4) gangguan lain yang ada hubungannya dengan haid (premenstrual tension, Mittelschmerz, dismenore) (Noviana dan Wilujeng, 2014). 2 Dismenore dibagi atas dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer adalah nyeri haid yang penyebabnya idiopatik atau tidak terdapat hubungan dengan kelainan ginekologik. Sedangkan dismenore sekunder disebabkan oleh kelainan ginekologik, seperti salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri, dan lain-lain (Winkjosastro dkk., 2009). Prevalensi kejadian dismenore primer pada wanita muda diperkirakan sebanyak 40-50% (Dawood, 2006). Berdasarkan survei yang dilakukan di Universitas Shahid Sadughi, Iran, diketahui bahwa terdapat 38,3% dari 300 mahasiswi yang menjadi sampel mengalami dismenore (Baghianimoghadam dkk., 2012). Di negara lain, yaitu di Tbilisi, Geogia, dismenore primer merupakan masalah yang umum terjadi pada populasi remaja (usia 14-20 tahun) dengan prevalensi dismenore adalah 52,07% (Gagua dkk., 2012). Di Indonesia belum ada angka yang pasti mengenai jumlah penderita dismenore. Namun, telah dilakukan cukup banyak penelitian untuk mengetahui prevalensi kejadian dismenore di Indonesia. Penelitian yang dilakukan di Desa Banjar Kemantren Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo, bahwa dari 100 orang wanita usia subur (15-30 tahun) yang menjadi sampel, 71% diantaranya mengalami dismenore (Novia dan Puspitasari, 2008). Sementara itu, Saguni dkk. (2013) melakukan penelitian 3 terhadap siswi SMA Kristen I Tomohon, Sulawesi Utara, dan didapatkan hasil bahwa siswi yang mengalami dismenore sebesar 91,7% dari 312 sampel. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya dismenore primer, diantaranya yaitu : usia, usia menarche dini, lama menstruasi, riwayat keluarga, status gizi, kebiasaan olahraga (Sophia dkk., 2013). Gagua dkk. (2012) menyatakan beberapa faktor risiko terjadinya dismenore priner antara lain : usia, riwayat keluarga dengan dismenore, dan perokok. Status gizi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya dismenore. Dalam penelitian Sophia dkk. (2013) yang dilakukan pada siswi SMK Negeri 10 Medan, diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dan kejadian dismenore. Dalam penelitian tersebut siswi dengan status gizi rendah (underweight) memiliki kemungkinan risiko 1,2 kali lebih besar mengalami dismenore dibandingkan dengan siswi dengan status gizi normal. Usia menarche dini juga merupakan salah satu faktor terjadinya dismenore. Pada penelitian yang dilakukan oleh Fitriana dan Rahmayani (2013) di Akademi Kebidananan Meuligo Meulaboh, diketahui bahwa kejadian dismenore sebanyak 88,6% terjadi pada mahasiswi yang menjadi sampel dengan usia menarche dibawah usia 12 tahun, dibandingkan kejadian dismenore sebanyak 65,2% pada mahasiswi yang menjadi sampel dengan usia menarche di atas 12 tahun. Caesariano (2013) melakukan penelitian 4 tentang hubungan antara usia menarche dan tingkat dismenore yang diukur dengan menggunakan kuesioner visual analogue scale (VAS) pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, dimana hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat dismenore dan usia menarche, yaitu tingkat nyeri pada usia menarche normal adalah 2,01 ± 0,93 sedangkan tingkat nyeri pada usia menarche abnormal adalah 3,16 ± 1,30. Selain kedua faktor risiko dismenore primer yang telah dijelaskan, dismenore primer juga dipengaruhi oleh diet, yang termasuk di dalamnya adalah konsumsi makanan cepat saji (fast food). Konsumsi makanan cepat saji sudah menjadi bagian dari gaya hidup pada masyarakat kota, termasuk remaja (Imtihani dan Noer, 2003). Pada penelitian yang dilakukan oleh Vani dkk. (2013) pada remaja perempuan di Pondicherry, India, diketahui bahwa sebanyak 75,6% remaja perempuan yang mengonsumsi fast food 4-7 hari/minggu mengalami dismenore. Sedangkan pada penelitian Pramanik dan Dhar (2014) pada remaja (13-18 tahun) di Bengal Barat, India Timur, diketahui bahwa sebanyak 130 sampel mengonsumsi fast food sebanyak 7 hari dalam 1 minggu dan 83% diantaranya mengalami dismenore. SMAN 13 Bandar Lampung terletak di daerah Rajabasa. Lokasi sekolah ini cukup jauh dari jalan utama, namun di sekitar SMAN 13 Bandar Lampung cukup banyak pedagang yang menjajakan makanan cepat saji (fast food) lokal, seperti bakso, siomay, cireng, dan makanan goreng-gorengan. Dari 5 survei yang dilakukan pada 3 dari 8 kelas kelas X siswi SMAN 13 Bandar Lampung, didapatkan hasil sebanyak 47 siswi (69%) mengalami dismenore primer dari total 68 orang siswi. Penelitian tentang kejadian dismenore primer belum pernah dilakukan di SMAN 13 Bandar Lampung. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti hubungan status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah ‘Apakah terdapat hubungan antara status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung?’. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 6 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui gambaran kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 2. Mengetahui gambaran status gizi siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 3. Mengetahui gambaran menarche dini siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 4. Mengetahui gambaran perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food ) pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 5. Mengetahui hubungan antara status gizi dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 6. Mengetahui hubungan antara menarche dini dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 7. Mengetahui hubungan antara perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi ilmu pengetahuan Diharapkan dapat memberi informasi mengenai hubungan antara status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer. 7 1.4.2. Bagi institusi pendidikan Diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya. 1.4.3. Bagi masyarakat umum Diharapkan dapat menjadi sumber data ilmiah yang menjelaskan hubungan status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer. 1.5. Kerangka Penelitian 1.5.1. Kerangka Teori Kerangka teori adalah kerangka hipotesis yang menunjukkan keterangan situasi masalah, yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi masalah (Lapau, 2012). Kerangka teori penelitian yang akan dilakukan, berdasarkan uraian yang telah dijelaskan adalah sebagai berikut. 8 Faktor risko : 1. Usia 2. Menarche dini 3. Status gizi 4. Nulipara 5. Perokok 6. Stres 7. Kebiasaan berolahraga 8. Diet (konsumsi fast food) Menstruasi Pelepasan prostaglandin Dismenore Primer Gambar 2. Kerangka Teori Tentang Dismenore Primer dan Faktor Risiko yang Mempengaruhinya (Sumber : Dawood, 2006; Latthe, 2006; Grandi, 2012). 1.5.2. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi konsep-konsep serta variabel-variabel yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2012). Kerangka konsep penelitian yang akan dilakukan terdapat pada gambar berikut Variabel bebas Variabel terikat Status gizi Menarche dini Dismenore primer Perilaku konsumsi makanan cepat saji (fast food) Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian 9 1.6. Hipotesis Penelitian Hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Terdapat hubungan antara status gizi dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 2. Terdapat hubungan antara menarche dini dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 3. Terdapat hubungan antara perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Remaja Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa remaja (Mansur, 2009). Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, dan 63,4 juta diantaranya adalah remaja yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa (50,70%) dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (49,30%) (Wahyuni dan Rahmadewi, 2011). Masa remaja adalah periode peralihan dari anak ke dewasa, dan merupakan masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi, dan psikis. Masa remaja adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas (Widyastuti dkk., 2009). Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikologis dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut. a. Masa remaja awal/ dini (early adolescence) : usia 11-13 tahun. b. Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : usia 14-16 tahun. c. Masa remaja lanjut (late adolescence) : usia 17-20 tahun. 11 Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tertentu tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan (Mansur, 2009). 2.2. Status Gizi Remaja Almatsier (2010) mendefinisikan status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Sedangkan Supariasa dkk. (2012) menyatakan status gizi sebagai ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Kekurangan zat gizi mikro pada remaja dapat berdampak negatif pada proses pertumbuhan dan kematangan organ-organ reproduksi. Kegagalan mencapai status gizi dan kesehatan yang optimal akan berdampak pada status gizi saat ini dan juga berdampak pada status gizi generasi penerus (Emilia, 2009). 2.2.1 Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan baku harvard status gizi dapat dibagi menjadi empat, yaitu : 1. Gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. 2. Gizi baik untuk well nourished. 12 3. Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderate PCM (Protein Calori Malnutrition). 4. Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmikkwasiokor dan kwasiorkor. (Supariasa dkk., 2012) 2.2.2 Penilaian Status Gizi Definisi penilaian status gizi adalah interpretasi data yang didapatkan dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu yang berisiko atau dengan status gizi buruk. Peran dan kedudukan penilaian status gizi di dalam ilmu gizi adalah untuk megetahui status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu atau masyarakat (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2007). Supariasa dkk. (2012) menjelaskan beberapa metode penilaian status gizi. Pada dasarnya penilaian status gizi dapat dibagi dua, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara langsung meliputi : antropometri, biokimia, klinis, dan biofisik. Penilaian secara tidak langsung meliputi : survei konsumsi makanan statistik vital, dan faktor ekologi. 13 Salah satu metode penilaian status gizi yang paling sering digunakan adalah pengukuran antropometri. Pengukuran antropometri adalah pengukuran terhadap dimensi tubuh dan komposisi tubuh. Salah satu indeks antropometri yang dapat digunakan untuk menilai status gizi adalah dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2007). IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut (Supariasa dkk., 2012). Klasifikasi IMT untuk penduduk anak perempuan usia 5-18 tahun dijelaskan pada tabel berikut. Tabel 1. Kategori Status Gizi untuk Anak Perempuan Usia 5-18 Tahun Kategori Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Obesitas (Kemenkes, 2010) IMT/Usia <14,4 14,4-<1,59 15,9-23.5 >23,5-28,2 >28,2 14 2.3. Pola Makan Makanan Cepat Saji (Fast Food) pada Remaja Kehadiran fast food di Indonesia sangat mempengaruhi pola makan para remaja di kota besar. Tidak bisa dipungkiri dengan gaya hidup kota yang serba praktis para remaja sulit menghindar dari fast food (Kristianti dkk., 2009). Semakin populernya makanan cepat saji di kalangan remaja saat ini, diiringi dengan meningkatnya besar porsi dan energi di dalam makanan cepat saji selama beberapa tahun terakhir. Hal ini menyebabkan remaja yang mengonsumsi makanan cepat saji akan mengonsumsi energi, lemak, dan gula secara berlebihan. Selain itu, makanan cepat saji diketahui rendah serat dan tinggi sodium (Imtihani dan Noer, 2013). Fast food atau makanan siap saji dapat diartikan sebagai makanan yang dapat disiapkan dan disajikan dengan cepat. Makanan lain yang dapat dikategorikan sebagai fast food adalah juga makanan yang dijual di toko atau restoran dengan memerlukan sedikit persiapan dan penyajian untuk dibawa pulang dalam bentuk kemasan. Fast food sering kali juga mengacu pada makanan di Amerika Serikat yang berisikan kentang goreng, burger, dan soft drink. Fast food umumnya adalah makanan dengan kandungan kalori tinggi yang banyak bersumber dari bahan protein, seperti protein hewani (daging burger, sosis) dan protein nabati (pizza dough). Jenis-jenis masakan inilah yang awalnya menjadi awal munculnya industri fast food, yaitu jenis makanan dari barat (Alamsyah, 2009). 15 Salah satu teknik memasak yang digunakan pada pembuatan fast food adalah deep-frying. Deep frying adalah proses dimana makanan dimasukkan ke dalam minyak panas, biasanya diatas 400oF. Proses deep-frying menghangatkan makanan dengan cepat dan membuat renyah serta memberikan warna emas kecoklatan pada penampilan luar makanan (Smith, 2012). Makanan yang diolah dengan proses deep frying mengandung banyak asam lemak trans (Schmidt, 2007). 2.4. Menstruasi Menstruasi adalah proses alamiah yang terjadi pada perempuan. Menstruasi merupakan perdarahan yang teratur dari uterus sebagai tanda bahwa organ kandungan telah berfungsi matang. Siklus menstruasi normal terjadi setiap 22-35 hari, dengan lamanya menstruasi selama 2-7 hari (Kusmiran, 2013). Menarche adalah haid yang pertama terjadi, yang merupakan ciri khas kedewasaan seorang wanita yang sehat dan tidak hamil (Noviana dan Wilujeng, 2014). Menarche terjadi di tengah-tengah masa pubertas, yaitu masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Menarche biasanya rata-rata terjadi pada umur 11-13 tahun (Wiknjosatro dkk., 2009). Otak adalah kekuatan pendorong yang mengontrol pubertas, termasuk menarche, melalui sekresi gonadotropin-releasing hormon (GnRH) dari hipotalamus. Hormon yang berperan dalam merangsang GnRH meliputi 16 leptin, kisspeptin, dan melatonin (Steingraber, 2007). GnRH berfungsi untuk merangsang sekresi follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dari hipofisis anterior. FSH dan LH akan masuk ke dalam aliran darah menuju ovarium, yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan pada ovarium. Sekresi FSH dan LH yang lebih banyak dari hipofisis akan menyebabkan dimulainya siklus seksual bulanan atau menstruasi (Guyton dan Hall, 2006). Beberapa faktor dapat mempengaruhi pengaturan sekresi GnRH dan mempercepat pubertas pada anak perempuan. Faktor-faktor tersebut termasuk kelebihan berat badan dan obesitas, paparan lingkungan terhadap bahanbahan kimia pengganggu endokrin (endocrine-disrupting chemicals), aktivitas fisik tidak adekuat, stresor psikososial, serta penggunaan media, termasuk menonton televisi (Steingrabe, 2007). 2.5. Gangguan Menstruasi Gangguan menstruasi adalah hal yang sering ditemukan. Gangguan tersebut dapat seperti nyeri saat menstruasi, menstruasi yang tertunda, menstruasi yang tidak teratur serta perdarahan yang banyak saat menstruasi. Gangguan menstruasi perlu mendapatkan evaulasi karena apabila gangguan ini tidak ditangani secara tepat maka akan berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari serta kualitas hidupnya (Noviana dan Wilujeng, 2014). 17 Beberapa gangguan menstruasi dan siklusnya adalah sebagai berikut. 1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan saat menstruasi a. Hipermenore atau menoragia b. Hipomenore 2. Kelainan siklus menstruasi a. Polimenorea b. Oligomenorea c. Amenorea 3. Perdarahan di luar siklus menstruasi a. Metroragia 4. Gangguan lainnya yang berhubungan dengan menstruasi a. Premenstrual tension (ketegangan pramenstruasi) b. Mittelschmerz (rasa nyeri pada saat ovulasi) c. Dismenore (Winkjosastro dkk., 2009). 2.6. Dismenore 2.6.1 Definisi Dismenore Pada saat menstruasi, wanita kadang mengalami nyeri. Sifat dan tingkat rasa nyeri bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Kondisi tersebut dinamakan dismenore, yaitu keadaan nyeri yang hebat dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Kusmiran, 2013). 18 Dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau intesitasnya sukar dinilai (Winkjosastro dkk., 2009). Pada remaja, stimulasi feedback positif mekanisme estrogen pada Luteinizing Hormone (LH) belum matang, dan lonjakan LH tidak muncul sampai 2-5 tahun setelah menarche. Sebagai akibatnya, 50-80% dari siklus menstruasi adalah tanpa ovulasi dan ireguler selama 2 tahun pertama setelah menarche, dan sekitar 10-20% siklus menstruasi tetap tanpa ovulasi sampai 5 tahun setelah menarche (Harel, 2006). 2.6.2 Klasifikasi Dismenore Dismenore dibagi atas: 1. Dismenore primer Dismenore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar yang tidak disertai rasa nyeri (Winkjosastro dkk., 2009). 19 2. Dismenore sekunder Dismenore sekunder biasanya baru muncul kemudian, yaitu jika ada penyakit atau kelainan yang menetap seperti infeksi rahim, kista, polip, atau tumor, serta kelainan kedudukan rahim yang mengganggu organ dan jaringan di sekitarnya (Kusmiran, 2013). 2.6.3 Patofisiologi Dismenore Primer Setelah ovulasi, sebagai respon terhadap produksi progesteron, asam lemak di dalam fosfolipid membran sel bertambah. Asam arakidonat dilepaskan dan memulai kaskade prostaglandin dalam uterus. Prostaglandin F2 akan menyebabkan hipertonus miometrium dan vasokontriksi sehingga akan menimbulkan iskemia dan nyeri (Hillard, 2006). Pada dismenore primer, terdapat penurunan prostasiklin, yang merupakan vasodilator dan relaksan uterus. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan aktivitas uterus dan vasokonstriksi karena efek dari prostaglandin kurang dihambat. Vasopresin juga berperan dalam patogenesis dismenore primer. Peningkatan vasopresin selama menstruasi dapat menyebabkan kontraksi uterus yang disritmik sehingga mengurangi aliran darah uterus dan menyebabkan hipoksia uterus (Dawood, 2006). 20 Gambar 1. Kaskade Prostaglandin Menyebabkan Dismenore Primer (Dawood, 2006). 2.6.4 Gejala Klinis Dismenore Primer Gejala pada dismenore primer adalah nyeri pada garis tengah abdomen bagian bawah yang mulai muncul beberapa jam sebelum atau bersamaan dengan mulainya menstruasi (Hillard, 2006). Nyeri dirasakan paling berat pada hari pertama atau kedua, bersamaan dengan waktu pelepasan maksimal prostaglandin ke dalam cairan menstruasi. Selain dirasakan pada suprapubik, nyeri juga dapat 21 menjalar ke permukaan dalam paha (Dawood, 2006). Beberapa gejala yang menyertai dismenore primer adalah mual/ muntah, pusing, nyeri kaki bagian belakang, diare, konstipasi, dan bahkan pingsan (Novia dan Puspitasari, 2008). Pada penelitian Aziato dkk. (2014), diketahui bahwa dismenore menyebabkan intoleransi aktivitas dan nyeri yang berat mengakibatkan ketidakhadiran kerja atau sekolah. Hal tersebut menyebabkan penurunan output kerja dan perhatian di kelas. Wanita yang mengalami dismenore menjadi murung, mudah marah, dan tidak dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Nyeri dismenore juga berkontribusi terhadap sulit tidur dan rasa gelisah. 2.6.5 Faktor Risiko Dismenore Primer Pada systemic review yang dilakukan oleh Latthe dkk. (2006), diketahui bahwa beberapa faktor yang berkaitan dengan dismenore adalah : usia < 30 tahun, IMT rendah, merokok, usia menarche dini (< 12 tahun), siklus menstruasi yang lebih panjang, nulipara, sindrom premenstrual, dan sterilisasi. Menurut Harel (2006), keparahan gejala dismenore berkorelasi positif dengan usia menarche dini dan dengan peningkatan durasi dan jumlah darah menstruasi. Konsumsi ikan yang sedikit berkorelasi dengan dismenore. Sebagai tambahan, merokok dapat meningkatkan durasi dismenore, diperkirakan karena nikotin 22 menginduksi vasokonstriksi. Faktor risiko dismenore primer lain yang dinyatakan oleh Grandi dkk. (2012) adalah IMT rendah, olahraga yang tidak adekuat, status sosial ekonomi yang rendah, diet, stres, dan penyakit mental. 2.6.6 Nyeri dismenore Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat nyeri pada dismenore, salah satunya adalah numeric rating scale (NRS). Pada skala NRS, responden diminta untuk menyatakan intensitas nyeri yang dirasakannya pada skala antara angka 0 sampai 10 (Douglas, 2012). Angka 0 berarti tidak ada keluhan nyeri haid/ kram pada perut bagian bawah. Angka 1-3 berarti nyeri ringan (terasa kram pada perut bagian bawah, masih dapat ditahan, masih dapat beraktivitas, masih bisa konsentrasi belajar). Angka 4-6 berarti nyeri sedang (terasa kram pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kurang nafsu makan, aktivitas dapat terganggu, sulit berkonsentrasi belajar). Angka 7-9 berarti nyeri berat (terasa kram berat pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, paha, atau punggung, tidak ada nafsu makan, mual, badan lemas, tidak kuat beraktivitas, tidak dapat berkonsentrasi belajar). Angka 10 berarti nyeri sangat berat (terasa kram yang sangat berat pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke 23 pinggang, kaki, dan punggung, tidak ada nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala, lemas, tidak dapat berdiri atau bangun dari tempat tidur, tidak dapat beraktivitas, terkadang sampai pingsan) (Ningsih, 2011). 2.7. Hubungan Status Gizi, Menarche Dini, dan Perilaku Mengonsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Dismenore Dismenore dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah status gizi, menarche dini, dan konsumsi fast food. Telah cukup banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor tersebut terhadap dismenore. Hubungan faktor-faktor tersebut dengan dismenore beserta hasil penelitian yang mendukung akan dijelaskan dalam subbab ini. Faktor pertama yang mempengaruhi dismenore yang akan dijelaskan dalam subbab ini adalah status gizi. Status gizi yang kurang selain akan mempengaruhi pertumbuhan, fungsi organ tubuh, juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Hal ini akan berdampak pada gangguan haid, tetapi akan membaik bila asupan nutrisinya baik (Noviana dan Wilujeng, 2014). Kelebihan berat badan juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya dismenore primer. Hal tersebut disebabkan karena di dalam tubuh seseorang yang memiliki berat badan lebih dari normal akan terdapat estrogen dalam jumlah yang berlebihan, disebabkan karena peningkatan aktivitas aromatase 24 pada jaringan lemak (Kandeel, 2007). Hormon estrogen berfungsi mempertebal jaringan endometrium pada fase proliferasi (Guyton, 2006). Ketika terjadi menstruasi, akan terjadi pengelupasan jaringan endometrium. Prostaglandin akan keluar dari fosfolipid jaringan endometrium yang terkelupas tersebut. Semakin tebal jaringan endometrium, maka akan semakin banyak jaringan endometrium yang terkelupas dan akan semakin banyak prostglandin yang dihasilkan sehingga dapat menyebabkan terjadinya dismenore primer (Baranowski dkk., 2007). Beberapa penelitian tentang hubungan antara status gizi dengan dismenore adalah sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Tangcai (2004) pada mahasiswi tahun pertama dan kedua Universitas Nakhorn Pathom Ratjabhat di Thailand, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 67,5% (IMT < 20), 27% (IMT 20-25,99), 3,3% (IMT 26-28,99) dan 2,2% (IMT  29), sedangkan responden yang tidak mengalami dismenore adalah sebanyak 52,8% (IMT < 20), 38,4% (IMT 20-25,99), 4,8% (IMT 2628,99) dan 4% (IMT  29). Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,02 (p < 0,05). 2. Penelitian yang dilakukan oleh Sophia dkk. (2013) pada siswi SMK Negeri 10 Medan, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 88% (IMT underweight), 78,7% (IMT normal), dan 62,5% (IMT overweight), sedangkan responden yang tidak mengalami dismenore 25 adalah sebanyak 12% (IMT underweight), 21,3% (IMT normal), dan 37,5% (IMT overweight). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,043 (p < 0,05). 3. Pada penelitian Singh dkk. (2008) yang dilakukan pada mahasiswi tahun pertama dan kedua di India, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 61,53% (IMT underweight), 76,63% (IMT normal), dan 91,67% (IMT overweight). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,22 (p > 0,05). 4. Penelitian yang dilakukan oleh Silvana (2012) pada mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 94,4% (IMT underweight), 74,2% (IMT normal), dan 80% (IMT overweight), sedangkan responden yang tidak mengalami dismenore adalah sebanyak 5,6% (IMT underweight), 25,8% (IMT normal), dan 20% (IMT overweight). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,161 (p > 0,05). Pada beberapa penelitian di atas, dari penelitian dengan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan dismenore. 26 Faktor kedua yang mempengaruhi dismenore yang akan dijelaskan dalam subbab ini adalah menarche dini. Bila menarche terjadi pada usia yang lebih awal dari normal, dimana alat reproduksi belum siap untuk mengalami perubahan dan masih terjadi penyempitan pada leher rahim, maka akan timbul rasa sakit ketika menstruasi (Novia dan Puspitasari, 2008). Beberapa penelitian tentang hubungan antara usia menarche dengan dismenore adalah sebagai berikut. 1. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sophia dkk. (2013) pada siswi SMK Negeri 10 Medan, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 83,7% (usia menarche  12 tahun), 83,3% (usia menarche 13-14 tahun), dan 53,8% (usia menarche  14 tahun), sedangkan responden yang tidak mengalami dismenore adalah sebanyak 16,3% (usia menarche  12 tahun), 16,7% (usia menarche 13-14 tahun), dan 46,2% (usia menarche  14 tahun). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,031 (p < 0,05). 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Fitriana dan Rahmayani (2013) di Akademi Kebidananan Meuligo Meulaboh, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 88,6% (usia menarche  12 tahun) dan 65,2% (usia menarche  12 tahun). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,047 (p < 0,05). 27 3. Pada penelitian yang dilakukan oleh Unsal dkk. (2010) pada mahasiswi Universitas Dumlupinar di Turki, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 79,1% (usia menarche  12 tahun), 71,6% (usia menarche 13-14 tahun), dan 68,4% (usia menarche  15 tahun), sedangkan responden yang tidak mengalami dismenore adalah sebanyak 20,9% (usia menarche  12 tahun), 28,4% (usia menarche 13-15 tahun), dan 31,6% (usia menarche  15 tahun). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,142 (p > 0,05). 4. Penelitian yang dilakukan oleh Silvana (2012) pada mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, didapatkan hasil responden yang mengalami dismenore sebanyak 66,7% (usia menarche dini), 83,8% (usia menarche normal), dan 70,4% (usia menarche lanjut), sedangkan responden yang tidak mengalami dismenore adalah sebanyak 33,3,7% (usia menarche dini), 16,2% (usia menarche normal), dan 29,6% (usia menarche lanjut),. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,161 (p > 0,05). Pada beberapa penelitian di atas, dari penelitian dengan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia menarche dengan dismenore, dapat diketahui bahwa semakin dini usia menarche responden, maka akan semakin tinggi prevalensi dismenore. 28 Faktor ketiga yang mempengaruhi dismenore yang akan dijelaskan dalam subbab ini perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food). Fast food memiliki karakteristik mengandung asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh omega-6 yang tinggi, kurangnya kandungan asam lemak omega-3, terlalu banyak kandungan garam, dan terlalu banyak gula yang dimurnikan (Myles, 2014). Hussein (2013) menjelaskan bahwa asupan asam lemak n-6 dalam diet merupakan awal dari kaskade pelepasan prostaglandin yang akan menyebakan dismenore. Selain itu, fast food juga mengandung asam lemak trans yang merupakan salah satu sumber radikal bebas (Messier, 2009). Salah satu efek dari radikal bebas adalah kerusakan membran sel (Owusu-Apenten, 2004). Membran sel memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah fosfolipid (Campbell dan Reece, 2008). Salah satu fungsi fosfolipid adalah sebagai penyedia asam arakidonat yang akan disintesis menjadi prostaglandin (Satyanarayana, 2014). Sehingga jika tubuh semakin banyak mengonsumsi makanan cepat saji (fast food), maka akan semakin banyak prostglandin dalam tubuh yang akan menyebabkan terjadinya dismenore. Beberapa penelitian tentang hubungan antara perilaku mengonsumsi fast food dengan dismenore adalah sebagai berikut. 1. Pada penelitian Pramanik dan Dhar (2014) yang dilakukan pada remaja (13-18 tahun) di Bengal Barat, India Timur, didapatkan hasil responden dengan kebiasaan mengonsumsi fast food mengalami dismenore sebanyak 29 45,45% (mengonsumsi fast food 1-2 hari/minggu), 64,02% (mengonsumsi fast food 3-4 hari/minggu), 74,63% (mengonsumsi fast food 5-6 hari/minggu), 83,08% (mengonsumsi fast food 7 hari/minggu), sedangkan responden tanpa kebiasaan mengonsumsi fast food tidak mengalami dismenore sebanyak 54,55% (mengonsumsi fast food 1-2 hari/minggu), 35,98% (mengonsumsi fast food 3-4 hari/minggu), 25,37% (mengonsumsi fast food 5-6 hari/minggu), 16,92% (mengonsumsi fast food 7 hari/minggu). Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi fast food dengan dismenore, dengan nilai p < 0,001. 2. Pada penelitian Singh dkk. (2008) yang dilakukan pada mahasiswi tahun pertama dan kedua di India, didapatkan hasil responden dengan kebiasaan konsumsi fast food mengalami dismenore sebanyak 63%, sedangkan responden tanpa kebiasaan mengonsumsi fast food tidak mengalami dismenore sebanyak 6%. Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi fast food dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,89 (p > 0,05). 3. Pada penelitian yang dilakukan oleh Vani dkk. (2013) pada remaja perempuan di Pondicherry, India, didapatkan hasil responden dengan kebiasaan mengonsumsi fast food mengalami dismenore sebanyak 71,4% (mengonsumsi fast food <3 hari/minggu) dan 75,6% (mengonsumsi fast food 4-7 hari/minggu). Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi fast food dengan dismenore, dengan nilai p sebesar 0,187 (p > 0,05). 30 Pada beberapa penelitian di atas, dari penelitian dengan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi fast food dengan dismenore, dapat diketahui bahwa semakin tinggi frekuensi fast food responden, maka akan semakin tinggi prevalensi dismenore. III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dimana data yang berkaitan dengan variabel bebas dan variabel terikat dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2012). 3.2. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan September 2014-Januari 2015. Tempat penelitian dilakukan di SMAN 13 Bandar Lampung. 3.3. Subjek Penelitian 3.3.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas X SMAN 13 Bandar Lampung yang berjumlah 188 orang. Berdasarkan penelitianpenelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dismenore primer 32 biasanya terjadi 2-3 tahun setelah menarche dan insidensinya akan semakin berkurang semakin bertambahnya usia. Sehinga peneliti memilih populasi dengan usia yang semakin dekat dengan menarche, yaitu siswi kelas X. 3.3.2. Sampel Untuk menentukan sampel digunakan rumus sebagai berikut: Keterangan : Z = derivat baku alfa dengan tingkat kemaknaan 95%, hipotesis dua arah sehingga Z = 1,96 Z = derivat baku beta dengan kekuatan uji penelitian 80%, sehingga Z = 0,84 P1 = proporsi variabel yang mendukung terjadinya kejadian dismenore primer (usia menarche lebih dini, IMT rendah/lebih, dan frekuensi konsumsi fast food lebih tinggi) Q1 = 1-P1 P2 = proporsi variabel yang tidak mendukung terjadinya kejadian dismenore primer (usia menarche lebih lambat, IMT normal, dan frekuensi konsumsi fast food lebih rendah) 33 Q2 = 1 –P2 P1-P2 = selisih proporsi minimal yang dianggap bermakna P = proporsi total = (P1+P1)/2 Q = 1-P Tabel 2. Jumlah Besar Sampel untuk Hubungan Status Gizi, Menarche dini, dan Konsumsi Fast Food terhadap Kejadian Dismenore Primer. Variabel Penelitian Proporsi dari Penelitian Sebelumnya Variabel bebas : status gizi P1 = 0,08 Variabel terikat : dismenore P2 = 0,22 primer (Singh, 2008) Variabel bebas : menarche dini Variabel terikat : dismenore primer Variabel bebas : konsumsi fast food Variabel terikat : dismenore primer Jumlah Sampel yang Didapatkan n = 66 P1 = 0,675 P2 = 0,38 (Tangcai, 2004) n = 27 P1 = 0,50 P2 = 0,42 (Sophia, 2013) n = 380 P1 = 0,71 P2 = 0,53 (Kumbhar, 2011) n = 69 P1 = 0,63 P2 = 0,06 (Singh, 2008) n =7 P1 = 0,64 P2 = 0,45 (Pramanik, 2014) n = 66 Berdasarkan beberapa jumlah sampel yang didapatkan dari perhitungan proporsi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sampel minimal yang digunakan untuk penelitian adalah sebanyak 34 69 orang. Penulis menentukan sampel sebanyak 188 orang yang diambil dari populasi dengan menggunakan metode total sampling. Setelah dilakukan proses inklusi dan eksklusi, maka didapatkan sampel penelitian sebanyak 180 orang. 3.3.3 Kriteria inklusi a. Siswi kelas X SMAN 13 Bandar Lampung. b. Siswi yang telah mengalami menstruasi/ haid. c. Siswi yang bersedia menjadi responden penelitian. 3.3.4 Kriteria eksklusi a. Siswi yang tidak hadir saat penelitian. b. Siswi yang menyebabkan mempunyai penyakit dismenore sekunder, organik seperti yang dapat leiomioma, adenomiosis, polip, atau endometriosis. c. Siswi yang mengonsumsi obat antinyeri yang lama dan/ atau obat hormonal. d. Siswi yang menderita penyakit kronis yang dapat mengganggu status gizi (penyakit infeksi , penyakit hormon, keganasan). 3.4. Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel bebas a. Status gizi. 35 b. Menarche dini. c. Perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food). 3.4.2 Variabel terikat a. Kejadian dismenore primer. 3.5. Definisi Operasional Definisi operasional variabel bebas dan variabel terikat yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3. Definisi operasional variabel penelitian Nama Variabel Dismenore primer Status gizi Definisi Nyeri yang dirasakan ketika haid Keadaan gizi yang diukur berdasarkan indeks antropometri meliputi berat badan dan tinggi badan yang dinyatakan dalam IMT Cara Ukur Wawan cara Penimb angan berat badan dan tinggi badan Alat Ukur Hasil Ukur Kuesioner numeric rating scale (NRS) 1. Ya (NRS > 0) 2. Tidak (NRS = 0) (Ningsih, 2011) Timbangan dan microtoise 1. Sangat kurus (<14,4) 2. Kurus (14,4<1,59) 3. Normal (15,923.5) 4. Gemuk (>23,528,2) 5. Obesitas (>28,2) (Kemenkes, 2010) Ska la No min al Ordi nal 36 Menarche dini Usia Wawan responden saat cara pertama kali mendapatkan menstruasi di bawah 11 tahun (Winkjosastro, 2009) Kuesioner 1. Ya 2. Tidak No min al Perilaku mengonsu msi makanan cepat saji (fast food) Frekuensi Wawan mengkonsums cara i makanan cepat saji (fast food) dalam satu bulan terakhir Food frequency questionnai re (FFQ) 1. Sering (≥ 3x/minggu) 2. Jarang (<3x/minggu) (Pramanik, 2014) Ordi nal 3.6. Metode Pengumpulan Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. 1. Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti langsung dari sumber pertama. Data primer diperoleh dengan pengukuran variabel-variabel bebas dan terikat dengan cara sebagai berikut : a. Pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT) responden dengan menggunakan timbangan dan alat ukur tinggi badan (microtoise). b. Mengetahui usia menarche melalui teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner. c. Mengetahui perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) melalui teknik wawancara dengan menggunakan metode FFQ. 37 d. Mengetahui derajat dismenore melalui melalui teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner skala nyeri numeric rating scale (NRS). 2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder yang didapatkan berupa jumlah dan nama siswi kelas X SMAN 13 Bandar Lampung, serta profil sekolah SMAN 13 Bandar Lampung. 3.7. Instrumen Penelitian Beberapa instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Form identitas dan karakteristik responden 2. Timbangan berat badan yang sudah ditera ulang 3. Microtoise 4. Kuesioner numeric rating scale (NRS) untuk nyeri dismenore primer 5. Kuesioner Food Frequency Questionairre (FFQ) fast food 6. Alat tulis 38 3.8. Prosedur Penelitian Alur penelitian untuk penelitian ini adalah sebagai berikut. Jumlah siswi kelas X SMAN 13 Bandar Lampung adalah 188 siswi Siswi yang memenuhi kriteria eksklusi dan eksklusi adalah 180 siswi Pengisian lembar persetujuan oleh responden Pembagian kuesioner dan pengukuran berat badan dan tinggi badan Melakukan pengolahan dan analisis data Hasil dan kesimpulan Gambar 4. Diagram alur penelitian 3.9. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diolah menggunakan program analisis statistik. Proses pengolahan data tersebut terdiri dari beberapa langkah berikut. 39 1. Editing Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut. 2. Coding Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. 3. Memasukkan data (data entry) atau processing Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer yang selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan program komputer. 4. Pembersihan data (data cleaning) Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan- kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. Berdasarkan data asupan makanan cepat saji (fast food) yang ditanyakan kepada responden, didapatkan bahwa makanan cepat saji (fast food) yang dikonsumsi responden terdiri dari : 1. Fried chicken 2. Pizza 3. Hamburger 40 4. Hotdog 5. Spaghetti 6. Kentang goreng 7. Chicken nugget 8. Sosis 9. Bakso 10. Siomay 11. Empek-empek 12. Cireng 13. Makanan gorengan lain 14. Nasi padang 15. Mie instan Kemudian dari data tersebut, diperoleh 5 jenis makanan cepat saji (fast food) yang paling sering dikonsumsi. Distribusi jenis makanan cepat saji (fast food) yang paling sering dikonsumsi dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Distribusi Jenis Makanan Cepat Saji (Fast Food) yang Paling Sering Dikonsumsi Jenis Fast Food Gorengan Mie Instan Cireng Bakso Siomay Total n 106 90 79 68 67 410 % 25,9 22 19,3 16,6 16,3 100 41 Kelima jenis makanan cepat saji (fast food) tersebut kemudian dijadikan acuan untuk definisi perilaku konsumsi makanan cepat saji (fast food). Apabila terdapat salah satu atau lebih dari kelima makanan tersebut yang sering dikonsumsi oleh responden, maka perilaku konsumsi makanan cepat saji responden termasuk dalam kategori sering, sedangkan responden yang tidak mengonsumsi salah satu dari kelima makanan tersebut termasuk dalam kategori jarang. 3.10. Analisis Data Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diolah menggunakan program analisis statistik, kemudian dianalisis sebagai berikut: 1. Analisis Univariat Analisa ini digunakan untuk mendeskripsikan variabel bebas dan terikat yang bertujuan untuk melihat variasi masing-masing variabel tersebut. Keseluruhan data yang ada dalam kuesioner diolah dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. 2. Analisis bivariat Analisa ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel kategorik tidak berpasangan, sehingga hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain dapat digunakan uji statistik chi-square. Syarat uji chi-square adalah tabel 42 2x2 dengan sel yang mempunyai nilai expected kurang dari 5, maksimal 20% dari jumlah sel. Jika syarat uji chi-square tidak terpenuhi maka gunakan uji alternatifnya, yaitu uji fisher. Alternatif uji chi-square untuk tabel 2xK adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Untuk menguji kemaknaan, digunakan batas kemaknaan sebesar 5% (α = 0,05). Hasil uji dikatakan ada hubungan yang bermakna bila nilai ρ value ≤ α (ρ value ≤ 0,05). Hasil uji dikatakan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik apabila nilai ρ value > α (ρ value > 0,05) (Dahlan, 2013). 3.11. Etika Penelitian Penelitian ini telah mendapatkan surat keterangan lolos kaji etik dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dengan nomor 2213/UN26/8/DT/2014. Selain itu dalam pengambilan data penelitian, responden terlebih dahulu diberi informasi tentang kegiatan penelitian dan kemudian diminta kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi responden dalam penelitian ini. V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan pada 180 siswi SMAN 13 Bandar Lampung adalah sebagai berikut. 1. Prevalensi kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung adalah sebesar 90,6%. 2. Siswi SMAN 13 Bandar Lampung sebagian besar memiliki status gizi normal (83,9%), diikuti dengan status gizi gemuk (11,7%) dan status gizi kurus (4,4%). 3. Siswi SMAN 13 Bandar Lampung yang mengalami menarche dini adalah sebesar 1,1% 4. Sebagian besar siswi SMAN 13 Bandar Lampung sering mengonsumsi makanan cepat saji (fast food), yaitu sebesar 83,3% 5. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 6. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara menarche dini dan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 73 7. Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung. 5.2 Saran 5.2.1 Untuk Masyarakat Umum Disarankan kepada para remaja perempuan untuk mengurangi konsumsi makanan cepat saji (fast food) sehingga menurunkan risiko terjadinya dismenore primer. 5.2.2 Untuk Peneliti Lain Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dismenore primer, seperti genetik, aktivitas fisik, stres, dan siklus menstruasi. DAFTAR PUSTAKA 74 DAFTAR PUSTAKA Alamsyah, Y. 2009. Antisipasi krisis global bisnis fast food ãla Indonesia. Jakarta : Elex Media Komputindo Kompas Gramedia, hlmn: 2-4. Almatsier, S. 2010. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, hlmn: 3, 238, 247. Amaliah, N., Sari, K., Rosha, B.C. 2012. Status tinggi badan pendek berisiko terhadap keterlambatan usia menarche pada perempuan remaja usia 10-15 tahun (stunting increased risk of delaying menarche on female adolescent aged 10-15 years). Panel gizi makan.35(2): 150-58. Aziato, L., Dedey, F., dan Clegg-Lamptey, J.N. 2014. The experience of dysmenorrhoea among ghanaian senior high and university students: pain characteristics and effects. Reproductive health, 11:58. Dapat diakses dari: http://www.reproductive-health-journal.com. Diakses pada 27 September 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . 2007. Riset kesehatan dasar : pedoman pengukuran dan pemeriksaan. Jakarta : Depatemen Kesehatan RI. Baghianimoghadam, M.H., Loo, A.M., Falahzadeh, H., dan Mehdi Mirzaei Alavijeh, M.M. 2012. Journal of Community Health Research.1(12): 93-98. Baranowski, A.P., Abrams, P., dan Fall, M. 2007. Urogenital pain in clinical practice. London : CRC Press. Hlmn: 269. Batubara, J.R.L. 2010. Adolescent development (perkembangan remaja). Sari pediatri.12(1): 21-9. Caesariano, A. 2013. Hubungan usia menarche dengan tingkat dismenore pada mahasiswi fakultas kedokteran UNILA. (Skripsi). Bandar Lampung : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Campbell, N.A. dan Reece, J.B. 2010. Biologi. Jakarta : Erlangga, Hlmn : 82. Charu, S., Amita, R., Sujoy R., dan Thomas G.A. 2012. ‘Menstrual characteristics’ and ‘prevalence and effect of dysmenorrhea’ on quality of life of medical students. International Journal of Collaborative Research on Internal Medicine & Public Health.4(4): 275-94. Dahlan, M.S. 2013. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan : deskriptif, bivariat, dan multivariat dilengkapi aplikasi dengan menggunakan SPSS. Edisi 5. Jakarta : Salemba Medika, hlmn: 19. 75 Dawood, M.Y. 2006. Primary dysmenorrhea advances in pathogenesis and management. The American College of Obstetricians and Gynecologists.108(2): 428-41. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2010. Gizi dan kesehatan masyarakat. Edisi revisi. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada,hlmn: 275, 279. Douglas, C., Rebeiro, G., Crisp, J., dan Taylor, C. 2012. Potter & perry’s Fundamental of nursing – australian version. Australia: Elsevier. Dyah, E. dan Tinah. 2009. Hubungan indeks masa tubuh < 20 dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMA negeri 3 sragen. Jurnal kebidanan.1(2). Ehrenthal, D., Hoffman, M., dan Hillard P.A. 2006. Menstrual disorder. USA : ACP Press, Hlmn: 12. Emilia, E. 2009. Pendidikan gizi sebagai salah satu sarana perubahan perilaku gizi pada remaja. Jurnal tabularasa PPS UNIMED.6(2): 161-74. Fitriana, W. dan Rahmayani. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dismenore pada mahasiswi di akademi meuligo meulaboh tahun 2013. (Skripsi). Banda Aceh : STIKES U’Budiyah Banda Aceh. Gagua, T., Tkeshelashvili, B., dan Gagua, D. 2012. Primary dysmenorrhea : prevalence in adolescent population of tbilisi, georgia, and risk factors. J Trukish-German Gynecol Assoc.13:162-68. Grandi, G., Ferrari, S., Xholli, A., Cannoletta, M., Palma, F., Romani, C., Volpe, A., dan Cagnacci, A. 2012. Prevalence of menstrual pain in young women : what is dysmenorrhea?. Journal of Pain Research.5: 169-74. Guyton, A.C. dan Hall, J.E. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC, Hlmn: 1066, 1070 Harel, Z. 2006. Mini-review : dysmenorrhea in adolescents and young adults : etiology and management. J Pediatr Adolesc Gynecol.19: 363-71. Hillard, P.J.A. 2006. Dysmenorrhea. Pediatric in Review.27(2): 64-71. Hussein, J.S. 2013. Review article : cell membrane fatty acids and health. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.5(Suppl 3): 38-46. Imtihani, T.R., Noer, E.R. 2013. Hubungan pengetahuan, uang saku, dan peer group dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji pada remaja putri. Journal of nutrition college.2(1): 162-69. 76 Kandeel, F.R. 2007. Male reproduction dysfunction : pathophyisiology and treatment. Florida : CRC Press, Hlmn: 522. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1995/MENKES/SK/XII/2010. 2011. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI. Kristianti, N., Sarbini, D., dan Mutalazimah. 2009. Hubungan pengetahuan gizi dan frekuensi konsumsi fast food dengan status gizi siswa SMA negeri 4 surakarta. Jurnal kesehatan.2(1): 39-47. Kumbhar, S.K., Reddy, M., Sujana, B., Reddy, R.K., Bhargavi, D.K., dan Balkrishna, C. 2011. Prevalence of dysmenorrhea among adolescent girls (1419 yrs) of kadapa district and its impact on quality of life : a cross-sectional study. National Journal of Community Medicine.2(2): 265-68. Kusmiran, E. 2013. Kesehatan reproduksi remaja dan wanita. Jakarta : Salemba Medika, Hlmn: 19, 112-13. Lapau, B., 2012. Metode penelitian kesehatan : metode ilmiah penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, pedoman bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, hlmn: 39. Latthe, P., Mignini, L., Gray, R. Hills, R., dan Khan, K. 2006. Factor predisposing women to chronic pelvic pain : systematic review. Published 16 February 2006. Dapat diakses dari : www.bmj.com. Diakses pada 27 September 2014. Mansur, H. 2011. Psikologi ibu dan anak untuk kebidanan. Jakarta : Salemba Medika, hlmn: 100,103. Messier, L.G. 2009. Free radicals : the silent killers of the human race. Pennyslavania: Red Lead Press, Hlmn: 12. Munda, S.S., Wagey, F.W., dan Wantania, J. 2013. Hubungan antara imt dengan usia menarche pada siswi sd dan smp di kota manado. Jurnal ilmiah kedokteran klinik.1(1): 1-8. Muwakhidah dan Tri, D.H. 2008. Faktor risiko yang berhubungan dengan obesitas pada remaja (studi kasus di SMU batik I surakarta). Jurnal kesehatan.1(2): 133-40. Myles, I.A. 2014. Fast food fever : reviewing the impacts of the western diet on immunity. Nutrition journal. Dapat diakses dari : http://www.nutritionj.com. Diakses pada 26 September 2014. Natalia, P., Nasution, E., dan Siagian, A. 2013. Perilaku konsumsi gizi seimbang dan status gizi pada remaja putri di sman 1 tarutung tahun 2012. Jurnal gizi, kesehatan reproduksi dan epidemiologi.2(3): 1-7. 77 Ningsih, R. 2011. Efektifitas paket pereda terhadap intensitas nyeri pada remaja dengan dismenore di SMAN kecamatan curup. (Tesis). Depok : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, hlmn: 22, 164-68. Novia, I. dan Puspitasari, N. 2008. Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian dismenore. The indonesian journal of public health.4(2): 96-104. Noviana, N. dan Wilujeng, D.R. 2014. Kesehatan reproduksi untuk mahasiswa kebidanan. Jakarta : CV. Trans Info Media, hlmn: 26-28, 43-44. Owusu-Apanten, R.K. 2005. Introduction to food chemistry. Florida : CRC Press, Hlmn : 215. Padriyani, S.O., Sulastri, D., dan Syah, N.A. 2014. Hubungan status gizi dengan prestasi belajar pada siswa-siswi sma negeri 1 padang tahun ajaran 2013/2014. Jurnal kesehatan andalas.3(3): 473-76. Patterson, E., Wall, R., Fitzgerald, G.F., Ross, R.P., dan Stanton C. 2012. Health implications of high dietary omega-6 polyunsaturated fatty acids. Journal of nutrition and metabolism. Dapat diakses dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/22570770. Diakses pada 30 Desember 2014. Pramanik, P. dan Dhar, A. 2014. Impact of fast food on menstrual health of school going adolescent girls in west bengal, eastern india. Global Journal of Biology, Agriculture, & Health Science.3(1): 61-66. Putri, O.A. 2014. Gambaran tingkat pengetahuan remaja putri terhadap keputihan di sma negeri 2 pontianak tahun 2013. (Skripsi). Pontianak : Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Safira, S. 2012. Gambaran tingkat pengetahuan tentang perawatan organ reproduksi wanita dan angka keluhan keputihan pada remaja putri di sma negeri 1 bogor. (Skripsi). Depok : Ilmu Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia. Saguni, F.C., Madianung, A.,dan Masi, G. 2013. Hubungan dismenore dengan aktivitas belajar remaja putri di sma kristen 1 tomohon. Ejournal Keperawatan (e-Kp).1(1). Satyanarayana, U. 2014. Biochemistry. New Delhi : Elsevier, hlmn: 303. Schmidt, M.A. 2007. Brain-building nutrition : how dietary fats and oils affect mental, physical, and emotional intelligence. Berkeley : Frog Books, hlmn: 111. 78 Sianipar, O., Bunawan, N.C., Almazini, P., Calista, N., Wulandari, P., Rovenska, N. Djuanda, R.E., Irene, Seno, A., dan Suarthana, E. 2009. Prevalensi gangguan menstruasi dan faktor-faktor yang berhubungan pada siswi smu di kecamatan pulo gadung jakarta timur. Maj kedokt indon.59(7): 308-13. Silvana, P.D. 2012. Hubungan antara karakteristik individu, aktivitas fisik, da konsumsi produk sisi dengan dysmenorrhea primer pada mahasiswi FIK dan FKM UI depok tahun 2012. (Skripsi). Depok : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Singh, A., Kiran, D., Singh, H., Nel, B., Singh, P., dan Tiwari, P. 2008. Prevalence and severity of dysmenorrhea : a problem related to menstruation, among first and second year female medical student. Indian J Physiol Pharmacol.52(4): 389-397. Smith, F.A. 2012. Fast food & junk food an encyclopedia of what we love to eat. California : ABC-CLIO, LLC, hlmn: 188. Sophia, F., Muda, S., dan Jenadi. 2013. Faktor-faktor yang berhubungan dengan dismenore pada siswi smk negeri 10 medan tahun 2013. Jurnal gizi, kesehatan reproduksi, dan epidemiologi. 2 (5). Medan : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Steingraber, S. (2007). The falling age of puberty in U.S. girls: what we know, what we need to know. San Francisco : Breast Cancer Fund, hlmn: 11. Supariasa, I.D., Bakri, B., dan Fajar, I. 2012. Penilaian status gizi. Edisi revisi. Jakarta : EGC, hlmn: 18-21,60,73. Susanti, A.V. dan Sunarto. 2012. Faktor risiko kejadian menarche dini pada remaja di smpn 30 semarang. Journal of nutrition college.1(1): 115-26. Tangcai, K., Titapant, V., dan Boriboonhirunsarn, D. 2004. Dysmenorrhea in thai adolescents : prevalece, impact and knowledge of treatment. J Med Assoc Thai.87(3): 69-73. Unsal, A., Ayranci, U., Tozun, M., Arslan, G., dan Calik, E. 2010. Prevalence of dysmenorrhea and its effect on quality of life among a group of female university students. Upsala Journal of Medical Science.115: 138-45. Vani, R.K., Venna, K.S., Subitha, L., Kumar, H.V., Bupathy, A. 2013. Menstrual abnormalities in school going girls – are they related to dietary and exercise pattern?. Journal of Clinical and Diagnostic Research. (11): 2537-2540. Wahyuni, D. dan Rahmadewi. 2011. Kajian profil penduduk remaja (10-24 thn) : ada apa dengan remaja?. Policy Brief Seri I No.6. Dapat diakses dari : Http://www.bkkbn.go.id. Diakses pada 30 September 2014. 79 Widyastuti, Y., Rahmawati A., dan Purnamaningrum, Y.E. 2009. Kesehatan reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya, hlmn: 10,11,15. Winkjosastro, H., Saifuddin, A.B., dan Rachimdhahi, T. 2009. Ilmu kandungan. Edisi kedua. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, hlmn: 103,127,203,229,230. World Health Organisation Western Pacific Region. 2000. The asia pacific perspective : redefining obesity and its treatment. Dapat diakses dari : http://www. wpro.who.int. Diakses pada 27 September 2014.
HUBUNGAN STATUS GIZI, MENARCHE DINI, DAN PERILAKU MENGONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA SISWI SMAN 13 BANDAR LAMPUNG Analisis Data Etika Penelitian Diet konsumsi Kerangka Penelitian Gangguan Menstruasi Dismenore TINJAUAN PUSTAKA Hubungan Status Gizi, Menarche Dini, dan Perilaku Mengonsumsi Jenis Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Subjek Penelitian Metode Pengumpulan Data Instrumen Penelitian Pola Makan Makanan Cepat Saji Fast Food pada Remaja Menstruasi Prosedur Penelitian Pengolahan Data Rumusan Masalah Manfaat Penelitian Status Gizi Remaja TINJAUAN PUSTAKA Variabel Penelitian Definisi Operasional
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

HUBUNGAN STATUS GIZI, MENARCHE DINI, DAN PERI..

Gratis

Feedback