STRATEGI PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN MELALUI ANALISIS DAN PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Gratis

6
57
92
2 years ago
Preview
Full text
STRATEGI PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN MELALUI ANALISIS DAN PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Oleh Hilmiyati Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) tingkat ketahanan pangan rumah tangga, (2) sebaran desa/kelurahan yang tahan pangan dan rentan terhadap kerawanan pangan, (3) faktor penentu utama penyebab kerentanan terhadap kerawanan pangan, dan (4) merumuskan strategi pembangunan ketahanan pangan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari data BPS, Susenas, Podes, PPLS, BKP Lampung Selatan, BP4K Lampung Selatan dan Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan. Tujuan pertama dianalisis berdasarkan klasifikasi silang dua indikator yaitu kecukupan energi yang dikonsumsi dan besarnya pangsa pengeluaran pangan. Tujuan kedua dan ketiga menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis) dan analisis gerombol (Cluster Analysis). Tujuan keempat menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lampung Selatan pada kurun waktu 2008 sampai dengan 2012 berfluktuasi. Rata-rata rumah tangga tahan pangan 21,03 persen dan cenderung menurun, rumah tangga rentan pangan relatif tetap 35,64 persen, sedangkan rumah tangga kurang pangan 17,85 persen dan rawan pangan 25,48 persen dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Berdasarkan pemetaan tingkat ketahanan pangan diperoleh desa/kelurahan yang rentan terhadap kerawanan pangan (prioritas 1, prioritas 2 dan prioritas 3) berjumlah 130 desa/kelurahan atau 51,79 persen yang meliputi 16 kecamatan, sedangkan yang relatif tahan pangan (prioritas 4, prioritas 5 dan prioritas 6) berjumlah 121 desa/kelurahan atau 48,21persen tersebar pada 17 kecamatan. Faktor penentu utama penyebab kerawanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan adalah jumlah toko/warung, jumlah penduduk miskin, akses jalan, sarana kesehatan, jumlah penderita gizi buruk dan sarana pendidikan. Rumusan strategi pembangunan ketahanan pangan terdiri dari aspek ekonomi, aspek sosial budaya, aspek pendidikan dan aspek teknologi. Kata kunci : tahan pangan, rentan pangan, rawan pangan STRATEGY OF FOOD SECURITY DEVELOPMENT THROUGH ANALYSIS AND FOOD SECURITY MAPPING IN SOUTH LAMPUNG REGENCY Oleh Hilmiyati Abstract The research aims to analyze: (1) the level of household food security, (2) the distribution of villages that food secure and vulnerable to food insecurity, (3) a major determining factor causes of vulnerability to food insecurity, and (4) formulating of food security development strategies. The data used are secondary data obtained from BPS, Susenas, Podes, PPLS, BKP South Lampung, BP4K South Lampung and Economic Section of South Lampung district Secretariat. The first goal was analyzed by cross-classification of two indicators are energy consumed adequacy and the amount of the food expenditure share. The second and third destination using principal component analysis and clusters analysis. The fourth goal using SWOT analysis. The results showed that the level of household food security in South Lampung Regency in the period 2008 to 2012 fluctuated. The average household of food security 21.03 percent, food vulnerable 35.64 percent, less food 17.85 percent and food insecurity 25.48 percent. Based on the mapping of food security level obtained by rural/urban are vulnerable to food insecurity (priority 1, priority 2 and priority 3) amounted to 130 villages or 51.79 percent which covers 16 sub districts, while relatively food security (priority 4, priority 5 and priority 6) amounted to 121 villages or 48,21persen scattered in 17 sub districts. The main determining factors causing food insecurity in South Lampung is the number of shops/food store, poverty, infrastructure (roads access), health facilities, the number of malnourished and educational facilities. Formulation of food security development strategy consists of economic, social and cultural, education and technology aspects. Keywords: food security, food vulnerable, food insecurity RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Nagari Pandam Gadang Kabupaten Lima Puluh Kota (Sumatera Barat) pada tanggal 23 Oktober 1974, dari pasangan Bapak Abdul Gaffar (Alm) dan Ibu Yan Hasni. Penulis adalah anak ketiga dari empat perempuan bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Inpres 12/79 Pandam Gadang pada tahun 1987. Setelah lulus SD penulis meneruskan pendidikan ke SMP Negeri 2 Suliki Gunung Mas, lulus pada tahun 1990 kemudian melanjutkan ke SMAN 1 Dangung-Dangung dan lulus pada tahun 1993. Pada tahun 1993 tersebut melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumber Daya (EPS) Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun 2012 penulis mengikuti pendidikan Pasca Sarjana pada Program Magister Agribisnis Universitas Lampung. Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil sejak tahun 1999 pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI dan ditempatkan di Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Lampung dipekerjakan (dpk) pada Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah (PKT) Kabupaten Lampung Selatan. Sejak berlakunya otonomi daerah pada tahun 2001, penulis menjadi pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan dan Dinas PKT berubah menjadi Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Selatan. Pada Tahun 2009, penulis mutasi ke Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Lampung Selatan dan pada Bulan Februari 2014 hingga saat ini, penulis mengabdi pada Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Selatan sebagai Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan. SANWACANA Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan dan semangat, sehingga penulis mampu menyelesaikan kuliah hingga penelitian dengan judul tesis Strategi Pembangunan Ketahanan Pangan melalui Analisis dan Pemetaan Ketahanan Pangan di Kabupaten Lampung Selatan. Tesis merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan pascasarjana (S2) dan memperoleh gelar Magister Sains Program Pascasarjana Magister Agribisnis Universitas Lampung. Seiring dengan selesainya penelitian ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Dr. Ir. Hanung Ismono, M.P. dan ibu Dr. Ir. Yaktiworo Indriani, M.Sc. selaku Pembimbing Utama dan Pembimbing Kedua atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, pengetahuan dan meluangkan waktu yang sangat berharga sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. 2. Ibu Dr. Ir. Wuryaningsih Dwi Sayekti, M.S. selaku Penguji. Atas masukan, kritik serta saran yang disampaikan, penulis ucapkan terimakasih, karena sangat berguna bagi penyempurnaan tesis ini. 3. Bapak Prof. Dr. Ir. Ibrahim Hasyim, M.S. selaku pengajar dan Ketua Program Pascasarjana Magister Agribisnis Universitas Lampung. 4. Bapak Dr. Ir. Zainal Abidin., M.Si. selaku pengajar dan pembimbing akademik atas bantuan dan pengarahannya selama penulis menempuh pendidikan Pascasarjana Magister Agribisnis Universitas Lampung. 5. Bapak Prof. Dr. Wan Abbas Zakaria, M.S. selaku pengajar dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung serta Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc. yang banyak menginspirasi untuk senantiasa mencintai ilmu, karena “bodoh” adalah pilihan. 6. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada segenap bapak/ibu pengajar Pascasarjana Magister Agribisnis Universitas Lampung Dr. Dwi Haryono, Dr. M. Irfan Affandi, Dr. FE Prasmatiwi, Dr. Dyah Aring HL, Ir. Adia Nugraha, M.S., Ir. Eka Kasymir, M.Si., Ir. Suriaty Situmorang, M.Si dan Ir. Hurip Santoso, M.S. 7. Mbak Ai dan timnya atas bantuan dan perhatiannya selama penulis mengikuti pendidikan di Universitas Lampung. 8. Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan sekaligus ketua alumni IPB Provinsi Lampung Ir. Sutono., M.M serta bapak/ibu kepala SKPD lingkup pertanian Kabupaten Lampung Selatan Ir. Elly Malelawati, Ir. Afruddin, Ir. Noviar Akmal, Ir. Irmanto Indrowijoyo, M.Si., Ir. Firman Burhansyah dan Ir. Rini Ariasih, M.M. yang telah memberikan kesempatan dan dukungan bagi penulis untuk menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Lampung sejak tahun 2012 hingga penyelesaian tesis tahun 2015. 9. Bapak/ibu/sahabat seperjuangan dalam suka dan duka pada Pascasarjana Magister Agribisnis Universitas Lampung angkatan 2012, Ir. Suarno Sadar, Ir. Desmon, Dina Prihatini, S.P., Lidyasari Mas Indah, S.P., Ine Indriastuti, S.P., Siska Yunita, S.P., Maryanti, S.P., Sri Ermalia, S.P., Tri Ariyanti, S.P., , Murti Rahayu, S.P., Dian Megasari, S.P., Dyah Rianita S.P., Erfanno Agustian, S.P., Sundari Ekawanti, S.P., Rio Valentino S.P., dan Fadlina Sosiawati, S.P., terimakasih atas kebersamaan, bantuan dan dukungan moril serta perhatian selama penulis menempuh pendidikan hingga selesainya penyusunan tesis ini. 10. Kedua orangtua yang sangat penulis cintai dan muliakan, Bapak Abdul Gaffar (Alm), Ibu Yan Hasni serta Pangulu Suku Koto Dt. Kayo Drs. Muharni Lainin yang senantiasa memberi semangat agar menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi agama, keluarga dan masyarakat. 11. Secara khusus untuk suami tercinta sebagai mitra diskusi Jupri, S.Ag., M.Si. dan anak-anak umi tersayang Syadza Khaleela Rahma, Feiza Aaqila Rahma dan Muhammad Faaza Tsuraya atas do’a, kesabaran, pengertian dan keikhlasannya selama mendampingi penulis bekerja dan menempuh pendidikan. Tesis ini umi persembahkan untuk anak-anak umi, semoga menjadi inspirasi untuk selalu bersemangat menempuh pendidikan hingga kelak bermanfaat bagi agama, masyarakat, nusa dan bangsa. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu tetapi namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, kiranya Allah SWT memberi balasan yang tak terhingga. Penulis menyadari bahwa tesis ini jauh dari kesempurnaan, meskipun demikian semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan daerah, khususnya Kabupaten Lampung Selatan Kalianda, Januari, 2014 Penulis Hilmiyati DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xviii I. PENDAHULUAN ......................................................................... 1 Latar Belakang ......................................................................... Perumusan Masalah ......................................................................... Tujuan Penelitian ......................................................................... Manfaat Penelitian ......................................................................... 1 9 11 11 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PENELITIAN ............ 13 2.1 Tinjauan Pustaka ......................................................................... 2.1.1 Ketahanan Pangan dan Kerawanan Pangan ............................ 2.1.2 Ketersediaan, Akses dan Pemanfaatan Pangan ....................... 2.1.3 Ketahanan Pangan Rumah Tangga ........................................ 2.1.4 Pemetaan Ketahanan Pangan .................................................. 2.1.5 Perencanaan Strategis ............................................................ 2.2 Penelitian Terdahulu ........................................................................ 2.3 Kerangka Penelitian ........................................................................ 13 13 17 20 23 25 26 30 III. METODE PENELITIAN ..................................................................... 33 1.1 1.2 1.3 1.4 3.1 3.2 3.3 3.4 Defenisi Operasional ........................................................................ Jenis dan Sumber Data ..................................................................... Populasi dan Sampel Penelitian ...................................................... Analisis Data ……. .......................................................................... 3.4.1 Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga ........................... 3.4.2 Analisis Pemetaan Ketahanan Pangan .................................... 3.4.3 Strategi Pembangunan Ketahanan Pangan ............................. 33 38 40 41 42 44 50 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ............................. 57 Geografi …………. ......................................................................... Penduduk …… ................................................................................. Pertanian ………….......................................................................... Perekonomian …………………………………………………….. 57 58 63 67 4.1 4.2 4.3 4.4 xiv V. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 68 5.1 Kondisi Ketahanan Pangan di Kabupaten Lampung Selatan …… .. 5.1.1 Ketersediaan Pangan ............................................................... 5.1.2 Akses Pangan ......................................................................... 5.1.3 Pemanfaatan Pangan ............................................................... 5.2 Pola Konsumsi Rumah Tangga ........................................................ 5.3 Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga .................................... 5.4 Analisis Pemetaan Ketahanan Pangan ............................................. 5.4.1 Analisis Komponen Utama (PCA) ......................................... 5.4.2 Analisis Gerombol (CA) ......................................................... 5.4.3 Menentukan Prioritas .............................................................. 5.5 Strategi Pembangunan Ketahanan Pangan ....................................... 5.5.1 Analisis Faktor Lingkungan Strategis ..................................... 5.5.2 Hasil Evaluasi Faktor Lingkungan Strategis ........................... 5.5.3 Alternatif Strategi Pembangunan Ketahanan Pangan ............. 68 68 75 81 87 95 97 98 100 102 110 111 122 128 VI. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 135 6.1 Kesimpulan ...................................................................................... 6.2 Saran................................................................................................. 135 137 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 139 LAMPIRAN ................................................................................................ 143 DAFTAR TABEL Tabel Teks Halaman 1. Persentase angka rawan pangan di Indonesia tahun 2008-2011 .................. 2 2. Ketersediaan dan konsumsi beras di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 – 2012 ................................................................................................ 5 3. Ketersediaan energi, protein dan lemak (NBM) di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2012 ...................................................................................... 6 4. Jumlah penduduk, rumah tangga dan RTS-PM Raskin di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2011 ....................................................................... 8 5. Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 2007-2012 . ….. 9 6. Variabel yang digunakan dalam pemetaan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan ........................................................................ 31 7. Populasi dan sampel penelitian ................................................................... 41 8. Pengukuran tingkat ketahanan pangan rumah tangga .................................. 42 9. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) ...................................................... 51 10. Matriks External Factor Evaluation (EFE) ................................................... 53 11. Matriks analisis SWOT (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats)..... 55 12. Jumlah desa/kelurahan dan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, 2012 ................................................................................. 59 13. Jumlah penduduk, rumah tangga dan rata-rata anggota rumah tangga di Kabupaten Lampung Selatan, 2000-2012 ..................................................... 60 14 Penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan utama di Kabupaten Lampung Selatan, 2010 – 2012 .................................................. 61 15. Penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha dan jenis kelamin di Kabupaten Lampung Selatan, 2012 ............................. 62 16. Garis kemiskinan dan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lampung Selatan, 2012 ................................................................................................. 62 xvi 17. Luas panen dan produksi tanaman pangan di Kabupaten Lampung Selatan, 2012 ................................................................................................. 63 18. Populasi ternak menurut kecamatan dan jenis ternak di Kabupaten Lampung Selatan (Ekor), 2012 ..................................................................... 64 19. Produksi ikan dan produk olahan hasil perikanan di Kabupaten Lampung Selatan (Ton), 2012 ....................................................................................... 65 20. Jumlah Gapoktan, Kelompok Tani, Posluhdes dan Lumbung Pangan di Kabupaten Lampung Selatan, 2012 .............................................................. 66 21. Produksi serelia dan umbi-umbian (Ton) tahun 2002 – 2011 di Kabupaten Lampung Selatan ........................................................................................... 69 22. Jumlah penduduk dan jumlah warung/ toko di Kabupaten Lampung Selatan 71 23. Persentase penduduk miskin per kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, 2011 ............................................................................................................... 77 24. Jumlah sarana kesehatan per kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan ... 82 25. Pangsa pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi energi dan protein di Kabupaten Lampung Selatan ........................................................................ 88 26. Persentase jenis komoditi pangan yang dikonsumsi masyarakat perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Lampung Selatan ............................................. 91 27. Persentase konsumsi padi-padian di Kabupaten Lampung Selatan .............. 92 28. Persentase penduduk defisit energi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008, 2011 dan 2012 ..................................................................................... 94 29. Persentase rumah tangga menurut tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008, 2011 dan 2012 ............................ 95 30. Komponen utama (PC), nilai akar ciri dan keragaman ................................ 99 31. Variabel dominan penyusun komponen utama ............................................. 100 32. Hasil Analisis Gerombol (Cluster Analysis ................................................. 101 33. Variabel dominan yang berpengaruh terhadap kerawanan pangan pada setiap cluster ............................................................................................... 103 34 Jumlah desa pada setiap kecamatan yang masuk ke dalam Prioritas 1 – 6 ... 105 35. Hasil Evaluasi Faktor Internal (IFE) ............................................................. 124 36. Hasil Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) ......................................................... 126 37. Hasil analisis matriks SWOT dalam perumusan alternatif strategi pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan ............... 131 Lampiran 38. Cara penghitungan pangsa pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi energi dan protein di Kabupaten Lampung Selatan .................................. 143 39. Cara penghitungan jenis komoditi pangan yang dikonsumsi masyarakat perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Lampung Selatan ...... 145 40. Cara penghitungan konsumsi padi-padian di Kabupaten Lampung Selatan ....................................................................................................... 146 41. Cara penghitungan jumlah penduduk defisit energi di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008, 2011 dan 2012 ......................................................... 147 42. Cara penghitungan analisis tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2008, 2011 dan 2012 ....................... 148 43. Data analisi pemetaan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2011................................................................................................ 149 44. Data analisis pemetaan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2011yang sudah disamakan persepsinya. ........................................ 154 45. Daftar desa per kecamatan menurut prioritas pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan .................................................... 168 46. Kuisioner SWOT penilaian rating faktor internal pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan ................................. 173 47. Kuisioner SWOT skor dan pembobotan faktor internal strategi pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung ........................ 173 48. Kuisioner SWOT penilaian rating faktor eksternal pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan .................................. 174 49. Kuisioner SWOT skor dan pembobotan faktor eksternal strategi pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung ........................ 174 50. Hasil evaluasi faktor internal analisis SWOT ........................................... 175 51. Hasil evaluasi faktor eksternal analisis SWOT ......................................... 176 52. Rekapitulasi penilaian peringkat EFI dan EFE hasil analisis SWOT ....... 177 53. Rekapitulasi pembobotan EFI dan EFE hasil analisis SWOT .................. 178 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka konsep ketahanan pangan dan gizi ........................................... 3 2. Peta Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Indonesia 2009 ............... 4 3. Grafik jumlah penderita gizi buruk per kecamatan ................................. 7 4. Ketahanan Pangan dan Gizi ...................................................................... 15 5. Hubungan trilogi ketahanan pangan yang merupakan komponen ketersediaan, akses dan pemanfatan pangan ............................................ 19 6. Kerangka Penelitian ................................................................................. 32 7. Grafik luas lahan sawah per kecamatan .................................................... 70 8. Grafik jumlah lumbung pangan per kecamatan .................................... 73 9. Grafik jumlah RTS-PM Raskin per kecamatan ...................................... 74 10. Grafik persentase penduduk miskin per kecamatan ................................. 78 11. Grafik persentase rumah tangga tanpa akses listrik per kecamatan .......... 80 12. Grafik jumlah penderita gizi buruk per kecamatan .................................. 84 13. Grafik jumlah kematian balita dan ibu saat melahirkan per kecamatan ... 85 14. Grafik jumlah sarana pendidikan per kecamatan ...................................... 87 15. Grafik perbandingan pangsa pengeluaran pangan masyarakat pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Lampung Selatan ......................................... 89 16. Peta ketahanan pangan Kabupaten Lampung Selatan ............................... 104 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pangan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan hidup, sehingga usaha pemenuhan kebutuhan pangan merupakan suatu usaha kemanusiaan yang mendasar atau bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang penyelenggaraannya dijamin oleh negara. Setiap negara wajib memenuhi kebutuhan pangan penduduknya termasuk negara Indonesia yang dilaksanakan secara berjenjang, baik oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Komitmen pemerintah Indonesia terhadap penyelenggaraan urusan pangan diatur dalam Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 pengganti Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996, yang dibangun berlandaskan kedaulatan dan kemandirian pangan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menjelaskan bahwa pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan/atau pembuatan makanan atau minuman. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan 2 dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya melalui pelaksanaan program dan kegiatan untuk mewujudkan ketahanan pangan, tetapi jumlah penduduk rawan pangan atau rawan konsumsi energi masih relatif tinggi. Penduduk rawan konsumsi pangan (energi) diukur dari Tingkat Kecukupan Gizi (TKG) yang merupakan persentase angka kecukupan gizi (%AKG), dimana kurang dari 70% AKG adalah sangat rawan pangan, 70% - 89,9% AKG adalah kerawanan ringan sampai sedang. Pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 (Tabel 1), % AKG penduduk Indonesia menunjukkan kecenderungan yang terus memburuk, hal ini terlihat dari peningkatan persentase jumlah penduduk rawan pangan setiap tahunnya. Pada tahun 2011 terdapat 42,08 juta penduduk atau 17,41 persen dari seluruh penduduk di Indonesia yang mengalami kondisi sangat rawan pangan dan apabila dibiarkan terjadi selama dua bulan berturut-turut akan menjadi rawan pangan akut yang menyebabkan kelaparan. Tabel 1. Persentase angka rawan pangan di Indonesia tahun 2008-2011 Tahun 2008 2009 2010 2011 < 70% AKG N (x1 juta) 25,11 33,29 35,71 42,08 % 11,07 14,47 15,34 17,41 70%-89,9% AKG N (x1 juta) 62,38 72,72 72.44 78,48 Keterangan: N = Jumlah penduduk Indonesia Sumber: BKP Kementan RI (2013) % 27,50 31,62 31,12 32,48 >= 90% AKG N (x1 juta) 139,34 123,96 124,61 121,01 % 61,43 53,90 53,53 50,10 3 Untuk lebih fokus dalam menangani masalah pangan secara menyeluruh dan memprioritaskan penggunaan sumberdaya, maka pemerintah dalam hal ini Dewan Ketahanan Pangan bekerjasama dengan World Food Programme (WFP) menyusun Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia 2009 (A Food Security and Vulnerability Atlas / FSVA of Indonesia 2009). Penyusunan peta tersebut bertujuan menyediakan sarana bagi pemerintah untuk memahami akar permasalahan sebagai dasar penyusunan kebijakan dan strategi pengurangan penduduk rawan pangan. Kerangka konsep ketahanan pangan yang dapat dilihat pada Gambar 1 digunakan untuk menyusun Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia 2009 dengan menggunakan tiga pilar ketahananan pangan yaitu ketersediaan pangan, akses terhadap pangan dan pemanfaatan pangan. Tiga pilar ketahananan pangan tersebut dihubungkan dengan aspek kepemilikan aset rumah tangga, strategi penghidupan dan lingkungan politik, sosial, kelembagaan dan ekonomi. Gambar 1. Kerangka konsep ketahanan pangan dan gizi (DKP, 2009) 4 Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia 2009 pada Gambar 2, dibuat dengan menggunakan gradasi warna merah dan hijau. Gradasi warna merah menunjukkan variasi tingkat kerawanan pangan dan gradasi warna hijau menggambarkan kondisi yang lebih baik. Warna yang semakin tua menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dalam hal ketahanan dan kerawanan pangan. Berdasarkan peta tersebut, Kabupaten Lampung Selatan termasuk ke dalam kelompok prioritas 5 (gradasi hijau), artinya termasuk kabupaten tahan pangan atau bukan kabupaten prioritas dalam peningkatan ketahanan pangan dan penanganan masalah kerawanan pangan. Gambar 2. Peta Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Indonesia 2009 (DKP, 2009) Kabupaten Lampung Selatan sebagai kabupaten tahan pangan yang digambarkan pada peta tersebut juga didukung ketersediaan pangan yang ditunjukkan oleh ketersediaan beras. Ketersediaan beras dapat digunakan untuk mengukur ketahanan 5 pangan suatu daerah, karena beras merupakan makanan pokok mayoritas penduduk dan memberikan peran hingga sekitar 45 persen dari total food-intake atau sekitar 80 persen dari sumber karbohidrat utama dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia (Arifin, 2012). Selama enam tahun terakhir yaitu dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012, Kabupaten Lampung Selatan selalu surplus beras. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Tabel 2. Ketersediaan dan konsumsi beras di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2007 – 2012 Tahun Produksi Benih/pakan/ Tercecer Keterse -diaan Jumlah Penduduk Konsumsi/ Kapita)* Total Konsumsi Surplus (Ton) % (Ton) (Ton) (Jiwa) (Kg/kap/th) (Ton) (Ton) 2007 204.332 3,3 6.743 197.589 923.002 100,05 92.346 105.243 2008 187.771 3,3 6.196 181.575 929.702 104,89 97.516 84.058 2009 241.011 3,3 7.953 233.058 943.885 102,21 96.474 136.583 2010 253.026 3,3 8.350 244.676 912.490 100,75 91.933 152.743 2011 264.324 3,3 8.723 255.601 922.397 102,86 94.878 160.724 2012 251.315 3,3 8.293 243.022 932.552 97,65 91.064 151.958 Sumber : BPS Lampung Selatan (2008-2013) )* Susenas 2007-2012, diolah Hasil penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM) yang disusun oleh Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Lampung Selatan, menunjukkan bahwa total ketersediaan energi dan protein untuk dikonsumsi penduduk Kabupaten Lampung Selatan tahun 2012 melebihi Angka Kecukupan Energi dan Protein di tingkat ketersediaan, sesuai hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi Tahun 2004. Total ketersediaan energi mencapai 2.532 Kalori/kapita/hari atau 115,10 persen dari Angka Kecukupan Energi di tingkat ketersediaan sebesar 2.200 Kalori dan total 6 ketersediaan protein adalah sebesar 64,81 gram/kapita/hari atau lebih besar 113,70 persen dari angka yang dianjurkan yakni 57 gram/kapita/hari, sedangkan ketersediaan lemak sebesar 36,25 gram/kapita/hari (Tabel 3). Tabel 3. Ketersediaan energi, protein dan lemak (NBM) di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2012 Sumber Pangan Kalori/hari/kap Protein/hari/kap Lemak/hari/kap Nabati Hewani Jumlah 2.436,00 96,14 2.532,14 53,48 11,33 64,81 31,06 5,19 36,25 Sumber : BKP Kabupaten Lampung Selatan (2013) Kondisi surplus pangan (beras) atau total ketersediaan energi dan protein melebihi Angka Kecukupan Energi dan Protein di tingkat ketersediaan menjadi ironi, karena masih ditemukan kasus balita gizi buruk dan gizi kurang di Kabupaten Lampung Selatan. Status gizi adalah muara akhir dari semua subsistem dalam sistem ketahanan pangan dan merupakan salah satu indikator yang mencerminkan baik buruknya ketahanan pangan. Kelompok masyarakat yang sangat sensitif terhadap masalah ketahanan pangan adalah balita. Penelitian yang dilakukan Ariningsih dan Rahman (2008) menemukan bahwa kasus gizi buruk yang muncul di wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah lumbung beras menunjukkan bahwa ketahanan pangan tingkat wilayah tidak menjamin ketahanan pangan rumah tangga. Data Podes 2011 menunjukkan bahwa jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2009-2011 sebanyak 136 balita yang tersebar pada 15 (lima belas) kecamatan dengan jumlah yang bervariasi. Jumlah penderita gizi buruk paling tinggi ditemukan di Kecamatan 7 Natar (27 balita), Penengahan (26 balita) dan Ketapang (15 Balita), selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Grafik jumlah penderita gizi buruk per kecamatan (Podes, 2011/ tidak dipublikasikan) Jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Lampung Selatan yang memperoleh program pelindungan sosial berupa pangan atau beras bersubsidi dari pemerintah relatif tinggi. Pangan bersubsidi bertujuan untuk melindungi rumah tangga rawan pangan dari ancaman kurang gizi (malnutrion), terutama energi dan protein. Jumlah Rumah Tangga Sasaran - Penerima Manfaat (RTS-PM) Program Beras Miskin (Raskin) mencapai 29,15 persen dari total rumah tangga di Kabupaten Lampung Selatan (Tabel 4), artinya meskipun Kabupaten Lampung Selatan surplus beras, ternyata masih banyak rumah tangga yang membutuhkan bantuan pangan dari pemerintah. 8 Tabel 4. Jumlah penduduk, rumah tangga dan RTS-PM Raskin di Kabupaten Lampung Selatan tahun 2011 Kecamatan 1. Natar 2. Jati Agung 3. Tjg. Bintang 4. Tanjung Sari 5. Katibung 6. M. Mataram 7. Way Sulan 8. Sidomulyo 9. Candipuro 10. Way Panji 11. Kalianda 12. Rajabasa 13. Palas 14. Sragi 15. Penengahan 16. Ketapang 17. Bakauheni Rata-rata Jumlah Penduduk, Rumah Tangga dan RTS-PM Raskin Penduduk 172.849 104.158 69.316 27.401 62.089 47.150 21.495 57.885 50.801 16.518 82.008 20.995 54.072 31.997 36.059 46.617 20.987 922.397 Rumah Tangga 40.959 26.217 20.337 8.869 16.896 12.960 5.853 16.660 15.026 4.712 21.730 6.038 16.077 9.448 10.188 12.439 5.361 249.770 RTS-PM Raskin 10.094 6.544 4.035 3.599 7.322 3.912 2.630 4.469 4.482 1.060 5.882 1.748 5.364 3.229 2.968 3.764 1.696 72.798 % 24,64 24,96 19,84 40,58 43,34 30,19 44,93 26,82 29,83 22,50 27,07 28,95 33,36 34,18 29,13 30,26 31,64 29,15 Sumber : BPS (2013) dan Bagian Perekonomian Setdakab. Lampung Selatan (2013) Kualitas pangan dan gizi yang dikonsumsi secara langsung berpengaruh terhadap Angka Harapan Hidup rata-rata penduduk. Webb dan Rogers dalam Merdy (2012) menyatakan bahwa peningkatan harapan hidup merupakan outcome dari ketahanan pangan, sehingga hasil dari pembangunan ketahanan pangan akan sesuai dengan tujuan pembangunan. Angka Harapan Hidup merupakan salah satu komponen dasar kualitas hidup penyusun nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Nilai IPM penduduk Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2012 yaitu sebesar 70,95 masih di bawah rata-rata nilai IPM Provinsi Lampung (72,45) dan nilai IPM Indonesia (73,29). Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu kabupaten tertua di Provinsi Lampung, meskipun demikian nilai IPMnya menduduki peringkat ke-9 dari 9 empat belas kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Nilai IPM kabupaten/kota yang dipublikasikan BPS Provinsi Lampung dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini. Tabel 5. Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Lampung tahun 2007 – 2012 Kabupaten/ Kota Metro Bandar Lampung Pringsewu Tanggamus Lampung Tengah Lampung Timur Tulang Bawang Lampung Utara Lampung Selatan Pesawaran Way Kanan Lampung Barat Tuba Barat Mesuji 2007 75,31 74,29 69,62 69,40 69,23 68,63 68,97 68,39 68,46 67,74 - Indeks Pembangunan Manusia Lampung 2008 2009 2010 2011 75,71 75,98 76,25 76,95 74,86 75,35 75,70 76,29 71,74 71,97 72,37 70,19 70,84 71,31 71,83 69,93 70,38 70,74 71,29 69,68 70,20 70,73 71,26 69,14 69,63 70,34 70,96 69,40 69,85 70,36 70,81 68,79 69,51 70,06 70,53 68,73 69,43 69,77 70,30 68,98 69,46 69,92 70,43 68,21 68,83 69,28 69,72 68,53 68,98 69,32 67,06 67,49 67,98 2012 77,30 76,83 72,80 72,32 71,81 71,64 71,60 71,28 70,95 70,90 70,84 70,17 69,82 68,30 Sumber : BPS (2013) 1.2. Perumusan masalah Ketahanan pangan di tingkat Kabupaten Lampung Selatan tidak menjamin ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan individu penduduknya. Ketahanan pangan kabupaten merupakan syarat keharusan namun tidak cukup untuk menjamin ketahanan pangan seluruh desa dan rumah tangga di kabupaten tersebut. Ketahanan pangan keluarga merupakan syarat keharusan namun tidak cukup untuk menjamin ketahanan pangan seluruh individu anggotanya. Ketahanan pangan seluruh individu merupakan syarat keharusan dan kecukupan bagi terjaminnya ketahanan pangan suatu kabupaten, provinsi bahkan negara. 10 Pangan dan gizi terkait sangat erat dengan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ketahanan pangan yang bertujuan untuk perbaikan gizi penduduk, merupakan investasi dalam peningkatan kualitas SDM. Tiga alasan suatu negara perlu melakukan investasi tersebut, yaitu (1) memiliki ‘economic returns’ yang tinggi; (2) terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi; dan (3), membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja, pengurangan hari sakit dan pengurangan biaya pengobatan (Bank Dunia dalam Hanani, 2009). Upaya percepatan peningkatan kualitas SDM melalui peningkatan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan, memerlukan strategi yang menyeluruh melalui analisis ketahanan pangan rumah tangga dan analisis yang memetakan desa-desa yang tahan pangan dan rentan terhadap kerawanan pangan. Hasil analisis dan pemetaan dapat dijadikan sarana bagi Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam hal penentuan sasaran dan memberikan rekomendasi pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan ketahanan pangan sekaligus peningkatan kualitas SDM. Penelitian mengenai Strategi Pembangunan Ketahanan Pangan melalui Analisis dan Pemetaan Ketahanan Pangan di Kabupaten Lampung Selatan mendesak untuk dilakukan. Berdasarkan pemikiran dan permasalahan yang telah diuraikan, maka dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lampung Selatan ? 2. Bagaimana sebaran desa/kelurahan yang tahan pangan dan rentan terhadap kerawanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan ? 11 3. Apa faktor penentu utama penyebab kerentanan terhadap kerawanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan? 4. Bagaimana strategi pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan ? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menganalisis tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lampung Selatan. 2. Mengetahui sebaran desa/kelurahan yang tahan pangan dan rentan terhadap kerawanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan. 3. Mengetahui faktor penentu utama penyebab kerentanan terhadap kerawanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan. 4. Merumuskan strategi pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Untuk peneliti, kegiatan penelitian ini merupakan langkah awal dari penerapan dan pengamalan ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang. 12 2. Untuk Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, hasil penelitian dapat dijadikan informasi dalam merumuskan strategi pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Lampung Selatan. 3. Untuk masyarakat dan aparatur pemerintahan desa/kelurahan, dapat djadikan informasi untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan wilayahnya. II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1 Ketahanan Pangan dan Kerawanan Pangan Pengertian tentang ketahanan pangan berubah dari waktu ke waktu. Periode 1970an, ketahanan pangan lebih ditekankan pada unsur ketersediaan pangan di tingkat nasional dan global. Periode tahun 1980an, ketahanan pangan beralih ke akses pangan pada tingkat rumah tangga dan individu. Periode 1990an ketahanan pangan menjadi lebih komplek, yaitu ketersediaan pangan yang cukup pada tingkat harga yang pantas, terjangkau oleh masyarakat miskin serta tidak merusak lingkungan (Saliem dkk., 2001) Ketahanan pangan sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Pangan Nomor 18 tahun 2012 merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. Berdasarkan definisi tersebut, maka ketahanan pangan dapat terwujud apabila pada tataran makro setiap saat tersedia pangan yang cukup baik jumlah, mutu, aman, merata dan terjangkau, sedangkan pada tataran mikro apabila setiap rumah tangga setiap saat mampu mengkonsumsi 14 pangan yang cukup, aman, bergizi dan sesuai pilihannya untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif. Pokok pemikiran terkait paradigma perolehan pangan (food entitlement paradigm), antara lain : (1) indikator akhir ketahanan pangan ialah perolehan pangan yang cukup bagi setiap individu yang diukur pada dimensi agregat terkecil atau dengan kata lain, indikator akhir ketahanan pangan ialah ketahanan pangan individu (individual food secutiry; (2) ketersediaan pangan merupakan syarat keharusan tetapi tidak cukup untuk menjamin perolehan pangan yang cukup bagi setiap individu; dan (3) ketahanan pangan haruslah dipandang sebagai suatu sistem hierarkis: ketahanan pangan nasional, provinsi, kabupaten, lokal, rumah tangga dan individual. Ketahanan pangan nasional merupakan syarat keharusan namun tidak cukup untuk menjamin ketahanan pangan seluruh provinsi, seluruh kabupaten, desa, rumah tangga dan individu di provinsi tersebut. Ketahanan pangan seluruh individu merupakan syarat keharusan dan kecukupan bagi terjaminnya ketahanan pangan suatu negara (Alamgir and Arora, 1991 dalam Simatupang, 2007). Menurut Escamilla dan Correa (2008), ketahanan pangan dapat ditentukan melalui ketahanan gizi yang dianalisis melalui berbagai tingkatan yaitu global, nasional, regional, lokal, rumah tangga dan individu yang dapat dilihat pada Gambar 4. Ketahanan pangan global ditentukan oleh ketersediaan pangan dunia, ketahanan pangan nasional dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di tingkat nasional yang diperoleh dari jumlah produksi dalam negeri dan atau impor. Ketahanan pangan rumah tangga dan individu ditentukan oleh kemampuan rumah tangga untuk mengakses pangan yang dipengaruhi oleh ketersediaan pangan dan pendapatan rumah tangga, selanjutnya akan mempengaruhi akses hidup sehat dan kemampuan 15 untuk memenuhi kebutuhan dasar lainnya yang digambarkan oleh ketahanan gizi individu untuk hidup sehat dan aktif. Ketersediaan Pangan Global Produksi dalam Negeri Impor Pangan Global Nasional Ketersediaan Pangan Tk. Nasional Pendapatan Rumah Tangga Akses Pangan Rumah Tangga Ketahanan Pangan Akses Untuk Hidup Sehat dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar lainnya Ketahanan Gizi Rumah Tangga dan Individu Individu Gambar 4. Ketahanan pangan dan gizi (Modifikasi dari Smith, 1995 dalam Escamilla and Correa, 2008) Ketersediaan pangan yang cukup, perlu diikuti usaha peningkatan akses pangan masyarakat untuk mencapai ketahanan pangan keluarga. Pembangunan ketahanan pangan keluarga harus dilakukan agar tidak terjadi masalah kerawanan pangan yang menjadi pemicu kerawanan sosial, politik dan keamanan. Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat atau rumah tangga pada waktu tertentu untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat (BKP Kementan 16 RI, 2013). Angka rawan pangan merupakan gambaran situasi tingkat aksesibilitas pangan masyarakat yang dicerminkan dari tingkat kecukupan gizi masyarakat. Menurut BKP Kementan RI (2013) kerawanan pangan terdiri dari Kerawanan Pangan Kronis dan Kerawanan Pangan Transien. Kerawanan Pangan Kronis adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi standar minimum kebutuhan pangan anggotanya pada periode yang lama karena keterbatasan kepemilikan lahan, aset produktif dan kekurangan pendapatan. Kerawanan Pangan Transien adalah suatu keadaan rawan pangan yang bersifat mendadak dan sementara, yang disebabkan oleh perbuatan manusia (penebangan liar yang menyebabkan banjir atau karena konflik sosial), maupun karena alam berupa berbagai musibah yang tidak dapat diduga sebelumnya, seperti bencana alam (gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, banjir bandang, tsunami). Kerawanan Pangan Transien digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu Transien Berat apabila dampak bencana berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi lebih dari 30 persen penduduk suatu wilayah dan Transien Ringan apabila dampak bencana berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi kurang dari 10-30 persen penduduk suatu wilayah. Pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011, terjadi peningkatan persentase jumlah penduduk rawan pangan setiap tahunnya. Pada tahun 2011 terdapat 42,08 juta penduduk atau 17,41 persen dari seluruh penduduk di Indonesia mengalami kondisi sangat rawan pangan dan apabila dibiarkan terjadi selama dua bulan berturut-turut akan menjadi rawan pangan akut yang menyebabkan kelaparan. Menurut Hanani (2012), cukup tingginya proporsi penduduk rawan konsumsi pangan, menunjukkan bahwa pencapaian kondisi ketahanan pangan pada tingkat nasional atau wilayah belum secara langsung menjamin tercapainya tingkat ketahanan pangan rumah tangga dan individu. Masalah akses pangan umumnya disebabkan tingginya tingkat 17 kemiskinan dan rendahnya tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi, yang berpengaruh terhadap konsumsi dan kecukupan pangan dan gizi rumah tangga. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan pangan antara lain tingkat pendapatan, pendidikan, pemerintahan yang efektif, pengawasan terhadap korupsi serta ada atau tidaknya krisis yang terjadi pada tahun tersebut. 2.1.2 Ketersediaan, Akses dan Pemanfaatan Pangan Pada World Food Summit 1996, ketahanan pangan didefenisikan sebagai suatu kondisi apabila semua orang secara terus-menerus, baik secara fisik, sosial, dan ekonomi mempunyai akses terhadap pangan yang memadai/cukup, bergizi dan aman, yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan untuk hidup secara aktif dan sehat. Hal tersebut menjelaskan bahwa ketahanan pangan menyangkut orang banyak dan harus dipenuhi secara berkelanjutan. Ketahanan pangan ditentukan oleh tiga pilar yaitu : (i) ketersediaan pangan; (ii) akses terhadap pangan; dan (iii) pemanfaatan pangan (DKP, 2009). Ketersediaan pangan adalah tersedianya pangan secara fisik di daerah, yang ditentukan dari produksi domestik, masuknya pangan melalui mekanisme pasar, stok pangan yang dimiliki pedagang dan pemerintah, serta bantuan pangan baik dari pemerintah maupun swasta. Ketersediaan pangan dapat dihitung pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten atau tingkat masyarakat. Aspek ketersediaan pangan pada suatu negara, dipandang tidak tepat untuk dijadikan sebagai landasan kebijakan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan keluarga dan individu. Indikator akhir ketahanan pangan bukanlah kecukupan pangan secara agregat nasional (ketahanan pangan nasional), tetapi akses pangan yang cukup bagi 18 seluruh individu. Wacana ini disebut sebagai paradigma perolehan pangan (food entitlement paradigm) yang dirumuskan dan dipopulerkan oleh Sen, penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2000 (Simatupang, 2007). Akses pangan adalah kemampuan rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan, baik yang berasal dari produksi sendiri, pembelian, barter, hadiah, pinjaman dan bantuan pangan maupun kombinasi di antara kelimanya. Ketersediaan pangan pada suatu daerah mungkin mencukupi, tetapi tidak semua rumah tangga memiliki akses yang memadai baik secara kuantitas maupun keragaman pangan melalui mekanisme tersebut (DKP, 2009). Ketahanan pangan berdasarkan perolehan pangan ditentukan oleh dua determinan kunci, yaitu ketersediaan pangan (food availability) dan akses pangan (food access). Ketersediaan pangan merupakan syarat keharusan, sedangkan akses pangan merupakan syarat kecukupan ketahanan pangan pada setiap hierarki pengukuran. Ketersediaan pangan secara nasional dan regional melimpah (lebih dari cukup), tetapi jika rumah tangga tidak memperoleh akses terhadap sediaan pangan tersebut, maka rumah tangga tersebut akan menderita kerawanan pangan. Hasil pengamatan dan penelitian menunjukkan bahwa akses pangan yang cukup tidak menjamin asupan zat gizi yang cukup atau dengan kata lain, ketahanan pangan tidak cukup untuk menjamin ketahanan nutrisi (nutritional security). Keluarga atau individu yang menderita rawan pangan akan menderita rawan gizi. Ketahanan pangan merupakan syarat keharusan tetapi tidak cukup untuk menjamin ketahanan nutrisi (Simatupang, 2007). Menurut Chung et al. (1997), ketahanan pangan ditopang oleh "trilogi" (triad concepts) ketahanan pangan yaitu: (1) ketersediaan bahan pangan (food availability); (2) akses bahan pangan (food access) dan (3) 19 pemanfaatan bahan pangan (food utilization), sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5. Ketersediaan Pangan Akses Pangan Pemanfaatan Ketahanan Pangan Pangan Gambar 5. Hubungan trilogi ketahanan pangan yang merupakan komponen ketersediaan, akses dan pemanfaatan pangan (Simatupang, 2007) Pemanfaatan pangan merujuk pada penggunaan pangan oleh rumah tangga dan kemampuan individu untuk menyerap dan memetabolisme zat gizi (konversi zat gizi secara efisien oleh tubuh). Pemanfaatan pangan juga meliputi cara penyimpanan, pengolahan dan penyiapan makanan termasuk penggunaan air dan bahan bakar selama proses pengolahannya serta kondisi higienis, budaya atau kebiasaan pemberian makanan terutama untuk individu yang memerlukan jenis makanan khusus, distribusi makanan dalam rumah tangga sesuai kebutuhan masing-masing individu (pertumbuhan, kehamilan, menyusui dan lain-lain) dan status kesehatan masing-masing anggota rumah tangga (DKP, 2009). Ketiga elemen menjadi determinan fundamental ketahanan pangan. Ketersediaan pangan mengacu pada ketersediaan bahan pangan secara fisik di lingkungan tempat tinggal penduduk dalam jumlah yang cukup dan yang mungkin dijangkau oleh semua penduduk. Akses pangan mengacu pada kemampuan untuk memperoleh bahan pangan yang telah tersedia tersebut baik melalui media pertukaran (pasar) maupun melalui transfer (institusional). Pemanfaatan pangan mengacu pada proses alokasi dan pengolahan bahan pangan yang telah diperoleh (diakses) sehingga setiap 20 individu memperoleh asupan pangan yang cukup. Ketiga elemen dasar ini berkaita

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN JEMBER
0
4
16
ANALISIS KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2007 - 2011
2
9
18
KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI PADI DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
11
47
108
KAJIAN KETAHANAN PANGAN RUMAHTANGGA PEDESAAN DALAM UPAYA PENINGKATAN STATUS GIZI MASYARAKAT DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
0
8
8
KAJIAN KETAHANAN PANGAN RUMAHTANGGA PEDESAAN DALAM UPAYA PENINGKATAN STATUS GIZI MASYARAKAT DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
0
5
2
ANALISIS KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI KOPI DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT
4
42
56
STRATEGI PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN MELALUI ANALISIS DAN PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
6
57
92
View of ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN LUMBUNG PANGAN DESA UNTUK KETAHANAN PANGAN
0
0
13
PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMAS
0
0
11
ANALISIS KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA MISKIN DI KABUPATEN SUKOHARJO
0
0
82
ANALISIS SITUASI PANGAN DAN GIZI UNTUK PERUMUSAN KEBIJAKAN OPERASIONAL KETAHANAN PANGAN DAN GIZI KABUPATEN LAMPUNG BARAT
0
0
6
ANALISIS KEMANDIRIAN PANGAN ASAL TERNAK DALAM RANGKA MEMANTAPKAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT
0
0
7
KERAGAAN PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENDUKUNG PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT
0
0
7
KAJIAN KINERJA PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN PADA BERBAGAI INSTITUSI TERKAIT DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT
0
0
5
ANALISIS POTENSI DAN PENGELOLAAN PERIKANAN DALAM PERSPEKTIF KETAHANAN PANGAN DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN LAMPUNG BARAT
0
0
7
Show more