Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

117 

Full text

(1)

Lampiran i DAFTAR POPULASI PERUSAHAAN

NO KODE PERUSAHAAN KRITERIA SAMPEL

1 2 3 4 1 INTP PT. Indocement Tunggal

Prakas

5 KIAS PT. Keramika Indonesia Assosiasi

√ - -

6 ADES PT. Akasha Wira International Tbk

√ √ √ Sampel 1

7 TOTO PT. Surya Toto Indonesia Tbk √ - - 8 BTON PT. Beton Jaya Manunggal Tbk √ - -

9 CTBN P √ - -

10 GDST PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk 17 TBMS PT. Tembaga Mulia Semanan

Tbk

24 EKAD PT. Ekadharma International Tbk

√ - -

25 SOBI PT. S

Cor

(2)

26 TPIA PT. Chandra Asri

37 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia Tbk

√ √ -

38 KBRI PT. Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk

√ √ -

39 JPFA PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk

49 PRAS PT. Prima alloy steel Universal Tbk

√ √ -

50 GDYR PT. Goodyear Indonesia Tbk √ √ -

51 SPMA PT. Suparma Tbk √ - -

52 INAI PT. Indal Aluminium Industry Tbk

√ - -

53 TKIM PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

√ - -

54 POLY PT. Asia Pasific Fibers Tbk √ √ - 55 INCI PT. Intan Wijaya Internati

Tbk

√ √ -

(3)

57 IMAS PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk

√ √ √ Sampel 6

58 GJTL PT. Gajah Tunggal Tbk √ - -

59 PICO PT. Pelangi Inda √ √ -

60 IPOL PT. Indopoly Swakarsa Industry Tbk 66 KDSI PT. Kedawung Setia Industrial

Tbk 76 KONI PT. Perdana Bangun Pusaka

Tbk

√ √ √ Sampel 9

77 PAFI PT. Pan Asia Filament Inti Tbk √ - -

78 LION PT. Lion Metal Works Tbk √ √ √ Sampel 10 79 ESTI PT. Ever Shine Textile Industry

Tbk

81 RICY PT. Ricky Putra Globalindo Tbk

86 SIMM PT. Surya Intrindo Makmur Tbk

√ - -

87 MLPL PT. Multipolar Tbk √ √ √ Sampel 13

(4)

90 AKKU PT. Alam Karya Ungg √ √ - 102 PTSP PT. Pioneerindo Gourmet

International Tbk

√ √ √ Sampel 17

103 RMBA PT. Bentoel International Investama Tbk 106 INDF PT. Indofood Sukses Makmur

Tbk

√ - -

107 SAIP PT. Surabaya Agung Industry Pulp Tbk 115 DVLA PT. Darya Varia Laboratoria

Tbk

√ - -

116 ERTX PT. Eratex Djaya Tbk √ √ -

117 INAF PT. Indofarma Tbk √ - -

118 KAEF PT. Ki √ - -

(5)

124 SCPI PT. Schering Plough Indonesia Tbk

√ - -

125 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk √ √ √ Sampel 23 126 SQBI PT. Taisho Pharmaceutical

Indonesia Tbk

√ - -

127 TSPC PT. Tempo Scan Pasific Tbk √ - -

128 INDS PT. Indospring Tbk √ √ -

129 MBTO PT. Martina Berto Tbk √ - -

(6)

Lampiran ii

Data Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (UDK),

Leverage, Profitabilitas (ROA), Kepemilikan Manajemen (KM) dan Umur

(7)

Lampiran iii

Data Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (UDK),

Leverage, Profitabilitas (ROA), Kepemilikan Manajemen (KM) dan Umur

(8)

Lampiran iv

Data Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (UDK),

Leverage, Profitabilitas (ROA), Kepemilikan Manajemen (KM) dan Umur

(9)

Lampiran v

Data Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (UDK),

Leverage, Profitabilitas (ROA), Kepemilikan Manajemen (KM) dan Umur

Perusahaan Setelah di Logaritma Natural (Ln) Tahun 2010

(10)

Lampiran vi

Data Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (UDK),

Leverage, Profitabilitas (ROA), Kepemilikan Manajemen (KM) dan Umur

Perusahaan Setelah di Logaritma Natural (Ln) Tahun 2011

(11)

Lampiran vii

Data Ukuran Perusahaan (SIZE), Ukuran Dewan Komisaris (UDK),

Leverage, Profitabilitas (ROA), Kepemilikan Manajemen (KM) dan Umur

Perusahaan Setelah di Logaritma Natural (Ln) Tahun 2012

(12)

Lampiran viii

PERHITUNGAN INDEKS PENGUNGKAPAN SOSIAL TAHUN 2010

Keterangan :

L = Lingkungan; E = Energi; S = Sumber Daya Manusia; P = Produk; M = Masyarakat; U = Umum

(13)

Lampiran ix

PERHITUNGAN INDEKS PENGUNGKAPAN SOSIAL TAHUN 2011

(14)

Lampiran x

PERHITUNGAN INDEKS PENGUNGKAPAN SOSIAL TAHUN 2012

(15)

Lampiran xi

PERHITUNGAN INDEKS PENGUNGKAPAN SOSIAL (Ln_INDEKS)

NO KODE TAHUN

2010 2011 2012

1 ADES -0,69 -0,69 -0,19

2 ASGR 0 -0,19 0

3 ASII -0,19 -0,4 -0,4

4 ETWA -0,69 -0,69 -0,19

5 HMSP -0,4 -0,4 0

6 IMAS -0,69 -0,69 -0,4

7 KDSI -0,69 -0,4 -0,69

8 KLBF -0,19 -0,19 0

9 KONI -1,11 -0,69 -0,19

10 LION -1,11 -1,11 -0,4

11 LMSH -0,4 -0,4 -0,4

12 LTLS -0,4 -0,4 -0,4

13 MLPL -1,11 -0,69 -0,4

14 MYOH -0,69 -0,69 -0,4

15 NIPS -0,69 -0,69 -0,69

16 PBRX -0,4 -0,69 -0,4

17 PTSP -0,69 -0,69 -0,69

18 RMBA -0,69 -0,69 -0,69

19 SMSM -0,4 -0,69 -0,4

20 TCID -0,69 -0,4 -0,4

21 ULTJ -0,4 -0,4 -0,19

22 UNTR -0,4 0 -0,19

23 UNVR -0,19 -0,19 -0,19

(16)

Lampiran xii

Statistik deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

LN_UKURANPERUSAHAA

N 72 11,23 19,02 14,4714 1,91254

UKURAN DEWAN

KOMISARIS 72 3,00 11,00 4,3472 1,81667

LEVERAGE 72 10,41 429,51 123,1739 91,65557

PROFITABILITAS 72 -4,70 41,70 11,7208 10,59866

KEPEMILIKAN

MANAJEMEN 72 ,00 25,61 2,9348 6,29484

UMUR PERUSAHAAN 72 10,00 30,00 18,9583 3,78447

INFORMASI SOSIAL 72 ,33 1,00 ,6392 ,17236

(17)

Lampiran xiii

Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized

Residual

N 72

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation ,14981817

Most Extreme Differences

Absolute ,084

Positive ,081

Negative -,084

Kolmogorov-Smirnov Z ,715

Asymp. Sig. (2-tailed) ,686

a. Test distribution is Normal.

(18)
(19)

Lampiran xiv

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1

UKURAN PERUSAHAAN ,292 3,424

UKURAN DEWAN

KOMISARIS ,297 3,368

LEVERAGE ,823 1,215

PROFITABILITAS ,628 1,591

KEPEMILIKAN

MANAJEMEN ,948 1,055

UMUR PERUSAHAAN ,670 1,492

(20)

Lampiran xv

Hasil Uji Heterokedastisitas Grafik Scatterplot

(21)

Lampiran xv (Lanjutan)

Hasil Uji Glejser Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) ,116 ,465 ,250 ,804

Ln_TA -,030 ,022 -,429 -1,355 ,185

Ln_UDK ,052 ,113 ,142 ,458 ,650

Ln_LEVERAGE ,008 ,038 ,056 ,220 ,827

LN_PROFITABILITAS ,017 ,029 ,146 ,604 ,550

LN_KEPEMILIKANM

AN -,013 ,011 -,286 -1,154 ,257

LN_UMUR ,115 ,148 ,144 ,780 ,441

(22)

Lampiran xvi

Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

Durbin-Watson

1 ,494a ,244 ,175 ,15658 1,864

a. Predictors: (Constant), UMUR PERUSAHAAN, LEVERAGE, UKURAN DEWAN

KOMISARIS, KEPEMILIKAN MANAJEMEN, PROFITABILITAS, UKURAN

PERUSAHAAN

(23)

Lampiran xvii

Hasil Uji Hipotesis

Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

1 ,509a ,259 ,191 ,15503

5. Predictors: (Constant), UMUR PERUSAHAAN,

KEPEMILIKAN MANAJEMEN, LEVERAGE,

UKURAN DEWAN KOMISARIS,

PROFITABILITAS, LN_UKURANPERUSAHAAN

6. Dependent Variabel: INFORMASI SOSIAL

Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression ,547 6 ,091 3,794 ,003b

Residual 1,562 65 ,024

Total 2,109 71

a. Dependent Variable: INFORMASI SOSIAL

b. Predictors: (Constant), UMUR PERUSAHAAN, KEPEMILIKAN MANAJEMEN, LEVERAGE,

(24)

Lampiran xvii (Lanjutan)

Hasil Uji T

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) ,089 ,184 ,486 ,629

LN_UKURANPERUSA

HAAN ,025 ,017 ,273 1,450 ,152

UKURAN DEWAN

KOMISARIS ,001 ,016 -,001 -,009 ,993

LEVERAGE

-1,550E-005 ,000 -,008 -,070 ,944

PROFITABILITAS ,004 ,002 ,235 1,735 ,008

KEPEMILIKAN

MANAJEMEN ,003 ,003 ,114 ,941 ,350

UMUR PERUSAHAAN ,008 ,006 ,165 1,161 ,250

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Dessy. 2005.”Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Luas Pengungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure) pada Laporan Tahunan Perusahaan yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta”. Jurnal Akuntansi Pemerintah vol.1,No.2. Angling, Mahatma, 2010. Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Regulasi

Pemerintah terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada Laporan Tahunan di Indonesia, Skripsi Akuntansi,

Universitas Diponegoro.

Ayuna, Nur Nisa. 2008. Praktik Pengungkapan Sosial Pada Laporan Tahunan

Perusahaan di Indonesia.

Belkoui, Ahmed and Philip G.Karpik, 1989. “Determinants of The Corporate Decision to Diclose Social Information”, Acounting, Auditing and

Accountability Journal, Vol.2 No.1, p.36-51.

Brundtland Report, 1987, Our Common Future. Oxford University Press, Oxford. Buzby, S.L. (1975). Company size, listed versus unlisted stocks, and the extent of

financial disclosure. Journal of Accounting Research, 16-37.

Coller,P. & Gregory, A, 1999. Audit committee activity and agency cost. Journal

of Accounting and Public Policy.

Cowen, S.S., L.B. Ferri, and L.D. Parker, 1987. The Impact of Corporate

Characteristics on Social Responsibility Disclosure: A Typology and Frequency-based Analysis, Accounting, Organizations and Society.

Elkington, John. 1998. Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business. Gabriola Island, BC: New Society Publishers.

Elvina, Suci, 2013. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Pengungkapan

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Skripsi Akuntansi,

Universitas Sumatera Utara.

Fakhruddin, M. & Hadianto, M. S. 2001. Perangkat dan Model Analisis Investasi

di Pasar Modal. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

Faliando, Harris, 2010. Pengaruh Ukuran dan Profitabilitas terhadap

Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Skripsi

(26)

Fitriani,2001.Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Wajib

dan Sukarela pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Simposium Nasional Akuntansi IV, Bandung.

Gozhali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gray, R.H., Kouhy, R. and Lavers, S., 1995. Corporate social and environmental reporting: A review of the literature and a longitudinal study of UK disclosure.Accounting, Auditing & Accountability Journal, 8(2), pp.47–77. Gujarati, Damonar N, 2006. Dasar-Dasar Ekonometrika, Erlangga: Jakarta. Guthrie, J. dan Mathews, M.R. (1985), "Corporate social accounting in Australia"

in Preston, LE. (Ed.), Research in Corporate Social Performance and Policy, Vol. 7. Pp.251-77

Hackston, David and Markus J. Milne, 1996.”Some Determinants of Social and

Enviromental Disclosure in New Zealand Companies”, Accounting

Auditing and Accountability Journal, Vol. 9 No. 1, p.77-100.

Hasibuan, Malayu.2001.Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta: BumiAksara. Hayati, Nana Trisna, 2011. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan

Sosial pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI, Skripsi

Akuntansi, Universitas Sumatera Utara. Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK No. 1 Revisi 1998.

Indrianto,Nur dan Bambang Supomo, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi Pertama, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.

Jensen, M., & Meckling, W. (1976). Theory of firm: managerial behavior, agency costs and ownership structure. Journal of Financial Economics.

Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan, Rajawali Pers, Jakarta.

Keraf, A. Sony. 1998. Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Kreitner,R&Kinicki, A. 1992. Organizational behavior. 2nd Edition : Homewood. Maignan, I. and Farrel,O. 2004. Measuring Corporate Citizenship in Two

(27)

Mardialis,1995,Metode Penelitian:Suatu Pendekatan Proposal,Jakarta:Bumi Aksara

Marpaung, Anggita Zoraya, 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Pengungkapan Sosial (Social Disclosure) dalam Laporan Keuangan Tahunan, Skripsi Akuntansi, Universitas Sumatera Utara.

Mulyadi, 2002. Auditing, Salemba Empat, Jakarta.

Murtanto, 2006, “Menciptakan Nilai Tambah Melalui Corporate Social Responsibility”, Media Akuntansi, Edisi 53

Natarsyah, Syahib. 2000. Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental Dan

Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham: Kasus Barang Konsumsi Yang Go – Public Di Pasar Modal Indonesia. Jurnal ekonomi bisnis Indonesia.

Nugroho, Yanuar. 10November 2007, “Dilema Tanggung Jawab Korporasi” Kumpulan Tulisan, www.unisoedem.org

Rochaety, Eti, 2007. Metode Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS. Jakarta: Mitra Wacana Media

Rosmasita, Hardhina, 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan

Sosial (Social Disclosure) dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta, Skripsi Akuntansi,

Universitas Islam Indonesia.

Santoso, S, 2000, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia.

Saputri, Ririn, 2011. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap

Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Skripsi Akuntansi,

Universitas Sumatera Utara.

Sari, Rizkia Anggita, 2012. “Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”, Jurnal Nominal / Volume I

Nomor I / Tahun 2012.

Sembiring, Eddy Rismanda, 2005. ”Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta”, Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo.

Sitepu, Andre Christian, 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan

(28)

Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Skripsi Akuntansi, Universitas Sumatera

Utara.

Solihin, Ismail 2010. Pengantar Manajemen, Erlangga, Jakarta.

Sugiyono, 2006. Penelitian Bisnis, Edisi Kedua, Cetakan Kesembilan, CV Alfabeta, Bandung.

Sulastini, Sri, 2007. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Social

Disclosure Perusahaan Manufaktur yang Telah Go Public, Skripsi

Akuntansi, Universitas Sumatera Utara.

Sulastini, Sri, 2007. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Social

Disclosure Perusahaan Manufaktur yang Telah Go Public, Skripsi

Akuntansi, Universitas Sumatera Utara.

Umar, Husein, 2008. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Edisi Kedua, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif. Tujuan penelitian asosiatif menurut Sugiyono (2006:11) adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain. Dengan kata lain, penelitian ini menganalisis hubungan antara enam variabel independen (ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, leverage, profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan) terhadap satu variabel dependen (pengungkapan informasi sosial). Hubungan yang diuji adalah hubungan variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial maupun simultan.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi menurut Umar (2008), merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai karakteristik tertentu dan mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang tercatat (go public) di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2010 – 2012. Dipilihnya perusahaan manufaktur karena menurut Jones (1999) dalam Nisya Nur Ayuna (2008), perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang mengolah raw material menjadi barang jadi melalui proses pabrikasi adalah yang paling luas cakupan

(30)

profile. High profile merupakan perusahaan yang dianggap lebih luas dalam

melakukan pengungkapan sosialnya, maka dalam penelitian ini perusahaan manufaktur dijadikan sebagai sampel.

Sampel menurut Mardialis (2005), merupakan sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian atau dengan kata lain sampel adalah bagian kecil dari suatu populasi. Teknik sampling atau teknik pengambilan sample adalah suatu teknik dengan mana setiap unsur (anggota) dari populasi diberikan peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sample (Sugiyono, 2006: 72). Teknik sampling yang digunakan peneliti adalah dengan metode purposive sampling, yaitu mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya

berdasarkan suatu kriteria tertentu. Adapun kriteria-kriteria sampel yang ditentukan

oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dan tidak didelisting pada tahun

2010 - 2012

2. Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan dan laporan tahunan lengkap

pada tahun 2010 – 2012

3. Perusahaan tersebut menyediakan informasi mengenai pelaksanaan CSR di dalam

laporan tahunannya pada tahun 2010 – 2012.

4. Perusahaan tersebut memiliki saldo normal di dalam laporan tahunannya pada

tahun 2010 – 2012.

Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 131 perusahaan dengan

periode penelitian selama tiga tahun, yaitu tahun 2010-2012 akan disajikan pada

(31)

atas, didapat 24 perusahaan manufaktur yang layak dijadikan sampel. Perusahaan-perusahaan tersebut disajikan dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1

Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur

NO KODE NAMA PERUSAHAAN SAMPEL

1 ADES PT. Akasha Wira International Tbk 2 ASGR PT. Astra Graphia Tbk

3 ASII PT. Astra International Tbk 4 ETWA PT. Eterindo Wahanatama Tbk

5 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk

6 IMAS PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk 7 KDSI PT. Kedawung Setia Industrial Tbk 8 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk

14 MYOH PT. Samindo Resources Tbk 15 NIPS PT. Nipress Tbk

16 PBRX PT. Pan Brothers Tbk

17 PTSP PT. Pioneerindo Gourmet International Tbk 18 RMBA PT. Bentoel International Investama Tbk 19 SMSM PT. Selamat Sempurna Tbk

20 TCID PT. Mandom Indonesia Tbk 21 ULTJ PT. Ultra Jaya Milk Industry Tbk 22 UNTR PT. United Tractors Tbk

(32)

3.3 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan

merupakan data sekunder yang informasinya diperoleh secara tidak langsung dari

perusahaan. Jenis data yang digunakan berupa:

1. Laporan keuangan dari setiap perusahaan yang menjadi sample penelitian 2. Laporan pertanggungjawaban sosial perusahaan

3. Informasi keuangan lainnya yang berkaitan dengan variabel penelitian, yaitu

informasi mengenai ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, tingkat leverage,

profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan.

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) ya

3.4 Metode Pengumpulan Data

Peneliti mengumpulkan data sekunder melalui media internet dengan cara mengunduh laporan tahunan perusahaan yang dibutuhkan untuk dijadikan populasi atau sampel dalam penelitian ini dari situs Bursa Efek Indonesia, yaitu

3.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian

(33)

3.5.1 Variabel Dependen

Variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen (Widayat, 2002:19). Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengungkapan informasi sosial.

Pengungkapan informasi sosial merupakan data yang diungkap oleh perusahaan

berkaitan dengan aktivitas sosialnya yang meliputi tema lingkungan, energi,

kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat, dan umum. Kategori ini diadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Hackston dan Milne (1996).

Pengukuran variabel ini dengan mengukur pengungkapan sosial laporan tahunan yang dilakukan dengan pengamatan mengenai ada tidaknya suatu item informasi yang ditentukan dalam laporan tahunan dengan asumsi setiap yang diungkapkan pasti telah dilakukan, apabila item informasi tidak ada dalam laporan keuangan maka diberi skor 0, dan jika item informasi yang ditentukan ada dalam laporan tahunan maka diberi skor 1. Metode pengukuran ini dinamakan dengan Checklist data (Sari, 2012).

Indeks Pengungkapan Sosial = ����� ℎ���������������� ������ ����� ℎ������������

3.5.2 Variabel Independen

(34)

ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, leverage, profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan.

a. Ukuran perusahaan

Variabel ukuran perusahaan diukur berdasarkan total aktiva yang

dimiliki perusahaan, karena nilai aktiva relatif lebih stabil dan dapat

menggambarkan ukuran perusahaan. Total aktiva tersebut adalah dalam

jutaan rupiah, hingga perlu disederhanakan dengan logaritma natural total aktiva perusahaan agar mendapatkan data yang lebih mudah dihitung (Faliando, 2010).

Size = LN(Total Aktiva)

Secara umum, perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih

banyak daripada perusahaan kecil. Terdapat beberapa penjelasan mengenai

hal tersebut. Agency theory menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki

biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil. Hal ini

dijelaskan oleh Jensen dan Meckling (1976):” Agency Theory states that

firms with higher levels of financial leverage tend to voluntary disclose

more information in order to satisfy creditors and remove the suspicions

of wealth transfer to shareholders.” Perusahaan besar mungkin akan

mengungkapkan informasi yang lebih banyak sebagai upaya untuk

mengurangi biaya keagenan tersebut. Menurut Meek, Roberts dan Gray

dalam Fitriani (2001:20) perusahaan besar mempunyai kemampuan untuk

merekrut karyawan yang ahli, serta adanya tuntutan dari pemegang saham

(35)

pengungkapan yang lebih luas dari perusahaan kecil. Perusahaan besar

merupakan entitas yang banyak disorot oleh pasar maupun publik secara

umum. Mengungkapkan lebih banyak informasi merupakan bagian dari

upaya perusahaan untuk mewujudkan akuntabilitas publik.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka ukuran perusahaan yang baik adalah perusahaan yang tergolong sebagai perusahaan besar.Menurut Undang Undang No. 9 tahun 1995, perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki total aset lebih dari Rp. 5.000.000.000 diluar tanah dan bangunan (Faliando, 2010).

b. Ukuran dewan komisaris

Variabel ukuran dewan komisaris di ukur dengan melihat banyaknya

jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan konsisten dengan

penilitian yang dilakukan oleh Sitepu (2008). Berkaitan dengan ukuran

dewan komisaris, Coller dan Gregory (1999) dalam Sembiring (2005)

menyatakan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan komisaris, maka

akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO dan monitoring yang

dilakukan akan semakin efektif. Dikaitkan dengan pengungkapan tanggung

jawab sosial, maka tekanan terhadap manajemen juga akan semakin besar

untuk mengungkapkannya. Konsisten dengan penjelasan di atas, maka

ukuran dewan komisaris yang baik adalah dengan semakin banyaknya

jumlah anggota dewan komisaris di suatu perusahaan.

c. Leverage

Variabel leverage dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Debt to

(36)

perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Rasio ini dapat dihitung

dengan rumus sebagai berikut (Kasmir, 2008).

DER = ���������

�����������

Sesuai dengan teori agensi bahwa semakin tinggi leverage,

kemungkinan besar perusahaan akan mengalami pelanggaran terhadap

kontrak hutang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba

sekarang lebih tinggi dibandingkan laba di masa depan, supaya laba yang

dilaporkan tinggi maka manajer harus mengurangi biaya-biaya,dan tidak

menutup kemungkinan salah satunya ialah biaya tanggungjawab sosial. Oleh

karena itu, perusahaan yang mempunyai tingkat leverage yang tinggi

mempunyai kewajiban lebih untuk memenuhi informasi krediturnya [Suripto

(1999) dalam Amalia (2005)].

(37)

d. Profitabilitas

Variabel profitabilitas perusahaan pada penelitian ini diukur dengan

Return on Asset (ROA). ROA merupakan ukuran efektivitas perusahaan

dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang

dimilikinya.

ROA = ���������

����� ������

ROA yang positif menunjukkan bahwa dari total aktiva yang

dipergunakan untuk beroperasi, perusahaan mampu memberikan laba bagi

perusahaan. Sebaliknya apabila ROA yang negatif menunjukkan bahwa dari

total aktiva yang dipergunakan, perusahaan mendapatkan kerugian. Jadi jika

suatu perusahaan mempunyai ROA yang tinggi, maka perusahaan tersebut

berpeluang besar dalam meningkatkan pertumbuhan modal sendiri. Tetapi

jika total aktiva yang digunakan perusahaan tidak memberikan laba maka

perusahaan akan mengalami kerugian dan akan menghambat pertumbuhan

modal sendiri ( Kasmir, 2008). Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat

profitabilitas (dalam penelitian ini diukur dengan ROA), maka semakin

bagus kondisi suatu perusahaan.

e. Kepemilikan manajemen

Variabel kepemilikan manajemen diukur berdasarkan presentase kepemilikan saham yang dimiliki pihak manajemen (dewan komisaris dan dewan direktur) dari seluruh modal saham perusahaan yang beredar.

(38)

dalam rangka untuk meningkatkan image perusahaan, meskipun ia harus mengorbankan sumber daya untuk aktivitas tersebut (Gray, et. al., (1998). Sejalan dengan penjelasan tersebut, maka variabel kepemilikan manajemen yang baik adalah semakin besarnya rasio kepemilikan manajemen di suatu perusahaan, yaitu dalam bentuk jumlah saham yang dimiliki oleh dewan komisaris dan direktur.

f. Umur perusahaan

(39)

Tabel 3.2

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel Dependen

Variabel Definisi Pengukuran Skala Data

Pengungkap-LN (Total Aktiva) Rasio

Ukuran

Leverage Mencerminkan risiko keuangan perusahaan

Tahun penetilian – tahun

first issue di BEI

(40)

3.6 Metode Analisis Data

Data penelitian yang telah dikumpulkan diolah, kemudian akan dianalisis untuk memperoleh jawaban atas permasalahan yang timbul dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, metode analisis data yang dilakukan adalah dengan analisis statistik yang mengunakan regresi linier berganda dan menggunakan software SPSS 20. Metode dan teknik analisis dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

3.6.1 Uji Asumsi Klasik

Peneliti melakukan terlebih dahulu uji asumsi klasik sebelum melakukan pengujian hipotesis. Hal ini dikarenakan data yang digunakan adalah data sekunder, maka untuk menetapkan ketepatan model perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang mendasari model regresi. Asumsi klasik adalah asumsi yang dasar yang harus dipenuhi dalam model regresi. Penyimpangan asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

3.6.1.1Uji Normalitas

(41)

mendekati normal atau tidak. Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi normal atau mendekati normal (Umar, 2008:181).

Menurut Rochaety (2007:103), untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak digunakan analisis grafik probability plot dan

Kolmogorov-Smirnov Test (K-S). Dasar pengambilan keputusan normalitas dengan

menggunakan grafik probability plot adalah sebagai berikut:

 jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis

maka model regresi memenuhi asumsi normalitas,

 jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti

arah garis diagonal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Analisis statistik dilakukan dengan uji kolmogorov-Smirnov Test. Uji ini dilakukan untuk memastikan secara statistik apakah data disepanjang garis diagonal berdistribusi normal. Data dikatakan normal apabila hasil pengujian menunjukkan nilai siginifikan diatas 0.05, dan jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0.05 maka distribusi data adalah tidak normal (Ghozali, 2005:115).

3.6.1.2Uji Multikolinearitas

(42)

antar variabel independen. Batasan umum yang dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance > 0,1 atau VIF < 10. Model regresi linier berganda harus terbebas dari gejala multikolinieritas agar dapat digunakan dalam penelitian (Umar,2008).

3.6.1.3Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas menurut Umar (2008) dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut Homokedastisitas, sementara itu, untuk varians yang berbeda disebut heteroskedastisitas. Umar (2008) juga menambahkan bahwa model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Untuk melihat ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik scatterpolt, dimana bila ada titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y serta tidak membentuk pola maka tidak terjadi heterokedastisitas.

3.6.1.4Uji Autokorelasi

(43)

sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi. Berikut ini adalah riteria untuk penilaian terjadinya autokorelasi.

a. Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif.

b. Angka D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi. c. Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

3.6.2 Pengujian Hipotesis

Analisis statistik untuk pengujian hipoteis dilakukan dengan model regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model regresi linier berganda adalam model regresi yang memiliki lebih dari satu variabel independen. Model regresi linier berganda dikatakan model yang baik jika model tersebut memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi – asumsi klasik statistik baik multikolinearitas, heterokedastisitas dan autokorelasi. Model regresi linier berganda yang digunakan sebagai berikut.

Y = a + b1SIZE + b2KOMISARIS- b3LEV + b4PROFIT + b5SAHAM +

b6UMUR + e

Keterangan:

Y = Indeks Pengungkapan Informasi Sosial a = Konstanta

(44)

LEV = Leverage PROFIT = Profitabilitas

SAHAM = Kepemilikan Manajemen UMUR = Umur Perusahaan

e = Error (pengganggu)

3.6.2.1Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variable dependen. Menurut Ghozali (2005), nilai koefisien determinasi berada diantara nol dan satu. Jika nilai R2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa variable independen (X) memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variable dependen (Y). Sebaliknya, R2 semakin kecil (mendekati nol) maka dapat dikatakan kemampuan variable-variabel independen (X) dalam menjelaskan variable dependen (Y) amat terbatas. (Ghozali, 2005). Nilai R2 dikatakan baik jika diatas 0,5 karena nilai R Square berkisar antara 0 dan 1.

3.6.2.2Uji Regresi Simultan (Uji F)

(45)

1. Apabila Fhitung < Ftabel, pada α > 0.05 maka hipotesis ditolak (koefisisen regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara simultan kelima variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

2. Apabila Fhitung > Ftabel, pada α < 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Hal ini berarti secara simultan kelima variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

3.6.2.3Uji Regresi Parsial (Uji t)

Uji Regresi Parsial (Uji t) pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable independen secara individual dalam menerangkan variable dependen. Pengujian melalui uji t dilakukan dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel pada derajat signifikan 95% (α=0,05). Kriteria pengujian adalah sebagai berikut.

1. Apabila t-hitung < t-tabel, pada α > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial variabel

independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

variabel dependen.

2. Apabila t-hitung > t-tabel, pada α < 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Ini berarti secara parsial variabel independen tersebut

(46)

3.7 Jadwal Penelitian

(47)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Penelitian

Pemilihan sampel dilakukan dengan metode Purposive Sampling. Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang berjumlah 131 perusahaan. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 24 perusahaan. Penelitian dilakukan mulai dari tahun 2010-2012.

4.2 Analisis Data Penelitian

4.2.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan penjelasan atau deskripsi mengenai nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi dari variabel-variabel independen dan variabel dependen (Marpaung, 2010). Informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari www.idx.co.id dan berupa data keuangan sampel perusahaan manufaktur dari tahun 2010 sampai tahun 2012 yang dijabarkan dalam bentuk statistik.

(48)

Tabel 4.1 Statistik deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

LN_UKURANPERUSAHAAN 72 11,23 19,02 14,4714 1,91254

UKURAN DEWAN KOMISARIS 72 3,00 11,00 4,3472 1,81667

LEVERAGE 72 10,41 429,51 123,1739 91,65557

PROFITABILITAS 72 -4,70 41,70 11,7208 10,59866

KEPEMILIKAN MANAJEMEN 72 ,00 25,61 2,9348 6,29484

UMUR PERUSAHAAN 72 10,00 30,00 18,9583 3,78447

INFORMASI SOSIAL 72 ,33 1,00 ,6392 ,17236

Valid N (listwise) 72

Berdasarkan data dari Tabel 4.1 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. a. Variabel independen ukuran perusahaan diukur berdasarkan logaritma natural

dari total aktiva. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa data sampel secara keseluruhan tidak bervariasi, hal ini ditunjukkan oleh nilai standar deviasinya yang mendekati nol, yaitu 1,91254. Hal ini juga bisa dilihat dari nilai minimum dan maksimum yang tidak berbrda jauh, yaitu 11,23 dan 19,02. Nilai rata-rata pada variabel ini adalah 14,4714 dengan jumlah observasi sebanyak 72.

(49)

sampel secara keseluruhan memiliki sebaran data yang kecil. Jumlah observasi pada penelitian ini sebanyak 72.

c. Variabel independen leverage diukur melalui Debt to Equity Ratio (DER). Umumnya tingkat DER yang aman kurang dari 50 persen, sedangkan berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingat utang minimum berada pada 10,41 persen, maksimumnya sebesar429,51 persen dan nilai rata-ratanya lebih besar dari 50% (mean=123,1739). Hal ini menandakan bahwa kemampuan sebagian besar perusahaan untuk memenuhi kewajibannya memiliki tingkat yang masih rawan. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa variabel leverage memiliki sebaran data yg paling bervariasi di antara variabel yang lain (standar deviasi=91,65557). Jumlah observasi pada penelitian ini sebanyak 72.

d. Variabel independen profitabilitas diukur melalui Return On Asset (ROA). ROA memiliki nilai minimum -4,70 persen, artinya dari keseluruhan sampel terdapat sebuah perusahaan dimana total aktiva yang digunakan perusahaan tersebut tidak memberikan laba (mendapatkan kerugian). Nilai maksimum ROA adalah 41,70 persen; nilai rata-rata 11,7208 persen. Berdasarkan nilai mean yang positif dapat diketahui bahwa rata-rata perusahaan mendapatkan keuntungan. Standar Deviasi ROA berada di bawah standar deviasi leverage, yaitu sebesar 10,59866 menunjukkan bahwa sebaran data pada variabel profitabilitas tidak terlalu bervariasi dibandingkan variabel leverage. Jumlah observasi pada penelitian ini sebanyak 72.

(50)

dewan direktur) dari seluruh modal saham perusahaan yang beredar. Kepemilikan manajemen memiliki nilai minimum 0,00; nilai maksimum 25,61. Nilai rata rata kepemilikan saham oleh pihak dewan komisaris dan direktur dari 72 perusahaan yang ada berkisar 2,9348 persen. Berdasarkan nilai standar deviasi 6,29484 dapat diketahui bahwa standar deviasi pada variabel ini berada di bawah standar deviasi variabel profitabilitas dan sebaran datanya juga tidak terlalu bervariasi.

f. Variabel independen umur perusahaan diukur melalui selisih umur perusahaan dengan tahun first issue. Umur perusahaan memiliki nilai minimum 10 tahun; nilai maksimum 30 tahun ; nilai rata-rata 18,9583, hal ini menunjukkan dari 72 perusahaan yang dijadikan sampel rata-rata berumur 18 sampai 19 tahun. Nilai standar deviasi pada variabel umur perusahaan mendekati nol, yaitu 3,78447. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebaran datanya tidak terlalu bervariasi.

(51)

4.2.2 Pengujian Asumsi Klasik

Untuk menghasilkan suatu model regresi yang baik, analisis regresi memerlukan pengujian asumsi klasik sebelum melakukan pengujian hipotesis.

4.2.2.1 Uji normalitas data

Uji Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau tidak. Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi normal atau mendekati normal (Umar, 2008:181). Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji apakah residual terdistribusi normal adalah uji statistik non parametrik

Kolmogorov-Smirnov (K-S) dengan membuat hipotesis:

Ho : data residual berdistribusi normal Ha : data residual tidak berdistribusi normal

Apabila nilai signifikan > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, dan sebaliknya, jika nilai signifikan < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima (Ghozali, 2005:115).

(52)

Tabel 4.2 Hasil uji normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized

Residual

N 72

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation ,14981817

Most Extreme Differences

Absolute ,084

Positive ,081

Negative -,084

Kolmogorov-Smirnov Z ,715

Asymp. Sig. (2-tailed) ,686

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

(53)

Gambar 4.1 Grafik Histogram

(54)

Gambar 4.2 Normal P-Plot

Grafik P-Plot di atas menunujukkan bahwa titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti garis diagonal, sehingga kondisi demikian menunjukkan bahwa data tersebut terdistribusi secara normal.

4.2.2.2 Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antarvariabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan lawannya

(55)

tolerance < 0,10 (Umar,2008). Nilai VIF serta nilai tolerance dari

variabel-variabel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1

UKURAN PERUSAHAAN ,292 3,424

UKURAN DEWAN

KOMISARIS ,297 3,368

LEVERAGE ,823 1,215

PROFITABILITAS ,628 1,591

KEPEMILIKAN

MANAJEMEN ,948 1,055

UMUR PERUSAHAAN ,670 1,492

a. Dependent Variable: INFORMASI SOSIAL

Jika dilihat pada Tabel 4.3 di atas, semua variabel independen memiliki VIF kurang dari 10, atau VIF < 10. Selain itu nilai tolerance untuk setiap variabel independen lebih besar dari 0,1 atau tolerance > 0,1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas dalam model regresi ini.

4.2.2.3 Uji heterokedastisitas

(56)

model dapat dilihat dari pola gambar Scatterplot (Umar,2008). Analisis pada gambar Scatterplot yang menyatakan model regresi linier berganda tidak terdapat heteroskedastisitas jika:

1) titik-titik data menyebar di atas, di bawah atau di sekitar angka 0, 2) titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas dan dibawah saja,

3) penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali,

4) penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola (Marpaung, 2010).

(57)

Pola gambar Scatterplot pada model penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.3 di atas. Grafik Scatterplot menunjukkan bahwa terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Hal ini dikarenakan penyebaran titik-titik data yang berpola. Maka dari itu, peneliti mentransformasikan data variabel ke dalam bentuk Logaritma natural (Ln) supaya model regresi linier berganda tidak terdapat heteroskedastisitas, sehingga diperoleh grafik Scatterplot sebagai berikut.

Gambar 4.4 Grafik Scatterplot II

Uji heterokedastisitas juga dapat dilakukan uji Glejser. Gujarati (2006) menyatakan bahwa,” The Glejser test is similiar in spirit to the Park test. After

(58)

absolute values of ei, on the X variable that is thought to be closely associated

with the heteroscedastic variance.” Menurutnya uji Glejser dilakukan dengan cara

meregresikan antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya. Jika nilai signifikansi antara variabel independen dengan absolut residual lebih dari 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Berikut ini adalah tabel hasil uji heterokedastisitas berdasarkan uji Glejser.

Tabel 4.4

a. Dependent Variable: ABS_RES

Pada Tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi dari kelima variabel independen lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.

4.2.2.4Uji autokorelasi

(59)

dengan kesalahan pengganggu sebelumnya (t-1). Jika terjadi korelasi, maka terdapat problem autokorelasi. Kriteria untuk penilaian terjadinya autokorelasi yaitu:

1) angka D-W terletak di bawah -2 berarti ada korelasi positif,

2) angka D-W terletak di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi, 3) angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negative (Santoso, 2000).

Tabel 4.5

Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

Durbin-Watson

1 ,494a ,244 ,175 ,15658 1,864

a. Predictors: (Constant), UMUR PERUSAHAAN, LEVERAGE, UKURAN DEWAN

KOMISARIS, KEPEMILIKAN MANAJEMEN, PROFITABILITAS, UKURAN

PERUSAHAAN

b. Dependent Variable: INFORMASI SOSIAL

Berdasarkan hasil tabel di atas diketahui bahwa nilai D-W yang didapat sebesar 1,864 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari masalah autokorelasi.

4.2.3 Pengujian Hipotesis

4.2.3.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)

(60)

informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variable dependen (Y) (Ghozali,2005).

Pada Tabel 4.6 di bawah ini, hasil analisis regresi secara keseluruhan menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,259 dimana 25,9% variabel dependen luas pengungkapan sosialnya dijelaskan oleh variabel independen, sedangkan 74,1% dijelaskan oleh variabel diluar variabel independen yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 4.6

a. Predictors: (Constant), UMUR PERUSAHAAN, KEPEMILIKAN

MANAJEMEN, LEVERAGE, UKURAN DEWAN KOMISARIS,

PROFITABILITAS, LN_UKURANPERUSAHAAN

b. Dependent Variabel: INFORMASI SOSIAL

Tabel 4.7

Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,000 – 0,199 Sangat Rendah

4.2.3.2Uji regresi simultan (Uji f)

(61)

 jika F-hitung > F-tabel pada α < 0,05, maka H

1 diterima  jika F-hitung < F-tabel pada α > 0,05, maka H

1 ditolak (Ghozali, 2005).

Tabel 4.8

Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression ,547 6 ,091 3,794 ,003b

Residual 1,562 65 ,024

Total 2,109 71

a. Dependent Variable: INFORMASI SOSIAL

b. Predictors: (Constant), UMUR PERUSAHAAN, KEPEMILIKAN MANAJEMEN, LEVERAGE,

UKURAN DEWAN KOMISARIS, PROFITABILITAS, LN_UKURANPERUSAHAAN

Dari hasil uji di atas dapat dilihat bahwa F-hitung sebesar 3,794 dengan nilai signifikansi 0,003. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel (3,794 > 2,242), sedangkan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,003 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, leverage, profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan mempengaruhi pengungkapan sosial.

4.2.3.3 Uji Regresi Parsial (Uji t)

Uji parsial (uji t) dilakukan untuk mengetahui apakah variable independen dalam model regresi secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variable dependen. Nilai dari uji t dapat dilihat dengan membandingkan hitung dan t-tabel. Kriteria uji t yang digunakan :

 jika t hitung > t 65aria pada α < 0,05 maka H

(62)

 jika t hitung < t 66aria pada α > 0,05, maka H

i ditolak (Hayati, 2010)

Hasil dari uji regresi parsial (uji t) dapat dilihat pada Tabel 4.9 di bawah ini.

Tabel 4.9

Hasil Uji Parsial (T-Test)

Coefficientsa

a. Dependent Variable: INFORMASI SOSIAL

Hasil pengujian variabel berdasarkan T-Test pada Tabel 4.9 dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan sosial

(63)

secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sosial pada perusahaan manufaktur pada tingkat kepercayaan 95%.

2. Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap pengungkapan sosial

Nilai t-hitung untuk variabel ukuran dewan komisaris adalah sebesar -0,009 dan t-tabel untuk df (n-2) = 70 dengan α = 5% diketahui sebesar 1,66691. Dengan demikian t-hitung lebih kecil dari t-tabel (-0,009 < 1,66691) dan nilai signifikansi sebesar 0,993 (lebih besar dari 0,05) artinya H2 ditolak, bahwa ukuran dewan komisaris secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sosial pada perusahaan manufaktur pada tingkat kepercayaan 95%. 3. Pengaruh leverage (Debt To Equity) terhadap pengungkapan sosial

Nilai t-hitung untuk variabel leverage (Debt To Equity) adalah sebesar -0,70 dan t-tabel untuk df (n-2) = 70 dengan α = 5% diketahui sebesar 1,66691. Dengan demikian t-hitung lebih kecil dari t-tabel (-0,70 < 1,66691) dan nilai signifikansi sebesar 0,944 (lebih besar dari 0,05) artinya H3 ditolak, bahwa leverage (Debt To

Equity) secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan

sosail pada perusahaan manufaktur pada tingkat kepercayaan 95%. 4. Pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap pengungkapan sosial

(64)

5. Pengaruh kepemilikan manajemen terhadap pengungkapan sosial

Nilai t-hitung untuk variabel kepemilikan manajemen adalah sebesar 0,941 dan t-tabel untuk df (n-2) = 70 dengan α = 5% diketahui sebesar 1,66691. Dengan demikian t-hitung lebih kecil dari t-tabel (0,941 < 1,66691) dan nilai signifikansi sebesar 0,350 (lebih besar dari 0,05) artinya H5 ditolak, bahwa kepemilikan manajemen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sosial pada perusahaan manufaktur pada tingkat kepercayaan 95%. 6. Pengaruh umur perusahaan terhadap pengungkapan sosial

Nilai hitung untuk variabel umur perusahaan adalah sebesar 1,161 dan t-tabel untuk df (n-2) = 70 dengan α = 5% diketahui sebesar 1,66691. Dengan demikian t-hitung lebih kecil dari t-tabel (1,161 < 1,66691) dan nilai signifikansi sebesar 0,250 (lebih besar dari 0,05) artinya H6 ditolak, bahwa umur perusahaan secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sosial pada perusahaan manufaktur pada tingkat kepercayaan 95%.

Berdasarkan hasil uji-t tersebut dapat disimpulkan bahwa pengungkapan sosial dipengaruhi oleh variabel ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris,

leverage, profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan dengan

persamaan matematis sebagai berikut:

Y=0,089+0,025X1+0,001X2–0,0000155X3+0,004X4+0,003X5+0,008X6+ e

(65)

2) koefisien regresi b1 sebesar 0,025 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu kali variabel ukuran perusahaan, maka akan menambah variabel indeks pengungkapan sebesar 0,025 dengan asumsi variabel lain tetap,

3) koefisien regresi b2 sebesar 0,001 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu kali variabel ukuran dewan komisaris, maka akan menambah pula indeks pengungkapan variabel sebesar 0,001 dengan asumsi variabel lain tetap,

4) koefisien regresi b3 sebesar -0,0000155 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu kali variabel leverage, maka akan mengurangi variabel indeks pengungkapan sebesar 0,0000155 dengan asumsi variabel lain tetap,

5) koefisien regresi b4 sebesar 0,004 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu kali variabel profitabilitas, maka akan menambah pula indeks pengungkapan sebesar 0,004 dengan asumsi variabel lain tetap,

6) koefisien regresi b5 sebesar 0,003 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu kali variabel kepemilikan manajemen, maka akan menambah pula indeks pengungkapan variabel sebesar 0,003 dengan asumsi variabel lain tetap,

7) koefisien regresi b6 sebesar 0,008 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu kali variabel umur perusahaan, maka akan menambah pula indeks pengungkapan sebesar 0,008 dengan asumsi variabel lain tetap.

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

(66)

manajemen dan umur perusahaan memiliki pengaruh terhadap pengungkapan sosial perusahaan sebesar 25,9% (R Square = 0,259), sisanya sebesar 74,1% dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel yang digunakan. Berdasarkan F-tabel dapat dilihat signifikansinya, dimana secara simultan variabel yang digunakan memiliki pengaruh yang signifikan dilihat dari F-hitung yang lebih besar dari F-tabel (3,794 > 2,242), dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,003 < 0,05)

Dalam pengujian secara parsial ditemukan hanya variabel profitabilitas yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan sosial perusahaan, sedangkan lima variabel lainnya, yaitu ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, kepemilikan manajemen, dan umur perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan. Pembahasan terhadap masing-masing variabel dalam pengujian secara parsial akan dibahas berikut ini.

1. Ukuran perusahaan

(67)

2. Ukuran dewan komisaris

Melalui analisis uji-t, ukuran dewan komisaris tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan sosial perusahaan dengan nilai t = -0,009 (t < 1,66691) dan α = 0 ,993 (α > 0,05). Hal ini berarti besar kecilnya ukuran dewan komisaris tidak mempengaruhi luas pengungkapan sosial perusahaan secara signifikan. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulastini (2007), Andre Sitepu (2008), dan Tengku Siti (2011) yang menemukan adanya pengaruh signifikan ukuran dewan komisaris terhadap pengungkapan sosial perusahaan.

3. Leverage

Dalam penelitian ini melalui analisis uji-t, leverage yang diproksikan ke dalam DER tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan sosial perusahaan dengan nilai t = -0,70 (t < 1,66691) dan α = 0,944 (α > 0,05). Hal ini berarti besar kecilnya leverage tidak mempengaruhi luas pengungkapan sosial perusahaan secara signifikan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Andre Sitepu (2008), Tengku Siti (2011) dan Nana Trisna (2011) yang menemukan tidak adanya pengaruh signifikan tingkat leverage terhadap pengungkapan sosial perusahaan.

4. Profitabilitas

(68)

sosial perusahaan secara signifikan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Andre Sitepu (2008) yang menemukan adanya pengaruh signifikan profitabilitas terhadap pengungkapan sosial perusahaan.

5. Kepemilikan Manajemen

Dalam penelitian ini melalui analisis uji-t, kepemilikan manajemen tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan variabel perusahaan dengan nilai t = 0,941 (t < 1,66691) dan α = 0,350 (α > 0,05). Hal ini berarti besar kecilnya kepemilikan manajemen tidak mempengaruhi luas pengungkapan sosial perusahaan secara signifikan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Tengku Siti (2011) dan Nana Trisna (2011) yang menemukan tidak adanya pengaruh signifikan kepemilikan manajemen terhadap pengungkapan sosial perusahaan.

6. Umur perusahaan

Melalui analisis uji-t, umur yang diproksikan ke dalam selisih antara umur perusahaan dengan first issue menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan sosial perusahaan dengan nilai t= 1,161 ( t < 1,66691) dan α= 0,250 (α < 0,05). Hal ini berarti besar kecilnya umur perusahaan tidak

(69)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah menganalisis dan melakukan pembahasan dalam penelitian ini, penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut.

1. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa karakteristik perusahaan yang diukur dari aspek ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, leverage, profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa dari berbagai variabel yang digunakan untuk mengukur karakteristik perusahaan ternyata hanya variabel profitabilitas yang dapat mempengaruhi pengungkapan Corporate Social

Responsibility, sedangkan beberapa variabel lainnya seperti variabel ukuran

perusahaan, ukuran dewan komisaris, leverage, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan sosial perusahaan.

5.2 Keterbatasan Penelitian

(70)

1) Periode penelitian hanya 3 tahun sehingga tidak dapat memperjelas keakuratan hasil penelitian

2) Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya berjumlah 24 perusahaan 3) Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini hanya ukuran

perusahaan, ukuran dewan komisaris, leverage, profitabilitas, kepemilikan manajemen dan umur perusahaan, sehingga kurang mampu menjelaskan lebih luas pengungkapan sosial perusahaan.

5.3 Saran

Berdasarkan keterbatasan penelitian diatas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut.

1) Peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan periode penelitian lebih dari tiga tahun karena periode yang lebih panjang dapat lebih menjelaskan pengungkapan sosial, dan sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih besar serta menambah atau menggunakan variabel independen yang berbeda dari penelitian ini, misalnya seperti status perusahaan,pertumbuhan perusahaan (growth), tipe industri (profile), kepemilikan publik, dan sebagainya.

(71)
(72)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Tinjauan Teoritis

2.1.1 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Keraf (1998), mengartikan CSR sebagai komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta terus menerus menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya. The World Business

Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan CSR sebagai

“business’ commitment to contribute to sustainable economic development,

working with employees, their families, the local community, and society at large

to improve their quality of life.” Yaitu komitmen perusahaan dalam

pengembangan ekonomi yang berkesinambungan dalam kaitannya dengan karyawan beserta keluarganya, masyarakat sekitar dan masyarakat luas pada umumnya, dengan tujuan peningkatan kualitas hidup mereka (Solihin, 2010 : 186).

Sejalan dengan definisi di atas, Maignan dan Farrel (2004) mendefenisikan CSR sebagai “ A business acts in socially responsible manner when its decision

and actions for balance diverse when its decision and actinons for and balance

diverse stakeholder interest”. Defenisi ini menekankan perlunya memberikan

(73)

beragam dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil oleh para pelaku bisnis melalui perilaku yang secara sosial bertanggung jawab.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) dapat diartikan sebagai suatu konsep bahwa organisasi khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam aspek operasional perusahaan. Tanggung jawab sosial berhubungan erat dengan dengan ‘pembangunan berkelanjutan’, dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau dividen melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat, maka perusahaan perlu memiliki tanggung jawab bahwa kegiatan yang dilakukannya membawa ke arah perbaikan lingkungan masyarakat pada umumnya, dan bukan sebaliknya. Dengan demikian, sudah semestinya perusahaan perlu menyadari bahwa dirinya memiliki apa yang dinamakan dengan tanggung jawab sosial.

(74)

perusahaan akan terjamin dengan baik. Oleh karena itu, program-program CSR lebih tepat apabila digolongkan sebagai investasi dan harus menjadi strategi bisnis dari suatu perusahaan.

Kreitner (1992) mengemukakan empat bentuk strategi pelaksanaan program yang dilakukan oleh perusahaan dalam konteks tanggung jawab sosialnya, di antaranya:

a. Strategi Reaktif ( Reactive Social Responsibility Strategy )

Kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif dalam tanggung jawab sosial cenderung menolak atau menghindarkan diri dari tanggung jawab sosial.

b. Strategi Defensif ( Defensive Social Responsibility Strategy )

Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk menghindarkan diri atau menolak tanggung jawab sosial .

c. Strategi Akomodatif ( Acomodative Social Responsibility Strategy )

Strategi Akomodatif merupakan tanggung jawab sosial berupa pelayanan kesehatan, kebersihan, dan lain sebagainya, yang dijalankan perusahaan dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan sekitar akan hal tersebut, bukan dikarenakan perusahaan menyadari perlunya tanggung jawab sosial.

d. Strategi Proaktif ( Proaktive Social Responsibility Strategy)

Perusahaan memandang bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian dari tanggung jawab untuk memuaskan stakeholders. Jika stakeholders terpuaskan, maka citra positif terhadap perusahaan akan terbangun.

Dauman dan Hargreaves (1992) dalam Hasibuan (2001) menyatakan bahwa tanggung jawab perusahaan dapat dibagi menjadi tiga level sebagai berikut:

1. Basic responsibility (BR)

(75)

2. Organization responsibility (OR)

Pada level kedua ini menunjukan tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi perubahan kebutuhan ”Stakeholder” seperti pekerja, pemegang saham, dan masyarakat di sekitarnya.

3. Sociental responses (SR)

Pada level ketiga, menunjukan tahapan ketika interaksi antara bisnis dan kekuatan lain dalam masyarakat yang demikian kuat sehingga perusahaan dapat tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan, terlibat dengan apa yang terjadi dalam lingkungannya secara keseluruhan.

Penerapan CSR dalam perusahaan-perusahaan diharapkan selain memiliki komitmen finansial kepada pemilik atau pemegang saham, tapi juga memiliki komitmen sosial terhadap para pihak lain yang berkepentingan, karena CSR merupakan salah satu bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Adapun tujuan dari corporate social responsibility ( CSR ), (Saputri, 2011):

1. Untuk meningkatkan citra perusahaan dan mempertahankan, biasanya secara implisit, asumsi bahwa perilaku perusahaan secara fundamental adalah baik.

2. Untuk membebaskan akuntabilitas organisasi atas dasar asumsi adanya kontrak sosial di antara organisasi dan masyarakat. Keberadaan kontrak sosial ini menuntut dibebaskannya akuntabilitas sosial.

3. Sebagai perpanjangan dari pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada investor.

Untuk itulah maka pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR) perlu diungkapkan dalam perusahaan sebagai wujud pelaporan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

2.1.2 Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

(76)

jenis pengungkapan dalam pelaporan keuangan yang telah ditetapkan oleh badan yang memiliki otoritas di pasar modal. Pertama adalah ungkapan wajib (mandatory disclosure), yaitu informasi yang harus di ungkapkan oleh emiten yang diatur oleh peraturan pasar modal di suatu Negara. Kedua adalah ungkapan sukarela (voluntary disclosure), yaitu ungkapan yang dilakukan secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh standar yang ada. Pengungkapan sosial yang diungkapkan perusahaan merupakan informasi yang sifatnya sukarela.

Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan. Alasan-alasan perusahaan mengungkapkan kinerja sosial secara sukarela menurut Murtanto (2006) adalah:

1. Internal Decision Making

Manajemen membutuhkan informasi untuk menentukan efektivitas informasi sosial tertentu dalam mencapai tujuan sosial perusahaan. Walaupun hal ini sulit diidentifikasi dan diukur, namun analissis secara sederhana lebih baik daripada tidak sama sekali.

2. Product Differentiation

Manajer perusahaan memiliki insentif untuk membedakan diri dari pesaing yang tidak bertanggung jawab secara sosial kepada masyarakat. Akuntansi kontemporer tidak memisahkan pencatatan biaya dan manfaat aktivitas sosial perusahaan dalam laporan keuangan, sehingga perusahaan yang tidak peduli sosial akan terlihat lebih sukses daripada perusahaan yang peduli. Hal ini mendorong perusahaan yang peduli sosial untuk mengungkapkan informasi tersebut sehingga masyarakat dapat membedakan mereka dari perusahaan lain.

3. Enlightened Self Interest

Perusahaan melakukan pengungkapan untuk menjaga keselarasan sosialnya dengan para stakeholder karena mereka dapat mempengaruhi pendapatan penjualan dan harga saham perusahaan.

(77)

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan mungkin diperlakukan sebagai suatu suplemen dari aktivitas akuntansi konvensional. Pendekatan ini secara umum akan menganggap masyarakat keuangan sebagai pemakai utama pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan cenderung membatasi persepsi tentang tanggung jawab sosial yang dilaporkan. Pendekatan alternatif kedua dengan meletakkan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan pada suatu pengujian peran informasi dalam hubungan masyarakat dan organisasi. Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber utama kemajuan dalam pemahaman tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan sekaligus merupakan sumber kritik yang utama terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Saputri, 2011).

Dalam menyusun dan mengungkapkan informasi tentang aktivitas pertanggungjawaban sosial perusahaan, Zhegal & Ahmed dalam Rosmasita (2007), mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan pelaporan sosial perusahaan, yaitu sebagai berikut:

1. Lingkungan

Bidang ini meliputi aktivitas pengendalian pencemaran dan pelestarian lingkungan hidup yang meliputi : pengendalian terhadap polusi, pencegahan atau perbaikan terhadap kerusakan lingkungan, konservasi alam, dan pengungkapan lain yang berkaitan dengan lingkungan.

2. Energi

Bidang ini meliputi aktivitas dalam pengaturan penggunaan energi dalam hubungannya dengan operasi perusahaan dan peningkatan efisiensi terhadap produk perusahaan. Meliputi, konservasi energi, efisien energi, dan lain-lain.

3. Praktik bisnis yang wajar

Bidang ini meliputi pemberdayaan terhadap minoritas dan perempuan, dukungan terhadap usaha minoritas, tanggung jawab sosial.

4. Sumber daya manusia

Gambar

Grafik Scatterplot II
Grafik Scatterplot II . View in document p.20
Tabel 3.1 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur
Tabel 3 1 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur . View in document p.31
Tabel 3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Tabel 3 2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel . View in document p.39
Tabel 3.3 Jadwal penelitian
Tabel 3 3 Jadwal penelitian . View in document p.46
Tabel 4.1 Statistik deskriptif
Tabel 4 1 Statistik deskriptif . View in document p.48
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.52
Gambar 4.1 Grafik Histogram
Gambar 4 1 Grafik Histogram . View in document p.53
Gambar 4.2 Normal P-Plot
Gambar 4 2 Normal P Plot . View in document p.54
Tabel 4.3 Hasil Uji Multikolinearitas
Tabel 4 3 Hasil Uji Multikolinearitas . View in document p.55
Grafik Gambar 4.3 Scatterplot
Grafik Gambar 4 3 Scatterplot . View in document p.56
Gambar 4.4 Grafik
Gambar 4 4 Grafik . View in document p.57
Tabel 4.4 Hasil Uji Glejser
Tabel 4 4 Hasil Uji Glejser . View in document p.58
Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi
Tabel 4 5 Hasil Uji Autokorelasi . View in document p.59
Tabel 4.6 Koefisien Determinasi
Tabel 4 6 Koefisien Determinasi . View in document p.60
Tabel 4.7 Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi
Tabel 4 7 Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi . View in document p.60
Tabel 4.8 Hasil Uji Simultan (Uji F)
Tabel 4 8 Hasil Uji Simultan Uji F . View in document p.61
Tabel 4.9  Hasil Uji Parsial (T-Test)
Tabel 4 9 Hasil Uji Parsial T Test . View in document p.62
TABEL 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu
TABEL 2 1 Tinjauan Penelitian Terdahulu . View in document p.86
Gambar 2.1   Kerangka Konseptual
Gambar 2 1 Kerangka Konseptual . View in document p.91

Referensi

Memperbarui...

Download now (117 pages)