Feedback

Interaksi Sosial dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis

Informasi dokumen
INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS TESIS OLEH ELVA YUSANTI 097009019/LNG SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara OLEH ELVA YUSANTI 097009019 SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS Nama Mahasiswa : ELVA YUSANTI Nomor Induk Mahasiswa : 097009019 Program Studi : Linguistik Konsentrasi : Analisis Wacana Kesusastraan Menyetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si. Ketua Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. Anggota Ketua Program Studi, Direktur, Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph. D Prof. Dr. Ir. Rahim Matondang, MSIE. Tanggal Lulus : 22 September 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal 22 September 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si Anggota : 1. Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. 2. Dr. Asmyta Surbakti, M.Si 3. Dr. Rosmawaty, M.Pd Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN Judul Tesis INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS KARYA MEILIANA K. TANSRI: PENDEKATAN SOSIOLOGIS Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri. Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksisanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Medan, 24 September 2011 Elva Yusanti Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP I. Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Rumah Alamat Kantor Telepon/Ponsel : Elva Yusanti : Medan, 31 Mei 1974 : Perempuan : Islam : PNS Kantor Bahasa Provinsi Jambi : Jalan Lawet Raya VI No. 11 Perumnas Jelutung, Jambi 36124 : Jalan Arief Rahman Hakim No. 101 Telanaipura, Jambi. : (0741) 669466/081366134248 II. Riwayat Pendidikan 1. SD Negeri No. 060924 Medan (Tamat 6 Juni 1987) 2. SMP Negeri 13 Medan (Tamat 4 Juni 1990) 3. SMA Negeri 12 Medan (Tamat 29 Mei 1993) 4. Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, Medan (Tamat 4 April 1998) 5. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (Sejak 2009) Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur bagi Allah yang telah memberi kemudahan dan kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik. Tesis ini berjudul ”Interaksi Sosial dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis”. Tesis ini membicarakan tentang interaksi antara masyarakat Tionghoa dan Jambi dalam menyelamatkan warisan budaya serta melestarikan lingkungan dan hewan langka di Jambi. Fakta-fakta fiksional dalam trilogi Darah Emas, yang terdiri atas Mempelai Naga, Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus, dan Sembrani, merupakan media representasi masyarakat Tionghoa-Jambi secara faktual. Selain itu, dapat diketahui bahwa latar belakang sosiologis pengarang turut mempengaruhi proses kreatif trilogi ini. Penyelesaian tesis ini telah diusahakan keilmiahannya oleh penulis dengan bantuan dari berbagai pihak. Kelemahan atau kesalahannya tetap menjadi tanggung jawab penulis. Untuk itu, penulis menerima kritik dan saran untuk penyempurnaan tesis ini. Medan, September 2011 Penulis, Elva Yusanti Universitas Sumatera Utara UCAPAN TERIMA KASIH Dalam menempuh perkuliahan dan penyelesaian tesis ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun material. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pihakpihak berikut ini. 1. Prof. Dr. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, Medan. 2. Prof. Dr. Ir. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Pascasarjana USU beserta Staf Akademik dan Administrasinya. 3. Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Dr. Nurlela, M. Hum., selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister Linguistik, beserta para Dosen dan Staf Administrasinya. 4. Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Utama dan Pembimbing Akademik, yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian tesis ini, serta berkenan membagikan ilmu dan meminjamkan buku-bukunya. 5. Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A., selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing penulis, memberikan dorongan dan motivasi, serta menjadi mitra berdiskusi selama perkuliahan dan penyelesaian tesis ini. 6. Dr. Asmyta Surbakti, M.Si., selaku Dosen pada Program Studi Magister Linguistik Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan, yang telah menambah wawasan penulis mengenai teori-teori kritis. Universitas Sumatera Utara 7. Dra. Yeyen Maryani, M.Hum., selaku Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang telah melegalisasi pemberian beasiswa selama penulis menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana USU Medan. 8. Drs. Yon Adlis, M.Pd., selaku Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi, yang telah memberikan izin dan rekomendasi kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Sekolah Pascasarjana USU Medan. 9. Sdr. Meiliana K. Tansri, selaku pengarang yang menulis novel bahan penelitian ini. 10. Orang tua penulis, Ayahanda M. Yusuf Hasibuan dan Ibunda Ida Yanti, yang dengan tulus mengalirkan doa dan kasih sayangnya. 11. Keluarga penulis, yaitu suami tercinta, Rizal, yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis untuk mencapai kesuksesan dalam karier dan pendidikan, serta kedua anak penulis, ananda Muhammad Farhan Aulia dan Sausan Nadhifah Humaira, yang selalu menjadi penyemangat penulis dalam menyelesaikan pendidikan. 12. Keluarga besar penulis yaitu, kakak, adik, ipar, beserta keponakan-keponakan yang selalu mendoakan penulis. 13. Sahabat-sahabat penulis: Ilsa Dewita Putri Soraya, S.S., M.A., Lukman, S.Pd., M.A., dan Maryani, S.Pd., yang tanpa pamrih telah membantu penulis, serta Hennilawati, M.Hum., yang menjadi sahabat penulis dalam suka dan duka. 14. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Linguistik, Sekolah Pascasarjana USU Angkatan 2009/2010. 15. Teman seprofesi penulis di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Balai Bahasa Medan, Balai Bahasa Kendari, dan Pusat Bahasa Jakarta. Universitas Sumatera Utara 16. Semua pihak yang telah membantu penulis selama perkuliahan dan penyelesaian tesis ini. Semoga Allah SWT memberikan kemurahan rezeki dan kemudahan jalan hidup bagi kita. Amin. Medan, September 2011 Penulis, Elva Yusanti Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING PANITIA PENGUJI PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP KATA PENGANTAR. i UCAPAN TERIMA KASIH . ii DAFTAR ISI. v DAFTAR BAGAN. viii DAFTAR LAMPIRAN . ix ABSTRAK . x ABSTRACT . xi BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan Penelitian . 8 1.3.1 Tujuan Akademis . 8 1.3.2 Tujuan Praktis . 8 1.4 Batasan Masalah . 9 1.5 Manfaat Penelitian . 10 1.5.1 Manfaat Teoretis . 10 1.5.2 Manfaat Praktis . 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL . 12 2.1 Kajian Pustaka . 12 2.2 Konsep . 15 Universitas Sumatera Utara 2.2.1 Interaksi Sosial . 15 2.2.2 Novel . 18 2.2.3 Representasi . 20 2.2.4 Sosiologis Pengarang . 21 2.3 Landasan Teori . 22 2.4 Model Penelitian . 29 BAB III METODE PENELITIAN . 32 3.1 Metode Penelitian . 32 3.2 Sumber Data . 34 3.3 Teknik Pengumpulan Data . 35 3.4 Teknik Analisis Data . 37 BAB IV INTERAKSI SOSIAL DALAM TRILOGI DARAH EMAS . 40 4.1 Analisis . 41 4.1.1 Fakta dan Makna Cerita Trilogi Darah Emas . 41 4.1.1.1 Alur . 44 4.1.1.2 Karakter . 66 4.1.1.3 Latar . 71 4.1.1.4 Tema . 74 4.1.2 Interaksi Sosial Asosiatif . 76 4.1.2.1 Kooperasi (Kerja Sama) . 76 4.1.2.2 Akomodasi . 84 4.1.3 Interaksi Sosial Disosiatif . 85 4.1.3.1 Kompetisi . 85 4.1.3.2 Konflik . 87 4.1.3.3 Kontravensi . 89 4.2 Temuan Penelitian . 91 BAB V TRILOGI DARAH EMAS SEBAGAI MEDIA REPRESENTASI MASYARAKAT TIONGHOA-JAMBI . 94 5.1 Fakta-Fakta Fiksional dalam Trilogi Darah Emas yang Universitas Sumatera Utara Merepresentasikan Masyarakat Tionghoa-Jambi . 96 5.1.1 Nama-Nama Tokoh . 96 5.1.2 Sikap Hidup Tokoh . 97 5.1.3 Peristiwa-Peristiwa yang Diceritakan .100 5.2 Temuan Penelitian .105 BAB VI LATAR BELAKANG SOSIOLOGIS PENGARANG . 107 6.1 Hubungan Antara Trilogi Darah Emas dan Latar Belakang Sosiologis Pengarang . 109 6.1.1 Asal Sosial Pengarang . 109 6.1.2 Kelas Sosial Pengarang . 112 6.1.3 Jenis Kelamin Pengarang . 114 6.1.4 Umur Pengarang . 117 6.1.5 Pendidikan Pengarang . 119 6.1.6 Pekerjaan Pengarang . 121 6.1 Temuan Penelitian . 123 BAB VII SIMPULAN DAN SARAN . 125 7.1 Simpulan . 125 7.2 Saran . 127 DAFTAR PUSTAKA . 129 Universitas Sumatera Utara DAFTAR BAGAN No Judul Halaman 1. Model Aplikasi Pendekatan Sosiologis terhadap Trilogi Darah Emas . 30 2. Tahap-Tahap Analisis Konten terhadap Trilogi Darah Emas . 39 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No Judul Halaman 1. Biografi dan Foto Meiliana K. Tansri . 137 2. Sampul Depan Trilogi Darah Emas . 140 3. Sampul Belakang Trilogi Darah Emas . 141 4. Sinopsis . 142 5. Berita tentang Situs Kemingking . 144 6. Foto-Foto Candi di Situs Kemingking . 147 7. Wawancara Elva Yusanti dengan Meiliana K. Tansri . 150 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian yang mengungkapkan masalah interaksi sosial dan representasi realitas faktual ini dilakukan melalui dua pendekatan, intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik yang bersumber pada teks sastra, ditinjau berdasarkan pandangan Stanton, yakni meneliti fakta dan makna cerita. Pendekatan ekstrinsik yang meneliti konteks karya sastra, ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra Wellek dan Austin, yakni adanya tiga fakta sastra: pengarang, karya, dan pembaca. Trilogi Darah Emas karya Meiliana K. Tansri yang menjadi sumber data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik dokumenter dan analisis konten. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan berupa interaksi sosial yang dilakukan para tokoh sebagai representasi masyarakat Tionghoa-Jambi. Temuan berikutnya adalah keterlibatan pengarang dalam proses kreatif trilogi tersebut. Keterlibatan itu ditemukan melalui pendeskripsian latar belakang sosiologis pengarang. Temuan-temuan ini tidak bisa dilepaskan dari fakta dan makna cerita karena semuanya saling melengkapi dalam pemaknaan teks sastra. Kata kunci: interaksi, representasi, dan sosiologis Universitas Sumatera Utara ABSTRACT This study which revealed problems of social interaction and factual representation of reality is done through two approaches, intrinsic and extrinsic. Intrinsic approach which used literary texts reviewed based on the views of Stanton, which is researching the facts and meaning of the story. Extrinsic approach that examines the context of literary works, reviewed literature on the theory of Wellek and Austin's sociology, namely the existence of three literary facts: the author, work, and readers. The trilogy of Darah Emas written by Meiliana K. Tansri which was used as the source of research data in this study was analyzed using documentary techniques and content analysis. Based on the analysis, findings obtained in the form of social interaction that made the characters as representations of the Chinese communityJambi. The following finding is the author's involvement in the creative process of the trilogy. The involvement was found through the description of the author sociological background. However, these findings cannot be separated from fact and meaning of the story for those both aspects are complementary in the interpretation of literary texts. Keywords: interaction, representation, and sociology. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian yang mengungkapkan masalah interaksi sosial dan representasi realitas faktual ini dilakukan melalui dua pendekatan, intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik yang bersumber pada teks sastra, ditinjau berdasarkan pandangan Stanton, yakni meneliti fakta dan makna cerita. Pendekatan ekstrinsik yang meneliti konteks karya sastra, ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra Wellek dan Austin, yakni adanya tiga fakta sastra: pengarang, karya, dan pembaca. Trilogi Darah Emas karya Meiliana K. Tansri yang menjadi sumber data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik dokumenter dan analisis konten. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan berupa interaksi sosial yang dilakukan para tokoh sebagai representasi masyarakat Tionghoa-Jambi. Temuan berikutnya adalah keterlibatan pengarang dalam proses kreatif trilogi tersebut. Keterlibatan itu ditemukan akibat dari kenyataan bahwa dia adalah putri seorang pimpinan yakuza. Universitas Sumatera Utara 2.2 Setting Novel Yakuza Moon Setiap karya sastra disusun atas unsur-unsur yang menjadikannya sebuah kesatuan. Salah satu unsur yang sangat mempengaruhi keberadaan karya sastra adalah unsur intrinsik. Setting merupakan salah satu unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra dalam hal ini adalah novel. Setting atau latar yang disebut juga landasan tumpuan, menyarankan pada lingkungan tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1995:216). Unsur-unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu: 1. Latar Tempat Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa nama tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Dalam novel Yakuza Moon mengambil latar tempat di beberapa tempat di Jepang seperti Osaka, Yokohama, dan Tokyo. Latar peristiwa-peristiwa tersebut terjadi di tempat – tempat seperti di sekolah, rumah, penjara, bar dan lainlain. 2. Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan dengan latar tempat dan latar waktu faktual. Novel Yakuza Moon menggambarkan latar waktu sekitar tahun 1974-2001 yaitu masuk dalam kategori zaman modern. Universitas Sumatera Utara 3. Latar Sosial Latar sosial menyaran kepada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi maupun nonfiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir, dan bersikap, dan lain-lain. Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial, konflik sosial yang terjadi pada masyarakat. Novel Yakuza Moon bila dilihat dari latar sosialnya adalah menggambarkan tentang kondisi masyarakat modern. Latar sosial tokoh utama juga digambarkan memiliki kelas sosial yang berbeda-beda. 2.3 Biografi Pengarang Shoko yang bernama asli Shoko Tendo lahir tahun 1968 di musim dingin merupakan putri seorang pimpinan yakuza yaitu Hiroyashu dan istrinya yang bernama Satomi. Shoko adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Yakuza Moon “Memoar Seorang Putri Gangster Jepang” adalah buku pertama yang ditulis oleh Shoko Tendo pada tahun 2004. Isi dari novel Yakuza Moon menceritakan kembali kisah kehidupannya sedari masa kecil hingga kini ia yang hanya tinggal dengan putrinya. Shoko, seorang putri dari pemimpin Gangster “Yakuza”, yang pada saat itu kedudukan ayahnya sangat tersohor. Memiliki kekayaan dan kekuasaan di beberapa daerah hingga mempunyai banyak aset bisnis. Shoko menghabiskan masa remajanya dalam pergaulan dunia obat-obatan keras dan seks, juga menaungi dirinya dengan jati diri ‘Gangster cilik’. Hidupnya telah dipenuhi oleh Universitas Sumatera Utara kekerasan, kecanduan narkoba dan pemerkosaan. Saat pembuatan buku tersebut (2004), Shoko baru berusia 32 tahun, ia mengubah hidup di sekeliling sebelum menulis biografinya. Dari semua kejadian yang Shoko alami telah meninggalkan bekas luka seperti patah tulang dan gigi, gendang telinga berlubang, hernia, dan hepatitis, mungkin dampak dari penggunaan narkoba juga. Operasi plastik telah membantu merekonstruksi wajahnya, namun kesehatannya sangat rawan walau dia sudah mulai pulih dari berbagai operasi yang ia jalani. Sepanjang masa kecilnya, Tendo mendengarkan cerita-cerita romantis tentang kehormatan yakuza dan perannya dalam masyarakat. Cerita-cerita tersebut merupakan pembelaan dari ayahnya, meskipun keterlibatannya massa dalam prostitusi, narkoba, penipuan real estate dan bahkan pembunuhan telah diketahui Shoko. Dan saat ini, Shoko adalah ibu tunggal dari putrinya yang dia besarkan sejak saat ia mulai menulis kelanjutan untuk Yakuza Moon. Pasangannya adalah seorang fotografer dan jauh dari orang-orang sesama ‘yakuza’ yang hampir menghancurkan hidupnya. 2.4 Sosiologi dalam Kajian Sastra Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio/socius (Yunani) yang berarti masyarakat, logi/logos berarti ilmu. Jadi, menurut Ratna (2003:1) sosiologi sastra berarti ilmu mengenai asal-usul pertumbuhan (evousi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Universitas Sumatera Utara Menurut Ratna (2003:2) sesungguhnya kedua ilmu tersebut yaitu sosiologi dan sastra memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian hakikat sosiologi dan sastra berbeda, bahkan bertentangan secara diametral. Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang sastra sosiologi merupakan perbedaan hakikat, sebagai perbedaan ciri-ciri, sebagaimana ditunjukkan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan, fiksi dan fakta. Menurut Ratna (2003:2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya dengan masyarakat, antara lain: 1. Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek kemasayarakatannya. 2. Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya. 3. Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakangi. 4. Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah antara sastra dengan masyarakat, dan 5. Sosiologi sastra berusaha menemukan kualitas interdepedensi antara sastra dan masyarakat. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan. Sosiologi sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih mempertimbangkan karya sastra dan segi-segi sosial. Universitas Sumatera Utara Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang reflektif. Penelitian ini banyak diminati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Asumsi dasar penelitian sosiologi sastra adalah kelahiran sastra tidak dalam kekosongan moral. Kehidupan sosial akan menjadi picu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang sukses yaitu karya sastra yang dapat merefleksikan zamannya. Di dalam genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, genre prosalah yang dianggap paling diminati dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat dikemukakan, diantaranya adalah novel menampilkan unsurunsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang juga paling luas, bahasa novel juga cenderung merupakan bahasa sehari-hari. Bahasa yang umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah dikatakan bahwa novel merupakan genre yang paling sosiologis dan responsive sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris. Oleh karena itulah, menurut Hauser dalam Ratna (2004:336) karya sastra lebih jelas mewakili ciri-ciri zamannya. Seperti pada novel Yakuza Moon yang menunjukkan kehidupan masyarakat Jepang masa kini atau masyarakat modern, dimana masyarakatnya memiliki kelas sosial yang berbeda-beda yang terjadi di tengah masyarakat terutama dalam lingkungan yakuza. Cara-cara penyajian yang berbeda dibandingkan dengan ilmu sosial dan humaniora jelas membawa ciri-ciri tersendiri terhadap sastra. Penyajian secara tidak langsung, dengan menggunakan bahasa metaforis konotatif, memungkinkan untuk menanamkan secara lebih intern masalah- Universitas Sumatera Utara masalah kehidupan terhadap pembaca. Artinya ada kesejajaran antara ciri-ciri karya satra dengan hakikat yaitu imajinasi dan kreativitas adalah kemampuannya dalam menampilkan dunia kehidupan yang lain yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Inilah aspek-aspek sosial karya sastra. Dimana karya sastra diberikan kemungkinan yang luas untuk mengakses emosi, obsesi, dan berbagai kecendrungan yang tidak mungkin tercapai dalam kehidupan sehari-hari. selama pembaca karya sastra pembaca secara bebas menjadi raja, dewa, perampok, dan berbagai sublimasi lain. Sebagai multidisiplin, maka ilmu-ilmu yang terlibat dalam sosiologi sastra adalah sastra dan sosiologi. Dengan pertimbangan bahwa karya sastra juga memasukkan aspek-aspek kebudayaan yang lain, maka ilmu-ilmu yang terlibat adalah sejarah, filsafat, agama, ekonomi,dan politik. Yang perlu diperhatikan dalam penelitian sosiologi sastra adalah dominasi karya sastra, sedangkan ilmuilmu yang lain berfungsi sebagai pembantu. Dengan pertimbangan bahwa sosiologi sastra adalah analisis karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, maka model analisis yang dilakukan menurut Ratna (2004:339-340) meliputi tiga macam, yaitu: 1. Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian Dari cuplikan di atas terlihat bahwa Kazue tidak sanggup membayar sewa tempat di kelab skating. Itu karena biaya tersebut terlalu mahal. Kelab skating di penuhi siswa dari kelompok orang dalam sehingga fasilitas yang mereka gunakan Universitas Sumatera Utara tentunya harus mewah. Tetapi dia tidak mempedulikan itu semua. Dia tetap ingin berada di sana sama seperti siswa dari kelompok orang dalam lainnya. Tim skating tidak mengeluarkannya dari tim karena mereka masih membutuhkan catatan Kazue saat ujian tiba. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa siswa dari kelompok orang dalam akan mempertahankan siswa dari kelompok orang luar, selama siswa tersebut bisa mereka manfaatkan. Siswa dari kelompok orang dalam tidak akan memberikan reaksi negatif atas sikap siswa dari kelompok orang luar yang tidak mereka suka selama mereka masih membutuhkan siswa tersebut. Cuplikan halaman 272 Waktu murid-murid lain masuk ke kelas dan melihat Kazue, kebanyakan kelihatan gelisah dan cepat-cepat membuang muka seperti baru saja melihat sesuatu yang mestinya tidak mereka lihat. Tetapi Kazue yang tidak menyadari itu semua, melenggang ke salah satu gadis yang masuk tim skating yang pernah meminjam catatannya. “Kazue, apa yang terjadi denganmu?” Kazue memandang murid itu seperti linglung, malu. “Kau tidak bisa begitu saja tidak muncul sebelum tes!” “Maaf.” “Setidaknya kau bisa meminjamiku catatan Inggris dan sastra klasikmu.” Kazue mengangguk takut, berulang kali. Universitas Sumatera Utara Analisis Cuplikan di atas adalah cuplikan cerita setelah Kazue tidak masuk sekolah karena memiliki masalah dengan orang yang di sukainya. Cuplikan di atas menunjukkan bahwa siswa dari kelompok orang dalam yang pernah meminjam catatan kazue tidak benar-benar peduli terhadap keadaan Kazue. Siswa dari kelompok orang dalam tersebut hanya ingin memanfaatkan Kazue. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa siswa di kelompok orang dalam selalu berusaha memanfaatkan siswa di kelompok orang luar tanpa mempedulikan keadaan siswa kelompok luar tersebut. Dan siswa dari kelompok orang luar berusaha memenuhi keinginan siswa dari kelompok orang dalam agar tidak digertak. Cuplikan halaman 264 Aku juga melihat bahwa kazue juga memberondong guru-gurunya dengan rentetan pertanyaan selama pelajaran. Guru-guru segera menjadi tidak sabar. “Oke, mari kita beralih ke pertanyaan berikutnya,” kata mereka, sambil melirik jam tangan mereka, hanya mengakibatkan Kazue mengeluh, dengan suara terisak,”Tetapi, Profesor, aku masih belum mengerti.” Meskipun semua siswa di kelas memutar-mutar bola mata mereka penuh frustasi, ia tidak acuh. Kukira Kazue tidak pernah memperhatikan reaksi orang-orang di sekitarnya. Lambatlaun ia kehilangan kesadaran terhadap realitas masa sekarang. Setiap kali guru mengajukan pertanyaan yang jawabannya diketahui Kazue, ia menjadi yang pertama mengangkat tangannya, dengan ekspresi kemenangan pada wajahnya. Dan kalau ia menulis jawaban atas pertanyaan, ia selalu menutupi kertasnya Universitas Sumatera Utara dengan tangannya-seperti kembali ke masa waktu ia menjadi murid yang bersaing di sekolah dasar. Oh, ya tak diragukan lagi, ia begitu ganjil, bertingkah laku begitu aneh sehingga tidak ada yang mau bergaul dengannya. Analisis Dari cupliakan di atas Kazue semakin tidak mempedulikan di kelompok mana dia berada. Dia berusaha menarik perhatian siswa lain dan guru. Dia selalu berusaha terlihat lebih pintar dan lebih aktif dari pada siswa lain pada saat pelajaran. Dia tidak peduli dengan rasa tidak suka yang ditunjukkan siswa-siswa lainnya. Dia merasa sangat senang apabila bisa menjawab pertanyaan, dan tidak membiarkan orang lain mengetahui jawaban yang dia tulis. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa ada siswa dari kelompok orang luar yang berusaha menyaingi siswa dari kelompok orang dalam semakin kuat. Sebagai bentuk balasan dari semua tekanan yang dia dapatkan, dia ingin menunjukkan dirinya yang berasal dari kelompok orang luar bisa bersaing dengan siswa dari kelompok orang dalam. Universitas Sumatera Utara BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Dari analisis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Pembentukan kelompok siswa yang ada dalam novel Groteque karya Natsuo Kirino ini didasarkan pada perbedaan kekayaan yang dimiliki kedua siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. 2. Dua kelompok siswa yang terdapat dalam novel grotesque ini siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. 3. Siswa di kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke tingkat berikutnya perguruan Q tanpa ujian tetapi melalui sistim dan mereka berasal dari keluarga-keluarga yang kaya. Sedangkan siswa di kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke Sekolah Lanjutan Atas perguruan Q dengan cara mengikuti ujian dan berasal dari keluarga yang biasa saja. 4. Semakin cepat seorang siswa masuk ke sisitim perguruan Q maka mereka akan dianggap semakin “elit”. Itulah sebabnya siswa di kelompok orang dalam yang masuk melalui sistim dianggap lebih elit. 5. Antara dua kelompok siswa tidak bisa saling berbaur satu sama lain. 6. Siswa di kelompok orang dalam memiliki kekuasaan yang besar di sekolah. 7. Interaksi yang terjadi antara kedua kelompok ini menunjukkan adanya pertentangan dan persaingan. 8. Siswa di kelompok orang luar sering mendapatkan diskriminasi dan tidak mendapatkan hak yang sama dengan siswa di kelompok orang dalam. Universitas Sumatera Utara 9. Siswa di kelompok dalam sering menjadikan siswa dari kelompok orang luar sebagai bahan permainan, mengejek dan menggertak. 10. Siswa di kelompok orang dalam akan melepaskan siswa dari kelompok orang luar apabila mereka dapat keuntungan dari siswa tersebut. Siswa kelompok orang dalam tidak akan mengertak siswa dari kelompok orang luar yang bisa mereka pinjami catatan. 11. Kebanyakan siswa dari kelompok dalam hanya berpura-pura baik kepada siswa dari kelompok orang luar. Mereka melakukan itu hanya untuk memanfaatkan siswa dari kelompok orang luar tersebut. Kelompok orang dalam pura-pura mau berteman dengan kelompok orang luar, agar bisa meminjam catatan siswa kelompok orang luar. 12. Siswa dari kelompok orang luar tidak semua bisa menerima tekanan yang di berikan siswa-siswa dari kelompok orang dalam. 13. Kazue tidak mau menerima kenyataan dia berada di kelompok orang luar sehingga berusaha bersaing dan mengimbangi siswa dari kelompok orang dalam. 14. Kazue tidak peduli terhadap batasan-batasan antara kelompok orang dalam dan kelompok orang luar. Dia berusaha untuk mendapatkan persamaan hak. 4.2. Saran Dari kesimpulan yang di dapat penulis berharap agar kejadian yang terjadi pada novel grotesque ini tidak perlu terjadi. Dalam dunia sekolah tidak perlu ada pembeda-bedaan siswa seperti yang terjadi dalam novel Grotesque. Setiap siswa Universitas Sumatera Utara harusnya mendapatkan hak yang sama dan tidak mendapatkan diskriminasi. Tindakan penggertakan juga tidak perlu terjadi, apalagi alasan penggertakan itu adalah masalah harta atau kekayaan. Setiap siswa harusnya bisa berteman dengan siapa saja, tidak ditentukan dari banyaknya kekayaan yang mereka miliki. Setiap siswa seharusnnya berkompetisi secara adil dalam pendidikan maupun dalam ekstakulikuler. Pihak sekolah juga diharapkan memberikan sangsi kepada siswasiswanya yang tidak patuh terhadap peraturan yang ada. Perlu ada tindakan yang tegas dari pihak sekolah untuk mengajarkan siswa-siswa tentang kedisiplinan. Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu bukan tempat untuk menunjukkan kekayaan dan setiap siswa seharusnya mendapatkan kesempatan, hak dan kewajiban yang sama. Universitas Sumatera Utara Daftar Pustaka Aminuddin, 2000. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo Ikram, Achadiati, 1980. Hikayat Sri Rama: Suntingan Naskah disertai telaah amanat dan Struktur. Jakarta: UI Press Koentjaraningrat. 1976. Metode-Metode penelitian Masyarakat. Jakarta: UI Press Luxemburg, Jan Van. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia Melani, Budianto. 1997. Teori kesusasteraan. Jakarta: Gramedia Moeliono, Anton M. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkaji Sastra. Yogyakarta: UGM Press Natsuo, Kirino. 2010. Grotesque. Jakarta: Gramedia Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia Pradopo, Rahmat Djoko. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hinindita Pudjiono, Muhammad.2006. Analisis Nilai-Nilai Religius dalam Cerita Pendek (cerpen) Karya Miyazawa Kenzi.Medan: USU Press http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/ http://blognyaphie.blogspot.com/ http://www.fikom.unpad.ac.id/?page=detailartikel&id=106 http://id.wikipedia.org/wiki/Stratifikasi_sosial http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1809953-interaksi-sebagai- proses-sosial/ http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan- menurut-para-ahli/ Universitas Sumatera Utara
Interaksi Sosial dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Interaksi Sosial dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis

Gratis