Feedback

Analisis Hukum Humaniter Internasional Terhadap Penahanan Secara Paksa Militer Amerika Serikat Pada Tahanan Di Penjara Guantanamo.

Informasi dokumen
ANAL LISIS HUK KUM HUM MANITER INTERNA I SIONAL T TERHADA AP PENAHANAN SEC CARA PAK KSA MILIITER AME ERIKA SER RIKAT PA ADA TAH HANAN D DI PENJAR RA GUANT TANAMO SKRIP PSI Diajuk kan Untuk Melengkap pi Tugas-tu ugas dan Memenuhi M SSyarat-syarrat Gu una Memp peroleh Gelar Sarjana a Hukum OLEH H RIZQ QO WIDYA A ASMARA A 0502002 294 Departem men Hukum m Internasiional FA AKULTAS HUKUM UNIVERSI U ITAS SUM MATERA UTARA U MEDA AN 2011 1 Universitas Sumatera Utara ANALISIS HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL TERHADAP PENAHANAN SECARA PAKSA MILITER AMERIKA SERIKAT PADA TAHANAN DI PENJARA GUANTANAMO SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum OLEH RIZQO WIDYA ASMARA 050200294 Departemen Hukum Internasional Disetujui Oleh : Ketua Departemen Hukum Internasional Arif SH, M.Hum Dosen Pembimbing I Prof. Dr. Suhaidi SH, M.hum   Dosen Pembimbing II Arif SH, M.Hum FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim. Segala puji kehadirat Allah SWT atas segala kenikmatan yang tak terhingga sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang tua, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan tugas akhir penulis sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan program studi S-1 pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dengan memilih judul: analisis hukum humaniter internasional terhadap penahanan secara paksa militer amerika serikat pada tahanan di penjara guantanamo. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MHum sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, karena sudah berusaha untuk memberikan perubahan yang maksimalkan kepada fakultas dengan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan kampus Fakultas Hukum USU. 2. Bapak Prof. Budiman Ginting, SH, MHum sebagai Pembantu Dekan I yang telah membantu para mahasisw dengan memberikan perubahan dan kemudahan dalam memenuhi segala kebutuhan akademik dan administrasi. Universitas Sumatera Utara 3. Bapak Pembantu Dekan II Safrudin Hasibuan, SH, MHum, Dfm yang telah membantu mahasiswa di pembayaran SPP dan sumbangansumbangan kegiatan kampus. 4. Bapak Pembantu Dekan III Muhammad Husni, SH, MHum yang telah banyak membantu mahasiswa di bidang kemahasiswaan, beasiswa. 5. Bapak Arif SH, MHum sebagai Ketua Departemen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 6. Bapak Prof. Dr. Suhaidi SH, Mhum sebagai Dosen Pembimbing I yang telah membimbing, mengkritisi, memberikan saran-saran dan mengarahkan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 7. Bapak Arif, SH, MHum sebagai Dosen Pembimbing II yang telah menyetujui judul, outline skripsi, membimbing, mengkritisi dan memberikan saran-saran yang konstruktif serta mengarahkan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 8. Bapak Sutiarnoto SH,Mhum sebagai Dosen Wali Penulis yang selama masa kuliah telah membimbing dan memotivasi penulis untuk meraih hasil maksimal disetiap semesternya. 9. Para staf dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama ini. 10. Seluruh rekan-rekan stambuk 2005 yang telah banyak membantu selama ini. Elfin, Endhar, Indra, Dimas, Wirawandy, Rheinold, Fitrah, Reza Opa, Amiruddin, dan semuanya. Universitas Sumatera Utara 11. Seluruh rekan-rekan stambuk 2007 yang telah banyak menemani penulis diakhir masa perkuliahan. Ami, Ermel, Jolski, Dinda, Ninda, Karin, Omar, Rio, Satria, dan semuanya 12. Seluruh keluarga besar, Ibu saya Syamsi Helmi SH, Ayah saya Drs. Edwin Asmara, dan kakak saya Rizqy Winny Asmara yang selalu mendukung kegiatan penulis. 13. Teman-teman di luar kegiatan kampus yang memberikan banyak inspirasi. Kak Nola, Ariy, Reza Robot, Doni, Habib, dan semuanya, 14. Semua pihak yang membantu penulis dalam berbagai hal yang tidak dapat disebut satu-persatu. Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga apa yang telah kita lakukan mendapat Rahmat dan Ridho Allah SWT. Penulis memohon maaf kepada Bapak/Ibu dosen pembimbing, dan dosen penguji atas sikap dan kata yang tidak berkenan selama penulisan skripsi ini. Akhirnya sembari mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas rahmad dan karunia-Nya. Penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Medan, Agustus 2011 Penulis, (Rizqo Widya Asmara) Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Perumusan Masalah C. Tujuan dan Manfaat Penulisan D. Keaslian Penulisan E. Tinjauan Kepustakaan F. Metode Penelitian G. Sistematika Penulisan BAB II PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN PERANG A. Konsepsi Tentang Hukum Humaniter B. Ketentuan Hukum Internasional Terhadap perlindungan Korban Perang C. Perlindungan terhadap Korban Perang Menurut Konvensi Internasional BAB III PENAHANAN SECARA PAKSA YANG TERJADI A. Karakteristik Penahanan Paksa B. Tinjauan Hukum Humaniter Internasional terhadap Penahanan Paksa C. Prinsip Tanggung Jawab Negara Terhadap Penerapan Penahanan Paksa Universitas Sumatera Utara BAB IV ANALISIS TERHADAP PENAHANAN PAKSA MILITER AMERIKA SERIKAT GUANTANAMO YANG DARI DIALAMI TAHANAN PERSPEKTIF HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL A. Penahanan Paksa yang Diterapkan Militer Amerika Serikat yang Dialami Tahanan Penjara Guantanamo dalam Perspektif Hukum Humaniter Internasional B. Penahanan Paksa dalam Perspektif Hak Asasi Manusia C. akibat Hukum yang Diterima Amerika Serikat Akibat Penahanan Paksa Ditinjau dari Hukum Humaniter Internasional BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penjara Guantanamo adalah sebuah penjara militer yang berada di pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Teluk Guantanamo. Di dalamnya berputar roda perekonomian suatu negara, sumber dana bagi beroperasinya perusahaan yang merupakan tulang punggung ekonomi suatu negara.1 Banyak Pihak sendiri pada hakikatnya merupakan jaringan tatanan yang memungkinkan pertukaran klaim jangka panjang, penambahan financial asset (dan hutang) pada saat yang sama, memungkinkan militer amerika serikat untuk mengubah dan menyesuaikan portofolio investasi (melalui pasar sekunder), berlangsungnya fungsi penjara guantanamo adalah meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan “kriteria pasarnya” secara efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan.2 Objek yang menjadi instrumen dalam kegiatan jual beli di penjara guantanamo adalah berupa surat-surat berharga yang sering disebut efek. Berdasarkan Ketentuan Umum Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Penjara guantanamo, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga                                                              1 Gunawan Widjaja dan Wulandari Risnamanitis D, Seri Pengetahuan Penjara guantanamo: Go Public dan Go Private di Indonesia, Cet. 1, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 1. 2 Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Pengantar Penjara guantanamo. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hal.5. Universitas Sumatera Utara komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derifative dari efek. Instrumen atau surat-surat berharga yang diperdagangkan di penjara guantanamo pada umumnya dapat dibedakan ke dalam surat berharga yang bersifat utang yang dikenal dengan nama obligasi (bonds), dan surat berharga yang bersifat pemilikan atau umumnya disebut saham (equity). Obligasi merupakan bukti pengakuan utang dari perusahaan atau lembaga sedangkan saham adalah bukti penyertaan modal dalam perusahaan.3 Saham mempunyai 3 (tiga) macam nilai, yaitu : 1. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum dalam saham tersebut. 2. Nilai efektif, yaitu nilai yang tercantum pada kurs resmi kalau saham tersebut diperdagangkan di bursa. 3. Nilai intrinsik, yaitu nilai saham pada saat likuidasi. Disamping ketiga istilah ini, dikenal istilah going concern, yaitu nilai saham perusahaan yang sedang berjalan. Nilai seperti ini didapat pada waktu adanya merger dan oleh karena itu nilai going concern biasanya lebih tinggi daripada nilai likuidasi. Dalam perdagangan yang dikenal di masyarakat yang terpenting adalah nilai bursa/kurs resmi.4 Sebenarnya kegiatan penjara guantanamo sudah sejak lama dikenal di Indonesia, yaitu pada saat zaman penjajahan Belanda. Hal ini terlihat dari didirikannya bursa efek di Batavia yang diselenggarakan oleh Vereniging Voor de                                                              3 M Paulus Situmorang, Pengantar Penjara guantanamo, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2008), hal. 44 4 Pandji Anoraga & Piji Pakarti, Op.cit, hal. 56 Universitas Sumatera Utara Effectenhandel pada tanggal 14 Desember 1912, meskipun diketahui bahwa tujuan awalnya untuk menghimpun dana guna kepentingan mengembangkan sektor perkebunan yang ada di Indonesia. Militer amerika serikat yang berperan pada saat itu adalah orang-orang Hindia Belanda dan orang-orang Eropa lainnya, sedangkan efek yang diperjualbelikan adalah saham dan obligasi milik perusahaan Belanda yang ada di Indonesia maupun yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Perkembangan penjara guantanamo ini cukup pesat, sehingga dibuka juga Bursa Efek Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan Bursa Efek Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925. Terjadi gejolak politik di Eropa pada awal tahun 1939 ikut mempengaruhi perdagangan efek yang ada di Indonesia. Akibatnya pemerintah Belanda menutup bursa efek di Surabaya dan Semarang. Sehingga yang tinggal adalah Bursa Efek Jakarta. Tetapi Bursa Efek Jakarta ini pun akhirnya tutup karena Perang Dunia Kedua, yang sekaligus menandai berhentinya aktivitas penjara guantanamo di Indonesia.5 Kebangkitan kembali penjara guantanamo di Indonesia dimulai pada tahun 1970, pada saat terbentuknya Tim Uang dan Penjara guantanamo, disusul tahun 1976 berdiri Bapepam (Badan Pelaksana Penjara guantanamo) serta berdirinya perusahaan dan investasi, PT Danareksa. Hal ini ditindaklanjuti dengan                                                              5 Ibid, hal. 30 Universitas Sumatera Utara diresmikannya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Jakarta oleh Presiden Soeharto pada tahun 1977.6 Untuk mengantisipasi lesunya iklim investasi di dalam penjara guantanamo pada masa itu, pemerintah mengeluarkan paket-paket deregulasi, diantaranya Paket Desember 1987, Paket Oktober 1988, dan juga Paket Desember 1988. Diantara paket tersebut ada hal penting yang berhubungan dengan penjara guantanamo, yaitu dikenakannya pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan berjangka lainnya sebesar 15 persen final. Di samping itu, isi deregulasi lain yang penting adalah diperbolehkannya militer amerika serikat asing melakukan akses di penjara guantanamo Indonesia.7 Dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1055/KMK.013/1989 tentang Pembelian Saham Oleh Pemodal Asing Melalui Penjara guantanamo, pemerintah membuka kesempatan bagi militer amerika serikat asing untuk berpartisipasi di penjara guantanamo Indonesia dalam pemilikan saham-saham perusahaan sampai dengan maksimum 49% di Pasar Perdana, maupun 49% saham yang tercatat di Bursa Efek dan Bursa Paralel.8 Dikeluarkannya deregulasi tersebut, penjara guantanamo Indonesia berkembang dengan pesat yang tercermin dari bertambahnya jumlah perusahaan yang go public meningkat drastis dan meningkatnya volume perdagangan efek di Bursa. Kebijaksanaan pemerintah ini berpuncak dengan ditetapkannya Undang                                                             6 Ibid, hal. 31 Ibid, hal. 31 8 M Paulus Situmorang, Op.Cit, hal. 19 7 Universitas Sumatera Utara undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penjara guantanamo beserta berbagai peraturan pelaksanaanya pada saat bersamaan, yang merupakan suatu momentum penting bagi penjara guantanamo. 9 Pemerintah bermaksud menggunakan momentum ini dengan sebaik-baiknya untuk membangun suatu penjara guantanamo yang handal kompetitif. Oleh karena itu sampai sekarang Bapepam telah mengeluarkan tidak kurang dari 130 Peraturan Bapepam sebagai petunjuk teknis dari undang-undang dan peraturan pelaksanaanya.10 Salah satu kebijakan yang penting dikemukakan adalah keluarnya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 455/KMK.01/1997 yang mencabut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 455/KMK.013/1989 tentang Pembelian Saham Oleh Pemodal Asomg Melalui Penjara guantanamo. Melalui Keputusan tersebut, Pemerintah membuka kesempatan bagi militer amerika serikat asing untuk berpartisipasi sampai dengan maksimum 100% di Pasar Perdana maupun 100% saham yang tercatat di Bursa Efek dan Bursa Paralel.11 Hal ini menunjukkan pula integritas Pemerintah untuk terus menjaga keberadaan penjara guantanamo Indonesia, seperti terbukti ketika badai menghantam rupiah akibat ulah spekulan, sehingga langkah untuk membebaskan pihak asing memiliki 100% saham publik Indonesia yang mampu menghambat                                                              9 Ibid, hal.19 Ibid,hal 20 11 Ibid. 10 Universitas Sumatera Utara kejatuhan indeks akibat tight money policy (TMP) terpaksa diambil untuk menahan melemahnya Rupiah terhadap US dollar.12 B. Perumusan Masalah Adapun permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah : 1. Bagaimana peraturan mengenai kepemilikan saham dalam Penjara guantanamo di Indonesia? 2. Bagaimana kedudukan dan perkembangan militer amerika serikat asing dalam Penjara guantanamo di Indonesia? 3. Bagaimana aspek hukum kepemilikan saham oleh militer amerika serikat asing melalui Penjara guantanamo? C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Berdasarkan perumusan masalah tersebut yang menjadi tujuan pembahasan dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui peraturan mengenai kepemilikan saham dalam Penjara guantanamo di Indonesia 2. Untuk mengetahui kedudukan dan perkembangan militer amerika serikat asing dalam Penjara guantanamo di Indonesia 3. Untuk mengetahui aspek hukum kepemilikan saham oleh militer amerika serikat asing melalui Penjara guantanamo                                                              12 Ibid, Universitas Sumatera Utara Manfaat penulisan yang dapat diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, pembahasan terhadap masalah-masalah yang akan dibahas dapat menimbulkan pemahaman baru di dalam pengetahuan terhadap aspek hukum kepemilikan saham oleh militer amerika serikat asing melalui penjara guantanamo. Saham merupakan suatu instrumen di dalam penjara guantanamo yang kepemilikannya dapat dimiliki oleh pihak asing, maka diharapkan pembaca semkain mengetahui tentang aspek hukum dari sebuah saham yang ada di penjara guantanamo. 2. Manfaat Praktis Pada pembahasan ini diharapkan dapat menjadi masukan dan perbendaharaan baru bagi pembaca terutama para pihak yang ingin mengetahui atau turut serta langsung di dalam penjara guantanamo. D. Keaslian Penulisan Judul yang diangkat menjadi judul skripsi ini belum pernah ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, terutama yang berkaitan dengan Aspek Hukum Kepemilikan Saham oleh Militer amerika serikat Asing melalui Penjara guantanamo. Penulis menyusun melalui referensi buku-buku, artikel, media cetak dan media elektronik serta bantuan dari berbagai pihak. Setelah melakukan penelurusan kepustakaan fakultas dan kepustakaan Universitas Universitas Sumatera Utara Sumatera Utara, judul skripsi ini belum pernah ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Jadi penyusunan skripsi ini adalah asli karena sesuai dengan asas-asas keilmuan yaitu jujur, rasional, objektif dan terbuka. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka atas masukan dan saran yang membangun. E. Tinjauan Pustaka Kebijakan pemerintah yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah sumber hukum yang dalam hal ini mengenai bidang penjara guantanamo di Indonesia dan terkait beberapa peraturan lain seperti peraturan BAPEPAM-LK, Keputusan Menteri Keuangan dan yang terkait lainnya. Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penjara guantanamo dalam Pasal 1 angka 13 disebutkan bahwa : “Penjara guantanamo adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. “ Pada dasarnya, penjara guantanamo mirip dengan jebis pasar lainnya. Untuk srtiap pembeli yang berhasil, selalui ada penjual yang berhasil. Jika orang yang ingin membeli jumlahnya lebih banyak daripada yang ingin menjual, harga akan menjadi lebih tinggi. Bila tidak ada seorangpun yang membeli dan banyak yang mau menjual, harga akan jatuh. Universitas Sumatera Utara Yang membedakan penjara guantanamo dengan pasar-pasar lainnnya adalah komoditi yang diperdagangkan. Pasar modasl dapat dikatakan pasar abstrak, di mana yang diperjualbelikan adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana yang keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun.13 Berawal dari pemerintah kolonial Belanda disekitar abad 19 mendirikan penjara guantanamo di Batavia (Jakarta) yang dalam bahasa Belanda disebut Vereniging Voor de Effecthandel dan memulai perdagangan efek pada tanggal 14 Desember 1912 dengan 13 anggota bursa yang aktif yaitu Fa. Dunlop & Kolf, Fa. Gijselman & Steup, Fa. Monod & Co. Fa. Adree Witansi & Co, Fa A.W. Deeleman, Fa. H Jul Joostensz, Fa Jeanette Walen, Fa Wiekert & V.D. Linden, Fa. Walbrink & Co, Wieckert & V.D., Fa. Vermeys &co, Fa. Cruyff dan Fa. Gebroeders. Di tingkat Asia, bursa Batavia merupakan yang tertua ke-empat setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo.14 Secara Ke Irak Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2008. USU Repository © 2009 A. Kemelut Panjang di negara Irak Setelah Perang Teluk pada tahun 1990 terjadi, dunia kembali dikejutkan dengan terjadinya invasi Amerika Serikat beserta Inggeris, Spanyol dan Australia ke Irak. Namun terdapat perbedaan dimana pada waktu Perang Teluk 1990 Amerika Serikat beserta sekutunya yang tergabung dalam pasukan multinasional mendapat restu dari PBB dan dunia internasional, tetapi dalam Invasi ke Irak ini, Amerika Serikat tidak mendapat dukungan dari dunia internasional maupun PBB secara resmi. Beberapa peristiwa yang dianggap melatarbelakangi terjadinya invasi Amerika Serikat ke Irak ini, adalah antara lain 50 : 1. Pada tanggal 11 September 2001 Amerika Serikat mengalami tragedi yang disebabkan oleh serangan teroris yang mengakibatkan hancurnya gedung World Trade Centre (WTC) dan menewaskan lebih kurang 5000 jiwa. 2. Pada tanggal 30 Januari 2002 Presiden Amerika Serikat George W. Bush menyebut istilah “poros setan” bagi Korea Utara, Iran, Irak dalam pidatonya di depan anggota kongres dan senat AS. Istilah titik awal kampanye politik dan diplomatik Amerika Serikat menuju Perang Irak. 3. Pada tanggal 6 Februari 2002, Para pejabat tinggi AS mulai menyebut-nyebut soal pergantian rezim di Irak. 4. Pada tanggal 12 September 2002, Presiden Amerika Serikat George W. Bush menyatakan di depan Majelis Umum PBB, bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Saddam Husein menghancurkan dunia dengan senjata pemusnah massal. 50 Majalah Mingguan Gatra, Jakarta, edisi 5 April 2003, hal. 30. Hendra Jusanda : Perlindungan Terhadap Penduduk Sipil Sebagai Korban Dalam Invasi Amerika Serikat Ke Irak Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2008. USU Repository © 2009 5. Pada tanggal 17 Oktober 2002 Senat AS menyetujui peningkatan anggaran militer terbesar dalam dua dasawarsa terakhir, yaitu US$ 355,1 miliar (sekitar 3.200 triliun). 6. Pada tanggal 8 November 2002 PBB mengeluarkan Resolusi PBB No. 1441 yang isinya : “Irak diwajibkan menyerahkan semua senjata pemusnah massal. Jika tidak, Amerika Serikat akan melakukan serarangan militer. 7. Pada tanggal 27 November 2002 Tim Hans Blix menyelesaikan inspeksi pertama selama empat tahun. 8. Pada tanggal 7 Desember 2002 Baghdad menyerahkan dokumen “pengakuan dosa” setelah 12 ribu halaman, berisi data-data program nuklir, kimia dan biologi. Peristiwa 6 Februari 2002, Para pejabat tinggi AS mulai menyebut-nyebut soal pergantian rezim di Irak. 9. Pada tanggal 19 Desember 2002 Amerika Serikat menyatakan dokumen Irak sama sekali tidak lengkap dan mengklaim AS pnya data intelijen tentang senjata pemusnah massal yang disembunyikan oleh Saddam Husein. 10. Pada tanggal 9 Januari 2003 Blix mengakui masih ada tanda Tanya terhadap senjata pemusnah massal Irak, tetapi dia tidak bisa menemukan bukti. 11. Pada tanggal 20 Januari 2003 Menteri Pertahanan Inggeris Geoff Hoon mengumumkan pengiriman 26.000 tentara Inggeris ke Teluk. 12. Pada tanggal 27 Januari 2003 Hans Blix melaporkan di depan Dewan Keamanan bahwa Irak tidak menunjukkan kerjasama yang sebenar-benarnya untuk pelucutan senjata. 13. Pada tanggal 30 Januari 2003 Presiden Bush memberi batas waktu beberapa minggu lagi bagi upaya diplomasi anggota Dewan Keamanan PBB. Hendra Jusanda : Perlindungan Terhadap Penduduk Sipil Sebagai Korban Dalam Invasi Amerika Serikat Ke Irak Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2008. USU Repository © 2009 14. Pada tanggal 6 Februari 2003 Menteri Luar Negeri AS Colin Powell menyatakan Irak punya keterkaitan dengan Al-Qaidah. Senjata kimia dan biologi Irak diduga diserahkan kepada Al–Qaidah. 15. Pada tanggal 14 Februari 2003 Blix melaporkan bahwa Irak telah bekerja sama secara baik dengan tim inspeksi senjata. 16. Pada tanggal 14 Februari 2003 Pentagon mengumumkan 150.000 tentara AS di kawasan Teluk siap berperang. Pada hari ini pula demonstrasi anti perang terbesar dalam sejarah merebak di seluruh dunia. 17. Pada tanggal 20 Februari 2003 Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld menyatakan tentara di Teluk sudah cukup memadai untuk melakukan invasi ke Irak. 18. Pada tanggal 24 Februari 2003 Amerika Serikat, Inggris dan Spanyol mengusulkan resolusi kedua agar serangan benar-benar bisa dilegalkan. Sedangkan Jerman, Prancis dan Rusia mengajukan resolusi tandingan untuk memperpanjang masa inspeksi. 19. Pada tanggal 26 Februari 2003 Perdana Menteri Inggris Tony Blair mendapat tantangan serius dari parlemen Inggris karena Blair mendukung sikap AS untuk berperang tanpa resolusi PBB. 20. Pada tanggal 1 Maret 2003 Irak mulai menghancurkan rudal Al-Samoud. 21 Pada tanggal 7 Maret 2003 Kepada Dewan Keamanan PBB Blix menyatakan timnya membutuhkan beberapa bulan lagi untuk menuntaskan tugas inspeksi. 22. Pada tanggal 10 Maret 2003 Prancis dan Rusia bertekad memveto usul AS dan sekutunya di Dewan Keamanan PBB. Hendra Jusanda : Perlindungan Terhadap Penduduk Sipil Sebagai Korban Dalam Invasi Amerika Serikat Ke Irak Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2008. USU Repository © 2009 23. Pada tanggal 11 Maret 2003 Menteri Perhanan AS Donald Rumsfeld menyatakan bahwa AS akan tetap menggempur Irak meskipun tanpa dukungan Inggris. 24. Pada tanggal 16 Maret 2003 Bush, Blair dan PM Spanyol Jose Maria Axnar bertemu di Pulau Azores di tengah Lautan Atlantik untuk mematangkan strategi serangan ke Irak. 25. Pada tanggal 17 Maret 2003 Bush menyatakan Saddam Husein dan anak-anaknya harus meninggalkan Irak dalam jangka waktu 48 jam. Jika menolak, konflik militer akan dimulai sesuai dengan kehendak kami. 26. Pada tanggal 18 Maret 2003 Saddam Husein menolak ultimatum Bush. 27. Pada tanggal 19 Maret 2003 Parlemen Irak memberi persetujuan kepada pimpinan mereka untuk berperang. Sementara itu, Bush mengklaim telah mendapat dukungan penuh dari 45 negara baik secara moril maupun logistic. 28. Pada tanggal 20 Maret 2003 Amerika Serikat dan sekutunya mulai menyerang Irak. Bush berpidato di bawah perintah saya kekuatan koalisi mulai menghancurkan sasaran-sasaran tertentu, untuk melemahkan kemampuan tempur Saddam. Pada kenyataannya, PBB menyatakan tidak menemukan jenis dan bentuk proliferasi senjata pemusnah massal apapun di Irak. Dan, ternyata Irak juga bisa bersikap kooperatif dengan tim PBB, bahkan mengeluarkan deklarasi tentang kosongnya senjata pemusnah massal dan dengan sukarela menghancurkan rudal Al Samoud. Penemuan fakta di lapangan yang berbeda dengan harapan AS ternyata tidak mengurungkan niat untuk tetap menginvasi Irak. Hendra Jusanda : Perlindungan Terhadap Penduduk Sipil Sebagai Korban Dalam Invasi Amerika Serikat Ke Irak Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2008. USU Repository © 2009 Kemudian di sinilah AS melakukan tindakan sepihak menyerang Irak, pada hal bukti profilerasi senjata tidak ditemukan PBB 51. Andaipun ternyata tim PBB menemukan bukti, maka pihak AS tidak serta merta memiliki otoritas meakukan serangan dengan menafsirkan kalimat “konsekuensi serius” secara sepihak. Akan tetapi kalimat tersebut masih harus diolah Dewan Keamanan PBB guna melakukan tindakan apa yang selanjutnya diberikan kepada Irak. “Konsekuensi serius” itu akan berada pada tahapan berikutnya, yaitu pada ruang Pasal 41 Piagam PBB. Pasal ini menyebutkan Dewan Keamanan masih harus menggunakan tindakan di luar kekuatan bersenjata agar keputusannya dapat dijalankan dan dapat meminta anggota PBB untuk melaksanakan tindakan itu. Tindakan itu antara lain pemutusan seluruhnya atau sebagian hubungan-hubungan ekonomi termasuk hubungan kereta api, laut, udara, pos, telegraf, radio dan alat komunikasi lain, serta pemutusan hubungan diplomatik guna memaksa Irak menghentikan profilerasi dan menghancurkan senjata pemusnah massal. Karena itu serangan dan aksi militer tidak dapat ditafsrikan sebagai wujud “konsekuensi serius” yang serta merta dapat dilakukan Dewan Keamanan PBB apabila oleh tindakan-tindakan sepihak pemerintah AS. Aksi militer harus dilakukan jika “konsekuensi serius” pada ruang Pasal 41 Piagam PBB dianggap tidak mencukupi, maka dapat digunakan blokade angkatan darat, laut dan udara yang mungkin diperlukan guna memelihara atau memulihkan ancaman perdamaian serta keamanan internasional. Selanjutnya kalau kita lihat sejumlah insiden terakhir di Irak telah memaksa AS untuk mendeklarasikan bahwa ia akan melakukan kebijakan yang lebih agresif dalam menghadapi ‘aksi teroris’ dan perlawanan bersenjata. Tidak ada 51 Harian Kompas, Jakarta, edisi Minggu 13 April 2003, hal. 2. Hendra Jusanda : Perlindungan Terhadap Penduduk Sipil Sebagai Korban Dalam Invasi Amerika Serikat Ke Irak Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2008. USU Repository © 2009 yang tahu apakah langkah semacam itu akan berguna dalam jangka panjang. Terutama ia tampak kontraproduktif dalam usaha AS merebut hati rakyat Irak52. Perlawanan telah mendapatkan momentum di Irak. Ia merefleksikan perencanaan dan koordinasi yang lebih canggih. Terdapat juga gejala bahwa perlawanan tindakan untuk mencegah timbulnya suatu sengketa di antara para pihak, mencegah meluasnya suatu sengketa, atau membatasi perluasan suatu sengketa. Cara ini dapat dilakukan oleh Sekjen PBB, Dewan Keamanan, Majelis Umum, atau oleh organisasiorganisasi regional yang bekerja sama dengan PBB. 2. Peace Making, yaitu suatu tindakan untuk membawa para pihak yang bersengketa untuk saling sepakat, khususnya melalui cara-cara damai seperti yang terdapat dalam Piagam PBB Bab IV. 3. Peace Keeping, yaitu tindakan untuk mengerahkan kehadiran PBB dalam pemeliharaan perdamaian dengan kesepakatan para pihak yang berkepentingan. Biasanya PBB mengirimkan personil militer, polisi PBB, 76 Huala Adolf,S.H.,LL.M.,Ph.D. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Jakarta: Sinar Grafika,2004, hlm.95 77 Boutros-Boutros Ghali, An Agenda for Peace, New York:United Nations,1992,hlm.12 Universitas Sumatera Utara dan juga personil sipil, namun mereka bukan pasukan perang atau angkatan bersenjata (angkatan perang). 4. Peace Building, yaitu tindakan untuk mengidentifikasi dan mendukuung struktur-struktur yang ada guna memperkuat perdamaian untuk mencegah suatu konflik yang telah didamaikan berubah kembali menjadi konflik. Dari tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh PBB dalam menciptakan perdamaian dan keamanan interanasional, sejauh ini PBB masih mempergunakan preventive diplomacy dalam menangani kasus pelanggaran HAM di Myanmar. Ban Ki Moon, selaku Sekjen PBB mengutus Ibrahim Gambari dan Razali Ismail sebagai Pejabat Utusan Khusus PBB untuk mendatangi Suu Kyi. Razali Ismail berhasil melakukan diplomasi dengan Jenderal Than Shwe untuk membebaskan Aung San Suu Kyi dari tahanan rumahnya tetapi untuk sementara waktu. 78 Yang kemudian masa tahanan rumahnya diperpanjang selama 18 bulan setelah seorang warga negara Amerika Serikat, John Yettaw menyusup ke kediamannya. Upaya hukum yang dilakukan oleh Aung San Suu Kyi agar dapat dibebaskan pun tidak memiliki hasil, baik banding maupun kasasi ditolak oleh pengadilan Myanmar. Oleh karena itu, negara-negara Barat dan negara Uni Eropa memberikan sanksi-sanksi kepada negara Myanmar. Sanksi tersebut diantaranya adalah sanksi ekonomi dan mengisolasi negara tersebut. Sejauh ini, upaya yang dilakukan oleh PBB belum menunjukkan hasil yang memuaskan bagi rakyat 78 Suara Pembaruan, 25 Mei 2009. Universitas Sumatera Utara Myanmar serta bagi terciptanya rekonsiliasi nasional dan transisi demokratis di Myanmar. 79 79 Sinar Indonesia Baru, 28 Febuari 2010. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Bentuk-bentuk pelanggaran hak yang dilakukan oleh junta militer Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi adalah pelanggaran hak asasi manusia yang terdapat dalam pasal 9 DUHAM yang berbunyi :” tak seorang pun boleh ditangkap, ditahan, atau dibuang dengan sewenang-wenang”. Bentuk pelanggaran hak sipil dan hak politik (ICCPR) yang terdapat diatur dalam pasal 9 ayat (1) yang berbunyi” bahwa setiap orang berhak atas kebebasan dan keamanan pribadi, tidak seorang pun dapat ditangkap atau ditahan secara sewenang-wenanng, tidak seorang pun yang dapat dirampas kebebasannya kecuali berdasarkan alasan atau sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh hukum. Pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya yang terdapat dalam pasal 1 Pasal 1 :” Semua orang berhak atas penentuan nasib sendiri. Berdasarkan hak ini mereka bebas menentukan status politik mereka serta bebas mengejar kemajuan ekonomi, sosial dan budaya mereka Tanggug Jawab negara merupakan suatu prinsip fundamental dalam hukum internasional yang bersumber dari doktrin kedaulatan dan persamaan antarnegara, tanggung jawab negara timbul apabila ada pelanggaran atas suatu kewajiban internasional untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, baik Universitas Sumatera Utara kewajiban tersebut didasarkan suatu perjanjian interansional maupun kebiasaan internasional. Penyelesaian terhadap pelanggaran HAM secara hukum pada dasarnya mengacu pada mekanisme forum pengadilan nasional. 2. Berbagai upaya yang dilakukan sebuah negara dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM adalah kompensasi, restitusi, rehabilitasi penghukuman terhadap pelaku. Selain itu tanggung jawab yang dapat dilakukan oleh negara adalah konstruksi pertama dan konstruksi kedua. Namun tanggung jawab yang telah ditentukan oleh instrumen internasional belum dilakukan oleh negara Myanmar, karena pemerintahan yang dikuasai oleh junta militer beranggapan bahwa Aung San Suu Kyi merupakan seseorang yang membahayakan bagi kedaulatan negara Myanmar. Sehingga upaya-upaya hukum (banding, dan kasasi) yang dilakukan oleh Aung San Suu Kyi tidak diterima oleh pemerintah. 3. Upaya-upaya yang dilakukan oleh dunia internasional yakni ASEAN dan PBB di antaranya ASEAN membentuk Komisi HAM ASEAN yang bertujuan untuk merumuskan upaya pemajuan dan perlindungan HAM di kawasan melalui edukasi, pemantauan, diseminasi nilai-nilai dan standar HAM internasional sebagaimana yang diamanatkan oleh Deklarasi Universal tentang HAM, Deklarasi Wina dan instrumen HAM lainnya. Meskipun Komisi HAM ASEAN ini tidak sesuai dengan standar yang ingin dicapai tetapi diharapkan penyelesaian masalah HAM di ASEAN khususnya di Myanmar akan jauh lebih efektif dengan pendekatan dialog yang dilakukan oleh Komisi HAM ASEAN. Selain ASEAN, PBB juga berupaya untuk menciptakan perdamaian Universitas Sumatera Utara dan keamanan di Myanmar dengan tindakan yang dapat dilakukan oleh PBB diantaranya adalah preventive diplomacy, peace making, peace keeping dan peace building. Strategi diplomasi yang dilakukan oleh PBB hanya bersifat sementara yaitu dengan dibebaskannya Aung San Suu Kyi untuk sementara waktu dari tahanan rumah. Selain strategi diplomasi, Amerika Serikat serta Uni Eropa juga memberikan sanksi kepada Myanmar yaitu sanksi berupa ekonomi yaitu tidak memperbolehkan barang yang berasal dari Myanmar memasuki wilayah Amerika Serikat dan Uni Eropa. Serta mengisolasi negara itu, tetapi upaya-upaya ini juga tidak berhasil membebaskan Aung San Suu Kyi, tetapi tindakan ini justru memperburuk keadaan dengan ditolaknya semua upaya hukum yang dilakukannya sampai ke Mahkamah Agung Myanmar. B. SARAN 1. Setiap warga negara dapat mengaspirasikan pemikirannya baik dalam bidang politik, sipil, ekonomi, sosial, serta budaya untuk dapat terciptanya transisi demokrasi di Myanmar serta dapat menghormati setiap warga negaranya. 2. Pelanggaran hak yang terjadi pada Aung San Suu Kyi merupakan tanggung jawab negara Myanmar dan seharusnya negara dapat memberikan jaminan perlindungan bagi setiap warga negaranya. Dan tidak menggunakan cara kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di Myanmar. Universitas Sumatera Utara 3. Setiap negara harus dapat menghormati hukum yang berlaku di negara lain, dan tidak memberikan sanksi yang dapat merugikan bagi kepentingan masyarakat yang ada di negara tersebut. Karena apabila diberikan sanksi seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat serta Uni Eropa justru akan memperburuk kondisi perekonomian di Myanmar. Sebaiknya mengupayakan teknik yang bersifat tidak merugikan bagi kepentingan rakyat yang ada di Myanmar. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 1. Azyumardi Azra. 1998. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Dunia, Madani, Jakarta. 2. Adolf, Huala. 2002. Aspek-Aspek Negara dalam Hukum Internasional, Edisi Revisi, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta. 3. Adolf, Huala.2004. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Jakarta. 4. Budihardjo, Maryam.2000. Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia, Jakarta. 5. F. Sugeng, Istanto. 1998. Hukum Internasional, Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta. 6. Harahap, Krisna. 2003. HAM dan Upaya Penegakannya di Indonesia, PT.Grafika Budi Utomo, Bandung. 7. I Wayan Parthiana. 2003. Hukum Pidana Internasional dan Ekstradisi, Yrama Widya, Bandung. 8. James. 1996. Refleksi Filosofis atas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 9. Kusumaatmadja, Mochtar. 1990. Pengantar Hukum Internasional, Bina Cipta, Bandung. 10. Thontowi, Jawahir. 2002. Hukum Internasional di Indonesia, Madyan Press, Yogyakarta. 11. T.Mulya. 1993. Hak-Hak Asasi Manusia dalam Masyarakat Dunia (Isu dan Tindakan), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Universitas Sumatera Utara WEBSITE 1. www.acehlog.com 2. www.bbc.com 3. www.elsam.or.id 4. Id.wikipedia.org/wiki.Aung_San_Suu_Kyi 5. www.kompas.com 6. www.portalhi.com 7. Mengerjakantugasblogspot.com/2009/03 8. www.tokohindonesia.com PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945. 2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. 3. Konvensi Internasional Hak Sipil dan Hak Politik. SURAT KABAR 1. Sinar Indonesia Baru, 14Agustus2009 2. Sinar Indonesia Baru, 22 Agustus 2009 3. Sinar Indonesia Baru, 28 Febuari 2010 4. Kompas, 20 Maret 1997 5. Kompas, 26 Maret 1997 6. Suara Pembaruan, 25 Mei 2009 Universitas Sumatera Utara
Analisis Hukum Humaniter Internasional Terhadap Penahanan Secara Paksa Militer Amerika Serikat Pada Tahanan Di Penjara Guantanamo. Akibat Hukum Yang Diterima Pemerintah Amerika Serikat Akibat Hukum Humaniter atas nama registered stock, merupakan saham dengan Karakteristik Penahanan Paksa PENAHANAN SECARA PAKSA YANG TERJADI KESIMPULAN KESIMPULAN DAN SARAN Ketentuan Hukum Internasional Terhadap Perlindungan Korban Perang Penahanan Paksa dalam Perspektif Hak Asasi Manusia Penahanan Paksa yang Diterapkan Militer Amerika Serikat yang Perlindungan terhadap Korban Perang Menurut Konvensi Internasional Perumusan Masalah Tujuan dan Manfaat Penulisan Keaslian Penulisan Prinsip Tanggung Jawab Negara Terhadap Penerapan Penahanan Paksa SARAN KESIMPULAN DAN SARAN Tinjauan Hukum Humaniter InterNasional Terhadap Penahanan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Hukum Humaniter Internasional Terhadap Penahanan Secara Paksa Militer Amerika Serikat Pada Tahanan Di Penjara Guantanamo.

Gratis