Feedback

Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru.

Informasi dokumen
PERBANDINGAN KETEPATAN ANTARA PEMERIKSAAN SITOLOGI  SPUTUM INDUKSI  NaCl 3%  DENGAN SITOLOGI SPUTUM POST‐ BRONKOSKOPI  SECARA FIKSASI SACCOMANNO  DALAM  MEMBANTU PENEGAKAN DIAGNOSIS KANKER PARU    TESIS  Diajukan untuk Melengkapi Syarat Pendidikan Spesialisasi di Departemen Pulmonologi  dan Ilmu Kedokteran Respirasi  Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP Haji Adam Malik Medan            IRENA  LOLU  PUTRIYA  SINAGA                              PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS  DEPARTEMEN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI  FAKULTAS KEDOKTERAN USU/RS. HAJI ADAM MALIK  MEDAN  2011  Universitas Sumatera Utara LEMBARAN PERSETUJUAN Judul Penelitian : Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Nama : Irena Lolu Putriya Sinaga Program Studi : Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RS. Haji Adam Malik Medan Menyetujui, Pembimbing I Dr. Pantas Hasibuan, SpP (K) NIP. 19581202 199103 1 001 Pembimbing II Pembimbing III Pembimbing IV Dr. Noni N.Soeroso, SpP Dr.Sumondang Pardede, Sp.PA Dr. Arlinda S.Wahyuni,M.Kes NIP.19781120200501 2002 NIP.19550329 198303 2 002 NIP.19690609 199903 2 001 Koordinator Penelitian Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Ketua Program Studi Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Ketua Departemen Pulmonologi &Ilmu Kedokteran Respirasi Prof. Dr.Tamsil S, SpP (K) Dr. Amira P.Tarigan, SpP Prof.Dr.H.Luhur Soeroso,SpP(K) NIP.19521101198003 1 001 NIP. 196911071999032 002 NIP. 19440715 197402 1 001 Universitas Sumatera Utara TESIS PPDS DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA/ RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN __________________________________________________________________ Judul Penelitian : PERBANDINGAN KETEPATAN ANTARA PEMERIKSAAN SITOLOGI SPUTUM INDUKSI NaCl 3% DENGAN SITOLOGI SPUTUM POSTBRONKOSKOPI SECARA FIKSASI SACCOMANNO DALAM MEMBANTU PENEGAKAN DIAGNOSIS KANKER Nama Peneliti PARU : Irena Lolu Putriya Sinaga NIP Fakultas : Kedokteran Universitas Sumatera Utara Program Studi : Pendidikan Dokter Spesialis : - Pangkat/Golongan : - Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Jangka Waktu : 5 Bulan (lima bulan) Lokasi Penelitian : RSUP Haji Adam Malik Medan Pembimbing : 1. Dr. Pantas Hasibuan, Sp.P (K) 2. Dr. Noni N. Soeroso, Sp.P 3. Dr. Sumondang Pardede, Sp.PA 4. Dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN i LEMBAR TESIS . ii PERNYATAAN . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . ix DAFTAR SINGKATAN . xii DAFTAR TABEL . . xiii DAFTAR GAMBAR . xiv BAB 1 PENDAHULUAN . 1 1.1. Latar Belakang . 1 1.2. Perumusan Masalah . 6 1.3. Hipotesis . 7 1.4. Tujuan Penelitian . 7 1.4.1. Tujuan Umum 7 1.4.2. Tujuan Khusus 7 Manfaat Penelitian . 8 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA . 9 2.1. Definisi Kanker Paru . 9 2.2. Epidemiologi Kanker Paru . 9 2.3. Faktor Risiko dan Etiologi Kanker Paru . 10 2.4. Diagnosis Kanker Paru 11 2.4.1. Manifestasi Klinis . 11 2.4.2. Pemeriksaan Fisik . 16 2.4.3. Pemeriksaan Radiologi . 16 2.4.3.1. Foto Toraks . 16 2.4.3.2. CT scan Toraks 18 2.4.3.3. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Scan . 18 1.5. Universitas Sumatera Utara 2.4.3.4. PET (Positron Emission Tomography) Scan 2.4.4. Sitologi Sputum . 18  2.4.5. Bronkoskopi 19  2.5. Klasifikasi Kanker Paru . 31  2.6. Sitologi Kanker Paru . 39  2.6.1. Karsinoma Sel Skuamosa 2.6.2. Adenokarsinoma . 2.6.3. Karsinoma Sel Besar . 2.6.4. Karsinoma Sel Kecil . 41  41  42  44  46  BAB 3 BAHAN DAN METODA . 3.1. Rancangan Penelitian . 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian . 3.3. Subjek Penelitian . 3.3.1. Populasi . 3.3.2. Sampel . 3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1. Kriteria Inklusi . 3.4.2. Kriteria Eksklusi . 3.5. Teknik Pengambilan Sampel   48  48  48  48  48  49  49  49  49  50  3.6. Jumlah Sampel . 50  3.7. Kerangka Konsep . 52  3.8. Definisi Operasional . 53  3.9. Kerangka Operasional 57  3.10. Cara Kerja . 58  3.11. Pengukuran dan Analisis Data 59  3.12. Jadwal Penelitian 61  3.13. Biaya Penelitian . 62    BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN . 63  4.1. Hasil Penelitian . 63  Universitas Sumatera Utara 4.2. Pembahasan . 70    BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 77  5.1. Kesimpulan . 77  5.2. Saran 78    DAFTAR PUSTAKA . 79    LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN ACTH : Adrenocorticotrophic hormone ADH : Anti Diuretic Hormone BAL : Broncho Alveolar Lavage BSOL : Bronkoskopi Serat Optik Lentur CT Scan : Computerized Tomographic Scans FNAB : Fine Needle Aspirasion Biopsy FOB : Fiber Optic Bronchoscopy HPOA : Hypertrophic Pulmonary Osteo-Arthropathy IASLC : International Association for The Study of Lung Cancer IDT : Instalasi Diagnostik Terpadu KGB : Kelenjar Getah Bening KPKBSK : Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil KPKSK : Kanker Paru Karsinoma Sel Kecil MRI : Magnetic Resonance Imaging Scans NSCLC : Non Small Cell Lung Carcinoma OAT : Obat Anti Tuberkulosis PA : Postero Anterior PET : Positron Emission Tomography Scans SCLC : Small Cell Lung Carcinoma TBNA : Trans Bronchial Needle Aspiration TNM : Tumor-Nodus-Metastasis WHO : World Health Organization Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel 1. Sindroma Paraneoplastik . 14 Tabel 2. Gambaran Foto Toraks Berdasarkan Tipe Histologi Kanker Paru . Tabel 3. Karakteristik pasien berdasarkan umur dan jenis kelamin 17 64 Tabel 4. Distribusi kasus sesuai letak tumor dan pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3%. 65 Tabel 5. Distribusi kasus berdasarkan letak tumor dan pemeriksaan sitologi sputum post bronkoskopi . 66 Tabel 6. Distribusi kasus berdasarkan letak tumor dan pemeriksaan sitologi BAL dan/atau brushing . 67 Tabel 7. Tabel 2 x 2 yang menunjukkan hasil sitologi sputum induksi NaCl 3% dan sitologi BAL dan/atau brushing . Tabel 8. Tabel 2 x 2 yang menunjukkan hasil sitologi sputum post bronkoskopi dan/atau brushing . 68   69      Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Sitologi Sputum 26 Gambar 2. Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) . 32 Gambar 3. Percabangan Bronkus yang Dapat Dilihat Bronkoskopi padaPosisi Pasien Telentang (Supine) 36 Gambar 4. Perubahan Inflamasi pada Bronkitis Kronis . . 37 Gambar 5. Sitologi Karsinoma Sel Skuamosa . . 42 Gambar 6. Sitologi Adenokarsinoma .44 Gambar 7. Sitologi Karsinoma Sel Besar (pewarnaan Papanicolaou) .46 Gambar 8. Kelompok sel dengan sitoplasma yang sedikit, nuclear molding, dan kromatin bergranular halus, nukleolus tidak ada, formasi rosette yang baru jadi .47         Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji syukur dan terima kasih saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab berkat rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul “Perbandingan Ketepatan Antara Pemeriksaan Sitologi Sputum Induksi NaCl 3% Dengan Sitologi Sputum Post Bronkoskopi Secara Fiksasi Saccomanno Dalam Membantu Penegakan Diagnosis Kanker Paru” yang merupakan persyaratan akhir pendidikan spesialisasi di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Universitas Sumatera Utara/RSUP Haji Adam Malik Medan. Adapun keberhasilan saya dalam menyelesaikan penelitian ini tidaklah terlepas dari bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik semua supervisor saya, teman sejawat asisten Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU, tenaga paramedis dan non medis serta dorongan dari pihak keluarga. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Prof. Dr. H. Luhur Soeroso, SpP (K) sebagai Ketua Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan, yang dengan penuh kesabaran dan tiada henti-hentinya memberikan bimbingan ilmu pengetahuan, senantiasa menanamkan disiplin, ketelitian, dan perilaku yang baik serta pola berpikir dan bertindak ilmiah, yang sangat berguna bagi saya untuk masa yang akan datang. Begitu juga karena telah membantu saya dalam melakukan pemeriksaan bronkoskopi terhadap pasien-pasien tumor paru yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Dr. Pantas Hasibuan, SpP (K) sebagai Sekretaris Bagian Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan dan Pembimbing I penulis, yang penuh kesabaran dan kebaikan memberikan bimbingan dan masukan selama saya menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis ini dan mengerjakan penelitian ini sampai selesai. Dr. H. Zainuddin Amir, SpP (K) sebagai Ketua TKP PPDS FK USU dan sebagai supervisor saya, yang selama ini tidak jemu-jemunya menanamkan Universitas Sumatera Utara disiplin, ketelitian, pola berpikir, dan wawasan ilmiah, serta bimbingan kepada saya, yang sangat berguna untuk menyempurnakan tugas penelitian ini. Prof. Dr. Tamsil Syafiuddin, SpP (K) sebagai Koordinator Penelitian Ilmiah di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU dan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia cabang Sumatera Utara yang telah banyak memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan, dan masukan dalam rangka penyusunan dan penyempurnaan penelitian ini. Dr. Amira Permatasari Tarigan, SpP sebagai Ketua Program Studi Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan, yang telah memberikan dukungan moral, semangat, motivasi, bimbingan, dan masukan kepada saya selama menjalani pendidikan spesialisasi dan menyelesaikan penelitian ini sampai selesai. Dr. Noni Novisari Soeroso, SpP sebagai Sekretaris Program Studi Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi dan Pembimbing II saya, yang telah membimbing, menolong, memberikan masukan, motivasi, didikan, dan bantuan kepada saya untuk mengerjakan penelitian ini dari awal sampai akhir, termasuk dalam pengerjaan tindakan bronkoskopi terhadap pasienpasien tumor paru yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada supervisor saya Dr. Hilaluddin Sembiring, SpP (K), DTM&H, Prof. Dr. R.S. Parhusip, SpP (K), (alm) Dr. Sumarli, SpP (K), (alm) Dr. Sugito, SpP (K), dan Dr. Usman, SpP, yang telah banyak memberikan bimbingan, nasihat, ilmu pengetahuan dan pengalaman klinis beliau selama mengabdi pada Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU yang sangat berguna bagi saya selama menjalani pendidikan spesialisasi ini. Penghargaan dan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Dr. Widirahardjo, SpP (K), Dr.PS. Pandia, SpP (K), Dr. Fajrinur Syarani, SpP (K), Dr. Parluhutan Siagian, SpP, Dr. Bintang YM. Sinaga, SpP, Dr. Setia Putra Tarigan, SpP, Dr. Ucok Martin, SpP, dan Dr. Netty Y. Damanik, SpP, yang juga telah memberikan bantuan, bimbingan, Universitas Sumatera Utara masukan, dan pengarahan selama saya menjalani pendidikan dan mengerjakan penelitian ini sampai selesai. Dr. Sumondang Pardede, SpPA sebagai Kepala Instalasi Bagian/SMF Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik Medan dan pembimbing tesis saya dari bagian Patologi Anatomi, yang dengan sabar telah memberikan bimbingan, bantuan, masukan, motivasi, dan pengertian di bidang sitologi sputum, serta membantu penyelesaian hasil penelitian ini sampai akhirnya penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes sebagai pembimbing statistik saya, yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan, serta pengetahuan di bidang statistika kepada saya dalam menyelesaikan dan mengolah hasil yang didapat dalam penelitian ini. Izinkanlah saya mengucapkan rasa terima kasih kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Direktur RSUP H. Adam Malik Medan, yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan kepada saya selama menjalani pendidikan spesialisasi ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para teman sejawat saya residen paru yang terkasih di Program Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan, pegawai tata usaha, perawat/petugas poliklinik, ruang IDT/bronkoskopi, ruang rawat inap Rindu A3 Paru, analis dan pegawai di Instalasi Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik Medan, perawat RS. Tentara Kesdam I/BB Tk. II dan RS. Tembakau Deli Medan, yang telah bekerjasama dan membantu saya dalam menyelesaikan penelitian ini. Dengan rasa hormat, kasih saying, dan ucapan terima kasih yang tiak terbalas saya sampaikan kepada kedua orang tua saya tercinta yaitu ayahanda Kol (Purn). Dr. Jarudi Sinaga, SpP dan ibunda Selli Deliana Herawati Purba, yang dengan sabar membesarkan, mendidik, memotivasi, mendukung, dan setia mendoakan saya selama saya menjalani masa pendidikan spesisalisasi ini sampai sekarang. Demikian juga kepada mertua saya (alm) Drs. B.T. Manurung dan ibu mertua saya K.R. Sitorus, yang telah setia berdoa dan memberikan motivasi, Universitas Sumatera Utara dukungan, semangat, bantuan kepada saya selama saya menjalani pendidikan spesialisasi ini. Demikian juga dengan rasa hormat, cinta kasih, dan terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada suami saya yang tercinta, dr. Edward Sugito Manurung, karena telah setia menemani, membantu, mendorong, dan mendoakan saya selama saya menjalani pendidikan ini sampai akhirnya menyelesaikan tugas penelitian ini. Begitu juga saya ucapkan rasa terima kasih yang tidak terbalas kepada saudara kandung saya yaitu abang saya Jove Meldi Priyatama, S.T., M.Sc., dan ketiga adik-adik saya Irani Ruth Julita Sinaga, S.T., Penta Josua Putra Sinaga, S.T., dan Anggian Heksa Efraim, S.Psi., yang juga telah memberikan dorongan dan semangat, doa, dan bantuannya kepada saya selama ini sampai akhirnya dapat menyelesaikan tugas pendidikan ini dengan maksimal. Akhirnya pada kesempatan ini perkenankanlah saya untuk menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan, kekhilafan, dan kesalahan yang saya perbuat selama ini. Semoga ilmu, keterampilan dan pembinaan kepribadian yang saya dapatkan selama ini dapat bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa dan mendapat restu dari Tuhan Yang Maha Esa. Medan, September 2011 Penulis (Irena Lolu Putriya Sinaga) Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN PERBANDINGAN KETEPATAN ANTARA PEMERIKSAAN SITOLOGI SPUTUM INDUKSI NaCl 3% DENGAN SITOLOGI SPUTUM POST BRONKOSKOPI SECARA FIKSASI SACCOMANNO DALAM MEMBANTU PENEGAKAN DIAGNOSIS KANKER PARU TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Medan, September 2011 Peneliti Irena Lolu Putriya Sinaga Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada : Tanggal 15 September 2011 Panitia Penguji Tesis Ketua : Dr. Amira Permatasari Tarigan, Sp.P Sekretaris : Dr. Noni Novisari Soeroso, Sp.P Anggota Penguji :- Prof. Dr. Luhur Soeroso, Sp.P (K) - Prof. Dr. Tamsil Syafiuddin, Sp.P (K) - Dr. Hilaluddin Sembiring, DTM & H, Sp.P (K) - Dr. H. Zainuddin Amir, Sp.P (K) - Dr. Pandiaman Pandia, Sp.P (K) - Dr. Bintang YM. Sinaga, Sp.P Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tujuan : Membandingkan ketepatan pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Metode : Studi analitik, yang dilakukan secara observasional, dengan pendekatan cross-sectional yang bersifat uji diagnostik. Hasil : Penderita rawat inap yang dicurigai menderita kanker paru dalam penelitian ini adalah sebanyak 55 orang dengan proporsi pasien laki-laki sebesar 80.0% dan perempuan sebesar 20.0%. Kasus paling banyak ditemukan pada pasien dengan kelompok umur 41-60 tahun yaitu sebesar 60.0%, baik laki-laki maupun perempuan, dengan umur yang paling tua adalah 81 tahun dan yang paling muda adalah 38 tahun. Secara radiologi kasus tumor letak sentral adalah sebesar 61.8% dan tumor letak perifer sebesar 38.2%. Jumlah kasus yang menunjukkan hasil sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan fiksasi Saccomanno sebesar 47.3%, dimana tumor letak sentral sebesar 36.4% dan tumor letak perifer sebesar 10.9% dengan jenis karsinoma sel skuamosa paling banyak (36.4%) dan karsinoma sel kecil (10.9%). Sedangkan proporsi yang didapat dilakukan fiksasi dengan menggunakan formalin 10 % dan untuk tumor yang besar dilakukan lamelarisasi supaya cairan fiksasi dapat masuk kedalam jaringan tumor yang selanjutnya dilakukan pemeriksaan histologi dan sitologi. 7. Biopsi lesi perifer Tindakan ini dilakukan dibawah anestesi umum dengan menggunakan instrument fibrescope yang halus. Universitas Sumatera Utara 2.6.5. Pemeriksaan Biopsi Transtorakal Biopsi transtorakal adalah suatu cara untuk memperoleh specimen jaringan parubuntuk bahan diagnostik melalui dinding toraks. Tehnik ini pertama kali diperkenalkan oleh Menetrier pada tahun1886, kemudian pada tahun 1930 di Amerika Serikat diperkenalkan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) transtorakal. Transtorakal biopsi dengan tuntunan radiologi telah dilakukan sejak tahun 1966 oleh Dalgren dan Nordensrom di Amerika Serikat.15 Penderita dengan lesi paru yang terlokalisir dan tidak dapat didiagnosis dengan sitologi sputum dan bronkoskopi, dapat dilakukan FNAB bila tidak ada kontra indikasi. FNAB ini dapat dilakukan dengan menggunakan: Jarum Vim-Silverman, Abram. Dengan jarum ini didapatkan potongan jaringan. Jarum besar ukuran 18-20. Dengan jarum ini didapatkan sedikit jaringan dan bahan aspirasi untuk pemeriksaan histologi dan sitologi. Jarum kecil ukuran 23-24, jarum spinal, Norden-Strom. Dengan jarum ini didapatkan aspirasi bercampur cairan atau darah, oleh karena itu pemeriksaan yang dapat dilakukan hanya secara sitologi. 15 Indikasi dari pemeriksaan biopsi transtorakal antara lain: Penderita dengan dugaan kanker paru yang tidak mungkin di operasi, dimana pada pemeriksaan sitologi sputum negatif Massa paru soliter dimana pemeriksaan sitologi sputum dan bronkoskopi negatif Massa paru soliter tetapi penderita menolak operasi Massa paru soliter dengan metastasis ekstra pulmoner Massa paru soliter dengan tumor primer diluar paru Gambaran coin lesion di paru Pancoast tumor 15 Universitas Sumatera Utara Kontra indikasi untuk dilakukan biopsi transtorakal antara lain: Lesi vaskuler yang dapat menimbulkan perdarahan Hipertensi pulmonal yang dapat meningkatkan risiko perdarahan sesudah biopsi Penderita dengan kelainan darah Penderita dengan penyakit paru obstruktif atau restriktif berat dimana FEV1 < 1L Keadaan umum sangat lemah Penderita yang tidak kooperatif Pneumektomi pada sisi kontra lateral Pneumotoraks Penderita yang mendapat pengobatan anti koagulantia Dekompensasi kordis 15 Akurasi biopsi transtorakal tanpa tuntunan radiologi sekitar 65-80%, sedangkan dengan tuntunan radiologi sekitar 80-94%. Akurasi biopsi transtorakal dengan jarum ukuran 17-20 dengan tuntunan radiologi sekitar 80%. 15 2.7. Sitologi Kanker Paru Small cell lung carcinoma (SCLC) SCLC merupakan kanker paru yang memiliki agresivitas yang tinggi, cepat tumbuh, dan dapat mengalami metastasis yang luas namun jarang ditemui. SCLC dibagi dalam dua subtipe, yaitu classic oat cell carcinoma dan intermediate cell type of SCLC. Kedua subtipe ini tidak berbeda secara klinis, oleh karena itu World Health Organization (WHO) mengelompokkannya ke dalam satu tipe SCLC. 3,5 Sampel yang adekuat akan menunjukkan banyak kandungan sel dengan bermacam bentuk sel kanker. Ukuran sel bervariasi, namun pada umumnya berukuran kecil dengan sitoplasma sedikit. Gambaran “molding” dari inti yang berdekatan merupakan gambaran yang Universitas Sumatera Utara sangat sering ditemukan. Dua gambaran inti yang dapat ditemui adalah hiperkromatik atau piknotik dengan inti yang vesikuler dan kadang dapat granular dan anak inti yang relatif besar. 3,5 Gambar 9. Small cell lung carcinoma. Tampak kelompokan sel dengan sitoplasma sedikit dan nuclear molding dengan fine granular chromatin. 5 Adenokarsinoma Adenokarcinoma paru sudah diketahui berhubungan dengan kebiasaan merokok dan dijumpai adanya peningkatan insiden pada laki-laki maupun perempuan perokok. Ada dua bentuk yang dibedakan berdasarkan gambaran histologi dan klinis yaitu: adenokarsinoma yang berasal dari daerah sentral parenkim paru (central bronchial origin) dan peripheral bronchoalveolar atau terminal bronchoalveolar carcinomas. 5 Sediaan yang diambil dengan cara bronchial brushing biasanya mengandung sedikit sel-sel tumor. Pada sediaan yang adekuat dapat banyak dijumpai sel-sel dengan kelompokan papiler atau lembaran sel-sel bentuk bulat atau poligonal. Beberapa sel dapat mirip dengan sel-sel normal, namun memiliki ukuran inti yang besar, nuclear/cytoplasmic ratio (N/C ratio) yang meningkat, anak inti yang menonjol kadang dapat multiple dan yang lebih penting adalah tidak dijumpainya silia. 3,5 Universitas Sumatera Utara Gambar 10. Sitologi adenokarsinoma paru. Tampak kelompokan sel dengan sitoplasma sedikit dan pucat, inti relatif besar, tekstur inti masih baik dan anak inti menonjol. 5 Karsinoma sel sekuamosa (SCC) Sel-sel kanker SCC dapat sangat bervariasi baik bentuk maupun ukurannya, tetapi yang khas pada SCC adalah latar belakang apusan berupa sel-sel radang dan massa nekrosis. Sel-sel bentuk spindel dan tadpole merupakan bentuk sel yang umum dijumpai yang juga merupakan tanda khas pada SCC. Sitoplasma yang mengandung keratin akan berwarna orange atau kuning dengan pewarnaan Papanicolaou. Kadang dapat dijumpai sel-sel abnormal tanpa inti sel yang disebut ghost cells. 3,5 Gambar 11. Karsinoma sel sekuamosa dalam sediaan sitologi. Tampak sel-sel ganas bentuk dan ukuran inti bervariasi, hiperkromatin, sitoplasma eosinofilik dengan latar belakang sel-sel radang. 5 Meskipun inti yang hiperkromatin merupakan tanda khas pada sel-sel ganas tetapi tidak dapat digunakan sepenuhnya untuk SCC. Inti sel kanker relatif pucat terutama pada tipe keratinizing atau sel-sel nekrotik oleh karena karyolisis (ghost cells). Umum dijumpai inti sel yang mengalami aberasi dengan bentuk anguler atau ireguler dengan ukuran yang bervariasi, beberapa dalam berbentuk bizarre. Mitosis inti sangat jarang dijumpai pada keratinizing Universitas Sumatera Utara SCC. Meskipun bukan merupakan kriteria diagnostik untuk SCC, namun apabila dijumpai harus berhati-hati karena merupakan tanda dari neoplasma ganas. 3,5 Pada kasus dimana tidak dijumpai keratinisasi atau piknosis inti, kondisi seperti ini disebut sebagai poorly differentiated squoamous (epidermoid) carcinoma. Inti biasanya hiperkromatin dengan tekstur inti kasar dan ireguler. Sel-sel tumor yang berasal dari sputum biasanya lebih sedikit dengan sitoplasma yang jernih sedangkan yang berasal dari sikatan bronkus sitoplasma dapat amfofilik atau kadang-kadang basofilik. 3,5 Gambar 12. Poorly differentiated (non-keratinizing) SCC. Tampak inti hiperkromatin, dengan tekstur kasar dan ireguler. Sitoplasama amfofilik. 5 Large-Cell (Undifferentiated) Carcinoma Kanker ini didefinisikan sebagai tumor yang tidak memiliki differensial skuamosa atau glandular, meskipun pada beberapa tempat memiliki gambaran kanker skuamosa atau adenokarsinoma. Kanker ini merupakan turunan dari sel-sel basal epitel yang dapat berkembang menjadi kanker skuamosa atau adenokarsinoma. Saat ini tipe kanker ini digolongkan kedalam NSCLC karena memiliki penanganan dan prognosis yang sama dengan seluruh tipe NSCLC. 5 Sel-sel tumor walaupun biasanya tunggal, tetapi dapat berupa kelompokkan yang cenderung memiliki kohesi yang jelek dengan ukuran sel bervariasi. Kebanyakan sel ukurannya hampir sama dengan sel skuamosa dan adenokarsinoma, sitoplasma sedikit dan biasanya pucat dapat basofilik ataupun eosinofilik (amfofilik). Pada kasus yang jarang dapat Universitas Sumatera Utara dijumpai inklusi intrasitoplasmik. Inti sel besar dengan kontur ireguler dengan gambaran sharply di sekitar inti. Salah satu yang khas adalah inti dengan kromatin yang kasar atau hiperkromatin, kadang dapat pula dijumpai kromatin inti yang normal dengan satu atau dua anak inti yang menonjol. 3,5 Gambar 13. Undifferentiated large-cell (non-small cell) carcinoma. Tampak lembaran sel kanker dengan sitoplasma eosinofilik pucat dan banyak, inti hiperkromatin dengan tekstur kasar. 5 Adenosquamous (Mucoepidermoid) Carcinoma Penamaan adenosquamous carcinoma digunakan untuk menjelaskan bronchogenic carcinoma yang memiliki kombinasi gambaran epidermoid carcinoma (poorly differentiated squamous carcinoma) dan adenokarsinoma. Banyak ditemukan sel-sel yang memproduksi musin yang dapat dilihat dengan pewarnaan khusus dan beberapa mengandung komponen sel-sel undifferentiated large cell maupun SCC. Variasi gambaran sitologi sangat tergantung dari gambaran histopatologinya. 5 Gambaran sel-sel kanker didominasi oleh sel-sel adenokarsinoma yang menghasilkan musin. Dapat pula ditemukan sedikit sel-sel yang menghasilkan keratin. 5 Gambar 14. Mucoepidermoid carcinoma paru pada wanita umur 61 tahun. Tampak sel-sel kanker yang menghasilkan musin. 5 Universitas Sumatera Utara 2.8. Penatalaksanaan Kanker Paru Penatalaksanaan kanker paru dilakukan berdasarkan jenis histologis kanker, stadium mempunyai keakuratan yang tinggi dalam menegakkan diagnosis kanker ovarium. Akurasi 98,6% dengan sensitivitas 93,3%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100% dan nilai prediksi negatif 98,3%. 2. Pada penelitian ini didapatkan bahwa sitologi imprint intraoperasi mempunyai keakuratan yang tinggi dalam menegakkan diagnosis kanker ovarium. Akurasi 97,9% dengan sensitivitas 93,8%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100% dan nilai prediksi negatif 97,1%. 3. Diagnosis preoperasi dengan pemeriksaan ultrasongrafi mempunyai keakuratan yang lebih rendah dalam mendiagnosa kanker ovarium. Akurasi gambaran asites 79,5%, gambaran septa 63,9%, gambaran papil 69,9%. 4. Walaupun potong beku dan sitologi imprint intraoperasi mempunyai keterbatasan, akan tetapi potong beku dan sitologi imprint tetap mempunyai keakuratan yang tinggi dan sangat berguna dalam menuntun tindakan pembedahan pada tumor ovarium. 5.2. SARAN 1. Potong beku dan sitologi imprint intraoperasi sangat penting dan perlu dipakai dalam memberikan diagnosis tumor ovarium sehingga dapat dihindari Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008 tindakan operasi yang tidak adekuat (undertreatment) atau yang berlebihan (overtreatment). 2. Ahli patologi dan ahli bedah harus waspada terhadap keterbatasan prosedur ini, dan dibutuhkan komunikasi yang baik diantara keduanya untuk memberikan hasil konsultasi diagnosis tumor ovarium intraoperasi yang lebih akurat. 3. Sitologi imprint dapat digunakan untuk konsultasi patologi intraoperasi menggantikan pemeriksaan potong beku pada Rumah sakit yang belum memiliki fasilitas pemeriksaan potong beku. Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008 DAFTAR PUSTAKA 1. Maheshwari A, Gupta S, Kane S, Kulkarni Y, Goyal BK, Tongaonkar Hemant. Accuracy of Intraoperative Frozen Section in the Diagnosis of Ovarian Neoplasm: Experience at A Tertiary Oncology Center. World Journal of Surgical Oncology, 2006. Vol 4:12 2. Busmar Boy. Kanker Ovarium. Dalam: Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta, 2006:468533 3. Attanucci Cara, Harrison G, Zweizig Susan L, Chen Annette H. Diferences in Symptoms Between Patients with Benign and Malignant Ovarian Neoplasms. Am J Obstet Gynecol 2004;190,1435-7 4. Ozols Robert F, Rubin Stephen C, Thomas Gilian M, Robboy Stanley J. Epithelial Ovarian Cancer. In: Principles and Practice of Gynecologic Oncology, 4th ed. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, 2005 5. Siregar Budiningsih. Permeriksaan Histopatologi dalam Penanganan Kanker Ginekologi. Dalam: Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2006:253-273 6. Wootipoom Virach, Dechsukhum C, Hanprasertpong J, Lim Apiradee. Accuracy of Intraoperative Frozen Section in Diagnosis of Ovarian Tumors. J Med Assoc Thai 2006; 89 (5): 577-82 7. Ilvan S, Ramazanoglu R, Akyildiz E, Calay Z, Bese T, Oruc N. The Accuracy of Frozen Section (Intraoperative Consultation) in the Diagnosis of Ovarian Masses. Gynecol. Oncol. 2005; 97(2): 395-9 Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008 8. Nagai Y, Tanaka N. et al. Diagnostic Accuracy of Intraoperative Imprint Cytology in Ovarian Epithelial Tumors. International Journal of Gynecology & Obstetrics 72 (2001) 159-164 9. Dworak O. Methods of Frozen Section. available at http://www.pathologiefuerth.de/ 10. Brun Jean-Luc, Cortez Annie, Roman Rouzier, Callard Patrice et al. Factors Influencing the Use and Accuracy of Frozen Section Diagnosis of Epithelial Ovarian Tumors. Am J Obstet Gynecol 2008;199:244.e1-244.e7 11. Houck Karen, Nikrui Najmosma et.al. Borderline Tumors of the Ovary: Correlation of Frozen and Permanent Histopathologic Diagnosis. Obstetrics & Gynecology 2000;95:839-843 12. Tushar Kal, Asaranti Kar, C Mohaptra P. Intra-operative Cytology of Ovarian Tumors. J Obstet Gynecol India Vol. 55, No. 4. 2005. Pg 345-349 13. Ghaemmaghami Fatemah et al. Clinical Assesment, Gross Examination, Frozen Section of Ovarian Masses: do Patients benefit? Arch Gynecol Obstet (2008) 278:209-213 14. Brender et al. Frozen Section Biopsy. The Journal of the American Medical Association, 2005 15. Alonsozana Gladys LG. Frozen Section Procedure (Intraoperative Consultation). http://www.netautopsy.org 16. Frozen Section Procedure. available at http ://en.wikipedia.org/wiki/. 17. Gal Anthony A. The Centennial Anniversary of the Frozen Section Technique at the Mayo Clinic. Archives of Pathology and Laboratory Medicine. 2005: Vol. 129, No. 12, pp. 1532-1535 Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008 18. Keeney Gary, Leslie Kevin. Preparing Fresh Tissues for the Microscope. JAMA. 2008;300 (9): 1074-1076 19. Ferreiro Jorge, Myers Jefrey L, Bostwick David G. Accuracy of Frozen Section Diagnosis in Surgical Pathology: Review of a 1-year Experince with 24.880 cases at Mayo Clinic Rochester. Mayo Clin Proc 1995;70:1137-1141 20. Bancroft J.D, Gamble M. Theory and Practice of Histological Techniques, 5th Ed., Churchill Livingstone, Toronto, USA, 2002,p.85-107. 21. Lubis M. Nadjib Dahlan. Biopsi Kerokan (Scraping) Sebagai Alternatif Potong Beku (Frozen Section). Medan, 1999 22. Crum Christopher P, Nucci Marisa R, Lee Kenneth R. Intraoperative Evaluation of Ovarian Tumors. In: Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Elsevier Saunders, 2006: 821-838 23. Michael Claire W, Lawrence Dwayne, Bedrossian W. M. Intraoperative Consultation in Ovarian Lesions: A Comparison Between Cytology and Frozen Section. Diagnostic Cytopathology, Vol 15, No 5, Michigan,1995 24. Peters Stephen. A Method for Preparation of Frozen Sections. available at http://www.ihcworld.com/_protocols/histology 25. Berek Jonathan S. Ephitelial Ovarian Cancer. In: Practical Gynecology Oncology 4th ed, Jonathan S Berek, Neville F. Hacker, Lippincott Williams & Wilkins. 2005 : 443-494 26. Andrijono. Kanker Ovarium. Sinopsis Kanker Ginekologi. Jakarta, 2004: 93-125 27. Garcia Agustin A. Ovarian Cancer. eMedicine, 2007 28. Helm C William. Malignant Lesions of the Ovaries. eMedicine, 2008 Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008 29. Karsono Bambang. Pemeriksaan Ultrasonografi Tumor Ginekologik. Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta, 2006: 197-210. 30. Wakahara Fumiyo, Kikkawa Fumitaka et al. Diagnostic Efficacy of Tumor Markers, Sonography, and Intraoperative Frozen Section for Ovarian Tumors. Gynecol Obstet Invest 2001;52:147-152 31. Purcell Karen, Wheeler James E. Benign Disordes of the Ovaries & Oviducts. In: Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment, 9th ed. Alan H. Decherney, Lauren Nathan, McGraw-Hill Companies, 2003: 708-714 32. Scully Robert E, Clement Philip B, Young Robert H. Ovarian Surface Epithelial Stromal Tumors. In: Mills Stacey E et al eds. Sternberg’s Diagnostic Surgical Pathology, 4th ed. Lippincott Williams & Wilkins, 2004:2533-2578 33. Wu Allan Y. Ovarian Dysgerminoma. eMedicine, 2006 34. Endjun Judi Januadi. Diagnosis Sonografi Beberapa Kasus Ginekologi Patologi. Dalam: Ultrasonografi Dasar Obstetri dan Ginekologi. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2008:267-297 35. Rose Peter G et al. Accuracy of Frozen-section (intraoperative consultation) diagnosis of ovarian tumors. American Journal of Obstetrics and Gynecology. Vol. 171. Number 3 Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008 LEMBARAN FORMULIR PENELITIAN No. Rekam Medis : No: Nama : Umur : . tahun Pendidikan terakhir : SD/ SMP/ SMA/ Sarjana Pekerjaan : Alamat : Usia Menars : . tahun Paritas : P ./A . Menopause : Ya/ Tidak Riwayat KB hormonal : Ya/ Tidak Riwayat Penyakit terdahulu : Kebiasaan hidup : Merokok/alkohol Nilai Laboratorium CA 125 : . U/ml Gambaran USG : asites (+/-), papil (+/-), septa (+/-) kistik/solid/semisolid Diagnosa Pra bedah : Tindakan operasi : Histopatologi potong beku : (jinak/ganas) Sitologi imprint : (jinak/ganas) Histopatologi potong parafin : (jinak/ganas) Diagnosa pasca bedah : Stadium: Ferry M.Simatupang : Keakuratan Potong Beku, Sitologi Imprint Intraoperasi Dan Gambaran USG Dalam Diagnosis Kanker Ovarium Di RSUP. H.Adam Malik, 2009 USU Repository © 2008
Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Biaya Penelitian Hasil Penelitian Bronkoskopi Diagnosis Kanker Paru Faktor Risiko dan Etiologi Kanker Paru Klasifikasi Kanker Paru Kerangka Operasional Kerangka Operasional Cara Kerja Latar Belakang Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Manifestasi Klinis Diagnosis Kanker Paru Pembahasan Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Radiologi Pengukuran dan Analisis Data Jadwal Penelitian Perumusan Masalah Hipotesis Manfaat Penelitian Definisi Kanker Paru Epidemiologi Kanker Paru Rancangan Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Teknik Pengambilan Sampel Jumlah Sampel Kerangka Konsep Definisi Operasional Sitologi Kanker Paru Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Sitologi Sputum Diagnosis Kanker Paru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru.

Gratis