Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru.

 3  64  101  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

LEMBARAN PERSETUJUAN

  Noni Novisari Soeroso, SpP sebagai Sekretaris Program Studi Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi dan Pembimbing II saya, yang telah membimbing, menolong, memberikan masukan, motivasi,didikan, dan bantuan kepada saya untuk mengerjakan penelitian ini dari awal sampai akhir, termasuk dalam pengerjaan tindakan bronkoskopi terhadap pasien-pasien tumor paru yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Jumlah kasus yang menunjukkan hasil sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan fiksasi Saccomannosebesar 47.3%, dimana tumor letak sentral sebesar 36.4% dan tumor letak perifer sebesar 10.9% dengan jenis karsinoma sel skuamosa paling banyak (36.4%) dankarsinoma sel kecil (10.9%).

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Penelitian inimembandingkan kepositifan antara pemeriksaan sitologi sputum induksiNaCl 3% yang tidak difiksasi (teknik langsung) dengan sitologi sputum induksi NaCl 3% yang difiksasi dengan Saccomanno, dan didapatkan hasilpeningkatan kepositifan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan fiksasiSaccomanno (18.3%) dibandingkan dengan teknik langsung (4.3%) dalam menegakkan diagnosis kanker paru di RS. Namun pada penelitian Kvale, Bode, dan Kini (1976) yang meneliti tindakan bronkoskopi fleksibel pada 228 pasien untuk menentukan jenisspesimen mana yang memberikan nilai diagnostik terbanyak, didapatkan sitologi sputum post-bronkoskopi positif pada 40% kasus, kombinasi sikatanbronkus dan biopsi (65%), dan yang paling akurat adalah kombinasi sikatan 17 bronkus dengan biopsi bronkus (79%).

1.2. Perumusan Masalah

  Berdasarkan hasil uraian dan latar belakang tersebut, peneliti ingin meneliti apakah pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% berbeda 1.3. Hipotesis Pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% berbeda dengan pemeriksaan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomannodalam membantu penegakan diagnosis kanker paru.

1.4.1. Tujuan Umum

1.4.2. Tujuan Khusus

  Untuk memperoleh gambaran karakteristik (umur dan jenis kelamin) pasien yang dicurigai menderita kanker paru yangtermasuk dalam criteria inklusi penelitian yang dirawat di beberapa rumah sakit di Medan (RS. Untuk mengetahui distribusi kasus kanker paru yang sesuai dengan gambaran radiologi (foto toraks, CT scan toraks) danpemeriksaan patologi anatomi pada penderita kanker paru yang dirawat di beberapa rumah sakit tersebut.

1.5. Manfaat Penelitian

Pemeriksaan sitologi sputum yang diinduksi dengan NaCl 3% dan difiksasi dengan larutan Saccomanno belum lazim dilakukan di rumah sakit-rumah sakit di Medan, sehingga kalau penelitian ini berhasil diharapkan teknik ini dapat menjadi salah satu pemeriksaan diagnostik non invasif yangdapat diandalkan untuk membantu penegakan diagnosis kanker paru, terutama di daerah-daerah perifer.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

  Namun dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan kanker paru adalah kanker paru primer, yaitu tumor ganasyang berasal dari epitel bronkus atau karsinoma bronkus (bronchogenic carcinoma). Epidemiologi Kanker Paru Kanker paru masih menjadi salah satu keganasan yang paling sering, berkisar 20% dari seluruh kasus kanker pada laki-laki dengan risiko terkena 1dari 13 orang dan 12% dari semua kasus kanker pada perempuan dengan risiko terkena 1 dari 23 orang.

19 American Cancer Society mengestimasikan

  kanker paru di Amerika Serikat pada tahun 2010 sebagai berikut : 20 19 merokok yang bervariasi di seluruh dunia. Kekerapan kanker paru di rumah sakit itu merupakan 0.06% dari jumlah 18 seluruh penderita rawat jalan dan 1.6% dari seluruh penderita rawat inap.

2.3. Faktor Risiko dan Etiologi Kanker Paru

  Selain itu, jumlah pack rokok dalam 1 tahun yang dihabiskan dan usia dimulainya merokok, sangat eratdihubungkan dengan risiko terjadinya kanker paru. Variasi geografik dan pola dari insidensi kanker paru baik pada laki-laki maupun perempuan 21 semakin meningkat pada perempuan-perempuan usia muda.

2.4. Diagnosis Kanker Paru

2.4.1. Manifestasi Klinis

  Tumor apeks dapat meluas dan melibatkan cabang simpatis superior dan menyebabkan sindroma Horner, melibatkan pleksus brakialis danmenyebabkan nyeri pada leher dan bahu dengan atrofi dari otot-otot kecil tangan. Produksi hormon lebih sering terjadi pada karsinoma sel kecil dan beberapa sel menunjukkan karakteristik neuro-endokrin.

19 Sering terjadi

  Pada pasienkanker paru dapat ditemukan demam, kelainan suara pernafasan pada paru, pembesaran pada kelenjar getah bening, pembesaran hepar, pembengkakanpada wajah, tangan, kaki, atau pergelangan kaki, nyeri pada tulang, kelemahan otot regional atau umum, perubahan kulit seperti rash, daerah kulitmenghitam, atau bibir dan kuku membiru, pemeriksaan fisik lainnya yang 22 mengindikasikan tumor primer ke organ lain. CT scan toraksCT scan toraks (Computerized Tomographic Scans) dapat mendeteksi tumor yang berukuran lebih kecil yang belum dapat dilihat dengan foto toraks,dapat menentukan ukuran, bentuk, dan lokasi yang tepat dari tumor oleh karena 3 dimensi.

2.4.4. Sitologi Sputum

  Dasar ini dibuktikan dengan sering ditemukannya gambaran metaplasia skuamosa bronkus dan sel-sel atipik pada kanker paru yang invasif,dan penemuan dari beberapa kasus bahwa pasien-pasien dengan sitologi sputum yang jelek atau atipik sedang memiliki risiko yang tinggi untuk 25 menderita kanker paru. telah menunjukkan bahwa sensitivitas sitologi sputum dari 1 sampel berkisar 68%, dari 2 sampel 14 berkisar 78%, dan dari Cara yang paling mudah ≥3 sampel berkisar 85-86%.adalah dengan cara batuk spontan di pagi hari, dengan mengumpulkan tiga buah sampel sputum sekuensial I selama 3 hari dan 3 buah sampel sputum 25,27 diagnostik sputum.

11 Saccomanno

  Lesi jinak spesifik (specific benign lesions)Kategori ini meliputi semua neoplasma jinak, proses inflamasi, dan apusan pada proses infeksi (jamur, mycobacterium, dan bakteri), serta harusdideskripsikan secara spesifik, seperti jinak-hamartoma, jinak-inflamasi granuloma yang sesuai dengan tuberculosis, dan lain sebagainya. Pewarnaan Papanicolaou dari sel-sel bronkus pada sputum dengan atipik sedang, sel eosinofilik dengan rasio inti : sitoplasma besar,membran inti ireguler, dan nukleolus yang berbeda.

2.4.5. Bronkoskopi

  Bronkoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melakukan visualisasi trakea dan bronkus, melalui bronkoskop, yang berfungsi dalam 33 prosedur diagnostik dan terapi penyakit paru. Prosedur ini juga dapat menilai ada tidaknya pembesaran kelenjargetah bening, yaitu dengan menilai karina yang terlihat tumpul akibat pembesaran kelenjar getah bening subkarina atau intra bronkus.

33 Optik Lentur (BSOL)/Fleksibel

  Indikasi BSOL/FB baik untuk diagnostik antara lain adalah hemoptisis/batuk darah, adanya wheezing/stridor, infiltrat paru yang tidakdiketahui etiologinya, kolaps paru yang tidak diketahui penyebabnya, curiga karsinoma paru, massa mediastinal/hilus, trauma dada/ruptur saluran nafas 35 sentral, dan lain-lain. Cucian bronkus merupakan pengambilan spesimen yang paling mudah tetapi memiliki cakupandiagnostik yang paling kecil dalam tindakan bronkoskopi (sensitivitas 27- 90%), dengan cakupan yang paling besar untuk lesi-lesi sentral.

3. Protected Specimen Brush Pertama kali diperkenalkan tahun 1979 oleh Wimberley dkk

  BAL mencakup komponen seluler maupun non seluler dari lapisan cairan alveolus dan permukaan epitel salurannapas bawah, mewakili proses inflamasi dan status imun dari saluran napas bawah dan alveoli. Penegakan diagnosis dan staging karsinoma bronkogenik dapat menggunakan jarum sitologi ukuran 21-22gauge, tetapi untuk lesi jinak dan limfoma menggunakan jarum yang lebih besar (19-gauge).

2.5. Klasifikasi Kanker Paru

  Karsinoma sel besar (large cell carcinoma)Dalam 1554 data-data yang dikombinasikan dari penelitian-penelitian di Cancer Incidence in Five Continents, dinyatakan bahwa karsinoma sel kecilberkisar 20% dari seluruh kasus dan karsinoma sel besar/undifferentiated sekitar 9%. Namun tipe histologi lainnya berbeda berdasarkan jenis kelamin,yaitu: karsinoma sel skuamosa sekitar 44% dari seluruh kasus kanker paru pada laki-laki dan 25% pada perempuan, sedangkan adenokarsinoma sekitar 2 28% pada laki-laki dan 42% pada perempuan.

2.6. Sitologi Kanker Paru

  Pada latar belakangnekrosis dan debris seluler, sel tumor yang besar menunjukkan inti (nukleus) hiperkromatik yang ireguler dan terletak di tengah, dengan satu atau lebihanak inti (nukleolus) dan sitoplasma yang sedikit. Karsinoma sel besarKarsinoma sel besar adalah kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil yang tidak berdiferensiasi, yang tidak menunjukkan gambaran karsinoma sel 2 kecil dan glandular atau diferensiasi skuamosa.

2 WHO tahun 1999

  Karsinoma sel kecilKarsinoma sel kecil adalah suatu tumor epitel ganas yang terdiri dari sel-sel kecil dengan sitoplasma yang jarang, batas sel yang tidak tegas,kromatin inti bergranular halus, dan nukleolus tidak ada. Gambaran sel yang difiksasi dengan baik menunjukkan distribusi kromatin yang uniform dan bergranular halus,membentuk gambaran ‘salt and pepper’, sedangkan sel yang tidak terfiksasi dengan baik menunjukkan kromatin yang tidak berstruktur, warna biru gelap.

BAB 3 BAHAN DAN METODA

  Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan studi analitik, yang dilakukan secara observasional, dengan pendekatan cross-sectional yang bersifat uji diagnostik. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Departemen Pulmonologi dan KedokteranRespirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, InstalasiDiagnostik Terpadu (IDT) dan Instalasi Patologi Anatomi RSUP.

3.3.1. Populasi

3.3.2. Sampel

  Populasi penelitian ini adalah semua penderita rawat inap di RS. Sampel adalah penderita yang dicurigai menderita kanker paru yang dirawat di RS.

3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

  Teknik Pengambilan SampelPada penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling, yang memenuhi kriteria inklusi. = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada 1-  Z ββ tertentu (80%) = 0.96= sensitivitas (ketepatan) di populasi  P a = perkiraan sensitivitas (ketepatan) di populasi  P - p = perkiraan selisih ketepatan yang diteliti denga ketepatan di a  p populasiBerdasarkan penelitian sebelumnya, sensitivitas pemeriksaan sitologi sputum induksi adalah 84%.

3.7. Kerangka Konsep

 Kanker  paru Epitel  mengalami eksfoliatif ke saluran  nafas Sputum   Bronkoskopi   Induksi Post BAL  (Broncho Alveolar Lavage) dan/atau  NaCl 3%   bronkoskopi B AL  (Broncho  Brushing  Brushing   (merangsang   (batuk  spontan  → pembanding (baku emas) Alv eolar  Lavage) batuk  dalam)  dalam24  jam)  Sitologi Undiagnosed   Benign    Atipikal,  suspek Atipikal,  suspek  Malignancy:/Normal   benign   malignancy   ‐Adenokarsnoma  ‐Skuamous sel Ca  ‐Large sel Ca ‐Small Sel Ca    

3.8. Definisi Operasional

  Sitologi : ilmu penilaian (interpretasi) sel-sel tubuh manusia, baik yang berasal dari dari sel-sel yang terlepas dari epitel (eksfoliatif) maupunyang berasal dari daerah lain dengan cara tertentu. Bronchoalveolar Lavage (BAL) : tindakan diagnostik selama bronkoskopi yang dilakukan pada semua pasien yang dicurigaimengalami kelainan paru difus (infeksi, non infeksi, imunologik, keganasan), yaitu dengan menguras permukaan mukosa jalan napaskecil dan rongga alveoli dengan NaCl 0.9% suhu 37.0 ◦C sebanyak100-300 ml dan cairan dihisap kembali mencapai 40-60% sehingga cairannya dapat menggambarkan keadaan daerah tertentu.

3.10. Cara Kerja

  Penderita yang memenuhi kriteria inklusi diberitahukan tujuan dan cara penelitian ini dan diminta kesediaannya untuk mengikutipenelitian ini sampai selesai baik secara lisan maupun tertulis. Setelah dilakukan inhalasi NaCl 3% sebanyak 3 cc dicampur dengan 2 mg Salbutamol selama 20 menit, penderita disuruh mengeluarkansputum dengan cara membatukkan yang dalam sehingga didapatkan sputum yang adekuat.

3.11. Pengukuran dan Analisis Data

  Rasio kemungkinan positif adalahperbandingan antara proporsi subjek yang sakit yang memberi hasil uji positif dengan proporsi subjek yang sehat yang memberi hasil uji positif. Di dalam tabel 2 x 2 :RK positif = a/(a+c) : b/(b+d) = sensitivitas : (1 - spesifisitas)Rasio kemungkinan negatif adalah perbandingan antara proporsi subjek yang sakit yang memberi hasil uji negatif dengan subjek sehat yang memberi hasiluji negatif.

3.12. Jadwal Penelitian Kegiatan

  I II III IV V 1. Pengolahan data  4.

3.13. Biaya Penelitian

  Reagens, alat-alat, dan bahan Rp 3.000.000,- e. Tim pendukung penelitian Rp 1.000.000,- h.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

  Jenis sel Sentral Perifer Jumlah Karsinoma sel skuamosa 15 (27.3%) 5 (9.1%) 20 (36.4%)Karsinoma sel kecil 5 (9.1%) 1 (1.8%) 6 (10.9%) Jumlah 20 (36.4%) 6 (10.9%) 26 (47.3%) Sedangkan dari pemeriksaan sitologi sputum post bronkoskopi yang juga dilakukan pada 55 orang tersebut didapatkan hasil positif sel ganas secara definitif(C5 Malignant smear) juga pada 26 orang (47.3%), dimana tumor letak sentral sebanyak 19 kasus (34.5%) dan tumor letak perifer pada 7 kasus (12.7%). Pengukuran dan Analisis DataUntuk mengukur perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan pemeriksaan sitologi sputum post bronkoskopi,data-data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel 2 x 2 yang memperlihatkan hasil pemeriksaan yang diteliti (sitologi sputum induksi NaCl 3% dan sitologisputum post bronkoskopi) dengan pembanding/baku emas yang dipakai (sitologi BAL dan/atau brushing), seperti yang dapat dilihat pada tabel 7 dan tabel 8.

2 Chi-square (X ) = 1.3 dengan df = 1 dan p value >0.05

Dari tabel 2 x 2 tersebut maka dapat dihitung nilai diagnostik pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% sebagai berikut :Sensitivitas = 42.8%Spesifisitas = 45.0%Nilai prediksi positif = 57.7%Nilai prediksi negatif = 31.0%Rasio kemungkinan positif = 0.8Rasio kemungkinan negatif = 1.3 Sitologi sputum post BAL dan/atau brushing Positif Negatif bronkoskopiPositif 15 (27.3%) 11 (20.0%) Negatif 19 (34.5%) 10 (18.2%)

2 Chi- square (X ) = 0.76 dengan df = 1 dan p value >0.05

Dari tabel 2 x 2 tersebut maka dapat dihitung nilai diagnostik pemeriksaan sitologi sputum post bronkoskopi sebagai berikut :Sensitivitas = 44.1%Spesifisitas = 47.6%Nilai prediksi positif = 57.7%Nilai prediksi negatif = 34.4%Rasio kemungkinan positif = 0.8Rasio kemungkinan negatif = 1.2

4.2. Pembahasan

  Hal ini sesuaidengan kepustakaan yang ditulis dalam buku Fishman, dimana kanker paru masih menjadi salah satu kasus keganasan yang paling sering, berkisar 20% dari seluruhkasus kanker pada laki-laki dengan risiko terkena 1 dari 13 orang dan 12% dari semua kasus kanker pada perempuan dengan risiko terkena 1 dari 23 orang. Demikian juga pada penelitian ini diketahui bahwa dari pemeriksaan sitologi sputum induksiNaCl 3% didapatkan sel-sel ganas jenis karsinoma sel skuamosa yang paling banyak yaitu 15 orang (27.3%) dan karsinoma sel kecil hanya 5 orang (9.1%)pada pasien-pasien dengan tumor letak sentral, tetapi pada pasien-pasien dengan Pada penelitian ini digunakan larutan modifikasi Saccomanno untuk tujuan fiksasi sputum.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Dari55 orang yang diteliti didapatkan bahwa jumlah kasus yang menunjukkan hasil sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan fiksasi Saccomannosebesar 47.3%, dimana tumor letak sentral sebesar 36.4% dan tumor letak perifer sebesar 10.9% dengan jenis karsinoma sel skuamosa palingbanyak (36.4%) dan karsinoma sel kecil (10.9%). Sedangkan proporsi sitologi sputum post bronkoskopi dengan fiksasi Saccomanno sebesar47.3%, dengan kasus tumor sentral 34.5% (jenis karsinoma sel skuamosa23.6%, karsinoma sel kecil 9.1%, adenokarsinoma 1.8%) dan tumor letak perifer sebesar 12.7% (jenis karsinoma sel skuamosa).

5.2. Saran

  Walaupun ketepatan sitologi sputum induksi NaCl 3% secara fiksasiSaccomanno hampir sama (tidak berbeda bermakna secara statistik) dengan sitologi sputum post bronkoskopi, namun hal ini berarti bahwa untukmenegakkan diagnosis kanker paru diperlukan pemeriksaan multimodalitas, dimana sitologi sputum induksi NaCl 3% secara fiksasi Saccomanno jugadapat dipertimbangkan sebelum tindakan diagnostik lainnya dilakukan seperti halnya bronkoskopi dan sitologi sputum post bronkoskopi. Oleh karena itudibutuhkan penelitian lanjutan dengan persiapan yang lebih baik dan jumlah sampel yang lebih banyak lagi, atau mungkin dengan kriteria inklusi yanghomogen yaitu tumor paru letak sentral untuk mendapatkan ketepatan (sensitivitas) yang lebih tinggi dan lebih bermakna secara statistik.

Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Biaya Penelitian Hasil Penelitian Bronkoskopi Diagnosis Kanker Paru Faktor Risiko dan Etiologi Kanker Paru Klasifikasi Kanker Paru Kerangka Operasional Kerangka Operasional Cara Kerja Latar Belakang Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Manifestasi Klinis Diagnosis Kanker Paru Pembahasan Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Radiologi Pengukuran dan Analisis Data Jadwal Penelitian Perumusan Masalah Hipotesis Manfaat Penelitian Definisi Kanker Paru Epidemiologi Kanker Paru Rancangan Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Teknik Pengambilan Sampel Jumlah Sampel Kerangka Konsep Definisi Operasional Sitologi Kanker Paru Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sitologi sputum induksi NaCl 3% dengan sitologi sputum post-bronkoskopi secara fiksasi Saccomanno dalam membantu penegakan diagnosis kanker paru. Sitologi Sputum Diagnosis Kanker Paru
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perbandingan ketepatan antara pemeriksaan sit..

Gratis

Feedback