Feedback

Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Jamur Candida albicans

Informasi dokumen
UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP JAMUR Candida albicans SKRIPSI OLEH: AFRIZA DEWI NIM 091524081 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP JAMUR Candida albicans SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: AFRIZA DEWI NIM 091524081 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP JAMUR Candida albicans OLEH: AFRIZA DEWI NIM 091524081 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada tanggal: Agustus 2011 Pembimbing I, Panitia penguji, Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt. M.Si., Apt. NIP 195304031983032001 Dra. Herawaty Ginting, Pembimbing II, M.Si., Apt. Dra. Aswita Hafni Lubis, NIP 195112231980032002 NIP 195304031983032001 Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. Apt. NIP 195107231982032001 Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., NIP 195109081985031002 Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt. NIP 195006121980032001 Disahkan Oleh: Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP JAMUR Candida albicans ABSTRAK Rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia, yaitu sejak zaman kekaisaran Shen Nung di Cina sekitar tahun 2700 sebelum Masehi. Salah satu jenis rumput laut yang banyak tumbuh diperairan Indonesia adalah Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Rumput laut memproduksi beberapa jenis senyawa sekunder seperti florotanin, steroid dan sterol. Sargassum merupakan sumber alginate yang digunakan sebagai bahan pembuatan cangkang kapsul, salep, emulsifier dan dapat juga digunakan sebagai bahan pembuat cat rambut dan krim, sedangkan oleh masyarakat setempat jenis ini lebih sering dikonsumsi sebagai sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antijamur ekstrak etanol rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Tahapan kerja meliputi penyiapan bahan, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas antijamur terhadap Candida albicans dengan metode difusi agar menggunakan silinder logam. Pembuatan ekstrak rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh secara maserasi dan soxhletasi dengan pelarut etanol 96% . Karakterisasi simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yaitu pemeriksaan makroskopik berbentuk talus, berwarna coklat kehitaman, berbau khas,dan tidak berasa. Pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia memperlihatkan adanya sel parenkim, sel parenkim berisi pigmen coklat, sel propagule bersel satu, sel propagule bersel dua dan sel propagule bersel tiga. Kadar air 7,96%, kadar sari larut dalam air 5,52%, kadar sari larut dalam etanol 4,77%, kadar abu total 8,59% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,35%. Hasil skrining fitokimia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh menunjukkan adanya senyawa glikosida dan triterpenoid/steroid. Ekstrak etanol yang diperoleh dengan metode maserasi memiliki daya hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol yang diperoleh dari metode soxhletasi. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol terhadap Candida albicans yaitu 10 mg/ml. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Kata kunci: Aktivitas antijamur, Candida albicans, Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. TEST ANTIFUNGAL ACTIVITIES ETHANOL EXTRACT SEAWEED Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TO FUNGI Candida albicans Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Seaweed has long been known and utilized by humans, since the days of empire Shen Nung in China around the year 2700 BC. One type of seaweed that grow in the waters of Indonesia is Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. This seaweed produce several types of secondary compounds, such as phlorotanin, steroid and sterols. Sargassum is a source of alginate is used as material for shell capsule, ointment, emulsifier and can also be used an material for hair dye and cream, while the local communities of this type is more often consumed as a vegetable. This research was conducted to test the antifungal activity from ethanol extract of seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Stages of work included preparation of materials, characterization simplicia, phytochemical screening, the manufacture of test extract and antifungal activity against Candida albicans by agar diffusion method using a metal cylinder. Making extract seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh in maceration and soxhletasi with solvent ethanol 96%. Characterization simplicia seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, macroscopic examination is shaped thallus, blackish brown color, distinctive smell, and tasteless. Microscopic axamination the powder simplicia showed parenchymal cells, parenchymal cells contained brown pigment, singlecelled propagule cells, cell-celled propagule two and three-celled propagule cells. 7.96% water content, 5.52% level of water soluble extract, 4.77% level of soluble extract in ethanol, 8.59% total ash content and ash content that does not dissolue in acid 0.35%. The result of phytochemical screening of seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh indicate the presence of glicosida and triterpenoids/steroids. Ethanol extract obtained by maceration method has a greater inhibitory power than the ethanol extract obtained from the method soxhletasi. The minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanol extract of Candida albicans which is 10 mg/ml conclusions obtained shows the ethanol extract of seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh has ability to inhibit the growth of the fungus Candida albicans. Keywords: Antifungal activity, Candida albicans, Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan penulis kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Terima kasih tidak terhingga kepada Ayahanda Drs. Herman Tarib M.Ag dan Ibuda Asnayati S.Ag serta bang Fadlin, adik-adikku Milah, Nicha, Dhanis dan Halimi yang telah memberikan semangat, doa dan pengorbanan baik moril maupun materil dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt., dan Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat selama melakukan penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan. 2. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App Sc., Apt., selaku penasehat akademi yang telah memperhatikan dan membimbing penulis selama masa perkuliahan. 3. Ibu Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt., Bapak Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt., dan Ibu Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini. 4. Bapak dan Ibu Staf Pengajar Fakultas Farmasi yang telah banyak membimbing penulis selama masa pendidikan. Universitas Sumatera Utara 5. Teman-teman penulis Nani, SWAF, B’Ian, Taqin, Bayu, Agnes, Widya, Rini, Santa, Farhan, Tentuwin (K’Ira, Emil, Mba’ Iik, Vie kei, K’Ve, Desmi, Nita, Riekha,Winda, Ipit), Aceh sepakat (Ika, Harty, Acoet, Rika, K’Teti, K’Hetty, Deni, Anna, Mama Srie, Dara) dan rekan-rekan Farmasi Ekstensi angkatan 2009 lainnya yang tidak dapat disebut satu persatu, yang telah memberikan bantuan, saran, dan semangat kepada penulis. 6. Kepala dan Staf Laboratorium Mikrobiologi, Fitokimia dan Farmakognosi serta asisten-asisten Kak Vika, Denny, Kak Meyti atas bimbingannya di laboratorium. Penulis menyadari bahwa skripsi masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu penulis dengan kerendahan hati bersedia menerima kritikan dan saran yang membangun dari kesempurnaan skripsi ini. Medan, Agustus 2011 Penulis, Afriza Dewi NIM 091524081 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . vi ABSTRACT . vii DAFTAR ISI . viii DAFTAR TABEL . xii DAFTAR GAMBAR . xiii DAFTAR LAMPIRAN . xiv BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar belakang . 1 1.2 Perumusan masalah. 3 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan penelitian . 3 1.5 Manfaat penelitian . 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 5 2.1 Uraian tumbuhan 5 2.1.1 Sistematika tumbuhan . 5 2.1.2 Habitat rumput laut . 5 2.1.3 Morfologi tumbuhan . 6 2.1.4 Kandungan kimia . 6 2.1.5 Manfaat rumput laut Sargassum . 6 Universitas Sumatera Utara 2.2 Ekstraksi . 7 2.2.1 Metode ekstraksi . 7 2.3 Sterilisasi. 9 2.4 Tinjauan mengenai jamur . 10 2.4.1 Karakteristik fisiologi jamur . 13 2.4.2 Candida albicans . 15 2.4.3 Media pertumbuhan mikroba . 17 2.4.4 Metode isolasi biakan jamur . 18 2.4.5 Pengukuran aktivitas antimikroba . 19 BAB III METODE PENELITIAN . 20 3.1 Alat-alat. 20 3.2 Bahan-bahan . 20 3.3 Pengumpulan sampel tumbuhan . 21 3.3.1 Identifikasi tumbuhan . 21 3.3.2 Pengolahan simplisia . 21 3.4 Pembuatan larutan pereaksi . 22 3.4.1 Pereaksi Asam Klorida 2 N . 22 3.4.2 Pereaksi Asam Sulfat 2 N . 22 3.4.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1% . 22 3.4.4 Pereaksi Bouchardat . 22 3.4.5 Pereaksi Dragendorff . 23 3.4.6 Pereaksi Kloralhidrat . 23 3.4.7 Pereaksi Liebermann-Burchard . 23 3.4.8 Pereaksi Mayer . 23 3.4.9 Pereaksi Molish . 23 Universitas Sumatera Utara 3.4.10 Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N . 23 3.4.11 Pereaksi Timbal (II) asetat 0,4 M . 23 3.5 Skrining fitokimia. 24 3.5.1 Pemeriksaan alkaloida. 24 3.5.2 Pemeriksaan glikosida . 24 3.5.3 Pemeriksaan flavonoida . 25 3.5.4 Pemeriksaan tanin . 25 3.5.5 Pemeriksaan saponin. 25 3.5.6 Pemeriksaan antrakinon . 26 3.5.7 Pemeriksaan steroida/triterpenoida . 26 Karakterisasi simplisia . 26 3.6.1 Pemeriksaan makroskopik 26 3.6.2 Pemeriksaan mikroskopik 26 3.6.3 Penetapan kadar air . 27 3.6.4 Penetapan kadar sari larut dalam air . . 27 3.6.5 Penetapan kadar sari larut dalam etanol . . 28 3.6.6 Penetapan kadar abu total 28 3.6.7 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam . . 28 Pembuatan ekstrak etanol talus rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh) . 29 3.7.1 Pembuatan ekstrak etanol talus rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) secara maserasi. 29 3.7.2 Pembuatan ekstrak etanol talus rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) secara soxhletasi . . 29 3.8 Sterilisasi alat 30 3.9 Pembuatan media 30 3.6 3.7 Universitas Sumatera Utara 3.9.1 Potato Dextrose Agar (PDA) . 30 3.9.2 Larutan NaCl 0,9%. 30 3.10 Pembuatan stok kultur jamur . 30 3.11 Penyiapan inokulum jamur . 31 3.12 Pembuatan larutan uji ekstrak etanol dengan berbagai konsentrasi 31 3.13 Metode pengujian efek antijamur secara In vitro . 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 32 4.1 Identifikasi tumbuhan . 32 4.2 Hasil skrining fitokimia . 32 4.3 Hasil karakterisasi simplisia . 33 4.4 Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap jamur Candida albicans . 34 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 38 5.1 Kesimpulan . 38 5.2 Saran . 39 DAFTAR PUSTAKA . 40 LAMPIRAN . 42 DAFTAR TABEL Universitas Sumatera Utara Halaman Tabel 1 Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia . 32 Tabel 2 Hasil karakterisasi serbuk simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh . 34 Hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan Candida albicans dari ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh dengan metode maserasi . 35 Hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan Candida albicans dari ekstrak etanol rumput talus laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh dengan metode soxhletasi . 21 Tabel 3 Tabel 4 DAFTAR GAMBAR Universitas Sumatera Utara Halaman Gambar 1 Jamur Candida albicans. 16 Gambar 2 Diagram batang hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan jamur Candida albicans dengan metode maserasi . 35 Gambar 3 Diagram batang hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan jamur Candida albicans dengan metode soxhletasi . . 36 DAFTAR LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara Halaman Lampiran 1 Identifikasi tumbuhan . 42 Lampiran 2 Bagan karakteristik dan pembuatan simplisia . 43 Lampiran 3 Bagan pembuatan ekstrak etanol secara maserasi . 44 Lampiran 4 Bagan pembuatan ekstrak etanol secara soxhletasi . 45 Lampiran 5 Gambar talus rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) . 46 yang sangat tinggi dimana tidak ada satu pun organisme lain mampu bertahan hidup (Mudjiman, 1989). Pada kondisi alamiah, Artemia salina hidup di danau–danau dan perairan bersalinitas tinggi. Oleh karena itu, Artemia salina disebut juga udang renik asin Universitas Sumatera Utara (brine shrimp). Secara fisik, Artemia salina tidak mempunyai pertahanan tubuh, oleh karena itu kemampuan hidup di danau dengan salinitas tinggi merupakan sistem pertahanan alamiah Artemia salina terhadap musuh-musuh pemangsanya. Artemia dapat tumbuh baik pada temperatur 25-30 oC. Telur Artemia salina ada dua jenis yaitu telur berkulit tipis, dimana jenis telur ini akan segera menetas, dan telur yang berkulit tebal (siste), dimana jenis telur ini bisa tetap bertahan dalam keadaan kering. Siste ini bisa disimpan selama beberapa tahun dan akan menetas ketika mereka ditempatkan dalam air. Telur yang tebal akan diproduksi ketika tubuh Artemia salina kekurangan air dan konsentrasi garam air laut meningkat (Anonima, 2011). Apabila telur Artemia salina (udang laut) yang kering direndam dalam air laut, akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Dari dalam cangkang keluar larva yang disebut dengan istilah nauplii. Dalam perkembangan selanjutnya, nauplii akan mengalami 15 kali perubahan bentuk (metamorfosis). Setiap kali mengalami perubahan bentuk merupakan satu tingkatan. Tahapan perkembangan pertama disebut instar I, bentuk lonjong dengan panjang sekitar 0,4 mm dan beratnya 15 mikrogram. Warnanya kemerah-merahan karena masih banyak mengandung cadangan makanan. Oleh karena itu masih belum memerlukan makanan. Setelah 24 jam menetas, nauplii akan berubah menjadi instar II. Pada tingkat ini nauplii mulai mempunyai mulut, saluran pencernaan dan dubur. Oleh karena itu mereka mulai mencari makanan dan bersamaan dengan itu cadangan makanannya pun mulai habis. Artemia salina mempunyai cara makan dengan jalan menyaring makanannya atau filter feeder. Selama perubahan bentuk terjadi, nauplii akan mengalami perubahan mata majemuk, antena dan kaki. Setelah menjadi instar XV, kakinya sudah lengkap 11 pasang maka nauplii telah berubah Universitas Sumatera Utara menjadi nauplii Artemia salina dewasa. Proses ini berlangsung antara 1-3 minggu. Artemia salina dewasa mempunyai panjang sekitar 1 cm dan beratnya 10 mg. Artemia salina dewasa dapat hidup sampai 6 bulan dan bertelur 4-5 kali. Setiap kali bertelur dapat menghasilkan 50-300 butir telur (Mudjiman, 1989). 2.5 Uji Aktivitas Biologi Dewasa ini penelitian terhadap senyawa aktif dari bahan alam sangat digalakkan. Tetapi banyak bahan-bahan obat alami yang telah diisolasi, dikarakterisasi dan dipublikasikan tanpa dilanjutkan dengan uji aktivitas biologi. Aktivitas biologi tumbuhan tersebut tidak diketahui hingga bertahun-tahun. Hal ini disebabkan karena pencarian untuk senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi sering menggunakan uji aktivitas dengan biaya yang mahal. Hambatan biaya ini mempengaruhi kegiatan farmakologis. Oleh karena itu dibutuhkan suatu uji aktivitas yang secara umum sederhana, mudah dan murah namun dapat dipercaya dan dapat mendeteksi adanya senyawa yang mempunyai aktivitas biologi secara luas yang terdapat pada ekstrak, fraksi dan isolat. Beberapa uji pendahuluan untuk pencarian obat kanker yang memenuhi syaratsyarat di atas antara lain: Metode Potato Disk, Brine Shrimp Lethality Test (BST) dan Uji terhadap Lemna minor L (McLaughlin and Lingling, 1998). 2.5.1 Brine Shrimp Lethality Test Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi. Oleh karena itu kematian hewan percobaan pada pengujian suatu ekstrak dapat digunakan sebagai skrining awal terhadap ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan juga untuk mengetahui komponen zat aktifnya. Salah satu organisme yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut adalah udang laut (brine shrimp). Brine shrimp test sudah digunakan dalam Universitas Sumatera Utara berbagai pengujian yaitu untuk menganalisa residu pestisida, mikotoksin, polutan pada air sungai, anastetik, toksin dinoflagelata senyawa yang berupa morfin, toksisitas pada dispersan minyak. Dalam fraksinasi yang diarahkan dengan bioassay, metode brine shrimp telah digunakan untuk memonitor fraksi aktif mikotoksin dan antibiotik pada ekstrak jamur (Meyer et al, 1982). Artemia salina Leach adalah sejenis udang air asin. Telurnya merupakan makanan ikan tropis dan telur tersebut dapat dijumpai di toko-toko yang menjual ikan hias tropis dengan nama brine shrimp eggs. Telur ini dapat bertahan selama bertahun-tahun dalam keadaan kering. Setelah ditempatkan dalam larutan air laut, telur-telur akan menetas dalam menetas dalam waktu 48 jam dan menghasilkan sejumlah nauplii. Nauplii Artemia salina Leach ini dapat dipakai sebagai hewan percobaan untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang memiliki aktivitas biologi (McLaughlin and Lingling, 1998). 2.5.2 Metode Potato Disk (menghambat tumor crown gall) Crown gall adalah penyakit tumor pada tumbuhan yang ditimbulkan oleh strain yang spesifik dari bakteri gram negatif Agrobacterium tumefaciens. Terdapat kesamaan antara mekanisme terjadinya tumor pada tumbuhan dan pada hewan, senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan tumor pada tumbuhan juga dapat berfungsi sebagai antitumor pada hewan. Uji ini merupakan uji pendahuluan yang sederhana untuk menemukan senyawa antikanker dari bahan alami. Penghambatan pertumbuhan crown gall tumor pada potato disk oleh ekstrak alami, menunjukkan bahwa ekstrak bahan alami tersebut memiliki aktivitas biologi (Mclaughlin and Lingling , 1998). Universitas Sumatera Utara 2.5.3 Uji Terhadap Lemna minor L. Lemna minor L. adalah tumbuhan monokotil yang hidup di daerah perairan. Pada kondisi normal, kondisi ini secara langsung menghasilkan anak daun. Jika ekstrak bahan alami dapat menghambat pertumbuhan dari anak daun tumbuhan Lemna minor L., maka ekstrak bahan alami tersebut dianggap juga dapat berkhasiat sebagai antitumor (McLaughlin and Lingling, 1998). 2.5.4 Uji Terhadap cell line Bahan alami yang telah dinyatakan aktif pada uji pendahuluan, selanjutnya dilakukan uji pada tahap berikutnya yaitu uji cell line. Uji ini menggunakan selsel kanker secara in vitro, zat-zat antikanker diuji langsung terhadap sel kanker. Contoh-contoh cell line yang banyak digunakan dalam pengujian zat-zat antikanker antara lain L-1210 (leukemia pada tikus), S-256 (sarcoma pada manusia) (McLaughlin and Lingling, 1998). Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan adalah metode eksperimental meliputi pengumpulan dan pengolahan tumbuhan, pemeriksaan karakteristik, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, kromatografi lapis tipis (KLT) dan uji aktivitas biologi ekstrak talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh menggunakan larva Artemia salina Leach. 3.1 Alat-alat Yang Digunakan Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas laboratorium, pipet tetes, kertas saring, aluminium foil, kaca penutup, kaca objek, vial, bejana penetasan telur Artemia salina Leach, lampu 18 watt (Hannochs), cawan berdasar rata, botol bersumbat, krusen tang, seperangkat alat destilasi, seperangkat alat penetapan kadar air, cawan porselen, eksikator, mikroskop (Olympus), oven listrik (Stork), seperangkat alat kromatografi lapis tipis, elektromantel (EM 2000), neraca analitik (Vibra AJ), dan penangas air (Yenaco). 3.2 Bahan-bahan Yang Digunakan Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, telur Artemia salina Leach (ISO), garam buatan, ragi, air suling. Bahan-bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain berkualitas pro analisis yaitu n-heksan (destilasi), etilasetat (destilasi), etanol 96% (destilasi), asam asetat anhidrida, asam sulfat pekat, kloroform, toluen, timbal (II) asetat, amil alkohol, metanol, natrium hidroksida, asam klorida pekat, serbuk magnesium, serbuk seng, kloralhidrat, isopropanol, natrium sulfat anhidrida, α-naftol, amonia Universitas Sumatera Utara pekat, besi (III) klorida, iodium, raksa (II) klorida, kalium iodida, bismut (III) nitrat, dan asam nitrat pekat. 3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Tumbuhan 3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan Pengumpulan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif, yaitu tanpa membandingkan dengan daerah lain. Umur tumbuhan yang diambil tidak diperhitungkan. Tumbuhan yang digunakan adalah talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yang diambil dari perairan pantai Poncan, Kotamadya Sibolga, Propinsi Sumatera Utara dan dikumpulkan pada bulan Juli 2010. 3.3.2 Identifikasi Tumbuhan Identifikasi tumbuhan dilakukan di Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI, Jakarta, Indonesia. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 41. 3.3.3 Pengolahan Simplisia Talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh dibersihkan dari kotoran dan sisa-sisa karang yang melekat lalu dicuci dengan air mengalir sampai bersih, ditiriskan dan disebar Kadar Glukosa Darah Tikus Tikus Dipuasakan selama 18 jam Dipangkas dan dicukur bulu ekornya Ekor yang bersih Dibilas dengan alkohol Ditusuk dengan jarum spuit pada vena ekor tikus hingga berdarah Darah Tikus Darah yang keluar disentuhkan pada test strip yang telah terpasang pada alat glucometer Darah siap diukur Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Data Kadar Glukosa Darah Tikus Selama Penelitian (mg/dl) 1. Kontrol negatif ( CMC Na 0,5%) Kelompok Berat (g) 154,3 178,4 235,4 A 154,5 184,5 155,5 Rata – rata SD Normal (hari ke-0) 100 110 98 85 88 94 95,8 8,998 Kadar Gula Darah (mg/dl) Induksi Pemberian Obat Aloksan Hari ke-6 Hari ke-9 (hari ke-3) 349 517 569 242 313 507 295 252 496 277 301 475 231 411 576 222 289 515 269,3 347,2 523 48,003 98,648 40,689 2. Kontrol Positif ( Metformin 50mg/Kg BB ) Kelompok Berat (g) 150,9 160,1 160,6 B 161,8 186,1 173,0 Rata – rata SD Normal (hari ke-0) 94 95 88 87 108 98 95 7,642 Kadar Gula Darah (mg/dl) Induksi Pemberian Obat Aloksan Hari ke-6 Hari ke-9 (hari ke-3) 506 295 131 433 206 93 448 241 95 391 174 80 365 133 71 428 210 89 428,5 209,8 93,2 48,673 55,546 20,573 3. Pemberian Natrium Alginat 200mg/Kb BB Kelompok Berat (g) Normal (hari ke-0) C 152,3 151,3 159,6 169,9 176,2 188,8 87 104 94 95 102 90 95,3 6,623 Rata – rata SD Kadar Gula Darah (mg/dl) Induksi Pemberian Obat Aloksan Hari ke-6 Hari ke-9 (hari ke-3) 288 175 99 357 264 175 344 250 152 379 263 182 308 192 129 356 241 161 338,7 230,8 144,7 34,057 38,028 31,033 Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. (Sambungan) 4. Pemberian Natrium Alginat 400mg/Kg BB Kelompok Berat (g) 154,9 146,6 150,3 D 162,8 159,3 170,1 Rata – rata SD Kadar Gula Darah (mg/dl) Induksi Pemberian Obat Normal Aloksan (hari ke-0) Hari ke-6 Hari ke-9 (hari ke-3) 90 322 177 101 98 401 240 175 110 386 239 159 94 342 191 121 95 348 221 131 106 375 232 150 98,8 362,33 218 139,5 7,653 29,871 27,026 27,009 5. Pemberian Natrium Alginat 800mg/Kg BB Kelompok Berat (g) 155,5 176,4 146,5 E 150,2 184,3 155,5 Rata – rata SD Kadar Gula Darah (mg/dl) Induksi Pemberian Obat Normal Aloksan (hari ke-0) Hari ke-6 Hari ke-9 (hari ke-3) 108 446 243 152 95 395 192 100 87 380 199 99 90 406 211 111 103 417 241 108 90 343 150 82 95,5 397,8 206 108,7 8,312 34,891 34,641 23,508 Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Hasil SPSS Descriptives 95% Confidence N Mean Std. Deviation Interval for Mean Std. Error Lower Upper Bound Bound Minimu Maximu m m hari_ CMC Na 0,5% 6 95.8333 8.99815 3.67348 86.3904 105.2763 85.00 110.00 ke_0 Metformin 50 mg/Kg BB 6 95.0000 7.64199 3.11983 86.9802 103.0198 87.00 108.00 Na Alginat 200 mg/Kg BB 6 95.3333 6.62319 2.70391 88.3827 102.2839 87.00 104.00 Na Alginat 400 mg/Kg BB 6 98.8333 7.65289 3.12428 90.8021 106.8645 90.00 110.00 Na Alginat 800 mg/Kg BB 6 95.5000 8.31264 3.39362 86.7764 104.2236 87.00 108.00 Total 30 96.1000 7.45723 1.36150 93.3154 98.8846 85.00 110.00 hari_ CMC Na 0,5% 6 269.3333 48.00278 19.59705 218.9575 319.7092 222.00 349.00 ke_3 Metformin 50 mg/Kg BB 6 428.5000 48.67340 19.87083 377.4204 479.5796 365.00 506.00 Na Alginat 200 mg/Kg BB 6 338.6667 34.05682 13.90364 302.9262 374.4071 288.00 379.00 Na Alginat 400 mg/Kg BB 6 362.3333 29.87083 12.19472 330.9858 393.6809 322.00 401.00 Na Alginat 800 mg/Kg BB 6 397.8333 34.89078 14.24410 361.2177 434.4490 343.00 446.00 Total 30 359.3333 66.57344 12.15459 334.4744 384.1923 222.00 506.00 hari_ CMC Na 0,5% 6 347.1667 98.64769 40.27275 243.6423 450.6911 252.00 517.00 ke_6 Metformin 50 mg/Kg BB 6 209.8333 55.54608 22.67659 151.5413 268.1254 133.00 295.00 Na Alginat 200 mg/Kg BB 6 230.8333 38.02850 15.52507 190.9249 270.7418 175.00 264.00 Na Alginat 400 mg/Kg BB 6 216.6667 26.56815 10.84640 188.7851 244.5482 177.00 240.00 Na Alginat 800 mg/Kg BB 6 206.0000 34.64102 14.14214 169.6465 242.3535 150.00 243.00 Total 30 242.1000 75.60941 13.80433 213.8670 270.3330 133.00 517.00 hari_ CMC Na 0,5% 6 523.0000 40.68906 16.61124 480.2994 565.7006 475.00 576.00 ke_9 Metformin 50 mg/Kg BB 6 93.1667 8.40007 71.5736 114.7597 71.00 131.00 20.57588 Na Alginat 200 mg/Kg BB 6 149.6667 31.03332 12.66930 117.0992 182.2341 99.00 182.00 Na Alginat 400 mg/Kg BB 6 139.5000 27.00926 11.02648 111.1555 167.8445 101.00 175.00 Na Alginat 800 mg/Kg BB 6 108.6667 23.50886 9.59745 83.9956 133.3377 82.00 152.00 Total 202.8000 166.40756 30.38172 140.6624 264.9376 71.00 576.00 30 Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. (Sambungan) ANOVA Sum of Squares hari_ke_0 Between df Mean Square 58.200 4 14.550 Within Groups 1554.500 25 62.180 Total 1612.700 29 88814.333 4 22203.583 39714.333 25 1588.573 128528.667 29 84942.867 4 21235.717 80843.833 25 3233.753 Total 165786.700 29 Between 781431.800 4 21621.000 25 803052.800 29 F Sig. .234 .917 13.977 .000 6.567 .001 195357.950 225.889 .000 Groups hari_ke_3 Between Groups Within Groups Total hari_ke_6 Between Groups Within Groups hari_ke_9 Groups Within Groups Total 864.840 Homogeneous Subsets hari_ke_0 α = 0.05 perlakuan Duncana N 1 Metformin 50 mg/Kg BB 6 95.0000 Na Alginat 200 mg/Kg BB 6 95.3333 Na Alginat 800 mg/Kg BB 6 95.5000 CMC Na 0,5% 6 95.8333 Na Alginat 400 mg/Kg BB 6 98.8333 Sig. .460 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000. Universitas Sumatera Utara hari_ke_3 Subset for alpha = 0.05 Perlakuan Duncana N 1 2 3 CMC Na 0,5% 6 Na Alginat 200 mg/Kg 6 338.6667 6 362.3333 4 269.3333 BB Na Alginat 400 mg/Kg 362.3333 BB Na Alginat 800 mg/Kg 6 397.8333 397.8333 BB Metformin 50 mg/Kg BB 6 428.5000 Sig. 1.000 .314 .135 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000. hari_ke_6 Subset for alpha = 0.05 Perlakuan Duncana N 1 2 Na Alginat 800 mg/Kg BB 6 206.0000 Metformin 50 mg/Kg BB 6 209.8333 Na Alginat 400 mg/Kg BB 6 216.6667 Na Alginat 200 mg/Kg BB 6 230.8333 CMC Na 0,5% 6 Sig. 347.1667 .497 1.000 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000. Universitas Sumatera Utara .195 hari_ke_9 Subset for alpha = 0.05 Perlakuan Duncana N 1 2 Metformin 50 mg/Kg BB 6 93.1667 Na Alginat 800 mg/Kg 6 108.6667 3 4 108.6667 BB Na Alginat 400 mg/Kg 6 139.5000 139.5000 BB Na Alginat 200 mg/Kg 6 149.6667 BB CMC Na 0,5% 6 Sig. 523.0000 .370 .081 .555 1.000 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000. Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Contoh Perhitungan Dosis Konversi perhitungan dosis antar jenis hewan Mencit 20 g Tikus 200 g Marmot 400 g Kelinci 1,5 kg Kera 4 kg Anjing 12 kg Manusia 70 kg Mencit 20 g 1,0 Tikus Marmot 200 g 400 g 7,0 12,25 Kelinci Kera Anjing Manusia 1,5 kg 4 kg 12 kg 70 kg 27,8 64,1 124,3 387,9 0,14 1,0 1,74 3,0 9,2 17,8 56,0 0,008 0,57 1,0 2,25 5,2 10,2 31,5 0,04 0,25 0,44 1,0 2,4 4,5 14,2 0,016 0,11 0,19 0,42 1,0 1,9 6,1 0,008 0,06 0,10 0,22 0,52 1,0 3,1 0,0026 0,018 0,031 0,07 0,16 0,32 1,0 Contoh perhitungan dosis suspensi metformin 0,5% Dosis manusia (berat 70 kg) = 500 mg Dosis tikus (berat 200 g) = 0,018 x 500 mg = 9 mg = 1000/200 x 9 mg = 45 mg/ Kg BB = 50 mg/ Kg BB Suspensi metformin sebanyak 50 mg/Kg BB dibuat dalam sediaan 10 ml. Dosis untuk tikus (Berat 180 g) = 180 g x (50 mg/1000 g) = 9 mg Sediaan yang dibuat = 5 mg/ 1 ml Jadi volume suspensi simvastin yang diberikan 9 mg = 1,8 ml 5 mg/ml Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. (Sambungan) Contoh perhitungan dosis Natrium Alginat untuk tikus dengan berat badan 200 g dengan dosis Natrium Alginat 400 mg/Kg BB . Dosis Natrium Alginat 400 mg/kg BB dibuat dalam labu tentukur 10 ml, maka di dalam 10 ml mengandung Natrium Alginat 400 mg untuk 1 kg berat badan. Dosis obat yang diberikan = 200 g x 400 mg = 80 mg 1000 g Sediaan yang dibuat = 400 mg/10 ml = 40 mg/ml Larutan Natrium Alginat yang diberikan untuk tikus BB 200 g = 80 mg = 2 ml 40 mg/ml Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. (Sambungan) Contoh perhitungan dosis aloksan Dosis pemberian secara intravena : 70 mg/kg BB Dosis pemberian secara intraperitoneal : 120 – 150 mg/kg BB Dalam penelitian ini dosis yang digunakan adalah 130 mg/kg BB Konsentrasi aloksan yang dibuat adalah 5% ( 5 g dalam 100 ml Infus NaCl 0,9%) = 50 mg/ml Contoh perhitungan dosis untuk tikus berat 200 g dengan dosis 130 mg/kg BB = 13 0mg x 200 g 1000 g = 26 mg Volume aloksan yang diberikan = 26 mg 50 mg / ml = 0,46 ml Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Alat Pengukuran Kadar Glukosa Darah A B C Keterangan: A = Glukometer ( Gluko DrTM ) B = Wadah Penyimpanan Test Strip C = Test Strip Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. Alat Spektrofotometri FTIR Spektrofotometri FTIR Universitas Sumatera Utara
Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Jamur Candida albicans
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Jamur Candida albicans

Gratis