Uji Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

 4  43  113  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN SKRIPSI OLEH: ELYSA NIM 071501066

  NIP 195103261978022001 NIP 195311281983031002 Pembimbing II, Prof. Si., Apt.

GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

  OLEH:ELYSA NIM 071501066 Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji SkripsiFakultas Farmasi Universitas Sumatera UtaraPada Tanggal: 2 Agustus 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji, Prof. NIP 195103261978022001 NIP 195311281983031002 Pembimbing II, Prof.

KATA PENGANTAR

  Hasil uji statistik ( α = 0,05) menunjukkan bahwa esktrak etanol biji jengkol (EEBJ) dosis 600 mg/kg bb tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan metformin dosis 50 mg/kg bb dalam menurunkankadar gula darah tikus yang diinduksi aloksan. Hasil uji statistik ( α = 0,05) menunjukkan bahwa esktrak etanol biji jengkol (EEBJ) dosis 600 mg/kg bb tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan metformin dosis 50 mg/kg bb dalam menurunkankadar gula darah tikus yang diinduksi aloksan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun dan merupakan “the great imitator”(pemicu utama) karena penyakit ini jika tidak ditangani akan menjadi hiperglikemia kronik pada diabetes yang menyebabkan komplikasi paling banyakdan menimbulkan berbagai keluhan akibat adanya disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah(Sudoyo, dkk., 2007). Biji jengkol, terutama yang sudah tua, merupakan bagian Berdasarkan informasi di atas, maka dilakukan pemeriksaan skrining fitokimia, karakterisasi simplisia biji jengkol, dan penelitian efek ekstrak etanolbiji jengkol terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih galur Wistar yang diinduksi aloksan.

1.2 Perumusan Masalah

  Apakah ada perbedaan yang nyata antara ekstrak etanol biji jengkol dengan Metformin dalam memberikan efek penurunan kadar glukosa darahtikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi aloksan? Tidak ada perbedaan yang nyata antara ekstrak etanol biji jengkol denganMetformin terhadap efek penurunan kadar glukosa darah tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi aloksan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

  (Hutapea, 1994) 2.1.3 Nama Daerah Nama daerah dari tumbuhan jengkol adalah jering (Gayo), joring (Batak), jarieng (Minangkabau), jaring (Lampung), jengkol (Sunda), jengkol, jering,jingkol (Jawa), blandingan (Bali), lubi (Sulawesi Utara) (Hutapea, 1994; Heyne,1987) 2.1.4 Habitat dan Daerah TumbuhTumbuhan ini merupakan pohon di bagian barat Nusantara, tingginya sampai 26 m, dibudidayakan secara umum oleh penduduk di Jawa dan di beberapa daerah tumbuh menjadi liar. Bunga majemuk, berbentuk tandan,terletak di ujung batang, dan ketiak daun, berwarna ungu, kelopak berbentuk mangkok, benang sari dan putik berwarna kuning, mahkota berbentuk lonjongberwarna putih kekuningan.

2.1.7 Khasiat Tumbuhan

  Kulit buah jengkol digunakan untuk obat borok (Hutapea, 1994) dan luka bakar (steffi, dkk., 2009). Daunnya berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka danbisul (Hutapea, 1994), sedangkan kulit batang (Wispiyono, B., 1991) dan kulit halus biji jengkol (Soemitro, S., 1987) sebagai penurun kadar gula darah(Widowati, dkk., 1997 ; Jis, dkk., 1990).

2.2 Ekstraksi

  Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupabahan yang telah dikeringkan. Ekstrakadalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang Ada beberapa cara metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000), yaitu: dengan cara dingin (seperti : maserasi, perkolasi), dan cara panas (seperti : refluks,sokletasi, digesti, infundasi dan dekoktasi).

2.3 Diabetes Mellitus

  sel-PP (Sel-F), yang memproduksi pancreatic polypeptide (PP), yang mungkin berperan pada penghambatan sekresi endokrin dan empedu (Tan,dan Rahardja, 2007). sel- like peptides (GLP) sel alfa (α), yang memproduksi hormon glukagon, proglucagon, glucagon- Pankreas adalah suatu organ lonjong, kira-kira 15 cm, yang terletak di belakang lambung dan sebagian di belakang hati.

2.3.3 Diagnosa Diabetes Mellitus Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah

  Menurut Triplitt, dkk., (2008), berikut kategori status glukosa darah puasa(GDP) dan tes toleransi glukosa oral (OGTT) pada Tabel 2.2 di bawah ini: Tabel 2.2. Indeks proses diabetogenikUntuk penilaian proses diabetogenik dilakukan dengan penentuan tipe dan sub-tipe HLA (Human Leucocyte Antigen), seperti adanya tipe atau titerantibodi yang ditujukan pada sel islet pankreas (islet cell antibodies, ICA), insulin autoantibodi (IAA), anti GAD (Glutamic Acid Decarboxylase).

2.3.4 Patogenesis Diabetes Mellitus

  Sindroma klinik yang sering dijumpai pada diabetes mellitus yakni poliuria, polidipsia dan polifagia, disertai peningkatan kadar glukosa darah atauhiperglikemia. Selain itu,polifagia juga timbul karena adanya perangsangan pusat nafsu makan di Normalnya lemak yang berada dalam aliran darah, melewati hati dan dipecah menjadi gliserol dan asam lemak.

2.3.5 Komplikasi Diabetes Mellitus

  Adanya pertumbuhan sel dan juga kematian sel yang tidak normal merupakan dasar terjadinya komplikasi kronik DM. Pada retinopati diabetik terjadi hambatan pada aliran pembuluh darah dan kemudian terjadi penyumbatan kapiler.

2.3.6 Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus

  Sulfonilurea berikatan dengan reseptor sulfonilurea yangmemiliki afinitas tinggi yang berkaitan dengan saluran K- ATP pada sel β- pankreas, akan menghambat effluks kalium sehingga terjadi depolarisasi kemudian membuka saluran Ca dan menyebabkan influks Ca sehinggameningkatkan pelepasan insulin . Adanya hormonincretin berperan utama dalam produksi insulin di pankreas dan pembentukan hormon GLP-1 (glukagon-like peptide-1) dan GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) di saluran cerna yang juga berperan dalam produksi insulin.

2.4. Insulin

  Insulin merupakan hormon yang terdiri dari rangkaian asam amino, dihasilkan oleh sel beta pankreas. Dalam keadaan normal, bila ada rangsanganpada sel beta pankreas, insulin disintesis dan kemudian disekresikan ke dalam darah sesuai kebutuhan tubuh untuk keperluan regulasi glukosa darah (Sudoyo,2007).

2.5 Monitoring Diabetes Mellitus

  Pemeriksaan yang dilakukan antara lain kadar glukosa darah puasa, 2 jamPP, dan pemeriksaan glycated haemoglobin, khususnya HbA 1C . Kategori status glukosa darah puasa dan 2 jam PP dapat dilihat pada Tabel 2.2 di atas.

2.6 Aloksan

  Dosis aloksan yang diperlukan untukmenginduksi diabetes tergantung pada hewan percobaan yang digunakan, rute administrasi dan status nutrisi. Pemberian dosis secara intavena yang biasadigunakan untuk menginduksi diabetes pada tikus adalah 65 mg/kg BB, sedangkan secara intraperitoneal atau subkutan dosis efektifnya harus 2-3 kalilebih tinggi.

BAB II I METODE PENELITIAN Metode penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yang

  Penyiapan hewan percobaan, pengujian efek ekstrak etanol biji jengkol terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih jantan dengan metode induksi aloksanmenggunakan rancangan acak lengkap (RAL). 3.1 Alat-Alat Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi lemari pengering, blender (Philip), oven (Memmert), neraca listrik (Mettler Toledo), neraca hewan(GW-1500), mikroskop, desikator, penangas air, freeze dryer (Virtis) , rotary TMevaporator (Heidolph WB 2000), Glucometer (GlucoDr ) dan Glucotest strip TM(GlucoDr strip test) , magnetic stirer, spuit, oral sonde, mortir dan stamfer, alat- alat gelas dan alat laboratorium lainnya.

3.3 Prosedur Pembuatan Simplisia

  3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan Sampel yang digunakan adalah biji jengkol (Pithecellobium lobatum) yang masih segar dan tua. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 56.

3.4 Pembuatan Pereaksi

  Pembuatan larutan pereaksi bouchardat, dragendorff, mayer, besi (III) klorida 4,5% b/v, molish, timbal (II) asetat 0,4 M, asam sulfat 6 N, asam klorida 2 N, liebermann-Burchard, kloralhidrat, pembuatan larutan induksi aloksan, pembuatan suspensi Na-CMC 0,5% b/v, pembuatan suspensi metformin dosis 50mg/kg bb, pembuatan suspensi EEBJ dosis 200 mg/kg bb, EEBJ dosis 400 mg/kg bb, dan EEBJ dosis 600 mg/kg bb. 3.4.14 Pembuatan Suspensi Ekstrak Etanol Biji Jengkol dengan 3 Variasi Dosis yakni dosis 200 mg/kg BB, 400 mg/kgBB, 600 mg/kg BB Sejumlah 200 mg, 400 mg, dan 600 mg ekstrak etanol biji jengkol dimasukkan ke dalam lumpang dan ditambahkan suspensi Na-CMC 0,5% b/vsedikit demi sedikit sambil digerus sampai homogen hingga 5 ml.

3.5 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia

  3.5.1 Pemeriksaan Makroskopik dan Organoleptik Pemeriksaan makroskopik dan organolepik dilakukan dengan mengamati bentuk, bau, rasa, warna dan ukuran dari biji jengkol segar, dan serbuk simplisiabiji jengkol. Biji jengkol dipotong melintang dan membujur laludiletakkan di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat dan ditutup dengan kaca penutup, selanjutnya diamati di bawah mikroskop.

3.5.4 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air

  Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan sampaikering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah ditara dan sisa o dipanaskan pada suhu 105 C sampai bobot tetap. 3.5.7 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam Abu yang diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asamdikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, dipijarkan, kemudian didinginkan dan ditimbang sampai bobot tetap.

3.6 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia serbuk simplisia meliputi pemeriksaan senyawa golongan flavoinoid, alkaloid, saponin, tanin, glikosida dan steroid/triterpenoid.

3.6.1 Pemeriksaan Flavanoid

  3.6.2 Pemeriksaan Alkaloid Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2menit, didinginkan dan disaring. 0,1 ml larutan percobaan diuapkan diatas penangas air, pada sisaditambahkan 2 ml air dan 5 tetes Molish, kemudian ditambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat, terbentuk cincin berwarna ungu pada batas cairan, menunjukkanadanya ikatan gula (Depkes, 1995).

3.7 Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Jengkol (EEBJ) Pembuatan ekstrak etanol biji jegkol dilakukan dengan metode perkolasi

  Selanjutnya dipindahkan massa tersebut sedikit demi sedikit ke dalam perkolator, 3.8 Penyiapan Hewan Percobaan Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah tikus putih jantan galur Wistar dengan berat badan 200 g (±10%) sebanyak 30 ekor ,dikelompokkan dalam 5 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 ekor tikus. Sebelum pengujian, terlebih dahulu tikus dikondisikan selama 1 minggu dalam kandang yang baik untuk menyesuaikan dengan lingkungannya.

3.9.1 Penggunaan Blood Glucose Test Meter “GlucoDr ”

  GlucoDr TMcheck strip dimasukkan ke alat GlucoDr sehingga glucometer ini akan hidup secara otomatis, kemudian dicocokkan kode nomor yang muncul pada layar TM dengan yang ada pada vial GlucoDr test strip. Tes strip yang dimasukkan pada glucometer pada bagian layar akan tertera angka yang harus sesuai dengan kode TM vial GlucoDr test strip, kemudian pada layar monitor glucometer muncul tanda siap untuk diteteskan darah.

3.9.2 Pengukuran Kadar Glukosa Darah (KGD)

3.9.3 Pengujian Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol (EEBJ) terhadap

  Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus yang Diinduksi Aloksan Tikus yang telah dipuasakan ditimbang berat badannya, ditentukan kadar glukosa darah puasa, kemudian masing-masing tikus diinduksi dengan aloksandosis 125 mg/kg BB secara intraperitoneal. Tikus diberi makan dan minum seperti biasa, diamati tingkah laku tikus dan bobot badan, dan diukur kadar glukosadarahnya pada hari ke-4 hingga hari berikutnya hingga menunjukkan kenaikan kadar glukosa darah tikus untuk digunakan dalam pengujian.

3.10 Analisis Data

  Data hasil penelitian dianalisis dengan metode analisis variansi (ANAVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji rata-rata Duncanuntuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan. Analisis Statistik ini menggunakan program SPSS versi 17.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Skrining Fitokimia dan Pemeriksaan Karakteristik Simplisia

  Hasilpemeriksaan karakterisasi simplisia biji jengkol yaitu penetapan kadar air 6,64%, kadar sari yang larut dalam air 23,63%, kadar sari yang larut dalam etanol17,15%, kadar abu total 1,47%, kadar abu tidak larut asam 0,23%. Standarisasi simplisia untuk biji jengkol belum tertera pada monografi buku Materi MedikaIndonesia, sehingga diharapkan untuk hasil karakterisasi ini dapat digunakan Ekstraksi serbuk biji jengkol dilakukan dengan cara perkolasi menggunakan etanol 96%, dengan maksud agar kandungan kimia yang terdapatdalam biji jengkol dapat tersari dengan sempurna dalam cairan penyari.

4.2 Hasil Uji Farmakologi

  Pada penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi aloksan dosis 125 mg/kg bb secara intraperitoneal untuk memperolehtikus diabetes dengan KGD (kadar gula darah) ≥ 200 mg/dl (Triplitt, C. Hasil orientasi menunjukkan EEBJ dosis 200 mg/kg bb lebih menunjukkan penurunanyang lebih cepat dibandingkan dengan 100 mg/kg bb yang mempunyai kecepatan penurunan KGD yang hampir sama dengan kelompok kontrol toleransi glukosa.

4.2.1 Pengaruh Induksi Aloksan terhadap Kenaikan Kadar Glukosa Darah

  Tikus normal yang sudah diukur KGD puasanya, diinduksi dengan aloksan dosis 125 mg/kg bb secara intraperitoneal, diamati tingkah laku tikus dan bobotbadan, serta diukur kadar glukosa darahnya pada hari ke-4 hingga hari berikutnya sampai menunjukkan kenaikan kadar glukosa darah sehingga tikus dapat mulaidigunakan dalam pengujian. Tikus yang telah memiliki kadar glukosa darah ≥ 200 mg/dl, selanjutnya disebut tikus diabetes.

4.2.2 Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Setelah Perlakuan

  Tabel 4.6 Hasil uji Anava hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji pada tikus diabetesSumber Variasi JK DB KT F hitung F tabelPerlakuan 256277,00 4 64069,25 31,14 2,76Galat 51429,17 25 2057,17Total 307706,17 29 Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa rata-rata pengukuran kadar glukosa darah tikus diabetes pada hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji diperoleh padapemberian EEBJ dosis 400 mg/kg bb dan 600 mg/kg bb tidak memberikan Hasil uji Duncan dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini. Dari Gambar 4.1 di bawah dapat dilihat bahwa pada hasil pengukuran rata- rata KGD tikus diabetes yang diberi ekstrak etanol biji jengkol dosis 200 mg/kgbb, 400 mg/kg bb dan 600 mg/kg bb serta metformin dosis 50 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar glukosa darah yang lebih besar dibandingkandengan kontrol Na-CMC 0,5% b/v yang terus mengalami kenaikan kadar glukosa darah.

4.2.2.3 Persentase Penurunan Rata-Rata KGD Tikus

  Persentasepenurunan rata-rata KGD yang paling tinggi terdapat pada kelompok metformin dosis 50 mg/kg bb yakni sebesar 97,96% dan hasilnya tidak berbeda jauh denganpersentase penurunan kelompok pemberian EEBJ dosis 600 mg/kg bb yakni sebesar 95,73%. Hasil persentase rata-rata penurunan KGD tikus pada hari ke-7 di atas kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan yang nyata Tabel 4.12 Hasil uji Duncan persentase penurunan KGD tikus pada hari ke-7 pemberian sediaan ujiSubset for alpha = 0.05 Perlakuan N 1 2 3 4 a Duncan kontrol Na-CMC 0,5% 6 -52,14EEBJ 200 mg/kg bb 6 75,54EEBJ 400 mg/kg bb 6 84,56 84,56EEBJ 600 mg/kg bb 6 95,73 95,73Metformin 50 mg/kg bb 6 97,96Sig.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia biji jengkol terhadapkadar air 6,64%, kadar sari larut dalam air 23,63%, kadar sari larut dalam etanol 17,15%, kadar abu total 1,47%, dan kadar abu tidak larut dalamasam 0,23%. Rata-rata pengukuran KGDuntuk EEBJ dosis 200 mg/kg bb menjadi 152,00 mg/dl, dosis 400 mg/kg bb menjadi 124,83 mg/dl, dan dosis 600 mg/kg bb menjadi 96,00 mg/dl.

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menentukan kandungan senyawa aktif dari ekstrak etanol biji jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)yang dapat menurunkan kadar glukosa darah, dan menguji efek toksisitas dari ekstrak etanol biji jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.).

DAFTAR PUSTAKA

  Stres Oksidatif dan Peran Antioksidan pada Diabetes Melitus. Uji Aktivitas Penurun Kadar Glukosa Darah Ekstrak Daun Eugenia polyantha pada Mencit yang Diinduksi Aloksan.

J.M.S. 6(1): 13-20

  (Lanjutan) Contoh perhitungan dosis Metformin yang akan diberikan pada tikus secaraper oral (p.o.) Tiap tablet Metformin mengandung 500 mg Metformin-HCl -Dosis maksimum untuk manusia dewasa = 500 mg – 3 g -Konversi dosis manusia (70 kg) ke dosis untuk hewan uji ‘Tikus’ dikali - 0,018 (ada di Lampiran 10)Syarat volume maksimum larutan sediaan uji yang diberikan pada hewan - uji tikus (200 g) secara per oral (p.o.) adalah 5,0 ml (ada di Lampiran 9)a. Jumlah EEBJ dosis 200 mg/kg bb = x 180 g = 36 mg 1000 g36 mg Volume larutan yang diberi = = 0,9 ml 200 mg / 5 ml Jumlah EEBJ dosis 400 mg/kg bb = x 180 g = 72 mg 1000 g72 mg Volume larutan yang diberi = = 0,9 ml 400 mg / 5 ml Jumlah EEBJ dosis 600 mg/kg bb = x 180 g = 108 mg 1000 g108 mg Volume larutan yang diberi = = 0,9 ml 600 mg / 5 ml Lampiran 12.

Uji Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan Alat-Alat Bahan-Bahan Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Jengkol EEBJ Diagnosa Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus Hasil Skrining Fitokimia dan Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Insulin Monitoring Diabetes Mellitus Komplikasi Diabetes Mellitus Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus Pankreas Klasifikasi Diabetes Mellitus Patogenesis Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus Pemeriksaan Alkaloid Pemeriksaan Saponin Pemeriksaan Tanin Pemeriksaan Glikosida Pemeriksaan Makroskopik dan Organoleptik Penetapan Kadar Air Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol Penetapan Kadar Abu Total Pengukuran Kadar Glukosa Darah KGD Pereaksi Bouchardat Pereaksi Dragendorff Pereaksi Mayer Pereaksi Besi III Klorida 4,5 bv Pereaksi Molish Pereaksi Timbal II Asetat 0,4 M Larutan Asam Sulfat 6 N Larutan Asam Klorida 2 N Pereaksi Liebermann-Burchard Larutan Kloralhidrat Persentase Penurunan Rata-Rata KGD Tikus Perumusan Masalah Hipotesis Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian di atas adalah: Manfaat Penelitian Sistematika Tumbuhan Sinonim Nama Daerah Kandungan Kimia Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jengkol banyak
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol (Pithece..

Gratis

Feedback