Pola Relasi Sosial Petani Dengan Buruh Tani Dalam Produksi Pertanian(Studi Deskriptif Masyarakat di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)

Gratis

31
142
163
3 years ago
Preview
Full text

  

POLA RELASI SOSIAL PETANI DENGAN BURUH TANI

DALAM PRODUKSI PERTANIAN

  (Studi Deskriptif Masyarakat Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara)

  

SKRIPSI

Diajukan Oleh

SUGI ASTUTI

080901024

  

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Departemen Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

  

2012

KATA PENGANTAR

  Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala

limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi

ini. Skripsi yang berjudul “Pola Relasi Sosial Petani Dengan Buruh Tani Dalam Produksi

Pertanian” (Studi Deskriptif Masyarakat di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei

Tuan, Kabupaten Deli Serdang), disusun sebagai salah satu persyaratan untuk

memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Sumatera Utara. Secara ringkas skripsi ini menceritakan tentang bagaimana pola relasi

sosial petani dan buruh tani dalam produksi pertanian.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan dari berbagai pihak skripsi

ini tidak akan terselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-

besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dengan sepenuh hati, baik berupa

ide, semangat, doa, bantuan moril maupun materil sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

  

Penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan tiada henti-

hentinya penulis ucapkan kepada kedua orangtua tercinta Ayahanda Sunardi dan Ibunda

Tukinem yang telah merawat dan membesarkan serta mendidik penulis dengan penuh

kasih sayang dan kesabaran. Akhirnya inilah persembahan yang dapat ananda berikan

sebagai tanda ucapan terimakasih dan tanda bakti ananda.

  Dalam penulisan ini penulis menyampaikan penghargaan yang tulus dan ucapan

terimakasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian

skripsi ini kepada: 1.

  Bapak Prof. Dr. Badaruddin Rangkuti, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

  2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, Selaku ketua Departemen Sosiologi dan Drs. T.

  Ilham Saladin, M.Sp., selaku Sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang selalu memberikan masukan-masukan dalam penulisan skripsi ini, memberikan segenap ilmu pengetahuan semasa perkuliahan, dan nasehat serta pengarahan yang telah diberikan sebagai penguji seminar proposal dan penguji pada ujian sidang meja hijau penulis .

  3. Rasa hormat dan terimakasih yang tidak akan dapat penulis ucapkan dengan kata- kata kepada Bapak Drs. Sismudjito, M.Si, selaku dosen pembimbing sekaligus dosen wali penulis yang telah banyak mencurahkan waktu, tenaga, ide-ide dan pemikiran dalam membimbing penulis dari awal perkuliahan hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.

  4. Segenap dosen, staff, dan seluruh pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Kak Fenni Khairifa, dan Kak Betty yang telah cukup banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dalam hal administrasi.

  

5. Paling teristimewa penulis ucapkan salam sayang terhangat dan terima kasih

  bahkan tak terucap rasa bangga penulis kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda dan Ibundaku tercinta yang telah membesarkan saya dengan mencurahkan kasih sayangnya tiada terhingga dan tiada batasnya kepada saya, selalu memberikan doa’ dan nasehat, dan mendidik saya serta dukungan moril maupun materil kepada saya.

  6. Secara khusus dan istimewa buat abang sulung saya Pipit Supriadi, abang satu-

  satunya dalam hidup saya yang selalu memberikan do’a, semangat, nasehat kepada saya dan masukan yang tidak ternilai harganya dalam penyelesaian skripsi ini.

  7. Saudara-saudara dan sahabat-sahabat baik penulis yang bisa mengerti dan menerima penulis baik dalam keadaan suka maupun duka yang sangat penulis sayangi, terutama buat tiga serangkai “gebro”, Lucie D. Batu Bara dan Ririn Prastika yang selalu bersama-sama selama perkuliahan dan sampai saat ini dan akan datang. Terima kasih banyak untuk dua sahabat saya Rin dan Cie, semoga “ugirincie” menjadi sahabat abadi sepanjang masa. Terima kasih juga kepada

Burhan Effendi S.Sos, Kak Niska, Bang Nanda Purba, dan Rida serta buat saudari-

saudari saya dirumah 14 B, Kak Rin, Kak Rah, dan Mimi. Terimakasih atas doa, dukungan, dan perhatiannya. Terima kasih atas segala support, semangat, bantuan baik moril maupun materil yang telah diberikan. Penulis bangga mempunyai sahabat seperti kalian.

  8. Secara khusus terima kasih saya ucapkan kepada Kakak senior saya yang baik hati dan sudah saya anggap sebagai Kakak kandung saya sendiri, Kak Dini Syahputri yang paling baik dan sabar menjadi tauladan bagi saya. Terima kasih atas dukungan dan bantuan kepada saya untuk pengumpulan data penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  9. Terima kasih banyak penulis ucapkan kepada Bapak Henri Sitorus M. Sc dan Kak Anastashia Bessie M. Si, sebagai dosen dan sosok guru yang mengajarkan saya banyak hal dalam penelitian serta semangat, masukan-masukan dan paling terpenting segenap pengetahuan mengenai penelitian yang telah diberikan sehingga mendukung peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

  10. Kawan-kawan Sosiologi angkatan 2008 yang solid. Terima kasih atas kebersamaan dan segala dukungannya selama menuntut ilmu di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara dan menjaddi teman seperjuangan dalam menuntut ilmu.

  11. Para Informan yang telah banyak membantu memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini. Terutama kepada Bapak Legino sebagai tokoh masyarakat di Desa Tanjung Rejo yang telah banyak membantu dan memberikan informasi dalam penelitian ini. Terimakasih banyak atas waktu dan kesediaan para informan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi terdapat berbagai kekurangan

dan keterbatasan, untuk itu penulis mengharapkan masukan dan saran-saran yang sifatnya

membangun demi kebaikan tulisan ini. Demikianlah yang dapat penulis sampaikan,

semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, dan akhir kata dengan kerendahan

hati, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu

penulisan skripsi ini.

  Medan, April 2012 (Penulis) NIM : 080901024 SUGI ASTUTI

  

ABSTRAK

  Penulisan skripsi yang berjudul “ Relasi Sosial Petani Dengan Buruh Tani Dalam Produksi Pertanian” (Studi Deskriptif Masyarakat Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang), berawal dari ketertarikan penulis terhadap permasalahan berbagai bentuk relasi sosial petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian di desa tersebut. Relasi yang yang terjalin antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian tidak hanya relasi kerja melainkan relasi tersebut telah meluas pada relasi-relasi sosial yang berbeda-beda diantara petani dengan buruh tani. Relasi sosial ini terjalin dalam berbagai bentuk yaitu relasi sosial petani dengan buruh tani bebas, relasi sosial petani dengan buruh tani langganan, dan relasi sosial petani dengan buruh tani tetap. Dan relasi sosial disini seakan sudah terpola dan sudah menjadi suatu kebiasaan yang terjadi secara turun temurun sejak lama.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi deskriptif dengan penelitian kualitatif. Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi unit analisa dan informan dalam penelitian ini adalah petani dan buruh tani yang merupakan warga desa Tanjung Rejo. Interpretasi data dilakukan dengan menggunakan data-data yang didapat dari hasil observasi, wawancara, dan diinterpretasikan berdasarkan dukungan kajian pustaka sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi petani dengan buruh tani terbagi tiga bentuk yaitu relasi sosial petani dan buruh tani bebas terjalin relasi pertemanan dan relasi kerja, relasi petani dengan buruh tani langganan terjalin relasi kekerabatan, dan relasi petani dengan buruh tani tetap terjalin relasi patronase, dimana relasi ini terjalin lebih intens dan mengarah pada hubungan yang saling terkait satu sama lainnya dan relatif sulit dipisahkan karena relasi ini didasari oleh relasi yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Dalam relasi petani dengan buruh tani tetap terikat dengan adat istiadat (keseganan), dengan hutang pinjaman, bantuan-bantuan, dan lainnya. Buruh tani tetap berkewajiban memberikan jasanya baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan pada saat kapanpun juga. Membalas budi merupakan salah satu moral dalam relasi patronase yang terjalin antaramereka. Pertukaran-pertukaran yang terjalin dalam relasi petani dan buruh tani di desa ini tidak hanya pertukaran ekonomi dalam pekerjaan tetapi juga terjalin pertukaran sosial. Alasan petani menggunakan jasa buruh tani langganan karena petani ingin membangun kedekatan emosional saling menguntungkan satu dengan yang lainnya dan menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial sehingga mudah dalam pelaksanaan pekerjaan dan penetapan biaya atau upah buruh tani. Alasan petani menggunakan jasa buruh tani tetap yaitu karena lahannya terlalu luas dan membutuhkan perawatan yang rutin dalam produksi pertanian dan menciptakan pengawasan bagi buruh tani serta ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi buruh tani sebagai pekerja tetap.

  Berbagai bentuk relasi yang terjalin antara petani dan buruh tani mempengaruhi munculnya berbagai bentuk sistem pengupahan dalam produksi pertaniannya. Adapun bentuk-bentuk sistem pengupahan di desa ini yaitu sistem pengupahan sukarela, sistem pengupahan borongan, sistem pengupahan mingguan, sistem pengupahan harian, sistem pengupahan persenan, dan sistem pengupahan bulanan. Sistem pengupahan di desa ini ada yang mengalami pergeseran yaitu sistem pengupahan bawon menjadi sistem pengupahan persenan dan sistem sambatan menjadi sistem giliran yang lebih bersifat ekonomis.

  

DAFTAR ISI

  Kata Pengantar ............................................................................................ i Abstrak ........................................................................................................ v Daftar Isi ..................................................................................................... vii Daftar Tabel ................................................................................................ x Daftar Bagan ............................................................................................... xi

  BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

  1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1

  1.2 Perumusan Masalah .............................................................. 8

  1.3 Tujuan Penulisan .................................................................. 9

  1.4 Manfaat Penulisan .................................................................... 9

  1.5 Defenisi Konsep .................................................................... 10

  BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 12

  2.1 Pola Relasi Sosial Masyarakat Agraris .................................. 12

  2.2 Hubungan Patron –Klien ( Patron-Client Relationship) dalam Masyarakat Pertanian .................................................. 20

  2.3 Teori Pertukaran Sosial ......................................................... 28

  2.4 Sistem Pengupahan dalam Hubungan Kerja pada Masyarakat Pertanian ................................................................................ 30

  BAB

  

III METODE PENELITIAN .................................................... 35

  3.1 Jenis Penelitian ...................................................................... 35

  3.2 Lokasi Penelitian ................................................................... 36

  3.3 Unit Analisis dan Informan ................................................... 36

  3.4 Tehnik Pengumpulan Data .................................................... 37

  3.5 Interpretasi Data .................................................................... 38

  3.6 Jadwal Pelaksanaan ............................................................... 39

  3.7 Keterbatasan Penelitian ......................................................... 40

  BAB

  

IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA ............. 42

  4.1 Deskripsi Wilayah Penelitian ................................................ 42

  4.1.1 Sejarah Desa ........................................................... 42

  4.1.2 Keadaan Geografis Desa ......................................... 45

  4.1.3 Sarana dan Prasarana Desa ..................................... 46

  4.1.4 Penduduk. ............................................................... 49

  4.1.5 Perekonomian ......................................................... 50

  4.1.6 Kondisi Sosial Budaya ............................................ 52

  4.1.7 Pendidikan dan Angkatan Kerja .............................. 53

  4.2 Profil Informan ...................................................................... 55

  4.3 Struktur Masyarakat Desa Tanjung Rejo .............................. 94

  4.4 Relasi Sosial Petani Dan Buruh Tani .................................... 108

  4.4.1 Relasi Petani dan Buruh Tani Bebas ............................ 113

  4.4.2 Relasi Petani dan Buruh Tani Langganan .................... 115

  4.4.3 Relasi Petani dan Buruh Tani Tetap ............................. 117

  4.5 Pola relasi Patron Klien Petani Dan Buruh Tani ................... 120

  4.6 Pertukaran Sosial Petani dengan Buruh Tani ........................ 126

  4.7 Sistem Pengupahan dalam Produksi Pertanian ...................... 129

  4.7.1 Pergeseran Sistem Pengupahan dalamProduksi

  Pertanian di Desa Tanjung Rejo ............................. 129

  4.7.2 Penentuan Tarif Upah Dalam Produksi Pertanian ........ 134

  4.7.3. Sistem- Sistem Pengupahan dalam Produksi Pertanian di Desa Tanjung Rejo ............................. 136

  BAB V PENUTUP .................................................................................... 142

  5.1 Kesimpulan ........................................................................... 142

  5.2 Saran ..................................................................................... 144

  DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ..................................................... 39Tabel 4.1 Penyebaran Luas Wilayah Desa Tanjung Rejo ............................ 46Tabel 4.2 Sarana Kesehatan Desa Tanjung Rejo ......................................... 47Tabel 4.3 Sarana Pendidikan Formal Desa Tanjung Rejo ........................... 47Tabel 4.4 Sarana Pendidikan Keterampilan Desa Tanjung Rejo ................. 47Tabel 4.5 Sarana Peribadatan Desa Tanjung Rejo ....................................... 48Tabel 4.6 Komposisi Penduduk Desa Tanjung Rejo Menurut Golongan

  Usia DanJenis Kelamin Desa Tanjung Rejo ............................... 50

Tabel 4.7 Kepadatan Penduduk Desa Tanjung Rejo ................................... 50Tabel 4.8 Struktur Mata Pencaharian Penduduk Desa Tanjung Rejo .......... 52Tabel 4.11 Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Tanjung Rejo .................. 54Tabel 4.12 Jumlah Angkatan Kerja Desa Tanjung Rejo .............................. 54Tabel 4.13 Tarif Upah Pekerjaan Pertanian Persawahan Desa Tanjung

  Rejo ............................................................................................ 136

Tabel 4.14 Jenis- Jenis Pekerjaan Pertanian Desa Tanjung Rejo ................ 138

  

DAFTAR BAGAN

Tabel 4.1 Pembagian Struktur Masyarakat Pertanian Desa Tanjung Rejo .. 108

  

ABSTRAK

  Penulisan skripsi yang berjudul “ Relasi Sosial Petani Dengan Buruh Tani Dalam Produksi Pertanian” (Studi Deskriptif Masyarakat Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang), berawal dari ketertarikan penulis terhadap permasalahan berbagai bentuk relasi sosial petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian di desa tersebut. Relasi yang yang terjalin antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian tidak hanya relasi kerja melainkan relasi tersebut telah meluas pada relasi-relasi sosial yang berbeda-beda diantara petani dengan buruh tani. Relasi sosial ini terjalin dalam berbagai bentuk yaitu relasi sosial petani dengan buruh tani bebas, relasi sosial petani dengan buruh tani langganan, dan relasi sosial petani dengan buruh tani tetap. Dan relasi sosial disini seakan sudah terpola dan sudah menjadi suatu kebiasaan yang terjadi secara turun temurun sejak lama.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi deskriptif dengan penelitian kualitatif. Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi unit analisa dan informan dalam penelitian ini adalah petani dan buruh tani yang merupakan warga desa Tanjung Rejo. Interpretasi data dilakukan dengan menggunakan data-data yang didapat dari hasil observasi, wawancara, dan diinterpretasikan berdasarkan dukungan kajian pustaka sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi petani dengan buruh tani terbagi tiga bentuk yaitu relasi sosial petani dan buruh tani bebas terjalin relasi pertemanan dan relasi kerja, relasi petani dengan buruh tani langganan terjalin relasi kekerabatan, dan relasi petani dengan buruh tani tetap terjalin relasi patronase, dimana relasi ini terjalin lebih intens dan mengarah pada hubungan yang saling terkait satu sama lainnya dan relatif sulit dipisahkan karena relasi ini didasari oleh relasi yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Dalam relasi petani dengan buruh tani tetap terikat dengan adat istiadat (keseganan), dengan hutang pinjaman, bantuan-bantuan, dan lainnya. Buruh tani tetap berkewajiban memberikan jasanya baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan pada saat kapanpun juga. Membalas budi merupakan salah satu moral dalam relasi patronase yang terjalin antaramereka. Pertukaran-pertukaran yang terjalin dalam relasi petani dan buruh tani di desa ini tidak hanya pertukaran ekonomi dalam pekerjaan tetapi juga terjalin pertukaran sosial. Alasan petani menggunakan jasa buruh tani langganan karena petani ingin membangun kedekatan emosional saling menguntungkan satu dengan yang lainnya dan menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial sehingga mudah dalam pelaksanaan pekerjaan dan penetapan biaya atau upah buruh tani. Alasan petani menggunakan jasa buruh tani tetap yaitu karena lahannya terlalu luas dan membutuhkan perawatan yang rutin dalam produksi pertanian dan menciptakan pengawasan bagi buruh tani serta ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi buruh tani sebagai pekerja tetap.

  Berbagai bentuk relasi yang terjalin antara petani dan buruh tani mempengaruhi munculnya berbagai bentuk sistem pengupahan dalam produksi pertaniannya. Adapun bentuk-bentuk sistem pengupahan di desa ini yaitu sistem pengupahan sukarela, sistem pengupahan borongan, sistem pengupahan mingguan, sistem pengupahan harian, sistem pengupahan persenan, dan sistem pengupahan bulanan. Sistem pengupahan di desa ini ada yang mengalami pergeseran yaitu sistem pengupahan bawon menjadi sistem pengupahan persenan dan sistem sambatan menjadi sistem giliran yang lebih bersifat ekonomis.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani dan didukung dengan kondisi kesuburan tanah dan iklim tropis yang dapat menumbuhkan berbagai jenis tanaman. Pertanian di Indonesia terbagi dua yaitu pertanian tanaman keras dan pertanian tanaman pangan. Pertanian tanaman keras seperti tanaman kakao, sawit, dan lainnya sedangkan pertanian tanaman pangan seperti jagung, padi, sayur mayur, buah-buahan dan lainnya. Menurut data BPS dalam Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Februari 2011, jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 111,3 juta jiwa, dan jumlah petani di Indonesia mencapai 45% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 42,47 juta jiwa. Lebih dari separuhnya merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar atau mencapai 38 juta keluarga tani. Luas lahan pertanian padi di Indonesia pada tahun 2010 tinggal 12,870 juta hektar, menyusut 0,1% dari tahun sebelumnya yang berjumlah 12,883 juta hektar. Luas lahan pertanian secara keseluruhan termasuk non-padi pada 2010 diperkirakan berjumlah 19,814 juta hektar, menyusut 13 % dibanding tahun 2009 yang mencapai 19,853 juta ha. ( BPS Indonesia, 2011).

  Keberadaan sektor pertanian tanaman pangan dalam perekonomian di Indonesia saat ini tidak diprioritaskan karena strategi pembangunan yang dilakukan lebih memprioritaskan sektor perkebunan kelapa sawit disamping disebabkan oleh faktor-faktor lainnya. Pertanian kelapa sawit dianggap lebih penting sehingga pembangunan di sektor pertanian pangan khususnya padi menjadi lambat dan terjadi penyusutan atau penyempitan luas lahan pertanian padi. Kecendrungan yang terjadi adalah menyempitnya skala usaha tani. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan petani yang hanya memiliki tanah sempit terpaksa harus menyewa tanah untuk lahan pertanian, dan mereka sendiri memilih menjadi buruh tani atau petani penggarap, yang tentu saja tidak memberi penghasilan yang mencukupi.(Raharjo,1986 : 23).

  Menyempitnya lahan pertanian merupakan masalah serius yang dihadapi oleh para petani. Hal ini terjadi karena semakin luas terjadi konversi lahan sawah untuk penggunaan lain seperti perkebunan sawit. Di tengah berlangsungnya pembangunan ekonomi yang tidak lagi menempatkan sektor pertanian pangan sebagai fondasi ekonomi nasional, berbagai persoalan mendasar masih dihadapi penduduk pedesaan yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Produktivitas tenaga kerja yang rendah, sempitnya lahan garapan, terjadinya alih fungsi lahan, meningkatnya penganguran, dan lainnya menyebabkan kesejahteraan penduduk pedesaan tidak kurung membaik.

  Minimnya kemampuan penguasaan lahan ini juga menjadikan para petani sebagai petani gurem dan hampir semua petani di Indonesia ini adalah petani gurem.

  Petani gurem adalah petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar. Keadaan pelaku usaha pertanian tersebut setiap tahun semakin bertambah jumlahnya dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Masih rendahnya taraf kesejahteraan petani terlihat dari hasil sementara Sensus Pertanian (SP) menyatakan bahwarumah tangga petanigurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar, baik milik sendiri maupun menyewa, pada tahun 1993 hanya 51,9 % dari 20,8 juta rumah tangga petani saat itu. Tahun 2003, atau 10 tahunkemudian, porsi petani gurem 53,9 % dari total rumah tangga petani. Tahun 2008, persentase petanigurem sekitar 55,1 %

  Salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas petaninya petani gurem adalah Sumatera Utara. Petani di Sumatera Utara tahun 2009 sekitar 58,7% adalah petani gurem yaitu petani yang memiliki luas lahan di bawah 0,5 hektar. Dari total jumlah petani di Sumatera Utara 66,0% diantaranya mengerjakan lahannya sendiri. Sedangkan buruh tani berjumlah 21,8%. Dan petani yang statusnya sebagai pemilik hanya mencapai 3,9% dari jumlah petani di Sumatera Utara yang mencapai 1,2 juta jiwa. Petani lahan sempit ini mendominasi pertanian di Sumut. Sementara petani berlahan 0,5 hektar hingga 0,75 hektar mencapai 198.385 orang dan berlahan 0,75 hektar hingga 1 hektar sebanyak 102.067 orang. (BPS Sumut, 2010). Menurut Jhon Tafbu dalam Indra Lubis menyatakan bahwa petani berlahan kurang dari 0,5 hektar di Sumut paling banyak ada di Deli Serdang, Simalungun, Serdang Bedagai, dan Langkat. Deli Serdang merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh tani. Kepemilikan lahan

  2

  2

  petani rata-rata sekitar 5-7 rante (2000 m – 2800 m )/ orang. (Jhon Tafbu Ritonga, dkk dalam Indra Lubis, 2011).

  Penyempitan lahan juga mengakibatkan petani gurem harus menyewa lahan dari pemilik lahan pertanian supaya dapat mengolah lahan pertanian lebih luas lagi atau menjadi buruh tani. Petani gurem tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya atau meningkatkan produksi pertaniannya apabila tidak memperluas lahan pertanian mereka dengan menyewa lahan dari pemiliki lahan atau dengan memilih pekerjaan di luar pertanian. Penyempitan lahan persawahan ini juga menyebabkan banyaknya masyarakat pedesaan yang menjadi pekerja sebagai buruh tani. Dengan menjadi buruh tani, upah yang didapatkan dapat menjadi tambahan untuk memenuhi kelangsungan hidup selain dengan mengolah lahan pribadinya. Para buruh tani ini juga ada yang memang bermatapencaharian sebagai buruh tani yang mengharapkan upah dari pekerjaan pertanian sebagai penghasilannya tanpa memiliki lahan sedikit pun. Para buruh tani mengerjakan pekerjaan mulai dari menanam padi, merawat tanaman padi, dan memanen hasil. Adanya kontak langsung petani dan buruh tani dalam suatu masyarakat pertanian menimbulkan hubungan antara petani dan buruh tanibaik itu hubungan kerja yang ditandai dengan adanya hubungan pertukaran maupun hubungan sosial.

  Hubungan kerja antara petani dan buruh tani terdapat hubungan pertukaran di dalamnya. Buruh tani bekerja dan petani memberikan upah. Buruh tani memberikan jasanya dan petani memberikan imbalannya berupa upah. Namun, manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan lainnya. Manusia tidak dapat hidup sendirian dan membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena itu manusia bermasyarakat. Dalam suatu masyarakat pasti tercipta suatu relasi sosial. Begitu juga relasi petani dan buruh tani yang tidak sebatas pada hubungan kerja namun meluas pada hubungan sosial atau relasi sosial seperti saling tolong menolong terhadap sesama dalam menyelesaikan pekerjaan. Tidak jarang relasi atau hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan kerjasama, kekerabatan, persaudaraan, dan bahkan dalam waktu yang relatif lama relasi tersebut juga membentuk relasi patronase. Relasi-relasi tersebut sering terjadi pada struktur masyarakat pertanian.

  Salah satu desa di Kabupaten Deli Serdang yang memiliki struktur masyarakat pertanian yaitu desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan.

  Penduduk di desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang bermatapencaharian sebagai petani tanaman padi dan buruh tani, dan hanya sebagian kecil masyarakat yang bekerja di luar sektor pertanian dan instansi pemerintahan. Tahun 2009, angkatan kerja sekitar 5772 jiwa terdiri dari 50 % bekerja di pertanian dan 30 % bekerja sebagai nelayan, dan 20 % bekerja di nonpertanian.

  Jumlah petani sekitar 33 % dan buruh tani sekitar 17 %. Di desa ini mayoritas petani di desa ini adalah petani gurem yang bekerja juga sebagai buruh tani. Pemilik lahan di desa ini bertempat tinggal di luar daerah ini. Luas sawah di desa ini sekitar 1.649 ha yang terdiri dari 600 Ha sawah setengah teknis dan 1049 ha tadah hujan. (Data Monografi Desa Tanjung Rejo, 2009).

  Struktur masyarakat pertanian di desa ini terdapat tiga lapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas (petani pemilik atau pemilik lahan yang tidak mengolah lahannya), lapisan menengah (petani pemilik sekaligus penggarap) dan buruh tani (buruh tani yang memilikis sedikit lahan dan sama sekali tidak memiliki lahan). Para petani di desa ini sebagian besar petani yang menyewa lahan dari pemilik lahan sawah yang tidak dikelolahnya untuk memperluas lahan pertaniannya. Buruh tani di desa ini terdapat tiga kelompok buruh tani berdasarkan hubungan yang terjalin dengan petani pemilik yaitu buruh tani tetap (terikat dengan petani pemilik dan tidak bebas bekerja di lahan pertaniaan siapa saja), buruh tani langganan (buruh petani yang dipakai secara tetap apabila petani pemilik membutuhkannya untuk mengolah lahannya namun tidak terikat dan dapat bekerja di tempat lain), dan buruh tani bebas (tidak terikat dengan petani pemilik dan bebas bekerja di lahan pertanian siapa saja).

  Dalam kehidupan bermasyarakat, antara petani dan buruh tani di desa ini tercipta suatu relasi. Relasi antara petani dan buruh tani tidak sebatas terjalin relasi kerja dengan memberikan upah saja, tetapi meluas pada relasi sosial. Relasi antara petani dan buruh tani di desa ini berbeda-beda sesuai dengan bentuk buruh taninya.

  Relasi petani dan buruh tani bebas sebagian besar hanya terbentuk relasi atau hubungan ketetanggaan atau sebatas hubungan kerja atau hubungan pertukaran. Relasi petani dan buruh tani langganan terbentuk relasi atau hubungan kekerabatan, persaudaraan, dan lainnya. Sedangkan relasi antara petani dan buruh tani tetap terbentuk pada relasi yang amat rumit yaitu relasi patronase. Relasi patronase yang terjadi lebih bersifat assosiatif atau kerjasama antara petani dan buruh tani. Relasi antara buruh tani dan petani tidak memperlihatkan adanya kesenjangan sosial, perbedaan status dan sekat-sekat sosial. Masyarakat di desa ini saling berbaur satu dengan lain dan saling bekerjasama.

  Struktur masyarakat pertanian di desa ini menyebabkan terjadinya relasi kerja yang berbeda. Perbedaan relasi kerja yang berbeda-beda antara petani dan buruh tani mempengaruhi terbentuknya sistem pengupahan yang berbeda-beda pula. Pengupahan merupakan pemberian imbalan kepada pekerja berupa material atau non material atas pekerjaan yang telah dilakukan oleh pekerja. Inilah yang disebut dengan pertukaran. Ada beberapa sistem pengupahan dalam hubungan kerja pada masyarakat pertanian yaitu sistem bawon, upah harian, upah borongan, upah bulanan atau mingguan, dan lainnya. Semua sistem pengupahan ini merupakan bentuk pertukaran antara tenaga dan materi dalam hubungan kerja. Besarnya jumlah upah yang diperoleh oleh buruh tani ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat yang ada di desa tersebut. Besarnya jumlah upah yang ditetapkan atau yang diberikan oleh petani kepada hubungan tani juga dipengaruhi oleh relasi sosial yang terjalin diantara mereka.

  Bahkan dalam sistem pengupahan terdapat perbedaan upah berdasarkan jenis kelamin.

  Seperti upah buruh tani harian, dimana upah perempuan lebih rendah daripada upah laki-laki. Perbedaan upah ini dipengaruhi oleh perbedaan pembagian pekerjaan pertanian.

  Penetapan jumlah upah buruh tani juga belum mendapatkan perhatian yang serius oleh pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari upah buruh tani yang lebih rendah dari upah buruh bangunan dan industri. Secara nasional, rata-rata upah nominal harian buruh tani selalu meningkat dari bulan ke bulan, namun secara riil rata-rata upah harian buruh tani cenderung mengalami penurunan. Secara nasional, rata‐rata upah nominal harian buruh tani pada periode Januari 2011 naik sebesar 0,18 persen dibanding upah buruh tani bulan sebelumnya, yaitu dari Rp38.577 menjadi Rp38.648. Sedangkan secara riil menurun sebesar 1,28 persen, yaitu dari Rp28.934 menjadi Rp28.565.(BPS Indonesia, 2011). Dilihat dari besarnya jumlah upah harian yang diterima buruh tani, terlihat betapa sulitnya buruh tani dalam memenuhi kebutuhan hidup melihat kondisi kenaikan harga pangan saat ini. Namun dalam masyarakat pedesaan dikenal dengan adanya sistem tolong menolong, gotong royong, dan kerjasama yang dapat membantu para buruh tani dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Begitu juga dalam hubungan kerja antara petani dan buruh tani, masih terdapat unsur tolong menolong dan kekeluargaan diantara masyarakat petani . Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana relasi sosial antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian yang telah membentuk suatu pola relasi sosial dan apa saja bentuk-bentuk sistem pengupahan yang ada dalam hubungan tersebut yang telah disepakati di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

1.2 Perumusan Masalah

  Penyempitan lahan pertanian yang terjadi pada pertanian pangan menyebabkan para petani padi menjadi petani gurem yaitu petani yang berlahan sempit. Untuk menambah penghasilan dalam memenuhi kebutuhan hidup, para petani gurem menyewa lahan dari pemilik lahan dan memilih pekerjaan sampingan seperti menjadi buruh tani. Adanya petani dan buruh tani dalam masyarakat pertanian menimbulkan suatu relasi diantara mereka sebagai makhluk sosial tidak hanya relasi atau hubungan pertukaran atau hubungan kerja tetapi juga terbentuk pola relasi kekerabatan, kekeluargaan, persaudaraan, dan relasi patronase. Di desa Tanjung Rejo terdapat tiga jenis buruh tani yaitu buruh tani tetap, langganan, dan bebas. Dengan keberagaman relasi kerja masyarakat tersebut maka mempengaruhi munculnya sistem pengupahan yang berbeda-beda sebagai hubungan pertukaran petani dan buruh tani.

  Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pola relasi sosial antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian?

  2. Bagaimana bentuk-bentuk sistem pengupahan dalam hubungan kerja antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian?

1.3 Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui relasi sosial antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian.

2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk sistem pengupahan dalam hubungan kerja antara petani dengan buruh tani.

1.4 Manfaat Penelitian

  Adapun manfaat penelitian ini adalah :

  1.4.1 Manfaat Teoritis 1.

  Untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu sosiologi pada khususnya sosiologi pedesaan dan kajian mengenai hubungan sosial.

  2. Untuk menambah referensi hasil penelitian yang juga dijadikan sebagai bahan rujukan untuk penelitian bagi mahasisiwa sosiologi selanjutnya, serta diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan memperluas cakrawala pengetahuan.

1.4.2 Manfaat Praktis 1.

  Menjadi sumbangan pemikiran untuk kelembagaan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan para petani dan buruh tani.

  2. Menjadi sumbangan pemikiran terhadap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam menetapkan kebijakan upah minimum dan mempercepat penerapan kebijakan tersebut supaya kesejahteraan petani dan buruh tani lebih meningkat.

  3. Untuk memberikan masukan-masukan kepada pihak-pihak atau lembaga- lembaga yang membutuhkannya, terutama bagi petani dan buruh tani supaya memiliki kelompok tani yang bisa menjadi tenaga penghubung untuk menghilangkan kesenjangan antara pemilik lahan dan buruh tani dan memberikan kontribusi bagi para LSM untuk meningkatkan produktivitas petani dan bargaining power para buruh tani.

1.5 Defenisi Konsep

  Konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep merupakan variabel-variabel dimana dapat ditentukan ada hubungan empiris. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kerangka konseptual adalah rangkaian pengertian logis yang dipakai untuk menentukan jalan pemikiran dalam penelitian untuk memperoleh permasalahan yang tepat. Dengan kata lain, konsep adalah istilah yang mewaklili atau menyatakan suatu pengertian tertentu.

  Adapun konsep-konsep dalam penelitian ini adalah : 1. Relasi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang terjadi antara satu individu dengan individu yang lain dan membentuk suatu pola hubungan.

  Relasi sosial dalam penelitian ini adalah relasi sosial antara petani pemilik dan buruh tani.

  2. Pertanian adalah kegiatan pemanfaattau sumber Pertanian dalam penelitian ini adalah pertanian padi atau sawah, dan sawah tersebut merupakan sawah setengah teknis (irigrasi).

  3. Petani adalah seseorang yang memiliki atau mengusahakan sebidang tanah atau lahan untuk bercocok tanam. Dalam penelitian ini petani yang dimaksud adalah petani padi yang mengolah sawah setengah teknis (irigrasi) dan petani tersebut merupakan petani yang mengolah lahan sendiri maupun menyewa lahan dan mempekerjakan buruh tani dalam mengolah lahannya.

  4. Buruh tani adalah petani yang memperoleh penghasilan terutama dari bekerja yang mengambil upah untuk para pemilik tanah atau para petani penyewa tanah. Dalam penelitian ini buruh tani yang dimaksud baik itu sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan.

  5. Pengupahan adalah suatu bentuk kesepakatan untuk memberikan balas jasa dengan memberikan materi kepada pekerja sebagai balas jasa. Dalam penelitian ini pengupahan dilakukan dalam bentuk uang tunai.

  6. Patron klien adalah suatu bentuk kerja sama antar dua orang yang berbeda statusnya dan dicirikan oleh adanya rasa saling percaya, saling membutuhkan, dan kedua belah pihak terlibat dalam keakraban.

  7. Kepemilikan lahan adalah hak mutlak yang dimiliki oleh petani untuk memiliki dan menguasai lahannya baik itu menjualnya, menghibahkannya, menukarkannya, dan mewariskannya.

  8. Penguasaan lahan adalah hak sementara yang dimiliki oleh petani untuk mengelolah lahan pertanian berdasarkan batas waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian antara petani pemilik dan petani peng

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pola Relasi Sosial Masayarakat Agraris

2.1.1 Pola Relasi Sosial

  Hubungan antarasesama dalam istilah sosiologi disebut relasi atau relation. Relasi sosial juga disebut hubungan sosial merupakan hasil dari interaksi (rangkaian tingkah laku) yang sistematik antara dua orang atau lebih. Relasi sosial merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu yang lain dan saling mempengaruhi. Suatu relasi sosial atau hubungan sosial akan ada jika tiap-tiap orang dapat meramalkan secara tepat macam tindakan yang akan datang dari pihak lain terhadap dirinya. Dikatakan sistematik karena terjadinya secara teratur dan berulang kali dengan pola yang sama. Menurut Spradley dan McCurdy dalam Ramadhan, relasi sosial atau hubungan sosial yang terjalin antara individu yang berlangsung dalam waktu yang relatif lama akan membentuk suatu pola, pola hubungan ini juga disebut sebagai pola relasi sosial. (Spradley dan McCurdy, 1975 dalam Ramadhan, 2009 : 11).

  Manusia ditakdirkan sebagai makhluk pribadi dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk pribadi, manusia berusaha mencukupi semua kebutuhannya untuk kelangsungan hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhannya manusia tidak mampu berusaha sendiri, mereka membutuhkan orang lain.

  Itulah sebabnya manusia perlu berelasi atau berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial dalam rangka menjalani kehidupannya selalu melakukan relasi yang melibatkan dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu. Hubungan sosial merupakan interaksi sosial yang

  

dinamis yang menyangkut hubungan antar individu, antar kelompok, ataupun

antara individu dengan kelompok. Misalnya pada masyarakat agraris, terjalin

  relasi antara tuan tanah atau pemilik tanah dengan petani penggarap atau penyewa, petani penyewa dengan buruh tani, petani dengan pedagang, petani dengan pemberi modal, dan lainnya.

  Hubungan sosial atau relasi sosial merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu yang lain, saling mempengaruhi dan didasarkan pada kesadaran untuk saling menolong. Relasi sosial merupakan proses mempengaruhi diantara dua orang atau lebih.Relasi sosial dalam masyarakat juga terdiri dari berbagai macam bentuk yaitu sebagai berikut : 1.

  proses yang berbentuk

  Relasi atau hubungan sosial assosiatif adalah

  kerja sama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi serta proses interaksi

  yang cenderung menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok, misalnya kerja sama, kerukunan, asimilasi, akulturasi, persaudaraan, kekerabatan, dan lainnya.

2. Relasi atau hubungan sosial dissosiatif adalah proses yang berbentuk oposisi. Misalnya persaingan, pertentangan, perselisihan dan lainnya.

   diakses tanggal 3 November 2011).

2.1.2 Struktur Masyarakat Agraris

  Menurut Sanderson dalam Wisadirana (2005), masyarakat agraris adalah masyarakat yang menyandarkan hidupnya pada pertanian, baik sebagai pemilik lahan maupun bukan pemilik lahan. Sumberdaya agrarian atau lahan digunakan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, gambaran struktur masyarakat agraris yang merujuk pada peta hubungan sosial di kalangan anggota masyarakat agraris akan bertumpu pada posisi para petani dalam penguasaan sumberdaya agraria, baik dalam penguasaan tetap maupun penguasaan sementara. Kemudian differensiasi struktur masyarakat agraris merujuk pada keberadaan kelompok-kelompok dalam masyarakat yang posisinya dalam penguasaan sumberdaya agraria tidak sama.(Wisadirana, 2005 : 52).

  Setiap masyarakat senantiasa memiliki penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu akan menciptakan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih banyak memiliki kekayaan material maka orang yang lebih banyak memiliki kekayaan materil akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pihak-pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat yang merupakan perbedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.(Soekanto, 2009 : 197). Misalnya masyarakat pertanian yang dianggap memiliki kedudukan tertinggi karena mereka dianggap sebagai pemilik lahan yang luas.

  Berbasis hubungan sosial dalam penguasaan sumber daya agraria, hasil sensus terhadap seluruh rumah tangga petani di empat komunitas petani lokasi penelitian di Jawa Barat menunjukan bahwa bahwa struktur masyarakat agraris terdifferensiasi dalam banyak lapisan. Sebagian dari lapisan-lapisan tersebut dibangun dengan status tunggal (status dimaksud merupakan basis dasar pelapisan masyarakat), sedangkan sebagian lapisan-lapisan lainnya dibangun dengan status jamak atau kombinasi. Secara lebih rinci, berbagai lapisan masyarakat agraris yang muncul dalam dua komunitas petani di lokasi penelitian adalah : 1.

  Petani pemilik. Para petani pada lapisan ini menguasai sumberdaya agararia hanya melalui pola pemilikan tetap ( baik petani pemilik yang lahannya diusahakan sendiri dan atau petani pemilik yang lahannya diusahakan oleh orang lain).

  2. Petani pemilik + penggarap. Para petani pada lapisan ini menguasai sumberdaya agraria tidak hanya melalui pola pemilikan tetap tetapi juga melalui pemilikan sementara ( dengan cara mengusahakan pemilik mengusahakan lahan milik petani lain melalui sistem bagi hasil, sewa atau gadai).

  3. Petani pemilik + buruh tani. Para petani pada lapisan ini menguasai sumberdaya agraria melalui pola pemilikan tetap. Selain itu untuk menambah penghasilan keluarganya, mereka juga menjalankan peranan sebagai seorang buruh tani.

  4. Petani penggarap. Para petani pada lapisan ini menguasai sumberdaya agraria hanya melalui pola pemilikan sementara (dengan cara mengusahakan lahan milik petani lain, umumnya melaui sistem bagi hasil).

  5. Petani penggarap + buruh tani. Para petani pada lapisan ini menguasai sumberdaya agraria melalui pola pemilikan sementara (dengan cara mengusahakan lahan milik petani lain melalui sistem bagi hasil, sewa atau gadai). Selain itu, untuk menambah penghasilan keluarga, mereka juga menjalankan peranan sebagai buruh tani. Sebagaimana lapisan petani penggarap, lapisan ini termasuk bukan pemilik lahan tetapi tidak mutlak.

  6. Buruh tani. Para petani pada lapisan ini benar-benar tidak menguasai sumberdaya agrarian, sehingga dapat dikategorikan sebagai bukan pemilik lahan mutlak. Namun, mereka masih memperoleh manfaat sumberdaya agrarian dengan cara buruh tani.( Sihaloho, 2010 :163- 164). Struktur masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo menunjukan bahwa terdapat lapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas (petani pemilik), lapisan menengah (petani pemilik sekaligus penggarap) dan buruh tani. Para petani di desa ini sebagian besar petani pemilik menyewa lahan dari pemilik lahan sawah yang tidak dikelolah. Orang yang disebut sebagai petani di desa ini adalah petani yang memiliki lahan dan menggarap atau menyewa lahan pertanian. Keharusan memenuhi kebutuhan subsistensi keluarga yang mengatasi segala-galanya seperti kekurangan tanah, dan yang memiliki keluarga yang besar, seringkali memaksa petani menambah penghasilannya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain seperti menjadi buruh tani. (Scott , 1994 : 21).

  Di desa ini terdapat tiga kelompok buruh tani yaitu buruh tani tetap (terikat dengan petani pemilik dan tidak bebas atau tidak dapat bekerja di lahan pertaniaan siapa saja), buruh tani langganan (buruh petani yang dipakai secara tetap apabila petani pemilik membutuhkannya untuk mengolah lahannya namun tidak terikat dan dapat bekerja di tempat lain), dan buruh tani bebas (tidak terikat dengan petani pemilik dan bebas bekerja di lahan pertaniaan siapa saja). Hasil kajian Kusyrono dalam Susilowati menyatakan bahwa di empat desa di Jawa Barat menemukan buruh tani yang mempekerjakan buruh tani tetap. Buruh tetap bekerja pada seorang pemilik lahan untuk berbagai macam kegiatan baik kegiatan pertanian maupun non pertanian. Penggunaan buruh tani tetap bagi pemilik lahan adalah kepastian untuk memperoleh tenaga kerja. Penggunaan buruh tani langganan mengandung tujuan yang sama dengan penggunaan buruh tani tetap. Penggunaan buruh tani langganan memperlihatkan peningkatan sistem upah harian, mingguan atau upah bulanan.(Susilowati,2005 : 10). Buruh tani di desa Tanjung Rejo merupakan buruh tani yang memang hanya mendapatkan penghasilan dengan bekerja di bidang pertanian tanpa mengolah lahan dan buruh tani yang sekaligus memiliki lahan relatif sempit sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga bekerja sebagai buruh tani. Dengan terjalinnya relasi kerja antara petani dan buruh tani, secara otomatis juga terjalinnya relasi sosial diantara mereka.

2.1.3 Pola Relasi Sosial Masyarakat Agraris

  Dalam artikel Gusti Alif Prassojo (2011) yang berjudul“Pola Hubungan Petani dalam Masyarakat”, dikatakan bahwa relasi sosial atau hubungan sosial tersebut menciptakan suatu kelompok atau komunitas. Relasi yang terus menerus dalam komunitas tersebut lama kelamaan akan menciptakan suatu pola. Pola hubungan inilah yang membuat setiap manusia mendapat bagiannya sendiri-sendiri dalam komunitas. Petani adalah mahluk manusia dan manusia adalah mahluk sosial yang dalam kehidupannya tidak dapat lepas dari manusia lain. Dahulu sebagian besar petani, anggota keluarganya juga ikut bertani meski bukan pekerjaan utamanya. Antara petani dan keluarganya tersebut memiliki suatu pola relasi atau hubungan yang saling mendukung. Relasi yang saling mendukung tersebut yang membuat keluarga petani hidup dengan tentram. Begitu juga antara petani dan buruh tani juga memiliki suatu pola relasi yang sangat mendukung. Di desa-desa para petani menjunjung tinggi rasa persaudaraan. Itu terbukti dengan semangat gotong royong yang kuat, pembuatan rumah yang tidak perlu menyewa tukang bangunan, penanaman padi yang dilakukan secara beramai-ramai, panen yang juga dilakukan secara beramai-ramai, bila ada hajatan “terdengar suara sound yang keras” mereka langsung berbondong-bondong mengungkapkan rasa simpati mereka. Relasi antara petani satu dan yang lain sangat harmonis. Masalah memang ada dalam masyarakat pertanian, sebagai contoh saat petani kesulitan air dimusim kemarau mereka berebut mendapatkan jatah air, pertikaian antar kampung lantaran rasa solidaritas tinggi tanpa dibarengi logika, dan lain-lain.(Prassojo, 2011).

  Pola relasi sosial antar petani dan buruh tani yang terjadi di desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang terdapat tiga relasi sosial yang terjalin yaitu relasi petani dengan buruh tani tetap, relasi petani dan buruh tani langganan dan relasi petani dengan buruh tani bebas. Ketiga relasi sosial ini memiliki bentuk relasi sosial yang berbeda-beda. Relasi petani dan buruh tani bebas ditandai dengan adanya relasi ketetanggaan dan bahkan hanya relasi kerja atau pertukaran sosial atau hubungan transaksi di pasar tenaga kerja saja. Relasi petani dengan buruh tani langganan ditandai dengan adanya hubungan kekerabatan, persaudaraan, kekeluargaan, dan lainnya.Banyak petani yang hasil panen bersihnya (setelah dipotong sewa dan biaya produksi) dibawah subsistensi, pekerjaan-pekerjaan sampingan itu sudah merupakan bagian yang lazim dan tidak terpisahkan dan subsistensi secara keseluruhan. Seorang petani mungkin akan dibantu oleh sanak saudaranya, kawan-kawannya, warga desanya, seorang pelindung yang berpengaruh dan malahan jarang sekali olehnya untuk mengatasi satu masa yang sulit akibat gagal panen. Sanak saudaranya biasanya merasa berkewajiban untuk berbuat apa yang dapat diperbuat untuk menolong seorang kerabat dekat yang sedang dalam kesulitan, akan tetapi mereka tidak dapat menawarkan lebih dari sumber daya yang dapat mereka mampu di kalangan mereka sendiri.(Scott, 1994 : 40).

  Relasi petani dan buruh tani tetap ditandai dengan adanya relasi patronase yakni hubungan yang relatif lebih rumit. Relasi patronase yang terbentuk bervariasi tergantung kompleksitas hubungan yang telah terjadi dan perbedaan sosial budaya yang melatarbelakanginya. Dalam banyak hal, orang tidak dapat mengandalkan kepada sesama warga desanya untuk mendapat bantuan dalam jumlah dan dengan kepastian yang sama besarnya dengan apa yang bisa diperolehnya dari kerabat dan tetangga-tetangganya. Dengan demikian banyak buruh tani yang meminta tolong pada orang yang memiliki status sosial yang lebih atas yang dapat membantunya. Orang tersebut disebut dengan patron. Patron dianggap pelindung bagi kliennya karena patron dapat membantu klien-kliennya dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

2.2 Hubungan Patron–Klien (Patron-Client Relationship) dalam Masyarakat Pertanian.

  Istilah patron berasal dari ungkapan bahasa Spanyol yang secara entimologis berarti seseorang yang memilki kekuasaan (power), status, wewenang dan pengaruh, sedangkan klien berarti bawahan atau orang yang diperintah dan disuruh. Selanjutnya pola hubungan patron klien merupakan aliansi dari dua kelompok komunitas atau individu yang tidak sederajat, baik dari segi status, wewenang, kekuasaan maupun penghasilan, sehingga menempatkan klien dalam kedudukan yang lebih rendah dan patron dalam kedudukan yang lebih tinggi. Berdasarkan paparan-paparan yang diulas dari pengertian diatas maka kemudian terdapat satu hal penting yang dapat digaris bawahi, yaitu bahwa terdapat unsur pertukaran barang atau jasa bagi pihak- pihak yang terlibat dalam pola – pola relasi antara patron dan klien. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola – pola relasi yang semacam ini dapat dimasukan kedalam bentuk dan pola hubungan pertukaran yang lebih luas.

  Menurut Scott dalam Hariadi (1987), relasi patron klien merupakan hubungan yang antara dua pihak yang menyangkut persahabatan, dimana seorang individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber-sumber yang dimilikinya untuk memberikan perlindungan dan atau keuntungan bagi seseorang yang statusnya lebih rendah (klien), dan sebaliknya si klien membalas dengan memberikan dukungan dan bantuan secara umum termasuk pelayanan pribadi kepada patron. Dalam hubungan ini pertukaran tersebut merupakan jalinan yang rumit dan berkelanjutan, biasanya baru terhapus dalam jangka panjang. (Scott, 1976 dalam Hariadi, 1987: 48)). Imbalan yang diberikan klien bukan imbalan berupa materi melainkan dalam bentuk lainnya. Si patron tidak akan mengharapkan materi atau uang dari klien tapi mengharapkan imbalan lainnya yang dibutuhkan si patron.

  Ikatan-ikatan sosial yang khas antara patron dan klien menekankan ide moral, hak-hak, dan kewajiban-kewajiban timbal balik yang memberikan kekuatan sosial kepada ikatan-ikatan itu. Sudah tentu tidak mungkin barang dan jasa yang dipertukarkan antara patron dan klien itu akan identikan oleh karena sifat dari pola hubungan itu disesuaikan atas kebutuhan-kebutuhan mereka yang berbeda. Suatu sifat yang persis dengan pertukaran itu akan mencerminkan kekhasan dari kebutuhan-kebutuhan dan sumber-sumber kekayaan baik dari patron maupun dari klien dalam jangka waktu tertentu.

  Maka pada umumnya patron diharapkan untuk melindungi kliennya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan materinya. Sedangkan klien mengimbalinya dengan tenaga kerja dan loyalitasnya (Scott , 1994 : 257).

  Scott dalam Ramadhan (2009), mengemukakan bahwa hubungan patronase mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan hubungan sosial lain. Pertama, yaitu terdapatnya ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran; kedua, adanya sifat tatap-muka (face-to-face character), dan ketiga adalah sifatnya yang luwes dan meluas (diffuse flexibility) ( Ramadhan, 2009 : 15). Menguraikan ciri yang pertama Scott mengatakan bahwa terdapat ketimpangan pertukaran atau ketidakseimbangan dalam pertukaran antara dua pasangan, yang mencerminkan perbedaan dalam kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan. Dalam pengertian ini seorang klien adalah seseorang yang masuk dalam hubungan pertukaran yang tidak seimbang (unequal), di mana dia tidak mampu membalas sepenuhnya. Suatu hutang kewajiban membuatnya tetap terikat pada patron. Ketimpangan terjadi karena patron berada dalam posisi pemberi barang dan jasa yang sangat dibutuhkan oleh klien beserta keluarganya agar mereka bisa tetap hidup. Rasa wajib membalas pada diri si klien muncul lewat pemberian ini, selama pemberian itu masih dirasakan mampu memenuhi kebutuhannya yang paling pokok atau masih dia perlukan.

  Sifat tatap-muka relasi patronase menunjukkan bahwa sifat pribadi terdapat di dalamnya. Hubungan timbal-balik yang berjalan terus dengan lancar akan menimbulkan rasa simpati (affection) antar kedua belah pihak, yang selanjutnya membangkitkan rasa saling percaya dan rasa dekat. Dekatnya hubungan ini kadangkala diwujudkan dalam penggunaan istilah panggilan yang akrab bagi partnernya. Dengan adanya rasa saling percaya ini seorang klien dapat mengharapkan bahwa si patron akan membantunya jika dia mengalami kesulitan, jika dia memerlukan modal dan sebagainya. Sebaliknya si patron juga dapat mengharapkan dukungan dari klien apabila pada suatu saat dia memerlukannya.

  Ciri terakhir yaitu sifat relasi yang luwes dan meluas. Seorang patron misalnya, tidak saja dikaitkan oleh hubungan sewa-menyewa tanah oleh kliennya, tetapi juga karena hubungan sebagai sesama tetangga, atau mungkin teman sekolah di masa yang lalu, atau orang-orang tua mereka saling bersahabat, dan sebagainya. Juga bantuan yang diminta dari klien dapat bemacam-macam, mulai dari membantu memperbaiki rumah, mengolah tanah, mengurus ternak, dan lain-lain. Di lain pihak si klien dibantu tidak hanya dalam bentuk modal usaha pertanian saja, melainkan juga kalau ada musibah, mengalami kesulitan dalam mengurus sesuatu, mengadakan pesta-pesta atau selamatan tertentu dan berbagai keperluan lainnya. Pendeknya hubungan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan oleh kedua belah pihak, dan sekaligus juga merupakan semacam jaminan sosial bagi mereka.

  Patron client relationship merupakan proses assosiatif yang terwujud

  dalam bentuk kerja sama antara dua orang yang berbeda statusnya, dengan ciri- ciri pihak patron melindungi klien dalam berbagai transaksi, serta adanya relasi saling membutuhkan, saling percaya, dan kedua belah pihak terlibat dalam keakraban. Hubungan ini telah menjadi subur dari masa lampau hingga dewasa ini di dalam masyarakat Indonesia. Si patron yang merupakan anggota masyarakat yang lebih beruntung dilihat dari status sosial ekonomi. Mereka inilah yang memiliki modal dan cara berfikir yang lebih baik. Dengan asset yang dimiliki, si patron mempekerjakan kepada anggota masyarakat lain yang status sosial ekonominya lebih rendah. Untuk menjalankan usaha yang diberikan kepada klien, si patron memberikan bimbingan saat klien mengalami kesulitan baik di bidang usaha maupun di bidang lain yang dianggap perlu. Hal ini dilakukan patron supaya klien menjadi terikat dan merasa enggan apabila ingin lepas dari patron. (Ibrahim, 2003, 24).

  Hasil penelitian Rahmadayanti di Nagari Solok Bio-bio, Kecamatan Harau Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat (2009) mengenai “Relasi Sosial

  

antara Pengampo dan Pemilik Lahan” menemukan bahwa adanya kerja sama

  antara pengampo dan pemilik lahan berlangsung terus menerus dan hubungannya didasarkan pada hubungan kekerabatan antara pemilik lahan dan pengampo. Dan tidak ada organisasi formal yang mengikat hubungan ini. Hubungan ini akan berakhir apabila kegiatan pengampo selesai. Dalam hubungan tersebut, membuat pengampo terkukung hidupnya dan sulit menghindar dari hubungan yang terjalin. Penyebab pengampo tidak bisa keluar dari hubungan ini tidak hanya oleh faktor pemilik lahan sendiri tetapi juga faktor pengampo itu sendiri yang sangat membutuhkan. (Rahmadayanti, 2009: 23). Hal ini berarti relasi yang terjadi antara pengampo dan pemilik lahan telah meluas pada hubungan sosial dan membentuk suatu pola relasi sosial yaitu hubungan patron klien khususnya terhadap buruh tani tetap atau buruh tani langganan. Hubungan patron klien yang diciptakan oleh petani pemilik memiliki banyak tujuan, seperti untuk mempererat kekerabatan, melindungi buruh tani, menciptakan nuansa kekeluargaan sehingga buruh tani merasa betah bekerja padanya, mengikat buruh tani agar tidak berpindah kerja, dan lainnya.

  Dalam suatu kondisi yang stabil, hubungan kekuatan antara patron dan klien menjadi suatu norma yang mempunyai kekuatan moral sendiri dimana didalamnya berisi hak-hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Norma-norma tersebut akan dipertahankan sejauh memberikan jaminan perlindungan dan keamanan dasar bagi klien. Dasar hubungannya adalah ketidakmerataan, menyangkut pertukaran pelayanan antara dua belah pihak dimana si patron melindungi klien. Hubungan itu meliputi banyak jenis transaksi dan interaksi diantara kedua belah pihak, ada perasaan saling membutuhkan, saling percaya, dan satu sama lain kenal mengenal secara mendalam. Transaksi yang dibuat tidak berdasarkan perjanjian yang ketat atau formal. Patron klien merupakan sistem norma yang sudah mendarah daging pada anggota masyarakat pedesaan khususnya masyarakat pertanian.

  Secara teoritis, dalam masyarakat pertanian, para pemilik lahan selain menggunakan sistem bonus dan penalty sebagai strategi untuk menekan terjadinya kecurangan dalam pekerjaan para buruh tani, serta melakukan sistem patron klien untuk menekan kecurangan yang terjadi. Hubungan patron klien merupakan hubungan yang menyangkut kedua belah pihak, dimana seorang individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya yang dimiliki untuk memberikan perlindungan atau keuntungan kepada seseorang yang status sosial ekonominya lebih rendah (klien) yang sebaliknya membahas dengan memberikan bantuan dan dukungan. Ikatan antara pelindung (patron) dan klien merupakan satu bentuk asuransi sosial yang terdapat dimana-mana di kalangan petani Asia Tenggara dan merupakan suatu langkah jauh lainnya dalam jarak sosial dan seringkali moral, khususnya apabila sang pelindung bukan warga desa. Apakah dia tuan tanah, pedagang, seorang patron menurut defenisinya adalah orang yang berada dalam posisi untuk membantu klien-kliennya. Meskipun klien-klien seringkali berusaha sebisa-bisanya untuk memberikan arti moral pada hubungan itu. Oleh karena itu kedudukan mereka dalam menghadapi patron seringkali lemah sekali. Patronase itu ada segi baiknya, bukan peraturan-peraturan karena dapat diandalkan melainkan mengingat sumberdayanya. (Scott, 1994 : 41).

  Hubungan patron klien antara majikan dan buruh pada umumnya melibatkan lebih dari satu aktivitas ekonomi yang sifatnya personal, seperti majikan akan membantu buruh apabila mengalami kesulitan uang sekolah anaknya, dan buruh akan membantu majikan apabila majikan kerepotan.

  Dengan demikian buruh aakan merasa segan apabila ingin melakukan tindak kecurangan, karena dapat merusak hubungan buruh dan majikan. Dengan demikian hubungan patron klien dapat mengurangi kesempatan buruh melakukan tindakan yang tidak jujur. Dengan melakukan kerja sama dalam waktu yang relatif panjang, majikan akan mengetahui kemampuan dan kejujuran buruh.Hubungan patron klien tercermin dari pengunaan buruh langganan. Namun hubungan patron klien ini sangat bervariasi, mengikuti kompleksitas hubungan yang telah terjadi dan perbedaan sosial budaya yang melatarbelakanginya.(Susilowati,2005:8).

  Hubungan antara petani pemilik dengan buruh tani terutama hubungan di dalam hubungan kerja, pada komunitas desa ada kecendrungan yang amat kuat untuk mengkaitkan berbagai transaksi menjadi hubungan yang amat rumit dan pribadi sifatnya. Seorang pemilik tanah tidak hanya memberi upah kepada buruh taninya, seringkali patron juga bertindak sebagai pelindung terhadap buruh tani, seperti memberikan beragam hadiah atau pemberian, dan mempergunakan pengaruhnya untuk memecahkan problema-problema buruh tani, terutama dalam masalah ekonomi. Sebaliknya, buruh tani membalasnya dengan kesetiaan dari dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk membantu di rumah majikan jika diperlukan. Pada masyarakat pertanian kewajiban membalas budi merupakan satu prinsip moral yang paling utama yang berlaku bagi hubungan, baik antara pihak-pihak yang sederajat maupun pihak-pihak yang tidak sederajat. Dan pola hubungan itu biasanya berbentuk ikatan antara patron klien.

2.3 Teori Pertukaran Sosial

  Asumsi dasar yang diajukan oleh teori ini adalah bahwa transaksi pertukaran akan terjadi apabila kedua pihak dapat memperoleh keuntungan dari adanya pertukaran tersebut. Untuk melihat hubungan sosial yang terjadi antara petani pemilik dan buruh tani, penulis mencoba mengaitkannya dengan teori pertukaran sosial. Turner (1978) dalam Kamanto Sunarto meringkas pokok pikiran teori pertukaran sebagai berikut:

  1. Manusia selalu berusaha mencari keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan orang lain.

  2. Dalam melakukan transaksi sosial manusia melakukan perhitungan untung rugi .

  3. Manusia cenderung menyadari adanya berbagai alternatif yang tersedia baginya.

  4. Manusia bersaing satu dengan yang lain.

  5. Hubungan pertukaran secara umum antarindividu berlangsung dalam hampir semua konteks sosial.

  6. Individu pun mempertukarkan berbagai komoditas tak terwujud seperti perasaan dan jasa. (Turner, 1978 dalam Sunarto, 2004 : 232).

  Teori pertukaran sosial memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley dalam Jhonson (1990), dua orang pemuka utama dari model ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut : “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini.

  Kemudian teori ini di kembangkan oleh George Homans dalam tingkat individu. Homans juga mengambil konsep dasar seperti biaya, imbalan dan keuntungan Homans memperluasnya hingga mencakup pertukaran sosial juga. Misalnya dukungan sosial seperti uang dapat dijelaskan sebagai suatu reward, dan berada dalam posisi bawahan dalam suatu hubungan sosial dapat dilihat sebagai cost. (Johnson, 1990: 65).

  Homans berpendapat bahwa pertukaran yang berulang-ulang mendasari hubungan sosial yang berkesinambungan antara orang tertentu. Pandangan Homans dituangkan dalam sejumlah proposisinya dan salah satunya yaitu ‘seseorang akan semakin cenderung melakukan suatu tindakan manakala tindakan tersebut makin sering disertai imbalan”. Dalam pola-pola hubungan sosial atau hubungan patron klien anatar petani pemilik dan buruh tani dalam produksi pertanian terdapat unsur pertukaran barang atau jasa bagi pihak- pihak yang terlibat. Misalnya buruh tani memberikan tenaganya kepada petani pemilik, dan petani pemilik memberikan imbalannya berupa upah, dan bentuk- bentuk pertukaran lainnya.

  

2.4 Sistem Pengupahan dalam Hubungan Kerja pada Masyarakat

Pertanian

  Hubungan kerja pada masyarakat pertanian berbeda dengan hubungan kerja pada masyarakat industri. Hubungan kerja pada masyarakat pertanian antara petani pemilik dan buruh tani terdapat unsur hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Sedangkan dalam hubungan kerja masyarakat industri hanya berkisar pada hubungan ekonomi. Sistem pengupahan dalam masyarakat pertanian lebih condong pada pola kegotongroyongan. Adapun bentuk-bentuk hubungan ketenagakerjaan dan kelembagaan upah dalam masyarakat pertanian yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem Bawon Bawon merupakan upah natural yang diberikan pemilik lahan kepada buruh tani, khususnya untuk kegiatan panen yang merupakan bagian tertentu dari hasil panen. Collier at.al dalam Susilowati (2005) menyebutkan pada sistem bawon tradisional, panen padi merupakan aktivitas komunitas yang dapat diikuti oleh semua orang atau kebanyakan anggota komunitas dan menerima bagian tertentu dari hasil. (Susilowati, 2005 : 3). Menurut tradisi di beberapa tempat, petani tidak dapat membatasi jumlah orang yang ikut memanen. Sistem tersebut merupakan bawon yang “benar-benar terbuka” dalam artian setiap orang diijinkan untuk memanen. Sistem bawon yang lain yaitu sistem bawon yang lebih ketat adalah sistem bawon dengan peserta tertentu (yang diundang saja).

  2. Sistem Kedokan Kata kedokan berasal dari bahasa jawa yaitu “kedok” artinya bagian tertentu dari sawah. Istilah “kedokan” dibeberapa desa di Jawa Barat disebut sebagai “ceblokan” atau “ngedok-ngedok”. Kolf dalam Susilowati (2005) mendefinisikan kedokan yaitu sistem pengupahan melalui perjanjian dan atau kesepakatan, pekerja akan melakukan pekerjaan tertentu dalam proses usaha tani padi tanpa dibayar. (Susilowati, 2005 : 3). Namun mereka akan memiliki hak untuk panen dan menerima bagian tertentu dari produksi. Tenaga kerja lain di luar kelompok pengedok tersebut tidak dapat ikut panen apabila tidak ada ijin dari kelompok pengedok, bukan dari pemilik lahan. Dengan demikian kelompok pengedok mempunyai hak untuk menentukan siapa orang-orang yang bisa terlibat dalam kegiatan panen tersebut. Dengan kata lain sistem kedokan merupakan suatu kesepakatan yang memeberikan hak berburuh panen secara terbatas kepada sekelompok pekerja terkait dengan kewajiban pekerjaan yang mereka lakukan pada proses usaha tani, seperti mencangkul oleh buruh laki-laki,memperbaiki galengan dan saluran air, dan lainnya.

  Menurut Collier dalam Susilowati (2005), sistem kedokan awalnya digunakan petani agar kecukupan tenga kerja selama proses produksi dapat terjamin. (Susilowati, 2005 : 3). Dalam perkembangannya kemudian sistem tersebut banyak digunakan petani pemilik sawah untuk membatasi jumlah buruh pemanen dalam rangka menekan biaya panen. Dalam sistem kedokan, karena pemanen tidak dibayar dengan upah tunai maka pemilik lahan tidak mengeluarkan banyak biaya selama musim tanam. Besarnya bawon dan bagian kedokan bervariasi antara desa. Di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah, pengedok menerima seperlima dari bagian hasil, sementara pembawon hanya menerima seperlimabelas bagian. Sedangkan di Jawa Timur, pengedok menerima sepersepuluh bagian hasil panen.

  3. Sistem Upah Harian

  Dalam sistem upah harian, secara teoritis tingkat upah diperhitungkan berdasarkan rata-rata produktivitas tenaga kerja perhari. Lazimnya jumlah jam kerja per hari antara kegiatan maupun antar desa bervariasi demikian pula besarnya upah harian. Dalam hubungan ketenagakerjaan di pedesaan, sifat kekerabatan dan tenggang rasa antara pemilik lahan dan buruhnya umumnya masih kuat. Ini menjadikan upah harian yang diberikan tidak hanya berupa uang namun buruh juga diberi makan dan minum bahkan diberi rokok.

  4. Sistem Upah Borongan Besar upah borongan umunya sangat tergantung dari prestasi kerja buruh tani. Semakin tinggi produktivitas kerja, secara teoritis semakin tinggi pula upah yang diterima buruh tani. Variasi produktivitas antar individu buruh tani atau kelompok buruh tani merupakan determinan upah kerja buruh tani.

  Terdapat beberapa hal yang mendorong munculnya sistem upah borongan yaitu pertama, jadwal tanam harus serentak untuk menghambat serangan hama wereng dan tikus, sehingga pengolahan lahan juga harus serentak. Kedua, sistem pengairan yang semakin baik memaksa petani untuk mempercepat pengolahan lahan agar dapat melakukan penanaman tepat pada waktunya. Ketiga, penggunaan bibit unggul yang berumur pendek, sehingga pengolahan lahan harus cepat dilakukan. Keempat, penggunaan traktor dengan upah borongan akan mampu menyelesaikan kegiatan pengolahan tanah dengan cepat. Kelima, upah borongan dinilai lebih murah dibandingkan upah harian.

  Keenam, tidak merepotkan pemilik lahan untuk menyediakan makanan.

  4. Sistem Sambatan

  Sistem sambatan diartikan sebagai sistem saling membantu bekerja secara bergiliran atau sistem hubungan pertukaran tenaga kerja. Pada prinsipnya sistem sambatan adalah memobilisasi tenaga kerja dari luar keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga kerja dalam keluarga usaha tani padi, terutama saat musim sibuk. Dimana petani diminta untuk bekerja membantu pemilik lahan untuk kegiatan tertentu di sawah tanpa diberi upah.

  Pemilik lahan hanya menyediakan makanan tetapi pada gilirannya, mereka harus mengganti bantuan tersebut secara proposional pada waktu yang diperlukan (Susilowati, 2005 :3-4).

  Petani dan buruh tani di Desa Tanjung Rejo memiliki relasi kerja dan relasi sosial yang berbeda-beda yakni relasi dengan buruh tani tetap, buruh tani langganan, dan buruh tani bebas. Adanya perbedaan relasi tersebut maka sistem pengupahan yang ada di desa ini juga berbeda-beda berdasarkan relasi tersebut. Bahkan di desa ini terdapat sistem upah mingguan bagi buruh tani tetap, dimana upah diberikan kepada burh tani dalam waktu satu minggu.

  Buruh tani tetap mengerjakan semua pekerjaan pertanian hingga gabah dapat disimpan di lumbung padi dan siap untuk digiling menjadi beras. Pekerjaan tersebut meliputi pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pengeringan. Berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan oleh buruh tani langganan dan buruh tani bebas.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif diartikan sebagai pendekatan penelitian yang menghasilkann data, tulisan, dan tingkah laku yang didapat dan apa yang diamati dan juga untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian. Dengan menggunakan penelitian dengan pendekatan kualitatif peneliti akan memperoleh informasi atau data yang lebih mendalam mengenai pola relasi sosial petani dengan buruh tani.

  Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk melukiskan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, dan sebagainya yang merupakan objek penelitian. Pelaksanaannya tidak terbatas kepada pengumpulan data saja melainkan juga meliputi analisa dan interprestasi dari data itu. Dengan demikian penelitian ini berusaha menurutkan, menganalisa, mengklasifikasi, memperbandingkan, dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan yang bersifat deduktif.

  Penelitian deskriftif sering disejajarkan dengan penelitian pengembangan dan merupakan persiapan bagi penelitian selanjutnya. (Ginting,2005:14 ).

  Pendekatan kualitatif dengan menggunakan penelitian deskriptif akan menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, situasi dan realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi pusat perhatian.

  3.2 Lokasi penelitian

  Lokasi penelitian ini adalah di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Desa ini dijadikan sebagai lokasi penelitian karena di desa ini merupakan masyarakat pertanian dimana mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai petani padi dan buruh tani. Dan diantara mereka terjalin relasi sosial yang sudah terpola karena sudah dilakukan secara turun temurun dalam waktu yang relatif lama, salah satu relasi sosial yang ada adalah relasi sosial antara petani pemilik dan buruh tani. Dalam relasi tersebut juga terdapat sistem pengupahan tersebut memiliki bentuk yang khusus dari desa Tanjung Rejo.

  3.3 Unit Analisis dan Informan

  3.3.1Unit Analisis

  Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Salah satu ciri atau karakteristik dari penelitian sosial adalah menggunakan apa yang disebut dengan “unit of analysis”. Ada dua sejumlah unit analisis yang lazim digunakan pada kebanyakan penelitian sosial yaitu individu, kelompok dan sosial.

  Adapun yang menjadi unit analisis dan obek kajian dalam penelitian ini adalah para petani dan buruh tani.

  3.3.2 Informan

  Informan adalah orang-orang yang menjadi sumber informasi dalam penelitian yang merupakan sumber informasi yang aktual dalam menjelaskan tentang masalah penelitian. Adapun informan yang menjadi subjek penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini adalah petani yang mempekerjakan buruh tani untuk mengolah lahan dan buruh tani.

3.4 Tehnik Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer 1.

  Observasi atau Pengamatan, adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indera mata sebagai alat bantu utamanya selain panca indera lainnya seperti telinga, penciuman, mulut dan kulit. Observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindera mata serta dibantu dengan panca indera lainnya. Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data peneliian melalui pengamatan dan penginderaan.

  (Bungin,2007:115).Data yang akan dicari dengan observasi berupa aktivitas petani dan buruh tani dalam mengelolah pertanian, relasi sosial petani dan buruh tani dalm kehidupan sehari-hari, dan sebagainnya.

  2. Wawancara Mendalam, adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan. Metode wawancara mendalam sama seperti metode wawancara lainnya, hanya peran pewawancara, tujuan wawancara, peran informan dan cara melakukan wawancara yang berbeda degan wawancara pada umumnya. Wawancara mendalam dilakukan berkali-kali dengan membutuhkan waktu yang lama bersama informan di lokasi penelitian. (Bungin,2007:108). Data yang akan dicari dengan wawancara mendalam berupa data mengenai pola relasi sosial petani dan buruh tani, sistem pengupahan yang diberlakukan di desa ini, dan sebagainya.

3.4.2 Data Sekunder

  Data sekunder yaitu data atau informasi yang diperoleh yang diperoleh secara tidak langsung melalui studi kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, majalah dan internet yang dianggap relevan dan berhubungan dengan penelitian ini seperti Sumatera Utara dalam angka, Deli Serdang dalam angka, Percut Sei Tuan dalam angka, data monografi desa, dan sebagainya.

3.5 Interpretasi Data

  Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia, yaitu pengamatan dan wawancara mendalam yang sudah dalam catatan lapangan. Data tersebut setelah dibaca, dipelajari dan ditelaah, maka langkah berikutnya ialah mangadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi.

  Abtraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses sehingga tetap berada didalam fokus penelitian. Setelah data terkumpul dilakukan analisa data.

  Interpretasi data merupakan tahap penyederhanaan data, setelah data dan informasi yang dibutuhkan telah terkumpul. Data-data yang telah diperoleh dalam penelitian ini akan didinterpretasikan berdasarkan dukungan teori dalam kajian pustaka, sampai pada akhirnya sebagai laporan penelitian serta data tersebut akan diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu. Disini peneliti akan mengelompokkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, dan sebagainya, selanjutnya akan dipelajari dan ditelaah secara seksama agar diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik. Dengan kata lain, data yang terkumpul akan disusun ke dalam pola tertentu. Kemudian data yang relevan dengan fokus permasalahan tersebut diorganisasikan dan diatur serta dikelompokan ke dalam kategori tertentu. Dan data tersebut diinterpretasikan berdasarkan dukungan kajian pustaka sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.

  3.6 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan dimulai dari Agustus 2011 sampai April 2012.

  1 Pra Observasi √

  3.7 Keterbatasan Penelitian

  10 Sidang Meja Hijau √

  9 Penulisan Laporan Penelitian √ √ √

  8 Bimbingan Skripsi √ √ √

  7 Pengumpulan dan Analisis Data √ √

  6 Operasional Penelitian √

  5 Revisi Proposal Penelitian √ √

  4 Seminar Proposalpenelitian √

  3 Penyusunan Proposal Penelitian √ √

  2 Acc Judul √

  9

  Secara terperinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  NO Jadwal Kegiatan Bulan ke

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan penelitian

  Dalam penelitian ini, peneliti menyadari masih terdapat keterbatasan- keterbatsan dalam penelitian. Untuk itu bagi para akademisi yang menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar kajian ilmiah maupun bagi praktisi yang menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar pengambilan keputusan diharapkan memperhatikan keterbatasan peneliti dalam penelitian ini yaitu: 1.

  Penelitian ini hanya membahas relasi-relasi sosial yang terjalin antara petani dengan buruh tani dalam produksi pertanian. Padahal masih banyak hal-hal lain yang berhubungan dengan penelitian ini misalnya aspek sosial ekonomi masyarakat pertanian, hak penggunaan dan penguasaan lahan pertanian, penyempitan lahan pertanian akibat konversi lahan, dan sebagainya.

  2. Ruang waktu dalam penelitian ini hanya sekitar enam bulan untuk pencarian data di lapangan dengan observasi lapangan dan wawancara dengan para informan. Penelitian ini sebaiknya dilakukan dalam waktu yang relatif lebih lama supaya data-data lapangan dapat terkumpul lebih mendalam lagi.

  3. Dalam melakukan wawancara, peneliti kesulitan untuk mencari informan karenabertepatan dengan waktu turun sawah sehingga petani sulit dijumpai di rumah. Petani hanya dapat dijumpai di waktu sore dan malam hari.Desa Tanjung rejo yang relative luas dengan keterbatasan waktu penelitimembuatpeneliti hanya mengambil informan dari 4 dusun di desa ini.

  Meskipun informan bersifat homogeny, peneliti merasa keterwakilan data dirasakan belum sepenuhnya diabndingkan apabila peneliti mengambil informan dari setiap dusun.

BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah Penelitian

4.1.1 Sejarah Desa

  Desa Tanjung Rejo sudah berdiri sejak tahun 1966 (46 tahun). Pada tahun 1950 wilayah ini mulai dihuni yang sebelumnya wilayah ini merupakan hutan belantara. Pada tahun 1952, lahan-lahan didesa ini masih banyak yang berupa hutan dan penduduknya sangat jarang. Jarak rumah penduduk yang satu dengan penduduk yang lain adalah 100 meter. Semakin hari semakin bertambah jumlah penghuni di daerah ini, sehingga tahun 1966 jumlah penduduk di desa ini sekitar 300 KK yang menempati luas wilayah seluas 1200 Ha.

  Pada awalnya, nama wilayah ini sebelum menjadi sebuah desa adalah “Tebasan”, karena awal mula wilayah ini dibuka untuk dihuni merupakan hasil menebas hutan oleh para penghuni yang digunakan untuk lahan pertanian. Penghuni pertama di wilayah ini adalah karyawan atau pensiunan dari PTP Tembakau Deli di desa Saentis yang jaraknya 2 kilometer. Mereka menebas hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan perumahan atau gubuk mereka. Penghuni pertama wilayah ini adalah suku Jawa dan suku Melayu. Kemudian wilayah ini berubah nama menjadi “Tanjung Sambih”, dimana “tanjung” berarti wilayah ini terletak di sudutan perkebunan tembakau miliki PTP di Saentis dan “sambih” berarti sambilan atau pekerjaan sampingan para karyawan yang bekerja di perkebunan tersebut. Namun terjadi pro dan kontra akan pemberian nama ini di kalangan masyarakat, sehingga berkumpulah para petuah di wilayah ini atau pemuka masyarakat untuk memusyawarahkan nama wilayah ini agar dapat menjadi sebuah desa. Penduduk di wilayah ini menganggap bahwa nama “sambih” tidak membawa berkah bagi penduduknya yang berdomisili di desa ini. Apabila wilayah ini menjadi sebuah desa, desa ini tidak akan maju seperti desa-desa lain. Setelah diadakan musyawarah, nama wilayah ini pun diganti dengan nama “Tanjung Rejo”. “Rejo” berarti mewah karena rata-rata penduduk di wilayah ini adalah petani padi dan jika masa panen datang maka para petani di wilayah ini dapat hidup mewah dan sejahtera, serta nama“Rejo” supaya wilayah ini kelak menjadi desa yang mewah dan maju. Jadi sejak itulah wilayah ini diberi nama Tanjung Rejo dan kemudian menjadi salah satu dusun di desa Percut Sei Tuan.

  Desa Percut Sei Tuan memiliki beberapa dusun diantaranya Tanjung Rejo, Tanjung Selamat, Cinta Rakyat, dan Cinta Damai. Semakin hari semakin bertambah jumlah penghuni di desa ini, begitu juga penduduk di setiap dusun semakin bertambah. Kemudian wilayah ini mengalami pemekaran wilayah dimana dusun Tanjung Rejo berdiri sebagai sebuah desa dan Percut Sei Tuan menjadi kecamatan.

  Akhirnya, tahun 1966 berdirilah Desa Tanjung Rejo sebagai sebuah desa yang terletak di kecamatan Percut Sei Tuan. Kepala desa di desa ini dahulunya disebut dengan “penghulu”. Penghulu pertama di desa ini adalah Bapak Yahya Sinaga.

  Kepemilikan lahan di desa ini didasarkan pada kemampuan calon penghuni desa ini untuk menebas hutan dan menjadikan lahan pertanian. Dengan kata lain, para calon penduduk di desa ini mengkonversi hutan menjadi lahan pertanian dimana orang yang paling luas menebas hutan, dia-lah yang memiliki lahan pertanian yang luas.

  Namun sebagian besar orang yang menebas di desa ini atau yang memiliki lahan di desa ini tidak berdomisili di desa ini. Lahan di desa ini hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan mereka. Setelah semua lahan telah dikonversi menjadi lahan pertanian lalu mendapatkan hak atas kepemilikan lahannya, kemudian mereka mewariskan kepada anak-anak mereka, sehingga kepemilikan lahan yang pada awalnya relatif luas untuk setiap kepala keluarga, kini menjadi lebih sempit. Selain itu, banyak lahan yang telah dijualbelikan kepada orang luar desa ini. Hal ini disebabkan karena desa ini dahulu sering dilanda banjir dan pemenuhan kebutuhan mereka sehingga mereka harus menjual lahan. Setiap banjir semua tanaman terendam, rumah terendam, dan lainnya. Ketinggian banjir pada waktu itu sekitar 80m-150m sehingga mereka lebih banyak yang memilih untuk menjual lahan mereka.

  Sempitnya kepemilikan lahan oleh penduduk, mendorong penduduk di desa ini untuk memperluas lahannya dengan menebas daerah sebelah utara yang sekarang disebut Paluh Marbau. Pada tahun 1962, orang yang masuk sebagai anggota RTI (Rukun Tani Indonesia) sudah menebas di wilayah utara desa ini. Namun pada tahun 1964, penebasan di wilayah ini tidak diperbolehkan oleh Pemerintah karena lahan itu adalah milik Angkatan Laut dan akan diberi sanksi 6 bulan dipenjara apabila dilanggar. Sejak saat itu, semua penggarap di wilayah ini bergegas meninggalkan lahan tersebut. Namun pada tahun 1982, lahan ini diperbolehkan untuk digarap sebagai ganti tanah adat yang digunakan oleh PTPN II Saentis. Kemudian wilayah ini dibenteng oleh PU dari Dinas Perairan. Semakin lama semakin ramai penduduk di wilayah ini dan menamakan wilayah ini dengan Paluh Marbau yang secara administratif termasuk ke dalam desa Tanjung Rejo.

  Adapun nama-nama kepala desa yang pernah menjabat di desa Tanjung Rejo adalah sebagai berikut :

1. Tahun 1966-1970 dijabat oleh Bapak Yahya Sinaga yang telah menjabat selama 4 tahun.

  2. Tahun 1970-1995 dijabat oleh Bapak Saripin yang telah menjabat selama 25 tahun.

  3. Tahun 1995-1996 dijabat oleh Bapak Sarino yang telah menjabat selama 1 tahun 8 bulan atau 1 1/2tahun.

  4. Tahun 1999-2009 dijabat oleh Bapak Sahroni yang telah menjabat selama 13 tahun.

  5. Tahun 2009 sampai sekarang dijabat oleh bapak Selamat.

4.1.2 Keadaan Geografis Desa

  a. Batas Wilayah Desa

  Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang memiliki wilayah yang terdiri dari 13 Dusun yaitu dusun I, dusun II, dusun III, dusun

  IV, dusun V, dusun VI, dusun VII, dusun VIII, dusun IX, dusun X, dusun XI, dusun

  XII, dan dusun XIII. Desa ini terdiri dari 33 Rukun Tetangga (RT). Desa ini terbagi kedalam dua bagian wilayah yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Wilayah selatan disebut wilayah darat terdiri dari 10 dusun yaitu dusun dusun I, dusun II, dusun III, dusun IV, dusun V, dusun VI, dusun VII, dusun VIII, dusun IX, dan dusun X.

  Sedangkan wilayah utara disebut dengan Paluh Merbau terdiri dari 3 dusun yaitu dusun XI, dusun XII, dan dusun XIII. Adapun batasan wilayahnya adalah : a.

  Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka b.

  Sebelah selatan berbatasan dengan PTP II N. Saentis c. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Selamat d.

  Sebelah timur berbatsan dengan Desa Percut Sei Tuan

  b. Luas Wilayah Desa / Kelurahan Menurut Penggunaanya

  Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang memiliki wilayah seluas 3.086 ha. Adapun penyebaran luas wilayah tersebut menurut penggunaannya adalah sebagai berikut :

  • Sawah Pengairan Setengah Teknis/ Irigasi - Sawah Tadah Hujan 650 1.000
  • Hutan Sekunder - Hutan Mangrove (Bakau) 3,2 300

  10 Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

  1 Jumlah

  3 Puskesmas

  5

  2 Posyandu

  4

  1 Poliklinik

  No Uraian Jumlah

Tabel 4.2 Sarana Kesehatan Desa Tanjung Rejo

  Pemenuhan kebutuhan kesehatan di desa Tanjung Rejo dilengkapi oleh beberapa prasarana kesehatan sebanyak 10 sarana kesehatan yang terdiri dari poliklinik, posyandu, dan puskesmas. Secara terperinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

  Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010.

  10 Perikanan Air Tawar 450 Luas Seluruhnya 3.086

  4

  9 Lapangan Sepak Bola

  8 Hutan

  7 Perkebunan 200

  6 Pertanian Sawah

  14

  5 Jalan

  4 Pemakaman 2,1

  3 Tempat Peribadatan 0,5

  2 Perkantoran 0,1

  1 Pemukiman umum 461,1

  No Penggunaan Luas (ha)

  Tabel 4.1Penyebaran Luas Wilayah Desa Tanjung Rejo

4.1.3 Sarana dan Prasarana Desa

a. Sarana Kesehatan

b. Sarana Pendidikan

  Desa Tanjung Rejo memiliki delapan sarana pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat desa Tanjung Rejo yaitu sarana pendidikan formal dan sarana pendidikan keterampilan. Sarana pendidikan formal yang tersedia di desa ini sebanyak empat sekolah yaitu terdiri dari Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Sarana pendidikan keterampilan yang tersedia di desa ini sebanyak dua buah yaitu terdiri dari kursus bahasa inggris dan kursus menjahit. Secara terperinci dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

  1 Kursus Menjahit

  No Jenis Sarana Ibadah Jumlah

Tabel 4.5 Sarana Peribadatan Desa Tanjung Rejo

  Desa Tanjung Rejo memiliki sarana peribadatan untuk memenuhi kebutuhan rohaniah masyarakat desa Tanjung Rejo sebanyak 29 buah yaitu mesjid, langgar, dan gereja. Secara terperinci dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

  2 Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

  1 Jumlah

  2 Kursus Bahasa Inggris

  1

  No Uraian Jumlah

Tabel 4.3 Sarana Pendidikan Formal Desa Tanjung RejoTabel 4.4 Sarana Pendidikan Keterampilan Desa Tanjung Rejo

  4 Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

  3 Jumlah

  2 SD

  1

  1 TK

  No Uraian Jumlah

c. Sarana Peribadatan

  1 Mesjid

  3

  2 Langgar

  13

  3 Gereja

  3 Jumlah

  29 Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

  d. Sarana Transportasi

  Desa Tanjung Rejo memiliki sarana perhubungan atau transportasi yaitu sarana transportasi darat dan sarana transportasi laut. Perhubungan darat dilengkapi dengan prasarana jalan darat yang ada di desa ini yang melalui desa yaitu jalan kabupaten sepanjang 2,5 kilometer dan jalan desa sepanjang 26,8 kilometer. Jenis prasarana perhubungan darat yang ada di desa ini terdiri dari terminal, jalan aspal, jalan bebatuan, jalan tanah, dan jembatan. Sarana transportasi darat yang ada di desa ini terdiri dari kendaraan umum roda empat, kendaraan umum roda dua, dan alat transportasi tradisional (becak, delman, dan lainnya), sedangkan sarana tranportasi laut yang ada di desa ini yaitu perahu bermotor dan perahu tidak bermotor.

  e. Sarana Rekreasi Atau Hiburan

  Desa Tanjung Rejo memiliki potensi pariwisata bahari dan hutan wisata, karena wilayah utara yaitu Paluh Merbau, yang merupakan wilayah pesisir yang banyak terdapat hutan mangrove yang dapat dijadikan tempat wisata. Paluh Merbau ini terdapat tempat wisata seperti tempat pemancingan dan taman burung. Wilayah ini juga terdapat telaga atau danau yang dijadikan tempat pemancingan. Wilayah desa ini sangat berpotensi dalam hal kepariwisataan.

  f. Sarana Olah Raga

  Masyarakat di desa Tanjung Rejo aktif dalam kegiatan olah raga. Kegiatan olahraga yang dilakukan masyarakat tersebut seperti olah raga sepak bola dan bola volly (laki-laki dan perempuan). Jumlah anggota dalam olah raga sepak bola sebanyak

  44 orang dan jumlah anggota dalam olah raga bola volly sebanyak 72 orang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Peningkatan olah raga di desa ini didukung dengan tersedianya sarana olah raga seperti lapangan sepak bola dan lapangan bola volly. Di desa ini memiliki dua lapangan sepak bola didirikan di atas tanah seluas 2 ha dan 4 lapangan bola volly yang didirikan di atas tanah seluas 4 rante atau 1600 m

  2

4.1.4 Penduduk .

  Jumlah penduduk di desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang bulan Desember 2008 adalah 8.658 jiwa, terdiri dari laki-laki berjumlah 4.484 orang dan perempuan berjumlah 4.174 orang. Jumlah kepala keluarga (KK) sekitar 2052 KK. Seluruh penduduk di desa ini adalah warga Negara Indonesia atau penduduk pribumi. Kepadatan penduduk Desa Tanjung Rejo tahun 2010 sekitar 267,185 per km. Secara terperinci dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel 4.6Komposisi Penduduk Desa Tanjung Rejo Menurut Golongan Usia Dan Jenis Kelamin

  No Golongan Umur Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan 1 0-12 bulan 130 105 235 2 13 bulan – 4 tahun 201 230 431 3 5-6 tahun 275 239 514 4 7-12 tahun 400 270 770 5 13-15 tahun 444 390 834 6 16-18 tahun 475 439 934 7 19-25 tahun 500 470 970 8 26-35 tahun 599 598 1.197 9 36-45 tahun 464 420 884 10 46-50 tahun 350 380 730

  11 51-60 tahun 370 250 620 12 61-75 tahun 200 184 384

13 Lebih dari 76 tahun

  76 79 155

Jumlah 4.484 4.174 8.658

  Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

  Tabel 4.7Kepadatan Penduduk Desa Tanjung Rejo

  No Keterangan Jumlah

1 Laki-laki 4.484 jiwa

  2 Perempuan 4.174 jiwa Jumlah seluruhnya 8.658 jiwa Kepadatan penduduk 267,185 per km

  Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

4.1.5 Perekonomian

  Penduduk di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang terbagi atas dua wilayah yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Karena itu, penduduk di desa ini juga memiliki perberbedaan mata pencaharian sesuai dengan keadaan geografisnya. Wilayah selatan desa ini, penduduk bermatapencaharian sebagai petani karena wilayahnya merupakan wilayah daratan subur yang bagus untuk persawahan didukung dengan perairan yang telah tersedia, sedangkan di wilayah utara desa ini, mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan karena wilayah ini merupakan wilayah pesisir dan kurang baik untuk pertanian khususnya tanaman pangan atau padi. Karena itu persawahan di wilayah utara adalah persawahan tadah hujan yaitu persawahan yang dapat diolah tergantung pada curah hujan. Selain bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan, penduduk di desa ini juga ada yang bermatapencaharian sebagai buruh tani, peternak, perdagangan dan industri rumah tangga. Penduduk di wilayah utara mayoritas bermatapencaharian sebagai nelayan berjumlah 3125 orang, sedangkan penduduk di wilayah selatan mayoritas bermatapencaharian dalam bidang pertanian berjumlah 975 orang.

  Nelayan yang ada di wilayah utara desa Tanjung Rejo ini adalah nelayan tradisional yaitu petambak (tambak alam) atau disebut dengan paluh, pencari udang, kepiting, dan kerang. Hal ini juga didukung oleh keadaan alam yang dipenuhi dengan hutan mangrove sehingga memudahkan penduduk untuk membuat tambak alam, mencari kepiting, udang dan kerang. Selain sebagai nelayan, di wilayah utara juga terdapat petani yaitu petani tadah hujan, tetapi sekarang wilayah pertanian tadah hujan ini banyak yang telah dikonversi menjadi lahan sawit. Hal ini disebabkan karena pertanian tadah hujan tidak memberikan hasil yang maksimal karena curah hujan yang tidak menentu. Peternak juga banyak di wilayah utara ini baik itu peternak kambing, lembu dan lainnya.

  Petani di wilayah selatan desa ini adalah petani tanaman pangan yaitu petani padi dan bermatapencaharian sebagai petani sawit, karet, kakao, dan lainnya.

  Pertanian di wilayah selatan ini telah tersedia perairan yang baik. Hal ini memberikan hasil yang maksimal juga bagi petani terhadap hasil panennya. Selain itu peternakan kambing dan sapi juga terdapat di desa ini. Secara terperinci dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel 4.8Struktur Mata Pencaharian Penduduk Desa Tanjung Rejo

  No Subsektor Jumlah

  1 Pertanian

  • pemilik sawah 342 jiwa
  • pemilik tegal/ladang 342 jiwa
  • penyewa/penggarap sawah 171 jiwa
  • buruh tani 120 jiwa

  2 Peternakan 161 jiwa

  3 Nelayan 3.125 jiwa

  4 Industri kecil/kerajinan 145 jiwa

  5 Perdagangan 276 jiwa Jumlah 4.682 jiwa

  Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

4.1.6 Kondisi Sosial Budaya

  Masyarakat di desa adalah suku jawa sebanyak 6927 orang sehingga dalam bermasyarakat mereka menggunakan adat istiadat Jawa. Adat istiadat Jawa dilaksanakan saat upacara-upara tertentu misalnya pada saat upacara perkawinan, khitanan, dan acara sakral lainnya. Adat istiadat Jawa lainnya dapat juga dilihat dari hiburan-hiburan yang ada di desa ini yang menunjukan budaya yang mereka miliki seperti wayang kulit dan kuda lumping. Solidaritas masyarakat terbangun erat dengan adanya sistem sambatan (tolong menolong) antara warga masyarakat, adanya sistem tolong menolong (STM), dan lainnya.

  Budaya Jawa tidak hanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam acara perkawinan, dalam acara adat lainnya, tetapi juga diterapkan dalam pekerjaan mereka dalam bidang pertanian, misalnya dalam pekerjaan mereka di persawahan. Dalam pekerjaan, mereka masih melakukannya secara gotong royong atau sambatan. Sambatan merupakan kerja sama atau gotong royong yang dilakukan masyarakat untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu khususnya pekerjaan di persawahan dengan cara saling bergantian. Penduduk desa ini mayoritas beragama Islam berjumlah 7.850 orang, beragama Kristen Khatolik berjumlah 362 orang, dan beragama Kristen Protestan berjumlah 446 jiwa.

4.1.7 Pendidikan dan Angkatan Kerja

  Pendidikan di desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tergolong baik dilihat dari banyaknya jumlah penduduk yang telah memenuhi wajib belajar sembilan tahun. Dari total penduduk di desa ini, jumlah penduduk yang berpendidikan berjumlah 5778 orang, dan berumlah 3762 yang telah menamatkan atau memenuhi wajib belajar sembilan tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan, penduduk yang memiliki pendidikan terahir SD berjumlah 2010 orang, penduduk yang memiliki pendidikan terahir SMP/ sederajat berjumlah 2218 orang, penduduk yang memiliki pendidikan terahir SMA/ sederajat berjumlah 1517 orang, penduduk yang memiliki pendidikan terahir Diploma (D3) sebanyak 10 orang, penduduk yang memiliki pendidikan terahir S1 (sarjana) berjumlah 17 orang, penduduk yang memiliki pendidikan khusus berjumlah 6 orang, dan penduduk yang tidak memiliki pendidikan formal atau buta aksara berjumlah 29 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di dalam tabel dibawah ini sebagai berikut :

  Tabel4.9 Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Tanjung Rejo

  No Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah A Buta aksara

  1.

  1

  1

  2 13-15 tahun

  2.

  3

  3

  6 16-18 tahun

  3.

  4

  4

  8 19-25 tahun

  4.

  6

  7

  13 Diatas 25 tahun Jumlah

  29 B Tamat pendidikan umum 1. 1.010 1.000 2.010 SD/Sederajat 2. 1.215 1003 2.218 SLTP 3. 759 758 1.517 SLTA 4.

  4

  6

  10 Akademi ( D3 ) 5.

  4

  13

  17 Universitas ( SI ) C Tamat pendidikan khusus

  3

  3

  6 Jumlah 5.778 Jumlah seluruhnya 5.807

  Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010 Masyarakat di desa ini memiliki jumlah penduduk yang telah mencapai usia kerja dan bekerja itu berjumah 3848 orang. Penduduk yang sudah termasuk angkatan kerja tersebut tersebar ke dalam beberapa jenis mata pencaharian penduduk yaitu petani, nelayan, pekerja di sektor jasa dan pekerja di sektor industri. Petani di desa ini terdapat dua jenis petani yaitu petani tanaman pangan (padi dan jagung) dan petani tanaman keras (perkebunan sawit). Pekerjaan di sektor jasa ini seperti salon, bengkel, penjahit, dan lainnya. Pekerjaan di sektor industri seperti buruh bangunan, buruh pabrik, pedagang kecil dan pedagang besar, dan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini sebagai berikut:

Tabel 4.10 Jumlah Angkatan Kerja Desa Tanjung Rejo

  No Angkatan Kerja Jumlah ( orang)

  1 Penduduk usia kerja dan bekerja 3848

  2 Penduduk usia kerja yang belum bekerja 1924

  3 Penduduk usia kerja 5772

  Sumber : Profil Desa Tanjung Rejo 2010

4.2 Profil Informan

  1. : Selamat Nama

  Umur : 47 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Kepala Desa Bapak Selamat adalah kepala desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei

  Tuan Kabupaten Deli Serdang periode kelima dan telah menjabat sebagai kepala desa selama2 tahun. Ia mengatakan bahwa penduduk di Desa Tanjung Rejo ini yang tersebar ke dalam 13 dusun bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Wilayah ini terbagi ke dalam dua wilayah yaitu wilayah utara dan wilayah selatan. Wilayah utara terdiri dari 3 dusun yaitu dusun XI, dusun XII, dan dusun XIII, dan wilayah selatan terdiri dari dusun I, dusun II, dusun III, dusun IV, dusun V, dusun VI, dusun VII, dusun VIII, dusun IX, dan dusun X. Wilayah utara disebut dengan Paluh Marbau dan wilayah selatan disebut dengan wilayah darat. Wilayah utara merupakan wilayah pesisir sedangkan wilayah selatan merupakan wilayah pertanian irigasi. Keadaan geografis ini juga mempengaruhi perbedaan persawahan yang dilakukan masyarakat.

  Masyarakat di Paluh Marbau mengolah persawahan tadah hujan sedangkan masyarakat di wilayah selatan mengolah persawahan irigasi. Masyarakat di Paluh Merbau memiliki dua mata pencaharian utama yaitu petani tadah hujan dan nelayan. Nelayan di Paluh Merbau adalah nelayan tradisional seperti petambak, pemancing, pencari kepiting, pencari kerang, dan pencari udang. Sedangkan penduduk di wilayah selatan bermata pencaharian utama sebagai petani dan bekerja di sektor jasa atau dagang dan di sektor industri.

  Bapak ini mengatakan bahwa luas lahan pertanian di desa ini eluas 1650 ha. Lahan pertanian irigasi sekitar 650 ha dan pertanian tadah hujan sekitar 1000 ha. Kepemilikan lahan pertanian disini 60 % dimiliki oleh orang di luar desa ini seperti pendudukBinjai, Medan, dan lainnya, artinya petani dalam memiliki lahan seluas 660 ha dan petani luar memiliki 990 ha. Jumlah petani yang memiliki lahan di desa ini erjumlah 342 orang. Kepemilikan lahan yang paling luas didesa ini seluas1-2 ha dan yang paling sedikit seluas 10 rante (4000 m). Petani yang merupakan petani guremberjumlah 274 orang dan petani yang memiliki lahan 1-2 ha berjumlah 68 orang. Rata-rata kepemilikan lahan yang dimiliki oleh masyarakat desa Tanjung Rejo berjulah 1,9 ha.

  Bapak Selamat mengatakan bahwa dengan banyaknya jumlah petani gurem di desa ini menyebabkan mereka harus menyewa lahan dari pemilik lahan supaya mereka dapat mengolah lahan persawahan lebih luas lagi. Besarnya biaya sewa berjumlah Rp 100.000- Rp 150.000 per rante (400 m). Biaya sewa diserahkan dalam bentuk uang dan hasil panen. Apabila biaya sewa diberikan dalam bentuk uang maka pembayaran dilakukan di awal, dan apabila biaya sewa dibayar dalam bentuk hasil panen maka dibayar dibelakang atau setelah panen.

  Bapak Selamat mengatakan bahwa buruh tani di desa ini 80% adalah petani yang memiliki lahan sedikit dan menjadi buruh tani sebagai pekerjaan sampingan mereka dan 20% yang memang benar-benar pekerjaan utamanya sebagai buruh tani. Buruh tani di desa ini bermacam-macam sesuai dengan pekerjaan yang meraka lakukan yaitu buruh tani tanam, buruh tani pencabut bibit, buruh tani bajak, dan buruh tani panen. Semua buruh tani bersifat kelompok-kelompok kecuali buruh tani bajak atau mencangkul lahan. Bagi masyarakat yang pekerjaan utamanya adalah buruh tani mereka memilki pekerjaan sampingan lainnya seperti menjadi nelayan pencari kepiting, bekerja di pabrik, dan lainnya.

  Bapak Selamet mengatakan bahwa terdapat perbedaan kepemilikan kekayaan bagi petani kaya dan petani miskin. Hal ini dapat dilihat dari bentuk rumah, kepemilikan kendaraan, pakaian, dan lainnya. Namun petani kaya dan petani miskin tetap saling berhubungan baik, hanya saja petani yang memiliki lahan luas lebih dihormati dan disegani dibanding petani yang memiliki lahan sempit. Namun hubungan petani dan buruh tani terdapat kerjasama dengan sistem upah yang ada dan ada hubungan kekeluargaan, hubungan persaudaraan, dan ketetanggaan. Petani dan buruh tani selalu berhubungan baik dan tidak pernah terjadi masalah atau perselisihan antara mereka. Karenapetani yang ingin mempekerjakan buruh tani, sudah terdapat kesepakatan di awal sebelum buruh tani bekerja. Begitu pula antara pemilik lahan dan penyewa lahan tidak pernah terjadi perselisihan karena semua berdasarkan atas kesepakatan mereka di awal penyewaan.

  Bapak Selamat juga mengatakan bahwa di desa ini terdapat beberapa sistem pengupahan dalam pertanian disini sesuai dengan jenis pekerjaan.

  Pekerjaan membajak dilakukan oleh buruh perseorangan yang memiliki bajak atau traktor. Petani memberikan upah sebesar Rp 35.000 per rante. Pekerjaan menanam dan mencabut bibit dilakukan buruh tani secara berkelompok- kelompok. Upah menanam dan mencabut bibit padi sebesar Rp 50.000 per rante. Pekerjaan memanen dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan sistem persenan seperti sistem bawon juga.

  Menurut Bapak Selamat, sistem sambatan juga masih ada tetapi hanya sebagian kecil masyarakat yang melakukannya. Namun sistem sambatan saat ini bersifat ekonomis dalam artian buruh tani yang bergantian tetap mendapatkan upah kerja. Sistem sambatan hanya dilakukan oleh buruh tani yang ikut kelompok buruh tani dan memiliki lahan pertanian. Sistem sambatan hanya dilakukan pada pekerjaan menanam, mencabut bibit, dan memanen.

  Besarnya upah yang diberikan kepada buruh tani ditentukan oleh kesepakatan bersama antara petani dan buruh tani di awal sebelum pekerjaan dilakukan.

  2. : Munati Nama

  Umur : 56 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Petani ( Petani Penyewa) Ibu ini adalah seorang petani yang menyewa lahan pertanian tanpa memiliki lahan sedikit pun. Ibu ini telah bertani dari tahun 1995 sampai saat ini

  (17 tahun). Ibu ini menyewa lahan di Paluh Merbau yaitu lahan pertanian tadah hujan. Persawahan tadah hujan di lakukan satu tahun sekali. Ibu ini menyewa

  2

  lahan 20 rante (8000 m ) dengan biaya sewa 2 kaleng (20 kilogram) padi per

  2 rante (400 m ). Pembayaran sewa dibayar setelah panen atau di belakang.

  Pemilik lahan sawah yang disewa oleh ibu ini adalah orang luar desa yaitu orang Binjai. Ibu ini tidak memiliki ikatan persaudaraan dengan pemilik lahan namun karena sudah lama menyewa jadi seperti saudara sendiri. Intensitas pertemuan mereka setahun 3 kali yakni saat panen, saat hari raya idul fitri, dan saat melihat lahan.

  Dalam pengelolaan lahan pertanian, Ibu ini menggunakan buruh tani untuk membantu pengolahannya. Buruh tani yang dipakai ibu ini adalah buruh tanam dan buruh panen. Ibu ini menggunakan buruh tani bebas artinya bebas mempekerjakan buruh tanam dan buruh panen manapun yang sesuai tarif upah dan yang memiliki waktu untuk bekerja di lahan Ibu ini. Upah yang diberikan kepada buruh tanam sebesar Rp 50.000 per rante (400 m). Terkadang juga ibu ini mempekerjakan buruh tani untuk merumput lahannya. Upah yang diberikan untuk merumput lahan Rp 40.000 per hari. Buruh tanam dan merumput bekerja mulai pukul 08.00 WIB sampai 12.00 WIB kemudian istirahat dan memulai kembali pukul 13.30 WIB sampai 16.30 WIB. Untuk pekerjaan pemanenan, Ibu ini juga mempekerjakan buruh tani dengan sistem bawon dan besarnya bawon tersebut 2 goni dari 10 goni hasil panen. Jadi jika hasil panen 20 goni maka bawonnya 4 goni. Dalam 1 goni berisi 80 kilogram gabah. Para buruh tani yang dipekerjakan oleh Ibu ini adalah teman atau orang yang memiliki atau mengolah lahan yang terdekat dengan lahannya. Hasil produksi padi yang dikelolah Ibu ini sebesar 160 kilogram dalam 1 rante (400 m).

  Ibu ini mengatakan bahwa petani di desa ini baik menyewa maupun milik sendiri paling luas mengolah lahan seluas 2 hektar dan paling sedikit 10 rante (4000 m). Petani yang hanya memiliki lahan 3- 10 rante (2000 –4000 m) berjumlah 80% dari jumlah petani yang memiliki lahan. Pemilik lahan yang luas adalah orang luar desa Tanjung Rejo seperti Binjai, Medan, dan lainnya, sedangkan buruh tani tanpa memiliki lahan atau mengolah lahan berjumlah 20 % dari jumlah petani di desa ini. Buruh tani ini biasanya memiliki pekerjaan sampingan di sektor lain misalnya bekerja di pabrik mebel, bekerja di tambak, dan bekerja di tempat lainnya (mocok-mocok).

  3. : Legino Nama

  Umur : 55 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Petani (Petani Mempekerjakan Buruh Tani Tetap) Bapak ini sudah bertani sejak masa lajang namun mulai mengolah lahan sendiri tahun 1987 (25 tahun) dan telah menjadi penangkar bibit padi selama 3 tahun. Bapak ini memiliki lahan dan menyewa lahan pertanian seluas 7 ha. Di desa ini terdapat petani yang memiliki lahan, petani yang menyewa lahan, petani yang memiliki lahan sedikit dan menyewa, petani yang tidak memiliki lahan tapi hanya bekerja sebagai buruh tani, petani yang memiliki lahan sedikit dan tidak menyewa tapi juga bekerja sebagai buruh tani, dan petani yang memiliki lahan tapi tidak mengolahnya hanya menyewakannya saja. Luas lahan pertanian di desa ini seluas 650 ha. Perbandingan kepemilikan antara orang dalam dan orang luar yaitu 40 : 60, dimana 40 % lahan dimiliki oleh orang dalam dan 60 % dimiliki oleh orang luar desa ini.

  Bapak ini mengatakan bahwa kepemilikan lahan yang dimiliki

  2

  penduduk desa ini paling luas 2 ha dan paling sempit 5 rante (400 m ). Namun 80% masyarakat di desa ini memiliki lahan 5- 10 rante dan 20% yang memiliki lahan diatas 1 ha. Kepemilikan lahan yang dimiliki orang luar paling luas 10 ha dan paling sedikit 1 ha. Penyewa lahan di desa ini rata-rata menyewa paling luas 2 ha karena mahalnya biaya sewa. Penyewa lahan pertanian dilakukan oleh petani yang memiliki sedikit lahan dan petani yang tidak memiliki lahan sama sekali. Perbandingannya 60:40, dimana 60% petani penyewa adalah petani yang tidak memiliki lahan sama sekali dan 40 % petani penyewa adalah petani yang memiliki lahan sedikit dan menyewa untuk memperluas lahan pertaniannya untuk dikelolah. Biaya sewa saat ini sebesar Rp100.000 – Rp150.000 per rante (400 m) dibayar di awal.

  Bapak ini mengatakan bahwa buruh tani di desa ini bermacam-macam seperti buruh bajak, nyemprot, cabut bibit dan tanam, merumput, dan memanen. Kalau buruh tani tanam, cabut bibit, dan panen itu berkelompok. Kalau di desa ini terdapat lebih dari 10 kelompok. Buruh tani tanam dan merumput biasanya dilakukan oleh buruh tani perempuan sedangkan buruh tani cabut bibit dan buruh tani panen dilakukan oleh buruh tani laki-laki. Dalam pekerjaan pertanian sawah ini terdapat perbedaan pekerjaan antara laki- laki dan perempuan, dimana buruh tani perempuan melakukan pekerjaan yang dianggap lebih gampang dan buruh tani laki-laki mengerjakan pekerjaan yang lebih berat. Karena perbedaan jenis pekerjaan maka terjadi juga perbedaan dalam besarnya jumlah upah.

  Dalam pengelolaan lahan pertaniannya, bapak Legino menggunakan buruh tani tetap sebanyak 7 orang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Bapak ini telah mempekerjakan mereka selam 3 tahun semenjak memiliki penangkaran. Upah yang diberikan dalam bentuk upah mingguan yaitu setiap 2 minggu sekali. Besarnya upah yang diberikan sebesar Rp40.000 per hari bagi perempuan dan Rp50.000 per hari bagi laki-laki. Perbedaan upah ini karena beda pekerjaannya. Perempuan bekerja merumput, menyisip, menanam, dan membersihkan benteng sedangkan laki-laki mengerjakan membenahi benteng, mencabut bibit, menjemur padi, mengangkat padi, dan pekerjaan berat lainnya.

  Bapak ini mempekerjakan burh tani tetap karena bapak ini memiliki lahan, memiliki penangkaran padi, dan pengolahan pupuk organik, jadi membutuhkan karyawan rutin yang dapat bekerja setiap hari mengingat banyaknya pekerjaan. Selain itu, Bapak ini ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain yang tidak memiliki lahan pertanian dan ingin bekerja. Dengan menggunakan buruh tetap maka biaya operasional terasa lebih murah dan pekerjaan semakin gampang. Buruh tani yang direkrut adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga atau persaudaraan dengan Bapak ini. Bahkan buruh tani Bapak ini adalah orang di luar desa Tanjung Rejo. Selain memberikan upah sebagai imbalan kerja, Bapak ini juga pernah memberikan pinjaman bagi buruhnya yang ingin meminjam uang dan pembayarannya dapat dilakukan dengan cara pemotongan upah kerja atau lainnya apabila buruh mampu membayarnya, artinya tidak ada pembatasan waktu. Selain itu,Bapak ini juga sering memberikan bantuan lainnya misalnya ketika sakit, ketika pesta, ketika mereka tidak dapat membayar uang sekolah anaknya, dan ketika hari raya Bapak ini juga sering memberikan THR (Tunjangan Hari Raya). Hal ini dilakukannya terutama untuk keeratan dan rasa kasihan dengan buruh dan kenyamanan pekerja itu sendiri sehingga pekerjanya betah bekerja dengannya. Menurut Bapak ini kalau dia baik pada orang maka orang akan baik juga padanya dan kalau upah yang kita berikan memuaskan maka mereka juga akan bekerja yang memuaskannya. Dalam hubungan ini tidak ada ikatan resmi artinya apabila buruh ingin berhenti bekerja maka dengan bebas dapat berhenti bekerja kapan saja. Tetapi sampai saat ini, baru seorang pekerja yang berhenti bekerja karena sudah lansia (60 tahun) dan sakit-sakit, tapi orang tersebut sering datang ke rumah Bapak ini untuk bercerita-cerita atau ngobrol dengan bapak ini.

  Menurut Bapak ini, upah untuk memanen menggunakan sistem persennan, membajak, menanam dan mencabut bibit menggunakan sistem borongan atau per rante, merumput menggunakan sistem upah harian, menjemur menggunakan sistem upah persenan sesuai dengan banyaknya yang diupahkan penjemuran padinya. Bawon yang diambil dalam bentuk persenan yaitu 14 %, ada dalam bentuk uang Rp 150 per kilogram padi, dan ada juga dalam bentuk lain yaitu dibagi tujuh, misalnya apabila hasil panen 7 ton maka yang diambil 1 ton untuk bawon. Di desa ini yang sering diberlakukan adalah sistem persenana yaitu dibagi tujuh. Penentuan persenan atau upah setiap kelompok pemanen itu berbeda-beda. Satu kelompok pemanen biasanya terdiri dari 12-15 orang. Hasil persenan akan dibagi rata pada setiap pemanen. Di desa ini terdapat 10 kelompok pemanen atau penggrendel. Buruh tani yang membajak dilakukan secara pribadi bagi yang memiliki traktor. Biaya pembajakan lahan sebesar Rp 35.000 per rante (400 m). Pekerjaan untuk mencabut bibit dan menanam dilakukan secara berkelompok dengan upah borongan. Pekerjaan untuk menanam sebesar Rp 33.000 per rante dan untuk mencabut bibit sebesar Rp 17.000. Menanam padi dilakukan buruh perempuan dan mencabut bibit dilakukan buruh laki-laki. Pekerjaan merumput diberi upah sebesar Rp 40.000 per hari. Buruh tani bekerja mulai pukul 08.00WIB samapai pukul 17.00 WIB dengan dua kali istirahat. Petani tidak memberikan makanan ringan atau makan siang, namun ad juga secara pribadi petani juga memberikan makanan ringan dan minum. Bapak ini hanya mempekerjakan pembajakan sawah karena Bapak ini memiliki buruh tetap. Besarnya upah buruhnya ditetapkan oleh Bapak ini dan kemudian disepakati bersama pada saat awal masuk kerja. Buruh tetap Bapak ini tidak pernah meminta kenaikan upah karena upah yang diberikan majikannya terasa cukup.

  Menurut Bapak ini, di desa ini petani yang memiliki lahan luas 1-2 haakan dihormati dibandingkan petani yang tidak punya lahan atau lahan yang sedikit 310 rante. Tetapi mereka tetap bergaul dengan masyarakat setempat seperti pada umumnya hubungan bermasyarakat tidak ada perbedaan apa pun hanya dihormati saja. Kalau didesa ini orang kaya akan dihormati, tetapi petani kaya dan petani miskin tetap berhubungan baik, masih saling ngobrol, bersama mengikuti perwiritan, gotong royong, dan lainnya. Selain itu, antara buruh tani dan petani di desa ini tidak pernah terjadi perselisihan seperti masalah upah, karena sebelum buruh tani bekerja, ada kesepakatan antara petani dan buruh tani. Kalaupun ada tawar menawar antara petani dan buruh tani mengenai harga pasti ada kesepakatan antara mereka.

  Bapak ini mengatakan bahwa pertanian di desa Tanjung Rejo terbagi dua pertanian irigasi dan tadah hujan. Irigasi di wilayah selatan sedangkan tadah hujan di wilayah utara. Untuk pertanian irigasi dalam dua tahun dilakukan 3 kali. Produktivitas padi dibanding tahun ke tahun sedikit meningkat. Dalam 1 ha dapat dihasilkan maksimal 5 ton padi untuk pertanian irigasi. Jenis padi yang ditanam yaitu bestari, cierang, impari, IR 64, dan lainnya. Permasalahan yang paling urgen menurut Bapak ini dalam bidang pertanian yaitu kurangnya peduli pemerintah kepada para petani. Petani tidak dapat mengolaha lahan yang luas. Petani mengolah lahan kurang dari 10 rante sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Semua lahan dikuasai oleh orang luar dan kebanyakan etnis Tionghoa.

  4. : Said Nama

  Umur : 63 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Petani (Penyewa) Bapak Said sudah bertani selama 40 tahun mulai dari tahun 1971.

  Bapak ini tidak memiliki lahan sama sekali hanya saja Bapak ini menyewa lahan pertanian dari petani luar yang memiliki lahan di Tanjung Rejo. Pemilik lahan tersebut bertempat tinggal di Binjai. Bapak ini menyewa lahan seluas 20 rante (8000 m). Biaya sewa yang harus dikeluarkan oleh Bapak ini yaitu 55 kilo gabah per rante dan terkadang Bapak ini membayar dengan uang yaitu disesuaikan dengan harga gabah. Saat panen ini harga gabah sekitar Rp 3.750 per kilogram gabah, jadi Bapak ini membayar setiap rante sebesar Rp 3750 x 55 kilo = Rp 206.000 per rante. Biaya sewa lahan pertanian dibayar setelah panen.

  Bapak ini hanya bekerja mengelolah sawahnya dan tidak memiliki pekerjaan sampingan lainnya. Apabila tidak musim sawah, Bapak ini menanam sayuran di lahan pertaniannya. Bapak ini menggunakan buruh tani langganan dalam mengelolah pertaniannya. Buruh-buruh tani yang dipekerjakan yaitu buruh olah lahan (jetor), buruh tanam, dan buruh panen. Buruh jetor langganan Bapak ini adalah buruh jetor ibu Suryati. Buruh tanam langganan Bapak ini adalah kelompok buruh tanam istri Bapak ini. Buruh panen langganan Bapak ini adalah buruh panen kelompok suami Ibu Suryati. Alasan Bapak ini menggunakan buruh-buruh tani langganan adalah untuk mempermudah jalannya pekerjaan pertanian. Dengan berlangganan maka pengelolaan lahan pertanian Bapak ini sering didahulukan dalam pengerjaannya dan apabila bapak ini belum memiliki dana untuk membayar upah buruh tani tersebut, hal ini dapat dilakukan setelah panen. Misalnya buruh tani jetor, Bapak ini sering membayar buruh tani jetor setelah panen.

  Bapak ini memberikan upah sebesar Rp 40.000 per rante kepada buruh tani jetor dan biaya ini dibayar setelah panen. Upah yang diberikan pada buruh tani tanam dan cabut bibit padi sebesar Rp 50.000 per rante dan upah ini diberikan tunai pada saat pekerjaan selesai. Upah memanen juga diberikan tunai pada saat pekerjaan selesai. Saat ini sistem bawon telah diubah menjadi sistem persen. Upah pemanen adalah 14 % dari hasil padi atau gabah yang dihasilkan atau bagi tujuh. Buruh jetor dilakukan oleh 1-2 orang, buruh tanam dan cabut bibit dilakukan oleh 6-20 orang, dan buruh memanen dilakukan oleh 10-20 orang. Penghasilan atau hasil panen biasanya maksimal 300 kilogram gabah dan minimal 230 kilogram gabah per rante. Banyaknya hasil panen padi ini dipengaruhi oleh banyaknya pupuk yang digunakan dan bagusnya kualitas bibit yang ditanam.

  Bapak ini menjual panen kepada agen-agen padi atau gabah. Penjualan gabah di desa ini kebanyakan dijual pada agen secara bebas. Agen-agen padi akan datang kepada petani yang sedang panen di lahan pertanian mereka dan kemudian hasil panen langsung dijual oleh petani saat itu juga di lahan mereka masing-masing. Bapak ini tidak menjual gabahnya pada satu agen tapi bapak ini menjual padinya pada agen yang menurutnya memberi harga yang tertinggi.

  Menurut Bapak ini kepemilikan lahan pertanian di desa Tanjung Rejo ini 60% dikuasai oleh orang luar desa dan hanya 40 % dimiliki oleh orang desa ini. Petani yang memiliki lahan di desa ini paling luas sebesar 2 ha dan paling sedikit 3 rante. Di desa ini 80 % petani memiliki lahan seluas 5-10 rante. Dari seluruh petani di desa ini sebesar 20 % petani yang memiliki lahan luas dan sebesar 80 % petani yang memiliki lahan sempit (petani gurem). Petani gurem atau petani yang berlahan sempit biasanya menyewa lahan pertanian lagi supaya dapat mengolah lahan pertanian lebih luas lagi. Sebanyak 60 % petani gurem yang menyewa lahan pertanian juga.

  Masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo ini menurut Bapak ini akan aktif bekerja di pertanian pada saat musim sawah atau turun sawah. Saat musim sawah tiba, semua petani bekerja di sawah baik itu ibu-ibu ataupun bapak-bapak, anak remaja. Ibu-ibu bekerja menjadi buruh tani tanam, ngaret, dan ngrumput, sedangkan bagi bapak-bapak bekerja sebagai buruh babat beteng, manen, dan jemur padi. Ada 80 % ibu-ibu di desa ini kerja di pertanian apabila sudah musim turun sawah. Apabila tidak musim sawah maka mereka mengerjakan pekerjaan sampingannya seperti bekerja menjadi tukang bangunan, kerja di pabrik, dan lainnya.

  Hubungan Bapak Said sebagai petani dengan buruh taninya berjalan dengan baik dan tidak pernah terjadi konflik atau masalah. Bahkan setiap Bapak ini mempekerjakan buruh taninya, Bapak ini selalu memberikan makanan kecil kepada buruh taninya. Permasalahan upah juga tidak pernah terjadi, karena di Bapak ini sebelum melakukan pekerjaan, terlebih dahulu ada komitmen atau kesepakatan upah antaraBapak ini dan buruh taninya. Di desa ini petani yang memiliki lahan yang luas lebih dihormati dan disegani, namun tidak terdapat perbedaan diantara petani yang berlahan luas dan petani yang berlahan sempit serta buruh tani. Semua bercampur baur karena semua saling membutuhkan satu sama lainnya. Bahkan hubungan ketetanggan masyarakat di desa ini sangat kuat dan tidak jarang petani kaya memberikan bantuan atau pinjaman kepada tetangganya untuk modal bertani, memberi pinjaman padi atau beras, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Pembayarannya biasanya dilakukan setelah panen. Semua buruh tani yang dipekerjakan oleh Bapak ini adalah orang di desa ini atau tetangganya. Petani yang mempekerjakan buruh tetap itu adalah petani yang memiliki lahan luas, memiliki kilang, penangkaran bibit, dan petani yang memilki buruh langganan itu adalah petani yang memiliki hand tractor, memiliki mesin grendel, dan langganan karena saudara atau tetangga.

  5. : Suryati Nama

  Umur : 45 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Petani ( Pemilik Pekerja Tetap) Ibu Suryati sudah bertani selama 20 tahun dari tahun 1982. Ibu ini memiliki lahan sendiri seluas 21 rante. Ibu ini tidak menyewa lahan lagi, hanya mengelolah lahan miliknya. Ibu ini memiliki hand tractor atau mesin jetor dan memiliki 2 pekerja tetap untuk menjalankan pekerjaan bajak atau jetor. Namun buruh tani tetap ibu ini adalah buruh tani tetap pada saat musiman yakni saat musim sawah atau turun sawah saja. Ibu ini memiliki buruh tani tetap sejak memiliki hand tractor, selama 10 tahun. Buruh tani yang pertama sudah tidak bekerja lagi karena sakit dan digantikan dengan buruh tani yang baru. Buruh tani tersebut bernama Pak Anto dan Pak Darmono. Mereka sudah bekerja selama 3 tahun. Ibu ini memberikan upah bersih diluar uang makan dan rokok sebesar Rp 12.000 per rante sawah yang mereka bajak. Upah ini disesuaikan dengan pemilik jetor lainnya. Buruh tetap Ibu ini tidak pernah memberontak atau meminta tambahan upah selama bekerja. Kalau biaya yang ditetapkan untuk petani yang memakai jasa sebesar Rp 35.000 per rante apabila dibayar secara tunai dan RP 40.000 per rante apabila petani membayar setelah panen.

  Dalam mengelolah lahannya, Ibu ini menggunakan buruh tani bebas yaitu buruh tanam dan buruh manen. Ibu ini memilih atau mengerjakan buruh tanam dan buruh panen yang bisa bekerja pada saat dia butuhkan. Apabila menggunakan buruh langganan, Ibu ini khawatir terjadi penundaan pengerjaan lahannya karena banyak langganannya, jadi lebih memilih buruh tani bebas yang memiliki waktu dan bisa langsung melakukan saat dimintanya. Upah yang diberikan kepada buruh tani tanam dan cabut bibit sebesar Rp 50.000 per rante dan upah yang diberikan kepada buruh tani panen yaitu upah persenan, yaitu 14 % atau dibagi tujuh, artinya setiap hasil padi yang dipanen dalam 7 ton diambil 1 ton atau dibagi tujuh. Besarnya jumlah upah sudah ditetapkan oleh masyarakat sebelumnya sehingga tidak ada perbedaan antara satu kelompok buruh tani dengan buruh tani lainnya dalam pekerjaan yang sama.

  Berapapun upah yang telah ditetapkan pasti akan disetujui oleh para petani, karena apabila tidak setuju maka tidak ada buruh tani yang mau bekerja di lahan para petani. Walaupun biaya upah tersebut terasa mahal, namun para petani harus membayarnya.

  Ibu ini mengatakan bahwa buruh tani di desa ini membentuk kelompok-kelompok. Buruh tanam dan cabut bibit biasanya terdiri dari 7-20 orang dan buruh panen biasanya terdiri dari 10-20 orang. Setiap anggota kelompok biasanya adalah tetangga, teman ataupun saudara mereka sendiri.

  Para petani biasanya menggunakan jasa buruh tani yang ada di desa ini yaitu tetangga mereka. Begitu pula Ibu ini yang menggunakan jasa buruh tani yang ada di desa ini dan terlebih dahulu mengutamakan kelompok yang dimiliki oleh tetangganya atau saudaranya. Kalau membajak sawah. Ibu ini memiliki sendiri alat bajaknya namun tetap memberikan upah Rp 12.000 per rante. Ibu ini juga terkadang menggunakan buruh merumput apabila lahannya terdapat banyak rumput karena seringnya hujan. Upah yang diebrikan kepada buruh merumput sebesar Rp 40.000 per rante.

  Buruh-buruh tani yang dipekerjakan oleh Ibu ini untuk mengelolah lahannya, sebagian besar adalah tetangganya dan saudaranya. Alasannya supaya Ibu ini lebih mudah mendapatkan jasa buruh tersebut. Menurut Ibu ini selagi bisa menggunakan jasa kerabat, Ibu ini tidak ingin menggunakan jasa orang lain karena kerabat juga membutuhkan pekerjaan. Dan apabila musim turun sawah, 80% ibu-ibu di desa ini bekerja, seperti menanam, mencabut bibit, merumput, mengaret, dan lainnya. Menurut Ibu ini kelompok tanam yang ada di desa ini berjumlah 15 kelompok lebih. Kalau kelompok manen atau grendel berjumlah 10 kelompok karena yang dapat membentuk kelompok grendel adalah orang yang memiliki mesin grendel.

  Ibu ini memiliki banyak petani langganan yang menggunakan jasa bajaknya atau jetornya berjumlah lebih dari 50 orang petani yang berlangganan dengan Ibu ini. Pembayaran upah jetor atau bajak bisa dibayar di awal dan di belakang pada saat setalah panen. Apabila diawal dikenakan biaya Rp 35.000 per rante dan apabila dibayar setelah panen dikenakan biaya Rp 40.000 per rante. Terkadang ada juga petani yang memberikan upahnya sebagian dulu sebagai uang muka dulu nanti sisanya dibayar saat panen. Petani yang berlangganan tersebut akan memberitahukan terlebih dahulu kepada Ibu ini untuk mengolah lahannnya seminggu sebelum ingin dibajak. Namun tidak menutup kemungkinan ada juga petani langganan Ibu ini yang protes terhadap kinerja buruhnya. Ibu ini hanya memberikan saran pada buruhnya supaya meningkatkan kualitas kerja, tidak pernah memarahi buruhnya.

  Ibu ini mengatakan bahwa di desa ini 80% petani memliki lahan sempit sekitar 5-10 rante dan 20 % lagi adalah petani yang memiliki lahan seluas 20 rante ke atas. Petani yang berlahan sempit itu ada yang menyewa lahan lagi dari orang luar yang ada lahannya di desa ini. Petani yang hanya mengolah lahan sedikit dan tidak menyewa karena tidak bisa membayar uang sewa yang mahal sebesar Rp 150.000 per rante dibayar dimuka dan tiadanya lahan yang akan disewa. Apabila petani tidak menyewa maka mereka akan bekerja sebagai buruh tani sebagai pekerjaan sampingannya. Ada juga yang tidak memiliki lahan pertanian sama sekali dan jumlahnya 20 % yang hanya menjadi buruh tani.

  Menurut Ibu ini meskipun desa ini lebih banyak didominasi oleh petani gurem dan buruh tani dibanding petani berlahan luas tapi masyarakat di desa ini tetap rukun, tetap saling sapa, tetap gotong royong dan saling membantu. Ibu ini tidak pernah menemukan permasalahan atau perselisihan yang terjadi antara petani dan buruh tani selama menjadi kepala dusun. Perbedaanya hanya terlihat pada bentuk rumah yang lebih mewah, agak disegani karena kebanyakan orang meminjam modal usaha kepada petani kaya, namun tetap berlebur menjadi satu dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan petani yang kaya seperti Pak Jarino itu sering meminjamkan uang untuk modal usaha tetangganya dan saudaranya tanpa bunga, dan dibayar setelah panen.

  Hubungan Ibu ini dengan buruhnya juga terjalin sangat baik meskipun tidak ada ikatan kekeluargaan dan bukan tetangga juga, namun sudah seperti keluarga. Ibu ini juga sering memberikan bantuan berupa uang apabila anaknya sakit selain menjenguknya, memberikan THR dan baju lebaran kepada anak-anak buruh tetapnya saat lebaran (Hari Raya idul Fitri), dan memberikan pinjaman tanpa bunga namun pembayaran dilakukan setiap gajian seminggu sekali sedikit demi sedikit sesuai kesepakatan diantara mereka berapa yang mau dipotong utangnya. Bahkan pekerja yang lama itu masih memiliki hutang kepada Ibu ini sampai sekarang. Selain itu, setiap Ibu ini pesta atau buruhnya mengadakan acara, mereka saling bantu membantu. Ibu ini sering ke rumah buruhnya untuk memberitahukan mengenai pekerjaan ataupun saat perjalanaan melewati rumah buruhnya, Ibu ini sering singgah ke rumahnya. Ibu ini tidak melarang buruhnya apabila buruhnya ingin pindah kerja atau tidak bekerja lagi seperti yang telah dilakukannya dengan buruh sebelumnya yang mengundurkan diri karena sudah lansia dan sakit-sakitan.

  Alasan Ibu ini memberikan bantuan dan berhubungan baik pada buruhnya karena buruhnya sudah bekerja pada dia dengan baik. Jadi dia juga ingin berbuat baik pada buruhnya selagi dia mampu membantu. Buruh Ibu ini tidak pernah meminta kenaikan gaji karena gaji yang telah diberikan disesuaikan dengan pada umumnya dan sebelum memutuskan untuk bekerja dengan Ibu ini, sebelumnya juga sudah ada kesepakatan diantara mereka. Jadi tidak pernah terjadi perselisihan antara mereka. Ibu ini juga percaya pada pekerjaan yang dilakukan oleh buruhnya,karena itu Ibu ini tidak pernah mengawasi pekerjaan mereka. Ibu ini hanya memberikan saran apabila ada petani yang kurang puas dengan kinerja mereka. Menurut Ibu ini, apabila dia memberikan yang terbaik pada orang maka orang juga akan memberikan yang terbaik pada dia. Begitu juga pada buruhnya, dia percaya bahwa buruhnya akan bekerja dengan baik jadi dia tidak pernah mengawasi buruhnya.

  6. : Yudi Nama

  Umur : 33 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Buruh Tani Tetap Bapak ini sudah bekerja sebagai buruh tani tetap di lahan pertanian

  Bapak Legino selama 1 tahun lebih. Pekerjaanya tidak hanya meliputi pekerjaan persawahan saja tetapi juga bekerja di penangkaran bibit dan pembuatan pupuk organik milik Pak Legino majikannya. Pekerjaan yang dilakukan dalam sehari-hari yaitu saat turun sawah mengerjakan pekerjaan persawahan seperti membabat benteng, mencangkul, menyemai bibit, menanam, rumput, memanen, menjemur, dan lainnya. Pada saat tidak turun sawah, pekerjaan yang dilakukan adalah memilih bibit unggul, menjemur, membuat pupuk organik cair dan padat, menghaluskan pupuk, dan lainnya.

  Bapak ini memiliki 6 teman kerja, yaitu 2 perempuan dan 4 laki-laki. Dalam pekerjaannya, terdapat pembagian kerja antara para buruh tani. Seorang pekerja laki-laki sebagai supir yaitu menghantarkan barang-barang atau bibit- bibit ke tempat yang dituju, 4 orang pekerja laki-laki mengerjakan pekerjaan yang dianggap berat seperti angkat mengangkat, mencangkul, memanen, menjemur, dan lainnya, dan 2 orang pekerja perempuan mengerjakan pekerjaan yang dianggap ringan seperti menanam, merumput, mengayap, menggiling pupuk padat, dan lainnya. Upah yang diberikan kepada buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan dibedakan karena perbedaan pembagian pekerjaan.

  Upah kerja diterima oleh bapak ini setiap 2 minggu sekali sebesar Rp 50.000 per hari bagi buruh tani laki-laki dan Rp 40.000 bagi buruh perempuan.

  Hari kerja mulai hari senin sampai sabtu dan jam kerja dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB. Apabila banyak pekerjaan, Bapak ini sering lembur sampai malam hari dan penambahan hari kerja sampai hari minggu. Namun apabila lembur, Bapak ini juga mendapatkan upah dari kerja lemburnya. Upah yang diterima oleh Bapak ini adalah upah bersih, artinya untuk makan, minum, rokok, dan makanan kecil sudah disediakan oleh majikan yang mempekerjakannya. Bapak ini tidak pernah mempermasalahkan mengenai besarnya jumlah upah, karena besarnya upah sudah disepakati pada awal Bapak ini memutuskan untuk bekerja artinya sudah ada kesepakaan bersama antara bapak ini dan majikannya.

  Awalnya Bapak ini adalah buruh langganan Bapak Legino. Bapak ini sudah bekerja dengan bapak ini selama 3 tahun, namun baru 1 tahun menjadi buruh tetap bagi Pak Legino. Kalau 3 tahun yang lalu, Bapak ini hanya bekerja disaat turun sawah atau musim sawah dan tidak menerima gaji tetap, namun sekarang sudah menjadi buruh tetap dengan upah tetap dan memiliki pekerjaan rutinitas. Bapak ini memilih menjadi buruh tetap karena ia merasa menjadi buruh tetap itu lebih terjamin daripada buruh biasa, memiliki pekerjaan yang rutin dan tetap, tidak memikirkan harus bekerja apa esok hari, berbeda dengan menjadi buruh tani yang setiap hari harus mencari pekerjaan. Bapak ini merasa senang karena sekarang sudah menjadi buruh tetap.

  Bapak ini juga sering mendapatkan bantuan-bantuan disamping mendapatkan upah. Bantuan–bantuan yang diterima seperti bantuan mendapatkan beras, bantuan pinjaman, bantuan tenaga, bantuan dana apabila ada keluarga yang sakit, dan lainnya. Beras diterima oleh Bapak ini setiap melakukan penggilingan minimal 2 minggu sekali. Gabah-gabah yang digiling adalah gabah yang disortir atau dibuang karena tidak dapat dijadikan bibit unggul. Banyaknya beras yang diterima sesuai dengan banyaknya padi atau gabah yang digiling. Bapak inimendapatkan 5-10 kilogram berassetiap menggiling. Disamping itu, Bapak ini juga pernah mendapatkan bantuan dana pinjaman untuk pengobatan anaknyasakit dan dirawat di rumah sakit.

  Pembayaran pinjaman dilakukan Bapak ini sesuka hati apabila Bapak ini memiliki uang untuk membayar, terkadang dibayar melalui pemotongan gaji.

  Bapak ini tidak memiliki hubungan persaudaraan dengan majikannya. Bapak ini tinggal di desa lain yaitu desa Cinta Rakyat. Jadi Bapak ini adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan saudara atau kekerabatan dengan majikannya. Namun semenjak menjadi buruh tetapnya, Bapak ini sudah dianggap seperti saudara sendiri. Hal ini yang membuat Bapak ini nyaman bekerja di sini. Karena kebaikan majikannya Bapak ini membalasnya dengan bekerja dengan maksimal, bahkan Bapak ini sering membantu majikannya dalam. Hal pekerjaan personal artinya di luar pekerjaan pertanian ini, misalnya membantu membuat atau memperbaiki rumah majikannya, membersihkan kebun rumahnya, membersihkan sanitasi rumah, dan lainnya. Apabila pesta, Bapak ini dan keluarganya selalu datang untuk membantu dalam menyelenggarakan pesta yang akan diadakan oleh majikannya.

  Bapak dapat mengundurkan diri pada saat kapanpun juga, hanya harus memberitahukannya dengan majikannya. Namun Bapak ini merasa sudah nyaman dan segan serta tidak ingin berhenti kerja mengingat saat ini mencari kerja sudah sulit dan Bapak ini merasa segan kalau harus mengundurkan diri kecuali sudah tidak dapat bekerja lagi karena sakit bahkan karena segannya, Bapak ini tidak ingin istirahat terlalu lama. Bapak ini merasa segan bila istirahat terlalu lama. Bapak ini juga selalu siapapabila dimintai pertolongan oleh majikannya walaupun itu di luar pekerjaannya.

  7. : Ebet Nama

  Umur : 24 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Buruh Tani Tetap Bapak ini sudah bekerja menjadi buruh tani tetap sejak 6 tahun yang lalu. Bapak ini berasal dari Jawa Tengah yang merantau ke Sumatera. Sejak itu Bapak ini bekerja di rumah majikannya sebagai buruh tani tetapnya. Karena Bapak ini tidak memiliki saudara di desa ini, Bapak ini diangkat menjadi anak angkatnya oleh majikannya. Bapak ini sudah menjadi bagian dari keluarga majikannya.Sejak saat itulah Bapak ini bekerja sebagai buruh tani tetap yang tinggal di rumah majikannya.Pekerjaan yang dilakukannya adalah semua pekerjaan yang ada baik pekerjaan pertanian, pembuatan pupuk, penangkaran bibit, dan di luar pekerjaan pertanian.

  Bapak ini memang sudah dianggap sebagai anak angkatnya, namun dia juga menerima upah kerja setiap 2 minggu sekali sebesar Rp 50.000 per hari.

  Namun di luar upah ini, Bapak ini juga menerima uang saku, Tunjangan Hari Raya, dan lainnya. Hubungan antara Bapak ini dengan majikannya lebih cenderung pada hubungan kekeluargaan dibanding hubungan kerja. Karena Bapak ini sudah dianggap anak sendiri. Jadi biaya hidup bapak ini ditanggung oleh majikannya dari makan, minum, tidur, rokok, dan lainnya. Bahkan majikannya sering memberikan saran atau nasihat kepadanya. Karena hubungan kekerabatan sudah terjalin sekian lamanya, maka Bapak ini selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh majikannya. Dan Bapak ini merasa tidak berani kalau menolak dan bermalas-malasan. Bapak ini akan menolak perintah yang diperintahkan oleh majikannya apabila ia merasa benar-benar tidak sanggup untuk melakukannya, misalnya karena sakit.

  Eratnya hubungan kekeluargaan antara Bapak ini dan majikannya menjadikan hubungan kerja yang terjalin merupakan pengabdiannya kepada Bapak ini. Dia juga menganggap majikannya sebagai ayah asuhnya. Jadi dia tidak pernah menganggap adanya kerja lembur, jam kerja, atau lainnya.

  Semua yang dilakukannya adalah merupakan pengabdiannya pada ayahnya. Dan kalaupun majikannya marah padanya, dia juga menganggap marahnya itu seperti marahnya ayah kepada anaknya.

  8. : Jaroni Nama

  Umur : 51 tahun

  Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Petani ( Pemilik Lahan Luas) Bapak Jaroni sudah bertani selama 20 tahun. Bapak ini memiliki lahan sekitar 1 ha. Bapak ini tidak menyewa lahan lagi untuk memperluas lahannya.

  Dia hanya mengolah lahannya sendiri. Karena menurutnya biaya sewa lahan pertanian semakin mahal yaitu Rp 200.000 per rante dalam satu kali musim sawah, jadi dia tidak menyewa lahan lagi. Dalam pengelolaan lahan pertaniannya, Bapak ini menggunakan buruh tani langganan mulai dari membajak tanah, menanam, dan memanen. Dia lebih suka menggunakan buruh tani langganan karena dengan berlangganan pasti pekerjaannya akan didahulukan dan tidak pernah diundur dalam pengerjaannya, bahkan sebelum Bapak ini memberitahukan pada buruhnya, terlebih dahulu buruhnya sudah menawarkan jasanya.

  Pembajakan lahan pertanian dan pemanenan padi dilakukan oleh buruh langganannya yang memiliki ikatan saudara dengannya yaitu adik iparnya.

  Karena berlangganan, sebelum bapak ini memberitahu untuk meminta lahannya dikerjakan, buruh langganannya sudah mengerjakan terlebih dahulu saat musim sawah tiba. Upah yang diberikan kepada buruh langganannya sama dengan besar upah pada umumnya yaitu Rp 35.000 per rante untuk pembajakan tanah dan sistem upah persenan untuk buruh memanen, namun pemberian dilakukan dalam bentuk uang bukan gabah. Penanaman bibit padi dilakukan oleh kelompok buruh tanam langganannya yang memiliki hubungan persaudaraan dengan Bapak ini juga. Kelompok buruh tanam langganannya itu adalah kelompok buruh tanam adiknya. Upah yang diberikan untuk buruh tanam adalah Rp 50.000 per rante beserta cabut bibitnya. Bapak ini sudah menjadikan buruh ini sebagai buruh langganan selama 5 tahun. Bapak ini tidak menggunakan buruh merumput karena pekerjaan ini dilakukan sendiri. Bapak ini mengatakan bahwa sekarang ini sudah jarang sistem sambatan dalam pekerjaan pertanian. Menanam pun tidak ada lagi yang menggunakan sistem sambatan. Sesama anggota kelompok tetap bergantian tetapi tetap memberikan upah bukan bertukar tenaga. Sistem sambatan ini mulai hilang sejak tahun 2000an.

  Menurut bapak ini, petani yang memiliki lahan luas di desa Tanjung Rejo ini sangat sedikit berjumah 20 % dari jumlah petani yang ada di desa ini.

  Orang-orang menganggap Bapak ini adalah salah satu petani yang memiliki lahan luas karena Bapak ini memiliki lahan seluas 1-2 ha. Sedangkan selebihnya adalah petani yang memiliki lahan sempit yaitu sekitar 3-10 rante. Biasanya petani ini menjadi buruh tani sebagai pekerjaan sampinganya mengingat hasil panennya yang relatif sedikit karena sedikitnya luas lahan mereka. Di desa ini juga terdapat petani yang sama sekali tidak memiliki lahan atau buruh tani sekitar 15 % dari jumlah penduduk yang bekerja di pertanian.

  Bapak ini menjual padi tidak pada satu agen, tetapi kepada agen manapun yang menurutnya memberi harga yang tertinggi atau harga pada umumnya. Semua petani juga memiliki pola penjualan seperti ini. Petani bebas mau menjual hasil padinya kepada satu agen yang diinginkan.

  Penjualan ini dilakukan langsung di lahan mereka setelah panen. Seluruh agen akan berkumpul disana. Harga gabah saat ini yaitu Rp 3.750. Dalam serante lahan dapat menghasilkan 220-300 kilogram gabah.

  Menurut Bapak ini hubungan petani dan buruh tani di desa ini terjalin dengan baik tanpa perbedaan atau batas-batas pergaulan. Hubungan mereka tetap terjalin sebagaimana hubungan manusia dalam bermasyarakat. Perbedaannya hanya terlihat dari kekayaan yang dimiliki. Apabila antara petani dan buruh tani bertetanggaan, terkadang petani memberi pinjaman kepada orang yang berprofesi menjadi buruh tani atau petani kecil, dan pembayaran dilakukan setiap panen atau setiap memiliki uang. Petani berlahan luas, petani kecil, buruh tani, dan apapun pekerjaannya, tetap berhubungan baik sebagaimana hubungan bermasyarakat. Dalam hubungan pekerjaan juga tidak pernah terjadi perselisihan misalnya karena upah, karena upah sudah disepakati dari awal dan petani tidak berhak menetapkan besar upah pada buruh tani, karena buruh tani tidak akan mau mengerjakan pekerjaan di lahan pertaniannya. Petani malahan sering memberikan uang tambahan kepada buruh tani atau memberikan makanan kecil, teh manis, dan rokok kepada buruh tani yang bekerja di lahannya secara pribadi.

  9. : Gira Nama

  Umur : 48 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Buruh Tani Tanam

  Ibu ini sudah menjadi buruh tanam selama 3 tahun lebih. Ibu ini memiliki kelompok buruh tani perempuan yang terdiri dari 8 anggota.

  Kelompok buruh tani Ibu ini tidak hanya mengerjakan penanaman padi tetapi juga merumput, mencabut bibit dan mengaret atau memanen. Ibu ini memiliki mesin grendel atau mesin pengurai gabah padi sejak 3 tahun yang lalu dan yang menjalankan mesin pemanen ini adalah suaminya. Suami Ibu ini memiliki 6 (enam) anggota dalam satu kelompok grendel. Jadi kalau ada petani yang ingin menggunakan jasa panen, kelompok buruh tani Ibu dan kelompok buruh tani Bapak akan bergabung atau bekerja sama. Kelompok Ibu mengerjakan pekerjaan mengaret padi dan kelompok Bapak menggrendel atau mengurai padi dengan mesin. Dalam pekerjaan menanam juga kelompok Bapak dan kelompok Ibu bergabung, kelompok Bapak mencabut bibit dan kelompok Ibu menanam. Selain pekerjaan ini, Ibu ini hanya memelihara ternak yaitu kambing. Ibu ini tidak bekerja apabila tidak musim turun sawah.

  Menurut Ibu ini, besarnya upah tanam di desa ini adalah Rp 33.000 per rante dan cabut bibit Rp 17.000 per rante. Pekerjaan menanam biasanya dimulai dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB atau sampai selesai. Apabila lahannya tidak terlalu luas maka sebelum jam 17.00 sudah selesai. Jam kerja tidak ditentukan atau menjadi patokan dalam pekerjaan ini. Jam berapapun boleh bekerja yang penting diselesaikan dengan cepat. Bahkan kalau ada kemalangan di desa ini, kelompok Ibu ini akan mendahulukan melayat daripada bekerja dan pergi kerja di siang hari. Apabila hal ini terjadi, ini tidak akan dipermasalahakan oleh petani yang ingin menggunakan jasa kelompok buruh tanam Ibu ini. Persoalan jam kerja tidak seperti jam kerja di pabrik. Sesama anggota kelompok juga bisa dengan sukarela memutuskan untuk bekerja atau tidak. Apabila salah satu anggota kelompok tidak ikut bekerja karena tetangganya meninggal, sakit, atau karena alasan lain, hal ini bukan merupakan permasalahan. Kesertaan anggota kelompok untuk ikut bekerja atau tidak merupakan hak masing-masing anggota.

  Selain upah yang diberikan terkadang petani memberikan makanan kecil atau snack, teh manis dan rokok kepada pekerja. Saat buruh tani bekerja sering ada pengawasan dari petani yang mempekerjakan mereka bahkan petani pemilik juga ikut menananm bersama buruh taninya. Menurut Ibu ini jarang sekali bahkan tidak pernah terjadi perselisihan antara petani dan buruh tani. Banyak petani yang berlangganan dengan kelompok Ibu ini, biasanya petani itu adalah sesama anggota kelompok, tetangga rumah, tetangga lahan, dan orang lain juga ada. Pemberitahuan kepada buruh tani dilakukan seminggu sebelum hari yang ditetapkan untuk menanam padi di lahannya. Namun kelompok Ibu ini biasanya mengutamakan petani yang telah berlangganan memakai jasa kelompok Ibu ini. Semua anggota kelompok tanam Ibu ini adalah tetangga dan saudara Ibu ini.

  Ibu mengatakan bahwa upah panen di desa ini tidak lagi menggunakan sistem bawon yang mengambil upah panen dari hasil panen tetapi upah panen sudah dibayar dalam bentuk uang dengan sebutan persenan. Jadi setiap hasil panen dibagi tujuh, dan yang merupakan upah adalah satu bagiannya. Hasil panen sudah dalam bentuk uang. Upah tersebut kemudian dilakukan pembagian lagi pada anggota kelompok. Upah yang dibagikan antara kelompok Ibu dan kelompok Bapak lebih besar jumlahnya diterima oleh kelompok bapak. Hal ini disebabkan karena perbedaan kerja yang dilakukan. Pekerjaan Bapak dianggap lebih berat dibanding dengan pekerjaan Ibu. Kelompok Ibu hanya mengaret atau memotong padi.

  Selain menjadi buruh tani, Ibu ini juga memiliki lahan pertanian seluas 7 rante. Ibu ini sudah lama bertani sekitar 20 tahun lebih. Hasil pertanian ini hanya sebagai pemenuhan kebutuhan beras atau pangan dalam rumah tangga. Karena luas lahannya yang relatif sempit, maka hasilnya juga relatif sedikit. Dalam sekali panen biasanya Ibu ini mendapatkan hasil berjumlah 32 goni. Segoni atau sekarung gabah berjumlah 80 kilogram. Inilah yang digunakan untuk makan sehari-hari. Ibu ini tidak ingin menyewa lahan dari sejak pertama menyawah karena menurut Ibu ini biaya sewa lahan pertanian terlalu mahal sbesar Rp 200.000 per rante dalam sekali musim turun sawah. Menurut Ibu ini sangat sedikit petani di desa Tanjung Rejo ini yang memiliki lahan pertanian yang luas seluas 20 rante sampai 40 rante. Petani di desa Tanjung Rejo yang memiliki lahan sekitar 5-10 rante ada 80% dari jumlah pemilik lahan. Setiap anggota kelompok buruh tani Ibu ini yang memiliki lahan pertanian sering melakukan giliran dalam mengolah lahan pertanian. Ini bukan merupakan sistem sambatan karena mereka tetap mendapatkan upah.

10. Nama : Roymen

  Usia : 61 tahun Pekerjaan : Petani ( Petani Lahan Sempit) Bapak ini telah bertani sejak tahun 1970an. Pada awalnya Bapak ini menyewa lahan sebelum mendapat warisan dari orang tuanya. Tahun 1980an,

  Bapak ini memiliki lahan sendiri seluars 6 rante ( 2400 m). Saat ini, Bapak ini hanya mengelolah lahan seluas 6 rante. Dalam mempekerjakan lahannya Bapak ini menggunakan buruh tani langganan yaitu buruh tani tanam dan buruh tani panen dan selebihnya dikerjakan sendiri oleh bapak ini. Buruh tani langganannya adalah kelompok buruh tani anaknya yang rumahnya berada di sebelah rumahnya. Alasannya menggunakan buruh tani langganan adalah supaya pekerjaannya dapat secepat mungkin dilakukan tanpa ditunda dan dia merasa lebih beruntung apabila menggunakan kelompok buruh tani anaknya dibanding menggunakan kelompok lain. Selain itu juga dapat membantu pemberian pekerjaan dan penambahan pendapatan anaknya. Di luar musim turun sawah, Bapak ini menanam jagung di sawahnya.

  Menurut Bapak ini, kepemilikan lahan pertanian di desa ini 60 % dimiliki oleh orang luar di desa ini seperti orang Medan, Binjai, dan lainnya.

  Peralihan kepemilikan dari penduduk dalam kepada orang luar disebabkan karena dahulu lahan ini dimiliki orang yang tidak berdomisili di desa ini, pembagian warisan berupa lahan pertanian kepada anak cucu, dan ketidakstrategisan lahan ini dibanding sekarang yang lahan pertaniannya sudah beririgasi. Petani di desa ini 80% yang menyewa lahan dan 20 % petani yang sama sekali tidak memiliki lahan pertanian tapi hanya bekerja sebagai buruh tani. Buruh tani di desa ini berpindah-pindah. Apabila desa ini turun sawah, maka mereka bekerja di desa ini danapabila di desa ini tidak musim sawah maka mereka bekerja di desa lain yang turun sawah atau bekerja di sektor lainnya.

  Menurut Bapak ini, hubungan petani dan buruh tani di desa ini terjalin kerjasama dan saling membutuhkan. Petani membutuhkan jasa buruh tani dan buruh tani membutuhkan pekerjaan pertanian untuk mendapatkan penghasilan. Namun agak sedikit berbeda dengan petani kaya yang tidak hanya mengolah lahan pertanian sebagai pendapatan utamanya, dengan kata lain lebih sibuk di luar pekerjaan pertaniannya dibanding dengan pekerjaan pertaniannya. Jadi untuk mengolah lahannya dia menyerahkan sepenuhnya dengan buruh tani. Dia hanya menyuruh tetapi jarang sekali mengawasi pekerjaan petani bahkan melihat lahannya pun jarang. Petani kaya ini jarang bertemu dengan buruh tani di sawah tetapi hanya di perwiritan, takjiah, acara syukuran, atau di perkumpulan lainnya. Karena petani kaya jarang ke lahannya dan menyerahkan sepenuhnya pada buruh tani. Karena itu, apabila terjadi penurunan terhadap hasil panen, dia akan menganggap bahwa pekerjaan buruh tani yang kurang bagus, dan untuk musim selanjutnya dia tidak akan menggunakan kelompok buruh tani itu lagi. Dan sistem sambatan yang ada di desa ini misalnya dalam pekerjaan pertanian sekarang sudah bergeser sejak reformasi. Semua sudah memakai perhitungan artinya walaupun bergantian tetap mereka saling memberikan upah. Berbeda dengan sebelum reformasi, para petani banyak yang bergantian tanpa mementingkan untung rugi akan perbedaan luas lahan mereka. Mereka saling pengertian dengan memberikan imbalan lebih apabila lahannya agak luas dengan teman sambatannya.

  11. : Ibu Supri Nama

  Usia : 38 tahun Pekerjaan : Buruh Tani

  Ibu ini sudah bekerja sebagai buruh tani selama 20 tahun lebih dan baru selama dua tahun terahir Ibu ini menyewa lahan seluas 5 rante. Ibu ini bekerja sebagai buruh tani tanam dan buruh tani manen. Ibu ini tergabung dalam satu kelompok tanam yang berjumlah 8 orang. Kelompok tanam Ibu ini juga bekerjasama dengan kelompok buruh manen suaminya. Ibu ini bekerja setiap musim turun sawah. Apabila tidak musim sawah (musim rendeng), Ibu ini menjadi buruh tani di desa lain yang desa itu tiba musim sawah, apabila tidak ada maka Ibu ini tidak bekerja. Diperkirakan Ibu ini tidak bekerja selama 3 bulan dalam waktu sehabis panen sampai musim turun sawah kembali. Setiap bekerja, tidak semua anggota kelompok dapat bekerja bersama-sama.

  Terkadang yang bekerja 4-6 orang saja.

  Upah untuk buruh tanam sebesar Rp 30.000 per rante (400 m). Pekerjaan dilakukan secara bersama-sama oleh satu kelompok. Setelah pekerjaan selesai, mereka membagi pendapatannya kepada setiap anggota secara merata. Pendapatan Ibu ini per hari sebesar Rp 40.000 sampai Rp 50.000 dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB. Namun pekerjaan menanam ini tidak dapat dilakukan setiap hari tetapi setiap Ibu ini disuruh bekerja oleh petani. Jadi apabila Ibu ini libur bekerja di kelompoknya maka Ibu ini akan ikut dengan kelompok lain. Ibu ini diajak oleh teman-temannya di kelompok lain. Dalam bekerja, satu hari bisa saja Ibu ini berpindah kerja dari lahan petani yang satu dan lahan petani yang lain. Dalam satu hari terkadang Ibu ini bisa mengerjakan pekerjaaan di tiga lahan petani yang berbeda sampai sore hari.

  Kelompok buruh tani Ibu ini juga menjadi buruh langganan bagi beberapa petani. Biasanya mereka akan mengutamakan bekerja di tempat petani langganan daripada di tempat petani-petani yang lain. Karena di tempat petani langganan biasanya pelayanannya lebih baik misalnya memberikan makanan kecil atau snack dalam satu hari sebanyak dua kali. Petani langganan tidak pernah protes atas pekerjaan para buruh tani karena sudah sama tahu apa yang diinginkan oleh petani dan buruh tani. Dengan berlangganan, kelompok buruh tani Ibu ini akan selalu memiliki pekerjaan saat musim sawah tiba tanpa harus mencari-cari pekerjaan di tempat petani-petani atau menetapkan kesepakatan awal dan tawar menawar sebelum memulai pekerjaan dengan petani yang bukan langganan. Selain itu petani langganan sering memberikan upah lebih secara pribadi untuk para buruh taninya.

  Menurut Ibu ini, ada juga petani yang protes terhadap pekerjaan buruh taninya namun tidak secara langsung, tetapi petani yang protes biasanya tidak akan mengguanakan jasa dari kelompok Ibu ini lagi. Petani yang melakukan protes ini adalah petani yang memiliki lahan luas yang tidak mengawasi pekerjaan kelompok Ibu ini bahkan tidak pernah ke ladang.

  Menurut Ibu ini, para petani yang memiliki lahan sebagian besar mengawasi atau melihat sebentar akan pekerjaaan yang dilakukan oleh kelompok buruh tani Ibu ini, misalnya saat menghantarkan makanan kecil ke lahan bahkan ikut menanam bersama buruh tani. Bagi petani yang memiliki lahan luas atau petani yang memiliki pekerjaan lain yang lebih penting dibandingkan bertani, mereka jarang sekali mengontrol lahannya. Karena itu terkadang petani seperti ini protes terhadap pekerjaan buruh tani. Mereka tidak merasa puas akan pekerjaan buruh taninya, misalnya mengerjakan pekerjaan terlalu lama atau tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditentukannya. Apabila pekerjaan menanam padi dilakukan dalam waktu yang relatif lama, maka hal ini dapat menyebabkan bibit padi membusuk. Pencabutan bibit biasanya dilakukan oleh kelompok buruh tani laki-laki sehari sebelum bibit akan ditanam.

  Upah yang diberikan apabila Ibu ini bekerja sebagai buruh tani memanen yaitu dalam bentuk bawon atau persen. Kalau dalam bentuk bawon biasanya setiap hasil panen sebanyak 20 goni (80 kilogram) gabah, maka diambil 2 goni, apabila tidak mencapai 20 goni, dihitung per kaleng. Apabila dalam bentuk persen yaitu dibagi tujuh. Namun di desa ini dalam bentuk persen karena padi atau gabah langsung dijual kepada toke atau agen.

  Pembagian upah memanen dibedakan antara laki-laki dan perempuan karena pekerjaan laki-laki lebih berat daripada pekerjaan perempuan yang hanya mengaret atau memotong padi. Jadi selisih gaji perempuan dan gaji laki-laki yaitu Rp 15.000 sampai Rp 20.000.

  Ibu ini lebih memilih kerja di pertanian sebagai buruh tani daripada sebagai buruh pabrik denagn alasan Ibu ini tidak ingin terikat, dapat membantu menambah pendapatan sekaligus merawat anak dan rumah, dan ingin memiliki waktu istirahat. Menurut Ibu ini, apabila ia bekerja di pabrik pulangnya sering larut malam dan hari minggu pun bekerja serta terancam akan di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) apabila sering tidak bekerja.

  Menurut Ibu ini sebanyak 15 % petani di desa ini yang bekerja sebagai buruh tani dan 80 % adalah petani berlahan sempit seluas 3-10 rante dan bekerja juga sebagai buruh tani sebagai pekerjaan sampingannya.

  Ibu ini mengatakan bahwa upah buruh tani disesuaikan dengan besarnya upah buruh tani pada umumnya. Ibu ini tidak bisa memasang tarif upah terlalu mahal atau pun terlalu murah. Apabila terlalu mahal, tidak ada petani yang akan menyuruh mereka bekerja dan apabila terlalu murah maka kelompok buruh tani Ibu ini akan dimarahi oleh para buruh tani yang lain. Walaupun merasa upah yang diterima sedikit, tetapi dia tetap bekerja untuk menambah penghasilan suaminya. Dan hubungan buruh tani dengan petani dalam kehidupan sehari-hari sangat harmonis, saling menegur sapa, saling berkumpul misalnya dalam suatu pengajian atau perwiritan.

  12. : Supriadi Nama

  Usia : 42 tahun Pekerjaan : Buruh tani Bapak ini telah bekerja sebagai buruh tani selama 20 tahun. Tahun

  2010,Bapak ini bekerja sebagai buruh tani di Gaperta di Pasar II Saentis, lalu pindah ke Tanjung Rejo. Sudah 2 tahun Bapak ini bekerja sebagai buruh tani di Tanjung Rejo. Bapak ini tidak memiliki lahan pertanian sama sekali. Bapak ini bekerja sebagai buruh tani yang mengerjakan seluruh pekerjaan pertanian dimulai dari babat rumput, babat beteng atau galengan, jetor atau membajak, mencabut bibit, dan memanen. Bapak ini memiliki kelompok buruh tani manen dan buruh tani cabut bibit.

  Bapak ini ikut dengan elompok buruh tani manen Bapak Sumiran sebagai pemiliki mesin panen atau mesin grendel yang beranggotakan 8 orang dan bergabung dengan kelompok ibu-ibu. Kelompok cabut bibit Bapak ini terdiri dari 4 orang. Apabila kelompoknya tidak sedang bekerja, Bapak ini selalu mencari pekerjaan dengan bergabung dengan kelompok lain. Terkadang Bapak ini diajak oleh temannya yang merupakan anggota kelompok buruh tani yang lain. Buruh tani di desa ini dapat bekerja dengan semua kelompok apabila diajak oleh salah satu anggota kelompok tersebut dan tidak ada larangan dalam hal ini.

  Bapak ini bekerja sebagai buruh tani pada saat musim turun sawah dan bekerja mocok-mocok pada saat tidak musim sawah. Pekerjaan yang dilakukan Bapak ini di sawah dimulai dari membabat benteng, membajak atau menjetor, mencangkul, menyemai, mencabut bibit padi, memanen atau menggerendel, mengangkat padi ke luar lahan, dan lainnya. Dalam pekerjaan menjadi buruh manen, bapak ini hanya mengikuti pemilik mesin kemana lahan yang akan dikerjakan. Upah yang diterima dalam memanen berdasarkan persenan yaitu dibagi tujuh, artinya setiap 7 ton padi, upahnya adalah 1 ton padi. Namun upah diberikan tidak dalam bentuk padi melainkan dalam bentuk uang. Kemudian upah tersebut dibagi dengan pekerja yang ada. Dalam pekerjaan mencabut bibit padi, Bapak ini mendapatkan upah sebesar Rp 17.000 per rante sawah yang ingin ditanam. Pembagian upah tersebut juga dibagi dengan jumlah pekerja yang ada. Dalam pekerjaan seperti menyemai, membabat beteng, memupuk, dan lainnya tidak memiliki tarif upah, tetapi upah diberikan berdasarkan pribadi petani masing-masing. Terkadang upahnya sesuai terkadang tidak sesuai dengan tenga yang telah dikeluarkan. Kalau membabat beteng biasanya sehari diberi upah sebesar Rp 50.000 dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB.

  Menurut Bapak ini, jarang sekali terjadi petani yang protes dengan pekerjaan mereka. Hanya saja sebelum bekerja, petani selalu meminta agar kerja mereka itu bersih dalam artian tidak banyak padi yang tertinggal. Terkadanag mereka menerima tambahan upah dari petani yang memang sudah berlangganan menggunakan mesin grendel milik salah seorang kelompoknya.

  Saat bekerja, mereka selalu diberikan makanan ringan. Bapak ini selalu berusaha bekerja setiap hari dengan bekerja mocok-mocok supaya mendapatkan penghasilan. Bapak ini mengerjakan semua pekerjaan, selain pekerjaan pertanian. Bapak ini juga bekerja di bangunan apabila tidak musim sawah.

  Bapak ini lebih memilih bekerja sebagai buruh tani daripada buruh bangunan atau buruh pabrik karena tidak terikat dan Bapak ini lebih memiliki keahlian di bidang pertanian dibandingkan dengan pekerjaan lain, hanya saja Bapak ini tidak memiliki lahan pertanian untuk dikelolah. Bapak ini tidak dapat menyewa karena mahalnya biaya sewa lahan dimulai dari Rp 150.000 samapai Rp 200.000 per rante setiap panen. Selain itu, sempitnya lahan yang tersedia sehingga sedikit sekali lahan yang disewakan.

4.3 Struktur Masyarakat Pertanian Desa Tanjung Rejo

  Masyarakat desa Tanjung Rejo merupakan masyarakat yang hidup di lingkungan pedesaan yang masyarakatnya menggantungkan kehidupannya pada tanah atau lahan. Artinya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara mengelolah lahan dengan menjadikannya sebagai lahan pertanian tanaman pangan yaitu persawahan. Oleh karena itu, masyarakat desa ini merupakan masyarakat pertanian atau masyarakat agraris. Para petani di desa ini terdiri dari petani yang mengolah lahannya sendiri dan petani yang mengolah lahan milik orang lain dengan menyewa lahan pertanian petani lainnya. Karena menyewa lahan milik orang lain maka para petani ini akan mendapatkan penghasilan berdasarkan selisih keuntungan antara hasil panen dikurangi dengan biaya sewa lahan.

  Pada dasarnya masyarakat pertanian atau masyarakat yang menyandarkan hidup mereka ke pertanian di desa Tanjung Rejo terdiri dari tiga lapisan yaitu petani pemiliki, penyewa, dan buruh tani. Adapun lapisan- lapisan mendasar masyarakat tersebut adalah sebagai berikut : a.

  Pemilik lahan Kepemilikan lahan pertanian di desa Tanjung Rejo ini terdiri dari dua bentuk kepemilikan yaitu kepemilikan tetap dan kepemilikan sementara. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Selamat sebagai kepala desa di desa ini sebagai berikut :

  “kalau lahan pertanian di desa ini, ada yang dimiliki sendiri, artinya dia beli tanah disini secara sah, tanah ini memang miliknya. Tapi sebagian besar petani disini itu menyewa lahan” (Hasil wawancara tanggal 9 Januari 2012).

  Pemilik lahan pertanian yang dimaksud disini adalah petani yang memiliki lahan pertanian di desa ini dengan kepemilikan tetap, artinya lahan yang dimilikinya adalah lahannya sendiri dengan kepemilikan yang sah secara hukum. Sedangkan kepemilikan sementara adalah kepemilikan lahan yang pada dasarnya lahan tersebut bukan lahannya namun ia memilki hak untuk mengelolahnya dan kepemilikan ini akan berakhir sesuai dengan waktu yang telah ditentukan misalnya penyewa. Luas lahan pertanian di desa ini seluas 1.650 ha. Lahan inilah yang dimiliki oleh para petani sawah.

  Petani pemilik lahan di desa Tanjung Rejo ini terdiri dari petani pemilik yang berdomisili di desa ini dan petani pemilik yang tidak berdomisili di desa ini. Hasil wawancara dengan Bapak Selamat menyatakan sebagai berikut :

  “sebagian besar, pemilik lahan itu orang luar kalau disini ini. Kalau dipersenkan itu sekitar 60 : 40 lah. 60 % yang punya lahan disini orang luar” (Hasil wawancara tanggal 9 januari 2012).

  Hal ini sama halnya yang dikatakan oleh Bapak Legino yaitu sebagai berikut : “kebanyakan sawah disini yang punya orang Binjai, orang Medan. Kalau orang sini aja sedikit yang punya, yang punya cuma 40 %, 60 % lagi punya petani luar”.( Hasil wawancara tanggal 9 januari 2012). Petani luar yang memiliki lahan di desa ini berjumlah 60 %dari luas lahan pertanian di desa ini yaitu 990 ha, sedangkan petani dalam hanya memilki lahan sekitar 40 % yaitu 660 ha.Petani di desa ini 80 % adalah petani gurem yaitu petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 ha. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Selamat sebagai berikut :

  “petani di desa ini, kebanyakan masyarakat disini, 80 % itu lahannya sedikit dan sebagian menyewa gitu. Paling punya 3-10 rante. Kalau yang luas-luas itu lahannya milik orang luar, orang Medan, Binjai sana” (Hasil wawancara tanggal 9 Januari 2012).

  Hal ini sama halnya dikatakan oleh Ibu Suryati sebagai kepala dusun VII sebagai berikut :

  “warga di desa ini petaninya banyak yang nyewa. Paling yang punya sendiri itu cuma yang orang tuanya dulu disini. Kalau orang sini kebanyakan paling punya 5 rante. Ada yang 2 rante pun” (Hasil Wawancara tanggal 23 Januari 2012).

  Petani luar memiliki lahan pertanian yang lebih luas dibandingkan dengan petani dalam. Petani luar memiliki lahan seluas 2-10 ha di desa ini sedangkan petani dalam hanya memiliki lahan pertanian seluas 3 rante 1 -2 ha (1 ha = 25 rante dan 1 rante = 400m) di desa ini. Petani luar tersebut berasal dari Medan, Binjai, Saentis, dan daerah-daerah lainnya. Petani dalam atau petani yang berdomisili di desa ini memiliki lahan yang memliki lahan seluas 3-10 rante berjumlah 80 % yaitu 274 orang atau disebut dengan petani gurem dan 20 % petani dalam memiliki lahan sekitar 1-2 ha berjumlah 68 orang.

  2.Penyewa Penyewa merupakan petani yang memiliki lahan pertanian dengan kepemilikan sementara. Penyewa hanya dapat menggarap lahan pertanian tetapi tidak dapat memiliki lahan pertanian tersebut. Karena lahan tersebut bukanlah miliknya melainkan milik petani yang lain yang tidak dikelolah oleh pemiliknya. Penyewa hanya bisa menguasai lahan pertanian tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan disepakati oleh petani yang menyewakan.Hasil waawancara dengan Bapak Legino sebagai berikut :

  “petani yang nyewa disini itu kadang mereka punya lahan sedikit lalu menyewa lagi. Tapi ada juga yang sama sekali gak punya lahan. makanya dia nyewa. Kalau diperkirakan ada 60 % petani yang punya lahan sempit itu, kemudian dia menyewa. Memang disini banyaklah yang kayak gini” (Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012).

  Hal ini sama halnya dikatakan oleh Bapak Said sebagai berikut: “desa ini kebanyakan petaninya petani gurem. Kalau dihitung mungkin ada 60 % petani disini yang nyewa” (Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012). Di desa ini penyewa yang sama sekali tidak memiliki lahan sekitar 40 % yaitu sekitar 68 orang dan sekitar 60 % petani yang memiliki lahan sempit lalu menyewa lahan yaitu 103 orang . Tujuan petani gurem ini menyewa lahan adalah untuk menambah pendapatan mereka dengan mengolah lahan pertanian yang luas maka hasil produksi juga meningkat. Petani menyewa dengan sistem penyewaan yang telah ditentukan bersama misalnya mengenai biaya sewa. Hasil wawancara dengan Bapak Selamat sebagai berikut :

  “ kalau nyewa itu dalam satu rante itu bayar sewanya Rp100.000- Rp200.000. dia itu biasanya tergantung sama lahannya, bagus pengairannya atau gak. Tapi ini dalam satu kali masa tanam”.

  (Hasil wawancara tanggal 9 Januari 2012). Hal ini sama halnya yang dikatakan oleh Bapak Legino sebagai berikut : “disini uang sewa itu beda-beda. Lihat-lihat lahannya kayakmana. Kalau yang bagus itu mau Rp 200.000, tapi kalau yang biasa cuma Rp 150.000 – Rp 100.000”. (Hasil wawancara tanggal 9 Januari 2012).

  Sistem penyewaan lahan di desa ini terdiri dari dua yaitu sistem sewa dibayar di muka dan sistem sewa dibayar di belakang setelah panen.

  Biaya sewa selalu dibayar dalam bentuk uang tunai. Besarnya biaya sewa tergantung pada kualitas lahan pertaniannya yang akan disewakan. Kualitas lahan pertanian di desa ini terbagi kedalam tiga kelas. Kelas pertama yaitu lahan pertanian irigasi, kelas kedua lahan pertanian setengah teknis, dan kelas ketiga lahan pertanian irigasi buruk. Kelas satu terletak di dekat jalan, kelas dua ditengah, dan kelas tiga terletak di paling belakang dan jauh dari jalan. Biaya sewa untuk lahan pertanian kelas satu sebesar Rp 200.000, biaya sewa untuk lahan pertanian kelas dua sebesar Rp 150.000 dan biaya sewa untuk lahan pertanian kelas tiga sebesar Rp 100.000 per sekali musim sawah. Apabila telah tiba musim sawah berikutnya, maka penyewa harus mengeluarkan biaya sewa kembali. Hasil panen yang didapat tergantung pada kualitas lahan pertanian. begitu juga besarnya biaya sewa lahan.

  Semakin kondisi sawah itu bagus, semakin mahal biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan oleh penyewa.

  b.

  Buruh tani Dalam masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo ini, para petani bekerja keras pada masa-masa turun sawah saja dan memiliki waktu luang atau kelenggangan bekerja di masa-masa tidak turun sawah. Apabila tiba masa turun sawah, semua anggota keluarga ikut bekerja untuk mengolah lahan mereka. Bahkan tidak hanya anggota keluarga inti petani, keluarga batih pun dikerahkan untuk mengerjakan atau mengolah lahan pertanian mereka. Petani yang memiliki lahan 1-2 ha, biasanya tenaga keluarga inti dan keluarga luas juga tidak cukup untuk dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Karena itu, para petani menggunakan tenaga buruh tani untuk mengerjakan pekerjaan di sawah mereka.Di desa ini buruh tani lebih dikenal dengan sebutan “ngupah”. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Selamat sebagai berikut:

  “ada juga buruh tani yang hanya bekerja sebagai buruh tani. Ada 20 % gitu, khusus buruh tani tidakpunya lahan”. (Hasil wawancara tanggal 9 Januari 2012). Jumlah buruh tani di desa ini adalah 20 % dari jumlah petani di desa ini yaitu 120 orang. Buruh tani di desa ini ada juga yang merupakan pekerjaan sampingan bagi mereka bukan pekerjaan utama mereka. Buruh tani di desa Tanjung Rejo terbagi dua yaitu buruh tani yang sama sekali tidak memiliki lahan dan buruh tani yang masih memiliki lahan sendiri namun bekerja sebagai buruh tani sebagai pekerjaan sampingannya. Bagi buruh tani yang tidak memiliki lahan, pekerjaan buruh tani merupakan pekerjaan utamanya dan mereka mendapatkan penghasilan utama dengan bekerja sebagai buruh tani. Karena itu buruh tani ini akan bekerja keras saat musim turun sawah dan akan mencari pekerjaan sampingan saat musim rendeng atau setelah panen. Sedangkan bagi buruh tani yang memiliki lahan, biasanya pekerjaan sebagai buruh tani merupakan pekerjaan tambahan baginya untuk menambah pendapatannya. Sistem pengupahan yang berlaku bagi buruh tani di desa ini menggunakan upah berupa uang misalnya upah harian, upah borongan, upah mingguan, dan upah bulanan.

  Buruh tani yang ada di desa ini terdiri dari buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan. Setiap musim turun sawah, masyarakat di desa ini yang berprofesi sebagai petani bekerja sebagai buruh tani baik itu ibu-ibu maupun bapak-bapak. Di masa inilah para buruh tani memiliki kesempatan untuk bekerja keras untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan penghasilan. Kaum ibu-ibu juga ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga dengan menambah pendapatan keluarga.

  Buruh tani di desa ini tidak mengerjakan pekerjaan pertanian secara individual, hanya pekerjaan tertentu yang dikerjakan secara individual karena pekerjaan tersebut tidak membutuhkan kerja sama dan tenaga kerja. Pekerjaan pertanian yang dapat dilakukan secara individual karena dianggap ringan seperti membabat beteng, menyemprot, dan mencangkul lahan. Buruh tani di desa ini membentuk kelompok-kelompok masing- masing, namun tidak ada persaingan dalam kelompok hanya untuk memudahkan dalam bekerja. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Supri sebagai berikut:

  “memang kami ada kelompok-kelompoknya sendiri-sendiri tapi kalau kelompok lain ada kerja, mereka ajak kita buat gabung ntah satu dua orang dari kita”. (Hasil wawancara 11 Februari 2012). Hal ini sama yang dikatakan oleh Ibu Gira sebagai berikut : “kadang ibu kalau kelompok ibu gak ada kerja hari ini misalnya, ibu ikut sama yang kelompok lain kalau mereka butuh tenaga. Kadang pun diajakin. Kalau disini kayak git”. (Hasil wawancara 11 februari 2012).

  Kelompok ini dibentuk karena beberapa pekerjaan pertanian tidak dapat atau sulit dikerjakan sendirian karena dianggap terlalu berat untuk dikerjakan sendirian seperti mencabut bibit, menanam padi, merumput, membajak, dan memanen padi. Apabila pekerjaan ini dikerjakan secara individual maka pekerjaan tersebut akan selesai dalam waktu yang relatif lama misalnya menanam padi seharusnya dapat dilakukan satu hari maka dengan bekerja sendiri menanam padi dapat dilakukan selama 4 hari dan petani akan mengalami kerugian. Misalnya, apabila menanam padi tidak segera selesai, berarti penananman padi tidak serentak, dan ini menghambat dan menyulitkan dalam proses memanen dan menimbulkan serangan hama. Karena itu pekerjaan ini harus diselesaikan dengan cepat dan serentak.

  Setiap kelompok buruh tani terdiri dari beberapa orang seperti buruh tani menanam padi terdiri dari 6-15 orang, buruh tani memanen terdiri dari 15-20 orang, buruh tani membajak terdiri dari 2-3 orang, dan buruh tani mencabut bibit terdiri dari 4-6 orang. Kelompok-kelompok buruh tani di desa ini juga terdiri dari kelompok buruh tani laki-laki dan kelompok buruh tani perempuan. Dalam beberapa pekerjaan memanen, kelompok buruh tani perempuan dan kelompok buruh tani laki-laki bergabung. Kelompok-kelompok buruh tani ini juga mengerjakan pekerjaan yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kelompok buruh tani laki-laki dan kelompok buruh tani perempuan. Kelompok buruh tani perempuan biasanya mengerjakan pekerjaan menanam dan mengaret atau memotong padi sedangkan kelompok buruh tani laki-laki mengerjakan pekerjaan mencabut bibit, membajak, dan menggrendel (mengurai padi dengan mesin).

  Meskipun para buruh tani di desa ini berkelompok, antara anggota kelompok buruh tani yang satu dengan anggota kelompok buruh tani yang lain juga bekerja sama. Setiap anggota kelompok tidak harus bekerja dengan kelompoknya sendiri. Mereka dapat bekerja dengan bergabung dengan kelompok buruh tani yang lain. Dengan kata lain, tidak ada persaingan atau kompetisi antara kelompok buruh tani di desa ini, tetapi pembentukan kelompok ini hanya untuk memudahkan dalam bekerja dan biasanya kelompok buruh tani ini terdiri dari keluarga, saudara, tetangga terdekat, dan tetangga lahan.

  Setiap masyarakat yang memiliki struktur masyarakat yang berbeda karena setiap masyarakat memiliki penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dan akan menjadikan hal-hal tersebut pada kedudukan atau posisi yang lebih tinggi daripada hal-hal lainnya. Struktur masyarakat pertanian di desa ini merujuk pada penguasaan atas lahan pertanian, dimana perbedaan penguasaan atas lahan pertanian menentukan posisi seorang petani dalam masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Wisadirana (2005) bahwa gambaran struktur masyarakat agraris yang merujuk pada peta hubungan sosial di kalangan anggota masyarakat agraris akan bertumpu pada posisi para petani dalam penguasaan sumberdaya agraria, baik dalam penguasaan tetap maupun penguasaan sementara. Kemudian differensiasi struktur masyarakat agraris merujuk pada keberadaan kelompok-kelompok dalam masyarakat yang posisinya dalam penguasaan sumberdaya agraria tidak sama (Wisadirana, 2005: 52).

  Struktur masyarakat pertanian di desa ini terdifferensiasi dalam banyak lapisan masyarakat yang dibangun dengan status tunggal(status dimaksud merupakan basis dasar pelapisan masyarakat) dan status jamak atau kombinasi. Secara lebih rinci, struktur petani di desa Tanjung Rejo berdasarkan kepemilikan lahan adalah sebagai berikut : 1.

  Petani Pemilik Lahan.

  Petani pemilik adalah petani yang memiliki lahan pertanian dengan kepemilikan tetap. Petani pemilik lahan pertanian di desa ini berasal dari orang yang berdomisili di desa ini dan orang yang tidak berdomisili di desa ini. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Selamat sebagai berikut :

  “disini itu yang punya lahan luas itu kebanyakan orang luar ada 60 % dari lua lahan. Ada sampai 10 ha di Paluh Merbau itu. Kalau rata-rata orang sini itu punya 5-10 rante. Ada juga yang punya 3 rante”. (Hasil wawancara tanggal 9 Januari 2012).

  Sama seperti yang dikatakan Ibu Gira sebagai petani gurem sebagai berikut: “kami punya juga lahan di belakang rumah ini, cuma 7 rante. Mau nyewa lagi pun mahal. sekarang ini nyewa Rp 200.000 per rante. Ini pun sekali panen aja. Jadi yang ada aja yang disawah. Kan udah bisa buat berasnya di rumah”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Petani yang memiliki lahan luas seluas 3-10 ha berasal dari orang yang tidak berdomisili di desa ini atau petani luar dan petani yang memiliki lahan luas seuas 1-2 ha adalah petani yang berdomisili di desa ini atau petani dalam. Petani pemilik lahan di desa ini hanya 68 orang yang memiliki lahan luas 1-2 ha. Petani yang memiliki lahan yang seluas 5-10 ranteberjumlah 274 orang. Petani ini tidak menyewa lahan karena keterbatasan modal mereka sehingga tidak sanggup untuk menyewa lahan jadi dia hanya mengelolah lahan pertaniannya yang dia miliki meskipun relatif sempit.

2. Petani pemilik lahan sekaligus penyewa lahan

  Petani ini merupakan petani yang memiliki lahan dengan kepemilikan tetap dan kepemilikan sementara, artinya disamping petani ini memiliki lahan sendiri, petani ini juga menyewa lahan dari petani pemilik lainnya yang tidak mengelolah lahannya. Hasil wawancara dengan Bapak Legino sebagai berikut :

  “petani disini itu banyak yang nyewa. Nanti dia punya lahan cuma 5 rante, nanti dia nyewa 10 rante lagi. Kan sudah setengah hektar yang dia kelolah. Tapi bagi petani yang punya modal. Kalau cuma 5 rante, berapalah padi yang dia dapat. Gak bisa dijual cuma untuk makan”. (Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012).

  Tujuan petani penyewa ini adalah untuk memperluas lahan pertaniannya yang akan dikelolah dan mendapatkan penghasilan lebih. Petani yang seperti ini adalah petani yang memiliki lahan pertanian seluas 5-10 rante dan memiliki biaya atau modal untuk menyewa lahan pertanian, sehingga petani ini menyewa lahan pertanian lagi supaya lahan yang akan dikelolah bertambah luas.

  3. Petani penyewa Petani penyewa adalah petani yang memiliki lahan pertanian dengan kepemilikan sementara sesuai dengan kesepakatan antara penyewa dan yang menyewakan. Dalam artian petani ini tidak memiliki lahan dengan kepemilikan tetap tetapi berdasarkan waktu yang telah ditetapkan. Petani ini menyewa lahan milik petani yang lain yang tidak dikelolah oleh pemiliknya. Seperti yang dikatakan dengan bapak Said yaitu sebagai berikut :

  “saya itu gak punya lahan, saya dari dulu nyewa sama orang luar yang punya lahan disini. Dari pertama saya bertani udah 20 tahunan, saya nyewa tempat orang ini aja, karena gak dipake lahannya. Kalau gak nyewa ya gak punya lahan”. (Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012).

  4. Petani pemilik sekaligus buruh tani Petani ini adalah petani yang memiliki lahan pertanian dengan kepemilikan tetap dan disamping mengelolah lahan pertaniannya petani ini juga bekerja sebagai buruh tani untuk menambah pendapatannya sebelum panen. Seperti yang dikatakan oleh Scott (1994) bahwa keharusan memenuhi kebutuhan subsistensi keluarga yang mengatasi segala-galanya seperti kekurangan tanah, dan memiliki keluarga yang besar, seringkali memaksa petani menambah penghasilannya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain seperti menjadi buruh tani. ( Scott, 1994 : 21). Petani ini merupakan petani yang memiliki lahan pertanian seluas 3-10 rante sehingga ia harus bekerja sebagai buruh tani untuk dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

  Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Gira sebagai berikut : “ibu punya lahan pun cuma sedikit, paling untuk makan. Kalau untuk kebutuhan lain, ibu ya kerja. Ngupah di tempat orang. Ya nanam, ngaret, sedapatnya lah. Bapak kan juga punya mesin grendel. Kalau musim sawah gini, ya bapak sama ibu ngupah. Kalau cuma mengharapkan 7 rante itu ya gak cukup”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

5. Petani penyewa sekaligus buruh tani

  Petani ini adalah petani yang memiliki lahan pertanian dengan kepemilikan sementara dan disamping mengelolah lahan pertaniannya petani ini juga bekerja sebagai buruh tani untuk menambah pendapatannya sebelum panen. Petani ini merupakan petani yang menyewa lahan pertanian seluas 3- 10 rante karena keterbatasan kemampuan modal usaha yang dimiliki, sehingga dia bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini berdasarkan wawancara dengan Ibu Supriyang merupakan petani penyewa sekaligus menjadi buruh tani sebagai berikut:

  “kadang-kadang ibu juga buruh kalau lagi gak ngerjain sawah. Ikut- ikut nanam di tempat orang kan dapat uang untuk belanja”.( Hasil wawancara tanggal11Februari 2012).

6. Buruh tani

  Buruh tani adalah petani yang tidak memiliki lahan sama sekali baik itu kepemilikan tetap maupun sementara namun ia bekerja di bidang pertanian untuk mendapatkan penghasilan agar ia dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Di desa ini istilah buruh tani lebih dikenal dengan “ngupah” artinya mencari upah dengan bekerja di lahan pertanian orang.

  Bagan struktur petani di Tanjung Rejo berdasarkan kepemilikan lahan dapat diliahat pada bagan berikut ini : Pemiliki Lahan

  Pemilik Lahan Luas Pemilik Lahan Sempit

  • Tidak Penyewa Pemilik Lahan Sempit Pemilik Lahan Sempit + Penyewa Pemilik Lahan Sempit + Buruh Tani Penyewa

  Penyewa + Tidak Memiliki Lahan Buruh Tani Buruh Tani + Tidak Memiliki Lahan

Bagan 4.1 Pembagian Struktur Masyarakat Pertanian Desa Tanjung Rejo

4.4 Relasi Sosial Petani dan Buruh Tani

  Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat interaksi antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lain. Setiap anggota masyarakat berinteraksi secara timbal balik dan saling mempengaruhi sehingga membentuk suatu relasi sosial. Begitu halnya dengan masyarakat pertanian di Desa Tanjung Rejo, dimana mereka saling tegur sapa antara yang muda dengan yang tua, saling berbicara, bertanya, bercerita, saling bantu membantu atau tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari mereka dan sebagainya, bahkan saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya misalnya dalam menentukan suatu keputusan dalam bermasyarakat. Masyarakat desa ini merupakan masyarakat pertanian sehingga mereka saling mempengaruhi dalam kegiatan pertanian misalnya memutuskan kapan akan turun sawah, bibit dan pupuk yang akan digunakan, dan sebagainya.

  Relasi ini telah berlangsung dalam waktu 50 tahun yang lalu dan membentuk relasi sosial diantara mereka. Relasi-relasi yang terbangun di desa ini lebih pada relasi yang berhubungan dengan pertanian karena masyarakat di desa ini merupakan masyarakat pertanian. Salah satunya adalah relasi petani dengan buruh tani. Diantara mereka saling berelasi karena mereka saling membutuhkan satu sama lainnya. Petani membutuhkan buruh tani untuk membantu mengolah lahannya dan buruh tani membutuhkan petani supaya mereka dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan.

  Relasi petani dan buruh tani juga tidak sekedar terjalin relasi kerja tetapi juga relasi sosial diantara mereka. Petani pemiliki lahan memiliki status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh tani, namun diantara mereka tidak ada sekat-sekat sosial yang membedakan mereka. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Said yaitu : “kalau di desa ini petani kaya lebih dihormati tapi hanya disegani saja.

  Gak ada bedanya juga sama masyarakat lain, mereka itu tetap gabung- gabung, berbaurlah. Kalau ada gotong royong mereka juga ikut. Wirit ya tetap wirit, kalau ada kemalangan juga datang”. (Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012).

  Hal ini sama dengan hasil wawancara dengan Bapak Jarino sebagai berikut: “petani yang punya lahan disini gak pala beda-bedain, ya sama aja sama yang lain. Cuma ya memang agak disegani. Biasa kalau di desa itu, yang kayak kan agak disegani”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Ibu Suryati sebagai kepala dusun di desa ini sebagai berikut : “walaupun disini itu banyak buruh tani daripada petani yang punya lahan luas, tapi mereka tetap rukun, tetap saling sapa, saling bantu menbantu kalau ada gotong royong jalan, kalau ada pesta, itu tetap sama gak ada bedanya. Cuma bedanya itu dari rumahnya, itu lebih bagus aja. Kalau hubungannya ya baik-baik aja. Selama saya disini gak pernah saya dengar terjadi perselisihan atau masalah petani kaya dengan yang miskin. Kadang kan tetanggaan, tapi ya baik-baik aja”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Mereka tetap bergaul, bertegur sapa, seperti pada umumnya hubungan bermasyarakat, tidak ada perbedaan apa pun, hanya saja petani yang lahannya seluas 1-2 ha lebih dihormati atau disegani. Mereka tetap berhubungan baik, masih saling mengobrol atau bercerita, bersama mengikuti perwiritan, gotong royong, dan lainnya. Relasi petani dan buruh tani di desa ini berjalan dengan baik, dimana jarang sekali terjadi perselisihan diantara mereka baik dalam relasi kerja maupun dalam hubungan bermasyarakat dalam kehidupan sehari- hari. Perbedaan status sosial diantara mereka tidak merenggangkan relasi antara mereka. Mereka tetap hidup rukun sebagai anggota masyarakat. Relasi yang bersifat assosiatif seperti ini terjadi dalam masyarakat desa ini misalnya kerjasama dalam mengadakan upacara keagamaan, bergotong royong membangun jalan, dan lainnya. Kerjasamadalam pekerjaan pertanian juga terjalin misalnya saat buruh tani bekerja di lahan petani, petani pun ikut bekerja membantu pekerjaan buruhnya. Namun, tidak menutup kemungkinan di desa ini terdapat hubungan yang bersifat disasosiatif artinya juga pernah terjadi perselisihan, ketidaksukaan antara sesama, tidak sependapat, persaingan antara sesama dalam masyarakat pertanian didesa ini. Berdasarkan dengan hasil wawancara dengan Ibu Supri sebagai berikut :

  “memang kalau kami sama yang punya lahan itu gak pernah berantam atau adu mulut gitu, cuma kadang namanya manusia kadang tersinggungkan. Kalau kami itu kadang gak suka sama petani yang cerewet, suka ngatur, gak terimaan kalau ladangnya dikerjain. Memang gak pernah ngomong langsung, tapi ya denger aja dari orang, paling juga dia gak ngupah sama kita lagi. Awak pun namanya ngupah, tetap awak kerjakan sambil ngomel”.( Hasil wawancara dengan Ibu Supri 11 februari 2012).

  Sama halnya yang dikatakan oleh Bapak Supriadi sebagai berikut : “gak enaknya kalau kerja itu, petaninya pelit. Kebanyakan petani disini itu ngasih makanan untuk siang waktu awak istirahat, tapi ya ada juga yang pelit. Dia gak ngasih makanan. Kami lebih suka sama yang gak pelit. Kalau gak dikasih makanan kami juga lemes ngerakannya”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Petani dengan buruh tani terkadang juga terjadi perselisihan misalnya karena petani tidak merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukan buruh taninya sehingga dia menegurnya atau tidak menggunakan jasa buruh tani itu lagi pada periode yang akan datang. Buruh tani juga merasa tidak suka dengan perbuatan petani tersebut, jadi sering menggerutu saat bekerja di lahan petani tersebut dan merasa senang apabila tidak dipekerjakan lagi dan lebih baik memiliih mencari pekerjaan pada petani yang lain. Buruh tani juga tidak suka dengan petani yang kikir, dimana petani tersebut tidak memberikan makanan kecil saat buruh tani bekerja. Karena buruh tani membutuhkan istirahat untuk melepaskan lelah, dengan mengkonsumsi makanan kecil. Namun ada sebagian petani yang tidak memberikan makanan kecil dan hal ini membuat buruh tani kecewa dan menurunkan produktivitas buruh tani.

  Relasi diantara anggota masyarakat di desa ini semakin lama terjalin maka semakin terjadi secara sistematik yaitu terjadi secara teratur dan berulang kali dengan pola yang sama sehingga menciptakan suatu pola relasi sosial. Relasi yang terjadi diantara mereka berjalan secara sistematis, dengan kata lain kegiatan yang mereka lakukan dilakukan secara teratur dan berulang kali sehingga relasi tersebut membentuk suatu pola relasi sosial misalnya relasi kekerabatan, kekeluargaan, bahkan membentuk relasi patronase. Relasi-relasi tersebut terbentuk dalam suatu pola karena telah dilakukan secara berulang kali dan dalam waktu yang relatif lama, dalam masyarakat pertanian itu yang sering dikenal adalah relasi patronase ini terjadi antara petani dan tengkulak. Namun pada masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo ini, relasi patronase itu terjalin juga antara petani dan buruh tani.

  Buruh tani di desa ini terdiri dari tiga macam buruh tani yaitu buruh tani bebas, buruh tani langganan, dan buruh tani tetap. Relasi sosial yang terjadi antara petani dan buruh tani pada masyarakat Desa Tanjung Rejo terdiri dari tiga relasi yaitu relasi petani dengan buruh tani bebas, relasi petani dengan buruh tani langganan, dan relasi petani dengan buruh tani tetap. Ketiga relasi ini memiliki bentuk relasi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh perbedaan intensitas interaksi antara mereka sehingga mempengaruhi kedekatan atau kekerabatan antara mereka, kerja sama antara mereka, dan tali persaudaraan antara mereka. Dengan demikian, relasi sosial diantara mereka yang telah membentuk suatu pola hanya terdapat dalam relasi antara petani dengan buruh tani langganan dan dalam relasi petani dengan buruh tani tetap. Dalam hubungan ini terlihat intensitas relasi yang tinggi dan terjadi secara sistematis dalam jangka waktu yang relatif lama sehingga relasi tersebut membentuk suatu pola relasi sosial tertentu.

4.4.1Relasi Petani dan Buruh Tani Bebas

  Relasi petani dengan buruh tani bebas terjalin dalam dua bentuk relasi yaitu relasi kerja dan relasi sosial. Relasi petani dan buruh tani bebas tidak seerat dibanding dengan relasi petani dengan buruh tani langganan dan buruh tani tetap. Hal ini disebabkan karena intensitas interaksi antara petani dengan buruh tani bebas yang sama itu jarang terjadi. Mereka bertemu apabila petani menyuruh buruh tani bekerja saja. Buruh tani bebas tidak hanya bekerja di tempat salah seorang petani saja setiap periode turun sawah. Buruh tani bekerja di lahan pertanian semua petani yang memintanya untuk bekerja dan tidak mengutamakan salah seorang petani pun. Bila ada petani yang menyuruh maka dia akan bekerja. Jadi relasi petani dan buruh tani bebas lebih condong pada relasi kerja saja.

  Relasi kerja antara petani dan buruh tani bebas ditandai dengan adanya pertukaran antara mereka. Pertukaran tersebut berupa upah sebagai imbalannya. Sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Supriadi sebagai berikut:

  “saya kerja kalau ada petani yang nyuruh, nanti saya dikasih upah. Kadang saya cari-cari juga. Pokoknya dalam setiap hari saya harus dapat kerja supaya dapat penghasilan. Kalau gak kerja mau makan apa.

  Jadi gak di desa ini aja, kadang ke desa lain juga”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Buruh tani akan bekerja di lahan petani yang menyuruhnya baik itu mengolah atau membajak lahan, menanam, mencabut bibit, memanen, membabat dan lain sebagainya. Setelah pekerjaan selesai dilakukan buruh tani akan mendapatkan imbalan sesuai dengan kesepakatan bersama dari petani yang memintanya untuk bekerja. Setelah itu petani mencari pekerjaan lain pada petani yang lain, bahkan buruh tani bebas dapat bekerja di lahan pertanian yang terletak di desa lain atau bekerja pada petani yang berdomisili di desa lain. Karena yang terpenting baginya adalah mendapat pekerjaan setiap hari dan mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya itu. Buruh tani bebas tidak memiliki keterikatan atau keeratan relasi dengan petani. Buruh tani bebas memiliki hak untuk memilih dimana dia akan bekerja sesuai dengan keinginanannya

  Relasi sosial yang terjalin antara petani dan buruh tani bebas biasanya terjalin hubungan ketentanggaan. Di desa ini biasanya petani lebih dahulu meminta tetangganya yang bekerja sebagai buruh tani untuk bekerja di lahannya daripada orang yang rumahnya jauh darinya. Apabila tetangganya tidak dapat melakukan karena ada pekerjaan lain, baru ia meminta orang lain selain tetangganya yang bekerja sebagai buruh tani. Jadi seringkali buruh tani bebas mencari pekerjaan dengan menawarkan jasanya kepada petani yang sekaligus memiliki hubungan ketetanggaan dengannya.

4.4.2 Relasi Petani dan Buruh Tani Langganan

  Relasi petani dengan buruh tani langganan lebih erat dibandingkan dengan relasi petani dengan buruh tani bebas. Hal ini disebabkan tingkat keseringan bekerja yang berbeda dalam melakukan pekerjaan pertanian di tempat salah satu petani yang dijadikan langganannya. Buruh tani langganan akan selalu bekerja di tempat salah seorang petani yang menjadi langganannya setiap musim turun sawah. Buruh tani langganan ini juga akan mengutamakan petani langganannya daripada petani yang lain yang bukan langganannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Supri sebagai berikut:

  “kerja di tempat langganan gitu pastinya kalau dia nyuruh pasti kita kerjakan dulu. Karena kan sudah biasanya. Gak enak nanti kan sama orangnya. Kadang awak pun yang nanya sama dia. Jadi gak kerja di tempat lain”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Sama halnya dengan wawancara Ibu Supri sebagai berikut: “ ya enaknya kalau udah langganan gitu, udah sering sama awak, awak itu bisa tau apa maunya dia. Kerjanya harus gimana, yang pastinya kita dahulukan dia dan dia itu orangnya gimana. Jadi sama-sama enak. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Pernyataan diatas ditegaskan juga oleh Bapak Jarino sebagai berikut : “enaknya itu kalau udah langganan, mereka gak pernah nunda-nunda kalau kerja. Begitu diminta pasti langsung dikerjakan. Kalau yang lain, terkadang sampe tiga hari “(Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Pengutamaan terhadap petani langganan yang dilakukan oleh buruh tani langganan karena buruh tani tersebut sudah merasa nyaman bekerja dengan petani langganannya tersebut. Mereka sudah mengetahui kemauan masing-masing dan sudah mengetahui aturan bekerja di tempat petani langganannya, bahkan mereka sudah mengetahui kepribadian petani langganannya tersebut.

  Biasanya petani yang menjadikan buruh tani sebagai langganannya karena ada hubungan saudara. Berdasarkan wawancara dengan bapak Roymen sebagai berikut :

  “ kalau saya selalu ngupah itu sama grup anak saya sendiri. dia kan ngupah juga. Ya nanam, cabut bibit, manen, kami tinggal bilang sama dia aja. Kadang dia yang nanya. Rumahnya pun dekat di sebelah saya ini. Anak sendiri aja ngupah, masak kita nyuruh orang lain”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Sama halnya dengan wawancara bu Munati sebagai berikut : “enaknya kalau ngupah sama saudara sendiri ini, ya selain dia saudara kita, ya sama aja kayak kita bantu dia. Dia dapat kerjaan. Masak kita make grup lain sedangkan saudara kita membutuhkan kerjaan. Kadang pun awak ngasih sedikit-sedikitlah buat dia”. (Hasil wawancara tanggal

  9 Januari 2012). Petani lebih memilih saudaranya karea sudah mengetahui kinerja buruh tani tersebut sehingga petani merasa puas akan pekerjaannya dan ada hubungan ketetanggaan jadi lebih memilih yang dekat daripada yang jauh. Buruh tani langganan akan berusaha untuk menolak setiap mereka dimintai bekerja di lahan pertanian petani langganannya. Meskipun ditunda mereka akan memberi informasi kepadanya.

  Relasi petani dengan buruh tani langganan terjalin relasi kekerabatan sehingga seringkali petani memberikan upah lebih kepada buruh tani langganannya. Hal ini dilakukan karena kebanyakan buruh taninya adalah saudaranya sendiri, seperti yang diaktakan oleh Scott (1994) bahwa sanak saudara dalam masyarakat pertanian merasa berkewajiban untuk berbuat apa yang dapat di perbuat untuk menolong seorang kerabat dekat yang sedang dalam kesulitan, akan tetapi mereka tidak dapat menawarkan lebih dari sumber daya yang dapat mereka lakukan di kalangan mereka sendiri (Scott, 1994 : 40).

  Salah satu cara yang dilakukan oleh petani-petani di desa ini untuk membantu saudaranya adalah dengan mempekerjakannya dan memberikan upah yang lebih banyak dibanding biasanya. Karena mereka tidak dapat melakukan hal lain atau menawarkan lebih dari sumber daya mereka misalnya memberikan hak garap pada saudaranya. Jadi salah satu cara untuk membantunya adalah dengan mempekerjakannya dengan memberikan upah lebih.

  Pemberian upah lebih ini juga sebagai bentuk terima kasih karena sudah ingin bekerja dengan baik sesuai dengan kemauannya dan sebagai bentuk tindakan manusia yang berjiwa sosial jadi ingin membantu terhadap sesama. Petani lebih sering memilih saudaranya yang bekerja sebagai buruh tani langganannya daripada orang lain. Sebaliknya buruh tani langganan merasa beruntung apabila memiliki petani langganan selain mereka sering diperlakukan dengan baik oleh petani langganannya, mereka juga tidak sulit lagi untuk mencari pekerjaan. Karena mereka sudah memiliki petani langganan yang pasti akan menyuruh atau meminta mereka untuk bekerja.

4.4.3 Relasi Petani dan Buruh Tani Tetap

  Relasi petani dengan buruh tani tetap di desa ini berjalan relatif rumit dan terkait erat yaitu terjalin relasi patronase. Hubungan mereka tidak hanya sekedar hubungan kerja dan relasi sosial seperti biasanya, tetapi jauh lebih dekat bahkan buruh tetap sudah dianggap sebagai saudara yang terjalin hubungan sangat erat. Keeratan ini terbetuk karena intensitas pertemuan mereka sangat tinggi. Hampir setiap hari mereka bertemu. Berbeda dengan relasi petani dengan buruh tani bebas dan langganan yang bertemu hanya pada saat turun sawah saja.

  Relasi petani dan buruh tani tetap di desa ini sering disebut sebagai relasi majikan dengan pekerjanya. Dalam hubungan ini petani memiliki kekuasaan untuk menyuruh buruh taninya melakukan pekerjaan apa saja yang dikehendakinya dan buruh tani selalu mengikuti perintah yang diberikan oleh petani. Karena itu petani disebut dengan patron dan buruh tani disebut dengan klien.

  Relasi mereka terjalin tidak hanya sebagai majikan dan buruh, tetapi sudah meluas pada hubungan persaudaraan atau kekeluargaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut :

  “kalau kami ini sama pak Legino udah kayak saudara malah. Udah gak kayak pekerja lagi awak dibuatnya. Malahan lebih deket sama bapak ini daripada sama saudara awak”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan Bapak Ebet sebagai berikut: “saya ini sudah dianggap kayak anak sendiri sama bapak itu. Kan disini saya merantau. Kalaupun mau minta bantuan ya sama bapak ini. istilahnya kan dia udah jadi bapak awak walaupun gak kandung” (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Mereka sudah menganggap bahwa mereka adalah bersaudara. Petani memperlakukan buruh tetapnya bukan sebagai pekerja lagi tetapi sudah diperlakukan sebagai saudaranya sendiri. Begitu juga buruh tetapnya, mereka sudah menganggap petani atau majikannya tersebut sebagai ayahnya yang selalu membantunya, melindunginya, apabila mereka mengalami kesulitan.

  Buruh tani tetap tidak lagi mengutamakan atau mengandalkan saudaranya atau tetangganya, atau sesama warga desanya untuk dapat membantunya, tetapi mereka mengharapkan bantuan atau meminta tolong terutama kepada majikannya. Mereka menganggap majikannya memiliki kemampuan untuk membantu dan memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat.

  Seorang petani atau seorang majikan di desa ini yang memiliki buruh tani tetap adalah petani yang memiliki lahan seluas 2ha keatas baik itu kepemilikan tetap atau kepemilikan sementara (menyewa). Karena itu petani yang memiliki buruh tani tetap dianggap sebagai orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Petani ini disebut dengan patron yang dapat membantu kliennya (buruh taninya) dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

  Berdasarkan wawancara dengan bapak Legino sebagai berikut : “saya punya pekerja tetap untuk bantu saya itu karena saya punya lahan luas, ada 7 ha, buat penangkaran bibit, jadi rasanya saya perlu ekerja tetap. Terus kalau kita punya pekerja gini, sama aja kan kita menciptakan lapangan kerja. Apalagi sekarang cari kerja itu susah”.(Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012). Pekerja merasa senang apabila menjadi buruh tani tetap karena dengan menjadi buruh tani tetap maka mereka dapat bekerja setiap hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut :

  “enak kalilah bisa kerja kayak gini, gak susah-susah lagi cari kerja, awak udah ada kerja netap. Istilahnya penghasilannya pun da pasti ada”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Hal ini berarti mereka pasti akan mendapatkan penghasilan yang rutin setiap harinya. Mereka juga tidak merasa susah lagi untuk mencari pekerjaan, karena mereka sudah dapat bekerja setiap harinya, apalagi sekarang lapangan pekerjaan sudah sulit. Menjadi buruh tetap adalah keberuntungan bagi mereka.

  Bahkan petani ini sering memberikan pinjaman berupa uang kepada buruh taninya apabila buruhnya membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhannya.

  Berdasarkan wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut : “kadang bapak ini juga ngasih utangan sama kami. Kalau kami bayarnya ya kalau punya uang. Gak potong gaji. Kalau kita bilang potong gaji, nanti baru dipotong gaji kita”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Pembayaran pinjaman ini bisa dibayar kapan saja, bisa dengan pemotongan gaji dan bayar tunai. Namun buruh tani sendiri merasa segan apabila membayar hutang terlalu lama. Selain itu, mereka juga saling bantu membantu di luar pekerjaan misalnya membantu mempersiapkan pesta yang akan diselenggarakan, seperti para keluarga petani lainnya.

4.5Pola Relasi Patron Klien Petani dan Buruh Tani

  Relasi patronase atau patron klien ini terjalin antara petani dengan buruh tani tetap karena relasi mereka paling erat dan paling lama terjalin dibandingkan dengan relasi petani dengan buruh tani bebas dan buruh tani langganan. Relasi mereka dapat dikatakan sebagai relasi majikan dan pekerjanya tau relasi patron dan kliennya. Relasi patronase ini sudah berlangsung dalam waktu yang relatif lama, sehingga telah membentuk suatu pola.

  Majikan dalam relasi ini memiliki kekuasaan terhadap pekerjanya. . Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Yudi sebagai berikut:

  “namanya kita kerja ya kita harus maksimal. Apalagi bapak ini baik, kita juga harus bekerja dengan baik. Kita nurut apa yang disuruh sama dia. Ya harus gini. Masak orang udah baik terus kita gak mau nurut”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Bapak Ebet sebagai berikut : “kita kan disini udah dibayar untuk kerja jadi apa yang disuruh pasti kita buat. Apalagi bapak ini orangnya baik, kita kan juga harus baik. Kadang aja bapak ini juga nyuruh ntah ngambil-ngambil barang apa. Ya kita mau aja, walaupun itu bukan kerjaan kita”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Majikan dan pekerjanya memiliki hubungan yang vertikal yaitu memiliki status sosial yang berbeda. Majikan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjanya yang memiliki kedudukan yang lebih rendah. Majikan dapat memerintah apapun pekerjaan yang harus dikerjakan oleh pekerjanya. Pekerjanya akan mematuhi semua perintah yang diperintahkan oleh majikannya pada saat kapan pun juga. Pekerja sangat berharap kepada majikannya agar mereka tetap dipekerjakan supaya mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dan bertahan hidup. Rasa terima kasih klien kepada patronnya merupakan kewajiban klien untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh patronnya. Pekerja selalu berusaha untuk memenuhi apa yang diperintahkan oleh majikannya. Misalnya patron menyuruh lembur, maka pekerja kerja akan lembur. Hal ini berarti majikan memiliki kekuasaan untuk memerintah pekerjaanya. Bahkan di luar pekerjaannya pun buruh tani tetap akan melakukan pekerjaan itu. Ini merupakan rasa terima kasih pekerja terhadap majikanya karena majikan merupakan pelindung baginya yang selalu membantunya.

  Klien juga merasa segan apabila istirahat terlalu lama atau lama dalam mengerjakan pekerjaan. Berdasarkan wawancara dengan bapak Ebet sebagai berikut :

  “kalau saat istirahat ya kami istirahat, kalau kerja ya kerja. Tapi ya gak mungkin kami duduk-duduk aja. Kita kan digaji, seganlah kalau malas- malasan. Kalau bisa itu kita kerjanya betul-betul”.(Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Klien tidak mau duduk-duduk ketika jam kerja. Klien selalu bekerja semaksimal mungkin. Mereka tidak ingin dianggap malas atau kelihatan malas oleh majikannya. Kedekatan relasi patron dengan kliennya juga menimbulkan kepercayaan diantara mereka. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut: “kalau awak mau minjem uang sama bapak ini, kalau ada pasti dikasih.

  Dan seringnnya kalau kita minjem ya ada, karena kita juga agk banyak- banyak minjemnya. Kadang kalau awak minjem Rp 5.000.000, nanti misalnya gak ada, nanti dikasihnya setengah, tapi ya tetep dikasih”. Pokoknya beruntunglah kerja disini”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Sama yang dikatakatan oleh Bapak Ebet sebagai berikut: “kalau bantu itu banyak yang dibantu sama dia. Kalau kita minjem misalnya untuk anak kita sakit, sekolah, kebutuhan lain, atau kita kena musibah, pasti dikasih. Kadang bapak ini pun jenguk ke rumah”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Kepercayaan ini dapat dilihat dari pemebrian pinjaman atau bantuan. Klien juga percaya bahwa patronnya akan memberikan bantuan kepadanya apabila klien meminta bantuan kepadanya dan patron percaya bahwa kliennya akan bekerja sebaik mungkin padanya. Patron akan memberikan bantuan sekuat kemampuannya dan klien sangat berterima kasih dengan bekerja sebaik mungkin kepada patronnya. Patron juga memberikan bantuan yang diberikan lebih bersifat personal seperti membantu dalam biaya sekolah anak kliennya, membantu dalam biaya pengobatan apabila keluarga kliennya sakit, dan sebagainya.Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Ebet yang sering menerima bantuan dari majikannya untuk memenuhi kebutuhan personalnya, sebagai berikut:

  “bapak itu kalau sama saya udah gak kayak orang lain. Ini saya kan butuh motor, dia belikan dulu untuk uang muka. Nanti saya bayarnya nyicil sama dia. Padahal kan saya ini pekerjanya”.(Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Dengan demikian,pekerja akan merasa segan untuk melakukan sesuatu yang dapat merusak hubungan antara patron dan klien. Pekerja membalas semua pemberian majikannya dengan kesetiannya kepada majikannya serta keluarganya yaitu pekerja segan untuk keluar dari pekerjaanya kalau tidak dalam kondisi kritis. Pekerja merasa memiliki kewajiban untuk membalas budi kepada patronnya. Membalas budi merupakan salah satu moral bagi relasi patronase yang terjalin dalam relasi petani dengan buruh tani tetap. Selain itu, pekerja juga akan segan untuk melakukan kecurangan dalam bekerja, misalnya memperlama waktu istirahat. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut:

  “kalau mau keluar gak kerja lagi ya gak apa-apa, tapi ya udah enak kok pergi. Ya awak pun gak enak kalau mau keluar, wes apik kayak gini sama kita. Kalau keluar itu kan kalau majikannya gak baik”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan Bapak Ebet sebagai berikut: “kita itu kalau kerja ya kerja, gak pernah kami neko-neko. Kalau orang baik sama kita, ya kita pasti baik sama dia. Buat apa malas-malasan, toh juga dikasih waktu istirahat. Masak ada kerjaan di depan mata kita enak-enakan”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Rasa keseganan secara tidak langsung mengikat para pekerja untuk selalu bekerja dan patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh majikannya. pekerja tidak ingin merusak hubungan baik dengan majikannya dengan ketidakjujurannya. Mereka selalu bersikap jujur dalam bekerja.

  Majikan dapat memberikan perlindungan dan bantuan kepada pekerjanya. Sebaliknya pekerja juga membalas dengan jasanya dalam bekerja dan membantu semua pekerjaan majikannya termasuk di luar pekerjaannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut:

  “ awak ini udah kayak dulor,nanti kalau dia pesta, mau bangun, ya kita bantuin. Gitu juga sama kita. Nanti kalau gak banyak kerja, ya kita bantu-bantu bersiin kebunnya, kadang ya ngeduk paret rumahnya, ngasih makan ayamnya. Bapak ini juga pernah ngasih awak modal untuk bertani nanti bayarnya kalau panen. Kayak saudaralah..” (hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Rasa persaudaraan ini ditanamkan majikan bertujuan supaya tercipta kenyamanan bagi pekerjanya sehingga merasa betah bekerja di tempatnya.

  Bahkan ada seorang pekerja yang hidup merantau kemudian bekerja pada salah seorang petani dan sekarang pekerja telah diangkat sebagai anak angkatnya.

  Pengenalan diantara mereka sudah mendalam sehingga hal-hal pribadi si pekerja juga diketahui oleh majikan. Pekerja melakukan pelayanan pribadi kepada majikannya, karena pekerja tidak dapat membalas jasa patronnya dengan material atau uang seperti yang diberikan oleh majikannya, karena itu pekerja membalasnya dengan memberikan pelayanan yang terbaik bagi patronnya. Seperti membantu memperbaiki rumah, mengolah tanah, mengurus ternak, dan lain-lain. Di lain pihak pekerja dibantu tidak hanya dalam bentuk modal usaha pertanian saja, melainkan juga kalau ada musibah, mengalami kesulitan dalam mengurus sesuatu, mengadakan pesta-pesta atau selamatan tertentu dan berbagai keperluan lainnya.

  Relasi patronase yang terjalin antara petani dan buruh tani tetap di desa ini bersifat semu dan berbentuk assosiatif atau kerja sama. Mereka saling membutuhkan, melakukan pertukaran dengan berbagai bentuk, mereka saling percaya satu dengan lainnya, bahkan mereka masing-masing telah menganggap saudara. Hal ini sesuai dengan pernyataan Scott dalam Ibrahim (2003) bahwa relasi patronase merupakan proses assosiatif yang berbentuk kerja sama antar dua orang yang berbeda statusnya, dengan ciri-ciri si patron melindungi klien dalam berbagai transaksi, saling membutuhkan, saling percaya, dan kedua belah pihak terlibat dalam keakraban. (Scott dalam Ibrahim:2003,24). Majikan memberikan pengetahuan kepada pekerjanya dalam bekerja pada awal pekerja mulai bekerja. Majikan juga memberikan segenap pengetahuan kepada pekerjanya agar pekerjanya dapat bekerja dengan baik dan menguasai pekerjaan tersebut.

  Pertukaran yang terjadi dalam relasi mereka terlihat sebagai pertukaran yang terdapat ketidaksamaan. Hal ini terjadi karena pekerja tidak memiliki materi yang sama dengan majikannya sehingga pekerja merasa sangat segan dan terikat dengan relasi kerja ini. Hal ini sama dengan pernyataan Scott bahwa bahwa hubungan patronase mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan hubungan sosial lain, salah satunya yaitu terdapat ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran. Dalam pengertian ini seorang klien adalah seseorang yang masuk dalam hubungan pertukaran yang tidak seimbang (unequal), di mana dia tidak mampu membalas sepenuhnya. Suatu hutang kewajiban membuatnya tetap terikat pada patron. (Scott dalam Ramadhan, 2009: 15).

4.6 Pertukaran Sosial Petani dengan Buruh Tani

  Pada dasarnya pertukaran yang terjadi antara petani dan buruh tani adalah pertukaran ekonomi dimana petani sebagai orang yang mempekerjakan dan buruh sebagai orang yang memberikan tenaganya dan mendapatkan upah. Adanya pertukaran ini dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Dengan kata lain petani memberikan uang sebagai upah dan buruh memberikan tenaga dan mendapatkan upah. Pertukaran ini hanya terjadi dalam relasi petani dengan buruh tani bebas karena relasi mereka hanya sebatas dengan relasi kerja. Berbeda dengan relasi petani dengan buruh tani langganan atau buruh tani tetap yang telah meluas pada relasi sosial, sehingga pertukaran yang terjadi diantara mereka juga pertukaran sosial tidak hanya pertukaran ekonomi.

  Petani biasanya memberikan upah lebih kepada buruh langganannya dan buruh tani akan mengutamakan bekerja di lahan pertanian milik petani langganannya. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Jarino sebagai berikut:

  “ kalau sudah langganan itu mereka itu enaknya gak mau nunda-nunda kerjaan, pekerjaannya itu mereka sudah tau. Jadi awak pun senenglah ya kan. Kadang saya kasih lebihlah buat tambahan mereka. Toh mereka juga udah bantu saya”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Dengan kata lain, pertukaran ini tidak hanya pertukaran ekonomi tetapi juga meluas pada pertukaran komoditas yang tidak terwujud yaitu perasaan.

  Petani merasa berterimakasih kepada buruhnya karena buruh langganannya tidak pernah menunda pekerjaan apabila dimintai bekerja, selalu bekerja sesuai dengan yang diinginkan karena sudah saling mengetahui kemauan masing- masing, karena itu sebagai rasa terima kasih, tidak jarang petani memberikan upah lebih kepada buruhnya. Sedangkan buruh tani langganan selalu bekerja secara maksimal dan selalu mengutamakan pekerjaan dari petani langganannya dan tidak ingin menunda karena mereka merasa wajib melakukan balas jasa atas pemberian upah yang sedikit banyak dibandingkan tarif upah pada umumya.

  Dalam pola relasi antara petani dan buruh tani tetap atau pola relasi patronase juga terdapat pertukaran antara patron dan klien. Pertukaran antara buruh tetap dan petani melibatkan lebih dari satu aktivitas ekonomi dan menjurus pada aktivitas ekonomi yang bersifat personal seperti membantu biaya sekolah, membantu pengobatan anggota keluarga apabila sakit, membantu atau memberikan beras, memberikan THR, dan lainya. Kemudian buruh mebalasnya dengan bekerja secara maksimal, selalu siap apabila dimintai untuk bekerja, selalu siap apabila dimintai pertolongan di luar pekerjaan, jujur dalam bekerja untuk menjaga keharmoisan relasi kerja, menunjukan kesetiaannya dan keluarganya pada majikannya, bahkan segan untuk keluar dari pekerjaannya. Pertukaran antara mereka juga terdapat ketidaksamaan dalam pertukarannya. Patron hanya memberikan bantuan kepada buruhnya berupa materil, tetapi buruh merasa memiliki kewajiban untuk membalas jasa patronnya dengan mengerahkan tenaganya dan kesetiaannya pada patronnya. Kerja sama yang terjalin antara mereka sangat erat.

  Pertukaran – pertukaran yang terjalin antara petani dan buruh tani baik buruh tani selalu memberikan keuntungan kepada masing-masing atas transaksi yang telah dilakukannya. Mereka memikirkan untung dan rugi dalam setiap transaksi dan kesamaan dalam setiap pertukaran selain dalam relasi petani dan buruh tani tetap. Dalam relasi petani dan buruh tani tetap terjadi ketidaksamaan dalam pertukaran namun buruh tani tidak merasa rugi akan hal ini. Buruh tani merasa apa yang dilakukannnya kepada majikannya adalah sebagai kewajibannnya untuk membalas jasa yang telah membantu buruhnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

4.7 Sistem Pengupahan dalam Produksi Pertanian

  

4.7.1 Pergeseran Sistem Pengupahan dalam Produksi pertanian di Desa

Tanjung Rejo

  Dalam relasi kerja terdapat sistem pengupahan dan tarif upah yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Pada masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo, sistem pengupahan dan tarif upah sudah ditentukan oleh masyarakat sesuai dengan kesepakatan bersama. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Supri sebagai berikut:

  “ngupah disini mana boleh beda harga sama yang lain, semua disamakan,udah disepakati sama kita semua. Kalau beda ya nanti kita dimarahi sama mereka. kalau murah, buruh tani yang lain akan marah sama kita, kita pun mau dapat apa. Kalau kita buat mahal, petani gak mau lagi ngupah sama kita”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Seorang petani atau buruh tani tidak dapat menaikan atau menurunkan tarif upah dan sistem upah yang telah disepakati bersama. Misalnya, apabila seorang petani ingin menurunkan tarif upah buruh tani, maka tidak ada buruh tani yang ingin bekerja di lahan pertaniannnya dan apabila petani ingin memberi upah lebih dari tarif upah yang ditetapkan, maka upah lebih itu dianggap sebagai bantuan atau sedekah dari petani kepada buruh taninya.

  Sebaliknya, seorang buruh tani juga tidak dapat menurunkan tarif upah yang telah ditentukan, karena kelompok buruh tani yang lain akan marah dengan hal itu dan buruh tani juga tidak bisa menaikan tarif upah yang telah ditentukan karena petani tidak akan mempekerjakan mereka dan mereka tidak dapat bekerja. Jadi seluruh masyarakat menggunakan sistem upah dan tarif upah yang telah ditentukan oleh masyarakat pada umumnya.

  Penetapan sistem upah dan tarif upah oleh masyarakat pada umumnya tidak berlaku bagi buruh tani tetap. Sistem upah dan tarif upah bagi buruh tani tetap ditentukan oleh petani yang mempekerjakannya atau majikannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudi sebagai berikut: “upah kami udah dibilang waktu pertama kali kami mau kerja disini.

  Dia nawarin kerja dengan upah segini, terus saya mau, dan kerjalah saya tempat dia. Jadi diawal itu udah dibilang uapahnya itu berapa. Penentuan tarif upah yang diberlakukan pada mereka telah ditentukan berdasarkan kesepakatan antara petani atau majikan dengan buruhnya di awal sebelum buruh tani mulai bekerja. Jadi sebelum buruh tani bekerja sebagai buruh tetap, terlebih dahulu mereka mengadakan kesepakatan dengan majikannya.

  Beberapa bentuk sistem pengupahan yang ada di desa Tanjung rejo ini yaitu sistem upah persenan, sistem upah harian, sistem upah mingguan, sistem upah bulanan, sistem upah sukarela, dan sistem upah borongan. Namun ada beberapa sistem pengupahan di desa ini yang mengalami perubahan bentuk dan sistemnya, yaitu sebagai berikut :

1. Pergeseran sistem bawon menjadi sistem upah persenan

  Awal dibukanya wilayah Tanjung Rejo untuk dihuni, desa ini tahun 1952 , desa ini sudah merupakan desa yang dibuka untuk lahan pertanian.

  Pada saat inilah mulai aktif atau berlaku sistem pengupahan dan tarif upah dalam pekerjaan pertanian. Pada saat ini sistem bawon merupakan sistem upah untuk pekerjaan memanen. Sistem bawon adalah upah yang diberikan kepada buruh tani dalam bentuk hasil panen. Misalnya dalam 20 kaleng hasil panen, maka bawonnya 3 kaleng dan inilah sebagai upah untuk buruh tani. Namun sistem bawon ini mengalami pergeseran sejak tahun 2000 dan saat ini hampir tidak diberlakukan lagi di desa ini sejak tahun 2011. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Said sebagai berikut:

  “ bawon disini udah gak kayak dulu. Kalau dulu kan dari hasil panen dalam bentuk gabah, sekarang udah pake uang. Memang sih sama caranya, tapi udah kayak upah jadinya. Udah pake persen gak da lgi dgr bawon paling satu dua orang” (Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012). Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan Bapak Jarino sebagai berikut: “ kalau ngupah grendel sekarang pake persenan. Bagi tujuh gitu, jadi setelah panen semua padi dijual. Misalnya dapat 1 ton itu sekian, maka dibagi tujuh itulah upah untuk yang grendel. Jadi bawon itu gak ada lagi sebenarnya”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012).

  Sejak tahun 2000an, di desa ini sistem bawon mulai menghilang dan digantikan dengan sistem persenan. Sistem pengupahan persenan sama dengan sistem pengupahan bawon, hanya saja perbedaannya pembagiannya dan bawon dalam bentuk gabah sedangkan persenan dalam bentuk uang tunai. Sistem persenan muncul karena para buruh tani merasa lebih membutuhkan uang tunai daripada gabah. Pembagiannya yaitu hasil panen dibagi tujuh. Misalnya hasil panen 1 ton gabah, lalu dijual sebesar Rp 3.750.000 lalu dibagi tujuh, sebesar Rp 535.000. Jadi besar upah memanen sebesar Rp 535.000 dan upah ini dibagi pada setiap anggota kelompok buruh yang memanen.

  2. Pergeseran sistem sambatan non ekonomis menjadi sistem sambatan ekonomis Sejak awal berdirinya desa Tanjung Rejo ini, masyarakatnya merupakan masyarakat paguyuban yang selalu bergotong royong dalam setiap melakukan pekerjaan, begitu pula dalam pekerjaan di sawah. Mereka saling bantu membantu baik itu dalam pertanian misalnya dalam menanam padi, mereka selalu bergantian dan saling tolong menolong antara petani yang satu dengan petani yang lainnya. Tolong menolong dalam pekerjaan pertanian mereka menyebutnya dengan sistem sambatan.

  Sistem sambatan ini merupakan sistem saling bantu membantu secara bergiliran antara dua atau lebih petani dalam melakukan pekerjaan pertanian, dengan kata lain pertukaran tenga kerja. Mereka tidak melihat perbedaan luas lahan yang akan dikerjakan karena yang mereka utamakan adalah saling bantu membantu. Bagi petani yang dibantu atau yang disambati, hanya memberikan makanan ringan kepada petani yang membantunya. Pada saat giliran petani yang menyambatinya membutuhkan pekerjaan, maka hal serupa yang dilakukan oleh petani tersebut. Namun setelah reformasi yaitu tahun 1998, sistem sambatan ini bergeser, yang awalnya sistem sambatan non ekonomis menjadi sitem sambatan ekonomis. Dan tahun 2000an, sistem sambatan non ekonomis sudah menghilang. Semua pekerjaan yang dilakukan sudah dipertukarkan dengan imbalan upah.

  Sistem tolong menolong tetap mendapatkan imbalan dalam bentuk upah hanya saja dilakukan secara bergiliran. Sifat sambatn dalam pekerjaan pertanian di desa ini bukanlah menolong secara suka rela tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sebaliknya masyarakat sangat mengharapkan balas jasa atau perlakuan timbal balik yang mereka sebut dengan istilah “gentian”. Masing- masing mereka saling mempekerjakan satu sama lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Roymen sebagai berikut: “kayaknya disini udah gak ada lagi sistem sambatan kayak dulu.

  Sekarang udah pake uang. Ya mereka tetep gentian tapi ya tetp dibayar. Karena beda-beda luas lahan orang. Kalau dulu gak mikir kesitu, yang penting bantu membantu. Sekarang ya tetp gentian kayak sambatan tapi digaji juga”. (Hasil wawancara tanggal 11 Februari 2012). Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan Ibu Gira sebagai berikut: “sambatan masih ada, tapi sekarang agak beda. Kalau dulu iu sambatan ya memang genti-gentian. Kalau sekarang kayak ngupah, kan beda-beda luasnya. Memang awak kalau sekelompok itu genti- gentian tapi ya tetep genti-gentian bayar”. (Hasil wawancara tanggal

  11 Februari 2012). Petani hanya melakukan sistem “gentian” dengan orang-orang tertentu, misalnya hanya dengan kerabatnya, tetangganya, kerabatnya, warga yang lahannya dekat, sesama anggota kelompok primer (kelompok kerja), dan lainnya. Perubahan ini terjadi karena pentingnya nilai uang bagi mereka.

  Mereka berpendapat bahwa apabila tenaga mereka ditukar dengan imbalan berupa uang atau upah, mereka dapat menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang paling urgen pada saat itu.

4.7.2 Penentuan Tarif Upah Dalam Produksi Pertanian

  Tarif upah dalam produksi pertanian di desa ini ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat pada umumya. Besarnya tarif upah antara satu pekerjaan pertanian dengan pekerjaan lainnya berbeda-beda. Hal ini dibedakan berdasarkan jenis pekerjaan tersebut apakah termasuk pekerjaan berat atau pekerjaan ringan. Pekerjaan yang dianggap ringan biasanya dilakukan oleh buruh tani wanita atau ibu-ibu dan pekerjaan yang dianggap berat dikerjakan oleh buruh tani laki-laki atau bapak-bapak. Tarif upah bagi pekerjaan yang dianggap berat lebih besar dibanding dengan pekerjaan yang dianggap ringan. Oleh karena itu, terjadi juga perbedaan besarnya upah antara buruh laki-laki dan buruh perempuan.

  Pekerjaan yang dianggap berat seperti membajak atau menjetor, mencabut bibit, membabat sawah, dan menggrendel atau memanen.

  Pekerjaan yang dianggap ringan seperti menanam padi, mengaret, dan merumput. Pekerjaan menyemprot dan membabat sawah (galengi) dan menyemprot upahnya diberikan secara sukarela kepada buruhnya, tidak ada tarif yang menentukan besar jumlah pekerjaan ini jadi terserah petani ingin memberi seberapa besarnya upah kepada buruhnya, tetapi biasanya petani memberikan Rp 50.000 untuk pekerjaan 1 hari dari pukul 08.00 WIB sampai

  17.00 WIB.

  Pekerjaan mencabut bibit padi serta penyebarannya biasanya dilakukan oleh buruh tani laki-laki dan upahnya sebesar Rp 17.000 per rante

  (400 m) dari luas lahan yang akan ditanam. Pekerjaan menanam padi dilakukan oleh kelompok buruh perempuan dan upahnya sebesar Rp 33.000 per rante dari luas lahan yang akan ditanam. Pekerjaan merumput biasanya dilakukan oleh buruh tani perempuan dan upahnya sebesar Rp 40.000 per hari. Pekerjaan memanen terdiri dari mengarit padi dan menggrendel (mengurai padi dengan batang dengan mesin grendel), mengarit dilakukan oleh buruh tani perempuan dan menggrendel dilakukan oleh buruh tani laki- laki. Sistem upah dalam manen adalah sistem persenan yaitu 13 % atau 1/7 dari hasil panen. Misalnya apabila petani mendapatkan padi 7 ton maka upahnya adalah 1 ton, namun dalam bentuk uang. Kemudian besar upah tersebut dibagikan pada setiap anggota buruh tani namun upah buruh tani laki-laki lebih besar daripada upah buruh perempuan, selisihnya sebesar Rp 15.000 sampai Rp 20.000 sesuai denagn kesepakatan bersama. Biasanya dalam 1 hari upahnya sebesar Rp 50.000 bagi laki-laki dan Rp 30.000 bagi perempuan.

  Pekerjaan membajak atau menjetor sebesar Rp 35.000 apabila dibayar di awal dan Rp 40.000 apabila di bayar di akhir atau setelah panen.

  Besarnya upah untuk buruh tetap jetor sebesar Rp 12.000 per rante. Buruh tetap jetor menerima upahnya dari majikannya yang memilki mesin jetor atau hand tractor bukan langsung dari petani yang memiliki lahan. Petani yang memiliki lahan atau yang mempekerjakannya akan memberikan upah sebesar Rp 35.000 kepada majikannya, lalu majikannnyalah yang memberi upah kepada buruh tetap jetornya sebesar Rp12.000 per rante.Secara terperinci besarnya tarif upah dapat dilihat dalam tabel adalah :

Tabel 4.11 Tarif Upah Pekerjaan Pertanian Persawahan Desa Tanjung Rejo

  No Jenis pekerjaan Tarif Upah 1 -membabat rumput (galengi) Sukarela (Tidak ada penetapan tarif)

  • menyemprot 2 membajak ( jetor ) Rp35.000-Rp 40.000 per rante 3 -mencabut bibit padi Rp 17.000 per rante 4 -menanam bibit padi Rp 33.000 per rante 5 -merumput ( matun ) Rp 40.000 per rante 6 -memanen padi (grendel) Persenan (1/7 dari hasil panen)

  Sumber : Data Primer Hasil Penelitian di Desa Tanjung Rejo tahun 2012

  

4.7.3 Sistem- Sistem Pengupahan dalam Produksi Pertanian di Desa

Tanjung Rejo

  Sistem pengupahan yang ada dalam produksi pertanian berhubungan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Perbedaan jenis pekerjaan dalam produksi pertanian dan perbedaan status sebagai buruh tani, baik buruh tani tetap, buruh tani langganan dan bebas, maka berbeda pula sistem pengupahannya. Dalam pengelolaan lahan pertanian terdapat beberapa jenis pekerjaan yaitu membabat rumput (di desa ini dikenal dengan sebutan “galengi”), menyemprot, pengelolaan lahan atau membajak (di desa ini dikenal dengan sebutan “jetor”), mencabut bibit padi, menanam padi, merumput ( di desa ini dikenal dengan sebutan “matun”), dan memanen (di desa ini dikenal dengan sebutan “grendel”). Setiap pekerjaan ini memiliki perbedaan dalam sistem pengupahannya.

  Sistem pengupahan dalam pekerjaan membabat rumput (galengi) dan menyemprot yaitu sistem pengupahan suka rela, artinya tidak memiliki tarif upah yang ditentukan masyarakat. Petani dapat memberi upah kepada buruhnya secara sukarela sesuai dengan kepribadian petani masing-masing. Sistem pengupahan dalam pekerjaan membajak atau jetor, mencabut bibit, menanam padi, menggunakan sistem upah borongan. Namun bagi buruh jetor, sistem pengupahan bagi mereka adalah sistem pengupahan mingguan. Buruh tani jetor adalah buruh tani yang pekerjaannya membajak sawah dengan menggunakan bajak milik majikannya. Jadi upah yang diterimanya bukanlah upah dari petani yang memiliki lahan tetapi upah dari majikannya. Karena itu, besarnya upah yang diterima berbeda dengan tarif upah membajak yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Suryati sebagai berikut:

  “saya punya 2 orang kerja jetor. Saya yang punya mesin dan mereka yang ngerjakan. Nanti saya yang gaji mereka, Rp12.000 per rantenya. Jadi petani-petani yang lahannya dijetor sama jetor saya, ya bayarnya ke saya. Nanti baru saya kasih ke yang kerja”.(Hasil wawancara tanggal 23 Januari 2012). Besarnya upah yang mereka terima berdasarkan kesepakatan meraka dengan majikannya. Pekerjaan merumput atau matun menggunakan sistem upah harian. Pekerjaan memanen atau grendel menggunakan sistem upah bagi hasil atau persenan.

  Selain itu perbedaan status buruh tani juga mempengaruhi perbedaan sistem pengupahannya. Dengan kata lain sistem pengupahan yang diberlakukan kepada buruh tani tetap berbeda dengan sistem pengupahan pada buruh tani bebas dan langganan. Sistem pengupahan yang berlaku bagi buruh tani tetap adalah sistem pengupahan bulanan yaitu setiap ½ bulan sekali karena mereka mengerjakan semua pekerjaan. Dan khusus bagi buruh tani tetap jetor berlaku sistem pengupahan mingguan. Sedangkan bagi buruh tani bebas dan langganan berlaku sistem pengupahan sesuai dengan jenis pekerjaannya.

  Untuk lebih jelasnya, lihat tabel di bawah ini sebagai berikut :

Tabel 4.12 Jenis- Jenis Pekerjaan Pertanian Desa Tanjung Rejo

  No Jenis Pekerjaan Jenis Pengupahan Berlaku Bagi Buruh Tani 1 -membabat rumput (galengi)

  • menyemprot Sistem upah sukarela

    (tidak memiliki tarif yang

    ditentukan) Buruh tani bebas dan buruh tani langganan 2 -membajak ( jetor )
  • mencabut bibit padi
  • menanam bibit padi Sistem upah borongan Buruh tani bebas dan buruh tani langganan

    3 -merumput ( matun ) Sistem upah harian Buruh tani bebas dan buruh tani

    langganan

    4 -memanen padi (grendel) Sistem upah persenan Buruh tani bebas dan buruh tani

    langganan 5 -satu pekerjaan khusus seperti jetor atau membajak Sistem upah mingguan Buruh tani tetap 6 -semua pekerjaan Sistem upah bulanan Buruh tani tetap

  Sumber : Data Primer Hasil Penelitian di Desa Tanjung Rejo tahun 2012 Bentuk-bentuk sistem pengupahan dalam relasi ketenagakerjaan produksi pertanian pada masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo adalah sebagai berikut : 1. Sistem Upah Sukarela

  Dalam sistem upah sukarela, tingkat upah atau besarnya upah diperhitungkan oleh petani yang mempekerjakan buruhnya berdasarkan produktivitas tenaga kerja buruh tani. Perhitungan produktivitas buruh tani ini berdasarkan pribadi petani masing-masing. Jadi besarnya upah yang akan diberikan kepada buruh tani tergantung seberapa besar upah yang ingin diberikan oleh petani kepada buruhnya. Dengan demikian besar upah yang diberikan kepada buruhnya juga bervariasi.

2. Sistem Upah Harian

  Dalam sistem upah harian, tingkat upah diperhitungkan berdasarkan rata- rata produktivitas tenaga kerja per hari. Produktivitas buruh tani per hari diperhitungkan berdasarkan jam kerja per harinya kemudian ditetapkan besarnya upah atas pekerjaan tersebut. Di desa ini besarnya upah harian ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan kesepakatan bersama. Jam kerja dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Jadi seberapapun prestasi kerja yang dihasilkan oleh buruh tani, tidak mempengaruhi besarnya jumlah upah yang akan diterimanya, karena perhitungannya sudah per jam kerja atau per hari. Namun di desa ini, relasi kekerabatan masih melekat pada masyarakat pertanian di desa ini, sehingga tidak jarang petani memberikan makanan atau minuman kepada buruh taninya.

3. Sistem Upah Borongan

  Dalam sistem upah borongan, besarnya jumlah upah ditentukan oleh tingkat produktivitas buruh tani itu sendiri atau tergantung dari prestasi kerja buruh tani. Dengan kata lain, semakin banyak yang dikerjakan maka semakin banyak upah yang di dapatkan. Misalnya dalam menanam padi, semakin luas lahan pertanian yang ditanam maka akan semakin besar upah yang akan diterima oleh buruh tani. Di desa ini, upah borongan muncul karena dengan menerapkan upah borongan kepada buruh tani maka para buruh tani akan meningkatkan kinerjanya supaya mereka mendapatkan upah yang relatif besar dengan demikian mereka juga akan cepat menyelesaikan pekerjaan tersebut. Petani merasa senang apabila pekerjaannya disiapkan dengan cepat oleh buruhnya karena apabila pekerjaan ditunda-tunda maka waktu panen juga akan terhambat. Misalnya dalam pekerjaan menanam, apabila disiapkan dengan cepat dan serentak maka hal ini dapat menghambat munculnya hama wereng atau hama lainnya. Begitu halnya dalam pengelolaan lahan atau membajak. Dengan menggunakan upah borongan, pekerjaan akan cepat selesai dibandingkan dengan upah harian.

  4. Sistem Upah Persenan Sistem upah persenan merupakan sistem upah yang hanya berlaku pada pekerjaan memanen atau grendel, dimana petani memberikan upah kepada buruhnya dari hasil panennya namun dalam bentuk uang. Jadi dari hasil panennya, ada bagian khusus dari hasil panennya yang merupakan upah bagi buruh taninya. Sistem upah ini sama dengan sistem bawon, hanya saja sistem persenan dalam bentuk uang dan pembagian yang berbeda. Di desa ini, bagian petani adalah 1/7 dari hasil panen yang merupakan upahnya. Sistem ini muncul karena sebagian besar petani disini akan langsung menjual seluruh hasil panennya kepada agen setelah panen. Hasil padinya ditukarkan dengan uang. Sepertujuh dari besarnya uang tersebut adalah upah untuk buruh tani. Masyarakat di desa ini menyebutnya dengan sistem persenan.

  5. Sistem Upah Mingguan Secara teoritis, sistem upah mingguan hampir sama dengan sistem upah harian, perbedaannya hanyalah sistem upah mingguan diberikan seminggu sekali. Namun berbeda sistem upah mingguan yang ada di desa ini. Sistem upah mingguan di desa ini pada dasarnya sama dengan sistem upah borongan hanya saja gajinya tidak diterima per hari tapi per minggu dan upah tersebut bukan diterima dari petani secara langsung tetapi diterima dari majikannya.

  Petani pemilik lahan akan memberikan upah kepada majikannya, lalu majikan tersebut memberikan upah kepada buruh tetapnya dengan sistem upah mingguan. Jadi besarnya upah yang didapatnya juga atas kesepakatan dengan majikannya. Besar upah mereka juga ditentukan oleh prestasi kerja mereka. Semakin luas lahan pertanian yang mereka bajak, semakin besar upah yang akan mereka terima setiap minggunya dari majikannya.

6. Sistem Upah Bulanan

  Dalam sistem upah bulanan besarnya upah diperhitungkan berdasarkan rata-rata produktivitas buruhnya per bulan. Buruh tani yang menerima upah bulanan adalah buruh tani tetap yang bekerja dengan satu majikan saja dan buruh tani ini mempekerjakan semua pekerjaan yang ada yang diperintahkan oleh majikannya. Dalam sistem pengupahan ini seorang majikan sering sekali memberi bantuan secara cuma-cuma kepada buruh tetapnya di luar upah yang telah ditetapkan setiap bulan. Besarnya upah bulanan ini disepakati oleh petani dan buruh tani pada awal bbekerja.

BAB V KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan 1.

  Perubahan penyediaan sumberdaya pertanian akibat penyempitan lahan pertanian di desa Tanjung Rejo melalui pertumbuhan angkatan kerja pertanian berdampak pada perubahan relasi kerja dalam pertanian yaitu relasi petani dengan buruh tani bebas, buruh tani langganan, dan buruh tani tetap.

  Perbedaan relasi kerja ini juga mempengaruhi perbedaan relasi sosial diantara mereka.

  2. Petani dan buruh tani di desa ini saling membutuhkan dimana petani membutuhkan tenaga untuk mengolah lahannya sedangkan buruh tani membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan upah dengan bekerja mengolah lahan pertanian milik petani dalam menunjang pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarganya.

  3. Relasi sosial petani dengan buruh tani bebas di desa Tanjung Rejo terjalin terjalin relasi pertemanan, relasi petani dan buruh tani langganan terjalin relasi kekerabatan atau kekeluargaan, dan relasi petani dan buruh tani tetap terjalin relasi yang lebih rumit yaitu relasi patronase.

  4. Relasi petani dengan buruh tani tetap di desa ini terjalin relasi patronase yang menduduki posisi dimana petani sebagai majikan (patron)danburuh tani (klien) sebagai pekerja atau bapak dengan anak. Dalam hubungan ini buruh tani tetap terikat dengan adat istiadat (keseganan), dengan hutang pinjaman, bantuan- bantuan materil, dan lainnya. Dalam keadaan ini, buruh tani tetap berkewajiban memberikan jasanya baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan pada saat kapanpun juga. Membalas budi merupakan salah satu moral bagi relasi patronase yang terjalin dalam relasi petani dengan buruh tani tetap.

  5. Alasan petani menggunakan jasa buruh tani langganan karena buruh tani langganan sebagian besar merupakan saudara atau keluarga petani atau petani ingin membangun kedekatan emosional saling menguntungkan satu dengan yang lainnya, serta menjaga keharmonisan dalam relasi sosial sehingga mudah dalam pelaksanaan pekerjaan dan penetapan biaya atau upah buruh tani, dan alasan petani menggunakan jasa buruh tani tetap yaitu karena lahannya terlalu luas sehingga membutuhkan perawatan yang rutin dalam produksi pertanian dan menciptakan pengawasan serta ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi buruh tani sebagai pekerja tetap.

  6. Relasi patronase yang terjalin antara petani dan buruh tani merupakan relasi patronase yang semu atau terdapat pertukaran yang tidak seimbang), dimana dalam relasi ini terlihat relasi assosiatif namun pada dasarnya relasi ini menjadikan buruh tani terikat dalam relasi kerja ditandai dengan rasa keseganan pekerja untuk memutuskan relasi kerja dan pekerja bekera dengan maksimal serta melakukan pelayanan pribadi terhadap majikannya.

  7. Pertukaran-pertukaran yang terjalin dalam relasi petani dan buruh tani di desa ini tidak hanya pertukaran ekonomi tetapi juga terjalin pertukaran sosial khusunya relasi petani dengan buruh tani langganan dan buruh tani tetap yakni petani memberikan bantuan dan buruh tani membalasnya dengan komoditas yang tidak berwujud yaitu perasaan dimana pekerja mengerahkan segala upaya untuk membalas budi atas kebaikan petani.

  8. Dalam hubungan kerja pertanian terjadi perubahan sistem sambatan menjadi sistem giliran atau bergantian sehingga menjadi lebih bersifat ekonomis. Hal ini berarti terjadi pengikisan solidaritas masyarakat pertanian di desa Tanjung Rejo.

2. Saran 1.

  Dalam hubungan kerja pertanian, perubahan sistem sambatan menjadi sistem giliran atau bergantian sehingga menjadi lebih bersifat ekonomis daripada sosial maka menambah atau mempebesar biaya produksi bagi petani khusunya biaya tenaga kerja serta mengurangi rasa kekerabatan diantara masyarakat.Karena itu diharapkan untuk meningkatkan gotong royong dalam pekerjaan pertanian untuk mengurangi biaya produksi pertanian pangan serta meningkatkan solidaritas masyarakat.

  2. Penggunaan buruh tani tetap dan langganan perlu ditingkatkan karena dapat membantu menciptakan ketersediaan lapangan pekerjaaan bagi para buruh tani sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran pada masyarakat pertanian khusunya pada penggunaan buruh tani tetap.

  3. Pada dasarnya buruh tani berada pada posisi yang kurang beruntung meskipun menjadi buruh tani tetap dan buruh tani langganan karena relasi patronase yang tercipta kurang menguntungkan bagi buruh tani. Oleh sebab itu, Pemerintah diharapkan secepatnya mengimplementasikan kebijakan pemerataan akses kepemilikan lahan dalam pertanian pangan supaya para petani di Indonesia mudah dalam mengakses lahan pertanian. Dengan kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian buruh tani.

  

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pembangunan Nasional, 2010esember 2011).

  BPS, 2011. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi, Edisi 16, September 2011, Jakarta : BPS Indonesia

  BPS, 2010. Sumatera Utara Dalam Angka,Medan : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara

  Bungin, Burhan, 2007. Penelitian Kualitatif, Jakarta : Kencana Prenada Media Group Data Monografi Desa, 2009. Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

  Ginting, Paham, 2005. Tekhnik Penelitian Sosial. Medan : USU Press Hariadi, Sunnaru Samsi, 1987. Patron Klien di Masyarakat Pedesaan (Kasus Buruh

  Tani di Desa Donotirto, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta):Library UGM,(Online), akses 3 Agustus 2011).

  Ibrahim, Jabal Tarik, 2003. Sosiologi Pedesaan, Malang : UMM Press Johnson, Doyle Paul, 1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Diterjemahkan olehRobert M.Z. Lawang. Jilid 1. Jakarta: PT. Gramedia Lubis, Indra, 2011,Gerakan Politik Kerakyatan, Praktek Demokrasi dan Politik

  Kerakyatan : Gerakan Kedaulatan Panganmenuju Indonesia Berdaulat,

  Makalah disajikan dalamSeminar Demokrasi Sosial, Medan Universitas Sumatera Utara, 24-27 Mei 2011. Prassojo, Gusti Alif, 2011. Pola Hubungan Petani dalam Masyarakat, ( Online ),

  akses tanggal 3 Agustus 2011). Rahardjo, M. Damwan, 1986. Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja, Jakarta : Universitas Indonesia. Rahmadayanti, Fitri, 2009. Relasi Sosial antara Pengampo dan Pemilik Lahan (Studi

  Deskriptif di Desa Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat). Skripsi, Tidak Diterbitkan. Padang: Jurusan Sosiologi

  Universitas Andalas Padang Ramadhan, Muhammad, 2009. Hubungan Sosial Tengkulak dan Petani (Studi Kasus :

  Hubungan Patron Client Pada Masyarakat Petani Di Desa Kampung Mesjid, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu). Skripsi, Tidak

  Diterbitkan. Medan : Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara Scott, James C., 1994. The Moral Economy of The Peasant : Rebellion and Subsistance in Southeast Asia, diterjemahkan Hasan Basari, Jakarta : LP3ES.

  Sihaloho, Martua,dkk, 2010. Reforma Agararia dan Revitalisasi Pertanian di Indonesia, : Transdisipil Sosiologi, Komunikasi Dan Ekologi Manusia, ( Online), Vol 4, No 1, diakses tanggal 26 Juli 2011)

  Soekanto, Soerjono, 2009. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Sunarto, Kamanto, 2004. Pengantar Sosiologi, Jakarta : Fakultas Ekonomi

  UniversitasIndonesia Susilowati, Sri Hery, 2005. Gejala pergeseran Kelembagaan Upah pada Pertanian Padi

  Sawah : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,

  (Online), Vol 23, No 1, akses tanggal 28 Juli 2011).

  Wisadirana, Darsono, 2004. Sosiologi Pedesaan, Malang : UMM Press Website ses tanggal 3 November 2011.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Problematika Pendaftaran Tanah Wakaf (Studi di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
6
133
144
Potensi Modal Sosial Buruh Bangunan (Studi Deskriptif Pada Buruh Bangunan di Lingkungan 12 Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang)
1
66
120
Analisis Optimasi Penggunaan Input Produksi pada Usahatani Semangka di Kabupaten Deli Serdang ( Studi Kasus : Desa Ampelas, Sei Rotan dan Kolam,Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
3
47
115
Peran Perempuan Nelayan Dalam Produksi Dan Distribusi Hasil Laut (Studi Kasus Pada Perempuan Pencari Kerang di Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
4
66
116
Pola Relasi Sosial Petani Dengan Buruh Tani Dalam Produksi Pertanian(Studi Deskriptif Masyarakat di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
31
142
163
Sikap Petani Terhadap Materi Penyuluhan Yang Disampaikan PPL (Studi Kasus: Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara)
1
45
109
Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Sikap Petani Padi Sawah Pada Pola Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) Pupuk Bersubsidi (Studi Kasus: Desa Cinta Damai, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
6
64
81
Perubahan Desa Menjadi Kota (Studi Deskriptif di Desa Tembung, Kecamatan Percut SeiTuan, Kabupaten Deli Serdang)
21
217
93
Analisis Saluran Pemasaran Susu Sapi (Kasus: Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
17
93
70
Perubahan Sosial Pada Komunitas Cina Kebun Sayur (Studi Deskriptif : di Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
1
74
101
Perilaku Berbiak Burung Bubulcus ibis di Kawasan Hutan Mangrove Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
4
41
51
Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Bagan Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang (1980-2000)
20
169
105
Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Terhadap Pendapatan Pedagang Hasil Laut (Studi Kasus : Desa Pantai Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang)
3
78
84
1 BAB I PENDAHULUAN - Potensi Modal Sosial Buruh Bangunan (Studi Deskriptif Pada Buruh Bangunan di Lingkungan 12 Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang)
0
1
12
Potensi Modal Sosial Buruh Bangunan (Studi Deskriptif Pada Buruh Bangunan di Lingkungan 12 Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang)
0
2
8
Show more