Feedback

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MESIN HYDRA PULPER KAPASITAS 92KG/JAM

 14  176  1  2017-02-14 20:59:23 Report infringing document
Informasi dokumen
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MESIN HYDRA PULPER KAPASITAS 92KG/JAM Oleh: HERU WARDOYO ( 03510063 ) Mechanical Engineering Dibuat: 2009-01-05 , dengan 3 file(s). Keywords: kertas,mesin, perancangan ABSTRAK Kertas bekas merupakan salah satu sampah yang dapat dimanfaatkan untuk di daur ulang menjadi kerajinan-kerajinan yang menarik seperti pembuatan peta, hiasan dinding, pembuatan undangan dan lain- lain. Tetapi masih banyak yang menggunakan tenaga manusia untuk membuat kertas tersebut menjadi bubur maka dengan adanya mesin hydra pulper ini mampu mengatasi masalah tersebut. Cara kerja mesin ini adalah Sebelum motor dinyalakan masukan terlebih dahulu kertas dan air kedalam tabung penghancur melalui corong kemudian motor dinyalakan, otomatis pulley pada motor akan mentrasmisikan daya dan putaran melalui V-Belt kemudian akan ditersukan ke pulley yang melekat pada poros dan langsung memutar poros dimana seluruh permukaannya sudah terdapat pisau-pisau penghancur. Pada saat poros dan pisau penghancur berputar maka terjadi perputaran yang menyebabkan kertas yang ada didalamnya akan ikut berputar dan otomatis akan tercacah oleh pisau-pisau tersebut dan dikarenakan jumlah pisau lebih dari satu dan penempatannya yang dibuat tegak lurus, maka kertas tersebut akan tercacah dan hancur menjadi bubur kertas. ABSTRACT Paper represent one of the garbage able to be exploited to in recycle become interesting crafting like cartography, wall decoration, making of invitation and others. But still a lot use manpower to make the paper become mush hence with existence of machine this hydra pulper can overcome the problem. Way of this machine activity is before motor flamed input beforehand water and paper into destroyer tube through funnel later, then motor flamed, automatically pulley at energy transmission motor and rotation will through V-Belt later, then will be distribute to coherent pulley at axis and direct turn around axis where entire all its surface have there are destroyer knifes. At the time of rotary destroyer knife and axis hence happened rotation causing existing paper in it will follow to rotate and automatically count will by the knifes and because of amount of knife more than one and its location which made is vertical, hence paper of count will and fall to pieces to become paper maches kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak 16 a. Teori Permintaan dan Penawaran . 16 b. Saluran Pemasaran. 18 c. Biaya Pemasaran. 19 d. Keuntungan Pemasaran (Marketing Margin). 19 e. Efisiensi Pemasaran . 20 2.1.4 Kontribusi Usahatani . 21 2.2 Kerangka Pemikiran. 23 2.3 Hipotesis . 26 III. METODOLOGI PENELITIAN . 27 3.1 Penentuan Daerah Penelitian . 27 3.2 Metode Penelitian . 27 3.3 Metode Pengambilan Contoh. 27 3.4 Metode Pengumpulan Data . 28 x 3.5 Metode Analisis Data . 29 3.6 Terminologi . 33 IV. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN . 34 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian. 34 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis . 34 4.1.2 Keadaan Penduduk . 34 4.1.3 Keadaan Pendidikan . 35 4.1.4 Keadaan Mata Pencaharian . 36 4.1.5 Keadaan Sarana Komunikasi dan Transportasi. 37 4.1.6 Usahatani Anggur di Wilayah Kecamatan Wonoasih . 38 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 40 5.1 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 40 5.2 Efisiensi Saluran Pemasaran Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 45 5.3 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Terhadap Pendapatan Keluarga. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN . 57 6.1 Kesimpulan . 57 6.2 Saran. 57 DAFTAR PUSTAKA . 58 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Data Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 28 2 Sebaran Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . 35 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . . 35 Sebaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004. . 36 Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 36 Jumlah Sarana Komunikasi di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 37 Rata-rata Penerimaan, Total Biaya, dan Pendapatan Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 41 Hasil Analisis Uji F-Hitung Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo. . 42 Hasil Analisis Uji Duncan Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 43 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 44 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 xii Tabel Judul Halaman 13 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 48 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 49 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 50 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 50 Efisiensi Pemasaran Anggur Red Prince pada Masingmasing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Belgie pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 52 Total Pendapatan Keluarga Petani dari Berbagai Sumber dan Kontribusi Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . . 54 Jumlah Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 Berdasarkan Status Usaha Pokok . 56 14 15 16 17 18 19 20 21 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Profit Maximization dengan Memperbesar Total Penerimaan. 14 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Cost Minimization dengan Memperkecil Total Biaya 15 3 Harga Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran. 16 4 Kurva Demand dan Keuntungan Pemasaran . 20 5 Skema Kerangka Pemikiran 25 6 Saluran Pemasaran Komoditas Anggur . 45 2 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Total Penerimaan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 60 Total Biaya Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 61 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 62 Rekapitulasi Data Penelitian Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 . 63 Pendapatan Per Hektar Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 64 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar pada Berbagai Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 65 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Berbagai Saluran Pemasaran . 66 7 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan (Lanjutan) . 67 8 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran I di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 68 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 69 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 70 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 71 2 3 4 5 6 7 9a 9b 10a xv Lampiran Judul Halaman 10b Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005. 72 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III (lanjutan) . 73 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Red Prince di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 74 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Alphonso lavalle di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 76 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Belgie di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 78 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur Terhadap Pendapatan Total Keluarga Per Tahun 2005 80 Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 dari Berbagai Sumber dan Persentasenya . 81 Kuisioner . . 82 10b 11 12 13 14 15 16 xvi
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MESIN HYDRA PULPER KAPASITAS 92KG/JAM Perancangan Dan Pembuatan Mesin Hydra Pulper Kapasitas 92Kg Jam
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MESIN HYDRA PULPER KAPASITAS 92KG/JAM

Gratis