Implementasi wakaf uang di badan wakaf Indonesia

Gratis

0
3
96
2 years ago
Preview
Full text

LEMBAR PERNYATAAN

  Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah Jakarta. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerimasanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

KATA PENGANTAR

  Nurkodah atas doa yang tak pernah henti dipanjatkan dan kasih sayang yang tak pernah henti diberikan, yangselalu memotivasi dan mendukung penulis baik secara moril maupun materil, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Seluruh rekan-rekan yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah memberikan kontribusi yang cukup besar sehingga penulis dapat menjalaniperkuliahan di UIN hingga akhir.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu lembaga sosial ekonomi Islam yang akhir-akhir ini juga menarik

  Setiap muslim/muslimat yang terpelajar dan menaruh peduli terhadap ajaran agama yang di peluknya (Islam), pasti mengetahui dan memang sudah sepantasnyatahu, bahwa Islam tidak hanya mengatur perihal shalat di masjid (Ibadah) saja dengan berbagai bentuknya, akan tetapi juga memberikan pedoman yang jelas dan nyatatentang tata aturan muamalah dalam konteksnya yang sangat luas dan sekaligus 1 luwes. Potensi yang terdapat pada wakaf sebenarnya tidak dapat diremehkan, terutama1 Husain Syahatah dan Sidiyah Muh-Amin Adalah, Transaksi dan etika bisnis dalam Islam, (Jakarta: Visi Insani publishing, 2005) h.1-2 Di tengah problem sosial masyarakat Indonesia dan tuntutan akan kesejahteraan ekonomi akhir-akhir ini, keberadaan lembaga wakaf menjadi sangatstrategis.

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

  Pembatasan Masalah Agar pembahasan dalam skripsi ini lebih terarah dan efisien, maka penulis membatasi pembahasannya dalam masalah implementasi wakaf uangdi badan wakaf Indonesia. Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah yang dibahas dalam skripsi ini, maka pokok permasalahan yang dibatasi dengan beberapa pertanyaan adalahsebagai berikut : a.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Menemukanberarti mendapatkan dan melahirkan sesuatu hal baru yang sebelumnya tidak ada, mengembangkan berarti memperluas atau mengkaji lebih dalam yangsudah ada sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika terhadap apa yang sudah ada sebelumnya. Untuk mengetahui bagaimana pengelolaan wakaf uang di Badan wakaf Indonesia c.

D. Kajian Pustaka

  Anita Chairani, 203046101673, Peluang dan Tantangan Pengelolaan Wakaf Uang pada Perbankan Syariah Pasca Undang-Undang No 41 tahun 2004 Tentang Wakaf, (Jakarta, Program Studi Perbankan Syariah Jurusan Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, 2008)Namun, pada penelitian yang dilakukan saudara Khairul Bejaharnia mengkaji tentang manajemen wakaf produktif, dari segi kerangka teoritis. Dalam penelitian saudari Lili Zahriah lebih cenderung mengkaji tentang sistem pengelolaan harta wakaf yang dikelola Nazhir wakaf Yayasan Wakaf Al-Muhajirien Jaka Permai Bekasi dalam mengukur kinerjanya melalui metode pendekatan balanced scored, melalui empat perspektif yaitu: perspektif keuangan,perspektif pelannganan (jama’ah atau masyarakat), proses bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan perkembangan.

E. Metode Penelitian

  Data Primer Merupakan data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara pihakBadan Wakaf Indonesia, yaitu hasil pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Penelitian Kepustakaan (Library Research) yaitu penulis mengambil data dari bahan-bahan pustaka yang didapat dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, kitab-kitab fiqih, internet dan literature-literatur yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.

6. Tehnik Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, Penulis merujuk pada buku “PedomanPenulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.

F. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini penulis mengemukakan latar belakang masalah, pembatasan

  Untuk keserasian dan keterlibatan pembahasan serta untuk mempermudah analisa materi dalam penulisan skripsi ini, maka berikut penulis menjelaskan dalamsistematika penulisan. skripsi ini terdiri dari lima bab yang dibagi dalam sub bab dalam setiap sub bab mempunyai pembahasan masing-masing yangsaling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu sebagai berikut: dan perumusan masalah, tujuan dan manfaaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian dan sistem penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi tentang tinjauan umum tentang wakaf, meliputi pengertian

  wakaf, dasar hukum wakaf, yang meliputi dasar hukum dari Al-Qur’an,As-Sunnah dan Undang-Undang Indonesia, rukun dan syarat wakaf, serta tinjauan syariah terhadap uang sebagai obyek wakaf, bab ini jugamembahas tentang praktik perwakafan di Indonesia. BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI WAKAF UANGPADA BADAN WAKAF INDONESIA Bab ini membahas tentang pengelolaan wakaf uang pada Badan Wakaf Indonesia, dan implementasi wakaf uang pada Badan wakaf Indonesia.

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Umum Tentang Wakaf

1. Pengertian Wakaf

  Perkataan waqf, yang menjadi wakaf dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata kerja bahasa Arab yang berarti menghentikan, berdiam di ﻒ ﻗ و tempat atau menahan sesuatu. Mereka mendefinisikan wakaf dengan definisi yang beragam, sesuai dengan perbedaan mazhab yang mereka anut, baik dari segi kelaziman danketidaklazimannya, syarat pendekatan di dalam masalah wakaf ataupun posisi pemilik harta wakaf setelah diwakafkan.

5 Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, (Jakarta: UI-press, 1988), h

  Dalam usaha memberikan ruang gerak kegiatan perwakafan dalam era globalisasi, maka Bank Indonesia memberikan definisi wakaf tunai(uang) sebagai “penyerahan aset wakaf berupa uang tunai yang tidak dapat dipindahkan dan dibekukan untuk selain kepentingan umum yang tidak 12 mengurangi ataupun menghilangkan jumlah pokoknya”. Dari beberapa definisi wakaf yang telah disebutkan, dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan wakaf adalah suatu perbuatanhukum yang dilakukan seseorang dengan cara menahan harta bendanya(wakaf uang) untuk digunakan manfaatnya di jalan Allah SWT dan untuk kesejahteraan umum menurut syariah, sepanjang uang tersebutdimanfaatkan sesuai dengan tujuan akad wakaf dan tidak habis atau musnah.

2. Dasar Hukum Wakaf

a. Dasar Hukum dari Al-Quran

  Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar disyariatkannya ajaran wakaf bersumber dari pemahaman teks ayat Al-Quran, karena tidak ada ayat Al-Quran yang secara tegas menjelaskan tentang ajaran wakaf. (QS. Al-Baqarah/2:267) Kesimpulannya, Al-Quran dalam hal wakaf tidak menyebutkan secara khusus, Al-Quran hanya membicarakan soal umum yaitu soalmenafkahkan harta pada jalan Allah.

b. Dasar Hukum dari As-Sunnah

  Diantara hadits Nabi yang dijadikan dasar hukum wakaf olehpara fuqaha adalah sabda Nabi: : .( ) Artinya: Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalperbuatannya, kecuali dari tiga hal, yaitu dari shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang mendo’akan orangtuanya” (HR. Wakaf akan menghasilkanpahala selagi barang yang diwakafkan itu utuh dan dapat dimanfaatkan, maka orang yang berwakaf terus menerima pahala dari Allah SWT.

18 Islam

Kesimpulannya, secara eksplisit hukum wakaf sedikit ditetapkan oleh as-Sunnah dan sebagian besar ditetapkan oleh ijtihad fuqaha dengan 19 berpegang pada Istihsan, Istishab, dan ‘urf atau kebiasaan.

c. Dasar Hukum dari Perundang-Undangan Indonesia

  Dalam UU ini, selain mengatur tentang wakaf benda tidak bergerak, juga mengatur tentang wakaf benda bergerak, seperti 20 Departemen Agama RI, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, (Jakarta: DirektoratPemberdayaan Wakaf dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag RI, 2006), h. 41 Tahun 2004 Tentang wakaf yang meliputi: ketentuan umum, Nazhir,Jenis harta benda wakaf, akta ikrar wakaf dan pejabat pembuat akta ikrar wakaf, tata cara pendaftaran dan pengumuman harta benda wakaf,pengelolaan dan pengembangan, bantuan pembiayaan Badan Wakaf22 Indonesia, peembinaan dan pengawasan.

3. Rukun dan Syarat Wakaf

a. Rukun Wakaf

  Para ulama telah sepakat bahwa tanpa memenuhi rukun dan syarat, perbuatan wakaf tidak akan terwujud. Menurut jumhur, mazhab Syafi’i dan Maliki serta Hambali, rukun 24 wakaf ada empat, yaitu:1) Waqif (orang yang mewakafkan)2) Mauquf (benda yang diwakafkan)3) Mauquf’Alaih (sasaran atau penerima wakaf)4) Sighat Wakaf (pernyataan wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan hartanya) Menurut mazhab Hanafi, rukun wakaf hanya satu, yaitu berupa 2524 pengucapan shigat (ijab dan qabul).

b. Syarat-syarat Wakaf

  Harta yang ada nilainya adalah: harta yang dimiliki oleh orang dan dapat digunakan secara hokum (sah) dalam keadaan normal ataupuntertentu, seperti uang, buku dan harta lain yang tidak dapat berpindah. Imam Maliki membolehkan ikrar ta’liq wakaf yaitu ikrar yang dikaitkan dengan keadaan tertentu yang dapat mempengaruhiada dan tidak adanya wakaf, di sisi lain Imam Hambali membolehkan ta’liq wakaf akan tetapi hanya berkaitan dengan29 Wahbah Zuhaili, Fiqh Al-Islam, h.

4. Tinjauan Syariah Terhadap Uang Sebagai Objek Wakaf

  MUI sendiri dalam fatwanya yang membolehkan wakaf uang selain menggunakan dasar hukum Al-Quran dan Hadits yang berkaitan denganwakaf, juga secara khusus memperhatikan pandangan para ulama yang telah membolehkan wakaf dengan uang. Pandangan dari ulama Mazhab Hanafi yang membolehkan wakaf uang dinar dan dirham sebagai pengecualian, atas dasar Istihsan bi al-‘Urf32 (hukum yang ditetapkan berdasarkan adat kebiasaan), berdasarkan hadits Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Wakaf Uang, ditetapkan di Jakarta, Pada tanggal 11 Mei 2002 c.

33 Mustafa Edwin Nasution dan Uswatun Hasanah, ed., Wakaf Tunai Inovasi Finansial Islam:

  Wahbah Zuhaili menjelaskan secara tegas bahwa ulama Mazhab Maliki memperbolehkan wakaf uang, mengingat manfaat uang masih dalam cakupanhadits Nabi Muhammad SAW dan benda sejenis yang diwakafkan oleh para sahabat, seperti baju perang, binatang dan harta lainnya serta hal tersebutmendapatkan pengakuan dari Rasulullah SAW. Walaupun ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama mengenai sah tidaknya wakaf uang, namun mengingat manfaat wakaf uang yang begitubesar bila dikembangkan dengan baik bagi kemaslahatan umat, pengelolaan wakaf uang tetap menjadi pilihan yang menarik bagi umat Islam untukdikembangkan.

B. Praktik Perwakafan di Indonesia

  Di masa-masa awal penyiaran Islam ini, kebutuhan akan masjid untuk menjalankan aktivitas ritual dan dawkah membuat pemberian tanah wakaf untukmasjid menjadi tradisi yang lazim dan meluas di kantong-kantong Islam di nusantara. Padahal di tengah permasalahan social masyarakat yang semakin rumit dan tuntutan akan sebuah kehidupan yang adil dan makmur sesuai dengan amanah UUD 1945,wakaf memiliki peran sangat penting dalam membangun peradaban umat Islam di Indonesia.

C. Model Pengelolaan Wakaf Uang di Indonesia dan Luar Negeri

1. Di Indonesia

  Di awal operasi produk wakaf uang, pola pengelolaan wakaf uang yang dilakukan oleh Yayasan Dompet Dhuafa Republika adalah langsungmemanfaatkan dana wakaf pada sasaran, tidak menginvestasikannya terlebih dahulu, sehingga asset pokok wakaf digunakan untuk membiayai operasionalprogram wakaf, bukan profit atau benefitnya. Secara operasional, pengelolaan wakaf uang pada Pos Keadilan PeduliUmat (PKPU) sama dengan pola pengelolaan wakaf uang di Yayasan DompetDhuafa Republika diaawal operasinya, yaitu langsung memanfaatkan dana wakaf pada sasaran, tidak menginvestasikannya terlebih dahulu sehingga danayang digunakan untuk membiayai operasional program wakaf adalah aset pokok wakaf bukan profit atau benefitnya.

2. Di Luar Negeri

  Dalam hal wakaf uang, negara yang sampai saat ini boleh dikatakan paling berkembang dan maju dalam pengelolaannya adalah Bangladesh. Mannan, wakaf uang dapat berperan sebagai suplemen bagi pendanaan berbagai macam proyek investasi sosial yang dikelola olehbank-bank Islam, sehingga dapat berubah menjadi bank wakaf (sebuah bank yang menampung dana-dana wakaf).

41 M. A. Mannan, Sertifikat Wakaf Tunai: Sebuah Inovasi Instrumen Keuangan Islam

  Selain itu dana deposit permanen ini dapat diinvestasikan pada bidang investasi sosial dan dakwah Islam dengan cara mentransferkan tabungan kaya padaenterpreneur dan masyarakat untuk mendanai proyek-proyek yang berkenaan dengan dakwah Islam serta pemberdayaan ekonomi dan potensi masyarakat. Dalam kepengurusan, BWI terdiri atas Badan Pelaksana dan DewanPertimbangan, masing-masing dipimpin oleh oleh satu orang Ketua dan dua orangWakil Ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota.

3. Strategi

  Meningkatkan profesionalitas dan keamanahan nazhir dalam pengelolaan dan pengembangan harta wakaf. Menghimpun mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf yang berskala nasional dan internasional.

C. Struktur Lembaga Struktur Organisasi Dewan Pertimbangan

  FIIS Pengelolaan Wakaf : Prof. MAPenelitian dan Pengembangan : Dr.

D. Program Kerja

  Program kerja untuk merealisasikan visi, misi, dan srategi tersebut, BWI mempunyai 5 divisi, yakni Divisi Pembinaan Nazhir; Divisi Pengelolaan danPemberdayaan Wakaf; Divisi Kelembagaan; Divisi Hubungan Masyarakat; dan Divisi Penelitian dan Pengembangan Wakaf. Memetakan dan menganalisis potensi ekonomi dari setiap asset wakaf dengan berkoordinasi dengan divisi lain yang berkaitan.

BAB IV IMPELEMNTASI WAKAF UANG DI BADAN WAKAF INDONESIA A. Pengelolaan Wakaf Uang Wakaf bagi seorang muslim merupakan realisasi ibadah kepada Allah melalui

  harta benda yang dimilikinya, yaitu dengan melepas benda yang dimilikinya untuk kepentingan umum. “Apabilaanak Adam meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya” (HR.

45 Muslim). Para ulama fikih sepakat, yang dimaksud dengan “shadaqah jariyah”

  Dilihat dari sisi peruntukan, wakaf terbagi menjadi dua: wakaf keluarga (ahli, ada juga yang menyebut wakaf khusus) dan wakaf kebajikan (khairi, ada yang 46 Pasal 12, UU No. 41 tahun 2004, “Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksuddalam Pasal 11, Nazhir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi 10% (sepuluh persen).” 47 menyebut wakaf umum).

Pasal 12 , UU No. 41 tahun 2004

  Pada dasarnya, yang dimaksud wakaf uang adalah dalam keadaan apa pun uang wakaf tidak boleh berubah, baik itu berubah menjadi bangunan ataupun tanah. Setelah memahami beberapa konsep wakaf uang, penting rasanya untuk banyak mengetahui bagaimana potensi wakaf uang bisa terealisasi dalam beberapasector, membantu perekonomian umat diantaranya menanggulangi kemiskinan, membantu masyarakat social, memajukan pendidikan, kesehatan dengan tujuankesejahteraan.

B. Implementasi wakaf uang di Indonesia

  Dalam kepengurusan, BWI terdiri atas Badan Pelaksana dan DewanPertimbangan, masing-masing dipimpin oleh oleh satu orang Ketua dan dua orangWakil Ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota. Pengelolaan dan pengembangan atas harta benda wakaf uang hanya dapat dilakukan melalui investasi pada produk-produk LKS dan/atau instrumenkeuangan syariah, 5253 Pasal 29, UU No.

Pasal 48 , PP No. 42 tahun 2006

  Seiring dengan perkembangan zaman dan perluasan sosialisasi mengenai wakaf uang maka BWI melakukan perluasan jaringan dengan bank-bank lain yang berminatsesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam petunjuk LKS-PWU, antara lain: BankBukopin Syariah, Bank Tabungan Negara Syarian, BPD DIY Syariah yang pada tahun 2011 ini sudah mendapatkan surat keputusan (SK) Menteri dan telah berhak 54 mengeluarkan mengeluarkan sertifikat wakaf tunai. Badan wakaf Indonesia berdiri sejak tahun 2007 hingga saat ini, kurang lebih 3 tahun lamanya badan wakaf ini mengelola wakaf uang yang sudah di kumpulkan diLembaga Keuangan Syari’ah (LKS), pada tahun 2010 wakaf uang yang sudah terlaksana di lima bank yang ditetapkan oleh surat keputusan Menteri Agama adalah,sebagai berikut:5455 Hasil wawancara dengan Ibu Nani Al-Mu’in tanggal 04 maret 2011.

56 Hasil wawancara dengan Ibu Nani Al-Mu’in tanggal 04 maret 2011

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan apa yang sudah ditulis oleh penulis pada bab sebelumnya maka

  penulis dapat memberikan kesimpulan bahwa wakaf adalah suatu perbuatan hukum yang dilakukan seseorang dengan cara menahan harta bendanya untuk digunakanmanfaatnya di jalan Allah SWT dan untuk kesejahteraan umum menurut syariah, sepanjang uang tersebut dimanfaatkan sesuai dengan tujuan akad wakaf dan tidakhabis atau musnah. 42 Tahun 2006 menjelaskan tentang pengelolaan wakaf yang mana dalam pengelolaan wakaf uang ini pemerintahmembentuk suatu lembaga khusus yang menangani tentang wakaf, Untuk kali pertama, Keanggotaan BWI diangkat oleh Presiden Republik Indonesia, sesuaidengan Keputusan Presiden (Kepres) No.

B. Saran

  Kreatif dan inovatif dalam mensosialisasikan program wakaf uang kepada masyarakat, dan menciptakan image bahwa wakaf merupakan salah satuinstrument yang berpotensi membangkitkan ekonomi umat islam, karena wakaf uang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi bermanfaat jugabagi badan wakaf Indonesia. PenelitiPenelitian lebih lanjut penulis memberi saran bahwa badan wakaf Indonesia menarik untuk dikaji kembali, badan wakaf ini masih terus maratakeorganisasiannya yang bertujuan untuk mendukung program pengembangan wakaf produktif agar dapat berjalan sesuai yang diharapkan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

  Undang-Undang Republik Indonesia nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf Hasil Interview Implementasi Wakaf Uang di Badan Wakaf Indonesia(studi pada Badan Wakaf Indonesia) Nama : Nani Almuin, SHI, MAJabatan : Staf Divisi Penelitian dan PengembanganTempat wawancara : Badan Wakaf IndonesiaPewawancara : Arief Muzacky Juhanda 1. Jawaban :Digunakan untuk dana pendidikan Di Yayasan Nurul Huda Bekasi sebesarRp.5.000.000.dan pembangunan rumah bagi oarang yang tidak mampu, BWI bekerja sama dengan bank tetapi tetap pengelolaan uang wakaf yang akandigunakan atas persetujuan BWI sehingga pengelolaan uang wakaf tetap pada BWI, bank sebagai tempat penitipan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Kedudukan tanah wakaf yang di daftarkan sebelum diberikan uu no.41 Tahun 2004 tentang wakaf
0
14
179
Strategi pengelolaan wakaf uang secara produktif pada baitul mal muamalat
4
18
73
Pengaruh penerapan UU no.41/2004 tentang wakaf terhadap profesionalitas pengelolaan wakaf pada lembaga Tabung Wakaf Indonesia
0
5
128
Efektivitas pelaksanaan undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf tunai pada lembaga tabung wakaf Indonesia
1
6
80
Pengelolaan wakaf uang sebagai salah satu instrumen investasi (studi pada Tabung Wakaf Indonesia)
2
24
98
Pengelolaan wakaf tunai pada tabung wakaf Indoneisa untuk pemberdayaan bidang pendidikan
3
47
92
Efektivitas peran wakala al-wakif terhadap perkembangan tabung wakaf Indonesia
1
17
85
Peta perwakafan di kecmatan Cikole Sukabumi (studi terhadap pendaftaran ikrar wakaf 2005-2009)
1
50
95
Efektivitas pengimpunan dan pengelolaan wakaf uang pada Baitulmaal Muamalat (BMM)
5
40
89
Perbandingan sistem penghimpunan dana (Fundraising) wakaf uang pada dompet dhuafa Republika dan badan wakaf Indonesia
3
13
125
Implementasi wakaf uang di badan wakaf Indonesia
0
3
96
Pengelolaan dana dan hasil wakaf tabung wakaf Indonesia (TWI) untuk pengembangan layanan kesehatan cuma-cuma (LKC)
0
5
119
Pemanfaatan hasil wakaf produktif melalui program sosial keagamaan pada lembaga wakaf Al-Azhar
2
13
104
Akibat yuridis tanah wakaf yang tidak terdaftar : studi kasus tanah wakaf di Masjid Jami' al-Istiqomah Desa Cikalong Kec.Cilamaya Karawang Jawa Barat
0
10
141
Peluang dan tantangan pengelolahaan wakaf uang pada perbankan syariah pasca UU No 41 Tahun 2004 tentang wakaf
0
22
99
Show more