Analisis pengaruh modal inti, dana pihak ketiga (DPK), suku bunga SBI, nilai tukar rupiah (KURS) dan infalnsi terhadap pembiayaan yang disalurkan : studi kasus Bank Muamalat Indonesia

Gratis

5
100
147
2 years ago
Preview
Full text
ANALISIS PENGARUH MODAL INTI, DANA PIHAK KETIGA (DPK), SUKU BUNGA SBI, NILAI TUKAR RUPIAH (KURS) DAN INFLASI TERHADAP PEMBIAYAAN YANG DISALURKAN (STUDI KASUS BANK MUAMALAT INDONESIA) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Oleh AJENG SARJADYASARI NIM : 106081002381 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432H/2010 Surat Pernyataan Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Ajeng Sarjadyasari NIM : 106081002381 Jurusan : Manajemen Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang lain. Apabila terbukti skripsi ini plagiat atau replikasi, maka skripsi dianggap gugur dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan serta gelarnya dibatalkan. Demikian pernyataan dibuat dengan segala akibat yang timbul kemudian hari menjadi tanggung jawab saya. Jakarta, 06 Desember 2010 (Ajeng Sarjadyasari) Daftar Riwayat Hidup Nama : Ajeng Sarjadyasari Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 22 Oktober 1988 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Kebangsaan : Indonesia Status perkawinan : Belum menikah Alamat : Jl. Kesehatan II No. 56 Rt04/Rw09 Kav Depkes Pondok cabe, Ciputat. 15411 No. Telp : 021-70381638 Alamat E-mail : Sarja_dyasari@yahoo.co.id Pendidikan Formal : 1) Tamatan TK Tunas Cipayung 1994 2) Tamatan SDN Cipayung I 2000 3) Tamatan SLTPN 1 Pamulang 2003 4) Tamatan SMAN 1 Cisauk 2006 5) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen Perbankan 2006 – 2010 i Abstract This study aimed to analyze the effects of variable Core Capital, the Third Party Funds (TPF), SBI Interest Rates, Exchange Rate Rupiah and Iinflation of distributed Financing Case Study of Bank Muamalat Indonesia. This study uses for seventy-three months secondary data which starts from September 2003 to September 2009 with data utilizing the publication of Bank Indonesia. It is also supported literature study by collecting data in accordance with the scope of discussion. The analytical tool used in this research is Path Analysis. The study result shows that the variable Core Capital, the Third Party Funds (TPF),SBI Interest Rates, Exchange Rates Rupiah and inflation simultaneously have the effect of variables which is distributed Financing of 0.992. The test results showed partial Core Capital, the Third Party Funds (TPF), Exchange Rate (rates) and inflation has positive and significant impact on financing which is distributed by Bank Muamalat Indonesia, while the variable SBI Interest Rateshas no significant impact on financing which is distributed by the Bank Muamalat Indonesia. Keywords: Core Capital, the Third Party Funds (TPF), Interest Rates (SBI), Exchange Rate Rupiah, Inflation, Financing ii Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variabel Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap Pembiayaan yang disalurkan Studi Kasus Pada Bank Muamalat Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder selama tujuh puluh tiga bulan dari September 2003 sampai dengan September 2009 dengan memanfaatkan datadata hasil publikasi Bank Indonesia. Serta ditunjang studi kepustakaan dengan cara mengumpulkan data yang sesuai dengan ruang lingkup pembahasan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Jalur. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi memiliki pengaruh secara simultan terhadap variabel Pembiayaan yang disalurkan sebesar 0,992. Hasil pengujian secara parsial menunjukan Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia, sedangkan variabel Suku Bunga SBI memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Kata Kunci : Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI (SBI), Nilai Tukar Rupiah (KURS), Inflasi, Pembiayaan yang disalurkan iii KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat, karunia, taufik dan hidayahnya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam tidak lupa penulis panjatkan kepada Nabi muhammad saw, beserta keluarga dan sahabatnya yang telah membawa umat manusia menuju jalan kebaikan. Skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih yang disampaikan kepada: 1. Kedua orang tuaku yang selamanya ku sayang. Semoga semua ini lancar dan dapat memberi kalian kebanggan. Semangat yang kalian berikan disetiap aku merasa putus asa dan sedih. Kakak ku Mas Agi, Mas Dimas, Ka Reni dan Irin kalian banyak membantu adikmu ini semoga aku dapat membalasnya. Keponakan ku tersayang Daffa, anak kecil yang selalu menyemangatiku dari senyumannya. 2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. 3. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM, Pudek I Bidang Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis sekaligus Dosen Pembimbing I yang selalu memberikan arahan dan nasihat, terima kasih atas nasihat dan saran-saran yang berharga kepada penulis. 4. Bapak Herni Ali HT, SE, MM Pudek III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis sekaligus Dosen Pembimbing II yang selalu memberikan arahan dan nasihat, terima kasih atas nasihat dan saran-saran yang berharga kepada penulis. 5. Bapak Amir Syariffudin, SH, MM selaku Dosen Pembimbing Akademik, terima kasih atas bimbingan, motivasi dan nasehatnya . 6. Seluruh Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak mengajarkan ilmu ekonomi dan manajemen. iv 7. Kepada Beno yang selalu membantu penulis dalam hal apapun, semoga Allah memberikan kebahagiaan kepadanya. 8. Teman-teman FEIS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2006 Manajemen B dan Perbankan A yang selalu ada dalam suka maupun duka serta memberikan motivasi selama masa perkuliahan. Khususnya Amira, Atin, Eka, Vina, Sesy, Hana, Wulan, Citra, Dea, Candra, Tia, Hery, Rezi, Fadly, Dipta dan Faizal. 9. Teman-teman sepermainan Ketika SMP dan SMU hingga sampai saat ini, khususnya Riri, Athy, Widhy, Mutiara, David, Yulia. 10. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, suatu kebahagiaan telah dipertemukan dan diperkenalkan dengan kalian semua. Terima kasih banyak atas motivasi yang telah diberikan selama ini. Jakarta, Oktober 2010 Penulis v DAFTAR ISI Lembar Pengesahan ................................................................................... i Daftar Riwayat Hidup ............................................................................... iv Abstract ...................................................................................................... v Abstrak ....................................................................................................... vi Kata Pengantar .......................................................................................... vii Daftar Isi .................................................................................................... ix Daftar Tabel ............................................................................................... xi Daftar Gambar .......................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang Penelitian ............................................................ 1 B. Perumusan Masalah ...................................................................... 10 C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 10 D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 12 A. Mengenal Bank Syariah ............................................................... 12 B. Dana Pihak Ketiga (DPK) ............................................................. 21 C. Modal Inti ..................................................................................... 22 D. Inflasi ........................................................................................... 24 E. Suku Bunga SBI............................................................................ 30 F. Nilai Tukar Rupiah ........................................................................ 33 G. Penelitian Terdahulu ..................................................................... 35 H. Kerangka Pemikiran ..................................................................... 40 I. Hipotesis ...................................................................................... 43 vi BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 44 A. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................ 44 B. Metode Penentuan Sampel ........................................................... 44 C. Metode Pengumpulan Data .......................................................... 44 D. Metode Analisis ........................................................................... 45 E. Operasional Variabel Penelitian ................................................... .51 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 54 A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian .................................. 54 B. Penemuan dan Pembahasan ......................................................... 57 1. Analisis Deskriptif..................................................................... 57 2. Analisis Regresi Jalur Modal Inti, DPK,Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah, dan Inflasi terhadap Pembiayaan Pada Bank Muamalat Indonesia ................................................ 74 C. Persamaan Struktural ................................................................... 93 ` D. Interpretasi .................................................................................. 112 BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI .............................................. 118 A. Kesimpulan ................................................................................. 118 B. Implikasi ...................................................................................... 119 Daftar Pustaka ............................................................................................ 121 Lampiran..................................................................................................... 124 vii Daftar Tabel Halaman Nomor Keterangan 1.1 Perkembangan Lembaga Perbankan Syariah .............................................. 3 2.1 Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil ............................................................... 15 4.1 Modal Inti Bank Muamalat Indonesia ......................................................... 58 4.2 Dana Pihak Ketiga Bank Muamalat Indonesia ........................................... 61 4.3 Data Suku Bunga SBI ................................................................................ 63 4.4 Data Nilai Tukar Rupiah ............................................................................ 66 4.5 Inflasi ........................................................................................................ 69 4.6 Pembiayaan ............................................................................................... 72 4.7 Regresi ...................................................................................................... 74 4.8 Uji F Regresi ............................................................................................. 75 4.9 Uji t Regresi .............................................................................................. 78 4.10 Pengujian Secara Parsial terhadap Pembiayaan. ......................................... 86 4.11 Korelasi ..................................................................................................... 87 4.12 Total Pengaruh Modal Inti Terhadap Pembiayaan ...................................... 94 4.13 Total Pengaruh DPK Terhadap Pembiayaan .............................................. 96 4.14 Total Pengaruh SBI Terhadap Pembiayaan ................................................ 97 4.15 Total Pengaruh Kurs Terhadap Pembiayaan ............................................... 99 4.16 Total Pengaruh Inflasi Terhadap Pembiayaan ............................................ 100 4.17 Total Pengaruh Modal Inti DPK, SBI, KURS & Inflasi Terhadap Pembiayaan ...................................................... 101 4.18 Regresi Setelah Trimming .......................................................................... 102 4.19 Uji F Setelah Trimming ............................................................................. 102 4.20 Uji t Setelah Trimming ............................................................................... 103 4.21 Pengujian antar variabel independen setelah trimming ................................ 104 4.22 Total Pengaruh Modal Inti Terhadap Pembiayaan setelah Trimming ........... 107 viii 4.23 Total Pengaruh DPK Terhadap Pembiayaan setelah Trimming .................... 108 4.24 Total Pengaruh KURS Terhadap Pembiayaan setelah Trimming ................ 110 4.25 Total Pengaruh Inflasi Terhadap Pembiayaan setelah Trimming ................ 111 ix Daftar Gambar Nomor Keterangan Halaman 2.1 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 42 4.1 Modal inti .......................................................................................... 59 4.2 DPK .................................................................................................. 62 4.3 SBI .................................................................................................... 63 4.4 Kurs .................................................................................................. 67 4.5 Inflasi ................................................................................................ 70 4.6 Pembiayaan ....................................................................................... 73 4.7 Diagram Jalur .................................................................................... 92 4.8 Diagram Jalur Setelah Trimming........................................................ 105 x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendirian sebuah local saving bank yang beroperasi tanpa bunga di Desa Mit Ghamir di tepi sungai Nil, Mesir, pada tahun 1960-an telah menjadi tonggak berdirinya lembaga perbankan Islam modern pertama, bahkan lembaga keuangan Islam modern pertama di dunia. Pesatnya pertumbuhan bank-bank Islam telah mengilhami bank-bank konvensional untuk meniru dan menawarkan produkproduk bank Islam.(Zainul Arifin, 2005:5) Kemudian berkembangnya bank syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pemerintah Indonesia telah memasukan kemungkinan berdirinya bank syariah dalam undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang secara implisit telah membuka peluang kegiatan usaha perbankan dengan dasar operasional bagi hasil. Secara rinci UU tersebut dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1992 tentang Bank berdasarkan prinsip bagi hasil. Peraturan tersebut telah dijadikan dasar hukum beroperasinya bank syariah di Indonesia yang menandai dimulainya era dual banking system di Indonesia. Selama periode 1992 sampai dengan 1998, hanya terdapat satu bank umum syariah yaitu Bank Muamalat Indonesia dan 78 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang telah beroperasi. 1 Pada tahun 1998 dikeluarkan UU No.10 Tahun 1998, sebagai amandemen dari UU No.7 tahun 1992 tentang perbankan yang memberikan landasan yang kuat bagi keberadaan sistem perbankan syariah sebagai bagian dari sistem perbankan nasional. Kemudian pada tahun 1999 dikeluarkan UU No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang memberikan kewenangan bagi Bank Indonesia untuk dapat menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip syariah. Menurut Laporan Bank Indonesia, jumlah bank syariah yang beroperasi dari tahun 1998 meningkat cukup signifikan. Selama tahun 2009 jumlah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah mengalami penambahan 5 Bank Umum Syariah (BUS) 26 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 133 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), sehingga pada akhir tahun 2009 terdapat 6 BUS, 25 UUS dan 138 BPRS. Sejalan dengan hal tersebut, jaringan kantor bank syariah, termasuk layanan syariah juga menunjukan peningkatan menjadi 1140 kantor dan 1929 layanan syariah. Data perkembangan lembaga perbankan syariah dari tahun 2005 sampai tahun 2009 sebagai berikut : 2 Tabel 1.1 Perkembangan Lembaga Perbankan Syariah Kelompok Bank 2005 2006 2007 2008 2009 Bank Umum Syariah 3 3 3 5 6 Unit Usaha Syariah 19 20 26 27 25 Bank Pembiayaan 92 105 114 131 138 Total Jumlah Kantor 550 636 711 953 1140 Jumlah layanan syariah - 456 1195 1470 1929 Rakyat Syariah Sumber : Bank Indonesia Tabel I.1 terlihat perkembangan jumlah lembaga perbankan syariah mengalami peningkatan yang pesat dari tahun ketahun. Kinerja Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) sepanjang tahun 2009 cukup pesat dengan pertumbuhan laba mencapai 83%. Jika pada tahun 2008 laba bank syariah hanya mencapai Rp 432 miliar, maka per September 2009 laba bank syariah sudah mencapai Rp 791 miliar. Demikian data Statistik Perbankan Syariah yang dikutip Detik Finance dari situs Bank Indonesia, Selasa (2/2/2010). Sebagaimana dengan bank konvensional, bank syariah juga memiliki peranan sebagai lembaga perantara (intermediary) antara satuan kelompok masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana (surplus unit) dengan unit-unit lain yang mengalami kekurangan dana (deficit unit). Untuk itu minat masyarakat menyimpan dananya di bank syariah semakin besar hal ini ditandai 3 dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan syariah dengan angka pertumbuhan sebesar 37,7%. Tingginya pertumbuhan DPK ini disebabkan oleh ketatnya likuiditas yang memaksa pelaku usaha termasuk lembaga keuangan untuk menahan dana mereka. Kondisi ketatnya likuiditas ini juga mempengaruhi perilaku masyarakat yang relatif menahan konsumsi mereka, sehingga ada kecenderungan pemeliharaan dana yang berdampak pada peningkatan DPK perbankan syariah. Disamping itu peningkatan DPK ini dipengaruhi pula oleh return bank syariah yang cukup bersaing seiring dengan adanya kebijakan penurunan suku bunga diperbankan konvensional. Kemudian dari sisi pembiayaan yang diberikan oleh perbankan syariah selama tahun 2009 mencapai nilai Rp 46,9 triliun, bertumbuh 22,74% (yoy) mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan pembiayaan tahun 2008 sebesar 36,70%. Walaupun demikian pertumbuhan penyaluran pembiayaan bank syariah lebih baik dibandingkan dengan kredit yang diberikan bank konvensional nasional yang hanya bertumbuh 9,96%. Jenis pembiayaan masih didominasi oleh murabahah yaitu sebesar 56,8%. (Laporan Perkembangan Perbankan Syariah Tahun 2009) Mohamad Hasyim Asy’ari (2004:4) menyatakan dalam tesisnya bahwa kinerja dan kelangsungan usaha bank yang berdasarkan pada prinsip syariah tergantung pada manajemen bank untuk menjaga kualitas terhadap penanaman dana (pembiayaan). Kualitas penanaman dana yang baik akan menghasilkan keuntungan, sehingga kinerja bank yang berdasarkan prinsip syariah akan menjadi baik. Sebaliknya jika kualitas penanaman dana bank buruk maka akan 4 membawa pengaruh menurunnya kinerja bank yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan usaha bank yang berdasarkan syariah. Memperhatikan fungsi pokok perbankan sebagai lembaga yang memiliki fungsi intermediasi keuangan/dana dan manfaat yang besar bagi sektor riil oleh karena itu peningkatan peranan perbankan sangat diperlukan untuk meningkatkan volume usaha sektor riil yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembiayaan merupakan indikator utama untuk perkembangan/pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah nasional, sehingga perlu dikaji faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi besarnya jumlah pembiayaan yang disalurkan kemasyarakat oleh perbankan syariah (Pratin dan Akhyar, 2005:35) Terkait kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan, tentunya bank syariah menghadap faktor pendukung dan faktor penghambat yang berasal dari internal ataupun eksternal. Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh adalah kondisi makroekonomi. Menurut Adiwarman Karim (2004) dalam Tony Hidayat (2007:2) pada teori bejana berhubungan mengungkapkan bahwa kebijakan moneter konvensional akan mempunyai pengaruh terhadap perbankan syariah misalnya tingkat suku bunga SBI. Ari Cahyono (2009) menemukan bahwa SBI berpengaruh negatif terhadap pembiayaan yang berarti bahwa setiap kenaikan suku bunga SBI akan menurunkan pembiayaan. 5 Kurs atau nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara terhadap negara lain. Oleh karena itu kurs merupakan salah satu alat pengukur kondisi makroekonomi terhadap suatu negara, sebab menunjukan kemampuan relatif perekonomian suatu negara terhadap negara lainnya. Pada saat ini barometer untuk mengukur kekuatan mata uang dunia adalah US Dollar (dolar Amerika). Rossar Maries (2008) dalam tesisnya membuktikan adanya pengaruh nilai tukar Rupiah terhadap pembiayaan yang disalurkan bank syariah. Inflasi menjadi salah satu indikator makroekonomi yang penting dalam perekonomian Indonesia. Inflasi sangat mempengaruhi aktivitas pelaku ekonomi baik itu di sektor riil ataupun di sektor keuangan seperti sektor perbankan maupun di sektor moneter. Gejolak inflasi yang signifikan akan mengganggu kestabilan perekonomian. Dampak adanya inflasi yang tinggi pun akan merugikan banyak golongan masyarakat diantaranya bagi dunia usaha, sebagai produsen barang dan jasa, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Namun bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi sehingga pada akhirnya akan merugikan produsen, maka produsen akan enggan untuk melanjutkan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu atau bahkan apabila tidak sanggup mengikuti laju inflasi produsen tersebut mengalami kerugian. Sehingga akan berdampak pada kinerja keuangannya secara umum. Dampak inflasi lebih lanjut akan menyebabkan tingginya risiko default. Risiko ini akan meningkatkan Non Performing Finance (NPF) perbankan syariah. 6 Jika pembiayaanya berdasarkan akad bagi hasil dimana jika pihak debitor mengalami kerugian usaha maka kerugian ini juga ditanggung oleh bank syariah (risk sharing) jika jenis pembiayaanya adalah akad jual beli (murabahah) maka tingginya inflasi akan menyebabkan produk pembiayaan syariah secara umum menjadi relatif lebih mahal. Tingginya risiko pembiayaan akan menyebabkan berkurangnya penyaluran pembiayaan bank syariah pada sektor riil. Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan kemampuan menghimpun dana masyarakat, baik berskala kecil maupun besar, dengan masa pengendapan yang memadai. Sebagai lembaga keuangan, maka dana merupakan masalah bank yang paling utama. Tanpa dana yang cukup, bank tidak dapat berbuat apa-apa, atau dengan kata lain, bank menjadi tidak berfungsi sama sekali. Menurut Muhammad (2005:52) pembiayaan yang disalurkan bank syariah sangat bergantung pada besaran dana yang tersedia, baik yang berasal dari pemilik berupa modal (sendiri, termasuk cadangan) serta dana dari masyarakat luas/Dana Pihak Ketiga (DPK). Jadi semakin besar funding suatu bank akan meningkatkan potensi bank yang bersangkutan dalam penyediaan pembiayaan. Permasalahan-permasalahan di atas mendorong minat penulis untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang memberi pengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan pada Bank Muamalat Indonesia. Dipilihnya Bank Muamalat Indonesia sebagai objek penelitian karena didasarkan oleh beberapa pertimbangan. Sebagaimana diketahui Bank Muamalat Indonesia adalah bank pertama murni syariah, dengan pola Islamic Banking Concept-nya, kini telah 7 menjadi trend dunia perbankan nasional maupun internasional, Bank Muamalat Indonesia yang menjalankan konsep bagi hasil yang fair dan nyata telah menggerakkan sektor riil dengan teruji, yakni dikala krisis ekonomi dan moneter melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997, Bank Muamalat Indonesia telah membuktikan ketangguhannya. Hal ini patut dibanggakan, karena disaat beberapa bank konvensional berguguran, Bank Muamalat Indonesia luput dari likuidasi, tidak terkena kasus BLBI, dan sama sekali tidak membebani BI sebagai bank rekap. Sejauh ini pertumbuhan kinerja bank syariah terbaik ini terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pertumbuhan aset tercatat sebesar 19,3 persen atau naik dari Rp 12,59 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 15,02 triliun pada tahun 2009. Selain itu, Bank Muamalat Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 21,84 persen dari Rp 10,07 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 12,27 triliun pada tahun 2009. Pertumbuhan tersebut juga dialami oleh pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 7,42 persen dari Rp 10,51 triliun di tahun 2008 menjadi Rp 11,29 triliun di 2009. Penelitian dilakukan pada Bank Muamalat Indonesia periode September 2003 sampai September 2009 dengan pertimbangan bahwa pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat terus mengalami peningkatan selama 6 tahun yakni dari tahun 2003 sampai dengan 2009. Pada bulan september 2003, jumlah pembiayaan yang telah disalurkan yaitu Rp 2,07 triliun sedangkan di akhir bulan September 2009 sejumlah Rp 11,28 triliun. 8 Melihat hal-hal diatas maka faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia yang perkembangannya makin cepat dengan demikian layak untuk diteliti. Jika tidak ada penelitian tentangnya dikhawatirkan pelaksanaan penyaluran pembiayaan Bank Muamalat Indonesia ke masyarakat yang sangat penting berkontribusi bagi perekonomian ini ketika terjadi kendala yang menghambat penyaluran pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia tidak dapat diketahui penyebab sebenarnya, sehingga tidak mampu untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi masalah yang ada. Tentunya hal ini sangat penting bagi jajaran manajemen dan pengurus bank untuk tetap menjaga kualitas penanaman dana (pembiayaan) yang baik. Dalam hal ini, peneliti mencoba mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi penyaluran pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Maka Peneliti memilih judul “Analisis Pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Studi Kasus Pada Bank Muamalat Indonesia”. 9 B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap Pembiayaan yang disalurkan. 2. Berapa pengaruh langsung dan tidak langsung Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap Pembiayaan yang disalurkan. C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka penelitian ini terutama bertujuan untuk: 1. Menganalisis pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan. 2. Menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan. D. Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ganda, yakni manfaat akademis maupun praktis. 1. Dari segi teoritis pada perspektif akademis, penelitian ini akan bermanfaat untuk: 10 a. Bagi peneliti untuk mendapatkan pengembangan dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh. b. Bagi civitas akademika dapat menambah informasi sumbangan pemikiran dan bahan kajian penelitian. 2. Kepentingan praktis hasil penelitian ini, bisa dipandang bermanfaat: a. Kalangan perbankan syariah sebagai bahan pertimbangan dalam rangka mengantisipasi berbagai eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi kinerja bank syariah b. Untuk memberikan informasi tambahan bagi investor dan masyarakat yang berkepentingan untuk menginvestasikan dananya di perbankan syariah. 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mengenal Bank Syariah 1. Pengertian Bank Syariah Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank Islam atau biasa disebut dengan Bank Tanpa Bunga, adalah lembaga keuangan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Dengan kata lain, bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan syariat Islam. (Muhammad, 2005: 1) 2. Falsafah Operasional Bank Syariah Setiap lembaga keuangan syariah, mempunyai falsafah mencari keridhaan Allah SWT untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama, harus dihindari. (Muhammad, 2000: 63). a. Menjauhkan diri dari unsur riba , caranya : 1) Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan dimuka secara pasti keberhasilan suatu usaha (QS. Luqman : 34); 2) Menghindar penggunaan sistem persentasi untuk pembebanan biaya terhadap hutang atau pemberian imbalan terhadap simpanan yang 12 mengandung unsur melipatgandakan secara otomatis hutang/simpanan tersebut hanya karena berjalannya waktu. (QS. Ali Imran : 130); 3) Menghindari penggunaan sistem perdagangan/penyewaan barang ribawi dengan imbalan barang ribawi lainnya dengan memperoleh kelebihan baik kuantitas maupun kualitas. (HR. Muslim, Bab Riba No. 1551 s/d 1567); 4) Menghindari penggunaan sistem yang menetapkan dimuka tambahan atas hutang yang bukan atas prakarsa yang mempunyai hutang secara sukarela. (HR. Muslim, Bab Riba No. 1569 s/d 1572) b. Menerapkan sistem bagi hasil dan perdagangan. Dengan mengacu pada QS. Al Baqarah ayat 275 dan QS. An Nisa ayat 29, maka setiap transaksi kelembagaan syariah harus dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uang dengan barang. Akibatnya pada kegiatan muamalah berlaku prinsip ada barang/jasa uang dengan barang, sehingga akan mendorong produksi barang/jasa, mendorong kelancaran arus barang/jasa, dapat dihindari adanya penyalahgunaan kredit, spekulasi, dan inflasi. (Muhammad, 2005: 3) 3. Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil Persoalan bunga bank yang disebut sebagai riba telah menjadi bahan perdebatan di kalangan pemikir dan fiqh Islam. Tampaknya kondisi ini tidak akan pernah berhenti sampai disini, namun akan terus diperbincangkan dari 13 masa ke masa. Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekarang umat Islam telah mencoba mengembangkan paradigma perekonomian lama yang akan terus dikembangkan dalam rangka perbaikan ekonomi umat dan peningkatan kesejahteraan umat. Realisasinya adalah berupa operasinya bank-bank Islam di pelosok bumi ini, dengan beroperasi tidak mendasarkan pada bunga, namun dengan sistem bagi hasil. Sistem bunga dan bagi hasil sekilas terlihat sama karena keduanya memberikan keuntungan bagi pemilik dana namun memiliki perbedaan yang sangat nyata. Muhamad Syafi’i Antonio (hal 60:2001) membedakan sistem bunga dan bagi hasil dilihat dari penentuan pada akad, besar persentase, pembayaran, jumlah pembayaran, dan eksistensinya pada beberapa keyakinan/agama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.1. 14 Tabel 2.1 Perbedaan Bunga Dan Bagi Hasil BUNGA BAGI HASIL Akad Penentuan bunga dibuat pada Penetuan besarnya waktu akad dengan asumsi harus rasio/nisbah bagi hasil dibuat selalu untung pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi Besar Besarnya presentase Besar presentase bagi hasil persentase berdasarkan pada jumlah uang berdasarkan jumlah (modal) yang dipinjamkan keuntungan yang diperoleh Mekanisme Pembayaran bunga tetap seperti Jumlah pembagian laba pembayaran yang dijanjikan tanpa meningkat sesuai dengan pertimbangan apakah proyek peningkatan jumlah yang dijalankan oleh pihak pendapatan nasabah untung atau rugi Jumlah Jumlah pembayaran bunga tidak Jumlah pembagian laba meningkat sekalipun jumlah meningkat sesuai dengan keuntungan berlipat atau peningkatan jumlah keadaan ekonomi booming pendapatan Eksistensi pada Eksistensi bunga diragukan oleh Tidak ada agama yang agama semua agama termasuk Islam meragukan bagi hasil Sumber : Muhamad Syafi’i Antonio (hal 60:2001) 4. Pembiayaan Dalam Bank Syariah Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. (Kasmir, 2002:93). 15 Menurut Muhammad Syafi’i Antonio (2003:160) pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Bentuk penyaluran dana atau pembiayaan yang dilakukan bank syariah dalam melaksanakan operasinya secara garis besar dapat dibedakan ke dalam 4 kelompok sebagai berikut : a. Prinsip jual beli b. Prinsip bagi hasil c. Prinsip sewa menyewa d. Prinsip pinjam-meminjam berdasarkan akad qardh. (Dahlan Siamat, 2005:423) a. Dalam penerapan prinsip syariah terdapat 3 jenis prinsip jual beli yang banyak dikembangkan oleh perbankan syariah dalam kegiatan pembiayaan modal kerja dan produksi, yaitu ba’i al murabahah, ba’i as-salam, dan ba’i al istishna. (Dahlan Siamat, 2005:423) 1) Murabahah adalah transaksi dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual sementara nasabah sebagai pembeli. (M. Arief Mufraini, 2008:41). 16 In brief, murabahah is a sale and purchase contract by stating the buying price of the transaction object, and the profit margin mutually agreed by both the seller and buyer. (Adiwarman A. Karim, 2005:113) Menurut Heri Sudarsono (2004:62) murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dengan nasabah. 2) Salam adalah pembelian barang yang diserahkan dikemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan dimuka. (Muhammad Syafi’i Antonio, 2001:108). Salam is a sale and purchase transaction whereby the project or property transaction is yet to exist. The object delivery is usually deffered, while the payment is made in chase. The bank as a seller, while the client a seller. At first blush, this seems to resemble a transaction of ijon (advance selling); however, under a salam transaction, the quantity, quality, price, and time of delivery must be fixed and predetermined. (Adiwarman A. Karim, 2005:99) 3) Istishna pada dasarnya merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang dengan pembayaran dimuka, baik dilakukan 17 dengan cara tunai, cicil, atau ditangguhkan. Untuk melaksanakan skim istishna kontrak dilakukan di tempat pembuat barang penerima pesanan dari pembeli. (Dahlan Siamat, 2005:426) Isthina’s products are smiliar to salam products exept that under the letter, payments by the bank can be made in several installments. Islamic banking under the istishna’s scheme is usually applicable in the financing of manufacturing and construction ventures. (Adiwarman A. Karim, 2005:100) b. Prinsip bagi hasil atau profit sharing dalam perbankan syariah terdiri dari empat jenis akad, yaitu : al-mudharabah, al-musyarakah, al-muzara’ah, dan al-musaqah. Namun yang banyak diimplementasikan dalam perbankan syariah adalah dua prinsip bagi hasil pertama, yaitu al-mudharabah dan almusyarakah. 1) Musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau keahlian dengan kesepakatan bahwa keuntungan dari resiko akan ditanggung sesuai dengan kesepakatan. (Muhammad Syafi’i Antonio, 2003:90). 18 Istilah lain musyarakah adalah syarikah atau syirkah. Secara etimologi syirkah berarti percampuran, yakni bercampurnya satu dari dua harta dengan harta lainnya tanpa dapat dibedakan antar keduanya. (Rahmat Syafei, 2001:183). Musyarakah transactions are based upon the desire of contracting parties to jointly increase the values of their assets. Musyarakah encompasses all forms of business undertaking whereby two or more parties combine resources, be it tangible or intangible assets alike. (Adiwarman A. Karim, 2005:102) 2) Mudharabah atau qiradh secara bahasa diambil dari kata al-qhardu yang berarti al-qath’u yang berarti potongan, sebab pemilik memberikan potongan dari hartanya untuk diberikkan kepada pengusaha agar menggunakan harta tersebut, dan pengusaha akan memberikan potongan dari laba yang diperoleh, sedangkan secara istilah mudharabah atau qiradh adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama atau pemilik dana menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. (Heri Sudarsono, 2004:95) Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal mempercayakan sejumlah modal kepada 19 pengelola dengan suatu perjanjian keuntungan. (M. Arief Mufraini, 2008:56) Mudharabah is a form of joint venture of two or more parties whereby the capital owner (shahib al-maal) entrusts capital to the manager (mudharib) under a profit sharing agreement. (Adiwarman A. Karim, 2005:103) Secara umum mudharabah ada dua, yaitu mudharabah muthlaqah dan mudharabah muqayyadah. Mudharabah muthlaqah yaitu bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis. Sedangkan mudharabah muqayyadah yaitu kerjasama antara shahibul maal dan mudharib dibatasi dalam jenis usaha, waktu dan tempat usaha. (Heri Sudarsono, 2004:97). c. Ijarah adalah perjanjian antara pemilik barang dan penyewa yang membolehkan penyewa untuk memanfaatkan barang tersebut dengan membayar sewa sesuai dengan persetujuan bersama. Persetujuan ini termasuk pula jangka waktu pembayaran dan jumlah angsuran. (Herman Darmawi, 2006:82). 20 Basically, ijarah is defined as the right to utilize a product or service by means of paying certain compensation. (Adiwarman A. Karim, 2005:136). d. Bank Indonesia mendefinisikan qardh sebagai penyediaan dana atau tagihan antara bank syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam melakukan pembayaran sekaligus atau secara cicilan dalam jangka waktu tertentu. (Dahlan Siamat, 2005:432). B. Dana pihak ketiga Penghimpunan dana masyarakat yang dilakukan oleh bank yang biasa disebut Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasional bank. Dana pihak ketiga ini relatif lebih mudah dan dominan asalkan dapat memberikan bunga dan fasilitas yang menarik bagi masyarakat (Kasmir 2002:63). Pembagian simpanan pihak ketiga kedalam beberapa jenis dimaksudkan agar para penyimpanan memiliki pilihan sesuai dengan tujuan masing masing. Tiap pilihan mempunyai pertimbangan tertentu dan adanya suatu pengharapan yang ingin diperolehnya. Pengharapan yang ingin diperoleh dapat berupa keuntungan, kemudahan, dan keamanan (Kasmir, 2004:64). Menurut Zainul Arifin (2002:47) Bank syariah dapat menarik Dana Pihak Ketiga dari masyarkat dalam bentuk: 21 1. Titipan (Wadi’ah), yaitu simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan atau keuntungan; 2. Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi risiko (non guaranteed account) untuk investasi umum (general investment account/mudharabah mutlaqah) dimana bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dengan portofolio yang didanai dengan modal tersebut; 3. Investasi khusus (special investment account/mudharabah muqayyadah) dimana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk memperoleh fee; jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil risiko atas investasi tesebut. C. Modal inti Menurut Zainul Arifin (2002) secara tradisional, modal didefinisikan sebagai sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik dalam suatu perusahaan. Berdasarkan nilai buku, modal didefinisikan sebagai kekayaan bersih (net worth) yaitu selisih antara nilai buku dan aktiva dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban (liabilities). Pada suatu bank, sumber perolehan modal bank dapat diperoleh dari beberapa sumber. Pada awal pendirian, modal bank diperoleh dari para pendiri dan para pemegang saham. Pemegang saham menempatkan modalnya pada bank dengan memperoleh hasil keuntungan di masa yang akan datang. 22 Sri Sulad Hardanto (2006:8) modal adalah investasi dari pemegang saham bank, dan dapat diukur dari nilai yang tercatat dineraca. Modal yang mencukupi merupakan sumber daya yang penting bagi bank untuk memastikan solvency. Modal bank adalah satu-satunya sumber dana yang dapat menyerap kerugian karena tidak harus dibayar kembali. Rimsky K Judisseno (2005:131) Modal inti adalah modal sendiri, yaitu dana yang berasal dari para pemegang saham bank, yakni pemilik bank. Pada umumnya dana modal inti terdiri dari : 1. Modal yang disetor oleh para pemegang saham; sumber utama dari modal perusahaan adalah saham. Sumber dana ini hanya akan timbul apabila pemilik menyertakan dananya pada bank melalui pembelian saham, dan untuk penambahan dana berikutnya dapat dilakukan oleh bank dengan mengeluarkan dan menjual tambahan saham baru. 2. Agio saham, selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya. 3. Modal sumbangan, adalah modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dan harga jual apabila saham tersebut dijual. Modal yang berasal dari donasi pihak luar yang diterima oleh bank yang berbentuk hukum koperasi juga termasuk dalam pengertian modal sumbangan. 23 D. Inflasi 1. Definisi Inflasi Menurut Sadono Sukirno (2004:27) inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum berlaku dalam suatu perekonomian dari suatu periode ke periode lainnya, sedangkan tingkat inflasi adalah presentasi kenaikan harga-harga pada suatu tahun tertentu berbanding dengan tahun sebelumnya. Menurut Husein Umar (2008:97) inflasi adalah tingkat kenaikan harga umum secara terus menerus dalam periode tertentu, Menurut Muana Nanga (2005), inflasi adalah suatu gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus-menerus. Inflasi adalah suatu keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil mata uang suatu negara. (Khalwaty, 2000:5). Dari definisi tersebut, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, yaitu sebagai berikut: a. Kenaikan Harga Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi daripada harga periode sebelumnya. Perbandingan tingkat harga bisa dilakukan dengan jarak waktu yang lebih panjang: seminggu, sebulan, triwulan, dan setahun. b. Bersifat Umum Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga-harga secara umum juga 24 mangalami kenaikan. Contohnya adalah kenaikan harga BBM, karena BBM merupakan komoditas yang sangat strategis maka kenaikan harga BBM akan merdampak kepada kenaikan harga komoditas lainnya. Bahkan kenaikan BBM akan mengundang kaum buruh menuntut kenaikan upah harian untuk memelihara daya beli mereka c. Berlangsung Terus-Menerus Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadinya hanya sesaat. Oleh karena itu, perhitungan inflasi minimal dilakukan dalam rentang waktu bulanan. Sebab dalam waktu sebulan akan terlihat apakah kenaikan harga tersebut bersifat umum dan terus-menerus. Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya hargaharga secara umum dan terus-menerus. Dengan kata lain, inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara terus-menerus. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. (Wikipedia, 2007). 2. Jenis-jenis Inflasi Berdasarkan derajatnya, inflasi dibedakan menjadi sebagai berikut: 25 a. Inflasi ringan, terjadi apabila kenaikan harga berada dibawah angka 10% setahun. b. Inflasi sedang, terjadi apabila kenaikan harga berada antara 10%-30% setahun. c. Inflasi berat, terjadi apabila kenaikan harga berada antara 30%-100% setahun. d. Hiperinflasi (inflasi tak terkendali), terjadi apabila berada di atas 100% setahun. Berdasarkan kepada sumber atau penyebabnya kenaikan harga-harga berlaku, inflasi biasanya dibedakan kepada tiga bentuk berikut: a. Inflasi Tarikan Permintaan Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa. Pengeluaran-pengeluaran yang berlebihan ini akan menimbulkan inflasi. b. Inflasi Desakan Biaya Kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan dalam biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga bahan mentah atau kenaikan upah. Inflasi ini terurtama berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan-perusahaan masih menghadapi permintaan yang bertambah, 26 mereka akan berusaha menaikkan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerjaan baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang. c. Inflasi Diimpor Kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang impor yang digunakan sebagai bahan mentah produksi dalam negeri. Inflasi ini akan ada apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran-pengeluaran perusahaan. 3. Efek Buruk Inflasi Menurut Sadono Sukirno (2004: 338), efek-efek buruk dari inflasi yaitu sebagai berikut : a. Inflasi dan perkembangan ekonomi Inflasi yang tinggi tingkatnya akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus menerus naik menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Investasi produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi akan menurun. Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud. 27 Kenaikan harga-harga juga menimbulkan efek buruk pula ke atas perdagangan. Kenaikan harga menyebabkan barang-barang negara itu tidak dapat bersaing di pasaran internasional, selanjutnya ekspor akan menurun. Sebaliknya, harga-harga produksi dalam negeri yang semakin tinggi sebagai akibat inflasi menyebabkan barang-barang impor relatif murah, maka lebih banyak impor yang dilakukan. Ekspor yang menurun dan diikuti oleh impor yang bertambah menyebabkan ketidakseimbangan dalam aliran mata uang asing. Kedudukan neraca pembayaran akan memburuk. b. Inflasi dan kemakmuran rakyat Disamping menimbulkan efek buruk ke atas kegiatan ekonomi, inflasi juga akan menimbulkan efek-efek terhadap individu dan masyarakat. c. Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap. Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga. Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu-individu yang berpendapatan tetap. Sehingga daya beli masyarakat juga akan menurun. d. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang. Simpanan di bank, simpanan tunai, dan simpanan dalam institusi-institusi keuangan lain merupakan simpanan keuangan. Nilai riinya akan menurun apabila inflasi berlaku. e. Memperburuk pembagian kekayaan 28 Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik kekayaan bersifat keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya. Juga sebagian penjual/pedagang dapat mempertahankan nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan pembagian pendapatan diantara golongan berpendapat tetap dengan pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/pedagang akan menjadi semakin tidak merata 4. Kebijakan untuk Mengatasi Inflasi Sadono Sukirno (2004:354) Kebijakan yang mungkin dilakukan pemerintah untuk mengatasi inflasi yaitu: a. Kebijakan fiskal, yaitu dengan menambah pajak dan mengurangi pengeluaran pemerintah. b. Kebijakan moneter, yaitu dengan menaikkan suku bunga dan membatasi kredit. c. Dari segi penawaran yaitu dengan melakukan langkah yang dapat mengurangi biaya produksi dan menstabilkan harga seperti mengurangi pajak impor dan pajak atas pajak atas bahan mentah, melakukan penetapan harga, menggalakkan pertambahan produksi dan perkembangan teknologi 29 E. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia 1. Suku Bunga Suku bunga merupakan salah satu variabel yang paling banyak diamati dalam perekonomian. Hampir setiap hari pergerakannya dilaporkan di surat kabar. Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004) Bunga adalah pembayaran yang dilakukan untuk penggunaan uang. Suku bunga adalah jumlah bunga yang dibayarkan per unit waktu yang disebut sebagai persentase dari jumlah yang dipinjamkan. Menurut Sadono Sukirno (2004:103) Suku bunga adalah Persentasi pendapatan yang diterima oleh para penabung dari tabungan uang yang disisihkanya. Dan merupakan persentasi pendapatan yang harus dibayar oleh para peminjam dana. Dari beberapa pendapat ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa suku bunga adalah suatu harga atau biaya yang diberikan peminjam atau pihak yang memiliki kekurangan dana kepada pihak yang meminjamkan dana atau memiliki kelebihan dana atas penggunaan dana tersebut pada jarak waktu tertentu. Dengan kata lain, orang yang diberi kesempatan meminjam harus membayar biaya atas pinjamannya tersebut. Biaya peminjaman, diukur dalam rupiah per tahun per Rupiah yang dipinjam, adalah suku bunga. Jumlah pinjaman yang diberikan disebut principal dan harga yang dibayar biasanya diekspresikan sebagai presentase dari prinsipal per unit waktu 30 (umumnya, setahun). Dalam bagian ini, dibahas dua teori penentuan suku bunga yang paling berpengaruh yaitu: teori Fisher, yang mendasari loanable funds theory, dan liquidity preference theory dari Keynes. a. Pendekatan Klasik Fisher Irving Fisher telah menganalisis penentuan tingkat suku bunga dalam ekonomi dengan mempelajari mengapa orang-orang menabung (mengapa mereka tidak mengkonsumsi semua sumber daya mereka) dan mengapa orang lain yang meminjam. Di sini dibahas teori Fisher dalam konteks sebuah perekonomian yang sangat sederhana. Perekonomian tersebut hanya terdiri dari para individu yang melakukan konsumsi dan menabung penghasilan berjalan mereka, perusahaan-perusahaan yang meminjam penghasilan yang tidak dikonsumsi dan berinvestasi;suatu pasar tempat di mana para penabung memberi pinjaman sumber daya kepada para peminjam, dan proyek-proyek tempat perusahaan berinvestasi. Suku bunga atas pinjaman tersebut tidak mengandung premi bagi risiko kegagalan (default risk) karena perusahaan-perusahaan peminjam diasumsikan akan mampu memenuhi semua kewajibannya. (Sadono Sukirno, 2004: 204) b. Pendekatan Keynes Keynes menantang pandangan ekonom klasik, bahwa tingkat bunga tidak menentukan besar kecilnya investasi maupun tabungan masyarakat. Tabungan dan investasi menurut Keynes ditentukan dan dipengaruhi 31 secara langsung oleh tingkat pendapatan masyarakat itu sendiri. Terutama untuk tabungan, menurut Keynes, orang akan menabung jika orang tersebut memiliki kelebihan uang (marginal prospensity to save) yaitu pendapatannya di atas kebutuhan konsumsinya. Sehingga Keynes yakin bahwa bunga bukanlah faktor utama dalam menentukan tingkat tabungan masyarakat. Demikian juga halnya dengan investasi, Keynes berkeyakinan bahwa bunga bukanlah faktor utama dalam menentukan tingkat investasi, walaupun diakui bahwa adalah salah satu pertimbangan untuk investasi adalah tingkat bunga. (Rimsky K Judisseno, 2005: 83) 2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Sertifikat bank Indonesia atau SBI pada prinsipnya adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dan diperjualbelikan dengan diskonto. SBI pertama kali diterbitkan pada tahun 1970 dengan sasaran utama untuk menciptakan suatu instrument pasar uang yang hanya diperdagangkan antar bank. Namun setelah dikeluarkannya kebijakan yang memperkenankan bank-bank menerbitkan sertifikat deposito pada tahun 1971, dengan terlebih dahulu memperoleh izin dari bank Indonesia, maka SBI tidak lagi diterbitkan karena sertifikat deposito dianggap akan dapat menggantikan SBI. Oleh karena itu, SBI sebenarnya hanya sempat beredar kurang lebih satu tahun. Namun sejalan dengan berubahnya pendekatan kebijaksanaan moneter pemerintah terutama setelah deregulasi perbankan 1 juni 1983, maka bank 32 Indonesia kembali menerbitkan SBI sebagai instrument operasi pasar terbuka, terutama untuk tujuan kontraksi moneter.(Dahlan Siamat:2004) F. Nilai Tukar Rupiah Menurut Adiwarman A. Karim (2006:157) exchange rates (nilai tukar uang) atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan kurs mata uang adalah catatan (quatation) harga pasar dari mata uang asing (foreign currency) dalam harga mata uang domestik (domestic currency) atau resiprokalnya, yaitu harga mata uang domestik dalam mata uang asing. Nilai tukar uang merepresentasikan tingkat harga pertukaran dari satu mata uang ke mata uang lainnya dan digunakan dalam berbagai transaksi, antara lain transaksi perdagangan internasional, turisme, investasi internasional, ataupun aliran uang jangka pendek antar negara, yang melewati batas-batas geografis ataupun batas-batas hukum. Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004) Nilai Tukar valuta asing adalah harga satu satuan mata uang dalam satuan mata uang lain. Menurut Gregorie Mankiew (2007) Exchange rate is the rate at which a country makes exchanges in world markets. Menurut Kuncoro (2008) Kurs rupiah adalah nilai tukar sejumlah rupiah yang diperlukan untuk membeli satu US$ (US Dollar). Menurut Sadono Sukirno (2004:397) kurs (nilai tukar) valuta asing adalah Jumlah uang domestik yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yang dibutuhkan, untuk memperoleh satu unit mata uang asing. 33 Nilai tukar suatu mata uang didefinisikan sebagai harga relatif dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Menurut Bank Indonesia (2003) pada dasarnya terdapa tiga system nilai tukar, yaitu: 1. Fixed exchange rate (sistem nilai tukar tetap) 2. Managed floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang terkendali) 3. Floating exchange rate (sistem nilai tukar mengambang) Pada sistem nilai tukar tetap, nilai tukar atau kurs suatu mata uang terhadap mata uang lain ditetapkan pada nilai tertentu, misalnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika adalah Rp 8000 per dolar. Pada nilai tukar ini bank sentral akan siap untuk menjual atau membeli kebutuhan devisa untuk mempertahankan nilai tukar yang ditetapkan. Apabila nilai tukar tersebut tidak lagi dapat dipertahankan, maka bank sentral dapat melakukan devaluasi atau revaluasi atas nilai tukar yang ditetapkan. Pada sistem nilai tukar mengambang, nilai tukar dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Dengan demikian, nilai tukar akan menguat apabila terjadi kelebihan penawaran diatas permintaan, dan sebaliknya nilai tukar akan melemah apabila terjadi kelebihan permintaan diatas penawaran yang ada dipasar valuta asing. Selain kedua sistem nilai tukar tersebut diatas, terdapat variasi system nilai tukar diantara keduanya, seperti nilai tukar mengambang terkendali. Dalam nilai 34 tukar mengambang terkendali ini, nilai tukar ditentukan sesuai dengan mekanisme pasar sepanjang dalam intervention band yang ditetapkan bank sentral. G. Penelitian Terdahulu Pratin dan Akhyar Adnan (2005) meneliti tentang Analisis Hubungan Simpanan, Modal Sendiri, Non Performing Finance, Persentase Bagi Hasil dan Mark up Keuntungan terhadap Pembiayaan pada Perbankan Syariah Studi Kasus pada Bank Syariah Mandiri (BSM). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan simpanan, modal sendiri, NPF, persentase bagi hasil dan markup keuntungan perbankan syariah. Perhitungan dan terhadap besarnya pembiayaan pada interpretasi dari analisis data dilakukan dengan bantuan program aplikasi komputer. Pengujian hipotesis menggunakan metode analisis uji-t. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah simpanan mempunyai hubungan positif dan signifikan terhadap pembiayaan sementara variabel yang lain tidak mempunyai hubungan yang signifikan. Rosaar Maries (2008) meneliti mengenai dampak fluktuasi variabel ekonomi makro terhadap DPK yang dihimpun dan penyaluran pembiayaan pada perbankan syariah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur respon yang ditimbulkan oleh fluktuasi variabel-variabel ekonomi makro terhadap DPK yang dihimpun dan pembiayaan yang disalurkan. Data-data yang digunakan adalah data time series dari 2003-2007 yang berasal dari statistik perbankan syariah dan statistik ekonomi Indonesia. Metode yang digunakan adalah vector 35 autoregression (VAR). Metode ini umumnya digunakan untuk mempelajari dinamika variabel tertentu setelah terjadi shock atau perubahan pada perekonomian. Analisis yang lebih ditekankan pada penelitian ini adalah impuls response function dan varance decomposition. Kedua analisis tesebut berguna untuk mempelajari perilaku shock suatu variabel dan variabel manakah yang paling dominan menjelaskan variabel yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing variabel mempunyai pengaruh yang kecil terhadap DPK yang dihimpun dan pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syariah. Dan masing-masing variabel ekonomi makro tidak mempunyai pengaruh yang dominan terhadap DPK yang dihimpun dan pembiayaan yang disalurkan. Nurhayati Siregar (2005) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran dana perbankan syariah. Sebagaimana pengalaman bank konvensional ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyaluran dana yakni Dana Pihak Ketiga (DPK), Bonus SWBI, dan Pembiayaan bermasalah/ Non Performing Financing (NPF). Dengan menggunakan analisis regresi, penelitian ini menunjukan bahwa variabel bonus SWBI berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap penyaluran dana. Artinya, bila bonus SWBI naik maka bank syariah tidak membeli SWBI tetapi tetap menyalurkan dananya kemasyarakat. Sementara variabel DPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran dana. Artinya kenaikan DPK akan menyebabkan naiknya penyaluran dana bank syariah dan sebaliknya penyaluran dana akan turun bila jumlah DPKnya akan turun. Variabel NPF ditemukan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap 36 penyaluran dana. Artinya kenaikan NPF akan menyebabkan penyaluran dana berkurang atau sebaliknya menurunnya jumlah NPF akan menaikan jumlah penyaluran dana bank syariah kepada masyarakat. Luh Gede Meydianawathi (2007) meneliti tentang Analisis Perilaku Penawaran Kredit Perbankan Kepada Sektor UMKM di Indonesia (2002--2006). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh beberapa variabel terhadap penawaran kredit investasi dan modal kerja bank umum secara parsial dan serempak kepada sektor UMKM di Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah ordinary least square, dilanjutkan dengan uji signifikansi secara parsial dan serempak melalui uji t dan uji F. Hasil penelitian dalam kurun waktu Januari 2002 - Pebruari 2006 memperoleh simpulan sebagai berikut. Pertama, pulihnya kepercayaan terhadap sistem perbankan dengan adanya program penjaminan pemerintah telah mendorong kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK). Selain itu, program rekapitalisasi perbankan mampu mengatasi permasalahan modal dan rentabilitas bank (yang tercermin dalam rasio CAR dan ROA) serta non performing finance (NPFs) yang berhasil ditekan telah meningkatkan kemampuan bank umum dalam menyalurkan kredit investasi dan modal kerja kepada sektor UMKM di Indonesia. Kedua, secara serempak variabel-variabel DPK, ROA, CAR, dan NPFs berpengaruh nyata dan signifikan terhadap penawaran kredit investasi dan kredit modal kerja bank umum kepada sektor UMKM di Indonesia. Ketiga, secara parsial variabel DPK, ROA, dan CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap penawaran kredit investasi dan modal kerja bank umum 37 kepada sektor UMKM di Indonesia. Sebaliknya, NPFs berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penawaran kredit investasi dan modal kerja Bank Muamalat Indonesia kepada sektor ini. Francisca (2008) meneliti tentang Pengaruh Faktor Internal Bank terhadap Volume Kredit pada Bank yang Go Public di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor internal bank untuk volume kredit perbankan yang go public di Indonesia. Penelitian ini menggunakan faktor-faktor internal bank sebagai variabel independen dan volume kredit sebagai variabel dependen. Faktor-faktor internal bank diukur dengan dana pihak ketiga (X1), rasio kecukupan modal (X2), pengembalian aset (X3) dan non performing finance (X4). Penelitian ini menggunakan metode asosiatif. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi antara penampang dan time series bahwa dari 3 tahun mendapat laporan tahunan dari 22 bank yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007. Metode analisis digunakan metode statistik yaitu regresi linear ganda, uji t dan F test. T tes digunakan untuk analisis parsial pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Uji F digunakan untuk analisis secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dana pihak ketiga dan laba atas aset memiliki pengaruh positif dan signifikan untuk volume kredit, hal itu menunjukkan, dari mulai t arithmethic> t tabel (28.885> 1.999 dan 2.583> 1.999) dengan signifikansi 0.000 dan 0,12 yang kecil dari 0,05. Rasio kecukupan modal (CAR) yang positif dan tidak signifikan mempengaruhi volume kredit, hal itu 38 menunjukkan dari t arithmethic> t tabel (0.727 <1.999) dengan signifikansi 0.470> 0,05. Non performing finance (NPF) telah negatif dan tidak signifikan mempengaruhi volume kredit, hal itu menunjukkan dari t arithmethic> t tabel (1.706 <1.999) dengan signifikansi 0.093> 0,05. Hasil uji F menunjukkan F arithmethic> F tabel dengan signifikansi 0.000 <0,05. Dari hasil analisis, dapat mengambil kesimpulan bahwa dana pihak ketiga, rasio kecukupan modal, laba atas aset dan Non Performing Finance memiliki pengaruh simultan volume kredit. Ari Cahyono (2009) meneliti tentang Pengaruh Indikator Makroekonomi Terhadap Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan Bank Syariah Mandiri. Penelitian ini bertujuan utuk menganalisa pengaruh indikator makroekonomi (suku bunga SBI, kurs, inflasi, IHSG dan PDB) terhadap Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan Bank Syariah Mandiri. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa indikator makroekonomi memberikan pengaruh terhadap DPK dan Pembiayaan Bank Syariah Mandiri, dimana suku bunga SBI memberikan pengaruh negatif, sedangkan inflasi, kurs, IHSG dan PDB memberikan pengaruh yang positif. Berdasarkan penelitian dengan metode yang sama menunjukkan bahwa PDB memberikan pengaruh positif yang paling besar terhadap Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan Bank Syariah Mandiri. 39 G. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran merupakan suatu proses dari peneliti memperoleh data kemudian mengolah data tersebut dan menginterprestasikan hasil data yang telah diolah. Penelitian ini didasarkan atas penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya dengan penambahan beberapa variabel dan metode penelitian yang berbeda. Setelah peneliti mengumpulkan beberapa jurnal, skripsi dan tesis, peneliti mengambil beberapa variabel dari penelitian terdahulu kemudian membuat paradigma penelitian yang berbeda dimana pada penelitian ini menggunakan path analysis. Setelah menentukan judul dan metode analisis, peneliti mengumpulkan datadata dari variabel-variabel yang akan diteliti. Objek yang akan diteliti merupakan salah satu dari kelompok jenis bank umum syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Variabel yang diteliti adalah Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs), Inflasi dan pembiayaan yang disalurkan (PYD). Dalam penelitian ini yang akan menjadi variabel eksogen adalah Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs), dan Inflasi. Sedangkan yang akan menjadi variabel endogen adalah pembiayaan yang disalurkan (PYD). Sumber data variabel-variabel penelitian diperoleh dari website Bank Indonesia yakni dari Statistik Perbankan Syariah dan Statistik Keuangan Indonesia. Data variabel suku bunga SBI, nilai tukar rupiah, dan inflasi 40 didapatkan dari Statistik Keuangan Indonesia. Sedangkan untuk variabel modal inti, DPK, dan pembiayaan yang disalurkan diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah. Sebelum melakukan analisis, peneliti merubah variabel Modal Inti, Dana Pihka Ketiga, SBI, Kurs dan Pembiayaan yang Disalurkan ke dalam bentuk Ln agar angka nominal variabel tersebut tidak terlalu besar. Menurut Jonathan Sarwono (2007) langkah awal yang diperlukan adalah menentukan struktur persamaan linier dari paradigma penelitian yang telah dibentuk. Setelah memperolah struktur persamaan dapat dilanjutkan dengan melakukan penelitian menggunakan analisis jalur. Kemudian data diolah dengan menggunakan Software SPSS 17. Dari output tersebut dapat dianalisa korelasi, besarnya R Square, besarnya pengaruh antara variabel independent terhadap variabel dependent, serta pengaruh langsung dan tidak langsung. Setelah melakukan analisis tersebut peneliti dapat mengambil kesimpulan dan implikasi dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Berikut ini adalah gambaran mengenai kerangka berfikir yang peneliti bentuk secara sederhana untuk menjelaskan proses penelitian ini. 41 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Bank Indonesia Kebijakan Moneter SBI Nilai Tukar Rupiah Bank Muamalat Indonesia DPK INFLASI Modal Inti Pembiayaan Analisis Jalur Koefisien Determinasi Uji F Uji t Hubungan langsung dan tidak langsung Interpretasi 42 H. Hipotesis Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka hipotesisis yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H0: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan. Ha: Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan. 43 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Dalam penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kuantitatif karena dalam penelitian ini peneliti akan menghitung seberapa besar pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan. Penelitian ini dilakukan pada Bank Muamalat Indonesia periode 2003:09-2009:9. B. Metode Penentuan Sampel Dalam penelitian ini penulis menggunakan convience sampling, yaitu anggota sampel yang dipilih berdasarkan kemudahan memperoleh data dan tidak menyusahkan mengukurnya serta bersifat kooperatif. (Abdul Hamid, 2007:30). C. Metode Pengumpulan Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berasal dari literatur-literatur/sumber lain dari dalam maupun luar Bank Muamalat Indonesia (BMI), sedangkan teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain (sudah tersedia) dan digunakan untuk penelitian lain. Data tersebut berupa laporan keuangan bulanan Bank Muamalat Indonesia (BMI) periode Bulan September tahun 44 2003 hingga Bulan September tahun 2009 yang dipublikasikan di Bank Indonesia. 2. Library Research Merupakan teknik pengumpulan data yang dilengkapi pula dengan membaca dan mempelajari serta menganalisis literature yang bersumber dari buku-buku dan jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Hal ini dilakukan untuk mendapat landasan teori dan konsep yang tersusun. Penulis melakukan penelitian dengan membaca, mengutip bahan-bahan yang berkenaan dengan penelitian. D. Metode Analisis Metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur dengan menggunakan Software SPSS 17.0. Menurut Jonathan Sarwono (2007:1), teknik analisis jalur yang dikembangkan oleh Scwall Wright di tahun 1934, bertujuan untuk menerangkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variabel, sebagai variabel penyebab terhadap variabel lainnya yang merupakan variabel akibat. Analisis jalur merupakan pengembangan dari analisis regresi, sehingga analisis regresi dapat dikatakan sebagai bentuk khusus dari analisis jalur. Analisis jalur digunakan untuk melukiskan dan menguji model hubungan antara variabel yang berbentuk sebab akibat (bukan bentuk hubungan interaktif). Dengan demikian dalam model hubungan antar variabel independen yang disebut variabel Eksogen, dan variabel dependen yang disebut variabel Endogen. 45 Dilihat dari paradigma penelitian maka dapat diperoleh struktur linier sebagai berikut: Y= YX1X1 + YX2X2 + YX3X3 + YX4X4+ YX5X5 + Dimana: Y = Pembiayaan Yang Disalurkan X1 = Modal Inti (MI) X2 = Dana Pihak Ketiga (DPK) X3 = Suku Bunga SBI X4 = Nilai Tukar Rupiah (Kurs) X5 = Inflasi = Error 1. Koefisien Determinasi (R Square) Koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar variabel independent menjelaskan variabel dependent. Bila nilai koefisien determinasi sama dengan 0 (R2 = 0), artinya variasi dari Y tidak dapat diterangkan oleh X sama sekali. Sementara apabila R2 = 1, artinya variasi dari Y secara keseluruhan dapat diterangkan oleh X. Dengan kata lain bila R2 = 1, maka semua titik pengamatan berada tepat pada garis regresi. 46 2. Uji F (Uji Secara Simultan) Uji F dilakukan untuk melihat kemaknaan dari hasil model regresi tersebut. Bila nilai F hitung lebih besar dari F tabel atau tingkat signifikannya lebih kecil dari 5% ( = 5% = 0,05) maka hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel eksogen (Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal Inti, Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi) terhadap variabel-variabel endogen (pembiayaan yang disalurkan) secara simultan. Untuk menghitung F hitung digunakan rumus sebagai berikut: F= R2 / 2 1 − R 2 / (n − k −1 ) ( ) Keterangan : R2 = Koefisien Determinasi n = Jumlah pengamatan/sampel K-1 = Jumlah variabel eksogen Untuk menguji pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat, maka digunakan kriteria sebagai berikut : Uji F struktur : a. Kriteria pengambilan keputusan t penelitian dengan t tabel : 1) Jika F penelitian < dari F tabel maka H0 diterima. Artinya Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal Inti, Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) 47 dan Inflasi secara simultan tidak berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. 2) Jika F penelitian > dari F tabel maka Ha diterima. Artinya Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal Inti, Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi secara simultan berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. b. Kriteria pengambilan keputusan probabilitas (signifikansi) dengan 1) Jika probabilitas > dari 0.05: 0.05 maka H0 diterima. Artinya Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi secara simultan tidak berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. 2) Jika probabilitas < dari 0.05 maka H0 ditolak. Artinya Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi secara simultan berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. 3. Uji t (Uji Secara Parsial) Uji t digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen secara parsial. Bila t tabel hitung lebih besar atau lebih kecil dari t atau nilai signifikan lebih kecil dari 5% ( = 5% = 0,05) maka Ho ditolak H1 diterima yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel eksogen terhadap variabel endogen. 48 Untuk menghitung t hitung digunakan rumus sebagai berikut: t hitung = bi sb Keterangan : bi = koefisien variabel ke i sb = kesalahan standar sb adalah kesalahan standar error dari koefisien regresi dengan rumus matematis sebagai berikut: se sb = 3 x − ( x) 2 n se adalah standar error sampel yang dirumuskan sebagai berikut: se = Dimana e2 n−2 e2 dirumuskan sebagai berikut: e2 = Y2 −a Y −b xY Untuk menguji pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat, maka digunakan kriteria sebagai berikut : Uji t struktur : a. Kriteria pengambilan keputusan t penelitian dengan t tabel : 49 1) Jika t penelitian < t tabel, maka H0 diterima. Artinya Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial tidak berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. 2) Jika t penelitian > t tabel, maka H0 ditolak. Artinya Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. b. Kriteria pengambilan keputusan probabilitas (signifikansi) dengan 1) Jika probabilitas > 0.05: 0.05, maka H0 diterima. Artinya Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial tidak berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. 2) Jika probabilitas < 0.05, maka H0 ditolak. Artinya Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial berpengaruh terhadap pembiayaan yang disalurkan. 4. Hubungan Langsung dan Tidak Langsung Analisis ini digunakan untuk melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogen dengan variabel endogen. Menghitung besarnya pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dapat dilakukan dengan rumus: • Besarnya pengaruh langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen = (Pxuxi) x (Pxuxi) 50 • Besarnya pengaruh tidak langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen = (Pxuxi) x (rxuxi) x (Pxuxi) (Sambas Ali Muhidin dan Maman Abdurrahman,2007:236) E. Operasional Variabel Penelitian 1. Variabel Endogen Pembiayaan yang disalurkan (Y), Pembiayaan atau financing, adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang direncanakan. (Muhammad, 2005 : 17) 2. Variabel Eksogen a. Modal Inti (X1) Menurut Zainul Arifin (2002) secara tradisional, modal didefinisikan sebagai sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik dalam suatu perusahaan. Berdasarkan nilai buku, modal didefinisikan sebagai kekayaan bersih (net worth) yaitu selisih antara nilai buku dan aktiva dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban (liabilities). Pada suatu bank, sumber perolehan modal bank dapat diperoleh dari beberapa sumber. Pada awal pendirian,modal bank diperoleh dari para pendiri dan para pemegang saham. Pemegang saham menempatkan modalnya pada bank dengan memperoleh hasil keuntungan di masa yang akan datang. Data Modal Inti 51 yang digunakan adalah jumlah Modal Inti pada Bank Muamalat Indonesia periode Setember 2003 – September 2009. Data tersebut diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah pada situs www.bi.go.id. b. Dana Pihak Ketiga (DPK) (X2) Pada dasarnya dana pihak ketiga adalah dana yang diperoleh bank dari masyarakat. Dana Pihak Ketiga yang ditarik bank syariah dapat berbentuk (Zainul Arifin, 2006 : 48): 1) Titipan (wadiah) simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan atau keuntungan. 2) Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed account untuk investasi umum (general investment account/ mudharabah mutlaqah) di mana bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dengan porofolio yang didanai dengan modal tersebut. 3) Investasi khusus (special investment account/mudharabah muqayyadah) di mana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk memperoleh fee. Jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil resiko atas investasi. c. Suku Bunga SBI (X3) Sertifikat Bank Indonesia surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) 52 dengan sistem diskonto/bunga. Data variabel ini diambil dati statistik ekonomi dan keuangan yang terdapat pada web resmi Bank Indonesia. d. Nilai Tukar Rupiah (X4) Nilai tukar suatu mata uang didefinisikan sebagai harga relatif dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Data variabel ini diambil dati statistik ekonomi dan keuangan yang terdapat pada web resmi Bank Indonesia. e. Inflasi (X5) Menurut Sukirno (2004:27) inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum berlaku dalam suatu perekonomian dari suatu periode ke periode lainnya, sedangkan tingkat inflasi adalah presentasi kenaikan harga-harga pada suatu tahun tertentu berbanding dengan tahun sebelumnya. Data inflasi yang digunakan adalah perkembangan inflasi per bulan periode september 2003 – September 2009. Data tersebut diperoleh dari situs www.bi.go.id. 53 BAB IV HASIL & PEMBAHASAN A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian PT Bank Muamalat Indonesia Tbk didirikan pada 24 Rabius Tsani 1412 H atau 1 Nopember 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada 27 Syawal 1412 H atau 1 Mei 1992. Dengan dukungan nyata dari eksponen Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha Muslim, pendirian Bank Muamalat juga menerima dukungan masyarakat, terbukti dari komitmen pembelian saham Perseroan senilai Rp 84 miliar pada saat penandatanganan akta pendirian Perseroan. Pada tanggal 27 Oktober 1994, hanya dua tahun setelah didirikan, Bank Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa. Pengakuan ini semakin memperkokoh posisi Perseroan sebagai bank syariah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa maupun produk yang terus dikembangkan. Pada akhir tahun 1990, Indonesia dilanda krisis moneter yang memporak porandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Sektor perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi. Bank Muamalat pun terimbas dampak krisis. Di tahun 1998, rasio pembiayaan macet (NPF) mencapai lebih dari 60%. Perseroan mencatat rugi sebesar Rp 105 miliar. Ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp 39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal setor awal. Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari 54 pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21 Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi Bank Muamalat. Dalam kurun waktu tersebut, Bank Muamalat berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba berkat upaya dan dedikasi setiap Kru Muamalat, ditunjang oleh kepemimpinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta ketaatan terhadap pelaksanaan perbankan syariah secara murni. Melalui masa-masa sulit ini, Bank Muamalat berhasil bangkit dari keterpurukan. Diawali dari pengangkatan kepengurusan baru dimana seluruh anggota Direksi diangkat dari dalam tubuh Muamalat, Bank Muamalat kemudian menggelar rencana kerja lima tahun dengan penekanan pada (i) tidak mengandalkan setoran modal tambahan dari para pemegang saham, (ii) tidak melakukan PHK satu pun terhadap sumber daya insani yang ada, dan dalam hal pemangkasan biaya, tidak memotong hak Kru Muamalat sedikitpun, (iii) pemulihan kepercayaan dan rasa percaya diri Kru Muamalat menjadi prioritas utama di tahun pertama kepengurusan Direksi baru, (iv) peletakan landasan usaha baru dengan menegakkan disiplin kerja Muamalat menjadi agenda utama di tahun kedua, dan (v) pembangunan tonggak-tonggak usaha dengan menciptakan serta menumbuhkan peluang usaha menjadi sasaran Bank Muamalat pada tahun ketiga dan seterusnya, yang akhirnya membawa Bank Muamalat ke era pertumbuhan baru memasuki tahun 2004 dan seterusnya. Saat 55 ini Bank Mumalat memberikan layanan bagi lebih dari 2,5 juta nasabah melalui 275 gerai yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Jaringan BMI didukung pula oleh aliansi melalui lebih dari 4000 Kantor Pos Online/SOPP di seluruh Indonesia, 32.000 ATM, serta 95.000 merchant debet. BMI saat ini juga merupakan satu-satunya bank syariah yang telah membuka cabang luar negeri, yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk meningkatkan aksesibilitas nasabah di Malaysia, kerjasama dijalankan dengan jaringan Malaysia Electronic Payment System (MEPS) sehingga layanan BMI dapat diakses di lebih dari 2000 ATM di Malaysia. Sebagai Bank Pertama Murni Syariah, bank muamalat berkomitmen untuk menghadirkan layanan perbankan yang tidak hanya comply terhadap syariah, namun juga kompetitif dan aksesibel bagi masyarakat hingga pelosok nusantara. Komitmen tersebut diapresiasi oleh pemerintah, media massa, lembaga nasional dan internasional serta masyarakat luas melalui lebih dari 70 award bergengsi yang diterima oleh BMI dalam 5 tahun Terakhir. Penghargaan yang diterima antara lain sebagai Best Islamic Bank in Indonesia 2009 oleh Islamic Finance News (Kuala Lumpur), sebagai Best Islamic Financial Institution in Indonesia 2009 oleh Global Finance (New York) serta sebagai The Best Islamic Finance House in Indonesia 2009 oleh Alpha South East Asia (Hong Kong). (www.bankmuamalatindonesia.com) 56 B. Penemuan dan Pembahasan 1. Analisis Deskriptif Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan bantuan Microsoft Excel 2003 dan Software SPSS 17.0 untuk dapat mengolah data dan memperoleh hasil dari variabel-variabel yang diteliti, yaitu terdiri dari variabel eksogen modal inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai tukar Rupiah dan Inflasi. Sedangkan variabel endogen, pembiayaan yang disalurkan. Penjelasan lebih lanjut sebagai berikut : a. Analisis Deskriptif Variabel Modal Inti Menurut Zainul Arifin (2002) secara tradisional, modal didefinisikan sebagai sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik dalam suatu perusahaan. Berdasarkan nilai buku, modal didefinisikan sebagai kekayaan bersih (net worth) yaitu selisih antara nilai buku dan aktiva dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban (liabilities). Pada suatu bank, sumber perolehan modal bank dapat diperoleh dari beberapa sumber. Pada awal pendirian, modal bank diperoleh dari para pendiri dan para pemegang saham. Pemegang saham menempatkan modalnya pada bank dengan memperoleh hasil keuntungan di masa yang akan datang. Data Modal Inti yang digunakan adalah jumlah Modal Inti pada Bank Muamalat Indonesia periode September 2003 – September 2009. Data tersebut diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah pada situs www.bi.go.id. 57 Tabel 4.1 Modal Inti Bulan 2003 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 274290 278208 Oktober November 278990 Desember 306188 (Sumber : data diolah) Modal Inti (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 859512 302224 372973 765562 851095 878583 285322 376121 767481 867848 325355 383028 776739 778298 1031271 884840 327453 351181 750805 783539 283308 674574 470658 896629 890643 307693 681150 706304 912619 1052749 820945 307896 686027 787165 928609 827012 310328 692049 709445 944599 302494 684892 729504 960589 836844 304617 705519 727014 976579 847077 307447 680417 732063 992569 856916 314937 683308 834343 1008559 852239 2009 980563 989389 998632 1079700 1091661 916996 918257 921038 891893 - Tabel 4.2 menunjukkan perkembangan modal inti pada Bank Muamalat Indonesia periode September 2003 – September 2009. Pada masa penelitian ini modal inti terendah terjadi pada bulan September 2003 yaitu sebesar Rp 274,290 milyar, sedangkan modal inti tertinggi terjadi pada bulan Mei 2009 yaitu sebesar Rp 1,091 triliun. Data modal inti tersebut terdiri atas modal disetor, agio saham, cadangan umum dan tujuan, laba tahun lalu setelah diperhitungkan pajak dan laba tahun berjalan telah diperhitungkan pajak (50%). Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut. 58 Gambar 4.1 Modal Inti M ODAL INTI 1200000 1000000 800000 600000 MODAL INTI 400000 200000 Sep-03 Jan-04 May-04 Sep-04 Jan-05 May-05 Sep-05 Jan-06 May-06 Sep-06 Jan-07 May-07 Sep-07 Jan-08 May-08 Sep-08 Jan-09 May-09 Sep-09 0 (Sumber: data diolah) Secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan modal inti selama periode bulan September 2003-September 2009 mengalami peningkatan sebesar 26,67%. Hal ini menunjukan tingginya tingkat kepercayaan pemegang saham. Namun pada tahun 2007 hingga tahun 2008 modal inti mengalami sedikit penurunan sebesar 2,4% yang disebabkan oleh terjadinya krisis global. b. Analisis Deskriptif Variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) Pada dasarnya dana pihak ketiga adalah dana yang diperoleh bank dari masyarakat. Dana Pihak Ketiga yang ditarik bank syariah dapat berbentuk (Zainul Arifin, 2006 : 48) 1) Titipan (wadiah) simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan atau keuntungan. 59 2) Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed account untuk investasi umum (general investment account/ mudharabah mutlaqah) di mana bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dengan porofolio yang didanai dengan modal tersebut. 3) Investasi khusus (special investment account/mudharabah muqayyadah) di mana bank bertindak sebagai manajer investasi untuk memperoleh fee. Jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil resiko atas investasi. Data Dana Pihak Ketiga (DPK) yang digunakan adalah perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK) per bulan periode Bulan September tahun 2003 hingga Bulan September tahun 2009. Data Dana Pihak Ketiga (DPK) tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah Bank Muamalat Indonesia yang tercatat dalam statistik bank umum syariah (Bank Muamalat Indonesia) yang dipublikasikan dalam situs www.bi.go.id. 60 Tabel 4.2 Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Muamalat Indonesia Bulan 2003 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 1.999.492 2.086.091 Oktober November 2.225.538 Desember 2.508.875 (Sumber : data diolah) Dana Pihak Ketiga (DPK) (Dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 2007 2008 2.587.382 4.157.629 5.686.933 6.658.917 8.891.572 2.258.525 4.144.197 5.432.230 7.044.726 9.003.411 2.636.317 4.308.330 5.419.571 7.069.942 9.134.198 2.739.514 4.707.415 5.545.239 7.088.711 9.317.424 2.875.296 4.563.341 5.774.285 7.381.895 9.372.644 2.895.683 4.793.776 5.831.903 7.523.357 9.148.712 3.125.941 4.850.664 6.262.041 7.625.606 9.503.218 3.368.517 5.002.819 6.057.638 7.746.571 9.515.373 3.409.972 5.180.008 6.354.609 7.867.535 9.783.836 3.611.441 5.298.525 6.621.705 7.988.500 9.783.331 3.674.560 5.358.973 6.665.055 8.109.464 9.765.970 4.330.564 5.824.329 6.837.431 8.230.428 10.073.953 2009 10.518.538 10.474.555 10.824.597 10.539.425 10.668.452 12.379.938 12.184.187 11.906.514 12.177.743 - Tabel 4.1 menunjukkan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) pada periode Bulan September tahun 2003 hingga Bulan September tahun 2009. Pada masa penelitian Dana Pihak Ketiga (DPK) terendah terjadi pada bulan September 2003 yaitu sebesar Rp 1,999 Triliun. Selama periode penelitian, Dana Pihak Ketiga (DPK) cenderung mengalami peningkatan dari bulan ke bulan. Jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) tertinggi terjadi pada bulan Juni 2009 yaitu sebesar Rp 12,379 Triliun. Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut. 61 Gambar 4.2 Dana Pihak Ketiga (DPK) DPK 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 DPK 4000000 2000000 Sep-09 May-09 Jan-09 Sep-08 Jan-08 May-08 Sep-07 May-07 Jan-07 Sep-06 May-06 Jan-06 Sep-05 Jan-05 May-05 Sep-04 May-04 Jan-04 Sep-03 0 (Sumber:data diolah) DPK menunjukan kecenderungan yang terus meningkat, hal ini sejalan dengan perkembangan kantor-kantor cabang Bank Muamalat Indonesia yang semakin banyak jumlahnya sehingga semakin besar dana masyarakat atau DPK yang dapat diserap Bank Muamalat Indonesia, hal ini tampak pada periode 2003-2009 terjadi peningkatan DPK yang tinggi dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 31,32% pertahunnya. Kondisi ini kemungkinan dipicu oleh minat masyarakat yang cukup tinggi dalam menempatkan dananya di Bank Syariah, khususnya Bank Muamalat Indonesia yang telah terbukti tidak mengalami guncangan saat terjadinya krisis. c. Analisis Deskriptif Variabel Tingkat Suku Bunga SBI Sertifikat Bank Indonesia adalah surat berharga yang dikeluarkan Bank Indonesia sebagai pengakuan atas utang yang memiliki jangka waktu pendek antara 1-3 bulan dengan sistem diskonto/bunga. 62 Sertifikat Bank Indonesia merupakan salah satu mekanisme yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam mengontrol kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar. Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan mekanisme "BI rate" (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan. Data suku bunga SBI yang digunakan adalah perkembangan suku bunga SBI 1 bulan dibagi 12 periode September 2003 – September 2009. Data tersebut diperoleh dari situs www.bi.go.id . Tabel 4.3 Data Suku Bunga SBI Suku Bunga SBI Bulan Januari Februari Maret April Mei ( Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2003 0.0072 0.0071 0.0071 0.0069 2004 0.0066 0.0064 0.0062 0.0061 0.0061 0.0061 0.0061 0.0061 0.0062 0.0062 0.0062 0.0062 2005 0.0062 0.0062 0.0062 0.0064 0.0066 0.0069 0.0071 0.008 0.0083 0.0092 0.0102 0.0106 2006 0.0106 0.0106 0.0106 0.0106 0.0104 0.0104 0.0102 0.0098 0.0094 0.009 0.0085 0.0081 2007 0.0079 0.0077 0.0075 0.0075 0.0073 0.0071 0.0069 0.0069 0.0069 0.0069 0.0069 0.0067 2008 0.0067 0.0066 0.0066 0.0067 0.0069 0.0073 0.0077 0.0077 0.0081 0.0092 0.0094 0.0090 2009 0.0079 0.0073 0.0068 0.0063 0.0060 0.0058 0.0056 0.0055 0.0054 - 63 Tabel 4.3 menunjukkan fluktuasi suku bunga SBI pada periode September 2003-September 2009. Pada masa penelitian suku bunga SBI terendah terjadi pada bulan September 2009 yaitu sebesar 0,0054. Pada tahun 2009 suku bunga SBI cenderung mengalami penurunan dari bulan ke bulan. Tingkat suku bunga SBI tertinggi terjadi pada Desember 2005 sampai April 2006 yaitu sebesar 0,0106. Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut. Gambar 4.3 Suku Bunga SBI SBI 0.012 0.01 0.008 SBI 0.006 0.004 0.002 Sep-09 May-09 Jan-09 Sep-08 May-08 Jan-08 Sep-07 May-07 Jan-07 Sep-06 May-06 Jan-06 Sep-05 May-05 Jan-05 Sep-04 Jan-04 May-04 Sep-03 0 (Sumber:Data diolah) 64 Pada periode penelitian ini suku bunga SBI bergerak fluktuatif pada tahun 2005 stabilitas makro ekonomi mendapat tekanan, terutama dari sektor eksternal dengan naiknya harga minyak international. Perkembangan eksternal tersebut mendorong kebijakan kenaikan harga BBM yang berimplikasi kepada naiknya inflasi. Hal tersebut menyebabkan tingginya suku bunga SBI, sedangkan dari faktor internal yaitu kenaikan upah minimum propinsi serta naiknya gaji Pegawai Negri Sipil (PNS). Pada periode selanjutnya tingkat suku bunga SBI mengalami penurunan seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi. Kajian statistik Indonesia mencatat sampai dengan tahun 2007 pertumbuhan ekonomi terus mengalami peningkatan hingga mencapai 6,1%. Tingkat suku bunga SBI kembali mengalami kenaikan sebagai dampak dari krisis keuangan global. Hal itu tercermin pada perlambatan ekonomi secara signifikan karena anjloknya nilai ekspor Indonesia. Ditahun 2009 kondisi perekonomian jauh lebih baik dari tahun sebelumnya ekonomi tumbuh 6,5 % sementara inflasi cukup rendah dengan volatilitas nilai tukar Rupiah yang cukup terkendali, sehingga ditahun 2009 suku bunga SBI relatif lebih rendah dari tahun sebelumnya. d. Analisis Deskriptif Variabel Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD Menurut Kuncoro (2008), kurs rupiah adalah nilai tukar sejumlah rupiah yang diperlukan untuk membeli satu US$ (US Dollar). Nilai tukar tersebut ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan pasar atau istilah lainnya adalah mekanisme pasar. Jika harga rupiah terhadap dollar melemah, maka 65 sebaliknya permintaan terhadap mata uang dollar akan meningkat. Hal ini disebabkan karena investor cenderung akan melepas rupiah dan akan membeli dollar. Kurs tersebut ditentukan oleh perpotongan kurva permintaan dan kurva penawaran dari mata uang asing tersebut. Data nilai tukar rupiah dalam penelitian ini diwakili oleh Dollar Amerika periode September 2003September 2009. Data tersebut diperoleh dari situs www.bi.go.id. Tabel 4.4 Data Nilai Tukar Rupiah/$ Nilai tukar rupiah/$ 2003 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus 8389 September 8495 Oktober 8537 November 8447 Desember (Sumber:data diolah) 2004 8441 8447 8587 8661 9210 9415 9168 9328 9170 9090 9018 9290 2005 9165 9260 9480 9570 9495 9713 9819 10240 10310 10090 10035 9830 2006 9395 9230 9075 8775 9220 9300 9070 9100 9235 9110 9165 9020 2007 9090 9160 9118 9083 8828 9054 9186 9410 9137 9103 9376 9419 2008 9291 9051 9217 9234 9318 9225 9118 9153 9378 10995 12151 10950 2009 11355 11980 11575 10713 10340 10225 9920 10060 9681 - Tabel 4.4 menunjukkan fluktuasi transaksi nilai tukar antara mata uang rupiah dengan mata uang Dollar Amerika pada periode September 2003September 2009. Pada masa penelitian nilai tukar rupiah/$ terendah terjadi pada bulan September 2003 yaitu sebesar Rp 8.389,-, sedangkan nilai tukar 66 rupiah/$ tertinggi terjadi pada bulan November 2008 yaitu sebesar Rp 12.151,-. Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut. Gambar 4.4 Nilai Tukar Rupiah (Kurs) KURS 12000.00 10000.00 8000.00 6000.00 KURS 4000.00 2000.00 Sep-03 Jan-04 May-04 Sep-04 Jan-05 May-05 Sep-05 Jan-06 May-06 Sep-06 Jan-07 May-07 Sep-07 Jan-08 May-08 Sep-08 Jan-09 May-09 Sep-09 0.00 (Sumber:data diolah) Kenaikan harga minyak dunia ditahun 2005 juga berimbas pada melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. Pada periode berikutnya pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stabil sampai dengan tahun 2007. ditahun 2008 nilai tukar Rupiah kembali mengalami lonjakan, hal ini merupakan imbas dari krisis keuangan yang melanda dunia. Tahun berikutnya nilai tukar rupiah berangsur-angsur menurun seiring dengan membaiknya 67 kondisi keuangan dunia dan perekonomian dalam negri yang diindikasikan dengan naiknya pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%. e. Analisis Deskriptif Variabel Inflasi Menurut Sukirno (2004:27) inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum berlaku dalam suatu perekonomian dari suatu periode ke periode lainnya, sedangkan tingkat inflasi adalah presentasi kenaikan harga-harga pada suatu tahun tertentu berbanding dengan tahun sebelumnya. Menurut Nanga (2005), inflasi adalah suatu gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus-menerus. Sedangkan Khalwaty (2000), Inflasi adalah suatu keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil mata uang suatu negara. Data inflasi yang digunakan adalah perkembangan inflasi per bulan periode September 2003-September 2009. Data tersebut diperoleh dari situs www.bi.go.id. 68 Tabel 4.5 Inflasi Bulan 2003 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 0.0064 0.0060 Oktober 0.0063 November 0.0072 Desember (Sumber : data diolah) 2004 0.004 0.0038 0.0043 0.0049 0.0054 0.0057 0.006 0.0056 0.0052 0.0052 0.0052 0.0053 2005 0.0061 0.006 0.0073 0.0068 0.0062 0.0062 0.0065 0.0069 0.0076 0.0149 0.0153 0.0143 Inflasi 2006 0.0142 0.0149 0.0131 0.0128 0.013 0.0129 0.0126 0.0124 0.0121 0.0052 0.0044 0.0055 2007 0.0052 0.0053 0.0054 0.0058 0.005 0.0048 0.0051 0.0054 0.0058 0.0057 0.0056 0.0055 2008 0.0061 0.0062 0.0068 0.0075 0.0087 0.0092 0.0099 0.0099 0.0101 0.0098 0.0097 0.0092 2009 0.0076 0.0072 0.0066 0.0061 0.005 0.003 0.0023 0.0023 0.0024 - Tabel 4.5 menunjukkan fluktuasi tingkat inflasi periode September 2003September 2009. Pada masa penelitian ini tingkat inflasi terendah terjadi bulan Juli dan Agustus 2009 yaitu sebesar 0,0023, sedangkan tingkat inflasi tertinggi terjadi pada bulan November 2005 yaitu sebesar 0,0153. Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut. 69 Gambar 4.5 Inflasi INFLASI 0.018 0.016 0.014 0.012 0.01 INFLASI May-09 Sep-09 Sep-06 Jan-07 May-07 Sep-07 Jan-08 May-08 Sep-08 Jan-09 Sep-03 Jan-04 May-04 Sep-04 Jan-05 May-05 Sep-05 Jan-06 May-06 0.008 0.006 0.004 0.002 0 (Sumber:data diolah) Pada tahun 2004 hingga tahun 2005, inflasi mengalami peningkatan yang tinggi sebesar 71,78% hal ini disebabkan oleh tingginya harga minyak dunia yang secara langsung meningkatkan harga barang. Peningkatan inflasi juga terjadi pada tahun 2007 hingga tahun 2008 sebesar 59,59% yang dipengaruhi peningkatan harga minyak dunia yang akhirnya memaksa pemerintah menaikan harga BBM pada bulan Mei 2008 memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap tingkat inflasi, walaupun efek kenaikan harga BBM tersebut sudah tidak signifikan lagi pada bulan Juli 2008. Selain itu, meningkatnya harga komoditas pangan dunia (kebutuhan bahan pangan impor seperti kedelai, jagung dan terigu) sejak akhir tahun 2007 yang otomatis meningkatkan biaya pokok produksi perusahaan juga memberikan kontribusi 70 angka inflasi yang sangat besar. Hal-hal lain seperti kelangkaan sumber energi baik gas, maupun minyak diberbagai daerah maupun kekurangan supply listrik yang mengharuskan terjadinya pemadaman juga berperan meningkatkan inflasi karena mendorong peningkatan biaya produksi. Namun secara keseluruhan, rata-rata inflasi pada bulan september 2003 sampai dengan September 2009 sebesar 5,4%. f. Analisis Deskriptif Pembiayaan Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (Pasal 1) disebutkan bahwa, “Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil”. Data pembiayaan yang digunakan adalah jumlah pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia periode September 2003 – September 2009. Data tersebut diperoleh dari Statistik Perbankan Syariah pada situs www.bi.go.id . 71 Tabel 4.6 Pembiayaan Bulan 2003 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 2070883 2220997 Oktober November 2283739 Desember 2363680 (Sumber : data diolah) 2004 2388464 2285826 2559563 2823036 3038989 3353305 3455078 3624744 3766817 3903783 3981008 4182224 Pembiayaan (Dalam Jutaan Rupiah) 2005 2006 2007 2008 4102756 6026286 7347158 8549409 4203302 5965145 7478197 8650887 4461497 6061194 6398974 8742830 4604735 6058322 6754671 9078795 4868004 6202061 7661509 9363432 5051546 6511072 7302083 9221101 5271942 6843934 7863773 9810663 5490191 6332761 7985839 10172241 5802114 6510072 8107906 10408969 5827199 6640642 8229972 10484026 5871467 6610266 8352038 10603530 6054832 6626998 8474105 10517863 2009 10643234 10666434 10655895 10751728 10880987 11135534 11129176 11214152 11275560 - Tabel 4.5 menunjukkan perkembangan pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia periode September 2003 - September 2009. Pada masa penelitian ini jumlah pembiayaan terendah terjadi pada bulan September 2003 yaitu sebesar Rp 2,071 triliun sedangkan jumlah pembiayaan tertinggi terjadi pada bulan September 2009 yaitu sebesar Rp 11,275 triliun. Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut. 72 Gambar 4.6 Pembiayaan PYD 12000000 10000000 8000000 PYD 6000000 4000000 Sep-09 May-09 Jan-09 Sep-08 May-08 Jan-08 Sep-07 Jan-07 May-07 Sep-06 May-06 Jan-06 Sep-05 May-05 Jan-05 Sep-04 Jan-04 May-04 0 Sep-03 2000000 (Sumber:data diolah) Pada gambar 4.6 pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia menunjukkan peningkatan, hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah Dana Pihak Ketiga yang dihimpun oleh BMI selama periode September 2003-September 2009. dengan rata-rata peningkatan sebesar 31,14% per tahunnya menunjukkan konsistensi BMI dalam menyalurkan pembiayaan dalam mempertahankan komitmennya untuk membantu menggerakan sector riil selain itu BMI juga bertujuan meningkatkan laba dengan menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan. 73 2. Analisis Regresi Jalur Modal Inti, DPK, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah, dan Inflasi terhadap Pembiayaan Pada Bank Muamalat Indonesia a. Analisis Regresi Dalam analisis ini di bagi menjadi dua bagian. Pertama, melihat pengaruh secara gabungan dan kedua, melihat pengaruh secara parsial, sebagai berikut: 1) Melihat pengaruh Modal Inti, DPK, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap Pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia secara Gabungan. Untuk mengetahui pengaruh Modal Inti, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap Pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia, dilihat dari perhitungan model summary, khususnya angka R square di bawah ini. Tabel 4.7 Regresi Model R Square 0,992 (Sumber : out put SPSS 17) Besarnya angka R square (r²) adalah 0,992. angka tersebut dapat digunakan untuk melihat besarnya pengaruh nilai Modal Inti, DPK, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah, dan Inflasi terhadap pembiayaan pada Bank 74 Muamalat Indonesia dengan cara menghitung koefisien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut: KD = r² x 100% KD = 0.992 x 100% KD = 99,2% Angka tersebut mengartikan bahwa pengaruh nilai Modal Inti, DPK, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah, dan Inflasi terhadap pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia secara bersama-sama adalah 99,2%. Sedangkan sisanya sebesar 0,8 % (100% - 99.2%) dipengaruhi oleh varibel-variabel lain diluar model ini. Kemudian, untuk mengetahui apakah model regresi di atas sudah benar atau salah diperlukan uji hipotesis. Uji hipotesis menggunakan angka F seperti tabel berikut ini. Tabel 4.8 Uji F Regresi Model F Regression 1670.609 (Sumber : out put SPSS 17) Sig. .000a Pengujian dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan membandingkan besarnya angka F penelitian dengan F tabel. Cara kedua adalah membandingkan angka taraf signifikasi (sig) hasil perhitungan dengan taraf signifikasi 0,05 (5%). 75 a) Menggunakan cara pertama atau membandingkan besarnya angka F penelitian dengan F tabel Caranya sebagai berikut: Pertama : menghitung F penelitian. F penelitian dari SPSS didapatkan sebesar 1670.609. Kedua : menghitung F tabel dengan ketentuan sebagai berikut: Taraf signifikan 0,05 dan diperoleh angka F tabel sebesar 2.35. Ketiga : Menentukan kriteria uji hipotesis sebagai berikut: Jika F penelitian > F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jika F penelitian < F tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak Keempat : Mengambil Keputusan. Dari hasil perhitungan angka F penelitian sebesar 1670.609> dari F tabel Sebesar 2.35. Sehingga Ho di tolak dan Ha diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Dengan demikian, model regresi tersebut sudah benar. Kesimpulannya Jumlah antara Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia Besarnya pengaruh 99,2% dan sisanya sebesar 0,8% (100% - 99,2%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi tersebut. b) Menggunakan cara dengan membandingkan besarnya angka taraf signifikansi. 76 Menggunakan cara kedua atau membandingkan besarnya angka taraf signifikasi (sig) penelitian dengan taraf signifikasi sebesar 0,05. Kriterianya sebagai berikut: Jika sig penelitian <0,05maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jika sig penelitian >0,05maka H0 diterima dan Ha ditolak. Berdasarkan perhitungan angka signifikasi sebesar 0 < 0,05 Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, secara simultan ada pengaruh yang signifikan antara Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia. 2) Melihat Pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial terhadap pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia. Untuk melihat besarnya variabel antara Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia secara sendiri-sendiri, digunakan uji t, uji t digunakan untuk menguji apakah variabel independen terhadap variabel dependen berpengaruh signifikan secara parsial, yang didapat dari tabel koefisien regresi statistik. Jika nilai signifikansi atau probabilitas lebih besar atau sama dengan 0,05 maka tidak terjadi pengaruh secara signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih kecil atau sama 77 dengan 0,05 maka terdapat pengaruh secara signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.(Riduwan dan Engkos 2008:118). Sedangkan untuk melihat besarnya pengaruh, digunakan angka Beta atau Standardized Coeffecient di bawah ini. Tabel 4.9 Uji t Regresi Model Standardized Coefficients t Sig. Beta lnmi 0,056 1,762 0,083 lndpk 0,916 27,843 0,000 sbi 0,004 0,180 0,857 lnkurs 0,040 2,943 0,004 inflasi 0,049 (Sumber: output SPSS) 2,155 0,035 Untuk melihat apakah terdapat pengaruh variabel Modal Inti terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat Indonesia adalah sebagai berikut : Besarnya pengaruh Modal Inti terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia sebesar 0,056 atau 5,6% dianggap tidak signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,083 yang lebih besar dari 0,05. Modal inti memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan. Artinya, apabila terjadi kenaikan Modal inti, maka 78 jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratin & Akhyar Adnan (Edisi Khusus On finance,2005) yang menggunakan metode analisis uji t, yang mengemukakan bahwa Modal inti menunjukkan pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Hal ini berbeda karena Ekuitas sebagai modal inti digunakan hanya sebatas untuk perhitungan CAR (Capital Adequate Ratio) sebagai indikator kemampuan penyerapan kerugian dan sebagai batas maksimum pemberian pembiayaan. Untuk memperoleh tingkat CAR yang baik (memenuhi peraturan BI) bank tidak hanya mengandalkan modal inti saja bank juga bisa mencari sumber dana lain seperti modal pinjaman dan pinjaman subordinasi sebagai modal pelengkap. Modal Inti hanya sebagai sandaran (perlindungan) kecil terhadap depositor/kreditor atas penurunan nilai aset bank, bank bergantung terutama pada kompetensi dan kehati-hatian (competency and prudence) manajemen dan stabilitas sistem keuangan bank. Selama modal inti masih bisa memenuhi kewajiban minimum penyediaan modal maka suatu lembaga bank akan mengoptimalkan peran simpanan (DPK) untuk meningkatkan pembiayaan yang disalurkan. Untuk melihat pengaruh variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat Indonesia, adalah sebagai berikut: 79 Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 27,843 dengan ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71. dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1.66660. Karena nilai t penelitian > t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya DPK (Dana Pihak Ketiga) berpengaruh signifikan terhadap Pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia. Besarnya pengaruh DPK terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat Indonesia sebesar 0.916 atau 91,6% dianggap signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dana Pihak Ketiga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pembiayaan. Artinya, apabila terjadi kenaikan Dana Pihak Ketiga, maka jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati siregar (2005), Pratin Dan Akyar Adnan (2005), Luh Gede Meydianawati (2005), Fransisca (2008) yang menyatakan bahwa DPK secara parsial memiliki pengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang disalurkan. Baik giro, deposito maupun tabungan turut memberikan andil di dalam kehidupan Perbankan, pengumpulan atas dana-dana tersebut digunakan Perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga untuk 80 menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan yaitu memberikan pembiayaan kepada masyarakat. (Amiranti Marsya, 2009:18). Bank adalah sebagai organisasi (Lembaga Keuangan) yang berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada masyarakat. Jumlah dana yang dihimpun bank syariah dari masyarakat sudah tentu berupa simpanan tabungan, deposito dan giro. Pada umumnya motivasi utama orang menitipkan dana pada bank adalah keamanan dana mereka dan mereka dapat mengambilnya sewaktu-waktu. Semakin tinggi (besar) dana yang dihimpun bank syariah dari masyarakat maka jumlah dana bank pun akan meningkat. Seiring dengan hal itu sesuai dengan fungsinya bank harus menyalurkan dananya kembali ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan. Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel suku bunga SBI dengan Pembiayaan, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut: Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 0,180 dengan ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71. dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1,66660. Karena nilai t penelitian < t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, artinya Suku bunga SBI tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat 81 Indonesia. Besarnya pengaruh Suku Bunga SBI terhadap Pembiayaan sebesar 0,004 atau 0,4% dianggap tidak signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,857 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan Rossar Maries (2008) mengenai dampak fluktuasi variabel ekonomi makro terhadap DPK dan Pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah di Indonesia dengan datadata yang digunakan adalah data time series dari tahun 2003-2007 yang berasal dari statistik perbankan syariah dan statistik ekonomi keuangan Indonesia yang menghasilkan variabel suku bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi pembiayaan. Dikarenakan SBI merupakan surat berharga yang dikeluarkan Bank Indonesia sebagai pengakuan atas utang yang memiliki jangka waktu pendek antara 1-3 bulan dengan sistem diskonto/bunga. Suku bunga SBI mengacu kepada BI rate yang pergerakannya fluktuatif. SBI dikeluarkan dengan tujuan untuk menyerap kelebihan likuiditas pada bank konvensional. Sedangkan Bank Indonesia telah menyediakan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) untuk menyerap kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah yang tidak mengenal bunga seperti bank konvensional. Sehingga Suku bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi penyaluran pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia 82 Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel nilai tukar Rupiah dengan Pembiayaan, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut: Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 2,943, dengan ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71 dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1.66660. Karena nilai t penelitian > t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya Nilai tukar rupiah berpengaruh signifikan terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Besarnya pengaruh Nilai tukar rupiah terhadap pembiayaan yang disalurkan sebesar 0,040 atau 4% dianggap signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05. Nilai tukar Rupiah/$ (kurs) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rossar Maries (2008) dan Ari Cahyono (2009) yang menghasilkan nilai tukar rupiah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Apabila kurs naik, maka suatu mata uang melemah terhadap mata uang negara lain, sehingga produsen yang memproduksi produk dengan bahan baku yang berasal dari impor akan menjadi lebih mahal. Hal tersebut mengakibatkan biaya produksi menjadi meningkat, sehingga produsen menetapkan harga jual produk tersebut menjadi lebih 83 mahal. Akibatnya permintaan terhadap barang akan mengalami penurunan dan tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan barang substitusi yang pada akhirnya akan semakin menekan permintaan. Permintaan yang menurun akan disikapi oleh produsen dengan menurunkan pasokan sehingga tercapai keseimbangan baru. Agar permintaan meningkat kembali produsen perlu mengadakan inovasi dan promosi terhadap produknya. Maka dari itu produsen membutuhkan modal dan biaya tambahan untuk melakukan kegiatan inovasi dan promosi tersebut. Kemudian apabila Kurs turun maka suatu mata uang akan menguat terhadap mata uang negara lain. Produsen yang menggunakan bahan baku impor akan menyebabkan biaya produksi menurun sehingga harga jual stabil, dan berikut juga permintaan terhadap produk tersebut akan menjadi stabil dan produsen tidak membutuhkan dana untuk menjaga permintaan konsumen terhadap produknya, hal tersebut menyebabkan pembiayaan menjadi menurun. Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel inflasi dengan Pembiayaan, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut: Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 2,155 dengan ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71. dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1,66660. 84 Karena nilai t penelitian > t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya inflasi berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Besarnya pengaruh inflasi terhadap pembiayaan sebesar 0,049 atau 4,9% dianggap signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,035 < 0,05. Inflasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Artinya, apabila inflasi mengalami kenaikan, maka jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ari Cahyono (2009) bahwa inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan. Setiap kenaikan pada inflasi akan meningkatkan Pembiayaan. Bila inflasi naik, maka konsep Bank Muamalat adalah Bagi hasil. Dengan konsep ini, sesungguhnya bank dan nasabah melakukan pengikatan dalam suatu ikatan investasi bersama, dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama, dimana ketika inflasi naik, maka harga akan naik. Dengan pendapatan konsumen yang tetap maka hal tersebut akan menurunkan pendapatan perusahaan. Sehingga produsen akan memilih bank Muamalat Indonesia karena mendapatkan ketenangan dan keadilan dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama. Sedangkan dalam kondisi inflasi turun, maka Bank Muamalat kurang menjadi pilihan, karena nasabah biasanya lebih memilih bank 85 konvensional, karena tingkat bunga pinjaman yang rendah dan pendapatan atau laba perusahaan akan cenderung tinggi sementara kewajiban sudah ditetapkan di awal. Namun, sesungguhnya konsep berbagi yang diterapkan bank syariah lebih adil dan menguntungkan kedua belah pihak dalam berbagai kondisi Tabel 4.10 Pengujian pengaruh secara parsial terhadap Pembiayaan Bank Muamalat Indonesia Modal Inti DPK SBI Koefisien Pengaruh 0.056 0,916 0,004 Kurs 0,040 0,004 Signifikan Inflasi 0,049 0,035 Signifikan Variabel Signifikansi Kesimpulan 0,083 0,000 0,857 Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan (Sumber : data Sekunder diolah) 86 b. Analisis Korelasi Korelasi antara Modal inti, DPK, Suku Bunga SBI, Kurs, dan inflasi. Tabel 4.11 Korelasi Hubungan Koefisien Korelasi 0,917 0,271 0,473 0,167 0,103 0,577 MI dengan DPK MI dengan SBI MI dengan Kurs MI dengan Inflasi DPK dengan SBI DPK dengan Kurs DPK dengan 0,051 Inflasi SBI dengan Kurs 0,102 SBI dengan Inflasi 0.870 Kurs dengan 0,121 Inflasi (Sumber : out put SPSS 17) Kategori Probabilitas Kesimpulan sangat kuat Sangat Lemah Cukup kuat Lemah Sangat Lemah Cukup kuat 0,000 0,021 0,000 0,158 0,385 0,000 Signifikan** Tidak Signifikan Signifikan** tidak signifikan Tidak signifikan Signifikan** Sangat Lemah 0,666 Tidak signifikan Sangat Lemah Sangat kuat 0,392 0,000 tidak signifikan Signifikan** Sangat Lemah 0,306 Tidak signifikan 1). Korelasi Antara Modal Inti dan DPK. Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel SBI dan Inflasi sebesar 0,917. untuk menafsirkan angka tersebut digunakan kriteria sebagai berikut: • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75: Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,917 mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan DPK yang sangat kuat. Artinya jika nilai DPK mengalami 87 kenaikan maka nilai Modal Inti akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01. 2.) Korelasi Antara Modal Inti dan SBI • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,271 mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan DPK yang cukup kuat. Korelasi dua variabel tersebut bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,021> 0,05. 3.) Korelasi Antara Modal Inti dan Kurs • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,473 mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan Kurs cukup kuat. Artinya jika nilai kurs mengalami kenaikan maka nilai modal inti akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01. 88 4.) Korelasi Antara Modal Inti dan Inflasi • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,167mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan Inflasi sangat lemah dan searah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,158> 0,05. 5.) Korelasi Antara DPK dan SBI • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,103 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan SBI sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,385> 0,05. 6.) Korelasi Antara DPK dan Kurs • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat 89 Korelasi sebesar 0,577 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan Kurs kuat. Artinya jika nilai kurs mengalami kenaikan maka nilai DPK akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01. 7.) Korelasi Antara DPK dan Inflasi • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,051 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan Inflasi sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,666> 0,05. 8.) Korelasi Antara SBI dan Kurs • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,102 mempunyai maksud hubungan antara variabel SBI dan Kurs sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,392> 0,05. 90 9.) Korelasi Antara SBI dan Inflasi • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,870 mempunyai maksud hubungan antara variabel SBI dan Inflasi sangat kuat. Artinya jika nilai SBI mengalami kenaikan maka nilai Inflasi akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01. 10.) Korelasi Antara Kurs dan Inflasi • 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada) • >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat • >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat • >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat Korelasi sebesar 0,121 mempunyai maksud hubungan antara variabel Kurs dan Inflasi sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,306 > 0,05. 91 3. Gambar Diagram Jalur Diagram jalur dari persamaan struktur diatas adalah ditunjukkan pada gambar 4.1 sebagai berikut : Gambar 4.7 Diagram Jalur MI 0,008 (1.00-0,992) 0,917 DPK -00,271 0,473 0,103 0,167 SBI 0,577 PYD 0,102 0,051 Kurs 0,870 0,121 Inflasi 92 C. Persamaan struktural Persamaan struktural untuk diagram jalur diatas sebagai berikut : Y = yx1X1 + yx2X2+ yx3X3+ yx4X4+ yx5X5+ Y= 0,056 MI + 0,916DPK + 0,004 SBI+ 0,040 KURS+0,049 Inflasi + Untuk mencari koefisien residu adalah dengan 1.00 – R square Sehingga koefisien residu adalah. y = 1.00-0.992 = 0.008. setelah koefisien residu diperoleh, persamaan jalurnya menjadi: Y= 0,056 MI + 0,916DPK + 0,004 SBI+ 0,040 KURS+0,049 Inflasi +0,008 Dari hasil penelitian, diperoleh persamaan regresi yaitu Y= 0,056 MI + 0,916DPK + 0,004 SBI+ 0,040 KURS+0,049 Inflasi +0,008 Pengaruh yang diterima dari sebuah variabel eksogen, dapat secara sendirisendiri maupun secara bersama-sama, bisa juga berupa pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung yaitu melalui variabel independen lainnya. a. Pengaruh Modal Inti (MI) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh Modal Inti (MI) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,056)2 = (0,056) (0,056) = 0,0003136 93 • Pengaruh tidak langsung X1 terhadap Y melalui X2 = (0,056) (0,917) (0,916) = 0,047038432 X1 terhadap Y melalui X3 = (0,056) (0,271) (0,004) = 0,000060704 X1 terhadap Y melalui X4 = (0,056) (0,473) (0,040) = 0,00105952 X1 terhadap Y melalui X5 = (0,056) (0,167) (0,049) = 0,000458248 Besarnya pengaruh total variabel Modal Inti (X1) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah: = 0,0003136+ 0,047038432+ 0,000060704+ 0,00105952 + 0,000458248 = 0,048930504 Tabel 4.12 Total Pengaruh Modal Inti terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Pengaruh Modal Inti Terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Besar Pengaruh Secara Langsung Tidak Langsung 0,0003136 0,048616904 Total Pengaruh 0,048930504 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel Modal Inti memberikan pengaruh sebesar 0,0003136 terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. 94 Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel DPK, Suku bunga SBI, Kurs dan Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,048616904. Secara total, variabel modal inti mempengaruhi sebesar 0,048930504. b. Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,916)2 = (0,916) (0,916)= 0,839056 • Pengaruh tidak langsung X2 terhadap Y melalui X1 = (0,916) (0,917) (0,056) = 0,047038432 X2 terhadap Y melalui X3 = (0,916) (0,103) (0,004) = 0,000377392 X2 terhadap Y melalui X4 = (0,916) (0,577) (0,040) = 0,02114128 X2 terhadap y melalui X5 = (0,916) (0,051) (0,049) = 0.002289084 Besarnya pengaruh total variabel Dana Pihak Ketiga(X2) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah: 95 = 0,839056+ 0,047038432+0,000377392+0,02114128 + 0.002289084 = 0,909902188 Tabel 4.13 Total Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Pengaruh DPK Terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Besar Pengaruh Secara Langsung Tidak Langsung 0,839056 0,070846188 Total Pengaruh 0,909902188 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel Dana Pihak Ketiga memberikan pengaruh sebesar 0,839056 terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel DPK, Suku bunga SBI, Kurs dan Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,070846188. Secara total, variabel modal inti mempengaruhi sebesar 0,909902188. c. Pengaruh SBI terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya pengaruh SBI terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,004)2 = (0,004) (0,004)= 0,000016 • Pengaruh tidak langsung X3 terhadap Y melalui X1 96 = (0,004) (0,271) (0,056) = 0,000060704 X3 terhadap Y melalui X2 = (0,004) (0,103) (0,916) = 0,000377392 X3 terhadap Y melalui X4 = (0,004) (0,040) (0,102) = 0,00001632 X3 terhadap Y melalui X5 = (0,004) (0,870) (0,049) = 0,00017052 Besarnya pengaruh total variabel SBI (X3) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah : = 0,000016 + 0,000060704 + 0,00017052+ 0,000377392+ 0,00001632 = 0,000640936 Tabel 4.14 Total Pengaruh SBI terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Pengaruh SBI Terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Secara Langsung Tidak Langsung Total Pengaruh Besar Pengaruh 0,000016 0,000624936 0,000640936 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel SBI memberikan pengaruh sebesar 0,000016terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel DPK, Modal inti, Kurs dan 97 Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,000624936. Secara total, variabel modal inti mempengaruhi sebesar 0,000640936. d. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (kurs) Terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh Kurs (X4) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut : • Pengaruh langsung = (0,040)2 = (0,040) (0,040) = 0,0016 • Pengaruh tidak langsung X4 terhadap Y melalui X1 = (0,040) (0,473) (0,056) = 0,00105952 X4 terhadap Y melalui X2 = (0,040) (0,577) (0,916) = 0,02114128 X4 terhadap Y melalui X3 = (0,040) (0,102) (0,004) = 0,00001632 X4 terhadap Y melalui X5 = (0,040) (0,121) (0,049) = 0,0002371 98 Besarnya pengaruh total variabel Kurs (X4) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah : = 0,0016+ 0,00105952+ 0,02114128+ 0,00001632+ 0,00023716 = 0,02405428 Tabel 4.15 Total Pengaruh Kurs terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Pengaruh Kurs Terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Secara Langsung Tidak Langsung Total Pengaruh Besar Pengaruh 0,0016 0,02245428 0,02405428 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel Kurs memberikan pengaruh sebesar 0,0016 terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel DPK, Modal inti, SBI dan Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,02245428. Secara total, variabel modal inti mempengaruhi sebesar 0,02405428. e. Pengaruh Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh Inflasi (X5) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut; 99 • Pengaruh langsung = (0,049)2 = (0,049) (0,049) = 0,002401 • Pengaruh tidak langsung X5 terhadap Y melalui X1 = (0,049) (0,167) (0,056) = 0,000458248 X5 terhadap Y melalui X2 = (0,049) (0,916) 0,051) = 0,002289084 X5 terhadap Y melalui X3 = (0,049) (0,004) (0,870) = 0,00017052 X5 terhadap Y melalui X4 = (0,049) (0,040) (0,121) = 0,00023716 Besarnya pengaruh total variabel Inflasi (X5) terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah : = 0,002401 + 0,000458248+ 0,002289084+ 0,00017052+ 0,00023716 = 0,005556012 Tabel 4.16 Total Pengaruh Inflasi terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Pengaruh Inflasi Terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia Secara Langsung Besar Pengaruh 0,002401 Tidak Langsung 0,003155012 Total Pengaruh 0,005556012 100 Secara langsung, variabel Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,002401 terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel DPK, Modal inti, SBI dan Kurs memberikan pengaruh sebesar 0,003155012. Secara total, variabel modal inti mempengaruhi sebesar 0,005556012. Tabel 4.17 Total Pengaruh Modal Inti, DPK, SBI, Kurs dan Inflasi terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia Variabel Pengaruh Langsung Tidak Langsung 0,0003136 0,048616904 0,839056 0,070846188 0,000016 0,000624936 0,0016 0,02245428 0,002401 0,003155012 Modal Inti (X1) DPK (X2) SBI (X3) Kurs (X4) Inflasi (X5) Total pengaruh 0,8433866 0,14569732 Besar pengaruh variabel Residu Total 0,048930504 0,909902188 0,000640936 0,02405428 0,005556012 0,98908392 0,01091608 (Sumber : data Sekunder diolah) Dikarenakan dalam model tersebut terdapat pengaruh variabel yang tidak signifikan. Selanjutnya peneliti akan melakukan analisis jalur model trimming. Analisis Jalur Model Trimming adalah model yang digunakan untuk memperbaiki suatu model struktur bila koefisien betanya (eksogen) tidak signifikan. Dalam hal ini peneliti menghilangkan salah satu jalur (panah) yang memiliki koefisien betanya tidak signifikan dan yang memiliki probabilitas terbesar. Dengan demikian pengujian selanjutnya bertujuan sebagai berikut : 101 1. Melihat pengaruh secara simultan dan parsial Modal Inti, DPK, Nilai tukar rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. 2. Melihat pengaruh langsung dan tidak langsung Modal Inti, DPK, Nilai tukar rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. 3. Melihat pengaruh total Modal Inti, DPK, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Tabel 4.18 Tabel Regresi setelah trimming Model 1 (Sumber : output SPSS 17) R Square .992 Dari hasil output SPSS R2 (R Square) setelah trimming menunjukan sebesar 0.992 (99,2%) yang berarti bahwa variabel Modal Inti DPK, Kurs dan inflasi berpengaruh sebesar 99,2% terhadap pembiayaan yang disalurkan bank Muamalat Indonesia, sisanya 0,8% dipengaruhi oleh variabel lain. Tabel 4.19 Tabel Uji F setelah trimming Model Regression (Sumber : Output SPSS 17) F 2118.394 Sig. .000a F penelitian dari SPSS didapatkan sebesar 2118,394. Taraf signifikan 0,05 dan diperoleh angka F tabel sebesar 2.51. Jika F penelitian > F tabel maka Ho 102 ditolak dan Ha diterima. Jika F penelitian < F tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil perhitungan angka F penelitian sebesar 2118,394 > dari F tabel Sebesar 2.51 Sehingga Ho di tolak dan Ha diterima, dan taraf signifikansi di peroleh 0.000 < 0.05, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara modal inti, DPK, Kurs dan inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Tabel 4.20 Tabel Uji t setelah trimming Variabel Modal Inti DPK Kurs Inflasi Koefisien Pengaruh 0,058 0,914 0,040 0,052 Signifikansi Kesimpulan 0,050 0,000 0,004 0,000 Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan (Sumber : Output SPSS 17) Variabel Modal Inti secara parsial setelah trimming berpengaruh positif sebesar 0.058 (5,8%) dan dianggap signifikan karena signifikansi 0.05=0.05. DPK berpengaruh positif sebesar 0,914 (91,4%) dan dianggap signifikan, dengan taraf signifikansi 0.000<0.05. Kurs berpengaruh positif sebesar 0,040 (4,0%) dan dianggap signifikan dengan taraf signifikansi 0.004<0.05, dan Inflasi berpengaruh positif dan signifikan sebesar 0.052 (5,2%) dengan signifikansi 0.000< 0.05. 103 Tabel 4.21 Pengujian Hubungan antar variabel independen setelah trimming Hubungan Modal Inti dengan DPK Modal Inti dengan Kurs Modal Inti dengan Inflasi DPK dengan Kurs DPK dengan Inflasi Kurs dengan Inflasi Koefisien Korelasi 0,917 0,473 0,167 0,577 0,051 0,121 Kategori Probabilitas Kesimpulan sangat kuat cukup kuat sangat lemah kuat Sangat lemah Sangat lemah 0,000 0,000 0,158 0,000 0,666 0,306 Signifikan** Signifikan** Tidak Signifikan signifikan** Tidak Signifikan tidak signifikan *Signifikan pada alfa 0.05 **Signifikan pada alfa 0.01 (Sumber : data Sekunder diolah) Dari uraian tersebut, maka dapat digambarkan dalam diagram jalur setelah trimming, dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut : 104 Gambar 4.8 Diagram Jalur setelah trimming MI 0.008 (1.00-0.992) 0.058 0,917 0,473 0,167 DPK 0,914 PYD 0,577 0,040 KURS 0,051 0,121 0.052 INFLASI Untuk mencari nilai residu diperoleh dari 100% - 99,2% = 0,8%. Dengan demikian didapat persamaan setelah trimming adalah : Y = 0,058 MI + 0,914 DPK + 0,040 KURS + 0,052 INFLASI + 0.008 105 Pengaruh yang diterima dari sebuah variabel eksogen, dapat secara sendirisendiri maupun secara bersama-sama, bisa juga berupa pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung yaitu melalui variabel independen lainnya. a. Pengaruh Modal Inti terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh Modal Inti (X1) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,058)2 = (0,058) (0,058) = 0,003364 • Pengaruh tidak langsung X1 terhadap Y melalui X2 = (0,058) (0,917)(0,914) = 0,048612004 X1 terhadap Y melalui X3 = (0,058) (0,473) (0,040) = 0,00109736 X1 terhadap Y melalui X4 = (0,058) (0,167) (0,052) = 0,000503672 Besarnya pengaruh total variabel Modal Inti (X1) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah: = 0,003364 + 0,048612004 +0,00109736 + 0,000503672 =0,083853036 106 Tabel 4.22 Total Pengaruh Modal Inti terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesiasetelah trimming Pengaruh Modal Inti terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia Besar Pengaruh Secara Langsung 0,003364 Tidak Langsung 0,080489036 Total Pengaruh 0,083853036 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel Modal inti memberikan pengaruh sebesar 0,003364 terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel DPK, Kurs dan Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,080489036. Secara total, variabel Modal Inti mempengaruhi sebesar 0,083853036. b. Pengaruh DPK terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh DPK (X2) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,914)2 = (0,914) (0,914) = 0,835396 • Pengaruh tidak langsung X2 terhadap Y melalui X1 107 = (0,914) (0,917) (0,058) = 0,048612004 X2 terhadap Y melalui X3 = (0,914) (0,577) (0,040) = 0,02109512 X2 terhadap Y melalui X4 = (0,914) (0,051) (0,052) = 0,002423928 Besarnya pengaruh total variabel DPK (X2) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah: = 0,835396 + 0,048612004+ 0,02109512 + 0,002423928 = 0,907527052 Tabel 4.23 Total Pengaruh DPK terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesiasetelah trimming Pengaruh DPK terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia Besar Pengaruh Secara Langsung 0,835396 Tidak Langsung Total Pengaruh 0,072131052 0,907527052 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel DPK memberikan pengaruh sebesar 0,835396 terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel Modal Inti, Kurs dan Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,072131052. Secara total, variabel Modal Inti mempengaruhi sebesar 0,907527052. 108 c. Pengaruh Kurs terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh Kurs (X3) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,040)2 = (0,040) (0,040) = 0,0016 Pengaruh tidak langsung X3 terhadap Y melalui X1 = (0,040) (0,473) (0,058) = 0,00109736 X3 terhadap Y melalui X2 = (0,040) (0,577) (0,914) = 0,02109512 X3 terhadap Y melalui X4 = (0,040) ( 0,121) (0,052) = 0,00025168 Besarnya pengaruh total variabel Kurs (X3) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah: = 0,0016+ 0,00109736+ 0,02109512+0,00025168= 0,02404416 109 Tabel 4.24 Total Pengaruh Kurs terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia setelah trimming Pengaruh Kurs terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia Besar Pengaruh Secara Langsung Tidak Langsung 0,0016 0,02244416 Total Pengaruh 0,02404416 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel Kurs memberikan pengaruh sebesar 0,0016 terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel Modal Inti, DPK dan Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,02244416. Secara total, variabel Modal Inti mempengaruhi sebesar 0,02404416. d. Pengaruh Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, besarnya Pengaruh Inflasi terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah sebagai berikut: • Pengaruh langsung = (0,052)2 = (0,052) (0,052) = 0,002704 • Pengaruh tidak langsung X4 terhadap Y melalui X1 = (0,052) (0,167) (0,058) = 0,000503672 110 X4 terhadap Y melalui X2 = (0,052) (0,051) (0,914) = 0,002423928 X4 terhadap Y melalui X3 = (0,052) (0,121) (0,040) = 0,00025168 Besarnya pengaruh total variabel Inflasi (X4) terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia (Y) adalah: = 0,002704+ 0,000503672 +0,002423928+0,00025168= 0,00588328 Tabel 4.25 Total Pengaruh Inflasi terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia setelah trimming Pengaruh Inflasi terhadap Pembiayaan yang Disalurkan Bank Muamalat Indonesia Secara Langsung Tidak Langsung Total Pengaruh Besar Pengaruh 0,002704 0,00317928 0,00588328 (Sumber : data Sekunder diolah) Secara langsung, variabel Inflasi memberikan pengaruh sebesar 0,002704 terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Secara tidak langsung, melalui hubungannya dengan variabel Modal Inti, DPK dan Kurs memberikan pengaruh sebesar 0,00317928. Secara total, variabel Modal Inti mempengaruhi sebesar 0,00588328. 111 D. Interpretasi Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disusun persamaan path analysis sebagai berikut : Y= 0,056MI + 0,916DPK + 0,004 SBI+ 0,040 KURS+0,049 Inflasi + 0,008 Hasil pengujian secara simultan, diketahui variabel Modal Inti, DPK, Suku Bunga SBI, Kurs dan Inflasi berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Hasil Pengujian secara parsial, variabel DPK, Kurs, dan Inflasi berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia, sedangkan variabel modal inti dan Suku Bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Variabel Suku Bunga SBI tidak signifikan dikarenakan SBI merupakan surat berharga yang yang dikeluarkan Bank Indonesia sebagai pengakuan atas utang yang memiliki jangka waktu pendek antara 1-3 bulan dengan sistem diskonto/bunga. Suku bunga SBI mengacu kepada BI rate yang pergerakannya fluktuatif. SBI dikeluarkan dengan tujuan untuk menyerap kelebihan likuiditas pada bank konvensional. Sedangkan Bank Indonesia telah menyediakan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) untuk menyerap kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah yang tidak mengenal bunga seperti bank konvensional. Sehingga Suku bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi penyaluran pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan Rossar Maries (2008) mengenai dampak fluktuasi 112 variabel ekonomi makro terhadap DPK dan Pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah di Indonesia dengan data-data yang digunakan adalah data time series dari tahun 2003-2007 yang berasal dari statistik perbankan syariah dan statistik ekonomi keuangan Indonesia yang menghasilkan variabel suku bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi pembiayaan. Persamaan setelah trimming : Y= 0,058 MI + 0,914DPK + 0,040 KURS+0,052 Inflasi + 0,008 Hasil pengujian secara simultan, diketahui variabel Modal Inti, DPK, kurs dan Inflasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel Modal Inti, DPK, kurs dan Inflasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Modal inti memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Artinya apabila terjadi kenaikan Modal inti, maka jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Sebagai lembaga keuangan masalah bank yang paling utama adalah dana. Tanpa dana yang cukup, bank tidak dapat berbuat apa-apa, atau dengan kata lain bank tidak dapat berfungsi sama sekali. Salah satu sumber dana bank adalah modal inti. Modal Inti merupakan faktor yang amat penting bagi perkembangan dan kemajuan bank sekaligus berfungsi sebagai penjaga kepercayaan masyarakat. Salah satu sumber dana yang bisa digunakan untuk pembiayaan adalah modal inti, 113 oleh karena itu semakin besar sumber dana yang salah satunya adalah modal inti, maka bank akan dapat meyalurkan pembiayaan dalam batas yang maksimum yang besar juga. Hasil ini didukung dengan teori yang dikemukakan oleh Muhammad (2005:52) bahwa dalam tataran operasional, secara umum dalam kondisi normal, besaran / totalitas pembiayaan sangat tergantung pada besaran dana yang tersedia baik yang berasal dari pemilik berupa modal (sendiri, termasuk cadangan) serta dana dari masyarakat luas. Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pembiayaan. Artinya, apabila jumlah DPK meningkatkan maka penyaluran kredit juga akan meningkat. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Luh Gede Meydyanawati (2007), Francisca (2008), Arief Wibowo (2007), Nurhayati Siregar (2005) dan Amiranti (2009) yang menyatakan bahwa dana pihak ketiga secara parsial memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan. Baik giro, deposito maupun tabungan turut memberikan andil di dalam kehidupan Perbankan, pengumpulan atas dana-dana tersebut digunakan Perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga untuk menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan yaitu memberikan pembiayaan kepada masyarakat. (Amiranti Marsya, 2009:18). Bank adalah sebagai organisasi (Lembaga Keuangan) yang berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada masyarakat. Jumlah dana yang dihimpun bank syariah dari masyarakat sudah tentu berupa simpanan tabungan, deposito dan giro. Pada umumnya motivasi utama orang menitipkan dana pada bank adalah keamanan dana mereka dan 114 mereka dapat menganmbilnya sewaktu-waktu. Semakin tinggi (besar) dana yang dihimpun bank syariah dari masyarakat maka jumlah dana bank pun akan meningkat. Seiring dengan hal itu seesuai dengan fungsinya bank harus menyalurkan dananya kembali ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan. Nilai tukar Rupiah/$ (kurs) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rossar Maries (2008) dan Ari Cahyono (2009) yang menghasilkan nilai tukar rupiah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Apabila kurs naik, maka suatu mata uang melemah terhadap mata uang negara lain, sehingga produsen yang memproduksi produk dengan bahan baku yang berasal dari impor akan menjadi lebih mahal. Hal tersebut mengakibatkan biaya produksi menjadi meningkat, sehingga produsen menetapkan harga jual produk tersebut menjadi lebih mahal. Akibatnya permintaan terhadap barang akan mengalami penurunan dan tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan barang substitusi yang pada akhirnya akan semakin menekan permintaan. Permintaan yang menurun akan disikapi oleh produsen dengan menurunkan pasokan sehingga tercapai keseimbangan baru. Agar permintaan meningkat kembali produsen perlu mengadakan inovasi dan promosi terhadap produknya. Maka dari itu produsen membutuhkan modal dan biaya tambahan untuk melakukan kegiatan inovasi dan promosi tersebut. Kemudian apabila Kurs turun maka suatu mata uang akan menguat terhadap mata uang negara lain. Produsen yang menggunakan bahan baku impor akan menyebabkan biaya produksi menurun sehingga harga jual 115 stabil. Hal tersebut membuat permintaan konsumen terhadap produk akan menjadi stabil dan produsen tidak membutuhkan dana untuk menjaga permintaan konsumen terhadap produknya, hal tersebut menyebabkan pembiayaan menjadi menurun. Variabel Inflasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Artinya, apabila inflasi mengalami kenaikan, maka jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ari Cahyono (2009) bahwa inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan. Setiap kenaikan pada inflasi akan meningkatkan Pembiayaan. Bila inflasi naik, maka konsep Bank Muamalat adalah Bagi hasil. Dengan konsep ini, sesungguhnya bank dan nasabah melakukan pengikatan dalam suatu ikatan investasi bersama, dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama, dimana ketika inflasi naik, maka harga akan naik. Dengan pendapatan konsumen yang tetap maka hal tersebut akan menurunkan pendapatan perusahaan. Sehingga produsen akan memilih bank Muamalat Indonesia karena mendapatkan ketenangan dan keadilan dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama. Sedangkan dalam kondisi inflasi turun, maka Bank Muamalat kurang menjadi pilihan, karena nasabah biasanya lebih memilih bank konvensional, karena tingkat bunga pinjaman yang rendah dan pendapatan atau laba perusahaan akan cenderung tinggi sementara kewajiban sudah ditetapkan di awal. Namun, 116 sesungguhnya konsep berbagi yang diterapkan bank syariah lebih adil dan menguntungkan kedua belah pihak dalam berbagai kondisi 117 BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil Uji Regresi Jalur atau Path analysis, menunjukan bahwa variabel Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia sebesar 0,992. Hasil uji juga menunjukan secara parsial variabel DPK, Kurs, dan Inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia, sedangkan variabel Modal Inti dan Suku Bunga SBI tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. 2. Hasil pengujian setelah trimming diketahui variabel Modal Inti, DPK, Kurs dan Inflasi memiliki pengaruh signifikan secara bersama-sama sebesar 0,992. Hasil uji juga menunjukan secara parsial bahwa variabel Modal Inti, DPK, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pembiayan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. 3. Hasil penghitungan pengaruh langsung dan tidak langsung variabel Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi 118 terhadap Pembiayaan Yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia, secara langsung 0,843, sedangkan secara tidak langsung sebesar 0,146. Dikarenakan terjadi trimming dengan cara membuang jalur variabel eksogen yang tidak signifikan diperoleh pengaruh langsung Modal Inti, DPK, Kurs dan Inflasi sebesar 0,843, sedangkan pengaruh tidak langsung sebesar 0,106. Sehingga total pengaruh sebesar 0,949. B. Implikasi Berkaitan dengan implikasi pada penelitian ini, peneliti menganalisis lima variabel eksogen yaitu Modal Inti, DPK, Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Inflasi terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia pada periode 2003:9 hingga 2009:9. Agar dapat memperoleh gambaran yang lebih mendalam serta komprehensif maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kepada Peneliti a. Penelitian berikutnya diharapkan menggunakan data yang lebih akurat dengan jumlah yang lebih banyak dan dengan rentang waktu yang lebih panjang. Penggunaan data yang lebih akuran dan dengan rentang waktu yang lebih panjang memungkinkan hasil penelitian lebih baik. b. Penelitian berikutnya diharapkan menggunakan metode dan alat uji yang lebih lengkap dan akurat sehingga diperoleh kesimpulan yang lebih valid. 119 2. Kepada Perbankan Syariah Dengan mengetahui Dana Pihak Ketiga (DPK) memiliki hubungan yang signifikan dan mempengaruhi paling besar terhadap pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia, maka pengumpulan DPK diusahakan semaksimal mungkin, dengan berbagai strategi pengumpulan dana yang efektif dan sesuai syariah. 3. Kepada Pemerintah Dengan adanya korelasi yang kuat antara bank syariah dan sektor riil, maka sudah seharusnya bahwa otoritas moneter dan pemerintah memberikan kesempatan yang luas kepada bank syariah untuk berkembang. Dukungan tersebut bisa dilakukan dengan dikeluarkannya undang-undang yang mendukung bank syariah. 4. Kepada Masyarakat/ Nasabah Dengan melihat bank syariah telah menjalankan konsep bagi hasil yang fair dan nyata maka diharapkan kepercayaan masyarakat tetap terjaga untuk menempatkan dananya dan melakukan pembiayaan pada bank syariah. 120 DAFTAR PUSTAKA Arifin Zainul, “Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah”, Cet 3, Pustaka Alvabet, Jakarta, 2005. Cahyono, Ari, “Pengaruh Indikator Makroekonomi terhadap Dana Pihak Ketiga danPembiayaan Bank Syariah Mandiri”, Tesis (Magister) Program Pasca Sarjana Timur Tengah dan Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2009. Darmawi, Herman, “Pasar Financial Dan Lembaga-Lembaga Finansial”, PT Bumi Aksara, 2006. Francisca dan Hasan Sakti Siregar, “Pengaruh Faktor Internal Bank terhadap Volume Kredit pada Bank yang GO PUBLIC di Indonesia”, artikel diakses tanggal 15 November 2009, dari http://www.akuntansi.usu.ac.id Hidayat, Toni, “Pengaruh Inflasi Terhadap Kinerja Pembiayaan Perbankan Syariah, Volume Transaksi Pasar Uang Anta rank Berdasarkan Prinsip Syariah (PUAS)dan Posisi Outstanding Sertifikat Wadiah Bank Indonesia”, Tesis (Magister) Program Pasca Sarjana Timur Tengah dan Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2007. Hasim, Mohamad Asy’ari, “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Bank Syariah”, Tesis (Magister) Program Pasca Sarjana Program Kekhususan Ekonomi Syariah Program Kajian Timur Tengah Dan Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004. Hamid, Abdul, “Buku Panduan Penulisan Skripsi”, FEIS UIN Press, Jakarta, 2007. Judisseno, Rimsky k,”Sistem Moneter dan Perbankan di Indonesia”, PT GRamedia pustaka utama. Jakarta, 2005. Kasmir, “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002. Karim, Adiwarman A, “Islamic Banking Fiqh and Finacial Analysis”, Kharisma Putra Utama. Jakarta. 2005 Khalwaty, T, “Inflasi Dan Solusinya”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.2001 Kuncoro, Mudrajad, “Dinamika Inflasi dan Kebijakan Energi Nasional”, artikel diakses tanggal 10 November 2009, dari http://www.anggaran.depkeu. go.id Mankiew, Gregory, “Principles of Economics (Pengantar Ekonomi Mikro)”, Edisi 3, Salemba Empat, Jakarta, 2006. 121 Marries, Rossar, “Dampak Fluktuasi Variabel Makro Terhadap Dana Pihak Ketiga Yang Dihimpun Dan Penyaluran Pembiayaan Perbankan Syariah Di Indonesia”, Tesis (Magister) Program Pasca Sarjana Timur Tengah dan Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008. Marsya, Amiranti, “Analisis Pengaruh Variabel Internal dan Eksternal Perbankan Terhadap Penawaran Kredit UMKM”. Skripsi sarjana FISIP UI, Jakarta. 2009. Meydianawathi, Luh Gede, “Analisis Perilaku Penawaran Kredit Perbankan Kepada Sektor UMKM di Indonesia”, Buletin Studi Ekonomi Volume 12 Nomor 2 Tahun 2007. Mufraini, M. Arief, “Modul Perbankan Syariah”. Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Jakarta, 2008. Muhammad, “Manajemen Pembiayaan Bank Syariah”, Yogyakarta : UPP AMP YKPN, 2005. Muhammad, “Manajemen Bank Syariah”, Penerbit: UPP AMP YKPN, Yogyakarta 2000. Nanga, Muana, “Teori, Masalah, dan Kebijakan”, Rajawali Gravindo, Jakarta, 2005. Pratin dan Akhyar Adnan, “Analisis Hubungan Simpanan, Modal Sendiri, NPL, Prosentase Bagi Hasil dan Mark up Keuntungan terhadap Pembiayaan pada Perbankan Syariah Studi Kasus pada Bank Muamalat Indonesia (BMI)”, SINERGI Edisi Khusus on Finance, 2005. Riduwan, Engkos Achmad Kuncoro, “Cara Menggunkan dan Memaknai Analisis Jalur (Path Analyssis), Alfabeta, Bandung, 2008. Sambas Ali Muhidin dan Maman Abdul Rahman. “Analisis Korelasi, Regresi dan Jalur Dalam Penelitian”, Pustaka Setia, Bandung :2007. Samuelson , Paul A dan William Nordhaus. “Ilmu Makroekonomi”, Edisi Tujuh Belas, PT. Media Global Edukasi, Jakarta. 2004. Sarwono, Jonathan, “Analisis jalur untuk riset bisnis dengan SPSS”, Penerbit : Andi. Yogyakarta. 2007. Siregar, Nurhayati, “Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran dana perbankan syariah.” Universitas Sumatra Utara, 2005. Siamat,Dahlan,”Manajemen Lembaga Keuangan”,Edisi keempat,Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. 122 Siamat, Dahlan, “Manajemen Lembaga Keuangan”, Edisi Kelima, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2005. Suad, Husnan, “Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas”, edisi 3, AMP YKPN, Yogyakarta, 2001. Sukirno, Sadono. “Teori Pengantar Makro Ekonomi”. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2004. Sudarsono, Heri, “Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi”. Ekonosia, Yogyakarta, 2004. Sri, Sulad Hardanto. “Manajemen risiko bagi bank umum”. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2006. Syafei, Rahmat. “Fiqih Muamalat untuk IAIN STAIN PTAIS dan Umum”, Pustaka Setia. Bandung, 2001. Syafi’I, Muhammad Antonio, “Bank Syariah dari Teori ke Praktik”, Gema Insani, Jakarta,2004. Syafi’I, Muhammad Antonio, “Bank Syariah dari Teori ke Praktik”, Gema Insani, Jakarta,2001. Umar, Husein , “Strategic Management in action”. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 2008. Wibowo, Arief. “Pengaruh Jumlah Penghimpunan dana Bank, Suku Bunga Kredit Modal Kerja, dan Tingkat Laju Inflasi Terhadap Jumlah Alokasi Kredit Modal Kerja pada Bank-Bank Umum di Indonesia”, Skripsi sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia. 2007. www.bi.go.id www.wikipedia.com www.muamalatbankindonesia.com 123 Lampiran Modal Inti September 2003 – September 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Modal Inti (dalam jutaan Rupiah) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 274290 278208 278990 306188 302224 285322 325355 327453 283308 307693 307896 310328 302494 304617 307447 314937 372973 376121 383028 351181 674574 681150 686027 692049 684892 705519 680417 683308 765562 767481 776739 750805 470658 706304 787165 709445 729504 727014 732063 834343 851095 867848 778298 783539 896629 912619 928609 944599 960589 976579 992569 1008559 859512 878583 1031271 884840 890643 1052749 820945 827012 836844 847077 856916 852239 980563 989389 998632 1079700 1091661 916996 918257 921038 891893 - Dana Pihak Ketiga (DPK) 2003 – September 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Dana Pihak Ketiga (DPK) (Dalam Jutaan Rupiah) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 - 2.587.382 4.157.629 5.686.933 6.658.917 8.891.572 10.518.538 2.258.525 4.144.197 5.432.230 7.044.726 9.003.411 10.474.555 2.636.317 4.308.330 5.419.571 7.069.942 9.134.198 10.824.597 2.739.514 4.707.415 5.545.239 7.088.711 9.317.424 10.539.425 2.875.296 4.563.341 5.774.285 7.381.895 9.372.644 10.668.452 2.895.683 4.793.776 5.831.903 7.523.357 9.148.712 12.379.938 3.125.941 4.850.664 6.262.041 7.625.606 9.503.218 12.184.187 3.368.517 5.002.819 6.057.638 7.746.571 9.515.373 11.906.514 1.999.492 3.409.972 5.180.008 6.354.609 7.867.535 9.783.836 12.177.743 2.086.091 3.611.441 5.298.525 6.621.705 7.988.500 9.783.331 - 2.225.538 3.674.560 5.358.973 6.665.055 8.109.464 9.765.970 - 2.508.875 4.330.564 5.824.329 6.837.431 8.230.428 10.073.953 - 124 Data Suku Bunga SBI, September 2003 – September 2009 Suku Bunga SBI Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2003 0.0072 0.0071 0.0071 0.0069 2004 0.0066 0.0064 0.0062 0.0061 0.0061 0.0061 0.0061 0.0061 0.0062 0.0062 0.0062 0.0062 2005 0.0062 0.0062 0.0062 0.0064 0.0066 0.0069 0.0071 0.008 0.0083 0.0092 0.0102 0.0106 2006 0.0106 0.0106 0.0106 0.0106 0.0104 0.0104 0.0102 0.0098 0.0094 0.009 0.0085 0.0081 2007 0.0079 0.0077 0.0075 0.0075 0.0073 0.0071 0.0069 0.0069 0.0069 0.0069 0.0069 0.0067 2008 0.0067 0.0066 0.0066 0.0067 0.0069 0.0073 0.0077 0.0077 0.0081 0.0092 0.0094 0.0090 2009 0.0079 0.0073 0.0068 0.0063 0.0060 0.0058 0.0056 0.0055 0.0054 - Data Nilai Tukar Rupiah terhadap US $, September 2003 – September 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2003 8389 8495 8537 8447 2004 8441 8447 8587 8661 9210 9415 9168 9328 9170 9090 9018 9290 Nilai tukar rupiah/$ 2005 2006 2007 9165 9395 9090 9260 9230 9160 9480 9075 9118 9570 8775 9083 9495 9220 8828 9713 9300 9054 9819 9070 9186 10240 9100 9410 10310 9235 9137 10090 9110 9103 10035 9165 9376 9830 9020 9419 125 2008 9291 9051 9217 9234 9318 9225 9118 9153 9378 10995 12151 10950 2009 11355 11980 11575 10713 10340 10225 9920 10060 9681 - Data Inflasi, September 2003 – September 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2003 0.0064 0.0060 0.0063 0.0072 2004 0.004 0.0038 0.0043 0.0049 0.0054 0.0057 0.006 0.0056 0.0052 0.0052 0.0052 0.0053 2005 0.0061 0.006 0.0073 0.0068 0.0062 0.0062 0.0065 0.0069 0.0076 0.0149 0.0153 0.0143 Inflasi 2006 2007 0.0142 0.0052 0.0149 0.0053 0.0131 0.0054 0.0128 0.0058 0.013 0.005 0.0129 0.0048 0.0126 0.0051 0.0124 0.0054 0.0121 0.0058 0.0052 0.0057 0.0044 0.0056 0.0055 0.0055 2008 0.0061 0.0062 0.0068 0.0075 0.0087 0.0092 0.0099 0.0099 0.0101 0.0098 0.0097 0.0092 2009 0.0076 0.0072 0.0066 0.0061 0.005 0.003 0.0023 0.0023 0.0024 - Pembiayaan, September 2003 – September 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Pembiayaan (Dalam Jutaan Rupiah) 2003 2070883 2220997 2283739 2363680 2004 2388464 2285826 2559563 2823036 3038989 3353305 3455078 3624744 3766817 3903783 3981008 4182224 2005 4102756 4203302 4461497 4604735 4868004 5051546 5271942 5490191 5802114 5827199 5871467 6054832 126 2006 6026286 5965145 6061194 6058322 6202061 6511072 6843934 6332761 6510072 6640642 6610266 6626998 2007 7347158 7478197 6398974 6754671 7661509 7302083 7863773 7985839 8107906 8229972 8352038 8474105 2008 8549409 8650887 8742830 9078795 9363432 9221101 9810663 10172241 10408969 10484026 10603530 10517863 2009 10643234 10666434 10655895 10751728 10880987 11135534 11129176 11214152 11275560 - Hasil data di LN agar tidak terjadi ketimpangan data SBI 2003 2004 2005 2006 Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Nei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Nei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 Nilai tukar Rp/$ 9.03 9.05 9.05 9.04 9.04 9.04 9.06 9.07 9.13 9.15 9.12 9.14 9.12 9.11 9.11 9.14 9.12 9.13 9.16 9.17 9.16 9.18 9.19 9.23 9.24 9.22 9.21 9.19 9.15 9.13 9.11 9.08 9.13 9.14 9.11 9.12 9.13 9.12 9.12 9.11 Modal Inti 12.52 12.54 12.54 12.63 12.62 12.56 12.69 12.70 12.55 12.64 12.64 12.65 12.62 12.63 12.64 12.66 12.83 12.84 12.86 12.77 13.42 13.43 13.44 13.45 13.44 13.47 13.43 13.43 13.55 13.55 13.56 13.53 13.06 13.47 13.58 13.47 13.50 13.50 13.50 13.63 Inflasi 0.01 0.01 0.01 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.02 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.00 0.01 127 DPK PYD 14.51 14.55 14.62 14.74 14.77 14.63 14.78 14.82 14.87 14.88 14.96 15.03 15.04 15.10 15.12 15.28 15.24 15.24 15.28 15.36 15.33 15.38 15.39 15.43 15.46 15.48 15.49 15.58 15.55 15.51 15.51 15.53 15.57 15.58 15.65 15.62 15.66 15.71 15.71 15.74 14.54 14.61 14.64 14.68 14.69 14.64 14.76 14.85 14.93 15.03 15.06 15.10 15.14 15.18 15.20 15.25 15.23 15.25 15.31 15.34 15.40 15.44 15.48 15.52 15.57 15.58 15.59 15.62 15.61 15.60 15.62 15.62 15.64 15.69 15.74 15.66 15.69 15.71 15.70 15.71 2007 2008 2009 Jan Feb Mar Apr Nei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Nei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Nei Jun Jul Ags Sep 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 9.11 9.12 9.12 9.11 9.09 9.11 9.13 9.15 9.12 9.12 9.15 9.15 9.14 9.11 9.13 9.13 9.14 9.13 9.12 9.12 9.15 9.31 9.41 9.30 9.34 9.39 9.36 9.28 9.24 9.23 9.20 9.22 9.18 13.65 13.67 13.56 13.57 13.71 13.72 13.74 13.76 13.78 13.79 13.81 13.82 13.66 13.69 13.85 13.69 13.70 13.87 13.62 13.63 13.64 13.65 13.66 13.66 13.80 13.80 13.81 13.89 13.90 13.73 13.73 13.73 13.70 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.00 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 128 15.71 15.77 15.77 15.77 15.81 15.83 15.85 15.86 15.88 15.89 15.91 15.92 16.00 16.01 16.03 16.05 16.05 16.03 16.07 16.07 16.10 16.10 16.09 16.13 16.17 16.16 16.20 16.17 16.18 16.33 16.32 16.29 16.32 15.81 15.83 15.67 15.73 15.85 15.80 15.88 15.89 15.91 15.92 15.94 15.95 15.96 15.97 15.98 16.02 16.05 16.04 16.10 16.14 16.16 16.17 16.18 16.17 16.18 16.18 16.18 16.19 16.20 16.23 16.23 16.23 16.24 Lampiran output SPSS GET FILE='I:\DATAQU~1.SAV'. REGRESSION /MISSING LISTWISE /STATISTICS COEFF OUTS R ANOVA /CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10) /NOORIGIN /DEPENDENT lnpyd /METHOD=ENTER lnmi lndpk sbi lnkurs inflasi. Variables Entered/Removed Variables ReModel Variables Entered 1 inflasi, lndpk, lnkurs, sbi, lnmi moved Method . Enter a a. All requested variables entered. Model Summary Std. Error of the Model R R Square .996a 1 Adjusted R Square .992 Estimate .991 .04410 a. Predictors: (Constant), inflasi, lndpk, lnkurs, sbi, lnmi ANOVAb Model 1 Sum of Squares Regression Residual Total df Mean Square 16.244 5 3.249 .130 67 .002 16.374 72 a. Predictors: (Constant), inflasi, lndpk, lnkurs, sbi, lnmi b. Dependent Variable: lnpyd 129 F 1670.609 Sig. .000a Coefficientsa Standardized CoefUnstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) ficients Std. Error Beta -1.379 .669 lnmi .058 .033 lndpk .891 t Sig. -2.061 .043 .056 1.762 .083 .032 .916 27.843 .000 1.396 7.742 .004 .180 .857 lnkurs .248 .084 .040 2.943 .004 inflasi 7.156 3.321 .049 2.155 .035 sbi a. Dependent Variable: lnpyd CORRELATIONS /VARIABLES=lnmi lndpk sbi lnkurs inflasi /PRINT=TWOTAIL NOSIG /MISSING=PAIRWISE. Correlations lnmi lnmi Pearson Correlation lndpk lndpk Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N sbi .271* .473** .167 .000 .021 .000 .158 73 73 73 73 73 .917** 1 .103 .577** .051 .385 .000 .666 .000 73 73 73 73 .271* .103 1 .102 .870** .021 .385 .392 .000 73 73 73 73 73 .473** .577** .102 1 .121 .000 .000 .392 73 73 73 73 73 Pearson Correlation .167 .051 .870** .121 1 Sig. (2-tailed) .158 .666 .000 .306 73 73 73 73 Pearson Correlation N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N inflasi inflasi 73 Sig. (2-tailed) lnkurs lnkurs .917** 1 Sig. (2-tailed) N sbi N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 130 .306 73 Hasil Out Put SPSS Setelah Trimming REGRESSION /MISSING LISTWISE /STATISTICS COEFF OUTS R ANOVA /CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10) /NOORIGIN /DEPENDENT lnpyd /METHOD=ENTER lnmi lndpk lnkurs inflasi. Variables Entered/Removed Variables ReModel Variables Entered 1 inflasi, lndpk, lnkurs, lnmi moved Method . Enter a a. All requested variables entered. Model Summary Std. Error of the Model R R Square .996a 1 Adjusted R Square .992 Estimate .992 .04378 a. Predictors: (Constant), inflasi, lndpk, lnkurs, lnmi ANOVAb Model 1 Sum of Squares Regression Residual Total df Mean Square 16.244 4 4.061 .130 68 .002 16.374 72 a. Predictors: (Constant), inflasi, lndpk, lnkurs, lnmi b. Dependent Variable: lnpyd 131 F 2118.394 Sig. .000a Coefficientsa Standardized CoefUnstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) ficients Std. Error Beta -1.375 .664 lnmi .060 .030 lndpk .890 lnkurs inflasi t Sig. -2.071 .042 .058 1.991 .050 .030 .914 29.229 .000 .247 .084 .040 2.962 .004 7.671 1.690 .052 4.538 .000 a. Dependent Variable: lnpyd CORRELATIONS /VARIABLES=lnmi lndpk lnkurs inflasi /PRINT=TWOTAIL NOSIG /MISSING=PAIRWISE. Correlations lnmi lnmi Pearson Correlation lndpk lndpk Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N lnkurs .473** .167 .000 .000 .158 73 73 73 73 .917** 1 .577** .051 .000 .666 .000 73 73 73 73 .473** .577** 1 .121 .000 .000 73 73 73 73 Pearson Correlation .167 .051 .121 1 Sig. (2-tailed) .158 .666 .306 73 73 73 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N inflasi inflasi .917** 1 Sig. (2-tailed) N lnkurs N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 132 .306 73

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (147 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Analisis pengaruh tingkat suku bunga SBI, tingkat inflasi, tingkat suku bunga kredit modal kerja terhadap posisi kredit modal kerja : studi kasus pada kelompok bank diperbankan indonesia
0
3
129
Analisis pengaruh asset, dana pihak ketiga dan kredit yang diberikan terhadap kinerja efisiensi Bank Persero di Indonesia
0
6
139
Analisis pengaruh inflasi, DPK dan tingkat suku bunga kredit modal kerja terhadap posisi kredit modal kerja : studi kasus pada bank persero
2
25
111
Analisi pengaruh dana pihak ketiga (DPK) dan non performing financing (NPF) terhadap pembiayaan yang disalurkan serta imlekasinya pada return on assets (ROA) di Bank Muamalat Indonesia
2
38
96
Analisis pengaruh nilai tukar, kridit, suku bunga SBI, Inflasi dan investasi terhadap jumlah uang beredar (m2) di Indonesia
0
3
157
Analisis pengaruh modal inti, dana pihak ketiga (DPK), suku bunga SBI, nilai tukar rupiah (KURS) dan infalnsi terhadap pembiayaan yang disalurkan : studi kasus Bank Muamalat Indonesia
5
100
147
Analisis pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dan Dollar Inflasi, dan Jumlah uang beredar (M2) terhadap dana pihak ketiga (DPK) serta implikasinya pada pembiayaan Mudharabah pada perbankan Syariah di Indonesia
0
13
137
Analisis pengaruh dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, dan suku bunga sertifikasi
0
3
132
Analisis pengaruh inflasi, nilai tukar (KURS), suku bunga SBI dan jumlah berdar (M2) terhadap dan pihak ketiga DPK) serta implikasinya terhadap volume transaksi pasar uang antara bank (PUAB)
2
16
152
Pengaruh return bagi hasil (mudharabah) terhadap dana pihak ketiga (DPK) pada Bank Muamalat Indonesia
1
5
76
Efektifitas model penghimpunan dana pihak ketiga : studi kasus kartu shar-E PT. Bank Muamalat Indonesia,Tbk.
0
7
82
Analisis pengaruh dana pihak ketiga, tingkat bagi hasil, serifikat wadiah bank Indonesia terhadap pembiayaan pembiayaan pada syariah di Indonesia; studi kasus pada PT Bank Syariah Mandiri
0
4
145
Pengaruh IHSG, SBI, Inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap kinerja reksa dana saham : periode 2004 - 2006
0
4
101
Analisis pengaruh tingkat inflasi SBI, jumlah uang beredar, dan tingkat pendapatan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika
0
7
115
Pengaruh dana pihak ketiga dan tingkat suku bunga terhadap kredit yang diberikan : (studi kasus pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)
8
48
75
Show more