Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Sim Rs) Dalam Pemenuhan Pelayan Kesehatan

Gratis

47
460
180
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Trisna Prihatin selaku Kepala Seksi Pelayanan Medis yang telah meluangkan waktu sebagai informan dan banyak membantu danmemudahkan penulis dalam melaksanakan penelitian di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan 9. Ibu Sri Ermi, Ibu Deny dan Seluruh staf Rumah Sakit Tingkat II Putri HijauKesdam I/BB Medan yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan penelitian dan pengumpulan data.

G. Samosir, Sampai Anugrah, Daniel Simangunsong dan Khainur Rahman, kalian luar biasa, terima kasih

  58 4.4 Visi, Misi dan Motto Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau KesdamI/BB Medan .............................................................................................. 40 Gambar 4.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan Hijau Kesdam I/BB Medan ..........................................

DAFTAR LAMPIRAN

  Mengingat Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau KesdamI/BB merupakan rumah sakit pemerintah yang berada dibawah pengelolaan TNI-AD, nilai-nilai kedisplinan yang dijunjung dalam TNI-AD tercermin dari pelayanan kesehatan yang diberikan, begitu juga dalam pemilihan vendor aplikasiSIM RS, pihak rumah sakit memilih yang dapat mengakomodir kebutuhan mereka. Mengingat Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau KesdamI/BB merupakan rumah sakit pemerintah yang berada dibawah pengelolaan TNI-AD, nilai-nilai kedisplinan yang dijunjung dalam TNI-AD tercermin dari pelayanan kesehatan yang diberikan, begitu juga dalam pemilihan vendor aplikasiSIM RS, pihak rumah sakit memilih yang dapat mengakomodir kebutuhan mereka.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan

  Hal ini terlihat dari hasil beberapa penelitian yang dilakukan, salah satunya adalah penelitian yangdilakukan oleh Julia Megawarni (2013) dalam Skripsinya yang berjudulPelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) di Rumah SakitMartha Friska Multatuli Medan mengemukakan bahwa adapun hambatan umum yang ada pada pelaksanaan SIM RS adalah sebagai berikut :a. Dari beberapa hasil penelitian tersebutm ternyata pelaksanaan SIM RS di rumah sakit yang ada di Indonesia memang masih belum maksimal, maka dari itupeneliti memilih untuk melakukan peneltian mengenai SIM RS disalah satu rumah sakit milik TNI-AD yang ada dikota Medan yakni Rumah Sakit Tingkat II PutriHijau Kesdam I/BB Medan.

I. 6. Sistematika Penulisan

  BAB V PENYAJIAN HASIL PENELITIAN Bab ini menguraikan tentang hasil data BAB VI ANALISIS DATA Bab ini merupakan tempat melakukan analisis data yang diperoleh saat penelitian dan memberikan interpretasi atas permasalahanyang diajukan. BAB VII PENUTUP Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan dan saran-saran yang dianggap perlu sebagai rekomendasikebijakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebijakan Publik

2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik

  Menurut Laswell dan Kaplan dalam Subarsono (2005: 3) mengemukakan bahwa kebijakan publik hendakanya berisi tujuan, nilai-nilai, dan praktek-prakteksosial yang ada dalam masyarakat. Ini berarti kebijakan publik tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dan praktek sosial yang ada dalam masyarakat.

2.1.2 Proses Kebijakan Publik

  Karenakebijakan memiliki banyak proses dan variabel yang harus dikaji, kebijakan memiliki tahap-tahap yang cukup kompleks, seperti yang dikemukakan olehWilliam Dunn dalam Dwiyanto (2009: 20), tahap-tahap tersebut adalah : Gambar 2.1 Proses Kebijakan Publik PERUMUSAN Penyusunan Agenda KEBIJAKAN REKOMENDASI Formulasi Kebijakan PEMANTAUAN Adopsi Kebijakan Implementasi PERAMALAN Kebijakan PENILAIAN Penilaian Kebijakan Sumber : Subarsono 2005 1. Evaluasi KebijakanKebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang telah mampu memecahkan masalah, denganmenentukan kriteria atau ukuran yang menajdi dasar penilaian apakah kebijakan publik tersebut telah meraih dampak yang diinginkan.

2.2 Implementasi Kebijakan

  Patton dan Savichi dalam Tangkilisan (2003: 29) menyebutkan bahwa implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untukmerealisasikan program, dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisir, menginterpretasikan, dan menerapkan kebijakan yang telahdiseleksi. Proses yang perlu ditekankan disini adalah bahwa tahap implementasi Ketika telah masuk di dalam tahapan implementasi dan terjadi interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi kebijakan, barulah keberhasilanmaupun ketidakberhasilan dari suatu kebijakan publik akan diketahui.

2.2.1 Teori Implementasi Kebijakan

  Menurut Meter dan Horn, ada enam variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi, yaitu:1) Standar dan sasaran kebijakan Standar dan sasaran kebijakan pada dasarnya adalah apa yang hendak dicapai oleh program atau kebijakan, maka dari itu harus jelas dan terukursehingga dapat direalisir. Kepentingan yang dipengaruhi Melaksanakan kegiatan Dipengaruhi oleh:(a) Isi kebijakan Tujuan Kebijakan Tujuan yang ingin dicapai Program aksi dan proyek individu yang didesain dan dibiayai Program yang dijalankanseperti direncanakan?

2.2.2 Model Implementasi Yang Digunakan

  Sumber daya manusia, sumber dayadana, dan fasilitas, Informasi dan Kewenangan yang akan digunakan sangat mempengaruhi pelaksanaan implementasi kebijakan tersebut. Dalam struktur birokrasi harus ada prosedur tetap bagipelaku kebijakan dalam melaksankan kebijakannya dan adanya tanggung jawab dalam menjalankan sebuah kebijakan demi mencapai tujuan yang ingin dicapai.

2.3 Penelitian Terdahulu

  Selain rumah sakit di kota Medan yang memiliki masalah diatas, ternyata tidak jauh beda dengan pelaksanaan SIM RS yang ada di luar kota Medan sepertidi pulau Jawa yang juga memiliki masalah yang hampir sama, penelitian yangIndra Gunawan (2013) mengatakan adanya kendala pada sumberdaya manusia yang ada pada RSUD Brebes yakni belum semua sumberdaya manusia melakukaninput data pada SIM RS dan belum memahami pelaporan SIRS Online KemenkesRI. Setiap Rumah Sakityang memiliki hambatan dan kendala dalam pengembangan SIM RS harus dengan cepat mengatasi dan menyelesaikannya dengan memberikan pemahaman,pelatihan dan insentif kepada setiap pegawai yang memanfaatkan SIM RS dengan lebih optimal.

2.4 Pelayanan Kesehatan

  Keadilan yakni standar pelayanan harus menjamin bahwa pelayanan yang diberikan dapat menjangkau semua masyarakat yang berbeda statusekonomi, jarak lokasi geografis, dan perbedaan kapabilitas fisik dan mental. Pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkankesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan seseorang, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Azwar,1996: 44).

2.3.1 Bentuk Pelayanan Kesehatan

  Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, penguranganpenderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapatberfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.

2.3.2 Asas Pelayanan Kesehatan

  asas perikemanusiaan yang berarti bahwa pembangunan kesehatan harus dilandasi atas perikemanusiaan yang berdasarkan pada Ketuhanan YangMaha Esa dengan tidak membedakan golongan agama dan bangsa. asas keadilan berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dapat memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada semua lapisanmasyarakat dengan pembiayaan yang terjangkau.

2.3.3 Rumah Sakit

  Rumah sakit umum kelas A, adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistikluas. Sebagai akibat telah dibenarkannya pemilik modal bergerak dalamperumahsakitan, menyebabkan mulai banyak ditemukannya rumah sakit swasta yang telah dikelola secara komersial serta yang berorientasi mencarikeuntungan, walaupun untuk yang terakhir ini harus tetap mempertahankan fungsi sosial rumah sakit swasta tersebut dan menyediakan sekurang-kurangnya 20% dari tempat tidurnya untuk masyarakat golongan tidak mampu.

3) Kewajiban dan Hak Rumah Sakit

  Mempromosikan layanan kesehatan yang ada di rumah sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan Universitas Sumatera Utarah. Mendapatkan insentif pajak bagi rumah sakit publik dan rumah sakit yang ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan.

2.3.4 Instalasi Rawat Inap

2.5.1 Sistem Informasi Manajemen

  Menurut Muninjaya (2004: 232) Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi observasi, pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medikdengan menginap di ruang rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta Puskesmas perawatan dan rumah bersalin yang olehkarena penyakitnya penderita harus menginap. Sedangkan menurut Wiyono(2000), pelayanan rawat inap adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, Menurut Sabarguna (2003: 5), Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh dan terdiri dari berbagai faktor yang berhubungan atau diperkirakan berhubungan sertasatu sama lain mempengaruhi yang kesemuanya dengan sadar dipersiapkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.5.2 Sistem Informasi Rumah Sakit

  Sistem Informasi adalah suatu cara tertentu untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh organisasi untuk beroperasi dengan cara yang sukses danuntuk organisasi bisnis dengnan cara menguntungkan. 82 Tahun 2013, Sistem Informasi ManajemenRumah Sakit (SIM RS) adalah suatu sistem teknologi informasi komunikasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan Rumah Sakitdalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara tepat dan akurat, dan merupakan bagian dari SistemInformasi Kesehatan.

1) Manfaat Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS)

  Adapun manfaatSistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS) tersebut terdiri dari : a) Meningkatkan profesionalisme manajemen rumah sakit dimana terjadi peningkatan pemahaman terhadap sistemb) Merubah budaya kerja menjadi lebih disiplin, dimana setiap unit akan bekerja sesuai fungsi, tanggung jawab dan wewenangnya. d) Lebih akurat dan transparan, karena mencegah terjadinya duplikasi data untuk transaksi-transaksi tertentu yang pasti akan berakibat padapeningkatan pelayanan.

2) Komponen Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS)

  Secanggih apapun SIMRS yang dibuat,kalau sumber daya manusia yang ada tidak siap dan belum memiliki kemampuan yang mencukupi untuk mengoperasikan, kecanggihan sistemtersebut menjadi tidak berarti. Sumber Daya Perangkat Lunak (Software Resources) Sumber daya ini merupakan kumpulan dari perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugastertentu, yang berupa system software, application software, dan prosedur.

3) Modul – Modul SIM RS

  Untuk memudahkan mengelola data di rumah sakit, diperlukan modul pada setiap sistem Rumah Sakit, yang terdiri dari Modul pendaftaran dan penerimaan,Modul Pencatatan Medik, Modul Pelayanan Gawat Darurat, Modul PelayananRawat Jalan, Modul Pelayanan Rawat Inap, Modul Akuntansi Pasien, ModulAkuntansi Umum, Modul Sistem Piutang, Modul Sistem Utang, Modul Penggajian, Modul Apotek, Modul Laboratorium, Modul Radiologi. Pada proses rawat inap, penerapan modul rawat inap ini terintegrasi dengan modul rawat jalan dan IGD.

4) Syarat Keberhasilan SIM RS

  Dalam pelaksanaan SIM RS terdapat hal-hal yang menjadi persyaratan yang menentukan keberhasilannya (Affandie, 1994: 91), yakni: 1. Adanya komitmen dari pimpinan Rumah Sakit untuk menerapkan teknologi ini di dalam organisasi dengan segala konsekuensinya; 2.

2.6 Definisi Konsep

  Implementasi Kebijakan dalam penelitian ini yaitu proses pelaksanaan SistemInformasi Manajemen Sistem Informasi Rumah Sakit (SIM RS) di RumahSakit tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan sesuai dengan yang diamanatkan pada PERMENKES no. Komunikasi yang baikmeliputi proses penyampaian informasi yang akurat, jelas, konsisten, menyeluruh serta koordinasi antar instansi-instansi yang terkait dalamproses implementasi dan bentuk koordinasi yang dilakukan, apakah koordinasi horizontal, vertikal.

2.7 Defenisi Operasional

  Definisi operasional adalah unsur-unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara menyusun suatu variabel sehingga dalampengukuran ini dapat diketahui indikator-indikator pendukung apa saja yang 1. Sumber daya, adapun fenomena yang diamati adalah : a) Personil, terdiri dari :1) Jumlah personil atau staf yang ada2) Kompetensi yang dimiliki personil3) Motivasi dan komitmen dalam memberikan pelayanan b) Informasi dan fasilitas (sarana dan prasarana) c) Pembiayaan (anggaran/dana, sumber dana, kondisi pembiayaan) 3.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Sedangkan metode penelitian ekspalanatif adalah suatu metode penelitian yang dimaksudkan untuk menemukan dan mengembangkan teorisehingga hasil atau produk penelitiannya dapat menjelaskan kenapa atau mengapa(variabel anteseden apa saja yang mempengaruhi) terjadinya suatu gejala atau kenyataan sosial tertentu (Sanapiah, 2007: 18). Menurut Suyanto (2005: 172),Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian.

3.4.1 Populasi

  Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untukdipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005: 90). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang sedang menjalani rawat inap di RumahSakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

3.4.2 Sampel

  Menurut Singarimbun (1989: 53) sampel diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya, dengan kata lain sampel adalahbagian dari populasi. Diketahui sampai akhir bulan Januari, jumlah pasien yang sedang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan adalahsebanyak 182 orang.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung di lokasi penelitian untuk mencari kebenaran dan data yang lengkap danberkaitan dengan masalah yang diteliti. Wawancara, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya-jawab secara langsung dan mendalam untuk memperoleh data lengkap danmendalam kepada pihak-pihak yang terkait.

3.6 Teknik Analisis Data

  Menurut Moleong (2006: 247), teknik analisa data kualitatif dilakukan dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul,menyusunnya dalam satu satuan yang kemudian dikategorikan pada tahap Menurut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2010: 337), analisis terdiri dari 3 jalur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu :a. Reduksi Data, yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

  4.1 Sejarah Singkat Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan Setelah masa kemerdekaan Tahun 1945 banyak anggota tentara maupun keluarganya yang mengalami sakit dan berdomisili di Medan memanfaatkanfasilitas kesehatan rumah sakit swasta yang ada disekitar medan. Karena rumah sakit tentara satu-satunya yang ada di Sumatera Utara hanya ada di PematangSiantar ( merupakan peninggalan tentara Belanda ) sementara jumlah anggota yang memanfaatkan fasilitas kesehatan ini terus bertambah dari hari kehari, untukitu para pejuang kemerdekaan maupun dokter tentara yang ada di Medan berpikir perlu adanya fasilitas kesehatan ( Rumah sakit ) khusus tentara di Kota Medanini.

2 Luas bangunan 18.93, m

  4.4 Visi, Misi dan Motto Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan Rumkit Tk II Putri Hijau Medan yang merupakan pelaksana Kesdam I/BB dalam memberikan pelayanan kepada prajurit TNI , PNS TNI beserta ” yang diwujudkan melalui Misi : 1. ” 4.5 Struktur Organisasi Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan Struktur organisasi Rumkit Tk II Putri Hijau berdasarkan pada PeraturanKepala Staf TNI Angkatan Darat Nomor Perkasad/25/XII/2007 tanggal 31Desember 2007 tentang Organisasi dan Tugas Kesehatan Daerah Militer (Kesdam) termasuk Rumah Sakit Tk II Putri Hijau.

4.6 Jenis Pelayanan

  II Putri Hijau Kesdam I/BB memilikiFasilitas Pelayanan dan Sarana Penunjang, yaitu :1) Fasilitas Pelayanan : a) Rawat Jalan/Poliklinik(1) Instalasi Gawat Darurat 24 jam(2) Poliklinik Gigi dan Laboratorium Gigi(3) Hemodialisa(4) Poliklinik Onkologi / Kemotherapi (5) Poliklinik KB SUSI ( Suami Sayang Istri). Bedah Umum, Ortopedi dan Bedah Syaraf(c) Pol.

RUANG NAMA RUANG JUMLAH TT

  Tenaga kesehatan organik terdiri atas Personel yang bestatus TNI/PNS, tenaga Medis,tenaga Paramedis dan Non Medis. Jumlah tenaga medis di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BBMedan sebanyak 70 orang terdiri dari : dokter umum 26 orang, dokter gigi 9 orang, dokter spesialis 35 orang.

4.8 Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

Uraian tugas dan tanggung jawab personel yang ada di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan dan menjadi lingkup dalam penelitian ini antara lain:

1. KEPALA RUMAH SAKIT (KARUMKIT)

  Rumah sakit Tingkat II Putri Hijau kesdam I/BB Medan dipimpin oleh seorang Kepala Rumah Sakit atau disingkat Karumkit yang berstatus aktifsebagai TNI - AD dengan pangkat Kolonel. Menyelenggarakan dan melaksanakan semua jenis kegiatan pengobatan dan perawatan penderita berdasarkan tehnik dan pengetahuan kedokteranumum dan spesialis sesuai dengan tingkatnya.

2. SEKSI PELAYANAN MEDIK (SIYANMED)

  Menyelenggarakan dan melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data rumah sakit serta penyajiand. Dan yang terakhir, yang merupakan tugas Insidentil dari seorangKasiyanmed yaitu : a.

3. INSTALASI RAWAT INAP (INSTALWATNAP)

  Adapun jabatan yang berada dibawah Instalwatnap dan bertanggung jawab kepada Kainstalwatnap adalah : b. Mengadakan koordinasi dengan Kadep, Kainstal, Kosi yang ada hubungannya dengan penderita rawat inap.

BAB V PENYAJIAN HASIL PENELITIAN Bab ini berisikan data yang telah dikumpulkan selama penelitian mengenai Impelementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS) dalam Pemenuhan Pelayanan Kesehatan pada Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Data dalam penelitian ini akan diuraikan pada bab ini dengan dibagi menjadi 2 bagian yaitu, Data Primer dan Data Sekunder. Pengumpulan data Primer dilapangan dilakukan dengan cara melakukan

  wawancara, observasi atau pengamatan langsung dilapangan dan memberikan kuesioner kepada pasien. Sedangkan pengumpulan data Sekunder yakni denganmengumpulkan berbagai dokumentasi seperti dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS) dalamPemenuhan Pelayanan Kesehatan pada Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

5.1 Data Primer

  5.1.2 Karakteristik Responden Berikut ini uraian identitas dari 30 orang responden yakni Pasien yang sedang menajalani rawat inap di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BBMedan. Tabel 5.1 Identitas Responden berdasarkan Jenis Kelamin Sumber : Hasil Kuesioner 2015 Dari data di atas, diketahui bahwa responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 30 orang yang tersebar di Ruang Instalasi Rawat Inap.

5.1.3 Data Hasil Penelitian

  Dalam mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian, ada beberapa tahap yang dilakukan peneliti,yaitu yang pertama penelitian diawali dengan melakukan pengamatan, yakni mengamati pasien yang masuk ke instalasi rawat inap. Yang kedua, setelah pengamatan, peneliti melakukan pengumpulan berbagai dokumen tertulis, profil Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan dan data lain yang berkaitan dengan Ssitem Informasi ManajemenRumah Sakit (SIM RS).

A. Deskripsi Hasil Wawancara

  Pertanyaan-pertanyaan yang disusun jelas berhubungan dengan implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS). Namun di dalam prosesnya sendiri peneliti tidak menutup kemungkinan akan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang dapat menggali informasi lebihdalam dari para informan utama.

1. Struktur birokrasi

  Pada bagian ini struktur birokrasi memiliki dua indikator yakni struktur organisasi rumah sakit yang menangani pelaksanaan SIMRS atau dengan kata lain,fragmentasi yakni pembagian atau penyebaran wewenang dan sumber daya yang ada untuk melaksanakan suatu kebijakan dan ketepatan atau kesesuaian Dalam PERMENKES No. Adapun struktur SIM RS di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau berdasarkan keputusan Kepala Rumah Sakit Putri Hijau berada di bawahpenyelenggaraan Kepala Informasi Kesehatan (Infokes) dan pelaporannya kepadaSeksi Pelayanan Medis.

2. Sumberdaya

  Menurut penjelasanseorang informan, khusus operator SIM RS, mereka sudah merekrut sebanyak 30 orang yang tersebar disetiap bagian rumah sakit yang sudah terkoneksi denganSIM RS seperti di server SIM RS sendiri, pendaftaran rawat inap dan IGD, pendaftaran rawat jalan, charging rawat jalan, 12 ruangan rawat inap, OK/ICU,laboratorium, radiologi, farmasi dan billing rawat inap. Rumah sakit masih lebih dominan memilih anggota SIM RS yang berasal dari medis atau kesehatan, terutama dibagiancharging rawat inap dan rawat jalan, kemudian untuk pemasukan data yang berupa pembebanan seperti tindakan dokter, obat-obatan dan tindakan lainnya dirumah sakit, karena seperti yang dikatakan informan, mereka yang pendidikannya memang dari kesehatan lebih mengerti dan lebih paham.

3. Komunikasi Komunikasi mencakup hubungan antar organisasi pelaksana implementasi

  Namun, adapun informasi yang didapatkan peneliti dari penuturan informan bahwa rumah sakitbaru saja mengganti provider SIMRS dari yang lama ke yang baru dan sedang berjalan lebih kurang 2 minggu sejak pertama kali peneliti mulai melakukanpenelitian. Dengan komunikasi berbentuk koordinasi seperti ini memudahkan bagian pelaporan yang ada di bagian pelayanan medis dalam mengumpulkan data, karenanantinya data Adapun manfaat dari SIM RS dengan menggunakan aplikasi dari providerSIM RS yang sekarang ini, yang sudah dirasakan sejauh ini seperti pada bagian pendaftaran, dirasakan lebih cepat dan jumlah kunjungan menjadi lebih tertib danteratur datanya, pasien juga menjadi merasa lebih terlayani.

4. Disposisi

  Disposisi atau sikap para pelaksana merupakan sikap penerima atau penolakan dari agen pelaksana kebijakan yang sangat mempengaruhi keberhasilan Mengenai intensitas yang berupa sikap dari pelaksana SIM RS sendiri, informan mengungkapkan bahwa mereka melakukan evaluasi kerja grup secaraharian, ke bagian pelayanan medis dalam mingguan dan ke pimpinan rumah sakit setiap 2 minggu. Jadi data tidak bisa ditunda untuk di input ke dalam sistem,karena status pasien itu terus berputar, tidak bisa terlalu lama berada di petugasSIM RS, karena status pasien sangat dibutuhkan untuk mencatat setiap perawatan yang diberikan kepada pasien.

B. Deskripsi Hasil Kuesioner

  Tidak Lengkap 13,30 Total 30 100,00 Sumber : Hasil Kuesioner 2015 Mengenai ketersediaan peralatan dan fasilitas kesehatan yang ada diRumah Sakit, sebanyak 10 orang (33,3%) responden mengatakan ketersediaan peralatan dan fasilitas kesehatan yang ada sudah Cukup Lengkap, sebanyak 15orang (50%) responden mengatakan Lengkap, 2 orang (6,7%) responden mengatakan Sangat Lengkap dan 2 orang (6,7%) mengatakan Kurang Lengkap. Kurang Lengkap 13,30 Total 30 100,00 Sumber : Hasil Kuesioner 2015 Responden sebagai seorang pasien yang sedang menjalani rawat inap di rumah sakit mengaku bahwa mereka sama sekali tidak pernah membeli obat dariluar apotek rumah sakit, mereka mengaku obat yang di resepkan dokter dan selalu mendapatkannya di apotek yang ada di rumah sakit, dan ini sangat membantupasien dalam mengurangi biaya pengeluaran pembelian obat bagi pasien.

5.2 Data Sekunder

  Data sekunder akan sangat membantu data primer dalam penelitian. Selain melakukan wawancara, peneliti juga melakukan pengumpulan data pendukunglainnya, seperti peraturan yang menjadi acuan pelaksanaan SIM RS di rumah sakit dan juga temuan dari sumber lain yang berhubungan dengan pelaksanaan SIM RS.

2. Undang – Undang no. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

  82 Tahun 2013 tentang Sistem Informasi Manajemen RumahSakit (SIM RS) dan telah menginstruksikan bahwa setiap rumah sakit wajib menyelenggarakan SIM RS. SIM RS yang ada harus menggunakan aplikasi open source yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan atau menggunakan aplikasi yang dibuat oleh rumah sakit.

1. Sumberdaya Manusia ( Human Resources)

  Secanggih apapun SIMRS yang dibuat, kalausumberdaya manusia yang ada belum siap dan belum memiliki kemampuan yang mencukupi untuk mengoperasikan, kecanggihan sistem tersebut menjadi sia-sia. Berikut adalah tabel jumlah petugas SIM RS yang ada di Rumah Sakit Tingkat IIPutri Hijau Kesdam I /BB Medan : Tabel 5.19 Jumlah Petugas SIM RS di Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau 11 Laboratorium Laboratorium 8 Ruang 10a, 12 1 9 Ruang 10b, 11 1 III.

GROUP PENUNJANG (OK/ICU. LAB, RAD, FARMASI

  Terlihat pada tabel 5.19, rumah sakit memiliki sumber daya manusia sebanyak 30 orang untuk SIM RS dan dibagi kedalam 4 grup/tim. Semua Petugas SIM RS ini setiap harinya bekerja dibawah koordinasiBagian Informasi Kesehatan dan Seksi Pelayanan Medis, mereka mengadakan pelaporan dan evaluasi setiap harinya mengenai pelaksanaan SIM RS apakah adakesulitan atau masalah yang dihadapi kepada Seksi Pelayanan Medis.

2. Sumber Daya Perangkat Keras ( Hardware Resources)

  Perangkat keras adalah semua bagian fisik komputer dan dibedakan dengan data yang berada di dalamnya atau yang beroperasi di dalamnya. Adapun rincian mengenai sumberdaya perangkat keras SIM RS pada Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan adalah :a.

3. Sumber Daya Perangkat Lunak (

  Sumber daya ini merupakan kumpulan dari perintah/fungsi yang ditulis dengan aturan tertentu untuk memerintahkan komputer melaksanakan tugastertentu, yang berupa system software, application software, dan prosedur. Adapun bentuk sistem darijasa rawat inap tersebut adalah sebagai berikut: Gambar 5.5 Input Jasa Rawat Inap Sumber : Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan 2015 Gambar 5.6 Home Laboratorium Sumber : Rumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan 2015 Adapun salah satu jasa dari rawat inap tersebut adalah Laboratorium, bentuk sistem untuk laboratorium adalah pada Gambar 4.6.

4. Sumber daya jaringan komputer ( Network Resources)

  Sumber daya ini menggunakan server untuk mendukungnya dan letaknya juga jangan terlalu jauh atau terhalang-halang untukmendapatkan jaringan yang mendukung. Adapun jaringan pada SIM RS diRumah Sakit Tingkat II Putri Hijau Medan dibagi kedalam beberapa bagian, yakni: 1) Pendaftaran Rawat Jalan ke bagian Rekam Medik, untuk koneksi printer Tracer.

5. Pemantauan ( monitoring)

  Bentuk monitoring yangdilakukan oleh bagian Server, selaku pusat dari semua data yang ada di SIM RS ada 3 hal yang dilakukan yakni :1) Monitoring SDM : dilakukan pengecekan setiap hari dan setiap akan berkerja di pagi hari, anggota SIM RS akan melakukan laporan pagi kepada Kepala Pengendali SIM RS. Ini dilakukan untuk melakukan pengecakan terhadap kemanan sistem danjaringan yang ada di server serta kinerja SDM selama seminggu.3) Monitoring Data : semua yang dikerjakan oleh SDM terlihat pada server, jadi dilakukan pengecekan setiap hari agar diketahui apa saja yangdilakukan SDM setiap harinya, ini juga menjadi bahan evaluasi bagi SDM untuk SIM RS di rumah sakit.

BAB VI ANALISIS DATA Dalam bab ini penulis menyajikan analisis data, yaitu penyusunan secara

  Merekaterus melakukan perubahan dan perbaikan dalam sistem, ini terlihat dari provider SIM RS yang lama tidak dapat mengakomodir kebutuhan mereka secara maksimal yakni provider yang lama tidak dapat memberikan output seperti yang diinginkan, mereka hanya bisa meng-input data tanpa ada output yang dihasilkan,tentu ini sangat tidak efisien bagi mereka, selain itu juga tidak efektif, harus melakukan penghitungan dan pendataan secara manual ulang. Berdasarkan hasil kuesioner kepadaresponden yakni pasien yang sedang menjalani rawat inap dan telah dipaparkan di bab penyajian data sebelumnya, sebagian besar pasien merasa pelayanan yangdiberikan oleh pihak Rumah Sakit semakin baik, dari segi administrasi maupun pelayanan, mereka mengaku pelayanan yang diberikan lebih cepat dan tidakberbelit-belit karena mereka selalu mendapatkan informasi yang jelas.

B. Analisis Sumber Daya

  Peneliti telah memaparkan jumlah anggota atau petugas khusus operatorSIM RS sendiri berdasarkan penuturan informan sebanyak 30 orang yang menempel disetiap bagian yang terkoneksi SIM RS seperti pendaftaran dancharging rawat jalan, pendaftaran dan charging IGD & rawat inap, ruangan rawat inap, OK/ICU, laboratorium, radiologi dan farmasi. Seorang pelaksana atau implementor sebuah kebijakan mungkin mempunyai staff yang memadai dalam hal kualitas serta kuantitasnya dan mungkin memahami apayang harus dilakukan, tetapi tanpa fasilitas seperti bangunan sebagai kantor untuk melakukan koordinasi dan pelayanan, tanpa peralatan dan perlengkapan, makabesar kemungkinan implementasi kebijakan yang telah direncanakan tidak akan berhasil.

C. Analisis Komunikasi Komunikasi mencakup hubungan antar organisasi pelaksana implementasi

  Selain itu kesamaan cara pandang ini juga dapat mendorong terbentuknya motivasi yang Berdasarkan penuturan informan, komunikasi yang dilakukan dikalangan para pelaksana SIM RS yang ada di rumah sakit adalah dengan melakukanlaporan setiap harinya atau dengan kata lain adalah sensus harian. Hal ini tentu sangat berguna bagi bagian monitoring SIM RS, karena setiap hari menghadapi hal serupa dan bisa mengetahui kendala apa saja yang sudah menjadikendala umum atau ada kendala yang secara tiba-tiba, dan semuanya bisa menjadi bahan sebagai evaluasi terhadap sistem agar kedepannya pelaksanaan dari SIMRS menjadi baik lagi dan lebih bagus.

D. Analisis Disposisi

  Alasan pergantian vendor ini dilakukan karena vendor atau provider SIM RS yang lama tidak dapatmengakomodir kebutuhan mereka dalam sistem dan juga kebanyakan digunakan oleh rumah sakit swasta, sedangkan provider SIM RS yang baru ini sebelumnyasudah melakukan kerjasama dengan rumah sakit TNI yang ada di Jawa oleh sebab itu mereka menganggap provider SIM RS yang baru ini juga bisa memenuhikebutuhan mereka. Untuk menilai bentuk disposisi diantara para pegawai dirumah sakit dalam memahami dan melakukan tugasnya dengan baik dan benar, peneliti memberikankuesioner kepada pasien untuk mengetahui dari sisi persepsi pasien sebagai penerima pelayanan yang ada di Rumah sakit tingkat II Putri Hijau Kesdam I/BBMedan.

6.2 Hubungan Antar Variabel

  Hal ini selaras dengan keadaan vendor aplikasi SIM RS yang baru saja berganti dariyang lama ke yang baru, hal ini merupakan bentuk disposisi dari seorang pimpinann yang menginginkan terselenggaranya SIM RS yang semakin bagusuntuk kedepannya dan bisa mengakomodir segala kebutuhan mereka. Dimana dengan adanya sistem aplikasi SIM RS yang baru akan mempengaruhisumberdaya keuangan, yakni adanya pengeluaran yang lebih besar untuk pengadaan sistem tersebut, namun hal ini ditepis oleh pernyataan informan yangmenyatakan bahwa pambayaran dengan vendor SIM RS dilakukan setelah selesai masa percobaan dan didapatkan output sesuai dengan yang diinginkan.

BAB VI I PENUTUP Pada bab ini peneliti akan menyampaikan kesimpulan penelitian serta

rekomendasi atau saran-saran atas implementasi kebijakan Sistem InformasiManajemen Rumah Sakit (SIMRS), sehingga saran-saran tersebut dapat menjadi solusi atas tindakan-tindakan implementasi di masa yang akan datang.

7.1 Kesimpulan

  Jikadilihat dari persepsi pasien, pasien merasa mendapatkan pelayanan yang Sedangkan bagi Rumah Sakit sendiri, komitmen dari pimpinan juga dapat terlihat dari adanya tindakan penggantian provider SIM RS dari yang lamake yang baru, yang dinilai semakin membaik dan akan memudahkan kinerja petugas yang ada. Hal ini disebut juga dengan koordinasi harian, dimana data tersebut dikumpulkan untuk menjadi bahan evaluasi untukmengetahui hambatan dan masalah dalam pelaksanaan Sistem InformasiManajemen Rumah Sakit (SIM RS) dan koordinasi seperti itu merupakan sarana mendapatkan solusi dari pemecahan dan penyelesaian masalahatau hambatan yang ada.

7.2 Saran

  Masalah pemadaman listrik yang kerap terjadi dan mengakibatkan gangguan pada komputer sebaiknya diatasi dengan menggunakan alatstabilisator, memasang alat yang bernama Uninterruptible Power Supply(UPS) yakni sistem penyedia daya listrik, alat ini dapat memberikan daya lebih kurang selama 3-6 jam setelah listrik mati dan juga alat otomatisasigenset yang berfungsi untuk mengaktifkan secara otomatis jika ada pemadaman listrik. Peneliti menyarankan agar diadakan perekrutan sumberdaya manusia khususnya operator yang lebih banyak lagi dan terlatih dibidang sistemkomputerisasi, agar penerapan dan pelaksanaan SIM RS dapat diperluas cakupannya sampai ke unit-unit lainnya, dan penambahan fasilitas sehinggafasilitas yang tersedia dapat digunakan secara maksimal.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Sim Rs) Dalam Pemenuhan Pelayan Kesehatan
47
460
180
Implementasi Program Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) Dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat
37
277
101
Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) di Rumah Sakit Martha Friska Multatuli Medan
23
185
74
Kinerja Aparatur Dalam Pelayanan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Simrs) Di Kota Bandung (Suatu Studi Pada Rumah Sakit Jiwa Bandung Dan Rumah Sakit TNI AU Dr.Salamun Bandung)
0
19
345
Sistem Informasi Manajemen Kesehatan
0
6
70
Kinerja Aparatur Dinas Kesehatan Dalam Menerapkan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Di Provinsi Jawa Barat
4
31
155
Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian Pada Rumah Sakit Umum Cibabat
11
54
260
Audit Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Studi Kasus Pada RSUD Kota Tasikmalaya)
14
55
150
View of Penerapan Sistem Informasi Manajemen di Rumah Sakit Putri Hijau Medan
0
0
6
Sistem Informasi Rumah Sakit
0
0
98
Analisis Perbandingan Metode Tam dan Utaut Dalam Mengevaluasi Penerimaan Pengguna Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) (Studi Kasus: Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau)
0
0
9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebijakan Publik 2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik - Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Sim Rs) Dalam Pemenuhan Pelayan Kesehatan
0
0
38
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang - Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (Sim Rs) Dalam Pemenuhan Pelayan Kesehatan
0
0
11
Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan (Studi Kasus Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan)
0
0
9
Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan (Studi Kasus Impression Management Verbal dan Nonverbal pada Pelayan Kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan)
0
0
16
Show more