PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 2 KEDONDONG

44 

Full text

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR

SISWA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 2 KEDONDONG

(Skrpsi)

Oleh H E N I R

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR

SISWA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 2 KEDONDONG

Oleh H E N I . R

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya aktivitas dan prestasi belajar siswa dengan nilai rata-rata di bawah KKM pada mata pelajaran IPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Prosedur dilaksanakan melalui dua siklus dimana setiap siklusnya terdiri dari; (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) observasi (observing), (4) refleksi (reflecting). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar instrumen aktivitas siswa, lembar instrumen kinerja guru dan lembar soal tes untuk mengukur hasil belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif untuk mengukur aktivitas siswa dan kinerja guru, sedangkan data kuantitatif dugunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD pada mata pelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Kedondong berdampak pada peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I (69,73%) dengan kategori “Cukup” meningkat sebesar 6,61% pada siklus II menjadi (76,34%) dengan kategori “Baik”. Rata-rata prestasi belajar siswa pada siklus I (48,26) meningkat sebesar 14,78.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Mada Jaya pada tanggal 06 September 1985 anak dari Bapak Rohimi dan Ibu Rohayati, anak kedua dari empat bersaudara. Pendidikan yang telah di tempuh yaitu Sekolah Dasar Negeri ( SDN ) 01 Mada Jaya Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran diselesaikan pada tahun 1998.

Dilanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat PertamaNegeri ( SLTPN ) 02 Kedondong Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran yang diselesaikan pada tahun 2001, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Madrasah Aliyah ( MA ) Yasmida Ambarawa Kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu pada tahun 2004.

(8)

MOTO

Lebih Baik Hidup Bodoh Di Antara Orang-Orang Pintar

Daripada Hidup Pintar Di Antara Orang-Orang Bodoh

Dan

Belajarlah Untuk Menjadi Lebih Baik

(9)

PERSEMBAHAN

Dengan Rasa Syukur Kupersembahkan Karya ini untuk :

Ibunda dan ayahanda tercinta yang selalu mendo’akan akan keberhasilanku.

Untuk orang yang ku sayang yang selalu berdoa dan memberikan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini serta

menanti Atas keberhasilanku.

Kakak dan adik-adikku yang telah memberikan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

Almamater Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan ( FKIP ) Universitas Lampung yang telah banyak memberikan sumbangan pemikiran dengan memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal

(10)

KATA PENGANTAR

Berkat rahmat Allah SWT, maka penulis dapat menyelesaikan hasil Penelitian Tindakan Kelas, walaupun mungkin masih ada kekurangan dan kelemahan di dalam bentuk penulisan maupun isinya. Penelitian Tindakan kelas ini di susun berdasarkan pengalaman selama penulis melaksanakan kegiatan pembelajaran di SD Negeri 02 Kedondong Kecamatan kedondong Kabupaten Pesawaran dalam rangka meningkatkan profesionalisme seorang guru dan sekaligus memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas.

Secara tidak langsung penulis baik secara langsung dan tidak langsung telah melibatkan semua pihak dalam memberikan dukungan dan perhatian selama ini penulis menjalankan proses penyusunan tugas akhir. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Sugeng. P. Harianto, MS selaku Rektor Universitas Lampung, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, yang telah memberikan bimbingan, nasehat dan arahan selama penulis mengikuti studi.

3. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, yang telah memberikan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas ini.

4. Bapak Dr. H. Darsono, M.Pd selaku ketua Program Studi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, yang telah memberikan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas ini. 5. Ibu Dr. Herpratiwi, M.Pd, selaku Dosen Pembimbing yang telah

(11)

6. Ibu Dr. Sowiyah, M.Pd selaku Dosen Pembahas yang telah memberikan bimbingan dan motivasi dalam penyelesaian penulisan Penelitian Tindakan Kelas ini.

7. Bapak Turniadi, S.Pd.SD selaku Kepala Sekolah Sekolah Dasar Negeri 02 Kedondong Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas ini.

8. Bapak dan Ibu Dewan Guru Sekolah Dasar Negeri 02 Kedondong Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran yang telah membantu dalam penulisan hasil Penelitian Tindakan Kelas ini.

9. Sahabat dan rekan-rekan seperjuangan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan hasil Penelitian Tindakan Kelas ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangannya. Akhirnya penulis berharap semoga penulisan laporan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya, dan semoga Allah SWT memberkati dalam kehidupan kita. Amin. Terima kasih.

Kedondong, September 2014 Penulis,

H e n i . R

(12)

DAFTAR ISI

1.1 Latar Belakang Masalah …….……… 1

1.2 Identifikasi Masalah ………. 3

1.3 Pembatasan Masalah ………. 3

2.1.1Pengertian Belajar Menurut Beberapa Ahli ….………… 6

2.1.2Pengertian Aktivitas dan Teori Pembelajaran …..………… 7

2.1.3Prestasi Belajar ……… 10

2.1.4Model Pembelajaran Kooperatif STAD …..……… 11

2.1.5Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif STAD ………. 14

(13)

3.6Teknik Analisis Data ……… 22

3.7Indikator Keberhasilan …….……… 23

3.8Kisi-kisi Soal ……… 24

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Gambaran Umum Sekolah……… 25

4.1.1Sejarah Berdirinya SD Negeri 2 Kedondong…………. 25

4.1.2Setuasi dan Kondisi Sekolah………. 26

4.1.3Keadaan Guru……… 26

4.1.4Keadaan Siswa………. 27

4.1.5Kondisi Masyarakat Sekitar………. 27

4.2Hasil Penelitian 4.2.1Penelitian Siklus I ……… 27

4.2.2Penelitian Siklus II……… 35

4.3Pembahasan ………... 41

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ……… 44

5.2 Saran ………. 45

DAFTAR PUSTAKA ……….. 46

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Data Aktivitas Siswa Siklus I ……….. 29

2. Kinerja Guru Pada Siklus I ……….. 30

3. Rekapitulasi Kinerja Guru Pada Siklus I ……….. 31

4. Data Prestasi Belajar Siswa siklus I ……….. 33

5. Data Aktivitas Siswa Siklus II ……….. 37

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Alur penelitian tindakan kelas ……… 18 2. Foto Pelaksanaan Penelitian ……… 70

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Pemetaan Siklus I ……… 49

2. Silabus Siklus I ……… 50

3. Rpp Siklus I ……… 51

4. Lembar Kerja Siswa siiklus I ……… 52

5. Kunci Jawaban ……… 53

6. Lembar hasil belajar siswa siklus I ……… 54

7. Lembar Instrumen Pengamat Guru Mengajar Siklus I ……… 55

8. Pemetaan Siklus II ……… 58

9. Silabus Siklus II ……… 59

10.RPP Siklus II ……… 60

11.Lembar Kerja Siswa Siklus II ……… 63

12.Kunci Jawaban ……… 64

13.Lembar Hasil Belajar Siswa Siklus II ……….... 65

14.Lembar Instrumen Pengamat Guru Mengajar Siklus II ……… 66

15.Surat Keterangan Izin Penelitian Dari SD ……….... 68

16.Surat Pernyataan ……… 69

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu sepanjang hidupnya. Sedangkan proses pembelajaran adalah suatu kegiatan yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (sikap afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang pelajar.

Prestasi siswa di pengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran yang dimaksud adalah professional yang dimiliki oleh guru. artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bjdang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik).

(18)

2

pembelajaran yang kaku pula. Seorang guru sekolah dasar kadang lupa bahwa anak sekolah dasar adalah usia belajar dan bermain, jika bentuk pembelajaran mereka diformalkan maka kecenderungan anak didik akan mengalami stres.

Berdasarkan pengamatan pada waktu pembelajran IPA di kelas V SD Negeri 2 Kedondong Kecamatan Kedondong, siswa cenderung kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, respon timbal balik siswa terhadap pertanyaan yang diberikan guru masih rendah dikarenakan siswa tidak semangat mengikuti pembelajaran rendahnya, tingkat penguasaan materi pelajaran sehingga hasil belajarpun rendah.

Hal ini dikarenakan pendekatan pembelajaran yang dipergunakan guru kurang sesuai dengan materi yang disampaikan kepada siswa dan siswa pun kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa suka bermain sendiri, menggambar, sering mengganggu teman, pasif dalam menerima materi yang diajarkan guru. Berdasarkan data ulangan harian semester II siswa kelas V SD Negeri 2 Kedondong tahun ajaran 2014/2015 hasil ulangan harian yang diperoleh siswa masih rendah. Dari 23 siswa kelas V, hanya 8 orang saja atau 34% yang mampu mencapai tingkat ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah yaitu 60 dan selebihnya atau 66% siswa masih memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ).

(19)

3

ceramah dan tanya jawab. Metode tersebut diaplikasikan secara terus menerus dalam pembelajaran IPA sehingga mengakibatkan aktivitas peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran rendah, jenuh, dan membosankan, kesannya peserta didik tidak diikuti sertakan dalam proses pembelajaran serta kurang motivasi yang diberikan guru kepada anak didiknya sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa kelas V dalam pembelajaran IPA cenderung rendah.

1.2 Identivikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas bahwa prestasi dan aktivitas belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Kedondong Kecamatan Kedondong belum optimal. Penyebabnya tidak tercapainya tujuan pembelajaran tersebut dapat diidentifikasikan permasalahannya yaitu: 1. Aktivitas belajar siswa masih rendah.

2. Penerapan model pembelajaran kurang tepat.

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penelitian ini membahas masalah aktivitas dan prestasi belajar siswa dan model pembelajaran kooperatife STAD

1.4 Rumusan Masalah

(20)

4

1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatife STAD untuk peningkatan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Negeri 2 Kedondong Kecamatan Kedondong ?

2. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatife STAD untuk peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Negeri 2 Kedondong Kecamatan Kedondong ?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan dengan rumusan masalah di atas tujuan penelitian ini untuk meningkatkan :

1. Aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPA melalui model pembelajaran kooperatife STAD.

2. Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Negeri 2 Kedondong Kecamatan Kedondong ?

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi siswa agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru.

2. Bagi Guru

- Memperbaiki cara mengajar guru.

(21)

5

- Sebagai acuan memperbaiki proses pembelajaran dan landasan meningkatkan proses pembelajaran di kelas.

3. Bagi Peneliti

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guna mengadakan penelitian lebih lanjut dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesulitan dan problematika dalam proses belajar serta bagaimana solusi yang seharusnya dilaksanakan.

4. Bagi sekolah

- Sebagai sumbang yang positif untuk memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi di sekolah.

(22)

6

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian Belajar Menurut Beberapa Ahli

Menurut Djamarah dan Syaiful (1999:22), Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar.

Menurut Hamalik (2005:28), Belajar adalah “ Suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan “.

Aspek tingkah laku tersebut adalah : Pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap.

(23)

7

2.1.2 Pengertian Aktivitas dan Teori Pembelajaran

Aktivitas belajar merupakan suatu proses kegiatan belajar siswa yang menimbulkan perubahan-perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan. Keaktifan siswa selama proses pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila di temukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang di beri tugas belajar, dan lain sebagainya. Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam mencapai tujuan belajar.

Menurut Muchith (2008: 55) ada beberapa jenis aliran atau paham yang dapat dijadikan inspirasi untuk melakukan proses pembelajaran, yakni :

1. Teori Behaviorisme

Teori belajar behaviorisme menyatakan bahwa keberhasilan belajar ditentukan oleh adanya interaksi stimulus dan respon yang di terima oleh manusia. Mengajar atau mendidik perlu dilakukan dengan cara memperbanyak stimulus dan respon yang diberikan kepada siswa. Salah satu indikasi keberhasilan belajar menurut teori ini adalah adanya perubahan tingkah laku yang dalam kehidupan masyarakat (Muchith, 2008:56).

(24)

8

belajar dan langkah-langkah pembelajaran yang jelas, menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai penguat perilaku yang dihasilkan.

2. Teori Kognitivisme

Pada hakekatnya teori kognitif adalah sebauah teori pembelajaran yang cendrung melakukan praktek yang mengarah pada kualitas intelektual peserta didik. Konsekuensi proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar siswa mengembangkan kualitas intelektualnya. Secara umum proses pembelajarn harus didasarkan atas asumsi umum.

Proses pembelajaran adalah suatu realitas sistem. Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh satu aspek atau faktor saja, tetapi lebih ditentukan secara simultan dan konprehensif dari berbagai faktor yang ada antara lain :

a. Proses pembelajaran adalah realitas kultur atau natural. Artinya dalam proses pembelajaran tidak diperlukan adanya berbagai paksaan dengan dalil membentuk kedisiplinan.

b. Pengembangan materi harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan peserta didik. c. Metode pembelajaran tidak dilakukan secra monoton, metode

yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam proses pembelajaran.

(25)

9

e. Belajar memahami akan lebih bermakna daripada menghafal. f. Pembelajaran harus memperhatikan perbedeaan individual siswa,

kerena sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pembelajaran.

Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran adalah membantu siswa memproses informasi dengan efektif, dengan cara menyusun materi pembelajaran dengan sistematis dan akurat membuat hubungan antara pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang sudah di miliki pembelajaran ( Winataputra, 2008: 6.11)

.

3. Teori Humanisme

Winataputra (2008:41), para pendukung teori ini yakin bahwa prilaku harus dipahami bukan sekedar dikendalikan atau di rekayasa. Teori mementingkan pilihan pribadi, kreatifitas dan aktualisasi diri setiap individu yang belajar. Belajar merupakan suatu proses dimana siswa mengembangkan kemampuan pribadi yang khas dalam bereaksi terhadap lingkungan sekitar. Dengan kata lain, siswa tersebut mengembangkan kemampuan terbaik dalam diri pribadinya.

4. Konstruktivisme

(26)

10

lebih pada proses untuk menemukan teori yang di bangun dari realitas lapangan.

Dari keempat teori belajar dan pembelajaran tersebut diatas, sehubungan dengan penelitian yang dilakukan penulis menggunakan teori konstruktivisme. Mengingat, bahwa siswa mengkonstruksi pengetahuan baru secara bermakna melalui pemahaman materi dengan pengalaman nyata bagi siswa sehingga model pembelajaran dilakukan secara natural. Penekanan teori konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan persoalan yang di bangun dari realitas lapangan.

2.1.3 Prestasi Belajar

Prestasi belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa, harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Proses belajar merupakan suatu proses yang bersifat kompleks. Dalam proses tersebut seseorang diharapkan pada tuntutan untuk melakukan pembedaan (diskriminasi) dan penyimpulan, Sumiati (2011:32).

(27)

11

merupakan saat terselesaikannnya bahan pelajaran dengan proses evaluasi prestasi belajar.

Hal serupa dikemukakan oleh Hamalik (2004:30) prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku seseorang setelah belajar, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Prestasi belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.

Berdasarkan pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa prestasi belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah siswa menerima pengalaman belajar yang telah dialami siswa baik berupa sikap maupun tingkah laku. Indikator ketercapaian hasil belajar dalam penelitian ini mencakup tiga ranah, yaitu: (a) kognitif meliputi pengetahuan dan pemahaman, (b) afektif meliputi sikap dan partisipasi, dan (c) psikomotorik meliputi keterampilan dan kreativitas.

2.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif STAD

Menurut Agus (2011:63) “Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar siswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri serta meningkatkan kemampuan siswa melalui aktivitas kelompok.

(28)

12

saling membantu dan saling mendudukung dalam memecahkan masalah. Melalui model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua siswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relative sama atau sejajar”.

Ada 4 macam model pembelajarn kooperatif yang dikemukakan oleh Arends dalam Agus (2011:63), yaitu:

1. Student Team Achievement Division (STAD) 2. Group Investigastion

3. Jigsaw

4. Structural Approach

Sedangkan dua pendekatan lain di rancang untuk kelas-kelas rendah adalah:

1. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8 (setingkat TK sampai SD).

2. Team Acclerated Instruction (TAI)

digunakan pada pembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK sampai SD).

Menurut Muslim dkk dalam Widyantini (2008) pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

(29)

13

mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik, kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok. Tiap kelompok di beri skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna di beri penghargaan.

Pembelajaran kooperatif STAD mempunyai beberapa ciri-ciri dan keunggulan menurut Slavin dalam http://karmawati-yusuf.blogspot.com diantaranya sebagai berikut:

Ciri – ciri model pembelajaran kooperatif STAD, yaitu : a. Belajar bersama dengan teman.

b. Selama proses pembelajaran terjadi tatap muka antar teman. c. Saling mendengarkan pendapat diantara anggota kelompok. d. Belajar dalam kelompok kecil.

e. Saling mengemukakan pendapat. f. Keputusan tergantung kepada siswa. g. Siswa aktif.

Sedangkan keunggulan p em belaj aran kooperati f STAD, yait u :

(30)

14

2. Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama.

3. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.

4. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif, ditunjukkan dengan adanya aktivitas dan kerjasama siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

2.1.5 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif STAD

Berikut ini tahapan tahapan pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD menurut Eggen dalam Agus ( 2011:74) :

1. Pembelajaran ( Instruction )

Materi yang disampaikan pada saat pembelajaran biasa

menggunakan pengajaran langsung atau diskusi yang dipimpin oleh

guru. Pembelajaran ini dipakai untuk menetapkan tujuan, penjelasan,

dan pemodelan kemampuan atau penerapan konsep, prinsip,

penyamarataan, peraturan-peraturan dan penyediaan buku praktik.

Pada pendahuluan ditekankan pada apa yang akan memperhatikan

dengan baik selama pembelajaran karena akan membantu siswa

(31)

15

2. Membentuk Kelompok (Transition to Teams)

Guru umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok

yang beranggotakn 4 hingga 5 siswa dengan karakteristik yang

heterogen.

3. Belajar Kelompok dan Pengawasan (Team Study and

Monitoring)

Selama murid bekerja dalam kelompok, guru harus mengawasi

murid untuk memastikan bahwa mereka bekerja dengan baik. Salah

satu tujuan pembelajaran kooperatif adalah mengajar murid untuk

bekerja sama. Model pembelajaran kooperatif STAD satu kelompok

terdiri dari 4 sampai 5 orang anggota kelompok. Setiap anggota

kelompok harus bertanggung jawab atas keberhasilan anggota

kelompok mereka. Setiap kelompok harus membantu satu sama lain

dan bertanggung jawab agar setiap anggota kelompoknya

benar-benar memahami materi yang dipelajari karena keberhasilan individu

mempengaruhi keberhasilan kelompoknya.

4. Kuis/tes

Kuis/tes diberikan setelah melaksanakan 1 atau 2 kali

pertemuan. Saat kuis/tes siswa tidak boleh saling membantu satu

sama lain dan harus mengerjakan soal secara individu. Kuis/tes

(32)

16

5. Poin Peningkatan Individu

Poin peningkatan individu adalah memberikan kepada siswa

sasaran yang dapat dicapai jika mereka bekerja lebih giat dan

memperhatikan prestasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan

yang dicapai sebelumnya. Hasil tes setiap siswa diberi poin

peningkatan yang ditentukan berdasarkan selisih skor tes terlebih

dahulu (skor tes awal dan skor tes akhir). Selisih skor siswa tersebut

kemudian diberi poin berdasarkan tabel skor perkembangan di

bawah ini sehingga diperoleh skor individu. Skor individu setiap

anggota kelompok memberi sumbangan kepada skor kelompok.

6. Penghargaan Kelompok

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan poin

peningkatan kelompok. Skor kelompok adalah rata-rata dari

peningkatan individu dalam kelompok tersebut.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah:

a. Pembelajaran.

b. Membentuk kelompok.

c. Belajar kelompok dan pengawasan. d. Kuis/tes

(33)

17

2.2 Hasil Penelitian Yang Relevan

Berikut merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan yang berhubungan dengan model pembelajaran kooperatif STAD:

Menurut Sumariah (2011) penelitiannya dilakukan pada tahun 2011 mahasiswa Universitas Lampung dengan judul “Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Cooperattive Learning Tipe Student Achievement Division (STAD) Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VI Semester 1 SDN 1 Pringsewu Utara Kecamatan Pringsewu Tahun Ajaran 2011/2012” tujuan penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas dan pemahaman materi IPS melalui pembelajaran Cooperative tipe Student Team Achievement Division (STAD) kelas VI SDN 1 Pringsewu Utara. Metode dalam penelitian ini dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Cooperative STAD efektif untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.

2.3 Hipotesis Tindakan

Berdasarakan pada tinjauan pustaka dan kerangka pikir diatas, hipotesis tindakan penelitian ini adalah:

1. Apabila dalam pembelajaran IPA menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatife STAD dengan benar, maka dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SD Negeri 02 Kedondong Kecamatan Kedondong.

(34)

18

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus dan setiap siklus dilakukan selama 4 x 35 menit (2 x pertemuan) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Proses penelitian tindakan kelas tersebut digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 : Tahap-tahap dalam PTK ,Wardhani (2007: 24) Pelaksanaan I Refleksi I SIKLUS I

Pengamatan I

Perencanaan II

Pelaksanaan II Refleksi II SIKLUS II

(35)

19

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di SDN 02 Kedondong Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran dilaksanakan selama 2 ( dua ) bulan mulai dari Juni sampai dengan Juli 2014.

3.3 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah guru sebagai peneliti dan siswa yang diteliti yaitu siswa kelas V SD Negeri 02 Kedondong Kecamatan Kedondong sebanyak 23 siswa yang terdiri atas 11 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan, dengan harapan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif STAD dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.

Berikut ini disajikan penjelasan singkat tentang prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) di atas sebagai berikut :

Siklus I

1. Perencanaan Siklus I

Dalam perencanaan tindakan, kegiatan yang dilakukan adalah:

a. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan diterapkan. b. Menyusun skenario pembelajaran menggunakan metode

pembelajaran kooperatif STAD. c. Membuat lembar kerja siswa. d. Mempersiapkan lembar observasi.

2. Pelaksanaan Siklus I

(36)

20

b. Belajar dalam kelompok

Membagikan lembar kegiatan siswa pada masing-masing kelompok yang membantu siswa dalam menyelesaikan pertanyaan yang harus dijawab pada lembar kegiatan.

c. Memberikan tes individual untuk mengetahui hasil belajar individu.

3. Observasi Siklus I

Pengamatan dilakukan sejak proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktivitas yang diamati oleh guru, dan lembar aktivitas yang telah disiapkan.

4. Refleksi Siklus I

Refleksi meliputi kegiatan menganalisis, memahami dan membuat kesimpulan hasil pengamatan setelah siklus I dilaksanakan, peneliti mengevaluasi kelebihan dan kekurangan yang didapat pada siklus I, peneliti merencanakan untuk melakukan perbaikan kembali dengan menentukan rencana perbaikan untuk siklus II.

Siklus II

1. Perencanaan Siklus II

Dalam perencanaan tindakan, kegiatan yang dilakukan adalah: a. Menyusun skenario pembelajaran menggunakan metode

(37)

21

2. Pelaksanaan Siklus II

Dalam pelaksaan tindakan, kegiatan yang dilakukan adalah: a. Penyajian materi

b. Belajar dalam kelompok

Membagikan lembar kegiatan siswa pada masing-masing kelompok yang membantu siswa dalam menyelesaikan pertanyaan yang harus dijawab pada lembar kegiatan.

c. Memberikan tes individual untuk mengetahui hasil belajar individu.

3. Observasi Siklus II

Pengamatan dilakukan sejak proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktivitas yang diamati oleh guru, dan lembar aktivitas yang telah disiapkan.

4. Refleksi Siklus II

Refleksi meliputi kegiatan menganalisis, memahami dan membuat kesimpulan hasil pengamatan setelah siklus II dilaksanakan, peneliti mengevaluasi kelebihan dan kekurangan yang didapat pada siklus II.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : 1. Data Kualitatif

(38)

22

2. Data Kuantitatif

Yaitu data yang diperoleh dari hasil tes setiap akhir siklus berupa Lembar Kerja Siswa

3.5 Alat Pengumpulan Data

Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Lembar Observasi

Instrumen ini dirancang peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat. Lembar obsservasi ini digunanakan untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas belajar siswa dan kinerja guru dalam pengelolaan pembelajaran di kelas selama penelitian tindakan kelas berlangsung. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi langsung terhadap aktivitas siswa selama kegiatan berlangsung dengan menggunakan lembar aktivitas siswa.

2. Tes Prestasi Belajar

Instrumen ini digunakan untuk mengambil data kuantitatif mengenai peningkatan hasil belajar siswa khususnya mengenai penguasaan materi yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD pada tiap-tiap siklus.

3.6 Teknik Analisis Data

(39)

23

observasi yang digunakan untuk menjaring aktivitas belajar siswa dan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

Sedangkan analisisis kuantitatif akan digunakan untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaan materi pembelajaran.

1. Data kualitatif ini diperoleh dari data non-tes yaitu lembar panduan observasi. Data hasil observasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana aktivitas siswa dan kinerja guru setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatife STAD. Data tersebut diperoleh berdasarkan perilaku yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Data diperoleh dengan pengamatan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran.

2. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes yang dikerjakan siswa pada siklus I dan siklus II dengan memperhatikan aspek ketuntasan, yaitu nilai KKM 60. Data kuantitatif ini didapat dengan menghitung nilai rata-rata kelas dari hasil tes yang diberikan kepada siswa dengan rumus:

Rumus:

Keterangan:

X = Rata-rata Hitung Nilai N = Banyaknya siswa X1 = Nilai siswa

4.6 Indikator Keberhasilan

(40)

24

Kooperatife STAD pada pembelajaran IPA dalam penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila

a. Jumlah siswa yang aktif meningkat setiap siklusnya. b. Adanya peningkatan rata-rata nilai setiap siklusnya.

c. Tingkat ketuntasan belajar siswa mencapai ≥ 75 %. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 60.

4.7 Kisi-kisi Soal dan Aktivitas Belajar Siswa Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Siklus I dan II

No Kompetensi

Tabel 3.3 Kisi-kisi Aktivitas Belajar Siswa

No Indikator Pernyataan

1. Visual Activities Membaca, memperhatikan

2. Oral Activities Menyatakan, bertanya,memberi saran,

mengeluarkan pendapat, diskusi.

3. Motor Activities Melakukan percobaan, membuat konstruksi, model 4. Mental Activities Menanggapi, mengingat, memecahkan

(41)

44

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah dilkukan terhadap siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Kedondong Kecamatan

Kedondong dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan aktivitas pembelajaran siswa dalam kegiatan pembelajaran pada setiap siklusnya. Pada siklus I persentase aktivitas belajar siswa mencapai 69,73% ( Cukup ) dan meningkat pada siklus II menjadi 76,34% ( Baik ).

2. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus I siswa yang telah tuntas mencapai 34,78% ( Kurang ) pada siklus II (Baik).

(42)

45

siklus I kinerja guru mencapai 65,45% dengan kategori “Cukup”

meningkat sebesar 10% menjadi 75,45% pada siklus II dengan kategori “Baik”.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas,saran yang diberikan sebagai berikut:

1. Kepada siswa, sebaiknya mengikuti pelajaran dengan baik, berfikir kritis, berani mengungkapkan pendapatnya, dan lebih banyak berlatih untuk mengerjakan soal-soal agar mendapatkan nilai yang lebih baik.

2. Kepada guru, hendaknya memotivasi para siswa agar belajar dengan giat, dan dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Guru juga perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa

3. Kepala sekolah, hendaknya melengkapi sarana dan prasarana dengan baik, sehingga dalam proses pembelajaran mendapatkan hasil sesuai dengan harapan

(43)

46

DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2011. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Dalam Jabatan 2011. Universitas Lampung

Budiningsih, Asri. 2005. Pengertian Hasil Belajar. Jakarta : Fokus Media

Dmiyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Bumi Aksara

Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.

Muchith. 2008. Pembelajaran Konstektual. Semarang : Rasail Media Group. Skripsi Sumariah. 2011. Upaya Meningkatkan Aktivitas Hasil Belajar Melalui

Model Pembelajaran Tipe Student Team Achievemen Division Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VI Semester I SDN 1 Pringsewu Utara Kecamatan Pringsewu. Universitas Lampung

(44)

47

Slavin. 2009. Prestasi Belajar. Diakses 09 Juni 2013. Dari http://Karmawati-Yusuf.Blogspot.com/2009/01/pembelajaran-matematika-dengan. html. Diunduh pada 16 mei 2014.

Sumiati & Asra. 2011. Metode Pembelajaran. CV. Wacana Prima. Bandung Wardhani, IGAK, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka.

Jakarta.

Widyanti. 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. Departemen Pendidikan Nasional. Yoyakarta.

Gambar

Tabel
Tabel . View in document p.14
Gambar 3.1 :  Tahap-tahap dalam PTK ,Wardhani (2007: 24)
Gambar 3 1 Tahap tahap dalam PTK Wardhani 2007 24 . View in document p.34
Tabel 3.3 Kisi-kisi Aktivitas Belajar Siswa
Tabel 3 3 Kisi kisi Aktivitas Belajar Siswa . View in document p.40
Tabel 3.2 Kisi-kisi  Soal Siklus I dan II
Tabel 3 2 Kisi kisi Soal Siklus I dan II . View in document p.40

Referensi

Memperbarui...

Download now (44 pages)