PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP RESUME PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VA SDN 2 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Gratis

23
192
38
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP RESUME PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VA SDN 2 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh DESI AYUNA Penelitian ini dilatarbelakangi oleh aktivitas dan hasil belajar siswa yang masih rendah di kelas VA SDN 2 Metro Utara khususnya pada mata pelajaran IPS. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan model Cooperative Learning Tipe Group Resume. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas dengan tiga siklus dan masing-masing siklus melalui empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi dan tes hasil belajar. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan soal-soal tes kemudian dianalisis dengan data kualitatif dan data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase aktivitas dan hasil belajar siswa setiap siklus. Persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 66,72%, meningkat pada siklus II sebesar 71,25%, dan meningkat lagi pada siklus III sebesar 79,53%. Peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 4,53%, siklus II ke siklus III sebesar 8,28%. Begitu pula hasil belajar siswa yang selalu meningkat dari nilai rata-rata 64,4 pada siklus I, menjadi 69,5 pada siklus II, dan 77 pada siklus III. Peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 5,1, siklus II ke siklus III sebesar 7,5. Kata kunci: Aktivitas Siswa, Hasil Belajar dan Model Cooperative Learning Tipe Group Resume. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangat penting dan berguna sekali dalam kehidupan manusia. Bahkan tidak hanya penting bagi individu sendiri melainkan sangat penting bagi pembangunan bangsa dan negara. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Bab I Pasal 1 (ayat 1) dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Ki Hadjar Dewantara (dalam Ikhsan, 2005: 3) menyatakan pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak. Dari uraian tersebut, maka pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan terencana yang memberikan pengarahan dan bimbingan kepada anak dalam pertumbuhannya serta mengembangkan potensi anak baik dalam pola fikir maupun tingkah laku. 2 Mengingat pentingnya pendidikan tersebut, maka banyak sekali didirikan sekolah-sekolah, baik sekolah dasar, sekolah menengah, maupun perguruan tinggi. Tujuan didirikannya sekolah ini diharapkan dapat meningkatkan sumber daya manusia dengan mengadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai tahap kemampuan anak. Dalam kegiatan pembelajaran perlu diukur tingkat keberhasilan dari pembelajaran tersebut. Suprijono (2011: 13) mengungkapkan bahwa pembelajaran berdasarkan makna leksikal berarti proses, cara dan perbuatan mempelajari. Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti dengan guru kelas VA SDN 2 Metro Utara pada mata pelajaran IPS di semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013 mengenai aktivitas dan hasil belajar siswa yang telah dicapai masih rendah dan belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimun (KKM) yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu 63. Hal ini dapat dilihat dari hasil mid semester ganjil mata pelajaran IPS tahun pelajaran 2012/2013 masih banyak yang belum tuntas, dari 20 siswa hanya 6 siswa atau 30% yang nilainya di atas KKM dan 14 siswa atau 70% belum mencapai KKM. Sedangkan rendahnya aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari proses pembelajaran, yaitu masih sedikit siswa yang berani mengungkapkan pendapat atau bertanya dan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: (1) cara mengajar guru masih menggunakan metode mengajar yang bersifat konvensional seperti guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan penugasan sehingga 3 membuat siswa merasa bosan dan kurang menarik, (2) pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered), sehingga siswa cenderung ribut, mengganggu teman dan mengobrol yang menyebabkan pembelajaran tidak kondusif, (3) kurangnya minat dan perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan. Pembelajaran akan menjadi lebih menarik apabila guru menyampaikan materi menggunakan metode, model ataupun media dalam pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk menarik perhatian siswa sehingga siswa lebih fokus terhadap materi yang diberikan. Salah satu cara untuk membuat pembelajaran lebih menarik guru dapat menerapkan model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Untuk peningkatan kualitas pembelajaran salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi bahkan jika perlu menghilangkan dominasi sistem penyampaian pelajaran yang membuat siswa merasa bosan, yaitu dapat menggunakan model cooperative learning. Roger, dkk., (dalam Huda, 2011: 29) mengungkapkan pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial di antara kelompok-kelompok pembelajar yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. Model cooperative learning ini diharapkan mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan 4 pendidikan. Masalah ini selalu muncul dalam setiap penyampaian materi pembelajaran, salah satunya pada mata pelajaran IPS. Sardjiyo, dkk., (2009: 1.27), berpendapat bahwa IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan. Sedangkan Djahiri (dalam Sapriya, dkk., 2006: 7) menyatakan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan dipraktik untuk dijadikan program pembelajaran pada tingkat persekolahan. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi mengemukakan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI sampai SMP/MTS. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji separangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial memuat materi geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial peserta didik disiapkan dan diarahkan agar mampu menjadi warga negara yang demokratis, dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Permasalahan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan cara penggunaan model pembelajaran yang cocok, sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan serta siswa menjadi lebih aktif. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model cooperative learning tipe group resume. Menurut Wilt (dalam http://wawasan biologi. blogspot. Com) group resume adalah sebuah resume menggambarkan hasil yang telah dicapai oleh individu. Resume ini akan menjadi menarik untuk dilakukan dalam group dengan tujuan membantu siswa menjadi lebih akrab atau melakukan team building (kerjasama kelompok) yang anggotanya saling mengenal sebelumnya. 5 Model ini menekankan pada kerja sama siswa dalam kelompok, maksudnya siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil terdiri dari 3-6 orang, dari masing-masing kelompok diminta untuk membuat resume dengan pemberian materi yang berbeda. Dengan penggunaan model pembelajaran group resume akan menjadikan siswa lebih aktif dan mudah memahami sehingga diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini karena dalam membuat resume siswa telah melalui beberapa proses yaitu mendengar, melihat, menulis dan mengungkapkan materi yang dipelajari. Dengan demikian, tentunya siswa akan lebih mudah untuk memahami dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Silberman (2006: 23) menyatakan kata bijak yang disebut paham belajar aktif, yaitu: yang saya dengar, saya lupa. Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat. Yang saya dengar, lihat dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai paham. Dan yang saya dengar, lihat, bahas dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasi. Terkait pendapat tersebut tentunya model cooperative learning tipe group resume dapat diterapkan agar pembelajaran yang diberikan dapat diterima siswa dengan mudah. Oleh karena itu, peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang penggunaan model cooperative learning tipe group resume terkait dengan upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013. 6 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut: 1. Pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered). 2. Penggunaan model pembelajaran yang kurang. 3. Saat pembelajaran berlangsung banyak siswa yang mengobrol, mengantuk dan ribut. 4. Aktivitas belajar siswa masih rendah. 5. Hasil belajar siswa rendah. C. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui model cooperative learning tipe group resume pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013? 2. Apakah hasil belajar siswa dapat ditingkatkan melalui penggunaan model cooperative learning tipe group resume pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013? 7 D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui model cooperative learning tipe group resume pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa melalui model cooperative learning tipe group resume pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013. E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Siswa a. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS. b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. 2. Guru Memberikan pengalaman pada guru untuk menggunakan model cooperative learning tipe group resume dalam mata pelajaran IPS. 3. Sekolah Meningkatkan kualitas pendidikan melalui penggunaan model cooperative learning tipe group resume dalam pembelajaran. 8 4. Penulis Menambah pengetahuan tentang penerapan model cooperative learning tipe dilaksanakan. group resume pada pembelajaran yang akan 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Belajar merupakan hal penting yang menjadi kebutuhan bagi semua orang. Dalyono (2005: 49) mengungkapkan Belajar adalah suatu usaha. Perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik, mental serta dana, panca indra, otak dan anggota tubuh lainnya, demikian pula aspek-aspek kejiwaan seperti inteligensi, bakat, motivasi, minat dan sebagainya. Sedangkan Zahorik (dalam Komalasari, 2010: 16) mengemukakan bahwa terdapat lima elemen belajar konstruktivistik, yaitu pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, pemerolehan pengetahuan baru, pemahaman pengetahuan, mempraktikan pengetahuan dan pengalaman, dan melakukan refleksi. Sejalan dengan pendapat ahli di atas, Winataputra (2008: 1.4) menyatakan bahwa belajar merupakan proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman sebagai pengetahuan yang memandu perilaku pada masa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme yaitu belajar yang lebih menekankan pada proses dan hasil. Belajar merupakan proses 10 membangun atau membentuk makna, pengetahuan, konsep dan gagasan melalui pengalaman. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersungguh-sungguh sehingga dapat memberikan perubahan kemampuan pada diri seseorang. Belajar tidak hanya suatu proses yang memberikan perubahan kemampuan dalam hal pola fikir saja, tetapi juga kemampuan dalam hal tingkah laku seseorang. B. Pengertian Aktivitas Belajar Aktivitas dalam proses pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik apabila tidak adanya aktivitas. Abdurrahman (2006: 34) menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah seluruh kegiatan siswa baik kegiatan jasmani maupun kegiatan rohani yang mendukung keberhasilan belajar. Sedangkan Kunandar (2010: 277) aktivitas siswa merupakan keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perbuatan dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan pembelajaran. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan seseorang guna menunjang keberhasilan proses dalam kegiatan belajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran ini mencakup partisipasi, minat, perhatian dan presentasi guna menunjang proses belajar mengajar. 11 C. Pengertian Hasil Belajar Tujuan dari kegiatan belajar salah satunya untuk mencapai hasil belajar dari proses pembelajaran tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2007: 381) hasil belajar adalah sesuatu yang diadakan oleh adanya usaha belajar. Hasil belajar sering pula dikatakan sebagai prestasi belajar siswa yaitu hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti beberapa materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Nasution (dalam Kunandar, 2010: 276) berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002: 3) hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari siswa hasil belajar merupakan perolehan nilai dari proses evaluasi hasil belajar. Terkait pendapat tersebut penulis menarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah perubahan pada diri seseorang baik dari pengetahuan maupun tingkah laku setelah mengikuti kegiatan yang dilaksanakan D. Model Pembelajaran Penggunaan model pembelajaran menjadikan suatu proses belajar akan lebih menarik bagi siswa. Suprijono (2011: 45) berpendapat 12 bahwa model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Joice (dalam Isjoni 2007: 50) mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelasnya. Dalam penerapannya pembelajaran ini harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah rancangan yang dibuat untuk menyusun pembelajaran melalui pendekatan secara menyeluruh untuk mencapai tujuan dari pelajaran yang dilakukan. Dalam pembelajaran diperlukan variasi model pembelajaran yang harus digunakan oleh guru agar siswa tidak merasa bosan dalam proses belajar, salah satunya dengan menggunakan model cooperative learning. E. Model Cooperative Learning Model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar salah satunya yaitu model cooperative learning. Menurut Rusman (2012: 202) cooperative learning merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Roger, dkk., (dalam Huda, 2011: 29) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial di antara 13 kelompok-kelompok pembelajar yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cooperative learning merupakan model pembelajaran yang dalam proses belajarnya siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk saling bekerja sama secara kolaboratif dengan saling bertukar pengetahuan. Dalam model pembelajaran ini siswa juga dapat saling bertukar pengalaman untuk menambah wawasan mereka. F. Model-model Cooperative Learning Model cooperative learning memiliki beberapa macam atau jenis. Isjoni (2007: 51) menyatakan, di dalam cooperative learning terdapat beberapa variasi model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS diantaranya (1) Student Team Achievment Division (STAD), (2) Jigsaw, (3) Group Investigation (GI), (4) Rotating Trio Exchange, (5) Group resume. Iru, dkk., (2012: 55) menyatakan bahwa terdapat beberapa tipe dalam cooperative learning diantaranya adalah Cooperative Learning Type Student Team Achievement Divisions (STAD), Cooperative Learning Type Numbered Head Together (NHT), Cooperative Learning Type Think Pair Share (TPS), Cooperative Learning Type Jigsaw, Cooperative Learning Type Team Games Tournament (TGT), Cooperative Learning Type Mind Mapping, Cooperative Learning Type Example Non Example, Cooperative Learning Type Think-Talk-Write, Cooperative Learning Type Group Investigation (GI). Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa cooperative learning memiliki beberapa model, salah satu model yang 14 dapat diterapkan dalam pembelajaran yaitu model cooperative learning tipe group resume. G. Cooperative Learning Tipe Group Resume 1. Pengertian Group resume Model cooperative learning tipe group resume merupakan salah satu model yang dapat diterapkan di SD. Silberman (2006: 69) berpendapat bahwa group resume merupakan cara menarik untuk membantu siswa lebih mengenal satu sama lain atau melakukan semacam pembentukan tim yang anggotanya sudah saling mengenal. Wilt (dalam http://wawasan biologi. blogspot. Com) menyatakan bahwa group resume adalah sebuah resume menggambarkan hasil yang telah dicapai oleh individu. Resume ini akan menjadi menarik untuk dilakukan dalam group dengan tujuan membantu siswa menjadi lebih akrab atau melakukan team building (kerjasama kelompok) yang anggotanya saling mengenal sebelumnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa group resume merupakan model pembelajaran di mana pada prosesnya siswa dibagi ke dalam kelompok. Kelompok tersebut kemudian saling bekerja sama untuk membuat resume atau rangkuman dengan masing-masing kelompok sudah saling mengenal satu sama lain. 2. Kelebihan dan Kelemahan Model Cooperative Learning Tipe Group Resume Model-model pembelajaran selalu memiliki kelebihan dan kelemahan, begitu juga dengan model cooperative learning tipe 15 group resume. Adapun kelebihan dan kelemahan dari group resume adalah sebagai berikut: a. Kelebihan Model Cooperative Lerning Tipe Group Resume Model cooperative learning tipe group resume memiliki beberapa kelebihan. Menurut Mahmud (dalam http://mahmud09-kumpulan makalah.blogspot.com) kelebihan model cooperative learning tipe group resume yaitu: 1) Siswa menjadi lebih aktif. 2) Membantu siswa dalam menguasai materi pelajaran dengan baik. 3) Dalam satu pertemuan dapat mempelajari beberapa sub bahasan. 4) Mengembangkan kemampuan bekerjasama serta partisipasi siswa dalam pembelajaran. 5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapat. 6) Siswa terlatih untuk berani bertanya. b. Kelemahan Model Cooperative Learning Tipe Group Resume Model cooperative learning tipe group resume tidak hanya memiliki kelebihan tetapi juga memiliki kelemahan. Mahmud (dalam http://mahmud09-kumpulan makalah.blogspot.com) menyatakan kelemahan model cooperative learning tipe group resume adalah: 1) Pada pelaksanaannya membutuhkan waktu yang lebih banyak 2) Dalam pembelajaran guru harus mempersiapkan pembelajaran dengan sungguh-sungguh karena jika guru kurang siap maka proses pembelajaran akan menjadi gaduh. 3) Saat diskusi berlangsung, terkadang didominasi oleh seseorang dalam setiap kelompok. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cooperative learning tipe group resume juga memiliki kelemahan dan kelebihan dalam setiap pelaksanaannya. Dalam 16 hal ini guru harus bisa meminimalisir kekurangan tersebut agar pelaksanaaan pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning tipe group resume dapat diterapkan dengan baik. 3. Langkah-langkah Model Cooperative Learning Tipe Group Resume Model cooperative learning tipe group resume memiliki langkah-langkah dalam penerapannya. Menurut SEO education (http://zonaguru.blogspot.com) langkah-langkah model cooperative learning tipe group resume adalah: a. Siswa membentuk tiga kelompok, pada setiap kelompok diberikan materi yang berbeda. b. Siswa duduk dengan Masing-masing kelompok dan menunjuk ketua kelompoknya. Kemudian siswa mempresetasikan hasil resume masing-masing kelompok tersebut. c. Bagi kelompok lain untuk dapat mendengarkan penyampaian hasil resume kelompok temannya dan menyanggah ataupun bertanya. d. Setelah diskusi selesai siswa kembali duduk dengan posisi semula. Sedangkan Suprijono (2011: 119) mengungkapkan, langkah-langkah pembelajaran ini sebagai berikut: a. Membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil. b. Menjelaskan kepada siswa bahwa kelas mereka itu dipenuhi oleh individu-individu yang penuh bakat dan pengalaman. c. Menyarankan kepada siswa bahwa salah satu cara untuk dapat mengidentifikasi dan menunjukkan kelebihan yang dimiliki kelas adalah dengan membuat resume kelompok. d. Membagikan kepada setiap kelompok kertas plano untuk menuliskan hasil resume. Resume harus mencakup informasi yang dapat menarik kelompok secara keseluruhan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa model cooperative learning tipe group 17 resume memiliki beberapa langkah-langkah pembelajaran. Adapun langkah-langkah pembelajaran yang akan digunakan yaitu: a. siswa dibagi ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 siswa. b. guru memberi motivasi kepada siswa bahwa mereka adalah kelompok yang hebat. c. guru membagikan kertas karton. d. setiap kelompok diminta untuk membuat resume, masingmasing kelompok diberikan materi yang berbeda, dan menuliskan resume atau rangkuman tersebut pada kertas karton yang dibagikan oleh guru. e. setiap kelompok mencantumkan data untuk mengenalkan anggota kelompoknya (sebagai identitas kelompok), seperti nama dan kelas. f. dari masing-masing kelompok diminta untuk membacakan hasil resume siswa, kemudian kelompok lain dapat mendengarkan penyampaian hasil resume kelompok temannya dan menyanggah ataupun bertanya. H. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Pengertian IPS IPS merupakan ilmu yang mempelajari tentang manusia dan lingkungannya. Sardjiyo, dkk., (2009: 1.27) IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek 18 kehidupan atau satu perpaduan. Sedangkan Djahiri (dalam Sapriya, dkk., 2006: 7) menyatakan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan dipraktik untuk dijadikan program pembelajaran pada tingkat persekolahan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPS adalah ilmu yang mempelajari tentang kegiatan sosial dan segala aspek yang ada dalam kehidupan masyarakat. 2. Tujuan Pembelajaran IPS Pembelajaran IPS merupakan pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan awal kepada siswa tentang lingkungannya. Solihatin dan Raharjo (2009: 15) menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. ”The Social Science Education Frame Work for California School” (dalam Sapriya dkk., 2006: 13) mengemukakan lima tujuan pokok pembelajaran IPS: a. Membina siswa agar mampu mengembangkan pengertian/pengetahuan berdasarkan data, generalisasi serta konsep ilmu tertentu maupun yang bersifat interdisipliner/komprehensif dari berbagai cabang ilmu sosial. b. Membina siswa agar mampu mengembangkan dan mempraktekkan keanekaragaman keterampilan studi, kerja dan intelektualnya secara pantas dan tepat sebagaimana diharapkan ilmu-ilmu sosial. 19 c. Membina dan mendorong siswa untuk memahami, menghargai, dan menghayati adanya keanekaragaman dan kesamaan kultural maupun individual. d. Membina siswa kearah turut mempengaruhi nilai-nilai kemasyarakatan serta juga dapat mengembangkan menyempurnakan nilai-nilai yang ada pada dirinya. e. Membina siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan baik sebagai individu maupun sebagai warga negara. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pembelajaran IPS yaitu, membina siswa untuk mengenal dan mengembangkan segala kegiatan yang ada dilingkungannya dan juga kegiatan sosial, serta mampu berinteraksi dan saling bekerja sama dalam kegiatan bermasyarakat. 3. Pembelajaran IPS SD Pembelajaran IPS SD merupakan pembelajaran yang diberikan sebagai pengetahuan awal bagi siswa dalam mempelajari lingkungan sosial. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi mengemukakan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI sampai SMP/MTS. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji separangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial memuat materi geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial peserta didik disiapkan dan diarahkan agar mampu menjadi warga negara yang demokratis, dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Winataputra (2008: 1.40) mengemukakan istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki tiga istilah yang muncul dan digunakan secara bertukar pakai (interchangeable), yakni pengetahuan sosial, studi sosial, dan ilmu pengetahuan sosial yang diartikan sebagai suatu studi masalah-masalah sosial yang dipilih dan dikembangkan dengan menggunakan pendekatan interdisipliner dan bertujuan agar masalah- 20 masalah sosial itu dapat dipahami siswa. Dengan demikian para siswa diharapkan dapat menghadapi dan memecahkan masalah sosial sehari-hari. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPS SD adalah ilmu yang mempelajari tentang peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial, yang dikembangkan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah sosial dalam kehidupannya. 4. Tujuan Pembelajaran IPS SD Herms (dalam Winataputra, dkk., 2008: 8.9) menyatakan bahwa tujuan pengembangan IPS di persekolahan adalah sebagai berikut: (a) IPS untuk memenuhi kebutuhan pribadi individu, (b) IPS untuk memecahkan berbagai persoalan-persoalan kemasyarakatan masa kini, (c) IPS membantu dalam memilih karir, (d) IPS mempersiapkan studi lanjutan. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi menyatakan bahwa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan sebagai berikut: a. Mengenal konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. b. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari. c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal nasional dan global. Berdasarkan pendapat tersebut penulis menyimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS di SD adalah untuk mengenalkan siswa pada konsep dasar yang berkaitan dengan kehidupan 21 bermasyarakat, untuk membangun kemampuan dasar dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam kehidupan sehari-hari baik keterampilan berfikir maupun bersikap, serta mempersiapkan siswa agar mampu mengatasi masalah dalam kehidupan bermasyarakat. I. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Apabila pada pembelajaran IPS menggunakan model cooperative learning tipe group resume dengan langkah-langkah yang tepat maka dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013”. 22 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Wardani (2007: 1.4) penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Suhardjono (dalam Komalasari, 2010: 271) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah yang dilakukan oleh guru, bekerjasama dengan peneliti lainnya (atau dilakukan sendiri oleh guru yang bertindak sebagai peneliti) di kelas atau di sekolah tempat dia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran. Penggunaan jenis penelitian ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik di dalam kelas. Dengan demikian proses belajar dapat berlangsung lebih efisien dan berorientasi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran IPS. Jenis penelitian tindakan kelas yang akan digunakan adalah model penelitian. Model penelitian ini menggunakan sistem spiral refleksi 23 dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Model penelitian yang digunakan pada SDN 2 Metro Utara seperti gambar dibawah ini: Perencanaan Pelaksanaan Refleksi Siklus I Pengamatan Perencanaan Refleksi Siklus II Pelaksanaan Pengamatan Dst Gambar 1 siklus penelitian tindakan kelas. Modifikasi dari Wardani (2007: 2.4). 24 B. Seting Penelitian 1. Tempat Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VA SDN 2 Metro Utara tahun pelajaran 2012/2013. 2. Waktu Penelitian Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 selama empat bulan terhitung bulan Januari sampai dengan April 2013. 3. Subjek Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara kolaboratif partisipasif antara peneliti dengan guru mata pelajaran IPS SDN 2 Metro Utara, yang dijadikan subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa dan guru kelas VA SDN 2 Metro Utara dengan jumlah siswa 20 orang, terdiri dari 13 laki-laki dan 7 perempuan. C. Jenis Pengumpulan Data Jenis pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik non tes dan tes. 1. Teknik non tes yaitu dengan melakukan observasi, yang digunakan untuk mengetahui aktivitas belajar siswa dan kinerja guru selama proses pembelajaran. 2. Teknik tes yaitu untuk mengukur hasil belajar siswa setelah melakukan proses pembelajaran. 25 D. Alat Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan beberapa alat pengumpulan data, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang lengkap dan valid, yang dapat mendukung keberhasilan dalam penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan instrumen sebagai berikut: 1. Lembar observasi, instrumen ini dirancang dan digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kinerja guru dan aktivitas belajar siswa selama penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran IPS menggunakan model cooperative learning tipe group resume. 2. Tes hasil belajar, instrumen ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa khususnya mengenai penguasaan terhadap materi yang dibelajarkan dengan menggunakan model cooperative learning tipe Group Resume. E. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis kualitatif untuk penilaian aktivitas belajar siswa. Sedangkan hasil belajar siswa menggunakan teknik analisis kuantitatif. Dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Data Kualitatif Data kualitatif didapat dari lembar observasi. Data observasi mengetahui kinerja guru dan kesulitan siswa selama proses pembelajaran IPS dengan model cooperative learning tipe Group 26 Resume. Nilai kinerja guru dan aktivitas siswa diperoleh dengan rumus: R N= X 100 SM Keterangan : NP = Nilai yang dicapai atau diharapkan R = Skor mentah yang diperoleh oleh siswa SM = Skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan 100 = Bilangan tetap (Sumber: Adaptasi Purwanto, 2008: 102). Tabel 1. Kategori aktivitas siswa per individu berdasarkan perolehan nilai. No. Rentang Nilai Kategori 1. N>75 Aktif 2. 5080 Sangat baik 2. 6080 Sangat aktif 2. 60-75 Aktif 3. 40-59 Cukup aktif 4. 20-30 Kurang aktif 5. <20 Pasif (Adaptasi dari Aqib, 2009: 41) 2. Data kuantitatif Data kuantitatif merupakan data dari hasil belajar (tes) melalui Model cooperative learning tipe Group Resume pada setiap siklusnya. a. Untuk menghitung ketuntasan belajar siswa individual digunakan rumus: R S= X 100 N Keterangan: S = Nilai yang diharapkan R = Jumlah skor/item yang dijawab benar N = Skor maksimum dari tes 100 = Bilangan tetap (Sumber: Adaptasi Purwanto, 2008: 112) 28 b. Nilai rata- rata hasil belajar siswa menggunakan rumus: ∑ Xi X = —— N Keterangan: X = Rata-rata hitung nilai N = Banyaknya siswa Xi = Nilai siswa (Herrhyanto, dkk., 2009: 4.2) c. Untuk menghitung ketuntasan belajar siswa klasikal digunakan rumus: Ketuntasan Klasikal= Jumlah siswa yang tuntas belajar X 100% Jumlah seluruh siswa Keterangan: Ketuntasan individual : jika siswa mencapai ketuntasan ≥ 75% Ketuntasan Klasikal : Jika ≥ 60% dari seluruh siswa mencapai ketuntasan ≥ 75% Diadopsi dari Purwanto (2008: 102) Tabel 4. Kriteria Tingkat Keberhasilan Belajar Siswa dalam % Tingkat Keberhasilan (%) >80% 60-79% 40-59% 20-39% <20% (sumber: Aqib, dkk., 2009: 41) Arti Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah 29 F. Indikator Keberhasilan Penelitian ini dapat dikatakan berhasil apabila adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di setiap siklusnya dari nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 63. Siswa dianggap tuntas belajar apabila 75% dari jumlah siswa memperoleh nilai sekurangkurangnya 63 dan aktivitas belajar siswa dianggap tuntas apabila meningkat hingga 75% (Depdiknas, 2008: 5). G. Urutan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Langkah-langkah pembelajaran 1. Perencanaan Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan materi, dengan langkah- langkah sebagai berikut: a. Peneliti membuat Pemetaan, Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model cooperative learning tipe group resume, dengan materi “Menghargai Jasa dan Peranan Tokoh dalam Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia”. b. Menyiapkan instrumen tes dan nontes. Instrument tes berupa soal post-test beserta kunci jawabannya. Instrumen nontes berupa lembar observasi. 2. Pelaksanaan Langkah tindakan ini merupakan pelaksanaan dari rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Berikut 30 merupakan pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan model cooperative learning tipe group resume: a. Kegiatan Pendahuluan 1) Guru mengondisikan kelas. 2) Guru menyampaikan apersepsi (menghubungkan materi yang akan dijelaskan dengan kehidupan sehari-hari). Dengan tujuan sebagai penjajakan kesiapan belajar. b. Kegiatan Inti Dalam kegiatan ini guru: 1) melibatkan siswa mencari inforamasi mengenai “Jasa dan Peranan Tokoh dalam Memproklamasikan Kemerdekaan”. 2) Membagi siswa ke dalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 siswa. 3) Memberi motivasi kepada siswa bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang hebat. 4) Membagi kertas karton kepada masing-masing kelompok. 5) Meminta siswa membuat resume, dengan menuliskan resume pada kertas karton. Setiap kelompok mencantumkan data untuk mengenalkan anggota kelompoknya (sebagai identitas kelompok), seperti nama dan kelas. 6) Meminta masing-masing kelompok untuk membacakan hasil resume siswa, kemudian kelompok lain dapat mendengarkan penyampaian hasil resume temannya dan menyanggah ataupun bertanya. kelompok 31 7) Memberikan penghargaan kepada kelompok berupa pemberian nilai pada hasil pekerjaan siswa. 8) Melakukan Tanya jawab apabila ada materi yang kurang dipahami oleh siswa. 9) Bersama siswa melakukan refleksi. 10) Memberikan post- test individu. c. Kegiatan Penutup Dalam kegiatan penutup guru: 1) Menyimpulkan pembelajaran mengenai materi yang telah disampaikan bersama siswa. 2) Memberikan pekerjaan rumah. 3) Menyampaikan rencana pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. 3. Observasi Peneliti melakukan kegiatan observasi dengan mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru selama pembelajaran berlangsung. Pada proses pembelajaran aktivitas siswa dan kinerja guru diamati dengan menggunakan lembar observasi. 4. Refleksi Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis. Refleksi dilakukan dengan melihat kelemahan dan kelebihan pada proses pembelajaran setelah diterapkannya model cooperative learning tipe group resume. Hasil pelaksanaan dari siklus I digunakan untuk penyusunan laporan hasil penelitian 32 tindakan kelas. Namun jika hasil kegiatan dari siklus I belum mencapai indikator keberhasilan, maka akan dilaksanakan siklus berikutnya, yang kegiatannya sama dengan siklus I namun materi pembelajarannya berbeda. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan di kelas VA SDN 2 Metro Utara, dapat disimpulkan bahwa: 1. Aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VA SDN 2 Metro Utara dapat ditingkatkan melalui model cooperative learning tipe group resume. Hal ini sesuai dengan peningkatan persentase rata-rata aktivitas siswa pada tiap siklus, yaitu 66,72% pada siklus I, menjadi 71,25% pada siklus II, dan meningkat lagi menjadi 79,53% pada siklus III. 2. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas VA SDN 2 Metro Utara dapat ditingkatkan melalui model cooperative learning tipe group resume. Hal ini sesuai dengan hasil belajar siswa yang selalu meningkat pada tiap siklus, yaitu 64,4 pada siklus I, meningkat menjadi 69,5 pada siklus II, dan 77 pada siklus III. 69 B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka peneliti menyarankan bagi: 1. Siswa diharapkan mampu mengikuti berbagai model pembelajaran yang digunakan oleh guru, sehingga pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. 2. Guru a. diharapkan dapat mencoba menggunakan model cooperative learning tipe group resume pada pembelajaran sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. b. Pada saat proses pembelajaran sebaiknya guru memotivasi siswa agar siswa mampu menggali dan menemukan sendiri pengetahuannya secara aktif dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 3. Sekolah diharapkan dapat mendukung keberhasilan kegiatan pembelajaran, baik secara moral dan materi. 4. Mahasiswa khususnya mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) diharapkan mampu menerapkan dan mengembangkan ilmu yang dipelajari selama dan setelah mengikuti perkuliahan. 70 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Mulyono. 2006. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Rineka Cipta. Jakarta. Andayani, dkk. 2009. Pemantapan Kemampuan Profesional. Universitas Terbuka. Jakarta. Aqib, Zainal dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, & TK. Yrama Widya. Bandung. Dalyono, M. 2005. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Balai Pustaka. Jakarta. Depdiknas. 2008. Pendekatan Kontekstual: Contextual Teaching and Learning (CTL). Ditjen Dikdasmen. Jakarta. Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta. Herrhyanto, Nar, dkk. 2009. Struktur Dasar. Universitas Terbuka. Jakarta. Huda, Miftahul. 2011. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Ikhsan, Fuad. 2005. Dasar-dasar Kependidikan. Rineka Cipta. Jakarta. Iru, La, dkk. 2012. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi, dan Modelmodel Pembelajaran. Multi Presindo. Kendari. Isjoni. 2007. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Alfabeta. Bandung. Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Refika Aditama. Bandung. 71 Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Mahmud. 2012. Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Group Resume. (http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/09/contohlaporan-penelitian-tindakan.html) Diakses pada tanggal 15/11/12. 10.20 WIB. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (nomor 22 tahun 2006. BSNP. 2006). Poerwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran SD. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Purwanto, Ngalim. 2008. Prinsip- prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Rosdakarya. Bandung. Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Rajagrafindo Persada. Bandung. Sapriya, dkk. 2006. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. UPI PRESS. Bandung. Sardjiyo, dkk. 2009. Pendidikan IPS di SD. Universitas Terbuka. Jakarta. SEO Education. 2010. (http://zona-guru.blogspot.com/2010/10/langkah-langkahstrategi-group-resume.html). Diakses pada tanggal 26/11/12. 09.00 WIB. Silberman, Melvin. 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Nusamedia. Bandung. Solihatin, dan Raharjo. 2009. Cooperative learning. PT Bumi Aksara. Jakarta. Suprijono, Agus. 2011. Cooperative learning dan Aplikasi Paikem. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Kencana. Surabaya. Undang-Undang Sisdiknas (UU RI No. 20 Tahun 2003 PT. Sinar Grafika. Jakarta.). 2008. Universitas Lampung. 2008. Format Penulisan Karya Ilmiah. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 72 Wardani, I.G.A.K, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka. Jakarta. Wilt, Agung. 2012. Stategi Pembelajaran Aktif. http://wawasanbiologi.blogspot.com/2012/02/strategi-pembelajaranaktif.html. Diakses pada tanggal 20/11/2012. 11.30 WIB. Winataputra, Udin S dkk. 2008. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Universitas Terbuka. Jakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IVA SDN 08 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
7
60
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW PADA PEMBELAJARAN IPS SISWA KELAS VA SD NEGERI 8 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
9
272
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VA SDN 08 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
7
57
PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IVA SD NEGERI 10 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
5
61
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VA SDN 10 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
21
57
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VA SDN 10 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
14
55
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V B SDN 06 METRO BARAT
1
10
49
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS VC SD NEGERI 06 METRO BARAT
0
6
65
PENGGUNAAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V A SDN 1 METRO UTARA
0
11
34
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS IV SD KRISTEN 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013-2014
0
2
42
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASILBELAJARSISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE DAN MEDIA POWERPOINT PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VA SDN 1 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
6
58
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TYPE TALKING STICK PADA PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VA SDN 2 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
5
38
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE ROTATING TRIO EXCHANGE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VA SD NEGERI 1 PALAPA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013
9
131
48
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TALKING STICK PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VA SD NEGERI 7 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
6
48
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP RESUME PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VA SDN 2 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013
23
192
38
Show more