PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA

Gratis

2
26
61
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran T.P. 2013/2014) Oleh RIANITA AFRILIA Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah posttest only control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran Tahun Pelajaran 2013/2014 yang terdistribusi dalam sepuluh kelas. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIII1 dan VIII3 yang diambil dengan teknik purposive random sampling. Data penelitian diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematis yang dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Kata kunci: pembelajaran Problem Based Learning, pemecahan masalah matematis Moto  Berangkat dengan penuh keyakinan  Berjalan dengan penuh keikhlasan  Istiqomah dalam menghadapi cobaan “ YAKIN, IKHLAS,ISTIQOMAH” (Muhammad Zainuddin) Jika salah maka perbaikilah namun jika kita menyerah maka kita akan gagal. (Rianita Afrilia) Persembahan Segala Puji Bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna, Sholawat serta Salam Selalu Tercurah Kepada Rosululloh Muhammad SAW Kupersembahkan karya kecil ini sebagai tanda cinta & kasih sayangku kepada : Ayah (Syahroni) dan Ibu (Rohilawati), yang telah membesarkan, mendidik dengan penuh kasih sayang yang tulus, dan selalu mendoakan yang terbaik untuk keberhasilan dan kebahagianku. Adik-adikku (Yoga Pratama dan Bella Puspita) serta seluruh keluarga besar yang terus memberikan dukungan dan doanya padaku. Para pendidik yang telah mengajar dan mendidik dengan penuh kesabaran. Semua Sahabat yang begitu tulus menyayangiku dengan segala kekuranganku, yang selalu memeberikan doa dan semangat, terimakasih atas kebersamaan selama ini. Semoga kita selalu dapat menjaga silaturrahmi yang baik. Almamater Universitas Lampung tercinta SANWACANA Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah atas manusia yang akhlaknya paling mulia, yang telah membawa perubahan luar biasa, menjadi uswatun hasanah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran T.P. 2013/2014) adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada: 1. Bapak Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., selaku dosen Pembimbing Akademik dan juga sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan perhatian, dan memotivasi selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. iii 2. Ibu Dr. Tina Yunarti, M.Si., selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan sumbangan pemikiran, kritik, dan saran kepada penulis demi terselesaikannya skripsi ini. 3. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd., selaku dosen pembahas yang telah memberi masukan dan saran-saran kepada penulis. 4. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung beserta staff dan jajarannya yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Ibu Dra. Nurhanurawati, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 7. Bapak dan Ibu dosen Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 8. Bapak Suwardi SY, S.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 1 Pagelaran beserta Wakil, staff, dan karyawan yang telah memberikan kemudahan selama penelitian. 9. Ibu M. Sulastri, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak membantu dalam penelitian. 10. Siswa/siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran Tahun Pelajaran 2013/2014, atas perhatian dan kerjasama yang telah terjalin. iv 11. Ayah (Syahroni) dan Ibu (Rohilawati) tercinta, atas perhatian dan kasih sayang yang telah diberikan selama ini yang tidak pernah lelah untuk selalu mendoakan yang terbaik 12. Adik-adikku (Yoga dan Bella) serta keluarga besarku yang telah memberikan doa, semangat, dan motivasi kepadaku 13. Keluarga besar di Liwa , Bapak, Ibu, Among, Ngah, Reki serta Ibu Septi dan Pak Suharto yang telah memberikan banyak dukungan dan motivasi. 14. Sahabat yang terkasih, Andriyani Mustika, Cita Bhekti, Hesti Lestari, Fitri Aprilia dan Nurul Rohmah yang selama ini memberiku semangat dan doa serta selalu menemani saat suka dan duka. Semoga persahabatan dan kebersamaan kita selalu menjadi kenangan yang indah sampai kapanpun. 15. Teman-teman karibku tersayang, seluruh angkatan 2010 Kelas A Pendidikan Matematika: Aan, Beni, Tripau, Rusdi , Novrian, Arif, Qorry, Intan, Nurul H, Iga, Ebta, Asih, Imas, Rini, Dhea, Ria, Yulisa, Novi, Utari, Dian, Sulis, Tri.H, Fertil, Endang dan dua sahabat ku Kismon, Alji, Wira, Aulia, Valenti dan Joshua atas kebersamaannya selama ini dan semua bantuan yang telah diberikan. Semoga kebersamaan kita selalu menjadi kenangan yang terindah. 16. Teman-teman seperjuangan angkatan 2010 Kelas B, kakak-kakakku angkatan 2006, 2007, 2008 dan 2009 serta adik-adikku angkatan 2011, 2012, dan 2013 terima kasih atas kebersamaannya. 17. Teman-teman KKN dan PPL keluarga BBC tercinta di SMP Negeri 1 Batu Brak, (Burhan, Wayan , Azmi, Sophi, Ranis, Siska, Clara, Liza, Endang , Nita, Mei, dan Ceti) atas kebersamaan yang penuh makna , kasih sayang dan kenangan. v 18. Pak Liyanto, penjaga Gedung G, terima kasih atas bantuan dan perhatiannya selama ini. 19. Almamater tercinta yang telah mendewasakanku. 20. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Semoga dengan kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan pada penulis mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Bandar Lampung, 10 September 2014 Penulis, Rianita Afrilia vi DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. viii DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... x I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................... 8 C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 8 D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 9 E. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................................... 9 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 10 A. Teori Belajar yang Melandasi Problem Based Learning......................... 10 B. Model Pembelajaran Problem Based Learning ...................................... 12 C. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ......................................... 18 D. Kerangka Pikir................................................................................. ....... 22 E. Anggapan Dasar................................................................................. ..... 25 F. Hipotesis.................................................................................................. 25 III. METODE PENELITIAN .......................................................................... 26 A.Populasi dan Sampel ................................................................................ 26 B.Desain Penelitian ..................................................................................... 27 C. Prosedur Penelitian ................................................................................. 28 vi D. Data Penelitian ....................................................................................... 30 E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 30 E. Instrumen Penelitian ................................................................................ 30 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...................................................................................... 41 B. Pembahasan ............................................................................................ 44 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ................................................................................................ 49 B. Saran ...................................................................................................... 50 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pelaksanaan dalam Problem Based Learning ............ 16 Tabel 3.1 Rata-Rata Nilai Ujian Mid Semester Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran ................................................................... 26 Tabel 3.2 Desain Penelitian .............................................................................. 28 Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Tes Pemecahan Masalah ................................. 31 Tabel 3.4 Validitas Butir Item Soal ................................................................. 33 Tabel 3.5 Interpretasi Nilai Daya Pembeda...................................................... 35 Tabel 3.6 Daya Pembeda Butir Item Soal ........................................................ 36 Tabel 3.7 Interpretasi Indeks Tingkat Kesukaran ............................................ 37 Tabel 3.8 Tingkat Kesukaran Butir Item Soal ................................................. 37 Tabel 3.9 Hasil Uji Normalitas data Postes dengan Chi-Kuadrat ................... 39 Tabel 3.10 Hasil Uji Normalitas data Gain denganuji (K-S-Z) ......................... 39 Tabel 4.1 Data Kemampuan Akhir Pemecahan Masalah Matematis Siswa ..... 42 Tabel 4.2 Data Pencapaian Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Setelah Pembelajaran ............................................. 43 Tabel 4.3 Rekapitulasi Uji Mann Whitney Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis… ....................................................................................... 44 vi DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PBL ...................... 54 Lampiran A.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Konvesional ........ 86 Lampiran A.4 Lembar Kerja Siswa (LKS)....................................................... 118 Lampiran B.1 Kisi-Kisi Instrumen Tes ........................................................... 139 Lampiran B.2 Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ................... 141 Lampiran B.3 Pedoman Pemberian Skor dan Kunci Jawaban Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ................................................ 142 Lampiran B.4 Form Validasi Instrumen ......................................................... 145 Lampiran B.5 Pedoman Penskoran Tes Pemecahan Masalah ......................... 147 Lampiran B.6 Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ...................................... 148 Lampiran C.1 Analisis Validitas Butir Soal Tes Uji Coba............................... 151 Lampiran C.2 Reabilitas Butir Soal ................................................................ 152 Lampiran C.3 Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran .................................... 153 Lampiran C.4 Data Kemampuan Akhir Pemecahan Masalah Matematis PBL 154 Lampiran C.5 Data Kemampuan Awal Pemecahan Masalah Matematis Konvesional ............................................................................. 155 Lampiran C.6 Analisi Uji Normalitas Data Kemampuan Akhir Pemecahan Masalah Matematis Kelas PBL ................................................. 158 vi Lampiran C.7 Analisi Uji Normalitas Data Posttest Kemampuan Akhir Pemecahan Masalah Matematis Kelas Konvesional ................161 Lampiran C.8 Pencapaian Indikator Kemampuan Akhir Pemecahan Masalah . 163 Lampiran C.14 Analisis Uji Mann Whitney Data Kemampuan Akhir Pemecahan Masalah Matematis................................................................... 164 112 vii 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional adalah memberikan kesempatan pada anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya seoptimal mungkin. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, keahlian dan keterampilan kepada individu untuk mengembangkan potensi potensi yang ada di dalam diri mereka. Hal ini sesuai pada UUD 1945 pasal 31 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Pernyataan di atas memberikan penekanan bahwa seluruh warga negara berhak dan layak mendapatkan pendidikan secara merata tanpa adanya perbedaan latar belakang. Pendidikan juga merupakan pilar utama dalam pembangunan. Untuk itu diperlukan adanya perubahan dalam dunia pendidikan guna meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri. Sesuai dengan tujuan pendidikan di atas, diperlukan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya dalam bidang matematika. Standar isi Permendiknas nomor 22 tahun 2006 menyatakan bahwa pelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep secara luas, akurat, efisien, dan tepat dalam memecahkan masalah 2 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika, dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjeleaskan gagasan dan pertanyaan matematika 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh 4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dlam mempelajari matematika, serta ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah matematika. Tujuan pembelajaran matematika yang dirumuskan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006) menyatakan bahwa mata pelajaran matematika bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan untuk memahami konsep matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika tersebut, kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu kemampuan yang penting dan harus dimiliki oleh siswa. Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika, salah satu aspek yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan pemecahan masalah matematis. Menurut Aqib (2013:84) kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan siswa memahami masalah, merencanakan strategi dan melaksanakan rencana pemecahan masalah. Selain itu, siswa diharapkan mampu untuk memeriksa kembali langkah-langkah yang dilakukan dan hasil yang diperoleh serta menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaan soal. Hal ini yang membuat banyak siswa di sekolah yang tidak menyukai pelajaran matematika karena banyak menggunakan rumus atau konsep-konsep lainnya. Menurut Jones 3 (Hudiono, 2005) terdapat beberapa alasan perlunya pemecahan masalah yaitu memberi kelancaran siswa dalam membangun suatu konsep dan berfikir matematis serta untuk memiliki pemahaman masalah yang kuat. Penggunaan pemecahan masalah matematis yang sesuai dengan permasalahan dapat menjadikan gagasan dan ide-ide matematika lebih konkrit dan membantu siswa untuk memecahkan suatu masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana. Oleh sebab itu, kemampuan pemecahan masalah matematis perlu dimiliki oleh siswa karena dapat memberi kemudahan kepada siswa dalam membangun suatu konsep dan berfikir matematis. Rendahnya kualitas kemampuan matematis siswa Indonesia dapat dilihat dari pada studi The Third International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) tahun 2011 yang mengukur prestasi siswa di bidang kognitif dari tiga aspek yaitu pengetahuan, penerapan, dan penalaran. Hasil Studi TIMSS dalam Martin (2012:40) menunjukkan skor rata-rata prestasi siswa Indonesia di bidang matematika yaitu 406, sedangkan standar rata-rata internasional adalah 500. Berdasarkan hasil PISA tahun 2012, Indonesia hanya menduduki rangking 63 dari 64 negara peserta dengan rata-rata skor 375, padahal rata-rata skor internasional adalah 494 (Mullis, 2012). Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia tersebut masuk pada kategori rendah jauh dari kategori mahir. Dalam kategori mahir siswa dituntut untuk menguasai konsep dengan baik, membuat perumpamaan, memecahkan masalah tidak rutin dan mengajukan argumen pembenaran simpulan. Salah satu penyebab rendahnya kemampuan matematika siswa adalah siswa Indonesia pada umumnya kurang terlatih dalam menyelesaikan soal-soal dengan karakteristik seperti soal-soal pada 4 TIMSS, yang subtansinya kontekstual, menuntut penalaran, argumentasi, dan kreativitas dalam penyelesaiannya Wardhani dan Rumiati (2011:2). Hal ini dikarenakan pada proses pembelajaran umumnya siswa cenderung mengikuti cara yang biasa digunakan oleh gurunya. siswa tidak dapat mengembangkan ide dan kemampuan yang mereka miliki. Akibatnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menjadi tidak bekembang secara optimal. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam memecahkan masalah masih tergolong rendah. Penelitian lain dilakukan oleh Rakhmasari (Kurniawati, 2013) menunjukkan bahwa siswa masih sulit untuk membuat kesimpulan, memahami permasalahan, dan memberikan alasan atas jawaban yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena pembelajaran matematika yang biasa dilakukan bersifat prosedural. Siswa belum terbiasa untuk menyelesaikan soal yang bersifat nonrutin sehingga kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan pemecahan masalah matematis mereka belum terlatih. Padahal kemampuan ini diperlukan siswa untuk dapat mengembangkan, memahami konsep-konsep, serta dapat menyelesaikan masalah matematis. Kemampuan pemecahan masalah matematis yang belum berkembang secara optimal juga terjadi SMP Negeri 1 Pagelaran. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan guru bidang studi kelas VIII diketahui bahwa soal-soal ulangan harian dan uji blok yang diberikan guru merupakan soal-soal rutin yang sudah dikerjakan pada latihan kemudian guru hanya mengganti angka. Hasil wawancara menunjukan bahwa kompetensi yang dikembangkan oleh guru belum mencakup kemampuan-kemampuan berfikir tingkat tinggi seperti kemampuan 5 pemecahan masalah matematis. Selain itu siswa mengalami kesulitan jika diminta untuk menyelesaikan soal yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis, seperti merencanakan strategi penyelesaian masalah. Berdasarkan hasil tes pendahuluan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran dengan contoh soal sebagai berikut: “sebuah persegi panjang memiliki ukuran panjang (3x – 4) cm dan lebar (x + 1) cm. Jika keliling 34 cm maka susunlah bentuk representatifnya dari kalimat tersebut dan tentukan luas persegi panjang tersebut!” Contoh jawaban-jawaban dari siswa sebagai berikut : Siswa 1 : P = (3x-4), L= (x + 1), Keliling = 34 cm K=2 (p+l) 34 = 2 (3x – 4 + x + 1) 34 = 2 ( 4x-3) 34= 8x-6 34-6= 8 X= 5,6 Siswa 2 : P = (3x-4), L= (x + 1), Keliling = 34 cm K=2p + 2l 34 = 2 (3x – 4) +2 ( x + 1) Jadi luas persegi panjang adalah : P x L = (3x-4) (x+1) Berdasarkan contoh sederhana di atas, kita dapat melihat bahwa tidak semua pertanyaan kemampuan pemecahan masalah dapat dijawab secara baik oleh siswa. Dari data hasil tes pendahuluan diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 34,5. Hal ini dikarenakan kompetensi yang dikembangkan oleh guru belum mencakup kemampuan pemecahan masalah matematis. Soal-soal latihan yang diberikan masih berupa pengulangan dari contoh yang diberikan guru atau contoh yang ada 6 di LKS siswa. Penyelesaian soal pun masih terpaku pada satu cara, siswa cenderung mengikuti langkah-langkah yang biasa digunakan oleh gurunya dan belum terbiasa menyelesaikan soal dengan banyak kemungkinan jawaban. Dengan proses pembelajaran yang seperti itu, maka siswa akan jarang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalahnya. Akibatnya, tingkat pemahaman siswa terhadap materi ajar menjadi kurang optimal dan siswa menjadi pasif. Kondisi yang dijelaskan di atas disebabkan kurangnya keterlibatan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dipengaruhi oleh peran guru yang masih sangat besar dalam proses pembelajaran. Siswa terbiasa dibimbing oleh guru dalam menemukan konsep-konsep matematika. Latihan-latihan yang diberikan hanya mengikuti contoh yang diberikan oleh guru. Meskipun bentuk soal tersebut diubah, siswa masih mengalami kesulitan dalam proses penyelesaiannya. Hasil observasi dan wawancara juga menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran yang digunakan belum tepat, pembelajaran yang sering diterapkan guru yaitu diskusi, ceramah, dan tanya jawab. Hal ini mengakibatkan siswa tidak terpacu untuk memperoleh sumber informasi selain dari guru serta siswa tidak terbiasa menemu-kan konsep-konsep matematika. Kondisi seperti ini tidak sesuai dengan karakteristik siswa yang aktif dalam proses pembelajaran di kelas, selain itu juga siswa memiliki perbedaan satu sama lain. Siswa berbeda dalam minat, bakat, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Dengan keberagaman karakteristik siswa, guru sebagai salah satu komponen pembelajaran diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. 7 Menanggapi permasalahan kemampuan pemecahan masalah yang ada di atas, maka diperlukan usaha dari guru selaku pendidik untuk menciptakan suasana belajar dan menyenangkan. Salah satu cara untuk menggembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yaitu dengan suatu model pembelajaran yang mengutamakan keaktifan pada diri siswa sehingga mampu mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematisnya. Selain itu diperlukan suatu model pembelajaran yang menyajikan tugas-tugas dalam bentuk masalah karena dengan adanya masalah maka siswa akan berusaha untuk mencari solusinya dengan berbagai ide dan representasi sehingga kemampuan berfikir siswa benar-benar dioptimalkan melalui proses pemecahan masalah tersebut. Berdasarkan hal tersebut perlu diterapkannya suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang menuntun siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, menggembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir ke tingkat yang lebih tinggi, menggembangkan kemandirian dan percaya diri (Santock : 2004). Selain itu pendekatan pembelajaran PBL didasarkan pada teori psikologi kognitif,yang merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang memberi kondisi belajar aktif kepada peserta didik dalam kondisi dunia nyata. Melalui model ini siswa lebih banyak terlibat secara langsung selama proses pembelajaran untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang diberikan oleh guru. 8 Dalam pembelajaran PBL, siswa dihadapkan pada permasalahan-permasalahan kontekstual. Siswa dituntut untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut untuk memperoleh konsep matematika. Siswa juga dilatih untuk menginterpretasikan ide-idenya ke dalam simbol matematika atau gambar dan menyelesaikannya. Dalam proses tersebut, siswa tidak bekerja secara individu tetapi siswa mendiskusikannya dengan teman kelompoknya. Setelah itu, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas kemudian kelompok yang lain menanggapi. Oleh karena itu, dilakukan studi eksperimen menggunakan model pembelajaran PBL untuk melihat apakah model pembelajaran PBL berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada jenjang SMP. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII semester genap SMP Negeri 1 Pagelaran tahun pelajaran 2013/2014?” C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa VIII semester genap SMP Negeri 1 Pagelaran Tahun Pelajaran 2013/2014. 9 D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis, manfaat tersebut adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap perkembangan pendidikan dan pembelajaran matematika, terutama terkait dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan juga kemampuan pemecahan masalah matematis. 2. Manfaat Praktis Dilihat dari segi praktis, penelitian ini memberikan manfaat antara lain: a. Bagi guru dan calon guru, untuk menambah wawasan dalam pembelajaran matematika sebagai model alternatif yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan keterkaitannya dalam pemecahan masalah matematis siswa. b. Bagi Peneliti lainnya, dalam menemukan strategi pembelajaran yang tepat dan memberi masukan bagi guru dan calon guru dalam kegiatan pembelajaran matematika dengan menerapkan pembelajaran Problem Based Learning. E. Ruang Lingkup Penelitian Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang lebih terpusat pada guru (Pramudha, 2011). Dalam hal ini, pembelajaran konvensional yang dimaksud yaitu pembelajaran yang biasa digunakan di 10 sekolah yang diteliti, yaitu guru aktif memberikan informasi, sedangkan kegiatan siswa menyimak, mencatat, dan mengerjakan tugas. 2. Model pembelajaran Problem Based Learning Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis agar kemampuan berfikir siswa dioptimalkan dan memperoleh pengetahuan dan konsep dasar. 3. Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah kemampuan siswa mengidentifikasi masalah, merencanakan strategi dan prosedur pemecahan masalah, melakukan prosedur pemecahan masalah, memeriksa kembali langkah-langkah yang dilakukan. 4. Pengaruh merupakan tindakan yang dapat membentuk atau merubah sesuatu yang lain. Pada penelitian ini, model pembelajaran Problem Based Learning dikatakan berpengaruh jika rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan model pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvesional. 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Teori Belajar yang Melandasi Problem Based Learning Teori yang melandasi Problem Based Learning adalah teori Vygotsky, Bruner dan Dewey. Teori Vgostky menjelaskan bahwa siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri melalui bahasa. Menurut Vygotsky, proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka yang disebut dengan zone of proximal development,yaitu daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan seseorang saat ini. Pembelajaran terjadi melalui tantangan dan bantuan dari guru atau teman sejawat yang lebih mampu, siswa bergerak ke dalam zona perkembangan terdekat mereka dimana pembelajaran baru terjadi (Ibrahim dan Nur 2005: 19). Menurut Dewey (Trianto, 2009) dalam memecahkan masalah terdapat lima langkah, yaitu (1) siswa mengenali masalah, (2) siswa menyelidiki dan menganalisis kesulitannya dan menentukan masalah yang dihadapinya, (3) siswa menghubungkan semua kemungkinan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, (4) siswa menimbang kemungkinan jawaban yang ia temukan dengan akibatnya masing-masing, dan (5) siswa mencoba mempraktikan salah 12 satu kemungkinan yang ia pandang terbaik untuk memecahkan masalah tersebut dan hasilnya akan membuktikan apakah kemungkinan pemecahan masalah tersebut benar atau salah. Berbeda dengan dua pendapat di atas Bruner (Trianto, 2009:38) mengatakanbahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Konsep penting dari teori belajar yang diungkapkan oleh Bruner adalah scaffolding. Bruner memberikan scaffolding sebagai suatu proses dimana seorang siswa dibantu menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan dari seorang guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih. 2. Model Pembelajaran Problem Based Learning Penggunaan strategi pembelajaran sangat penting untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru harus memiliki model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat belajar secara efektif, efisien dan mengena pada tujuan yang diharapkan. Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang menekankan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam proses pembelajaran, secara lebih khusus konstruktivisme mempunyai pandangan bahwa seseorang pada umumnya melalui empat tahap dalam belajar sesuai yang dikemukakan Horsley (1990: 59) yaitu: (1) Tahap apersepsi, tahap ini 13 berguna untuk mengungkapkan konsepsi awal siswa dan digunakan untuk membangkitkan motivasi belajar; (2) Tahap eksplorasi, tahap ini berfungsi sebagai mediasi pengungkapan ide-ide atau pengetahuan dalam diri siswa; (3) Tahap diskusi dan penjelasan konsep, pada tahap ini siswa diupayakan untuk bekerja sama dengan temannya, berusaha menjelaskan pemahamannya kepada orang lain dan mendengar, bahkan menghargai temuan temannya; (4) Tahap pengembangan dan aplikasi konsep, tahap ini merupakan tahap untuk mengukur sejauh mana siswa telah memahami suatu konsep dengan menyelesaikan permasalahan. Problem Based Learning didasarkan pada teori psikologi kognitif. Menurut Barrows (Jusuf, 2009:1), PBL adalah model pembelajaran berdasarkan pada prinsip penggunaan kasus (masalah) sebagai titik pangkal untuk mendapatkan dan mengintegrasi pengetahuan yang baru. Fokusnya tidak banyak pada apa yang sedang dilakukan oleh siswa, tetapi pada apa yang siswa pikirkan selama mengerjakannya. Menurut Amir(2009) landasan teori PBL adalah kontruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antara siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan ketrampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugastugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel berorientasi pada upaya penyelidikan siswa. 14 Pembelajaran PBL merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Model ini juga berfokus pada keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, siswa tidak lagi belajar satu arah seperti pada model pembelajaran konvensional. Dengan model pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mengembangkan pengetahuan mereka sendiri. sPBL memiliki ciri-ciri seperti Wee & Kek (Amir, 2009:12) “pembelajaran dimulai dengan pemberian masalah, biasanya memiliki konteks dengan dunia nyata,pemelajar secara berkelompok aktif merumuskan masalah dan mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan mereka, mempelajari dan mencari solusi dari masalah. Sementara pendidik lebih banyak memfasilitasi. Ketimbang memberi materi, pendidik merancang sebuah sekenario masalah, memberikan clue indikasi-indikasi tentang sumber bacaan tambahan dan berbagai arahan dan saran yang diperlukan saat pelajar menjalankan proses. Meskipun bukanlah pembelajaran yang sama sekali baru, Tan (Amir, 2009:13) menyatakan bahwa penerapan model pembelajaranPBL mengalami kemajuan yang pesat di banyak sekolah dari disiplin ilmu di negaranegara maju. Menurut Pannen (2001:23) pembelajaran PBL (pembelajaran berdasarkan masalah) mempunyai 5 asumsi utama, yaitu : a. b. c. d. Pembelajaran bersifat student centered Pembelajajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil Guru berperan sebagai fasilitator dan moderator Masalah menjadi fokus dan sarana untuk mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah. e. Informasi-informasi baru dapat diperoleh dari belajar mandiri 15 Sedangkan menurut Rusman (2013: 232), karakteristik dari pembelajaran berbasis masalah antara lain (1) permasalahan yang digunakan menjadi starting point dalam belajar, merupakan permasalahan yang ada di dunia nyata, membutuhkan perspektif ganda dan menantang pengetahuan yang dimiliki siswa, (2) belajar pengarahan diri, (3) pembelajaran kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif, (4) pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah, (5) keterbukaan proses pembelajaran yang meliputi sintesis dan integrasi proses belajar, dan (6) evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar. Menurut Sternberg (Yamin, 2013:84-86) merancang model pemecahan masalah masalah adalah sebagai berikut: a. Pengidentifikasi masalah : pengenalan masalahkepada siswa b. Pendefinisian masalah dan representasinya : siswa dituntut untuk mendefinisikan masalah dengan tepat dan mempresentasikannya. c. Perumusan strategi : setelah masalah didefinisikan secara efektif, maka siswa harus menyusun atau merencanakan strategi penyelesaiannya. d. Pengorganisasian informasi: tahap ini adalah pengumpulan informasi dan membuat struktur informasi serta mengintegrasikannya. e. Pengolahan sumber daya f. Pemonitoran: memonitor langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan. g. Pengevaluasian : dalam proses penyelesaian, evaluasi merupakan langkah akhir untuk mengukur tercapainya hasil yang sempurna atau tidaknya. Menurut Arends (Yamin, 2013:82) penerapan Problem Based Learning terdiri dari lima fase, fase-fase ditunjukan pada Tabel 2.1 sebagai berikut: 16 Tabel 2.2 Tahap-Tahap Pelaksanaan dalam Problem Based Learning Tahap Tahap dalam Problem Based Learning 1. Orientasi siswa pada masalah 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar 3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah PerilakuGuru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk membagi tugas dengan temannya. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan Selain itu menurut (Amir, 2009:24) di dalam model pembelajaran ini terdapat 6 proses yang akan dilalui oleh siswa yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas Merumuskan masalah Menganalisi masalah Menata gagasan secara sistematis menganalisisnyadengan dalam Memformulasikan tujuan pembelajaran Mencari informasi tambahan dari sumber lain (di luar diskusi kelompok) Model ini merupakan bantuan terhadap siswauntuk memahami struktur dan ideide kunci suatu disiplin. Dalam pelaksanaannya, siswa perlu memahami bahwa tujuan pembelajaran ini adalah untuk melakukan penyelidikan terhadap masalahmasalah penting yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga membangkitkan minat dan keinginan untuk menyelesaikan masalah yang 17 dihadapi. Selain itu, dibutuhkan pengembangan keterampilan kerja sama diantara siswa dan saling memerlukan bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas lainnya. Penyajian masalah dalam model PBL memegang peran sentral karena ketepatan dalam memilih masalah akan menjadi kunci dalam keberhasilan proses belajar. Hal ini diungkap (Sudarman, 2007;323) bahwa masalah dalam PBL ialah suatu rangsangan dan tantangan bagi siswa untuk menggerakkan mereka belajar, yang memerlukan suatu skill khusus bagi seorang penyaji, dalam hal ini guru untuk bisa mengangkat suatu permasalahan yang baik.Dalam PBL, guru berperan sebagai pembimbing dan memberikan masalah kepada siswa untuk dipecahkan secara bersama-sama dengan menerapkan discovery learning(belajar penemuan). Kegiatan PBL memiliki kelebihan dan kekurangan. KelebihanpembelajaranPBL menurut Wee Kek (Amir, 2009:32-33) adalah kegiatan yang membangun pengetahuan sebelumnya dan membangun pemikiran yang metakognitif dan konstruktif, meningkatkan minat dan motivasi dalam pembelajaran dan peliputan materi menjadi sasaran tetap dapat terliputi. Sedangkan kekurangan PBL diantaranya sulit mencari problem yang relevan, persiapan pembelajaran (problem dan konsep) yang komplek, dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pendidikan (Trianto, 2009: 96). Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PBLadalah suatu model pembelajaran yang menyajikan siswa pada permasalahan yang memiliki hubungan dengan dunia nyata yang akan 18 mempengaruhi kecakapan siswa selain itu juga dari masalah yang diberikan siswa dapat bekerja kelompok, mencoba memecahkan masalah dengan pengetahuan yang mereka miliki dan sekaligus dapat mencari informasi-informasi baru yang relevan beserta dengan solusinya. Sehingga siswa terbiasa dalam membangun kecakapan hidup dan terbiasa berfikir dengan pikiran dan tindakannya . 3. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Menurut Dahar (1989:138), pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan manusia yang menggabungkan konsep-konsep dan aturan-aturan yang telah diperoleh sebelumnya, dan tidak sebagai suatu keterampilan generik. Pemecahan masalah sebagai pendekatan pembelajaran merupakan upaya yang ditempuh dan diciptakan dalam proses pembelajaran yang mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah matematika, yang secara nyata dilakukan sehingga diperoleh jawaban yang benar melalui tahapan-tahapan tertentu. Metode pemecahan masalah merupakan metode yang merangsang dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan siswa. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Hudojo (2005:125-126) mengemukakan bahwa melalui pemecahan masalah, maka siswa diharapkan memahami proses menyelesaikan masalah dan menjadi terampil dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya Sedangkan 19 menurut Suherman dkk. (2001:92) menyatakan bahwa salah satu cara mengembangkan kemauan anak dalam pemecahan masalah melalui penyediaan pengalaman pemecahan masalah yang memerlukan strategi berbeda-beda dari suatu masalah ke masalah lainya. Suyitno (2010:5) menyatakan bahwa suatu soal dapat dikatakan sebagai masalah bagi siswa jika memenuhi syarat sebagai berikut: a. Siswa memiliki pengetahuan awal untuk mengerjakan soal tersebut b. Diperkirakan siswa mampu mengerjakan soal tersebut c. Siswa belum tahu algoritma atau cara menyelesaikan soal tersebut d. Siswa mau dan berkehendak menyelesaikan soal tersebut Polya (Suyitno, 2010:6) berpendapat : Dalam pemecahan masalah terdapat empat langkah yang harus dilakukan yaitu: a. Mengidentifikasi masalah b. Merencanakan pemecahan masalah c. Menyelesaikan masalah sesuai rencana d. Memeriksa kembali hasil yang diperoleh Sudarman (2007:342) menyatakan bahwaseorang pengajar yang tidak menguasai cara dalam penyampaian materi pelajaran, ia hanya mengajarkancara terselesaikannya materi yang diajarkan tanpa memperhatikan kemampuan,pola pikir dan kesiapan siswa. Hal ini akan dapat menimbulkan kesulitan bagi siswa dalam memahami pengajaran matematika bahkan mungkin menjadi prustasi dalam diri siswa. Jika hal itu terjadi berarti proses belajar matematika tidak berlangsung secara efektif dan tentunyasiswa menjadi gagal dalam belajar matematika. Selain itu, dalam memilih model/pendekatan yang paling cocok 20 untuk digunakan dalam mengajar, khususnya dalam mengajar matematika perlu pula memperhatikan topik apa yang hendak diajarkan. Dalam proses pembelajaran, disamping perlunya penalaran yang baik juga diperlukan menguasai langkah-langkah memecahkan masalah secara tepat. Selanjutnya menurut John Dewey (Nasution, 2003:121), langkah-langkah yang harus dicapai dalam memecahkan masalah adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Mengidenfikasi dan merumuskan masalah Mengemukakan hipotesis Mengumpulkan data Menguji hipotesis Mengambil kesimpulan Menurut Karl Albrecht (Nasution, 2003:121), proses pemecahan masalah terdiri dari enam langkah yang dapat digolongkan dalam dua fase utama yang disebutkannya (1) fase perluasan atau ekspansi yang pada pokoknya bersifat divergen dan(2) fase penyelesaian yang bersifat konvergen. Pada fase pertama peneliti membuka diri bagi ide-ide baru untuk memperoleh pandangan yang luas mengenai masalah itu sehingga ia memahami seluk beluk atau kompleksitasnya. Namun pada saat ia harus mengambil keputusan dan memilih satu dari banyak kemungkinan lain disinilah peserta didik memasuki fase yang kedua. Dalam fase ini ia harus memusatkan perhatian kepada satu fokus tertentu. Berdasarkan pada dokumen Peraturan Dirjen Dikdasmen tanggal 11 November 2004 (Depdiknas, 2004) dimuat beberapa pencapaian kemampuan pemecahan masalah yaitu : 1. Menunjukkan pemahaman masalah 21 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengorganisasidata dan memilih informasi yang relevan Menyajikan masalah secara tematik dalam segala bentuk Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat Menggembangkan strategi pemecahan masalah Membuat dan menafsirkan metode matematika dari suatu masalah dan, Menyelesaikan masalah yang tidak rutin. Untuk memperoleh kemampuan dalam pemecahan masalah seseorang harus memiliki banyak pengalaman dalam memecahkan berbagai masalah. Pentingnya kemampuan penyelesaian masalah oleh siswa dalam matematika ditegaskan juga oleh Rusman (2013:2), yaitu (1) kemampuan menyelesaikan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika, (2) penyelesaian masalah yang meliputi metode, prosedur dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum matematika, dan (3) penyelesaian masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika. Menurut NCTM (2000), kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan siswa memahami masalah, merencanakan strategi dan prosedur pemecahan masalah, melakukan prosedur pemecahan masalah, memeriksa kembali langkah-langkah yang dilakukan dan hasil yang diperoleh serta menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaan soal. Strategi-strategi pemecahan masalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bekerja mundur. Menemukan suatu pola. Mengambil suatu sudut pandang yang berbeda. Memecahkan suatu masalah yang beranalogi dengan masalah yang sedang dihadapi tetapi lebih sederhana (spesifikasi tanpa kehilangan generalisasi). Mempertimbangkan kasus-kasus ekstrem. Membuat gambar (representasi visual). Menduga dan menguji berdasarkan akal (termasuk aproksimasi). 22 8. Memperhitungkan semua kemungkinan 9. Mengorganisasikan data. 10. Penalaran logis. Berdasarkan dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggabungkan konsep-konsep pengetahuan dan aturan-aturan yang telah diperoleh sebelumnya dengan indikator memahami masalah, membuat rencana penyelesaian, melakukan perhitungan, dan memeriksa kembali hasil. B. Kerangka Pikir Penelitian tentang pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ini melibatkan dua pembelajaran yang diterapkan pada dua kelas berbeda. Pada kelas pertama, yaitu kelas eksperimen menerapkan PBL dan kelas kedua sebagai kelas kontrol menerapkan pembelajaran konvesional. PBL merupakan suatu pembelajaran yang dimulai dengan pemberian masalah kepada siswa, biasanya memiliki konteks dengan dunia nyata. Siswa secara berkelompok merumuskan masalah, mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan mereka, mempelajari masalah dan mencari solusi dari masalah. Fase-fase dalam model pembelajaran PBLadalah orientasi siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan. 23 Fase pertama adalah orientasi siswa pada masalah. Pada fase ini, siswa mendengarkan tujuan pembelajaran, motivasi, dan berbagai contoh situasi masalah yang ada di dalam kehidupan sehari-hari.Oleh karena itu, pada fase ini siswa akan terlatih dalam proses pemahaman masalah serta pemilihan informasi yang penting dalam melakukan pemecahan masalah. Fase selanjutnya adalah guru mengorganisasikan siswa untuk belajar kemudian membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Dalam fase ini siswa berdiskusi dengan anggota kelompoknya untuk memecahkan permasalahanpermasalahan yang terdapat padaLembar Kerja Siswa (LKS). Dalam aktivitas diskusi tersebut, siswa dituntut untuk dapat memahami masalah, kemudian menyusun rencana penyelesaian masalah dan dilanjutkan dengan melakukan perhitungannya setelah selesai melakukan perhitungan siswa akan melakukan pemeriksaan kembali jawabannya untuk lebih meyakinkan dirinya, hal tersebut tentunya akan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Fase selanjutnya adalah menerapkan strategi. Siswa menerapkan strategi-strategi yang mereka peroleh sedangkan di sisi lain guru memonitor upaya siswa secara cermat dan memberikan umpan balik. Dalam fase ini guru dapat memberikan pertanyaan apabila dalam pelaksanaan ini siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan strategi pemecahan masalah yang mereka temukan. Fase ini dapat memberikan siswa pengalaman untuk memecahkan masalah. Jika siswa dan guru telah melakukan perannya dengan baik, maka kemampuan siswa dalam menerapkan strategi akan semakin membaik. 24 Fase selanjutnya adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Dalam tahap ini, beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dengan bimbingan dari guru dan kelompok lain menanggapi. Melalui proses pembelajaran ini, siswa akan terlibat aktif dan diberikan kesempatan untuk mengemukakan ide-ide serta pendapatnya. Fase yang terakhir adalah menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada fase ini, guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi serta mengklarifikasi hasil diskusi kemudian guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Dalam aktivitas ini, siswa akan menilai dirinya sendiri, apakah hasil yang ia dapat sesuai dengan harapan atau tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran PBL terdapat proses-proses pembelajaran yang memberikan peluang bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis. Pada pembelajaran konvensional kemampuan pemecahan masalah kurang berkembang. Hal ini karena diketahui dalam pembelajaran konvensional lebih berpusat pada guru. Bahkan, jika siswa diberikan soal, soal-soal tersebut hanyalah berupa soal-soal rutin yang penyelesaiannya mirip dengan contoh yang diberikan oleh guru dan pada dasarnya bukan soal pemecahan masalah. Sehingga kemampuan pemecahan masalah siswa kurang berkembang dengan baik karena siswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran yang menyajikan masalah. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran PBLdiharapkan dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dibandingkan dengan penerapan pembelajaran konvensional. 25 Berdasarkan uraian di atas diharapkan pembelajaran PBL dapat membantu siswa dalam membangun pengetahuan matematika mereka sendiri dan mempermudah penyelesaian masalah karena berhubungan langsung dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran PBL ini diharapkan dapat mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. C. Anggapan Dasar Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII semester genap SMP Negeri 1 Pagelaran memperoleh materi pelajaran matematika yang sama. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa selain model pembelajaran diabaikan. D. Hipotesis . Berdasarkan pertanyaan dalam rumusan masalah yang diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dari penelitian ini adalah: 1. Hipotesis Umum Model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. 2. Hipotesis Khusus Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi daripa

Dokumen baru

Download (61 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
0
4
46
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
2
26
61
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS DAN SELF CONCEPT SISWA
1
17
75
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Padang Cermin Semester Genap Tahun Pelajaran 2014-2015)
1
5
58
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
6
36
56
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH BERDASARKAN GAYA BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBASIS QUANTUM LEARNING
4
26
718
EKSPERIMENTASI MODEL SINEKTIK TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DAN SELF EFFICACY SISWA Muhammad Jainuri
1
1
10
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA Riki Musriandi
0
0
10
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DALAM MEYELESAIKAN SOAL CERITA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS V SD 1 MLATI LOR
0
0
24
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK
0
1
15
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA
0
1
12
PENGARUH PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN HEURISTIK PEMECAHAN MASALAH DAN SIKAP MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR
0
0
13
EKSPERIMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DAN MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DITINJAU DARI SELF EFFICACY SISWA
1
1
7
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA KELAS IV PADA TEMA PEDULI TERHADAP MAKHLUK HIDUP MUATAN MATEMATIKA DAN IPS MELALUI PROBLEM BASED LEARNING
0
0
23
PENILAIAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP
0
0
9
Show more