PERILAKU TOKOH YANG ‘HASANAH’ DALAM NOVEL “AYAT-AYA T CINTA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

Gratis

2
65
101
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PERILAKU TOKOH YANG ‘HASANAH’ DALAM NOVEL “AYAT-AYAT CINTA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Oleh PAINGAN Permasalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perilaku, struktur kepribadian, dinamika perkembangan kepribadian, dan perilaku tokoh yang ‘hasanah’ dalam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ karya Habiburrahman EL Shirazy dan implikasinya dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perilaku, struktur kepribadian, dinamika perkembangan kepribadian, dan perilaku tokoh yang hasanah (baik) dalam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ karya Habiburrahman EL Shirazy dan implikasinya dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik studi teks, menafsirkan teks dan studi pustaka. Sumber data penelitian ini adalah Novel AyatAyat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Hasil penelitian menunjukkan tokoh Fahri berperilaku jujur, istiqamah, amanah, iman dan taqwa, berhati lembut, setia kawan, tekun, dan ulet, sabar, tawakal, taat (rajin, disiplin, dan konsekuen), qanaah, dan tawadhu. Tokoh Aisha berperilaku jujur, iman dan takwa, rendah diri dalam berdoa, tawadhu, amanah, tahajud, serta syukur. Tokoh Maria berperilaku jujur, ikhlas (berhati malaikat), rela hati, rela berkorban, dan malu. Tokoh Nurul Azkiya berperilaku jujur, dan amanah (dapat dipercaya). Tokoh Noura berperilaku iman dan takwa, kejujuran, tanggung jawab atas kesalahannya. Berdasarkan hasil analisis perilaku tokoh utama dan tokoh pembantu dalam novel Ayat-Ayat Cinta, perilaku tokoh yang hasanah implikasinya dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran sastra di SMA. Hal tersebut tercermin pada nilai jujur, religius, displin, toleransi, tanggung jawab, peduli sosial. Perilaku tersebut dapat dijadikan teladan untuk para siswa dan diamalkan dalam kehidupan seharihari karena berkaitan dengan permasalahan hidup yang dialami oleh setiap manusia. Kata kunci : perilaku tokoh, hasanah, pembelajaran sastra SMA ABSTRACT BEHAVIOR CHARACTERS ‘HASANAH’ IN THE NOVEL "AYAT-AYAT CINTA" WRITTEN BY HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY AND ITS IMPLICATION TO CHARACTER EDUCATION IN LEARNING LITERATURE IN A SENIOR HIGH SCHOOL By: PAINGAN The problem in this study was how the behavior, personality structure, dynamics of personality development, and behavior of the main character that hasanah (trustworthy) in the novel "Ayat-Ayat Cinta" written by Habiburrahman El Shirazy and its relevance to character education in learning literature in a high school. This study aimed to describe the behavior, personality structure, dynamics of personality development, and behavior of the main character that hasanah (kind) in the novel "Ayat-Ayat Cinta" written by Habiburrahman El Shirazy and its relevance to character education in learning literature in a high school. This study used a qualitative descriptive method with study texts technique, interpreting texts and literature. The data source of this study was Ayat-Ayat Cinta Novel written by Habiburrahman El Shirazy. The results showed that Fahri figure behaves honestly, istiqomah, trust, faith and godly, soft-hearted, loyal, diligent, tenacious, patient, resignation, obedient (diligent, disciplined and consistent), qanaah, and tawadhu. Aisha character behaves honesty, faith and godly, low selfesteem in prayer, tawadhu, trustworthy, tahajud, and gratitude. Maria character behaves with honesty, sincerity (to be angels), a willing heart, willing to sacrifice, and timid. Nurul Azkiya figure behaves honest and trustworthy (reliable). Noura figure behaves faith and godly, honesty, responsibility for her mistakes. Based on the analysis results of the behavior of main character in the novel Ayat-Ayat Cinta, there was a relevance of behavior figures that hasanah to character education in learning literature in a high school. It was reflected in the value of honesty, religious, discipline, tolerance, responsibility, and social care. Such of behavior can be as exemplary for the students and be carried in daily life as it relates to the problems of life experienced by every human being. Keywords: behavior of the main character, hasanah, teaching high school literature RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Purworejo Jawa Tengah pada tanggal 12 Desember 1971 dari Ahmad Soekardjo dan Tinem (Almarhum) putra yang keempat. dari lima bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Ganggeng Purworejo tahun 1984; Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Purworejo tahun 1987; Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pringsewu tahun 1991; Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pringsewu, Jurusan Bahasa dan Seni tahun 1998. Penulis mulai mengajar sebagai guru honorer pada SD Muhammadiyah Pringsewu tahun 1996-1997, guru honorer SMA dan STM PGRI Pringsewu sejak tahun 1997 sampai sekarang. Penulis diangkat sebagai guru PNS mulai tahun 1999 bertugas di SMP Negeri 4 Kotaagung Kabupaten Tanggamus sampai tahun 2000, dan dipindahkan sebagai guru SMP Negeri 2 Pagelaran Kabupaten Pringsewu dari tahun 2000 sampai sekarang. Pada tahun 2012, penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Pascasarjana Universitas Lampung, mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang sedang diselesaikan tahun 2014. PERSEMBAHAN Kupersembahkan tesis ini kepada kakak, adik, istri, anak-anakku (Roro Ajeng Kurnia Dinanti, Muhammad Aqil Alwannul Hanif, dan Muhammad Nur Aulia), semua dosen, teman-teman guru, dan anak-anak didikku. Terima kasih atas segala bantuannya. MOTO “Sesungguhnya aku ( Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al Bazzaar) SANWACANA Puji syukur kepada Allah SWT. karena karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Perilaku Tokoh yang ‘Hasanah’ dalam Novel “Ayat-Ayat Cinta” Karya Habiburrahman El Shirazy dan Implikasinya dengan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sastra Di SMA” Tesis ini merupakan salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung. Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini, antara lain 1. Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku rektor Universitas Lampung; 2. Prof. Dr. Sudjarwo, M. S., selaku Direktur Pascasarjana Univeritas Lampung; 3. Dr. Bujang Rahman, M. Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 4. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Lampung, dan sebagai pembimbing kedua; 5. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M. Pd., selaku Ketua Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung; 6. Dr. Edi Suyanto, M. Pd., selaku Sekretaris Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung dan pembimbing utama; 7. Dr. Karomani, M.Si. selaku penguji utama; 8. Dr. Munris, M. Pd. selaku penguji kedua; 9. Dr. Siti Samhati, M.Pd. selaku dosen pembimbing akademik; 10. Seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univeritas Lampung; 11. Istri dan anak-anakku tercinta; 12. Bapak Kepala SMP Negeri 2 Pagelaran, dan seluruh dewan guru yang selalu memberikan motivasi; 13. Bapak Kepala SMA/SMK PGRI Pringsewu dan seluruh dewan guru yang selalu memberikan motivasi; 14. Sahabatku Subagyo, Joko Santoso, Andika Patria, Rudi Isbowo, Juli Andreyanto, Ibnu Hajar, Rohmatussolehah, Wira Apri Pratiwi, Shely Nasya Putri, Atik Kartika, Ari Rohmawati, Maria, Zakiyah R., Ayu Setyo Rini, Dewi Puji Astuti dan teman-teman MPBSI angkatan 2012. Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis akan mendapat balasan dari Allah Swt. Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Bandarlampung, Agustus 2014 Penulis, Paingan DAFTAR ISI halaman HALAMAN JUDUL .......................................................................... ABSTRAK ........................................................................................... PENGESAHAN ................................................................................... SURAT PERNYATAAN .................................................................... RIWAYAT HIDUP .............................................................................. PERSEMBAHAN ................................................................................ MOTTO ............................................................................................... SANWACANA .................................................................................... DAFTAR ISI ........................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ DAFTAR SINGKATAN ..................................................................... i ii iii iv v vi vii viii ix x xi BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1. 1 Latar Belakang Masalah .......................................................... 1. 2 Rumusan Masalah ................................................................. 1. 3 Tujuan Penelitian ................................................................... 1. 4 Manfaat Penelitian ................................................................. 1. 5 Definisi Operasional ............................................................... 1 1 7 8 8 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................. 11 2.1 Pengertian Tokoh Utama ....................................................... 11 2.1.1 Jenis Tokoh .............................................................................. 12 2.1.2 Penokohan ............................................................................. 13 2.2 Nilai Sastra Bagi Pembaca Anak-Anak ................................... 14 2.3 Kajian Psikologi Sastra .......................................................... 18 2.4 Pengertian Psikoanalisis .......................................................... 19 2. 4. 1 Teori S. Freud Mengenai Kepribadian .......................... 19 2. 4. 2 Perkembangan Kepribadian .......................................... 26 2. 4. 3 Mekanisme Pertahanan dan Konflik .............................. 27 2. 4. 4 Klasifikasi Emosi .......................................................... 30 2. 4. 5 Teori Empati Titchener ................................................ 33 2. 4. 6 Empati Perspektif Psikoanalisis ..................................... 34 2. 4. 7 Empati Perspektif Behaviorisme ................................... 35 2. 4. 8 Remaja dan Perkembangannya ..................................... 37 2. 4. 9 Perilaku dan Karakter Manusia di Masyarakat ............... 38 2. 4. 10 Teori Seksualitas ........................................................ 42 2. 5 Pendidikan Karakter .............................................................. 44 2. 5. 1 Pendidikan Karakter di Indonesia .................................. 44 2. 5. 2 Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter ...................... 2. 5. 3 Nilai-Nilai Pembentukan Karakter ................................ 2. 5. 4 Perlunya Pendidikan Karakter ....................................... 2. 6 Kajian Sastra ........................................................................... 2. 6. 1 Sastra dan Psikologi ...................................................... 2. 6. 2 Sastra sebagai Cerminan Kepribadian ........................... 2. 6. 3 Cermin Perilaku Baik atau Terpuji (Hasanah) ............. 2. 6. 4 Hasrat dan Karya Sastra ................................................ 2. 6. 5 Metode Telaah Perwatakan .......................................... 2. 7 Pembelajaran Sastra di SMA ................................................. 2. 7. 1 Apresiasi Sastra ............................................................. 2. 7. 2 Manfaat Membaca Novel .............................................. 2. 7. 3 Tujuan Pembelajaran Sastra di SMA ............................ 2. 7. 4 Langkah-Langkah Pembelajaran Sastra di SMA ......... 2. 8 Prosedur Pembelajaran Sastra di SMA .................................. 2. 9 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ............................ 46 47 48 48 49 51 53 55 55 57 58 61 62 63 65 66 BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 3. 1 Metode Kualitatif ..................................................................... 3. 2 Sumber Data ............................................................................. 3. 3 Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 3. 4 Teknik Analisis Data ............................................................... 72 72 73 73 74 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................... 76 4. 1 Hasil Analisis Perilaku Tokoh yang ‘Hasanah’ dalam Novel Ayat-Ayat Cinta ................................................... 4. 1. 1 Tokoh Utama (Fahri) ...................................................... 4. 1. 2 Tokoh Pembantu dalam Novel Ayat-Ayat Cinta ..... 4. 1. 2. 1 TokohAisha ..................................................... 4. 1. 2. 2 Tokoh Maria ................................................ 4. 1. 2. 3 Tokoh Nurul Azkiya ........................................ 4. 1. 2. 4 Tokoh Noura .................................................. 4. 2 Kepribadian Tokoh yang ‘Hasanah’ Berdasarkan Psikoanalisis 4. 2. 1 Struktur Kepribadian ....................................................... 4. 2. 2 Dinamika Perkembangan Kepribadian .......................... 4. 2. 3 Perkembangan Kepribadian ........................................... 4. 3 Perilaku Tokoh yang ‘Hasanah’ dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Implikasinya dengan Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Sastra Di SMA ....................................... ... 4. 3. 1 Perilaku Tokoh Utama yang “Hasanah” dalam Novel Ayat-Ayat Cinta ............................................................ 4. 3. 2 Perilaku Tokoh Pembantu yang “Hasanah” dalam Novel Ayat-Ayat Cinta ............................................................. 4. 3. 3 Implikasi Perilaku Tokoh yang ‘Hasanah’ dengan Pembelajaran Sastra di SMA.......................................... 4.4 Hasil Analisis Perilaku Tokoh Kaitannya dengan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran sastra di SMA .......... 4. 4. 1 Aspek Pengetahuan ....................................................... 76 76 105 105 122 130 134 137 137 139 153 198 198 205 212 214 214 4. 4. 2 Aspek Perasaan Moral .................................................... 4. 4. 3 Aspek Tindakan Moral .................................................... 4. 5 Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 5. 1 Kesimpulan .............................................................................. 5. 2 Saran ......................................................................................... 227 230 235 241 241 245 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 247 DAFTAR TABEL PADA LAMPIRAN Tabel 3.1 Pedoman Analisis Penggambaran Perilaku Tokoh Utama dalam Novel AAC Tabel 3.2 Pedoman Analisis Perilaku Tokoh Utama Dalam Novel AAC Relevansinya dengan Pendidikan Karakter Tabel 3.3 Pemetaan KI dan KD Tabel 1.1 Watak Tokoh dalam Novel AAC Tabel 1.2 Perilaku Tokoh Utama dalam Novel AAC Tabel 1.3 Data Kepribadian Tokoh Utama dalam Novel “AAC” Tabel 1.4 Psikoanalisis Perilaku Tokoh Utama dalam Novel “AAC” Tabel 1.5 Perilaku ‘Hasanah’ dalam Novel “AAC” Kaitannya dengan Pendidikan Karakter Tabel 3.1 Intrumen Analisis Perilaku Tokoh Utama dalam Novel “AAC” Tabel 3.2 Instrumen Psikoanalisis Perilaku Tokoh dalam Novel “AAC” DAFTAR SINGKATAN 1. Daftar Singkatan Nama Tokoh dalam Novel Ayat-Ayat Cinta A AAC Amr Iq. H.E F M NA Nr : : : : : : : : Aisha Ayat-Ayat Cinta Amru Iqbal Hakan Erbakan (Paman Aisha) Fahri Maria Nurul Azkiya Noura 2. Daftar Singkatan Watak Tokoh (Berkarakter) F. Dspln. : Fahri berkarakter disiplin M. Bht. : Maria berwatak Baik Hati A. Bht. : Aisha berwatak Baik Hati A . Bk S. : Aisha Berbakti pada Suami A Ikls Pc. pd. S. : Aisha berwatak Ikhlas Percaya pada Suami A. Sbr.& Ikls. : Aisha wataknya Sabar dan Ikhlas NA. P & Ikls. : Nurul Azkiya berwatak Penolong dan Ikhlas NA. Jjr. : Nurul Azkiya berwatak Jujur NA. Pml. : Nurul Azkiya berwatak Pemalu Nr. P & P. : Noura berwatak Pembohong dan Pemfitnah Nr.Pdm. : Noura berwatak Pendiam 3. Daftar Singkatan Perilaku Tokoh dalam Novel AAC F.Pr. Jjr. : Fahri Perilaku Jujur F.Pr. Istqmh. : Fahri Perilaku Istiqamah F.Pr. Amnh. : Fahri Perilaku Amanah F.Prlk. Ht.Lmbt. : Fahri Perilaku Berhati Lembut F.Pr. S.Kwn. : Fahri Perilaku Setia Kawan F.Pr.Sbr. : Fahri Perilaku Sabar F.Pr.Rjn.Ibd. : Fahri Perilaku Rajin Ibadah F.Pr.Twkl. : Fahri Perilaku Tawakal F.Pr. Rjn. Dspln. : Fahri Perilaku Rajin dan Disiplin F. Pr.Tt. Ibd. : Fahri Perilaku Taat Ibadah F. Pr. Ibd.Snnh Rsl. : Fahri Ibadah Sunnah Rasul/Nabi F. Pr.S. Stn. : Fahri Perilaku Sopan Santun F. Pr. Hrmt. OL. : Fahri Perilaku Hormat pada Orang Lain F. Pr. Sykr. : Fahri Perilaku Syukur F. Pr. Doa. : Fahri Perilaku selalu Berdoa A. Pr. Jjr. : Aisha Perilaku Jujur A. Pr. I & T. : Aisha Perilaku Iman dan Takwa A. Pr. R. D. : Aisha Perilaku Rendah Diri A. Pr. Twd’ : Aisha Perilaku Tawadhu’ A.Pr. Amnh. : Aisha Perilaku Amanah A.Pr.Thjd. : Aisha Perilaku Tahajud A. Pr. Sykr. : Aisha Perilaku Syukur M. Pr. Jjr. : Maria Perilaku Jujur M. Pr. Rl.H : Maria Perilaku Rela Hari M. Pr. Sk.Bnt. : Maria Perilaku Suka Membantu M. Pr. Ml. : Maria Perilaku Malu NA. Pr. Jjr Nurul Azkiya Perilaku Jujur NA.Pr. Jjr. & Amnh. : Nurul Azkiya Perilaku Jujur dan Amanah Nr. Pr. I & T. : Noura Perilaku Iman dan Takwa Nr.Pr. Jjr. : Noura Perilaku Jujur Nr. Pr.Ddm. : Noura Perilaku Pendendam Nr. Pr.Mnfk. : Noura Perilku Munafik 4. Daftar Singkatan Perilaku Berdasarkan Psikoanalisis F. Cms. dan F. Pr. Ibd. : Fahri Perilaku cemas disarankan dan Perilaku Ibadah F. Pr. Cms & Tkt. : Fahri Perilaku Cemas dan Takut F. Pr. T. Jnj. : Fahri Perilaku Taat dengan Janji M. Pr. Cms & Tkt. : Maria Perilaku Cemas dan Takut M. Pr. Penyel. : Maria Perilaku Penyesalan M.Pr. Pdl. Sos. : Maria Perilaku Peduli Sosial M.Pr. Hkm. dr. : Maria Perilaku Hukum Diri NA. Pr. Pnyl. : Nurul Azkiya Perilaku Penyesalan NA. Pr. Cms. : Nurul Prilaku Cemas A. Pr. Kmn dg Jnj. : Aisha Perilaku Komitmen dengan Janji A. Pr. Cms. : Aisha Perilaku Cemas Nr. Pr. Bhng. : Noura Perilaku Pembohong Nr. Pr. Tbt. : Noura Perilaku bertobat meminta maaf pada Fahri 5. Daftar Singkatan Perilaku Tokoh yang “Hasanah” dalam Novel AAC F. Pr. Dspln. : Fahri Berperilaku displin F. Pr. S.K( Pdl.Sos) : Fahri Berperilaku Setia kawan ( Peduli Sosial) F. Pr. Jjr. : Fahri Berperilaku Jujur F. Pr. Ped. Sos & Tlrns. : Fahri Berperilaku Peduli sosial dan Toleransi F. Pr. Tlrn. : Fahri berperilaku Toleransi F. Pr. Rlg. : Fahri berperilaku sangat religius F. Pr.. Tnggjwb. : Fahri berperilaku Tanggung Jawab 6. Daftar Singkatan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter 1. Nl. Kjjr. : Nilai Kejujuran 2. Nl. Tlrns. : Nilai Toleransi 3. Nl. Dspln. : Nilai Kedisplinan 4. Nl. Pdl. Sos. : Nilai Peduli Sosial 5. Nl. Tnggjwb. : Nilai Tanggung Jawab 6. Nl. Imtak. : Nilai Iman dan Takwa (Religius) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan individu yang berbeda dengan individu lainnya. Manusia mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan, perasaan yang berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia tidak terlepas dari manusia lain. Pertemuan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dapat menimbulkan konflik, baik konflik antara individu, kelompok maupun anggota kelompok serta antara anggota kelompok yang satu dan anggota kelompok lain. Karena sangat kompleksnya, manusia juga sering mengalami konflik dalam dirinya atau konflik batin sebagai reaksi terhadap situasi sosial dilingkungannya. Manusia dalam menghadapi persoalan hidupnya tidak terlepas dari jiwa manusia itu sendiri. Jiwa manusia meliputi pemikiran, pengetahuan, tanggapan, khalayak dan jiwa itu sendiri. Pemuda sebagai generasi yang masih labil dan galau, mereka kadang kebingungan untuk mengetahui siapa dirinya.. Mereka pun banyak yang bingung ketika mencari dirinya sendiri. Jalan termudah menurut mereka adalah mencari jati diri lewat kelompoknya. Kelompok apa saja yang mudah mereka jangkau. Perilaku para pemuda di sini yang salah dalam memilih kelompok akan muncul konflik pribadi atau bisa juga konflik antarkelompok mereka. Misalnya, mereka salah dalam memilih kelompok akan terjadi masuk kelompok yang suka merokok, pecandu narkoba, kelompok geng motor, mula-mula hanya iseng, lama-kelamaan akan menjadi ketagihan. Mereka bisa menjadi-jadi tingkah lakunya, sok jagoan, sok percaya diri dan akhirnya dapat melakukan tindakan yang menjurus ke kriminalitas. Fenomena nyata yang terjadi beberapa tindakan kriminal yang dapat penulis sajikan bersumber dari media cetak Lampung Post, antara lain. 1.Tindakan kriminalitas yang dilakukan para pemuda yaitu tindakan penjambretan oleh 2 pemuda yang terjadi di jalan Pulau Sebesi. Peristiwa ini dilakukan pada pukul 20 WIB. Korban bernama Intan Andriani (25) warga jalan Pulau Sebesi, Sukarame Bandar Lampung (Senin, 6 Mei 2013). 2. Tindakan asusila kasus pemerkosaan dan perdagangan manusia (human trafficking) yang menimpa 2 siswa SMP di Lampung Utara (Sabtu, 4 Mei 2013). 3. Tindakan pada kasus pencurian kendaraan bermotor terhadap 4 tersangka berhasil ditangkap. Wakapolres Tanggamus Kompol Syaiful Wahyudi menjelaskan, “Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus tersebut hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pringsewu.” Tersangka yang buron yaitu bernama Medi (20), Suhemi (18), Ediyansyah (17) dan Wan (17). Semua pemuda pelaku kejahatan tersebut adalah warga pekon Sanggi Kecamatan Bandarnegeri Semoung Kabupaten Tanggamus (Sabtu, 4 Mei 2013). 4. Polresta Bandar Lampung membekuk 42 tersangka dari 32 kasus narkotika selama operasi antinarkotika (Antik) Krakatau. Mereka yang ditangkap ada yang menjadi pengedar, kurir, dan pengguna. Para tersangka ada yang masih duduk di bangku sekolah, mahasiswa, karyawan dan buruh (Jumat, 3 Mei 2013). Fenomena lain yang lebih ironis adalah perilaku-perilaku yang semestinya dialami oleh para pelajar yang baru saja merayakan hari raya Idul Fitri. Peristiwa tawuran antarpelajar SMK yang terjadi di Jakarta juga mendapat perhatian berbagai kalangan. Oleh karena itu, fenomena-fenomena tersebut di atas, perlu mendapat perhatian yang serius. Derasnya pengaruh budaya asing yang terus-menerus tanpa ada hentinya hingga saat ini, kita harus tetap menancapkan fondasi yang kuat pada para remaja agar tidak terseret arus kuat budaya asing. Kita masih punya budaya yaitu budaya ketimuran (Indonesia) yang sampai saat ini pun masih ada. Banyak orang bilang budaya kita telah luntur, berubah dan lebih ekstrim lagi telah berganti budayanya. Perilaku-perilaku yang selama ini disinyalir telah melampaui batas-batas nilai luhur budaya bangsa Indonesia, maka perlu dan sangat penting untuk dicari alternatif solusi yang dapat mengembalikan lunturnya nilai-nilai luhur tersebut. Kita semua merasa prihatin melihat, mendengar menyaksikan tayangan di media massa yang setiap hari disuguhi penyimpangan perilaku yang tidak bermoral dan berperikemanusiaan. Berbagai pengkajian, penelitian dan penyadaran mengenai hal tersebut semakin menjadi fokus perhatian oleh banyak pihak. Penelitian di bidang sastra telah dilakukan seperti “Karya Sastra dan Pembaca” oleh Dr. Munaris, M.Pd. pada novel “Ayat-Ayat Cinta”. Fofus penelitin beliau adalah pada sisi pembaca terhadap novel “Ayat-Ayat Cinta” mengenai ketertarikannya. Namun, dalam penelitian ini penulis mengambil sudut pandang yang berbeda yaitu meneliti perilaku tokoh utama yang terdapat dalan novel ‘Ayat-ayat Cinta’. Penulis memandang bahwa novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy sangat menarik dan cocok untuk dijadikan alternatif mengatasi persoalan krisis multidemensi di negara kita ini. Paling tidak kita membantu para generasi penerus bangsa ini agar tidak terjerumus ke dalam dunia gelap yang akan merugikan masa depan siswa kita. Novel dihasilkan oleh pengarang dari perenungan, penghayatan, dari kenyataan yang diamati, didengar, bahkan dialami oleh pengarangnya sendiri. Hasil karya pengarang tak terlepas dari tujuan pengarang dalam bentuk mengkritisi persoalan yang muncul saat itu dan terjadi dalam kehidupan pribadi, maupun dalam masyarakat yang berada di sekeliling pengarang. Dalam karya sastra juga bisa mengangkat persoalan berupa peristiwa sosial, yakni perilaku manusia yang dibidik oleh pengarang yang dapat disuguhkan pada pembaca. Dengan kata lain, bahwa karya sastra tidak bisa dilepaskan dari potret perilaku manusia tersebut. Gambaran perilaku manusia baik yang keras maupun yang lembut atau sikap, sifat manusia yang berperilaku jelek dan berperilaku baik. Penampakkan gambaran perilaku kurang terpuji (jelek) dan perilaku baik (hasanah/terpuji/teladan) dapat nampak dalam isi karya sastra. Penulis sangat tertarik pada novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy, untuk diteliti karena isinya syarat dengan nilai-nilai pendidikan. Oleh karena itu, penulis mencoba akan mengadakan penelitian tentang persoalan perilaku tokoh yang “Hasanah” (yang baik), yang dapat diteladani pada novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy dengan pendekatan psikologi (tentang perilaku tokoh), sebagai landasan keyakinan berbuat kebaikan yang telah dianjurkan dalam syari’at agama. Pengkajian psikologi terhadap perilaku manusia melalui psikoanalisis oleh Sigmund Freud. Kemudian persoalan yang terdapat dalam karya sastra dapat dikaji secara psikologis. Penelitian ini mengkaji perilaku yang terpuji pada tokoh utama dan tokoh pembantu dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy, dengan pendekatan psikologi. Penelitian ini berupaya menghidupkan kembali pembangunan karakter dan jati diri bangsa untuk mengatasi masalah di atas. Pemerintah dalam hal ini sangat berperan dalam hal menyoroti perkembangan fenomena para remaja Indonesia khusunya para siswa. Perhatian pemerintah melalui bidang pendidikan telah menetapakan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3. Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA merupakan sarana untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam proses pembelajaran disesuaikan dengan materi yang telah ditetapkan kurikulum 2013 pembelajaran apresiasi membaca novel populer atau terjemahan yang optimal, maka siswa secara langsung akan mendapatkan inspirasi yang mampu memberikan nilai positif terhadap perkembangan kepribadian dan karakter mereka. Dengan demikian, hati dan perasaan siswa akan terlibat secara intensif dan emosional ke dalam teks cerita yang mereka pelajari sehingga kepekaan nurani siswa menjadi lebih tersentuh dan terarah. Dengan cara demikian, siswa secara langsung atau tidak langsung akan belajar mengenal, memahami, dan menghayati berbagai macam nilai kehidupan untuk selanjutnya mereka aplikasikan dalam ranah kehidupan nyata sehari-hari melalui pembelajaran sastra tentang novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy guna membangun jiwa pada kalangan siswa SMA. Ada beberapa alasan penulis meneliti novel ini. 1. Novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy merupakan novel ‘best seller” yang fenomenal dan mendapat perhatian banyak kalangan. 2. Berbagai persoalan tentang perilaku-perilaku pelecehan seksual, amoral, kriminalitas, dan tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan karakter budaya bangsa, perlu kita perhatikan, karena hal ini sangat penting untuk menyiapkan generasi mendatang memiliki karakter yang kuat. 3. Sigmund Freud mengemukakan dalam teori kepribadian, bahwa kepribadian manusia tidak hanya terdiri atas alam sadar, tetapi juga alam bawah sadar. Selanjutnya, Sigmund Freud menjelaskan bahwa pikiran manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar daripada alam sadar. Oleh sebab itu, alam bawah sadar merupakan kunci untuk memahami perilaku seseorang. Karya sastra merupakan pengejawantahan dari hasil kerja alam bawah sadar yang perlu mendapat perhatian dan diresapi (Suyanto, 2012 : 5). Bertolak dari hal tersebut maka melalui penelitian perilaku tokoh yang penulis sajikan dapat mengetahui dan memahami perilaku manusia yang baik yang dapat dijadikan teladan. 4. Kajian tentang kepribadian dan perilaku manusia yang baik maupun yang kurang baik digambarkan dalam karya sastra, salah satunya adalah perilaku tokoh dalam cerpen Indonesia ( Kajian sosio-psikosastra terhadap cerpen Agus Noor & Ariadinata oleh Edi Suyanto, 2012 : 6). Dalam kajian tersebut ditekankan pada perilaku destruktif dan agresif. Namun, untuk penelitian perilaku tokoh dalam novel "Ayat-Ayat Cinta” belum pernah. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting untuk dilakukan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penenlitian ini adalah “Bagaimanakah perilaku tokoh yang ‘hasanah’ dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy implikasinya dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran sastra di SMA?” Untuk memfokuskan dalam penelitian ini, maka penulis dapat membagi dalam identifikasi permasalahan sebagai berikut. 1. Bagaimanakah perilaku tokoh utama dan tokoh pembantu yang ‘hasanah’ dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy? 2. Bagaimanakah struktur kepribadian, dinamika perkembangan kepribadian tokoh utama dan tokoh pembantu dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy? 3. Bagaimanakah perilaku tokoh utama dan pembantu yang ‘hasanah’ dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy implikasinya dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran sastra di SMA? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini antara lain. 1. Mendeskripsikan perilaku tokoh utama dan tokoh pembantu yang ‘Hasanah’ dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy. 2. Mendeskripsikan struktur kepribadian, dinamika perkembangan kepribadian tokoh utama dan pembantu tokoh dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy. 3. Mendeskripsikan perilaku tokoh utama dan tokoh pembantu yang ‘Hasanah’ dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy implikasinya dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran sastra di SMA. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis dan praktis. 1.4.1 Manfaat Teoretis a. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang apresiasi sastra khususnya pada kajian perilaku tokoh. b. Untuk memberikan informasi sekaligus menjadi acuan bagi penelitianpenelitian sejenis yang lebih mendalam. 1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi guru, dapat membantu dalam proses belajar mengajar dengan materi pembelajaran sastra dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat diteladani. b. Bagi siswa, dapat meneladani perilakuperilaku tokoh utama dan tokoh pembantu yang baik dalam novel “AyatAyat Cinta “ yang dipelajari. 1.5 Definisi Operasional Agar tidak menimbulkan tafsiran yang bermacam-macam, konsep-konsep yang terdapat dalam judul penelitian ini akan penulis jelaskan definisinya sebagai berikut. 1.5.1 Tokoh Utama dan Tokoh Pembantu Tokoh utama yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tokoh utama yang terdapat dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy adalah Fahri (Aku). Tokoh pembantu yang keterkaitannya dekat adalah Aisha, Maria, Nurul Azkiya, dan Noura. 1.5.2 Perilaku Tokoh yang Hasanah Perilaku tokoh yang ‘hasanah’ dimaksudkan dalam penelitian ini adalah segala tingkah laku (perkataan, perasaan, perbuatan) yang ‘baik/terpuji/teladan’ yang tergambar dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy. 1.5.3 Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari buku novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Data-data yang terdapat dalam cerita berkaitan dengan perilaku tokoh utama yaitu Fahri dan tokoh pembantu yang lain yaitu Aisha, Maria, Nurul Azkiya, dan Noura. 1.5.4 Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sastra di SMA Pendidikan karakter yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat diajarkan kepada peserta didik/siswa, yang terdapat dalam perilaku tokoh yang dapat dijadikan teladan dalam novel “AyatAyat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy. II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Tokoh Utama Berbicara tentang tokoh dalam sebuah fiksi, kita harus memahami sampai pada hubungan antara tokoh fiksi itu dengan elemen-elemen cerita lainnya sebagai sebuah keseluruhan yang utuh. Kemudian apa yang disebut tokoh? Para ahli memberikan batasan-batasan pengertian sebagai berikut. Tokoh adalah individu yang berperan dalam cerita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, dalam Siswasih, dkk, 2007: 20). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa tokoh adalah pemegang peran atau tokoh utama (roman atau drama). Tokoh dalam karya sastra yang diberikan dari segi-segi wataknya sehingga dapat dibedakan dari tokoh yang lain. Seorang pengarang dalam menciptakan tokoh-tokoh dengan berbagai watak penciptaan yang disebut dengan penokohan. Dari beberapa pengertian tokoh di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa tokoh adalah peran individu dalam sebuah cerita yang selalu dipandang pokok atau utama dalam membangun cerita secara utuh. Hal itu menyebabkkan para pembaca merasakan/menghayati para tokoh, aneka konflik, berbagai unsur dalam suatu latar dan masalah-masalah kesemestaan manusia; juga dapat membantu pembaca mengalami kesenangan, keindahan, keajaiban, kelucuan, kesediahn, keharuan, ketidakadilan, dan kekurangajaran. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya, menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang masa (Semi, 2012 : 1). Sastra yang telah lahir atau dimunculkan oleh para sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan kepuasan intelek bagi khalayak pembaca. Namun, seringkali karya sastra hanya mampu dinikmati dan dipahami sepenuhnya oleh sebagian masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian dan penelaahan karya sastra. 2.1.1 Jenis Tokoh Tokoh merupakan elemen struktur fiksi yang melahirkan peristiwa. Ditinjau dari segi keterlibatan dalam keseluruhan cerita, tokoh dalam fiksi dibedakan menjadi dua. Pertama, tokoh sentral atau tokoh utama. Tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam cerita, yang keberadaannya dapat ditentukan melalui tiga cara, yaitu, (1) tokoh itu yang paling banyak terlibat dengan makna atau tema cerita; (2) tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, dan (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Siswasih (2007) menyatakan bahwa tokoh dapat dibedakan menjadi empat, yaitu (1) tokoh utama (protagonis), (2) tokoh yang berlawanan dengan pemeran utama (antagonis); (3) tokoh pelerai (tritagonis); dan tokoh bawahan. Tokoh utama (protagonis) adalah tokoh yang memegang peran utama dalam cerita. Tokoh utama terlibat dalam semua bagian cerita. Ia bersifat sentral. Tokoh yang karakteristiknya berbeda atau berlawanan dengan tokoh utama disebut tokoh antagonis. Tokoh ini berperan untuk mempertajam masalah dan membuat cerita menjadi hidup dan menarik. Tokoh tritagonis adalah tokoh yang tidak memegang peran utama dalam cerita. Tokoh tritagonis biasanya tidak terlibat dalam semua bagian cerita. Keberadaannya berperan sebagai penghubung antara tokoh protagonis dan antagonis. Kedua, tokoh bawahan disebut juga tokoh figuran yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama. 2.1.2 Penokohan (Character) Tokoh dalam fiksi dapat dibedakan berdasarkan watak atau karakternya. Perwatakan merupakan penggambaran atau pelukisan tokoh-tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya, termasuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat-istiadatnya dan sebagainya. Pengarang dalam mennciptakan hasil karyanya adalah manusia dan kehidupan disekelilingnya. Oleh karena itu, penokohan merupakan unsur cerita yang sangat penting. Melalui penokohan cerita menjadi lebih nyata dalam angan-angan pembaca. Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk melukiskan watak tokoh cerita, yaitu dengan cara langsung, tidak langsung, dan kontekstual. Pelukisan langsung, pengarang langsung melukiskan keadaan dan sifat tokoh, misalnya berwajah ganteng, cantik, berkulit hitam, dan sebagainya. Sebaliknya, pada pelukisan watak tidak langsung pengarang secara tersamar memberitahukan keadaan tokoh cerita. Watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, dan tingkah laku tokoh, bahkan dari penampilanyya. Watak tokoh juga dapat disimpulkan melalui tokoh lain yang menceritakan secara tidak langsung. Sedangkan pada pelukisan kontekstual, watak tokoh dapat disimpulkan dari bahasa yang digunakan pengarang untuk mengacu pada tokoh. Ada tiga macam cara untuk melukiskan atau menggambarkan watak para tokoh dalam cerita. a. Cara Analitik Pengarang menceritakan atau menjelaskan watak tokoh secara langsung. b. Cara Dramatik Pengarang tidak secara langsung menceritakan watak tokoh seperti pada cara analitik, melainkan menggambarkan watak tokoh dengan cara; 1) Melukiskan tempat atau lingkungan sang tokoh. 2) Menampilkan dialog antartokoh dan dari dialog-dialog itu akan tampak watak para tokoh cerita. 3) Menceritakan tingkah laku, perbuatan, atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa. c. Cara Gabungan analitik dan dramatik Pengarang menggunakan kedua cara tersebut di atas secara bersamaan dengan anggapan bahwa keduanya bersifat saling melengkapi (Siswasih, dkk, 2007: 20). 2.2 Nilai Sastra Bagi Pembaca (Anak-Anak) Bergaul dengan sastra, pembaca akan memperoleh berbagai manfaat. Dengan kata lain, sastra dapat memberi nilai intrinsik atau (intrinsic values) bagi pembaca. Adapun nilai sastra dan manfaatnya Tarigan memberi penjelasan sebagai berikut. 1. Sastra memberi kesenangan, kegembiraan, kenikmatan kepada pembaca (anakanak). Nilai seperti ini akan tercapai apabila sastra dapat memperluas cakrawala anak-anak dan pembaca dengan cara menyajikan pengalaman dan wawasan baru. Khusus kepada para guru disarankan agar a) para siswa diberi kesempatan membaca buku setiap hari; b) mengetahui serta memahami minat anak didk mereka dan membantu mereka untuk menemukan buku-buku sastra yang sesuai dengan minatnya; c) memberi informasi kepada anak didik mengenai buku-buku yang perlu dibaca serta memberi kesempatan untuk membicarakannya dengan sesama teman atau guru (Roettger, 1978; dalam, Tarigan, 2011 6). 2. Sastra dapat mengembangkan imajinasi pembaca dan membantu mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman atau gagasan dengan berbagai cara. Karya sastra yang baik dapat mengungkapkan serta membangkitkan keanehan dan keingintahuan para pembaca. 3. Sastra dapat memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri. 4. Sastra dapat mengembangkan wawasan para pembaca menjadi perilaku insani. Kita mengetahui bahwa sastra merefleksi kehidupan. Sastra dapat memperlihatkan kepada anak-anak betapa insan lainnya hidup dan “terjadi” kapan saja dan di mana saja, sebaiknya pembaca khususnya anak-anak akan memperoleh kesadaaran yang luas mengenai kehidupan orang/bangsa lain, sebagaimana mereka secara pribadi mengujicobakan kaidah-kaidah lain, maka mereka telah mengembangkan suatu pemahaman yang lebih baik mengenai dirinya sendiri dan juga orang-orang di sekitar mereka. 5. Sastra dapat menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada pembaca. Sastra membantu pembaca ke arah pemahaman yang lebih luas mengenai ikatan-ikatan, hubungan umat manusia, atau humanitas yang umum dan wajar. Sastra memungkinkan kita untuk menghadapi berbagi kehidupan dan mulai melihat kesemestaan pengalaman insani. Sastra menyediakan rekaman mengenai segala sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan oleh manusia sebelumnya. Sastra mengilusinasikan segala kehidupan; sastra memancarkan cahayanya mengenai segala yang baik dan bermakna dalam kehidupan umat manusia dan juga menyoroti hal-hal yang hitam serta kemerosotan nilai dalam pengalaman insani (Huck, Hipler & Hickman, 1987: 6-10; dalam Tarigan, 2011: 7-8). 6. Sastra merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sastra memainkan peranan penting dalam pemahaman dan penilaian warisan budaya manusia. Pengembngan sikap positif anak didik kita ke arah budaya kita sendiri dan budaya bangsa lain dipilih secara cermat. Suatu konsep diri yang positif tidak akan mungkin terbentuk jika kita tidak menghargai milik orang lain seperti kkita menghargai milik kita sendiri. Sastra dapat memberikan sumbangan berharga terhadap pemahaman ini pada pembaca baik anak-anak atau orang dewasa (Norton, 1988: 5; dalam Tarigan, 2011: 8). Adapun nilai ekstrinsik sastra dapat kita ketahui bahwa anak-anak hidup dalam masa perkembangan yang pesat, terutama perkembangan fisik maupun mentalnya. Sastra dapat memberikan nilai-nilai yang tinggi bagi proses perkembangan pendidikan anak-anak. Tarigan menjelaskan ada empat perkembangan, yaitu 1. Perkembangan Bahasa. Dengan sastra baik lisan maupun tulisan, jelas akan memunyai dampak positif terhadap perkembangan bahasa mereka. Dengan menyimak atau membaca karya sastra, maka secara sadar atau tidak pemerolehan bahasa mereka semakin meningkat. 2. Perkembangan Kognitif. Pengalaman-pengalaman sastra merupakan salah satu sarana untuk menunjang perkembangan kognitif atau penalaran pembaca. Bahasa berhubungan erat dengan penalaran dan pikiran, semakin terampil berbahasa, maka semakin sistematis pula dalam berpikir. Kognitif atau penalaran mengacu pada berbagi proses, antara lain (1) persepsi, (2) ingatan, (3) refleksi, (4) pertimbangan, dan (5) wawasan (mussen,Conger & Kagan, 1979: 234; dalam Tarigan, 2011: 10). 3. Perkembangan Kepribadin. Kepribadian seseorang akan jelas terlihat saat dia mencoba memperoleh kemampuan untuk mengekspresikan emosinya, mengekspresikan empatinya terhadap orang lain. Sastra memmunyai peranan penting bagi perkembangan kepribadian khusunya bagi anak didik kita. Tokohtokoh dalam karya sastra, secara tidak sadar telah mempengaruhi emosi, seperti benci, cinta, cemas, khawatir, takut, bangga, dan sebagainya. 4. Perkembangan Sosial. Manusia adalah makhluk sosial, hidup bermasyarakat. untuk menjadi anggota masyarakat, maka kita pun mengalami proses sosialisasi. Istilah sosialisasi mengacu pada suatu proses yang digunakan oleh anak utnuk memperoleh perilaku, norma-norma, motivasi-motivasi yang selalu dipantau dan dinilai oleh keluarga khususnya dan kelompok masyarakat pada umunya. Dengan demikian, sosialisasi merupakan bagian penting dari perkembangan anak-anak remaja yang sedang mencari jati dirinya (Tarigan, 2011: 10). 2.3 Kajian Psikologi Sastra Karya sastra merupakan hasil karya tidak hanya estetika saja. Karya sastra merupakan representasi dari segala yang ada dalam kehidupan manusia termasuk di dalamnya tentang seluk-beluk perilakunya. Dengan demikian, dalam memahami karya sastra ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan salah satunya adalah pendekatan struktual, yang memandang teks sastra sebagai suatu yang otonom lepas dari latar belakang sejarah, sosial, budaya dan sebagainya. Keterbatasan pendekatan struktur akan memunculkan berbagai kritik, salah satu diantaranya adalah analisis yang menekankan otonomi karya sastra menghilangkan konteks dan fungsinya, sehinggga karya sastra dihilangkan relevansi sosialnya (Teeuw, 1984: 140). Pendekatan lain yang muncul dengan adanya perkembangan kajian tentang sastra adalah sosiologi sastra dan psikologi sastra. Sosiologi sastra adalah pendekatan yang mempertimbagkan aspek-aspek kemasyarakatan dalam menelaah sastra (Damono, 1987: 2; dalam Edi Suyanto, 2012 : 12). Adapun pendekatan psikologi sastra merupakan penelaahan sastra yang menerapkan hukum-hukum psikologi dalam kajian sastra (Wellek dan Werren, 1995: 90; dalam Edi Suyanto, 2012: 12). Ternyata dalam kajian karya sastra tidak bisa terlepas dari displin ilmu yang lain. Kajian sosio-psikologi adalah kajian yang digunakan seorang ahli psikoanalisis dan filsuf sosial, Erich Fromm, dalam menelaah perilaku manusia berkaitan dengan perilaku agresif dan destruktif, sedangkan Sigmund Freud, psikologi benatang, neorofisiologi, paleontologi dan antropologi (Fromm, 2000: IV; dalam Edi Suyanto, 2012 : 12). Oleh karena itu, peneliti mencoba akan menggunakan pendekatan psikologi dalam penelitian ini terhadap perilaku tokoh utama yang ‘hasanah’ novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrahman El Shirazy. 2.4 Pengertian Psikoanalisis Psikoanalisis dapat didefinisikan dalam dua pengertian, yaitu sebagai teori kepribadian dan sebagai suatu cara terapi. Sebagai teori kepribadian, psikoanalisis seperti dikemukan Brunner (1969: 11) diartikan sebagai disiplin ilmu yang di mulai tahun 1900-an oleh Sigmund Freud. Teori ini berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia. Sigmund Freud menjelaskan bahwa perkembangan mental manusia berdasarkan psikoanalisis terdiri atas struktur pikiran yang terdiri atas alam kesadaran dan alam ketidaksadaran. Sigmund Freud menyatakan bahwa pikiran manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar ketimbang alam sadar. Ia melukiskan bahwa pikiran manusia seperti gunung es yang sebagian besar berada di dalam, maksudnya di alam bawah sadar. Ia mengatakan kehidupan seseorang dipenuhi oleh berbagai tekanan dan konflik; untuk meredakan tekanan dan konflik tersebut manusia dengan rapat menyimpannya di alam bawah sadar. Oleh karena itu, menurut S. Freud alam bawah sadar merupakan kunci memahami perilaku seseorang (Engleton dalam Minderop, 2013: 13). Selanjutnya S. Freud menghubungkan karya sastra dengan teori mimpi. Sastra dan mimpi dianggap memberikan keuasan secara tak langsung. Mimpi dalam sastra adalah angan-angan halus. Intinya bahwa sastra lahir dari mimpi dan fantasi. 2.4.1 Teori Sigmund Freund Mengenai Kepribadian Sigmund Freud menjelaskan teori kepribadian dalam konsep psikoanalisis mengambarkan kepribadian manusia melalui tiga hal, yaitu struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian. Adapun tiga hal tersebut antara lain : 1. Struktur Kepribadian Kepribadian terdiri dari tiga aspek, yakni Das Es (the id), yaitu aspek biologis, Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis, dan Das Ueber Ich (the super ego), yaitu aspek sosiologis. a. Das Es (The Id) Das Es adalah aspek biologis, berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir atau bawaan sejak lahir, termasuk di dalamnya adalah instink-instink. Das Es merupakan “reservior” energi psikis yang menggerakkan Das Ich dan Das Ueber Ich. Energi psikis di dalam das Es dapat meningkat karena ada rangsangan dari luar maupun dari dalam. Bila energi ini meningkat, maka akan menimbulkan tegangan dan menimbulkan pengalaman tidak enak atau tidak menyenangkan. Hal ini tidak bisa dibiarkan, maka das Es mereduksi energi ini untuk menghilangkan rasa tidak enak. Jadi, yang menjadi pedoman dalam berfungsinya das Es ialah menghindarkan diri dari ketidakenakan menjadi keenakan. Untuk menghilangkan ketidakenakan menjadi keenakan itu das Es melalui dua proses, yaitu: (1) refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, kedip mata, dan sebagainya. (2) proses primer. seperti orang lapar yang membayangkan makanan enak-enak, dan sebagainya (Suryabrata, 2012: 126). b. Das Ich (The Ego) Das Ich adalah aspek psikologis kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan atau realita. Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang tidak ada di dalam dirinya. Hal ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antar khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan. Di sinilah letak perbedaan yang pokok antara das Es dengan das Ich, kalau das Es hanya mengenal dalam dunia batin( dunia subyektif) sedangkan das Ich berpegang pada prinsip realitas yang behubungan dengan dunia luar (Suryabrata, 2012: 126). Ego adalah perasaan tentang “aku” atau “identias diri” yang merupakan pusat dari kepribadian. Erikson mendefinisikan ego adalah suatu kekuatan positif, yaitu kekuatan yang membentuk identitas diri dan juga beradaptasi dengan berbagai konflik dan krisis kehidupan. Ego juga sebagai kapasitas seseorang untuk mempersatukan pengalaman-pengalamannya dan tindakan-tindakan dalam cara yang adaptif. Selanjutnya ego sebagai agen pengatur yang sebagiannya tak sadar yang meyatukan pengalaman-pengalaman sekarang dengan diri-diri masa lampau dan juga dengan diri-diri yang diharapkan (Semiun, 2012: 39). Das Ich ( the ego) bagian jiwa yang berhubungan dengan

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

KAJIAN PSIKOLOGI ISLAM NOVEL DALAM MIHRAB CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
1
8
13
KAJIAN RELIGIUSITAS NOVEL BUMI CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
0
6
13
KAJIAN RELIGIUSITAS NOVEL BUMI CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
0
2
13
KEBERFUNGSIAN LATAR UNTUK MENDUKUNG PENOKOHAN DALAM NOVEL PUDARNYA PESONA CLEOPATRA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY SERTA KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA
0
11
13
KEBERFUNGSIAN LATAR UNTUK MENDUKUNG PENOKOHAN DALAM NOVEL PUDARNYA PESONA CLEOPATRA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY SERTA KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA
0
10
52
KEBERFUNGSIAN LATAR UNTUK MENDUKUNG PENOKOHAN DALAM NOVEL PUDARNYA PESONA CLEOPATRA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY SERTA KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA
0
4
13
RELASI DALAM WACANA KUMPULAN CERPEN DI ATAS SAJADAH CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
1
38
62
PIRANTI KOHESI SUBSTITUSI DALAM NOVEL PUDARNYA PESONA CLEOPATRA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DI SMP
4
30
57
PERILAKU TOKOH YANG ‘HASANAH’ DALAM NOVEL “AYAT-AYA T CINTA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
2
65
101
TOKOH MELAYU DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
2
35
81
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL PAK GURU KARYA AWANG SURYA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
5
42
56
NOVEL DALAM MIHRAB CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN)
1
3
114
1 ANALISIS STRUKTUR ALUR DALAM NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2 KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
0
1
10
PSIKOLOGI TOKOH DALAM NOVEL BIDADARI BERMATA BENING KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
0
0
9
NOVEL BUMI CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY (TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI RELIGIUS)
0
0
189
Show more