Gerakan haji wasyid serta relevansinya terhadap konsep jihad dalam Islam

Gratis

1
19
79
2 years ago
Preview
Full text
GERAKAN HAJI WASYID SERTA RELEVANSINYA TERHADAP KONSEP JIHAD DALAM ISLAM Oleh: SA’ATU ADHIA 0033218895 JURUSAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1428 H/2007 M DAFTAR ISI PENGESAHAN TRANSLITERASI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . iv BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah . 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah . 5 C. Tujuan Penelitian . 6 D. Metodologi Penelitian . 6 E. Kajian Pustaka . 7 F. Sistematika Penulisan . 8 GERAKAN KI WASYID PADA MASA KOLONIAL A. Biografi Ki Wasyid . 9 B. Situasi Banten menjelang Peristiwa Geger Cilegon . 14 B.1. Keadaan Sosio Ekonomi . 14 B.2. Perkembangan Politik . 20 B.3. Kebangkitan Agama . 26 C. Gerakan Perjuangan Ki Wasyid . 34 C.1. Ideologi Perjuangan Ki Wasyid . 34 C.2. Strategi Ki Wasyid dalam Menghimpun kekuatan . 35 C.3. Langkah-langkah Ki Wasyid dalam membentuk Barisan Perlawanan . 37 BAB III GERAKAN KI WASYID DALAM PEMBERONTAKAN TAHUN 1888 A. Jalannya Pemberontakan . 43 B. Babak Akhir Pemberontakan . 50 BAB IV KONSEP JIHAD DALAM ISLAM A. Pengertian Jihad . 55 B. Relevansi Gerakan Ki Wasyid terhadap Konsep Jihad dalam Islam . BAB V 64 PENUTUP A. Kesimpulan . 73 B. Saran . 74 DAFTAR PUSTAKA . 75 BAB I PENDAHULUAN Larat Belakang Masalah Abad XIX bagi sejarah Banten merupakan fase bergolaknya rakyat Banten menghadapi penetrasi kolonial Belanda. Pada abad ini pula kesultanan Banten secara formal dihapuskan. Namun kehancuran tersebut tidak meredam ulama dan kyai sebagai pendiri kesultanan untuk terus berjuang, terlebih dalam melawan penindasan dan pemerasan yang dilakukan oleh kolonial. Maka di bawah kepemimpinan kyai dan ulama, rakyat Banten memberontak terhadap Belanda. Hampir sepanjang abad XIX hingga memasuki abad XX fenomena ulama sangat erat kaitannya dengan berbagai gejala sosial, politik dan keagamaan yang hadir terus menerus. Gejala ini meliputi macam-macam bentuk, termasuk bangkitnya kehidupan agama Islam yang dilakukan dari waktu ke waktu. Adapun pemberontakan ulama dan santri yang ditujukan kepada kekuasaan Belanda terjadi pada tahun 1810 di bawah pimpinan Nuriman memaksa Belanda untuk menobatkan kembali Sultan namun usaha ini tidak berhasil. Tahun 1811 perlawanan kembali berkobar yang dilakukan oleh Mas Jakaria dan berhasil menguasai hampir seluruh kota Pandeglang tapi kemudian ia dapat ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sanak keturunan Mas Jakaria kemudian muncul memimpin perlawanan-perlawanan pada masa berikutnya. Tahun 1850 seorang ulama kaya, bernama Haji Wakhia, melakukan perlawanan dengan mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat Gudang Batu. Bersama ulama dan kyai lainnya ia mengibarkan semangat “perang sabil” melawan pemerintah kolonial. Perlawanan ini dapat dipadamkan dan Haji Wakhia dihukum mati. Gerakan perlawanan ini kemudian bangkit lagi pada tahun 1880 dan 1888 yang dilakukan oleh murid Haji Wakhia, yaitu Haji Wasyid. Gerakan pemberontakan terakhir inilah kemudian dikenal dengan pemberontakan Haji Wasyid. Dalam perlawanan terhadap penjajah, ulama Banten memompakan semangat jihad, sekarang lebih diidentikkan dengan “perang suci” atau holy war, melalui perang fisik, sambil melakukan pengembangan dakwah, mengajarkan tarekat dan pendirian pesantren. Pada zaman penjajahan Belanda, pesantren yang diklola oleh ulama Banten selain sebagai pusat pendidikan, juga berfungsi sebagai gerakan politik. Para santri tidak saja diberikan ilmu-ilmu keislaman tapi juga rasa nasionalisme untuk menentang pemerintah Belanda. Situasi sosial di Banten menyebabkan rakyat Banten ada dalam keresahan dan keprihatinan, disebabkan terjadinya penindasan dan ketidakstabilan yang selalu menimpa rakyat Banten yang dilakukan oleh kolonial maupun pejabatpejabat setempat. Kondisi ekonomi, sosial dan politik abad XIX cukup menderitakan, khususnya sejak dihapuskannya kesultanan Banten oleh Daendels pada tahun 1812. Ketika penjajahan Belanda semakin meluas, maka muncullah gerakan petani yang dikomandoi oleh ulama melawan pemerintah yang dianggap kafir, sehingga gerakan ini dianggap sebagai perang suci atau perang sabil. Faktor pendorong dari gerakan ini, seperti yang telah disebutkan di atas adalah situasi kolonial yang menghambat rakyat, kondisi yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Islam, pelarangan terhadap umat Islam untuk melakukan Ibadah, pajak yang memeras, penderitaan rakyat akibat adanya pemerasan tuan tanah serta tekanan ekonomi, yang kesemuanya ini dipersatukan dengan semangat jihad menjadi gerakan fanatik yang radikal.1 Dilatarbelakangi oleh situasi tersebut, para ulama di antaranya Haji Wasyid, dengan semangat jihad menggerakkan masyarakat untuk menentang penetrasi kolonial. Dalam Islam, jihad merupakan suatu kewajiban bagi umatnya sebagai bentuk perlawanan ataupun mempertahankan agama dari musuh-musuh yang hendak menghancurkan dan menindas. Berdasarkan konsep tersebut, Haji Wasyid dan ulama-ulama lainnya di Banten merasa berkewajiban untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan kolonial serta mengubah sistem sosial yang ada yang dianggap telah menyengsarakan rakyat. Selain itu, sebagian golongan dari masyarakat menghendaki kembalinya sistem pemerintahan tradisional, seperti pada masa kesultanan, karena mereka percaya bahwa dengan kembalinya sistem tersebut keadaan akan kembali normal. Karena itulah maka segenap masyarakat yang dipelopori kyai dan ulama ini melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial yang dianggap telah begitu banyak mendatangkan kesengsaraan. Dalam Islam, jihad hanya dilakukan terhadap musuh-musuh yang menyerang dan ingin menghancurkan agama Islam dan menghancurkan tatanan masyarakat Islam, tidak pada non-Muslim yang ingin berdamai dan bekerja sama. Hal ini tercermin pada masa Rasulullah dan para sahabat pengganti beliau. Dalam 1 Musyrifah Sunanto, “Sejarah Peradaban Islam Indonesia,” Diktat (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004), h. 14-15. kehidupan sosial, mereka hidup berdampingan. Antara Muslim dan non-Muslim bahkan mengadakan kerja sama, di antaranya dalam bidang perdagangan. Dengan demikian Rasulullah hanya menghancurkan mereka yang ingin menghancurkan Islam. Permasalahan jihad inilah yang kemudian ingin penulis angkat dengan meneliti pemberontakan Haji Wasyid di Banten. Haji Wasyid dan para ulama lainnya melakukan jihad untuk mempertahankan dan membela agama Islam dari penjajahan, yang dianggap kafir, dengan berdasar pada syari‘at Islam, yaitu hanya memberantas mereka yang menjadi musuh agama dan menindas kehidupan mereka. Gerakan Haji Wasyid dan para ulama lainnya, seperti pada peristiwa yang sudah-sudah adalah membela agama dan mempertahankan diri dari orang-orang yang menzalimi, karena berdasar pada syari‘at Islam tentulah gerakan ini bermaksud mengangkat dan menjunjung tinggi kemanusiaan, namun kerap terjadi ekses dan penyimpangan yang dilakukan, seperti pembantaian yang dilakukan pada pihak-pihak yang tak seharusnya, seperti pada anak-anak, perempuan dan lainnya. Memang perang ataupun sebuah perlawanan dalam membela diri akan selalu menimbulkan banyak pihak yang menjadi korban yang tak seharusnya. Tapi sekalipun demikian tidaklah kemudian hal tersebut dianggap suatu yang wajar dan diangap biasa karena jihad sendiri sangat menjunjung tinggi konsep kemanusiaan. Begitu pun yang terjadi dalam pemberontakan Haji Wasyid ini. Cita-cita mereka dan keinginan untuk berjihad sangatlah sesuai dengan apa yang ada dalam konsep jihad tapi kemudian pada gerakannya banyak sekali terjadi penyimpangan yang dilakukan sehingga menodai tujuan awal dari gerakan ini. Hal ini terjadi karena tidak hanya “orang suci” yang melakukan “jihad” tersebut tapi banyak pihak yang memboncengi dengan berbagai tujuan. Bertolak dari latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji hakikat perjuangan Haji Wasyid dan relevansinya terhadap konsep jihad dalam Islam. Pembatasan dan Perumusan Masalah Dengan memfokuskan pembahasan pada substansi masalah yakni relevansi gerakan jihad Cilegon dengan konsep jihad dalam Islam, penulisan ini saya batasi pada pembahasan di sekitar gerakan Haji Wasyid. Jihad yang dibahas di sini adalah jihad perang. Dari pembatasan masalah tersebut dapat dirumuskan beberapa permasalahan, yaitu: 1. Bagaimana latar belakang kondisi sosial, politik dan ekonomi di Banten khususnya di Cilegon menjelang meletusnya gerakan Haji Wasyid, serta seberapa besar pengaruhnya terhadap gerakan tersebut. 2. Apakah gerakan Haji Wasyid adalah murni gerakan jihad tanpa ada motif lain. 3. Kalangan mana saja yang terlibat dalam gerakan tersebut serta pengaruhnya terhadap gerakan. 4. Apakah gerakan jihad Haji Wasyid tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan Penelitian Pembahasan yang dikaji ini sangat erat kaitannya dengan bentuk-bentuk fenomena sejarah di Indonesia, khususnya di Banten, pada abad XIX, karena itu sangat penting untuk mengetahui dan menggali tentang sejarah perjuangan tokohtokoh di Banten. Selain itu, penulis ingin mengingatkan kembali bahwa sebuah gerakan, baik itu perlawanan ataupun pembelaan, akan tetap mendatangkan korban, karena itu hendaklah gerakan-gerakan tersebut tidak untuk kepentingan politik seseorang ataupun golongan sehingga yang menjadi korban bisa diminimalisir. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk mencapai kelulusan dalam Strata I (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Metodologi Penelitian Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode library research (penelitian kepustakaan). Dengan membaca dan menelaah data-data dari bukubuku, artikel-artikel serta sumber lainnya yang masih berhubungan dengan pembahasan ini. Untuk pembahasan, penulis menggunakan metode deskriptif analitis, yaitu dengan mendeskripsikan data-data yang ada, kemudian menganalisisnya sehingga akan jelas rincian jawaban atas persoalan yang berhubungan dengan pokok permasalahan. Teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada buku Panduan Akademik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta 2006/2007. E. Kajian Pustaka Dalam penulisan skripsi ini, terlebih dahulu penulis mengkaji beberapa karya tulis atau melakukan kajian pustaka terhadap karya tulis yang mempunyai pembahasan yang sama yaitu mengenai gerakan Cilegon 1888. Mengenai karya tulis yang membahas tentang gerakan Cilegon 1888, penulis rasakan masih sangatlah sedikit. Dalam tulisan A.B. Lapian yang berjudul “Bencana Alam dan Penulisan Sejarah (Krakatau 18883 dan Cilegon 1888), seperti yang diakui oleh penulis, bahwa bencana alam Krakatau yang disebabkan oleh erupsi merupakan katalisator yang menggerakkan massa. Hal ini terkait juga dengan dimensi agama. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pengalaman bencana alam lebih memperkuat keyakinan rakyat untuk berpegang pada ajaran dan ajakan-ajakan pemimpin agama. Jadi, Lapian lebih memfokuskan gerakan Cilegon 1888 yang dilatar belakangi oleh bencana alam. Sementara itu Sartono Kartodirdjo, dalam tulisannya yang berjudul Pemberontakkan Petani Banten 1888, mengungkap gerakan Cilegon lewat latar belakangnya. Ia mempertegas pada uraian tentang struktur, pola dan kecenderungan sosial, ekonomi, politik dan keagamaan yang membentuk kerangka untuk bisa menempatkan gerakan sosial tersebut. Kaya dari Sartono Kartodirdjo inilah yang penulis jadikan referensi primer untuk mengungkap latar belakang dari gerakan sosial yang penulis tulis. Sehingga, penulis sadari, banyak kesamaan dalam mengungkap latar belakang dari gerakan Ki Wasyid. Tapi sekalipun demikian penulis berusaha untuk memberikan karya yang berbeda, yaitu dengan melihat gerakan sosial tersebut dari sudut pandang Islam. Bagaimana kerelevanannya terhadap nilai-nilai jihad dalam Islam. F. Sistematika Penulisan Dalam penulisan skripsi ini, penulis membagi ke dalam lima bab dengan tujuan untuk memudahkan penulisan dalam membahasnya. Adapun sistematika pembagiannya diuraikan sebagai berikut: Bab I sebagai pengantar memuat latar belakang masalah, rumusan masalah dan batasan masalah, tujuan penulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan, teknik penulisan dan sistematika penulisan Bab II berisi riwayat singkat hidup Haji Wasyid serta faktor sosial yang mempengaruhinya hingga ia membentuk barisan perlawanan. Juga membahas situasi Banten sebagai yang melatar belakangi gerakan Ki Wasyid, baik itu dari aspek sosial, ekonomi, politik dan keagamaan. Bab III memuat kronologis gerakan Ki Wasyid, dari awal hingga akhir gerakan Bab IV membahas tentang bagaimana konsep jihad dalam Islam sehingga memungkinkan penulis untuk merelevansikan gerakan Haji Wasyid degan konsep jihad dalam Islam. Bab V merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran. BAB II GERAKAN HAJI WASYID PADA MASA KOLONIAL Biografi Haji Wasyid Haji Wasyid dilahirkan di Delingseng, kampung kecil yang terletak di Ciwandan (sekarang), yang dulunya dikenal dengan kecamatan Grogol, pada tahun 1843 M. Ayahnya bernama Kyai Muhamad Abbas, biasa disebut Ki Abbas. Sedangkan ibunya bernama Nyi Johariah. Haji Wasyid adalah putra tunggal yang kemudian menikah dengan Nyi Atikah. Beliau menikah dengan gadis Beji dan kemudian menetap di kampung tersebut. Pembawaannya yang berwibawa dan menonjol membuat ia disegani dan dihormati di kampung tersebut. Pernikahannya dengan Nyi Atikah dikaruniai seorang putra bernama Muhamad Yasin dan seorang putri bernama Siti Hajar.1 Haji Wasyid merupakan keturunan seorang pejuang, yaitu Ki Mas Jong. Ki Mas Jong adalah tangan kanan Prabu Pucuk Umun, raja Pajajaran. Ketika Portugis datang ke tanah Jawa, Pajajaran meminta kepada Portugis untuk membantu dalam penaklukan terhadap kerajaan Banten, yang waktu itu di bawah pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Dalam pertempuran tersebut pihak Pajajaran yang dibantu pasukan Portugis mengalami kekalahan. Melihat situasi Pajajaran yang dari hari ke hari mengalami kemunduran dan ketidaktentuan ditambah dengan adanya campur tangan portugis, maka Ki Mas Jong mengambil 1 Abdul Hamid, Tragedi Berdarah di Banten (Serang: Yayasan Ki Wasyid Cilegon, 1987), h. 66. keputusan untuk memihak kepada kesultanan Banten. kemudian ia masuk Islam dan menjadi orang kepercayaan Sultan Hasanuddin.2 Keturunan Ki Mas Jong yang pertama adalah Ki Mas Jauhari yang kemudian mempunyai putra yang bernama Ki Qoshdu. Qoshdu menikah dengan Fadmah dan mempunyai seorang putra yang bernama Abbas. Seperti pada pendahulunya, Ki Abbas pun terlibat dalam perjuangan melawan penjajah. Ia ikut serta dalam perang Gudang Batu yang dipimpin oleh Ki Wakhia. Ki Abbas menikah dengan Nyi Mas Joharanah yang masih keturunan Ki Mas Jong dan dari pernikahannya inilah lahir seorang putra yang diberi nama Qosyid, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Wasyid. Ki Wasyid menikah dengan Nyi Atikah, dari pernikahannya ini lahir seorang putri yang bernama Siti Hajar dan seorang putra yang bernama Yasin. Yasin menikah dengan Nyi Sarwi dan mempunyai seorang putri yang bernama Johariyah. Johariyah menikah dengan Muhyiddin, dari pernikahannya itu lahirlah seorang putra yang bernama KH. Mansyur Muhyiddin yang sekarang menjabat sebagai ketua Yayasan Ki Wasyid di Cilegon. Sedangkan dari putri yang pertama, yaitu Siti Hajar yang menikah dengan Ki Alwi melahirkan seorang putra bernama KH. Syam’un pendiri alKhairiyah. Selanjutnya KH. Syam’un mempunyai keturunan yaitu KH. Fathullah Syam’un yang merupakan sesepuh al-Khairiyah Citangkil. Qosyid kecil tumbuh di tempat pengasingan. Ayahnya Ki Abbas, sering mengajak keluarganya berpindah-pindah tempat untuk menghindar dari pengejaran tentara Belanda. Dari sinilah watak dan jiwa Qosyid sebagai seorang pejuang semakin terbentuk. 2 Abdul Hamid, Tragedi Berdarah di Banten, h. 68. Pendidikan Qosyid adalah melalui jalur non formal, yaitu dari pesantren ke pesantren yang terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia juga pernah menjadi murid Ki Wakhia. Ia kemudian memperdalam ilmu agamanya di Makkah sambil menunaikan ibadah haji. Di Makkah ia berguru pada Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani.3 Qosyid sengaja mengubah nama huruf depannya yakni “Qo” diganti menjadi “Wa” sehingga dibaca “Wasyid,” ini mengingatkannya pada almarhum Ki Wakhia, yang merupakan pejuang Gunung Batu, ia menggunakan huruf “Wa” pada awal nama barunya sebagai rasa hormat serta untuk mengenang mendiang gurunya yang amat dikaguminya. Di samping itu, perubahan nama tersebut adalah untuk menghindarkan diri dari penangkapan pemerintah kolonial Belanda yang terus berupaya menangkap Ki Abbas dan keluarganya karena jika rahasia dirinya diketahui oleh kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP negeri 2 Jember kelas VIII E dengan 31 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes berupa tiga soal PISA konten Space and Shape unit Shape yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Soal PISA dan pendoman penskoran yang digunakan adalah sebagai berikut : AMATI GAMBAR BERIKUT 1. Mana diantara gambar-gambar diatas yang memiliki daerah terluas. Apa alasanmu? 2. Jelaskan cara untuk memperkirakan luas gambar C 3. Jelaskan cara untuk memperkirakan keliling gambar C Pedoman Penskoran: Soal 1 Skor Penuh (1) : Bentuk B, didukung dengan penalaran yang masuk akal. B merupakan daerah terluas karena dua bangun yang lain akan dimuat di dalamnya. B. karena tidak memiliki lekukan di dalamnya yang mengurangi luas daerahnya. Sedangkan A dan C memiliki Gap/celah. B, karena merupakan lingkaran penuh, sedangkan bangun yang lain seperti lingkaran dengan beberapa bagian yang hilang, sehingga mengurangi luasnya. B, karena tidak memiliki daerah terbuka Dll. Tidak ada Skor (0): B, tanpa disertai alasan yang masuk akal Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 2: Skor Penuh (2): Dengan cara yang masuk akal. Menggambar petak-petak yang memuat bangun tersebut dan menghitung petak yang menutupi bangun tersebut. Jika lebih dari setengahnya, maka petak tersebut dihitung satu petak Memotong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatur potongan-potongan tersebut menjadi bentuk persegi/persegi panjang kemudian menhitung sisi-sisinya lalu menentukan luasnya. Membangun bentuk 3D dengan alas berdasarkan bentuk tersebut, dan mengisinya dengan air. Hitung volume air yang digunakan dan kedalaman air pada model. Luas dapat ditentukan dengan volume air dibagi kedalaman air pada model Dengan membagi bangun ke dalam beberapa bentuk bangun datar beraturan. Kemudian dihitung luasnya dan dijumlahkan. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Skor sebagian (1) : Membuat lingkaran yang memuat bentuk tersebut, kemudian mengurangkan luas lingkaran dengan luas diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Namun siswa tidak menyebutkan bagaimana untuk mengetahui luas daerah diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Alasan-alasan lain yang masuk akal, namun kurang detail atau kurang jelas. Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 3: Skor Penuh (1): Dengan cara yang masuk akal. Rentangkan seutas tali pada pinggir bentuk tersebut, kemudian mengukur panjang tali yang digunakan. Potong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, gabungkan bagian-bagian tersebut hingga membentuk garis, lalu tentukan panjangnya. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Sumber : diadaptasi dari Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. Selanjutnya, skor siswa yang didapat akan dimasukkan dan diolah dengan program komputer Ministep (Winstep Rasch) untuk mengestimasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space yang diberikan berdasarkan analisis model Rasch. Soal 1 dan 3 menggunakan penskoran model dikotomus (Benar/Salah), sedangkan soal 2 menggunakan penskoran model politomus (Partial Credit Model). Skor mentah tersebut dikonversi menjadi nilai logit. Semakin tinggi nilai logit siswa dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan kemampuan siswa yang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai logit soal dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan semakin tinggi tingkat kesulitan soal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan skor siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space berbeda-beda Pada tabel 1 menampilkan skor mentah yang diperoleh siswa. Soal 1 mampu dijawab dengan benar oleh 17 siswa, soal 2 terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1, sedangkan soal 3 terdapat 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar Tabel 1. Skor Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten Shape and Space NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 1 01AT 1 0 1 17 17MW 1 0 0 2 02AO 0 0 0 18 18NA 0 0 0 3 03AN 0 0 0 19 19NR 1 0 0 NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 4 04CA 0 0 0 20 20NA 1 2 0 5 05EA 1 0 0 21 21NS 0 0 0 6 06FY 1 1 1 22 22RR 0 0 1 7 07IN 1 1 0 23 23RF 0 0 0 8 08IE 1 0 0 24 24RA 0 0 0 9 09JN 1 1 0 25 25RW 0 0 0 10 10KH 1 1 1 26 26RL 0 0 0 11 11KT 1 0 0 27 27SA 0 0 0 12 12MI 1 1 0 28 28TA 1 2 0 13 13MA 0 0 0 29 29VT 0 0 1 14 14MR 1 1 0 30 30ZN 1 0 0 15 15MR 1 0 0 31 31PA 1 0 0 16 16MS 0 0 0 Selanjutnya skor siswa dengan pemodelan Rasch diolah dengan menggunakan program komputer ministep (Winstep Rasch). Berikut ditampilkan hasil statistic dari analisis model Rasch: Gambar 1. Tampilan Summary Statistics hasil pengolahan data ministep. Tampilan summary statistics diatas memberikan info tentang kualitas responden/siswa secara keseluruhan dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Dari tampilan hasil pengolahan diatas diperoleh Person measure = – 0.10 logit dengan tidak mengikutsertakan Extrem Person (Responden/siswa yang mempuyai skor 0) yang kurang dari logit 0,0. Hal ini menunjukkan kemampuan siswa kurang dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space yang diberikan. Dengan mengikutsertakan siswa dengan ekstrem skor tentunya nilai person measure akan semakin kecil yaitu – 1.52 logit. Semakin tinggi nilai logit diatas 0.0 logit, semakin tinggi kemampuan siswa. Gambar 2. Tampilan Item Measure hasil pengolahan data ministep. Dari gambar 2, soal no 2 mempunyai nilai logit tertinggi yaitu +1.47 logit ini menunjukkan soal no 2 merupakan soal yang paling sulit dijawab oleh siswa, soal no 3 mempunyai nilai logit = 1.40 logit, dan soal no 1 mempunyai nilai logit = -2.87 logit. Soal 2 dan 3, nilai logit keduanya lebih dari 0.0 logit menunjukkan kedua soal ini merupakan kategori soal sulit. Dari tabel 1 menunjukkan untuk soal no 2 hanya terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1. Untuk soal no 3 hanya 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar. Sedangkan soal 1 mempunyai nilai -2.87 logit yang kurang dari 0.0 logit menunjukkan soal yang relatif mudah dikerjakan siswa, dari 31 siswa terdapat 17 siswa yang mampu menjawab dengan benar. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space berdasarkan analisis model Rasch masih kurang. Rata-rata nilai logit siswa - 1,52 logit yang kurang dari 0.0 logit. (2) Dari ketiga soal yang diujikan, dua soal dikategorikan sebagai soal sulit, dan 1 soal relatif mudah dikerjakan siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi pendidik, siswa hendaknya sering diberikan soal-soal non rutin atau soal-soal pemecahan masalah seperti soal-soal PISA dalam pembelajaran matematika dikelas, baik sebagai tugas maupun ulangan harian. Hal ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. (2) Bagi peneliti lain, penggunaan Item Respon Theory (IRT) dalam hal ini Rasch Model dapat dijadikan alternatif dalam pengolahan data penelitian kuantitatif untuk mengatasi kelamahan teori tes klasik, karena Rasch Model telah memenuhi lima prinsip model pengukuran. DAFTAR PUSTAKA Aini, R.N. & Siswono, T.Y.E. 2014. Analisis Pemahaman Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Aljabar Pada PISA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika MATHEdunesa, vol 2, no 3, hal.158-164 BSNP Depdiknas.2006. Standar Isi Mata Pelajaran Matematika SD/MI dan SMP/MTs (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006). Jakarta: BSNP Depdiknas OECD. 2013. PISA 2012 Results in Focus. www.oecd.org OECD.2009. Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. www.oecd.org OECD.2015. PISA 2015 Draft Mathematics Framework. www.oecd.org Setiawan, H.,Dafik., dan Lestari, S.D.N. 2014. Soal Matematika Dalam PISA Kaitannya Dengan Literasi Matematika Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014, hal.244-251. Shiel, G et al.2007. PISA mathematics: a teacher’s guide. Dublin :Department of Education and Science. Sulastri, R., et al.2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014, hal.13-21. Sumintono, B. & Widhiarso, W.2014. Aplikasi Model Rasch Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi:Trim Komunikata Publishing House Wardhani, Sri dan Rumiyati. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP: Belajar dari PISA dan TIMSS. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.

Dokumen baru