Ilokusi dalam Dialog Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP

Gratis

1
24
139
2 years ago
Preview
Full text
ILOKUSI DALAM DIALOG DRAMA RT NOL RW NOL KARYA IWAN SIMATUPANG DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMP Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Oleh Edah Azijah NIM 1110013000047 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014 ABSTRAK Edah Azijah, 1110013000047, 2014, “Ilokusi dalam Dialog Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP ”, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pembimbing: Makyun Subuki, M. Hum. Penelitian ini mengkaji tindak tutur ilokusi dalam dialog drama Rt Nol Rw Nol karya Iwan Simatupang. Drama berkaitan erat dengan dialog. Dalam dialog penutur berusaha menyampaikan informasi kepada lawan tuturnya sebagai alat komunikasi. Penutur sering menggunakan kalimat tersirat dalam menyampaikan tuturan. Hal tersebut menyebabkan hubungan antara bentuk kalimat dan fungsinya tidak selalu sesuai. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih dalam makna kalimat tersirat yang ada dalam dialog drama tersebut maka dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi setiap tuturan menggunakan teori yang dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya yakni teori ilokusi Searle. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan ilokusi dalam dialog drama Rt Nol Rw Nol karya Iwan Simatupang serta implikasinya terhadap pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Dalam hal ini, teks atau data yang dianalisis adalah naskah drama yang berjudul Rt Nol Rw Nol karya Iwan Simatupang. Peneliti menggunakan langkah-langkah metode analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Usman dan akbar), yaitu 1) reduksi data; 2) penyajian data; 3) menarik kesimpulan/ verifikasi. Dalam pandangan ini, tiga jenis kegiatan analisis dan kegiatan pengumpulan data itu sendiri oleh Miles dan Huberman disebut model interaktif. Hasil penelitian dapat diketahui sebagai berikut: Dari 295 dialog tuturan yang ada dalam naskah tersebut, ilokusi yang muncul yakni: 1) ilokusi asertif sebanyak 179 tuturan. 2) Ilokusi direktif sebanyak 76 tuturan. 3) Ilokusi ekspresif sebanyak 14 tuturan. 4) Ilokusi komisif sebanyak 9 tuturan. Serta 5) ilokusi deklarasi sebanyak 17 tuturan. Kata kunci: Pragmatik, tindak tutur, ilokusi iii ABSTRACT Edah Azijah, 1110013000047, 2014, “Illocutionary in Drama Dialogue of Rt Nol Rw Nol by Iwan Simatupang and The Implication in learning Indonesian Language and Literature in SMP ”, Indonesian Language and Literature Education Department, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta. Advisor: Makyun Subuki, M. Hum. This research is focusing in illocutionary speech act in drama dialogue of Rt Nol Rw Nol by Iwan Simatupang. As drama have a strong correlation with dialogue. In dialogue the speaker tries to give information to the listener as mean of communication. Therefore in every process of communication speech act always takes part. In this case in order to express a speech, speaker often uses implied meaning even without his knowing. That condition sometimes creates the form of sentence and the function lost their correlation. Because of it, in order to know the real meaning of implied sentences in drama dialogue a deeper identification based on experts‟ theory is needed. One of theories is Searle illocution theory. The purpose of this research is to find out the use of illocutionary in drama dialogue in Rt Nol Rw Nol by Iwan Simatupang and the implication to the pedagogy. The method used in this research is a qualitative descriptive method with content analysis technique. In this case, texts or data that are going to analyze is taken from drama script of Rt Nol Rw Nol by Iwan Simatupang. The researcher uses qualitative analysis method that propose by Miles and Huberman (in Usman and Akbar), those are 1) data reduction; 2) data serving; 3) concluding or verification. In this view, three kind of analysis and data collection is called interactive method by Miles and Huberman. The result of the research can be described as follow: From 295 dialogue in the script the illocutionary found as:” 1) assertive illocutionary are 179 speeches. 2) Directive illocutionary are 76 speeches. 3) Expressive illocutionary are 14 speeches. 4) Comissive illocutionary are 9 speeches. Last 5) Declaration illocutionary are 17 speeches. Keywords: Pragmatic, Speech Act, Illocutionary iv KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan segala rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Selawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya yang selalu membantu perjuangan beliau dalam menegakkan Dinullah di muka bumi ini. Skripsi berjudul “Ilokusi dalam Dialog Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP”, disusun guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan S-1 pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis membutuhkan bimbingan, bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sebagai ungkapan rasa hormat, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Nurlena Rifa‟i, MA., Ph. D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dra. Mahmudah Fitriyah ZA., M. Pd. Ketua jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 3. Makyun Subuki, M. Hum. Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya disela-sela kesibukannya untuk memberikan bimbingan, motivasi, dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. v 4. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. 5. Teristimewa untuk ayahanda H. Jojo Firmansyah dan Ibunda Hj. Titim Patimah yang tidak hanya mendukung secara moral dan material, namun juga secara spiritual melalui doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT demi keberkahan dan kesuksesan kepada ananda. 6. Teman-teman di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah bersama-sama berjuang demi meraih cita-cita yang mulia ini. Tanpa kalian hambar rasanya perjuangan ini. 7. Semua pihak yang berjasa dalam pembuatan skripsi ini terlebih bagi yang teristimewa dan yang tak bisa disebutkan satu per satu. Hal sekecil apapun yang kalian berikan kepadaku, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Ungkapan kata memang tak cukup untuk membalas kebaikan yang telah kalian berikan. Semoga Allah membalasnya dengan segala kebaikan dan pahala yang berlipat. Akhirnya penulis berharap semoga dengan hadirnya skripsi yang sekiranya jauh dari sempurna ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi penulis maupun pembaca, serta bagi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya bagi dunia pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta, Agustus 2014 Penulis vi DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN . i SURAT PERNYATAAN . ii ABSTRAK . iii ABSTRACT . iv KATA PENGANTAR . v DAFTAR ISI . vii DAFTAR GAMBAR . ix DAFTAR TABEL . x DAFTAR LAMPIRAN . xi BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang Masalah. 1 B. Pembatasan Masalah . 5 C. Perumusan Masalah . 5 D. Tujuan Penelitian . 5 E. Manfaat Penelitian . 6 F. Metode Penelitian . 6 G. Data dan Sumber Data . 7 H. Teknik Penenlitian . 7 BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN 10 A. Pragmatik . . 10 B. Konteks . 11 C. Tindak Tutur . 13 1. Pengertian Tindak Tututr . 15 2. Dimensi Tindak Tutur . 17 D. Jenis Ilokusi . 21 1. Teori J. L. Austin . . 21 vii 2. Teori John. R. Searle . . 23 3. Teori Geoffrey Leech . . 25 E. Pengertian Drama . . 26 F. Dialog dalam Drama . 27 G. Naskah Drama . 31 H. Penelitian yang Relevan . . 32 BAB III PEMBAHASAN . 36 A. Biografi Pengarang . 36 B. Penyajian Data . 37 C. Pembahasan Hasil Temuan . 38 1. Analisis Ilokusi . 38 a. Analisis Asertif . 39 b. Analisis Direktif . 55 c. Analisis Ekspresif . 70 d. Analisis Komisif . 75 e. Analisis Deklarasi . 80 D. Implikasi terhadap Pendidikan . 84 BAB IV PENUTUP . 88 A. Simpulan . 88 B. Saran . 89 DAFTAR PUSTAKA . 90 UJI REFERENSI LAMPIRAN-LAMPIRAN viii DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.1 : Teknik Analisis data Miles dan Huberman ix 9 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 : Perbedaan Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi 19 Tabel 3.1 : Jenis Tindak Tutur Ilokusi dalam Naskah Drama 35 Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang x DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Lampiran 2 : Klasifikasi Jenis Ilokusi dalam naskah Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang Lampiran 3 : Rekapitulasi Jenis Ilokusi dalam naskah Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang Lampiran 4 : Surat Bimbingan Skripsi Lampiran 5 : Biodata Penulis xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok yang wajib dipelajari dan diajarkan di tiap sekolah yang ada di Indonesia. Pelaksanaan pembelajarannya dimulai dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi sebagai mata kuliah pembentukan karakter dasar bagi mahasiswa jurusan non bahasa. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah mencakup empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan keterampilan menulis. Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut tidak terlepas dari pengetahuan tentang fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap. Wacana dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Wacana mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi transaksional dan fungsi interaksional. Wacana transaksional mementingkan isi komunikasi, sedangkan wacana interaksional lebih mementingkan hubungan sosial atau komunikasi timbal balik. Wacana yang sering digunakan dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah umumnya wacana yang berdasarkan pada isinya, seperti wacana narasi, eksposisi, persuasi, dan argumentasi. Selain itu juga terdapat wacana sastra seperti dialog yang membahas tentang unsurunsur intrinsik seperti tokoh, latar, alur, dan penokohan dalam sebuah naskah drama atau film. Wacana-wacana yang ada dalam buku pelajaran kebanyakan bersumber dari surat kabar dan majalah. Padahal masih ada bahan belajar lainnya yang dapat dijadikan alternatif lain dalam proses belajar mengajar, salah satunya wacana transaksional lisan seperti pidato presiden. Kemudian dalam wacana transaksional tulisan seperti iklan-iklan yang ada di brosur penjualan barang. 1 2 Selain itu juga terdapat wacana interaksional lisan seperti dialog dalam naskah film atau drama. Mempelajari naskah drama, dalam bentuk wacana dialog dapat dijadikan bahan belajar dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Dalam sebuah pertunjukan drama para pemeran lakon merupakan manusia, manusia berinteraksi dengan manusia lainnya melakukan dialog atau percakapan. Percakapan yang terjadi antara dua orang atau lebih menyebabkan terjadinya komunikasi timbal balik. Komunikasi timbal balik digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, karena manusia merupakan mahluk sosial yang harus melakukan interaksi sosial dengan manusia lainnya. Interaksi sosial itu atau alat komunikasi manusia adalah bahasa, karena bahasa merupakan salah satu alat komunikasi, melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi) saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Di dalam komunikasi, dapat diasumsikan bahwa seorang penutur mengartikulasi tuturan dengan maksud untuk menginformasikan sesuatu kepada mitra tuturannya, dan mengharap mitra tuturnya (pendengar) dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan. Dalam setiap komunikasi, manusia saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan maupun emosi secara langsung. Maka dalam setiap proses komunikasi ini terjadi hal yang disebut tindak tutur. Dengan bahasa manusia dapat mengekpresikan semua yang ada dalam pikiran karena dengan berpikir secara otomatis manusia menuturkan suatu bahasa di dalam pikirannya. Hal tersebut antara lain dapat dilihat pada seorang sastrawan karena ia dapat mengekspresikan perasaannya ada kalanya menggunakan bahasa yang berupa percakapan atau tuturan. Tataran bahasa yang berada di bawah wacana adalah kalimat. Dalam tata bahasa tradisional, kalimat dikatagorikan atas tiga bentuk, yaitu: kalimat pernyataan yang berfungsi untuk memberi informasi, kalimat pertanyaan 3 yang berfungsi untuk mengajukan pertanyaan, dan kalimat perintah yang berfungsi untuk menyuruh orang lain melakukan tindakan. Akan tetapi, dalam kenyataannya pada waktu berkomunikasi dengan orang lain, hubungan antara bentuk kalimat dan fungsinya tidak selalu sesuai. Dengan kata lain pernyataan tidak selalu berfungsi memberi informasi tetapi dapat berfungsi menyuruh orang lain. Begitu pula dengan kalimat pertanyaan dan perintah yang dapat berfungsi lain sesuai dengan maksud penutur. Dalam mengatakan sesuatu, seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan kalimat itu, tetapi dalam kalimat itu juga menandakan sesuatu. Misalnya, seorang ibu kontrakan mahasiswa mengatakan, “sudah jam sembilan malam” kepada orang yang bertamu di rumahnya. Pada tuturan tersebut ia tidak semata-mata memberitahu sudah jam sembilan malam, tetapi maksudnya menyuruh tamu tersebut agar segera pulang dan meninggalkan rumah kontrakan tersebut. Pernyataan di atas menunjukan bahwa di dalam mengatakan sesuatu, kita juga melakukan tindakan. Hal ini sesuai dengan teori Tindak Tutur (Speech Act Theory) yang dikemukakan oleh filsuf Inggris, Jhon Langshaw Austin. Tindak tutur (speech act) merupakan gejala individu yang bersifat psikologis dan berlangsungnya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kemampuan bahasa dalam tuturan seseorang dapat dilihat dari sampainya pesan yang dituturkan kepada kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Perbandingan Alur pada Lima Cerpen Karya Dewi Dee Lestari dan Film Rectoverso serta Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
2
20
186
Nilai Pesantren dalam Novel Geni Jora Karya Abidah El Khalieqy dan Implikasinya Pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas XI SMA
1
12
115
Kesantunan Berbahasa dalam Naskah Drama Umang-Umang Karya Arifin C. Noer dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
6
57
106
Perilaku Mayarakat Urban dalam Drama Mega,Mega Karya Arifin C. Noer dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra di SMA
14
65
139
Fenomena Sosial dalam Puisi "Pesan Uang" dan "Bercukur Sebelum Tidur" Karya Joko Pinurbo dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
5
31
123
Kritik Sosial dalam Puisi Esai "Manusia Gerobak" karya Elza Peldi Taher dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
3
27
130
Nilai Sosial dalam Novel Kubah Karya Ahmad Tohari dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra di SMA
38
332
133
Pandangan Hidup Tokoh Waska dalam Naskah Drama Umang-umang atawa Orkes Madun II dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra
8
116
109
Penggunaan Diksi dalam Surat Pembaca Surat Kabar Harian Kompas dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas IX SMP
0
3
141
Kebudayaan Tionghoa dalam Novel Dimsum Terakhir karya Clara Ng dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
0
17
158
Ilokusi dalam Dialog Drama Rt Nol Rw Nol Karya Iwan Simatupang dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP
1
24
139
Karakter Ayah dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere-Liye dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA
1
19
113
Teori Interaksi Simmel dalam Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra di Sekolah
3
45
0
Potret Buruh Indonesia dalam Kumpulan Puisi Nyanyian Akar Rumput Karya Wiji Thukul: Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
5
75
213
Nilai Sejarah dalam Novel Pulang karya Leila S. Chudori dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
12
63
77
Show more