Lisensi Dan Pembayaran Royalti Hak Cipta Sinematografi Menurut Hukum Perjanjian

 3  53  161  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Sungguh rasanya suatu kebanggaan tersendiri dalam kesempatan ini penulis juga turut menghaturkan sembah sujud dan ucapan terima kasih yangtak terhingga kepada Ayahanda dan Ibunda, yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan penulis, yang telah memberikan doadan perhatian yang cukup besar selama ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Kenotariatan (M.Kn.)Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada rekan-rekan seangkatan penulis yang tidak dapat penulis sebutkansatu persatu, yang telah memberi sumbang saran, ide dan pendapatnya Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan YangMaha Esa, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua.

RIWAYAT HIDUP IIDENTITAS PRIBADI

Nama : Eric HotmaTempat/Tanggal lahir : Medan 02 Desember 1982Alamat : MT. Haryono 11 MedanStatus : Belum Kawin

II. KELUARGA

  75 Para Pihak dalam Lisensi Hak Cipta dan Jenis Lisensi ……. 94 Hak-Hak yang Terkandung Dalam Hak Cipta …….……….

DAFTAR SINGKATAN

UUD 1945 : Undang-undang Dasar 1945UU : Undang-undangUUHC : Undang-undang Hak Cipta (UU No. 19 Tahun 2002)HKI : Hak Kekayaan IntelektualCD : Compact Disk VCD : Video Compact DiskKUH Perdata : Kitab Undang Undang Hukum PerdataDitjen HKI : Direktorat Jenderal Hak Kekayaan IntelektualPJN : Peraturan Jabatan NotarisUUJN : Undang-undang Jabatan NotarisHAM : Hak Asasi ManusiaWIPO : World Intellectual Property OrganizationYKCI : Yayasan Karya Cipta IndonesiaSEMA : Surat Edaran Mahkamah AgungWTO : World Trade OrganizationTRIPs : Agreement On Trade Related of Intellectual Property Right in Counterfit Goods

DAFTAR ISTILAH

  Namun, pada Seksi Pelayanan Jasa Hukum dan Pengembangan Hukum Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Sumatera Utaradiketahui bahwa sampai saat ini tidak adanya perjanjian lisensi khususnya yang menyangkut Karya Cipta Sinematografi yang terdaftar sehingga menunjukkan bahwa masih kurangnyakepedulian para pihak dalam yang terlibat dalam penggunaan karya cipta sinematografi. Disarankan kepada para pemegang hak cipta khususnya hak cipta sinematografi agar hendaknya dalam setiap perjanjian lisensi sinematografi antara pemberi lisensi denganpenerima lisensi dibuat secara tertulis dan memenuhi segala ketentuan yang berlaku sehingga terdapat keseimbangan tawar menawar antara hak dan kewajiban, guna terhindar darisengketa antara pihak di kemudian hari termasuk juga dengan membuat melalui akta notaris.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan Nasional Indonesia adalah bertujuan untuk mewujudkan

  Apabila dilihat dari segi ekonomi, hak cipta lagu, musik dan film sebagai suatu karya cipta pada perwujudannya telah kian membuktikan kemampuannyauntuk memberikan berbagai kemungkinan finansial yang tidak terbatas sifatnya, karena tidak bisa ditentukan berapa banyak yang menggunakan lagu untukkepentingan komersil yang bukan merupakan ciptaannya sendiri. Maret20102 Ibid Karya cipta sinematografi sebagai suatu karya cipta dapat berupa film dokumenter, film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dengan skenario,dan film kartun, seperti halnya jenis karya cipta lainnya yang merupakan hasil karya yang perlu mendapat perlindungan oleh hukum.

5 H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1999, hal. 112

  Hanya mengenai Hak Cipta yang tidakdidaftarkan akan lebih sukar dan lebih memakan waktu untuk membuktikannya, di samping itu hak cipta dapat juga dialihkan kepada orang lain, di mana pengalihanhak cipta ini diatur oleh Undang-Undang Hak Cipta, pengalihan Hak Cipta ini berguna untuk melindungi dan memelihara hasil ciptaannya yang diperoleh dariilmu pengetahuannya. Dalam Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Hak Cipta disebutkan bahwa, yang disebut dengan pencipta adalah seseorang atau beberapa orang secarabersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan kedalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

9 Lihat Poin 1 huruf H Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-33/Pj/200 Tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Royalti Dari Hasil Karya Sinematografi

  Pemberian lisensi ini dilakukan melaluisuatu kesepakatan atau perjanjian yang juga dikaitkan dengan ketentuan asas kebebasan berkontrak dari pencipta atau pemegang hak cipta dengan penerimalisensi. Selanjutnya dalam Pasal 1338 KUH Perdata menegaskan bahwa (1)Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.

10 Abdulkadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Citra Aditya

  Pasal 45 – 47 Undang-undang Hak Cipta mengatur secara khusus mengenai lisensi, yang pada intinya memberikan hak kepada pemegang Hak Cipta untukmemberikan lisensi kepada pihak lain melalui perjanjian lisensi untuk melaksanakan atau mempergunakan suatu karya cipta secara komersil denganmenerima royalti atas penggunaan hasil ciptaannya. Hal ini dimaksudkan perjanjian lisensi yang dibuat antara pemegang hak cipta dengan penerima lisensi harusdidaftarkan pada Direktorat Jenderal Hak Milik Intelektual pada KanwilDepartemen Hukum dan HAM Provinsi yang sekarang dikenal dengan Kementrian Hukum dan HAM.

B. Perumusan Masalah

  Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan pokok permasalahan yang dibahas dalam pada penelitian adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah kewenangan notaris dalam pemenuhan ketentuan umum perjanjian dalam suatu perjanjian lisensi sinematografi ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui proses pengikatan suatu perjanjian lisensi dan ketentuan royalti ditinjau ketentuan hukum perjanjian

  2. Untuk mengetahui pengaturan lisensi dan pembayaran royalti hak cipta sinematografi 3.

D. Manfaat Penelitian

  Pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis, seperti yang dijabarkan lebihlanjut sebagai berikut: 1. Secara TeoritisMelalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang saran dalam ilmu pengetahuan hukum pada umumnya, dan perlindungan hakkekayaan intelektual khususnya, terutama mengenai masalah lisensi dan pembayaran royalti hak cipta sinematografi menurut hukum perjanjian.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada masyarakat khususnya yang terlibat dalam lisensi dan pembayaran royalti hak cipta

E. Keaslian Penelitian

  Berdasarkan hasil penelusuran sementara dan pemeriksaan yang telah penulis lakukan baik di kepustakaan penulisan karya ilmiah Magister Hukum,maupun di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dan sejauh yang diketahui, ditemukan beberapa judul penelitian yang menyangkutdengan Hak Kekayaan Intelektual diantaranya : 1. Penelitian dengan Judul “Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta atas Lagu yang Tidak di Ketahui Penciptanya ”, Oleh Sandhiyaning Wahyu A Arifani, 077011086/MKn 2.

3. Penelitian dengan Judul “Perlindungan Hukum Hak Cipta Atas Karya Rekaman

  Enrico Tandean, 057011026/MKnDilihat dari topik yang dikaji pada kedua diatas jelas sangat berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan. Artinya secara akademik penelitian ini dapatdipertanggung jawabkan kemurniannya, karena belum ada yang melakukan penelitian yang sama dengan judul penelitian ini.

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

13 Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan

  Soerjono Soekanto mengatakan bahwa perkembangan ilmu hukum selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial, juga sangatditentukan oleh teori. Suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.

15 Lahirnya beberapa peraturan hukum positif diluar KUHPerdata sebagai

  Salah satu teori yang diterapkan dalam pembuatan perjanjian antara underwriter dan emiten adalah teori hasrat yaitu teori yang merupakan prestasi kedua belah pihak dalam suatu kontrak yang menekankan kepada pentingnya“hasrat” (will atau intend) dan pihak yang memberikan janji. Ukuran dan eksistensi, kekuatan berlaku dan substansi dan suatu perjanjian diukur danhasrat tersebut, yang terpenting dalam suatu kontrak atau penjanjian bukan apa yang akan dilakukan oleh para pihak dalam kontrak tersebut, tetapi apa yangmereka inginkan.

22 Gunawan Widjaya, Seri Hukum Bisnis Lisensi, Jakarta, Rajawali Press, 2001, hal. 17

  Klausul yang termuat di dalam kontrak tersebut disusun untuk tidak membuka peluangadanya penafsiran yang argumentatif serta termuat di dalamnya ketentuan yang dapat dilakukan dan dipertanggungjawabkan dengan jelas dan tidakbertentangan dengan aturan hukum yang berlaku serta tidak menyalahi asas 27 kepatutan. Agar tidak terjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang dipergunakan dalam penelitian ini, makaperlu diuraikan pengertian-pengertian konsep yang dipakai, yaitu sebagai berikut : Berkaitan dengan judul penelitian tesis ini, berikut ini dikemukakan pula beberapa pengertian yang menjadi kerangka konsepsi penelitian, makaa) Lisensi adalah hak yang dimiliki oleh pihak yang menjadi pemilik suatu bentuk hak kekayaan intelektual untuk mengalihkannya kepada pihak lain.

G. Metode Penelitian

  Pertama, analisis kualitatif didasarkan pada paradigmahubungan dinamis antara teori, konsep-konsep dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada datayang dikumpulkan. Dalam penelitian ini maka penelitian yuridis normatif yang tepat adalah penelitian untuk menemukan hukum in-konkrito, yakni suatu penelitian yangberusaha menemukan aspek hukum yang sesuai untuk permasalahan di bidang perjanjian lisensi sinematografi.

2. Teknik Pengumpulan Data

  Sebagai Penelitian hukum normatif, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan (library research ) untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian terdahulu yang berhubungan dengan objek telaahan3435 Ibid ., hal 2. Penelitian kepustakaan (library research) dalam penelitian ini ditekankan pada pengambilan data sekunder yang dilakukan dengan menghimpun bahan-bahan yang antara lain adalah sebagai berikut : Data pokok dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi: a.

3. Analisis Data

  Melalui metode deduktif, data sekunder yang telah diuraikan dalam tinjauan pustaka secara komparatif akan dijadikan pedoman dan dilihatpelaksanaannya dalam melihat Lisensi dan Pembayaran Royalti Hak CiptaSinematografi Menurut Hukum Perjanjian. Data yang diperoleh dari hasil 36 menggunakan metode deduktif.” Kegiatan analisis dimulai dengan dilakukan pemeriksaan terhadap data yang terkumpul baik inventarisasi karya ilmiah,peraturan perundang-undangan, yang berkaitan dengan judul penelitian baik media cetak dan laporan-laporan hasil penelitian lainnya untuk mendukung studikepustakaan.

36 Sutandyo Wigjosoebroto, Apakah Sesungguhnya Penelitian Itu, Kertas Kerja, Universitas

  Prosedur Deduktif yaitu Bertolak dari Suatu Proposisi Umum yang Kebenarannya telah Diketahui dan Diyakini dan Berakhir pada Suatu Kesimpulan yang Bersifat LebihKhusus. Pada Prosedur ini Kebenaran Pangkal Merupakan Kebenaran Ideal yang Bersifat Aksiomatik (Self Efident) yang Esensi Kebenarannya Sudah Tidak Perlu Dipermasalahkan Lagi.

BAB II PENGIKATAN PERJANJIAN LISENSI DAN KETENTUAN ROYALTI DITINJAU KETENTUAN HUKUM PERJANJIAN A. Pengertian Perjanjian pada Umumnya Perbuatan hukum yang mengikat antara para pihak yang terlibat dalam

  Dalam Buku III KUH Perdata, perjanjian mempunyai arti yang lebih luas sebab para sarjana memberikan istilah dan definisi yang beraneka ragam tentangapa yang dimaksud dengan perjanjian sehingga terdapat yang jelas.37 Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata Buku III, Hukum Perikatan dengan Penjelasan, Alumni, Bandung, 1983, hal 110. Hal ini berbeda dari kegiatan yang tidak konkret, tetapi abstrak atau tidak dapat dinikmati karena perikatan itu hanya merupakan akibat dari adanyakontrak tersebut yang menyebabkan orang atau para pihak terikat untuk memenuhi apa yang dijanjikan.

3. Negotiabe contracts, yaitu perjanjian yang menembus dan

  Azas kebebasan berkontrak terjelma dalam ayat (1) dari Pasal 1338KUHPerdata yang berbunyi sebagai berikut “Semua perjanjian yang dibuat secara 48 sah berlaku sebagai Undang-Undang yang dibuatnya”. Pada dasarnya memang hukum perjanjian memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang bersifatapa saja selama perjanjian itu tidak melanggar ketertiban umum, kepatutan dan kesusilaan, demikian Pasal 1339 KUHPerdata menentukan.

48 R. Subekti, Op.Cit., hal.25

  Perjanjian sewa-menyewa adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainkenikmatan dari suatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga yang oleh pihak yang tersebut terakhir itudisanggupi pembayarannya. Yaitu perjanjian antara seorang buruh dengan seorang majikan, perjanjian mana ditandai oleh ciri-ciri adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan adanya suatu hubungan diperatas, yaitu suatu hubungan berdasarkan dimana pihak majikan berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh yang lain.

3. Perjanjian pemborong pekerjaan

  Perjanjian pinjam-pakai adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan suatu barang kepada pihak yang lain untuk dipakaisecara Cuma-Cuma, dengan syarat bahwa yang menerima barang itu, setelah memakainya atau setelah lewat waktu tertentu, akanmengembalikannya. Namun apabila dikaitkan dengan pembagian jenis perjanjian yang dikemukakan oleh Abdulkadir Muhammad, maka perjanjian lisensi hak ciptasinematografi dapat dikelompokkan dalam perjanjian konsensual dan perjanjian real, dimana dalam perjanjian lisensi hak cipta sinematografi dibuat atas dasarkonsensus atau kesepakatan antara pemegang hak cipta sinematografi dengan penerima lisensi.

B. Syarat-Syarat Untuk Sahnya Suatu Perjanjian

Sistem pengaturan hukum kontrak adalah sistem terbuka (open system), artinya bagi bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yangsudah diatur maupun yang belum diatur di dalam Undang-Undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam pasal 1338 ayat (1)KUHPerdata, yang berbunyi: “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:

1. Membuat atau tidak membuat perjanjian, 2

  Menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisanPerjanjian yang sah artinya, perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Undang-Undang sehingga perjanjian tersebut diakui oleh hukum. yang dimaksud dengan kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lainnya.

c) Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan

  Karena dalam kenyataannya seringkali seseorang menyampaikan dengan bahasa yang tidak sempurna tetapi dimengerti oleh pihaklawannya; d)Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawannya; e)Diam atau membisu, tetapi asal dipahami atau diterima pihak lawan 5655 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, 1982, hal. 88 Pada dasarnya, cara yang paling banyak dilakukan oleh para pihak, yaitu dengan bahasa yang sempurna secara lisan dan secara tertulis.

2. Kecakapan bertindak

  Orang yang cakap dan berwenang untuk melakukan perbuatan hukum adalah orang yangsudah dewasa dan yang tidak berwenang untuk melakukan perbuatan hukum: a)Anak di bawah umur (minderjarigheid), b)Orang yang ditaruh dibawah pengampuan, dan c)Istri (Pasal 1330 KUHPerdata). Orang yang belum dewasa, umumnya belum dapat menentukan dengan sempurna dan tidak mampu mengendalikan ke arah yang baik, sehingga iadikategorikan sebagai orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian.

3. Adanya Objek Perjanjian (Suatu hal Tertentu)

  Suatu perjanjian harus mengenai suatu hal tertentu, artinya apa yang diperjanjikan, hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak jika timbul suatu 6162 Ibid.63 Ibid., hal. Persyaratan yang demikian itu sejalan dengan ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian haruslah tertentu barangnya atau sekurang-kurangnya ditentukan jenisnya”.

4. Ada suatu sebab yang halal (legal cause)

  94 Undang-undang tidak memperdulikan apa yang terjadi sebab orang yang mengadakan perjanjian, yang diperhatikan atau diawasi oleh undang-undangadalah “isi perjanjian itu” yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai, apakah dilarang oleh undang-undang atau tidak, apakah bertentangan dengan 66 ketertiban umum dan kesusilaan atau tidak. Hal ini dapat dilihat daripara pihak dalam perjanjian lisensi dan objek perjanjian lisensi, di mana para pihak dalam melakukan perjanjian didasarkan pada adanya kesepakatan dan memenuhi ketentuan cakap dalam melakukan atau membuat perjanjian.

C. Pembatalan dan hapusnya Suatu Perjanjian

  1. Pembatalan suatu perjanjianDalam pembahasan mengenai syarat-syarat sahnya suatu perjanjian telah disebutkan sebelumnya dikatakan bahwa apabila suatu syarat obyektif tidakdipenuhi maka perjanjian batal demi hukum, sedangkan tentang syarat subyektif, perjanjian baru dapat dibatalkan apabila diminta kepada hakim.

72 R.Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung, 1977, hal. 57

  Pasal 1446 ayat (1) KUHPerdata menyatakan bahwa semua perikatan yang dibuat oleh orang-orang yang belum dewasa atau orang-orang di bawahpengampuan adalah batal demi hukum dan atas penuntutan yang dimajukan oleh atau dari pihak mereka, harus dinyatakan batal, semata-mata atas dasarkebelumdewasaan atau pengampuannya. Dengan demikian ketidak cakapan dan ketidak bebasan seseorang dalam memberikan perizinan dalam suatu perjanjian memberikan hak kepada pihakyang tidak cakap dan pihak yang tidak bebas dalam memberikan sepakat untuk meminta pembatalan perjanjian, dengan pengertian bahwa pihak lawan dariorang-orang tersebut tidak boleh meminta pembatalan itu, sebab hak meminta pembatalan hanya ada pada satu pihak saja yaitu pihak yang oleh Undang-Undang diberi perlindungan itu.

77 Ridwan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 1992, hal 58

  Pembayaran dapat juga dilakukan dengan pemenuhan jasa atau pembayaran dalam bentukyang tidak berwujud, pembayaran prestasi dapat pula dilakukan dengan melakukan sesuatu. Hal ini didukung oleh pendapat yangmengatakan : Pembayaran tanpa hutang adalah merupakan sesuatu yang tidak dapat dipikirkan alasannya atau tak beralasan sama sekali.

79 Pihak yang harus melakukan pembayaran adalah yang berkepentingan

  Musnahnya barang yang terhutangPerjanjian hapus karena musuh atau lenyapnya barang tertentu yang menjadi pokok prestasi yang diwajibkan kepada debitur untuk barang harussesuai dengan ketentuan lebih lanjut dari Pasal 1444 KUHPerdata yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Perjanjian yang dibuat oleh orang-orang yang belum dewasa atau yang ditaruh dibawah pengampunan adalah batal demi hukum dan atas penuntutanyang diajukan oleh atau dari pihak mereka, harus dinyatakan batal semata- mata atas dasar kebelum-dewasaan atau pengampuannya itu.

3. Dalam hal adanya paksaan, sejak hari paksaan itu telah berhenti 4

  Dalam hal kebatalan yang tersebut dalam Pasal 1341 KUHPerdata, sejak hari diketahuinya bahwa kesadaran yang diperlukan untuk 80 kesadaran itu ada. Dalam kaitan antara lampaunya waktu dengan perjanjian, makadapat dijelaskan sebagai berikut :1) Membebaskan seseorang dari kewajiban setelah lewat jangka waktu tertentu sebagaimana yang telah ditetapkan Undang-Undang.

D. Lisensi dan Tujuan Lisensi Menurut Hukum Perjanjian

80 Ridwan Syahrani, Op.Cit., hal 75

  Sedangkan didalam UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, yang dimaksud dengan Lisensi sesuai ketentuan Pasal 1 angka 14 adalah: “Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atauproduk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu.” Namun demikian, pengertian tersebut tidak selengkap pengertian lisensi menurut Black’s Law Dictionary. Ibid Pengertian di atas, dapat menjelaskan bahwa lisensi senantiasa dikaitkan dengan kewenangan dalam bentuk keistimewaan (privilege) yang ada untukmelakukan sesuatu hal oleh seseorang atau pihak tertentu yang ada karena kewenangan yang diberikan oleh pihak yang berwenang.

83 Ibid., hal. 8

84 Jika melihat pengertian Licensing lebih lanjut yang dikemukakan oleh Betsy

Penjual/Pembeli Lisensi ini disebut Licensor, dan pihak penerima Lisensi disebut Licensee . Ann Toffer dan Jane Imber dalam Dictionary of Marketing Terms, dimana

85 Contractual agreement between two business entities in which Licensor

  Dalam ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-33/Pj/2009Tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Royalti dari HasilKarya Sinematografi, lisensi dikatakan sebagai izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait kepada pihak lain untuk mengumumkandan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu. Di dalam ketentuan ini tujuan lisensi adalah sebagai salahsatu sumber pendapatan Negara, di mana terhadap royalti yang dibayarkan kepada pencipta atau pemegang hak cipta dikenakan pajak penghasilan sebagai 88 pendapatan Negara.

89 TRIPS meliputi: 1

  Copyrights and Related Rights; 2. Geographical indications; 4.88 Industrial designs; Lihat Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-33/Pj/2009 Tentang Perlakuan PajakPenghasilan Atas Penghasilan Berupa Royalti Dari Hasil Karya Sinematografi89 Gunawan Widjaja,, Op.

5. Patents; 6

  Enam golongan HAKI tersebut merupakan 6 macam HAKI yag dapat dilisensikan, dalam hal pemilik atau pemegang HAKI tersebut tidak melaksanakansendiri HAKI yang dimilikinya tersebut, ataupun dalam hal pemilik atau pemegang HAKI tersebut bermaksud untuk mengembangkan usahanya melaluiHAKI yang dimilikinya tersebut tanpa melibatkan dirinya secara aktif. Dalam pembuatan perjanjian lisensi, dilarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuatketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana 94 diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 47 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

  Pemberian lisensi merupakan suatu hak khusus yang hanya dapat diberikan oleh pemberi lisensi atas kehendaknya pemberi lisensi semata-mata kepada satuatau lebih penerima lisensi yang menurut pertimbangan pemberi lisensi dapat menyelenggarakan, mengelola atau melaksanakan Hak Atas Kekayaan Intelektual 95 (HAKI) yang dimiliki oleh pemberi lisensi. Lisensi EksklusifSuatu Lisensi dikatakan Eksklusif (Lisensi Eksklusif), jika lisensi tersebut diberikan dengan kewenangan penuh untuk melaksanakan, memanfaatkanatau mempergunakan suatu HAKI yang diberikan perlindungan olehNegara.

95 Gunawan Widjaja, Op.Cit., hal.21

  Perjanjian lisensi juga dilakukan secara patut dan wajar, di mana dalam hal ini perjanjian lisensi yang dibuattidak boleh melanggar norma-norma dalam masyarakat seperti norma kesusilaan dan kesopanan. Perjanjian lisensi juga mengandung pengaturan tentang hak dan kewajiban bagi para pihak yang terikat dalam perjanjian, di mana dalam perjanjian tersebutpemegang hak dan penerima lisensi masing-masing dibebankan hak dan kewajiban masing-masing sesuai kesepakatan yang dilandasi pada asas keadilan dan salingmenguntungkan bagi para pihak.

E. Para Pihak dalam Lisensi Hak Cipta dan Jenis Lisensi

  Pasal 1 angka 14 yang menyatakan bahwa Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait kepada pihak lain untukmengumumkan dan/ atau memperbanyak ciptaanya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa dalam suatu perjanjian lisensi melibatkan para pihak yang antara lain di satu sisi bertindaksebagai pemberi lisensi dalam hal ini pencipta/pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait dan pihak penerima lisensi yang kemudian berwenang untukmengumumkan dan/ atau memperbanyak ciptaanya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu.

99 Pada dasarnya perjanjian lisensi hanya bersifat pemberian ijin atau hak

  Cit., hal 17 Kompensasi dari pemberian lisensi oleh pemberi lisensi kepada penerima lisensi adalah adanya pembayaran sejumlah royalti kepada pemberi lisensi, yaitupemegang hak cipta oleh penerima lisensi dan jumlah royalti yang diberikan oleh penerima lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak denganberpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi. Dalam hal ini perjanjian lisensi dapat di lakukan secara bebas oleh para pihak asalkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengikat para pihakserta dilaksanakan dengan iktikad baik dan memenuhi syarat sahnya perjanjian tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

F. Royalti dalam Perjanjian Lisensi

  Undang-undang tersebut hanya menyinggungroyalti di dalam kaitannya dengan lisensi di dalam Pasal 45 dimana disebutkan bahwa lisensi yang diberikan oleh pemegang hak cipta kepada pihak lain disertaidengan kewajiban pemberian royalti bagi pemegang hak cipta oleh penerima lisensi tersebut. YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia) 110 yang merupakan salam satu organisasi profesi di dalam websitenya meyebutkan bahwa Sistem Distribusi Royalti adalah bagian dari keseluruhan system websiteyang memberikan pelayanan kepada para pencipta lagu yang menjadi anggotaKCI, Untuk mendapatkan royaltinya yang bersumber dari para pengguna karya cipta anggota KCI, yang mempunyai kontrak lisensi ciptaannya.

BAB II I PENGATURAN LISENSI DAN PEMBAYARAN ROYALTI HAK CIPTA SINEMATOGRAFI A. Pengertian Umum dan Sejarah Hak Cipta Istilah “hak cipta” diusulkan pertama kalinya oleh St. Moh. Syah pada Kongres Kebudayaan di Bandung tahun 1951 (yang kemudian diterima oleh Kongres) sebagai pengganti istilah hak pengarang yang dianggap kurang luas

  Mengenai siapa yang dimaksud dengan pencipta, Pasal 1 angka (2) Undang- undang Hak Cipta menyebutkan bahwa, “Pencipta adalah seorang atau beberapaorang secara bersama-sama yang di atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan pikiran, imajinasi, kecekatan, ketrampilan atau keahlian yangdituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi”. Pada prinsipnya Hak Cipta diperoleh bukan karena pendaftaran, tetapi dalam hal terjadi sengketa di pengadilan mengenai Ciptaan yang terdaftar dan yang tidakterdaftar sebagaimana dimaksud pada ketentuan ayat (1) huruf a dan huruf b serta apabila pihak-pihak yang berkepentingan dapat membuktikan kebenarannya,hakim dapat menentukan Pencipta yang sebenarnya berdasarkan pembuktian 119 tersebut.

B. Hak-Hak yang Terkandung dalam Hak Cipta

  Dalam kaitannya dengan karya cipta sinematografi seperti halnya musik dan lagu maka hak ekonomi dari pencipta atau pemegangHak Cipta adalah secara hukum dia berhak untuk menikmati royalti dari pihak yang memakai atau merekam ciptaannya. 125 Hak moral (moral rights) adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau di hapus tanpa alasan apapun, walaupunhak cipta atau hak terkait telah dialihkan.

C. Pengaturan Lisensi dan Pembayaran Royalti Hak Cipta Sinematografi

  Isi dari perjanjian lisensi karya cipta sinematografi adalah pemberian izin untuk mengumumkan, memperbanyak ciptaan serta menyewakan ciptaantersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial dan di dalam perjanjian lisensi dilarang dimuat ketentuan yang dapat menimbulkan kerugian bagi perekonomianIndonesia atau ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha yang tidak 135 sehat. Klausul yang termuat di dalamkontrak tersebut disusun untuk tidak membuka peluang adanya penafsiran yang argumentatif serta termuat di dalamnya ketentuan yang dapat dilakukan dandipertanggungjawabkan dengan jelas dan tidak bertentangan dengan aturan hukum 136 yang berlaku serta tidak menyalahi asas kepatutan.135136 Lihat Pasal 47 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Husain Audah, Op.

3. Lisensi sinkronisasi (synchronization lincenses)

  Lisensi luar negeri (foreign licenses)Lisensi luar negeri adalah lisensi yang diberikan oleh seorang pencipta karya sinematografi atau penerbit sinematografi kepada suatu perusahaanagency di sebuah negara untuk mewakili mereka dalam memungut royalti atas lagunya untuk penggunaan yang dilakukan oleh konsumen sinematografi di 140 negara tersebut. Undang-undang Hak Cipta tersebut hanya menyinggung royalti di dalam kaitannya dengan lisensi di dalam Pasal 45 Undang-undang Hak Cipta dimana disebutkan bahwa lisensi yang diberikan oleh pemegang hak cipta kepada pihak lain disertai dengan kewajiban pemberian royalti bagipemegang hak cipta oleh penerima lisensi tersebut.

BAB IV PERANAN NOTARIS DALAM PEMENUHAN KETENTUAN UMUM PERJANJIAN DALAM SUATU PERJANJIAN LISENSI SINEMATOGRAFI A. Kewenangan dan Tugas Notaris Sebagaimana diketahui bahwa peran notaris saat ini di era perkembangan

  Apabila dikaitkan Pasal 1 angka 1 dengan Pasal15 ayat (1) UU Jabatan Notaris, maka terciptalah definisi Notaris yaitu : Notaris adalah pejabat umum yang berwenang utuk membuat akta otentik, mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan olehperaturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang 144 ditetapkan oleh undang-undang. Pengertian pejabat umum yang diemban oleh notaris bukan berarti notaris adalah pegawai negeri dimana pegawai yang merupakan bagian dari suatu korpspegawai yang tersusun, dengan hubungan kerja yang hirarkis, yang digaji oleh pemerintah; seperti yang dimaksud dalam Undang-undang No.

B. Peranan Notaris Dalam Pemenuhan Ketentuan Umum Perjanjian Lisensi Sinematografi

  Kode etik merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh perkumpulanIkatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yangmengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas dan jabatan 152 sebagai notaris. Oleh karena itu, dilihat dari kekuatan pembuktiannya suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh dan di hadapanPejabat Umum (Notaris) dan akta yang dibuat oleh atau di hadapan Pejabat umum yang berwenang untuk itu dan di tempat dimana akta itu dibuatmemiliki kekuatan sebagai alat bukti terkuat dan penuh serta mempunyai 153 peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Pengikatan suatu perjanjian lisensi hak cipta karya sinematografi dalam

  Pengaturan perjanjian lisensi hak cipta dan pembayaran royalti, termasuk dalam hal ini hak cipta sinematografi diatur dalam ketentuan UUHC dan jugadidasarkan pada ketentuan umum perjanjian yang diatur dalam KUH Perdata. Kewajiban perjanjian lisensi untuk dibuatsecara tertulis bukanlah tanpa sebab oleh karena kelima undang-undang tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa perjanjian lisensi hanya akanmembawa akibat hukum bagi pihak ketiga jika telah didaftarkan dan hanya perjanjian tertulis saja yang dapat didaftarkan pada Dirjen Hak KekayaanIntelektual Kementrian Hukum dan HAM.

B. Saran 1

  Disarankan kepada para pemegang hak cipta khususnya hak cipta sinematografi agar hendaknya dalam setiap perjanjian lisensi sinemaografi antara pemberilisensi dengan penerima lisensi dibuat secara tertulis dan memenuhi segala ketentuan yang berlaku sehingga terdapat keseimbangan tawar menawarantara hak dan kewajiban, guna terhindar dari sengketa antara pihak di kemudian hari. Disarankan kepada Notaris agar dapat memahami berbagai ketentuan dalam perjanjian lisensi secara umum dan khusus sehingga sebagai pejabat umumnantinya dapat melaksankan tugas dan kewenangannya dalam menjamin kepastian hukum dan keotentikan terhadap akta perjanjian lisensi yangdihadapkan kepadanya dan dapat memberikan advis hukum yang baik bagi kliennya yang berhubungan dengan perjanjian lisensi.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku – Buku Adam, Muhammad, Asal usul dan Sejarah Notaris, Sinar Baru, Bandung, 1985

  Djumhana, Muhammad dan Djubadillah, Hak Milik Intelektual Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997. Fathlurachman, “Perkembangan Global dan Sistem Perlindungan Hak Cipta dan Desain Industri di Indonesia ” Makalah pada seminar pemanfaatan sistem Hak kekayaan Intelektual oleh Perguruan Tinggi dan LembagaPenelitian dan Pengembangan yang disenggarakan oleh DirektoratJenderal Hak Kekayaan Intelektual, Medan, 15 Juni 2006 135 Perjanjian Lisensi Merek Jasa Perhotelan , Mkn, Sps Usu, Medan, 2009.

B. Peraturan Perundang-Undangan

  Undang-undang Dasar 1945Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (LNRI Tahun 2002 Nomor 85, TLNRI Nomor 4220). PW.07.03 Tahun 1988 tentang Penyidik Hak Cipta Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-33/Pj/2009 Tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Royalti Dari Hasil Karya Sinematografi.

C. Internet dan Majalah ”Hak Moral Sering Dilanggar”, Kompas 15 Mei 2006

http//:www.hukum online/html, Diakses Mei 2010.Kesowo Bambang, dalam Andreas Argo Batoro, Pelaksanaan Perjanjian Lisensi Hak Cipta Atas Lagu Antara Pencipta Dengan User Di Indonesia,http://www.menulisyuk.com/html/ Maret 2010
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Lisensi Dan Pembayaran Royalti Hak Cipta Sine..

Gratis

Feedback