Tinjauan Yuridis Terhadap Eksekusi Hipotik Dan Hak Tanggungan

Gratis

15
81
65
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Eksekusi hipotik dan haktanggungan (jaminan),tidak termasuk eksekusi riil,tetapi eksekusi yang berdasarkan alas hak eksekusi yang bertitel atau irah-irah “Demi keadilan Berdasarkan Ketuhanan yang maha Esa “ maka sertifikathipotik dan hak tanggungan mempunyai titel eksekutorial, berlaku peraturan eksekusi yang dikenal dengan parate eksekusi yang diatur dalam pasal 224 HIR/Pasal 258 Rbg. Eksekusi hipotik dan haktanggungan (jaminan),tidak termasuk eksekusi riil,tetapi eksekusi yang berdasarkan alas hak eksekusi yang bertitel atau irah-irah “Demi keadilan Berdasarkan Ketuhanan yang maha Esa “ maka sertifikathipotik dan hak tanggungan mempunyai titel eksekutorial, berlaku peraturan eksekusi yang dikenal dengan parate eksekusi yang diatur dalam pasal 224 HIR/Pasal 258 Rbg.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktek pinjam meminjam merupakan salah satu perbuatan hukum yang tidak bisa dilepaskan

  Pasal 1 angka 2 Undang-UndangNomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, menyebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuksimpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya1 dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank dalam menyalurkan dana bagi masyarakat harus menerapkan prinsip kehati-hatian dan walaupun Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun1992 tentang Perbankan tidak mewajibkan kepada bank untuk meminta jaminan dalam pemberian kredit namun telah menjadi prinsip umum bahwa bank memerlukan jaminan dalam setiap penyaluran kreditkepada masyarakat dengan tujuan untuk lebih memberikan kepastian akan pengembalian dana yang telah diterima oleh debitur.

1 Jopie Jusuf, Panduan Dasar untuk Account Officer, Edisi Kedua (Yogyakarta: YKPN UPP AMO, 997), hal

  4 tahun 1996 yang dimaksud dengan HakTanggungan adalah: Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan kepada hak atas tanahsebagaimana dimaksud dengan Undang-Undang No. Eksekusi Hipotik dan Hak Tanggungan (jaminan), tidak termasuk eksekusi riil, tetapi eksekusi yang mendasarkan pada alas hak eksekusi yang bertitel atau irah-irah “Demi Keadilan BerdasarkanKetuhanan Yang Maha Esa” maka Sertifikat Hipotik dan Hak Tanggungan mempunyai titel Eksekutorial, berlaku peraturan eksekusi yang dikenal dengan parate eksekusi yang diatur dalam Pasal 224 HIR/Pasal258 Rbg.

1. Tujuan

  a. Untuk mengetahui pengaturan yuridis terhadap eksekusi Hipotik dan Hak Tanggungan b.

2. Manfaat

  Sejak Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria mulai berlaku yaitu pada 24 September 1960, telah mengatur dan menjanjikan bahwa akan diatur tentangHak Tanggungan sebagai hak yang memberikan jaminan atas tanah dan benda-benda yang berada di atas tanah itu, baik berikut dengan benda-benda atau tidak berikut benda-benda yang berkaitan dengan tanahitu akan dibuat peraturannya oleh pemerintah. Berdasarkan Pasal 4 ayat (4) Undang-Undang Hak Tanggungan, hak tanggungan dapat dibebankan bukan saja pada hak atas tanah yang menjadi obyek hak tanggungan tetapi jugaberikut bangunan, tanaman dan hasil karya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut(benda-benda yang berkaitan dengan tanah) baik merupakan milik pemegang hak atas tanah tetapi juga yang bukan dimiliki oleh pemegang hak atas tanah tersebut (Pasal 4 ayat (5) Undang-Undang Hak Tanggungan).

F. Metode Penelitian

  Penelitian hukum normatif (yuridis normatif) yakni merupakan penelitian yang dilakukan danditujukan pada berbagai peraturan perundang-undangan tertulis dan berbagai literatur yang berkaitan dengan permasalahan dalam skripsi (law in book). Dalam tulisan ini di antaranya Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang,Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dan peraturan perundang-undangan lain yang terkait.

14 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006), hal. 1

  Yaitu dokumen yang merupakan informasi, atau kajian yang berkaitan dengan eksekusi terhadap hipotik dan hak tanggungan, seperti: seminar-seminar, jurnal-jurnal hukum, majalah-majalah, koran-koran, karya tulis ilmiah, dan beberapa sumber dari internet yang berkaitan dengan persoalan di atas. Metode deduktif dilakukan dengan membaca, menafsirkandan membandingkan, sedangkan metode induktif dilakukan dengan menterjemahkan berbagai sumber yang berhubungan dengan topik dengan skripsi ini, sehingga diperoleh kesimpulan yang sesuai dengantujuan penelitian yang telah dirumuskan.

BAB II TINJAUAN YURIDIS TERHADAP HIPOTIK DAN HAK TANGGUNGAN A. Tinjauan Terhadap Hipotik

  Jaminan Hipotik pada Umumnya Hipotik berasal dari kata hypotheek dari Hukum Romawi yaitu hypotheca yaitu suatu jaminan utang dimana barang tanggungan tidak dipindahkan kedalam tangan orang yang mengutangkan tetapibarang itu selalu dapat diminta/ dituntut meskipun barang itu sudah berada di tangan orang lain apabila17 orang yang berutang tidak memenuhi kewajibannya dalam bahasa Belanda terjemahannya adalah onderzetting dalam bahasa Indonesia adalah pembebanan. Tetapi hypotheca seperti yang dimaksud di atas tidak sama persis dengan hipotik yang dikenal sekarang karena hipotik hanya untuk barang yang tidak bergerak saja sedangkan hypotheca meliputi jaminan benda bergerak maupun benda-benda tidakbergerak.

3. Proses pembebanan hipotik

  Serta larangan bagi orangtua memindahtangankan atau menjaminkan barang-barang tetap milik anaknya yang belum cukup umur sebagaimana yang diatur dalam Pasal 309, 393, 1320 KUHPerdata joPasal 48 dan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Penulis berpendapat bahwa berkaitan dengan keabsahan pembebanan hipotik sebagaimana telah disyaratkan dalam Pasal 1171 (1) KUHPerdata yang menyatakan bahwa:“Hipotik hanya dapat diberikan dengan suatu akta otentik kecuali dalam hal-hal yang secara tegas ditunjuk oleh undangundang”Juga dalam Ayat (2)-nya yang berbunyi: Begitu pula kuasa untuk memberikan hipotik harus dibuat dengan suatu akta otentik.

20 Sudargo Gautama, Komentar Atas Undang-Undang Hak TanggunganBaru Tahun 1996 No 4”, (Bandung;

  Dengan selesainya proses pemberian kredit dengan jaminan hipotik dapatdisebut adanya empat dokumen yaitu : a. Dokumen kuasa untuk memasang hipotik c.

4. Akibat hukum pendaftaran hipotik

  Hal tesebut juga ditegaskan dalam ketentuan Pasal 315 e Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, yang berbunyi “kapal yang terdaftar dan akan dilelang sita di luar wilayah Indonesia, tidak dibebaskan dari21 hipotik.” Akibat hukum pembebanan hipotik pada suatu benda tidak bergerak menyebabkan benda tersebut tetap mempunyai nilai sebagai obyek jaminan bagi pelunasan hutang debitur kepada kreditur dengan tidakmempersoalkan siapa yang sedang menguasai benda tersebut (droit de suite). Mereka yang membukukan pada hari yang sama, bersama-sama mempunyai 22 Ibid, Pasal 1179 ayat (2) Akibat penting dari pendaftaran hipotik ialah terpenuhinya asas publisitas, yaitu agar hipotik dapat diketahui oleh umum dan asas spesialitas, yaitu asas yang menghendaki bahwa hipotik hanya dapatdibebankan atas benda yang ditunjuk secara khusus, yaitu benda-benda tidak bergerak, yang diikat sebagai jaminan.

B. Tinjauan terhadap hak tanggungan

1. Pengertian hak tanggungan

  Sebelum berlakunya UUPA, dalam hukum kita dikenal lembaga-lembaga hak jaminan atas tanah yaitu : jika yang dijadikan jaminan tanah hak barat, seperti Hak Eigendom, Hak Erfpacht atau Hak Opstal,lembaga jaminannya adalah Hipotik, sedangkan Hak Milik dapat sebagai obyek Credietverband. Dengan berlakunya UUPA (UU No.5 Tahun 1960) maka dalam rangka mengadakan unifikasi hukum tanah, dibentuklah hak jaminan atas tanah baru yang diberi nama Hak Tanggungan, sebagaipengganti lembaga Hipotik dan Credietverband dengan Hak milik, Hak Guna Usaha dan Hak Guna24 Ibid, Pasal 1181.

26 St. Remy Sjahdeni, Hak Tanggungan, Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok dan Masalah yang

  Dihadapi oleh Perbankan, (Alumni: Bandung, 1999), hal. 10 Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Hak Tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Kredituryang lain.

2. Sifat hak tanggungan

  Apabila mengacu beberapa Pasal dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, maka terdapat beberapa sifat dan asas dari hak tanggungan. Kedudukan yang diutamakan tersebut sudah barang tentu tidak mengurangi prefensi piutang-27 piutang Negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku”.

E. Liliawati Muljono, Tinjauan Yuridis Undang-Undang No. 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Dalam Kaitannya Dengan Pemberian Kredit Oleh Perbankan, (Jakarta: Harwarindo, 2003), hal. 2

  Lebih lanjut hak tanggungan mempunyai sifat Accessoir dinyatakan dalam Pasal 10 ayat (1)Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, menentukan bahwa :“Pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan hutang tertentu yang dituangkan di dalam dan merupakan bagian takterpisahkan dari perjanjian hutang-piutang yang bersangkutan atau perjanjian lain yang menimbulkan hutang tersebut”. Hak tanggungan mempunyai sifat dapat diberikan lebih dari satu hutang Hak tanggungan dapat menjamin lebih dari suatu hutang dinyatakan dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4Tahun 1996 , menentukan:“Hak Tanggungan dapat diberikan untuk suatu hutang yang berasal dari satu hubungan hukum atau untuk satu hutang atau lebih yang berasal dari beberapa hubungan hukum.”f.

3. Objek hak tanggungan

  Objek hak tanggungan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 4Tahun 1996, adalah hak atas tanah yang dapat dibebani dengan hak tanggungan adalah Hak Milik, HakGuna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan pada Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 menentukan yang dapat menjadi objek hak tanggungan adalah Hak Pakai Atas Tanah Negara. Menurut Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Hak Milik adalah hak turun- temurun,terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah,dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 yang menentukan bahwa semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.

30 Salim HS dalam Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, (Bandung: Alfabeta

  Parlindungan, bahwa maksudnya untuk membedakan Hak Milik dengan Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, dan hak-haklainnya, untuk menunjukkan bahwa diantara hak-hak atas tanah yang dimiliki orang, Hak Milik yang paling kuat dan penuh.32 AP. 33 ”Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau tanah memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain yang memberi kewenangan ataukewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 41 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1960.

BAB II I TINJAUAN YURIDIS TERHADAP EKSEKUSI A. Pengertian eksekusi secara umum Pengertian eksekusi dalam bidang Hukum Perdata menurut Wirjono Prodjodikoro istilah executie

  Pendapat tersebut kemudian diikuti oleh RetnowulanSutantio dan Iskandar Oeripkartawinata53 dan sesuai dengan Subekti yang mengatakan bahwa istilah eksekusi dalam bahasa Indonesia adalah pelaksanaan putusan hakim. Dari uraian tersebut diatas dapat ditemukan pemahaman bahwa eksekusi sebagai pelaksanaan dari putusan hakim dengan demikian yang diartikan eksekusi adalah pelaksanaan putusan secara paksa untukmerealisasi hak pihak yang menang dengan bantuan alat negara apabila pihak yang kalah dalam perkara tidak mau memenuhi isi putusan secara sukarela setelah ada putusan hakim yang telah mempunyaikekuatan hukum pasti.

B. Hakekat eksekusi

  1 Pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi pada hakekatnya tidak lain ialah realisasi daripada42 kewajiban pihak yang bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut. Yahya Harahap, pada prinsipnya, eksekusi merupakan tindakan paksa menjalankan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, apabila pihak yang kalah43(Tergugat) tidak mau menjalankan atau memenuhi isi putusan secara sukarela.

C. Asas-asas eksekusi

  Hal tersebut dikarenakan hanya dalam putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terkandung wujud hubungan hukum yang tetap (fixed) dan pasti antara pihak yangberperkara. Dalam hal ini, hubungan hukum tersebut harus ditaati dan dipenuhi oleh pihak yang dihukum (pihak Tergugat) dengan cara menjalankan putusan tersebut secara “sukarela” danapabila enggan menjalankan secara “sukarela”, hubungan hukum yang ditetapkan dalam putusan harus dilaksanakan “dengan paksa” dengan bantuan “kekuatan hukum”.

D. Macam-macam eksekusi

  Apabila seseorang yang dihukum akan melakukan suatu perbuatan tidak melakukan perbuatan itu dalam waktu yang ditentukan oleh Hakim, maka bolehlah pihak yangdimenangkan dalam putusan hakim itu meminta kepada Pengadilan Negeri dengan pertolongan keluarganya, baik dengan surat maupun dengan lisan agar kepentingan yangakan didapatnya, bila keputusan itu dinilai dengan uang yang banyaknya harus diberitahukan dengan ketentuan, bila permintaan itu dilakukan dengan lisan, maka hal itu harus dicatat. Ketua mengumumkan perkara itu dalam persidangan Pengadilan Negeri sesudah diperiksa atau dipanggil orang yang berutang itu dengan patut, maka sesuai dengan pendapatPengadilan Negeri, permintaan itu ditolak atau dinilai hanya perbuatan yang diperintahkan, tetapi yang tiada dilakukan itu, sejumlah yang dikehendaki si peminta atau sejumlah yangkurang daripada itu, dalam hal jumlah itu ditetapkan, maka orang yang berutang itu dihukum akan membayar jumlah itu.

E. Tata cara eksekusi

  Jika masih belum cukupdan juga bila tidak mungkin dilaksanakan berupa benda tetap bersama-sama, maka kemudian benda (barang) yang disita tersebut dijual lelang bersama serempak (barang tetap dan tidak tetap)melalui Kantor Lelang Negeri setelah lebih dulu diumumkan 2 kali surat kabar setempat yang berselang 15 hari. Jika hal melaksanakan putusan itu harus dilakukan seluruh atau sebagian obyek perkara berada di luar daerah hukum Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri yang memutus perkara tersebut mintabantuan dengan penetapan kepada Pengadilan Negeri yang berwenang di situ.

F. Eksekusi yang tidak dapat dijalankan 1. Harta kekayaan Tereksekusi tidak ada

  Dalam hal ini, putusan yang dapat dieksekusi adalah putusan yang bersifat kondemnator. Eksekusi terhadap penyewa yang tidak ikut digugat sama halnya dengan eksekusi terhadap pihak ketiga yang menguasai barang obyek eksekusi berdasarkan alas hak dan sekaligus berhadapandengan asas “jual beli tidak memutuskan sewa-menyewa”.

BAB IV ANALISIS YURIDIS EKSEKUSI HIPOTIK DAN HAK TANGGUNGAN A. Eksekusi hipotik

1. Kekuatan eksekutorial Grosse akta hipotik

  Perlu dipahami perbedaan antara grosse akta hipotik dengan grosse akta utang piutang berkaitan dengan hipotik merupakan jaminan tambahan yang bersifat accesoir yaitu mengikuti perjanjian pokoknya(perjanjian utang piutang). Ikatan grosse akta pengakuan utang atau grosse akta hipotik merupakan dampingan48 yang melekat kepada perjanjian pokok.

48 Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta; PT.Gramedia, 1989)

  Grosse akta pengakuan utang tidak membutuhkan prosedurpenyertifikatan dan pendaftaran di Kantor Pendaftaran Tanah sedangkan grosse akta hipotik supaya grosse akta hipotik mempunyai kekuatan mengikat dan mempunyai kekuataneksekutorial grosse akta hipotik harus didaftarkan dalam register umum seperti yang ditentukan Pasal 1179 KUHPerdata jo Pasal 22 (3) PP Nomor 10/1961. Perbedaan dari sudut hak yang melekat atas benda jaminan Dalam Pasal 1198 KUHPerdata telah ditetapkan suatu asas bahwa hipotik merupakan hak kebendaan yang melekat pada barang yang dihipotikkan di tangan siapapun benda itu berada.

2. Prosedur eksekusi jaminan hipotik pada umumnya

  Berdasarkan pertolongan hakim untuk melakukan eksekusi terhadap jaminan sebagaimana dimaksud Pasal 224 HIR/258 Rbg 49 Mochammad Dja’is dan RMJ Koosmargono, Membaca dan Mengerti HIR, (Semarang: Oetama, 2007),hal 27050 Effendi Perangin, Praktek Penggunaan Tanah Sebagai Jaminan Kredit, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), hal 91 Dengan demikian dalam setiap pelaksanaan eksekusi terhadap hak hipotik harus disesuaikan dengan ketentuan sebagaimana yang diterangkan di atas. Bambang Setijoprodjo mengatakan bahwa dengan adanya title eksekutorial merupakan sebuah perkembangan yang positif dalam mengeksekusi jaminan, karena melaluititle eksekutorial pemegang hak tanggungan diberikan hak untuk melelang dan menjual obyek hak tanggungan tanpa melalui prosedur yang rumit dan eksekusi jaminan juga tidak memerlukan waktu yang51 lama.

B. Eksekusi hak tanggungan

1. Eksekusi hak tanggungan melalui pelelangan umum

  Dasar pemikiran yang disampaikan mengenai hal ini adalah bahwa diperkirakan melalui suatu penjualan lelang terbuka, dapat diharapkan akan diperoleh harga yang wajar atau paling tidakmendekati wajar, karena dalam suatu lelang tawaran yang rendah bias diharapkan akan memancing51 Bambang Setijoprodjo, Pengaman Kredit Perbankan Yang Dijamin Oleh Hak Tanggungan, (Bandung; PT.Citra Aditya Bhakti, 1996), hal 64. Sebelum pelaksanaan pelelangan dilakukan harus terlebih dahulu diumumkan kepada khalayak menurut kebisaan setempat dan pelelangan harus dilakukan 8 hari setelah penyitaan, karena dalam HakTanggungan yang hendak dilelang berupa benda tak bergerak maka pengumumannya harus dilakukan 2 kali berturut-turut dalam surat kabar yang terbit di kota itu atau dekat dengan kota itu, dengan tenggangwaktu 15 hari antara pengumuman yang pertama dengan pengumuman yang kedua.

2. Eksekusi atas titel eksekutorial yang terdapat pada sertifikat hak tanggungan

  Dalam Pasal 19 PeraturanPemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah disebutkan setiap perjanjian yang bermaksud memindahkan hak atas tanah, memberikan sesuatu hak baru atas tanah, menggadaikan tanahatau meminjam uang dengan hak atas tanah sebagai tanggungan, harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh dan di hadapan pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agraria. Kemudian dijelaskan dalam Pasal 7 ayat (2) bahwa: Sertipikat hipotik dan credietverband, yang disertai akta yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini mempunyai kekuatan eksekutorial sebagai yang dimaksudkan dalam Pasal 224 Reglement Indonesia yang diperbaharui (S.1941- 44 dan Pasal 258 Rechtsreglement Buitengewesten (S.

56 Ibid, hal. 162-163

  Sedang blanko aktahipotik dan credietverband cetakan lama yang ada titel eksekutorialnya dinyatakan tidak berlaku, dan selanjutnya dipergunakan blangko akta hipotik dan credietverband cetakan baru yang tidak dilengkapidengan titel eksekutorial (butir 2 dan 3). Apabila mengacu pada Pasal 224 HIR maka penulis sependapat dengan kebanyakan ahli hukum bahwa penempatan title eksekutorial dalam Sertipikat Hak Tanggungan adalah hal yang tidak tepat olehkarena sertipikat bukanlah salinan akta otentik melainkan alat bukti kepemilikan hak atas tanah.

3. Eksekusi hak tanggungan melalui penjualan di bawah tangan

  Secara sosiologis ketentuan ini akan dapat melindungi kepentingan debitur untuk melanjutkan kegiatan usahanya, karena penyelesaian utang piutang dilakukan dengan cara diam-diam yang hanyamelibatkan pihak-pihak tertentu saja, selain itu penjualan obyek jaminan dengan cara ini dapat memberikan penyelesaian yang tuntas bagi para pihak, mengingat dalam prosesnya sudah diawali denganadanya kesepakatan dan persetujuan yang tentu mengikat bagi pihak-pihak yang membuatnya. Dalam tahapan ini terjadi negoisasi antara pihak kreditur/pegadaian dengan pihak debitur yang ingin menyelesaikan hutangnya secara tidak melalui lelang, pada tahapan ini tercapai suatukesepakatan antara para pihak.

59 Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Parate Eksekusi dengan Cara Penjualan Di Bawah Tangan Atas

  Pada tahap ini perbuatanhukum yang terjadi adalah adalah jual beli pada umumnya, yaitu jual beli sesuai Pasal 1457KUHPerdata, dan pelaksanaannya menggunakan akta PPAT, tetapi berlaku ketentuan bahwa pada saat pembayaran, pembeli obyek jaminan hak tanggungan menyerahkan uang b. Debitur memberikan surat kuasa khusus untuk menjual kepada bank untuk mencari pembeliDalam hal ini pihak debitur memberikan surat kuasa khusus untuk menjual obyek jaminan hak tanggungan kepada bank, dengan dasr surat kuasa khusus ini, maka pihak bank dapatmelakukan penjualan terhadap obyek jaminan hak tanggungan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  Eksekusi Hipotik dan Hak Tanggungan atas tanah dan benda- benda yang berkaitan dengan tanah adalah merupakan salah satu cara bagi Kreditur untuk memperoleh perlindungan hukum,sehingga melalui Eksekusi Hak Tanggungan atas tanah dan benda- benda yang berkaitan dengan tanah benarbenar dapat memberikan jaminan kepada Kreditur untuk memperoleh kembalipiutangnya jika Debitur cidera janji (wanprestasi). Dasar pemikiran yang disampaikan mengenai hal ini adalah bahwa diperkirakan melalui suatu penjualan lelang terbuka, dapat diharapkan akan diperoleh harga yang wajar atau paling tidakmendekati wajar, karena dalam suatu lelang tawaran yang rendah bias diharapkan akan memancing peserta lelang lain untuk mencoba mendapatkan benda lelang dengan menambahtawaran.

B. Saran

  Perlunya memilih salah satu cara Eksekusi Hipotik dan Hak Tanggungan melalui PengadilanNegeri agar setiap pemberian utang atau pengikatan Kredit yang selalu dijamin dengan pemasangan Grosse Akta Pengakuan Utang atau Sertifikat Hak Tanggungan yang mempunyaikekuatan eksekutorial sama dengan Putusan Pengadilan. Perlu adanya Undang-Undang khusus yang mengatur mengenai hipotik sebagaimana adanyaUndang-Undang Hak Tanggungan, sehingga jaminan hipotik tidak hanya terikat pada KitabUndang-Undang Hukum Perdata dan KUHD yang sangat memiliki keterbatasan dalam mengatur mengenai Jaminan Hipotik.

DAFTAR PUSTAKA

  Perangin, Effendi, Praktek Penggunaan Tanah Sebagai Jaminan Kredit, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991.Poesoko, Herowati, Parate Executie Obyek Hak Tanggungan (Inkonsistensi, Konflik Norma dan Kesesatan Penalaran Dalam Undang-Undang Hak Tanggungan), Yogyakarta : LaksBang Pressindo, 2008. Peraturan Perundang-Undangan Kitab Undang-Undang Hukum PerdataKitab Undang-Undang Hukum DagangUndang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Internet Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Parate Eksekusi dengan Cara Penjualan Di Bawah Tangan AtasObyek Jaminan Hak Tanggungan di PT.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

“Pelaksanaan Parate Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Alternatif Penyelesaian Kredit Bermasalah Di PT. Bank Danamon”
2
82
95
Tinjauan Yuridis Kedudukan Benda Jaminan Hak Tanggungan Kepada Bank yang Terkait Kasus Korupsi
9
69
143
Kajian Yuridis Peralihan Hak Atas Tanah Warisan Yang Sedang Dibebani Hak Tanggungan
5
92
129
Tinjauan Yuridis Hak Pekerja Atas Boedel Pailit Yang Sudah Dibebani Hak Tanggungan
0
52
147
Tinjauan Yuridis Pembebanan Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Kredit (Studi Kasus pada PP No. 24 Tahun 1997)
1
56
126
Tinjauan Yuridis Hak Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Pertama Dalam Pelelangan Boedel Kepailitan
1
48
126
Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Dalam Eksekusi Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan
5
95
91
Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Parate Eksekusi Hak Tanggungan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
2
73
96
Tinjauan Yuridis Terhadap Eksekusi Hipotik Dan Hak Tanggungan
15
81
65
Pemberian Hak Tanggungan Atas Tanah Yang Belum Bersertipikat (Tinjauan Yuridis Terhadap Praktek Bank Dan Ppat Di Kota Lhokseumawe
3
71
151
Pelaksanaan Eksekusi Terhadap Barang Jaminan Hipotik Kapal (Studi Kasus Di Jakarta )
2
31
3
Pelaksanaan Parate Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Alternatif Penyelesaian Kredit Bermasalah Di PT. Bank Danamon
1
72
94
Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Pemberian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan Pada Bank Perkreditan Rakyat Rokan Hulu
3
53
104
Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
11
Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
11
Show more