Minimisasi Kecelakaan Akibat Kerja dengan Pendekatan Fault Tree Analysis (FTA) untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja pada PT. Morawa Electric Transbuana

 3  69  180  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas segala berkat dan anugerahNya yang telah memberikan kesehatan, kekuatan dan semangatkepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan tugas sarjana dengan baik. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan laporan ini dansemoga laporan tugas sarjana ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di masa mendatang.

UCAPAN TERIMA KASIH

  Br Siburian selaku orangtua dan kepada Sinta, Patar dan Sudung selaku saudara dari penulis yang menjadisumber semangat dan inspirasi bagi penulis dan juga yang selalu memberikan dukungan dalam bentuk doa dan materi selama mengerjakan penelitian TugasAkhir. Seluruh pihak yang tidak dapat dituliskan satu per satu yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan inspirasi yang sangat berharga selama penulismenyeslesaikan Tugas Akhir.

DAFTAR ISI (LANJUTAN)BAB HALAMAN

  VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan .............................................................................

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  Oleh karena itu, dengan melihat kondisi kecelakaan yang pernah terjadi dan jugamelihat kondisi lingkungan kerja karyawan maka perlu dilakukan analisis untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan dan memberikan solusi sebagai langkahantisipasi terjadinya kecelakaan yang sama maupun kecelakaan yang lain. Oleh karena itu, dengan melihat kondisi kecelakaan yang pernah terjadi dan jugamelihat kondisi lingkungan kerja karyawan maka perlu dilakukan analisis untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan dan memberikan solusi sebagai langkahantisipasi terjadinya kecelakaan yang sama maupun kecelakaan yang lain.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

  Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah masih terjadinya kecelakaan kerja pada karyawan saat melakukan proses produksi yang mengakibatkanmenurunnya produktivitas kerja dan bertambahnya jumlah jam kerja yang hilang, sehingga perlu diketahui penyebab dasar atau akar penyebab (root cause)terjadinya kecelakaan kerja tersebut. Memberikan gambaran dan masukan bagi perusahaan mengenai penyebab- penyebab terjadinya kecelakaan kerja yang mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas kerja karyawan disertai dengan solusi daripermasalahan yang terjadi pada perusahaan sehingga dapat dijadikan acuan atau pertimbangan untuk perbaikan yang akan dilakukan oleh perusahaan.

1.6. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Sistematika penyusunan bab yang digunakan dalam penulisan tugas akhir adalah sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, memuat mengenai latar belakang masalah, rumusan

  Bab III Landasan Teori, berisi teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan yang digunakan dalam analisis pemecahan masalahyaitu kesehatan dan keselamatan kerja, tingkat frekuensi kecelakaan kerja, tingkat Bab IV Metodologi Penelitian, memuat mengenai jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, kerangka konseptual dan tahapan-tahapan penelitian mulaidari persiapan, pengumpulan dan pengolahan data hingga penyusunan laporan tugas akhir. Bab VII Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian dan saran-saran yang diberikan kepada pihak perusahaan sebagaipertimbangan dan diharapkan dapat membantu perusahaan dalam menanggulangi masalah kecelakaan kerja.

2.1. Sejarah Perusahaan

  Struktur organisasi bentuk lini dapat dilihat denganadanya pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab dari pimpinan tertinggi kepada unit-unit organisasi yang berada di bawahnya dalam bidang pekerjaantertentu secara langsung, serta pemberian wewenang dan tanggung jawab yang bergerak vertikal ke bawah dengan pendelegasian yang tegas melalui jenjanghirarki yang ada. Berikut akandiuraikan secara rinci mengenai jumlah tenaga kerja pada masing-masing bagian pada perusahaan dan juga jumlah jam kerja yang berlaku pada perusahaan.

2.3.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas yang Digunakan

  Morawa Electric Transbuana dilakukan setiap awal bulan dengan besar upah ditentukan berdasarkan jabatan,keahlian, kecakapan, pendidikan, dan prestasi kerja karyawan yang bersangkutan. Tunjangan kesehatan dan keluarga d.

2.4. Proses Produksi

Berikut ini yang akan dibahas adalah mengenai bahan yang digunakan pada proses produksi, jumlah dan spesifikasi produk, uraian proses produksi, mesin danperalatan yang digunakan dan tata letak pabrik.

2.4.1. Bahan

Berikut ini akan diuraikan secara rinci mengenai bahan baku, bahan penolong dan bahan tambahan yang digunakan perusahaan untuk melakuakanproses produksi pembuatan transformator.

2.4.1.1. Bahan Baku

  Kertas ODKertas OD ini berguna untuk memberi celah/jarak antara kumparan sekunder dengan primer sehingga nantinya minyak dapat masuk pada celah tersebutsehingga panas yang timbul akibat adanya rugi-rugi tembaga (Cu) dapat diatasi. Besi plat, besi siku, besi UNP, besi plat strip, dan roda besi hasil produksi dalam negeri, yang digunakan dalam pembuatan casing transformator.

2.4.1.2. Bahan Tambahan

  Selain menggunakan bahan baku juga digunakan bahan-bahan lain sebagai bahan pelengkap dalam memudahkan proses dan meningkatkan kualitas produkyang dihasilkan, yang disebut dengan bahan tambahan. Baut dan MurBaut dan mur digunakan untuk menghubungkan trafo ke tangki, menutup pressure terminal, menghubungkan oil gauge yang masuk ke dalam tangki, dan memasang tutup tangki trafo.

2.4.1.3. Bahan Penolong

  Gas Nitrogen (N 2 ) Gas ini digunakan dalam proses pemanggangan inti dan juga dalam proses pengujian kebocoran tangki transformator. HCL dan Soda Ash HCL dan Soda Ash digunakan untuk membersihkan tangki dari karat.

2.4.2. Jumlah dan Spesifikasi Produk

  Morawa Electric Transbuana memproduksi dua jenis transformator inti (core type) yaitu transformator satu fasa dan tiga fasa. Untuk spesifikasiproduk transformator satu fasa dapat dilihat pada Tabel 2.3., sedangkan spesifikasi produk transformator tiga fasa dapat dilihat pada Tabel 2.4.

2.4.3. Uraian Proses Produksi

  Pemasangan Terminal (Terminal Assembly)Setelah proses pengeringan selesai, maka kumparan transformator tersebut diangkat dari drying oven dan selanjutnya dibawa ke tempat pemasanganterminal dengan hoist crane dan dilakukan pemasangan terminal yang terdiri dari tap changer, bushing primer dan bushing sekunder pada tutup case yangtelah dipasang sebelumnya. Pemasangan Name PlateTransformator yang telah diuji dan mendapat persetujuan dari bagian quality control, selanjutnya transformator tersebut dipasangkan name plate yang memberikan keterangan spesifikasi transformator yang bersangkutan.

2.5. Mesin dan Peralatan

  Berikut ini akan diuraikan secara rinci mengenai mesin dan peralatan yang digunakan pada saat melakukan proses produksi pembuatan trasformator pada PT. Morawa Electric Transbuana.

2.5.1. Mesin

  Mesin-mesin yang digunakan dalam proses pembuatan transformator dapat dilihat pada Tabel 2.5. Nama Mesin Tahun Asal Daya Fungsi (Volt) (Ampere) (Unit) Memotong silicon steel sesuai dengan ukuran 1 Core Slitting 1981 Taiwan 3 HP 380 7 1 produk yang akan dibuat 2 Core Wounded 1981 Taiwan 2,5 HP 380 8,1 2 Menggulung inti transformator a.

2.5.2. Peralatan

  Mesin las, yaitu alat yang digunakan untuk proses penyambungan pada saat pembuatan tangki trafo dan koneksi kumparan. Kereta sorong, alat yang digunakan untuk memindahkan material (material handling) dengan prinsip kerja horizontal dan beban yang diangkut dalam ukuran kecil dan jumlah yang banyak.

2.6. Tata Letak Pabrik

  Morawa Electric Transbuana merupakan perusahaan yang berproduksi dengan tataletak jenis process layout, di mana mesin yang sejenis atau yangmempunyai fungsi sama ditempatkan dalam bagian yang sama. Produk-produk yang dikerjakan di lantai pabrik dikerjakan secara berpindah-pindah darikelompok fasilitas yang satu ke kelompok fasilitas yang lain mengikuti urutan silicon steel pada kelompok mesin pemotong (core slitting), maka hasil potongan kemudian dibawa ke kelompok mesin penggulungan (core wounded).

BAB II I LANDASAN TEORI

3.1. Pengertian dan Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3.1.1. Pengertian Keselamatan Kerja

1 Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan mesin

  Keselamatan kerja adalah dari, oleh, dan untuk setiap tenaga kerja serta orang lainnya dan juga masayarakat pada umumnya. Pencegahannya dapat dimulai dengan pengendalian secermat mungkin terhadap potensi bahaya kecelakaan kerja yang mungkin terjadi pada saatmelakukan pekerjaan misalnya memperhatikan prosedur kerja, kondisi lingkungan kerja, dan mentaati peraturan-peraturan yang berlaku misalnyadalam hal menggunakan alat pelindung diri pada saat melakukan pekerjaan.

3.1.4 Tujuan Kesehatan Kerja

  Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Agar terhindar dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh produk-produk industri.

3.2. Program Keselamatan Kerja

3.2.1. Sifat Pentingnya Program Keselamatan Kerja Menurut Hammer

  MoralPerusahaan dalam melaksanakan pencegahan atas dasar rasa kemanusiaan, sehingga bila terjadi kecelakaan perusahaan mempunyai suatu beban moral,juga perusahaan mengusahakan tindakan pencegahan dengan tujuan tidak akan terjadi suatu kecelakaan yang sama. Apabila terjadi kecelakaan maka perusahaan mengeluarkan biaya sebagai ganti rugi dan jugaterganggu produktivitasnya.

3.2.2. Unsur Keselamatan Kerja

  Tata ruang dan peralatan yang baik akan terselenggara jika tenaga kerja berpatisipasi dan memenuhiseluruh ketentuan yang berhubungan seperti tidak diletakkannya barang- barang pada jalan lalu lintas dan penggunaan tempat sampah pada masing- Toko Gunung Agung, 1995. Pekerja yang bekerja pada area kerja dengan debu-debu yang dapat terbakar, eksplosif atau beracun tidak boleh memakai baju berkantong, memilikilipatan-lipatan, dan lain-lain yang mungkin menjadi tempat berkumpulnya debu.

5 Ridley, John. Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga, 2008

  Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan kerja pada perusahaan, yang berarti bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan,pada waktu melaksanakan pekerjaan. Kecelakaan yang terdeteksi setelah selang waktu dari kejadian, misal terjadi gangguan pada telinga diakibatkan penggunaan peralatan yangmenghasilkan kebisingan atau bekerja pada lingkungan kerja yang bising.

3.6. Sebab-sebab Kecelakaan dan Pencegahan Kecelakaan Kerja

  Sikap kerja yang tidak baik sehingga menimbulkan kelelahan, membosankan dan kelainan fisik. Riset medis, tentang pengaruh fisiologis dan patologis lingkungan, dan keadaan fisik lain yang mengakibatkan kecelakaan.

3.8. Pengukuran Hasil Usaha Keselamatan Kerja

  Untuk membandingkan banyaknya kecelakaan pada suatu pabrik dengan pabrik lainnya dalam cabang industri yang sama, perlu diperhitungkan perbedaan-perbedaan yang mungkin disebabkan oleh perbedaan jumlah tenaga kerja yang bekerja pada kedua pabrik tersebut. Standard pengukuran yang telah di setujui oleh International Labour Organization adalah untuk mengetahui tingkatkekerapan atau frekuensi kecelakaan dan tingkat keparahan/severity rate.

7 Blake, R.P. Industrial Safety, Third Edition. United State of America: Prentice-Hall, Inc.

  Dari contoh yang ada pada tingkat frekuensi kecelakaan maka dapat dihitung tingkat severity atau keparahan kecelakaan kerja dimana diketahui bahwajumlah hari kerja yang hilang adalah 1.200 hari sebagai akibat dari 60 kecelakaan. Nilai T-SelamatUntuk membandingkan tingkat kecelakaan suatu unit kerja pada masa lalu dan masa kini sehingga dapat diketahui tingkat penurunan kecelakaan pada unittersebut digunakan nilai T-Selamat yang ditentukan dengan rumus sebagai berikut:Dimana :Nts = Nilai T-Selamat (tak berdimensi)F1 = Tingkat Frekuensi kecelakaan kerja masa laluF2 = Tingkat Frekuensi kecelakaan kerja masa kini N = Jumlah jam kerja karyawan.

3.9. Hubungan antara Produktivitas dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

  Keselamatan kerja merupakan usaha tindakan untuk keamanan dan kenyamanan proses produksi, menjamin agar tiap orang yang Dengan tingkat keselamatan kerja yang tinggi, faktor-faktor yang menjadi sebab kecelakaan, sakit dan kematian dapat dikurangi atau ditekan menjadi lebihkecil, hal ini dikarenakan: 1. Keselamatan kerja yang dilaksanakan dengan baik dengan partisipasi pengusaha dan pekerja akan membawa suasana keamanan dan ketenangankerja sehingga dapat membantu terjalinnya hubungan yang baik antara pekerja dengan pengusaha yang merupakan landasan bagi terciptanya kelancaranproduksi.

10 Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu, Edisi Pertama, Cetakan Keempat

  Faktor teknis: yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan fasilitas produksi secara lebih baik, penerapan metode kerja yanglebih efektif dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis. Pengukuran produktivitas dapat dihitung dengan rumus :Keterangan : Semakin sedikit terjadinya kecelakaan dan jumlah karyawan yang tidak masuk, baik karena sakit maupun tanpa keterangan, maka semakin kecil pulahari kerja yang hilang dan mengakibatkan semakin tingginya tingkat produktivitas tenaga kerja.

3.10. Fault Tree Analysis (FTA)

  Pohon kesalahan adalah suatu model grafis yang menyangkut berbagai penyebab paralel dan kombinasi Dalam membangun model pohon kesalahan (fault tree) dilakukan dengan cara wawancara dengan manajemen perusahaan dan melakukan pengamatanlangsung terhadap proses produksi di lapangan. Dalam hal ini para pekerja kurang memperhatikan dan juga mengabaikan lingkungan kerja pada kondisi yang memungkinkan kecelakaan kerja dapatterjadi.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

  Morawa Electric Transbuana merupakan Applied Researchatau penelitian terapan di mana tujuan penelitian yang utama adalah pemecahan masalah dan hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baiksecara individual atau kelompok maupun keperluaan industri atau pengusaha dengan penerapan ilmu pengetahuan dan studi literatur yang berkaitan denganpermasalahan yang diteliti. Berdasarkan analisis dan jenis data, penelitian ini termasuk dalam penelitian gabungan karena penelitian ini menggunakan data yangbersifat kualitatif dan kuantitatif.

4.3. Kerangka Konseptual

  Permasalahan dalam penelitian adalah kecelakaan kerja yang terjadi pada karyawan pada saat melakukan proses produksi yang mengakibatkan menurunnyaproduktivitas kerja dan bertambahnya jumlah jam kerja karyawan yang hilang. Identifikasi permasalahanIdentifikasi permasalahan dapat dilakukan dengan melihat dan mempelajari kondisi-kondisi yang terdapat pada perusahaan baik kondisi operator maupunkondisi lingkungan kerja yang berpotensi untuk terjadinya kecelakaan kerja pada operator.

4.7. Pengumpulan Data

  3) Jumlah jam kerja karyawan yang hilang akibat kecelakaan kerja.4) Jumlah karyawan yang mengalami kecelakaan kerja. 5) Jenis-jenis kecelakaan kerja yang terjadi pada karyawan.6) Jumlah karyawan atau tenaga kerja 7) Jumlah jam kerja karyawan.

4.8. Pengolahan Data a. Pengolahan Data Berdasarkan Data Kuantitatif

  Pengolahan data berdasarkan data kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) berdasarkan data kecelakaan kerja yang terjadipada perusahaan, di mana metode FTA ini digambarkan dengan menggunakan program komputer Microsoft Visio. Di samping itu diberikan saran yang bermanfaat bagi perusahaan yang menjadi tempat penelitian yang mendukung usaha pencegahan kecelakaan kerja diperusahaan tersebut.

BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Data Umum Perusahaan

  Adapun yang menjadi data umum perusahaan adalah jumlah tenaga kerja, jumlah jam kerja karyawan, dan usaha pencegahan kecelakaan kerja yang telahditerapkan pada PT. Inspeksi Keselamatan KerjaInspeksi keselamatan kerja dilakukan oleh pengawas lantai produksi sebelum operator melakukan kegiatan produksi pada bagiannya masing-masing,misalnya dengan memastikan bahwa kondisi mesin baik dan aman untuk digunakan, mengingatkan operator untuk menggunakan alat pelindung diri sepertisarung tangan, kaca mata, masker, topi, dan lain sebagainya.

5.2. Data Khusus Perusahaan

Data khusus perusahaan meliputi jumlah kecelakaan kerja yang terjadi pada karyawan, total jam kerja karyawan, jumlah jam kerja karyawan yang hilangakibat kecelakaan, jumlah karyawan yang mengalami kecelakaan kerja, dan jenis- jenis kecelakaan kerja yang terjadi pada karyawan.

5.2.1. Jumlah Kecelakaan Kerja

  Rekapitulasi Jumlah Jam Kerja yang Hilang pada Tahun 2007-2010 Banyaknya Jumlah Hari Kerja Jumlah Jam Kerja Tahun Kecelakaan yang Hilang yang Hilang 2007 8 48 Hari 336 Jam2008 4 17 Hari 119 Jam2009 7 33 Hari 231 Jam2010 6 32 Hari 224 Jam Total Jam Keja yang Hilang 910 JamSumber: PT. Morawa Electric Transbuana maka dapat dilihat tingkat frekuensi kecelakaan kerja (F), tingkat keparahan kecelakaan atau severity (S), nilai T-Selamat (Nts) dan tingkatproduktivitas yang terjadi mulai tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 serta dapat dianalisis akar penyebab terjadinya kecelakaan kerja pada karyawan denganmenggunakan Fault Tree Analysis (FTA).

5.3. Pengukuran Tingkat Frekuensi Kecelakaan (F)

  Tingkat frekuensi menyatakan banyaknya kecelakaan yang terjadi tiap satu juta jam kerja manusia, dengan rumus :Dimana : F = Tingkat frekuensi kecelakaan N = jumlah jam kerja seluruh karyawan pada suatu perusahaan dalam periode waktu tertentu setelah dikurangi dengan jumlah hilangnya jamkerja karyawan yang disebabkan karena kecelakaan kerja, penyakit dan lain sebagainya. Rekapitulasi Tingkat Frekuensi Kecelakaan Kerja (F) pada Tahun 2007-2010 Jumlah Jumlah Jam Kerja TahunN (jam) F (kali) Kecelakaan yang Hilang 2007 8 336 Jam 125.664 Jam 63,662008 4 119 Jam 125.881 Jam 31,772009 7 231 Jam 125.769 Jam 55,662010 6 224 Jam 134.176 Jam 44,72 Tingkat Frekuensi Kecelakaan Kerja (F)63,66 70 55,66 6044,72 50 Tingkat Frekuensi 31,77 40 Kecelakaan kerja 30 20 10 2007 2008 2009 2010 Gambar 5.1.

5.4. Pengukuran Tingkat Severity atau Keparahan Kecelakaan (S)

  S = Jumlah hilangnya hari kerja x 1.000.000N Jumlah hari kerja yang hilang selama tahun 2007 adalah 48 hari, dengan N sebesar 125.664 jam kerja, maka tingkat severity atau keparahan kecelakaanadalah: hariHal ini berarti, bahwa dalam 1.000.000 jam kerja produktif diperkirakan hilangnya hari kerja adalah 381,97 hari atau 9167,28 jam. Jumlah hari kerja yang hilang selama tahun 2010 adalah 32 hari, dengan N sebesar 134.176 jam kerja, maka tingkat severity atau keparahan kecelakaanadalah: hariHal ini berarti, bahwa dalam 1.000.000 jam kerja produktif diperkirakan hilangnya hari kerja adalah 238,49 hari atau 5723,82 jam.

5.5. Pengukuran Nilai T-Selamat

  Untuk membandingkan hasil tingkat kecelakaan suatu unit kerja pada masa lalu dan masa kini sehingga dapat diketahui tingkat penurunan kecelakaanpada unit tersebut digunakan nilai T-Selamat yang ditentukan dengan rumus sebagai berikut: Tabel 5.10. Tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa lalu (F1) tidak diketahui dan tingkat frekuensi kecelakaan kerja masa kini (F2) adalah 63,66.

5.6. Pengukuran Produktivitas

  Jumlah jam kerja karyawan pada tahun 2007 adalah 126.000 jam dan jumlah jam kerja karyawan yang hilang adalah 336 jam, maka tingkatproduktivitas adalah: Jumlah jam kerja karyawan pada tahun 2008 adalah 126.000 jam dan jumlah jam kerja karyawan yang hilang adalah 119 jam, maka tingkatproduktivitas adalah: c. Jumlah jam kerja karyawan pada tahun 2009 adalah 126.000 jam dan jumlah jam kerja karyawan yang hilang adalah 231 jam, maka tingkatproduktivitas adalah: Jumlah jam kerja karyawan pada tahun 2010 adalah 134.400 jam dan jumlah jam kerja karyawan yang hilang adalah 224 jam, maka tingkatproduktivitas adalah: Tabel 5.12.

5.7. Kondisi Lingkungan dan Aktivitas Kerja pada Stasiun Kerja PT. Morawa Electric Transbuana

  Kecelakaan kerja yang sering terjadi pada stasiun kerja packing adalah pada saat operator melakukan pemindahan kayu hasilpotongan dari mesin potong menuju tempat penumpukan dengan tidak menggunakan alat bantu seperti forklift dan operator juga tidak menggunakanAPD seperti sarung tangan. Operator yang bekerja pada bagian pengisian minyak juga masih 2 Luas area kerja pengisian minyak adalah 90 m dengan kodisi lingkungan kerja yang luas dan berdekatan dengan tempat persedian minyak, namun kondisi lantai licin dan berminyak.

5.8. Analisis Kecelakaan Kerja dengan Fault Tree Analysis (FTA)

  Tidak ada sanksi yang jelas bagi operator yangtidak menggunakan APD conditions) pada kecelakaan kerja di masing-masing aktivitas kerja, dapat disimpulkan akar penyebab kecelakaan kerja yang terjadi adalah sebagai berikut: 1. Lingkungan kerja yang tidak mendukung kenyamanan dan keamanan operator pada saat bekerja (licin, berair, kurang tertata dan sempit)e.

1. Kaki terluka terpijak

  Tidak ada peraturan yang tegas karena lingkungan atauAPD yang telah habis tentang penggunaan APD area tempat bekerjab. Tidak ada sanksi yang jelas bagi operator kurang rapioperator tentang operator yang melanggar peraturan dan bersih (stasiunkeselamatan kerja d. Pengawas kurang memperhatikan kerja bengkel).

2. Terjadinya gangguan

  Tidak ada peraturan yang tegas lingkungan kerjaAPD yang telah habis tentang penggunaan APD karyawan yang bisingb. Tidak ada sanksi yang jelas bagi (aktivitas kerjaoperator tentang operator yang melanggar peraturan pengelasan,keselamatan kerja d. Pengawas kurang memperhatikan penggerindaan, danpengeboran).

3. Terjatuh atau

a. Operator kurang

  Kekuatan fisik operator tidak sesuai dengan berat bebanyang diangkat Dari tabel di atas dapat disimpulkan akar penyebab masalah dari potensi terjadinya kecelakaan kerja adalah sebagai berikut:a. Tidak ada sanksi yang jelas bagi operator yang melanggar peraturan.

BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

6.1. Penyebab Kecelakaan Kerja dan Pemecahan Masalah

  Kurangnya kesadaran operator Memberikan pengarahan- tentang pentingnya pengarahan mengenai bahayamenggunakan APD pada saat kecelakaan kerja yang mungkin bekerja terjadi pada saat bekerja dan Unsafe pentingnya penggunaan APD Human untuk menghidari terjadinyaAction kecelakaan kerja melalui forum pertemuan khusus kepada operator lantai produksi. Operator bekerja tidak sesuai Memberikan pengarahan dan dengan prosedur yang ada pelatihan oleh pengawas lantaiproduksi mengenai prosedur kerja yang baik yang telahditetapkan.

f. Operator tidak menggunakan alat Pengawas lantai produksi menegaskan

  Operator kurang teliti dalam Sebelum memulai kegiatan proses mempersiapkan peralatan yang produksi operator terlebih dahuludigunakan memeriksa dan memastikan peralatan yang akan digunakan dalam kondisibaik dan aman pada saat digunakan. Operator kurang berhati-hati Pada saat menggunakan hoist crane dalam menggunakan alat bantu disarankan agar operator benar-benarangkut (hoist crane) memastikan tali pengikat dalam kondisi baik dan aman pada saatmemindahkan barang dan menyarankan agar berkonsentrasi padasaat menggunakan hoist crane.

b. Tidak ada peraturan yang tegas Peraturan yang ada harus dijalankan

  Tidak ada sanksi yang jelas dari Untuk setiap operator yang tidak perusahaan bagi operator yang menaati peraturan yang ada harustidak menggunakan APD pada diberikan sanksi yang tegas dan nyata, saat bekerja bukan hanya sekedar surat peringatantetapi ditindaklanjuti. Operator kurang Pengawas lantai produksi melakukan berkonsentrasi dan berhati- pengawasan yang ketat pada saathati pada saat bekerja operator sedang bekerja dan selalu mengingatkan operator untuk bekerjahati-hati untuk menghindari kecelakaan kerja yang mungkinterjadi e.

6.2. Perbaikan Usaha Pencegahan Kecelakaan Kerja pada PT. Morawa

  Operator yang bekerjadengan prosedur kerja yang kurang baik perlu diberikan arahan mengenai bahaya kecelakaan yang mungkin terjadi dengan kondisi tersebut dan memberitahukepada operator sikap kerja yang baik pada saat operator melakukan pekerjaannya. Untuk memaksimalkan pengawasan terhadapkerja operator perlu kerjasama yang baik dengan bagian K3 perusahaan atau kerjasama langsung dengan pemimpin perusahaan dalam hal menangani potensi-potensi kemungkinan terjadinya kecelakaan pada saat bekerja misalnya pengadaanAPD yang baik dan sesuai dengan standart, melakukan standarisasi prosedur kerja yang baik dan aman bagi pekerja dan lain sebagainya.

BAB VI I KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

  Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keparahan atau severity yang ditunjukkan dengan hilangnyahari kerja mulai tahun 2007 sampai dengan 2010 cukup besar yaitu rata-rata 250 hari oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap kecelakaan kerjayang terjadi pada perusahaan. Solusi yang diambil untuk mengatasi permasalahan kecelakaan kerja yang terjadi pada operator adalah perbaikan usaha pencegahan kecelakaan kerjamelalui empat aspek yaitu: g.

7.2. Saran

  Perlu adanya pengawasan dan pengarahan yang ketat dari perusahaan tentang pemakaian alat perlindungan diri pada saat bekerja atau mengoperasikanmesin, sehingga kecelakaan kerja dapat dihindari sedini mungkin. Mengadakan safety talk dan training untuk memberikan pemahaman dan pengarahan mengenai bahaya kecelakaan kerja yang mungkin terjadi danpelatihan cara kerja atau prosedur kerja yang aman pada saat melakukan proses produksi serta menekankan pentingnya penggunaan APD pada saatbekerja.

DAFTAR PUSTAKA

  Kepala PemasaranAdapun tugas dari Kepala Pemasaran adalah merencanakan, mengelola, melaksanakan serta menyiapkan strategi-strategi yang diperlukan untukmeningkatkan penjual produk yang dihasilkan serta merencanakan dan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk kegiatan pelayananpelanggan. Morawa Electric Transbuana Tahun 2007- 2010 (Lanjutan)Tahun Bulan Nama Operator Kegiatan/ Aktivitas Kerja Sebab Kecelakaan Akibat Kecelakaan Kerja Jumlah Hari yang Hilang 2007 Desember Irpan Syahputra Sedang menggerinda besiSewaktu menggerinda tidak menggunakan sarung tangan dan kaca mata dan batugerinda pecah dan terlempar ke arah pelipis mata.

Informasi dokumen
Minimisasi Kecelakaan Akibat Kerja dengan Pendekatan Fault Tree Analysis (FTA) untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja pada PT. Morawa Electric Transbuana Analisis Kecelakaan Kerja dengan Fault Tree Analysis FTA Bahan Tambahan Bahan Penolong Faktor Manusia dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja Fault Tree Analysis FTA Hubungan antara Produktivitas dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jenis-Jenis Kecelakaan Kerja Data Khusus Perusahaan Jenis Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Kerangka Konseptual Jumlah dan Spesifikasi Produk Uraian Proses Produksi Jumlah Kecelakaan Kerja Jumlah Jam Kerja yang Hilang Jumlah Karyawan yang Mengalami Kecelakaan pada Tahun 2007- 2010 Jumlah Tenaga Kerja Jam Kerja Karyawan Usaha Pencegahan Kecelakaan Kerja pada PT. Morawa Electric Transbuana Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Kondisi Lingkungan dan Aktivitas Kerja pada Stasiun Kerja PT. Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Mesin Mesin dan Peralatan Objek Penelitian Variabel Penelitian Pelaksanaan Penelitian Pencegahan-pencegahan Kecelakaan Kerja LANDASAN TEORI Pengertian Kecelakaan Kerja dan Macam Kecelakaan Kerja. Sebab-sebab Kecelakaan dan Pencegahan Kecelakaan Kerja Pengertian Keselamatan Kerja Tujuan Keselamatan Kerja Pengukuran Hasil Usaha Keselamatan Kerja. Pengukuran Nilai T-Selamat PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pengukuran Produktivitas PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pengukuran Tingkat Frekuensi Kecelakaan F Pengukuran Tingkat Severity atau Keparahan Kecelakaan S Pengumpulan Data Pengolahan Data Analisis Pemecahan Masalah Kesimpulan dan Saran Penyebab Kecelakaan Kerja dan Pemecahan Masalah Peralatan Mesin dan Peralatan Perbaikan Usaha Pencegahan Kecelakaan Kerja pada PT. Morawa Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Batasan dan Asumsi Penelitian Sejarah Perusahaan Ruang Lingkup Bidang Usaha Sifat Pentingnya Program Keselamatan Kerja Menurut Hammer Unsur Keselamatan Kerja Sistematika Penulisan Tugas Akhir Struktur Organisasi PT. Morawa Electric Transbuana Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Sistem Pengupahan dan Fasilitas yang Digunakan Tata Letak Pabrik GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Tenaga Kerja Jam Kerja Unsur-Unsur yang Mendukung Program Keselamatan Kerja
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Minimisasi Kecelakaan Akibat Kerja dengan Pen..

Gratis

Feedback