Feedback

Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr)

Informasi dokumen
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID UMBI DARI TUMBUHAN BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) SKRIPSI OLEH: ROSFIANITA M. NAPITUPULU 081524050 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID UMBI DARI TUMBUHAN BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: ROSFIANITA M. NAPITUPULU 081524050 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PENGESAHAN SKRIPSI ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA FLAVONOID UMBI DARI TUMBUHAN BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) OLEH: ROSFIANITA M. NAPITUPULU 081524050 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada tanggal : Juli 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji, Prof.Dr.Siti Morin Sinaga,M.Sc.,Apt. NIP 195008281976032002 Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt. NIP 195304031983032001 Pembimbing II, Prof. Dr. Siti Morin Sinaga,M.Sc.,Apt. NIP 195008281976032002 Dr. Marline Nainggolan, MS., Apt. NIP 195709091985112001 Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt. NIP 195304031983032001 Dr. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt. NIP 195109081985031002 Medan, Juli 2011 Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP : 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan berkat dan anugerahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr)” untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar sarjana farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda tercinta T. M Napitupulu dan Ibunda T. Gurning, serta kakanda dan adinda tersayang yang dengan penuh kesabaran dan kasih sayang selalu memberi dorongan, bimbingan, nasehat serta doa. Melalui tulisan ini ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas atas bimbingan, petunjuk, pemberian fasilitas serta saran dan bantuan lainnya, sebelum dan selama penelitian juga disampaikan kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mensyahkan dan memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. 2. Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen wali yang selama ini telah banyak membina dan membimbing penulis selama masa pendidikan. 3. Ibu Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt., dan Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 4. Bapak Dr. M. Pandapotan Nasution., MPS., Apt, Bapak Drs. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt., dan Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt., selaku penguji dan memberikan masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 5. Dosen Staf Pengajar dan Asisten Laboratorium Fitokimia yang banyak memberikan dorongan dan bantuan selama penelitian. 6. Teman-teman penulis khususnya Elwisda, Lastiur, Rogabe, Rosdiana, Kak Vikha yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi. 7. Semua mahasiswa/i farmasi khususnya farmasi ekstensi 2008 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih untuk semangat dan doanya. Semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi ilmu pengetahuan khususnya pada ilmu farmasi. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini. Medan, Juli 2011 Penulis (Rosfianita Napitupulu) Universitas Sumatera Utara Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid dari Umbi Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) Abstrak Telah dilakukan isolasi senyawa flavonoid umbi dari tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr), yang dapat berkhasiat sebagai antiemetik, disuria, radang usus, disentri, penyakit kuning, luka, bisul, diabetes melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol, kanker payudara, antimelanogenesis dan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa flavonoid dari umbi bawang sabrang dan melakukan karakterisasi terhadap senyawa flavonoid dan hasil isolasi dengan spektrofotometri ultraviolet (UV). Terhadap serbuk umbi bawang sabrang dilakukan pemeriksaan karakteristik simplisia dan skrining fitokimia, kemudian diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 80%. Selanjutnya ekstrak etanol dipartisi dengan pelarut n-heksan: air (1:1), kemudian dengan pelarut kloroform : air (1:1), fraksi air direfluks dan difraksinasi dengan etilasetat. Fraksi etilasetat dianalisis secara kromatografi kertas (KKt) dengan menggunakan lima jenis fase gerak yang berbeda yaitu n-Butanol Asam asetat Air, Forestal, asam asetat 50%, asam asetat 15% dan asam klorida 1%, sedangkan sebagai penampak noda uap NH3, AlCl3 5% dan FeCl3 1%. Fraksi etilasetat dipisahkan dengan KKt preparatif menggunakan fase gerak asam asetat 50% dan isolat yang diperoleh dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV menggunakan pereaksi geser (shift reagent). Hasil pemeriksaan makroskopik umbi bawang sabrang adalah berbentuk bulat telur memanjang, berwarna merah dan tidak berbau, serta berasa pahit. Umbi lapis terdiri dari 5-6 lapisan dengan pangkal daun di tengahnya dan biasanya memiliki panjang 4-5 cm dan diameter 1-3 cm. Hasil penetapan kadar air dari serbuk simplisia diperoleh 8,98%, kadar sari yang larut dalam air 8,03%, kadar sari yang larut dalam etanol 9,63%, kadar abu total 4,32% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,84%. Hasil skrining fitokimia diperoleh adanya alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakinon glikosida, tanin dan triterpenoid/steroid. Hasil isolasi dari fraksi etilasetat diperoleh dua senyawa yaitu F2 dengan harga Rf= 0,53 (berflouresensi jingga) diduga senyawa flavonoid golongan flavon dengan gugus 5-OH pada cincin A dan F3 dengan harga Rf= 0,79 (berflouresensi biru) diduga senyawa flavonoid golongan flavon 4-OH pada cincin B dan 6,7-diOH. Kata kunci: umbi bawang sabrang, flavonoid, spektrofotometri ultraviolet. kromatografi kertas, Universitas Sumatera Utara Isolation and Characterization of Flavonoids Compound from Tree Bawang Sabrang Bulb (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) Abstract The flavonoid compounds have been isolated from tree bawang sabrang bulbs (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.), which can be efficacious as an antiemetic, dysuria, colitis, dysentery, jaundice, wounds, ulcers, diabetes mellitus, hypertension, lowering cholesterol, breast cancer, antimelanogenesis and as an antioxidant. The purpose of this study was to isolated flavonoid compounds from bawang sabrang bulbs and characterization of isolated with a ultraviolet spectrophotometry (UV). The characterization and phytochemical screening of the powder of bawang sabrang bulb was extracted by maceration with 80% ethanol, and partitioned with n-heksan : water (1:1), it was then partitioned with chloroform : water (1:1), aqueous residue was refluxed and fractionated with ethylacetate. Each of the ethylacetate fraction was analysed using paper chromatography five kinds difficult with n-Butanol Acetic acid Water, Forestal, 50% acetic acid, 15% acetic acid and 1% hydrochloric acid, visualisation using NH3 vapors, 5% aluminium chloride and 1% ferry chloride. The ethylacetate fraction was separated by preparative paper chromatography using 50% acetic acid as mobile phase and the isolate were identified with spectrophotometry UV using shift reagent. The results of macroscopic of bawang sabrang bulb is elongated oval shaped, red, not odor and taste bitter. Bulb consists of 5-6 layers with a base of the leaf in the center and usually has a length of 4-5 cm and 1-3 cm diameter. The result of the determination of water content of 8.98% from simplex powder, levels of water-soluble extract 8.03%, levels of soluble extract in ethanol 9.63%, 4.32% total ash content and ash content that does not dissolve in acid 0.84%. The phytochemical screening results indicate the existence of alkaloids, flavonoids, glycosides, saponin, anthraquinone glycosides, tannins and triterpenoids/steroids. Isolate from ethylacetate fraction obtained two pure isolate, that were F2 with Rf value = 0,53 (orange fluoresence) that was flavon containing 5-OH groups in ring A, whereas F3 with Rf = 0,79 (blue fluoresence) that was flavon containing 4-OH groups in ring B and 6,7-diOH. Keyword: Bawang sabrang bulb, UV spectrophotometry. flavonoids, paper chromatography, Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Judul . . i Halaman Pengesahan . iii Kata Pengantar . iv Abstrak . vi Abstract . vii Daftar Isi . viii Daftar Tabel . xiii Daftar Gambar . . xiv Daftar Lampiran . xvi BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 2 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan Penelitian . 3 1.5 Manfaat Penelitian . 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . . 4 2.1 Uraian Tumbuhan . . 4 2.1.1 Habitat . 4 2.1.2 Morfologi Tumbuhan . 4 2.1.3 Sistematika Tumbuhan . . 5 2.1.4 Nama daerah. . 5 2.1.5 Kandungan kimia. 5 Universitas Sumatera Utara 2.1.6 Khasiat. . 5 2.2 Flavonoid. . 6 2.3 Ekstraksi. . 10 2.4 Kromatografi kertas. 12 2.5 Spektrofotometri ultraviolet. 15 BAB III METODOLOGI PENELITIAN . 18 3.1 Alat dan Bahan . 18 3.1.1 Alat-alat yang digunakan . 18 3.1.2 Bahan-bahan . 18 3.2 Pengambilan dan Pengolahan Sampel . 19 3.2.1 Pengambilan Sampel . 19 3.2.2 Identifikasi Tumbuhan . 19 3.2.3 Pengolahan Sampel . 19 3.3 Pembuatan Pereaksi . 20 3.3.1 Pereaksi Asam klorida 2 N . 20 3.3.2 Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N . 20 3.3.3 Pereaksi besi (III) klorida 1% . 20 3.3.4 Pereaksi Bouchardat . 20 3.3.5 Pereaksi Dragendorff . 20 3.3.6 Pereaksi Mayer . 21 3.3.7 Pereaksi Molish . 21 3.3.8 Pereaksi Timbal (II) asetat 0,4 N . 21 3.3.9 Pereaksi Liebermann-Burchard . 21 3.3.10 Pereaksi Kalium Hidroksida 10% . 21 Universitas Sumatera Utara 3.3.11 Pereaksi Aluminium Klorida 5% . 21 3.3.12 Pereaksi Asam Sulfat 2 N. 22 3.3.13 Pereaksi BAA . 22 3.3.14 Pereaksi Forestal . 22 3.3.15 Pereaksi Asam Asetat 15% . 22 3.3.16 Pereaksi Asam Asetat 50% . 22 3.3.17 Pereaksi Asam Klorida 1% . 22 3.4 Pemeriksaan Makroskopik Umbi Bawang Sabrang . 23 3.4.1 Pemeriksaan Makroskopik . 23 3.5 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia . 23 3.5.2 Penetapan Kadar Air . 23 3.5.3 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air . 24 3.5.4 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol . 24 3.5.5 Penetapan Kadar Abu Total . 25 3.5.6 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam . 25 3.6 Skrining Fitokimia . 25 3.6.1 Pemeriksaan alkaloid . 25 3.6.2 Pemeriksaan flavonoid . 26 3.6.3 Pemeriksaan glikosida . 27 3.6.4 Pemeriksaan saponin . 27 3.6.5 Pemeriksaan glikosida antrakuinon . 27 3.6.6 Pemeriksaan glikosida sianogenik . 28 3.6.7 Pemeriksaan tanin . 28 3.6.8 Pemeriksaan triterpenoid/steroid . 28 Universitas Sumatera Utara 3.7 Pembuatan Ekstrak . 29 3.8 Isolasi Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Etanol . 30 3.9 Analisis Fraksi Etilasetat dengan Cara Kromatografi Kertas (KKt) . 31 Pemisahan Senyawa Flavonoid dari Fraksi Etilasetat dengan Cara Kromatografi Kertas (KKt) Preparatif . 32 Uji Kemurnian terhadap Senyawa Flavonoid Hasil Kromatografi Kertas Preparatif . 33 3.11.1 Uji kemurnian isolat hasil isolasi dengan KKt satu arah . 33 3.11.2 Uji kemurnian isolat hasil isolasi dengan KKt dua arah . 33 3.10 3.11 3.12 Identifikasi Senyawa Hasil Isolasi . 34 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 36 4.1 Hasil Identifikasi tumbuhan . 36 4.2 Hasil Pemeriksaan Makroskopik Umbi Bawang Sabrang . 36 4.3 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia . 36 4.4 Hasil Ekstraksi dan Isolasi 40 4.5 Hasil Analisis Fraksi Etilasetat dengan cara Kromatografi Kertas (KKt) 40 Hasil Pemisahan Senyawa Flavonoid dari Fraksi Etilasetat dengan cara KKt Preparatif 41 4.7 Hasil pengujian dengan KKt Satu Arah dan Dua Arah . 41 4.8 Hasil Penafsiran Isolat F2 dan F3 secara Spektrofotometri UV . 42 4.6 4.8.1 Penafsiran spektrum ultraviolet untuk isolat F2 . 42 4.8.2 Penafsiran spektrum ultraviolet untuk isolat F3 . 48 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 56 5.1 Kesimpulan . 56 Universitas Sumatera Utara 5.2 Saran . 56 DAFTAR PUSTAKA . 57 LAMPIRAN . 60 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1. Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Umbi Bawang Sabrang . 38 Tabel 4.2. Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Umbi bawang Sabrang . 39 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Struktur Kerangka dasar flavonoid . 6 Gambar 2.2. Struktur flavonoid dasar dengan kerangka penomoran 6 Gambar 2.3. Struktur flavon dan struktur C≡C, C=O, NO2. 2. Auksokrom didefinisikan sebagai gugus fungsi yang mempunyai elektron tidak berpasangan, tidak menyerap radiasi pada panjang gelombang lebih besar dari 200 nm, dan bila terikat dengan gugus khromofor akan mengubah panjang gelombang dan intensitas penyerapan, contoh: OH, NH2, Cl. Universitas Sumatera Utara 3. Efek batokromik (pergeseran merah) adalah suatu pergeseran pita serapan ke panjang gelombang yang lebih panjang akibat terikat dengan gugus khromofor atau efek pelarut. 4. Efek hipsokromik (pergeseran biru) adalah suatu pergeseran pita serapan ke panjang gelombang yang lebih pendek akibat terikat dengan gugus khromofor atau efek pelarut. 5. Efek hiperkromik adalah peningkatan intensitas penyerapan. 6. Efek hipokromik adalah penurunan intensitas penyerapan. Pada umumnya spektrum ultraviolet/visibel senyawa antrakuinon terjadi pada serapan 224, 246 dan 394 nm atau 206, 282 dan 448 nm (Nawawi, dkk., 2010; Kristanti, dkk., 2006). 2.5.2 Spektrofotometri Inframerah Spektrofotometri inframerah merupakan teknik spektrofotometri tercepat dan termurah yang digunakan dalam kimia organik. Sampel dapat berupa padatan, cairan atau gas, dan dapat diukur dalam larutan dengan KBr atau minyak mineral. Kemudian spektrum dapat diperoleh hanya dalam beberapa menit dari material murni parsial dengan tujuan memberikan indikasi bahwa reaksi yang terjadi seperti yang diinginkan. (Cooper, 1980). Identifikasi senyawa yang tidak diketahui gugus fungsinya dapat diuji struktur inframerahnya, kemudian dideteksi menggunakan data korelasi (Sastrohamidjojo, 1991). Menurut Pavia, et al., (1988), langkah-langkah umum untuk memeriksa pita serapan adalah sebagai berikut: 1. Apakah terdapat gugus karbonil ? Universitas Sumatera Utara Gugus C=O memberikan puncak pada daerah 1820-1660 cm-1. Puncak ini biasanya merupakan yang terkuat dengan lebar medium dalam spektrum. 2. Jika gugus C=O ada, periksa gugus-gugus berikut. Jika tidak ada, langsung ke nomor 3. a. Asam : Apakah ada O-H ? Serapan lebar di daerah 3300-2500 cm-1. Biasanya tumpang tindih dengan C-H. b. Amida : Apakah ada N-H? Serapan medium di dekat 3500 cm-1, kadangkadang dengan puncak rangkap. c. Ester : Apakah ada C-O? Serapan medium di daerah 1300-1000 cm-1. d. Anhidrida: Mempunyai dua serapan C=O di daerah 1810 dan 1760 cm-1. e. Aldehida : Apakah ada C-H aldehid? Dua serapan lemah di daerah 28502750 cm-1 yaitu di sebelah kanan serapan C-H. f. Keton : Jika kelima kemungkinan di atas tidak ada. 3. Bila gugus C=O tidak ada. a. Alkohol/fenol: Periksa gugus O-H, merupakan serapan lebar di daerah 3600-3300 cm-1 yang diperkuat adanya serapan C-O di daerah 1300-1000 cm-1. b. Amina : Periksa gugus N-H, yaitu serapan medium di daerah 3500 cm-1. c. Eter : Periksa gugus C-O (serapan O-H tidak ada), yaitu serapan medium di daerah 1300-1000 cm-1. 4. Ikatan rangkap dua dan/atau cincin aromatik. a. C=C mempunyai serapan lemah di daerah 1650 cm-1. b. Serapan medium sampai kuat pada daerah 1650-1450 cm-1 sering menunjukkan adanya cincin aromatik. Universitas Sumatera Utara c. Buktikan kemungkinan di atas dengan memperhatikan serapan pada daerah C-H aromatik di sebelah kiri 3000 cm-1, sedangkan C-H alifatis terjadi di sebelah kanan daerah tersebut. 5. Ikatan rangkap tiga. a. C≡N mempunyai serapan medium dan tajam di daerah 2250 cm-1. b. C≡C mempunyai serapan lemah tapi tajam di daerah 2150 cm-1. Periksa juga CH asetilenik di dekat 3300 cm-1. 6. Gugus nitro. Dua serapan kuat di daerah 1600-1500 cm-1 dan 1390-1300 cm-1. 7. Hidrokarbon. a. Apabila keenam kemungkinan di atas tidak ada. b. Serapan utama di daerah C-H dekat 3000 cm-1. c. Spektrum sangat sederhana, hanya terdapat serapan lain di daerah 14501375 cm-1. Spektrum inframerah untuk zat hasil pemurnian menunjukkan adanya gugus-gugus fungsi yaitu terlihat pada posisi (cm-1) : 3427,51, 2927,94-2858,51, 736,81-1000, yang memiliki gugus fungsi OH, C-H alifatik, gugus aromatic dan alkena, isolate di duga senyawa kuinon (Nawawi, dkk., 2010) dan spektra pada spektrofotometer inframerah yang terjadi pada serapan (cm-1) 3445,18 menunjukkan adanya gugus OH; 2924,35 dan 2852,98 menunjukkan adanya gugus CHsp3 (alkena); 1697,51 menunjukkan adanya gugus C=O; 1628,07 menunjukkan adanya gugus α-OH; 1452,53 menunjukkan adanya gugus C-C; 1265,42 dan 1190,19 menunjukkan adanya gugus C-O; 898,91 dan 748,45 menunjukkan adanya gugus tekukan CH aromatik keluar bidang, berdasarkan data Universitas Sumatera Utara spektrofotometri inframerah terseebut di simpulkan bahwa zat hasil pemurnian adalah senyawa antrakuinnon dengan gugus α-OH. Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender (Philips), neraca listrik (Vibra AJ), neraca kasar, eksikator, oven listrik, penangas air (Yenaco), rotary evaporator (Haake D1), lampu UV 366 nm (Diamond), seperangkat alat penetapan kadar air, seperangkat alat kromatografi lapis tipis, alat-alat gelas laboratorium, spektrofotometer ultraviolet/visibel (Shimadzu) dan spektrofotometer inframerah (Shimadzu). 3.1.2 Bahan-bahan Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi dari tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr). Bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain adalah berkualitas pro analisa, yaitu : alfa naftol, asam asetat anhidrida, asam klorida pekat, asam nitrat pekat, asam sulfat pekat, aseton, benzen, besi (III) klorida, bismuth (III) nitrat, etanol, eter minyak tanah, etilasetat, iodium, isopropanol, kalium hidroksida, kalium iodida, kloroform, metanol, natrium hidroksida, natrium sulfat anhidrat, n-heksan, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, serbuk zinkum, timbal (II) asetat, toluen. Plat pra lapis silika gel GF254, silika gel GF254 dan air suling. Universitas Sumatera Utara 3.2 Pengambilan dan Pengolahan Sampel 3.2.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan serupa dari daerah lain. Sampel yang digunakan umbi tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) yang diambil dari jalan Bunga Rampai V, Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. 3.2.2 Identifikasi Tumbuhan Identifikasi tumbuhan dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, LIPI, Bogor. 3.2.3 Pengolahan Sampel Umbi bawang sabrang yang segar dibersihkan dari kotoran dengan cara mencuci di bawah air mengalir hingga bersih, ditiriskan, kemudian ditimbang, selanjutnya dirajang tipis dan dikeringkan. Sampel dianggap kering bila sudah rapuh (diremas menjadi hancur), selanjutnya ditimbang dan diserbuk dengan menggunakan blender. 3.3 Pembuatan Larutan Pereaksi 3.3.1 Pereaksi Asam Klorida 2 N Sebanyak 16,67 ml asam klorida pekat diencerkan dalam air suling hingga 100 ml (Depkes, 1979). Universitas Sumatera Utara 3.3.2 Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N Sebanyak 8,002 g natrium hidroksida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml (Depkes, 1979). 3.3.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1% Sebanyak 1 g besi (III) klorida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air hingga 100 ml (Depkes, 1989). 3.3.4 Pereaksi Bouchardat Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, dilarutkan dalam air suling secukupnya, kemudian sebanyak 2 g iodium dilarutkan dalam larutan kalium iodida, setelah larut dicukupkan volume dengan air suling hingga 100 ml (Depkes, 1995). 3.3.5 Pereaksi Dragendorff Sebanyak 0,85 g bismut (III) nitrat dilarutkan dalam 100 ml asam asetat glasial, lalu ditambahkan 40 ml air suling. Pada wadah lain dilarutkan 8 g kalium iodida dalam air suling, kemudian campurkan kedua larutan sama banyak, lalu ditambahkan 20 ml asam asetat glasial dan diencerkan dengan air suling hingga volume 100 ml (Zweig and Sherma, 1987). 3.3.6 Pereaksi Mayer Sebanyak 1,569 g raksa (II) klorida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling hingga 60 ml. Pada wadah lain ditimbang sebanyak 5 g kalium iodida Universitas Sumatera Utara lalu dilarutkan dalam 10 ml air suling. Kemudian keduanya dicampur dan ditambahkan air suling hingga 100 ml (Depkes, 1989). 3.3.7 Pereaksi Molish Sebanyak 3 g alfa naftol ditimbang, kemudian dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga 100 ml (Depkes, 1979). 3.3.8 Pereaksi Timbal (II) Asetat 0,4 N Sebanyak 15,17 g timbal (II) asetat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling bebas karbondioksida hingga 100 ml (Depkes, 1989). 3.3.9 Pereaksi Liebermann-Burchard Sebanyak 20 bagian asam asetat anhidrid dicampurkan dengan 1 bagian asam sulfat pekat (Harborne, 1987). 3.3.10 Pereaksi Kalium Hidroksida 10% Sebanyak 10 g kalium hidroksida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam etanol hingga 100 ml (Wagner, et al., 1984). 3.4 Pemeriksaan Makroskopik Umbi Bawang Sabrang Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan mengamati bentuk luar, warna, bau, rasa, ukuran dari umbi bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr). Universitas Sumatera Utara 3.5 Pemeriksaan Karakteristik Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Gambar Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus). Gambar 1. Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr). Gambar 2. Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus). Universitas Sumatera Utara Lampiran 3. Gambar Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Universitas Sumatera Utara Lampiran 4. Gambar Fragmen Pengenal Serbuk Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) 1 2 3 4 Keterangan : 1. Kristal Ca-oksalat jarum 2. Parenkim 3. Penebalan dinding sel xilem tangga (skalarifom) 4. Butir amilum Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Perhitungan Penetapan Kadar Air Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Volume akhir - volume awal % Kadar Air = No. Berat sampel (g) 1. 2. 3. 5,006 5,009 5,013 1. % Kadar = x 100% Berat sampel 1,85 ml – 1,45 ml Volume awal (ml) 1,45 1,85 2,25 Volume akhir (ml) 1,85 2,25 2,80 x 100% = 7,990% 5,006 g 2,25 ml –1,85 ml 2. % Kadar = 5,009 g x 100% = 7,986% 2,80 ml –2,25 ml 3. % Kadar = 5,013 g % Kadar Air Rata-rata = x 100% = 10,971% 7,990% + 7,986% + 10,971% 3 = 8,98% Universitas Sumatera Utara Lampiran 6. Perhitungan Penetapan Kadar Sari yang Larut dalam Air Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) % Kadar Sari yang Larut dalam Air Berat cawan sari - Berat cawan kosong = Berat sampel No. Berat sampel (g) 1. 2. 3. 5,001 5,000 5,007 1. % Kadar = Berat cawan kosong (g) 57,550 43,060 46,045 57,643 g - 57,550 g x 5,001 g 2. % Kadar = 43,123 g - 43,060 g x 20 x 100% Berat cawan sari (g) 57,643 43,123 43,123 x 100% = 9,298% 100 x 100% = 6,300% 20 43,123 g - 46,045 g 5,007 g 100 100 20 5,000 g 3. % Kadar = x 100 x 20 % Kadar Sari yang Larut dalam Air Rata-rata= x 100% = 8,488% 7,990% + 7,986% + 10,971% 3 = 8,03% Universitas Sumatera Utara Lampiran 7. Perhitungan Penetapan Kadar Sari yang Larut dalam Etanol Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) % Kadar Sari yang Larut dalam Etanol = Berat cawan sari - Berat cawan kosong No. 1. 2. 3. Berat sampel Berat sampel (g) 5,037 5,000 5,012 2. % Kadar = 5,037 g 47,577 g - 47,475 g 47,590 g - 47,505 g 5,012 g x 100% Berat cawan sari (g) 47,600 47,577 47,590 100 x xx 5,000 g 3. % Kadar = 20 Berat cawan kosong (g) 47,500 47,475 47,505 47,600 g - 47,500 g 1. % Kadar = 100 x x 100% = 9,927% 20 100 x 100% = 10,200% 20 100 x x 100% = 8,480% 20 % Kadar Sari yang Larut dalam Etanol Rata-rata= 9,927% + 10,200% + 8,480% 3 = 9,54% Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. Perhitungan Penetapan Kadar Abu Total Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Berat abu % Kadar Abu Total = No. 1. 2. 3. Berat sampel Berat sampel (g) 2,0016 2,0012 2,0015 x 100% Berat abu (g) 0,0859 0,0883 0,0906 0,0859 g 1. % Kadar = 2. % Kadar = 3. % Kadar = x 100% = 4,2916% 2,0016 g 0,0883 g x 100% = 4,4124% 2,0012 g 0,0906 g x 100% = 4,5266% 2,0015 g 4,2916%+ 4,4124%+ 4,5266% % Kadar Abu Total Rata-rata = 3 = 4,41% Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Perhitungan Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Berat abu % Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam = No. 1. 2. 3. Berat sampel (g) 2,0016 2,0012 2,0015 1. % Kadar = 0,0181 g Berat sampel x 100% Berat abu (g) 0,0181 0,0146 0,0175 x 100% = 0,9093% 2,0016 g 0,0146 g 2. % Kadar = 2,0016 g x 100% = 0,7296% 0,0175 g 3. % Kadar = 2,0016 g x 100% = 0,8743% 0,9093% + 0,7296% + 0,8743% % Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam Rata-rata = 3 = 0,84% Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Bagan Ekstraksi Serbuk Simplisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Serbuk simplisia - Pemeriksaan mikroskopik - PK Air - PK Sari yang Larut dalam Air - PK Sari yang Larut dalam Etanol - PK Abu - PK Abu yang Tidak Larut dalam Asam dimasukkan ke dalam wadah ditambahkan etanol 80% sampai serbuk terendam sempurna dibiarkan selama 120 jam terlindung dari cahaya, sambil sesekali diaduk disaring Skrining Fitokimia Maserat Ampas dimaserasi kembali selama 48 jam (diulangi hingga hampir tidak berwarna) disaring Maserat Ampas diuapkan dengan penguap vakum putar pada suhu 400C Ekstrak etanol dilarutkan dengan sedikit etanol 80% dimasukkan ke dalam corong pisah ditambahkan n-heksan dan air suling (2:1) v/v dikocok hati-hati didiamkan hingga terbentuk dua lapisan diambil lapisan atas Lapisan n-heksan diuapkan ditimbang beratnya Fraksi n-heksan Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Bagan Isolasi Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) dengan Kromatografi Kolom Fraksi n-heksan di-KLT - FD silika gel GF254 - FG n-heksan-etilasetat dengan berbagai perbandingan dikromatografi kolom - FD silika gel 60 - FG n-heksanetilasetat (7:3) Eluat Kromatogram di-KLT - FD silika gel GF254 - FG n-heksan- etilasetat (7:3) Fraksi F1 V1-2 F2 V3-7 F3 V8-15 F5 V12-19 Kristal F5 V20-29 F6 V30-34 F7 V35-50 F8 V51-59 Kristal dicuci dengan metanol di-KLT preparatif - FD silika gel GF254 - FG n-heksan-etilasetat (7:3) Isolat dicuci dengan metanol di-KLT preparatif - FD silika gel GF254 - FG n-heksan-etilasetat (7:3) Isolat diuji kemurnian dengan KLT satu arah dan dua arah diuji kemurnian dengan KLT satu arah dan dua arah Isolat murni Isolat murni dikarakterisasi dengan dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV dan IR spektrofotometri UV dan IR Spektrum Spektrum Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Kromatogram Analisa KLT Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Keterangan : Fase diam silika gel GF254, penampak bercak pereaksi LiebermannBurchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, A= sebelum disemprot, B= setelah disemprot, a= abu-abu, c= coklat, cm= coklat muda, ct= coklat tua, h= hijau, hl= hijau lemah, j= jingga, k= kuning, kj= kuning jingga, kl= kuning lemah, kt= kuning terang, mm= merah muda, u= ungu, ua= ungu keabu-abuan, ul = ungu lemah, um= ungu merah. Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Lanjutan Keterangan : Fase diam silika gel GF254, penampak bercak pereaksi LiebermannBurchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, A= sebelum disemprot, B= setelah disemprot, a= abu-abu, h= hijau, k= kuning, kj= kuning jingga, u= ungu. Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. Kromatogram Analisis KLT Eluat Kromatografi Kolom Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Keterangan : Fase diam silika gel GF254, fase gerak n- heksan-etilasetat (7:3), penampak bercak pereaksi Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, c= coklat, cm= coklat muda, hm=hijau muda, ht= hijau tua, u= ungu, ul = ungu lemah, mm= merah muda, um= ungu merah. Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. Kromatogram KLT Preparatif Isolat F7 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Keterangan : Fase diam silika gel GF254, fase gerak n- heksan-etilasetat (7:3), penyemprot pereaksi Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, A= bagian yang disemprot, B= bagian yang dikerok, u= ungu, fk= fluoresensi kuning. Universitas Sumatera Utara Lampiran 15. Kromatogram Uji Kemurnian Isolat F5 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Keterangan : Fase diam silika gel GF254, fase gerak A= toluene-etilasetat (7:3), B= n-heksan-etilasetat (7:3), C= kloroform-toluen (7:3), penyemprot pereaksi Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, um= ungu merah. Universitas Sumatera Utara Lampiran 15. Lanjutan Keterangan : Fase diam silika gel GF254, fase gerak I toluen-etilasetat (7:3), II kloroform-toluen (7:3), penyemprot pereaksi Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, um= ungu merah. Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Kromatogram Uji Kemurnian Isolat F7 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Keterangan : Fase diam silika gel GF254, fase gerak A= toluen-etilasetat (7:3), B= n-heksan-etilasetat (7:3), C= kloroform-toluen (7:3), penyemprot pereaksi Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, u= ungu. Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Lanjutan Keterangan : Fase diam silika gel GF254, fase gerak I toluen-etilasetat (7:3), II kloroform-toluen (7:3), penyemprot pereaksi Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, u= ungu. Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. Gambar Spektrum Ultraviolet Isolat F5 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Universitas Sumatera Utara Lampiran 18. Gambar Spektrum Ultraviolet Isolat F7 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Universitas Sumatera Utara Lampiran 19. Gambar Spektrum Inframerah Isolat F5 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Universitas Sumatera Utara Lampiran 20. Gambar Spektrum Inframerah Isolat F7 Fraksi n-heksan Umbi Bawang Sabrang (Eleutherinae bulbus) Universitas Sumatera Utara
Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr) Alat dan Bahan .1 Alat-alat yang Digunakan Pemeriksaan Makroskopik Umbi Bawang Sabrang .1 Pemeriksaan Makroskopik Pembuatan Ekstrak Ekstraksi Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr) Habitat Morfologi Tumbuhan Sistematika Tumbuhan Nama Daerah Kandungan Kimia Khasiat Hasil Analsisis Fraksi Etilasetat dengan cara Kromatografi Kertas KKt Hasil Pemisahan Senyawa Flavonoid dari Fraksi Etilasetat dengan cara KKt Preparatif Kesimpulan Identifikasi Senyawa Hasil Isolasi Hasil Identifikasi Tumbuhan Hasil Pemeriksaan Makroskopik dari Umbi Bawang Sabrang Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Isolasi Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Etanol Analisis Fraksi Etilasetat dengan Cara Kromatografi Kertas KKt Kromatografi Kertas Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr) Latar Belakang Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr) Pemeriksaan Flavonoid Pemeriksaan Glikosida Pemeriksaan Saponin Penafsiran spektrum ultraviolet untuk isolat F3 adalah sebagai berikut Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol Penetapan Kadar Abu Total Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N Pereaksi Bouchardat Pereaksi Dragendorff Pereaksi Mayer Pereaksi Molish Pereaksi Timbal II Asetat 0,4 N Pereaksi Liebermann-Burchard Pereaksi Kalium Hidroksida 10 Perumusan Masalah Hipotesis Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Flavonoid Spektrofotometri Ultraviolet Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr)

Gratis