Feedback

Pertumbuhan Bibit Rhizophora apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan

Informasi dokumen
PERTUMBUHAN BIBIT Rhizophora apiculata PADA BERBAGAI INTENSITAS NAUNGAN SKRIPSI Oleh: ERIKSONTUA SIMARMATA 071202014/BUDIDAYA HUTAN PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara PERTUMBUHAN BIBIT Rhizophora apiculata PADA BERBAGAI INTENSITAS NAUNGAN SKRIPSI Oleh: ERIKSONTUA SIMARMATA 071202014/BUDIDAYA HUTAN Skripsi sebagai satu diantara beberapa syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian : Pertumbuhan Bibit Rhizophora apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan Nama : Eriksontua Simarmata NIM : 071202014 Prodi : Kehutanan Disetujui oleh Komisi Pembimbing Dr. Ir. Yunasfi, M.Si Ketua Dr. Budi Utomo, SP. MP Anggota Mengetahui Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph. D Ketua Program Studi Kehutanan Universitas Sumatera Utara ABSTRACT ERIKSONTUA SIMARMATA. Seedling growth of Rhizophora apiculata In Various Shades Intensity by YUNASFI and BUDI UTOMO. R. apiculata is one of the tree that has strong roots and be able to withstand waves of the ocean currents. However, with the utilization of mangrove forests by communities around the forests into agricultural land, farms, settlements, so the presence of R. apiculata increasingly depleted. One effort made to rehabilitate degraded mangrove forests is to do the nursery seedlings R. apiculata with the provision of various intensities that will shade seedlings obtained the best growth. This study aims to determine the growth of seedlings R.apiculata good on a variety of shade intensity. The research was conducted in mangrove nursery sites located in the Village Sicanang, District Medan-Belawan, North Sumatra and in the Laboratory of Soil Biology, Program Study of Agroekoteknologi, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara. The experiment was conducted from the month of May until June 2011. The design of this study using Random Block Design (RBD) with 5 treatments, ie, without shade, shade intensity of 25%, 50% shade intensity, the intensity of the shade 75% and 100% intensity of shade. Each treatment was repeated as many as 10 to obtain 50 seeds of R. apiculata. The results showed the growth of seedlings of R. apiculata at various level of shelter provides a real effect on seedling height, total leaf area, leaf area to branch - II, root biomass, canopy biomass, canopy per-root ratio and percent survival but did not significantly affect stem diameter and number of leaves. The intensity of the best shade on the growth of R. Apiculata is a shade of 25% and 50%. Key words: Mangrove, Seedling of R. apiculata, Intensity of shade. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ERIKSONTUA SIMARMATA. Pertumbuhan Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan dibimbing oleh YUNASFI dan BUDI UTOMO. R. apiculata merupakan salah satu pohon yang memiliki perakaran yang kuat serta mampu menahan gelombang arus laut. Akan tetapi dengan adanya pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat sekitar hutan menjadi lahan pertanian, tambak, pemukiman, sehingga keberadaan R. apiculata semakin habis. Salah satu usaha yang dilakukan untuk merehabilitasi hutan mangrove yang terdegradasi adalah melakukan persemaian bibit R. apiculata dengan pemberian berbagai intensitas naungan yang nantinya diperoleh bibit yang paling baik pertumbuhannya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bibit R.apiculata yang baik pada berbagai intensitas naungan. Penelitian ini dilakukan di lokasi pembibitan mangrove yang bertempat di Desa Sicanang, Kecamatan Medan-Belawan, Sumatera Utara dan di Laboratorium Biologi Tanah, Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan dari bulan mei sampai bulan juni 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan, yaitu tanpa naungan, intensitas naungan 25%, intensitas naungan 50%, intensitas naungan 75% dan intensitas naungan 100%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 10 sehingga diperoleh 50 bibit R. apiculata. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan bibit R. apiculata pada berbagai intensitas naungan memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi bibit, luas daun total, luas daun cabang ke – II, biomassa akar, biomassa tajuk, rasio tajuk per akar dan persen hidup tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang dan jumlah daun. Intensitas naungan yang paling baik terhadap pertumbuhan R. Apiculata adalah intensitas naungan 25% dan intensitas naungan 50%. Kata kunci : Mangrove, Bibit R. apiculata, intensitas naungan. Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tiga Baru pada tanggal 05 September 1989 dari pasangan Bapak Jaganda Simarmata dan Ibu Raslin Sitohang. Penulis merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Penulis memulai pendidikan di SD Negeri 030329 Tiga Baru dan lulus tahun 2001 kemudian melanjutkan pendidikan di SLTP Swasta Santo Paulus Sidikalang dan lulus tahun 2004. Penulis melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 2 Sidikalang dan lulus Tahun 2007 dan pada tahun yang sama penulis diterima di Program Studi Budidaya Hutan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Selain mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Silva (HIMAS), asisten Praktikum Hidrologi Hutan pada tahun 2010 anggota Himpunan Mahasiswa Pegagan Hilir (IMAPEL). Penulis melaksanakan praktik pengenalan dan pengelolaan hutan (P3H) di hutan dataran rendah Aras Napal, Kabupaten Langkat Sumatera Utara dan di hutan mangrove Pulau Sembilan, Pangkalan Susu pada tanggal 8 sampai 19 Juni 2009. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Perum Perhutani Unit II KPH Banyuwangi Selatan dari tanggal 10 Januari sampai 10 Februari 2011 di Jawa Timur. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus karena dengan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Judul skripsi ini adalah “Pertumbuhan bibit Rhizophora apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan”. Penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing penulis Bapak Dr. Ir. Yunasfi, M.Si selaku ketua dan Dr. Budi Utomo, SP, MP selaku anggota. Serta kepada orang tua penulis yang telah memberi dukungan penulis baik moril maupun materil dan kepada semua temanteman yang telah membantu dalam pembuatan proposal penelitian ini. Akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang kehutanan. Medan, Juli 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRACT . i ABSTRAK . ii RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR TABEL . vii DAFTAR GAMBAR . viii DAFTAR LAMPIRAN . ix PENDAHULUAN . Latar Belakang . Tujuan Penelitian . Hipotesis Penelitian . Manfaat Penelitian . Kerangka Pemikiran . 1 1 4 4 4 5 TINJAUAN PUSTAKA . Defenisi Hutan Mangrove . . Bakau Minyak (R. apiculata BI). Teknik Silvikultur Bakau (Rhizophora sp.) . Kebutuhan Cahaya Untuk Tanaman. . 7 7 9 10 14 BAHAN DAN METODE . Waktu dan Tempat . Bahan dan Alat Penelitian . Metode Penelitian . Prosedur Penelitian . Penyiapan media tanam . Pemilihan Bibit . Penanaman di Polibag . Parameter Penelitian . Tinggi bibit . Diameter bibit . Jumlah Daun (helai) . Luas Permukaan Daun (cm2) . Bobot Kering Akar dan Bobot Kering Tajuk (g/m2). Rasio Bobot Kering Tajuk per Akar . Persentase Hidup (%). 18 18 18 18 19 19 20 20 20 20 20 21 21 21 21 22 HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil penelitian . Tinggi bibit . Diameter bibit . Jumlah daun (helai) . Luas permukaan daun (cm2) . Bobot kering akar (g/m2). 23 23 23 24 26 28 28 Universitas Sumatera Utara Bobot kering tajuk (g/m2). Rasio bobot kering tajuk per akar . Persentase hidup . Pembahasan . 29 30 31 31 KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan . Saran . 40 40 40 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No Teks 1. Pertumbuhan tinggi bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intensitas naungan . 23 Pertumbuhan diameter batang bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intenstitas naungan . 25 Pertambahan jumlah daun bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intensitas naungan . 26 Luas permukaan daun bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intensitas naungan . 28 Bobot kering akar bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intensitas naungan . 29 Bobot kering tajuk bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intensitas naungan . 30 Rasio bobot kering tajuk per akar bibit R. apiculata rata-rata pada berbagai intensitas naungan . 30 Persentase hidup bibit R. apiculata terhadap berbagai intensitas naungan . 31 Matrik pengaruh pemberian berbagai taraf intensitas naungan terhadap rataan terbesar setiap parameter penelitian . 38 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Halaman Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No Teks Halaman 1. Kerangka pemikiran . 6 2. Grafik pertambahan tinggi bibit R. apiculata dengan beberapa intensitas naungan umur 3 MST sampai 13 MST . 24 3. Grafik pertambahan diameter batang bibit R. apiculata dengan beberapa intensitas naungan umur 3 MST sampai 13 MST . 25 4. Grafik pertambahan jumlah daun bibit R. apiculata dengan beberapa intensitas naungan umur 3 MST dan 13 MST . 27 5. Kondisi bibit R. apiculata yang mati pada pemberian intensitas naungan 75% setelah pengamatan 13 MST . 39 6. Kondisi bibit R. apiculata yang mati pada pemberian intensitas naungan 100% setelah pengamatan 13 MST . 39 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Teks Halaman Analisis Rancangan Percobaan Tinggi (cm) Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 45 Analisis Rancangan Percobaan Diameter (cm) batang Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 46 Analisis Rancangan Percobaan Jumlah Daun bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 47 Analisis Rancangan Percobaan Luas Permukaan Daun Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 48 Analisis Rancangan Percobaan Bobot Kering Akar Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 49 Analisis Rancangan Percobaan Bobot Kering Tajuk Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 50 Analisis Rancangan Percobaan Rasio Bobot Kering Tajuk per Akar Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan. 51 Persentase hidup bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan . 52 Foto Lokasi dan Kondisi Penelitian Universitas Sumatera Utara ABSTRACT ERIKSONTUA SIMARMATA. Seedling growth of Rhizophora apiculata In Various Shades Intensity by YUNASFI and BUDI UTOMO. R. apiculata is one of the tree that has strong roots and be able to withstand waves of the ocean currents. However, with the utilization of mangrove forests by communities around the forests into agricultural land, farms, settlements, so the presence of R. apiculata increasingly depleted. One effort made to rehabilitate degraded mangrove forests is to do the nursery seedlings R. apiculata with the provision of various intensities that will shade seedlings obtained the best growth. This study aims to determine the growth of seedlings R.apiculata good on a variety of shade intensity. The research was conducted in mangrove nursery sites located in the Village Sicanang, District Medan-Belawan, North Sumatra and in the Laboratory of Soil Biology, Program Study of Agroekoteknologi, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara. The experiment was conducted from the month of May until June 2011. The design of this study using Random Block Design (RBD) with 5 treatments, ie, without shade, shade intensity of 25%, 50% shade intensity, the intensity of the shade 75% and 100% intensity of shade. Each treatment was repeated as many as 10 to obtain 50 seeds of R. apiculata. The results showed the growth of seedlings of R. apiculata at various level of shelter provides a real effect on seedling height, total leaf area, leaf area to branch - II, root biomass, canopy biomass, canopy per-root ratio and percent survival but did not significantly affect stem diameter and number of leaves. The intensity of the best shade on the growth of R. Apiculata is a shade of 25% and 50%. Key words: Mangrove, Seedling of R. apiculata, Intensity of shade. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ERIKSONTUA SIMARMATA. Pertumbuhan Bibit R. apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan dibimbing oleh YUNASFI dan BUDI UTOMO. R. apiculata merupakan salah satu pohon yang memiliki perakaran yang kuat serta mampu menahan gelombang arus laut. Akan tetapi dengan adanya pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat sekitar hutan menjadi lahan pertanian, tambak, pemukiman, sehingga keberadaan R. apiculata semakin habis. Salah satu usaha yang dilakukan untuk merehabilitasi hutan mangrove yang terdegradasi adalah melakukan persemaian bibit R. apiculata dengan pemberian berbagai intensitas naungan yang nantinya diperoleh bibit yang paling baik pertumbuhannya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bibit R.apiculata yang baik pada berbagai intensitas naungan. Penelitian ini dilakukan di lokasi pembibitan mangrove yang bertempat di Desa Sicanang, Kecamatan Medan-Belawan, Sumatera Utara dan di Laboratorium Biologi Tanah, Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan dari bulan mei sampai bulan juni 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas. Naungan berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan, evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku yang berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan mudah dalam intensitas Universitas Sumatera Utara cahaya yang tinggi tetapi beberapa spesies tidak (Suhardi dkk. 1995 dalam Irwanto 2006). Lama pemberian naungan dan lama naungan dibuka di persemaian sebelum ditanam untuk jenis R. mucronata 3 – 4 bulan dan 1 bulan naungan dibuka; R. apiculata 3 – 4 bulan dan 1 bulan; B. gymnorrhiza 2 – 3 bulan dan 1 bulan; C. tagal 3 – 4 bulan dan 3 – 4 bulan; S. alba 2 bulan dan 3- 4 bulan naungan dibuka; S. caseolaris 2 bulan dan 3- 4 bulan; A. marina 2 bulan dan 1 – 2 bulan; X. granatum 2 bulan dan 1 – 2 bulan (Taniguchi 1999 dalam Kusmana dkk. 2008). Pada fase bibit, semua jenis tanaman tidak tahan IC penuh, butuh 30-40%, diatasi dengan naungan. Naungan merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi intensitas cahaya yang terlalu tinggi. Naungan selain diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya yang sampai ke tanaman pokok, juga dimanfaatkan sebagai salah satu metode pengendalian gulma Di bawah penaung, bersih dari gulma terutama rumputan. Spesies toleran naungan : Aegiceras, Ceriops, Bruguiera, Osbornia, Xylocarpus, Excoecaria. Spesies intoleran naungan: Acrostichum, Acanthus, Aegialitis, Rhizophora, Lumnitzera, Sonneratia. Avicennia anakan intoleran naungan : Avicennia pohon toleran naungan. Morfologi jenis memberikan respons terhadap intensitas cahaya juga terhadap naungan. Naungan memberikan efek yang nyata terhadap luas daun. Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada jika berada di tempat terbuka. Jumlah luas daun menjadi penentu utama kecepatan pertumbuhan. Daun-daun yang memiliki luas permukaan lebih besar memiliki pertumbuhan yang lebih cepat pula (Marjenah 2001 dalam Irwanto 2006). Universitas Sumatera Utara Jumlah daun tanaman lebih banyak di tempat ternaung daripada di tempat terbuka. Jenis yang diteliti memberikan respons terhadap perbedaan intensitas cahaya. Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada tempat terbuka. Tanaman yang ditanam di tempat terbuka mempunyai daun yang lebih tebal daripada di tempat ternaung. Menurut Heddy (1996) dalam satu tanaman, daun yang terluar yang mendapat cahaya matahari penuh tumbuh lebih lebih kecil daripada daun yang sebelah dalam yang terlindung. Bila tumbuhan berada lama dalam cahaya yang lemah, ia akan mengalami etiolasi, yakni batangnya menjadi sangat panjang tanpa jaringan serabut penyokong yang cukup, daunnya keputih-putihan tanpa klorofil yang cukup. Namun apabila penyinaran yang berlebihan akan menimbulkan tumbuhan yang kerdil dengan perkembangan yang abnormal yang akhirnya berakhir dengan kematian. Cahaya merupakan satu dari faktor-faktor lingkungan terpenting karena perannya dari proses fotosintesis. Daun-daun musim panas yang tipis dan lebar dan daun musim semi yang lebih tebal, yang beradaptasi terhadap derajat cahaya yang lebih tinggi. Di bawah tekanan cahaya yang rendah terbuka tiga pilihan (Fitter dan Hay, 1991) : a. Pengurangan kecepatan respirasi, untuk menurunkan titik kompensasi (dimana pengikatan karbon untuk fotosintesis sama dengan kehilangan karena respirasi. b. Peningkatan luas daun, untuk memperoleh satu permukaan yang lebih besar bagi absorbsi cahaya. c. Peningkatan kecepatan fotosintesis setiap unit energi cahaya dan luas daun. Universitas Sumatera Utara Daun merupakan organ tanaman tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Besarnya cahaya yang tertangkap pada proses fotosintesis menunjukkan biomassa, sedangkan besarnya biomassa dalam jaringan tanaman mencerminkan bobot kering. Bila luas daun meningkat, asimilat yang dihasilkan akan lebih besar pula. Luas daun yang besar menyebabkan laju asimilasi bersih meningkat, sehingga laju pertumbuhan nisbi juga meningkat dan bobot kering tanaman meningkat pula. Laju pertumbuhan nisbi adalah peningkatan bobot kering tanaman dalam suatu interval waktu tertentu saja, bukan pertambahan bobot kering tanaman. Nilai laju pertumbuhan nisbi erat kaitannya dengan efisiensi penyerapan cahaya oleh daun, dalam hal ini luas daun dan laju asimilasi bersih akan mempengaruhi laju pertumbuhan nisbi. Luas daun meningkat dengan diimbangi laju asimilasi bersih yang tinggi, akan menghasilkan laju pertumbuhan nisbi yang tinggi pula (Tohari dkk. 2004). Menurut Salisbury (1992) dalam Zamroni dan Rohyani (2008) suhu dan kelembaban udara mempengaruhi jatuhan serasah tumbuhan. Naiknya suhu udara akan menyebabkan menurunnya kelembaban udara sehingga transpirasi akan meningkat, dan untuk menguranginya maka daun harus segera digugurkan. Menurut Triswanto (1997) dalam Zamroni dan Rohyani (2008) tumbuhan mangrove akan mengugurkan daun segarnya di bawah suhu optimum dan menghentikan produksi daun baru apabila suhu lingkungan di atas suhu optimum. Penelitian Hutchings dan Saenger (1987) dalam Zamroni dan Rohyani (2008) menunjukkan bahwa temperatur optimum untuk R. stylosa dan Ceriops spp. adalah 26-28 0C, dan Bruguera spp. adalah 27 0C. Suhu hutan mangrove Teluk Sepi yang diteliti di penelitian Zamroni dan Rohyani (2008) (27,8-31,7 0C) masih Universitas Sumatera Utara merupakan suhu yang optimum bagi famili Rhizophoraceae. Pendapat lain juga dikatakan oleh Muhamaze (2008) bahwa temperatur rata-rata untuk pertumbuhan mangrove maksimal 320C pada siang hari dan minimal 230C pada malam hari. Sedangkan salinitas antara 22-26 ppm. Hasil analisa pengukuran salinitas yang diperoleh cocok untuk pertumbuhan mangrove. Peningkatan luas daun pada dasarnya merupakan kemampuan tanaman dalam mengatasi cekaman naungan. Peningkatan luas daun merupakan upaya tanaman dalam mengefisiensikan penangkapan energi cahaya untuk fotosintesis secara normal pada kondisi intensitas cahaya rendah. Taiz dan Zeiger (1991) dalam Djukri dan Purwoko (2003) menyatakan daun tanaman toleran naungan memiliki struktur sel-sel palisade kecil dan ukurannya tidak jauh berbeda dengan sel-sel bunga karang, sehingga daun lebih tipis. Struktur tersebut lebih berongga dan akan menambah efisien dalam menangkap energi radiasi cahaya untuk proses fotosintesis. Pernyataan ini didukung oleh Djukri dan Purwoko (2003) secara genetik, tanaman yang toleran terhadap naungan mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Taiz dan Zeiger (1991) dalam Djukri dan Purwoko (2003) menyatakan distribusi spektrum cahaya matahari yang -2 -1 diterima oleh daun di permukaan tajuk (1900 umol m s ) lebih besar dibanding -2 -1 dengan daun di bawah naungan (17.7 umol m s ). Pada kondisi ternaungi cahaya yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis sangat sedikit. Naungan dapat mengurangi enzim fotosintetik yang berfungsi sebagai katalisator dalam fiksasi CO2 dan menurunkan titik kompensasi cahaya. Pemberian naungan akan mengurangi radiasi yang diterima tanaman dan mengakibatkan adanya perubahan-perubahan unsur-unsur iklim seperti suhu udara Universitas Sumatera Utara dan kelembaban udara di sekitar daerah pertanaman (Widiastoety dan Bahar, 1995). Khusus untuk Jakarta, menurut penelitian Widiastoety dan Bahar (1995), penggunaan naungan yang akan memberikan intensitas cahaya sebesar 75%, 65% dan 55% sama baiknya bagi pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun serta pertambahan/pembentukan tunas anakan anggrek Dendrobium. Hanya parameter lebar daun yang memberikan respons yang berbeda pada ketiga jenis naungan tersebut, yaitu semakin tinggi intensitas cahaya yang diterima maka semakin kecil lebar daun tanaman anggrek Dendrobium. Menurut Hanafi dkk (2005) meskipun adanya taraf naungan yang berbeda, cahaya matahari masih dapat menyinari tanaman karena cahaya matahari mempunyai panjang gelombang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan tanaman untuk fotosintesis. Proses fotosintetik, klorofil hanya menangkap sinar merah dan sinar biru-violet saja yang dibagi menjadi dua sistem, fotosintesis I yang diaktifkan oleh cahaya merah jauh (680-700 nm) dan fotosintesis II diaktifkan oleh cahaya merah (650 nm). Universitas Sumatera Utara BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari Maret – Juni 2011 di Pembibitan Desa Sicanang, Kecamatan Medan Belawan. Kegiatan pengovenan bibit (daun, batang, cabang, dan akar) dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Hutan, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah propagul R. mucronata Lamk ukuran ≥ 60 cm, polibag 10 cm x 30 cm, tanah lumpur di sekitar lokasi pembibitan, amplop cokelat, label, plastik kaca. .483 Within Groups Total 4513259.500 4706906.580 45 100294.656 49 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Sig. .748 Tabel 62. Tabel uji DMRT taraf 5% jumlah akar primer SPSS 17 Subset for alpha = 0.05 Naungan N 1 50 10 966.70 0 10 988.90 100 10 1003.50 25 10 1033.00 75 10 1144.00 Sig. .273 Perlakuan Ulangan ∑ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0% 1,52 2,11 1,97 2,02 1,73 1,84 4,61 1,38 2,21 1,40 20,79 25% 1,82 1,98 1,86 1,94 2,06 1,33 1,33 1,69 1,28 1,28 16,57 50% 1,22 1,38 2,33 1,32 1,21 1,14 1,42 1,36 1,41 1,55 14,34 75% 1,05 1,30 1,18 1,21 1,09 1,23 1,32 1,43 1,15 1,04 12 100% 1,38 1,26 1,42 1,88 2,51 2,02 1,59 1,61 1,24 1,38 16,29 ∑ 6,99 8,03 8,76 8,37 8,6 7,56 10,27 7,47 7,29 6,65 79,99 Tabel 63. Panjang akar primer Tabel 64. Tabel ANOVA panjang akar primer SPSS 17 108 Universitas Sumatera Utara Between Groups Within Groups Total Sum of Squares 4.277 11.481 15.758 df Mean Square 4 1.069 45 .255 49 F 4.191 Sig. .006 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Perlakuan 0% 25% 50% 75% 100% ∑ 1 1105 400 228 68 0 1801 2 995 388 1662 585 0 3630 3 1434 871 45 257 43 2650 4 475 225 766 408 519 2393 Ulangan 56 1552 751 543 821 762 1045 158 121 400 0 3415 2738 7 1247 775 480 310 32 2844 8 401 697 441 0 186 1725 9 1402 1353 547 0 0 3302 10 890 699 1103 0 176 2868 ∑ 10252 6772 7079 1907 1356 27366 Tabel 65. Tabel uji DMRT taraf 5% panjang akar primer SPSS 17 Naunga n 75 Subset for alpha = 0.05 N1 2 10 1.2000 50 10 1.4150 100 10 1.6290 1.6290 25 10 1.6570 1.6570 0 10 2.0790 Sig. .070 .065 Tabel 66. Jumlah akar sekunder Tabel 67. Tabel ANOVA jumlah akar sekunder SPSS 17 Sum of Squares df Mean Square F Between Groups 5677152.280 4 1419288.070 12.754 Within Groups 5007732.600 45 111282.947 Total 1.068E7 49 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Tabel 68. Tabel uji DMRT taraf 5% jumlah akar primer SPSS 17 Naunga n N Subset for alpha = 0.05 123 100 10 135.60 75 10 190.70 Sig. .000 109 Universitas Sumatera Utara 25 10 677.20 50 10 707.90 0 10 1025.20 Sig. .714 .838 1.000 Tabel 69. Biomassa akar Tabel 70. Tabel ANOVA biomassa akar SPSS 17 Sum of Squares df Mean Square F Between Groups 7327.967 4 1831.992 1.754 Within Groups 46996.667 45 1044.370 Total 54324.633 49 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Sig. .155 Tabel 71. Tabel uji DMRT taraf 5% biomassa akar SPSS 17 Naunga n N Subset for alpha = 0.05 12 Perlakua n 0% 25% 50% 75% 100% ∑ 75 50 0 100 25 Sig. 1 193,3 5 182,6 6 182,2 0 245,0 1 98,99 902,2 1 2 210,21 227,53 219,26 138,03 230,92 1025,9 5 10 10 10 10 10 3 222,2 4 161,1 8 313,7 9 176,3 2 896,0 7 1769, 6 4 171,67 142,57 261,31 197,56 274,62 1047,7 3 Ulangan 56 168,80 114,28 238,92 209,32 206,87 248,47 257,71 162,55 161,37 1033,6 7 296,71 1031,3 3 9.78610 10.77770 10.77770 11.66490 11.66490 12.66490 12.66490 13.09110 .074 .151 7 262,1 1 186,4 8 107,7 0 233,7 5 179,5 2 969,5 6 8 122,6 1 144,3 3 164,3 7 213,1 8 248,7 8 893,2 7 9 339,77 273,86 187,23 269,42 337,20 1407,4 8 10 89,50 255,9 9 100,9 7 167,1 5 278,4 1 892,0 2 ∑ 1894,54 2022,84 1992,17 2060,68 3002,59 10972,8 2 Tabel 72. Luas Permukaan akar Tabel 73. Tabel ANOVA luas permukaan akar SPSS 17 BPeertlwakeueann Groups 1 Wit0h%in Group1,s01 To2ta5l% 1,02 50% 0,78 75% 0,88 100% 0,27 ∑ 3,96 Sum of Squares 83114.342 234 1,20 5616,45003.2110,11 1,54 6419,06717.5501,90 0,96 1,89 1,20 0,86 0,99 0,95 1,19 1,44 1,37 5,77 6,79 5,53 df Mean Square F Ula4ngan 20778.585 5678 1,5645 1,02 12508,988.9600,86 2,0449 1,24 1,28 1,32 1.651 9 1,38 1,78 1,17 1,06 1,02 0,85 0,88 1,26 0,79 0,87 0,72 1,53 1,56 1,50 1,11 1,44 1,77 7,59 5,61 5,25 5,19 7,34 Sig. .178 ∑ 10 1,14 11,66 0,90 13,09 0,97 10,78 0,95 9,79 1,01 12,66 4,97 57,98 110 Universitas Sumatera Utara Perlakua n 0% 25% 50% 75% 100% ∑ 1 153,83 131,6 171,17 758,85 75,51 1290,9 6 2 167,2 5 143,6 5 148,9 8 121,6 8 224,1 2 805,6 8 3 150,9 8 117,0 5 228,5 6 139,6 4 193,0 4 829,2 7 4 139,3 2 126,7 2 1998 0 141,0 6 140,8 5 747,7 5 Ulangan 56 103,2 92,43 4 144,1 158,8 23 152,0 248,0 65 203,3 111,6 30 97,92 189,3 1 700,6 800,2 72 7 150,6 0 172,1 5 79,79 162,3 6 191,1 6 756,0 6 8 108,4 8 104,9 3 130,6 7 181,7 5 166,2 5 692,0 8 9 188,8 0 190,6 7 117,4 8 171,1 1 231,3 2 899,3 8 10 79,36 189,0 5 75,89 120,4 4 184,2 5 648,9 9 ∑ 1334,2 9 1478,7 7 1552,4 5 2111,8 2 1693,7 3 8171,0 6 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Tabel 74. Tabel uji DMRT taraf 5% luas permukaan akar SPSS 17 Subset for alpha Naunga = 0.05 nN 1 0 10 189.5040 50 10 199.2170 25 10 202.2840 75 10 206.0680 100 10 300.2680 Sig. .053 Tabel 75. Kerapatan panjang akar Tabel 76. Tabel ANOVA kerapatan panjang akar SPSS 17 Sum of Squares df Mean Square F Between Groups Within Groups Total 7547.907 90713.255 98261.162 4 1886.977 .936 45 2015.850 49 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Sig. .452 Tabel 77. Tabel uji DMRT taraf 5% kerapatan panjang akar SPSS 17 Subset for alpha Naunga = 0.05 nN 1 0 10 133.4290 111 Universitas Sumatera Utara 25 10 147.8770 50 10 155.2450 75 10 161.1820 100 10 169.5710 Sig. .115 Tabel 78. Dimeter bibit Tabel 79. Tabel ANOVA dimeter bibit SPSS 17 Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups WPeirtlhaiknuaGnrou1ps T0%otal 14 25% 15,1 50% 23,5 75% 6,7 100% 8,6 ∑ 67,9 2 8,9 13,6 20,3 9,7 12,6 65,1 .105 3 .1540 9,2 .2595,7 15,7 13,9 19,9 17,5 15,9 9,2 17,7 8,7 78,4 59 4 5 U4la5ng6an 9,9 49 10,5 12,8 18,3 19,2 12,3 12,2 17,2 10,9 19,8 65 78,1 .026 7.839 7 .0038 7,7 8,7 12,4 10,7 19,9 16 11,8 15 11,2 11,5 63 61,9 9 7,7 10,8 20,2 16 12,9 67,6 .000 ∑ 10 7,3 93,6 18,6 141,9 22,9 191,7 16,1 129,8 15,1 129 80 686 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Tabel 80. Tabel uji DMRT taraf 5% diameter bibit SPSS 17 Naunga n N Subset for alpha = 0.05 123 0 10 .5040 100 10 .5330 .5330 75 10 .5810 .5810 25 10 .6070 50 10 .6270 Perlakuan 0% 25% 50% 75% 100% ∑ Sig. 1 0,41 0,64 0,66 0,51 0,65 2,87 2 0,55 0,52 0,65 0,6 0,51 2,83 3 0,53 0,6 0,6 0,51 0,5 2,74 .268 Ulangan 4567 0,41 0,51 0,55 0,54 0,65 0,64 0,63 0,65 0,65 0,56 0,6 0,61 0,6 0,6 0,54 0,52 0,52 0,63 0,6 0,53 2,83 2,94 2,92 2,85 .070 .099 8 0,6 0,62 0,63 0,67 0,5 3,02 9 0,52 0,51 0,65 0,65 0,45 2,78 10 0,42 0,61 0,66 0,61 0,44 2,74 ∑ 5,04 6,07 6,27 5,81 5,33 28,52 Tabel 81. Tinggi bibit Tabel 82. Tabel ANOVA tinggi bibit SPSS 17 Sum of Squares Df Mean Square F Between Groups 501.530 4 125.382 12.977 Within Groups 434.770 45 9.662 Total 936.300 49 Keterangan : Probabilitas > 0.05 = Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan Sig. .000 112 Universitas Sumatera Utara Probabilitas < 0.05 = Terdapat perbedaan pertumbuhan Tabel 83. Tabel uji DMRT taraf 5% tinggi bibit SPSS 17 Naunga n N Subset for alpha = 0.05 123 0 10 9.3600 100 10 12.9000 75 10 12.9800 25 10 14.1900 50 10 19.1700 Sig. 1.000 .388 1.000 113 Universitas Sumatera Utara (a) (b) (c) (d) (e) (g) (h) 114 Universitas Sumatera Utara (i) 115 Universitas Sumatera Utara (q) Keterangan Gambar : (a) Pemilihan lokasi pembibitan (b) Pembuatan media (c) Pembuatan naungan (d) Pembibitan yang sudah siap (e) Pengukuran dan penandaan diameter dan panjang bibit (f) Bibit R.mucronata pada naungan 25% (g) Bibit R.mucronata pada intensitas 0% (h) Pemanenan bibit (i) Akar bibit R.mucronata pada intensitas 0% (j) Akar bibit R.mucronata pada intensitas 25% (k) Akar bibit R.mucronata pada intensitas 50% (l) Akar bibit R.mucronata pada intensitas 75% (m) Akar bibit R.mucronata pada intensitas 100% (n) Penghitungan jumlah akar (o) Pengukuran diameter akar utama (p) Pengukuran panjang akar ke tali (q) Pengukuran tali ke mistar 116 Universitas Sumatera Utara
Pertumbuhan Bibit Rhizophora apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pertumbuhan Bibit Rhizophora apiculata Pada Berbagai Intensitas Naungan

Gratis