Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003

 2  46  89  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN PTP

PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN PTPNUSANTARA II DENGAN SERIKAT PEKERJA DITINJAU DARI UU No : 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN SKRIPSIDiajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Dalam MencapaiGelar Sarjana Hukum Oleh :Ayu Kusuma Ning Dewi 060200283Program Kekhususan Perdata BW FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN2010 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN SKRIPSIDiajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Dalam MencapaiGelar Sarjana Hukum Oleh :Ayu Kusuma Ning Dewi 060200283Disetujui Oleh : Ketua Program Kekhususan Perdata BW(Prof.Dr.H.Tan Kamello,SH.MS) NIP . 1962204211988031004Pembimbing I Pembimbing II (Prof.Dr.H.Tan Kamello,SH.MS) (Rosnidar Sembiring,SH.M.Hum)NIP . 1962204211988031004 NIP.196602021991032002 KATA PENGANTARDengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat mengikuti perkuliahan dan dapat menyelesaikan penulisan skripsiini. Skripsi in disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara, dimana hal tersebutmerupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan perkuliahannya. Adapun judul skripsi yang ingin penulis kemukakan “Perjanjian KerjaBersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja DitinjauDari UU No.13 Tahun 2003”. Penulis telah mencurahkan segenap hati, pikiran dan kerja keras dalam penyusuna skripsi ini. Namun penulis menyadari bahwadidalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangannya, baik isi maupun kalimatnya. Oleh sebab itu skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Di dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH.M.Hum., selaku Dekan FakultasHukum Universitas Sumatera Utara; 2. Bapak Prof. Dr. H. Tan Kamello,SH.MS., selaku Ketua ProgramKekhususan Perdata BW di Fakultas Hukum Universitas SumateraUtara yang juga Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberi 3. Ibu Rosnidar Sembiring,SH.M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberi bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepadapenulis saat penulisan skripsi ini; 4. Seluruh Dosen dan Staff pengajar di Fakultas Hukum UniversitasSumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 5. Teristimewa untuk kedua Orangtua, Papaku Budhi Prasetio danMamaku Endah Sri Wardhani, terimakasih atas segala perhatian, dukungan dan doa yang diberikan kepada penulis sehingga dapatmenyelesaikan skripsi ini; 6. Adik-adikku tersayang Putri Dwiastuti dan Adhitia Prathama Nugraha yang selalu menyemangati penulis untuk segera menyelesaikan skripsiini. 7. Teman-teman seperjuangan di Fakultas Hukum : Ian Keizer, JuliaFranciska, Vendrista Yulia, Tio Wibowo, Samuel Valentino, Fahruzan,Dino Prabowo, Faisal, Eko August yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulismengharapkan saran dan kritik yang membangun dan menyempurnakan skripsi ini. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Medan, Maret 2010Ayu Kusuma Ning Dewi DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ....................................................................................... i DAFTAR ISI ....................................................................................................... ivABSTRAK............................................................................................................ vi Bab I PENDAHULUAN ....................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................... 1 B. Permasalahan ............................................................................ 7 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ................................................. 9 D. Keaslian Penulisan .................................................................. 10 E. Tinjauan Kepustakaan............................................................... 11 F. Metode Penulisan ..................................................................... 14 G. Sistematika Penulisan .............................................................. 15 Bab II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJA BERSAMA .......................................................................................... 17 A. Pengertian perjanjian kerja bersama ....................................... 17 B. Syarat-syarat pembuatan perjanjian kerja bersama ................ 22 C. Manfaat dibentuknya perjanjian kerja bersama ...................... 28 Bab III TINJAUAN HUKUM POSITIF MENGENAI SERIKAT PEKERJA .................................................................................. 33 A. Pengertian dan tujuan pembentukan serikat pekerja .......... 33 B. Tata cara pembentukan serikat pekerja .............................. 39 C. Fungsi serikat pekerja beserta hak dan kewajibannya ........ 42 D. Perlindungan terhadap serikat pekerja ................................ 47 Bab IV PELAKSANAAN PEMBUATAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA di PTP.NUSANTARA II ..................................... 48 A. Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama Periode 2010-2011 di PTP Nusantara II .............................................. 48 B. Kesepakatan & Perubahan dari Perjanjian Kerja BersamaPTP.Nusantara II Periode 2010-2011 .................................... 60 C. Perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundinganPerjanjian Kerja Bersama pada PTP.Nusantara II ................. 70 D. Penyelesaian perselisihan & perubahan Perjanjian KerjaBersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011 ditinjau dari UUNo.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan ........................ 74 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 76 A. Kesimpulan ............................................................................. 76 B. Saran ........................................................................................ 78 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 79 ABSTRAK Penulisan skripsi ini dilatar-belakangi oleh ketertarikan penulis tentangPerjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan SerikatPekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003. Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah Bagaimanakah pelaksanaan perundingan PerjanjianKerja Bersama, Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi, Perselisihan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama,Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan(Library Research) dan penelitian lapangan. Dilakukan dengan penelusuran bahan hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalahberupa bahan hukum yang terdiri dari Undang-undang Nomot 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan yang dianggapmenunjang penulisan skripsi ini. Bahan sekunder yang diteliti adalah berupa karya ilmiah seperti bahan pustaka, jurnal-jurnal tahunan, buku-buku dan sebagainya. Setelah dilakukan pembahasan maka kemudian diketahui, bahwaPelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.PerkebunanNusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingat Undang-undang No.21 Tahun 2000 dan Undang-undang No.13 Tahun 2003 serta KEP-48/Men/IV/2004, lalupihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal iniPT.Perkebunan Nusantara II atas pengajuan perubahan perubahan pasal-pasal perjanjian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkankesejahteraan karyawan. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakanpertemuan informal yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah redaksional dan hal-hal umum dimana hal ini di dasari pertimbangan untukmempermudah waktu jalannya perundingan yang berakibat pada efisiensi biaya dalam pelaksanaan perundingan. Tahap jalannya perundingan Perjanjian KerjaBersama (PKB) 2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP-48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannya perundingan dan memintakepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. Pelaksanaan perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh timperunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim PerundingSerikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah di koordinasikan ke pihakpetugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun perundingan ini untuk mencapai mufakat dan tidak menimbulkan keributan danperselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan. ABSTRAK Penulisan skripsi ini dilatar-belakangi oleh ketertarikan penulis tentangPerjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan SerikatPekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003. Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah Bagaimanakah pelaksanaan perundingan PerjanjianKerja Bersama, Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi, Perselisihan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama,Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan(Library Research) dan penelitian lapangan. Dilakukan dengan penelusuran bahan hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalahberupa bahan hukum yang terdiri dari Undang-undang Nomot 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan yang dianggapmenunjang penulisan skripsi ini. Bahan sekunder yang diteliti adalah berupa karya ilmiah seperti bahan pustaka, jurnal-jurnal tahunan, buku-buku dan sebagainya. Setelah dilakukan pembahasan maka kemudian diketahui, bahwaPelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.PerkebunanNusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingat Undang-undang No.21 Tahun 2000 dan Undang-undang No.13 Tahun 2003 serta KEP-48/Men/IV/2004, lalupihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal iniPT.Perkebunan Nusantara II atas pengajuan perubahan perubahan pasal-pasal perjanjian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkankesejahteraan karyawan. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakanpertemuan informal yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah redaksional dan hal-hal umum dimana hal ini di dasari pertimbangan untukmempermudah waktu jalannya perundingan yang berakibat pada efisiensi biaya dalam pelaksanaan perundingan. Tahap jalannya perundingan Perjanjian KerjaBersama (PKB) 2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP-48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannya perundingan dan memintakepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. Pelaksanaan perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh timperunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim PerundingSerikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah di koordinasikan ke pihakpetugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun perundingan ini untuk mencapai mufakat dan tidak menimbulkan keributan danperselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada masa sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kita untuk membuka diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan dan perkembangan yang terjadi begitu pesat juga melanda dunia usaha yang menuntut tenaga kerja yang berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi nusa danbangsa. Tenaga kerja yang demikian diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan citra dari suatu instansi dalam melakukan pelayanan terhadapmasyarakat, hal ini menyangkut banyak hal tentang ketenagakerjaan. Peran serta tenaga kerja sangat diperlukan dalam pembangunan ketenagakerjaan guna meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peran sertanyadalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat. Perlindungan terhadap tenaga kerjadimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar dari para pekerja atau buruh dan juga untuk menjamin kesamaan kesempatan serta penempatan tanpa adanyadiskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja atau buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuandunia usaha. Ketenagakerjaan ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan tenaga kerja waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Didalam peraturanketenagakerjaan diatur perlindungan terhadap para tenaga kerja yang Hubungan Industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku proses produksi barang dan atau jasa (terdiri dari unsur pengusaha ,pekerja , dan pemerintah) didasarkan pada nilai nilai yang terkandung didalam sila-sila Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945. Dalam Implementasi kepribadian bangsa dikenal dengan azas kekeluargaan dan gotong royong serta asas musyawarah untuk mufakat , dimana manisfestasihubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha diperusahaan adalah kerjasama dalam proses produksi dalam menikmati hasil dan tanggung jawab untukmempertahankan kelangsungan usaha dan perkembangan perusahaan yang juga bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Seiring dengan berkembangnya alam demokrasi, dewasa ini dinamika hubungan industrial mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas dari waktu kewaktu karena pekerja dan pengusaha yang memmiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda. Fakta perburuhan di Indonesia adalah tidak seimbangnya jumlah tenaga kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Ditambah lagi sebagian besar tenagakerja kita adalah unskill labour. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi penganggguran dengan menyediakan lapangan kerja. 1 birokrasi perizinan yang masih berbelit, etos kerja yang rendah. Di sisi lain justru saat ini ada kecenderungan beralihnya tenaga trampil dan berkeahlian untuk bekerja ke luar negeri. Bukan hanya faktor tingginyapenghasilan yang mendorong mereka. Kondisi politik dan suasana kerja yang memberi penghargaan pada kompetensi inilah yang menyebabkan terjadinyamigrasi pekerja berkualitas ke luar negeri. Politk hukum nasional belum sepenuhnya dirumuskan sesuai nilai-nilai moral dan kultural masyarakat kita, 2 sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menjamin adanya kepastian hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaaha yang memiliki kepentingan dan tujuan berbeda dalam hubungankerja, maka diperlukan satu rumusan sebagai pedoman pengaturan hak & kewajiban antara pekerja dan pengusaha dalam bentuk pembuatan PerjanjianKerja Bersama. Mendudukkan peraturan tentang ketenagakerjaan yang dibuat sebagai1 pedoman pelaksanaan hubungan industrial antara hak dan kewajiban baik dari Samhadi, Sri Hartati, ”Etos kerja Indonesia terburuk di Asia ? http://training-ethos.blogspot2 .com/2007_ 12_05 _archive .html, di up date tanggal 21 Desember 2007. Seran, Alexander, Moral Politik Hukum, Obor, Jakarta, 1999. Suatu aturan hukum yang baik apabila memenuhi delapan kriteria, yaitu berlaku secara umum, diumumkan, tidak berlaku surut, disusun dalam rumusanyang dapat dimengerti, tidak saling bertentangan, dapat dilakukan secara wajar, tidak mudah berubah, ada kecocokan antara aturan dan pelaksanaannya. Delapan kriteria di atas merupakan suatu prinsip hukum. Salah satu prinsip yang belum diterapkan dalam pembentukan PKB adalah adanya aturan hukumyang tidak saling bertentangan. Di bidang perburuhan, tampaknya politik perburuhan lebih berpihak kepada pengusaha. Banyak kemudahan yang diberikanuntuk mendorong terciptanya iklim investasi. Dengan diundangkannya UU No: 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja /Serikat Buruh dan UU No: 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pembuatan Perjanjian KerjaBersama baik dari sisi tata cara atau prosedur maupun pola pikir pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama. Perubahan atas terbitnya UU No: 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja dan UU No: 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah membuat dampak PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) yang berkedudukan di TanjungMorawa Medan ini merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor pertanian sub sektor perkebunan yang diusahai dengankomoditi kelapa sawit, kakao, tembakau, karet dan tebu. PT. Perkebunan Nusantara II ditetapkan berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1996 yang merupakan penggabungan dari PT. Perkebunan Nusantara II wilayahSumatera Utara dan Irian Jaya dengan PT. Perkebunan Nusantara IX di wilayah Sumatera Utara. Sebelumnya PT. Perkebunan Nusantara II yang ditetapkan berdasarkan PPNomor 28 Tahun 1975 memiliki areal perkebunan yang berada di wilayahPropinsi Riau, Sumatera Utara dan Irian Jaya, sedangkan PT. PerkebunanNusantara IX yang ditetapkan berdasarkan PP Nomor 44 Tahun 1973 memiliki areal perkebunan yang berada di wilayah Propinsi Sumatera Utara dan Aceh. Setelah dilakukan peleburan sebagaimana yang dimaksud dalam PP Nomor 7 Tahun 1996 maka PT. Perkebunan Nusantara II dan PT. Perkebunan Nusantara IX dinyatakan bubar dengan ketentuan segala kewajiban dan kekayaan serta karyawan Persero tersebut diatas beralih kepada PT. Perkebunan Nusantara II. Kemudian didirikannya PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) dengan akte pendirian Nomor 35 Tanggal 11 Maret 1996 yang dibuat dihadapan HarunKamil,SH yang merupakan Notaris di Jakarta dan telah mendapat pengesahan dariMenteri Kehakiman Republik Indonesia, sesuai dengan Keputusan Menteri PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) pada awalnya memiliki 1 (satu)Serikat Pekerja/Serikat Buruh namun setelah keluarnya Undang-undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja, PT. Perkebunan Nusantara II memiliki 3(tiga) Serikat Pekerja/Serikat Buruh yaitu Serikat Pekerja Perkebunan ( Sp-Bun ) ,Serikat Pekerja Merdeka ( SPM ) dan Serikat Karyawan ( Sekar ). Tetapi pada saat sekarang ini PT. Perkebunan Nusantara II mempunyai 2 (dua) serikatPekerja/Serikat Buruh saja, yaitu Serikat Pekerja Perkebunan ( Sp-Bun ) dan Serikat Pekerja Merdeka (SPM). PT. Perkebunan Nusantara II pada saat sekarang ini mengalami kondisi yang kurang menggembirakan apabila dibandingkan dengan PT. PerkebunanNusantara lainnya, hal ini dikarenakan oleh : 1. Areal produksi di garap oleh orang yang tidak bertanggung jawab 2. Usia pokok produksi sudah tidak maksimal 3. Beban hak pekerja setiap tahunnya meningkat 4. Pemberian hak pekerja sudah melebihi yang diatur dengan undang- undang namun komposisinya tidak pas dengan undang-undang,sehingga hal ini menimbulkan persepsi yang berbeda oleh serikat pekerja dan menjadi potensi perselisihan hubungan industrial. Berdasarkan hal-hal tersebut mendorong penulis selaku mahasiswa FakultasHukum Universitas Sumatera Utara untuk meneliti dan menulis skripsi dengan judul “Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003” B. PERMASALAHANDidalam Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan diatur tentang syarat-syarat kerja, perlindungan upah, jaminan sosial tenaga kerja,perlindungan tenaga kerja yang bermuara kepada hak dan kewajiban pekerja dan perusahaan namun pengaturan hak dan kewajiban tersebut tidak dapatdilaksanakan sepenuhnya di PTP Nusantara II dikarenakan oleh beberapa ketentuan pembayaran tentang hak sudah melebihi dari undang-undang namunkomposisinya tidak sebagaimana undang-undang. Sehingga perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manajemen PTP Nusantara II ditanggapi dengan perspektif Didasari UU No : 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja , di PTPNusantara II telah terbentuk 2 (dua) Serikat Pekerja yakni : Serikat PekerjaPerkebunan ( Sp-Bun ) dan Serikat Pekerja Merdeka ( SPM ) maka hal ini memberikan nuansa baru dalam proses pelaksanaan perundingan Perjanjian KerjaBersama periode 2010 – 2011 dan berdampak kepada tata cara perundingannya yakni : 1. Bagaimanakah pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama2010-2011 pada PT.Perkebunan Nusantara II ? 2. Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi dalam PerjanjianKerja Bersama PT.Perkebunan Nusantara II Periode 2010-2011 ? 3. Perselisihan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundinganPerjanjian Kerja Bersama 2010-2011 pada PT.Perkebunan Nusantara II ? 4. Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama periode 2010-2011 di PT.Perkebunan Nusantara II bila ditinjau dari UU No. 13Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan ? 1. Tujuan PenulisanUntuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan di atas, adapun yang menjadi tujuan dari penelitian dan penulisan ini adalah :a. Untuk mengetahui pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama 2010-2011 pada PT.Perkebunan Nusantara II. b. Untuk mengetahui kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi dalam Perjanjian Kerja Bersama PT.Perkebunan Nusantara IIPeriode 2010-2011. c. Untuk mengetahui perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama 2010-2011 padaPT.Perkebunan Nusantara II. d. Untuk mengetahui penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama periode 2010-2011 di PT.Perkebunan Nusantara II bila ditinjau dari UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 2. Manfaat PenulisanBerdasarkan permasalahan-permasalahan diatas, maka diharapkan penelitian ini akan dapat bermanfaat sebagai berikut : b. Secara Teoritis, bahwa penelitian ini adalah merupakan sumbangsih penulis kepada ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Hukum Perdata. c. Secara Praktis, bahwa penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan serta informasi kepada Mahasiswa Hukum khususnya danmasyarakat, bangsa dan negara dalam pembangunan. D. KEASLIAN PENULISAN “Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara IIDengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003” yang diangkat menjadi judul skripsi ini merupakan hasil karya yang ditulis secara objektif, ilmiah, melalui pemikiran, referensi dari buku-buku, bantuan dari narasumber danpihak-pihak lain. Skripsi ini juga bukan merupakan jiplakan atau merupakan judul yang sudah pernah diangkat sebelumnya dalam suatu penulisan skripsi oleh oranglain. E. TINJAUAN KEPUSTAKAAN Perjanjian kerja yang dalam bahasa Belanda biasa disebut Arbeidsovereenkoms, dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Pengertian yang pertama disebutkan dalam ketentuan pasal 1601a KUH Perdata, mengenai perjanjian kerja disebutkan bahwa : “Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu si buruh, mengikatkan dirinya untuk di bawah perintahnya pihak yang lain, si majikan 3 untuk suatu waktu tertentu, melakukan pekerjaan dengan menerima upah.”Selain itu pengertian mengenai Perjanjian Kerja juga di kemukakan oleh seorang pakar Hukum Perburuhan Indonesia yaitu Bapak Prof.R.Iman Soepomo,S.H. yang menerangkan bahwa perihal pengertian tentang Perjanjian Kerja, beliau mengemukakan bahwa : “Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak kesatu, buruh, mengikatkan diri untuk bekerja dengan menerima upah pada pihak lainnya,majikan, yang mengikatkan diri untuk mengerjakan buruh itu dengan membayar 4 upah. ” Selanjutnya perihal pengertian Perjanjian Kerja, ada lagi pendapat Prof. Subekti, S.H. beliau menyatakan dalam bukunya Aneka Perjanjian, disebutkan3 bahwa Perjanjian Kerja adalah :Djumadi,Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta,4 Cet.V, 2004, hlm. 29. Imam Soepomo,Loc.cit.,hlm.57. Perjanjian antara seorang “buruh” dengan seseorang “majikan”, perjanjian mana ditandai oleh ciri-ciri; adanya suatu upah atau gaji tertentu yangdiperjanjikan dan adanya suatu hubungan di peratas (bahasa Belanda dierstverhading) yaitu suatu hubungan berdasarkan mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh pihak 5 yang lain. Konsepsi perjanjian kerja seperti yang ditentukan Pasal 1 angka 14Undang-undang Ketenagakerjaan, objeknya akan sama dengan objek yang diperjanjikan di dalam Perjanjian Kerja Bersama seperti ditentukan pada Pasal 1angka 21 Undang-undang Ketenagakerjaan, yang menentukan bahwa : Perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha 6 yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak. Di mana objek yang diperjanjikan dalam Perjanjian Kerja Bersama memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak. Bahkan di dalamketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 21 tahun 1954 tentang 56 Subekti,Aneka Perjanjian,Penerbit Alumni Bandung,Cet.II,1977,hlm.63. Djumadi,Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta, Cet.V, 2004, hlm. 123. Dengan demikian bahwa objek yang diperjanjikan perjanjian kerja, Perjanjian Kerja Bersama dalam konsepsi Undang-undang Ketenagakerjaan akan sama objeknya dengan ketentuan Pasal 1601 n KUH Perdata dan Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan. Objek yang diperjanjikan dalam Perjanjian Kerja Bersama adalah tentang syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak, yang harus diindahkanatau dipedomani sewaktu membuat perjanjian secara individual atau dipedomani 7 sewaktu membuat perjanjian secara individual, yaitu perjanjian kerja. Perjanjian Kerja Bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara Serikat pekerja/buruh atau beberap serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab dibidangketenagakerjaan dengan pengusaha atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha. Perjanjian kerja bersama ini adalah semua perjanjian tertulis sehubungan dengan kondisi–kondisi kerja yang diakhiri dengan penandatangan oleh pengusaha, kelompok pengusaha atau satu atau lebih organisasi pengusaha disatupihak dan pihak lain oleh perwakilan organisasi pekerja atau perwakilan dari 87 pekerja yang telah disyahkan melalui peraturan dan hukum nasional. Djumadi, Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta, Cet.V, 2004, hlm. 124. Perjanjian kerja bersama mengikat pihak-pihak yang bertanda tangan di dalamnya dan secara otomatis peraturan perusahaan tidak berlaku lagi dengan adanya perjanjian kerja bersama, kecuali nilai dari peraturan perusahaan tersebut 9 lebih tinggi dari pada yang tercantum di dalam perjanjian kerja bersama. Perjanjian kerja bersama adalah hak yang mendasar yang telah disyahkan oleh anggota-anggota ILO dimana mereka mempunyai kewajiban untuk menghormati, mempromosikan dan mewujudkan dengan itikad yang baik. Perjanjian kerja bersama adalah hak pengusaha atau organisasi pengusaha disatu pihak dan dipihak lain serikat pekerja atau organisasi yang mewakili pekerja. Hak ini ditetapkan untuk mencapai “ kondisi-kondisi pekerja yangmanusiawi dan penghargaan akan martabat manusia (humane conditions of labour and respect for human dignity)“, seperti yang tercantum dalam Konstitusi ILO. Sedangkan pengertian Perjanjian Kerja Bersama yang termaktub di dalamPKB PT. Perkebunan Nusantara II Periode 2010 – 2011 adalah Perjanjian kerja bersama yang diadakan oleh dan antara Direksi PT Perkebunan Nusantara II(Persero) dengan Serikat Pekerja Perkebunan (SP BUN PTP Nusatara II Persero). F. METODE PENULISANMetode yang digunakan dalam mengumpulkan data untuk digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode pengumpulan data secara studi pustaka atau9 data-data sekunder dan penelitian lapangan. ILO Recommendation 91 paragraf 3 (1),(2) dan (3) Metode penulisan yang digunakan adalah studi kepustakaan yaitu menganalisis tentang perjanjian kerja bersama dengan mengumpulkan danmembaca referensi melalui peraturan, koran, internet, majalah dan setelah terkumpul maka langkah selanjutnya adalah menyeleksi data-data yang layakdigunakan untuk mendukung penulisan skripsi ini. Sedangkan data-data penelitian di lapangan di peroleh dari pihakPT.Perkebunan Nusantara II yang bertindak sebagai perusahaan yang mengadakan Perjanjian Kerja Bersama dengan serikat buruh / serikat pekerjanya. G. SISTEMATIKA PENULISANSistematika penulisan didalam skripsi ini dibagi atas 5 (lima) bab, dimana masing-masing bab dibagi atas beberapa sub bab. Urutan bab tersebut tersusunsecara sistematik dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Uraian singkat atas bab-bab tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. BAB I, merupakan bab PENDAHULUAN, yang menguraikan tentang : latar belakang, permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, keaslianpenulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan, sistematika penulisan. 2. BAB II, merupakan bab yang menguraikan tinjauan umum tentangPerjanjian Kerja Bersama, bab ini terdiri dari beberapa sub bab seperti : pengertian perjanjian kerja bersama, syarat-syarat pembuatan perjanjiankerja bersama dan manfaat dibentuknya perjanjian kerja bersama. 3. BAB III, merupakan bab yang menguraikan tinjauan umum tentangSerikat Pekerja, bab ini terdiri atas beberapa sub bab seperti : dasar pendirian serikat pekerja, syarat sahnya dibentuknya serikat pekerja,batasan dan kewenangan serikat pekerja dan manfaat berdirinya serikat pekerja. 4. BAB IV, merupakan bab yang menjelaskan tentang PelaksanaanPembuatan Perjanjian Kerja Bersama di PTP Nusantara II, bab ini terdiri atas beberapa sub bab seperti : Pelaksanaan perundingan Perjanjian KerjaBersama Periode 2010-2011 di PTP Nusantara II, Kesepakatan &Perubahan dari Perjanjian Kerja Bersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011, Perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundingan PerjanjianKerja Bersama pada PTP.Nusantara II , Penyelesaian perselisihan & perubahan Perjanjian Kerja Bersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011ditinjau dari UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 5. BAB V, merupakan bab penutup yang berisi tentang kesimpulan yang merupakan jawaban singkat terhadap permasalahan yang telah diteliti, dansaran yang merupakan sumbangsih pemikiran penulis terhadap permasalahan di dalam skripsi ini. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJA BERSAMA A. Pengertian Perjanjian kerja bersama Istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) timbul setelah diundangkannya Undang-undang No.21 Tahun 2000. Istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) digunakan untuk menggantikan istilah sebelumnya yaitu Kesepakatan KerjaBersama (KKB), dikarenakan pembuat undang-undang berpendapat bahwa pengertian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sama dengan Kesepakatan KerjaBersama (KKB). Tetapi Sentanoe Kertonegoro berpendapat lain mengenai persamaan pengertian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan Kesepakatan Kerja Bersama(KKB), beliau mengatakan bahwa : Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ialah : a. Merupakan dasar dari individualisme dan liberalisme yang berpandangan bahwa diantara pekerja/buruh dengan pengusaha adalahdua pihak yang memiliki kepentingan berbeda dalam perusahaan. b. Bebas untuk melakukan perundingan dan juga membuat perjanjian tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. c. Dibuat melalui perundingan yang bersifat tawar-menawar (bargaining) masing-masing pihak akan berusaha memperkuat kekuatan tawar- d. Hasilnya adalah perjanjian yang merupakan keseimbangan dari kekuatan tawar-menawar. Adapun Kesepakatan Kerja Bersama, yaitu : a. Dasar adalah hubungan industrial Pancasila berpandangan bahwa antara pekerja dan pengusaha terdapat hubungan yang bersifatkekeluargaan dan gotong-royong. b. Mereka bebas melakukan perundingan dan memuat perjanjian asal saja, tetapi memperhatikan kepentingan yang lebih luas, yaitumasyarakat, bangsa, dan negara. c. Dibuat melalui musyawarah untuk mufakat, tidak melalui kekuatan tawar-menawar, tetapi yang diperlukan sifat yang keterbukaan,kejujuran, dan pemahaman terhadap kepentingan semua pihak.Kehadiran serikat pekerja dalam rangka meningkatkan kerja sama dan tanggung jawab. d. Hasilnya adalah suatu kesepakatan yang merupakan titik optimal yang bisa dicapai menurut kondisi yang ada, dengan memperhatikankepentingan semua pihak. Apabila dicermati pendapat Sentanoe mengenai perbedaan antara PKB dengan KKB, tampak ada peluang yang dapat digunakan oleh majikan dalammemanfaatkan suatu keadaan dari pengertian KKB untuk menekan buruh dalam Pasal 103 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 menyebut Perjanjian Kerja Bersama (PKB) merupakan salah satu sarana dilaksanakannya hubungan industrial. Sangat diharapkan akan terbentuk PKB yang berkualitas denganmengkomodasikan tiga kepentingan yaitu buruh, pengusaha dan negara.Sayangnya sulit terwujud, karena terdapat inkonsistensi aturan hukum atau terdapat konflik norma di dalam norma pembentukan PKB. Perjanjian kerja bersama adalah hak yang mendasar yang telah disyahkan oleh anggota-anggota ILO dimana mereka mempunyai kewajiban untukmenghormati, mempromosikan dan mewujudkan dengan itikad yang baik.Perjanjian kerja bersama adalah hak pengusaha atau organisasi pengusaha disatu pihak dan dipihak lain serikat pekerja atau organisasi yang mewakili pekerja. Hakini ditetapkan untuk mencapai “kondisi-kondisi pekerja yang manusiawi dan penghargaan akan martabat manusia (humane conditions of labour and respect forhuman dignity)“, seperti yang tercantum dalam Konstitusi ILO. Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai pengertianPerjanjian Kerja Bersama, diantaranya pendapat dari Prof.Subekti,SH beliau mengatakan dalam bukunya Aneka Perjanjian, disebutkan bahwa Perjanjian Kerjaadalah perjanjian antara seorang buruh dengan seorang majikan, perjanjian mana ditandai oleh ciri ciri adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan Pengertian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) berdasarkan Pasal 1 angka 21UU No. 13 Tahun 2003 jo Kepmenakertrans No. KEP.48/MEN/2004 tentang Tata cara pembuatan dan pengesahan peraturan perusahaan serta pembuatan danpendaftaran Perjanjian Kerja Bersama, adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikatpekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atauperkumpulan pengusaha yang memuat syarat syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah pihak. Bertolak dari pengertian tersebut, tersirat bahwa di dalam perjanjian kerja bersama terkandung hal-hal yang sifatnya obligator (memuat hak-hak dankewajiban-kewajiban pihak-pihak yg mengadakan perjanjian), hal-hal yg bersifat normatif (mengenai peraturan perundang-undangan). Dengan demikian, dalam suatu perjanjian kerja bersama dimungkinkan untuk memuat kaedah yang bersifat horizontal (pengaturan dari pihak-pihaknyasendiri), kaedah yang bersifat vertikal (pengaturan yg berasal dari pihak yg lebih tinggi tingkatannya), dan kaedah yg bersifat diagonal (ketentuan yang berasal daripihak yg tidak langsung terlibat dalam hubungan kerja). Untuk menjaga agar isi perjanjian kerja bersama sesuai dengan harapan pekerja maka isi perjanjian kerja bersama haruslah memuat hal-hal yang lebih dari Perjanjian Kerja Bersama merupakan hasil perundingan para pihak terkait yaitu serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruhdengan pengusaha atau beberapa pengusaha yang mengatur syarat-syarat kerja, serta hak dan kewajiban masing-masing pihak. Perjanjian Kerja Bersama tidak hanya mengikat para pihak yang membuatnya yaitu serikat pekerja/serikat buruh dan pengusaha saja, tetapi jugamengikat pihak ketiga yang tidak ikut di dalam perundingan yaitu pekerja/buruh, terlepas dari apakah pekerja/buruh tersebut menerima atau menolak isi perjanjiankerja bersama atau apakah pekerja/buruh tersebut menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh yang berunding atau tidak. Penggunaan istilah bersama dalam perjanjian kerja bersama ini menunjuk pada kekuatan berlakunya perjanjian yaitu mengikat pengusaha, atau beberapapengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pekerja/buruh itu sendiri.Penggunaan istilah bersama itu bukan menunjuk bersama dalam arti seluruh pekerja/buruh ikut berunding dalam pembuatan perjanjian kerja bersama karenadalam proses pembuatan perjanjian kerja bersama pekerja/buruh bukan merupakan pihak dalam berunding. Dalam satu perusahaan hanya boleh dibuat 1 (satu) perjanjian kerja bersama yang berlaku untuk pengusaha dan semua pekerja/buruh di perusahaan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar dalam 1 (satu) perusahaan tidak terdapat perbedaan Perjanjian kerja bersama induk mengatur ketentuan-ketentuan yang berlaku umum di seluruh cabang perusahaan dan perjanjian kerja bersama turunanmemuat pelaksanaan perjanjian kerja bersama induk yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing cabang. Apabila beberapa perusahaan bergabung dalam satu grup dan masing- masing perusahaan merupakan badan hukum sendiri-sendiri maka perjanjian kerjabersama dibuat dan dirundingkan oleh masing-masing pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang ada di masing-masing perusahaan. B. Syarat-syarat Pembuatan Perjanjian Kerja BersamaDidalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama haruslah berdasarkan filosofi yang terkandung dalam hubungan industrial yang berdasarkan pada nilai-nilai. Pancasila yaitu musyawarah untuk mufakat. Perjanjian Kerja Bersama pada dasarnya merupakan suatu cara dalam rangka mengembangkan partisipasi pekerjauntuk ikut andil dalam menentukan pengaturan syarat kerja dalam pelaksanaan hubungan kerja, sehingga dengan adanya partisipasi tersebut diharapkan timbulsuatu sikap ataupun rasa memiliki dan juga rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Perjanjian kerja bersama dirundingkan oleh serikat pekerja/serikat buruh yang telah tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidangketenagakerjaan dengan pengusaha atau beberapa pengusaha. Perundingan perjanjian kerja bersama ini haruslah didasari oleh itikad baik dan berkemauan bebas dari kedua belah pihak. Perundingan perjanjian kerja bersama dilaksanakan secara musyawarah untuk mufakat. Lamanya perundingan perjanjian kerja bersama ini ditetapkanberdasarkan kesepakatan para pihak dan dituangkan ke dalam tata tertib perundingan. Dalam satu (1) perusahaan hanya dapat dibuat 1 (satu) perjanjian kerja bersama yang berlaku bagi seluruh pekerja/buruh di perusahaan yangbersangkutan. Apabila perusahaan itu memiliki cabang, maka dibuatlah perjanjian kerja bersama induk yang akan diberlakukan di semua cabang perusahaantersebut. Lalu dapat dibuat juga perjanjian kerja bersama turunan yang akan berlaku di masing-masing cabang perusahaan. Perjanjian kerja bersama induk itu memuat ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh cabang perusahaan dan perjanjian kerja bersamaturunan itu memuat pelaksanaan dari perjanjian kerja bersama induk yang disesuaikan dengan kondisi cabang perusahaan masing-masing. Apabilaperjanjian kerja bersama induk telah berlaku namun perjanjian kerja bersama turunan di cabang perusahaan belum disepakati maka perjanjian kerja bersamainduk tetap akan berlaku. Pihak perusahaan haruslah melayani permintaan secara tertulis untuk merundingkan perjanjian kerja bersama dari serikat pekerja/serikat buruh yangtelah tercatat berdasarkan Undang-undang No.21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan peraturan pelaksanaannya. Pembentukan PKB berdasarkan Pasal 119 dan Pasal 120 Undang-UndangNo. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dibagi 2 yaitu untuk perusahaan yang memiliki satu serikat Buruh dan perusahaan yang memiliki lebih dari satuserikat Buruh. Ketentuan Pasal 119 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 berlaku bagi perusahaan yang memiliki satu serikat buruh, yaitu batasan serikat buruhyang berhak mewakili buruh dalam perundingan pembuatan PKB apabila : 1. memiliki jumlah anggota lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutanatau; Apabila musyawarah tidak mencapai kesepakatan tentang suatu hal, maka penyelesaiannya dilakukan melalui mekanismepenyelesaian perselisihan hubungan industrial.2. mendapat dukungan lebih 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan melalui pemungutan suara. Apabila tidak terpenuhi ;3. dapat mengajukan kembali permintaan untuk merundingkan perjanjian kerja bersama dengan pengusaha setelah melampauijangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak dilakukannya pemungutan suara. 1. jumlah keanggotaannya lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh jumlah pekerja/buruh di perusahaan tersebut. Apabila tidakterpenuhi ; 2. serikat pekerja/serikat buruh dapat melakukan koalisi sehingga tercapai jumlah lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruhjumlah pekerja/buruh di perusahaan tersebut untuk mewakili dalam perundingan dengan pengusaha. 3. tidak terpenuhi, maka para serikat pekerja/serikat buruh membentuk tim perunding yang keanggotaannya ditentukan secaraproporsional berdasarkan jumlah anggota masing-masing serikat pekerja/serikat buruh. Dari ketentuan di atas dapat tafsirkan terdapat kemungkinan agar SerikatBuruh dapat menjadi pihak dalam perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama yaitu apabila jumlah anggotanya 50% (lima puluh perseratus) dari jumlahseluruh pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan atau mendapat dukungan lebih dari 50% dari seluruh jumlah buruh di perusahaan tersebut maka berhakuntuk mewakili buruh dalam perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama.Apabila tidak terpenuhi maka dibentuk tim perunding yang keanggotaannya Tempat untuk pelaksanaan perundingan perjanjian kerja bersama dilakukan di kantor perusahaan yang bersangkutan atau di kantor serikat pekerja/serikatburuh ataupun bisa juga dilaksanakan di tempat lain yang sesuai dengan kesepakatan para pihak. Semua biaya yang timbul dalam pelaksanaanperundingan perjanjian kerja bersama ini akan menjadi beban perusahaan atau pengusaha, kecuali telah disepakati oleh para pihak. Perjanjian Kerja Bersama harus dibuat dalam bentuk tertulis dengan huruf latin dan menggunakan bahasa Indonesia. Dalam hal perjanjian kerja bersamadibuat tidak menggunakan bahasa Indonesia, maka perjanjian kerja bersama tersebut harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah resmi yangtelah disumpah dan hasil terjemahan tersebut dianggap sebagai perjanjian kerja bersama yang telah memenuhi syarat perundang-undangan yang diatur dalam Pasal 116 ayat 3 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Berdasarkan kerentuan yang diatur dalam Pasal 21 Kep.48/Men/IV/2004 tentang tentang Tata cara Pembuatan dan pengesahan Peraturan perusahaan sertapembuatan dan pengesahan Perjanjian Kerja Bersama, perjanjian kerja bersama sekurang-kurangnya harus memuat :a. nama, tempat kedudukan serta alamat serikat pekerja/serikat buruh; b. nama, tempat kedudukan serta alamat perusahaan; c. nomor serta tanggal pencatatan serikat pekerja/serikat buruh pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kabupaten/Kota; e. hak dan kewajiban serikat pekerja/serikat buruh; f. jangka waktu dan mulai berlakunya perjanjian kerja bersama;dan g. tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama. Menurut ketentuan didalam Pasal 124 ayat 1 UU No.13 Tahun 2003,Perjanjian kerja bersama haruslah paling sedikit memuat: h. Hak dan kewajiban pengusaha;i. Hak dan kewajiban serikat pekerja/serikat buruh serta pekerja/buruh;j. Jangka waktu dan tanggal mulai berlakunya perjanjian kerja bersama; dank. Tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama Secara yuridis formal dasar hukum dalam pembuatan Perjanjian KerjaBersama didasarkan atas : C. Manfaat dibentuknya perjanjian kerja bersamaDiadakannya perjanjian kerja bersama antara pekerja dan pengusaha mempunyai tujuan sebagai berikut : 1. Kepastian Hak dan Kewajiban a. Dengan perjanjian kerja bersama akan tercipta suatu kepastian dalam segala hal yang berhubungan dengan masalah hubungan industrialantara kedua belah pihak. b. Perjanjian kerja bersama memberikan kepastian tercapainya pemenuhan hak dan kewajiban timbal balik antara pekerja dan pengusaha yangtelah mereka setujui bersama sebelumnya. 2. Menciptakan Semangat Kerja a. Perjanjian kerja bersama dapat menghindarkan berbagai kemungkinan kesewenang-wenangan dan tindakan merugikan dari pihak yang satuterhadap pihak yang lain dalam hal pelaksanaan hak dan kewajiban masing-masing. b. Perjanjian kerja bersama dapat menciptakan suasana dan semangat kerja para pihak dan menjauhkannya dari berbagai ketidakjelasan, was-was, prasangka negatif dan lain-lain. 3. Peningkatan Produktivitas Kerja a. Mengadakan atau mengurangi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pekerjaan pada perusahaan pada khususnya danmemberikan kontribusi pada pembangunan nasional karena terciptanya ketenangan kerja (Industrial Peace). b. Perjanjian kerja bersama juga dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja dengan mengurangi terjadinya perselisihan-perselisihan industrial. 4. Mengembangkan Musyawarah untuk Mufakat a. Perjanjian kerja bersama juga dapat menciptakan suasana musyawarah dan kekeluargaan karena perjanjian kerja bersamadibuat melalui suatu perundingan yang mendalam antara serikat pekerja dan pengusaha. b. Dengan berkembangnya perjanjian kerja bersama dapat memperoleh data dan informasi keadaan hubungan kerja danhubungan industrial secara nyata sehingga akan dapat memudahkan pembuatan pola-pola dan standarisasi Perjanjian Kerja Bersamasecara sektoral, regional maupun nasional Perjanjian Kerja Bersama merupakan salah satu sarana dalam rangka pelaksanaan hubungan industrial yang serasi, aman, mantap dan dinamisberdasarkan Pancasila, sehingga mempunyai manfaat sebagai berikut : 1. Adanya kepastian hak dan kewajiban yang membuat terciptanya suatu kepastian hukum tentang hak dan kewajiban yang berhubungan denganhubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan. 2. Perjanjian Kerja Bersama memberikan kepastian terlaksananya syarat syarat kerja di perusahaan. 3. Perjanjian Kerja Bersama dapat menghindarkan berbagai kemungkinan kesewenang-wenangan dan tindakan merugikan daripihak yang satu terhadap pihak yang lain dalam hal pelaksanaan hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha. 4. Menciptakan suasana dan semangat kerja yang harmonis dinamis,bagi para pihak dalam hubungan kerja. Serta dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi timbulnyaperselisihan. 5. Dengan adaya Perjanjian Kerja Bersama, pengusaha dapat menyusun rencana-rencana untuk menetapkan biaya produksi yang dicanangkandalam pengembangan perusahaan.Perjanjian kerja bersama memberikan dua sisi manfaat yang berbeda bagi serikat pekerja/pekerja dan pengusaha. Bagi serikat pekerja, perjanjian kerjabersama memberikan : 1. nilai kekuatan dengan banyak anggota yang belum terlibat akan menjadi anggota serikat pekerja; 2. anggota yang aktif akan mengajak atau mempengaruhi anggota yang belum aktif untuk lebih aktif menjadi anggota;3. meningkatkan kepercayaan anggota;4. anggota lebih terorganisir; 5. serta serikat pekerja menjadi suatu hal yang baik bagi pekerja. Perjanjian kerja bersama ini secara tidak langsung menimbulkan dampak yang menguntungkan meningkatkan daya saing perusahaan dan sektor bisnis padaumumnya, lebih jauh lagi menimbulkan dampak positif pada hubungan antara pekerja dan serikat pekerja ditingkat perusahaan karena perundingan yangkomplek tentang pengupahan dan sebagainya telah ditentukan. Perjanjian kerja bersama ini akan menekankan serikat pekerja untuk lebih hati-hati dalam penggunaan hak mogoknya sebagai upaya yang paling akhir danlebih mengedepankan proses dialog atau negosiasi dalam menyampaikan tuntutannya. Selain dari pada manfaat terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama yang merupakan nuansa telah diperhatikannya aspirasi dan kepentingan pekerjamaupun pengusaha juga mempunyai fungsi yang antara lain : a. Sebagai pedoman induk pengaturan hak dan kewajiban bagi pekerja dan pengusaha, sehingga dapat dihindarkan adanya perbedaaan-perbedaaanpenafsiran teknis pelaksanaan hubungan kerja. c. Mengisi kekosongan hukum mengenai pengaturan syarat-syarat kerja atau kondisi kerja yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan serta meningkatkan kesejahteraan pekerja secara periodik. BAB III TINJAUAN HUKUM POSITIF MENGENAI SERIKAT PEKERJA A. Pengertian dan tujuan pembentukan Serikat Pekerja Keberadaan Serikat Buruh mutlak dibutuhkan oleh pekerja. Berkumpul untuk bersatunya buruh dalam Serikat Buruh secara filosofi diibaratkan MuchtarPakpahan, seperti sapu lidi, kendaraan umum, burung gelatik, main catur, 10 memancing ikan, solidaritas atau berani mati. Melalui Serikat Buruh, diharapkan akan terwujud hak berserikat buruh dengan maksimal. Buruh dapat memperjuangkan kepentingannya. Sayangnya hakberserikat yang merupakan bagian dari hak asasi manusia yang sudah bersifat universal belum dipahami oleh pengusaha dan pemerintah. Pengusaha seringkali menganggap keberadaan Serikat Buruh sebagai pengganggu untuk melaksanakan hak prerogratifnya dalam mengatur jalannyausaha. Pemerintah seringkali menganggap aktivitas Serikat Buruh dalam mengembangkan organisasinya merupakan ancaman stabilitas dan keamanannasional. Menjadi anggota serikat pekerja adalah kekuatan pekerja untuk menghilangkan permasalahan yang dihadapi seperti gaji yang rendah, buruknya10 kondisi pelayanan kesehatan dan perlindungan kerja, PHK sepihak dan Pakpahan, Muchtar, Lima Tahun Memimpin SBSI, Pilihan Atau Panggilan, Untuk Kesejahteraan,Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Tegaknya Hukum Dan Keadilan Sosial,Pustaka Forum Adil Sejahtera, 1997. Hak menjadi anggota Serikat Pekerja/Serikat Buruh merupakan hak asasi pekerja yang telah dijamin didalam Pasal 28 Undang Undang Dasar 1945 danuntuk mewujudkan hak tersebut, kepada setiap pekerja/buruh diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mendirikan dan menjadi anggota serikatpekerja, dimana Serikat Pekerja/Serikat Buruh berfungsi sebagai sarana untuk memperjuangkan, melindungi dan membela kepentingan dan juga meningkatkankesejahteraan pekerja dan keluarganya, dimana dalam menggunakan haknya tersebut pekerja/buruh dituntut bertanggung jawab untuk menjamin kepentinganyang lebih luas yaitu kepentingan Bangsa dan Negara oleh karena itu penggunaan hak tersebut dilaksanakan dalam kerangka hubungan industrial yang harmonis,dinamis dan berkeadilan. Hak berserikat bagi pekerja/buruh sebagaimana diatur dalam KonvensiInternational Labour Organization ( ILO ) nomor 87 tentang KebebasanBerserikat dan Perlindungan Hak untuk berorganisasi dan konvensi ILO nomor 98 tentang Hak untuk Berorganisasi dan Berunding Bersama. Konvensi tentang hakberserikat bagi pekerja/buruh ini telah diratifikasi oleh Indonesia menjadi bagian 1111 dari peraturan perundang-undangan nasional. Hardijan Rusli,Hukum Ketenagakerjaan 2003,Penerbit GhaliaIndonesia,2004,hlm.147.) Berlakunya dasar-dasar daripada hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama sudah diratifikasi oleh Indonesia menjadi bagian dariPeraturan PerUndang-Undangan Nasional yakni Undang-Undang No : 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja dimana Pekerja merupakan mitra kerja Pengusahayang sangat penting dalam proses produksi dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya serta menjamin kelangsungan perusahaan danmeningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya. Undang-undang No.21 Tahun 2000 menggunakan istilah serikat pekerja/serikat buruh bukan serikat pekerja atau serikat buruh saja. Kedua istilahitu sebenarnya sama saja dan tidak ada perbedaan. Judul semula yang diajukan oleh Presiden ke DPR melalui suratnya No.R.01/PU/I/2000 adalah RUU tentangserikat pekerja. Dalam proses pembahasan di DPR penggunaan istilah serikat pekerja disetujui menjadi serikat pekerja/serikat buruh. Penggunaan kedua istilahtersebut dilakukan untuk mengadopsi keinginan dari berbagai organisasi pekerja/buruh yang menggunakan kedus istilah alternatif tersebut untuk menyebut 12 nama organisasinya masing-masing. Secara umum pekerja/buruh adalah warga negara yang mempunyai persamaan kedudukan dalam hukum, hal untuk mendapatkan pekerjaan danpenghidupan yang layak mengeluarkan pendapat, berkumpul dalam suatu12 organisasi serta mendirikan dan menjadi anggota Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Maimun,Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar,Penerbit Pradnya Paramita,Jakarta,Cet.II,2007,hlm.28-29. Pekerja/buruh merupakan mitra kerja pengusaha yang sangat penting dalam proses produksi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dankeluarganya, menjamin kelangsungan perusahaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sehubungan dengan hal itu Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang merupakan sarana untuk memperjuangkan kepentingan pekerja haruslah memiliki rasatanggung-jawab atas kelangsungan perusahaan dan begitu pula sebaliknya, pengusaha harus memperlakukan pekerja sebagai mitra sesuai harkat dan martabatkemanusiaan. Serikat pekerja/serikat buruh didirikan secara bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan juga bertanggung jawab oleh pekerja/buruh untukmemperjuangkan kepentingan pekerja/buruh dan keluarganya. Pengertian Serikat Pekerja /Serikat Buruh menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luarperusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentinganpekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya. Didalam Undang-Undang No.21 tahun 2000, Serikat Pekerja/Serikat Buruh terbagi menjadi dua yaitu Serikat Pekerja/Serikat Buruh di perusahaan dan SerikatPekerja/Serikat Buruh di luar perusahaan. Pada Pasal 1 angka 2 Undang-UndangNo.21 tahun 2000, Serikat Pekerja/Serikat Buruh di perusahaan ialah serikat pekerja/serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja/buruh di satu perusahaanatau di beberapa perusahaan. Pada Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No.21 tahun 2000, Serikat Pekerja/Serikat Buruh di luar perusahaan ialah serikat pekerja/serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja/buruh yang tidak bekerja diperusahaan. Serikat Pekerja/Buruh dapat membentuk Federasi Serikat Pekerja/Buruh maupun Konferensi Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Pada Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No.21 tahun 2000, Federasi serikat pekerja/serikat buruh ialah gabungan serikat pekerja/serikat buruh. Adapun pada Pasal 1 angka 5 Undang-UndangNo.21 tahun 2000, Konfederasi serikat pekerja/serikat buruh ialah gabungan federasi serikat pekerja/serikat buruh. Pekerja/buruh menurut UU No.21 tahun 2000 ialah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Dari definisi tersebutterdapat dua unsur yaitu orang yang bekerja dan unsur menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Hal ini berbeda dengan definisi tenaga kerja yaitusetiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Serikat pekerja/serikat buruh bebas dalam menentukan asas organisasinya tetapi serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh menggunakan asas yangbertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dikarenakanPancasila sebagai dasar negara dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh mempunyai sifat antara lain : 1. Bebas ialah sebagai organisasi dalam melaksanakan hak dan kewajibannya, serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi serikatpekerja/serikat buruh tidak dibawah pengaruh ataupun tekanan dari pihak manapun. 2. Terbuka ialah dalam menerima anggota ataupun dalam memperjuangkan kepentingan pekerja/buruh tidak membedakan aliranpolitik, agama, suku bangsa, dan jenis kelamin. 3. Mandiri ialah dalam mendirikan, menjalankan dan juga mengembangkan organisasi ditentukan oleh kekuatan sendiri tidakdikendalikan oleh pihak lain di luar organisasi. 4. Demokratis ialah dalam melakukan pembentukan organisasi, pemilihan pengurus, memperjuangkan dan juga melaksanakan hak dan kewajibanorganisasi dilakukan sesuai dengan prinsip demokrasi. 5. Bertanggung jawab ialah untuk mencapai tujuan dan melaksanakan hak dan kewajibannya, serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasiserikat pekerja/serikat buruh bertanggung jawab kepada anggota, masyarakat, dan negara. Berdasarkan ketentuan Pasal 4 Undang-undang No.21 Tahun 2000, SerikatPekerja /Buruh, federasi dan konfederasi Serikat Pekerja/Buruh bertujuan untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, sertameningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/buruh dan keluarganya. Ketentuan ini memungkinkan dalam satu perusahaan bisa berdiri beberapa serikat pekerja/serikat buruh. Banyaknya serikat pekerja/serikat buruh dalam satuperusahaan dapat memungkinkan terjadinya perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh yang biasanya menyangkut masalah keanggotaan yang akanberdampak pada posisi mayoritas sebuah serikat pekerja/serikat buruh di 13 perusahaan tersebut. Sebagaimana diatur pada pasal 5 ayat 1 dan ayat 2 Undang-undang nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja yakni : setiap pekerja/buruh berhakmembentuk dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh dan serikat pekerja/serikat buruh dibentuk oleh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orangpekerja/buruh. Pembentukan serikat pekerja/serikat buruh ini dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Setiap serikat pekerja/serikat buruh harus memiliki anggaran dasar dan13 anggaran rumah tangga dimana sekurang-kurangnya memuat ( PasalMaimun,Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar,Penerbit Pradnya Paramita,Jakarta,Cet.II,2007,hlm.29. 11 ayat 1 dan ayat 2 Undang-undang Nomor 21 tahun 2000 tentangSerikat Pekerja) : a. Nama dan lambang b. Dasar negara, asas, dan tujuan c. Tanggal pendirian d. Tempat kedudukan e. Keanggotaan dan kepengurusan f. Sumber dan pertanggung jawaban keuangan g. Ketentuan perubahan anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tanggaApabila ada perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pengurus serikat pekerja harus memberitahukan kepada instansi pemerintah palinglama 30 (tiga puluh) hari, terhitung sejak tanggal perubahan anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga tersebut (Pasal 21 UU No.21 Tahun 2000). 2. Memberitahukan secara tertulis kepada instansi pemerintah yang bertanggung-jawab di bidang ketenagakerjaan setempat untuk dicatatdengan dilampiri : a. Daftar nama anggota pembentuk; b. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga; c. Susunan dan nama pengurus;(Pasal 18 UU No.21 Tahun 2000) 3. Instansi pemerintah yang bertanggung-jawab, selambat-lambatnya 21(dua puluh satu) hari kerja, terhitung sejak tanggal diterima pemberitahuan, wajib mencatat dan memberikan nomor buktipencatatan terhadap serikat pekerja yang telah memenuhi ketentuan(Pasal 20 ayat 1 UU No.21 Tahun 2000); buku pencatatan harus dapat dilihat setiap saat dan terbuka untuk umum. 4. Dalam hal serikat pekerja belum memenuhi ketentuan, maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab itu dapat menangguhkanpencatatan dan pemberian nomor bukti pencatatan dengan memberitahukan secara tertulis kepada serikat pekerja selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja, terhitung sejak tanggal diterima pemberitahuan (Pasal 20 ayat 2 dan 3 UU No.21 Tahun 2000). 5. Pengurus serikat pekerja yang telah mempunyai nomor bukti pencatatan, harus memberitahukan secara tertulis keberadaannyakepada mitra kerjanya sesuai dengan tingkatannya (Pasal 23 UU No.21 Serikat Pekerja/Serikat Buruh dapat dibentuk berdasarkan kesamaan sektor usaha, jenis usaha, atau lokasi tempat kerja dan dapat berafiliasi dengan serikat14 pekerja/serikat buruh internasional dan atau organisasi internasional lainnyaHardijan Rusli,Hukum Ketenagakerjaan 2003,Penerbit Ghalia Indonesia,2004,hlm.153-154. Fungsi Serikat Pekerja/Serikat Buruh sering dikaitkan dengan keadaan hubungan industrial. Hubungan industrial itu diartikan sebagai suatu sistemhubungan yang terbentuk antara para pelaku didalam proses produksi barang atau jasa yang meliputi pengusaha,pekerja, dan pemerintah. 15 5. Perselisihan industrial : arbitrase, mediasi, mogok kerja, penutupan perusahaan, pemutusan hubungan kerja.Pengertian itu memuat semua aspek yang ada didalam suatu hubungan kerja yang terdiri dari : 1. Para pelaku : pekerja, pengusaha, pemerintah 2. Kerja sama : manajemen-karyawan 3. Perundingan bersama : perjanjian kerja, kesepakatan kerja bersama, peraturan perusahaan 4. Kesejahteraan : upah, jaminan sosial., pensiun, keselamatan dan kesehatan kerja, koperasi, pelatihan kerja 1615 Sentanoe Kertonegoro,Hubungan Industrial, Hubungan Antara Pengusaha danPekerja(Bipartid) dan Pemerintah(Tripartid), 1999, Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta, hlm.2.16 Sentanoe Kertonegoro,Hubungan Industrial, Hubungan Antara Pengusaha danPekerja(Bipartid) dan Pemerintah(Tripartid), 1999, Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta, hlm.2. 17 Fungsi dapat juga diartikan sebagai jabatan (pekerjaan) yang dilakukan; apabila ketua tidak ada maka wakil ketua akan melakukan fungsi ketua; fungsi adalah kegunaan suatu hal; berfungsi artinya berkedudukan, bertugassebagai; menjalankan tugasnya. 18 a. Sebagai pihak yang turut serta dalam pembuatan perjanjian kerja bersama dan penyelesaian perselisihan industrial.Dengan demikian fungsi Serikat Buruh/Serikat Pekerja dapat diartikan sebagai jabatan, kegunaan, kedudukan dari Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Demi mencapai tujuan dari dibentuknya Serikat Pekerja/Serikat Buruh itu, maka Serikat Pekerja/Serikat Buruh mempunyai fungsi sebagai berikut :b. Sebagai wakil pekerja/buruh dalam lembaga kerja bersama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya. English Language un a Bridged,1993,Merriam Webster inc,publishers,Springfield,Massa Chusetts,U.S.A.,hlm.921.18 Departemen P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989,Balai Pustaka,Jakarta,hlm.245. d. Sebagai sarana penyalur aspirasi dari para pekerja/buruh dan juga sebagai pihak yang akan selalu tetap memperjuangkan hak dankepentingan anggotanya. e. Sebagai perencana, pelaksana dan penanggung jawab dalam pemogokan pekerja sesuai peraturan perundang-undangan. f. Sebagai wakil dari para pekerja/buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham di perusahaan. Hak untuk menjadi anggota dari Serikat Pekerja/Serikat Buruh merupakan hak asasi dari pekerja/buruh yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945dalam pasal 28. Hak dari Serikat Pekerja yang telah mempunyai nomor bukti pencatatan antara lain :a. Membuat perjanjian kerja bersama dengan pengusaha b. Mewakili pekerja dalam menyelesaikan perselisihan industrial c. Mewakili pekerja dalam lembaga ketenagakerjaan d. Membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesejahteraan pekerja. Sedangkan kewajiban dari Serikat Pekerja yang telah mempunyai nomor bukti pencatatan ialah :a. Melindungi dan membela anggota dari pelanggaran hak-hak dan memperjuangkan kepentingannya. b. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggota dan keluarganya c. Mempertanggung-jawabkan kegiatan organisasi kepada anggotanya sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya. Pekerja juga mempunyai kewajiban yang berkaitan dengan keuangan dan harta kekayaannya. Keuangan dan harta kekayaan serikat pekerja haruslahterpisah dari keuangan dan harta kekayaan pribadi pengurus dan anggotanya.Keuangan serikat pekerja bersumber dari : 1. Iuran anggota yang besarnya ditetapkan dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga; 2. Hasil usaha yang sah; 3. Bantuan anggota atau pihak lain yang tidak mengikat. Apabila pengurus serikat pekerja menerima bantuan dari pihak luar negeri, maka mereka wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada instansi yangbertanggung-jawab di bidang ketenagakerjaan. Bila serikat pekerja tidak D. Perlindungan terhadap serikat pekerjaSiapapun dilarang untuk menghalang-halangi atau memaksa pekerja untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi anggotadan/atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja dengan cara: a. Melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi;b. Tidak membayar atau mengurangi upah pekerja; c. Melakukan intimidasi dalam bentuk apapun; d. Melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja(Pasal 28 UU No.21 Tahun 2000) Sanksi hukum atas pelanggaranPasal 28 tersebut di atas yang merupakan tindak pidana kejahatan, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu)tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000.- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000.- (lima ratus juta rupiah) (Pasal 43 UU No.21 Tahun 2000). Pengusaha harus memberi kesempatan kepada pengurus dan/atau anggota serikat pekerja untuk menjalankan kegiatan serikat pekerja dalam jam kerja yangtelah disepakati oleh kedua belah pihak dan/atau yang diatur dalam perjanjian 19 kerja bersama. Memberikan kesempatan adalah membebaskan pengurus dan anggota serikat pekerja dalam beberapa waktu tertentu dari tugas pokoknya sebagaipekerja sehingga dapat melaksanakan kegiatan serikat pekerja. Dalam kesepakatan kedua belah pihak dan/atau perjanjian kerja bersama harus diatur mengenai :a. Jenis kegiatan yang diberikan kesempatan. b. Tata cara pemberian kesempatan. c. Pemberian kesempatan yang mendapat upah dan yang tidak mendapat upah. BAB IV PELAKSANAAN PEMBUATAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA DI PTP.NUSANTARA II A. Pelaksanaan Perundingan Perjanjian Kerja Bersama Periode 2010-2011 di PT Perkebunan Nusantara II Pembuatan Perjanjian Kerja Bersama ini merupakan hasil perundingan dari tim perunding dari pihak Serikat Pekerja dengan tim perunding dari pihakmanajemen PT.Perkebunan Nusantara II. Tim Perunding dari pihak SerikatPekerja adalah anggota Serikat Pekerja yang telah ditunjuk oleh Ketua Umum serikat pekerja karena dipandang mampu dan cakap untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai tim perunding. Penunjukan ini telah ditetapkan di dalam Surat Keputusan Nomor :015/Kpts/SPBUN/XII/2009. Sedangkan Tim Perunding dari pihak ManajemenPT.Perkebunan Nusantara II berasal dari perwakilan bagian-bagian yang telah ditunjuk oleh Direktur Utama PT.Perkebunan Nusantara II. Penunjukan ini telahditetapkan di dalam Surat Keputusan Nomor: II.10/Kpts/R.126/VIII/2009. Tahapan–tahapan dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama diPT.Perkebunan Nusantara II, antara lain : Di PT.Perkebunan Nusantara II pada Tahun 2010 mempunyai 2 SerikatPekerja yakni; Serikat Pekerja Merdeka (SPM), dan Serikat Pekerja Perkebunan (SP-Bun). Dan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Kep.48/Men/IV/2004 perlu dilakukan verifikasi dan dalam hal penentuan anggota Serikat Pekerja dalam 1(satu) Perusahaan terdapat 1 (satu) atau lebih Serikat Pekerja maka yang berhak untuk mewakili pekerja untuk melakukan perundingan dengan pengusaha adalahserikat pekerja yang memiliki anggota lebih dari 50 % (lima puluh per seratus) dari seluruh jumlah pekerja yang ada di perusahaan tersebut. Untuk menentukan jumlah anggota Serikat Pekerja di PTP Nusantara II, dilakukan verifikasi keanggotaan yang dilakukan oleh wakil pengurus serikatpekerja yang ada di perusahaan dengan disaksikan oleh wakil dari Instansi yang bertanggung-jawab di bidang ketenagakerjaan. Verifikasi keanggotaan serikatpekerja dilakukan berdasarkan bukti kartu tanda anggota yang sesuai dengan Pasal 121 Undang-Undang No.13 Tahun 2003. Hasil pelaksanaan verifikasi dituangkan ke dalam berita acara yang ditanda- tangani oleh panitia dan saksi-saksi, di PT.Perkebunan Nusantara II hasilnyaadalah : a. Serikat Pekerja Perkebunan Merupakan serikat pekerja yang terbesar yang ada di PTP.Nusantara II. Serikat Pekerja ini memiliki banyak anggota yang berada di setiap distrik unit. Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) memiliki anggota lebih dari 50 % (lima puluh per seratus) dari seluruh jumlah pekerja yang ada di PT.PerkebunanNusantara II. Sehingga Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) berhak untuk mewakili para pekerja/buruh dalam pelaksanaan perundingan pembuatanperjanjian kerja bersama. Dalam hal ini berdasarkan Surat Keputusan Nomor :015/kpts/SPBUN/XII/2009 tentang Revisi Susunan Tim Perunding PerjanjianKerja Bersama Tahun 2010-2011 Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) mengukuhkan komposisi tim perunding yang akan ikut berunding dalampembuatan perjanjian kerja bersama. b. Serikat Pekerja MerdekaSerikat Pekerja Merdeka merupakan serikat pekerja yang ada di dalam PT.Perkebunan Nusantara II yang tergolong kepada serikat pekerja minoritas, dikarenakan oleh jumlah anggotanya yang sedikit. Pengurus pusat Serikat Pekerja Merdeka mengajukan tim perunding juga dan mereka berkeinginan untuk ikut serta dalam penandatanganan pada PerjanjianKerja Bersama dimaksud dan bukan penandatanganan sebagai pendamping seperti pada PKB sebelumnya. Tetapi pada pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja BersamaPT.Perkebunan Nusantar II tidak ikut berperan serta. Walaupun begitu hasil dari perundingan Perjanjian Kerja Bersama itu tetap berlaku bagi mereka. Para pihak yang dalam hal ini ialah Serikat Pekerja dan ManajemenPT.Perkebunan Nusantara II telah memahami maksud dan tujuan dari pembuatan perjanjian kerja bersama serta tehnik pembuatannya. Pihak Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) pada awalnya telah membuat dan menyerahkan Surat Keputusan Sp-BuN Tingkat Perusahaan PT.PerkebunanNusantara II Nomor : 014/Kpts/SPBUN/XI/2009 tertanggal 19 November 2009,Tentang Susunan Komposisi Tim Perunding PKB Tahun 2010-2011 Sp-Bun PT.Perkebunan Nusantara II. Tetapi pihak Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) membuat revisi dariSurat Keputusan itu yaitu Surat Keputusan Nomor : 015/Kpts/SPBUN/XII/2009 yang berisikan tentang Revisi Susunan Tim Perunding PKB Tahun 2010-2011Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) PT.Perkebunan Nusantara II yang menetapkan tentang komposisi Tim Perunding perjanjian kerja bersama SerikatPekerja Perkebunan (Sp-Bun) PT.Perkebunan Nusantara II. Oleh karena Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) mempunyai jumlah keanggotaan melebihi 50% maka mereka berhak untuk mewakili pekerja dalammelakukan perundingan yang selanjutnya Serikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) mempersiapkan data-data dan juga informasi yang diperlukan dalam perundingandengan menyerahkan draft PKB (Perjanjian Kerja Bersama) 2010-2011 kepada Manajemen PT.Perkebunan Nusantara II. Pihak Manajemen PT.Perkebunan Nusantara II jg telah membentuk TimPerunding untuk mewakili dalam perundingan pembuatan Perjanjian KerjaBersama. Penunjukan Tim Perunding ini di tetapkan dalam Surat Keputusan Sebelum diadakannya perundingan Perjanjian Kerja Bersama periode 2010-2011, terlebih dahulu diadakan pertemuan informal guna melakukan pembahasan masalah redaksional tentang Perjanjian Kerja Bersama 2010-2011 PT.PerkebunanNusantara II, yaitu membahas hal-hal yang normatif dan juga hal-hal yang umum. Berdasarkan hasil pertemuan informal pembahasan Perjanjian KerjaBersama 2010-2011 PT.Perkebunan Nusantara II antara Tim Perjanjian KerjaBersama (PKB) dari Pihak Manajemen PT.Perkebunan Nusantara II dengan TimPerjanjian Kerja Bersama (PKB) Pihak Serikat Pekerja PerkebunanPT.Perkebunan Nusantara II pada Tanggal 25 November 2009 di Ruangan KabagSeketariat, Tanggal 10 Desember 2009 di Ruangan Kabag SDM dan Tanggal 01Februari 2010 di Ruangan Bagian Seketariat yang menghasilkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Tim Perunding PKB Serikat Pekerja Perkebunan yang diwakili KetuaSerikat Pekerja Perkebunan (Sp-Bun) dan Sekretaris yang didampingi Anggota mengajukan draft yang intinya ada perubahan untuk kesejahteraan karyawan pada tahun 2010-2011 khususnya menyangkutupah yang diharapkan dapat mengikuti koefisien PKB Induk. 2. Tim Perunding PKB 2010-2011 Pihak Manajemen yang diwakiliKabag SDM (Sumber Daya Manusia) didampingi Kabag Sekretariat beserta Sekretaris dan Anggota menyampaikan bahwa ManajemenPT.Perkebunan Nusantara II peduli dengan kesejahteraan karyawan namun sewajarnya harus juga mempertimbangkan kondisi dan rencanakerja perusahaan pada kinerja tahun 2010-2011 serta produktivitas sumber daya manusia guna mendukung kenaikan pendapatanperusahaan yang juga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan khususnya pada bidang upah. 3. Guna mendukung point 1 dan 2 diatas, Tim Perunding PKB PihakSerikat Pekerja sebagai perwakilan karyawan PT.PerkebunanNusantara II dan Tim Perunding PT.Perkebunan Nusantara II, maka point-point yang terakomodir bila perhitungan pembayaran upahdidasari perkalian koefisien disepakati secara informal berupa : 3.1. Premi/Tunjangan Jabatan Bidang Admi/Umum diberikan sesuai pekerjaan yang tertuang sebagaimana diatur pada nomenklatur. 3.2. Serikat Pekerja Tingkat Perusahaan mendorong karyawan dalam peningkatan produktivitas guna menunjang kenaikan produksisehingga pendapatan perusahaan dapat berimbang dengan 3.3. Lembur dijalankan sesuai dengan peraturan perundang- undangan ketenagakerjaan dan sesuai dengan Sistem dan ProsedurPerusahaan dan untuk pemberian lembur yang tidak sesuai denganSistem dan Prosedur, juga ketentuan yang ada serta tidak dapat dipertanggung-jawabkan maka lembur tersebut tidak dapatdibayarkan. Hal ini didukung sepenuhnya oleh Serikat Pekerja. 3.4. Frekwensi Rapat Serikat Pekerja agar lebih selektif dan jumlah karyawan yang ikut dalam rapat-rapat Serikat Pekerja tersebut agarlebih diminimalisir guna efisiensi penggunaan biaya atas beban perusahaan baik rapat Tk.Perusahaan maupun Tk.Basis. 3.5. Di dalam melaksanakan mutasi karyawan pelaksana lebih dari 10 orang yang didasari kelebihan tenaga di satu kebun ke kebunatau unit lainnya di lingkungan PT.Perkebunan Nusantara II, maka terlebih dahulu akan dibicarakan dengan Serikat Pekerja TingkatPerusahaan.Pertemuan informal sebagaimana yang diuraikan diatas ini ditujukan untuk mempercepat dan mempermudah pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama 2010-2011 ini. Yurisprudensi yang isinya seluruh direktur dan federasi(gabungan dari serikat-serikat pekerja yang ada), federasi ini membuat PKB induk guna sebagai Masing-masing tim perunding menyerahkan SK (Surat Keputusan) yang telah ditunjuk oleh Serikat Pekerja dan dari Perusahaan dalam mewakilipelaksanaan tahapan perundingan. Pihak PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Tanjung Morawa menyerahkan Surat Keputusan Direksi PT.Perkebunan Nusantara II Nomor: II.10/Kpts/R.126/VIII/2009 tertanggal 12 Agustus 2009 Tentang PembentukanTim Penyempurnaan/Perundingan Perjanjian Kerja Bersama Tahun 2010/2011PT. Perkebunan Nusantara-II yang menetapkan mengenai : 1. Membubarkan TIM Perjanjian Kerja Bersama PT.PerkebunanNusantara II sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Nomor : II.10/Kpts/11/XII/2007 tanggal 10 Desember 2007. 2. Membentuk TIM Penyempurnaan/Perundingan Perjanjian KerjaBersama Tahun 2010-2011 dengan susunan keanggotaan sebagaimana dilampirkan dalam Surat Keputusan ini. 3. TIM yang dimaksud pada Surat Keputusan ini bertugas mewakiliDireksi untuk merundingkan/membahas Perjanjian Kerja BersamaPTP.Nusantara II dan menetapkan hasil akhir perundingan kedalamPerjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.Perkebunan Nusantara II tahun 2010-2011, bersama dengan Serikat Pekerja PT.Perkebunan Nusantara II. 4. TIM sebagaimana dimaksud dalam amar Surat Keputusan ini bertanggung jawab kepada Direksi PT.Perkebunan Nusantara IIdengan batas waktu pembahasan sampai tanggal 31 desember 2009 dengan ketentuan apabila diperlukan, masa kerja tim dapatdiperpanjang. 5. Semua biaya yang timbul dalam penyempurnaan/perundingan PKB ini menjadi beban PT.Perkebunan Nusantara II. Pihak Serikat Pekerja menyerahkan Surat Keputusan Nomor :015/Kpts/SPBUN/XII/2009 yang berisikan tentang Revisi Susunan TimPerunding Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Tahun 2010-2011 Serikat PekerjaPerkebunan (Sp-Bun) PT.Perkebunan Nusantara II yang menetapkan tentang komposisi Tim Perunding Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Serikat PekerjaPerkebunan (Sp-Bun) PT.Perkebunan Nusantara II. Selanjutnya setelah para pihak menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, pihak Tim Perunding PKB Pihak Manajemen diketahui oleh DirekturSDM/Umum membuat surat undangan rapat Perundingan PKB Periode Tahun2010-2011 yang ditujukan kepada Tim Perunding PKB Pihak Serikat PekerjaPT.Perkebunan Nusantara-II dan kepada pihak Tim Perunding PKB Pihak Manajemen PT.Perkebunan Nusantara II. Pelaksanaan rapat perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Periode tahun 2010-2011 diadakan pada hari Kamis tanggal 04 Maret 2010 pada Pukul08.00-selesai di Ruang VIP Puri Triadiguna PT.Perkebunan Nusantara-II Tanjung Morawa. Didalam pelaksanaan rapat tersebut awalnya para pihak menyepakati pembuatan Tata Tertib Perundingan Perjanjian Kerja Bersama Periode 2010-2011Antara pihak Serikat Pekerja dengan manajemen PT.Perkebunan Nusantara II yang akan berfungsi sebagai pedoman untuk pelaksanaan perundingan. Sistematika Tata Tertib Perjanjian Kerja Bersama Periode 2010-2011Antara Serikat Pekerja dengan manajemen PT.Perkebunan Nusantara II : BAB I Tujuan Tujuan Pembuatan Tata Tertib BAB II Tim Perunding Pihak-pihak yang Melaksanakan Perundingan BAB III Tempat dan Waktu Perundingan BAB IV Materi Perundingan BAB V Tata Cara Perundingan BAB VI Sahnya Perundingan BAB VII Cara Penyelesaian Apabila Terjadi Kebutuhan Perundingan BAB VIII Biaya Perundingan Setelah ditetapkan tata tertib tersebut lalu dimulailah proses perundingan tersebut. Perundingan perjanjian kerja bersama ini dimulai dengan melakukanpembahasan perundingan materi perjanjian kerja bersama. Pada tahap ini setiap terjadi suatu kesepakatan tim perunding pihak serikat pekerja selalu meminta waktu untuk izin keluar dari ruangan rapat dan langsungmemberikan sosialisasi kepada para anggota serikat pekerja lain yang berada di luar ruangan rapat. Para anggota serikat pekerja yang berada di luar ruangan tersebut tidak ikut berunding dalam perundingan perjanjian kerja bersama ini, mereka hanyamengawal tim perunding serikat pekerja. Seharusnya tahap sosialisasi itu baru dilakukan setelah perundingan perjanjian kerja bersama tersebut selesaidilaksanakan dan perjanjian kerja bersama itu telah di sahkan. Tetapi yang tidak terjadi tidak seperti demikian. Hal yang dilakukan oleh tim perunding serikat pekerja ini bertentangan dengan apa yang telah disepakati dalam tata tertib perundingan perjanjian kerjabersama. Lalu setelah melihat situasi yang seperti itu, pihak manajemenPT.Perkebunan Nusantara II melakukan kordinasi kepada petugas mediasi Perselisihan Hubungan Industrial dari Instansi Ketenagakerjaan. Setelah melakukan pengkordinasian kepada petugas mediasi dan didasari pertimbangan hukum bahwa pelaksanaan perundingan perjanjian kerja bersamaini berpedoman pada asas musyawarah untuk mufakat maka di sepakati oleh tim perunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim Perunding Dalam tahap ini Para pihak sebelumnya telah membahas mengenai draftPerjanjian Kerja Bersama itu lalu telah menyepakati beberapa item. Pokok bahasan yang telah disepakati dan diparaf oleh para pihak itu lalu disusun menjadinaskah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang sudah utuh dan formatnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk penyempurnaan redaksional materi Perjanjian Kerja Bersama (PKB), maka dibentuklah suatu Tim kecil yang keanggotaannya mewakili SerikatPekerja/Serikat Buruh dan Manajemen PT.Perkebunan Nusantara II. Lalu dilakukan perumusan naskah Perjanjian Kerja Bersama untuk ditanda-tanganipara pihak Setelah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ditanda-tangani maka masing- masing pihak wajib untuk menjelaskan isi Perjanjian Kerja Bersama (PKB)kepada anggotanya masing-masing agar Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tersebut benar-benar dipahami substansinya dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. B. Kesepakatan & Perubahan dari Rancangan Perjanjian Kerja BersamaPTP.Nusantara II Periode 2010-2011 Para pihak telah terlebih dahulu mengadakan pertemuan informal yang bertujuan untuk menyepakati tempat dan waktu diadakannya perundingan. Setelahdisepakati waktu serta tempat untuk mengadakan perundingan lalu pada waktu yang telah ditentukan para Tim Perunding PT.Perkebunan Nusantara II dan TimPerunding Serikat Pekerja mengadakan perundingan tersebut. Perundingan itu diawali dengan pengisian daftar hadir oleh para pihak dan selanjutnyamelaksanakan perundingan. Mengingat draft Perjanjian Kerja Bersama (PKB) terdiri dari 74 pasal dan XVI (14) Bab, maka disepakati materi perundingan akan dibacakan secara bergantian oleh seketaris masing–masing Tim. Pembacaan dan pembahasan materi dimulai dari Bab I hingga Bab XIV.Terjadi beberapa perbedaan dalam draft perjanjian kerja bersama itu, lalu setelah hal itu menemui kesepakatan maka masing-masing Tim Perunding menyetujuidan memparaf perubahan itu. Para seketaris masing-masing Tim dengan seksama mencatat segala persetujuan dari pasal pasal yang telah disetujui dan langsung diprint dalambentuk lembaran kertas kerja dan diparaf oleh para Tim Perunding Pada pasal-pasal yang masih dalam perdebatan dan menyita waktu untuk sementara tidak dilanjutkan dan membahas pasal lainnya didalam materi draftperundingan yang dimaksudkan mempercepat dan mempermudah pelaksanaan perundingan. Pasal-pasal yang menyita waktu perundingan pada umumnya adalahmasalah masalah eskalasi kenaikan upah , komponen upah dan permintaan Tim Kesepakatan dan Perubahan dari yang terjadi dalam draft Perjanjian KerjaBersama BAB I ISTILAH-ISTILAH Pasal 1 5. Perusahaan adalah PT. Perkebunan Nusantara-II (Persero). 6. Pekerja adalah pekerja yang bekerja diPT.PerkebunanNusantara- II(Persero) yang mempunyai jenjangpenggolongan dari IA BAB I ISTILAH-ISTILAH Pasal 1 5. Perusahaan adalah PT. Perkebunan Nusantara- II (Persero) berikutanak Perusahaan 6. Anak Perusahaan adalah unit usaha yang dikelola bersamadengan pihak ketiga (kerjasamaOperasional). 5. Perusahaan adalahPT. PerkebunanNusantara-II(Persero) berikut anak Perusahaan 6. Pekerja adalah pekerja yang bekerjadi PT.PerkebunanNusantara- II(Persero) berikutAnak Perusahan yang mempunyai jenjang BAB IV HUBUNGAN KERJA Pasal 11 2. Proses PenerimaanPekerja a. Proses recruitmen di utamakan daritenaga kerja yang terseleksi kemampuannya pada saat bekerja 7. Pekerja adalah pekerja yang bekerja diPT.PerkebunanNusantara- II (Persero) berikut Anak Perusahan yang mempunyai jenjang penggolongandari IA sd IID dengan memperoleh upah. BAB IV HUBUNGAN KERJA Pasal 11 2. Proses PenerimaanPekerja a. Proses recruitmen diutamakan dari tenagakerja internal dan terseleksi kemampuannyasesuai formasi/kebutuhan penggolongan dari IAsd IID dengan memperoleh upah. BAB IV HUBUNGAN KERJA Pasal 11 2.Proses Penerimaan Pekerja a. Proses recruitmen dari internal danEkternal , yang terseleksi kemampuannya seuai Pasal 17 3. Pekerja yang menjadi fungsionaris SerikatPekerjaPT.PerkebunanNusantara –II(Persero) dapat di mutasikan olehDireksi setelah dibicarakan denganSerikat Pekerja PT.Perkebunan Nusantara – II (Persero). 4. Khusus Pekerja mutasi dari PropinsiSumatera Utara ke daerah Propinsi Papuayang tersedia. Pasal 17 3. Pekerja yang menjadi fungsionaris SerikatPekerja (Unsur Ketua, Unsur Sekretris) PT. Perkebunan Nusantara –II(Persero) dapat di mutasikan oleh Direksisetelah dibicarakan denganSerikat PekerjaPT.Perkebunan Nusantara – II (Persero). 4. Khusus Pekerja mutasi dari Propinsi SumateraUtara ke daerahPropinsi Papua lamanya formasi/kebutuhan yang tersedia. Pasal 17 3. Pekerja yang menjadi fungsionaris SerikatPekerja (UnsurKetua, Unsur Sekretris PT. PerkebunanNusantara –II(Persero) dapat di mutasikan olehDireksi setelah dibicarakan denganSerikat PekerjaPT.PerkebunanNusantara – II (Persero). 4. Khusus Pekerja mutasi dari PropinsiSumatera Utara ke daerah Propinsi BAB VII PENGUPAHAN, TUNJANGAN DAN SANTUNAN Pasal 30 3. Besarnya upah pokok seba gaimanadimaksud dalam ayat 2 (dua) diatas bagimutasi maksimal 3Tahun dan disesuaikan dengan tahun ajaransekolah. 5. Pekerja yang dimutasikan antar unitsecara kolektif agar dibicarakan terlebihdahulu dengan Serikat Pekerja. BAB VII PENGUPAHAN, TUNJANGAN DAN SANTUNAN Pasal 30 3. Besarnya upah pokok se bagaimana dimaksuddalam ayat 2 (dua) diatas bagi pekerja Papua lamanya mutasi maksimal 3Tahun dan disesuaikan dengantahun ajaran sekolah. 5. Pekerja yang dimutasikan antarunit secara kolektif agar dibicarakanterlebih dahulu dengan SerikatPekerja. BAB VII PENGUPAHAN, TUNJANGAN DAN SANTUNAN Pasal 30 3. Besarnya upah pokok se bagaimanadimaksud dalam ayat 2 (dua) diatas bagi IA/0) mengacu pada sekurang-kurangnya75% dari UpahMinimum yang berlaku di Propinsi SumateraUtara danGolongan/berkala diatasnya mengacu padaperkalian nilai koefisien sebagaimana ditetapkandalam lampiran 1. memberikan pakaian dinas kepada pekerjamenurut fungsi dan tugasnya minimal satupekerja dengan golongan terendah(golongan IA/0) mengacu padasekurang-kurangnya75% dari UpahMinimum yang berlaku di PropinsiSumatera Utara danGolongan/berkala diatasnya mengacupada perkalian nilai koefisiensebagaimana ditetapkan dalamlampiran 1. Risalah 1. Pekerja diikutsertakan dalam ProgramJaminan Hari Tua atau pensiun yangdiselenggarakan olehDana PensiunPerkebunan (DAPENBUN). 2. Pekerja yang PensiunT.M.T 1 Januari 2008 perusahaan tidakmemberikan bantuan beras Pensiun danbatihnya Pasal 61 Pemilikan Pengadaan tahun satu stel. Pasal 60 Program Pensiun 1. Karyawan wajib diikutsertakan dalamProgram Pensiun berdasarkan UU No.11/1992 yang diselenggara kan oleh Dana PensiunPerkebunan(DAPENBUN) dan atau lembaga Pensiun lainya. 2. Pekerja yang PensiunT.M.T 1 Januari 2008 perusahaan tidakmemberikan bantuan berasPensiun dan batihnya Pasal 61 Pemilikan Pengadaan Pasal 60 Program Pensiun Pekerja diikutsertakan dalam ProgramJaminan Hari Tua atau pensiun yangdiselenggarakan olehDana PensiunPerkebunan (DAPENBUN). Rumah Pekerja Untuk masa depan dan kesejahteraan paraPekerja, Manajemen menyediakan pengadaanKredit Pemilikan Rumah(KPR) dengan type RSS dan atau RS dimanaPerusahaan menyediakan lahan/tapak Perumahandari areal yang tidak produktif, untuk tanamanPerkebunan. Pasal 69 Batas Usia Pensiun 1. Batas Usia Pensiun normal Pekerja sesuaidengan ketentuanPeraturan DanaPensiun Perkebunan yang berlaku yakni Rumah Pekerja Untuk kebutuhan rumah pekerja, Manajemenmemfasilitasi pengadaanKredit Pemilikan Rumah(KPR) dengan type RSS dan atau RS dimanaPerusahaan menyediakan lahan/tapak Perumahandari areal Perusahaan. Pasal 69 Batas Usia Pensiun 1. Batas Usia Pensiun normal Pekerja sesuaidengan ketentuanPeraturan Dana PensiunPerkebunan yang berlaku yakni golongan Rumah Pekerja Manajemen menyediakan tapakperumahan untuk kebutuhan karyawan danmemfasilitasi pengadaanKredit Pemilikan Rumah(KPR) dimana lahan pertapakan yangdimaksud merupakan asset perusahaan. Pasal 69 Batas Usia Pensiun 1. Batas usia pensiun normal Pekerjasesuai dengan ketentuan PeraturanDana PensiunPerkebunan yang IA s/d IID umur 55 berlaku yakni umur 55 tahundan tahundan golongan IIIA golongan IA s/d IIgolongan IIIA s/d s/d IVD umur 56 tahun. umur 55 tahundan IVD umur 56 tahun. golongan IIIA s/d IVD umur 56 tahun. 2. Pekerja berhak atas 2. Batas Usia Pensiun 2. Pekerja berhak atas manfaat Pensiun Karyawan sesuai manfaat Pensiundipercepat atau manfaat dengan ayat 1 diatas dipercepat atauPensiun Tewas atau dapat juga berpedoman manfaat Pensiun manfaat Pensiun Ditunda dengan keputusan Tewas atau manfaatyang dihitung dan Menteri Keuangan RI Pensiun Ditunda dibayar oleh Dapenbun No. yang dihitung dan KEP/193/KM.10/2007 dibayar oleh tanggal 2 Oktober 2007 Dapenbun.tentang pengesahaan atas Peraturan DanaPensiun Perkebunan dan keputusan DireksiPTPN X (Persero) pendiri Dana PensiunPerkebunan No. XP-SURKP / 07.2 tanggal 30 Maret 2007 tentang Peraturan Dana Pensiun dan Dana PensiunPerkebunan 3. Pekerja berhak atas man faat Pensiun dipercepatatau manfaat PensiunTewas atau manfaatPensiun Ditunda sesuai dengan saat pekerjayang bersangkutan diberhentikan olehPerusahaan dan untuk besarnya manfaatpensiun dimaksud dihitung dandibayarkan berdasarkan peraturan Dapenbun. C. Perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian KerjaBersama pada PTP.Nusantara II Pada proses perundingan materi Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Tahun2010–2011 terjadi perbedaan pendapat atas draft yang disampaikan oleh TimPerunding Perusahaan dengan draft yang diajukan oleh Tim Perunding SerikatPekerja, yaitu pada pasal-pasal mengenai Upah, Beras Pensiunan, Jamsostek berkaitan dengan Santunan Hari Tua dan masalah fasilitas rumah dinas belumdisetujui oleh Tim Perunding dari Serikat Pekerja dan meminta Tim Perunding perusahaan memberikan alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan. Alasan alasan Tim Perunding dari perusahaan atas penyampaian draft perubahan disampaikan sebagai berikut : 1. Alasan Masalah Beras PensiunanDisampaikan oleh Tim Perunding Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dari perusahaan bahwa pemberian beras sewajarnya diberikan pada saat masih dinasdan didalam komponen upah di PT.Perkebunan Nusantara II beras merupakan komponen Tunjangan Tidak Tetap sementara iuran dana pensiun dihitungberdasarkan upah pokok dan selain itu telah menjadi beban perusahaan yang sewajarnya alokasi biayanya dipergunakan untuk pemenuhan komponen normatifyang masih harus menjadi perhatian. (Perusahaan lainnya juga tidak memberikan beras pensiunan). Keberatan Masalah Beras Pensiunan Tim Perunding Serikat Pekerja belum menerima usulan draft atas pasal mengenai tidak lagi beras diberikan oleh perusahaan, mengingat pemberian initelah ada sejak jaman Belanda mengelola perkebunan di wilayah Sumatera, 2. Alasan Santunan Hari TuaDidalam Undang-undang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jamsostek telah diatur segala Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang merupakan kewajiban dalampelaksanaan hubungan kerja, namun faktualnya menurut Tim PerundinganPerusahaan telah terjadi duplikasi ( standar ganda ) dalam pemberian hak hak wajib yang dipersyaratkan oleh peraturan ketenagakerjaan , dimana didalam salahsatu pasal yang ada di dalam Undang-undang No.3 Tahun 1992 TentangJamsostek diwajibkan para pekerja mengikuti program Jamsostek yang meliputiJaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua dan JaminanKesehatan namun didalam pelaksanaan hal-hal yang tersebut diatas juga diberikan oleh perusahaan, sehingga perusahaan tidak terbebani dengan hal-hal yangsebenarnya telah terjadi duplikasi. Keberatan Masalah Santunan Hari Tua Dikarenakan sama lazimnya sudah diterima bagi karyawan yang memasuki purna tugas, dan sangat di harapkan oleh pekerja walaupun di sadaripemberian tersebut merupakan apresiasi dari perusahaan bagi perkerja yang berkelakuan baik, dan bisa dari jaminan hari tua dari PT Jamsostek danpemberian tersebut atas iuran , hal hal tersebut sebaiknya dapat diberikan namun bagi pekerja yang tidak berkelakuan baik khususnya tidak mau meninggalkanrumah dinas, tidak lagi diberikan karena telah telah melanggar peraturan perusahaan. Dan bagi orang orang yang mengalami kecelakaan kerja, mengingat 3. Alasan Tunjangan Sewa RumahDahulu setiap pekerja di PT.Perkebunan Nusantara II mendapatkan jatah untuk menempati rumah dinah, apabila para pekerja itu tidak dapat menempatirumah dinas maka dia dapat menyewa rumah untuk tempat tinggal dan biaya untuk membayar sewa rumah itu dari perusahaan. Tetapi pada saat sekarang inikondisi perusahaan tidak seperti dahulu, sehingga tidak lagi diberikan tunjangan sewa rumah. Para pekerja hanya diberikan jatah untuk tinggal di rumah dinas. Keberatan Tunjangan Sewa RumahSerikat pekerja keberatan juga atas usulan draft yang menghilangkan pemberian fasilitas rumah dinas dan atau pemberian tunjangan sewa rumah bagi yang tidak menempati rumah dinas. Mengingat aturan pemakaian rumah dinastelah diberikan sejak berdirinya perusahaan PT.Perkebunan Nusantara II. Dan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat yang belum dapat titik temu secara musyawarah dan mufakat, tim berunding Perjanjian Kerja Bersama(PKB) mengusulkan bahwa pasal-pasal yang di perdebatkan sewajarnya dimintakan pendapat kepada petugas mediasi dari instansi yang membidangiketenagakerjaan. Dimana hal ini di maksudkan bila titik temu perbedaaan pendapat dapat dijadikan suatu keputusan yang final, maka dapat di pertanggung-jawabkan secara peraturan ketenagakerjaan dan hal hal yang diputuskan juga dapat di pertanggung-jawabkan, baik kepada pimpinan perusahaan maupuntanggung-jawab tim perunding dari serikat pekerja yang mewakili pekerja. Dalam penyelesaian perselisihan dan perubahan perjanjian kerja bersamaPT Perkebunan Nusantara II periode 2010- 2011 yang ditinjau dari UU no 13Tahun 2003 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RepublikIndonesia Nomor : KEP-48/Men/IV/2004 meliputi : 1. Cara pertama diberi pengertian bahwa hal-hal yang dihapus bukan merupakan hal yang normatif. Misalnya, masalah beras pensiunan. Sebenarnya beras itu adalah sudah termasuk tunjangan pada waktu pekerja masih aktif bekerja, mengingat dahulu pekerja perkebunan berada di daerahterisolir sehingga timbul hak untuk mendapatkan tunjangan beras dan pada waktu pekerja sudah terjadi pemutusan hubungan kerja dikarenakan pensiun, maka haktersebut tidak lagi melekat pada perkerja tersebut. 2. Pembuktian Undang Undang dan kemampuan perusahaanDalam kesepakatan dan permohonan eskalasi kenaikan dalam upah yang diminta oleh Serikat Perkerja sewajarnya juga di pertimbangkan kemampuanperusahaan mengingat saat ini PT.Perkebunan Nusantara II dalam kondisi kurang mengembirakan maka didalam perundingan disepakati eskalasi kenaikan terlebihdahulu diutamakan hak hak normatif yang diatur dalam undang undang, seperti 3. Dipanggil petugas mediasi Perselisihan Hubungan Industrial dari InstansiKetenagakerjaan Didalam perundingan terjadi beberapa kebuntuan didalam pelaksanaan perundingan dimana Serikat Pekerja yang di tunjuk oleh pengurus Serikat Pekerjatingkat perusahaan sebagai tim perunding merasa khawatir atas kepakatan hasil- hasil yang di buat, sehingga setiap terjadi masalah dalam perundingan merekapasti meminta izin untuk keluar ruangan dan berbicara dengan pengurus basis(cabang) berada di luar (yang berjumlah ± 200 orang) yang menunggu hasil tim perunding yang mewakili mereka dalam menyampaikan aspirasi yang merekainginkan khususnya eskalasi kenaikan upah 2010. Lalu pihak panitia perundingan menghubungi petugas mediasi untuk meminta solusi dari permasalahan ini. Petugas mediasi berpendapat, mengingatbahwa perundingan perjanjian kerja bersama ini dilaksanakan dengan cara musyawarah untuk mufakat dan menimbang demi terjaga keamanan dankenyamanan dalam perundingan maka pihak Tim Perunding Serikat Pekerja di perbolehkan untuk bertindak seperti itu. Oleh karena itu lah perlu untuk menghadirkan petugas mediasi khususnya bagian perselisihan hubungan industrial dari dinas tenaga kerja yang benar-benarbersikap netral dan bertindak berdasarkan hukum, jadi apabila terjadi perselisihan petugas mediator dapat mengemukakan pendapatnya tentang issue yang tidakdiperdebatkan. Bab V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Setelah melakukan penelitian dan dari hasil yang penulis peroleh atas analisa penelitian yang penulis lakukan, penulis memperoleh beberapakesimpulan mengenai permasalahan perjanjian kerja bersama tersebut yang antara lain : 1. Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB)PT.Perkebunan Nusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingatUndang-undang No.21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja dan Undang- undang No.13 Tahun 2003 Tentang ketenagakerjaan serta KEP-48/Men/IV/2004 Tentang Tata Cara Pembuatan dan PengesahanPeraturan Perusahaan Serta Pembuatan dan Pendaftaran Perjanjian KerjaBersama, lalu pihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal ini PT.Perkebunan Nusantara II ataspengajuan perubahan perubahan pasal-pasal perjanjian dari PerjanjianKerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkan kesejahteraan karyawan. 2. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakan pertemuan informal yang dihadiri oleh para pihak. Dilakukannyapertemuan informal ini bertujuan untuk membahas masalah-masalah 3. Pada tahap jalannya perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB)2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP-48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannyaperundingan dan meminta kepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. 4. Berdasarkan pertimbangan hukum bahwa pelaksanaan perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh timperunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada TimPerunding Serikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah dikoordinasikan ke pihak petugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun perundingan ini untuk mencapai mufakatdan tidak menimbulkan keributan dan perselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan. B. Saran Didalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB)PT.Perkebunan Nusantara II Periode 2010-2011 menurut hemat kami perlu dilakukan beberapa langkah-langkah penyempurnaan pelaksanaan perundinganyakni : 1. Serikat pekerja terlebih dahulu mengadakan pertemuan dengan seluruh pengurus tingkat kebun/dinas/unit untuk menyamakan persepsi dalampengajuan draft untuk pelaksanaan perundingan dengan pihak perusahaan sehingga para anggota paham tentang draft yang akanmenjadi pembahasan perundingan dan memberi tanggung jawab penuh pada perundingan. Agar tidak terjadi lagi sosialisasi yang dilaksanakanpada waktu bersamaan dengan perundingan. 2. Dilakukan verifikasi terlebih dahulu pada setiap periode pengajuan draftPerjanjian Kerja Bersama (PKB) mengingat PT.Perkebunan Nusantara II mempunyai 2 Serikat Pekerja dan telah di amanatkan pada KEP-48/Men/IV/2004 terlebih dahulu dilakukan verivikasi dimana tata cara proses administrasi untuk perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB)2010-2011, tim Serikat Pekerja (Sp-Bun) masih mempergunakan verifikasi 2000 dan kesepakatan yang dibuat pada waktu itu SerikatPekerja Merdeka (SPM) mematuhi undang-undang untuk tidak ikut dalam perundingan. DAFTAR PUSTAKA I. Buku :Samhadi, Sri Hartati, ”Etos kerja Indonesia terburuk di Asia ? http://training- ethos.blogspot .com/2007_ 12_05 _archive .html, di up date tanggal 21Desember 2007. Seran, Alexander, Moral Politik Hukum, Obor, Jakarta, 1999. Djumadi,Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta, Cet.V, 2004. Subekti,Aneka Perjanjian,Penerbit Alumni Bandung,Cet.II,1977. Pakpahan, Muchtar, Lima Tahun Memimpin SBSI, Pilihan Atau Panggilan, Untuk Kesejahteraan, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Tegaknya Hukum Dan Keadilan Sosial,Pustaka Forum Adil Sejahtera, 1997. Hardijan Rusli,Hukum Ketenagakerjaan 2003,Penerbit Ghalia Indonesia,2004Maimun,Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar,Penerbit Pradnya Paramita,Jakarta,Cet.II,2007. Sentanoe Kertonegoro,Hubungan Industrial, Hubungan Antara Pengusaha dan Pekerja(Bipartid) dan Pemerintah(Tripartid), 1999, Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta. Philip Babcoks,A Merriam Webster’s Third New International Dictionary of the English Language un a Bridged,1993,Merriam Webster inc,publishers,Springfield,Massa Chusetts,U.S.A. Departemen P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia,1989,Balai Pustaka,Jakarta. Subekti;Hukum Perjanjian;Cetakan kesebelas,1987;Penerbit PT Intermasa.Fuady,Munir;Hukum Kontrak;Penerbit PT Citra Aditya Bakti,Bandung 1999.Djumialdji,Perjanjian Kerja,Penerbit Bina Aksara,Jakarta,Cet.I,1977.Abdul Kadir,Hukum Perikatan,Penerbit PT.Intermasa,Jakarta,Cet.VI,1979.Manulang Sendjum W,Pokok-pokok Hukum Ketenagakerjaan Indonesia,Penerbit Rineka Cipta,Jakarta,Cet.I,1990. Soedjono,Wiwoho,Hukum Perjanjian Kerja,Penerbit Bina Aksara,Jakarta,Cet.II,1987. Abdul Khakim.2003.Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.Bandung:Citra Aditya Bakti. II. Perundang-undangan :Kepmenaker No. 48 tahun 2004 tentang Tata cara Pembuatan dan pengesahan Peraturan perusahaan serta pembuatan dan pengesahanPerjanjian Kerja bersama. Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang-undang No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.Undang-undang No. 18 tahun 1956 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No.
Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003 Bebas ialah sebagai organisasi dalam melaksanakan hak dan Demokratis ialah dalam melakukan pembentukan organisasi, pemilihan Verifikasi Jumlah Anggota Serikat Pekerja Fungsi serikat pekerja beserta hak dan kewajibannya Tahap Persiapan Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003 Tahap Perundingan Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP..

Gratis

Feedback