Feedback

Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003

Informasi dokumen
PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN PTP NUSANTARA II DENGAN SERIKAT PEKERJA DITINJAU DARI UU No : 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Hukum Oleh : Ayu Kusuma Ning Dewi 060200283 Program Kekhususan Perdata BW FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN PTP NUSANTARA II DENGAN SERIKAT PEKERJA DITINJAU DARI UU No : 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Hukum Oleh : Ayu Kusuma Ning Dewi 060200283 Disetujui Oleh : Ketua Program Kekhususan Perdata BW (Prof.Dr.H.Tan Kamello,SH.MS) NIP . 1962204211988031004 Pembimbing I (Prof.Dr.H.Tan Kamello,SH.MS) NIP . 1962204211988031004 Pembimbing II (Rosnidar Sembiring,SH.M.Hum) NIP.196602021991032002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat mengikuti perkuliahan dan dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi in disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara, dimana hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan perkuliahannya. Adapun judul skripsi yang ingin penulis kemukakan “Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003”. Penulis telah mencurahkan segenap hati, pikiran dan kerja keras dalam penyusuna skripsi ini. Namun penulis menyadari bahwa didalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangannya, baik isi maupun kalimatnya. Oleh sebab itu skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Di dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH.M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 2. Bapak Prof. Dr. H. Tan Kamello,SH.MS., selaku Ketua Program Kekhususan Perdata BW di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang juga Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberi Universitas Sumatera Utara bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada penulis saat penulisan skripsi ini; 3. Ibu Rosnidar Sembiring,SH.M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberi bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada penulis saat penulisan skripsi ini; 4. Seluruh Dosen dan Staff pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 5. Teristimewa untuk kedua Orangtua, Papaku Budhi Prasetio dan Mamaku Endah Sri Wardhani, terimakasih atas segala perhatian, dukungan dan doa yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini; 6. Adik-adikku tersayang Putri Dwiastuti dan Adhitia Prathama Nugraha yang selalu menyemangati penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini. 7. Teman-teman seperjuangan di Fakultas Hukum : Ian Keizer, Julia Franciska, Vendrista Yulia, Tio Wibowo, Samuel Valentino, Fahruzan, Dino Prabowo, Faisal, Eko August yang telah memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dan menyempurnakan skripsi ini. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Medan, Maret 2010 Ayu Kusuma Ning Dewi Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . iv ABSTRAK. vi Bab I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang . 1 B. Permasalahan . 7 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 9 D. Keaslian Penulisan . 10 E. Tinjauan Kepustakaan. 11 F. Metode Penulisan . 14 G. Sistematika Penulisan . 15 Bab II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJA BERSAMA . 17 A. Pengertian perjanjian kerja bersama . 17 B. Syarat-syarat pembuatan perjanjian kerja bersama . 22 C. Manfaat dibentuknya perjanjian kerja bersama . 28 Universitas Sumatera Utara Bab III TINJAUAN HUKUM POSITIF MENGENAI SERIKAT PEKERJA . 33 A. Pengertian dan tujuan pembentukan serikat pekerja . 33 B. Tata cara pembentukan serikat pekerja . 39 C. Fungsi serikat pekerja beserta hak dan kewajibannya . 42 D. Perlindungan terhadap serikat pekerja . 47 Bab IV PELAKSANAAN PEMBUATAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA di PTP.NUSANTARA II . 48 A. Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama Periode 2010-2011 di PTP Nusantara II . 48 B. Kesepakatan & Perubahan dari Perjanjian Kerja Bersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011 . 60 C. Perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama pada PTP.Nusantara II . 70 D. Penyelesaian perselisihan & perubahan Perjanjian Kerja Bersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011 ditinjau dari UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan . 74 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN . 76 A. Kesimpulan . 76 B. Saran . 78 DAFTAR PUSTAKA . 79 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penulisan skripsi ini dilatar-belakangi oleh ketertarikan penulis tentang Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003. Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah Bagaimanakah pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama, Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi, Perselisihan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama, Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan. Dilakukan dengan penelusuran bahan hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalah berupa bahan hukum yang terdiri dari Undang-undang Nomot 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan yang dianggap menunjang penulisan skripsi ini. Bahan sekunder yang diteliti adalah berupa karya ilmiah seperti bahan pustaka, jurnal-jurnal tahunan, buku-buku dan sebagainya. Setelah dilakukan pembahasan maka kemudian diketahui, bahwa Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.Perkebunan Nusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingat Undang-undang No.21 Tahun 2000 dan Undang-undang No.13 Tahun 2003 serta KEP-48/Men/IV/2004, lalu pihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal ini PT.Perkebunan Nusantara II atas pengajuan perubahan perubahan pasal-pasal perjanjian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkan kesejahteraan karyawan. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakan pertemuan informal yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah redaksional dan hal-hal umum dimana hal ini di dasari pertimbangan untuk mempermudah waktu jalannya perundingan yang berakibat pada efisiensi biaya dalam pelaksanaan perundingan. Tahap jalannya perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) 2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannya perundingan dan meminta kepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. Pelaksanaan perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh tim perunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim Perunding Serikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah di koordinasikan ke pihak petugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun perundingan ini untuk mencapai mufakat dan tidak menimbulkan keributan dan perselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penulisan skripsi ini dilatar-belakangi oleh ketertarikan penulis tentang Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003. Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah Bagaimanakah pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama, Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi, Perselisihan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama, Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan. Dilakukan dengan penelusuran bahan hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalah berupa bahan hukum yang terdiri dari Undang-undang Nomot 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan yang dianggap menunjang penulisan skripsi ini. Bahan sekunder yang diteliti adalah berupa karya ilmiah seperti bahan pustaka, jurnal-jurnal tahunan, buku-buku dan sebagainya. Setelah dilakukan pembahasan maka kemudian diketahui, bahwa Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.Perkebunan Nusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingat Undang-undang No.21 Tahun 2000 dan Undang-undang No.13 Tahun 2003 serta KEP-48/Men/IV/2004, lalu pihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal ini PT.Perkebunan Nusantara II atas pengajuan perubahan perubahan pasal-pasal perjanjian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkan kesejahteraan karyawan. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakan pertemuan informal yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah redaksional dan hal-hal umum dimana hal ini di dasari pertimbangan untuk mempermudah waktu jalannya perundingan yang berakibat pada efisiensi biaya dalam pelaksanaan perundingan. Tahap jalannya perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) 2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannya perundingan dan meminta kepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. Pelaksanaan perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh tim perunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim Perunding Serikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah di koordinasikan ke pihak petugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun perundingan ini untuk mencapai mufakat dan tidak menimbulkan keributan dan perselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada masa sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kita untuk membuka diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan dan perkembangan yang terjadi begitu pesat juga melanda dunia usaha yang menuntut tenaga kerja yang berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Tenaga kerja yang demikian diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan citra dari suatu instansi dalam melakukan pelayanan terhadap masyarakat, hal ini menyangkut banyak hal tentang ketenagakerjaan. Peran serta tenaga kerja sangat diperlukan dalam pembangunan ketenagakerjaan guna meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat. Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar dari para pekerja atau buruh dan juga untuk menjamin kesamaan kesempatan serta penempatan tanpa adanya diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja atau buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha. Ketenagakerjaan ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan tenaga kerja waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Didalam peraturan ketenagakerjaan diatur perlindungan terhadap para tenaga kerja yang Universitas Sumatera Utara dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja dan menjamin kesamaan, kesempatan serta perlakuan tanpa adanya diskriminasi dan keinginan untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha. Hubungan Industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku proses produksi barang dan atau jasa (terdiri dari unsur pengusaha , pekerja , dan pemerintah) didasarkan pada nilai nilai yang terkandung didalam sila-sila Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam Implementasi kepribadian bangsa dikenal dengan azas kekeluargaan dan gotong royong serta asas musyawarah untuk mufakat , dimana manisfestasi hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha diperusahaan adalah kerjasama dalam proses produksi dalam menikmati hasil dan tanggung jawab untuk mempertahankan kelangsungan usaha dan perkembangan perusahaan yang juga bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Seiring dengan berkembangnya alam demokrasi, dewasa ini dinamika hubungan industrial mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas dari waktu ke waktu karena pekerja dan pengusaha yang memmiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda. Fakta perburuhan di Indonesia adalah tidak seimbangnya jumlah tenaga kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Ditambah lagi sebagian besar tenaga kerja kita adalah unskill labour. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi penganggguran dengan menyediakan lapangan kerja. Universitas Sumatera Utara Tersedianya lapangan kerja dapat dilakukan melalui investasi. Baik melalui public investment maupun privat investment. Dana yang dibutuhkan Negara dalam mewujudkan public investment sangat besar sehingga peran swasta sangat dibutuhkan. Usaha untuk menarik investor asing merupakan salah satu bentuk dari privat investment. Sayangnya tidak menariknya Indonesia sebagai tempat investasi karena dipicu banyak hal, mulai dari infrastruktur yang tidak memadai, birokrasi perizinan yang masih berbelit, etos kerja yang rendah. 1 Di sisi lain justru saat ini ada kecenderungan beralihnya tenaga trampil dan berkeahlian untuk bekerja ke luar negeri. Bukan hanya faktor tingginya penghasilan yang mendorong mereka. Kondisi politik dan suasana kerja yang memberi penghargaan pada kompetensi inilah yang menyebabkan terjadinya migrasi pekerja berkualitas ke luar negeri. Politk hukum nasional belum sepenuhnya dirumuskan sesuai nilai-nilai moral dan kultural masyarakat kita, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.2 Untuk menjamin adanya kepastian hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaaha yang memiliki kepentingan dan tujuan berbeda dalam hubungan kerja, maka diperlukan satu rumusan sebagai pedoman pengaturan hak & kewajiban antara pekerja dan pengusaha dalam bentuk pembuatan Perjanjian Kerja Bersama. Mendudukkan peraturan tentang ketenagakerjaan yang dibuat sebagai pedoman pelaksanaan hubungan industrial antara hak dan kewajiban baik dari 1 Samhadi, Sri Hartati, ”Etos kerja Indonesia terburuk di Asia ? http://training-ethos.blogspot .com/2007_ 12_05 _archive .html, di up date tanggal 21 Desember 2007. 2 Seran, Alexander, Moral Politik Hukum, Obor, Jakarta, 1999. Universitas Sumatera Utara pekerja yang diwakili oleh serikat pekerja maupun perusahaan dalam melaksanakan hubungan kerja sehingga tidak terjadi perselisihan hubungan industrial dan norma-norma syarat-syarat kerja, perlindungan upah, jaminan sosial pekerja dapat terlaksana sebagaimana yang di amanatkan oleh undang-undang yang diharapkan tercipta hubungan keharmonisan pekerja dan meningkatkan produktifitas perusahaan guna mendukung kesejahteraan pekerja. Suatu aturan hukum yang baik apabila memenuhi delapan kriteria, yaitu berlaku secara umum, diumumkan, tidak berlaku surut, disusun dalam rumusan yang dapat dimengerti, tidak saling bertentangan, dapat dilakukan secara wajar, tidak mudah berubah, ada kecocokan antara aturan dan pelaksanaannya. Delapan kriteria di atas merupakan suatu prinsip hukum. Salah satu prinsip yang belum diterapkan dalam pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja bersifat tetap atau tidak tetap. Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan sistem PKWT namun bentuk pekerjaannya adalah pekerjaan inti yang juga dilakukan pekerja yang berstatus tetap. Dengan kata lain batasan yang diberikan oleh Undang-Undang tentang PKWT telah ditafsirkan secara sepihak oleh kalangan pengusaha yang hanya berpegang pada bunyi Pasal 56 ayat (2); 2. Aturan tentang pembaruan perjanjian (Pasal 59 ayat (6)) digunakan sebagai dasar untuk terus-menerus menggunakan pekerja kontrak meskipun pekerjaan yang dilakukan adalah jenis pekerjaan inti dan tetap. Dalam hal ini pemerintah berkeinginan untuk memberikan kesempatan bagi pengusaha yang akan menggunakan sistem kerja kontrak dengan lebih leluasa. Hal ini didukung oleh kondisi pasar kerja yang menyediakan banyak tenaga kerja potensial sehingga mengganti pekerja lama dengan pekerja baru bukan hal yang sulit bagi pengusaha. Untuk menghindari multitafsir ini maka perlu ditetapkan secara tegas tentang: a. Kategori pekerjaan tetap dan tidak tetap; b. Kategori pekerjaan inti dan non inti; 76 Agusmidah, Op.Cit, hlm. 339. Muhammad Fajrin Pane : Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu , 2008 USU e-Repository © 2008 c. Syarat perpanjangan dan pembaharuan PKWT; d. Sanksi yang tegas bagi pelanggaran butir-butir di atas. Mengenai jangka waktu PKWT juga diatur dengan tegas termasuk persoalan syarat perpanjangan dan pembaharuan PKWT dan sanksi apa yang dapat dijatuhkan pada pengusaha apabila melanggar ketentuan. Seorang pekerja yang dipekerjakan dalam PKWT tidak boleh terikat dengan perjanjian kerja selama lebih dari 3 (tiga) tahun, namun masih terdapat celah bagi pengusaha untuk dapat lebih lama lagi mengikat pekerja dengan sistem PKWT, yaitu dengan melakukan perpanjangan dan pembaharuan PKWT. Dalam usulan rumusan penyempurnaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan oleh pemerintah disebutkan bahwa perlu dilakukan perubahan pengaturan tentang PKWT yang terdapat dalam Pasal 59, antara lain: 77 a. PKWT yang dilakukan atas dasar jangka waktu dapat dilakukan untuk semua jenis pekerjaan; b. PKWT yang didasarkan atas jangka waktu dapat diadakan untuk paling lama lima tahun; c. Setelah berakhirnya PKWT sesuai dengan jangka waktu yang diperjanjikan pekerja/buruh berhak atas santunan yang besarnya diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama; 77 Bahan Tripartit, Usulan Rumusan Penyempurnaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, 8 Februari 2006, Jakarta, 2006. Muhammad Fajrin Pane : Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu , 2008 USU e-Repository © 2008 d. PKWT yang dilakukan secara terus-menerus dan melebihi jangka waktu lima tahun demi hukum berubah menjadi PKWTT; e. Dalam hal hubungan kerja diakhiri sebelum berakhirnya PKWT yang disebabkan oleh pengusaha maka pengusaha wajib membayar sisa upah dan santunan yang seharusnya dierima sampai berakhirnya PKWT; f. Dalam hal hubungan kerja sebelum berakhirnya PKWT yang disebabkan oleh pekerja melanggar ketentuan dalam perjanjian kerja maka pekerja tidak berhak atas santunan dan pekerja yang bersangkutan wajib membayar sisa upah dan santunan yang seharusnya diterima sampai masa berakhirnya PKWT; g Dalam hal PKWT yang dilakukan atas dasar selesainya pekerjaan tertentu sebagaimana dimaksud Pasal 56 ayat (2) huruf b, tidak ada pembatasan jangka waktu; h. PKWT atas selesainya suatu pekerjaan harus memuat batasan suatu pekerjaan dinyatakan telah selesai. 2. Persyaratan PKWT Sebagaimana perjanjian kerja pada umumnya, PKWT harus memenuhi syaratsyarat pembuatan sehingga perjanjian yang dibuat dapat mengikat dan menjadi undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Untuk pembuatan perjanjian atau kesepakatan kerja tertentu terdapat persyaratan yang harus dipenuhi yang terdiri dari dua macam syarat, yaitu syarat formil dan syarat materil. Syarat materil diatur dalam Muhammad Fajrin Pane : Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu , 2008 USU e-Repository © 2008 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Syarat-syarat materil yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut: 78 a. Kesepakatan dan kemauan bebas dari kedua belah pihak; b. Adanya kemampuan dan kecakapan pihak-pihak untuk mebuat kesepakatan; c. Adanya pekerjaan yang dijanjikan; d. Pekerjaan yang dijanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal syarat sahnya suatu perjanjian, syarat materil dari perjanjian kerja tertentu disebutkan bahwa kesepakatan kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud ayat (1) pada angka 1 da 2 atau tidak memenuhi syarat subjektif maka perjanjian dapat dibatalkan, 79 yaitu dengan permohonan atau gugatan kepada pengadilan, sedangkan yang bertentangan dengan ayat (1) angka 3 dan 4 atau tidak memenuhi syarat objektif maka secara otomatis perjanjian yang dibuat adalah batal demi hukum. 80 Perjanjian kerja yang dibuat untuk waktu harus dibuat secara tertulis. 81 Ketentuan ini dimaksudkan untuk lebih menjamin atau menjaga hal-hal yang tidak diinginkan sehubungan dengan berakhirnya kontrak kerja. PKWT tidak boleh mensyaratkan adanya masa percobaan. 82 Masa percobaan adalah masa atau waktu 78 Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Pasal 52 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 80 Djumadi, Op.Cit, hlm. 67, akibat hukum dari tidak dipenuhinya syarat-syarat tersebut juga sama dengan akibat yang diatur dalam perjanjian pada umumnya yang menganut asas konsensualisme seperti diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. 81 Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 82 Pasal 58 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 79 Muhammad Fajrin Pane : Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu , 2008 USU e-Repository © 2008 untuk menilai kinerja dan kesungguhan, keahlian seorang pekerja. Lama masa percobaan adalah 3 (tiga) bulan, dalam masa percobaan pengusaha dapat mengakhiri hubungan kerja secara sepihak (tanpa izin dari pejabat yang berwenang). Walau demikian, dalam masa percobaan ini pengusaha tetap dilarang membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku. Ketentuan tidak membolehkan adanya masa percobaan dalam PKWT adalah karena perjanjian kerja berlangsung relatif singkat. PKWT yang mensyaratkan adanya masa percobaan, maka PKWT tersebut batal demi hukum. 83 PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. 84 Dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP. 100/VI/2004 disebutkan bahwa dalam PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya adalah PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu dan dibuat untuk paling lama 3 (tiga) tahun. 85 Apabila dalam hal pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari yang diperjanjikan maka PKWT tersebut putus demi hukum pada saat selesainya pekerjaan. Selanjutnya dalam PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu harus dicantumkan batasan suatu pekerjaan dinyatakan selesai, namun apabila dalam 83 Abdul Khakim, Op. Cit, hlm. 35, hal ini diatur dalam Pasal 58 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 84 Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 85 Pasal 3 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.100/VI/2004. Muhammad Fajrin Pane : Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu , 2008 USU e-Repository © 2008 hal PKWT dibuat berdasarkan selesainya pekerjaan tertentu pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan dapat dilakukan pembaruan PKWT. Pembaruan sebagaimana yang dimaksud yaitu dilakukan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perjanjian kerja dan selama tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut tidak ada hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha. Selain itu disebutkan juga para pihak dapat mengatur hal lain dari ketentuan tersebut yang dituangkan dalam perjanjian. Adapun syarat-syarat formal yang harus dipenuhi oleh suatu kesepakatan kerja tertentu adalah sebagai berikut: 86 a. Kesepakatan kerja dibuat rangkap 3 (tiga), masing-masing digunakan untuk pekerja, pengusaha dan kantor Departemen Tenaga Kerja setempat yang masingmasing memiliki kekuatan hukum yang sama; b. Kesepakatan kerja harus didaftarkan pada kantor Departemen Tenaga Kerja Setempat, selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak ditandatangani kesepakatan kerja tertentu; c. Biaya yang timbul akibat pembuatan kesepakatan kerja tertentu semuanya ditanggung oleh pengusaha; d. Kesepakatan kerja tertentu harus memuat identitas serta hak dan kewajiban siapapun dilarang menghalang-halangi terbentuknya serikat pekerja/serikat buruh. Jika ada yang melanggar ketentuan tersebut maka dapat dikatakan telah terjadi tindak pidana terhadap pekerja/buruh dalam hal kebebasan berserikat sehingga pelakunya dapat dipidana. Terhadap tindak pidana kebebasan berserikat pekerja/buruh diselesaikan melalui sistem peradilan pidana. Pada dasarnya penyelesaian sengketa mengenai perburuhan dapat ditempuh melalui Pengadilan Hubungan Industrial dan melalui Sistem Peradilan Pidana. Pengadilan Hubungan Industrial menyelesaikan sengketa perburuhan dalam lingkup perdata, artinya adalah terdapat unsur wanprestasi (cedera janji) dan perbuatan melawan hukum terhadap perjanjian kerja yang telah disepakati, dimana perjanjian kerja merupakan undang-undang bagi pengusaha dan pekerja/buruh. Sedangkan sengketa perburuhan yang diselesaikan melalui Sistem Peradilan Pidana merupakan perbuatan yang melawan tata hukum dan hak asasi, dalam hal ini adalah melanggar hak asasi pekerja/buruh dalam membentuk serikat pekerja/serikat buruh yang pada dasarnya merupakan kehendak bebas para pekerja/buruh. Implementasi penerapan ketentuan pidana dalam tindak pidana kebebasan berserikat terdapat dalam Putusan Mahkamah Agung No. 2014 K/Pid.Sus/2012 dan Putusan Mahkamah Agung No. 1038 K/Pid.Sus/2009. Kedua putusan tersebut merupakan bentuk penegakan hukum di bidang kebebasan berserikat pekerja/buruh yang telah diatur dalam UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekera/Serikat Buruh. Dalam kedua putusan tersebut, kedua terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan penjara dan pidana denda pada terdakwa kasus pertama sebesar Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Putusan majelis hakim ini merupakan bentuk nyata penerapan kebijakan hukum pidana terhadap tindak pidana kebebasan berserikat pekerja/buruh yang diharapkan dapat menimbulkan efek jera kepada terdakwa dan menjadi bukti nyata perlindungan hukum terhadap pekerja/buruh dari kesewenangan dan ketidakpatuhan para pengusaha terhadap aturan hukum yang telah dibuat oleh pemerintah. Namun terhadap kebijakan hukum pidana yang diterapkan, korban harus cukup puas dengan pidana penjara dan pidana denda yang diberikan kepada pelaku, artinya pembebanan pidana hanya ditujukan kepada pribadi pelaku saja, tidak ada pembebanan atau keharusan penggantian ganti rugi dari pelaku kepada korban. B. Saran Saran yang dapat diberikan untuk menanggulangi tindak pidana kebebasan berserikat pekerja/buruh yaitu: 1. Diperlukan peningkatan pengawasan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan terhadap para pengusaha sehingga memperkecil ruang dan kesempatan para pengusaha untuk melakukan tindak pidana atau pelanggaran yang merugikan hak-hak pekerja/buruh, khususnya hak untuk kebebasan berserikat pekerja/buruh yang dipandang merugikan oleh para pengusaha. 2. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang membawahi pegawai pengawas ketenagakerjaan juga harus mengawasi pegawai pengawas ketenagakerjaan dalam melakukan pekerjaannya sehingga dapat dipastikan pegawai pengawas ketenagakerjaan melakukan pekerjaannya dengan baik. 3. Memberikan pengetahuan/edukasi terhadap pekerja/buruh mengenai haknya untuk membentuk serikat pekerja/buruh sebagaimana diatur dalam UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh, serta memberitahukan kepada para pekerja/buruh untuk melaporkan pengusaha yang melakukan union busting atau usaha untuk menghalang-halangi pekerja/buruh untuk membentuk serikat pekerja/serikat buruh atau usaha untuk memecah belah serikat pekerja/serikat buruh yang telah dibentuk. 4. Pengusaha harus menjalankan kewajibannya untuk memberitahukan dan menjelaskan isi peraturan perusahaan dan perjanjian kerja antara pengusaha dengan pekerja/buruh kedua pihak saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing. 5. Perlunya penegak hukum yang melek hukum ketenagakerjaan sehingga dapat dengan cepat dan tepat dalam menangani kasus tindak pidana kebebasan berserikat pekerja/hukum yang dilakukan oleh para pengusaha, dengan memberikan sanksi pidana yang sesuai dan setimpal dengan perbuatan pengusaha yang membatasi hak dasar pekerja/buruh sehingga mengakibatkan kerugian bagi para pekerja/buruh baik secara moril maupun materiil. 6. Diperlukan perhatian khusus terhadap sanksi pidana yang diberikan kepada para pengusaha yang melakukan tindak pidana kebebasan berserikat pekerja/buruh, khususnya terhadap pidana denda. Diharapkan pidana denda yang dibebankan kepada para pengusaha dapat dilimpahkan atau diberikan pula kepada paar pekerja/buruh sebagai pengganti kerugian materiil yang telah dialami pekerja/buruh. Sehingga sanksi pidana yang diberikan bukan hanya menimbulkann efek jera kepada para pengusaha yang melakukan tindak pidana kebebasan berserikat melainkan juga untuk menciptakan keadilan dan keseimbangan tatanan hukum. DAFTAR PUSTAKA A. Buku Agusmidah, Dinamika Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Medan, USU Press, 2010 ______, Dinamika dan Kajian Teori Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bogor, Ghalia Indonesia, 2010 ______, Dilematika Hukum Ketenagakerjaan Tinjauan Politik Hukum, Jakarta, PT.Sofmedia, 2011 Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Konsep KUHP Baru, Jakarta, Kencana Media Grup, 2008 ______, Barda Nawawi, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan, Jakarta, Kencana, 2007 Asyhadie, Zaeni, Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2013 Atmadja, I Dewa Gede, Hukum Konstitusi, Malang, Setara Press, 2009 Budiono, Abdul Rachman, Hukum Perburuhan di Indonesia, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1995 Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2002 Damanik, Sehat, Hukum Acara Perburuhan, Jakarta, DSS Publishing, 2004 Gunadi, Ismu, Jonaedi Efendi, Cepat dan Mudah Memahami Hukum Pidana, Jakarta, Kencana Prenamamedia Group, 2014 Husni, Lalu, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2014 Khakim, Abdul, Dasar-Dasar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 2014 Lamintang, P.A.F., Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 1997 Maramis, Frans, Hukum Pidana Umum dan Tertulis di Indonesia, Jakarta, PT. Raja Grafindo Indonesia, 2013 Marpaung, Leden, Unsur-Unsur Perbuatan Yang Dapat Dihukum (Delik), Jakarta, Sinar Grafika, 1991 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung, PT. Alumni Bandung, 2005 Mulyadi, Mahmud, Criminal Policy; Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, Medan, Pustaka Bangsa Press, 2008 Nasution, Bahder Johan, Hukum Ketenagakerjaan Kebebasan Berserikat Bagi Pekerja, Bandung, Mandar Maju, 2004 Prasetyo, Teguh, Hukum Pidana Edisi Revisi, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2012 Prasetyo, Teguh dan Abdul Hakim Barkatullah, Politik Hukum Pidana; Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005 Rusli, Hardijan, Hukum Ketenagakerjaan 2003, Jakarta, Ghalia Indonesia, 2003 Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI-Press, 2005 Soepomo, Iman, Pengantar Hukum Perburuhan, Jakarta, Djambatan, 2003 Suparman, Supomo, Hukum Acara Peradilan Hubungan Industrial, Jakarta, Jala Permata Aksara, 2009 Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, Malang, UMM Press, 2009 Wijayanti, Asri, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi, Jakarta, Sinar Grafika, 2009 ______, Sinkronisasi Hukum Perburuhan Terhadap Konvensi ILO-Analisis Kebebasan Berserikat dan Penghapusan Kerja Paksa di Indonesia, Bandung, Karya Putra Darwati, 2012 B. Peraturan Perundang-undangan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Tahun 1948 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Undang-Undang Dasar 1945 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981 Tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 Tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri C. Website Alvi Syahrin, Ketentuan Pidana Pasal 43 UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh (Medan: 21 November 2010, http://alviprofdr.blogspot.com/2010/11/pasal-43-uu-no-21-tahun2000-tentang.html) (diakses pada 03 April 2015, Pukul 22.00 WIB) http://regional.kompasiana.com/2013/10/07/pt-tmp-langgar-uu-tenaga-kerja598235.html (diakses pada Sabtu, 10 Januari 2015) http://www.transnewsonline.com/berita-penahanan-ijazah-karyawan-langgaruu--no-13-tahun-2003.html (diakses pada Sabtu, 10 Januari 2015) http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20044/kebebasan-berserikatjalan-di-tempat (diakses pada Senin, 12 Januari 2015)
Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003 Bebas ialah sebagai organisasi dalam melaksanakan hak dan Demokratis ialah dalam melakukan pembentukan organisasi, pemilihan Verifikasi Jumlah Anggota Serikat Pekerja Fungsi serikat pekerja beserta hak dan kewajibannya Tahap Persiapan Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003 Tahap Perundingan Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003

Gratis