Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)

 1  64  189  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

POSISI DOMINAN YANG MENGAKIBATKAN PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT (STUDI KASUS PUTUSAN KPPU NO. 02/KPPU-L/2005 TENTANG CARREFOUR) SKRIPSI

OLEH: JOHANNES TARE PANGARIBUAN NIM: 070200235 DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara POSISI DOMINAN YANG MENGAKIBATKAN PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT(STUDI KASUS PUTUSAN KPPU NO. 02/KPPU-L/2005 TENTANG CARREFOUR) SKRIPSIDisusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH: JOHANNES TARE PANGARIBUAN

  NIM: 070200235 DEPARTEMEN HUKUM EKONOMIDisetujui Oleh: Ketua Departemen Hukum Ekonomi Windha, S. Ningrum Natasya Sirait, S.

NIP. 195603291986011001 NIP. 197501122005012002

KATA PENGANTAR

  Kedua permasalahan itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini dengan menggunakan metode pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (library research) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai sumber bacaan seperti perundang–undangan, buku–buku, majalah dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalamskripsi ini. Kedua permasalahan itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini dengan menggunakan metode pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (library research) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai sumber bacaan seperti perundang–undangan, buku–buku, majalah dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalamskripsi ini.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu permasalahan yang tegas akan kita dapati ketika berbicara iklim

  Oleh karena itu menjadi lebih ungggul (market leader) pada suatupasar bukanlah merupakan suatu hal yang dilarang, bahkan hal ini tentunya akan memacu para pelaku usaha untuk melakukan efisiensi dan inovasi-inovasi untukmenghasilkan produk yang berkualitas dan harga yang kompetitif di dalam persaingan yang ada dengan pelaku usaha lainnya dalam pasar tersebut. Oleh karena di dalam mencapai suatu posisi dominan dalam suatu pasar adalah hal yang tidak mudah, maka si pelaku usaha cenderung akan terdoronguntuk melakukan segala cara untuk mencapai posisi dominan serta mempertahankannya agar tidak tergoyahkan oleh pelaku usaha lain, bahkanterkadang si posisi dominan melakukan tindakan-tindakan yang anti persaingan dalam mempertahankan posisi dominannya.

5 Asril Sitompul, Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Tinjauan Terhadap

  Oleh karena itu menjadi lebih ungggul (market leader) pada suatu pasar bukanlah merupakan suatu hal yang dilarang, bahkan hal ini tentunya akan memacu para pelaku usaha untuk melakukan efisiensi dan inovasi-inovasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan harga yangkompetitif di dalam persaingan yang ada dengan pelaku usaha lainnya dalam pasar tersebut. Oleh karena di dalam mencapai suatu posisi dominan dalam suatu pasar adalah hal yang tidak mudah, maka si pelaku usaha cenderung akan terdoronguntuk melakukan segala cara untuk mencapai posisi dominan serta7 Ditha Wiradiputra, Loc.cit Suatu hal yang tidak dapat dipungkirin bahwa negara tidak dapat berjalan maju tanpa adanya dunia usaha yang berkembang secara pesat dan efisien.

10 AS atau sekitar 3 triliun rupiah

  Carrefour Indonesia, KPPU(Komisi Pengawas Persaingan Usaha), yang merupakan lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerinta serta pihak lainnya dan KPPU 11 bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden selaku kepala Negara , mendapati laporan dari masyarakat bahwa perusahaan retail ini telah melakukanperbuatan persaingan usaha tidak sehat. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka pembahasan permasalahan akan dititikberatkan pada bagaimana posisi dominanyang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat serta menganalisis putusan KPPU Nomor 02 / KPPU-L / 2005 TentangCarrefour untuk dapat melihat apakah Carrefour telah melakukan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat melalui posisi dominan yangperusahaan ini miliki.

D. Keaslian Penulisan

  Untuk mengetahui orisinalitas penulisan, sebelum melakukan penulisan skripsi berjudul “Posisi Dominan yang Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ( Studi Kasus Putusan KPPU No. 02/KPPU- L/2005 Tentang Carrefour )”, penulis terlebih dahulu melakukan penelusuran terhadap berbagai judul skripsi yang tercatat pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah murni hasil pemikiran Penulis yang didasarkan pada pengertian-pengertian, teori-teori, danaturan hukum yang diperoleh melalui referensi media cetak maupun media elektronik.

E. Tinjauan Kepustakaan

  Dari bunyi ketentuan Pasal 25 ayat (2) ini, dapat disimpulkan bahwa jika posisi dominan itu terkait dengan "penguasaan pasar" atas satu jenis barang atau jasatertentu di pasar bersangkutan oleh satu pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha sebesar 50% atau lebih, atau dua atau tiga pelaku usaha atau sekelompokpelaku usaha sebesar 75% atau lebih, hal ini akan mengakibatkan hanya ada satu pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha yang menguasai pangsa pasar yangbersangkutan. Secara etimologi, kata monopoli berasal dari kata Yunani ‘monos’ yang berarti sendiri dan ‘polein’ yang 12 Monopoli terbentuk jika hanya satu pelaku mempunyai kontrol eksklusif terhadap pasokan barang dan jasa di suatu pasar, dan dengan demikian juga terhadap penentuan harganya.

14 Monopoly as prohibited by section 2 of Sherman Antitrust Act has two

  Praktik monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkandikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu 15 Wieniawski, Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dapat diakses dalam:http://www.scribd.com/doc/16045405/Monopoli-dan-Persaingan-Usaha-tidak-sehat16 Lihat pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. Mengingat bahwa Hukum Persaingan Usaha berkaitan dengan aktivitas berusaha (business activity) dan masyarakat usahasebagai tempat berlakunya, dapat dimengerti apabila di banyak negara yang telah memiliki Hukum Persaingan Usaha yang Komperhensif lantas dibentuk organkhusus untuk mengelola penegakan Hukum Persaingan Usaha.

27 Persaingan Usaha

  KPPU diberikan kewenangan dan tugas yang sangat luas meliputi wilayah konsultatif, yudikatif, legislatif, serta eksekutif. Kewenangan-kewenangantersebut menyebabkan KPPU dapat dikatakan memiliki fungsi yang menyerupai lembaga kosultatif, yudikatif, legislatif, serta eksekutif sehingga seringkalilembaga ini dikatakan memiliki wewenang yang tumpang tindih, karena bertindak sebagai investigator (investigative function), penyidik, pemeriksa, penuntut(prosecuting function), pemutus (adjudication function) maupun sebagai fungsi konsultatif (consultative function).

G. Metode Penelitian

  Jenis, Sifat, dan Pendekatan PenelitianJenis penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum 29 normatif, yaitu penelitian yang dilakukan berdasarkan perundang-undangan yang dalam hal ini, antara lain: Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentanglarangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan beberapa Peraturan dan Pedoman Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Bahan hukum tertier, yang mencakup bahan yang memberi petunjuk- petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukumsekunder, seperti: kamus hukum, jurnal ilmiah, dan bahan-bahan lain yang relevan dan dapat dipergunakan untuk melengkapi data yang diperlukandalam penulisan skripsi ini.

G. Sistematika Penulisan

  Maka dari itu, penulis membagi skripsi inidalam beberapa bab yang saling berkaitan satu sama lain, karena isi dari skripsi ini bersifat berkesinambungan antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. 69 BAB I: PENDAHULUAN Pada bab ini dikemukakan tentang Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan, yang semuanya berkaitan dengan Posisi Dominan yang DapatMengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

BAB II HUKUM PERSAINGAN USAHA DI INDONESIA A. Tinjauan Umum Persaingan Usaha Wiston Churchill pernah menyatakan bahwa pokok dari pidato seorang

  Seiring dengan pernyataan Churchill tersebut, pelaku usaha mendirikan dan menjalankan usahanya murni bertujuan untuk memperolehkeuntungan, dengan menggapai kesempatan-kesempatan atau peluang-peluang 34 yang ada. Peluang-peluang usaha yang tercipta dalam kenyataannya belum membuat seluruh masyrakat mampu dan dapat berpartisipasi dalam pembangunan 35 di sektor ekonomi.

42 Kapitalisme. Ajaran pokok dari gerakan besar, individualis-rasionalis di

  Negara menetapkan di mana seseorang harus bekerja, pekerjaan apa yang harus dipilih, apa yang harusdimakan, apa yang harus dihasilkan, berapa tinggi harga yang harus ditetapkan, 44 bagaimana cara menanamkan modal simpanan dan lainnya. Dalam konsepsi persaingan usaha, dengan asumsi bahwa faktor yang mempengaruhi harga adalah permintaan dan penawaran, dengan kondisi lainberada dalam cateris paribus, persaingan usaha akan dengan sendirinya menghasilkan barang atau jasa yang memiliki daya saing yang baik, melaluimekanisme produksi yang efesien dan efektif, dengan mempergunakan seminimum mungkin faktor-faktor produksi yang ada.

47 Ibid, hal. 23

  Persaingan dimana dalam konteks persaingan yang sempurna terdapat banyak produser yang memproduksi barang yang hampir sama sehinggamereka harus bersaing baik di tingkat produser maupun dalam tingkat pemilik modal sekalipun. Singkatnya, pembeli akanmenentukan produk apa yang dan produk yang bagaimana yang mereka sukai dan penjual akan bisa mengefisienkan alokasi sumber daya danproses produksi seraya berharap bahwa produk mereka akan mudah terserap oleh permintaan pembeli.

B. Sejarah Hukum Persaingan Usaha di beberapa Negara

  Suatu proses pasar hanyadapat dikembangkan di dalam struktur pengambilan keputusan yang terdesentralisasi artinya bahwa terdapat individu-individu independen dalamjumlah secukupnya, yang menyediakan pemasokan dan permintaan dalam suatu pasar, karena proses-proses pasar memerlukan saat-saat aksi dan reaksi pelaku-pelaku pasar yang tidak dapat diprediksi. Atas kesamaan kepentingan tersebut maka pada tahun 1951 ditandatanganilah perjanjian di Paris, yang dikenal sebagai ECSC Treaty atau Pada konferensi menteri luar negeri dari enam negara penandatangan traktat ECSC di Mesina tahun 1955, Italia tercapai persetujuan untukmengintegrasikan ekonomi dan terbentuklah apa yang disebut dengan European Atomic Energy Community - EURATOM dan Economic European Community – EEC, yang ditandatangani pada 1957 selanjutnya dikenal sebagai Traktat Roma.

a. Perkembangan Persaingan Usaha di Indonesia

  Sebab, para ahli banyak yang mengatakan, adanya kondisi persaingan (the state of competition) dalam pasar domestik merupakanhal yang sangat penting dari suam kebijakan publik (public policy), khususnya untuk mengukur kemampuan bangsa dalam bersaing di pasarinternasional, serta untuk meyakinkan investor dan eksportir asing untuk bersaing dalam pasar domestik. Pasal 7 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1984 tersebutmenentukan bahwa pemerintah melakukan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan terhadap industri untuk mengembangkan persainganyang baik dan sehat, mencegah persaingan tidak jujur, mencegah pemusatan industri oleh satu kelompok atau perseorangan, dan bentukmonopoli yang merugikan masyarakat.

c. Lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999

  Disamping struktur yang terkonsentrasi, situasi perekonomianIndonesia ketika itu banyak diwarnai pula oleh berbagai bentuk perilaku anti persaingan, seperti perilaku yang berupaya memonopoli ataumenguasai sektor tertentu, melalui kartel, penyalahgunaan posisi Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong dilakukannya reformasi di sektor ekonomi, sebagai bagian dari reformasi di berbagaibidang kehidupan bernegara dan berbangsa. Sebagaimana diketahui, secara garis besar terdapat tiga hal penting yang menjadi inti dariperubahan yang disepakati oleh bangsa ini saat reformasi digulirkan, yang memiliki efek luar biasa bagi perkembangan bangsa ini ke depan.

d. Azas dan Tujuan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999

  Bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga negarauntuk berpartisipasi di dalam proses produksi dan pemasaran barang dan/atau jasa, dalam iklim usaha yang sehat, efektif,dan efisien, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan bekerjanya ekonomi pasar yang wajar; 3. Oleh karena itu, perlu disusun undang-undang tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang dimaksudkanuntuk menegakkan aturan hukum dan memberikan perlindungan yang sama bagi setiap pelaku usaha di dalam upaya untuk meneiptakanpersaingan usaha yang sehat.

76 Emmy Yuhassarie, et.al, Prosidig, Rangkaian Lokakarya Terbatas Masalah-Masalah

  Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika mengukur faktor reasonablenessdalam suatu kasus adalah dengan melihat pada faktor (1) akibat yang ditimbulkan dalam pasar dan persaigan, (2) pertimbangan bisnis yang mendasari tindakan tersebut (3) kekuatan pangsa pasar(market powar) dan (4) alternatif yang tersedia (less restrictive alternative) (5) dan tujuan (intent) dikutip dari Ningrum Natasya Sirait I, Op.cit., hal. 5 Tahun 1999 menggambarkan bentuk dari pendekatan Perse Illegal ini melalui pasal yang sifatnya imperativedengan interpretasi yang memaksa, sebagai contoh kita dapat melihat BagianKedua, Pasal 5 ayat (1) tentang Penetapan Harga “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatubarang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama”.

B. Posisi Dominan menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999

1. Pengertian Posisi Dominan

  Oleh karena di dalam mencapai suatu posisi dominan dalam suatu pasar adalah hal yang tidak mudah, maka si pelaku usaha cenderung akan terdoronguntuk melakukan segala cara untuk mencapai posisi dominan serta mempertahankannya agar tidak tergoyahkan oleh pelaku usaha lain, bahkanterkadang si posisi dominan melakukan tindakan-tindakan yang anti persaingan dalam mempertahankan posisi dominannya. Pemerintah juga menyatakan bahwa Alcoa telah menandatangani kontrak dengan PerusahaanListrik Publik (PLN Amerika) yang mana kontrak tersebut didesain sedemikian rupa sehingga perusahaan yang bergerak sebagai produsen batangan aluminium,yang menjadi saingan Alcoa, tidak bisa mendapatkan listrik dengan harga murah(perlu diketahui bahwa untuk memproduksi batangan aluminium, dibutuhkan listrik yang sangat besar).

96 Ibid, hal 66-67

  Bila ditinjau dari segi struktur pasar, secara konseptual posisi dominan ini seperti jembatan diantara struktur monopoli dan oligopoli (pasar yang dikuasaibeberapa perusahaan sejenis yang memiliki kemampuan yang sama) Pada struktur monopoli, pelaku usaha menguasai 100% pangsa pasar sebab bertindak sebagaipelaku usaha tunggal (monopolis). Selanjutnya bila ditinjau dari segi perilaku pasar, persamaan dan perbedaan antara pelaku usaha monopolis dan posisi dominan menurut Wihana 98 Kirana Jaya dan Ditha Wiradiputra dapat diinventarisasi sebagai berikut: a) Pelaku usaha monopolis dan posisi dominan sama-sama mempunyai dua pengaruh terhadap harga, yaitu seringkali (tidak selalu)meningkatkan tingkat harga untuk memperoleh keuntungan lebih dan menggunakan diskriminasi harga.

2. Jenis-jenis Posisi Dominan

  Direksi dan komisaris merupakan suatu istilah jabatan yang hanya terdapat dalam badan usaha yang berbentuk badan hukum Perseroa Terbatas, dimana direksi dan Untuk itu, agar ketentuan mengenai jabatan rangkap ini tidak hanya mengarah kepada badan usaha yang berbentuk Perseoran Terbatas saja, makapenggunaan istilah Direksi dan Komisaris ini diganti dengan Pengurus danPengawas dengan harapan agar undang-undang ini juga dapat diberlakukan bagi 101 bentuk badan usaha lain selain Perseoran Terbatas. Dari ketentuan Pasal 1 angka 4tersebut dapat disimpulkan 4 syarat yang dimiliki oleh suatu pelaku usaha sebagai pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan, yaitu pelaku usaha tidakmempunyai pesaing yang berarti atau pelaku usaha mempunyai posisi yang lebih 116 dalam kaitan: a) pangsa pasar; b) kemampuan keuangan; c) kemampuan akses pada pasokan atau penjualan; dan d) kemampuan menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.

Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Andi Fahmi Lubis, dkk, Op.cit hal. 180-183

  Pengertian membatasi pasar yang dilakukan oleh pelaku usaha yang mempunyai posisidominan sebagai penjual atau pembeli dapat diartikan dimana pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan mempunyai kemungkinan besar untuk mendistorsipasar yang mengakibatkan pelaku usaha pesaingnya sulit untuk dapat besaing di pasar yang bersangkutan. Karena jika dilihat dari ketentuan Pasal 4, Pasal 13, Pasal 17, dan Pasal 18 menetapkan diduga dapat melakukan praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat, apabila satu pelaku usaha atausatu kelompok pelaku usaha menguasai pangsa pasar lebih dari 50% dan apabila dua atau tiga pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari75% pangsa pasar.

BAB IV PENERAPAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN POSISI DOMINAN A. Penegakkan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia Penegakkan hukum dapat dimaknai sebagai suatu atau serangkaian

  Dalam penyalahgunaan posisi dominan, tidak terdapat sanksi yang cukup nyata, sanksi yang diberikan terhadap pelaku usaha yang menyalahgunakan posisidominannya hanyalah sebatas sanksi administratif yang bisaanya seperti pembatalan suatu perjanjian dan memerintahkan si pelaku usaha untukmenghentikan dan tidak mengulangi kembali penyalahgunaan posisi dominan tersebut. 5 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 9 sampai dengan Pasal 14, 151 Pasal 16 sampai dengan Pasal 19, Pasal 25, Pasal 27, dan Pasal 28 Peraturan KPPU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, hal.

Pasal 48 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999

  Hal yang luar biasa adalah kemampuan para peritel besar ini, untuk menciptakan brand image, yang tertanam di hati konsumen,bahwa untuk berbelanja dengan harga miring, kualitas bagus, produk yang lengkap dengan kenyamanan dan kebersihan yang terjamin maka merekalahpilihannya. Berkaitan dengan perintah untuk menghentikan kegiatan pengenaan minus margin terhadap pemasok, berdasarkan surat dari PT Carrefour tanggal 3 Agustus2005, PT Carrefour tidak lagi menerapkan persyaratan minus margin dalam kontraknya dengan pemasok, dan tidak lagi memberlakukan persyaratan inikepada para pemasok yang telah menyetujui hal tersebut di dalam kontrak yang masih berlaku.

1. Keharusan Tender Offer

  Kemudian pengawasanyang dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui mekanisme pre merger notification belum diatur atau ditetapkan, sedangkan untuk post merger notification diatur dalam Pasal 29 ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, namun baik mengenai tata caranya maupun mengenai ‘nilai yang melebihi jumlahtertentu masih merujuk pada Peraturan Pemerintah, yang sampai saat ini juga belum ditetapkan. Berbicara traiding terms tidak akan mungkin dapat di lakukan apabila suatu perusahaan tidak memiliki market power dan dalam hal ini traiding terms tersebut di lakukan untuk menghentikan langkah para pemasok memberikan perlakuan yang sama kepada perusahaan retail yang lain.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dalam tulisan ini, maka

  Posisi dominan merupakan suatu keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar yang bersangkutan dalamkaitannya dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutandalam kaitannya dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokanatau permintaan barang atau jasa tertentu. Ada beberapa jenis dari Posisi Dominan, dalam hal ini jenis Posisi Dominanmenunjukkan bagaimana bentuk-bentuk dari Posisi Dominan sehingga mengakibatkan Monopoli dan Persaingan Usaha tidak sehat, antara lain;Kegiatan Posisi Dominan yang bersifat umum (Pasal 25 Undang-undangNo. 5 Tahun 1999); Memiliki jabatan baik sebagai direksi maupun 2.

B. Saran

  Hendaknya KPPU sebagai lembaga Independen yang mengawasi persaingan usaha lebih menunjukkan sikap tegasnya terhadap pelaku usahayang memiliki indikasi melakukan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Walaupun dalam hal ini sangat sulit untuk menentukan suatu pelakuusaha telah melakukan monopoli, namun bagi komisi yang pada dasarnya telah ditetapkan sebagai suatu lembaga penentuan kepastian suatupersaingan berjalan secara sehat seharusnya dapat belajar dari pengalaman dan menguatkan kemampuan dalam menganalisa kejadian.

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku-buku

  Udin, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia dan Perkembangannya, CICODS FH-UGM, Yogyakarta: 2009 Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Depok: 1994. Wiradiputra, Ditha, Pengantar Hukum Persaingan Usaha di Indonesia,Universitas Indonesia, Materi Kuliah HPU, Jakarta: 2005 Yani Ahmad dan Widjaya Gunawan, Seri Hukum Bisnis – Anti Monopoli, PT.

2. Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-undang Hukum PerdataKitab Undang-undang Hukum Pidana Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli danPersaingan Usaha Tidak SehatUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas PeraturanPemerintah Nomor 57 Tahun 2010 Tentang Penggabungan atau Peleburan BadanUsaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak SehatPeraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 3 Tahun 2009 TentangPasar BersangkutanPeraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010 TentangTata Cara Penanganan Perkara

3. Jurnal Hukum

http://www.kppu.go.id http://www.hukumonline.comhttp://www.scribd.comhttp://www.merriam-webster.comhttp://balianzahab.wordpress.com http://id.wikipedia.orghttp://www.businessdictionary.com http://budiyana.wordpress.com http://roysanjaya.blogspot.com http://images.alidahek.multiply.multiplycontent.comHttp://www.practicallaw.com
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Prakt..

Gratis

Feedback