Feedback

Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)

Informasi dokumen
POSISI DOMINAN YANG MENGAKIBATKAN PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT (STUDI KASUS PUTUSAN KPPU NO. 02/KPPU-L/2005 TENTANG CARREFOUR) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara OLEH: JOHANNES TARE PANGARIBUAN NIM: 070200235 DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI Universitas Sumatera Utara POSISI DOMINAN YANG MENGAKIBATKAN PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT (STUDI KASUS PUTUSAN KPPU NO. 02/KPPU-L/2005 TENTANG CARREFOUR) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara OLEH: JOHANNES TARE PANGARIBUAN NIM: 070200235 DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI Disetujui Oleh: Ketua Departemen Hukum Ekonomi Windha, S.H., M.Hum. NIP. 197501122005012002 Dosen Pembimbing I, Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., M.Li NIP. 195603291986011001 Dosen Pembimbing II, Windha, S.H., M.Hum. NIP. 197501122005012002 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Penulis sadar bahwa menyelesaikan perkuliahan adalah awal dari sebuah perjalanan kehidupan penulis menuju kesuksesan. Sungguh senang dan bahagia rasanya ketika penulis memenangkan 1 (satu) bangku PTN tepatnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Tahun 2007. Namun ketika ditanya kepadaku apa yang memotivasi diriku agar cepat menyelesaikan perkuliahan ini adalah kejenuhan ku dengan Fakultas ini, fakultas yang telah membesarkanku, karena aku ingin mengabdi pada negeri ini. Puji Tuhan akhirnya penantian panjang penulis telah penulis lewati, setelah melewati masa sedih karena ditinggal tamat sahabat-sahabatku yang telah terlebih dahulu menyelesaikan perkuliahannya, kini skripsi ini selesai juga. Sudah tepatlah penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan atas nikmat karunia yang telah diberikan-Nya kepada penulis selama pengerjaan tersebut. Pada kesempatan ini, penulis dengan rendah hati mempersembahkan skripsi yang berjudul “Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)” kepada dunia pendidikan, guna menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan hukum. Adapun salah satu tujuan dari disusunnya skripsi ini adalah untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini menguraikan berbagai seluk beluk Persaingan Usaha, Universitas Sumatera Utara khususnya mengenai perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan Posisi Dominan dan mengkaji mengenai perilaku Carrefour. Tujuan lainnya adalah untuk mengembangkan pengetahuan mengenai Persaingan Usaha agar dapat dipelajari oleh mahasiswa, kalangan pelaku pasar, maupun masyarakat umum, serta bertujuan agar para pelaku pasar dan konsumen dapat mengetahui hak perlindungan hukum dalam hal berbisnis dan bersaing. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: Kedua orang tua penulis, yaitu Bapak Reguel Pangaribuan dan Ibu Tarima Rajuma Marpaung (Alm), serta saudara kandung penulis, yaitu Juli Wanto Pangaribuan dan Istri, Rohani Jelita Pangaribuan, Peronika Wati Pangaribuan (Mak Dapit) dan Keluarga, Theresia Novita Pangaribuan (Teremutz), Jeremia Hadi Broto Pangaribuan. Mereka yang telah menjadi sumber semangat terbesar bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini; 1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.H., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 3. Bapak Syafruddin, S.H., M.H., DFM., selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 4. Bapak Muhammad Husni, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; Universitas Sumatera Utara 5. Ibu Windha, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus selaku Pembimbing II penulis dalam pengerjaan Skripsi ini; 6. Bapak Ramli Siregar, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 7. Ibu Prof. Dr. Ningrum Natasha Sirait, S.H., M.Li., selaku Pembimbing I penulis dalam pengerjaan Skripsi ini; 8. Bapak Hasim Purba, S.H., M.Hum.,selaku Dosen Penasehat Akademik selama penulis mengenyam bangku pendidikan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; 9. Bapak Edi Ikhsan, S.H., M.A., Bapak Edy Zulham, S.H., M.H., dan Ibu Rafiqoh Lubis, S.H., M.Hum., yang penuh tanggung jawab menjalankan tugas membimbing kami ketika mengikuti MCC Udayana di Bali, sehingga menyisakan kesan yang mendalam, serta Pak Edy Zulham untuk buku-buku yang telah beliau pinjamkan sehinggap penulis bisa menyelesaikan pengerjaan ini; 10. Bapak Nazaruddin, S.H., M.A yang telah membimbing kami Delegasi Lomba Debat UNPAR 2011 di Bandung, terimakasi pak, Salut dan Bangga punya dosen seperti Bapak, terimakasi untuk peringakat 4 (empat)nya pak; 11. Seluruh Dosen pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, baik yang masih mengabdikan diri ataupun yang sudah pensiun; 12. Seluruh staff dan karyawan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara; Universitas Sumatera Utara 13. Keluarga Besar Kelompok Belajar Gemar Belajar, Trimakasi Keluarga kecilku; 14. Sahabat-sahabatku: Moratua Janatama Purba, Alboin Fransius Aditra Roga Pasaribu, Gading Satria Nainggolan, Satra Lumban Toruan, Sera Ricky Swanri Sialagan, dan Saor Mardongan Siahaan, Love You guys; 15. Keluarga Besar DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI), Cabang Medan; 16. Keluarga Besar Meriam Debating Club (MDC) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bg Anof, Bg Ucup, Kak Irma, Kak Witra, Miranda, Satra, Dian, Udur, Agmal, Othy, Een, Fika, Lusi, Yudha, Utami, Sahat, Revani, Zebua, Reza Rewin, Rezki dan Isma, kalian harus tetap menjadi yang terbaik; 17. Rekan-rekan seperjuangan yang tergabung dalam TIM DELEGASI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DALAM MENGIKUTI KOMPETISI PERDILAN SEMU PIALA TJOKORDA RAKA DHERANA, DENPASAR, 6-9 AGUSTUS 2010, yaitu Sera Ricky Siallagan, Gading Satria Nainggolan, Dermawanty Lumbantoruan, Whenny Maranatha Siregar, Suhardi Fonger Sinaga, Esteria Maya Rita Lingga, Yusty Riana Purba, Riswendang Purba, Melda Lumbantoruan, Ristama Situmorang, Dedi Ronald Gultom, Fika Habbina Nababan, Paruhum Purba, Fransisca Purba, Wanelfi Simangunsong, Dorothy Rumapea; Universitas Sumatera Utara 18. Keluarga Besar Pangaribuan, Abang-abang, Kakak-kakak ku terimakasi untuk perhatian kalian semua; 19. Keluarga Besar Op Magdalena Marpaung, terimakasih Opung, Tulang, Nantulang, Inang uda, Bapa Uda, Tante dan Amang Boru dan Para lae-lae ku; 20. Keluarga besar UKM KMK UP FH USU; 21. Kordinasi Tahun 2011; Marthin (Lampard), Fonger (soulmateku), Togi, John, Marupa, Fernandes, Juli, Dessy, Bona, Monica, Immanuel, Erikson, Suspim, Santi (si puli), Joice, Esra, Rikson Serly, Yesaya dan Rebeca serta Kordinasi Tahun 2010; Kak Cory (Bere ku), Evi, Adhi, Lusiana (itok) dan Yeni, tetap berjuang dengan Pelayanannya ya teman-teman; 22. Kelompok Kecil di UKM KMK UP FH USU, Kakak Cristina Purba, Boyle dan Satra; 23. Adik-adik Kelompok ku SOLI DEO GLORIA, Dedi Ronald Gultom dan Melda Theresia Sihombing, harus jadi manusia rohani yang dewasa bukan bayi-bayi rohani; 24. Anak-anak Paduan Suara SMA Negri 7 Medan HALELUJA CHOIR; specialy to Saor, Wiwiek, Nova, Januar, Oliver, Debora (mereka kepalakepala suku PS selama kurun 6 Tahun) dan semua anggota PS selama 6 Tahun, trimakasih telah mau setia melayani Tuhan dengan suara yang kalian miliki, serta tak lupa juga untuk para pelatih, Bg Cristian, dan Bg Juna, trimakasih banyak ya bang. Universitas Sumatera Utara 25. Anak-anak KOOR NATAL 2010, tetap layani Tuhan ya dek dengan suara kalian; 26. Adek-adek kesayangan: Yusty Riana Purba (karena 1 Jeruk tapi sekarang uda gak donk), Immanuel Rumapea (boy,,, sehat boy?) makasi ya untuk laptop mu hehehe_, Joice Simatupang, Tamak, Eyak, Melda, Dedi, Een dan Cristopel (anak Padus HC); 27. Untuk dia, wanita dalam doa ku, Tuhan yang akan memastikan siapa yang terbaik untuk ku dan dia; 28. Seluruh Rekan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat Penulis sebutkan satu-persatu. Hidup Mahasiswa!; 29. Para penulis buku-buku dan artikel-artikel yang penulis jadikan referensi data guna pengerjaan skripsi ini, dan 30. Seluruh orang yang Penulis kenal dan mengenal Penulis. Semoga Tuhan senantiasa memberikan berkat dan perlindungan-Nya kepada kita semua. Penulis berharap kiranya skripsi ini tidak hanya berakhir sebagai setumpuk kertas yang tidak berguna, tapi dapat dipakai oleh setiap orang yang membutuhkan pengembangan pengetahuan mengenai Persaingan Usaha. Penulis juga mengaharapkan kritik dan saran yang konstruktif terhadap skripsi ini. Atas segala perhatiannya, Penulis ucapkan terima kasih. Medan, 25 Mei 2011 Penulis, (Johannes Tare Pangaribuan) Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .i DAFTAR ISI . vii ABSTRAKSI .ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang . 1 B. Perumusan Masalah . 10 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 10 D. Keaslian Penulisan . 12 E. Tinjauan Kepustakaan . 13 F. Metode Penelitian . 23 G. Sistematika Penulisan . 26 BAB II HUKUM PERSAINGAN USAHA DI INDONESIA A. Tinjauan Umum Persaingan Usaha 1. Persfektif Non Ekonomi . 34 2. Persfektif Ekonomi . 35 B. Sejarah Hukum Persaingan Usaha di Beberapa Negara 1. Amerika . 44 2. Jepang . 44 3. Uni Eropa . 45 4. Indonesia a. Perkembangan Persaingan Usaha di Indonesia. . 48 b. Berbagai Peraturan Perundang-undangan Tentang Persaingan Usaha sebelum lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 . 54 Universitas Sumatera Utara c. Lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 . 60 d. Azas dan Tujuan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 . 64 C. Konsep Pendekatan Perse Illegal dan Rule Of Reason dalam Persaingan Usaha . 71 BAB III POSISI DOMINAN YANG BERTENTANGAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 1999 A. Pasar Persaingan Sempurna dan Pasar Tidak Sempurna Dalam Ekonomi 1. Karakteristik Pasar Persaingan Sempurna (Perfect Competition) . 84 2. Karakteristik Pasar Monopoli (Monopoly) . 87 3. Karakteristik Monopolistis (Monopolistic Competition) . 92 4. Karakteristik Pasar Oligopoli (Oligopoly) . 95 B. Posisi Dominan Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 1. Pengertian Posisi Dominan . 100 2. Jenis-jenis Posisi Dominan . 106 C. Posisi Dominan yang Bertentangan Dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 . 120 BAB IV PENERAPAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN POSISI DOMINAN A. Penegakkan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia Dampak Merger Terhadap Persaingan . 139 B. Duduk Perkara Kasus Putusan KPPU Nomor 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour . . 147 Universitas Sumatera Utara C. Penerapan Hukum Terhadap Penyalahgunaan Posisi Dominan dalam Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour . 154 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan . 171 B. Saran . 173 DAFTAR PUSTAKA . 174 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Johannes Tare P * Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait,S.H.,M.LI ** Windha,S.H.,M.Hum *** Setiap pelaku usaha menginginkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga kebanyakan dari para pelaku usaha akan memakai berbagai cara untuk memaksimalkan keuntungan yang diperolehnya. Cara yang dipakai mulai dari mengefesiensikan pengeluaran, memperbaiki jasa pelayanan, memperluas pangsa pasar bahkan memakai strategi bisnis tertentu. Strategi bisnis inilah yang pada akhirnya perlu dikhawatirkan, karena apabila strategi bisnis bertemu dengan posisi dominan sebuah perusahaa maka akan berpotensi mengakibatkan praktek monopoli. Dalam perangkat hukum persaingan usaha di Indonesia pada dasarnya tidak melarang sebuah perusahaan memiliki posisi dominan, namun tegas melarang penyalahgunaan posisi dominan. PT. Carrefour Indonesia, salah satu Perusahaan retail terbesar di Indonesia ini diindikasikan melakukan penyalahgunaan posisi dominan sehingga mengakibatkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Indikasi tersebut terlihat dari putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005. Pada dasarnya posisi dominan tidak dilarang, lalu posisi dominan yang bagaimanakah yang bertentangan dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 dan bagaimakah penerapan hukum terhadap penyalahgunaan posisi dominan yang dilakukan PT. Carrefour Indonesia dalam putusan KPPU no. 02/KPPU-L/2005. Kedua permasalahan itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini dengan menggunakan metode pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (library research) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai sumber bacaan seperti perundang–undangan, buku–buku, majalah dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam skripsi ini. Posisi dominan yang bertentangan dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1999 diatur secara tegas dalam pasal 25-29. Salah satu indikasi yang ada adalah dengan menetapkan syarat-syarat perdagangan. Syarat-syarat perdagangan inilah yang dilakukan oleh PT. Carrefour Indonesia, dalam putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005 ditegaskan bahwa PT. Carrefour Indonesia menetapkan traiding term. Traiding terms merupakan salah satu bentuk syarat perdagangan. Walaupun pada saat ini tidak didapatkan bukti bahwa perusahaan retail terbesar ini telah melakukan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, namun tidak dapat dipungkiri kalau PT. Carrefour Indonesia telah melakukan syarat perdagangan. Sehingga tepatlah kalau Pasal 25 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 merupakan kategori pasal Rule Of Reason. * Mahasiswa ** Dosen pembimbing I *** Dosen Pembimbing II Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Johannes Tare P * Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait,S.H.,M.LI ** Windha,S.H.,M.Hum *** Setiap pelaku usaha menginginkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga kebanyakan dari para pelaku usaha akan memakai berbagai cara untuk memaksimalkan keuntungan yang diperolehnya. Cara yang dipakai mulai dari mengefesiensikan pengeluaran, memperbaiki jasa pelayanan, memperluas pangsa pasar bahkan memakai strategi bisnis tertentu. Strategi bisnis inilah yang pada akhirnya perlu dikhawatirkan, karena apabila strategi bisnis bertemu dengan posisi dominan sebuah perusahaa maka akan berpotensi mengakibatkan praktek monopoli. Dalam perangkat hukum persaingan usaha di Indonesia pada dasarnya tidak melarang sebuah perusahaan memiliki posisi dominan, namun tegas melarang penyalahgunaan posisi dominan. PT. Carrefour Indonesia, salah satu Perusahaan retail terbesar di Indonesia ini diindikasikan melakukan penyalahgunaan posisi dominan sehingga mengakibatkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Indikasi tersebut terlihat dari putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005. Pada dasarnya posisi dominan tidak dilarang, lalu posisi dominan yang bagaimanakah yang bertentangan dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 dan bagaimakah penerapan hukum terhadap penyalahgunaan posisi dominan yang dilakukan PT. Carrefour Indonesia dalam putusan KPPU no. 02/KPPU-L/2005. Kedua permasalahan itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini dengan menggunakan metode pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (library research) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai sumber bacaan seperti perundang–undangan, buku–buku, majalah dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam skripsi ini. Posisi dominan yang bertentangan dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1999 diatur secara tegas dalam pasal 25-29. Salah satu indikasi yang ada adalah dengan menetapkan syarat-syarat perdagangan. Syarat-syarat perdagangan inilah yang dilakukan oleh PT. Carrefour Indonesia, dalam putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005 ditegaskan bahwa PT. Carrefour Indonesia menetapkan traiding term. Traiding terms merupakan salah satu bentuk syarat perdagangan. Walaupun pada saat ini tidak didapatkan bukti bahwa perusahaan retail terbesar ini telah melakukan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, namun tidak dapat dipungkiri kalau PT. Carrefour mengindentifikasi berapa harga maksimum yang dibayar oleh konsumen, maka produsen dapat menerapkan diskriminasi harga tingkat kedua, yaitu menerapkan harga yang berbeda untuk setiap pembeli berdasarkan jumlah barang yang dibeli. Makin sedikit kuantitas barang yang dibeli oleh konsumen maka harga semakin tinggi. 3. Diskriminasi harga yang diterapkan berdasarkan pembedaan karakteristik kelompok konsumen yang akan membeli juga berdasarkan perbedaan demografis kelompok konsumen tersebut. Misalnya suatu swalayan yang memberikan potongan harga untuk siswa sekolah, atau hotel yang memberikan potongan harga bagi penginap yang lanjut usia.66 4. Perjanjian Penetapan Harga di Bawah Harga Pasar Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang No.5 Tahun 1999, perjanjian penetapan harga di bawah biaya marjinal yang dilarang adalah perjanjian yang dibuat pelaku usaha dengan pelaku usaha pesaingnya dengan tujuan menetapkan harga di bawah pasar, yang membawa akibat timbulnya persaingan usaha tidak sehat dan terjadinya praktek monopoli. Sebenarnya apabila produsen menetapkan 65 Ibid., hlm. 49-50. 66 Ayudha D. Prayoga, dkk., Persaingan Usaha dan Hukum yang Mengaturnya di Indonesia, (Jakarta: Partnership for Business Competition, 2001), hlm. 76-77. harga yang rendah bahkan sampai dibawah harga pasar, hal tersebut tidak langsung menyebabkan implikasi negatif. Karena pada awalnya justru memberi keuntungan pada konsumen dalam jangka pendek, tetapi di pihak lain akan sangat merugikan pesaing (produsen lain). Akan tetapi, hal ini dapat mengakibatkan produsen lain tidak mampu bersaing dan terpaksa keluar dari pasar. Demikian pula produsen lainnya yang akan masuk ke dalam pasar akan mengurungkan niatnya karena hanya akan berdampak kerugian baginya. Jika kondisi ini terjadi maka para produsen yang mengadakan perjanjian menetapkan harga di bawah harga pasar itu akhirnya tidak mempunyai pesaaing lagi. Sehingga pada gilirannya mereka akan leluasa menaikkan harga setinggi-tingginya demi meraih kompensasi dari kerugiannya selama ini dan akhirnya untuk mencapai keuntungan yang maksimum.67 5. Perjanjian Penetapan Harga Jual Kembali Dalam Pasal 8 Undang-Undang No.5 Tahun 1999, pelaku usaha (supplier) dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha (distributor) untuk menetapkan harga vertikal (resale price maintenance), dimana penerima barang dan atau jasa selaku distributornya tidak boleh menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang telah diterimanya dari supplier tersebut dengan harga yang lebih rendah daripada harga yang telah diperjanjikan sebelumnya antara supplier dan distributor, sebab hal ini akan dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat.68 Penetapan harga jual kembali apakah dalam harga yang maksimum atau minimum 67 Knud Hansen, dkk., Op.Cit., hlm. 161-162. 68 Ayudha D. Prayoga, dkk., Op.Cit., hal. 51. dapat di samping mengandung argumentasi efisiensi juga dapat berakibat pada persaingan usaha yang tidak sehat. 6. Perjanjian Pembagian Wilayah Pasal 9 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk mengadakan perjanjian pembagian wilayah (market allocation), baik yang bersifat vertikal atau horizontal. Perjanjian ini dilarang karena pelaku usaha meniadakan atau mengurangi persaingan dengan cara membagi wilayah pasar atau alokasi pasar.69 Wilayah pemasaran disini dapat berarti wilayah negara Republik Indonesia atau bagian wilayah negara Republik Indonesia. Membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar itu berarti membagi wilayah untuk memperoleh atau memasok barang, jasa atau barang, dan jasa tertentu. Sebenarnya larangan pembagian wilayah yang dilarang oleh Pasal 9 dari Undang-Undang No.5 Tahun 1999, hanya sebagian saja dari pelarangan pembagian pasar seperti biasanya dilarang oleh hukum anti monopoli. Dalam ilmu hukum antimonopoli, dikenal berbagai macam pembagian pasar (secara horizontal) yang secara yuridis tidak dibenarkan, yaitu:70 1. Pembagian Pasar Teritoreal Dalam hal ini yang dibagi adalah teritoreal dari pasar, misalnya seorang pelaku usaha mendapat hak untuk beroperasi di pasar Jakarta Utara dan Jakarta Pusat, sementara pelaku kompetitornya mendapat hak untuk beroperasi di Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan. 69 Rachmadi Usman, Op.Cit., hlm. 53. 70 Suyud Margono, Hukum Anti Monopoli, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 92. 2. Pembagian Pasar Konsumen Yang dimaksud pembagian pasar konsumen ini adalah dilakukan pembagian dimana konsumen tertentu menjadi pelanggan seorang pelaku pasar, konsumen yang lain menjadi pelanggan dari pihak pelaku pasar pesaingnya. 3. Pembagian Pasar Fungsional Yang dimaksud dengan pembagian pasar fungsional adalah bahwa pasar dibagi berdasarkan fungsinya. Misalnya pasar distribusi barang tertentu diberikan kepada kelompok pelaku pasar yang satu, sementara untuk pelaku pasar retail barang yang sama diberikan kepada kelompok pelaku pasar lainnya. 4. Pembagian Pasar Produk Dalam pembagian pasar produk ini, agar satu pelaku usaha dengan yang lainnya tidak saling berkompetisi, maka dibagikan pasar menurut jenis produk dari suatu garis produksi yang sama. Misalnya untuk penjualan sparepart mobil merek tertentu, seorang pelaku usaha memasok suku cadang yang kecil-kecil, sementara pelaku usaha pesaingnya memasok suku cadang yang besar-besar. 7. Perjanjian Pemboikotan Pelaku usaha juga dilarang untuk membuat perjanjian untuk melakukan pemboikotan (boycott). Pasal 10 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 menyatakan pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Atau pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya, untuk menolak menjual setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain sehingga perbuatan tersebut akan merugikan atau dapat diduga akan merugikan pelaku usaha lain; atau membatasi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli setiap barang dan atau jasa dari pasar bersangkutan. Pemboikotan pada umumnya dilakukan secara bersama-sama (grup boikot).71 Pemboikotan secara kolektif atau kelompok dianggap sebagai hambatan persaingan yang serius, karena menghalangi pesaing atau pihak ketiga untuk menjual barangatau jasa pada pasar yang bersangkutan. Pemboikotan ini merupakan perjanjian horizontal antara pelaku usaha pesaing untuk menolak mengadakan hubungan dagang dengan pelaku usaha lain. Pemboikotan ini dapat menutup akses kepada input yang diperlukan oleh pesaing-pesaing lain.72 8. Perjanjian Kartel Dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999, perjanjian dalam bentuk kartel itu dilarang, umumnya yang dimaksud dengan kartel adalah suatu bentuk kerjasama dari beberapa produsen dari produk-produk tertentu. Tujuan dari perjanjian kartel ini biasanya untuk mengawasi produksi, penjualan, dan harga dari suatu produk barang dan/atau jasa tertentu. Di samping itu kartel dapat pula diartikan sebagai bentuk himpunan di dalam perusahaan-perusahaan dimana mereka mempunyai kepentingan yang sama, dan dituangkan dalam bentuk 71 Asril Sitompul, Op.Cit., hlm. 53. 72 Rachmadi Usman, Op.Cit., hlm. 51. kontrak dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kompetisi, pengalokasian, serta untuk mempromosikan pertukaran hasil dari riset atau produk tertentu.73 Dalam praktik, anggota kartel biasanya dapat menetapkan suatu harga ataupun suatu persyaratan tertentu atas suatu produk dengan tujuan menghambat persaingan, sehingga dengan cara demikian diharapkan dapat memberikan keuntungan dengan para anggota perhimpunan. Sifat destruktif dari kualifikasi perjanjian kartel ini bertujuan untuk menghambat aktivitas bisnis seluas-luasnya terhadap masuknya pesaing baru dalam pasar.74 9. Perjanjian Trust Salah satu bentuk perjanjian yang dilarang dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999 adalah perjanjian trust yang terdapat dalam Pasal 12. Pengertian trust itu sendiri dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999 dapat diartikan sebagai suatu kerjasama dalam membentuk gabungan perusahaan atau perseroan, untuk membentuk sebuah kongsi bisnis dalam bentuk perusahaan secara lebih besar dari perusahaan sebelumnya. Dari ketentuan yang terdapat dalam Pasal 12 UndangUndang No.5 Tahun 1999, maka trust dikualifikasikan sebagai perjanjian yang dilarang apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:75 1. Adanya suatu perjanjian; 2. Perjanjian tersebut dibuat dengan pelaku usaha lain; 3. Melalui perjanjian tersebut telah nyata-nyata dibuat suatu bentuk kerja sama melalui pembentukan usaha yang lebih besar; 4. Perusahaan-perusahaan yang merupakan anggota trust masih tetap eksis; 73 Suyud Margono, Op.Cit., hlm. 93. 74 Ibid., hlm. 94. 75 Ibid., hlm. 95. 5. Tindakan perjanjian tersebut bertujuan untuk mengontrol produksi dan/atau pemasaran atas barang atau jasa dan dapat diduga menimbulkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. 10. Oligopsoni (Pasal 13 Undang-Undang No.5 Tahun 1999) Menurut Kamus Lengkap Ekonomi Edisi Kedua yang disusun oleh Christopher Pass dan Bryan Lowes, olygopsony atau James A. (ed), International Technology Joint Ventures in the Countries of the Pasific Rim, Butterworth Legal Publishers, USA. Downes, John dan Jordan Elliot Goodman, Kamus Istilah Keuangan dan Investasi, Jakarta : Elex Media Computindo Gramedia, Edisi Ketiga. Dworkin, Ronald., Legal Research, Daedalus : Spring,1973. Emerson, Robert W., Franchising and the Collective Rights of Franchisees, Journal of Legal Studies, Vol. 43:1503, tanpa tahun. Friedrich, Carl Joachim., Filsafat Hukum Perspektif Historis, Bandung : PNM, 2004. Fuady, Munir,. Hukum Anti Monopoli, Menyongsong Era Persaingan Sehat, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2003. Gautama, Shidarta., Karakteristik Penalaran Hukum dalam Konteks Keindonesiaan, Bandung : Utomo, 2006. Universitas Sumatera Utara Hadi, Setia Tunggal., Dasar-Dasar Pewaralabaan (Franchising), Jakarta : Harvarindo, 2006. Hardjowidigdo, Rooseno., Beberapa Aspek Hukum Franchising, dalam Seminar Sehari AspekAspek Hukum Tentang Franchise, diselenggarakan oleh IKADIN Cabang Surabaya, di Surabaya, 23 Oktober 1993. Hartono, Sunaryati., Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia, Bandung : Bina Cipta, 1982. Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta : Prenada Media Group, 2008. Huijbers, Theo., Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta : Kanisius, 1982. Juwana, Hikmahanto., Hukum Ekonomi dan Hukum Internasional, Lentera Hati, Jakarta, 2002. Kabul, Imam., Paradigma Pembangunan Hukum di Indonesia, Yogyakarta : Kurnia Kalam, 2005. Kamus Hukum Ekonomi ELIPS, Cet. 2, Jakarta : Direktur Jenderal Hukum dan Perundangundangan Departemen Hukum dan Perundang-undangan RI, 2000. Keraf, A. Sonny., Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta : Kanisius, 1998. Komisi Persaingan Usaha RI, Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Pasal 50 Huruf b tentang Pengecualian Penerapan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 terhadap Perjanjian yang Berkaitan dengan Waralaba Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Jakarta : KPPU, 2009. Kusumaatmadja, Mochtar., Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi UNPAD, Bandung : Universitas Padjajaran, 1976. Manan, Bagir., “Sambutan Pengarahan” dalam Undang-undang No.5/1999 dan KPPU Filosofi dan latar belakang UU No.5/1999: Procedings Rangkaian Lokakarya Terbatas Hukum Universitas Sumatera Utara Kepailitan Dan Wawasan hukum Bisnis Lainnya Tahun 2002: Jakarta 10-11 September 2002/tim editor, Emmy Yuhassarie, Tri Harnowo, Cet.1, Jakarta : Pusat Kajian Hukum, 2003. Marimbo, Rizal Calvary., Rasakan Dahsyatnya Usaha Franchise!, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2007. Mendelsohn, Martin., Franchising, Petunjuk Praktis Bagi Franchisor Dan Franchisee, Jakarta : Pustaka Binaman Pressindo, 1997. Nasution, Bismar., Mengkaji Ulang Hukum Sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi, disampaikan pada “Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara”, Medan : Dosen Pascasarjana Ilmu Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 17 April 2004. Nusantara, Abdul Hakim G., “Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) : Status, wewenang, dan Tugasnya” dalam Undang-undang No.5/1999 dan KPPU Filosofi dan latar belakang UU No.5/1999 : Procedings Rangkaian Lokakarya Terbatas Hukum Kepailitan Dan Wawasan hukum Bisnis Lainnya Tahun 2002 : Jakarta 10 – 11 September 2002/tim editor, Emmy Yuhassarie, Tri Harnowo, Cet.1, Jakarta : Pusat Kajian Hukum, 2003. Paton, George Whitecross., A Text-Book of Jurisprudence, Edisi Kedua, London : Oxford University Press, 1951. Rasjidi, Lili., dan I.B. Wyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1993. Riduan, Metode & Teknik Menyusun Tesis, Bandung : Bina Cipta, 2004. Salim H.S, Hukum Kontrak: Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Cet. II, Jakarta : Sinar Grafika, 2004. Saliman, Abdul R., dan kawan-kawan, Esensi Hukum Bisnis Indonesia Teori dan Contoh Kasus, Jakarta : Kencana, 2004. Setiawan, R., Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bandung : Bina Cipta, 1987. Universitas Sumatera Utara Sirait, Ningrum Natasya., Asosiasi dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Medan : Pustaka Bangsa Press, 2003. Siregar, Mahmul., “Catatan Perkuliahan : Hukum Transaksi Bisnis Internasional”, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2009. Siswanto, Arie., Hukum Persaingan Usaha, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2002. Sjahdeni, Sutan Remy., “Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 10, 2000. Soekanto, Soerjono., Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Grafindo, 2006. Subekti, R., Hukum Perjanjian, Cet. XII, Jakarta : Intermasa, 1990. -------------., KitabUndang-Undang Hukum Perdata, Bandung : Pradnya Paramita, 1979. Usman, Rachmadi., Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Cet.1, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2004. Widjaya, Gunawan., Lisensi Atau Waralaba, Suatu Panduan Praktis, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002. ARTIKEL, INTERNET, MAJALAH “Berita Waralaba”, http://www.inilah.com/berita/2009/10/03/957/ images/beritawaralaba.swf., diakses pada 18 Januari 2010. Bahar, “HKI versus Persaingan Usaha”, http://www.baharandpartners.com/news_detail.php?nID=1806., diakses pada 27 November 2010. Universitas Sumatera Utara Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, “Layanan Merek : Prosedur Pendaftaran Merek”, http://www.dgip.go.id/ebscript/publicportal.cgi?.ucid=376&ctid=3&type=0&id=119., diakses pada 27 November 2010. Doyoharjo, Anggo., Perjanjian Waralaba dan Pengawasan oleh Pemerintah, diakses dari situs : http://www.legalitas.org/content/perjanjian-waralaba-dan-pengawasan-oleh-pemerintah., diakses pada 20 September 2010. Franchise Waralaba, “Contoh Perjanjian Lisensi Merek”, http://www.franchisewaralaba.com/?s=perjanjian+lisensi+merek., diakses pada 27 November 2010. Hukum Online, “Penyalahgunaan Posisi Dominan “, http://fairconomics.blogspot.com/2009/06/waralaba-dan-persaingan-usaha-sehat_02.html diakses pada tanggal 27 November 2010. Newsletter “Waralaba”, http://franchise.medianewsonline.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=26., diakses pada 28 November 2010. Nugroho, on Adi., Waralaba dan Franchise, Persaingan Usaha Sehat, diakses dari situs : http://fairconomics.blogspot.com/2009_06_01_archive.html, diakses pada 20 November 2010. Ritel Waralaba, “ http://www.smfranchise.com/legalwaralaba.html ,” diakses pada tanggal 18 Januari 2010. Silitonga, Linda T., Bisnis Indonesia, http://www.disperindag-jabar.go.id/cetak.php?id=4441., diakses pada 18 Januari 2010. “Standar Operasi Prosedur”, http://ariefraf.wordpress.com/category/pengertian-sop/., diakses pada 28 November 2010. SP, Suroto “ Mencermati Perjanjian Waralaba”, http://totosp.wordpress.com/2009/04/24/bagianii 262html?zx=d534a4o., diakses pada 27 november 2010. Suherman, Ade Maman., Kinerja KPPU sebagai Watchdog Pelaku Usaha di Indonesia, diakses dari situs : http://www.solusihukum.com, diakses pada 11 Agustus 2010. Universitas Sumatera Utara Syamsudin, Amir., Komisi Pengawas Persaingan Usaha Bukan Peradilan?, www.kompas.com., diakses pada 10 Juli 2008. Widiatedja, IGN Parikesit., “Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual”, http://ngurahparikesit.blogspot.com/2008/12/bagian-ii_1116.html?zx=d796fc07aa4c0ff0., diakses pada 27 November 2010. Thariza, O.K., “Teori Keadilan: Perspektif John www.okthariza.multiply.com/journal/item., diakses pada 5 Januari 2010. Rawls”, PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Keputusan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan Nomor 259/MPP/KEP/7/1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba. Keputusan Presiden No. 75 Tahun 1999 tentang Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 31/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4771. Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Lembaran Negara Republik Indonesia No. 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4866. Universitas Sumatera Utara Undang-Undang No. 14 Tahun 2002 tentang Paten, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4189. Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4358. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 33, Tambahan Lembaran Negara No. 3817. Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 53. Universitas Sumatera Utara
Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)

Gratis