Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada pasien Pasca Bedah ORIF di Rumah Sakit umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

 1  52  80  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

  Laporan tunggal klien tentang nyeri yang dirasakan merupakan indikator tunggal yang paling dapat dipercaya tentang keberadaan dan intensitas nyeri dan apapunyang berhubungan dengan ketidaknyamanan (NIH, 1986 dalam Brunner & Suddart, 2001). Ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang bahkan tidak terlalu kentara seringkali lebih menunjukkan karekteristik nyeri dari pada pertanyaan yang akuratmisalnya, klien menangis atau mulai mengguling kekiri dan kekanan dan akan kembali dalam waktu interval teratur.

2. Tujuan Penelitian

2.1 Mengkaji intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

2.2 Mengkaji tingkah laku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

3. Pertanyaan Penelitian

  3.1 Berapa intensitas nyeri yang dialami pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. 3.2 Bagaimana tingkah laku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

4. Manfaat Penelitian

4.1 Bagi Praktek Keperawatan

  Karena sasaran intervensi keperawatan pada pasien pasca bedah ORIF adalah pengurangan nyeri, maka hasil penelitian ini dapat digunakan sebagaiinformasi bagi perawat untuk menentukan intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pemantauannyeri dan pembenahan konsep diri pasien pasca bedah ORIF, baik dalam pemberian terapi farmakologi atau terapi nonfarmakologi yang disediakan. 4.2 Bagi Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian ini berupa data objektif dan subjektif dari pasien pasca bedah ORIF, maka akan dapat menjadi pengkajian awal bagi mahasiswa sebagaibahan dasar dalam pembentukan intervensi keperawatan untuk menurunkan intensitas nyeri dan manajemen perilaku nyeri pasien pasca bedah ORIF.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Penjelasan aspek-aspek terkait dalam penelitian ini akan dipaparkan

sebagai berikut:

1. Nyeri

1.1 Pengertian Nyeri

  Sedangkan menurut International Association for Study of Pain (IASP) dalam Tamsuri (2007), nyeri adalah sensori subjektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisiterjadinya kerusakan. Pendapat Kozier dan Erb (1983) dalam Tamsuri (2007), nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang dimanifestasikan sebagai penderitaan yangdiakibatkan persepsi jiwa yang nyata, ancaman, dan fantasi luka.

1.2 Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory)

  Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007). Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) menyatakan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat.

1.3 Fisiologi nyeri

  Serabut saraf memasuki medulla spinalis dan menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan akhirnya sampai di dalam massa berwarna abu-abu di medullaspinalis. Sekali stimulus mencapai korteks cerebral, maka otak menginterpretasikan kualitas nyeri dan memproses informasi tentangpengalaman dan pengetahuan yang lalu serta asosiasi kebudayaan dalam upaya mempersepsikan nyeri (Mc. Nair, 1990 dalam Potter dan Perry, 2005).

1.2.1 Reseptor Nyeri

  Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomisreseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapatdikelompokkan dalam beberapa bagian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.

a. Reseptor A-delta Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det)

b. Serabut C

  Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan Contoh nyata adanya konduksi stimulus pada tubuh kita yaitu: seseorang yang baru saja terpijak paku mula-mula akan merasakan nyeri yangterlokalisasi dan tajam, yang merupakan hasil transmisi dari serabut A. Serabut C tetap terpapar pada bahan-bahan kimia, yang dilepaskan ketika sel mengalami kerusakan ( Ketika serabut C dan A-delta mentransmisikan impuls dari serabut saraf perifer terjadi pelepasan mediator biokimia yang mengaktifkan respons nyeri. Contoh sederhana Mediator biokimiaadalah kalium dan prostaglandin yang dilepaskan saat sel-sel lokal mengalami kerusakan (Potter & Perry, 2005).

1.2.2 Neuroregulator

  Bradikinin Bradikinin dilepaskan dari plasma dan pecah di sekitar pembuluh darah pada daerah yang mengalami cedera. Bradikinin bekerja pada reseptor sarafperifer menyebabkan peningkatan stimulus nyeri dan bekerja pada sel menyebabkan reaksi berantai sehingga terjadi pelepasan prostaglandin (Tamsuri,2007).

1.4 Klasifikasi Nyeri

Tamsuri, 2005 membagi klasifikasi nyeri berdasarkan 3 bagian, yaitu:

1.4.1 Klasifikasi Berdasarkan Awitan

  Nyeri akut adalah nyeri nyeri yangterjadi pada waktu (durasi) satu detik sampai dengan enam bulan, sedangkan nyeri kronis adalah nyeri yang terjadi dalam waktu lebih dari enam bulan. Nyeri akutumumnya terjadi pada cedera, penyakit akut atau pada pembedahan dengan awitan yang cepat dan tingkat keparahan yang bervariasi (sedang sampai berat).

1.4.2 Klasifikasi Berdasarkan Lokasi

  Nyeri Somatik Dalam (Deep Somatik Pain) Nyeri somatik dalam adalah nyeri yang terjadi pada otot dan tulang serta struktur penyokong lainnya, umumnya nyeri bersifat tumpul dan distimulasidengan adanya peregangan dan iskemik (Tamsuri, 2007). Nyeri Alih Nyeri alih nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral yang menjalar ke orang lain, sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat ataulokasi.

1.4.3 Berdasarkan Organ

  Perasaan yang ditanggapi oleh seorang sebagai“nyeri” dan bisa segawat nyeri yang bersumber dari stimulus fisik. Seringkali nyeri psikologis adalah nyeri yang muncul dari landasan psikologis dan bukan fisiologis.

1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi Respon Nyeri

  Misalnya, seseorangwanita yang sedang bersalin akan mempersepsikan nyeri yang berbeda dengan seorang wanita yang mengalami nyeri akibat cedera pukulan pasangannya(Potter&Perry, 2005). Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkatdihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.

1.5.6 Ansietas

  Pola bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan ansietas(Gil, 1990 dalam Potter&Perry, 2005). Sama hubungan cemasmeningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.

2. Intensitas Nyeri

2.1 Defenisi Intensitas Nyeri

  Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif danindividual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukurannyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri.

2.2.1 Skala intensitas nyeri menurut Agency for Health Care Policy dan

Research (AHCPR). Acute Pain Management: Operative or medical Prosedures

a. Skala Intensitas Nyeri Deskriptif

  VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terusmenerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. VAS dapat merupakanpengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kataatau satu angka.

2.2.2 Skala nyeri menurut bourbanis

2.2.3 The Pain Numerical Rating Scale (PNRS)/Skala Numerik

Keterangan : 0 :Tidak nyeri, 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik, 4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik, 7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klienterkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Tidak Nyeri BeratNyeri PNRS digunakan untuk ukuran intensitas nyeri (segera atau sekarang). Skala terdiri dari 11 poin yang mana 0 menunjukkan “tidak ada nyeri” dan 10 menunjukkan “nyeri sangat berat”, penilaian dari 1-4 disamakan dengan nyeriringan, 5-6 untuk nyeri sedang, dan 7-10 untuk nyeri berat (Serlin dkk, 1995 dalam Harahap, 2007).

2.3 Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah Pembedahan merupakan suatu kekerasan atau trauma bagi penderita

  Menurut Benedetti (1990), nyeri yang hebat menstimulasi reaksi stress yang secara merugikan mempengaruhi sistem jantung dan imun. Penelitian telah menunjukkan bahwa insufisiensi kardiovaskular terjadi tiga kali lebih sering dan insiden infeksi lima kali lebih besar pada individudcngan kontrol nyeri yang buruk (Smeltzer & Bare, 2000).

2.4 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation (ORIF)

  Walaupun pada dasarnya setelah pembedahan otopedi nyeri mungkin sangat berat, edema, hematoma dan spasmeotot merupakan penyebab nyeri yang dirasakan. Nyeri yang terus bertambah dan tak terkontrol perlu dilaporkan ke dokter bedah ortophedi untuk dievaluasi (Brunner & Suddart, 2002).

3. Perilaku Nyeri

3.1 Pengertian Perilaku Nyeri

  Perilaku nyeri mungkin atau juga tidak mungkin dianggap sebagi kesesuaian untuk tingkatandari ilmu penyakit tubuh yang diobservasi (Lofvander, 2002 dalam harahap, 2007) Perilaku nyeri merupakan beberapa dan semua produksi-produksi dari individu yang mana observasi itu layak akan digolongkan sebagai nyeri yangberkesan seperti: (1)Gerakan Tubuh, (2)Ekspresi Wajah ,(3)Pernyataan Verbal,(4) Perebahan badan, (5) Minum obat, (6)Pencarian resep obat dan (7) Penerima kerugian. Perilaku-perilaku nyeri adalah tindakan-tindakan yang berhubungandengan ketidakmampuan (kecacatan) dan kegelisahan (contoh: kejang, lemas, aktivitas yang menurun) dan telah muncul untuk memainkan peranan penting didalam penurunan fungsi dari tingkatan yang dimiliki individu dan menambah kondisi nyeri (Fordyce, 1976 dalam harahap, 2007).

3.2 Jenis-jenis Perilaku Nyeri

Perilaku nyeri kronis secara khusus berdasarkan atas dasar pikiran sekurang-kurangnya di bagi dua jenis yaitu: perilaku responden dan perilakuoperant (Harahap, 2007)

3.2.1 Perilaku responden

  Perilaku responden merupakan salah satu jenis perilaku refleks sebagai respon terhadap stimulus (Kats, 1998 dalam Harahap, 2007) yang munculkapanpun (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007). Dalam nyeri kronik, ketika nyeri itu muncul, pasien kemungkinan merespon terhadap nyeri tersebut dengan beberapa cara sepertipenjagaan (guarding), menggosok (rubbing), meringis (grimacing), menahan nyeri (bracing), dan perilaku nyeri terdengar atau sentuhan yang sering sekalidipengaruhi dari bagian-bagian tubuh.

3.2.2 Perilaku operant

  Ini akan muncul sebagairespon secara langsung dan otomatis terhadap stimulus yang muncul, sama juga sebagai perilaku responden. Tetapi perilaku operant mungkin muncul karenaperilaku-perilaku tersebut telah diikuti dengan positif atau konsekuensi yang kuat(Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007).

3.3 Respon perilaku nyeri Pada saat nyeri dirasakan, pada saat itu juga dimulai suatu siklus

  Respons perilaku yang timbul pada klien yang mengalami nyeri dapat bermacam- macam. Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menitatau menjadi kronis.

a. Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)

  Orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadapnyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpabantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

3.4 Klasifikasi Perilaku Nyeri Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation (ORIF)

  Temuan riset telah mengarah padapemahaman yang lebih baik tentang bagaimana faktor-faktor persepsi, pembelajaran, kepribadian, etnik dan budaya, dan lingkungan dapatmempengaruhi ansietas, depresi, dan nyeri. Tingkat keparahan nyeri pasca operasi tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi individu, toleransi yangditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur, kedalaman trauma bedah dan bagaimana agens tersebut diberikan (Brunner & Suddart, 2002).

4. Bedah ORIF

4.1 Defenisi Bedah ORIF

4.2 Tindakan Pembedahan ORIF (Open Reduction And Internal Fixation)

  Fiksasi interna adalah stabilisasi tulang yang sudah patah yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku dan pin logam. Maka, dapat ditarik kesimpulanOpen Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) adalah sebuah prosedur bedah medis, yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yangdiperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup dan piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan(Brunner&Suddart, 2003).

a. Reduksi Terbuka

  Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomi menuju tempat yang mengalami fraktur. Keuntungan Reduksi Akurat, stabilitas reduksi tertinggi, pemeriksaan struktur neurovaskuler, berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal, penyatuansendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat, rawat inap 2).

b. Fiksasi Internal

  Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama Post eksternal fiksasi,dianjurkan penggunaan gips. Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain: Observasi letak pen dan area, observasi kemerahan, basah dan rembes, observasi statusneurovaskuler distal fraktur, fiksasi eksternal fiksasi internal pembidaian, fiksasi internal dilaksanakan dalam teknik aseptis yang sangat ketat dan pasien untukbeberapa saat mandapat antibiotik untuk pencegahan setelah pembedahan (Barbara, 1996).

4.3 Sasaran Bedah Orif

  Patah tulang panggul dibagi dalam dua klasifikasi Intra Kapsul terjadi didalam persendian dan kapsul, yang meliputi:1) Patah Subcapital2) Patah Traservical3) Patah Basal Leher Ekstra Kapsul terjadi di luar kapsul sendi panggul beserta kapsul pada darah 5 cm dibawah tochanter kecil ini disebut fraktur intertrochanterik. Tekanan menyebabkan gangguan fungsi sebagiantubuh yang tergangguan kepada tingkatan cederanya (Barbara, 1996).

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN

1. Kerangka Konseptual

  Meskipun penelitian ini terdiri dari dua variabel peneliti melakukan pengukuran dua variabel dalam waktu yang bersamaan, karena tindakanpengukuran intensitas nyeri penentuannya secara subjektif dan pengukuran perilaku nyeri bersifat objektif, yang dapat diambil hasilnya hanya denganobservasi secara langsung terhadap pasien. Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit UmumPusat Haji Adam Malik Medan.

2. Definisi Operasional Variabel Defenisi Alat Ukur Hasil Skala Skala Ukur

  Numerical Rating Scale), ran ObservasiPerilaku Nyeri IntensitasNyeri Gambaran tentang seberapa parahnyeri dirasakan oleh individu,pengukuran intensitas sangatsubjektif dan individual IntervalPerilaku Nyeri 3. Pain Behavior ObservationProtocol)/Lapo 0-10 PBOP (The Respon psikologis yang dapatditampilkan dalam bentuk tingkah lakupositif maupun negatif yang dapatdiamati dan dideskripsikan.

BAB 4 METODE PENELITIAN

  Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Deskriptif suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objekif, dan digunakan untukmenjawab dan memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Setiadi, 2007).

2.1 Populasi

2.2 Sampel

  Tekhnik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purvosive sampling, yaitu suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan kriteria yang dikehendaki penelitian. Alasan penelitian memilih lokasi ini sebagai lokasi penelitian antara lain adalah jumlah pasien yang diberikan tindakan bedahORIF cukup tinggi; pada akhir tahun 2009 didapatkan data melalui survey awal sebanyak 136 orang, lokasi mudah dijangkau oleh peneliti, adanya kerjasamafakultas keperawatan USU dengan institusi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan terkait praktik lapangan mahasiswa.

5. Instrumen Penelitian

  Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Dalam penelitian ini uji validitas dan reabilitas tidak dilakukan karena dalam penelitian ini digunakan desain penelitian deskripstif terhadap dua variabelyang setara yaitu intensitas nyeri pada pasien pasca bedah ORIF dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF, selain itu instrument yang digunakan dalampenelitian ini juga telah mendapatkan uji validitas dan reabilitas oleh peneliti sebelumnya 7. Peneliti melakukan pengukuran intensitas nyeri pada responden menggunakan skala intensitas nyeri numerik (PNRS) sebelum melakuka npengukuran peneliti menjelaskan terlebih dahulu tentang ketentuan nilai-nilai yang terdapat pada skala dan responden dapat memilih nilai skala sesuai dengan Pengkajian perilaku nyeri dilakukan pada hari pertama setelah peneliti melakukan pengkajian intensitas nyeri.

8. Analisa Data

  Analisa data dilakukan setelah semua data dalam lembar observasi dikumpulkan dalam beberapa tahap dimulai dengan editing untuk memeriksakelengkapan data,, kemudian data yang sesuai diberi kode (coding) untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi dan analisa data. Kemudianmemasukkan (entry) data ke komputer dan di lakukan pengolahan data dengan menggunakan program komputerisasi.

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian serta pembahasan

  mengenai intensitas nyeri dan perilaku nyeri pada pasien pasca bedah ORIF di Ruang Rindu B3 Orthopedi RSUP. Adam Malik Medan.

1. Hasil Penelitian

  Penelitian ini telah dilaksanakan mulai tanggal 23 Juli 2010 sampai dengan 31 agustus 2010. Penelitian ini memaparkan karakteristik demografi responden, intensitas nyeri pasien pasca bedah ORIF, dan perilaku nyeri pasien pasca bedah ORIF.

1.1 Karakteristik Demografi

  Dari hasil pada hari ke-2 rawatan adalah hampir seluruh responden (97,1%, n=34) termasuk kategori nyeri berat dan hanya satuorang responden dari seluruh jumlah responden (2,9%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang. Pada hari ke-3 rawatan didapatkan lebih dari setengah darijumlah responden (64,7%, n=34) termasuk kategori intensitas nyeri sedang dan hanya 2 orang responden dari seluruh jumlah responden (5,9%, n=34) termasukkategori intensitas nyeri ringan.

1.2.1 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Berdasarkan Lama Hari Rawatan

  Adapun hasil pengukuran intensitas nyeri yang didapatkan pada hari ke-2 rawatan adalah hampir seluruh responden mengalami intensitas nyerikategori berat dan hanya satu orang responden dari seluruh jumlah responden termasuk kategori intensitas nyeri sedang (M=7,9, SD=0,9). Perilaku nyeri akandiobservasi dan di beri penilaian dengan ketentuan: nilai 0 menunjukkan tidak ada perilaku nyeri, nilai 1 menunjukkan ada perilaku nyeri tetapi tidak sering terjadi,nilai 2 menunjukkan perilaku nyeri sering terjadi dan mendominasi.

1.4 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Berdasarkan Lama Hari Rawatan

  Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperolehbahwa terdapat penurunan nilai yang ditulis di lembar observasi perilaku nyeri yang didapatkan peneliti dari hasil observasi terhadap responden dari hari ke harilama hari rawatan. Semakin banyak hari rawatan semakin turun nilai perilaku Adapun hasil pengukuran perilaku nyeri yang didapatkan pada hari ke- 2 rawatan adalah lebih dari setengah jumlah respondn responden termasukkategori perilaku nyeri tinggi dan kurang dari setengah dari seluruh jumlah responden termasuk kategori perilaku intensitas nyeri sedang (M=7,4, SD=1,2).

2 Pembahasan

  Penelitian ini membahas nilai dari intensitas dan perilaku nyeri dan juga memeriksa hubungan antara intensitas dan perilaku nyeri dari pada pasienyang memiliki nyeri pasca bedah ORIF. 34 pasien didapatkan dengan cara purposive sampling di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

2.1 Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu

  Masyarakat dari budaya timur lebih cenderung lebih menahan keinginannya dan sedikit menerima nyeri yang dapat merusak Ungkapan perilaku nyeri tersebut menurut Anderson, Keefe, danBradkley dan koleganya dalam Harahap 2007 yang telah mengobervasi bahwa hampir seluruh pasien dengan penderita nyeri sering sekali menunjukkanpenjagaan (guarding), menggosok pasif (passive rubbing) dan kekakuan (rigidity) sebagai ekspresi-ekspresi dari rasa nyeri mereka. Perilaku-perilaku nyeri adalah tindakan-tindakanyang berhubungan dengan ketidakmampuan (kecacatan) dan kegelisahan (contoh: kejang, lemas, aktivitas yang menurun) dan telah muncul untuk memainkan Pada penelitian ini didapatkan perilaku nyeri pada hari ke-2 setelah pembedahan perilaku nyeri dengan kategori tinggi sebanyak 22 orang, perilakunyeri kategori sedang sebanyak 12 orang (M=7,4, SD=1,2).

DAFTAR PUSTAKA

  Ingin melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medandengan tujuan untuk mengetahui intensitas nyeri dan perilaku nyeri pasien pasca bedah ORIF di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Informasi yang saya dapatkan inihanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan dan tidak akan dipergunakan untuk maksud lain.

INSTRUMEN PENELITIAN

1. Lembar Observasi Hasil Pengukuran Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan Petunjuk

  Perilaku nyeri akan diobservasi dan di beri penilaian dengan ketentuan: nilai 0 menunjukkan tidak ada perilaku nyeri, nilai 1 menunjukkan ada perilaku nyeritetapi tidak sering terjadi, nilai 2 menunjukkan perilaku nyeri sering terjadi dan mendominasi. Mendesah (sighing) Keterangan: 0 = Tidak terjadi perilaku nyeri.1=Terjadi perilaku nyeri, tidak mendominasi semua aktivitas.2= Sering terjadi perilaku nyeri, mendominasi semnua aktivitas.

Informasi dokumen
Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada pasien Pasca Bedah ORIF di Rumah Sakit umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Analisa Data METODE PENELITIAN Bagi Praktek Keperawatan Bagi Pendidikan Keperawatan Bagi Penelitian Keperawatan Defenisi Intensitas Nyeri Skala Intensitas Nyeri Deskriptif Skala intensitas nyeri numerik Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Pertimbangan Etik Fase antisipasi terjadi sebelum nyeri diterima Fase sensasi terjadi saat nyeri terasa Fase akibat terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti Fiksasi Internal Sasaran Bedah Orif Instrumen Penelitian METODE PENELITIAN Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah Intensitas Nyeri pada Pasien Pasca Bedah Open Reduction and Internal Fixation ORIF Karakteristik Demografi Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Kerangka Konseptual Definisi Operasional Klasifikasi Perilaku Nyeri Perilaku Nyeri Makna nyeri Perhatian Ansietas Nyeri Superfisial Nyeri Somatik Dalam Deep Somatik Pain Nyeri Viseral Nyeri Sebar Radiasi Nyeri Fantom Nyeri Organik Nyeri Neurogenik Pengertian Nyeri Teori Pengontrolan nyeri Gate control theory Pengertian Perilaku Nyeri Perilaku Nyeri Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di Rindu B3 Orthopedi RSUP. H. Adam Malik Medan Perilaku responden Perilaku operant Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengumpulan Data Usia Jenis kelamin Kebudayaan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada pasi..

Gratis

Feedback