Feedback

Study of Biosecurity Implementation in Animal Quarantine Premises for Imported Cattle Across Java Island

Informasi dokumen
KAJIAN BIOSEKURITI INSTALASI KARANTINA HEWAN SAPI IMPOR DI PULAU JAWA GATOT SANTOSO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ..................................................................................... xix DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xx DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xxi PENDAHULUAN Latar Belakang .................................................................................. Rumusan Masalah.............................................................................. Tujuan Penelitian .............................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................ Hipotesis Penelitian .......................................................................... 1 3 4 4 4 TINJAUAN PUSTAKA Instalasi Karantina Hewan ................................................................ Klasifikasi Instalasi Karantina Hewan ............................................... Biosekuriti ........................................................................................ Pengetahuan ...................................................................................... Sikap ................................................................................................. Praktik ............................................................................................... Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, dan Praktik ............................ 5 6 6 10 11 11 11 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................... Kerangka Konsep Penelitian ............................................................. Disain Penelitian ................................................................................ Sampel Penelitian ............................................................................. Pembobotan dan Penilaian Kuesioner ............................................... Definisi Operasional ......................................................................... Analisis Data .................................................................................... 13 13 15 16 17 20 24 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi IKH sapi impor di Pulau Jawa............................................... Penilaian Kondisi IKH ....................................................................... Lokasi ..................................................................................... Tindakan Biosekuriti di IKH ................................................... Aspek Lain-lain ....................................................................... Karakteristik Dokter Hewan............................................................... Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Dokter Hewan ................................. Hubungan Antara Karakteristik, Pengetahuan, dan Sikap Dokter Hewan terhadap Praktik Biosekuriti ...................................... Karakteristik Paramedik ..................................................................... Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Paramedik ....................................... Hubungan Antara Karakteristik, Pengetahuan, dan Sikap Paramedik terhadap Praktik Biosekuriti ............................................ 25 26 26 32 37 41 42 47 48 49 54 xvii Halaman SIMPULAN DAN SARAN Simpulan .......................................................................................... Saran ................................................................................................. 55 56 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 57 LAMPIRAN .............................................................................................. 61 xviii PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kajian Biosekuriti Instalasi Karantina Hewan Sapi Impor di Pulau Jawa adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Juni 2012 Gatot Santoso NIM. B251100144 ABSTRACT GATOT SANTOSO. Study of Biosecurity Implementation in Animal Quarantine Premises for Imported Cattle Across Java Island. Under direction of TRIOSO PURNAWARMAN and ETIH SUDARNIKA. Indonesia imports large number of live cattle as breeding cattle or beef cattle to fulfill its demands for protein of animal origin. In order to prevent animal disease entering and spreading in the country the Government of Indonesia provides animal quarantine premises inside or outside every entry/exit point. Requirements and procedures to establish animal quarantine premises is stated in the Agriculture Minister’s Decree No 34/2006 regarding Requirements and Procedures to Establish Animal Quarantine Premises, and in the Head of Agriculture Quarantine Agency’s Decree regarding Technical Guidelines for Large Ruminant Animal Quarantine Premises. Biosecurity in animal quarantine facilities is one of important factors in preventing spreading of diseases among animals, transmission from animals to human or vice versa and also preventing disease to enter premises. Biosecurity implementation in animal quarantine premises depends on the knowledge, attitude and practices conducted by the officers of the premise, both veterinarian officers and paraveterinarian officers. The aim of this study is to determine the level of biosecurity and the relation among characteristic, knowledge and attitude of veterinarian and paraveterinarian officers on the biosecurity implementation (sanitation, isolation and movement control) in a temporary animal quarantine premises. Data were collected from temporary animal quarantine premises for imported cattle across Java Island. In this study we found that in general the biosecurity implementation in the premises was adequate (62.6%) and good (31.2%). We also noticed that the characteristic of veterinarian officers showed no relation to the biosecurity implementation, while the knowledge and attitude of veterinarian officers showed a strong relation to the biosecurity implementation (p500 m Jumlah 9 14 7 8 % 56,2 87,5 43,8 50,0 Ketika ternak ditransportasikan terdapat kemungkinan risiko kontak dengan hewan atau material yang terinfeksi agen patogen, misalnya alat angkut yang digunakan tidak dibersihkan dan didisinfeksi secara baik. Hal ini juga meningkatkan kemungkinan kerentanan hewan terinfeksi dan terkena penyakit jika dalam perjalanan hewan menjadi stres (Cockram 2007). 27 Pergerakan hewan dari suatu tempat akan menimbulkan risiko penyebaran penyakit, beberapa penyakit seperti bovine tuberculosis dan penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang penyebarannya dapat disebabkan oleh pergerakan hewan dari satu tempat ke tempat lain. Wabah penyakit PMK pernah terjadi pada awal tahun 2001 di United Kingdom akibat pergerakan hewan dari suatu tempat ke tempat lain (Brennan et al. 2008). Kondisi selama perjalanan akan mempengaruhi respon psikologi hewan. Jika kondisi selama perjalanan dapat dijaga dengan baik dan optimal, seperti: cara mengemudi, kondisi jalan, kelayakan alat transportasi, jarak antar hewan, kondisi suhu dan ventilasi, kondisi hewan (tidak ada gejala klinis penyakit, luka, atau kondisi psikologi hewan yang dapat mempengaruhi hewan selama perjalanan), dan penanganan hewan sebelum dan sesudah ditransportasikan, dapat memungkinkan hewan ditransportasikan dalam jarak jauh. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi transportasi hewan antara lain: jarak antar hewan didalam alat angkut, cara mengemudi (frekuensi mengerem, banyaknya belokan yang dilalui selama perjalanan), dan kondisi jalan yang dilalui. Kondisi tersebut akan mempengaruhi kemampuan hewan untuk menjaga keseimbangan dan posisi berbaring (Cockram 2007). Jarak lalu lintas umum dengan lokasi IKH sesuai pedoman yang ada yaitu minimal 100 meter. Pada Tabel 6 dapat dilihat sebanyak 87,5% jarak IKH dengan lalu lintas umum sudah sesuai pedoman yang ada, namun masih terdapat 2 IKH (12,5%) yang mempunyai jarak dengan lalu lintas umum kurang dari 100 meter. Jarak merupakan faktor risiko penyebaran penyakit yang perlu diperhatikan. Lokasi IKH yang berdekatan dengan lalu lintas umum akan meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit akibat adanya lalu lintas hewan yang akan melewati IKH tersebut. Hal ini meningkatkan risiko adanya penyebaran penyakit ke area IKH jika hewan yang melewati IKH tersebut ada yang terinfeksi penyakit menular. Penyebaran penyakit juga dapat disebabkan oleh alat angkut yang terkontaminasi oleh agen penyakit. Instalasi karantina hewan harus didirikan jauh dari peternakan sejenis yaitu minimal berjarak 500 meter. Tabel 6 menunjukkan bahwa sebanyak 43,8% IKH mempunyai jarak dengan peternakan sejenis lebih dari 500 meter, namun masih 28 ada IKH yang berjarak kurang dari 500 meter yaitu sebanyak 56,2%. Dari hasil observasi terdapat IKH yang didirikan berdekatan dengan peternakan sejenis yaitu peternakan untuk penggemukan dan pembibitan. Selain itu ada juga IKH yang disatukan dengan kandang penggemukan dan pembibitan. Hal ini dikarenakan terbatasnya lahan dan anggaran untuk mendirikan IKH sedangkan importir sudah memiliki fasilitas kandang permanen untuk penggemukan maupun pembibitan. Jarak IKH yang berdekatan dengan peternakan sejenis memungkinkan terjadinya penularan penyakit akibat pergerakan hewan yang terdapat di area IKH. Pergerakan hewan dan kontak dengan agen penyakit ini tergantung dari jenis peternakan, luas peternakan, dan populasi hewan di dalam peternakan (Brennan et al. 2008). Jarak yang berdekatan dengan lokasi peternakan lain akan berpeluang terjadinya penyebaran penyakit. Menurut Le et al. (2008), satu peternakan dengan peternakan sejenis dan peternakan lain jenis perlu dipisahkan dan dibuat jarak untuk mengendalikan penyebaran penyakit, seperti malignant cattarhal fever (MCV). Jarak IKH dengan pemukiman penduduk harus lebih dari 500 meter. Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa IKH yang ada sebanyak 50% sudah berjarak lebih dari 500 meter dari pemukiman penduduk, namun demikian masih terdapat IKH yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman penduduk yaitu kurang dari 500 meter sebanyak 50%. Instalasi karantina hewan merupakan tempat pengasingan dan pengamatan hewan terhadap kondisi kesehatan hewan dan mencegah penyakit menyebar diantara hewan dan ke lingkungan sekitar. Biosekuriti yang tidak maksimal pada IKH akan berisiko menyebarkan penyakit ke lingkungan sekitar. Jarak IKH yang berdekatan dengan pemukiman penduduk akan menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran air, bau, lalat dan gangguan kesehatan masyarakat khususnya penyakit zoonotik. Risiko penyebaran penyakit dapat terjadi akibat lokasi IKH dengan pemukiman penduduk yang berdekatan. Risiko ini dapat berupa penularan penyakit yang berasal dari feses ternak dan vektor (lalat dan nyamuk) yang bisa bertindak sebagai pembawa penyakit yang dapat ditularkan diantara hewan dan manusia. 29 Penyebaran penyakit infeksi hewan dapat terjadi dengan berbagai cara antara lain melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, feses, insekta, atau vektor pembawa penyakit, partikel aerosol, dan melalui cara venereal route (saat kawin). Penyebaran lain yaitu melalui kontak tidak langsung diantaranya terdedah oleh peralatan yang terkontaminasi, kendaraan, alat angkut hewan, pakaian, sepatu bot atau tangan (Wagner et al. 2011). Permasalahan akan timbul akibat adanya lokasi IKH yang berdekatan dengan lokasi penduduk, diantaranya adalah bau, lalat dan pencemaran air. Permasalahan ini timbul akibat limbah kotoran hewan yang tidak ditangani secara baik. Kotoran hewan (feses) merupakan media yang dapat menularkan penyakit. Paratuberkulosis merupakan penyakit zoonotik yang dapat ditularkan melalui feses. Di dalam feses terutama yang cair, bakteri ini dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang relatif lama tergantung dengan kondisi lingkungan. Pakan dan air yang tercemar oleh feses merupakan sumber infeksi bagi ternak yang lain, terutama ternak–ternak yang masih muda. Susu dari induk yang terinfeksi oleh M. paratuberculosis akan semakin banyak mensekresikan bakteri ini seiring dengan tingkat keparahan penyakit atau dapat juga melalui puting yang tercemar feses yang mengandung bakteri ini, sehingga ternak yang menyusu akan terinfeksi. Padang pengembalaan atau padang rumput juga bisa tercemar dan dapat sebagai sumber infeksi, hal ini bisa terjadi jika dialiri dengan air yang telah tercampur dan terkontaminasi oleh feses hewan terinfeksi. Praktik manajemen yang perlu dilakukan untuk mengendalikan Paratuberkulosis diantaranya sanitasi area peternakan, mengurangi kepadatan ternak, meminimalkan kontaminasi kotoran (feses) pada pakan dan sumber air minum, dan memisahkan hewan yang muda dengan hewan yang tua (Benjamin et al. 2010). Insekta dapat terlibat dalam transmisi virus penyebab enzootic bovine leucosis (EBL), transmisi alami tergantung sel yang terinfeksi masuk kedalam tubuh misalnya selama proses kelahiran (parturition), potong tanduk, pemasangan eartag, inseminasi buatan, jarum suntik yang terkontaminasi, peralatan bedah, dan sarung tangan yang dipakai pada saat pemeriksaan rektal. Pada daerah dengan populasi lalat yang banyak, transmisi dapat terjadi secara mekanik, dimana virus 30 dapat dipindahkan oleh lalat Tabanidae. Penularan penyakit ini melalui darah dan sering juga akibat praktik manajemen di peternakan (injection, dehorning, tattooing, tagging dan pregnancy checking) (Kidwell 2008). Observasi yang dilakukan selama penelitian didapatkan bahwa pada umumnya 75% pagar IKH sapi impor yang terdapat di Pulau Jawa mempunyai tinggi lebih dari 2 meter. Pagar merupakan pelindung terhadap lingkungan luar. Pagar IKH didirikan sebagai tindakan isolasi agar penyebaran penyakit tidak dapat masuk ke dalam IKH dan sebaliknya agen penyakit tidak dapat keluar IKH. Pagar juga berfungsi sebagai sarana kontrol lalu lintas hewan dan pengunjung supaya tidak bebas keluar masuk ke dalam area IKH. Lokasi IKH yang akan didirikan harus dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat untuk mendapatkan ijin rekomendasi pendirian IKH. Sebelum IKH didirikan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: status penyakit daerah setempat, letak geografis, iklim, air, tanah dan lingkungan sekitar. Instalasi karantina hewan yang akan didirikan harus memperhatikan jarak dari pelabuhan pemasukan, hal ini berhubungan dengan kesejahteraan hewan pada saat hewan ditransportasikan dari pelabuhan tempat pemasukan ke IKH. Lokasi IKH yang jauh akan menyebabkan perjalanan memakan waktu tempuh yang panjang sehingga akan mempengaruhi kondisi hewan. Penyakit akan muncul akibat adanya transportasi hewan. Munculnya penyakit ini ditunjang oleh kesejahteraan hewan yang kurang mendapat perhatian selama perjalanan. Kesejahteraan hewan yang kurang mendapat perhatian selama perjalanan akan menurunkan sistem kekebalan tubuh hewan yang akan berakibat terpaparnya hewan oleh agen infeksius. Kondisi stres pada hewan selama dalam perjalanan akan meningkatkan pengeluaran agen patogen oleh hewan yang terinfeksi melalui sekresi hidung, aerosol (sistem pernafasan) dan feses. Pengeluaran agen patogen ini (shedding) dapat mengkontaminasi alat angkut, peralatan, dan daerah yang dilewati sepanjang perjalanan (EFSA 2004). Transportasi hewan dapat menjadi sumber penularan penyakit infeksi pada hewan dan dapat bersifat zoonotik. Karantina pertanian sebagai institusi yang bertugas melakukan tindakan pencegahan masuk dan menyebarnya penyakit perlu meningkatkan pengawasan diantaranya: (1) mengetahui status penyakit hewan 31 daerah asal, (2) hanya hewan yang sehat yang diijinkan melakukan perjalanan, (3) melakukan pengujian klinis terhadap hewan yang akan ditransportasikan dan (4) melakukan tindakan biosekuriti yaitu cleaning dan disinfeksi alat angkut dan peralatan yang digunakan. Tindakan Biosekuriti di IKH Biosekuriti adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit (Ditjenak 2007). Tujuan utama penerapan biosekuriti adalah untuk menghentikan masuknya penyakit dan penyebaran penyakit dengan cara mencegah, mengurangi atau mengendalikan kontaminasi silang dari media pembawa yang dapat menularkan agen penyakit (feses, urine, saliva, sekresi dari alat pernapasan dan lain-lain). Praktik manajemen biosekuriti dibuat untuk mencegah penyebaran penyakit dengan meminimalkan perjalanan atau perluasan agen penyakit dan vektor (rodensia, lalat, nyamuk, kutu, caplak dan lain-lain) di dalam suatu area peternakan. Biosekuriti merupakan cara yang murah, paling efektif untuk pengendalian penyakit dan tidak akan ada program pencegahan penyakit yang berjalan dengan baik tanpa adanya penerapan biosekuriti. Tabel 7 memperlihatkan bahwa sebanyak 43,8% IKH sudah memiliki fasilitas kandang isolasi, namun masih ada IKH yang tidak menyediakan fasilitas kandang isolasi khusus yaitu sebanyak 56,2%. Hal ini dikarenakan keterbatasan anggaran yang tersedia. Hasil observasi diperoleh bahwa IKH yang tidak memiliki kandang isolasi khusus menggunakan kandang pemeliharaan sebagai kandang isolasi sehingga menghemat anggaran yang ada. Kondisi ini menyebabkan jarak antara kandang isolasi dengan kandang pemeliharaan di IKH masih ada yang kurang dari 25 meter (18,8%). Isolasi hewan merupakan tindakan biosekuriti untuk mencegah penyebaran agen penyakit dari hewan yang terinfeksi. Ketersediaan kandang isolasi khusus sangat penting sebagai tindakan untuk meminimalkan dan mencegah kontaminasi penyakit yang terjangkit di IKH, sehingga penerapan biosekuriti menjadi maksimal. 32 Tabel 7 Penerapan biosekuriti pada IKH sapi impor di Pulau Jawa Penerapan biosekuriti Tersedianya fasilitas kandang isolasi Jarak kandang isolasi dengan kandang pemeliharaan >25 m Tersedianya tempat/penampungan pembuangan akhir limbah Sumber air IKH berasal dari air sumur Perlakuan desinfeksi kendaraan yang keluar masuk IKH Perlakuan desinfeksi pengunjung yang keluar masuk IKH Tersedianya fasilitas sarana alat angkut pakan Terdapat pengendalian rodensia di IKH Terdapat pengendalian serangga di IKH Terdapat pengendalian burung liar di IKH Terdapat pengendalian hewan lain di IKH Jumlah 7 13 15 12 6 14 15 10 12 0 13 % 43,8 81,2 93,8 75,0 37,5 87,5 93,8 62,5 75,0 0,00 81,2 Tindakan isolasi terhadap hewan sakit merupakan tindakan biosekuriti yang dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit diantara hewan. Kandang isolasi harus dibuat terpisah dari kandang pemeliharaan. Pakaian (cattle pack/coveralls) dan sepatu bot yang dipakai untuk menangani hewan di kandang isolasi tidak boleh dipakai pada saat menangani hewan sehat. Jika fasilitas kandang isolasi tidak memungkinkan dibuat, dapat digunakan pen (kandang pemeliharaan) terpisah dari kandang hewan sehat. Selain itu pakan yang digunakan tidak boleh kontak dengan hidung (nose-to-nose contact) dan pakan serta air minum yang digunakan harus terpisah dengan hewan yang sehat ( Bowman & Shulaw 2001). Penempatan hewan pada kandang isolasi khusus juga bertujuan untuk meminimalkan pergerakan hewan sakit sehingga meminimalkan penyebaran penyakit (Buhman et al. 2007). Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa IKH yang ada sudah mempunyai tempat penampungan limbah kotoran ternak (93,8%), namun demikian masih terdapat IKH yang masih membuang limbah kotoran hewan ke parit atau sungai (6,2%). Keadaan ini sangat berbahaya terhadap lingkungan karena bisa berpotensi menjadi sumber penularan penyakit dan pencemaran air. Kotoran ternak merupakan media yang potensial untuk menularkan penyakit. Banyak penyakit yang bisa ditularkan akibat kontaminasi feses antara lain salmonellosis, paratuberculosis, bovine viral diarrhea (BVD) dan lain-lain. Risiko penularan penyakit ke manusia akan semakin tinggi jika kotoran ternak ini tidak dikelola dengan baik dan benar. 33 Sumber air merupakan kebutuhan yang harus tersedia dengan cukup. Sumber air yang digunakan untuk keperluan IKH harus bersih dan bebas dari kontaminasi agen penyakit dan bahan-bahan yang berbahaya khususnya untuk hewan. Media yang mungkin dapat menyebarkan penyakit melalui air adalah feses, oleh sebab itu, tindakan sanitasi harus terus ditingkatkan guna memaksimalkan tindakan biosekuriti. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa IKH pada umumnya menggunakan air sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan kegiatan IKH (75%), air ledeng/PAM sekitar 6,2%, namun demikian masih ada IKH yang menjadikan sungai sebagai sumber air (18,8%). Hal ini tidak menutup kemungkinan air sungai tersebut terkontaminasi oleh agen penyakit dan bahanbahan yang berbahaya. Sumber air mempunyai pengaruh terhadap kualitas air yang digunakan pada suatu peternakan. Masalah kualitas air diantaranya yaitu konsentrasi mineral dan garam yang tinggi, kandungan nitrogen yang tinggi, kontaminasi bahan kimia, kontaminasi bakteri dan perkembangan alga. Bakteri, virus, dan parasit pada unumnya dapat ditemukan pada kolam dan air permukaan yang memungkinkan terkontaminasi feses dan mudah dijangkau oleh hewan. Agen patogen sangat berbahaya jika mengkontaminasi persediaan air pada suatu peternakan. Agen patogen ini akan menimbulkan masalah kesehatan dan menurunkan produktivitas hewan. Sumber air yang terkontaminasi akan dapat menyebarkan agen patogen di area peternakan dengan cepat (disease-causing agent). Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang dapat menginfeksi hewan dan menyebar dengan cepat akibat sumber air yang terkontaminasi. Selain itu kandungan coliform akan banyak ditemukan pada air kolam yang dapat di jangkau oleh hewan. coliform merupakan bakteri normal yang ada didalam saluran pencernaan hewan dan manusia yang dapat mencemari sumber air (Parish & Rhinehart 2008). Sebanyak 37,5% IKH melakukan disinfeksi terhadap lalu lintas kendaraan dan 87,5% melakukan disinfeksi terhadap lalu lintas pengunjung di IKH. Tabel 7 diatas memperlihatkan juga bahwa sebagian besar IKH (62,5%) tidak melakukan disinfeksi terhadap lalu lintas kendaraan dan sebanyak 12,5% tidak melakukan disinfeksi terhadap lalu lintas pengunjung. 34 Disinfeksi merupakan salah satu tindakan sanitasi untuk meminimalkan dan mencegah kontaminasi terutama feses terhadap alat angkut, peralatan, pakaian pengunjung agar penyebaran penyakit dapat dicegah. Lalu lintas keluar masuk kendaraan dan pengunjung merupakan salah satu risiko penyebaran penyakit di area peternakan. Risiko penyebaran penyakit akan lebih tinggi terhadap pengunjung yang berasal dari peternakan lain yang terinfeksi suatu penyakit. Lalu lintas yang mempunyai risiko tinggi yang dapat menyebarkan penyakit pada peternakan yaitu: inseminator, pekerja di peternakan atau pengolahan produk hewan, dokter hewan, kendaraan yang digunakan untuk mengangkut ternak dan pengunjung yang berasal dari area peternakan lain (Bowman & Shulaw 2001). Tindakan cleaning dan disinfeksi sebagai tindakan sanitasi untuk lalu lintas kendaraan dan pengunjung yang keluar masuk area IKH sangat perlu diterapkan sebagai tindakan untuk memaksimalkan penerapan biosekuriti. Daya kerja disinfektan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain spektrum disinfektan, kadar kontaminasi, kandungan protein, bahan organik dan adanya kandungan sabun (dapat menetralkan beberapa disinfektan), konsentrasi disinfektan, waktu kontak, temperatur, memiliki stabilitas dalam jangka waktu lama (residual yang lama), dan efektif pada berbagai temperatur. Disinfektan yang digunakan harus mempunyai sifat antara lain aman (tidak berbahaya dan mengiritasi jaringan hewan dan manusia), tidak toksik bagi lingkungan, tidak merusak peralatan, dan efektif pada berbagai temperatur (CDC 2003). Penyebaran kotoran (feses) sebagai salah satu media penularan penyakit dapat terjadi akibat adanya petugas/pengunjung dalam satu hari melakukan pengawasan lebih dari setengah area peternakan dan tidak melakukan disinfeksi terhadap peralatan dan kendaraan yang digunakan. Risiko juga dapat terjadi pada pengunjung dengan frekuensi kunjungan ke peternakan lebih dari satu dalam sehari, selain itu penyebaran agen patogen pada area peternakan dapat terjadi melalui fomite (Brennan et al. 2008). Alat angkut pakan merupakan salah satu media pembawa penyakit masuk ke IKH. Penggunaan alat angkut pakan milik sendiri dapat meminimalkan risiko penularan penyakit yang mungkin terbawa melalui alat angkut dan pakan. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada umumnya IKH memiliki alat angkut pakan 35 sendiri (93,8%), sehingga dapat disimpulkan bahwa penularan penyakit melalui alat angkut pakan dapat diminimalkan risikonya. Selain alat angkut, peralatan juga dapat menjadi media penularan penyakit secara tidak langsung. Penularan ini terjadi akibat adanya kontaminasi agen penyakit pada peralatan dan penggunaan peralatan yang tidak steril. Hasil observasi yang diperoleh, pada umumnya peralatan medis yang digunakan untuk perlakuan tindakan karantina menggunakan peralatan yang steril dan sekali pakai. Peralatan penunjang lainnya tidak pernah meminjam dari IKH lain ataupun peternakan lain yang terdekat. Peminjaman peralatan berpeluang menularkan dan menyebarkan penyakit jika tidak diawasi secara ketat dan dilakukan sterilisasi peralatan sebelum digunakan. Pengendalian terhadap rodensia, serangga, dan hewan lain pada IKH telah dilakukan (Tabel 7), namun demikian, pengendalian terhadap burung liar belum dilakukan pada IKH sapi impor yang terdapat di Pulau Jawa. Pengendalian burung liar pada IKH sapi impor belum dilakukan karena konstruksi dan bangunan IKH pada umumnya dapat dimasuki oleh burung liar. Pengendalian terhadap burung liar di IKH dapat dilakukan dengan pengendalian habitat dari burung liar tersebut. Rodensia dan serangga merupakan vektor yang dapat membawa penyakit menular, selain itu rodensia juga dapat menyebabkan kontaminasi terhadap sumber air dan pakan pada IKH. Adanya hewan lain didalam area peternakan dapat menjadi risiko penularan penyakit pada ternak. Beberapa penyakit seperti rabies, leptospirosis, dan salmonellosis dapat dibawa dan ditularkan oleh beberapa spesies hewan liar dan hama seperti tikus. Meskipun kita ketahui bahwa sulit melakukan tindakan pencegahan secara maksimal terhadap kemungkinan adanya kontak antara hewan liar dengan ternak. Tindakan yang dapat dilakukan adalah menjaga agar peternakan dan sekitarnya tidak menarik kehadiran hewan liar tersebut. Menjaga lingkungan peternakan agar tidak terdapat sisa pakan yang berceceran dan meningkatkan sanitasi kandang dapat meminimalkan adanya hewan liar. Tindakan lain yang dapat dilakukan yaitu tidak membiarkan banyak tumpukan kayu dan papan di area sekitar kandang, memeriksa kandang dan bangunan dari kemungkinan tempat persembunyian atau sarang hewan liar. Pengendalian yang 36 lain adalah dengan senantiasa melakukan pemeriksaan terhadap tempat penyimpanan pakan dan tempat kemungkinan hewan seperti kucing, anjing dan hewan lain yang menggunakan pakan sebagai tempat untuk membuat sarang atau tempat untuk defekasi (Bowman & Shulaw 2001). Aspek Lain-lain Ketersediaan fasilitas tempat pembuangan khusus untuk sisa peralatan medis sangat penting. Sisa peralatan medis (jarum suntik, tabung penyimpanan serum/darah, sarung tangan, dan lain-lain) dapat menjadi sumber penularan penyakit jika tidak dikelola secara baik dan benar. Instalasi karantina hewan yang ada belum semuanya menangani limbah sisa peralatan medis, hal ini dapat menjadi risiko adanya penularan penyakit di IKH akibat pengelolaan limbah sisa peralatan medis yang tidak ditangani dengan baik. Ketersediaan sarana tempat pembuangan khusus untuk sisa peralatan medis perlu disediakan di IKH. Sarana ini merupakan salah satu pencegahan kontaminasi agen penyakit, sebagai contoh penyakit BLV dapat ditularkan melalui darah yang terdapat pada jarum suntik yang sudah tidak terpakai setelah digunakan untuk pengambilan darah dan pada saat perlakuan pengobatan (Kidwell 2008). Tabel 8 memperlihatkan adanya keluhan masyarakat (37,5%) mengenai keberadaan IKH yang berlokasi didekat pemukiman penduduk. Dari hasil observasi, keluhan masyarakat terhadap IKH yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman penduduk yaitu terhadap bau, adanya lalat, dan pencemaran air. Tabel 8 Aspek lain-lain yang menggambarkan keadaan IKH sapi impor di Pulau Jawa Aspek lain-lain Tersedianya fasilitas pembuangan sisa peralatan medis Adanya keluhan masyarakat sekitar dengan adanya IKH Jumlah 6 6 % 37,5 37,5 Hasil wawancara didapatkan bahwa pernah terdeteksi penyakit pada IKH sapi impor (12,2%). Dari hasil wawancara, penyakit yang terdeteksi yaitu paratuberkulosis akibat importasi sapi dari Australia pada tahun 2008. Tindakan 37 pemusnahan telah dilakukan terhadap hewan-hewan yang positif penyakit ini yang dilakukan didalam area IKH. Pengendalian paratuberkulosis dapat dilakukan dengan test and slaughter, vaksinasi dan eliminasi atau meminimalkan faktor risiko penyakit ini. Vaksinasi merupakan salah satu pilihan untuk mengendalikan penyakit paratuberkulosis, akan tetapi vaksinasi hanya mengurangi prevalensi shedders dari bakteri dan mengurangi kasus klinis pada peternakan (Benjamin et al. 2010). Dari hasil observasi di lapangan tindakan pemeriksaan terhadap penyakit hewan masih terkendala dengan anggaran yang ada. Kondisi ini menyebabkan pemeriksaan hanya terbatas dari keterangan kesehatan yang terdapat pada dokumen (surat keterangan kesehatan hewan dari negara asal), tanpa adanya keterangan vaksinasi dan hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang rutin dilakukan selama masa karantina adalah brucellosis dan paratuberkulosis (hasil observasi IKH). Hal ini merupakan risiko yang cukup tinggi terhadap masuk dan menyebarnya penyakit eksotik di Indonesia, karena Australia merupakan negara yang belum bebas penyakit BLV, Q-fever, IBR, BVD, paratuberkulosis, dan penyakit-penyakit lainnya. Menurut Negrón et al. (2011), risiko utama penularan virus BVD pada peternakan sapi yaitu memasukkan ternak sapi baru dengan status BVD yang tidak diketahui. Penularan penyakit ini terjadi akibat sifat penyakit (persistently infected/PI) dan juga hewan yang baru masuk peternakan dalam keadaan infeksi akut sehingga dapat mengeluarkan virus. Oleh sebab itu, pemeriksaaan laboratorium untuk mendiagnosa penyakit eksotik sangat penting dilakukan. Pemeriksaan laboratorium untuk deteksi dini penyakit merupakan tindakan untuk memaksimalkan biosekuriti. Penerapan biosekuriti pada IKH perlu dilakukan secara maksimal. Karantina pertanian merupakan institusi yang mempunyai tugas melakukan tindakan karantina terhadap sapi impor dalam rangka pencegahan penyakit di pintu pemasukan sebelum dilakukan pembebasan memerlukan petugas yaitu dokter hewan dan paramedik yang profesional. Petugas karantina perlu dibekali pengetahuan dan ketrampilan yang dapat mendukung tugas mereka dalam 38 melakukan pencegahan penyakit, oleh sebab itu peningkatan sumber daya manusia (SDM) karantina pertanian perlu terus dilakukan secara berkelanjutan. Evaluasi terhadap IKH harus terus dilakukan oleh Badan Karantina Pertanian dan memberikan peringatan serta sanksi yang tegas terhadap IKH yang tidak mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini dilakukan terhadap persyaratan lokasi, kelengkapan fasilitas, sarana dan prasarana yang dapat menunjang penerapan praktik biosekuriti. Pada penelitian ini dilakukan penilaian terhadap kategori tingkat biosekuriti IKH berdasarkan hasil skoring penilaian IKH dan checklist yang telah dilakukan. Hasil kategori tersebut dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9 Kategori tingkat biosekuriti IKH sapi impor di Pulau Jawa Kategori tingkat biosekuriti IKH Baik Cukup Kurang Jumlah 5 10 1 % 31,2 62,6 6,2 Penilaian kategori IKH didapatkan 31,2% IKH yang ada di Pulau Jawa masuk kategori “baik” dan 62,6% masuk kedalam kategori “cukup” serta 6,2% masuk kategori ”kurang”. Dapat diambil kesimpulan bahwa IKH yang sudah ada masuk kedalam kategori “baik” dan “cukup”. Dari hasil observasi dan wawancara permasalahan IKH sapi impor di Pulau Jawa diantaranya adalah: (1) anggaran pemeliharaan yang kurang memadai, (2) tanah yang digunakan untuk pembangunan IKH bukan tanah milik sendiri, sehingga untuk pengembangan dan pemeliharaan mengalami hambatan karena sewaktu-waktu tanah tersebut dapat dipakai untuk kepentingan pemilik lahan, (3) terbatasnya petugas untuk pemeliharaan dan menjaga kebersihan IKH, dan (4) penurunan frekuensi tindakan karantina yang dilakukan di IKH menyebabkan fasilitas sarana dan prasarana jarang digunakan sehingga menjadi rusak dan tidak terpelihara. Keberadaan IKH mempunyai hubungan yang erat dengan aspek kesehatan masyarakat, diantaranya adalah penyakit zoonosis terhadap petugas dan pekerja yang menangani hewan secara langsung di IKH. Selain itu, keberadaan IKH akan 39 berpengaruh terhadap masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Keberadaan IKH yang tidak menerapkan tindakan biosekuriti yang baik akan menimbulkan permasalahan terhadap kesehatan masyarakat antara lain adanya bau dan lalat dari limbah kotoran ternak yang tidak ditangani dengan baik, selain itu dampak pencemaran yang timbul akibat adanya IKH terhadap lingkungan sekitar. Tindakan biosekuriti di IKH yang masih belum maksimal disebabkan karena IKH tidak mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan oleh Badan Karantina Pertanian. Kondisi ini disebabkan IKH yang ada lebih dulu dibuat dari pedoman persyaratan yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian. Permasalahan sampai saat ini masih belum teratasi terutama penyediaan fasilitas sarana penunjang untuk penerapan biosekuriti karena membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Pendirian IKH saat ini harus memenuhi persyaratan teknis dan administrasi yang sudah ditetapkan. Penerapan law-enforcement perlu dilakukan terhadap pendirian IKH yang tidak sesuai dengan pedoman yang sudah dibuat. Pemerintah dalam hal ini Badan Karantina Pertanian perlu membantu memfasilitasi IKH yang belum memenuhi persyaratan yang dibuat sebelum pedoman IKH ditetapkan. Instalasi karantina hewan sapi impor perlu ditingkatkan dan diperbaiki terhadap sistem yang sudah ada, salah satunya dengan membuat sistem operasional prosedur (SOP) khusus mengenai biosekuriti pada IKH sapi impor. Sistem operasional prosedur ini dapat dibuat dari pedoman dan persyaratan yang ada dan telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian ataupun oleh Badan Karantina Pertanian. Selain SOP, audit internal pada IKH terhadap biosekuriti harus dilakukan untuk mengevaluasi IKH yang sudah ada dan perlu dilakukan sertifikasi terhadap penerapan biosekuriti pada IKH sapi impor di Pulau Jawa. Penerapan biosekuriti di peternakan memerlukan kerja sama dan dukungan oleh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan peternakan tersebut. Tantangan utama pada kemajuan penerapan biosekuriti di peternakan adalah tingkatan peternakan tersebut, pemilik peternakan dan dokter hewan yang bertugas pada peternakan tersebut sebagai pihak yang memahami kesehatan hewan (Gunn et al. 2008). Penerapan biosekuriti pada tingkat peternakan dilakukan untuk mengatasi adanya penyakit baru dan kerugian akibat penyakit yang tidak dapat diprediksi. 40 Penerapan biosekuriti bagi peternak dapat menguntungkan dari risiko penyakit zoonotik, perdagangan internasional dan dari segi biaya sehingga meningkatkan kesejahteraan. Sebuah dilema sosial dapat timbul dan menjadi tantangan dalam penerapan biosekuriti dengan adanya kepentingan bersama yang tidak sejalan dengan kepentingan individu. Untuk meningkatkan biosekuriti di peternakan harus dimotivasi oleh perubahan perilaku ke arah yang positif terhadap biosekuriti. Hambatan akan muncul dengan adanya individu yang tidak mendukung terhadap penerapan biosekuriti pada suatu peternakan (Kristensen & Jakobsen 2011). Karakteristik Dokter Hewan Responden yang diwawancarai untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan, sikap, dan praktik tentang biosekuriti sebanyak 54 dokter hewan. Responden ini terdiri dari 40 dokter hewan pemerintah dan 14 dokter hewan swasta. Karakteristik dokter hewan hasil wawancara dapat dilihat pada Tabel 10. Pada umumnya dokter hewan berusia antara 30-40 tahun (48,1%) dengan jenis kelamin perempuan (61,9%). Dokter hewan pada penelitian ini telah bekerja antara 1-2 tahun (31,5%) dan pernah terlibat menjadi tim penilai IKH (24,1%) serta pernah mengikuti pelatihan/seminar mengenai IKH (29,6%). Pada Tabel 10 dapat dilihat juga bahwa sebanyak 53,7% dokter hewan pernah mengikuti pelatihan/seminar mengenai biosekuriti. Umur dokter hewan pada umumnya masih termasuk pada usia produktif, dimana usia ini masih mampu bekerja secara maksimal dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk institusinya. Umur dokter hewan yang masih produktif mempunyai kelebihan stamina fisik yang lebih baik dan lebih produktif dalam bekerja. Sedangkan dokter hewan yang berumur lebih tua memiliki kelebihan dari segi pengalaman dan wawasan karena masa kerja yang lebih lama. Karakteristik dokter hewan yang ada masih belum pernah terlibat dalam tim penilai IKH (75,9%) dan mengikuti pelatihan mengenai IKH (70,4%) serta masih banyak yang belum mengikuti pelatihan biosekuriti (46,3%). Kondisi ini akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) responden. Kualitas SDM yang tidak baik akan berdampak pada kinerja institusi tersebut. 41 Dokter hewan karantina merupakan profesi yang mempunyai tanggung jawab penting dalam penentuan keputusan status kesehatan hewan yang dilalulintaskan baik antar area maupun antar negara. Oleh sebab itu kualitas dokter hewan yang baik sangat dibutuhkan agar keputusan yang diambil tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tabel 10 Karakteristik dokter hewan menurut umur, jenis kelamin, lama bekerja, pernah menjadi tim studi kelayakan IKH, dan pelatihan yang pernah diikuti Karakteristik Dokter Hewan Umur (Tahun) 40 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Bekerja (Tahun) 5 Pernah Menjadi Tim Penilai IKH Pernah Mengikuti Pelatihan/Seminar IKH Pernah Mengikuti Pelatihan/Seminar Biosekuriti Jumlah % 20 26 8 37,0 48,1 14,8 21 33 38,9 61,1 12 17 13 12 13 16 29 22,2 31,5 24,1 22,2 24,1 29,6 53,7 Peningkatan SDM dapat dilakukan dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan sebagai sarana pembinaan dan pengembangan karir untuk meningkatkan kemampuan dan mutu pekerjaan yang dihasilkan (Salam 2005). Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Dokter Hewan Rataan persentase pengetahuan dokter hewan mengenai sanitasi, isolasi, kontrol lalu lintas dan penularan penyakit hewan dapat dilihat pada Gambar 2, sedangkan rataan persentase skor pengetahuan, sikap dan praktik dokter hewan dapat dilihat pada Gambar 3. Rataan persentase skor pengetahuan adalah merupakan rataan persentase total skor jawaban yang benar dari total skor pertanyaan mengenai biosekuriti yang diberikan. 42 Pengetahuan mengenai sanitasi dijawab dengan benar adalah 40% (Gambar 2). Skor ini menunjukkan bahwa dokter hewan menjawab dengan benar pertanyaan mengenai sanitasi adalah sebesar 40%. Pengetahuan mengenai isolasi dijawab benar oleh dokter hewan yaitu sebesar 45% dan pengetahuan mengenai lalu lintas dijawab dengan benar oleh dokter hewan yaitu sebesar 64%, sedangkan pengetahuan mengenai penularan penyakit dijawab dengan benar oleh dokter hewan yaitu sebesar 47%. Gambar 2 menunjukkan bahwa pengetahuan dokter hewan mengenai lalu lintas sudah baik (>50%). Dokter hewan merupakan profesi yang memegang peranan penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit. Dokter hewan karantina harus mempunyai pengetahuan yang baik mengenai kontrol lalu lintas. Kontrol lalu lintas merupakan tindakan biosekuriti yang sangat penting untuk mencegah penularan penyakit (terutama penyakit eksotik) dan penyebaran penyakit yang semakin luas. Pengetahuan responden mengenai sanitasi, isolasi dan penularan penyakit masih kurang (
Study of Biosecurity Implementation in Animal Quarantine Premises for Imported Cattle Across Java Island KANDANG IKH Study of Biosecurity Implementation in Animal Quarantine Premises for Imported Cattle Across Java Island KUESIONER Study of Biosecurity Implementation in Animal Quarantine Premises for Imported Cattle Across Java Island KUISIONER PENGETAHUAN KNOWLEDGE DOKTER HEWAN KUISIONER SIKAP ATTITUDE DOKTER HEWAN TERHADAP SIKAP ATTITUDE PARAMEDIK TERHADAP BIOSEKURITI
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Study of Biosecurity Implementation in Animal Quarantine Premises for Imported Cattle Across Java Island

Gratis