Feedback

Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency

Informasi dokumen
MODEL PENGEMBANGAN MINAPOLITAN BERBASIS BUDIDAYA LAUT DI KABUPATEN KUPANG CHATERINA AGUSTA PAULUS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Model Pengembangan Minapolitan Berbasis Budidaya Laut di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Juni 2012 Chaterina Agusta Paulus NIM. P062090111 ABSTRACT CHATERINA AGUSTA PAULUS. Development of Marine Culture-Based Minapolitan Model in Kupang Regency. Under direction of D. DJOKOSETIYANTO, SURJONO H. SUTJAHJO, and BAMBANG PRAMUDYA N. This research was conducted in Kupang regency, East Nusa Tenggara. The main purpose of this study was to develop a minapolitan model of regional development in the Kupang regency - Nusa Tenggara in order to improve the living standards of social and economic life of society. To achieve the main objective, then there are some activities that need to be done as a special purpose, among others: 1) Analyze the potential, level of development, and sustainability for the development of minapolitan in Kupang regency, and 2) Build a sustainable development model of minapolitan area in Kupang regency. The study was conducted in March 2011 to August 2011 is located in Semau subregency, West Kupang sub-regency and Sulamu sub-regency. Data analysis include: (1) Identification of potential areas comprising: spatial analysis (GIS) with Arc GIS Version 9, the land suitability analysis, carrying capacity analysis, financial analysis; (2) Valuing the level of development consisting of the typology analysis, principal component analysis (PCA), cluster analysis, scalogram analysis, centrality analysis, methods comparison of exponential (MPE), analysis hierarchy process (AHP) with criterium decision plus (CDP), structural interpretative modeling analysis (ISM); (3) Sustainability status of the region by using analysis of multidimensional scaling (MDS) called Rap-MINAKU, monte carlo analysis and prospective analysis; and (4) Building a development of marine culture-based minapolitan model with analysis of dynamic systems with powersim constructor version 2.5d. The results suggest that seaweed farming has a profitable business opportunities in the development of minapolitan in Kupang regency that is currently in the category of the strata pre-minapolitan II region seen from the completeness of the facilities owned by each village, there are six villages with a more advanced stage of development, 7 villages with the average development level, and 11 villages with a level of development lags. In a multidimensional in Kupang regency, aquaculture region sustained quite sensitive to 18 attributes that affect the increase sustainable index. The analysis showed each component of the dynamic system show a tendency to form a positive growth curve (positive growth) following an exponential curve. Policy direction in the development of marine culture in Kupang regency is the development of seaweed farming. Strategy should be to establish a production center and its hinterland with complete facilities and infrastructure needed, move the commodity diversification of seaweed processing in domestic industry, increase production of seaweed in minapolitan area through extension to the maximum limit, increasing the capacity of farmers, increase coordination and good partnerships in all relevant stakeholders, and improve the status of sustainability for the development of minapolitan in Kupang regency in the short term, medium term and long-term. Keywords : minapolitan, Kupang regency, mariculture RINGKASAN CHATERINA AGUSTA PAULUS. Model Pengembangan Minapolitan Berbasis Budidaya Laut di Kabupaten Kupang. Dibimbing oleh D. DJOKOSETIYANTO, SURJONO H. SUTJAHJO, dan BAMBANG PRAMUDYA N. Kebijakan pembangunan sektor perikanan saat ini, menjanjikan masa kejayaan dengan mengusung visi ”Indonesia penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar dunia pada tahun 2015,” dan misi ”mensejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan”. Program pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan di kawasan agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyusun suatu model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang - Nusa Tenggara Timur dalam rangka meningkatkan taraf hidup kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan utama tersebut, maka ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan sebagai tujuan khusus, antara lain : (1) menganalisis potensi, tingkat perkembangan, dan keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan, dan (2) membangun model pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai dengan bulan Agustus 2011 berlokasi di Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Analisis data meliputi : (1) identifikasi potensi wilayah terdiri atas : analisis spasial (SIG) dengan arc GIS version 9, analisis kesesuaian lahan, analisis daya dukung, analisis finansial; (2) tingkat perkembangan wilayah yang terdiri atas : analisis tipologi wilayah, principal component analysis (PCA) analisis cluster, analisis skalogram, analisis sentralitas, metode perbandingan eksponensial (MPE), analisis hierarki proses (AHP) dengan criterium decision plus (CDP), analisis interpretative structural modeling (ISM); (3) status keberlanjutan kawasan dengan menggunakan analisis multidimensional scaling (MDS) yang disebut Rap-MINAKU, analisis monte carlo dan analisis prospektif; dan (4) membangun model pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut dengan analisis sistem dinamik dengan powersim constractor version 2.5d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya rumput laut memiliki peluang usaha yang menguntungkan dalam pengembangan minapolitan di Kabupaten Kupang yang saat ini berada pada kategori wilayah strata pra kawasan minapolitan II dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Secara multidimensi wilayah budidaya laut di Kabupaten Kupang cukup berkelanjutan dengan 18 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi ekologi, 5 atribut pada dimensi ekonomi, 3 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 4 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 3 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Hasil analisis sistem dinamik menunjukkan setiap komponen menunjukkan kecenderungan membentuk kurva pertumbuhan positif (positive growth) naik mengikuti kurva eksponensial. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. Arahan kebijakan dalam pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang adalah pengembangan budidaya rumput laut. Strategi yang perlu dilakukan adalah membentuk sentra produksi dan hinterland dengan melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan, menggerakkan diversifikasi komoditas rumput laut dalam industri olahan rumah tangga, meningkatkan produksi rumput laut di kawasan minapolitan melalui ekstensifikasi sampai pada batas maksimal, meningkatkan kapasitas pembudidaya, meningkatkan koordinasi dan menjalin kemitraan yang baik pada semua stakeholder yang terkait, dan meningkatkan status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan ke depan baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang Kata kunci : minapolitan, Kabupaten Kupang, budidaya laut © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencatumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB MODEL PENGEMBANGAN MINAPOLITAN BERBASIS BUDIDAYA LAUT DI KABUPATEN KUPANG CHATERINA AGUSTA PAULUS Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Dr. Ir. Kukuh Nirmala, M.Sc 2. Dr. Ir. Etty Riany, M.Si Penguji pada Ujian Terbuka : 1. Drs. Ayub Titu Eki, MS, Phd 2. Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA Judul Disertasi : Model Pengembangan Minapolitan Berbasis Budidaya Laut di Kabupaten Kupang Nama Mahasiswa : Chaterina Agusta Paulus NIM : P062090111 Disetujui, Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. D. Djokosetiyanto, DEA Ketua Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya N., M.Eng Anggota Anggota Diketahui, Ketua Program Studi Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS Tanggal Ujian : 07 Juni 2012 Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr Tanggal Lulus : PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan anugerah yang diberikan penulis dapat menyelesaikan disertasi ini dengan baik. Adapun judul disertasi yang diambil sebagai penelitian untuk memperoleh gelar doktor ini adalah : “Model Pengembangan Minapolitan Berbasis Budidaya Laut di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur”. Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya penulis kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. D. Djoko Setiyanto, DEA, Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS. dan Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya N., M.Eng selaku Komisi Pembimbing, atas segala bimbingan dan arahan selama penulis melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini. 2. Bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki, MS, PhD atas dukungannya selama melaksanakan penelitian di Kabupaten Kupang; Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, MAppSc, PhD dan Dekan Fakultas Pertanian, Ir. Marthen R. Pellokila, MP, PhD yang telah memberikan ijin belajar untuk melanjutkan studi program doktor di IPB. 3. Ayahanda George Mc. Paulus, MAppSc dan Ibunda Dra. Hanifa Z. Joesoef, M.Si yang tiada lelah menuntun dan memberikan petuah dalam menempuh pendidikan dan kehidupan selama ini, serta atas kasih sayang dan kesabaran yang tiada tara; adik-adik penulis Harry Y.P., SH, John B.M.P, dan George Y.P. yang menjadi pengobar semangat; dan segenap keluarga besar Paulus dan Joesoef yang berada di Kupang – Jakarta atas doa dan dukungannya. 4. Para narasumber : Pater Gregor Neonbasu SVD, PhD, Prof. Frederik L. Benu, PhD, Thomas R. Sonbait, SH, MH, Ir. Hanna Sitanala, M.Si, Drs. Bernando M. Gamboa, Adriel S. Abineno, SH, Agus Purwanto, S.Sos, Mester Eryon Bessie, Novita D.E F., MT dan seluruh nelayan/pembudidaya di lokasi penelitian. 5. Kantor BALITBANGDA Provinsi NTT yang telah menerima dan akan memuat jurnal hasil penelitian ini. 6. Program COREMAP II yang telah membantu penulisan karya ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih perlu mendapat masukan konstruktif untuk kesempurnaannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Bogor, Juni 2012 Chaterina Agusta Paulus RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kupang pada tanggal 19 Agustus 1984 sebagai anak pertama dari pasangan George Michael Paulus, MAppSc dan Dra. Hanifa Zoebaidah Joesoef, M.Si. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor di Bogor, lulus tahun 2006. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Program Studi Ilmu Kelautan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan menyelesaikannya pada tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan pendidikan Doktor (S3) di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2010 penulis diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana (Undana) dan ditempatkan di Program Studi Perikanan dan Ilmu Kelautan. Saat ini penulis mendapat ijin belajar dari Rektor Undana dalam rangka menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi pada program Doktor (S3). DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ....................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xix 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang................................................................................ 1 1.2 Tujuan Penelitian ............................................................................ 5 1.3 Kerangka Pemikiran ....................................................................... 5 1.4 Perumusan Masalah ....................................................................... 8 1.5 Manfaat Penelitian .......................................................................... 10 1.6 Kebaruan (Novelty)......................................................................... 11 1.7 Penelitian Terdahulu ....................................................................... 11 2 TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 13 2.1 Pengelolaan Pesisir dan Lautan Terpadu ..................................... 13 2.2 Strategi Pengembangan Wilayah .................................................. 15 2.3 Budidaya Laut ............................................................................... 20 2.4 Sistem Informasi Geografis ........................................................... 37 2.5 Kesesuaian dan Daya Dukung ...................................................... 39 2.6 Pendekatan Sistem ....................................................................... 41 3 METODE PENELITIAN ......................................................................... 47 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian .......................................................... 47 3.2 Tahapan Penelitian ........................................................................ 48 3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ........................................... 48 3.4 Metode Pemilihan Responden ....................................................... 50 3.5 Analisis Data .................................................................................. 50 4 KONDISI UMUM WILAYAH .................................................................. 53 4.1 Keadaan Geografis Kabupaten Kupang ......................................... 53 4.2 Keadaan Iklim Kabupaten Kupang ................................................. 53 4.3 Pemerintahan dan Kependudukan Kabupaten Kupang.................. 54 4.4 Keadaan Sosial Kabupaten Kupang .............................................. 55 4.5 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Kupang ........... 57 4.6 Sarana dan Prasarana Kabupaten Kupang .................................... 62 4.7 Keuangan dan Harga Kabupaten Kupang ...................................... 63 5 IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH KABUPATEN KUPANG ............. 65 5.1 Pendahuluan.................................................................................. 65 5.2 Metode Analisis Identifikasi Potensi Kabupaten Kupang ................ 66 5.3 Hasil dan Pembahasan Analisis Potensi Kabupaten Kupang ......... 75 5.4 Kesimpulan .................................................................................... 101 6 TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KUPANG ....... 103 6.1 Pendahuluan.................................................................................. 103 6.2 Metode Analisis Tingkat Perkembangan Kabupaten Kupang ......... 104 6.3 Hasil dan Pembahasan Analisis Tingkat Perkembangan Kabupaten Kupang ........................................................................ 112 6.3.1 Tipologi Wilayah Kabupaten Kupang ................................. 112 6.3.2 Perkembangan Wilayah Kabupaten Kupang Berdasarkan Fasilitas dan Kelengkapan Fasilitas ................................... 118 6.3.3 Persepsi Masyarakat dan Alternatif Pengambilan Keputusan untuk Pengembangan Kawasan Minapolitan ..................... 122 6.3.4 Kendala, Kebutuhan, dan Lembaga yang Terlibat ............. 139 6.4 Kesimpulan .................................................................................... 149 7 STATUS KEBERLANJUTAN WILAYAH KABUPATEN KUPANG ........ 151 7.1 Pendahuluan.................................................................................. 151 7.2 Metode Analisis Status Keberlanjutan Kabupaten Kupang............. 153 7.3 Hasil dan Pembahasan Analisis Status Keberlanjutan Wilayah Kabupaten Kupang ...................................................................... 157 7.4 Kesimpulan .................................................................................... 173 8 MODEL PENGEMBANGAN MINAPOLITAN KABUPATEN KUPANG. 175 8.1 Pendahuluan.................................................................................. 175 8.2 Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang ...................................................................... 177 8.3 Hasil dan Pembahasan Analisis Model Dinamik Pengembangan Kawasan Minapolitan di Wilayah Kabupaten Kupang................... 181 8.3.1 Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan ...... 181 8.3.2 Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan ..... 200 xii 8.3.3 Uji Validasi Model .............................................................. 210 8.3.4 Uji Kestabilan dan Sensitivitas Model ................................ 212 8.4 Kesimpulan .................................................................................... 213 9 PEMBAHASAN UMUM ......................................................................... 215 10 REKOMENDASI KEBIJAKAN .............................................................. 223 10.1 Kebijakan Umum.......................................................................... 223 10.2 Kebijakan Operasional ................................................................. 226 11 KESIMPULAN ...................................................................................... 229 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 233 LAMPIRAN ................................................................................................ 241 xiii xiv DAFTAR TABEL Halaman 1 Keterkaitan antara sub elemen pada teknik ISM.................................. 43 2 Jenis dan metode pengumpulan data .................................................. 49 3 Tahapan dan metode analisis model pengembangan minapolitan....... 51 4 Rata-rata curah hujan dan hari hujan di Kabupaten Kupang ............... 54 5 Jumlah ibukota kecamatan dan banyak desa/kelurahan...................... 55 6 Hasil evaluasi kesesuaian lahan budidaya rumput laut ........................ 75 7 Hasil evaluasi kesesuaian lahan budidaya KJA ................................... 76 8 Hasil evaluasi kesesuaian lahan budidaya tiram mutiara ..................... 77 9 Hasil evaluasi kesesuaian lahan budidaya teripang ............................. 77 10 Hasil analisis daya dukung lahan budidaya rumput laut....................... 78 11 Hasil analisis daya dukung lahan budidaya KJA .................................. 79 12 Hasil analisis daya dukung lahan budidaya tiram mutiara .................... 79 13 Hasil analisis daya dukung lahan budidaya teripang............................ 80 14 Perkiraan biaya investasi usaha budidaya ikan kerapu........................ 94 15 Analisis rugi laba usaha budidaya ikan kerapu .................................... 94 16 Kriteria kelayakan usaha budidaya ikan kerapu ................................... 94 17 Kriteria kelayakan usaha budidaya rumput laut ................................... 96 18 Asumsi dasar usaha budidaya tiram mutiara ....................................... 97 19 Kebutuhan investasi usaha budidaya tiram mutiara ............................. 98 20 Biaya operasional usaha budidaya tiram mutiara ................................ 98 21 Kriteria kelayakan usaha budidaya tiram mutiara ................................ 99 22 Kriteria kelayakan usaha budidaya teripang ........................................ 101 23 Skala penilaian perbandingan berpasangan ........................................ 107 24 Keragaman variabel yang menggambarkan perkembangan wilayah ... 113 25 Tipologi wilayah desa berdasarkan kemiripan karakteristik.................. 116 26 Hirarki wilayah desa berdasarkan kelengkapan fasilitas ...................... 119 27 Tingkat perkembangan desa berdasarkan analisis sentralitas ............. 121 28 Prioritas lokasi industri pengolahan hasil budidaya laut ....................... 136 29 Prakiraan lokasi pasar hasil budidaya laut ........................................... 137 30 Kategori status keberlanjutan berdasarkan nilai indeks ....................... 154 31 Pedoman penilaian prospektif dalam pengembangan minapolitan ...... 155 32 Pengaruh antar faktor dalam pengembangan minapolitan ................... 156 xv 33 Perbedaan indeks keberlanjutan monte carlo dan Rap-MINAKU ......... 169 34 Nilai stres dan koefisien determinasi hasil analisis Rap-MINAKU ........ 170 35 Faktor-faktor kunci dalam pengembangan minapolitan........................ 171 36 Analisis kebutuhan aktor dalam pengembangan minapolitan .............. 178 37 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan di Kecamatan Semau .............................................................................. 185 38 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan di Kecamatan Kupang Barat .................................................................... 186 39 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan di Kecamatan Sulamu ............................................................................. 187 40 Simulasi lahan budidaya rumput laut di Kecamatan Semau ................ 193 41 Simulasi lahan budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat ...... 194 42 Simulasi lahan budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu................ 195 43 Simulasi pengembangan industri rumput laut di Semau ...................... 197 44 Simulasi pengembangan industri rumput laut di Kupang Barat ............ 198 45 Simulasi pengembangan industri rumput laut di Sulamu ..................... 199 46 Simulasi sumbangan PDRB di kawasan minapolitan Semau............... 208 47 Simulasi sumbangan PDRB di kawasan minapolitan Kupang Barat .... 209 48 Simulasi sumbangan PDRB di kawasan minapolitan Sulamu .............. 209 49 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi ................... 211 50 Hasil perhitungan nilai AME-AVE dalam uji validasi kinerja model....... 212 xvi DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka pemikiran penelitian ............................................................ 8 2 Skema perumusan masalah ................................................................ 10 3 Lokasi penelitian.................................................................................. 47 4 Tahapan perencanaan pengembangan minapolitan ............................ 48 5 Tahapan dan metode analisis data dalam penelitian ........................... 52 6 Peta kesesuaian budidaya rumput laut di Kecamatan Semau ............. 81 7 Peta kesesuaian budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu ............ 82 8 Peta kesesuaian budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat ... 83 9 Peta kesesuaian budidaya KJA di Kecamatan Semau ........................ 84 10 Peta kesesuaian budidaya KJA di Kecamatan Sulamu........................ 85 11 Peta kesesuaian budidaya KJA di Kecamatan Kupang Barat .............. 86 12 Peta kesesuaian budidaya mutiara di Kecamatan Semau ................... 87 13 Peta kesesuaian budidaya mutiara di Kecamatan Sulamu .................. 88 14 Peta kesesuaian budidaya mutiara di Kecamatan Kupang Barat ......... 89 15 Peta kesesuaian budidaya teripang di Kecamatan Semau .................. 90 16 Peta kesesuaian budidaya teripang di Kecamatan Sulamu ................. 91 17 Peta kesesuaian budidaya teripang di Kecamatan Kupang Barat ........ 92 18 Matrik driver power- dependence ........................................................ 111 19 Dendogram koefisien korelasi variabel penciri tipologi......................... 115 20 Tingkat pendidikan responden ............................................................. 122 21 Minapolitan dapat menciptakan lapangan kerja ................................... 123 22 Minapolitan dapat memberikan keuntungan ekonomi .......................... 123 23 Kondisi jalan kecamatan di Kabupaten Kupang ................................... 124 24 Pemberdayaan masyarakat dalam minapolitan di Kabupaten Kupang 124 25 Struktur hirarki pengembangan kawasan minapolitan.......................... 126 26 Manajemen pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut ......... 127 27 Kontribusi setiap tujuan dalam pengembangan minapolitan ................ 128 28 Kontribusi setiap faktor dalam pengembangan minapolitan ................. 130 29 Kontribusi setiap aktor dalam pengembangan minapolitan .................. 133 3 0 Matrik driver power-dependence sub elemen kendala ......................... 140 31 Struktur hirarki sub elemen kendala .................................................... 142 32 Matrik driver power-dependence Sub Elemen Kebutuhan ................... 143 xvii 33 Struktur hirarki sub elemen kebutuhan ................................................ 145 34 Matrik driver power- dependence sub elemen lembaga....................... 147 35 Struktur hirarki sub elemen lembaga ................................................... 148 36 Ilustrasi penentuan indeks keberlanjutan dalam skala ordinasi ............ 154 37 Penentuan elemen kunci pengembangan kawasan minapolitan .......... 156 38 Diagram layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan .................... 158 39 Peran masing-masing atribut aspek ekologi dalam bentuk rms ........... 159 40 Peran masing-masing atribut aspek ekonomi dalam bentuk rms ......... 161 41 Peran masing-masing atribut aspek sosial dan budaya dalam bentuk rms .......................................................................................... 163 42 Peran masing-masing atribut aspek infrastruktur dan teknologi dalam bentuk rms ................................................................................ 165 43 Peran masing-masing atribut aspek hukum dan kelembagaan dalam bentuk rms ................................................................................ 167 44 Indeks keberlanjutan multidimensi wilayah Kabupaten Kupang ........... 169 45 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh ...... 173 46 Diagram lingkar sebab akibat pengembangan minapolitan .................. 179 47 Diagram kotak gelap (black box) pengembangan minapolitan ............. 179 48 Struktur model dinamik pengembangan minapolitan ........................... 183 49 Struktur model dinamik untuk sub model pengembangan lahan .......... 184 50 Simulasi jumlah pertumbuhan penduduk Kabupaten Kupang .............. 190 51 Struktur model dinamik untuk sub model budidaya laut ....................... 191 52 Struktur model dinamik untuk sub model pengembangan industri ....... 196 53 Simulasi skenario perubahan lahan budidaya laut ............................... 202 54 Simulasi skenario produksi rumput laut ............................................... 204 55 Simulasi skenario keuntungan usaha budidaya rumput laut ................ 206 56 Simulasi skenario sumbangan PDRB Kabupaten Kupang ................... 207 xviii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Konstruksi alat budidaya laut ............................................................... 243 2 Kriteria dan matriks kesesuaian perairan ............................................. 246 3 Luas wilayah Kabupaten Kupang per kecamatan ................................ 250 4 Pulau-pulau di Kabupaten Kupang ...................................................... 251 5 Sebaran desa/kelurahan pesisir di Kabupaten Kupang ....................... 253 6 Karakteristik pantai dan laut dan ekosistem pendukungnya................. 254 7 Sebaran potensi perikanan tangkap (ikan dan non-ikan) ..................... 255 8 Sebaran areal potensial pengembangan budidaya laut ....................... 256 9 Sebaran potensi dan produksi budidaya air tawar dan payau .............. 257 10 Sarana dan prasarana budidaya laut ................................................... 258 11 Sarana dan prasarana penunjang pembangunan perikanan .............. 259 12 Jumlah RTP, nelayan dan pembudidaya ikan ...................................... 260 13 Sebaran nelayan di Kabupaten Kupang .............................................. 261 14 Sebaran pembudidaya ikan di Kabupaten Kupang .............................. 262 15 Hasil analisis kelayakan usaha budidaya laut ...................................... 263 16 Nilai strata kawasan minapolitan pada tipologi wilayah........................ 270 17 Hasil analisis komponen utama ........................................................... 271 18 Karakteristik desa di kecamatan – Kabupaten Kupang ........................ 272 19 Tingkat perkembangan desa berdasarkan hasil analisis sentralitas..... 273 20 Nilai skor pendapat pakar kondisi eksisting dimensi keberlanjutan ...... 274 21 Nilai indeks lima dimensi keberlanjutan di Kabupaten Kupang ............ 277 22 Asumsi model pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut ..... 280 23 Hasil olahan dodol dan pilus dari rumput laut ..................................... 284 xix xx 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara nasional, wilayah pesisir dan laut Indonesia merupakan wilayah penting yang diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini didorong oleh besarnya potensi sumber daya pesisir dan laut yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa. Nilai dan arti penting pesisir dan laut bagi bangsa Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua aspek, yaitu : 1) secara biofisik, wilayah pesisir dan laut Indonesia memiliki arti penting karena (a) Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (sekitar 81.000 km); (b) sekitar 75% dari wilayahnya merupakan wilayah perairan (luas sekitar 5.8 juta km2 termasuk ZEEI); (c) Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 13.487 pulau; dan (d) memiliki keanekaragaman hayati yang besar; dan 2) secara sosial ekonomi, wilayah pesisir dan laut memiliki arti penting karena (a) sekitar 140 juta (60%) penduduk Indonesia hidup di wilayah pesisir; (b) sebagian besar kota (provinsi dan kabupaten/kota) terletak di kawasan pesisir; dan (c) kontribusi sektor kelautan terhadap PDB nasional sekitar 12,4% dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja (Bengen, 2004). Secara internasional, Indonesia merupakan negara yang memiliki peranan strategis dalam memenuhi permintaan ikan dunia. Kebutuhan ikan dunia selama kurun waktu (1999-2006) meningkat sebesar 45%, dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk dunia. Produksi perikanan Indonesia hingga tahun 2006 menempati posisi keempat dunia setelah Republik Rakyat Cina (RRC), Peru dan Amerika Serikat (FAO, 2009). Perkembangan dunia yang terjadi belakangan ini mengarah kepada era globalisasi dan perdagangan bebas. Hal ini menyebabkan perubahan yang cepat dan memberikan pengaruh luas dalam perekonomian nasional maupun internasional yang berdampak pada semakin ketatnya persaingan. Agar suatu sektor ekonomi dapat bertahan dan berkembang dalam situasi persaingan saat ini maka perlu memiliki daya saing yang tinggi. Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. 2 Strategi ini memerlukan kepeloporan dan kerjasama yang erat antara berbagai stakeholders yang terkait dengan sektor perikanan. Pendekatan klaster dalam pengembangan sumberdaya perikanan (selanjutnya disebut klaster minapolitan) dapat diartikan sebagai suatu bentuk pendekatan yang berupa pemusatan kegiatan perikanan di suatu lokasi tertentu. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktivitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Kebijakan pembangunan sektor perikanan saat ini, menjanjikan masa kejayaan dengan mengusung visi ”Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Dunia pada Tahun 2015,” dan misi ”Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan”. Pencapaian visi dan misi tersebut, pemerintah mencanangkan kebijakan revolusi biru (the blue revolution policies) melalui program “minapolitan dan peningkatan produksi perikanan”. Program pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan di kawasan agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Peningkatan produksi perikanan diprioritaskan dari hasil budidaya, baik budidaya air tawar, budidaya air payau dan budidaya laut. Produksi budidaya laut Indonesia tahun 2001 sebesar 197.114 ton meningkat menjadi 1.509.582 ton pada tahun 2007. Produksi tersebut terus mengalami peningkatan, dengan rata-rata peningkatan per tahun mencapai 79,51% (JICA, 2009). Luas potensi lahan budidaya laut sebesar 8.363.501 ha, hingga tahun 2007 luas lahan yang telah dimanfaatkan hanya seluas 84.481 ha (0,8%), sehingga masih terdapat lahan seluas 8.279.020 ha yang potensial untuk dikembangkan budidaya laut. 3 Produksi budidaya laut Nusa Tenggara Timur menempati peringkat pertama, dari total produksi perikanan nasional dengan volume produksi terbesar mencapai 504.709 ton (DKP, 2009). Provinsi Nusa Tenggara Timur secara geografis memiliki potensi perairan untuk pengembangan budidaya laut. Luas kawasan potensial daerah ini mencapai 12,187 ha, dan hingga tahun 2007 luas lahan yang telah dimanfaatkan baru seluas 1.580 ha, diantaranya untuk pengembangan komoditi tiram mutiara, rumput laut, ikan kakap dan ikan kerapu (DKP NTT, 2008). Komoditi rumput laut saat ini menjadi primadona pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang, karena mampu memberikan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir baik untuk pembudidaya rumput laut atau nelayan sambilan maupun pelaku usaha perikanan seperti pengumpul hasil, distributor dan jasa transportasi laut. Sebaran lokasi potensi dan pengembangan budidaya rumput laut umumnya hampir pada setiap perairan pantai di seluruh wilayah kecamatan pesisir. Namun demikian, usaha budidaya rumput laut sampai saat ini lebih banyak digeluti oleh masyarakat pesisir di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kupang Barat, Semau, Semau Selatan dan kecamatan-kecamatan di Pulau Sabu dan Raijua. Wilayah-wilayah ini merupakan sentra produksi komoditi rumput laut. Produksi rumput laut juga mengalami peningkatan, dan yang terdata secara total mencapai sekitar 3.757,16 ton pada tahun 2007, dan umumnya hasil produksinya diantarpulaukan ke Jakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Potensi budidaya laut lainnya yang juga sudah diujicobakan oleh nelayan di beberapa kecamatan (Kupang Barat dan Sulamu) yakni budidaya ikan di keramba jaring apung (KJA) dengan komoditi ikan kerapu dan kakap. Untuk potensi pengembangan budidaya mutiara hingga saat ini terdapat di perairan Selat Semau yakni perairan sekitar Kecamatan Kupang Barat, Semau dan Semau Selatan. Hasil produksi mutiara umumnya dipasarkan ke Jakarta ataupun diekspor (Jepang). Budidaya laut menjanjikan kontribusi besar terhadap peningkatan perekonomian daerah dan mampu meningkatkan pendapatan nelayan, karena sebagian besar komoditinya memiliki pangsa pasar ekspor dengan harga relatif tinggi. Kegiatan budidaya laut lebih memberikan kepastian bagi nelayan dibandingkan kegiatan penangkapan yang sangat bergantung pada cuaca dan musim. 4 Situasi ini memberikan justifikasi bahwa intervensi kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan peningkatan produksi perikanan melalui program budidaya laut sangat tepat. Oleh karenanya dalam rangka mendukung implementasi kebijakan pemerintah menjadikan Kabupaten Kupang sebagai sentra produksi pengembangan budidaya laut, maka diperlukan model pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut yang mampu menjamin kelestarian ekosistem dengan memperhatikan keterbatasan kapasitas lingkungan, dengan harapan agar dapat memberdayakan wilayah perikanan dalam rangka meningkatkan taraf hidup kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang ada dengan kaidah-kaidah pemanfaatan ruang yang optimal dan berkelanjutan, dan sekaligus memberikan masukan dan arahan sebagai bahan pertimbangan bagi pembuat keputusan dalam rangka menyusun strategi yang tepat dan benar untuk mengembangkan minapolitan berbasis budidaya laut di masa yang akan datang. Dengan demikian program pengembangan kawasan minapolitan ini juga dapat mendukung program gemala dari pemerintah Provinsi NTT yang akhirakhir ini tidak bergaung lagi. Gemala adalah salah satu program kegiatan strategis yang dicanangkan oleh pemerintah daerah Provinsi NTT pada tahun 2002 yaitu gerakan masuk laut. Orientasi program gemala yaitu optimalisasi sumberdaya, peningkatan skala usaha, peningkatan teknologi, peningkatan produksi bernilai tambah, peningkatan partisipasi masyarakat dan globalisasi perdagangan; diharapkan upaya pengembangan minapolitan dapat memdongkrak kembali program gemala yang sudah tidak terlihat lagi hasilnya. Namun, kegiatan budidaya laut ini memiliki dinamika dan permasalahan yang kompleks terkait kegiatan di wilayah daratan dan kegiatan budidaya itu sendiri akan berpengaruh terhadap kondisi biofisik dan daya dukung perairan, kondisi sosial ekonomi, kelembagaan dan teknologi budidaya yang saling berhubungan membentuk sebuah sistem yang kompleks. Dinamika dan kompleksitas permasalahan yang dihadapi saat ini merupakan proses dinamis, disadari sebagai rangkaian kemungkinan kejadian yang diinginkan di masa datang, dan sangat tergantung dari kebijakan yang diambil saat ini. Oleh karena itu, sistem dinamik sangat cocok untuk menganalisis mekanisme, pola dan kecenderungan sistem budidaya laut yang menjamin keberkelanjutan berdasarkan analisis terhadap struktur dan perilaku sistem yang rumit, berubah cepat dan mengandung ketidakpastian. 5 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyusun suatu model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang - Nusa Tenggara Timur dalam rangka meningkatkan taraf hidup kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan utama tersebut, maka ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan sebagai tujuan khusus, antara lain : 1. Menganalisis potensi, tingkat perkembangan, dan keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan. 2. Membangun model pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang. 1.3 Kerangka Pemikiran Penelitian ini berangkat dari potensi lestari kekayaan laut NTT sangat besar dan menjanjikan. Untuk jenis ikan tuna dan cakalang, misalnya, berdasarkan hasil penelitian LAPAN pada tahun 1998 lalu potensi lestari sekitar 156.000 ton pertahun. Namun tingkat pemanfaatannya baru sekitar 32,79% atau setara dengan 51.100 ton. Dilihat dari potensi yang ada dan peluang pasar manca negara, khususnya Jepang, Hongkong, Taiwan dan Cina, peluang usaha penangkapan ikan tuna dan cakalang masih sangat besar. Penyebaran jenis ikan tuna dan cakalang ini berada hampir pada semua perairan laut NTT. Namun yang berpotensi cukup besar dengan tingkat eksploitasinya masih rendah terdapat di Kabupaten Kupang (perairan Laut Sabu, Laut Timor, laut sekitar Pulau Rote dan laut sekitar Pulau Semau). Hal yang tak kalah menariknya adalah potensi lestari rumput laut (sea weeds). Tumbuhan yang tersebar hampir di perairan NTT ini bernilai ekonomis penting karena kegunaannya yang luas dalam bidang industri makanan, kosmetik, minuman dan farmasi. Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut sebagian besar sebagai bahan komoditas ekspor dalam bentuk rumput laut kering. Dari tahun ke tahun pertumbuhan ekspor rumput laut mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, namun relatif kecil dan jauh di bawah produksi Philipina. Hal itu disebabkan karena produksi rumput laut belum optimal. Keinginan masyarakat NTT untuk membudidayakan rumput laut cukup tinggi, walaupun masih dalam skala kecil, dengan potensi budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dengan luas lahan sekitar 12.187 ha baru dimanfaatkan sekitar 1.580 ha. 6 Guna mengoptimalkan potensi laut yang sangat besar itu untuk kemakmuran rakyat, pemerintah daerah (pemda) NTT mencanangkan program gerakan masuk laut (gemala). Gerakan yang bertumpu pada kondisi geografis NTT yang sebagian besar terdiri dari perairan merupakan suatu terobosan untuk merubah paradigma pembangunan dan sekaligus mentalitas masyarakat NTT yang selama ini lebih berorientasi ke darat. Substansi gemala yang kini dicanangkan dan disosialisasikan secara intensif oleh pemda NTT dan seluruh komponen terkait adalah upaya merubah mentalitas agraris masyarakat NTT menuju mentalitas maritim. Namun demikian dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pesatnya kegiatan pembangunan di wilayah pesisir, bagi berbagai peruntukan (pemukiman, perikanan, pelabuhan, obyek wisata dan lain-lain), maka tekanan ekologis terhadap ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut itu semakin meningkat. Meningkatnya tekanan ini tentunya akan dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya. Satu hal yang lebih memprihatinkan adalah, bahwa kecenderungan kerusakan lingkungan pesisir dan lautan lebih disebabkan paradigma dan praktek pembangunan yang selama ini diterapkan belum sesuai dengan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Cenderung mendominasi kepentingan ekonomi pusat lebih diutamakan daripada ekonomi masyarakat setempat. Seharusnya lebih bersifat partisipatif, transparan, dapat dipertanggung-jawabkan (accountable), efektif dan efisien, pemerataan serta mendukung supremasi hukum. Untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan, maka perlu dirumuskan suatu pengelolaan (strategic plan), mengintegrasikan setiap kepentingan dalam keseimbangan (proporsionality) antar dimensi ekologis, dimensi sosial, antar sektoral, disiplin ilmu dan segenap pelaku pembangunan (stakeholders). Dengan melihat isu dan permasalahan diatas, pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis budidaya laut yang terpadu dan berkelanjutan di Kabupaten Kupang dapat dimulai dengan memperhatikan beberapa aspek, yaitu : (1) aspek ekologis meliputi potensi keruangan, kesesuaian lahan, daya dukung lahan, dan karakteristik lahan; (2) aspek ekonomi yaitu kelayakan usaha budidaya; (3) aspek sosial yaitu persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan 7 berbasis budidaya laut; (4) aspek kelembagaan dan hukum yang meliputi kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan pemerintah yang terkait; dan (5) aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu metode analisis data. Keterpaduan aspek-aspek di atas dalam pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis budidaya laut dapat dimodelkan dalam suatu pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang. Model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut ini nantinya dapat menjadi arahan kebijakan pembangunan kawasan minapolitan di wilayah perairan Kabupaten Kupang. Potensi budidaya laut yang dapat dikembangkan sebagai basis kegiatan perikanan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perairan Kabupaten Kupang antara lain adalah budidaya rumput laut, tiram mutiara, teripang dan keramba jaring apung (KJA). Produksi maupun hasil olahan dari budidaya laut tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kupang. Model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk kebijakan pembangunan nasional di bidang kelautan dan perikanan untuk wilayah pesisir lainnya. Kerangka pemikiran penelitian model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di lihat pada Gambar 1. 8 Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian model pengembangan minapolitan di Kabupaten Kupang 1.4 Perumusan Masalah Pengelolaan wilayah pesisir terpadu dinyatakan sebagai proses pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan serta ruang dengan mengindahkan aspek konservasi dan keberlanjutannya. Permasalahan yang ada di Kabupaten Kupang adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan yang belum optimal, program pemda NTT yaitu gemala yang tidak lagi bergaung dalam pembangunan perikanan NTT, dan Kabupaten Kupang sebagai kawasan pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut. Sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan, khususnya nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan sebagaimana menjadi misi kementerian kelautan dan perikanan (KKP), maka dibuat kebijakan strategis operasional minapolitan. Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah. Untuk itu pendekatan dalam pembangunan minapolitan dilakukan dengan sistem manajemen kawasan dengan prinsip integrasi, efisiensi, kualitas dan akselerasi. 9 Ciri kawasan minapolitan adalah sebagian besar masyarakat memperoleh pendapatan dari kegiatan minabisnis kegiatan dikawasan didominasi oleh kegiatan perikanan (industri pengolahan, perdagangan). Dalam rencana pengembangan kawasan minapolitan tersebut, Kabupaten Kupang memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi seperti : (1) memiliki lahan dan perairan yang sesuai untuk pengembangan komoditas perikanan; (2) memiliki sarana umum lainnya seperti transportasi, listrik, telekomunikasi, air bersih dll; dan (3) memiliki berbagai sarana dan prasarana minabisnis, yaitu : pasar, lembaga keuangan, kelompok budidaya, balai benih ikan, penyuluhan dan bimbingan teknis, jaringan jalan, irigasi. Dengan demikian, dibutuhkan kajian lebih mendalam berkaitan dengan persyaratan yang harus dipenuhi untuk sebuah kawasan minapolitan; untuk itu perlu dilakukan pengkajian pengembangan kawasan minapolitan dengan menggunakan berbagai macam metode secara komprehensif yang nantinya akan diperoleh hasil penelitian yang detail dan mendalam. Perumusan masalah pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang, disajikan secara sistematis pada Gambar 2. Beberapa pertanyaan penelitian yang merupakan permasalahan-permasalahan yang perlu dikaji adalah : 1. Bagaimana kondisi dan potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Kupang untuk menunjang pengembangan kawasan minapolitan? 2. Bagaimana tingkat perkembangan wilayah yang dimiliki Kabupaten Kupang untuk menunjang pengembangan kawasan minapolitan? 3. Bagaimana keberlanjutan potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Kupang dapat mendukung pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang? 4. Bagaimana model pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang, serta bagaimana rumusan kebijakan dan skenario strategi pengembangannya? 10 Gambar 2 1.5 Skema perumusan masalah model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat bagi pemerintah daerah, dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan kebijakan dan strategi pembangunan wilayah melalui pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan. 2. Manfaat bagi masyarakat (stakeholders), memberikan kontribusi hasil pemikiran secara ilmiah bagi masyarakat yang akan menginvestasikan modalnya dalam pengelolaan sumberdaya laut secara berkelanjutan melalui konsep minapolitan. 3. Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai bahan referensi dan pengkajian lebih lanjut dalam pengembangan wilayah yang berpihak pada optimalisasi di sektor perikanan berbasis budidaya laut. 11 1.6 Kebaruan (Novelty) Penelitian mengenai model pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang belum pernah dilakukan, khususnya jika ditinjau berdasarkan hal-hal berikut secara menyeluruh yaitu: potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, tingkat perkembangan wilayah, status keberlanjutan wilayah, dan konsep pengembangan minapolitan. Berdasarkan hal tersebut, kebaruan dari penelitian ini adalah dihasilkannya rekomendasi kebijakan umum dan operasional minapolitan berbasis budidaya laut yang didasarkan pada perkembangan potensi wilayah, sumberdaya status kelautan keberlanjutan dan perikanan, wilayah, dan tingkat konsep pengembangan minapolitan. 1.7 Penelitian Terdahulu Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian ini yang telah dilaksanakan terlebih dahulu, antara lain : 1. Susilo (2003) dengan judul penelitian “Keberlanjutan Pembangunan PulauPulau kecil” (Studi Kasus Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari KePulauan Seribu, DKI Jakarta). Penelitian ini menggunakan konsep keberlanjutan dan menyimpulkan bahwa pengelolaan sumberdaya di Pulau Panggang dan Pulau Pari termasuk dalam kategori “cukup berkelanjutan”. 2. Pranoto (2005) dengan judul penelitian “Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan Melalui Model Pengembangan Agropolitan”, menyimpulkan bahwa pengembangan agropolitan sebagai pendekatan pembangunan perdesaan yang berkelanjutan dapat tercapai jika peningkatan produksi pertanian, peningkatan sarana dan prasarana permukiman, transportasi, dan pemasaran disertai dengan peningkatan konservasi sumberdaya alam; pengembangan agribisnis dan pembangunan agroindustri dibarengi dengan perbaikan pemasaran secara berkelanjutan, perencanaan dan pelaksanaan program dibarengi dengan peran dan kinerja kelembagaan yang ada. 3. Rauf (2008) dengan judul “Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulauan Tanakeke Berbasis Daya Dukung”, menyimpulkan bahwa Kepulauan Tanakeke memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar untuk pengembangan budidaya perikanan (rumput laut dan KJA), penangkapan ikan (pelagis dan karang/demersal); Hasil analisis kesesuaian dan daya dukung lahan serta kelayakan secara ekonomi terhadap berbagai 12 peruntukkan di Kepulauan Tanakeke, didapatkan bahwa kegiatan budidaya perikanan seperti rumput laut dan keramba jaring apung layak dikembangkan di Pulau Tanakeke dan Lantangpeo. 4. Saksono (2008) dengan judul “Kajian Pembangunan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Berbasis Industri Perikanan”. Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisis interaksi antar faktor pembangunan Kabupaten dan/atau kota yang berbasis industri perikanan; dan merancang suatu model pembangunan bagi kabupaten administrasi Kepulauan Seribu berbasis industri perikanan. 5. Thamrin (2009) dengan judul “Model Pengembangan Kawasan Agropolitan Secara Berkelanjutan Di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia” (Studi Kasus Wilayah Perbatasan Kabupaten Bengkayang - Serawak), menyimpulkan bahwa model pengembangan kawasan agropolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang dibangun dari empat sub model berdasarkan analisis sistem dinamik, yakni : sub model pengembangan wilayah, sub model budidaya pertanian, sub model pengembangan industri, dan sub model pengolahan dan pemasaran produk. Hasil identifikasi potensi wilayah, menunjukkan wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang sangat potensial untuk pengembangan kawasan agropolitan terpadu. 6. Radarwati (2010) dengan judul “Pengelolaan Perikanan Tangkap Berkelanjutan Di Perairan Jakarta, Provinsi DKI Jakarta” menyimpulkan bahwa tingkat keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap di perairan Jakarta berada pada tahap pertumbuhan dan pengelolaan dalam kategori kurang baik dalam merespon faktor-faktor internal dan eksternal, alokasi optimum alat tangkap terbesar adalah bubu dengan 8.547 unit, sedangkan ruang yang dapat dimanfaatkan sebesar 52,89% dari luas perairan 748 ha dengan strategi standarisasi perikanan ukuran kecil menjadi prioritas utama untuk diimplementasikan. 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengelolaan Pesisir dan Lautan Terpadu Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah daratan meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat, seperti sendimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti pertanian dan pencemaran (Soegiarto, 1984; Beatley et al., 1994). Menurut UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil menyatakan bahwa “Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut”; sedangkan “Perairan pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna”. Sumberdaya alam pesisir dan laut, dewasa ini sudah semakin disadari banyak orang bahwa sumberdaya ini merupakan suatu potensi yang cukup menjanjikan dalam mendukung tingkat perekonomian masyarakat terutama bagi nelayan. Di sisi lain, konsekuensi logis dari sumberdaya pesisir dan laut sebagai sumberdaya milik bersama (common property) dan terbuka untuk umum (open acces) maka pemanfaatan sumberdaya alam pesisir dan laut dewasa ini semakin meningkat di hampir semua wilayah. Pemanfaatan yang demikian cenderung melebih daya dukung sumberdaya (over exploitation). Ghofar (2004), mengatakan bahwa perkembangan eksploitasi sumberdaya alam laut dan pesisir dewasa ini (penangkapan, budidaya, dan ekstraksi bahan-bahan untuk keperluan medis) telah menjadi suatu bidang kegiatan ekonomi yang dikendalikan oleh pasar (market driven) terutama jenisjenis yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga mendorong eksploitasi sumberdaya alam laut dan pesisir dalam skala dan intensitas yang cukup besar. Sedangkan menurut Purwanto (2003), mengatakan bahwa ketersediaan stok sumberdaya ikan pada beberapa daerah penangkapan (fishing ground) di Indonesia ternyata telah dimanfaatkan melebihi daya dukungnya sehingga kelestariannya terancam. Beberapa spesies ikan bahkan dilaporkan telah sulit didapatkan bahkan nyaris hilang dari perairan Indonesia. Kondisi ini semakin diperparah oleh peningkatan 14 jumlah armada penangkapan, penggunaan alat dan teknik serta teknologi penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Secara ideal pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungan hidupnya harus mampu menjamin keberlangsungan fungsi ekologis guna mendukung keberlanjutan usaha perikanan pantai yang ekonomis dan produktif. Keberlanjutan fungsi ekologis akan menjamin eksistensi sumberdaya serta lingkungan hidup ikan (Anggoro, 2004). Wilayah pesisir memiliki nilai ekonomi tinggi, namun terancam keberlanjutannya. Dengan potensi yang unik dan bernilai ekonomi tadi maka wilayah pesisir dihadapkan pada ancaman yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar wilayah ini dapat dikelola secara berkelanjutan. Pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan lautan terpadu pada hakekatnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia atau masyarakat di sekitar kawasan pesisir agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan (Supriharyono, 2000). Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu memiliki pengertian bahwa pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut dilakukan melalui penilaian secara menyeluruh (comprehensive assessment), merencanakan tujuan dan sasaran, kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan (Bengen, 2004). Perencanaan dan pengelolaan tersebut dilakukan secara kontinyu dan dinamis dengan mempertimbangkan aspek sosialekonomi-budaya dan aspirasi masyarakat pengguna wilayah pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan pemanfaatan yang mungkin ada. Dalam dimensi keterpaduan ICM (Integrated Coastal Management atau pengelolaan secara terpadu) meliputi lima aspek, yaitu (a) keterpaduan sektor, yaitu antara berbagai sektor pembangunan di wilayah pesisir, seperti perikanan (budidaya), pariwisata, pertambangan migas, perhubungan dan pelabuhan, pemukiman, pertanian pantai; (b) keterpaduan wilayah/ekologis, yaitu antara daratan dan perairan (laut) yang masuk dalam suatu sistem ekologis, (c) keterpaduan stakeholder dan tingkat pemerintah, yaitu dengan melibatkan seluruh komponen stakeholder yang terdapat di wilayah pesisir dan juga adanya keterpaduan antara pemerintah pada berbagai level, seperti pusat, propinsi, dan kabupaten; (d) keterpaduan antara berbagai disiplin ilmu, yaitu dengan 15 melibatkan berbagai disiplin ilmu terkait dengan pesisir dan lautan, seperti ilmu sosial-budaya, fisika, biologi, keteknikan, ekologi, hukum dan kelembagaan; (e) keterpaduan antar negara, yaitu kerja sama dan koordinasi antar negara dalam mengelola sumberdaya pesisir, terutama yang menyangkut kepentingan seluruh umat manusia (Cincin-Sain, 1993). 2.2 Strategi Pengembangan Wilayah 2.2.1 Pengembangan Wilayah dalam perspektif Development from Below Pendekatan konsep pengembangan wilayah yang berbasis pada kekuatan ekonomi dan sumber daya lokal, merupakan suatu respon terhadap pendekatan yang bersifat top-down. Mekanisme pola ketergantungan (dependency) serta struktur hubungan produksi dan distribusi yang berbeda antara core dan periphery, yang sangat kontras dengan pemikiran sistem integrasi pusat-pusat dalam suatu lingkup sistem jaringan, tidak memungkinkan terjadinya proses „penjalaran‟ atau yang dikenal dengan trickling down effects. Berkaitan dengan dependency serta distorsi yang terjadi antara wilayah core dan periphery (kesenjangan wilayah), Myrdall (1957), Hirschman (1958), dan Friedmann (1966), mengatakan bahwa ekonomi wilayah yang terintregasi dan terkait dengan basis ekonomi dunia yang tidak seimbang akan menimbulkan dua kecenderungan fenomena. Pertama, aktivitas pembangunan yang mengarah pada gejala polarisasi atau backwash effect. Kedua, leakages atas pemanfaatan sumber daya vital suatu wilayah untuk kepentingan metropolis (core atau leading region) maupun negara lain. Permasalahan juga ditekankan pada kesulitan untuk menstimulasi keterkaitan ekonomi antara industri-industri di pusat dengan daerah belakangnya, serta ketimpangan oportunitas yang dimiliki dalam segi skala ekonomi, potensi perubahan struktur sumber daya manusia dan teknologi oleh core dan periphery. Gejala yang umum terjadi adalah mobilitas kapital, tenaga kerja dan sumber daya terakumulasi di kutub-kutub pertumbuhan (growth pole) sementara akibat pengaruh leakages eksternal maupun internal yang terjadi, wilayah periphery makin tertinggal. Bertolak dari konsepsi pemikiran bahwa leakages atas proses produksi lokal akan meminimisasi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut, teori “development from below” mensyaratkan adanya suatu tahapan dalam internalisasi sumber daya untuk menghasilkan produk bagi pemenuhan konsumsi masyarakat lokal, misalnya melalui cara pengembangan industri padat karya skala kecil, atau secara ekstrim dapat dikatakan melakukan perubahan di dalam 16 institusi dan keterkaitan hubungan struktur ekonomi. Hal ini didukung pendapat Hirschman (1958), bahwa pengembangan wilayah atas suatu periphery hanya dapat dilakukan dengan melindunginya dari pengaruh polarisasi wilayah. Ditinjau dari sudut pandang ekonomi wilayah, usaha internalisasi yang dilakukan dalam bentuk komponen elemen-elemen produksi (sumber daya maupun investasi) dimaksudkan untuk memaksimalkan efek mulitiplier lokal terhadap sektor-sektor perekonomian wilayah melalui kontrol backwash effects yang terjadi dengan bertumpu pada karakter dasar wilayah tersebut. Proses internalisasi potensi lokal wilayah merupakan awal bagaimana suatu wilayah dapat berkembang. Menurut perspektif teori ini, terdapat berbagai strategi pendekatan pengembangan wilayah, yaitu pendekatan pengembangan territorial, fungsional, dan pendekatan minapolitan. Secara umum pendekatanpendekatan tersebut memfokuskan pada upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap wilayah pusat. Pendekatan-pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah saat ini, yakni kebijakan pengembangan ekonomi dan pembiayaan usaha kelautan dan perikanan (Kemenko Ekonomi, 2010) yang tertulis dalam strategi utama pembangunan 2010-2014, dimana pembangunan harus berdimensi kewilayahan (pengklasteran) dan ditopang oleh penguatan ekonomi lokal. Berikutnya akan dibahas mengenai pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan melalui sistem pengklasteran (minapolitan). 2.2.2 Konsep Pengembangan Minapolitan Sumber daya perikanan merupakan salah satu sumber daya yang penting bagi hajat hidup masyarakat dan dapat dijadikan sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian nasional. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa pertama, Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun diversitas. Kedua, industri di sektor perikanan memiliki keterkaitan (backward and forward linkage) yang kuat dengan industri-industri lainnya. Ketiga, industri perikanan berbasis sumberdaya lokal atau dikenal dengan istilah resources-based industries dan keempat, Indonesia memiliki keunggulan (comparative advantage) yang tinggi di sektor perikanan sebagaimana dicerminkan dari potensi sumber daya ikannya. Dengan potensi tersebut sumber daya perikanan sesungguhnya memiliki keunggulan komparatif untuk menjadi sektor unggulan. Walaupun sektor perikanan memiliki peran dan potensi sebagai prime mover ekonomi nasional, akan tetapi sampai saat ini peran dan potensi tersebut masih terabaikan dan belum teroptimalkan dengan 17 baik. Keunggulan komparatif yang kita miliki belum mampu untuk kita transformasikan menjadi keunggulan kompetitif. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis perikanan serta munculnya berbagai permasalahan yang membutuhkan sebuah penanganan yang cepat dan tepat. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi seperti biaya produksi yang masih tinggi, lemahnya permodalan, lemahnya kemampuan pembudidayaan ikan, baik benih, pakan, penyakit, pengelolaan lingkungan budidaya dan penanganan pasca panen. Selain itu dengan semakin terbukanya pasar pada masing-masing negara menjadi tantangan bagi pembangunan perikanan nasional. Bila permasalahan-permasalahan tersebut tidak ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dapat menghambat peningkatan daya saing sektor perikanan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Di beberapa negara, industri yang berbasis klaster telah terbukti mampu menunjukkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam menembus pasar. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. Strategi ini memerlukan kepeloporan dan kerjasama yang erat antara berbagai stakeholders yang terkait dengan sektor perikanan. Pendekatan klaster dalam pengembangan sumberdaya perikanan (selanjutnya disebut klaster minapolitan) dapat diartikan sebagai suatu bentuk pendekatan yang berupa pemusatan kegiatan perikanan di suatu lokasi tertentu (Porter, 2000). Upaya ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktivitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Dalam mengembangkan klaster perikanan (minapolitan), berbagai aspek baik dari subsistem hulu, subsistem hilir maupun jasa penunjang haruslah saling mendukung satu sama lainnya (Friedmann, 1966). Klaster Minapolitan yang baik dicirikan oleh tingginya tingkat keterkaitan berbagai kegiatan yang saling 18 mendukung antara satu pelaku dengan pelaku yang lain. Oleh karena itu untuk mencapai tingkat keberhasilan, beberapa faktor kunci yang harus diperhatikan dalam klaster minapolitan antara lain : pertama, tercipta kemitraan dan jaringan (networking) yang baik. Tercipta kemitraan dan jaringan yang ditandai adanya kerjasama antar perusahaan merupakan hal yang sangat penting karena tidak hanya untuk memperoleh sumber daya, namun juga dalam hal fleksibilitas, dan proses pembelajaran bersama antar perusahaan. Fleksibilitas akan tercipta misalnya dalam hal penentuan jumlah produksi, sedangkan proses pembelajaran bersama, misalnya dalam transfer dan penyebaran teknologi yang dapat meningkatkan keahlian pelaku perusahaan yang ada dalam klaster. Kedua, adanya inovasi, riset dan pengembangan. Inovasi secara umum berkenaan dengan pengembangan produk atau proses, sedangkan riset dan pengembangan berkenaan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga, tersedianya sumber daya manusia (tenaga kerja) yang handal. Produktivitas SDM merupakan salah suatu indikator keberhasilan dari sebuah klaster. Dengan SDM yang handal dan memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, maka keberadaan kapital maupun kelembagaan dapat dijalankan dengan baik. Ilustrasi tentang pentingnya peran SDM dan kewirausahaan dapat diwakili oleh Negara Singapura dan Jepang. Negara ini mengalami keterbatasan SDA dibandingkan Indonesia namun memiliki SDM yang berkualitas, sehingga kapital dan aturanaturan yang mereka ciptakan dapat menempatkan negara tersebut pada jajaran negara-negara maju. Disamping ketiga faktor tersebut tingkat keberhasilan klaster minapolitan juga ditentukan oleh penentuan lokasi klaster. Penentuan lokasi merupakan keputusan yang didasarkan pada perpaduan dari berbagai faktor yang mempengaruhi seperti ketersediaan sumberdaya (input), biaya transportasi, harga faktor lokal, kemungkinan produksi dan substitusi, struktur pasar, kompetisi dan informasi. Pendekatan klaster minapolitan merupakan suatu strategi yang dapat digunakan dalam meningkatkan daya saing sumber daya perikanan. Untuk mendukung strategi tersebut beberapa hal yang harus diupayakan antara lain pertama, terpenuhinya kebutuhan dasar sebuah klaster seperti terciptanya stabilitas ekonomi makro yang mantap, iklim investasi yang kondusif, dan terjaminnya penyelenggaraan hukum yang efisien dan dapat dipercaya. Kedua, peningkatan kompetensi SDM dari masing-masing pelaku dalam klaster hendaknya dilakukan dengan cara pengembangan keterampilan dan kecakapan 19 baik melalui pelatihan maupun kegiatan produktif lainnya. Ketiga, mengembangkan berbagai kelembagaan pendukung terutama kelembagaan pembiayaan, penelitian, penyuluhan, dan pendidikan. Adanya kelembagaan tersebut akan mampu meningkatkan akses pelaku terhadap informasi terkait dengan permodalan, teknologi dan inovasi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja klaster. Keempat, diperlukan identifikasi dan pemetaan karakterisasi wilayah dalam menentukan lokasi untuk klaster perikanan. Penentuan lokasi klaster tersebut merupakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas. Bila beberapa hal di atas dapat tercipta dengan baik, niscaya klaster minapolitan dapat berkembang dengan baik dan dengan sendirinya daya saing sumber daya perikanan dapat meningkat baik itu di dalam negeri maupun internasional. Pertambahan penduduk dan perubahan konsumi masyarakat ke arah protein hewani yang lebih sehat adalah salah satu penyebab meningkatnya kebutuhan produk perikanan. Sementara pasokan ikan dari hasil penangkapan cenderung semakin berkurang, dengan adanya kecenderungan semakin meningkatnya gejala kelebihan tangkap dan menurunnya kualitas lingkungan, terutama wilayah perairan tempat ikan memijah, mengasuh dan membesarkan anak. Guna mengatasi keadaan ini, maka pengembangan budidaya laut merupakan alternatif yang cukup memberikan harapan. Hal ini didukung oleh potensi alam Indonesia yang memiliki 81.000 km garis pantai dan penduduk yang telah terbiasa dengan budaya pantai dengan segala pernik-perniknya. Kegiatan budidaya laut dan pantai berpeluang besar menjadi tumpuan bagi sumber pangan hewani di masa depan, karena peluang produksi perikanan tangkap yang terus menurun. Dasar hukum minapolitan adalah Permen KKP No.12 tahun 2010 tentang minapolitan, dan Kepmen KKP No.32 tahun 2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. Minapolitan adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan, sedangkan kawasan minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Tujuan dari minapolitan adalah untuk (a) meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas produk kelautan dan perikanan; (b) meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, dan 20 pengolah ikan yang adil dan merata; dan (c) mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. Sedangkan karakteristik kawasan minapolitan meliputi : (a) Suatu kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya, seperti jasa dan perdagangan; (b) Mempunyai sarana dan prasarana sebagai pendukung aktivitas ekonomi; (c) Menampung dan mempekerjakan sumberdaya manusia di dalam kawasan dan daerah sekitarnya; dan (d) Mempunyai dampak positif terhadap perekonomian di daerah sekitarnya. Persyaratan kawasan minapolitan adalah : (a) kesesuaian dengan Rencana Strategis, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) kabupaten/kota, serta Rencana Pengembangan Investasi Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan; (b) memiliki komoditas unggulan di bidang kelautan dan perikanan dengan nilai ekonomi tinggi; (c) letak geografi kawasan yang strategis dan secara alami memenuhi persyaratan untuk pengembangan produk unggulan kelautan dan perikanan; (d) terdapat unit produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan jaringan usaha yang aktif berproduksi, mengolah dan/atau memasarkan yang terkonsentrasi di suatu lokasi dan mempunyai mata rantai produksi pengolahan, dan/atau pemasaran yang saling terkait; (e) tersedianya fasilitas pendukung berupa aksesibilitas terhadap pasar, permodalan, sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran, keberadaan lembaga-lembaga usaha, dan fasilitas penyuluhan dan pelatihan; (f) kelayakan lingkungan diukur berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, potensi dampak negatif, dan potensi terjadinya kerusakan di lokasi di masa depan; (g) komitmen daerah, berupa kontribusi pembiayaan, personil, dan fasilitas pengelolaan dan pengembangan minapolitan; (h) keberadaan kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang kelautan dan perikanan; dan (i) ketersediaan data dan informasi tentang kondisi dan potensi kawasan. 2.3 Budidaya Laut di Kabupaten Kupang Sumberdaya perikanan di perairan NTT dapat diklasifikasikan menjadi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Khusus perikanan budidaya laut termasuk budidaya kerapu, rumput laut, mutiara dan teripang dengan potensi pengembangan sekitar 12.187 ha dan tingkat pemanfaatan baru mencapai 12,97% (1.580 ha) dan sebagian besar hasil potensi yang ada masih dikelola 21 secara tradisional karena keterbatasan sarana, pengetahuan dan modal. Berikut ini adalah penjabaran jenis, proses dan konstruksi budidaya laut yang diteliti di Kabupaten Kupang. 2.3.1 Budidaya Keramba Jaring Apung Dalam analisis kelayakan usaha budidaya keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Kupang, dipilih ikan kerapu sebagai obyek/komoditi yang akan dikaji. Ikan kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas. Dikenal tiga jenis ikan kerapu yaitu kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu lumpur yang telah tersedia dan dikuasai teknologinya. Dari ketiga jenis ikan kerapu di atas, untuk pengembangan di Kabupaten Kupang ini disarankan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Hal ini karena harga per kg jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedua jenis lainnya. Di Indonesia, kerapu tikus ini dikenal juga sebagai kerapu bebek atau di dunia perdagangan internasional mendapat julukan sebagai panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintikbintik kecil bulat berwarna hitam. a. Penyebaran dan Habitat Daerah penyebaran kerapu tikus di Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, ikan kerapu banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya ikan kerapu adalah perairan karang. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar. Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 m. Telur dan larvanya bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Parameterparameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24–310C, salinitas antara 30-33 gr/kg, kandungan oksigen terlarut > 3,5 22 mg/l dan pH antara 7,8–8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang. b. Proses Budidaya Budidaya ikan kerapu tikus ini, dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun dengan menggunakan KJA. Untuk keperluan studi ini, dipilih budidaya dengan menggunakan KJA. Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai. Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh. Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu pada kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah : (a) waktu penebaran (sebaiknya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh), (b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan yang tinggi, dan (c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas. Benih ikan kerapu ukuran panjang 4–5 cm dari hasil tangkapan maupun dari hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5 m x 3 m x3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20–25 cm atau 100 gr). Setelah itu dipindahkan ke jaring besar ukuran 3 m x 3 m x 3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukuran konsumsi (500 gr). Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara ad libitum (sampai kenyang), sedangkan untuk pembesaran adalah 8%-10% dari total berat badan per hari. 23 Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebardapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gr pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah. Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus). Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA, antara lain : penentuan waktu panen, peralatan panen, teknik panen, serta penanganan pasca panen. Watu panen, biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 gr – 1000 gr dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang digunakan pada saat panen, berupa : scoop, keranjang, timbangan, alat tulis, perahu, bak pengangkut dan peralatan aerasi. Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA dengan metoda panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi, sedangkan panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual. Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di tempat tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam kondisi baik. Ini dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup. Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau dengan jalan darat yang waktu angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya berupa drum plastik atau fiberglass yang sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai ⅔ bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut diusahakan tetap konstan selama perjalanan yaitu 19-210C. Selama 24 pengangkutan air perlu diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar 50 kg per wadah. Cara pengangkutan yang umum digunakan adalah dengan pengangkutan tertutup dan umumnya untuk pengangkutan dengan pesawat udara. Untuk itu, 1 kemasan untuk 1 ekor ikan dengan berat rata-rata 500 gr. c. Konstruksi Keramba Jaring Apung Untuk pembuatan rakit keramba, diperlukan rakit dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi anti karat. Ukuran bingkai rakit biasanya 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m. Untuk mengapungkan satu unit rakit, diperlukan pelampung yang berasal dari bahan drum bekas atau drum plastik bervolume 200 ltr, styreofoam dan drum fiberglass. Kebutuhan pelampung untuk satu unit rakit ukuran 6 m x 6 m yang dibagi 4 bagian diperlukan 8-9 buah pelampung dan 12 buah pelampung untuk rakit berukuran 8 m x 8 m. Bahan pengikat rakit bambu dapat digunakan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, pengikatannya menggunakan baut. Untuk mengikat pelampung ke bingkai rakit digunakan tali PE berdiameter 4-6 mm. Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus air, digunakan jangkar yang terbuat dari besi atau semen blok. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Kebutuhan jangkar per unit keramba minimal 4 buah dengan berat 25-50 kg yang peletakannya dibuat sedemikian rupa sehingga rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang digunakan adalah tali plastik/PE berdiameter 0,5–1,0 inchi dengan panjang minimal 2 kali kedalaman perairan. Pembuatan jaring kantong, digunakan jaring yang dipergunakan dalam usaha budidaya ikan kerapu, sebaiknya terdiri dari dua bagian, yaitu : (a) kantong jaring luar yang berfungsi sebagai pelindung ikan dari serangan ikanikan buas dan hewan air lainnya. Ukuran kantong dan lebar mata jaring untuk kantong jaring luar lenih besar dari kantong jaring dalam; (b) kantong jaring dalam, yang dipergunakan sebagai tempat memelihara ikan. Ukurannya bervariasi dengan pertimbangan banyaknya ikan yang dipelihara dan kemudahan dalam penanganan dan perawatannya. Pemberat berfungsi untuk menahan arus dan menjaga jaring agar tetap simetris. Pemberat yang terbuat dari batu, timah atau beton dengan berat 2–5 kg per buah, dipasang pada tiaptiap sudut keramba/ jaring. Konstruksi keramba jaring apung untuk ikan kerapu dapat dilihat pada Lampiran 1. 25 d. Analisis Pasar Potensi dan peluang pasar hasil laut dan ikan cukup baik. Pada tahun 1994, impor dunia hasil perikanan sekitar 52,49 juta ton. Indonesia termasuk peringkat ke-9 untuk ekspor ikan dunia. Permintaan ikan pada tahun 2010 diperkirakan akan mencapai 105 juta ton. Disamping itu, peluang dan potensi pasar dalam negeri juga masih baik. Total konsumsi ikan dalam negeri tahun 2001 sekitar 46 juta ton dengan konsumsi rata-rata 21,71 kg/kepala/tahun. Dengan elastisitas harga 1,06 berarti permintaan akan ikan tidak akan banyak berubah dengan adanya perubahan harga ikan. Tingkat konsumsi ikan bagi penduduk NTT pada tahun 2004 mencapai sekitar 17,14 kg/kapita yang baru mencapai sekitar 68,56% dari standar konsumsi ikan nasional yaitu 25 kg. Negara yang menjadi tujuan ekspor ikan kerapu adalah Hongkong, Taiwan, China, dan Jepang. Harga ikan kerapu di tingkat pembudidaya untuk tujuan ekspor telah mencapai US$33 per kg. Ikan kerapu yang berukuran kecil (4-5 cm) sebagai ikan hias laku dijual dengan harga Rp7.000,00 per ekor sedang untuk ikan konsumsi dengan ukuran 400-600 gr/ekor laku dijual dengan harga Rp70.000,00 per kg untuk kerapu macan dan Rp300.000,00 per kg untuk kerapu bebek atau kerapu tikus (harga tahun 2001). Dalam analisis ini, tingkat harga jual digunakan harga pasaran saat ini yaitu sebesar Rp317.000,00 per kg untuk kerapu tikus. Dengan tingginya permintaan dan harga jual ikan kerapu, maka usaha budidaya ikan kerapu ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan devisa negara melalui hasil ekspor. 2.3.2 Budidaya Rumput Laut Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan, 2005). Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam, (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan. Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam divisio thallophyta. Keseluruhan dari tanaman ini merupakan batang yang 26 dikenal dengan sebutan thallus, bentuk thallus rumput laut ada bermacammacam ada yang bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut dan lain sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau banyak sel (multiseluler). Percabangan thallus ada yang thallus dichotomus (dua-dua terus menerus), pinate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama), pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama) dan ada juga yang sederhana tidak bercabang. Sifat substansi thallus juga beraneka ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous), lunak bagaikan tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongeous) dan sebagainya (Soegiarto et al., 1978). Sejak tahun 1986 sampai sekarang jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Kepulauan Seribu adalah jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut jenis Eucheuma cottonii ini juga dikenal dengan nama Kappaphycus alvarezii. Menurut Dawes dalam Kadi dan Atmadja (1988) bahwa secara taksonomi rumput laut jenis Eucheuma dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Ordo : Gigartinales Famili : Solieriaceae Genus : Eucheuma Spesies : Eucheuma cottonii Genus Eucheuma merupakan istilah popular di bidang niaga untuk jenis rumput laut penghasil karaginan. Nama istilah ini resmi bagi spesies Eucheuma yang ditentukan berdasarkan kajian filogenetis dan tipe karaginan yang terkandung di dalamnya. Jenis Eucheuma ini juga dikenal dengan Kappaphycus (Doty, 1987). Ciri-ciri Eucheuma cottonii adalah thallus dan cabang-cabangnya berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks (Ditjenkan Budidaya, 2004). Secara umum di Indonesia, budidaya rumput laut dilakukan dalam tiga metode penanaman berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan. 27 Ketiga budidaya tersebut adalah metode dasar (bottom method), metode lepas dasar (off-bottom method), dan metode apung (floating method)/longline. Namun dalam penelitian ini, metode longline yang dipakai oleh nelayan/pembudidaya di Kabupaten Kupang. Metode tali panjang (long line method) pada prinsipnya hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan tali plastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa diterapkan di perairan yang agak dalam. Keuntungan metode ini antara lain: (1) tanaman cukup menerima sinar rnatahari, (2) tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air, (3) terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan, (4) pertumbuhannya lebih cepat, (5) cara kerjanya lebih mudah, (6) biayanya lebih murah, dan (7) kualitas rumput laut yang dihasilkan baik. Saat ini para petani/nelayan di perairan NTT umumnya mengembangkan usaha budidaya rumput laut Eucheuma sp. dengan metode tali panjang, dan tentunya metode ini dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani/nelayan di wilayah lain di Indonesia. Persiapan pembuatan kontruksinya yang meliputi persiapan lahan dan peralatan sebagai berikut : pada budidaya rumput laut metode tali panjang biasanya dilakukan dengan menggunakan tali PE. Ada 4 (empat) nomor jenis tali PE yang digunakan yaitu tali induk (PE 10 mm), tali jangkar (PE 8 mm), tali bentangan (PE 5 mm) dan tali ris simpul (PE 2 mm). Untuk metode tali panjang (longline) digunakan tali PE 10 mm sepanjang 100 m yang pada kedua ujungnya diberi jangkar dan pelampung besar. Setiap 25 m diberi tali PE 8 mm sebagai tali bantu jangkar pada setiap sisi dan pelampung utama yang terbuat dari drum plastik atau styrofoam. diberi Konstruksi rumput laut dengan sistem longline dapat dilihat pada Lampiran 1. Tali bentangan diberi floatting ball (pelampung botol aqua 600 ml) dan pada setiap jarak 10 m. Tali bentang PE 5 mm sepanjang 30 m terdiri dari 120 titik simpul tali ris PE 2 mm dan jarak antara tali simpul ris setiap rumpun ± 25 cm. Untuk pemilihan bibit, dipilih bibit rumput laut yang bercabang banyak dan rimbun, tidak terdapat bercak, tidak terkelupas, dan warna spesifik cerah, umur hari dan berat bibit 200 gr per rumpun; sedangkan untuk penanganan bibit, bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Saat mengangkut bibit sebaiknya bibit tetap terendam di dalam air laut atau dimasukkan ke dalam kotak karton berlapis plastik. Bibit 28 disusun berlapis dan berselang-seling yang dibatasi dengan lapisan kapas atau kain yang sudah dibasahi air laut. Agar bibit tetap baik, simpan di dalam keranjang atau jaring dengan ukuran mata jaring kecil dan harus dijaga agar tidak terkena minyak, kehujanan maupun kekeringan. Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pengikatan bibit pada tali simpul ris PE berdiameter 2 mm yang terdapat pada tali ris bentang PE berdiameter 5 mm. Sebaiknya pengikatan bibit dilakukan ditempat terlindung agar bibit yang akan ditanam tetap dalam kondisi segar. Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali ris bentang PE berdiameter 5 mm yang telah berisi ikatan bibit tanaman yang diikat pada tali ris utama PE berdiameter 10 mm. Posisi tanaman sekitar 30 cm di atas dasar perairan (perkirakan pada saat surut terendah masih tetap terendam air). Pemeliharaan rumput laut dilakukan dengan cara membersihkan tanaman dari tumbuhan dan lumpur yang mengganggu, sehingga tidak menghalangi tanaman dari sinar matahari dan mendapatkan makanan. Jika ada sampah yang menempel, angkat tali perlahan, agar sampah-sampah yang menyangkut bisa larut kembali. Jika ada tali bentangan yang lepas ikatannya, sudah lapuk atau putus, segera diperbaiki dengan cara megencangkan ikatan atau mengganti dengan tali baru. Pemanenan rumput laut sangat tergantung dari tujuannya. Jika tujuan memanen untuk mendapatkan rumput laut kering kualitas tinggi dengan kandungan karaginan banyak, panen dilakukan pada umur 45 hari (umur ideal), sedangkan untuk tujuan mendapatkan bibit yang baik, pemanenan rumput laut dilakukan pada umur 25–35 hari. Pemanenan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan dua cara : (1) memotong sebagian tanaman. Cara ini bisa menghemat tali pengikat bibit, namun perlu waktu lama, dan (2) mengangkat seluruh tanaman. Cara ini memerlukan waktu kerja yang singkat. Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong tali. 2.3.3 Budidaya Tiram Mutiara Mutiara merupakan salah satu komoditas dari sektor kelautan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa datang. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya peminat perhiasan mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Potensi mutiara dari Indonesia yang diperdagangkan di pasar dunia sangat berpotensi untuk ditingkatkan. Saat ini Indonesia baru memberikan porsi 26% dari 29 kebutuhan di pasar dunia, dan angka ini masih dapat untuk ditingkatkan sampai 50%. Sumber daya kelautan Indonesia masih memungkinkan untuk dikembangkan, baik dilihat dari ketersediaan areal budidaya, tenaga kerja yang dibutuhkan, maupun kebutuhan akan peralatan pendukung budidaya mutiara. Mutiara yang dibudidayakan di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Lampung, Irian Jaya, Sulawesi, dan Halmahera merupakan jenis kerang Pinctada Maxima atau di pasaran internasional dikenal dengan Mutiara Laut Selatan (MLS) atau south sea pearl. Tiram muda jenis Pinctada Maxima mempunyai warna cangkang bervariasi dengan warna dasar kuning pucat, kuning tua, cokelat kemerahan, merah anggur, dan kehijauan. Pada cangkang bagian luar, terdapat garis-garis radier yang menonjol seperti sisik yang berwarna lebih terang daripada warna dasar cangkang. Perusahaan pembudidayaan mutiara di NTT adalah PT. Timor Outsuki Mutiara (TOM) yang bertempat di Kupang. Hal yang terpenting dalam usaha budidaya mutiara adalah ketepatan dalam pemilihan lokasi. Lokasi budidaya kerang mutiara hendaknya berada di perairan atau pantai yang memiliki arus tenang dan terlindung dari pengaruh angin musim, selain itu kualitas air disekitar budidaya kerang mutiara harus terbebas dari polusi atau pencemaran serta jauh dari perumahan penduduk, karena polusi dan pencemaran dapat mengakibatkan kegagalan usaha. Lokasi yang sesuai adalah berupa teluk dan pulau-pulau kecil yang tenang. Dasar perairan yang memiliki karang atau berpasir merupakan lokasi yang baik untuk melakukan budidaya kerang. Kondisi suhu yang baik untuk kerang adalah berkisar antara 25-30oC dan suhu air berkisar antara 27-31oC. Perubahan kondisi suhu yang drastis dapat mengakibatkan kematian spat karena suhu air menentukan pola metabolisme. Untuk memulai usaha budidaya kerang mutiara memang dibutuhkan investasi yang relatif besar, paling tidak 750 juta rupiah sampai 1 miliar rupiah untuk 10.000 jumlah tiram yang dibudidayakan. Bank memberikan kredit untuk perusahaan (misalnya PT), dan tidak untuk kelompok, apalagi secara individu. Kredit yang diberikan oleh bank biasanya digunakan untuk investasi sebesar 70% dan untuk modal kerja sebesar 30%. Selain itu biasanya bank tidak mensyaratkan adanya bantuan teknis yang berkaitan dengan usaha budidaya mutiara dari dinas terkait, misalnya DKP. Fasilitas produksi dan peralatan utama yang dibutuhkan untuk budidaya tiram mutiara (Lampiran 1) ini adalah : 30 1. Rakit Pemeliharaan Rakit apung selain sebagai tempat pemeliharaan induk, pendederan, dan pembesaran, juga berfungsi sebagai tempat aklimatisasi (beradaptasi) induk pasca pengangkutan. Bahan rakit dapat dibuat dari kayu berukuran 7 m x 7 m. selain kayu, bahan rakit dapat pula terbuat dari bambu, pipa paralon, besi, ataupun alumunium. Bahan pembuat ini disesuaikan dengan anggaran, ketersediaan bahan, dan umur ekonomis. Untuk menjaga agar rakit tetap terapung, digunakan pelampung seperti pelampung yang terbuat dari styrofoam, drum plastik, dan drum besi. Agar rakit tetap kokoh, maka sambungan sambungan kayu diikat dengan kawat galvanizir. Apabila kayu berbentuk persegi, maka sambungan dapat menggunakan baut. Pemasangan rakit hendaknya dilakukan pada saat air pasang tertinggi dan diusahakan searah dengan arus air atau sejajar dengan garis pantai. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan rakit apabila terjadi gelombang besar. Agar rakit tetap berada pada posisi semula, maka rakit diberi jangkar berupa pemberat yang terbuat dari semen seberat 50-60 kg. Tali jangkar yang digunakan antara 4-5 kali kedalaman tempat. 2. Keranjang Pemeliharaan Induk Keranjang pemeliharaan induk bisa terbuat dari kawat galvanizir, plastik, atau kawat alumunium. Jika menggunakan bahan dari kawat, sebaiknya keranjang dilapisi atau dicelupkan dengan bahan plastik atau aspal sehingga daya tahan keranjang tersebut lebih lama. Ukuran keranjang 25 cm x 25cm x 60 cm. Ukuran ini dapat bervariasi, tergantung ukuran induk, ketersediaan bahan, biaya, dan kemudahan penanganannya. Satu keranjang pemeliharaan dapat diisi dengan induk ukuran dorso ventral 17-20 cm (DVM) sebanyak 8-10 ekor. Untuk pendederan atau pemeliharaan spat yang baru dipindahkan dari hatchery, digunakan keranjang jaring ukuran 40 cm x 60 cm. Untuk spat ukuran 2-3 cm dipelihara dalam keranjang dengan lebar jaring ukuran 0,5-1 cm. Lebar mata jaring yang digunakan disesuaikan dengan ukuran spat. Semakin besar ukuran spat, maka digunakan jaring dengan mata jaring yang lebih besar pula agar sirkulasi air dapat terjaga dengan baik. 3. Spat Kolektor Bahan yang digunakan untuk tempat penempelan spat atau sebagai substrat disebut kolektor. Spat kolektor dapat terbuat dari berbagai jenis bahan, 31 misalnya serabut tali PE, senar plastik, paranet, asbes gelombang, genteng fiber, atau bilah pipa paralon. Jika terbuat dari bahan paranet, serabut tali, atau bahan lain berbentuk serabut, maka harus digunakan kantong untuk meletakkan bahan tersebut. Keranjang jaring dengan kerangka besi atau kawat ukuran 40 cm x 60 cm juga dapat digunakan sebagai wadah kolektor. Potongan paranet atau serabut tali dimasukkan ke dalam kantong-kantong jaring dan diikat erat. Pipa paralon juga dapat digunakan sebagai kolektor. Caranya pipa paralon berdiameter 2-3 inci dipotong sepanjang 30-50 cm, lalu dibelah menjadi dua. Selanjutnya belahan pipa tersebut dijalin dengan tali PE (berdiameter 3-5 mm) sepanjang 40-50 cm. 4. Bak Pencucian Bak pencucian digunakan untuk membersihkan tiram mutiara dari organisma dan parasit lain yang menempel pada tiram mutiara. Organisma dan parasit yang menempel di kulit tiram akan mengakibatkan lambatnya pertumbuhan tiram mutiara. Bak pencucian biasanya terbuat dari fiberglass, tetapi ada juga bak pencucian ini terbuat dari bahan lain yang awet, seperti dari semen, plastik dan bahan lainnya. Bila dilihat dari umur ekonomisnya, masing-masing peralatan memiliki umur ekonomi relatif pendek, terutama untuk keranjang jaring, keranjang kawat, tali tambang, pelampung jalur tambang, dan spat kolektor. Hal ini dikarenakan peralatan dan fasilitas tersebut rentan terhadap korosi air laut. Bahan baku yang dibutuhkan untuk budidaya mutiara ini ada dua macam, yaitu : (1) spat (benih) tiram mutiara jenis Pinctada maxima; dan (2) inti bundar (nukleus) . Kedua jenis bahan baku ini merupakan bahan baku utama yang harus ada dalam proses budidaya tiram mutiara. Inti bundar atau nukleus merupakan benda yang disuntikkan kedalam tiram untuk menghasilkan mutiara. Tenaga kerja untuk budidaya mutiara ini harus memiliki keahlian khusus, terutama untuk melakukan operasi penyuntikan nukleus kedalam tiram mutiara. Ketidaktepatan dalam penempatan nukleus akan mengakibatkan kegagalan panen karena nukleus yang sudah dimasukkan akan dimuntahkan kembali. Untuk tenaga kerja lain, seperti tenaga kerja untuk perawatan tiram mutiara dan tenaga kerja untuk keamanan tidak memerlukan keahlian khusus. Jumlah tenaga kerja untuk keamanan relatif banyak karena budidaya ini rentan terhadap perampokan dan pencurian. 32 Teknologi yang digunakan pada budidaya tiram mutiara ini merupakan kombinasi antara teknologi sederhana dan teknologi modern. Teknologi sederhana yang digunakan dalam budidaya mutiara ini adalah penggunaan fasilitas rakit apung, sedangkan teknologi modern yang digunakan adalah bioteknologi untuk perawatan tiram dari spat sampai tiram siap untuk dioperasi. Teknologi operasi peletakan nukleus pada kerang yang telah cukup umur (ukuran minimal 9 cm) sangatlah rumit dan kompleks. Untuk pengoperasian ini digunakan tenaga kerja asing yang sebagian besar berasal dari Jepang. Proses budidaya tiram mutiara secara garis besar melalui tiga tahapan, yaitu: pengoperasian tiram, pemeliharaan, dan panen. Untuk proses produksi usaha budidaya mutiara ini, spat yang berukuran 700 mµ dipelihara dan dibersihkan, serta diseleksi untuk dibudidayakan. Setelah tiram diseleksi, maka tahap selanjutnya adalah memasukkannya kedalam kolektor. Isi satu kolektor untuk ukuran ini adalah 200-300 buah. Spat yang dipelihara tersebut akan dipelihara selama 2 bulan. Setelah 2 bulan, maka spat akan bertambah menjadi 2-3 cm. Dalam jangka waktu tersebut, ukuran masing-masing tiram tidak selalu sama. Langkah selanjutnya adalah memasukkan tiram ukuran 2-3 cm tersebut kedalam waring (net) yang berisi 20 buah. Tiram mutiara yang telah dipelihara dalam kurun waktu tersebut akan siap dioperasi apabila ukuran minimalnya 9 cm. Rata rata pertumbuhan tergantung pada suhu dan kondisi air. Apabila kondisi air berkurang, maka tiram kemungkinan tidak terjadi pertumbuhan. Setelah satu setengah tahun dioperasi maka tiram sudah dapat menghasilkan mutiara yang siap untuk diperdagangkan. (1) Pengoperasian Tiram Mutiara Cara pemasangan inti mutiara bulat pada tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya, dengan menempatkannya dalam penjepit dengan posisi bagian anterior menghadap ke pemasang inti. Setelah posisi organ bagian dalam terlihat jelas, dibuat sayatan mulai dari pangkal kaki menuju gonad dengan hatihati. Kemudian dengan graft carrier masukkan graft tissue (potongan mantel) ke dalam torehan yang dibuat. Inti dimasukkan dengan nucleus carrier secara hatihati sejalur dengan masuknya mantel dan penempatannya harus bersinggungan dengan mantel, setelah pemasangan inti selesai, tiram mutiara dipelihara dalam keranjang pemeliharaan. Untuk pemasangan inti mutiara setengah bulat (blister), tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya diletakkan dalam penjepit dengan posisi bagian ventral menghadap arah pemasang inti. Inti mutiara blister 33 bentuknya setengah bundar, jantung atau tetes air. Diameter inti mutiara blister berkisar 1-2 cm. Setelah itu sibakkan mantel yang menutupi cangkang dengan spatula, sehingga cangkang bagian dalam (nacre) terlihat jelas. Inti mutiara blister yang telah diberi lem/perekat dengan alat blister carrier ditempatkan pada posisi yang dikehendaki; minimal 3 mm di atas otot adducator. Setelah cangkang bagian atas diisi inti mutiara blister, kemudian tiram mutiara dibalik untuk pemasangan inti cangkang yang satunya. Diusahakan pemasangan inti ini tidak saling bersinggungan bila cangkang menutup. Satu ekor tiram mutiara dapat dipasangi inti mutiara blister sebanyak 8-12 buah, dimana setiap belahan cangkang dipasangi 4-6 buah, setelah pemasangan inti mutiara blister selesai, tiram mutiara dipelihara dalam keranjang pemeliharaan di laut. (2) Proses Pemeliharaan Tiram mutiara yang dipasangi inti mutiara bulat perlu dilakukan pengaturan posisi pada waktu awal pemeliharaan, agar inti tidak dimuntahkan keluar. Disamping itu tempat dimasukkan inti pada saat operasi harus tetap berada dibagian atas. Pemeriksaan inti dengan sinar-X dilakukan setelah tiram mutiara dipelihara selama 2 sampai 3 bulan, dengan maksud untuk mengetahui apabila inti yang dipasang dimuntahkan atau tetap pada tempatnya. Pembersihan cangkang tiram mutiara dan keranjang pemeliharaannya harus dilakukan secara berkala; tergantung dari kecepatan/kelimpahan organisme penempel. (3) Panen Waktu yang dibutuhkan dari setelah dioperasi (nukleus dimasukkan kedalam kerang) sampai dengan masa panen adalah 1,5 tahun. Jadi jangka waktu dari mulai spat sampai dengan panen dibutuhkan waktu kurang lebih tiga tahun. Dalam satu tahun dapat dilakukan 2-3 kali operasi sehingga dalam satu tahun dapat dipanen lebih dari satu kali. Setelah kerang menghasilkan mutiara, maka kerang dewasa tersebut dapat dioperasi lagi sebanyak 2-3 kali, dengan setiap masa panen menunggu jangka waktu 1 tahun. Jumlah produksi mutiara tergantung pada jumlah kerang yang sudah dioperasi. Setiap kerang akan menghasilkan satu butir mutiara seberat antara 2,5-3 gr. Risiko kegagalan dari budidaya ini cukup tinggi, yaitu rata-rata 30%. Artinya dari 10.000 kerang yang dipelihara dan dioperasi, 3.000 diantaranya 34 akan mati atau gagal panen. Dengan cara pembudidayaan yang benar, maka jenis mutiara yang dihasilkan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu : round (bundar sempurna), semi round (agak bundar), drop (bentuk tetesan air), oval (lonjong), dan barok (bentuk tidak beraturan). Mutiara yang dihasilkan sangat tergantung dari teknik menyuntik dan kondisi alam selama proses penyuntikan sampai dengan panen. Kapasitas produksi optimum tergantung pada jumlah blok yang dimiliki, setiap blok biasanya berukuran lebar 10 m dan panjang rentang tali 100 m. Untuk setiap blok terdapat 11 buah rentang tali yang berjarak masing-masing 1 m. Rata-rata jarak antar blok 10-15 m dan sangat tergantung pada ketersediaan lokasi. Jumlah kerang berukuran 10 cm yang siap dioperasi sekitar 10% dari jumlah seluruh kerang yang dimiliki. Kerang besar dimasukkan ke dalam kantung jaring berbingkai besi dengan ukuran 40 cm x 70 cm untuk 8-12 kerang. Pengusaha mutiara mengalami kesulitan karena mutiara yang dihasilkan pada satu musim panen tidak seragam baik keseragaman bentuk maupun keseragaman kualitas. Selain itu risiko keamanan dari pencurian dan perampokan merupakan kendala produksi yang seringkali mengakibatkan kerugian sampai miliaran rupiah, bahkan kebangkrutan. 2.3.4 Budidaya Teripang Ketimun laut atau teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Teripang tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat, diberi nama “sea cucumber” karena bentuknya seperti ketimun. Kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang. Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposite feeder) dan pemakan suspensi (suspention feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gr berat 35 kering sedimen setiap harinya (Rustam, 2006). Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya (DKP, 2006). Filum : Echinodermata Sub-filum : Echinozoa Kelas : Rhodophyceae Sub-kelas : Aspidochirotacea Ordo : Aspidochirotda Famili : Holothuridae Genus : Holothuria Spesies : Holothuria scabra Pemilihan Lokasi Untuk mendapatkan lokasi budidaya teripang yang baik diperlukan pemilihan lokasi budidaya. Kegiatan tersebut merupakan salah satu syarat yang cukup menentukan untuk mencapai keberhasilan suatu usaha budidaya teripang. Hal ini disebabkah lokasi atau tempat pemeliharaan teripang adalah tempat yang secara langsung mempengaruhi kehidupannya. Adapun kriteria pemilihan lokasi budidaya teripang (DKP, 2006; Rustam, 2006) adalah sebagai berikut : (1) tempat terlindung bagi budidaya teripang diperlukan tempat yang cukup terlindung dari guncangan angin dan ombak, (2) kondisi dasar perairan hendaknya berpasir, atau pasir berlumpur bercampur dengan pecahan-pecahan karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumput laut atau alang-alang laut, (3) salinitas dengan kemampuan yang terbatas dalam pengaturan esmatik, teripang tidak dapat bertahan terhadap perubahah drastis atas salinitas (kadar garam). Salinitas yang cocok adalah antara 30–33 gr/kg, (4) kedalaman air untuk teripang hidup pada kedalaman yang berbeda menurut besarnya. Teripang muda tersebar di daerah pasang surut, setelah tambah besar pindah ke perairan yang dalam. Lokasi yang cocok bagi budidaya sebaliknya pada kedalaman air laut 0,40-1,50 m pada air surut terendah, (5) ketersediaan benih di lokasi budidaya sebaiknya tidak jauh dari tempat hidup benih secara alamiah. Terdapatnya benih alamiah adalah indikator yang baik bagi lokasi budidaya teripang, dan (6) kondisi lingkungan perairan sebaiknya harus memenuhi standard kualitas air laut yang baik bagi kehidupan teripang seperti : pH 6,5–8,5, kecerahan air laut 50 cm, kadar oksigen terlarut 4–8 mg/l, 36 dan suhu air laut 20–25°C. Disamping itu, lokasi harus bebas dari pencemaran seperti bahan organik, logam, minyak dan bahan-bahan beracun lainnya. Metode Budidaya Metode yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut) yaitu dengan menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu usaha memelihara jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari suatu areal perairan pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan sehingga seolah-olah terisolasi dari wilayah pantai lainnya (DKP, 2006). Bahan yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5–1 inchi atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini maka lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewanhewan pemangsa (predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar dari areal yang telah dipagari tersebut (Rustam, 2006). Pemasangan pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisikisi) ataupun jaring super net cukup setinggi 50-100 cm dari dasar perairan. Luas lokasi yang ideal penculture ini antara 500-1.000 m2 (DKP, 2006). Teripang yang dijadikan induk ialah yang sudah dewasa atau diperkirakan sudah dapat melakukan reproduksi dengan ukuran berkisar antara 20–25 cm, sedangkan benih teripang alam yang baik untuk dibudidayakan dengan metoda penculture adalah yang memiliki berat antara 30-50 gr per ekor atau kira-kira memiliki panjang badan 5-7 cm. Pada ukuran tersebut benih teripang diperkirakan sudah lebih tahan melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru. Konstruksi penculture dapat dilihat pada Lampiran 1. Faktor makanan dalam pemeliharaan (budidaya teripang tidak menjadi masalah sebagaimana halnya hewan-hewan laut lainnya. Teripang dapat memperoleh makanannya dari alam, berupa plankton dan sisa-sisa endapan karang yang berada di dasar laut. Namun demikian untuk lebih mempercepat pertumbuhan teripang dapat diberikan makanan tambahan berupa campuran dedak dan pupuk kandang (kotoran ayam). Teripang dapat hidup bergerombol ditempat yang terbatas. Oleh karena itu dalam usaha budidayanya dapat diperlakukan dengan padat penebaran yang tinggi. Untuk ukuran benih teripang sebesar 20–30 gr per ekor, padat penebaran berkisar antara 15–20 ekor per m2, sedangkan untuk benih teripang sebesar 4050 gr per ekor, padat penebarannya berkisar antara 10–15 ekor per m2. Pemberian makanan tambahan sebaiknya dilakukan pada sore hari, hal ini 37 disesuaikan dengan sifat hidup atau kebiasaan hidup dari teripang. Pada waktu siang hari teripang tidak begitu aktif bila dibandingkan dengan pada malam hari, karena pada waktu siang hari ia akan membenamkan dirinya dibawah dasar pasir/karang pasir untuk beristirahat dan untuk menghindari/melindungi dirinya dari pemangsa/predator, sedangkan pada waktu malam hari akan lebih aktif mencari makanan, baik berupa plankton maupun sisa-sisa endapan karang yang berada di dasar perairan tempat hidupnya. Waktu yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi tertentu ialah 2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila menggunakan benih dari alam). Benih alam yang berumur 2-3 bulan diperkirakan sudah mencapai berat 20–50 gr per ekor. Pemungutan hasil panen dapat dilakukan setelah ukuran teripang berkisar antara 4-6 ekor per kg (market size). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6-7 bulan, dengan survival yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara bertahap yaitu dengan memilih teripang yang berukuran besar atau juga dapat dilakukan secara total, kemudian dilakukan seleksi menurut golongan ukuran. Pemeliharaan teripang diseluruh lokasi dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa memperhatikan musim angin. Oleh karena teripang dipelihara pada perairan yang dangkal (0,5-1,5 m pada surut terendah), maka pengaruh musim angin termasuk musim utara tidak menjadi permasalahan. Dengan demikian pemeliharaan teripang dapat dilakukan sepanjang tahun. 2.4 Sistem Informasi Geografi Pada pengertian yang lebih luas sistem informasi geografis (SIG) mencakup juga pengertian sebagai suatu sistem yang berkaitan dengan operasi pengumpulan, penyimpanan dan manipulasi data yang bereferensi geografi (ESRI, 1990; Chrisman, 1996). Burrough (1986) memberikan definisi yang agak bersifat umum, yaitu SIG sebagai suatu perangkat alat untuk mengumpulkan, menyimpan, menggali kembali, mentransformasi dan menyajikan data spasial dari aspek–aspek permukaan bumi. DeMers (1997), mendefinisikan SIG sebagai suatu teknologi informasi yang menyimpan, menganalisis, dan mengkaji baik data spasial maupun non spasial. Walaupun agak berbeda dalam definisi tersebut, kedua definisi menyatakan secara implisit bahwa SIG berkaitan 38 langsung sebagai sistem informasi yang berorientasi teknologi, walaupun tidak menyebutkan secara spesifik definisi SIG sebagai suatu sistem berdasarkan komputer yang mempunyai kemampuan untuk menangani data yang bereferensi geografi yang mencakup: (a) pemasukan, (b) manajemen data (penyimpanan data dan pemanggilan kembali), (c) manipulasi dan analisis, dan (d) pengembangan produk dan pencetakan. Pengertian SIG diatas perlu ditambahkan pernyataan Jurana (1996) bahwa dalam pengertian yang lebih luas lagi harus dimasukkan dalam definisi SIG selain perangkat keras dan perangkat lunak, juga pemakai dan organisasinya, serta data yang dipakai. Lebih lanjut Maguire and Dangermond (1991) mengidentifikasikan bahwa fungsi SIG adalah pengumpulan, pembaharuan dan perbaikan data; penyimpanan dan strukturisasi data, generalisasi data, transformasi data, pencarian data, analisis, dan presentasi hasil analisis. Kemampuan-kemampuan tersebut umumnya dimiliki oleh beberapa perangkat lunak SIG, dengan kemampuan yang memuaskan dan mudah digunakan. Beberapa perangkat lunak memiliki perbedaan pada beberapa fungsi seperti output kartografi dan presentasi serta cara analisis. Terdapat dua fungsi utama SIG yaitu kemampuan mencari data (query) dan analisis. Query data dapat menghubungan antara data spasial dan data atribut. Fungsi query pada data spasial adalah pencarian data/lokasi dan overlay (tumpang tindih) beberapa peta. Pencarian lokasi dilakukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan seperti buffer (daerah penyangga), dan informasi yang terdapat di wilayah buffer tersebut. Overlay peta dapat menggunakan objek (feature) pada 2 atau lebih peta (layer). Fungsi overlay ini dapat digunakan untuk beberapa lokasi yang dipilih, seperti menentukan tipe penutupan vegetasi tertentu, jenis tanah, dan kepemilikannya. Hubungan antara data spasial dan atribut ini dapat pula menentukan obyek dengan kriteria titik seperti lokasi yang menghasilkan macam bahan pencemar. Berbagai bentuk analisis spasial dapat dilakukan dengan menggunakan SIG adalah (1) operasi titik (point operation), yaitu tipe analisis dengan memasukan beberapa formula aljabar dan overlay beberapa layer data; (2) operasi tetangga (operation neighbourhood) yakni tipe analisis yang menghubungkan titik pada suatu lokasi di permukaan bumi dengan semua informasi atributnya, dengan lingkungan disekitarnya, sebagai contoh 39 menentukan kesesuaian lahan untuk berbagai kegiatan pembangunan; (3) analisis jaringan (network analysis) yakni tipe analisis yang menghubungkan beberapa tampilan data (feature) berupa garis, seperti menentukan jalan dengan jarak terdekat di antara dua kota. Alat untuk melakukan analisis-analisis seperti tersebut di atas telah tersedia pada beberapa perangkat lunak SIG. Pada aplikasi penggunaan ketiga tipe analisis tersebut, sepenuhnya tergantung kepada keterampilan pengguna untuk menentukan tipe analisis mana yang akan di pakai. Beberapa perangkat lunak SIG menyediakan fasilitas bahasa pemrograman makro yang dapat diintegrasikan pada semua bentuk pekerjaan SIG. Dengan bahasa pemrograman tersebut pengguna dapat membuat aplikasi rutin untuk tujuan tertentu. Produk atau output SIG dapat berupa peta (berwarna atau hitam putih), tabel, angka statistik, dan laporan. 2.5 Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung 2.5.1 Kesesuaian Lahan Proses penentuan pemanfaatan ruang sangat bergantung pada penentuan lokasi yang secara biogeofisik sesuai sehingga dapat menjamin kelangsungan kegiatan pada lokasi yang sesuai, tidak saja mencegah kerusakan lingkungan tetapi juga menjamin keberhasilan ekonomi kegiatan tersebut. Tahap pertama dalam proses pemanfaatan ruang adalah penentuan kelayakan biogeofisik dari wilayah pesisir dan laut. Pendugaan kelayakan biogeofisik dilakukan dengan cara mendefinisikan persyaratan biogeofisik setiap kegiatan, kemudian dipetakan (dibandingkan dengan karakteristik biogeofisik wilayah pesisir itu sendiri). Dengan cara ini kemudian ditentukan kesesuaian penggunaan setiap unit (lokasi) peruntukan di wilayah pesisir dan laut. Penentuan kelayakan biogeofisik ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi SIG seperti arc view (Kapetsy et al., 1987). Informasi dasar biasanya dalam bentuk peta tematik, yang diperlukan untuk menyusun kelayakan biogeofisik ini tidak saja meliputi karakteristik daratan dan hidrometerologi seperti kelerengan, tutupan lahan, peruntukan lahan, dan lainlain tetapi juga oseanografi dan biologi perairan pesisir dan laut seperti pasang surut, arus, kedalaman, ekosistem mangrove, lamun, terumbu karang dan lainlain. Berdasarkan fungsinya, ruang dapat dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya yang masing-masing memiliki persyaratan biogeofisik. Kawasan lindung merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati yang 40 tinggi, yang tidak boleh digunakan untuk kegiatan manusia kecuali penelitian ilmiah atau seremoni keagamaan/budaya oleh masyarakat lokal dan harus dapat diterima dan didukung oleh masyarakat lokal; sedangkan kawasan budidaya dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukkan sesuai dengan kemampuan lahannya (Dacles et al., 2000). Aktifitas budidaya laut untuk masing-masing kriteria kesesuaian budidaya laut menurut DKP, 2002 disajikan dalam bentuk tabel pada Lampiran 2. Kesesuaian suatu ruang untuk kegiatan tertentu akan dapat berkurang bahkan menjadi tidak sesuai jika kemampuan sistem yang ada didalamnya tidak mampu lagi untuk menanggung beban kegiatan yang dilakukan diatasnya. Oleh karena setiap sistem memiliki ambang batas atau kemampuan untuk mendukung aktifitas didalamnya. Kemampuan dimaksud disebut sebagai kemampuan mendukung atau daya dukung yang ada di suatu sistem tertentu. 2.5.2 Daya Dukung Lahan UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) Bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya. Daya dukung didefinisikan sebagai intensitas penggunaan maksimum terhadap sumberdaya alam yang berlangsung secara terus-menerus tanpa merusak alam (Price, 1999). Daya dukung merupakan alat perencanaan, digambarkan sebagai kemampuan dari suatu sistem tiruan atau alami untuk mendukung permintaan dari berbagai penggunaan sampai suatu titik tertentu yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan, penurunan, atau kerusakan (Godschalk and Park, 1978). Roughgarden (1979) menyatakan bahwa daya dukung adalah suatu ukuran jumlah organisme yang dapat di dukung oleh lingkungan pada sumberdaya yang dapat diperbaharui. Dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam di pesisir, faktor daya dukung lahan/lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila dikelola dengan tetap memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungannya. Daya dukung dapat dinaikkan kemampuannya oleh manusia dengan memasukkan dan menambahkan ilmu dan teknologi ke dalam suatu lingkungan. Namun demikian 41 peningkatan daya dukung lingkungan memiliki batas-batas dimana pada keadaan tertentu cenderung sulit atau tidak ekonomis lagi bahkan tidak mampu lagi dinaikkan kemampuannya karena akan terjadi kerusakan pada sumberdaya atau ekosistem. Penggunaan IPTEK yang tidak bijaksana justru akan menghancurkan daya dukung lingkungan. Kelestarian, keberadaan atau optimisasi manfaat dari suatu sumberdaya alam dan lingkungan merupakan salah satu persyaratan dilakukannya penilaian daya dukung (carrying capacity). Tujuan utama dari penilaian ini adalah untuk mempertahankan atau melestarikan potensi sumberdaya alam dari areal tersebut pada batas-batas penggunaan yang diperkenankan atau yang dimungkinkan. Nilai yang dihasilkan dari perhitungan atau pendekatan daya dukung dari sumberdaya alam dan lingkungan adalah penting untuk menentukan bentukbentuk pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut terutama dalam tujuan menjaga, mengendalikan, dan juga melestarikan lingkungan. Penilaian yang sistematik terhadap sumberdaya alam dan lingkungan yang menjadi dasar dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dilakukan terutama untuk mengetahui potensinya. Dengan pendekatan ini maka akan dapat diketahui kapasitas dari suatu kawasan atau ekosistem yang dinilai, yang selanjutnya akan dapat merupakan ukuran dan/atau nilai pendugaan terhadap kualitas sumberdaya alam dan lingkungan. 2.6 Pendekatan Sistem Sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan yang kompleks. Pengertian ini mencerminkan adanya beberapa bagian dan hubungan antara bagian dan menunjukkan kompleksitas dari sistem yang meliputi kerjasama antara bagian yang interdependen satu sama lain (Marimin, 2004), sedangkan pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan (Eriyatno, 1998). Menurut Manetsch and Park (1979), suatu pendekatan sistem akan dapat berjalan dengan baik jika terpenuhi kondisi-kondisi berikut : (1) tujuan sistem didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantifikasikan, (2) prosedur pembuatan keputusan dalam sistem ini adalah terdesentralisasi atau 42 cukup jelas batasannya, (3) dalam perencanaan jangka panjang memungkinkan dilakukan. Sistem terdiri atas dua jenis yaitu sistem statis dan sistem dinamik (Djojomartono, 2000). Sistem statis adalah sistem yang nilai outputnya tidak tergantung pada nilai inputnya. Sedangkan sistem dinamik adalah sistem yang memiliki variabel yang dapat berubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Dengan demikian nilai output sangat bergantung pada nilai dari variabel-variabel input sebelumnya. Sistem dinamik dicirikan oleh adanya delay time yang menggambarkan ketergantungan output terhadap varibel input pada periode waktu tertentu. Hardjomidjojo, 2006 menyatakan bahwa penyelesaian persoalan dengan pendekatan sistem dapat ditekankan pada tiga filosofi sistem yang dikenal sebagai SHE (sibernetik, holistik, dan efektifitas). Sibernetik dapat diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah tidak berorientasi pada permasalahan (problem oriented) tetapi lebih berorientasi pada tujuan (goal oriented). Holistik lebih menekankan pada penyelesaian masalah secara utuh dan menyeluruh, sedangkan efektivitas berarti bahwa sistem yang telah dikembangkan tersebut harus dapat dioperasikan. Lebih lanjut Eriyatno dan Sofyar (2007) menyatakan bahwa dalam penyelesaian persoalan dengan pendekatan sistem, harus memenuhi tiga karakteristik yaitu kompleks, dinamis, dan probabilistik. 2.6.1 Pemodelan dengan Interpretasi Struktur (ISM) Pemodelan dengan interpretasi struktur (interpretative structural system ISM) merupakan salah satu teknik pemodelan yang dikembangkan untuk perencanaan kebijakan strategis. Menurut Eriyatno (1998) dalam Marimin (2004), ISM adalah proses pengkajian kelompok (group learning process) dimana modelmodel struktural dihasilkan guna memotret perihal yang kompleks dari suatu sistem melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafis serta kalimat. Saxena (1992) dalam Marimin (2004) menyebutkan sembilan elemen yang dapat dianalisis dengan pendekatan ISM yaitu (1) sektor masyarakat yang terpengaruh, (2) kebutuhan dari program, (3) kendala utama program, (4) perubahan yang diinginkan, (5) tujuan dari program, (6) tolak ukur untuk menilai setiap tujuan, (7) aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan, (8) ukuran aktifitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai setiap aktivitas, dan (9) lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Setiap elemen dijabarkan menjadi sejumlah sub elemen. Dalam suatu kajian dengan menggunakan ISM, analisis dapat dilakukan terhadap semua 43 elemen seperti dikemukakan atas atau hanya sebagian elemen saja tergantung tujuan yang ingin dicapai dalam kajian yang dilakukan. Apabila hanya sebagian elemen yang dikaji, maka penentuan elemen-elemennya didasarkan pada hasil pendapat pakar termasuk penyusunan sub elemen pada setiap elemen yang terpilih. Setelah ditetapkan elemen dan sub elemen, selanjutnya ditetapkan hubungan kontekstual antar sub elemen yang terkandung adanya suatu pengarahan (direction) dalam terminologi sub ordinat yang menuju pada perbandingan berpasangan seperti apakah tujuan A lebih penting dari tujuan B. perbandingan berpasangan yang menggambarkan keterkaitan antara sub elemen atau tidaknya hubungan kontekstual dilakukan oleh pakar. Beberapa keterkaitan antara sub elemen dengan teknik ISM dapat dilihat seperti Tabel 1. Tabel 1 Keterkaitan antara sub elemen pada teknik ISM (Marimin, 2004) No. 1. 2. Jenis Keterkaitan Sub Elemen Perbandingan (comparative) Pernyataan (definitive) 3. Pengaruh (influence) 4. Keruangan (spatial) 5. Kewaktuan (time scale) Interpretasi A lebih penting/besar/indah daripada B A adalah atribut B A termasuk di dalam B A mengartikan B A menyebabkan B A adalah sebagian penyebab B A mengembangkan B A menggerakan B A meningkatkan B A adalah selatan/utara B A di atas B A sebelah kiri B A mendahului B A mengikuti B A mempunyai prioritas lebih dari B Untuk menyajikan tipe hubungan kontekstual dengan teknik ISM, digunakan empat simbol yang disebut VAXO (Eriyatno, 2007) dimana : V = untuk relasi dari elemen Ei sampai Ej, tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya, A = untuk relasi dari elemen Ej sampai Ei, tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya, X = untuk interelasi antara elemen Ei sampai Ej (berlaku untuk kedua arah), dan O = untuk merepresentasikan bahwa Ei sampai Ej adalah tidak berkaitan. 2.6.2 Sistem Dinamik Studi pengembangan sistem dinamik bertujuan untuk mendapatkan model keterkaitan secara dinamis antar variabel yang berpengaruh. Model adalah abstraksi atau penyederhanaan dari sistem yang sebenarnya (Hall dan 44 Day, 1977). Menurut bentuknya, model dapat dibedakan antara lain (Hardjomidjojo, 2006) : 1. Model fisik dan mental. Model fisik menggambarkan sistem secara nyata (fisik), sedangkan model mental menggambarkan sistem melalui penjelasan secara deskriptif atau persamaan matematis. 2. Model deskriptif dan numerik. Model deskriptif menjelaskan sistem tanpa menggunakan hubungan kuantitatif, umumnya menggunakan diagram atau berupa konsep. Sedangkan model numerik menggunakan persamaan matematis sehingga mempunyai kemampuan prediksi. 3. Model empirik dan model mekanistik. Model empirik juga disebut model statistik, yang mengandalkan hubungan kausal berdasarkan pengamatan empirik (hubungan input-output). Model ini kadang disebut „black box‟ karena tidak menjelaskan mekanisme proses yang terjadi. Sedangkan model mekanistik menjelaskan mekanisme proses yang terjadi, namun tergantung pada level model tersebut. 4. Model statis dan model dinamik. Model statis tidak memperhitungkan waktu yang selalu berubah (tidak ada fungsi waktu). Sedangkan model dinamik memperhitungkan waktu sebagai variabel. Dalam model dinamis, variabel yang tidak berubah dengan waktu disebut „parameter‟ atau „konstanta‟. 5. Model deterministik dan model stokastik. Model deterministik menghasilkan keluaran (output) yang pasti (determined) atau tunggal dan tidak memperhitungkan berbagai kemungkinan lain akibat ketidak-pastian berbagai faktor eksternal. Sedangkan model stokastik dengan masukan (input) yang sama dapat memiliki berbagai kemungkinan. Pada model semacam ini, biasanya digunakan perhitungan peluang (probability) dari keluaran (output) model. Model-model tersebut digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan lintas disiplin, sehingga permasalahan yang kompleks dapat diselesaikan secara komprehensif. Dalam melakukan suatu pemodelan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan struktur model yang akan memberikan gambaran bentuk dan perilaku sistem dimana perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpul umpan balik (causal loop) yang menyusun struktur model. Struktur model suatu sistem dapat dijelaskan dengan jalan menentukan pengaruh yang akan memberikan hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor yang ada. 45 Hubungan sebab akibat ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu hubungan positif dan hubungan negatif. Hubungan positif adalah hubungan sebab akibat dimana makin besar nilai faktor penyebab akan makin besar pula nilai faktor akibatnya, sedangkan hubungan negatif adalah hubungan sebab akibat dimana makin besar nilai faktor penyebab akan makin kecil nilai faktor akibat. Akibat yang ada dapat juga mempengaruhi balik penyebab sehingga terdapat hubungan sebab akibat yang memiliki arah yang berlawanan dengan hubungan sebab akibat yang lain atau dikenal dengan feedback. Pemodelan dengan sistem dinamik dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak powersim construtor 2.5d. Kelebihannya adalah mudah menghubungkan suatu sistem yang lain sepanjang ada hubungan matematis atau asumsi-asumsi yang dapat menghubungkan berbagai sistem tersebut, sedangkan kelemahan pemodelan dengan sistem dinamik terletak pada pendefinisian dan penggunaan asumsiasumsi, penentuan hubungan variabel dengan variabel yang lain (Eriyatno dan Sofyar, 2007). Tahapan yang dilakukan dalam pendekatan sistem dinamik meliputi : 1. Analisis kebutuhan merupakan permulaan pengkajian suatu sistem. Pada tahap ini dicari kebutuhan-kebutuhan dari masing-masing aktor dalam kaitannya dengan tujuan sistem. Tujuan analisis kebutuhan ini adalah untuk mendefinisikan kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam suatu kegiatan. 2. Formulasi masalah merupakan rincian dari kebutuhan aktor yang saling bertentangan yang memerlukan solusi pemecahan. Munculnya pertentangan dapat disebabkan oleh adanya konflik kepentingan dari para stakeholder dan keterbatasan sumberdaya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan yang menimbulkan masalah dalam sistem. 3. Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan. Identifikasi sistem ini bertujuan untuk mencari pemecahan terbaik dari permasalahan yang dihadapi. Identifikasi sistem dapat digambarkan dalam bentuk diagram input-output (black box) dan diagram lingkar sebab akibat (causal loop). 4. Pemodelan sistem merupakan simplifikasi dari sistem yang dihadapi. Model juga didefinisikan sebagai suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata (real) yang akan bertindak seperti dunia nyata terhadap aspek-aspek tertentu. 46 5. Simulasi model adalah peniruan perilaku suatu gejala atau proses tersebut. Simulasi bertujuan untuk memahami gejala atau proses tersebut, membuat analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses di masa depan. Untuk membuat simulasi diperlukan tahapan berikut : (a) penyusunan konsep, (b) pembuatan model, (c) simulasi, dan (d) validasi hasil simulasi. 6. Validasi model merupakan salah satu kriteria penilaian keobjektifan dari suatu pekerjaan ilmiah. Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Dalam validasi model dapat dilakukan dua pengujian yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja lebih menekankan pemeriksaan kebenaran yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). 49 1998) yang diterapkan untuk penentuan titik pengamatan di lapangan dan penentuan posisi dengan menggunakan alat GPS (global positioning system). Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi yang terkait sesuai atribut yang dikaji, baik dalam bentuk laporan (data tabular) maupun spasial (dalam bentuk peta dan data digital). Tabel 2 Jenis dan metode pengumpulan data No A 1 2 B 1 2 Jenis Data Metode Data Primer Komponen Biogeofisik (untuk usaha budidaya laut) a. Fisik – Kimia Posisi GPS Current meter Arus (cm/dtk) Secchi disk Kecerahan (m) 0 Suhu ( C) Termometer Kedalaman (m) Tali berskala Hand refractometer Salinitas (gr/kg) pH pH meter Oksigen terlarut (mg/l) DO meter Sendiment grab Jenis dasar perairan b. Ekosistem perairan Interpretasi citra/transek c. Peruntukan lahan Survei lapangan d. Profil pantai dan perairan Analisis citra & SIG Komponen Sosekbud, Hukum & Wawancara, PCRA (FGD), indepth Interview, Kelembagaan dan quitioner. Data Sekunder Komponen Biogeofisik a. Fisik-kimia oseanografi (kondisi angin, gelombang, arah & kecepatan arus, pasang-surut, salinitas & kedalaman) b. Fisiografi (data bentang alam, Penelusuran dokumen geologi, hidrologi atau potensi hasil penelitian & air tawar, topografi, jenis tanah, dokumentasi pada perpustakaan, kantor tekstur tanah) daerah & instansi terkait c. Data iklim (curah hujan, hari lainnya. hujan) d. Data citra satelit Kabupaten Kupang Komponen Sosekbud, Hukum & Kelembagaan a. Kependudukan (jumlah & Penelusuran dokumen pertumbuhan penduduk, rasio hasil penelitian & jenis kelamin, tingkat dokumentasi pada ketergantungan, tingkat perpustakaan, kantor pendidikan & mata daerah & instansi terkait pencaharian) lainnya. Keterangan In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ Lab. SIG/In situ In situ Lab. SIG/In situ Kabupaten Kupang BPS, Bappeda, Bappelda, kantor bupati, kecamatan & kelurahan serta dinas perikanan & dinas terkait lainnya di Kabupaten Kupang, Dishidros, Bakosurtanal, Lapan – Jakarta. BPS, Bappeda, Bappelda, kantor bupati, kecamatan & kelurahan 50 b. Sarana & prasarana (sarana perekonomian, transportasi, pendidikan, kesehatan, peribadatan & sosial) c. Perekonomian (tingkat pendapatan, pola konsumsi, struktur mata pencaharian, kesempatan kerja) d. Kelembagaan (struktur pemerintah mulai tingkat Kabupaten sampai dusun, lembaga masyarakat, koperasi, dll) 3.4 serta dinas perikanan & dinas terkait lainnya di Kabupaten Kupang. Metode Pemilihan Responden Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah responden yang akan diambil yaitu responden yang dianggap dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode expert survey yang dibagi atas dua cara : 1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive random sampling secara proposional (Walpole, 1995) dengan rumus sebagai berikut : x dimana : 2. nx N Nx n = ………………………………………(1) = jumlah responden (sample) setiap strata = jumlah seluruh populasi (kepala keluarga nelayan) = jumlah populasi setiap strata = ukuran responden secara keseluruhan Responden dari kalangan pakar, dipilih secara sengaja (purposive sampling) dimana responden yang dipilih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden, menggunakan kriteria seperti berikut : 1. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji. 2. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji. 3. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang dikaji. 3.5 Analisis Data Penelitian ini melalui empat tahap yang meliputi : (1) studi potensi wilayah Kabupaten Kupang, (2) studi tingkat perkembangan Kabupaten Kupang, (3) studi 51 status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan, dan (4) membangun model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. Empat tahapan dan metode analisis data secara rinci disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Tahapan dan metode analisis model pengembangan minapolitan No Tujuan khusus Identifikasi 1 potensi wilayah Kabupaten Kupang Jenis data Primer Sekunder 2 3 4 Tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Kupang Status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang Primer Bentuk data Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Laporan tahunan dinas/instansi terkait Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Sekunder Laporan tahunan dinas/instansi terkait Primer Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Laporan tahunan dinas/instansi terkait Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Laporan tahunan dinas/instansi terkait Sekunder Model Primer pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Sekunder Kabupaten Kupang Sumber data Metode analisis LQ, Analisis Spasial (kesesuaian & daya dukung). Output yang diharapkan Teridentifikasi potensi wilayah Kabupaten Kupang.  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih Analisis tipologi, PCA, Cluster, Skalogram, Sentralitas, MPE, AHP, ISM.  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih MDS, Monte Carlo, Prospektif. Diketahui tingkat perkembangan wilayah, alternatif pengembangn minapolitan budidaya laut, lokasi pengolahan dan pemasaran produk minapolitan, kendala, kebutuhan dan lembaga terlibat. Diketahui status keberlanjutan dan skenario keberlanjutan ke depan.  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih Sistem Dinamik  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih Didapatkan model pengembangn kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan berbagai metode analisis data seperti analisis spasial (SIG), analisis kesesuaian lahan, analisis daya dukung, analisis finansial, analisis tipologi wilayah, principal component analysis (PCA) analisis cluster, analisis skalogram, analisis sentralitas, metode perbandingan eksponensial (MPE), analisis hierarki proses (AHP) dengan criterium decision plus (CDP), 52 analisis interpretative structural modeling (ISM), analisis multidimensional scaling (MDS) modifikasi dari Rapfish, dan analisis prospektif, serta analisis sistem dinamik dengan powersim constructor 2.5d. Adapun tahapan-tahapan penelitian dan metode analisis data yang digunakan disajikan pada Gambar 5. Gambar 5 Tahapan dan metode analisis data dalam penelitian pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang 4 KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Keadaan Geografis Kabupaten Kupang 0 0 Kabupaten Kupang terletak antara 121 30’ - 124 11’ Bujur Timur dan 0 0 9 19’ - 10 57’ Lintang Selatan. Kabupaten Kupang di sebelah utara dan barat berbatasan dengan Laut Sawu, sementara sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia serta sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Negara Timor Leste. Wilayah Kabupaten Kupang mencakup 27 pulau, dimana diantaranya terdapat 8 pulau yang belum memiliki nama. Dari kedua puluh tujuh pulau tersebut yang telah dihuni hingga saat ini hanya sebanyak lima pulau yaitu Pulau Timor, Pulau Sabu, Pulau Raijua, Pulau Semau, dan Pulau Kera. Permukaan tanah di wilayah Kabupaten Kupang umumnya berbukit-bukit, bergunung-gunung dan sebagian terdiri dari dataran rendah dengan tingkat 0 kemiringan rata-rata mencapai 45 dan wilayah Kabupaten Kupang berada pada ketinggian dari permukaan laut 0-500 m. Hampir sebagian besar flora di Kabupaten Kupang terdiri dari padang rumput, pohon lontar, pohon pinus, cendana, dan gewang. Sedangkan fauna terdiri dari hewan-hewan menyusui besar misalnya, kerbau, sapi, kuda. Luas wilayah laut Kabupaten Kupang adalah 4.086,33 km2 dengan panjang garis pantai 551,61 km dari luas wilayah laut Propinsi NTT 1.999.526 km2 dan panjang garis pantai 5700 km (DKP NTT, 2008). Dengan banyaknya pulau yang dhuni (inhabitted) ada 5 pulau dan yang tidak dihuni (not inhabitted) ada 22 pulau, sedangkan pulau yang tidak ada nama 8 pulau dan yang sudah memiliki nama ada 19 pulau (BPS, 2010). Luas wilayah Kabupaten Kupang per kecamatan dapat dilihat pada Lampiran 3, sedangkan pulau-pulau di Kabupaten Kupang ada pada Lampiran 4. 4.2 Keadaan Iklim Kabupaten Kupang Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Kabupaten Kupang hanya dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Secara umum Bulan Juni sampai September, arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada Desember sampai Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Dari Tabel 4 jumlah curah hujan setahun bervariasi tiap bulan. 54 Pada tahun 2009 jumlah curah hujan setahun tertinggi pada Bulan Desember dan terendah pada Bulan Mei. Rata-rata kelembaban udara di Kabupaten Kupang tahun 2009 sebesar 76,5%, tekanan udara 1.010,42 mb, dan o rata-rata suhu udara di atas 27,26 C. Tabel 4 Rata-rata curah hujan dan hari hujan di Kabupaten Kupang menurut bulan, tahun 2008-2009 (stasiun meteorologi klas II Kupang) Curah hujan (mm) Bulan Hari hujan (hh) 2008 235,4 851,4 149,8 50,0 2009 420,7 408,3 117,4 108,0 2008 20 26 25 6 2009 23 21 18 4 Mei 0 22,8 0 5 Juni Juli Agustus 8,6 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 September Ttu* Ttu* 1 1 Oktober 3,0 0 2 0 November 130,8 72,1 19 7 Desember 481,0 469,8 24 19 Januari Februari Maret April * Ttu : Tidak terukur 4.3 Pemerintahan dan Kependudukan Kabupaten Kupang Pada tahun 2009 Kabupaten Kupang terdiri dari 24 kecamatan, 159 desa dan 18 kelurahan. Jumlah desa terbanyak di Kecamatan Kupang Timur (13 desa/kelurahan), sedangkan yang paling sedikit jumlah Desa/kelurahannya adalah Kecamatan Amarasi Timur, Fatuleu Tengah, Amfoang Barat Daya dan Amfoang Tengah (4 desa/kelurahan). Tabel 5 menyajikan jumlah ibukota kecamatan dan banyaknya desa/kelurahan tahun 2009. Laju pertumbuhan penduduk suatu wilayah pada hakekatnya disebabkan oleh tiga faktor yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (migrasi). Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 1,75%. Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian, namun saat ini faktor perpindahan penduduk juga mempunyai pengaruh yang cukup besar. 55 Tabel 5 Jumlah ibukota Kecamatan dan banyaknya desa/kelurahan tahun 2009 (BPS Kabupaten Kupang, 2010) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 4.4 Kecamatan Ibukota Semau Semau Selatan Kupang Barat Nekemese Kupang Tengah Taebenu Amarasi Amarasi Barat Amarasi Selatan Amarasi Timur Kupang Timur Amabi Oefeto Timur Amabi Oefeto Sulamu Fatuleu Fatuleu Barat Fatuleu Tengah Takari Amfoang Selatan Amfoang Barat Daya Amfoang Utara Amfoang Barat Laut Amfoang Timur Amfoang Tengah Jumlah Uitao Akle Batakte Oemasi Tarus Baumata Oekabiti Baun Buraen Pakubaun Babau Oemofa Fatuknutu Sulamu Camplong Nuataus Oelbiteno Takari Lelogama Manubelon Naikliu Soliu Oepoli Fatumonas Banyaknya Desa 8 6 10 11 6 8 8 7 3 4 8 10 7 6 9 5 4 9 6 4 5 6 5 4 159 Banyaknya Kelurahan 0 0 2 0 2 0 1 1 2 0 5 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 18 Keadaan Sosial Kabupaten Kupang Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara adalah tersedianya cukup sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Merujuk pada amanat UUD 1945 beserta amandemennya (pasal 31 ayat 2), maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk Indonesia. Program wajib belajar 6 tahun dan 9 tahun, gerakan nasional orang tua asuh (GNOTA), dan berbagai program pendukung lainnya adalah bagian dari upaya pemerintah mempercepat peningkatan kualitas SDM, yang pada akhirnya akan menciptakan SDM yang tangguh, yang siap bersaing di era globalisasi. Peningkatan SDM sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan, terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7 sampai 24 tahun). Badan Pusat Statistik (BPS) secara kontinu setiap tahunnya mengumpulkan data pendidikan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Beberapa informasi pendidikan yang dikumpulkan dalam Susenas 56 antara lain mengenai penduduk buta huruf, penduduk usia sekolah (7 sampai 24 tahun), status sekolah. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf. Makin rendah persentase penduduk yang buta huruf menunjukkan keberhasilan program persentase penduduk yang buta huruf mengindikasikan kurang berhasilnya program pendidikan. Hasil Susenas 2009 menunjukkan bahwa persentase penduduk berusia 10 tahun keatas yang buta huruf mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008. Penduduk yang berumur 10 tahun keatas pada tahun 2009 dengan status masih sekolah sebesar 22,13% dan yang tidak bersekolah lagi sebesar 66,51% sedang untuk yang tidak/belum pernah bersekolah sebesar 11,36%. Hasil Susenas juga menunjukkan bahwa penduduk yang masih bersekolah pada kelompok umur 7 sampai 12 tahun mempunyai persentase paling tinggi. Sementara itu, untuk penduduk yang belum atau tidak pernah sekolah paling tinggi persentasenya pada kelompok umur 19 sampai 24 tahun. Pada tahun ajaran 2009/2010 di tingkat sekolah dasar (SD) terjadi peningkatan jumlah murid dan jumlah sekolah dibandingkan tahun ajaran sebelumnya, sedangkan jumlah guru mengalami penurunan. Berbeda dengan tingkat SD, pada tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) jumlah murid dan guru mengalami peningkatan sedangkan jumlah sekolah berkurang. Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. Mempertimbangkan bahwa pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian yang sangat penting dari ajang peningkatan SDM penduduk Indonesia pada umumnya dan Kabupaten Kupang pada khususnya, maka program-program kesehatan telah dimulai atau bahkan lebih diprioritaskan pada calon generasi penerus, khusus calon bayi dan anak usia dibawah lima tahun (balita). Pentingnya pembangunan bidang kesehatan ini paling tidak tercermin dari deklarasi millenium development goals (MDGs) yang mana lebih dari sepertiga indikatornya menyangkut bidang kesehatan. Agama mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam meletakkan landasan moral, etika dan spiritual yang kuat. Sebagian besar penduduk Kabupaten Kupang memeluk agama kristen protestan (85,65%), diikuti oleh pemeluk agama Katolik sebesar 11,19%. Dalam hidupnya, manusia 57 membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal dan berinteraksi dengan manusia lainnya serta tempat berlindung sebuah rumah harusnya memenuhi syarat kesehatan, untuk menunjang kehidupan manusia. Salah satu indikator rumah sehat menurut world health organization 2 (WHO) adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10m perkapita. Jika satu rumah tangga memiliki empat sampai lima anggota rumah tangga, maka 2 rumahnya dikatakan sehat bila memiliki luas lantai minimal 40-50 m . Hasil susenas tahun 2009 menyatakan bahwa lebih dari 31,25% rumah tangga di 2 Kabupaten Kupang menempati rumah dengan luas lantai 50 m atau lebih. Selain luas lantai minimal, rumah juga harus memiliki fasilitas yang sangat dibutuhkan manusia untuk hidup. Dari hasil susenas tahun 2009 dapat dilihat bahwa sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Kupang sudah mengkonsumsi air minum bersih (50%). Sumber air minum yang relatif bersih tersebut berasal dari ledeng, pompa, air kemasan, sumur terlindung dan mata air terlindung. Fasilitas rumah lainnya yang tidak kalah penting adalah penerangan. Fasilitas penerangan ini dapat bersumber dari listrik atau bukan listrik seperti petromak/aladin, pelita/sentir/obor dan lainnya. Berdasarkan hasil susenas 2009, sekitar 36,84% rumah tangga menggunakan fasilitas penerangan listrik, terdiri dari 32,23% menggunakan listrik PLN dan 4,61% menggunakan listrik non PLN. Hasil Susenas tahun 2007 juga memberikan gambaran fasilitas rumah lainnya yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan yaitu penggunaan tempat buang air besar. Sekitar 66,30% rumah tangga memiliki tempat buang air besar sendiri. Tetapi, satu hal yang masih perlu perhatian khusus dari pemerintah adalah masih ada sekitar 22% rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar. 4.5 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan KabupatenKupang Potensi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan Kabupaten kupang terdiri atas : potensi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut, data sebaran sarana dan prasarana perikanan, data sebaran sarana dan prasarana penunjang pembangunan perikanan, dan database sumber daya perikanan. 4.5.1 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Laut Sebagai salah satu Kabupaten kepulauan yang memiliki sekitar 21 pulau besar dan kecil (Lampiran 4), dengan perairan laut yang cukup luas dan garis 58 pantai yang cukup panjang, maka wilayah pesisir dan laut Kabupaten Kupang tentunya memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar pula. Potensi penangkapan ikan dan non ikan sudah menjadi andalan daerah ini sejak lama, dan menjadi salah satu penyuplai bahan pangan protein dari sumber ikan ke Kota Kupang maupun diantar pulaukan ke Pulau Jawa, Bali dan Sulawesi, dan sebagian lagi diekspor. a. Karakteristik Wilayah Pesisir dan Laut Kabupaten Kupang Selain memiliki beberapa pulau kecil terluar yang tidak berpenghuni, wilayah Kabupaten Kupang juga secara administratif berbatasan dengan Laut Sawu di sebelah utara, di sebelah selatan dengan Laut Timor, di sebelah timur dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan wilayah Oekusi (bagian Negara Timor Leste), dan sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Rote Ndao dan Samudera Indonesia. Dari sekitar 24 kecamatan (177 desa/kelurahan) yang ada, maka terdapat sekitar 15 kecamatan dan 64 desa/kelurahan yang berada di wilayah tersebut (Lampiran 5). Dari lokasi yang ada, karakteristik pantai dan lautnya beragam antara karang, pasir maupun campuran karang dan kerikil, serta sebagian lagi berlumpur. Wilayah pantai yang berada di Teluk Kupang, pantai dan lautnya relatif lumpur berpasir dengan kondisi agak landai, karena terdapat beberapa muara sungai, dimana umumnya didominasi ekosistem mangrove. Wilayahnya meliputi Kecamatan Sulamu, Kupang Timur, dan sebagian lagi di Kecamatan Kupang Tengah, sehingga selama ini dimanfaatkan untuk usaha budidaya air payau (tambak ikan), maupun tambak garam. Pantai berpasir umumnya ditemukan di pesisir pantai Kecamatan Kupang Barat, Semau, Pantai Amfoang Utara dan sebagian lagi di Pulau Raijua. Karakteristik pantai dan laut ini banyak ditumbuhi ekosistem padang lamun, serta sangat cocok untuk dikembangkan budidaya rumput laut, serta budidaya ikan dan mutiara. Di lain pihak, karakteristik pantai dan perairan yang berkarang, dapat ditemukan pada hampir sebagian besar lokasi di desa-desa pantai yang ada. Beberapa lokasi yang memiliki potensi terumbu karang untuk pengembangan wisata bahari termasuk wisata bawah laut, yakni perairan di sekitar Pulau Kera di Desa Uiasa (Kecamatan Semau) maupun pada perairan di Desa Tablolong (Kecamatan Kupang Barat), sebaliknya, beberapa wilayah pesisir dan laut telah menunjukkan degradasi lingkungan yang sangat memprihatinkan, baik itu terhadap kondisi terumbu karang, maupun hutan bakau. 59 Aktifitas manusia dianggap menjadi penyebab utamanya. Kegiatan penangkapan ikan dan biota laut lainnya yang bersifat destruktif, pemanfaatan terumbu karang yang tidak terkendali, pengambilan pasir laut serta penebangan pohon bakau untuk kayu bakar, menjadi alasan-alasan kerusakan lingkungan pantai dan ekosistemnya. Gambaran karakteristik pantai, laut dan ekosistem pendukungnya dapat dilihat pada Lampiran 6. b. Potensi Perikanan Budidaya (sebaran menurut luasan dan jenis) Potensi perikanan budidaya di wilayah perairan dan pantai Kabupaten Kupang juga cukup besar. Beberapa komoditi ekonomis penting yang sudah dibudidayakan oleh sebagian besar nelayan/pembudidaya adalah rumput laut dan budidaya ikan, sedangkan budidaya mutiara dilakukan oleh perusahaan swasta asing yakni PT.TOM. Komoditi rumput laut saat ini menjadi primadona pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang, karena mampu memberikan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir baik untuk pembudidaya rumput laut atau nelayan sambilan maupun pelaku usaha perikanan seperti pengumpul hasil, distributor dan jasa transportasi laut. Sebaran lokasi potensi dan pengembangan budidaya rumput laut umumnya hampir pada setiap perairan pantai di seluruh wilayah kecamatan pesisir. Namun demikian, usaha budidaya rumput laut sampai saat ini lebih banyak digeluti oleh masyarakat pesisir di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kupang Barat, Semau, Semau Selatan dan kecamatan-kecamatan di Pulau Sabu dan Raijua. Wilayah-wilayah ini merupakan sentra produksi komoditi rumput laut. Produksi rumput laut juga mengalami peningkatan, dan umumnya hasil produksinya diantarpulaukan ke Jakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Untuk potensi pengembangan budidaya mutiara hingga saat ini terdapat di perairan Selat Semau yakni perairan sekitar Kecamatan Kupang Barat, Semau dan Semau Selatan. Hasil produksi mutiara umumnya dipasarkan ke Jakarta ataupun diekspor (Jepang). Gambaran sebaran areal potensial pengembangan budidaya laut seperti pada Lampiran 8. 4.5.2 a. Sarana dan Prasarana Perikanan Data Sebaran Sarana dan Prasarana Perikanan Tangkap Hingga saat ini, kondisi sarana dan prasarana perikanan tangkap untuk sebagian besar kecamatan-kecamatan pantai cenderung masih bersifat 60 tradisional. Umumnya kepemilikan sarana penangkapan ikan berupa perahu tanpa motor, baik itu jukung, perahu kecil dan besar dengan jumlah seluruhnya mencapai 2.049 unit, dengan sebaran terbanyak di Kecamatan Kupang Barat yakni sebanyak 361 unit, kemudian Kecamatan Semau dan Sulamu (data tahun 2007). Ketiga kecamatan tersebut menjadi sentra perikanan tangkap di Kabupaten Kupang, sehingga kepemilikan armada penangkapan ikan berupa motor tempel dan kapal motor juga terbanyak pada wilayah-wilayah tersebut. Jika dilihat dari jenis alat tangkap yang digunakan, maka umumnya nelayan di Kabupaten Kupang masih menggunakan alat tangkap yang masih tradisional seperti pancing tangan dan gillnet monofilamen. b. Data Sebaran Sarana dan Prasarana Perikanan Budidaya Berhasilnya kegiatan budidaya laut, salah satunya ditunjang pula oleh tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana prasarana budidaya laut yang selama ini terus dikembangkan yakni sarana budidaya rumput laut. Pengadaan tali PE dan pelampung, merupakan sarana utama dari kegiatan budidaya rumput laut di beberapa sentra pengembangan komoditi tersebut. Demikian pula untuk mengupayakan peningkatan produksi dan nilai tambah hasilnya maka diberikan bantuan patok besi, waring penjemuran dan bahkan alat pres rumput laut, sedangkan prasarana penyimpanan hasil (gudang) hanya terdapat 2 unit milik masyarakat. Saat ini para pengumpul hasil di Pulau Sabu masih menggunakan bangunan rumah miliknya sebagai tempat penampungan sementara. Untuk pengembangan budidaya (pembesaran) ikan, maka telah ada KJA yang diberikan kepada nelayan di Desa Tablolong (Kupang Barat) dan Desa Hansisi (Semau). Gambaran sebaran dan jumlah sarana prasarana budidaya laut seperti pada Lampiran 10. Untuk pengembangan budidaya air tawar dan payau, maka sarana prasarana yang seharusnya menjadi pendukungnya yakni kolam permanen, tambak, bendungan dan embung/cekdam, yang tentunya ditunjang dengan ketersediaan sumber air yang ada sepanjang tahun. Sarana prasarana ini tersebar pada beberapa kecamatan yang memiliki potensi sumberdaya air cukup banyak, yakni Kecamatan Kupang Tengah (bendungan Tilong), Kupang Timur, Takari, Fatuleu dan Amabi Oefeto Timur. Luasan sarana prasarana ini secara keseluruhan mencapai 493,00 ha untuk embung/cekdam, untuk kolam permanen seluas 27,80 ha, untuk tambak (garam) 420,75 ha dan luasan Bendungan Tilong mencapai sekitar 18,00 ha. 61 4.5.3 Sarana dan Prasarana Penunjang Pembangunan Perikanan Sarana dan prasarana penunjang pemanfaatan sumberdaya perikanan menjadi bagian lainnya yang turut mendukung kelancaran dan kecepatan proses produksi, pengolahan dan distribusi hasil perikanan dari dan ke pusat-pusat perekonomian. Sarana dan prasarana penunjang dimaksud dapat berkontribusi dalam mendorong efektifitas dan efisiensi, terutama dalam menyalurkan hasil komoditas perikanan yang relatif cepat rusak. Pembangunan tambat labuh kapal/perahu (jetty) di beberapa tempat menjadi salah satu upaya mempelancar arus orang dan barang termasuk aktifitas nelayan dalam pemasaran produksinya. Pembangunan jeti ini telah dilakukan di lokasi Desa Hansisi, Kecamatan Semau dan Kelurahan Sulamu, Kecamatan Sulamu. Selain itu, untuk memperlancar aktifitas nelayan dalam usaha penangkapan ikan, terutama dalam penyediaan bahan bakar, maka telah pula dibangun solar packed dealer nelayan (SPDN) di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat dan di Kelurahan Sulamu, Kecamatan Sulamu, serta ditunjang pula kedai pesisir pada kedua lokasi tersebut. Keberadaan balai benih ikan (BBI) di Desa Tablolong dan keberadaan BBI Noekele di Kecamatan Kupang Timur, juga menjadi salah satu bagian penting bagi perkembangan pembangunan perikanan di Kabupaten Kupang, walaupun sarana prasarana tersebut merupakan aset pemerintah Provinsi NTT. Gambaran sebaran sarana prasarana penunjang pembangunan perikanan seperti terlihat pada Lampiran 11. 4.5.4 Sumberdaya Manusia Perikanan Sebagaimana diketahui jumlah rumah tangga perikanan sekitar 3.708 RTP (rumah tangga perikanan). Dari jumlah tersebut beberapa kegiatan perikanan yang dilakukan seperti nelayan sekitar 6.379 orang, dan pembudidaya rumput laut sekitar 15.615 orang. Untuk wilayah-wilayah yang memiliki potensi pengembangan budidaya air tawar dan payau juga digeluti oleh masyarakat pembudidaya ikan yang berada di pantai maupun di wilayah pengembangan budidaya ikan air tawar, payau sebanyak 607 orang. Beberapa sentra perikanan seperti Kecamatan Kupang Barat, Sulamu, Semau, Semau Selatan dan Sabu Barat, menunjukkan jumlah RTP dan nelayan yang relatif banyak, sedangkan pembudidaya ikan umumnya berada di Kecamatan Kupang Timur, Kupang 62 Tengah, Fatuleu dan Takari. Gambaran jumlah RTP, nelayan dan pembudidaya ikan sebagaimana dilihat pada Lampiran 12 sampai 14. Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan melalui bantuan sarana prasarana perikanan membutuhkan pembimbingan/pendampingan oleh aparat teknis terkait dalam rangka alih teknologi guna mampu memberi nilai tambah dan meningkatkan hasil produksi dan pendapatan masyarakat. Keberhasilannya, tentu perlu pula didukung oleh SDM aparatur bidang perikanan yang memiliki keahlian dan kompetensi yang memadai. Sampai saat ini SDM aparatur dinas umumnya dapat dikatakan sudah relatif memadai jika dilihat dari sisi pendidikan formal yang dicapai. Pendidikan setingkat sarjana (S1), pascasarjana (S2) dan jenjang doktoral (S3) sudah cukup tersedia. Namun demikian dari sisi pendidikan non formal semacam pelatihan ketrampilan/keahlian dalam penanganan produksi maupun pascapanen relatif belum maksimal, kalaupun ada baru sebagian kecil saja. Jenis-jenis ketrampilan/keahlian seperti penguasaan teknologi dan teknik penangkapan ikan, budidaya perikanan, pengolahan dan pemasaran hasilnya, merupakan keahlian yang harus dimiliki aparatur dinas guna mendorong makin baiknya kompetensi dan profesionalitas dalam pelayanan bidang perikanan. 4.6 Sarana dan Prasarana Kabupaten Kupang Sarana penunjang dalam kegiatan pembangunan di wilayah Kabupaten Kupang adalah listrik dan air minum. Untuk kondisi listrik PLN yang terpasang melalui dua interkoneksi yaitu interkoneksi dari Kupang dan interkoneksi dari Soe, jumlah pelanggang PLN mencapai 13.204 pelanggang dengan daya yang telah terpasang mencapai 1.027.593 kwh. Terdapat 13 ranting/sub ranting PLN yang dipasang oleh PT. PLN (Persero) unit bisnis NTT, sedangkan untuk air minum sendiri, terdapat lima unit PDAM yang terpasang di Kabupaten Kupang dengan jumlah pelanggang 24.140 pelanggang turun di tahun 2008 menjadi 24.130 pelanggan. Jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Tersedianya jalan yang berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan khususnya dalam upaya memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Kupang pada tahun 2009 mencapai 1.227,29 km. Panjang jalan yang berada di bawah wewenang negara ada 65,10 km, di bawah wewenang daerah tingkat I ada 320,69 km dan 63 sisanya di bawah wewenang daerah tingkat II sebanyak 814,29 km. Pada tahun tersebut, ternyata jalan yang diaspal sebesar 52,26%, 22,97% jalan kerikil dan 22,77% untuk jalan tanah dari total panjang jalan yang ada. Untuk angkutan darat di Kabupaten Kupang, jumlah kendaraan bermotor wajib uji tercatat sebanyak 828 unit pada tahun 2009. Komposisi jenis kendaraan wajib uji pada tahun 2009 terdiri atas: 276 unit bis mini, 14 unit bis midi, 33 unit truk, 360 unit truk mini, 145 unit pick up. Sarana angkutan sungai dan penyeberangan (ASDP), terjadi peningkatan arus kunjungan angkutan penyeberangan ferry pada Pelabuhan Laut Bolok di Kabupaten Kupang selama tahun 2009 sebanyak 1.799 kunjungan atau turun 35,50% dari tahun 2008. Penumpang yang naik di pelabuhan laut pada tahun 2009 sebanyak 223.229 penumpang. Penumpang yang turun sebanyak 223.297 penumpang. Pembangunan pos dan telekomunikasi mencakup jangkauan baik pelayanan jasa telekomunikasi ataupun informasi. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk memperlancar pelayanan-pelayanan berkenaan semakin meningkatnya permintaan akan jasa komunikasi. Salah satunya dengan memperbanyak jumlah kantor pos. Tahun 2009 jumlah kantor pos pembantu di Kabupaten Kupang 3 buah. Pada tahun 2009 surat yang paling banyak dikirim di 3 kantor pos pembantu di Kabupaten Kupang adalah sebanyak 18.377 lembar surat dengan jenis surat biasa sebanyak 9.273 lembar, dan 7.466 lembar surat kilat khusus. 4.7 Keuangan dan Harga Berikut ini adalah kondisi keuangan daerah Kabupaten Kupang, dalam perencanaan anggaran dan belanja negara, pemerintah menganut prinsip anggaran berimbang dan dinamis. Berimbang berarti harus diusahakan agar ada keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran. Sedangkan prinsip dinamis berarti makin meningkatnya jumlah anggaran dan tabungan pemerintah, sehingga kemampuan dalam negeri bertambah dan ketergantungan pada bantuan keuangan dari luar negeri semakin berkurang. Selama tahun anggaran 2009 realisasi pendapatan daerah otonom Kabupaten Kupang sebesar 541 milyar rupiah. Sumber pendapatan terbesar tahun 2009 adalah dari pos bagian dana perimbangan sebesar 509 milyar rupiah rupiah atau sebesar 94,04% terhadap seluruh realisasi penerimaan. Sedangkan dari pos pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 24,6 milyar rupiah atau 4,54%. 64 5 IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH KABUPATEN KUPANG Abstrak Dalam pengembangan kawasan minapolitan, pendekatan potensi kelautan yang ada di perairan Kabupaten Kupang sangat diperlukan untuk nantinya dikembangkan agar dapat menambah pendapatan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kelautan dan perikanan di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Metode analisis data yang dipakai mencakup analisis spasial (kesesuaian lahan), daya dukung lahan, dan kelayakan usaha budidaya laut. Hasil penelitian dari hasil analisis spasial didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2, 3,91 km2 untuk budidaya KJA, 1,91 km2 untuk budidaya tiram mutiara, dan budidaya teripang sebesar 2,37 km2. Hasil analisis daya dukung lahan, budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline, budidaya KJA pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 61.001 unit keramba, budidaya tiram mutiara pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 38.887 unit keramba, dan budidaya teripang pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 4.743 unit penculture. Bidang usaha budidaya laut dalam penelitian ini yang meliputi budidaya KJA, rumput laut, tiram mutiara dan teripang merupakan peluang usaha yang mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. Kata kunci : potensi wilayah, kesesuaian lahan, kelayakan usaha 5.1 Pendahuluan Potensi kelautan di perairan Kabupaten Kupang sangat beragam, hal ini dikarenakan wilayah perairan laut yang subur dan kaya akan unsur hara. Secara khusus dalam bidang budidaya laut ada lima budidaya yang pernah/sedang berjalan seperti rumput laut, keramba jarring apung, tiram mutiara, dan teripang. Penentuan potensi unggulan untuk dikembangkan dalam kawasan minapolitan melalui beberapa tahapan pengidentifikasian potensi. Adapun metode analisis data yang dipakai dalam mengidentifikasi potensi Kabupaten Kupang seperti analisis spasial (kesesuaian lahan), daya dukung lahan, dan kelayakan usaha budidaya laut. Analisis spasial digunakan untuk melihat kesesuaian perairan untuk budidaya laut, analisis daya dukung lahan digunakan untuk mengetahui kemampuan lahan dalam menampung suatu kegiatan budidaya laut, dan kelayakan usaha dipakai dalam mengkaji pengembangan usaha budidaya laut dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kondisi masyarakat setempat. 66 5.2 Metode Analisis Identifikasi Potensi di Kabupaten Kupang 5.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi di Kabupaten Kupang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer yang dibutuhkan adalah data perairan hasil pengukuran di lapangan dan data hasil penjajakan dengan menggunakan kuesioner seperti data biaya dan penerimaan usaha budidaya laut dan data skoring dari pendapat pakar. Data sekunder berupa data citra Landsat, peta ruba bumi indonesia (RBI), peta lingkungan pantai indonesia (LPI), peta penggunaan lahan, data curah hujan, sifat fisik dan kimia perairan, data jumlah penduduk, produksi dan produktivitas budidaya, dan luas lahan perairan. 5.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data primer dalam identifikasi potensi dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan topik penelitian. Data sekunder diperoleh dari beberapa sumber kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian. 5.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data dalam identifikasi potensi terbagi atas tiga bagian yaitu analisis spasial/keruangan, analisis daya dukung dan analisis kelayakan usaha/finansial. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ketiga analisis tersebut. a. Analisis Spasial – Kesesuaian Lahan Analisis keruangan digunakan untuk melihat kesesuaian pemanfaatan ruang secara visual dalam bentuk peta untuk beberapa potensi sumberdaya perairan di kawasan budidaya laut. Analisis dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu (1) mendeliniasi batas kajian yang mencakup lahan daratan dan perairan di sekitar Kabupaten Kupang, (2) untuk lahan perairan, pengumpulan data lapangan berupa titik (point information) yang mengandung informasi karakteristik perairan, (3) menganalisis secara spasial titik yang berisi informasi tersebut dengan metode interpolasi yaitu pengolahan data titik menjadi area (polygon) untuk membuat tema-tema yang akan di overlay berdasarkan kriteria kesesuaian pada masing-masing peruntukan (Lampiran 2). 67 Metode ini menggunakan metode Nearest Neighbour (Burrough & McDonnell, 1998; Morain, 1999), (4) untuk lahan daratan, pengumpulan data primer dan sekunder berupa data tabular (attribute) dan spasial yang dihimpun dalam suatu basis data. Peta tematik yang dihasilkan dari hasil interpolasi tersebut, selanjutnya diberikan skor dan bobot kemudian di overlay untuk mendapatkan lokasi yang sesuai bagi berbagai peruntukan berdasarkan berbagai kriteria kesesuaian lahan yang disusun sebelumnya. Pada setiap tahapan tersebut, data diolah dengan menggunakan Software Arc View GIS. Informasi yang diharapkan dari hasil analisis spasial ini adalah kesesuaian peruntukan ruang untuk pengembangan minapolitan budidaya laut berdasarkan hasil analisis peta land system, peta kemiringan lahan (slope), peta land use, dan peta RBI. Analisis kesesuaian lahan berdasarkan nilai hasil pembobotan dan skoring pada masing-masing parameter yang menjadi indikator kesesuaian. Pembobotan pada setiap faktor pembatas/parameter ditentukan berdasarkan pada dominannya parameter tersebut terhadap peruntukan. Besarnya pembobotan ditunjukkan pada suatu parameter untuk seluruh evaluasi lahan, sebagai contoh : keterlindungan dan kedalaman mempunyai bobot yang lebih tinggi untuk budidaya keramba dan rumput laut dibandingkan dengan penangkapan ikan. Pemberian nilai (scoring) ditujukan untuk menilai beberapa faktor pembatas/parameter/kriteria terhadap suatu evaluasi kesesuaian. Adapun kriteria dan matriks kesesuaian lahan (lokasi) yang dapat digunakan sebagai acuan pada setiap peruntukan dan urutan overlay dapat dilihat pada Lampiran 1. Dalam peneltian ini, penentuan kelas kesesuaian lahan didasarkan pada klasifikasi menurut FAO (1976), namun dengan pertimbangan lahan yang dievaluasi (perairan) cukup sempit sehingga kelas kesesuaian dibagi ke dalam tiga kelas yaitu kelas sangat sesuai (SS), sesuai (S) dan tidak sesuai (TS) dengan nilai skor masing-masing 3, 2, dan 1 (DKP, 2002). Analisis overlay yang digunakan adalah index overlay model. Benham dan Carter (1994) dalam Subandar (1999), menyatakan bahwa setiap coverage memiliki bobot (weight) dan setiap kelas dalam model memiliki nilai (score) sesuai dengan tingkat kepentingannya. Dalam model ini setiap coverage memiliki urutan kepentingan dimana coverage yang memiliki pengaruh yang paling besar diberikan penilaian yang lebih tinggi dari yang lainnya, begitu juga dengan urutan 68 overlay harus berdasarkan urutan tingkat kepentingan atau pengaruh yang paling besar ke tingkat yang paling kecil. Model matematis disajikan sebagai berikut : ………………………………………(2) dimana : S Sij Wi n = Indeks terbobot pada area objek atau area terpilih = Skor pada kelas ke-j dari peta ke-i = Bobot pada input peta ke-i = Jumlah peta Hasil analisis kesesuaian lahan untuk kegiatan pengembangan budidaya rumput laut, keramba jaring apung, penangkapan ikan dan kawasan lindung (konservasi) akan diperoleh peta yang mendeskripsikan pola penggunaan lahan yang sesuai bagi peruntukan kawasan tersebut. Dengan demikian diharapkan pemilihan lokasi untuk berbagai kawasan ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat pengguna ruang maupun pemerintah. b. Analisis Daya Dukung Lahan Berkaitan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan juga semakin bertambahan yang akhirnya berdampak kepada semakin terbatasnya lahan, baik untuk tempat tinggal (permukiman) maupun untuk kegiatan pemanfaatan lainnya. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis untuk menentukan seberapa besar daya dukung suatu lahan untuk menampung suatu kegiatan pemanfaatan pada suatu wilayah tanpa merusak kelestarian lingkungan yang ada. Daya dukung yang dianalisis dalam kajian ini hanya dibatasi pada daya dukung kemampuan lahan (ruang) dalam menampung suatu kegiatan ditinjau dari aspek kesesuaian lahan (fisik) dan sosial budaya masyarakat setempat, sedangkan daya dukung lingkungan perairan yang berhubungan erat dengan produktifitas lestari perairan tersebut. Hasil analisis ini akan memberikan informasi mengenai seberapa besar luas lahan dan jumlah unit kegiatan dalam mendukung suatu kawasan tertentu untuk diusahakan. Berikut ini uraian analisis daya dukung bagi berbagai peruntukan yang akan dikembangkan pada kawasan Kabupaten Kupang. Pertama, untuk perhitungan daya dukung lahan budidaya rumput laut dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan luas areal budidaya sesuai (kategori sangat sesuai dan sesuai), kapasitas lahan dan metode budidaya yang diterapkan. Parameter yang menjadi acuan dalam penentuan daya dukung lahan tersebut menurut Rauf (2008) antara lain : 69 a) Luas lahan budidaya rumput laut yang sesuai Luas lahan (areal perairan) budidaya rumput laut yang sesuai dapat diperoleh dari hasil analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan SIG. Dalam studi ini dibagi dua musim dimana luas pada musim peralihan lebih besar dari musim timur atau barat sehingga analisis-nya pun dipisahkan. b) Kapasitas lahan perairan Kapasitas lahan diartikan sebagai luasan lahan perairan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya rumput laut secara terus menerus dan secara sosial tidak menimbulkan konflik serta secara ekologi tidak mengganggu ekosistem pesisir. Besarnya kapasitas lahan yang ditetapkan dalam studi ini dianalisis dengan formula sebagai berikut : KL = = dimana : KL ΔL L1 L2 l1 l2 p1 p2 ……………………………(3) = Kapasitas lahan = L2 – L1 = Luas unit budidaya = Luas yang sesuai untuk satu unit budidaya = Lebar unit budidaya = Lebar yang sesuai untuk satu unit budidaya = Panjang unit budidaya = Panjang yang sesuai untuk satu unit budidaya Kapasitas lahan ditentukan dari selisih antara luas lahan yang sesuai dengan luas unit budidaya dibagi dengan luas lahan yang sesuai kali 100%. Luas unit budidaya (L1) ditentukan berdasarkan luas rata-rata unit budidaya yang ada di Kabupaten Kupang. Luas yang sesuai untuk satu unit budidaya (L2) ditentukan berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian lahan. c) Luasan unit budidaya Luasan unit budidaya adalah besaran yang menunjukkan luasan dari satu unit budidaya rumput laut, dimana setiap luasan unit budidaya berbeda-beda tergantung dari metode budidaya yang digunakan. Dalam kajian ini luasan satu unit budidaya didasarkan pada metode long line dengan ukuran 30 m x 100 m = 3000 m2 atau 0,003 km2. 70 d) Daya dukung lahan Daya dukung lahan menunjukkan kemampuan maksimum lahan yang mendukung aktivitas budidaya secara terus menerus tanpa menimbulkan terjadinya penurunan kualitas, baik lingkungan Berdasarkan pendekatan tersebut di atas biofisik maupun sosial. maka daya dukung lahan untuk budidaya rumput laut dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : DDLRL = LLS x KL ………………………………….…………(4) dimana : DDLRL = Daya dukung lahan budidaya rumput laut (ha) LLS = Luas lahan sesuai (ha) KL = Kapasitas lahan (%) Untuk menghitung berapa jumlah unit budidaya yang dapat didukung oleh lahan berdasarkan daya dukung yang diperoleh, dapat dianalisis dengan persamaan sebagai berikut : JUBRL = ……………………..………………..…………(5) dimana : JUBRL = Jumlah unit budidaya rumput laut (unit) DDL = Daya dukung lahan (ha) LUB = Luas unit budidaya (unit/ha) Kedua, analisis daya dukung lahan perairan Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya ikan dengan keramba jaring apung dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai dan kapasitas lahan. Parameter yang menjadi acuan dalam penentuan daya dukung lahan tersebut, antara lain : a) Luas lahan budidaya ikan dengan KJA yang sesuai Luas lahan (areal perairan) budidaya ikan dengan KJA yang sesuai dapat diperoleh dari hasil analisis kesesuaian lahan. b) Kapasitas lahan perairan Besarnya kapasitas lahan yang digunakan untuk kegiatan budidaya dengan KJA dianalisis seperti formula yang digunakan pada budidaya rumput laut. Yang membedakan adalah luas unit budidaya yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto, 2000) yaitu dengan luas (12 x 12) m2 = 144 m2 = 0,00014 km2. 71 c) Luasan unit rakit KJA Luasan unit rakit KJA adalah besaran yang menunjukkan luasan dari satu unit rakit dengan empat keramba berukuran (3x3x2,5) m3. d) Daya dukung lahan Daya dukung lahan menunjukkan kemampuan maksimum lahan yang mendukung aktivitas budidaya secara terus menerus tanpa menimbulkan terjadinya penurunan kualitas, baik lingkungan Berdasarkan pendekatan tersebut di atas biofisik maupun sosial. maka daya dukung lahan untuk budidaya KJA dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : DDLKJA = LLS x KL ………………………………….…………(6) dimana : DDLKJA LLS KL = Daya dukung lahan budidaya KJA (ha) = Luas lahan sesuai (ha) = Kapasitas lahan (%) Untuk menghitung berapa jumlah unit budidaya yang dapat didukung oleh lahan berdasarkan daya dukung yang diperoleh, dapat dianalisis dengan persamaan sebagai berikut : JUBKJA = ……………………..…..………………..…………(7) dimana : JUBKJA = Jumlah unit budidaya KJA (unit) DDL = Daya dukung lahan (ha) LUB = Luas unit budidaya (unit/ha) Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya teripang dan tiram mutiara memakai teknik perhitungan yang sama dengan KJA, namun disesuaikan dengan luasan unit budidaya teripang dan tiram mutiara. c. Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Laut Dalam mengkaji suatu pengembangan usaha, di samping menganalisis tingkat kelayakan lahan dan perairan yang sesuai bagi peruntukannya juga dilakukan analisis terhadap kelayakan usaha dari sisi finansial. Analisis kelayakan usaha dimaksudkan untuk menilai keberhasilan usaha pada suatu bidang produksi dengan menilai besarnya pendapatan (keuntungan) yang diperoleh, sedangkan analisis finansial diperlukan untuk penetapan alternatif pemanfaatan budidaya dan pegembangan minapolitan secara berkelanjutan. 72 Untuk menentukan keuntungan, dilakukan perhitungan besar manfaat (benefit) yang diperoleh dan besarnya biaya (cost) yang dikeluarkan selama satu kali produksi (Soekartawai, 1986). Secara matematis, fungsi keuntungan dapat dirumuskan sebagai berikut : RC = TR -TC……………………..…..………………..…………(8) dimana : RC = Keuntungan TR = Total penerimaan usaha (Rp/ha/tahun) TC = Total pengeluaran (Rp/ha/tahun) Sementara itu untuk mengetahui sejauh mana hasil yang diperoleh usaha tersebut telah layak dilanjutkan atau tidak, digunakan analisis perimbangan antara penerimaan dan biaya yang dirumuskan sebagai berikut : ………………..…..………………..…………(9) dimana : R/C pi yi pj xj = Perbandingan pendapatan dan pengeluaran = Harga output produk ke-i = Jenis output produk ke-i = Harga input ke-j = Jenis input ke-j Untuk kepentingan pengambilan keputusan R/C dinilai dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : R/C > 1, usaha budidaya laut untung R/C = 1, usaha budidaya laut berada pada titik impas (break even point) R/C < 1, usaha budidaya laut rugi Selanjutnya untuk menentukan prospek pengembangan berbagai kegiatan peruntukan di Kabupaten Kupang, maka dilakukan perhitungan besar manfaat (benefit) dan besarnya biaya (cost) yang dihitung berdasarkan nilai sekarang (net present value). Menurut Abelson (1979), beberapa indikator yang biasa digunakan dalam analisis ini, yaitu : a) Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) atau nilai bersih sekarang adalah nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada masa yang akan datang, dengan menghitung selisih antara manfaat dan biaya kini. Secara matematis NPV dapat dirumuskan sebagai berikut : – ………………..…..………………..……(10) 73 dimana : Bi = Keuntungan kotor tahunan, selama i tahun Ci = Biaya kotor tahunan, selama i tahun i 1/(1+r) = Discount factor (DF) r = Tingkat suku bunga bank (discount rate) n = Umur ekonomis dari unit usaha i = 0,1,2,3,…. tahun ke n Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : NPV > 0 berarti budidaya laut layak diusahakan NPV = 0 berarti budidaya laut berada pada titik impas (break even point) NPV < 0 berarti budidaya laut tidak layak diusahakan b) Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suku bunga maksimal untuk sampai kepada NPV = 0, jadi dalam keadaan batas untung-rugi. Disamping itu juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu proyek, asal setiap manfaat yang diwujudkan secara otomatis ditanam kembali pada tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan yang sama dan diberi bunga selama sisa umur proyek. IRR digunakan untuk mengetahui tingkat pengembalian bunga usaha, dapat juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi dalam suatu usaha (Kadariah et al., 1999). Secara matematis dituliskan : ………………..………..…………(11) dimana : i+ = tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV positif i= tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV negatif NPV+ = NPV pada tingkat suku bunga i+ NPV- = NPV pada tingkat suku bunga i- Dengan kriteria pengambilan keputusan :  IRR > i+ artinya kegiatan usaha budidaya laut dapat dilanjutkan  IRR > i- artinya kegiatan usaha budidaya laut tidak dapat dilanjutkan c) Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) Merupakan perbandingan antara jumlah total nilai kini (present value) dari keuntungan bersih pada tahun-tahun dimana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan bersifat negatif. Secara matematis, net benefit cost ratio (B/C) dapat dituliskan : ………………..………..…………(12) dimana : B = Keuntungan bersih tahunan yang diharapkan C = Modal investasi yang diharapkan 74 r = Tingkat suku bunga per tahun n = Jumlah tahun kegiatan Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : Net B/C > 1 berarti kegiatan usaha budidaya laut layak untuk diusahakan Net B/C = 1 berarti kegiatan usaha budidaya laut berada pada titik impas Net B/C < 1 berarti kegiatan usaha budidaya laut tidak layak untuk diusahakan d) Pay Back of Period (PBP) Pay Back of Period adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat lama waktu yang diperlukan oleh kegiatan usaha untuk mengembalikan investasi, yaitu dengan membandingkan investasi dengan tingkat keuntungan selama satu periode produksi (1 tahun) (Kadariah et al., 1999). Secara matematis dituliskan sebagai berikut : Pay Back of Period = Investasi / Tingkat keuntungan..…………….(13) e) Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan sebuah pengukuran untuk mengetahui berapa volume atau kapasitas produksi minimum agar investasi itu tidak menderita rugi tetapi juga belum memperoleh keuntungan/laba, yang diformulasikan sebagai berikut : BEP = (TBT+TBV/ TH ) x TP…………….….…………….(14) dimana: TBT TBV TH TP = Total biaya tetap = Total biaya variabel = Total harga = Total produksi 75 5.3 5.3.1 Hasil dan Pembahasan Analisis Potensi Wilayah di Kabupaten Kupang Analisis Spasial/Keruangan Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan yang dilakukan dalam studi ini merupakan kesesuaian lahan pada saat ini, dimana kelas kesesuaian lahan yang dihasilkan berdasarkan pada data yang tersedia dan belum mempertimbangkan asumsi/usaha perbaikan bagi tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala fisik atau faktor-faktor penghambat yang ada. Evaluasi kesesuaian lahan dalam penelitian ini ada empat peruntukkan budidaya laut yaitu budidaya rumput laut, keramba jaring apung, tiram mutiara, dan teripang. a. Rumput Laut Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya rumput laut di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 6, sedangkan peta kesesuaian untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6 sampai 8. Tabel 6 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 5,94 0,32 0,63 6,26 Sulamu 3,20 0,28 0,17 3,48 Kupang Barat 22,29 3,96 4,16 26,25 Sumber : Hasil analisis 2011 Dalam penentuan kesesuaian lahan ini dievaluasi beberapa parameter fisik dan kimia perairan, namun parameter-parameter yang memiliki bobot terbesar dalam kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut adalah fosfat, nitrat, kedalaman, kecerahan, dan kecepatan arus. Hasil evaluasi di lapangan diperoleh nilai fosfat berkisar antara 0,2-0,7 mg/l, nitrat 0,8-1,5mg/l, kedalaman perairan 15-20 m, kecerahan perairan berkisar antara 5-9 m, dan kecepatan arus 15-20 cm/dtk. b. Keramba Jaring Apung Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya ikan kerapu dengan keramba jaring apung (KJA) di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 7, sedangkan peta kesesuaian untuk masingmasing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 9 sampai 11. 76 Tabel 7 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya KJA Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 2,13 4,29 0,48 6,24 Sulamu 0,45 0,55 2,66 1,00 Kupang Barat 1,33 3,96 25,11 5,29 Sumber : Hasil analisis 2011 Dari hasil evaluasi kesesuaian lahan yang didapatkan (Tabel 7) terungkap bahwa lokasi yang sesuai untuk usaha budidaya KJA tersebar di tiga kecamatan namun Kecamatan Semau yang memiliki potensi kesesuaian lahan yang luas sebesar 2,13 km2. Adapun persentase masing-masing kategori yang sesuai terhadap luas wilayah perairan kecamatan yaitu Semau 100%, Sulamu 99,99% dan Kupang Barat 100%. Penentuan lokasi tersebut dengan mempertimbangkan beberapa parameter seperti kecepatan arus, kedalaman air, muatan padatan tersuspensi, material dasar perairan, oksigen terlarut, kecerahan perairan, suhu, salinitas, pH, fosfat, nitrat, kepadatan fitoplankton dan klorofil-a. Hasil pengamatan lapangan di Kecamatan Semau diperoleh kedalaman perairan 27-32 m, kecepatan arus 25-30 cm/dtk dengan jenis substrat dasar perairan berpasir dan pecahan karang, serta kecerahan perairan 5-10 m memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan KJA. Untuk perairan Kecamatan Sulamu diperoleh kedalaman perairan 25-30 m, kecepatan arus 30-35 cm/dtk dengan jenis substrat dasar perairan berpasir, serta kecerahan perairan 5-10 m memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan KJA. Sedangkan perairan Kecamatan Kupang Barat diperoleh kedalaman perairan 20-25 m, kecepatan arus 15-19 cm/dtk dengan jenis substrat dasar perairan berpasir, serta kecerahan perairan 10-15 m memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan KJA. Kedalaman perairan sangat berperan dalam pengoperasian KJA untuk mengetahui kedalaman jaring yang akan digunakan dapat ditentukan. Parameter kecepatan arus sangat berperan untuk membawa/membilas (flushing) sisa pakan atau kotoran ikan tetapi tidak sampai mengganggu jaring sehingga mengurangi luasan ruang ikan dalam keramba. Kecerahan perairan juga mempengaruhi kegiatan budidaya KJA dalam menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu, faktor-faktor yang mempengaruhi kecerahan adalah kandungan lumpur, plankton, dan bahanbahan yang terlarut lainnya. 77 Keadaan tersebut dapat mengurangi laju fotosintesis serta mengganggu pernapasan hewan di air dan bahkan tidak layak untuk pengamatan lapangan bahwa suhu perairan berkisar antara 26-30 0C, salinitas perairan berkisar antara 29-35 gr/kg, pH air laut berkisar antara 7-9. Menurut Baveridge (1987) dalam pemilihan lokasi untuk pengembangan KJA di laut kriteria (suhu, salinitas, DO, pH, kekeruhan, pencemaran, padatan terlarut dan alga) lebih diperuntukkan pada kondisi fisika-kimia air laut yang akan menentukan bagi pemilihan/perkembangan ikan budidaya. c. Tiram Mutiara Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya tiram mutiara di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 8, sedangkan peta kesesuaian untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 12 sampai 14. Tabel 8 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya tiram mutiara Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 0,72 6,18 0,72 Sulamu 0,15 3,51 0,15 Kupang Barat 1,04 29,36 1,04 Sumber : Hasil analisis 2011 Hasil dari parameter-parameter penting yang berpengaruh terhadap usaha budidaya tiram mutiara adalah kecepatan arus 35 cm/dtk, muatan padatan terlarut berkisar antara 50-65 mg/l, kedalaman perairan berkisar antara 25-30 m, dan kepadatan fitoplankton yang berkisar antara 5.105 - 2.106 sel/l. d. Teripang Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya teripang di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 9, sedangkan peta kesesuaian untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 15 sampai 17. Tabel 9 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya teripang Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 0,61 6,28 0,61 Sulamu 0,17 3,49 0,17 Kupang Barat 1,59 28,81 1,59 Sumber : Hasil analisis 2011 78 Hasil evaluasi parameter-parameter yang penting untuk kesesuaian lahan budidaya teripang adalah kecepatan arus 10-15 cm/dtk, kedalaman yang berkisar antara 5-10 m, kecerahan perairan 3-8 m, material dasar perairan agak landai dan berpasir, dan kondisi perairan terbuka. Dari Gambar 15 sampai 17 dapat disimpulkan bahwa budidaya teripang tidak sesuai dibudidayakan untuk Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Semau karena kondisi kedua wilayah ini terbuka dan kondisi arus yang tidak memungkinkan untuk dibudidayakan usaha teripang. 5.3.2 Analisis Daya Dukung a. Rumput Laut Aspek daya dukung sangat menentukan keberlanjutan kegiatan budidaya rumput laut. Daya dukung yang digunakan dianalisis dengan pendekatan luas areal budidaya yang sesuai (kategori sangat sesuai dan sesuai), kapasitas lahan dan metode budidaya yang diterapkan. Hasil analisis daya dukung lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya rumput laut 2 Luas lahan (km ) Kecamatan Sangat sesuai Semau 5,94 Sulamu 3,20 Kupang Barat 22,29 Jumlah 31,43 Sumber : hasil analisis 2011 Sesuai 0,32 0,28 3,96 4,56 2 Kapasitas lahan (km ) Sangat sesuai 5,94 3,20 22,29 31,43 Sesuai 0,32 0,28 3,96 4,56 Daya dukung lahan (Jumlah unit budidaya rumput laut) Sangat Sesuai sesuai 1.980 104 1.065 93 7.428 1.319 10.473 1.516 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,95% dari luas lahan yang sesuai (sangat sesuai dan sesuai) 2 2 Luas satu unit budidaya dengan metode longline = 3000 m atau 0,003 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya rumput laut Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan untuk kegiatan budidaya rumput laut didapatkan luas kapasitas lahan untuk kategori sangat sesuai dan sesuai masing-masing sebesar 31,43 km2 dan 4,56 km2 sedangkan jumlah unit usaha budidaya rumput laut yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sangat sesuai dan sesuai masing-masing sebanyak 10.473 unit dan 1.516 unit (Tabel 10). Jika digabungkan jumlah unit usaha budidaya rumput laut tersebut maka total unit yang dapat diusahakan sebesar 11.989 unit. 79 b. Keramba Jaring Apung Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai (kategori sangat sesuai dan sesuai) dan kapasitas lahan. Hasil analisis daya dukung lahan untuk pengembangan kegiatan budidaya ikan kerapu dengan KJA di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 11. Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan tersebut diperoleh luas kapasitas lahan untuk kategori sangat sesuai dan sesuai masing-masing sebesar 3,91 km2 dan 8,80 km2 sedangkan jumlah unit KJA yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sangat sesuai dan sesuai masingmasing sebanyak 61.001 unit dan 137.411 unit. Tabel 11 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya KJA 2 Luas Lahan (km ) Kecamatan Sangat Sesuai Semau 2,13 Sulamu 0,45 Kupang Barat 1,33 Jumlah 3,91 Sumber : hasil analisis 2011 Sesuai 4,29 0,55 3,96 8,80 2 Kapasitas lahan (km ) Sangat Sesuai 2,13 0,45 1,33 3,91 Daya dukung lahan (jumlah unit budidaya KJA) Sesuai Sangat Sesuai Sesuai 4,29 0,55 3,96 8,80 33.287 6.958 20.756 61.001 66.957 8.528 61.926 137.411 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,99% dari luas lahan yang sesuai (sangat sesuai dan sesuai) 2 2 2 Luas satu unit budidaya dengan metode KJA = (8 x 8) m = 64 m atau 0,000064 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya KJA c. Tiram Mutiara Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya tiram mutiara dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai (kategori sesuai) dan kapasitas lahan. Hasil analisis daya dukung lahan untuk pengembangan kegiatan budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya tiram mutiara 2 Kecamatan Luas lahan (km ) 2 Kapasitas lahan (km ) Daya dukung lahan (jumlah unit budidaya mutiara) Sesuai 14.597 2.997 21.293 38.887 Sesuai Sesuai Semau 0,72 0,72 Sulamu 0,15 0,15 Kupang Barat 1,04 1,04 Jumlah 1,91 1,91 Sumber : hasil analisis 2011 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,99% dari luas lahan yang sesuai 2 2 2 Luas satu unit budidaya tiram mutiara = (7 x 7) m = 49 m atau 0,000049 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya tiram mutiara 80 Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan ketiga kecamatan di Kabupaten Kupang tersebut diperoleh luas kapasitas lahan untuk kategori sesuai sebesar 1,91 km2 sedangkan jumlah unit keramba untuk tiram mutiara yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sesuai masingmasing sebanyak 38.887 unit. d. Teripang Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya teripang dengan sistem penculture dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai (kategori sesuai) dan kapasitas lahan. Hasil analisis daya dukung lahan ketiga kecamatan di Kabupaten Kupang untuk pengembangan kegiatan budidaya teripang dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 13. Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan tersebut diperoleh luas kapasitas lahan untuk kategori sesuai sebesar 2,37 km2 sedangkan jumlah unit penculture teripang yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sesuai sebanyak 4.743 unit. Tabel 13 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya teripang 2 Kecamatan Luas lahan (km ) Sesuai Semau 0,61 Sulamu 0,17 Kupang Barat 1,59 Jumlah 2,37 Sumber : hasil analisis 2011 2 Kapasitas lahan (km ) Sesuai 0,61 0,17 1,59 2,37 Daya dukung lahan (jumlah unit budidaya teripang) Sesuai 1.227 329 3.187 4.743 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,99% dari luas lahan yang sesuai (sangat sesuai dan sesuai) 2 2 2 Luas satu unit budidaya teripang = (50 x 10) m = 500 m atau 0,0005 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya teripang dengan penculture 93 5.3.3 Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Laut Analisis kelayakan usaha budidaya laut dalam penelitian ini terdiri dari empat bagian yaitu budidaya keramba jaring apung, rumput laut, tiram mutiara, dan teripang. Analisis ini dimaksudkan untuk melihat peluang usaha dan profil investasi komoditas atau produk unggulan daerah Kabupaten Kupang khususnya dalam bidang/kegiatan budidaya laut sebagai suatu peluang investasi yang sangat fisibel yang dapat mendorong peningkatan ekonomi wilayah dan masyarakat dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. a. Budidaya Keramba Jaring apung Untuk mendirikan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba jaring apung (KJA), dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponen-komponen biaya investasi ini meliputi : a) pembuatan rakit berukuran 8 m x 8 m, b) pembuatan waring berukuran 1 m x 1 m x 1,5 m, c) pembuatan jaring ukuran 3 m x 3 m x 3 m, d) pembuatan rumah jaga, dan e) pengadaan sarana kerja. Sedangkan untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan benih, pakan, bahan bakar, upah/gaji, dan lain-lain. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di lokasi penelitian dan beberapa asumsi sebagai berikut : 1. Umur investasi 5 tahun 2. Sumber dana untuk membiayai kegiatan investasi khusus untuk biaya investasi berasal dari pinjaman sebesar Rp15.000.000,00 dengan tingkat bunga 18% per tahun (flat) dalam jangka waktu 5 tahun 3. Pajak penghasilan 15% per tahun 4. Penyusutan atas aktiva tetap dihitung dengan metoda garis lurus dengan sisa = 0 dan umur ekonomis dari setiap aset 5 tahun 5. Benih yang ditebarkan berukuran 4-5 cm sebanyak 2.500 ekor dengan tingkat kehidupan sampai umur panen 65% dengan berat 450 gr/ekor 6. Jangka waktu pembesaran atau umur produksi untuk mencapai berat jual/panen adalah 12 bulan (1 tahun) 7. Harga jual Rp317.000,00 per kg Atas dasar asumsi-asumsi di atas, perkiraan biaya investasi dan biaya variabel disajikan pada Tabel 14. 94 Tabel 14 Perkiraan biaya investasi usaha budidaya ikan kerapu Komponen Biaya investasi Biaya variabel Biaya tetap Total Jumlah (Rp) 28.597.500,00 68.851.500,00 11.839.000,00 109.288.000,00 % 26,2 63,0 10,8 100,0 Total besarnya biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap sebesar Rp109.288.000,00 di mana biaya terbesar adalah biaya variabel mencapai 63% diikuti oleh biaya investasi 26,2% dari total biaya. Rincian biaya investasi, biaya variabel, dan biaya tetap yang diperlukan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang disajikan pada Lampiran 15. Sedangkan perhitungan/analisis rugi laba dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang ini didasarkan pada asumsi-asumsi seperti yang telah dikemukan terdahulu. Hasil analisis rugi laba seperti ditunjukkan pada Tabel 15. Tabel 15 Analisis rugi laba usaha budidaya ikan kerapu No 1 2 3 4 5 Uraian Total biaya Total penerimaan Total pendapatan sebelum pajak Pajak penghasilan (15%) Total pendapatan bersih setelah pajak Total (Rp) 735.896.000,00 1.212.525.000,00 476.629.000,00 71.494.000,00 405.134.000,00 Dari Tabel 15, terlihat bahwa usaha budidaya ikan kerapu tikus selama 5 tahun atau 5 kali siklus produksi memberikan pendapatan memberikan pendapatan bersih setelah pajak sebesar Rp405.134.000,00 untuk rinciannya dapat dilihat pada Lampiran 15. Berikutnya adalah analisis cash flow dan kelayakan Investasi yang menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA selama 5 tahun usaha (Lampiran 15). Tabel 16 Kriteria kelayakan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 18% (Rp) Net B/C pada DF 18% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP Break event point/BEP : unit (kg) unit (Rp/kg) Nilai kelayakan 247.506.000,00 1,65 46,6 tahun ke-1 333 138.000,00 95 Kriteria-kriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 16. Investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Dari Tabel 16 terlihat bahwa dalam jangka waktu 1 tahun lebih atau tepatnya 1 tahun 1 bulan produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp247.506.000,00 dengan net B/C 1,65 pada tingkat diskon (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang secara finansial layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 46,6% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang layak untuk diusahakan. Berikutnya untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya ikan kerapu tikus ini setiap tahunnya minimum sebanyak 333 kg atau Rp138.000,00 per kg. b. Budidaya Rumput Laut Usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline membutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponenkomponen biaya investasi ini meliputi : a) pembuatan unit budidaya rumput laut berukuran 100 m x 30 m, b) pembuatan para-para/tempat penjemuran, c) perahu sampan, dan d) timbangan gantung. Sedangkan untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan bibit, karung jangkar, pelampung botol aqua, pelampung jeregen, dan upah/gaji. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di lokasi penelitian dan beberapa asumsi sebagai berikut : (1) umur investasi 1 tahun (1 periode = 6 siklus kegiatan budidaya rumput laut), (2) satu siklus kegiatan budidaya = 45 hari ( Periode budidaya : awal april – oktober), (3) bibit rumput laut awal 2.400 kg, (4) rendemen: berat basah menjadi kering 12,50%, (5) luas lahan budidaya 100 m x 30 m = 3.000 m2, (6) berat bibit rumput laut yang diikat 200 gr, (7) hasil panen 96 rumput laut 6 kali berat semula, dan (8) harga jual rumput laut kering Rp10.000,00 per kg. Atas dasar asumsi-asumsi di atas, perkiraan biaya investasi sebesar Rp11.800.000,00 dan biaya produksi sebesar Rp63.312.000,00 untuk usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang. Analisis cash flow dan kelayakan Investasi yang menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline selama 1 periode usaha atau 6 kali siklus panen. Pada Lampiran 15 terlihat bahwa investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Kriteriakriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Kriteria kelayakan usaha rumput laut dengan sistem long line No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 18% (Rp) Net B/C pada DF 18% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP (1 siklus panen = 45 hari) Break event point/BEP : unit (kg) unit (Rp/kg) Nilai kelayakan 26.071.186,00 1,44 46,6 0,5 tahun (5 kali siklus panen) 7.511 6.955,00 Dari Tabel 17 terlihat bahwa dalam jangka waktu 0,5 tahun lebih atau tepatnya 5 kali siklus produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp26.071.186,00 dengan Net B/C 1,44 pada tingkat diskon (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang secara finansial sangat layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 98,6% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang sangat layak untuk diusahakan, dan untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya rumput laut ini setiap tahunnya minimum sebanyak 7.511 kg atau Rp6.955,00 per kg. 97 c. Budidaya Tiram Mutiara Budidaya tiram mutiara ini menggunakan teknologi sederhana dan modern. Teknologi sederhana berupa rakit tempat pemeliharaan sedangkan teknologi modern yang digunakan adalah bioteknologi untuk perawatan tiram dari spat sampai tiram siap untuk dioperasi. Usaha budidaya mutiara menggunakan tenaga keamanan dengan biaya yang cukup besar untuk mencegah terjadinya penjarahan. Siklus produksi adalah 5 tahun sejak awal usaha dengan melakukan penyuntikan pada spat umur 1,5 tahun. Mutiara dapat dipanen 1,5 tahun setelah penyuntikan. Masa tunggu panen kedua dan ketiga dari proses penyuntikan hanya 1 tahun. Setelah panen pertama, tiram dapat disuntik lagi untuk dipanen 1 tahun berikutnya. Penyuntikan dapat dilakukan 3 kali pada tiram yang sama sehingga selama 5 tahun dapat dilakukan 3 kali panen. Asumsi-asumsi dasar perhitungan untuk usaha budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 18. Tabel 18 Asumsi-asumsi dasar perhitungan usaha budidaya tiram mutiara No Uraian Satuan Jumlah/nilai 1 Periode proyek tahun 6 2 Luas tanah dan area budidaya : a. luas tanah untuk kantor & gudang m2 2.500 b. jumlah jalur area budidaya jalur 30 3 Pembenihan : a. siklus usaha tahun 5 b. lama pemeliharaan tahun 1,5 c. ukuran spat cm 2–3 d. ukuran spat siap dioperasi cm minimal 9 e. intensitas operasi tiap tiram kali 2–3 f. jangka waktu panen 1 dan ke 2 tahun 1 g. jangka waktu panen 2 dan ke 3 tahun 1 4 Harga mutiara dan siput : a. spat ukuran 2 – 3 cm Rp/cm 2.500,00 b. harga mutiara Rp/gr 400.000,00 5 Tenaga kerja : a. tetap (termasuk manajemen) orang 5 b. tidak tetap orang 9 c. tenaga keamanan orang 3 6 Pakan untuk spat sampai panen tidak ada 7 Resiko kegagalan panen % 30 8 Isi kolektor ekor 200 – 300 9 Isi net (waring) ekor 20 10 Isi keranjang ekor 10 11 Harga nukleus Rp/kg 4.000.000,00 12 Kebutuhan nukleus kg 10 13 Biaya operasi nukleus ke tiram Rp 10.000,00 14 Jumlah spat yang dipelihara ekor 5.000 98 Berdasarkan asumsi-asumsi dasar di atas, kebutuhan investasi untuk usaha budidaya tiram mutiara disajikan pada Tabel 19. Investasi yang dibutuhkan untuk usaha budidaya tiram mutiara ini adalah Rp425.800.000,00 dengan umur usaha 5 tahun, maka nilai penyusutan per tahunnya adalah Rp84.960.000,00. Investasi merupakan biaya tetap (fixed cost) yang terdiri dari beberapa komponen seperti biaya perijinan, sewa tanah, sewa bangunan, konstruksi rakit untuk budidaya, dan peralatan-peralatan lainnya. Dalam proyek ini, areal budidaya adalah perairan laut tenang sehingga luas areal budidaya diukur dalam satuan jalur penggantung tiram untuk budidaya mutiara. Tabel 19 Kebutuhan investasi budidaya tiram mutiara Jenis Investasi Nilai (Rp) Penyusutan (Rp) Perijinan 25.000.000,00 Sewa tanah Kontruksi tambak Peralatan budidaya mutiara Bangunan 75.000.000,00 59.700.000,00 110.100.000,00 156.000.000,00 15.000.000,00 16.500.000,00 22.260.000,00 31.200.000,00 Jumlah 425.800.000,00 84.960.000,00 a) kredit 70% 298.060.000,00 b) dana sendiri 30% 127.740.000,00 Sumber dana investasi : Biaya operasional pada budidaya mutiara sedikit berbeda dengan biaya operasional untuk budidaya produk perikanan lainnnya. Biaya operasional pada budidaya mutiara lebih banyak bersifat tetap sepanjang waktu, mulai dari penebaran spat sampai dengan masa panen. Hal ini dikarenakan pada budidaya mutiara, tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk pakan. Biaya operasional pada budidaya mutiara terdiri dari biaya pembelian spat (anakan tiram mutiara), biaya tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya, seperti penyuntikkan/operasi tiram mutiara. Tabel 20 Biaya operasional budidaya tiram mutiara No 1 2 3 4 5 6 Jenis biaya Biaya pembelian spat dan nukleus Biaya tenaga kerja tetap Biaya tenaga kerja tidak tetap Biaya tenaga keamanan Biaya bola lampu sorot Biaya operasional dan lain-lain Jumlah Nilai (Rp) 52.500.000,00 450.000.000,00 82.125.000,00 648.000.000,00 1.500.000,00 150.000.000,00 1.384.125.000,00 99 Dari Tabel 20 menunjukkan besarnya pengeluaran biaya operasional budidaya tiram mutiara selama lima tahun. Biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk 3 kali penyuntikkan/operasi tiram mutiara dalam tahun produksi adalah Rp150.000.000,00 dimana biaya penyuntikkan/operasi Rp10.000,00 per tiram mutiara. Dana yang digunakan untuk investasi ini dilakukan pada tahun nol proyek. Sumber dana pembiayaan investasi diasumsikan 70% berasal dari kredit (Rp298.060.000,00) dan 30% modal sendiri (Rp127.740.000,00). Sumber kredit berasal dari perbankan dan jenis kredit komersial, yang syarat dan tingkat bunganya disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank. Untuk usaha budidaya mutiara ini, suku bunga kredit adalah 17% menurun. Perincian hitungan biaya operasional dan total aliran kas dapat dilihat pada Lampiran 15. Dalam proses produksi budidaya tiram mutiara, setelah dilakukan penyuntikkan/operasi memasukkan inti bundar pada ukuran tiram mutiara 9–10 cm atau setelah 1,5 tahun, maka produksi tiram mutiara akan terjadi pada 1,5 tahun kemudian atau pada tahun ke 3. Dengan mengoperasi 5.000 tiram mutiara, maka akan diperoleh hasil Rp1.750.000.000,00 angka ini memperhitungkan kegagalan maksimal 50% dengan harga jual mutiara Rp400.000,00 per gr. Secara lengkap, proyeksi aliran kas (cash flow) untuk budidaya tiram mutiara selama lima tahun dapat dilihat pada Lampiran 23. Dilihat cash flow selama lima tahun, bahwa pada tahun 0 sampai tahun 2, usaha budidaya ini mengalami defisit karena tiram yang dibudidayakan belum menghasilkan mutiara. Pada tahun ketiga sampai tahun ke-5, usaha budidaya tiram mutiara ini akan memberikan keuntungan Rp3.440.075.000,00. Kriteriakriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya tiram mutiara dengan di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21 Kriteria kelayakan usaha tiram mutiara di kabupaten Kupang No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 17% (Rp) Net B/C pada DF 17% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP usaha kredit Break event point/BEP : unit (gr) unit (Rp/gr) Nilai kelayakan 466.431.739,00 1,60 25,7 tahun ke-4 3,7 tahun 3.650 37.542,00 100 Hasil perhitungan kelayakan usaha budidaya tiram mutiara menunjukkan bahwa investasi di bidang usaha budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Dari Tabel 21 terlihat bahwa dalam jangka waktu 4 tahun usaha ini mampu mengembalikan modal investasinya atau tepatnya 3 tahun 8 bulan dana kredit itu dapat dibayar kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp466.431.739,00 dengan Net B/C 1,60 pada tingkat diskon (DF) 17%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang secara finansial sangat layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 25,7% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 17% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang layak untuk diusahakan. Berikutnya untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya teripang putih ini setiap tahunnya minimum sebanyak 3.650 gr atau Rp37.550,00 per gr. d. Budidaya Teripang Usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponenkomponen biaya investasi ini meliputi : a) pembuatan unit penculture berukuran 50 m x 10 m, b) jaring (net), dan c) Tali PE. Sedangkan untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan bibit, pakan tambahan, tenaga kerja, perawatan penculture, dan biaya pengeringan. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di lokasi penelitian dan beberapa asumsi sebagai berikut : (1) umur investasi 1 tahun dan lama pemeliharaan 7 bulan, (2) ukuran penculture seluas 500 m2, (3) padat tebar 15 ekor setiap m2, (4) kebutuhan bibit 7.500 ekor, (5) mortalitas 20%, (6) berat rata-rata panen 200 gr, (7) produksi basah 1200 kg dan produksi kering 120 kg, dan (8) harga jual teripang Rp650.000,00 per kg. Atas dasar asumsi-asumsi di atas, perkiraan biaya investasi sebesar Rp7.296.000,00 dan biaya produksi sebesar Rp53.432.000,00 untuk usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang, 101 selanjutnya, analisis cash flow dan kelayakan Investasi yang menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture selama 1 tahun usaha. Pada Lampiran 15 terlihat bahwa investasi di bidang usaha budidaya teripang putih di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Kriteria-kriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22 Kriteria kelayakan usaha teripang putih dengan sistem Penculture No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 18% (Rp) Net B/C pada DF 18% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP Break event point/BEP : unit (kg) unit (Rp/kg) Nilai kelayakan 30.167.026,00 1,22 74 tahun ke-1 98,18 177.270,00 Dari Tabel 22 terlihat bahwa dalam jangka waktu 1 tahun atau tepatnya 1 kali produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp30.167.026,00 dengan Net B/C 1,22 pada tingkat diskon (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang secara finansial sangat layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 74% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang sangat layak untuk diusahakan. Berikutnya untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya teripang putih ini setiap tahunnya minimum sebanyak 98,18 kg atau Rp177.270,00 per kg. 5.4 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis potensi keruangan (spasial) dengan menggunakan SIG untuk tiga kecamatan di Kabupaten Kupang, didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2, 3,91 km2 102 untuk budidaya KJA, 1,91 km2 untuk budidaya tiram mutiara, dan budidaya teripang sebesar 2,37 km2. Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan, budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline seluas 3000 m2, budidaya KJA pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 61.001 unit keramba berukuran 64 m2, budidaya tiram mutiara pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 38.887 unit keramba berukuran 49 m2, dan budidaya teripang pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 4.743 unit penculture berukuran 500 m2. Bidang usaha budidaya laut dalam penelitian ini yang meliputi budidaya KJA, rumput laut, tiram mutiara dan teripang merupakan peluang usaha yang mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha budidaya KJA layak dengan B/C sebesar 1,65 pada DF 18% dan PBP 1,02 tahun (1 tahun 7 hari) produksi dana yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan, usaha rumput laut sangat layak dengan B/C sebesar 1,44 pada DF 18% dan PBP 0,5 tahun (5 siklus produksi) dana yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan, usaha tiram mutiara layak dengan B/C sebesar 1,60 pada DF 17% dan PBP 4 tahun modal yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan (kredit dikembalikan di 3 tahun 8 bulan), dan usaha teripang sangat layak dengan B/C sebesar 1,22 pada DF 18% dan PBP 1 tahun produksi dana yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan. 6 TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KUPANG Abstrak Dalam rangka pembangunan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan, kementerian kelautan dan perikanan mencanangkan program minapolitan. Salah satu tujuan dari program minapolitan adalah mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra-sentra produksi perikanan sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Metode analisis data yang dipakai mencakup analisis tipologi, skalogram, sentralitas, AHP, MPE, dan ISM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah studi di Kabupaten Kupang ini termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II dengan 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dimana peran nelayan/pembudidaya sangat dibutuhkan dalam hal peningkatan sumberdaya manusia untuk tujuan peningkatan pendapatan masyarakat. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. Kendala yang dihadapi adalah lemahnya tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut dan cara mengatasinya adalah dengan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Kata kunci : perkembangan wilayah, minapolitan 6.1 Pendahuluan Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 Bab IV Butir G mengamanatkan arah kebijakan pembangunan daerah kawasan timur Indonesia yaitu (1) mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi daerah, serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan (2) meningkatkan pembangunan di seluruh daerah, terutama di kawasan timur Indonesia dengan berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Berdasarkan komitmen pemerintah tersebut di atas, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan program minapolitan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nelayan/pembudidaya yang adil dan merata dan mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan 104 ekonomi daerah. Dalam rangka penetapan suatu wilayah untuk pengembangan minapolitan, sebaiknya terlebih dahulu dikaji sejauhmana tingkat perkembangan wilayah tersebut sehingga dapat diketahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapai serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan. Adapun metode analisis data yang dipakai dalam penelitian ini seperti analisis tipologi, skalogram, sentralitas, AHP, MPE, dan ISM. Analisis tipologi digunakan untuk mengindentifikasi berbagai karakteristik dari masing-masing kawasan, analisis skalogram digunakan untuk mengetahui jumlah dan jenis sarana pelayanan (fasilitas) yang dimiliki oleh setiap wilayah, AHP dipakai dalam menentukan elemen-elemen kunci untuk ditangani, MPE digunakan untuk menentukan prioritas alternatif keputusan lokasi industri pengolahan dan lokasi pasar, dan ISM digunakan untuk mengkaji alternatif-alternatif yang dapat dipilih dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kondisi masyarakat setempat. 6.2 Metode Analisis Kajian Tingkat Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kupang 6.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis dan data yang diperlukan dalam kaitannya dengan analisis tingkat perkembangan wilayah untuk pengembangan kawasan minapolitan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang diperlukan berupa data persepsi masyarakat dan pendapat pakar berkaitan dengan alternatif pengembangan kawasan minapolitan, sedangkan data sekunder yang diperlukan berupa data jumlah dan tingkat kepadatan penduduk, jumlah kepala keluarga (kk), jumlah keluarga sejahtera, jumlah keluarga pra sejahtera, keluarga pemakai PLN, banyak desa terpencil, jarak desa ke kecamatan dan Kabupaten, sarana dan prasarana umum, sarana dan prasarana budidaya laut, sarana dan prasarana kesejahteraan sosial, luas kawasan minapolitan, komoditas unggulan, produksi budidaya laut, tingkat pendidikan, jumlah dan jenis sarana pelayanan (fasilitas), keberadaan kelembagaan pasar, keberadaan kelembagaan budidaya, kelembagaan sosial, dan kebijakan atau peraturan-peraturan yang ada. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dari para stakeholder yang berperan 105 dalam menyusun strategi pengembangan minapolitan, sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil studi kepustakaan pada berbagai instansi yang terkait. 6.2.2 Metode Pengumpulan Data Data primer diperoleh dari hasil diskusi, kuisioner, wawancara, dan survei lapangan dengan responden pakar dan masyarakat di wilayah studi, sedangkan data sekunder diperoleh dari beberapa sumber kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian. 6.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam mengkaji tingkat perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang terdiri atas analisis tipologi, skalogram, analisis hirarki proses (AHP), metode perbandingan eksponensial (MPE), dan interpretatif struktural modeling (ISM). a. Analisis Tipologi Kawasan Analisis tipologi kawasan diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik dari masing-masing kawasan. Dalam analisis tipologi kawasan ini digunakan analisis berstrata, analisis komponen utama (principal component analysis/PCA), dan analisis cluster. Dalam analisis strata (Deptan, 2002), membagi wilayah untuk pengembangan kawasan minapolitan atas tiga strata yaitu strata pra kawasan minapolitan I, strata pra kawasan minapolitan II, dan strata kawasan minapolitan. Ada lima variabel penciri yang digunakan sebagai indikator penilaian yaitu komoditas unggulan yang dikembangkan, kelembagaan pasar, kelembagaan nelayan, kelembagaan balai penyuluh perikanan (BPP) dan kelengkapan sarana dan prasarana wilayah yang dimiliki. Dalam analisis komponen utama digunakan untuk menentukan peubahpeubah yang paling dominan mempengaruhi strata kawasan minapolitan. Penggunaan analisis komponen utama dimaksudkan untuk mendapatkan variabel baru dalam jumlah lebih kecil dari sejumlah variabel yang dianalisis dimana variabel baru tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan strata kawasan. Variabel yang lebih kecil dapat 2 atau 3 atau lebih tergantung subjektivitas analis, tetapi menurut Iriawan dan Astuti (2006), bahwa apabila total variasi populasi sekitar 80-90% untuk jumlah variabel yang besar dapat diterangkan oleh 2 atau 3 komponen utama (Principal Component), maka kedua atau ketiga komponen dapat menggantikan variabel semula tanpa menghilangkan banyak informasi dan multikolinearitas (hubungan korelasi antar 106 variabel-variabel penjelas), selanjutnya dilakukan analisis cluster untuk mengelompokkan unit-unit wilayah ke dalam kelompok yang lebih homogen berdasarkan kemiripan yang dimiliki. Analisis komponen utama dan analisis cluster dilakukan dengan menggunakan software Minitab 14. b. Analisis Skalogram - Sentralitas Analisis skalogram digunakan untuk mengetahui jumlah dan jenis sarana pelayanan (fasilitas) yang dimiliki oleh setiap wilayah. Dalam metode ini, seluruh fasilitas yang dimiliki setiap wilayah didata dan disusun dalam satu tabel dimana unit wilayah yang memiliki fasilitas lebih lengkap diletakkan paling atas, dan selanjutnya unit wilayah yang memiliki fasilitas kurang lengkap. Secara umum, fasilitas yang dimiliki oleh setiap unit wilayah dikelompokkan menjadi enam yaitu fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas ibadah, fasilitas olah raga, fasilitas keamanan, mengelompokkan dan hirarki fasilitas wilayah ekonomi. berdasarkan Analisis sentralitas kelengkapan sarana untuk dan prasarana yang dimiliki, seperti berikut ini : 1. Kelompok I (tingkat perkembangan tinggi) diasumsikan sebagai kelompok desa yang memiliki jumlah jenis, jumlah unit sarana dan prasarana, serta kepadatan penduduk yang lebih besar atau sama dengan rata-rata + 2x standar deviasi. 2. Kelompok II (tingkat perkembangan sedang) diasumsikan sebagai kelompok desa yang memiliki jumlah jenis, jumlah unit sarana dan prasarana, dan kepadatan penduduk antara rata-rata sampai rata-rata + 2x standar deviasi. 3. Kelompok III (tingkat perkembangan rendah) diasumsikan sebagai kelompok desa yang memiliki jumlah jenis, jumlah unit sarana dan prasarana, dan kepadatan penduduk kurang dari nilai rata-rata. c. Analisis Hirarki Proses (AHP) AHP (analytical hierarchy process) digunakan untuk menentukan elemenelemen kunci untuk ditangani. Analisis ini diharapkan persoalan-persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepatkan proses pengambilan keputusannya. Dalam AHP didasarkan pada hasil pendapat pakar (expert judgment) untuk menjaring berbagai informasi dari beberapa elemen-elemen yang berpengaruh dalam penyelesaian suatu persoalan. Penilaian alternatif dan kriteria ini didapatkan dari kuisioner yang diberikan dan diisi oleh para pakar dari 107 berbagai multi disiplin. Dalam analisis AHP, urutan prioritas setiap elemen dinyatakan dalam nilai numerik atau persentasi. Elemen-elemen yang dikaji disusun dalam lima level, yakni : fokus, faktor, aktor, tujuan, dan alternatif. Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi perbandingan B dengan A. Analisis ini dilakukan untuk menentukan alternatif pengembangan kawasan minapolitan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis ini adalah : a. Menyusun struktur hirarki dari kriteria dan alternatif penyelesaian. b. Penilaian kriteria dan alternatif, dinilai melalui perbandingan berpasangan. Skala penilaian oleh pakar didasarkan pada skala nilai yang dikeluarkan oleh Saaty (1993) seperti yang disajikan pada Tabel 23. c. Penentuan prioritas untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. d. Konsistensi logis semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Tabel 23 Skala penilaian perbandingan berpasangan (Saaty, 1993) Nilai Keterangan Penjelasan Skor Kriteria yang satu dengan Kedua elemen mempunyai 1 lainnya sama penting. pengaruh yang sama pentingnya. Kriteria yang satu sedikit lebih Pengalaman dan pertimbangan penting (agak kuat) dibanding sedikit menyokong satu elemen 3 kriteria lainnya. atas elemen lainnya. Kriteria yang satu sifatnya lebih Pengalaman dan pertimbangan 5 penting (lebih kuat pentingnya) dengan kuat menyokong satu dibanding kriteria lainnya. elemen atas lainnya. Kriteria yang satu sangat Satu elemen yang kuat disokong penting dibanding kriteria dan dominannya telah terlihat 7 lainnya. dalam praktek. Bukti yang menyokong elemen Kriteria yang satu ekstrim yang satu atas yang lainnya 9 pentingnya banding kriteria memiliki tingkat penegasan lainnya. tertinggi yang mungkin menguatkan. Nilai tengah di antara dua nilai Nilai ini diberikan jika ada dua 2,4,6,8 skor penilaian diatas. kompromi diantara dua pilihan. d. Analisis Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) Metode perbandingan eksponensial (MPE) merupakan salah satu metode untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan kriteria jamak. 108 Teknik ini digunakan sebagai pembantu bagi individu pengambilan keputusan untuk menggunakan rancang bangun model yang telah terdefinisi dengan baik pada tahapan proses. Tahapan yang harus dilakukan dalam MPE adalah menyusun alternatif-alternatif keputusan yang akan dipilih, menentukan kriteria atau perbandingan kriteria keputusan yang penting untuk dievaluasi, menentukan tingkat kepentingan dari setiap kriteria keputusan atau pertimbangan kriteria, melakukan penilaian terhadap semua alternatif pada setiap kriteria, menghitung skor atau nilai total setiap alternatif dan menentukan urutan prioritas keputusan didasarkan pada skor atau nilai total masing-masing alternatif (Marimin, 2005). Adapun formulasi perhitungan skor untuk setiap alternatif dalam MPE adalah: …………………………………..(15) Total Nilai (TN) = dimana : TNi = Total nilai alternatif ke-i RKij = derajat kepentingan relatif kriteria ke-j pada pilihan keputusan i TKKj = derajat kepentingan kriteria keputusan ke-j; TKKj > 0; bulat j = jumlah pilihan keputusan m = jumlah kriteria keputusan Penentuan tingkat kepentingan kriteria dilakukan dengan cara wawancara dengan pakar atau melalui kesepakatan curah pendapat. Sedangkan penentuan skor alternatif pada kriteria tertentu dilakukan dengan memberi nilai setiap alternatif berdasarkan nilai kriterianya. Keuntungan dari MPE adalah mengurangi bias yang mungkin terjadi dalam analisa. Nilai skor yang menggambarkan urutan prioritas menjadi besar (fungsi eksponensial) ini mengakibatkan urutan prioritas alternatif keputusan lebih nyata. Penggunaan MPE dalam penelitian ini adalah untuk menentukan prakiraan lokasi pengolahan hasil produksi dan prakiraan pasar produk budidaya laut di Kabupaten Kupang. e. Interpretatif Struktural Modeling (ISM) Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem dengan metode interpretative structural modelling (ISM). Metode ini dapat digunakan untuk membantu suatu kelompok, dalam mengidentifikasi hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen yang membentuk suatu sistem berdasarkan gagasan/ide atau struktur penentu dalam sebuah masalah yang komplek (Saxena et al., 1992). Beberapa kategori struktur dan kategori gagasan/ide yang mencerminkan hubungan kontekstual antar elemen dapat dikembangkan dengan 109 memakai ISM, seperti struktur pengaruh (misal “sub elemen Ei mempengaruhi munculnya sub elemen Ej”), struktur prioritas (misal “sub elemen Ei lebih prioritas daripada sub elemen Ej), atau gagasan/ide kategori (misal sub elemen Ei memeiliki kategori yang sama dengan sub elemen Ej) (Kanungo dan Bhatnagar, 2002). Langkah-langkah identifikasi hubungan antar sub elemen dalam suatu sistem yang kompleks dengan metode ISM adalah : 1. Identifikasi elemen-elemen sistem. Elemen-elemen sistem dan sub elemennya sistem diidentifikasi dan didaftar. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui penelitian, brainstorming atau lainnya. 2. Penetapan hubungan kontekstual antar elemen. Hubungan kontekstual antar elemen atau sub elemen ditetapkan sesuai dengan tujuan dari pemodelan. 3. Pembentukan structural self interaction matrix (SSIM). Matriks ini merupakan hasil persepsi pakar responden terhadap hubungan kontekstual antar elemen atau antar sub elemen. Empat macam simbol untuk menyajikan tipe hubungan yang ada adalah: a. Simbol V untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ei terhadap elemen Ej, tetapi tidak sebaliknya. b. Simbol A untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ej terhadap elemen Ei, tetapi tidak sebaliknya. c. Simbol X untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas secara timbal balik antara elemen Ei dengan elemen Ej d. Simbol O untuk menyatakan tidak adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ei dan elemen Ej. 4. Pembentukan Reachability Matrix (RM). Matriks ini adalah matriks biner hasil konversi dari SSIM. Aturan konversi dari SSIM menjadi RM adalah: a. Jika simbol dalam SSIM adalah V, maka nilai Eij = 1 dan nilai Eji = 0 dalam RM b. Jika simbol dalam SSIM adalah A, maka nilai Eij = 0 dan nilai Eji = 1 dalam RM c. Jika simbol dalam SSIM adalah X, maka nilai Eij = 1 dan nilai Eji = 1 dalam RM 110 d. Jika simbol dalam SSIM adalah O, maka nilai Eij = 0 dan nilaiEji = 0 dalam RM Matriks RM awal perlu dimodifikasi untuk menunjukkan direct dan indirect reachability, yaitu kondisi dimana jika Eij = 1 dan Ejk = 1 maka Eik = 1. Eij adalah kondisi hubungan kontekstual antara elemen Ei terhadap elemen Ej. Dari matriks RM yang telah dimodifikasi didapat nilai driver power (DP) dan nilai dependence (D). Berdasarkan nilai DP dan D, elemen-elemen dapat diklasifikasikan kedalam 4 sektor (Gambar 18), yaitu: a) Sektor autonomous yaitu sektor dengan nilai DP rendah dan nilai D rendah. Elemen-elemen yang masuk dalam sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistem atau memiliki hubungan sedikit b) Sektor dependent yaitu sektor dengan nilai DP rendah dan nilai D tinggi. Elemen yang masuk dalam sektor ini elemen yang tidak bebas dalam sistem dan sangat tergantung pada elemen lain. c) Sektor linkage yaitu sektor dengan nilai DP tinggi dan nilai D tinggi. Elemen yang masuk dalam sektor ini harus dikaji secara hati-hati karena perubahan pada elemen tersebut akan berdampak pada elemen lainnya dan yang pada akhirnya akan kembali berdampak pula pada elemen tersebut. d) Sektor independent yaitu sektor dengan nilai DP tinggi dan nilai D rendah. Elemen yang masuk dalam sektor ini dapat dianggap sebagai elemen bebas. Setiap perubahan dalam elemen ini akan berimbas pada elemen lainnya sehingga elemen-elemen dalam sektor ini juga harus dikaji secara hati-hati. 113 banyak faktor-faktor pendukung lain yang bersifat spesifik yang menggambarkan variabilitas kawasan yang dapat dijadikan sebagai indikator penilaian. Analisis tipologi kawasan yang didasarkan pada variabel-variabel yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan principal component analysis (PCA) atau lebih dikenal dengan analisis komponen utama (AKU). Dalam penelitian ini, variabel-variabel terpilih yang dianalisis dengan menggunakan teknik PCA antara lain jumlah penduduk (jiwa), jarak kecamatan ke kabupaten (km), jumlah kepala keluarga (kk), sarana dan prasarana umum (unit), sarana dan prasarana budidaya laut (unit), jumlah komoditas budidaya laut (jenis), keluarga pemakai PLN (kk), desa/kelurahan terpencil (desa), jumlah keluarga prasejahtera (kk), jumlah keluarga sejahtera (kk), jumlah pembudidaya rumput laut (jiwa), potensi lahan budidaya laut (ha), luas lahan budidaya laut (ha), produksi rumput laut (ton). Keragaman setiap variabel disajikan pada Tabel 24. Tabel 24 Keragaman variabel yang menggambarkan perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang Kecamatan No Variabel Kupang Semau Sulamu Barat 1 Jumlah penduduk (jiwa) 11.395 6.425 14.610 2 Jarak kecamatan ke kabupaten (km) 26 28 84 3 Jumlah kepala keluarga (kk) 2.473 1.632 3.193 4 Sarana dan prasarana umum (unit) 2.990 3.306 4.402 Sarana dan prasarana budidaya laut 5 137 107 242 (unit) 6 Jumlah komoditas budidaya laut (jenis) 3 2 4 7 Keluarga pemakai PLN (kk) 1.752 1.107 1.206 8 Desa/kelurahan terpencil (desa) 2 0 0 9 Jumlah keluarga prasejahtera (kk) 668 516 1.270 10 Jumlah keluarga sejahtera (kk) 1.047 678 991 11 Jumlah pembudidaya rumput laut (jiwa) 1.663 995 200 12 Potensi lahan budidaya laut (ha) 3824 952 750 Luas lahan pemanfaatan budidaya laut 13 952 121,3 750 (ha) 14 Produksi rumput laut (ton) 27.000 19.000 1.041,86 Sumber : BPS Kabupaten Kupang, 2010 dan DKP Kabupaten Kupang, 2008 Hasil analisis komponen utama menunjukkan bahwa setiap variabel memberikan pengaruh yang berbeda-beda antara satu variabel dengan variabel lainnya yang menggambarkan keragaman tipologi wilayah pengembangan 114 kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. Namun demikian, keragaman tipologi wilayah yang disebabkan oleh keseluruhan variabel yang dapat dianalisis dapat disederhanakan menjadi kelompok variabel yang lebih kecil yang dapat menggambarkan keseluruhan informasi yang terkandung dalam semua variabel. Berdasarkan ketetapan total persentasi kumulatif sebagaimana ditetapkan oleh Iriawan dan Astuti yaitu sebesar 80–90%, maka dari 14 variabel yang dianalisis, dapat disederhanakan menjadi 5 variabel yang menyebar dalam dua komponen utama (PC) yaitu komponen utama 1 (PC1), dan komponen utama 2 (PC2) dengan nilai proposi eigenvalue masing-masing 61,4% dan 38,6% atau persentase kumulatifnya menjadi 100%. Hasil analisis komponen utama seperti terlihat pada Lampiran 17. Adapun variabel-variabel dari kedua komponen utama (PC1 dan PC2) hasil penyederhanaan variabel meliputi jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, jumlah sarana dan prasarana umum, jumlah komoditas budidaya laut, dan banyaknya keluarga pra sejahtera. Ini berarti kelima variabel tersebut di atas dapat menjelaskan variabilitas keempat belas variabel yang berpengaruh terhadap tipologi wilayah pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang atau dengan kata lain kelima variabel baru hasil analisis komponen utama dapat menjelaskan sekitar 100% (totalitas variabilitas variabel). Adanya perbedaan tipologi wilayah terhadap kecamatan di Kabupaten Kupang sangat dipengaruhi oleh keragaman variabel-variabel spesifisik yang dimiliki oleh setiap desa pada setiap kecamatan. Namun demikian keragaman setiap variabel pada setiap desa dapat dikelompokkan menjadi kelompok variabel yang lebih kecil dan homogen berdasarkan kemiripan setiap variabel yang dimiliki oleh setiap desa. Untuk mengelompokkan desa-desa yang memiliki kemiripan berdasarkan keragaman variabel, dapat dilakukan dengan analisis cluster. Tujuan dari analisis cluster terhadap desa-desa di kecamatan adalah memaksimumkan keragaman antar kelompok desa dan meminimumkan keragaman antar kelompok desa. Dalam analisis cluster ini, ada 24 desa di tiga kecamatan wilayah studi masing-masing 9 desa di Kecamatan Kupang Barat, 8 desa di Kecamatan Semau, dan 7 desa di Kecamatan Sulamu, dimana 24 desa tersebut akan dibagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan kemiripan karakateristik yang dimiliki. Karakteristik setiap desa disajikan pada Lampiran 18 dan hasil analisis cluster dapat dilihat pada Gambar 19. 117 Berdasarkan kemiripan karakteristik desa yang dimiliki setiap tipologi wilayah kecamatan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum tipologi wilayah I terlihat lebih berkembang dibandingkan dengan tipologi wilayah II dan III. Namun demikian untuk tujuan pengembangan kawasan minapolitan ke depan di Kabupaten Kupang, maka semua kelompok desa baik yang termasuk dalam tipologi I, II dan III ini memerlukan penanganan yang serius terutama dalam melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan, baik sarana dan prasarana umum maupun sarana dan prasarana pendukung kegiatan perikanan budidaya. Hasil analisis tipologi kawasan Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 25. Sarana dan prasarana budidaya laut yang perlu dibenahi seperti lahan budidaya laut (perairan yang kesesuaiannya sesuai peruntukan jenis budidaya laut), lembaga usaha (koperasi, kelompok usaha atau usaha skala menengah dan atas), penyuluhan dan pelatihan (lembaga dan sumberdaya manusia untuk penyuluhan dan pelatihan), prasarana budidaya (alat dan mesin budidaya laut), industri pengolahan, energi (jaringan listrik dan air yang memadai), dan penerapan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan daya saing budidaya laut (seperti teknologi kantung berkarbon untuk budidaya rumput laut ), selain itu juga, dibutuhkan aksesibilitas nelayan/pembudidaya dan pengolah hasil budidaya yang baik sehingga dapat meningkatkan produktifitas budidaya laut. Prasarana infrastruktur seperti jalan, jembatan, sistem dan alat transportasi baik darat maupun laut perlu dibenahi sehingga proses budidaya dari hulu ke hilir sehingga akses terhadap jaringan pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pemasaran (mata rantai pemasokan-supply chains) dapat terhubung dengan baik. Karakteristik kawasan minapolitan salah satunya adalah mempunyai sarana dan prasarana yang memadai sebagai pendukung keanekaragaman aktivitas ekonomi sebagaimana layaknya sebuah kota. Dari analisis tipologi wilayah yang telah dilakukan pada desa-desa di 3 kecamatan menunjukkan bahwa sarana dan prasarana umum yang telah ada di masing-masing desa dalam keadaan baik dan mencukupi kebutuhan masyarakat sekarang. Namun demikian, hasil analisis tipologi wilayah di Kabupaten Kupang yang terbagi atas 3 kelas perlu dibenahi sarana dan prasarana umum dan budidaya laut agar dapat dikembangkan menjadi kawasan minapolitan berbasis budidaya laut dan mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kupang. 118 6.3.2 Perkembangan Wilayah berdasarkan Kelengkapan Fasilitas Tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Kupang sangat berhubungan dengan potensi sumberdaya alam, potensi sumberdaya manusia, maupun kelengkapan fasilitas yang dimiliki. Dilihat dari potensi sumberdaya manusia, wilayah ini memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Dari tiga kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang telah memiliki jumlah penduduk sekitar 32.430 jiwa (BPS Kabupaten Kupang, 2010). Jumlah penduduk yang cukup besar ini telah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai satu kawasan pengembangan minapolitan, hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa sebagian besar penduduk bahkan seluruh penduduk di kecamatan yang berada di wilayah pesisir mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan/pembudidaya dan menggantungkan hidupnya dari laut. Namun permasalahan yang dihadapi adalah bahwa kualitas sumberdaya manusia di wilayah ini masih tergolong rendah, mereka hanya dapat mengecap pendidikan dasar bahkan sedikit yang melanjutkan ke tingkat lanjutan (SLTP dan SLTA). Rendahnya kualitas sumberdaya manusia di wilayah ini, disebabkan oleh minimnya sarana pendidikan terutama sarana pendidikan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dilihat dari potensi sumberdaya alam, sektor perikanan merupakan tulang punggung penggerak perekonomian di wilayah Kabupaten Kupang, baik sebagai sumber konsumsi masyarakat dan penghasilan atau penyedia lapangan kerja sebagian besar penduduknya, maupun sebagai penghasil nilai tambah dan devisa daerah. Dari keseluruhan penduduk, sekitar 90% masyarakatnya adalah keluarga nelayan/pembudidaya. Mereka menggantungkan hidup dan keluarga dari kegiatan perikanan baik tangkap dan budidaya. Namun demikian fasilitas pendukung untuk meningkatkan produksi perikanan mereka masih minim, sehingga produksi perikanan mereka masih belum maksimal. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki, wilayah ini memiliki fasilitas yang beragam dari fasilitas yang sangat minim sampai fasilitas yang lebih lengkap yang menyebar pada setiap desa. Untuk mengetahui tingkat perkembangan kawasan pengembangan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang dapat dilakukan dengan menggunakan analisis skalogram. Dalam analisis skalogram, akan dihasilkan hirarki wilayah berdasarkan kelengkapan fasilitas yang dimiliki, dimana hirarki wilayah yang paling tinggi ditentukan oleh 119 semakin banyaknya jenis dan jumlah fasilitas yang dimiliki dan demikian sebaliknya, semakin sedikitnya fasilitas yang dimiliki terutama dari segi jenis fasilitas, menggambarkan semakin rendahnya hirarki wilayah. Fasilitas-fasilitas yang dapat dikaji berupa fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas penunjang lainnya seperti fasilitas pendukung budidaya laut. Hirarki wilayah desa berdasarkan hasil analisis skalogram pada tiga kecamatan di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26 Hirarki wilayah desa dari tiga kecamatan pesisir di Kabupaten Kupang berdasarkan kelengkapan fasilitas No 1 Kecamatan Kupang Barat Desa Jumlah penduduk (Jiwa) Tablolong Lifuleo 2 3 Semau Sulamu Jumlah jenis Jumlah unit 1010 14 484 986 12 175 Tesabela 1015 19 259 Sumlili 1492 16 346 Oematnunu 1643 20 368 Kuanheun 1336 13 229 Nitneo 1073 14 255 Bolok 2273 15 736 Oenaek 567 11 138 Bokonusan 978 20 493 Otan 767 23 636 Uitao 745 23 473 Huilelot 699 21 331 Uiasa 1153 25 381 Hansisi 1276 24 673 Batuinan 333 14 198 Letbaun 474 14 121 Sulamu 4589 26 932 Pitai 942 19 246 Pariti 3203 21 1276 Oeteta 2435 24 1030 Bipolo 1792 21 567 Pantulan Pantai Beringin 1134 16 174 515 14 177 Sumber : BPS Kabupaten Kupang, 2010 Hasil analisis skalogram pada Tabel 26 menunjukkan bahwa desa yang menduduki hirarki wilayah tertinggi berdasarkan kelengkapan jenis fasilitas yang dimiliki adalah Kelurahan Sulamu dengan jumlah jenis dan banyaknya fasilitas 120 sebanyak 26 jenis dan 932 unit. Jumlah penduduk yang bermukim di desa ini sekitar 4589 jiwa dengan kepadatan penduduk hanya sekitar 139 jiwa/km2. Kelurahan Sulamu merupakan ibukota Kecamatan Sulamu dengan jarak tempuh yang dekat ke Kota Kupang jika ditempuh dengan transportasi laut seperti feri. Desa ini lebih terlihat lebih berkembang dibandingkan desa-desa lainnya, hal ini dicirikan dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki baik fasilitas umum maupun fasilitas pendukung, seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas penunjang lainnya seperti fasilitas pendukung budidaya laut. Fasilitas pendidikan cukup lengkap seperti Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) baik negeri maupun swasta. Fasilitas kesehatan juga tersedia cukup lengkap. Desa ini telah memiliki fasilitas kesehatan seperti puskesmas, puskesmas pembantu, BKIA/polindes dan posyandu. Sedangkan fasilitas sosial dan kelembagaan juga sudah tersedia seperti sarana ibadah baik agama kristen protestan, kristen khatolik dan islam, sarana telekomunikasi, koperasi unit desa (KUD) dan lembaga penyuluh dan pelatihan untuk nelayan/pembudidaya. Hirarki wilayah desa paling rendah adalah desa Oenaek di kecamatan Kupang Barat. Jumlah penduduk yang bermukim di desa ini sekitar 567 jiwa dengan kepadatan penduduk hanya sekitar 40 jiwa/km2. Jumlah jenis dan banyaknya fasilitas sebanyak 11 jenis dan 138 unit yang merupakan jumlah yang sangat minim dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Desa Oenaek cukup jauh dari ibukota kecamatan maupun ibukota kabupaten. Untuk menuju ke wilayah ini dibutuhkan perjalanan sejauh 32,5 km dari ibukota kabupaten. Di desa ini hanya memiliki satu SD swasta, satu polindes dengan satu tenaga bidan, dua posyandu, dua gereja bagi agama kristen protestan, tidak ada lembaga koperasi dan perputaran ekonomi hanya pada sembilan kios kecil. Fasilitas lainnya tidak tersedia pada desa ini. Pengelompokkan hirarki wilayah desa dapat dilakukan dengan analisis sentralitas. Dalam analisis kelengkapan fasilitas yang sentralitas, dimiliki tiap parameter desa. yang Hasil diukur analisis ini adalah akan menggambarkan tingkat perkembangan desa yang dapt dibagi atas tiga kelompok yaitu : a. Kelompok I adalah desa dengan tingkat perkembangan tinggi (maju) yaitu apabila memiliki nilai indeks sentralitas jenis fasilitas sebesar nilai rata-rata + 2 kali standar deviasi. 131 Pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu pada kata “empowerment” yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang bepusat pada manusia (peoplecentered development) sumberdaya lokal ini kemudian (community-based melandasi wawasan pengelolaan yang merupakan management), mekanisme perencanaan people-centered development yang menekankan pada teknologi pembelajaran sosial (social learning) dan strategi perumusan program. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengaktualisasikan dirinya (empowerment). Pengelolaan berbasis masyarakat atau biasa disebut community-based management merupakan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan masyarakat lokal sebagai dasar pengelolaanya. Selain itu mereka juga memiliki akar budaya yang kuat dan biasanya tergabung dalam kepercayaannya (religion). Definisi pengelolaan berbasis masyarakat sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, di mana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut. Undang-undang No.31 tahun 2004 tentang perikanan dalam pasal 6 ayat (2) berbunyi : Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran-serta masyarakat. Dengan demikian sumberdaya manusia Kabupaten Kupang haruslah menjadi tolak ukur dari faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut. Setelah faktor sumberdaya manusia ditingkatkan, maka faktor selanjutnya adalah penetapan kebijakan pemerintah mengenai pengembangan kawasan minapolitan. Pengertian dari penetapan kebijakan pemerintah ini adalah perlu adanya suatu komitmen yang kuat dari pemerintah terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Kupang dalam hal budidaya laut. Hal ini telah ditegaskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 yang mengamanatkan arah kebijakan pembangunan daerah kawasan timur Indonesia yaitu (1) mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat 132 dengan memberdayakan pelaku dan potensi daerah, serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan (2) meningkatkan pembangunan di seluruh daerah, terutama di kawasan timur Indonesia dengan berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Amanat GBHN ini selanjutnya dijabarkan dalam Undang-undang No. 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional (propenas) 2000-2004 yang menekankan bahwa program peningkatan ekonomi wilayah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah dengan memperhatikan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif daerah melalui peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap faktor-faktor produksi, peningkatan kemampuan kelembagaan ekonomi lokal dalam menunjang proses kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran serta menciptakan iklim yang mendukung bagi investor di daerah yang menjamin berlangsungnya produktivitas dan kegiatan usaha masyarakat dan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Sasaran yang ingin dicapai adalah berkembangnya ekonomi wilayah yang menunjang perluasan kesempatan kerja dan berusaha, serta keterkaitan ekonomi antara desa-kota dan antar wilayah yang saling menguntungkan. Menyikapi konsep minapolitan oleh kementerian kelautan dan perikanan dalam Peraturan Menteri No. 12 tahun 2010 tentang minapolitan yang bertujuan meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas produk kelautan dan perikanan; meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan yang adil dan merata; dan mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah; penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah Kabupaten Kupang dalam menetapkan kebijakan pengembangan wilayah di sektor kelautan. Setelah penetapan kebijakan pengembangan kawasan minapolitan, maka faktor selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya alam, permodalan dan pemasaran. Dari segi sumberdaya alam, wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan sektor kelautan terutama budidaya laut. Hal ini terlihat dari kondisi kesesuaian perairan laut yang sangat mendukung bagi sektor kelautan tersebut. Dari sisi permodalan, umumnya nelayan/pembudidaya di wilayah ini menggunakan modal sendiri dalam kegiatan budidaya. Sedangkan dari sisi pemasaran, wilayah Kabupaten Kupang memiliki jarak tempuh yang dapat dijangkau dengan sarana transportasi laut maupun darat dengan pelabuhan 135 menjaga kualitas (mutu) pemenuhan kebutuhan tersebut sehingga dihasilkan daya saing bersama untuk kepentingan bersama. 3. Penguatan kelembagaan nelayan/pembudidaya baik kelembagaan non formal seperti pengajian/kebaktian, kelompok arisan, kelompok gotong royong, karang taruna, paguyuban, dan pedagang pengumpul desa (PPD) maupun kelembagaan formal seperti kelompok nelayan/pembudidaya dan balai penyuluhan perikanan budidaya (BPPB), lembaga keuangan, unit/pengelola kawasan budidaya, dan pusat pelatihan dan konsultasi milik nelayan/pembudidaya yang masing-masing harus berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Misalnya BPPB, bertugas memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada nelayan/pembudidaya dan pelaku minabisnis lainnya, lembaga keuangan bertugas mengurus fungsi perkreditan, unit/pengelola kawasan budidaya bertugas mensinergikan semua program/proyek dan investasi yang masuk dalam kawasan minapolitan, dan pusat pelatihan dan konsultasi milik nelayan/pembudidaya berfungsi sebagai klinik konsultasi minabisnis yaitu pusat pelayanan jasa konsultasi, pelayanan informasi pasar, dan tempat pelatihan. Keterlibatan berbagai aktor selain nelayan/pembudidaya diharapkan untuk lebih mengembangkan sistem dan usaha budidaya di kawasan minapolitan. Pedagang dan perusahaan memegang peranan penting dalam menanamkan investasinya untuk pengembangan minapolitan, penyediaan input budidaya, pengolahan hasil budidaya, dan pemasaran hasil dan produk olahan budidaya. Lembaga keuangan seperti perbankan diperlukan dalam permodalan usaha nelayan/pembudidaya dan kegiatan budidaya. Sedangkan pemerintah sangat diharapkan sebagai motivator dan fasilitator dalam pengembangan kawasan minapolitan, baik pemerintah pusat dan terutama pemerintah daerah. Peran pemerintah kabupaten, dalam hal ini dinas dan instansi yang terkait dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Dinas kelautan dan perikanan berperan dalam (a) memfasilitasi, melakukan kontrol dan menjamin ketersediaan input dan teknologi budidaya, (b) memfasilitasi ketersediaan sarana pendukung (yang dapat diakses nelayan/pembudidaya secara tepat waktu), dan (c) memfasilitasi penyuluhan yang partisipatif yang berparadigma self-helf. 2. Dinas pekerjaan umum (PU) dan dinas permukiman dan prasarana wilayah (Kimpraswil) berperan dalam melaksanakan pengembangan infrastruktur 136 transportasi dan infrastruktur lainnya yang diperlukan dalam pengembangan kawasan minapolitan. 3. Badan perencanaan pembangunan daerah (BAPPEDA) berperan dalam (a) melakukan koordinasi penganggaran dan perencanaan pembangunan kawasan dan (b) merumuskan kebijakan tentang pengaturan kejelasan penggunaan lahan untuk budidaya laut dalam bentuk peraturan daerah (Perda). c. Alternatif Lokasi Industri Pengolahan dan Pasar Alternatif penentuan lokasi industri pengolahan hasil budidaya laut yang potensial atau paling cocok dijadikan lokasi pengembangan usaha pengolahan budidaya laut. Dalam penelitian ini, terdapat 4 alternatif lokasi industri pengolahan yaitu Desa Tablolong di Kecamatan Kupang Barat, Kelurahan Sulamu di Kecamatan Sulamu, Desa Uiasa di Kecamatan Semau, dan Kota Kupang yang mewakili Ibukota Kupang, sedangkan kriteria yang dipakai dalam pemilihan lokasi industri pengolahan budidaya laut potensial adalah ketersediaan lahan, kemudahan akses dengan sumber bahan baku, ketersediaan sarana transportasi, ketersediaan sarana komunikasi, ketersediaan air, ketersediaan listrik, ketersediaan tenaga kerja, dan kondisi sosial ekonomi. Kriteria yang dipakai merupakan hasil wawancara dengan para pakar. Penentuan lokasi ini dilakukan dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE), urutan prioritas lokasi terpilih ditentukan dengan mencari total dari alternatif-alternatif lokasi pengolahan yang sudah diinput dari nilai yang terbesar hingga terkecil. Lokasi yang dianalisis adalah lokasi yang diharapkan memang untuk lokasi industri dan dekat dengan lokasi produksi budidaya laut di Kabupaten Kupang, sedangkan untuk pertimbangan pemilihan lokasi di Kota Kupang karena adanya pembangunan sarana pelabuhan minapolitan yang akan berlokasi di Kota Kupang. Hasil perhitungan MPE untuk prioritas lokasi industri pengolahan dapat disajikan pada Tabel 28. Tabel 28 Prioritas lokasi industri pengolahan hasil budidaya laut Prioritas Lokasi Potensial 1 Lokasi Potensial 2 Lokasi Potensial 3 Lokasi Potensial 4 Alternatif Pilihan Desa Tablolong Kota Kupang Kelurahan Sulamu Desa Uiasa Nilai MPE 522.593.505 475.612.981 405.832.098 405.028.437 137 Dari Tabel 28 dapat disimpulkan bahwa Desa Tablolong menjadi prioritas pertama untuk dijadikan sebagai lokasi usaha industri pengolahan yang paling cocok, dengan nilai MPE 522.593.505. Hal ini dikarenakan desa tersebut merupakan sentra produksi rumput laut, sehingga mudah dalam memasok bahan baku untuk industri rumput laut. Desa Tablolong masih memiliki lahan kosong cukup luas, dekat dengan Ibukota Kupang dan dapat ditempuh dengan transportasi darat, dan cukup baiknya ketersediaan sarana transportasi, komunikasi, listrik, dan tenaga kerja. Hal lain yang menjadikan Desa Tablolong sebagai lokasi prioritas adalah sebagian besar penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan/pembudidaya, sehingga membuat desa ini sebagai desa contoh terutama dalam hal budidaya rumput laut. Daerah yang menjadi lokasi usaha pengolahan budidaya laut urutan kedua adalah Kota Kupang, diikuti dengan Kelurahan Sulamu dan Desa Uiasa. Prakiraan lokasi pasar produk budidaya laut dalam penelitian ini masih memakai alternatif lokasi yang sama seperti lokasi industri pengolahan yaitu Desa Tablolong, Desa Uiasa, Kelurahan Sulamu, dan Kota Kupang. Kriteria yang dipakai dalam analisis MPE prakiraan pasar diambil dari hasil diskusi dengan pakar. Kriteria yang digunakan dalam prakiraan pasar adalah permintaan produk, jarak tempuh ke lokasi pasar, fasilitas pasar, jumlah pengunjung, dan kenyamanan. Dari hasil analisis MPE untuk prakiraan pasar produk hasil budidaya laut disajikan pada Tabel 29. Tabel 29 Prakiraan lokasi pasar hasil budidaya laut Prioritas Alternatif Pilihan Nilai MPE Lokasi Potensial 1 Lokasi Potensial 2 Lokasi Potensial 3 Lokasi Potensial 4 Kota Kupang Kelurahan Sulamu Desa Tablolong Desa Uiasa 531.466.299 175.410.631 174.767.237 81.002.903 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa Kota Kupang menjadi prioritas pertama untuk dijadikan sebagai lokasi pasar hasil budidaya laut yang paling cocok, dengan nilai MPE 531.466.299. Kenyataannya, Kota Kupang menjadi pusat perdagangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadikannya lokasi pasar unggulan dibandingkan alternatif lokasi lainnya atau dengan kata lain sentra pasar pusat bertempat di Kota Kupang. Kriteria-kriteria pasar yang ada dalam analisis ini seperti permintaan produk, jarak dan fasilitas pasar di Kota 138 Kupang lebih unggul dibandingkan alternatif lokasi lainnya yang jarak tempuhnya jauh dan sebagian besar belum memiliki fasilitas pasar yang memadai seperti gedung, gudang, air bersih, listrik, pengelolaan limbah, sistem keamanan dan sebagainya. Banyaknya pengunjung dari luar kota yang singgah di Kota Kupang dapat meningkatkan permintaan produk budidaya laut. Sedangkan untuk urutan prioritas pasar berikutnya adalah Kelurahan Sulamu, Desa Tablolong, dan Desa Uiasa. Ketiga alternatif lokasi pasar ini dapat menjadi sentra pasar kecamatan yang akan mengirimkan hasil produk pengolahan budidaya laut yang ada di kecamatan ke sentra pasar pusat di Kota Kupang. Untuk itu perlu adanya kerjasama yang baik antara wilayah kecamatan, kabupaten dan kota. Pola kerjasama yang baik sangat mempengaruhi keberhasilan pengembangan kawasan minapolitan. Berikutnya kerjasama ini akan dibahas lebih lanjut dalam sub-bab pendekatan sistem dengan metode ISM (interpretative structural modelling). Pasar mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian. Pasar juga dapat dijadikan sumber pendapatan pemerintah untuk membiayai pembangunan melalui pajak dan retribusi. Banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan pasar, berarti pasar turut membantu mengurangi pengangguran, memanfaatkan sumber daya manusia, serta membuka lapangan kerja. Pasar sebagai sarana distribusi, berfungsi memperlancar proses penyaluran hasil olahan budidaya laut dari produsen (pembudidaya) ke konsumen, dengan adanya pasar, produsen dapat berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menawarkan hasil produksinya kepada konsumen. Pasar dikatakan berfungsi baik jika kegiatan distribusi barang dan jasa dari produsen ke konsumen berjalan lancar. Pasar dikatakan tidak berfungsi baik jika kegiatan distribusi seringkali macet, oleh karena itu diperlukan prasarana dan sarana pendukung transportasi dan distribusi yang baik dalam akses menuju pasar. Prioritas pasar yang ada di ketiga desa/kelurahan ini merupakan pasar tradisional yang ada dalam kelompok masyarakat, nantinya dari pasar tradisional inilah yang akan menjadi sentra pemasaran daerah skala mikro. Dari sentra pemasaran mikro ini yang akan dikembangkan atau ditingkatkan jumlah dan kualitasnya menjadi skala menengah keatas (skala nasional) sehingga berdaya saing tinggi untuk di import ke luar negeri. 149 6.4 Kesimpulan Tingkat perkembangan wilayah termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II. Untuk meningkatkan strata kawasan, variabel lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, jumlah sarana dan prasarana umum, jumlah komoditas budidaya laut, dan banyaknya keluarga pra sejahtera. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Masyarakat wilayah Kabupaten Kupang setuju bila daerahnya dikembangkan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut, untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Dalam hal ini peran masyarakat nelayan dan industri pengolahan hasil budidaya laut sangat diperlukan untuk Kabupaten Kupang. menjamin kesuksesan pengembangan minapolitan di 150 7 STATUS KEBERLANJUTAN KABUPATEN KUPANG Abstrak Keberlanjutan merupakan dasar dalam pembangunan kelautan dan perikanan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan masyarakat. Konsep keberlanjutan dalam pembangunan kelautan dan perikanan telah dipahami saat ini, namun dalam menganalisis atau mengevaluasi keberlanjutan pembangunan kelautan dan perikanan sering dihadapkan dengan permasalahan mengeintegrasikan informasi/data dari keseluruhan komponen (secara holistik), baik aspek ekologi, ekonomi, sosial-budaya, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Metode analisis keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan dilakukan dengan pendekatan multidimensional scaling (MDS) yang disebut juga dengan pendekatan Rap-MINAKU (rapid appraisal Minapolitan Kabupaten Kupang) dan hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks dan status keberlanjutan. Untuk mengetahui atribut yang sensitif berpengaruh terhadapindeks dan status keberlanjutan dan pengaruh galat, dilakukan analisis leverage dan monte carlo. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi ekologi berada pada status cukup berkelanjutan (72,26%), dimensi ekonomi status cukup berkelanjutan (62,84%), dimensi sosial-budaya status berkelanjutan (78,67%), dimensi infrastruktur/teknologi status kurang berkelanjutan (46,93%), serta dimensi hukum dan kelembagaan status kurang berkelanjutan (49,84%). Dari 48 atribut yang dianalisis, 18 atribut yang perlu segera ditangani karena sensitif berpengaruh terhadap peningkatan indeks dan status keberlanjutan dengan tingkat galat (error) yang sangat kecil pada tingkat kepercayaan 95%. Dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan adalah skenario progresif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif dalam peningkatan status kawasan. Kata kunci : status keberlanjutan, MDS, Kabupaten kupang 7.1 Pendahuluan Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No.12 Tahun 2010 tentang minapolitan Bab III Pasal 5 Butir (2) yang menyatakan bahwa pengembangan kawasan minapolitan dimulai dari pembinaan unit produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran yang terkonsentrasi di sentra produksi, pengolahan dan/atau pemasaran di suatu kawasan yang diproyeksikan atau direncanakan menjadi kawasan minapolitan yang dikelola secara terpadu. Dalam pengelolaan kawasan minapolitan terpadu perlu adanya integrasi setiap kepentingan dalam keseimbangan (proporsionality) antar dimensi ekologis, dimensi sosial, antar sektoral, disiplin ilmu dan segenap pelaku pembangunan (stakeholders). Tujuan dari pengelolaan ini adalah untuk mewujudkan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. 152 Keberlanjutan merupakan dasar dalam pembangunan kelautan dan perikanan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan masyarakat. Konsep keberlanjutan dalam pembangunan kelautan dan perikanan telah dipahami saat ini, namun dalam menganalisis atau mengevaluasi keberlanjutan pembangunan kelautan dan perikanan sering dihadapkan dengan permasalahan mengeintegrasikan informasi/data dari keseluruhan komponen (secara holistik), baik aspek ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Sejauh ini, untuk mengevaluasi keberlanjutan perikanan adalah dengan memakai pendekatan multidimensional scaling (MDS) yang merupakan salah satu alternatif pendekatan sederhana yang dapat digunakan untuk evaluasi status keberlanjutan dari perikanan, metode yang dipakai adalah Rapfish yaitu suatu teknik multi-diciplinary rapid appraisal untuk mengevaluasi comparative sustainability dari perikanan berdasarkan sejumlah besar atribut yang mudah diskoring. Rapfish akan menghasilkan gambaran yang jelas dan komprehensif mengenai kondisi sumberdaya dari lima dimensi di lokasi penelitian, sehingga akhirnya dapat dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk mencapai pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan yang berkelanjutan, perlu dikaji status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang dan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan, khususnya pemerintah Kabupaten Kupang, dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang ke depan untuk pengembangan kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang dari lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan.Status keberlanjutan setiap dimensi keberlanjutan ditentukan berdasarkan hasil analisis dari program analisis keberlanjutan (MDS) yang dinyatakan dalam bentuk nilai indeks keberlanjutan. Dengan mengetahui status keberlanjutan wilayah dari lima dimensi, akan memudahkan dalam melakukan perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap peningkatan status keberlanjutan wilayah, terutama pada dimensi keberlanjutan dengan status yang lebih rendah guna mendukung pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. 153 7.2 Metode Analisis Status Keberlanjutan Kabupaten Kupang 7.2.1 Jenis dan Sumber Data Dalam analisis keberlanjutan Kabupaten Kupang, jenis data yang dipakai berupa data primer yang bersumber dari para responden dan pakar terpilih, serta hasil pengamatan langsung di lokasi penelitian. Data primer meliputi atributatribut yang terkait dengan lima dimensi keberlanjutan pembangunan yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan. 7.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam analisis keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan topik penelitian. 7.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data dalam analisis keberlanjutan ini terbagi atas dua bagian yaitu analisis multidimensional scaling (MDS) dan analisis prospektif. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kedua analisis tersebut. a. Analisis Multidimensional Scaling (MDS) Metode analisis keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan dilakukan dengan pendekatan multidimensional scaling (MDS) yang disebut juga dengan pendekatan Rap-MINAKU (rapid appraisal Minapolitan Kabupaten Kupang) yang merupakan pengembangan dari metode Rapfish (rapid assessment techniques for fisheries) yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Colombia (Kavanagh, 2001); yang kemudian digunakan dalam penelitian ini untuk menilai status keberlanjutan budidaya laut dan dinyatakan dalam indeks keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang (IKB-MINAKU). Pemilihan MDS dalam analisis Rap-MINAKU ini dilakukan berhubung hasil yang diperoleh terbukti lebih stabil dari metode multivariate analysis yang lain, seperti factor analysis dan multi-attribute utility theory (Pitcher and Preikshot, 2001). Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu (1) penentuan atribut pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan yang mencakup lima 154 dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial-budaya, infrastruktur/teknologi, dan hukum dan kelembagaan; (2) penilaian setiap atribut dalam skala ordinal berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi; dan (3) penyusunan indeks dan status keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. Setiap atribut pada masing-masing dimensi diberikan skor berdasarkan scientific judgment dari pembuat skor. Rentang skor berkisar antara 0 – 3 atau tergantung pada keadaan masing-masing atribut yang diartikan mulai dari buruk (0) sampai baik (3). Nilai skor dari masing-masing atribut dianalisis secara multidimensional untuk menentukan satu atau beberapa titik yang mencerminkan posisi keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang untuk pengembangan kaawasan minapolitan yang dikaji relatif terhadap dua titik acuan yaitu titik baik (good) dan titik buruk (bad). Adapun nilai skor yang merupakan nilai indeks keberlanjutan setiap dimensi dapat dilihat pada Tabel 30. Tabel 30 Kategori status keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan berdasarkan nilai indeks hasil analisis Rap-MINAKU Nilai Indeks Kategori Nilai indeks Kategori 0 – 24, 99 Buruk 50 – 74,99 Cukup 25 – 49,99 Kurang 75 – 100,00 Baik Melalui metode MDS, maka posisi titik keberlanjutan dapat divisualisasikan melalui sumbu horisontal dan sumbu vertikal. Dengan proses rotasi, maka posisi titik dapat divisualisasikan pada sumbu horisontal dengan nilai indeks keberlanjutan diberi skor 0% (buruk) dan 100% (baik). Jika sistem dikaji mempunyai nilai indeks keberlanjutan lebih besar atau sama dengan 50% (50%), maka sistem dikatakan keberlanjutan (sustainable) dan tidak berkelanjutan jika nilai indeks kurang dari 50% (< 50%). Ilustrasi hasil ordinasi nilai indeks keberlanjutan dapat dilihat pada Gambar 36. Gambar 36 Ilustrasi penentuan indeks keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan dalam skala ordinasi 155 Nilai indeks keberlanjutan setiap dimensi dapat divisualisasikan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram). Untuk melihat atribut yang paling sensitif memberikan kontribusi terhadap indeks keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan, dilakukan analisis sensitivitas dengan melihat bentuk perubahan root mean square (RMS) ordinasi pada sumbu x. Semakin besar perubahan nilai RMS, maka semakin sensitif tersebut dalam pengembangan kawasan minapolitan. Dalam analisis tersebut di atas akan terdapat pengaruh galat yang dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kesalahan dalam pembuatan skor karena kesalahan pemahaman terhadap atribut atau kondisi lokasi penelitian yang belum sempurna, variasi skor akibat perbedaan opini atau penilaian oleh peneliti, proses analisis MDS yang berulang-ulang, kesalahan input data atau ada data yang hilang, dan tingginya nilai stres (nilai stres dapat diterima jika nilainya 1. Namun jika keuntungan budidaya laut ini dikaitkan dengan penggunaan biaya dalam kegiatan budidaya laut yang seharusnya dikeluarkan untuk mendukung peningkatan produksi, dapat dikatakan keuntungan ekonomi ini masih tergolong cukup rendah. Ini disebabkan masih banyaknya biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan untuk industri pengolahan dalam rangka peningkatan usaha budidaya laut ini. Demikian pula dalam hal biaya pemeliharaan dan biaya tenaga kerja penanganan panen dan pasca panen, termasuk biaya pengangkutan hasil panen ke tempat penyimpanan dan konsumen belum banyak diperhitungkan. Apabila biaya-biaya produksi tersebut di atas diperhitungkan tentunya akan berpengaruh terhadap keuntungan budidaya laut yang diperolehnya. Namun demikian, penggunaan biaya yang lebih besar dalam kegiatan budidaya laut diharapkan produksi budidaya laut yang diperoleh juga lebih tinggi. Beberapa program dari pemerintah daerah telah dilakukan dalam rangka lebih memberdayakan masyarakat dalam kegiatan perikanan dan kelautan, seperti peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui penyuluhan, pelatihan; 8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG Abstrak Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Di beberapa negara, industri yang berbasis klaster telah terbukti mampu menunjukkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam menembus pasar. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. Strategi ini yang dikenal dengan minapolitan. Kebijakan minapolitan ini bertujuan untuk pengembangan daerah. Untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, perlu dibangun model pengembangan kawasan minapolitan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini dan akan terjadi di masa depan dalam bentuk data simulasi berdasarkan kondisi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam membangun model ini digunakan metode analisis sistem dinamik dengan software Powersim. Model ini terdiri atas tiga sub model yaitu sub model lahan, budidaya dan industri pengolahan. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Kata kunci : model, pengembangan, rumput laut, sistem dinamik 8.1 Pendahuluan Wilayah Kabupaten Kupang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satu potensi yang dimiliki sesuai dengan karakteristik wilayahnya adalah sektor kelautan dan perikanan. Melihat potensi yang besar ini, maka pengembangan kawasan minapolitan merupakan pilihan tepat sebagai konsep pembangunan wilayah dengan menyesuaikan potensi dan karakteristik wilayah yang bersangkutan. Pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dimaksudkan agar terjadi peningkatan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. 176 Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktifitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Banyak permasalahan yang kompleks yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, yang sulit diselesaikan dengan hanya menggunakan suatu metode spesifik saja. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks tersebut adalah dengan pendekatan sistem (system approach). Pendekatan sistem dapat menyelesaikan masalah dengan baik bagi permasalahan multidisiplin yang kompleks (Manestch dan Park, 1977). Eriyatno, 1998 menyatakan bahwa pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Pendekatan sistem dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, perlu diketahui hubungan antar beberapa komponen yang saling berpengaruh satu sama lain baik pada usaha on farm maupun off farm. Untuk melihat hubungan antar komponen dalam pengembangan kawasan minapolitan tersebut perlu dibangun model yang merupakan simplikasi dari sistem. Sebagaimana diketahui bahwa model dapat dibedakan atas dua jenis yaitu model statik dan model dinamik, namun yang banyak digunakan adalah model dinamik karena memiliki variabel yang dapat berubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Melalui model dinamik dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang ini, dapat menggambarkan dunia nyata yang terjadi selama ini sekaligus sebagai proses peramalan dari suatu keadaan untuk masa yang akan datang. Melihat besarnya peran permodelan dalam pengembangan kawasan, dilakukan penelitian permodelan di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. 177 8.2 Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang 8.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang diperlukan dalam menyusun model pengembangan kawasan minapolitan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden dan pakar yang terpilih, serta dari berbagai instansi yang terkait dengan topik penelitian. Data primer yang diperlukan berupa faktor-faktor atau variabel penting yang berpengaruh dalam pengembangan minapolitan. Variabel tersebut diperoleh dari wawancara terhadap responden di lokasi penelitian. Data primer yang diperlukan berupa data yang berkaitan dengan kendala, kebutuhan, dan lembaga yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, sedangkan data sekunder yang diperlukan adalah data jumlah penduduk, luas lahan budidaya, rata-rata pendapatan penduduk, produksi komoditas unggulan, input produksi (bibit), dan harga produk. 8.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penyusunan model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengembangan kawasan minapolitan untuk pengumpulan data primer, dan beberapa kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian untuk pengumpulan data sekunder. 8.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang adalah sistem dinamik dengan bantuan software powersim constructor version 2.5d. Tahapan-tahapan dalam sistem dinamik meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, simulasi model, dan validasi model. Dalam analisis sistem dinamik ini akan dikaji tiga sub model yaitu sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran. a. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam pengembangan minapolitan. Berdasarkan kajian 178 pustaka, stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan ini dapat dilihat dalam Tabel 36. Tabel 36 Analisis kebutuhan aktor dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang No. 1. Aktor / stakeholder Masyarakat/nelayan 2. Pemerintah 3. Lembaga keuangan 4. Pedagang pengumpul & pedagang besar 5. Industri pengolahan 6. LSM 7. Perguruan tinggi 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 3.1 3.2 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 5.1 5.2 5.3 5.4 6.1 6.2 6.3 6.4 7.1 7.2 7.3 Kebutuhan Terbukanya lapangan kerja Produksi perikanan meningkat Tersedianya modal usaha Pemasaran yang baik dan tinggi Peningkatan pendapatan nelayan Tersedianya sarana produksi Harga jual yang tinggi Tersedianya sarana informasi Kebijakan kawasan minapolitan Pendapatan daerah meningkat Peningkatan kesejahteraan masyarakat Pengembangan potensi unggulan Pengembangan wilayah Kemitraan nelayan dengan pihak terkait Profitabilitas usaha Pengembalian pinjaman modal tepat waktu Kualitas hasil perikanan terjamin Harga beli yang rasional Kontinuitas hasil kelautan/perikanan Margin keuntungan tinggi Akses modal yang mudah Jaringan pemasaran yang kondusif Kontuinitas produksi & mutu yang terjamin Harga beli rasional Terjaminnya persediaan bahan baku Keamanan berusaha Lingkungan sehat Tidak terjadi konflik sosial Transportasi Good governance Kemitraan dengan perguruan tinggi Hasil kajian yang aplikatif Kualitas dan kuantitas hasil perikanan terjamin b. Identifikasi Sistem Identifikasi sistem merupakan suatu rangkaian hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan identifikasi sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktorfaktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem. Hubungan antar faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box). Dalam menyusun kotak gelap, 179 jenis informasi dikategorikan menjadi tiga golongan yaitu peubah input, peubah output, dan parameter-parameter yang membatasi struktur sistem. Gambaran diagram lingkar sebab-akibat dapat dilihat pada Gambar 46 dan diagram kotak gelap pada Gambar 47. Gambar 46 Diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang Gambar 47 Diagram kotak gelap (black box) pengembangan minapolitan 180 c. Simulasi Model Simulasi model merupakan cara untuk menirukan keadaan yang sesungguhnya (Robert, 1983), sedangkan menurut Muhammadi et al., 2001, simulasi model merupakan peniruan perilaku suatu gejala atau proses. Tujuan simulasi adalah untuk memahami gejala atau proses, membuat analisis, dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Dengan menggunakan dihubungkan perangkat lunak powersim, membentuk suatu sistem variabel-variabel yang dapat akan menirukan saling kondisi sebenarnya. Hubungan antar variabel dinamakan diagram alir (flow diagram), dimana variabel ini digambarkan dalam bentuk simbol yaitu simbol aliran (flow symbol) yang dihubungkan dengan level (level symbol). Penghubung antara flow dan level disebut proses aliran yang digambarkan melalui panah aliran. Hasil simulasi model berupa gambar atau grafik yang menggambarkan perilaku dari sistem. Kelebihan dilakukannya simulasi dalam analisis kesisteman adalah bahwa permasalahan yang penuh dengan ketidakpastian dan sulit dipecahkan dengan metode analisis lainnya, dapat diselesaikan dengan simulasi model. d. Validasi Model Terdapat dua pengujian dalam validasi model yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja lebih menekankan pemeriksaan yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). Uji validasi struktur bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Uji ini dibedakan atas dua jenis yaitu validasi konstruksi dan kestabilan struktur. Validasi konstruksi adalah keyakinan terhadap konstruksi model diterima secara akademis, sedangkan kestabilan struktur adalah keberlakuan atau kekuatan (robustness) struktur dalam dimensi waktu (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah dengan yang taat fakta, yaitu dengan melihat apakah perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Penyimpangan terhadap output model dengan data empiris dapat diketahui dengan uji statistik yaitu menguji penyimpangan rata-rata absolutnya (AME : Absolute Means Error) dan penyimpangan variasi absolutnya (AVE : Absolute Variation Error). Batas 181 penyimpangan yang dapat diterima berkisar antara 5 – 10% (Muhammadi et al., 2001). Adapun rumus untuk menghitung nilai AME dan AVE seperti di bawah ini : Rumus AME (Absolute Means Error) = (Si – Ai) / Ai x 100% …….……(16) Si = Si / N dan Ai = Ai / N dimana : S = Nilai simulasi A = Nilai aktual N = Interval waktu pengamatan Rumus AVE (Absolute Variation Error) = (Ss – Sa) / Sa x 100% …….…….(17) Ss = ((Si - Si)2) / N dan Sa = ((Ai - Ai)2) / N dimana : Sa = Deviasi nilai aktual Ss = Deviasi nilai simulasi N = Interval waktu pengamatan e. Uji Kestabilan Model Uji kestabilan model pada dasarnya merupakan bagian dari uji validasi struktur. Uji ini dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model agregat yang diwakili oleh sub-sub model yang ada. f. Uji Sensitivitas Model Uji sensitivitas merupakan respon model terhadap suatu stimulus. Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model. 8.3 Hasil dan Pembahasan Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang 8.3.1 Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang dibangun melalui logika hubungan antara komponen yang terkait dan interaksinya. Komponen-komponen yang terkait adalah pertumbuhan penduduk, luas lahan kawasan minapolitan, luas lahan permukiman, luas lahan industri, luas lahan budidaya, produksi dan keuntungan usaha nelayan, pendapatan pemanfaatan industri, biaya industri pengolahan, keuntungan, dan sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional 182 bruto (PDRB) Kabupaten Kupang. Model dinamik yang dibangun terdiri atas tiga sub model yang mewakili dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial yaitu (1) sub model lahan minapolitan yang menggambarkan perkembangan kebutuhan lahan untuk permukiman, budidaya, fasilitas, dan lahan untuk industri pengolahan serta dinamika pertumbuhan penduduk; (2) sub model budidaya laut yang menggambarkan perkembangan produksi, jumlah rumput laut yang dipakai pada kebun bibit, penjualan bibit, keuntungan dari pembibitan keuntungan usaha nelayan minapolitan; dan (3) sub model industri pengolahan rumput laut yang menggambarkan biaya pengolahan, keuntungan yang diperoleh dari hasil pengolahan serta PDRB. Perilaku model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang dianalisis dengan menggunakan program powersim constructor version 2.5d. Struktur model minapolitan ini dapat dilihat pada Gambar 48 dan persamaan model dinamis pada Lampiran 22. Analisis dilakukan untuk 30 tahun yang akan datang, dimulai pada tahun 2007 dan berakhir pada tahun 2037. Waktu 30 tahun ini diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang untuk masa jangka panjang. Beberapa data awal dan asumsi-asumsi yang digunakan dalam pemodelan ini antara lain : 1. Simulasi model minapolitan berbasis budidaya laut ini merupakan simulasi dari tiga kecamatan pesisir di Kabupaten Kupang yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Luas lahan minapolitan terdiri atas dua lahan yaitu lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. 2. Jumlah penduduk kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu masingmasing sebesar 6.280 jiwa, 14.234 jiwa dan 14.457 jiwa pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Kupang, 2008). Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian, namun saat ini faktor perpindahan penduduk juga mempunyai pengaruh yang cukup besar. Luas lahan perairan untuk pengembangan minapolitan budidaya laut masing-masing kecamatan sekitar 689,22 ha untuk Kecamatan Semau, 3040,47 ha untuk Kecamatan Kupang Barat, dan 365,34 ha untuk Kecamatan Sulamu. 3. Komoditas budidaya yang dimodelkan meliputi komoditas rumput laut yang merupakan komoditas unggulan di lokasi studi. Produksi budidaya rumput laut untuk Kecamatan Semau sebesar 600 ton dan Kecamatan Kupang Barat 183 sebesar 1.100 ton tahun 2007 sedangkan untuk Kecamatan Sulamu data tidak tersedia. 4. Hasil rumput laut akan diolah menjadi dodol dan pilus. Untuk mengolah tersebut dibutuhkan industri pengolahan dengan tenaga kerja. Pembudidaya rumput laut tahun 2007 di Kecamatan Semau sejumlah 995 jiwa dan Kecamatan Kupang Barat sejumlah 1650 orang. 5. Lahan budidaya adalah lahan dengan kelas sangat sesuai, sedangkan untuk lahan dengan kelas sesuai dan tidak sesuai dipakai sebagai lahan konservasi. 6. Sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Kupang dihitung dari PDRB perikanan yang meliputi komoditas rumput laut. Gambar 48 Struktur model dinamik pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut di Kabupaten Kupang a. Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan Sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Komponen-komponen yang saling berhubungan dan memberikan pengaruh pada sub model pengembangan lahan minapolitan adalah lahan budidaya, lahan 184 industri, dan lahan permukiman. Lahan minapolitan terdiri atas lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. Adapun pengaruh dari setiap komponenkomponen tersebut seperti pada Gambar 49. Gambar 49 Struktur model dinamik sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang Simulasi model dinamik untuk lahan minapolitan (Gambar 50) berawal dari luas perairan laut dengan kelas kesesuaian sangat sesuai untuk budidaya rumput laut dan luas lahan daratan yang terbagi atas dua bagian, yaitu (1) lahan industri adalah lahan yang dibutuhkan dari industri rumah tangga dan (2) lahan permukiman yang diasumsikan pemakaiannya sebesar 20 m2 per jiwa. Untuk pemodelan dinamis minapolitan laut hanya akan dimodelkan lahan budidaya rumput laut (perairan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai) saja, sehingga untuk pertimbangan lingkungan seperti kawasan konservasi laut diambil dari luas perairan dengan tingkat kesesuaian sesuai dan tidak sesuai tidak dimodelkan. Pemodelan dinamis minapolitan darat diasumsikan alokasi penggunaan lahan untuk kawasan industri pengolahan dan permukiman. Luas lahan industri pengolahan di dapat dari kebutuhan industri dodol dan pilus per rumah tangga (asumsi 100 m2 per industri rumah tangga). Pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang berada di tiga kecamatan yaitu Semau, Kupang Barat, dan Sulamu. Simulasi model dinamik alokasi penggunaan lahan Kecamatan Semau berawal dari luas lahan darat 143,42 km2 dan 6,89 km2 lahan di laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 5,94 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat 185 sesuai), sedangkan untuk kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 1,21 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 6.280 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,13%, tingkat kematian 0,53%, imigrasi 1,84% dan emigrasi 1,04%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Semau seperti pada Tabel 37. Tabel 37 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Semau Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Semau dari Tabel 37 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 1,21 km2 pada tahun 2007 menjadi 3,41 km2 pada tahun 2022 dengan laju pertambahan luas sebesar 15% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,13 km2 naik menjadi 4,77 km2 pada tahun 2037, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 1,94 km2 di tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 5,94 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka 186 meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Semau. Apabila simulasi ini dilakukan untuk jangka waktu 30 tahun dengan asumsi laju pertambahan pemanfaatan lahan budidaya sebesar 20%, maka pada tahun 2034 luas lahan budidaya rumput laut akan maksimal dibudidayakan dengan luas 5,94 km2 dengan jumlah petakan rumput laut sebesar 1.930 unit dan lahan industri rumah tangga membutuhkan luas industri 2,65 km2. Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Kupang Barat berawal dari luas lahan minapolitan darat 149,72 km2 dan 30,40 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 22,29 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 3,23 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan Laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.342 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,70%, tingkat kematian 0,47%, imigrasi 2,86% dan emigrasi 1,65%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Kupang Barat yang disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Kupang Barat Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Kupang Barat dari Tabel 38 menunjukkan terjadi penambahan luas 187 lahan budidaya rumput laut dari 3,23 km2 pada tahun 2007 menjadi 9,10 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 12,76 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun. Sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 5,17 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 22,29 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Kupang Barat, agar dapat memperoleh luas lahan budidaya maksimal dalam jangka waktu 30 tahun adalah menaikkan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 30% sehingga didapat lahan budidaya maksimal sebesar 22,24 km2 pada tahun 2034. Jika laju pertumbuhan luas lahan budidaya ditambah 30% per tahun maka akan terdapat penambahan unit longline rumput laut sebesar 7.414 unit petakan per 3000 m2 setiap tahun. Tabel 39 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Sulamu Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Sulamu berawal dari luas lahan minapolitan darat sebesar 270,12 km2 dan 3,65 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 3,20 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan 188 budidaya adalah 0,10 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.457 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,57%, tingkat kematian 0,80%, imigrasi 2,96% dan emigrasi 1,90%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Sulamu yang disajikan pada Tabel 39. Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Sulamu dari Tabel 39 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 0,10 km2 pada tahun 2007 menjadi 0,29 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 11,71 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 0,16 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 3,20 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Sulamu. Berbeda dengan Kecamatan Semau dan Kecamatan Kupang Barat, pada Kecamatan Sulamu ini perlu dilakukan pengembangan rumput laut sebesar-besarnya agar dapat memaksimalkan lahan budidaya rumput laut yang tersedia. Dalam rangka memaksimalkan lahan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan cara menaikkan laju pertumbuhan sebesar 140% untuk jangka waktu 30 tahun sehingga pada tahun 2036 didapatkan luas lahan budidaya rumput laut yang maksimal sebesar 3,16 km2 untuk jumlah petakan rumput laut sebesar 1.053 unit dan membutuhkan lahan industri sebesar 1,44 km2. Namun hal ini tidak mungkin dilakukan di Kecamatan Sulamu yang masih mengalami banyak kendala dan masalah dalam budidaya laut khususnya rumput laut, salah satu diantaranya adalah jumlah masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pembudidaya rumput laut tidak cukup untuk menggarap lahan budidaya tersebut, sehingga hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah melibatkan masyarakat Kecamatan Sulamu dalam pelatihan budidaya rumput laut sehingga kegiatan ekstensifikasi 191 b. Sub Model Budidaya Rumput Laut di Kawasan Minapolitan Sub model budidaya rumput laut menggambarkan hubungan beberapa komponen seperti luas lahan budidaya sebagai komponen utama dan selanjutnya diikuti oleh komponen lainnya seperti jumlah petakan rumput laut, kebutuhan bibit rumput laut, produksi rumput laut, dan keuntungan budidaya rumput laut. Stock flow diagram (SFD) sub model budidaya rumput laut disajikan pada Gambar 51. Gambar 51 Struktur model dinamik sub model budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang Peningkatan luas lahan khususnya lahan budidaya rumput laut akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi rumput laut. Dalam hal ini, peningkatan luas lahan untuk budidaya rumput laut akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi rumput laut yang kemudian akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan pembudidaya. Hubungan antar komponen ini merupakan hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing. Tabel 40 sampai 42 masing-masing untuk Kecamatan Semau, Kupang Barat, dan Sulamu menunjukkan peningkatan produksi rumput laut periode 2007–2037. Untuk sub model budidaya ini, simulasi berawal dari luas lahan budidaya rumput laut yang terbagi atas dua faktor utama yaitu jumlah unit longline rumput laut (selanjutnya disebut petakan) per 3000 m2 dan kebutuhan bibit rumput laut yang akan ditanam di pada petakan. Untuk jumlah petakan membutuhkan tenaga kerja yaitu 5 orang per petakan. Kebutuhan bibit rumput laut, dibutuhkan bibit 192 2400 kg per 3000 m2 (800 ton per km2), kemudian laju pengurangan panen rumput laut dipengaruhi oleh persen kematian rumput laut sebesar 10%, sedangkan laju pertambahan panen rumput laut dipengaruhi oleh kenaikan berat rumput laut yaitu 6 kali berat semula (200 gr) dan jumlah panen normal dalam 1 tahun sebanyak 6 kali panen. Setelah pemanenan dilakukan, proses berikutnya adalah penjemuran rumput laut untuk mendapatkan rumput laut kering. Dalam proses pengeringan ini, diasumsikan rendemen rumput laut sebesar 12,5% dari berat rumput laut basah sebelum dijual. Dalam sub model budidaya ini juga terdapat biaya operasional sebesar Rp63.312.000,00 per petak per tahun dan kenaikan modal sebesar 6% per tahun, kedua faktor ini yang mempengaruhi besarnya pengeluaran dalam produksi budidaya rumput laut ini. Biaya operasional merupakan biaya dari analisis kelayakan usaha (finansial) yang telah dibahas pada bab 5 pada disertasi ini. Penerimaan usaha budidaya rumput laut ini diperoleh dari hasil penjualan rumput laut kering dengan harga Rp10.000,00 per kg. Tabel 40 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau tahun 20072037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 10.707 ton dari 3.799 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 3.799 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 968 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 1,21 km2 dengan jumlah petakan 403 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp10.926.009.600,00 pada tahun 2007 menjadi Rp30.790.180.359,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Semau. 193 Tabel 40 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau Tabel 41 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 28.581 ton dari 10.142 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 10,142 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 2.584 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 3,23 km2 dengan jumlah petakan 1.077 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp29.166.124.800,00 pada tahun 2007 menjadi Rp82.191.969.058,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat. 194 Tabel 41 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat Tabel 42 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 885 ton dari 314 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 314 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 80 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 0,10 km2 dengan jumlah petakan 33 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp902.976.000,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.544.643.005,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu. 195 Tabel 42 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Peningkatan produksi usaha rumput laut ini akan berdampak pada peningkatan keuntungan usaha rumput laut yang diterima oleh pembudidaya. Hasil simulasi model dinamik menunjukkan peningkatan keuntungan usaha rumput laut mengikuti pertumbuhan yang cukup tajam dan membentuk pola pertumbuhan dari kurva sigmoid, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menjual hasil panen rumput laut kering saja dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Kupang, sehingga diperlukan suatu kontinuitas produksi rumput laut karena menguntungkan dan dapat mensejahterakan masyarakat sekitar pesisir. c. Sub Model Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut Sub model pengembangan industri pengolahan rumput laut kering merupakan bagian pemodelan untuk mengetahui pengaruh komponen- 196 komponen dalam pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam simulasi sub model ini terdapat beberapa komponen yang saling berpengaruh seperti jenis olahan rumput laut, kapasitas produksi, tenaga kerja, industri rumah tangga, biaya produksi, keuntungan penjualan hasil olahan, dan PDRB di Kabupaten Kupang. Pengaruh antar komponen dalam sub model ini disajikan dalam stock flow diagram (SFD) seperti terlihat pada Gambar 52. Gambar 52 Struktur model dinamik sub model industri pengolahan dan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kupang Berbeda dengan sub model budidaya, pada pemodelan industri pengolahan ini hasil panen rumput laut tidak dijual seluruhnya melainkan dibagi 10% untuk diolah menjadi makanan dan sisanya 90% dijual kering tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk rumput laut yang diolah, dibagi menjadi dua hasil olahan yaitu dodol dan pilus. Contoh hasil pengolahan dodol dan pilus yang telah dilakukan dapat dilihat pada Lampiran 23. Untuk pengolahan rumput laut saat ini berupa industri rumah tangga dengan tenaga kerja 5 orang per olahan pilus dan 5 orang per olahan dodol. Kapasitas produksi masing-masing dodol dan pilus sebesar 960 kg per tahun per industri rumah tangga. Untuk harga jual dodol Rp65.000,00 per kg dan harga jual pilus Rp55.000,00 per kg. Produk domestik regional bruto (PDRB) merupakan hasil sumbangan dari keuntungan penjualan dodol, pilus dan rumput laut kering. 197 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 43. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 3.779 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp33.427.311.170,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp10.589.022.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp29.840.530.378,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp8.689.322.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp24.487.056.624,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Semau dari rumput laut mencapai Rp94.200.259.521,00 pada tahun 2037. Tabel 43 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tabel 44 menyajikan hasil simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil 198 panen kering 10.142 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp89.231.582.710,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp28.266.564.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp79.656.952.992,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp23.195.464.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp65.366.275.120,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Kupang Barat dari rumput laut mencapai Rp251.460.196.902,00 pada tahun 2037. Tabel 44 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 45. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 314 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp2.762.587.700,00 199 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp875.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.466.159.535,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp718.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.023.723.688,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Sulamu dari rumput laut mencapai Rp7.785.145.415,00 pada tahun 2037. Tabel 45 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu Peningkatan setiap komponen yang ada dalam sub model industri ini mengikuti pertumbuhan kurva sigmoid sampai batas tertentu. Akibat keterbatasan lahan budidaya akan mengalami suatu titik kesetimbangan tertentu (stable equilibirium) dimana keuntungan dan peningkatan PDRB tidak dapat ditingkatkan lagi di kawasan minapolitan budidaya rumput laut ini, dan sub model pengolahan ini dapat dikatakan mengikuti pola (archetype) limit to growth dalam sistem dinamik. 200 8.3.2 Simulasi Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Kinerja model yang digambarkan dalam struktur sistem menggambarkan kondisi saat ini. Seiring dengan perjalanan waktu, maka akan terjadi perubahan kinerja sistem sesuai dengan dinamika waktu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, berdasarkan hal tersebut, disusun berbagai skenario pada model yang telah dibangun sebagai strategi yang dapat dilakukan ke depan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang. Skenario yang dibangun terdiri atas tiga skenario antara lain (1) skenario pesimis (2) skenario moderat, dan (3) skenario optimis. Skenario pesimis dapat diartikan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau terjadi perubahan yang sangat cepat dari keadaan yang perlu dihambat perkembangannya. Skenario moderat diartikan sebagai perubahan beberapa variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan tersebut lebih baik daripada skenario pesimis, sedangkan skenario optimis diartikan bahwa terjadi perubahan yang lebih besar dari variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan ini lebih baik dari skenario pertama dan kedua. Adapun variabel-variabel tersebut sebagai variabel kunci yang sangat berpengaruh pada kinerja sistem meliputi laju pertumbuhan lahan budidaya, persen kematian rumput laut, harga jual, kenaikan berat rumput laut dari berat semula (waktu ditanam), waktu panen dalam 1 tahun, dan persen olahan rumput laut. Variabel-variabel ini akan berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan di kawasan minapolitan, peningkatan produksi, tingkat keuntungan usaha nelayan, dan sumbangan terhadap PDRB. Hasil simulasi skenario model perubahan penggunaan lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Gambar 54. Model yang diskenariokan pada penggunaan lahan ini adalah lahan budidaya yang mengambil tempat di wilayah perairan Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Pada Gambar 54 terlihat bahwa perubahan tiga skenario dalam model ini menunjukkan perubahan yang berbeda-beda dimana perubahan yang lebih nyata terlihat dengan semakin bertambahnya tahun simulasi. Pada skenario optimis, peningkatan luas lahan budidaya sangat cepat sebagai akibat dari laju pertumbuhan sebesar 10% setiap tahun, sedangkan untuk skenario moderat 5% dan pesimis 3%. 209 Tabel 47 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Kupang Barat Tabel 48 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Sulamu 210 8.3.3 Uji Validasi Model Secara garis besar uji validasi model dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. a. Uji Validasi Struktur Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran atau dengan kata lain apakah struktur model yang dibangun sudah sesuai dengan teori. Secara logika, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan lahan. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk yang berasal dari kelahiran (natalitas) dan penduduk yang datang (imigrasi), serta pengurangan jumlah penduduk akibat kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk keluar wilayah (emigrasi). Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan luas lahan minapolitan (darat) mengikuti pola pertumbuhan kurva sigmoid dimana pada suatu waktu tertentu akan menemui titik keseimbangan (stable equilibrium) sesuai dengan konsep limits to growth (Meadows, 1985). Dalam hal ini terjadi proses reinforcing yang diimbangi oleh proses balancing. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan ketersediaan lahan yang dapat menjadi faktor pembatas dan menekan pertumbuhan penduduk. Lahan daratan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk alokasi permukiman penduduk, ruang fasilitas, penyediaan ruang terbuka hijau dan kawasan lindung, serta lahan untuk kegiatan industri pengolahan hasil budidaya laut; sedangkan lahan perairan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pengembangan produksi budidaya laut dan kegiatan pemanfaatan lain seperti arus lalu lintas/tempat parkir perahu/kapal, jarak antar rakit dan perlindungan ekosistem lainnya. Karena keterbatasan luas lahan, maka semakin luas penggunaan lahan untuk tujuan tertentu akan berpengaruh terhadap luas lahan untuk tujuan penggunaan lain. Dalam hal ini akan terjadi konversi lahan untuk memenuhi kebutuhan penggunaan lahan. Berkaitan dengan dengan lahan budidaya laut (perairan), terlihat bahwa semakin luas ketersediaan lahan budidaya akan berdampak pada semakin meningkatnya produksi usaha budidaya laut yang dihasilkan oleh nelayan/pembudidaya. Hal ini juga berdampak terhadap peningkatan keuntungan yang diperoleh. Namun demikian semakin tinggi intensitas penggunaan lahan budidaya akan menyebabkan tekanan terhadap lahan sehingga kualitasnya dapat menurun. Akibatnya produksi usaha budidaya laut juga akan menurunnya 211 keuntungan yang diperoleh petani. Ini berarti konsep Limits to Growth juga terjadi terhadap produksi dan keuntungan usaha budidaya laut minapolitan. Dengan melihat hasil simulasi model dinamik berdasarkan struktur model yang telah dibangun yang sesuai dengan konsep teori empirik seperti diuraikan di atas, maka model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang dapat dikatakan valid secara empirik. b. Uji Validasi Kinerja Uji validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem. Tujuan dari validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata, sehingga model yang dibuat memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja dilakukan dengan cara menvalidasi kinerja model dengan data empiris. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistik seperti uji penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (absolute means error = AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual (absolute variation error = AVE), dengan batas penyimpangan yang dapat diterima maksimal 10%. Dalam uji validasi kinerja, dapat digunakan satu atau beberapa komponen (variabel) baik pada komponen utama (main model) maupun komponen yang terkait (co-model) (Barlas, 1996). Dalam penelitian ini digunakan uji validasi kinerja AME dengan menggunakan data aktual pertumbuhan jumlah penduduk periode empat tahunan yaitu tahun 2006 sampai tahun 2009. Adapun jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi di Kabupaten Kupang seperti pada Tabel 49. Tabel 49 No 1 2 3 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi model di Kabupaten Kupang Jumlah penduduk Kabupaten Kupang (jiwa) Aktual Simulasi Tahun Semau Sulamu Kupang Semau Sulamu Kupang Barat Barat 2007 6.230 14.350 14.212 6.280 14.457 14.342 2008 6.430 15.206 14.972 6.368 14.722 14.692 2009 6.435 15.610 14.981 6.457 14.991 15.050 Berdasarkan hasil perhitungan uji validasi kinerja pada model ini, diperoleh nilai AME dan AVE lebih kecil dari 10% yaitu sekitar 0,49% - 3,97% (AME) dan 1% - 7,77% (AVE), sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini 212 memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. Adapun hasil perhitungan uji validasi kinerja AME dan AVE seperti pada Tabel 50. Tabel 50 Hasil perhitungan nilai AME dan AVE dalam uji validasi kinerja model (a) Kecamatan Semau (b) Kecamatan Kupang Barat (c) Kecamatan Sulamu 8.3.4 Uji Kestabilan dan Uji Sensitivitas Model Sebagaimana diketahui bahwa uji kestabilan model dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model terhadap perilaku agregat dan disagregat harus memiliki kemiripan. Adapun uji kestabilan model berdasarkan struktur model agregat dan disagregat dapat dilihat pada Gambar 49 (agregat) dan Gambar 50, 52 dan 53 (disagregat). Hasil simulasi pada struktur model disagregat memperlihatkan kemiripan dengan struktur model agregatnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa model tersebut dapat dikatakan stabil. Uji sensitivitas dilakukan untuk melihat respon model terhadap suatu stimulus (Muhammadi et al., 2001). Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan intervensi tertentu pada unsur atau struktur model. Hasil uji sensitivitas ini adalah dalam bentuk perubahan perilaku dan/atau kinerja model sehingga dapat diketahui efek intervensi yang diberikan terhadap satu atau lebih unsur atau model tersebut. Adapun perubahan perilaku kinerja model berdasarkan intervensi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 54 sampai 57 dimana pada gambar-gambar tersebut terlihat besarnya perubahan dari setiap perubahan satu 213 atau lebih unsur di dalam model tersebut. Pada Gambar 55 misalnya, dengan memberikan intervensi dengan meningkatkan input produksi dalam suatu kegiatan usaha budidaya, maka produksi budidaya laut yang diharapkan juga akan semakin besar. Hal ini terlihat dengan semakin tajamnya perubahan kurva dari skenario pesimis ke skenario moderat dan optimis. Dengan adanya perubahan nilai produksi pada setiap pertambahan tahun dapat disimpulkan bahwa model sangat sensitif terhadap intervensi yang diberikan. 8.4 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemodelan sistem dinamis yang telah dilakukan, hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. 214 9 PEMBAHASAN UMUM Pembangunan wilayah pesisir selama ini masih dilihat seperti pembangunan wilayah terestrial lainnya dengan kondisi yang analogi dengan wilayah perdesaan. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena wilayah pesisir memiliki beberapa karakteristik yang khas, yaitu: (1) wilayah pertemuan antara berbagai aspek kehidupan yang ada di darat, laut dan udara, sehingga bentuk wilayah pesisir merupakan hasil keseimbangan dinamis dari proses pelapukan (weathering) dan pembangunan ketiga aspek di atas; (2) berfungsi sebagai habitat dari berbagai jenis ikan, mamalia laut, dan unggas untuk tempat pembesaran, pemijahan, dan mencari makan; (3) wilayahnya sempit, tetapi memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan sumber zat organik penting dalam rantai makanan dan kehidupan darat dan laut; (4) memiliki gradian perubahan sifat ekologi yang tajam dan pada kawasan yang sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berlainan; dan (5) tempat bertemunya berbagai kepentingan pembangunan baik pembangunan sektoral maupun regional serta mempunyai dimensi internasional. Perbedaan yang mendasar secara ekologis sangat berpengaruh pada aktivitas masyarakatnya. Kerentanan perubahan secara ekologis berpengaruh secara signifikan terhadap usaha perekonomian yang ada di wilayah tersebut, karena ketergantungan yang tinggi dari aktivitas ekonomi masyarakat dengan sumberdaya ekologis tersebut. Jika sifat kerentanan wilayah tidak diperhatikan, maka akan muncul konflik antara kepentingan memanfaatkan sumber daya pesisir untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan pembangunan ekonomi dalam jangka pendek dengan kebutuhan generasi akan datang terhadap sumber daya pesisir. Dalam banyak kasus, pendekatan pembangunan ekonomi yang parsial, tidak kondusif dalam mendorong pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Kegiatan yang parsial hanya memperhatikan kepentingan sektornya dan mengabaikan akibat yang timbul dari atau terhadap sektor lain, sehingga berkembang konflik pemanfaatan dan kewenangan. Dari berbagai studi, terdapat kecenderungan bahwa hampir semua kawasan pesisir Indonesia mengalami konflik tersebut. Jika konflik ini dibiarkan berlangsung terus akan mengurangi keinginan pihak yang bertikai untuk melestarikan sumberdayanya. 216 Di era otonomi daerah, pembangunan wilayah pesisir dan laut sebagai salah satu sumberdaya potensial kerap pula memunculkan beberapa permasalahan, antara lain hubungan antara daerah dan pusat, pembangunan ekonomi (yang berkait dengan kemiskinan), serta eksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan kelestariannya. Permasalahan umum yang banyak terjadi dalam hubungan antara pemerintah pusat dan daerah adalah kurang selarasnya pemenuhan kepentingan pusat dan daerah. Kondisi ini terjadi antara lain karena : (a) instansi dinas (kelautan dan perikanan) yang ada di tingkat kabupaten/kota pada era otonomi daerah ini sangat beragam baik dalam struktur organisasi dan kewenangannya. Perubahan ini berpengaruh pada intensitas komunikasi antara instansi yang berada di pusat dan daerah; (b) seringkali instansi dinas di kabupaten dan kota telah memiliki tugas pokok dan fungsi organisasi, namun belum memiliki kewenangan teknis karena belum ada penyerahan kewenangan dari pusat dan Provinsi; dan (c) UU Pemerintahan Daerah No.32/2004 belum dapat berjalan selaras dengan UU Perikanan No.45/2009 dan sebagian peraturan daerah lainnya, sehingga kewenangan dalam dinas kabupaten/kota belum efektif. Hasil analisis ISM (Gambar 34) menunjukkan bahwa pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten Kupang berada pada sektor linkages yang berarti bahwa keduanya memiliki ketergantungan hubungan sektoral yang erat dalam rangka mendorong pembangunan minapolitan sehingga diharapkan dapat menjalin kerjasama yang baik terutama dalam pengaturan kebijakan minapolitan, sedangkan pemerintah pusat dalam hal ini KKP sebagai sektor dependent yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sub elemen lembaga lainnya (pemerintah daerah) namun tidak memiliki kekuatan di dalam mendorong program minapolitan sehingga kunci keberhasilan program minapolitan ini berada pada tangan pemerintah provinsi maupun kabupaten. Permasalahan dalam pembangunan ekonomi di daerah menyangkut pada kebijakan ekonomi makro, kesenjangan, dan kemiskinan. Kebijakan ekonomi makro selama ini (terutama yang berada di luar Pulau Jawa) lebih difokuskan pada usaha ekstraksi hasil bumi (sumberdaya alam) seperti pemberian konsesi pada perusahaan-perusahaan asing dan berskala besar. Ini berarti kurangnya perhatian terhadap usaha masyarkat lokal yang cenderung berskala kecil. Kesenjangan yang terjadi antar kelompok pendapatan antara daerah perkotaan dan perdesaan telah memburuk sejak dibukanya 217 perekonomian perdesaan ke arah ekonomi pasar, karena hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, kredit, informasi dan kekuasaan yang dapat mengambil manfaat dari program-program pembangunan. Dalam konteks wilayah pesisir dan laut, keuntungan ekonomi dari pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut baru dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu seperti juragan kapal dan pengusaha perikanan, namun belum oleh masyarakat pesisir dan nelayan. Selain kesenjangan dalam pendapatan, kesenjangan dalam kepemilikan justru menjadi permasalahan yang lebih serius. Akumulasi sumberdaya pada pihak-pihak tertentu mengarah pada de-aksesasi oleh masyarakat, misalnya saja dalam usaha penangkapan hanya yang memiliki kapal lebih besar dan teknologi yang lebih maju yang dapat menguasai sumberdaya laut. Nelayan kecil dengan teknologi sederhana menjadi terpinggirkan dan kalah sehingga semakin sulit dalam berusaha. Kondisi seperti ini yang terus berlanjut mengakibatkan permasalahan baru yaitu kemiskinan. Nelayan kecil semakin sulit untuk bergerak keluar dari kemiskinan yang menjerat mereka. Eksploitasi sumberdaya laut dan pesisir menjadi salah satu permasalahan dalam pembangunan daerah. Di satu sisi, upaya tersebut dilakukan oleh masyarakat dan daerah untuk menggerakkan roda perekonomian, namun di sisi lain sumberdaya perikanan semakin berkurang karena dieksploitasi secara berlebihan serta mengalami kerusakan. Upaya pengelolaan yang selama ini dilakukan belum menunjukkan hasil yang positif. Ketertinggalan pembangunan wilayah pesisir dan laut sebagai sumber daya ekonomi, merupakan indikator bahwa sektor kelautan selama 43 tahun belum menjadi sektor prioritas dalam pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Begitu sumberdaya alam lainnya (seperti hutan dan minyak bumi) sudah mengarah pada beban pembangunan karena tidak dapat diperbaharui (unrenewable) sebagai akibat pengelolaan yang kurang bijaksana, maka sumberdaya pesisir dan laut merupakan pilihan berikutnya karena keberlimpahan sumberdaya yang ada serta belum dikelola secara optimal dan profesional. Agar tidak terjebak pada kesalahan yang sama, maka dalam pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir harus memperhatikan tiga hal utama, yaitu: 1) apapun persepsi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, maka sebagai sumber ekonomi baru yang kompetitif haruslah bermuara pada pengurangan 218 kemiskinan masyarakat, 2) fokus kegiatan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut sebagai sumber ekonomi baru harus berangkat pada pemikiran untuk meningkatkan pembangunan kegiatan ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang ada, dan 3) sedini mungkin membuat rambu-rambu pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dengan melibatkan masyarakat. Dalam menghadapi peluang dan tantangan pembangunan dalam era globalisasi, maka pembangunan perikanan serta pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut harus mampu mentransformasikan berbagai usaha perikanan masyarakat ke arah bisnis dan swasembada secara menyeluruh dan terpadu. Pendekatan menyeluruh (holistik) dan terpadu ini berarti melihat usaha perikanan sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait, yaitu: 1. Sumberdaya perikanan, yaitu sumberdaya alam (baik yang berada di laut, pesisir, perairan tawar), dan SDM. 2. Sarana dan prasarana, meliputi perencanaan dan penyediaan prasarana perikanan seperti pelabuhan, pabrik es, cold storage, infrastruktur pada sentra industri, pengadaan dan penyaluran sarana produksi (seperti BBM, benih, mesin dan alat tangkap), serta sistem informasi tentang teknologi baru dan sistem pengelolaan usaha yang efisien. 3. Produksi perikanan, meliputi usaha budidaya dan penangkapan yang menyangkut usaha perikanan skala kecil maupun besar. 4. Pengolahan hasil perikanan, meliputi kegiatan pengolahan sederhana yang dilakukan oleh petani dan nelayan tradisional hingga pengolahan dengan teknologi maju di pabrik yang mencakup penanganan pasca panen sampai produk siap dipasarkan. 5. Pemasaran hasil perikanan, meliputi kegiatan distribusi dan pemasaran hasil-hasil perikanan atau olahannya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Termasuk pula di dalamnya kegiatan pemantauan distribusi informasi pasar (market development) dan pengembangan produk (product development). 6. Pembinaan, mencakup kegiatan pembinaan institusi, iklim usaha yang kondusif, iklim poleksosbud yang mendukung, peraturan dan perundangan yang kondusif, pembinaan SDM, serta kepemimpinan yang baik agar kegiatan yang dilaksanakan dapat dicapai seefektif mungkin. 219 Melihat kondisi masyarakat dan wilayah pesisir yang ada di Kabupaten Kupang, maka perlu suatu kebijakan pembangunan yang lebih memprioritaskan pembangunan wilayah Kabupaten Kupang sesuai dengan potensi kelautan dan perikanan yang dimilikinya. Melihat potensi dan permasalahan yang ada di Kabupaten Kupang, maka perlu perencanaan terpadu dan komprehensif merupakan salah satu jawaban untuk mempercepat pembangunan di wilayah ini. Langkah awal dan strategis yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu mengetahui karakteristik wilayah secara utuh baik dilihat dari potensi kelautan yang dimiliki, perkembangan wilayah yang terjadi selama ini maupun kendalakendala yang dihadapi dalam pengembangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah perairan Kabupaten Kupang sangat potensial untuk pengembangan di sektor kelautan. Hal ini dilihat dari kondisi iklim dan ekologis perairan yang sangat mendukung untuk pengembangan sektor ini. Di sisi lain, produksi rumput laut mengalami peningkatan, dan yang terdata secara total mencapai sekitar 3.757,16 ton pada tahun 2007 (DKP Kabupaten Kupang, 2008). Jenis budidaya laut dari sektor kelautan yang potensial untuk dikembangkan antara lain teripang, mutiara, keramba jaring apung dan rumput laut. Namun demikian, dalam pengembangannya sangat dibatasi oleh faktor kesesuaian dan daya dukung lahan dimana dari keempat komoditas tersebut budidaya rumput laut berada pada kelas kesesuaian sangat sesuai dan layak (Tabel 6) untuk dikembangkan baik dari sisi ekologi maupun ekonomi (Tabel 17). Melihat potensi yang dimiliki Kabupaten Kupang, maka kebijakan pembangunan di wilayah ini diarahkan pada pembangunan sektor kelautan melalui pengembangan minabisnis yang didukung oleh kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai baik dari sarana dan prasarana umum maupun sarana dan prasarana pengembangan minabisnis, hal ini sesuai dengan hasil analisis keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi (Tabel 35) dimana sarana dan prasarana minabisnis dalam hal ini penggunaan alat dan mesin budidaya laut untuk produksi dan industri pengolahan rumput laut. Salah satu konsep pembangunan ekonomi wilayah yang berbasis pada potensi kelautan dan perikanan adalah pengembangan kawasan minapolitan atau dikenal dengan kota perikanan. Konsep ini sebenarnya berawal dari konsep agropolitan yang digagas oleh pemerintah dalam hal ini departemen pertanian bekerjasama dengan departemen pekerjaan umum pada tahun 2002 dalam 220 rangka membangun desa-kota berimbang melalui pengembangan kota pertanian di perdesaan. Keberhasilan dari agropolitan ini kemudian menjadi contoh yang diambil oleh departemen kelautan dan perikanan selanjutnya oleh menteri kelautan dan perikanan Republik Indonesia menetapkan peraturan menteri No.12/Men/2010 tentang minapolitan. Dasar hukum minapolitan ini sejalan dengan program pemerintah daerah Provinsi NTT yaitu gemala, sehingga pengembangan minapolitan ini perlu dilakukan dalam rangka pembangunan ekonomi wilayah berbasis potensi kelautan. Walaupun dalam penetapan kawasan minapolitan Kabupaten Kupang ditetapkan sebagai kawsan minapolitan penggaraman namun tidak menutupi kemungkinan bagi sektor budidaya laut yang sangat potensial di Kabupaten Kupang. Penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi bagi pemerintah daerah agar Kabupaten Kupang juga dapat dijadikan minapolitan berbasis budidaya laut dalam hal ini rumput laut. Berkaitan dengan hal tersebut, sekitar 98% masyarakat pesisir setuju jika wilayah ini dijadikan sebagai wilayah pengembangan kawasan minapolitan karena mereka yakin bahwa dengan pengembangan kawasan minapolitan dapat menciptakan lapangan kerja. Namun demikian, kondisi eksisting kawasan masih berada pada strata pra kawasan minapolitan II. Untuk meningkatkan strata kawasan, variabel lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk, jumlah rumah tangga nelayan, jumlah sarana dan prasarana umum, jumlah komoditas budidaya laut, dan banyaknya keluarga pra sejahtera. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut, untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. 221 Hasil simulasi setiap komponen penyusun sub model menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif melalui proses reinforcing dan timbal balik melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dalam kerangka pengembangan wilayah, akan lebih efektif bila dilaksanakan secara bersamasama dari seluruh stakeholder yang terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. Otonomi daerah telah membuka peluang desentralisasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, hal ini penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan banyak memiliki daerah terisolasi, miskin alat transportasi dan komunikasi, masih lemah sistem administrasi pemerintahannya, masih kurangnya kapasitas SDM, serta begitu banyaknya masyarakat yang menggantungkan kehidupan dan nafkahnya pada sumberdaya pesisir dan laut. Dengan demikian, antara pemerintah dan masyarakat akan semakin dekat dan terpetakan berbagai masalah yang dihadapi sebagian besar masyarakat. Pembangunan perekonomian daerah, terutama yang didasarkan pada sumberdaya wilayah pesisir dan laut dapat dilakukan dengan lebih baik dan memperhatikan kelestarian lingkungan, sehingga didapat konsep pembangunan yang berkelanjutan yaitu pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. 222 10 REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG 10.1 Kebijakan Umum Potensi perikanan dan kelautan di Kabupaten Kupang yang cukup besar dan belum tergali secara optimal, karenanya diperlukan langkah strategis yang mampu mengatasi permasalahan yang begitu lama membelit sektor ini. Salah satu upaya mungkin dengan revolusi biru yang berarti melakukan perubahan yang signifikan dengan mengangkat konsep pembangunan berkelanjutan dengan program nasional minapolitan yang intensif. Konsep pembangunan ini sejalan dengan Arah Umum Pembangunan Nasional dan Arah Kebijakan Pembangunan Kewilayahan dan Pengembangan Kawasan sebagaimana tertuang di dalam Buku I RPJM Tahun 2010-2014. Dengan konsep minapolitan pembangunan sektor kelautan dan perikanan diharapkan dapat dipercepat. Kemudahan atau peluang yang biasanya ada di daerah perkotaan perlu dikembangkan di daerah-daerah pedesaan, seperti prasarana, sistem pelayanan umum, jaringan distribusi bahan baku dan hasil produksi di sentra-sentra produksi. Sebagai sentra produksi, daerah pedesaan diharapkan dapat berkembang sebagaimana daerah perkotaan dengan dukungan prasarana, energi, jaringan distribusi bahan baku dan hasil produksi, transportasi, pelayanan publik, akses permodalan, dan sumberdaya manusia yang memadai. Konseptual minapolitan mempunyai dua unsur utama yaitu, minapolitan sebagai konsep pembangunan sektor kelautan dan perikanan berbasis wilayah dan minapolitan sebagai kawasan ekonomi unggulan dengan komoditas utama produk kelautan dan perikanan. Secara ringkas minapolitan dapat didefinisikan sebagai konsep pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan berdasarkan prinsip integrasi, efisiensi dan kualitas serta akselerasi tinggi. Kawasan minapolitan adalah kawasan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan, jasa, permukiman, dan kegiatan lainnya yang saling terkait. Dalam rangka mempertahankan eksistensi dari budidaya rumput laut maupun budidaya laut lainnya diperlukan suatu manajemen pengembangan minapolitan yang baik seperti yang terlihat pada Gambar 26. 224 Konsep minapolitan didasarkan pada tiga azas yaitu demokratisasi ekonomi kelautan dan perikanan pro rakyat, pemberdayaan masyarakat dan keberpihakan dengan intervensi negara secara terbatas (limited state intervention), serta penguatan daerah dengan prinsip : daerah kuat – bangsa dan negara kuat. Ketiga prinsip tersebut menjadi landasan perumusan kebijakan dan kegiatan pembangunan sektor kelautan dan perikanan agar pemanfaatan sumberdayanya benar-benar untuk kesejahteraan rakyat dengan menempatkan daerah pada posisi sentral dalam pembangunan. Dengan konsep ini, diharapkan pembangunan sektor kelautan dan perikanan dapat dilaksanakan secara terintegrasi, efisien, berkualitas, dan berakselerasi tinggi. Pertama, prinsip integrasi diharapkan dapat mendorong agar pengalokasian sumberdaya pembangunan direncanakan dan dilaksanakan secara menyeluruh atau holistik dengan mempertimbangkan kepentingan dan dukungan stakeholders, baik instansi sektoral, pemerintahan di tingkat pusat dan daerah, kalangan dunia usaha maupun masyarakat. Kepentingan dan dukungan tersebut dibutuhkan agar program dan kegiatan percepatan peningkatan produksi didukung dengan sarana produksi, permodalan, teknologi, sumberdaya manusia, prasarana yang memadai, dan sistem manajemen yang baik. Kedua, dengan konsep minapolitan pembangunan infrastruktur dapat dilakukan secara efisien dan pemanfaatannya diharapkan akan lebih optimal, selain itu prinsip efisiensi diterapkan untuk mendorong agar sistem produksi dapat berjalan dengan biaya murah, seperti memperpendek mata rantai produksi, efisiensi, dan didukung keberadaan faktor-faktor produksi sesuai kebutuhan, sehingga menghasilkan produk-produk ekonomi kompetitif. Ketiga, pelaksanaan pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus berorientasi pada kualitas, baik sistem produksi secara keseluruhan, hasil produksi, teknologi maupun sumberdaya manusia. Dengan konsep minapolitan pembinaan kualitas sistem produksi dan produknya dapat dilakukan secara lebih intensif. Keempat, prinsip percepatan diperlukan untuk mendorong agar target produksi dapat dicapai dalam waktu cepat, melalui inovasi dan kebijakan terobosan. Prinsip percepatan juga diperlukan untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara kompetitor, melalui peningkatan market share produk-produk kelautan dan perikanan Indonesia tingkat dunia. Konsep minapolitan akan dilaksanakan melalui pengembangan kawasan minapolitan di daerah-daerah potensial unggulan. 225 Kawasan-kawasan minapolitan akan dikembangkan melalui pembinaan sentra-sentra produksi yang berbasis pada sumberdaya kelautan dan perikanan. Pada setiap kawasan minapolitan akan beroperasi beberapa sentra produksi berskala ekonomi relatif besar, baik tingkat produksinya maupun tenaga kerja yang terlibat dengan jenis komoditas unggulan tertentu. Agar kawasan minapolitan dapat berkembang sebagai kawasan ekonomi yang sehat, maka diperlukan keanekaragaman kegiatan ekonomi, yaitu kegiatan produksi dan perdagangan lainnya yang saling mendukung. Keanekaragaman kegiatan produksi dan usaha di kawasan minapolitan akan memberikan dampak positif (multiplier effect) bagi perkembangan perekonomian setempat dan akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan pendekatan kawasan dan sentra produksi, diharapkan pembinaan unit-unit produksi dan usaha dapat lebih fokus dan tepat sasaran. Walaupun demikian, pembinaan unit-unit produksi di luar kawasan harus tetap dilaksanakan sebagaimana yang selama ini dijalankan, namun dengan konsep minapolitan pembinaan unit-unit produksi di masa depan dapat diarahkan dengan menggunakan prinsip-prinsip integrasi, efisiensi, kualitas dan akselerasi tinggi. Penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan Kabupaten Kupang dapat berupa sentra produksi dan perdagangan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan ikan, atau pun kombinasi kedua hal tersebut. Sentra produksi dan perdagangan rumput laut yang dapat dijadikan penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan adalah pelabuhan perikanan yang bertempat di Kelurahan Namosain. Penggerak utama minapolitan di bidang budidaya rumput laut adalah sentra produksi dan perdagangan di lahan-lahan budidaya produktif yaitu Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Sentra produksi pengolahan dan perdagangan rumput laut yang berada di sekitar pelabuhan perikanan, juga dapat dijadikan penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan. Untuk dapat mengakomodasi kebutuhan pembangunan, “pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut” dapat dipadukan dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan pengembangan minapolitan yang telah dilaksanakan secara bertahap dari tahun 2010 sampai dengan 2015. 226 10.2 Kebijakan Operasional Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa alternatif kebijakan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut. Konsep keterpaduan dalam pengembangan kawasan ini harus didukung oleh keterpaduan lainnya baik dalam hal keterpaduan antar wilayah, keterpaduan antar sektor, keterpaduan antar stakeholder, dan keterpaduan antar disiplin ilmu. Keterpaduan antar wilayah dapat dilihat dari wilayah pengembangan bahwa tidak saja dilaksanakan pada satu wilayah atau kecamatan namun dilaksanakan pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Keterpaduan antar sektor dapat dilihat dari banyaknya sektor yang terkait dan terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan ini dengan mengintegrasikan semua kepentingan sektor-sektor tersebut, sedangkan keterpaduan antar stakeholder dapat dilihat dari banyaknya stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan (hasil analisis ISM untuk sub elemen kendala) ini baik pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, LSM, dan pihak swasta yang menjadi aktor dalam memajukan kawasan minapolitan ini. Keterpaduan disiplin ilmu menekankan bahwa untuk memajukan kawasan perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu mengingat Kabupaten Kupang memiliki karakteristik wilayah dan sosial yang cukup beragam. Dalam rangka menjamin keterpaduan antar stakeholder maupun dalam kelembagaan dalam program pengembangan minapolitan, perlu dilakukan tahapan keterlibatan setiap lembaga yang mengacu pada hasil analisis ISM untuk sub elemen lembaga (Gambar 35). Dalam rangka mendukung keterpaduan pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang, maka beberapa rumusan arahan kebijakan yang perlu dikembangkan sebagai kebijakan operasional antara lain : 1. Menetapkan Kelurahan Sulamu, Desa Hansisi, dan Desa Tablolong sebagai sentra produksi budidaya rumput laut dan desa-desa lainnya sebagai hinterland. Hal ini terkait dengan wilayah perairan yang peruntukkannya untuk budidaya rumput perkembangan laut desa (Gambar 6 sampai 8) tersebut lebih maju dan menurut dibandingkan tingkat dengan desa/kelurahan lainnya. Penetapan wilayah ini juga berdasarkan hasil analisis prospektif untuk tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem pengembangan minapolitan (Gambar 45). 227 2. Membangun sarana dan prasarana budidaya rumput laut (minabisnis) yang dibutuhkan (hasil analisis ISM untuk sub elemen kebutuhan) baik pada sentra produksi maupun pada daerah hinterland yang didukung oleh sarana dan prasarana umum yang memadai terutama sarana dan prasarana transportasi dan telekomunikasi di seluruh desa di kawasan minapolitan (Gambar 33). Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas usaha budidaya, memudahkan akses antar wilayah dalam pengadaan sarana produksi rumput laut, dan pemasaran hasil budidaya. 3. Menggerakkan diversifikasi komoditas rumput laut dalam industri olahan rumah tangga pembudidaya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar menjaga kontinuitas pasar dan memberikan nilai tambah yang tinggi kepada pembudidaya (petani rumput laut). Diversifikasi komoditas rumput laut dapat dilakukan dengan mengintroduksi komoditas rumput laut menjadi berbagai macam olahan makanan selain dodol dan pilus, terutama yang diminta oleh pasar. 4. Meningkatkan produksi rumput laut di kawasan minapolitan melalui ekstensifikasi sampai pada batas maksimal ketersediaan lahan budidaya rumput laut. Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan seperti kantung karbon rumput laut dan mesin pengering dapat diterapkan agar mencapai produksi rumput laut yang maksimal (hasil analisis dimensi keberlanjutan teknologi). Selanjutnya berdasarkan hasil simulasi model dinamik (Tabel 37 sampai 39) dengan laju pertumbuhan lahan budidaya 10% setiap tahun, lahan budidaya eksisting (tahun 2007) adalah 1,21 km2 maka lahan budidaya yang terpakai sampai pada tahun 2037 baru mencapai 3,41 km2 dari 5,94 km2 total lahan budidaya yang tersedia di Kecamatan Semau. Total lahan budidaya yang tersedia di Kecamatan Kupang Barat sebesar 22,29 km2, lahan budidaya eksisting 3,23 km2 akan meningkat menjadi 9,10 km2 pada tahun 2037, sedangkan untuk Kecamatan Sulamu, total lahan budidaya yang tersedia sebesar 3,20 km2 dengan lahan budidaya eksisting 0,10 km2 akan meningkat menjadi 0,29 km2 pada tahun 2037. Dengan demikian peluang kegiatan ekstensifikasi masih besar. 5. Meningkatkan kapasitas pembudidaya dengan memberikan pendidikan baik pendidikan formal maupun informal seperti pelatihan-pelatihan, lokakarya, dan kursus (Gambar 45). Hal ini penting dilakukan mengingat pembudidaya sebagai penggerak utama kawasan minapolitan diharapkan mampu 228 berprakarsa secara mandiri dan kreatif untuk mencari langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan budidaya termasuk dalam pengolahan hasil budidaya dan pemasarannya. 6. Menumbuhkembangkan kelembagaan ekonomi masyarakat pembudidaya baik pada on farm maupun off farm yang tumbuh dari, oleh, dan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri dan bukan kelembagaan yang dibentuk untuk kepentingan instansi pembina tetapi membutuhkan pembinaan dari instansi/lembaga yang terkait karena pada umumnya pembudidaya berusaha sendiri-sendiri dengan ketrampilan dan modal seadanya. Langkah yang dapat dilakukan adalah memberi dorongan dan bimbingan agar mereka mampu bekerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok, selanjutnya membentuk gabungan kelompok atau asosiasi. Apabila kelompok ini sudah berjalan dengan baik dan lancar, bimbingan selanjutnya diarahkan agar mereka mampu menjadi salah satu lembaga ekonomi formal. 7. Meningkatkan koordinasi dan menjalin kemitraan yang baik pada semua stakeholder yang terkait. Dalam hal ini koordinasi dan kemitraan antara pemerintah, masyarakat (pembudidaya) dan dunia usaha menjadi sangat penting dalam pengembangan kawasan minapolitan sesuai dengan kewenangan masing-masing. Peran pemerintah diharapkan dalam hal penyediaan sarana dan prasarana publik yang strategis dan kegiatan-kegiatan riset budidaya. Peran dunia usaha seperti lembaga swasta dan perbankan adalah dalam hal penyediaan input budidaya dan dalam pengolahan hasil budidaya, sedangkan masyarakat sebagai pelaku utama memberikan kontribusi dalam pemanfaatan sarana dan prasarana yang telah disiapkan oleh pemerintah dna dunia usaha untuk meningkatkan pendapatannya. 8. Meningkatkan status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan ke depan baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan-perbaikan secara menyeluruh dan terpadu terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap peningkatan status kawasan. Berdasarkan hasil MDS (Gambar 38) dan analisis prospektif (Gambar 45), terdapat 18 atribut (Tabel 35) yang perlu ditangani dengan baik untuk meningkatkan status keberlanjutan mencapai 80%. Namun demikian agar status keberlanjutan kawasan ke depan dapat lebih meningkat, maka perbaikan terhadap atribut tidak sensitif juga perlu dilakukan. 11 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Potensi, daya dukung, tingkat perkembangan, persepsi, dan status keberlanjutan Kabupaten Kupang dalam pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut sebagai berikut : a. Berdasarkan hasil analisis potensi keruangan (spasial) dengan menggunakan SIG untuk tiga kecamatan di Kabupaten Kupang, didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2 dengan daya dukung lahan untuk budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline seluas 3000 m2. Peluang usaha rumput laut mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. b. Tingkat perkembangan wilayah termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. c. Masyarakat wilayah Kabupaten Kupang setuju bila daerahnya dikembangkan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. d. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut. Untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Dalam hal ini peran masyarakat nelayan dan industri pengolahan hasil budidaya laut sangat diperlukan untuk menjamin kesuksesan pengembangan minapolitan di Kabupaten Kupang. 230 e. Berdasarkan kondisi eksisting di lokasi penelitian berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang, dimensi ekologi dan sosial-budaya berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi serta dimensi hukum dan kelembagaan kurang berkelanjutan, sedangkan dimensi ekonomi cukup berkelanjutan. Secara multidimensi wilayah budidaya laut di Kabupaten Kupang cukup berkelanjutan dengan 18 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi ekologi, 5 atribut pada dimensi ekonomi, 3 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 4 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 3 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status pengembangan Kabupaten kawasan Kupang minapolitan adalah skenario berbasis budidaya progesif-optimistik laut di dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 5 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. 2. Model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dibangun dari tiga sub model berdasarkan hasil analisis sistem dinamik. Ketiga sub model tersebut meliputi sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran produk. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan membentuk kurva pertumbuhan positif (positive growth) naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam 231 sistem dinamik mengikuti pola dasar (archtype) “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. Arahan kebijakan dalam pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang adalah sebagai berikut : a. Hasil identifikasi potensi budidaya laut di Kabupaten Kupang menunjukkan bahwa wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut. b. Rumusan kebijakan yang dapat dilakukan antara lain : (1) Menetapkan Kelurahan Sulamu, Desa Hansisi, dan Desa Tablolong sebagai sentra produksi budidaya rumput laut dan desa-desa lainnya sebagai hinterland. (2) Membangun sarana dan prasarana budidaya rumput laut (minabisnis) yang dibutuhkan baik pada sentra produksi maupun pada daerah hinterland. (3) Menggerakkan diversifikasi komoditas rumput laut dalam industri olahan rumah tangga pembudidaya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. (4) Meningkatkan produksi rumput laut di kawasan minapolitan melalui ekstensifikasi sampai pada batas maksimal ketersediaan lahan budidaya rumput laut. (5) Meningkatkan kapasitas pembudidaya. (6) Menumbuhkembangkan kelembagaan ekonomi masyarakat pembudidaya baik pada on farm maupun off farm. (7) Meningkatkan koordinasi dan menjalin kemitraan yang baik pada semua stakeholder yang terkait. (8) Meningkatkan status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan ke depan baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. 232 DAFTAR PUSTAKA Abelson, P. 1979. Cost Benefit Analysis and Environmental Problems. Macquire University, New South Wales. Printed by Itchen Printers Limited, Suthampton, England. p 41-43. Anggoro, S,. 2004, Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah, MSDP, UNDIP, Semarang. Bakosurtanal. 1996. Pengembangan Prototipe Wilayah Pesisir dan Marine, Kupang-Nusa Tenggara Timur. Pusat Bina Aplikasi Inderaja dan Sistem Informasi Geografis, Cibinong. Barlas, Y. 1996. Formal Aspects of Model Validity and Validation of System Dynamics. System Dynamics Review, Vol. 12, No. 3 (Fall), pp. 183-210. John Wiley & Sons, Ltd. US. Basmi, J. 2000. Planktonologi : Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan. Makalah, Fakultas Perikanan Instistut Pertanian Bogor, Bogor. Baveridge, M.C.M. 1987. Cage and Open Farming: Carrying Capacity Models and Environmental Impact. FAO Fish Tech. Paper. 225. FIRT/T255, 131p. Experiment Station, Auburn University. Alabama. 482p. Baveridge, M.C.M. 1996. Cage Aquaculture 2nd Edition. Fishing News Book Ltd. Farnham, Surrey, England. 352p. Beatley, T., D.J. Brower, & A.K. Scwab. 1994. Understanding The Coastal Environment, The Special Nature Of Coastal Areas. An Introduction to Coastal Zone Management. Island Press, Washington, D.C., pp. 11-31. Bengen, D.G. 2004. Ragam Pemikiran : Menuju Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan Berbasis Eko-Sosiosistem. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut. Bogor. 106hal. Bourgeois, R. 2007. Bahan Pelatihan Analisis Prospektif Partisipatif. Training of Trainer ICASEPS. Bogor. 37 hal. Bourgeois, R. and F. Jesus. 2004. Participatory Prospective Analysis, Exploring and Anticipating Challenges with Stakeholders. Center for Allevation of Poverty through Secondary Crops Development in Asia and The Pasific and French Agricultural Research Centre for International Development. Monograph (46). 91p. Budiharsono, S. 2001. Teknik Analsis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Pradyna Paramita. Jakarta. 159hal. Burrough, P.A. 1986. Principles Of Geographycal Information System for Land Resources Assesment. Monograph on Soil and Resources Surveys . No. 12. UK: Oxford Science Publication. 234 Burrough, P. A., and R.A. McDonnel. 1998. Principles Of Geographycal Information Systems. Oxford University Press. 327p. [BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kupang. 2008. Kabupaten Kupang dalam Angka (Kupang Regency in Figures) 2008. Kupang. Nusa Tenggara Timur. 424hal. [BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kupang. 2010. Kabupaten Kupang Dalam Angka. No. Katalog : 1403.5303. Kupang. NTT. Chrisman. 1996. Exploring Geographic Information Systems. University of Washington. Cincin-Sain, B. 1993. Sustainable Development and Integrated Coastal Zone Management. Ocean and Coastal Management. Island Press. California. Clark, W.A.V. and P.L. Hosking. 1986. Statistical Method for Geographers. John Wiley and Sons, Inc. 513p. Dacles, T., Beger,M., Ledesma, G.L. 2000. Southern Negros Coastal Development Programme Recommendations for Location and Level of Protection of Marine Protected Areas in Municipality of Sipalay. Phillipine Reef and Rainforest Conservation Foundation Inc. and Coral Cay Conservation Ltd. Dawes, C.J. 1985. Marine Botany. New York: John Wiley and Son Inc. 229 hal. DeMers, M. 1997. Fundamentals of Geographic Information System. New York: John Wiley and Son Inc. [Deptan] Departemen Pertanian. 2002. Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan dan Pedoman Program Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. [Ditjenkan Budidaya] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2004. Petunjuk Teknis Budidaya Laut : Rumput Laut Euchema cottonii spp. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 40 hal. [Ditjenkan Budidaya] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2005. Profil Rumput Laut Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Djojomartono, M. 2000. Dasar-dasar Analisis Sistem Dinamik. Program Pascasarjana Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 55hal. [DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan. 2002. Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Tahun 2002. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Modul Sosialisasi dan Orientasi Penataan Ruang, Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ditjen 235 Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Panduan Mata Pencaharian Alternatif. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 64 hal. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2009. Indonesian Fisheries Book 2009. Departemen Kelautan dan Perikanan dan JICA. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2009. Kep.45/dj-pb/2009. Keputusan Dirjen Budidaya mengenai Pengembangan Sentra Budidaya. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2010. Kebijakan Pengembangan Kawasan Minapolitan sebagai Langkah DKP Dalam Mendukung Pengembangan Wilayah. Makalah Presentasi. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. DKI Jakarta. [DKP NTT] Dinas Kelautan dan Perikanan NTT. 2008. Data Base Perikanan Kabupaten Kupang. Kupang. NTT. [DKP NTT] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kupang. 2010. Potensi Sumberdaya Perikanan dan Pemanfaatannya. Kupang. NTT. Doty, M.S. 1985. Biotechnological and Economic Approaches to Industrial Development Based on Marine Algae in Indonesian - Papers. Workshop on Marine Algae in Biotechnology. Jakarta. Effendi. H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Eriyatno. 1998. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Jilid 1. Edisi Ketiga IPB Press. Bogor. Eryatno dan F. Sofyar. 2007. Riset Kebijakan, Metode Penelitian untuk Pascasarjana. IPB Press. Bogor. 79hal. ESRI. 1990. Understanding GIS. The Arc/Info Method Environmental System Research Institute. Redlands, CA. USA. FAO. 1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soils Bull No.32. Rome, 72 pp and ILRI Publication No.22. Wageningen. 87p. FAO. 2003. A Guide to The Seaweed Industry. FAO Fisheries Technical Paper No. 441. FAO. 2009. The State of World Fisheries and Aquaculture 2008. Food And Agriculture Organization Of The United Nations. Rome. Fisheries. 1999. Rapfish Software for Excel. Fisheries Center Research Reports. 75pages. 236 Friedmann, J. 1966. Regional Development Policy: a case study of Venezuela. Cambridge: MIT Press. FWA. 1998. Planning for the Further Development of Aquaculture and Marine Farming Industry at Jurien Bay. Fisheries Management Report No. 4. Fisheries Western Australia. Australia. Ghofar, A., 2004, Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Secara Terpadu dan Berkelanjutan, Cipayung-Bogor. Ghufron. M, dan H. Kordi. 2005. Budidaya Ikan Laut di Keramba Jaring Apung. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Godet, M. 1999. Scenarios and Strategies. A Toolbox for Scenario Planning. Librairie des Arts et Meteirs. Paris. France. Godschalk, D. R, Park FH. 1978. Carrying capacity: a key to environmental planning. J. Soil Water Conserv. 30, 160 –165. Hall, C.A.S and J.W. Day.1977. Ecosystem Modelling in Theory and Practise an Introduction with Case Historie. John Wiley and Son. New York. Hardjomidjojo, H. 2006. Panduan Lokakarya Analisis Prospektif. Materi Kuliah Program Studi PSL Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor. 23hal. Haumau, S. 2005. Distribusi Spatial Fitoplankton di Perairan Teluk Haria Saparua, Maluku Tengah. Ilmu Kelautan Indonesian Journal Of Marine Science, UNDIP. Vol 10. No 3. hal 126 – 136. Hirschman, A. O. 1958. The Strategy of Economic Development. New Haven : Yale University Press. Iriawan. N, dan Astuti SP. 2006. Mengolah Data Statistik dengan Mudah menggunakan Minitab 14. Yogyakarta: Penerbit Andi. JICA. 2009. Indonesian Fisheries Statistic Indeks 2009. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Jones, R.R, Wigley T. 1989. Ozone Depletion: Health and Environmental Consequences. John Wiley & Sons, New York. Jurana, J.M. 1996. Problems Related to GIS Application and Geographic Database Development in Developing Countries. International Conference on The Role of GIS for the Enhancement of National Spasial Planning. Jakarta 21-22 October 1996. Kadariah et al. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Universitas Indonesia. Jakarta. Kadi, A dan W.S. Atmajaya. 1988. Rumput Laut (Algae). Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 71 hal. 237 Kanungo, S and V.V.Bhatnagar. 2002. Beyond Generic Models for Information System Quality: The Use of Interpretive Structural Modeling (ISM). System Research and Behavioral Science. Syst. Res. 19, 531-549. Kapestky, J.M., L. Mc Gregor, and H. Nanne. 1987. A Geographical kinformation System and Satellite Remote Sensing to Plan for Aquaculture Development: A FAO – UNEP/GRID Cooperative Study in Costa Rica. FAO Fish. Tech. Pap. (287):51p. Kavanagh, P. 2001. Rapid Appraisal of Fisheries (Rapfish) Project. Rapfish Software Description (for Microsoft Excel). Vancouver: University of British Colombia, Fisheries Center. Canada. 10(2): 352-370. Kavanagh P. and T.J. Pitcher. 2004. Implementing Microsoft Excel Software for Rapfish: A Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status. University of British Columbia. Fisheries Centre Research Reports 12(2) ISSN: 1198672. Canada. 75p. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikaan. 2010. Kelautan dan Perikanan Dalam Angka 2009. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republuk Indonesia. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Per.12/Men/2010 mengenai Minapolitan. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2009. Kep.41/Men/2009 mengenai Penetapan Kawasan Minapolitan. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Kep.32/Men/2010 mengenai Penetapan Kawasan Minapolitan. Jakarta. [Kemenko Ekonomi] Kementerian Koordinator Perekonomian RI. 2010. Kebijakan Pengembangan Ekonomi dan Pembiayaan Usaha Kelautan dan Perikanan. Disampaikan pada Rapat Koordinasi Nasional KKP. Jakarta. [Kemeneg LH] Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Tentang Baku Mutu Air Laut. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. Jakarta. Maguire DJ, Dangermond J. 1991. The Fungtionality of GIS, p. 319 -335. In Maguire DJ, Goodchild MF, dan Rhind DW, editor. Geographycal Information Systems. New York: Longman Scientific and Technical. John Wiley. Manetsch, T.J and G.L. Park. 1979. System Analysis and Simulation with Application to Economic and Social System (terjemahan). Part I 3rd edition. Departement of Electrical Enginering and System Science. Michigan State University East Lansing. Michigan. 64p. Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Jakarta. 197hal. 238 Marimin. 2005. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Grasindo. Jakarta. Meadows, D.H. 1985. The Electronic Oracle: Computer Model and Social Decision, Chichester, John Wiley. New York. Muhammadi, E. Aminullah, dan B. Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis, Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Jakarta. 414hal. Myrdal, G. 1975. Economic Theory and Under-development Regions. London: Duckworth. Pitcher and Priekshot. 2001. Rapfish: A Rapid Appraisal Technique to Evaluate The Sustainability Status of Fisheries Research 49(3): 225-270. Porter, M. 2000. Location, Competition, and Economic Development: Local Clusters in a Global Economy. Economic Development Quarterly, 14(1): 1534, February 2000. Harvard Bussiness School Press. Boston, MA. Postel, S. 1989. Halting land degradation. Pages 21 -40 in L. Brown, A. Durning, C. Flavin, L. Heise, J. Jacobson, S. Postel, M. Renner, C. P. Shea, and L. Starke, eds. State of the World 1989. Norton, New York. Pranoto, Sugimin. 2005. Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan Melalui Model Pengembangan Agropolitan. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 293hal. Price, D.1999. Carrying Capacity Reconsidered. Populat. Environ. 21 (1), 5–26. Program Pascasarjana IPB. Purwanto, 2003, Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Radarwati, Siti. 2010. Pengelolaan Perikanan Tangkap Berkelanjutan Di Perairan Jakarta, Provinsi DKI Jakarta. (Ringkasan Disertasi Sidang Terbuka) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Radiarta, I. Ny., S. E. Wardoyo., B. Priyono dan O. Praseno. 2003. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Lokasi Pengembangan Budidaya Laut di Teluk Ekas, NTB. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta. Vol 9 No.1, hal 67 – 71. Rauf, A. 2008. Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulauan Tanakeke Berbasis Daya Dukung. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 211hal. Robert, N. 1983. Introduction for Computer Simulation: A System Dinamics Modelling Approach. Addison-Wesley Publishing Company. Massachusetts. 239 Romimohtarto, K. 2003. Kualitas [www.fao.org/docrep/field/003] Air dalam Budidaya Laut. Roughgarden, J. 1979. Theory of Population Genetics and Evolutionary Ecology: An Introduction. Macmillan, New York. Rustam. 2006. Budidaya Teripang. Pelatihan Budidaya Laut. Coremap Fase II Kabupaten Selayar. Yayasan Mattirotasi. Makassar. Saaty, T.L. 1993. Pengambilan Keputusan bagi Para Pemimpin: Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks (terjemahan). Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. 270 hal. Saksono, H. 2008. Kajian Pembangunan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Berbasis Industri Perikanan. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Saxena J.J.P, Sushil and Vrat, P. 1992. Hierarchy and Classification of Program Plan Elements using Interpretative Structural Modelling. System Practice, Vol. 5 (6), 651:670. Soegiarto, A; W.S Sulistijo; dan H. Mubarak. 1978. Rumput Laut (Alga) : Manfaat, Potensi dan Usaha Budidaya. PT Pustaka Binaman Presindo. Jakarta. Soegiarto, A. 1984. Oseannologi di Indonesia : Prospek dan Problem Usaha Pengembangan Sumberdaya Alam Lautan dan Wilayah Pesisir. Lembaga Oseanologi Nasional – LIPI. Jakarta. Soekartawai. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Subandar, A. 1999. Potensi Teknik Evaluasi Multi Kriteria dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Jurnal Sains dan Teknologi Vol.1 No.5 (Agustus 1999). Sunyoto, P. 2000. Pembesaran Kerapu dengan Keramba Jaring Terapung. PT. Penebar Swadaya. Depok. Supriharyono, 2000, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang, Pn. Djambatan, Jakarta. Susilo, S. B. 2003. Keberlanjutan Pembangunan Pulau-pulau Kecil (Studi Kasus Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta). (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor. 211hal. Thamrin. 2009. Model Pengembangan Kawasan Agropolitan Secara Berkelanjutan Di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia. Disertasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 289hal. Undang-undang RI No. 25 Tahun 2000. Program Pembangunan Nasional (Propenas). 143 Hal. [http://legislasi.mahkamahagung.go.id/] Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 240 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-Undang RI No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. Walpole, R. E. 1995. Pengantar Statistika Edisi Ke-3. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 515hal. Wibisono, M. S. 2005. Pengantar Ilmu Kalautan. Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Winanto, Tj. 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Penebar Swadaya, Jakarta. LAMPIRAN 247 Lampiran 2 (lanjutan) Kriteria dan matriks kesesuaian perairan untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (DKP, 2002) Angka Bobot Skor Sumber Variabel Kisaran penilaian (B) (A×B) Penilaian (A) 1 2 3 4 5 6 Kecepatan Arus (cm/dt) 20 – 50 10 – 19 & 51 – 75 75 MPT (mg/l) 50 5 3 1 5 3 1 5 3 1 Material Dasar Perairan 15 – 25 5 – 15 & 26 – 50 35 Berpasir & Pecahan Karang Pasir Berlumpur Lumpur Oksigen Terlarut (mg/l) >6 4–6 5 3–5 15.000 & 10 4 – 10 15.000 & 6 4–6 1,5 0,5 – 1 >1 – 1,5 > 1,5 Landai, P/B/PK Agak Landai, P/B/PK Terjal, P/B/PK 28 – 30 30 – 33 33 24 – 30 31 –33 33 4–6 7 –8 >8 6,5 – 7,0 7,1 – 8,5 8,5 pH Keberadaan Lamun Banyak Sedikit Tidak ada Tingkat Pencemaran Nol Sedikit Banyak Ketersediaan Benih Alami Ada dan Dekat Ada dan Jauh Tidak Ada 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 15 9 3 15 9 3 15 9 3 15 9 3 3 3 3 3 15 9 3 3 10 6 2 10 6 2 10 6 2 10 6 2 5 3 1 5 3 1 5 3 1 2 2 2 2 1 1 1 Total Skor Keterangan : P/B/PK = Pasir/Berlumpur/Pecahan Karang No Kisaran Nilai (Skor) 1) 1 85 – 100 % 2 75 – 84 % 3 65 – 74 % 4 < 65 % Keterangan : 1) : Rekomendasi DKP (2002) 2) : Bakosurtanal (1996) Tingkat Kesesuaian 2) S1 S2 S3 N Sutaman (2003) dalam Coremap (2008) 130 Evaluasi/Kesimpulan Sangat sesuai Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai 250 Lampiran 3 Luas wilayah kabupaten kupang per kecamatan tahun 2009 (BPS Kabupaten Kupang, 2010) Kecamatan Luas wilayah (Km2) Persentase (1) (2) (3) 01. Semau 122,98 2,26 02. Semau Selatan 100,85 1,86 03. Kupang Barat 136,50 2,51 04. Nekamese 133,18 2,45 05. Kupang Tengah 96,64 1,78 06. Taebenu 125,69 2,31 07. Amarasi 164,78 3,03 08. Amarasi Barat 189,11 3,48 09. Amarasi Selatan 156,61 2,88 10. Amarasi Timur 175,00 3,22 11. Kupang Timur 207,69 3,82 12. Amabi Oefeto Timur 246,38 4,54 13. Amabi Oefeto 150,12 2,76 14. Sulamu 304,63 5,61 15. Fatuleu 346,26 6,38 16. Fatuleu Barat 457,25 8,42 17. Fatuleu Tengah 92,48 1,70 18. Takari 545,60 10,05 19. Amfoang Selatan 575,70 10,60 20. Amfoang Barat Daya 202,84 3,74 21. Amfoang Utara 129,64 2,39 22. Amfoang Barat Laut 318,59 5,87 23. Amfoang Timur 452,71 8,34 24. Amfoang Tengah Jumlah 5.431,23 100,00 Sumber data : Badan pertanahan nasional Kabupaten Kupang. Data Amfoang Tengah masih tergabung dengan Amfoang Selatan. 247 Lampiran 4 Nama dan arti pulau-pulau kecil di Kabupaten Kupang (DKP Kabupaten Kupang, 2008) Kecamatan Nama Di Daerah Nama yang Disepakati Arti Nama Sejarah Nama Bahasa Daerah Letak Lintang Keterangan Bujur **) 1. Semau 1.Semau 1.Semau 2. Kambing 2. Kambing - - Helong 10o14’00’’ 123o23’30” - - 10o14’24’’ 123o26’10” TBP, bervegetasi rumput, kering Dulu ada perahu tenggelam, alat timba (kera/haik) terdampar di pulau itu & dinamai kera Rote 10o05’22’’ 123o32’23” BP, 46 KK Potensi pariwisata, berpantai pasir, Luas 48 Ha 3. Kera 3. Kera Sejenis timba yg terbuat dari daun lontar 4. Batu Ina 4. Batu Ina Inang=induk - Helong 10o14’06’’ 123o24’42” TBP, bervegetasi rumput, kering 5. Tabui 5. Tabui Tampak/kelihatan - Helong 10o18’41’’ 123o16’42” TBP, bervegetasi rumput, kering 6. Merah 6. Merah Pulaunya berwarna merah - Helong 10o19’33’’ 123o20’36” TBP, bervegetasi rumput, kering - 7. Fatumeo Fatu=batu, Meo=kucing/ pengintai ikan Saat surut tempat mengintip ikan Timor 10o21’28’’ 123o35’59” TBP, Batu - 8 .Fatupene Fatu=batu, Pene=melihat Tempat melihat orang berlayar Timor 10o22’20’’ 123o36’42” TBP, Batu - 9. Fatusnasat Fatu=batu, Snasat=pemberhe ntian Tempat persinggahan nelayan Timor 10o20’33’’ 123o34’23” TBP, Batu 10. Fatunai Batu laki-laki Timor 10o20’12’’ 123o34’12” TBP, Karang 8. Fatufeu 11. Fatufeu Fatu=batu, feu=baru - Timor 10 20’39’’ 123 34’30” TBP, Karang 9. Fatuatoni 12. Fatuatoni Fatu=batu, atoni=manusia - Timor 10o20’50’’ 123o35’19” TBP, Karang 2. Semau Selatan 3. Nekamese Se=satu, mau=kemauan terdapat 2 kec: Semau dan Semau Selatan BP, Potensi mutiara, rumput laut, jambu mente, perikanan tangkap 7. Fatunai - o o 251 248 4. Amarasi Barat 13. Pan Apot 14. Fatu Tanjung perahu Fatu=batu, Tubu=gunung Afu=abu Tempat berkumpulnya burung Batu yg terletak di Tanjung Perahu 10o20’52’’ 123o35’24” TBP, Karang Timor 10o21’23’’ 123o40’44” TBP, Batu - 10o21’40’’ 123o41’18” TBP, Batu - 10o01’30’’ 123o39’07” TBP, tempat penangkapan ikan 12. Burung 16. Burung 13. Tikus 17. Tikus Mirip tikus Dulu banyak dihuni tikus - 10o03’06’’ 123o36’45” TBP, karang bervegetasi, tempat penangkapan ikan - 18. Fatubnao Fatu=batu Bnao=kapal Dulu, saat perang ada kapal rusak disitu dan untuk mengenang peristiwa itu, batu itu dinamai batu kapal - 09o42’32’’ 123o40’52” TBP, karang Luas 0,4 Ha - 19. Batu Tanjung mas Batu di dekat Tanjung mas - Sabu 09o37’39’’ 123o40’35” TBP, karang - 20. Batu Hitam Batu berwarna hitam - Sabu 09o36’14’’ 123o42’10” TBP, karang 123o59’37” Pulau terluar, BP tidak tetap, Luas 14,5 Ha, ada mercusuar, helipad, pos TNI. Dulu bernama Fatusinai artinya batu sedih 14. Batek 21. Batek - Timor 15.Tubuafu 7. Amfoang B. Daya 8. Amfoang Timur - 11.Tubuafu 5. Sulamu 6. Fatuleu Barat Pan=ujung Apot=bunyi - - Timor 10o15’25’’ 252 10. Pan Apot 253 Lampiran 5 Sebaran desa/kelurahan pesisir di Kabupaten Kupang No Kecamatan 1 Semau 2 Semau Selatan Desa/Kelurahan Pesisir Uitao, Bokonusan, Otan, Hansisi, Huilelot, Letbaun, Batuinan Akle, Uitiuhana, Onansila, Uitiuhtuan, Nalekan, Uiboa Lifuleo, Tesabela, Kuanheum, Nitneo, 3 Kupang Barat Bolok, Tablolong, Oematnunu, Sumlili, Oenaek 4 Nekamese 5 Kupang Tengah 6 Kupang Timur 7 Sulamu 8 Amarasi Selatan Sahraen, Buraen, Retraen 9 Amarasi Timur Pakubaun, Enoraen 10 Amarasi Barat Merbaun, Erbaun 11 Fatuleu Barat Poto, Nuataus 12 Amfoang Barat daya Manubelon, Bioba Baru 13 Amfoang Barat Laut Soliu 14 Amfoang Utara Afoan, Naikliu, Bakuin, Kolabe, Lilmus 15 Amfoang Timur Jumlah Tasikona, Bone, Oepaha Tarus, Tanah Merah, Mata Air, Oebelo, Noelbaki Nunkurus, Merdeka, Babau, Tuapukan, Oelatimo Sulamu, Pitai, Panti, Bantulan, Pantai Beringin, Oeteta, Bipolo Nunuanah, Kifu, Netemnanu Utara, Netemnanu Selatan 15 kecamatan 64 desa/kelurahan pesisir 254 Lampiran 6 Karakteristik pantai dan laut, serta luasan ekosistemnya (DKP, Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan Panjang Grs Pantai (km) Karakteristik Perairan Ekosistem Pantai dan Laut Keterangan Trmb Lamun Mangrove (Pulau Kecil, dll) Krg (ha) (ha) (ha) - P.Kera 50 220 - P.Kambing 1 Semau 98,25 Pasir, karang 2 Semau Selatan **) Pasir, karang **) **) **) 3 Kupang Barat 25,00 Pasir, karang 600 640 153,1 4 Nekamese 12,50 Pasir, kerikil 22 223 - 5 Kupang Tengah 14,50 Pasir berkerikil, lumpur - - 4,7 6 Amarasi Barat 23,00 Karang, pasir *) *) *) - P.Tubuafu 7 Amarasi Selatan *) Pasir, karang *) *) *) - 8 Amarasi Timur *) Pasir, lumpur *) *) *) - 9 Kupang Timur 4,50 Lumpur berpasir, lumpur - - 3.839,5 - 10 Sulamu 95,00 Berpasir, lumpur, dan berkarang - 27 470 11 Fatuleu Barat 25,50 Pasir, karang *) *) *) - Pulau Kecil (1 pulau) 12 Amfoang B. Daya *) Pasir, lumpur, karang *) *) - - Pulau Kecil (2 pulau) 13 Amfoang Utara *) Pasir, Karang *) *) - - 14 Amfoang B. Laut *) Pasir, lumpur, karang *) *) - - 15 Amfoang Timur *) Pasir, lumpur, karang *) *) - - P. Batek Keterangan : *) data tidak tersedia **) data masih digabung Kecamatan Semau - P.Merah - P.Tabui - pulau kecil (8 pulau) - - P.Burung - P.Tikus 255 Lampiran 7 Potensi dan sebaran jenis ikan dan non ikan dominan yang tertangkap (DKP Kabupaten Kupang, 2008) Potensi dan Jenis Ikan/non ikan Dominan No Kecamatan (1) (2) Pelagis Besar (3) Pelagis Kecil Demersal (4) (5) 1 Semau Tongkol, tuna Tembang, kembung, peperek, ikan terbang - 2 Semau Selatan Tongkol, tuna Tembang, kembung, peperek, ikan terbang Kakap 3 Kupang Barat Tongkol Tembang, julungjulung, peperek Ek.kuning, kpl.batu 4 Nekamese Cakalang Selar, layang Ek.kuning, kepala batu 5 Kupang Tengah - Teri, selar, tembang, layang, julung-julung - 6 Amarasi Barat Cucut, cakalang Tembang, Ekor kuning 7 8 Amarasi Selatan Amarasi Timur 9 Kupang Timur 10 Sulamu 11 Fatuleu Barat 12 13 14 15 Amfoang B. Daya Amfoang Utara Amfoang B. Laut Amfoang Timur Cucut Cucut Tongkol Cakalang Cakalang Cakalang Tembang, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Teri, belanak, tembang Tembang, teri, peperek Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang - Non ikan (6) Cumi-cumi, Ubur-ubur, teripang Cumi-cumi, Ubur-ubur, teripang Udang, Lobster, Cumicumi, Uburubur, teripang Udang, teripang, kepiting Udang, lobster, teripang Lobster Ekor kuning, kepala batu Udang, kepiting Udang, teripang, kepiting Udang, kepiting - - - - - - - - - Kepiting - 256 Lampiran 8 Potensi dan pemanfaatan areal budidaya laut s/d tahun 2005 (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No. Kecamatan (1) (2) 1 Semau 3.824,0 2 Semau Selatan 3 Kupang Barat 4 Nekamese 5 Amarasi Barat 6 Sulamu 7 8 Fatuleu Barat Amfoang B. Laut Jumlah Keterangan : Potensi (ha) (3) 1) 2) 2) Dimanfaatkan (ha) (4) 121,30 2) Produksi (ton) (5) 630,0 20.825,0 2) 952,0 122,5 460,0 20,0 3,0 100,0 750,0 88,0 49,0 25,0 1.050,0 250,0 323,22 0,25 60,40 2,0 2 1,50 - 1.006,0 38.674,0 5,0 9 2 - - 7.693,5 510,67 1.643 59.499 1) 1) data tidak tersedia data digabung dengan kecamatan Semau Jenis Budidaya (6) - Rumput laut - Mutiara (gr) Rumput Laut - Rumput laut - KJA - Mutiara (gr) Rumput laut - Kepiting - Rumput laut - Rumput laut - KJA - Kepiting - Teripang Rumput laut - Rumput Laut - Mutiara (gr) 257 Lampiran 9 No. (1) Potensi dan produksi budidaya air tawar/payau (DKP Kabupaten Kupang, 2008) Kecamatan Dimanfaatkan (ha) Produksi (ton) (3) (4) (5) 1 Kupang Barat 10,00 8,00 3,20 2 Kupang Tengah Taebenu Amarasi Amarasi Barat 56,50 5,65 - 2) 2) 2) 2) 2) 2) 5,00 0,90 0,15 Amarasi Timur Kupang Timur 100,00 - - 44,00 1.750,00 9,50 8,00 350,00 0,80 500,00 3) 3) 3) 106,00 0,50 0,55 2,00 423,00 300,00 0,70 489,10 1.227,93 3 4 5 6 7 8 (2) Potensi (ha) 10 Amabi Timur Amabi Oefeto Sulamu 11 12 Fatuleu Takari 410,00 290,00 3,00 0,70 12,00 Jumlah 2.748,70 9 O. **) 0,40 1) Jenis- jeins budidaya/ usaha Keterangan (6) (6) Kolam ikan tawes 1) data s/d Thn 2007 Bandeng, garam Tawes,Nila,K arper 2) data tidak tersedia 3) data masih - Bandeng - garam Nila,Karper 3) - Bandeng - Udang - Artemia Nila, Karper Nila, Karper gabung Kec.Kupang Timur 258 Lampiran 10 Sarana prasarana budidaya laut s/d tahun 2005 (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan KJA (unit) (1) (2) (3) 1 Semau 3 2 Semau Selatan - 3 Kupang Barat 4 4 Sulamu - Jumlah 7 Sarana Budidaya RL Jenis bantuan (4) - tali PE (m) - pelampung (bh) - tali PE (m) - pelampung (bh) - tali PE (m) - pelampung (bh) - tali PE (m) - waring (kg) - tali PE (m) - pelampung (bh) - waring Jumlah (5) 46.200 23.100 19.800 9.900 133.320 66.660 2.000 199.320 99.660 2.000 Lampiran 11 Sebaran bantuan sarana dan prasarana perikanan s/d tahun 2007 (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan (1) (2) 1 Semau 2 Semau Selatan 3 Kupang Barat 4 Nekamese 5 Kupang Tengah 6 7 8 9 Amarasi Barat Amarasi Selatan Amarasi Timur Kupang Timur 10 Sulamu 11 12 Fatuleu Barat Amfoang B. Daya 13 Amfoang Utara 14 15 Amfoang B. Laut Amfoang Timur Jumlah (3) Ds.Bokonusan,Hansisi, Uiasa, Otan, Uitao, Letbaun Ds.Uiboa Ds. Tesabela,Lifuleo, Oenaek, Kuanheum, Tablolong Ds.Tasikona, Oepaha Ds.Tanah Merah, Oebelo, Mata Air Ds. Erbaun, Merbaun Kel.Buraen Ds.Pakubaun Kel.Merdeka Kel.Sulamu, Pitai, Oeteta, Pantai Beringin, Pariti Ds.Nuataus Ds.Manubelon Kel.Naikliu, Afoan, Bakuin, Lilmus Ds.Soliu Ds.Netem.Utara Budidaya Rumput Laut (meter, buah) Mtr Tempel Kapal Ikan Pukat Ikan Pukat Udang Tali Pelampung (5) (6) (7) (8) (9) (10) Armada Tangkap (unit) Desa/Kelurahan Ketinting (4) Alat Tangkap (unit) 16 10 - 135 - 35.000 70.000 - 2 - 78 - 15.000 30.000 1 3 6 291 - 101.000 202.000 11 - - 88 - - - 8 5 5 165 40 - - 2 3 2 4 - - 93 55 62 107 60 48 40 60 - - 10 - 9 261 70 - - 1 1 - - 35 28 - - - 2 - 5 72 - - - 3 4 68 20 1 2 28 44 35 1.549 318 151.000 302.000 Ket (11) 259 260 Lampiran 12 Jumlah RTP, nelayan dan pembudidaya ikan di Kabupaten Kupang (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan Nelayan (orang) S. Utama S. Tambahan 199 77 83 145 215 140 68 44 155 123 45 80 40 43 83 69 130 37 401 230 41 16 - Pembudidaya (orang) Ikan Tambak 2 13 5 41 14 20 154 51 11 11 174 56 55 - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Semau Semau Selatan Kupang Barat Nekamese Kupang Tengah Amarasi Barat Amarasi Selatan Amarasi Timur Kupang Timur Amabi O. Timur Sulamu Fatuleu Fatuleu Barat Takari RTP 183 115 467 112 149 64 50 77 64 607 17 - 15 Amfoang Selatan - - 15 33 48 - - - - 16 17 18 19 Amfoang B. Daya Amfoang Utara Amfoang B. Laut Amfoang Timur Jumlah 64 125 41 122 2.257 35 32 90 30 1.677 132 55 170 89 1.921 59 81 77 62 1.371 226 168 337 181 4.969 3.341 350 257 3.948 Penuh 160 80 419 78 150 17 95 461 30 - Jumlah 436 308 774 190 428 142 83 152 262 1.092 87 - R_Laut 995 678 1.633 25 10 - Jumlah 1.010 678 1.638 25 55 20 10 205 11 185 56 55 263 Lampiran 15 Hasil analisis kelayakan usaha budidaya laut di Kabupaten Kupang A. Keramba jaring apung (ikan kerapu tikus) (1) Perkiraan biaya investasi KJA Komponen I. Pembuatan Rakit 1. Pelampung Styrofoam 2. Kayu Balok 3. Papan Pijakan 4. Tali PE Pengikat Pelampung 5. Tali P12 mm 6. Paku 7. Baut 8. Jangkar Besi 9. Upah Kerja Jumlah I II. Pembuatan Waring 1. Waring 2. Tali PE Diameter 0,6 cm 3. Upah Kerja Jumlah II III. Pembuatan Jaring 1. Jaring PE 1,25 - 1,5 Inchi 2. Tali PE Diameter 0,8 cm 3. Upah Kerja Jumlah III IV. Rumah Jaga 1. Kayu Balok 2. Papan 3. Sesek Bambu (Dinding) 4. Paku 5. Baut 6.Upah Kerja Jumlah IV V. Sarana Kerja 1. Perahu Motor 2. Bak Penampung 3. Peralatan Lapangan/Kerja Jumlah V Total Biaya Investasi Volume Satuan 1 unit 12 buah 15 batang 24 lembar 1 gulung 50 kg 10 kg 36 buah 4 buah 1 unit Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) 250.000 125.000 40.000 75.000 20.000 15.000 7.500 150.000 350.000 3.000.000 1.875.000 960.000 75.000 1.000.000 150.000 270.000 600.000 350.000 8.280.000 16 200 3 16 unit meter gulung unit 5.000 50.000 25.000 1.000.000 150.000 400.000 1.550.000 8 50 3 8 unit kg gulung unit 75.000 75.000 35.000 3.750.000 225.000 280.000 4.255.000 1 20 5 10 5 15 1 unit batang batang lembar kg buah unit 50.000 15.000 15.000 15.000 7.500 350.000 1.000.000 75.000 150.000 75.000 112.500 350.000 1.762.500 7.500.000 1.500.000 750.000 7.500.000 4.500.000 750.000 12.750.000 28.597.500 1 unit 3 buah 1 paket KOMPONEN BIAYA INVESTASI : KOMPONEN BIAYA MODAL KERJA : 1. Pembuatan rakit berukuran 8 x 8 m 1. Pengadaan benih 2. Pembuatan waring 1 x 1 x 1.5 m 2. Pengadaan pakan 3. Pembuatan jaring 3 x 3 x 3 m 3. Bahan bakar 4. Pembuatan rumah jaga 4. Upah/gaji, dll 5. Pembuatan sarana kerja 264 (2) Perkiraan biaya operasional KJA Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) Komponen I. Biaya Variabel 1. Benih 2.500 ekor 7.500 18.750.000 2. Pakan Ikan Segar 4.000 kg 3.000 12.000.000 3. bahan Bakar + Lampu 1 paket 7.500.000 7.500.000 4. Es Balok 175 balok 7.500 1.312.500 5. Gaji dan Upah : Pekerja = 2 orang x 12 bulan 24 OB 450.000 10.800.000 Teknisi = 1 orang x 12 bulan 12 OB 900.000 10.800.000 6. Perawatan (5% dari biaya investasi) 1 paket 1.429.875 1.429.875 7. Biaya lain-lain (10% dari biaya investasi) 1 paket 6.259.238 6.259.238 Total Biaya Variabel 68.851.613 II. Biaya Tetap 1. Penyusutan (kurun waktu 5 tahun) 5.719.500 2. Angsuran 3.000.000 3. Bunga Pinjaman (18% per tahun) 2.700.000 Total Biaya Tetap 11.419.500 Total Biaya Operasional 80.271.113 (3) Perkiraan biaya dan penerimaan KJA (Rp. 000,-) Uraian BIAYA INVESTASI 1. Pembuatan Rakit 2. Pembuatan Waring 3. Pembuatan Jaring 4. Pembuatan Rumah Jaga 5. Sarana Kerja Total Biaya Investasi BIAYA VARIABEL 1. Benih 2. Pakan Ikan Segar 3. Bahan Bakar + Lampu 4. Es Balok 5. Gaji dan Upah 6. Perawatan 7. Lain-lain Total Biaya Variabel BIAYA TETAP 1. Penyusutan 2. Angsuran 3. Bunga Pinjaman Total Biaya Tetap Total Biaya PENERIMAAN Produksi (kg) Harga per Kg Penerimaan 0 1 Tahun Ke2 3 4 5 8.280 1.550 4.255 1.762,5 12.750 28.597,5 2.625 2.756 2.894 3.039 3.191 18.750 12.000 7.500 1.312,5 21.600 1.430 6.259 68.851,5 19.688 12.600 7.875 1.378 22.680 1.502 6.572 72.295 20.672 13.230 8.269 1.447 23.814 1.577 6.901 75.910 21.705 13.892 8.682 1.519 25.005 1.655 7.246 79.704 22.791 14.586 9.116 1.595 26.255 1.738 7.608 83.689 23.930 15.315 9.572 1.675 27.568 1.825 7.988 87.873 97.449 6.139 3.000 2.700 11.839 84.134 6.139 3.000 2.700 11.839 87.749 6.139 3.000 2.700 11.839 91.543 6.139 3.000 2.700 11.839 95.528 6.139 3.000 2.700 11.839 99.712 675 317 213.975 675 317 213.975 675 317 213.975 900 317 285.300 900 317 285.300 265 (4) Proyeksi arus kas/cash flow KJA (Rp. 000,-) Uraian - CASH IN FLOW Produksi (Kg) Harga (Rp/Kg) Penerimaan CASH OUT FLOW Biaya Investasi Biaya Variabel Penyusutan Angsuran Bunga Pinjaman Pajak (15%) Total Biaya 3 4 5 675 317 213.975 675 317 213.975 675 317 213.975 900 317 285.300 900 317 285.300 97.449 72.295 5.719,5 3.000 2.700 32.096 115.811 75.910 5.719,5 3.000 2.700 32.096 119.426 79.704 5.719,5 3.000 2.700 32.096 123.220 83.689 5.719,5 3.000 2.700 42.795 137.904 87.873 5.719,5 3.000 2.700 42.795 142.088 (97.449) (97.449) 98.164 715 94.549 95.265 90.755 186.020 147.397 333.416 143.213 476.629 (97.449,00) (97.449,00) (97.449,00) 85.360,22 83.190,04 81.803,54 71.492,82 67.903,80 65.659,20 59.673,05 55.236,45 52.520,40 84.274,43 76.025,47 71.082,42 71.201,92 62.599,50 57.553,89 28.597,5 68.851,5 SURPLUS/DEFISIT r rendah (15%) r (18%) r tinggi (20%) KESIMPULAN NET B/C DF 18% NPV DF 18% IRR Tahun Ke2 1 1,65 PBP 247.506 0,466 ROI (%) 1,02 thn 64,77 BEP (Kg) 333 BEP (Rp/Kg) 138 B. Rumput laut (metode longline) (1) Perkiraan biaya investasi rumput laut Uraian Biaya Investasi 1. Tali PE No. 10 (Tali Induk) 2. Tali PE No. 8 (Tali Jangkar) 3. Tali PE No. 5 (Tali Bentangan) 4. Tali Rafia (Tali Ikatan Rumput Laut) 5. Perahu Sampan 6. Timbangan Gantung (50Kg) 7. Para-para a) Terpal/Tenda Penjemuran 8 x 10 m b) Bambu c) Waring Hitam d) Balok 5 x 10 cm e) Upah kerja Total Biaya Investasi Volume Satuan Harga Satuan (RpJumlah Biaya (Rp) 14 3 35 6 1 1 2 2 100 2 30 2 kg kg kg bantal unit unit unit lembar batang pish batang unit 32.000 32.000 32.000 75.000 4.000.000 200.000 448.000 96.000 1.120.000 450.000 4.000.000 200.000 168.000 15.000 400.000 85.000 250.000 336.000 1.500.000 800.000 2.550.000 500.000 11.800.000 266 (2) Perkiraan biaya operasional rumput laut Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) Komponen Biaya Produksi 1. Bibit Rumput Laut (bibit awal) 2.400 kg 4.000 9.600.000 2. Karung Jangkar 16 lembar 2.000 32.000 3. Botol Pelampung Aqua 1.000 buah 400 400.000 4. Pelampung Jergen (Induk dan Penunjan 8 buah 15.000 120.000 5. Gaji dan Upah : a). Jasa untuk pembibit 100 bentangan 2.000 200.000 b). Jasa tali bentangan 100 bentangan 2.000 200.000 Total Biaya Operasional 10.552.000 (3) Perkiraan panen dan penjualan rumput laut kering Kegiatan Budidaya Tidak Melakukan Budidaya Produksi Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Siklus 5 Siklus 6 Siklus 7Siklus 8 Siklus 9Siklus 10Siklus 11Siklus 12 Jumlah Ikatan 12.000 12.000 12.000 12.000 12.000 12.000 0 0 0 0 0 0 Berat per Ikat (kg) 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 Jumlah Tali Bentangan 100 100 100 100 100 100 0 0 0 0 0 0 Jumlah Bibit (kg) 2.400 2.400 2.400 2.400 2.400 2.400 0 0 0 0 0 0 Kelipatan Panen (kali) 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Hasil Budidaya 14.400 14.400 14.400 14.400 14.400 14.400 Rendemen 12,50% 12,50% 12,50% 12,50% 12,50% 12,50% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% Hasil Produksi Kering (kg) 1.800 1.800 1.800 1.800 1.800 1.800 Harga 10.000 10.000 10.000 10.000 10.000 10.000 0 0 0 0 0 0 Hasil Penjualan 18.000.000 18.000.000 18.000.000 18.000.000 18.000.000 18.000.000 Total Biaya Produksi 10.552.000 10.552.000 10.552.000 10.552.000 10.552.000 10.552.000 Surplus/Defisit 7.448.000 7.448.000 7.448.000 7.448.000 7.448.000 7.448.000 - 267 (4) Proyeksi arus kas/cash flow rumput laut Uraian Tahun Ke0 CASH IN FLOW Produksi Rumpu Laut Kering (kg) Harga (Rp/kg) Penerimaan CASH OUT FLOW Biaya Investasi 11.800.000 Biaya Produksi Total Biaya 11.800.000 1 10.800 10.000 108.000.000 63.312.000 63.312.000 Surplus/Defisit (11.800.000) 44.688.000 r rendah (15%) r (18%) r tinggi (20%) KESIMPULAN NET B/C DF 18% NPV DF 18% IRR (11.800.000) (11.800.000) (11.800.000) 38.859.130 37.871.186 37.240.000 1,44 PBP (Thn) 26.071.186 0,986 ROI (%) 0,5 43,79 BEP (Kg) 7.511 BEP (Rp/Kg) 6.955 C. Tiram mutiara (Pinctada maxima) (1) Perkiraan biaya operasional tiram mutiara Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) BIAYA PRODUKSI I. Pembelian Bahan Baku 1. Kerang anakan (spat ) 5.000 ekor 2.500 2. Inti bundar (nukleus ) 10 kg 4.000.000 Total Biaya Pembelian Bhn Baku II. Tenaga Kerja 1. Tenaga Kerja Tetap a) Jumlah 5 orang b) Bulan kerja 12 bulan c) Gaji 1.500.000 Rp/bln Jumlah Gaji Tenaga Kerja Tetap 2. Tenaga Kerja TidakTetap/panen a) Jumlah 3 orang b) Jumlah Hari 365 hari c) Upah 15.000 Rp/hari Jumlah Gaji Tenaga Kerja Tak Tetap 3. Tenaga Keamanan a) Jumlah 9 orang b) Jumlah Hari 12 bulan c) Upah 1.200.000 Rp/bln Jumlah Gaji Tenaga Keamanan Total Biaya Tenaga Kerja Per Tahun III. Bola Lampu Sorot 2 unit 150.000 Total Biaya Produksi per Tahun IV. Penyuntikan/Operasi Tiram Mutiara 1. Tiram Mutiara 5.000 tiram 2. Periode Operasi (1,5thn : 1thn : 1thn) 1 kali 3. Harga per operasi 10.000 Total Biaya Operasi PenyuntikanPer Tahun Total Biaya Operasional Per Tahun Harga Total (Rp) 12.500.000 40.000.000 52.500.000 90.000.000 16.425.000 129.600.000 236.025.000 300.000 288.825.000 50.000.000 338.825.000 268 (2) Total aliran kas tiram mutiara No 1 2 3 Pendapatan & Pengeluaran Nilai (Rp) Pendapatan Penjualan mutiara 5.250.000.000 Pengeluaran a) Investasi 1. Perijinan 25.000.000 2. Sewa tanah & bangunan 75.000.000 3. Konstruksi tambak 59.700.000 4. Peralatan budidaya mutiara 110.100.000 5. Bangunan 156.000.000 Jlh biaya investasi 425.800.000 b) Biaya operasional dll 1. Biaya pembelian spat 12.500.000 2. Biaya pembelian nukleus 40.000.000 3. Perawatan benih sampai opera 4. Biaya tng kerja tetap 450.000.000 5. Biaya tng kerja tdk tetap 82.125.000 6. Biaya tng keamanan 648.000.000 7. Biaya bola lampu sorot 1.500.000 8. Biaya operasional dll 150.000.000 Jlh biaya operasional 1.384.125.000 Surplus/Defisit 3.440.075.000 (3) Proyeksi arus kas/cash flow tiram mutiara Uraian 0 1 Tahun Ke2 0 0 0 288.825.000 84.960.000 288.825.000 84.960.000 50.000.000 110.282.200 534.067.200 3 4 5 CASH IN FLOW Produksi (gr) Harga (Rp/gr) Penerimaan CASH OUT FLOW Biaya Investasi Biaya Produksi Penyusutan Biaya Penyuntikan Angsuran (17%) Total Biaya 714.625.000 SURPLUS/DEFISIT per tahun Kumulatrif Surplus/defisit (714.625.000) (484.067.200) (534.067.200) 1.215.932.800 1.215.932.800 1.265.932.800 (714.625.000) (1.198.692.200) (1.732.759.400) (516.826.600) 699.106.200 1.965.039.000 r15% r17% r20% KESIMPULAN NET B/C DF 17% NPV DF 17% IRR (714.625.000) (714.625.000) (714.625.000) (420.928.000) (413.732.650) (403.389.333) 1,60 466.980.328 25,639% PBP Usaha PBP Kredit 425.800.000 288.825.000 110.282.200 484.067.200 5833,33 5833,33 5833,33 300.000 300.000 300.000 1.750.000.000 1.750.000.000 1.750.000.000 (403.831.531) (390.143.327) (370.880.000) 4,0 thn 3,7 thn 288.825.000 84.960.000 50.000.000 110.282.200 534.067.200 799.495.554 759.192.639 703.664.815 288.825.000 84.960.000 50.000.000 110.282.200 534.067.200 695.213.525 648.882.597 586.387.346 BEP (gram) BEP (Rp/gram) 288.825.000 84.960.000 110.282.200 484.067.200 629.392.337 577.406.068 508.750.000 3.650 37.542 269 D. Teripang putih/susu (metode penculture) (1) Perkiraan biaya investasi teripang putih/susu Uraian Biaya Investasi 1. Kayu 2. Jaring 3. Tali PE Total Investasi Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah Biaya (Rp) 30 batang 120 kg 3 kg 20.000 55.000 32.000 Penyusutan (3Thn) 600.000 6.600.000 96.000 7.296.000 200.000 2.200.000 32.000 2.432.000 (2) Perkiraan biaya operasional dan penerimaan teripang putih/susu Volume Komponen Biaya Produksi 1. Bibit 7.500 2. Pakan tambahan 2.000 3. Tenaga kerja 1 4. Penyusutan investasi 5. Perawatan penkultur 1 6. Biaya pengeringan 1 Total Biaya Produksi Perkiraan Biaya dan Penerimaan Volume Uraian Hasil Penjualan 120 Satuan Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) ekor kg orang 6.000 1.500 1.500.000 paket paket 500.000 1.000.000 Satuan kg 45.000.000 3.000.000 1.500.000 2.432.000 500.000 1.000.000 53.432.000 Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) 650.000 78.000.000 (4) Proyeksi arus kas/cash flow teripang putih/susu Tahun KeUraian 0 1 2 CASH IN FLOW Produksi Teripang (kg) 120 120 Harga (Rp/kg) 650.000 650.000 Penerimaan 78.000.000 78.000.000 CASH OUT FLOW Biaya Investasi 7.296.000 Biaya Produksi 53.432.000 58.775.200 Penyusutan 2.432.000 2.432.000 Total Biaya 7.296.000 55.864.000 61.207.200 3 120 650.000 78.000.000 64.652.720 2.432.000 67.084.720 SURPLUS/DEFISIT (7.296.000) (7.296.000) 22.136.000 16.792.800 14.840.000 31.632.800 10.915.280 42.548.080 r rendah (15%) r (18%) r tinggi (20%) KESIMPULAN NET B/C DF 18% NPV DF 18% IRR (7.296.000) (7.296.000) (7.296.000) 19.248.696 12.697.769 18.759.322 12.060.327 18.446.667 11.661.667 7.176.974 6.643.376 6.316.713 1,22 PBP Tahun ke30.167.026 0,740 ROI (%) 1 BEP (Kg) 98,18 22,22 BEP (Rp/Kg) 177.270,30 270 Lampiran 16 Nilai strata masing-masing kecamatan di Kabupaten Kupang berdasarkan hasil analisis tipologi No Indikator 1 Komoditas Unggulan a) Satu jenis komoditas b) Lebih dari satu jenis komoditas c) Komoditas unggulan dan produk olahannya Kelembagaan Pasar 2 a) Menampung hasil dari sebagian kecil kawasan b) Menampung hasil dari sebagian besar kawasan c) Menampung hasil dari kawasan minapolitan dan luar kawasan Kelembagaan Nelayan/Pembudidaya 3 a) Kelompok nelayan/pembudidaya b) Gabungan kelompok nelayan/pembudidaya c) Koperasi (Credit Union / CU) 4 Kelembagaan Balai Penyuluh Perikanan (BPP) a) BPP sebagai Balai Penyuluh Perikanan b) BPP sebagai Balai Penyuluh Minabisnis c) BPP sebagai Balai Penyuluh Pembangunan Sarana dan Prasarana 5 1. Aksesbilitas ke/di sentra produksi a) Kurang b) Sedang c) Baik 2. Sarana dan prasarana umum a) Kurang b) Sedang c) Baik 3. Sarana dan prasarana kesejahteraan sosial a) Kurang b) Sedang c) Baik Jumlah Skor Maksimal : Sumber : Deptan, 2002 dan Data Olahan Keterangan : Skor 1 -7 = Strata Pra Kawasan Minapolitan I Skor 8 -14 = Strata Pra Kawasan Minapolitan II Skor 15 -21 = Strata Pra Kawasan Minapolitan Skor 1 2 3 Penilaian Kupang Barat Semau Sulamu 1 1 3 1 2 3 1 1 1 1 2 3 3 1 1 1 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 1 2 3 2 1 1 1 2 3 1 1 1 12 9 11 271 Lampiran 17 Hasil analisis komponen utama (aku) terhadap variabel yang berpengaruh pada tipologi Kabupaten Kupang Eigenanalysis of the Correlation Matrix Eigenvalue Proportion Cumulative 8.5958 5.4042 0.614 0.386 0.614 1.000 Eigenvalue Proportion Cumulative 0.0000 0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 Variable PC1 Jumlah penduduk (jiwa) 0.285 Jarak kec ke kab (km) 0.339 Jumlah kepala keluarga (KK) 0.299 Sarana & prasrna umum (unit)0.328 Sarana & prasrna bud (unit) 0.337 Jumlah komoditas bud laut 0.306 Keluarga pemakai PLN (KK) -0.105 Desa/kel terpencil (desa) -0.151 Jumlah kel prasehtra (KK) 0.338 Jumlah keluarga sjhtra (KK) 0.148 Jumlah pembudidya rl (jiwa)-0.293 Potensi Lahan Bud Laut (Ha)-0.168 Luas Lhn Pmanfaatn bl (Ha) 0.118 Produksi Rumput Laut (ton) -0.318 PC2 -0.236 0.042 -0.207 0.119 -0.063 -0.190 -0.409 -0.386 -0.054 -0.388 -0.221 -0.374 -0.403 -0.156 PC3 0.154 -0.161 0.085 0.482 -0.108 0.114 0.211 -0.322 -0.110 0.271 0.157 0.273 -0.582 0.124 PC4 0.156 -0.217 -0.014 0.404 -0.207 -0.243 0.207 0.474 0.419 -0.151 -0.007 -0.415 -0.079 0.136 PC5 -0.129 -0.376 0.240 -0.152 0.161 0.317 0.482 -0.043 0.018 -0.534 -0.184 0.072 -0.112 -0.252 PC6 0.222 -0.367 0.380 -0.387 -0.255 0.052 -0.290 -0.322 0.375 0.073 0.301 -0.169 -0.003 0.038 Variable PC7 Jumlah penduduk (jiwa) 0.717 Jarak kec ke kab (km) 0.188 Jumlah kepala keluarga (KK)-0.328 Sarana & prsrna umum (unit)-0.203 Sarana & prasrna bud (unit)-0.392 Jumlah komoditas bud laut 0.101 Keluarga pemakai PLN (KK) 0.074 Desa/kel terpencil (desa) -0.005 Jumlah kel prasejhtra (KK) -0.089 Jumlah kel sejhtra (KK) -0.231 Jumlah pembudidy rl (jiwa) -0.180 Potensi Lahan Bud Laut (Ha) 0.117 Luas Lhn Pmanfaatn bl (Ha) -0.070 Produksi Rumput Laut (ton) -0.141 PC8 -0.275 0.032 -0.236 -0.190 -0.187 -0.075 0.125 0.138 0.359 0.367 0.031 0.126 -0.251 -0.643 PC9 -0.058 0.461 0.375 0.049 -0.197 0.108 0.017 0.216 -0.254 -0.237 0.565 -0.167 -0.142 -0.236 PC10 -0.057 -0.332 -0.022 0.198 -0.151 0.483 -0.572 0.434 -0.127 -0.018 -0.090 0.197 -0.027 -0.109 PC11 0.322 -0.345 0.156 -0.064 0.287 -0.361 -0.033 0.144 -0.498 0.239 -0.039 -0.249 -0.067 -0.376 PC12 -0.213 0.069 0.396 -0.013 -0.584 -0.007 0.143 -0.040 -0.236 0.244 -0.528 -0.144 0.112 0.052 Variable Jumlah penduduk (jiwa) Jarak kec ke kab (km) Jumlah kepala keluarga (KK) Sarana & prasarana umum (unit) Sarana & prasarana bud (unit) Jumlah komoditas budidaya laut Keluarga pemakai PLN (KK) Desa/kel terpencil (desa) Jumlah kel prasejahtera (KK) Jumlah keluarga sejahtera (KK) Jumlah pembudidaya rl (jiwa) Potensi Lahan Bud Laut (Ha) Luas Lhn Pmanfaatn bl (Ha) Produksi Rumput Laut (ton) PC13 -0.063 -0.134 -0.413 0.040 -0.060 0.496 0.219 -0.174 -0.179 0.220 0.203 -0.562 0.199 -0.026 PC14 0.020 0.183 0.043 -0.430 0.242 0.240 -0.002 0.296 0.030 0.179 -0.186 -0.238 -0.567 0.360 ———Data diolah dengan Minitab 15 pada tanggal 9/19/2011 10:57:57 PM—— 272 Lampiran 18 Karakteristik desa-desa pesisir di Kabupaten Kupang No Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tablolong Lifuleo Tesabela Sumlili Oematnunu Kuanheun Nitneo Bolok Oenaek 1 2 3 4 5 6 7 8 Bokonusan Otan Uitao Huilelot Uiasa Hansisi Batuinan Letbaun 1 2 3 4 5 6 7 Sulamu Pitai Pariti Oeteta Bipolo Pantulan Pantai Beringin Variabel b c d Kecamatan Kupang Barat 9,01 1010 201 484 6,8 986 90 175 21,48 1015 122 259 14,4 1492 210 346 20,89 1643 215 368 21,46 1336 195 229 5,86 1073 218 255 12,76 2273 405 736 14,32 567 96 138 Kecamatan Semau 21,25 978 78 493 14,81 767 146 636 12,26 745 307 473 23,56 699 122 331 23,58 1153 258 381 19,76 1276 196 673 5,13 333 0 198 23,07 474 0 121 Kecamatan Sulamu 33,03 4589 463 932 30,49 942 82 246 59,28 3203 245 1276 42,34 2435 202 1030 41,47 1792 214 567 33,03 1134 0 174 30,48 515 0 177 a e f 14,5 15,5 10,5 5 6,5 6,5 6 6,5 8,5 35,5 32,5 28,5 29 30,5 20,5 24,5 19 32,5 9 4 1 4 10 12 8 8 36 32 28 17 14 12 36 28 2 9 24 27 33 17 15 84 73 58 55 49 101 67 Sumber : Kecamatan Kupang Barat, Semau, Sulamu dalam angka 2010 serta data diolah Keterangan : a. Luas desa (km 2 ) b. Jumlah penduduk (jiwa) c. Jumlah keluarga memakai PLN (KK) d. Jumlah sarana & prasarana umum (unit) e. Jarak ke ibukota kecamatan (km) f. Jarak ke ibukota kabupaten (km) 273 Lampiran 19 Tingkat perkembangan desa di Kabupaten Kupang berdasarkan hasil analisis sentralitas Sumber : Data olahan tahun 2009 274 Lampiran 20 Nilai skor pendapat pakar existing condition dimensi keberlanjutan budidaya Laut di Kabupaten Kupang No ATRIBUT DIMENSI EKOLOGI KETERANGAN SKOR BAIK BURUK 1 Status kepemilikan usaha budidaya laut (0) menyewa lahan, (1) menggarap, (2) milik sendiri 1 2 0 2 Frekuensi kejadian kekeringan (0) sering, (1) kadang-kadang, (2) tidak pernah terjadi kekeringan 2 2 0 3 Frekuensi kejadian banjir (0) sering, (1) kadang-kadang, (2) tidak pernah terjadi kekeringan 2 2 0 4 Kondisi sarana jalan desa (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3) baik 2 3 0 5 Produktivitas usaha budidaya laut (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 6 Penggunaan benih/bibit (0) tidak pernah, (1) kadang-kadang, (2) sering 2 2 0 7 8 Daya dukung lahan budidaya laut Kondisi prasarana jalan usaha budidaya laut (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3) baik 2 2 2 3 0 0 9 Kesesuaian perairan untuk budidaya laut (0) tidak sesuai, (1) sesuai bersyarat, (2) sesuai, (3) sangat sesuai 2 3 0 10 Ketersediaan benih/bibit budidaya laut (0) tidak tersedia, (1) tersedia 0 1 0 SKOR 1 1 2 BAIK 2 2 3 BURUK 0 0 0 Jumlah pasar Pemasaran produk perikanan Persentase penduduk miskin DIMENSI EKONOMI KETERANGAN (0) tidak ada, (1) ada pada desa tertentu, (2) tersedia di setiap desa (0) pasar lokal, (1) pasar nasional, (2) pasar internasional (0) sangat tinggi, (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah 4 Harga komoditas unggulan (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 5 Jumlah tenaga kerja pembudidaya (0) sedikit, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 6 7 Kelayakan usaha budidaya laut Jenis komoditas unggulan Kontribusi sektor perikanan budidaya laut terhadap PDRB Tingkat ketergantungan konsumen Keuntungan usaha budidaya (0) tidak layak, (1) agak layak, (2) layak (0) hanya satu, (1) lebih dari satu, (2) banyak 2 1 2 2 0 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi 2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi (0) tidak untung, (1) agak untung, (2) untung 2 2 3 2 0 0 No 1 2 3 8 9 10 ATRIBUT ……bersambung ke halaman berikut DIMENSI SOSIAL-BUDAYA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No ATRIBUT Tingkat pendidikan formal masyarakat Tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor perikanan Jarak permukiman ke kawasan budidaya Pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan budidaya laut Jumlah desa dan penduduk yang bekerja di sektor budidaya laut Peran masyarakat adat dalam kegiatan budidaya laut Pola hubungan masyarakat dalam kegiatan budidaya laut Akses masyarakat dalam kegiatan budidaya laut Presentasi desa yang tidak memiliki akses penghubung SKOR BAIK BURUK 0 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 (0) jauh, (1) sedang, (2) dekat 2 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) kurang optimal, (3) berjalan optimal 1 3 0 (0) tidak ada, (1) desa tertentu saja, (2) semua desa 1 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 3 3 0 (0) tidak saling menguntungkan, (1) saling menguntungkan 1 1 0 (0) tidak punya akses, (1) rendah, (2) sedang, (3) tinggi 3 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 0 3 0 DIMENSI INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI KETERANGAN SKOR BAIK BURUK 1 Ketersediaan basis data budidaya laut (0) tidak tersedia, (1) tersedia 1 1 0 2 Tingkat penguasaan teknologi budidaya laut Dukungan sarana & prasarana umum (kesehatan, pendidikan, tempat ibadah, dll) Dukungan sarana & prasarana jalan (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 1 3 0 (0) tidak lengkap, (1) cukup lengkap, (2) lengkap 1 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup memadai, (2) sangat memadai 1 2 0 (0) belum diterapkan, (1) diterapkan pada produk tertentu, (2) diterapkan untuk semua produk 1 2 0 (0) tidak ada, (1) sebagian kecil, (2) umumnya menggunakan 2 2 0 (0) tidak tersedia, (1) tersedia 0 1 0 3 4 5 6 7 ATRIBUT KETERANGAN (0) dibawah rata-rata nasional, (1) sama dengan rata-rata nasional , (2) diatas rata-rata nasional Standarisasi mutu produk budidaya laut Penggunaan alat & mesin budidaya laut (perahu, sampan, jaring, dll) Ketersediaan industri pengolahan hasil budidaya laut 275 276 8 Ketersediaan teknologi informasi budidaya 9 Penerapan sertifikasi produk budidaya laut 10 Teknologi pakan/bibit/benih No 1 ATRIBUT Keberadaan Balai Penyuluh Perikanan (BPP) 2 3 (0) tidak tersedia, (1) tersedia tapi tidak optimal, (2) tersedia optimal (0) belum diterapkan, (1) diterapkan pada produk tertentu, (2) diterapkan pada semua produk (0) tidak tersedia, (1) tersedia 1 2 0 0 2 0 0 1 0 KETERANGAN (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan SKOR 1 BAIK 2 BURUK 0 Keberadaan lembaga sosial (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 2 2 0 (0) tidak ada, (1) ada 0 1 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 7 Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Keberadaan Lembaga Kelompok Nelayan (LKN) Mekanisme kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan kawasan minapolitan Ketersediaan peraturan perundang-undang pengembangan kawasan minapolitan Sinkronisasi antara kebijakan pusat & daerah (0) tidak sinkron, (1) kurang sinkron, (2) sinkron 2 2 0 8 Ketersediaan perangkat hukum adat/agama (0) tidak ada, (1) cukup tersedia, (2) sangat lengkap 1 2 0 9 Badan pengelola usaha budidaya laut (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 0 2 0 DIMENSI HUKUM DAN KELEMBAGAAN 4 5 6 277 Lampiran 21 Nilai indeks lima dimensi keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang A. Dimensi ekologi 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 Real Index -40 References Anchors DOWN -60 Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi (72.26%) B. Dimensi ekonomi 60 UP 40 20 GOOD BAD 0 0 20 40 60 80 100 -20 -40 Real Index References DOWN Anchors -60 Dimensi Keberlanjutan Dimensi Ekonomi (62.84% ) 120 278 C. Dimensi sosial – budaya 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 -40 Real Index References Anchors DOWN -60 Status Keberlannjutan Dimensi Sosial dan Budaya (78.67%) D. Dimensi infrastruktur dan teknologi 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 -40 Real Fisheries References DOWN Anchors -60 Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi (46.93%) 279 E. Dimensi hukum dan kelembagaan 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 Real Index -40 References Anchors DOWN -60 Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan (49.84% ) F. Multidimensi RAPMINAKU Ordination 60 UP Other Distingishing Features 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 -20 Real Index -40 References Anchors -60 DOWN Status Keberlanjutan Multidimensi (59.36% ) 120 280 Lampiran 22 Persamaan model dinamis pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang init L_Budidaya = 3.23 flow L_Budidaya = dt*Lj_Pngurngn_LBd+dt*L_lhn_Budidaya doc L_Budidaya = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Budidaya_Moderat = 3.23 flow L_Budidaya_Moderat = dt*Rate_38+dt*L_lhn_Budidaya_2 doc L_Budidaya_Moderat = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Budidaya_Optimis = 3.23 flow L_Budidaya_Optimis = dt*Rate_37+dt*L_lhn_Budidaya_1 doc L_Budidaya_Optimis = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Budidaya_Pesimis = 3.23 flow L_Budidaya_Pesimis = +dt*L_lhn_Budidaya_3dt*Lj_Pngurngn_LBd_1 doc L_Budidaya_Pesimis = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Industri = 0 flow L_Industri = +dt*L_pert_Lhn_Ind doc L_Industri = Pertambahan Lahan Industri Pengolahan per Tahun init L_Permukiman = 14342*20/1000000 flow L_Permukiman = +dt*L_lhn_Permukiman doc L_Permukiman = Pertambahan Lahan Permukiman per Tahun init PDDK = 14342 flow PDDK = +dt*Laju_Pert_Pddk +dt*Laju_Imigrasi-dt*Laju_Emigrasi -dt*Laju_Peng_Pddk doc PDDK = Jumlah Penduduk Kecamatan Kupang Barat Tahun 2007 aux L_lhn_Budidaya = IF(L_Budidaya0, L_Budidaya_Moderat*L_fasilitas_2, 0) Diolah = Panen_kering*persen_di_olah Diolah_1 = Panen_kering_Optimis*persen_di_olah_1 Diolah_2 = Panen_kering_Moderat*persen_di_olah_2 Diolah_3 = Panen_kering_Pesimis*persen_di_olah_3 jlh_petakan = L_Budidaya/luas_per_petakan Jual_Kering = Panen_kering*persen_jual_kering Jual_Kering_1 = Panen_kering_Optimis*persen_jual_kerin g_1 Jual_Kering_2 = Panen_kering_Moderat*persen_jual_kerin g_2 Jual_Kering_3 = Panen_kering_Pesimis*persen_jual_kerin g_3 jumlah_petakan_1 = L_Budidaya_Optimis/luas_per_petakan_1 jumlah_petakan_2 = L_Budidaya_Moderat/luas_per_petakan_2 jumlah_petakan_3 = L_Budidaya_Pesimis/luas_per_petakan_3 ke_ten_kerja_RT_pillus = Keb_industri_RT_Pillus*ten_kerja_per_RT _Pillus ke_ten_kerja_RT_pillus_1 = Keb_industri_RT_Pillus_1*ten_kerja_per_ RT_Pillus_1 ke_ten_kerja_RT_pillus_2 = Keb_industri_RT_Pillus_2*ten_kerja_per_ RT_Pillus_2 ke_ten_kerja_RT_pillus_3 = Keb_industri_RT_Pillus_3*ten_kerja_per_ RT_Pillus_3 keb_ind_RT_dodol = (RL_utk_dodol*1000)/kap_prod_industri_ RT_dodol keb_ind_RT_dodol_1 = (RL_utk_dodol_1*1000)/kap_prod_industri _RT_dodol_1 281 aux keb_ind_RT_dodol_2 = (RL_utk_dodol_2*1000)/kap_prod_industri _RT_dodol_2 aux keb_ind_RT_dodol_3 = (RL_utk_dodol_3*1000)/kap_prod_industri _RT_dodol_3 aux Keb_industri_RT_Pillus = (RL_utk_pillus*1000)/kap_prod_industri_R T_Pillus aux Keb_industri_RT_Pillus_1 = (RL_utk_pillus_1*1000)/kap_prod_industri _RT_Pillus_1 aux Keb_industri_RT_Pillus_2 = (RL_utk_pillus_2*1000)/kap_prod_industri _RT_Pillus_2 aux Keb_industri_RT_Pillus_3 = (RL_utk_pillus_3*1000)/kap_prod_industri _RT_Pillus_3 aux keb_ten_kerja_RT_dodol = keb_ind_RT_dodol*ten_kerja_per_RT_do dol aux keb_ten_kerja_RT_dodol_1 = keb_ind_RT_dodol_1*ten_kerja_per_RT_ dodol_1 aux keb_ten_kerja_RT_dodol_2 = keb_ind_RT_dodol_2*ten_kerja_per_RT_ dodol_2 aux keb_ten_kerja_RT_dodol_3 = keb_ind_RT_dodol_3*ten_kerja_per_RT_ dodol_3 aux keb_tenaga_kerja_BD = jlh_petakan*tenaga_per_petak aux keb_tenaga_kerja_BD_1 = jumlah_petakan_1*tenaga_per_petak_1 aux keb_tenaga_kerja_BD_2 = jumlah_petakan_2*tenaga_per_petak_2 aux keb_tenaga_kerja_BD_3 = jumlah_petakan_3*tenaga_per_petak_3 aux Kebutuhan_bibit_RL = L_Budidaya*bibit_per_km2 aux Kebutuhan_bibit_RL_1 = L_Budidaya_Optimis*bibit_per_km2_1 aux Kebutuhan_bibit_RL_2 = L_Budidaya_Moderat*bibit_per_km2_2 aux Kebutuhan_bibit_RL_3 = L_Budidaya_Pesimis*bibit_per_km2_3 aux Keuntungan_BD = Penerimaan_BD_RLPengeluaran_BD_RL aux keuntungan_BD_Moderat = Penerimaan_BD_RL_2Pengeluaran_BD_RL_2 aux keuntungan_BD_Optimis = Penerimaan_BD_RL_1Pengeluaran_BD_RL_1 aux keuntungan_BD_Pesimis = Penerimaan_BD_RL_3Pengeluaran_BD_RL_3 aux Keuntungan_Dodol = (RL_utk_dodol*1000*harga_jual_dodol_pe r_kg)(RL_utk_dodol*1000*Biaya_prod_dodol_p er_Kg) aux Keuntungan_Dodol_1 = (RL_utk_dodol_1*1000*harga_jual_dodol_ aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux per_kg_1)(RL_utk_dodol_1*1000*Biaya_prod_dodol _per_Kg_1) Keuntungan_Dodol_2 = (RL_utk_dodol_2*1000*harga_jual_dodol_ per_kg_2)(RL_utk_dodol_2*1000*Biaya_prod_dodol _per_Kg_2) Keuntungan_Dodol_3 = (RL_utk_dodol_3*1000*harga_jual_dodol_ per_kg_3)(RL_utk_dodol_3*1000*Biaya_prod_dodol _per_Kg_3) Keuntungan_jual_kering = (Jual_Kering*1000*harga_RL_kering/1000 )(Jual_Kering*1000*biaya_prod_RL_kering _per_Kg) keuntungan_jual_kering_moderat = (Jual_Kering_2*1000*harga_RL_kering/10 00)(Jual_Kering_2*1000*biaya_prod_RL_keri ng_per_Kg_2) keuntungan_jual_kering_Optimis = (Jual_Kering_1*1000*harga_RL_kering/10 00)(Jual_Kering_1*1000*biaya_prod_RL_keri ng_per_Kg_1) keuntungan_jual_kering_pesimis = (Jual_Kering_3*1000*harga_RL_kering/10 00)(Jual_Kering_3*1000*biaya_prod_RL_keri ng_per_Kg_3) Keuntungan_Pillus = (RL_utk_pillus*1000*harga_jual_pillus_per _KG)(RL_utk_pillus*1000*biaya_prod_Pilus_pe r_Kg) keuntungan_pillus_1 = (RL_utk_pillus_1*1000*harga_jual_pillus_ per_KG_1)(RL_utk_pillus_1*1000*biaya_prod_Pilus_ per_Kg_1) keuntungan_pillus_2 = (RL_utk_pillus_2*1000*harga_jual_pillus_ per_KG_2)(RL_utk_pillus_2*1000*biaya_prod_Pilus_ per_Kg_2) keuntungan_pillus_3 = (RL_utk_pillus_3*1000*harga_jual_pillus_ per_KG_3)(RL_utk_pillus_3*1000*biaya_prod_Pilus_ per_Kg_3) L_Minapolitan = L_Budidaya+L_Industri lj_pengurangan_panen = (lj_pert_panen*persen_kematian)+Kebutu han_bibit_RL lj_pengurangan_panen_1 = (lj_pert_panen_1*persen_kematian_1)+Ke butuhan_bibit_RL_1 lj_pengurangan_panen_2 = (lj_pert_panen_2*persen_kematian_2)+Ke butuhan_bibit_RL_2 282 aux lj_pengurangan_panen_3 = (lj_pert_panen_3*persen_kematian_3)+Ke butuhan_bibit_RL_3 aux lj_pert_panen = Kebutuhan_bibit_RL*jlh_panen_per_thn*k enaikan_berat aux lj_pert_panen_1 = Kebutuhan_bibit_RL_1*jlh_panen_per_thn _1*kenaikan_berat_1 aux lj_pert_panen_2 = Kebutuhan_bibit_RL_2*jlh_panen_per_thn _2*kenaikan_berat_2 aux lj_pert_panen_3 = Kebutuhan_bibit_RL_3*jlh_panen_per_thn _3*kenaikan_berat_3 aux Panen_kering = total_panen_per_thn*rendemen aux Panen_kering_Moderat = total_panen_per_thn_2*rendemen_2 aux Panen_kering_Optimis = total_panen_per_thn_1*rendemen_1 aux Panen_kering_Pesimis = total_panen_per_thn_3*rendemen_3 aux PDRB = Keuntungan_Dodol+Keuntungan_jual_keri ng+Keuntungan_Pillus aux PDRB_Moderat = Keuntungan_Dodol_2+keuntungan_jual_k ering_moderat+keuntungan_pillus_2 aux PDRB_Optimis = Keuntungan_Dodol_1+keuntungan_jual_k ering_Optimis+keuntungan_pillus_1 aux PDRB_Pesimis = Keuntungan_Dodol_3+keuntungan_jual_k ering_pesimis+keuntungan_pillus_3 aux Penerimaan_BD_RL = Panen_kering*harga_RL_kering doc Penerimaan_BD_RL = Penerimaan Panen RL Kering aux Penerimaan_BD_RL_1 = Panen_kering_Optimis*harga_RL_kering_ 1 doc Penerimaan_BD_RL_1 = Penerimaan Panen RL Kering aux Penerimaan_BD_RL_2 = Panen_kering_Moderat*harga_RL_kering _2 doc Penerimaan_BD_RL_2 = Penerimaan Panen RL Kering aux Penerimaan_BD_RL_3 = Panen_kering_Pesimis*harga_RL_kering_ 3 doc Penerimaan_BD_RL_3 = Penerimaan Panen RL Kering aux Pengeluaran_BD_RL = (biaya_opr_per_petakan*jlh_petakan*ken aikan_modal)+(jlh_petakan*biaya_opr_per _petakan) aux Pengeluaran_BD_RL_1 = (biaya_opr_per_petakan_1*jumlah_petaka n_1*kenaikan_modal_1)+(jumlah_petakan _1*biaya_opr_per_petakan_1) aux Pengeluaran_BD_RL_2 = (biaya_opr_per_petakan_2*jumlah_petaka n_2*kenaikan_modal_2)+(jumlah_petakan _2*biaya_opr_per_petakan_2) aux Pengeluaran_BD_RL_3 = (biaya_opr_per_petakan_3*jumlah_petaka n_3*kenaikan_modal_3)+(jumlah_petakan _3*biaya_opr_per_petakan_3) aux persen_jual_kering = 1-persen_di_olah aux persen_jual_kering_1 = 1persen_di_olah_1 aux persen_jual_kering_2 = 1persen_di_olah_2 aux persen_jual_kering_3 = 1persen_di_olah_3 aux persen_pillus = 1-persen_dodol aux persen_pillus_1 = 1-persen_dodol_1 aux persen_pillus_2 = 1-persen_dodol_2 aux persen_pillus_3 = 1-persen_dodol_3 aux RL_utk_dodol = Diolah*persen_dodol aux RL_utk_dodol_1 = Diolah_1*persen_dodol_1 aux RL_utk_dodol_2 = Diolah_2*persen_dodol_2 aux RL_utk_dodol_3 = Diolah_3*persen_dodol_3 aux RL_utk_pillus = Diolah*persen_pillus aux RL_utk_pillus_1 = Diolah_1*persen_pillus_1 aux RL_utk_pillus_2 = Diolah_2*persen_pillus_2 aux RL_utk_pillus_3 = Diolah_3*persen_pillus_3 aux total_panen_per_thn = lj_pert_panenlj_pengurangan_panen aux total_panen_per_thn_1 = lj_pert_panen_1-lj_pengurangan_panen_1 aux total_panen_per_thn_2 = lj_pert_panen_2-lj_pengurangan_panen_2 aux total_panen_per_thn_3 = lj_pert_panen_3-lj_pengurangan_panen_3 const BD_existing = 3.23 doc BD_existing = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const BD_existing_1 = 3.23 doc BD_existing_1 = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const BD_existing_2 = 3.23 doc BD_existing_2 = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const BD_existing_3 = 3.23 doc BD_existing_3 = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const biaya_opr_per_petakan = 63312000 const biaya_opr_per_petakan_1 = 63312000 const biaya_opr_per_petakan_2 = 63312000 const biaya_opr_per_petakan_3 = 63312000 const Biaya_prod_dodol_per_Kg = 9259.5 const Biaya_prod_dodol_per_Kg_1 = 9259.5 const Biaya_prod_dodol_per_Kg_2 = 9259.5 const Biaya_prod_dodol_per_Kg_3 = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg_1 = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg_2 = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg_3 = 9259.5 ABSTRACT CHATERINA AGUSTA PAULUS. Development of Marine Culture-Based Minapolitan Model in Kupang Regency. Under direction of D. DJOKOSETIYANTO, SURJONO H. SUTJAHJO, and BAMBANG PRAMUDYA N. This research was conducted in Kupang regency, East Nusa Tenggara. The main purpose of this study was to develop a minapolitan model of regional development in the Kupang regency - Nusa Tenggara in order to improve the living standards of social and economic life of society. To achieve the main objective, then there are some activities that need to be done as a special purpose, among others: 1) Analyze the potential, level of development, and sustainability for the development of minapolitan in Kupang regency, and 2) Build a sustainable development model of minapolitan area in Kupang regency. The study was conducted in March 2011 to August 2011 is located in Semau subregency, West Kupang sub-regency and Sulamu sub-regency. Data analysis include: (1) Identification of potential areas comprising: spatial analysis (GIS) with Arc GIS Version 9, the land suitability analysis, carrying capacity analysis, financial analysis; (2) Valuing the level of development consisting of the typology analysis, principal component analysis (PCA), cluster analysis, scalogram analysis, centrality analysis, methods comparison of exponential (MPE), analysis hierarchy process (AHP) with criterium decision plus (CDP), structural interpretative modeling analysis (ISM); (3) Sustainability status of the region by using analysis of multidimensional scaling (MDS) called Rap-MINAKU, monte carlo analysis and prospective analysis; and (4) Building a development of marine culture-based minapolitan model with analysis of dynamic systems with powersim constructor version 2.5d. The results suggest that seaweed farming has a profitable business opportunities in the development of minapolitan in Kupang regency that is currently in the category of the strata pre-minapolitan II region seen from the completeness of the facilities owned by each village, there are six villages with a more advanced stage of development, 7 villages with the average development level, and 11 villages with a level of development lags. In a multidimensional in Kupang regency, aquaculture region sustained quite sensitive to 18 attributes that affect the increase sustainable index. The analysis showed each component of the dynamic system show a tendency to form a positive growth curve (positive growth) following an exponential curve. Policy direction in the development of marine culture in Kupang regency is the development of seaweed farming. Strategy should be to establish a production center and its hinterland with complete facilities and infrastructure needed, move the commodity diversification of seaweed processing in domestic industry, increase production of seaweed in minapolitan area through extension to the maximum limit, increasing the capacity of farmers, increase coordination and good partnerships in all relevant stakeholders, and improve the status of sustainability for the development of minapolitan in Kupang regency in the short term, medium term and long-term. Keywords : minapolitan, Kupang regency, mariculture 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara nasional, wilayah pesisir dan laut Indonesia merupakan wilayah penting yang diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini didorong oleh besarnya potensi sumber daya pesisir dan laut yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bangsa. Nilai dan arti penting pesisir dan laut bagi bangsa Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua aspek, yaitu : 1) secara biofisik, wilayah pesisir dan laut Indonesia memiliki arti penting karena (a) Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (sekitar 81.000 km); (b) sekitar 75% dari wilayahnya merupakan wilayah perairan (luas sekitar 5.8 juta km2 termasuk ZEEI); (c) Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 13.487 pulau; dan (d) memiliki keanekaragaman hayati yang besar; dan 2) secara sosial ekonomi, wilayah pesisir dan laut memiliki arti penting karena (a) sekitar 140 juta (60%) penduduk Indonesia hidup di wilayah pesisir; (b) sebagian besar kota (provinsi dan kabupaten/kota) terletak di kawasan pesisir; dan (c) kontribusi sektor kelautan terhadap PDB nasional sekitar 12,4% dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja (Bengen, 2004). Secara internasional, Indonesia merupakan negara yang memiliki peranan strategis dalam memenuhi permintaan ikan dunia. Kebutuhan ikan dunia selama kurun waktu (1999-2006) meningkat sebesar 45%, dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk dunia. Produksi perikanan Indonesia hingga tahun 2006 menempati posisi keempat dunia setelah Republik Rakyat Cina (RRC), Peru dan Amerika Serikat (FAO, 2009). Perkembangan dunia yang terjadi belakangan ini mengarah kepada era globalisasi dan perdagangan bebas. Hal ini menyebabkan perubahan yang cepat dan memberikan pengaruh luas dalam perekonomian nasional maupun internasional yang berdampak pada semakin ketatnya persaingan. Agar suatu sektor ekonomi dapat bertahan dan berkembang dalam situasi persaingan saat ini maka perlu memiliki daya saing yang tinggi. Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. 2 Strategi ini memerlukan kepeloporan dan kerjasama yang erat antara berbagai stakeholders yang terkait dengan sektor perikanan. Pendekatan klaster dalam pengembangan sumberdaya perikanan (selanjutnya disebut klaster minapolitan) dapat diartikan sebagai suatu bentuk pendekatan yang berupa pemusatan kegiatan perikanan di suatu lokasi tertentu. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktivitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Kebijakan pembangunan sektor perikanan saat ini, menjanjikan masa kejayaan dengan mengusung visi ”Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Dunia pada Tahun 2015,” dan misi ”Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan”. Pencapaian visi dan misi tersebut, pemerintah mencanangkan kebijakan revolusi biru (the blue revolution policies) melalui program “minapolitan dan peningkatan produksi perikanan”. Program pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan di kawasan agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Peningkatan produksi perikanan diprioritaskan dari hasil budidaya, baik budidaya air tawar, budidaya air payau dan budidaya laut. Produksi budidaya laut Indonesia tahun 2001 sebesar 197.114 ton meningkat menjadi 1.509.582 ton pada tahun 2007. Produksi tersebut terus mengalami peningkatan, dengan rata-rata peningkatan per tahun mencapai 79,51% (JICA, 2009). Luas potensi lahan budidaya laut sebesar 8.363.501 ha, hingga tahun 2007 luas lahan yang telah dimanfaatkan hanya seluas 84.481 ha (0,8%), sehingga masih terdapat lahan seluas 8.279.020 ha yang potensial untuk dikembangkan budidaya laut. 3 Produksi budidaya laut Nusa Tenggara Timur menempati peringkat pertama, dari total produksi perikanan nasional dengan volume produksi terbesar mencapai 504.709 ton (DKP, 2009). Provinsi Nusa Tenggara Timur secara geografis memiliki potensi perairan untuk pengembangan budidaya laut. Luas kawasan potensial daerah ini mencapai 12,187 ha, dan hingga tahun 2007 luas lahan yang telah dimanfaatkan baru seluas 1.580 ha, diantaranya untuk pengembangan komoditi tiram mutiara, rumput laut, ikan kakap dan ikan kerapu (DKP NTT, 2008). Komoditi rumput laut saat ini menjadi primadona pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang, karena mampu memberikan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir baik untuk pembudidaya rumput laut atau nelayan sambilan maupun pelaku usaha perikanan seperti pengumpul hasil, distributor dan jasa transportasi laut. Sebaran lokasi potensi dan pengembangan budidaya rumput laut umumnya hampir pada setiap perairan pantai di seluruh wilayah kecamatan pesisir. Namun demikian, usaha budidaya rumput laut sampai saat ini lebih banyak digeluti oleh masyarakat pesisir di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kupang Barat, Semau, Semau Selatan dan kecamatan-kecamatan di Pulau Sabu dan Raijua. Wilayah-wilayah ini merupakan sentra produksi komoditi rumput laut. Produksi rumput laut juga mengalami peningkatan, dan yang terdata secara total mencapai sekitar 3.757,16 ton pada tahun 2007, dan umumnya hasil produksinya diantarpulaukan ke Jakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Potensi budidaya laut lainnya yang juga sudah diujicobakan oleh nelayan di beberapa kecamatan (Kupang Barat dan Sulamu) yakni budidaya ikan di keramba jaring apung (KJA) dengan komoditi ikan kerapu dan kakap. Untuk potensi pengembangan budidaya mutiara hingga saat ini terdapat di perairan Selat Semau yakni perairan sekitar Kecamatan Kupang Barat, Semau dan Semau Selatan. Hasil produksi mutiara umumnya dipasarkan ke Jakarta ataupun diekspor (Jepang). Budidaya laut menjanjikan kontribusi besar terhadap peningkatan perekonomian daerah dan mampu meningkatkan pendapatan nelayan, karena sebagian besar komoditinya memiliki pangsa pasar ekspor dengan harga relatif tinggi. Kegiatan budidaya laut lebih memberikan kepastian bagi nelayan dibandingkan kegiatan penangkapan yang sangat bergantung pada cuaca dan musim. 4 Situasi ini memberikan justifikasi bahwa intervensi kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan peningkatan produksi perikanan melalui program budidaya laut sangat tepat. Oleh karenanya dalam rangka mendukung implementasi kebijakan pemerintah menjadikan Kabupaten Kupang sebagai sentra produksi pengembangan budidaya laut, maka diperlukan model pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut yang mampu menjamin kelestarian ekosistem dengan memperhatikan keterbatasan kapasitas lingkungan, dengan harapan agar dapat memberdayakan wilayah perikanan dalam rangka meningkatkan taraf hidup kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang ada dengan kaidah-kaidah pemanfaatan ruang yang optimal dan berkelanjutan, dan sekaligus memberikan masukan dan arahan sebagai bahan pertimbangan bagi pembuat keputusan dalam rangka menyusun strategi yang tepat dan benar untuk mengembangkan minapolitan berbasis budidaya laut di masa yang akan datang. Dengan demikian program pengembangan kawasan minapolitan ini juga dapat mendukung program gemala dari pemerintah Provinsi NTT yang akhirakhir ini tidak bergaung lagi. Gemala adalah salah satu program kegiatan strategis yang dicanangkan oleh pemerintah daerah Provinsi NTT pada tahun 2002 yaitu gerakan masuk laut. Orientasi program gemala yaitu optimalisasi sumberdaya, peningkatan skala usaha, peningkatan teknologi, peningkatan produksi bernilai tambah, peningkatan partisipasi masyarakat dan globalisasi perdagangan; diharapkan upaya pengembangan minapolitan dapat memdongkrak kembali program gemala yang sudah tidak terlihat lagi hasilnya. Namun, kegiatan budidaya laut ini memiliki dinamika dan permasalahan yang kompleks terkait kegiatan di wilayah daratan dan kegiatan budidaya itu sendiri akan berpengaruh terhadap kondisi biofisik dan daya dukung perairan, kondisi sosial ekonomi, kelembagaan dan teknologi budidaya yang saling berhubungan membentuk sebuah sistem yang kompleks. Dinamika dan kompleksitas permasalahan yang dihadapi saat ini merupakan proses dinamis, disadari sebagai rangkaian kemungkinan kejadian yang diinginkan di masa datang, dan sangat tergantung dari kebijakan yang diambil saat ini. Oleh karena itu, sistem dinamik sangat cocok untuk menganalisis mekanisme, pola dan kecenderungan sistem budidaya laut yang menjamin keberkelanjutan berdasarkan analisis terhadap struktur dan perilaku sistem yang rumit, berubah cepat dan mengandung ketidakpastian. 5 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyusun suatu model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang - Nusa Tenggara Timur dalam rangka meningkatkan taraf hidup kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk mencapai tujuan utama tersebut, maka ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan sebagai tujuan khusus, antara lain : 1. Menganalisis potensi, tingkat perkembangan, dan keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan. 2. Membangun model pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang. 1.3 Kerangka Pemikiran Penelitian ini berangkat dari potensi lestari kekayaan laut NTT sangat besar dan menjanjikan. Untuk jenis ikan tuna dan cakalang, misalnya, berdasarkan hasil penelitian LAPAN pada tahun 1998 lalu potensi lestari sekitar 156.000 ton pertahun. Namun tingkat pemanfaatannya baru sekitar 32,79% atau setara dengan 51.100 ton. Dilihat dari potensi yang ada dan peluang pasar manca negara, khususnya Jepang, Hongkong, Taiwan dan Cina, peluang usaha penangkapan ikan tuna dan cakalang masih sangat besar. Penyebaran jenis ikan tuna dan cakalang ini berada hampir pada semua perairan laut NTT. Namun yang berpotensi cukup besar dengan tingkat eksploitasinya masih rendah terdapat di Kabupaten Kupang (perairan Laut Sabu, Laut Timor, laut sekitar Pulau Rote dan laut sekitar Pulau Semau). Hal yang tak kalah menariknya adalah potensi lestari rumput laut (sea weeds). Tumbuhan yang tersebar hampir di perairan NTT ini bernilai ekonomis penting karena kegunaannya yang luas dalam bidang industri makanan, kosmetik, minuman dan farmasi. Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut sebagian besar sebagai bahan komoditas ekspor dalam bentuk rumput laut kering. Dari tahun ke tahun pertumbuhan ekspor rumput laut mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, namun relatif kecil dan jauh di bawah produksi Philipina. Hal itu disebabkan karena produksi rumput laut belum optimal. Keinginan masyarakat NTT untuk membudidayakan rumput laut cukup tinggi, walaupun masih dalam skala kecil, dengan potensi budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dengan luas lahan sekitar 12.187 ha baru dimanfaatkan sekitar 1.580 ha. 6 Guna mengoptimalkan potensi laut yang sangat besar itu untuk kemakmuran rakyat, pemerintah daerah (pemda) NTT mencanangkan program gerakan masuk laut (gemala). Gerakan yang bertumpu pada kondisi geografis NTT yang sebagian besar terdiri dari perairan merupakan suatu terobosan untuk merubah paradigma pembangunan dan sekaligus mentalitas masyarakat NTT yang selama ini lebih berorientasi ke darat. Substansi gemala yang kini dicanangkan dan disosialisasikan secara intensif oleh pemda NTT dan seluruh komponen terkait adalah upaya merubah mentalitas agraris masyarakat NTT menuju mentalitas maritim. Namun demikian dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pesatnya kegiatan pembangunan di wilayah pesisir, bagi berbagai peruntukan (pemukiman, perikanan, pelabuhan, obyek wisata dan lain-lain), maka tekanan ekologis terhadap ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut itu semakin meningkat. Meningkatnya tekanan ini tentunya akan dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdaya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya. Satu hal yang lebih memprihatinkan adalah, bahwa kecenderungan kerusakan lingkungan pesisir dan lautan lebih disebabkan paradigma dan praktek pembangunan yang selama ini diterapkan belum sesuai dengan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Cenderung mendominasi kepentingan ekonomi pusat lebih diutamakan daripada ekonomi masyarakat setempat. Seharusnya lebih bersifat partisipatif, transparan, dapat dipertanggung-jawabkan (accountable), efektif dan efisien, pemerataan serta mendukung supremasi hukum. Untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan, maka perlu dirumuskan suatu pengelolaan (strategic plan), mengintegrasikan setiap kepentingan dalam keseimbangan (proporsionality) antar dimensi ekologis, dimensi sosial, antar sektoral, disiplin ilmu dan segenap pelaku pembangunan (stakeholders). Dengan melihat isu dan permasalahan diatas, pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis budidaya laut yang terpadu dan berkelanjutan di Kabupaten Kupang dapat dimulai dengan memperhatikan beberapa aspek, yaitu : (1) aspek ekologis meliputi potensi keruangan, kesesuaian lahan, daya dukung lahan, dan karakteristik lahan; (2) aspek ekonomi yaitu kelayakan usaha budidaya; (3) aspek sosial yaitu persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan 7 berbasis budidaya laut; (4) aspek kelembagaan dan hukum yang meliputi kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan pemerintah yang terkait; dan (5) aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu metode analisis data. Keterpaduan aspek-aspek di atas dalam pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis budidaya laut dapat dimodelkan dalam suatu pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang. Model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut ini nantinya dapat menjadi arahan kebijakan pembangunan kawasan minapolitan di wilayah perairan Kabupaten Kupang. Potensi budidaya laut yang dapat dikembangkan sebagai basis kegiatan perikanan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perairan Kabupaten Kupang antara lain adalah budidaya rumput laut, tiram mutiara, teripang dan keramba jaring apung (KJA). Produksi maupun hasil olahan dari budidaya laut tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kupang. Model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk kebijakan pembangunan nasional di bidang kelautan dan perikanan untuk wilayah pesisir lainnya. Kerangka pemikiran penelitian model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di lihat pada Gambar 1. 8 Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian model pengembangan minapolitan di Kabupaten Kupang 1.4 Perumusan Masalah Pengelolaan wilayah pesisir terpadu dinyatakan sebagai proses pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan serta ruang dengan mengindahkan aspek konservasi dan keberlanjutannya. Permasalahan yang ada di Kabupaten Kupang adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan yang belum optimal, program pemda NTT yaitu gemala yang tidak lagi bergaung dalam pembangunan perikanan NTT, dan Kabupaten Kupang sebagai kawasan pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut. Sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan, khususnya nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan sebagaimana menjadi misi kementerian kelautan dan perikanan (KKP), maka dibuat kebijakan strategis operasional minapolitan. Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah. Untuk itu pendekatan dalam pembangunan minapolitan dilakukan dengan sistem manajemen kawasan dengan prinsip integrasi, efisiensi, kualitas dan akselerasi. 9 Ciri kawasan minapolitan adalah sebagian besar masyarakat memperoleh pendapatan dari kegiatan minabisnis kegiatan dikawasan didominasi oleh kegiatan perikanan (industri pengolahan, perdagangan). Dalam rencana pengembangan kawasan minapolitan tersebut, Kabupaten Kupang memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi seperti : (1) memiliki lahan dan perairan yang sesuai untuk pengembangan komoditas perikanan; (2) memiliki sarana umum lainnya seperti transportasi, listrik, telekomunikasi, air bersih dll; dan (3) memiliki berbagai sarana dan prasarana minabisnis, yaitu : pasar, lembaga keuangan, kelompok budidaya, balai benih ikan, penyuluhan dan bimbingan teknis, jaringan jalan, irigasi. Dengan demikian, dibutuhkan kajian lebih mendalam berkaitan dengan persyaratan yang harus dipenuhi untuk sebuah kawasan minapolitan; untuk itu perlu dilakukan pengkajian pengembangan kawasan minapolitan dengan menggunakan berbagai macam metode secara komprehensif yang nantinya akan diperoleh hasil penelitian yang detail dan mendalam. Perumusan masalah pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang, disajikan secara sistematis pada Gambar 2. Beberapa pertanyaan penelitian yang merupakan permasalahan-permasalahan yang perlu dikaji adalah : 1. Bagaimana kondisi dan potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Kupang untuk menunjang pengembangan kawasan minapolitan? 2. Bagaimana tingkat perkembangan wilayah yang dimiliki Kabupaten Kupang untuk menunjang pengembangan kawasan minapolitan? 3. Bagaimana keberlanjutan potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Kupang dapat mendukung pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang? 4. Bagaimana model pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang, serta bagaimana rumusan kebijakan dan skenario strategi pengembangannya? 10 Gambar 2 1.5 Skema perumusan masalah model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat bagi pemerintah daerah, dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan kebijakan dan strategi pembangunan wilayah melalui pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan. 2. Manfaat bagi masyarakat (stakeholders), memberikan kontribusi hasil pemikiran secara ilmiah bagi masyarakat yang akan menginvestasikan modalnya dalam pengelolaan sumberdaya laut secara berkelanjutan melalui konsep minapolitan. 3. Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai bahan referensi dan pengkajian lebih lanjut dalam pengembangan wilayah yang berpihak pada optimalisasi di sektor perikanan berbasis budidaya laut. 11 1.6 Kebaruan (Novelty) Penelitian mengenai model pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang belum pernah dilakukan, khususnya jika ditinjau berdasarkan hal-hal berikut secara menyeluruh yaitu: potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, tingkat perkembangan wilayah, status keberlanjutan wilayah, dan konsep pengembangan minapolitan. Berdasarkan hal tersebut, kebaruan dari penelitian ini adalah dihasilkannya rekomendasi kebijakan umum dan operasional minapolitan berbasis budidaya laut yang didasarkan pada perkembangan potensi wilayah, sumberdaya status kelautan keberlanjutan dan perikanan, wilayah, dan tingkat konsep pengembangan minapolitan. 1.7 Penelitian Terdahulu Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian ini yang telah dilaksanakan terlebih dahulu, antara lain : 1. Susilo (2003) dengan judul penelitian “Keberlanjutan Pembangunan PulauPulau kecil” (Studi Kasus Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari KePulauan Seribu, DKI Jakarta). Penelitian ini menggunakan konsep keberlanjutan dan menyimpulkan bahwa pengelolaan sumberdaya di Pulau Panggang dan Pulau Pari termasuk dalam kategori “cukup berkelanjutan”. 2. Pranoto (2005) dengan judul penelitian “Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan Melalui Model Pengembangan Agropolitan”, menyimpulkan bahwa pengembangan agropolitan sebagai pendekatan pembangunan perdesaan yang berkelanjutan dapat tercapai jika peningkatan produksi pertanian, peningkatan sarana dan prasarana permukiman, transportasi, dan pemasaran disertai dengan peningkatan konservasi sumberdaya alam; pengembangan agribisnis dan pembangunan agroindustri dibarengi dengan perbaikan pemasaran secara berkelanjutan, perencanaan dan pelaksanaan program dibarengi dengan peran dan kinerja kelembagaan yang ada. 3. Rauf (2008) dengan judul “Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulauan Tanakeke Berbasis Daya Dukung”, menyimpulkan bahwa Kepulauan Tanakeke memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar untuk pengembangan budidaya perikanan (rumput laut dan KJA), penangkapan ikan (pelagis dan karang/demersal); Hasil analisis kesesuaian dan daya dukung lahan serta kelayakan secara ekonomi terhadap berbagai 12 peruntukkan di Kepulauan Tanakeke, didapatkan bahwa kegiatan budidaya perikanan seperti rumput laut dan keramba jaring apung layak dikembangkan di Pulau Tanakeke dan Lantangpeo. 4. Saksono (2008) dengan judul “Kajian Pembangunan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Berbasis Industri Perikanan”. Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisis interaksi antar faktor pembangunan Kabupaten dan/atau kota yang berbasis industri perikanan; dan merancang suatu model pembangunan bagi kabupaten administrasi Kepulauan Seribu berbasis industri perikanan. 5. Thamrin (2009) dengan judul “Model Pengembangan Kawasan Agropolitan Secara Berkelanjutan Di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia” (Studi Kasus Wilayah Perbatasan Kabupaten Bengkayang - Serawak), menyimpulkan bahwa model pengembangan kawasan agropolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang dibangun dari empat sub model berdasarkan analisis sistem dinamik, yakni : sub model pengembangan wilayah, sub model budidaya pertanian, sub model pengembangan industri, dan sub model pengolahan dan pemasaran produk. Hasil identifikasi potensi wilayah, menunjukkan wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang sangat potensial untuk pengembangan kawasan agropolitan terpadu. 6. Radarwati (2010) dengan judul “Pengelolaan Perikanan Tangkap Berkelanjutan Di Perairan Jakarta, Provinsi DKI Jakarta” menyimpulkan bahwa tingkat keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap di perairan Jakarta berada pada tahap pertumbuhan dan pengelolaan dalam kategori kurang baik dalam merespon faktor-faktor internal dan eksternal, alokasi optimum alat tangkap terbesar adalah bubu dengan 8.547 unit, sedangkan ruang yang dapat dimanfaatkan sebesar 52,89% dari luas perairan 748 ha dengan strategi standarisasi perikanan ukuran kecil menjadi prioritas utama untuk diimplementasikan. 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengelolaan Pesisir dan Lautan Terpadu Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah daratan meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat, seperti sendimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti pertanian dan pencemaran (Soegiarto, 1984; Beatley et al., 1994). Menurut UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil menyatakan bahwa “Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut”; sedangkan “Perairan pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna”. Sumberdaya alam pesisir dan laut, dewasa ini sudah semakin disadari banyak orang bahwa sumberdaya ini merupakan suatu potensi yang cukup menjanjikan dalam mendukung tingkat perekonomian masyarakat terutama bagi nelayan. Di sisi lain, konsekuensi logis dari sumberdaya pesisir dan laut sebagai sumberdaya milik bersama (common property) dan terbuka untuk umum (open acces) maka pemanfaatan sumberdaya alam pesisir dan laut dewasa ini semakin meningkat di hampir semua wilayah. Pemanfaatan yang demikian cenderung melebih daya dukung sumberdaya (over exploitation). Ghofar (2004), mengatakan bahwa perkembangan eksploitasi sumberdaya alam laut dan pesisir dewasa ini (penangkapan, budidaya, dan ekstraksi bahan-bahan untuk keperluan medis) telah menjadi suatu bidang kegiatan ekonomi yang dikendalikan oleh pasar (market driven) terutama jenisjenis yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga mendorong eksploitasi sumberdaya alam laut dan pesisir dalam skala dan intensitas yang cukup besar. Sedangkan menurut Purwanto (2003), mengatakan bahwa ketersediaan stok sumberdaya ikan pada beberapa daerah penangkapan (fishing ground) di Indonesia ternyata telah dimanfaatkan melebihi daya dukungnya sehingga kelestariannya terancam. Beberapa spesies ikan bahkan dilaporkan telah sulit didapatkan bahkan nyaris hilang dari perairan Indonesia. Kondisi ini semakin diperparah oleh peningkatan 14 jumlah armada penangkapan, penggunaan alat dan teknik serta teknologi penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Secara ideal pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungan hidupnya harus mampu menjamin keberlangsungan fungsi ekologis guna mendukung keberlanjutan usaha perikanan pantai yang ekonomis dan produktif. Keberlanjutan fungsi ekologis akan menjamin eksistensi sumberdaya serta lingkungan hidup ikan (Anggoro, 2004). Wilayah pesisir memiliki nilai ekonomi tinggi, namun terancam keberlanjutannya. Dengan potensi yang unik dan bernilai ekonomi tadi maka wilayah pesisir dihadapkan pada ancaman yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar wilayah ini dapat dikelola secara berkelanjutan. Pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan lautan terpadu pada hakekatnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia atau masyarakat di sekitar kawasan pesisir agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan (Supriharyono, 2000). Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu memiliki pengertian bahwa pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut dilakukan melalui penilaian secara menyeluruh (comprehensive assessment), merencanakan tujuan dan sasaran, kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan (Bengen, 2004). Perencanaan dan pengelolaan tersebut dilakukan secara kontinyu dan dinamis dengan mempertimbangkan aspek sosialekonomi-budaya dan aspirasi masyarakat pengguna wilayah pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan pemanfaatan yang mungkin ada. Dalam dimensi keterpaduan ICM (Integrated Coastal Management atau pengelolaan secara terpadu) meliputi lima aspek, yaitu (a) keterpaduan sektor, yaitu antara berbagai sektor pembangunan di wilayah pesisir, seperti perikanan (budidaya), pariwisata, pertambangan migas, perhubungan dan pelabuhan, pemukiman, pertanian pantai; (b) keterpaduan wilayah/ekologis, yaitu antara daratan dan perairan (laut) yang masuk dalam suatu sistem ekologis, (c) keterpaduan stakeholder dan tingkat pemerintah, yaitu dengan melibatkan seluruh komponen stakeholder yang terdapat di wilayah pesisir dan juga adanya keterpaduan antara pemerintah pada berbagai level, seperti pusat, propinsi, dan kabupaten; (d) keterpaduan antara berbagai disiplin ilmu, yaitu dengan 15 melibatkan berbagai disiplin ilmu terkait dengan pesisir dan lautan, seperti ilmu sosial-budaya, fisika, biologi, keteknikan, ekologi, hukum dan kelembagaan; (e) keterpaduan antar negara, yaitu kerja sama dan koordinasi antar negara dalam mengelola sumberdaya pesisir, terutama yang menyangkut kepentingan seluruh umat manusia (Cincin-Sain, 1993). 2.2 Strategi Pengembangan Wilayah 2.2.1 Pengembangan Wilayah dalam perspektif Development from Below Pendekatan konsep pengembangan wilayah yang berbasis pada kekuatan ekonomi dan sumber daya lokal, merupakan suatu respon terhadap pendekatan yang bersifat top-down. Mekanisme pola ketergantungan (dependency) serta struktur hubungan produksi dan distribusi yang berbeda antara core dan periphery, yang sangat kontras dengan pemikiran sistem integrasi pusat-pusat dalam suatu lingkup sistem jaringan, tidak memungkinkan terjadinya proses „penjalaran‟ atau yang dikenal dengan trickling down effects. Berkaitan dengan dependency serta distorsi yang terjadi antara wilayah core dan periphery (kesenjangan wilayah), Myrdall (1957), Hirschman (1958), dan Friedmann (1966), mengatakan bahwa ekonomi wilayah yang terintregasi dan terkait dengan basis ekonomi dunia yang tidak seimbang akan menimbulkan dua kecenderungan fenomena. Pertama, aktivitas pembangunan yang mengarah pada gejala polarisasi atau backwash effect. Kedua, leakages atas pemanfaatan sumber daya vital suatu wilayah untuk kepentingan metropolis (core atau leading region) maupun negara lain. Permasalahan juga ditekankan pada kesulitan untuk menstimulasi keterkaitan ekonomi antara industri-industri di pusat dengan daerah belakangnya, serta ketimpangan oportunitas yang dimiliki dalam segi skala ekonomi, potensi perubahan struktur sumber daya manusia dan teknologi oleh core dan periphery. Gejala yang umum terjadi adalah mobilitas kapital, tenaga kerja dan sumber daya terakumulasi di kutub-kutub pertumbuhan (growth pole) sementara akibat pengaruh leakages eksternal maupun internal yang terjadi, wilayah periphery makin tertinggal. Bertolak dari konsepsi pemikiran bahwa leakages atas proses produksi lokal akan meminimisasi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut, teori “development from below” mensyaratkan adanya suatu tahapan dalam internalisasi sumber daya untuk menghasilkan produk bagi pemenuhan konsumsi masyarakat lokal, misalnya melalui cara pengembangan industri padat karya skala kecil, atau secara ekstrim dapat dikatakan melakukan perubahan di dalam 16 institusi dan keterkaitan hubungan struktur ekonomi. Hal ini didukung pendapat Hirschman (1958), bahwa pengembangan wilayah atas suatu periphery hanya dapat dilakukan dengan melindunginya dari pengaruh polarisasi wilayah. Ditinjau dari sudut pandang ekonomi wilayah, usaha internalisasi yang dilakukan dalam bentuk komponen elemen-elemen produksi (sumber daya maupun investasi) dimaksudkan untuk memaksimalkan efek mulitiplier lokal terhadap sektor-sektor perekonomian wilayah melalui kontrol backwash effects yang terjadi dengan bertumpu pada karakter dasar wilayah tersebut. Proses internalisasi potensi lokal wilayah merupakan awal bagaimana suatu wilayah dapat berkembang. Menurut perspektif teori ini, terdapat berbagai strategi pendekatan pengembangan wilayah, yaitu pendekatan pengembangan territorial, fungsional, dan pendekatan minapolitan. Secara umum pendekatanpendekatan tersebut memfokuskan pada upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap wilayah pusat. Pendekatan-pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah saat ini, yakni kebijakan pengembangan ekonomi dan pembiayaan usaha kelautan dan perikanan (Kemenko Ekonomi, 2010) yang tertulis dalam strategi utama pembangunan 2010-2014, dimana pembangunan harus berdimensi kewilayahan (pengklasteran) dan ditopang oleh penguatan ekonomi lokal. Berikutnya akan dibahas mengenai pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan melalui sistem pengklasteran (minapolitan). 2.2.2 Konsep Pengembangan Minapolitan Sumber daya perikanan merupakan salah satu sumber daya yang penting bagi hajat hidup masyarakat dan dapat dijadikan sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian nasional. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa pertama, Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun diversitas. Kedua, industri di sektor perikanan memiliki keterkaitan (backward and forward linkage) yang kuat dengan industri-industri lainnya. Ketiga, industri perikanan berbasis sumberdaya lokal atau dikenal dengan istilah resources-based industries dan keempat, Indonesia memiliki keunggulan (comparative advantage) yang tinggi di sektor perikanan sebagaimana dicerminkan dari potensi sumber daya ikannya. Dengan potensi tersebut sumber daya perikanan sesungguhnya memiliki keunggulan komparatif untuk menjadi sektor unggulan. Walaupun sektor perikanan memiliki peran dan potensi sebagai prime mover ekonomi nasional, akan tetapi sampai saat ini peran dan potensi tersebut masih terabaikan dan belum teroptimalkan dengan 17 baik. Keunggulan komparatif yang kita miliki belum mampu untuk kita transformasikan menjadi keunggulan kompetitif. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis perikanan serta munculnya berbagai permasalahan yang membutuhkan sebuah penanganan yang cepat dan tepat. Beberapa permasalahan yang sering dihadapi seperti biaya produksi yang masih tinggi, lemahnya permodalan, lemahnya kemampuan pembudidayaan ikan, baik benih, pakan, penyakit, pengelolaan lingkungan budidaya dan penanganan pasca panen. Selain itu dengan semakin terbukanya pasar pada masing-masing negara menjadi tantangan bagi pembangunan perikanan nasional. Bila permasalahan-permasalahan tersebut tidak ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dapat menghambat peningkatan daya saing sektor perikanan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Di beberapa negara, industri yang berbasis klaster telah terbukti mampu menunjukkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam menembus pasar. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. Strategi ini memerlukan kepeloporan dan kerjasama yang erat antara berbagai stakeholders yang terkait dengan sektor perikanan. Pendekatan klaster dalam pengembangan sumberdaya perikanan (selanjutnya disebut klaster minapolitan) dapat diartikan sebagai suatu bentuk pendekatan yang berupa pemusatan kegiatan perikanan di suatu lokasi tertentu (Porter, 2000). Upaya ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktivitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Dalam mengembangkan klaster perikanan (minapolitan), berbagai aspek baik dari subsistem hulu, subsistem hilir maupun jasa penunjang haruslah saling mendukung satu sama lainnya (Friedmann, 1966). Klaster Minapolitan yang baik dicirikan oleh tingginya tingkat keterkaitan berbagai kegiatan yang saling 18 mendukung antara satu pelaku dengan pelaku yang lain. Oleh karena itu untuk mencapai tingkat keberhasilan, beberapa faktor kunci yang harus diperhatikan dalam klaster minapolitan antara lain : pertama, tercipta kemitraan dan jaringan (networking) yang baik. Tercipta kemitraan dan jaringan yang ditandai adanya kerjasama antar perusahaan merupakan hal yang sangat penting karena tidak hanya untuk memperoleh sumber daya, namun juga dalam hal fleksibilitas, dan proses pembelajaran bersama antar perusahaan. Fleksibilitas akan tercipta misalnya dalam hal penentuan jumlah produksi, sedangkan proses pembelajaran bersama, misalnya dalam transfer dan penyebaran teknologi yang dapat meningkatkan keahlian pelaku perusahaan yang ada dalam klaster. Kedua, adanya inovasi, riset dan pengembangan. Inovasi secara umum berkenaan dengan pengembangan produk atau proses, sedangkan riset dan pengembangan berkenaan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga, tersedianya sumber daya manusia (tenaga kerja) yang handal. Produktivitas SDM merupakan salah suatu indikator keberhasilan dari sebuah klaster. Dengan SDM yang handal dan memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, maka keberadaan kapital maupun kelembagaan dapat dijalankan dengan baik. Ilustrasi tentang pentingnya peran SDM dan kewirausahaan dapat diwakili oleh Negara Singapura dan Jepang. Negara ini mengalami keterbatasan SDA dibandingkan Indonesia namun memiliki SDM yang berkualitas, sehingga kapital dan aturanaturan yang mereka ciptakan dapat menempatkan negara tersebut pada jajaran negara-negara maju. Disamping ketiga faktor tersebut tingkat keberhasilan klaster minapolitan juga ditentukan oleh penentuan lokasi klaster. Penentuan lokasi merupakan keputusan yang didasarkan pada perpaduan dari berbagai faktor yang mempengaruhi seperti ketersediaan sumberdaya (input), biaya transportasi, harga faktor lokal, kemungkinan produksi dan substitusi, struktur pasar, kompetisi dan informasi. Pendekatan klaster minapolitan merupakan suatu strategi yang dapat digunakan dalam meningkatkan daya saing sumber daya perikanan. Untuk mendukung strategi tersebut beberapa hal yang harus diupayakan antara lain pertama, terpenuhinya kebutuhan dasar sebuah klaster seperti terciptanya stabilitas ekonomi makro yang mantap, iklim investasi yang kondusif, dan terjaminnya penyelenggaraan hukum yang efisien dan dapat dipercaya. Kedua, peningkatan kompetensi SDM dari masing-masing pelaku dalam klaster hendaknya dilakukan dengan cara pengembangan keterampilan dan kecakapan 19 baik melalui pelatihan maupun kegiatan produktif lainnya. Ketiga, mengembangkan berbagai kelembagaan pendukung terutama kelembagaan pembiayaan, penelitian, penyuluhan, dan pendidikan. Adanya kelembagaan tersebut akan mampu meningkatkan akses pelaku terhadap informasi terkait dengan permodalan, teknologi dan inovasi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja klaster. Keempat, diperlukan identifikasi dan pemetaan karakterisasi wilayah dalam menentukan lokasi untuk klaster perikanan. Penentuan lokasi klaster tersebut merupakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas. Bila beberapa hal di atas dapat tercipta dengan baik, niscaya klaster minapolitan dapat berkembang dengan baik dan dengan sendirinya daya saing sumber daya perikanan dapat meningkat baik itu di dalam negeri maupun internasional. Pertambahan penduduk dan perubahan konsumi masyarakat ke arah protein hewani yang lebih sehat adalah salah satu penyebab meningkatnya kebutuhan produk perikanan. Sementara pasokan ikan dari hasil penangkapan cenderung semakin berkurang, dengan adanya kecenderungan semakin meningkatnya gejala kelebihan tangkap dan menurunnya kualitas lingkungan, terutama wilayah perairan tempat ikan memijah, mengasuh dan membesarkan anak. Guna mengatasi keadaan ini, maka pengembangan budidaya laut merupakan alternatif yang cukup memberikan harapan. Hal ini didukung oleh potensi alam Indonesia yang memiliki 81.000 km garis pantai dan penduduk yang telah terbiasa dengan budaya pantai dengan segala pernik-perniknya. Kegiatan budidaya laut dan pantai berpeluang besar menjadi tumpuan bagi sumber pangan hewani di masa depan, karena peluang produksi perikanan tangkap yang terus menurun. Dasar hukum minapolitan adalah Permen KKP No.12 tahun 2010 tentang minapolitan, dan Kepmen KKP No.32 tahun 2010 tentang penetapan kawasan minapolitan. Minapolitan adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan, sedangkan kawasan minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Tujuan dari minapolitan adalah untuk (a) meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas produk kelautan dan perikanan; (b) meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, dan 20 pengolah ikan yang adil dan merata; dan (c) mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. Sedangkan karakteristik kawasan minapolitan meliputi : (a) Suatu kawasan ekonomi yang terdiri atas sentra produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya, seperti jasa dan perdagangan; (b) Mempunyai sarana dan prasarana sebagai pendukung aktivitas ekonomi; (c) Menampung dan mempekerjakan sumberdaya manusia di dalam kawasan dan daerah sekitarnya; dan (d) Mempunyai dampak positif terhadap perekonomian di daerah sekitarnya. Persyaratan kawasan minapolitan adalah : (a) kesesuaian dengan Rencana Strategis, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) kabupaten/kota, serta Rencana Pengembangan Investasi Jangka Menengah Daerah (RPIJMD) yang telah ditetapkan; (b) memiliki komoditas unggulan di bidang kelautan dan perikanan dengan nilai ekonomi tinggi; (c) letak geografi kawasan yang strategis dan secara alami memenuhi persyaratan untuk pengembangan produk unggulan kelautan dan perikanan; (d) terdapat unit produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan jaringan usaha yang aktif berproduksi, mengolah dan/atau memasarkan yang terkonsentrasi di suatu lokasi dan mempunyai mata rantai produksi pengolahan, dan/atau pemasaran yang saling terkait; (e) tersedianya fasilitas pendukung berupa aksesibilitas terhadap pasar, permodalan, sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran, keberadaan lembaga-lembaga usaha, dan fasilitas penyuluhan dan pelatihan; (f) kelayakan lingkungan diukur berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, potensi dampak negatif, dan potensi terjadinya kerusakan di lokasi di masa depan; (g) komitmen daerah, berupa kontribusi pembiayaan, personil, dan fasilitas pengelolaan dan pengembangan minapolitan; (h) keberadaan kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang kelautan dan perikanan; dan (i) ketersediaan data dan informasi tentang kondisi dan potensi kawasan. 2.3 Budidaya Laut di Kabupaten Kupang Sumberdaya perikanan di perairan NTT dapat diklasifikasikan menjadi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Khusus perikanan budidaya laut termasuk budidaya kerapu, rumput laut, mutiara dan teripang dengan potensi pengembangan sekitar 12.187 ha dan tingkat pemanfaatan baru mencapai 12,97% (1.580 ha) dan sebagian besar hasil potensi yang ada masih dikelola 21 secara tradisional karena keterbatasan sarana, pengetahuan dan modal. Berikut ini adalah penjabaran jenis, proses dan konstruksi budidaya laut yang diteliti di Kabupaten Kupang. 2.3.1 Budidaya Keramba Jaring Apung Dalam analisis kelayakan usaha budidaya keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Kupang, dipilih ikan kerapu sebagai obyek/komoditi yang akan dikaji. Ikan kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas. Dikenal tiga jenis ikan kerapu yaitu kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu lumpur yang telah tersedia dan dikuasai teknologinya. Dari ketiga jenis ikan kerapu di atas, untuk pengembangan di Kabupaten Kupang ini disarankan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Hal ini karena harga per kg jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedua jenis lainnya. Di Indonesia, kerapu tikus ini dikenal juga sebagai kerapu bebek atau di dunia perdagangan internasional mendapat julukan sebagai panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintikbintik kecil bulat berwarna hitam. a. Penyebaran dan Habitat Daerah penyebaran kerapu tikus di Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, ikan kerapu banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya ikan kerapu adalah perairan karang. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar. Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 m. Telur dan larvanya bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Parameterparameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24–310C, salinitas antara 30-33 gr/kg, kandungan oksigen terlarut > 3,5 22 mg/l dan pH antara 7,8–8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang. b. Proses Budidaya Budidaya ikan kerapu tikus ini, dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun dengan menggunakan KJA. Untuk keperluan studi ini, dipilih budidaya dengan menggunakan KJA. Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai. Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh. Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu pada kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah : (a) waktu penebaran (sebaiknya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh), (b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan yang tinggi, dan (c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas. Benih ikan kerapu ukuran panjang 4–5 cm dari hasil tangkapan maupun dari hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5 m x 3 m x3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20–25 cm atau 100 gr). Setelah itu dipindahkan ke jaring besar ukuran 3 m x 3 m x 3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukuran konsumsi (500 gr). Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara ad libitum (sampai kenyang), sedangkan untuk pembesaran adalah 8%-10% dari total berat badan per hari. 23 Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebardapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gr pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah. Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus). Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA, antara lain : penentuan waktu panen, peralatan panen, teknik panen, serta penanganan pasca panen. Watu panen, biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 gr – 1000 gr dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang digunakan pada saat panen, berupa : scoop, keranjang, timbangan, alat tulis, perahu, bak pengangkut dan peralatan aerasi. Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA dengan metoda panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi, sedangkan panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual. Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di tempat tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam kondisi baik. Ini dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup. Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau dengan jalan darat yang waktu angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya berupa drum plastik atau fiberglass yang sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai ⅔ bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut diusahakan tetap konstan selama perjalanan yaitu 19-210C. Selama 24 pengangkutan air perlu diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar 50 kg per wadah. Cara pengangkutan yang umum digunakan adalah dengan pengangkutan tertutup dan umumnya untuk pengangkutan dengan pesawat udara. Untuk itu, 1 kemasan untuk 1 ekor ikan dengan berat rata-rata 500 gr. c. Konstruksi Keramba Jaring Apung Untuk pembuatan rakit keramba, diperlukan rakit dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi anti karat. Ukuran bingkai rakit biasanya 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m. Untuk mengapungkan satu unit rakit, diperlukan pelampung yang berasal dari bahan drum bekas atau drum plastik bervolume 200 ltr, styreofoam dan drum fiberglass. Kebutuhan pelampung untuk satu unit rakit ukuran 6 m x 6 m yang dibagi 4 bagian diperlukan 8-9 buah pelampung dan 12 buah pelampung untuk rakit berukuran 8 m x 8 m. Bahan pengikat rakit bambu dapat digunakan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, pengikatannya menggunakan baut. Untuk mengikat pelampung ke bingkai rakit digunakan tali PE berdiameter 4-6 mm. Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus air, digunakan jangkar yang terbuat dari besi atau semen blok. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Kebutuhan jangkar per unit keramba minimal 4 buah dengan berat 25-50 kg yang peletakannya dibuat sedemikian rupa sehingga rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang digunakan adalah tali plastik/PE berdiameter 0,5–1,0 inchi dengan panjang minimal 2 kali kedalaman perairan. Pembuatan jaring kantong, digunakan jaring yang dipergunakan dalam usaha budidaya ikan kerapu, sebaiknya terdiri dari dua bagian, yaitu : (a) kantong jaring luar yang berfungsi sebagai pelindung ikan dari serangan ikanikan buas dan hewan air lainnya. Ukuran kantong dan lebar mata jaring untuk kantong jaring luar lenih besar dari kantong jaring dalam; (b) kantong jaring dalam, yang dipergunakan sebagai tempat memelihara ikan. Ukurannya bervariasi dengan pertimbangan banyaknya ikan yang dipelihara dan kemudahan dalam penanganan dan perawatannya. Pemberat berfungsi untuk menahan arus dan menjaga jaring agar tetap simetris. Pemberat yang terbuat dari batu, timah atau beton dengan berat 2–5 kg per buah, dipasang pada tiaptiap sudut keramba/ jaring. Konstruksi keramba jaring apung untuk ikan kerapu dapat dilihat pada Lampiran 1. 25 d. Analisis Pasar Potensi dan peluang pasar hasil laut dan ikan cukup baik. Pada tahun 1994, impor dunia hasil perikanan sekitar 52,49 juta ton. Indonesia termasuk peringkat ke-9 untuk ekspor ikan dunia. Permintaan ikan pada tahun 2010 diperkirakan akan mencapai 105 juta ton. Disamping itu, peluang dan potensi pasar dalam negeri juga masih baik. Total konsumsi ikan dalam negeri tahun 2001 sekitar 46 juta ton dengan konsumsi rata-rata 21,71 kg/kepala/tahun. Dengan elastisitas harga 1,06 berarti permintaan akan ikan tidak akan banyak berubah dengan adanya perubahan harga ikan. Tingkat konsumsi ikan bagi penduduk NTT pada tahun 2004 mencapai sekitar 17,14 kg/kapita yang baru mencapai sekitar 68,56% dari standar konsumsi ikan nasional yaitu 25 kg. Negara yang menjadi tujuan ekspor ikan kerapu adalah Hongkong, Taiwan, China, dan Jepang. Harga ikan kerapu di tingkat pembudidaya untuk tujuan ekspor telah mencapai US$33 per kg. Ikan kerapu yang berukuran kecil (4-5 cm) sebagai ikan hias laku dijual dengan harga Rp7.000,00 per ekor sedang untuk ikan konsumsi dengan ukuran 400-600 gr/ekor laku dijual dengan harga Rp70.000,00 per kg untuk kerapu macan dan Rp300.000,00 per kg untuk kerapu bebek atau kerapu tikus (harga tahun 2001). Dalam analisis ini, tingkat harga jual digunakan harga pasaran saat ini yaitu sebesar Rp317.000,00 per kg untuk kerapu tikus. Dengan tingginya permintaan dan harga jual ikan kerapu, maka usaha budidaya ikan kerapu ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan devisa negara melalui hasil ekspor. 2.3.2 Budidaya Rumput Laut Pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia dirintis sejak tahun 1980-an dalam upaya merubah kebiasaan penduduk pesisir dari pengambilan sumberdaya alam ke arah budidaya rumput laut yang ramah lingkungan dan usaha budidaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya juga dapat digunakan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan perairan pantai (Ditjenkan, 2005). Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu alternatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal : (1) produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam, (2) tersedianya lahan untuk budidaya yang cukup luas serta (3) mudahnya teknologi budidaya yang diperlukan. Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam divisio thallophyta. Keseluruhan dari tanaman ini merupakan batang yang 26 dikenal dengan sebutan thallus, bentuk thallus rumput laut ada bermacammacam ada yang bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut dan lain sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau banyak sel (multiseluler). Percabangan thallus ada yang thallus dichotomus (dua-dua terus menerus), pinate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama), pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama) dan ada juga yang sederhana tidak bercabang. Sifat substansi thallus juga beraneka ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous), lunak bagaikan tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongeous) dan sebagainya (Soegiarto et al., 1978). Sejak tahun 1986 sampai sekarang jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Kepulauan Seribu adalah jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut jenis Eucheuma cottonii ini juga dikenal dengan nama Kappaphycus alvarezii. Menurut Dawes dalam Kadi dan Atmadja (1988) bahwa secara taksonomi rumput laut jenis Eucheuma dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Ordo : Gigartinales Famili : Solieriaceae Genus : Eucheuma Spesies : Eucheuma cottonii Genus Eucheuma merupakan istilah popular di bidang niaga untuk jenis rumput laut penghasil karaginan. Nama istilah ini resmi bagi spesies Eucheuma yang ditentukan berdasarkan kajian filogenetis dan tipe karaginan yang terkandung di dalamnya. Jenis Eucheuma ini juga dikenal dengan Kappaphycus (Doty, 1987). Ciri-ciri Eucheuma cottonii adalah thallus dan cabang-cabangnya berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks (Ditjenkan Budidaya, 2004). Secara umum di Indonesia, budidaya rumput laut dilakukan dalam tiga metode penanaman berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan. 27 Ketiga budidaya tersebut adalah metode dasar (bottom method), metode lepas dasar (off-bottom method), dan metode apung (floating method)/longline. Namun dalam penelitian ini, metode longline yang dipakai oleh nelayan/pembudidaya di Kabupaten Kupang. Metode tali panjang (long line method) pada prinsipnya hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan tali plastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa diterapkan di perairan yang agak dalam. Keuntungan metode ini antara lain: (1) tanaman cukup menerima sinar rnatahari, (2) tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air, (3) terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan, (4) pertumbuhannya lebih cepat, (5) cara kerjanya lebih mudah, (6) biayanya lebih murah, dan (7) kualitas rumput laut yang dihasilkan baik. Saat ini para petani/nelayan di perairan NTT umumnya mengembangkan usaha budidaya rumput laut Eucheuma sp. dengan metode tali panjang, dan tentunya metode ini dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani/nelayan di wilayah lain di Indonesia. Persiapan pembuatan kontruksinya yang meliputi persiapan lahan dan peralatan sebagai berikut : pada budidaya rumput laut metode tali panjang biasanya dilakukan dengan menggunakan tali PE. Ada 4 (empat) nomor jenis tali PE yang digunakan yaitu tali induk (PE 10 mm), tali jangkar (PE 8 mm), tali bentangan (PE 5 mm) dan tali ris simpul (PE 2 mm). Untuk metode tali panjang (longline) digunakan tali PE 10 mm sepanjang 100 m yang pada kedua ujungnya diberi jangkar dan pelampung besar. Setiap 25 m diberi tali PE 8 mm sebagai tali bantu jangkar pada setiap sisi dan pelampung utama yang terbuat dari drum plastik atau styrofoam. diberi Konstruksi rumput laut dengan sistem longline dapat dilihat pada Lampiran 1. Tali bentangan diberi floatting ball (pelampung botol aqua 600 ml) dan pada setiap jarak 10 m. Tali bentang PE 5 mm sepanjang 30 m terdiri dari 120 titik simpul tali ris PE 2 mm dan jarak antara tali simpul ris setiap rumpun ± 25 cm. Untuk pemilihan bibit, dipilih bibit rumput laut yang bercabang banyak dan rimbun, tidak terdapat bercak, tidak terkelupas, dan warna spesifik cerah, umur hari dan berat bibit 200 gr per rumpun; sedangkan untuk penanganan bibit, bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Saat mengangkut bibit sebaiknya bibit tetap terendam di dalam air laut atau dimasukkan ke dalam kotak karton berlapis plastik. Bibit 28 disusun berlapis dan berselang-seling yang dibatasi dengan lapisan kapas atau kain yang sudah dibasahi air laut. Agar bibit tetap baik, simpan di dalam keranjang atau jaring dengan ukuran mata jaring kecil dan harus dijaga agar tidak terkena minyak, kehujanan maupun kekeringan. Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pengikatan bibit pada tali simpul ris PE berdiameter 2 mm yang terdapat pada tali ris bentang PE berdiameter 5 mm. Sebaiknya pengikatan bibit dilakukan ditempat terlindung agar bibit yang akan ditanam tetap dalam kondisi segar. Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali ris bentang PE berdiameter 5 mm yang telah berisi ikatan bibit tanaman yang diikat pada tali ris utama PE berdiameter 10 mm. Posisi tanaman sekitar 30 cm di atas dasar perairan (perkirakan pada saat surut terendah masih tetap terendam air). Pemeliharaan rumput laut dilakukan dengan cara membersihkan tanaman dari tumbuhan dan lumpur yang mengganggu, sehingga tidak menghalangi tanaman dari sinar matahari dan mendapatkan makanan. Jika ada sampah yang menempel, angkat tali perlahan, agar sampah-sampah yang menyangkut bisa larut kembali. Jika ada tali bentangan yang lepas ikatannya, sudah lapuk atau putus, segera diperbaiki dengan cara megencangkan ikatan atau mengganti dengan tali baru. Pemanenan rumput laut sangat tergantung dari tujuannya. Jika tujuan memanen untuk mendapatkan rumput laut kering kualitas tinggi dengan kandungan karaginan banyak, panen dilakukan pada umur 45 hari (umur ideal), sedangkan untuk tujuan mendapatkan bibit yang baik, pemanenan rumput laut dilakukan pada umur 25–35 hari. Pemanenan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan dua cara : (1) memotong sebagian tanaman. Cara ini bisa menghemat tali pengikat bibit, namun perlu waktu lama, dan (2) mengangkat seluruh tanaman. Cara ini memerlukan waktu kerja yang singkat. Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong tali. 2.3.3 Budidaya Tiram Mutiara Mutiara merupakan salah satu komoditas dari sektor kelautan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa datang. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya peminat perhiasan mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Potensi mutiara dari Indonesia yang diperdagangkan di pasar dunia sangat berpotensi untuk ditingkatkan. Saat ini Indonesia baru memberikan porsi 26% dari 29 kebutuhan di pasar dunia, dan angka ini masih dapat untuk ditingkatkan sampai 50%. Sumber daya kelautan Indonesia masih memungkinkan untuk dikembangkan, baik dilihat dari ketersediaan areal budidaya, tenaga kerja yang dibutuhkan, maupun kebutuhan akan peralatan pendukung budidaya mutiara. Mutiara yang dibudidayakan di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Lampung, Irian Jaya, Sulawesi, dan Halmahera merupakan jenis kerang Pinctada Maxima atau di pasaran internasional dikenal dengan Mutiara Laut Selatan (MLS) atau south sea pearl. Tiram muda jenis Pinctada Maxima mempunyai warna cangkang bervariasi dengan warna dasar kuning pucat, kuning tua, cokelat kemerahan, merah anggur, dan kehijauan. Pada cangkang bagian luar, terdapat garis-garis radier yang menonjol seperti sisik yang berwarna lebih terang daripada warna dasar cangkang. Perusahaan pembudidayaan mutiara di NTT adalah PT. Timor Outsuki Mutiara (TOM) yang bertempat di Kupang. Hal yang terpenting dalam usaha budidaya mutiara adalah ketepatan dalam pemilihan lokasi. Lokasi budidaya kerang mutiara hendaknya berada di perairan atau pantai yang memiliki arus tenang dan terlindung dari pengaruh angin musim, selain itu kualitas air disekitar budidaya kerang mutiara harus terbebas dari polusi atau pencemaran serta jauh dari perumahan penduduk, karena polusi dan pencemaran dapat mengakibatkan kegagalan usaha. Lokasi yang sesuai adalah berupa teluk dan pulau-pulau kecil yang tenang. Dasar perairan yang memiliki karang atau berpasir merupakan lokasi yang baik untuk melakukan budidaya kerang. Kondisi suhu yang baik untuk kerang adalah berkisar antara 25-30oC dan suhu air berkisar antara 27-31oC. Perubahan kondisi suhu yang drastis dapat mengakibatkan kematian spat karena suhu air menentukan pola metabolisme. Untuk memulai usaha budidaya kerang mutiara memang dibutuhkan investasi yang relatif besar, paling tidak 750 juta rupiah sampai 1 miliar rupiah untuk 10.000 jumlah tiram yang dibudidayakan. Bank memberikan kredit untuk perusahaan (misalnya PT), dan tidak untuk kelompok, apalagi secara individu. Kredit yang diberikan oleh bank biasanya digunakan untuk investasi sebesar 70% dan untuk modal kerja sebesar 30%. Selain itu biasanya bank tidak mensyaratkan adanya bantuan teknis yang berkaitan dengan usaha budidaya mutiara dari dinas terkait, misalnya DKP. Fasilitas produksi dan peralatan utama yang dibutuhkan untuk budidaya tiram mutiara (Lampiran 1) ini adalah : 30 1. Rakit Pemeliharaan Rakit apung selain sebagai tempat pemeliharaan induk, pendederan, dan pembesaran, juga berfungsi sebagai tempat aklimatisasi (beradaptasi) induk pasca pengangkutan. Bahan rakit dapat dibuat dari kayu berukuran 7 m x 7 m. selain kayu, bahan rakit dapat pula terbuat dari bambu, pipa paralon, besi, ataupun alumunium. Bahan pembuat ini disesuaikan dengan anggaran, ketersediaan bahan, dan umur ekonomis. Untuk menjaga agar rakit tetap terapung, digunakan pelampung seperti pelampung yang terbuat dari styrofoam, drum plastik, dan drum besi. Agar rakit tetap kokoh, maka sambungan sambungan kayu diikat dengan kawat galvanizir. Apabila kayu berbentuk persegi, maka sambungan dapat menggunakan baut. Pemasangan rakit hendaknya dilakukan pada saat air pasang tertinggi dan diusahakan searah dengan arus air atau sejajar dengan garis pantai. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan rakit apabila terjadi gelombang besar. Agar rakit tetap berada pada posisi semula, maka rakit diberi jangkar berupa pemberat yang terbuat dari semen seberat 50-60 kg. Tali jangkar yang digunakan antara 4-5 kali kedalaman tempat. 2. Keranjang Pemeliharaan Induk Keranjang pemeliharaan induk bisa terbuat dari kawat galvanizir, plastik, atau kawat alumunium. Jika menggunakan bahan dari kawat, sebaiknya keranjang dilapisi atau dicelupkan dengan bahan plastik atau aspal sehingga daya tahan keranjang tersebut lebih lama. Ukuran keranjang 25 cm x 25cm x 60 cm. Ukuran ini dapat bervariasi, tergantung ukuran induk, ketersediaan bahan, biaya, dan kemudahan penanganannya. Satu keranjang pemeliharaan dapat diisi dengan induk ukuran dorso ventral 17-20 cm (DVM) sebanyak 8-10 ekor. Untuk pendederan atau pemeliharaan spat yang baru dipindahkan dari hatchery, digunakan keranjang jaring ukuran 40 cm x 60 cm. Untuk spat ukuran 2-3 cm dipelihara dalam keranjang dengan lebar jaring ukuran 0,5-1 cm. Lebar mata jaring yang digunakan disesuaikan dengan ukuran spat. Semakin besar ukuran spat, maka digunakan jaring dengan mata jaring yang lebih besar pula agar sirkulasi air dapat terjaga dengan baik. 3. Spat Kolektor Bahan yang digunakan untuk tempat penempelan spat atau sebagai substrat disebut kolektor. Spat kolektor dapat terbuat dari berbagai jenis bahan, 31 misalnya serabut tali PE, senar plastik, paranet, asbes gelombang, genteng fiber, atau bilah pipa paralon. Jika terbuat dari bahan paranet, serabut tali, atau bahan lain berbentuk serabut, maka harus digunakan kantong untuk meletakkan bahan tersebut. Keranjang jaring dengan kerangka besi atau kawat ukuran 40 cm x 60 cm juga dapat digunakan sebagai wadah kolektor. Potongan paranet atau serabut tali dimasukkan ke dalam kantong-kantong jaring dan diikat erat. Pipa paralon juga dapat digunakan sebagai kolektor. Caranya pipa paralon berdiameter 2-3 inci dipotong sepanjang 30-50 cm, lalu dibelah menjadi dua. Selanjutnya belahan pipa tersebut dijalin dengan tali PE (berdiameter 3-5 mm) sepanjang 40-50 cm. 4. Bak Pencucian Bak pencucian digunakan untuk membersihkan tiram mutiara dari organisma dan parasit lain yang menempel pada tiram mutiara. Organisma dan parasit yang menempel di kulit tiram akan mengakibatkan lambatnya pertumbuhan tiram mutiara. Bak pencucian biasanya terbuat dari fiberglass, tetapi ada juga bak pencucian ini terbuat dari bahan lain yang awet, seperti dari semen, plastik dan bahan lainnya. Bila dilihat dari umur ekonomisnya, masing-masing peralatan memiliki umur ekonomi relatif pendek, terutama untuk keranjang jaring, keranjang kawat, tali tambang, pelampung jalur tambang, dan spat kolektor. Hal ini dikarenakan peralatan dan fasilitas tersebut rentan terhadap korosi air laut. Bahan baku yang dibutuhkan untuk budidaya mutiara ini ada dua macam, yaitu : (1) spat (benih) tiram mutiara jenis Pinctada maxima; dan (2) inti bundar (nukleus) . Kedua jenis bahan baku ini merupakan bahan baku utama yang harus ada dalam proses budidaya tiram mutiara. Inti bundar atau nukleus merupakan benda yang disuntikkan kedalam tiram untuk menghasilkan mutiara. Tenaga kerja untuk budidaya mutiara ini harus memiliki keahlian khusus, terutama untuk melakukan operasi penyuntikan nukleus kedalam tiram mutiara. Ketidaktepatan dalam penempatan nukleus akan mengakibatkan kegagalan panen karena nukleus yang sudah dimasukkan akan dimuntahkan kembali. Untuk tenaga kerja lain, seperti tenaga kerja untuk perawatan tiram mutiara dan tenaga kerja untuk keamanan tidak memerlukan keahlian khusus. Jumlah tenaga kerja untuk keamanan relatif banyak karena budidaya ini rentan terhadap perampokan dan pencurian. 32 Teknologi yang digunakan pada budidaya tiram mutiara ini merupakan kombinasi antara teknologi sederhana dan teknologi modern. Teknologi sederhana yang digunakan dalam budidaya mutiara ini adalah penggunaan fasilitas rakit apung, sedangkan teknologi modern yang digunakan adalah bioteknologi untuk perawatan tiram dari spat sampai tiram siap untuk dioperasi. Teknologi operasi peletakan nukleus pada kerang yang telah cukup umur (ukuran minimal 9 cm) sangatlah rumit dan kompleks. Untuk pengoperasian ini digunakan tenaga kerja asing yang sebagian besar berasal dari Jepang. Proses budidaya tiram mutiara secara garis besar melalui tiga tahapan, yaitu: pengoperasian tiram, pemeliharaan, dan panen. Untuk proses produksi usaha budidaya mutiara ini, spat yang berukuran 700 mµ dipelihara dan dibersihkan, serta diseleksi untuk dibudidayakan. Setelah tiram diseleksi, maka tahap selanjutnya adalah memasukkannya kedalam kolektor. Isi satu kolektor untuk ukuran ini adalah 200-300 buah. Spat yang dipelihara tersebut akan dipelihara selama 2 bulan. Setelah 2 bulan, maka spat akan bertambah menjadi 2-3 cm. Dalam jangka waktu tersebut, ukuran masing-masing tiram tidak selalu sama. Langkah selanjutnya adalah memasukkan tiram ukuran 2-3 cm tersebut kedalam waring (net) yang berisi 20 buah. Tiram mutiara yang telah dipelihara dalam kurun waktu tersebut akan siap dioperasi apabila ukuran minimalnya 9 cm. Rata rata pertumbuhan tergantung pada suhu dan kondisi air. Apabila kondisi air berkurang, maka tiram kemungkinan tidak terjadi pertumbuhan. Setelah satu setengah tahun dioperasi maka tiram sudah dapat menghasilkan mutiara yang siap untuk diperdagangkan. (1) Pengoperasian Tiram Mutiara Cara pemasangan inti mutiara bulat pada tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya, dengan menempatkannya dalam penjepit dengan posisi bagian anterior menghadap ke pemasang inti. Setelah posisi organ bagian dalam terlihat jelas, dibuat sayatan mulai dari pangkal kaki menuju gonad dengan hatihati. Kemudian dengan graft carrier masukkan graft tissue (potongan mantel) ke dalam torehan yang dibuat. Inti dimasukkan dengan nucleus carrier secara hatihati sejalur dengan masuknya mantel dan penempatannya harus bersinggungan dengan mantel, setelah pemasangan inti selesai, tiram mutiara dipelihara dalam keranjang pemeliharaan. Untuk pemasangan inti mutiara setengah bulat (blister), tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya diletakkan dalam penjepit dengan posisi bagian ventral menghadap arah pemasang inti. Inti mutiara blister 33 bentuknya setengah bundar, jantung atau tetes air. Diameter inti mutiara blister berkisar 1-2 cm. Setelah itu sibakkan mantel yang menutupi cangkang dengan spatula, sehingga cangkang bagian dalam (nacre) terlihat jelas. Inti mutiara blister yang telah diberi lem/perekat dengan alat blister carrier ditempatkan pada posisi yang dikehendaki; minimal 3 mm di atas otot adducator. Setelah cangkang bagian atas diisi inti mutiara blister, kemudian tiram mutiara dibalik untuk pemasangan inti cangkang yang satunya. Diusahakan pemasangan inti ini tidak saling bersinggungan bila cangkang menutup. Satu ekor tiram mutiara dapat dipasangi inti mutiara blister sebanyak 8-12 buah, dimana setiap belahan cangkang dipasangi 4-6 buah, setelah pemasangan inti mutiara blister selesai, tiram mutiara dipelihara dalam keranjang pemeliharaan di laut. (2) Proses Pemeliharaan Tiram mutiara yang dipasangi inti mutiara bulat perlu dilakukan pengaturan posisi pada waktu awal pemeliharaan, agar inti tidak dimuntahkan keluar. Disamping itu tempat dimasukkan inti pada saat operasi harus tetap berada dibagian atas. Pemeriksaan inti dengan sinar-X dilakukan setelah tiram mutiara dipelihara selama 2 sampai 3 bulan, dengan maksud untuk mengetahui apabila inti yang dipasang dimuntahkan atau tetap pada tempatnya. Pembersihan cangkang tiram mutiara dan keranjang pemeliharaannya harus dilakukan secara berkala; tergantung dari kecepatan/kelimpahan organisme penempel. (3) Panen Waktu yang dibutuhkan dari setelah dioperasi (nukleus dimasukkan kedalam kerang) sampai dengan masa panen adalah 1,5 tahun. Jadi jangka waktu dari mulai spat sampai dengan panen dibutuhkan waktu kurang lebih tiga tahun. Dalam satu tahun dapat dilakukan 2-3 kali operasi sehingga dalam satu tahun dapat dipanen lebih dari satu kali. Setelah kerang menghasilkan mutiara, maka kerang dewasa tersebut dapat dioperasi lagi sebanyak 2-3 kali, dengan setiap masa panen menunggu jangka waktu 1 tahun. Jumlah produksi mutiara tergantung pada jumlah kerang yang sudah dioperasi. Setiap kerang akan menghasilkan satu butir mutiara seberat antara 2,5-3 gr. Risiko kegagalan dari budidaya ini cukup tinggi, yaitu rata-rata 30%. Artinya dari 10.000 kerang yang dipelihara dan dioperasi, 3.000 diantaranya 34 akan mati atau gagal panen. Dengan cara pembudidayaan yang benar, maka jenis mutiara yang dihasilkan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu : round (bundar sempurna), semi round (agak bundar), drop (bentuk tetesan air), oval (lonjong), dan barok (bentuk tidak beraturan). Mutiara yang dihasilkan sangat tergantung dari teknik menyuntik dan kondisi alam selama proses penyuntikan sampai dengan panen. Kapasitas produksi optimum tergantung pada jumlah blok yang dimiliki, setiap blok biasanya berukuran lebar 10 m dan panjang rentang tali 100 m. Untuk setiap blok terdapat 11 buah rentang tali yang berjarak masing-masing 1 m. Rata-rata jarak antar blok 10-15 m dan sangat tergantung pada ketersediaan lokasi. Jumlah kerang berukuran 10 cm yang siap dioperasi sekitar 10% dari jumlah seluruh kerang yang dimiliki. Kerang besar dimasukkan ke dalam kantung jaring berbingkai besi dengan ukuran 40 cm x 70 cm untuk 8-12 kerang. Pengusaha mutiara mengalami kesulitan karena mutiara yang dihasilkan pada satu musim panen tidak seragam baik keseragaman bentuk maupun keseragaman kualitas. Selain itu risiko keamanan dari pencurian dan perampokan merupakan kendala produksi yang seringkali mengakibatkan kerugian sampai miliaran rupiah, bahkan kebangkrutan. 2.3.4 Budidaya Teripang Ketimun laut atau teripang atau trepang adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata timun laut (Holothuroidea) yang dapat dimakan. Teripang tersebar luas di lingkungan laut diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat, diberi nama “sea cucumber” karena bentuknya seperti ketimun. Kelompok hewan ini adalah sea cucumbers atau holothurians (disebut holothurians karena hewan ini dimasukkan dalam kelas Holothuroidea). Kelompok timun laut yang ada di dunia ini lebih dari 1200 jenis, dan sekitar 30 jenis di antaranya adalah kelompok teripang. Teripang adalah hewan yang bergerak lambat, hidup pada dasar substrat pasir, lumpur pasiran maupun dalam lingkungan terumbu. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposite feeder) dan pemakan suspensi (suspention feeder). Di wilayah Indo-Pasifik, pada daerah terumbu yang tidak mengalami tekanan eksploitasi, kepadatan teripang bisa lebih dari 35 ekor per m2, dimana setiap individunya bisa memproses 80 gr berat 35 kering sedimen setiap harinya (Rustam, 2006). Beberapa spesies teripang yang mempunyai nilai ekonomis penting diantaranya: teripang putih (Holothuria scabra), teripang koro (Microthele nobelis), teripang pandan (Theenota ananas), teripang dongnga (Stichopu ssp) dan beberapa jenis teripang lainnya (DKP, 2006). Filum : Echinodermata Sub-filum : Echinozoa Kelas : Rhodophyceae Sub-kelas : Aspidochirotacea Ordo : Aspidochirotda Famili : Holothuridae Genus : Holothuria Spesies : Holothuria scabra Pemilihan Lokasi Untuk mendapatkan lokasi budidaya teripang yang baik diperlukan pemilihan lokasi budidaya. Kegiatan tersebut merupakan salah satu syarat yang cukup menentukan untuk mencapai keberhasilan suatu usaha budidaya teripang. Hal ini disebabkah lokasi atau tempat pemeliharaan teripang adalah tempat yang secara langsung mempengaruhi kehidupannya. Adapun kriteria pemilihan lokasi budidaya teripang (DKP, 2006; Rustam, 2006) adalah sebagai berikut : (1) tempat terlindung bagi budidaya teripang diperlukan tempat yang cukup terlindung dari guncangan angin dan ombak, (2) kondisi dasar perairan hendaknya berpasir, atau pasir berlumpur bercampur dengan pecahan-pecahan karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumput laut atau alang-alang laut, (3) salinitas dengan kemampuan yang terbatas dalam pengaturan esmatik, teripang tidak dapat bertahan terhadap perubahah drastis atas salinitas (kadar garam). Salinitas yang cocok adalah antara 30–33 gr/kg, (4) kedalaman air untuk teripang hidup pada kedalaman yang berbeda menurut besarnya. Teripang muda tersebar di daerah pasang surut, setelah tambah besar pindah ke perairan yang dalam. Lokasi yang cocok bagi budidaya sebaliknya pada kedalaman air laut 0,40-1,50 m pada air surut terendah, (5) ketersediaan benih di lokasi budidaya sebaiknya tidak jauh dari tempat hidup benih secara alamiah. Terdapatnya benih alamiah adalah indikator yang baik bagi lokasi budidaya teripang, dan (6) kondisi lingkungan perairan sebaiknya harus memenuhi standard kualitas air laut yang baik bagi kehidupan teripang seperti : pH 6,5–8,5, kecerahan air laut 50 cm, kadar oksigen terlarut 4–8 mg/l, 36 dan suhu air laut 20–25°C. Disamping itu, lokasi harus bebas dari pencemaran seperti bahan organik, logam, minyak dan bahan-bahan beracun lainnya. Metode Budidaya Metode yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut) yaitu dengan menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu usaha memelihara jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari suatu areal perairan pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan sehingga seolah-olah terisolasi dari wilayah pantai lainnya (DKP, 2006). Bahan yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5–1 inchi atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini maka lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewanhewan pemangsa (predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar dari areal yang telah dipagari tersebut (Rustam, 2006). Pemasangan pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisikisi) ataupun jaring super net cukup setinggi 50-100 cm dari dasar perairan. Luas lokasi yang ideal penculture ini antara 500-1.000 m2 (DKP, 2006). Teripang yang dijadikan induk ialah yang sudah dewasa atau diperkirakan sudah dapat melakukan reproduksi dengan ukuran berkisar antara 20–25 cm, sedangkan benih teripang alam yang baik untuk dibudidayakan dengan metoda penculture adalah yang memiliki berat antara 30-50 gr per ekor atau kira-kira memiliki panjang badan 5-7 cm. Pada ukuran tersebut benih teripang diperkirakan sudah lebih tahan melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru. Konstruksi penculture dapat dilihat pada Lampiran 1. Faktor makanan dalam pemeliharaan (budidaya teripang tidak menjadi masalah sebagaimana halnya hewan-hewan laut lainnya. Teripang dapat memperoleh makanannya dari alam, berupa plankton dan sisa-sisa endapan karang yang berada di dasar laut. Namun demikian untuk lebih mempercepat pertumbuhan teripang dapat diberikan makanan tambahan berupa campuran dedak dan pupuk kandang (kotoran ayam). Teripang dapat hidup bergerombol ditempat yang terbatas. Oleh karena itu dalam usaha budidayanya dapat diperlakukan dengan padat penebaran yang tinggi. Untuk ukuran benih teripang sebesar 20–30 gr per ekor, padat penebaran berkisar antara 15–20 ekor per m2, sedangkan untuk benih teripang sebesar 4050 gr per ekor, padat penebarannya berkisar antara 10–15 ekor per m2. Pemberian makanan tambahan sebaiknya dilakukan pada sore hari, hal ini 37 disesuaikan dengan sifat hidup atau kebiasaan hidup dari teripang. Pada waktu siang hari teripang tidak begitu aktif bila dibandingkan dengan pada malam hari, karena pada waktu siang hari ia akan membenamkan dirinya dibawah dasar pasir/karang pasir untuk beristirahat dan untuk menghindari/melindungi dirinya dari pemangsa/predator, sedangkan pada waktu malam hari akan lebih aktif mencari makanan, baik berupa plankton maupun sisa-sisa endapan karang yang berada di dasar perairan tempat hidupnya. Waktu yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi tertentu ialah 2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila menggunakan benih dari alam). Benih alam yang berumur 2-3 bulan diperkirakan sudah mencapai berat 20–50 gr per ekor. Pemungutan hasil panen dapat dilakukan setelah ukuran teripang berkisar antara 4-6 ekor per kg (market size). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6-7 bulan, dengan survival yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara bertahap yaitu dengan memilih teripang yang berukuran besar atau juga dapat dilakukan secara total, kemudian dilakukan seleksi menurut golongan ukuran. Pemeliharaan teripang diseluruh lokasi dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa memperhatikan musim angin. Oleh karena teripang dipelihara pada perairan yang dangkal (0,5-1,5 m pada surut terendah), maka pengaruh musim angin termasuk musim utara tidak menjadi permasalahan. Dengan demikian pemeliharaan teripang dapat dilakukan sepanjang tahun. 2.4 Sistem Informasi Geografi Pada pengertian yang lebih luas sistem informasi geografis (SIG) mencakup juga pengertian sebagai suatu sistem yang berkaitan dengan operasi pengumpulan, penyimpanan dan manipulasi data yang bereferensi geografi (ESRI, 1990; Chrisman, 1996). Burrough (1986) memberikan definisi yang agak bersifat umum, yaitu SIG sebagai suatu perangkat alat untuk mengumpulkan, menyimpan, menggali kembali, mentransformasi dan menyajikan data spasial dari aspek–aspek permukaan bumi. DeMers (1997), mendefinisikan SIG sebagai suatu teknologi informasi yang menyimpan, menganalisis, dan mengkaji baik data spasial maupun non spasial. Walaupun agak berbeda dalam definisi tersebut, kedua definisi menyatakan secara implisit bahwa SIG berkaitan 38 langsung sebagai sistem informasi yang berorientasi teknologi, walaupun tidak menyebutkan secara spesifik definisi SIG sebagai suatu sistem berdasarkan komputer yang mempunyai kemampuan untuk menangani data yang bereferensi geografi yang mencakup: (a) pemasukan, (b) manajemen data (penyimpanan data dan pemanggilan kembali), (c) manipulasi dan analisis, dan (d) pengembangan produk dan pencetakan. Pengertian SIG diatas perlu ditambahkan pernyataan Jurana (1996) bahwa dalam pengertian yang lebih luas lagi harus dimasukkan dalam definisi SIG selain perangkat keras dan perangkat lunak, juga pemakai dan organisasinya, serta data yang dipakai. Lebih lanjut Maguire and Dangermond (1991) mengidentifikasikan bahwa fungsi SIG adalah pengumpulan, pembaharuan dan perbaikan data; penyimpanan dan strukturisasi data, generalisasi data, transformasi data, pencarian data, analisis, dan presentasi hasil analisis. Kemampuan-kemampuan tersebut umumnya dimiliki oleh beberapa perangkat lunak SIG, dengan kemampuan yang memuaskan dan mudah digunakan. Beberapa perangkat lunak memiliki perbedaan pada beberapa fungsi seperti output kartografi dan presentasi serta cara analisis. Terdapat dua fungsi utama SIG yaitu kemampuan mencari data (query) dan analisis. Query data dapat menghubungan antara data spasial dan data atribut. Fungsi query pada data spasial adalah pencarian data/lokasi dan overlay (tumpang tindih) beberapa peta. Pencarian lokasi dilakukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan seperti buffer (daerah penyangga), dan informasi yang terdapat di wilayah buffer tersebut. Overlay peta dapat menggunakan objek (feature) pada 2 atau lebih peta (layer). Fungsi overlay ini dapat digunakan untuk beberapa lokasi yang dipilih, seperti menentukan tipe penutupan vegetasi tertentu, jenis tanah, dan kepemilikannya. Hubungan antara data spasial dan atribut ini dapat pula menentukan obyek dengan kriteria titik seperti lokasi yang menghasilkan macam bahan pencemar. Berbagai bentuk analisis spasial dapat dilakukan dengan menggunakan SIG adalah (1) operasi titik (point operation), yaitu tipe analisis dengan memasukan beberapa formula aljabar dan overlay beberapa layer data; (2) operasi tetangga (operation neighbourhood) yakni tipe analisis yang menghubungkan titik pada suatu lokasi di permukaan bumi dengan semua informasi atributnya, dengan lingkungan disekitarnya, sebagai contoh 39 menentukan kesesuaian lahan untuk berbagai kegiatan pembangunan; (3) analisis jaringan (network analysis) yakni tipe analisis yang menghubungkan beberapa tampilan data (feature) berupa garis, seperti menentukan jalan dengan jarak terdekat di antara dua kota. Alat untuk melakukan analisis-analisis seperti tersebut di atas telah tersedia pada beberapa perangkat lunak SIG. Pada aplikasi penggunaan ketiga tipe analisis tersebut, sepenuhnya tergantung kepada keterampilan pengguna untuk menentukan tipe analisis mana yang akan di pakai. Beberapa perangkat lunak SIG menyediakan fasilitas bahasa pemrograman makro yang dapat diintegrasikan pada semua bentuk pekerjaan SIG. Dengan bahasa pemrograman tersebut pengguna dapat membuat aplikasi rutin untuk tujuan tertentu. Produk atau output SIG dapat berupa peta (berwarna atau hitam putih), tabel, angka statistik, dan laporan. 2.5 Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung 2.5.1 Kesesuaian Lahan Proses penentuan pemanfaatan ruang sangat bergantung pada penentuan lokasi yang secara biogeofisik sesuai sehingga dapat menjamin kelangsungan kegiatan pada lokasi yang sesuai, tidak saja mencegah kerusakan lingkungan tetapi juga menjamin keberhasilan ekonomi kegiatan tersebut. Tahap pertama dalam proses pemanfaatan ruang adalah penentuan kelayakan biogeofisik dari wilayah pesisir dan laut. Pendugaan kelayakan biogeofisik dilakukan dengan cara mendefinisikan persyaratan biogeofisik setiap kegiatan, kemudian dipetakan (dibandingkan dengan karakteristik biogeofisik wilayah pesisir itu sendiri). Dengan cara ini kemudian ditentukan kesesuaian penggunaan setiap unit (lokasi) peruntukan di wilayah pesisir dan laut. Penentuan kelayakan biogeofisik ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi SIG seperti arc view (Kapetsy et al., 1987). Informasi dasar biasanya dalam bentuk peta tematik, yang diperlukan untuk menyusun kelayakan biogeofisik ini tidak saja meliputi karakteristik daratan dan hidrometerologi seperti kelerengan, tutupan lahan, peruntukan lahan, dan lainlain tetapi juga oseanografi dan biologi perairan pesisir dan laut seperti pasang surut, arus, kedalaman, ekosistem mangrove, lamun, terumbu karang dan lainlain. Berdasarkan fungsinya, ruang dapat dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya yang masing-masing memiliki persyaratan biogeofisik. Kawasan lindung merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati yang 40 tinggi, yang tidak boleh digunakan untuk kegiatan manusia kecuali penelitian ilmiah atau seremoni keagamaan/budaya oleh masyarakat lokal dan harus dapat diterima dan didukung oleh masyarakat lokal; sedangkan kawasan budidaya dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukkan sesuai dengan kemampuan lahannya (Dacles et al., 2000). Aktifitas budidaya laut untuk masing-masing kriteria kesesuaian budidaya laut menurut DKP, 2002 disajikan dalam bentuk tabel pada Lampiran 2. Kesesuaian suatu ruang untuk kegiatan tertentu akan dapat berkurang bahkan menjadi tidak sesuai jika kemampuan sistem yang ada didalamnya tidak mampu lagi untuk menanggung beban kegiatan yang dilakukan diatasnya. Oleh karena setiap sistem memiliki ambang batas atau kemampuan untuk mendukung aktifitas didalamnya. Kemampuan dimaksud disebut sebagai kemampuan mendukung atau daya dukung yang ada di suatu sistem tertentu. 2.5.2 Daya Dukung Lahan UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) Bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya. Daya dukung didefinisikan sebagai intensitas penggunaan maksimum terhadap sumberdaya alam yang berlangsung secara terus-menerus tanpa merusak alam (Price, 1999). Daya dukung merupakan alat perencanaan, digambarkan sebagai kemampuan dari suatu sistem tiruan atau alami untuk mendukung permintaan dari berbagai penggunaan sampai suatu titik tertentu yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan, penurunan, atau kerusakan (Godschalk and Park, 1978). Roughgarden (1979) menyatakan bahwa daya dukung adalah suatu ukuran jumlah organisme yang dapat di dukung oleh lingkungan pada sumberdaya yang dapat diperbaharui. Dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam di pesisir, faktor daya dukung lahan/lingkungan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa sumberdaya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila dikelola dengan tetap memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungannya. Daya dukung dapat dinaikkan kemampuannya oleh manusia dengan memasukkan dan menambahkan ilmu dan teknologi ke dalam suatu lingkungan. Namun demikian 41 peningkatan daya dukung lingkungan memiliki batas-batas dimana pada keadaan tertentu cenderung sulit atau tidak ekonomis lagi bahkan tidak mampu lagi dinaikkan kemampuannya karena akan terjadi kerusakan pada sumberdaya atau ekosistem. Penggunaan IPTEK yang tidak bijaksana justru akan menghancurkan daya dukung lingkungan. Kelestarian, keberadaan atau optimisasi manfaat dari suatu sumberdaya alam dan lingkungan merupakan salah satu persyaratan dilakukannya penilaian daya dukung (carrying capacity). Tujuan utama dari penilaian ini adalah untuk mempertahankan atau melestarikan potensi sumberdaya alam dari areal tersebut pada batas-batas penggunaan yang diperkenankan atau yang dimungkinkan. Nilai yang dihasilkan dari perhitungan atau pendekatan daya dukung dari sumberdaya alam dan lingkungan adalah penting untuk menentukan bentukbentuk pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut terutama dalam tujuan menjaga, mengendalikan, dan juga melestarikan lingkungan. Penilaian yang sistematik terhadap sumberdaya alam dan lingkungan yang menjadi dasar dari kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dilakukan terutama untuk mengetahui potensinya. Dengan pendekatan ini maka akan dapat diketahui kapasitas dari suatu kawasan atau ekosistem yang dinilai, yang selanjutnya akan dapat merupakan ukuran dan/atau nilai pendugaan terhadap kualitas sumberdaya alam dan lingkungan. 2.6 Pendekatan Sistem Sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan yang kompleks. Pengertian ini mencerminkan adanya beberapa bagian dan hubungan antara bagian dan menunjukkan kompleksitas dari sistem yang meliputi kerjasama antara bagian yang interdependen satu sama lain (Marimin, 2004), sedangkan pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan (Eriyatno, 1998). Menurut Manetsch and Park (1979), suatu pendekatan sistem akan dapat berjalan dengan baik jika terpenuhi kondisi-kondisi berikut : (1) tujuan sistem didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantifikasikan, (2) prosedur pembuatan keputusan dalam sistem ini adalah terdesentralisasi atau 42 cukup jelas batasannya, (3) dalam perencanaan jangka panjang memungkinkan dilakukan. Sistem terdiri atas dua jenis yaitu sistem statis dan sistem dinamik (Djojomartono, 2000). Sistem statis adalah sistem yang nilai outputnya tidak tergantung pada nilai inputnya. Sedangkan sistem dinamik adalah sistem yang memiliki variabel yang dapat berubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Dengan demikian nilai output sangat bergantung pada nilai dari variabel-variabel input sebelumnya. Sistem dinamik dicirikan oleh adanya delay time yang menggambarkan ketergantungan output terhadap varibel input pada periode waktu tertentu. Hardjomidjojo, 2006 menyatakan bahwa penyelesaian persoalan dengan pendekatan sistem dapat ditekankan pada tiga filosofi sistem yang dikenal sebagai SHE (sibernetik, holistik, dan efektifitas). Sibernetik dapat diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah tidak berorientasi pada permasalahan (problem oriented) tetapi lebih berorientasi pada tujuan (goal oriented). Holistik lebih menekankan pada penyelesaian masalah secara utuh dan menyeluruh, sedangkan efektivitas berarti bahwa sistem yang telah dikembangkan tersebut harus dapat dioperasikan. Lebih lanjut Eriyatno dan Sofyar (2007) menyatakan bahwa dalam penyelesaian persoalan dengan pendekatan sistem, harus memenuhi tiga karakteristik yaitu kompleks, dinamis, dan probabilistik. 2.6.1 Pemodelan dengan Interpretasi Struktur (ISM) Pemodelan dengan interpretasi struktur (interpretative structural system ISM) merupakan salah satu teknik pemodelan yang dikembangkan untuk perencanaan kebijakan strategis. Menurut Eriyatno (1998) dalam Marimin (2004), ISM adalah proses pengkajian kelompok (group learning process) dimana modelmodel struktural dihasilkan guna memotret perihal yang kompleks dari suatu sistem melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafis serta kalimat. Saxena (1992) dalam Marimin (2004) menyebutkan sembilan elemen yang dapat dianalisis dengan pendekatan ISM yaitu (1) sektor masyarakat yang terpengaruh, (2) kebutuhan dari program, (3) kendala utama program, (4) perubahan yang diinginkan, (5) tujuan dari program, (6) tolak ukur untuk menilai setiap tujuan, (7) aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan, (8) ukuran aktifitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai setiap aktivitas, dan (9) lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Setiap elemen dijabarkan menjadi sejumlah sub elemen. Dalam suatu kajian dengan menggunakan ISM, analisis dapat dilakukan terhadap semua 43 elemen seperti dikemukakan atas atau hanya sebagian elemen saja tergantung tujuan yang ingin dicapai dalam kajian yang dilakukan. Apabila hanya sebagian elemen yang dikaji, maka penentuan elemen-elemennya didasarkan pada hasil pendapat pakar termasuk penyusunan sub elemen pada setiap elemen yang terpilih. Setelah ditetapkan elemen dan sub elemen, selanjutnya ditetapkan hubungan kontekstual antar sub elemen yang terkandung adanya suatu pengarahan (direction) dalam terminologi sub ordinat yang menuju pada perbandingan berpasangan seperti apakah tujuan A lebih penting dari tujuan B. perbandingan berpasangan yang menggambarkan keterkaitan antara sub elemen atau tidaknya hubungan kontekstual dilakukan oleh pakar. Beberapa keterkaitan antara sub elemen dengan teknik ISM dapat dilihat seperti Tabel 1. Tabel 1 Keterkaitan antara sub elemen pada teknik ISM (Marimin, 2004) No. 1. 2. Jenis Keterkaitan Sub Elemen Perbandingan (comparative) Pernyataan (definitive) 3. Pengaruh (influence) 4. Keruangan (spatial) 5. Kewaktuan (time scale) Interpretasi A lebih penting/besar/indah daripada B A adalah atribut B A termasuk di dalam B A mengartikan B A menyebabkan B A adalah sebagian penyebab B A mengembangkan B A menggerakan B A meningkatkan B A adalah selatan/utara B A di atas B A sebelah kiri B A mendahului B A mengikuti B A mempunyai prioritas lebih dari B Untuk menyajikan tipe hubungan kontekstual dengan teknik ISM, digunakan empat simbol yang disebut VAXO (Eriyatno, 2007) dimana : V = untuk relasi dari elemen Ei sampai Ej, tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya, A = untuk relasi dari elemen Ej sampai Ei, tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya, X = untuk interelasi antara elemen Ei sampai Ej (berlaku untuk kedua arah), dan O = untuk merepresentasikan bahwa Ei sampai Ej adalah tidak berkaitan. 2.6.2 Sistem Dinamik Studi pengembangan sistem dinamik bertujuan untuk mendapatkan model keterkaitan secara dinamis antar variabel yang berpengaruh. Model adalah abstraksi atau penyederhanaan dari sistem yang sebenarnya (Hall dan 44 Day, 1977). Menurut bentuknya, model dapat dibedakan antara lain (Hardjomidjojo, 2006) : 1. Model fisik dan mental. Model fisik menggambarkan sistem secara nyata (fisik), sedangkan model mental menggambarkan sistem melalui penjelasan secara deskriptif atau persamaan matematis. 2. Model deskriptif dan numerik. Model deskriptif menjelaskan sistem tanpa menggunakan hubungan kuantitatif, umumnya menggunakan diagram atau berupa konsep. Sedangkan model numerik menggunakan persamaan matematis sehingga mempunyai kemampuan prediksi. 3. Model empirik dan model mekanistik. Model empirik juga disebut model statistik, yang mengandalkan hubungan kausal berdasarkan pengamatan empirik (hubungan input-output). Model ini kadang disebut „black box‟ karena tidak menjelaskan mekanisme proses yang terjadi. Sedangkan model mekanistik menjelaskan mekanisme proses yang terjadi, namun tergantung pada level model tersebut. 4. Model statis dan model dinamik. Model statis tidak memperhitungkan waktu yang selalu berubah (tidak ada fungsi waktu). Sedangkan model dinamik memperhitungkan waktu sebagai variabel. Dalam model dinamis, variabel yang tidak berubah dengan waktu disebut „parameter‟ atau „konstanta‟. 5. Model deterministik dan model stokastik. Model deterministik menghasilkan keluaran (output) yang pasti (determined) atau tunggal dan tidak memperhitungkan berbagai kemungkinan lain akibat ketidak-pastian berbagai faktor eksternal. Sedangkan model stokastik dengan masukan (input) yang sama dapat memiliki berbagai kemungkinan. Pada model semacam ini, biasanya digunakan perhitungan peluang (probability) dari keluaran (output) model. Model-model tersebut digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan lintas disiplin, sehingga permasalahan yang kompleks dapat diselesaikan secara komprehensif. Dalam melakukan suatu pemodelan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan struktur model yang akan memberikan gambaran bentuk dan perilaku sistem dimana perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpul umpan balik (causal loop) yang menyusun struktur model. Struktur model suatu sistem dapat dijelaskan dengan jalan menentukan pengaruh yang akan memberikan hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor yang ada. 45 Hubungan sebab akibat ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu hubungan positif dan hubungan negatif. Hubungan positif adalah hubungan sebab akibat dimana makin besar nilai faktor penyebab akan makin besar pula nilai faktor akibatnya, sedangkan hubungan negatif adalah hubungan sebab akibat dimana makin besar nilai faktor penyebab akan makin kecil nilai faktor akibat. Akibat yang ada dapat juga mempengaruhi balik penyebab sehingga terdapat hubungan sebab akibat yang memiliki arah yang berlawanan dengan hubungan sebab akibat yang lain atau dikenal dengan feedback. Pemodelan dengan sistem dinamik dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak powersim construtor 2.5d. Kelebihannya adalah mudah menghubungkan suatu sistem yang lain sepanjang ada hubungan matematis atau asumsi-asumsi yang dapat menghubungkan berbagai sistem tersebut, sedangkan kelemahan pemodelan dengan sistem dinamik terletak pada pendefinisian dan penggunaan asumsiasumsi, penentuan hubungan variabel dengan variabel yang lain (Eriyatno dan Sofyar, 2007). Tahapan yang dilakukan dalam pendekatan sistem dinamik meliputi : 1. Analisis kebutuhan merupakan permulaan pengkajian suatu sistem. Pada tahap ini dicari kebutuhan-kebutuhan dari masing-masing aktor dalam kaitannya dengan tujuan sistem. Tujuan analisis kebutuhan ini adalah untuk mendefinisikan kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam suatu kegiatan. 2. Formulasi masalah merupakan rincian dari kebutuhan aktor yang saling bertentangan yang memerlukan solusi pemecahan. Munculnya pertentangan dapat disebabkan oleh adanya konflik kepentingan dari para stakeholder dan keterbatasan sumberdaya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan yang menimbulkan masalah dalam sistem. 3. Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan. Identifikasi sistem ini bertujuan untuk mencari pemecahan terbaik dari permasalahan yang dihadapi. Identifikasi sistem dapat digambarkan dalam bentuk diagram input-output (black box) dan diagram lingkar sebab akibat (causal loop). 4. Pemodelan sistem merupakan simplifikasi dari sistem yang dihadapi. Model juga didefinisikan sebagai suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata (real) yang akan bertindak seperti dunia nyata terhadap aspek-aspek tertentu. 46 5. Simulasi model adalah peniruan perilaku suatu gejala atau proses tersebut. Simulasi bertujuan untuk memahami gejala atau proses tersebut, membuat analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses di masa depan. Untuk membuat simulasi diperlukan tahapan berikut : (a) penyusunan konsep, (b) pembuatan model, (c) simulasi, dan (d) validasi hasil simulasi. 6. Validasi model merupakan salah satu kriteria penilaian keobjektifan dari suatu pekerjaan ilmiah. Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Dalam validasi model dapat dilakukan dua pengujian yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja lebih menekankan pemeriksaan kebenaran yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). 49 1998) yang diterapkan untuk penentuan titik pengamatan di lapangan dan penentuan posisi dengan menggunakan alat GPS (global positioning system). Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi yang terkait sesuai atribut yang dikaji, baik dalam bentuk laporan (data tabular) maupun spasial (dalam bentuk peta dan data digital). Tabel 2 Jenis dan metode pengumpulan data No A 1 2 B 1 2 Jenis Data Metode Data Primer Komponen Biogeofisik (untuk usaha budidaya laut) a. Fisik – Kimia Posisi GPS Current meter Arus (cm/dtk) Secchi disk Kecerahan (m) 0 Suhu ( C) Termometer Kedalaman (m) Tali berskala Hand refractometer Salinitas (gr/kg) pH pH meter Oksigen terlarut (mg/l) DO meter Sendiment grab Jenis dasar perairan b. Ekosistem perairan Interpretasi citra/transek c. Peruntukan lahan Survei lapangan d. Profil pantai dan perairan Analisis citra & SIG Komponen Sosekbud, Hukum & Wawancara, PCRA (FGD), indepth Interview, Kelembagaan dan quitioner. Data Sekunder Komponen Biogeofisik a. Fisik-kimia oseanografi (kondisi angin, gelombang, arah & kecepatan arus, pasang-surut, salinitas & kedalaman) b. Fisiografi (data bentang alam, Penelusuran dokumen geologi, hidrologi atau potensi hasil penelitian & air tawar, topografi, jenis tanah, dokumentasi pada perpustakaan, kantor tekstur tanah) daerah & instansi terkait c. Data iklim (curah hujan, hari lainnya. hujan) d. Data citra satelit Kabupaten Kupang Komponen Sosekbud, Hukum & Kelembagaan a. Kependudukan (jumlah & Penelusuran dokumen pertumbuhan penduduk, rasio hasil penelitian & jenis kelamin, tingkat dokumentasi pada ketergantungan, tingkat perpustakaan, kantor pendidikan & mata daerah & instansi terkait pencaharian) lainnya. Keterangan In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ Lab. SIG/In situ In situ Lab. SIG/In situ Kabupaten Kupang BPS, Bappeda, Bappelda, kantor bupati, kecamatan & kelurahan serta dinas perikanan & dinas terkait lainnya di Kabupaten Kupang, Dishidros, Bakosurtanal, Lapan – Jakarta. BPS, Bappeda, Bappelda, kantor bupati, kecamatan & kelurahan 50 b. Sarana & prasarana (sarana perekonomian, transportasi, pendidikan, kesehatan, peribadatan & sosial) c. Perekonomian (tingkat pendapatan, pola konsumsi, struktur mata pencaharian, kesempatan kerja) d. Kelembagaan (struktur pemerintah mulai tingkat Kabupaten sampai dusun, lembaga masyarakat, koperasi, dll) 3.4 serta dinas perikanan & dinas terkait lainnya di Kabupaten Kupang. Metode Pemilihan Responden Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah responden yang akan diambil yaitu responden yang dianggap dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode expert survey yang dibagi atas dua cara : 1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive random sampling secara proposional (Walpole, 1995) dengan rumus sebagai berikut : x dimana : 2. nx N Nx n = ………………………………………(1) = jumlah responden (sample) setiap strata = jumlah seluruh populasi (kepala keluarga nelayan) = jumlah populasi setiap strata = ukuran responden secara keseluruhan Responden dari kalangan pakar, dipilih secara sengaja (purposive sampling) dimana responden yang dipilih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden, menggunakan kriteria seperti berikut : 1. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji. 2. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji. 3. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang dikaji. 3.5 Analisis Data Penelitian ini melalui empat tahap yang meliputi : (1) studi potensi wilayah Kabupaten Kupang, (2) studi tingkat perkembangan Kabupaten Kupang, (3) studi 51 status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan, dan (4) membangun model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. Empat tahapan dan metode analisis data secara rinci disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Tahapan dan metode analisis model pengembangan minapolitan No Tujuan khusus Identifikasi 1 potensi wilayah Kabupaten Kupang Jenis data Primer Sekunder 2 3 4 Tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Kupang Status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang Primer Bentuk data Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Laporan tahunan dinas/instansi terkait Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Sekunder Laporan tahunan dinas/instansi terkait Primer Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Laporan tahunan dinas/instansi terkait Hasil wawancara & penyebaran kuesioner Laporan tahunan dinas/instansi terkait Sekunder Model Primer pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Sekunder Kabupaten Kupang Sumber data Metode analisis LQ, Analisis Spasial (kesesuaian & daya dukung). Output yang diharapkan Teridentifikasi potensi wilayah Kabupaten Kupang.  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih Analisis tipologi, PCA, Cluster, Skalogram, Sentralitas, MPE, AHP, ISM.  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih MDS, Monte Carlo, Prospektif. Diketahui tingkat perkembangan wilayah, alternatif pengembangn minapolitan budidaya laut, lokasi pengolahan dan pemasaran produk minapolitan, kendala, kebutuhan dan lembaga terlibat. Diketahui status keberlanjutan dan skenario keberlanjutan ke depan.  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih Sistem Dinamik  Dinas/instansi terkait  Responden terpilih Didapatkan model pengembangn kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan berbagai metode analisis data seperti analisis spasial (SIG), analisis kesesuaian lahan, analisis daya dukung, analisis finansial, analisis tipologi wilayah, principal component analysis (PCA) analisis cluster, analisis skalogram, analisis sentralitas, metode perbandingan eksponensial (MPE), analisis hierarki proses (AHP) dengan criterium decision plus (CDP), 52 analisis interpretative structural modeling (ISM), analisis multidimensional scaling (MDS) modifikasi dari Rapfish, dan analisis prospektif, serta analisis sistem dinamik dengan powersim constructor 2.5d. Adapun tahapan-tahapan penelitian dan metode analisis data yang digunakan disajikan pada Gambar 5. Gambar 5 Tahapan dan metode analisis data dalam penelitian pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang 4 KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Keadaan Geografis Kabupaten Kupang 0 0 Kabupaten Kupang terletak antara 121 30’ - 124 11’ Bujur Timur dan 0 0 9 19’ - 10 57’ Lintang Selatan. Kabupaten Kupang di sebelah utara dan barat berbatasan dengan Laut Sawu, sementara sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia serta sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Negara Timor Leste. Wilayah Kabupaten Kupang mencakup 27 pulau, dimana diantaranya terdapat 8 pulau yang belum memiliki nama. Dari kedua puluh tujuh pulau tersebut yang telah dihuni hingga saat ini hanya sebanyak lima pulau yaitu Pulau Timor, Pulau Sabu, Pulau Raijua, Pulau Semau, dan Pulau Kera. Permukaan tanah di wilayah Kabupaten Kupang umumnya berbukit-bukit, bergunung-gunung dan sebagian terdiri dari dataran rendah dengan tingkat 0 kemiringan rata-rata mencapai 45 dan wilayah Kabupaten Kupang berada pada ketinggian dari permukaan laut 0-500 m. Hampir sebagian besar flora di Kabupaten Kupang terdiri dari padang rumput, pohon lontar, pohon pinus, cendana, dan gewang. Sedangkan fauna terdiri dari hewan-hewan menyusui besar misalnya, kerbau, sapi, kuda. Luas wilayah laut Kabupaten Kupang adalah 4.086,33 km2 dengan panjang garis pantai 551,61 km dari luas wilayah laut Propinsi NTT 1.999.526 km2 dan panjang garis pantai 5700 km (DKP NTT, 2008). Dengan banyaknya pulau yang dhuni (inhabitted) ada 5 pulau dan yang tidak dihuni (not inhabitted) ada 22 pulau, sedangkan pulau yang tidak ada nama 8 pulau dan yang sudah memiliki nama ada 19 pulau (BPS, 2010). Luas wilayah Kabupaten Kupang per kecamatan dapat dilihat pada Lampiran 3, sedangkan pulau-pulau di Kabupaten Kupang ada pada Lampiran 4. 4.2 Keadaan Iklim Kabupaten Kupang Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Kabupaten Kupang hanya dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Secara umum Bulan Juni sampai September, arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada Desember sampai Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Dari Tabel 4 jumlah curah hujan setahun bervariasi tiap bulan. 54 Pada tahun 2009 jumlah curah hujan setahun tertinggi pada Bulan Desember dan terendah pada Bulan Mei. Rata-rata kelembaban udara di Kabupaten Kupang tahun 2009 sebesar 76,5%, tekanan udara 1.010,42 mb, dan o rata-rata suhu udara di atas 27,26 C. Tabel 4 Rata-rata curah hujan dan hari hujan di Kabupaten Kupang menurut bulan, tahun 2008-2009 (stasiun meteorologi klas II Kupang) Curah hujan (mm) Bulan Hari hujan (hh) 2008 235,4 851,4 149,8 50,0 2009 420,7 408,3 117,4 108,0 2008 20 26 25 6 2009 23 21 18 4 Mei 0 22,8 0 5 Juni Juli Agustus 8,6 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 September Ttu* Ttu* 1 1 Oktober 3,0 0 2 0 November 130,8 72,1 19 7 Desember 481,0 469,8 24 19 Januari Februari Maret April * Ttu : Tidak terukur 4.3 Pemerintahan dan Kependudukan Kabupaten Kupang Pada tahun 2009 Kabupaten Kupang terdiri dari 24 kecamatan, 159 desa dan 18 kelurahan. Jumlah desa terbanyak di Kecamatan Kupang Timur (13 desa/kelurahan), sedangkan yang paling sedikit jumlah Desa/kelurahannya adalah Kecamatan Amarasi Timur, Fatuleu Tengah, Amfoang Barat Daya dan Amfoang Tengah (4 desa/kelurahan). Tabel 5 menyajikan jumlah ibukota kecamatan dan banyaknya desa/kelurahan tahun 2009. Laju pertumbuhan penduduk suatu wilayah pada hakekatnya disebabkan oleh tiga faktor yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (migrasi). Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 1,75%. Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian, namun saat ini faktor perpindahan penduduk juga mempunyai pengaruh yang cukup besar. 55 Tabel 5 Jumlah ibukota Kecamatan dan banyaknya desa/kelurahan tahun 2009 (BPS Kabupaten Kupang, 2010) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 4.4 Kecamatan Ibukota Semau Semau Selatan Kupang Barat Nekemese Kupang Tengah Taebenu Amarasi Amarasi Barat Amarasi Selatan Amarasi Timur Kupang Timur Amabi Oefeto Timur Amabi Oefeto Sulamu Fatuleu Fatuleu Barat Fatuleu Tengah Takari Amfoang Selatan Amfoang Barat Daya Amfoang Utara Amfoang Barat Laut Amfoang Timur Amfoang Tengah Jumlah Uitao Akle Batakte Oemasi Tarus Baumata Oekabiti Baun Buraen Pakubaun Babau Oemofa Fatuknutu Sulamu Camplong Nuataus Oelbiteno Takari Lelogama Manubelon Naikliu Soliu Oepoli Fatumonas Banyaknya Desa 8 6 10 11 6 8 8 7 3 4 8 10 7 6 9 5 4 9 6 4 5 6 5 4 159 Banyaknya Kelurahan 0 0 2 0 2 0 1 1 2 0 5 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 18 Keadaan Sosial Kabupaten Kupang Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara adalah tersedianya cukup sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Merujuk pada amanat UUD 1945 beserta amandemennya (pasal 31 ayat 2), maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk Indonesia. Program wajib belajar 6 tahun dan 9 tahun, gerakan nasional orang tua asuh (GNOTA), dan berbagai program pendukung lainnya adalah bagian dari upaya pemerintah mempercepat peningkatan kualitas SDM, yang pada akhirnya akan menciptakan SDM yang tangguh, yang siap bersaing di era globalisasi. Peningkatan SDM sekarang ini lebih difokuskan pada pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan, terutama penduduk kelompok usia sekolah (umur 7 sampai 24 tahun). Badan Pusat Statistik (BPS) secara kontinu setiap tahunnya mengumpulkan data pendidikan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Beberapa informasi pendidikan yang dikumpulkan dalam Susenas 56 antara lain mengenai penduduk buta huruf, penduduk usia sekolah (7 sampai 24 tahun), status sekolah. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf. Makin rendah persentase penduduk yang buta huruf menunjukkan keberhasilan program persentase penduduk yang buta huruf mengindikasikan kurang berhasilnya program pendidikan. Hasil Susenas 2009 menunjukkan bahwa persentase penduduk berusia 10 tahun keatas yang buta huruf mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008. Penduduk yang berumur 10 tahun keatas pada tahun 2009 dengan status masih sekolah sebesar 22,13% dan yang tidak bersekolah lagi sebesar 66,51% sedang untuk yang tidak/belum pernah bersekolah sebesar 11,36%. Hasil Susenas juga menunjukkan bahwa penduduk yang masih bersekolah pada kelompok umur 7 sampai 12 tahun mempunyai persentase paling tinggi. Sementara itu, untuk penduduk yang belum atau tidak pernah sekolah paling tinggi persentasenya pada kelompok umur 19 sampai 24 tahun. Pada tahun ajaran 2009/2010 di tingkat sekolah dasar (SD) terjadi peningkatan jumlah murid dan jumlah sekolah dibandingkan tahun ajaran sebelumnya, sedangkan jumlah guru mengalami penurunan. Berbeda dengan tingkat SD, pada tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) jumlah murid dan guru mengalami peningkatan sedangkan jumlah sekolah berkurang. Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. Mempertimbangkan bahwa pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian yang sangat penting dari ajang peningkatan SDM penduduk Indonesia pada umumnya dan Kabupaten Kupang pada khususnya, maka program-program kesehatan telah dimulai atau bahkan lebih diprioritaskan pada calon generasi penerus, khusus calon bayi dan anak usia dibawah lima tahun (balita). Pentingnya pembangunan bidang kesehatan ini paling tidak tercermin dari deklarasi millenium development goals (MDGs) yang mana lebih dari sepertiga indikatornya menyangkut bidang kesehatan. Agama mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam meletakkan landasan moral, etika dan spiritual yang kuat. Sebagian besar penduduk Kabupaten Kupang memeluk agama kristen protestan (85,65%), diikuti oleh pemeluk agama Katolik sebesar 11,19%. Dalam hidupnya, manusia 57 membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal dan berinteraksi dengan manusia lainnya serta tempat berlindung sebuah rumah harusnya memenuhi syarat kesehatan, untuk menunjang kehidupan manusia. Salah satu indikator rumah sehat menurut world health organization 2 (WHO) adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10m perkapita. Jika satu rumah tangga memiliki empat sampai lima anggota rumah tangga, maka 2 rumahnya dikatakan sehat bila memiliki luas lantai minimal 40-50 m . Hasil susenas tahun 2009 menyatakan bahwa lebih dari 31,25% rumah tangga di 2 Kabupaten Kupang menempati rumah dengan luas lantai 50 m atau lebih. Selain luas lantai minimal, rumah juga harus memiliki fasilitas yang sangat dibutuhkan manusia untuk hidup. Dari hasil susenas tahun 2009 dapat dilihat bahwa sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Kupang sudah mengkonsumsi air minum bersih (50%). Sumber air minum yang relatif bersih tersebut berasal dari ledeng, pompa, air kemasan, sumur terlindung dan mata air terlindung. Fasilitas rumah lainnya yang tidak kalah penting adalah penerangan. Fasilitas penerangan ini dapat bersumber dari listrik atau bukan listrik seperti petromak/aladin, pelita/sentir/obor dan lainnya. Berdasarkan hasil susenas 2009, sekitar 36,84% rumah tangga menggunakan fasilitas penerangan listrik, terdiri dari 32,23% menggunakan listrik PLN dan 4,61% menggunakan listrik non PLN. Hasil Susenas tahun 2007 juga memberikan gambaran fasilitas rumah lainnya yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan yaitu penggunaan tempat buang air besar. Sekitar 66,30% rumah tangga memiliki tempat buang air besar sendiri. Tetapi, satu hal yang masih perlu perhatian khusus dari pemerintah adalah masih ada sekitar 22% rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar. 4.5 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan KabupatenKupang Potensi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan Kabupaten kupang terdiri atas : potensi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut, data sebaran sarana dan prasarana perikanan, data sebaran sarana dan prasarana penunjang pembangunan perikanan, dan database sumber daya perikanan. 4.5.1 Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Laut Sebagai salah satu Kabupaten kepulauan yang memiliki sekitar 21 pulau besar dan kecil (Lampiran 4), dengan perairan laut yang cukup luas dan garis 58 pantai yang cukup panjang, maka wilayah pesisir dan laut Kabupaten Kupang tentunya memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar pula. Potensi penangkapan ikan dan non ikan sudah menjadi andalan daerah ini sejak lama, dan menjadi salah satu penyuplai bahan pangan protein dari sumber ikan ke Kota Kupang maupun diantar pulaukan ke Pulau Jawa, Bali dan Sulawesi, dan sebagian lagi diekspor. a. Karakteristik Wilayah Pesisir dan Laut Kabupaten Kupang Selain memiliki beberapa pulau kecil terluar yang tidak berpenghuni, wilayah Kabupaten Kupang juga secara administratif berbatasan dengan Laut Sawu di sebelah utara, di sebelah selatan dengan Laut Timor, di sebelah timur dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan wilayah Oekusi (bagian Negara Timor Leste), dan sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Rote Ndao dan Samudera Indonesia. Dari sekitar 24 kecamatan (177 desa/kelurahan) yang ada, maka terdapat sekitar 15 kecamatan dan 64 desa/kelurahan yang berada di wilayah tersebut (Lampiran 5). Dari lokasi yang ada, karakteristik pantai dan lautnya beragam antara karang, pasir maupun campuran karang dan kerikil, serta sebagian lagi berlumpur. Wilayah pantai yang berada di Teluk Kupang, pantai dan lautnya relatif lumpur berpasir dengan kondisi agak landai, karena terdapat beberapa muara sungai, dimana umumnya didominasi ekosistem mangrove. Wilayahnya meliputi Kecamatan Sulamu, Kupang Timur, dan sebagian lagi di Kecamatan Kupang Tengah, sehingga selama ini dimanfaatkan untuk usaha budidaya air payau (tambak ikan), maupun tambak garam. Pantai berpasir umumnya ditemukan di pesisir pantai Kecamatan Kupang Barat, Semau, Pantai Amfoang Utara dan sebagian lagi di Pulau Raijua. Karakteristik pantai dan laut ini banyak ditumbuhi ekosistem padang lamun, serta sangat cocok untuk dikembangkan budidaya rumput laut, serta budidaya ikan dan mutiara. Di lain pihak, karakteristik pantai dan perairan yang berkarang, dapat ditemukan pada hampir sebagian besar lokasi di desa-desa pantai yang ada. Beberapa lokasi yang memiliki potensi terumbu karang untuk pengembangan wisata bahari termasuk wisata bawah laut, yakni perairan di sekitar Pulau Kera di Desa Uiasa (Kecamatan Semau) maupun pada perairan di Desa Tablolong (Kecamatan Kupang Barat), sebaliknya, beberapa wilayah pesisir dan laut telah menunjukkan degradasi lingkungan yang sangat memprihatinkan, baik itu terhadap kondisi terumbu karang, maupun hutan bakau. 59 Aktifitas manusia dianggap menjadi penyebab utamanya. Kegiatan penangkapan ikan dan biota laut lainnya yang bersifat destruktif, pemanfaatan terumbu karang yang tidak terkendali, pengambilan pasir laut serta penebangan pohon bakau untuk kayu bakar, menjadi alasan-alasan kerusakan lingkungan pantai dan ekosistemnya. Gambaran karakteristik pantai, laut dan ekosistem pendukungnya dapat dilihat pada Lampiran 6. b. Potensi Perikanan Budidaya (sebaran menurut luasan dan jenis) Potensi perikanan budidaya di wilayah perairan dan pantai Kabupaten Kupang juga cukup besar. Beberapa komoditi ekonomis penting yang sudah dibudidayakan oleh sebagian besar nelayan/pembudidaya adalah rumput laut dan budidaya ikan, sedangkan budidaya mutiara dilakukan oleh perusahaan swasta asing yakni PT.TOM. Komoditi rumput laut saat ini menjadi primadona pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang, karena mampu memberikan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir baik untuk pembudidaya rumput laut atau nelayan sambilan maupun pelaku usaha perikanan seperti pengumpul hasil, distributor dan jasa transportasi laut. Sebaran lokasi potensi dan pengembangan budidaya rumput laut umumnya hampir pada setiap perairan pantai di seluruh wilayah kecamatan pesisir. Namun demikian, usaha budidaya rumput laut sampai saat ini lebih banyak digeluti oleh masyarakat pesisir di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kupang Barat, Semau, Semau Selatan dan kecamatan-kecamatan di Pulau Sabu dan Raijua. Wilayah-wilayah ini merupakan sentra produksi komoditi rumput laut. Produksi rumput laut juga mengalami peningkatan, dan umumnya hasil produksinya diantarpulaukan ke Jakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Untuk potensi pengembangan budidaya mutiara hingga saat ini terdapat di perairan Selat Semau yakni perairan sekitar Kecamatan Kupang Barat, Semau dan Semau Selatan. Hasil produksi mutiara umumnya dipasarkan ke Jakarta ataupun diekspor (Jepang). Gambaran sebaran areal potensial pengembangan budidaya laut seperti pada Lampiran 8. 4.5.2 a. Sarana dan Prasarana Perikanan Data Sebaran Sarana dan Prasarana Perikanan Tangkap Hingga saat ini, kondisi sarana dan prasarana perikanan tangkap untuk sebagian besar kecamatan-kecamatan pantai cenderung masih bersifat 60 tradisional. Umumnya kepemilikan sarana penangkapan ikan berupa perahu tanpa motor, baik itu jukung, perahu kecil dan besar dengan jumlah seluruhnya mencapai 2.049 unit, dengan sebaran terbanyak di Kecamatan Kupang Barat yakni sebanyak 361 unit, kemudian Kecamatan Semau dan Sulamu (data tahun 2007). Ketiga kecamatan tersebut menjadi sentra perikanan tangkap di Kabupaten Kupang, sehingga kepemilikan armada penangkapan ikan berupa motor tempel dan kapal motor juga terbanyak pada wilayah-wilayah tersebut. Jika dilihat dari jenis alat tangkap yang digunakan, maka umumnya nelayan di Kabupaten Kupang masih menggunakan alat tangkap yang masih tradisional seperti pancing tangan dan gillnet monofilamen. b. Data Sebaran Sarana dan Prasarana Perikanan Budidaya Berhasilnya kegiatan budidaya laut, salah satunya ditunjang pula oleh tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana prasarana budidaya laut yang selama ini terus dikembangkan yakni sarana budidaya rumput laut. Pengadaan tali PE dan pelampung, merupakan sarana utama dari kegiatan budidaya rumput laut di beberapa sentra pengembangan komoditi tersebut. Demikian pula untuk mengupayakan peningkatan produksi dan nilai tambah hasilnya maka diberikan bantuan patok besi, waring penjemuran dan bahkan alat pres rumput laut, sedangkan prasarana penyimpanan hasil (gudang) hanya terdapat 2 unit milik masyarakat. Saat ini para pengumpul hasil di Pulau Sabu masih menggunakan bangunan rumah miliknya sebagai tempat penampungan sementara. Untuk pengembangan budidaya (pembesaran) ikan, maka telah ada KJA yang diberikan kepada nelayan di Desa Tablolong (Kupang Barat) dan Desa Hansisi (Semau). Gambaran sebaran dan jumlah sarana prasarana budidaya laut seperti pada Lampiran 10. Untuk pengembangan budidaya air tawar dan payau, maka sarana prasarana yang seharusnya menjadi pendukungnya yakni kolam permanen, tambak, bendungan dan embung/cekdam, yang tentunya ditunjang dengan ketersediaan sumber air yang ada sepanjang tahun. Sarana prasarana ini tersebar pada beberapa kecamatan yang memiliki potensi sumberdaya air cukup banyak, yakni Kecamatan Kupang Tengah (bendungan Tilong), Kupang Timur, Takari, Fatuleu dan Amabi Oefeto Timur. Luasan sarana prasarana ini secara keseluruhan mencapai 493,00 ha untuk embung/cekdam, untuk kolam permanen seluas 27,80 ha, untuk tambak (garam) 420,75 ha dan luasan Bendungan Tilong mencapai sekitar 18,00 ha. 61 4.5.3 Sarana dan Prasarana Penunjang Pembangunan Perikanan Sarana dan prasarana penunjang pemanfaatan sumberdaya perikanan menjadi bagian lainnya yang turut mendukung kelancaran dan kecepatan proses produksi, pengolahan dan distribusi hasil perikanan dari dan ke pusat-pusat perekonomian. Sarana dan prasarana penunjang dimaksud dapat berkontribusi dalam mendorong efektifitas dan efisiensi, terutama dalam menyalurkan hasil komoditas perikanan yang relatif cepat rusak. Pembangunan tambat labuh kapal/perahu (jetty) di beberapa tempat menjadi salah satu upaya mempelancar arus orang dan barang termasuk aktifitas nelayan dalam pemasaran produksinya. Pembangunan jeti ini telah dilakukan di lokasi Desa Hansisi, Kecamatan Semau dan Kelurahan Sulamu, Kecamatan Sulamu. Selain itu, untuk memperlancar aktifitas nelayan dalam usaha penangkapan ikan, terutama dalam penyediaan bahan bakar, maka telah pula dibangun solar packed dealer nelayan (SPDN) di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat dan di Kelurahan Sulamu, Kecamatan Sulamu, serta ditunjang pula kedai pesisir pada kedua lokasi tersebut. Keberadaan balai benih ikan (BBI) di Desa Tablolong dan keberadaan BBI Noekele di Kecamatan Kupang Timur, juga menjadi salah satu bagian penting bagi perkembangan pembangunan perikanan di Kabupaten Kupang, walaupun sarana prasarana tersebut merupakan aset pemerintah Provinsi NTT. Gambaran sebaran sarana prasarana penunjang pembangunan perikanan seperti terlihat pada Lampiran 11. 4.5.4 Sumberdaya Manusia Perikanan Sebagaimana diketahui jumlah rumah tangga perikanan sekitar 3.708 RTP (rumah tangga perikanan). Dari jumlah tersebut beberapa kegiatan perikanan yang dilakukan seperti nelayan sekitar 6.379 orang, dan pembudidaya rumput laut sekitar 15.615 orang. Untuk wilayah-wilayah yang memiliki potensi pengembangan budidaya air tawar dan payau juga digeluti oleh masyarakat pembudidaya ikan yang berada di pantai maupun di wilayah pengembangan budidaya ikan air tawar, payau sebanyak 607 orang. Beberapa sentra perikanan seperti Kecamatan Kupang Barat, Sulamu, Semau, Semau Selatan dan Sabu Barat, menunjukkan jumlah RTP dan nelayan yang relatif banyak, sedangkan pembudidaya ikan umumnya berada di Kecamatan Kupang Timur, Kupang 62 Tengah, Fatuleu dan Takari. Gambaran jumlah RTP, nelayan dan pembudidaya ikan sebagaimana dilihat pada Lampiran 12 sampai 14. Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan melalui bantuan sarana prasarana perikanan membutuhkan pembimbingan/pendampingan oleh aparat teknis terkait dalam rangka alih teknologi guna mampu memberi nilai tambah dan meningkatkan hasil produksi dan pendapatan masyarakat. Keberhasilannya, tentu perlu pula didukung oleh SDM aparatur bidang perikanan yang memiliki keahlian dan kompetensi yang memadai. Sampai saat ini SDM aparatur dinas umumnya dapat dikatakan sudah relatif memadai jika dilihat dari sisi pendidikan formal yang dicapai. Pendidikan setingkat sarjana (S1), pascasarjana (S2) dan jenjang doktoral (S3) sudah cukup tersedia. Namun demikian dari sisi pendidikan non formal semacam pelatihan ketrampilan/keahlian dalam penanganan produksi maupun pascapanen relatif belum maksimal, kalaupun ada baru sebagian kecil saja. Jenis-jenis ketrampilan/keahlian seperti penguasaan teknologi dan teknik penangkapan ikan, budidaya perikanan, pengolahan dan pemasaran hasilnya, merupakan keahlian yang harus dimiliki aparatur dinas guna mendorong makin baiknya kompetensi dan profesionalitas dalam pelayanan bidang perikanan. 4.6 Sarana dan Prasarana Kabupaten Kupang Sarana penunjang dalam kegiatan pembangunan di wilayah Kabupaten Kupang adalah listrik dan air minum. Untuk kondisi listrik PLN yang terpasang melalui dua interkoneksi yaitu interkoneksi dari Kupang dan interkoneksi dari Soe, jumlah pelanggang PLN mencapai 13.204 pelanggang dengan daya yang telah terpasang mencapai 1.027.593 kwh. Terdapat 13 ranting/sub ranting PLN yang dipasang oleh PT. PLN (Persero) unit bisnis NTT, sedangkan untuk air minum sendiri, terdapat lima unit PDAM yang terpasang di Kabupaten Kupang dengan jumlah pelanggang 24.140 pelanggang turun di tahun 2008 menjadi 24.130 pelanggan. Jalan merupakan prasarana pengangkutan darat yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Tersedianya jalan yang berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan khususnya dalam upaya memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Kupang pada tahun 2009 mencapai 1.227,29 km. Panjang jalan yang berada di bawah wewenang negara ada 65,10 km, di bawah wewenang daerah tingkat I ada 320,69 km dan 63 sisanya di bawah wewenang daerah tingkat II sebanyak 814,29 km. Pada tahun tersebut, ternyata jalan yang diaspal sebesar 52,26%, 22,97% jalan kerikil dan 22,77% untuk jalan tanah dari total panjang jalan yang ada. Untuk angkutan darat di Kabupaten Kupang, jumlah kendaraan bermotor wajib uji tercatat sebanyak 828 unit pada tahun 2009. Komposisi jenis kendaraan wajib uji pada tahun 2009 terdiri atas: 276 unit bis mini, 14 unit bis midi, 33 unit truk, 360 unit truk mini, 145 unit pick up. Sarana angkutan sungai dan penyeberangan (ASDP), terjadi peningkatan arus kunjungan angkutan penyeberangan ferry pada Pelabuhan Laut Bolok di Kabupaten Kupang selama tahun 2009 sebanyak 1.799 kunjungan atau turun 35,50% dari tahun 2008. Penumpang yang naik di pelabuhan laut pada tahun 2009 sebanyak 223.229 penumpang. Penumpang yang turun sebanyak 223.297 penumpang. Pembangunan pos dan telekomunikasi mencakup jangkauan baik pelayanan jasa telekomunikasi ataupun informasi. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk memperlancar pelayanan-pelayanan berkenaan semakin meningkatnya permintaan akan jasa komunikasi. Salah satunya dengan memperbanyak jumlah kantor pos. Tahun 2009 jumlah kantor pos pembantu di Kabupaten Kupang 3 buah. Pada tahun 2009 surat yang paling banyak dikirim di 3 kantor pos pembantu di Kabupaten Kupang adalah sebanyak 18.377 lembar surat dengan jenis surat biasa sebanyak 9.273 lembar, dan 7.466 lembar surat kilat khusus. 4.7 Keuangan dan Harga Berikut ini adalah kondisi keuangan daerah Kabupaten Kupang, dalam perencanaan anggaran dan belanja negara, pemerintah menganut prinsip anggaran berimbang dan dinamis. Berimbang berarti harus diusahakan agar ada keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran. Sedangkan prinsip dinamis berarti makin meningkatnya jumlah anggaran dan tabungan pemerintah, sehingga kemampuan dalam negeri bertambah dan ketergantungan pada bantuan keuangan dari luar negeri semakin berkurang. Selama tahun anggaran 2009 realisasi pendapatan daerah otonom Kabupaten Kupang sebesar 541 milyar rupiah. Sumber pendapatan terbesar tahun 2009 adalah dari pos bagian dana perimbangan sebesar 509 milyar rupiah rupiah atau sebesar 94,04% terhadap seluruh realisasi penerimaan. Sedangkan dari pos pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 24,6 milyar rupiah atau 4,54%. 5 IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH KABUPATEN KUPANG Abstrak Dalam pengembangan kawasan minapolitan, pendekatan potensi kelautan yang ada di perairan Kabupaten Kupang sangat diperlukan untuk nantinya dikembangkan agar dapat menambah pendapatan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kelautan dan perikanan di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Metode analisis data yang dipakai mencakup analisis spasial (kesesuaian lahan), daya dukung lahan, dan kelayakan usaha budidaya laut. Hasil penelitian dari hasil analisis spasial didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2, 3,91 km2 untuk budidaya KJA, 1,91 km2 untuk budidaya tiram mutiara, dan budidaya teripang sebesar 2,37 km2. Hasil analisis daya dukung lahan, budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline, budidaya KJA pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 61.001 unit keramba, budidaya tiram mutiara pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 38.887 unit keramba, dan budidaya teripang pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 4.743 unit penculture. Bidang usaha budidaya laut dalam penelitian ini yang meliputi budidaya KJA, rumput laut, tiram mutiara dan teripang merupakan peluang usaha yang mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. Kata kunci : potensi wilayah, kesesuaian lahan, kelayakan usaha 5.1 Pendahuluan Potensi kelautan di perairan Kabupaten Kupang sangat beragam, hal ini dikarenakan wilayah perairan laut yang subur dan kaya akan unsur hara. Secara khusus dalam bidang budidaya laut ada lima budidaya yang pernah/sedang berjalan seperti rumput laut, keramba jarring apung, tiram mutiara, dan teripang. Penentuan potensi unggulan untuk dikembangkan dalam kawasan minapolitan melalui beberapa tahapan pengidentifikasian potensi. Adapun metode analisis data yang dipakai dalam mengidentifikasi potensi Kabupaten Kupang seperti analisis spasial (kesesuaian lahan), daya dukung lahan, dan kelayakan usaha budidaya laut. Analisis spasial digunakan untuk melihat kesesuaian perairan untuk budidaya laut, analisis daya dukung lahan digunakan untuk mengetahui kemampuan lahan dalam menampung suatu kegiatan budidaya laut, dan kelayakan usaha dipakai dalam mengkaji pengembangan usaha budidaya laut dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kondisi masyarakat setempat. 66 5.2 Metode Analisis Identifikasi Potensi di Kabupaten Kupang 5.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi di Kabupaten Kupang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer yang dibutuhkan adalah data perairan hasil pengukuran di lapangan dan data hasil penjajakan dengan menggunakan kuesioner seperti data biaya dan penerimaan usaha budidaya laut dan data skoring dari pendapat pakar. Data sekunder berupa data citra Landsat, peta ruba bumi indonesia (RBI), peta lingkungan pantai indonesia (LPI), peta penggunaan lahan, data curah hujan, sifat fisik dan kimia perairan, data jumlah penduduk, produksi dan produktivitas budidaya, dan luas lahan perairan. 5.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data primer dalam identifikasi potensi dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan topik penelitian. Data sekunder diperoleh dari beberapa sumber kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian. 5.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data dalam identifikasi potensi terbagi atas tiga bagian yaitu analisis spasial/keruangan, analisis daya dukung dan analisis kelayakan usaha/finansial. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ketiga analisis tersebut. a. Analisis Spasial – Kesesuaian Lahan Analisis keruangan digunakan untuk melihat kesesuaian pemanfaatan ruang secara visual dalam bentuk peta untuk beberapa potensi sumberdaya perairan di kawasan budidaya laut. Analisis dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu (1) mendeliniasi batas kajian yang mencakup lahan daratan dan perairan di sekitar Kabupaten Kupang, (2) untuk lahan perairan, pengumpulan data lapangan berupa titik (point information) yang mengandung informasi karakteristik perairan, (3) menganalisis secara spasial titik yang berisi informasi tersebut dengan metode interpolasi yaitu pengolahan data titik menjadi area (polygon) untuk membuat tema-tema yang akan di overlay berdasarkan kriteria kesesuaian pada masing-masing peruntukan (Lampiran 2). 67 Metode ini menggunakan metode Nearest Neighbour (Burrough & McDonnell, 1998; Morain, 1999), (4) untuk lahan daratan, pengumpulan data primer dan sekunder berupa data tabular (attribute) dan spasial yang dihimpun dalam suatu basis data. Peta tematik yang dihasilkan dari hasil interpolasi tersebut, selanjutnya diberikan skor dan bobot kemudian di overlay untuk mendapatkan lokasi yang sesuai bagi berbagai peruntukan berdasarkan berbagai kriteria kesesuaian lahan yang disusun sebelumnya. Pada setiap tahapan tersebut, data diolah dengan menggunakan Software Arc View GIS. Informasi yang diharapkan dari hasil analisis spasial ini adalah kesesuaian peruntukan ruang untuk pengembangan minapolitan budidaya laut berdasarkan hasil analisis peta land system, peta kemiringan lahan (slope), peta land use, dan peta RBI. Analisis kesesuaian lahan berdasarkan nilai hasil pembobotan dan skoring pada masing-masing parameter yang menjadi indikator kesesuaian. Pembobotan pada setiap faktor pembatas/parameter ditentukan berdasarkan pada dominannya parameter tersebut terhadap peruntukan. Besarnya pembobotan ditunjukkan pada suatu parameter untuk seluruh evaluasi lahan, sebagai contoh : keterlindungan dan kedalaman mempunyai bobot yang lebih tinggi untuk budidaya keramba dan rumput laut dibandingkan dengan penangkapan ikan. Pemberian nilai (scoring) ditujukan untuk menilai beberapa faktor pembatas/parameter/kriteria terhadap suatu evaluasi kesesuaian. Adapun kriteria dan matriks kesesuaian lahan (lokasi) yang dapat digunakan sebagai acuan pada setiap peruntukan dan urutan overlay dapat dilihat pada Lampiran 1. Dalam peneltian ini, penentuan kelas kesesuaian lahan didasarkan pada klasifikasi menurut FAO (1976), namun dengan pertimbangan lahan yang dievaluasi (perairan) cukup sempit sehingga kelas kesesuaian dibagi ke dalam tiga kelas yaitu kelas sangat sesuai (SS), sesuai (S) dan tidak sesuai (TS) dengan nilai skor masing-masing 3, 2, dan 1 (DKP, 2002). Analisis overlay yang digunakan adalah index overlay model. Benham dan Carter (1994) dalam Subandar (1999), menyatakan bahwa setiap coverage memiliki bobot (weight) dan setiap kelas dalam model memiliki nilai (score) sesuai dengan tingkat kepentingannya. Dalam model ini setiap coverage memiliki urutan kepentingan dimana coverage yang memiliki pengaruh yang paling besar diberikan penilaian yang lebih tinggi dari yang lainnya, begitu juga dengan urutan 68 overlay harus berdasarkan urutan tingkat kepentingan atau pengaruh yang paling besar ke tingkat yang paling kecil. Model matematis disajikan sebagai berikut : ………………………………………(2) dimana : S Sij Wi n = Indeks terbobot pada area objek atau area terpilih = Skor pada kelas ke-j dari peta ke-i = Bobot pada input peta ke-i = Jumlah peta Hasil analisis kesesuaian lahan untuk kegiatan pengembangan budidaya rumput laut, keramba jaring apung, penangkapan ikan dan kawasan lindung (konservasi) akan diperoleh peta yang mendeskripsikan pola penggunaan lahan yang sesuai bagi peruntukan kawasan tersebut. Dengan demikian diharapkan pemilihan lokasi untuk berbagai kawasan ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat pengguna ruang maupun pemerintah. b. Analisis Daya Dukung Lahan Berkaitan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan juga semakin bertambahan yang akhirnya berdampak kepada semakin terbatasnya lahan, baik untuk tempat tinggal (permukiman) maupun untuk kegiatan pemanfaatan lainnya. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis untuk menentukan seberapa besar daya dukung suatu lahan untuk menampung suatu kegiatan pemanfaatan pada suatu wilayah tanpa merusak kelestarian lingkungan yang ada. Daya dukung yang dianalisis dalam kajian ini hanya dibatasi pada daya dukung kemampuan lahan (ruang) dalam menampung suatu kegiatan ditinjau dari aspek kesesuaian lahan (fisik) dan sosial budaya masyarakat setempat, sedangkan daya dukung lingkungan perairan yang berhubungan erat dengan produktifitas lestari perairan tersebut. Hasil analisis ini akan memberikan informasi mengenai seberapa besar luas lahan dan jumlah unit kegiatan dalam mendukung suatu kawasan tertentu untuk diusahakan. Berikut ini uraian analisis daya dukung bagi berbagai peruntukan yang akan dikembangkan pada kawasan Kabupaten Kupang. Pertama, untuk perhitungan daya dukung lahan budidaya rumput laut dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan luas areal budidaya sesuai (kategori sangat sesuai dan sesuai), kapasitas lahan dan metode budidaya yang diterapkan. Parameter yang menjadi acuan dalam penentuan daya dukung lahan tersebut menurut Rauf (2008) antara lain : 69 a) Luas lahan budidaya rumput laut yang sesuai Luas lahan (areal perairan) budidaya rumput laut yang sesuai dapat diperoleh dari hasil analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan SIG. Dalam studi ini dibagi dua musim dimana luas pada musim peralihan lebih besar dari musim timur atau barat sehingga analisis-nya pun dipisahkan. b) Kapasitas lahan perairan Kapasitas lahan diartikan sebagai luasan lahan perairan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya rumput laut secara terus menerus dan secara sosial tidak menimbulkan konflik serta secara ekologi tidak mengganggu ekosistem pesisir. Besarnya kapasitas lahan yang ditetapkan dalam studi ini dianalisis dengan formula sebagai berikut : KL = = dimana : KL ΔL L1 L2 l1 l2 p1 p2 ……………………………(3) = Kapasitas lahan = L2 – L1 = Luas unit budidaya = Luas yang sesuai untuk satu unit budidaya = Lebar unit budidaya = Lebar yang sesuai untuk satu unit budidaya = Panjang unit budidaya = Panjang yang sesuai untuk satu unit budidaya Kapasitas lahan ditentukan dari selisih antara luas lahan yang sesuai dengan luas unit budidaya dibagi dengan luas lahan yang sesuai kali 100%. Luas unit budidaya (L1) ditentukan berdasarkan luas rata-rata unit budidaya yang ada di Kabupaten Kupang. Luas yang sesuai untuk satu unit budidaya (L2) ditentukan berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian lahan. c) Luasan unit budidaya Luasan unit budidaya adalah besaran yang menunjukkan luasan dari satu unit budidaya rumput laut, dimana setiap luasan unit budidaya berbeda-beda tergantung dari metode budidaya yang digunakan. Dalam kajian ini luasan satu unit budidaya didasarkan pada metode long line dengan ukuran 30 m x 100 m = 3000 m2 atau 0,003 km2. 70 d) Daya dukung lahan Daya dukung lahan menunjukkan kemampuan maksimum lahan yang mendukung aktivitas budidaya secara terus menerus tanpa menimbulkan terjadinya penurunan kualitas, baik lingkungan Berdasarkan pendekatan tersebut di atas biofisik maupun sosial. maka daya dukung lahan untuk budidaya rumput laut dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : DDLRL = LLS x KL ………………………………….…………(4) dimana : DDLRL = Daya dukung lahan budidaya rumput laut (ha) LLS = Luas lahan sesuai (ha) KL = Kapasitas lahan (%) Untuk menghitung berapa jumlah unit budidaya yang dapat didukung oleh lahan berdasarkan daya dukung yang diperoleh, dapat dianalisis dengan persamaan sebagai berikut : JUBRL = ……………………..………………..…………(5) dimana : JUBRL = Jumlah unit budidaya rumput laut (unit) DDL = Daya dukung lahan (ha) LUB = Luas unit budidaya (unit/ha) Kedua, analisis daya dukung lahan perairan Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya ikan dengan keramba jaring apung dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai dan kapasitas lahan. Parameter yang menjadi acuan dalam penentuan daya dukung lahan tersebut, antara lain : a) Luas lahan budidaya ikan dengan KJA yang sesuai Luas lahan (areal perairan) budidaya ikan dengan KJA yang sesuai dapat diperoleh dari hasil analisis kesesuaian lahan. b) Kapasitas lahan perairan Besarnya kapasitas lahan yang digunakan untuk kegiatan budidaya dengan KJA dianalisis seperti formula yang digunakan pada budidaya rumput laut. Yang membedakan adalah luas unit budidaya yang digunakan secara umum di perairan Indonesia (Sunyoto, 2000) yaitu dengan luas (12 x 12) m2 = 144 m2 = 0,00014 km2. 71 c) Luasan unit rakit KJA Luasan unit rakit KJA adalah besaran yang menunjukkan luasan dari satu unit rakit dengan empat keramba berukuran (3x3x2,5) m3. d) Daya dukung lahan Daya dukung lahan menunjukkan kemampuan maksimum lahan yang mendukung aktivitas budidaya secara terus menerus tanpa menimbulkan terjadinya penurunan kualitas, baik lingkungan Berdasarkan pendekatan tersebut di atas biofisik maupun sosial. maka daya dukung lahan untuk budidaya KJA dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : DDLKJA = LLS x KL ………………………………….…………(6) dimana : DDLKJA LLS KL = Daya dukung lahan budidaya KJA (ha) = Luas lahan sesuai (ha) = Kapasitas lahan (%) Untuk menghitung berapa jumlah unit budidaya yang dapat didukung oleh lahan berdasarkan daya dukung yang diperoleh, dapat dianalisis dengan persamaan sebagai berikut : JUBKJA = ……………………..…..………………..…………(7) dimana : JUBKJA = Jumlah unit budidaya KJA (unit) DDL = Daya dukung lahan (ha) LUB = Luas unit budidaya (unit/ha) Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya teripang dan tiram mutiara memakai teknik perhitungan yang sama dengan KJA, namun disesuaikan dengan luasan unit budidaya teripang dan tiram mutiara. c. Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Laut Dalam mengkaji suatu pengembangan usaha, di samping menganalisis tingkat kelayakan lahan dan perairan yang sesuai bagi peruntukannya juga dilakukan analisis terhadap kelayakan usaha dari sisi finansial. Analisis kelayakan usaha dimaksudkan untuk menilai keberhasilan usaha pada suatu bidang produksi dengan menilai besarnya pendapatan (keuntungan) yang diperoleh, sedangkan analisis finansial diperlukan untuk penetapan alternatif pemanfaatan budidaya dan pegembangan minapolitan secara berkelanjutan. 72 Untuk menentukan keuntungan, dilakukan perhitungan besar manfaat (benefit) yang diperoleh dan besarnya biaya (cost) yang dikeluarkan selama satu kali produksi (Soekartawai, 1986). Secara matematis, fungsi keuntungan dapat dirumuskan sebagai berikut : RC = TR -TC……………………..…..………………..…………(8) dimana : RC = Keuntungan TR = Total penerimaan usaha (Rp/ha/tahun) TC = Total pengeluaran (Rp/ha/tahun) Sementara itu untuk mengetahui sejauh mana hasil yang diperoleh usaha tersebut telah layak dilanjutkan atau tidak, digunakan analisis perimbangan antara penerimaan dan biaya yang dirumuskan sebagai berikut : ………………..…..………………..…………(9) dimana : R/C pi yi pj xj = Perbandingan pendapatan dan pengeluaran = Harga output produk ke-i = Jenis output produk ke-i = Harga input ke-j = Jenis input ke-j Untuk kepentingan pengambilan keputusan R/C dinilai dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : R/C > 1, usaha budidaya laut untung R/C = 1, usaha budidaya laut berada pada titik impas (break even point) R/C < 1, usaha budidaya laut rugi Selanjutnya untuk menentukan prospek pengembangan berbagai kegiatan peruntukan di Kabupaten Kupang, maka dilakukan perhitungan besar manfaat (benefit) dan besarnya biaya (cost) yang dihitung berdasarkan nilai sekarang (net present value). Menurut Abelson (1979), beberapa indikator yang biasa digunakan dalam analisis ini, yaitu : a) Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) atau nilai bersih sekarang adalah nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada masa yang akan datang, dengan menghitung selisih antara manfaat dan biaya kini. Secara matematis NPV dapat dirumuskan sebagai berikut : – ………………..…..………………..……(10) 73 dimana : Bi = Keuntungan kotor tahunan, selama i tahun Ci = Biaya kotor tahunan, selama i tahun i 1/(1+r) = Discount factor (DF) r = Tingkat suku bunga bank (discount rate) n = Umur ekonomis dari unit usaha i = 0,1,2,3,…. tahun ke n Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : NPV > 0 berarti budidaya laut layak diusahakan NPV = 0 berarti budidaya laut berada pada titik impas (break even point) NPV < 0 berarti budidaya laut tidak layak diusahakan b) Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suku bunga maksimal untuk sampai kepada NPV = 0, jadi dalam keadaan batas untung-rugi. Disamping itu juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu proyek, asal setiap manfaat yang diwujudkan secara otomatis ditanam kembali pada tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan yang sama dan diberi bunga selama sisa umur proyek. IRR digunakan untuk mengetahui tingkat pengembalian bunga usaha, dapat juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi dalam suatu usaha (Kadariah et al., 1999). Secara matematis dituliskan : ………………..………..…………(11) dimana : i+ = tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV positif i= tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV negatif NPV+ = NPV pada tingkat suku bunga i+ NPV- = NPV pada tingkat suku bunga i- Dengan kriteria pengambilan keputusan :  IRR > i+ artinya kegiatan usaha budidaya laut dapat dilanjutkan  IRR > i- artinya kegiatan usaha budidaya laut tidak dapat dilanjutkan c) Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) Merupakan perbandingan antara jumlah total nilai kini (present value) dari keuntungan bersih pada tahun-tahun dimana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan bersifat negatif. Secara matematis, net benefit cost ratio (B/C) dapat dituliskan : ………………..………..…………(12) dimana : B = Keuntungan bersih tahunan yang diharapkan C = Modal investasi yang diharapkan 74 r = Tingkat suku bunga per tahun n = Jumlah tahun kegiatan Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : Net B/C > 1 berarti kegiatan usaha budidaya laut layak untuk diusahakan Net B/C = 1 berarti kegiatan usaha budidaya laut berada pada titik impas Net B/C < 1 berarti kegiatan usaha budidaya laut tidak layak untuk diusahakan d) Pay Back of Period (PBP) Pay Back of Period adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat lama waktu yang diperlukan oleh kegiatan usaha untuk mengembalikan investasi, yaitu dengan membandingkan investasi dengan tingkat keuntungan selama satu periode produksi (1 tahun) (Kadariah et al., 1999). Secara matematis dituliskan sebagai berikut : Pay Back of Period = Investasi / Tingkat keuntungan..…………….(13) e) Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan sebuah pengukuran untuk mengetahui berapa volume atau kapasitas produksi minimum agar investasi itu tidak menderita rugi tetapi juga belum memperoleh keuntungan/laba, yang diformulasikan sebagai berikut : BEP = (TBT+TBV/ TH ) x TP…………….….…………….(14) dimana: TBT TBV TH TP = Total biaya tetap = Total biaya variabel = Total harga = Total produksi 75 5.3 5.3.1 Hasil dan Pembahasan Analisis Potensi Wilayah di Kabupaten Kupang Analisis Spasial/Keruangan Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan yang dilakukan dalam studi ini merupakan kesesuaian lahan pada saat ini, dimana kelas kesesuaian lahan yang dihasilkan berdasarkan pada data yang tersedia dan belum mempertimbangkan asumsi/usaha perbaikan bagi tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala fisik atau faktor-faktor penghambat yang ada. Evaluasi kesesuaian lahan dalam penelitian ini ada empat peruntukkan budidaya laut yaitu budidaya rumput laut, keramba jaring apung, tiram mutiara, dan teripang. a. Rumput Laut Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya rumput laut di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 6, sedangkan peta kesesuaian untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6 sampai 8. Tabel 6 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 5,94 0,32 0,63 6,26 Sulamu 3,20 0,28 0,17 3,48 Kupang Barat 22,29 3,96 4,16 26,25 Sumber : Hasil analisis 2011 Dalam penentuan kesesuaian lahan ini dievaluasi beberapa parameter fisik dan kimia perairan, namun parameter-parameter yang memiliki bobot terbesar dalam kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut adalah fosfat, nitrat, kedalaman, kecerahan, dan kecepatan arus. Hasil evaluasi di lapangan diperoleh nilai fosfat berkisar antara 0,2-0,7 mg/l, nitrat 0,8-1,5mg/l, kedalaman perairan 15-20 m, kecerahan perairan berkisar antara 5-9 m, dan kecepatan arus 15-20 cm/dtk. b. Keramba Jaring Apung Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya ikan kerapu dengan keramba jaring apung (KJA) di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 7, sedangkan peta kesesuaian untuk masingmasing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 9 sampai 11. 76 Tabel 7 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya KJA Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sangat sesuai Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 2,13 4,29 0,48 6,24 Sulamu 0,45 0,55 2,66 1,00 Kupang Barat 1,33 3,96 25,11 5,29 Sumber : Hasil analisis 2011 Dari hasil evaluasi kesesuaian lahan yang didapatkan (Tabel 7) terungkap bahwa lokasi yang sesuai untuk usaha budidaya KJA tersebar di tiga kecamatan namun Kecamatan Semau yang memiliki potensi kesesuaian lahan yang luas sebesar 2,13 km2. Adapun persentase masing-masing kategori yang sesuai terhadap luas wilayah perairan kecamatan yaitu Semau 100%, Sulamu 99,99% dan Kupang Barat 100%. Penentuan lokasi tersebut dengan mempertimbangkan beberapa parameter seperti kecepatan arus, kedalaman air, muatan padatan tersuspensi, material dasar perairan, oksigen terlarut, kecerahan perairan, suhu, salinitas, pH, fosfat, nitrat, kepadatan fitoplankton dan klorofil-a. Hasil pengamatan lapangan di Kecamatan Semau diperoleh kedalaman perairan 27-32 m, kecepatan arus 25-30 cm/dtk dengan jenis substrat dasar perairan berpasir dan pecahan karang, serta kecerahan perairan 5-10 m memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan KJA. Untuk perairan Kecamatan Sulamu diperoleh kedalaman perairan 25-30 m, kecepatan arus 30-35 cm/dtk dengan jenis substrat dasar perairan berpasir, serta kecerahan perairan 5-10 m memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan KJA. Sedangkan perairan Kecamatan Kupang Barat diperoleh kedalaman perairan 20-25 m, kecepatan arus 15-19 cm/dtk dengan jenis substrat dasar perairan berpasir, serta kecerahan perairan 10-15 m memungkinkan untuk dikembangkannya budidaya ikan kerapu dengan KJA. Kedalaman perairan sangat berperan dalam pengoperasian KJA untuk mengetahui kedalaman jaring yang akan digunakan dapat ditentukan. Parameter kecepatan arus sangat berperan untuk membawa/membilas (flushing) sisa pakan atau kotoran ikan tetapi tidak sampai mengganggu jaring sehingga mengurangi luasan ruang ikan dalam keramba. Kecerahan perairan juga mempengaruhi kegiatan budidaya KJA dalam menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu, faktor-faktor yang mempengaruhi kecerahan adalah kandungan lumpur, plankton, dan bahanbahan yang terlarut lainnya. 77 Keadaan tersebut dapat mengurangi laju fotosintesis serta mengganggu pernapasan hewan di air dan bahkan tidak layak untuk pengamatan lapangan bahwa suhu perairan berkisar antara 26-30 0C, salinitas perairan berkisar antara 29-35 gr/kg, pH air laut berkisar antara 7-9. Menurut Baveridge (1987) dalam pemilihan lokasi untuk pengembangan KJA di laut kriteria (suhu, salinitas, DO, pH, kekeruhan, pencemaran, padatan terlarut dan alga) lebih diperuntukkan pada kondisi fisika-kimia air laut yang akan menentukan bagi pemilihan/perkembangan ikan budidaya. c. Tiram Mutiara Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya tiram mutiara di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 8, sedangkan peta kesesuaian untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 12 sampai 14. Tabel 8 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya tiram mutiara Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 0,72 6,18 0,72 Sulamu 0,15 3,51 0,15 Kupang Barat 1,04 29,36 1,04 Sumber : Hasil analisis 2011 Hasil dari parameter-parameter penting yang berpengaruh terhadap usaha budidaya tiram mutiara adalah kecepatan arus 35 cm/dtk, muatan padatan terlarut berkisar antara 50-65 mg/l, kedalaman perairan berkisar antara 25-30 m, dan kepadatan fitoplankton yang berkisar antara 5.105 - 2.106 sel/l. d. Teripang Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya teripang di Kecamatan Semau, Sulamu, dan Kupang Barat disajikan pada Tabel 9, sedangkan peta kesesuaian untuk masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Gambar 15 sampai 17. Tabel 9 Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya teripang Kesesuaian lahan (km2) Jumlah total perairan Kecamatan Sesuai Tidak sesuai yang sesuai (km2) Semau 0,61 6,28 0,61 Sulamu 0,17 3,49 0,17 Kupang Barat 1,59 28,81 1,59 Sumber : Hasil analisis 2011 78 Hasil evaluasi parameter-parameter yang penting untuk kesesuaian lahan budidaya teripang adalah kecepatan arus 10-15 cm/dtk, kedalaman yang berkisar antara 5-10 m, kecerahan perairan 3-8 m, material dasar perairan agak landai dan berpasir, dan kondisi perairan terbuka. Dari Gambar 15 sampai 17 dapat disimpulkan bahwa budidaya teripang tidak sesuai dibudidayakan untuk Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Semau karena kondisi kedua wilayah ini terbuka dan kondisi arus yang tidak memungkinkan untuk dibudidayakan usaha teripang. 5.3.2 Analisis Daya Dukung a. Rumput Laut Aspek daya dukung sangat menentukan keberlanjutan kegiatan budidaya rumput laut. Daya dukung yang digunakan dianalisis dengan pendekatan luas areal budidaya yang sesuai (kategori sangat sesuai dan sesuai), kapasitas lahan dan metode budidaya yang diterapkan. Hasil analisis daya dukung lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya rumput laut 2 Luas lahan (km ) Kecamatan Sangat sesuai Semau 5,94 Sulamu 3,20 Kupang Barat 22,29 Jumlah 31,43 Sumber : hasil analisis 2011 Sesuai 0,32 0,28 3,96 4,56 2 Kapasitas lahan (km ) Sangat sesuai 5,94 3,20 22,29 31,43 Sesuai 0,32 0,28 3,96 4,56 Daya dukung lahan (Jumlah unit budidaya rumput laut) Sangat Sesuai sesuai 1.980 104 1.065 93 7.428 1.319 10.473 1.516 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,95% dari luas lahan yang sesuai (sangat sesuai dan sesuai) 2 2 Luas satu unit budidaya dengan metode longline = 3000 m atau 0,003 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya rumput laut Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan untuk kegiatan budidaya rumput laut didapatkan luas kapasitas lahan untuk kategori sangat sesuai dan sesuai masing-masing sebesar 31,43 km2 dan 4,56 km2 sedangkan jumlah unit usaha budidaya rumput laut yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sangat sesuai dan sesuai masing-masing sebanyak 10.473 unit dan 1.516 unit (Tabel 10). Jika digabungkan jumlah unit usaha budidaya rumput laut tersebut maka total unit yang dapat diusahakan sebesar 11.989 unit. 79 b. Keramba Jaring Apung Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai (kategori sangat sesuai dan sesuai) dan kapasitas lahan. Hasil analisis daya dukung lahan untuk pengembangan kegiatan budidaya ikan kerapu dengan KJA di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 11. Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan tersebut diperoleh luas kapasitas lahan untuk kategori sangat sesuai dan sesuai masing-masing sebesar 3,91 km2 dan 8,80 km2 sedangkan jumlah unit KJA yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sangat sesuai dan sesuai masingmasing sebanyak 61.001 unit dan 137.411 unit. Tabel 11 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya KJA 2 Luas Lahan (km ) Kecamatan Sangat Sesuai Semau 2,13 Sulamu 0,45 Kupang Barat 1,33 Jumlah 3,91 Sumber : hasil analisis 2011 Sesuai 4,29 0,55 3,96 8,80 2 Kapasitas lahan (km ) Sangat Sesuai 2,13 0,45 1,33 3,91 Daya dukung lahan (jumlah unit budidaya KJA) Sesuai Sangat Sesuai Sesuai 4,29 0,55 3,96 8,80 33.287 6.958 20.756 61.001 66.957 8.528 61.926 137.411 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,99% dari luas lahan yang sesuai (sangat sesuai dan sesuai) 2 2 2 Luas satu unit budidaya dengan metode KJA = (8 x 8) m = 64 m atau 0,000064 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya KJA c. Tiram Mutiara Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya tiram mutiara dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai (kategori sesuai) dan kapasitas lahan. Hasil analisis daya dukung lahan untuk pengembangan kegiatan budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya tiram mutiara 2 Kecamatan Luas lahan (km ) 2 Kapasitas lahan (km ) Daya dukung lahan (jumlah unit budidaya mutiara) Sesuai 14.597 2.997 21.293 38.887 Sesuai Sesuai Semau 0,72 0,72 Sulamu 0,15 0,15 Kupang Barat 1,04 1,04 Jumlah 1,91 1,91 Sumber : hasil analisis 2011 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,99% dari luas lahan yang sesuai 2 2 2 Luas satu unit budidaya tiram mutiara = (7 x 7) m = 49 m atau 0,000049 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya tiram mutiara 80 Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan ketiga kecamatan di Kabupaten Kupang tersebut diperoleh luas kapasitas lahan untuk kategori sesuai sebesar 1,91 km2 sedangkan jumlah unit keramba untuk tiram mutiara yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sesuai masingmasing sebanyak 38.887 unit. d. Teripang Analisis daya dukung lahan perairan di Kabupaten Kupang untuk kegiatan budidaya teripang dengan sistem penculture dilakukan dengan pendekatan luas areal kegiatan budidaya yang sesuai (kategori sesuai) dan kapasitas lahan. Hasil analisis daya dukung lahan ketiga kecamatan di Kabupaten Kupang untuk pengembangan kegiatan budidaya teripang dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 13. Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan tersebut diperoleh luas kapasitas lahan untuk kategori sesuai sebesar 2,37 km2 sedangkan jumlah unit penculture teripang yang dapat didukung untuk kegiatan budidaya tersebut pada kategori sesuai sebanyak 4.743 unit. Tabel 13 Daya dukung lahan perairan untuk budidaya teripang 2 Kecamatan Luas lahan (km ) Sesuai Semau 0,61 Sulamu 0,17 Kupang Barat 1,59 Jumlah 2,37 Sumber : hasil analisis 2011 2 Kapasitas lahan (km ) Sesuai 0,61 0,17 1,59 2,37 Daya dukung lahan (jumlah unit budidaya teripang) Sesuai 1.227 329 3.187 4.743 Keterangan Tabel : Kapasitas lahan perairan adalah 99,99% dari luas lahan yang sesuai (sangat sesuai dan sesuai) 2 2 2 Luas satu unit budidaya teripang = (50 x 10) m = 500 m atau 0,0005 km DD lahan (jumlah unit) = kapasitas lahan/luas unit budidaya teripang dengan penculture 93 5.3.3 Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Laut Analisis kelayakan usaha budidaya laut dalam penelitian ini terdiri dari empat bagian yaitu budidaya keramba jaring apung, rumput laut, tiram mutiara, dan teripang. Analisis ini dimaksudkan untuk melihat peluang usaha dan profil investasi komoditas atau produk unggulan daerah Kabupaten Kupang khususnya dalam bidang/kegiatan budidaya laut sebagai suatu peluang investasi yang sangat fisibel yang dapat mendorong peningkatan ekonomi wilayah dan masyarakat dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. a. Budidaya Keramba Jaring apung Untuk mendirikan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba jaring apung (KJA), dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponen-komponen biaya investasi ini meliputi : a) pembuatan rakit berukuran 8 m x 8 m, b) pembuatan waring berukuran 1 m x 1 m x 1,5 m, c) pembuatan jaring ukuran 3 m x 3 m x 3 m, d) pembuatan rumah jaga, dan e) pengadaan sarana kerja. Sedangkan untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan benih, pakan, bahan bakar, upah/gaji, dan lain-lain. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di lokasi penelitian dan beberapa asumsi sebagai berikut : 1. Umur investasi 5 tahun 2. Sumber dana untuk membiayai kegiatan investasi khusus untuk biaya investasi berasal dari pinjaman sebesar Rp15.000.000,00 dengan tingkat bunga 18% per tahun (flat) dalam jangka waktu 5 tahun 3. Pajak penghasilan 15% per tahun 4. Penyusutan atas aktiva tetap dihitung dengan metoda garis lurus dengan sisa = 0 dan umur ekonomis dari setiap aset 5 tahun 5. Benih yang ditebarkan berukuran 4-5 cm sebanyak 2.500 ekor dengan tingkat kehidupan sampai umur panen 65% dengan berat 450 gr/ekor 6. Jangka waktu pembesaran atau umur produksi untuk mencapai berat jual/panen adalah 12 bulan (1 tahun) 7. Harga jual Rp317.000,00 per kg Atas dasar asumsi-asumsi di atas, perkiraan biaya investasi dan biaya variabel disajikan pada Tabel 14. 94 Tabel 14 Perkiraan biaya investasi usaha budidaya ikan kerapu Komponen Biaya investasi Biaya variabel Biaya tetap Total Jumlah (Rp) 28.597.500,00 68.851.500,00 11.839.000,00 109.288.000,00 % 26,2 63,0 10,8 100,0 Total besarnya biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap sebesar Rp109.288.000,00 di mana biaya terbesar adalah biaya variabel mencapai 63% diikuti oleh biaya investasi 26,2% dari total biaya. Rincian biaya investasi, biaya variabel, dan biaya tetap yang diperlukan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang disajikan pada Lampiran 15. Sedangkan perhitungan/analisis rugi laba dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang ini didasarkan pada asumsi-asumsi seperti yang telah dikemukan terdahulu. Hasil analisis rugi laba seperti ditunjukkan pada Tabel 15. Tabel 15 Analisis rugi laba usaha budidaya ikan kerapu No 1 2 3 4 5 Uraian Total biaya Total penerimaan Total pendapatan sebelum pajak Pajak penghasilan (15%) Total pendapatan bersih setelah pajak Total (Rp) 735.896.000,00 1.212.525.000,00 476.629.000,00 71.494.000,00 405.134.000,00 Dari Tabel 15, terlihat bahwa usaha budidaya ikan kerapu tikus selama 5 tahun atau 5 kali siklus produksi memberikan pendapatan memberikan pendapatan bersih setelah pajak sebesar Rp405.134.000,00 untuk rinciannya dapat dilihat pada Lampiran 15. Berikutnya adalah analisis cash flow dan kelayakan Investasi yang menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA selama 5 tahun usaha (Lampiran 15). Tabel 16 Kriteria kelayakan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 18% (Rp) Net B/C pada DF 18% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP Break event point/BEP : unit (kg) unit (Rp/kg) Nilai kelayakan 247.506.000,00 1,65 46,6 tahun ke-1 333 138.000,00 95 Kriteria-kriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 16. Investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Dari Tabel 16 terlihat bahwa dalam jangka waktu 1 tahun lebih atau tepatnya 1 tahun 1 bulan produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp247.506.000,00 dengan net B/C 1,65 pada tingkat diskon (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang secara finansial layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 46,6% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang layak untuk diusahakan. Berikutnya untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya ikan kerapu tikus ini setiap tahunnya minimum sebanyak 333 kg atau Rp138.000,00 per kg. b. Budidaya Rumput Laut Usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline membutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponenkomponen biaya investasi ini meliputi : a) pembuatan unit budidaya rumput laut berukuran 100 m x 30 m, b) pembuatan para-para/tempat penjemuran, c) perahu sampan, dan d) timbangan gantung. Sedangkan untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan bibit, karung jangkar, pelampung botol aqua, pelampung jeregen, dan upah/gaji. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di lokasi penelitian dan beberapa asumsi sebagai berikut : (1) umur investasi 1 tahun (1 periode = 6 siklus kegiatan budidaya rumput laut), (2) satu siklus kegiatan budidaya = 45 hari ( Periode budidaya : awal april – oktober), (3) bibit rumput laut awal 2.400 kg, (4) rendemen: berat basah menjadi kering 12,50%, (5) luas lahan budidaya 100 m x 30 m = 3.000 m2, (6) berat bibit rumput laut yang diikat 200 gr, (7) hasil panen 96 rumput laut 6 kali berat semula, dan (8) harga jual rumput laut kering Rp10.000,00 per kg. Atas dasar asumsi-asumsi di atas, perkiraan biaya investasi sebesar Rp11.800.000,00 dan biaya produksi sebesar Rp63.312.000,00 untuk usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang. Analisis cash flow dan kelayakan Investasi yang menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline selama 1 periode usaha atau 6 kali siklus panen. Pada Lampiran 15 terlihat bahwa investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Kriteriakriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Kriteria kelayakan usaha rumput laut dengan sistem long line No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 18% (Rp) Net B/C pada DF 18% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP (1 siklus panen = 45 hari) Break event point/BEP : unit (kg) unit (Rp/kg) Nilai kelayakan 26.071.186,00 1,44 46,6 0,5 tahun (5 kali siklus panen) 7.511 6.955,00 Dari Tabel 17 terlihat bahwa dalam jangka waktu 0,5 tahun lebih atau tepatnya 5 kali siklus produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp26.071.186,00 dengan Net B/C 1,44 pada tingkat diskon (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang secara finansial sangat layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 98,6% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya rumput laut dengan sistem longline di Kabupaten Kupang sangat layak untuk diusahakan, dan untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya rumput laut ini setiap tahunnya minimum sebanyak 7.511 kg atau Rp6.955,00 per kg. 97 c. Budidaya Tiram Mutiara Budidaya tiram mutiara ini menggunakan teknologi sederhana dan modern. Teknologi sederhana berupa rakit tempat pemeliharaan sedangkan teknologi modern yang digunakan adalah bioteknologi untuk perawatan tiram dari spat sampai tiram siap untuk dioperasi. Usaha budidaya mutiara menggunakan tenaga keamanan dengan biaya yang cukup besar untuk mencegah terjadinya penjarahan. Siklus produksi adalah 5 tahun sejak awal usaha dengan melakukan penyuntikan pada spat umur 1,5 tahun. Mutiara dapat dipanen 1,5 tahun setelah penyuntikan. Masa tunggu panen kedua dan ketiga dari proses penyuntikan hanya 1 tahun. Setelah panen pertama, tiram dapat disuntik lagi untuk dipanen 1 tahun berikutnya. Penyuntikan dapat dilakukan 3 kali pada tiram yang sama sehingga selama 5 tahun dapat dilakukan 3 kali panen. Asumsi-asumsi dasar perhitungan untuk usaha budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 18. Tabel 18 Asumsi-asumsi dasar perhitungan usaha budidaya tiram mutiara No Uraian Satuan Jumlah/nilai 1 Periode proyek tahun 6 2 Luas tanah dan area budidaya : a. luas tanah untuk kantor & gudang m2 2.500 b. jumlah jalur area budidaya jalur 30 3 Pembenihan : a. siklus usaha tahun 5 b. lama pemeliharaan tahun 1,5 c. ukuran spat cm 2–3 d. ukuran spat siap dioperasi cm minimal 9 e. intensitas operasi tiap tiram kali 2–3 f. jangka waktu panen 1 dan ke 2 tahun 1 g. jangka waktu panen 2 dan ke 3 tahun 1 4 Harga mutiara dan siput : a. spat ukuran 2 – 3 cm Rp/cm 2.500,00 b. harga mutiara Rp/gr 400.000,00 5 Tenaga kerja : a. tetap (termasuk manajemen) orang 5 b. tidak tetap orang 9 c. tenaga keamanan orang 3 6 Pakan untuk spat sampai panen tidak ada 7 Resiko kegagalan panen % 30 8 Isi kolektor ekor 200 – 300 9 Isi net (waring) ekor 20 10 Isi keranjang ekor 10 11 Harga nukleus Rp/kg 4.000.000,00 12 Kebutuhan nukleus kg 10 13 Biaya operasi nukleus ke tiram Rp 10.000,00 14 Jumlah spat yang dipelihara ekor 5.000 98 Berdasarkan asumsi-asumsi dasar di atas, kebutuhan investasi untuk usaha budidaya tiram mutiara disajikan pada Tabel 19. Investasi yang dibutuhkan untuk usaha budidaya tiram mutiara ini adalah Rp425.800.000,00 dengan umur usaha 5 tahun, maka nilai penyusutan per tahunnya adalah Rp84.960.000,00. Investasi merupakan biaya tetap (fixed cost) yang terdiri dari beberapa komponen seperti biaya perijinan, sewa tanah, sewa bangunan, konstruksi rakit untuk budidaya, dan peralatan-peralatan lainnya. Dalam proyek ini, areal budidaya adalah perairan laut tenang sehingga luas areal budidaya diukur dalam satuan jalur penggantung tiram untuk budidaya mutiara. Tabel 19 Kebutuhan investasi budidaya tiram mutiara Jenis Investasi Nilai (Rp) Penyusutan (Rp) Perijinan 25.000.000,00 Sewa tanah Kontruksi tambak Peralatan budidaya mutiara Bangunan 75.000.000,00 59.700.000,00 110.100.000,00 156.000.000,00 15.000.000,00 16.500.000,00 22.260.000,00 31.200.000,00 Jumlah 425.800.000,00 84.960.000,00 a) kredit 70% 298.060.000,00 b) dana sendiri 30% 127.740.000,00 Sumber dana investasi : Biaya operasional pada budidaya mutiara sedikit berbeda dengan biaya operasional untuk budidaya produk perikanan lainnnya. Biaya operasional pada budidaya mutiara lebih banyak bersifat tetap sepanjang waktu, mulai dari penebaran spat sampai dengan masa panen. Hal ini dikarenakan pada budidaya mutiara, tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk pakan. Biaya operasional pada budidaya mutiara terdiri dari biaya pembelian spat (anakan tiram mutiara), biaya tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya, seperti penyuntikkan/operasi tiram mutiara. Tabel 20 Biaya operasional budidaya tiram mutiara No 1 2 3 4 5 6 Jenis biaya Biaya pembelian spat dan nukleus Biaya tenaga kerja tetap Biaya tenaga kerja tidak tetap Biaya tenaga keamanan Biaya bola lampu sorot Biaya operasional dan lain-lain Jumlah Nilai (Rp) 52.500.000,00 450.000.000,00 82.125.000,00 648.000.000,00 1.500.000,00 150.000.000,00 1.384.125.000,00 99 Dari Tabel 20 menunjukkan besarnya pengeluaran biaya operasional budidaya tiram mutiara selama lima tahun. Biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk 3 kali penyuntikkan/operasi tiram mutiara dalam tahun produksi adalah Rp150.000.000,00 dimana biaya penyuntikkan/operasi Rp10.000,00 per tiram mutiara. Dana yang digunakan untuk investasi ini dilakukan pada tahun nol proyek. Sumber dana pembiayaan investasi diasumsikan 70% berasal dari kredit (Rp298.060.000,00) dan 30% modal sendiri (Rp127.740.000,00). Sumber kredit berasal dari perbankan dan jenis kredit komersial, yang syarat dan tingkat bunganya disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank. Untuk usaha budidaya mutiara ini, suku bunga kredit adalah 17% menurun. Perincian hitungan biaya operasional dan total aliran kas dapat dilihat pada Lampiran 15. Dalam proses produksi budidaya tiram mutiara, setelah dilakukan penyuntikkan/operasi memasukkan inti bundar pada ukuran tiram mutiara 9–10 cm atau setelah 1,5 tahun, maka produksi tiram mutiara akan terjadi pada 1,5 tahun kemudian atau pada tahun ke 3. Dengan mengoperasi 5.000 tiram mutiara, maka akan diperoleh hasil Rp1.750.000.000,00 angka ini memperhitungkan kegagalan maksimal 50% dengan harga jual mutiara Rp400.000,00 per gr. Secara lengkap, proyeksi aliran kas (cash flow) untuk budidaya tiram mutiara selama lima tahun dapat dilihat pada Lampiran 23. Dilihat cash flow selama lima tahun, bahwa pada tahun 0 sampai tahun 2, usaha budidaya ini mengalami defisit karena tiram yang dibudidayakan belum menghasilkan mutiara. Pada tahun ketiga sampai tahun ke-5, usaha budidaya tiram mutiara ini akan memberikan keuntungan Rp3.440.075.000,00. Kriteriakriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya tiram mutiara dengan di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21 Kriteria kelayakan usaha tiram mutiara di kabupaten Kupang No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 17% (Rp) Net B/C pada DF 17% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP usaha kredit Break event point/BEP : unit (gr) unit (Rp/gr) Nilai kelayakan 466.431.739,00 1,60 25,7 tahun ke-4 3,7 tahun 3.650 37.542,00 100 Hasil perhitungan kelayakan usaha budidaya tiram mutiara menunjukkan bahwa investasi di bidang usaha budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Dari Tabel 21 terlihat bahwa dalam jangka waktu 4 tahun usaha ini mampu mengembalikan modal investasinya atau tepatnya 3 tahun 8 bulan dana kredit itu dapat dibayar kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp466.431.739,00 dengan Net B/C 1,60 pada tingkat diskon (DF) 17%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang secara finansial sangat layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 25,7% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 17% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya tiram mutiara di Kabupaten Kupang layak untuk diusahakan. Berikutnya untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya teripang putih ini setiap tahunnya minimum sebanyak 3.650 gr atau Rp37.550,00 per gr. d. Budidaya Teripang Usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponenkomponen biaya investasi ini meliputi : a) pembuatan unit penculture berukuran 50 m x 10 m, b) jaring (net), dan c) Tali PE. Sedangkan untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan bibit, pakan tambahan, tenaga kerja, perawatan penculture, dan biaya pengeringan. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di lokasi penelitian dan beberapa asumsi sebagai berikut : (1) umur investasi 1 tahun dan lama pemeliharaan 7 bulan, (2) ukuran penculture seluas 500 m2, (3) padat tebar 15 ekor setiap m2, (4) kebutuhan bibit 7.500 ekor, (5) mortalitas 20%, (6) berat rata-rata panen 200 gr, (7) produksi basah 1200 kg dan produksi kering 120 kg, dan (8) harga jual teripang Rp650.000,00 per kg. Atas dasar asumsi-asumsi di atas, perkiraan biaya investasi sebesar Rp7.296.000,00 dan biaya produksi sebesar Rp53.432.000,00 untuk usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang, 101 selanjutnya, analisis cash flow dan kelayakan Investasi yang menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture selama 1 tahun usaha. Pada Lampiran 15 terlihat bahwa investasi di bidang usaha budidaya teripang putih di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Kriteria-kriteria dan nilai kelayakan finansial dari usaha budidaya budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22 Kriteria kelayakan usaha teripang putih dengan sistem Penculture No 1 2 3 4 5 Kriteria kelayakan Net present value/NPV pada DF 18% (Rp) Net B/C pada DF 18% Internal rate of return/IRR (%) Payback period/PBP Break event point/BEP : unit (kg) unit (Rp/kg) Nilai kelayakan 30.167.026,00 1,22 74 tahun ke-1 98,18 177.270,00 Dari Tabel 22 terlihat bahwa dalam jangka waktu 1 tahun atau tepatnya 1 kali produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Sedangkan untuk total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp30.167.026,00 dengan Net B/C 1,22 pada tingkat diskon (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang secara finansial sangat layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dari hasil analisis diperoleh IRR sebesar 74% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang budidaya teripang putih dengan sistem penculture di Kabupaten Kupang sangat layak untuk diusahakan. Berikutnya untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya teripang putih ini setiap tahunnya minimum sebanyak 98,18 kg atau Rp177.270,00 per kg. 5.4 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis potensi keruangan (spasial) dengan menggunakan SIG untuk tiga kecamatan di Kabupaten Kupang, didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2, 3,91 km2 102 untuk budidaya KJA, 1,91 km2 untuk budidaya tiram mutiara, dan budidaya teripang sebesar 2,37 km2. Berdasarkan hasil analisis daya dukung lahan, budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline seluas 3000 m2, budidaya KJA pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 61.001 unit keramba berukuran 64 m2, budidaya tiram mutiara pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 38.887 unit keramba berukuran 49 m2, dan budidaya teripang pada kategori sesuai dapat memanfaatkan 4.743 unit penculture berukuran 500 m2. Bidang usaha budidaya laut dalam penelitian ini yang meliputi budidaya KJA, rumput laut, tiram mutiara dan teripang merupakan peluang usaha yang mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha budidaya KJA layak dengan B/C sebesar 1,65 pada DF 18% dan PBP 1,02 tahun (1 tahun 7 hari) produksi dana yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan, usaha rumput laut sangat layak dengan B/C sebesar 1,44 pada DF 18% dan PBP 0,5 tahun (5 siklus produksi) dana yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan, usaha tiram mutiara layak dengan B/C sebesar 1,60 pada DF 17% dan PBP 4 tahun modal yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan (kredit dikembalikan di 3 tahun 8 bulan), dan usaha teripang sangat layak dengan B/C sebesar 1,22 pada DF 18% dan PBP 1 tahun produksi dana yang diinvestasikan sudah dapat dikembalikan. 6 TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KUPANG Abstrak Dalam rangka pembangunan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan, kementerian kelautan dan perikanan mencanangkan program minapolitan. Salah satu tujuan dari program minapolitan adalah mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra-sentra produksi perikanan sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Metode analisis data yang dipakai mencakup analisis tipologi, skalogram, sentralitas, AHP, MPE, dan ISM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah studi di Kabupaten Kupang ini termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II dengan 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dimana peran nelayan/pembudidaya sangat dibutuhkan dalam hal peningkatan sumberdaya manusia untuk tujuan peningkatan pendapatan masyarakat. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. Kendala yang dihadapi adalah lemahnya tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut dan cara mengatasinya adalah dengan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Kata kunci : perkembangan wilayah, minapolitan 6.1 Pendahuluan Dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 Bab IV Butir G mengamanatkan arah kebijakan pembangunan daerah kawasan timur Indonesia yaitu (1) mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi daerah, serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan (2) meningkatkan pembangunan di seluruh daerah, terutama di kawasan timur Indonesia dengan berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Berdasarkan komitmen pemerintah tersebut di atas, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan program minapolitan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nelayan/pembudidaya yang adil dan merata dan mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan 104 ekonomi daerah. Dalam rangka penetapan suatu wilayah untuk pengembangan minapolitan, sebaiknya terlebih dahulu dikaji sejauhmana tingkat perkembangan wilayah tersebut sehingga dapat diketahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapai serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan. Adapun metode analisis data yang dipakai dalam penelitian ini seperti analisis tipologi, skalogram, sentralitas, AHP, MPE, dan ISM. Analisis tipologi digunakan untuk mengindentifikasi berbagai karakteristik dari masing-masing kawasan, analisis skalogram digunakan untuk mengetahui jumlah dan jenis sarana pelayanan (fasilitas) yang dimiliki oleh setiap wilayah, AHP dipakai dalam menentukan elemen-elemen kunci untuk ditangani, MPE digunakan untuk menentukan prioritas alternatif keputusan lokasi industri pengolahan dan lokasi pasar, dan ISM digunakan untuk mengkaji alternatif-alternatif yang dapat dipilih dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kondisi masyarakat setempat. 6.2 Metode Analisis Kajian Tingkat Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kupang 6.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis dan data yang diperlukan dalam kaitannya dengan analisis tingkat perkembangan wilayah untuk pengembangan kawasan minapolitan berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang diperlukan berupa data persepsi masyarakat dan pendapat pakar berkaitan dengan alternatif pengembangan kawasan minapolitan, sedangkan data sekunder yang diperlukan berupa data jumlah dan tingkat kepadatan penduduk, jumlah kepala keluarga (kk), jumlah keluarga sejahtera, jumlah keluarga pra sejahtera, keluarga pemakai PLN, banyak desa terpencil, jarak desa ke kecamatan dan Kabupaten, sarana dan prasarana umum, sarana dan prasarana budidaya laut, sarana dan prasarana kesejahteraan sosial, luas kawasan minapolitan, komoditas unggulan, produksi budidaya laut, tingkat pendidikan, jumlah dan jenis sarana pelayanan (fasilitas), keberadaan kelembagaan pasar, keberadaan kelembagaan budidaya, kelembagaan sosial, dan kebijakan atau peraturan-peraturan yang ada. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dari para stakeholder yang berperan 105 dalam menyusun strategi pengembangan minapolitan, sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil studi kepustakaan pada berbagai instansi yang terkait. 6.2.2 Metode Pengumpulan Data Data primer diperoleh dari hasil diskusi, kuisioner, wawancara, dan survei lapangan dengan responden pakar dan masyarakat di wilayah studi, sedangkan data sekunder diperoleh dari beberapa sumber kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian. 6.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam mengkaji tingkat perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang terdiri atas analisis tipologi, skalogram, analisis hirarki proses (AHP), metode perbandingan eksponensial (MPE), dan interpretatif struktural modeling (ISM). a. Analisis Tipologi Kawasan Analisis tipologi kawasan diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik dari masing-masing kawasan. Dalam analisis tipologi kawasan ini digunakan analisis berstrata, analisis komponen utama (principal component analysis/PCA), dan analisis cluster. Dalam analisis strata (Deptan, 2002), membagi wilayah untuk pengembangan kawasan minapolitan atas tiga strata yaitu strata pra kawasan minapolitan I, strata pra kawasan minapolitan II, dan strata kawasan minapolitan. Ada lima variabel penciri yang digunakan sebagai indikator penilaian yaitu komoditas unggulan yang dikembangkan, kelembagaan pasar, kelembagaan nelayan, kelembagaan balai penyuluh perikanan (BPP) dan kelengkapan sarana dan prasarana wilayah yang dimiliki. Dalam analisis komponen utama digunakan untuk menentukan peubahpeubah yang paling dominan mempengaruhi strata kawasan minapolitan. Penggunaan analisis komponen utama dimaksudkan untuk mendapatkan variabel baru dalam jumlah lebih kecil dari sejumlah variabel yang dianalisis dimana variabel baru tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan strata kawasan. Variabel yang lebih kecil dapat 2 atau 3 atau lebih tergantung subjektivitas analis, tetapi menurut Iriawan dan Astuti (2006), bahwa apabila total variasi populasi sekitar 80-90% untuk jumlah variabel yang besar dapat diterangkan oleh 2 atau 3 komponen utama (Principal Component), maka kedua atau ketiga komponen dapat menggantikan variabel semula tanpa menghilangkan banyak informasi dan multikolinearitas (hubungan korelasi antar 106 variabel-variabel penjelas), selanjutnya dilakukan analisis cluster untuk mengelompokkan unit-unit wilayah ke dalam kelompok yang lebih homogen berdasarkan kemiripan yang dimiliki. Analisis komponen utama dan analisis cluster dilakukan dengan menggunakan software Minitab 14. b. Analisis Skalogram - Sentralitas Analisis skalogram digunakan untuk mengetahui jumlah dan jenis sarana pelayanan (fasilitas) yang dimiliki oleh setiap wilayah. Dalam metode ini, seluruh fasilitas yang dimiliki setiap wilayah didata dan disusun dalam satu tabel dimana unit wilayah yang memiliki fasilitas lebih lengkap diletakkan paling atas, dan selanjutnya unit wilayah yang memiliki fasilitas kurang lengkap. Secara umum, fasilitas yang dimiliki oleh setiap unit wilayah dikelompokkan menjadi enam yaitu fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas ibadah, fasilitas olah raga, fasilitas keamanan, mengelompokkan dan hirarki fasilitas wilayah ekonomi. berdasarkan Analisis sentralitas kelengkapan sarana untuk dan prasarana yang dimiliki, seperti berikut ini : 1. Kelompok I (tingkat perkembangan tinggi) diasumsikan sebagai kelompok desa yang memiliki jumlah jenis, jumlah unit sarana dan prasarana, serta kepadatan penduduk yang lebih besar atau sama dengan rata-rata + 2x standar deviasi. 2. Kelompok II (tingkat perkembangan sedang) diasumsikan sebagai kelompok desa yang memiliki jumlah jenis, jumlah unit sarana dan prasarana, dan kepadatan penduduk antara rata-rata sampai rata-rata + 2x standar deviasi. 3. Kelompok III (tingkat perkembangan rendah) diasumsikan sebagai kelompok desa yang memiliki jumlah jenis, jumlah unit sarana dan prasarana, dan kepadatan penduduk kurang dari nilai rata-rata. c. Analisis Hirarki Proses (AHP) AHP (analytical hierarchy process) digunakan untuk menentukan elemenelemen kunci untuk ditangani. Analisis ini diharapkan persoalan-persoalan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepatkan proses pengambilan keputusannya. Dalam AHP didasarkan pada hasil pendapat pakar (expert judgment) untuk menjaring berbagai informasi dari beberapa elemen-elemen yang berpengaruh dalam penyelesaian suatu persoalan. Penilaian alternatif dan kriteria ini didapatkan dari kuisioner yang diberikan dan diisi oleh para pakar dari 107 berbagai multi disiplin. Dalam analisis AHP, urutan prioritas setiap elemen dinyatakan dalam nilai numerik atau persentasi. Elemen-elemen yang dikaji disusun dalam lima level, yakni : fokus, faktor, aktor, tujuan, dan alternatif. Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi perbandingan B dengan A. Analisis ini dilakukan untuk menentukan alternatif pengembangan kawasan minapolitan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis ini adalah : a. Menyusun struktur hirarki dari kriteria dan alternatif penyelesaian. b. Penilaian kriteria dan alternatif, dinilai melalui perbandingan berpasangan. Skala penilaian oleh pakar didasarkan pada skala nilai yang dikeluarkan oleh Saaty (1993) seperti yang disajikan pada Tabel 23. c. Penentuan prioritas untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. d. Konsistensi logis semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Tabel 23 Skala penilaian perbandingan berpasangan (Saaty, 1993) Nilai Keterangan Penjelasan Skor Kriteria yang satu dengan Kedua elemen mempunyai 1 lainnya sama penting. pengaruh yang sama pentingnya. Kriteria yang satu sedikit lebih Pengalaman dan pertimbangan penting (agak kuat) dibanding sedikit menyokong satu elemen 3 kriteria lainnya. atas elemen lainnya. Kriteria yang satu sifatnya lebih Pengalaman dan pertimbangan 5 penting (lebih kuat pentingnya) dengan kuat menyokong satu dibanding kriteria lainnya. elemen atas lainnya. Kriteria yang satu sangat Satu elemen yang kuat disokong penting dibanding kriteria dan dominannya telah terlihat 7 lainnya. dalam praktek. Bukti yang menyokong elemen Kriteria yang satu ekstrim yang satu atas yang lainnya 9 pentingnya banding kriteria memiliki tingkat penegasan lainnya. tertinggi yang mungkin menguatkan. Nilai tengah di antara dua nilai Nilai ini diberikan jika ada dua 2,4,6,8 skor penilaian diatas. kompromi diantara dua pilihan. d. Analisis Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) Metode perbandingan eksponensial (MPE) merupakan salah satu metode untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan kriteria jamak. 108 Teknik ini digunakan sebagai pembantu bagi individu pengambilan keputusan untuk menggunakan rancang bangun model yang telah terdefinisi dengan baik pada tahapan proses. Tahapan yang harus dilakukan dalam MPE adalah menyusun alternatif-alternatif keputusan yang akan dipilih, menentukan kriteria atau perbandingan kriteria keputusan yang penting untuk dievaluasi, menentukan tingkat kepentingan dari setiap kriteria keputusan atau pertimbangan kriteria, melakukan penilaian terhadap semua alternatif pada setiap kriteria, menghitung skor atau nilai total setiap alternatif dan menentukan urutan prioritas keputusan didasarkan pada skor atau nilai total masing-masing alternatif (Marimin, 2005). Adapun formulasi perhitungan skor untuk setiap alternatif dalam MPE adalah: …………………………………..(15) Total Nilai (TN) = dimana : TNi = Total nilai alternatif ke-i RKij = derajat kepentingan relatif kriteria ke-j pada pilihan keputusan i TKKj = derajat kepentingan kriteria keputusan ke-j; TKKj > 0; bulat j = jumlah pilihan keputusan m = jumlah kriteria keputusan Penentuan tingkat kepentingan kriteria dilakukan dengan cara wawancara dengan pakar atau melalui kesepakatan curah pendapat. Sedangkan penentuan skor alternatif pada kriteria tertentu dilakukan dengan memberi nilai setiap alternatif berdasarkan nilai kriterianya. Keuntungan dari MPE adalah mengurangi bias yang mungkin terjadi dalam analisa. Nilai skor yang menggambarkan urutan prioritas menjadi besar (fungsi eksponensial) ini mengakibatkan urutan prioritas alternatif keputusan lebih nyata. Penggunaan MPE dalam penelitian ini adalah untuk menentukan prakiraan lokasi pengolahan hasil produksi dan prakiraan pasar produk budidaya laut di Kabupaten Kupang. e. Interpretatif Struktural Modeling (ISM) Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem dengan metode interpretative structural modelling (ISM). Metode ini dapat digunakan untuk membantu suatu kelompok, dalam mengidentifikasi hubungan kontekstual antar sub elemen dari setiap elemen yang membentuk suatu sistem berdasarkan gagasan/ide atau struktur penentu dalam sebuah masalah yang komplek (Saxena et al., 1992). Beberapa kategori struktur dan kategori gagasan/ide yang mencerminkan hubungan kontekstual antar elemen dapat dikembangkan dengan 109 memakai ISM, seperti struktur pengaruh (misal “sub elemen Ei mempengaruhi munculnya sub elemen Ej”), struktur prioritas (misal “sub elemen Ei lebih prioritas daripada sub elemen Ej), atau gagasan/ide kategori (misal sub elemen Ei memeiliki kategori yang sama dengan sub elemen Ej) (Kanungo dan Bhatnagar, 2002). Langkah-langkah identifikasi hubungan antar sub elemen dalam suatu sistem yang kompleks dengan metode ISM adalah : 1. Identifikasi elemen-elemen sistem. Elemen-elemen sistem dan sub elemennya sistem diidentifikasi dan didaftar. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui penelitian, brainstorming atau lainnya. 2. Penetapan hubungan kontekstual antar elemen. Hubungan kontekstual antar elemen atau sub elemen ditetapkan sesuai dengan tujuan dari pemodelan. 3. Pembentukan structural self interaction matrix (SSIM). Matriks ini merupakan hasil persepsi pakar responden terhadap hubungan kontekstual antar elemen atau antar sub elemen. Empat macam simbol untuk menyajikan tipe hubungan yang ada adalah: a. Simbol V untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ei terhadap elemen Ej, tetapi tidak sebaliknya. b. Simbol A untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ej terhadap elemen Ei, tetapi tidak sebaliknya. c. Simbol X untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas secara timbal balik antara elemen Ei dengan elemen Ej d. Simbol O untuk menyatakan tidak adanya hubungan kontekstual yang telah ditetapkan diatas antara elemen Ei dan elemen Ej. 4. Pembentukan Reachability Matrix (RM). Matriks ini adalah matriks biner hasil konversi dari SSIM. Aturan konversi dari SSIM menjadi RM adalah: a. Jika simbol dalam SSIM adalah V, maka nilai Eij = 1 dan nilai Eji = 0 dalam RM b. Jika simbol dalam SSIM adalah A, maka nilai Eij = 0 dan nilai Eji = 1 dalam RM c. Jika simbol dalam SSIM adalah X, maka nilai Eij = 1 dan nilai Eji = 1 dalam RM 110 d. Jika simbol dalam SSIM adalah O, maka nilai Eij = 0 dan nilaiEji = 0 dalam RM Matriks RM awal perlu dimodifikasi untuk menunjukkan direct dan indirect reachability, yaitu kondisi dimana jika Eij = 1 dan Ejk = 1 maka Eik = 1. Eij adalah kondisi hubungan kontekstual antara elemen Ei terhadap elemen Ej. Dari matriks RM yang telah dimodifikasi didapat nilai driver power (DP) dan nilai dependence (D). Berdasarkan nilai DP dan D, elemen-elemen dapat diklasifikasikan kedalam 4 sektor (Gambar 18), yaitu: a) Sektor autonomous yaitu sektor dengan nilai DP rendah dan nilai D rendah. Elemen-elemen yang masuk dalam sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistem atau memiliki hubungan sedikit b) Sektor dependent yaitu sektor dengan nilai DP rendah dan nilai D tinggi. Elemen yang masuk dalam sektor ini elemen yang tidak bebas dalam sistem dan sangat tergantung pada elemen lain. c) Sektor linkage yaitu sektor dengan nilai DP tinggi dan nilai D tinggi. Elemen yang masuk dalam sektor ini harus dikaji secara hati-hati karena perubahan pada elemen tersebut akan berdampak pada elemen lainnya dan yang pada akhirnya akan kembali berdampak pula pada elemen tersebut. d) Sektor independent yaitu sektor dengan nilai DP tinggi dan nilai D rendah. Elemen yang masuk dalam sektor ini dapat dianggap sebagai elemen bebas. Setiap perubahan dalam elemen ini akan berimbas pada elemen lainnya sehingga elemen-elemen dalam sektor ini juga harus dikaji secara hati-hati. 113 banyak faktor-faktor pendukung lain yang bersifat spesifik yang menggambarkan variabilitas kawasan yang dapat dijadikan sebagai indikator penilaian. Analisis tipologi kawasan yang didasarkan pada variabel-variabel yang lebih spesifik dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan principal component analysis (PCA) atau lebih dikenal dengan analisis komponen utama (AKU). Dalam penelitian ini, variabel-variabel terpilih yang dianalisis dengan menggunakan teknik PCA antara lain jumlah penduduk (jiwa), jarak kecamatan ke kabupaten (km), jumlah kepala keluarga (kk), sarana dan prasarana umum (unit), sarana dan prasarana budidaya laut (unit), jumlah komoditas budidaya laut (jenis), keluarga pemakai PLN (kk), desa/kelurahan terpencil (desa), jumlah keluarga prasejahtera (kk), jumlah keluarga sejahtera (kk), jumlah pembudidaya rumput laut (jiwa), potensi lahan budidaya laut (ha), luas lahan budidaya laut (ha), produksi rumput laut (ton). Keragaman setiap variabel disajikan pada Tabel 24. Tabel 24 Keragaman variabel yang menggambarkan perkembangan wilayah di Kabupaten Kupang Kecamatan No Variabel Kupang Semau Sulamu Barat 1 Jumlah penduduk (jiwa) 11.395 6.425 14.610 2 Jarak kecamatan ke kabupaten (km) 26 28 84 3 Jumlah kepala keluarga (kk) 2.473 1.632 3.193 4 Sarana dan prasarana umum (unit) 2.990 3.306 4.402 Sarana dan prasarana budidaya laut 5 137 107 242 (unit) 6 Jumlah komoditas budidaya laut (jenis) 3 2 4 7 Keluarga pemakai PLN (kk) 1.752 1.107 1.206 8 Desa/kelurahan terpencil (desa) 2 0 0 9 Jumlah keluarga prasejahtera (kk) 668 516 1.270 10 Jumlah keluarga sejahtera (kk) 1.047 678 991 11 Jumlah pembudidaya rumput laut (jiwa) 1.663 995 200 12 Potensi lahan budidaya laut (ha) 3824 952 750 Luas lahan pemanfaatan budidaya laut 13 952 121,3 750 (ha) 14 Produksi rumput laut (ton) 27.000 19.000 1.041,86 Sumber : BPS Kabupaten Kupang, 2010 dan DKP Kabupaten Kupang, 2008 Hasil analisis komponen utama menunjukkan bahwa setiap variabel memberikan pengaruh yang berbeda-beda antara satu variabel dengan variabel lainnya yang menggambarkan keragaman tipologi wilayah pengembangan 114 kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. Namun demikian, keragaman tipologi wilayah yang disebabkan oleh keseluruhan variabel yang dapat dianalisis dapat disederhanakan menjadi kelompok variabel yang lebih kecil yang dapat menggambarkan keseluruhan informasi yang terkandung dalam semua variabel. Berdasarkan ketetapan total persentasi kumulatif sebagaimana ditetapkan oleh Iriawan dan Astuti yaitu sebesar 80–90%, maka dari 14 variabel yang dianalisis, dapat disederhanakan menjadi 5 variabel yang menyebar dalam dua komponen utama (PC) yaitu komponen utama 1 (PC1), dan komponen utama 2 (PC2) dengan nilai proposi eigenvalue masing-masing 61,4% dan 38,6% atau persentase kumulatifnya menjadi 100%. Hasil analisis komponen utama seperti terlihat pada Lampiran 17. Adapun variabel-variabel dari kedua komponen utama (PC1 dan PC2) hasil penyederhanaan variabel meliputi jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, jumlah sarana dan prasarana umum, jumlah komoditas budidaya laut, dan banyaknya keluarga pra sejahtera. Ini berarti kelima variabel tersebut di atas dapat menjelaskan variabilitas keempat belas variabel yang berpengaruh terhadap tipologi wilayah pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang atau dengan kata lain kelima variabel baru hasil analisis komponen utama dapat menjelaskan sekitar 100% (totalitas variabilitas variabel). Adanya perbedaan tipologi wilayah terhadap kecamatan di Kabupaten Kupang sangat dipengaruhi oleh keragaman variabel-variabel spesifisik yang dimiliki oleh setiap desa pada setiap kecamatan. Namun demikian keragaman setiap variabel pada setiap desa dapat dikelompokkan menjadi kelompok variabel yang lebih kecil dan homogen berdasarkan kemiripan setiap variabel yang dimiliki oleh setiap desa. Untuk mengelompokkan desa-desa yang memiliki kemiripan berdasarkan keragaman variabel, dapat dilakukan dengan analisis cluster. Tujuan dari analisis cluster terhadap desa-desa di kecamatan adalah memaksimumkan keragaman antar kelompok desa dan meminimumkan keragaman antar kelompok desa. Dalam analisis cluster ini, ada 24 desa di tiga kecamatan wilayah studi masing-masing 9 desa di Kecamatan Kupang Barat, 8 desa di Kecamatan Semau, dan 7 desa di Kecamatan Sulamu, dimana 24 desa tersebut akan dibagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil berdasarkan kemiripan karakateristik yang dimiliki. Karakteristik setiap desa disajikan pada Lampiran 18 dan hasil analisis cluster dapat dilihat pada Gambar 19. 117 Berdasarkan kemiripan karakteristik desa yang dimiliki setiap tipologi wilayah kecamatan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum tipologi wilayah I terlihat lebih berkembang dibandingkan dengan tipologi wilayah II dan III. Namun demikian untuk tujuan pengembangan kawasan minapolitan ke depan di Kabupaten Kupang, maka semua kelompok desa baik yang termasuk dalam tipologi I, II dan III ini memerlukan penanganan yang serius terutama dalam melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan, baik sarana dan prasarana umum maupun sarana dan prasarana pendukung kegiatan perikanan budidaya. Hasil analisis tipologi kawasan Kabupaten Kupang disajikan pada Tabel 25. Sarana dan prasarana budidaya laut yang perlu dibenahi seperti lahan budidaya laut (perairan yang kesesuaiannya sesuai peruntukan jenis budidaya laut), lembaga usaha (koperasi, kelompok usaha atau usaha skala menengah dan atas), penyuluhan dan pelatihan (lembaga dan sumberdaya manusia untuk penyuluhan dan pelatihan), prasarana budidaya (alat dan mesin budidaya laut), industri pengolahan, energi (jaringan listrik dan air yang memadai), dan penerapan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan daya saing budidaya laut (seperti teknologi kantung berkarbon untuk budidaya rumput laut ), selain itu juga, dibutuhkan aksesibilitas nelayan/pembudidaya dan pengolah hasil budidaya yang baik sehingga dapat meningkatkan produktifitas budidaya laut. Prasarana infrastruktur seperti jalan, jembatan, sistem dan alat transportasi baik darat maupun laut perlu dibenahi sehingga proses budidaya dari hulu ke hilir sehingga akses terhadap jaringan pengadaan bahan baku, pengolahan, dan pemasaran (mata rantai pemasokan-supply chains) dapat terhubung dengan baik. Karakteristik kawasan minapolitan salah satunya adalah mempunyai sarana dan prasarana yang memadai sebagai pendukung keanekaragaman aktivitas ekonomi sebagaimana layaknya sebuah kota. Dari analisis tipologi wilayah yang telah dilakukan pada desa-desa di 3 kecamatan menunjukkan bahwa sarana dan prasarana umum yang telah ada di masing-masing desa dalam keadaan baik dan mencukupi kebutuhan masyarakat sekarang. Namun demikian, hasil analisis tipologi wilayah di Kabupaten Kupang yang terbagi atas 3 kelas perlu dibenahi sarana dan prasarana umum dan budidaya laut agar dapat dikembangkan menjadi kawasan minapolitan berbasis budidaya laut dan mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kupang. 118 6.3.2 Perkembangan Wilayah berdasarkan Kelengkapan Fasilitas Tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Kupang sangat berhubungan dengan potensi sumberdaya alam, potensi sumberdaya manusia, maupun kelengkapan fasilitas yang dimiliki. Dilihat dari potensi sumberdaya manusia, wilayah ini memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Dari tiga kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang telah memiliki jumlah penduduk sekitar 32.430 jiwa (BPS Kabupaten Kupang, 2010). Jumlah penduduk yang cukup besar ini telah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai satu kawasan pengembangan minapolitan, hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa sebagian besar penduduk bahkan seluruh penduduk di kecamatan yang berada di wilayah pesisir mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan/pembudidaya dan menggantungkan hidupnya dari laut. Namun permasalahan yang dihadapi adalah bahwa kualitas sumberdaya manusia di wilayah ini masih tergolong rendah, mereka hanya dapat mengecap pendidikan dasar bahkan sedikit yang melanjutkan ke tingkat lanjutan (SLTP dan SLTA). Rendahnya kualitas sumberdaya manusia di wilayah ini, disebabkan oleh minimnya sarana pendidikan terutama sarana pendidikan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dilihat dari potensi sumberdaya alam, sektor perikanan merupakan tulang punggung penggerak perekonomian di wilayah Kabupaten Kupang, baik sebagai sumber konsumsi masyarakat dan penghasilan atau penyedia lapangan kerja sebagian besar penduduknya, maupun sebagai penghasil nilai tambah dan devisa daerah. Dari keseluruhan penduduk, sekitar 90% masyarakatnya adalah keluarga nelayan/pembudidaya. Mereka menggantungkan hidup dan keluarga dari kegiatan perikanan baik tangkap dan budidaya. Namun demikian fasilitas pendukung untuk meningkatkan produksi perikanan mereka masih minim, sehingga produksi perikanan mereka masih belum maksimal. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki, wilayah ini memiliki fasilitas yang beragam dari fasilitas yang sangat minim sampai fasilitas yang lebih lengkap yang menyebar pada setiap desa. Untuk mengetahui tingkat perkembangan kawasan pengembangan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang dapat dilakukan dengan menggunakan analisis skalogram. Dalam analisis skalogram, akan dihasilkan hirarki wilayah berdasarkan kelengkapan fasilitas yang dimiliki, dimana hirarki wilayah yang paling tinggi ditentukan oleh 119 semakin banyaknya jenis dan jumlah fasilitas yang dimiliki dan demikian sebaliknya, semakin sedikitnya fasilitas yang dimiliki terutama dari segi jenis fasilitas, menggambarkan semakin rendahnya hirarki wilayah. Fasilitas-fasilitas yang dapat dikaji berupa fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas penunjang lainnya seperti fasilitas pendukung budidaya laut. Hirarki wilayah desa berdasarkan hasil analisis skalogram pada tiga kecamatan di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26 Hirarki wilayah desa dari tiga kecamatan pesisir di Kabupaten Kupang berdasarkan kelengkapan fasilitas No 1 Kecamatan Kupang Barat Desa Jumlah penduduk (Jiwa) Tablolong Lifuleo 2 3 Semau Sulamu Jumlah jenis Jumlah unit 1010 14 484 986 12 175 Tesabela 1015 19 259 Sumlili 1492 16 346 Oematnunu 1643 20 368 Kuanheun 1336 13 229 Nitneo 1073 14 255 Bolok 2273 15 736 Oenaek 567 11 138 Bokonusan 978 20 493 Otan 767 23 636 Uitao 745 23 473 Huilelot 699 21 331 Uiasa 1153 25 381 Hansisi 1276 24 673 Batuinan 333 14 198 Letbaun 474 14 121 Sulamu 4589 26 932 Pitai 942 19 246 Pariti 3203 21 1276 Oeteta 2435 24 1030 Bipolo 1792 21 567 Pantulan Pantai Beringin 1134 16 174 515 14 177 Sumber : BPS Kabupaten Kupang, 2010 Hasil analisis skalogram pada Tabel 26 menunjukkan bahwa desa yang menduduki hirarki wilayah tertinggi berdasarkan kelengkapan jenis fasilitas yang dimiliki adalah Kelurahan Sulamu dengan jumlah jenis dan banyaknya fasilitas 120 sebanyak 26 jenis dan 932 unit. Jumlah penduduk yang bermukim di desa ini sekitar 4589 jiwa dengan kepadatan penduduk hanya sekitar 139 jiwa/km2. Kelurahan Sulamu merupakan ibukota Kecamatan Sulamu dengan jarak tempuh yang dekat ke Kota Kupang jika ditempuh dengan transportasi laut seperti feri. Desa ini lebih terlihat lebih berkembang dibandingkan desa-desa lainnya, hal ini dicirikan dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki baik fasilitas umum maupun fasilitas pendukung, seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas penunjang lainnya seperti fasilitas pendukung budidaya laut. Fasilitas pendidikan cukup lengkap seperti Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) baik negeri maupun swasta. Fasilitas kesehatan juga tersedia cukup lengkap. Desa ini telah memiliki fasilitas kesehatan seperti puskesmas, puskesmas pembantu, BKIA/polindes dan posyandu. Sedangkan fasilitas sosial dan kelembagaan juga sudah tersedia seperti sarana ibadah baik agama kristen protestan, kristen khatolik dan islam, sarana telekomunikasi, koperasi unit desa (KUD) dan lembaga penyuluh dan pelatihan untuk nelayan/pembudidaya. Hirarki wilayah desa paling rendah adalah desa Oenaek di kecamatan Kupang Barat. Jumlah penduduk yang bermukim di desa ini sekitar 567 jiwa dengan kepadatan penduduk hanya sekitar 40 jiwa/km2. Jumlah jenis dan banyaknya fasilitas sebanyak 11 jenis dan 138 unit yang merupakan jumlah yang sangat minim dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Desa Oenaek cukup jauh dari ibukota kecamatan maupun ibukota kabupaten. Untuk menuju ke wilayah ini dibutuhkan perjalanan sejauh 32,5 km dari ibukota kabupaten. Di desa ini hanya memiliki satu SD swasta, satu polindes dengan satu tenaga bidan, dua posyandu, dua gereja bagi agama kristen protestan, tidak ada lembaga koperasi dan perputaran ekonomi hanya pada sembilan kios kecil. Fasilitas lainnya tidak tersedia pada desa ini. Pengelompokkan hirarki wilayah desa dapat dilakukan dengan analisis sentralitas. Dalam analisis kelengkapan fasilitas yang sentralitas, dimiliki tiap parameter desa. yang Hasil diukur analisis ini adalah akan menggambarkan tingkat perkembangan desa yang dapt dibagi atas tiga kelompok yaitu : a. Kelompok I adalah desa dengan tingkat perkembangan tinggi (maju) yaitu apabila memiliki nilai indeks sentralitas jenis fasilitas sebesar nilai rata-rata + 2 kali standar deviasi. 131 Pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu pada kata “empowerment” yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang bepusat pada manusia (peoplecentered development) sumberdaya lokal ini kemudian (community-based melandasi wawasan pengelolaan yang merupakan management), mekanisme perencanaan people-centered development yang menekankan pada teknologi pembelajaran sosial (social learning) dan strategi perumusan program. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengaktualisasikan dirinya (empowerment). Pengelolaan berbasis masyarakat atau biasa disebut community-based management merupakan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan masyarakat lokal sebagai dasar pengelolaanya. Selain itu mereka juga memiliki akar budaya yang kuat dan biasanya tergabung dalam kepercayaannya (religion). Definisi pengelolaan berbasis masyarakat sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, di mana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut. Undang-undang No.31 tahun 2004 tentang perikanan dalam pasal 6 ayat (2) berbunyi : Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran-serta masyarakat. Dengan demikian sumberdaya manusia Kabupaten Kupang haruslah menjadi tolak ukur dari faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut. Setelah faktor sumberdaya manusia ditingkatkan, maka faktor selanjutnya adalah penetapan kebijakan pemerintah mengenai pengembangan kawasan minapolitan. Pengertian dari penetapan kebijakan pemerintah ini adalah perlu adanya suatu komitmen yang kuat dari pemerintah terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Kupang dalam hal budidaya laut. Hal ini telah ditegaskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004 yang mengamanatkan arah kebijakan pembangunan daerah kawasan timur Indonesia yaitu (1) mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat 132 dengan memberdayakan pelaku dan potensi daerah, serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan (2) meningkatkan pembangunan di seluruh daerah, terutama di kawasan timur Indonesia dengan berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Amanat GBHN ini selanjutnya dijabarkan dalam Undang-undang No. 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional (propenas) 2000-2004 yang menekankan bahwa program peningkatan ekonomi wilayah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah dengan memperhatikan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif daerah melalui peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap faktor-faktor produksi, peningkatan kemampuan kelembagaan ekonomi lokal dalam menunjang proses kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran serta menciptakan iklim yang mendukung bagi investor di daerah yang menjamin berlangsungnya produktivitas dan kegiatan usaha masyarakat dan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Sasaran yang ingin dicapai adalah berkembangnya ekonomi wilayah yang menunjang perluasan kesempatan kerja dan berusaha, serta keterkaitan ekonomi antara desa-kota dan antar wilayah yang saling menguntungkan. Menyikapi konsep minapolitan oleh kementerian kelautan dan perikanan dalam Peraturan Menteri No. 12 tahun 2010 tentang minapolitan yang bertujuan meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas produk kelautan dan perikanan; meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan yang adil dan merata; dan mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah; penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah Kabupaten Kupang dalam menetapkan kebijakan pengembangan wilayah di sektor kelautan. Setelah penetapan kebijakan pengembangan kawasan minapolitan, maka faktor selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya alam, permodalan dan pemasaran. Dari segi sumberdaya alam, wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan sektor kelautan terutama budidaya laut. Hal ini terlihat dari kondisi kesesuaian perairan laut yang sangat mendukung bagi sektor kelautan tersebut. Dari sisi permodalan, umumnya nelayan/pembudidaya di wilayah ini menggunakan modal sendiri dalam kegiatan budidaya. Sedangkan dari sisi pemasaran, wilayah Kabupaten Kupang memiliki jarak tempuh yang dapat dijangkau dengan sarana transportasi laut maupun darat dengan pelabuhan 135 menjaga kualitas (mutu) pemenuhan kebutuhan tersebut sehingga dihasilkan daya saing bersama untuk kepentingan bersama. 3. Penguatan kelembagaan nelayan/pembudidaya baik kelembagaan non formal seperti pengajian/kebaktian, kelompok arisan, kelompok gotong royong, karang taruna, paguyuban, dan pedagang pengumpul desa (PPD) maupun kelembagaan formal seperti kelompok nelayan/pembudidaya dan balai penyuluhan perikanan budidaya (BPPB), lembaga keuangan, unit/pengelola kawasan budidaya, dan pusat pelatihan dan konsultasi milik nelayan/pembudidaya yang masing-masing harus berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Misalnya BPPB, bertugas memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada nelayan/pembudidaya dan pelaku minabisnis lainnya, lembaga keuangan bertugas mengurus fungsi perkreditan, unit/pengelola kawasan budidaya bertugas mensinergikan semua program/proyek dan investasi yang masuk dalam kawasan minapolitan, dan pusat pelatihan dan konsultasi milik nelayan/pembudidaya berfungsi sebagai klinik konsultasi minabisnis yaitu pusat pelayanan jasa konsultasi, pelayanan informasi pasar, dan tempat pelatihan. Keterlibatan berbagai aktor selain nelayan/pembudidaya diharapkan untuk lebih mengembangkan sistem dan usaha budidaya di kawasan minapolitan. Pedagang dan perusahaan memegang peranan penting dalam menanamkan investasinya untuk pengembangan minapolitan, penyediaan input budidaya, pengolahan hasil budidaya, dan pemasaran hasil dan produk olahan budidaya. Lembaga keuangan seperti perbankan diperlukan dalam permodalan usaha nelayan/pembudidaya dan kegiatan budidaya. Sedangkan pemerintah sangat diharapkan sebagai motivator dan fasilitator dalam pengembangan kawasan minapolitan, baik pemerintah pusat dan terutama pemerintah daerah. Peran pemerintah kabupaten, dalam hal ini dinas dan instansi yang terkait dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Dinas kelautan dan perikanan berperan dalam (a) memfasilitasi, melakukan kontrol dan menjamin ketersediaan input dan teknologi budidaya, (b) memfasilitasi ketersediaan sarana pendukung (yang dapat diakses nelayan/pembudidaya secara tepat waktu), dan (c) memfasilitasi penyuluhan yang partisipatif yang berparadigma self-helf. 2. Dinas pekerjaan umum (PU) dan dinas permukiman dan prasarana wilayah (Kimpraswil) berperan dalam melaksanakan pengembangan infrastruktur 136 transportasi dan infrastruktur lainnya yang diperlukan dalam pengembangan kawasan minapolitan. 3. Badan perencanaan pembangunan daerah (BAPPEDA) berperan dalam (a) melakukan koordinasi penganggaran dan perencanaan pembangunan kawasan dan (b) merumuskan kebijakan tentang pengaturan kejelasan penggunaan lahan untuk budidaya laut dalam bentuk peraturan daerah (Perda). c. Alternatif Lokasi Industri Pengolahan dan Pasar Alternatif penentuan lokasi industri pengolahan hasil budidaya laut yang potensial atau paling cocok dijadikan lokasi pengembangan usaha pengolahan budidaya laut. Dalam penelitian ini, terdapat 4 alternatif lokasi industri pengolahan yaitu Desa Tablolong di Kecamatan Kupang Barat, Kelurahan Sulamu di Kecamatan Sulamu, Desa Uiasa di Kecamatan Semau, dan Kota Kupang yang mewakili Ibukota Kupang, sedangkan kriteria yang dipakai dalam pemilihan lokasi industri pengolahan budidaya laut potensial adalah ketersediaan lahan, kemudahan akses dengan sumber bahan baku, ketersediaan sarana transportasi, ketersediaan sarana komunikasi, ketersediaan air, ketersediaan listrik, ketersediaan tenaga kerja, dan kondisi sosial ekonomi. Kriteria yang dipakai merupakan hasil wawancara dengan para pakar. Penentuan lokasi ini dilakukan dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE), urutan prioritas lokasi terpilih ditentukan dengan mencari total dari alternatif-alternatif lokasi pengolahan yang sudah diinput dari nilai yang terbesar hingga terkecil. Lokasi yang dianalisis adalah lokasi yang diharapkan memang untuk lokasi industri dan dekat dengan lokasi produksi budidaya laut di Kabupaten Kupang, sedangkan untuk pertimbangan pemilihan lokasi di Kota Kupang karena adanya pembangunan sarana pelabuhan minapolitan yang akan berlokasi di Kota Kupang. Hasil perhitungan MPE untuk prioritas lokasi industri pengolahan dapat disajikan pada Tabel 28. Tabel 28 Prioritas lokasi industri pengolahan hasil budidaya laut Prioritas Lokasi Potensial 1 Lokasi Potensial 2 Lokasi Potensial 3 Lokasi Potensial 4 Alternatif Pilihan Desa Tablolong Kota Kupang Kelurahan Sulamu Desa Uiasa Nilai MPE 522.593.505 475.612.981 405.832.098 405.028.437 137 Dari Tabel 28 dapat disimpulkan bahwa Desa Tablolong menjadi prioritas pertama untuk dijadikan sebagai lokasi usaha industri pengolahan yang paling cocok, dengan nilai MPE 522.593.505. Hal ini dikarenakan desa tersebut merupakan sentra produksi rumput laut, sehingga mudah dalam memasok bahan baku untuk industri rumput laut. Desa Tablolong masih memiliki lahan kosong cukup luas, dekat dengan Ibukota Kupang dan dapat ditempuh dengan transportasi darat, dan cukup baiknya ketersediaan sarana transportasi, komunikasi, listrik, dan tenaga kerja. Hal lain yang menjadikan Desa Tablolong sebagai lokasi prioritas adalah sebagian besar penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan/pembudidaya, sehingga membuat desa ini sebagai desa contoh terutama dalam hal budidaya rumput laut. Daerah yang menjadi lokasi usaha pengolahan budidaya laut urutan kedua adalah Kota Kupang, diikuti dengan Kelurahan Sulamu dan Desa Uiasa. Prakiraan lokasi pasar produk budidaya laut dalam penelitian ini masih memakai alternatif lokasi yang sama seperti lokasi industri pengolahan yaitu Desa Tablolong, Desa Uiasa, Kelurahan Sulamu, dan Kota Kupang. Kriteria yang dipakai dalam analisis MPE prakiraan pasar diambil dari hasil diskusi dengan pakar. Kriteria yang digunakan dalam prakiraan pasar adalah permintaan produk, jarak tempuh ke lokasi pasar, fasilitas pasar, jumlah pengunjung, dan kenyamanan. Dari hasil analisis MPE untuk prakiraan pasar produk hasil budidaya laut disajikan pada Tabel 29. Tabel 29 Prakiraan lokasi pasar hasil budidaya laut Prioritas Alternatif Pilihan Nilai MPE Lokasi Potensial 1 Lokasi Potensial 2 Lokasi Potensial 3 Lokasi Potensial 4 Kota Kupang Kelurahan Sulamu Desa Tablolong Desa Uiasa 531.466.299 175.410.631 174.767.237 81.002.903 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa Kota Kupang menjadi prioritas pertama untuk dijadikan sebagai lokasi pasar hasil budidaya laut yang paling cocok, dengan nilai MPE 531.466.299. Kenyataannya, Kota Kupang menjadi pusat perdagangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadikannya lokasi pasar unggulan dibandingkan alternatif lokasi lainnya atau dengan kata lain sentra pasar pusat bertempat di Kota Kupang. Kriteria-kriteria pasar yang ada dalam analisis ini seperti permintaan produk, jarak dan fasilitas pasar di Kota 138 Kupang lebih unggul dibandingkan alternatif lokasi lainnya yang jarak tempuhnya jauh dan sebagian besar belum memiliki fasilitas pasar yang memadai seperti gedung, gudang, air bersih, listrik, pengelolaan limbah, sistem keamanan dan sebagainya. Banyaknya pengunjung dari luar kota yang singgah di Kota Kupang dapat meningkatkan permintaan produk budidaya laut. Sedangkan untuk urutan prioritas pasar berikutnya adalah Kelurahan Sulamu, Desa Tablolong, dan Desa Uiasa. Ketiga alternatif lokasi pasar ini dapat menjadi sentra pasar kecamatan yang akan mengirimkan hasil produk pengolahan budidaya laut yang ada di kecamatan ke sentra pasar pusat di Kota Kupang. Untuk itu perlu adanya kerjasama yang baik antara wilayah kecamatan, kabupaten dan kota. Pola kerjasama yang baik sangat mempengaruhi keberhasilan pengembangan kawasan minapolitan. Berikutnya kerjasama ini akan dibahas lebih lanjut dalam sub-bab pendekatan sistem dengan metode ISM (interpretative structural modelling). Pasar mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian. Pasar juga dapat dijadikan sumber pendapatan pemerintah untuk membiayai pembangunan melalui pajak dan retribusi. Banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan pasar, berarti pasar turut membantu mengurangi pengangguran, memanfaatkan sumber daya manusia, serta membuka lapangan kerja. Pasar sebagai sarana distribusi, berfungsi memperlancar proses penyaluran hasil olahan budidaya laut dari produsen (pembudidaya) ke konsumen, dengan adanya pasar, produsen dapat berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menawarkan hasil produksinya kepada konsumen. Pasar dikatakan berfungsi baik jika kegiatan distribusi barang dan jasa dari produsen ke konsumen berjalan lancar. Pasar dikatakan tidak berfungsi baik jika kegiatan distribusi seringkali macet, oleh karena itu diperlukan prasarana dan sarana pendukung transportasi dan distribusi yang baik dalam akses menuju pasar. Prioritas pasar yang ada di ketiga desa/kelurahan ini merupakan pasar tradisional yang ada dalam kelompok masyarakat, nantinya dari pasar tradisional inilah yang akan menjadi sentra pemasaran daerah skala mikro. Dari sentra pemasaran mikro ini yang akan dikembangkan atau ditingkatkan jumlah dan kualitasnya menjadi skala menengah keatas (skala nasional) sehingga berdaya saing tinggi untuk di import ke luar negeri. 149 6.4 Kesimpulan Tingkat perkembangan wilayah termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II. Untuk meningkatkan strata kawasan, variabel lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, jumlah sarana dan prasarana umum, jumlah komoditas budidaya laut, dan banyaknya keluarga pra sejahtera. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Masyarakat wilayah Kabupaten Kupang setuju bila daerahnya dikembangkan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut, untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Dalam hal ini peran masyarakat nelayan dan industri pengolahan hasil budidaya laut sangat diperlukan untuk Kabupaten Kupang. menjamin kesuksesan pengembangan minapolitan di 7 STATUS KEBERLANJUTAN KABUPATEN KUPANG Abstrak Keberlanjutan merupakan dasar dalam pembangunan kelautan dan perikanan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan masyarakat. Konsep keberlanjutan dalam pembangunan kelautan dan perikanan telah dipahami saat ini, namun dalam menganalisis atau mengevaluasi keberlanjutan pembangunan kelautan dan perikanan sering dihadapkan dengan permasalahan mengeintegrasikan informasi/data dari keseluruhan komponen (secara holistik), baik aspek ekologi, ekonomi, sosial-budaya, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Metode analisis keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan dilakukan dengan pendekatan multidimensional scaling (MDS) yang disebut juga dengan pendekatan Rap-MINAKU (rapid appraisal Minapolitan Kabupaten Kupang) dan hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks dan status keberlanjutan. Untuk mengetahui atribut yang sensitif berpengaruh terhadapindeks dan status keberlanjutan dan pengaruh galat, dilakukan analisis leverage dan monte carlo. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi ekologi berada pada status cukup berkelanjutan (72,26%), dimensi ekonomi status cukup berkelanjutan (62,84%), dimensi sosial-budaya status berkelanjutan (78,67%), dimensi infrastruktur/teknologi status kurang berkelanjutan (46,93%), serta dimensi hukum dan kelembagaan status kurang berkelanjutan (49,84%). Dari 48 atribut yang dianalisis, 18 atribut yang perlu segera ditangani karena sensitif berpengaruh terhadap peningkatan indeks dan status keberlanjutan dengan tingkat galat (error) yang sangat kecil pada tingkat kepercayaan 95%. Dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan adalah skenario progresif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif dalam peningkatan status kawasan. Kata kunci : status keberlanjutan, MDS, Kabupaten kupang 7.1 Pendahuluan Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No.12 Tahun 2010 tentang minapolitan Bab III Pasal 5 Butir (2) yang menyatakan bahwa pengembangan kawasan minapolitan dimulai dari pembinaan unit produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran yang terkonsentrasi di sentra produksi, pengolahan dan/atau pemasaran di suatu kawasan yang diproyeksikan atau direncanakan menjadi kawasan minapolitan yang dikelola secara terpadu. Dalam pengelolaan kawasan minapolitan terpadu perlu adanya integrasi setiap kepentingan dalam keseimbangan (proporsionality) antar dimensi ekologis, dimensi sosial, antar sektoral, disiplin ilmu dan segenap pelaku pembangunan (stakeholders). Tujuan dari pengelolaan ini adalah untuk mewujudkan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. 152 Keberlanjutan merupakan dasar dalam pembangunan kelautan dan perikanan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan masyarakat. Konsep keberlanjutan dalam pembangunan kelautan dan perikanan telah dipahami saat ini, namun dalam menganalisis atau mengevaluasi keberlanjutan pembangunan kelautan dan perikanan sering dihadapkan dengan permasalahan mengeintegrasikan informasi/data dari keseluruhan komponen (secara holistik), baik aspek ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Sejauh ini, untuk mengevaluasi keberlanjutan perikanan adalah dengan memakai pendekatan multidimensional scaling (MDS) yang merupakan salah satu alternatif pendekatan sederhana yang dapat digunakan untuk evaluasi status keberlanjutan dari perikanan, metode yang dipakai adalah Rapfish yaitu suatu teknik multi-diciplinary rapid appraisal untuk mengevaluasi comparative sustainability dari perikanan berdasarkan sejumlah besar atribut yang mudah diskoring. Rapfish akan menghasilkan gambaran yang jelas dan komprehensif mengenai kondisi sumberdaya dari lima dimensi di lokasi penelitian, sehingga akhirnya dapat dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk mencapai pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan yang berkelanjutan, perlu dikaji status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang dan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan, khususnya pemerintah Kabupaten Kupang, dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang ke depan untuk pengembangan kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang dari lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan.Status keberlanjutan setiap dimensi keberlanjutan ditentukan berdasarkan hasil analisis dari program analisis keberlanjutan (MDS) yang dinyatakan dalam bentuk nilai indeks keberlanjutan. Dengan mengetahui status keberlanjutan wilayah dari lima dimensi, akan memudahkan dalam melakukan perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap peningkatan status keberlanjutan wilayah, terutama pada dimensi keberlanjutan dengan status yang lebih rendah guna mendukung pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. 153 7.2 Metode Analisis Status Keberlanjutan Kabupaten Kupang 7.2.1 Jenis dan Sumber Data Dalam analisis keberlanjutan Kabupaten Kupang, jenis data yang dipakai berupa data primer yang bersumber dari para responden dan pakar terpilih, serta hasil pengamatan langsung di lokasi penelitian. Data primer meliputi atributatribut yang terkait dengan lima dimensi keberlanjutan pembangunan yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur/teknologi, serta hukum dan kelembagaan. 7.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam analisis keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan topik penelitian. 7.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data dalam analisis keberlanjutan ini terbagi atas dua bagian yaitu analisis multidimensional scaling (MDS) dan analisis prospektif. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kedua analisis tersebut. a. Analisis Multidimensional Scaling (MDS) Metode analisis keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan dilakukan dengan pendekatan multidimensional scaling (MDS) yang disebut juga dengan pendekatan Rap-MINAKU (rapid appraisal Minapolitan Kabupaten Kupang) yang merupakan pengembangan dari metode Rapfish (rapid assessment techniques for fisheries) yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Colombia (Kavanagh, 2001); yang kemudian digunakan dalam penelitian ini untuk menilai status keberlanjutan budidaya laut dan dinyatakan dalam indeks keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang (IKB-MINAKU). Pemilihan MDS dalam analisis Rap-MINAKU ini dilakukan berhubung hasil yang diperoleh terbukti lebih stabil dari metode multivariate analysis yang lain, seperti factor analysis dan multi-attribute utility theory (Pitcher and Preikshot, 2001). Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu (1) penentuan atribut pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan yang mencakup lima 154 dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial-budaya, infrastruktur/teknologi, dan hukum dan kelembagaan; (2) penilaian setiap atribut dalam skala ordinal berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi; dan (3) penyusunan indeks dan status keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang. Setiap atribut pada masing-masing dimensi diberikan skor berdasarkan scientific judgment dari pembuat skor. Rentang skor berkisar antara 0 – 3 atau tergantung pada keadaan masing-masing atribut yang diartikan mulai dari buruk (0) sampai baik (3). Nilai skor dari masing-masing atribut dianalisis secara multidimensional untuk menentukan satu atau beberapa titik yang mencerminkan posisi keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang untuk pengembangan kaawasan minapolitan yang dikaji relatif terhadap dua titik acuan yaitu titik baik (good) dan titik buruk (bad). Adapun nilai skor yang merupakan nilai indeks keberlanjutan setiap dimensi dapat dilihat pada Tabel 30. Tabel 30 Kategori status keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan berdasarkan nilai indeks hasil analisis Rap-MINAKU Nilai Indeks Kategori Nilai indeks Kategori 0 – 24, 99 Buruk 50 – 74,99 Cukup 25 – 49,99 Kurang 75 – 100,00 Baik Melalui metode MDS, maka posisi titik keberlanjutan dapat divisualisasikan melalui sumbu horisontal dan sumbu vertikal. Dengan proses rotasi, maka posisi titik dapat divisualisasikan pada sumbu horisontal dengan nilai indeks keberlanjutan diberi skor 0% (buruk) dan 100% (baik). Jika sistem dikaji mempunyai nilai indeks keberlanjutan lebih besar atau sama dengan 50% (50%), maka sistem dikatakan keberlanjutan (sustainable) dan tidak berkelanjutan jika nilai indeks kurang dari 50% (< 50%). Ilustrasi hasil ordinasi nilai indeks keberlanjutan dapat dilihat pada Gambar 36. Gambar 36 Ilustrasi penentuan indeks keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan dalam skala ordinasi 155 Nilai indeks keberlanjutan setiap dimensi dapat divisualisasikan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram). Untuk melihat atribut yang paling sensitif memberikan kontribusi terhadap indeks keberlanjutan pengembangan kawasan minapolitan, dilakukan analisis sensitivitas dengan melihat bentuk perubahan root mean square (RMS) ordinasi pada sumbu x. Semakin besar perubahan nilai RMS, maka semakin sensitif tersebut dalam pengembangan kawasan minapolitan. Dalam analisis tersebut di atas akan terdapat pengaruh galat yang dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kesalahan dalam pembuatan skor karena kesalahan pemahaman terhadap atribut atau kondisi lokasi penelitian yang belum sempurna, variasi skor akibat perbedaan opini atau penilaian oleh peneliti, proses analisis MDS yang berulang-ulang, kesalahan input data atau ada data yang hilang, dan tingginya nilai stres (nilai stres dapat diterima jika nilainya 1. Namun jika keuntungan budidaya laut ini dikaitkan dengan penggunaan biaya dalam kegiatan budidaya laut yang seharusnya dikeluarkan untuk mendukung peningkatan produksi, dapat dikatakan keuntungan ekonomi ini masih tergolong cukup rendah. Ini disebabkan masih banyaknya biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan untuk industri pengolahan dalam rangka peningkatan usaha budidaya laut ini. Demikian pula dalam hal biaya pemeliharaan dan biaya tenaga kerja penanganan panen dan pasca panen, termasuk biaya pengangkutan hasil panen ke tempat penyimpanan dan konsumen belum banyak diperhitungkan. Apabila biaya-biaya produksi tersebut di atas diperhitungkan tentunya akan berpengaruh terhadap keuntungan budidaya laut yang diperolehnya. Namun demikian, penggunaan biaya yang lebih besar dalam kegiatan budidaya laut diharapkan produksi budidaya laut yang diperoleh juga lebih tinggi. Beberapa program dari pemerintah daerah telah dilakukan dalam rangka lebih memberdayakan masyarakat dalam kegiatan perikanan dan kelautan, seperti peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui penyuluhan, pelatihan; 8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG Abstrak Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Di beberapa negara, industri yang berbasis klaster telah terbukti mampu menunjukkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam menembus pasar. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. Strategi ini yang dikenal dengan minapolitan. Kebijakan minapolitan ini bertujuan untuk pengembangan daerah. Untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, perlu dibangun model pengembangan kawasan minapolitan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini dan akan terjadi di masa depan dalam bentuk data simulasi berdasarkan kondisi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam membangun model ini digunakan metode analisis sistem dinamik dengan software Powersim. Model ini terdiri atas tiga sub model yaitu sub model lahan, budidaya dan industri pengolahan. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Kata kunci : model, pengembangan, rumput laut, sistem dinamik 8.1 Pendahuluan Wilayah Kabupaten Kupang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satu potensi yang dimiliki sesuai dengan karakteristik wilayahnya adalah sektor kelautan dan perikanan. Melihat potensi yang besar ini, maka pengembangan kawasan minapolitan merupakan pilihan tepat sebagai konsep pembangunan wilayah dengan menyesuaikan potensi dan karakteristik wilayah yang bersangkutan. Pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dimaksudkan agar terjadi peningkatan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. 176 Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktifitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Banyak permasalahan yang kompleks yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, yang sulit diselesaikan dengan hanya menggunakan suatu metode spesifik saja. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks tersebut adalah dengan pendekatan sistem (system approach). Pendekatan sistem dapat menyelesaikan masalah dengan baik bagi permasalahan multidisiplin yang kompleks (Manestch dan Park, 1977). Eriyatno, 1998 menyatakan bahwa pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Pendekatan sistem dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, perlu diketahui hubungan antar beberapa komponen yang saling berpengaruh satu sama lain baik pada usaha on farm maupun off farm. Untuk melihat hubungan antar komponen dalam pengembangan kawasan minapolitan tersebut perlu dibangun model yang merupakan simplikasi dari sistem. Sebagaimana diketahui bahwa model dapat dibedakan atas dua jenis yaitu model statik dan model dinamik, namun yang banyak digunakan adalah model dinamik karena memiliki variabel yang dapat berubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Melalui model dinamik dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang ini, dapat menggambarkan dunia nyata yang terjadi selama ini sekaligus sebagai proses peramalan dari suatu keadaan untuk masa yang akan datang. Melihat besarnya peran permodelan dalam pengembangan kawasan, dilakukan penelitian permodelan di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. 177 8.2 Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang 8.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang diperlukan dalam menyusun model pengembangan kawasan minapolitan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden dan pakar yang terpilih, serta dari berbagai instansi yang terkait dengan topik penelitian. Data primer yang diperlukan berupa faktor-faktor atau variabel penting yang berpengaruh dalam pengembangan minapolitan. Variabel tersebut diperoleh dari wawancara terhadap responden di lokasi penelitian. Data primer yang diperlukan berupa data yang berkaitan dengan kendala, kebutuhan, dan lembaga yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, sedangkan data sekunder yang diperlukan adalah data jumlah penduduk, luas lahan budidaya, rata-rata pendapatan penduduk, produksi komoditas unggulan, input produksi (bibit), dan harga produk. 8.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penyusunan model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengembangan kawasan minapolitan untuk pengumpulan data primer, dan beberapa kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian untuk pengumpulan data sekunder. 8.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang adalah sistem dinamik dengan bantuan software powersim constructor version 2.5d. Tahapan-tahapan dalam sistem dinamik meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, simulasi model, dan validasi model. Dalam analisis sistem dinamik ini akan dikaji tiga sub model yaitu sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran. a. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam pengembangan minapolitan. Berdasarkan kajian 178 pustaka, stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan ini dapat dilihat dalam Tabel 36. Tabel 36 Analisis kebutuhan aktor dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang No. 1. Aktor / stakeholder Masyarakat/nelayan 2. Pemerintah 3. Lembaga keuangan 4. Pedagang pengumpul & pedagang besar 5. Industri pengolahan 6. LSM 7. Perguruan tinggi 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 3.1 3.2 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 5.1 5.2 5.3 5.4 6.1 6.2 6.3 6.4 7.1 7.2 7.3 Kebutuhan Terbukanya lapangan kerja Produksi perikanan meningkat Tersedianya modal usaha Pemasaran yang baik dan tinggi Peningkatan pendapatan nelayan Tersedianya sarana produksi Harga jual yang tinggi Tersedianya sarana informasi Kebijakan kawasan minapolitan Pendapatan daerah meningkat Peningkatan kesejahteraan masyarakat Pengembangan potensi unggulan Pengembangan wilayah Kemitraan nelayan dengan pihak terkait Profitabilitas usaha Pengembalian pinjaman modal tepat waktu Kualitas hasil perikanan terjamin Harga beli yang rasional Kontinuitas hasil kelautan/perikanan Margin keuntungan tinggi Akses modal yang mudah Jaringan pemasaran yang kondusif Kontuinitas produksi & mutu yang terjamin Harga beli rasional Terjaminnya persediaan bahan baku Keamanan berusaha Lingkungan sehat Tidak terjadi konflik sosial Transportasi Good governance Kemitraan dengan perguruan tinggi Hasil kajian yang aplikatif Kualitas dan kuantitas hasil perikanan terjamin b. Identifikasi Sistem Identifikasi sistem merupakan suatu rangkaian hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan identifikasi sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktorfaktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem. Hubungan antar faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box). Dalam menyusun kotak gelap, 179 jenis informasi dikategorikan menjadi tiga golongan yaitu peubah input, peubah output, dan parameter-parameter yang membatasi struktur sistem. Gambaran diagram lingkar sebab-akibat dapat dilihat pada Gambar 46 dan diagram kotak gelap pada Gambar 47. Gambar 46 Diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang Gambar 47 Diagram kotak gelap (black box) pengembangan minapolitan 180 c. Simulasi Model Simulasi model merupakan cara untuk menirukan keadaan yang sesungguhnya (Robert, 1983), sedangkan menurut Muhammadi et al., 2001, simulasi model merupakan peniruan perilaku suatu gejala atau proses. Tujuan simulasi adalah untuk memahami gejala atau proses, membuat analisis, dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Dengan menggunakan dihubungkan perangkat lunak powersim, membentuk suatu sistem variabel-variabel yang dapat akan menirukan saling kondisi sebenarnya. Hubungan antar variabel dinamakan diagram alir (flow diagram), dimana variabel ini digambarkan dalam bentuk simbol yaitu simbol aliran (flow symbol) yang dihubungkan dengan level (level symbol). Penghubung antara flow dan level disebut proses aliran yang digambarkan melalui panah aliran. Hasil simulasi model berupa gambar atau grafik yang menggambarkan perilaku dari sistem. Kelebihan dilakukannya simulasi dalam analisis kesisteman adalah bahwa permasalahan yang penuh dengan ketidakpastian dan sulit dipecahkan dengan metode analisis lainnya, dapat diselesaikan dengan simulasi model. d. Validasi Model Terdapat dua pengujian dalam validasi model yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja lebih menekankan pemeriksaan yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). Uji validasi struktur bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Uji ini dibedakan atas dua jenis yaitu validasi konstruksi dan kestabilan struktur. Validasi konstruksi adalah keyakinan terhadap konstruksi model diterima secara akademis, sedangkan kestabilan struktur adalah keberlakuan atau kekuatan (robustness) struktur dalam dimensi waktu (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah dengan yang taat fakta, yaitu dengan melihat apakah perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Penyimpangan terhadap output model dengan data empiris dapat diketahui dengan uji statistik yaitu menguji penyimpangan rata-rata absolutnya (AME : Absolute Means Error) dan penyimpangan variasi absolutnya (AVE : Absolute Variation Error). Batas 181 penyimpangan yang dapat diterima berkisar antara 5 – 10% (Muhammadi et al., 2001). Adapun rumus untuk menghitung nilai AME dan AVE seperti di bawah ini : Rumus AME (Absolute Means Error) = (Si – Ai) / Ai x 100% …….……(16) Si = Si / N dan Ai = Ai / N dimana : S = Nilai simulasi A = Nilai aktual N = Interval waktu pengamatan Rumus AVE (Absolute Variation Error) = (Ss – Sa) / Sa x 100% …….…….(17) Ss = ((Si - Si)2) / N dan Sa = ((Ai - Ai)2) / N dimana : Sa = Deviasi nilai aktual Ss = Deviasi nilai simulasi N = Interval waktu pengamatan e. Uji Kestabilan Model Uji kestabilan model pada dasarnya merupakan bagian dari uji validasi struktur. Uji ini dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model agregat yang diwakili oleh sub-sub model yang ada. f. Uji Sensitivitas Model Uji sensitivitas merupakan respon model terhadap suatu stimulus. Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model. 8.3 Hasil dan Pembahasan Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang 8.3.1 Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang dibangun melalui logika hubungan antara komponen yang terkait dan interaksinya. Komponen-komponen yang terkait adalah pertumbuhan penduduk, luas lahan kawasan minapolitan, luas lahan permukiman, luas lahan industri, luas lahan budidaya, produksi dan keuntungan usaha nelayan, pendapatan pemanfaatan industri, biaya industri pengolahan, keuntungan, dan sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional 182 bruto (PDRB) Kabupaten Kupang. Model dinamik yang dibangun terdiri atas tiga sub model yang mewakili dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial yaitu (1) sub model lahan minapolitan yang menggambarkan perkembangan kebutuhan lahan untuk permukiman, budidaya, fasilitas, dan lahan untuk industri pengolahan serta dinamika pertumbuhan penduduk; (2) sub model budidaya laut yang menggambarkan perkembangan produksi, jumlah rumput laut yang dipakai pada kebun bibit, penjualan bibit, keuntungan dari pembibitan keuntungan usaha nelayan minapolitan; dan (3) sub model industri pengolahan rumput laut yang menggambarkan biaya pengolahan, keuntungan yang diperoleh dari hasil pengolahan serta PDRB. Perilaku model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang dianalisis dengan menggunakan program powersim constructor version 2.5d. Struktur model minapolitan ini dapat dilihat pada Gambar 48 dan persamaan model dinamis pada Lampiran 22. Analisis dilakukan untuk 30 tahun yang akan datang, dimulai pada tahun 2007 dan berakhir pada tahun 2037. Waktu 30 tahun ini diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang untuk masa jangka panjang. Beberapa data awal dan asumsi-asumsi yang digunakan dalam pemodelan ini antara lain : 1. Simulasi model minapolitan berbasis budidaya laut ini merupakan simulasi dari tiga kecamatan pesisir di Kabupaten Kupang yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Luas lahan minapolitan terdiri atas dua lahan yaitu lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. 2. Jumlah penduduk kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu masingmasing sebesar 6.280 jiwa, 14.234 jiwa dan 14.457 jiwa pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Kupang, 2008). Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian, namun saat ini faktor perpindahan penduduk juga mempunyai pengaruh yang cukup besar. Luas lahan perairan untuk pengembangan minapolitan budidaya laut masing-masing kecamatan sekitar 689,22 ha untuk Kecamatan Semau, 3040,47 ha untuk Kecamatan Kupang Barat, dan 365,34 ha untuk Kecamatan Sulamu. 3. Komoditas budidaya yang dimodelkan meliputi komoditas rumput laut yang merupakan komoditas unggulan di lokasi studi. Produksi budidaya rumput laut untuk Kecamatan Semau sebesar 600 ton dan Kecamatan Kupang Barat 183 sebesar 1.100 ton tahun 2007 sedangkan untuk Kecamatan Sulamu data tidak tersedia. 4. Hasil rumput laut akan diolah menjadi dodol dan pilus. Untuk mengolah tersebut dibutuhkan industri pengolahan dengan tenaga kerja. Pembudidaya rumput laut tahun 2007 di Kecamatan Semau sejumlah 995 jiwa dan Kecamatan Kupang Barat sejumlah 1650 orang. 5. Lahan budidaya adalah lahan dengan kelas sangat sesuai, sedangkan untuk lahan dengan kelas sesuai dan tidak sesuai dipakai sebagai lahan konservasi. 6. Sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Kupang dihitung dari PDRB perikanan yang meliputi komoditas rumput laut. Gambar 48 Struktur model dinamik pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut di Kabupaten Kupang a. Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan Sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Komponen-komponen yang saling berhubungan dan memberikan pengaruh pada sub model pengembangan lahan minapolitan adalah lahan budidaya, lahan 184 industri, dan lahan permukiman. Lahan minapolitan terdiri atas lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. Adapun pengaruh dari setiap komponenkomponen tersebut seperti pada Gambar 49. Gambar 49 Struktur model dinamik sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang Simulasi model dinamik untuk lahan minapolitan (Gambar 50) berawal dari luas perairan laut dengan kelas kesesuaian sangat sesuai untuk budidaya rumput laut dan luas lahan daratan yang terbagi atas dua bagian, yaitu (1) lahan industri adalah lahan yang dibutuhkan dari industri rumah tangga dan (2) lahan permukiman yang diasumsikan pemakaiannya sebesar 20 m2 per jiwa. Untuk pemodelan dinamis minapolitan laut hanya akan dimodelkan lahan budidaya rumput laut (perairan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai) saja, sehingga untuk pertimbangan lingkungan seperti kawasan konservasi laut diambil dari luas perairan dengan tingkat kesesuaian sesuai dan tidak sesuai tidak dimodelkan. Pemodelan dinamis minapolitan darat diasumsikan alokasi penggunaan lahan untuk kawasan industri pengolahan dan permukiman. Luas lahan industri pengolahan di dapat dari kebutuhan industri dodol dan pilus per rumah tangga (asumsi 100 m2 per industri rumah tangga). Pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang berada di tiga kecamatan yaitu Semau, Kupang Barat, dan Sulamu. Simulasi model dinamik alokasi penggunaan lahan Kecamatan Semau berawal dari luas lahan darat 143,42 km2 dan 6,89 km2 lahan di laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 5,94 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat 185 sesuai), sedangkan untuk kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 1,21 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 6.280 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,13%, tingkat kematian 0,53%, imigrasi 1,84% dan emigrasi 1,04%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Semau seperti pada Tabel 37. Tabel 37 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Semau Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Semau dari Tabel 37 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 1,21 km2 pada tahun 2007 menjadi 3,41 km2 pada tahun 2022 dengan laju pertambahan luas sebesar 15% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,13 km2 naik menjadi 4,77 km2 pada tahun 2037, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 1,94 km2 di tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 5,94 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka 186 meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Semau. Apabila simulasi ini dilakukan untuk jangka waktu 30 tahun dengan asumsi laju pertambahan pemanfaatan lahan budidaya sebesar 20%, maka pada tahun 2034 luas lahan budidaya rumput laut akan maksimal dibudidayakan dengan luas 5,94 km2 dengan jumlah petakan rumput laut sebesar 1.930 unit dan lahan industri rumah tangga membutuhkan luas industri 2,65 km2. Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Kupang Barat berawal dari luas lahan minapolitan darat 149,72 km2 dan 30,40 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 22,29 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 3,23 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan Laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.342 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,70%, tingkat kematian 0,47%, imigrasi 2,86% dan emigrasi 1,65%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Kupang Barat yang disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Kupang Barat Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Kupang Barat dari Tabel 38 menunjukkan terjadi penambahan luas 187 lahan budidaya rumput laut dari 3,23 km2 pada tahun 2007 menjadi 9,10 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 12,76 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun. Sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 5,17 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 22,29 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Kupang Barat, agar dapat memperoleh luas lahan budidaya maksimal dalam jangka waktu 30 tahun adalah menaikkan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 30% sehingga didapat lahan budidaya maksimal sebesar 22,24 km2 pada tahun 2034. Jika laju pertumbuhan luas lahan budidaya ditambah 30% per tahun maka akan terdapat penambahan unit longline rumput laut sebesar 7.414 unit petakan per 3000 m2 setiap tahun. Tabel 39 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Sulamu Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Sulamu berawal dari luas lahan minapolitan darat sebesar 270,12 km2 dan 3,65 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 3,20 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan 188 budidaya adalah 0,10 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.457 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,57%, tingkat kematian 0,80%, imigrasi 2,96% dan emigrasi 1,90%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Sulamu yang disajikan pada Tabel 39. Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Sulamu dari Tabel 39 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 0,10 km2 pada tahun 2007 menjadi 0,29 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 11,71 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 0,16 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 3,20 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Sulamu. Berbeda dengan Kecamatan Semau dan Kecamatan Kupang Barat, pada Kecamatan Sulamu ini perlu dilakukan pengembangan rumput laut sebesar-besarnya agar dapat memaksimalkan lahan budidaya rumput laut yang tersedia. Dalam rangka memaksimalkan lahan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan cara menaikkan laju pertumbuhan sebesar 140% untuk jangka waktu 30 tahun sehingga pada tahun 2036 didapatkan luas lahan budidaya rumput laut yang maksimal sebesar 3,16 km2 untuk jumlah petakan rumput laut sebesar 1.053 unit dan membutuhkan lahan industri sebesar 1,44 km2. Namun hal ini tidak mungkin dilakukan di Kecamatan Sulamu yang masih mengalami banyak kendala dan masalah dalam budidaya laut khususnya rumput laut, salah satu diantaranya adalah jumlah masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pembudidaya rumput laut tidak cukup untuk menggarap lahan budidaya tersebut, sehingga hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah melibatkan masyarakat Kecamatan Sulamu dalam pelatihan budidaya rumput laut sehingga kegiatan ekstensifikasi 191 b. Sub Model Budidaya Rumput Laut di Kawasan Minapolitan Sub model budidaya rumput laut menggambarkan hubungan beberapa komponen seperti luas lahan budidaya sebagai komponen utama dan selanjutnya diikuti oleh komponen lainnya seperti jumlah petakan rumput laut, kebutuhan bibit rumput laut, produksi rumput laut, dan keuntungan budidaya rumput laut. Stock flow diagram (SFD) sub model budidaya rumput laut disajikan pada Gambar 51. Gambar 51 Struktur model dinamik sub model budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang Peningkatan luas lahan khususnya lahan budidaya rumput laut akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi rumput laut. Dalam hal ini, peningkatan luas lahan untuk budidaya rumput laut akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi rumput laut yang kemudian akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan pembudidaya. Hubungan antar komponen ini merupakan hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing. Tabel 40 sampai 42 masing-masing untuk Kecamatan Semau, Kupang Barat, dan Sulamu menunjukkan peningkatan produksi rumput laut periode 2007–2037. Untuk sub model budidaya ini, simulasi berawal dari luas lahan budidaya rumput laut yang terbagi atas dua faktor utama yaitu jumlah unit longline rumput laut (selanjutnya disebut petakan) per 3000 m2 dan kebutuhan bibit rumput laut yang akan ditanam di pada petakan. Untuk jumlah petakan membutuhkan tenaga kerja yaitu 5 orang per petakan. Kebutuhan bibit rumput laut, dibutuhkan bibit 192 2400 kg per 3000 m2 (800 ton per km2), kemudian laju pengurangan panen rumput laut dipengaruhi oleh persen kematian rumput laut sebesar 10%, sedangkan laju pertambahan panen rumput laut dipengaruhi oleh kenaikan berat rumput laut yaitu 6 kali berat semula (200 gr) dan jumlah panen normal dalam 1 tahun sebanyak 6 kali panen. Setelah pemanenan dilakukan, proses berikutnya adalah penjemuran rumput laut untuk mendapatkan rumput laut kering. Dalam proses pengeringan ini, diasumsikan rendemen rumput laut sebesar 12,5% dari berat rumput laut basah sebelum dijual. Dalam sub model budidaya ini juga terdapat biaya operasional sebesar Rp63.312.000,00 per petak per tahun dan kenaikan modal sebesar 6% per tahun, kedua faktor ini yang mempengaruhi besarnya pengeluaran dalam produksi budidaya rumput laut ini. Biaya operasional merupakan biaya dari analisis kelayakan usaha (finansial) yang telah dibahas pada bab 5 pada disertasi ini. Penerimaan usaha budidaya rumput laut ini diperoleh dari hasil penjualan rumput laut kering dengan harga Rp10.000,00 per kg. Tabel 40 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau tahun 20072037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 10.707 ton dari 3.799 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 3.799 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 968 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 1,21 km2 dengan jumlah petakan 403 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp10.926.009.600,00 pada tahun 2007 menjadi Rp30.790.180.359,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Semau. 193 Tabel 40 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau Tabel 41 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 28.581 ton dari 10.142 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 10,142 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 2.584 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 3,23 km2 dengan jumlah petakan 1.077 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp29.166.124.800,00 pada tahun 2007 menjadi Rp82.191.969.058,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat. 194 Tabel 41 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat Tabel 42 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 885 ton dari 314 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 314 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 80 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 0,10 km2 dengan jumlah petakan 33 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp902.976.000,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.544.643.005,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu. 195 Tabel 42 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Peningkatan produksi usaha rumput laut ini akan berdampak pada peningkatan keuntungan usaha rumput laut yang diterima oleh pembudidaya. Hasil simulasi model dinamik menunjukkan peningkatan keuntungan usaha rumput laut mengikuti pertumbuhan yang cukup tajam dan membentuk pola pertumbuhan dari kurva sigmoid, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menjual hasil panen rumput laut kering saja dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Kupang, sehingga diperlukan suatu kontinuitas produksi rumput laut karena menguntungkan dan dapat mensejahterakan masyarakat sekitar pesisir. c. Sub Model Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut Sub model pengembangan industri pengolahan rumput laut kering merupakan bagian pemodelan untuk mengetahui pengaruh komponen- 196 komponen dalam pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam simulasi sub model ini terdapat beberapa komponen yang saling berpengaruh seperti jenis olahan rumput laut, kapasitas produksi, tenaga kerja, industri rumah tangga, biaya produksi, keuntungan penjualan hasil olahan, dan PDRB di Kabupaten Kupang. Pengaruh antar komponen dalam sub model ini disajikan dalam stock flow diagram (SFD) seperti terlihat pada Gambar 52. Gambar 52 Struktur model dinamik sub model industri pengolahan dan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kupang Berbeda dengan sub model budidaya, pada pemodelan industri pengolahan ini hasil panen rumput laut tidak dijual seluruhnya melainkan dibagi 10% untuk diolah menjadi makanan dan sisanya 90% dijual kering tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk rumput laut yang diolah, dibagi menjadi dua hasil olahan yaitu dodol dan pilus. Contoh hasil pengolahan dodol dan pilus yang telah dilakukan dapat dilihat pada Lampiran 23. Untuk pengolahan rumput laut saat ini berupa industri rumah tangga dengan tenaga kerja 5 orang per olahan pilus dan 5 orang per olahan dodol. Kapasitas produksi masing-masing dodol dan pilus sebesar 960 kg per tahun per industri rumah tangga. Untuk harga jual dodol Rp65.000,00 per kg dan harga jual pilus Rp55.000,00 per kg. Produk domestik regional bruto (PDRB) merupakan hasil sumbangan dari keuntungan penjualan dodol, pilus dan rumput laut kering. 197 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 43. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 3.779 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp33.427.311.170,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp10.589.022.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp29.840.530.378,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp8.689.322.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp24.487.056.624,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Semau dari rumput laut mencapai Rp94.200.259.521,00 pada tahun 2037. Tabel 43 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tabel 44 menyajikan hasil simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil 198 panen kering 10.142 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp89.231.582.710,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp28.266.564.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp79.656.952.992,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp23.195.464.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp65.366.275.120,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Kupang Barat dari rumput laut mencapai Rp251.460.196.902,00 pada tahun 2037. Tabel 44 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 45. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 314 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp2.762.587.700,00 199 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp875.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.466.159.535,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp718.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.023.723.688,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Sulamu dari rumput laut mencapai Rp7.785.145.415,00 pada tahun 2037. Tabel 45 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu Peningkatan setiap komponen yang ada dalam sub model industri ini mengikuti pertumbuhan kurva sigmoid sampai batas tertentu. Akibat keterbatasan lahan budidaya akan mengalami suatu titik kesetimbangan tertentu (stable equilibirium) dimana keuntungan dan peningkatan PDRB tidak dapat ditingkatkan lagi di kawasan minapolitan budidaya rumput laut ini, dan sub model pengolahan ini dapat dikatakan mengikuti pola (archetype) limit to growth dalam sistem dinamik. 200 8.3.2 Simulasi Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Kinerja model yang digambarkan dalam struktur sistem menggambarkan kondisi saat ini. Seiring dengan perjalanan waktu, maka akan terjadi perubahan kinerja sistem sesuai dengan dinamika waktu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, berdasarkan hal tersebut, disusun berbagai skenario pada model yang telah dibangun sebagai strategi yang dapat dilakukan ke depan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang. Skenario yang dibangun terdiri atas tiga skenario antara lain (1) skenario pesimis (2) skenario moderat, dan (3) skenario optimis. Skenario pesimis dapat diartikan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau terjadi perubahan yang sangat cepat dari keadaan yang perlu dihambat perkembangannya. Skenario moderat diartikan sebagai perubahan beberapa variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan tersebut lebih baik daripada skenario pesimis, sedangkan skenario optimis diartikan bahwa terjadi perubahan yang lebih besar dari variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan ini lebih baik dari skenario pertama dan kedua. Adapun variabel-variabel tersebut sebagai variabel kunci yang sangat berpengaruh pada kinerja sistem meliputi laju pertumbuhan lahan budidaya, persen kematian rumput laut, harga jual, kenaikan berat rumput laut dari berat semula (waktu ditanam), waktu panen dalam 1 tahun, dan persen olahan rumput laut. Variabel-variabel ini akan berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan di kawasan minapolitan, peningkatan produksi, tingkat keuntungan usaha nelayan, dan sumbangan terhadap PDRB. Hasil simulasi skenario model perubahan penggunaan lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Gambar 54. Model yang diskenariokan pada penggunaan lahan ini adalah lahan budidaya yang mengambil tempat di wilayah perairan Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Pada Gambar 54 terlihat bahwa perubahan tiga skenario dalam model ini menunjukkan perubahan yang berbeda-beda dimana perubahan yang lebih nyata terlihat dengan semakin bertambahnya tahun simulasi. Pada skenario optimis, peningkatan luas lahan budidaya sangat cepat sebagai akibat dari laju pertumbuhan sebesar 10% setiap tahun, sedangkan untuk skenario moderat 5% dan pesimis 3%. 209 Tabel 47 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Kupang Barat Tabel 48 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Sulamu 210 8.3.3 Uji Validasi Model Secara garis besar uji validasi model dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. a. Uji Validasi Struktur Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran atau dengan kata lain apakah struktur model yang dibangun sudah sesuai dengan teori. Secara logika, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan lahan. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk yang berasal dari kelahiran (natalitas) dan penduduk yang datang (imigrasi), serta pengurangan jumlah penduduk akibat kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk keluar wilayah (emigrasi). Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan luas lahan minapolitan (darat) mengikuti pola pertumbuhan kurva sigmoid dimana pada suatu waktu tertentu akan menemui titik keseimbangan (stable equilibrium) sesuai dengan konsep limits to growth (Meadows, 1985). Dalam hal ini terjadi proses reinforcing yang diimbangi oleh proses balancing. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan ketersediaan lahan yang dapat menjadi faktor pembatas dan menekan pertumbuhan penduduk. Lahan daratan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk alokasi permukiman penduduk, ruang fasilitas, penyediaan ruang terbuka hijau dan kawasan lindung, serta lahan untuk kegiatan industri pengolahan hasil budidaya laut; sedangkan lahan perairan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pengembangan produksi budidaya laut dan kegiatan pemanfaatan lain seperti arus lalu lintas/tempat parkir perahu/kapal, jarak antar rakit dan perlindungan ekosistem lainnya. Karena keterbatasan luas lahan, maka semakin luas penggunaan lahan untuk tujuan tertentu akan berpengaruh terhadap luas lahan untuk tujuan penggunaan lain. Dalam hal ini akan terjadi konversi lahan untuk memenuhi kebutuhan penggunaan lahan. Berkaitan dengan dengan lahan budidaya laut (perairan), terlihat bahwa semakin luas ketersediaan lahan budidaya akan berdampak pada semakin meningkatnya produksi usaha budidaya laut yang dihasilkan oleh nelayan/pembudidaya. Hal ini juga berdampak terhadap peningkatan keuntungan yang diperoleh. Namun demikian semakin tinggi intensitas penggunaan lahan budidaya akan menyebabkan tekanan terhadap lahan sehingga kualitasnya dapat menurun. Akibatnya produksi usaha budidaya laut juga akan menurunnya 211 keuntungan yang diperoleh petani. Ini berarti konsep Limits to Growth juga terjadi terhadap produksi dan keuntungan usaha budidaya laut minapolitan. Dengan melihat hasil simulasi model dinamik berdasarkan struktur model yang telah dibangun yang sesuai dengan konsep teori empirik seperti diuraikan di atas, maka model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang dapat dikatakan valid secara empirik. b. Uji Validasi Kinerja Uji validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem. Tujuan dari validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata, sehingga model yang dibuat memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja dilakukan dengan cara menvalidasi kinerja model dengan data empiris. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistik seperti uji penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (absolute means error = AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual (absolute variation error = AVE), dengan batas penyimpangan yang dapat diterima maksimal 10%. Dalam uji validasi kinerja, dapat digunakan satu atau beberapa komponen (variabel) baik pada komponen utama (main model) maupun komponen yang terkait (co-model) (Barlas, 1996). Dalam penelitian ini digunakan uji validasi kinerja AME dengan menggunakan data aktual pertumbuhan jumlah penduduk periode empat tahunan yaitu tahun 2006 sampai tahun 2009. Adapun jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi di Kabupaten Kupang seperti pada Tabel 49. Tabel 49 No 1 2 3 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi model di Kabupaten Kupang Jumlah penduduk Kabupaten Kupang (jiwa) Aktual Simulasi Tahun Semau Sulamu Kupang Semau Sulamu Kupang Barat Barat 2007 6.230 14.350 14.212 6.280 14.457 14.342 2008 6.430 15.206 14.972 6.368 14.722 14.692 2009 6.435 15.610 14.981 6.457 14.991 15.050 Berdasarkan hasil perhitungan uji validasi kinerja pada model ini, diperoleh nilai AME dan AVE lebih kecil dari 10% yaitu sekitar 0,49% - 3,97% (AME) dan 1% - 7,77% (AVE), sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini 212 memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. Adapun hasil perhitungan uji validasi kinerja AME dan AVE seperti pada Tabel 50. Tabel 50 Hasil perhitungan nilai AME dan AVE dalam uji validasi kinerja model (a) Kecamatan Semau (b) Kecamatan Kupang Barat (c) Kecamatan Sulamu 8.3.4 Uji Kestabilan dan Uji Sensitivitas Model Sebagaimana diketahui bahwa uji kestabilan model dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model terhadap perilaku agregat dan disagregat harus memiliki kemiripan. Adapun uji kestabilan model berdasarkan struktur model agregat dan disagregat dapat dilihat pada Gambar 49 (agregat) dan Gambar 50, 52 dan 53 (disagregat). Hasil simulasi pada struktur model disagregat memperlihatkan kemiripan dengan struktur model agregatnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa model tersebut dapat dikatakan stabil. Uji sensitivitas dilakukan untuk melihat respon model terhadap suatu stimulus (Muhammadi et al., 2001). Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan intervensi tertentu pada unsur atau struktur model. Hasil uji sensitivitas ini adalah dalam bentuk perubahan perilaku dan/atau kinerja model sehingga dapat diketahui efek intervensi yang diberikan terhadap satu atau lebih unsur atau model tersebut. Adapun perubahan perilaku kinerja model berdasarkan intervensi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 54 sampai 57 dimana pada gambar-gambar tersebut terlihat besarnya perubahan dari setiap perubahan satu 213 atau lebih unsur di dalam model tersebut. Pada Gambar 55 misalnya, dengan memberikan intervensi dengan meningkatkan input produksi dalam suatu kegiatan usaha budidaya, maka produksi budidaya laut yang diharapkan juga akan semakin besar. Hal ini terlihat dengan semakin tajamnya perubahan kurva dari skenario pesimis ke skenario moderat dan optimis. Dengan adanya perubahan nilai produksi pada setiap pertambahan tahun dapat disimpulkan bahwa model sangat sensitif terhadap intervensi yang diberikan. 8.4 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemodelan sistem dinamis yang telah dilakukan, hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. 8 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG Abstrak Strategi peningkatan sektor perikanan yang dipandang relatif tepat untuk meningkatkan daya saing adalah melalui pendekatan klaster. Di beberapa negara, industri yang berbasis klaster telah terbukti mampu menunjukkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam menembus pasar. Strategi klaster menawarkan upaya pembangunan ekonomi yang lebih efektif dan komprehensif. Strategi ini yang dikenal dengan minapolitan. Kebijakan minapolitan ini bertujuan untuk pengembangan daerah. Untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, perlu dibangun model pengembangan kawasan minapolitan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini dan akan terjadi di masa depan dalam bentuk data simulasi berdasarkan kondisi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam membangun model ini digunakan metode analisis sistem dinamik dengan software Powersim. Model ini terdiri atas tiga sub model yaitu sub model lahan, budidaya dan industri pengolahan. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Kata kunci : model, pengembangan, rumput laut, sistem dinamik 8.1 Pendahuluan Wilayah Kabupaten Kupang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satu potensi yang dimiliki sesuai dengan karakteristik wilayahnya adalah sektor kelautan dan perikanan. Melihat potensi yang besar ini, maka pengembangan kawasan minapolitan merupakan pilihan tepat sebagai konsep pembangunan wilayah dengan menyesuaikan potensi dan karakteristik wilayah yang bersangkutan. Pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dimaksudkan agar terjadi peningkatan efisiensi dan efektifitas dengan menurunkan komponen biaya dari hulu sampai hilir dalam produksi suatu komoditi. 176 Bentuk pemusatan yang dilakukan adalah dimana dalam suatu kawasan tersedia subsistem-subsistem dalam agribisnis perikanan dari subsistem hulu hingga hilir serta jasa penunjang. Adanya pemusatan aktifitas tersebut dapat mengurangi biaya-biaya terutama biaya transportasi antar subsistem yang terfokus pada komoditas perikanan tersebut. Efisiensi dan efektifitas yang diciptakan, dengan sendirinya akan mampu meningkatkan daya saing produk perikanan baik pada skala domestik maupun internasional. Banyak permasalahan yang kompleks yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, yang sulit diselesaikan dengan hanya menggunakan suatu metode spesifik saja. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks tersebut adalah dengan pendekatan sistem (system approach). Pendekatan sistem dapat menyelesaikan masalah dengan baik bagi permasalahan multidisiplin yang kompleks (Manestch dan Park, 1977). Eriyatno, 1998 menyatakan bahwa pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metodologi penyelesaian masalah yang dimulai dengan secara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Pendekatan sistem dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, perlu diketahui hubungan antar beberapa komponen yang saling berpengaruh satu sama lain baik pada usaha on farm maupun off farm. Untuk melihat hubungan antar komponen dalam pengembangan kawasan minapolitan tersebut perlu dibangun model yang merupakan simplikasi dari sistem. Sebagaimana diketahui bahwa model dapat dibedakan atas dua jenis yaitu model statik dan model dinamik, namun yang banyak digunakan adalah model dinamik karena memiliki variabel yang dapat berubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Melalui model dinamik dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang ini, dapat menggambarkan dunia nyata yang terjadi selama ini sekaligus sebagai proses peramalan dari suatu keadaan untuk masa yang akan datang. Melihat besarnya peran permodelan dalam pengembangan kawasan, dilakukan penelitian permodelan di Kabupaten Kupang dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. 177 8.2 Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang 8.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang diperlukan dalam menyusun model pengembangan kawasan minapolitan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden dan pakar yang terpilih, serta dari berbagai instansi yang terkait dengan topik penelitian. Data primer yang diperlukan berupa faktor-faktor atau variabel penting yang berpengaruh dalam pengembangan minapolitan. Variabel tersebut diperoleh dari wawancara terhadap responden di lokasi penelitian. Data primer yang diperlukan berupa data yang berkaitan dengan kendala, kebutuhan, dan lembaga yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang, sedangkan data sekunder yang diperlukan adalah data jumlah penduduk, luas lahan budidaya, rata-rata pendapatan penduduk, produksi komoditas unggulan, input produksi (bibit), dan harga produk. 8.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penyusunan model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dilakukan melalui diskusi, wawancara, kuesioner, dan survei lapangan dengan responden di wilayah studi yang terdiri dari berbagai pakar dan stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengembangan kawasan minapolitan untuk pengumpulan data primer, dan beberapa kepustakaan dan dokumen dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian untuk pengumpulan data sekunder. 8.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan pengembangan kawasan minapolitan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang adalah sistem dinamik dengan bantuan software powersim constructor version 2.5d. Tahapan-tahapan dalam sistem dinamik meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, simulasi model, dan validasi model. Dalam analisis sistem dinamik ini akan dikaji tiga sub model yaitu sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran. a. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam pengembangan minapolitan. Berdasarkan kajian 178 pustaka, stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan ini dapat dilihat dalam Tabel 36. Tabel 36 Analisis kebutuhan aktor dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang No. 1. Aktor / stakeholder Masyarakat/nelayan 2. Pemerintah 3. Lembaga keuangan 4. Pedagang pengumpul & pedagang besar 5. Industri pengolahan 6. LSM 7. Perguruan tinggi 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 3.1 3.2 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 5.1 5.2 5.3 5.4 6.1 6.2 6.3 6.4 7.1 7.2 7.3 Kebutuhan Terbukanya lapangan kerja Produksi perikanan meningkat Tersedianya modal usaha Pemasaran yang baik dan tinggi Peningkatan pendapatan nelayan Tersedianya sarana produksi Harga jual yang tinggi Tersedianya sarana informasi Kebijakan kawasan minapolitan Pendapatan daerah meningkat Peningkatan kesejahteraan masyarakat Pengembangan potensi unggulan Pengembangan wilayah Kemitraan nelayan dengan pihak terkait Profitabilitas usaha Pengembalian pinjaman modal tepat waktu Kualitas hasil perikanan terjamin Harga beli yang rasional Kontinuitas hasil kelautan/perikanan Margin keuntungan tinggi Akses modal yang mudah Jaringan pemasaran yang kondusif Kontuinitas produksi & mutu yang terjamin Harga beli rasional Terjaminnya persediaan bahan baku Keamanan berusaha Lingkungan sehat Tidak terjadi konflik sosial Transportasi Good governance Kemitraan dengan perguruan tinggi Hasil kajian yang aplikatif Kualitas dan kuantitas hasil perikanan terjamin b. Identifikasi Sistem Identifikasi sistem merupakan suatu rangkaian hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan identifikasi sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktorfaktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem. Hubungan antar faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box). Dalam menyusun kotak gelap, 179 jenis informasi dikategorikan menjadi tiga golongan yaitu peubah input, peubah output, dan parameter-parameter yang membatasi struktur sistem. Gambaran diagram lingkar sebab-akibat dapat dilihat pada Gambar 46 dan diagram kotak gelap pada Gambar 47. Gambar 46 Diagram lingkar sebab-akibat (causal loop) pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang Gambar 47 Diagram kotak gelap (black box) pengembangan minapolitan 180 c. Simulasi Model Simulasi model merupakan cara untuk menirukan keadaan yang sesungguhnya (Robert, 1983), sedangkan menurut Muhammadi et al., 2001, simulasi model merupakan peniruan perilaku suatu gejala atau proses. Tujuan simulasi adalah untuk memahami gejala atau proses, membuat analisis, dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Dengan menggunakan dihubungkan perangkat lunak powersim, membentuk suatu sistem variabel-variabel yang dapat akan menirukan saling kondisi sebenarnya. Hubungan antar variabel dinamakan diagram alir (flow diagram), dimana variabel ini digambarkan dalam bentuk simbol yaitu simbol aliran (flow symbol) yang dihubungkan dengan level (level symbol). Penghubung antara flow dan level disebut proses aliran yang digambarkan melalui panah aliran. Hasil simulasi model berupa gambar atau grafik yang menggambarkan perilaku dari sistem. Kelebihan dilakukannya simulasi dalam analisis kesisteman adalah bahwa permasalahan yang penuh dengan ketidakpastian dan sulit dipecahkan dengan metode analisis lainnya, dapat diselesaikan dengan simulasi model. d. Validasi Model Terdapat dua pengujian dalam validasi model yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja lebih menekankan pemeriksaan yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). Uji validasi struktur bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Uji ini dibedakan atas dua jenis yaitu validasi konstruksi dan kestabilan struktur. Validasi konstruksi adalah keyakinan terhadap konstruksi model diterima secara akademis, sedangkan kestabilan struktur adalah keberlakuan atau kekuatan (robustness) struktur dalam dimensi waktu (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah dengan yang taat fakta, yaitu dengan melihat apakah perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Penyimpangan terhadap output model dengan data empiris dapat diketahui dengan uji statistik yaitu menguji penyimpangan rata-rata absolutnya (AME : Absolute Means Error) dan penyimpangan variasi absolutnya (AVE : Absolute Variation Error). Batas 181 penyimpangan yang dapat diterima berkisar antara 5 – 10% (Muhammadi et al., 2001). Adapun rumus untuk menghitung nilai AME dan AVE seperti di bawah ini : Rumus AME (Absolute Means Error) = (Si – Ai) / Ai x 100% …….……(16) Si = Si / N dan Ai = Ai / N dimana : S = Nilai simulasi A = Nilai aktual N = Interval waktu pengamatan Rumus AVE (Absolute Variation Error) = (Ss – Sa) / Sa x 100% …….…….(17) Ss = ((Si - Si)2) / N dan Sa = ((Ai - Ai)2) / N dimana : Sa = Deviasi nilai aktual Ss = Deviasi nilai simulasi N = Interval waktu pengamatan e. Uji Kestabilan Model Uji kestabilan model pada dasarnya merupakan bagian dari uji validasi struktur. Uji ini dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model agregat yang diwakili oleh sub-sub model yang ada. f. Uji Sensitivitas Model Uji sensitivitas merupakan respon model terhadap suatu stimulus. Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model. 8.3 Hasil dan Pembahasan Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang 8.3.1 Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang dibangun melalui logika hubungan antara komponen yang terkait dan interaksinya. Komponen-komponen yang terkait adalah pertumbuhan penduduk, luas lahan kawasan minapolitan, luas lahan permukiman, luas lahan industri, luas lahan budidaya, produksi dan keuntungan usaha nelayan, pendapatan pemanfaatan industri, biaya industri pengolahan, keuntungan, dan sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional 182 bruto (PDRB) Kabupaten Kupang. Model dinamik yang dibangun terdiri atas tiga sub model yang mewakili dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial yaitu (1) sub model lahan minapolitan yang menggambarkan perkembangan kebutuhan lahan untuk permukiman, budidaya, fasilitas, dan lahan untuk industri pengolahan serta dinamika pertumbuhan penduduk; (2) sub model budidaya laut yang menggambarkan perkembangan produksi, jumlah rumput laut yang dipakai pada kebun bibit, penjualan bibit, keuntungan dari pembibitan keuntungan usaha nelayan minapolitan; dan (3) sub model industri pengolahan rumput laut yang menggambarkan biaya pengolahan, keuntungan yang diperoleh dari hasil pengolahan serta PDRB. Perilaku model dinamik pengembangan kawasan minapolitan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang dianalisis dengan menggunakan program powersim constructor version 2.5d. Struktur model minapolitan ini dapat dilihat pada Gambar 48 dan persamaan model dinamis pada Lampiran 22. Analisis dilakukan untuk 30 tahun yang akan datang, dimulai pada tahun 2007 dan berakhir pada tahun 2037. Waktu 30 tahun ini diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang untuk masa jangka panjang. Beberapa data awal dan asumsi-asumsi yang digunakan dalam pemodelan ini antara lain : 1. Simulasi model minapolitan berbasis budidaya laut ini merupakan simulasi dari tiga kecamatan pesisir di Kabupaten Kupang yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Luas lahan minapolitan terdiri atas dua lahan yaitu lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. 2. Jumlah penduduk kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu masingmasing sebesar 6.280 jiwa, 14.234 jiwa dan 14.457 jiwa pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Kupang, 2008). Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kupang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian, namun saat ini faktor perpindahan penduduk juga mempunyai pengaruh yang cukup besar. Luas lahan perairan untuk pengembangan minapolitan budidaya laut masing-masing kecamatan sekitar 689,22 ha untuk Kecamatan Semau, 3040,47 ha untuk Kecamatan Kupang Barat, dan 365,34 ha untuk Kecamatan Sulamu. 3. Komoditas budidaya yang dimodelkan meliputi komoditas rumput laut yang merupakan komoditas unggulan di lokasi studi. Produksi budidaya rumput laut untuk Kecamatan Semau sebesar 600 ton dan Kecamatan Kupang Barat 183 sebesar 1.100 ton tahun 2007 sedangkan untuk Kecamatan Sulamu data tidak tersedia. 4. Hasil rumput laut akan diolah menjadi dodol dan pilus. Untuk mengolah tersebut dibutuhkan industri pengolahan dengan tenaga kerja. Pembudidaya rumput laut tahun 2007 di Kecamatan Semau sejumlah 995 jiwa dan Kecamatan Kupang Barat sejumlah 1650 orang. 5. Lahan budidaya adalah lahan dengan kelas sangat sesuai, sedangkan untuk lahan dengan kelas sesuai dan tidak sesuai dipakai sebagai lahan konservasi. 6. Sumbangan pengembangan minapolitan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Kupang dihitung dari PDRB perikanan yang meliputi komoditas rumput laut. Gambar 48 Struktur model dinamik pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut di Kabupaten Kupang a. Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan Sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semau, Kupang Barat dan Sulamu. Komponen-komponen yang saling berhubungan dan memberikan pengaruh pada sub model pengembangan lahan minapolitan adalah lahan budidaya, lahan 184 industri, dan lahan permukiman. Lahan minapolitan terdiri atas lahan minapolitan darat dan lahan minapolitan laut. Adapun pengaruh dari setiap komponenkomponen tersebut seperti pada Gambar 49. Gambar 49 Struktur model dinamik sub model pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang Simulasi model dinamik untuk lahan minapolitan (Gambar 50) berawal dari luas perairan laut dengan kelas kesesuaian sangat sesuai untuk budidaya rumput laut dan luas lahan daratan yang terbagi atas dua bagian, yaitu (1) lahan industri adalah lahan yang dibutuhkan dari industri rumah tangga dan (2) lahan permukiman yang diasumsikan pemakaiannya sebesar 20 m2 per jiwa. Untuk pemodelan dinamis minapolitan laut hanya akan dimodelkan lahan budidaya rumput laut (perairan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai) saja, sehingga untuk pertimbangan lingkungan seperti kawasan konservasi laut diambil dari luas perairan dengan tingkat kesesuaian sesuai dan tidak sesuai tidak dimodelkan. Pemodelan dinamis minapolitan darat diasumsikan alokasi penggunaan lahan untuk kawasan industri pengolahan dan permukiman. Luas lahan industri pengolahan di dapat dari kebutuhan industri dodol dan pilus per rumah tangga (asumsi 100 m2 per industri rumah tangga). Pengembangan lahan minapolitan di Kabupaten Kupang berada di tiga kecamatan yaitu Semau, Kupang Barat, dan Sulamu. Simulasi model dinamik alokasi penggunaan lahan Kecamatan Semau berawal dari luas lahan darat 143,42 km2 dan 6,89 km2 lahan di laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 5,94 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat 185 sesuai), sedangkan untuk kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 1,21 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 6.280 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,13%, tingkat kematian 0,53%, imigrasi 1,84% dan emigrasi 1,04%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Semau seperti pada Tabel 37. Tabel 37 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Semau Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Semau dari Tabel 37 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 1,21 km2 pada tahun 2007 menjadi 3,41 km2 pada tahun 2022 dengan laju pertambahan luas sebesar 15% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,13 km2 naik menjadi 4,77 km2 pada tahun 2037, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 1,94 km2 di tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 5,94 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka 186 meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Semau. Apabila simulasi ini dilakukan untuk jangka waktu 30 tahun dengan asumsi laju pertambahan pemanfaatan lahan budidaya sebesar 20%, maka pada tahun 2034 luas lahan budidaya rumput laut akan maksimal dibudidayakan dengan luas 5,94 km2 dengan jumlah petakan rumput laut sebesar 1.930 unit dan lahan industri rumah tangga membutuhkan luas industri 2,65 km2. Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Kupang Barat berawal dari luas lahan minapolitan darat 149,72 km2 dan 30,40 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 22,29 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan budidaya adalah 3,23 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan Laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.342 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,70%, tingkat kematian 0,47%, imigrasi 2,86% dan emigrasi 1,65%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Kupang Barat yang disajikan pada Tabel 38. Tabel 38 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Kupang Barat Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Kupang Barat dari Tabel 38 menunjukkan terjadi penambahan luas 187 lahan budidaya rumput laut dari 3,23 km2 pada tahun 2007 menjadi 9,10 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 12,76 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun. Sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 5,17 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 22,29 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Kupang Barat, agar dapat memperoleh luas lahan budidaya maksimal dalam jangka waktu 30 tahun adalah menaikkan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 30% sehingga didapat lahan budidaya maksimal sebesar 22,24 km2 pada tahun 2034. Jika laju pertumbuhan luas lahan budidaya ditambah 30% per tahun maka akan terdapat penambahan unit longline rumput laut sebesar 7.414 unit petakan per 3000 m2 setiap tahun. Tabel 39 Simulasi perkembangan pemanfaatan lahan minapolitan rumput laut (km2) di Kecamatan Sulamu Simulasi lahan minapolitan Kecamatan Sulamu berawal dari luas lahan minapolitan darat sebesar 270,12 km2 dan 3,65 km2 lahan minapolitan laut. Di lahan minapolitan laut digunakan untuk lahan budidaya rumput laut 3,20 km2 (diambil dari kelas kesesuaian sangat sesuai). Kondisi eksisting luas lahan 188 budidaya adalah 0,10 km2. Laju pengurangan dari alokasi fasilitas budidaya sebesar 2% per tahun dan laju pertumbuhan lahan budidaya rumput laut sebesar 10%. Jumlah penduduk eksisting (tahun 2007) sebanyak 14.457 jiwa dengan tingkat kelahiran 1,57%, tingkat kematian 0,80%, imigrasi 2,96% dan emigrasi 1,90%. Asumsi pemakaian lahan pemukiman per jiwa sebesar 20 m2 (2.10-5 km2). Lahan industri pengolahan di tahun 2007 belum tersedia. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dihasilkan simulasi model penggunaan lahan di kawasan minapolitan Kecamatan Sulamu yang disajikan pada Tabel 39. Alokasi penggunaan lahan kawasan minapolitan budidaya rumput laut Kecamatan Sulamu dari Tabel 39 menunjukkan terjadi penambahan luas lahan budidaya rumput laut dari 0,10 km2 pada tahun 2007 menjadi 0,29 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertambahan luas sebesar 10% per tahun. Demikian pula yang terjadi pada luas lahan permukiman, pada tahun 2007 luas lahan sebesar 0,29 km2 naik menjadi 11,71 km2 pada tahun 2037 dengan laju pertumbuhan 1% per tahun, sementara luas lahan industri pengolahan rumput laut naik menjadi 0,16 km2 pada tahun 2037. Dengan asumsi pertambahan pemanfaatan lahan budidaya 10% per tahun, maka pada tahun 2037 pemanfaatan lahan belum terpakai secara keseluruhan dari total alokasi penggunaan lahan budidaya sebesar 3,20 km2. Hal ini memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan ekstensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut di Kecamatan Sulamu. Berbeda dengan Kecamatan Semau dan Kecamatan Kupang Barat, pada Kecamatan Sulamu ini perlu dilakukan pengembangan rumput laut sebesar-besarnya agar dapat memaksimalkan lahan budidaya rumput laut yang tersedia. Dalam rangka memaksimalkan lahan budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan cara menaikkan laju pertumbuhan sebesar 140% untuk jangka waktu 30 tahun sehingga pada tahun 2036 didapatkan luas lahan budidaya rumput laut yang maksimal sebesar 3,16 km2 untuk jumlah petakan rumput laut sebesar 1.053 unit dan membutuhkan lahan industri sebesar 1,44 km2. Namun hal ini tidak mungkin dilakukan di Kecamatan Sulamu yang masih mengalami banyak kendala dan masalah dalam budidaya laut khususnya rumput laut, salah satu diantaranya adalah jumlah masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pembudidaya rumput laut tidak cukup untuk menggarap lahan budidaya tersebut, sehingga hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah melibatkan masyarakat Kecamatan Sulamu dalam pelatihan budidaya rumput laut sehingga kegiatan ekstensifikasi 191 b. Sub Model Budidaya Rumput Laut di Kawasan Minapolitan Sub model budidaya rumput laut menggambarkan hubungan beberapa komponen seperti luas lahan budidaya sebagai komponen utama dan selanjutnya diikuti oleh komponen lainnya seperti jumlah petakan rumput laut, kebutuhan bibit rumput laut, produksi rumput laut, dan keuntungan budidaya rumput laut. Stock flow diagram (SFD) sub model budidaya rumput laut disajikan pada Gambar 51. Gambar 51 Struktur model dinamik sub model budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang Peningkatan luas lahan khususnya lahan budidaya rumput laut akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi rumput laut. Dalam hal ini, peningkatan luas lahan untuk budidaya rumput laut akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi rumput laut yang kemudian akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan pembudidaya. Hubungan antar komponen ini merupakan hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing. Tabel 40 sampai 42 masing-masing untuk Kecamatan Semau, Kupang Barat, dan Sulamu menunjukkan peningkatan produksi rumput laut periode 2007–2037. Untuk sub model budidaya ini, simulasi berawal dari luas lahan budidaya rumput laut yang terbagi atas dua faktor utama yaitu jumlah unit longline rumput laut (selanjutnya disebut petakan) per 3000 m2 dan kebutuhan bibit rumput laut yang akan ditanam di pada petakan. Untuk jumlah petakan membutuhkan tenaga kerja yaitu 5 orang per petakan. Kebutuhan bibit rumput laut, dibutuhkan bibit 192 2400 kg per 3000 m2 (800 ton per km2), kemudian laju pengurangan panen rumput laut dipengaruhi oleh persen kematian rumput laut sebesar 10%, sedangkan laju pertambahan panen rumput laut dipengaruhi oleh kenaikan berat rumput laut yaitu 6 kali berat semula (200 gr) dan jumlah panen normal dalam 1 tahun sebanyak 6 kali panen. Setelah pemanenan dilakukan, proses berikutnya adalah penjemuran rumput laut untuk mendapatkan rumput laut kering. Dalam proses pengeringan ini, diasumsikan rendemen rumput laut sebesar 12,5% dari berat rumput laut basah sebelum dijual. Dalam sub model budidaya ini juga terdapat biaya operasional sebesar Rp63.312.000,00 per petak per tahun dan kenaikan modal sebesar 6% per tahun, kedua faktor ini yang mempengaruhi besarnya pengeluaran dalam produksi budidaya rumput laut ini. Biaya operasional merupakan biaya dari analisis kelayakan usaha (finansial) yang telah dibahas pada bab 5 pada disertasi ini. Penerimaan usaha budidaya rumput laut ini diperoleh dari hasil penjualan rumput laut kering dengan harga Rp10.000,00 per kg. Tabel 40 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau tahun 20072037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 10.707 ton dari 3.799 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 3.799 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 968 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 1,21 km2 dengan jumlah petakan 403 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp10.926.009.600,00 pada tahun 2007 menjadi Rp30.790.180.359,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Semau. 193 Tabel 40 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Semau Tabel 41 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 28.581 ton dari 10.142 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 10,142 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 2.584 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 3,23 km2 dengan jumlah petakan 1.077 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp29.166.124.800,00 pada tahun 2007 menjadi Rp82.191.969.058,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat. 194 Tabel 41 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Kupang Barat Tabel 42 menyajikan hasil simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Tahun 2007-2037. Dengan asumsi laju pertambahan lahan budidaya 10% dan perhitungan produksi budidaya yang telah dibuat, pada tahun 2037 didapatkan peningkatan hasil panen kering rumput laut sebesar 885 ton dari 314 ton pada tahun 2007. Untuk mendapatkan 314 ton pada tahun 2007 dibutuhkan bibit rumput laut sebesar 80 ton yang akan ditanam pada luas lahan budidaya 0,10 km2 dengan jumlah petakan 33 unit. Keuntungan usaha budidaya laut ini mengalami peningkatan dari Rp902.976.000,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.544.643.005,00 pada tahun 2037. Dilihat dari keuntungan yang diperoleh jika hasil panen rumput laut kering terjual semuanya tanpa diolah terlebih dahulu dapat meningkatkan pendapatan para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu. 195 Tabel 42 Simulasi lahan budidaya (km2), jumlah petakan (unit), kebutuhan bibit (ton), panen kering (ton), pengeluaran, penerimaan dan keuntungan (Rp) usaha budidaya rumput laut di Kecamatan Sulamu Peningkatan produksi usaha rumput laut ini akan berdampak pada peningkatan keuntungan usaha rumput laut yang diterima oleh pembudidaya. Hasil simulasi model dinamik menunjukkan peningkatan keuntungan usaha rumput laut mengikuti pertumbuhan yang cukup tajam dan membentuk pola pertumbuhan dari kurva sigmoid, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menjual hasil panen rumput laut kering saja dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Kupang, sehingga diperlukan suatu kontinuitas produksi rumput laut karena menguntungkan dan dapat mensejahterakan masyarakat sekitar pesisir. c. Sub Model Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut Sub model pengembangan industri pengolahan rumput laut kering merupakan bagian pemodelan untuk mengetahui pengaruh komponen- 196 komponen dalam pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten Kupang. Dalam simulasi sub model ini terdapat beberapa komponen yang saling berpengaruh seperti jenis olahan rumput laut, kapasitas produksi, tenaga kerja, industri rumah tangga, biaya produksi, keuntungan penjualan hasil olahan, dan PDRB di Kabupaten Kupang. Pengaruh antar komponen dalam sub model ini disajikan dalam stock flow diagram (SFD) seperti terlihat pada Gambar 52. Gambar 52 Struktur model dinamik sub model industri pengolahan dan pemasaran rumput laut di Kabupaten Kupang Berbeda dengan sub model budidaya, pada pemodelan industri pengolahan ini hasil panen rumput laut tidak dijual seluruhnya melainkan dibagi 10% untuk diolah menjadi makanan dan sisanya 90% dijual kering tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk rumput laut yang diolah, dibagi menjadi dua hasil olahan yaitu dodol dan pilus. Contoh hasil pengolahan dodol dan pilus yang telah dilakukan dapat dilihat pada Lampiran 23. Untuk pengolahan rumput laut saat ini berupa industri rumah tangga dengan tenaga kerja 5 orang per olahan pilus dan 5 orang per olahan dodol. Kapasitas produksi masing-masing dodol dan pilus sebesar 960 kg per tahun per industri rumah tangga. Untuk harga jual dodol Rp65.000,00 per kg dan harga jual pilus Rp55.000,00 per kg. Produk domestik regional bruto (PDRB) merupakan hasil sumbangan dari keuntungan penjualan dodol, pilus dan rumput laut kering. 197 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 43. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 3.779 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp33.427.311.170,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp10.589.022.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp29.840.530.378,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp8.689.322.785,00 pada tahun 2007 menjadi Rp24.487.056.624,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Semau dari rumput laut mencapai Rp94.200.259.521,00 pada tahun 2037. Tabel 43 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Semau Tabel 44 menyajikan hasil simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat tahun 2007-2037. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil 198 panen kering 10.142 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp89.231.582.710,00 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp28.266.564.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp79.656.952.992,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp23.195.464.955,00 pada tahun 2007 menjadi Rp65.366.275.120,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Kupang Barat dari rumput laut mencapai Rp251.460.196.902,00 pada tahun 2037. Tabel 44 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Kupang Barat Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu tahun 2007-2037 disajikan pada Tabel 45. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dari hasil panen kering 314 ton pada tahun 2007 didapatkan PDRB sebesar Rp2.762.587.700,00 199 dari hasil penjualan 90% rumput laut kering dan 10% hasil olahan dodol dan pilus. Peningkatan industri rumput laut olahan dodol meningkat dari Rp875.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.466.159.535,00 pada tahun 2037 sedangkan untuk olahan pilus meningkat dari Rp718.125.850,00 pada tahun 2007 menjadi Rp2.023.723.688,00 pada tahun 2037. PDRB Kecamatan Sulamu dari rumput laut mencapai Rp7.785.145.415,00 pada tahun 2037. Tabel 45 Simulasi panen kering (ton), keuntungan jual kering, dodol dan pilus (Rp) dari industri pengolahan rumput laut di Kecamatan Sulamu Peningkatan setiap komponen yang ada dalam sub model industri ini mengikuti pertumbuhan kurva sigmoid sampai batas tertentu. Akibat keterbatasan lahan budidaya akan mengalami suatu titik kesetimbangan tertentu (stable equilibirium) dimana keuntungan dan peningkatan PDRB tidak dapat ditingkatkan lagi di kawasan minapolitan budidaya rumput laut ini, dan sub model pengolahan ini dapat dikatakan mengikuti pola (archetype) limit to growth dalam sistem dinamik. 200 8.3.2 Simulasi Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Kinerja model yang digambarkan dalam struktur sistem menggambarkan kondisi saat ini. Seiring dengan perjalanan waktu, maka akan terjadi perubahan kinerja sistem sesuai dengan dinamika waktu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, berdasarkan hal tersebut, disusun berbagai skenario pada model yang telah dibangun sebagai strategi yang dapat dilakukan ke depan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang. Skenario yang dibangun terdiri atas tiga skenario antara lain (1) skenario pesimis (2) skenario moderat, dan (3) skenario optimis. Skenario pesimis dapat diartikan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau terjadi perubahan yang sangat cepat dari keadaan yang perlu dihambat perkembangannya. Skenario moderat diartikan sebagai perubahan beberapa variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan tersebut lebih baik daripada skenario pesimis, sedangkan skenario optimis diartikan bahwa terjadi perubahan yang lebih besar dari variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan ini lebih baik dari skenario pertama dan kedua. Adapun variabel-variabel tersebut sebagai variabel kunci yang sangat berpengaruh pada kinerja sistem meliputi laju pertumbuhan lahan budidaya, persen kematian rumput laut, harga jual, kenaikan berat rumput laut dari berat semula (waktu ditanam), waktu panen dalam 1 tahun, dan persen olahan rumput laut. Variabel-variabel ini akan berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan di kawasan minapolitan, peningkatan produksi, tingkat keuntungan usaha nelayan, dan sumbangan terhadap PDRB. Hasil simulasi skenario model perubahan penggunaan lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang dapat dilihat pada Gambar 54. Model yang diskenariokan pada penggunaan lahan ini adalah lahan budidaya yang mengambil tempat di wilayah perairan Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Pada Gambar 54 terlihat bahwa perubahan tiga skenario dalam model ini menunjukkan perubahan yang berbeda-beda dimana perubahan yang lebih nyata terlihat dengan semakin bertambahnya tahun simulasi. Pada skenario optimis, peningkatan luas lahan budidaya sangat cepat sebagai akibat dari laju pertumbuhan sebesar 10% setiap tahun, sedangkan untuk skenario moderat 5% dan pesimis 3%. 209 Tabel 47 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Kupang Barat Tabel 48 Simulasi skenario sumbangan PDRB (Rp) di Kecamatan Sulamu 210 8.3.3 Uji Validasi Model Secara garis besar uji validasi model dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. a. Uji Validasi Struktur Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran atau dengan kata lain apakah struktur model yang dibangun sudah sesuai dengan teori. Secara logika, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan lahan. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk yang berasal dari kelahiran (natalitas) dan penduduk yang datang (imigrasi), serta pengurangan jumlah penduduk akibat kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk keluar wilayah (emigrasi). Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan luas lahan minapolitan (darat) mengikuti pola pertumbuhan kurva sigmoid dimana pada suatu waktu tertentu akan menemui titik keseimbangan (stable equilibrium) sesuai dengan konsep limits to growth (Meadows, 1985). Dalam hal ini terjadi proses reinforcing yang diimbangi oleh proses balancing. Kondisi ini terjadi karena keterbatasan ketersediaan lahan yang dapat menjadi faktor pembatas dan menekan pertumbuhan penduduk. Lahan daratan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk alokasi permukiman penduduk, ruang fasilitas, penyediaan ruang terbuka hijau dan kawasan lindung, serta lahan untuk kegiatan industri pengolahan hasil budidaya laut; sedangkan lahan perairan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pengembangan produksi budidaya laut dan kegiatan pemanfaatan lain seperti arus lalu lintas/tempat parkir perahu/kapal, jarak antar rakit dan perlindungan ekosistem lainnya. Karena keterbatasan luas lahan, maka semakin luas penggunaan lahan untuk tujuan tertentu akan berpengaruh terhadap luas lahan untuk tujuan penggunaan lain. Dalam hal ini akan terjadi konversi lahan untuk memenuhi kebutuhan penggunaan lahan. Berkaitan dengan dengan lahan budidaya laut (perairan), terlihat bahwa semakin luas ketersediaan lahan budidaya akan berdampak pada semakin meningkatnya produksi usaha budidaya laut yang dihasilkan oleh nelayan/pembudidaya. Hal ini juga berdampak terhadap peningkatan keuntungan yang diperoleh. Namun demikian semakin tinggi intensitas penggunaan lahan budidaya akan menyebabkan tekanan terhadap lahan sehingga kualitasnya dapat menurun. Akibatnya produksi usaha budidaya laut juga akan menurunnya 211 keuntungan yang diperoleh petani. Ini berarti konsep Limits to Growth juga terjadi terhadap produksi dan keuntungan usaha budidaya laut minapolitan. Dengan melihat hasil simulasi model dinamik berdasarkan struktur model yang telah dibangun yang sesuai dengan konsep teori empirik seperti diuraikan di atas, maka model pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang dapat dikatakan valid secara empirik. b. Uji Validasi Kinerja Uji validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem. Tujuan dari validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata, sehingga model yang dibuat memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja dilakukan dengan cara menvalidasi kinerja model dengan data empiris. Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistik seperti uji penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (absolute means error = AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual (absolute variation error = AVE), dengan batas penyimpangan yang dapat diterima maksimal 10%. Dalam uji validasi kinerja, dapat digunakan satu atau beberapa komponen (variabel) baik pada komponen utama (main model) maupun komponen yang terkait (co-model) (Barlas, 1996). Dalam penelitian ini digunakan uji validasi kinerja AME dengan menggunakan data aktual pertumbuhan jumlah penduduk periode empat tahunan yaitu tahun 2006 sampai tahun 2009. Adapun jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi di Kabupaten Kupang seperti pada Tabel 49. Tabel 49 No 1 2 3 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan hasil simulasi model di Kabupaten Kupang Jumlah penduduk Kabupaten Kupang (jiwa) Aktual Simulasi Tahun Semau Sulamu Kupang Semau Sulamu Kupang Barat Barat 2007 6.230 14.350 14.212 6.280 14.457 14.342 2008 6.430 15.206 14.972 6.368 14.722 14.692 2009 6.435 15.610 14.981 6.457 14.991 15.050 Berdasarkan hasil perhitungan uji validasi kinerja pada model ini, diperoleh nilai AME dan AVE lebih kecil dari 10% yaitu sekitar 0,49% - 3,97% (AME) dan 1% - 7,77% (AVE), sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini 212 memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. Adapun hasil perhitungan uji validasi kinerja AME dan AVE seperti pada Tabel 50. Tabel 50 Hasil perhitungan nilai AME dan AVE dalam uji validasi kinerja model (a) Kecamatan Semau (b) Kecamatan Kupang Barat (c) Kecamatan Sulamu 8.3.4 Uji Kestabilan dan Uji Sensitivitas Model Sebagaimana diketahui bahwa uji kestabilan model dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model terhadap perilaku agregat dan disagregat harus memiliki kemiripan. Adapun uji kestabilan model berdasarkan struktur model agregat dan disagregat dapat dilihat pada Gambar 49 (agregat) dan Gambar 50, 52 dan 53 (disagregat). Hasil simulasi pada struktur model disagregat memperlihatkan kemiripan dengan struktur model agregatnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa model tersebut dapat dikatakan stabil. Uji sensitivitas dilakukan untuk melihat respon model terhadap suatu stimulus (Muhammadi et al., 2001). Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan intervensi tertentu pada unsur atau struktur model. Hasil uji sensitivitas ini adalah dalam bentuk perubahan perilaku dan/atau kinerja model sehingga dapat diketahui efek intervensi yang diberikan terhadap satu atau lebih unsur atau model tersebut. Adapun perubahan perilaku kinerja model berdasarkan intervensi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 54 sampai 57 dimana pada gambar-gambar tersebut terlihat besarnya perubahan dari setiap perubahan satu 213 atau lebih unsur di dalam model tersebut. Pada Gambar 55 misalnya, dengan memberikan intervensi dengan meningkatkan input produksi dalam suatu kegiatan usaha budidaya, maka produksi budidaya laut yang diharapkan juga akan semakin besar. Hal ini terlihat dengan semakin tajamnya perubahan kurva dari skenario pesimis ke skenario moderat dan optimis. Dengan adanya perubahan nilai produksi pada setiap pertambahan tahun dapat disimpulkan bahwa model sangat sensitif terhadap intervensi yang diberikan. 8.4 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemodelan sistem dinamis yang telah dilakukan, hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuain sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. 9 PEMBAHASAN UMUM Pembangunan wilayah pesisir selama ini masih dilihat seperti pembangunan wilayah terestrial lainnya dengan kondisi yang analogi dengan wilayah perdesaan. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena wilayah pesisir memiliki beberapa karakteristik yang khas, yaitu: (1) wilayah pertemuan antara berbagai aspek kehidupan yang ada di darat, laut dan udara, sehingga bentuk wilayah pesisir merupakan hasil keseimbangan dinamis dari proses pelapukan (weathering) dan pembangunan ketiga aspek di atas; (2) berfungsi sebagai habitat dari berbagai jenis ikan, mamalia laut, dan unggas untuk tempat pembesaran, pemijahan, dan mencari makan; (3) wilayahnya sempit, tetapi memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan sumber zat organik penting dalam rantai makanan dan kehidupan darat dan laut; (4) memiliki gradian perubahan sifat ekologi yang tajam dan pada kawasan yang sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berlainan; dan (5) tempat bertemunya berbagai kepentingan pembangunan baik pembangunan sektoral maupun regional serta mempunyai dimensi internasional. Perbedaan yang mendasar secara ekologis sangat berpengaruh pada aktivitas masyarakatnya. Kerentanan perubahan secara ekologis berpengaruh secara signifikan terhadap usaha perekonomian yang ada di wilayah tersebut, karena ketergantungan yang tinggi dari aktivitas ekonomi masyarakat dengan sumberdaya ekologis tersebut. Jika sifat kerentanan wilayah tidak diperhatikan, maka akan muncul konflik antara kepentingan memanfaatkan sumber daya pesisir untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan pembangunan ekonomi dalam jangka pendek dengan kebutuhan generasi akan datang terhadap sumber daya pesisir. Dalam banyak kasus, pendekatan pembangunan ekonomi yang parsial, tidak kondusif dalam mendorong pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Kegiatan yang parsial hanya memperhatikan kepentingan sektornya dan mengabaikan akibat yang timbul dari atau terhadap sektor lain, sehingga berkembang konflik pemanfaatan dan kewenangan. Dari berbagai studi, terdapat kecenderungan bahwa hampir semua kawasan pesisir Indonesia mengalami konflik tersebut. Jika konflik ini dibiarkan berlangsung terus akan mengurangi keinginan pihak yang bertikai untuk melestarikan sumberdayanya. 216 Di era otonomi daerah, pembangunan wilayah pesisir dan laut sebagai salah satu sumberdaya potensial kerap pula memunculkan beberapa permasalahan, antara lain hubungan antara daerah dan pusat, pembangunan ekonomi (yang berkait dengan kemiskinan), serta eksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhatikan kelestariannya. Permasalahan umum yang banyak terjadi dalam hubungan antara pemerintah pusat dan daerah adalah kurang selarasnya pemenuhan kepentingan pusat dan daerah. Kondisi ini terjadi antara lain karena : (a) instansi dinas (kelautan dan perikanan) yang ada di tingkat kabupaten/kota pada era otonomi daerah ini sangat beragam baik dalam struktur organisasi dan kewenangannya. Perubahan ini berpengaruh pada intensitas komunikasi antara instansi yang berada di pusat dan daerah; (b) seringkali instansi dinas di kabupaten dan kota telah memiliki tugas pokok dan fungsi organisasi, namun belum memiliki kewenangan teknis karena belum ada penyerahan kewenangan dari pusat dan Provinsi; dan (c) UU Pemerintahan Daerah No.32/2004 belum dapat berjalan selaras dengan UU Perikanan No.45/2009 dan sebagian peraturan daerah lainnya, sehingga kewenangan dalam dinas kabupaten/kota belum efektif. Hasil analisis ISM (Gambar 34) menunjukkan bahwa pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten Kupang berada pada sektor linkages yang berarti bahwa keduanya memiliki ketergantungan hubungan sektoral yang erat dalam rangka mendorong pembangunan minapolitan sehingga diharapkan dapat menjalin kerjasama yang baik terutama dalam pengaturan kebijakan minapolitan, sedangkan pemerintah pusat dalam hal ini KKP sebagai sektor dependent yang memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sub elemen lembaga lainnya (pemerintah daerah) namun tidak memiliki kekuatan di dalam mendorong program minapolitan sehingga kunci keberhasilan program minapolitan ini berada pada tangan pemerintah provinsi maupun kabupaten. Permasalahan dalam pembangunan ekonomi di daerah menyangkut pada kebijakan ekonomi makro, kesenjangan, dan kemiskinan. Kebijakan ekonomi makro selama ini (terutama yang berada di luar Pulau Jawa) lebih difokuskan pada usaha ekstraksi hasil bumi (sumberdaya alam) seperti pemberian konsesi pada perusahaan-perusahaan asing dan berskala besar. Ini berarti kurangnya perhatian terhadap usaha masyarkat lokal yang cenderung berskala kecil. Kesenjangan yang terjadi antar kelompok pendapatan antara daerah perkotaan dan perdesaan telah memburuk sejak dibukanya 217 perekonomian perdesaan ke arah ekonomi pasar, karena hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, kredit, informasi dan kekuasaan yang dapat mengambil manfaat dari program-program pembangunan. Dalam konteks wilayah pesisir dan laut, keuntungan ekonomi dari pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut baru dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu seperti juragan kapal dan pengusaha perikanan, namun belum oleh masyarakat pesisir dan nelayan. Selain kesenjangan dalam pendapatan, kesenjangan dalam kepemilikan justru menjadi permasalahan yang lebih serius. Akumulasi sumberdaya pada pihak-pihak tertentu mengarah pada de-aksesasi oleh masyarakat, misalnya saja dalam usaha penangkapan hanya yang memiliki kapal lebih besar dan teknologi yang lebih maju yang dapat menguasai sumberdaya laut. Nelayan kecil dengan teknologi sederhana menjadi terpinggirkan dan kalah sehingga semakin sulit dalam berusaha. Kondisi seperti ini yang terus berlanjut mengakibatkan permasalahan baru yaitu kemiskinan. Nelayan kecil semakin sulit untuk bergerak keluar dari kemiskinan yang menjerat mereka. Eksploitasi sumberdaya laut dan pesisir menjadi salah satu permasalahan dalam pembangunan daerah. Di satu sisi, upaya tersebut dilakukan oleh masyarakat dan daerah untuk menggerakkan roda perekonomian, namun di sisi lain sumberdaya perikanan semakin berkurang karena dieksploitasi secara berlebihan serta mengalami kerusakan. Upaya pengelolaan yang selama ini dilakukan belum menunjukkan hasil yang positif. Ketertinggalan pembangunan wilayah pesisir dan laut sebagai sumber daya ekonomi, merupakan indikator bahwa sektor kelautan selama 43 tahun belum menjadi sektor prioritas dalam pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Begitu sumberdaya alam lainnya (seperti hutan dan minyak bumi) sudah mengarah pada beban pembangunan karena tidak dapat diperbaharui (unrenewable) sebagai akibat pengelolaan yang kurang bijaksana, maka sumberdaya pesisir dan laut merupakan pilihan berikutnya karena keberlimpahan sumberdaya yang ada serta belum dikelola secara optimal dan profesional. Agar tidak terjebak pada kesalahan yang sama, maka dalam pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir harus memperhatikan tiga hal utama, yaitu: 1) apapun persepsi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, maka sebagai sumber ekonomi baru yang kompetitif haruslah bermuara pada pengurangan 218 kemiskinan masyarakat, 2) fokus kegiatan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut sebagai sumber ekonomi baru harus berangkat pada pemikiran untuk meningkatkan pembangunan kegiatan ekonomi yang berbasis pada sumber daya lokal yang ada, dan 3) sedini mungkin membuat rambu-rambu pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dengan melibatkan masyarakat. Dalam menghadapi peluang dan tantangan pembangunan dalam era globalisasi, maka pembangunan perikanan serta pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut harus mampu mentransformasikan berbagai usaha perikanan masyarakat ke arah bisnis dan swasembada secara menyeluruh dan terpadu. Pendekatan menyeluruh (holistik) dan terpadu ini berarti melihat usaha perikanan sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait, yaitu: 1. Sumberdaya perikanan, yaitu sumberdaya alam (baik yang berada di laut, pesisir, perairan tawar), dan SDM. 2. Sarana dan prasarana, meliputi perencanaan dan penyediaan prasarana perikanan seperti pelabuhan, pabrik es, cold storage, infrastruktur pada sentra industri, pengadaan dan penyaluran sarana produksi (seperti BBM, benih, mesin dan alat tangkap), serta sistem informasi tentang teknologi baru dan sistem pengelolaan usaha yang efisien. 3. Produksi perikanan, meliputi usaha budidaya dan penangkapan yang menyangkut usaha perikanan skala kecil maupun besar. 4. Pengolahan hasil perikanan, meliputi kegiatan pengolahan sederhana yang dilakukan oleh petani dan nelayan tradisional hingga pengolahan dengan teknologi maju di pabrik yang mencakup penanganan pasca panen sampai produk siap dipasarkan. 5. Pemasaran hasil perikanan, meliputi kegiatan distribusi dan pemasaran hasil-hasil perikanan atau olahannya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Termasuk pula di dalamnya kegiatan pemantauan distribusi informasi pasar (market development) dan pengembangan produk (product development). 6. Pembinaan, mencakup kegiatan pembinaan institusi, iklim usaha yang kondusif, iklim poleksosbud yang mendukung, peraturan dan perundangan yang kondusif, pembinaan SDM, serta kepemimpinan yang baik agar kegiatan yang dilaksanakan dapat dicapai seefektif mungkin. 219 Melihat kondisi masyarakat dan wilayah pesisir yang ada di Kabupaten Kupang, maka perlu suatu kebijakan pembangunan yang lebih memprioritaskan pembangunan wilayah Kabupaten Kupang sesuai dengan potensi kelautan dan perikanan yang dimilikinya. Melihat potensi dan permasalahan yang ada di Kabupaten Kupang, maka perlu perencanaan terpadu dan komprehensif merupakan salah satu jawaban untuk mempercepat pembangunan di wilayah ini. Langkah awal dan strategis yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu mengetahui karakteristik wilayah secara utuh baik dilihat dari potensi kelautan yang dimiliki, perkembangan wilayah yang terjadi selama ini maupun kendalakendala yang dihadapi dalam pengembangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah perairan Kabupaten Kupang sangat potensial untuk pengembangan di sektor kelautan. Hal ini dilihat dari kondisi iklim dan ekologis perairan yang sangat mendukung untuk pengembangan sektor ini. Di sisi lain, produksi rumput laut mengalami peningkatan, dan yang terdata secara total mencapai sekitar 3.757,16 ton pada tahun 2007 (DKP Kabupaten Kupang, 2008). Jenis budidaya laut dari sektor kelautan yang potensial untuk dikembangkan antara lain teripang, mutiara, keramba jaring apung dan rumput laut. Namun demikian, dalam pengembangannya sangat dibatasi oleh faktor kesesuaian dan daya dukung lahan dimana dari keempat komoditas tersebut budidaya rumput laut berada pada kelas kesesuaian sangat sesuai dan layak (Tabel 6) untuk dikembangkan baik dari sisi ekologi maupun ekonomi (Tabel 17). Melihat potensi yang dimiliki Kabupaten Kupang, maka kebijakan pembangunan di wilayah ini diarahkan pada pembangunan sektor kelautan melalui pengembangan minabisnis yang didukung oleh kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai baik dari sarana dan prasarana umum maupun sarana dan prasarana pengembangan minabisnis, hal ini sesuai dengan hasil analisis keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi (Tabel 35) dimana sarana dan prasarana minabisnis dalam hal ini penggunaan alat dan mesin budidaya laut untuk produksi dan industri pengolahan rumput laut. Salah satu konsep pembangunan ekonomi wilayah yang berbasis pada potensi kelautan dan perikanan adalah pengembangan kawasan minapolitan atau dikenal dengan kota perikanan. Konsep ini sebenarnya berawal dari konsep agropolitan yang digagas oleh pemerintah dalam hal ini departemen pertanian bekerjasama dengan departemen pekerjaan umum pada tahun 2002 dalam 220 rangka membangun desa-kota berimbang melalui pengembangan kota pertanian di perdesaan. Keberhasilan dari agropolitan ini kemudian menjadi contoh yang diambil oleh departemen kelautan dan perikanan selanjutnya oleh menteri kelautan dan perikanan Republik Indonesia menetapkan peraturan menteri No.12/Men/2010 tentang minapolitan. Dasar hukum minapolitan ini sejalan dengan program pemerintah daerah Provinsi NTT yaitu gemala, sehingga pengembangan minapolitan ini perlu dilakukan dalam rangka pembangunan ekonomi wilayah berbasis potensi kelautan. Walaupun dalam penetapan kawasan minapolitan Kabupaten Kupang ditetapkan sebagai kawsan minapolitan penggaraman namun tidak menutupi kemungkinan bagi sektor budidaya laut yang sangat potensial di Kabupaten Kupang. Penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi bagi pemerintah daerah agar Kabupaten Kupang juga dapat dijadikan minapolitan berbasis budidaya laut dalam hal ini rumput laut. Berkaitan dengan hal tersebut, sekitar 98% masyarakat pesisir setuju jika wilayah ini dijadikan sebagai wilayah pengembangan kawasan minapolitan karena mereka yakin bahwa dengan pengembangan kawasan minapolitan dapat menciptakan lapangan kerja. Namun demikian, kondisi eksisting kawasan masih berada pada strata pra kawasan minapolitan II. Untuk meningkatkan strata kawasan, variabel lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk, jumlah rumah tangga nelayan, jumlah sarana dan prasarana umum, jumlah komoditas budidaya laut, dan banyaknya keluarga pra sejahtera. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut, untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. 221 Hasil simulasi setiap komponen penyusun sub model menunjukkan kecenderungan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif melalui proses reinforcing dan timbal balik melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam sistem dinamik mengikuti pola dasar archtype “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dalam kerangka pengembangan wilayah, akan lebih efektif bila dilaksanakan secara bersamasama dari seluruh stakeholder yang terkait baik di tingkat pusat maupun daerah. Otonomi daerah telah membuka peluang desentralisasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, hal ini penting karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan banyak memiliki daerah terisolasi, miskin alat transportasi dan komunikasi, masih lemah sistem administrasi pemerintahannya, masih kurangnya kapasitas SDM, serta begitu banyaknya masyarakat yang menggantungkan kehidupan dan nafkahnya pada sumberdaya pesisir dan laut. Dengan demikian, antara pemerintah dan masyarakat akan semakin dekat dan terpetakan berbagai masalah yang dihadapi sebagian besar masyarakat. Pembangunan perekonomian daerah, terutama yang didasarkan pada sumberdaya wilayah pesisir dan laut dapat dilakukan dengan lebih baik dan memperhatikan kelestarian lingkungan, sehingga didapat konsep pembangunan yang berkelanjutan yaitu pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. 10 REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN KUPANG 10.1 Kebijakan Umum Potensi perikanan dan kelautan di Kabupaten Kupang yang cukup besar dan belum tergali secara optimal, karenanya diperlukan langkah strategis yang mampu mengatasi permasalahan yang begitu lama membelit sektor ini. Salah satu upaya mungkin dengan revolusi biru yang berarti melakukan perubahan yang signifikan dengan mengangkat konsep pembangunan berkelanjutan dengan program nasional minapolitan yang intensif. Konsep pembangunan ini sejalan dengan Arah Umum Pembangunan Nasional dan Arah Kebijakan Pembangunan Kewilayahan dan Pengembangan Kawasan sebagaimana tertuang di dalam Buku I RPJM Tahun 2010-2014. Dengan konsep minapolitan pembangunan sektor kelautan dan perikanan diharapkan dapat dipercepat. Kemudahan atau peluang yang biasanya ada di daerah perkotaan perlu dikembangkan di daerah-daerah pedesaan, seperti prasarana, sistem pelayanan umum, jaringan distribusi bahan baku dan hasil produksi di sentra-sentra produksi. Sebagai sentra produksi, daerah pedesaan diharapkan dapat berkembang sebagaimana daerah perkotaan dengan dukungan prasarana, energi, jaringan distribusi bahan baku dan hasil produksi, transportasi, pelayanan publik, akses permodalan, dan sumberdaya manusia yang memadai. Konseptual minapolitan mempunyai dua unsur utama yaitu, minapolitan sebagai konsep pembangunan sektor kelautan dan perikanan berbasis wilayah dan minapolitan sebagai kawasan ekonomi unggulan dengan komoditas utama produk kelautan dan perikanan. Secara ringkas minapolitan dapat didefinisikan sebagai konsep pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan berdasarkan prinsip integrasi, efisiensi dan kualitas serta akselerasi tinggi. Kawasan minapolitan adalah kawasan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan, jasa, permukiman, dan kegiatan lainnya yang saling terkait. Dalam rangka mempertahankan eksistensi dari budidaya rumput laut maupun budidaya laut lainnya diperlukan suatu manajemen pengembangan minapolitan yang baik seperti yang terlihat pada Gambar 26. 224 Konsep minapolitan didasarkan pada tiga azas yaitu demokratisasi ekonomi kelautan dan perikanan pro rakyat, pemberdayaan masyarakat dan keberpihakan dengan intervensi negara secara terbatas (limited state intervention), serta penguatan daerah dengan prinsip : daerah kuat – bangsa dan negara kuat. Ketiga prinsip tersebut menjadi landasan perumusan kebijakan dan kegiatan pembangunan sektor kelautan dan perikanan agar pemanfaatan sumberdayanya benar-benar untuk kesejahteraan rakyat dengan menempatkan daerah pada posisi sentral dalam pembangunan. Dengan konsep ini, diharapkan pembangunan sektor kelautan dan perikanan dapat dilaksanakan secara terintegrasi, efisien, berkualitas, dan berakselerasi tinggi. Pertama, prinsip integrasi diharapkan dapat mendorong agar pengalokasian sumberdaya pembangunan direncanakan dan dilaksanakan secara menyeluruh atau holistik dengan mempertimbangkan kepentingan dan dukungan stakeholders, baik instansi sektoral, pemerintahan di tingkat pusat dan daerah, kalangan dunia usaha maupun masyarakat. Kepentingan dan dukungan tersebut dibutuhkan agar program dan kegiatan percepatan peningkatan produksi didukung dengan sarana produksi, permodalan, teknologi, sumberdaya manusia, prasarana yang memadai, dan sistem manajemen yang baik. Kedua, dengan konsep minapolitan pembangunan infrastruktur dapat dilakukan secara efisien dan pemanfaatannya diharapkan akan lebih optimal, selain itu prinsip efisiensi diterapkan untuk mendorong agar sistem produksi dapat berjalan dengan biaya murah, seperti memperpendek mata rantai produksi, efisiensi, dan didukung keberadaan faktor-faktor produksi sesuai kebutuhan, sehingga menghasilkan produk-produk ekonomi kompetitif. Ketiga, pelaksanaan pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus berorientasi pada kualitas, baik sistem produksi secara keseluruhan, hasil produksi, teknologi maupun sumberdaya manusia. Dengan konsep minapolitan pembinaan kualitas sistem produksi dan produknya dapat dilakukan secara lebih intensif. Keempat, prinsip percepatan diperlukan untuk mendorong agar target produksi dapat dicapai dalam waktu cepat, melalui inovasi dan kebijakan terobosan. Prinsip percepatan juga diperlukan untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara kompetitor, melalui peningkatan market share produk-produk kelautan dan perikanan Indonesia tingkat dunia. Konsep minapolitan akan dilaksanakan melalui pengembangan kawasan minapolitan di daerah-daerah potensial unggulan. 225 Kawasan-kawasan minapolitan akan dikembangkan melalui pembinaan sentra-sentra produksi yang berbasis pada sumberdaya kelautan dan perikanan. Pada setiap kawasan minapolitan akan beroperasi beberapa sentra produksi berskala ekonomi relatif besar, baik tingkat produksinya maupun tenaga kerja yang terlibat dengan jenis komoditas unggulan tertentu. Agar kawasan minapolitan dapat berkembang sebagai kawasan ekonomi yang sehat, maka diperlukan keanekaragaman kegiatan ekonomi, yaitu kegiatan produksi dan perdagangan lainnya yang saling mendukung. Keanekaragaman kegiatan produksi dan usaha di kawasan minapolitan akan memberikan dampak positif (multiplier effect) bagi perkembangan perekonomian setempat dan akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan pendekatan kawasan dan sentra produksi, diharapkan pembinaan unit-unit produksi dan usaha dapat lebih fokus dan tepat sasaran. Walaupun demikian, pembinaan unit-unit produksi di luar kawasan harus tetap dilaksanakan sebagaimana yang selama ini dijalankan, namun dengan konsep minapolitan pembinaan unit-unit produksi di masa depan dapat diarahkan dengan menggunakan prinsip-prinsip integrasi, efisiensi, kualitas dan akselerasi tinggi. Penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan Kabupaten Kupang dapat berupa sentra produksi dan perdagangan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan ikan, atau pun kombinasi kedua hal tersebut. Sentra produksi dan perdagangan rumput laut yang dapat dijadikan penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan adalah pelabuhan perikanan yang bertempat di Kelurahan Namosain. Penggerak utama minapolitan di bidang budidaya rumput laut adalah sentra produksi dan perdagangan di lahan-lahan budidaya produktif yaitu Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Sentra produksi pengolahan dan perdagangan rumput laut yang berada di sekitar pelabuhan perikanan, juga dapat dijadikan penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan. Untuk dapat mengakomodasi kebutuhan pembangunan, “pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut” dapat dipadukan dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan pengembangan minapolitan yang telah dilaksanakan secara bertahap dari tahun 2010 sampai dengan 2015. 226 10.2 Kebijakan Operasional Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa alternatif kebijakan dalam rangka pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut. Konsep keterpaduan dalam pengembangan kawasan ini harus didukung oleh keterpaduan lainnya baik dalam hal keterpaduan antar wilayah, keterpaduan antar sektor, keterpaduan antar stakeholder, dan keterpaduan antar disiplin ilmu. Keterpaduan antar wilayah dapat dilihat dari wilayah pengembangan bahwa tidak saja dilaksanakan pada satu wilayah atau kecamatan namun dilaksanakan pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Semau, Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Sulamu. Keterpaduan antar sektor dapat dilihat dari banyaknya sektor yang terkait dan terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan ini dengan mengintegrasikan semua kepentingan sektor-sektor tersebut, sedangkan keterpaduan antar stakeholder dapat dilihat dari banyaknya stakeholder yang terlibat dalam pengembangan kawasan minapolitan (hasil analisis ISM untuk sub elemen kendala) ini baik pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, LSM, dan pihak swasta yang menjadi aktor dalam memajukan kawasan minapolitan ini. Keterpaduan disiplin ilmu menekankan bahwa untuk memajukan kawasan perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu mengingat Kabupaten Kupang memiliki karakteristik wilayah dan sosial yang cukup beragam. Dalam rangka menjamin keterpaduan antar stakeholder maupun dalam kelembagaan dalam program pengembangan minapolitan, perlu dilakukan tahapan keterlibatan setiap lembaga yang mengacu pada hasil analisis ISM untuk sub elemen lembaga (Gambar 35). Dalam rangka mendukung keterpaduan pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kabupaten Kupang, maka beberapa rumusan arahan kebijakan yang perlu dikembangkan sebagai kebijakan operasional antara lain : 1. Menetapkan Kelurahan Sulamu, Desa Hansisi, dan Desa Tablolong sebagai sentra produksi budidaya rumput laut dan desa-desa lainnya sebagai hinterland. Hal ini terkait dengan wilayah perairan yang peruntukkannya untuk budidaya rumput perkembangan laut desa (Gambar 6 sampai 8) tersebut lebih maju dan menurut dibandingkan tingkat dengan desa/kelurahan lainnya. Penetapan wilayah ini juga berdasarkan hasil analisis prospektif untuk tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem pengembangan minapolitan (Gambar 45). 227 2. Membangun sarana dan prasarana budidaya rumput laut (minabisnis) yang dibutuhkan (hasil analisis ISM untuk sub elemen kebutuhan) baik pada sentra produksi maupun pada daerah hinterland yang didukung oleh sarana dan prasarana umum yang memadai terutama sarana dan prasarana transportasi dan telekomunikasi di seluruh desa di kawasan minapolitan (Gambar 33). Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas usaha budidaya, memudahkan akses antar wilayah dalam pengadaan sarana produksi rumput laut, dan pemasaran hasil budidaya. 3. Menggerakkan diversifikasi komoditas rumput laut dalam industri olahan rumah tangga pembudidaya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar menjaga kontinuitas pasar dan memberikan nilai tambah yang tinggi kepada pembudidaya (petani rumput laut). Diversifikasi komoditas rumput laut dapat dilakukan dengan mengintroduksi komoditas rumput laut menjadi berbagai macam olahan makanan selain dodol dan pilus, terutama yang diminta oleh pasar. 4. Meningkatkan produksi rumput laut di kawasan minapolitan melalui ekstensifikasi sampai pada batas maksimal ketersediaan lahan budidaya rumput laut. Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan seperti kantung karbon rumput laut dan mesin pengering dapat diterapkan agar mencapai produksi rumput laut yang maksimal (hasil analisis dimensi keberlanjutan teknologi). Selanjutnya berdasarkan hasil simulasi model dinamik (Tabel 37 sampai 39) dengan laju pertumbuhan lahan budidaya 10% setiap tahun, lahan budidaya eksisting (tahun 2007) adalah 1,21 km2 maka lahan budidaya yang terpakai sampai pada tahun 2037 baru mencapai 3,41 km2 dari 5,94 km2 total lahan budidaya yang tersedia di Kecamatan Semau. Total lahan budidaya yang tersedia di Kecamatan Kupang Barat sebesar 22,29 km2, lahan budidaya eksisting 3,23 km2 akan meningkat menjadi 9,10 km2 pada tahun 2037, sedangkan untuk Kecamatan Sulamu, total lahan budidaya yang tersedia sebesar 3,20 km2 dengan lahan budidaya eksisting 0,10 km2 akan meningkat menjadi 0,29 km2 pada tahun 2037. Dengan demikian peluang kegiatan ekstensifikasi masih besar. 5. Meningkatkan kapasitas pembudidaya dengan memberikan pendidikan baik pendidikan formal maupun informal seperti pelatihan-pelatihan, lokakarya, dan kursus (Gambar 45). Hal ini penting dilakukan mengingat pembudidaya sebagai penggerak utama kawasan minapolitan diharapkan mampu 228 berprakarsa secara mandiri dan kreatif untuk mencari langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan budidaya termasuk dalam pengolahan hasil budidaya dan pemasarannya. 6. Menumbuhkembangkan kelembagaan ekonomi masyarakat pembudidaya baik pada on farm maupun off farm yang tumbuh dari, oleh, dan untuk kepentingan masyarakat itu sendiri dan bukan kelembagaan yang dibentuk untuk kepentingan instansi pembina tetapi membutuhkan pembinaan dari instansi/lembaga yang terkait karena pada umumnya pembudidaya berusaha sendiri-sendiri dengan ketrampilan dan modal seadanya. Langkah yang dapat dilakukan adalah memberi dorongan dan bimbingan agar mereka mampu bekerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok, selanjutnya membentuk gabungan kelompok atau asosiasi. Apabila kelompok ini sudah berjalan dengan baik dan lancar, bimbingan selanjutnya diarahkan agar mereka mampu menjadi salah satu lembaga ekonomi formal. 7. Meningkatkan koordinasi dan menjalin kemitraan yang baik pada semua stakeholder yang terkait. Dalam hal ini koordinasi dan kemitraan antara pemerintah, masyarakat (pembudidaya) dan dunia usaha menjadi sangat penting dalam pengembangan kawasan minapolitan sesuai dengan kewenangan masing-masing. Peran pemerintah diharapkan dalam hal penyediaan sarana dan prasarana publik yang strategis dan kegiatan-kegiatan riset budidaya. Peran dunia usaha seperti lembaga swasta dan perbankan adalah dalam hal penyediaan input budidaya dan dalam pengolahan hasil budidaya, sedangkan masyarakat sebagai pelaku utama memberikan kontribusi dalam pemanfaatan sarana dan prasarana yang telah disiapkan oleh pemerintah dna dunia usaha untuk meningkatkan pendapatannya. 8. Meningkatkan status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan ke depan baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan-perbaikan secara menyeluruh dan terpadu terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap peningkatan status kawasan. Berdasarkan hasil MDS (Gambar 38) dan analisis prospektif (Gambar 45), terdapat 18 atribut (Tabel 35) yang perlu ditangani dengan baik untuk meningkatkan status keberlanjutan mencapai 80%. Namun demikian agar status keberlanjutan kawasan ke depan dapat lebih meningkat, maka perbaikan terhadap atribut tidak sensitif juga perlu dilakukan. 11 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Potensi, daya dukung, tingkat perkembangan, persepsi, dan status keberlanjutan Kabupaten Kupang dalam pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut sebagai berikut : a. Berdasarkan hasil analisis potensi keruangan (spasial) dengan menggunakan SIG untuk tiga kecamatan di Kabupaten Kupang, didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2 dengan daya dukung lahan untuk budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline seluas 3000 m2. Peluang usaha rumput laut mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. b. Tingkat perkembangan wilayah termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. c. Masyarakat wilayah Kabupaten Kupang setuju bila daerahnya dikembangkan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. d. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut. Untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Dalam hal ini peran masyarakat nelayan dan industri pengolahan hasil budidaya laut sangat diperlukan untuk menjamin kesuksesan pengembangan minapolitan di Kabupaten Kupang. 230 e. Berdasarkan kondisi eksisting di lokasi penelitian berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang, dimensi ekologi dan sosial-budaya berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi serta dimensi hukum dan kelembagaan kurang berkelanjutan, sedangkan dimensi ekonomi cukup berkelanjutan. Secara multidimensi wilayah budidaya laut di Kabupaten Kupang cukup berkelanjutan dengan 18 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi ekologi, 5 atribut pada dimensi ekonomi, 3 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 4 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 3 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status pengembangan Kabupaten kawasan Kupang minapolitan adalah skenario berbasis budidaya progesif-optimistik laut di dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 5 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. 2. Model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dibangun dari tiga sub model berdasarkan hasil analisis sistem dinamik. Ketiga sub model tersebut meliputi sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran produk. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan membentuk kurva pertumbuhan positif (positive growth) naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam 231 sistem dinamik mengikuti pola dasar (archtype) “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. Arahan kebijakan dalam pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang adalah sebagai berikut : a. Hasil identifikasi potensi budidaya laut di Kabupaten Kupang menunjukkan bahwa wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut. b. Rumusan kebijakan yang dapat dilakukan antara lain : (1) Menetapkan Kelurahan Sulamu, Desa Hansisi, dan Desa Tablolong sebagai sentra produksi budidaya rumput laut dan desa-desa lainnya sebagai hinterland. (2) Membangun sarana dan prasarana budidaya rumput laut (minabisnis) yang dibutuhkan baik pada sentra produksi maupun pada daerah hinterland. (3) Menggerakkan diversifikasi komoditas rumput laut dalam industri olahan rumah tangga pembudidaya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. (4) Meningkatkan produksi rumput laut di kawasan minapolitan melalui ekstensifikasi sampai pada batas maksimal ketersediaan lahan budidaya rumput laut. (5) Meningkatkan kapasitas pembudidaya. (6) Menumbuhkembangkan kelembagaan ekonomi masyarakat pembudidaya baik pada on farm maupun off farm. (7) Meningkatkan koordinasi dan menjalin kemitraan yang baik pada semua stakeholder yang terkait. (8) Meningkatkan status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan ke depan baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. 11 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Potensi, daya dukung, tingkat perkembangan, persepsi, dan status keberlanjutan Kabupaten Kupang dalam pengembangan minapolitan berbasis budidaya laut sebagai berikut : a. Berdasarkan hasil analisis potensi keruangan (spasial) dengan menggunakan SIG untuk tiga kecamatan di Kabupaten Kupang, didapatkan luas kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut sebesar 31,43 km2 dengan daya dukung lahan untuk budidaya rumput laut pada kategori sangat sesuai dapat memanfaatkan 10.473 unit longline seluas 3000 m2. Peluang usaha rumput laut mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kupang. b. Tingkat perkembangan wilayah termasuk dalam strata pra kawasan minapolitan II. Dilihat dari kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap desa, terdapat 6 desa dengan tingkat perkembangan lebih maju, 7 desa dengan tingkat perkembangan sedang, dan 11 desa dengan tingkat perkembangan tertinggal. c. Masyarakat wilayah Kabupaten Kupang setuju bila daerahnya dikembangkan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut. Jenis budidaya laut yang dikembangkan adalah minapolitan rumput laut dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan masyarakat. Faktor yang perlu diperhatikan adalah sumberdaya manusia dan aktor yang berperan adalah nelayan/pembudidaya. Prioritas lokasi industri pengolahan budidaya laut adalah Desa Tablolong dan lokasi pasar produk budidaya laut bertempat di Kota Kupang sebagai sentra pasar pusat. d. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang adalah tanggung jawab pemerintah terhadap potensi budidaya laut. Untuk mengatasinya dibutuhkan penyediaan infrastruktur, dan sarana dan prasarana produksi budidaya laut yang memadai. Dalam hal ini peran masyarakat nelayan dan industri pengolahan hasil budidaya laut sangat diperlukan untuk menjamin kesuksesan pengembangan minapolitan di Kabupaten Kupang. 230 e. Berdasarkan kondisi eksisting di lokasi penelitian berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang, dimensi ekologi dan sosial-budaya berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi serta dimensi hukum dan kelembagaan kurang berkelanjutan, sedangkan dimensi ekonomi cukup berkelanjutan. Secara multidimensi wilayah budidaya laut di Kabupaten Kupang cukup berkelanjutan dengan 18 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi ekologi, 5 atribut pada dimensi ekonomi, 3 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 4 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 3 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status pengembangan Kabupaten kawasan Kupang minapolitan adalah skenario berbasis budidaya progesif-optimistik laut di dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 5 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk pengembangan kawasan minapolitan berbasis budidaya laut di Kabupaten Kupang. 2. Model pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Kupang dibangun dari tiga sub model berdasarkan hasil analisis sistem dinamik. Ketiga sub model tersebut meliputi sub model lahan, sub model budidaya laut, dan sub model industri pengolahan dan pemasaran produk. Hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kecenderungan membentuk kurva pertumbuhan positif (positive growth) naik mengikuti kurva eksponensial. Namun pada komponen pertambahan penduduk dan peningkatan lahan permukiman selalu diimbangi oleh laju pengurangan jumlah penduduk akibat kematian dan migrasi keluar sehingga dalam model ini terjadi hubungan timbal balik positif (positive feedback) melalui proses reinforcing dan timbal balik negatif (negative feedback) melalui proses balancing. Adapun komponen lahan budidaya yang telah ditentukan kesesuaian dan daya dukung lahan berdasarkan parameter untuk budidaya rumput laut sehingga pertambahan luas lahan budidaya rumput laut pada suatu saat akan sampai pada titik keseimbangan tertentu (stable equilibirium) yaitu luas lahan budidaya dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai, bentuk model seperti ini dalam 231 sistem dinamik mengikuti pola dasar (archtype) “limits to growth”. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan adalah skenario optimis dengan melakukan intervensi yang lebih besar terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model. Arahan kebijakan dalam pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kupang adalah sebagai berikut : a. Hasil identifikasi potensi budidaya laut di Kabupaten Kupang menunjukkan bahwa wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan kawasan minapolitan berbasis rumput laut. b. Rumusan kebijakan yang dapat dilakukan antara lain : (1) Menetapkan Kelurahan Sulamu, Desa Hansisi, dan Desa Tablolong sebagai sentra produksi budidaya rumput laut dan desa-desa lainnya sebagai hinterland. (2) Membangun sarana dan prasarana budidaya rumput laut (minabisnis) yang dibutuhkan baik pada sentra produksi maupun pada daerah hinterland. (3) Menggerakkan diversifikasi komoditas rumput laut dalam industri olahan rumah tangga pembudidaya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. (4) Meningkatkan produksi rumput laut di kawasan minapolitan melalui ekstensifikasi sampai pada batas maksimal ketersediaan lahan budidaya rumput laut. (5) Meningkatkan kapasitas pembudidaya. (6) Menumbuhkembangkan kelembagaan ekonomi masyarakat pembudidaya baik pada on farm maupun off farm. (7) Meningkatkan koordinasi dan menjalin kemitraan yang baik pada semua stakeholder yang terkait. (8) Meningkatkan status keberlanjutan Kabupaten Kupang untuk pengembangan kawasan minapolitan ke depan baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. DAFTAR PUSTAKA Abelson, P. 1979. Cost Benefit Analysis and Environmental Problems. Macquire University, New South Wales. Printed by Itchen Printers Limited, Suthampton, England. p 41-43. Anggoro, S,. 2004, Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah, MSDP, UNDIP, Semarang. Bakosurtanal. 1996. Pengembangan Prototipe Wilayah Pesisir dan Marine, Kupang-Nusa Tenggara Timur. Pusat Bina Aplikasi Inderaja dan Sistem Informasi Geografis, Cibinong. Barlas, Y. 1996. Formal Aspects of Model Validity and Validation of System Dynamics. System Dynamics Review, Vol. 12, No. 3 (Fall), pp. 183-210. John Wiley & Sons, Ltd. US. Basmi, J. 2000. Planktonologi : Plankton Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan. Makalah, Fakultas Perikanan Instistut Pertanian Bogor, Bogor. Baveridge, M.C.M. 1987. Cage and Open Farming: Carrying Capacity Models and Environmental Impact. FAO Fish Tech. Paper. 225. FIRT/T255, 131p. Experiment Station, Auburn University. Alabama. 482p. Baveridge, M.C.M. 1996. Cage Aquaculture 2nd Edition. Fishing News Book Ltd. Farnham, Surrey, England. 352p. Beatley, T., D.J. Brower, & A.K. Scwab. 1994. Understanding The Coastal Environment, The Special Nature Of Coastal Areas. An Introduction to Coastal Zone Management. Island Press, Washington, D.C., pp. 11-31. Bengen, D.G. 2004. Ragam Pemikiran : Menuju Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan Berbasis Eko-Sosiosistem. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut. Bogor. 106hal. Bourgeois, R. 2007. Bahan Pelatihan Analisis Prospektif Partisipatif. Training of Trainer ICASEPS. Bogor. 37 hal. Bourgeois, R. and F. Jesus. 2004. Participatory Prospective Analysis, Exploring and Anticipating Challenges with Stakeholders. Center for Allevation of Poverty through Secondary Crops Development in Asia and The Pasific and French Agricultural Research Centre for International Development. Monograph (46). 91p. Budiharsono, S. 2001. Teknik Analsis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Pradyna Paramita. Jakarta. 159hal. Burrough, P.A. 1986. Principles Of Geographycal Information System for Land Resources Assesment. Monograph on Soil and Resources Surveys . No. 12. UK: Oxford Science Publication. 234 Burrough, P. A., and R.A. McDonnel. 1998. Principles Of Geographycal Information Systems. Oxford University Press. 327p. [BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kupang. 2008. Kabupaten Kupang dalam Angka (Kupang Regency in Figures) 2008. Kupang. Nusa Tenggara Timur. 424hal. [BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Kupang. 2010. Kabupaten Kupang Dalam Angka. No. Katalog : 1403.5303. Kupang. NTT. Chrisman. 1996. Exploring Geographic Information Systems. University of Washington. Cincin-Sain, B. 1993. Sustainable Development and Integrated Coastal Zone Management. Ocean and Coastal Management. Island Press. California. Clark, W.A.V. and P.L. Hosking. 1986. Statistical Method for Geographers. John Wiley and Sons, Inc. 513p. Dacles, T., Beger,M., Ledesma, G.L. 2000. Southern Negros Coastal Development Programme Recommendations for Location and Level of Protection of Marine Protected Areas in Municipality of Sipalay. Phillipine Reef and Rainforest Conservation Foundation Inc. and Coral Cay Conservation Ltd. Dawes, C.J. 1985. Marine Botany. New York: John Wiley and Son Inc. 229 hal. DeMers, M. 1997. Fundamentals of Geographic Information System. New York: John Wiley and Son Inc. [Deptan] Departemen Pertanian. 2002. Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Agropolitan dan Pedoman Program Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. [Ditjenkan Budidaya] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2004. Petunjuk Teknis Budidaya Laut : Rumput Laut Euchema cottonii spp. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 40 hal. [Ditjenkan Budidaya] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2005. Profil Rumput Laut Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Djojomartono, M. 2000. Dasar-dasar Analisis Sistem Dinamik. Program Pascasarjana Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 55hal. [DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan. 2002. Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Tahun 2002. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Modul Sosialisasi dan Orientasi Penataan Ruang, Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Ditjen 235 Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Panduan Mata Pencaharian Alternatif. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 64 hal. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2009. Indonesian Fisheries Book 2009. Departemen Kelautan dan Perikanan dan JICA. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2009. Kep.45/dj-pb/2009. Keputusan Dirjen Budidaya mengenai Pengembangan Sentra Budidaya. Jakarta. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2010. Kebijakan Pengembangan Kawasan Minapolitan sebagai Langkah DKP Dalam Mendukung Pengembangan Wilayah. Makalah Presentasi. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Jakarta. DKI Jakarta. [DKP NTT] Dinas Kelautan dan Perikanan NTT. 2008. Data Base Perikanan Kabupaten Kupang. Kupang. NTT. [DKP NTT] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kupang. 2010. Potensi Sumberdaya Perikanan dan Pemanfaatannya. Kupang. NTT. Doty, M.S. 1985. Biotechnological and Economic Approaches to Industrial Development Based on Marine Algae in Indonesian - Papers. Workshop on Marine Algae in Biotechnology. Jakarta. Effendi. H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Eriyatno. 1998. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Jilid 1. Edisi Ketiga IPB Press. Bogor. Eryatno dan F. Sofyar. 2007. Riset Kebijakan, Metode Penelitian untuk Pascasarjana. IPB Press. Bogor. 79hal. ESRI. 1990. Understanding GIS. The Arc/Info Method Environmental System Research Institute. Redlands, CA. USA. FAO. 1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soils Bull No.32. Rome, 72 pp and ILRI Publication No.22. Wageningen. 87p. FAO. 2003. A Guide to The Seaweed Industry. FAO Fisheries Technical Paper No. 441. FAO. 2009. The State of World Fisheries and Aquaculture 2008. Food And Agriculture Organization Of The United Nations. Rome. Fisheries. 1999. Rapfish Software for Excel. Fisheries Center Research Reports. 75pages. 236 Friedmann, J. 1966. Regional Development Policy: a case study of Venezuela. Cambridge: MIT Press. FWA. 1998. Planning for the Further Development of Aquaculture and Marine Farming Industry at Jurien Bay. Fisheries Management Report No. 4. Fisheries Western Australia. Australia. Ghofar, A., 2004, Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Secara Terpadu dan Berkelanjutan, Cipayung-Bogor. Ghufron. M, dan H. Kordi. 2005. Budidaya Ikan Laut di Keramba Jaring Apung. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Godet, M. 1999. Scenarios and Strategies. A Toolbox for Scenario Planning. Librairie des Arts et Meteirs. Paris. France. Godschalk, D. R, Park FH. 1978. Carrying capacity: a key to environmental planning. J. Soil Water Conserv. 30, 160 –165. Hall, C.A.S and J.W. Day.1977. Ecosystem Modelling in Theory and Practise an Introduction with Case Historie. John Wiley and Son. New York. Hardjomidjojo, H. 2006. Panduan Lokakarya Analisis Prospektif. Materi Kuliah Program Studi PSL Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor. 23hal. Haumau, S. 2005. Distribusi Spatial Fitoplankton di Perairan Teluk Haria Saparua, Maluku Tengah. Ilmu Kelautan Indonesian Journal Of Marine Science, UNDIP. Vol 10. No 3. hal 126 – 136. Hirschman, A. O. 1958. The Strategy of Economic Development. New Haven : Yale University Press. Iriawan. N, dan Astuti SP. 2006. Mengolah Data Statistik dengan Mudah menggunakan Minitab 14. Yogyakarta: Penerbit Andi. JICA. 2009. Indonesian Fisheries Statistic Indeks 2009. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Jones, R.R, Wigley T. 1989. Ozone Depletion: Health and Environmental Consequences. John Wiley & Sons, New York. Jurana, J.M. 1996. Problems Related to GIS Application and Geographic Database Development in Developing Countries. International Conference on The Role of GIS for the Enhancement of National Spasial Planning. Jakarta 21-22 October 1996. Kadariah et al. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Universitas Indonesia. Jakarta. Kadi, A dan W.S. Atmajaya. 1988. Rumput Laut (Algae). Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. 71 hal. 237 Kanungo, S and V.V.Bhatnagar. 2002. Beyond Generic Models for Information System Quality: The Use of Interpretive Structural Modeling (ISM). System Research and Behavioral Science. Syst. Res. 19, 531-549. Kapestky, J.M., L. Mc Gregor, and H. Nanne. 1987. A Geographical kinformation System and Satellite Remote Sensing to Plan for Aquaculture Development: A FAO – UNEP/GRID Cooperative Study in Costa Rica. FAO Fish. Tech. Pap. (287):51p. Kavanagh, P. 2001. Rapid Appraisal of Fisheries (Rapfish) Project. Rapfish Software Description (for Microsoft Excel). Vancouver: University of British Colombia, Fisheries Center. Canada. 10(2): 352-370. Kavanagh P. and T.J. Pitcher. 2004. Implementing Microsoft Excel Software for Rapfish: A Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status. University of British Columbia. Fisheries Centre Research Reports 12(2) ISSN: 1198672. Canada. 75p. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikaan. 2010. Kelautan dan Perikanan Dalam Angka 2009. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republuk Indonesia. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Per.12/Men/2010 mengenai Minapolitan. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2009. Kep.41/Men/2009 mengenai Penetapan Kawasan Minapolitan. Jakarta. [KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2010. Kep.32/Men/2010 mengenai Penetapan Kawasan Minapolitan. Jakarta. [Kemenko Ekonomi] Kementerian Koordinator Perekonomian RI. 2010. Kebijakan Pengembangan Ekonomi dan Pembiayaan Usaha Kelautan dan Perikanan. Disampaikan pada Rapat Koordinasi Nasional KKP. Jakarta. [Kemeneg LH] Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Tentang Baku Mutu Air Laut. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. Jakarta. Maguire DJ, Dangermond J. 1991. The Fungtionality of GIS, p. 319 -335. In Maguire DJ, Goodchild MF, dan Rhind DW, editor. Geographycal Information Systems. New York: Longman Scientific and Technical. John Wiley. Manetsch, T.J and G.L. Park. 1979. System Analysis and Simulation with Application to Economic and Social System (terjemahan). Part I 3rd edition. Departement of Electrical Enginering and System Science. Michigan State University East Lansing. Michigan. 64p. Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Jakarta. 197hal. 238 Marimin. 2005. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Grasindo. Jakarta. Meadows, D.H. 1985. The Electronic Oracle: Computer Model and Social Decision, Chichester, John Wiley. New York. Muhammadi, E. Aminullah, dan B. Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis, Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Jakarta. 414hal. Myrdal, G. 1975. Economic Theory and Under-development Regions. London: Duckworth. Pitcher and Priekshot. 2001. Rapfish: A Rapid Appraisal Technique to Evaluate The Sustainability Status of Fisheries Research 49(3): 225-270. Porter, M. 2000. Location, Competition, and Economic Development: Local Clusters in a Global Economy. Economic Development Quarterly, 14(1): 1534, February 2000. Harvard Bussiness School Press. Boston, MA. Postel, S. 1989. Halting land degradation. Pages 21 -40 in L. Brown, A. Durning, C. Flavin, L. Heise, J. Jacobson, S. Postel, M. Renner, C. P. Shea, and L. Starke, eds. State of the World 1989. Norton, New York. Pranoto, Sugimin. 2005. Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan Melalui Model Pengembangan Agropolitan. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 293hal. Price, D.1999. Carrying Capacity Reconsidered. Populat. Environ. 21 (1), 5–26. Program Pascasarjana IPB. Purwanto, 2003, Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Radarwati, Siti. 2010. Pengelolaan Perikanan Tangkap Berkelanjutan Di Perairan Jakarta, Provinsi DKI Jakarta. (Ringkasan Disertasi Sidang Terbuka) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Radiarta, I. Ny., S. E. Wardoyo., B. Priyono dan O. Praseno. 2003. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Lokasi Pengembangan Budidaya Laut di Teluk Ekas, NTB. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta. Vol 9 No.1, hal 67 – 71. Rauf, A. 2008. Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulauan Tanakeke Berbasis Daya Dukung. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 211hal. Robert, N. 1983. Introduction for Computer Simulation: A System Dinamics Modelling Approach. Addison-Wesley Publishing Company. Massachusetts. 239 Romimohtarto, K. 2003. Kualitas [www.fao.org/docrep/field/003] Air dalam Budidaya Laut. Roughgarden, J. 1979. Theory of Population Genetics and Evolutionary Ecology: An Introduction. Macmillan, New York. Rustam. 2006. Budidaya Teripang. Pelatihan Budidaya Laut. Coremap Fase II Kabupaten Selayar. Yayasan Mattirotasi. Makassar. Saaty, T.L. 1993. Pengambilan Keputusan bagi Para Pemimpin: Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks (terjemahan). Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. 270 hal. Saksono, H. 2008. Kajian Pembangunan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Berbasis Industri Perikanan. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Saxena J.J.P, Sushil and Vrat, P. 1992. Hierarchy and Classification of Program Plan Elements using Interpretative Structural Modelling. System Practice, Vol. 5 (6), 651:670. Soegiarto, A; W.S Sulistijo; dan H. Mubarak. 1978. Rumput Laut (Alga) : Manfaat, Potensi dan Usaha Budidaya. PT Pustaka Binaman Presindo. Jakarta. Soegiarto, A. 1984. Oseannologi di Indonesia : Prospek dan Problem Usaha Pengembangan Sumberdaya Alam Lautan dan Wilayah Pesisir. Lembaga Oseanologi Nasional – LIPI. Jakarta. Soekartawai. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Subandar, A. 1999. Potensi Teknik Evaluasi Multi Kriteria dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Jurnal Sains dan Teknologi Vol.1 No.5 (Agustus 1999). Sunyoto, P. 2000. Pembesaran Kerapu dengan Keramba Jaring Terapung. PT. Penebar Swadaya. Depok. Supriharyono, 2000, Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang, Pn. Djambatan, Jakarta. Susilo, S. B. 2003. Keberlanjutan Pembangunan Pulau-pulau Kecil (Studi Kasus Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta). (Disertasi) Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor. 211hal. Thamrin. 2009. Model Pengembangan Kawasan Agropolitan Secara Berkelanjutan Di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia. Disertasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 289hal. Undang-undang RI No. 25 Tahun 2000. Program Pembangunan Nasional (Propenas). 143 Hal. [http://legislasi.mahkamahagung.go.id/] Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 240 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang RI No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-Undang RI No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. Walpole, R. E. 1995. Pengantar Statistika Edisi Ke-3. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 515hal. Wibisono, M. S. 2005. Pengantar Ilmu Kalautan. Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Winanto, Tj. 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Penebar Swadaya, Jakarta. LAMPIRAN 247 Lampiran 2 (lanjutan) Kriteria dan matriks kesesuaian perairan untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (DKP, 2002) Angka Bobot Skor Sumber Variabel Kisaran penilaian (B) (A×B) Penilaian (A) 1 2 3 4 5 6 Kecepatan Arus (cm/dt) 20 – 50 10 – 19 & 51 – 75 75 MPT (mg/l) 50 5 3 1 5 3 1 5 3 1 Material Dasar Perairan 15 – 25 5 – 15 & 26 – 50 35 Berpasir & Pecahan Karang Pasir Berlumpur Lumpur Oksigen Terlarut (mg/l) >6 4–6 5 3–5 15.000 & 10 4 – 10 15.000 & 6 4–6 1,5 0,5 – 1 >1 – 1,5 > 1,5 Landai, P/B/PK Agak Landai, P/B/PK Terjal, P/B/PK 28 – 30 30 – 33 33 24 – 30 31 –33 33 4–6 7 –8 >8 6,5 – 7,0 7,1 – 8,5 8,5 pH Keberadaan Lamun Banyak Sedikit Tidak ada Tingkat Pencemaran Nol Sedikit Banyak Ketersediaan Benih Alami Ada dan Dekat Ada dan Jauh Tidak Ada 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 5 3 1 15 9 3 15 9 3 15 9 3 15 9 3 3 3 3 3 15 9 3 3 10 6 2 10 6 2 10 6 2 10 6 2 5 3 1 5 3 1 5 3 1 2 2 2 2 1 1 1 Total Skor Keterangan : P/B/PK = Pasir/Berlumpur/Pecahan Karang No Kisaran Nilai (Skor) 1) 1 85 – 100 % 2 75 – 84 % 3 65 – 74 % 4 < 65 % Keterangan : 1) : Rekomendasi DKP (2002) 2) : Bakosurtanal (1996) Tingkat Kesesuaian 2) S1 S2 S3 N Sutaman (2003) dalam Coremap (2008) 130 Evaluasi/Kesimpulan Sangat sesuai Sesuai Sesuai bersyarat Tidak sesuai 250 Lampiran 3 Luas wilayah kabupaten kupang per kecamatan tahun 2009 (BPS Kabupaten Kupang, 2010) Kecamatan Luas wilayah (Km2) Persentase (1) (2) (3) 01. Semau 122,98 2,26 02. Semau Selatan 100,85 1,86 03. Kupang Barat 136,50 2,51 04. Nekamese 133,18 2,45 05. Kupang Tengah 96,64 1,78 06. Taebenu 125,69 2,31 07. Amarasi 164,78 3,03 08. Amarasi Barat 189,11 3,48 09. Amarasi Selatan 156,61 2,88 10. Amarasi Timur 175,00 3,22 11. Kupang Timur 207,69 3,82 12. Amabi Oefeto Timur 246,38 4,54 13. Amabi Oefeto 150,12 2,76 14. Sulamu 304,63 5,61 15. Fatuleu 346,26 6,38 16. Fatuleu Barat 457,25 8,42 17. Fatuleu Tengah 92,48 1,70 18. Takari 545,60 10,05 19. Amfoang Selatan 575,70 10,60 20. Amfoang Barat Daya 202,84 3,74 21. Amfoang Utara 129,64 2,39 22. Amfoang Barat Laut 318,59 5,87 23. Amfoang Timur 452,71 8,34 24. Amfoang Tengah Jumlah 5.431,23 100,00 Sumber data : Badan pertanahan nasional Kabupaten Kupang. Data Amfoang Tengah masih tergabung dengan Amfoang Selatan. 247 Lampiran 4 Nama dan arti pulau-pulau kecil di Kabupaten Kupang (DKP Kabupaten Kupang, 2008) Kecamatan Nama Di Daerah Nama yang Disepakati Arti Nama Sejarah Nama Bahasa Daerah Letak Lintang Keterangan Bujur **) 1. Semau 1.Semau 1.Semau 2. Kambing 2. Kambing - - Helong 10o14’00’’ 123o23’30” - - 10o14’24’’ 123o26’10” TBP, bervegetasi rumput, kering Dulu ada perahu tenggelam, alat timba (kera/haik) terdampar di pulau itu & dinamai kera Rote 10o05’22’’ 123o32’23” BP, 46 KK Potensi pariwisata, berpantai pasir, Luas 48 Ha 3. Kera 3. Kera Sejenis timba yg terbuat dari daun lontar 4. Batu Ina 4. Batu Ina Inang=induk - Helong 10o14’06’’ 123o24’42” TBP, bervegetasi rumput, kering 5. Tabui 5. Tabui Tampak/kelihatan - Helong 10o18’41’’ 123o16’42” TBP, bervegetasi rumput, kering 6. Merah 6. Merah Pulaunya berwarna merah - Helong 10o19’33’’ 123o20’36” TBP, bervegetasi rumput, kering - 7. Fatumeo Fatu=batu, Meo=kucing/ pengintai ikan Saat surut tempat mengintip ikan Timor 10o21’28’’ 123o35’59” TBP, Batu - 8 .Fatupene Fatu=batu, Pene=melihat Tempat melihat orang berlayar Timor 10o22’20’’ 123o36’42” TBP, Batu - 9. Fatusnasat Fatu=batu, Snasat=pemberhe ntian Tempat persinggahan nelayan Timor 10o20’33’’ 123o34’23” TBP, Batu 10. Fatunai Batu laki-laki Timor 10o20’12’’ 123o34’12” TBP, Karang 8. Fatufeu 11. Fatufeu Fatu=batu, feu=baru - Timor 10 20’39’’ 123 34’30” TBP, Karang 9. Fatuatoni 12. Fatuatoni Fatu=batu, atoni=manusia - Timor 10o20’50’’ 123o35’19” TBP, Karang 2. Semau Selatan 3. Nekamese Se=satu, mau=kemauan terdapat 2 kec: Semau dan Semau Selatan BP, Potensi mutiara, rumput laut, jambu mente, perikanan tangkap 7. Fatunai - o o 251 248 4. Amarasi Barat 13. Pan Apot 14. Fatu Tanjung perahu Fatu=batu, Tubu=gunung Afu=abu Tempat berkumpulnya burung Batu yg terletak di Tanjung Perahu 10o20’52’’ 123o35’24” TBP, Karang Timor 10o21’23’’ 123o40’44” TBP, Batu - 10o21’40’’ 123o41’18” TBP, Batu - 10o01’30’’ 123o39’07” TBP, tempat penangkapan ikan 12. Burung 16. Burung 13. Tikus 17. Tikus Mirip tikus Dulu banyak dihuni tikus - 10o03’06’’ 123o36’45” TBP, karang bervegetasi, tempat penangkapan ikan - 18. Fatubnao Fatu=batu Bnao=kapal Dulu, saat perang ada kapal rusak disitu dan untuk mengenang peristiwa itu, batu itu dinamai batu kapal - 09o42’32’’ 123o40’52” TBP, karang Luas 0,4 Ha - 19. Batu Tanjung mas Batu di dekat Tanjung mas - Sabu 09o37’39’’ 123o40’35” TBP, karang - 20. Batu Hitam Batu berwarna hitam - Sabu 09o36’14’’ 123o42’10” TBP, karang 123o59’37” Pulau terluar, BP tidak tetap, Luas 14,5 Ha, ada mercusuar, helipad, pos TNI. Dulu bernama Fatusinai artinya batu sedih 14. Batek 21. Batek - Timor 15.Tubuafu 7. Amfoang B. Daya 8. Amfoang Timur - 11.Tubuafu 5. Sulamu 6. Fatuleu Barat Pan=ujung Apot=bunyi - - Timor 10o15’25’’ 252 10. Pan Apot 253 Lampiran 5 Sebaran desa/kelurahan pesisir di Kabupaten Kupang No Kecamatan 1 Semau 2 Semau Selatan Desa/Kelurahan Pesisir Uitao, Bokonusan, Otan, Hansisi, Huilelot, Letbaun, Batuinan Akle, Uitiuhana, Onansila, Uitiuhtuan, Nalekan, Uiboa Lifuleo, Tesabela, Kuanheum, Nitneo, 3 Kupang Barat Bolok, Tablolong, Oematnunu, Sumlili, Oenaek 4 Nekamese 5 Kupang Tengah 6 Kupang Timur 7 Sulamu 8 Amarasi Selatan Sahraen, Buraen, Retraen 9 Amarasi Timur Pakubaun, Enoraen 10 Amarasi Barat Merbaun, Erbaun 11 Fatuleu Barat Poto, Nuataus 12 Amfoang Barat daya Manubelon, Bioba Baru 13 Amfoang Barat Laut Soliu 14 Amfoang Utara Afoan, Naikliu, Bakuin, Kolabe, Lilmus 15 Amfoang Timur Jumlah Tasikona, Bone, Oepaha Tarus, Tanah Merah, Mata Air, Oebelo, Noelbaki Nunkurus, Merdeka, Babau, Tuapukan, Oelatimo Sulamu, Pitai, Panti, Bantulan, Pantai Beringin, Oeteta, Bipolo Nunuanah, Kifu, Netemnanu Utara, Netemnanu Selatan 15 kecamatan 64 desa/kelurahan pesisir 254 Lampiran 6 Karakteristik pantai dan laut, serta luasan ekosistemnya (DKP, Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan Panjang Grs Pantai (km) Karakteristik Perairan Ekosistem Pantai dan Laut Keterangan Trmb Lamun Mangrove (Pulau Kecil, dll) Krg (ha) (ha) (ha) - P.Kera 50 220 - P.Kambing 1 Semau 98,25 Pasir, karang 2 Semau Selatan **) Pasir, karang **) **) **) 3 Kupang Barat 25,00 Pasir, karang 600 640 153,1 4 Nekamese 12,50 Pasir, kerikil 22 223 - 5 Kupang Tengah 14,50 Pasir berkerikil, lumpur - - 4,7 6 Amarasi Barat 23,00 Karang, pasir *) *) *) - P.Tubuafu 7 Amarasi Selatan *) Pasir, karang *) *) *) - 8 Amarasi Timur *) Pasir, lumpur *) *) *) - 9 Kupang Timur 4,50 Lumpur berpasir, lumpur - - 3.839,5 - 10 Sulamu 95,00 Berpasir, lumpur, dan berkarang - 27 470 11 Fatuleu Barat 25,50 Pasir, karang *) *) *) - Pulau Kecil (1 pulau) 12 Amfoang B. Daya *) Pasir, lumpur, karang *) *) - - Pulau Kecil (2 pulau) 13 Amfoang Utara *) Pasir, Karang *) *) - - 14 Amfoang B. Laut *) Pasir, lumpur, karang *) *) - - 15 Amfoang Timur *) Pasir, lumpur, karang *) *) - - P. Batek Keterangan : *) data tidak tersedia **) data masih digabung Kecamatan Semau - P.Merah - P.Tabui - pulau kecil (8 pulau) - - P.Burung - P.Tikus 255 Lampiran 7 Potensi dan sebaran jenis ikan dan non ikan dominan yang tertangkap (DKP Kabupaten Kupang, 2008) Potensi dan Jenis Ikan/non ikan Dominan No Kecamatan (1) (2) Pelagis Besar (3) Pelagis Kecil Demersal (4) (5) 1 Semau Tongkol, tuna Tembang, kembung, peperek, ikan terbang - 2 Semau Selatan Tongkol, tuna Tembang, kembung, peperek, ikan terbang Kakap 3 Kupang Barat Tongkol Tembang, julungjulung, peperek Ek.kuning, kpl.batu 4 Nekamese Cakalang Selar, layang Ek.kuning, kepala batu 5 Kupang Tengah - Teri, selar, tembang, layang, julung-julung - 6 Amarasi Barat Cucut, cakalang Tembang, Ekor kuning 7 8 Amarasi Selatan Amarasi Timur 9 Kupang Timur 10 Sulamu 11 Fatuleu Barat 12 13 14 15 Amfoang B. Daya Amfoang Utara Amfoang B. Laut Amfoang Timur Cucut Cucut Tongkol Cakalang Cakalang Cakalang Tembang, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Teri, belanak, tembang Tembang, teri, peperek Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang Tembang, teri, ikan terbang - Non ikan (6) Cumi-cumi, Ubur-ubur, teripang Cumi-cumi, Ubur-ubur, teripang Udang, Lobster, Cumicumi, Uburubur, teripang Udang, teripang, kepiting Udang, lobster, teripang Lobster Ekor kuning, kepala batu Udang, kepiting Udang, teripang, kepiting Udang, kepiting - - - - - - - - - Kepiting - 256 Lampiran 8 Potensi dan pemanfaatan areal budidaya laut s/d tahun 2005 (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No. Kecamatan (1) (2) 1 Semau 3.824,0 2 Semau Selatan 3 Kupang Barat 4 Nekamese 5 Amarasi Barat 6 Sulamu 7 8 Fatuleu Barat Amfoang B. Laut Jumlah Keterangan : Potensi (ha) (3) 1) 2) 2) Dimanfaatkan (ha) (4) 121,30 2) Produksi (ton) (5) 630,0 20.825,0 2) 952,0 122,5 460,0 20,0 3,0 100,0 750,0 88,0 49,0 25,0 1.050,0 250,0 323,22 0,25 60,40 2,0 2 1,50 - 1.006,0 38.674,0 5,0 9 2 - - 7.693,5 510,67 1.643 59.499 1) 1) data tidak tersedia data digabung dengan kecamatan Semau Jenis Budidaya (6) - Rumput laut - Mutiara (gr) Rumput Laut - Rumput laut - KJA - Mutiara (gr) Rumput laut - Kepiting - Rumput laut - Rumput laut - KJA - Kepiting - Teripang Rumput laut - Rumput Laut - Mutiara (gr) 257 Lampiran 9 No. (1) Potensi dan produksi budidaya air tawar/payau (DKP Kabupaten Kupang, 2008) Kecamatan Dimanfaatkan (ha) Produksi (ton) (3) (4) (5) 1 Kupang Barat 10,00 8,00 3,20 2 Kupang Tengah Taebenu Amarasi Amarasi Barat 56,50 5,65 - 2) 2) 2) 2) 2) 2) 5,00 0,90 0,15 Amarasi Timur Kupang Timur 100,00 - - 44,00 1.750,00 9,50 8,00 350,00 0,80 500,00 3) 3) 3) 106,00 0,50 0,55 2,00 423,00 300,00 0,70 489,10 1.227,93 3 4 5 6 7 8 (2) Potensi (ha) 10 Amabi Timur Amabi Oefeto Sulamu 11 12 Fatuleu Takari 410,00 290,00 3,00 0,70 12,00 Jumlah 2.748,70 9 O. **) 0,40 1) Jenis- jeins budidaya/ usaha Keterangan (6) (6) Kolam ikan tawes 1) data s/d Thn 2007 Bandeng, garam Tawes,Nila,K arper 2) data tidak tersedia 3) data masih - Bandeng - garam Nila,Karper 3) - Bandeng - Udang - Artemia Nila, Karper Nila, Karper gabung Kec.Kupang Timur 258 Lampiran 10 Sarana prasarana budidaya laut s/d tahun 2005 (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan KJA (unit) (1) (2) (3) 1 Semau 3 2 Semau Selatan - 3 Kupang Barat 4 4 Sulamu - Jumlah 7 Sarana Budidaya RL Jenis bantuan (4) - tali PE (m) - pelampung (bh) - tali PE (m) - pelampung (bh) - tali PE (m) - pelampung (bh) - tali PE (m) - waring (kg) - tali PE (m) - pelampung (bh) - waring Jumlah (5) 46.200 23.100 19.800 9.900 133.320 66.660 2.000 199.320 99.660 2.000 Lampiran 11 Sebaran bantuan sarana dan prasarana perikanan s/d tahun 2007 (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan (1) (2) 1 Semau 2 Semau Selatan 3 Kupang Barat 4 Nekamese 5 Kupang Tengah 6 7 8 9 Amarasi Barat Amarasi Selatan Amarasi Timur Kupang Timur 10 Sulamu 11 12 Fatuleu Barat Amfoang B. Daya 13 Amfoang Utara 14 15 Amfoang B. Laut Amfoang Timur Jumlah (3) Ds.Bokonusan,Hansisi, Uiasa, Otan, Uitao, Letbaun Ds.Uiboa Ds. Tesabela,Lifuleo, Oenaek, Kuanheum, Tablolong Ds.Tasikona, Oepaha Ds.Tanah Merah, Oebelo, Mata Air Ds. Erbaun, Merbaun Kel.Buraen Ds.Pakubaun Kel.Merdeka Kel.Sulamu, Pitai, Oeteta, Pantai Beringin, Pariti Ds.Nuataus Ds.Manubelon Kel.Naikliu, Afoan, Bakuin, Lilmus Ds.Soliu Ds.Netem.Utara Budidaya Rumput Laut (meter, buah) Mtr Tempel Kapal Ikan Pukat Ikan Pukat Udang Tali Pelampung (5) (6) (7) (8) (9) (10) Armada Tangkap (unit) Desa/Kelurahan Ketinting (4) Alat Tangkap (unit) 16 10 - 135 - 35.000 70.000 - 2 - 78 - 15.000 30.000 1 3 6 291 - 101.000 202.000 11 - - 88 - - - 8 5 5 165 40 - - 2 3 2 4 - - 93 55 62 107 60 48 40 60 - - 10 - 9 261 70 - - 1 1 - - 35 28 - - - 2 - 5 72 - - - 3 4 68 20 1 2 28 44 35 1.549 318 151.000 302.000 Ket (11) 259 260 Lampiran 12 Jumlah RTP, nelayan dan pembudidaya ikan di Kabupaten Kupang (DKP Kabupaten Kupang, 2008) No Kecamatan Nelayan (orang) S. Utama S. Tambahan 199 77 83 145 215 140 68 44 155 123 45 80 40 43 83 69 130 37 401 230 41 16 - Pembudidaya (orang) Ikan Tambak 2 13 5 41 14 20 154 51 11 11 174 56 55 - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Semau Semau Selatan Kupang Barat Nekamese Kupang Tengah Amarasi Barat Amarasi Selatan Amarasi Timur Kupang Timur Amabi O. Timur Sulamu Fatuleu Fatuleu Barat Takari RTP 183 115 467 112 149 64 50 77 64 607 17 - 15 Amfoang Selatan - - 15 33 48 - - - - 16 17 18 19 Amfoang B. Daya Amfoang Utara Amfoang B. Laut Amfoang Timur Jumlah 64 125 41 122 2.257 35 32 90 30 1.677 132 55 170 89 1.921 59 81 77 62 1.371 226 168 337 181 4.969 3.341 350 257 3.948 Penuh 160 80 419 78 150 17 95 461 30 - Jumlah 436 308 774 190 428 142 83 152 262 1.092 87 - R_Laut 995 678 1.633 25 10 - Jumlah 1.010 678 1.638 25 55 20 10 205 11 185 56 55 263 Lampiran 15 Hasil analisis kelayakan usaha budidaya laut di Kabupaten Kupang A. Keramba jaring apung (ikan kerapu tikus) (1) Perkiraan biaya investasi KJA Komponen I. Pembuatan Rakit 1. Pelampung Styrofoam 2. Kayu Balok 3. Papan Pijakan 4. Tali PE Pengikat Pelampung 5. Tali P12 mm 6. Paku 7. Baut 8. Jangkar Besi 9. Upah Kerja Jumlah I II. Pembuatan Waring 1. Waring 2. Tali PE Diameter 0,6 cm 3. Upah Kerja Jumlah II III. Pembuatan Jaring 1. Jaring PE 1,25 - 1,5 Inchi 2. Tali PE Diameter 0,8 cm 3. Upah Kerja Jumlah III IV. Rumah Jaga 1. Kayu Balok 2. Papan 3. Sesek Bambu (Dinding) 4. Paku 5. Baut 6.Upah Kerja Jumlah IV V. Sarana Kerja 1. Perahu Motor 2. Bak Penampung 3. Peralatan Lapangan/Kerja Jumlah V Total Biaya Investasi Volume Satuan 1 unit 12 buah 15 batang 24 lembar 1 gulung 50 kg 10 kg 36 buah 4 buah 1 unit Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) 250.000 125.000 40.000 75.000 20.000 15.000 7.500 150.000 350.000 3.000.000 1.875.000 960.000 75.000 1.000.000 150.000 270.000 600.000 350.000 8.280.000 16 200 3 16 unit meter gulung unit 5.000 50.000 25.000 1.000.000 150.000 400.000 1.550.000 8 50 3 8 unit kg gulung unit 75.000 75.000 35.000 3.750.000 225.000 280.000 4.255.000 1 20 5 10 5 15 1 unit batang batang lembar kg buah unit 50.000 15.000 15.000 15.000 7.500 350.000 1.000.000 75.000 150.000 75.000 112.500 350.000 1.762.500 7.500.000 1.500.000 750.000 7.500.000 4.500.000 750.000 12.750.000 28.597.500 1 unit 3 buah 1 paket KOMPONEN BIAYA INVESTASI : KOMPONEN BIAYA MODAL KERJA : 1. Pembuatan rakit berukuran 8 x 8 m 1. Pengadaan benih 2. Pembuatan waring 1 x 1 x 1.5 m 2. Pengadaan pakan 3. Pembuatan jaring 3 x 3 x 3 m 3. Bahan bakar 4. Pembuatan rumah jaga 4. Upah/gaji, dll 5. Pembuatan sarana kerja 264 (2) Perkiraan biaya operasional KJA Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) Komponen I. Biaya Variabel 1. Benih 2.500 ekor 7.500 18.750.000 2. Pakan Ikan Segar 4.000 kg 3.000 12.000.000 3. bahan Bakar + Lampu 1 paket 7.500.000 7.500.000 4. Es Balok 175 balok 7.500 1.312.500 5. Gaji dan Upah : Pekerja = 2 orang x 12 bulan 24 OB 450.000 10.800.000 Teknisi = 1 orang x 12 bulan 12 OB 900.000 10.800.000 6. Perawatan (5% dari biaya investasi) 1 paket 1.429.875 1.429.875 7. Biaya lain-lain (10% dari biaya investasi) 1 paket 6.259.238 6.259.238 Total Biaya Variabel 68.851.613 II. Biaya Tetap 1. Penyusutan (kurun waktu 5 tahun) 5.719.500 2. Angsuran 3.000.000 3. Bunga Pinjaman (18% per tahun) 2.700.000 Total Biaya Tetap 11.419.500 Total Biaya Operasional 80.271.113 (3) Perkiraan biaya dan penerimaan KJA (Rp. 000,-) Uraian BIAYA INVESTASI 1. Pembuatan Rakit 2. Pembuatan Waring 3. Pembuatan Jaring 4. Pembuatan Rumah Jaga 5. Sarana Kerja Total Biaya Investasi BIAYA VARIABEL 1. Benih 2. Pakan Ikan Segar 3. Bahan Bakar + Lampu 4. Es Balok 5. Gaji dan Upah 6. Perawatan 7. Lain-lain Total Biaya Variabel BIAYA TETAP 1. Penyusutan 2. Angsuran 3. Bunga Pinjaman Total Biaya Tetap Total Biaya PENERIMAAN Produksi (kg) Harga per Kg Penerimaan 0 1 Tahun Ke2 3 4 5 8.280 1.550 4.255 1.762,5 12.750 28.597,5 2.625 2.756 2.894 3.039 3.191 18.750 12.000 7.500 1.312,5 21.600 1.430 6.259 68.851,5 19.688 12.600 7.875 1.378 22.680 1.502 6.572 72.295 20.672 13.230 8.269 1.447 23.814 1.577 6.901 75.910 21.705 13.892 8.682 1.519 25.005 1.655 7.246 79.704 22.791 14.586 9.116 1.595 26.255 1.738 7.608 83.689 23.930 15.315 9.572 1.675 27.568 1.825 7.988 87.873 97.449 6.139 3.000 2.700 11.839 84.134 6.139 3.000 2.700 11.839 87.749 6.139 3.000 2.700 11.839 91.543 6.139 3.000 2.700 11.839 95.528 6.139 3.000 2.700 11.839 99.712 675 317 213.975 675 317 213.975 675 317 213.975 900 317 285.300 900 317 285.300 265 (4) Proyeksi arus kas/cash flow KJA (Rp. 000,-) Uraian - CASH IN FLOW Produksi (Kg) Harga (Rp/Kg) Penerimaan CASH OUT FLOW Biaya Investasi Biaya Variabel Penyusutan Angsuran Bunga Pinjaman Pajak (15%) Total Biaya 3 4 5 675 317 213.975 675 317 213.975 675 317 213.975 900 317 285.300 900 317 285.300 97.449 72.295 5.719,5 3.000 2.700 32.096 115.811 75.910 5.719,5 3.000 2.700 32.096 119.426 79.704 5.719,5 3.000 2.700 32.096 123.220 83.689 5.719,5 3.000 2.700 42.795 137.904 87.873 5.719,5 3.000 2.700 42.795 142.088 (97.449) (97.449) 98.164 715 94.549 95.265 90.755 186.020 147.397 333.416 143.213 476.629 (97.449,00) (97.449,00) (97.449,00) 85.360,22 83.190,04 81.803,54 71.492,82 67.903,80 65.659,20 59.673,05 55.236,45 52.520,40 84.274,43 76.025,47 71.082,42 71.201,92 62.599,50 57.553,89 28.597,5 68.851,5 SURPLUS/DEFISIT r rendah (15%) r (18%) r tinggi (20%) KESIMPULAN NET B/C DF 18% NPV DF 18% IRR Tahun Ke2 1 1,65 PBP 247.506 0,466 ROI (%) 1,02 thn 64,77 BEP (Kg) 333 BEP (Rp/Kg) 138 B. Rumput laut (metode longline) (1) Perkiraan biaya investasi rumput laut Uraian Biaya Investasi 1. Tali PE No. 10 (Tali Induk) 2. Tali PE No. 8 (Tali Jangkar) 3. Tali PE No. 5 (Tali Bentangan) 4. Tali Rafia (Tali Ikatan Rumput Laut) 5. Perahu Sampan 6. Timbangan Gantung (50Kg) 7. Para-para a) Terpal/Tenda Penjemuran 8 x 10 m b) Bambu c) Waring Hitam d) Balok 5 x 10 cm e) Upah kerja Total Biaya Investasi Volume Satuan Harga Satuan (RpJumlah Biaya (Rp) 14 3 35 6 1 1 2 2 100 2 30 2 kg kg kg bantal unit unit unit lembar batang pish batang unit 32.000 32.000 32.000 75.000 4.000.000 200.000 448.000 96.000 1.120.000 450.000 4.000.000 200.000 168.000 15.000 400.000 85.000 250.000 336.000 1.500.000 800.000 2.550.000 500.000 11.800.000 266 (2) Perkiraan biaya operasional rumput laut Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) Komponen Biaya Produksi 1. Bibit Rumput Laut (bibit awal) 2.400 kg 4.000 9.600.000 2. Karung Jangkar 16 lembar 2.000 32.000 3. Botol Pelampung Aqua 1.000 buah 400 400.000 4. Pelampung Jergen (Induk dan Penunjan 8 buah 15.000 120.000 5. Gaji dan Upah : a). Jasa untuk pembibit 100 bentangan 2.000 200.000 b). Jasa tali bentangan 100 bentangan 2.000 200.000 Total Biaya Operasional 10.552.000 (3) Perkiraan panen dan penjualan rumput laut kering Kegiatan Budidaya Tidak Melakukan Budidaya Produksi Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Siklus 5 Siklus 6 Siklus 7Siklus 8 Siklus 9Siklus 10Siklus 11Siklus 12 Jumlah Ikatan 12.000 12.000 12.000 12.000 12.000 12.000 0 0 0 0 0 0 Berat per Ikat (kg) 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 Jumlah Tali Bentangan 100 100 100 100 100 100 0 0 0 0 0 0 Jumlah Bibit (kg) 2.400 2.400 2.400 2.400 2.400 2.400 0 0 0 0 0 0 Kelipatan Panen (kali) 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 Hasil Budidaya 14.400 14.400 14.400 14.400 14.400 14.400 Rendemen 12,50% 12,50% 12,50% 12,50% 12,50% 12,50% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% 0,00% Hasil Produksi Kering (kg) 1.800 1.800 1.800 1.800 1.800 1.800 Harga 10.000 10.000 10.000 10.000 10.000 10.000 0 0 0 0 0 0 Hasil Penjualan 18.000.000 18.000.000 18.000.000 18.000.000 18.000.000 18.000.000 Total Biaya Produksi 10.552.000 10.552.000 10.552.000 10.552.000 10.552.000 10.552.000 Surplus/Defisit 7.448.000 7.448.000 7.448.000 7.448.000 7.448.000 7.448.000 - 267 (4) Proyeksi arus kas/cash flow rumput laut Uraian Tahun Ke0 CASH IN FLOW Produksi Rumpu Laut Kering (kg) Harga (Rp/kg) Penerimaan CASH OUT FLOW Biaya Investasi 11.800.000 Biaya Produksi Total Biaya 11.800.000 1 10.800 10.000 108.000.000 63.312.000 63.312.000 Surplus/Defisit (11.800.000) 44.688.000 r rendah (15%) r (18%) r tinggi (20%) KESIMPULAN NET B/C DF 18% NPV DF 18% IRR (11.800.000) (11.800.000) (11.800.000) 38.859.130 37.871.186 37.240.000 1,44 PBP (Thn) 26.071.186 0,986 ROI (%) 0,5 43,79 BEP (Kg) 7.511 BEP (Rp/Kg) 6.955 C. Tiram mutiara (Pinctada maxima) (1) Perkiraan biaya operasional tiram mutiara Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) BIAYA PRODUKSI I. Pembelian Bahan Baku 1. Kerang anakan (spat ) 5.000 ekor 2.500 2. Inti bundar (nukleus ) 10 kg 4.000.000 Total Biaya Pembelian Bhn Baku II. Tenaga Kerja 1. Tenaga Kerja Tetap a) Jumlah 5 orang b) Bulan kerja 12 bulan c) Gaji 1.500.000 Rp/bln Jumlah Gaji Tenaga Kerja Tetap 2. Tenaga Kerja TidakTetap/panen a) Jumlah 3 orang b) Jumlah Hari 365 hari c) Upah 15.000 Rp/hari Jumlah Gaji Tenaga Kerja Tak Tetap 3. Tenaga Keamanan a) Jumlah 9 orang b) Jumlah Hari 12 bulan c) Upah 1.200.000 Rp/bln Jumlah Gaji Tenaga Keamanan Total Biaya Tenaga Kerja Per Tahun III. Bola Lampu Sorot 2 unit 150.000 Total Biaya Produksi per Tahun IV. Penyuntikan/Operasi Tiram Mutiara 1. Tiram Mutiara 5.000 tiram 2. Periode Operasi (1,5thn : 1thn : 1thn) 1 kali 3. Harga per operasi 10.000 Total Biaya Operasi PenyuntikanPer Tahun Total Biaya Operasional Per Tahun Harga Total (Rp) 12.500.000 40.000.000 52.500.000 90.000.000 16.425.000 129.600.000 236.025.000 300.000 288.825.000 50.000.000 338.825.000 268 (2) Total aliran kas tiram mutiara No 1 2 3 Pendapatan & Pengeluaran Nilai (Rp) Pendapatan Penjualan mutiara 5.250.000.000 Pengeluaran a) Investasi 1. Perijinan 25.000.000 2. Sewa tanah & bangunan 75.000.000 3. Konstruksi tambak 59.700.000 4. Peralatan budidaya mutiara 110.100.000 5. Bangunan 156.000.000 Jlh biaya investasi 425.800.000 b) Biaya operasional dll 1. Biaya pembelian spat 12.500.000 2. Biaya pembelian nukleus 40.000.000 3. Perawatan benih sampai opera 4. Biaya tng kerja tetap 450.000.000 5. Biaya tng kerja tdk tetap 82.125.000 6. Biaya tng keamanan 648.000.000 7. Biaya bola lampu sorot 1.500.000 8. Biaya operasional dll 150.000.000 Jlh biaya operasional 1.384.125.000 Surplus/Defisit 3.440.075.000 (3) Proyeksi arus kas/cash flow tiram mutiara Uraian 0 1 Tahun Ke2 0 0 0 288.825.000 84.960.000 288.825.000 84.960.000 50.000.000 110.282.200 534.067.200 3 4 5 CASH IN FLOW Produksi (gr) Harga (Rp/gr) Penerimaan CASH OUT FLOW Biaya Investasi Biaya Produksi Penyusutan Biaya Penyuntikan Angsuran (17%) Total Biaya 714.625.000 SURPLUS/DEFISIT per tahun Kumulatrif Surplus/defisit (714.625.000) (484.067.200) (534.067.200) 1.215.932.800 1.215.932.800 1.265.932.800 (714.625.000) (1.198.692.200) (1.732.759.400) (516.826.600) 699.106.200 1.965.039.000 r15% r17% r20% KESIMPULAN NET B/C DF 17% NPV DF 17% IRR (714.625.000) (714.625.000) (714.625.000) (420.928.000) (413.732.650) (403.389.333) 1,60 466.980.328 25,639% PBP Usaha PBP Kredit 425.800.000 288.825.000 110.282.200 484.067.200 5833,33 5833,33 5833,33 300.000 300.000 300.000 1.750.000.000 1.750.000.000 1.750.000.000 (403.831.531) (390.143.327) (370.880.000) 4,0 thn 3,7 thn 288.825.000 84.960.000 50.000.000 110.282.200 534.067.200 799.495.554 759.192.639 703.664.815 288.825.000 84.960.000 50.000.000 110.282.200 534.067.200 695.213.525 648.882.597 586.387.346 BEP (gram) BEP (Rp/gram) 288.825.000 84.960.000 110.282.200 484.067.200 629.392.337 577.406.068 508.750.000 3.650 37.542 269 D. Teripang putih/susu (metode penculture) (1) Perkiraan biaya investasi teripang putih/susu Uraian Biaya Investasi 1. Kayu 2. Jaring 3. Tali PE Total Investasi Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah Biaya (Rp) 30 batang 120 kg 3 kg 20.000 55.000 32.000 Penyusutan (3Thn) 600.000 6.600.000 96.000 7.296.000 200.000 2.200.000 32.000 2.432.000 (2) Perkiraan biaya operasional dan penerimaan teripang putih/susu Volume Komponen Biaya Produksi 1. Bibit 7.500 2. Pakan tambahan 2.000 3. Tenaga kerja 1 4. Penyusutan investasi 5. Perawatan penkultur 1 6. Biaya pengeringan 1 Total Biaya Produksi Perkiraan Biaya dan Penerimaan Volume Uraian Hasil Penjualan 120 Satuan Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) ekor kg orang 6.000 1.500 1.500.000 paket paket 500.000 1.000.000 Satuan kg 45.000.000 3.000.000 1.500.000 2.432.000 500.000 1.000.000 53.432.000 Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp) 650.000 78.000.000 (4) Proyeksi arus kas/cash flow teripang putih/susu Tahun KeUraian 0 1 2 CASH IN FLOW Produksi Teripang (kg) 120 120 Harga (Rp/kg) 650.000 650.000 Penerimaan 78.000.000 78.000.000 CASH OUT FLOW Biaya Investasi 7.296.000 Biaya Produksi 53.432.000 58.775.200 Penyusutan 2.432.000 2.432.000 Total Biaya 7.296.000 55.864.000 61.207.200 3 120 650.000 78.000.000 64.652.720 2.432.000 67.084.720 SURPLUS/DEFISIT (7.296.000) (7.296.000) 22.136.000 16.792.800 14.840.000 31.632.800 10.915.280 42.548.080 r rendah (15%) r (18%) r tinggi (20%) KESIMPULAN NET B/C DF 18% NPV DF 18% IRR (7.296.000) (7.296.000) (7.296.000) 19.248.696 12.697.769 18.759.322 12.060.327 18.446.667 11.661.667 7.176.974 6.643.376 6.316.713 1,22 PBP Tahun ke30.167.026 0,740 ROI (%) 1 BEP (Kg) 98,18 22,22 BEP (Rp/Kg) 177.270,30 270 Lampiran 16 Nilai strata masing-masing kecamatan di Kabupaten Kupang berdasarkan hasil analisis tipologi No Indikator 1 Komoditas Unggulan a) Satu jenis komoditas b) Lebih dari satu jenis komoditas c) Komoditas unggulan dan produk olahannya Kelembagaan Pasar 2 a) Menampung hasil dari sebagian kecil kawasan b) Menampung hasil dari sebagian besar kawasan c) Menampung hasil dari kawasan minapolitan dan luar kawasan Kelembagaan Nelayan/Pembudidaya 3 a) Kelompok nelayan/pembudidaya b) Gabungan kelompok nelayan/pembudidaya c) Koperasi (Credit Union / CU) 4 Kelembagaan Balai Penyuluh Perikanan (BPP) a) BPP sebagai Balai Penyuluh Perikanan b) BPP sebagai Balai Penyuluh Minabisnis c) BPP sebagai Balai Penyuluh Pembangunan Sarana dan Prasarana 5 1. Aksesbilitas ke/di sentra produksi a) Kurang b) Sedang c) Baik 2. Sarana dan prasarana umum a) Kurang b) Sedang c) Baik 3. Sarana dan prasarana kesejahteraan sosial a) Kurang b) Sedang c) Baik Jumlah Skor Maksimal : Sumber : Deptan, 2002 dan Data Olahan Keterangan : Skor 1 -7 = Strata Pra Kawasan Minapolitan I Skor 8 -14 = Strata Pra Kawasan Minapolitan II Skor 15 -21 = Strata Pra Kawasan Minapolitan Skor 1 2 3 Penilaian Kupang Barat Semau Sulamu 1 1 3 1 2 3 1 1 1 1 2 3 3 1 1 1 2 3 1 1 1 1 2 3 3 3 3 1 2 3 2 1 1 1 2 3 1 1 1 12 9 11 271 Lampiran 17 Hasil analisis komponen utama (aku) terhadap variabel yang berpengaruh pada tipologi Kabupaten Kupang Eigenanalysis of the Correlation Matrix Eigenvalue Proportion Cumulative 8.5958 5.4042 0.614 0.386 0.614 1.000 Eigenvalue Proportion Cumulative 0.0000 0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 0.0000 0.000 1.000 -0.0000 -0.000 1.000 Variable PC1 Jumlah penduduk (jiwa) 0.285 Jarak kec ke kab (km) 0.339 Jumlah kepala keluarga (KK) 0.299 Sarana & prasrna umum (unit)0.328 Sarana & prasrna bud (unit) 0.337 Jumlah komoditas bud laut 0.306 Keluarga pemakai PLN (KK) -0.105 Desa/kel terpencil (desa) -0.151 Jumlah kel prasehtra (KK) 0.338 Jumlah keluarga sjhtra (KK) 0.148 Jumlah pembudidya rl (jiwa)-0.293 Potensi Lahan Bud Laut (Ha)-0.168 Luas Lhn Pmanfaatn bl (Ha) 0.118 Produksi Rumput Laut (ton) -0.318 PC2 -0.236 0.042 -0.207 0.119 -0.063 -0.190 -0.409 -0.386 -0.054 -0.388 -0.221 -0.374 -0.403 -0.156 PC3 0.154 -0.161 0.085 0.482 -0.108 0.114 0.211 -0.322 -0.110 0.271 0.157 0.273 -0.582 0.124 PC4 0.156 -0.217 -0.014 0.404 -0.207 -0.243 0.207 0.474 0.419 -0.151 -0.007 -0.415 -0.079 0.136 PC5 -0.129 -0.376 0.240 -0.152 0.161 0.317 0.482 -0.043 0.018 -0.534 -0.184 0.072 -0.112 -0.252 PC6 0.222 -0.367 0.380 -0.387 -0.255 0.052 -0.290 -0.322 0.375 0.073 0.301 -0.169 -0.003 0.038 Variable PC7 Jumlah penduduk (jiwa) 0.717 Jarak kec ke kab (km) 0.188 Jumlah kepala keluarga (KK)-0.328 Sarana & prsrna umum (unit)-0.203 Sarana & prasrna bud (unit)-0.392 Jumlah komoditas bud laut 0.101 Keluarga pemakai PLN (KK) 0.074 Desa/kel terpencil (desa) -0.005 Jumlah kel prasejhtra (KK) -0.089 Jumlah kel sejhtra (KK) -0.231 Jumlah pembudidy rl (jiwa) -0.180 Potensi Lahan Bud Laut (Ha) 0.117 Luas Lhn Pmanfaatn bl (Ha) -0.070 Produksi Rumput Laut (ton) -0.141 PC8 -0.275 0.032 -0.236 -0.190 -0.187 -0.075 0.125 0.138 0.359 0.367 0.031 0.126 -0.251 -0.643 PC9 -0.058 0.461 0.375 0.049 -0.197 0.108 0.017 0.216 -0.254 -0.237 0.565 -0.167 -0.142 -0.236 PC10 -0.057 -0.332 -0.022 0.198 -0.151 0.483 -0.572 0.434 -0.127 -0.018 -0.090 0.197 -0.027 -0.109 PC11 0.322 -0.345 0.156 -0.064 0.287 -0.361 -0.033 0.144 -0.498 0.239 -0.039 -0.249 -0.067 -0.376 PC12 -0.213 0.069 0.396 -0.013 -0.584 -0.007 0.143 -0.040 -0.236 0.244 -0.528 -0.144 0.112 0.052 Variable Jumlah penduduk (jiwa) Jarak kec ke kab (km) Jumlah kepala keluarga (KK) Sarana & prasarana umum (unit) Sarana & prasarana bud (unit) Jumlah komoditas budidaya laut Keluarga pemakai PLN (KK) Desa/kel terpencil (desa) Jumlah kel prasejahtera (KK) Jumlah keluarga sejahtera (KK) Jumlah pembudidaya rl (jiwa) Potensi Lahan Bud Laut (Ha) Luas Lhn Pmanfaatn bl (Ha) Produksi Rumput Laut (ton) PC13 -0.063 -0.134 -0.413 0.040 -0.060 0.496 0.219 -0.174 -0.179 0.220 0.203 -0.562 0.199 -0.026 PC14 0.020 0.183 0.043 -0.430 0.242 0.240 -0.002 0.296 0.030 0.179 -0.186 -0.238 -0.567 0.360 ———Data diolah dengan Minitab 15 pada tanggal 9/19/2011 10:57:57 PM—— 272 Lampiran 18 Karakteristik desa-desa pesisir di Kabupaten Kupang No Desa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tablolong Lifuleo Tesabela Sumlili Oematnunu Kuanheun Nitneo Bolok Oenaek 1 2 3 4 5 6 7 8 Bokonusan Otan Uitao Huilelot Uiasa Hansisi Batuinan Letbaun 1 2 3 4 5 6 7 Sulamu Pitai Pariti Oeteta Bipolo Pantulan Pantai Beringin Variabel b c d Kecamatan Kupang Barat 9,01 1010 201 484 6,8 986 90 175 21,48 1015 122 259 14,4 1492 210 346 20,89 1643 215 368 21,46 1336 195 229 5,86 1073 218 255 12,76 2273 405 736 14,32 567 96 138 Kecamatan Semau 21,25 978 78 493 14,81 767 146 636 12,26 745 307 473 23,56 699 122 331 23,58 1153 258 381 19,76 1276 196 673 5,13 333 0 198 23,07 474 0 121 Kecamatan Sulamu 33,03 4589 463 932 30,49 942 82 246 59,28 3203 245 1276 42,34 2435 202 1030 41,47 1792 214 567 33,03 1134 0 174 30,48 515 0 177 a e f 14,5 15,5 10,5 5 6,5 6,5 6 6,5 8,5 35,5 32,5 28,5 29 30,5 20,5 24,5 19 32,5 9 4 1 4 10 12 8 8 36 32 28 17 14 12 36 28 2 9 24 27 33 17 15 84 73 58 55 49 101 67 Sumber : Kecamatan Kupang Barat, Semau, Sulamu dalam angka 2010 serta data diolah Keterangan : a. Luas desa (km 2 ) b. Jumlah penduduk (jiwa) c. Jumlah keluarga memakai PLN (KK) d. Jumlah sarana & prasarana umum (unit) e. Jarak ke ibukota kecamatan (km) f. Jarak ke ibukota kabupaten (km) 273 Lampiran 19 Tingkat perkembangan desa di Kabupaten Kupang berdasarkan hasil analisis sentralitas Sumber : Data olahan tahun 2009 274 Lampiran 20 Nilai skor pendapat pakar existing condition dimensi keberlanjutan budidaya Laut di Kabupaten Kupang No ATRIBUT DIMENSI EKOLOGI KETERANGAN SKOR BAIK BURUK 1 Status kepemilikan usaha budidaya laut (0) menyewa lahan, (1) menggarap, (2) milik sendiri 1 2 0 2 Frekuensi kejadian kekeringan (0) sering, (1) kadang-kadang, (2) tidak pernah terjadi kekeringan 2 2 0 3 Frekuensi kejadian banjir (0) sering, (1) kadang-kadang, (2) tidak pernah terjadi kekeringan 2 2 0 4 Kondisi sarana jalan desa (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3) baik 2 3 0 5 Produktivitas usaha budidaya laut (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 6 Penggunaan benih/bibit (0) tidak pernah, (1) kadang-kadang, (2) sering 2 2 0 7 8 Daya dukung lahan budidaya laut Kondisi prasarana jalan usaha budidaya laut (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3) baik 2 2 2 3 0 0 9 Kesesuaian perairan untuk budidaya laut (0) tidak sesuai, (1) sesuai bersyarat, (2) sesuai, (3) sangat sesuai 2 3 0 10 Ketersediaan benih/bibit budidaya laut (0) tidak tersedia, (1) tersedia 0 1 0 SKOR 1 1 2 BAIK 2 2 3 BURUK 0 0 0 Jumlah pasar Pemasaran produk perikanan Persentase penduduk miskin DIMENSI EKONOMI KETERANGAN (0) tidak ada, (1) ada pada desa tertentu, (2) tersedia di setiap desa (0) pasar lokal, (1) pasar nasional, (2) pasar internasional (0) sangat tinggi, (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah 4 Harga komoditas unggulan (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 5 Jumlah tenaga kerja pembudidaya (0) sedikit, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 6 7 Kelayakan usaha budidaya laut Jenis komoditas unggulan Kontribusi sektor perikanan budidaya laut terhadap PDRB Tingkat ketergantungan konsumen Keuntungan usaha budidaya (0) tidak layak, (1) agak layak, (2) layak (0) hanya satu, (1) lebih dari satu, (2) banyak 2 1 2 2 0 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi 2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi (0) tidak untung, (1) agak untung, (2) untung 2 2 3 2 0 0 No 1 2 3 8 9 10 ATRIBUT ……bersambung ke halaman berikut DIMENSI SOSIAL-BUDAYA No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No ATRIBUT Tingkat pendidikan formal masyarakat Tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor perikanan Jarak permukiman ke kawasan budidaya Pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan budidaya laut Jumlah desa dan penduduk yang bekerja di sektor budidaya laut Peran masyarakat adat dalam kegiatan budidaya laut Pola hubungan masyarakat dalam kegiatan budidaya laut Akses masyarakat dalam kegiatan budidaya laut Presentasi desa yang tidak memiliki akses penghubung SKOR BAIK BURUK 0 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 2 3 0 (0) jauh, (1) sedang, (2) dekat 2 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) kurang optimal, (3) berjalan optimal 1 3 0 (0) tidak ada, (1) desa tertentu saja, (2) semua desa 1 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 3 3 0 (0) tidak saling menguntungkan, (1) saling menguntungkan 1 1 0 (0) tidak punya akses, (1) rendah, (2) sedang, (3) tinggi 3 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 0 3 0 DIMENSI INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI KETERANGAN SKOR BAIK BURUK 1 Ketersediaan basis data budidaya laut (0) tidak tersedia, (1) tersedia 1 1 0 2 Tingkat penguasaan teknologi budidaya laut Dukungan sarana & prasarana umum (kesehatan, pendidikan, tempat ibadah, dll) Dukungan sarana & prasarana jalan (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 1 3 0 (0) tidak lengkap, (1) cukup lengkap, (2) lengkap 1 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup memadai, (2) sangat memadai 1 2 0 (0) belum diterapkan, (1) diterapkan pada produk tertentu, (2) diterapkan untuk semua produk 1 2 0 (0) tidak ada, (1) sebagian kecil, (2) umumnya menggunakan 2 2 0 (0) tidak tersedia, (1) tersedia 0 1 0 3 4 5 6 7 ATRIBUT KETERANGAN (0) dibawah rata-rata nasional, (1) sama dengan rata-rata nasional , (2) diatas rata-rata nasional Standarisasi mutu produk budidaya laut Penggunaan alat & mesin budidaya laut (perahu, sampan, jaring, dll) Ketersediaan industri pengolahan hasil budidaya laut 275 276 8 Ketersediaan teknologi informasi budidaya 9 Penerapan sertifikasi produk budidaya laut 10 Teknologi pakan/bibit/benih No 1 ATRIBUT Keberadaan Balai Penyuluh Perikanan (BPP) 2 3 (0) tidak tersedia, (1) tersedia tapi tidak optimal, (2) tersedia optimal (0) belum diterapkan, (1) diterapkan pada produk tertentu, (2) diterapkan pada semua produk (0) tidak tersedia, (1) tersedia 1 2 0 0 2 0 0 1 0 KETERANGAN (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan SKOR 1 BAIK 2 BURUK 0 Keberadaan lembaga sosial (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 2 2 0 (0) tidak ada, (1) ada 0 1 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 7 Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Keberadaan Lembaga Kelompok Nelayan (LKN) Mekanisme kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan kawasan minapolitan Ketersediaan peraturan perundang-undang pengembangan kawasan minapolitan Sinkronisasi antara kebijakan pusat & daerah (0) tidak sinkron, (1) kurang sinkron, (2) sinkron 2 2 0 8 Ketersediaan perangkat hukum adat/agama (0) tidak ada, (1) cukup tersedia, (2) sangat lengkap 1 2 0 9 Badan pengelola usaha budidaya laut (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 0 2 0 DIMENSI HUKUM DAN KELEMBAGAAN 4 5 6 277 Lampiran 21 Nilai indeks lima dimensi keberlanjutan wilayah Kabupaten Kupang A. Dimensi ekologi 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 Real Index -40 References Anchors DOWN -60 Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi (72.26%) B. Dimensi ekonomi 60 UP 40 20 GOOD BAD 0 0 20 40 60 80 100 -20 -40 Real Index References DOWN Anchors -60 Dimensi Keberlanjutan Dimensi Ekonomi (62.84% ) 120 278 C. Dimensi sosial – budaya 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 -40 Real Index References Anchors DOWN -60 Status Keberlannjutan Dimensi Sosial dan Budaya (78.67%) D. Dimensi infrastruktur dan teknologi 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 -40 Real Fisheries References DOWN Anchors -60 Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi (46.93%) 279 E. Dimensi hukum dan kelembagaan 60 UP 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 120 -20 Real Index -40 References Anchors DOWN -60 Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan (49.84% ) F. Multidimensi RAPMINAKU Ordination 60 UP Other Distingishing Features 40 20 BAD GOOD 0 0 20 40 60 80 100 -20 Real Index -40 References Anchors -60 DOWN Status Keberlanjutan Multidimensi (59.36% ) 120 280 Lampiran 22 Persamaan model dinamis pengembangan minapolitan berbasis budidaya rumput laut di Kabupaten Kupang init L_Budidaya = 3.23 flow L_Budidaya = dt*Lj_Pngurngn_LBd+dt*L_lhn_Budidaya doc L_Budidaya = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Budidaya_Moderat = 3.23 flow L_Budidaya_Moderat = dt*Rate_38+dt*L_lhn_Budidaya_2 doc L_Budidaya_Moderat = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Budidaya_Optimis = 3.23 flow L_Budidaya_Optimis = dt*Rate_37+dt*L_lhn_Budidaya_1 doc L_Budidaya_Optimis = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Budidaya_Pesimis = 3.23 flow L_Budidaya_Pesimis = +dt*L_lhn_Budidaya_3dt*Lj_Pngurngn_LBd_1 doc L_Budidaya_Pesimis = Luas Lahan Budidaya Rumput Laut per Tahun di Kecamatan Kupang Barat init L_Industri = 0 flow L_Industri = +dt*L_pert_Lhn_Ind doc L_Industri = Pertambahan Lahan Industri Pengolahan per Tahun init L_Permukiman = 14342*20/1000000 flow L_Permukiman = +dt*L_lhn_Permukiman doc L_Permukiman = Pertambahan Lahan Permukiman per Tahun init PDDK = 14342 flow PDDK = +dt*Laju_Pert_Pddk +dt*Laju_Imigrasi-dt*Laju_Emigrasi -dt*Laju_Peng_Pddk doc PDDK = Jumlah Penduduk Kecamatan Kupang Barat Tahun 2007 aux L_lhn_Budidaya = IF(L_Budidaya0, L_Budidaya_Moderat*L_fasilitas_2, 0) Diolah = Panen_kering*persen_di_olah Diolah_1 = Panen_kering_Optimis*persen_di_olah_1 Diolah_2 = Panen_kering_Moderat*persen_di_olah_2 Diolah_3 = Panen_kering_Pesimis*persen_di_olah_3 jlh_petakan = L_Budidaya/luas_per_petakan Jual_Kering = Panen_kering*persen_jual_kering Jual_Kering_1 = Panen_kering_Optimis*persen_jual_kerin g_1 Jual_Kering_2 = Panen_kering_Moderat*persen_jual_kerin g_2 Jual_Kering_3 = Panen_kering_Pesimis*persen_jual_kerin g_3 jumlah_petakan_1 = L_Budidaya_Optimis/luas_per_petakan_1 jumlah_petakan_2 = L_Budidaya_Moderat/luas_per_petakan_2 jumlah_petakan_3 = L_Budidaya_Pesimis/luas_per_petakan_3 ke_ten_kerja_RT_pillus = Keb_industri_RT_Pillus*ten_kerja_per_RT _Pillus ke_ten_kerja_RT_pillus_1 = Keb_industri_RT_Pillus_1*ten_kerja_per_ RT_Pillus_1 ke_ten_kerja_RT_pillus_2 = Keb_industri_RT_Pillus_2*ten_kerja_per_ RT_Pillus_2 ke_ten_kerja_RT_pillus_3 = Keb_industri_RT_Pillus_3*ten_kerja_per_ RT_Pillus_3 keb_ind_RT_dodol = (RL_utk_dodol*1000)/kap_prod_industri_ RT_dodol keb_ind_RT_dodol_1 = (RL_utk_dodol_1*1000)/kap_prod_industri _RT_dodol_1 281 aux keb_ind_RT_dodol_2 = (RL_utk_dodol_2*1000)/kap_prod_industri _RT_dodol_2 aux keb_ind_RT_dodol_3 = (RL_utk_dodol_3*1000)/kap_prod_industri _RT_dodol_3 aux Keb_industri_RT_Pillus = (RL_utk_pillus*1000)/kap_prod_industri_R T_Pillus aux Keb_industri_RT_Pillus_1 = (RL_utk_pillus_1*1000)/kap_prod_industri _RT_Pillus_1 aux Keb_industri_RT_Pillus_2 = (RL_utk_pillus_2*1000)/kap_prod_industri _RT_Pillus_2 aux Keb_industri_RT_Pillus_3 = (RL_utk_pillus_3*1000)/kap_prod_industri _RT_Pillus_3 aux keb_ten_kerja_RT_dodol = keb_ind_RT_dodol*ten_kerja_per_RT_do dol aux keb_ten_kerja_RT_dodol_1 = keb_ind_RT_dodol_1*ten_kerja_per_RT_ dodol_1 aux keb_ten_kerja_RT_dodol_2 = keb_ind_RT_dodol_2*ten_kerja_per_RT_ dodol_2 aux keb_ten_kerja_RT_dodol_3 = keb_ind_RT_dodol_3*ten_kerja_per_RT_ dodol_3 aux keb_tenaga_kerja_BD = jlh_petakan*tenaga_per_petak aux keb_tenaga_kerja_BD_1 = jumlah_petakan_1*tenaga_per_petak_1 aux keb_tenaga_kerja_BD_2 = jumlah_petakan_2*tenaga_per_petak_2 aux keb_tenaga_kerja_BD_3 = jumlah_petakan_3*tenaga_per_petak_3 aux Kebutuhan_bibit_RL = L_Budidaya*bibit_per_km2 aux Kebutuhan_bibit_RL_1 = L_Budidaya_Optimis*bibit_per_km2_1 aux Kebutuhan_bibit_RL_2 = L_Budidaya_Moderat*bibit_per_km2_2 aux Kebutuhan_bibit_RL_3 = L_Budidaya_Pesimis*bibit_per_km2_3 aux Keuntungan_BD = Penerimaan_BD_RLPengeluaran_BD_RL aux keuntungan_BD_Moderat = Penerimaan_BD_RL_2Pengeluaran_BD_RL_2 aux keuntungan_BD_Optimis = Penerimaan_BD_RL_1Pengeluaran_BD_RL_1 aux keuntungan_BD_Pesimis = Penerimaan_BD_RL_3Pengeluaran_BD_RL_3 aux Keuntungan_Dodol = (RL_utk_dodol*1000*harga_jual_dodol_pe r_kg)(RL_utk_dodol*1000*Biaya_prod_dodol_p er_Kg) aux Keuntungan_Dodol_1 = (RL_utk_dodol_1*1000*harga_jual_dodol_ aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux aux per_kg_1)(RL_utk_dodol_1*1000*Biaya_prod_dodol _per_Kg_1) Keuntungan_Dodol_2 = (RL_utk_dodol_2*1000*harga_jual_dodol_ per_kg_2)(RL_utk_dodol_2*1000*Biaya_prod_dodol _per_Kg_2) Keuntungan_Dodol_3 = (RL_utk_dodol_3*1000*harga_jual_dodol_ per_kg_3)(RL_utk_dodol_3*1000*Biaya_prod_dodol _per_Kg_3) Keuntungan_jual_kering = (Jual_Kering*1000*harga_RL_kering/1000 )(Jual_Kering*1000*biaya_prod_RL_kering _per_Kg) keuntungan_jual_kering_moderat = (Jual_Kering_2*1000*harga_RL_kering/10 00)(Jual_Kering_2*1000*biaya_prod_RL_keri ng_per_Kg_2) keuntungan_jual_kering_Optimis = (Jual_Kering_1*1000*harga_RL_kering/10 00)(Jual_Kering_1*1000*biaya_prod_RL_keri ng_per_Kg_1) keuntungan_jual_kering_pesimis = (Jual_Kering_3*1000*harga_RL_kering/10 00)(Jual_Kering_3*1000*biaya_prod_RL_keri ng_per_Kg_3) Keuntungan_Pillus = (RL_utk_pillus*1000*harga_jual_pillus_per _KG)(RL_utk_pillus*1000*biaya_prod_Pilus_pe r_Kg) keuntungan_pillus_1 = (RL_utk_pillus_1*1000*harga_jual_pillus_ per_KG_1)(RL_utk_pillus_1*1000*biaya_prod_Pilus_ per_Kg_1) keuntungan_pillus_2 = (RL_utk_pillus_2*1000*harga_jual_pillus_ per_KG_2)(RL_utk_pillus_2*1000*biaya_prod_Pilus_ per_Kg_2) keuntungan_pillus_3 = (RL_utk_pillus_3*1000*harga_jual_pillus_ per_KG_3)(RL_utk_pillus_3*1000*biaya_prod_Pilus_ per_Kg_3) L_Minapolitan = L_Budidaya+L_Industri lj_pengurangan_panen = (lj_pert_panen*persen_kematian)+Kebutu han_bibit_RL lj_pengurangan_panen_1 = (lj_pert_panen_1*persen_kematian_1)+Ke butuhan_bibit_RL_1 lj_pengurangan_panen_2 = (lj_pert_panen_2*persen_kematian_2)+Ke butuhan_bibit_RL_2 282 aux lj_pengurangan_panen_3 = (lj_pert_panen_3*persen_kematian_3)+Ke butuhan_bibit_RL_3 aux lj_pert_panen = Kebutuhan_bibit_RL*jlh_panen_per_thn*k enaikan_berat aux lj_pert_panen_1 = Kebutuhan_bibit_RL_1*jlh_panen_per_thn _1*kenaikan_berat_1 aux lj_pert_panen_2 = Kebutuhan_bibit_RL_2*jlh_panen_per_thn _2*kenaikan_berat_2 aux lj_pert_panen_3 = Kebutuhan_bibit_RL_3*jlh_panen_per_thn _3*kenaikan_berat_3 aux Panen_kering = total_panen_per_thn*rendemen aux Panen_kering_Moderat = total_panen_per_thn_2*rendemen_2 aux Panen_kering_Optimis = total_panen_per_thn_1*rendemen_1 aux Panen_kering_Pesimis = total_panen_per_thn_3*rendemen_3 aux PDRB = Keuntungan_Dodol+Keuntungan_jual_keri ng+Keuntungan_Pillus aux PDRB_Moderat = Keuntungan_Dodol_2+keuntungan_jual_k ering_moderat+keuntungan_pillus_2 aux PDRB_Optimis = Keuntungan_Dodol_1+keuntungan_jual_k ering_Optimis+keuntungan_pillus_1 aux PDRB_Pesimis = Keuntungan_Dodol_3+keuntungan_jual_k ering_pesimis+keuntungan_pillus_3 aux Penerimaan_BD_RL = Panen_kering*harga_RL_kering doc Penerimaan_BD_RL = Penerimaan Panen RL Kering aux Penerimaan_BD_RL_1 = Panen_kering_Optimis*harga_RL_kering_ 1 doc Penerimaan_BD_RL_1 = Penerimaan Panen RL Kering aux Penerimaan_BD_RL_2 = Panen_kering_Moderat*harga_RL_kering _2 doc Penerimaan_BD_RL_2 = Penerimaan Panen RL Kering aux Penerimaan_BD_RL_3 = Panen_kering_Pesimis*harga_RL_kering_ 3 doc Penerimaan_BD_RL_3 = Penerimaan Panen RL Kering aux Pengeluaran_BD_RL = (biaya_opr_per_petakan*jlh_petakan*ken aikan_modal)+(jlh_petakan*biaya_opr_per _petakan) aux Pengeluaran_BD_RL_1 = (biaya_opr_per_petakan_1*jumlah_petaka n_1*kenaikan_modal_1)+(jumlah_petakan _1*biaya_opr_per_petakan_1) aux Pengeluaran_BD_RL_2 = (biaya_opr_per_petakan_2*jumlah_petaka n_2*kenaikan_modal_2)+(jumlah_petakan _2*biaya_opr_per_petakan_2) aux Pengeluaran_BD_RL_3 = (biaya_opr_per_petakan_3*jumlah_petaka n_3*kenaikan_modal_3)+(jumlah_petakan _3*biaya_opr_per_petakan_3) aux persen_jual_kering = 1-persen_di_olah aux persen_jual_kering_1 = 1persen_di_olah_1 aux persen_jual_kering_2 = 1persen_di_olah_2 aux persen_jual_kering_3 = 1persen_di_olah_3 aux persen_pillus = 1-persen_dodol aux persen_pillus_1 = 1-persen_dodol_1 aux persen_pillus_2 = 1-persen_dodol_2 aux persen_pillus_3 = 1-persen_dodol_3 aux RL_utk_dodol = Diolah*persen_dodol aux RL_utk_dodol_1 = Diolah_1*persen_dodol_1 aux RL_utk_dodol_2 = Diolah_2*persen_dodol_2 aux RL_utk_dodol_3 = Diolah_3*persen_dodol_3 aux RL_utk_pillus = Diolah*persen_pillus aux RL_utk_pillus_1 = Diolah_1*persen_pillus_1 aux RL_utk_pillus_2 = Diolah_2*persen_pillus_2 aux RL_utk_pillus_3 = Diolah_3*persen_pillus_3 aux total_panen_per_thn = lj_pert_panenlj_pengurangan_panen aux total_panen_per_thn_1 = lj_pert_panen_1-lj_pengurangan_panen_1 aux total_panen_per_thn_2 = lj_pert_panen_2-lj_pengurangan_panen_2 aux total_panen_per_thn_3 = lj_pert_panen_3-lj_pengurangan_panen_3 const BD_existing = 3.23 doc BD_existing = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const BD_existing_1 = 3.23 doc BD_existing_1 = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const BD_existing_2 = 3.23 doc BD_existing_2 = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const BD_existing_3 = 3.23 doc BD_existing_3 = Luas Eksisting Lahan Budidaya di Kecamatan Kupang Barat const biaya_opr_per_petakan = 63312000 const biaya_opr_per_petakan_1 = 63312000 const biaya_opr_per_petakan_2 = 63312000 const biaya_opr_per_petakan_3 = 63312000 const Biaya_prod_dodol_per_Kg = 9259.5 const Biaya_prod_dodol_per_Kg_1 = 9259.5 const Biaya_prod_dodol_per_Kg_2 = 9259.5 const Biaya_prod_dodol_per_Kg_3 = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg_1 = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg_2 = 9259.5 const biaya_prod_Pilus_per_Kg_3 = 9259.5
Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 0.38 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 0.73 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 0.78 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 0.80 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 1.01 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 11.39 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 1.28 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 13.37 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 2.50 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 2.56 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 3.36 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 3.76 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 3.99 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency 6.08 Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Alternatif Lokasi Industri Pengolahan dan Pasar Analisis Data Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Analisis Daya Dukung a. Rumput Laut Analisis Kebutuhan Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Laut Analisis Metode Perbandingan Eksponensial MPE Analisis Multidimensional Scaling MDS Analisis Prospektif Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Analisis Spasial – Kesesuaian Lahan Analisis Tipologi Kawasan Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Budidaya Keramba Jaring Apung Budidaya Rumput Laut Budidaya Laut di Kabupaten Kupang Budidaya Rumput Laut Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Budidaya Teripang Budidaya Laut di Kabupaten Kupang Budidaya Teripang Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Budidaya Tiram Mutiara Budidaya Laut di Kabupaten Kupang Budidaya Tiram Mutiara Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Daya Dukung Lahan Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Hasil dan Pembahasan Analisis Potensi Wilayah di Kabupaten Kupang Hasil dan Pembahasan Analisis Potensi Wilayah di Kabupaten Kupang Rumput Laut Identifikasi Sistem Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Jenis dan Sumber Data Karakteristik Wilayah Pesisir dan Laut Kabupaten Kupang Keadaan Geografis Kabupaten Kupang Keadaan Sosial Kabupaten Kupang Kebaruan Novelty Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Kebijakan Operasional Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Kebijakan Umum Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Keramba Jaring Apung Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Kerangka Pemikiran Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Kesesuaian Lahan Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Kesimpulan Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Keuangan dan Harga Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Konsep Pengembangan Minapolitan Strategi Pengembangan Wilayah Latar Belakang Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Manfaat Penelitian Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Menyusun struktur hirarki dari kriteria dan alternatif penyelesaian. Menyusun struktur hirarki dari kriteria dan alternatif penyelesaian. Analisis Metode Perbandingan Eksponensial MPE Metode Analisis Data Metode Analisis Identifikasi Potensi di Kabupaten Kupang .1 Jenis dan Sumber Data Metode Analisis Data Metode Analisis Kajian Tingkat Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kupang Metode Analisis Data Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang Metode Analisis Data Metode Analisis Status Keberlanjutan Kabupaten Kupang .1 Jenis dan Sumber Data Metode Pemilihan Responden Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Identifikasi Potensi di Kabupaten Kupang .1 Jenis dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Kajian Tingkat Perkembangan Wilayah di Kabupaten Kupang Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Model Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kupang Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Status Keberlanjutan Kabupaten Kupang .1 Jenis dan Sumber Data Pemerintahan dan Kependudukan Kabupaten Kupang Pemodelan dengan Interpretasi Struktur ISM Pendahuluan Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Penelitian Terdahulu Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Pengelolaan Pesisir dan Lautan Terpadu Pengembangan Wilayah dalam perspektif Development from Below Perkembangan Wilayah berdasarkan Kelengkapan Fasilitas Perumusan Masalah Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Laut Rumput Laut Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Sarana dan Prasarana Kabupaten Kupang Sarana dan Prasarana Penunjang Pembangunan Perikanan Sarana dan Prasarana Penunjang Pembangunan Perikanan Sumberdaya Manusia Perikanan Sarana dan Prasarana Perikanan a. Data Sebaran Sarana dan Prasarana Perikanan Tangkap Simulasi Model Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Simulasi Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Simulasi Skenario Model Pengembangan Kawasan Minapolitan Sistem Dinamik Pendekatan Sistem Sistem Informasi Geografi Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Status Keberlanjutan Dimensi Sosial-Budaya Status Keberlanjutan Multidimensi Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Sub Model Budidaya Rumput Laut di Kawasan Minapolitan Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan Sumberdaya Manusia Perikanan Data Sebaran Sarana dan Prasarana Perikanan Budidaya Tiram Mutiara Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Tiram Mutiara Keramba Jaring Apung Tujuan Penelitian Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Tujuan Penelitian Kerangka Pemikiran Uji Kestabilan dan Uji Sensitivitas Model Uji Sensitivitas Model Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency Uji Sensitivitas Model Sub Model Pengembangan Lahan Minapolitan Uji Validasi Model Sub Model Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut Uji Validasi Struktur Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Development of marine culture-based minapolitan model in Kupang Regency

Gratis