Koreksi Fiskal PPH Terhadap Transfer Pricing Dalam Hubungan Istimewa

Gratis

13
81
70
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Metode yang dilakukan dalam menilai kewajaran transaksi transfer pricing yang dilakukan perusahaan adalah metode Comparable Uncontrolled Price. Data perbandingan yang digunakan dalam metode ini adalah data perbandingan harga kepada kepada pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa.

DAFTAR LAMPIRAN

  Metode yang dilakukan dalam menilai kewajaran transaksi transfer pricing yang dilakukan perusahaan adalah metode Comparable Uncontrolled Price. Data perbandingan yang digunakan dalam metode ini adalah data perbandingan harga kepada kepada pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi persaingan di berbagai bidang sangat ketat, khususnya

  “Transfer pricing merupakaninstrumen yang dapat dipakai untuk melaksanakan maksud tersebut, sehingga transaksi tersebut dapat berpengaruh terhadap besar kecilnya pajak yang akandibayar.” Pajak penghasilan yang akan dipungut dihitung berdasarkan laba kena pajak, yaitu laba kotor dikurangi biaya-biaya yang terdapat dalam pasal (6)Undang-Undang No. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana transaksi transfer pricing yang dilakukan sesuai dengan peraturan pajak yang berlaku, sehingga tidak ada penghindaran pajak penghasilan yang dilakukan oleh wajib pajak.

D. Manfaat Penelitian

  Bagi Penulis, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi transaksi transfer pricing serta menambah pemahaman di bidangperpajakan khususnya mengenai koreksi fiskal pajak penghasilan pada PT. PSPI, memberikan masukan dan sumbangan pemikiran mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi transaksi transfer pricing sertakaitannya dengan koreksi fiskal pajak penghasilan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pajak Penghasilan (PPH) Secara Umum Pengertian pajak secara umum adalah iuran rakyat kepada kas negara

  berdasarkan undang-undang atau yang dapat dipaksakan dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakanuntuk membayar pengeluaran umum. Menurut Djoko Muljono(2006: 27):Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima atau diperoleh wajib pajak,baik berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yangbersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

B. Subjek dan Objek Pajak Penghasilan (PPH)

1. Subjek Pajak Penghasilan (PPH) :

2. Objek Pajak Penghasilan (PPH) :

  Subjek pajak dalam negeri Objek pajak penghasilan adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yangberasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan,dengan nama dan bentuk apapun. Penghasilan kena pajak atau penghasilan yang merupakan objek pajak dapat dibedakan menjadi 5, yaitu: penghasilan dari kegiatanusaha, penghasilan sebagai karyawan, penghasilan dari pemberi jasa, penghasilan dari modal atas harta yang bergerak, dan penghasilandari modal atas harga yang tak bergerak.

C. Pengertian Hubungan Istimewa

  Hubungan keluarga sedarahyang menimbulkan hubungan istimewa adalah hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, yaitu hubunganantara seorang dengan ayahnya atau dengan ibunya, atau dengan anaknya, dan hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan kesamping satu derajat, yaitu hubungan antara seseorang dengan kakaknya atau adiknya. Hubungan keluarga semenda yang dapat menimbulkan hubungan istimewa adalah hubungan semenda dalam garis keturunan lurus satuderajat, yaitu dengan anak tirinya atau dengan mertuanya, dan hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan ke samping satuderajat, yaitu hubungan antara seorang dengan iparnya.

7. Penjualan kepada pihak luar negeri melalui pihak ketiga yang kurang

  atau tidak mempunyai substansi usaha (misalnya: reinvoicing center)Pengaturan lebih lanjut ketentuan tentang transaksi antar wajib pajak yang mempunyai hubungan istimewa diharapkan dapat diminimalkan atau mengurangipraktek penghindaran pajak dengan rekayasa transaksi transfer pricing tersebut. Untuk menangkal distorsi laba fiskal antar badan yang mempunyai hubungan istimewa, transaksi antar badan perlu diteliti oleh otorisasi pajak.

D. Pengertian dan Tujuan Transfer Pricing

  MenurutGunadi (Suandy 2001: 74) “Transfer Pricing adalah penentuan harga atau imbalan sehubungan dengan penyerahan barang, jasa,atau pengalihan teknologi antar perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa.”Sedangkan menurut Sopar Lumbantoruan (Suandy 2001: 74) “ Transfer Pricing adalah penentuan harga balas jasa suatu transaksi antar divisi dalam suatu perusahaan dalam satu grup.” 2. Dalam dimensi ini, pengertian transaksi transfer pricing adalah suatu upaya untuk menghemat beban pajak dengan cara menggeserlaba ke perusahaan yang memiliki jumlah laba lebih kecil sehingga jumlah pajak yang dikenakan lebih kecil atau ke negara yang tarifpajaknya lebih rendah.

E. Transaksi Transfer Pricing antar Perusahaan Domestik

  Transaksi transfer pricing secara domestik merupakan transaksi yang terjadi pada perusahaan dengan anak perusahaan, atau pihak yang memilikihubungan istimewa dan kedua pihak tersebut berada di dalam satu negara yang sama. Secara prinsip transaksi transfer pricing secara domestik sama dengantransaksi transfer pricing antar perusahaan pada umumnya, tapi yang menjadi perbedaan adalah pihak-pihak yang bersangkutan dalam transaksi transfer pricingsecara domestik ada pada negara yang sama.

F. Transaksi Transfer Pricing antar Perusahaan antar Negara

  Dengan perkembangan dunia usaha yang demikian cepat, yang sering kali bersifat transnasional dan diperkenalkannya produk dan metode usaha baru yangbelum dikenal dalam bidang usaha (misalnya dalam bidang keuangan dan perbankan), maka bentuk dan variasi transaksi transfer pricing dapat tidakterbatas. Oleh karena itu, transfer pricing juga dapat terjadi pada wajib pajak dalam negeri dengan pihak luar negeri, terutama yang berkedudukan di tax heaven countries (negara yang tidak memungut pajak lebih rendah dari Indonesia).

G. Penetapan Transfer Pricing

  Penetapan transfer pricing melalui negosiasi (perundingan) antar divisi yang membeli dan menjual memungkinkan manajer divisimenjalankan tingkat wewenang dan pengendalian yang paling besar atas laba dari divisi yang bersangkutan. Divisi yang mengkonsumsi (membeli), dan yang memproduksi(menjual) mungkin mempunyai tujuan yang berbeda-beda sehubungan dengan transfer pricing.

1. Perhitungan Kembali Laba Fiskal

  36 tahun 2008 tentangPajak Penghasilan, Dirjen Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan, dan menentukan utang sebagai modal untukmenghitung besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak yang memiliki hubungan istimewa dengan wajib pajak lainnya sesuai dengankewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa. 36 tahun 2008 tentangPajak Penghasilan menyebutkan bahwa Dirjen Pajak berwenang melakukan perjanjian dengan wajib pajak dan bekerjasama dengan pihakotoritas pajak negara lain untuk menentukan transfer pricing antar pihak- pihak yang memiliki hubungan isimewa yang berlaku selama satu periodetertentu dan mengawasi pelaksanaannya, serta melakukan negosiasi setelah periode tertentu tersebut berakhir.

4. Pengaruh Transaksi Transfer Pricing Terhadap Pajak Penghasilan

Pasal 23 Berdasarkan pasal 23 ayat (1) Undang-Undang No. 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, perusahaan pemberi penghasilan berhak memotong

  Pada saat pemeriksaan pajak, beban bunga pinjaman tersebutdikoreksi karena beban bunga pinjaman yang dibayar berdasarkan suku bunga yang lebih rendah dari suku bunga pasar atau suku bunga pinjamankepada pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. Dalam hal ini, perusahaan yang berhutang harus menanggung kekurangan pajak penghasilan pasal 23 yang disebabkan beban bunga pinjaman yangrendah dibandingkan nilai pasar atau nilai pinjaman terhadap pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa.

I. Kerangka Konseptual

  Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya pengalihan penghasilan atau dasar pengenaan pajak, dan biaya dari satuwajib pajak ke wajib pajak lain yang direkayasa dengan tujuan menekan jumlah pajak secara keseluruhan. Ketidakwajaran yang berasal daripemberian suku bunga kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa, lebih rendah dari suku bunga pasar, mengakibatkan adanya kurangnya pembayaranpajak pasal 23.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan menggunakan metode studi kasus dengan

B. Jenis dan Sumber Data

  Data Primer, berupa data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan personil bagian akuntansi untuk mengetahui lebih jelas mengenai transaksi transfer pricing dengan pihak yangmemiliki hubungan istimewa, dan koreksi fiskal pajak penghasilan di PT. Data Sekunder, berupa data yang diperoleh dari dokumen-dokumen penunjang, seperti: struktur organisasi, jenis produk, harga jual produk, dan laporan keuangan komersial PT.

C. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik Dokumentasi Teknik dokumentasi yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen internal perusahaan yang terkai dengan lingkuppenelitian ini. Teknik Wawancara Teknik wawancara yaitu mengadakan tanya jawab dengan pihak yang terkait mengenai masalah yang diteliti.

D. Metode Analisis Data

  PSPI dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan melihat strukturorganisasi, faktor kepemilikan, faktor penguasaan melalui manajemen, dan penguasaan teknologi, serta faktor hubungankeluarga sedarah atau semenda. Menghitung besarnya koreksi fiskal terhadap pajak penghasilan akibat pengaruh transaksi transfer pricing di PT.

E. Lokasi Penelitian Objek penelitian ini adalah PT. PSPI, Jl. Industri No. 69A Tjg. Morawa

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Data Penelitian

1. Sejarah Singkat Perusahaan

  Berdirinya suatu perusahaan mempunyai latar belakang yang berbeda karena adanya perbedaan suatu perusahaan bergerak di dalambidang yang berbeda-beda pula. PT Perintis Sarana Pancing Indonesia merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi alat-alat pancing.

2. Struktur Organisasi Perusahaan

  Marketing ManagerPT Perintis Sarana Pancing Indonesia menganut tipe organisasi Output-Based Structure yang artinya struktur organisasi disusun berdasarkan output atau produk yang dihasilkan oleh bagian organisasi yang bersangkutan. Kelebihan dari tipe organisasi ini adalah mendorongakuntabilitas yang lebih besar terhadap output yang dihasilkan, memungkinkan terjadinya diversifikasi keterampilan (cross functional skills), dan koordinasi antar fungsi didalam tiap posisi menjadi lebih mudah.

B. Analisis Hasil Penelitian

1. Pengaruh Hubungan Istimewa terhadap Transfer Pricing

  Penjualan tersebut ditujukankepada pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa maupun kepada pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. Pada tabel 4.2 dapat dilihat daftar pelunasan piutang dari pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa yang tidak dikenakan penalti bunga,sedangkan pada tabel 4.3 dapat dilihat daftar pelunasan piutang dari pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa yang dikenakanpenalti bunga.

c. Ketidakwajaran Bunga Pinjaman

  Rendahnya suku bunga yang dikenakan dalam pinjaman antar pihak- pihak yang memiliki hubungan istimewa dibandingkan suku bungapasar mengakibatkan nilai pinjaman menjadi tidak wajar. PSPI mempunyai hutang lancar terhadap pihak yang 4.288.463.057 dengan bunga pinjaman sebesar Rp.

3. Koreksi Fiskal Terhadap Transaksi Transfer Pricing

a. Koreksi Fiskal Terhadap Harga Penjualan

  Metode ini mengevaluasi kewajaran transaksi transfer pricing dengan menggunakan tingkatharga yang terjadi pada transaksi perusahaan dengan pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. PSPI kepada pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan memberikan harga jualyang lebih rendah dibandingkan dengan harga jual yang diberikan kepada pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa mengakibatkanharga jual menjadi tidak wajar.

b. Koreksi Fiskal Terhadap Batas Waktu Pelunasan Piutang

  PSPI terhadap waktu pelunasan piutang kepada pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa danpihak-pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. Pendapatan bunga perusahaan yangbelum diakui karena tidak mengenakan penalti bunga terhadap pihak yang memiliki hubungan istimewa karena terlambat melunasipiutangnya dalam tahun 2006 adalah Rp.

c. Koreksi Fiskal Terhadap Bunga Pinjaman

  4.288.463.057 Berdasarkan perbandingan kedua suku bunga di atas menunjukkan bahwa suku bunga pinjaman antar pihak yang memiliki hubunganistimewa lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga pinjaman antar pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa. Meskipun perbedaan suku bunga pinjaman tidak berpengaruh terhadap laba kena pajak dan pajak penghasilan yang terutang, perbedaantersebut berpengaruh terhadap berkurangnya potongan pajak penghasilan pasal 23.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan data yang telah diperoleh serta hasil penelitian yang telah dituliskan, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut

  PSPI memberikan perlakuan yang berbeda antara perusahaan yang tidak memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan yang memilikihubungan istimewa. PSPI kepada pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa merupakan transaksi transfer pricing yang menurut Undang-UndangPerpajakan harus dikoreksi secara positif (koreksi yang mengakibatkan bertambahnya laba kena pajak dan pajak penghasilan).

B. Saran

  Berdasarkan atas analisis penelitian yang telah dilakukan pada PT. Dilihat dari besarnya pembayaran pajak kurang bayar akibat transaksi transfer pricing, perusahaan sebaiknya tidak memberikan perbedaan harga jual produk yang terlalu jauh antara pihak yang memiliki hubungan istimewa dan kepada pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa.

DAFTAR PUSTAKA

  Transfer Pricing Suatu Tinjauan Akuntansi Manajemen dan Pajak, PT. PERINTIS SARANA PANCING INDONESIA LAPORAN LABA RUGI Periode berakhir 31 Desember 2006 (Dalam Rupiah) KETERANGANKOMERSIL 2006 Penjualan Bersih7.054.882.260 Harga Pokok Penjualan Persediaan awal bahan baku 1.170.456.150Pembelian bahan baku 76.106.480Tersedia untuk diolah 1.246.562.630Persediaan akhir bahan baku (325.392.380)Pemakaian bahan baku 921.170.250Gaji dan upah langsung 1.027.710.000Biaya pabrikasi: B.

STRUKTUR ORGANISASI PT. PERINTIS SARANA PANCING INDONESIA

Sumber: Annual Report PT. PSPIProduction Control General Manager Marketing Manager Administration and Finance Manager Personalia Manager Engineering Manager Production ManagerDesign Direktur Manufacture II Manufacture I Universitas Sumatera Utara

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengaruh Relativistik Terhadap Koreksi Potensial Coulomb Pada Tingkat Atom Hidrogen
5
77
43
Hak Istimewa Dalam Perjanjian Pemberian Garansi Oleh Induk Perusahaan Terhadap Anak Perusahaan Dalam Kepailitan
2
75
116
Analisis Koreksi Fiskal Untuk Menghitung Besarnya PPh Terutang Pada PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan
7
107
80
Analisis Prosedur Transfer Dalam Terjemahan Surah Al-Baqarah Pada Syamil Al-Qur`An
4
41
65
Koreksi Fiskal PPH Terhadap Transfer Pricing Dalam Hubungan Istimewa
13
81
70
Analisis Pengaruh Kapasitas Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Dairi
2
43
94
Pengaruh Sistem Administrasi Transfer Dalam Negeri Terhadap Jumlah Nasabah Pada PT. Bank NISP, Tbk Cabang JI. Sutomo Medan
0
14
81
Analisis Pengaruh Aspek Fiskal dan Moneter Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
1
60
90
Aspek Hukum Pembuktian Dalam Transaksi Transfer Dana Dengan Menggunakan Telepon Seluler
0
70
138
Hubungan Reaksi Peserta Dengan Transfer Of Training
0
22
2
Kebijakan Kriminal Dalam Menanggulangi Fenomena Sel Berfasilitas Istimewa di Lembaga Pemasyarakatan
0
14
16
Analisis perbandingan keakuratan Capital Asset Pricing Model(CAMP)dan Arbitrage Pricing Theori(APT)dalam memprediksi Return Saham Lq-45 Di Bursa Efek Indonesia
4
32
175
Hubungan Antara Persepsi Konsumen Terhadap Loss Leader Pricing dengan Keputusan Pembelian Konsumen Pada Alfamart: Studi Kasus Cabang Lagoa-Jakarta Utara
0
3
114
Aspek Perpajakan Dalam Transfer Pricing Dan Problematika Praktik Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)
10
43
47
Comparative Study between Capital Asset Pricing Model and Arbitrage Pricing Theory in Indonesian Capital Market during Period 2008-2012
0
0
9
Show more