Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik Di Sumatera Utara

Gratis

20
454
100
2 years ago
Preview
Full text

  PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA SKRIPSI NOVIKA SARI 100906033 Dosen Pembimbing : Dr. Heri Kusmanto, MA DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK NOVIKA SARI (100906033)

  PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA Rincian isi skripsi, 88 halaman, 2 gambar, 33 buku, 2 Perundang-undangan dan 1 situs internet.

  

ABSTRAK

  Penelitian ini menguraikan tentang peran Al Washliyah dalam pendidikan politik di Sumatera Utara. Al Washliyah adalah sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan dan dakwah yang yang sangat aktif menyiarkan agama Islam melalui pendidikan. Al Washliyah sebagai organisasi sosial keagamaan, namun dalam kegiatannya tidak terlepas dari politik praktis. Hal ini di tandai dengan banyaknya tokoh Al Washliyah yang ikut berperan dalam kegiatan politik di Indonesia. Sehingga sebagai organisasi sosial keagamaan, Al Washliyah juga memiliki peran dalam pendidikan politik. Dengan melihat hal ini, maka penelitian ini ingin mengetahui apakah ada kegiatan pendidikan politik di Al Washliyah? Bagaimana peran pendidikan politiknya?

  Teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah tersebut adalah Teori Pendidikan Politik, Teori Partisipasi Politik dan Teori Civil Society. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi informan dan unit analisis ini adalah para kader yang juga merupakan pimpinan wilayah Al Washliyah Sumatera Utara, seperti Bapak Hasbullah Hadi, Bapak Dariansyah dan Bapak Isma Fadli Pulungan.

  Berdasarkan analisis terhadap hasil penelitian ini, maka penulis berkesimpulan bahwa pendidikan politik yang di terapkan di Al Washliyah Sumatera Utara, secara struktur memang hanya sebatas untuk kalangan warga Al Washliyah. Dimana pendidikan politik di lakukan di dalam kegiatan pelatihan- pelatihan setiap organisasi bagian, mulai dari APA, IPA, GPA, HIMMAH,

  ISARAH, IGA dan Muslimat Al Washliyah. Adapun pada masyarakat umum, Al Washliyah tidak pernah mengajarkan politik, tapi memberikan dakwah dan tausyiah. Melalui dakwah, tausyiah dan seminar seminar yang diberikan, Al Washliyah berharap mampu memberikan pandangan tentang politik kepada masyarakat umum.

  Kata kunci: Al Washliyah, Pendidikan politik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK NOVIKA SARI (100906033)

  PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA Content, 88 pages, 2 graphichs, 33 books, 2 legislations, 1 websites.

  

ABSTRACT

  This study describes the role of Al Washliyah in political education in North Sumatra . Al Washliyah is an organization that is engaged in social , educational and religious who are very actively broadcast the Islamic religion through education . Al Washliyah as a socio-religious organization , but the activities can not be separated from practical politics . It is marked with a number of leaders Al Washliyah who participate in political activities in Indonesia . So as a socio-religious organization , Al Washliyah also has a role in political education . In view of this , this study wanted to know whether there is political education activities in Al Washliyah ? How is the role of political education ?

  The theory is used to explain the problems is the Political Education Theory , Theory of Political Participation and Civil Society Theory . The method used in this study is a qualitative research with descriptive method of analysis .

  Techniques of data collection conducted by interview and literature study . As for the informant and the unit of analysis is the cadre who is also the leader of Al Washliyah region of North Sumatra , as Mr Hasbullah Hadi , Mr. Dariansyah and Mr Isma Fadli Pulungan .

  Based on the analysis of these results , the authors conclude that political education is applied in Al Washliyah North Sumatra , in the structure is only limited to the residents of Al Washliyah . Where do political education in the training activities of each organization part , such as APA , IPA , GPA , Himma ,

  ISARAH , IGA and Muslimat Al Washliyah . As for the general public , Al Washliyah never taught politics , but give da'wah and Tausyiah . Through tausyiah and seminars that they are given , Al Washliyah hopes to provide a view of politics to the general public.

  Keywords : Al Washliyah , political education.

  UNIIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK Halaman Persetujuan

  Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak oleh : Nama : Novika Sari NIM : 100906030 Departemen : Ilmu Politik Judul : Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik Di Sumatera Utara

  Menyetujui : Ketua Departemen Ilmu Politik Dosen Pembimbing (Dra. T. Irmayani, M.Si) (Dr. Heri Kusmanto, MA ) NIP. 196806301994032001 NIP. 196410061998031002

  Mengetahui : Dekan FISIP USU

  (Prof. Dr. Badaruddin, M.Si) NIP. 196805251992031002

  Karya Ini Dipersembahkan Kepada

Buya dan Umi Tercinta

  

KATA PENGANTAR .

  Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, penulis diberikan rahmat berupa kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan studi ini berupa penulisan Skripsi. Sholawat dan salam penulis juga disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, semoga para pengikutnya mendapatkan syafaat di akhir zaman.

  Skripsi ini berjudul “Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik Di Sumatera Utara”. Skripsi ini diajukan guna memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

  Proses penyelesaian skripsi ini terlaksana karena banyak pihak yang turut mendukung penyelesaian skripsi ini. Oleh karenanya penulis ingin berterimakasih kepada Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M. Si, sebagai Dekan FISIP USU, kepada Ibu Dra. T. Irmayani, M.Si sebagai Ketua Jurusan Departemen Ilmu Politik FISIP USU, Bapak Drs. P. Anthonius Sitepu, M.Si, sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Politik FISIP USU, serta kepada Bapak Drs. Zakaria M,SP sebagai Dosen Pembimbing Akademik yang sudah mendukung penulis selama perkuliahan dan memberikan banyak bimbingan. Terima kasih juga kepada Dosen dan Staf pengajar FISIP USU, Staf Pegawai FISIP USU, khususnya buat Kak Emma, Kak Siti dan Pak Burhan.

  Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Heri Kusmanto, MA sebagai dosen pengajar dan dosen pembimbing penulis yang selama proses penyelesaian skripsi ini dengan sabar telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, masukan dan ilmunya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Semoga apa yang telah diberikannya dibalaskan oleh Allah SWT.

  Dalam penulisan skripsi ini, secara khusus penulis menyampaikan rasa hormat, kasih sayang dan terima kasih kepada orangtua tercinta, Umi tercinta Muharfah dan Buya tercinta Zainal, yang telah membesarkan, mendidik, menyayangi, mendukung dan mendoakan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Ita sangat sayang Umi dan Buya. Kepada Ibunda tercinta Sabrina, Ayahanda Sabri, serta kedua adik tersayang Sylvia Andani dan Agung Prawira, yang telah jadi sumber kekuatan tersendiri bagi penulis. Terima kasih juga kepada Seftyan Pratama, S.Kom yang dengan sabar menemani penulis dalam proses penelitian, serta terus memberikan semangat, dukungan dan motivasi sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

  Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus Al Washliyah Sumatera Utara, khususnya kepada Bapak Hasbullah Hadi, Bapak Dariansyah, Bapak Isma Fadli Pulungan, Bapak Jumari serta Bapak Ismet Batubara yang dalam proses penelitian banyak membantu penulis dalam memperoleh data yang dibutuhkan.

  Terima kasih atas dukungan dari kembar tapi beda, Era Silvia dan Rizky Yulijar, walaupun jauh tetap memberi semangat untuk segera menyelesaikan ini.

  Kepada princess-princess Batubara Berjaya, Fathia Snow White, Ayu Aurora,

  Maria Belle, Susi Yasmin dan Damel Ariel, terima kasih untuk semua yang pernah kita lewati bersama, untuk semangat dan arti persahabatan yang kalian berikan, semoga kita selamanya. Terima kasih juga kepada Tiwi, Bassa Siallagan, Hotlam Simamora dan semua teman-teman seperjuangan di Ilmu Politik USU 2010 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga kita semua sukses ya teman-teman.

  Penulis juga mengucapkan terimakasih buat keluarga Turun Tangan Medan, sebuah gerakan kerelawanan nol rupiah, yang banyak memberi pelajaran berharga dan perubahan positif serta terus memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Pejuang bukan? Hadapi! Kepada keluarga Kelas Inspirasi Medan dan Kelas Inspirasi Labuhanbatu, terima kasih karena lewat gerakan ini juga penulis mendapat pengalaman berbagi dengan mereka yang kurang beruntung dalam dunia pendidikan.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan dan kelemahan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi perbaikan skripsi ini, agar kiranya skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita.

  Medan, April 2015 Novika Sari

  

DAFTAR ISI

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 12 C. Batasan Masalah ........................................................................................ 12 D. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 13 E. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 13 F. Kerangka Teori .......................................................................................... 14 1. Pendidikan Politik ................................................................................ 14 2. Partisipasi Politik .................................................................................. 29 3. Civil Society ......................................................................................... 30 G. Metodologi Penelitian ............................................................................... 38 1. Metode Penelitian ................................................................................. 38 2. Lokasi Penelitian .................................................................................. 39 3. Jenis Penelitian ..................................................................................... 39 4. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 40 5. Teknik Analisa Data ............................................................................. 42 H. Sistematika Penulisan ............................................................................... 43 BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Sekilas Tentang Al Washliyah .................................................................. 44

  B.

  Visi dan Misi Al Washliyah ...................................................................... 51 C. Lambang Al Washliyah............................................................................. 52 D.

  Awal Berdirinya Al Washliyah ................................................................. 53 E. Aktivitas Al Washliyah ............................................................................. 58 F. Organisasi Bagian Al Washliyah .............................................................. 63 G.

  Struktur Al Washliyah Sumatera Utara..................................................... 64

  

BAB III PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI

SUMATERA UTARA A. Peran Al Washliyah Sebagai Organisasi Keagamaan ............................... 67 B. Peran Al Wasliyah Dalam Kegiatan Politik .............................................. 75 C. Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik di Sumatera Utara .......... 78 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................... 82 B. Saran .......................................................................................................... 83

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 86

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK NOVIKA SARI (100906033)

  PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA Rincian isi skripsi, 88 halaman, 2 gambar, 33 buku, 2 Perundang-undangan dan 1 situs internet.

  

ABSTRAK

  Penelitian ini menguraikan tentang peran Al Washliyah dalam pendidikan politik di Sumatera Utara. Al Washliyah adalah sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan dan dakwah yang yang sangat aktif menyiarkan agama Islam melalui pendidikan. Al Washliyah sebagai organisasi sosial keagamaan, namun dalam kegiatannya tidak terlepas dari politik praktis. Hal ini di tandai dengan banyaknya tokoh Al Washliyah yang ikut berperan dalam kegiatan politik di Indonesia. Sehingga sebagai organisasi sosial keagamaan, Al Washliyah juga memiliki peran dalam pendidikan politik. Dengan melihat hal ini, maka penelitian ini ingin mengetahui apakah ada kegiatan pendidikan politik di Al Washliyah? Bagaimana peran pendidikan politiknya?

  Teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah tersebut adalah Teori Pendidikan Politik, Teori Partisipasi Politik dan Teori Civil Society. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi informan dan unit analisis ini adalah para kader yang juga merupakan pimpinan wilayah Al Washliyah Sumatera Utara, seperti Bapak Hasbullah Hadi, Bapak Dariansyah dan Bapak Isma Fadli Pulungan.

  Berdasarkan analisis terhadap hasil penelitian ini, maka penulis berkesimpulan bahwa pendidikan politik yang di terapkan di Al Washliyah Sumatera Utara, secara struktur memang hanya sebatas untuk kalangan warga Al Washliyah. Dimana pendidikan politik di lakukan di dalam kegiatan pelatihan- pelatihan setiap organisasi bagian, mulai dari APA, IPA, GPA, HIMMAH,

  ISARAH, IGA dan Muslimat Al Washliyah. Adapun pada masyarakat umum, Al Washliyah tidak pernah mengajarkan politik, tapi memberikan dakwah dan tausyiah. Melalui dakwah, tausyiah dan seminar seminar yang diberikan, Al Washliyah berharap mampu memberikan pandangan tentang politik kepada masyarakat umum.

  Kata kunci: Al Washliyah, Pendidikan politik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK NOVIKA SARI (100906033)

  PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA Content, 88 pages, 2 graphichs, 33 books, 2 legislations, 1 websites.

  

ABSTRACT

  This study describes the role of Al Washliyah in political education in North Sumatra . Al Washliyah is an organization that is engaged in social , educational and religious who are very actively broadcast the Islamic religion through education . Al Washliyah as a socio-religious organization , but the activities can not be separated from practical politics . It is marked with a number of leaders Al Washliyah who participate in political activities in Indonesia . So as a socio-religious organization , Al Washliyah also has a role in political education . In view of this , this study wanted to know whether there is political education activities in Al Washliyah ? How is the role of political education ?

  The theory is used to explain the problems is the Political Education Theory , Theory of Political Participation and Civil Society Theory . The method used in this study is a qualitative research with descriptive method of analysis .

  Techniques of data collection conducted by interview and literature study . As for the informant and the unit of analysis is the cadre who is also the leader of Al Washliyah region of North Sumatra , as Mr Hasbullah Hadi , Mr. Dariansyah and Mr Isma Fadli Pulungan .

  Based on the analysis of these results , the authors conclude that political education is applied in Al Washliyah North Sumatra , in the structure is only limited to the residents of Al Washliyah . Where do political education in the training activities of each organization part , such as APA , IPA , GPA , Himma ,

  ISARAH , IGA and Muslimat Al Washliyah . As for the general public , Al Washliyah never taught politics , but give da'wah and Tausyiah . Through tausyiah and seminars that they are given , Al Washliyah hopes to provide a view of politics to the general public.

  Keywords : Al Washliyah , political education.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan politik tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat

  sekarang ini. Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik, akan tetapi apabila cara-cara yang digunakan untuk mewujudkan politik tidak menggunakan cara yang baik tentu akan mendapatkan dampak yang negatif. Belum pahamnya masyarakat terhadap politik dan makin banyaknya oknum-oknum yang bermain kotor dalam politik, berdampak pada masyarakat yang semakin enggan mempelajari politik dengan baik dan benar. Ketika anak-anak muda dipertontonkan dengan kecurangan politik, kasus suap, politik uang, tanpa dibekali pendidikan politik yang baik dan benar, mereka akan selalu berpandangan negatif terhadap kehidupan politik, dan politik adalah kehidupan yang kejam. Pandangan yang seperti inilah yang dapat mengikis rasa nasionalisme. Mereka tidak mau tahu tentang berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsanya, mereka acuh terhadap aturan-aturan pemerintahan yang tentunya akan berdampak melemahnya rasa persatuan dan kesatuan antar warga Negara.

  Indonesia sebagai Negara demokrasi, dengan kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat memiliki peranan penting dalam aspek kehidupan bernegara. Oleh karena itu sangatlah penting bagi masyarakat untuk mengetahui tentang politik. Tanpa adanya kesadaran politik, maka tingkat partisiasi politik masyarakat juga rendah yang dapat berdampak pada terhambatnya pembangunan nasional. Pendidikan politik sangat mutlak perlu diwujudkan dikalangan warga masyarakat, mahasiswa, maupun siswa sekolah dasar sekalipun agar tidak berpandangan negatif terhadap kehidupan politik. Kehidupan politik dalam suatu bangsa atau negara, sampai saat ini masih menjadi barometer utama untuk menilai suatu bangsa itu memiliki kekuatan atau tidak. Meskipun aspek politik tentu tidak bisa berdiri sendiri, karena hal itu sangat terkait dengan kemajuan ekonomi suatu bangsa, juga kemajuan ilmu dan teknologi. Kalau kita lihat fenomena masa kini, bahwa pemegang dominasi kekuatan politik dunia adalah mereka yang memiliki sumber daya yang handal dalam penguasaan ekonomi dan sains-tek.

  Saat ini terdapat berbagai masalah dalam proses demokrasi di Indonesia,

  

pertama tidak sejalannya aspirasi masyarakat dengan wakil rakyat di lembaga

  legislatif. Kedua, terbatasnya pengetahuan masyarakat terhadap aspek teknis pemilu beserta aturannya seperti parleamentary, presidential dan electoral

  

treshold. Ketiga, terjadinya kecurangan beberapa manipulasi data dan politik uang

   yang berdampak pada maraknya konflik horisontal antar warga .

  Pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat rendah dengan jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya hanya 48,5 persen. Rendahnya partisipasi masyarakat disebabkan beberapa faktor, seperti sosialisasi yang kurang maksimal dari KPU, 1 hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik, masyarakat tidak

  

Asep Kurnia, dkk. 2011. Penelitian Peran Partai Politik dalam Memberikan Pendidikan Politik

  

  mengenal calon gubernur dan wakil gubernur . Masalah masalah tersebut dapat dikurangi dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang politik.

  Pendidikan politik dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan politik supaya dapat menentukan pilihan politiknya secara cerdas dan untuk menjamin kualitas hasil pemilukada.

  Memilih dan dipilih adalah salah satu hak yang sangat asasi bagi manusia, untuk ini partai politik adalah salah satu pilar demokrasi yang idealnya memberikan pendidikan politik dan pencerahan kepada rakyat sebagai

  

  konstituennya . Partai politik sebagaimana dalam pasal 11 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 02 Tahun 2008 tentang fungsi partai politik adalah sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat luas agar menjadi warga Negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kahidupan bermasyarakat,

  

  berbangsa, dan bernegara . Sampai saat ini peran partai politik dalam pendidikan politik bagi masyarakat belum terasa maksimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan HAM Kementrian Hukum dan HAM RI mengatakan bahwa pendidikan politik tidak sepenuhnya dilakukan oleh partai politik.

  Pendidikan politik merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana guna meningkatkan kesadaran politik rakyat sehingga ia dapat 2 berperan sebagai pelaku dan partisipan dalam kehidupan politik kenegaraan yang

   3 diakses pada 13 Juni 2014 pukul 10.15. 4 Asep Kurnia. Opcit, Hal 3-4.

  sesuai dengan nilai-nilai politik yang berlaku serta dapat menjalankan peranannya secara aktif, sadar dan bertanggung jawab yang dilandasi oleh nilai-nilai politik yang berdasarkan pancasila

  Oleh karena itu pendidikan politik merupakan wahana pembinaan dan pembentukan kesadaran warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan politik dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai dan ideologi yang dianut oleh suatu bangsa, pembentukan kesadaran itu akan dicerminkan oleh nilai-nilai, sikap dan ideologi yang dianut.

  Pendidikan adalah membimbing anak didik dari tingkat belum dewasa menuju kedewasaan, dengan kriteria keberhasilan adalah kedewasaan. Sedangkan politik adalah hubungan khusus antara manusia yang hidup bersama, dalam hubungan itu timbul aturan, kewenangan, kelakuan penjabat, legalitas keabsahan, dan akhirnya kekuasaan. Tetapi politik juga dapat dikatakan sebagai kebijaksanaan, kekuatan, kekuasaan pemerintah, pengaturan konflik yang menjadi

   konsensus nasional, serta kemudian kekuatan masa rakyat.

  Dengan dipadukannya antara pendidikan dan politik diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap politik, melalui pendidikan politik setiap warga negara bisa melek politik. Artinya, mereka perlu belajar dan memahami tentang kehidupan politik di negaranya dan tidak selalu berpandangan negatif tentang politik.

5 Syafiie, Inu Kencana dan Azhari. 2008. Sistem Politik Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Hal

  Pendidikan politik merupakan suatu proses dialogik antara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma dan simbol-simbol politik negaranya dalam sistem politik. Pendidikan politik dipandang sebagai proses dialog antar pendidik, seperti sekolah, pemerintah, partai politik, peserta didik dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai, norma dan simbol-simbol

   politik yang dianggap ideal dan baik.

  Pendidikan dalam konteks pendidikan politik ialah suatu proses dimana seseorang diberikan pengetahuan dan wawasan mengenai perkembangan politik suatu negara sehingga orang tertersebut mengetahui dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam politik yang nantinya dapat meningkatkan kesadaran politik, kemelekan politik dan tingkat partisipasi dalam menjalankan sebuah

   sistem politik.

  Setiap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari pasti selalu bersentuhan dengn aspek-aspek politik, baik itu secara sadar maupun tidak sadar. Oleh sebab itu mereka perlu belajar dan memahami tentang aspek-aspek politik baik melalui pembelajaran yang dialogis maupun interaktif. Adapun yang perlu ditekankan dalam pendidikan politik dengan menanamkan nilai-nilai kearifan (budaya dan etika) politik kepada masyarakat, sehingga mereka mampu melakukan tindakan 6 politik yang tidak merugikan bangsa dan Negara. 7 Surbakti, Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Grasindo. Hal 150

Affandi, Idrus dan Anggraeni, Leni. 2011. Pendidikan Politik. Bandung: Lensa Media Pustaka

  Tujuan pemahaman pendidikan politik harus dimulai sejak dini, yaitu sejak generasi penerus bangsa masih duduk di bangku sekolah, seperti di Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini dikarenakan generasi muda merupakan aset partisipasi dalam politik yang masih belum dimaksimalkan. Generasi muda masih belum paham akan sesungguhnya pendidikan politik yang ada. Alhasil, partisipasi terhadap politik masih rendah. Mengapa generasi muda kurang paham atau bahkan tidak menyukai politik. Mereka berpikiran bahwa politik merupakan

   sesuatu hal yang rumit dan membingungkan.

  Dalam masyarakat bernegara khususnya di Indonesia pendidikan politik baru terasa ketika pasca reformasi 1998, dimana masyarakat mampu berpendapat dan menunjukkan keinginannya tanpa harus takut akan ancaman dari pihak luar karena segala sesuatu perbuatan masyarakat diatur oleh hukum. Melihat pengalaman selama 32 tahun di bawah Orde Baru dapat dikemukakan dua model partisipasi politik yang pernah ada di masyarakat Indonesia dalam kaitannya dengan pendidikan politik. Pertama, partisipasi politik termobilisasi yag dikenal sebagai satu model partisipasi politik yang termobilisasi. Dapat diartikan masyarakat politik indonesia mayoritas semata-mata digerakkan oleh elit yang berkuasa. Kedua, partisipasi otonom dimana kesadaran dalam membangun partisipasi politik yang mandiri semakin menguat dan menunjukkan wujudnya wujudnya pasca gerakan reformasi 1998 kendati belum dapat dikatakan

  8 seluruhnya berhasil, sudah mampu menunjukkan trend ke arah pembangunan

   partisipasi politik masyarakat secara mandiri.

  Pemahaman akan pendidikan politik di masyarakat masih sangat rendah secara keseluruhan. Ini disebabkan karena masyarakat belum paham akan arti atau makna yang sesungguhnya dari pendidikan politik itu sendiri. Oleh karena itu, sosialisasi terhadap pemahaman pendidikan politik di masyarakat menjadi hal yang mutlak harus dilakukan. Pemahaman akan pendidikan politik harus digalangkan mulai dari dini, supaya nanti dimasa yang akan datang tercipta generasi muda yang paham akan politik akan berdampak pada meningkatnya partisipasi politik di kalangan masyarakat. Tujuan dari pemahaman pendidikan politik yaitu untuk memberikan pengetahuan akan pendidikan politik pada masyarakat.

  Saat ini organisasi masyarakat telah turut ambil bagian dalam pendidikan politik bagi masyarakat. Organisasi pada hakekatnya dijalankan dari sekumpulan orang yang memiliki dasar ideologi yang sama. Dasar ideologi yang dimaksud adalah pondasi yang dijadikan dasar dari pola pikir anggotanya. Keberadaan organisasi diinginkan untuk membantu setiap anggotanya keluar dari masalahnya. Sehingga adanya organisasi diharapkan untuk mencapai solusi dari visi dan misi organisasi itu.

  Al Jam`iyatul Washliyah merupakan organisasi kemasyarakatan dengan 9 amal ittifaknya yaitu pendidikan, dakwah dan amal sosial yang didirikan oleh pelajar-pelajar Maktab Islamiah Tapanuli Medan, Sumatera Utara pada tanggal 9 Rajab 1349 H bertepatan tanggal 30 Nopember 1930 dan organisasi tersebut diberi nama ALJAM`IYATUL WASHLIYAH (Al Washliyah) oleh Ulama Besar Shyeh H. Muhammad Yunus.

  Al Jam’iyatul Washliyah menonjolkan kata “washola” pada nama organisasinya. Suatu organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki ciri khas yang menonjolkan fungsi sebagai “mediator”. Al Washliyah dalam dakwahnya selalu tampil sebagai juru penghubung, mediator, menjembatani hubungan antara manusia dengan Allah (hamblum minallah) dan hubungan antar manusia dengan manusia (hamblum minannas). Jika ada perselisihan di antara sesama kelompok Islam, maka Al Washliyah ada di tengah-tengahnya. Orang Al Washliyah Suka berkumpul bersilaturrahim antar ulama, pelajar, mahasiswa dan membaur kepada masyarakat umum.

  Mengenal Al Washliyah selain dari namanya, juga melalui lagu marsnya, berulang-ulang kata bersatu dan hentikan pertikaian untuk mencapai kemuliaan disebut hampir pada setiap baitnya. Ada satu bait terakhir yang indah liriknya bila dinyanyikan dapat menggugah rasa yaitu; “Bersatulah ya ikhwan, hentikanlah pertikaian, junjung tinggi, amar Tuhan, hiduplah Washliyah zaman ber zaman.”

  Melalui lagu marsnya, Al Washliyah menonjolkan ciri khasnya yaitu menyeru kepada saudara-saudaranya manusia sedunia, manusia sebangsa, terutama antar sesama ikhwan muslim dan sesama anggota Al Washliyah agar selalu bersatu, menghentikan pertikaian, menjunjung tinggi perintah Tuhan.

  Sesuai misi utamanya sebagai penghubung, orang Al Washliyah suka bergaul ke mana-mana, selalu berusaha untuk tidak tampil sebagai salah satu pihak yang bertikai atau bersengketa, tapi lebih memilih berperan menjadi penengah. Perselisihan yang terjadi pada antar organisasi Islam maupun perselisihan dalam keluarga dan antardesa. Peran penengah dilakukan oleh orang Al Washliyah baik para ulamanya, muslimatnya, para pelajar, mahasiswa, pemuda, cendikiawan, guru dan juga para anggota.

  Kalau ditarik dari sejarah berdirinya Al Washliyah, salah satu pendorong lahirnya Al Washliyah adalah adanya kehawatiran terhadap terjadinya perpecahan di kalangan kaum muslimin mengamalkan ajaran Islam pada waktu itu. Perselisihan itu terjadi antar “kaum tua” yaitu, masyarakat Islam tradisional yang mentolerir tradisi setempat masuk dalam kegiatan seremonial Islam sepanjang diyakini tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dengan “kaum Muda” yaitu, ‘masyarakat Islam modern (pembaharu) yang menolak bercampurnya kegiatan Agama Islam dengan budaya, karena khawatir pengamalan ajaran Islam menjadi tidak murni lagi.

  Dalam pergerakan politik dan ekonomi, organisasi ini juga melakukannya meskipun bukan organisasi politik dan organisasi bisnis. Usaha atau kegiatan ini diperlukan untuk partisipasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk membela ajaran Islam dan memberi kesejahteraan bagi anggotanya. Al Washliyah memutuskan untuk mengambil peran politik walaupun Al Washliyah sejatinya adalah organisasi sosial.

  Secara umum, latar belakang kelahiran Al Washliyah dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, adalah aspek kegelisahan yang mendalam dari aktivis pelajar dengan kondisi perpecahan umat. Perselisihan itu disebabkan perbedaan (ikhtilaf) pendapat mengenai hukum Islam yang menyangkut masalah-masalah cabang (furu’iyah). Perbedaan pendapat dikalangan umat Islam sudah sedemikian luas dab sudah mengarah kepada perpecahan umat dan putusnya silaturahmi.Kedua, adalah aspek ruh perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia dan munculnya jiwa nasionalisme. Jadi, munculnya gerakan untuk mendirikan organisasi Al Washliyah adalah berdasarkan kedua latar belakang tersebut.

  Studi latar belakang dari peristiwa sejarah ini menunjukkan ada dua hal pokok yang berkaitan erat dengan peran politik Al Washliyah dalam membina karakter bangsa. Pertama, dalam konteks keagamaan (religiusitas), bahwa Al Washliyah lahir dalam rangka respon kondisi dan tuntutan keumatan yang sangan membutuhkan saat itu. Kedua, dalam konteks bangsa-negara (nation-state), tanpa dapat dibantah bahwa kelahiran Al Washliyah adalah bentuk respon yang revolusioner dalam tuntutan besar dalam konteks pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui amal jihad (gerakan) dan ijtihad (pemikiran). Dalam pandangan para tokoh dan warga Al Washliyah sesungguhnya tuntutan keagamaan dan kebangsaan adalah salah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Secara tegas dapat dinyatakan bahwa kelahiran Al Washliyah merupakan bentuk tanggung jawab

   atas kesadaran keagamaan dan kesadaran kebangsaan.

  Memahami pendidikan politik di masyarakat merupakan hal yang sangat menarik untuk diketahui. Karena pendidikan politik itu merupakan suatu proses dialogik diantara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan simbol- simbol politik negaranya dari berbagai pihak dalam sistem politik seperti sekolah, pemerintah, dan partai politik. Pendidikan politik mengajarkan masyarakat untuk lebih mengenal sistem politik negaranya. Inilah yang membuat penulis tertarik untuk melihat bagaimana peran Al Washliyah dalam melakukan pendidikan politik di Sumatera Utara.

  Penulis mengangkat Al Washliyah sebagai objek penelitian juga berdasarkan sebuah asumsi dasar sebagai landasan berpikir, yaitu : Pertama, setiap pendiri Al Washliyah pasti adalah merupakan pejuang dan aktifis organisasi yang membangun Al Washliyah, tapi pejuang dan aktifis organisasi yang membangun Al Washliyah, belum tentu sebagai pendiri Al Washliyah. Kedua, Al Washliyah tidak didirikan oleh seprang tokoh sentral kharismatik seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, melainkan Al Washliyah didirikan oleh sekelompok pemuda pelajar yang berpikiran maju dibawah bimbingan ulama.

  10

  B. Rumusan Masalah

  Perumusan masalah merupakan penjelasan mengenai alasan mengapa masalah yang dikemukakan dalam penelitian itu dipandang menarik, penting dan perlu untuk diteliti. Perumusan masalah juga merupakan suatu usaha yang menyatakan pertanyaan– pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicari jalan pemecahannya, atau dengan kata lain perumusan masalah merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan

   diteliti didasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah.

  Al Washliyah meupakan organisasi sosial keagamaan, yang banyak tokohnya ikut berperan dalam kegiatan politik di Indonesia. Sehingga sebagai organisasi sosial keagamaan, Al Washliyah memiliki peran pendidikan politik. Kajian ini hendak mengetahui bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah ada kegiatan pendidikan politik di Al Washliyah? Dimana peran pendidikan politikny?

  Berangkat dari kebutuhan tersebut, maka yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Peran Al Washliyah dalam Pendidikan

  Politik Sumatera Utara?”

  C. Batasan Masalah

  Dalam melakukan penelitian, perlu membuat pembatasan masalah 11 terhadap apa yang diteliti, dengan tujuan untuk memperjelas dan membatasi ruang

  

Husani Usman dan Purnomo.2004. Metodologi Penelitian Sosial, Bandung : Bumi Aksara. Hal lingkup penelitian dan hasil penelitian yang dihasilkan tidak menyimpang dari tujuan awal penulisan yang ingin dicapai. Penelitian ini hanya berfokus pada Al Washliyah wilayah Sumatera Utara, dimana yang menjadi batasan masalahnya adalah bagaimana peran Al Washliyah dalam melakukan pendidikan politik terhadap warga Al Washliyah.

  D. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian, dan adapun yang menjadi tujuan penelitian adalah mengetahui peran Al Washliyah dalam memberikan pendidikan politik di Sumatera Utara, khususnya kepada warga Al Washliyah.

  E. Manfaat Penelitian

  Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat baik bagi peneliti maupun bagi orang lain, terutama untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

  Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

  Peneliti mampu mengasah kemampuan dalam melakukan sebuah proses penelitian yang bersifat ilmiah dan menambah pengetahuan dan wawasan serta cara befikir penulis tentang pendidikan politik.

2. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan tentang Peran Al Washliyah dalam Pendidikan Politik di Sumatera Utara.

  3. Penelitian ini sekiranya dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan mengenai pendidikan politik khususnya dalam Ilmu Politik dan menjadi referensi tambahan khususnya bagi mahasiswa/i Departemen Ilmu Politik.

F. Kerangka Teori

  Bagian ini merupakan unsur yang paling penting di dalam penelitian, karena pada bagian ini peneliti mencoba menjelaskan fenomena yang sedang diamati dengan menggunakan teori–teori yang relevan dengan penelitiannya. Teori menurut Masri Singarimbun dan Sofian effendi dalam buku Metode

  

Penelitian Sosial mengatakan, teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak,

  definisi dan preposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis

   dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.

  Oleh karena itu, dalam penelitian ini, untuk menggambarkan masalah penelitian yang menjadi objek di dalam penelitian, penulis menggunakan teori, yaitu : 1.

   Pendidikan Politik a. Pengertian Pendidikan Politik

  Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan biasanya berlangsung seumur hidup, berawal saat seorang bayi dilahirkan sampai diujung usia. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi dilahirkan seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan cara memainkan musik dan membacakan dongeng kepada bayi dalam kandungan dengan harapan bisa mengajar bayi sebelum dilahirkan.

  Politik dalam bahasa arabnya disebut “Siyasyah” yang kemudian diterjemahkan menjadi siasat, atau dalam bahasa inggrisnya “politics”. Politik dapat berarti cerdik, dan bijaksana atau suatu cara yang dipakai untuk mewujudkan tujuan. Asal mula kata politik iu sendiri dari kata “Polis” yang berarti negara kota. Politik pada dasarnya mempunyai ruang lingkup negara, karena teori politik menyelidiki negara sebagai lembaga politik yang mempengaruhi hidup masyarakat. Selain itu politik juga menyelidiki ide-ide, azas-azas, sejarah pembentukan negara, hakekat negara, serta bentuk dan tujuan negara.

  Menurut Arief Rohman, politik pada dasarnya merupakan segala kegiatan dan interaksi antar manusia yang berkenaan dengan proses perubahan dan pelaksanaan keputusan politik yang mengikat semua anggota masyarakat pada

   suatu wilayah tertentu.

  Menurut Miriam Budiardjo, Politik adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk 13 membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha menggapai the good life ini menyangkut bermacam-macam kegiatan yang antara lain menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem, serta cara-cara melaksanakan tujuan itu. Masyarakat mengambil keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu dan hal ini menyangkut pilihan antara

   beberapa alternatif serta urutan prioritas dari tujuan yang telah ditentukan itu.

  Politik sangat penting bagi kehudapan masyarakat sebagai bagian dari suatu negara, melalui politik masyarakat dapat turut serta menyalurkan aspirasinya dan secara tidak langsung berperan penting dalam pembangunan bangsa.

  Pendidikan politik merupakan suatu proses dialogik antara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma dan simbol-simbol politik negaranya dalam sistem politik. Pendidikan politik dipandang sebagai proses dialog antar pendidik, seperti sekolah, pemerintah, partai politik, peserta didik dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai, norma dan simbol-simbol

   .

  politik yang dianggap ideal dan baik Pendidikan politik adalah aktifitas yang bertujuan untuk membentuk dan menumbuhkan orientasi-orientasi politik pada individu. Ia meliputi keyakinan konsep yang memiliki muatan politis, meliputi juga loyalitas dan perasaan politik,

  14 15 Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 15

  serta pengetahuan dan wawasan politik yang menyebabkan seseorang memiliki

   kesadaran terhadap persoalan politik dan sikap politik.

  Pendidikan politik menurut Rush dan Althoff, adalah sebagai suatu proses oleh pengaruh mana seorang individu bisa mengenali sistem politik yang kemudian menentukan sifat-sifat persepsi-persepsinya mengenai politik serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Proses ini dipengaruhi oleh lingkungan individu berada, baik secara sosial, ekonomi, politik dan budaya pendidikan politik yang diperoleh setiap individu menimbulkan pengalaman-

   pengalaman politik yang baru sehingga menimbulkan perilaku politik.

  Pada hakekatnya pendidikan politik dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan politik pada individu, sehingga mereka dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politiknya. Maka pendidikan politik menjadi sebuah keharusan yang wajib diajarkan disemua elemen kehidupan berbangsa dan bernegara.

  Pendidikan politik disebut pula sebagai political forming atau politische

  

Bildung. Disebut “forming” karena terkandung intensi untuk membentuk insan

  politik yang menyadari status/kedudukan politiknya di tengah masyarakat. Dan disebut “Bildung” (pembentukan atau pendidikan diri sendiri), karena istilah tersebut menyangkut aktivitas : membentuk diri sendiri, dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab sendiri untuk menjadi insan politik.

16 Affandi, Idrus dan Anggraeni, Leni. Opcit, Hal 2

  Pendidikan politik pada hakekatnya merupakan bagian dari pendidikan orang dewasa. Pendidikan macam ini tidak menonjolkan proses kultivasi individu menjadi “intelektual politik” yang bersinggasana dalam menara gading keilmuan, atau menjadi pribadi kritis dan cerdas “yang terisolasi” dari masyarakat lingkungannya. Akan tetapi lebih menekankan relasi individu dengan individu lain, atau individu dengan masyarakat di tengah medan sosial; dalam satu konteks politik, dengan kaitannya pada aspek-aspek sosial-ekonomi-budaya; di tengah situasi-situasi konflik yang ditimbulkan oleh bermacam-macam perbedaan, atau oleh adanya pluriformitas (kemajemukan masyarakat).

  Beberapa defenisi mengenai pendidikan politik adalah sebagai berikut : 1. Pendidikan politik adalah bentuk pendidikan untuk orang dewasa dengan menyiapkan kader-kader untuk pertarungan politik dan mendapatkan penyelesaian politik, agar menang dalam perjuangan politik.

  2. Pendidikan politik adalah upaya edukatif yang intensional, disengaja dan sistematis untuk membentuk individu sadar politik, dan mampu menjadi pelaku politik yang bertanggung jawab secara etis/moral dalam mencapai tujuan-tujuan politik.

3. R. Hayer menyebut :

  Pendidikan politik ialah usaha membentuk manusia menjadi partisipan yang bertanggung jawab dalam politik.

  Politik dapat diartikan sebagai aktivitas, perilaku atau proses yang menggunakan kekuasaan untuk menegakkan peraturan-peraturan dan keputusan keputusan yang sah berlaku di tengah masyarakat.

  Unsur pendidikan dalam pendidikan politik itu pada hakekatnya merupakan aktivitas pendidikan-diri (mendidik dengan sengaja diri sendiri) yang terus menerus berproses di dalam person, sehingga orang yang bersangkutan lebih mampu memahami dirinya sendiri dan situasi-kondisi lingkungan sekitarnya.

  Kemudian mampu menilai segala sesuatu secara kritis, untuk selanjutnya menentukan sikap dan cara-cara penanganan permasalahan-permasalahan yang ada di tengah lingkungan hidupnya. Inilah bentuk pendidikan sejati, dalam mana terdapat unsur pengenalan-pemahaman, berfikir secara kritis, menentukan dan merubah sikap, kemudian melakukan perbuatan nyata (merubah, mencipta, memperbaiki, menyempurnakan; aktif berbuat). Melalui pendidikan –dalam hal ini ialah pendidikan politik- orang berusaha melihat permasalahan sosial-politik yang ada di sekitarnya dengan cara lain, kemudian memperbincangkan, ikut memikirkan, dan ikut menangani/memcahkannya dengan cara-cara lain (dengan pemecahan alternatif; tidak “ngotot” bersikeras melekat pada cara berfikir dan cara menyelesaikan yang konservatif), dengan berbuat aktif, dengan arah dan tujuan yang pasti.

  Dengan begitu pendidikan politik merupakan proses belajar, bukan hanya untuk menambah informasi dan pengetahuan saja, akan tetapi lebih menekankan kemampuan mawas situasinya secara kritis, menentukan sikap yang benar, dan melatih ketangkasan aksi/berbuat. Selanjutnya, individu murni dan mutlak bebas itu tidak ada. Keberadaannya selalu terkait dengan individu-individu lain, sebab dia ada di tengah situasi-situasi kebersamaan dengan orang lain di tengah masyarakat. Maka hakekatnya manusia itu adalah : produk-produk dari macam- macam ikatan-ikatan kemasyarakatan (pergaulan hidup bersama-sama sehingga dia tidak pernah bisa bebas mutlak dalam kesendirian absolut). Selalu saja ada interdependensi antara individu dengan individu, dan antara manusia dengan manusia lain. Maka untuk selama-lamanya manusia itu harus terus-menerus belajar hidup rukun bersama dalam satu ikatan kemasyarakatan, dari yang kecil (keluarga, kaum, kelompok) sampai ke ikatan kebangsaan, dan kenegaraan, supaya dia mampu memahami status dirinya selaku warga negara itulah diperlukan pendidikan politik, yang secara intensional mengarah pada peningkatan pemahaman status diri sendiri selaku warga negara yang baik di tengah pergaulan hidup bersama, serta menyadari fungsi politiknya selaku warga negara

b. Inti Pendidikan Politik

  Inti pendidikan politik ialah pemahaman politik atau pemahaman aspek- aspek politik dari setiap permasalahan. Dan pemahaman politik berarti pemahan konflik. Banyaknya konflik di masyarakat manusia itu disebabkan oleh adanya kontroversi, perbedaan, aneka ragam fikiran dan tindakan/perilaku manusia dalam masyarakat. Juga disebabkan oleh adanya persamaan keinginan dan tingkah laku, sehingga memunculkan persaingan, kompetisi, konkurensi dan konflik. Oleh karena itu hidup bermasyarakat itu adalah hidup di tengah banyak dimensi konflik dan ketegangan. Berkaitan dengan pengertian ini, berbuat politik berarti mempengaruhi dan ikut mengambil keputusan di tengah medan politik dan pertarungan konflik-konflik.

  Maka pendidikan politik itu merupakan proses mempengaruhi individu agar dia memperoleh informasi lebih lengkap, wawasan lebih jernih, dan keterampilan politik yang lebih tinggi, sehingga dia bisa bersikap kritis dan lebih intensional/terarah hidupnya. Juga diharapkan menjadi warga negara yang lebih cerdas mantap, sebab tidak terapung-apung melayang tanpa bobot pengertian dan kesadaran dan tanpa arah di tengah kancah politik. Selanjutnya dari dirinya diharapkan kesanggupan melakukan : reorientasi terhadap kondisi diri pribadi dan kondisi obyektif lingkungan sekitar, terutama kondisi politik yang mengitari dirinya. Dengan demikian pendidikan politik mendorong orang untuk melihat diri sendiri dan lingkungannya dengan cara lain, lalu berani berbuat lain, menuju pada eskalasi-diri dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

  Maka dapat di mengerti, bahwa pendidikan politik tidak diharapkan identik dengan propaganda atau indoktrinasi. Sebab oleh propaganda orang menjadi terlena dan semakin dungu. Dan oleh pendidikan indoktrinatif orang akan menjadi kaku, stereotypis, sempit pandangan dan fanatik. Mentalnya menjadi kacau dan kebodoh-bodohan, sebab perilakunya sering bertentangan dengan suara hati nurani sendiri dan realitas nyata yang dihadapi. Biasanya juga menentang kemauan dan aspirasi umum, yang menuntut kebenaran dan hak hak asasi kemanusiaan yang wajar-wajar.

  Pendidikan politik diadakan untuk mempersiapkan: 1. Kader-kader politik yang mampu berfungsi baik di tengah perjuangan politik.

2. Untuk mendapatkan penyelesaian politik yang bisa memuaskan semua pihak, sesuai dengan konsep-konsep politik yang sudah ditetapkan.

  Jika pendidikan politik tersebut dilakukan dengan baik dan sistematis, maka pasti akan dapat ditumbuhkan kekuatan-kekuatan kontra yang demokratis dan positif konstruktif. Yaitu menjadi kekuatan yang kritis melawan kondisi-kondisi yang tidak sehat, buruk, tidak adil, tidak mantab, dan tidak wajar. Kemudian orang berusaha menciptakan iklim yang lebih demokratis dan lebih sehat, untuk membuat kondisi sosial-politik-ekonomi-budaya menjadi lebih baik.

c. Tujuan Pendidikan Politik

  Dalam rumusan pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional adalah sebagai berikut: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang berima dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga

   Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan politik ialah : 1. Membuat rakyat (individu, kelompok, klien, anak-didik, warga masyarakat, rakyat, dan seterusnya) mampu memahami situasi sosial-politik penuh konflik. Berani bersikap tegas memberikan kritik membangun terhadap kondisi masyarakat yang tidak mantab. Aktivitasnya diarahkan pada proses demokratisasi individu/perorangan, dan demokratisasi semua lembaga kemasyarakatan serta lembaga negara. Serta sanggup memperjuangkan kepentingan dan ideologi tertentu, khususnya yang berkolerasi dengan keamanan dan kesejahteraan hidup bersama

  2. Memperhatikan dan mengupayakan peranan insani dari setiap individu sebagai warga negara (melaksanakan realisasi-diri/aktualisasi-diri dari dimensi sosialnya). Mengembangkan semua bakat dan kemampuannya (aspek kognitif, wawasan, kritis, sikap positif, keterampilan politik). Serta mengupayakan agar orang bisa aktif berpartisipasi dalam proses politik, demi pembangunan diri, masyarakat sekitar, bangsa dan negara.

  Maka dalam konteks uraian di atas, pendidikan politik di Indonesia dapat dinyatakan sebagai rangkaian upaya edukatif yang sistematis dan intensional untuk memantapkan kesadaran politik dan kesadaran bernegara, dalam menunjang kelestarian Pancasila dan UUD 1945 sebagai falsafah hidup serta landasan konstitusional. Melakukan upaya pembaharuan kehidupan politik bangsa Indonesia, dalam rangka tegaknya satu sistem politik yang demokratis, sehat dan dinamis. Landasan pokok yang dipakai dalam melaksanakan pendidikan politik ialah Pancasila, UUD 1945, GBHN, dan Sumpah Pemuda 1928.

  Khusus bagi generasi mudanya, tujuan pendidikan politik di Indonesia ialah :

  1. Membangun generasi muda Indonesia yang sadar politik, sadar akan hak dan kewajiban politiknya selaku warga negara, di samping sadar akan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang harus terus menerus membangun.

  2. Membangun orang muda menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yang perwujudannya tercermin dalam seluruh sifat watak/karakteristik kepribadian Indonesia (tidak lupa jati dirinya, dan tidak mengalami proses alienasi).

  Ciri karakteristik kepribadian Indonesia yang berkaitan dengan dimensi politik yang diharapkan bisa dibina lewat pendidikan politik antara lain ialah:

  1. Sadar akan hak dan kewajiban, tanggung jawab etis/moril dan politik terhadap kepentingan bangsa dan negara, mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, dan memberikan keteladanan yang baik.

2. Dengan sadar menaati hukum dan UUD 1945, memiliki disiplin pribadi, disiplin sosial dan nasional, nasionalisme yang teguh dan tidak sempit.

  3. Berpandangan jauh ke depan, dengan tekad perjuangan mencapai taraf kehidupan bangsa yang lebih tinggi, berkeadilan dan berkesejahteraan, didasarkan pada kemampuan obyektif dan kekuatan kolektif bangsa Indonesia sendiri.

  4. Aktif berpartisipasi, dan kreatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam kegiatan pembangunan nasional dan pembangunan politik.

  5. Secara kesinambungan menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dengan kesadaran adanya keanekaragaman suku-suku bangsa dan agama, serta mendukung sistem kehidupan nasional yang demokratis.

  6. Sadar akan perlunya memelihara lingkungan hidup manusia dan lingkungan alam sekitar agar lestari laras dan imbang (terjamin ekosistemnya) sebagai

   wadah kehidupan yang sehat.

  Sedangkan, tujuan pendidikan politik menurut Idrus Affandi dan Lani Anggraeni, yaitu agar setiap individu mampu memberikan partisipasi politik yang aktif di masyarakatnya. Dengan demikian pendidikan politik memiliki tiga tujuan, antara lain: 1.

  Membentuk kepribadian politik, pembentukan kepribadian politik dilakukan melalui metode tak langsung, yaitu pelatihan dan sosialisasi, serta metode langsung berupa pengajaran politik dan sejenisnya.

  2. Menumbuhkan kesedaran politik ditempuh melalui dua metode yakni dialog dan pengajaran intruktif.

  3. Partisipasi politik, terwujud dengan keikut sertaan individuindividu secara

   sukarela dalam kehidupan politik masyarakatnya.

  19 Kartono, Kartini. 2009. Pendidikan Politik, Sebagai Bagian Dari Pendidikan Orang Dewasa. 20 Bandung: CV. Mandar Maju. Hal 71

d. Manfaat pendidikan politik

  Menurut Ramdlon Naning, Pendidikan politik mempunyai manfaat sebagai berikut:

  1. Dapat memperluas pemahaman, penghayatan, dan wawasan terhadap masalah-masalah atau isu-isu yang bersifat politis.

  2. Mampu meningkatkan kualitas diri dalam berpolitik dan berbudaya politik sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

  3. Meningkatkan kualitas kesadaran politik rakyat menuju peranan aktif dan

   partisipasinya terhadap pembangunan politik bangsa secara keseluruhan.

  Menurut Idrus Affandi dan Leni Anggraeni, manfaat memahami pendidikan politik yaitu bisa dilihat mulai dari berubahnya pola pemikiran dari masyarakat, dimana ketika masyarakat tidak mengetahui pengetahuan banyak berkenaan dengan pendidikan politik, partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya pun relatif rendah. Akan tetapi ketika pengetahuan akan pemahaman pendidikan politik sudah banyak, otomatis berdampak terhadap partisipasi

  

masyarakat untuk menggunakan haknya.

e. Kesulitan dan Hambatan Dalam Pelaksanaan Pendidikan Politik

  Tema sentral dalam pendidikan politik itu ialah situasi-situasi kongkrit yang menyebalkan secara sosial, untuk dianalisa secara kritisdan dengan cara-cara sah serta demokratis ditanggulangi bersama-sama dengan pemerintah. Dengan 21 begitu berlangsung demokratisasi di segala bidang kehidupan, khususnya untuk 22 Budiyanto. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas X. Jakarta:Erlangga. Hal 185

  menantang anakronisme feodal dalam kepemimpinan politik, mengarah ke proses demokratisasi yang lebih maju. Oleh sebab itu tujuan, materi dan metode pendidikan politik itu harus sejajar dengan pembaharuan terhadap struktur- struktur politik dan struktur kemasyarakatan. Tegasnya, pendidikan politik itu tidak hanya diarahkan pada perubahan-perubahan sikap-sikap politik individu saja, akan tetapi juga diarahkan pada pembaharuan bentuk-bentuk struktur politik dan lembaga kemasyarakatan.

  Maka menjadi sangat jelas, bahwa pendidikan politik itu bukan gerakan eliter atau aristokratis dengan ideologi yang melayang-layang tinggi, juga bukan merupakan aktivitas yang sia-sia seperti “si pungguk yang ingin menggayut bintang dengan galah bambu”, juga bukan berupa alat yang tidak efisien yang membuat sejumlah pemberontak mengalami frustasi lebih parah lagi, akan tetapi merupakan bimbingan edukatif yang terarah, bertujuan sistematis. Ditujukan pada pencapaian hari esok yang lebih baik. Melawan ketidakadilan, pemerintah teknokratis otoriter, tiranik atau despotik.

  Selanjutnya, demokrasi sebagai bentuk pemerintahan dan sebagai asas bagi tata tertib kenegaraan itu dipakai di Indonesia untuk memberikan jaminan kepada setiap individu mencapai kebebasan mengembangkan kehidupannya sendiri secara bertanggung jawab. Demokrasi tidak hanya menjamin kebebasan individu lewat hukum-hukum formal saja, akan tetapi juga menjamin dapat dilaksanakannya dimensi-dimensi sosial dan publiknya secara bertanggung jawab dan etis, menuju proses demokratisasi yang lebih maju dari masyarakatnya.

  Pendidikan politik dengan tugas pokok membangun kekuatan-kekuatan kontra untuk memberantas macam-macam distorsi (pemutar-balikan, pengubahan bentuk ke arah yang salah, pemuntiran) dan situasi-situasi yang tidak melegakan hati penuh disharmoni, pertentangan dan persaingan. Dengan begitu pendidikan politik itu diarahkan pada humanisasi masyarakat Indonesia, agar lebih melegakan untuk dihuni oleh rakyat, dan tidak boleh indoktrinatif sifatnya.

  Semua upaya untuk memelekkan secara politik penduduk Indonesia itu tidak luput dari kesulitan dan hambatan, antara lain berupa :

  1. Amat sulit menyadarkan rakyat akan kondisi diri sendiri yang diliputi banyak kesengsaraan dan kemiskinan, sebagai akibat terlalu lamanya hidup dalam iklim penindasan, penghisapan dan penjajahan, sehingga mereka menjadi “terbiasa” hidup dalam keserba kekurangan dan ketertinggalan. Sulit mendorong mereka ke arah konsientisasi-diri mengungkapkan segala problema yang tengah dialami.

  2. Apatisme politik dan sinisme politik yang cenderung menjadi sikap putus asa itu mengakibatkan rakyat sulit mempercayai usaha-usaha edukatif dan gerakan-gerakan politik –yang dianggap palsu dan menina-bobokan rakyat belaka– , sulit pula untuk mengajak mereka untuk berfikir lain dengan nalar jernih. Bahkan banyak di antara massa rakyat yang takut pada kemerdekaan (dirinya).

3. Dengan latar pendidikan yang rendah atau kurang, rakyat kebanyakan sulit memahami kompleksitas situasi sosial dan politik di sekitar dirinya.

  4. Para penguasa yang otoriter cenderung tidak menghendaki adanya pendidikan politik, karena status mereka berkepentingan sekali dengan status quo dan pelestarian rezimnya. Partisipasi aktif dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan oleh rakyat itu tidak di kehendaki, sebab mengurangi

   kebebasan dan kekuasaan organ-organ ketatanegaraan.

2. Partisipasi Politik

  Partisipasi politik itu merupakan aspek penting dalam sebuah tatanan negara demokrasi sekaligus merupakan ciri khas adanya modernisasi politik.

  Dinegara-negara yang proses modernisasinya secara umum telah berjalan dengan baik, biasanya tingkat partisipasi warga negara meningkat. Modernisasi politik dapat berkaitan dengan aspek politik dan pemerintah. Partisipasi politik pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilakukan warga negara untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dengan tujuan untuk mempengaruhi pengambilan

   keputusan yang dilakukan pemerintah.

  Pemerintah dalam membuat dan melaksanakan keputusan politik akan menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga masyarakat. Dasar inilah yang digunakan warga masyarakat agar dapat ikut serta dalam menentukan isi politik. Perilaku-perilaku yang demikian dalam konteks politik mencakup semua kegiatan sukarela, dimana seorang ikut serta dalam proses pemilihan pemimpin-pemimpin politik dan turut serta secara langsung atau tidak langsung dalam pembentukan 23 kebijakan umum.

  Kartono, Kartini. 2009. Opcit, Hal 73

  Menurut Budiarjo, partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung

   mempengaruhi kebijakan pemerintah.

  Menurut Hutington dan Nelson, bahwa partisipasi politik adalah kegiatan warga negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi yang dimaksud untuk mempengaruhi pembuat keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual dan kolektif, terorganisir dan sepontan, mantap atau sporadis, secara

   damai atau dengan kekerasan. Legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif.

  Dari pengertian mengenai partisipasi politik diatas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa yang dimaksud partisipasi politik adalah keterlibatan individu atau kelompok sebagai warga negara dalam proses politik yang berupa kegiatan yang positif dan dapat juga yang negatif yang bertujuan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik dalam rangka mempengaruhi kebijakan pemerintah.

  3. Civil Sociecty a. Sejarah dan Defenisi Konsep

  Secara harfiah, civil society adalah terjemahan dari istilah Latin, civilis societas. Mula-mula ia dipakai oleh Cicero (106-43 S.M), seorang orator dan pujangga Roma, yang pengertiannya mengacu pada gejala budaya perorangan dan

  25 Sastroatmodjo, Sudijono. Ibid, Hal 68

  

  masyarakat. Masyarakat sipil disebutnya sebagai sebuah masyarakat politik

   (political society) yang memiliki kode hukum sebagai dasar pengaturan hidup.

  Di zaman modern, istilah itu diambil dan dihidupkan kembali oleh John Locke (1632-1704) dan Rousseau (1712-1778) untuk mengungkapkan pemikiran mereka mengenai masyarakat dan politik. Locke umpannya, mendefinisikan masyarakat sipil sebagai “masyarakat politik” (political society). Namun demikian, dalam konsep Locke dan Rousseau belum dikenal pembedaan antara masyarakat sipil dan negara. Karena negara, lebih khusus lagi, pemerintah, adalah merupakan bagian dari salah satu bentuk masyarakat sipil. Bahkan keduanya beranggapan bahwa masyarakat sipil adalah pemerintahan sipil, yang

   membedakan diri dari masyarakat alami atau keadaan alami (state of nature).

  Ciri dari suatu masyarakat sipil, selain terdapat tata kehidupan politik yang terikat pada hukum, juga adanya kehidupan ekonomi yang didasarkan pada sistem uang sebagai alat tukar. Selain itu, kemandirian dan kemampuan untuk mengorganisasi diri—mengandaikan suatu keadaan di mana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri, tanpa tergantung pemerintah—juga

   merupakan ciri lain dari civil society.

  27 Alatas, Syed Farid. 2001. Islam, Ilmu-ilmu Sosial dan Masyarakat Sipil. (Makalah Simposium 28 Internasional). Jurnal Antropologi Indonesia ke-2. Padang : Universitas Andalas

Gunawan, Hendra. 2007. Islam dan Civil Society: Konsep, Sejarah, dan Perkembangannya di

29 Indonesia (Makalah). Purwokerto: FISIP Universitas Jenderal Soedirman

  Gunawan, Hendra. Ibid

  Di Indonesia sendiri, civil society sebetulnya sudah mulai berkembang sejak dekade 70-an bersamaan dengan mulai maraknya lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Indonesia. Memasuki dekade 80-an, wacana ini makin merebut perhatian publik. Ini tidak heran, karena pada dekade tersebut, kekuasaan Orde Baru sedang di puncak kejayaannya dengan wacana tunggal yang sangat hegemonik: ditandai penetapan Pancasila sebagai asas tunggal. Itulah sebabnya, wacana civil society ini seolah-olah menjadi alternatif sebagai wacana tandingin

   untuk kekuasaan Orde Baru.

  Masyarakat sipil (civil society) sebagai sebuah konsepsi, menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang cukup mampu mengimbangi kekuasaan negara. Mereka terdiri atas lembaga swadya masyakat yang mandiri, serikat-serikat pekerja, lembaga-lembaga profesi, perdagangan, badan-badan otonom keagamaan, kelompok mahasiswa, kelompok kebudayaan, dan lembaga lainnya, yang tugasnya adalah untuk mengawasi, meneliti dan

  

  menilai kebijakan pemerintah. Dalam konteks ini, mereka juga berhadapan langsung kepada pemerintah untuk mengimbangi kekuasaan negara. Lembaga atau masyarakat itulah yang kemudian diidentikkan dengan masyarakat sipil. Konsep ini, secara jelas ingin memisahkan negara dengan masyarakat. Untuk

31 Gunawan, Hendra. Ibid

  kemudian mengkontiniukan antara satu dengan yang lainnya demi kesetabilan

   pemerintah.

  Sebagai sebuah istilah, civil society memang masih merupakan perdebatan. Setiap ilmuwan sosial cenderung memiliki pandangan yang berbeda- beda tentang istilah ini. Craig Calhoun, misalnya, mendefinisikan civil society sebagai ruang sipil di mana orang bisa mengorganisasikan kehidupan sehari-hari mereka tanpa intervensi negara. Nakamura Mitsuo juga memiliki pandangan yang kurang lebih sama ketika dia menyatakan bahwa di luar ragam perbedaan teoritis dalam mendefinisikan civil society, ada dua aspek penting yang mencirikan civil society yang disepakati oleh para ilmuwan sosial, yaitu kehidupan berserikat— yang sifatnya suka rela—dan keadaban atau nilai-nilai keadaban dalam

   masyarakat.

  Untuk mendefinisikan civil society, beberapa tokoh menggambarkan posisi hubungannya dengan beberapa sektor dan kemudian mengaitkan dengan beberapa tingkatan bidang yang ada pada sektor tersebut. Civil society sebagai sektor, maka ia sangat erat kaitannya dengan bisnis, negara, dan keluarga.

  Sementara civil society sebagai sebuah tingkatan bidang, maka ia memiliki

   33 tingkatan dalam keluarga, bisnis dan negara. 34 Gunawan, Hendra. Opcit

Boy ZTF, Pradana. 2009. Muhammadiyah, Memadukan Peran Ulama dan Bazaris. Yogyakarta:

35 Suara Muhammadiyah.

  

Paffenholz, T. & Spurk, C. 2006. Civil Society, Civic Engagement, and Peacebuilding. Social

Development Papers: Conflict Prevention and Reconstruction. Washington DC: The World Bank

b. Wacana Civil Society dan Masyarakat Madani

  Dalam problematika di Indonesia, wacana civil society lebih bersifat teoriritis, sehingga, tidak sedikit orang yang menyepadankan istilah civil society dengan masyarakat madani. Padahal, isitilah civil society, societas civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani) dan masyakarakat madani berasal dari dua sistem budaya yang berbeda. Masyakarat madani merujuk pada tradisi Arab- Islam (meski tidak semua Arab pasti Islam), sementara civil society merujuk pada tradisi Barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna berbeda apabila

   dikaitkan dengan konteks asal istilah itu muncul.

  Oleh karena itu pemaknaan lain di luar derivasi konteks asalnya akan merusak makna aslinya. Keidaksesuaian pemaknaan ini tidak hanya menimpa kelompok masyarakat yang menjadi sasaran aplikasi konsep tersebut, tetapi juga para interpreter yang akan mengaplikasikannya. Hal lain yang berkaitan dengan perbedaan aplikasi kedua konsep masyarakat ini adalah bahwa civil society telah teruji secara terus-menerus dalam tatanan kehidupan sosial-politik Barat hingga mencapai maknanya yang terakhir, yang turut membidani lahirnya peradaban Barat modern. Sedangkan masyarakat madani seakan merupakan keterputusan konsep ummah yang merujuk pada masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

36 Jainuri, Achmad. 2000. Agama dan Masyarakat Madani: Rujukan Khusus Tentang Sikap

  Budaya, Agama dan Politik. Jurnal Al Afkar. Edisi III Tahun ke 2: Juli-Desember

  Perbedaan tersebut timbul dari adanya perbedaan intepretasi tentang apa yang dimaksud dengan masyarakat unggul (al khair al ummah). Ia bisa diartikan sebagai masyarakat sipil, bisa pula negara. Tetapi jika kita kembali kepada pengertian masyarakat madani, yang merupakan pemikiran baru di zaman modern, maka masyarakat madani mencakup masyarakat sipil maupun negara. Masalahnya adalah mana yang dianggap primer dan mana yang sekunder. Hingga sekarang ini, negara (state—konsep civil society) dipandang sebagai primer, walaupun kenyataannya, masyarakat sipil terlebih dahulu lahir sebelum terbentuknya Negara RI. Tetapi, negara juga mempunyai peranan dalam pembinaan masyakat. Di Indonesia, Negara secara tidak langsung ikut

   membentuk masyarakat sipil.

c. Islam dan Korelasinya dengan Civil Society di Indonesia

  Menjelang Perang Dunia II, dipelopori oleh kaum cendekiawan lahirlah organisasi-organsasi keislaman di Indonesia. Boleh dikatakan, kaum cendekiawan bersama-sama dengan ulama, yang sering juga disebut sebagai cendekiawan tradisional, memegang peranan sentral dan ikut mewarnai pembentukan negara.

  Merek terpecah pandangannya dalam melihat kedudukan dan peranan agama dalam negara. Di satu pihak, terdapat pendapat yang menghendaki pemisahan agama dan negara, dan di lain pihak, terutama kelompok Islam, menentang

  37 sekularisme, mengingat kuatnya unsur keagaman dalam masyarakat, khususnya

   kaum Muslim, yang pada waktu itu mencakup lebih dari 90% penduduk.

  Dalam perspektif Islam, civil society lebih mengacu pada penciptaan peradaban. Kata al din, yang umumnya diterjemahkan sebagai agama, berkaitan dengan makna al tamaddun, atau peradaban. Keduanya menyatu ke dalam pengertian al madinah yang arti harfiyahnya adalah kota. Dengan demikian, maka civil society diterjemahkan sebagai “masyarakat madani”, yang mengandung tiga

  

  hal, yakni agama, peradaban dan perkotaan. Di sinilah letak kekompleksitasan dari konsepsi civil society itu sendiri. Artinya, ada yang memahami bahwa civil society itu merupakan pola masyarakat madani yang oleh orang barat disepadankan dengan civil society yang dipandang modern oleh mereka.

  Di Indonesia, beberapa waktu lalu terjadi banyak kasus yang menjadi rebutan antara agama dan negara. UU Pornografi dan Pornoaksi serta peraturan pemerintah tentang poligami adalah di antara contohnya. Di wilayah manakah persoalan seperti pornografi, pornoaksi, dan poligami itu mestinya berada, adalah salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan. Sehingga, muncul lagi kemudian sebuah pertanyaan, apakah kasus-kasus tersebut di atas—dan kasus-kasus

   sejenis—menjadi bagian dari wilayah negarakah atau agama.

  38 39 Gunawan, Hendra. Ibid 40 Gunawan, Hendra. Ibid

Burhani, Ahmad Najib. 2009. Muhammadiyah sebagai Civil Islam? Suara Muhammadiyah. 2

Januari

  Tidak bisa dimungkiri bahwa teori civil society awalnya berkembang di Barat; dan karena itu menerapkan kerangka teoritis ini begitu saja ke dalam konteks masyarakat Islam Indonesia menjadi tidak bijaksana. Kesalahan menerapkan satu ukuran teoritis pada kondisi-kondisi masyarakat yang berbeda inilah, antara lain, yang telah mengarahkan teoritisi Barat untuk melabel

  

  masyarakat Islam sebagai tidak sejalan dengan civil society. Ernest Gellner, misalnya, menilai dalam kerangka teoritis Barat tentang masyarakat, keberadaan civil society di kalangan masyarakat muslim adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin. Pandangan negatif tentang ketidakmungkinan Islam bersanding dengan civil society ini dikritik oleh Masoud Kamali, bahwa para pemikir Barat ini gagal memahami dua dimensi Islam, yaitu Islam sebagai agama dan sekaligus sebagai teori politik dan sumber legitimasi kekuasaan. Kenyataan kedua ini merupakan fakta yang berlangsung sepanjang sejarah Islam. Menurut Kamali, peran menentukan agama dalam melegitimasi kekuasaan telah menjadikan kelompok ulama sangat berpengaruh dalam masyarakat. Secara historis, ulama memainkan peranan yang sangat penting dalam banyak lembaga sosial, seperti pendidikan, perkawinan, penguburan, pengumpulan dan pembagian pajak, pendataan kekayaan, dan sebagainya. Maka, peran-peran yang dimainkan oleh para ulama inilah yang menjadikan status mereka dalam masyarakat semakin kuat.

  Masyarakat sipil yang mewarnai dunia Islam di Indonesia ini merupakan 41 mata rantai sejarah dari Islam itu sendiri. Islam tidak pernah sepi dari peranannya

  Boy ZTF, Pradana. Opcit membentuk civil society. Namun demikian, konsep civil society yang dibangun Islam sungguh berbeda dengan konsep civil society yang dibangun oleh dunia Barat. Civil society dalam pandangan Islam tidak memisahkan umat (masyarakat) dari negara. Akan tetapi ia merupakan satu kesatuan yang utuh. Berbeda dengan konsep civil society yang digagas oleh pemikir Barat. Masyarakat diletakkan berseberangan dengan negara. Ia menjadi penyeimbang yang bersifat opisisi dari negara, dengan tujuan sebagai pengontrol kekuasaan negara. Guna menghilangkan kesalahpahaman berbagai pihak tentang adanya civil society—sebagai lawan dari pemerintah—maka yang dimaksud masyarakat sipil di sini adalah masyarakat madani, yakni sebenarnya kedua istilah dan konsepsi ini jelas berbeda. Ia tetap “dipaksa” untuk disamakan asal bisa mengacu untuk menjadi sebuah masyarakat yang etis, progesif, dan menuju kepada terbentuknya peradaban yang unggul.

G. Metodologi Penelitian

  Metodologi penelitian adalah sebagaimana ajaran mengenai cara-cara yang

  

  digunakan dalam memproses penelitian. Metodologi penelitian pada dasarnya merupakan cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan penelitian yang dilakukan.

1. Metode Penelitian

  Metode penelitian adalah cara yang ditempuh oleh peneliti untuk

   42 menjawab permasalahan penelitian atau rumusan masalah. Metode penelitian Kartono Kartini. 1996. Pengantar Metode Riset Sosial. Bandung: CV. Mandar Maju. Hal 17 yang digunakan untuk menjawab penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis merupakan metode yang bertujuan mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu objek penelitian yang diteliti melalui sampel atau data yang telah terkumpul dan membuat kesimpulan

   yang berlaku umum.

  2. Lokasi Penelitian

  Pelaksanaan penelitian ini diadakan di Al Washliyah Sumatera Utara yang beralamat di Jalan Sisingamangaraja Nomor 144, Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota Kode Pos 20217 Medan Sumatera Utara.

  3. Jenis Data

  Kegiatan penelitian baik penelitian sosial ataupun penelitian eksakta selalu berkaitan dengan sumber data. Didalam sejarah perkembangan penelitian, pada awalnya yang dikatakan sebagai sumber data hanyalah apa yang ditemui pada saat itu baik yang dilihat ataupun yang didengar tanpa mempertimbangkan segi perkembangan dan waktu.

  Perkembangan atau lebih tepatnya perubahan akan terjadi selama mekanisme kegiatan manusia dan akan berinteraksi seiring dengan waktu. Oleh sebab itu peranan waktu akan semakin menentukan dalam perkembangan ataupun kejadian perubahan. Perubahan akan terjadi dengan nyata apabila terdapat rekaman awal, rekaman selama terjadinya interaksi dan rekaman akhir. Kumpulan perubahan tersebut yang dalam hal ini disebut sebagai sumber data.

   a.

  Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan. Dilakukan sengan metode wawancara mendalam (indepth-interview) yang dipandu dengan pedoman wawancara. Wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin. Dimana model wawancara bebas terpimpin yaitu diartikan sebagai wawancara yang menggunakan pedoman wawancara (daftar pertanyaan) namun berupa kalimat-kalimat yang tidak permanen atau mengikat.

  Pada penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder, yaitu :

   b.

  Data sekunder yaitu data yang diperoleh baik yang belum diolah maupun yang telah diolah, baik dalam bentuk angka maupun uraian. Data diperoleh dari literatur yang relevan dengan judul penelitian seperti buku-buku, jurnal, artikel, makalah, undang-undang, peraturan-peraturan, internet serta sumber- sumber lain yang dapat memberikan informasi mengenai judul penelitian.

  Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau pihak-pihak yang berhubungan dan memiliki relevansi terhadap masalah yang berhubungan dengan penelitian.

  4. Teknik Pengumpulan Data

  Dalam melakukan penelitian, data sangat dibutuhkan sebagai acuan untuk menjamin keakuratan dalam menganalisis penelitian tersebut. Maka peneliti 45 Sukandarrumidi. 2006. Metodologi Penelitian (Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal 44. 46 Iin Tri Rahayu dan Tristiadi Hardi. 2004. Observasi dan Wawancara. Malang: Bayu Media dalam hal ini melakukan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer dilakukan dengan wawancara secara langsung. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode

  

purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang disesuaikan dengan tujuan

dan syarat tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan dan masalah penelitian.

  Wawancara ini dilakukan secara langsung kepada informan ataupun narasumber yang dianggap paling sesuai dengan objek penelitian, serta melakukan tanya jawab secara mendalam terkait permasalahan yang diteliti kepada informan dan narasumber dalam objek penelitian ini. Pihak-pihak yang diwawancarai dilibatkan dalam penggalian data sebagai informan dengan tujuan agar memperoleh informasi yang tersaring tingkat akurasinya sehingga keseimbangan informasi

  

  dapat diperoleh. Maka, peneliti mengambil informan sebanyak 3 orang yaitu : 1.

  DRS. H. HASBULLAH HADI, SH, M.Kn selalu Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara 2011 – 2015 2. DRS. H. DARIANSYAH EMDE selaku Wakil Ketua PW Al

  Washliyah Sumatera Utara 2011 – 2015 3.

H. ISMA FADLI ARDYA PULUNGAN, S.Ag, SH, MH selaku

  Sekretaris PW Al Washliyah Sumatera Utara 2015 – 2019 Selain dengan metode wawancara, peneliti juga menggunakan pengumpulan data sekunder yaitu dengan mencari data dan informasi melalui 47 buku, internet, jurnal dan lainnya yang berkaitan dengan penelitian. Data-data

  

Sukandarrumidi. 2006. Metodologi Penelitian (Petunjuk Praktis Untuk Pmeneliti Pemula). Yogyakarta: tersebut digunakan sebagai acuan untuk menggambarkan konsep yang dituliskan dalam penelitian ilmiah ini. Selain itu, peneliti juga mencari informasi dan referensi tambahan melalui buku-buku terkait pendidikan politik, partisipasti politik, civil society serta Al Washliyah.

  5. Teknik Analisa Data

  Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa data kualitatif. Analisa data kualitatif memberikan hasil penelitian untuk memperoleh gambaran terhadap proses yang diteliti dan juga menganalis makna

  

  yang ada dibalik informasi, data dan proses tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data-data primer dan data-data sekunder. Metode ini sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa hasil wawancara dari para narasumber maupun data-data tertulis. Data hasil wawancara akan diuraikan melalui petikan wawancara dengan masing-masing informan.

  Setelah data-data primer dan data-data sekunder terkumpul kemudian dilanjutkan dengan menganalis data secara deskriptif berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan yakni data yang diperoleh kejelasan atas permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Kemudian dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil penelitian.

  48 Burhan Bungin. 2009. Penelitiian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial

H. Sistematika Penulisan

  Sistematika penulisan merupakan penjabaran rencana penulisan untuk lebih mempermudah dan terarah dalam penulisan karya ilmiah. Agar mendapat gambaran yang jelas dan terperinci, maka penulis membagi penulisan skripsi ini ke dalam 4 (empat) bab. Adapun susunan sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

  BAB I PENDAHULUAN Dalam BAB I ini berisi tentang Latar Belakang, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN Dalam BAB II ini mendeskripsikan profil Al Washliyah Sumatera Utara BAB III PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA Bab ini membahas secara garis besar hasil dari penelitian

  sekaligus menganalisis data yang diperoleh untuk menjawab permasalahan dalam penelitian.

  BAB IV PENUTUP Pada BAB IV ini berisi kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya.

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN A. Sekilas Tentang Al Washliyah Setiap umat manusia mempunyai tujuan pokok dalam kehidupannya,

  tujuan pokok tersebut merupakan pusat pemikirannya dan sasaran segenap aktivitas serta tumpuan segala cita-citanya yang timbul dari dalam dirinya. “nilai- nilai mulia”

  Bila tujuan itu mulia, maka akan terpancar dari padanya aktivitas yang indah dan terepuji. Sedang pribadinya akan memantulkan gambaran keindahan jiwa pemiliknya dan selalu menuju kepada kesempurnaan, sehingga ia berhak mengecap kebahagiaan yang ditentukan untuknya.

  Agama Islam datang untuk memperbaiki, membersihkan dan mengangkut jiwa manusia semaksimal mungkin ketempat yang paling mulia. Islam menjelaskan kepada umat manusia akan tujuan akhir yang harus dicapainya, menuntun mereka ketujuan yang paling tinggi yaitu keridhaan Allah SWT.

  Sumatera Utara sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia terbagi kepada dua bagian yakni Sumatera Timur dan Tapanuli. Sumatera Timur merupakan wilayah kesultanan dan sering dengan dibukakannya perkebunan besar. Daerah Sumatera Timur terdiri dari daerah Langkat, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu, Karo, Simalungun, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Medan, Binjai, sisanya adalah Tapanuli.

  Bila dianalisis berdasarkan kedudukan penguasaan yang terdapat di wilayah Sumatera Timur, maka pembagian wilayah ini memiliki makna dualisme, contohnya dari segi peta, pengertian Sumatera Timur mencakup wilayah Karo dan wilayah Simalungun. Sedangkan dari fakta wilayah ternyata daerah Karo dan Simalungun dimasukkan dalam wilayah Tapanuli. Sebagaiman tertulis dalam buku Sumatera Utara Dalam Lintas Sejarah, Residen Tapanuli, meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Dairi dan Nias berada dalam satu risiden.

  Sumatera Timur terdiri dari beberapa kesultanan seperti Deli Serdang, Langkat dan Asahan, yang sampai awal abad ke-19 berada di bawah kekuasaan Kesultanan Siak. Tetapi setelah penjajahan Belanda menguasai Indonesia, semua kesultanan ini melepaskan diri dari Siak, dan akhirnya Siak sendiri pun harus tundukpada kekuasaan Belanda. Seluruh kesultanan tersebut di atas masuk residensi Sumatera Timur, kemudian sekitar tahun 1941, menjelang Perang Dunia

49 II, Siak masuk residensi Riau.

  Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, tahun 1945-1947 Sumatera Utara berada dalam satu provinsi, dalam perkembangan selanjutnya, bagian dari provinsi semakin kuat menginginkan pembentukan daerah otonomi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Pada tanggal 15 April 1948 ditetapkanlah Provinsi Sumatera Utara yang meliputi wilayah di dua keresidenan sebelumnya.

  Sejak perkebunan karet dan teh dibuka di Sumatera Timur pada abad ke- 19, daerah ini menjadi daerah migrasi. Para migran ini dapat dibagi atas 2 kelompok, yakni bangsa asing dan pribumi. Migran asing 12,2%, sedangkan migran pribumi terdiri dari suku jawa 52,3%; mereka ini sebagai pekerja kuli di perkebunan, suku batak toba 4,4%, Mandailing 3,5%, Minangkabau 3,0%, suku

  

  lainnya 1,0% - 2,0% dan prnduduk asli 34%. Sekalipun jumlah migran dari Mandailing dan Minangkabau tidak begitu besar bila dibandingkan dengan migrant suku Jawa, tetapi ternyata mereka ini lebih terampil dan mempunyai bekal pengetahuan sekurang-kurangnya untuk hidup mereka sendiri, sehingga pengaruh mereka lebih menonjol daripada penduduk asli.

  Adapun motivasi migran ini semuanya untuk mencari nafkah di tempat baru, karena daerah Sumatera Timur merupakan daerah yang lebih membuka kemungkinan bagi mereka dalam mencari nafkah hidup. Para migran tersebut di atas ada yang berperan sebagai ulama. Pada mulanya mereka ini mengajar terbatas pada kalangan sendiri, kemudian meluas pada penduduk setempat.

  Pada tahun 1918 di Medan berdiri sebuah Maktab/Madrasah yang diberi

  

  nama Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT). Maktab ini didirikan atas inisiatif masyarakat Mandailing (Tapanuli Selatan) yang bertempat tinggal di Medan.

  Maktab ini merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang bersifar formal,

50 Chalijah Hasanuddin. 1998. Al-Jam’iyatul Washliyah 1930-1942; Api Dalam Sekam di

  Sumatera Timur, Bandung: Pustaka. Hal 1-2 yang pertama di Medan. Sebelum ini lembaga pendidikan hanya bersifat non-

   formal.

  Sistem belajar di MIT hampir sama dengan sistem belajar di pesantren yakni lebih mengutamakan perkembangan daya ingatan karena setiap pelajaran

  

  harus dihafal. Setelah MIT berjalan 10 tahun yaitu pada tahun 1928 murid- murid MIT dari kelas tertinggi membentuk sebuah perhimpunan pelajar yang

  

  disebut “Debating Club” dipimpin oleh Abdurrahman Syihab. Tujuan perhimpunan pelajar ini mula-mula mengadakan diskusi mengenai pelajaran- pelajaran saja. Kemudian juga membicarakan masalah sosial bahkan mengenai masalah adanya paham baru yang muncul di kalangan masyarakat, yaitu paham Muhammadiyah yang berdiri di Medan pada tahun 1928. Pada umumnya masyarakat di Sumatera Timur bermazhab Syafi’i, tetapi muncul golongan masyarakat yang tidak terikat pada salah satu mazhab, yang dikenal dengan Kaum Muda. Golongan ini hanya memakai sumber hukum dari Alquran dan Hadis.

   Mereka menolak taqlid (mengikuti pendapat dari ulama fiqih).

  “Debating Club” ingin berperan serta untuk menghadapi masalah tersebut

  di atas dan mencoba menjadi penengah. Oleh karena itu mereka memperluas bentuk perhimpunannya, dengan melebur dirinya menjadi sebuah organisasi yang

  52 53 Chalijah Hasanuddin. Opcit. Hal 2

Pengurus Besar Al Djamijatul Washlijah. 1956. Al Djamijatul Washlijah ¼ Abad, Medan:

54 Pengurus Besar Al Djamijatul Washlijah. Hal 35 Pengurus Besar Al Djamijatul Washlijah. Ibid. Hal 36

  

  disebut Al-Jam’iyatul Washliyah. Organisasi ini bermazhab Syafi’i, berdiri tahun 1930. Sekalipun Al-Jam’iyatul Washliyah berpegang pada mazhab syafi’i, namun bermazhab bukan penghambat untuk maju. Hal ini tercermin dari aktivitas organisasi yang mengutamakan pendidikan, baik formal yang membuka madrasah dan sekolah, maupun non-formal melalui tabligh. Organisasi ini aktif terutama di Sumatera Utara dalam memasukkan orang-orang Batak menjadi Islam dan dipandang sebagai organisasi yang mampu bersaing dengan kalangan missionaries

57 Kristen di daerah tersebut.

  Jika melihat aktivitas Al-Jam’iyatul Washliyah seperti diuraikan di atas, walaupun ia berpegang teguh dan mengikuti salah satu mazhab (syafi’i), namun juga mau menerima model pendidikan Barat agar dapat mengikuti perkembangan zaman.

  Provinsi Sumatera Utara, ditempatkan pusat berdirinya Al Jam’iyatul Washliyah. Berdirinya Al Washliyah tidak terlepas dari inspirasi Al Qur’an surat As-Shaaf ayat 10-11. Dua ayat inilah yang senantiasa mendasari perjuangan serta motivasi setiap warga Al Washliyah untuk terus mengembangkan misinya di bidang dakwah, pendidikan dan amal sosial.

  Setiap warga Washliyah adalah bagian dari pelaku dan pelanjut sejarah Islam di Indonesia khususnya di Sumatera Utara. Oleh karena itu setiap warga Washliyah berkewajiban meneruskan perjuangan untuk mempertahankan,

56 Pengurus Besar Al Djamijatul Washlijah. Logcit. Hal 37 dan 342

  melanjutkan, memperluas, mempertinggi dan membuat Islam kembali membangun peradaban di pentas era globalisasi.

  Al Washliyah pada awal berdirinya di Kota Medan pada tanggal 30 November 1930 tampil sebagai “khairoh ummah”. Hal ini dapat dilihat pada prestasinya di mana pelajar-pelajar Washliyah mendirikan suatu perkumpulan pelajar dengan nama Debating Club, yang tujuannya mendiskusikan dan membahas persoalan-persoalan agama Islam dan masyarakat. A. Rahman Syihab, Kular, Ismail Banda, Adnan Nur, Sulaeman dan kawan-kawan sekurang- kurangnya sekali dalam seminggu, tiap malam Jumat mengadakan pertemuan-

   pertemuan.

  Sekelompok pelajar-pelajar tersebut menggeliat dan menggelora di usia duapuluhan melakukan pengamatan (scanning) bangsa dan masyarakat yang di jajah dan didera dalam wadah Debating Club yang dua tahun kemudian menjelma menjadi organisasi Al Washliyah dengan ketua umum pertamanya Ismail Banda.

  Al Washliyah yang lahir dan tumbuh di tengah kehidupan masyarakat yang multi etnik dengan konfigurasi sosial politik yang beragam. Eksistensi politiknya ditinjau dari aspek historis mengalami konjugtur, akibatnya dinamisasi format politik yang diperaninya adakala eksistensinya diperhitungkan, desegani lawan dan kawan tetapi pada dekade tertentu terasa ada marginalisasi peranannya secara signifikan.

  Sejarah berdirinya suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari gagasan dan pikiran pendirinya. Sebab orang-orang yang masuk belakangan kedalam organisasi tersebut, kemudian bergabung menjadi anggota maka secara sadar berarti ia telah menyepakati dasar dan tujuan organisasi tersebut yang pada hakekatnya merupakan perwujudan dari gagasan para pendirinya. Al Washliyah tidak mungkin dipisahkan dengan para pengurus dan anggota perkumpulan

  

Debating Club yang memiliki ide dan gagasan, serta mempelopori berdirinya

  organisasi Al Washliyah. Dengan demikian gagasan dan pikiran yang muncul kemudian tidak mungkin dipisahkan dari pikiran dan gagasan awal para pendirinya.

  Al-Jam’iyatul Washliyah adalah sebuah organisasi Islam yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Organisasi ini sangat aktif menyiarkan agama Islam melalui pendidikan, termasuk madrasah dan sekolah, untuk meningkatkan pendidikan masyarakat. Organisasi ini lahir pada tanggal 30 November 1930, sebelum Indonesia merdeka. Pada awalnya organisasi ini kurang berkembang, namun setelah Indonesia merdeka perkembangannya sangat pesat hampir menjangkau seluruh pelosok kepulauan di Indonesia. Semua keberhasilan organisasi ini merupakan hasil aktivitas Al-Jam’iyatul Washliyah yang digerakkan dengan penuh semangat dan keuletan oleh pelajar- pelajar Maktab Islamiyah Tapanuli, suatu pendidikan agama di Medan. Kemajuan Al-Jam’iyatul Washliyah pada masa selanjutnya adalah hasil jerih payah dan perjuangan pada masa lalu.

B. Visi dan Misi Al Washliyah

  Visi Al Washliyah adalah cara pandang yang jauh ke depan organisasi ini harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif.

  Sedangkan misi Al Washliyah ini adalah : 1.

  Untuk meningkatkan iman, ilmu dan amal.

  2. Menjalin kerjasama dengan setiap organisasi Islam untuk memajukan Islam.

  3. Melindungi anggota dimanapun ia berada dari keterbelakangan di segala bidang, gangguan dan ancaman.

  4. Memberikan kontribusi dalam upaya menciptakan ketertiban bangsa dan umat Islam dengan damai, adil dan sejahtera.

  5. Menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama dengan sesama warga Al-

   Washliyah dan dengan organisasi lainya termasuk pemerintah.

  Tujuannya adalah untuk melaksanakan tuntutan agama Islam sekuat tenaga.

59 Proyek Penerbitan Buku 70 Tahun Al-Washliyah. 1999. Al-Jam’iyatul Washliyah Memasuki

  

Millenium III Kado Ulang Tahun AL-Washliyah ke-69; Membangun Kejayaan Dunia Melalui

C. Lambang Al Washliyah

  Lambang Al Washliyah adalah bulan sabit berbintang lima, di dalam perisai berpucuk lima, bertuliskan Al Jamiyatul Washliya (dalam aksara Arab/Sulus) berwarna putih dan dasar hijau. Adapun arti lambang tersebut adalah: 1.

  Bulan Terbit Artinya: Mengisyaratkan bulan purnama raya yang selagi memancarkan cahayanya di alam dunia ini yaitu peringatan kepada sekalian alam ini bahwa agama Islam akan berkembang meratai seluruh penjuru alam. “Dialah Allah yang

  telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (Q.S. Yunus: 5) 2.

  Lima Bintang Bersatu Artinya: Sebagai sinar yang merupakan sendi kebenaran agama Islam dengan rukun yang lima, terutama sekali sembahyang yang lima waktu, sebagai fondamen yang kokoh menyinari rohani dan jasmani untuk menunaikan perintah Ilahi mencapai kemuliaan dunia dan akhirat.

  3. Warna Putih Artinya: Keimanan orang yang mukmin itu, sebagai cahaya bulan yang baru terbit: warnanya bersinarkan cahaya yang terang benderang; dan apa bila ia timbul mulai memancarkan cahayanya meskipun hujan dan awan serta angin badai yang keras, cahayanya itu tidak akan lenyap tetap bersinar sehingga sampai kepada saat yang penghabisan.

  4. Dasar yang Berwarna Hijau Artinya: Tiap-tiap orang mukmin itu wajib suci; hati, rohani, jasmani serta budi pekertinya; lemah lembut mencapai kemuliaan dan perdamaian yang kekal dimuka bumi ini. “Adakah tidak engkau lihat sesungguhnya Allah telah

  

menurunkan dari langit akan air, maka jadilah bumi hijau. Sesungguhnya Allah

Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui (mengabarkan).” (Q.S. al-Hajj: 63)

  5. Cahaya Bulan dan Bintang Artinya: Agama Islam dan kaum Muslimin, sebagai pedoman petunjuk keselamatan di daerah dan di lautan, dengan jalan lemah lembut. Cahaya dimana pun tidak dapat dilindungi dan ditutupi apa pun juga. Ibarat air, ia akan berjalan

   meratai bumi, lambat laun ia akan meratai bumi seluruhnya.

D. Awal Berdirinya Al Washliyah

  Berdirinya Al-Jam’iyatul Washliyah merupakan perluasan dari sebuah perkumpulan pelajar. Pada awal pertumbuhannya ia banyak mengalami rintangan, terutama dalam hal keuangan dan penataan organisasi. Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) merupakan sebuah lembaga pendidikan agama yang didirikan pada tahun 1918 oleh orang-orang Tapanuli Selatan. MIT sebagai madrasah dianggap modern pada zamannya, namun masih tetap mempunyai cirri-ciri tradisional. Pelajar-pelajar MIT inilah yang kemudian mendirikan suatu kelompok

   diskusi yang diberi nama “Debating Club” pada tahun 1928.

  Perkumpulan pelajar merupakan hal yang umum di kalangan pelajar- pelajar sekolah umum. Di Medan, misalnya saat itu terdapat perkumpulan pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Medan, yang didirikan oleh pelajar-pelajar

   Indonesia yang belajar di sekolah Belanda pada tahun 1926. Tetapi pelajar-

  pelajar MIT tidak bergabung dalam perkumpulan ini, karena belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Belanda, yang sering kali dipergunakan JIB.

  Debating Club dalam perkembangannya bukan hanya mengadakan diskusi pelajaran, tetapi juga membahas persoalan di masyarakat, terutama mengenai perbedaan faham di antara golongan-golongan. Agar bisa bergerak lebih luas, mereka bermaksud mendirikan sebuah organisasi Islam, yang kemudian berhasil 61 mereka dirikan setelah mengadakan pertemuan sebanyak tiga kali membahas hal

  Chalijah Hasanuddin. Opcit. Hal 34 tersebut, di ujung tahun 1930. Pemberian nama organisasi tersebut mereka

  

  serahkan kepada guru kepala MIT, Syekh Muhammad Yunus. Beliau memberikan nama perhimpunan ini, Al-Jam’iyatul Washliyah (Perhimpunan yang menghubungkan dan Mempertalikan). Kemudian para pelajar membentuk panitia persiapan untuk merumuskan dan menyusun Anggaran Dasar. Duduk sebagai ketua dan sekretaris dalam panitia tersebut adalah Ismail Banda dan Arsyad Talib Lubis. Sehingga pada tanggal 30 November 1930 Al-Jam’iyatul Washliyah secara

   resmi berdiri.

  Duduk sebagai pengurus I adalah Ismail Banda (Ketua), Abdurrahman Syihab (Wakil Ketua), Arsyad Talib Lubis (Sekretaris) dan Syekh Muhammad Yunus (Penasehat). Anggota pengurus seluruhnya berasal dari suku Tapanuli Selatan. Dalam pembentukan pengurus disepakati pergantian pengurus setiap

  

  enam bulan sekali. Sebenarnya masa kerja pengurus untuk satu periode ini relatif terlalu singkat, tetapi organisasi ini ingin lebih cepat mengadakan evaluasi kerja. Ternyata dalam periode pertama organisasi ini tidak dapat bergerak banyak, hanya maengadakan tabligh yang bersifat insidentil saja.

  Setelah enam bulan kepengurusan pertama berjalan, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, maka Al-Jam’iyatul washliyah membentuk pengurus baru sebagai berikut: 63 Ketua I : H. Ilyas (qadhi), (suku Mandailing)

  

Beliau adalah seorang tokoh ulama bermazhab Syafi’i yang independent berada du luar birokrasi

kerajaan. Lihat Chalijah Hasanuddin.1988. Al-Jam’iyatul Washliyah 1930-1942; Api Dalam

64 Sekam di Sumatera Timur. Bandung: Pustaka. Hal 35 Chalijah Hasanuddin. Opcit. Hal 36

  Ketua II : Ismail Banda, (suku Mandailing) Penulis I : H. Mahmud (qadhi) (suku Mandailing) Penulis II : Adnan Nur, (suku Mandailing) Bendahara : H.M. Ya’cub, (suku Mandailing) Pembantu : Abdurrahman Syihab, (suku Mandailing) Penasehat : Syekh Hasan Maksum, (mufti) (suku Melayu),

   Syekh Muhammad Junus, (suku Mandailing)

  Pada periode kedua ini muncul ide baru untuk menggerakkan Al- Jam’iyatul washliyah dengan mengikut sertakan qadhi (ulama kerajaan). Qadhi mempunyai pengaruh atas Sultan, kare ia adalah aparat kerajaan dan mera bermazhab sama. Pada periode ini Al-Jam’iyatul washliyah diminta oleh masyarakat Firdaus dekat Rampah untuk membuka madrasah. Madrasah tersebut diberi nama Hasaniyah. Nama ini dipakai karena nama Syekh Hasan Maksum sangat terkenal di Sumatera Timur.

  Pada akhir tahun 1931, Al-Jam’iyatul washliyah kembali mengadakan pergantian pengurus untuk periode ketiga. Dalam periode III ini, Ismail Banda mantan ketua Al-Jam’iyatul Washliyah pada periode I, berangkat ke Makkah untuk melanjutkan belajarnya. Mantan penulis II Adnan Nur, masuk menjadi anggota Gerindo (gerakan Indonesia). Oleh karena kedua orang tersebut mempunyai pengalaman lebih banyak dalam bidang oraganisasi, maka kepergian 66 mereka melemahkan penataan kegiatan Al-Jam’iyatul washliyah. Pada tahun 1932 Al-Jam’iyatul washliyah kembali mengadakan pemilihan pengurus untuk periode

  IV dengan susunan sebagai berikut: Ketua I : T.M. Anwar (bangsawan), suku melayu.

  Ketua II : Abdurrahman Syihab, suku Mandailing Sekretaris I :Udin Syamsuddin (aktivis muda), suku Mandailing.

  Sekretaris II : H. Yusuf Ahmad Lubis (qadi) suku Mandailing Penasehat : Syekh Hasan Maksum (Imam Paduka Tuan) suku melayu

  H. Ilyas (qadhi) suku Mandailing Syekh Muhammad Yunus (Kepala MIT) suku

67 Mandailing.

  Pada masa ini Al-Jam’iyatul washliyah lebih aktif bergerak karena ada dua pendatang baru dalam kepengurusan organisasi yakni T.M. Anwar seorang bangsawan berasal dari Tanjung Balai, ia dikenal ramah, dermawan dan tergolong kaya. Abdurrahman Syihab mengajak T.M. Anwar untuk turut bersama membina dan membantu Al-Jam’iyatul washliyah dengan membiayai sewa rumah untuk kantor organisasi. Bantuan tersebut hanya setahun, namun sangat berarti bagi organisasi ini. Dalam masa 7 tahun Al-Jam’iyatul washliyah berpindah-pindah kantor sebanyak 10 kali. Pendatang kedua adalah Udin Syamsuddin. Dengan dana yang kecil, sekretaris ini berusaha menata organisasi dengan baik.

  Al-Jam’iyatul washliyah berhasil membuka cabang di daerah Bedagai 67 pada tahun 1931, di wilayah kerajaan Asahan didirikan cabang di Tanjung Balai pada akhir tahun 1932, cabang Aek Kanopan didirikan pada awal tahun 1933, dan membentuk berbagai ranting di sekitar kota Medan (Kampung Baru, Titi Kuning, Sungai Kerah dan Pulau Brayan). Pada tahun 1934 menyusul di daerah Porsea, tapanuli Utara dan Simalungun, juga di daerah Deli yakni Belawan dan

68 Labuhan. Jumlah cabang Al-Jam’iyatul washliyah terus bertambah. Oleh karena

  itu dirasa perlu membentuk Pengurus Besar agar kegiatan organisasi dapat berjalan dengan baik dan terkoordinasi.

  Pada tahun 1934 seluruh cabang Al-Jam’iyatul washliyah menghadiri rapat pembentukan Pengurus Basar, sehingga hasil rapat tersebut menentukan kepengurusan besar; Ketua I Abdurrahman Syihab, Ketua II Arsyad Talib Lubis, Sekretaris Udin Syamsuddin, Bendahara M. Ali.

E. Aktivitas Al Washliyah

  Pada tahun 1930 Al-Jam’iyatul Washliyah menyusun beberapa majelis, namun belum dapat terlaksana. Setelah Pengurus Besar terbentuk pada tahun 1934 organisasi ini dapat menggerakkan majelis-majelis yang telah disusun tersebut.

  Adapun majelis-majelis yang digerakkan untuk intensifikasi kerja adalah; majelis tabligh, yaitu majelis yang mengurus kegiatan dakwa Islam dalam bentuk ceramah; majelis tarbiyah, yaitu majelis yang mengurus masalah pendidikan dan pengajaran; majelis studie fonds, yaitu majelis yang mengurus beasiswa untuk 68 pelajar-pelajar di luar negeri; majelis fatwa, yaitu majelis yang mengeluarkan fatwa mengenai masalah sosial yang belum jelas status hukumnya bagi masyarakat; majelis hazanatul islamiyah, yaitu majelis yang mengurus bantuan sosial untuk anak yatim piatu dan fakir miskin; dan majelis penyiaran Islam di

   daerah Toba.

  Majelis Tabligh, Al-Jam’iyatul Washliyah seperti semua organisasi Islam lainnya, sangat mementingkan agar ajaran Islam dapat dipahami oleh masyarakat dengan baik. Agar maksud ini tercapai, maka organisasi ini memberikan dakwah dengan tabligh dalam pendidikan non-formal. Al-Jam’iyatul Washliyah mengadakan tabligh intern, dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para anggota dan keluarganya serta yang bukan anggota. Pada umumnya isi tabligh intern berpusat pada masalah fiqih seperti bersuci, shalat, puasa dan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah praktis. Khusus kepada para anggota pengurus Al- Jam’iyatul Washliyah di cabang-cabang, ditambahkan penerangan mengenai maksud dan tujuan organisasi serat langkah-langkah kebijaksanaan yang harus diambil sesuai dengan kondisi daerah.

  Tabligh ekstern sifatnya lebih terbuka untuk masyarakat luas, dan

  umumnya dilakukan pada waktu memperingati hari-hari besar Islam, umpamanya pada perayaan Maulid, Isra’ Mi’raj, Idul Fitri dan Idul Adha. Tabligh intern lazimnya diselenggarakan di masjid atau di madrasah, sedangkan tabligh ektern ada yang diadakan di gedung bioskop atau lapangan terbuka, karena mengharapkan jumlah pengunjung yang besar. Di daerah yang penduduknya belum beragama, seperti di Porsea, Tapanuli Utara, tabligh ini diadakan lebih intensif, kadang-kadang diiringi dengan kesenian (tarian dan gendang) di pekarangan masjid. Tabligh merupakan alat yang penting bagi organisasi ini

   dalam pendidikan non-formal.

  Madrasah, Al-Jam’iyatul Washliyah mendirikan madrasah pertama di jalan Sinagar, Petisah, Medan pada tahun 1932. Banguna yang dijadikan madrasah adalah sebuah rumah yang disewa f 8,- per bulan. Madrasah ini sudah mekakai sistem kelas, seperti sekolah model Barat, di samping itu juga dalam kurikulumnya terdapat pelajaran Tafsir dan Hadis, sesuai dengan madrasah modern Islam. Hal ini menunjukkan bahwa madrasah Al-Jam’iyatul Washliyah berorientasi kepada pendidikan model barat dan pendidikan modern Islam,

   kendati masih sangat sederhana.

  Pada tanggal 28 Februari 1933 beberapa madrasah milik perseorangan anggota di Medan menggabungkan diri ke dalam madrasah Al-Jam’iyatul Washliyah. Madrasah-madrasah tersebut antara lain:

  1. Madrasah kota Ma’sum, pimpinan M. Arsad Taib Lubis

  2. Madrasah Sei Kerah, pimpinan Baharuddin Ali

  3. Madrasah kampong Sekip, pimpinan Usman Deli

  4. Madrasah Gelugur, pimpinan Sulaiman Taib

   70

  5. Madrasah Tanjung Mulia, pimpinan Suhailuddin

  

Pentingnya tabligh sering dikemukakan dalam ceramah, umpamanya dalam rapat umum di

71 Bagan Asahan, Sinar Deli 17 Februari 1934.

  Chalijah Hasanuddin. Opcit. Hal 76

  Demikianlah madrasah-madrasah Al-Jam’iyatul Washliyah berdiri di Sumatera Timur, baik di Medan maupun di luar kota Medan seperti di Labuhan Deli dan Simalungun. Madrasah tersebut berdiri sebelun maupun sesudah cabang organisasinya berdiri di tempat tersebut. Sehingga pada tahun 1940 organisasi ini

   mempunyai madrasah sebanyak 242 buah dengan jumlah murid 12.000 orang.

  Majelis Penyiaran Islam, majelis ini mempunyai kegiatan khusus dengan tujuan menyiarkan Islam untuk memperluas pengetahuan tentang islam di daerah- daerah yang telah beragama Islam; kegiatan umum dengan tugas menyiarkan Islam ke daerah non-Islam terutama di daerah Toba (Batak Landen). Pada tanggal

  5 April 1933, Al-Jam’iyatul Washliyah untuk pertama kalinya melangkah ke Porsea dengan mengirim beberapa mubaligh diantaranya adalah: H. Abd Qadir,

  H. Yusuf Ahmad Lubis, H. Hasyim dan Abdurrahman Syihab. Kedatangan para mubaligh itu bertepatan pada bulan Syawal. Kesempatan ini dipergunakan untuk bersilaturrahmi sambil memperhatikan keadaaan masyarakat untuk mengetahui langkah selanjutnya dalam menyiarkan Islam di daerah itu. Kontak pertama diadakan dengan para mubaligh di daerah itu adalah Guru Kitab Siberani, Sutan

74 Bengar dan Sutan Porsea. Kemudian mereka bersama-sama memberikan

  dakwah ke beberapa kampung selama tiga hari. Ternyata kunjungan mereka mendapat sambutan masyarakat Islam di Porsea.

  Masyarakat Batak Toba mayoritas pelbegu dan masih kuat memegang 73 adat. Walaupun mereka beragama Islam atau Kristen, kepercayaan tradisional

  Chalijah Hasanuddin. Opcit. Hal 77-78 tetap masih mewarnai tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Usaha yang terpenting adalah bagaimana menarik penduduk yang belum Islam menjadi Islam. Guru Kitab sebagai seorang penduduk asli daerah Batak Toba juga pernah menganut kepercayaan asli sangat mengenal tradisi kehidupan masyarakat Batak Toba. Bagi masyarakat Batak Toba, bila seorang raja menukar agamanya, maka seluruh seluruh rakyat di kampung itu akan turut pula menukar agamanya. Tradisi ini dimanfaatkan oleh Guru Kitab dalam usahanya menggerakkan Al-Jam’iyatul Washliyah untuk mengadakan propaganda Islam, jadi sasaran utamanya adalah mengislamkan seorang raja adat, kegemaran masyarakat akan kesenian jiga dimanfaatkan sebagai alat propaganda, misalnya tortor.

  Dalam mengembangkan tradisi Islam Al-Jam’iyatul Washliyah mendapat tantangan dari kepala adat Porsea. Namun sedikit demi sedekit tantang tersebut dapat dilaluinya. Untuk mengurangi pengaruh Kristen, Al-Jam’iyatul Washliyah memakai metode Zending dalam kegiatan sosial. Nama Zending dipakai organisasi ini dengan menghilangkan Kristen menjadi Islam, jadi “Zending Islam”. Zending Islam di Porsea mempunyai tugas menyaingi Zending Kristen di Tapanuli dan berusaha menarik orang non Muslim menjadi Muslim.

  Dengan keberhasilan Al-Jam’iyatul Washliyah mendirikan Zending Islam

  

  di Porsea, maka pada Kongres Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang ke III tahun 1938, Al-Jam’iyatul Washliyah ditunjuk sebagai pemegang tugas Zending 75 Islam di Indonesia. Dengan keputusan MIAI tersebut, maka pandangan terhadap

  

MIAI didirikan di Surabaya, tujuan oraganisasi ini menghimpun semua organisasi Islam tanpa

memperhatikan perbedaan paham. Lihat, Chalijah Hasanuddin. 1988. Al-Jam’iyatul Washliyah Al-Jam’iyatul Washliyah menjadi berubah agak mengejutkan, sehingga kehadiran Al-Jam’iyatul Washliyah mulai diperhitungkan untuk mengembangkan ajaran Islam. Keberhasilan tersebut juga merupakan kebanggaan masyarakat Muslim Sumatera Timur.

F. Organisasi Bagian Al Washliyah

  Al Washliyah mempunyai organisasi-organisasi bagian yang terdisi atas: 1.

  Organisasi wanita, dengan nama Muslimat Al Washliyah 2. Organisasi pemuda, dengan nama Gerakan Pemuda Al Washliyah, disingkat GPA

  3. Oganisasi putri, dengan nama Angkata Putri Al Washliyah, disingkat APA 4. Organisasi pelajar, dengan nama Ikatan Pelajar Al Washliyah, disingkat

  IPA 5. Organisasi mahasiswa, dengan nama Himpunan Mahasiswa Al

  Washliyah, disingkat HIMMAH 6. Organisasi sarjana, dengan nama Ikatan Sarjana Al Washliyah, disingkat ISARAH

  7. Organisasi guru, dengan nama Ikatan Guru Al Washliyah, disingkat

  IGA Organisasi bagian adalah organisasi otonom yang tidak terlepas dari organisasi Al Washliyah, berada dibawah pengawas dan bimbingan Pengurus Besar, serta seasas dan setujuan dengan Al Washliyah.

G. Struktur Al Washliyah Sumatera Utara

  Pimpinan Wilayah Al Washliyah Sumatera Utara berada di Jalan Sisingamangaraja Nomor 144, Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota Kode Pos 20217 Medan Sumatera Utara.

  Adapun struktur organisasi ialah sebagai berikut:

  

Struktur Organisasi Al Washliyah Sumatera Utara

PB Al Washliyah PW Al Washliyah Sumatera Utara

  Sekretaris Ketua Bendahara

Wakil Ketua Wakil Sekretaris Wakil Bendahara

Anggota Pleno

  Sumber: Arsip PW Al Washliyah Sumatera Utara

  Adapun susunan dari majelis-majelis PW Al Washliyah Sumatera Utara periode 2011-1015 adalah sebagai berikut:

1. Majelis Pendidikan

  Ketua : Drs. M. Husni Thamrin Lubis, Mpdi Sekretaris : Mislan, ST 2.

  Majelis Dakwah Ketua : Drs. H. M. Hafiz Ismail Sekretaris : H. Fahrurrozi Pulungan, SE, MBA 3.

  Majelis Sosial Ketua : Drs. H. Raudin Purba, Mpdi Sekretaris : H. Isma Fadli Ardya Pulungan, S.Ag, SH, MH 4.

  Majelis Kaderisasi Ketua : DTM. H. Abdul Hasan Maturdi, SH Sekretaris : Drs. H. Makmur Ritonga 5.

  Majelis Siasah Syariah

  Ketua : H. M. Yunus Rasyid SH, M.Hum Sekretaris : H. Haidil A Hadi, Spdi 6.

  Majelis Komunikasi dan Informasi Ketua : Drs. H. M. Syafii, Msi Sekretaris : Syamsul Akmal Hamar, SH 7.

  Majelis Lembaga Bantuan Hukum Ketua : H. A. Madjid Hutagaol, SH Sekretaris : - 8.

  Majelis Aset Ketua : H. Syafril Warman, SH, M.Kn Sekretaris : Fahrijal Dalimunthe, S.Ag

  

Sumber: Arsip PW Al Washliyah Sumatera Utara

BAB III PERAN AL WASHLIYAH DALAM PENDIDIKAN POLITIK DI SUMATERA UTARA A. Peran Al Washliyah Sebagai Organisasi Keagamaan Al-Washliyah adalah salah satu organisasi Islam yang besar dan telah

  banyak memberikan hal-hal terbaik buat pembangunan bangsa Indonesia. Tidak sedikit, dari lembaga ini terlahir tokoh-tokoh yang kharismatik dan disegani serta telah memberikan sumbangsih pemikiran dan karya nyata. Di awal berdirinya Al- Washliyah pada tanggal 9 Rajab 1349 H/30 November 1930 M, diawali dengan niat perjuangan yang suci untuk mempersatukan umat yang terpecah dan memupuk rasa tanggung jawab (sense of responsibility) terhadap keadaan yang terjadi. Tokoh-tokoh kharismatik seperti Syeikh H. Muhammad Yunus, H. A.

  Rahman Syihab, H. Ismail Muhammad Banda, H. M. Arsyad Thalib Lubis dan lain-lain merupakan ulama-ulama yang masyhur karena ilmunya, ketauladanannya (qudwah), dan komitmennya untuk memperbaiki moralitas umat dan memajukan bangsa. Perjuangan mereka benar-benar didasarkan kepada cita-cita yang suci bukan karena interest pribadi (individu) atau kelompok tertentu. Akhirnya, mereka berhasil mewujudkan mimpinya.

  Al Washliyah merupakan suatu organisasi yang patut mendapat perhatian, sebab dari segi kuantitas, organisasi ini mendapat tempat ketiga sesudah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

  Al Washliyah adalah sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan dan dakwah yang sangat aktif menyiarkan agama Islam melalui pendidikan, termasuk madrasah dan sekolah untuk meningkatkan masyarakat. Pada masa pemerintahan Jepang, Al Washliyah kurang bergerak, hal ini bukan berarti bahwa Al Washliyah pada masa selanjutnya mempenyai peran kecil, bahkan organisasi ini setelah Indonesia merdeka berkembang sangat pesat, hampir menjangkau seluruh pelosok kepulauan di Indonesia.

  Organisasi Al Washliyah yang dalam pendiriannya diprakarsai oleh para tokoh ‘ulama mendapatkan sambutan hangat oleh para masyarakat Islam di tanah Medan. Hal ini menjadikan organisai ini dapat menjalankan aktivitas keorganisasian dengan baik, hingga pada aktivitas dalam ranah sosial keagamaan

  

  pun mampu dimaksimalkannya. Dapat dibutikan dengan sepak terjang yang dilakukan orgnisasi ini dalam mensyiarkan ajaran Islam di seluruh kawasan di Sumatra Utara.

  Al Washliyah dipandang sebagai organisasi sosial keagamaan bersifat tradisional dalam paham keagamaan (ciri khas Syafi’iyyah), tetapi modernis dalam pendidikan Islam (bentuk lembaga pendidikan yang didirikan seperti 76 madrasah dan sekolah serta sistem dan kurikum yang digunakan). Namun dalam

Saifuddin Zuhri, K.A. 1988. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perlembanganya di Indonesia. sepak terjangnya ternyata Al Washliyah tidaklah berkecimpung saja pada dunia pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari majelis-majelis yang didirikan oleh Al Washliyah, seperti: Majelis Hazanatul Islamiyah sedianya dibentuk untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan anak yatim, membantu penyiaran Islam, dan orang- orang yang baru masuk Islam, utamanya di daerah Toba, Tapanuli Utara dan Tanah Karo. Kendala finansial tampaknya membuat program majelis ini tidak membuahkan hasil yang memadai. Sistem keuangan Al Washliyah yang terlalu sentralistis kurang memungkinkan dilakukannya inovasi-inovasi di bidang upaya

   pengumpulan dana.

  Strategi Al Washliyah dalam penyiaran Islam di daerah Batak Toba dengan melakukan tabligh dan mendirikan sekolah serta madrasah adalah satu aspek yang khas mengenai organisasi ini. Tanah Batak Toba adalah titik awal penyebaran agama Kristen di Sumatera Timur yang sudah berjalan relatif berhasil sejak abad ke-l9. Pada awal ke-20, mayoritas penduduk daerah ini beragama Kristen, sebagian lain menganut agama tradisional, Parbegu, dan hanya sebagian kecil yang memeluk Islam ini kegiatan Al Washliyah di daerah ini adalah

   pegislaman dan pembinaan mereka yang sudah masuk Islam.

  Program-program Al Washliyah yang secara spesifik ditujukan untuk Islamisasi daerah ini menempatkannya berhadapan langsung dengan misi Kristen.

  Laporan-laporan tentang persaingan ini yang sering kali mengambil bentuk 77 pertentangan di tengah masyarakat banyak muncul dalam terbitan-terbitan di

  

Samsul Nizar. 2007. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Islam Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana. Hal 330 Sumatera Timur saat itu. Bukan rahasia lagi bahwa misi Kristen di Tanah Toba dan tempat lainnya mendapat dukungan khusus dan pemerintah Belanda maupun Gereja Kristen dan Eropa. Dukungan ini bisa mengambil bentuk keberpihakan ataupun kebijakan pemerintah Belanda yang menguntungkan umat Kristen, sebagaimana sering terlihat dalam keluhan dan protes umat Islam via Al Washliyah tentang perlakuan pejabat pemerintah lokal yang tidak adil. Dukungan lain yang tidak kalah signifikan adalah dalam bentuk dana. Meskipun pada level formal pemerintah kolonial mengaku netral terhadap agama-agama, perbandingan dana yang diberikan kepada umat Islam dan kepada umat Kristen adalah sekitar 1:4 dan sama sekali tidak mencerminkan kebijakan ini.

  Keberhasilan dan kegagalan yang dialami Al Washliyah dalam penyiaran Islam di Toba merupakan ilustrasi menarik tentang persaingan penyiaran agama Islam dan Kristen. Dibanding dengan organisasi-organisasi lain yang juga mencoba berdakwah di Tanah Batak, Al Washliyah “dipandang sebagai organisai yang mampu bersaing dengan kalangan misionaris Kristen di daerah tersebut, sehingga pada konggres MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang ke III memutuskan bahwa organisasi Al Washliyah sebagai pemimpin pengelolaan zending Islam pada waktu itu yang didukung sepenuhnya oleh organisasi- organisasi Islam lain.

  Dalam pergaulan antar organisasi Islam Al Washliyah sangatlah menjunjung tinggi kerukunan dan memiliki rasa saling peduli serta toleransi terhadap organisasi lain. Hal tersebut tergambar jelas dalam program-program dan prioritas-prioritasnya, serta dalam sikap yang diambilnya terhadap klompok lain. Meski secara formal mengikat diri dengan madzhab Syafi’i sebagai aliran peamahaman agama, ciri keterbukaan organisasi ini juga sangat menonjol, tidak ragu belajar dan bekerja sama dengan Muhammadiyah dan pada saat yang lain juga tidak pula canggung mengambil posisi bertentangan dengan tarekat

79 Naqsabandiyah.

  Al Washliyah dalam bidang pengembangan pendidikan Islam sangatlah

  

  besar perananya pada saat itu, terutama di daerah Sumatra Utara. Hal ini dapat dilihat dari sumbangsih-sumbangsih pemikiran organisasi ini sembagai upaya memajukan dan mengembangkan pendidikan Islam dengan modernitas sistem namun juga masih tetap memegang teguh tradisonalitas, yaitu dengan memadukan antara pendidikan agama dan pendidikan umum secara komprehensif dengan tujuan agar umat Islam nantinya mampu menghadapi perkembangan zaman.

  Dalam upayanya memajukan pendidikan, Al Washliyah kelihatannya bersikap terbuka dan mengambil dari mana saja yang dianggap lebih berpengalaman dan berhasil dalam pengelolaan pendidikan. Pada tahun 1934, Al Washliyah mengirim tiga orang pengurusnya M. Arsyad Thalib Lubis, Udin Syamsnddin dan Nukman Sulaeman untuk mengadakan studi banding ke Sekolah Adabiyah, Noormal School dan Diniyah di Sumatena Barat dalam rangka reformasi pengelolaan pendidikan Al Washilyah sendiri. Meskipun mendapat 79 reaksi negatif dari sebagian anggota, kunjungan tersebut dianggap sangat penting 80 Samsul Nizar. Ibid. Hal 334

Haidar Putra Daulay. 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di dan hasil-hasilnya kemudian menjadi bahan diskusi dalam konfenensi guru-guru Madrasah Al Washliyah sendiri masih pada tahun yang sama. Diantara langkah yang diambil setelah konferensi tersebut adalah: pendirian sekolah-sekolah umum berbasiskan agama, pengajaran bahasa Belanda, penataan kalender pengajaran, pembentukan lembaga Inspektur dan Penilik pendidikan Melihat kemajuan penerbitan buku-buku agama Islam di Sumatena Barat, seorang utusan dikirim ke Bukittinggi khusus untuk membeli buku-buku keperluan sekolah Al Washliyah.

  Disektor pendidikan umum dibuka pula HIS berbahasa Belanda di Porsea dan Medan dengan menambahkan pelajaran agama Islam pada kurikulumnya.

  Pada kongres III tahun 1941, A1 Washliyah dilaporkan mengelola 242 sekolah dengan jumlah siswa lebih dan 12.000 orang. Sekolah-sekolah ini terdiri atas berbagai jenis: Tajhiziyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Qismul ‘Ali (Aliyah), Muallimin, Muallimat, Volkschool, Vervolgschool, HIS, dan Schakelschool.

  Berdasarkan Peraturan atau Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan majelis Pendidikan & Kebudayan Pengurus Besar Al Washliyah Pasal 9 dijelaskan bahwa jenis madrasah/perguruan Al Washliyah meliputi:

1. Madrasah Ibtidaiyah/Tsanawiyah, Al-Qismul ‘Ali dan yang sederajat; 2.

  Pesantren Ibtidaiyah/Tsanawiyah, Al-Qismul ‘Ali dan yang sederajat; 3. Sekolah TK, SD, SMTP, SMTA; dan

   4.

  SMTP, SMTA yang diasramakan.

  Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan yang dianut oleh Al Washliyah bersifat variatif dan tidak banyak lembaga pendidikan yang bersifat keagamaan saja seperti madrasah, tetapi juga sekolah yang identik dengan lembaga pendidikan umum.

  Adapun tingkatan madrasah-madrasah Al Washliyah, lama belajar dan Persentase kurikulumnya adalah sebagai berikut: 1.

  Tingkatan Tajhiziyah dengan lama belajar 2 tahun, diperuntukkan bagi anak- anak yang belum pandai membaca dan menulis Al-Qur’an. Materi pelajarannva adalah membaca menulis Al-Qur’an (tulisan Arab yang berbaris), serta ibadah sembahyang dan praktik ibadah lainnya.

  2. Tingkatan ibtidaiyah yang merupakan lanjutan dari tajhiziyah dengan lama belajar 4 tahun bagian pagi dan 6 tahun bagian sore. Materi pelajarannya berkisar 70 % ilmu agama dan 30 % ilmu umum. Di antara kitab-kitab yang digunakan antara lain Durusul Lughah al-Arabiyah (Mahmud Yunus), Al-

  jurumiyah, Matan Bina’, Hidayatul Mustafid, dan lain-lain.

  3. Tingkatan Tsanawiyah yang murupakan lanjutan dari Ibtidaiyyah dengan lama belajar 3 tahun. Materi peajarannya berkisar 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Di antara kitab-kitab yang dignnakan antara lain Tafiiru al-

Jalaalain, Al-Luma’, Jawaahirul Balaaghah, ‘Ilmu al-Mantiq, dan lain-lain.

  4. Tingkatan Qismul ‘Ali yang merupakan lanjutan dari Tsanawiyah dengan lama belajar 3 tahun. Materi pelajarannya berkisar 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Di antara kitab-kitab yang digunakan antara lain Tafiiru Al-

  Baidhawi, Al-Mahalli, Jam‘ul Jawaami’, Asybah wan Nadhaair, dan lain- lain.

  5. Tingkatan Takhassus yang merupakan lanjutan dan Qismul ‘Ali dengan lama belajar 2 tahun. Materi pelajarannya adalah khusus memperdalam ilmu agama dan keahlian tertentu.

  6. Di beberapa tempat didirikan Sekolah Guru Islam (SGI) untuk mempersiapkan guru-guru yang cakap mengajar pada tingkatan Ibtidaiyah dan sekolah-sekolah S.R. umum. Yang diterirna menjadi murid adalah tamatan ibtidaiyah. Materi pelajarannya herkisar 50% ilmu agama dan 50%

   ilmu umum.

  Selain mendirikan madrasah, AI-Washliyah juga mendirikan sekolah umum antara lain:

  1. Sekolah Rakyat (SR) Al-Washliyah dengan lama belajar 6 tahan. materi peajarannya 70% ilmu umum dan 30 % ilmu agama. Pelajaran umumnya setingkat dengan SR Negeri.

  2. SMP Al-Washliyah dengan lama belajar 3 tahun . matri pelajaranya 70% ilmu umum dan 30% ilmu agama. Pelajaran umumnya setingkat dengan SMP Negeri.

3. SMA Al-Washliyah dengan lama belajr 3 tahun. Materi pelajaranya 70 % ilmu umum dan 30 % ilmu agama. Pelajaran umunya setingkat SMA Negeri.

  Kemudian Al-Washiliyah telah mampu mendirikan perguruan Tinggi

83 Agama Islam di Medan dan Jakarta.

  Peran Al Washliyah dalam mencerdaskan bangsa ialah, Al Washliyah memiliki majelis yang mengurusi bidang pendidikan, kedudukannya seperti Departemen Pendidikan Nasional yang disebut dengan majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MP&K) Al Washliyah yang mengatur tentang dunia pendidikan Al Washliyah mulai dari TK hingga ke Perguruan Tinggi. Majelis ini mengatur masalah-masalah yang cukup banyak, mulai dari kurikulum, bangunan fisik, sarana-sarana, administrasi dan lain-lain. Kedudukan majelis ini cukup kuat dan perannya cukup besar untuk mengatur pendidikan Al Washliyah. Sejalan dengan misi dakwah yang diemban Al Washliyah, maka pendidikan madrasah selain memberi ilmu kepada masyarakat muslim, juga dimaksudkan untuk membentuk kader kader ulama dan fuqaha yang akan meneruskan cita-cita para pendahulu.

B. Peran Al Washliyah Dalam Kegiatan Politik

  Al Washliyah adalah organisasi massa, namun dalam kegiatannya tidak terlepas dari politik praktis, baik secara individu maupun secara kelembagaan, memberi pengaruh dalam menentukan komposisi keanggotaan dalam posisi legislatif. Organisasi ini memiliki potensi untuk menggerakkan dan memobilisasi massa dan dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan berdasarkan pendapat dan pandangan politiknya. Peran Al Washliyah dalam kegiatan politik praktis diawali dari bergabungnya dengan partai MASYUMI yang paling menonjol, khususnya di Sumatera Utara, karena kedudukan Pengurus Besar Al

   Washliyah ketika itu berada di Medan.

  Sekalipun Al Washliyah bukan partai politik sebagaimana partai-partai politik lain yang memang bergerak dibidang politik, seperti Masyumi dan lain- lainnya, karena Al Washliyah organisasi massa yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial pada awal berdirinya, namun secara organisasi bergabung dengan partai Masyumi, demikian juga secara pribadi menjadi anggota salah satu partai yang ada di Indonesia, bahkan menjadi pengurus inti dari partai tersebut, karena orang orang Al Washliyah, baik secara kelembagaan maupun secara pribadi turut berperan dalam menentukan garis politik di bumi nusantara ini.

  Peran Al Washliyah dalam partai politik ialah, dalam kegiatan politik praktis diawali dengan bergabungnya dengan Partai Masyumi yang paling menonjol, khususnya di Sumatera Utara karena kedudukan Pengurus Besar Al Washliyah saat itu berada di Medan. Setelah Masyumi dibubarkan, bergabung dengan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Setelah partai ini difusikan oleh Soeharto ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), maka orang-orang Al Washliyah bergabung secara pribadi ke PPP di antaranya H. J. Naro, SH namun keberadaannya tidak begitu dirasakan oleh anggota sehingga tidak membawa 84 pengaruh besar bagi Al Washliyah.

  

Proyek Penerbitan Buku 70 Tahun Al-Washliyah. 1999. Al-Jam’iyatul Washliyah Memasuki

Millenium III Kado Ulang Tahun AL-Washliyah ke-69; Membangun Kejayaan Dunia Melalui

  Setelah reformasi banyak anggota Al Washliyah secara pribadi bergabung dengan partai baru di antaranya ada Parta Bulan Bintang (PBB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Umat Islam (PUI) dan lain-lain. Meskipun garis politiknya berada di partai Islam namun Al Washliyah membuka peluang bagi anggotanya untuk aktif di Partai lain seperti Golkar dan lain-lain sejauh tidak bertentangan dengan misi keislaman.

  Sejak awal kemerdekaan, tidak diajarkan bagaimana menjadi pemimpin negara yang baik, HAM dirampas, kader pemimpin tidak dibangun, hukum dibelenggu dan sebagainya. Saat reformasi digulirkan banyak perbuatan yang tidak etis tampil dalam kepemimpinan termasuk dalam sidang MPR, karena itu Al Washliyah harus tampil untuk memberi contoh pola kepemimpinan Islam, pola kepemimpinan yang dilakukan oleh Rasul-Rasul dan para pengikutnya yang baik.

  Kader-kader Al Washliyah sudah tersebar, di antara mereka ada yang berhasil, ada pula yang tertinggal. Bagi mereka yang muncul bakat pemimpinnya, umumnya tampil sebagai pemimpin umat di lingkungannya sebagai motivator,

  

dinamisator dan inovator. Ada juga yang tampil memegang jabatan strategis yang

  berada di jajaran Departemen Agama. Satu dua di antara mereka menjadi pimpinan pada organisasi politik dan memegang jabatan tertentu pada parlemen,

   terutama di daerah Sumatera Utara.

  85

C. Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik di Sumatera Utara

  Al Washliyah dalam kegiatan politik praktis diawali dengan bergabungnya dengan Partai Masyumi, setelah Masyumi dibubarkan Bung Karno kemudian bergabung dengan Parmusi lalu ke PPP, walaupun hanya pribadi-pribadi anggota Al Washliyah. Kondisi akhir Al Washliyah menjelang reformasi ialah, kegiatan organisasi dirasakan semakin menurun, gairah untuk menghidupkan aktivitas organisasi di berbagai lapangan kegiatan dirasakan semakin berkurangan, kegiatan pengkaderan semakin sepi, kepemimpinan Al Washliyah di daerah secara umum terkesan vakum, hanya ada nama dan pengurus inti, itu pun hanya ketua dan sekretaris saja yang aktif, dan personilnya hampir tidak berubah sama sekali.

  Aset-aset Al Washliyah pada umumnya belum terdaftar secara resmi, bahkan di antaranya ada yang diakui sebagai milik pribadi.

  Dalam kaitan gerakan politik lokal, sejarah juga mencatat, bahwa di lembaga legislatif tingkat Provinsi Sumatera Utara, kader Al Washliyah dari tiga generasi yang berbeda, pernah menjadi pimpinan pada lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Utara. Dalam hal ini tersebutlah nama Drs. H. Harun Amin Nasution, kemudian digantikan oleh Drs.H.Muhammad Kasim Inas, terakhir ialah Drs. H. Hasbullah Hadi, SH, M.Kn. selain itu masih banyak lagi kader-kader Al Washliyah lainnya yang menjadi pimpinan lembaga legislatif ditingkat kabupaten kota. Mereka semua adalah para tokoh pemimpin yang punya peran besar dalam membangun dan membina jiwa nasionalisme Indonesia.

  Perlu dipahami bahwa Al Washliyah sebagai organisasi keagamaan Islam, bukanlah hanya sekedar sebagai sebuah organisasi pendidikan dan dakwah, tapi Al Washliyah adalah juga merupakan sebuah organisasi perjuangan dan organisasi kader, yang senantiasa berusaha untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa, dan siap sedia berjuang untuk agama, bangsa dan negara.

  Al Washliyah Sumatera Utara khususnya berharap dengan banyaknya kader yang terjun di dunia politik bisa memberikan contoh bahwa visi dan misi Al Washliyah ini bisa juga diterapkan di partai politik dimana digelutinya. Seperti yang diungkapkan oleh H. Isma Fadli Ardya Pulungan, S.Ag, SH, MH berikut.

  

“Sehingga tidak serta merta masyarakat menganggap politik itu

barang najis, barang yang harus di jauhi. Karena memang selama

ini masyarakat menilai politik itu hanya asas kepentingan. Sehingga

ini tidak berbias kepada kepentingan masyarakat keumatan.”

  Al Washliyah bertanggung jawab untuk mempersiapkan kadernya menjadi seorang pemimpin. Setiap pelatihan yang dilakukan oleh Al Washliyah tetap di berikan materi tentang politik. Biasanya di Masima (Masa Silaturahmi Mahasiswa), Masa LKD (Latihan Kepemimpinan Dasar), LKM (Latihan Kepemimpinan Mengenah dan LKN (Latihan Kader Nasional). Semua kegiatan pelatihan ini dilakukan kepada masyarakat yang disebut sebagai warga Al Washliyah.

  Pada masyarakat umum, Al Washliyah tidak pernah mengajarkan politik, tapi memberikan dakwah dan tausyiah. Melalui dakwah, tausyiah dan seminar seminar yang diberikan, Al Washliyah berharap mampu memberikan pandangan tentang politik kepada masyarakat umum. Hal ini dikarenakan para kader Al Washliyah tidak hanya berperan sebagai Dai tetapi juga banyak yang terjun langsung kedalam politik praktis.

  Al Washliyah membebaskan para kadernya memilih partai politik mana yang akan digeluti, sebagai warga negara Indonesia. Bukan berarti Al Washliyah menjadi terpecah-pecah oleh partai politik. Karena ketika seorang kader kembali ke Al Washliyah, maka ia adalah seorang warga Al Washliyah.

  Dalam memberikan pemahaman politik terhadap masyarakat umum melalui murid-murid Al Washliyah, melalui sekolah. Karena di setiap sekolah wajib memiliki pelajaran ke-Al Washliyah-an. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Disaat mengajar tentang Al Washliyah, di ajarkan pula tentang politik Al Washliyah, dan tentu mengajar pelajaran lain seperti tentang pendidikan Kewarganegaraan. Lebih luas kepada masyarakat umum, Al Washliyah mencoba memberi pemahaman politik melalui selebaran atau statemen dan juga Dai-Dai Al Washliyah dan guru-guru Al Washliyah yang ada di tengah- tengah masyarakat. Mereka akan menjelaskan bagaimana posisi politik pada pemerintah pada waktu Dai Al Washliyah berdakwah, walaupun secara tidak langsung. Tapi para kader yang menjadi Dai akan menjelaskan kondisi politik pada masyarakat.

  Pendidikan politik yang di terapkan di Al Washliyah Sumatera Utara secara struktur memang hanya sebatas untuk kalangan warga Al Washliyah.

  Dimana pendidikan politik di lakukan di dalam kegiatan pelatihan-pelatihan setiap organisasi bagian, mulai dari APA, IPA, GPA, HIMMAH, ISARAH, IGA dan Muslimat Al Washliyah.

  Seperti yang di ungkapkan oleh Drs. H. Hasbullah Hadi, SH, M.Kn berikut ini.

  

“Al Washliyah bukan organisasi politik, tapi kita memiliki peran di

dunia politik, dengan banyaknya kader Al Washliyah yang berhasil

menjalankan tugaskan sebagai tokoh politik dan sebagai kader Al

Washliyah.”

  Al Washliyah adalah wadah untuk membina calon pemimpin, wadah untuk mengkader calon peminpin. Bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga membina kader-kader pemimpin intelektual melalui dunia perguruan tinggi, pemimpin dakwah dan sebagainya.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Al Washliyah sebagai organisasi keagamaan Islam, bukanlah hanya

  sekedar sebagai sebuah organisasi pendidikan dan dakwah, tapi Al Washliyah adalah juga merupakan sebuah organisasi perjuangan dan organisasi kader, yang senantiasa berusaha untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa, dan siap sedia berjuang untuk agama, bangsa dan negara.

  Dalam memberikan pemahaman politik terhadap masyarakat umum melalui murid-murid Al Washliyah, melalui sekolah. Karena di setiap sekolah wajib memiliki pelajaran ke-Al Washliyah-an. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Disaat mengajar tentang Al Washliyah, di ajarkan pula tentang politik Al Washliyah, dan tentu mengajar pelajaran lain seperti tentang pendidikan Kewarganegaraan. Lebih luas kepada masyarakat umum, Al Washliyah mencoba memberi pemahaman politik melalui selebaran atau statemen dan juga Dai-Dai Al Washliyah dan guru-guru Al Washliyah yang ada di tengah- tengah masyarakat. Mereka akan menjelaskan bagaimana posisi politik pada pemerintah pada waktu Dai Al Washliyah berdakwah, walaupun secara tidak langsung. Tapi para kader yang menjadi Dai akan menjelaskan kondisi politik pada masyarakat.

  Pendidikan politik yang di terapkan di Al Washliyah Sumatera Utara secara struktur memang hanya sebatas untuk kalangan warga Al Washliyah.

  Dimana pendidikan politik di lakukan di dalam kegiatan pelatihan-pelatihan setiap organisasi bagian, mulai dari APA, IPA, GPA, HIMMAH, ISARAH, IGA dan Muslimat Al Washliyah.

B. Saran

  Ada beberapa point yang bisa warga Al Washliyah renungkan untuk menghidupkan kembali ghirah perjuangan Al Washliyah ke depan. Paling tidak, Al Washliyah lebih mampu lagi menunjukkan kiprah dan karya nyatanya membenahi moralitas umat dan mengisi pembangunan bangsa ini di berbagai bidang, yang meliputi: pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, keagamaan dan lain- lain. Akhirnya, Al Washliyah tidak akan lagi berada di persimpangan jalan. Point- point itu merupakan pengejawantahan dari cita-cita the founding fathers Al Washliyah, antara lain adalah:

  Pertama, perjuangan suci. Membangun Al Washliyah memang harus

  dengan perjuangan. Dalam setiap perjuangan harus ada pengorbanan. Bersedia berkorban (tenaga, pikiran, materi bahkan jiwa) adalah indikasi kesucian perjuangan. Mengikhlaskan hati semata-mata hanya karena Allah adalah pintu gerbang dalam perjuangan. Ikhlas itu bukanlah endingpasivitas (akhir dari kemandegan) umat Islam. Ikhlas adalah totalitas pengabdian kepada Allah SWT. Konsekuensinya: jalan kemudahan, terbukanya pintu rizki dan indikasi kebahagiaan lainnya.

  Kedua, jangan suka melupakan sejarah. Hari ini banyak orang yang besar

  (popular) karena Al Washliyah, tapi ia sendiri lupa kepada Al Washliyah yang telah membesarkannya. Ketika seseorang memasuki wilayah politik praktis untuk menjadi eksekutif atau pun legislatif maka ia akan mengatakan bahwa "ia adalah salah satu kader Al Washliyah untuk mendapatkan dukungan dari keluarga besar Al Washliyah yang telah tersebar di seluruh penjuru negeri ini". Namun, setelah ia duduk di kursi yang diidamkan "apa yang sudah diberikan untuk kemajuan Al Washliyah?". Jangankan memberikan bantuan malah "merongrong" dengan mengembangkan sikap otoriter, sewenang-wenang dan lain-lain. Pengurus Al Washliyah sudah seharusnya melakukan restrukturisasi agar roda Al Washliyah itu kembali berjalan secara baik.

  Ketiga, membina moralitas ukhuwah. Paling tidak, ada beberapa langkah

  yang harus ditempuh: a.

  Berangkat dari kepentingan umat (mashlahatul ummat) bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Sehingga siapapun yang memimpin organisasi akan disikapi secara lapang dada selagi capabilitas-nya terpenuhi dan sesuai dengan rambu-rambu organisasi; b.

  Saling bahu membahu (cooperate) antara satu dengan lainnya dengan mengedepankan persamaan dan arif dalam menyikapi perbedaan yang muncul; c. Bersikap terbuka terhadap kritik yang konstruktif; d. Beranjak dari tekad dan tujuan yang sama untuk membangun Al Washliyah.

  Keempat, menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) dan sense of

responsibility (rasa tanggung jawab). Bila sudah tertanam rasa memiliki maka

  akan mewujudkan tanggung jawab. Jikalau kita punya sesuatu maka kita akan menjaga, memeliharanya agar tidak rusak, diganggu dan hal-hal yang merusak lainnya. Bila kita merasa memiliki Al Washliyah maka kita akan memeliharanya.

  Kelima, mewujudkan yang terbaik. "Apa yang sudah saya berikan untuk

  Al Washliyah?". Berbuat dengan karya nyata sesuai dengan bidang masing- masing. Kader Al Washliyah yang di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, tenaga profesi: guru/dosen, dokter dan lain-lain harus memberikan yang terbaik dengan menebar kemanfaatan buat umat Islam. Paling tidak, menjadi qudwah (ketauladanan moral) di lingkungan kerja kita masing-masing.

  Keenam, warga Al Washliyah harus satu langkah dalam mengoptimalkan kekuatan ummat Islam demi terwujudnya kemaslahatan ummat Islam itu sendiri.

  Ke depan, umat Islam harus lebih cerdas, lebih dewasa, lebih tegas, lebih arif dalam menentukan arah kehidupan dan menyikapinya.

  

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

  Affandi, Idrus dan Anggraeni, Leni. 2011. Pendidikan Politik. Bandung: Lensa Media Pustaka Indonesia. Alatas, Syed Farid. 2001. Islam, Ilmu-ilmu Sosial dan Masyarakat Sipil. (Makalah

  

Simposium Internasional). Jurnal Antropologi Indonesia ke-2. Padang :

  Universitas Andalas Boy, ZTF, Pradana. 2009. Muhammadiyah, Memadukan Peran Ulama dan Bazaris. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

  Broegmans. 1919. Oostkust van Sumatera. Groningen. Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  . 1998. Partisipasi dan Partai Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Budiyanto. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas X.

  Jakarta:Erlangga. Bungin, Burhan. 2009. Penelitiian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana.

  Burhani, Ahmad Najib. 2009. Muhammadiyah sebagai Civil Islam? Suara Muhammadiyah. Daulay, Haidar Putra. 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana. Dr. Saifuddin. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Gunawan, Hendra. 2007. Islam dan Civil Society: Konsep, Sejarah, dan

  

Perkembangannya di Indonesia (Makalah). Purwokerto: FISIP Universitas

Jenderal Soedirman.

  Hasanuddin, Chalijah. 1998. Al-Jam’iyatul Washliyah 1930-1942; Api Dalam Sekam di Sumatera Timur, Bandung: Pustaka. Kartono, Kartini. 2009. Pendidikan Politik, Sebagai Bagian Dari Pendidikan Orang Dewasa. Bandung: CV. Mandar Maju. . 1996. Pengantar Metode Riset Sosial. Bandung: CV. Mandar Maju. Kurnia, Asep, dkk. 2011. Penelitian Peran Partai Politik dalam Memberikan Pendidikan Politik Bagi Masyarakat. Jakarta: Pancabudi. Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Islam Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana. Noer, Deliar. 1980. Gerakan Modern Islam di Indonesia, Jakarta: LP2ES. Paffenholz, T. & Spurk, C. 2006. Civil Society, Civic Engagement, and

  

Peacebuilding. Social Development Papers: Conflict Prevention and

Reconstruction. Washington DC: The World Bank

  Pengurus Besar Al Djamijatul Washlijah. 1956. Al Djamijatul Washlijah ¼ Abad, Medan: Pengurus Besar Al Djamijatul Washlijah. Proyek Penerbitan Buku 70 Tahun Al-Washliyah. 1999. Al-Jam’iyatul Washliyah

  

Memasuki Millenium III Kado Ulang Tahun AL-Washliyah ke-69; Membangun

Kejayaan Dunia Melalui Kejayaan Islam di Indonesia. Jakarta: Proyek Penerbitan

  Buku 70 Tahun Al-Washliyah. Rohman, Arif. 2008. Politik Idelogi Pendidikan. Yogyakarta: Laksbang Mediatama.

  Rahayu, Iin Tri dan Tristiadi Hardi. 2004. Observasi dan Wawancara. Malang: Bayu Media Publishing. Saifuddin Zuhri, K.A. 1988. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perlembanganya di Indonesia. Bandung: Al Ma’arif. Sastroatmodjo, Sudijono. 1995. Partisipasi Politik. Semarang: IKIP Semarang Press. Sinar Luckman, T. 1971. Seri Sejarah Serdang Jilid I. Medan : Pustaka Melayu.

  Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1998. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: LP3ES. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kedua belas. Bandung: Alfabeta. Sukandarrumidi. 2006. Metodologi Penelitian (Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Surbakti, Ramlan. 2010. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Grasindo. Syafiie, Inu Kencana dan Azhari. 2008. Sistem Politik Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Tarigan, Azhari Akmal. 2007. Menyegarkan Kembali Pemikiran Al Washliyah. Jakarta: Waspada. Usman, Husani dan Purnomo.2004. Metodologi Penelitian Sosial, Bandung : Bumi Aksara. Ya’ cub, Abu Bakar. 1975. Sejarah Maktab Islamiyah Tapanuli, Medan.

  Jurnal:

  Jainuri, Achmad. 2000. Agama dan Masyarakat Madani: Rujukan Khusus

  

Tentang Sikap Budaya, Agama dan Politik. Jurnal Al Afkar. Edisi III Tahun ke 2:

  Juli-Desember

  Undang-Undang:

  Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2008 Tentang Fungsi Partai Politik UU No. 20 Tahun 2001 Pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

  Internet:

  akses pada 13 Juni 2014 pukul 10.15.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik Di Sumatera Utara
20
454
100
Gambaran Peran Keluarga Dalam Pemulihan Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara
11
71
87
Pengaruh Dukungan Organisasi Dan Penilaian Kinerja Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Di Universitas Al Washliyah Labuhanbatu
2
36
167
Peran Biro Pemberdayaan Perempuan Propinsi Sumatera Utara Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang Di Propinsi Sumatera Utara
0
33
113
Peran dan Upaya USU Dalam Meningkatkan SDM di Sumatera Utara (Slide)
0
30
27
Peran Media Massa Dalam Membentuk Rasionalitas Pemilih Dan Partisipasi Politik Masyarakat Dalam Pemilahan Gubernur Sumatera Utara Tahun 2013 (Studi Kasus Di Kecamatan Medan Johor)
0
28
149
Peran Politik Perempuan Dalam Partai Kabangkitan Bangsa
1
16
97
Implementasi manajemen dakwah Al-Jam’iyatul Washliyah dan Al-Ittihadiyah Sumatera Utara (studi perbandingan) - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
90
Peran Pengawas Madrasah Dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru Di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Taman Pendidikan Islam - Repository UIN Sumatera Utara
0
1
30
Peran Pengawas Madrasah Dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru Di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Taman Pendidikan Islam - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
9
BAB I PENDAHULUAN - Persepsi Guru Tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam dan Penerapannya dalam Pembelajaran di Mas Al Jami'iyatul Washliyah 22 Tembung - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN - Persepsi Guru Tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam dan Penerapannya dalam Pembelajaran di Mas Al Jami'iyatul Washliyah 22 Tembung - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
11
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN MASALAH - Persepsi Guru Tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam dan Penerapannya dalam Pembelajaran di Mas Al Jami'iyatul Washliyah 22 Tembung - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
28
Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik Di Sumatera Utara
0
0
23
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan politik tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat - Peran Al Washliyah Dalam Pendidikan Politik Di Sumatera Utara
0
0
43
Show more