Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 190-193 dan Surat At-Taubah ayat 122 (Konsep Pendidikan Jihad)

Full text

(1)

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam(S.Pdi)

Oleh: ISNIN NADRA 1110011000071

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

(Konsep Pendidikan Jihad) Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Disusun oleh:

Isnin Nadra 1110011000071

DIBAWAH BIMBINGAN

Abdul Ghafur MA NIP. 19681208 199703 1003

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

122 (Konsep Pendidikan Jihad) disusun oleh Isnin Nadra, NIM. 1110011000071, jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diajukan pada siding munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, Oktober 2014

Yang mengesahkan,

Pembimbing

(4)
(5)
(6)

Nama : Isnin Nadra NIM : 1110011000071

Fak/Jur : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan/Pendidikan Agama Islam

Judul : Tafsir surat al-Baqarah ayat 190-193 dan surat at-Taubah ayat 122 (Konsep Pendidikan Jihad)

Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan, di dalamnya menjelaskan berbagai aspek-aspek kehidupan termasuk mengenai pendidikan. setiap ayat yang disebutkan di dalam al-Qur’an mempunyai makna dan nilai-nilai yang berarti, dan nilai-nilai yang terkandung adalah sebagai pembelajaran dan pendidikan bagi kehidupan umat manusia.

Pendidikan jihad adalah pengetahuan mendasar tentang jihad, dari makna, tujuan, macam-macam, hakikat hingga aturan dan batasan-batasannya. Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 190-193 dan surat at-Taubah ayat 122 sama-sama menjelaskan tentang pentingnya melakukan jihad fii sabilillah, ayat 122 menekankan bahwa menuntut ilmu derajatnya adalah sama dengan jihad mengangkat senjata.

Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui konsep pendidikan jihad yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 190-193, dan surat at-Taubah ayat 122.

Adapun metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu menganalisis masalah yang akan dibahas dengan cara mengumpulkan data-data kepustakaan, pendapat para mufassir. Kemudian mendeskripsikan pendapat para mufassir, selanjutnya membuat kesimpulan.

(7)

Fak/Jur : Faculty Of Tarbiyah Teaching Education

Tittle : Tafseer Surat al - Baqarah 190-193 and letters at- Tawbah paragraph 122 ( Concept of Jihad Education )

The Qur'an is the source of knowledge , in which explain various aspects of life including about education, every verse mentioned in the Qur'an has meaning and values which means , and values contained are as learning and education for human life.

Education jihad is the fundamental knowledge about jihad, of meaning , purpose , various , nature to the rules and limitations. Qur'an Surat al - Baqarah 190-193 and letters at- Tawbah verse 122 equally describe the importance of jihad fie sabilillah , paragraph 122 emphasizes that studying rank is equal to jihad arms. The purpose of this study was intended to determine the educational concept of jihad contained in the letter of al - Baqarah 190-193 , and the letter at- Taubah verse 122 .

The method used in this paper is descriptive method of analysis , which analyzes the issues to be addressed by collecting data library , the opinions of the commentators . Then describe the opinions of the commentators , then make conclusions .

(8)

ii Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat yang tiada hentinya engkau menganugerahkan kepada penulis. Dan berkat kasih serta saying-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya, kelak syafaat beliaulah yang diharapkan umatnya di akhir zaman.

Skripsi ini berjudul “ Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 190-193 dan surat At-Taubah ayat 122 (Konsep Pendidikan Jihad)”, merupakan tugas akhir yang harus dipenuhi untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam.

Atas terselesainya Skripsi ini tidak terlepas dari upaya berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi atau bantuan dalam rangka penyusunan dan penulisan skripsi ini, untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Drs. Nurlena Rifa‟ Ph.D. Selaku dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, beserta seluruh staf pengajar dan staf administrasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan atas segala fasilitas yang diberikan kepada penulis.

2. Abdul Majid Khon selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam dan Hj Marhamah Saleh Lc, MA selaku sekertaris jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menyetujui penyusunan skripsi ini.

(9)

iii

5. Dosen-dosen jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak memberikan pengetahuan dan pengalamannya kepada penulis, sehingga penulis mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan penulis.

6. Kedua orang tua penulis H. Taslim Busthami dan Hj Yusnil Zein yang telah memberikan dukungan secara moril maupun materil, terimakasi atas do‟a, cinta, serta kasih sayang, didikan, semangat, kepercayaan dan pengorbanan kalian yang tulus tiada hentinya untuk penulis. Kepada kakak-kakak penulis, Ahmad Fikri, Lidia Rahmayuni, Wildanul Mufizah, Muhammad Zuhri dan M. Fuad Faizin, terimaksih atas do‟a, motivasi, nasehat, dukungan dan hari-hari penuh canda tawa ketika penulis mengalami kejenuhan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Sahabat-sahabatku tersayang, Intan Rahma Yuri, Siti Nurbaiti dan Nur Choirum Mauzuroh, Yohanna Makatangin, terimakasih atas dorongan, semangat, masukan yang kalian berikan untuk penulis, yang selalu menemani penulis disaat penulis mengalami kebimbangan dan masalah dalam hidup penulis.

8. Sahabat-sahabat seperjuangan PAI B angkatan 2010 dan seluruh mahasiswa/I PAI angkatan 2010, terima kasih atas masukan, dorongan, dan sharingnya yang telah diberikan untuk penulis sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.

(10)

iv

sempurna, dengan senang hati akan menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya sederhana ini bermabfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Ciputat, 28 Oktober 2014 Penulis

(11)

v

DAFTAR ISI ... iv

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 7

C.Pembatasan Masalah ……… 8

D.Rumusan Masalah………. 8

E. Tujuan Penelitian ... 8

F. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II : KAJIAN TEORI ... 10

A.Pengertian Pendidikan………... 10

B.Pengertian Jihad ………... 10

C.Pengertian Jihad Menurut Para Tokoh... 11

D.Tujuan Jihad ... 14

E. Macam-Macam Jihad... 15

F. Bentuk-Bentuk Jihad... 17

G.Metode Pendidikan Jihad... 23

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ... 26

A.Pendekatan Penelitian ………... 26

B.Sumber Data ………... 24

C.Metode Penelitian ... 24

D.Metode Penulisan ……… 25

BAB IV : KONSEP PENDIDIKAN JIHAD………. 30

A.Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 190-193 ………... 30

B. Tafsir Surat At-Taubah ayat 122………... 43

C.Konsep Pendidikan Jihad……….. 51

1. Jihad Bertujuan Untuk Menegakkan Kalimat Kebenaran, Keadilan dan Kebaikan……... 50

2. Hakikat Jihad adalah Perdamaian... 58

(12)

vi BAB V : PENUTUP

A.Kesimpulan………... 67

B. Saran………. 68

(13)

1 A. Latar Belakang Masalah

Allah SWT menganugrahkan alam semesta serta menundukkannya bagi manusia sebagai fasilitas penunjang yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan.Dia tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak mampu dicerna oleh akal, berbicara sesuatu yang tidak diketahui, dan berjalan tanpa petunjuk, melainkan Allah menurunkn risalah-Nya yang bisa menuntun manusia kepada tujuan hidup.Serta memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana menata rincian-rincian kehidupan dan interaksi social di antara mereka.Demikianlah Allah menjamin eksistensi yang bersifat materil.Allah juga menjamin ekisistensi manusia secara rohani dan sosial yang tergambar dalam petunjuk dan aturan yang diturunkan kepada mereka.1

Risalah Allah selalu turun bagi manusia berturut-turut melalui perantara seorang nabi dan rasul yang diutus kepada setiap kaum secara khusus dan temporer, “Dan sesunggguhnya kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul

kepada kaumnya…”.Kemudian Allah menyempurnakan agama-Nya dengan

mengutus Muhammad SAW sebagai rasul terakhir bagi seluruh umat manusia dan dengannya Allah menghapus setiap risalah yang pernah datang sebelumnya.

Allah SWT menurunkan kepada Muhammad SAW kitab-Nya yang kekal yaitu Al-Qur‟an.Di dalamnya terangkum seluruh risalah secara sempurna yang meliputi tanda-tanda kenabian dan petunjuk bagi kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, untuk dijadikan pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia.Hakikatnya

1

(14)

adalah bahwa Allah SWT telah meciptakan alam ini di atas pondasi kesatuan struktur yang kokoh, saling mendukung antar bagiannya.2

Al-Qur‟an adalah firman Allah, dapat dipastikan bahwa kalimat-kalimat dalam setiap ayat, dan ayat-ayat dalam setiap surat adalah pernyataan yang paling sempurna, maka adalah benar bahwa Al-Qur‟an disebut sebagai mu‟jizat yang melengkapi mu‟jizat yang lain. Karena itu tidak mungkin jika kemudian terdapat di dalamnya kontadiksi, ketidak aturan dan saling bertentangan satu sama lain. Al-Qur‟an adalah kalamullah, semua kandungannya pasti benar, maka seluruh susunan di dalamnya pasti teratur.3

Selanjutnya Allah menjadikan umat Islam sebagai umat panutan yang memimpin seluruh ummat kepada agama yang benar serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kemengan, dan untuk terwujudnya hal tersebut diperlukan perjuangan.

Istilah Al-Qur‟an untuk menunjukkan perjuangan adalah kata “Jihad”, suatu keharusan bagi umat yang telah Allah pilih untuk peran ini dan telah dipercayakan tugas penting agar menjadi umat yang berjuang.Karena itu datang perintah Allah kepada umat Islam untuk berjihad sebagai konsekuensi pengemban tanggung jawab menyiarkan Islam keseluruh penjuru dunia. Jihad di dalam Islam merupakan unsur fundamental dan pokok karena merupakan sarana efektif untuk mencegah kejahatan, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi dan mencegah kejahatan yang tumbuh dari dalam jiwa atau datang dari yang lain.

Meski secara umum, orang memahami jihad dalam pengertian perang menolong agama dan membela kehormatan umat, namun sebenarnya Al-Qur‟an dan As-sunnah menggunakan kata jihad itu dalam pengertian lebih luas.Ibnu Qayyim dalam Zaad Al-ma’ad membaginya dalam tiga belas tingkat. Ada yang berbentuk jihad terhadap hawa nafsu dan setan, kerusakan, kemungkaran, kemunafikan, jihad berbentuk dakwah dan penjelasan, kesabaran, dan keteguhan atau yang lebih kita

2

M. Quraish Shihab, Lentera Al-Qur’an, (Bandung : Mizan Pustaka, 2008), h. 31

3

(15)

kenal dengan jihad sipil. Dan tentu ada yang berupa perang fisik dan senjata.Namun sayang, banyak kalangan ummat Islam yang dengan gegabah, memutus makna jihad dan hanya mendefinisikannya dengan perang saja.4

Mayoritas ulama berpendapat bahwa jihad terbagi dalam dua kategori: Jihad Annafs dan Jihad binnafs wal mal. Bentuk Jihad Binnafs wa Mal, hanya berlaku sekali saja dalam Islam, yaitu pada saat awal mula struktur agama dibangun. Pada saat itu, hal terbaik yang dapat dipersembahkan oleh seorang mukmin untuk penegakan agama adalah penyerahan sepenuhnya jiwa dan harta pribadi. Yang dimaksud dengan jihad adalah perang pembelaan umat melawan serangan yang dilancarkan pihak lain. Jihad ini berlaku temporal, lain halnya dengan jihad annafs, jihad dalam kategori ini berlaku permanen, sepanjang hayat dikandung badan.5

Ada pula ulama yang mendefinisikan jihad dengan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan untuk berperang di jalan Allah dengan mempertaruhkan nyawa, atau dengan memberikan bantuan harta atau materi, atau sekedar pendapat, atau dengan ucapan, atau dengan memberikan bekal berperang dan yang lainnya.6

Kehidupan manusia dewasa ini terkungkung oleh sejumlah aliran yang banyak berkecimpung dengan persoalan kepentingan, dan keinginan hawa nafsu. Teknis pelaksanaannya cenderung menghalalkan segala macam cara, asal dapat memenuhi segala kepentingannya.

Salah satu tujuan terpenting dari Islam adalah mengupayakan manusia agar dapat menguasai hawa nafsunya.Hawa nafsu selalu mendistrosi sistem kecendrungan alamiah seseorang.Jihad yang merupakan bagian integral wacana Islam sejak masa-masa awal kedatangannya hingga sekarang telah melahirkan pendapat dan pandangan yang bervariasi.7 Ketika mengkaji tentang jihad akan muncul berbagai pandangan dari para ulama dan cendikiawan Islam, baik yang bersifat keras, serta yang bersifat lunak.

4

Yusuf Al-Qardhawi, Ringkasan Fikih Jihad, (Kairo, Maktabah Wahbah, 2009) cet-1 hal 29

5

Yusuf Al-Qardhawi, Ibid hal 38

6

Yusuf Al-Qardhawi, Ibid., hal 39

7

(16)

Bermula dari hancurnya sebuah pusat perbelanjaan yang terdapat di Amerika berjuluk World Trade Center (WTC), sebuah tragedy dahsyat yang mengantarkan tudingan miring terhadap eksistensi agama dan umat Islam di seluruh dunia. Sejak saat itu berbagai dunia Islam, khususnya di Indonesia stigmatisasi baru muncul, konsep jihad yang ada di dalam ajaran Islam diidentikkan dengan peperangan yang bermotifkan agama.Seolah-olah mereka menganggap bahwa perang merupakan kewajiban bagi umat Islam dalam mengukuhkan eksistensi agama, sedangkan pedang dianggap sebagai instrument yang berperan penting untuk menumpas musuh-musuh Tuhan.8

Peristiwa Penangkapan Ustad Abu Bakar Ba‟asyir pun menyita perhatian publik. Aksi Densus 88 menjemput paksa pimpinan Jamaah Anshar Tauhid ini menyita banyak perhatian ummat Islam saat itu.Irjen Edward Aritonang dalam konfrensi persnya menyatakan bahwa penangkapan Abu Bakar Ba‟asyir terkait dugaan beliau sebagai otak dan pendanaan tindak terorisme.Menurut Edward, penangkapan ini berdasar pada penyidikan Polri keterkaitan Ustad Ba‟asyir dengan teroris Aceh. Ada beberapa target teror bom yang telah direncanakan. Disebutkan bahwa ada semacam uji coba pembuatan bom di daerah Jawa Barat.

Jika melihat perkembangan yang ada, apa sebenarnya yang menjadi tujuan polisi menangkap seorang tua yang sudah uzur usia ini khususnya, dan seluruh gerakan jihad yang dilancarkan segolongan Muslim yang mencita-citakan berdiri negara Islami. Jawabannya tidak lain adalah membasmi terorisme.

Rangkaian pemboman yang pernah terjadi di Indonesia dianggap pemerintah sebagai tindakan terorisme namun bagi sekolompok Muslim itu adalah jihad. Kasus pemboman Bali tahun 2002 yang melibatkan Amrozi Cs hingga pemboman JW Marriott dan Ritz-Carlton tahun 2009, mengindikasikan bahwa praktek jihad versi mereka akan terus selalu ada.

8

(17)

Bagi kelompok yang menyebutkan diri mereka adalah Muslim militan yang berpemahaman salafus shalih, Jihad adalah sebuah keniscayaan. Jihad akan selalu relevan pada setiap masa dan tempat. Hingga akhirnya, harapan dan cita-cita mereka terwujud agar Islam tidak dikotori lagi oleh budaya Barat.

Bagi kebanyakan orang menyebut gerakan ini merupakan Islam radikal.Ada juga yang menyebutnya fundamentalisme.Terlepas dari pengistilahan yang dibuat perlu diyakini bahwa semua aktivitas mereka butuh pengkajian ulang. Aksi penyerangan terhadap warga asing di satu negara dengan bom bunuh diri, kemudian pemboman tempat-tempat ibadah non muslim, dan mungkin kegiatan merampas harta non muslim yang mereka sebut dengan fa‟I, semuanya harus kembali diluruskan.

Memang, jika mau menelusuri jauh kebelakang bahwa aksi terorisme yang ada merupakan fenomena sosial segelintir kelompok masyarakat yang kecewa terhadap pemerintah.Sebenarnya cikal bakal teror juga sudah terlihat pada awal kemerdekaan.Karena pemerintah pusat gagal mengakomodir aspirasi umat Islam– sebagai penduduk mayoritas Indonesia.

Pada masa orde baru, gerakan ini agak sedikit mengerucut dan melalui sikap pemerintah yang represif, menumpas Komando Jihad.Lalu, masa reformasi gerakan-gerakan kekecewaan itu muncul dari wadah yang disebut-sebut Jamaah Islamiyah Indonesia (walaupun kurang bukti) Amrozi Cs menjadi icon perjuangan segelintir umat Islam yang tertindas.Dan munculah aneka bentuk pemboman yang dilancarkan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah dan juga ajang unjuk nyali umat Islam Indonesia terhadap Barat, yang selama ini diyakini musuh Islam.9

Hingga pada zaman terakhir ini, banyak menyebar propaganda menyimpang yang menyeru untuk membunuh orang kafir dimanapun mereka berada, dalam keadaan apa saja dengan mengklaim bahwa perbuatan tersebut adalah perealisasian jihad yang telah disifati Nabi SAW bahwa jihad adalah puncak syari‟at tertinggi.

9

(18)

Apabila seseorang yang adil melihat propaganda yang menyebar ini dengan pandangan Syari‟at, menimbangnya dengan timbangan Al-Qur‟an dan As-sunnah dengan pemahaman salaf, diikuti dengan pertimbangan yang benar yang mengedepankan maslahat yang terbesar di antara dua mafsadah dengan menanggug mafsadah yang terkecil, tidak mengikuti perasaan gegabah yang berlawanan dengan Syari‟at, niscaya dia akan mengetahui bahwa hakikat propaganda jihad ini adalah usaha untuk menghancurkan Islam, menghilangkan dengan cepat sisa-sisa ajaran Islam, mempersempit ruang gerak ummat Islam, menyediakan sarana yang bisa digunkan oleh musuh Islam dari orang-orang kafir untuk memerangi ummat Islam yang berkomitmen dengan ajaran Islam atau menguasai negara-negara Islam demi merealisasikan tujuan mereka dan pelaksanaan rencana-rencana mereka, kenyataan ini sangat jauh dari apa yang diklaim oleh orang-orang bodoh bahwa perbuatan mereka adalah untuk mengembalikan kejayaan agama Islam dan kaum muslimin.

Penderitaan yang dialami kaum muslimin diseluruh Negara adalah akibat dari propaganda batil dan menyimpang yang telah dijelaskan oleh dalil yang menunjukkan kerusakan propaganda tersebut.

Yang menjadi sandaran hukum untuk permasalahan seperti ini, yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan penyimpangan, adalah ilmu pengetahuan mengenai Syari‟at Islam bukan kebodohan yang mengikuti emosional saja.

(19)

betul-betul mengamalkan Al-Qur‟an dan Sunnah dan para ulama yang memiliki peranan penting dalam perbaikan ummat.10

Islam datang membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan manusia agar menghiasi diri dengannya serta memerintahkan manusia agar memperjuangkan Islam hingga mengalahkan kebatilan.11Agama Islam adalah suatu gerakan pembebasan, mulai dari hati nurani setiap individu dan berakhir di samudera kelompok manusia.Islam tidak pernah menghidupkan sebuah hati lalu dipasrahkan menyerah tunduk kepada suatu kekuasaan diatas permukaan bumi selain kekuasaan Allah SWT.Islam tidak pernah membangkitkan sebuah hati kemudian melepaskannya terbelenggu oleh keaniayaan dalam segala macam bentuk.Islam mengajarkan kepada ummatnya agar senantiasa berjuang melalui jihad untuk menegakkan kebebasan menganut serta menjalankan agama.

Meskipun sebagian pelaku terorisme mengklaim sebagai aktivis Islam, namun menjastis agama Islam sebagai pemicu yang bertanggung jawab dibalik serangakian aktivitas terorisme adalah sebuah tindakan yang sangat terburu-buru dan terlalu dini.Sebab seluruh tindakan yang pada prinsipnya mengandung kekerasan dilarang dan bertolak belakang dengan ajaran agama Islam.

Perbedaan pendapat dikalangan ulama dan cendikiawan Islam dalam mengkaji persoalan jihad sehausnya menjadi sebuah batu loncatan dalam menemukan solusi terhadap problematika kehidupan ummat Islam dengan cara mencari titik temu. Kita seharusnya menghormati setiap perbedan tersebut menjadi sebuah rahmat yang dapat mempersatukan umat Islam bukan sebaliknya, perbedaan tersebut menjadi bencana yang mengantarkan kepada pertikaian di antara sesama muslim.

10

Syaikh Faisal bin Qazzar Al Jaasim, Meluruskan Pemahaman Tentang Damai dan Jihad,

(Jakarta: Jami‟ah Ihya At-Turots Al-Islami, 2011), Cet. Ke-1 h. 64-67

11

(20)

Dibutuhkan kalrifikasi dan kajian yang mendalam terhadap persoalan ini untuk menemukan dan mengerti kebenaran tentang siginfikanksi spiritual jihad agar tidak ada kesalahan terhadap aplikasi dalam menjalankannya.Serta terhindar dari spekulasi negative khususnya dari kalangan ummat Islam itu sendiri. Menjadi amat penting bagi setiap muslim untuk memperoleh jawaban tuntas atas pertanyaan dan kebimbangan tentang jihad dan batasan-batasannya. Kenyataan diatas mendorong penulis mengadakan pengkajian seputar permasalahn yang terjadi terhadap jihad itu sendiri, yang tertuang dalam sebuah skripsi yang berjudul:” TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 190-193 dan AT-TAUBAH AYAT 122, (MEMAHAMI KONSEP PENDIDIKAN JIHAD)

B. Identifikasi Masalah

Adapun masalah-masalah yang penulis temukan dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

1. Banyak masyarakat yang belum memahami makna jihad yang benar

2. Banyak oknum-oknum yang melakukan hal-hal anarkis yang mengatasnamakan jihad, tetapi apa yang dilakukan tidak sesuai dengan teori jihad yang benar

3. Banyak orang yang melakukan jihad, tetapi menjadikan jihad sebagai tujuan pribadi atau golongan.

4. Kurangnya pendidikan mengenai jihad yang di dapatkan oleh masyarakat

C. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari melebarnya pembahasan dalam tulisan ini, maka penulis perlu memberikan batasan permasalahan sebagai berikut :

(21)

2. Konsep Pendidikan Jihad pada ayat 190-193 surat Al-baqarah dan ayat 122 dari surat At-Taubah

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari pembahasan ini adalah :“Bagaimana Konsep Pendidikan Jihad Berdasarkan Kajian Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 190-193 dan At-Taubah ayat 122”

E. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya seluruh usaha yang terkait dengan kajian tafsir atau kajian keislaman bertujuan untuk menemukan makna yang sesungguhnya dari sebuah problematika-problematika yang terjadi ditubuh umat Islam.Demikian pula dengan skripsi ini, diharapkan dapat menemukan arti dan nilai-nilai yang sesungguhnya terhadap perbedaan pendapat mengenai pemahaman jihad.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah:

1. Untuk pengetahuan dan menambah khazanah ilmu bagi penulis khusunya 2. Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi segenap civitas Fakultas

Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta dan khususnya teman teman di jurusan Pendidikan Agama Islam 3. Menambah pengetahuan masyarakat mengenai fenomena terorisme yang

(22)

10

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Jihad

Dalam kurun waktu terakhir, khususnya pasca runtuhnya WTC dan meletusnya aksi terorisme istilah jihad mulai mencuat kepermukaan.Bukan hanya itu saja, kalangan Islam sendiri menaruh perhatian besar terhadap nilai-nilai jihad yang hanya sebatas peperangan.Di dalam Al-qur‟an memang terdapat kata perang dan anjuran untuk melakukannya, namun kita harus mengkaji terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian yang bersifat mengidentikkan antara jihad dan peperangan.

Kitab-kitab bahasa Arab menyatakan bahwa kata jihad dan mujahadah berarti “menguras kemampuan”.Secara bahasa jihad berasal dari kata jahada, artinya tenaga, usaha, atau kekuatan.Di dalam bahasa Arab kata benda (jihad) adalah bentuk mashdar dari kata kerja (jaahada), yang selanjutnya merupakan turunan dari kata kerja (jahada) dengan jalan penambahan satu huruf alif.Dengan perubahan berupa huruf alif itu menyebabkan artinya berubah menjadi lebih intensif, yaitu “kesungguhan melaksanakan perkerjaan” meningkat menjadi maksimal “dengan jalan mencurahkan seluruh potensi yang ada”12

.Artinya secara bahasa menunjukkan pada sebuah usaha mengerahkan kemampuan, potensi dan kekuatan, atau memikul sesuatu yang berat.Kata ini dalam ragam bentuk turunannya termaktub dalam Al-Qur‟an sebanyak 34 kali.13

Menurut istilah, jihad adalah suatu kewajiban bagi umat Islam yang sifatnya berkelanjutan hingga hari kiamat.Tingkat terendahnya berupa penolakan hati atas keburukan dan kemungkaran, sedangkan tingkatan tertingginya berupa perang dijalan Allah. Di antara keduanya adalah perjuangan dengan lisan, pena, tangan berupa

12

Jan Ahmad Wassil, Tafsir Quran Ulul-Alab, h. 294

13

(23)

pernyataan tentang kebenaran di hadapan penguasa yang zalim14. M. Quraisy Shihab dalam memaknai kata jihad dengan mengutip pendapat Ibnu Faris (w. 395 H) dalam bukunya Mu‟jam al-Maqayis fi Al-Lughah, “Semua kata yang terdiri dari huruf j -h-d, pada awalnya mengandung arti kesulitan atau kesukaran dan yang mirip kesukaran”. Menurut Fairuz Abadi dalam kitabnya yang berjudul Basha-ir Dzawit Tamyiz, sebagimana yang dikutip oleh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud beliau berkata:

“ Jihad dan mujahadah adalah menguras kemampuan dalam memerangi musuh, at-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya Fudhalah bin „Ubaid, ia berkata bahwa Rasulullah swa, bersabda: “Mujahid adalah orang yang berjihad mlewan jiwanya (hawa nafsunya) dalam rangka menaati Allah”15

Adapun menurut para ulama fiqh, jihad berarti membunuh orang-orang kafir.Sebagian ulama fiqh berpendapat bahwa jihad adalah mengerahkan kemampuan untuk membunuh orang-orang kafir atau pemberontak.Ada juga yang berpendapat bahwa jihad adalah mengajak kepada agama yang benar dan memerangi orang-orang yang menolaknya.Ada juga yang mendefiniskan jihad sebagai pengerahan usaha dan kemampuan di jalan Allah dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan yang lainnya.16

Berpijak pada pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa jihad adalah sebuah aktivitas dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt yang didasarkan pada kesungguhan dengan cara mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki denga nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan lainnya. Definisi ini lebih relevan dalam memaknai jihad, karena mencakup seluruh jenis jihad yang diterangkan oleh Al-Qur‟an dan Sunnah.Selain itu definisi ini juga tidak membatasi jihad sebagai bentuk peperangan terhadap orang-orang kafir saja.

14

Yusuf Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Bana, Terjemahan. Bustami A. Gani dan Zainal Abidin Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h 74

15

Ali Abdul Halim Mahmud, Fiqh Reknsiliasi dan Reformasi Menurut Hasan Al-bana;

RUKUN JIHAD, penerj. Khozin Abu Faqih dkk, (Jakarta: Al-I‟tishom Cahaya Umat, 2001), cet 1, h.31

16Al kasani,Bada‟I Al

(24)

Orientasinya adalah agar istilah jihad bisa mencakup seluruh usaha umat Muslim dalam mencurahkan segenap kemampuan melawan keburukan dan kebatilan.Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalam diri individual Muslim, berupa godan setan, dilanjutkan dengan melawan keburukan di sekitar masyarakat.Hingga berakhir pada perlawanan terhadap keurukan dimanapun, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Lafadz Jihad dalam Al-Qur‟an dipakai untuk mengindikasikan beberapa makna, antara lain:

1. Berjihad melawan orang-orang kafir dengan menggunakan argument. Allah swt berfirman, yang artinya:

“ Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu” (QS: At-Taubah: 73)

2. Berjihad melawan setan Firman Allah swt, yang artinya:

“ Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar -benarnya” (QS: Al-Hajj: 78)

3. Berjihad melawan hawa nafsu Firman Allah swt, yang artinya:

“ Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu dijalan Allah” (QS: At-Taubah: 41)17

Berdasarkan pengertian diatas, jihad adalah kata yang memiliki artian yang luas, dapat diartikan sebagai perang, dakwah, dan lain sebagainya dan tidak dapat diartikan dengan satu pengertian saja.

17

(25)

B. Pengertian Jihad Menurut para Tokoh

Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir At-Thabari dalam tafsirnya beliau mendefinisikan jihad dengan orang yang rela melelahkan dirinya hanya demi memerangi musuh-musuh Allah dari kalangan orang kafir.18

Ibnu Hajar Al-Asqalany, bahwa jihad secara bahasa artinya kesulitan. Sedangkan menurut syari‟at adalah mengerahkan segla kemampuan untuk memerangi orang kafir. Menurut Ibnu Hajar, jihad juga digunakan dalam arti melawan hawa nafsu, setan dan orang fasik. Adapun jihad melawan hawa nafsu dapat dilakukan dengan belajar masalah agama, mengamalkan dan mengajarkannya. Sedangkan jihad melawan setan dengan menolak semua apa yang dibisikannya. Selanjutnya jihad melawan orang kafir dapat dilakukan dengan kekuatan/perang, harta, lisan dan hati.19

Ibnu al-Qayimm al-Jauziyah dalam satu karyanya, Zad al-Ma’ad membagi jihad menjadi empat bagian yaitu, jihad terhadap nafsu, jihad terhadap setan, jihad terhadap orang kafir, dan jihad terhadap orang munafik dan orang kafir kedalam empat macam, yaitu Jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa. Namun beliau lebih mengkhusukan Jihad dengan orang kafir harus dengan kekuatan dan orang munafik dengan lisan.20

Hasan Al-Banna sebagaimana dikutip oleh Rumadi, pendiri gerakan Ikwan al-Muslimin ini menyerang pandangan bahwa jihad berarti “perjuangan spiritual”, perjuangan melawan hawa nafsu. Adapun hadist yang berbicara mengenai jihad ashgar (perang badar) dan jihad Akbar (hawa nafsu) dalam pandangan al-Banna, bersumber dari hadist yang tidak otentik. Bahkan ia menuduh pengertian seperti ini sengaja disebarkan oleh musuh-musuh Islam melawan Eropa.

18Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir At

-Thabari, Tafsir At-Thabari. Terj. Abdul Somad, Yusuf Hamdani dkk, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2008) Vol 12, Hal. 486

19

Ibnu Hajar Al-Asqalany, Fath bary Syarh Shahih Bukhary (Beirut : Daarul Kutub

al-„amaliyah, 2003) cet ke-4. Juz 6, h 4

20

(26)

Demikian pula pelanjut al-Banna seperti Sayyid Qutubh yang secara umum mempunyai pemikiran yang sama dengan al-Banna, meskipun dia mempunyai aksentuasi pemikiran yang berbeda, seperti penekanannya pada perjuangan politik revolusioner, yang dirancang untuk melucuti musuh-musuh Islam.

Al-Maududi pun sebagaimana dikutip oleh Rumadi, beliau lebih radikal lagi menyejajarkan Islam dan Jihad sebagai “gerakan politik revolusioner”.Jihad bagi al -Maududi merupakan perjuangan revolusioner bersenjata yang dilakukan tidak hanya untuk kepentingan social tertentu tetapi juga untuk semua kelompok penindas yang mengeksploitasi umat Islam. Dengan cara berpikir demikian, maka kekeuasaan politik mmerupakan tujuan sentral Jihad.21

Menurut Ibnu Manzhur sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Chirzin, bahwa jihad adalah memerangi musuh, mencurahkan segala kemampuan dan tenaga berupa kata-kata dan perbuatan atau segala sesuatu yang seseorang mampu; menurut Jurani jihad adalah seruan kepada agama yang benar; sedangkan menurut Al-Ashfahani jihad adalah mencurahkan kemampuan menahan musuh, berjuang menghadapi musuh yang tampak dan yang tidak tampak, begitu juga Sayyid Sabiq medefinisikan bahwa jihad sebagai meluangkan segala usaha dan upaya dengan menanggug kesulitasn dalam memerangi musuh dan menahan agresi, Wahbah Zuhaili pun mengutarakan bahwa Jihad adalah mencurahkan daya upaya memerangi orang kafir dengan jiwa, harta dan lisan.22

Sa‟id Aqil Siradj mengutip kitab I’anatu at-Thalibin Fathul Mu’in menurutnya Jihad yaitu ada empat bentuk.Pertama, menegaskan eksistensi Allah di muka bumi, seperti dengan melantunkan adzan, dzikir dan wirid.Kedua, menegakkan nilai-nilai agama Allah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, mengakkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebenaran dan sebagainya.Ketiga, berperang di jalan Allah, maksudnya jika terdapat komunitas yang memusuhi umat Islam dengan segala

21

Rumadi, Renungan Santri; Dari Jihad Hingga Kritik Wacana Agama (Jakarta: Erlangga, 2007) hal. 78-79

22

(27)

argumentasi yang dibenarkann agama maka diperbolehkan berperang namun memperhatikan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Allah. Keempat, mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan, serta memenuhi kepentingan seseorang yang harus ditanggung oleh pemerintah, entah itu muslim maupun kafir. Sehingga menurutnya jihad adalah merupakan upaya pencurahan tenaga secara fisik yang diproyeksikan untuk mengimplementasikan pesan-pesan Tuhan di muka bumi, guna mengakurasikan tugas manusia sebagai khalifah-Nya.23

Moenawar khalil sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Qadir Djaelani mengatakan bahwa jihad adalah bersungguh-sungguh mencurahkan segenap tenaga untuk melawan musuh.Begitu juga Taufik Ali Wahbah mendefinisikan jihad sendiri sebagai pengerahan segala kemampuan dan potensi dalam memerangi musuh. Sedang Abdul Karim Zaidan, mengatakan bahwa Jihad adalah pengerahan tenaga dari seorang muslim dalam mempertahankan dan menyabarkan Islam. Dan dilanjutkan oleh H.M.K Bakry menguraikan makna jihad adalah perjuangan yang memerlukan tenaga untuk memerangi orang kafir dan murtad sampai kembali menganut agama Islam juga berjuang melawan hawa nafsu, melawan setan dan melawan orang fasik.24

C. Tujuan Jihad

Tujuan Jihad menurut Quraish Shihab, adalah menegakkan nilai-nilai amar

ma’ruf nahi munkar dan menghilangkan terjadinya sesuatu penganiayaan.25Adapula yang berpendapat bahwa tujuan jihad adalah menjaga kebebasan akidah, menjaga syiar dan ibadah, mencegah kerusakan di muka bumi, sebagai cobaan, pendidikan dan ishlah bagi manusia.

Adapula sebagian kalangan yang berpendapat bahwa tujuan jihad adalah untuk menolak permusuhan terhadap Islam dan Kaum muslimin, yang dilakukan oleh

23

Said Aqil Siradj, Islam Kebangsan; Fqih Demokrasik Kaum Santri (Jakarta: Fatma Press, 1999) hal.136-137

24

Abdul Qadir Djaelani, Jihad fi Sabilillah dan Tantangan-Tantangannya (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995) h.3-4

25

(28)

kaum musyrikin, kafirin, pembangkang dan orang-orang yang dendam terhadap Islam.

Untuk mengokohkan dakwah Islam sehingga dapat sampai kepada orang-orang yang berhak mengetahuinya, yaitu seluruh manusia di seluruh tempat yang memungkinkan dakwah sampai padanya dan di semua masa yang kaum muslimin hidup padanya.

Islam adalah agama yang menolak kesyirikan dan kekufuran bersamanya, karena Islam adalah agama yang haq, agama yang selaras dengan akal, dan agama kehidupan yang mulia bagi kemanusiaan.

Jihad dalam Islam sama sekali berbeda dengan “perang suci” yang sering disebut-sebut oleh Barat, sebab jihad dimaksudkan untuk memperbaiki dan meluruskan yang bengkok dalam kehidupan manusia. Itupun diakukan dengan memberikan pemeliharaan ekstra terhadap kaum wanita, anak-anak, orang tua dan orang-orang yang tidak mampu berperang, bahkan pemeliharaan ekstra terhadap hewan dan pepohonan.26

Seperti yang dikutip oleh Ali Abdul Halim bahwa tujuan jihad adalah untuk mengokohkan agama dan syariat Allah sehingga dapat bagi manusia, mengendalikan seluruh system dan manhaj mereka, mengarahkan berbagai aktivitas dalam kehidupan mereka dan agar Islam menjadi manhaj yang dianut dan diikuti serta yang mengatur kehidupan manusia. Untuk menghancurkan system-sistem yang berlawanan dengan kebenaran, yang menzalimi manusia dalam kehidupannya secara manusiawi.

System yang dimaksud adalah system yang melancarkan serangan terhadap orang-orang sipil dinegaranya agar ia dapat menguasai hasil negara mereka. Ia berbuat seperti itu karena merasa memiliki kekuatan lebih besar dari kekuatan mereka atau merasa tinggi dihadapan mereka karena keistimewaan jenis atau warna kulit.

26

(29)

D. Macam-Macam Jihad

Ibnu Qayyim mengatakan dalam bukunya zaad al Ma’ad, “ Karena jihad merupakan puncak bangunan Islam dan kubahnya, dan tempat-tempat ahli jihad di surga merupakan tempat-tempat paling tinggi, disamping mereka memiliki derajat yang tinggi di dunia, maka Rasulullah SAW berada di puncak yang paling tinggi dalam jihad dan menguasai segala macam jihad. Beliau berjihad di dalam menyembah Allah dengan sebenar-benarnya, dengan hati, dakwah dan penjelasan, pedang dan tombak waktu-waktu yang ada beliau habiskan untuk jihad dengan hatinya, lisannya dan tangannya”27

Menurut Ibnu Qayyim ada 3 macam jihad yaitu : 1. Jihad terhadap orang-orang munafik

Jihad terhadap orang munafik lebih sulit dari pada jihad terhadap orang-orang kafir.Jihad ini merupakan jihad orang-orang khusus umat dan para pewaris Rasul.Orang-orang yang ikut serta di dalamnya walaupun jumlah mereka sedikit adalah orang-orang yang paling agung darajatnya di sisi Allah.28

2. Jihad mengatakan kebenaran

Ketika jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran dihadapan orang-orang yang sangat berlawanan, seperti kamu mengatakan kebenaran di hadapan orang yang kamu takuti kekuasaan dan kezhaliman-nya, maka para Rasul adalah orang-orang yang paling banyak melakukan jihad ini. Dan Nabi kita Muhammad SAW telah melakukan jihad ini dengan cara yang paling sempurna.29

3. Jihad melawan hawa nafsu

Ketika jihad terhadap musuh-musuh Allah di luar cabang dari jihad hamba terhadap nafsunya dalam beribadan kepada Allah SWT sebagaimana disabdakan Nabi SAW “Orang yang berjihad adalah orang yang berjihad

27

Yusuf Al-Qaradhawi, Ringkasan Fikih Jihad, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2011) hal 121 28

Qardhawi, Ibid, h.127 29

(30)

melawan nafsunya dalam taat kepada Allah dan orang yang berhijrah adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah SWT”

Maka jihad melawan hawa nafsu di dahulukann atas jihad melawan musuh di luar dan menjadi pokok baginya. Hal itu karena seseorang yang tidak mampu berjihad untuk melawan hawa nafsunya terlebih dahulu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang, maka ia tidak dapat berjihad untuk melawan musuhnya di luar.

Allah SWT memberi pembelaan kepada orang-orang yang beriman saat mereka memerangi musuh-musuh Allah yang memerangi mereka.Allah tidak membiarkan mereka hanya bertumpu pada kekuatan dan persiapan mereka saja.Tetapi Allah mendukung memberikan bantuan dan menolong mereka atas musuh-musuhnya. Sebab sunah Allah swt, menetapkan bahwa Ia akan menolong orang-orang yang beriman dan memenangkan Al-Haq atas yang batil. Kita tidak akan mendapati sunnah Allah itu berubah, meskipun pertolongan Allah nampak amat jauh, namun ia pasti akan datang. Akan tetapi, kebanyakan manusia tergesa-gesa memetik dan menikmati hasil.Dan manuisa diciptakan dengan membawa sifat suka tergesa-gesa.30

Allah SWT, telah mensyari‟atan, agar kaum mukminin melawan orang-orang yang berkata zhalim dan tidah ridha terhadap kezhaliman yang menimpa mereka. Yang demikian itu, karena Allah telah menetapkan bahwa Izzah kemuliaan itu hanya bagi-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, seorang muslim tidak sepatutnya menerima kezhaliman, kehinaan, dan kerendahan dari musuhnya, siapapun musuh itu dan betapapun kekuatannya, kekuasaannya, kelengkapan perbekalannya serta banyaknya prajurit yang mendukungnya. Sebab kaum muslimin dengan keimanan mereka, kebersamaan Allah dengan mereka dan janji kemenangan yang diberikan oleh Allah buat mereka adalah lebih kuat dari musuh manapun.

30

(31)

E. Bantuk-bentuk Jihad a. Jihad Harta

Jihad harta adalah mengeluarkan segala sesuatu yang dimiliki dan mendatangkan manfaat, berupa benda ataupun jasa-jasa, dalam rangka jihad menegakkan kalimat Allah. Misalnya, bila sesorang membelanjakan uangnya untuk keperluan membangun masjid ataupun sekolah Islam, ia mengeluarkan harta yang berbentuk benda secara langsung yaitu uang. Harta adalah ujian, apakah dengan diberikannya harta yang berlimpah kepada manusia menjadikannya sebagai manusia yang bersyukur atau ingkar, oleh sebab itu manusia diuji untuk bisa menahan hawa nafsunya agar menggunakan harta di jalan yang benar.31

b. Jihad Jiwa

Jihad dengan jiwa meliputi beberapa bagian yaitu : 1. Jihad jiwa dengan tangan

2. Jihad jiwa dengan lisan 3. Jihad jiwa dengan hati32

c. Jihad Pendidikan dan Pengajaran

Adalah proses perjuangan menegakkan kalimat Allah dengan menggunakan sarana pendidikan dan segala macam perlengkapannya. Dalam hal ini jihad pendidikan diartikan sebagai proses transformasi pengetahuan secara sempurna dan menyeluruh, termasuk teladan moral sang pendidik. Tidak hanya pemberian keilmuan saja, melainkan menyangkut segala aspek yang diperlukan dalam rangka membentuk pribadi-pribadi muslim yang komit pada ajaran Islam, berwawasan luas, dan memiliki ilmu yang bermanfaat menurut spesialisnya, baik secara formal di lembaga-lembaga pendidikan maupun secara informal di majelis-majelis keilmuan yang diadakan untuk memenuhi keperluan kaum muslimin.

31

HIlmy Akbar Almascaty, Panduan Jihad untuk Aktivis Gerakan Islam, ( Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h, 37

32

(32)

Perlu dijelaskan bahwa system pendidikan Islam yang dapat dikategorikan telah menjalankan jihad fii sabilillah adalah apabila seluruh sistemnya berlandaskan ajaran Allah swt dan Rasul-Nya secara sempurna, system pendidikan yang akan melahirkan pribadi-pribadi muslim yang akan memperjuangkan tegaknya Islam dalam segala aspek kehidupan dengan spesialis keilmuannya kejayaan umat Islam senantiasa menjadi tujuan tertingginya melebihi segala bentuk tujuan duniawi.33

d. Jihad Politik

Jihad politik adalah perjuangan di jalan Allah untuk menegakkan tatanan pemerintahan Islam yang di ridhai Allah, karena politik yang dimaksudkan disini hanya sebatas usaha-usaha pribadi ataupun lembaga untuk memperoleh kekuasaan atau pemerintahan yang dikehendakinya.34

(33)

e. Jihad Pengetahuan

Pada abad pengetahuan dan teknologi sekarang ini umat muslim dihadapkan pada peperangan ilmu pengetahuan dan untuk mendapatkan pengetahuan itu memerlukan jihad, karena jihad pengetahuan, jika tidak berlebihan, sama pentingnya dengan jihad bersenjata pada masa lalu. Peperangan modern tidak hanya mengandalkan senjata saja, tapi lebih mengandalkan pengetahuan dan teknologi. Mereka yang menguasai pengetahuan dan teknologi akan menjadi penentu dunia, walaupun jumlahnya kecil.

Dalam perjuangan menegakkan pemerintahan berlandaskan ajaran Islam yang akan mendaulatkan kekuasaan Allah di muka bumi, diperlukan politisi ulung, juga diperlukan orang-orang yang memiliki pengetahuan khusus seperti informasi, manajemen dan financial. Begitupula dengan perang bersenjata, diperlukan tenaga ahli yang menguasai taktik atau strategi, teknologi informasi, persenjataan, bahan peledak, manajemen dan lainnya, dan yang lebih diutamakan adalah keunggulan pengetahuan dn teknologi. 35

F. Status Hukum Jihad

Ulama fiqh membagi fiqh ke dalam dua bagian besar, yaitu ibadah dan muamalah. Yang dimaksud dengan ibadah adalah segala amalan yang diwajibkan oleh Allah swt di dalam Al Qur‟an dan diterangkan di dalam hadist Nabi Muhammad saw, dipahami oleh ummat Islam sebagai rukun-rukun dan dasar-dasar agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan mua‟amalah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan kehidupan, baik berkaitan dengan individu (seperti halal dan haram),

35

(34)

keluarga (nikah, waris, talak, wasiat), masyarakat dalam bentuk aktivitas sipil, perdagangan dan Negara (seperti tanggung-jawab, syarat, hak, kewajiban pemimpin), umat (seperti persatuan, negeri, aturan hukum syari‟at, serta hubungan dengan Negara lain).36

Berbicara masalah hukum, ulama fiqih sepakat bahwa hukum jihad adalah wajib, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang kapasitas hukum kefardhu-annya. Di dalam kitab Bidayataul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd diterangkan bahwa jumhur ulama sepakat hukum jihad adalah fardhu kifayah. Argument yang menjadi pegangan terhadap pendapat para ulama dalam menetapkan hukum jihad adalah firman Allah:

























Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Mengenai fardhu kifayah jihad, yakni apabila sebagian atau sekelompok orang telah melaksanakan jihad maka yang demikian itu sudah menutupi atau menggugurkan kewajiban jihad bagi seluruh orang yang ada. Alasan ini disandarkan pada firman Allah swt dalam surat at-Taubah ayat 122 sebagai berikut:







































Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan

36

(35)

kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Beberapa ulama fiqih menyebutkan batasan tentang kewajiban perang dengan fardhu kifayah, yaitu jika pemimpin merasa yakin ia memiliki kekuatan yang bisa menyamai musuh. Jika tidak, mereka (musuh) tidak boleh diperangi karena hal tersebut bisa membahayakan orang-orang Islam. Para ulama fiqih juga menerangkan hal lain yang sangat penting seputar fardhu kifayah, yaitu kewajiban jihad akan gugur jika sebagian orang dari suatu Negara itu sendiri yang melakukannya. Ibnu al Qayyim juga berkomentar seputar hukum jihad, menurut beliau jihad adalah fardhu „ain, baik dilakukan dengan hati, lisan, harta atau tangan, menurutnya jihad menjadi fardhu „ain apabila dalam keadaan tertentu seperti, musuh menyerang negeri Muslim, ketika imam memerintahkan jihad kepada seseorang atau kelompok tertentu, kebutuhann pasukan Muslim, dan ketika terjun dalam peperangan.37

G. Metode Pendidikan Jihad

a. Metode Dramatisasi

Kegiatan drama atau ekspresi pada umumnya disenangi peserta didik. Biasanya mereka akan merasa senang bila disuruh memperagakan sebuah cerita, sajak, atau suatu tingkah laku social maupun kejadian, disini siswa diajarkan dan diberi tahu mengenai peristiwa-peristiwa perang dan jihad yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan nabi-nabi sebelumnya.

b. Metode Qishas

Metode qishah, kisah atau cerita pada zaman Rasulullah digunakan sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu

37

(36)

masalah. Kisah-kisah yang berasal dari Rasulullah saw dan sahabat selalu lengkap karena mengandung sekian banyak manfaat dan sekian masalah. Kisah perjuangan dan jihad pada masa Rasulullah saw diajarkan dan di ceritakan kepada peserta didik agar mereka mengetahui bagaimana jihad pada zaman Rasulullah saw dan para sahabat.38

c. Metode Diskusi

Metode diskusi ini digunakan agar peserta didik dapat berargumentasi dan memberikan pendapat mereka mengenai fenomena jihad yang terjadi belakangan ini, tidak lupa pula guru diakhir diskusi dapat memberikan kesimpulan dan memberikan jawaban yang benar dari jawaban-jawaban dan argument peserta didik yang sedikit melenceng atau salah.39

d. Metode Keteladanan

Adalah suatu metode pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada peserta didik, baik di dalam ucapan maupun perbuatan.40 Keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang diterapkan Rasululah saw dan paling banyak pengaruhnya terhadap keberhasilan penyampaian misi dakwahnya. Hal ini disebabkan karena secara psikologis anak adalah seorang peniru. Peserta didik cenderung meneladani gurunya dan menjadikannya sebagai tokoh identifikasi dalam segala hal

e. Metode Pembiasaan

Pembiasaan menurut M.D Dahlan, merupakan “proses penanaman kebiasaan, sedangkan kebiasaan ialah cara-cara bertindak yang uniform dan hamper otomatis (tidak disadari oleh pelakunya)”.41

38

Drs. Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, ( PT Remaja Rosda Karya : Bandung, 2005), h.235

39

Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, ( PT Remaja Rosda Karya : Bandung, 2005), h.231

40

Syahidin, Metode Pendidikan Qurani: Teori dan Aplikasi, ( Jakarta: Misaka Galiza, 1999), h.135

41

(37)

Pembiasaan tersebut dapat dilakukan untuk membiasakan tingkah lakum keterampilan, kecakapan dan pola piker.Pembiasaan ini bertujuan untuk memudahkan peserta didik dalam melakukannya. Karena seseorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu akan dapat melakukannya dengan mudah dan senang hati. Bahkan sesuatu yang telah dibiasakan dan akhirnya menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit diubah dan akan tetap berlangsung sampai tua.

f. Metode „Ibrah

Secara sederhana, ibrah berarti merenungkan dan memikirkan.Dalam arti umum dapat di artikan dengan “mengambil pelajaran dari setiap peristiwa”. Abdurrahman an-Nahlawi mendefinisikan ibrah sebagai suatu kondisi psikis yang menyampaikanmanusia untuk mengetahui intisari dari suatu peristiwa yang disaksikan, diperhatikan, diinduksikan, dipertimbangkan, diukur dan diputuskan secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati untuk tunduk kepadanya, lalu mendorongnya kepada perilaku berpikir social yang sesuai.42

42

(38)

26

METODOLOGI PENELITIAN

A. Objek dan Waktu Penelitian

Objek yang dibahas pada penelitian ini adalah pendidikan jihad yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur‟an khususnya yang terkandung dalam surat al -Baqarah 190-193 dan surat at-Taubah ayat 122. Sedangkan waktu penelitian dilakukan selama…bulan terhitung dari bulan…..sampai dengan bulan…2014

B. Fokus penelitian

Berdasarkan judul, maka penulis memfokuskan pada konsep pendidikan jihad yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 190-193 dan surat at-Taubah ayat 122 yang sifatnya mendeskripsikan dan menganalisa tentang pendidikan jihad dalam surat al-Baqarah ayat 190-193 dan surat at-Taubah ayat 122

C. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data penelitian kualitatif dengan menggunakan metode konten analisis dengan menggunakan teknik analisis kajian melalui studi kepustakaan (Library Reseach).

D. Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini berasal dari literatur-literatur yang berkaitan dengan tema dalam penelitian ini. Sumber-sumber tersebut terdiri dari data primer, yaitu kitab suci al-Qur‟an dan kitab-kitab tafsir al-Qur‟an yang menjelaskan ayat190 -193 surat Al-Baqarah, di antaranya:

(39)

2. Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, 3. Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka,

4. Tafsir Al-Qurthubi karya Syekh Al-Qurthub 5. Tafsir Al-Maragi karya Ahmad Mustafa Al-Maragi 6. Tafsir Ibnu Katsir karya Muhammad Nasib ar-Rifa‟i

Dan data sekunder, yaitu dari buku-buku yang membahas mengenai Jihad, diantaranya:

1. Ringkasan Fiqh Jihad karya Yusuf Qardhawi,

2. Fiqh Rekonsiliasi dan Reformasi Menurut Hasan Al-bana karya Ali Abdul Halim Mahmud,

3. Renungan Santri; Dari Jihad Hingga Kritik Wacana Agama karya Rumadi, 4. Jihad fi Sabilillah dan Tantangan-Tantangannya karya Abdul Qadir Jaelani. 5. RUKUN JIHAD karya Ali Abdul Halim Mahmud, Fiqh Rekonsiliasi dan Reformasi

Menurut Hasan Al-bana.

6. Krisis Islam karya Bernard Lewis

E. Metode Penelitian

Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis metode tafsir tahlili, yaitu metode penafsiran ayat-ayat Al-Qur‟an yang dilakuan dengan cara mendeskripsikan uraian-uraian makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qu‟an dengan mengikuti tertib susunan/urutan surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur‟an itu sendiri dengan sedikit banyak melakukan analisis di dalamnya. Metode tafsir tahlili juga bisa disebut dengan metode tajzi’I tampak merupakan metode tafsir yang paling tua usianya.43

43

(40)

Metode tahlili merupakan metode paling tua.Metode ini paling banyak dipakai para mufassir klasik, namun di masa sekarang pun tafsir model ini masih dominan. Tafsir tahlili menonjolkan pengertian dan kandungan lafadz, hubungan ayat dengan ayat, sebab-sebab nuzulnya, hadis-hadis Nabi, aqwal sahabat atau tabi‟in, dan pendapat mufassirin lainnya yang ada kaitannya dengan ayat-ayat yang akan diterangkan artinya tersebut.

Lebih rinci lagi, Abd al-Hayy al-Farmawy mengakatakan bahsa tafsir tahlili adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur‟an dari seluruh aspeknya.Di dalam tafsirnya, penafsir mengikuti urutan ayat, membahas mengenai asbabun nuzul dan dalil-dalil yang berasal dari Rasu, sahabat atau tabi‟in yang kadang-kadang bercampur baur dengan pendapat penafsir sendiri dan diwarnai oleh latar belakang pendidikannya.44

Dalam melakukan penafsiran, mufassir memberikan perhatian sepenuhnya atas semua aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannnya dengan tujuan menghasilkan makna yang benar dari setiap bagian ayat.Berbagai aspek yang dianggap perlu oleh seorang mufasir tajzi’iy/tahlily diuraikan, yang tahapan kerjanya yaitu dimulai dari:

1. Bermula dari kosakata yang terdapat pada setiap ayat yang akan ditafsirkan sebagaimana urutan dalam Al-qur‟an, mulai dari Surah Al Fatikhah hingga Surah An-Nass,

2. Menjelaskan asbabun nuzul ayat ini dengan menggunakan keterangan yang diberikan oleh hadist (bir riwayah)

3. Menjelaskan makna yang terkandung pada setiap potongan ayat dengan menggunakan keterangan yang ada pada ayat lain,atau dengan menggunakan hadist Rasulullah SAW atau dengan menggunakan penalaran rasional atau berbagai disiplin ilmu sebagai sebuah pendekatan

44

(41)

4. Menarik kesimpulan dari ayat tersebut yang berkenaan dengan hukum mengenai suatu masalah, atau lainnya sesuai dengan kandungan ayat tersebut Analisis metode tahlili yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini, yang membahas surat Al-Baqarah ayat 190-193 dan surat At-taubah ayat 122 yang berkaitan dengan jihad, maka penulis menganalisis penjelasan mengenai pendidikan jihad yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut dengan mencari sumber-sumber yang dapat menjelaskan makna dan penafsiran dari Surat Al-Baqarah ayat 190-193 dan surat At-Taubah ayat 122.

F. Metode Penulisan

(42)

30

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 190-193 DAN SURAT

AT-TAUBAH AYAT 122

A. Surat Al-Baqarah 190-193

Ayat 190-193 surat Al-Baqarah adalah ayat pertama yang turun menyangkut perintah berperang, yang sebelumnya turun ayat izin berperang, yaitu firman Allah swt yang berarti, “Telah diizinkan (berperang) bagi

orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya” (QS. Al-Hajj:99)45

1. Teks Ayat dan Terjemah Surat Al-Baqarah 190-193





   

     

  

   

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu.jika mereka

45Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir Ath

(43)

memerangi kamu (di tempat itu), Maka bunuhlah mereka. Demikanlah Balasan bagi orang-orang kafir.

Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

2. Tafsir Mufradhat

 / fii sabiili Allahmenurut bahasa kalimat ini terdiri dari 3 kata

dan berarti di, berarti jalan46 yaitu di jalan Allah. Berasal dari kata yang berarti banyak jalan47, dan banyaknya jalan menyebabkan manusia harus selalu berhati-hati jangan sampai terjerumus ke jalan yang sesat carilah jalan yang lurus yang tidak berliku-liku agar selamat yaitu di jalan Allah yang telah ditentukan oleh-Nya.48Pengertian Fii Sabilillah dalam makna khusus adalah menolong agama Allah swt, memerangi musuh-Nya, dan menegakkan kalimatullah di bumi ini, sehingga tidak terjadi lagi fitnah diantara kaum Muslim.49Kata ini adalah salah satu Istilah khusus dalam literature Islam.Setiap perbuatan yang dilakukan manusia, baik perbuatan lahir maupun batin merupakan manifestasi dari gerak, dan bahwa setiap gerak meniscayakan adanya tujuan dan arah.Apabila arah dan tujuan gerak tersebut berakhir pada kesempurnaan manusia, maka hal tersebut barada dalam lingkup kebenaran, kebaikan, dan kebahagiaan manusia. Berdasarkan atas apa yang ditetapkan Islam bahwa kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki manusia hanya ditentukan oleh kedekatan dan ketaatan mutlak

46

Adib Bisri, Kamus Al-Bisri, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1999) h.313

47

M. Ibnu Mandhur, Lisanun ‘Arab, ( Lebanon : Dar Sader Publisher, 1997) Jilid 3 1 h 320

48

M. Quraish Shihab, Lentera Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 2008) hal 53

49

(44)

kepada Allah swt. Maka Islam hanya mengesahkan dan melegitimasi gerakan yang mempunyai tujuan benar untuk kebaikan manusia karena hanya manifestasi kebenaranlah yang akan semakin mendekatkan manusia kepada Allah swt. Ini karena ketika manusia melakukan segala bentuk aktivitas, perbuatan, dan perilaku yang didasarkan pada kebenaran, maka dapat dipastikan bahwa semua itu berujung kepada kedekatannya dengan Allah swt.50

, merupakan fi’il nahyi yang berarti sebuah larangan agar tidak melampaui batas. Kata tersebut menurut bahasa diambil dari kata د َاع, defiasi dari kata ini adalah yang berarti musuh , berarti melampau batas berarti permusuhan, berarti melanggar batasan-batasan Allah, orang-orang yang melanggar apa yang diperintahkan dan dibataskan kepadanya. Dalam hal ini asal kata ta‟tadu memiliki arti melanggar apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya, melanggar batasan-batasan yang telah Allah tentukan51, dimana dalam suatu pelanggaran akan menimbulkan permusuhan, oleh sebab itu Allah tidak menyukai mereka yang melampaui batas. Makna ini juga menyimpulkan tentang orang-orang yang dzalim, mereka yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, /adzaalimin

,

berasal dari kata , menurut bahasa berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya52,yang berati orang yang berbuat aniaya .Adapun yang dimaksud adalah orang yang berlaku tidak adil dan sewenag-wenang.Juga bisa diartikan orang yang mempunyai sikap atau tindakan yang tidak manusiawi dan menyimpang dari kebenaran. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.53

50

Mishbah Yazdi, Perlukah Jihad? Meluruskan Salah Paham tentang Jihad dan Terorisme, ( Jakarta : Al-Huda, 2006) hal 137-138

51

Mandhur, op. cit., h, 420

52

Bisri, op. cit., h.520

53

(45)

/

alfitnah berasal dari kata yang menurut bahasa berati menarik hati.54Fitnah juga dapat diartikan menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama. Fitnah berarti bencana dalam Q.S Al-Maidah ; 71 , fitnah berarti membuat isu yang membahayakan orang lain dalam Q.S al-Baqarah ; 191, fitnah berarti cobaan atau ujian dalam Q.S al-Anfal ; 28, fitnah juga berarti siksaan seperti dalam Q.S al-Anfal ; 25, dan Q.S al-Mudassir ; 31. Kemusyrikan mereka (orang-orang kafir) lebih besar dan hebat dosanya daripada pembunuhan yang mereka timpakan.Fitnah juga memiliki arti kesesatan, aib, dan tuduhan.Tuduhan dalam arti ini adalah tuduhan yang ditujukan kaum kafir kepada ummat Islam agar mereka murtad dari ajaran Islam dan mengikuti ajaran mereka.Fitnah juga berarti kekacauan, bencana dalam ayat ini fitnah berarti syirik kepada Allah lebih besar bahayanya dari membunuh.55Menurut penulis Fitnah berarti kemusyrikan atau menarik hati dari keyakinan dan kepercayaan terhadap Islam.

alqatl berasal dari kata yang berarti membunuh56 ayat ini pembunuhan diartikan sebagai jihad dalam bentuk perang melawan orang-orang kafir yang menganiaya atau memfitnah ummat Muslim. Sehingga menimbulkan kerusuhan dan kemurtadan.Pembunuhan yang dimaksud adalah peperangan yang yang dilakukan untuk memerangi sekutu yang memerangi terlebih dahulu.57

intahau

,

yang berarti berhenti, yang dimaksud berhenti adalah berhenti dari memerangi kamu atau memusuhi kamu. Dalam ayat ini berarti jika mereka bertaubat.58

Bisri, loc. cit, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1999) h.585

57

Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2007), jilid ke-2 h 787

58

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (89 pages)