Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011 – Desember 2013

 5  157  76  2017-04-10 15:48:04 Report infringing document

Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011-Desember 2013 Oleh: GOLDA ASINA MIRANDA 110100360

  Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011-Desember 2013 Oleh: GOLDA ASINA MIRANDA 110100360 ABSTRAK Retinoblastoma (RB) adalah suatu penyakit keganasan pada lapisan retina mata, yaitu bagian mata yang paling peka terhadap cahaya. Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember2013 sebanyak 46 orang.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

  Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember2013 sebanyak 46 orang. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan program SPSS dan dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik.

KATA PENGANTAR

  M (K), selaku dosen pembimbing penulis yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pemikirannya dalammembimbing dan mengarahkan penulis, mulai dari awal penyusunan penelitian, pelaksanaan di lapangan, hingga selesainya laporan hasilpenelitian ini.3. Sahabat-sahabat penulis yang telah banyak membantu dalam dukungan, motivasi, dan masukan yang sangat membantu penulis dalammenyelesaikan laporan penelitian ini.

DAFTAR SINGKATAN

  Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember2013 sebanyak 46 orang. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan program SPSS dan dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Penelitian di RSCM melaporkan bahwa leukemia merupakan jenis kanker yang terbanyak pada anak (30-40%), kemudian disusul tumor otak (10-15%), dan kankermata/retinoblastoma (10-12%); sisanya kanker jenis lain seperti kanker getah bening, kanker saraf, dan kanker ginjal pada anak (Siswono, 2001 dalamChandrayani, S., 2009). Manifestasi klinis tersebut masih terlalu umum sehingga diperlukan pemeriksaan Di negara-negara maju, dimana tingkat pendidikan yang tinggi, sarana kesehatan yang memadai, dan keadaan sosioekonomi yang baik, kasus RB dapatdidiagnosis lebih awal dengan manifestasi klinis yang masih dalam tahap dini.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Retina

2.1.1. Anatomi Retina

  Tebal retina rata-rata 250 µm, paling tebal pada area makula dengan ketebalan 400 µm, menipis pada fovea dengan ukuran 150 µm,dan lebih tipis lagi pada ora serrata dengan ketebalan 80 µm (Vaughan & Asburry’s general ophthalmology, 2007). Arteri siliaris memberikan vaskularisasi pada lapisan luar dan tengah, termasuk lapisan pleksiform luar, lapisan fotoreseptor, lapisan inti luar, dan lapisanepitel pigmen.

2.1.2. Histologi Retina

  Permukaan luar retina berhubungan dengan koroid, sedangkan permukaan dalamnya berhubungan dengan badan vitreous. batang dan kerucut3.

2.1.3. Fisiologi Retina

  Komposisi sel kerucut lebih banyakpada bagian makula (fovea) dan sedikit pada bagian perifer, sedangkan sel batang densitasnya tinggi pada bagian perifer dan sedikit pada bagian makula (fovea). Selkerucut berfungsi untuk melihat warna dan saat siang hari sehingga fovea Retina juga memiliki lapisan neural yang terdiri dari sel bipolar, sel ganglion, sel horizontal, dan sel amakrin.

2.1.4. Fisiologi

  Keadaan cGMP yangmenurun merangsang penutupan dari kanal natrium sehingga membran mengalami hiperpolarisasi dan neurotransmitter tidak bisa keluar. Impuls inikemudian dihantarkan ke korteks visual bagian oksipital (area 17 dan 18) dan dipersepsikan sebagai informasi visual (Ganong, W.

2.2. Retinoblastoma

  Penyakit RB terjadi akibat mutasi pada kedua buah alelgen RB1 yang terletak pada kromosom 13q14 (Etter & Bansal dalam AAO, 2005). Progesifitas tersebutdisebabkan oleh hilangnya kedua buah alel gen RB1 pada retina yang diikuti dengan perubahan jumlah sel onkogen, seperti MYCN (2p24.3), E2F3 dan DEK (6p22),KLF14 (7q32), dan MDM4 (1q32), juga tumor-suppressor gene CDH11(16q21) dan p75NTR (17q21) (Kandalam, M., dkk., 2010).

2.2.3. Faktor risiko

  Anak dengan orang tua yang mempunyai riwayat RB bilateral mempunyai risiko 45%, sedangkan anak dengan orang tua yang mempunyai riwayat RB unilateralmempunyai risiko 7,5% untuk mengalami RB. Adam Malik periode 1999-2003, dari total 32 pasien, dijumpai ada 13 (40,6%) pasien RB dengan malnutrisi berat, 9 (28,1%) pasien RB denganmalnutrisi sedang, dan 2 (6,3%) pasien dengan malnutrisi ringan, dan hanya 8 (25%) pasien RB dengan status gizi normal (Nafianti, 2006).

2.2.4. Patogenesis

  Ketika gen ini diinaktivasi, sinyalgenetik yang normalnya menghambat proliferasi sel dirusak sehingga menyebabkan pertumbuhan yang tidak normal dari sel. a) Teori mutasi gen RB1RB1 mengkode protein Rb, dimana fungsinya adalah sebagai tumor- suppressor oncogene, dengan cara mengontrol siklus sel melalui interaksi kompleks dengan beberapa enzim kinase.

INK4A

  Pada kasus sporadic (40% kasus), mutasi pertama dan kedua adalah mutasisel non germinal (sel somatik) yang mengakibatkan RB unilateral dan unifokal(Othman, I. Patogenesis mutasi gen RB1 sel germinal dan sel non- germinal (somatik) Sumber: Yeole & Advani, 2001 c) Teori radikal bebas 2 ) dan hidrogen peroksida (H 2 O 2 ) memberikan peran penting terhadap inisiasi dan progresi dari karsinogenesis.

2.2.5. Klasifikasi

  b) Mutasi herediter (riwayat keluarga)Bentuk mutasi herediter terjadi karena dua buah sel mengalami mutasi, yaitu mutasi pertama pada sel germinal kemudian diikuti mutasi kedua pada sel nongerminal (sel somatik) pada gen RB1. 2006)Berdasarkan arah perkembangannya, RB dapat diklasifikasikan menjadi (National Cancer Institute of Spain, 2013): a) Intraokular RB (endophytic)Intraokular RB terlokalisasi hanya di dalam mata mencakup retina atau bisa memanjang sampai melibatkan koroid, badan siliar, anterior chamber, dan nervusoptikus.

2.2.6. Diagnosis

  Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo, dari 64 pasien RB baru, leukokoria ditemui sebanyak 19 pasien (30%), leukokoria disertai proptosis sebanyak 41 pasien (64%), buftalmos 2 pasien (3%), dan mata merah 2 pasien (3%) (Asih, dkk., 2009). Adam Malik Medan, dari total 61 pasien(53 unilateral dan 8 bilateral), gejala klinis terbanyak adalah proptosis yang ditemui sebanyak 40 kasus (54,1% pada unilateral RB dan 11,4% pada bilateral RB)(Rosdiana N., 2011).

2) Computed Tomography (CT) scan

  Tes ini dapat memberiketerangan mengenai ukuran massa RB dan bagaimana penyebarannya di dalam dan Gambar 2.12. CT scan orbital pada pasien RB dengan penyeberan intrakranial Sumber: Pandey, A.

3) Magnetic Resonance Imaging (MRI)

  Pemeriksaan MRI menggunakan magnet untuk menghasilkan potongan gambar jaringan yang lebih spesifik dibandingkan CT scan. Tes MRI sangat bergunajika ada kecurigaan metastasis ekstraokular (sering pada metastasis intrakranial) dimana anak datang dengan tekanan intrakranial yang meningkat dan dicurigaiadanya trilateral retinoblastoma (Parulekar, 2010).4) Biopsi Biopsi pada RB tidak dilakukan sebab dapat memicu rusaknya jaringan tumor sehingga tumor dapat menyebar lebih cepat (American Cancer Society, 2013).

2.2.7. Penatalaksanaan

  Strategi manajemen tata laksana RB tergantung dengan tingkat keparahannya, seperti intraokular RB, RB dengankarakteristik risiko tinggi, orbital RB, dan metastasis RB (Pandey, 2013). a) EnukleasiEnukleasi merupakan pilihan tata laksana untuk intraokular unilateral RB dengan klasifikasi grup E yang melibatkan neovaskularisasi dari iris, glaukomasekunder, tumor invasif anterior chamber, tumor >75% volum vitreous, tumor nekrosis dengan inflamasi sekunder orbital, tumor terkait hifema atau perdarahanvitreous, dimana karakteristik tumor tidak bisa dilihat, dan melibatkan satu mata(unilateral) (Pandey, 2013).

b) External beam radiation therapy (EBRT)

  EBRT merupakan pilihan tata laksana untuk RB bilateral tingkat lanjut, dimana ditemukannya bercak difus pada vitreous, pada pasien yang menolakdilakukannya tindakan enukleasi setelah gagalnya bentuk terapi konservatif lainnya. Eksistensi bola mata pada kelompok jangka waktu diagnosis >24 bulan lebih lama, penderita dengan jangka waktu diagnosis yang panjang datang dalam stadium lanjut dan memerlukan tindakanagresif berupa pengambilan bolamata sehingga menyebabkan prognosis buruk terhadap penglihatan dan kosmetik serta kelangsungan hidup.

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

  Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep adalah:Faktor: 1. Klasifikasi Retinoblastoma 5.

3.2. Definisi Operasional

  Sosiodemografi anak adalah suatu komponen variabel sosial dan demografi anak yang dinilai dari dua faktor, yaitu umur dan jeniskelamin. Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari indeks massa tubuh atau luas area permukaantubuh yang tercantum dalam rekam medik.

BAB 4 METODE PENELITIAN

  Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional (potong lintang), dengan tujuan untuk melihat karakteristik retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan. Teknik Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang didapat dari rekam medik pasien Retinoblastoma pada RSUP Haji AdamMalik Medan periode Januari 2011-Desember 2013 dimana data yang diperlukan dalam penelitian akan dicatat dan diuraikan berdasarkan kebutuhan peneliti.

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

5.1.1.1. RSUP H. Adam Malik

  2233/ Menkes/ SK/ XI/ 2011 dan juga sebagai Rumah Sakit Pendidikan yang memiliki visi sebagai pusat rujukan kesehatan untuk wilayah pembangunan Ayang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Bagian Rekam Medis terletak di lantai dasar tepat di belakang Poliklinik Obstetrik dan Ginekologi RSUP H.

5.1.2. Deskripsi Data Penelitian

  Distribusi Angka Kejadian Sampel Berdasarkan Tahun Tahun Jumlah Persentase (%) 2011 14 30,52012 11 23,92013 21 45,6 Jumlah 46 100 Berdasarkan tabel 5.1, dapat dilihat bahwa jumlah kasus terbesar terdapat pada tahun 2013 dengan jumlah sebanyak 21 kasus (45,65%), sedangkan jumlahkasus terendah pada tahun 2012 dengan jumlah sebanyak 11 kasus (23,91%). Sosiodemografi Orang Tua Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik faktor sosiodemografi orang tua dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.2.

5.1.2.3. Sosiodemografi Anak

  Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik faktor sosiodemografi anak dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.3. dapat dilihat bahwa distribusi sampel menurut usia dengan jenis kelamin sebagai berikut:a) Usia < 3 tahun memiliki frekuensi perempuan sebanyak 8 orang (36,4%) sedangkan laki-laki sebanyak 6 orang (25%).

5.1.2.4. Status Gizi

  Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik status gizi anak dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.5. dapat dilihat bahwa distribusi sampel menurut status gizi dengan frekuensi tertinggi pada status gizi kurang sebanyak 34 orang (73,9%),status gizi normal 12 orang (26, 1%), dan tidak ada anak dengan status gizi lebih.

5.1.2.5. Klasifikasi Retinoblastoma

  Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik klasifikasi Retinoblastoma dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.6. KlasifikasiRetinoblastoma dari segi arah perkembangan terlihat bahwa frekuensi tertinggi pada kelas ekstraokular sejumlah 38 kasus (82,6%), sedangkan intraokular dan campuranmemiliki frekuensi yang sama yaitu sejumlah masing-masing 4 kasus (8,7%).

5.1.2.6. Tingkat Keparahan

  Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik tingkat keparahan Retinoblastoma dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.7. dapat dilihat bahwa karakteristik Retinoblastoma dengan faktor tingkat keparahan memiliki frekuensi tertinggi pada stadium IV denganjumlah 41 kasus (89,1%), sedangkan stadium I sejumlah 4 kasus (8,7%), stadium III sejumlah 1 kasus (2,2%), dan stadium II tidak ada kasus.

5.1.2.7. Gejala Klinis

  Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik gejala klinis dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.8. dapat dilihat bahwa karakteristik Retinoblastoma dengan faktor gejala klinis memiliki frekuensi tertinggi pada mata menonjol sejumlah40 kasus (87%), sedangkan gejala klinis utama lainnya seperti cat eye sejumlah 3 5.1.2.8.

5.1.2.10. Outcome

  Distribusi pasien RB yang menjadi sampel penelitian berdasarkan karakteristik outcome dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.11. Distribusi Sampel Menurut OutcomeOutcome Jumlah Persentase (%) Hidup 45 97,8Meninggal 1 2,2 Jumlah 46 100 outcome dengan frekuensi tertinggi pada outcome hidup sejumlah 45 kasus (97,8%), sedangkan outcome meninggal sejumlah 1 kasus (2,2%).

5.2. Pembahasan

  Angka kejadian RB yang lebih tinggi pada kelompok usia 3-5 tahun diduga berhubungan dengan tingkat pendidikan dan kondisi sosioekonomi Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dijumpai bahwa pasienRetinoblastoma (RB) berjenis kelamin laki-laki sebanyak 24 orang (52,2%) dan perempuan sebanyak 22 orang (47,8%). Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma Berdasarkan Tingkat Keparahan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dijumpai karakteristikRetinoblastoma dengan faktor tingkat keparahan memiliki frekuensi tertinggi pada stadium IV dengan jumlah 41 kasus (89,1%), sedangkan stadium I sejumlah 4 kasus(8,7%) dan stadium III sejumlah 1 kasus (2,2%).

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  Insidensipasien retinoblastoma pada tahun 2011 dengan jumlah sebanyak 14 kasus(30,43%), tahun 2012 dengan jumlah sebanyak 11 kasus (23,91%), dan pada tahun 2013 sebanyak 21 kasus (45,65%). Karakteristik klinis dan faktor-faktor sosiodemografi pasien retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013 yaitu: a) Sosiodemografi orang tua dilihat dari status sosial yaitu terbesar pada kelompok menengah sebanyak 31 orang (67,4%), menengah bawahsebanyak 15 orang (32,6%), dan tidak orang tua dengan status sosial menengah atas.

6.2. Saran

  Rekam medik sebagai sumber data penelitian, sebaiknya lebih lengkap dan rapi dalam melampirkan unsur-unsur demografi, pelaporan hasilpemeriksaan, dan follow up yang dilakukan sehingga proses pengumpulan dan pengolahan data akan lebih mudah. Hal ini kiranyamengingatkan pihak-pihak yang berkaitan untuk melakukan edukasi dan tindakan preventif agar sekiranya pasien dibawa dalam keadaan klinisyang lebih awal, sehingga kebutaan dapat dicegah.

DAFTAR PUSTAKA

  Ocular Survival Rate Penderita Retinoblastoma yang Telah Dilakukan Enukleasi atau Eksenterasi di RSUD Dr. Gambaran Klinis dan Laboratorium Retinoblastoma.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSU..

Gratis

Feedback