Evaluasi Peruntukan Lahan Setelah Pelebaran Jalan Studi Kasus : Kecamatan Medan Sunggal (Tiap Kelurahan)

Gratis

13
551
93
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Tesis ini dapat selesai dengan baik berkat bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya khusus kepada : 1. Oleh karena itu, Penulis sangat berterima kasih atas seluruh saran, dan kritik dari berbagai pihak yangberkenan, sehingga tesis ini akan lebih sempurna dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu manajemen pembangunan kota khususnya bagi para pengambil bijaksanaan dankeputusan di kota Medan yang kita cintai ini.

RIWAYAT HIDUP

  70 IV.4a Luas Areal Pertanian dan Luas Panen Tanaman Pangan di Kecamatan Medan Sunggal Tahun 1995/2005 ......................................... 73 IV.4b Luas Areal Sawah menurut Tingkat Kecamatan dan Tingkat Pengairan di Kecamatan Medan Sunggal Tahun 1995/2005 ..........................................

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kota Medan dalam proses pembentukannya mengalami pertumbuhan dan

  Sehingga lahan tidur yang berada dikawasan pinggiran Kota Medan mengalami proses modernisasi pembangunan kota yang sedang berlangsung saat ini dan sebagai kawasan perumahan, perdaganganmaupun industri akan mengalami percepatan pembangunan. Dengan demikian Kota Medan memerlukan penataan kawasan dengan mengembangkan kawasan pinggiran Kota Medan yang berbatasan dengan KabupatenDeli Serdang.

I. 2 Permasalahan

  Tujuan dalam sistem transportasi untuk menyediakan fasilitas untuk pergerakan penumpang dan barangdari satu tempat ke tempat yang lain atau dari berbagai pemanfaatan lahan. Seiring dengan pengembangan jalan lingkar luar dan jalan penghubung di bagian Barat Kota Medan telah terjadi perubahan peruntukan lahan, salah satunya diwilayah Medan Barat khususnya Kecamatan Medan Sunggal.

I. 3 Tujuan dan Sasaran

  Berdasarkan tujuan tersebut diperoleh sasaranpenelitian, dengan mengevaluasi peruntukan lahan sebelum dan setelah pelebaran jalan dapat diketahui perubahan peruntukan lahan yang terjadi pada kawasantersebut. Berdasarkan tujuan tersebut dicapai sasaranpenelitian, dengan mengevaluasi penyebaran fasilitas sebelum dan setelah pelebaran jalan dapat diketahui perkembangan dan kebutuhan fasilitas padakawasan tersebut.

I. 4 Alur Pikir

  Input berisikan gambaran umum wilayah meliputi gambaran umum Kota Medan, kondisi fisik kota Medan, sejarah pertumbuhan kota Medan, arah danperkembangan fisik kota Medan, kondisi fisik Kecamatan Medan Sunggal. Proses berisikan evaluasi penyebaran dan kepadatan penduduk dari tahun 1995/2005, evaluasi penyebaran fasilitas dari tahun 1995/2005, evaluasi inventarisi jaringan jalan tahun 2001 dan 2003, evaluasi peruntukan lahan tahun 1995 dan2005, dan perubahan peruntukan lahan tahun 2005.

I. 5 Metode Pembahasan

  Bab IV Hasil Pembahasan memuat gambaran umum Kota Medan, kondisi fisik Kota Medan, sejarah pertumbuhan Kota Medan, arah dan perkembangan fisik Kota Medan, kondisi fisik Kecamatan Medan Sunggal, evaluasipenyebaran penduduk, evaluasi penyebaran fasilitas, evaluasi jaringan jalan, evaluasi peruntukan lahan dan perubahan peruntukan lahan, hasilpembahasan. Lingkup Penelitian Adapun lingkup penelitian ini adalah peruntukan lahan di Kecamatan Medan Sunggal yang dirinci tiap kelurahan.kegiatan tersebut.

1. Teori Sektor

  Teori ini dikemukakan oleh Humer Hoyt (1939) yang mengemukakan bahwa kota-kota tumbuh tidak dalam zona konsentrik saja, tapi dalam sektor-sektor denganjenis perkembangan yang serupa. Humer Hoyt mengidentifikasi 5 zonapenggunaan tanah perkotaan yaitu : Gambar II.2 Teori SektorSecara umum kedua teori diatas menggambarkan rangkaian perkembangan pola tata guna lahan pada kawasan perkotaan dari zona kosentrik menjadi sektor saatjaringan transportasi dan jalan raya memperpanjang pola penggunaan lahan dan berkembang pusat-pusat baru dengan berkembangnya transportasi dan ekonomi yangmenambah dimensi-dimensi baru terhadap penggunaan tanah.

2. Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)

  Suatu pandangan lain yang menunjukkan aplikasi gabungan antara teori konsentris dan sektor dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry Ford (1980) dalamartikelnya berjudul ”A model of Latin American city structure” dimuat dalam majalah Geographical Review, 1980 : 70 pp 397 - 422. Griffin - Ford menunjukkan model struktur keruangan internal untuk kota-kota di Amerika Latin, merupakan kombinasi unsur-unsur tradisional dan modern yang mengubah citra kotanya.

II. 2 Sistem Tataguna Tanah dan Transportasi

  Sebaran geografis antara tataguna tanah (sistem kegiatan) serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi (sistem jaringan) digabung mendapatkan volume danpola lalu lintas (sistem pergerakan) dan efek timbal balik terhadap lokasi tataguna 2) tanah yang baru dan perlunya peningkatan prasarana. Data penggunaan lahan yang terinci, analisa kepadatan (lahan pemukiman terbangun) dengan jarak dari pusat makin meningkat (Mieszkowski dan Smith, 1991,4) 184).

II. 3 Perhitungan Statistik

  Dalam pertumbuhan kota menggunakan perhitungan statistik yang berisikan informasi mengenai cara kota tumbuh dan berubah untuk direncanakan dan polapengaturannya. Kemudian dievaluasi meliputi penyebaran penduduk, fasilitas, jaringan jalan, peruntukan lahan, perubahan peruntukan lahan, sebelum dan setelah pelebaran jalandari tahun 1995/2005.2) Mengkaji secara teoritis untuk memperoleh landasan teori melalui penelitian pustaka dengan menggunakan beberapa literatur dan diktat catatan kuliah.

III. 1 Konsep Arah Pengembangan Kota Medan

1. Menurut RUTR Kota Medan Tahun 1995/2005

  Konsep arah pengembangan wilayah Kota Medan dengan konsep pembentukan struktur tata ruang yang membagi dan memanfaatkan wilayahfungsional kota (antar bagian wilayah dalam kota dan hubungannya dengan luar kota). Perubahan model Kota Medan dari satu pusat dengan enam sub pusat (versiRencana Induk Kota Medan tahun 1974-2000) menjadi satu pusat dengan empat sub pusat (versi Rencana Umum Tata Ruang Kota Medan tahun 1995-2005).

III. 2 Konsep Struktur Tata Ruang Kota Medan

  Konsep Struktur Tataguna Lahan Dengan pola kegiatan fasilitas, penggunaan lahan, konsep struktur wilayah fungsional maka konsep struktur tata ruang Kota Medan diarahkan pada :1) Konsep struktur tataguna lahan tradisional (pertanian/perkebunan, industri prosesing dan kawasan khusus, perhubungan, perdagangan, jasa, pariwisata,pelayanan sosial, bangunan umum, pemerintahan, perumahan/permukiman).2) Penyediaan lahan bagi kegiatan yang belum ditentukan (kegiatan campuran). Bentuk jaringan grid, ekonomis, pemanfaatan lahan sesuaiperkembangan jaringan utama Kota Medan sehingga optimal manfaatnya, kepadatan jaringan jalan kolektor sekunder kearah pinggiran rendah, pelayanan jalan 500-1.250m, jaringan jalan di pusat kota padat.

1. Asal Usul

  Kemudian surat Menteri Dalam NegeriNomor 140/2271/PUOD tanggal 5 Mei 1986 menjadi 144 kelurahan dari 11 kecamatan yaitu Medan Kota, Medan Timur, Medan Barat, Medan Baru, Medan Deli,Medan Labuhan, Medan Johor, Medan Sunggal, Medan Tuntungan. K/1996 tanggal 30 September 1996 tentang pendefenitipan 7 kelurahan di Dati-II Medan menjadi kecamatan Medan Tuntungan, Medan Johor, MedanAmplas, Medan Denai, Medan Tembung, Medan Kota, Medan Area, Medan Baru,Medan Polonia, Medan Maimon, Medan Selayang, Medan Sunggal, Medan Helvetia,Medan Petisah, Medan Barat, Medan Timur, Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Belawan, Medan Marelan, Medan Perjuangan.

3. Hari Jadi Kota Medan

  Hari jadi Kota Medan diperingati tiap tahun. Tetapi mendapat bantahan dari pers dan ahli sejarah sehinggawalikota membentuk panitia sejarah hari jadi Kota Medan melakukan penelitian dan penyelidikan.

IV. 2 Kondisi Fisik Kota Medan

1. Letak dan Wilayah Administrasi Kota Medan terletak antara 2 27’ - 2 47’ LU dan 98 35’ - 98 44’ BT

  Ketinggian Kota Medan 2,50 - 37,50 m diatas permukaan laut dengan kemiringan tanah 0–4%. Kota Medan merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan salah satu dari 25 Daerah Tingkat II Sumatera Utara dengan luas wilayahdaratan 26.510 Ha yang terdiri dari 21 kecamatan dengan batas-batas wilayah KotaMedan sebagai berikut : a.

2. Geologi, Iklim dan Suhu

  Kota Medan beriklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun Polonia antara 23,2 C - 24,1 C dan suhu maksimum 30,6 C - 33,9 C, menurut StasiunSampali suhu minimum antara 23,6 C - 24,8 C dan suhu maksimum antara 30 C - 33,4 C. Hari hujan di Kota Medan rata-rata per bulannya 17 hari dengan rata-rata curah hujan menurut Stasiun Sampali per bulannya 173,58 mm, dan pada StasiunPolonia perbulannya 184,33 mm.

IV. 3. Sejarah Pertumbuhan Kota Medan

  Tahun 1862, terlihat dua kutub pertumbuhan dipelabuhan laut Belawan dan pusat Kota Medan sekarang (dari pasar ikan berubah fungsi menjadi pasar ikan, daerah perkantoran dan perdagangan kota). Tahun 1992, pertumbuhan Kota Medan ke arah barat Kecamatan MedanHelvetia, Medan Sunggal, Medan Selayang, Medan Petisah dan Medan Baru seluas3.638,86 Ha, ke arah selatan Kecamatan Medan Johor seluas 845,33 Ha, ke arah timur Kecamatan Medan Timur, Medan Tembung, Medan Perjuangan, Medan Areadan Medan Kota seluas 2.519,93 Ha.

IV. 4 Arah dan Perkembangan Fisik Kota Medan

  Berdasarkansejarah umur dan kepadatan bangunan/lingkungan, unsur-unsur lingkungan kota yang menjadi daya tarik serta kendala-kendala fisik diduga perkembangan fisik KotaMedan bermula dari Kecamatan Medan Kota dan Medan Area yang merupakan daerah pusat kota saat ini. Akhir-akhir ini perkembangan mulai mengarah ke utara dan selatan dengan adanya pengembangan kawasan industri di utara dan kawasan perumahan di selatan.

1. Tinjauan Kebijakan

  Sehingga berdasarkan visi yang disepakati ditetapkan misipembangunan Kota Medan yaitu :1) Mewujudkan percepatan pembangunan wilayah lingkar luar dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan usaha kecil, menengah dan koperasiuntuk kemajuan dan kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat kota.2) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan birokrasi yang lebih efisien, efektif, kreatif, inovatif dan responsif. Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan Kota Medan diperlukan strategi pokok pembangunan kota yaitu strategi :1) Mengembangkan wilayah lingkar luar (border area).2) Mendorong peningkatan peran serta swasta dan masyarakat dalam pembangunan kota.

2. Kedudukan Kota Medan

A. Dalam Konstelasi Wilayah Ruang Internasional

  Pengembangan Kota Medan dan sekitarnya diarahkan sebagai pusatkegiatan sekunder dan tersier bagi Propinsi Sumatera Utara dengan fungsi utama : pusat pemerintahan propinsi, pusat perdagangan dan jasa regional, pusat distribusidan kolektor barang dan jasa regional, pusat pelayanan jasa pariwisata, pusat transportasi (darat, laut, udara regional), pusat pendidikan tinggi, pusat industri. Kota Medan dalam Konstelasi Mebidang Kota Medan terletak dalam konstelasi kota-kota di Mebidang yakni :1) Kota Binjai, merupakan persimpangan jalan menghubungkan Medan dengan Kota Banda Aceh, Stabat dan Bukit Lawang.

D. Kota Medan dengan Daerah Sekitarnya

  Kota Medan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan sumberdaya alam khususnya perkebunan dan kehutanan selain Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan,Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lainnya secara ekonomi diharapkan mengembangkan kerjasama dan kemitraan sejajar, saling menguntungkan, salingmemperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya. Posisi geografis Kota Medan, mendorongperkembangan kota dalam 2 kutub pertumbuhan secara fisik yaitu daerah terbangun Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.

IV. 5 Kondisi Fisik Kecamatan Medan Sunggal

  Berdasarkan surat keputusan Gubernur Dati-I Sumatera Utara Nomor138/28/K tahun 1984 tentang pembentukan 10 perwakilan kecamatan yakni Sunggal(Kelurahan Tanjung Rejo, Babura, Sei Sikambing B, Sunggal, Simpang Tanjung,Lalang) menjadi kecamatan induk dan perwakilan Kecamatan Medan Sunggal I (Kelurahan Tanjung Gusta, Cinta Damai, Sei Sikambing C-II, Dwikora, Helvetia). Kemudian SK Gubsu Nomor 138/402/K Tahun 1992 tentang penataan dan perubahan 10 perwakilan Kecamatan Medan Sunggal I menjadi perwakilanKecamatan Medan Helvetia.

2. Wilayah Administrasi Kecamatan Medan Sunggal merupakan salah satu kecamatan di Kota Medan

  Sebelah timur berbatasan Kecamatan Medan Baru dan Medan Petisah. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel IV.1 dan Gambar IV.4 berikut ini.

3. Topografi, Letak dan Jarak

  Kecamatan Medan Sunggal terletak antara 3 - 32’ LU, dan 98 - 38’ BT. Jarak tempuh setiap kelurahan dari kantor lurah ke kantor camat rata-rata 2,7 km yakni Tanjung Rejo 5 km, Babura 4 km, Simpang Tanjung 3 km, Sei SikambingB 1,5 km, Sunggal 1 km, dan Lalang 2 km.

IV. 6 Evaluasi Penyebaran Penduduk

  Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) jumlah penduduk yang besar menjadi modal, efektif bagi pembangunan masyarakat bila pengembangannyaberkualitas baik. Namun pertumbuhan yang pesat sulit meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan secara layak dan merata.

1. Jumlah Penduduk

  Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mengindahkan kelestarian sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan penyebaranpenduduk tercapai optimal berdasarkan keseimbangan jumlah penduduk, daya dukung, daya tampung lingkungan. Dari 15.305 jiwa tahun 1995 di Babura menjadi 10.384jiwa tahun 2005 dan di Simpang Tanjung dari 1.816 jiwa tahun 1995 menjadi 1.027 jiwa tahun 2005.

2. Kepadatan Penduduk

Berdasarkan hasil perhitungan data jumlah penduduk dan luas wilayah tiap kelurahan, terlihat pola distribusi kepadatan penduduk tahun 1995/2005 :

a) Kepadatan penduduk 84-256 jiwa/Ha di Tanjung Rejo, Babura, Lalang

  Pola komposisi kepadatan penduduk tahun 1995/2005, penurunan kepadatan penduduk di Babura dan Simpang Tanjung, peningkatan kepadatan penduduk diTanjung Rejo, Sei Sikambing B, Sunggal, Lalang, menunjukkan penduduk memilih tinggal di pinggiran kota yang lebih murah dibanding dekat pusat kota. 70 52 144 76 32 77 52 139 76 2005 85 128 32 69 52 137 75 2004 86 124 32 70 50 132 75 2003 86 122 32 68 49 130 73 2002 89 115 31 32 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel IV.2 berikut ini.

IV. 7 Evaluasi Penyebaran Fasilitas

  Kegiatan sosial biasanya dilakukan diluar belajar seperti belanja, rekreasi, olah raga, dan lain-lain. Bermacam-macam sarana dan kegiatan sosial sehari-hari.

1. Sarana Pendidikan

  Sehingga berhasil tidaknya pembangunan bangsa dipengaruhi tingkat pendidikan penduduk. Semakinmaju penduduk membawa pengaruh bagi masa depan berbagai bidang kehidupan.

A. Gedung Sekolah Dasar

  Tahun 1995/2005 di Kecamatan Medan Sunggal penyebaran gedung sekolah dasar (SD Negeri, SD Inpres, SD swasta), tiap kelurahan yakni tahun 2005 gedungSD terbanyak di Tanjung Rejo 13 unit dan sedikit di Simpang Tanjung hanya 1 unit. Gedung SLTA Penyebaran gedung SLTA tahun 1995/2005 di Kecamatan Medan SunggalSLTA Negeri (kejuruan dan umum) dan SLTA swasta (kejuruan dan umum) meningkat setiap tahun pada daerah tertentu namun di Babura tidak terdapat.

4. Ekonomi, Industri dan Perdagangan

  Pertumbuhan ekonomi dan pola produksi dan konsumsi berdampakpada isu-isu lingkungan dan kinerja lingkungan hidup. Pertumbuhan ekonomi juga memberi peluanguntuk mengalokasikan anggaran belanja publik untuk perkembangan lingkungan hidup, subsidi pada usaha yang mempunyai produk dan teknologi ramah lingkungan.

A. Perusahaan Industri Besar/Sedang, Kecil, dan Rumah Tangga

  Penyebaran eksisting perusahaan kecil dan rumah tangga di KecamatanMedan Sunggal tahun 1995/2005 meningkat, terbanyak tahun 2005 industri rumah tangga 50 unit di Lalang, Simpang Tanjung 1 unit, namun Babura tidak terdapat. Babura, Simpang Tanjung, Lalang tidak terdapat (Tabel IV.7 dan Gambar IV.7 terlampir).

B. Pasar dan Pertokoan

  Bengkel Sepeda Motor dan Mobil Penyebaran bengkel sepeda motor dan mobil di Kecamatan Medan Sunggal tahun 1995/2005 meningkat, terbanyak bengkel mobil 73 unit, terbanyak di Lalangsedikit di Simpang Tanjung. Tahun 2005 bank 11 unit, terbanyak di Simpang Tanjung, sedikit di Tanjung Rejo dan Sunggal, namun tidak terdapat di Babura dan Sei Sikambing B.

5. Fasilitas Rekreasi, dan Hiburan

  Rumah Makan/Restoran dan Warung Minum Penyebaran rumah makan/restoran dan warung minum di Kecamatan MedanSunggal tahun 1995/2005 tersebar merata disetiap kelurahan dan mengalami peningkatan setiap tahun. Panti Pijat Tradisional dan Praktek Dukun Patah Di Kecamatan Medan Sunggal tahun 1995/1997 hanya praktek dukun patah 3 unit di Tanjung Rejo, Sunggal, dan Lalang 1 unit.

IV. 8 Evaluasi Jaringan Jalan

  Menurut fungsinya jalan di Kota Medan terdiri dari jalan arteri primer, kolektor sekunder dan jalan tol. Jalan lingkar dan jalan tol membantu mengalihkan arus kendaraan menerus melalui pusat kota, mengurangi kepadatanvolume lalu lintas dalam kota dan merangsang pertumbuhan daerah pinggiran kota.

A. Rencana Pengembangan Transportasi

  6) Melengkapi rambu dan marka jalan dan membangun jalan alternatif.7) Membatasi lalu lintas angkutan berat masuk kota dan pelarangannya.8) Penyediaan lahan bangunan parkir di pusat kegiatan.9) Mengurangi kemacetan bertahap pada kawasan rawan macet. Moda Transportasi Moda transportasi umum di Kota Medan moda tranportasi darat, angkutan dalam kota (Sudako) dan transportasi roda tiga (becak mesin menggunakan tenagamesin, jangkauan pelayanannya seluruh kota, becak dayung menggunakan tenaga manusia jangkauan pelayanan lingkungan/kelurahan).

IV. 9 Evaluasi Peruntukan dan Perubahan Peruntukan Lahan

  Prinsip peruntukan lahan dengan pendekatan sistem ekologi Kota Medan merupakan :a. Hubungan fungsional antara manusia dan alam, terbentuk menghasilkan kelestarian alam dan perlindungan sumber daya alam (SDA)b.

A. Lahan untuk Pembangunan Kota

  20 20 12 Medan Baru 583,77 80 467,02 80 116,75 20 11 Medan Petisah 532,84 80 426,27 80 106,57 27 10 Medan Helvetia 1316,42 73 960,99 73 355,43 15 9 Medan Area 552,43 85 469,57 85 82,86 8 8 Medan Perjuangan 409,42 92 376,67 92 32,75 32 7 Medan Tembung 799,26 68 543,5 68 255,76 Tahun 1992 Kota Medan seluas 26.510 Ha terbagi atas kawasan terbangun dan belum terbangun. 18 5 Medan Timur 775,75 82 636,12 82 139,63 33 4 Medan Deli 2084,33 67 1396,5 67 687,83 70 3 Medan Labuhan 3667,17 30 1100,15 30 2567,02 70 2 Medan Marelan 2382,1 30 714,63 30 1667,47 67 1 Medan Belawan 2625,01 33 866,25 33 1758,76 Terbangun(Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) No.

B. Lahan Pertanian

  Lahan pertanian di Kecamatan Medan Sunggal terdiri atas :a) Areal Pertanian dan Luas Panen Tanaman Pangan tahun 1995 dan 2005 menurun dari 614 Ha (11,5%) menjadi 297 Ha (5,56%). Tahun (Ha) (%) (Ha) (%) 1 1995 1.436 0,03 614 11,52 1996 555 11,78 542 10,15 3 1997 605 12,84 576 10,794 1998 535 11,36 503 9,42 5 1999 572 12,14 588 11,016 2000 572 12,14 588 11,01 7 2001 514 10,91 565 10,588 2002 518 11 472 8,84 9 2003 273 5,8 355 6,65 10 2004 250 5,31 240 4,49 11 2005 315 6,69 297 5,56Sumber : Kantor Camat Medan Sunggal Tabel IV.4b Luas Areal Sawah menurut Tingkat Kecamatan danTingkat Pengairan di Kecamatan Medan SunggalTahun 1995/2005 Luas Tadah Hujan PersentaseNo.

C. Tanah Pertamanan

  Tahun 1995/2005 tanaman pertamanan termasuk lapangan olah raga, taman, bundaran dan boulevard, di Kecamatan Medan Sunggal luasnya meningkat drastisdari 0,41% menjadi 19,29%. Tabel IV.5 Luas Tanah Pertamanan di Kecamatan Medan SunggalTahun 1995/2005 Luas Jumlah No.

D. Peruntukan Lahan

  Jasa Perusahaan PerumahanIndustri Tanah Kosong Sungai/dll Hutan/Rawa Tegalan SawahGambar IV.17a Peruntukan Lahan di Kelurahan Simpang Tanjung Tahun 1995 Perusahaan Industri Sawah Tegalan Tanah Kosong Hutan/Rawa Sungai/dll Jasa Perumahan Gambar IV.17b Peruntukan Lahan di Kelurahan Simpang Tanjung Tahun 2005Peruntukan lahan di Sei Sikambing B tahun 1995 dan 2005 terluas perusahaan dan jasa. Tanah Kosong Hutan/Rawa Sungai/dll Perumahan TegalanSawah Jasa Industri PerusahaanGambar IV.20a Peruntukan Lahan di Kelurahan Lalang Tahun 1995 Tegalan Tanah Kosong Perumahan Sungai/dll Hutan/Rawa Sawah Industri Perusahaan Jasa Gambar IV.20b Peruntukan Lahan di Kelurahan Lalang Tahun 2005Untuk lebih jelasnya peruntukan lahan di Kecamatan Medan Sunggal tahun 1995 dan 2005 dapat dilihat pada Gambar IV.21 dan IV.22, berikut ini.

E. Perubahan Peruntukan Lahan

  Dengan terbangunnya jalan di Kecamatan Medan Sunggal hingga sekarang telah terjadi perubahan peruntukan lahan menjadi perumahan, perdagangan danindustri (rumah toko). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel IV.8 dan Gambar IV.23 berikut ini.

IV. 10 Hasil Pembahasan

  Kesimpulan Berdasarkan penjabaran bab I sampai bab IV kesimpulan sebagai berikut : 1) Perkembangan pola tata guna lahan merupakan perpaduan antara zona konsentris dan sektor menjadi konsektoral di Kecamatan Medan Sunggal dengan jaringantransportasi dan jalan raya memperpanjang pola penggunaan lahan berkembang pusat-pusat baru termasuk transportasi dan ekonomi yang menambah dimensi baruperuntukan lahan.2) Penurunan jumlah penduduk terlihat disetiap kelurahan terjadi antara tahun 1999 dan 2000. 7) Tahun 2005 setelah pembangunan jalan di Kecamatan Sunggal telah terjadi perubahan peruntukan lahan disepanjang ruas jalan dari lahan permukiman/perkampungan, pertanian dan perusahaan menjadi perumahan/perdagangan.8) Berdasarkan penelitian yang dilakukan perubahan peruntukan lahan sepanjang ruas jalan di Kecamatan Medan Sunggal telah sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRW) Kota Medan Tahun 2008/2016.

V. 2. Rekomendasi

  Tamin dan Russ Bona Frazila : ”Penerapan Konsep Interaksi Tataguna Lahan-Sistem Transportasi Dalam Perencanaan Sistem Jaringan Transportasi dalam jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota”, 1998. Pemerintah Kota Medan : ”Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2016”, 2008.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Kajian Potensi Industri Kuliner dalam Membentuk Lingkungan Kreatif (Studi Kasus : Kawasan Jalan Mojopahit Kecamatan Medan Petisah)
2
68
112
Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Sunggal
28
236
127
Evaluasi Beberapa Metode Penentuan Nilai Modulus Drainase pada Lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang
10
95
65
Kajian Guna Lahan Terhadap Tingkat Pelayanan Jalan (Studi Kasus Jalan Marelan Raya Medan)
19
101
133
Studi Karakteristik Kecelakaan Lalu Lintas Studi Kasus : Jalan Nasional (Jalan Lintas Sumatera) Kabupaten Serdang Bedagai
1
54
100
Studi Efektivitas Jembatan Penyeberangan (Studi Kasus : Jalan Sisingamagaraja Medan)
13
94
63
Penentuan Model Kebangkitan Pergerakan Pada Kawasan Perumahan Pinggiran Kota Medan Studi Kasus Kawasan Sunggal Medan
0
21
134
Studi Penentuan Prioritas Peningkatan Ruas Jalan (Studi Kasus : Ruas Jalan Provinsi Di Kabupaten Samosir)
5
57
142
Evaluasi Kinerja Angkutan Kota Medan Jenis Mobil Penumpang Umum (MPU) Studi Kasus : Koperasi Pengangkutan Medan (KPUM) Trayek 64
13
116
132
Evaluasi Peruntukan Lahan Setelah Pelebaran Jalan Studi Kasus : Kecamatan Medan Sunggal (Tiap Kelurahan)
13
551
93
Kajian Pengadaan Lahan Pembangunan Jalan Studi Kasus : Flyover Amplas Medan
3
41
162
Evaluasi Tingkat Pelayanan Jalan Sebagai Penunjang Perencanaan dan Pengembangan Pemanfaatan Lahan (Studi Kasus : Jalan Kolonel Yos Sudarso Kelurahan Pematang Pasir Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai)
2
54
139
Evaluasi Kinerja Operasi Dan Pemeliharaan Sistem Irigasi Medan Krio Di Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang
7
98
69
Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Sunggal
0
1
25
Studi Karakteristik Kecelakaan Lalu Lintas Studi Kasus : Jalan Nasional (Jalan Lintas Sumatera) Kabupaten Serdang Bedagai
0
0
6
Show more